Kasyf al-Mahjub

Musim gugur tiba dan daun-daun berluluhan, namun taman cinta yang terhampar di jiwa Abdul Jalil justru dipenuhi bunga aneka warna yang menebarkan wangi dan membius penciuman mereka yang dimabuk asmara. Ia merasa ada tangan gaib yang menuntun khayalnya memasuki taman cinta. Ia menyaksikan keindahan demi keindahan yang menyelubungi citra Nafsa disingkapkan sehingga mabuk dan tersungkurlah jiwanya di atas hamparan rumput keindahan.

Jika malam datang, kesunyian dan kesenyapan melingkupi segenap penjuru cakrawala jiwanya. Keindahan taman cinta yang terhampar di jiwanya sering berubah menjadi gurun gersang yang dipenuhi pasir dan bebatuan. Di dalam gelap gulita, ia merasa kebebasan jiwanya terbelenggu di balik terali penjara kepedihan. Lingkaran derita yang dialaminya sejak kanak-kanak hingga sekarang tiba-tiba terpampang memasuki sungai kenangan jiwa yang airnya terasa sangat pahit.

Pancaran citra keindahan Nafsa yang memesona Abdul Jalil ternyata tidak memberikan makna apa-apa bagi harapan-harapan yang melintas di jiwanya, kecuali kepedihan yang getir dari hati yang merana. Belum pernah ia merasakan kepedihan seperti yang sekarang ini. Dan pangkal kepedihan itu terjadi ketika suatu sore, entah disengaja atau tidak, Ahmad at-Tawallud mengatakan pekan depan akan ada pesta sederhana mengundang para fakir, janda tua, dan anak yatim untuk merayakan perkawinan puteri sulungnya, Nafsa, dengan seorang saudagar bernama Hajibur Rahman at-Takalluf.

Untuk kali pertama dalam hidupnya, ia merasa kepalanya disambar petir yang ledakannya meluluhlantakkan ketegaran bukit karang hatinya. Ia merasa samudera darah yang menggelora di tubuhnya panas bagai dikobari api. Sesaat sesudahnya, samudera kesadarannya terisap dalam kegelapan alam. Tubuhnya lemas bagai tanpa tulang. Lidahnya kelu. Matanya memandang hampa matahari angan-angan yang meledak di benaknya. Dan keringat dingin pun mendadak mengucur deras menyimbah tubuhnya.

Ahmad at-Tawallud yang melihat perubahan pada diri Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa sahabatnya sedang mengalami fatrah, yakni padamnya api semangat yang menyertai pencarian ruhani. Dia tahu jika hal itu dibiarkan maka sahabatnya itu akan hancur binasa di tengah perjalanan ruhaninya. Itu sebabnya, dengan penuh kearifan dia mengungkapkan alasannya menikahkan puteri sulungnya itu.

“Hajibur Rahman at-Takalluf, bakal menantuku, adalah kawanku yang usianya hanya selisih tujuh tahun denganku. Ia sangat tua disandingkan dengan Nafsa. Wajahnya tidak tampan. Saat kuberi tahu, Nafsa langsung menangis sedih. Namun, kukatakan kepadanya lebih baik mereguk kepedihan di dunia jika itu berakibat lahirnya keselamatan dan kebahagiaan kita di hadirat-Nya. Aku sadarkan Nafsa bahwa selama kita hidup di dunia ini hendaknya jangan mencintai sesuatu selain Dia. Itu sebabnya, sejak awal kita harus mengambil jarak secara kejiwaan dengan segala sesuatu di sekitar kita entah itu istri, suami, anak-anak, saudara, orang tua, rumah, benda-benda, kekayaan, bahkan kebanggaan diri,” jelasnya.

“Tapi Tuan,” desah Abdul Jalil dengan bibir bergetar, “bukankah dengan keputusan itu berarti Tuan telah menyiksa hati puteri Tuan sepanjang masa? Bukankah Tuan telah menjerumuskan puteri Tuan ke lembah derita yang tanpa akhir?”

“Terserah penilaian orang atas apa yang telah kulakukan,” kata Ahmad at-Tawallud. “Aku memiliki alasan tersendiri.”

Abdul Jalil diam. Ia menelan air ludah, namun tenggorokannya terasa kering.

“Tahukah Tuan kenapa aku menikahkan Nafsa dengan orang yang lebih tua?” tanya Ahmad at-Tawallud memancing.

Abdul Jalil menggeleng lemah.

“Keputusan itu kutetapkan setelah aku yakin bahwa puteriku diam-diam mencintai Tuan, begitu pula sebaliknya,” kata Ahmad at-Tawallud tegar.

“Nafsa mencintai saya?” Abdul Jalil tersentak kaget. Ia rasakan kobaran api menggelora di dalam dadanya.

“Ya.”

“Jikalau demikian, kenapa Tuan justru menikahkan puteri Tuan dengan orang lain yang tidak dia cintai?” sergah Abdul Jalil bertubi-tubi. “Apakah Tuan merasa hina memiliki menantu saya? Apakah karena saya orang Melayu yang sebatangkara? Apakah karena Tuan tahu bahwa saya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa di dunia?”

“Aku tidak peduli apa pun kata Tuan,” tukas Ahmad at-Tawallud menarik napas panjang. “Maksud utamaku adalah demi keselamatan puteriku sekaligus keberhasilan Tuan dalam meniti jembatan menuju Dia.”

“Keselamatan? Keberhasilan?” tanya Abdul Jalil penasaran. “Keselamatan apa yang Tuan ungkapkan jika kenyataannya Tuan justru menyiksa kehidupan puteri Tuan lahir dan batin? Keberhasilan apa pula yang Tuan maksudkan jika kenyataannya Tuan justru menorehkan luka tak tersembuhkan di hati saya?”

“Aku tak peduli apa pun penilaian Tuan,” kata Ahmad at-Tawallud datar, “yang jelas, aku tidak akan mengorbankan puteriku menjadi sekutu-Nya bagi Tuan. Aku tidak akan menikahkan puteriku dengan siapa pun yang telah dipilih-Nya menjadi kekasih, tetapi belum mampu menjaga kesetiaan kepada-Nya.”

“Maksud Tuan?” Abdul Jalil terkejut.

“Tahukah Tuan bahwa Dia Maha Pencemburu? Tahukah Tuan bahwa Dia tidak mau diduakan? Dan sadarkah Tuan bahwa hati Tuan sendiri sebenarnya belum utuh mencintai-Nya? Bukankah belakang ini Tuan sudah tidak setia kepada-Nya? Bukankah hati dan pikiran Tuan belakangan ini selalu terarah kepada “yang selain Dia,” yakni puteriku Nafsa?” tanya Ahmad at-Tawallud bertubi-tubi.

Abdul Jalil terperangah dicecar pertanyaan demi pertanyaan. Secercah kesadaran memancar dari kedalaman hati dan pikirannya. Namun, bagai burung patah sayap, tanpa daya sedikitpun ia menyaksikan kesadarannya terbang ke langit luas, meninggalkan dirinya terkapar kesakitan.

Melihat sahabatnya tak berdaya, Ahmad at-Tawallud berusaha membangkitkan semangat dengan wejangan dan petunjuk. “Tahukah Tuan kisah Ibrahim al-Khalil, sahabat Allah yang sampai usia tua tidak dikaruniai putera? Tahukah Tuan bahwa saat Tuhan memberikannya penyambung keturunan, kecintaan Ibrahim al-Khalil menjadi berlimpah dan meluap-luap kepada sang putera, yakni Ismail? Tahukah Tuan apa yang diperbuat-Nya setelah menyaksikan keakraban dan kecintaan Ibrahim al-Khalil terhadap putera tunggalnya tersebut?”

“Saya paham itu, Tuan,” sahut Abdul Jalil lemah.

“Ya, Allah menguji kadar cinta dan kesetiaan sahabat-Nya. Dan Ibrahim maupun Ismail mampu membuktikan bahwa di atas segalanya yang utama hanya Allah. Hubungan bapak dan anak pada hakikatnya tidak ada. Itulah puncak dari Tauhid yang dikenal Ibrahim al-Khalil dan puteranya yang termaktub di dalam intisari: La ilaha illa Allahu! Tidak ada sesuatu, bahkan ilah-ilah yang lain, selain Allah!”

“Sekarang, apakah Tuan mampu menahan kepedihan dan derita jika setelah Tuan menikahi Nafsa, karena dialah perempuan pertama yang Tuan cintai dengan sepenuh jiwa, Tuan mendapatinya sakit dan mati? Sanggupkah Tuan dipisahkan dari Nafsa setelah Tuan mereguk kenikmatan darinya? Sanggupkah Tuan menerima kenyataan bahwa sewaktu-waktu dia direnggut dari sisi Tuan?” tantang Ahmad at-Tawallud. “Bukankah sekarang ini saja, sebelum Tuan kenal benar akan Nafsa, Tuan sudah tidak mampu menahan kepedihan akibat terpisah darinya?”

“O Tuan,” seru Abdul Jalil sambil berlutut memegangi kedua kaki Ahmad at-Tawallud, “saya sadar bahwa apa yang sedang saya alami ini adalah kesalahan besar. Saya sadar bahwa kehadiran Nafsa bisa menggagalkan perjalanan saya menuju Dia. Saya sadar bahwa Nafsa adalah bagian dari hijab-Nya. Tapi Tuan, saya sungguh-sungguh tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghapus citra Nafsa dari hati dan pikiran saya. Saya benar-benar tak berdaya Tuan. Tolonglah saya, o Tuan.”

“Tuan Abdul Jalil,” kata Ahmad at-Tawallud lirih, “bukankah selama ini Tuan ingin merasakan dan menghayati Af’al Allah secara nyata? Nah, dalam kasus yang Tuan alami sekarang ini, apakah Tuan beranggapan bahwa Tuan memiliki niat dan kemampuan pribadi untuk berkehendak dan berbuat, terutama mencintai Nafsa?”

“Tidak, o Tuan,” kata Abdul Jalil pedih, “saya sadar bahwa saya tak memiliki kemampuan apa pun. Sekarang ini saya benar-benar tak berdaya. Bahkan meminta tolong kepada-Nya pun saya seperti tidak mampu. Saya seperti sebutir debu diempas angin.”

“Jika Tuan sudah sadar akan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri Tuan,” kata Ahmad at-Tawallud tenang, “maka Tuan sebaiknya pergi ke Baghdad. Di sana Tuan dapat tinggal di rumah saya. Saya tahu Tuan tidak akan kuat menahan perasaan ketika harus menyaksikan Nafsa bersanding di pelaminan dengan suaminya. Pemandangan itu akan meremukkan hati Tuan.”

“Saya akan mengikuti apa pun perintah Tuan.”

“Itu sangat baik Tuan. Untuk menuju ke muara-Nya, Tuan harus menjadi butiran air yang baik dan setia mengikuti arus.”

“Bolehkah saya bertanya satu hal?”

“Soal apa?”

“Dari manakah Tuan tahu jika Nafsa, puteri Tuan, diam-diam mencintai saya?”

“Ibunda saya yang memberi tahu. Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman, beliau menangkap isyarat yang terpancar dari kedalaman jiwa Tuan saat bertatap mata dengan Nafsa, yang diikuti oleh perubahan sikap Tuan. Beliau tahu Tuan diam-diam memendam rasa cinta kepada Nafsa. Dan satu malam, lewat kata-kata yang halus penuh kebijakan, ibunda saya berhasil menggali perasaan Nafsa. Apakah penjelasan ini penting bagi Tuan? Apakah Tuan masih berkukuh untuk menyimpan harapan dari selain Dia? Bukankah Tuan harus bertobat?”

“Saya paham, Tuan,” Abdul Jalil menunduk dengan wajah memerah. “Saya akan patuh kepada Tuan sebagai pembimbing ruhani saya, dengan kepatuhan seperti mayat yang tak memiliki kehendak dan gerak sendiri.”

“Saya pun pada hakikatnya tidak memiliki kehendak dan gerak sendiri. Semua adalah dari-Nya semata. La haula wa la quwwata illa bi Allahi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya!” timpal Ahmad at-Tawallud.

Bagaikan prajurit kalah perang, demikianlah Abdul Jalil dengan langkah tertatih-tatih, tubuh lunglai, wajah kusut masai, dan pakaian lusuh melintasi jalanan berdebu menuju ke arah Baghdad. Perjalanan ke Baghdad dengan melintasi jalur gurun itu memang ia sengaja, meski ia tahu menggunakan jalur pelayaran lewat sungai Dajlah akan lebih mudah. Ia sengaja melakukan perjalanan yang berat itu dengan tujuan utama melebur keakuan dirinya di atas tungku berupa pasir, batu, debu, angin, dan sengatan matahari membara. Hanya dengan cara inilah ia bisa melepas bayangan Nafsa yang begitu kuat melekat di relung-relung terdalamnya. Dan ia berharap perjuangannya itu sekaligus akan memusnahkan segala ikatan kepada selain Dia.

Panas gurun yang memuai dari atas dan bawah dengan hembusan angin kering membara telah menguapkan kekuatannya. Bagaikan belukar di gugusan gurun, begitulah ia melangkah gontai di tengah deru angin yang bersiut-siut. Dan di antara bibirnya yang kering dan gemetar, ia dengan teguh menyebut-nyebut Asma Allah.

Perjuangan melupakan Nafsa dari hati dan pikirannya adalah perjuangan terdahsyat dan terberat yang pernah dilakukannya selama ini. Belum pernah ia merasakan kesulitan melepas sesuatu “selain Dia”, selain citra Nafsa. Bahkan saat keakuan dirinya luluh lantak dipanggang bara kesengsaraan gurun, bayangan Nafsa masih juga memasuki hati dan pikirannya, meski mulutnya tak henti-henti melafalkan Asma Allah.

Ketika matahari berada di puncak langit dan sinarnya membakar gurun, tubuhnya sudah tidak memiliki kekuatan sedikit pun. Fatamorgana berupa air berkilau-kilau begitu menarik pandangannya yang mulai kabur dan berkunang-kunang. Ketika ia goyah dan ambruk ke atas pasir, sekilas ia melihat bayang-bayang mendekatinya.

Bayang-bayang itu ternyata pengembara bernama Abdus Sukr ar-Rajul. Tanpa berkata, dia langsung mengeluarkan kantung air dan meminumkannya ke mulut Abdul Jalil. Keanehan terjadi, Abdul Jalil merasakan kesegaran luar biasa, tubuhnya bugar seolah-olah tidak sedang melakukan perjalanan berat.

Ia masih tercengang dalam ketakjuban ketika Abdus Sukr ar-Rajul, tanpa diminta, menuturkan kisah tentang Syaikh San’an yang mengalami nasib lebih pedih dibanding dirinya.

Syaikh San’an adalah guru tarekat yang memiliki cukup banyak pengikut. Ia dikenal sebagai orang yang saleh, zuhud, wara’, tawadlu’, dan tak pernah memikirkan sesuatu selain Allah. Semua pengikut dan kawan-kawannya sangat segan dan hormat kepadanya. Lantaran kehidupannya yang saleh dan diabdikan hanya untuk Allah itulah ia belum menikah sampai usianya masuh setengah abad.

Satu saat Syaikh San’an melakukan perjalanan ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Di tengah perjalanan ia sempat singgah di rumah seorang kawannya yang beragama Nasrani. Di tempat itulah ia melihat gadis cantik tetangga kawannya itu. Entah apa yang terjadi, ia mendadak terperangkap oleh pesona sang gadis. Ia bagai kehilangan kesadaran ketika mengungkapkan perasaan cintanya yang tulus. Bahkan tanpa malu-malu ia memohon agar sang gadis berkenan menjadi istrinya.

Gadis cantik itu semula menolak. Namun, karena Syaikh San’an terus memohon akhirnya dia bersedia menerima lamaran itu dengan tiga syarat. Pertama, Syaikh San’an harus bersedia melepas jubah dan surbannya untuk diganti dengan jubah dan ikat pinggang yang disediakan sang gadis. Kedua, Syaikh San’an harus bersedia memelihara seratus ekor babi dari fajar hingga maghrib. Ketiga, selama memelihara keseratus babi itu, Syaikh San’an tidak boleh menelantarkan seekor pun.

Karena pesona kecantikan sang gadis sangat kuat menerkam kesadaran hati dan pikirannya, Syaikh San’an menerima begitu saja ketiga syarat tersebut. Sejak itu, orang melihat Syaikh San’an mengenakan jubah hitam dengan ikat pinggang tali. Sehari-hari ia sibuk mengurus babi. Ia tidak lagi menjalankan shalat. Berdzikir pun ia seolah-olah sudah lupa. Sehari-hari yang diingatnya hanya istrinya yang cantik memesona. Bahkan ia pun seolah lupa diri, tidak menghiraukan lagi tubuhnya dilepoti kotoran babi.

Hal Syaikh San’an itu sampai kepada murid-muridnya. Maka, gemparlah mereka. Berbondong-bondong para murid itu menemui gurunya. Dengan berbagai permohonan, bujukan, rayuan, dan bahkan tangis pedih, mereka mengharap agar gurunya sadar. Namun, Syaikh San’an bergeming. Ia meminta mereka merelakan dirinya hidup menderita karena ketulusan cinta. “Aku tak kuasa menolak hasrat jiwaku untuk selalu dekat dengannya. Aku merasa lebih baik mati di dalam pelukannya daripada hidup dipisahkan darinya. Bersama dia, aku tak butuh lagi harga diri, kehormatan, atau kemuliaan. Bagiku, seluas senyumnya telah menumpahkan air kehidupan yang segar dengan kenikmatan tiada banding. Aku benar-benar tak berdaya untuk menghindar apalagi meninggalkannya.”

Dengan air mata bercucuran dan ratap tangis pedih, para murid itu kembali dan memberitakan hal Syaikh San’an kepada keluarga dan kawan-kawannya. Akhirnya, berkatalah seorang darwis tua kepada seluruh murid Syaikh San’an agar mereka beramai-ramai mendoakan gurunya. Hanya Allah jua yang sanggup menolong Syaikh San’an dari pesona bendawi yang bersifat sementara.

Berkat doa yang tulus dari murid-murid dan kawan-kawannya, Syaikh San’an akhirnya sadar. Kepada istrinya ia menyatakan akan melanjutkan niatnya semula menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ia bahkan bersedia melepaskan segala yang dimilikinya, termasuk istri tercintanya. Istri Syaikh San’an akhirnya menyerah. Dia bahkan berikrar memeluk agama Islam dan ikut menunaikan ibadah haji bersama suaminya.

Setelah mengakhiri ceritanya, Abdus Sukr ar-Rajul berdiri dan hendak pergi. Buru-buru Abdul Jalil mencegahnya dengan bertanya, “Tuan, apakah kisah Syaikh San’an itu pernah ada ataukah hanya sindiran buat saya?”

“Jika engkau menganggap cerita itu ada, tidak ada masalah. Jika engkau menganggapnya sindiran bagi dirimu, itu juga tidak apa-apa. Semua tergantung pada pemahamanmu dalam memaknai kisah itu.”

“Tuan,” kata Abdul Jalil cepat, “bolehkah saya tahu di mana Tuan tinggal? Berkenankah Tuan memberi saya arah menuju Dia?”

“Aku tinggal di mana pun Allah berada karena tujuan utamaku adalah bersama Dia. Jika engkau ingin tahu jalan menuju Dia maka arahkan hati dan pikiranmu hanya kepada-Nya. Hapuskan segala sesuatu selain Dia dari hati dan pikiranmu,” kata Abdus Sukr ar-Rajul sambil melangkah meninggalkan Abdul Jalil.

Dengan termangu takjub Abdul Jalil menatap kepergian Abdus Sukr ar-Rajul sampai lelaki itu hilang di garis cakrawala. Seraya melangkah penuh semangat, ia merenungkan pertemuannya yang aneh dengan pengembara yang hidup bagai debu diembus angin itu.

Di balik kemegahan dan hingar-bingar Baghdad, ternyata terselip sekeping kehidupan yang dihuni oleh para pencari Tuhan, para pengarung samudera kesunyian, dan para pecinta kebenaran yang hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan penghuni kota yang lain. Kehidupan mereka penuh misteri dan tak diketahui warga lain. Mereka ada yang bekerja sebagai saudagar, guru besar, ilmuwan, seniman, penyanyi, ahli fiqh, tabib, pedagang pasar, bahkan ada yang gelandangan. Mereka mengenal sesama mereka. Mereka berkumpul. Berbincang-bincang. Berbagi pengalaman. Dan sesudah itu bubar. Kembali ke kehidupan sebagaimana layaknya warga lain.

Abdul Jalil mengetahui kehidupan orang-orang aneh itu secara kebetulan, ketika ia mengikuti pesta untuk para fakir, janda-janda tua, anak yatim, dan para gelandangan yang diselenggarakan oleh Ahmad at-Tawallud. Pesta yang digelar sebulan sekali saat bulan purnama itu, menurut Ahmad at-Tawallud, bukan kelanjutan dari pesta memeriahkan pernikahan puteri sulungnya. Pesta itu merupakan tradisi yang dilakukan sejak ayah dan kakeknya.

Pesta semarak yang diikuti sekitar seratus orang itu menyuguhkan makanan dan minuman. Diramaikan pula oleh al-Qawwali, grup musik kenamaan di Baghdad, yang dipimpin pemusik terkenal Ahmad al-Qawwal. Dan yang mengejutkan, penyanyi tersohor Baghdad, Abdul Warid al-Wajd, hadir di pesta itu tanpa diundang.

Kehadiran Abdul Warid al-Wajd memang bukan untuk kali pertama. Namun, malam saat pesta itu digelar dia sedang diminta menyanyi di rumah Abu Syarr azh-Zhulmi, seorang pejabat pemungut pajak. Padahal di pesta kaum fakir itu dia tidak dibayar.

“Saudara-Saudaraku, para fakir yang dicintai Allah. Malam ini aku akan menyanyi untuk memeriahkan pesta yang mulia ini. Menghibur Saudara-Saudari sekalian. Menggembirakan Tuan rumah. Semoga niatku ini diridhoi Allah.”

“Sebenarnya, malam ini aku harus menyanyi di pesta mewah yang dihadiri para saudagar dan pejabat kerajaan. Namun, saat aku berada di tengah para tamu yang menunggu penampilanku, aku melihat mereka sebagai orang-orang kaya yang matanya tertutup kilatan dinar, telinganya tersumbat gemerincing emas, mulutnya tersumpal bongkahan permata, telapak tangannya menggenggam erat tali kekikiran, dan hatinya disimbah tetesan liur serigala keuntungan duniawi yang tak pernah terpuaskan.”

“Saat mataku menatap kerakusan mereka menyantap makanan dan menenggak minuman sambil menikmati gerak para penari syahwat, hatiku meronta dan memaksaku agar pergi meninggalkan mereka. Hatiku berkata orang-orang seperti itu tidak akan bisa mendengarkan lagu-lagu yang kunyanyikan. Telinga mereka sudah pekak. Tuli. Mereka tidak bisa membedakan antara syair dan ringkik keledai. Mereka tidak bisa membedakan antara alunan musik sejati dan derit roda gerobak. Telinga mereka hanya bisa mendengar suara gemerincing dinar.”

“Saudara-saudariku, aku menyanyi untuk mengungkapkan suara hatiku, mengumandangkan getaran ruhani yang bertahta di kerajaan jiwaku, mengencangkan tali-tali gambus kerinduanku, dan menabuh musik kecintaanku kepada-Nya. Karena itu, aku tidak mungkin menyanyi di pesta Abu Syarr azh-Zhulmi yang dihadiri oleh orang-orang tolol dan dungu, orang-orang kikir dan tamak, orang-orang sombong dan angkuh, orang-orang yang membabi buta mencintai dunia, orang-orang yang memuja nafsu, dan orang-orang yang telinga jiwanya sudah ditulikan oleh hingar-bingar musik dan nyanyian kecintaan diri.”

“Aku tinggalkan pesta kemewahan di kediaman Abu Syarr azh-Zhulmi karena aku yakin telah menyanyi di tempat yang keliru. Karena itu, o Saudara-Saudariku, aku memilih untuk datang ke pesta yang agung dan mulia ini. Tempat para fakir yang dicintai dan mencintai Allah. Tempat di mana kedermawanan, kasih sayang, ketulusan, kesederhanaan, keheningan, dan keindahan diungkapkan dalam bahasa jiwa. Di sinilah, di pesta kaum fakir inilah aku akan menyanyi. Karena, mata para tamu yang hadir ini adalah mata yang sudah terbangun di antara mata mereka yang tidur. Karena, telinga mereka yang hadir di sini adalah telinga yang rindu mendengar suara kebenaran. Dan hati mereka yang hadir di sini adalah singgasana persemayaman at-Tawajjud.”

Usai mengemukakan alasannya, Abdul Warid al-Wajd melantunkan nyanyian berjudul Ahl al-Kasyf wa al-Wujud, diiringi alunan musik al-Qawwali. Kemerduan suara dan keindahan syair yang dilantunkannya memesona seluruh tamu yang hadir.

Abdul Jalil yang sejak tinggal di Baghdad tiga bulan silam berusaha keras mengikis citra keindahan Nafsa dari hati dan pikirannya, sesaat sempat terjerat kembali pada kilasan khayal ketika alunan suara Abdul Warid al-Wajd menerobos pendengarannya. Betapa indah dan nikmatnya jika saat ini ia bermadu kasih bersama Nafsa tercinta. Namun, secepat itu pula ia memusatkan konsentrasi ke satu titik, yakni Dia. Ia harus bertobat. Mengarahkan hati dan pikiran hanya kepada Dia.

Selama ini tanpa disadari ia telah berpaling dari-Nya karena terpesona oleh keindahan Nafsa yang tidak kekal. Seindah apa pun Nafsa, pada akhirnya dia akan menjadi tua, keropos, rapuh, kemudian tumbang ke permukaan bumi, dan dikuburkan ke dalamnya. Namun, mencintai Dia Yang Abadi bukan soal mudah karena Dia tidak bisa dilihat dan dipegang. Itu sebabnya, Abdul Jalil sering merasakan kerinduan akan keindahan wajah dan keberadaan-Nya.

Setelah bergulat sengit menghalau semua bayangan yang melintas di hati dan pikirannya, ia merasa kesadarannya terbuai oleh lantunan nyanyian Abdul Warid al-Wajd dan alunan musik al-Qawwali. Ia merasa ada daya tarik yang menenggelamkan keakuannya. Ia merasa kesadarannya larut ke dalam lantunan nyanyian dan alunan musik.

Saat ia dan para tamu tengah terpesona, tiba-tiba terjadilah keajaiban. Langit-langit rumah Ahmad at-Tawallud, tempat pesta itu diselenggarakan, terbelah sedemikian rupa hingga langit dengan taburan bintang-gemintang terlihat. Sesaat kemudian langit pun ikut merekah dan pancaran cahaya gemilang menerangi cakrawala.

Pemandangan menakjubkan itu diikuti oleh peristiwa yang lebih menakjubkan lagi. Tiba-tiba di punggung mereka bertumbuhan sepasang sayap putih sekokoh rajawali. Kemudian sambil menyanyi dalam bahasa ruhani yang mendendangkan keindahan, para hadirin mengepakkan sayap dan terbang melalui rekahan langit-langit rumah memasuki pancaran cahaya gemilang yang berpendar di balik belahan langit.

Menyaksikan para hadirin beterbangan memasuki pancaran cahaya, para pemusik al-Qawwali tercekam dalam ketakjuban. Namun, tanpa mereka sadari secara ajaib pula punggung mereka pun ditumbuhi sepasang sayap putih. Dan seolah mengikuti lantunan suara merdu Abdul Warid al-Wajd, para pemusik itu mengepakkan sayap, terbang ke arah pancaran cahaya gemilang, menyusul para hadirin yang telah terbang lebih dulu.

Kini Abdul Warid al-Wajd menyanyikan lagu ‘Alam al-‘Ulwi tanpa iringan musik. Namun, pesona yang mencekam jiwanya membuat dia lupa dengan keberadaan dirinya sebagai penyanyi. Bahkan dia lupa nyanyian yang dilantunkannya, baik syair maupun iramanya. Dan yang membuatnya makin takjub adalah saat dia merasa dirinya adalah Abdul Warid al-Wajd sekaligus Ahmad al-Qawwal. Dan tiba-tiba dia merasa keakuannya larut dan lenyap, menjelma menjadi lantunan lagu dan alunan musik yang mengiringi para hadirin dan pemusik mengepakkan sayap memasuki ‘Alam al-‘Ulwi, di mana berlapis-lapis hijab gaib Ilahi disingkapkan.

Pengalaman menakjubkan itu sangat mengesankan Abdul Jalil. Ia yang saat itu ikut tercekam pesona nyanyian Abdul Warid al-Wajd dan alunan musik al-Qawwali, memperoleh pengalaman baru dalam melintasi hijab-hijab gaib Ilahi. Jika sebelumnya setiap kali melintasi tirai hijab ia selalu merasa seperti ular keluar dari kelongsong kulit maka yang ia rasakan dalam peristiwa semalam adalah bagai ulat keluar dari kepompong dalam bentuk kupu-kupu. Saat kesadarannya lepas, ia dapat dengan bebas terbang menuju ke angkasa raya yang luas tanpa batas.

Pengalaman baru yang dialaminya tersebut benar-benar menyingkapkan cakrawala pemahamannya terhadap segala sesuatu yang tergelar di hadapannya. Sebelum peristiwa ‘Alam al-‘Ulwi, ia melihat dan memahami kenyataan yang tergelar di hadapannya seperti burung yang melihat terali besi, mangkok tempat makanan, gelas tempat minuman, teras rumah, halaman, pepohonan, dan langit biru dari dalam sangkar. Kini, ia seperti burung yang lepas dari sangkar dan terbang ke angkasa bebas menyaksikan segala sesuatu yang terhampar di depannya dengan pemahaman yang serba baru. Ia menyaksikan betapa luasnya hamparan sawah, jajaran gunung-gemunung, bentangan lembah, curamnya ngarai, barisan bukit-bukit, dalamnya jurang, tenangnya air danau, gemericik sungai, gelombang samudera raya, gumpalan awan-gemawan, cahaya matahari, dan hamparan langit biru dari angkasa tempat ia bebas mengepakkan sayap.

Selama ini ia memahami keberadaan benda-benda berdasar pemahaman awam, yakni masing-masing benda terkait dengan wujudnya yang panjang, lebar, tinggi, luas, warna, dan paduan bentuk yang harmonis: kini ia memahaminya dengan cara pandang yang sama sekali berbeda. Sebongkah batu, misalnya, tidak lagi dilihatnya dari wujud fisik dengan bentuk, ukuran, warna, kepadatan, dan tekstur, tetapi ia menangkap makna bahwa pada sebongkah batu itu terdapat suatu “getaran” yang tersembunyi di balik keberadaan fisiknya. “Getaran” yang ia tangkap pada sebongkah batu ternyata sama dengan “getaran” pada bunga-bunga, rerumputan, tanah, pasir, tetumbuhan, pepohonan, manusia, hewan, rembulan, matahari, dan bintang-bintang.

Ia tidak tahu apa sebenarnya “getaran” yang tersembunyi di balik benda-benda itu. Ia hanya menangkap makna betapa “getaran” semua benda itu pada hakikatnya sama. Itu sebabnya, ia menilai bahwa “getaran” itu pada hakikatnya adalah “bekas jejak Ilahi” yang tertinggal pada semua karya ciptaan-Nya. Ini berarti antara manusia, hewan, tetumbuhan, dan alam semesta pada dasarnya memiliki hubungan kausalitas yang sama. Bukan hanya asal usul mereka yang sama dari satu Pencipta, melainkan di antara mereka pun sebenarnya saling mengait.

Pemahaman baru itu makin mengobarkan api semangatnya dalam berjuang mencari Dia. Ia merasa dirinya bagai musafir yang terperangkap dalam hutan lebat pada malam yang gelap dan dari kejauhan melihat nyala api. Jika sebelumnya ia mencari jalan keluar dengan meraba-raba dalam gelap dan tidak mempunyai petunjuk arah yang pasti. Kini ia mendapat arah baru: ia mulai dapat memahami bahwa keberadaan segala sesuatu di sekitarnya bisa membantunya menjadi penunjuk ke arah nyala api.

Ia menyadari bahwa pemahaman baru ini pada dasarnya adalah awal belaka dari tersingkapnya hijab-hijab yang menyelubungi-Nya. Itu sebabnya, ia yakin bahwa yang mengalami peristiwa ini bukan hanya dirinya. Di antara para pencari Dia mungkin ada yang telah sampai pada nyala api.

Bagi Abdul Jalil, persoalan mencapai nyala api adalah persoalan teguhnya perjuangan sekaligus kehendak-Nya. Sebab, ia belum tahu apakah antara dirinya dan nyala api itu hanya dipisahkan oleh hamparan rumput dengan beberapa batang pohon ataukah masih terdapat lembah, jurang, ngarai, bukit, gunung, dan bahkan samudera raya. Hal itu disadarinya karena nyala api yang benderang di kejauhan itu sangat aneh sekali keberadaannya; sekali waktu tampak sangat terang dan dekat, tetapi pada saat lain tiba-tiba menjauh. Pernah suatu kali nyala api itu begitu dekat dengan “penglihatan”-nya sehingga membutakan mata dan membuatnya tidak tahu arah.

East China Sea, Feb 23rd 2007