Futuhat al-Insaniyyah

Matahari menyingsing di ufuk barat, awal musim hujan tiba. Berhamburlah kesengsaraan dari langit dan dasar bumi: menerkam kehidupan anak-anak manusia yang merayap di permukaan subur yang membentang di antara kedua sungai Eufrat dan Tigris. Hujan deras tidak saja meluapkan sungai yang menjelma dalam bentuk banjir dan genangan air kotor di kanan dan kirinya, tetapi menebarkan benih-benih penyakit yang merenggut nyawa banyak orang.

Rumah-rumah bobrok dan kumuh yang sebagian berupa puing yang terserak tak terurus di sepanjang sungai itu, terutama di pinggiran barat dan utara kota Bahgdad, dihuni oleh keluarga-keluarga petani, gembala, tukang, dan nelayan miskin. Rumah-rumah kumuh itu umumnya berisi keluarga yang terkapar tanpa daya digeragoti penyakit. Saat seperti itulah para pedagang budak berkeliaran mencari-cari mangsa di antara kesengsaraan dan ketidakberdayaan.

Di antara air kotor bercampur lumpur yang menggenangi desa-desa kumuh, di bawah rengkuhan senjakala, terlihat dua orang berjalan beriringan. Berbekal dua kantung uang emas dan perak, mereka mengetuk pintu-pintu rumah. Laksana malaikat pembawa rezeki, mereka membagi-bagikan kepingan uang kepada penghuninya. Kegembiraan dan sukacita pun menghambur dalam bentuk syukur dan linangan air mata dari keluarga-keluarga miskin yang tercekik kesengsaraan.

Malaikat penolong itu bagi warga miskin yang menghuni pinggiran Baghdad memang sudah tidak asing lagi. Dia adalah Ahmad at-Tawallud, saudagar kaya yang diberkahi Tuahn dengan sifat dermawan,welas asih, penolong, dan kesukaan menjamu para fakir, anak-anak yatim piatu, dan janda-janda tua. Namun, berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini dia mengajak salah seorang sahabatnya, Abdul Jalil.

Setelah berkeliling hingga tengah malam, Abdul Jalil merasa ada yang aneh dengan tugas itu. Sepanjang ingatannya, telah beratus-ratus rumah ia hampiri. Dan telah ia bagikan kepingan uang kepada warga. Jika sebuah rumah berisi keluarga besar maka ia membagi sekitar lima puluh keping uang emas dan seratus uang perak. Anehnya, meski beribu-ribu keping ia ambil, uang yang ada di kantung itu sepertinya hanya berkurang , tidak pernah habis.

Sebenarnya, ia ingin sekali menanyakan hal keanehan kantung uang itu. Namun, ia ingat sebelum berangkat tadi Ahmad at-Tawallud sempat berkata-kata yang intinya menyinggung perjalanan Kidhir dan Musa a.s. “Yang menjadi penyebab utama berpisahnya Musa dari Kidhir a.s. adalah ketidakmampuan Musa a.s. menahan diri untuk tidak bertanya.”

Khawatir kata-kata itu dimaksudkan untuk menyindir soal keanehan yang bakal ditemuinya nanti, Abdul Jalil memilih diam meski di kepalanya berkecamuk lingkaran tanda tanya. Ia berusaha keras untuk tidak bertanya-tanya sesuatu pun. Ia menunggu sampai Ahmad at-Tawallud menjelaskan sendiri hal tersebut.

Ketika memasuki dinihari, telah hampir seribu rumah mereka datangi dan uang di kantung itu benar-benar tak bersisa. Ahmad at-Tawallud mengajak Abdul Jalil beristirahat di reruntuhan rumah yang sebagian temboknya tinggal puing-puing. Dalam keadaan tubuh diterkam keletihan, ia mengikuti ajakan sahabatnya itu. Di antara reruntuhan itu, dalam keremangan yang berkabut, ia melihat seorang perempuan tua duduk melamun dikitari domba-domba dan seekor anjing yang kurus kedinginan.

Sambil duduk di atas batu yang mencuat di samping reruntuhan, Ahmad at-Tawallud menuturkan tentang perempuan tua itu. Perempuan tua itu adalah citra Puteri Baghdad yang sejak zaman purba terkenal dengan kecantikan, keindahan, kesegaran, kesuburan, kemuliaan, dan keagungannya. Puteri Baghdad yang menawan. Puteri Baghdad yang dimahkotai dan ditabalkan di atas singgasana kerajaan dongeng yang membentang di antara dua sungai, yang dilingkari taman-taman dan kebun-kebun indah.

Berbilang abad kawanan domba, angsa, kijang, anjing, kuda, dan burung menikmati kesubur-indahan taman sang Puteri yang menebarkan wangi bunga dan rerumputan. Para raja dan ksatria gagah berani berlomba memamerkan keperkasaan untuk memperebutkan sang puteri. Berbilang raja serta ksatria silih berganti menaklukkan kerajaan dongeng itu dan memahkotai sang Puteri dengan keagungan dan kemuliaan. Mereka mempersubur dan memperindah taman-taman dan kebun-kebun kerajaan.

“Namun berkah kecantikan, keindahan, kesuburan, kesegaran, kemuliaan, dan keagungan sang Puteri di atas singgasana dongeng itu telah menjadikan para raja, ksatria, dan warga kerajaan lupa kepada Maharaja Yang Berkuasa yang telah menciptakan sang Puteri dengan segala kecantikan, kemegahan, dan keagungannya,” kata Ahmad at-Tawallud. “Mereka sehari-hari disibukkan oleh perhelatan dan upacara yang memuliakan dan memuji-muji kecantikan sang Puteri. Bahkan saat Sang Maharaja yang berkuasa dengan adil dan penuh kasih sayang itu mengirimkan para pengawal utusan, serta orang-orang kepercayaan-Nya, malah mereka jadikan bahan tertawaan dan lelucon.”

Berbilang abad Sang Maharaja secara ganti-berganti menjatuhkan hukuman kepada raja-raja, ksatria-ksatria, dan warga-warga yang lebih mencintai sang Puteri, tetapi melupakan hukum dan peraturan kerajaan. Namun, mereka dari generasi ke generasi selalu mewarisi kecenderungan sifat yang sama, yakni mencintai dan membanggakan kecantikan dan keindahan sang Puteri serta memuji-muji negeri dongeng yang berlimpah kesuburan itu. Mereka lupa bahwa penguasa sejati di kerajaan dongeng adalah Sang Maharaja Yang Mahaadil, Mahakuasa, Mahaagung, Mahaperkasa, yang tidak berkenan diduakan dan ditandingi oleh siapa pun, baik dalam kekuasaan maupun dalam kecintaan dan pengabdian semua kawula-Nya.

Setelah berpuluh abad Puteri Baghdad dengan singgasana gading berhias bulu merak dan setelah emas permata menjadi berhala yang dicintai dan dipuja-puji oleh para raja, ksatria, dan warga kerajaan; maka turunlah hukuman yang sangat keras dan pedih dari Sang Maharaja – Penguasa yang memiliki berbagai nama yang menggetarkan: Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Membinasakan (al-Mumit), Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr); Sang Penguasa Tunggal yang berkuasa mutlak atas negeri dongeng beserta seluruh isinya.

Tiba-tiba saja kerajaan dongeng yang subur dan indah dengan taman dan kebun itu telah dikepung oleh kaki-kaki kuda-kuda tunggangan yang perkasa yang mengepulkan debu dari para pengembara biadab asal padang rumput liar Mongolia. Mereka dipimpin oleh Hulagu Khan, anak panglima paling haus darah dalam sejarah kemanusiaan, Jenghis Khan. Bagai kawanan serigala, begitulah mereka mendobrak-dobrak gerbang kerajaan dan menebar rasa takut ke segala penjuru negeri. (*13 Februari 1258, kota Baghdad yang berada di bawah pemerintahan Dinasti Abbasiyah jatuh ke tangan Hulagu Khan dari Mongol. Dalam peristiwa tersebut, setengah penduduk Baghdad dibunuh)

Raja, ksatria, dan warga kerajaan dongeng yang terlena menikmati kesuburan negeri dan memuja-muji kecantikan puterinya, bergetar ketika mendengar raungan para penyerbu yang haus darah. Bulu roma mereka berdiri mendengar derak gerbang kota kebanggaan mereka didobrak kawanan pengembara liar yang meraung dan melolong bagai serigala. Dan ketika para penguasa kerajaan masih gemetar dicekam rasa takut dan gentar, para pengembara perkasa yang datang dari relung-relung terdalam kebiadaban itu menebarkan malapetaka kebinasaan.

Gemerincing senjata berkumandang di segenap sudut negeri. Darah tertumpah memerahkan tanah dan air sungai. Jerit kematian mengumandang ke angkasa. Derak tiang-tiang kayu yang runtuh dimangsa api bersahut-sahutan dari ujung satu ke ujung kota yang lain. Bagai sarang semut dibinasakan, begitulah keindahan, kesuburan, kesegaran, dan kemuliaan negeri dongeng itu diluluhlantakkan dengan kekejaman tiada tara.

Hari-hari hukuman dari Sang Maharaja adalah hari-hari paling mengerikan dalam sejarah kemanusiaan. Para pengembara biadab yang tak kenal ampun itu mencabuti nyawa para ksatria dan warga negeri. Seluruh bangunan istana dan kota mereka ratakan dengan tanah. Saluran-saluran air yang menghidupi taman dan kebun kerajaan tak luput dari kehancuran. Bahkan Puteri Baghdad yang cantik jelita, subur, molek, dan memikat itu dijadikan alat pemuas nafsu jalang mereka. Sang Puteri dijarah dan diperkosa dengan penuh kekerasan dan kekejaman hingga air matanya yang hitam menodai sungai Tigris. Siang dan malam hanya jerit kematian dan gemerincing senjata yang mengumandang bersahut-sahutan dari sudut kota hingga ke lembah, gunung, serta hutan-hutan.

“Itulah cerita Puteri Baghdad yang sudah lapuk dimakan usia dan telah mengenyam pahit dan getir kehidupan,” kata Ahmad at-Tawallud. “Kini tinggal sekawanan domba dan seekor anjing kurus yang setia menungguinya. Sekarang, dia hanya seorang wanita tua, meski gurat-gurat kecantikan masih tersisa di wajahnya. Dia tidak secantik dan semenarik dulu. Taman-taman dan kebun-kebun yang menghiasi mahligai kerajaan pun sudah berlalu. Jika musim kering datang, meranalah tanah itu menjadi dataran tandus yang hanya digunakan sebagai lintasan bagi para gembala ke padang rumput di ujung gunung. Saat musim hujan, meluaplah banjir dengan genangan air kotor beserta penyakit. Keagungan, kemuliaan, kelimpahruahan, keindahan, dan kemakmuran yang pernah dicurahkan ke atas negeri dongeng dengan puterinya yang menawan itu kini sirna.”

“Menurut pandanganku, tragedi yang menimpa Puteri Baghdad dan singgasana dongeng beserta seluruh penghuni kerajaan adalah akibat kealpaan mereka kepada Sang Maharaja. Hari-hari mereka disibukkan dengan urusan duniawi, terutama memuja sang Puteri. Mereka lalai terhadap perintah Maharaja agar seluruh penghuni negeri bertasbih memuji-Nya, baik siang maupun malam (QS Thaha: 130). Mereka terpesona oleh bunga kehidupan dunia yang sebenarnya hanyalah ujian dari-Nya semata yang sedikit pun tidak boleh dijadikan tujuan kedua mata (QS Thaha: 131). Bahkan mereka lupa pada peringatan Sang Maharaja yang memberikan ancaman kepada mereka yang mencintai segala sesuatu selain Dia, utusan-Nya, dan jalan-Nya (QS at-Taubah:24). Demikianlah, para penghuni negeri yang dilimpahi kemakmuran itu luluh lantak ditimpa murka Sang Maharaja,” katanya mengakhiri cerita.

Dari cerita Ahmad at-Tawallud, Abdul Jalil menangkap makna bahwa kiblat hati dan pikiran dalam perjuangan dalam perjuangan menuju Allah memang tidak bisa dipecah. Sebab, Allah tidak menciptakan bagi manusia dua hati (QS al-Ahzab: 5). Karena itu, barang siapa yang mengharap berjumpa dengan Allah hendaknya ia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya (QS al-Kahfi: 110). Dan penderitaan pedih yang dialami warga negeri dongeng itu adalah akibat kecintaan yang berlebihan kepada Sang Puteri pujaan sehingga mereka lupa kepada Sang Maharaja.

Kini, Puteri Baghdad telah menjadi tua renta dan lelah melewati lintasan waktu yang begitu panjang dan penuh derita. Raja demi raja bergantian memahkotai kecantikan dan kesuburannya. Namun, semua raja memiliki kebiasaan yang sama: menganggap Baghdad sebagai puteri cantik yang menawan dan menjadikannya rebutan. Dan setiap pemenang akan memperkosa dan menjarahnya habis-habisan, tanpa sisa. Bahkan di usianya yang tua, Baghdad yang sudah terseok-seok itu tetap menarik perhatian para lelaki perkasa untuk memperebutkan dan menjadikannya sebagai sundal yang bermanfaat untuk mengeruk keuntungan.

Keheningan dinihari telah turun menutupi Puteri Baghdad. Cahaya rembulan yang menyinari bumi hanya membias di atap-atap bangunan raksasa dan kubah-kubah masjid. Selimut kabut memenuhi lorong-lorong dan permukaan bumi. Hening mencekam. Sunyi menerkam.

Abdul Jalil dengan terkantuk-kantuk mengikuti langkah Ahmad at-Tawallud menembusi keheningan jalan becek berlumpur. Pada dinihari yang dingin itu, sayup-sayup terdengar suara orang-orang berdzikir menyebut-nyebut Asma Allah.

Semula ia menganggap suara dzikir itu sebagai hal yang lazim dilakukan oleh jama’ah-jama’ah tarekat yang jumlahnya cukup banyak di Baghdad. Namun, semakin lama didengarkan semakin menimbulkan tanda tanya besar. Entah benar entah tidak, seolah-olah suara dzikir itu berbunyi, “Subhani, al-hamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tidak ada tuhan selain aku, mahabesar aku, sembahlah aku).”

Khawatir terjebak dalam khayal dan mimpi akibat kantuk, ia menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap-usap kedua matanya, berusaha berada pada kondisi sadar seutuhnya. Keanehan mendadak kembali mencekam kesadarannya. Telinganya dengan jelas mendengar dzikir yang mengumandang itu berubah bunyi, “Subhana Allah, al-hamdu li Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu akbar, fa’buduhu (Mahasuci Allah, Segala puji milik Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, sembahlah Dia).” Namun, lagi-lagi kedalaman hatinya menangkap suara dzikir itu berbunyi aneh, “Subhani, al-hambu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni.”

Ketidakselarasan antara pendengaran telinga indriawi dan pendengaran batin membuatnya bingung. Berulang-ulang ia mengusap-usap mata dan terbatuk-batuk untuk meningkatkan kesadaran. Namun, ketidakselarasan suara dzikir itu makin terdengar terang dan jelas. Dan sesaat kemudian yang didengarnya hanyalah suara dzikir yang ditangkap telinga indriawinya. Ia sangat bingung dengan peristiwa itu.

Ahmad at-Tawallud yang berjalan di depan tampaknya menangkap sasmita yang dialami Abdul Jalil. Dengan penuh ketenangan dia mengajak Abdul Jalil berhenti di teras sebuah surau. Setelah beberapa jenak mengatur napas, dia menjelaskan tentang suara-suara dzikir yang mengalun di tengah keheningan.

“Bagi telinga indriawi manusia,” kata Ahmad at-Tawallud dengan suara datar, “suara dzikir itu terdengar sebagai puji-pujian mengagungkan Allah. Namun, bagi mereka yang mulai tersingkap kesadaran sejatinya dari hijab-hijab indriawi, telinga batinnya akan mendengar dzikir itu sebagai puji-pujian terhadap diri sendiri.”

“Saya baru saja mendengar perbedaan suara itu, o Tuan Yang Mulia,” kata Abdul Jalil meminta penjelasan. “Saya sempat berpikir itu hanya mimpi atau khayalan saja.”

“Aku sengaja membawa Tuan melewati kawasan ini untuk menguji pendengaran telinga batin Tuan. Karena menurut hemat saya, Tuan sudah cukup jauh menembus selubung demi selubung hijab yang memenjarakan keakuan sejati Tuan. Itu berarti, Dia sudah menganugerahi kemuliaan sehingga Tuan bisa menangkap perbedaan segala sesuatu yang sejati dan yang palsu.”

“Tapi Tuan,” sergah Abdul Jalil heran, “apakah mungkin ada tarekat palsu yang membalut urusan duniawi dengan dalih ukhrawi? Guru tarekat macam apa mereka itu?”

Ahmad at-Tawallud tersenyum lebar. Kemudian dengan tenang dia menceritakan tentang seorang guru tasawuf bernama Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, mursyid Tarekat Ananiyyah. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi adalah salah seorang murid setia kakeknya. Setelah kakeknya meninggal, tidak seorang pun putera mapun cucu yang menggantikan kedudukannya, juga tidak ada murid yang ditunjuk sebagai pengganti. Murid-murid itu berlomba membentuk jama’ah sendiri-sendiri. “Untuk memperkuat keberadaan diri sebagai guru tarekat, tanpa rasa malu sedikit pun, mereka saling mengaku sebagai khalifah yang ditunjuk kakekku.”

Bagi Ahmad at-Tawallud, perilaku murid-murid kakeknya itu sangat memuakkan. Berbeda dengan gelora semangat yang mengobari perjuangan kakeknya dalam menyeberangi samudera kebenaran, perjuangannya para murid itu dilandasi oleh semangat kecintaan duniawi. Mereka menabalkan diri sebagai mursyid yang menentukan arah kebenaran bagi pengikut-pengikutnya. Mereka menebarkan pandangan bahwa mereka adalah kekasih Allah yang bisa memberi limpahan berkah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Dan sebaliknya bisa mendatangkan laknat dan kutukan dari Allah kepada siapa saja yang mencemoohkan dan tidak menghargai mereka. Celakanya, antara murid satu dan yang lain saling berlomba menjelek-jelekkan dan memfitnah, dengan tujuan utama memenangkan persaingan untuk memperoleh pengikut paling banyak.

Di antara murid-murid kakeknya, Ahmad at-Tawallud paling banyak mengamati perilaku Syaikh Abu azh-Zhulmi. Karena, selain lokasi pesulukannya dekat, dia juga paling licik kelakuannya.

Pertama. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dan pengikutnya menyebarkan berita bahwa dialah satu-satunya murid yang diangkat sebagai khalifah oleh gurunya. Padahal, Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady, gurunya, tidak pernah mengangkatnya menjadi khalifah. Tentang hal ini, baik keluarga kakeknya maupun seluruh murid sepakat bahwa Abu Syarr azh-Zhulmi berbohong.

Kedua. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dengan dukungan para pengikutnya memperkuat pandangan masyarakat melalui cerita-cerita menakjubkan berkait dengan berbagai karomah yang ada pada dirinya. Padahal, segala cerita tentang karomah yang disebarkan itu isapan jempol belaka.

Ketiga. Setiap bulan, tepatnya saat purnama, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi mengajak murid-muridnya melakukan ziarah sekaligus dzikir berjama’ah di makam Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady. Seusai dzikir, dia biasanya mengarang bermacam cerita yang mengaitkan keberadaan dirinya dengan perintah-perintah rahasia dari arwah Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady.

Keempat. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi terbukti sering melakukan tipu daya kepada masyarakat awam yang menjadi pengikutnya. Mereka secara bergantian diwajibkan memenuhi kebutuhan pesulukannya, baik dalam bentuk gandum, daging, roti, rempah-rempah, uang, dan bahan pakaian. Bahkan anak-anak perempuan pengikutnya yang cantik-cantik diperistri oleh guru tengik itu. Alasan utamanya adalah dia akan melimpahkan barokah dan karomah bagi pengikutnya yang patuh dan menimpakan laknat serta kutukan bagi yang menantang kehendaknya.

Kelima. Untuk mengukuhkan diri sebagai mursyid sekaligus memperbanyak pengikut, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menanamkan doktrin bahwa hanya tarekat inilah yang paling benar. Lantaran itu, setiap anggota tarekat dijamin masuk surga dan mereka bisa memberikan syafa’at kepada sembilan orang keluarga terdekat.

“Bertolak dari penilaianku itulah, o Tuan,” kata Ahmad at-Tawallud, “aku melihat keberadaan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dan Tarekat Ananiyyah yang dipimpinnya sebagai sesuatu yang aneh dalam pandangan sufi. Sehari-hari, misalnya, mereka lewati dengan memuja dan memuji diri sendiri serta mencaci maki tarekat lain. Dalam berbagai perbincangan, mereka terkenal sangat mendalam pengetahuan ruhaninya, namun hasrat hati mereka sangat cenderung berpamrih duniawi. Mereka benar-benar licin bagai serigala berbulu domba.”

“Ketahuilah, o Tuan,” lanjutnya, “bahwa tabir yang menutupi hati Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi adalah yang disebut rain, yakni tabir kekufuran dan kesesatan yang tak bisa disingkap kecuali dengan cahaya iman. Dia terperangkap ke dalam lingkaran penjara jiwa yang gelap tanpa cahaya, sebagaimana firman Allah: ‘Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mata hari mereka (QS al-Muthaffifin: 14).’ Jadi, mengerikan sekali keberadaan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi itu.”

“Tapi Tuan, kenapa hati Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi bisa tertabiri kekufuran dan kesesatan?” Abdul Jalil heran. “Bukankah dia muslim?”

“Apakah Tuan mengira setiap orang yang mengaku muslim bahkan ulama, hatinya tidak bisa tertabiri oleh tirai kekufuran dan kesesatan?” Ahmad at-Tawallud balik bertanya.

“Tidak ada yang tidak mungkin, Tuan,” kata Abdul Jalil. “Tapi, bagaimana hal itu bisa terjadi setelah dia beroleh cahaya iman?”

“Tidak semua orang yang mengaku muslim beroleh karunia cahaya iman dari Allah. Sering kali keislaman seseorang diperoleh karena latar keturunan. Itu sebabnya Allah menguji orang-orang yang mengaku beriman dengan berbagai cobaan sesuai kadar kemampuannya. Dan kenyataan sering membuktikan betapa orang-orang yang mengaku muslim dan lahir dari keluarga muslim yang taat, ketika diuji ternyata mudah runtuh keimanannya.”

“Berarti Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tanpa sadar telah mengingkari keberadaan Allah?” tanya Abdul Jalil penasaran. “Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi, o Tuan?”

“Proses itu berlangsung sangat lama dan perlahan-lahan,” Ahmad at-Tawallud menjelaskan. “Mula-mula, seperti umumnya manusia, hati Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tertabiri oleh ghain yang sangat tipis. Ghain adalah hijab yang menyelubungi semua manusia, termasuk nabi-nabi. Namun, karena dia sering melupakan Allah dan melakukan dosa maka makin lama ghain itu makin tebal. Lantaran dia tak pernah melakukan tobat maka ghain pun terus menebal dan menjalin sambungan dengan rain yang menyelubungi hati orang-orang kafir dan sesat.”

“Awalnya proses itu berlangsung sederhana dan sangat lembut, seperti berbohong yang dibiasakan. Padahal, dengan berbohong seseorang secara hakiki telah menafikan sifat Allah Yang Maha Melihat. Jika awalnya hanya menafikan maka lama-kelamaan orang itu akan mengabaikan dan bahkan tidak meyakini hari perhisaban di akhirat. Bohong demi bohong dilakukan. Berarti dosa demi dosa telah dilakukan. Karena, dengan berbohong ia telah terkondisi oleh keadaan jiwa seolah-olah Allah tidak mengetahui perbuatan dosanya. Dan ujung dari proses itu adalah mengingkari keberadaan Allah. Setelah melewati proses yang lama, yang ada bagi seorang pembohong dan penipu adalah dirinya sendiri. Itu sebabnya, alih-alih pembohong itu mulutnya berdzikir mengingat Allah, sesungguhnya hati dan pikirannya berdzikir untuk mengingat keberadaan dirinya sendiri. Artinya, secara hakiki dia telah menjadi pemuja nafs-nya sendiri. Dia telah memuja kepada selain Allah.”

Al-Insan sirri wa ana sirruhu (Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya). Meski singkat, hadits Rasulallah Saw. ini mengandung makna yang luar biasa dahsyat tentang misteri yang menyelubungi keberadaan manusia. Berbagai pengalaman hidup yang dialami Abdul Jalil, terutama yang terkait dengan keberadaan orang-orang yang pernah dikenalnya, memberikan pemahaman baru yang sama sekali berbeda dari pandangan masyarakat awam.

Benar-benar rahasia Allah yang luar biasa menakjubkan. Orang-orang yang dikasihi-Nya ditampakkan kepada dunia dalam wujud tak terduga, yakni manusia bernama Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, saudagar kaya, pemilik puluhan kapal dagang dan kedai di bandar-bandar pelabuhan yang tersebar di berbagai negeri, yang selalu disibuki oleh urusan-urusan perniagaan. Sementara penipu tengik yang terhijab dari-Nya justru ditampakkan dalam wujud “beliau yang terhormat” guru tarekat yang penuh barokah dan karomah, seperti Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.

Selama setahun lebih menjalin keakraban dengan Ahmad at-Tawallud, ia mendapati bahwa sahabat yang juga pembimbing ruhaninya itu adalah salah seorang yang dikasihi-Nya. Kesimpulan ini diambil setelah ia melihat perilaku Ahmad at-Tawallud terbebas dari pamrih pribadi, dari kepemilikan baik harta benda maupun keluarga, dari rasa takut, dari rasa sedih dan kecewa, dan dari sejumlah peristiwa adiduniawi yang terjadi di luar kehendaknya.

Abdul Jalil menyadari penampakan mereka yang dikasihi-Nya sebagai salah satu bagian dari tersingkapnya hijab yang menyelubungi keakuannya. Getaran-getaran halus dan lembut yang memancar dari kedalaman lubuk hatinya bagaikan matahari terbit dari kegelapan, menerangi cakrawala perasaan dan pikirannya. Seolah-olah ada sesuatu di dalam dirinya yang memberi tahu, mengarahkan, menasihati, dan membimbing perasaan dan pikirannya dalam memaknai sesuatu.

Perubahan-perubahan yang dialaminya itu diceritakan kepada Ahmad at-Tawallud. Dan sahabatnya itu dengan bahasa metaforik menjelaskan bahwa apa yang dialaminya itu ibarat orang berjalan dari tempat gelap menuju ke tempat terang, ke arah sumber cahaya. Setiap langkah mendekati sumber cahaya, ungkap Ahmad at-Tawallud, akan membawa pencerahan. Dengan demikian, setiap langkah maju ke arah-Nya identik dengan tersingkapnya hijab-hijab.

“Sekarang ini engkau berada pada perbatasan antara zawa’id dan lawami’ sebagai akibat dari tersingkapnya fawa’id. Zawa’id adalah terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yang membuat ruhanimu tercerahkan. Lawami’ adalah mengejawantahnya cahaya ruhani akibat tersingkapnya fawa’id. Sedang yang dimaksud fawa’id adalah memancarnya potensi pemahaman ruh karena hijab-hijab yang menyelubunginya telah tersingkap. Pada tahap inilah engkau akan menjadi berbeda dengan seumumnya manusia, karena engkau memahami sesuatu dengan fawa’id yang sudah tersingkap selubung hijabnya. Di sini, engkau akan menjadi cerdas tanpa belajar dan tanpa membaca buku.”

“Apakah fawa’id bisa terbungkus selubung hijab lagi?” tanya Abdul Jalil.

“Jika engkau belum bisa melepas segala yang duniawi maka pancaran terang fawa’id tidak akan maksimal,” kata Ahmad at-Tawallud. “Bahkan jika segala yang duniawi itu makin membelenggumu setelah terjadi lawami’ maka hijab yang membungkus fawa’id akan semakin tebal menyelubungi dirimu. Itu berarti engkau berjalan mundur.”

Berdasar uraian Ahmad at-Tawallud tentang zawa’id, lawami’, dan fawa’id, tanpa disadari Abdul Jalil terbawa arus ke lingkaran rahasia para penganut Tarekat Ananiyyah pimpinan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.

Satu senja, Abdul Jalil mengikuti shalat isya berjama’ah di Masjid al-Qubh yang menjadi markas Tarekat Ananiyyah. Ia berperilaku bagai orang asing yang belum mengetahui sesuatu pun tentang tarekat ini. Seusai shalat, ia berkenalan dengan beberapa jama’ah, salah satunya bernama Ibnu Mushtawif yang mengaku sebagai murid terkasih Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.

Selama beberapa jenak berbicara, kejernihan hati Abdul Jalil yang memancarkan cahaya lawami’ dan dapat memahami sesuatu melalui fawa’id, menangkap isyarat bahwa lawan bicaranya adalah pembual besar yang sangat kacau pemahamannya tentang jalan ruhani. Ibnu Mushtawif hanyalah orang awam yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf, namun mengaku memiliki pengetahuan kesufian. Bahkan yang menyedihkan, Ibnu Mushtawif mengaku sanggup membimbing orang menuju Ilahi karena sudah diberi wewenang oleh Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi sebagai khalifahnya.

Sebenarnya, Abdul Jalil ingin sekali mengingatkan Ibnu Mushtawif tentang bahaya akibat mengaku-aku diri sebagai guru ruhani yang bisa membimbing orang lain menuju Allah. Namun, keinginan itu ditahan kuat-kuat karena ia ingin lebih jauh mengetahui lingkaran rahasia tarekat, terutama hasrat untuk berjumpa dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Itu sebabnya, selama berbicara dengan Ibnu Mushtawif, ia selalu bersikap seperti orang awam yang tidak memiliki pengetahuan agama. Dan sikap itu ternyata berhasil memancing Ibnu Mushtawif untuk berbicara banyak tentang seluk-beluk tarekat yang dianutnya.

Pelajaran awal bagi murid yang baru masuk tarekat, ungkap Ibnu Mushtawif, adalah melatih diri melepaskan hal-hal duniawi dari hati dan pikiran. Hal itu dilakukan dengan mewajibkan murid-murid memberikan seperlima dari harta mereka kepada mursyid. Harta ini akan digunakan untuk berjuang di jalan Allah. Selain itu, mereka juga diwajibkan melunasi zakat dan aqiqah yang belum dibayarkan sejak mereka lahir. Semua itu sebagai sarana pembersih jiwa.

Karena Abdul Jalil mengaku awam dan baru menjalankan syari’at Islam sekitar tujuh tahun lalu maka ia diharuskan membayar zakat selama dua puluh tahun, yakni sejak ia dilahirkan dikurangi tujuh tahun. Abdul Jalil juga mengaku ia belum ditebus dengan aqiqah. Dan setelah dihitung-hitung, ia harus menyediakan sekitar seribu tiga ratus dirham uang emas.

Sekalipun berusaha untuk selalu mengiyakan segala apa yang dikatakan Ibnu Mushtawif, ia pada akhirnya tidak mampu untuk menahan diri agar tidak bertanya, terutama tentang uang yang harus disetor kepada mursyid. “Digunakan untuk apakah uang itu?” tanyanya mendadak.

“Tuan,” Ibnu Mushtawif tercekat kaget, “tidakkah Tuan tahu bahwa mursyid adalah pengejawantahan Allah di muka bumi? Jadi, tidak satu pun di antara pengikutnya boleh menanyakan apa yang diperbuat mursyid. Tidakkah Tuan ingat kisah Musa dan Khidir? Dalam menempuh jalan ruhani diharamkan seseorang bertanya ini dan itu kepada mursyidnya. Ia harus menjadi mayat. Diam. Terserah apa kehendak mursyid. Jika tidak berarti ia telah gagal.”

Ketika perbincangannya dengan Ibnu Mushtawif disampaikan kepada Ahmad at-Tawallud, tanpa banyak bicara ia diberi seratus dirham uang emas. “Tuan, berikan uang ini kepada Ibnu Mushtawif. Katakan kepadanya bahwa ini angsuran pertama. Angsuran selanjutnya akan Tuan bayar tiap bulan. Hal membayar mursyid dengan cara mengangsur ini lazim mereka lakukan untuk menipu pengikut-pengikut awam yang miskin.”

“Tapi Tuan?” sergah Abdul Jalil heran, “untuk apa menanggapi penipu seperti Ibnu Mushtawif?”

“Bukankah Tuan ingin berjumpa dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi?” gumam Ahmad at-Tawallud. “Tanpa cara ini, Tuan tak akan dapat menemuinya. Dengan jalan ini Tuan dapat lebih jernih memandang dan menilai manusia. Bukankah Tuan juga ingin menguji pemahaman fawa’id Tuan?”

Ibnu Mushtawif bukanlah orang yang cerdas, meski dia dianggap paling senior di antara murid-murid Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Sebab, dengan “pancingan” seratus dirham emas saja dia sudah yakin bahwa Abdul Jalil masuk ke dalam perangkap. Hal itu setidaknya terlihat dari sikap Ibnu Mushtawif yang begitu terbuka menjelaskan berbagai hal bersifat propaganda tentang tarekat dan mursyid panutannya.

Tanpa diminta dia menuturkan bahwa mursyid yang dijadikan sandaran jalan ruhaninya itu memiliki pengikut orang-orang berpangkat yang dihormati masyarakat. Bahkan sejumlah keluarga Sultan Bayazid diam-diam mengikuti Tarekat Ananiyyah. “Karena itu, para as-sanaziq (bupati), pasya (gubernur), dan bahkan shadr al-a’zham (perdana menteri) sangat hormat kepada mursyid kita, Yang Mulia Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.”

Berdasarkan cerita-cerita yang diungkap Ibnu Mushtawif, Abdul Jalil memiliki pandangan bahwa Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi selain berkedudukan sebagai guru ruhani juga menjadi calo jabatan bagi orang-orang yang berambisi kuat menjadi pejabat di Kesultanan Utsmani. Sudah bukan rahasia lagi bahwa para pembantu sultan, termasuk shadr al-a’zham, tidak dipilih dari orang-orang yang ahli di bidangnya. Mereka diangkat berdasarkan penilaian siapa yang paling besar sumbangan pribadinya kepada sultan dan keluarganya, termasuk memenuhi segala permintaan sultan. Itu sebabnya, ketika shadr al-a’zham berkuasa maka ia melakukan cara yang sama untuk mengangkat para pasya. Dan para pasya pun mempraktikkan hal serupa ketika mengangkat para as-sanaziq.

Cara mengangkat pejabat kesultanan dengan menggunakan ukuran besarnya sumbangan pribadi ini membentuk mentalitas pejabat-pejabat yang “menjilat ke atas dan menginjak ke bawah”, dengan tekanan terberat terletak pada pundak rakyat jelata. Mereka dibebani pajak berlipat-lipat. Cara seperti itulah yang membuat para guru besar sufi, seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jailany, menolak tegas-tegas sumbangan yang diberikan sultan, karena sumbangan itu diperoleh dari memeras darah rakyat. Anehnya, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi justru menjadi calo setia para ambisius untuk meraih jabatan tinggi di pemerintah.

Cerita yang paling mengejutkan Abdul Jalil adalah tentang peran Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dalam menggalang para ulama fiqh untuk mensahkan program-program shadr al-a’zham, pasya, dan as-sanaziq agar diterima utuh oleh rakyat. Alih-alih menuturkan kebesaran Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi yang dihormati dan disegani para ulama fiqh, penjelasan Ibnu Mushtawif itu bagi Abdul Jalil justru dinilai sebagai hal yang menyedihkan. Bagaimana mungkin, pikirnya, seseorang yang sudah menduduki jabatan mursyid tarekat justru bekerja sebagai calo yang menjembatani ulama dan umaroh dalam memutuskan kebijakan-kebijakan duniawi dengan selubung legitimasi agama.

Ketika Abdul Jalil menuturkan kembali cerita-cerita Ibnu Mushtawif, Ahmad at-Tawallud mengungkapkan suatu rahasia Ilahi di balik kehidupan makhluk-Nya. “Sudah menjadi hukum-Nya bahwa berbagai jenis makhluk akan digolongkan ke dalam lingkungan yang sejenis. Harimau hidup di lingkungan harimau. Kuda hidup di lingkungan kuda. Domba hidup di lingkungan domba. Anjing hidup di lingkungan anjing. Tikus hidup di lingkungan tikus. Karena itu, jangan gampang terkecoh oleh ucapan tikus yang dengan pongah mengatakan bahwa dirinya adalah bagian dari kawanan harimau. Untuk mengetahui berjenis-jenis makhluk dalam kehidupan manusia memang sulit, karena manusia satu dengan manusia yang lain diselubungi hijab. Hanya mereka yang sudah tersingkap fawa’id dan terpancar cahaya lawami’ saja yang dapat melihat hakikat masing-masing manusia.”

“Apakah menurut Tuan, para as-sanaziq, pasya, shadr al-a’zham, bahkan sultan dan keluarganya pun bukan orang yang baik?” tanya Abdul Jalil meminta penjelasan.

“Bagiku, setiap orang yang mencintai kekuasaan dan benda-benda duniawi, termasuk mencintai keluarga secara berlebihan adalah orang yang tidak baik. Tidakkah Tuan tahu bahwa Sultan Bayazid adalah orang yang sangat ambisius dan pecinta duniawi sehingga tega menista wasiat yang ditetapkan ayahandanya, Sultan Muhammad al-Fatih.”

“Sebelum Sultan Muhammad al-Fatih wafat, beliau sudah berwasian agar yang diangkat menjadi sultan pengganti dirinya adalah putera terkecil, Jammun. Namun, Bayazid selaku putera sulung mempersetankan wasiat itu. Dia naik takhta dan menyingkirkan adiknya. Terjadi perang seru antara dua kekuatan. Setelah berperang selama tujuh tahun, kekuatan Jammun hancur. Tanpa belas kasihan, Bayazid membinasakan Jammun dan sisa-sisa pengikutnya serta memburu semua simpatisannya.”

“Siapa yang menanam akan menuai. Itulah hukum Ilahi. Sekarang ini, saat Sultan Bayazid beranjak tua dan menunjuk Ahmad, putera sulungnya, sebagai penggantinya kelak, justru ditentang oleh Salim, puteranya yang paling kecil. Hanya Allah yang tahu bagaimana akhir pertarungan antara dubug (anjing hutan) dan burung nazar itu dalam memperebutkan bangkai duniawi dari hewan buas bernama Kesultanan Turki Utsmani.”

Mendengar uraian Ahmad at-Tawallud, Abdul Jalil hanya mengangguk-angguk. Karena, ia sendiri pernah mengalami betapa manusia bisa menjadi serigala buas yang berbahaya ketika dimabuk ambisi kekuasaan. Ingatan tentang adik ibunda angkatnya, Rsi Bungsu, berkelebat. Abdul Jalil tidak tahu lagi bagaimana nasib pamandanya itu. Apakah masih hidup atau sudah mati? Diam-diam ia kehilangan semangat untuk bertemu dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Ia merasa mursyid Tarekat Ananiyyah itu adalah bagian dari kawanan dubug dan burung nazar, atau bisa jadi dia hanya cacing yang ikut berpesta pora menikmati kelezatan bangkai kekuasaan duniawi.

Meski sudah kehilangan hasrat untuk bertemu Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, kumparan nasib menentukan lain. Tanpa pernah diduga, tiba-tiba ia berjumpa dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi saat berpamitan kepada Ibnu Mushtawif seuasi shalat isya. Rupanya, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi malam itu mengajar di Masjid al-Qubh. Itu sebabnya, Ibnu Mushtawif berusaha keras agar Abdul Jalil bersedia duduk barang sebentar untuk mendengarkan ceramah mursyidnya. “Aku mohon, untuk yang pertama dan mungkin yang terakhir, Tuan harus mendengarkan fatwa-fatwa Tuanku Syaikh. Tuan akan menyaksikan sendiri betapa luas tak terbatasnya samudera pengetahuan Tuanku Syaikh,” Ibnu Mushtawif memohon.

Untuk menghargai Ibnu Mushtawif sekaligus membuktikan kebenaran kisah Ahmad at-Tawallud, ia akhirnya setuju tinggal lebih lama di Masjid al-Qubh. Namun, saat Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi naik ke mimbar dan memulai ceramah dengan puja dan puji kepada Allah dan salawat kepada Rasulallah Saw., tiba-tiba ia menyaksikan kilasan citra yang sebenarnya dari keberadaan pemimpin tarekat itu. Ketika hijab maujudnya sebagai manusia tersingkap, yang tampak adalah wujud burung nazar. Sedetik kemudian wujud burung nazar itu berubah lagi menjadi manusia, tetapi dalam citra yang licik, tidak jujur, bengis, dan menyimpan kejahatan di kedalaman hatinya.

Wajah Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi yang tirus dengan kening tinggi dipahami Abdul Jalil sebagai manusia yang memiliki watak keras dan berpikiran sempit. Matanya yang cekung seperti menyimpan lautan kebencian, gunung ketakaburan, rimba ketidakjujuran, gurun kerakusan, dan matahari kecemburuan. Hidungnya yang bengkok seperti paruh rajawali bagai menyimpan sejuta lakon sandiwara dunia yang penuh kecurangan dan kelicikan. Dan kebiasaannya menggerak-gerakkan tangan ketika berbicara, seperti penipu yang berusaha mengalihkan perhatian orang dari ucapan-ucapannya.

Ia awalnya kurang yakin dengan penglihatan gaib yang dialaminya saat memandang Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Ia ragu apakah itu pandangan yang berasal dari pemahaman fawa’id dan pancaran nur lawami’ atau sekadar ilusi yang membias dari relung-relung jiwanya akibat mendengar cerita Ahmad at-Tawallud. Namun, keraguannya pupus manakala ia dengan cermat dan teliti mendengarkan ceramah Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi yang berisi puja dan puji terhadap kemuliaan, keagungan, keluhuran, ketaatan, ketawadukan, kekeramatan, dan berbagai citra terpuji diri sendiri.

Dengan penuh yakin Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menjelaskan bahwa dirinya telah menjadi penyebab utama bagi keselamatan dan kemuliaan warga Baghdad dan sekitarnya, terutama orang-orang miskin. “Tiga hari lalu aku datangi cucu guruku yang menjadi saudagar kaya raya. Kusampaikan kepada dia, yaitu Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, bahwa sesuai pesan kakeknya dari alam barzakh maka dia harus membagi-bagikan sebagian kekayaannya untuk menolong para fakir dan miskin. Alhamdulillah, perkataanku dipatuhinya. Maka, bersukacitalah para fakir dan miskin yang terkena musibah itu,” ujar Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi disambut decak kagum para pengikutnya.

Penjelasan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tentu saja mengherankan Abdul Jalil. Bagaimana mungkin guru tarekat itu bisa sedemikian rupa berani berbohong tentang Ahmad at-Tawallud. Sepengetahuannya, sahabatnya itu membagi-bagikan uang atas kemauannya sendiri. Di samping itu, Ahmad at-Tawallud tidak pernah memamerkan amaliah yang telah dilakukannya. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tampaknya mengetahui kebiasaan Ahmad at-Tawallud dari cerita-cerita yang disebarkan oleh kalangan fakir dan miskin yang selama ini mendapatkan santunan.

Belum puas mengaku sebagai orang yang berperan penting memberikan perintah kepada Ahmad at-Tawallud, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menguraikan perihal kebaikan orang-orang yang melakukan amaliah secara tersembunyi. Dengan penuh kebanggaan dia menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Ahmad at-Tawallud pada dasarnya adalah amaliah kosong. “Tidak ada yang dia peroleh dari apa yang dia kerjakan kecuali pujian dan ucapan terima kasih dari orang-orang yang diberinya uang.”

Dengan mengutip beberapa hadits Rasulallah Saw., Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi meyakinkan para jama’ah pengikutnya untuk menganggap amaliah yang dilakukan Ahmad at-Tawallud adalah sia-sia. Kemudian tanpa malu sedikit pun dia mengungkapkan bahwa sebenarnya yang beroleh pahala besar dari Allah adalah orang yang berperan penting tetapi tidak diketahui orang lain. “Kalian bisa menilai sendiri bagaimana peranku dalam hal itu. Tetapi, siapa yang tahu jika apa yang dilakukan oleh Ahmad at-Tawallud adalah atas perintahku?” ujarnya penuh bangga, disambut decak kagum pengikutnya.

Seperti tak pernah puas, dia kembali menuturkan kisah fantastis tentang pertemuannya dengan Nabi Khidir tak lama setelah luapan air sungai Dajlah menggenangi pinggiran Baghdad. “Nabi Khidir menemui aku karena sangat simpati dengan kesabaran dan ketawakalanku menghadapi fitnah dan hinaan masyarakat.”

Bagaikan guru ruhani yang sabar dan tawakal, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menyampaikan bahwa keberadaannya selaku mursyid Tarekat Ananiyyah banyak dikecam, difitnah, dicaci maki, dan dianggap menyimpang oleh orang-orang, terutama kawan-kawannya yang pernah berguru kepada Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady. “Mereka iri hati kepadaku sejak dulu. Mereka tak pernah sadar bahwa Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady adalah aulia yang arif billah. Mereka tidak bisa memahami kenapa guruku itu sangat cinta dan hormat kepadaku. Mereka dengki. Dan kedengkian adalah sifat Iblis!” ujarnya berapi-api.

Setelah berkata dengan penuh semangat dan berapi-api, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menurunkan tekanan suaranya. Dengan bersikap seperti seorang arif yang benar-benar sabar dan tawakal, dia mewanti-wanti agar pengikutnya bersabar menghadapi ujian tersebut. “Biarkan mereka menebar fitnah dan kekejian. Sabar. Tawakal. Biarlah Allah yang mengurus dan memberi hukuman. Bagiku, kehadiran Nabi Khidir adalah pertanda yang baik dan awal dari tersingkapnya kabut kejahatan yang akan memancarkan cahaya kebenaran.”

Menurut cerita Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, ketika itu Nabi Khidir berjalan di atas air sungai Dajlah. Nabi Khidir, lanjutnya, memberi tahu bahwa musibah tahunan yang menimpa penduduk di sekitar sungai Eufrat dan Tigris pada hakikatnya adalah murka Allah karena perilaku orang-orang yang telah berlaku sangat keji kepada para pengamal Tarekat Ananiyyah, terutama kepada mursyidnya.

“Nabi Khidir bersabda bahwa musibah itu datang karena orang-orang telah berani menista dan menghinakan kekasih Allah. Padahal, Allah Ta’ala telah tegas menetapkan ketentuan-Nya di dalam hadits Qudsy bahwa siapa saja yang memusuhi kekasih-Nya berarti memaklumkan perang kepada-Nya. Jadi, musibah ini akan terus berlangsung dari tahun ke tahun sampai orang-orang menyadari kesalahannya. Bagiku, dihina atau dinista bukan masalah penting. Aku pasrah kepada-Nya. Yang membuat aku iba hati adalah orang-orang miskin yang tidak ikut bersalah harus menanggung derita akibat murka Allah. Karena itu, aku berusaha agar mereka mendapat santunan melalui cucu guruku. Dan usahaku itu ternyata berhasil sehingga beban rasa bersalahku jadi berkurang,” ujarnya disambut seruan “Allah” secara serentak dari para pengikutnya.

Bagai orang kehausan minum air laut, selama hampir tiga jam berceramah di atas mimbar, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi terus-menerus membuat cerita dan fatwa yang ujungnya adalah kemuliaan, keluhuran, kemasyhuran, dan kehebatan dirinya sebagai kekasih Allah. Dan di atas segala uraiannya, dengan kelihaiannya berbicara dan bercerita serta memperkuat apa yang disampaikannya itu dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits, dia meyakinkan para pengikutnya bahwa tidak ada yang benar, baik, mulia, luhur, dan diridhoi Allah kecuali Tarekat Ananiyyah, terutama mursyidnya.

Puncak dari bualan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi adalah saat dia berkisah tentang pertemuan gaibnya dengan Rasulallah Saw lewat mimpi yang tergolong ar-ru’yah ash-shadiqah. Dalam pertemuan itu, bualnya, Rasulallah Saw. memintanya agar mengumpulkan semua pengikutnya untuk melakukan dzikir dan doa bersama guna mendukung Lahi bin Zhann azh-Zhulmah agar bisa meraih jabatan pasya di Baghdad, menggantikan Kadar bin Katsif al-Mayl yang sudah uzur.

“Rasulallah Saw. bersabda bahwa Lahi azh-Zhulmah adalah salah seorang keturunannya dari Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Namun, demi kerendahan hati dan terutama penguatan imannya maka ia sengaja menyembunyikan identitas dirinya. Lahi azh-Zhulmah tidak mau dipuja dan dipuji orang sebagai keturunan Rasulallah Saw.. Karena itu, jika ia menjadi pasya maka karunia Allah akan melimpah ke segala penjuru negeri ini. Sebagai keturunan Rasulallah Saw., ia akan membawa berkah, karomah, dan rahmat bagi alam semesta.”

Abdul Jalil yang tekun mendengarkan segala bualan itu terkejut demi mendengar nama Lahi azh-Zhulmah disebut-sebut sebagai keturunan Rasulallah Saw.. Lebih terkejut lagi ketika Abu Syarr azh-Zhulmi menyebutnya sebagai calon pasya di Baghdad. Padahal, berdasarkan keterangan dari Ahmad at-Tawallud, manusia bernama Lahi azh-Zhulmah adalah pedagang budak yang licik, jahat, keji, dan nista perbuatannya.

Abdul Jalil masih ingat benar betapa sepanjang perjalanan membagi-bagi uang emas dan perak di pinggiran Baghdad, Ahmad at-Tawallud menuturkan bahwa Lahi azh-Zhulmah pun melakukan hal yang sama. Bedanya, dia mendatangi rumah-rumah keluarga miskin dengan iktikad menabur piutang.

Keluarga-keluarga miskin yang didatanginya adalah mereka yang memiliki anak-anak kecil dan menginjak remaja. Jika sebuah keluarga sudah terlilit utang dan tidak mampu membayar maka kaki tangan Lahi azh-Zhulmah akan mendatangi mereka. Kemudian, dengan terpaksa keluarga-keluarga itu akan menyerahkan anak-anaknya sebagai pembayar utang. Lazimnya, dia akan memberi sedikit tambahan uang kepada keluarga itu sebagai tanda bahwa anak-anak mereka telah sah menjadi miliknya untuk dijadikan hamba sahaya.

Jika di antara hamba-hamba sahaya itu ada yang berwajah cantik maka Lahi azh-Zhulmah akan menikmati mereka sepuas-puasnya dulu. Jika ada yang hamil maka mereka akan dikirim ke penampungan khusus hingga melahirkan. Kemudian perempuan-perempuan itu langsung dijual sebagai budak belian. Sementara bayi mereka akan diasuh dan dididik sebagai calon pedagang budak.

Dalam memperoleh budak, Lahi azh-Zhulmah tidak hanya menggunakan cara menebar piutang di kalangan keluarga miskin. Dia juga memperoleh “barang dagangan” dari sejumlah perwira militer yang menjadi pemasoknya. Bahkan budak-budak perempuan para perwira itu umumnya cantik-cantik dan sangat mahal. Budak-budak itu diperoleh dari pampasan perang di daerah bergolak di kawasan Macedonia, Salonika, Semenanjung Maura, Sophia, Serbia, Albania, Bisynak, Maghyar, dan Bundukia.

Berbekal budak-budak cantik, Lahi azh-Zhulmah dikenal pula sebagai pemasok “gula-gula pemanis” di kalangan pejabat sultan. Para pejabat yang merindukan jabatan tinggi akan menggunakan jasa Lahi azh-Zhulmah dalam urusan memuaskan keluarga sultan dan perdana menteri. Bahkan dengan budak-budak perempuan itu juga, dia berhasil memerangkap sejumlah ulama ke dalam jaringan terkutuknya. Dan ulama yang masuk ke dalam jaringan terkutuk itu lazimnya mendapat tugas khusus, yakni mensahkan secara fiqhiyah seluruh kebijakan penguasa sekaligus mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, meski sering kali tampak sangat dipaksakan.

Ahmad at-Tawallud sendiri tidak mau menilai baik buruknya manusia bernama Lahi azh-Zhulmah itu. Sebaliknya, dia menyatakan bahwa keberadaan Lahi azh-Zhulmah bagi mereka yang sudah tercerahkan merupakan bukti keagungan Allah.

Mengikuti kerangka berpikir Ahmad at-Tawallud, diam-diam Abdul Jalil berusaha memuji kebesaran Dia, Sang Pencipta, yang telah mencipta makhluk yang tengik seperti Lahi azh-Zhulmah dan juga makhluk yang tak kalah tengik, yakni Abu Syarr azh-Zhulmi. Namun, berbeda dengan Ahmad at-Tawallud, dalam memuji kebesaran-Nya, ia tetap belum sepenuhnya ikhlas. Li Allah. Bi Allah. Bagaimanapun, pikiran dan perasaannya tetap menyatakan bahwa kedua makhluk itu, terutama Abu Syarr azh-Zhulmi, adalah tengik. Bagaimana tidak tengik, pikirnya, sudah suka mengaku-aku amaliah orang lain, gila pujian, waham kebesaran diri, ternyata masih berani mencatut kemuliaan Rasulallah Saw. untuk tujuan politis murahan.

Sebenarnya, ingin sekali ia berdiri kemudian mengumpat dan mencaci-maki guru tarekat palsu itu di depan para pengikutnya. Namun, sekuat tenaga ditahannya keinginan itu. Ia berusaha memuji kebesaran Allah yang telah mencipta makhluk seperti Abu Syarr azh-Zhulmi.

Di mata Abdul Jalil, sekalipun Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi memamerkan keindahan dan kemegahan dirinya bagaikan burung merak, dia tetaplah seperti burung nazar yang menakutkan. Guru tarekat palsu ini adalah orang yang berbahaya karena telah menggiring domba gembalaannya ke puncak gunung ananuyyah yang penuh serigala dan hewan buas lain yang haus darah. Orang itu harus dihentikan, begitu pikirnya berulang-ulang.

Setelah mulai kelihatan letih, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi berhenti sejenak. Dan tidak sebagaimana biasanya, tiba-tiba dia memberi kesempatan kepada jama’ah pengikutnya untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami dari ceramahnya. Abdul Jalil tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Secepat kilat ia membentangkan busur akal. Kemudian dengan cekatan memasang anak panah dengan lidahnya yang tajam. Dan bagai panglima perang maju ke medan laga menghadapi musuh, ia membidikkan panah ke arah Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. “Tuan Syaikh, apakah Lahi azh-Zhulmah yang Tuan maksud itu adalah pedagang budak yang tinggal di sebelah barat rumah Tuan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud?”

“Benar,” sahut Abu Syarr azh-Zhulmi mengerutkan kening, “dialah yang kumaksudkan sebagai calon pasya di Baghdad.”

“Apakah Tuan Syaikh tidak keliru mendoakan manusia celaka seperti Lahi azh-Zhulmah?” seru Abdul Jalil berapi-api. “Sepengetahuan saya, Lahi azh-Zhulmah adalah manusia licik, jahat, keji, dan nista perbuatannya. Dialah manusia keji yang telah merenggut anak-anak dari dekapan orang tuanya. Dialah manusia licik yang menebar jerat bagi si miskin dengan perangkap piutang. Dialah yang memisahkan istri-istri dari suami, saudara dari saudara, nenek dari cucu, bapak dari anak, ibu dari bayi susuan. Dialah penabur kepedihan dan derita.”

“Hei, engkau ini siapa?” sergah Abu Syarr azh-Zhulmi dengan mata berkilat dan dada naik turun menahan amarah. “Apakah engkau penyelundup yang hendak merusak jama’ah ini dari dalam?”

“Saya adalah anggota jama’ah baru di sini, Tuan Syaikh,” kata Abdul Jalil merendah. “Saya telah dibimbing oleh khalifah Tuan Syaikh, yaitu ustadz Ibnu Mushtawif. Saya sudah mendapat kewajiban melunasi seribu tiga ratus keping uang emas. Namun, yang baru saya bayar tiga ratus keping.”

“Dia mengaku khalifahku?” Abu Syarr azh-Zhulmi marah-marah sambil memandang tajam ke arah Ibnu Mushtawif yang menunduk di depannya. “Dia telah berbohong. Dia juga tidak menyetor uang itu. Tuan telah ditipu.”

Dengan mengangkat kasus Ibnu Mushtawif yang dianggap telah mengkhianati mursyid, Abu Syarr azh-Zhulmi dengan licin berhasil menghindar bidikan pertanyaan Abdul Jalil. Bahkan tanpa sedikit pun menanggapi pertanyaan sekitar keberadaan Lahi bin Zhann azh-Zhulmah, dia dengan bersungut-sungut meninggalkan mimbar sambil memaki-maki Ibnu Mushtawif. Abdul Jalil yang melihat sendiri betapa lihainya guru tarekat palsu itu meloloskan diri dari bidikan panahnya, akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memuji kebesaran Allah.

Keberadaan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi beserta segala perilakunya yang menakjubkan itu benar-benar mengesankan Abdul Jalil. Ia semakin terdorong untuk menguak hakikat manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Itu sebabnya, sepulang dari Masjid al-Qubh, ia langsung membaca Al-Qur’an dan menemukan butiran-butiran mutiara kebenaran yang berkilau-kilau dari Kalam Allah itu, terutama tentang hakikat manusia.

Malam itu ia beroleh pengalaman luar biasa dalam membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Mungkin karena pemahaman fawa’id dan nur lawami’ yang memancar dari dalam dirinya sehingga ia beroleh nuansa dan makna baru dari ayat-ayat yang sudah dibacanya berulang-ulang, namun belum diketahui maknanya secara mendalam. Ia mendapati betapa ayat-ayat yang dibacanya itu seolah-olah mengungkapkan sendiri makna keberadaannya sebagai Kalam Allah. Ia menangkap sasmita bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu bagaikan sesuatu yang hidup dan bisa berhubungan secara ruhani dengannya, meski hanya dalam beberapa kejap mata.

Dengan pemahaman barunya atas ayat-ayat Al-Qur’an yang mengungkapkan jati dirinya lewat bahasa ruhani itu, ia mendapatkan pengetahuan baru tentang keberadaan manusia sebagai khalifah Allah. Kata al-Insan, misalnya, mengungkapkan esensi dari wujud sempurna manusia yang menjadi rahasia Ilahi. Al-Insan sirri wa ana sirruhu.

Wujud sempurna manusia yang menjadi rahasia Ilahi itu terdiri atas tiga bagian utama, yakni al-basyar, an-nafs, dan ar-ruh. Al-basyar adalah wujud manusia yang terdiri atas gumpalan daging. Allah mencipta al-basyar dari tanah lempung kering (shalshalin/adamah) yang adonannya “diolah dengan kedua Tangan-Nya” (QS al-Hijr: 28; QS Shad: 75). Al-basyar sendiri mengacu pada makna: “diolah oleh-Nya dengan kelembutan” (al-mubasyarah). Al-basyar yang terbentuk dari bahan tanah (ath-thin) inilah yang oleh iblis dianggap lebih rendah derajatnya daripada dirinya yang terbentuk dari bahan api (QS Shad: 76). Iblis tidak mengetahui rahasia di balik keberadaan al-basyar sebagai ciptaan baru yang diberi-Nya anugerah kemuliaan sebagai khalifah Allah.

An-nafs adalah daya kehidupan (al-hayy) yang bersifat netral. Ia mudah terpengaruh pada lingkungan di mana ia berada. An-nafs memaknai keberadaan al-basyar, sekaligus al-basyar mempengaruhi an-nafs. Tanpa an-nafs maka al-basyar hanyalah gumpalan lempung kering. Dengan an-nafs itulah al-basyar bagaikan tanah lempung kering yang mendapat siraman air hujan, memiliki daya melahirkan benih-benih kehidupan. An-nafs membangkitkan dorongan-dorongan naluriah sehingga al-basyar menyadari keberadaannya sebagai bagian dari dunia materi yang membutuhkan materi-materi lain untuk memperkukuh keberadaannya. An-nafs yang kedudukannya dekat dengan al-basyar di alam indriawi disebut dengan an-nafs al-hayawaniyyah, yang menempati tataran paling rendah dari kemanusiaan (asfal as-safilin) (QS at-Tin: 5) karena cenderung mendorong naluri al-basyar untuk menuju ke alam materi.

Ar-ruh adalah Tiupan Suci Ilahi yang dihembuskan Allah ke dalam al-basyar. Nafakhtu fihi min ruhi (QS Shaad: 72; QS al-Hijr: 29), kepada al-basyar itulah seluruh malaikat diperintahkan untuk bersujud. Ar-ruh yang tidak dicipta adalah Hakikat Yang Terpuji (al-Haqiqat al-Muhammadiyyah). Pada tataran ini ruh bersifat murni. Suci. Bebas dari materialistis. Inilah yang disebut ar-Ruh al-Haqq. Ar-ruh tidak berada di dalam atau di luar tubuh al-basyar. Ia tidak terikat, tetapi juga tidak terlepas bebas. Ar-ruh ada di luar, namun juga ada di dalam. Lantaran ar-ruh berasal dari Tiupan Suci Ilahi dalam kata nafakhtu maka ar-ruh secara alami selalu cenderung menarik kesadaran manusia untuk kembali kepada Allah.

Keberadaan manusia sebagai kesatuan entitas dari al-basyar, an-nafs, dan ar-ruh secara alamiah akan terperangkap pada dualitas sifat yang saling bertentangan. Al-basyar dengan dorongan an-nafs yang berada dekat dengannya cenderung ke arah sifat-sifat duniawi yang materialistik. Sedang ar-ruh cenderung melepaskan segala pengaruh duniawi yang materialistik untuk hanya kembali kepada Allah. Pergulatan manusia dalam kehidupan di dunia pada dasarnya adalah pertarungan internal antara dorongan naluriah al-basyar dengan an-nafs di satu pihak dan melawan tarikan ar-ruh di pihak lain.

Dengan memahami keberadaan mausia sebagai kesatuan entitas, Abdul Jalil menarik kesimpulan bahwa Abu Syarr azh-Zhulmi adalah manusia yang sudah kalah dalam pertarungan internal. Abu Syarr azh-Zhulmi sudah jauh terseret ke gugusan terendah dari dunia materi. Dia adalah citra dari manusia yang hidup di bawah kendali naluriah al-basyar dan an-nafs. Dan citra burung nazar pada Abu Syarr azh-Zhulmi yang sempat ditangkap pandangan mata batin Abdul Jalil adalah citra an-nafs al-hayawaniyyah yang bersimaharajalela menguasai dirinya. Dan lantaran pemahaman baru inilah ia dapat memahami penjelasan Ahmad at-Tawallud yang menunjuk Abu Syarr azh-Zhulmi sebagai orang yang hatinya tertutupi oleh rain. Tindakan apa pun yang diusahakan oleh orang-orang yang tertutupi tabir rain hanya akan mendatangkan tabir bagi hatinya (QS al-Muthaffifin: 14).

Setelah menelaah Abu Syarr azh-Zhulmi, ia kemudian menelaah dirinya sendiri, terutama perjalanan panjangnya dalam mencari Dia. Dia mendapati bahwa pada dasarnya ia belum sepenuhnya secara utuh mengikuti tarikan ar-ruh untuk kembali kepada sumbernya. Berbagai pertimbangan yang berasal dari akal budinya yang dilatari an-nafs masih sangat kuat mengendalikan kehidupannya. Ia mengungkap-ungkap, merenung-renung, menghitung-hitung, dan menelaah berbagai kecenderungan jiwa yang pernah dirasakan dan dilakukannya sebagai amaliah dalam kehidupannya selama ini.

Setelah merenung cukup lama ia menemukan jawaban bahwa an-nafs adalah suatu fenomena kehidupan jiwa yang mengantarai ar-ruh dan al-basyar. Lantaran itu, an-nafs memiliki kecenderungan berada pada titik yang terendah saat ia dekat dengan al-basyar dan cenderung berada pada tingkat yang tertinggi saat dekat dengan ar-ruh. Ini berarti, tingkatan-tingkatan an-nafs dari al-basyar ke ar-ruh adalah: an-nafs al-hayawaniyyah, an-nafs al-ammarrah, an-nafs al-lawwammah, an-nafs al-mulhamah, an-nafs al-muthmainnah, an-nafs al-mardhiyyah, an-nafs al-qudsiyyah. An-nafs al-qudsiyyah inilah yang dekat dengan ar-ruh al-idhafi sehingga ia menjadi suci dan selalu dinapasi oleh ar-ruh al-idhafi untuk senantiasa mengingat-Nya. Dan ar-ruh al-idhafi pun selalu dinapasi oleh ar-Ruh al-Haqq.

Abdul Jalil sendiri belum mengetahui di mana posisi dirinya. Namun, ia sangat sadar bahwa ia masih terperangkap ke dalam lingkaran an-nafs. Itu sebabnya, sambil menarik napas panjang ia menggumam sendiri dengan penuh sesal dan kepasrahan, “O Ilahi, betapa panjang dan berliku jalan yang kutempuh untuk menuju Engkau. Tetapi, setelah sekian jauh dan penuh derita, kudapati diriku baru berputar-putar pada lingkaran nafs-ku sendiri. Betapa jauh! Betapa bodoh aku selama ini!”

Malam itu bagaikan tak kenal lelah ia membaca Al-Qur’an sampai tuntas hingga menjelang subuh. Selama membaca, ia mengesampingkan berbagai dorongan akal budinya, baik yang terkait dengan pahala maupun makna harfiah ayat demi ayat. Bahkan beberapa kali ia mengalami peristiwa aneh berupa munculnya makna hakiki Al-Qur’an dari kalam al-lafzhi menjadi kalam an-nafs. Al-Qur’an adalah Kalam Hidup. Mengejawantah. Riil. Maujud. Namun, pengalaman itu berlangsung sangat singkat sehingga ia tak mampu membedakan apakah yang dialaminya itu mimpi, khayal, atau kenyataan sejati.

Melepas keakuan pribadi, sabar, setia, dan pasrah adalah empat pintu gerbang utama yang harus dilampaui dalam perjalanan menuju Yang Wujud. Tanpa melampaui keempat pintu gerbang ini, perjalanan menuju Dia hanya impian dan bohong belaka. Melepas keakuan pribadi adalah melepaskan segala keakuan yang terkait dengan al-basyar dan an-nafs, termasuk keinginan-keinginan, harapan-harapan, gambaran-gambaran, pilihan-pilihan, dan kehendak-kehendak pribadi yang bersifat dunia. Pamrih. Dan itu semua adalah perjuangan dahsyat. Mudah diucapkan, namun sulit dijalankan.

Banyak orang keliru menafsirkan keakuan pribadi dengan kepemilikan dan kekayaan materi yang terkait dengan benda-benda. Melepas keakuan pribadi sering diartikan sekadar melepaskan diri dari benda-benda dan miskin secara lahiriah. Padahal, yang dimaksud dengan melepaskan keakuan pribadi adalah suatu keadaan riil dari kesadaran diri yang menyadari secara pikiran dan perasaan bahwa segala sesuatu yang tergelar di sekitar kita bukanlah milik kita; rumah, anak, istri, keluarga, benda-benda, kehormatan, harga diri, bahkan tubuh dan nyawa kita pun bukanlah milik kita. Itu sebabnya, proses pelepasan ini tidak bisa disebut zuhud, karena sesungguhnya tidak ada yang dilepas atau ditinggalkan dari orang yang tidak memiliki sesuatu.

Selama melampaui pintu gerbang pelepasan keakuan pribadi, seseorang harus sabar. Karena, di situ dia akan mengalami keadaan di mana dia harus menerima pilihan-pilihan dan kehendak yang sering kali bertentangan dengan pilihan dan kehendaknya sendiri. Sering dia harus menerima suatu pilihan yang tidak disukainya. Namun, dia harus tetap sabar. Dalam menerima pilihan-Nya dan kehendak-Nya, seorang salik yang berjuang melepaskan keakuan pribadi tidak boleh mengeluh. Karena, mengeluh adalah ungkapan rasa tidak sabar.

Yang dimaksud setia adalah keteguhan sikap di dalam melintasi gerbang keakuan pribadi menuju ke terminal akhir, yakni Yang Wujud. Berbagai hambatan dan rintangan yang menghalangi perjalanan menuju-Nya tidak boleh disimpangkan ke arah selain Dia. Kesetiaan kepada jalan yang ditempuh akan membawa ke arah pintu gerbang kepasrahan, yakni gerbang paling ujung di dalam perjuangan menuju Dia.

Melintasi keempat gerbang pelepasan untuk menuju Dia memang bukan pekerjaan mudah. Karena, di setiap gerbang pelepasan itu seorang salik sudah dihadang oleh an-nafs beserta derivat-derivatnya yang menjadi penjaga gerbang. An-nafs penjaga dan derivat-derivatnya itu laksana panglima perang beserta bala tentaranya. Di tiap gerbang pelepasan itulah seorang salik harus berjuang pantang menyerah untuk menaklukkan para penghadangnya. Jika dalam pertempuran itu salik terluka maka dia tidak boleh mengeluh kesakitan apalagi merengek-rengek minta dikasihani. Seorang salik harus yakin bahwa Dia akan mengirimkan tabib sekaligus penghibur untuk mengobati kepedihan jiwanya.

Keyakinan, ketakutan, kecintaan, dan harapan yang ditujukan hanya kepada-Nya adalah modal utama bagi seorang salik agar bisa tetap setia pada jalan-Nya. Tidak peduli besarnya jumlah musuh, luka-luka, darah, rasa sakit, pedih, dan derita yang dialami dalam melintasi setiap gerbang, seorang salik wajib setia mengikuti jalan-Nya. Dan di sepanjang jalan melampaui keempat gerbang itu, seorang salik harus teguh dan tegar hati dalam menghadapi segala rintangan. Meski tubuh jiwa penuh luka berdarah, seorang salik sejati akan tetap melangkah tegap dengan hati berbunga-bunga sebagai ksatria perkasa menuju Benteng-Nya, sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan: “Menyingkirlah kalian semua, hei pasukan al-basyar dan an-nafs dari Benteng-Nya. Sesungguhnya, semua raja jika memasuki suatu negeri niscaya akan membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina (QS an-Naml: 34). Menyingkirlah kalian dari Benteng-Nya. Jika melawan maka kalian akan menjadi tawanan-tawanan yang hina. Dialah Maharaja. Tunggal. Penguasa. Mutlak. Aku hanya akan mengabdi kepada-Nya. Dia adalah tujuan akhirku. Demi Dia, kuperangi kalian semua!”

Ketika keheningan merayapi malam, saat para panglima al-basyar dan an-nafs beserta bala tentaranya beristirahat dan menyembuhkan luka-luka mereka maka sang salik berusaha memasuki Benteng-Nya, dengan pedang dzikir, perisai istighfar, dan baju zirah salawat. Namun tanpa diduga, ketika kakinya mulai menginjak gerbang Benteng-Nya, tiba-tiba muncul bidadari berpakaian serba putih yang melayang-layang dari langit. Sayapnya yang berkilau-kilau berkepakan menimbulkan irama musik merdu yang memuji-muji keagungan-Nya. Bidadari itu duduk di atas singgasana yang tergantung di antara langit dan puri Benteng.

Keanehan terjadi. Bidadari agung dengan sayap gemerlapan itu mendadak berubah menjadi hantu menakutkan berpakaian serba hitam dengan sayap kegelapan membentang dari ufuk timur hingga barat. Getaran sayapnya menimbulkan suara gemuruh menyeramkan. Hantu itu duduk di singgasana yang terbalik yang menggantung antara tanah dan puncak menara Benteng.

Menyaksikan pemandangan menggetarkan di hadapannya, sang salik menghunus pedang dzikir dan bersiaga hendak menyerbu ke dalam Benteng untuk menerjang sang hantu hitam. Namun, baru saja kaki kanannya terangkat, tiba-tiba ia kembali melihat bidadari itu berdiri dan menari sambil melantunkan nyanyian merdu diiringi suara kecapi dan harpa dari kepak sayapnya yang berkibaran menaburkan cahaya kilau-kemilau.

“Kemarilah, o cintaku! Dekaplah kerinduan jiwaku yang meringkuk tanpa daya di tengah padang pasir yang gersang. Teteskan air jernih dari telaga cintamu agar terhapus dahaga yang mencekik leherku. Berikan butir-butir kurma, roti, madu, dan susu untuk mengobati rasa lapar jiwaku yang merana.”

“Lihatlah, o kekasih! Sayap-sayap kebebasanku telah diikat oleh belenggu yang merantai kebebasanku. Akankah engkau tega, o kekasih, membiarkan hidupku merana. Mati dalam keadaan lapar dan dahaga oleh cinta dan keindahan.”

“Bangunlah, o pahlawanku! Hunuslah pedangmu! Bebaskan aku dari penjara derita yang menyiksa ini. Biarlah kita nanti akan menari dan menyanyi di padang cinta. Kita akan berlarian dengan sayap-sayap terkepak bebas. Kita akan menjadi raja dan ratu yang duduk di atas singgasana cinta kita yang abadi. Kemarilah, o kekasih!”

Pengalaman menakjubkan dalam bentuk mubashshirah yang sangat yang sangat mengagumkan itu buyar bagai halimun tersapu cahaya matahari ketika adzan subuh berkumandang dari menara masjid. Abdul Jalil bagai tersadar dari mimpi buruk, bergegas mengambil air wudhu. Ia menemukan kesadaran baru tentang dirinya yang masih terikat oleh lingkaran an-nafs. Ia sadar belum bisa memasuki Benteng tempat Sang Raja bersemayam. Namun, sebagai salik yang sudah kenyang dengan pahit dan getir perjuangan menuju-Nya, ia tetap bertekad bulat untuk membebaskan Benteng persemayaman Sang Raja dari kekuasaan tiran insaniyyah yang didukung kekuatan bala tentara al-basyar dan an-nafs.

Japan Sea, Feb 24th 2007