Hijab-Hijab

Perjuangan mencari Allah adalah perjuangan mahadahsyat yang hanya mungkin dilakukan oleh pejuang-pejuang tangguh yang tak kenal kata menyerah. Dikatakan perjuangan mahadahsyat karena Allah bukanlah Tuhan statis yang membiarkan diri-Nya gampang ditemukan. Allah senantiasa membentangkan hijab berlapis-lapis dan berbagai halang rintang untuk menyelubungi keberadaan diri-Nya. Sekalipun para pencari-Nya mengetahui bahwa Dia adalah Inti segala sesuatu dari ciptaan-Nya, baik yang bisa ditangkap pancaindera maupun yang gaib, untuk menemukannya bukanlah persoalan sederhana.

Abdul Jalil pun tetap menghadapi misteri tak terpecahkan tentang Dia. Walaupun telah mengalami pahit dan getir perjalanan hingga terdampar di Malaka, ia sejauh ini hanya mampu menangkap tengara keberadaan hijab-hijab yang tak diketahui batas akhirnya. Bahkan hijab-hijab itu pun baru disadarinya ada setelah ia melampaui berbagai pengalaman ruhani. Setiap kali hijab gaib itu tersingkap; ia merasa beroleh pencerahan baru. Bagai ular yang keluar dari kelongsongnya.

Seingatnya, kesadaran tentang misteri hijab-hijab itu terjadi setelah ia mengenal Ario Abdillah. Sekalipun tidak lebih dari tujuh bulan, Ario Abdillah telah mengenalkan ungkapan-ungkapan sekaligus bukti-bukti tentang hijab-hijab misterius yang menyelubungi rahasia Ilahi. Melalui perenungan mendalam ia akhirnya mampu menangkap keberadaan rahasia hijab ilahi itu dalam ungkapan metaforik, yakni dengan iktibar; tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba, dan tujuh benteng.

Sekalipun terdengar begitu dahsyat dan secara akal sulit dilampaui manusia, ungkapan itu lebih ditujukan pada gambaran suasana ruhaniah diri manusia; sehingga ungkapan itu tidak perlu direnung-renungkan, dipikir, serta dikaji dengan nalar. Maksudnya, ungkapan metaforik tentang tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba, dan tujuh benteng itu adalah gambaran dari citra diri yang bersifat ruhani. Dengan demikian, perjuangan menyingkap hijab-hijab itu bukanlah dalam makna harfiah. Ungkapan menyeberangi tujuh samudera, misalnya, bukanlah menyeberangi samudera dalam makna kongkret, melainkan melintasi tujuh samudera ruhani yang ada di dalam diri manusia.

Ia menyadari bahwa perjuangan terberat dalam upaya mencari-Nya adalah melintasi samudera, gunung, lembah, jurang, gurun, rimba, dan benteng yang ada di dalam diri sendiri. Karena, sesungguhnya itulah lapisan hijab-hijab yang menyelubungi Dia. Bertolak dari pengalaman ruhani dan perenungan yang telah dilakukannya, ia memahami benar sabda Nabi Muhammad Saw kepada para sahabat ketika kembali dari Perang Badar “Kita baru kembali dari perang kecil untuk menuju perang besar, yakni perang melawan nafsu.”

Berbagai pengalaman pahit dan getir yang ia lampaui telah mengajarkannya bahwa melawan kehendak nafsu adalah perjuangan paling dahsyat, baik yang ia lihat pada orang-orang yang pernah dikenalnya maupun pada dirinya sendiri. Orang-orang seperti Syaikh Abul Mahjuubin dan anak-anaknya, misalnya, adalah gambaran dari hidup terkucil di pulau keakuan yang gersang tanpa mata air dan pepohonan. Mereka adalah gambaran dari orang-orang yang bukan saja tidak mempunyai keinginan melintasi, melainkan juga sangat ketakutan ketika mendengar keberadaan tujuh samudera, tujuh gurun, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh rimba, dan tujuh benteng.

Ia sadar bahwa tidak semua orang berani menanggung akibat dari usaha melintasi tujuh hijab itu. Namun, sebagai orang yang sudah bertekad bulat mencari Dia maka tantangan dan rintangan seberat apa pun akan dilintasinya dengan berbagai resiko, termasuk kehilangan nyawa.

Menurut pengalamannya, tantangan awal yang paling berat dan susah adalah melintasi Tujuh Lembah Kasal yang berhawa sejuk, ditumbuhi rumput hijau, taman-taman bunga, pohon kemenyan dan gaharu yang menebar wangi, sungai, danau, dan burung aneka warna yang merdu bernyanyi. Di lembah itu para pencari lebih suka menenggelamkan diri dalam kemalasan naluri manusiawinya daripada bersusah-susah beribadah kepada-Nya.

Tantangan kedua yang tak kalah dahsyat adalah Tujuh Jurang Futur yang menganga siap menelan siapa saja yang jatuh ke dalamnya. Siapa pun yang melihat ke dasar jurang yang seperti tanpa dasar itu lazimnya akan menjadi lemah pendirian dan runtuh tekadnya untuk melanjutkan perjalanan. Bagi para pencari yang masih kuat terpengaruh kehidupan duniawi, Tujuh Jurang Futur itu sangatlah menakutkan sehingga mereka lebih suka tidak melanjutkan perjalanan daripada melintasinya dengan resiko tak pernah kembali. Kebimbangraguan selalu mencekam siapa saja yang mencari-Nya ketika harus melewati tujuh jurang ini.

Tantangan ketiga yang juga dahsyat dan butuh perjuangan khusus adalah Tujuh Gurun Malal, berupa hamparan pasir dan bebatuan yang membosankan. Di tengah perjalanan, para pencari sering dirayapi rasa bosan. Mereka enggan melanjutkan perjalanan, padahal tujuannya masih jauh. Tidak sedikit yang kemudian menggerutu, “Saya sudah berjalan sangat jauh dan mengulang-ulang ibadah yang itu-itu juga, namun tujuan saya belum tercapai.”

Tantangan keempat yang luar biasa sulit dilampaui adalah Tujuh Gunung Riya’ yang sering menggelincirkan para pencari yang berusaha mendakinya. Para pencari yang mendaki Tujuh Gunung Riya’ dengan puncaknya yang tinggi dan selalu diselimuti awan itu cenderung memamerkan kemampuan mereka. Di atas puncak Gunung Riya’, para pencari biasanya lupa pada apa yang mereka cari. Mereka terjebak pada kebanggaan dan memamerkan kemampuan, kehebatan, kegagahan, dan keberanian diri sendiri. Bahkan tak kurang banyak yang terperangkap pada pamrih sehingga tujuan mereka tidak lagi menuju Allah, tetapi ke surga “yang lain dari Allah”.

Tantangan kelima yang sulit ditembus adalah Tujuh Rimba Sum’ah yang berisi raungan serigala, auman harimau, kicau burung, lenguh banteng, dan bunyi batang bambu yang berderak ditiup angin. Di rimba ini, para pencari sering meniru perilaku hewan yang gemar memperdengarkan suaranya. Para pencari suka menceritakan berbagai amaliah ibadah yang mereka lakukan, dengan tujuan agar orang menyanjung dan memuji mereka. Bahkan sering terjadi, para pencari benar-benar terperangkap pada suasana rimba raya sehingga mereka menjelma menjadi hewan yang suka mengaum, melenguh, melolong, dan berkicau untuk memamerkan kehebatan dirinya.

Tantangan keenam yang sulit diseberangi adalah Tujuh Samudera ‘Ujub yang bergelombang dahsyat dengan ombak menggemuruh menerpa pantai dan batu karang. Di samudera ini, para pencari gampang terpengaruh oleh keberadaan samudera yang bangga dengan kedahsyatan ombaknya yang kuat dan tinggi mencakar langit. Di dalam hati mereka muncul kebanggaan dan puja-puji terhadap diri sendiri karena merasa amalnya telah banyak. Mereka tak pernah menduga bahwa saat rasa bangga diri bagai samudera itu mencuat maka yang terjadi adalah makna perjuangan ibadah mereka hilang, ibarat buih ombak di hamparan pasir pantai.

Tantangan ketujuh yang sulit ditaklukkan adalah Tujuh Benteng Hajbun yang berdinding tinggi dengan tembok kokoh dihiasi ukiran-ukiran dan hiasan indah. Benteng-benteng itu dihuni oleh warga yang hidup dalam kemakmuran dan kelimpahan rezeki. Para pencari yang melintasi tujuh benteng ini biasanya terpesona oleh keindahan arsitektur dan kemakmuran para penghuninya. Para pencari yang terpesona ini tak jarang terjebak mengaku bahwa benteng-benteng itu adalah miliknya dan merekalah yang membangunnya. Para pencari yang demikian tak menyadari bahwa saat mereka mengakui keindahan amaliah ibadahnya maka saat itu pula benteng-benteng itu menjadi pasir yang luruh tertiup angin.

Walaupun telah melalui berbagai pengalaman, Abdul Jalil belum berani memberikan penilaian terhadap perjuangannya selama ini dalam melintasi tujuh samudera, gunung, lembah, jurang, gurun, rimba, dan benteng yang terhampar di dalam dirinya. Ia merasa betapa hingga saat ini masih harus bergulat seru untuk menaklkkan keakuan yang terus membayangi semua gerak hidupnya, terutama saat bersinggungan dengan orang lain. Ia masih sering jengkel dan marah kepada diri sendiri karena tanpa sadar ia acap kali terperosok ke Rimba Sum’ah, yakni menceritakan segala amaliah ibadah yang telah dilakukannya dengan secuil maksud agar dirinya dipuji.

Dengan menumpang kapal dagang milik saudagar keturunan Arab-Melayu bernama Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, Abdul Jalil pergi menuju kota pelabuhan Basrah untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Baghdad. Menurut pembicaraan sejumlah orang yang dikenalnya di Malaka, ia beroleh kabar bahwa di Basrah dan Baghdad terdapat banyak ulama masyhur yang memiliki kedalaman ilmu ruhani, bahkan di antaranya terdapat wali-wali keramat. Berangkat dari kehausannya akan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan “Jalan Mencari Tuhan” maka ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Malaka.

Ahmad Mubasyarah at-Tawallud adalah laki-laki gagah berusia empat puluh lima tahun. Kulitnya coklat kemerahan. Hidungnya mancung. Kumisnya lebat. Sekepal janggut dibiarkan menggantung didagunya. Matanya yang lebar dan bening mengesankan bahwa dia orang yang polos dan lugas. Keningnya yang lebar menunjukkan bahwa dia cerdas. Dia selalu tersenyum kepada siapa saja yang diajaknya berbicara.

Sejak pertama kali berkenalan dengan Abdul Jalil, Ahmad at-Tawallud sudah menaruh simpati. Dia yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun sebagai saudagar, menangkap semacam kepolosan dan kejujuran bahkan kenaifan Abdul Jalil dalam berniaga. Itu sebabnya, di sela-sela waktu senggangnya berniaga dia menyempatkan diri berbincang-bincang tentang berbagai hal dari yang sepele hingga tentang nama yang diberikan oleh kakeknya (Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady) dengan Abdul Jalil. Lantaran itu, mereka berdua menjadi akrab.

Dari berbagai perbincangan dan tukar pendapat terutama yang berkaitan dengan masalah agama, Ahmad at-Tawallud merasa tertarik dengan pandangan-pandangan Abdul Jalil yang sering dianggapnya aneh dan sulit dipahami oleh kalangan orang kebanyakan. Namun, dia yakin bahwa Abdul Jalil adalah orang yang tulus dan pantang menyerah. Itu sebabnya, dia berharap Abdul Jalil akan beroleh cakrawala baru setibanya di Basrah dan Baghdad.

Di sepanjang perjalanan, Abdul Jalil berbincang tentang perniagaan, saudagar-saudagar nakal, pelabuhan-pelabuhan besar, agama, ulama-ulama besar di Basrah dan Baghdad, bahkan tentang hal-hal yang bersifat pribadi seperti nama diri. Abdul Jalil mengaku sejak awal perkenalan ia sudah sangat tertarik dengan nama Ahmad Mubasyarah at-Tawallud. Nama itu menurutnya seperti tidak lazim digunakan orang. “Selama ini saya merasa tidak pantas menanyakan soal nama Tuan. Namun, sekarang saya beranikan diri karena tidak dapat lagi menahan rasa ingin tahu saya,” kata Abdul Jalil.

Ahmad at-Tawallud sambil tersenyum menjelaskan bahwa nama itu pemberian kakeknya, Syaikh Ahmad Tauhid al-Af’al bin Abdul Mubdi al-Baghdady, yang lazim disebut Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady. Kakeknya merupakan guru ruhani yang tinggal di pinggiran kota Baghdad. Sekalipun bukan ulama termasyhur, ia memiliki cukup banyak pengikut. “Sampai sekarang makam beliau masih banyak yang menziarahi.”

“Nama beliau Ahmad Tauhid al-Af’al bin Abdul Mubdi al-Baghdady?” kata Abdul Jalil penasaran. “Aneh juga kedengarannya. Tapi, rasanya nama kakek Tuan berkaitan dengan nama Tuan.”

“Benarlah apa yang Tuan katakan itu,” kata Ahmad at-Tawallud. “Nama saya memang berkaitan dengan nama kakek saya. Sepekan sebelum beliau wafat, saat usia saya empat puluh tahun, beliau menjelaskan arti nama saya sekaligus kaitannya dengan nama beliau.”

“Apakah nama Tuan dan nama kakek Tuan berkaitan dengan pengesaan Allah? Tauhid?”

“Tepat begitu, Tuan Abdul Jalil. Menurut kakek, nama beliau mengandung makna ‘Keesaan Af’al Allah’. Maksudnya, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah Af’al (Perbuatan) Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah. Jadi, keliru dan sesat pandangan yang mengatakan bahwa yang baik dari Allah dan yang buruk dari selain Allah,” jelasnya.

“Makna ‘Keesaan Af’al Allah’ pada nama kakek dijabarkan di dalam namaku, yakni Mubasyarah (terpadu) dan at-Tawallud (terlahir),” lanjutnya. “Maknanya, Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena, misalnya, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-Nya, yakni kemampuan kodrati gerak tangan dan kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil: Wa Allahu kholaqakum wa ma ta’malun, yang bermakna: Allah yang menciptakan engkau dan segala apa yang engkau perbuat (QS ash-Shaffat: 96). Inilah makna Mubasyarah.”

“Sedangkan at-Tawallud adalah perbuatan yang terlahir, semisal saya melempar batu. Batu yang terlempar dari tangan saya itu adalah berdasar kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil: Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama, yang bermakna: Bukanlah engkau yang melempar, melainkan Allah jua yang melempar ketika engkau melempar (QS al-Anfal: 17). Itulah yang dinamakan at-Tawallud, pada hakikatnya adalah satu, yakni Af’al Allah SWT,di mana berlaku dalil: La haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyyi al-‘azhimi. Maknanya, tiada daya dan kekuatan melainkan daya dan kekuatan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Rasulallah Saw. dalam sebuah hadits diriwayatkan bersabda: La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi, yang bermakna: Tidak bergerak satu zarah pun melainkan atas izin Allah.”

“Mendalam sekali nama Tuan dan Kakek Tuan,” kata Abdul Jalil menarik napas berat. “Kakek Tuan pastilah seorang sufi agung yang sudah mencapai maqam wahdat al-af’al.”

“Tuan Abdul Jalil, karena saya sudah terlanjur dididik menjadi saudagar oleh ayah saya maka saya tidak banyak mengetahui seluk-beluk keilmuan yang didalami kakek saya. Namun, satu hal dari fatwa beliau yang selalu saya jadikan pegangan hidup, yaitu dalam keadaan apa saja, baik suka maupun duka, saya harus senantiasa meneguhkan keyakinan bahwa semua itu adalah perbuatan yang dikehendaki-Nya. Karena itu, saya selalu disuruh menirukan dia Rasulallah Saw., yakni: Allahumma inni a’udzubika minka (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang datang dari-Mu). Allahumma inni a’udzubika min syarri ma kholaqta (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang Engkau ciptakan). Di sini berlaku dalil: Qul kullun min ‘indi Allahi. Artinya, katakan hai Muhammad segala-galanya adalah dari sisi Allah (QS an-Nisa’: 78).”

Perbincangan dengan Ahmad at-Tawallud telah menambah cakrawala baru bagi pemahaman Abdul Jalil terhadap ‘Keesaan Af’al Allah. Perasaan dan akal budinya menerima secara utuh kebenaran yang terungkap dari perbincangan itu, yakni setiap gerak dari segala peristiwa yang tergelar di alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, pada hakikatnya adalah Af’al Allah. Namun, jauh di kedalaman jiwanya masih terlintas hasrat untuk mengetahui sekaligus merasakan secara nyata bagaimanakah Af’al Allah berlangsung.

Langit hitam dipenuhi sejuta bintang bertaburan laksana permata ketika ia duduk di anjungan mendengarkan debur ombak menghantam lambung kapal dan desau angin menerpa layar. Ia merenungkan berbagai hal sehubungan dengan perbincangannya bersama Ahmad at-Tawallud. Bagaikan ular keluar dari kelonsong kulitnya, demikianlah ia mengalami kesadaran baru: menguak hijab gaib Ilahi dalam kaitan dengan nama-nama.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja ia merasakan kesadaran baru menyingsing dari cakrawala jiwanya saat merenungkan keberadaan langit, bintang-gemintang, laut, kapal, layar, perbincangan dengan Ahmad at-Tawallud, bandar Malaka, Palembang, Caruban, Pakuan, orang-orang yang dikenalnya, dan dirinya sendiri. Ia menangkap makna bahwa segala apa yang telah dilihat dan dikenalnya selama ini pada hakikatnya adalah tidak ada. Semua yang maujud menjadi ada karena memiliki nama. Dan nama-nama itu sendiri jika dicari akarnya justru tidak ada. Nama-nama ada karena disepakati ada.

Tentang negeri Galuh, misalnya. Jika dicari benar di manakah tempat yang bernama Galuh, pastilah tidak ada. Yang ada hanyalah kumpulan desa dan kota seperti Caruban, Pasambangan, Babadan, Giri Amparan Jati, Kawali, Rajagaluh, Palimanan, Sindang Laut, Tegal Alang-Alang, Gegesik, dan Talaga. Desa-desa dan kota-kota itu pun jika dicari letak pastinya juga tidak akan ada. Yang ada hanyalah kumpulan rumah, bangunan, pasar, dan kedai perniagaan. Begitu juga dengan rumah, bangunan, pasar, dan kedai sesungguhnya hanya nama karena yang disebut rumah, bangunan, pasar, dan kedai adalah kumpulan dari bagian yang disebut pintu, jendela, kusen, atap, genteng, usuk, dan reng.

Ia merenungkan pula tentang keberadaan kapal yang ditumpanginya. Ternyata, ia tidak menemukan satu pun tempat di kapal yang bernama “kapal”. Kapal menjadi ada karena ia terdiri atas bagian-bagian, yakni lambung, geladak, tiang, layar, anjungan, kemudi, jangkar, dan tali. Layar pun jika direnungkan ternyata tidak ada. Layar ada karena sebutan. Sejatinya, layar ada karena terbentuk dari tiang, kain, dan tali-temali. Sedang kain layar pun hakikatnya tidak ada, yang ada adalah jalinan benang. Benang pun kalau diurai adalah kumpulan serat.

Ia kemudian merenungkan keberadaan dirinya: seorang manusia yang disebut dengan nama Abdul Jalil. Di manakah Abdul Jalil yang sejati bersemayam? Fakta menunjukkan bahwa yang ada pada tubuh fisiknya tidak ada yang bernama Abdul Jalil. Yang ada adalah kumpulan dari tangan, kaki, kepala, dada, perut, bahu, dan pinggang. Kepala pun pada hakikatnya tidak ada karena yang ada adalah bagian-bagian dari kepala yang disebut kening, telinga, mata, mulut, hidung, dagu, rahang, gigi, rambut, alis, kumis, janggut, dan sebagainya. Lalu di bagian tubuh manakah Abdul Jalil berada? Demikianlah, menurut perenungannya, bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini pada dasarnya hanya nama-nama yang disepakati keberadaannya, meski hakikat sejatinya nama-nama itu ada karena disepakati ada.

Tiba-tiba ia teringat ucapan Ario Abdillah yang selama ini masih sulit dipahaminya. “Jika engkau melihat dengan matamu dan kemudian engkau melihat dengan mata hatimu maka segala nama apa pun jua pada hakikatnya akan kembali kepada sumbernya yang satu, yakni Dia Yang Wujud dari segala yang maujud. Dia inti dari segala nama.”

Mengingat ucapan Ario Abdillah, ada kilatan di kalbunya yang langsung menyambar benaknya. Dan kilatan itu adalah kilasan gambaran dari munculnya nama azh-Zhahir dari Wujud. Ia tersentak kaget. Apakah segala sesuatu yang tergelar di alam semesta yang dapat dilihat dengan mata indriawi adalah pengejawantahan dari azh-Zhahir? Jika memang demikian adanya, berarti di balik segala yang maujud yang zhahir ini mesti ada yang bathin. Dan al-Bathin adalah nama Allah juga.

Saat ia tengah membolak-balik, mengaitkan, menghubungkan, dan menjalin makna azh-Zhahir dan al-Bathin untuk memahami keberadaan yang maujud dan yang Wujud, ia dikejutkan oleh kehadiran Ahmad at-Tawallud yang sudah berada di belakangnya sambil terbatuk-batuk. Tanpa hujan tanpa angin dia berkata, “Dulu sewaktu saya menikmati keheningan malam dengan taburan bintang laksana permata, kakek mengingatkan agar saya tidak terjebak ke dalam pesona yang maujud. Beliau saat itu meminta saya agar selalu mengingat-ingat dan memahami Firman-Nya: Fa ainama tuwallu fatsamma wajhu Allahi (QS al-Baqarah: 115). Namun, sampai sekarang saya tetap belum bisa memahami maknanya.”

Mendengar ucapan Ahmat at-Tawallud, Abdul Jalil merasakan hijab yang menyelubungi kesadarannya tersingkap lebar. Ia menangkap kebenaran di dalam azh-Zhahir dan al-Bathin dalam kaitan dengan keberadaan segala ciptaan: dia adalah kenyataan dari segala sesuatu yang tersembunyi. Dan bersama itu pula, rasa ingin tahunya tentang Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady semakin kuat.

“Tuan, apakah kakek Tuan mencatat pelajaran-pelajaran ruhani yang diberikannya? Ataukah beliau memiliki murid-murid pengganti?”

“Beliau ada mencatat beberapa pelajaran yang tidak saya mengerti,” kata Ahmat at-Tawallud. “Namun, sejumlah buku tulisan para sufi termasyhur yang dimiliki kakaek sampai sekarang masih saya simpan dengan baik. Soal murid-murid kakek, satu pun saya tidak ada yang simpati. Mereka saling berebut jabatan mursyid. Mereka saling mengaku bahwa merekalah pewaris ruhani kakek. Tapi saya tahu persis, hati mereka jahat dan pikiran mereka penuh pamrih duniawi.”

“Jika Tuan berkenan, saya ingin sekali mempelajari kitab-kitab peninggalan kakek Tuan. Saya yakin kitab-kitab itu adalah khazanah perbendaharaan yang tak ternilai,” Abdul Jalil memohon.

“Tapi Tuan Abdul Jalil, kitab-kitab itu adalah kitab-kitab besar yang tidak sembarang orang bisa mempelajarinya. Apakah Tuan bisa membaca dan memahami isinya? Saya sendiri setelah membuka beberapa bagian sudah merasa tidak sanggup melanjutkan.”

“Tuan,” kata Abdul Jalil tersenyum, “sekalipun Tuan mengenal saya sebagai saudagar, perlu Tuan ketahui bahwa sejak kecil saya dididik di Padepokan Giri Amparan Jati di bawah asuhan kakak sepupu saya, Syaikh Datuk Kahfi. Saya sudah menguasai Nahwu, Sharf, dan Balaghah. Saya juga sudah paham tentang ilmu tafsir, mustholah al-hadits, ushul al-fiqh, dan manthiq. Jadi, Insya Allah saya akan mampu mempelajari kitab-kitab peninggalan kakek Tuan.”

“Jika demikian, silakan Tuan mempelajarinya. Saya senang jika ada yang bisa memanfaatkan kitab-kitab warisan kakek saya, terutama orang-orang seperti Tuan yang pandai menyembunyikan keahlian agama.”

“Tuan terlalu memuji.”

“Tidak Tuan,” sahut Ahmad at-Tawallud. “Saya memang tidak menduga jika Tuan memiliki pengetahuan mendalam tentang agama. Selama ini saya menganggap Tuan sebagai orang yang tidak banyak paham tentang agama kita. Maafkan saya karena selama ini menilai Tuan sama seperti para saudagar dari negeri Tuan. Mereka masih mencampuradukkan kemuliaan Islam dengan pemujaan terhadap berhala.”

“Ah, Tuan belum mengenal orang-orang di negeri saya. Sekalipun banyak yang belum memeluk Islam, sebagian di antara ruhaniwan mereka memiliki pandangan ketauhidan yang sama dengan Islam,” jelas Abdul Jalil.

“Itu yang saya belum tahu,” kata Ahmad at-Tawallud heran.

“Karena itu, saya yakin dalam tempo tidak lama mereka akan beramai-ramai memeluk agama Islam,” kata Abdul Jalil.

Hasrat Abdul Jalil untuk menenggak ilmu pengetahuan ruhani di tengah gurun keterbatasan dirinya terlampiaskan saat ia tiba di Basrah. Berbagai kitab peninggalan Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady yang memuat ajaran para ulama sufi besar seperti Abu Mansyur al-Halaj, Abu Yazid Bustami, Abu Said al-Kharaz, Abu Bakar al-Kalabazi, Abul Qasim al-Qusyairy, Muhyiddin Ibnu Araby, al-Ghazali, dan Abdul Karim al-Jili dipelajarinya dengan penuh semangat. Dan bagaikan musafir terlunta-lunta di tengah padang kemudian menemukan mata air, begitulah ia dengan rakus menghirup kesegaran pengetahuan yang digali para ulama agung tersebut.

Di antara sejumlah kitab yang sudah dibaca dan dipahami, yang dianggapnya paling berkesan adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Ilahiyyah, dan al-Insan al-Kamil tulisan Syaikh Abdul Karim al-Jili, yakni ulama sufi yang wafat barang setengah abad silam. Menurut Ahmad at-Tawallud, Abdul Karim al-Jili adalah kawan akrab kakeknya. Mereka berdua sering terlibat perbincangan rahasia yang tak seorang pun boleh mendengarkan.

Abdul Jalil menilai ungkapan-ungkapan yang digunakan al-Jili sangat sederhana. Lugas. Gampang dipahami. Dan yang terpenting, memiliki banyak kemiripan dengan pengalaman ruhani yang telah dilewatinya. Lantaran itu, ia seperti tidak pernah bosan membaca ulang, mengkaji, merenungkan, dan menghayati ketiga kitab tersebut.

Ia semakin merasakan cakrawala pemikiran dan jiwanya terbentang luas dalam memahami hakikat segala sesuatu yang tergelar di alam semesta. Terutama yang berkaitan dengan perjalanan menuju Dia yang dihalangi berbagai rintangan dan tantangan luar biasa. Ia benar-benar sangat rindu mengenal sekaligus merasakan sentuhan kebenaran Ilahi, Af’al, Asma’, Shifat, dan Dzat.

Getaran kerinduan yang makin mencekam jiwa itu ternyata membawanya ke sebuah pengalaman baru. Hal itu dialaminya setelah ia tinggal lebih dari sebulan di rumah Ahmad at-Tawallud.

Ketika pertama kali datang ke Basrah, ia diperkenalkan dengan ibunda Ahmad at-Tawallud yang bernama Siti Fa’ilatun, seorang perempuan Melayu berusia sekitar enam puluh lima tahun. Perempuan setengah baya yang ramah itu menyambut kehadiran Abdul Jalil dengan penuh sukacita. Dia senang bertemu dengan orang sebangsanya yang bisa diajak berbicara tentang berbagai hal, terutama tentang negeri Malaka dan Jawa. Meski sudah bertahun-tahun menjadi warga kota Basrah, dia belum paham benar dengan bahasa Arab yang digunakan di sana. Itu sebabnya, dalam pergaulan sehari-hari dia hanya berkomunikasi dengan suami, anak-anak, dan cucu-cucunya yang mengerti bahasa Melayu.

Ayahanda Ahmad at-Tawallud bernama Abu Amar al-Hissy, yang berusia sekitar tujuh puluh tahun, menyambut pula kehadiran Abdul Jalil di rumahnya dengan penuh keramahan. Ia merasa senang jika Abdul Jalil bersedia mendengarkan cerita-cerita masa mudanya. Semangat hidupnya seakan muncul kembali ketika menuturkan kisah kegagahannya mengarungi samudera dan singgah di berbagai negeri di masa silam.

Sebagai pemuda yang sejak kecil terpisah dari orang tua dan hidup di padepokan dengan penuh keprihatinan, Abdul Jalil merasakan keramahan yang diberikan ayahanda dan ibunda Ahmad at-Tawallud sebagai kehangatan ayah dan ibu yang didambanya dalam mimpi-mimpinya. Itu sebabnya, untuk mengisi waktu senggang saat beristirahat setelah penat mempelajari kitab-kitab, ia gunakan untuk berbincang-bincang dengan mereka.

Bermula dari keakraban dengan ayahanda dan ibunda Ahmad at-Tawallud, Abdul Jalil akhirnya mengenal anak-anaknya juga. Anak pertamanya bernama Fa’ilatun Nafsiyyah, akrab dipanggil Nafsa. Usianya sekitar dua puluh tiga tahun. Belum menikah. Anak kedua juga perempuan bernama Salmah Izzaturrahman. Usianya sekitar dua puluh satu. Anak ketiga, laki-laki bernama Ibnu Afkar al-Afrad. Berusia sekitar sembilan belas tahun. Sudah menikah dan memiliki seorang anak. Anak yang keempat juga laki-laki bernama Ahmad Kasyf al-Bashary. Berusia sekitar tujuh belas tahun. Belum menikah. Belajar di Universitas Nizhamiyyah, Baghdad.

Suatu saat Siti Fa’ilatun menceritakan tentang Nafsa, cucu kesayangannya yang dianggapnya bernasib malang karena sampai memasuki usia dua puluh tiga belum juga menikah. Abdul Jalil menduga anak sulung sahabatnya itu tentulah berwajah jelek dan berperangai buruk. Namun, saat kali pertama ia melihat mata Nafsa yang bulat dan lebar serta ditumbuhi bulu-bulu panjang yang lebat, ia langsung membayangkan bahwa wajah di balik cadar itu pastilah memancarkan kecantikan bidadari.

Ia tidak pernah menduga apalagi membayangkan dirinya bakal terperangkap ke dalam pesona keindahan sesuatu selain Dia. Ia sepanjang perjalanan ruhaninya selalu berusaha menghindari hal-hal duniawi, kini menghadapi persoalan besar yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan dan impikan. Sebelumnya ia selalu berhasil mengusir berbagai bayangan bendawi yang memasuki alam pikiran dan mahligai jiwanya. Kini, setelah melihat mata Nafsa yang indah dan bercahaya seperti kilauan bintang, ia rasakan perubahan besar terjadi pada dirinya. Citra keindahan mata Nafsa tiba-tiba saja sering memasuki ingatannya saat ia shalat, dzikir, tafakur, membaca buku, makan, minum, bahkan saat mengambil wudhu, dan terutama menjelang tidur.

Abdul Jalil heran dengan perubahan dirinya. Bagaimana mungkin ia yang selama ini selalu tenang menghadapi berbagai halangan dan rintangan kehidupan, tiba-tiba saja sering dicekam resah dan gelisah. Rasa itu baru mereda ketika ia melihat atau sekadar membicarakan ini dan itu tentang Nafsa. Ia merasakan betapa jiwanya mendadak terbang ke angkasa laksana elang yang kesunyian, menjerit dalam kepahitan jiwa yang mendamba kehadiran sang betina.

Nafsa adalah perempuan pertama yang keindahan matanya telah membawa kesadaran Abdul Jalil ke taman asmara yang penuh bunga mewangi dan rerumputan harum. Keindahannya telah membius kesadaran Abdul Jalil ke dunia asing yang sebelumnya tak pernah dirasakan dan dikenalnya. Ia melihat pelangi membentang di dalam pancaran mata Nafsa. Cahayanya yang berwarna-warni memasuki relung-relung jiwanya.

Sadar bahwa dirinya sedang terperangkap dalam pesona yang selain Dia, Abdul Jalil berusaha untuk menghapus citra Nafsa dari pikiran dan perasaannya dengan berbagai cara. Pesona itu telah mengganggu perjalanan ruhaninya. Namun, laksana matahari terbit di ufuk timur setiap pagi, begitulah citra keindahan Nafsa terbit di fajar kehidupannya. Menyinari kegelapan jiwa dan mengusir embun dingin dengan kehangatan cinta. Jiwanya tiba-tiba menjelma taman indah dengan kicau burung, dengung lebah, gemericik air sungai, desau angin, goyang bunga-bunga, dan harum rerumputan.

Makin kuat ia berjuang menghalau keindahan Nafsa dari relung-relung ingatan dan mahligai jiwanya, makin hanyut ia ke pusaran sungai kerinduan yang bermuara ke samudera cinta. Pikirannya terbang ke angkasa melintasi awan khayalan, menggapai rembulan dan bintang-gemintang. Dan bagaikan burung patah sayap, begitulah ia merasakan dirinya terkapar tanpa daya melihat khayalnya terbang ke angkasa bermadu kasih dengan bayangan Nafsa, bidadari jiwanya.