Cahaya Iman

Bulan purnama bercahaya terang di hamparan permadani langit yang membiru. Cahayanya menyinari permukaan bumi Palembang yang sudah tua dan terlalu kenyang mengenyam pahit dan getir kehidupan penghuninya. Lebih dari seribu tahun, bergantian kapal, jung, perahu, dan sampan melintas dan berlabuh. Dari ratu, bangsawan, saudagar, pendeta, perampok, hingga gelandangan pernah tinggal di pangkuan bumi Palembang sejak kekuasaan Sriwijaya ditegakkan di sana.

Kemakmuran Palembang sebagai bandar perniagaan menarik hasrat siapa pun untuk bisa menguasai pusat kenikmatan duniawi yang terletak di tengah hamparan samudera itu. Wangsa Ming yang berkuasa di daratan Cina pun tergiur oleh kemolekan dan kecantikan Palembang. Itu sebabnya, ketika utusan dari Palembang – yang merupakan bagian dari Majapahit – menghadap Kaisar Cina, ia disambut dengan penuh kemuliaan seolah-olah duta sebuah negeri merdeka.

Hayam Wuruk, Maharaja Majapahit, sangat murka dengan tindakan Kaisar Cina yang menerima dan memperlakukan utusan Palembang seperti seorang duta. Ia kemudian menggerakkan armada Majapahit meluluhlantakkan bandar Palembang. Setelah peristiwa itu, ia menunjuk salah seorang saudara tirinya – putera Prabu Kertawarddhana dari istri selir, adik dari Singhawarddhana – yang bernama Parameswara menjadi Adipati Palembang.

Tetapi, pesona bandar Palembang telah menggoyahkan kesetiaan Parameswara tak lama setelah Hayam Wuruk mangkat. Parameswara menyatakan Palembang sebagai negara merdeka. Wikramawarddhana, yang masih kemenakan Parameswara, menolak pernyataan sepihak Adipati Palembang itu. Armada Majapahit sekali lagi dikerahkan untuk menghancurkan Palembang. Parameswara melarikan diri dan akhirnya mendirikan Kerajaan Malaka.

Sementara itu, usai pemberontakan Parameswara, kekacauan dan kerusuhan meluas di Palembang. Sejarah kemudian mencatat, di dalam kekacauan itu telah muncul seorang bajak laut bernama Liang Tau Ming. Dengan seluruh kekejaman dan kebrutalannya, dia menancapkan cakar kekuasaannya di bandar Palembang. Liang Tau Ming tidak membawa kemakmuran apa pun, kecuali makin meningkatnya kekacauan dan ketidakseimbangan hidup rakyat Palembang. Dan Palembang yang saat itu disebut Ku Kang pun tenggelam dalam kegetiran yang menyakitkan.

Bukan hanya penghuni bandar Palembang yang merasakan kegetiran di bawah kekuasaan Liang Tau Ming, saudagar-saudagar Cina pun merasakan kepahitan serupa sehingga mereka beramai-ramai melapor kepada Kaisar. Liang Tau Ming kemudian dieksekusi. Sebagai gantinya, tampillah Cheng Po Ko yang selalu mengirim upeti sebagai bukti bahwa bandar itu tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Cina.

Kerajaan Majapahit yang makin melemah kekuatannya tidak mengambil tindakan apa pun terhadap kebijakan Kaisar Cina yang telah menjadikan Palembang sebagai bagian dari kekuasaannya. Majapahit terus disibukkan dengan pemberontakan-pemberontakan di dalam negeri. Namun, saat Prabu Kertawijaya naik takhta dengan gelar Sri Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana yang lazim disebut Brawijaya V, masalah Palembang mulai menjadi perhatian penting. Ia mengirimkan seorang puteranya yang bernama Ario Damar sebagai Adipati Palembang dengan tugas utama mengembalikan bandar tua itu ke pangkuan Majapahit.

Ario Damar adalah ksatria tangguh yang telah teruji kecerdasan dan kesaktiannya dalam menumpas pemberontak maupun memperbaiki, menata, dan membangun kembali negeri-negeri yang rusak akibat peperangan. Ia dikenal sebagai negarawan ulung. Ario Damar sejak kecil diasuh oleh uwaknya – kakak kandung ibundanya – seorang pendeta Bhirawatantra bernama Ki Kumbharawa (Jawa Kuno: matahari di dalam tempayan) yang tinggal di hutan Wanasalam di selatan ibu kota Majapahit. Ibunda Ario Damar yang bernama Endang Sasmitapura adalah pengamal ajaran Bhirawatantra. Itu sebabnya saat hamil tua ia diusir oleh suaminya, Prabu Kertawijaya, dari istana Bhre Tumapel, karena kedapatan melakukan pancamakara, yaitu upacara minum darah dan memakan daging manusia.

Oleh didikan Ki Kumbharawa dan Ibundanya, Ario Damar tumbuh sebagai pemuda yang memiliki berbagai kesaktian dan kedigdayaan luar biasa. Itu sebabnya, saat mengabdi ke Majapahit ia dapat menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Bahkan di antara penganut ajaran Bhirawatantra kala itu, Ario Damar dianggap sebagai salah seorang tokoh yang paling sempurna ilmunya sehingga ia disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Dengan kemampuannya yang luar biasa itu, Ario Damar berhasil mengembalikan Palembang ke pangkuan Majapahit. Ia mampu menciptakan suasana aman dan tenteram, juga memakmurkan rakyat Palembang. Palembang yang sudah terpuruk ke jurang kebinasaan itu ternyata bisa bangkit lagi.

Untuk menunjukkan kekuasaan Majapahit atas kekuasaan masyarakat Cina yang selama itu tunduk kepada Kaisar Cina, Prabu Kertawijaya menganugerahkan salah seorang selirnya yang bernama Retno Subanci kepada Ario Damar. Retno Subanci adalah puteri saudagar Cina muslim bernama Encik Ban Chun, asal nagari Gresik. Saat dianugerahkan kepada Ario Damar, ia sedang hamil tua dan mengandung anak Prabu Kertawijaya.

Keberhasilan Ario Damar dalam merebut dan membangun bandar Palembang ternyata berlanjut dengan keberhasilan dirinya membangun nilai-nilai baru yang bersumber pada ajaran Islam. Ario Damar yang sejak kecil akrab dengan ajaran Bhirawatantra, tanpa pernah ada yang menduga sebelumnya, telah memperoleh hidayah cahaya iman dari Allah melalui perantaraan Syaikh Ibrahim as-Samarkandy, saudara ipar Ratu Darawati, istri Prabu Kertawijaya yang berasal dari negeri Campa.

Berita itu menggemparkan para pejabat dan rakyat Palembang, bahkan Dyah Suraprabhawa, maharaja Majapahit, saudara tiri Ario Damar, mengirim utusan untuk mempertanyakan kesetiaannya kepada Majapahit. Ario Damar dengan tegas menyatakan bahwa persoalan ia memeluk Islam adalah persoalan pribadi yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan kesetiaannya kepada Majapahit. Kepada utusan itu Ario Damar memberikan keris pusaka Kyai Kala Canggah yang ujungnya bercabang dua serta upeti berupa emas dan permata sebagai bukti bahwa ia tetap setia kepada Majapahit, meski telah berpindah agama.

Keislaman Ario Damar ternyata tidak hanya berpengaruh pada perubahan suasana kehidupan pribadi dan isi kadipaten, tetapi juga meluas sampai keluar Palembang. Ia mengganti namanya menjadi Ario Abdillah. Putera tirinya diberi nama Raden Kasan, kelak menjadi Arya Sumangsang alias Raden Patah, adipati Demak. Putera sulungnya dari Retno Subanci diberi nama Raden Kusen – kelak menjadi Pecat Tandha dan adipati Terung.

Ketika usianya makin merambat senja, Ario Abdillah meninggalkan kadipaten. Ia digantikan oleh adipati Karang Widara yang bernama Pangeran Surodirejo, yang tidak lain adalah putera Raden Kusen. Ario Abdillah kemudian memilih tinggal di rumah sederhana di kampung yang dinamakan Pedamaran (artinya: kediaman Ario Damar). Dari Pedamaran itulah ia memberitakan kebenaran ajaran Islam. Mula-mula ia menyiarkan kepada penduduk di sekitar Pedamaran. Dulu penduduk di sana terkenal sangat menentang ajaran Islam yang disebarkan oleh Syarif Husin Hidayatullah, bangsawan Arab yang menjadi pemimpin di daerah Usang Sekampung. Namun, di bawah bimbingan Ario Abdillah, penduduk dengan sukarela berkenan memeluk Islam. Begitulah, daerah-daerah kafir seperti Talang Lindung Bunyian, Lebak Teluk Rasau, Lebak Air Hitam, dan Lebak Segalauh telah menjadi perkampungan muslim.

Menurut cerita, tak lama setelah memeluk Islam, Ario Abdillah menikahi puteri Syarif Husin Hidayatullah. Dari pernikahan itu lahirlah Raden Sahun yang diberi gelar Pangeran Pandanarang – kelak menjadi adipati Samarang dan puteranya menjadi Sunan Tembayat. Melalui ikatan perkawinan inilah ia dapat menyiarkan Islam sampai ke daerah Siguntang, Prabumulih, dan Meranjat. Syarif Husin Hidayatullah diangkat menjadi Menak (bangsawan) Palembang.

Begitu turun dari perahu, San Ali langsung menuju ke Pedamaran. Sesampainya di sana, didapatinya Ario Abdillah sedang mengais-ngais tanah di halaman rumah panggungnya. Rupanya, tokoh besar yang berusia hampir delapan puluh tahun itu sedang mencari akar-akaran untuk obat. Meski usianya sudah sangat tua, sisa kegagahan tetap terpahat pada otot-otot tubuhnya yang kukuh. Ketenangan jiwa terpancar dari wajahnya yang teduh.

Sekalipun mata Ario Abdillah lebih bulat dan lebih lebar dibanding Raden Kusen, San Ali mendapati betapa bentuk hidung, mulut, kening, bahkan dagu keduanya sangat mirip. Rambut, alis, kumis dan janggut Ario Abdillah yang memutih tidak menjadikannya manusia renta tanpa daya. Wibawa tetap memancar dari tubuh tua itu. Bahkan siapa saja yang kebetulan melihat sorot matanya, pasti akan merasakan kegentaran menerkam jiwa.

Ketika San Ali mendekat, Ario Abdillah dengan tanpa menoleh dan tangan tetap mencabuti akar-akaran mendendangkan lagu, “Engkau adalah hijab bagi dirimu sendiri, o manusia, maka keluarlah engkau dari padanya. Pengembaraan adalah pematangan bagi jiwa yang mentah. Jika engkau sudah keluar dari hijabmu maka akan engkau temukan alam semesta di dalam dirimu, ibarat lautan engkau temukan di dalam perahu.”

San Ali tercekat. Ia menangkap sasmita tentang kedalaman ajaran di dalam syair lagu itu. Dengan kobaran rasa ingin tahu yang menggelora, ia mendekat dan berkata penuh harap, “O Tuan Manusia Besar yang sudah tercerahkan, berkenankah Tuan mengajari hamba jalan menuju Dia?”

“Aku?” gumam Ario Abdillah terperanjat. “Aku mengajarimu jalan menuju Dia?”

“Besar harapan hamba, Tuan mengabulkan keinginan hamba.”

“Tidak ada yang bisa mengajari manusia menuju jalan-Nya kecuali Dia sendiri, dengan jalan-jalan yang ditentukan-Nya.”

“Tapi, Tuan?”

“Siapakah engkau dan dari manakah asalmu, o Anak Muda?”

“Hamba San Ali, putera angkat Ki Danusela, Kuwu Caruban.”

“Kalau begitu, engkau masih kemenakanku sendiri karena Ki Danusela adalah saudara tiriku,” Ario Abdillah mengangkat alis kanannya ke atas.

“Benar Tuanku, hamba bahkan telah berjumpa dengan Pamanda Raden Kusen, putera Tuanku di Caruban,” San Ali menjelaskan.

Ario Abdillah menunduk. Diam. Sejenak kemudian dia berkata, “Apa yang bisa kuajarkan kepadamu, o Anak, jika engkau memiliki jalan sendiri menuju Dia?”

“Itu benar, o Tuanku. Tetapi, Tuan bisa menceritakan perjalanan Tuan sehingga hamba bisa mengambil hikmah di balik cerita Tuan. Hal itu akan hamba jadikan pedoman dalam perjalanan hamba menuju Dia.”

“Ada banyak orang berkata tentang aku, namun apa yang mereka katakan itu pada hakikatnya tidak tepat sebagaimana aku mengatakan tentang diriku. Akhirnya, akupun bingung tentang siapa yang paling benar mengatakan tentang aku. Lantaran itu, o Anak, kutinggalkan segala perkataan tentang aku, karena itu semua semakin membingungkan ‘aku’-ku. Dan ketahuilah, o Anak, ketika engkau berkata tentang jalanku maka saat itulah engkau telah memunculkan keakuan, baik keakuanmu maupun keakuanku; yang ujung dari semua itu adalah sia-sia.”

“Apakah engkau melihat guna dan manfaat ketika kuceritakan bagaimana kegagahan dan keperkasaanku menghancurkan musuh di medan laga, kalau pada dasarnya justru kepahitan yang kudapati dari cerita itu? Adakah guna dan manfaat ketika kuceritakan kepiawaian dan kebijaksanaanku mengatur negeri, kalau pada dasarnya justru kegetiran yang kurasakan? Adakah guna dan manfaat ketika kuceritakan bagaimana seharusnya aku merasakan kepuasan karena keturunanku menjadi penguasa negeri, kalau akhirnya yang kudapatkanjustru kekecewaan?”

“Ketahuilah, o Anak, bahwa keperkasaan, kegagahan, kepintaran, kabajikan, kebijakan, kepuasan diri dan segala macam penilaian yang mengarah pada pepujian diri adalah hampa semata dengan tepi kepedihan yang menyiksa. Sebab, saat engkau terperangkap pada penilaian baik atau buruk tentang sesuatu mengenai ‘aku’-mu atau ‘aku’-ku atau ‘aku’-siapa saja, maka saat itulah telah terjadi pengakuan terhadap sesuatu yang bukan haknya. Dan mengaku yang bukan hak adalah kepedihan tanpa tepi.”

“Segala sesuatu yang tergelar di alam semesta adalah milik-Nya tanpa kecuali; bumi, bulan, matahari, hewan, manusia, tumbuhan, jin, setan, iblis, malaikat, surga, dan neraka. Puji-pujian, kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan segala sesuatu sekecil apa pun adalah milik-Nya. Bahkan keimanan sekecil tungau pun adalah milik-Nya. Engkau tak memiliki apa pun baik kekayaan duniawi, keluarga, tubuh, nyawa, ruh, dan bahkan iman sekalipun; semua milik-Nya.”

“Kenangkanlah liku-liku jalan yang pernah kulewati sejak aku dilahirkan dari rahim ibundaku, di mana ajaran kebenaran yang kukenal awal sekali ketika aku masih kecil adalah Bhirawatantra yang penuh lumuran darah dan kematian. Saat itu, sangat kuyakini kebenaran ajaran dari leluhurku itu sebagai jalan menuju-Nya. Berbagai kesulitan yang kuhadapi dapat kuatasi dengan ilmu-ilmu yang kupelajari dari ajaran itu. Tetapi, disaat aku berada di puncak kemenangan tiba-tiba Dia memberikan cahaya iman ke dalam jiwaku. Dan kutinggalkan segala apa yang pernah kuraih sebagai kebanggaan masa mudaku itu.”

“Dengan pengalaman hidup yang kulewati ini, o Anak, aku makin sadar bahwa segala sesuatu tanpa kecuali adalah milik-Nya. Karena itu, hari-hariku sekarang ini kuhabiskan untuk menunggu dia mengambil kembali milik-Nya yang kini telah lapuk dan renta dimakan zaman. Dan lantaran itu, kutinggalkan segala sesuatu yang pernah kuanggap sebagai milikku di dunia ini. Kuhadapkan pikiran dan perasaanku hanya kepada-Nya, agar saat Dia mengambilku, seutuhnya diriku kembali kepada-Nya tanpa beban apa pun dari dunia yang pernah kutinggali ini.”

“Jika Tuan ingin kembali hanya kepada-Nya, hamba yakin itu akan terjadi. Tetapi, mohon Tuan jelaskan kepada hamba bagaimana dengan nasib uwak dan ibunda Tuan yang tetap tinggal di dalam kegelapan ajaran najis itu?” kata San Ali.

“O Anak,” sahut Ario Abdillah dengan suara berat. “Engkau tidak bisa menilai sesuatu ajaran sebagai sesuatu yang najis atau suci. Sebab, semua itu berasal dari-Nya. Semua milik-Nya. Perbedaan yang engkau lihat sebenarnya hanya pada tingkat penampakan indrawi belaka; hakikatnya adalah sama, yakni menuju hanya kepada-Nya. Yang gelap maupun yang terang, semua menuju kepada-Nya.”

“Hamba kurang paham dengan penjelasan itu, o Tuan.” San Ali penasaran.

“Ketahuilah, o Anak, bahwa Dia bukan hanya pemilik segala sesuatu yang tergelar di alam semesta. Dia menata dan mengatur semuanya. Jika engkau sekarang ini berada di dalam golongan muslim yang dianugerahi iman maka sesungguhnya engkau berada dalam golongan yang tercerahkan oleh cahaya salah satu nama indah-Nya, yakni al-Hadi (Yang Memberi Petunjuk) yang dari-Nya mengalir para malaikat, nabi, rasul, wali, dan orang-orang saleh.”

“Sementara jika engkau berada di dalam golongan di luar penganut ajaran Islam yang engkau nilai najis karena berlumur darah, maka sesungguhnya engkau berada di dalam golongan yang terbimbing oleh salah satu nama indah-Nya yakni al-Mudhill (Yang Menyesatkan) yang dar-Nya mengalir iblis, setan, penyembah berhala, pemuja kegelapan, dan pengorban darah. Tetapi, semua itu bersumber dari-Nya dan bermuara kepada-Nya. Dialah Yang Tunggal, yang memiliki kekuasaan mutlak menggolongkan orang kepada masing-masing nama-Nya. Dia pula yang berkuasa mutlak membimbing orang ke jalan terang atau menyesatkan orang ke jalan gelap, tanpa ada yang bisa mengganggu gugat.”

“Sudah tertulis di dalam dalil: nurun ‘ala nurin yahdi Allahu linurihi man yasya’u (Cahaya di atas cahaya, Dia membimbing dengan cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki). Tertulis pula dalil: man yahdi Allahu fala mudhilla lahu wa man yudhlilhu fala hadiya lahu (Siapa yang ditunjuki Allah, engkau tak bisa menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan Allah, tak bisa engkau menunjukinya). Jadi, jalan terang atau jalan gelap, pada hakikatnya tergantung mutlak pada kehendak-Nya.”

“Engkau anggap suci ajaran agamamu karena engkau berada di dalam pandangan agamamu yang menganggap ajaran lain sesat dan najis. Namun, jika engkau berada di dalam ajaran lain maka ajaran yang lain itu akan menilai sesat dan najis agamamu. Dia memang menempatkan sudut pandang yang berbeda bagi tiap-tiap umat untuk memandang kenyataan yang tergelar di hadapannya. Dengan sudut pandang itulah masing-masing manusia memiliki perbedaan dalam memandang kebenaran agama yang dianutnya. Semuanya, terutama yang awam, memiliki penilaian bahwa agama yang dianutnya itulah yang paling baik.”

“Ketahuilah, o Anak,” lanjut Ario Abdillah, “bahwa orang menjadi Muslim atau menjadi penganut ajaran Bhairawatantra pada hakikatnya bukanlah keinginan pribadinya. Semua yang menentukan adalah Dia. Tidakkah engkau ingat kisah paman Nabi Muhammad yang bernama Abu Thalib? Kenapa lelaki berhati mulia yang sampai akhir hayat membela Nabi Muhammad itu tidak mati dalam keadaan Muslim? Kenapa saat Nabi Muhammad mendoakannya agar menjadi Muslim justru ditegur oleh Allah bahwa beliau hanya sekadar menyampaikan seruan Islam, sedang yang menentukan orang menjadi Muslim atau tidak adalah Allah?”

“Dengan memahami hakikat ketunggalan-Nya, o Anak, engkau tidak akan terperangkap lagi ke dalam batasan-batasan yang telah dibuat-Nya untuk menghijab ciptaan-Nya dari Dia. Untuk itu, o Anak, jika engkau ingin menuju hanya kepada-Nya maka engkau wajib menyingsingkan tiap-tiap hijab yang membungkus kesadaran sejatimu sehingga engkau memahami bahwa seluruh makhluk di alam semesta ini, mulai dari malaikat, bidadari, manusia, hewan, tumbuhan, jin, setan, bahkan iblis adalah penyembah dan pemuja Dia, meski dengan sebutan dan tata cara yang berbeda. Sesungguhnya Dia itu Esa. Tidak ada sesuatu yang menyamai apalagi menyaingi Dia. Sebab, telah tertulis dalam dalil: kana Allahu wa lam yakun ma’ahu syai’un (Dia ada. Tidak ada sesuatu bersama Dia).

Bumi manusia kediaman anak cucu Nabi Adam pada dasarnya tidak hanya dihuni oleh makhluk-makhluk yang kasatmata. Berbagai makhluk tidak kasatmata pun menjadi penghuni bumi. Bahkan di antara mereka adalah generasi pelanjut makhluk sebelum Nabi Adam menghuni bumi. Mereka berakal dan berbangsa-bangsa. Berbudaya. Berkembang biak. Namun, bentuk fisik mereka tidak padat seperti manusia yang terdiri atas darah, daging, dan tulang. Karenanya, mereka tidak kasatmata.

Kenyataan tentang makhluk tidak kasatmata itu diketahui San Ali saat ia diajak berkelana memasuki matra lain dari bumi manusia untuk menyaksikan Keagungan dan Ketidakterbatasan Kuasa Ilahi. San Ali tidak mengetahui ilmu apa yang digunakan Ario Abdillah untuk menembus matra demi matra yang menyelubungi bumi. Ia hanya merasakan saat Ario Abdillah memerintahkannya duduk berhadapan sambil memejamkan mata berkonsentrasi, tiba-tiba tubuhnya merosot ke bawah. Sesaat sesudah itu, ketika membuka mata ia mendapati dirinya berada di sebuah rongga besar dan luas di bawah tanah. Ario Abdillah dilihatnya berdiri di depannya sambil bersidekap menyilangkan kedua tangan di dada.

Sebelum San Ali bertanya tiba-tiba Ario Abdillah menjelaskan bahwa mereka berada sekitar tujuh puluh depa dari permukaan tanah. “Ini merupakan lapisan pertama dari kediaman anak cucu makhluk-makhluk penghuni bumi sebelum Nabi Adam diturunkan. Mereka adalah keturunan Banu al-Jaan. Mereka mendiami dasar bumi hingga lapis yang ke tujuh.

“Tuanku, apakah mereka itu disebut jin?” tanya San Ali takjub.

“Kita, umat Islam, menyebutnya seperti itu. Sebenarnya mereka beraneka macam. Bentuk mereka mirip manusia dengan satu kepala, dua tangan, dan dua kaki. Sebagian di antara mereka ada yang memiliki sayap seperti kelelawar dan burung, namun sebagian besar tidak bersayap.”

“Apakah mereka hidup dalam puak-puak masyarakat?” San Ali mendecakkan mulut kagum.

“Seperti layaknya manusia, mereka hidup dalam kota-kota dan benteng-benteng. Kendaraan yang mereka gunakan berjalan sangat cepat tanpa perlu ditarik kuda. Bahkan mereka memiliki kereta perang yang bisa terbang seperti milik dewa-dewa. Berbeda dengan kendaraan manusia, kendaraan makhluk-makhluk itu menimbulkan suara gemuruh yang menggetarkan dada dan memekakkan telinga,” Ario Abdillah menguraikan.

“Apakah Tuanku akan mengajak hamba mengunjungi kota-kota mereka?” tanya San Ali dengan rasa ingin tahu yang berkobar-kobar. “Apakah mereka tidak menyerang kita?”

“Sebelum engkau mengenal mereka, o Anak, kata Ario Damar datar, “engkau harus tahu tentang mereka sehingga engkau tidak terperosok ke jurang kesesatan seperti sebagian manusia yang mengenal mereka.”

“Hamba menunggu petunjuk dan akan patuh Tuan.”

Ario Damar diam sesaat. Sejenak sesudah itu dengan suara berat dan penuh keseriusan dia mulai menguraikan tentang makhluk-makhluk penghuni dasar bumi. Menurut Ario Damar, leluhur makhluk-makhluk itu pada zaman dahulu kala menghuni permukaan bumi selayaknya manusia. Namun, mereka sangat sombong dan membanggakan ilmu pengetahuannya. Akhirnya, terperangkaplah mereka ke dalam kebiasaan menumpahkan darah sesamanya. Dengan kereta perang yang bisa terbang, mereka menembus langit menuju ke bintang-bintang tempat kediaman para malaikat, makhluk yang dicipta Allah dari cahaya.

Kesombongan makhluk-makhluk itu menimbulkan kerusakan di permukaan bumi. Tidak hanya makhluk-makhluk itu saja yang binasa dalam setiap peperangan, tetapi makhluk lain pun ikut menjadi korban. Hewan-hewan raksasa, pepohonan, gunung-gunung, dan hutan-hutan luluh lantak karena senjata mereka yang dahsyat. Kematian tersebar dimana-mana. Jika tidak segera dicegah maka dipastikan bumi akan binasa.

Gusti Allah memerintahkan para malaikat untuk membinasakan makhluk-makhluk yang ingkar kepada nikmat-Nya dan membanggakan kesombongan dirinya itu. Gusti Allah akan menggantikan makhluk-makhluk sombong itu dengan makhluk baru, yakni manusia. Demikianlah, para malaikat beramai-ramai turun ke bumi. Kota-kota dan benteng-benteng mereka yang kokoh dan perkasa diluluhlantakkan. Mereka dibinasakan oleh senjata-senjata malaikat yang lebih dahsyat daripada milik mereka. Sebagian besar di antara mereka binasa. Sisanya melarikan diri dari daratan menuju pulau-pulau di tengah samudera. Sebagian lagi bersembunyi di dasar bumi.

Berpuluh, beratus, bahkan beribu tahun makhluk-makhluk sombong yang selamat itu hidup dalam kegelapan dasar bumi. Allah pun menganugerahi mereka dan keturunannya untuk bisa melihat di dalam gelap. Makanan utama mereka adalah saripati tulang belulang. Tetapi, naluri leluhur mereka yang haus darah tidak juga bisa hilang dari keturunan mereka. Makhluk-makhluk itu tetap gemar minum darah manusia.

“Tuanku,” San Ali berkata setelah melihat Ario Abdillah berdiam diri agak lama, “guru agung hamba, Syaikh Datuk Kahfi, pernah membawakan riwayat hadits yang menjelaskan bahwa sebelum Nabi Adam, bumi ini dihuni makhluk dari bangsa jin. Menjelang Nabi Adam turun ke bumi, makhluk-makhluk dari bangsa Jin itu dihalau ke pulau-pulau di samudera. Tetapi, itu semua hanya penuturan beliau, Tuanku. Hamba belum menyaksikan sendiri.”

Ario tidak berkata sepatah pun. Namun, beberapa jenak kemudian tangannya menyambar tangan San Ali. Dan seperti berlari di atas padang rumput yang luas, begitulah Ario Abdillah mengajak San Ali menembusi lorong-lorong bawah tanah yang berliku-liku. Ario Abdillah baru menghentikan langkah ketika mereka sampai di sebuah danau berair jernih yang dilingkari pepohinan rindang.

“Tahukah engkau, o Anak,” gumam Ario Abdillah dengan suara ditekan, “dimanakah kita berada?”

“Hamba tidak tahu, Tuanku,” sahut San Ali.

“ketahuilah bahwa kita berada di Jawadwipa, tepatnya di bawah Gunung Anjasmoro.”

“Di Jawadwipa?” seru San Ali heran. “Kenapa kita tidak melewati laut?”

“Kita tidak melewati laut karena kita berada di dasar bumi,” Ario Abdillah menjelaskan. “Dan ketahuilah bahwa bentangan pulau-pulau di Nusantara pada hakikatnya satu kesatuan ikatan. Adanya laut yang memisahkan pulau satu dengan pulau yang lain bersifat permukaan belaka.”

“Luar biasa,” gumam San Ali sambil menyapukan pandangan ke sekitarnya dengan penuh ketakjuban.

San Ali yang masih diliputi rasa takjub hanya termangu-mangu keheranan ketika menyaksikan kerumunan orang dengan tubuh cabol dengan kepala besar dan tangan menjuntai ke bawah lutut di sekitar danau tak jauh dari tempatnya berdiri. Salah satunya memiliki janggut memanjang hingga ke dada. Rupanya dialah pemimpin mereka. Dengan celoteh yang tak jelas, dia mendekati Ario Abdillah. Kemudian dengan gerakan menghormat, dia merangkul kaki Ario Abdillah.

Ario Abdillah memperkenalkan orang cebol berjanggut panjang itu kepada San Ali dengan nama Kala Hiwang (Jawa Kuno: waktu menyimpang) yang sering dipanggil Buyut Kelewang, Kala Hiwang adalah sahabat yang banyak membantu saat dia masih menggeluti ajaran Bhirawatantra.

Ario Abdillah membaca semacam mantra. Sesaat sesudah itu keanehan terjadi. Tiba-tiba terdengar suara embusan angin bersuit-suit yang diikuti gemuruh bagai halilintar. Kemudian muncul gumpalan asap yang diikuti sesosok makhluk bertubuh raksasa dengan kulit hitam legam dan kepala gundul. Ia tidak berkumis, tetapi janggutnya terjuntai sampai ke perut. Begitu muncul, makhluk itu merunduk dan merangkul kaki Ario Abdillah, seperti Kala Hiwang. Menurut Ario Abdillah, makhluk itu adalah sahabat karibnya yang lain. Ia bernama Kala Hingsa (Jawa Kuno: pembunuh waktu), namun sering disebut Buyut Kelungsu (artinya, isi buah asam yang hitam dan keras).

Ario Abdillah berbicara dengan Kala Hiwang dan Kala Hingsa dengan bahasa yang tidak dimengerti San Ali. Namun, dari nada bicara dan gerak tubuh mereka, ia menangkap makna bahwa mereka bertiga sudah sangat lama tidak berjumpa. Bahkan dalam perbincangan itu, San Ali menangkap isyarat betapa Kala Hiwang dan Kala Hingsa terperangkap ke dalam kesedihan. Ario Abdillah terlihat beberapa kali menarik napas berat seolah-olah melepaskan beban yang menggumpal di dada.

Setelah cukup lama berbincang-bincang akhirnya Ario Abdillah mengajak San Ali meninggalkan tempat itu. Kali ini, San Ali merasakan perjalanannya cepat laksana kilat. Keduanya berhenti di suatu kota yang terang benderang dan berarsitektur aneh. Rumah-rumah dibangun bersusun-susun. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian aneka warna. Kendaraan-kendaraan aneh tanpa hewan penarik berseliweran dengan suara gemuruh. Yang ajaib lagi, lampu-lampu yang menerangi kota tidak menggunakan nyala api.

Ario Abdillah menjelaskan bahwa kota itu terletak di lapis bumi ketujuh, lapisan yang paling dekat dengan tungku bumi. Para penghuninya berperadaban lebih maju dibanding penghuni di lapisan lain. Meski mereka maju, naluri suka menghirup darah manusia tetap belum hilang. Pada saat-saat tertentu, ketika bumi diliputi kegelapan, terutama saat terjadi gerhana, para penghuni lapis ketujuh itu beramai-ramai keluar dari kediaman mereka melalui kawah gunung berapi dan gua-gua. Mereka beriringan mencari mangsa untuk dijadikan jamuan pesta besar di bumi utara yang tenggelam dalam kegelapan selama lima bulan.

San Ali sangat terkesan dengan pengalaman menakjubkan mengenal makhluk-makhluk penghuni bumi selain manusia. Dalam berbagai kesempatan ia terus bertanya dan Ario Abdillah berusaha menjawab semua pertanyaannya. Jika dia tidak bisa menjelaskan tentang peradaban dan hasil budaya mereka maka tidak segan-segan dia mengajak San Ali mengunjungi kediaman mereka.

Suatu malam, Ario Abdillah mengajak San Ali mengunjungi bangsa Jin yang tinggal di bintang-bintang. Ia takjub ketika menginjakkan kaki di buntang az-Zuhal. Rembulan yang mengambang di langit berjumlah sepuluh. Makhluk-makhluk yang tinggal di sana wujudnya mirip manusia, namun kulit mereka sangat putih. Begitu putih sehingga urat-urat yang melingkar di wajah mereka terlihat jelas. Yang laki-laki sangat tampan. Yang perempuan sangat cantik. Semua berhidung mancung. Mata mereka biru bening bagai kristal. Rambut mereka putih agak kelabu. Anehnya, segala sesuatu yang ada di tempat itu berwarna putih. Batu-batuan. Tanah. Gunung. Bangunan. Pepohonan. Bahkan kendaraan-kendaraan aneh yang terbang dengan suara bergemuruh.

Ario Abdillah menjelaskan tentang adanya ruh-ruh manusia bumi yang menikah dan tinggal di alam Jin, sedangkan tubuh wadag-nya tetap di bumi. “Badan wadag tanpa ruh itu hidup tanpa kesadaran utuh. Jika ruhnya berbicara denagn siapa saja di alam Jin maka badan wadag-nya akan berbicara juga. Lantara itu, orang tersebut dianggap gila oleh orang-orang di bumi.”

“Jika ruhnya diajak balik ke badan wadag-nya?” tanya San Ali, “apakah orang tersebut akan sembuh dari gila?”

“Tentu saja, o Anak,” kata Ario Abdillah, “tetapi untuk membawa kembali ruh bukan pekerjaan gampang. Alam makhluk-makhluk itu sangat luas. Bisa saja ia tinggal di dasar bumi atau di bintang az-Zuhal, az-Zuhra, al-Utarid, al-Musytari, al-Murikh, bintang Soma, Bhrihaspati, Sukra, bahkan bintang Buda. Lagi pula, belum tentu ruh itu mau balik ke badan wadag-nya di bumi.”

Ketakjuban San Ali terhadap kehidupan makhluk-makhluk gaib itu nyaris membawanya ke lingkaran ciptaan Ilahi yang tidak diketahui batas akhirnya. Ia seolah-olah melupakan tujuan utamanya mencari Dia Yang Tak Terjangkau dan Tak Bisa Dibayangkan. Andaikan Ario Abdillah tidak menegurnya dengan keras dan mengusirnya, ia tentu akan terus berkutat dengan tumpukan tanda tanya tentang makhluk-makhluk ciptaan Gusti Allah tersebut. San Ali menyadari kekalahannya. Kemudian dengan penuh takzim ia berpamitan.

“Tuanku,” katanya seraya bersimpuh di depan Ario Abdillah, “Jika pada akhirnya tuanku menghendaki hamba melanjutkan perjalanan menuju Dia, kenapa selama ini Tuanku memperkenalkan hamba kepada makhluk-makhluk gaib itu? Bukankah lebih baik jika Tuanku mangajarkan hamba cara tersingkat menjalin hubungan dengan Dia?”

“Aku adalah aku. Engkau adalah engkau!” kata Ario Abdillah dengan suara tinggi. “Aku memiliki jalan sendiri. Engkau pun memiliki jalan sendiri. Karena itu engkau harus mencari jalanmu sendiri, o Anak.”

“Jika demikian, mengapa Tuanku memperkenalkan hamba pada kehidupan makhluk-makhluk gaib?” tanya San Ali penasaran.

“Jalan ini memang harus engkau lalui, o Anak, agar terpatri di dalam jiwa dan pikiranmu bahwa Gusti Allah itu Mahaagung, Mahakuasa, dan Mahapencipta. Keagungan-Nya tanpa batas. Kekuasaan-Nya tanpa batas. Ciptaan-Nya juga tak diketahui batasnya. Artinya dalam pencarian mengenal Dia, hendaknya cakrawala pikiranmu menjadi luas seperti hamparan langit. Dia bukan hanya Gusti Allah yang disembah umat Islam, melainkan Dia adalah Tuhan yang disembah seluruh umat manusia, hewan, tumbuhan, jin, malaikat, setan, iblis, bulan, bintang, matahari, dan berbagai makhluk ciptaan-Nya yang tak diketahui. Makhluk-makhluk itu hanyalah sebagian kecil saja dari ciptaan-Nya.”

San Ali tertunduk diam. Kata-kata yang diucapkan Ario Abdillah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan penjelasan guru agungnya. Namun, kenyataan tentang makhluk-makhluk selain manusia benar-benar mencengangkannya dan hampir membuatnya tergelincir dari tujuan semula.

Ario Abdillah akhirnya berterus terang bahwa tujuannya bertemu dengan Kala Hiwang dan Kala Hingsa di dasar bumi itu sebenarnya hendak berpamitan. “Usiaku sudah lanjut. Sudah saatnya aku kembali kepada-Nya.”

“Bukankah Tuanku masih kuat dan sehat?” tanya San Ali. “Hamba tak yakin barang sepuluh atau lima belas tahun lagi Tuanku bakal meninggal dunia.”

“Tidak,” sahut Ario Abdillah, “usiaku tinggal sepekan lagi. Pada tanggal kesembilan, hari Soma Manis (Senin Legi), bulan Waishaka, saat pecat sawet (pukul 10:00), yakni lima hari lagi, itulah saatku meninggalkan dunia ini. Karena itu, cepat-capetlah engkau pergi dari sini karena aku tidak ingin menyisakan sesuatu di hati dan pikiranku selain Dia.”

“Tuanku,” sergah San Ali heran, “bagaimana Tuanku bisa tahu dengan sangat jelas saat kematian Tuan?”

“Tidak perlu kujelaskan, tetapi jika engkau teguh pada tekadmu dan setia pada jalanmu maka engkau akan dianugerahi-Nya pengetahuan seperti itu,” sahut Ario Abdillah sambil menutup mata dan mulai mengatur napas serta melafalkan dzikir.

“Hamba mohon doa restu, Tuanku,” kata San Ali mencium kaki Ario Abdillah. Ia rasakan ada rongga kosong di dadanya, seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, meskitidak tahu gerangan apa yang hilang itu. Dan sesaat ia merasa kehangatan membasahi pipinya. Sadarlah ia bahwa diam-diam titik-titik air bening telah menetes dari kelopak matanya.

Teluk Persia, 02 Oktober 2005, 09:50LT