Mereka Yang Terhijab

Mengikuti petunjuk Ario Abdillah, sesampainya di bandar Malaka, San Ali langsung mengunjungi Syaikh Abul Mahjuubin, seorang ulama terhormat keturunan Tamil-Melayu, penasihat ruhani kerajaan. Meski dikenal sebagai ulama yang alim, kehidupan Syaikh Abul Mahjuubin penuh kemewahan duniawi. Dia memiliki tidak kurang dari dua puluh kedai perniagaan yang tersebar dari bandar Malaka, Kandang, Umbar, Parit, Bunga, hingga Muar.

Sebagai ulama, Syaikh Abul Mahjuubin jarang terlihat keluar rumah. Dia selalu berada di dalam kamar. Tak seorang pun diperkenankan masuk. Jika ada yang bertanya apa yang dikerjakan Syaikh Abul Mahjuubin, murid-murid dan keluarganya akan mengatakan dia sedang menghitung tasbih. Meski kenyataan menunjukkan setiap hari sejumlah kotak berisi uang dari kedai-kedai perniagaan dibawa masuk ke kamar tersebut.

Karena kesibukannya ‘menghitung tasbih’ itu tak kenal waktu maka untuk menemui ulama tersebut bukan hal yang gampang. Beberapa muridnya menyeleksi benar siapa orang yang ingin bertemu Tuan Syaikh yang alim itu. Satu-satunya waktu luang Tuan Syaikh, kata murid-muridnya, hari Jum’at, meski San Ali menyaksikan sendiri bagaimana Tuan Syaikh itu di hari-hari lain menerima tamu-tamu penting, di antaranya pejabat-pejabat kerajaan. Pada hari itu, lanjut murid-muridnya, Tuan Syaikh berangkat ke masjid sambil menebarkan sedekah kepada gembel-gembel yang menunggu di pintu gerbang. Dan usai shalat Jum’at itulah San Ali dipersilakan duduk di ruang tamu, menunggu Tuan Syaikh datang.

Setelah menunggu barang satu jam, Syaikh Abul Mahjuubin kelihatan berjalan dengan kepala mendongak ke atas. Tanpa mengucap salam, ia masuk ke ruang tamu. Setelah bersalaman, Abul Mahjuubin duduk bersila di atas permadani tebal sambil menarik napas berat dan mata memandang penuh curiga ke sekujur tubuh San Ali mulai ujung rambut hingga ujung kaki.

Sebenarnya Syaikh Abul Mahjuubin adalah orang yang ramah dan pandai berbicara untuk menghangatkan suasana. Dengan usia barang enam puluh tahun, dia sepintas tampak bagaikan guru yang bijak. Namun, jika diamati lebih mendalam akan segera terasa bahwa dia bukanlah orang yang tulus dalam segala hal.

“Mamad, pelayanku, sudah menyampaikan hal awak datang kemari,” kata Abul Mahjuubin membuka pembicaraan.

“Juga keinginan saya menjadi murid Tuan?” tanya San Ali.

“Iya,” sahut Abul Mahjuubin pendek. “Dan aku heran, kenapa awak memilih berguru kepada aku?”

“Yang Mulia Ario Abdillah, Yang Dipertuan Palembang, menyarankan saya jika ingin mencari ‘Aku’ hendaknya berguru kepada Tuan,” ujar San Ali apa adanya.

“Masih hidupkah dia?” Abul Mahjuubin mengangkat alis kanannya ke atas.

“Tiga pekan lalu saya menjumpai beliau di kediamannya di Pedamaran. Namun, beliau sempat berkata kepada saya bahwa sepekan lagi beliau akan wafat.”

“Aneh-aneh saha bicara si Tua Bangka itu. Tapi apa maksud dia menyuruh awak berguru kepada aku?” tanya Abul Mahjuubin mengertak gigi tanda tak senang.

San Ali mengangkat bahu sambil menggumam, “Saya tidak tahu, Tuan.”

“Apa yang awak punya untuk bekal berguru kepada aku?” tanya Abul Mahjuubin mengangkat wajahnya ke atas.

“Saya tidak punya apa-apa, o Tuan Guru,” kata San Ali datar,” sebab kita sesungguhnya tidak memiliki apa-apa. Hanya Allah yang memiliki segala.”

“Awak bicara seperti itu sebagai apa?” sahut Abul Mahjuubin sinis. “Sebagai orang zuhud? Atau sebagai orang miskin yang menutupi kemiskinannya dengan alasan yang dibuat-buat? Atau si Tua Bangka itu yang mengajar awak bicara begitu?”

“Terserah Tuan menilai apa,” kata San Ali geli. “Sebab, kenyataannya saya memang tidak memiliki apa-apa. Jangankan uang, harta dan kekayaan lain, tubuh dan nyawa saya ini pun bukanlah milik saya.”

“Bagus jika itu yang awak mau,” Abul Mahjuubin berkata dengan suara ditekan. “Mulai sekarang, awak boleh ikut aku. Tapi ingat, awak harus sabar dan tawakal. Awak harus bisa membuktikan jika awak benar-benar orang zuhud yang tidak terpengaruh oleh gemerlap duniawi.”

“Terima kasih, Tuan.”

Abul Mahjuubin menerima San Ali di rumahnya. Namun, tidak seperti yang diharapkan, Abul Mahjuubin justru menempatkan San Ali di sebuah kedai perniagaan yang terletak di sekitar pelabuhan Malaka. Tidak main-main, San Ali dijadikan saudagar yang berkuasa penuh atas kedai tersebut.

Karena didudukkan sebagai saudagar pengelola kedai maka pakaian yang harus dikenakan San Ali haruslah pakaian yang pantas bagi saudagar. Ia harus memakai pakaian-pakaian yang terbuat dari sutera dengan hiasan benang emas. Terompahnya dari kulit. Dan seikat cincin emas bertahtakan intan menghiasi jari manisnya. “Awak harus bisa membawakan diri sebagai saudagar yang jujur dan terhormat,” Abul Mahjuubin mewanti-wanti.

Sebenarnya, ia hendak menolak dijadikan saudagar karena menurut pikirannya hal itu sangat tidak sesuai dengan jalan yang seyogyanya ditempuh dalam mencari ‘Aku’. Namun mengingat pesan Ario Abdillah, dengan berat hati ia menerima peran sementara menjadi saudagar sebagaimana dikehendaki Abul Mahjuubin. Siapa tahu ini adalah salah satu jalan menuju ‘Aku’, pikirnya.

Sekalipun menyadari bahwa dirinya tidak memiliki bakat berniaga dan sama sekali tidak menyukai pekerjaan berniaga, ia berkemauan keras menjalankan tugas dari Abul Mahjuubin dengan sebaik-baiknya. Ia ingin membuktikan bahwa sedalam apa pun ia menekuni perniagaan, namun hasrat hatinya tidaklah cenderung terhadap kekayaan duniawi yang diburu oleh para saudagar itu.

Entah ujian Tuhan atau keberuntungan sedang berpihak kepada San Ali. Dalam beberapa pekan ia sudah mengeruk keuntungan besar dan mendapatkan pelanggan baru. Dengan kejujuran, kesederhanaan, kepolosan, dan bahkan kenaifannya dalam berniaga, telah menjadikannya mengenal banyak orang, mulai dari saudagar besar, nahkoda, pelaut, tukang perahu, pedagang pasar, sampai kuli pelabuhan.

Perkenalan dengan berbagai kalangan itu membuka cakrawala pemahamannya terhadap keberadaan manusia yang memiliki keragaman sifat dan sikap. Di antara beragam manusia yang dikenalnya, ada seorang yang bernama Abul Maisir, anak sulung Syaikh Abul Mahjuubin.

Berbeda dengan ayahnya yang menjadi guru ruhani, Abul Maisir justru hidup seperti benalu yang berkembang biak di dahan dan ranting pohon keluarganya. Dikatakan benalu karena pekerjaan sehari-hari Abul Maisir adalah datang secara bergilir dari kedai satu ke kedai lain milik ayahnya untuk meminta setoran. Setoaran itu kemudian dibawanya ke meja judi. Seperti menggarami air samudera, begitulah uang yang dibawanya selalu ludes dalam tempo sekejap. Dari meja judi ke meja judi yang lain, dia bergulat dengan waktu untuk memenangkan pertaruhan, seibarat musafir mengejar fatamorgana di tengah gurun pasir. Makin dikejar makin jauh tak terjangkau.

Semula San Ali tidak mengetahui perilaku buruk Abul Maisir. Itu sebabnya, selama beberapa waktu ia selalu menyisihkan uang keuntungan kedai untuk diambil oleh Abul Maisir. Namun, bersama dengan bergulirnya waktu, terutama setelah ia ditanya oleh Abul Mahjuubin tentang hasil keuntungan dari kedai yang dikelolanya, barulah ia sadar bahwa Abul Maisir adalah orang yang keranjingan judi.

Tanpa ditutup-tutupi Abul Mahjuubin menuturkan tentang perilaku anak sulungnya yang memalukan itu. Dia menceritakan betapa Abul Maisir dengan kegemaran berjudinya itu telah menguras kekayaan keluarga lebih dari sepuluh juta ringgit. Abul Mahjuubin mengaku putus asa menghadapi Abul Maisir.

Setelah mendengar penjelasan Abul Mahjuubin, San Ali mengamati lebih cermat kehidupan Abul Maisir. Setelah mengamati selama beberapa waktu, tahulah ia bahwa hari-hari dari hidup Abul Maisir semata-mata memang diabdikan pada perjudian. Tidak ada waktu yang terlewatkan tanpa berjudi. Berapa pun uang yang dimilikinya, selalu tandas di meja judi. Abul Maisir benar-benar lupa daratan.

Jika Abul Maisir sedang kalah judi, begitu yang diketahui San Ali, dia akan marah-marah dan kemudian meminta uang kepada istrinya. Jika tidak ada uang dia akan meminta perhiasan atau barang apa pun yang bisa dijual. Jika tidak dipenuhi dia tidak segan-segan menghajar anak-anak dan istrinya. Abul maisir selalu bermata gelap. San Ali menilai betapa Abul Maisir sebenarnya sudah tidak waras. Jika sedang berjudi, bukan hanya anak dan istri yang dia lupakan, bahkan untuk mandi dan berganti pakaian pun dia seperti tidak ingat. Itu sebabnya, dia selalu tampil kuyu, kumal, dan tengik.

“Aku sebenarnya malu punya anak macam itu,” kata Syaikh Abul Mahjuubin suatu hari dengan wajah penuh duka. “Tetapi, bagaimana lagi? Dia anak sulung yang aku cintai. Dia itu tumpuan harapan aku. Karena itu, aku senantiasa berharap moga-moga dia bisa sadar.”

“Apa Tuan Guru tidak pernah menegurnya?” tanya San Ali ingin tahu.

“Sudah berulang-ulang aku menegurnya.” Syaikh Abul Mahjuubin menarik napas berat, “Namun, anak itu tidak pernah patuh akan nasihat aku.”

“Tuan tidak pernah bertindak kasar untuk mencegahnya berbuat maksiat?”

“Itulah kesulitan aku,” Syaikh Abul Mahjuubin menunduk. “Sejak kecil, dia anak yang aku sayang. Saat aku menderita dalam kemelaratan, dia ikut menghirup penderitaan. Saat aku dan istri hidup di gubuk beratap ijuk yang bocor, dia tidur kedinginan tanpa selimut kecuali sarung yang aku bebatkan ke tubuhnya. Rangkaian kisah sedih pada masa lalu yang aku alami bersama dia itulah yang membuat aku selalu merasa iba dan kasihan terhadap dia. Saat dia sakit demam aku berikrar bahwa andaikan dia sembuh maka segala keinginannya akan aku penuhi.”

Syaikh Abul Mahjuubin melanjutkan kisahnya. “Ikrar aku itulah yang sering dia jadikan senjata untuk memukul balik aku. Dia selalu mengatakan, sesuai ikrar aku dulu, bahwa aku hendaknya mengikuti keinginannya untuk berjudi. Dia mengatakan bahwa di dunia ini dia tidak ingin sesuatu yang berlebihan, istana, istri cantik, rumah mewah, perhiasan emas dan permata, kebun yang luas, atau kuda tunggangan yang mahal. Dia mengaku keinginannya sangat sederhana: berjudi.”

Berangkat dari peristiwa Abul Maisir, dengan cermat dan penuh kehati-hatian San Ali mulai mengamati perilaku anak sulung Syaikh Abul Mahjuubin dan teman-temannya sesama penjudi. Ia terutama memperhatikan sifat-sifat mereka. Apa sebenarnya yang mendorong orang-orang seperti Abul Maisir sampai lupa daratan jika sudah berjudi?

Melalui perenungan mendalam, San Ali beroleh hikmah kenapa syari’at melarang perbuatan judi. Karena, perbuatan itu ternyata mengarahkan dan membiasakan manusia untuk berwatak egois dan mau menang sendiri. Contoh sederhana, para penjudi pada dasarnya tidak memiliki sahabat dan saudara. Bayangkan, meskipun berkawan karib, jika sudah berada di dalam arena judi wajib dikalahkan dan dirampas miliknya. Watak penjudi jelas watak eksploitatif yang merugikan dan mengakibatkan ketidakseimbangan kehidupan bermasyarakat. Dan yang paling pokok adalah penjudi cenderung melupakan Tuhan karena dari waktu ke waktu yang diingat hanyalah kemenangan dan bagaimana cara mengalahkan lawan.

Ada sebuah peristiwa yang melukai jiwa San Ali, setidaknya yang berkenaan dengan kisah pedih para penjudi. Suatu saat, ia mendapati seorang saudagar Cina bernama Sian Coa, kawan judi Abul Maisir, tega menggadaikan istrinya gara-gara kalah berjudi. Betapa bodoh Sian Coa. Sudah seluruh miliknya ludes, istrinya pun tergadai. Bagi San Ali, kasus Sian Coa benar-benar kebodohan yang tak bisa diampuni. Sementara di kalangan kuli pelabuhan, beberapa kali terjadi perkelahian yang berakhir dengan pembunuhan. Bahkan yang sering terjadi, para kuli pelabuhan itu tertangkap mencuri uang gara-gara tak kuat menahan hasrat untuk berjudi.

Lain Abul Maisir lain pula Abul Khamrun, anak kedua Syaikh Abul Mahjuubin. Beda dengan kakaknya, Abul Khamrun gemar sekali mabuk-mabukan. Namun, perbedaan itu hanya pada tingkat kegemaran. Intinya keduanya adalah benalu. Karena, Abul Khamrun pun suka meminta uang kepada para pengelola kedai ayahnya. Lebih parah lagi, dia sering mengganggu orang lain jika sedang mabuk. Abul Khamrun dikenal sebagai pemabuk yang suka berkelahi.

Anak kedua Syaikh Abul Mahjuubin itu juga terseret melakukan perzinaan ke rumah-rumah pelacuran. Jika sudah mabuk dia melupakan anak-anak dan istrinya. Pekerjaan sehari-hari dia abaikan. Satu-satunya pekerjaan rutin Abul Khamrun adalah menunggu datangnya sore hari, ketika orang usai bekerja. Saat itulah, dia bersama-sama kawan-kawannya menikmati minuman keras di lepau tuak; sambil bernyanyi, tertawa-tawa, menari-nari, menantang-nantang, memaki-maki, dan sering berujung dengan perkelahian antara sesama pemabuk.

Di antara anak-anak Syaikh Abul Mahjuubin, yang paling menjengkelkan San Ali adalah Abul Kadzib, si bungsu. Hari-hari dari kehidupan Abul Kadzib dilalui dengan pekerjaan utama sebagai penipu ulung. Entah belajar dari mana Abul Kadzib ini sehingga dia sangat pandai bermanis tutur dan kata, sopan santun, ramah tamah, dan penuh janji indah sehingga setiap orang yang diajaknya berbicara selalu mempercayainya. Dan ujung dari perilaku Abul Kadzib adalah sumpah serapah dari orang-orang yang menjadi korban tipuannya.

Beberapa kali San Ali menyaksikan Abul Kadzib terpojok karena kepergok dengan orang-orang yang pernah ditipunya. Namun, sungguh ajaib, dengan tutur kata yang begitu santun dan penuh janji-janji, dia berhasil meloloskan diri. Bahkan San Ali sempat mengingatkan orang-orang yang pernah ditipu Abul Kadzib agar tidak mempercayai lagi omongannya. Anehnya, orang-orang yang sudah pernah tertipu itu masih juga percaya pada janji-janji Abul Kadzib dan mereka tertipu lagi.

Setelah mengamati dengan cermat, San Ali merasa sangat heran ketika mengetahui kehidupan nyata Abul Kadzib. Bayangkan, Abul Kadzib bukanlah penjudi dan pemabuk. Dia adalah penipu yang tiap saat berhasil mengeruk keuntungan. Anehnya, uang yang diperolehnya dari menipu itu ternyata selalu ludes tanpa sisa.

Setelah diamati lebih dalam, San Ali beroleh penjelasan bahwa Abul Kadzib ternyata sering mengeluarkan uang untuk membiayai anak-anak, istri, atau mertuanya yang sakit. Dia juga sering menyuap petugas yang menangkapnya. Bahkan yang mengherankan, karena susah diterima akal, Abul Kadzib yang kampiun menipu itu sering kehilangan uang karena dicuri, dirampok, dan bahkan ditipu orang.

Uang yang dikumpulkan anak ketiga Syaikh Abul Mahjuubin itu banyak dikeluarkan untuk membeli barang-barang mewah. Hampir tiap pekan Abul Kadzib selalu membeli pakaian bersulam benang emas dan berhias manik-manik. Tidak itu saja, dia melengkapi dirinya dengan keris-keris bergagang emas dengan bertahtakan intan dan permata. Cincin-cincin yang dikenakannya selalu dihiasi permata yang langka.

Bagi yang belum kenal dekat dengan Abul Kadzib, selalu muncul kesan bahwa anak bungsu Syaikh Abul Mahjuubin itu adalah salah seorang pangeran di antara putera-putera sultan. Kesan itu timbul karena penampilannya memang selalu mewah dan mengesankan gerak-gerik kebangsawanan. Namun, bagi yang sudah kenal dekat apalagi sudah pernah ditipu, tentu akan segera mafhum. Dia berpenampilan seperti itu untuk menipu calon korbannya.

Semakin dalam San Ali mempelajari perikehidupan manusia yang dikenalnya, terutama keluarga Syaikh Abul Mahjuubin, ia semakin dapat membaca dan memahami sifat dan kecenderungan-kecenderungan manusia yang berpangkal dari dorongan nafsu lawwammah, su’iyyah, dan ammarrah yang tak terkendali. Maksudnya, dalam memandang contoh perilaku keluarga Syaikh Mahjuubin, ia tidak lagi sebagai perilaku individu, tetapi sebagai sebuah kemestian dari sifat dan perbuatan manusia akibat dorongan ketiga nafsu buruk yang tak terkendali.

Dengan kecerdasan pikiran dan ketajaman mata hatinya, ia menangkap bagaimana citra diri manusia-manusia yang hidupnya dikendalikan oleh ketiga nafsu: lawwammah, su’iyyah, dan ammarrah, melahirkan sifat-sifat buruk, seperti takabbur, kibr, ujub, riya’, ghadhab, tafakhkhur, bukhl, hubbul mal, ghibah, dan namimah; yang berujung pada munculnya perselisihan.

Dengan pemahaman seperti itu, ia menyimpulkan betapa andaikata Allah tidak menurunkan syari’at agama ke permukaan bumi niscaya kehancuranlah yang akan menimpa manusia. Sebab, sifat-sifat yang muncul dari ketiga nafsu itu bermuara kebinasaan. Masing-masing ingin menguasai yang lain. Dan dalam keadaan tercekam oleh pengaruh nafsu tersebut maka kesadaran manusia akan terhijab dari cahaya kebenaran. Maksudnya, semakin kuat seseorang hidup dalam lingkaran nafsu maka akan semakin tebal dinding hijab yang menutupinya dari cahaya kebenaran.

Bagi San Ali, persoalan sifat dan perbuatan manusia yang terkungkung oleh kuatnya hawa nafsu itu hanya bagian dari persoalan yang lebih besar, yakni tentang takdir Ilahi yang berkaitan dengan orang-orang beruntung yang bakal menjadi penghuni surga dan orang-orang sial yang akan menghuni neraka. Kenapa Allah membagi manusia beruntung dan manusia sial? Betapa kasihannya orang-orang yang ditakdirkan bernasib sial?

San Ali berkenalan dengan seorang saudagar muda bernama Datuk Musa, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putera Syaikh Datuk Ahmad. Sedang Syaikh Datuk Ahmad kakak kandung Syaikh Datuk Sholeh, ayah kandung San Ali. Allah Maha Mengatur. Dan bermula dari pertemuan dengan Syaikh Datuk Ahmad inilah, ia mengetahui dengan agak jelas garis keturunan leluhurnya.

Dari penjelasan Datuk Musa, tahulah ia bahwa baik Syaikh Datuk Sholeh maupun Syaikh Datuk Ahmad tidak disukai penguasa. Mereka hidup dalam keprihatinan karena segala gerak-geriknya diawasi oleh kaki tangan penguasa.

Syaikh Datuk Ahmad mencari nafkah dengan membuka kedai kecil yang cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sore hari, lanjut Datuk Musa, ayahandanya hanya diperbolehkan mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an. Tidak satu pun orang dewasa diperbolehkan menimba ilmu kepada Syaikh Datuk Ahmad karena dikhawatirkan akan menggalang kekuatan antipemerintah.

Cerita Datuk Musa itu tentu saja dapat dipahami San Ali. Sepengetahuannya, ayahanda dan guru agungnya sampai tinggal di negeri Caruban pun pada dasarnya karena sultan keturunan Tamil yang berkuasa saat itu mengancam hidup mereka. Jadi, cerita Datuk Musa tentang keprihatinan hidup keluarga ayahandanya merupakan hal yang wajar bagi dirinya. Apa pun keadaannya, ia sangat ingin menemui Syaikh Datuk Ahmad.

Akhirnya, pada suatu malam, dengan penuh kehati-hatian San Ali diantar Datuk Musa menjumpai Syaikh Datuk Ahmad yang tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran bandar Muar. Di depan rumah itu ada kedai kecil. Agak ke samping kiri ada surau untuk anak-anak mengaji. Meski hidup dalam kesederhanaan, tampak sekali kesan bahwa Syaikh Datuk Ahmad adalah orang yang disegani. Ada pancaran wibawa dari rumah sederhana yang dihuninya. Seekor harimau, begitu pikir San Ali, tetaplah harimau meski dimasukkan ke kandang kambing.

Pertemuan antara San Ali dan Syaikh Datuk Ahmad berlangsung dengan penuh rasa haru. Syaikh Datuk Ahmad dengan bercucuran air mata memeluk tubuh San Ali erat-erat seolah-olah tak ingin melepasnya. San Ali merasakan sesak memenuhi dadanya. Ia dekap tubuh renta kakak kandung ayahanda yang tak pernah ia ketahui wajahnya itu. Ia membayangkan Syaikh Datuk Ahmad adalah ayahandanya yang ia rindukan selama bertahun-tahun.

“Sudah sebulan ini,” kata Syaikh Datuk Ahmad terisak, “aku selalu bermimpi didatangi si Sholeh. Tidak tahunya awak sudah sampai kemari. Meski Sholeh sudah meninggal, awak adalah bagian dari jiwanya yang tetap hidup. Awak harus bisa meneruskan perjuangan keluarga kita di dalam menegakkan kebenaran di muka bumi. Awak adalah harapan keluarga besar kita. Aku berharap moga-moga awak memiliki semangat juang seperti si Sholeh yang tak mau tunduk kepada siapa pun dalam menegakkan kebenaran Ilahi.”

“Guru agung saya, Syaikh Datuk Kahfi,” sahut San Ali, “Selalu menanamkan itu kepada saya. Beliau selalu menekankan bahwa di setiap kesempatan apa pun saya harus tetap berjuang membawa kebenaran. Di setiap keadaan saya harus bisa menjadi cahaya penerang bagi mereka yang kegelapan. Dan beliau selalu berwasiat agar saya tak kenal menyerah menghadapi tantangan seberat apa pun.”

“Ah . . . ah, aku tidak menyangka jika anak aku, si Kahfi, berhasil menjadi orang besar di rantau,” kata Syaikh Datuk Ahmad mengusap air mata. “Alhamdulillah, Ya Allah, Engkau angkat derajat kami melalui anak kami. Alhamdulillah, Ya Allah!”

“Uwak,” tanya San Ali dengan kening berkerut, “benarkah Syaikh Datuk Kahfi adalah putera Uwak?”

“Ya, dia, si Kahfi, anak sulungku,” sahut Syaikh Datuk Ahmad masih bercucuran air mata. “Dia kakak si Bayan dan si Musa. Si Bayan sekarang tinggal di Makah. Sudah dua puluh tahun lebih ia di sana. Menurut berita, ia menjadi guru dan disebut orang dengan nama Syaikh Datuk Bayanullah. Sedang si Kahfi, aku tak mengira kalau dia juga jadi guru.”

“Jadi,” gumam San Ali bingung, “Syaikh Datuk Kahfi adalah saudara sepupu saya? Kenapa selama ini beliau mengaku adik sepupu ayahandaku?”

“Si Kahfi selalu punya alasan jika melakukan sesuatu hal,” Syaikh Datuk Ahmad menarik napas berat. “Bisa saja dia mengatakan itu karena tahu engkau dilahirkan dalam keadaan yatim dan kemudian piatu. Sehingga, sebagai satu-satu keluarga, si Kahfi ingin mendudukkan dirinya sebagai pengganti orang tuamu. Sebab, bagi seorang anak yatim dan piatu, kawan sebaya mudah dicari, namun yang bersikap seperti orang tua sangat sulit didapat.

Dari beberapa surat yang dia kirim tidak pernah berkisah kalau dia sudah menjadi orang besar di negeri orang. Dia selalu bercerita kehidupannya dilindungi Allah. Rupanya, anak itu tidak ingin keluarganya di sini mendapat masalah besar jika tahu salah seorang di antara kami ada yang jadi orang besar di rantau.”

San Ali termangu-mangu mendengar penuturan Syaikh Datuk Ahmad. Gambaran-gambaran kasih sayang guru agungnya, yang bagai seorang bapak, berkelebat memasuki benaknya. Saat itu juga ia sadar, betapa bijaksana dan arif guru agungnya itu. Betapa dalam pemahaman guru agungnya atas jiwa manusia. Dan hal yang tak pernah diduganya adalah Syaikh Datuk Kahfi memiliki saudara kandung yang mengajar ilmu agama di Makah. Ini berarti, pikirnya, di dalam darahnya mengalir darah para ulama agung penyebar ajaran Rasulallah Saw.

Menyadari dirinya memiliki darah ulama, San Ali langsung bertanya tentang asal usul leluhurnya, “Apakah para leluhur kita adalah ulama besar? Siapa sajakah para leluhur kita itu, o Uwak Yang Mulia?”

Syaikh Datuk Ahmad terdiam beberapa jenak. Sesudah itu dia menjelaskan, “Ayahanda aku bernama Syaikh Datuk Isa. Dialah yang pertama tinggal di negeri Malaka ini. Kakekku bernama Amir Ahmadsyah Jalaluddin. Dia adalah Kepala Negeri Surat, Gujarat. Beliau menggantikan kedudukan ayahandanya, Amir Abdullah Khanuddin. Sedang ayahanda Amir Abdullah Khanuddin adalah Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam, beliau adalah ulama besar di Surat. Ayahanda Syaikh Sayyid Abdul Malik adalah Sayyid Alawi. Sayyid Alawi merupakan putera Sayyid Muhammad Shohibul Marbath. Sayyid Muhammad Shohibul Marbath putera Sayyid Ali Khaliq al-Qozam. Sayyid Ali Khaliq al-Qozam putera Sayyid Alawi Amir al-Faqih. Sayyid Alawi al-Faqih putera Sayyid Muhammad. Sayyid Muhammad adalah putera Sayyid Alawi. Dan Sayyid Alawi merupakan putera Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad al-Muhajir.”

“Siapakah ayahanda dari neneknda Sayyid Ahmad al-Muhajir?” tanya San Ali.

“Ayah aku tidak jelas menyebutkan nama ayahanda Sayyid Ahmad al-Muhajir. Beliau hanya menyatakan bahwa leluhur kami adalah para ulama Alawiyyin keturunan Sayyidina Husein. Menurut ayah aku, sejak masa Sayyid Ahmad al-Muhajir itulah keturunan Sayyidina Husein bertebaran di bumi Allah menyiarkan api kebenaran Agama Rasulallah. Leluhur kita yang awal sekali menyiarkan Agama Rasulallah Saw. di negeri Gujarat adalah Sayyid Ubaidillah, putera Sayyid Ahmad al-Muhajir. Jadi, di dalam darah kita sesungguhnya mengalir darah para sayyid keturunan Sayyidina Husein bin Ali bin Abu Thalib.”

Ketika San Ali terperangkap ke dalam perenungan, tiba-tiba Syaikh Datuk Ahmad memecah keheningan dengan bertanya, “Anak aku, bolehkah Uwak bertanya sesuatu kepada engkau?”

“Gerangan apakah yang akan Uwak tanyakan?”

“Anak aku, kenapa awak sekarang ini justru menjadi saudagar kaya? Kenapa awak bukannya menjadi seorang guru agama seperti leluhur-leluhur awak?”

San Ali menjelaskan ihwal perjalanan ruhaninya mencari kesejatian ‘Aku’ yang akhirnya membawanya kepada Syaikh Abul Mahjuubin. “Semula saya berpikir hal itu sangat tidak sesuai dengan tujuan saya. Namun, saya terima juga peran itu hingga salah satu hikmahnya adalah pertemuan di antara kita ini, Uwak. Menjadi saudagar bukanlah kehendak saya pribadi, melainkan hanya sebagai salah satu bagian dari perjalanan panjang saya mencari ‘Aku’. Jadi, Uwak, jika saya merasa telah tiba saat saya harus mengakhiri kehidupan sebagai saudagar, tidak pelak lagi akan segera saya tinggalkan semua. Ini bukanlah jalan saya yang sebenarnya, Uwak.”

Syaikh Datuk Ahmad tersenyum dengan air mata terus bercucuran. Dia benar-benar bangga bahwa di antara keluarganya bakal muncul cahaya baru pembawa tugas mulia yang akan menerangi kehidupan umat manusia. Dia bangga, meski kebesaran nama keluarganya hanya dicapai di negeri yang jauh. Syaikh Datuk Ahmad sadar anak-anak kandungnya sendiri tidakklah mungkin mengembangkan diri di bidang dakwah agama di negeri Malaka ini. Pemerintah sudah terlanjur mencurigai keluarganya. Sejak Sultan Muzzafar Syah berkuasa hingga Sultan Mansyur Syah, kebijakan mencurigai keluarganya tak pernah berubah. Dan akibatnya, Datuk Musa, anaknya, yang sebenarnya berilmu agama luas, harus hidup sebagai saudagar. Lantaran itu, Datuk Musa tidak berhak menggunakan gelar kebesaran Syaikh Datuk, ia hanya bisa menyandang gelar Datuk saja.

“Anak saudara aku,” kata Syaikh Datuk Ahmad, “sebenarnya keluarga kita sangat banyak, tetapi kita tidak tahu di mana mereka sekarang berada. Menurut ayah aku, beliau memiliki saudara tiga orang, yaitu Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein, Syaikh Sayyid Malik Ibrahim, dan Syaikh Datuk Imam Wardah. Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein, menurut ayah aku, tinggal di Samarkand dan menjadi guru agung di sana. Syaikh Sayyid Malik Ibrahim menjadi guru agung di Jawa. Sedang Syaikh Datuk Imam Wardah menjadi imam bagi jama’ah Muslim di negeri Kedah. Gelaran Syaikh Datuk bagi ayah aku dan saudaranya, Imam Wardah, didapat dari Sultan Pasai, yakni Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah, dan kemudian dikukuhkan lagi oleh Sultan Malaka, yaitu Sultan Megat Iskandar Syah.”

“Berarti kita masih punya keluarga di Samarkand, Kedah, dan Jawa?”

“Yang di Kedah sudah tidak ada,” kata Syaikh Datuk Ahmad. “Sebab, paman aku itu ketika wafat tidak memiliki keturunan. Beliau dimakamkan di Pasai. Sedang yang di Samarkand dan Jawa dikabarkan menjadi ulama besar. Salah satu putera Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein yang bernama Sayyid Ibrahim, kata ayah aku, pernah tinggal di Gujarat dan bertemu dengan ayah aku di sana. Sayyid Ibrahim ingin ke Kedah dan Jawa untuk menemui paman-pamannya. Tetapi, sesudah itu ayah aku tidak pernah lagi terdengar berita.”

Mendengar uraian uwaknya, San Ali merasakan daya hidup memancar dari kedalaman jiwanya. Ia seperti menemukan harta karun tak ternilai. Harta karun itu adalah keluarga. Ia ternyata tidak sebatangkara, tanpa sanak dan keluarga. Dan yang paling menggembirakan, keluarganya lahir dari lingkungan sayyid keturunan Sayyidina Husein, cucu Rasulallah Saw.

“Anak saudara aku,” kata Syaikh Datuk Ahmad dengan tangan gemetar memegangi kedua bahu San Ali, “sekarang harapan aku dan harapan seluruh keluarga kita hanya ditujukan kepada awak, maka sejak saat ini awak harus menggunakan gelar kebesaran keluarga kita. Awak akan aku beri nama baru dengan gelar kebesaran keluarga kita. Apakah awak bersedia?”

“Apa pun yang Uwak berikan akan saya terima,” kata San Ali memegangi kedua tangan Syaikh Datuk Ahmad. “Hanya doa, berkah, dan restu dari Uwak yang selalu saya harapkan. Semoga saya kuasa menjalankan pesan-pesan dan amanat keluarga kita.”

“Ingat-ingatlah, o Anak Saudara aku,” kata Syaikh Datuk Ahmad bersemangat, “sejak kini awak akan disebut orang dengan nama Datuk Abdul Jalil. Jika awak nanti menjadi guru agama yang arif dan bijak, awak berhak menggunakan gelaran nama Syaikh Datuk Abdul Jalil. Semoga Allah senantiasa merahmati awak. Semoga awak bisa mencapai cita-cita awak dan senantiasa menjadi hamba dari Robbul Jalil yang sejati.”

“Amin!”

Nama baru itu tanpa diduga membawa perubahan besar pada kehidupan San Ali. Gerak-geriknya mulai diamati oleh para pembantunya yang mendapat tugas khusus dari Syaikh Abul Mahjuubin. Beberapa pejabat kerajaan rupanya telah memberi tahu Syaikh Abul Mahjuubin tentang kemunculan keluarga Syaikh Datuk Sholeh dalam wujud Datuk Abdul Jalil, yakni saudagar kepercayaannya yang mengenalkan diri dengan nama San Ali.

Syaikh Abul Mahjuubin menyadari benar bahaya yang bakal dialaminya jika terus memiliki kaitan dengan Datuk Abdul Jalil. Dia lantas mencari jalan agar saudagar kepercayaannya itu terlepas sama sekali dari lingkaran kehidupannya. Meski perniagaannya maju pesat dan untung berlimpah, dia tetap mengutamakan keselamatan diri dan keluarganya. Apa pun yang terjadi, San Ali alias Datuk Abdul Jalil harus terpisah dari kehidupannya, begitu pikir Syaikh Abul Mahjuubin.

Setelah berpikir keras, akhirnya dia menemukan titik lemah Abdul Jalil, yakni kebiasaannya membelanjakan uang keuntungan usaha. Abdul Jalil selalu menyisihkan separo dari keuntungan yang diperolehnya untuk dibagi-bagikan kepada para kuli atau gelandangan yang berkeliaran di pelabuhan.

Kegemaran Abdul Jalil itu oleh Abul Mahjuubin dijadikan alasan untuk marah besar. Satu pagi, dengan lagak bersungut-sungut, dia mendamprat Abdul Jalil. Dia menilai Abdul Jalil telah melakukan kemubaziran dengan membuang-buang uang tanpa guna dan manfaat.

Abdul Jalil yang sejak awal tidak sedikit pun tertarik menjadi saudagar, dengan tenang menjawab semua dampratan Abul Mahjuubin sambil tertawa. “Tuan Guru tak perlu marah! Karena, saya tidak merugikan Tuan dengan apa yang telah saya lakukan ini. Apa yang sudah saya lakukan itu adalah tuntutan agama kita.”

“Bagaimana awak bisa bilang tak merugikan? Bagaimana awak bilang perbuatan mubazir itu tuntutan agama kita?” kata Abul Mahjuubin dengan wajah memerah. “Berapa besar wang yang sudah awak hamburkan? Tidakkah awak pernah menghitungnya?”

“Bukankah itu hanya separo dari keuntungan?” Abdul Jalil mengerutkan kening, “Bukankah Tuan Guru tidak rugi apa-apa?”

“Tapi andaikata tidak awak ambil separo, keuntungan itu kan masih utuh? Apakah awak tidak merasa aneh dengan tindakan membagi-bagi wang itu? Tanyakan kepada seluruh saudagar di Malaka dan di seluruh dunia, adakah mereka yang berbuat seperti awak?” Abul Mahjuubin marah sambil mengertak gigi.

“Tuan Guru,” kata Abdul Jalil tertawa dengan nada mengejek, “apakah Tuan menghendaki saya sebagai orang upahan? Berapa Tuan membayar upah saya? Maksud saya, jika Tuan Guru tidak berkenan dengan apa yang telah saya lakukan maka anggaplah bahwa uang yang saya bagi-bagikan itu sebagai upah saya. Hak saya.”

“Awak adalah murid aku,” sergah Abul Mahjuubin. “Awak aku jadikan saudagar bukanlah sebagai pegawai aku, melainkan sebagai murid aku. Awak aku latih sekaligus aku uji; apakah hati awak terpaut dengan kekayaan duniawi atau tidak. Jadi, awak jangan berbicara tentang upah.”

“Apakah Tuan Guru menganggap saya sebagai budak?” tanya Abdul Jalil tegas.

“Aku tidak pernah menilai begitu. Itu adalah anggapan awak sendiri yang tidak memahami bagaimana maksud aku sebenarnya,” kata Abul Mahjuubin datar.

“Tuan Guru,” sergah Abdul Jalil dengan wajah mengeras, “Tuan telah melihat sendiri bahwa sampai sejauh ini hati saya tetap tidak terpaut dengan harta benda duniawi. Bahkan Tuan Guru tahu bahwa uang dari kedai ini lebih banyak dihamburkan oleh Abul Maisir, Abul Khamrun, dan Abul Kadzib, anak-anak Tuan Guru terkasih daripada oleh saya. Sebab itu, o Tuan Guru, izinkanlah saya meninggalkan pekerjaan ini. Terbukti sudah bahwa hati dan pikiran saya tetap tidak terpengaruh bisikan duniawi sampai kapan pun saya bekerja sebagai saudagar.”

“Tetapi bukankah dengan tetap menjadi saudagar, awak dapat terus mempertahankan kebersihan hati dan pikiran awak dari bisikan duniawi?” Abul Mahjuubin mencoba memancing.

“Tuan Guru,” kata Abdul Jalil mendesah, “jika sebongkah batu hitam ditetesi setitik air terus-menerus maka satu saat batu itu akan berlubang. Begitu juga jika saya menggeluti pekerjaan sebagai saudagar, satu saat kelak hati dan pikiran saya akan berhasil dilubangi oleh setan yang bakal menjerumuskan saya ke jurang kecintaan duniawi. Bagaimana mungkin saya bisa menemukan ‘Aku’ jika setiap hari yang saya kerjakan hanya menghitung ‘aku’ demi ‘aku’ kerdil, yaitu benda-benda duniawi yang ditutupi hijab berlapis-lapis dari ‘Aku’ sejati?”

Akhirnya, Abul Mahjuubin dengan berpura-pura berat hati melepas kepergian Abdul Jalil. Dia merasa ada kekosongan bersimaharajalela di dadanya. Dia merasa pedih menyaksikan tekad Abdul Jalil yang begitu kokoh menghadapi berbagai ujian berat. Andaikata dia yang harus mengalami nasib serupa: mengelola kedai perniagaan selama hampir tiga tahun dan saat mendapat untung besar kedai itu harus ditinggalkan begitu saja tanpa membawa apa-apa; tentu dia merasa berat hati.

Lepas dari kelegaan akibat hidupnya terbebas dari Abdul Jalil yang dicurigai penguasa, Syaikh Abul Mahjuubin merasakan betapa jauh di dalam relung-relung jiwanya dia memendam seberkas penyesalan atas jalan hidupnya yang penuh liku-liku kesulitan; melintasi samudera, gunung, lembah, jurang, dan ngarai bendawi yang tak bertepi. Dia sadar bahwa keberadaann ‘aku’ dirinya sudah terhijab oleh berlapis-lapis tirai bendari dari ‘Aku’. Dia sadar, lantaran keterhijaban itu maka ketiga anaknya terperosok ke dalam lingkaran kemaksiatan yang bakal membawanya ke tungku neraka.

Sebagai guru ruhani, Syaikh Abul Mahjuubin sebenarnya mengetahui bahwa kehidupannya yang dilingkari kemewahan duniawi adalah kehidupan yang jauh dari kebenaran Ilahi. Dia sadar telah terjebak dalam lingkaran kemunafikan, yakni berkata-kata dengan nasihat dan fatwa-fatwa agama, tetapi pada kenyataannya malah melanggar segala yang ditetapkan agama. Ketika mulutnya berkata tentang cinta dan ketaatan kepada Allah maka hati dan perbuatannya menunjukkan cinta dan ketaatan kepada selain Allah. Bahkan anak-anak yang diharapkannya saleh, ternyata menjadi ahli maksiat. “Tetapi, bukankah segala apa yang aku jalani sekarang ini adalah kehendak-Nya juga?” gumamnya menghibur diri.