Baitul Haram

Haji – ibadah yang diwajibkan bagi setiap muslim yang dewasa, berakal sehat, dan mampu melaksanakannya – bukanlah sekadar memakai pakaian ihram, tawaf mengitari Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa, wukuf di Arafah, singgah di Muzdalifah dan Masy’ar al-Haram, dan melempar jumrah di Mina secara badani. Haji yang hakiki adalah peribadatan yang membawa seorang salik mendaki maqam jasadiyyah ke maqam ruhaniyyah; menapaki kembali jejak-jejak Adam a.s. mulai saat menjadi hamba-Nya yang terhukum hingga ke asal penciptaannya yang mulia dan terhormat di antara semua hamba-Nya, yakni Adam a.s. yang kepadanya seluruh malaikat bersujud dan yang dibanggakan Rabb-nya karena mengetahui nama-nama serta bisa berwawansabda dengan al-Khaliq.

Bagi salik yang berhasrat mendaki maqam ruhaniyyah, syarat utama ibadah haji adalah melepas segala ingatan dan pamrih tentang kehidupan duniawi dan ukhrawi sekaligus. Satu-satunya ingatan hanya kepada-Nya. Karena bagi salik, Haji adalah ‘ibadah, yakni wahana yang menghubungkan abid dan Ma’bud. Dan lantaran itu, keberadaan salik sebagai abid yang menggunakan wahana ibadah untuk menujukan kiblat hati dan pikiran hanya kepada Ma’bud hendaknya lurus dan bersih serta suci dari segala sesuatu yang bukan Ma’bud. Bid’ah adalah tambahan-tambahan di dalam ibadah yang membawa abid memalingkan kiblat dari Ma’bud.

Menjelang musim haji, Abdul Jalil yang sudah menyiapkan kebersihan jiwanya untuk memasuki maqam ruhaniyyah, berangkat ke tanah suci dengan melewati samudera. Hasrat dan keinginan hatinya untuk melakukan ziarah ke makam para leluhurnya, yakni Imam Husein di Karbala, Imam Ali di Najaf, Imam Ja’far Shadiq, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin di Baqi’, dan terutama makam Rasulullah Saw. di samping Masjid Nabawi, diurungkannya. Uraian Ainul Barazikh tentang hakikat Tauhid telah meruntuhkan semua dorongan hatinya untuk menapaki kemuliaan dan keluhuran para leluhurnya dengan tujuan mengangkat keberadaan dirinya. Soal ibadah, menurut hematnya, adalah soal pengkiblatan antara abid dengan Ma’bud. Karena itu, tidak sekali-kali abid diperbolehkan menggunakan atribut-atribut di dalam mengarahkan kiblatnya kepada Ma’bud.

Dengan melakukan perjalanan melintasi samudera, ia mendapati kenyataan bahwa di tengah samudera yang biru tidak terdapat sesuatu yang mengusik batin manusia. Hamparan samudera sepanjang waktu tampaknya hanya menyuguhkan ombak yang bergulung-gulung dan ikan yang beriringan melompat-lompat serta kadang kala gelombang yang mengamuk; sebuah pemandangan yang sangat menjemukan. Namun, di tengah samudera itu pulalah hasrat dan dorongan ke arah duniawi dapat sangat kuat menerkam pikiran dan perasaan manusia. Namun, bagi salik seperti Abdul Jalil yang benar-benar telah berjuang keras melepas segala sesuatu selain Dia, perjalanan melintasi samudera justru menjadi sebuah kemestian ibadah yang sangat didambakan. Karena jiwanya yang sudah menapaki maqam ruhaniyyah itu ibarat hamparan samudera yang bersih dari hiruk pikuk duniawi.

Sekalipun ia sudah dinyalakan api tekad untuk tidak menghiraukan segala sesuatu selain Dia, pada kenyataannya ia tidak mempu menghindar dari kehidupan duniawi sehari-hari. Selama di atas kapal, misalnya, meski sudah diusahakan untuk lebih banyak melakukan amaliah ibadah, tak urung ia sempat pula mengenal beberapa penumpang dan awak kapal. Salah seorang penumpang yang dikenalnya saat kapal akan berangkat di pelabuhan Basrah, yang kemudian menjadi kawan berbicara selama di perjalanan, adalah laki-laki peranakan Arab-Persia bernama Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi. Pemuda tiga puluh tahunan asal Pasai.

Perkenalannya dengan Husein dijembatani oleh Ahmad at-Tawallud yang ikut mengantar sampai ke atas kapal beberapa saat sebelum berangkat. Husein adalah putera Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi – Mullah yang sangat dihormati di negeri Pasai – kawan karib ayahanda Ahmad at-Tawallud.

Husein adalah salik yang sedang meniti bahtera menuju ke Pelabuhan Sejati. Itu sebabnya, Ahmad at-Tawallud mengungkapkan, dalam perjalanan menuju ke tanah suci seyogyanya mereka berdua banyak melakukan tukar pengalaman dan pendapat. “Jalan yang dia tempuh dengan jalan yang Tuan tempuh sangat berlainan, meski arahnya sama, yakni menuju ke Pelabuhan Sejati,” bisiknya perlahan ke dekat telinga Abdul Jalil.

Sesuai pesan Ahmad at-Tawallud, sepanjang perjalanan Abdul Jalil berusaha menggunakan waktu luangnya untuk berbincang-bincang dengan Husein. Dalam perbincangan itulah, Husein menuturkan beberapa kerabatnya tinggal dan menjadi penyebar Islam di sana. “Bahkan saudara kakek buyut saya, Sayyid Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi, menjadi pejabat tinggi di Majapahit. Kakek saya, Abdul Qadir al-Abbasi, menceritakan bahwa adik dari kakeknya itu menggunakan nama Jawa – setelah diambil menantu oleh Raja Muda Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura – Arya Teja. Beliau menjadi Syahbandar di pelabuhan Tuban.”

Selanjutnya, dia menuturkan bahwa penyebaran Islam di Jawa yang dilakukan oleh para saudagar dan guru-guru agama yang berasal dari Pasai menggunakan jaringan keluarga al-Abbasi yang menjadi Syahbandar pelabuhan Tuban. Jaringan keluarga al-Abbasi makin kuat manakala salah seorang keturunan Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi yang bernama Abdullah Shidiq menikahi puteri Adipati Tuban dan kemudian dia menggantikan kedudukan mertuanya. Dengan demikian, keluarga al-Abbasi menduduki dua jabatan penting, yaitu syahbandar dan adipati. “Berita terakhir yang saya terima, Abdullah Shidiq menggunakan nama Jawa, yaitu Tumenggung Wilwatikta.”

Berdasar uraian Husein itulah Abdul Jalil mengetahui bahwa pengaruh Alawiyyin khususnya yang berasal dari Persia sangat kuat. Di Pasai menurut Husein, paham yang kuat dianut masyarakat adalah Syiah. Bahkan ibundanya adalah wanita peranakan Persia, puteri Hujjatul Islam Hasan Khair bin al-Amir Ali Astrabadi. “Jadi, kakek saya dari pihak ibu adalah ulama besar asal Persia.”

Abdul Jalil merasa lega mendengar berbagai uraian tentang gerakan dakwah Islam di Jawa yang dilakukan oleh para ulama asal Pasai. Sebab, menurut pikirannya, gerakan dakwah yang dilakukan oleh para saudagar dan guru agama asal Pasai melalui jaringan keluarga al-Abbasi tentu akan membawa hasil yang baik, yakni membangkitkan kesadaran orang-orang yang masih terjebak dalam paganisme dan penindasan atas hak-hak hidup manusia. Sejauh ini, menurut pengalamannya di Caruban, keberadaan Padepokan Giri Amparan Jati yang diasuh Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi belum cukup berarti mempengaruhi kesadaran manusia di daerah Galuh dan Pajajaran. Sementara kekuasaan yang mulai dibangun di daerah Bintara lebih tertumpu pada upaya-upaya penegakan kekuasaan duniawi ketimbang menyadarkan masyarakat dari ketertindasan dan keterbelakangan.

Dalam perbincangan dengan Husein, Abdul Jalil mengungkapkan betapa berat medan dakwah di Jawa karena masyarakat sudah terperangkap ke dalam kerangka berpikir yang beku dan mandeg. Masyarakat, menurut Abdul Jalil, selalu dijadikan permainan oleh para elit untuk kepentingan mereka. Baik penguasa maupun ruhaniwan selalu memanfaatkan dan bahkan cenderung mengorbankan masyarakat untuk kepentingan pribadi mereka. “Hanya aroma keharuman Islam sebagai rahmatan lil alamin sajalah yang bisa membebaskan orang-orang dari penindasan atas sesamanya. Karena, di dalam Islam tidak dikenal golongan-golongan manusia berdasar nasab. Tidak ada sudra tidak ada paria. Semua sama di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah ketakwaan.” Ujar Abdul Jalil.

Sekalipun mereka sama sepakat bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, soal tidak adanya perbedaan golongan di antara manusia ternyata keduanya tidak sepaham. Husein tegas-tegas menolak pandangan Abdul Jalil. Menurutnya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memahami dan mengamalkan agama. Itu sebabnya, masyarakat awam hendaknya taqlid kepada para ulama yang memiliki otoritas di bidangnya. “Para ulama pun tidak boleh semau-maunya menyampaikan ajarannya tanpa memiliki rujukan dari imam yang maksum. Jadi, menurut saya, jikalau semua orang diberi hak yang sama di dalam memahami agama maka yang terjadi adalah kekacauan, yang berujung ke terciptanya kerusuhan besar. Karena, masing-masing akan mengaku paling benar sendiri.”

Sebenarnya, ingin sekali Abdul Jalil mendebat pandangan Husein yang menurutnya tidak sesuai dengan kenyataan sejarah lahirnya Islam yang awal. Menurut pandangan Abdul Jalil, Islam yang diajarka Rasulullah Saw. adalah untuk siapa saja, termasuk budak-budak. Rasulullah Saw. tidak akan mengajarkan Islam yang berbeda antara yang disampaikan kepada Bilal bin Rabah, sang budak, dan yang disampaikan kepada Utsman ibn Affan, sang saudagar kaya raya. Namun, segala keinginan untuk berdebat itu dihalaunya jauh-jauh, dengan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu harus diperdebatkan. Kebenaran akan mewujudkan dirinya sendiri sebagaimana bunga mawar yang harumnya menebar sendiri tanpa perlu diberitakan bahwa mawar adalah bunga yang berbau harum.

Manusia tidaklah memiliki kehendak kecuali apa-apa yang dikehendaki Allah, Rabb alam semesta (QS atTakwir: 29). Dalil ini diyakini benar oleh Abdul Jalil yang sudah mengalami pahit dan getir mengarungi samudera pencarian Kebenaran Sejati. Dan kebenaran dari dalil ini dialaminya untuk kali kesekian saat, tanpa pernah dibayangkan dan diimpikan, tiba-tiba ia bertemu dengan Syaikh Bayanullah, putera uwaknya, Syaikh Datuk Ahmad.

Kisah pertemuan dua saudara sepupu itu bermula dari ketidaksengajaan ketika Abdul Jalil dan Husein mengadakan perjalanan dari bandar pelabuhan Jedah ke Makah. Saat kabilah mereka beristirahat di wadi Fatimah, tiba-tiba melintas kabilah lain yang juga bertujuan ke kota yang sama. Salah satu unta yang ditunggangi lelaki tua terjerembab karena kaki depannya yang kanan terperosok ke lubang. Dalam waktu beruntun, unta pembawa beban yang berada di belakang hewan malang itu ikut terjerembab tersandung tubuh teman di depannya. Kedua kaki unta pembawa beban itu pun terkilir. Menghadapi musibah tak terduga itu, kabilah tersebut terpaksa berhenti di dekat kabilah yang membawa Abdul Jalil dan Husein.

Saat itulah ia berkenalan dengan salah seorang dari mereka , yang ternyata Syaikh Bayanullah. Ia tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Di negeri yang jauh pun ia masih dipertemukan oleh Allah dengan sanak kerabatnya. Dengan demikian, ia telah menyambung kembali tali silaturahmi di antara puak-puak keluarganya yang berserakan di berbagai belahan dunia.

Keakraban pun cepat terbangun, terutama karena Syaikh Bayanullah yang lama tinggal di Makah ternyata orang yang sangat ramah dan terbuka. Dia menuturkan bagaimana liku-liku perjalanan hidupnya sejak menuntut ilmu ke Pasai hingga berziarah ke makam leluhurnya di Gujarat yang berlanjut ke Hadramaut dan Makah. “Apa yang telah aku alami ini adalah akibat kaluarga kita yang terus menerus diwaspadai penguasa. Aku dan saudaraku, si Kahfi, tidak akan meninggalkan Malaka jika keadaannya baik bagi keluarga kita. Tapi, aku pikir, ini semua adalah kehendak-Nya sehingga dengan itu kita semua bisa bertebaran ke muka bumi untuk mendakwahkan agama-Nya.”

Berdasar penuturan Syaikh Bayanullah, Abdul Jalil mengetahui bahwa para Alawiyyin yang menjadi sanak kerabatnya adalah pejuang-pajuang agama yang tersebar ke berbagai belahan dunia. Umumnya mereka sangat berhasil dengan gerakan dakwahnya. Hanya karena sulitnya hubunganlah yang mengakibatkan masing-masing sanak kerabat tidak bisa berkomunikasi dan mengikat tali silaturahmi lebih erat.

“Bahkan salah seorang tetangga aku di Malaka, Maulana Ishak, tiada lain adalah putera Syaikh Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandy. Padahal, Syaikh Ibrahim adalah putera Syaikh Jamaluddin Husein, saudara tua Syaikh Datuk Isa, kakek kita. Hal itu baru aku ketahui ketika ia menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam. Padahal, selama ini aku hanya mengenalnya sebagai tetangga asal Pasai yang pernah bermukim di Jawa. Ya, siapa yang mengira kehendak Allah menentukan seperti itu. Kita tidak mengetahui sesuatu jika tidak dikehendaki-Nya,” ujar Syaikh Bayanullah.

Selain menuturkan hal Maulana Ishak, Syaikh Bayanullah juga menuturkan saudara lain ibu dari Maulana Ishak, yakni Ali Rahmat dan Ali Murtadho. Kedua orang tersebut telah menjadi orang-orang terkemuka di Jawa. Ali Rahmat menjadi guru agung di negeri Ampel Denta. Ali Murtadho menjadi guru agung di negeri Tandhes (Gresik). Putera Maulana Ishak yang bernama ‘Ainul Yaqin telah menjadi penguasa di Giri. Bahkan ‘Ainul Yaqin bersama Mahdum Ibrahim, putera Ali Rahmat, pernah tinggal di Malaka setahun. “Aku kira, Maulana Ishak khawatir berdekatan dengan keluarga aku yang diawasi penguasa terus-menerus sehingga ia juga tidak tahu jika sebenarnya kami masih sesaudara.”

Silsilah leluhur Abdul Jalil hingga kakek

Silsilah hingga diri Abdul Jalil

Silsilah Raden Ali Rahmatullah (susuhunan Ampel 1), sepupu Abdul Jalil

Berdasar kisah Syaikh Bayanullah, Abdul Jalil mengetahui bahwa salah seorang leluhurnya yang bernama Syaikh Sayyid Abdul Malik adalah seorang Alawiyyin asal Hadramaut yang hijrah ke negeri Gujarat, tepatnya di Ahmadabad, dan bukan di Surat seperti pernah dikisahkan uwaknya, Syaikh Datuk Ahmad. Syaikh Sayyid Abdul Malik lahir di Qozam, dekat Tarim, di Hadramaut. Itu sebabnya, kakek buyut dari Syaikh Sayyid Abdul Malik bernama Sayyid Ali Khaliq al-Qozam.

Putera Syaikh Sayyid Abdul Malik yang bernama Syaikh Sayyid Amir Abdullah Khanuddin adalah mursyid Tarekat Syathariyyah yang sangat dihormati di Gujarat. Sampai kini pengikut Tarekat Syathariyyah masih sangat besar. Syaikh Sayyid Amir Abdullah Khanuddin mempunyai putera bernama Syaikh Sayyid Amir Ahmadsyah Jalaluddin. Beliau merupakan mursyid Tarekat Syathariyyah yang masyhur dan sering dimintai pendapat dan fatwa oleh raja-raja dari dinasti Bigarah dan dinasti Chand. Syaikh Sayyid sebelum menjadi mursyid tarekat menggantikan ayahandanya, diangkat oleh raja menjadi amir di Surat. “Beliau itulah kakek buyut kita. Dan lantaran itu, saat di Gujarat aku berbaiat Tarekat Syathariyyah,” ujar Syaikh Bayanullah.

Mendengar penuturan Syaikh Bayanullah tentang perjuangan sanak kerabatnya di dalam menyebarkan agama Allah, Abdul Jalil merasakan pancaran kebanggaan menyesaki dadanya. Namun, buru-buru ia mengalihkan kilasan-kilasan pikirannya dengan memperteguh keyakinan bahwa ia tidak boleh membanggakan sesuatu bahkan berpikir sesuatu selain Allah. Itu sebabnya, ia lebih banyak menjadi pendengar setia dari kisah-kisah kebesaran sanak kerabat yang dikemukakan kakak sepupunya itu. Abdul Jalil berteguh hati, bahwa di Haramain ini ia adalah ‘abid yang sedang menjalankan amaliah ‘ibadah untuk mengarahkan kiblat kepada Ma’bud.

Ketika malam telah menghiasi permukaan bumi dengan cahaya bintang-gemintang, usai menunaikan shalat sunnah, Abdul Jalil berdiri penuh takjub menatap Ka’bah yang tegak kokoh memancarkan daya gaib, yang mampu mengisap kesadaran manusia ke arah leburnya kebesaran diri. Ia merasakan ketidakberdayaan merayapi perasaannya. Ini adalah kali pertama ia melihat Ka’bah. Baitullah. Rumah Allah. Selama menatap Ka’bah penuh ketakjuban, berangsur-angsur hatinya merasakan daya pukau yang kuat yang menuntun kesadaran untuk mengakui keberadaan dirinya sebagai makhluk yang dha’if.

Hingar-bingar beribu-ribu orang yang melakukan tawaf, mengitari Ka’bah sambil mengagungkan asma Allah, membangkitkan rasa aneh yang sulit digambarkan. Itu sebabnya, ia sengaja membiarkan daya pukau itu mempengaruhi dirinya. Ia membiarkan hatinya terbuka. Ia yakinkan diri bahwa sebenarnya ia tidak memiliki kehendak. Yang berkehendak adalah Allah. Dan setelah beberapa jenak terpukau dalam ketakjuban, secara berangsur-angsur ia merasakan betapa hatinya terisap oleh semacam kekuatan gaib sehingga tanpa dipikir lagi kakinya tiba-tiba melangkah ke depan. Tanpa bisa dikendalikan ia berjalan cepat masuk ke dalam lingkaran jama’ah tawaf.

Selama tawaf ia tidak mampu memanjatkan satu kalimat doa pun. Sambil mengagungkan kebesaran Allah dengan suara tersendat-sendat, ia merasakan pandangannya kabur tertutup genangan air mata. Ia merasakan keakuannya larut ke dalam keakuan jama’ah tawaf. Ia bagai setitik air yang hanyut ke arus sungai. Namun, selintas bagaikan kilat, nur lawami dan pemahaman fawa’id-nya mengungkapkan kaitan rahasia di balik tangisan orang-orang yang tawaf dengan keberadaan “Ibu Segala Kota”, Makah, yang di masa lampau bernama Baka, dalam bahasa Arab berarti menangis.

Dengan membiarkan keakuannya hanyut di tengah gerakan jama’ah tawaf, ia tidak mendapati apa-apa dari kiblat-Nya kecuali keagungan-Nya. Berbeda dengan jama’ah lain yang berdoa agar beroleh keselamatan di dunia dan akhirat, ditumpahi rezeki berlimpah ruah, dikuatkan iman, diangkat derajatnya; ia hanya mengagungkan Asma Allah. Ia tidak peduli dengan rezeki duniawi, surga, neraka, derajat, iman, dan berbagai hal yang dibutuhkan manusia. Kiblat hatinya hanya Allah. Itu berarti pamrih pribadinya tidak ada. Semua adalah milik Allah. Lantaran itu, semua harus dikembalikan kepada-Nya.

Selama tawaf, ia merasakan tubuhnya bagai digerakkan oleh kekuatan gaib yang benar-benar di luar kendalinya. Itu sebabnya, dengan rasa takjub tak terhingga, ia rasakan tubuhnya terdorong dan terhimpit ke satu arah, yakni ke sudut Hajar Aswad. Kemudian , bagaikan bermimpi tiba-tiba di hadapannya sudah terpampang batu hitam yang dijadikan rebutan bagi mereka yang ingin menciumnya. Abdul Jalil tercenung takjub. Sesaat kemudian, ia merasakan bagian belakang kepalanya disentuh oleh tangan yang mendorongnya ke arah depan sehingga wajahnya mencium Hajar Aswad.

Beberapa detik menyentuhkan wajah ke Hajar Aswad dengan mata terpejam, ia menyaksikan pemandangan menakjubkan dari nuur yang memancar di antara kedua matanya. Ia bagai melihat alam semesta tergelar di hadapannya. Kemudian nur lawami dan pemahaman fawa’id-nya mengungkapkan bahwa Hajar Aswad itulah batu yakud yang berasal dari surga, yang ajaib yang mampu mencatat dan merekam siapa saja yang pernah melintasi di hadapannya. Karena itu, Rasulullah Saw. mencontohkan untuk menciumnya atau melambaikan tangan jika tidak mampu.

Tiba-tiba saja Abdul Jalil merasa pakaian ihramnya ditarik oleh tangan-tangan yang kuat. Dengan sentakan keras, tubuhnya terpental ke belakang. Ia termangu heran ketika menyadari dirinya sudah berada jauh dari kerumunan orang di Hajar Aswad. Namun, ia tak memberi kesempatan bagi pikirannya untuk mempertanyakan ini dan itu. Ia langsung bertakbir dan melakukan shalat sunnah di dekat maqam Ibrahim.

Usai shalat sunnah, ia melakukan sa’i. Bagai setetes air, ia mengikuti arus jama’ah laksana aliran sungai. Ia biarkan keakuannya terseret arus keakuan jama’ah. Ketika sedang tenggelam di dalam pusaran arus jama’ah sa’i yang hingar-bingar, tiba-tiba pandangan matanya tertumbuk ke arah salah seorang jama’ah yang sedang melakukan doa di atas bukit Marwa. Karena hitungan sa’inya sudah selesai dan berjarak hanya beberapa langkah maka ia dapat mengamati orang itu dengan lebih cermat.

Bagai mengetahui dirinya diamati, seketika orang yang menarik perhatian Abdul Jalil itu menghindar di antara kerumunan jama’ah yang berdoa di atas bukit Marwa. Keanehan terjadi. Saat ia melangkah, jama’ah yang berkerumun itu mendadak menyibak bagaikan memberi jalan. Abdul Jalil makin tertarik. Diam-diam ia mengikuti kemana orang itu pergi. Dan keanehan di bukit Marwa lagi-lagi terulang. Setiap orang itu melangkah selalu ditandai dengan menyibaknya jama’ah.

Ketika berada di dekat maqam Ibrahim, orang itu shalat. Abdul Jalil yang penasaran segera mendekat. Dalam jarak sekitar sepuluh langkah, ia mendapati orang yang sedang shalat itu ternyata pemuda yang sangat aneh di dalam pandangannya. Pemuda itu, menurut pandangan mata indriawinya, memang sedang melakukan gerakan-gerakan shalat. Namun, dengan pandangan nur lawami, pemuda itu adalah yang menyembah sekaligus Yang Disembah. Aneh sekali. Usai shalat pemuda itu melakukan doa. Namun, seiring doanya dia seolah-olah juga mengabulkan doa. Dia tidak hidup juga tidak mati. Dia bergerak namun juga diam. Dia diliputi, namun juga meliputi. Dia bagai bayi, namun juga bagai lelaki dewasa. Dia memancarkan kemuliaan, namun juga mengisap kemuliaan. Dia dinaungi, namun juga menaungi. Keagungan berada di dalam dan di luar dirinya. Pemuda itu benar-benar rumit, tetapi sederhana.

Peristiwa menakjubkan itu mendadak melanda kesadarannya seiring dengan keterisapan dirinya oleh keberadaan pemuda aneh yang misterius itu. Bagaikan persawahan digenangi air bah, demikianlah kesadaran Abdul Jalil tenggelam dilanda kesadaran luas tanpa batas. Dan bagaikan tirai hijab disingkapkan, ia tiba-tiba melihat dan mengetahui bahwa pemuda itu derajat ruhaniahnya berada di luar batasan maqam (tempat) dan zaman (waktu). Pemuda itu yang diliputi sekaligus yang meliputi.

Seluruh perhatiannya terisap ke dalam pusaran pesona yang memancar dari pemuda itu. Begitu dahsyatnya sehingga ia tidak lagi melihat sesuatu di sekitarnya kecuali pemuda aneh itu. Ka’bah dan seluruh jama’ah tawaf seperti terhapus dari perhatiannya. Ia hanya menyaksikan pemuda itu dengan ketakjuban tak bertepi.

Bagai digerakkan oleh kekuatan dahsyat, ia beringsut mendekat. Kemudian diciumnya tangan pemuda itu sambil berkata dengan suara gemetar, “O Tuan, tunjukkanlah kepada saya, jalan mana yang harus saya tempuh dan dengan cara bagaimana saya bisa sampai kepada-Nya.”

Pemuda aneh itu tidak berkata sesuatu. Sebaliknya, dengan isyarat (berbicara melalui bahasa perlambang) dan al-ima’ (berbicara tanpa bahasa lisan dan tanpa bahasa perlambang) dia mengungkapkan bahwa jalan pengetahuan menuju-Nya tidak dapat diungkapkan melalui bahasa manusia yang paling fasih sekalipun. Itu sebabnya, ada “jalan” (sabil) dan “cara” (thariq) yang bisa membawa kepada-Nya.

Mula-mula, dia menggambarkan dengan jelas rahasia keberadaan manusia (basyar) sebagai ciptaan (khalq) dengan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta (Khaliq) dalam hubungan misterius antara ‘abid dan Ma’bud; antara makhluq dan Khaliq, antara ‘alam, ‘alim, ‘ilmu yang melekat pada makhluq dan al-‘Alim dan al-‘Ilmu yang melekat pada al-Khaliq; antara shurah ar-Rahman dan ar-Rahman; antara sama’, bashar, ‘adl, rahman, rahim yang menyifati khalifatullah fil ardhi dan Nama-Nama-Nya Yang Agung, seperti as-Sami’, al-Bashir, ar-Rahman, ar-Rahim, al’Adl. Kemudian, dia menjelaskan pula kaitan rahasia makna hubungan di atas sebagai “jalan lurus” (sabil huda) menuju-Nya.

Masih dengan isyarat, dia kemudian menjelaskan keberadaan manusia sebagai perwujudan ‘alam ash-shaghir (mikrokosmos) sebagai bagian dari ‘alam al-mulk (makrokosmos); dan keduanya merupakan bagian dari ‘alam al-khalq (alam ciptaan yang kasatmata). Pemuda itu mengungkapkan pula hubungan manusia dengan ‘alam al-ghaib (alam gaib) dan ghaib ‘alam al-ghaib (gaibnya alam gaib). Bahkan hubungan manusia dengan ‘alam al-‘izzah (alam kekuasaan agung).

Kemudian dia mengungkapkan tentang keberadaan Ka’bah di Makah dalam kaitannya dengan keberadaan Ka’bah di dalam diri manusia. Hati (qalb) manusia adalah Baitullah atau Ka’bah. Hati manusia bisa memuat Allah jika disiapkan untuk menyambut kedatangan-Nya, dengan cara dibersihkan dan disucikan dari sesuatu selain Dia. Karena, di dalam hati manusia terdapat citra samawi Ka’bah. Citra samawi Ka’bah di dalam hati manusia penuh dengan sifat-sifat Ilahi. Berbagai hakikat ruhaniah manusia mengelilingi hati tersebut, bagaikan orang-orang beriman mengelilingi Ka’bah.

Citra samawi Ka’bah di dalam hati manusia – tempat hakikat ruhaniah mengitari hati – itu disebut bait al-ma’mur. Jika bait al-ma’mur telah bersih dari segala sesuatu selain Allah, yakni hati manusia-manusia yang telah mencapai-Nya, maka hati itu akan menjadi Baitul Haram, yakni Rumah Suci yang hanya memuat Allah saja. Itulah hati al-Insan al-Kamil.

Masih melalui isyarat, dia memerintahkan agar Abdul Jalil mengamati keberadaan dirinya sendiri, baik dalam bentuk dan susunan tubuh jasmani maupun dalam susunan dan kecenderungan sifat dan naluri ruhani. Itulah rahasia manusia yang dicipta dengan sempurna menurut citra Ilahi (shurah ar-Rahman), yang setelah sempurna wujudnya ditiupkan (nafakhtu) ruh-Nya. Dan Allah menempatkan “Sinar Cahaya” (nuur) di antara kedua mata (baina ‘aina) manusia ciptaan-Nya yang sempurna itu.

Di dalam diri manusia itulah, tersembunyi Ruh al-Haqq (ruh-Nya yang ditiupkan saat penciptaan manusia). Ruh al-Haqq itu bersemayam di dalam Baitul Haram yang memuat hakikat tahta ‘arsy di dalam hati manusia. Ketersembunyian Ruh al-Haqq ditabiri oleh ghain yang menghijab kesadaran manusia. Setiap manusia, termasuk nabi dan rasul, hatinya tertabiri oleh ghain. Sedang orang-orang kafir, hatinya ditabiri ghain dan rain.

Pada orang-orang beriman, Ruh al-Haqq hanya bisa terbebas dari “belenggu” keakuan jika ghain disingkap oleh maghfirah-Nya. Itu sebabnya, para nabi dan rasul senantiasa beristighfar. Rasulallah Saw. dalam sehari beristighfar sedikitnya tujuh puluh kali. Dari istighfar muncul maghfirah. Maghfirah muncul dari al-Ghaffar (Maha Pengampun). Al-Ghaffar berasal dari Ghaffara (Yang Menutupi, Yang Mengerudungi, Yang Menyelubungi, Yang Menghijab). Demikianlah, istighfar bagi para nabi, rasul, serta orang-orang beriman yang mengikuti “jalan” dan “cara” bukanlah permohonan ampunan (karena nabi dan rasul adalah maksum, yakni suci dari dosa), melainkan memohon maghfirah dalam arti tersingkapnya tabir ghain yang menyelubungi (ghafara) Ruh al-Haqq di dalam hatinya.

Sementara itu, tabir rain yang menyelubungi hati orang-orang kafir hanya bisa disingkap oleh hidayah-Nya (petunjuk-Nya). Manusia akan tetap terhijab dari penciptanya jika tabir ghain dan rain tidak tersingkap. Karena, Ruh al-Haqq yang bersemayam di dalam Baitul Haram yang memuat hakikat ‘arsy di dalam hatinya tetap tertutupi tabir. Dan kebebasan sempurna Ruh al-Haqq dari “belenggu” keakuan baru bisa dicapai jika al-barzakh al-a’la (barzakh tertinggi) dari nafs ar-Rahman (Napas Yang Maha Pengasih), yang merupakan pengejawantahan al-haqq al-makhluq bihi, telah tersingkap secara paripurna.

Setelah mengungkap rahasia “jalan lurus”, pemuda itu dengan melalui al-ima’ mengungkapkan “cara” bagaimana Ruh al-Haqq yang bersemayam di tahta ‘arsy di dalam Baitul Haram yang tersembunyi di hati manusia menjalin hubungan dengan Dia (Huwa), Yang Meniupkan ruh-Nya (nafakthu), melalui nafs ar-Rahman. Melalui “cara” itulah akan tersingkap rahasia keberadaan al-Haqq (Yang Riil) yang menjadi esensi sekaligus substansi Ruh al-Haqq. Jalinan antara al-Haqq dan Huwa (Dia Yang Mutlak Tak Terbatas) itulah hakikat sejati dari fana’ fi tauhid: Yang Riil Yang Beragam (farq) manunggal dengan Yang Satu (Jam’).

Setelah dengan jelas menunjukkan “jalan” dan “cara” untuk menuju-Nya, pemuda asing aneh itu berkata-kata kepada Abdul Jalil dengan suara yang begitu agung, namun penuh rahasia dan makna. “Itulah hakikat Tauhid yang diajarkan Rasulallah Saw kepada sahabat terkasihnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, ketika berada di dalam gua di gunung Thur yang ada di Makah.”

“O Tuan,” seru Abdul Jalil tercekat ketika melihat pemuda asing yang aneh itu berdiri, “Tidakkah Tuan berkenan menyebutkan nama Tuan?”

“Jika engkau menjalankan “jalan” dan “cara” yang telah kujelaskan tadi maka engkau telah mengenal sahabat terkasih Muhammad Saw. karena, apa yang telah kujelaskan dengan isyarat dan al-ima’ itu adalah apa yang telah diperoleh Abu Bakar ash-Shiddiq dari Rasulallah Saw.,” ujarnya sambil berlalu, menghilang di antara pusaran jama’ah tawaf.

Abdul Jalil termangu bingung dan takjub dengan pengalaman yang aneh yang baru pertama kali dialaminya itu. Sesaat kemudian, nur lawami’ dan pemahaman fawa’id-nya mengungkapkan bahwa pemuda asing yang menakjubkan itu adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terkasih Rasulallah Saw.. Namun, lintasan nalarnya menolak kemungkinan yang tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin Abu Bakar ash-Shiddiq yang wafat delapan ratus tahun silam bisa muncul dalam wujud pemuda misterius? Mungkinkah pemuda itu pewaris ajaran Abu Bakar ash-Shiddiq yang disampaikan melalui al-ima’ dan al-isyarat dari waktu ke waktu? Dan apa makna ungkapan tentang gunung Thur di Makah itu memiliki kaitan makna dengan gunung Thur di Sinai, yakni tempat Musa a.s. menghadap ke hadirat Ilahi dalam wujud api yang tak terbakar?

Ako Anchorage (Japan), February 25th 2007