Ishthilam

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan melintasi tujuh samudera, tujuh gurun, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gunung, tujuh rimba, dan tujuh benteng yang rangkaiannya memiliki empat gerbang utama, yakni pelepasan keakuan pribadi, sabar, setia, dan pasrah, yang kesemuanya dijaga oleh bala tentara al-basyar dan an-nafs, Abdul Jalil tersungkur jatuh di atas rerumputan belati yang terhampar di depan pintu gerbang terakhir. Dengan napas tersengal-sengal dan tenaga terkuras habis, ia menatap jauh ke arah jalanan yang telah dilaluinya. Tak ada yang tersisa di jalanan itu kecuali reruntuhan gerbang, tiang-tiang, tembok, puing-puing, tubuh bala tentara al-basyar dan an-nafs yang bergelimpangan tanpa daya.

Ia masih harus berjuang lebih dahsyat lagi untuk membersihkan Benteng kemuliaan tempat persemayaman Sang Raja dari kekuasaan kegelapan al-basyar dan an-nafs. Namun, ia sendiri masih belum paham benar makna di balik gambaran bidadari dan hantu hitam yang menguasai Benteng persemayaman-Nya itu. Sementara Ahmad at-Tawallud yang menjadi pembimbing sekaligus tumpuan berbagai pertanyaan justru tidak berada di Baghdad saat ia tengah menghadapi persoalan yang sangat rumit itu. Lantaran itu, dengan tekad tetap berkobar, ia melangkah mengitari Benteng sambil membawa pedang dzikir, perisai istighfar, dan baju zirah salawat untuk mencari celah-celah yang bisa membawanya masuk dan menghalau seluruh penghuninya dari sana. Kemudian ia bisa mempersilakan Sang Raja bersemayam dengan kemegahan dan keagungan serta kemuliaan-Nya.

Mengitari Benteng apalagi hendak memasukinya tetnyata bukanlah hal yang mudah. Karena, Benteng yang kelihatan kecil dan sederhana itu menyimpan rahasia yang sangat ajaib. Semakin dikitari akan semakin jauhlah jalan yang harus dilewati. Seolah-olah tanpa ujung dan pangkal. Abdul Jalil pun, setelah melintasi padang rumput, gurun, lembah, hutan, dan gunung di dalam dirinya tetap menyaksikan tembok Benteng berdiri tegak di sisinya. Benteng yang dikitarinya seolah bangunan raksasa seluas bumi dan tidak bisa tertembus, kecuali melalui gerbangnya yang ajaib.

Saat ia merenungkan rahasia yang tersembunyi di balik tembok-tembok Benteng yang menakjubkan, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seseorang berjalan terseok-seok sambil membawa tongkat. Ketika makin dekat terlihatlah bahwa orang itu adalah laki-laki berpakaian kusut lusuh penuh tambalan. Meski demikian, wajahnya memancarkan cahaya kewibawaan yang menggetarkan.

“Assalamu’alaikum,” sapa Abdul Jalil.

“Wa’alaikum salam,” sahut laki-laki yang ternyata bernama Qalby Ishthifa.

“Dari mana dan hendak ke manakah, Tuan?” tanya Abdul Jalil.

Qalby Ishthifa tidak menjawab. Diam. Setelah beberapa jenak, dia menuturkan perjalanan hidupnya. Mula-mula dia memaparkan kehidupannya sebagai suami yang sangat mencintai istri yang telah memberinya tiga orang anak; satu perempuan dan dua laki-laki. Kecintaannya kepada istri membuatnya sangat setia dan selalu berusaha membahagiakan hati istrinya. Bagi Qalby Ishthifa, tidak ada perempuan yang cantik, sabar, setia, patuh, dan pandai melayani suami selain istrinya.

“Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia ini,” kata Qalby Ishthifa menarik napas berat. “Istri yang kunilai setia, sabar, patuh, dan pandai melayani suami itu ternyata berkhianat. Diam-diam, ketika aku tidak di rumah, ia menjalin hubungan dengan penjual susu keliling. Meski tidak terbukti melakukan perbuatan zina, dia mengaku bahwa hatinya tertarik kepada penjual susu itu.”

“Saat itu dunia kurasakan runtuh. Harga diri, kehormatan, bahkan kepercayaan diriku ambruk menjadi puing-puing menyedihkan. Istri yang sangat kusayang dan menjadi tambatan hatiku ternyata mencintai orang lain yang hidupnya jauh lebih miskin dariku. Bahkan yang hampir tak masuk akal, orang itu pun tidak baik agamanya. Sudah miskin, jarang shalat pula. Ia juga suka menggoda perempuan-perempuan yang menjadi pelanggannya.”

“Derita yang kualami belumlah usai. Abdullah Waqi’a, anak sulungku, minggat dari rumah karena malu diolok-olok temannya sebagai anak penjual susu. Abdullah Khathir, adiknya, juga mengikuti jejak kakaknya. Alasannya, ia juga malu diolok-olok temannya. Tidak cukup dengan kepergian dua anak laki-lakiku, anakku perempuan, Ummu Safah, sakit dan meninggal dunia.”

“Aku benar-benar tak berdaya. Putus asa. Namun, di dalam derita yang kualami itu tiba-tiba tanpa kusadari terbit cahaya kesadaran baru bahwa apa yang kualami selama ini ternyata berkaitan dengan kecintaanku yang berlebihan terhadap keluarga, terutama terhadap istri. Itu sebabnya, dengan hati kosong aku tinggalkan rumah setelah anakku dikebumikan. Aku tinggalkan semua milikku. Aku tidak peduli lagi dengan nasib istri dan kedua anakku. Kupasrahkan semua kepada-Nya. Dan sejak itu, istana sirr di dalam Benteng hatiku telah kosong dari segala sesuatu kecuali pengetahuan tentang diri-Nya.”

Setelah menuturkan penderitaannya yang berujung pada keberhasilannya mengosongkan istana sirr dari segala sesuatu selain-Nya, Qalby Ishthifa mendadak lenyap dari hadapan Abdul Jalil. Sesaat sesudah itu, di hadapannya muncul sosok laki-laki berusia setengah baya yang berpakaian rapi, namun wajahnya kuyu dan kusut masai. Seperti saat perjumpaan dengan Qalby Ishthifa, Abdul Jalil menyapa dan menanyakan dari mana dan hendak ke mana tujuannya. Sosok laki-laki yang ternyata bernama Aly al-Isytibah itu mengaku tetangga Qalby Ishthifa dan mengalami nasib yang sama, yakni istrinya jatuh cinta kepada kuli batu.

“Namun, beda dengan Qalby Ishthifa,” kata Aly al-Ishtibah memaparkan pengalaman hidupnya, “saya belum mampu mengosongkan hati saya. Sebaliknya, dendam, marah, cemburu, dan sakit hati membakar hati saya. Itu sebabnya, setiap saat saya ingat peristiwa pengkhianatan istri saya, langsung amarah saya memuncak. Saya hajar istri saya bagai hewan. Saya tendangi tubuhnya. Saya injak kepalanya. Saya tinju wajahnya. Pendek kata, saya remukkan dia.”

“Berarti Tuan sangat mencintai istri Tuan?” tanya Abdul Jalil.

“Mencintai?” sergah Aly al-Isytibah menolak. “Tidak! Saya justru membenci dia. Itu sebabnya, dia terus-menerus saya siksa dan aniaya. Saya benci dia. Ingat kata-kata saya, Tuan: saya benci dia!”

“Tuan,” kata Abdul Jalil, “jika Tuan tidak cinta, kenapa Tuan sangat peduli kepada istri Tuan? Jika Tuan tidak cinta, biar saja dia melakukan perbuatan durhaka. Peduli apa dengan orang yang tidak Tuan cintai. Justru dengan amarah Tuan itu sebenarnya terbukti sudah bahwa Tuan sangat mencintai istri Tuan. Tuan akan menderita selamanya jika mengingkari kenyataan itu.”

Aly al-Isytibah tercengang mendengar komentar Abdul Jalil. Namun, dia rupanya masih terperangkap oleh terkaman kuat an-nafs. Dia masih terjerat dalam jaring-jaring ananiyyah. “Aku yang paling benar. Paling mulia. Paling terhormat: Akulah yang paling suci. Karena itu, semua harus tunduk pada kehendakku. Aku harus menang dalam segala hal.” Itu sebabnya, dia sangat sulit memahami penjelasan Abdul Jalil. Dan setelah tercenung beberapa saat, dia membalikkan badan, melangkah meninggalkan Abdul Jalil, menuju ke hamparan padang pasir yang luas tanpa batas. Dia tampaknya harus berjalan di tengah panasnya gurun; dipancari matahari dari atas dan dipanggang bara pasir dari permukaan tanah serta diterpa angin kering yang membakar kedamaian hati.

Sepeninggal Aly al-Isytibah, Abdul Jalil berdoa agar lelaki yang diamuk api cemburu itu diberi pertolongan oleh Allah. Sesudah itu, ia melanjutkan lagi perjalanannya mengitari Benteng. Namun, belum jauh melangkah tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki setengah baya yang berjalan tertatih-tatih dengan disangga sebatang tongkat yang terbuat dari kayu yang menebarkan wangi cendana dan kesturi. Laki-laki itu bernama Qalby Mushthalam al-Bala’. Dia tampak agung dan berwibawa, meski peluh yang menyimbah wajahnya menunjukkan bahwa dia telah melakukan perjalanan amat jauh.

Abdul Jalil mengucap salam dan bertanya dari dan hendak ke manakah dia gerangan. Qalby Mushthalam al-Bala’ menyatakan bahwa dia akan kembali ke negerinya, sesudah melakukan perjalanan jauh ke berbagai tempat yang membuat hatinya tambah merana dan menderita. Dia menuturkan bahwa dirinya adalah raja negeri Ikhtiyar yang merupakan bagian dari kerajaan Iradah yang dipimpin oleh Maharaja Malik al-Mulki.

“Sebagai seorang raja bawahan,” ungkap Qalby Mushthalam al-Bala’, “aku sangat patuh dan setia kepada Sang Maharaja. Aku patuhi berbagai peraturan yang ditetapkan-Nya. Sedikit pun aku tidak berani melanggar ketentuan-ketentuan yang telah digariskan-Nya. Aku sadar bahwa Sang Maharaja mengetahui segala sesuatu yang kuperbuat.”

“Namun, sebagai manusia biasa aku memiliki kelemahan, yaitu kecintaan yang berlebihan terhadap Kadar Qalby al-Katsif, putera tunggal kesayanganku, yang kuharapkan akan menjadi penggantiku. Kadar, puteraku, adalah anak yang tampan, cerdas, kuat, patuh, setia, dan rendah hati. Sepanjang hidupku, belum pernah kudapati seorang anak yang begitu sempurna seperti dia. Itu sebabnya, seluruh perasaan cintaku kutumpahkan hanya kepadanya. Kebiasaan setiap raja untuk memelihara selir tidak kulakukan karena seluruh perhatian hati dan pikiranku sudah tercurah kepada Kadar.”

“Hari-hariku sebagai raja kulalui dnegan mengajar, mendidik, membimbing, dan mengarahkan Kadar agar bisa menjadi raja yang agung, adil, dan bijaksana. Berbagai pelajaran dan latihan yang kuberikan, begitu mudah diterimanya. Bahkan harus kuakui, dalam hal hukum dan sastra, Kadar melebihi aku. Demikianlah, hari-hari kulewati dengan mengajaknya berburu, berlatih memanah, berkuda, memainkan pedang, membaca syair-syair, menyantuni orang-orang miskin, dan melakukan amal ibadah terpuji yang lain.”

“Keakraban yang kubangun bersama putera tunggalku ternyata telah menyeretku ke tindakan yang tidak terpuji sebagai raja. Berbagai urusan kerajaan terbengkalai. Para pejabat dan pegawai kerajaan ternyata memanfaatkan keasyikanku berakrab-akrab dengan puteraku itu. Mereka melakukan tindakan korup, menodai keadilan, dan menista hukum. Derita dan sengsara pun dialami oleh rakyat negeri Ikhtiyar yang selama ini hidup dalam damai dan sejahtera.”

“Kelalaian yang kulakukan itu baru kusadari ketika badai derita dan kepedihan meluluhlantakkan hatiku. Kadar, putera tunggal yang kucintai, jatuh dari kuda ketika kuajak berburu kijang di padang ad-Dunya. Setelah mengalami demam semalaman, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri. Tak pernah kubayangkan putera kesayanganku begitu cepat dipanggil kembali ke haribaan-Nya.”

“Saat itu, duniaku runtuh. Kadar, putera tercinta gantungan harapanku, telah direnggut begitu cepat dari sisiku. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun kurasakan duniaku gelap. Satu senja ketika kulihat kawanan burung terbang di angkasa dan berbondong-bondong pulang ke sarang, tersentaklah jiwaku oleh kesadaran bahwa aku harus kembali ke negeri Ikhtiyar. Namun, aku ragu apakah selama kutinggalkan tahtaku tidak diduduki raja lain?”

“Kepastian untuk kembali ke negeri Ikhtiyar kudapatkan ketika seorang kurir bernama Abdullah al-Qarar yang diutus Maharaja Malik al-Mulki datang kepadaku untuk menyampaikan perintah agar aku secepatnya kembali ke negeriku dan menghadap-Nya di istana Iradah. Demikianlah, dengan hati hancur, aku terpaksa kembali ke negeri Ikhtiyar untuk menghadap ke hadirat-Nya di istana Iradah. Semoga Maharaja mengampuni kelalaian yang telah kulakukan selama ini.”

Abdul Jalil melihat kilauan cahaya memancar dari wajah Qalby Mushthalam al-Bala’. Namun, sedetik sesudah itu tiba-tiba tubuh Qalby Mushthalam al-Bala’ lenyap dari pandangannya. Yang tersisa adalah tebaran wangi semerbak dari kayu cendana dan minyak kesturi.

Ketika Abdul Jalil akan melangkahkan kaki untuk melanjutkan perjalanan mengitari Benteng, tiba-tiba muncul sosok laki-laki bertubuh besar yang mengenakan jubah sutra hitam bersulam benang emas. Laki-laki itu berpenampilan sangat mewah, namun jalannya terseok-seok ditopang sebatang tongkat emas berhias intan permata yang kilau-kemilau ditimpa matahari. Dia bernama Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis, seorang qadhi di negeri Maskan. Wajahnya yang berpeluh, lesu, kuyu, dan kusut terlihat menyimpan keletihan. Tubuhnya yang goyah dan kakinya yang gemetar saat berdiri menunjukkan bahwa dia sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh, melintasi padang belantara kehidupan duniawi.

Seperti pertemuan dengan orang-orang sebelumnya, Abdul Jalil pun menyapa dengan salam dan kemudian menanyakan asal dan tujuannya. Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis dengan jujur menuturkan bahwa dia telah melintasi padang kehidupan ganas dalam upaya memburu kemegahan dan kelezatan duniawi. Kekayaan, pangkat, derajat, dan kemuliaan duniawi telah diperolehnya sebagai kemestian dari usahanya yang diraih dengan susah payah itu. Dia telah memperoleh segala apa yang diinginkan dan diimpikannya.

“Namun, kehidupan dunia ternyata mengecewakan,” katanya sambil menunduk. “Segala yang saya miliki dan saya cintai mendatangkan bencana dan penderitaan batin bagi saya. Istri yang saya cintai, misalnya, senantiasa mengeluh tentang kebutuhan duniawi yang sebenarnya sudah saya berikan berlimpah-limpah. Perhiasan emas dan permata serta uang berpeti-peti tidak membuatnya puas. Dia terus mengeluh kekuarangan ini dan itu. Bahkan lima buah rumah sangat mewah yang saya buatkan ternyata dianggap belum cukup. Istri saya selalu mengeluh kurang. Dia selalu menuntut saya agar lebih giat mencari kekayaan. Jika tuntutannya tidak saya penuhi maka dia akan mengomel sepanjang hari sehingga tak ada ketenangan bagi saya di rumah.”

“Belum usai urusan dengan istri saya, muncul persoalan dengan anak-anak saya, terutama Niza’, puteri kesayangan saya. Tanpa saya kira dan saya duga, tiba-tiba puteri kesayangan saya minggat dengan Abdul Jahl, budak saya. Akibat kejadian itu, seluruh kota gempar. Kehormatan saya runtuh. Nama besar saya jatuh. Harga diri saya terinjak-injak. Saya benar-benar dipermalukan oleh puteri yang selama ini sangat saya sayangi. Saya tidak bisa marah terhadap Niza’ karena hati saya sudah terlanjur menyayanginya. Dan akhirnya, dengan memikul rasa malu, saya terima juga budak terkutuk itu menjadi menantu saya.”

“Belum usai persoalan dengan puteri saya, tiba-tiba saya harus kehilangan jabatan sebagai qadhi akibat fitnah. Kekayaan yang saya kumpulkan dengan susah payah dikatakan sebagai hasil tindakan korup saya. Sultan, entah dari mana asalnya, memiliki daftar kekayaan saya mulai dari rumah, kebun, kedai perniagaan, hewan peliharaan, simpanan emas dan permata, timbunan uang, sampai jumlah budak-budak saya. Dan tanpa memberi kesempatan bagi saya untuk menjelaskan dari mana semua itu saya kumpulkan, Sultan menggantikan kedudukan saya dengan orang yang selama ini sangat memusuhi saya.”

“Saya tidak mengerti, kenapa segala sesuatu yang saya miliki dan saya cintai harus terempas dari genggaman saya. Padahal, saya rajin beribadah. Shalat selalu tepat waktu. Puasa Senin dan Kamis saya jalankan sepanjang waktu. Shalatul Lail juga tidak pernah terluang. Shalat Dhuha apalagi. Saya juga sudah cukup banyak menyumbang pembangunan masjid, menyantuni yatim dan piatu, menafkahi janda-janda tua dan orang-orang terlantar. Infak dan sadaqah yang saya lakukan sudah berlebih. Apalagi yang kurang? Kenapa Allah masih merampas milik saya yang saya cintai?”

Mendengar keluh kesah Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis, tiba-tiba saja Abdul Jalil merasakan pancaran nur lawami’ dan pemahaman fawa’id meledak di relung-relung kesadarannya. Bagaikan didorong oleh kekuatan gaib, ia menanggapi keluhan Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis. “Jika Tuan beranggapan bahwa Allah tidak adil dan sewenang-wenang karena telah merampas milik yang dicintai hamba-Nya yang patuh menjalankan perintah-Nya maka Tuan telah salah memandang Dia. Sebab, dengan ungkapan Tuan tentang kepatuhan menjalankan perintah-Nya maka Tuan sebenarnya telah berpamrih. Artinya, Tuan menjalankan perintah-Nya tidak semata-mata karena Dia. Tuan menjalankan perintah-Nya jelas untuk kepentingan Tuan sendiri. Tuan berharap dengan patuh pada perintah-Nya maka Tuan akan bisa kekal dan abadi mengangkangi semua milik Tuan di dunia ini. Adakah sesuatu di dunia ini yang kekal dan abadi?”

“Ketahuilah, o Tuan, bahwa menjalankan perintah-Nya bukan hanya terletak pada bentuk ibadah badaniah belaka, seperti shalat, infak, sadaqah, zakat, puasa, dan haji. Namun, yang tak kalah penting adalah kiblat hati saat beribadah kepada-Nya. Saya berani mengatakan pembohong bagi orang yang shalat, namun kiblat hatinya kepada selain Allah, begitu juga ibadah lainnya.”

“Dan bagi mereka yang sudah melangkah di jalan-Nya, tidak ada pilihan lain kecuali harus setia mengarahkan kiblat hati hanya kepada-Nya. Tidakkah Tuan ingat peringatan-Nya yang berbunyi: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, karib kerabatmu, harta benda yang kau kumpulkan, perniagaan yang kau takuti kerugiannya, dan tempat tinggal yang kau sukai; jika ini semua lebih kau cintai daripada Allah, rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS at-Taubah: 24).”

“Berdasar kisah tentang derita yang telah Tuan alami, jelas sekali Tuan lebih mencintai segala sesuatu selain Allah, rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya. Kiblat hati Tuan jelas sekali bukan kepada-Nya. Tuan merasa segala apa yang Tuan miliki selama ini adalah milik Tuan. Padahal Tuan hanya mengaku-aku. Tuan sebenarnya tidak memiliki sesuatu pun. Bahkan nyawa dan ruh Tuan pun bukanlah milik Tuan. Untuk itu, bertobatlah, o Tuan, dan bersegeralah memalingkan kiblat hati hanya kepada-Nya. Tuan adalah orang yang telah dipilih-Nya. Kenapa Tuan sampai berpaling dari-Nya?”

Wajah Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis merah padam. Dadanya seperti dijalari api amarah yang berkobar-kobar. Dia benar-benar merasa ditelanjangi oleh orang muda yang tak pernah dikenalnya itu. Namun, dia rupanya masih berusaha menahan diri dan tidak terpancing emosi. Dia tidak mau berdebat apalagi menerima kritik dan saran dari pemuda yang dianggapnya masih ingusan. Itu sebabnya, dengan wajah bersungut-sungut sambil berlalu menuju ke hamparan padang belantara yang penuh semak-semak berduri, dia menggumam acuh tak acuh, “Siapakah engkau? Tahu apa engkau tentang jalan-Nya?”

Aku adalah “Dia” yang terbatas yang mengejawantah dalam makna tersembunyi Ruh al-Haqq. Engkau adalah Dia Yang Tak Terbatas, Zat Yang Meliputi, Yang Maha Melihat, Mahakuasa, Yang Tersembunyi pada batin segala yang lahiriah. Engkau Mahasuci dari segala sesuatu. Karena itu, jika aku pengejawantahan Ruh al-Haqq, mengarahkan kiblat hanya kepada Engkau, pasrah di haribaan-Mu, mengikuti jalan-Mu, dan terbimbing kembali kepada-Mu, maka terlepaslah segala sesuatu selain Engkau dari lingkaran keakuanku.

Ketika Dia Yang Tak Terbatas berkehendak menarik “Dia” yang terbatas yang mengejawantah dalam makna tersembunyi Ruh al-Haqq, yang terpenjara oleh tubuh duniawi, keakuan, maka disucikanlah Benteng persemayaman Ruh al-Haqq dari segala terali penjara keakuan duniawiah. Dan jika saat yang dikehendaki-Nya telah tiba, sesuai kehendak-Nya, maka luluh lantaklah penjara keakuan duniawi oleh serbuan api bala’ yang tercurah dari langit dan memancar dari dasar bumi. Benteng hari persemayaman Ruh al-Haqq hancur, remuk redam menjadi reruntuhan dan puing-puing yang disebut Qalb al-Mushthalam, “hati yang hancur.”

Abdul Jalil, anak Adam yang sejak lahir ke dunia fana telah ditimpa api bala’ dari segala penjuru kehidupan, ternyata Benteng hatinya belum tersucikan sama sekali dari terali-terali penjara keakuan duniawi. Di dalam relung-relung Benteng hatinya masih terpampang citra indah bidadari dan hantu hitam yang menyelubungi kesucian Ruh al-Haqq. Itu sebabnya, bola-bola api dari langit jiwanya bagai malapetaka Sodom dan Gomorah tercurah ke Benteng hatinya, meluluhlantakkan segala sesuatu yang bukan Dia yang bersarang di dalamnya.

Ia yang selalu tangguh dan ulet dalam menangkis serbuan api bala’ dari atas langit dan dasar bumi jiwanya. Ia yang melepas segala miliknya, prajurit-prajurit, benteng-benteng, puri-puri, gudang makanan, gudang perbendaharaan, mahkota, perisai, baju zirah, busur, anak panah, pedang, tombak, dan bahkan sepatu miliknya demi keselamatan jiwanya, ternyata harus tersungkur tanpa daya ketika menghadapi serbuan akhir. Ia rupanya terpojok. Ia sudah kehilangan segala sesuatu yang berharga yang dapat digunakan untuk mempertahankan dirinya. Dan selembar jubah sutra bersulam keindahan bidadari dan bunga-bunga, yang dikenakan sebagai pakaian kebesaran terakhirnya yang berharga, ternyata harus direnggut dan dicampakkan ke dalam kobaran api bala’ yang tak kenal ampun.

Ia baru menyadari bahwa jubah sutra bersulam keindahan bidadari dari bunga-bunga kebanggaan yang dikenakannya telah terbakar tanpa sisa ketika Ahmad at-Tawallud, sekembali dari Basrah, menuturkan perihal nasib puterinya yang sangat tidak beruntung. Sejak menikah, tidak sedikit pun kebahagiaan pernah diraih oleh puterinya. “Bayangkan, sampai tiga tahun perkawinan mereka belum dikaruniai anak. Tuan bisa membayangkan, apa arti istri yang tidak bisa melahirkan anak bagi laki-laki seperti Hajibur Rahman at-Takalluf.”

Tetesan air mata yang membasahi dukacita Nafsa, ungkap Ahmad at-Tawallud, adalah rentangan panjang kehidupan yang membukan kesadarannya tentang makna bala’ dan Qalb al-Mushthalam. Nafsa menyadari bahwa setiap tetesan air mata yang tertumpah adalah air bening yang menyucikan jiwanya. Dia sadar bahwa segala derita yang menimpanya adalah makna termulia dari kecintaan-Nya terhadap dirinya. Itu sebabnya, dia tidak pernah mau menukar kepedihan jiwanya dengan keriangan dan gelak tawa duniawi.

“Nafsa ingin tetap menjadi hamba-Nya yang menderita,” kata Ahmad at-Tawallud. “Karena, di dalam derita itu dia senantiasa mengingat-Nya. Dia tahu di antara tetesan air matanya itulah keagungan, kemuliaan, dan cinta kasih-Nya merambat dan merayapi getar-getar jiwanya. Di dalam hati yang remuk, dia menangkap pengejawantahan (tajalliyat) Ilahi.”

Dari balik tembok kemanusiaan yang membelenggu jiwanya, Nafsa terbang ke angkasa dengan sayap-sayap kebebasannya. Dia tidak peduli lagi dengan gemerlap perhiasan emas permata serta benda-benda duniawi. Baginya, keindahan kata-kata duniawi adalah tirai-tirai hitam yang menutupi jendela sehingga seluruh ruang jiwanya menjadi gelap gulita. Penderitaan dan kepapaan adalah pintu gerbang menuju ke istana Kebenaran. Itu sebabnya, dia melewati hari-hari deritanya dengan tetesan air mata di dalam kamar gelapnya; meninggalkan hingar-bingar kehidupan duniawi yang gemerlapan dan penuh gelak tawa.

Namun, Nafsa tetaplah Nafsa, bidadari berhati lembut yang sejak kecil hidup dalam kemanjaan dan sukacita. Tubuhnya yang lemah gemulai laksana merpati itu tidak mampu menahan derita panjang yang direguk dan dicecapnya sebagai madu dan susu kehidupan. Tak sampai empat tahun dia menjadi istri Hajibur Rahman at-Takalluf, tubuhnya telah kurus laksana burung merana di sangkarnya. Kehausan telah mencekik lehernya, meski di luar sangkar terdapat kolam berair jernih. Kelaparan telah menerkam perutnya, meski biji jelai terhampar di hadapannya.

Terali-terali sangkar telah memenjarakan kebebasannya. Burung kecil itu tak pernah lagi berkicau. Dia terpenjara dalam sangkar derita. Dan kepedihan panjang yang bagai tanpa tepi akhirnya menggiringnya ke arah kematian. Ya, burung itu telah pergi. Namun, kemerduan kicaunya masih tersisa dan tak akan dapat terlupakan oleh mereka yang pernah mendengarnya. “Bagiku, kematian burung itu adalah pembebasan bagi jiwanya untuk kembali kepada Sang Pemilik. Burung itu telah terbang bebas menuju Sarangnya yang sejati,” kata Ahmad at-Tawallud.

Kabar kematian si burung kecil Nafsa yang tak pernah dibayangkan dan diimpikan itu didengar oleh Abdul Jalil bagaikan ledakan halilintar menyambar tebing-tebing jiwanya. Seluruh aliran sungai pembuluh darahnya tiba-tiba membeku. Bagaikan batuan tebing yang runtuh, ia rasakan tulang-tulang persendiannya luruh. Bagai burung yang patah kedua sayapnya dan jatuh dari angkasa.

Ia tercenung sebisu patung batu. Seperti berada di alam mimpi. Namun, sejenak kemudian ia bagai tersadar oleh hamparan kenyataan yang menunjukkan bahwa dirinya sekarang ini bagaikan raja tanpa mahkota, tanpa kekuasaan, tanpa istana, tanpa tahta, tanpa rakyat, bahkan tanpa pakaian kebesaran. Abdul Jalil menyadari betapa satu-satunya jubah kebesaran terindah yang dikenakannya telah terbakar habis tak bersisa. Citra indah sulaman bidadari dan bunga-bunga itu telah sirna. Harapan dan angan-angannya tentang jubah indah itu telah pupus. Merana. Dan tebing keteguhan hatinya pun runtuh bersama butir-butir air bening yang bergulir dari kelopak matanya, membasahi pipinya.

Ketika malam dibungkus selimut hitam, saat orang-orang meringkuk kedinginan dalam tidur lelap, Abdul Jalil duduk di teras Masjid al-Ishthilam sambil membatin, “Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, o musafir papa, yang tak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa.”

Bintang-gemintang yang menghiasi gelap malam menerbangkan khayalnya ke langit yang diselimuti kabut. Khayal yang melekat di relung-relung ingatannya memunculkan citra Nafsa yang menderita dan merana. Sambil menyaksikan bentangan sayap-sayap khayalnya berkepakan, ia berkata, “Aku tidak pernah kehilanganmu, o Nafsa, karena aku tidak pernah memilikimu. Namun, citra keindahanmu yang memenuhi khayalku adalah kesunyian yang paling menyiksa jiwaku. Terbang bebaslah, o burung kecilku, menuju sarangmu. Berkicaulah dengan kemerduan suaramu untuk memuji Pemilikmu.”

Ketika ia sedang terbang bebas dengan burung khayalnya, tiba-tiba muncul seseorang yang kemudian dikenalnya bernama Ali Anshar at-Tabrizi, musafir asal negeri Persia. Sebagai sesama perantau, dalam tempo singkat mereka terlihat akrab; berkisah tentang asal usul, perjalanan hidup, pandangan-pandangan keagamaan, prinsip-prinsip tauhid, bahkan konsep-konsep dan amaliah perjuangan (jihad) menuju Sang Sumber Sejati.

Ali Anshar pemuda yang cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai hal sehingga persoalan yang sulit dipecahkan akan menjadi mudah dibahas. Namun, ada saat-saat tertentu Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa pengetahuan Ali Anshar pada dasarnya masih pada tingkat pemahaman dan belum sampai pada tataran amaliah. Hanya saja ia belum berani memastikan apakah sasmita yang ditangkapnya itu benar atau tidak. Lantaran itu, ia berusaha tetap menjaga jarak dan tidak semua pandangan Ali Anshar disepakatinya.

Ia sadar selama ini sangat kurang bergaul dengan orang-orang yang bisa diajaknya berbagi pengalaman. Itu sebabnya, meski banyak hal yang tidak disepakatinya, ia merasa sangat membutuhkan kawan bicara secerdas perantau asal Tabriz itu. Keakrabannya dengan Ali Anshar pun makin erat manakala ia mengetahui bahwa pemuda itu meninggalkan negerinya karena tak sanggup menanggung hati yang hancur akibat kematian kekasih tercinta. Kesamaan nasib menumbuhkan empati dan solidaritas.

Ali Anshar menuturkan kisah percintaannya dengan Kamilah, tetangga sebelah rumahnya yang telah dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Berbeda dengan keluarga Kamilah yang kaya dan terhormat, keluarga Ali Anshar hidup dalam keterbatasan meski darah yang mengalir di tubuh keluarganya adalah darah Alawiyyin keturunan Rasulallah Saw. “Keluarga kami adalah pendukung setia keluarga Safawy yang sedang berjuang menegakkan kekuasaan ahlul bait. Itu sebabnya, keluarga kami selalu dalam buruan dan penindasan penguasa yang zalim. Namun, kami bertahan terhadap semua tekanan yang diarahkan kepada kami,” katanya dengan mata berapi-api.

Sebagai pendukung setia keluarga Safawy ternyata membawa akibat pedih baginya. Keluarga Kamilah yang sangat membenci perjuangan kaum Safawy tegas-tegas melarang Ali Anshar berhubungan dengan puteri mereka. Mereka tidak ingin tersangkut-paut dengan gerakan pemberontak. “Aku memprotes keputusan itu. Aku katakan kepada ayahanda Kamilah bahwa persoalan cinta tidak ada kaitan dengan perjuangan kaum Safawy. Namun, mereka malah mengusirku. Dan puncaknya, ketika keluarga itu dengan paksa menikahkan Kamilah dengan seorang petugas penarik pajak yang licik dan kejam,” ujar Ali Anshar menarik napas dalam-dalam.

Perkawinan Kamilah ternyata tidak membawa kebahagiaan. Selama bertahun-tahun mereka tidak dikaruniai anak. Itu sebabnya, Kamilah oleh suaminya dijadikan pemuas nafsu belaka. Dia tidak pernah lagi dianggap sebagai istri yang bisa menjadi ibu dari anak-anaknya. Bukan hanya caci-maki dan pukulan yang didapat Kamilah dari suaminya, melainkan silih berganti perempuan cantik dibawa ke rumah dan diperkenalkan sebagai istri-istri baru. Namun, ternyata para perempuan itu tidak melahirkan anak seorang pun bagi suami Kamilah.

Penderitaan lahir dan batin yang dialami Kamilah akhirnya membawanya ke gerbang kematian. “Saat itu aku rasakan duniaku runtuh. Harapan dan khayalku tentang Kamilah yang indah telah sirna tanpa bekas. Mahligai hatiku yang menyimpan citra indah Kamilah telah remuk. Luluh lantak,” tutur Ali Anshar pedih.

Seyogyanya, ungkap Ali Anshar, dia sudah putus harapan dengan kehidupan di dunia ini. Namun, dorongan semangatnya sebagai keturunan Rasulallah Saw. yang mulia telah menumbuhkan kekuatan dahsyat untuk pantang menyerah dalam menghadapi tantangan hidup. “Berbulan-bulan kulalui dengan memohon barokah dan karomah dari Sayyid Hamzah bin Imam Mussa al-Kazim yang dimakamkan di Rey, dekan Tehran. Berbulan-bulan pula kulalui dengan memohon barokah dan karomah dari Sayyid Jalaluddin Asraf bin Imam Mussa al-Kazim yang dimakamkan di Astana Ashrafia di Gilan. Dan alhamdulillah, aku mendapatkan kekuatan baru.”

Selanjutnya, dia mengungkapkan perjalanan ruhaninya menziarahi makam Sayidina Husein di Karbala yang mendatangkan kekuatan batiniah baginya. Ali Anshar yakin bahwa para imam suci beserta seluruh keturunannya adalah pembimbing umat manusia dalam menafsirkan dan mengamalkan ajaran yang telah disampaikan oleh Rasulallah Saw. “Jikalau benar apa yang dikatakan uwak Tuan bahwa Tuan masih keturunan Rasulallah Saw. maka hendaknya Tuan sadari keberadaan yang mulia itu. Tuan hendaknya menjadikan Muhammad Saw. leluhur kita sebagai panutan. Beliau lelaki sejati yang pantang menyerah, meski harus kehilangan orang-orang tercinta termasuk kematian putera-putera kebanggaannya di usia dini. Beliau kuat. Perkasa. Tak goyah menghadapi gempuran dari segenap penjuru,” kata Ali Anshar menyemangati.

Entah akibat kepandaian Ali Anshar berbicara atau karena sedang dalam keadaan sedih dan butuh penguat jiwa, Abdul Jalil merasakan getar kebanggaan menguasai dadanya ketika ia menyadari di dalam dirinya mengalir darah Rasulallah Saw. dan para ulama dari golongan Alawiyyin. Hidup mereka selalu digempur oleh serbuan api bala’, namun mereka tidak pernah menyerah. Bahkan menjadikan mereka sebagai orang-orang mulia yang dekat dengan al-Khaliq. Dan getar kebanggaan yang memenuhi dadanya itu mendorong Abdul Jalil untuk melakukan ziarah ke makam Rasulallah Saw. sekaligus menunaikan ibadah haji.

Keputusan Abdul Jalil untuk berziarah ke makam Rasulallah Saw. pada musim haji mendatang disambut gembira oleh Ali Anshar. Sambil menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil, dia berkata, “Dengan berziarah ke makam Rasulallah Saw. berarti Tuan telah kembali kepada sumber Tuan yang sejati. Mudah-mudahan kita dapat berjumpa di sana pada musim haji mendatang,” ujarnya dengan mata berbinar-binar.

Keakraban Abdul Jalil dan Ali Anshar semakin erat. Hal itu terjadi bukan saja karena Ali Anshar memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai hal, melainkan yang tak kalah penting adalah karena sahabatnya, Ahmad at-Tawallud sedang pergi berlayar ke berbagai negeri mengurus perniagaannya. Abdul Jalil ditinggalkan sendirian di rumahnya yang megah di Baghdad. Ia hanya ditemani beberapa pelayan. Kesendirian di tengah semarak kota Baghdad itulah yang mendekatkan hubungan mereka.

Ali Anshar ternyata sangat pandai menjalin hubungan dengan orang, baik dalam hal kesantunan, keramahan maupun pembicaraan tentang agama, filsafat, sejarah, ketabiban, hingga politik kekuasaan. Kepada Abdul Jalil yang beberapa kali mengunjungi pemondokannya di tepi sungai Tigris, selalu disuguhkan makanan khas Persia: Chelow-kabab (nasi dengan daging panggang), Fessenjan (daging itik kuah dicampur kenari dan sari buah delima), Dolmeh (daging isi dibungkus daun anggur), Abgousht, Ash-e-Reshteh, dan Barbari. Selama menyantap suguhan, Ali Anshar bercerita ini dan itu tentang kehidupan di berbagai negeri terutama di Persia yang menurutnya sedang dikuasai oleh orang-orang zalim yang durhaka karena selalu menodai agama dan menipu rakyat.

Sebagai orang muda yang telah menyaksikan sekaligus mengalami sendiri berbagai sisi kehidupan yang penuh pahit dan getir, Abdul Jalil dengan apa adanya menceritakan perjalanannya dari awal hingga terdampar di Baghdad. Tanpa kecurigaan ia menuturkan bahwa kepergiannya hingga ke negeri dongeng itu adalah bagian dari pencariannya terhadap al-Khaliq. Itu sebabnya, ia sangat tidak tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan duniawi. “Telah jelas bagiku bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan selain Dia akan berakhir dengan kekecewaan dan penderitaan.

Mendengar pengakuan Abdul Jalil, Ali Anshar hanya mengangguk-angguk sambil mendecak kagum. Namun, kepandaian Ali Anshar memberikan alasan-alasan yang masuk akal terutama dorongan semangat, khususnya yang berkaitan dengan keberadaannya sebagai keturunan Rasulallah Saw., telah membuat Abdul Jalil mengerutkan kening untuk berpikir ulang.

“Tuan masih muda dan memiliki kecerdasan luar biasa,” Ali Anshar memuji. “Tuan ibarat buah masak sebelum waktunya. Namun, Tuan harus selalu ingat bahwa nenek moyang kita Muhammad Saw. adalah pejuang kemanusiaan yang agung yang rela berkorban apa saja demi tugas sucinya. Berbelas tahun beliau menyepi sendiri di gua Hira untuk mencari Kebenaran Sejati. Setelah beliau menemukan Kebenaran Sejati, terutama dalam peristiwa agung isra’ wa mi’raj, di mana beliau telah berhadapan langsung dengan Allah, ternyata tidak membuat beliau terputus dengan kehidupan duniawi. Beliau tidak menjadi pertapa yang mengasingkan diri. Beliau justru kembali ke kehidupan dunia dengan mengemban tugas suci dari-Nya; berjuang menegakkan kebenaran agama-Nya, memimpin umat ke jalan-Nya, menjadi teladan umat manusia, menjadi kepala keluarga, dan bahkan menjadi panglima tinggi perang bagi umatnya.”

Selain berkisah tentang Rasulallah Saw., dia juga menuturkan keteladanan para Alawiyyin keturunan Rasulallah Saw., baik dari galur Sayidina Hasan maupun dari Sayidina Husein. Tanpa kenal lelah, ungkap Ali Anshar, para Alawiyyin menyampaikan ajaran Rasulallah Saw. ke berbagai negeri. “Kekalahan para keturunan dan pengikut Sayidina Ali dari si iblis besar Mu’awiyah dan keturunannya, tidak menjadikan mereka patah semangat. Mereka seberangi lautan luas dan gurun yang ganas untuk menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang sedang berada di dalam kegelapan. Tak terhitung jumlah kaum Alawiyyin yang terbunuh di jalan Allah, namun mereka tak pernah surut langkah menegakkan agama Allah. Imam suci sebagai penerus kemuliaan Rasulallah Saw. mereka jadikan sumber ilham yang tak pernah kering bagi gelora semangat perjuangannya,” kata Ali Anshar.

Meski tidak semua pandangan Ali Anshar sesuai dengan jalan pikiran dan perasaannya, Abdul Jalil menangkap semacam kebenaran di balik kata-katanya, terutama jika dikaitkan dengan cerita Syaikh Datuk Ahmad, uwaknya, tentang perjuangan leluhurnya di dalam menyebarkan kebenaran Agama Allah di muka bumi. Diam-diam ia meneguhkan tekad akan mendarmabaktikan seluruh hidupnya di jalan yang telah dilampaui leluhurnya setelah menemukan Kebenaran Sejati. Dan tiba-tiba saja, gambaran tentang kegelapan yang masih menyelimuti orang-orang di negeri kelahirannya, berkelebat ganti-berganti memasuki benaknya.

Kala senja turun, usai orang-orang menunaikan shalat maghrib, Abdul Jalil berjalan melewati perkampungan kumuh di pinggiran Baghdad. Di antara reruntuhan tembok-tembok tua dan puing-puing, di atas tumpukan sampah dekat sebuah rumah yang atapnya ambruk, ia tanpa sengaja melihat laki-laki tua berjongkok mengais-ngais sampah seolah mencari sisa-sisa makanan. Pakaiannya kotor berbalut debu. Wajahnya dilihat sepintas bagai mengungkap derita. Pendek kata, laki-laki itu adalah gelandangan yang hidup dalam kehinaan dan kenistaan. Namun, tatapan mata laki-laki itu, yang menerawang jauh ke gugusan bintang-bintang di langit, menyiratkan ketenangan, kedamaian, dan kewibawaan.

Bagaikan terbimbing oleh tangan gaib, Abdul Jalil menghampirinya. Ia menangkap keanehan pada tubuh tua penuh debu itu. Dan sesaat kemudian, nur lawami’ dan fawa’id di kedalaman jiwanya tiba-tiba menangkap pancaran cahaya gilang-gemilang pada sosok yang hina dalam pandangan mata indriawi itu. Ia makin yakin bahwa laki-laki di atas tumpukan sampah itu bukanlah orang sembarangan. Setelah jarak mereka cukup dekat, ia mengucapkan salam dan laki-laki tua itu menjawabnya, namun dengan sikap tak peduli.

Merasa diabaikan, Abdul Jalil justru mendekat dan ikut berjongkok di depannya sambil mengulurkan tangan. Laki-laki tua itu masih dalam sikap acuh tak acuh mengulurkan tangan menyalami sambil menggumam, “Tidak hinakah seorang keturunan Rasulallah Saw menyalami fakir papa ini?”

“Tuan,” sahut Abdul Jalil hormat, “bagi saya semua manusia adalah sama, yaitu hamba Allah. Hanya pandangan mata indriawi dan peraturan yang dibuat manusia sajalah yang membeda-bedakan satu manusia dengan manusia yang lain. Bangsawan, mulia, agung, terhormat, berpangkat, kaya raya, maupun yang sudra, hina, nista, miskin, fakir, dan papa adalah sama di hadapan-Nya. Yang membedakan mereka hanyalah takwa. Dan ketakwaan tidak bisa dilihat hanya dari penampilan lahiriah semata. Dalam pandangan saya, Tuan adalah hamba-Nya yang mulia lagi terhormat, meski orang lain memandang Tuan sebagai orang hina.”

Laki-laki tua yang ternyata bernama ‘Ainul Barazikh itu tiba-tiba memegang bahu Abdul Jalil. Dia menatap mata Abdul Jalil dalam-dalam seolah hendak mengukur kekuatan jiwanya. Sesaat kemudian dia berkata, “Jika engkau teguh dan istiqamah berpegang pada ucapanmu itu dan engkau duduk laksana pengemis papa di hadirat-Nya maka Allah akan membukakan pintu-pintu ilmu dan menganugerahimu pengetahuan khusus dari-Nya, yaitu tentang rahasia dan pemahaman Ilahiah.”

“Saya akan berusaha istiqamah dan memohon kepada-Nya agar hati saya senantiasa dikosongkan dari sesuatu selain Dia,” kata Abdul Jalil takzim.

“Jika demikian,” sahut ‘Ainul Barazikh tenang, “tinggalkan orang-orang yang akan mempengaruhi jalanmu. Karena, sesungguhnya engkau akan diperankap oleh kebanggaan diri akan nasab yang bermuara ke samudera keakuanmu. Allah tidak pernah menetapkan sesuatu yang dikehendaki-Nya atas dasar nasab semata. Ingat kisah Nuh a.s. yang anaknya durhaka terhadap Allah. Ingat Ibrahim a.s. yang ayahandanya masuk ke dalam golongan orang-orang sesat.”

“Jika engkau setia di jalan-Nya maka engkau akan mendapati Ibrahim a.s. sebagai Bapak Tauhid yang berhasil memutus hubungan antara anak dan ayah (Ibrahim a.s. dan ayahnya, Terah) maupun hubungan antara ayah dan anak (Ibrahim a.s. dan Ismail a.s.) sehingga ia beroleh pencerahan menjadi sahabat Sang Kebenaran Sejati. Sesungguhnya, hubungan ayah dan anak adalah hubungan kemakhlukan yang bersifat nisbi yang berujung pada nafs yang satu (an-nafs al-wahidah), yakni hakikat Adam a.s. – citra sebentuk tanah yang di dalamnya tersembunyi rahasia ruh-Nya. Ibrahim a.s. telah menangkap rahasia paling rahasia Ilahiah dari kalimat: la ilaha illa Allah dan Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un.”

“Ketahuilah bahwa hubungan anak dan ayah, anak dan ibu, suami dan istri, serta laki-laki dan perempuan sesungguhnya adalah hubungan yang bersifat duniawi. Ingatlah, ketika Adam a.s. diciptakan di Jannah Darussalam tidak dibutuhkan ibu dan bapak. Ingat pula ketika Adam a.s. membelah diri saat kemunculan Hawa. Proses itu terjadi bukan di dunia. Karena itu, kebapakan Adam a.s. dan keibuan Hawa saat melahirkan putera-putera terjadinya di bumi. Dan jika engkau naik ke langit maka engkau akan mendapati bahwa di sana tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan, anak dan ayah, anak dan ibu, suami dan istri. Semua adalah universal; bulan, bintang, bumi, matahari, bintang, planet, malaikat.”

“Karena itu, o Anak Muda, jika engkau bertekad bulat untuk mendekati-Nya maka prasyarat mutlak yang wajib engkau penuhi adalah meniggalkan segala sesuatu yang bersifat keduniaan, termasuk kebanggaan terhadap nasab. Dan ketahuilah, o Anak Muda, saat Muhammad Saw. dijalankan oleh-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (isra’) lalu mi’raj ke Sidratul Muntaha, dia bukan lagi sebagai seorang laki-laki bumi. Muhammad Saw. saat itu adalah al-Haqq yang universal yang kembali ke Sumber Sejati. Itu sebabnya, sangat jahil orang yang menggambarkan buraq sebagai hewan tunggangan berkelamin perempuan. Buraq adalah makhluk universal. Tidak jantan dan tidak betina. Dan hanya pikiran keduniaan manusia sajalah yang mengkhayalkan segala sesuatu yang universal identik dengan kebumian yang parsial.”

“Saya paham, Tuan,” sahut Abdul Jalil takzim.

“Karena itu, hatimu harus hancur dari segala hal duniawi jika engkau menghendaki keakraban dengan-Nya,” kata ‘Ainul Barazikh, yang tiba-tiba saja berdiri kemudian membalikkan badan.

Abdul Jalil termangu-mangu menatap kepergian ‘Ainul Barazikh hingga tubuhnya lenyap ditutupi kegelapan malam. Diam-diam ia bersyukur telah diberi anugerah oleh Allah berupa sepercik pengetahuan untuk melihat makna hakiki manusia dengan pandangan mata batin. Pancaran nur lawami’ dan pemahaman fawa’id di kedalaman samudera kesadarannya telah dapat menyaksikan citra agung seorang kekasih Allah yang memancarkan cahaya gilang-gemilang dari seorang gelandangan seperti ‘Ainul Barazikh. Padahal, orang-orang terhormat dan dipuja-puja, seperti Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, justru membiaskan citra seekor hewan. Ah, pikir Abdul Jalil, betapa menakjubkan Allah yang menebarkan tirai rahasia untuk menghijab kekasih-Nya dari pengetahuan duniawi.

Ako anchorage (Japan), February 25th 2007