01. Yang Dikutuk yang Dipuji

Langit hitam dipadati gumpalan awan kelabu.

Nusa Jawa yang terapung di permukaan laut bergetar dalam selimut kabut ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan kecurigaan yang menebar di segenap penjuru hingga sudut-sudutnya. Terang matahari dan cahaya rembulan purnama tidak mampu lagi mengusir kabut tebal yang menerkam ujung terdalam jiwa manusia yang hidup di atasnya. Bagaikan gembala memelihara ternak di tepi hutan yang banyak harimau dan serigala, demikian para penghuni Nusa Jawa saling melirik dan mencuri pandang dengan sorot mata penuh curiga, seolah-olah menghadapi ancaman hewan buas.

Seiring melesatnya waktu, langit pun terang tanpa awan. Biru.

Berbeda dengan langit biru terang tanpa awan. Di permukaan Nusa Jawa, kabut masih kuat dan pekat menutupi seluruh penjuru kehidupan para penghuninya. Bayangan-bayangan hewan buas dan hantu-hantu yang mengerikan berkeliaran di tengah gumpalan kabut: menyeringai, meraung, melolong, melenguh, dan menggeram bagai makhluk haus darah mengintai mangsa. Gerangan apakah yang terjadi di negeri subur dan makmur berkelimpah padi, buah-buahan, susu, dan madu itu?

Lebih sewindu lalu, menurut cerita burung yang menyebar dari mulut ke mulut, terjadi prahara yang mengerikan dan menabur kebinasaan di Nusa Jawa. Prahara itu akibat benturan dahsyat dua angin berkekuatan besar yang membadai; yang satu adalah badai merah yang datang dari arah barat, sedang yang lain adalah badai putih yang datang dari timur. Padahal, kedua badai itu pada awalnya sama, yakni angin sejuk dan segar yang berembus sepoi-sepoi membasahi pepohonan, rerumputan, serta bebatuan.

Penyebutan nama badai merah yang berembus dari barat dinisbatkan kepada sang penebar badai, Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Siti Jenar (Tanah Merah), yang digolongkan sebagai pembangkang. Lantaran itu, para pengikutnya disebut golongan Abangan yang memiliki makna pengikut Syaikh Siti Jenar. Dengan adanya sebutan Abangan maka kesukaan orang Jawa untuk menyama-nyamakan dan mengaitkan satu hal dengan hal lain pada gilirannya memunculkan sebutan golongan Putihan, yang selain dihubungkan dengan pakaian mereka yang serba putih juga dikaitkan dengan kata patuh (bahasa Arab = Muthi’an).

Munculnya sebutan golongan Putihan membawa perkembangan yang lain lagi. Jika sebelumnya golongan Abangan dinisbatkan sebagai pengikut Syaikh Siti Jenar maka dengan pemaknaan patuh bagi golongan Putihan menimbulkan asumsi tidak patuh alias membangkang pada golongan Abangan. Demikianlah, para pengikut Syaikh Siti Jenar dicap sebagai golongan pembangkang, bahkan murtad.

Menurut cerita, benturan dua badai berlawanan arah itu puncaknya terjadi di Kesultanan Demak, pusat kekuasaan Islam yang paling awal di Nusa Jawa. Tragisnya, prahara yang merupakan bagian dari drama di atas panggung kehidupan itu adalah benturan antara angin Islam dan angin Islam sendiri. Tragedi anak manusia apakah yang sedang berlangsung di zaman itu?

Pada perempat awal abad ke-16 Masehi, angin sejuk Islam yang dibawa oleh para penyebarnya sedang berembus kencang dan membadai di pantai utara Nusa Jawa. Bagaikan tiupan dari tengah samudera melanda gugusan pantai, demikianlah angin hijau yang semula sepoi-sepoi membasahi kegersangan jiwa para penghuni negeri yang telah letih dipanggang hingar-bingar tungku peperangan itu, berangsur-angsur menjadi badai yang menggetarkan. Hal itu berlangsung ketika menara gading Majapahit yang pernah menebarkan zaman keemasan di segenap penjuru negeri telah tak berdaya lagi. Padam. Terpuruk menjadi reruntuhan puing yang dihuni tikus, anjing geladak, burung gagak, rayap, dan kuman penyakit.

Di tengah meredupnya cahaya kekuatan Majapahit itulah angin sejuk Islam secara bergelombang mulai bertiup di pesisir utara Nusa Jawa. Bermula dari Gresik, Tuban, Ampel Denta, dan Bintara, angin sejuk itu menumbuhkan benih-benih kehidupan di reruntuhan negeri yang gersang. Bagaikan angin penggiring awan yang menurunkan rinai hujan, begitulah ia membasahi kegersangan jiwa penghuni negeri dengan siraman air ruhaniah. Setapak demi setapak, tunas-tunas kehidupan ruhani mulai tumbuh menghijau di tanah kerontang. Dan gumpalan awan pembawa hujan semakin berarak ke segenap penjuru negeri.

Pada saat yang hampir bersamaan, di bagian barat Nusa Jawa, tepatnya di Lemah Abang, di tlatah nagari Caruban, bertiuplah angin sejuk Islam yang membawa gumpalan kabut. Menerobos dan menembus hutan, lembah, gunung, bukit, jurang, dan persawahan yang kering dicekik kemarau panjang. Gumpalan kabut yang memuat butir-butir air itu membasahi setapak demi setapak hamparan lembah, bukit, gunung, ngarai, dan jurang kemanusiaan yang sudah gersang tanpa makna. Menara gading Galuh dan Pajajaran yang pernah memancarkan warna keemasan telah tidak berdaya kini; terpuruk menjadi reruntuhan puing kemanusiaan yang menyedihkan.

Embusan angin sejuk Islam yang bertiup makin kencang dari dua arah yang berlawanan itu ternyata tunduk pada hukum alam. Saat mereka bertemu pada satu pusaran tiba-tiba berubah menjadi puting beliung berkekuatan raksasa yang berpusar dahsyat melanda dan membinasakan segala yang diterjangnya. Keduanya bertumbuk. Dorong-mendorong pun berlangsung seru. Namun, kekuatan dahsyat angin dari timur terbukti memenangkan pergulatan sehingga angin prahara Islam yang membawa gumpalan kabut itu terdorong ke arah barat.

Bagaikan al-Maut menggiring wadyabala, begitulah prahara kemanusiaan itu tanpa kenal ampun melanda pedesaan; meluluhlantakkan rumah, sawah, pasar, kebun, kandang hewan, hutan, lembah, bukit, dan gunung. Dan di tempat-tempat di mana angin itu menderu, terhamparlah citra kebinasaan al-Maut; kepala terpisah dari tubuh, luka menganga, darah mengalir, air mata membanjir, derita menggenang, kegelisahan mencakar, keresahan menerkam, ketakutan mencekik, kepanikan merajalela, dan kematian mengintai di setiap sudut kehidupan.

Kebinasaan tampaknya belum cukup mengukir tragedi kehidupan anak manusia. Iblis, anasir kegelapan yang terlaknat dan terusir, beserta wadyabala bagaikan kawanan gagak pemakan bangkai yang memencar ke segala penjuru negeri seusai badai berlalu. Demikianlah, kawanan gagak hitam perwujudan iblis itu beterbangan sambil berkaok-kaok mengerikan. Menebar fitnah. Memangsa siapa saja yang ditemuinya. Memunguti serpihan daging dari mayat-mayat yang bergelimpangan.

Langit biru terang tanpa awan. Badai telah berlalu.

Terangnya langit biru dan berlalunya angin prahara yang menebar kebinasaan ternyata tidak serta merta mengusir gumpalan kabut dari Nusa Jawa. Sejauh mata memandang dari ufuk timur ke barat, hanya ada puing-puing reruntuhan jiwa manusia yang berserakan tanpa daya. Kesunyian menghampar. Kesenyapan tergelar. Hanya tangisan bocah-bocah yang menjadi yatim yang sayup-sayup terdengar memecah hening.

Syaikh Siti Jenar, sang penebar badai, konon mati di tengah amukan prahara itu. Tak seorang pun tahu di mana kuburnya. Menurut cerita, ada orang yang menyaksikan mayat Syaikh Siti Jenar berubah menjadi bangkai anjing. Sebagian menyatakan bangkai itu dihanyutkan ke sungai. Sebagian lagi menyatakan bangkai itu dikubur di Mantingan. Sedang menurut kesaksian yang lain, bangkai anjing jelmaan Syaikh Siti Jenar dimakamkan di belakang mihrab Masjid Agung Demak. Aneh, bangkai anjing dikubur di belakang mihrab masjid. Lebih aneh lagi ada yang menyaksikan bangkai Syaikh Siti Jenar menebarkan bau wangi semerbak.

Para pengikut setia Syaikh Lemah Abang, seperti Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir Banyubiru, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Sunan Panggung, dan Ki Lonthang dari waktu ke waktu mengalami nasib tak jauh dari gurunya, terhempas oleh pusaran angin prahara. Tidak satu pun di antara mereka pernah diketahui kuburnya. Dan bagi pengikut-pengikut dari kalangan kawula alit, tidak ada yang tersisa dari prahara dahsyat itu kecuali rasa takut, resah, gelisah, dan curiga yang menerkam jiwa.

Ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan kecurigaan yang melanda kawula alit pengikut Syaikh Siti Jenar atau mereka yang dianggap berhubungan karena ikatan darah maupun perkawanan, pada dasarnya bersumber pada fitnah dahsyat yang disebarkan oleh kawanan gagak jelmaan iblis. Bagaikan ulat menggeragoti daging, demikianlah fitnah itu ditebar, memisahkan daging dari tulang. Daging-daging yang dianggap busuk hendaknya dikelupas dari tulang dan dibakar demi memelihara kesucian. Demikianlah, para pengikut Syaikh Siti Jenar tidak saja digolongkan sebagai daging busuk yang membahayakan kesucian tulang, tetapi dianggap bukan bagian dari tulang. Para pengikut Syaikh Siti Jenar dianggap telah murtad dari kebenaran Agama Rasulallah. Kawula alit yang terkena cap sebagai wong Abangan dianggap sebagai bukan bagian dari umat Islam dan darah mereka halal ditumpahkan.

Akibat yang ditimbulkan oleh fitnah itu sangat memilukan. Begitu kelam. Pekat. Gelap. Dan semua itu akibat ketidakmampuan manusia mengendalikan serigala nafsu duniawinya, sehingga terjadilah tragedi: manusia memakan sesamanya.

Kisah-kisah dramatis tentang manusia memakan sesamanya ini dengan cepat meluas di kalangan kawula alit. Bagaikan cerita menakutkan tentang hantu-hantu yang bergentayangan, hati mereka diliputi rasa takut, gelisah, resah, dan curiga mendengarkan betapa mengerikan kisah orang-orang tak bersalah yang binasa akibat dituduh menjadi pengikut Syaikh Siti Jenar. Ada kisah tentang orang-orang kaya yang binasa dan hartanya dijadikan jarahan. Ada pula kisah tentang orang-orang beristri cantik yang dimakan fitnah sebagai wong Abangan kemudian istri-istri mereka dijadikan rebutan. Atau tentang para nayakapraja yang kehilangan jabatan akibat fitnah dari kawan-kawan yang mengincar kedudukan mereka.

Hari dan pekan berlalu. Bulan dan tahun pun berganti. Namun rasa takut, gelisah, resah, dan curiga yang mencekam relung-relung jiwa para penghuni Nusa Jawa masih tetap bercokol kuat. Sebab kawanan gagak jelmaan iblis masih terus beterbangan menebar fitnah. Mereka selalu mengikuti ke arah mana serigala-serigala haus darah mencari mangsa. Dan saat kawanan serigala meninggalkan sisa-sisa daging mangsanya, datanglah kawanan gagak yang dengan kerakusan tiada tara memunguti serpih-serpih daging yang sudah basah oleh liur. Itulah upah mereka sebagai penebar fitnah.

Giri Amparan Jati, sebuah pesantren yang terletak di lereng gunung Sembung, di tlatah Kasunanan Cirebon Girang. Pada paro pertama abad ke-16 Giri Amparan Jati merupakan pusat pendidikan Islam yang menjadi tujuan bagi para musafir penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri. Tidak berbeda dengan tempat-tempat lain di Nusa Jawa, di pesantren yang telah berusia hampir satu abad itu para penghuninya tak luput dari intaian rasa takut, gelisah, resah, dan curiga akibat hempasan angin prahara yang menebar malapetaka. Bahkan di sana berlaku peraturan aneh yang dikenakan kepada para santri dan seluruh warga pesantren, yakni larangan untuk menanyakan segala sesuatu yang berkaitan dengan santri-santri generasi pertama yang diasuh oleh almarhum Syaikh Datuk Kahfi, pendiri pesantren.

Karena yang menetapkan larangan itu adalah Syaikh Maulana Jati, Syarif Hidayatullah, pengasuh pesantren Giri Amparan Jati yang juga Susuhunan Cirebon Girang, maka peraturan yang aneh itu dipatuhi begitu saja selama bertahun-tahun tanpa ada yang berani menanyakan alasannya. Bahkan di kalangan nayaka dan abdi Kasunanan Cirebon Girang pun tidak ada yang berani bertanya ini dan itu tentang peraturan aneh tersebut. Mereka seolah sepaham bahwa melanggar peraturan berarti mendatangkan laknat dan malapetaka.

Manusia adalah manusia. Semakin ia dilarang akan semakin kuat ia melanggar. Seperti kisah Nabi Adam dan istrinya, Hawa, keturunan mereka pun cenderung melanggar sesuatu yang dilarang. Itu sebabnya, meski dipatuhi di permukaan, di belakang justru dilanggar. Para santri Giri Amparan Jati, misalnya, dengan mencuri-curi berusaha mencari tahu latar di balik peraturan itu. Diam-diam mereka menjadikan peraturan itu sebagai bahan pembicaraan kasak-kusuk, terutama ketika sedang melakukan pekerjaan di luar waktu belajar. Di sela-sela kegiatan mengambil air untuk mengisi bak mandi, beristirahat usai berlatih silat, mencari kayu bakar, bahkan menjelang tidur.

Bertolak dari pembicaraan di lingkungan pesantren yang diikuti oleh nayaka dan abdi di Kasunanan Cirebon Girang, beredarlah kisah-kisah menakutkan yang terkait dengan para santri dari generasi pertama. Dan di antara semua cerita yang simpang-siur itu hampir semuanya terpusat pada satu tokoh utama bernama Syaikh Datuk Abdul Jalil yang juga disebut Syaikh Siti Jenar alias Syaikh Lemah Abang. Ternyata dari peraturan aneh itu muncul keanehan pula, di mana berbagai kisah buruk dan nista bergumul dengan berbagai kisah terpuji dan mulia tentang tokoh utama yang merupakan santri generasi pertama itu.

Pada satu sisi banyak beredar cerita kelam dan hitam tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. Misalnya, ada kisah yang menuturkan bahwa ia semula merupakan santri taat yang berubah menjadi jahat dan murtad karena mengikuti ajaran sesat setelah tinggal di Baghdad. Konon, di sana ia berguru kepada raja jin. Ada pula kisah yang menyatakan bahwa ia sesat karena mempelajari ilmu dari para tukang sihir Baghdad. Kisah sejenis yang lain lagi menuturkan bahwa santri pertama itu adalah anak yang durhaka terhadap orang tuanya sehingga diusir dan hidup dalam kesesatan. Ada lagi yang menyebutnya sebagai anak seorang rsi yang masuk Islam, namun kemudian memilih jalan sesat hingga murtad kembali. Bahkan muncul pula kasak-kusuk yang mengatakan bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil sebenarnya bukan dari golongan manusia. Ia adalah jelmaan cacing menjijikkan. Karena itu, kemuliaan Islam tak membawa manfaat apa-apa baginya kecuali kesesatan yang menuju ke kenistaan dan kehinaan. Bukti bahwa ia bukan manusia adalah saat mati mayatnya menjelma menjadi anjing.

Sementara pada sisi lain muncul pula kisah yang menempatkannya sebagai orang yang terpuji dan mulia. Ada satu kisah memaparkan bahwa ia adalah adik sepupu Syaikh Datuk Kahfi. Syaikh Datuk Abdul Jalil dikenal sebagai seorang alim yang berilmu luas bagai samudera. Ia lama tinggal di Baghdad dan menjadi syaikh besar di sana. Ada pula yang menuturkan bahwa ia merupakan seorang wali Allah yang keramat yang tanpa kenal pamrih menyebarkan Islam di bumi Pasundan dan Jawa. Bahkan beredar pula kisah yang berisi bahwa Syaikh Maulana Jati, Syarif Hidayatullah, adalah putera menantunya. Karena, istri ketiga beliau, Nyai Rara Baghdad, adalah puteri Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Pembicaraan kasak-kusuk yang bertentangan itu membuat para santri turut merasakan getar ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan kecurigaan ketika mereka sampa pada berita-berita yang menyatakan bahwa orang-orang yang menjadi pengikut atau diduga menjadi pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil dikucilkan dan dibenci masyarakat. Bahkan beredar pula kisah bahwa mereka dibunuh oleh orang-orang tak dikenal. Para santri tidak pernah bertanya apakah peristiwa-peristiwa itu terjadi di tlatah Cirebon Girang atau di tempat lain. Mereka hanya meyakini begitu saja berita-berita itu sebagai kebenaran yang menakutkan.

Berbagai kisah simpang-siur tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil, yang semula hanya menjadi bahan pembicaraan kasak-kusuk, berubah menjadi persoalan serius ketika di Pesantren Giri Amparan Jati hadir seorang santri baru yang dihormati: Raden Ketib.

Raden Ketib adalah putera Pangeran Surodirejo, Adipati Palembang. Pangeran Surodirejo merupakan putera Raden Kusen, Adipati Terung. Raden Kusen adalah putera Ario Damar, Adipati Palembang terdahulu. Jadi, Raden Kusen adalah saudara tiri Adipati Demak Bintara, Raden Fatah. Dengan demikian, santri baru bernama Raden Ketib itu adalah putera saudara sepupu Sultan Demak, karena ayahandanya merupakan sepupu Sultan Tranggana.

Ihwal kehadiran Raden Ketib ke Giri Amparan Jati pada mulanya bukan sepenuhnya untuk menuntut ilmu keislaman kepada Syaikh Maulana Jati. Sebab, ayahanda Raden Ketib mengirimnya ke Giri Amparan Jati atas permintaan kakeknya, Raden Kusen.

Ceritanya, setelah Majapahit runtuh oleh serangan pasukan tombak yang dipimpin Susuhunan Kudus dan Pangeran Pancawati, Raden Kusen yang menjadi panglima perang Majapahit ditawan. Namun, karena Raden Kusen adalah paman Sultan Tranggana maka dia kemudian dibawa ke Demak. Setelah beberapa waktu tinggal di sana, Raden Kusen dipindahkan ke Kudus. Kepindahan ini ada kaitannya dengan hubungan keluarga antara Raden Kusen dan Susuhunan Kudus. Sebab, puteri Raden Kusen adalah istri Susuhunan Kudus. Selanjutnya, panglima tua itu dibawa ke Cirebon Girang dan tinggal di sana dengan menggunakan nama Pangeran Pamelekaran. Dia diambil menantu oleh Susuhunan Cirebon Girang, Syaikh Maulana Jati, dengan menikahi puterinya yang bernama Nyai Mertasari.

Meski didampingi istri yang cantik dan muda, jiwa Pangeran Pamelekaran tetap hampa. Sebab bagi orang setua dia, kehadiran cucu yang bisa mendengarkan dengan bangga kisah-kisah keperwiraan dan kebesarannya di masa lampau adalah daya hidup yang dahsyat baginya. Itu sebabnya, dia meminta Pangeran Surodirejo agar mengirimkan salah satu puteranya untuk menuntut ilmu di Giri Amparan Jati sekaligus akan diasuh dan dididik sendiri di ndalem Pamelekaran.

Menyadari bahwa ayahandanya adalah perwira unggul yang selalu jaya di medan tempur dan dikenal sebagai ahli tata praja sehingga menduduki jabatan Pecat Tandha (pejabat yang mengurus pajak dan bea cukai) di Terung, maka Pangeran Surodirejo pun mengirimkan putera sulungnya, Raden Ketib. Ia mengharapkan Raden Ketib kelak menjadi penggantinya sebagai Adipati Palembang. Pangeran Surodirejo yakin di bawah asuhan dan didikan kakeknya, Raden Ketib akan menjadi pemimpin yang ulet, tegas, teguh pendirian, dermawan, adil, dan dicintai rakyat.

Saat dikirim ke Giri Amparan Jati, Raden Ketib adalah pemuda berusia enam belas tahun. Sedikitpun ia tidak pernah mengetahui maksud lain ayahandanya mengirim dirinya ke Pesantren Giri Amparan Jati. Ia mengira kehadirannya di pesantren itu semata-mata untuk menuntut ilmu atas petunjuk kakeknya. Itu sebabnya, meski keluarga pesantren sangat menghormatinya sebagai cucu Pangeran Pamelekaran, ia berusaha menjadi santri yang tidak menginginkan keistimewaan apa pun. Bersama-sama dengan santri yang lain, ia mencari kayu bakar, mengisi bak mandi, berlatih silat, dan tidur beramai-ramai di gubuk bambu beratap daun tal.

Usai mengerjakan tugas-tugasnya sebagai santri, biasanya di malam hari, Raden Ketib, sesuai pesan ayahandanya, datang ke ndalem Pemelekaran untuk menimba berbagai ilmu pengetahuan dari kakeknya, terutama ilmu keprajuritan dan tata praja. Namun berbeda dengan harapan ayahandanya, Raden Ketib ternyata tidak tertarik dengan ilmu keprajuritan dan tata praja. Ia lebih suka mendengarkan cerita tentang pengalaman kakeknya mengarungi samudera kehidupan. Dan Pangeran Pamelekaran yang sudah tua itu tampaknya lebih suka bercerita tentang berbagai pengalamannya daripada mengajari cucunya dengan ilmu keprajuritan dan tata praja.

Raden Ketib merupakan pemuda yang rendah hati. Itu tampak dari kegemarannya mengajak kawan-kawannya sesama santri untuk berkunjung ke ndalem Pamelekaran mendengarkan cerita-cerita menakjubkan yang pernah dialami kakeknya. Ia juga dikenal dermawan sehingga tak jarang uang saku yang diperoleh dari kakeknya habis dibagi-bagikan untuk kawan-kawannya. Sering juga ia ikut berkunjung ke rumah salah seorang kawannya yang ayahnya hanya seorang gedeng atau malah kuwu.

Bermula dari keakraban dengan kawan-kawan sesama santri, ia mengetahui tentang peraturan aneh serta kasak-kusuk itu. Raden Ketib tidak pernah menduga bahwa cerita yang pernah ia dengar tentang Syaikh Siti Jenar yang sesat dan murtad dari guru mengajinya itu ternyata berasal dari pesantren di mana ia menimba ilmu sekarang ini. Namun berbeda dengan kisah-kisah yang pernah ia dengar selama di Palembang, ternyata di Giri Amparan Jati ada beberapa kisah yang menggambarkan syaikh murtad itu sebagai orang yang terpuji dan mulia. Bahkan yang membuat keningnya berkerut adalah bisik-bisik yang menyatakan bahwa istri Syaikh Maulana Jati adalah puteri Syaikh Siti Jenar.

Kesimpangsiuran itu menumbuhkan rasa ingin tahu Raden Ketib. Cerita-cerita itu begitu menakjubkan. Ia sangat ingin menyingkap kabut yang menyelimuti kehidupan santri Giri Amparan Jati generasi pertama itu. Benarkah Syaikh Datuk Abdul Jalil sesat dan murtad? Benarkah dia berguru kepada tukang sihir Baghdad? Benarkah dia anak durhaka? Benarkah dia bukan manusia, melainkan seekor cacing tanpa ayah dan ibu? Benarkah dia ayahanda Nyai Rara Baghdad? Benarkah dia adik sepupu Syaikh Datuk Kahfi, Sunan Jati Purba, pendiri pesantren Giri Amparan Jati? Benarkah dia wali Allah yang menyebarkan Islam tanpa pamrih di nagari Galuh, Kretabhumi, Sumedanglarang, Sadawarna, Subang, Luragung, Bantarkawung, Demak, Majenang, Pasir, Mataram, hingga Pengging?

Kecamuk tanda tanya yang berjejal-jejal di kepala Raden Ketib menjadi bara api penasaran yang membakar hati dan benaknya, terutama setelah ia menghadapi jalan buntu ketika berusaha menguak lebih dalam tentang keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang membingungkan itu. Jalan buntu itu bermula dari kecurigaan yang mencuat dari setiap orang yang ditanyainya. Santri Giri Amparan Jati, nayaka, dan abdi Kasunanan Cirebon Girang tampaknya sama-sama memahami bahwa Raden Ketib adalah cucu Pangeran Pamelekaran. Ia juga kemenakan Sultan Demak. Itu sebabnya, mereka diam-diam menaruh curiga bahwa sangat mungkin Raden Ketib dikirim ke Giri Amparan Jati dan Kasunanan Cirebon Girang dilatari tujuan untuk mencari sisik-melik yang berkaitan dengan ajaran sesat Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Menghadapi jalan buntu itu sempat terbersit di benak Raden Ketib niat untuk menanyakan langsung hal tersebut kepada ramanda gurunya, Syaikh Maulana Jati. Namun, sebagai seorang yang sejak kecil dididik di lingkungan Kadipaten Palembang yang menanamkan nilai-nilai penghormatan dan pemuliaan terhadap guru, maka niat itu dibatalkannya. Apalagi dalam hal itu ada kasak-kusuk yang menyatakan bahwa ramanda gurunya adalah menantu Syaikh Datuk Abdul Jalil. Tentunya hal itu sangat kurang ajar dan tidak mengenal tata krama bagi seorang santri yang wajib memuliakan gurunya.

Ketika mendengarkan cerita-cerita kakeknya, sempat pula terbersit keinginan di benak Raden Ketib untuk menanyakan tentang kisah Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, keinginan itu lagi-lagi terpaksa ditahan. Raden Ketib sadar bahwa kakeknya menetap di Cirebon Girang baru beberapa tahun saja. Sementara Syaikh Datuk Abdul Jalil saat tinggal di Cirebon Girang sudah puluhan tahun silam. Di samping itu, ia tidak ingin menyinggung perasaan kakeknya karena bagaimanapun Sultan Demak yang mendiamkan saja pembunuhan Syaikh Abdul Jalil oleh Sunan Kudus itu adalah kemenakannya. Terlebih lagi, Sunan Kudus sendiri adalah menantunya.

Keinginan kuat Raden Ketib untuk menguak rahasia Syaikh Datuk Abdul Jalil ternyata makin meningkatkan kecurigaan para santri, nayaka, dan abdi Kasunanan Cirebon Girang. Dengan cara terang-terangan atau samar, mereka berusaha menghindar setiap kali didekati Raden Ketib. Sebagai orang yang tanggap dengan keadaan, ia cepat menyadari bahwa dirinya diam-diam telah dikucilkan dari kehidupan pesantren maupun kasunanan.

Menyadari bahwa dirinya tidak melihat kemungkinan memperoleh sesuatu dari pesantren maupun kasunanan maka dengan semangat tetap membara ia berusaha mencari penjelasan dari tempat lain. Diam-diam pada waktu senggang ia berkeliling ke desa-desa di sekitar Giri Amparan Jati. Berangkat dari pengalaman di pesantren dan kasunanan, Raden Ketib tidak menanyakan langsung segala sesuatu yang berkait dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ia biasanya memulai pembicaraan dengan menanyakan ihwal keberadaan desa yang disinggahinya, baik berkait dengan nama desa, pendiri, asal-usul surau, dan berbagai hal yang menyangkut desa tersebut.

Hari dan pekan berlalu. Perjuangan gigih Raden Ketib untuk menguak rahasia kebenaran di balik cerita-cerita tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil mendatangkan hasil juga, meski berserakan dan tidak utuh. Misalnya saja, ia memperoleh penjelasan bahwa pada awal didirikan oleh Syaikh Datuk Kahfi, Giri Amparan Jati dinamakan padepokan. Sebutan pesantren baru dilakukan oleh seorang santri dari generasi keempat bernama Raden Sahid asal Tuban yang bergelar Syaikh Malaya, setelah Syaikh Datuk Kahfi wafat. Dia menyarankan kepada Syaikh Maulana Jati agar nama padepokan diganti menjadi pesantren.

Lain dari itu, Raden Ketib beroleh pula penjelasan tentang siapa saja di antara santri-santri Giri Amparan Jati generasi pertama yang kemudian menjadi pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di antara mereka itu, menurut cerita yang didengar Raden Ketib, adalah Ki Gedeng Pasambangan, cucu Ki Gedeng Tapa, Ki Gedeng Tegal Alang-Alang, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Surantaka dan Ki Gedeng Singapura. Mereka itu adalah kawan-kawan akrab Syaikh Datuk Abdul Jalil sejak usia lima tahunan di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi. Mereka tumbuh bersama di lingkungan yang sama hingga dewasa. Itu sebabnya, mereka mengetahui benar kelebihan-kelebihan sekaligus kekurangan sahabat yang akhirnya menjadi guru ruhani mereka.

Manusia boleh berencana dan berusaha, namun Tuhanlah penentu keputusan akhir. Rencana dan usaha Raden Ketib untuk menguak jati diri Syaikh Datuk Abdul Jalil ternyata harus terhenti di tengah jalan. Para santri Giri Amparan Jati generasi pertama yang diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang cerita-cerita sahabat mereka ternyata telah banyak yang meninggal dunia. Hanya Ki Gedeng Pasambangan yang masih hidup. Sayangnya, dia telah pergi ke Banten Girang dan tidak diketahui kapan kembalinya.

Bagi pemuda remaja yang haus pengetahuan dan ingin beroleh kebenaran, menelusuri jejak-jejak kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang penuh liku-liku merupakan tantangan yang memesona. Bagai orang kehausan meminum air laut, begitulah Raden Ketib terus berusaha mencari titik terang tentang tokoh aneh yang dikutuk sekaligus dipuji itu. Dan semakin ditelusuri semakin ditemukan keanehan-keanehan dari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil. Para sahabat karibnya yang sudah meninggal dunia, misalnya, tidak ada satu pun yang diketahuhi di mana kuburnya. Pihak keluarga yang ditanya tentang ketidaklaziman itu umumnya hanya memberi penjelasan bahwa para sahabat dan murid Syaikh Datuk Abdul Jalil jika akan meninggal dunia selalu meninggalkan wasiat yang menyatakan bahwa kubur mereka hendaknya tidak diberi batu nisan atau tanda apa pun. Alasannya, mereka tidak mau diberhalakan oleh anak dan cucunya.

Kenyataan ini benar-benar membingungkan Raden Ketib. Selama hidup di Kadipaten Palembang, ia terbiasa membaca surat yasin, tahlil, dan kenduri untuk memperingati orang yang meninggal dunia. Ternyata upacara itu tidak satu pun dilakukan oleh sahabat-sahabat dan murid-murid Syaikh Datuk Abdul Jalil. Padahal, sejak ia tinggal di Giri Amparan Jati, kebiasaan semacam itu juga dilakukan orang. Kenyataan ini, pikir Raden Ketib, sungguh teramat aneh.

Tanpa terasa, telah tiga tahun Raden Ketib tinggal sebagai santri di Giri Amparan Jati. Tanpa terasa pula usianya bertambah. Keakraban antara Raden Ketib dan kakeknya makin erat manakala Nyai Mertasari, istri kakeknya, melahirkan putera yang diberi nama Raden Santri. Raden Ketib yang hampir dua puluh usianya itu harus memanggil ‘paman’ kepada bayi yang baru lahir. Aneh sekali rasanya seorang pemuda memanggil bayi dengan sebutan paman.

Sebenarnya, jika ditelusuri lebih jauh, hal yang dialami oleh Raden Ketib itu tidak aneh dibanding silsilah kakeknya. Pangeran Pamelekaran yang bernama Raden Kusen itu kedudukannya adalah adik tiri sekaligus kemenakan Raden Fatah, Adipati Demak Bintara. Bagaimana hal rumit itu bisa terjadi?

Ceritanya, Raden Kusen adalah putera Ario Damar. Ario Damar sendiri adalah putera Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana, Maharaja Majapahit. Ario Damar kemudian dianugerahi seorang perempuan Cina bernama Retno Subanci oleh ayahandanya. Saat itu Retno Subanci adalah salah seorang selir ayahandanya yang sedang hamil muda. Ario Damar diwanti-wanti agar tidak menyentuh Retno Subanci sebelum bayi yang dikandungnya lahir. Tak lama kemudian lahirlah bayi laki-laki yang diberi nama Raden Fatah. Kemudian, Retno Subanci dinikah oleh Ario Damar. Lalu lahirlah Raden Kusen yang menurunkan beberapa putera dan puteri, di antaranya Pangeran Surodirejo, ayahanda Raden Ketib.

Berawal dari mempertanyakan keanehan-keanehan silsilah keluarganya itulah Raden Ketib tanpa pernah direncanakan sebelumnya, tiba-tiba menyinggung hal ihwal keanehan cerita-cerita yang menyangkut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Dan satu hal yang tak pernah diduga oleh Raden Ketib, ternyata kakeknya pernah bertemu dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil meski sangat singkat. “Dia memanggil aku dengan sebutan paman karena dia putera angkat Ki Danusela, putera Eyang Prabu Kertawijaya. Dia mengira aku adalah adik dari Rakanda Raden Fatah. Itu tidak salah, tetapi dia sebenarnya juga bisa menyebutku rakanda karena aku adalah kemenakan Ki Danusela,” katanya sambil tertawa.

Merasa bahwa kakeknya hanya kenal sepintas saja dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil, Raden Ketib kemudian menuturkan betapa selama ini ia berusaha mencari tahu tentang tokoh aneh itu. Pangeran Pamelekaran mengerutkan kening mendengar penuturan cucunya. Tetapi, sesaat kemudian dia menyatakan akan memanggil Ki Gedeng Pasambangan, putera Ki Gedeng Tapa, yang merupakan kawan Syaikh Datuk Abdul Jalil. “Biarlah Ki Gedeng Pasambangan menuturkan segala sesuatu yang diketahuinya kepadamu,” kata Pangeran Pamelekaran datar.“

Tapi Eyang,” sahut Raden Ketib takzim, “bagaimana jika cerita Ki Gedeng Pasambangan nanti menyinggung perasaan Eyang?”“

Menyinggung perasaanku?” Pangeran Pamelekaran mengernyitkan kening.“

Iya, Eyang,” sahut Raden Ketib, “sebab menurut cerita-cerita yang saya dengar, yang berperan penting dalam kematian Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah Susuhunan Kudus, yaitu menantu Eyang. Kemudian, sultan yang mendiamkan saja pembunuhan itu adalah kemenakan Eyang.”“

Ha…ha…ha,” Pangeran Pamelekaran terbahak. Setelah itu dengan suara serius dia berkata, “Kebenaran harus diungkap apa adanya. Itu prinsipku. Aku tak pernah tersinggung. Bahkan engkau harus tahu bagaimana sikapku terhadap Susuhunan Kudus, menantuku itu. Ketahuilah, saat penyerbuan awal pasukan Demak ke Majapahit yang dipimpin Susuhunan Ngudung, ayahanda Susuhunan Kudus, yang tak lain adalah besanku, akulah yang menjadi manggalayuddha Majapahit. Dalam pertempuran itu, aku harus berhadapan dengan dia selaku panglima Demak. Aku tikam lehernya dengan keris. Meski dia sudah mengenakan pusaka kutang antakusuma, toh mati juga ia di tanganku. Itulah kenyataan, Ngger. Aku tidak akan tersinggung jika diungkap bahwa aku telah tega membunuh besanku demi mempertahankan kerajaan kafir Majapahit.”“

Dalam peristiwa itu banyak orang menyalahkan aku. Namun, aku tidak peduli. Karena, aku sudah berkali-kali mengingatkan bahwa aku adalah murid yang setia dan teguh memegang amanat guru. Telah berkali-kali kukatakan bahwa aku tetap memegang amanat guruku, Raden Ali Rahmatullah, Susuhunan Ampel Denta, yang menitahkan aku agar mengabdi pada Majapahit apa pun yang terjadi, demi melindungi pemeluk-pemeluk Islam di pedalaman. Tetapi, mereka tidak peduli. Mereka tidak menghargai prinsip hidupku. Dan mereka baru sadar setelah semuanya terjadi.”

Raden Ketib menarik napas dalam-dalam mendengar kisah kakeknya. Namun terlepas dari keberpihakannya kepada Pangeran Pamelekaran, Raden Ketib menangkap sasmita bahwa kakeknya itu berpendirian teguh dan tidak mudah menyerah. Itu sebabnya, kakeknya hanya bisa disejajarkan dengan tokoh Bisma dalam cerita Mahabarata, yakni berani menanggung risiko apa pun demi memegang teguh prinsip yang diyakini kebenarannya.

Janji Pangeran Pamelekaran untuk mengundang Ki Gedeng Pasambangan ternyata dipenuhi kira-kira sehari setelah sahabat Syaikh Datuk Abdul Jalil itu kembali dari Banten Girang. Raden Ketib yang tidak menduga bakal secepat itu bertemu dengan Ki Gedeng Pasambangan, tak bisa berkata-kata ketika tiba di ndalem Pamelekaran, kecuali mencium takzim lutut kakeknya dengan hati berbunga-bunga. Dan bagi Pangeran Pamelekaran sendiri merupakan suatu kebahagiaan tak terhingga jika dia bisa memenuhi hasrat dan keinginan cucunya.

Malam itu, setelah memperkenalkan Raden Ketib sebagai cucu tercintanya, Pangeran Pamelekaran mengajak Ki Gedeng Pasambangan untuk mengingat saat-saat menegangkan ketika mereka menyerbu Pakuwuan Caruban dan kemudian menghadang pasukan Pajajaran yang dipimpin Terong Peot di pantai Muara Jati. Ki Gedeng Pasambangan yang saat itu merupakan santri Giri Amparan Jati tentu masih mengingat peristiwa itu dengan jelas. Dia kemudian menuturkan kepada Raden Ketib betapa gagah dan beraninya Pangeran Pamelekaran ketika itu. Namun, saat menyinggung nama San Ali, yakni nama kecil Syaikh Datuk Abdul Jalil, Ki Gedeng Pasambangan tampak sekali berusaha menghindar.

Sebagai orang yang sudah kenyang menelan pahit dan getir kehidupan, Pangeran Pamelekaran memahami kecanggungan Ki Gedeng Pasambangan ketika menyinggung hal sahabat dan guru tercintanya. Itu sebabnya, dia langsung meminta Ki Gedeng Pasambangan untuk menuturkan apa adanya segala sesuatu yang diketahuinya tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. “Engkau tak perlu ragu dan curiga, Ki. Engkau mestinya telah tahu betapa aku memiliki prinsip yang sama dengan Abdul Jalil tentang penyerangan ke Majapahit. Engkau juga tentu tahu bahwa di tanganku ini pula besanku Susuhunan Ngudung melayang jiwanya. Karena itu, Ki, ceritakan apa adanya tentang San Ali, kemenakanku itu. Cucuku sangat besar hasratnya untuk mengetahui kisah San Ali yang sampai kini simpang siur,” kata Pangeran Pamelekaran dengan suara berat.“

Abdi akan laksanakan titah Yang Mulia,” kata Ki Gedeng Pasambangan takzim.

Beberapa jenak setelah Pangeran Pamelekaran berpamitan hendak beristirahat, Ki Gedeng Pasambangan yang duduk berdua berhadap-hadapan dengan Raden Ketib memulai ceritanya. Dia bercerita berdasarkan kesaksian pribadi, penuturan Syaikh Datuk Abdul Jalil, fatwa dan kisah dari Syaikh Datuk Kahfi, cerita dari kawan-kawannya sesama santri, penuturan kakeknya, yaitu Ki Gedeng Tapa, dan cerita dari Haji Abdullah Iman, yakni Pangeran Walangsungsang Cakrabuwana, Kepala Nagari Cirebon, yang tak lain adalah saudara sepupunya.

Berdasar cerita-cerita itu, Ki Gedeng Pasambangan menuturkan kisah kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil secara luas dan mendalam sejak awal kelahiran, pengembaraan, silsilah keluarga, pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, hingga ke masa memilukan saat ia terhempas angin prahara fitnah yang mengerikan.

Pengantar Redaksi

Daya tahan setiap pemikiran, ajaran, aliran, ideologi, peradaban, dan semacamnya sangat ditentukan oleh seberapa besar pemikiran tersebut dapat diterima di tengah masyarakat, penguasa, dan komitmen para pengikutnya dalam menjaga kelangsungan. Bila ketiga komponen tersebut tumbuh subur maka akan menemukan masa kejayaan. Sebaliknya, bila satu dari ketiga komponen tersebut tidak seiring maka akan mengalami ketersendatan, keterpurukan, bahkan kepunahan.

Oleh karena itu, wajar bila sering kali terjadi sebuah pemikiran pada satu zaman masyhur, namun pada zaman yang berbeda mengalami keredupan, atau sebaliknya. Pada periode tertentu dikutuk, pada saat yang lain dipuja habis-habisan. Dalam situasi seperti ini kaum elit (masyarakat-agamawan-penguasa-intelektual) memegang peran yang sangat menentukan.

Salah satu contoh peran signifikan kaum elit ini dapat disimak dalam kasus yang menimpa Syaikh Siti Jenar. Dalam cerita-cerita babad, ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar dianggap sebagai bid’ah, menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karena itu, melalui sidang dewan Wali Syaikh Siti Jenar dihukum mati. Polemik terjadi tatkala kitab rujukan yang berbeda kita jajarkan. Katakanlah novel yang akan dibaca ini kita jadikan rujukan.

Novel ini sangat menarik karena memberikan perspektif baru dalam cara baca-pandang terhadap sejarah. Dengan merujuk pada kitab-kitab versi Cirebon, novel ini mampu menghadirkan sisi-sisi kemanusiawian Syaikh Siti Jenar. Novel ini mampu hadir tanpa absurditas dan paradoksal. Tidak ada tragedi pengadilan oleh Wali Songo, apalagi hingga putusan hukuman mati.

Pada buku pertama ini memaparkan tentang konsep filosofis tentang Yang Wujud dan maujud serta pengalaman ruhani Syaikh Siti Jenar menuju Yang Mutlak. Bagian ini juga menyusur tentang asal usul Syaikh Siti Jenar hingga berangkat menjalankan ibadah haji ke Makah. Di Makah inilah Syaikh Siti Jenar “berjumpa” dengan Abu Bakar Ash-Shidiq yang mengajarkan tarekat kepadanya. Pada buku kedua nanti akan dimulai dari kembalinya Syaikh Siti Jenar dari Makah, menyebarkan ajarannya, hingga diangkat menjadi dewan Wali.

Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Mas Agus Sunyoto yang mempercayakan penerbitan karya ini kepada kami. Terima kasih juga kami haturkan kepada KH. A. Mustofa Bisri yang telah berkenan memberikan pengantar pada buku ini. Semoga memberikan manfaat bagi khasanah sastra dan historiografi, khususnya di tanah air dan dunia Islam pada umumnya. Selamat membaca.***

02. Anak Yatim Piatu

Dalam bayangan pohon Kalpa, di bawah pancaran sinar matahari di pinggiran sungai kecil berair deras, di lingkaran rimbunan hutan dan belukar tak jauh dari Padepokan Giri Amparan Jati, di lereng Gunung Sembung, tlatah nagari Caruban, San Ali, putera Ki Danusela sang Kuwu Caruban, menuntut ilmu agama bersama-sama sahabat-sahabatnya di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi. Laksana permata manikam memancarkan gemerlap keindahan, begitulah San Ali menjadi perhiasan padepokan karena kecerdasan, kesetiaan, dan kecintaannya yang tulus.

Sebagai penghuni padepokan sejak usia lima tahun, ia tumbuh menjadi pemuda yang sangat akrab dengan lingkaran keprihatinan: membersihkan padepokan, mengisi bak mandi dan tempat wudhu, memasak dan mencuci pakaian, mencari kayu di hutan; menghafal pelajaran, manandai pelajaran dengan sah-sahan, mengkaji kitab; berpuasa, menjalankan riyadhoh, iktikaf, berdzikir, bersalawat; berlatih pencak silat, olah kanuragan, menghafal hizb-hizb, dan mengamalkan aurad.

Berbeda dengan murid-murid padepokan yang lain, bila ada waktu senggang ia gemar menjelajahi desa-desa di sekitar Gunung Sembung, memasuki hutan, melintasi pegunungan, menyusur sungai, menerobos hutan bakau, ke muara, dan menyusur pantai. Sepanjang perjalanan ia menyaksikan berbagai pemandangan yang menggugah ketenangan jiwanya. Hiruk pikuk pasar desa, petani yang bekerja di sawah, nelayan yang melaut mencari ikan, orang berkelahi, orang berjudi, lintah darat memeras penduduk desa, petani-petani membawa hasil bumi ke padepokan, pendeta menyiapkan sesaji di pura, brahmin bersamadi di sanggar pamujan, orang menderita sakit, dan orang mati baik yang dikubur maupun dibakar.

Semua pemandangan selama mengikuti langkah kakinya itu telah menerbitkan gumpalan awan tanda tanya di cakrawala pemikirannya yang belum dewasa. Ketika tanda tanya itu tak terjawab, gumpalan awan itu semakin memadati cakrawala di benaknya.

Ketika ia memberanikan diri untuk menanyakan pelbagai macam kehidupan manusia kepada Guru Agung Syaikh datuk Kahfi, sering kali tanda tanya justru semakin berjejal-jejal menggumpali isi kepalanya. Memang, jika murid-murid yang lain selalu mengiyakan penjelasan guru agung tentang kehidupan manusia yang bermuara ke alam akhirat, yakni neraka dan surga, maka San Ali kebalikannya. Ia tidak gampang puas dengan jawaban-jawaban yang lazimnay diberikan kepada anak-anak seusianya.

Misalnya tentang perbedaan antara kehidupan orang-orang durhaka dan celaka, seperti penjudi, pemabuk, pencuri, perampok, pelacur, penipu, pembunuh, pezina, dan pemuja berhala yang bakal menempati neraka; dan orang-orang saleh dan beruntung yang bakal menghuni surga. San Ali melihat persoalan ini hanya masalah penundaan waktu belaka. Intinya, keduanya sama ditinjau dari aspek amaliah. Maksudnya, jika di surga nanti orang bisa memenuhi semua keinginannya – termasuk hal-hal yang ketika di dunia diharamkan – maka pada hakikatnya orang durhaka tidak berbeda dengan orang saleh, kecuali dalam hal waktu pelaksanaannya. Kalau orang durhaka bisa sesuka hati menenggak minuman keras, mabuk, mencuri, merampok, dan menikmati berbagai kelezatan dunia, maka orang-orang saleh pun ketika di surga bisa menenggak khamr sampai mabuk, mandi di kolam susu dan madu, bersenang-senang, dan berbagai kelezatan surgawi lain. Bedanya, yang pertama dilampiaskan di dunia, sedang yang kedua menunggu di akhirat.

Tanda tanya yang berjejalan yang tak sederhana jawabannya itu membuat San Ali terjebak pada kebiasaan merenung untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Itu sebabnya, dalam setiap penjelajahan ia sering terlihat merenung di bawah pohon, di puncak bukit, di hamparan pasir pantai, dan bahkan di tengah hening malam ketika makhluk hidup tertidur dibuai mimpi. Dengan merenung, ia seperti menikmati kesendiriannya dan mengungkapkan gairah jiwanya yang berkobar-kobar. Di tengah hening malam ia sering merenungkan bintang-bintang yang memenuhi langit dengan kilau cahayanya yang laksana permata.

Benarkah bintang-bintang yang berkilauan memenuhi langit itu jika pagi menjelang bersembunyi di lautan dan menyinari dunia bawah? Kenapa bintang tidak pernah berada satu langit dengan matahari? Benarkah malaikat hanya turun ke bumi pada malam hari untuk memberkati dan melimpahi rezeki bagi orang-orang yang tekun menjalankan sembahyang malam? Di bintang-bintang itukah para malaikat tinggal? Apakah Arsy, singgasana Allah, terletak di salah satu bintang di langit?

Setelah semalaman merenung-renung tentang langit, bintang, rembulan, malaikat, dan Tuhan, San Ali biasanya turun ke desa-desa dan berbicara dengan orang-orang yang bekerja di sawah atau dengan para brahmin yang melakukan upacara bhakti di sanggar pamujan. Apakah dewa-dewa yang dipuja brahmin itu sama dengan Gusti Allah yang disembahnya? Kenapa Gusti Allah yang disembahnya tidak diwujudkan dalam bentuk-bentuk? Kenapa pula Gusti Allah tidak membutuhkan sesaji apa pun? Dan yang paling mengherankan, kenapa Syaikh Datuk Kahfi dengan sangat keras melarangnya membayang-bayangkan, membanding-bandingkan, dan memikirkan Gusti Allah? Bagaimana orang bisa mengenal Gusti Allah jika tidak boleh membayangkan, membandingkan, dan memikirkan-Nya?

Suatu kali sekeluarnya dari hutan, ia menjumpai seorang brahmin tua mempersembahkan sesaji di altar dewa. Saat itu terlintas di benaknya bahwa sangat mustahil arca dewa bisa memakan sesaji persembahan sang brahmin. Namun, selintas juga terbentang di benaknya tentang ibadah qurban di dalam agama Islam: bukankah Gusti Allah Yang Tak Terpikirkan dan Tak Terjangkau Pancaindera itu sesungguhnya tidak butuh darah dan daging domba? Namun, kenapa tiap hari raya Idul Adha orang harus menyembelih domba?

Ia sering pula menemukan berbagai perilaku yang menurut pandangan penghuni padepokan digolongkan sebagai ahli maksiat. Kenapa orang bisa begitu tergila-gila berjudi sabung ayam? Mengapa orang bisa sangat menggemari minuman keras hingga mabuk? Kenapa orang suka membunuh sesamanya? Kenapa orang suka mencuri dan merampok, sementara ia dan kawan-kawannya di padepokan justru diwajibkan hidup menjauhi segala kebiasaan buruk itu?

Saat persoalan yang mengganjal pikirannya itu disampaikan kepada guru agung, ia sering memperoleh penjelasan yang kurang memuaskan. Penjelasan-penjelasan yang didasarkan pada dalil dari kitab-kitab itu seperti mengulang-ulang penjelasan lama tentang kehidupan orang-orang yang bakal menjadi penghuni neraka dan surga. Para ahli maksiat yang celaka itu, demikian Syaikh Datuk Kahfi mengulang-ulang, akan menjadi ahli neraka. Sedang penghuni padepokan yang saleh akan menjadi penghuni surga. Penjelasan ini tentu saja sangat tidak memuaskan pemuda secerdas San Ali, terutama ketika berbicara tentang keyakinan bahwa takdir baik dan buruk sepenuhnya di tangan Allah. Atas pertimbangan apa Gusti Allah menggolongkan orang sebagai manusia celaka yang bakal menjadi penghuni neraka, dan atas pertimbangan apa pula Gusti Allah menentukan orang menjadi penghuni surga.

Makin sering merenung, menelaah, mempersoalkan jawaban-jawaban atas pertanyaannya, dan menalar berbagai hal yang disaksikannya, ia merasakan betapa kerisauan makin kuat menerkam jiwanya. Ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang sulit diajak berdamai dengan sekedar penjelasan sederhana. Kerisauan itu sering kali hanya bisa ditenangkan dengan perjalanan keluar padepokan. Namun, manakala menyaksikan berbagai kenyataan hidup manusia, ia merasa benaknya pepat digumpali tanda tanya yang berjejal-jejal dan berkumpar-kumpar bagai lingkaran setan.

Kebiasaannya menjelajahi daerah-daerah di sekitar padepokan telah membuatnya dikenal dan dicintai banyak orang. Penduduk di sekitar gunung Sembung, terutama para brahmin, cepat sekali mengenali kehadirannya. Tubuhnya jangkung, tegap, dan berotot. Kulitnya putih kemerahan. Hidungnya mancung. Alis matanya tebal. Matanya setajam elang. Senyumnya selalu terkembang. Jalannya mantap dan gesit. Bicaranya terbuka dan berapi-api. Bagi para brahmin, semua yang ada pada diri San Ali adalah citra kehidupan anak yang ‘bangun’ di antara anak-anak yang ‘tidur’ dininabobokkan zaman.

San Ali! Begitu aneh nama itu untuk zamannya. Namun, keanehan itu menjadi keakraban bagi mereka yang telah mengenalnya. Dan bagaikan orang yang mengenal rajanya, begitulah orang di sekitar gunung Sembung dan Pakuwuan Caruban mengenal nama San Ali, sosok aneh tetapi akrab di mata, telinga, dan hati. Sebuah citra yang diharapkan bakal menjadi pemimpin besar di negeri kelahirannya.

San Ali sebenarnya nama yang kurang lazim digunakan orang baik di Jawa maupun di tanah Pasundan. Namun nama itu pemberian ayahandanya, Ki Danusela, Kuwu Caruban. Ceritanya, tiga bulan menjelang kelahiran putera sulungnya, penguasa Pakuwuan Caruban itu memperoleh impian menakjubkan tentang sembilan ekor kumbang hitam yang terbang mengitari tlatah Majapahit dan Pajajaran yang sedang dilanda bencana serbuan jutaan tikus yang merusak sawah dan ladang. Kesembilan ekor kumbang hitam itu dengan ajaib menyemburkan cairan hijau dari tubuh mereka. Cairan itu terbawa aliran sungai yang mengairi sawah dan ladang sehingga tikus-tikus perusak itu binasa. Kemudian secara ajaib pula kesembilan ekor kumbang itu menyemburkan air suci Amrtha yang membuat padi dan tanaman lain tumbuh subur seperti sediakala. Orang-orang yang semula bersedih dan putus asa kini bersorak-sorai meluapkan kegembiraan. Kehidupan kembali menjadi tenteram, aman, sentosa, dan kertaraharja.

Mimpi menakjubkan yang dialami Ki Danusela itu terulang sampai tiga kali dalam tempo sebulan. Lantaran pengaruh impian itu sangat kuat mencekam jiwanya maka ia berjanji jika anak pertamanya lahir laki-laki akan dinamakan San Ali, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti sembilan ekor kumbang hitam. Ki Danusela berharap puteranya kelak dapat menjadi salah satu dari ke sembilan kumbang yang menyemburkan Amrtha, yang membawa kesuburan dan kemakmuran bagi negerinya. Begitulah, nama San Ali benar-benar diberikan ketika bayi laki-laki itu lahir ke dunia.

Sebagai tanda sukacita dan gantungan harapannya terhadap bayi San Ali, Ki Danusela menyelenggarakan pesta besar selama tiga hari tiga malam. Kepada para tamu undangan dia menyatakan bahwa putera sulungnya itu kelak akan menjadi penggantinya sebagai Kuwu Caruban.

Kuwu Caruban adalah jabatan yang sangat penting di antara kuwu-kuwu yang ada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh. Karena, Pakuwuan Caruban berkembang lebih pesat dibanding pakuwuan lain. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, Pakuwuan Caruban terdiri atas beberapa pakuwuan yang tergabung di bawah kekuasaan Ki Danusela. Meski wilayah teritorial Kuwu Caruban sudah hampir manyamai wilayah nagari, Ki Danusela yang rendah hati itu tetap menyebut dirinya sebagai kuwu. Dan wilayah kekuasaannya tetap dia namakan pakuwuan. Itu sebabnya, San Ali yang kelak menggantikan ayahandanya akan memiliki kekuasaan penting di wilayah Galuh.

Sebenarnya, di balik kemuliaan yang dilimpahkan kepada bayi San Ali, tak banyak yang tahu bahwa Ki Danusela bukanlah ayahanda kandung dari bayi yang diakui sebagai putera sulung itu. Menurut cerita kalangan dalam pakuwuan, ayahanda kandung bayi San Ali adalah seorang ulama asal Malaka yang masih tergolong bangsawan kerajaan. Namanya Syaikh Datuk Sholeh, peranakan Melayu-Gujarat. Ibundanya perempuan Melayu.

Menurut cerita, saat Sultan Muzaffar Syah naik ke tangga kekuasaan Kesultanan Malaka menggantikan saudaranya yang terbunuh, terjadi perselisihan antara pejabat-pejabat keturunan Tamil yang dipimpin Tun Ali dan bangsawan-bangsawan Melayu yang dipimpin Seri Wak Raja I. ibunda Sultan Muzaffar Syah sendiri adalah keturunan Tamil dan sesaudara dengan Tun Ali. Demikianlah, golongan Tamil yang dipimpin Tun Ali menang dan bangsawan-bangsawan Melayu tersingkir dari lingkaran kekuasaan. Di antara bangsawan yang tersingkir itu tersebutlah nama Syaikh Datuk Sholeh.

Kepergian Syaikh Datuk Sholeh meninggalkan Malaka dilatarai usaha penyelamatan diri. Karena, Tun Ali merancang persekongkolan politik sehingga sejumlah pejabat Melayu tewas terbunuh, termasuk Seri Wak Raja II putera Seri Wak Raja I. Demikianlah, Syaikh Datuk Sholeh diikuti istrinya yang hamil muda meninggalkan Malaka untuk berniaga sambil mendakwahkan agama.

Tempat awal yang didatangi Syaikh Datuk Sholeh adalah pelabuhan Palembang. Namun, ia tidak dapat tinggal lama di daerah itu sebab banyak saudagar Tamil berniaga di sana. Lantaran itu, ia bertolak dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain hingga tiba di pelabuhan Dermayu (sekarang Indramayu), Caruban, yang termasuk wilayah Kerajaan Galuh di tanah Pasundan.

Di bandar Dermayu itulah Syaikh Datuk Sholeh tinggal dan berdagang sambil menyiarkan agama Islam. Tempat itu, menurutnya, dianggap tepat karena tidak seorang pun saudagar Tamil dijumpai di sana. Syaikh Datuk Sholeh dengan cepat menjalin keakraban dengan penduduk bandar Dermayu yang umumnya terdiri atas orang-orang Cina Muslim, Melayu Muslim, Melayu Bengali, Jawa, dan Sunda yang masih beragama Hindu-Budha.

Sebagai saudagar sekaligus penyiar agama Islam, Syaikh Datuk Sholeh dikenal pandai, lurus hati, dermawan, santun, dan pintar bergaul. Ia disukai orang-orang. Dalam waktu singkat ia dikenal sampai ke Caruban. Di antara sejumlah orang yang dikenalnya dengan baik adalah Ki Danusela. Meski Ki Danusela beragama Hindu-Budha, hubungan mereka sangat akrab. Sering mereka berdua kelihatan berbicara soal kehidupan masyarakat, tata pemerintahan, dan bahkan falsafah hidup.

Hubungan Syaikh Datuk Sholeh dan Ki Danusela berlanjut ke jalinan kekeluargaan. Ceritanya, saat kemenakan Syaikh Datuk Sholeh yang bernama Syaikh Datuk Kahfi menyusul ke Caruban, Ki Danusela sangat tertarik dan simpati terhadap kecerdasan, keluasan ilmu, kebijaksanaan, dan kesantunannya. Berangkat dari ketertarikan dan rasa simpati itulah Ki Danusela kemudian menikahkannya dengan adik ipar perempuannya yang bernama Nyi Rara Anjung. Dengan demikian, Syaikh Datuk Kahfi dan Syaikh Datuk Sholeh secara langsung telah masuk ke dalam lingkungan Kuwu Caruban.

Ki Danusela adalah keturunan Prabu Kertawijaya, Maharaja Majapahit. Dia menikahi Ratu Inten Dewi, puteri Prabu Surawisesa Ratu Sanghiang, Ratu Aji di Pakuan, keturunan Sri Baduga Maharaja, yakni Maharaja Pajajaran yang gugur dalam peristiwa Bubat. Oleh Prabu Surawisesa mertuanya, Ki Danusela diangkat sebagai kuwu di Caruban dengan tugas utama emmantau Kerajaan Galuh yang merupakan bawahan Kerajaan Pajajaran.

Dalam menjalankan tugas sebagai kuwu, Ki Danusela dibantu oleh seorang pangraksabhumi, pejabat yang mengurusi pertanian dan perikanan, beragama Islam yang bernama Ki Samadullah. Ki Samadullah yang memiliki nama asal Raden Walangsungsang masih langsung keturunan Raja Galuh. Ayahandanya adalah Raden Pamanah Rasa, putera Prabu Anggalarang, Raja Galuh. Ibundanya bernama Nyi Subanglarang, puteri Ki Gedeng Tapa, Mangkubumi Singapura, yang tidak lain dan tidak bukan adalah adik Prabu Anggalarang. Pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dan Nyi Subanglarang ini melahirkan Raden Walangsungsang, Nyi Rara Santang, dan Raden Sangara.

Nasib buruk menimpa Raden Walangsungsang dan adik-adiknya saat mereka menginjak dewasa. Tiba-tiba ibunda mereka terkena pageblug dan meninggal dunia. Raden Walangsungsang dan adik-adiknya kemudian meninggalkan istana Galuh dan menetap di rumah seorang pengikut Budha bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Dia kemudian diambil menantu oleh Ki Gedeng Danuwarsih, dikawinkan dengan Nyi Indang Geulis, puterinya.

Melalui Ki Gedeng Danuwarsih, yang tak lain adalah sahabat Ki Danusela, Raden Walangsungsang bekerja di Pakuwuan Caruban. Bahkan ia diberi kepercayaan besar menduduki jabatan pangraksabhumi menggantikan Ki Danusela. Melalui Raden Walangsungsang inilah Ki Danusela mengetahui perkembangan Kerajaan Galuh, dimana kesetiaan kerajaan itu terhadap Pajajaran masih sangat kuat. Melalui Raden Walangsungsang juga Ki Danusela mengetahui perkembangan agama Islam di pesisir utara Nusa Jawa, terutama di Dermayu.

Selama menjabat sebagai pangraksabhumi, Raden Walangsungsang berkenalan dengan Syaikh Datuk Kahfi dan Syaikh Datuk Sholeh. Ia kemudian berguru agama Islam kepada Syaikh Datuk Kahfi. Setelah mengetahui keluasan ilmu gurunya, ia memohon agar Syaikh Datuk Kahfi membuka sebuah padepokan untuk mendidik masyarakat.

Atas upaya Raden Walangsungsang, kakeknya, Ki Gedeng Tapa, memberikan sebidang tanah di lereng gunung Sembung kepada Syaikh Datuk Kahfi sebagai shima (perdikan), yang bebas pajak. Di tanah itulah Syaikh Datuk Kahfi membangun padepokan yang kemudian dikenal dengan nama Giri Amparan Jati (Gunung Tempat Menggelar Kebenaran). Syaikh Datuk Kahfi kemudian memberi nama baru untuk Raden Walangsungsang, yakni Samadullah. Dan sejak itu, orang mengenal pangraksabhumi Caruban dengan nama Ki Samadullah.

Meski berbeda agama, antara Ki Danusela dan Ki Samadullah terjalin kecocokan terutama tentang hal-hal yang bersifat ruhani. Mereka sering terlihat berdua di pendapa sepanjang malam membahas pengalaman ruhani masing-masing. Bahkan sebuah kitab rontal milik Ki Danusela warisan Maharaja Majapahit yang dikenal dengan nama Catur Viphala, mereka jadikan bahasan mendalam.

Hubungan Ki Samadullah, Syaikh Datuk Sholeh, Syaikh Datuk Kahfi, dan Ki Danusela berlangsung sangat akrab. Itu sebabnya, ketika Syaikh Datuk Sholeh wafat terkena pageblug, Ki Danusela yang belum dikaruniai putera itu meminta agar diperkenankan mengangkat bayi yatim yang ada di dalam kandungan istri Syaikh Datuk Sholeh. Baik Syaikh Datuk Kahfi maupun Ki Samadullah tidak keberatan, meski mereka tahu Ki Danusela beragama Hindu-Budha. Begitulah, putera Syaikh Datuk Sholeh diangkat anak oleh Ki Danusela. Bahkan atas dasar mimpinya yang menakjubkan, Ki Danusela kemudian menamakan bayi itu San Ali.

Merasa prihatin dengan nasib bayi San Ali, Ki Samadullah diam-diam ikut mengasuh dan mengamati perkembangannya dengan penuh kasih sayang. Apalagi Ki Samadullah juga belum dikaruniai putera. Namun, belum lama San Ali merasakan belaian kasih ibunda kandungnya, tiba-tiba ia ditinggal pergi selama-lamanya. Ketika itu usia San Ali menginjak tiga bulan, ibundanya secara mendadak tertular pageblug yang sedang melanda tlatah Caruban. Lantaran peristiwa menyedihkan itu, Ki Samadullah dan istri menumpahkan seluruh kasih dan sayang mereka kepada bayi San Ali yang kini yatim piatu.

Peristiwa menyedihkan yang menimpa San Ali berkembang menjadi fitnah keji yang membahayakan keselamatan jiwa bayi tanpa dosa itu. Ceritanya, beberapa saat setelah ibundanya meninggal, tersebar berita bahwa bayi berusia tiga bulan itu adalah pangkal dari malapetaka yang bakal menimpa Kuwu Caruban. Bayi itu harus disingkirkan jauh-jauh dari pakuwuan sebelum melapetaka yang ditimbulkannya meluas ke mana-mana. Tanda bahwa bayi itu berbahaya adalah kematian kedua orang tuanya dan meluasnya pageblug di tlatah Caruban.

Akibat fitnah yang kuat itu, Ki Danusela sempat terpengaruh. Itu sebabnya, dia membicarakan masalah itu dengan Ki Samadullah sebelum menyampaikannya kepada Syaikh Datuk Kahfi. Ki Samadullah tentu saja terkejut dengan berita bersifat fitnah itu. Lantaran itu, ia dengan terpaksa mengungkapkan ramalan rahasia gurunya, Syaikh Datuk Kahfi tentang kemuliaan yang bakal diraih putera Ki Danusela itu. “Menurut guru saya, putera Tuan bakal menjadi seorang waliyullah yang mulia sepanjang zaman. Karena itu, Tuan, saya menilai wajar jika sejak kecil ia sudah yatim piatu sebab Kangjeng Nabi Muhammad pun sejak kecil mengalami nasib demikian,” ujar Ki Samadullah.

Ki Danusela sangat percaya kepada Ki Samadullah dan terutama kepada adik iparnya, Syaikh Datuk Kahfi, sehingga setiap fitnah keji yang dialamatkan kepada San Ali terhalau. Bahkan atas saran Ki Samadullah, Ki dan Nyi Danusela merelakan putera sulung mereka yang ketika itu berusia lima tahun dikirim ke Padepokan Giri Amparan Jati untuk dididik ilmu pengetahuan agama. Sebulan sekali, Ki Danusela bergantian dengan Ki Samadullah menjenguk San Ali, melimpahkan kasih dan sayang kepada bocah itu.

Apa yang dikemukakan Ki Samadullah berkenaan dengan ramalan Syaikh Datuk Kahfi ternyata terbukti. Ini setidaknya terlihat betapa dalam waktu singkat San Ali sudah dikenal di padepokan sebagai santri yang paling cerdas dan sangat disayangi Syaikh Datuk Kahfi. Berbagai pelajaran agama cepat diselesaikannya menandingi santri-santri lain. Bahkan berbagai persoalan yang diajukan San Ali kepada guru agungnya dalam setiap akhir pengembaraannya selalu menambah wawasan baru bagi warga padepokan, terutama bagi Syaikh Datuk Kahfi.

Warga padepokan tidak lagi menilai warga di luar kelompok mereka – terutama yang beragama Hindu-Budha – sebagai golongan kafir yang najis. Syaikh Datuk Kahfi yang semula memandang bahwa umat yang menyembah Gusti Allah hanya Islam, telah mengubah pandangan bahwa segala ciptaan di alam semesta ini pada hakikatnya menyembah Gusti Allah dengan nama dan tata cara berbeda. Seluruh umat manusia, malaikat, hewan, tetumbuhan, jin, setan, bahkan iblis: semuanya adalah penyembah Gusti Allah, meski harus diakui bahwa Islamlah satu-satunya agama yang paling sempurna di dalam pengaturan tata cara menyembah Gusti Allah dan tata kehidupan manusia. Dan semua perubahan itu terjadi setelah San Ali dan Syaikh Datuk Kahfi berbincang membahas berbagai persoalan hidup.

Selama menuntut ilmu di Padepokan Giri Amparan Jati, San Ali juga dikenal piawai dalam pencak silat, olah kanuragan, dan menyanyikan tembang-tembang pepujian. Malahan ia sering terlihat perdebatan dengan guru agungnya tentang berbagai masalah, terutama dalam pelajaran manthiq dan ilmu kalam. Sementara dalam hal tauhid dan olah batiniah, keduanya seperti memiliki kesamaan cita rasa. Boleh jadi lantara itu ia sering terlihat mengikuti Syaikh Datuk Kahfi melakukan iktikaf untuk mengamalkan aurad dengan mengerjakan dzikrullah, tafakkur, ta’ammul, dan tahannuts.

Seiring dengan perubahan waktu yang mengantarkannya ke alam kedewasaan, terjadi perubahan sikap dan perilaku San Ali. Selama waktu luang seusai zhuhur, ia sering terlihat merenung seorang diri di bawah pohon Kalpa hingga matahari condong ke barat dan beduk asyar mulai ditabuh orang. Entah apa yang dirasakannya saat itu. Ia merasakan kegelisahan menerkam jiwanya sehingga membuatnya betah berlama-lama menenangkan diri. Ia seolah-olah melupakan keriangan yang selama ini direguknya di padepokan atau saat berkeliling keluar masuk hutan.

Syaikh Datuk Kahfi rupanya memahami benar perkembangan murid terkasihnya itu. Dia menagkap sasmita bahwa muridnya itu bakal menjadi guru agung yang jauh melebihi kebesaran dirinya. Murid yang sekaligus saudara sepupunya itu, dalam pandangannya, adalah samudera pengetahuan yang sedang menuju pasang kemasyhuran jati dirinya. Lantaran itu, seluruh ilmu pengetahuan yang dimilikinya sudah diniatkan akan dilimpahkan kepada San Ali tanpa sisa. Dan San Ali sendiri bagaikan musafir menenggak air laut, yang semakin kehausan setiap kali menghirup pengetahuan dari gurunya.

Sebagai guru agung, Syaikh Datuk Kahfi mengetahui secara gaib bahwa San Ali tidak akan menjadi manusia kebanyakan seperti murid yang lain. Kalau pun San Ali akan menjadi kuwu menggantikan kedudukan orang tuanya maka ia tidak akan menjadi kuwu biasa. Ia akan membawa perubahan besar bagi zamannya. Namun, diam-diam Syaikh datuk Kahfi mendapat firasat bahwa San Ali yang dikasihinya itu tidak akan menjadi penguasa duniawi. Ia akan menjadi guru agung termasyhur: penuntun manusia ke jalan Ilahi!

Sebagai orang yang telah kenyang memakan pahit dan getir kehidupan, Syaikh Datuk Kahfi merasakan suatu kemestian dari derita pedih yang bakal dialami muridnya. San Ali akan menduduki derajat ruhani sangat tinggi di zamannya. Syaikh Datuk Kahfi diam-diam mendoakan agar muridnya itu senantiasa tabah dan tawakal menghadapi ujian Ilahi, karena telah termaktub di dalam dalil bahwa siapa yang berderajat ruhani tinggi maka hidupnya akan senantiasa diterpa ujian berat berupa kebalakan sebagaimana hal itu dialami para nabi dan wali.

Tentang kemestian kehidupan pedih yang bakal dilewati San Ali, Syaikh Datuk Kahfi juga telah menguraikannya kepada Ki Samadullah dalam suatu pertemuan rahasia di Masjid Giri Amparan Jati. Dengan penuh harap, dia meminta agar Ki Samadullah dengan suka cita menjadi pembela dalam persoalan apa saja yang berkenaan dengan lingkaran nasib yang bakal menjerat San Ali. Dengan hati diliputi keprihatinan, Syaikh Datuk Kahfi menjelaskan nasib pedih yang bakal dialami San Ali. “Jagalah rahasia Allah ini! Jangan sekali-kali ada yang mengetahuinya, termasuk San Ali,” ujarnya mewanti-wanti.

Sebagai murid yang patuh dan setia, dengan sepenuh jiwa Ki Samadullah menyanggupi permintaan gurunya. “Saya akan senantiasa mematuhi amanat Yang Mulia. Saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan bagi San Ali, buah hati saya.”

Sejak peristiwa larut malam di Masjid Giri Amparan Jati itu, kecintaan Ki Samadullah kepada anak asuhnya makin kuat berurat dan berakar. Bagaikan induk harimau melindungi anaknya, begitulah Ki Samadullah memperlakukan San Ali. Ke mana pun San Ali berada dia selalu berusaha mengetahui dan mendampinginya. Itu sebabnya, dia tak jarang menemani San Ali berkeliling ke desa-desa di sekitar Gunung Sembung, keluar dan masuk hutan. Bahkan karena begitu seringnya mendampingi San Ali, Ki Samadullah menjadi sangat dikenal masyarakat sebagai petinggi Kerajaan Galuh yang dermawan dan mencintai rakyat, karena selama bersama San Ali, dia acap kali mengulurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

San Ali tampaknya merasakan perubahan sikap ayahanda asuh tercintanya itu. Ia juga merasakan perubahan sikap dari guru agungnya. Bahkan sikap ayahanda dan ibundanya. Dan ujung dari perasaannya itu, ia merasa tidak bahagia dengan itu semua. Ia menangkap sasmita bahwa kecintaan orang-orang di sekitarnya terhadap dirinya, tentu ada batasnya. Cinta mereka bukanlah cinta sejati yang abadi sepanjang masa.

Saat usianya masuk sembilan belas tahun, San Ali bertambah sering terlihat termenung duduk di bawah pohon Kalpa yang tumbuh rindang di tepi sungai. Lewat derasnya arus sungai, ia menangkap kenyataan bahwa aliran air yang terus-menerus itu akan mengalir menuju muara hingga ke samudera raya. Lewat gemerlap cahaya matahari, ia menyaksikan betapa sinar dunia itu bergerak dari timur ke barat sepanjang waktu seolah masuk ke sarangnya di dunia bawah. Bahkan saat menyaksikan warga desa di sekitar padepokan meninggal dunia, ia menyadari adanya aliran kehidupan manusia, seperti gerakan air dan matahari menuju ke arah tertentu: pusat dari segala sesuatu.

Selama termenung, ia menyadari bahwa pada hakikatnya segala apa yang tergelar di alam semesta ini adalah perwujudan dari ‘aku’. Air sungai, matahari, pepohonan, bebatuan, awan-gumawan, langit, gunung-gemunung, hewan, manusia, dan seluruh isi jagad raya ini memiliki ‘aku’ masing-masing. Andaikata matahari bisa bicara maka dia akan berkata: aku matahari. Begitu juga dengan seluruh isi jagad raya, pasti akan mengatakan ‘aku’ ini dan ‘aku’ itu. Dan ‘aku’ masing-masing itu, pikir San Ali, pastilah memiliki pusat ‘aku’ semesta dari mana ‘aku’ masing-masing itu berasal dan ke mana ‘aku’ masing-masing itu kembali.

Selama ini ia telah diajarkan bagaimana melakukan penyembahan kepada Gusti Allah, Pencipta alam semesta, Pangkal kejadian segala. Atau tentang surga yang diperuntukkan bagi orang-orang saleh yang menyembah dan mengikuti peraturan agama yang diturunkan Gusti Allah. Ia juga telah diajarkan tentang neraka yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir yang mengabaikan ajaran agama. Ia belajar berbagai masalah kehidupan beragama yang membawa seseorang sebagai muslim sejati, yakni mereka yang berbaris beriringan bersama-sama dengan orang-orang takwa yang dicintai Allah menuju surga tempat kenikmatan dan kelezatan abadi.

Kesadaran San Ali tentang hakikat ‘aku’ pribadi dan ‘Aku’ semesta itu telah membawanya ke suatu hamparan keagamaan luar biasa dalam memaknai hidup. Jika sebelumnya, seperti murid-murid padepokan yang lain, ia memiliki harapan besar untuk menjadi penghuni surga yang penuh kenikmatan maka kini ia meragukan harapannya itu sebagai kebenaran mutlak. Bukankah surga pada hakikatnya adalah ‘aku’ pribadi – dan bukan ‘Aku’ semesta yang menjadi sumber segala ‘aku’? Bukankah ‘aku’-ku akan menyatu dengan ‘aku’ surga jika harapanku memang ke sana? Bukankah agama mengajarkan intisari hakikat inna li Allahi wa inna ilaihi rajiun, yang bermakna sesungguhnya semua ‘aku’ berasal dari ‘Aku’, dan semua ‘aku’ akan kembali ke ‘Aku’ sebagai asal segala ‘aku’.

Dengan kesadaran itu San Ali mulai merasakan kegelisahan mencakari jiwanya. Ia mulai mempertanyakan segala perilaku ibadah yang telah dijalankannya selama ini. Gusti Allah yang bagaimana yang ia sembah selama ini? Apakah ketundukan ‘aku’-nya di dalam sembahyang benar-benar perwujudan dari ketundukan ‘aku’ terhadap ‘Aku’? bukankah sampai saat ini ia belum menemukan hakikat dari ‘aku’ pribadinya? Di manakah ‘aku’ pribadiku berada? Di mana ‘aku’ pribadiku bisa ditemukan? Apakah ‘aku’-ku bersembunyi di kedalaman hati, jantung, paru-paru, aliran darah, sumsum, atau otak? Tidak satu pun pelajaran yang diterimanya dari Syaikh Datuk Kahfi memberikan penjelasan yang memuaskan tentang semua pertanyaan ini. Dan San Ali mendapati kenyataan yang makin membuatnya gamang: “Jika keberadaan ‘aku’ pribadiku saja belum kuketahui hakikatnya, bagaimana mungkin aku mengetahui hakikat ‘Aku’ semesta? Dan jika hakikat ‘Aku’ semesta belum kuketahui, bagaimana ‘aku’ bisa sampai kepada-Nya?”

Setelah belajar selama limabelas tahun, datanglah saat ia harus meninggalkan padepokan untuk menguji segala ilmu pengetahuan yang telah ia miliki di tengah gelanggang kehidupan manusia. San Ali pergi berbekal petuah Syaikh Datuk Kahfi agar selalu mengikatkan diri pada tali Ilahi – intisari hakiki dari ‘Aku’ semesta yang menjadi pusat semua ‘aku’ pribadi – di mana pun ia berada. Dan intisari dari ikatan tali Ilahi itu adalah suatu keyakinan yang menandaskan bahwa ‘Aku’ semesta itulah pangkal segala: engkau akan mengenal Dia karena Dia! Engkau tahu Dia karena Dia!

Kepergian San Ali dari Padepokan adalah bagian dari pencarian sejati dari hakikat ‘aku’ yang bermuara ke ‘aku’. Sebab, bagi ‘harimau’ seperti San Ali dibutuhkan rimba raya yang lebih luas untuk menemukan sarangnya yang sejati. Bagi Syaikh Datuk Kahfi, kepergian San Ali merupakan bagian dari ujian menunaikan tekad untuk mencari hakikat sejati ‘Aku’ yang menurut para pencari-Nya dilingkari tujuh samudera, tujuh lembah, tujuh gunung, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba, dan tujuh benteng yang dipenuhi pasukan penghalang berkekuatan mahadahsyat. Hanya dia yang berjiwa ksatria dan benar-benar berjuang keras menuju ‘Aku’ yang akan sampai kepada-Nya.

Perjalanan San Ali mencari ‘Aku’ sebagai sangkan paran (asal usul) segala ‘aku’ pada dasarnya merupakan hal aneh bagi seumumnya manusia lumrah. Sebab, manusia umumnya mencari kemuliaan dan kenikmatan hidup berupa harta kekayaan, pangkat tinggi, derajat kehornatan, kekuasaan, atau kenikmatan perempuan. Bahkan bagi sebagian orang yang mengaku beriman dan beramal saleh, yang lazim diburu adalah kenikmatan ukhrawi, seperti surga yang penuh bidadari jelita, makanan lezat, susu, madu, hawa sejuk, dan kenikmatan lain. Jadi, perjalanan San Ali adalah pencarian luar biasa dahsyat yang tak menjanjikan apa-apa kecuali kembali kepada Asal Usul kejadian yang tak bisa dibayang-bayangkan, dibanding-bandingkan, dan disetarakan dengan sesuatu.

Perjalanan mencari ‘Aku’ pada dasarnya gampang diucapkan, namun sulit diamalkan. Sebab, ‘Aku’ yang dikenal San Ali dengan nama Allah bukanlah ‘Aku’ statis yang membiarkan diri-Nya gampang ditemukan apalagi dijamah ‘aku’ ciptaan-Nya. Dia menggelar bermacam-macam hijab dan berlapis-lapis tirai penghalang untuk menguji tekad dan semangat ‘aku’ dalam menuju ‘Aku’. Semakin dekat ‘aku’ kepada ‘Aku’ maka ujian pun makin luar biasa dahsyat hingga pada satu titik di mana ‘aku’ tidak melihat ‘aku’ yang lain kecuali ‘Aku’.

Rintangan awal dari perjalanan San Ali mencari ‘Aku’ dibentangkan sejak ia melangkahkan kaki keluar dari Padepokan Giri Amparan menuju Pakuwuan Caruban, tempat ayahanda dan ibundanya. Tujuannya ke Pakuwuan Caruban adalah atas perintah Syaikh Datuk Kahfi, untuk memohon doa dan restu dari ayahandanya, ibundanya, serta Ki Samadullah dan istrinya sebelum pengembaraan batiniahnya dimulai. Namun, justru di sanalah rintangan berat dimulai dalam bentuk tragedi yang menimpa orang-orang yang dicintainya.

Saat tiba di pakuwuan yang dijumpainya hanya Rsi Bungsu, adik ibundanya, yang selama bertahun-tahun menjadi penasihat ayahandanya. Rsi Bungsu ternyata telah menggantikan kedudukan Ki Danusela sebagai Kuwu Caruban. Kenyataan itu, tentu sangat mengejutkan San Ali. Ia merasakan dirinya seperti disambar petir di siang hari.

Menurut penjelasan Rsi Bungsu, Ki Danusela telah wafat diterkam harimau saat berburu kijang di hutan Kawali sekitar tiga pekan silam. Sementara nasib Nyi Ratu Inten Dewi, ibunda San Ali, hingga kini tak diketahui. Sejak kematian suaminya, Nyi Ratu Inten menjadi hilang ingatan. Suatu malam dia pergi dan tidak diketahui rimbanya.

Selama bertahun-tahun hidup di padepokan, San Ali selalu diterkam kerinduan ingin hidup bersama kedua orang tuanya. Namun, kini mereka telah tiada. Kenyataan pahit itu sulit diterima San Ali. Jiwanya sangat terpukul. Itu sebabnya, dengan gencar dan terkesan menuduh ia mempertanyakan perubahan keadaan itu kepada Rsi Bungsu.

Kenapa kematian ayahandanya tidak diberitakan ke padepokan? Benarkah ibundanya hilang akal dan lari meninggalkan pakuwuan setelah kematian ayahandanya? “Saya khawatir, jangan-jangan semua ini adalah akal bulus Pamanda belaka.”

“Apa maksudmu, o Kemenakanku tercinta?” ujar Rsi Bungsu dengan muka merah padam menunjukkan kobaran api amarah.

“Apakah saya salah jika menaruh syak wasangka bahwa ayahanda saya meninggal dunia karena upaya pembunuhan? Dan apakah saya salah jikalau menaruh curiga bahwa ibunda saya telah secara sengaja disingkirkan dari pakuwuan dengan tuduhan hilang akal? Dan ujung dari semua itu, salahkah jika saya mencurigai orang yang sekarang menduduki kursi Kuwu Caruban?” sergah San Ali dengan suara ditekan keras.

“Lancang mulutmu, San Ali,” bentak Rsi Bungsu dengan suara menggelegar. “Sungguh aku tidak pernah menduga, murid terkasih Syaikh Datuk Kahfi memiliki mulut selancang dan sekejam dirimu. Tuduhanmu sangat menyakitkan karena tanpa dasar apa pun. Dan ketahuilah, o Kemenakanku, jika saat ini aku berkenan, akan kusuruh punggawa pakuwuan untuk menangkap dan membunuhmu yang telah berbuat tidak tahu tata krama di hadapan Yang Dipertuan Caruban. Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah putera bungsu Prabu Surawisesa, Ratu Sanghiang? Tidak tahukah engkau bahwa saudara tuaku, Prabu Ratu Dewata, Ratu Aji di Pakuan, adalah maharaja di Pajajaran?”

“Saya akan sukacita jika Pamanda membunuhku sekarang,” tantang San Ali dengan mata berkilat-kilat.

“Ketahuilah, o San Ali,” tukas Rsi Bungsu menahan amarah, “sebagai seorang paman, aku akan memaafkan perilaku burukmu yang melanggar tata krama itu. Aku tidak akan memerintahkan punggawa untuk menangkap dan membunuhmu. Namun, sebagai Kuwu Caruban, adik Maharaja Pajajaran, perbuatanmu itu wajib dihukum agar tidak ditiru oleh kerabat pakuwuan dan kawula alit yang lain.”

“Pamanda akan memenjarakan saya?” tanya San Ali mengernyitkan dahi.

“Hal itu tidak akan terjadi,” kata Rsi Bungsu datar, “sebab jika engkau dijatuhi hukuman penjara maka orang-orang akan membenarkan tuduhanmu yang keji itu. Untuk kesalahanmu itu, o San Ali, aku selaku Kuwu Caruban yang mewakili Maharaja Pajajaran, menyatakan bahwa sejak saat ini engkau telah dianggap bukan lagi bagian dari keluarga pakuwuan, apalagi keturunan Ramanda Prabu Surawisesa. San Ali tidak berhak lagi menyandang gelar kebangsawanan. San Ali sudah menjadi kawula alit dari kaum sudra papa yang tidak memiliki martabat dan derajat apa pun di bumi Pajajaran ini.”

Mendengar keputusan Rsi Bungsu, San Ali berdiri dengan gagah dan tertawa lepas seolah tidak terpengaruh sedikit pun dengan keputusan pamannya. “Sekalipun kini saya telah menjadi kawula alit, di dalam darah saya tetap mengalir darah yang sama dengan darah Ki Danusela, Kuwu Caruban, yang mengalirkan darah raja-raja Majapahit. Darah saya sama dengan darah ibundaku, Nyi Ratu Inten Dewi, darah Pajajaran yang juga mengalir di darahmu, Paman. Karena itu, o Pamanda Bungsu, sekalipun kini engkau tidak mau mengakui aku sebagai kemenakanmu, aku tetap menganggapmu sebagai pamanku karena di dalam tubuh kita mengalir darah yang sama. Dan ketahuilah, o Pamanda, bahwa dengan kekuasaanmu sekarang, engkau dapat mengangkat seratus ekor kera dengan gelar-gelar kebangsawanan. Namun, apa pun gelar yang engkau berikan, mereka tetaplah hewan karena darah, daging, dan tulang mereka adalah hewan.”

“Ketahuilah, o Pamanda tercinta,” lanjutnya, “kehadiran saya di pakuwuan ini sebenarnya hanya ingin memohon doa restu dari ayahanda dan ibunda karena saya akan mengemban tugas dari guru agung untuk menjalankan dharma kehidupan saya. Sedikit pun saya tidak pernah berpikir tentang kekuasaan duniawi apalagi jabatan kuwu di Caruban ini. Karena itu, o Pamanda, engkau tidak perlu khawatir jikalau saya akan menggalang kekuatan untuk merebut kekuasaan dari tanganmu.”

Ucapa San Ali benar-benar menusuk perasaan Rsi Bungsu. Itu sebabnya, dengan suara penuh amarah dia menyerang dengan kata-kata menyakitkan, “Ketahuilah, o San Ali, bahwa sejatinya engkau tidak memiliki hak untuk berbicara tentang darah Majapahit yang mengalir di tubuh Kakanda Danusela apalagi darah Pajajaran dari Kakanda Nyi Ratu Inten Dewi. Ketahuilah, o Anak, bahwa engkau bukanlah keturunan mereka. Karena, orang yang menjadi ayahandamu adalah orang asing keturunan Melayu-Jambudwipa yang bernama Syaikh Datuk Sholeh yang mati diganyang pageblug. Begitu juga orang yang menjadi ibunda kandungmu. Jadi, San Ali, tidak ada darah Majapahit apalagi darah Pajajaran di tubuhmu. Cukup adil jika aku melarangmu menggunakan gelar kebangsawanan karena sejatinya engkau memang bukan berasal dari kalangan yang demikian.”

San Ali merasakan kepalanya bagai disambar petir. Ia tercengang mendengar uraian Rsi Bungsu. Ia benar-benar kebingungan. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas dingin. Benarkah ia bukan anak kandung Ki Danusela? Kenapa selama ini tidak ada yang membicarakan persoalan itu? Benarkah ayahandanya orang asing keturunan Melayu-Jambudwipa bernama Datuk Sholeh? Benarkah ayahanda dan ibunda kandungnya telah meninggal terkena pageblug? Kenapa guru agung tidak pernah menceritakan hal itu?

Dengan benak digumpali tanda tanya berjejal-jejal dan hati penasaran, San Ali dengan langkah limbung meninggalkan pendapa pakuwuan. Seluruh kebanggaannya sebagai putera Kuwu Caruban hancur binasa. Ia merasakan bumi tempatnya berpijak terhempas ke bawah. Ia tidak memiliki apa-apa lagi: kehormatan hidup, kebanggaan darah biru, orang tua kandung, dan bahkan orang tua angkat yang mencintainya. San Ali benar-benar merasakan ‘aku’-nya terasing sendiri: hina dan papa!

Membaca Sejarah Tanpa Kepentingan

Oleh KH. A. Mustofa Bisri

Orang yang dengan cerdas membaca sejarah kehidupan manusia – termasuk dan khususnya yang berkaitan dengan keimanan – akan menjumpai banyak kekacauan bahkan tragedi ketika nafsu dan urusan kekuasaan (kekuasaan apa saja) memimpin pihak-pihak berkepentingan.

Kekacauan itu tidak hanya pada kehidupan lahir, tapi juga pada kebeningan dan penalaran. Dalam sejarah umat Islam sendiri, kita dapat melihat banyak perilaku tak Islam pada orang-orang Islam. Perilaku ini akibat kekacauan berpikir tercampur dengan semangat keberagaman yang tidak ditunjang oleh pendalaman pemahaman, plus kebodohan menyadari garis batas yang memang tipis antara ghirah (semangat) keagamaan dan nafsu tersembunyi. Tengoklah kekacauan yang terjadi sejak zaman sahabat Usman bin Affan hingga sekarang, baik yang jelas asal-usul persoalannya hingga yang samar.

Seandainya kekuasaan tidak ikut campur bahkan memimpin kehidupan sampai pada persoalan keimanan umat sedemikian rupa, saya rasa – secara lahiriah – wujud kehidupan kaum beragama tidak seperti sekarang ini. Tengoklah “sakti”-nya kekuasaan dalam menggiring kehidupan umat selama ini. Setiap penguasa selalu membawa dan mendakwah “akidah”-nya dengan pemaksaan yang memang dimungkinkan oleh kekuasaannya. Jangan coba-coba berbeda “akidah” dengan pihak yang berkuasa. Ingat, soal wacana qadim-hadits Al-Qur’an saja telah membawa korban, gara-gara kebenaran hanya milik penguasa. Sabda Pandita Ratu!

Kekacauan yang terjadi di tanah air pun banyak diopinikan sebagai berkaitan dengan soal agama, namun keyakinan saya bergeming: itu hanya buntut persoalan. Persoalan sejatinya ialah ulah pihak berkepentingan (politik/kekuasaan) yang bisanya cuma mengajak Tuhan untuk mendukung kepentingannya, namun tidak ditunjang oleh kemampuan sendiri. Dikiranya Tuhan adalah “pandai besi” yang sewaktu-waktu bisa mereka minta buatkan pedang untuk melawan hamba-hamba-Nya sendiri. Masya Allah.

Demikianlah, karena kekacauan itu, melihat manusia secara utuh sebagaimana adanya menjadi barang luks. Apalagi bila manusia itu merupakan pihak yang kalah oleh kekuasaan. Seberapa banyak orang yang mengetahui sirah, riwayat lengkap kehidupan al-Hallaj, misalnya? Bahkan kisah tokoh kita sendiri, Syaikh Abdul Jalil atau Syaikh Siti Jenar, banyak di antara kita hanya tahu bahwa wali songo tinari itu telah dihukum mati – sebagaimana al-Hallaj karena ajarannya dianggap menyimpang. Bagaimana kira-kira wajah sejarah seandainya yang dekat dengan pusat kekuasaan saat itu justru Syaikh Siti Jenar? Apa yang bakal terjadi jika “akidah” penguasa sama dengan Syaikh Siti Jenar?

Buku-buku yang ditulis belakangan tentang “tokoh kontroversial” itu umumnya sekadar menjelaskan sebab musabab kenapa beliau dihukum. Orang hampir tak pernah disuguhi riwayat pribadinya sebagai manusia beriman. Untunglah ada Saudara Agus Sunyoto yang menyusun buku tentang tokoh legendaris itu dengan maraji’ (referensi) yang lain sehingga kita bisa membaca riwayat hidupnya yang hanya kita kenal sebagai ‘pesakitan’ saja.

Maka, selamat menikmati.

03. Meninggalkan Orang-Orang Tercinta

Di bawah cahaya rembulan yang bersinar separo ditutupi gumpalan awan di langit yang menghampar di angkasa pantai Muara Jati, di utara Caruban, San Ali berjalan di antara rimbunan hutan. Tak jauh di belakangnya – dalam jarak sekitar lima puluh tombak – sekitar seratus orang dengan senjata tombak, pedang, kelewang, dan kujang bergerak membayanginya. Mereka bagai kawanan serigala mengintai mangsa.

Ketika ia berada di dekat rimbunan bakau, tiba-tiba salah seorang dari gerombolan yang mengikuti itu melompat keluar sambil menghardik, “Berhentilah kau, e Ki Sanak! Berani benar kau melewati daerah kekuasaanku? Apa kau belum kenal siapa aku?”

San Ali yang sejak semula merasakan langkahnya diikuti sekumpulan orang segera menyergah dengan tegas, “Aku tahu siapa kalian! Bukankah kalian prajurit Pakuwuan Caruban yang diperintahkan Pamanda Rsi Bungsu untuk membunuhku?”

“Lancang sekali mulutmu, Ki Sanak!”

“Sudahlah Ki Sanak, tidak usah bersandiwara di depanku,” ujar San Ali tenang, “Sebagai putera ibunda Nyi Ratu Inten Dewi dan cucu Prabu Surawisesa, Ratu Aji di Pakuan, aku tahu persis watak dari Pamanda Rsi Bungsu yang licik.”

Mendengar bahwa San Ali adalah putera Nyi Ratu Inten Dewi, istri Ki Danusela, mantan junjungannya, orang itu tercengang kebingungan. Dia seperti baru sadar bahwa pemuda di depannya itu adalah San Ali. Namun, sebelum sempat dia berpikir lebih lanjut, tiba-tiba terdengar hiruk pikuk dari sekeliling hutan bakau yang diikuti oleh menghamburnya orang-orang bersenjata yang dengan beringas dan berteriak-teriak menyerbu San Ali.

“Bunuh!”

“Cincang!”

“Habisi!”

Bagaikan kawanan serigala menyerang seekor domba, begitulah gerombolan bersenjata itu menyerbu dengan beringas. Namun, sebagai santri yang bertahun-tahun dilatih pencak silat dan berbagai ilmu kanuragan, San Ali tidak gentar menghadapi serangan itu. Ia dengan tenang menyapukan pandangan ke arah utara, ke rerimbunan hutan bakau. Dengan gerakan seolah melarikan diri dari lawan, ia melompat dan lari dengan cepat meninggalkan orang-orang yang memburunya.

Dengan berlari cepat, San Ali telah membagi kekuatan lawan sedemikian rupa. Hanya mereka yang kuat tenaga dan cepat larinya yang bisa mendekatinya. Siasat San Ali ini mengena. Para pemburu beriringan mengejarnya. Ketika ada yang berhasil mendekat, serta merta ia memperlambat laju larinya. Dan saat jarak mereka tinggal satu tombak, tiba-tiba ia berbalik sambil menyabetkan kakinya ke bawah dengan gerakan setengah lingkaran.

Desh!

Blukk!

Sabetan kaki San Ali dengan telak menghantam kaki lawan. Dan tanpa ampun lagi, lawan yang terserimpung kakinya itu tumbang ke atas tanah. San Ali cepat bergerak lagi menjauh. Pada saat berurutan, para pemburu yang berlari cepat di belakang tak sempat menghentikan langkah saat mengetahui kawan di depannya tersungkur mendadak. Dan peristiwa menakjubkan pun terjadi, orang-orang yang berlomba memburu San Ali bergantian jatuh karena tersandung tubuh kawannya yang tersungkur lebih dulu. Disertai sumpah serapah, mereka yang bertumpang tindih itu memaki-maki San Ali dengan penuh amarah. Namun, sebelum mereka dapat berbuat sesuatu tiba-tiba San Ali melompat ke arah mereka. Kemudian dengan pukulan dan tendangan yang mantap, satu demi satu para pemburu yang bergelimpangan itu dihajarnya.

Gerak cepat San Ali dalam melumpuhkan lawan itu tidak berlangsung lama, sebab para pemburu lain sudah dekat jaraknya. Dengan gerakan secepat kijang ia melompat dan mengambil langkah seribu meninggalkan lawan-lawan yang terus mengejarnya. Tadinya ia sempat meragukan kemampuannya untuk mengalahkan lawan yang jumlahnya sekitar seratus orang. Namun, dengan keyakinan bahwa Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, ia terus berusaha melumpuhkan lawan dengan cara mengajaknya lari berputar-putar di sekitar pepohonan bakau. Lawan yang jaraknya dekat langsung dihantam dan ditinggal lagi, begitu seterusnya.

Taktik lari dan pukul itu membuat tenaganya terkuras. Sementara lawan-lawannya meski kelihatan letih dan babak-belur, jumlah mereka tak berkurang. Bahkan seperti tak ada habis-habisnya. Saat San Ali benar-benar kewalahan menghadapi serangan lawan, sambil mengamuk dengan gerakan-gerakan yang mulai kurang terarah, ia mengeluh dan memasrahkan hidupnya kepada ‘Aku’ semesta yang diyakini sebagai asal ‘aku’ pribadinya. “Ya, Allah, jika Engkau menghendaki ‘aku’ kembali kepada-Mu sekarang, kupasrahkan ‘aku’-ku untuk kembali kepada ‘Aku’-Mu.”

Mendadak terdengar pekikan takbir yang diteriakkan puluhan orang. Di antara pekikan itu terdengar dentam kaki kuda menghentak-hentak bumi yang diselingi jerit kesakitan dan pekik kematian di sana sini.

San Ali tercengang. Ia seperti bermimpi ketika menyaksikan puluhan orang berpakaian serba putih dengan menunggang kuda menyabetkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Dalam tempo singkat, ia melihat puluhan mayat bertumpuk-tumpuk di sekitarnya. Bahkan sekumpulan orang yang sedang mengepung dirinya tiba-tiba berhenti bergerak dan mendongak ke atas dengan wajah pucat. Kemudian bagaikan dikomando, para pengeroyok itu berhamburan ke arah utara menyelamatkan diri. Setelah suasana terkendali barulah San Ali mengetahui bahwa di antara para penunggang kuda itu terdapat ayahanda asuhnya, Ki Samadullah.

Rupanya, sejak berita kematian Ki Danusela sampai ke pakuwuan, Ki Samadullah menangkap gelagat kurang beres dari perilaku Rsi Bungsu. Itu sebabnya, dengan dalih menyusul Ki Danusela ke hutan Kawali, diam-diam dia membawa sekitar tiga puluh prajurit berkuda Pakuwuan Caruban. Alih-alih ke hutan Kawali, sebenarnya Ki Samadullah bersembunyi di kawasan gunung Sembung tak jauh dari Padepokan Giri Amparan Jati. Dari sanalah, dia memantau perkembangan pakuwuan yang sudah dikuasai oleh Rsi Bungsu.

Dari tempat persembunyiannya, Ki Samadullah mengirim utusan ke Kadipaten Demak untuk melaporkan kepada Adipati Demak, Arya Sumangsang, tentang nasib saudara tirinya, Ki Danusela. Arya Sumangsang, kelak menjadi penguasa Demak dengan gelar Abdul Fatah Surya Alam Sayidin Panatagama, kemudian mengirim adik tirinya seibu yang bernama Raden Kusen dengan membawa sekitar dua ratus orang prajurit Demak ke Caruban. Raden Kusen yang ibundanya seorang Cina muslim itu dengan mudah menyusup ke pelabuhan Muara Jati melalui jasa saudagar-saudagar Cina. Bahkan tanpa menemui kesulitan, ia dan pasukannya berhasil masuk hingga ke gunung Sembung.

Malam itu, di bawah bayangan rembulan yang bersinar separo, San Ali melihat Ki Samadullah menunggang kuda coklat. Di sampingnya, seorang lelaki berwibawa duduk di atas punggung kuda hitam perkasa. Kilatan matanya tajam, menyiratkan kecerdasan, keberanian, dan keteguhan jiwa. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun, sedikit lebih tua dari San Ali, namun ia kelihatan matang.

Begitu melihat anak asuh kesayangannya selamat tak kurang suatu apa, Ki Samadullah segera melompat turun dari kuda. Dengan mata berkaca-kaca diliputi keharuan, dia langsung mendekati San Ali dan mendekapnya erat-erat.

“Alhamdulillah,” desah Ki Samadullah dengan air mata bercucuran, “engkau tak kurang suatu apa pun, Anakku. Aku yakin sekali Gusti Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang dikasihi-Nya celaka.”

“Pamanda Samadullah,” San Ali menarik napas berat, “ke mana saja Paman selama ini? Aku mencari-carimu di pakuwuan, namun tak ada yang tahu.”

“Aku sengaja bersembunyi di gunung Sembung, Anakku. Sebab, aku mendapat firasat tidak baik berkenaan dengan pamanmu Rsi Bungsu, segera setelah kuperoleh berita bahwa ayahandamu meninggal akibat diserang harimau di hutan Kawali. Karena itu, tanpa sepengetahuan Rsi Bungsu, aku membawa tiga puluh prajurit keluar pakuwuan untuk bersembunyi, dengan harapan rentangan waktu akan membongkar kebusukan Rsi Bungsu.

“Dan sekarang Paman yakin bahwa Pamanda Rsi Bungsulah yang merancangnya semua bencana yang menimpa Pakuwuan Caruban ini?”

“Kenyataan menunjukkan demikian,” sahut Ki Samadullah geram. “Lantaran itu, aku segera mengirim kurir ke Kadipaten Demak untuk melaporkan kejadian di pakuwuan kepada sang Adipati, yang tak lain adalah saudara ayahandamu. Beliau kemudian mengirim adiknya, Raden Kusen, untuk membalas kematian ayahandamu dan menghukum Rsi Bungsu.”

“Jadi?”

“Beliau inilah Raden Kusen, saudara ayahandamu,” kata Ki Samadullah menunjuk ke penunggang kuda hitam, ke arah lelaki yang penuh wibawa itu.

“Salam takzim, Pamanda,” kata San Ali menyalami dan mencium tangan lelaki itu.

“Engkaukah San Ali, putera Rakanda Danusela?” tanya Raden Kusen.

“Benar, Paman.”

Raden Kusen menatap mata San Ali seolah hendak mengukur kekuatan jiwa putera dari saudara tirinya itu. Seperti mengukur benda, ia menyapukan pandangannya ke San Ali dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Dan sejenak sesudah itu ia menepuk-nepuk bahu San Ali sambil berkata, “sebagai bahan dasar, mutumu sangat unggul, o Putera saudaraku. Tetapi untuk menjadi pusaka dahsyat, engkau masih perlu ditempa lebih keras lagi.”

“Terima kasih, Paman,” kata San Ali penuh hormat.

Raden Kusen membisikkan sesuatu ke telinga Ki Samadullah. Sesaat kemudian, Ki Samadullah mengajak San Ali meninggalkan lokasi.

“Pamanda,” sergah San Ali, “tahukah Paman akan nasib ibundaku?”

“O Anakku, tambatan kesayanganku,” kata Ki Samadullah sambil mengelus-elus rambut San Ali. “Sungguh malang nasibmu. Ibundamu hanya sempat tinggal sekitar sepekan bersama kami di gunung Sembung. Dia pergi begitu saja tanpa pamit. Ibundamu, Nyi Kuwu, hanya sempat mengatakan kepada istriku bahwa dia akan mencari ke mana pun ayahandamu berada, meski nantinya yang ditemukan hanya tulang berbalut tanah. Sekitar sepekan setelah kepergiannya, salah seorang prajuritku menemukan ibundamu sakit keras di pinggiran hutan Kawali.

Prajurit itu kemudian membawa ibundamu ke gunung Sembung. Rupanya perjalanan siang dan malam tanpa kenal hujan dan angin membuat ibundamu kehabisan tenaga. Setelah tinggal selama tiga hari, ibundamu meninggal dan kami kebumikan di sana.”

“Jadi, ibunda saya meninggal di gunung Sembung? Kenapa Paman tidak memberi tahu?” tanya San Ali penasaran.

“Sejak awal peristiwa, ibundamu melarang kami memberitahumu,” kata Ki Samadullah menghela napas berat. “Kami semua tidak tahu alasan apa yang membuat Nyi Kuwu melarang kami. Kami hanya tahu bahwa beliau adalah puteri Prabu Surawisesa, Ratu Aji di Pakuan, yang segala perintahnya harus dipatuhi.”

“Astaghfirullah!” desah San Ali lirih. Tanpa terasa dari kelopak matanya mengalir air bening. Terbayang di lipatan kenangannya tentang belaian kasih yang telah ia dapatkan dari ibundanya itu. Betapa sabar dan penuh kasih ibundanya itu sehingga belum pernah San Ali menyaksikannya marah atau bermasam muka. Bahkan andaikata benar pernyataan Rsi Bungsu bahwa wanita itu bukan ibunda kandungnya, tetaplah San Ali mencintai dan menghormatinya sepenuh jiwa karena sejak kecil yang ia kenal sebagai ibunda hanyala Nyi Kuwu, Ratu Inten Dewi.

Melihat anak asuh yang dikasihinya tenggelam dalam kesedihan, Ki Samadullah merasakan hatinya pedih bagai mengalirkan darah. Selama ini, setiap dia mengunjungi San Ali, senantiasa yang dijumpainya adalah senyum dan tawa bahagia. Ketika mendampingi berkeliling desa dan keluar masuk hutan pun, dia senantiasa mendapati keceriaan mengitari kehidupan anak asuhnya itu. Kini, baru beberapa hari meninggalkan padepokan, anak itu telah terseret ke dalam lingkaran nasib memilukan sebagaimana pernah diramalkan Syaikh Datuk Kahfi.

Suasana hening melingkupi tlatah Muara Jati. San Ali diam. Ki Samadullah diam. Raden Kusen diam. Semua diam. Hanya angin dingin bertiup menebarkan bau anyir darah yang mulai mengering di tanah. Dan setelah lama suasana hening itu berlangsung, Raden Kusen dengan suara penuh wibawa berkata, “Sekaranglah waktu yang paling tepat untuk menjatuhkan hukuman bagi Rsi Bungsu. Bagaimana, Ki Samadullah, apakah orang-orangmu sudah siaga?”

“Patik, Yang Mulia,” kata Ki Samadullah, “sejak sore tadi, sekitar seratus orang santri dari Padepokan Giri Amparan Jati bersenjata lengkap telah patik siagakan di sekitar pakuwuan. Sekitar seratus orang pengikut Ki Gedeng Babadan juga sudah bersiaga. Dan sekitar tiga ratus orang pengikut patik dari Tegal Alang-Alang pun sudah mengitari pakuwuan sejak sore tadi.”

“Bagus,” kata Raden Kusen mantap. “Bagaimana dengan berita kehadiran pasukan Pajajaran yang akan mendukung kekuasaan Rsi Bungsu?”

“Patik, Yang Mulia,” kata Ki Samadullah. “Berita dari telik sandhi yang patik kirim menyatakan bahwa Rsi Bungsu memang meminta bantuan ke Pakuan. Patik dengar Maharaja Pakuan, Prabu Ratu Dewata, mengirimkan seribu prajurit di bawah pimpinan perwira bernama Terong Peot.”

“Berarti, kita harus secepatnya menyerang pakuwuan sebelum bala bantuan itu datang. Kalau sampai pasukan dari Pakuan datang, engkau bisa membayangkan bagaimana nasib Pakuwuan Caruban ini. Berita yang kuperoleh dari pedagang-pedagang Cina yang berniaga di pelabuhan Kalapa mengatakan Rsi Bungsu sengaja membuat laporan palsu bahwa kematian Kuwu Caruban akibat dibunuh oleh orang-orang Islam atas suruhan Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi. Rsi Bungsu memutar balik kenyataan. Dia menyebarkan berita bahwa kematian Kuwu Caruban dilatari maksud jahat orang-orang Islam yang ingin merebut kekuasaan dari orang-orang Pajajaran yang beragama Hindu-Budha,” Raden Kusen memberi penjelasan.

“Sejahat itukah laporan Pamanda Bungsu kepada Uwak Prabu Ratu Dewata?” San Ali menyergah bagai tak percaya.

“Anakku, San Ali,” kata Ki Samadullah sambil menepuk-nepuk bahu San Ali, “engkau belum mengetahui pahit dan getirnya kehidupan dunia. Engkau juga belum mengenal asinnya garam dan masamnya asam kekuasaan dunia. Tetapi jika engkau ingin tahu, demikianlah perilaku orang-orang yang mabuk kekuasaan.”

“Ya Allah, tujuan utama hidupku,” desah San Ali seolah kepada dirinya sendiri, “jauhkanlah hamba dari kejahatan nista seperti itu. Jangan Engkau palingkan hasrat hatiku kepada selain Engkau!”

“Semoga doa dan harapanmu terkabul, o Anakku,” kata Ki Samadullah menarik napas dalam-dalam. “Sungguh mulia tujuan hidup yang hendak engkau raih. Semoga engkau menjadi salah satu dari ‘san ali’ yang bisa menjadi pengobat bagi mereka yang menderita, sebagaimana harapan ayahanda dan ibundamu.”

“Jika demikian, Paman,” sergah San Ali cepat, “marilah kita berangkat sekarang juga ke pakuwuan.”

Malam berkabut menerkam bumi Caruban ketika barisan berkuda yang dipimpin Raden Kusen menerobos keheningan menuju ke pakuwuan yang sudah dikepung oleh sekitar seratus delapan puluh prajurit Demak, seratus santri Giri Amparan Jati, seratus pengikut Ki Gedeng Babadan, dan tiga ratus pengikut Ki Samadullah dari Tegal Alang-Alang. Tak sedikit pun suara keluar dari rombongan berkuda itu, kecuali detak-detak ladam yang menghantam tanah berbatu. Gerakan pasukan yang dipimpin Raden Kusen benar-benar seperti siluman: tanpa suara, tetapi langsung menembus ke kediaman musuh.

Ketika barisan berkuda berjarak sekitar tiga pal dari pakuwuan, tiba-tiba Raden Kusen mengangkat tangan. Seperti digerakkan oleh satu komando, seluruh pasukan berkuda berhenti serentak. Sejenak kemudian, kuda hitam yang ditunggangi Raden Kusen melangkah beberapa depa ke depan. Ia menepuk-nepukkan tangan tiga kali.

Tepukan Raden Kusen itu ternyata isyarat. Ini terlihat dari munculnya pasukan berkuda Demak secara serentak dari kanan dan kiri jalan. Rupanya pasukan itu sengaja ditempatkan di sekitar pakuwuan untuk sewaktu-waktu melakukan serangan mendadak jika dibutuhkan. Tanpa menimbulkan suara berarti, pasukan berkuda itu mengatur formasi dalam barisan-barisan berjajar tiga-tiga.

Beberapa jenak menunggu pasukannya merapikan barisan, Raden Kusen kemudian menepuk tangan lagi dua kali. Kali ini rupanya ia memerintahkan seorang prajurit untuk menyampaikan perintah menyerang kepada kepala-kepala kelompok yang sedang mengepung pakuwuan. Setelah menghormat, prajurit itu dengan gerak lincah berlari menembus kegelapan malam.

Raden Kusen kemudian melambaikan tangan, meminta Ki Samadullah yang berada di belakangnya mendekat. Dengan suara tenang ia berkata perlahan, “Ini pelajaran penting yang wajib dialami calon pemimpin, Ki.”

“Patik, Yang Mulia,” sahut Ki Samadullah takzim.

“Maksudku, segera setelah kita menguasai pakuwuan, kita akan bergerak cepat ke Muara Jati lagi,” kata Raden Kusen datar.

“Ke Muara Jati lagi, Yang Mulia?” gumam Ki Samadullah heran.

“Inilah yang kumaksud pelajaran penting, Ki,” kata Raden Kusen. “Sebab, sore tadi telah kuperoleh berita dari saudagar-saudagar Cina bahwa perahu-perahu dari gelombang pertama yang memuat lima ratus prajurit Pajajaran telah terlihat di timur muara sungai Cimanuk ke arah Dermayu. Sedang perahu-perahu gelombang kedua sore tadi baru memasuki perairan Karawang. Jadi, bisa dipastikan kalau perahu-perahu dari gelombang pertama malam ini sudah masuk ke perairan Caruban. Aku memperkirakan mereka akan mendarat paling lambat subuh nanti. Berarti, saat pagi datang mereka sudah siap bergerak menyerang ke pakuwuan.”

“Tapi. Yang Mulia,” Kata Ki Samadullah, “bukankah jumlah mereka yang datang malam ini hanya lima ratus? Bukankah jumlah pasukan Yang Mulia lebih banyak?

“Ketahuilah, Ki, bahwa jumlah lima ratus pasukan Pajajaran itu sangat berarti besar bagi sebuah pertempuran. Sebab, jumlah lima ratus itu adalah prajurit terlatih. Sedang jumlah tujuh ratus yang kita miliki, hanya dua ratus orang dari Demak yang benar-benar terlatih. Sisanya adalah orang-orang yang hanya memiliki keterampilan pencak silat seadanya, termasuk para santri dari Giri Amparan Jati. Jadi, Ki, dalam sebuah peperangan jangan sekali-kali menilai lawan hanya dari segi jumlah. Ini pelajaran penting.”

“Patik paham, Yang Mulia.”

Hening malam tiba-tiba dipecahkan oleh pekikan dan jeritan serta gemerincing senjata beradu di kejauhan. Pertempuran tampaknya sedang berlangsung di pakuwuan. San Ali dan para prajurit penunggang kuda tampak gelisah menunggu perintah dari Raden Kusen untuk menyerang ke pakuwuan. Namun, Raden Kusen kelihatan tenang dan bergeming mendengar hiruk-pikuk pertempuran di kejauhan.

Dicekam kegelisahan dan bayang-bayang serunya pertempuran, San Ali tak tahan lagi. Ia membayangkan bagaimana nasib kawan-kawannya, para santri, ketika menghadapi prajurit-prajurit pakuwuan yang terlatih. Ia membayangkan betapa korban akan berjatuhan di pihak penyerbu. Setelah beberapa jenak dicekam kegelisahan, ia mendekati Raden Kusen dan bertanya, “Kenapa kita tidak membantu yang bertempur di sana, Paman?”

“Kita belum dapat laporan dari medan laga,” sahut Raden Kusen singkat.

“Laporan dari medan laga?” San Ali heran.

“Lihat obor itu!” Raden Kusen menunjuk nyala obor yang diayun-ayun di kejauhan. “Itu laporan dari prajurit tadi bahwa pertempuran sedang berjalan imbang. Karena itu, sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk menyerang agar lawan terkejut.”

“Saya paham, Paman,” San Ali berdecak kagum.

“Agar lawan mengira jumlah kita banyak maka setiap prajurit akan menyalakan dua obor. Kita akan menyerbu dari kegelapan dengan suara hiruk-pikuk dan obor yang digoyang-goyang,” kata Raden Kusen.

Raden Kusen mengangkat tangan kanan. Obor-obor secara berurutan menyala. Dalam waktu singkat keadaan sekitar menjadi terang benderang. Raden Kusen mendadak meneriakkan takbir dengan suara menggelegar bagai guntur. Sedeti sesudah itu ia memacu kudanya. Para prajurit di belakangnya buru-buru mengikuti. Bagaikan naga bertubuh api yang merayap di kegelapan malam, begitulah pasukan berkuda yang membawa obor itu bergerak ke pakuwuan.

Ketika jarak pasukan berkuda yang dipimpin Raden Kusen dengan pakuwuan tinggal satu pal, serta merta mereka berteriak-teriak mengumandangkan takbir ganti-berganti dan sahut-menyahut. Kemudian, bagaikan luapan air bah, pasukan berkuda itu menerjang ke arah gerbang pakuwuan, tempat para penyerbu dan prajurit pakuwuan sedang bertempur.

Kegentaran segera meluas di kalangan prajurit pakuwuan ketika mereka menyaksikan beratus-ratus cahaya obor berayun di kejauhan. Kegentaran makin memuncak manakala terdengar pekikan takbir yang makin mendekati gerbang. Dan puncak dari kegentaran itu berubah menjadi kepanikan manakala mereka menyaksikan bahwa para pembawa obor itu adalah pasukan berkuda yang dipastikan merupakan bagian dari kekuatan para penyerbu. Demikianlah, tanpa dapat dikendalikan lagi, prajurit pakuwuan berhamburan melarikan diri begitu mendengar detak-detak ladam menggeba bumi. Dan kepanikan pun makin tak terkendali ketika tubuh para prajurit pakuwuan bertumbangan ke atas bumi bagaikan rumput dibabat parang.

Barisan berkuda yang datang bagaikan air bah itu terus maju tak mempedulikan apa pun. Barang siapa menghalangi akan diinjak. Para penyerbu gabungan dari Padepokan Giri Amparan Jati, Kuwu Babadan, dan Tegal Alang-Alang yang melihat kedatangan bala bantuan segera menyibak memberi jalan. Dan pasukan berkuda pimpinan Raden Kusen itu dengan leluasa menerobos ke dalam pakuwuan. Dengan cambuk ekor ikan pari, pedang, tombak, dan panah, mereka membinasakan prajurit pakuwuan.

Dalam waktu singkat, pertahanan Pakuwuan Caruban bobol. Para prajurit pakuwuan yang bertempur tanpa komando pemimpin itu porak-poranda. Seraya berteriak-teriak kebingungan mereka berhamburan ke segala arah menyelamatkan diri. Sementara, sebagian yang lain berusaha menyelamatkan junjungannya, Kuwu baru, Rsi Bungsu dan keluarganya, keluar dari pakuwuan. Meski dengan susah payah, akhirnya Rsi Bungsu berhasil lolos dari kepungan musuh. Dan malam itu, Rsi Bungsu beserta keluarga dan sedikit prajurit menerobos kegelapan melewati lereng gunung Ciremai menuju ke Kadipaten Galuh.

Setelah sisa terakhir kekuatan Rsi Bungsu terhalau, di bawah temaram cahaya rembulan dan di tengah gumpalan kabut, Raden Kusen duduk gagah di atas kuda hitam, didampingi Ki Samadullah dan San Ali. Para penyerbu dari Demak, Padepokan Giri Amparan Jati, Kuwu Babadan, dan Tegal Alang-Alang berkerumun mengitari pemimpin mereka. Sementara di luar tembok pakuwuan, sebagian barisan berkuda bersiaga menunggu perintah lanjutan. Butir-butir jelaga dari obor terlihat menodai wajah prajurit berkuda, namun mereka bagai tak peduli. Putaran roda waktu telah membuat mereka berdiam diri dalam ketegangan.

Raden Kusen, lelaki gagah dengan kulit putih kemerahan dan mata agak sipit tetapi setajam rajawali itu, begitu menakjubkan dan memukau mereka yang berada di sekelilingnya. Putera Adipati Palembang, Ario Damar, itu begitu tenang menghadapi berbagai persoalan. Bahkan menghadapi kemenangan gemilang seperti sekarang ini pun, ia mampu mengendalikan kegembiraan.

Dengan suara penuh wibawa Raden Kusen berkata dengan nada mengingatkan, “Kita belum sepenuhnya meraih kemenangan karena malam ini pasukan gelombang pertama dari Pajajaran akan mendarat di Muara Jati. Jika mereka kita biarkan maka esok pagi Pakuwuan Caruban akan jatuh ke tangan mereka. Dan kita semua tahu apa tindakan pasukan Pajajaran terhadap mereka yang dianggap memberontak?”

Suara-suara segera menggema. Raden Kusen dengan tenang mengamati reaksi ucapannya terhadap orang-orang itu, terutama terhadap Ki Samadullah dan San Ali. Dan tak lama kemudian, hiruk-pikuk itu makin gaduh, tetapi secara pasti menunjuk pada maksud yang sama: bahwa malam itu juga mereka semua harus ke Muara Jati untuk menghadang pasukan Pajajaran. Daripada dibunuh lebih baik membunuh. Dan pekikan takbir pun mengumandang sahut-menyahut sebagai tanda kebulatan tekad mereka untuk menyambut kedatangan lawan.

Malam itu, setelah menyisakan sekitar lima puluh orang untuk menjaga pakuwuan, Raden Kusen didampingi Ki Samadullah dan San Ali menuju Muara Jati, diikuti barisan berkuda, para santri padepokan, pengikut Ki Gedeng Babadan, dan pengikut Ki Samadullah dari Tegal Alang-Alang. Rombongan bergerak cepat, menembus kabut malam yang mulai menutupi permukaan bumi Caruban.

Perhitungan Raden Kusen bahwa perahu-perahu pasukan Pajajaran gelombang pertama akan mendarat menjelang subuh ternyata terbukti. Ketika barisan yang dipimpinnya sampai di Muara Jati, di keremangan laut sudah terlihat beyangan hitam dari sekitar tiga puluh perahu yang bergerak diam-diam mendekati pantai.

Tanpa menunggu waktu, Raden Kusen segera bertindak cepat dengan memerintahkan pasukan panah yang berjumlah sekitar lima puluh untuk berbaris memanjang sejajar pantai. Tugas utama mereka adalah menembaki prajurit Pajajaran yang akan mendarat. Sementara lima puluh pasukan tombak desiagakan di lapis kedua, yakni di belakang pasukan panah. Sedang di lapis ketiga disiagakan pasukan pedang, cambuk, dan kujang. Barisan berkuda justru ditempatkan paling belakang.

Perahu-perahu besar yang berisi prajurit Pajajaran mendekati pantai Muara Jati. Dan seirama dengan deburan ombak yang membentur lambung perahu yang mulai menyentuh pasir, berlompatanlah para prajurit iyu ke dalam air yang setinggi lutut. Kemudian, bagai siluman mereka bergerak menepi. Mereka tidak sadar bahwa di sepanjang pantai telah menunggu para penebar maut. Rupanya Terong Peot, manggalayuddha pasukan Pajajaran itu telah memberikan kepastian bahwa prajurit-prajurit dari Pakuwuan Caruban akan menyambut mereka di Muara Jati.

Saat prajurit-prajurit Pajajaran berada dalam jarak sekitar sepuluh tombak dari pantai, tiba-tiba terdengar pekik takbir yang dikumandangkan oleh Raden Kusen. Dari atas kudanya, ia mengacungkan pedang ke arah laut. Dan bagaikan semburan air hujan, begitulah puluhan anak panah melesat dengan kecepatan kilat dari busur prajurit Demak.

Prajurit Pajajaran yang tak menduga bakal diserang mendadak, terkejut luar biasa begitu mendengar pekikan takbir. Sebagai prajurit terlatih, mereka buru-buru berbalik arah. Tetapi, kecepatan mereka di air tak segesit di darat. Itu sebabnya, sebagian di antara mereka – sekitar tiga puluh orang – yang berada pada posisi paling depan langsung bertumbangan ketika anak panah menghujam perut, dada, bahu, leher, dan bahkan mata. Dan jerit kesakitan pun mengumandang bersahut-sahutan. Sungguh sangat memilukan. Rupanya, luka akibat panah itu menjadi sangat sakit terkena asin air laut.

Ketika prajurit Pajajaran sedang panikdan berlarian di perairan Muara Jati, Raden Kusen memberikan komando lanjutan dengan pekikan takbir dan isyarat pedang. Kali ini pasukan lapis kedua berlari cepat ke arah laut. Saat jarak mereka dari pantai sekitar lima tombak, serta merta mereka melemparkan tombak ke arah prajurit Pajajaran. dan sejenak sesudah itu mereka membalikkan badan dan kembali ke posisinya semula di belakang pasukan panah.

Hujan tombak di kegelapan malam itu dalam tempo singkat menambah jumlah korban di pihak lawan. Dengan cepat tubuh sebagian mereka yang turun ke laut terlihat mengapung menjadi mayat dengan tikaman panah dan tombak. Sementara itu, prajurit-prajurit lain yang masih di atas perahu enggan turun. Dan kepanikan makin meningkat manakala dari tepi pantai terlihat beribu-ribu obor dinyalakan.

Manggalayuddha Pajajaran cepat mengambil kesimpulan bahwa pasukannya telah masuk ke dalam perangkap musuh. Untuk menghindari korban lebih besar, dia memerintahkan prajuritnya naik kembali ke atas perahu. Dan menjelang subuh itu, perahu-perahu Pajajaran kembali bertolak ke tengah laut. Meninggalkan beberapa puluh mayat yang mengapung di permukaan laut dipermainkan gelombang.

Menjelang subuh, Raden Kusen didampingi Ki Samadullah dan San Ali beserta seluruh prajurit dengan penuh kegembiraan kembali ke pakuwuan. Seyogyanya, saat tiba di pendapa pakuwuan Ki Samadullah akan langsung mengumumkan bahwa yang menjadi kuwu di Caruban adalah San Ali, putera Ki Danusela. Namun, sepanjang perjalanan San Ali yang sudah menangkap keinginan bapak asuh yang mencintainya itu dengan tegas menyatakan penolakannya. Penolakan San Ali tentu saja mengejutkan Ki Samadullah.

“Jika Pamanda menyayangi saya setulus hati, tentu Paman bisa memahami bahwa tujuan utama saya bukanlah kekuasaan duniawi. Karena itu, jika Paman memaksa saya untuk menduduki kursi Kuwu Caruban, berarti Paman telah memberikan beban yang sangat berat yang sangat mungkin tidak mampu saya pikul,” kata San Ali.

“jika engkau menolak jabatan kuwu,” kata Ki Samadullah, “lantas siapa yang akan menggantikan kedudukan ayahandamu?”

“Saya sudah menyaksikan betapa hebat Pamanda Raden Kusen mengatasi masalah sebesar ini. Karena itu, tidak salah jika saya menginginkan Pamanda Raden Kusenlah yang cocok menggantikan kedudukan Ayahanda Danusela. Saya kira, Pamanda Raden Kusen akan mendapat dukungan dari Kerajaan Galuh melalui Pamanda Samadullah. Saya yakin, Pamanda Samadullah dapat memberikan dukungan kepada beliau sebab ditinjau dari segi nasab, hubungan Paman dan kerabat Kerajaan Galuh sangat dekat.”

“Anakku,” sahut Ki Samadullah memegang bahu San Ali, “apakah dengan ini engkau akan meninggalkan aku? Apakah engkau tetap melaksanakan tekadmu berkelana mencari hakikat sejati ‘Aku’?”

“Maafkan saya, Paman,” kata San Ali menguatkan hati. “Saya sudah membulatkan tekad untuk mencari hakikat sejati ‘Aku’ sebagaimana hal itu pernah saya ungkapkan kepada guru agung. Dan sekeluar saya dari padepokan, makin kuatlah tekad saya untuk melaksanakan impian saya itu.”

“Semoga Allah senantiasa merahmati dan melindungimu, Nak.” Titik air bening mulai terlihat di sudut mata Ki Samadullah.

“Paman, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu yang telah begitu tulus mencintai manusia sebatangkara seperti saya,” San Ali berkata lirih.

“Kenapa engkau berkata begitu, Nak?”

“Saya lahir dalam keadaan yatim. Ketika bayi, saya sudah yatim piatu. Hanya berkat budi baik ayahanda dan ibunda, paman dan bibi, saya bisa menjadi seperti sekarang ini.”

“Siapa yang menceritakan hal dirimu itu, Nak?” Ki Samadullah penasaran.

“Pamanda Rsi Bungsu,” kata San Ali. “Dan beliau benar, bukan?”

Ki Samadullah menunduk. Butiran air bening jatuh dari kelopak matanya.

“Saya tahu, Pamanda, bibi, ayahanda, ibunda, dan guru agung menyimpan rahasia ini agar saya tidak sedih dan merasa sebatangkara di dunia. Tatapi, Paman, dengan terbukanya kenyataan ini makin kuatlah keinginan saya mengejar impian. Sebab, dengan menyadari kesebatangkaraan saya maka saya makin mudah melepaskan segala sesuatu selain ‘Dia’ yang saya tuju.”

Sepanjang perjalanan akhirnya Ki Samadullah tidak berkata-kata lagi. Dia tenggelam dalam kepedihan. Sungguh, jauh di dalam lubuk jiwanya ingin sekali dia mengantarkan ke mana pun San Ali pergi. Namun, keinginan aneh anak asuhnya yang tak lazim mencari hakikat sejati ‘Dia’ Yang Tak Terpikir dan Tak Terbayang – adalah kemustahilan yang sulit dipahami. Ah, betapa aneh garis kehidupan anak itu: lahir ke dunia sebagai yatim piatu dan didewasakan di lingkungan padepokan yang penuh keprihatinan, kini setelah dewasa akan mengembara dengan tujuan melepas dunia untuk menuju ke ‘aku’ yang tak tergambarkan keberadaan-Nya.

Segala pembicaraan Ki Samadullah dengan San Ali ternyata didengarkan dengan cermat oleh Raden Kusen. Itu sebabnya, ketika mereka tiba di pakuwuan, segera dibuat keputusan bahwa kekuasaan Kuwu Caruban dipercayakan kepada Ki Samadullah. Karena, selain masih keturunan Raja Galuh, dia dianggap paling berpengalaman menjadi pejabat pangraksabhumi membantu tugas-tugas Ki Danusela. Untuk mengamankan pakuwuan, dua ratus prajurit Demak tetap disiagakan untuk membentengi pakuwuan dari serangan Pajajaran atau gerakan subversif pengikut Rsi Bungsu. Bahkan Raden Kusen dengan penuh keberanian membuat keputusan bahwa Pakuwuan Caruban bukan lagi menjadi bagian wilayah Pajajaran, melainkan bagian wilayah Kadipaten Demak.

“Umumkan kepada seluruh warga pakuwuan bahwa hari ini, waktu pecat sawet (pukul 10.00), hari Soma Manis, tanggal 19, bulan Badra, tahun Saka 1392, penguasa negeri ini sudah berganti. Katakan kepada seluruh penduduk Pakuwuan Caruban bahwa Gusti mereka sekarang ini bukan lagi Prabu Ratu Dewata di Pajajaran, melainkan Adipati Demak, Arya Sumangsang, putera Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit, yakni saudara Ki Danusela.”

San Ali menghadap Syaikh Datuk Kahfi untuk berpamitan. Ini sangat penting baginya sebab selain sebagai guru agung yang menempa pribadi dan cara pikirnya, Syaikh Datuk Kahfi adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang memiliki hubungan darah dengannya. Dan lantaran hubungan darah itu, ia menjadi mafhum kenapa guru agung itu begitu memanjakan dan mengistimewakan dirinya dibanding murid-murid lain.

Di hadapan Syaikh Datuk Kahfi, yang diketahuinya sebagai adik sepupu ayahanda kandungnya, San Ali tidak mampu menyampaikan sesuatu kecuali menundukkan kepala memandangi anyaman tikar yang tergelar di bawahnya. Ia merasakan dadanya kosong. Hampa. Entah apa yang terjadi, ia hanya merasakan bahwa niatnya yang kuat untuk mengembara mencari ‘aku’ telah menimbulkan beban berat di hatinya untuk berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, terutama Syaikh Datuk Kahfi dan istrinya. Mereka selama bertahun-tahun telah mengasuh, membimbing, dan memberikan kasih sayang seperti orang tua kepada anak. Kebersatuan adalah kebahagiaan. Perpisahan adalah kepedihan.

Syaikh Datuk Kahfi kelihatan sulit untuk menyembunyikan kepedihan yang mengharu biru hatinya. Namun, sebagai seorang guru agung yang menjadi teladan bagi para muridnya, dia harus berjuang keras mengalahkan kepedihan jiwa. Memang benar, berpisah dengan orang tercinta sangat berat dan menyakitkan, namun keharusan berpisah dengan segala sesuatu selain Dia adalah tuntutan mutlak. Itu sebabnya, dengan hati berat dia menasihati sepupunya. “Pergilah engkau mengikuti tuntutan jiwamu, o Anakku terkasih, sebab hanya dia yang berjuang keras menuju Dia yang akan sampai ke Dia. Segala apa yang engkau alami selama ini adalah bagian dari perjalanan yang mesti engkau lewati. Tinggalkan segala sesuatu yang ada pada dirimu hingga tak bersisa kecuali keyakinanmu terhadap Dia.”

“Hamba akan jadikan nasihat Guru Agung sebagai azimat,” kata San Ali takzim. “Tetapi, bolehkah hamba bertanya sesuatu tentang hal hamba?”

“Bertanyalah, o Anakku.”

“Benarkah leluhur hamba berasal dari negeri Malaka?” tanya San Ali tegas.

“Sepengetahuanku memang begitu, Anakku,” jawab Syaikh Datuk Kahfi. “Tetapi barang satu abad lalu leluhur kita tidak bertempat di tanah semenanjung. Mereka datang dari negeri Gujarat. Menurut cerita ayahandaku, Syaikh Datuk Ahmad, leluhur kita adalah bangsawan dan ulama di Gujarat. Kakekku, Syaikh Datuk Isa adalah leluhur yang tinggal di Malaka. Beliau sekeluarga awalnya datang ke negeri Perlak kemudian merantau ke Semenanjung, yakni Malaka.”

“Berarti, sangat mungkin negeri Gujarat pun bukan tempat asal leluhur kita. Sebab, bukan sesuatu yang mustahil jika leluhur keluarga kita berasal dari negeri Arab, Rum, dan mungkin Maghrib,” kata San Ali menyimpulkan.

“Memang benar, Anakku,” kata Syaikh Datuk Kahfi, “sebab kalau diurut-urut, semuanya berasal dari negeri Arab di mana Bapa Adam dan Ibu Hawa pertama kali tinggal di bumi.”

“Sebelum tinggal di negeri Arab, di manakah Bapa Adam dan Ibu Hawa tinggal? Apakah di tempat bernama Jannah Darussalam?” tanya San Ali.

“Sejauh yang kupahami dari kitab-kitab memang demikian, o Anakku.”

“Jikalau begitu, o Guru Agung, hamba mohon pamit secepatnya karena hamba memiliki pandangan bahwa mencari Dia haruslah mencari rangkaian galur di mana Dia menempatkan manusia pertama ciptaan-Nya di muka bumi,” kata San Ali.

“Mudah-mudahan engkau menemukan apa yang engkau cari, Anakku,” kata Syaikh Datuk Kahfi dengan mata berkaca-kaca.

Exegese

Maharaja Rahwana – yang dalam epos Ramayana distigmakan sebagai raja kawanan raksasa – pasti tak pernah membayangkan dirinya bakal mengalami nasib buruk, seiring kekalahan yang dialaminya dalam pertempuran melawan bala tentara Kiskenda. Rahwana tampaknya tidak pernah membayangkan citra keagungan dirinya luluh lantak seiring stigma yang dibangun oleh para pemenang perang. Tentunya, ia tidak bakal menyangka dirinya dicitrakan sebagai rajadiraja dari makhluk raksasa; yang biadab dan haus darah yang menjadi musuh dewa-dewa dan manusia.

Kita tidak tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh para pemenang perang setelah kekalahan Maharaja Rahwana. Kita hanya tahu bahwa, menurut epos Ramayana yang ditulis para pemenang, leluhur Maharaja Rahwana adalah bangsa raksasa yang kejam, jahat, licik, rakus, brutal, haus darah, dan biadab. Padahal, di dalam berbagai versi tentang epos Ramayana selalu kita temukan gambaran bahwa Maharaja Rahwana hidup di Alengka, sebuah kota yang penuh bangunan berarsitektur tinggi, makmur, mewah, dan memiliki sistem pemerintah yang bersifat musyawarah dengan penasihat-penasihat maharaja yang cerdik dan bijak. Sebaliknya, para pemenang perang selalu digambarkan hidup di lingkungan hutan dengan penghuni “masyarakat kera” yang berperadaban rendah dan sistem pemerintahan bersifat kultus individu.

Lepas dari benar tidaknya epos Ramayana dalam konteks objektivitas sejarah, kita bisa menangkap terjadi proses ethnic cleansing dalam bentuk tumpas kelor terhadap Rahwana, saudara-saudara, keturunan, bala tentara, dan bahkan bangsanya. Proses itu mungkin terjadi karena di dalam pemikiran masyarakat yang terhegemoni pengaruh peradaban Aryan, puak-puak masyarakat yang digolongkan sebagai raksasa adalah musuh dewa-dewa dan manusia yang wajib dibasmi kapan pun dan di mana pun mereka berada. Lalu terjadilah ethnic cleansing itu. Komunitas “raksasa” yang melarikan diri tentu saja segera tersingkir dari lingkungan peradaban tinggi di Alengka. Bangsa raksasa, di kelak kemudian hari selalu digambarkan sebagai penghuni rimba raya.

Nasib buruk yang menimpa Rahwana dan bangsanya, ternyata dialami pula oleh para pahlawan Indian seperti Mangus Durango, Geronimo, Montezuma, Mohawk, dan Sitting Bull. Para pahlawan pejuang itu tak pernah membayangkan, seiring kekalahan yang mereka terima, bakal distigmakan sebagai pemimpin kawanan manusia biadab yang kejam dan jahat. Oleh karena stigma itu, orang-orang kulit putih boleh membasmi mereka kapan dan di mana saja tanpa perlu merasa berdosa.

Pada dekade 1960-an dan 1970-an, misalnya, hampir semua film western baik layar lebar maupun serial televisi seperti Red Sun, Alamo, Jango, Patt Garret, Billy the Kid, Wild Wild West, Rintintin, dan Bonanza menyuguhkan cerita-cerita yang diselingi penggambaran citra kebiadaban, kekejaman, kebrutalan, dan keganasan bangsa Indian. Suku Sioux, Apache Pawnee, Cayenne, Commanche, Toltecs, Mohican, dan Aztec nyaris digambarkan sebagai kawanan orang biadab yang suka perang, kejam, haus darah, dan brutal. Penonton film-film western dewasa itu selalu bersorak-sorak dan bertepuk tangan ketika menyaksikan para koboi dengan tanpa kenal ampun menembaki mereka.

Memasuki dekade 1980-an dan 1990-an baru muncul film-film yang agak objektif tentang bagaimana sebenarnya kesengsaraan dan penderitaan bangsa Indian ketika menghadapi para imigran Eropa yang serakah, bengis, kejam, tak kenal ampun, dan mau menang sendiri, yang merampas tanah dan berusaha membasmi mereka dari muka bumi Amerika. Film Dances with Wolf, Pocahontas, Columbus 1492, dan The Last of the Mohican, mengungkapkan bagaimana orang-orang Indian harus lari dan bersembunyi dari buruan para imigran Eropa.

Nasib tragis Rahwana dan bangsa Indian ternyata dialami pula oleh Syaikh Siti Jenar, penyebar Islam di Jawa pada perempat kedua abad ke-16. Beberapa waktu setelah penyerbuan Ibukota Majapahit oleh kelompok-kelompok muslim bersenjata yang dipimpin oleh Jakfar Shadiq, Susuhunan Kudus, Syaikh Siti Jenar disidang dengan tujuan menyebarkan ajaran bid’ah yang membahayakan kerajaan dan masyarakat Muslim.

Menurut sejumlah sumber historiografi sejenis babad, dalam sidang itu Syaikh Siti Jenar dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Namun, sumber-sumber tersebut justru menyulut kontroversi yang sangat membingungkan. Pasalnya, menurut kronologi waktu, tokoh-tokoh yang disebut sebagai anggota sidang Dewan Wali seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Raden Patah, dan Sunan Ampel sudah meninggal dunia belasan bahkan puluhan tahun sebelum peristiwa itu terjadi. Lebih membingungkan lagi, Susuhunan Giri (yang mungkin adalah Sunan Dalem, Susuhunan Giri II), dalam kasus itu dikisahkan membuat pernyataan: “Syaikh Siti Jenar kafir ‘inda an-nas wa mu’min ‘inda Allahi” (Syaikh Siti Jenar kafir menurut manusia, namun mukmin menurut Allah). Sementara Susuhunan Kudus, dikabarkan sangat menghormati dan memuliakan Syaikh Siti Jenar. Bahkan lebih aneh lagi disebutkan mayat Syaikh Siti Jenar menyebarkan bau wangi semerbak, namun kemudian menjelma menjadi anjing berbulu hitam. Konon, bangkai anjing itu dikubur di Masjid Agung Demak.

Lepas dari benar dan tidaknya sumber-sumber historiografi sejenis babad tersebut, yang jelas saat itu beribu-ribu bahkan berpuluh-puluh ribu orang yang menjadi pengikut, keluarga para pengikut, kawan para pengikut, mereka yang diduga menjadi pengikut, atau sekadar simpatisan Syaikh Siti Jenar, pasti merasa takut, tegang, dan bahkan panik. Soalnya, pemimpin mereka telah dijatuhi hukuman mati di Masjid Demak. Dan seiring eksekusi itu, meluas stigma bahwa Syaikh Siti Jenar bukan manusia, melainkan seekor cacing yang menjelma manusia ketika mendengar wejangan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga. Itu sebabnya, ketika mati tokoh sesat itu dikisahkan jasadnya kembali lagi dalam wujud hewan.

Ketakutan dan ketegangan para pengikut semakin meningkat ketika mendengar kabar kematian Ki Lonthang beberapa waktu setelah kematian gurunya. Bahkan ketakutan dan ketegangan mereka pasti meningkat menjadi kepanikan manakala terdengar kabar susulan tentang dieksekusinya Ki Ageng Pengging, murid terkasih Syaikh Siti Jenar.

Sekalipun ketakutan, ketegangan, dan kepanikan yang dialami para pengikut Syaikh Siti Jenar tidak pernah dipaparkan. Namun, buku-buku seperti Babad Tanah Jawi, Suluk Syaikh Lemahbang, Boekoe Siti Djenar, dan Serat Wali Sanga mengungkapkan bagaimana Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan pengikut Syaikh Siti Jenar yang lain menyatakan tunduk kepada penguasa Demak. Dan sebagaimana nasib Rahwana dan bangsa Indian, selama beratus-ratus tahun Syaikh Siti Jenar dan para pengikutnya selalu distigmakan sebagai penyebar ajaran bid’ah yang sesat.

Sampai sekarang pun getaran rasa takut dan tegang masih terasa pada mereka yang menjadi pengikut Syaikh Siti Jenar. Entah takut entah tidak, entah tegang entah tidak, buktinya para pengikut Tarekat Akmaliyyah, tarekat yang dinisbatkah kepada Syaikh Siti Jenar, selalu mengamalkan dan melestarikan ajarannya secara sembunyi-sembunyi. Dogma dan doktrin dari amalan-amalan Tarekat Akmaliyyah haram diajarkan kepada masyarakat umum. Nama Syaikh Siti Jenar seolah-olah mewakili rasa takut dan tegang bagi mereka yang sekadar simpati kepadanya.

Lepas dari soal takut dan tegang, citra Syaikh Siti Jenar sendiri selama kurun lebih empat abad memang tidak bisa lepas dari stigma kebid’ahan, kesesatan, kecacingan, dan keanjingan. Sementara, kita tidak pernah tahu apakah ia benar-benar jelmaan cacing. Kita juga tidak pernah tahu apakah ketika mati jasad Syaikh Siti Jenar berubah menjadi anjing. Bahkan kita tidak pernah tahu apakah bangkai anjing itu benar-benar dikubur di kompleks Masjid Agung Demak.

Kontroversi membingungkan tentang Syaikh Siti Jenar yang termuat dalam historiografi sejenis babad, ternyata tidak kita jumpai pada sejumlah naskah kuno asal Cirebon seperti Negara Kretabhumi, Pustaka Rajya-Rajya di Bhumi Nusantara, Purwaka Caruban Nagari, dan Babad Cherbon. Dalam naskah-naskah tersebut tidak dijumpai paparan absurd yang menggambarkan tokoh Syaikh Siti Jenar sebagai penjelmaan cacing. Tidak ada cerita yang menggambarkan mayatnya berubah menjadi anjing. Syaikh Siti Jenar, yang kelahiran Cirebon, digambarkan sangat manusiawi lengkap dengan silsilah keluarga yang berasal dari spesies manusia.

Lepas dari pro dan kontra kisah Rahwana, Indian, dan Syaikh Siti Jenar, ternyata faktor sumber-sumber naskah yang dijadikan acuan data dalam menggambarkan para tokoh itu menempati posisi kunci. Dikatakan posisi kunci kaerna sumber naskah acuan itulah yang sebenarnya membentuk frame of reference pembaca. Karena, naskah-naskah itulah yang sesungguhnya membangun asumsi, simpulan, opini, dan wacana tentang pokok masalah yang diperdebatkan.

Kita tidak tahu apakah Syaikh Siti Jenar yang dikenal penyebar bid’ah dan sesat itu sejatinya memang demikian, sesuai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Yang jelas, pencitraan dan stigma itu tergantung sepenuhnya pada sumber-sumber historiografi yang mencatat tentangnya. Kenyataan tentang perbedaan sumber-sumber historiografi inilah yang diam-diam telah mendorong dan memotivasi saya untuk menulis kisah Syaikh Siti Jenar dari sisi lain. Siapa tahu dengan sumber-sumber asal Cirebon itu kita dapat menempatkan tokoh Syaikh Siti Jenar dalam bentuk yang berbeda dengan yang kita kenal selama ini. Maksudnya, siapa tahu bahwa di balik stigma kebid’ahan, kesesatan, kecacingan, dan keanjingan itu ternyata tersembunyi kemanusiaan atau bahkan keadimanusiaan.

Namun demikian, untuk memahami secara emic tentang siapa Syaikh Siti Jenar dan apa yang sebenarnya diajarkannya, sumber-sumber historiografi saja tidaklah cukup mewakili. Itu sebabnya perlu dilakukan pendekatan verstehen dengan metode kualitatif kepada para guru Tarekat Akmaliyyah, yang diam-diam masih dianut masyarakat Cirebon, Jawa Tengah, dan Jawa Timur meski secara sembunyi-sembunyi.

Melalui sumber-sumber historiografi asal Cirebon, ditambah sumber naskah dari Banten (Sajarah Banten), dan pendekatan verstehen, saya pada gilirannya dapat menangkap gambaran utuh tentang keberadaan Syaikh Siti Jenar beserta ajaran-ajarannya. Dan yang mengejutkan, gambaran utuh Syaikh Siti Jenar yang terbangun dalam konstruk pemahaman saya akibat proses pendekatan yang saya lakukan ternyata bertolak belakang dengan pencitraan dan stigma yang selama ini berlaku atas tokoh kontroversial tersebut.

Saya tidak tahu apakah gambaran utuh Syaikh Siti Jenar dalam bentuk konstruk pemahaman saya itu lebih proporsional dan lebih objektif dibanding gambaran yang dibangun sumber-sumber historiografi sejenis babad. Yang jelas, menyusun gambaran utuh Syaikh Siti Jenar ke dalam bentuk penelitian kualitatif sesuai tuntutan metodologi (an sich), saya rasakan mengalami banyak kesulitan, bahkan kemustahilan. Karena, keberadaan Syaikh Siti Jenar dan ajarannya terkait dengan pergulatan sosio-religi, ideologi, dogma, doktrin, dan pengalaman ruhani yang sulit dijabarkan oleh kaidah-kaidah ilmiah yang bertolak dari paradigma-paradigma, postulat-postulat, dan aksioma-aksioma sekular-materialistis. Oleh karena itu, saya memilih alternatif paling memungkinkan, yakni menyajikan hasil tangkapan saya terhadap sosok Syaikh Siti Jenar dan ajarannya dalam bentuk fiksi. Sajian itu saya beri judul Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar.

Keputusan untuk menuangkan hasil pendalaman tentang Syaikh Siti Jenar dalam bentuk fiksi, selain saya maksudkan untuk mengatasi faktor-faktor kesulitan teknis-metodologis, juga saya harapkan bisa lebih memudahkan masyarakat pembaca memahami kisah tokoh kontroversi ini dari sisi pandang yang lain. Sebab, melalui karya fiksi, pengungkapan dan pemaparan hal-hal yang bersifat abstrak dan absurd dapat dijembatani oleh pilihan kata-kata dan kalimat-kalimat konotatif dan metaforik.

Yang lebih mendasar, penulisan kisah Syaikh Siti Jenar dalam bentuk fiksi ini saya maksudkan juga untuk menghindari terjadinya pro dan kontra yang mengarah ke perdebatan klise yang berlarut-larut. Artinya, melalui karya fiksi, kisah Syaikh Siti Jenar boleh diterima sebagai keniscayaan bagi mereka yang sepaham, namun boleh juga dicampakkan seperti sampah bagi mereka yang tidak sepaham. Keberadaan karya fiksi memang tidak untuk diperdebatkan secara ideologis, politis, dan agamis, karena di dalamnya selain terdapat paparan deskriptif, ungkapan-ungkapan metaforik, konotatif, personifikatif, dan asosiatif, juga terdapat refleksi dari hasil pengendapan renungan kontemplatif, pengalaman ruhani pribadi, dan tentunya tak ketinggalan gambaran-gambaran imajinatif pengarang yang absurd.

Para pelaku dalam cerita ini digambarkan sebagai manusia-manusia dengan berbagai perwatakan yang khas. Meski ditampilkan dalam bentuk individu-individu, mereka pada dasarnya bukan mewakili manusia dalam kapasitas pribadi. Mereka mewakili fenomena-fenomena, naluri-naluri, sifat-sifat, perilaku-perilaku, dan kecenderungan-kecenderungan nafsu terdalam manusia sebagaimana dikenal dalam ajaran sufi. Itu sebabnya, sebagian terbesar nama pelaku dalam cerita ini lebih mewakili citra naluri, sifat, perilaku, dan kecenderungan nafsu manusia ketimbang mewakili figur individu manusia historis. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pun tidak sekadar mewakili waktu dan tempat pada bentangan sejarah, tetapi juga mengungkapkan simbol-simbol perkembangan jiwa manusia menuju kesempurnaan sebagaimana dikemukakan oleh ajaran sufi.

Sebelum dicetak menjadi buku oleh Penerbit LKiS Yogyakarta, naskah Suluk Abdul Jalil ini pernah dimuat secara bersambung di Harian Bangsa (2001-2002).

Pada bagian ini dipaparkan pandangan-pandangan filosofis tokoh Syaikh Datuk Abdul Jalil atas apa yang disebut Yang Wujud dan yang maujud, serta berbagai pengalaman ruhani dalam menuju Yang Mutlak. Buku ini juga memuat asal usul dan masa kecil tokoh Abdul Jalil, kisah perjalanan sejak dari Cirebon, Pakuan, Palembang, sampai ke Malaka. Di sini jelas tergambar bahwa tokoh Syaikh Siti Jenar yang bernama Syaikh Datuk Abdul Jalil itu bukanlah orang Jawa, apalagi seekor cacing. Ia adalah seorang habaib dan berasal dari keluarga ulama di Malaka yang asal usul kakek buyutnya dari Gujarat.

Selaku pengarang, saya berharap dengan hadirnya buku ini masyarakat pembaca akan memiliki cakrawala baru bukan hanya mengenai apa dan siapa sebenarnya Syaikh Siti Jenar, melainkan yang lebih fundamental adalah munculnya perspektif baru tentang dinamika ajaran Tauhid yang bersifat universal, khususnya tentang ajaran Sasyahidan atau Wahdatusy Syuhud yang diajarkan Syaikh Siti Jenar, yang banyak disalahpahami selama ini. Lain dari itu, terdapatnya ungkapan-ungkapan teknis sufisme yang bersifat esoteris di dalam buku ini sengaja tidak diberi makna dan penjelasan, agar tidak terjadi monopoli penafsiran oleh pengarang. Semoga isi buku ini bisa menjadi masukan dan bahan renungan bagi para pencari Kebenaran Sejati.

Agus Sanyoto

Malang, Ramadhan 1423 H.

04. Menyeberangi Samudera

Dibanding Dermayu, Muara Jati hanyalah pelabuhan kecil, namun dari sinilah orang memasok beras, gula aren, garam, dan terutama terasi. Pada paro tengah abad ke-15, Muara Jati merupakan pelabuhan penunjang bagi keramaian Dermayu.

Dipandang dari laut, Muara Jati tampak seperti kumpulan kampung nelayan dengan puluhan perahu kecil ditambatkan di tonggak-tonggak kayu. Sebuah geladak sepanjang lima puluh meter yang menjorok ke laut hanya digunakan untuk memunggah muatan dari dan ke atas perahu. Sejumlah rumah bambu beratap rumbia berderet kecoklatan di bawah garis hijau pepohonan yang melatarbelakanginya. Barang empat buah rumah besar bercat merah yang tegak perkasa di pinggir jalan ke arah geladak adalah rumah orang-orang Cina Muslim yang umumnya tengkulak beras. Sementara sebuah bangunan besar dengan pendapa yang berdiri menghadap laut adalah kediaman tandha, yakni pejabat bawahan Raja Galuh yang bertugas memungut pajak lalu lintas hasil bumi dan perikanan yang keluar dan masuk pelabuhan Muara Jati.

Nun Jauh di selatan Muara Jati, terpampang gunung Ciremai yang membiru diselimuti halimun, yang menurut cerita adalah tempat persemayaman dewa-dewa.

Di ujung geladak di atas riak gelombang pantai, San Ali berdiri tegak memandangi hamparan lembah, gunung, dan rimbunan pohon yang hijau kebiruan di balut kabut tipis: hamparan bumi Caruban, tanah kelahiran yang mengukir jiwa dan raganya. Ia memejamkan mata dan memanjatkan doa mohon agar jiwanya dikuatkan untuk meninggalkan rangkaian kenangan indah yang mengukir ingatannya.

San Ali menantikan perahu yang akan membawanya ke tengah samudera, meninggalkan tanah kelahiran tempat ia mendapat limpahan cinta kasih. Ia merasakan kepedihan mencekam jiwanya. Dari dalam hatinya terungkap suara jiwa yang mengharu biru kebulatan tekadnya. “O San Ali, akankah engkau tinggalkan tempat yang telah memberikan kedamaian bagi kehidupanmu? Akankah engkau tinggalkan orang-orang yang selama ini memberikan kasih sayang yang memaknai pembentukan jiwamu? Akankah engkau tinggalkan keceriaan penghuni padepokan yang senantiasa mengumandangkan nyanyian pepujian kebesaran Ilahi? Akankah engkau lupakan orang-orang desa yang dengan senyum tulus menyapamu dalam setiap perjumpaan?”

San Ali menarik napas panjang dan berat. Ia sadar bahwa hatinya berat meninggalkan rentangan kenangan yang sudah berurat dan berakar di jiwanya. Itu sebabnya, dengan menguatkan hati ia berbisik kepada ungkapan suara jiwanya.

“Adakah kehidupan yang mengalir tanpa perpisahan dan kesedihan? Air memancar dari mata air kemudian meninggalkan sumbernya untuk menuju ke sungai hingga ke muara dan memasuki samudera raya. Manusia lahir dari kandungan ibundanya kemudian tumbuh dewasa dan akhirnya mati meninggalkan segala yang melekat pada dirinya. Dunia beserta segala isinya dan alam semesta pun pada akhirnya mengalir ke suatu masa yang disebut Yaumul Akhir. Jadi, perpisahan dan kesedihan adalah bagian dari hidup. Sesungguhnya tidak ada yang langgeng di permukaan bumi ini.”

“Dengarlah, wahai suara hatiku, bahwa aku seperti juga engkau memiliki kenangan dengan kehidupan di Caruban yang indah yang membentang di kaki gunung Ciremai yang dilingkari ombak samudera, yang diwarnai gemericik air sungai dan kicau burung menyambut mentari pagi. Tetapi, wahai suara hatiku, ketahuilah bahwa segala keindahan itu telah berubah menjadi terali bagi ‘aku’-ku, karena aku sekarang bagai rajawali terkungkung dalam sangkar besi yang selalu merana setiap kali melihat burung lain terbang di angkasa, mereguk kebebasan jiwa dengan membentangkan sayap kehidupan.”

Ketika San Ali sedang bergulat dengan suara jiwanya, perahu yang bakal membawanya pergi dari bumi Caruban datang. Pemilik perahu itu bernama Tahrimah, laki-laki setengah umur dengan tubuh tegap dan otot-otot tangan kukuh. Wajahnya yang keras menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tabah melintasi kerasnya kehidupan. Dan sorot matanya yang berbinar-binar menunjukkan betapa teguhnya laki-laki itu memegang prinsip. Sementara kulitnya yang coklat kehitaman terbakar sinar matahari mencerminkan semangat hidup yang tak luntur terkena hujan dan tak lekang terkena panas.

Setelah cukup lama menunggu reaksi San Ali, Tahrimah menanyakan tujuan perjalanannya meninggalkan Muara Jati. “Apakah Yang Mulia San Ali, putera Kuwu Caruban, akan menuju pelabuhan Kalapa atau hanya ke Dermayu?”

“Engkau lebih tahu akan tujuanku, o Paman, sebab pemegang kemudi perahu ini adalah engkau. Apalah arti maksud dan tujuan kuucapkan jika di tengah laut engkau nantinya akan menenggelamkan perahumu. Dengan menumpang perahumu, o Paman, sudah kubulatkan tekadku untuk mengorbankan diriku dalam mencapai tujuanku yang sejati,” ujar San Ali.

“Tidak adakah lagi syak di hati Yang Mulia?” Tahrimah menguji.

“Sudah kubulatkan tekadku, seperti kuucapkan takbir saat kumulai sembahyang menghadap Dia,” ujar San Ali mantap.

“Jika demikian, naiklah o Anak ke atas perahuku. Dan ingat-ingatlah selalu, selama perjalanan di laut jangan sekali-kali Anak melakukan perbuatan lain yang membahayakan perahu ini. Dan berdoalah agar kita selamat melintasi lautan yang kadang-kadang mengamuk.”

San Ali tersenyum dan menganggukkan kepala.

Tahrimah ternyata orang yang memiliki pengetahuan luas tentang kehidupan. Ketika masih muda, dia pernah menjadi awak kapal dagang yang mengarungi tujuh samudera dan menyinggahi berbagai pelabuhan besar tempat kapal-kapal dari berbagai negeri berlabuh. Kini, setelah usia makin menua, dia hanya menjadi pengemudi perahu yang khusus mengantarkan orang-orang tertentu ke tujuan yang dikehendaki.

San Ali sangat terkesan mendengar kisah hidup Tahrimah. Itu sebabnya, ia bertanya banyak hal tentang berbagai peristiwa yang sedang dialaminya saat ini. “Bagaimanakah perasaan Paman saat pertama kali berlayar meninggalkan tanah kelahiran tercinta?”

“Semula berat dan menyedihkan, o Anak,” kata Tahrimah. “Tetapi, bersama menggelindingnya waktu kusadari bahwa menjadi kewajiban mendasar dari kita untuk meninggalkan segala sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.”

“Maksud Paman?” tanya San Ali belum paham.

“Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa bumi Caruban, anak, istri, rumah, orang tua, sahabat, guru, dan segala apa yang kucintai adalah milikku. Pada akhirnya kusadari bahwa semua itu bukan apa-apaku, apalagi milikku. Tubuh dan jiwaku pun pada hakikatnya bukanlah milikku.”

“Kalau begitu, Paman adalah seorang zahid,” ujar San Ali.

“Seorang zahid yang melakukan hidup zuhud adalah dia yang meninggalkan segala sesuatu yang menjadi miliknya. Zahid adalah dia yang meninggalkan segala apa yang bisa ditinggalkannya. Sedangkan ‘aku’ pada kenyataannya tidak memiliki apa pun yang bisa kutinggalkan. Semua merupakan milik-Nya: Kebesaran, Keagungan, Keindahan, Kekuasaan, Kehendak, Kemuliaan, Puji-pujian, dan Kemutlakan.”

“Engkau orang yang telah tercerahkan, o Paman,” kata San Ali dengan mata membinarkan rasa takjub, “Ajarkanlah kepadaku tentang jalanmu menuju-Nya!”

“Engkau memiliki jalanmu sendiri, o Anak,” kata Tahrimah datar. “Jalan yang telah kulalui akan berbeda dengan jalan yang harus engkau lalui.”

“Itu aku tahu, Paman,” San Ali memohon, “tetapi berikanlah kepadaku barang satu atau dua patah nasihat yang akan kujadikan bekal perjalananku.”

“Jika itu keinginanmu, aku akan memberimu dua nasihat yang boleh engkau ikuti dan boleh pula engkau abaikan.”

“Saya akan berjuang menjalankan nasihatmu, o Paman.”

“Pertama, lakukan Taubat, yakni engkau harus berpaling dari segala sesuatu kecuali Allah. Maksudnya, jika sebelum ini engkau pernah berbalik dari-Nya maka sekarang engkau wajib menghadapkan jiwa dan pikiranmu hanya kepada-Nya. Kedua, lakukan Dzikir, yakni ingatlah selalu Allah jika engkau lupa. Maksudnya, jika engkau selalu berusaha berada dalam keadaan melupakan segala sesuatu yang bukan Allah maka saat itulah engkau mengingat Allah.”

Di Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran, kehidupan berlangsung sangat lamban dan jauh berbeda dengan Muara Jati, apalagi dibandingkan Dermayu yang hingar- bingar dipenuhi kesibukan. Satu-satunya tempat orang terlihat lalu lalang hanya di dermaga Kedunghalang, tempat perahu hilir-mudik dari dan ke pelabuhan Kalapa. Di situ tak henti-hentinya orang mengangkuti barang-barang dengan pikulan, gerobak, dan pedati yang ditarik kerbau. Selebihnya, hampir di seluruh sudut kotaraja Pakuan dilintasi orang-orang yang akan pergi ke pura dan sanggar pamujan. Hampir di setiap tepian jalan terlihat anjing bertubuh kurus duduk atau tiduran menikmati hangat matahari.

San Ali yang mengenakan jubah dan surban putih sebagai pertanda bahwa ia pemeluk Islam sejak menginjakkan kaki di pelabuhan Kalapa sudah menjadi perhatian orang. Ketika ia menuju ke kotaraja Pakuan dengan perahu yang melayari sungai Ciliwung, orang makin memandangnya dengan penuh curiga. Hanya bekal surat pengantar dari Ki Samadullah yang membuatnya lolos dari pos-pos pemeriksaan keamanan.

Sesuai pesan Ki Samadullah, San Ali harus menemui Samsitawratah, seorang rsi yang memiliki asrama bagi para brahmana muda pencari kebenaran. Menurut Ki Samadullah, hanya Rsi Samsitawratah di tlatah Pajajaran ini yang mampu mengupas hakikat kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya, Maharaja Majapahit. Ki Samadullah sendiri sejauh ini membahas kitab itu bersama Ki Danusela hanya sebatas pada penafsiran demi penafsiran yang belum tentu benar pada tataran penerapannya.

Ketika San Ali mendekati pintu asrama, tampaklah seorang tua dengan hanya mengenakan cawat melintas di hadapannya. Sekalipun renta dan kurus kering, ada semacam kekuatan gaib melingkupinya. Meski hanya bercawat, orang merasakan getaran kuat setiap kali memandangnya. Setelah berdiam sejurus, dengan suara penuh wibawa orang tua yang ternyata Rsi Samsitawratah itu berkata, “Apakah yang engkau cari, o Anak Muda, hingga engkau menyeret tubuhmu ke sini?”

“Kucari hakikat ‘aku’ agar kutemukan ‘Aku’ sebagai sumberku,” jawab San Ali.

“Bagaimana engkau menemukan ‘Aku’ jika engkau masih meng-‘aku’?”

“Kepadamulah, o Yang Tercerahkan, kuharap pelajaran menuju ‘Aku’,” kata San Ali sambil mengeluarkan kitab rontal Catuh Viphala. “Karena, kudengar hanya Andhika Yang Tercerahkan yang mampu menguak makna kitab ini.”

“Lepaskan jubah dan surbanmu! Lepaskan segala milikmu! Tanpa perjuangan keras mengosongkan diri dari keakuan, jangan harap engkau bisa menangkap intisari kitab Catur Viphala dan mencapai tujuanmu.”

San Ali tercekat mendengar permintaan Rsi Samsitawratah. Bagaimana mungkin ia melepaskan jubah dan surbannya untuk kemudian bercawat seperti orang tua di hadapannya itu? Apakah maksud melepaskan segala milik berarti melepas segala atribut keislaman dengan meninggalkan sembahyang dan hukum syarak? Apakah pengosongan diri menjadi syarat mutlak bagi perjuangan menuju ‘Aku’?

Tanpa dapat dicegah benak San Ali dijejali oleh kilasan bayangan api neraka yang berkobar-kobar menelan dirinya manakala ia tanggalkan jubah dan surban dan hukum syarak. Namun, secepat itu di benaknya terbayang tentang perjalanan mencari hakikat ‘Aku’ sebagai pangkal segala ‘aku’. Mengapa ‘aku’-ku harus takut terhadap ‘aku’ neraka? Bukankah ‘aku’ neraka juga seperti ‘aku’-ku, yaitu berasal dari ‘Aku’ semesta?

Rsi Samsitawratah tampaknya menangkap keraguan San Ali. Itu sebabnya, dengan acuh tak acuh dia berkata seolah kepada dirinya sendiri. “Akal dan pikiran, keakuan, keinginan-keinginan, bentuk-bentuk, status, identitas diri, dan keanekaragaman citra diri adalah tirai yang memisahkan ‘aku’ dari ‘Aku’. Sebab, semua itu masih meng-‘aku’, belum ‘Aku’ yang sesungguhnya. Karena itu, jubah, surban, mahkota, keragaman adalah tirai yang wajib dibuka jika kita ingin menyatu dengan-Nya.”

Akhirnya, tanpa banyak bicara San Ali melepas jubah dan surbannya. Kemudian dengan hanya bercawat ia bergabung dengan para brahmin yang tinggal di asrama.

Kehadiran San Ali di lingkungan brahmin mendapat perhatian serius dari Rsi Samsitawratah. Ini setidaknya terlihat dari kehendak Rsi Samsitawratah memberikan pelajaran khusus bagi San Ali, terutama dalam kaitan dengan kitab rontal Catur Viphala. Mula-mula, Rsi Samsitawratah menjelaskan urut-urutan Viphala yang berjumlah empat: nihsprha, nirbana, niskala, nirasraya.

“Ketahuilah bahwa yang dimaksud nihsprha adalah keadaan di mana tidak ada lagi sesuatu yang ingin dicapai manusia,” Rsi Samsitawratah menguraikan. “Nirbana berarti seseorang tidak lagi memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Niskala adalah bersatu dengan Dia Yang Hampa, Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Dalam keadaan itulah, ‘aku’ menyatu dengan ‘Aku’. Dan kesudahan dari niskala adalah nirasraya, yakni keadaan di mana jiwa meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika, yakni dimensi tertinggi yang bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri, dan mengatasi ‘Aku’.”

Apa yang tercantum di dalam kitab rontal Catur Viphala merupakan hal yang gampang diuraikan, namun berat dijalankan. Hanya mereka yang benar-benar bertekad bulat menuju ‘Aku’ yang akan melaksanakannya. Demikianlah, seperti brahmin yang lain, San Ali melakukan latihan ruhani dengan ketat menuju Catur Viphala. Ia berpuasa selama berhari-hari. Seluruh waktunya dilewati dengan latihan meniadakan diri dan samadi. Daging mulai menyusut dari pipinya. Kelopak matanya cekung. Rambut awut-awutan. Bayangan aneh mulai sering memasuki mimpinya. Bahkan di tengah terik matahari, ia membiarkan tubuhnya terpanggang oleh kesakitan dan kehausan. Semuanya untuk menghilangkan keakuan di dalam dirinya.

San Ali dibimbing langsung oleh Rsi Samsitawratah dalam melatih samadi dan pengingkaran diri. Ia juga diajarkan bagaimana harus meniadakan diri dan berlatih menyatukan keakuan dirinya dengan alam sekitar: dengan pohon, kayu, batu, air, hewan, ikan, burung, bahkan awan. Dalam tempo singkat ia dapat mengingkari keakuan dirinya untuk menyatu dengan keakuan alam sekitarnya.

Rsi Samsitawratah mengajarkan pula bagaimana seorang brahmin tidur dengan mula-mula mengatur pernapasan dan menutup kelopak matanya hingga berangsur-angsur seluruh jiwanya padam. Jika jiwa telah padam, begitu uraian Catur Viphala, maka orang akan tidur tanpa mimpi dan tanpa perasaan. Sebaliknya, orang yang tidak memahami ajaran itu akan terperangkap ke dalam cakrabhawa, yakni terseret oleh mimpi-mimpi dan igauan di dalam tidur. Dan mereka yang terperangkap ke dalam cakrabhawa dengan sendirinya jiwanya akan jatuh ke neraka.

Berbagai latihan jiwa telah dilakukan San Ali, baik puasa, samadi, makanan dan minuman yang baik, tidur, hingga yoga. Dengan bimbingan langsung dari Rsi Samsitawratah, ia mengalami kemajuan pesat terutama dalam perjuangan meniadakan diri. Namun, ujung dari semua itu ia merasa betapa setelah keakuan dirinya mengembara ke berbagai perwujudan pada akhirnya akan kembali lagi pada keakuan diri. San Ali merasa pengembaraan jiwanya itu seperti pelarian diri yang tak diketahui ujungnya. Ia merasa seperti melanglang jagad untuk meninggalkan tubuhnya yang menyembunyikan ‘aku’, namun pelarian itu ternyata hanya sementara waktu. Ia merasa tidak menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya. Ia tidak merasa telah beroleh pencerahan sejati.

San Ali tidak sadar bahwa dengan menjalani hidup sebagai brahmin yang begitu ketat melakukan latihan samadi dan menolak diri, ia telah memperoleh berbagai kekuatan. Ini baru diketahuinya ketika ia bersama sejumlah brahmin muda mencari kayu di hutan. Saat itu, tanpa diketahui muncul seekor harimau besar yang kelaparan dan siap menerkam salah satu di antara mereka. Para brahmin yang ketakutan jatuh bangun melarikan diri.

San Ali sadar ia tidak sempat lagi menyelamatkan diri. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk memusatkan pikiran dan perasaannya. Menolak keakuan dirinya untuk bersembunyi di balik keakuan harimau. Sebuah peristiwa adikodrati terjadi. Harimau itu mendadak tercengang dan kemudian merunduk seolah-olah mengikuti kehendak San Ali. Kemudian seperti hewan jinak, dengan gerak lamban dia melangkah mendekat, lalu menggesek-gesekkan kepalanya ke tubuh San Ali. Sesudah itu, dia membalikkan badan dan pergi.

Peristiwa menakjubkan itu dengan segera menyebar di asrama dan menimbulkan iri hati di antara para brahmin yang lebih lama bermukim tetapi belum memiliki kelebihan seperti San Ali. Dalam tempo singkat ada kasak-kusuk yang menyatakan bahwa San Ali adalah telik sandhi orang-orang Islam yang disusupkan ke asrama, dengan tujuan utama menghancurkan kekuatan Pajajaran dari dalam. Peristiwa menakjubkan itu seolah-olah pamer kekuatan dan merupakan tantangan kepada Rsi Samsitawratah. Kasak-kusuk terus bergulir. Dan San Ali merasa betapa seluruh penghuni asrama seolah-olah mengamati segala gerak-geriknya dengan penuh curiga.

Bagi San Ali, peristiwa di hutan itu justru telah menyadarkan dirinya bahwa apa yang selama ini dipelajarinya di asrama bukanlah tujuan akhir yang hendak dicapainya. Ia merasa bahwa ‘jalan keselamatan’ menuju ‘Aku’ akan sulit dijangkau dengan cara yang selama ini dipelajarinya di asrama. Ia menangkap sasmita bahwa apa yang dijalankannya dengan latihan-latihan ketat selama ini justru tidak sesuai dengan intisari maknawi dari kitab rontal Catur Viphala.

Tampaknya gejolak pikiran San Ali itu ditangkap oleh Rsi Samsitawratah. Itu sebabnya, ketika ia menghadap, guru para brahmin itu memberikan kitab rontal Catur Viphala sambil berkata, “Ketahuilah, o Anak Muda, bahwa asrama ini hanya persinggahanmu sementara dalam menuju ‘Aku’. Sebab, ada sesuatu di dalam dirimu yang tak gampang ditundukkan oleh sekadar latihan penolakan diri dan samadi. Jalan yang engkau lintasi masih sangat panjang. Karena itu, o Anak Muda, pergilah engkau mengikuti garis hidupmu seperti air mengikuti aliran sungai. Hanya pesanku, janganlah engkau berbalik arah dan putus asa dalam mencapai tujuan.”

“Ampun seribu ampun, o Guru Agung,” San Ali mengiba, “Hamba berharap dengan mengikuti jalan Brahmin melalui arahan kitab Catur Viphala maka kehausan jiwa hamba segera terobati. Tetapi, ternyata tidak. Semakin hamba berlatih semakin kuat kehausan itu mencekik hidup hamba.”

“Jalan pembebasan memang rumit dan berliku-liku. Karena itu, o Anak Muda, lihatlah para brahmin di asrama ini. Mereka yang sudah berusia lanjut pun tidak dijamin meraih kebebasan sempurna. Lantaran itu, o Anak Muda, pergilah ke muaramu. Ikuti liku-liku aliran yang membawamu ke samudera pembebasan. Semoga engkau dapat meraih tujuan yang mulia itu.”

“Hamba mohon restu, o Guru Agung,” San Ali menghatur sembah.

“Pergilah menuju muaramu, o jiwa yang dicekam rindu.”

Dengan hati dibakar kehausan akan pengetahuan sejati, San Ali meninggalkan asrama. Saat ia melangkahkan kaki meninggalkan pintu, beberapa brahmin muda yang bersamanya sewaktu di hutan, menghadang. Dengan berbagai rayuan mereka menginginkan San Ali bersedia tinggal lebih lama. “Jika engkau berkenan tinggal barang setahun di sini, kami yakin engkau akan bisa belajar terbang ke angkasa, berjalan di atas air, kebal senjata tajam, menembus tembok, dan bahkan menghilang.”

“Itu semua bukanlah keinginanku,” San Ali tersenyum. “Yang Mulia Guru Agung Samsitawratah lebih mengetahui tentang apa yang menjadi keinginan utamaku. Karena itu, o kawan-kawan tercinta, beliau menghendaki aku pergi dari asrama ini untuk mencari muara yang bakal mengantarku ke samudera kebebasanku.”

Melalui pelabuhan Kalapa, San Ali memulai pengembaraannya melintasi samudera dengan menumpang jung milik seorang Cina Muslim bernama Haji Nasuhah yang bernama asli Thio Bun Cai. Usianya sekitar tujuh puluh tahun, namun dia terlihat sepuluh tahun lebih muda. Otot-otot di tubuhnya – terutama di kedua lengannya – masih kukuh dan perkasa.

Sekalipun Haji Nasuhah orang Cina asli dan bermata sipit, kehidupan yang keras laut telah mengubah warna kulitnya menjadi coklat kemerahan. Alisnya tebal dan berbentuk pedang, mencerminkan betapa keras watak nakhoda berkepala gundul yang selalu ditutupi kopiah putih itu. Untaian tasbih yang selalu berputar menunjukkan betapa kukuh dia mengingat Tuhan di tengah kesibukannya mengatur arah kapal. Sementara di balik senyuman yang selalu menghiasi bibirnya itu terungkap keteguhan jiwa dari seorang tua yang sudah teruji mengarungi samudera kehidupan.

Penampilan Haji Nasuhah yang mencerminkan citra keramahan seorang Muslim itu sebenarnya baru terlihat sekitar dua dasawarsa silam. Sebelum masa itu, dia bukanlah Muslim bahkan bukan manusia dari golongan baik. Thio Bun Cai merupakan bajak laut yang sangat ditakuti di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Para saudagar Cina menjulukinya Lamhai Lomo (Iblis dari Selatan). Sebagai bajak laut bekas pengikut Liang Tau Ming, Thio Bun Cai memiliki pangkalan di Ku Kang (Palembang) dan sewaktu-waktu dapat menggerakkan armadanya dengan cepat. Nama Lamhai Lomo sebagai bajak laut yang telengas dan tak kenal ampun, membuat siapa saja yang melintasi Selat Malaka atau Laut Cina Selatan dicekam ketakutan.

Roda kehidupan berputar mengikuti takdirnya, kadang di atas kadang di bawah, kadang mengubah kedudukan orang dari kaya ke miskin, dari jahat ke baik, dari durhaka ke saleh, dari kejam ke welas asih. Roda kehidupan Thio Bun Cai pun berubah ketika bertemu dengan Syaikh Ibrahim as-Samarkandy (ayahanda Raden Ali Rahmatullah) yang menjadi tamu Adipati Palembang, Ario Damar.

Pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja. Ketika itu, kapal yang ditumpangi ulama asal negeri Samarkand itu dirampok oleh Thio Bun Cai di sekitar kepulauan Anambas. Syaikh Ibrahim saat itu sedang dalam perjalanan dari Pandurangga di negeri Campa ke Palembang untuk mengunjungi kemenakan tiri istrinya yang menjadi Adipati Palembang. Dalam peristiwa itu, Thio Bun Cai menyaksikan keajaiban pada diri Syaikh Ibrahim. Ceritanya, saat kapal dari Campa itu dikepung, terjadi kepanikan di antara para penumpangnya. Bahkan dalam kepanikan itu seorang penumpang anak-anak berusia lima tahun jatuh ke laut dan hilang ditelan ombak. Saat itulah, seorang penumpang yang kemudian dikenal bernama Syaikh Ibrahim as-Samarkandy melompat ke laut. Ajaib, tubuhnya tidak tenggelam. Sebaliknya dengan tenang ia berdiri di atas hamparan air laut. Kemudian ia membungkuk dan tangannya menggapai ke bawah. Lalu dalam sekejap terlihatlah anak kecil yang sebelumnya sudah tenggelam itu. Dan seperti gerakan rajawali, Syaikh Ibrahim menggendong anak itu dan membawanya melompat ke atas kapal.

Thio Bun Cai dan anak buahnya terkesima menyaksikan pemandangan menakjubkan itu. Melalui ketakjuban itulah Thio Bun Cai akhirnya melepas mangsanya. Bahkan seperti terpesona oleh sesuatu yang ada di dalam diri Syaikh Ibrahim, Thio Bun Cai mengikuti ke mana pun ia pergi. Sejak pertemuan itu terjadi perubahan besar di dalam hidupnya. Dia yang sebelumnya telengas dan kejam tiba-tiba berubah menjadi penyabar dan penyayang. Dia yang sebelumnya sangat berkuasa tiba-tiba selalu mengalah dalam setiap persoalan. Dia yang sebelumnya memiliki bukit harta hasil rampokan tiba-tiba membagikan seluruh kekayaannya kepada orang-orang miskin tanpa sisa. Bahkan puncak dari perubahan itu terlihat ketika dia mengikrarkan diri sebagai Muslim dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci dengan menggunakan jung, satu-satunya miliknya yang tersisa.

Sepulang haji, Thio Bun Cai mendapat nama baru: Haji Nasuhah. Karena, dia telah berikrar untuk melakukan taubatan nashuhah, yakni tidak akan mengulangi kesalahan dan kekeliruannya di masa lampau. Dan sejak itu, perkumpulan bajak laut yang dipimpinnya dibubarkan. Atas jasa baik Syaikh Ibrahim, para bekas anak buahnya dijadikan pengawal samudera Adipati Palembang. Thio Bun Cai yang sudah menjadi Haji Nasuhah menghabiskan sisa hidupnya dengan memperbanyak ibadah. Kalau pun dia dituntut untuk bekerja maka hal itu dilakukan hanya sebatas mengantarkan orang-orang yang butuh tenaga dan keterampilannya mengarungi samudera.

Putaran roda kehidupan Haji Nasuhah sangat menarik hati San Ali. Itu sebabnya, sepanjang perjalanan mengarungi laut, ia terus bertanya berbagai hal, terutama tentang Syaikh Ibrahim as-Samarkandy yang memiliki kelebihan karomah. Haji Nasuhah, entah kenapa, didesak oleh semacam keharusan untuk menjawab semua pertanyaan San Ali. Lantaran itu, hampir seluruh waktu senggang mereka gunakan untuk berbicara berbagai hal, terutama yang bersangkut-paut dengan perjuangan menuju ‘Aku’ yang dilingkari berlapis-lapis hijab.

Lewat perbincangan dan membanding-bandingkan pengalaman masing-masing, San Ali menangkap kesamaan dalam tataran amaliah ketika seseorang melakukan taubatan nashuhah – menghadapkan pikiran dan perasaan hanya kepada Allah – untuk menuju hakikat ‘Aku’. Kesamaan itu meliputi ‘kewajiban’ meninggalkan segala sesuatu, baik sukarela atau terpaksa, kecuali Allah. Meski menangkap adanya kesamaan, San Ali tetap menginginkan kepastian dari simpulannya itu dengan menanyakan langsung kepada Haji Nasuhah. “Apakah orang-orang yang menuju ke Dia memang ‘wajib’ meninggalkan segala sesuatu yang bukan Dia?”

“Aku kira engkau sudah mengalami peristiwa itu. Aku kira engkau pun sudah merasakan betapa pahitnya harus melepas segala yang pernah engkau miliki. Dan kita masing-masing akan mengalami tingkat kepahitan sesuai tingkat kepemilikan kita. Semakin kuat perasaan dan pikiran kita mencintai segala yang kita anggap milik kita maka semakin kuat pula tingkat kepahitan yang harus kita telan,” kata Haji Nasuhah.

“Apakah pada awalnya Tuan Haji merasa pahit ketika harus membagi-bagikan harta benda yang Tuan miliki kepada orang lain?” tanya San Ali.

“Soal membagi-bagi harta malah kulakukan dengan sukarela seolah-olah orang memikul yang berusaha melepas beban,” kata Haji Nasuhah datar.

“Jikalau begitu, peristiwa pelepasan apa yang menurut Tuan Haji sangat pahit dan menyakitkan?” San Ali memburu.

“Ketika aku harus kehilangan anak dan istri yang kutinggalkan di pulau Lingga. Ketika istriku meninggal akibat terkena sampar, anak lelakiku satu-satunya, Thio Ban Tong, yang berusia sembilan tahun menghilang tak diketahui rimbanya. Orang-orang kepercayaanku yang kutugaskan menjaganya ternyata tidak mengetahui ke mana anak tunggal penyambung kehidupan leluhurku itu pergi.”

“Istri mati mungkin masih bisa aku mencari ganti. Tetapi, kalau anak lelaki hilang tak tentu rimba ke mana pula harus kucari ganti? Karena itu, o Anak Muda, waktu itu kulewati dengan segala kepanikan. Kuancam bunuh semua orang kepercayaanku jika mereka tidak menemukan anak yang kuamanatkan penjagaannya kepada mereka. Kusekap anak-anak mereka untuk memaksa agar mereka benar-benar mencari anakku.”

“Di saat kepanikanku memuncak, tiba-tiba Syaikh Ibrahim datang. Dengan nasihat dan uraiannya tentang hukum kehidupan dan orang-orang yang ‘dipanggil’ oleh Allah maka sadarlah aku bahwa segala apa yang kualami itu adalah bagian dari cobaan Allah untuk menguji tekadku bertaubat. Setelah itu, seluruh sisa harta milikku kubagi-bagikan dan aku menunaikan haji ke tanah suci. Persoalan hilangnya Thio Ban Tong kuserahkan kepada-Nya. Dia yang memberi Dia pula yang berhak meminta kembali.”

“Kemarahanku pun akhirnya pudar. Kumaafkan mereka dan kukembalikan anak-anak mereka. Kukatakan kepada mereka bahwa betapa pun ketat anakku dijaga, bahkan ketika kujaga sendiri, kalau Dia telah berkehendak meminta maka tidak ada satu pun makhluk yang bisa menghalangi. Dan akhirnya aku sendiri menyadari, betapa sebenarnya diriku tidak memiliki apa-apa di dunia ini; nama besar, kekayaan, istri, anak, tubuh, nyawa, dan ruhku sendiri; semua milik Allah,” papar Haji Nasuhah.

“Berarti Tuan Haji sekarang ini sebatangkara seperti saya?”

“Bagi mereka yang sudah ‘bangun’, seluruh manusia pada dasarnya sebatangkara di dunia ini. Itu sebabnya, bagi mereka yang sudah ‘bangun’ tidak dikenal kebanggaan atas ras, suku bangsa, marga, keluarga, nama besar, atau apa saja yang bersifat kelompok. Dan bagi mereka yang sudah ‘bangun’, menjadi suatu ‘kewajiban’ untuk menggantungkan kesebatangkaraannya kepada Dia Yang Mahatunggal; Dia Yang Mahasebatangkara, yang tidak memiliki istri, anak, keluarga, dan kerabat; kepada Dia jua kita, orang-orang sebatangkara ini, wajib mengarahkan harapan dan tujuan.”

“Kalau jalan menuju Dia harus dilalui dengan meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia, kenapa Dia menciptakan dunia?” tanya San Ali.

“Tidakkah engkau ketahui bahwa dunia ini diciptakan sebagai penjara bagi kita?”

“Penjara?” sergah San Ali heran.

“Ketahuilah, o Anak Muda, bahwa dunia ini adalah tempat leluhur kita, Bapa Adam dan Ibu Hawa, menjalani hukuman setelah melanggar perintah Allah. Jadi, hakikat dunia ini sebenarnya adalah penjara bagi Bapa Adam dan Ibu Hawa beserta keturunannya. Dan seperti makna ad-dunya sendiri yang berarti dekat atau singkat, maka kehidupan di dunia ini sungguh hanya persinggahan singkat belaka bagi anak cucu Adam dan Hawa yang memikul hukuman di penjara bernama dunia ini. Karena itu, bagi mereka yang sudah ‘bangun’ akan memandang bahwa tidak pantas dan sangat keliru jika manusia sebagai keturunan Adam dan Hawa menjadikan dunia ini sebagai hunian yang menyenangkan, apalagi sampai membangun mahligai kekuasaan dan kekayaan turun-temurun, seolah-olah dunia ini hunian abadi.”

“Jika demikian, kenapa kita harus bekerja mencari nafkah jika pada akhirnya kita harus menganggap dunia ini penjara yang tidak menyenangkan?”

“Karena tubuh kita adalah bagian dari jazad maddi (materi) maka tubuh kita pun membutuhkan makanan dan minuman bersifat maddi (materi). Karena itulah, agama mengajarkan agar kita, manusia, keturunan Adam dan Hawa, tidak berlebihan dalam memanfaatkan dunia apalagi sampai mencintainya.”

“Ada kisah menarik tentang pemanfaatan dunia yang kuperoleh dari guru agungku, Syaikh Ibrahim, melalui cerita pemburu kera,” lanjut Haji Nasuhah.

Pemburu itu tahu bahwa kera sangat suka buah ceri. Ia sangat paham cara berpikir kera. Itu sebabnya, ia menempatkan buah-buah ceri ke dalam botol gelas bening yang berleher sempit. Kemudian ia letakkan botol gelas itu di tempat kera-kera biasanya berkeliaran.

Tak lama, pemburu itu melihat seekor kera datang. Kera itu memasukkan tangannya ke dalam botol dan mengambil buah ceri dalam jumlah banyak. Tetapi, dia kemudian sadar bahwa tangannya yang menggenggam buah ceri tidak bisa ditarik keluar.

Kera menjerit-jerit panik. Tangannya tidak bisa lepas dari botol karena dia tetap menggenggam erat buah ceri. Sang pemburu kemudian datang. Kera ketakutan dan berusaha melarikan diri, namun karena tangannya membawa botol maka dia tidak dapat berlari kencang. Setelah tertangkap, pemburu itu memukul siku kera sehingga genggamannya atas buah-buah ceri itu mengendor. Tangan kera itu memang bisa lepas dari botol, tetapi ia telah tertangkap.

“Aku segera menyadari bahwa kera yang dimaksud di dalam kisah itu adalah aku. Betapa kusadari bahwa selama itu aku terlalu menggenggam erat-erat harta duniawi sehingga aku tidak bisa melepaskan diri dari jeratan botol duniawi. Kematian istri dan kehilangan anak kesayangan kuanggap sebagai pukulan ‘Sang Pemburu’ ke sikuku. Nah, sekarang ini aku merasa sebagai kera yang bebas dari jeratan botol, tetapi harus patuh dan setia kepada ‘Sang Pemburu’ yang memeliharaku dengan baik. Aku tidak perlu lagi mencari buah ceri karena Dia telah menyediakan semua kebutuhanku.”

05. Cahaya Iman

Bulan purnama bercahaya terang di hamparan permadani langit yang membiru. Cahayanya menyinari permukaan bumi Palembang yang sudah tua dan terlalu kenyang mengenyam pahit dan getir kehidupan penghuninya. Lebih dari seribu tahun, bergantian kapal, jung, perahu, dan sampan melintas dan berlabuh. Dari ratu, bangsawan, saudagar, pendeta, perampok, hingga gelandangan pernah tinggal di pangkuan bumi Palembang sejak kekuasaan Sriwijaya ditegakkan di sana.

Kemakmuran Palembang sebagai bandar perniagaan menarik hasrat siapa pun untuk bisa menguasai pusat kenikmatan duniawi yang terletak di tengah hamparan samudera itu. Wangsa Ming yang berkuasa di daratan Cina pun tergiur oleh kemolekan dan kecantikan Palembang. Itu sebabnya, ketika utusan dari Palembang – yang merupakan bagian dari Majapahit – menghadap Kaisar Cina, ia disambut dengan penuh kemuliaan seolah-olah duta sebuah negeri merdeka.

Hayam Wuruk, Maharaja Majapahit, sangat murka dengan tindakan Kaisar Cina yang menerima dan memperlakukan utusan Palembang seperti seorang duta. Ia kemudian menggerakkan armada Majapahit meluluhlantakkan bandar Palembang. Setelah peristiwa itu, ia menunjuk salah seorang saudara tirinya – putera Prabu Kertawarddhana dari istri selir, adik dari Singhawarddhana – yang bernama Parameswara menjadi Adipati Palembang.

Tetapi, pesona bandar Palembang telah menggoyahkan kesetiaan Parameswara tak lama setelah Hayam Wuruk mangkat. Parameswara menyatakan Palembang sebagai negara merdeka. Wikramawarddhana, yang masih kemenakan Parameswara, menolak pernyataan sepihak Adipati Palembang itu. Armada Majapahit sekali lagi dikerahkan untuk menghancurkan Palembang. Parameswara melarikan diri dan akhirnya mendirikan Kerajaan Malaka.

Sementara itu, usai pemberontakan Parameswara, kekacauan dan kerusuhan meluas di Palembang. Sejarah kemudian mencatat, di dalam kekacauan itu telah muncul seorang bajak laut bernama Liang Tau Ming. Dengan seluruh kekejaman dan kebrutalannya, dia menancapkan cakar kekuasaannya di bandar Palembang. Liang Tau Ming tidak membawa kemakmuran apa pun, kecuali makin meningkatnya kekacauan dan ketidakseimbangan hidup rakyat Palembang. Dan Palembang yang saat itu disebut Ku Kang pun tenggelam dalam kegetiran yang menyakitkan.

Bukan hanya penghuni bandar Palembang yang merasakan kegetiran di bawah kekuasaan Liang Tau Ming, saudagar-saudagar Cina pun merasakan kepahitan serupa sehingga mereka beramai-ramai melapor kepada Kaisar. Liang Tau Ming kemudian dieksekusi. Sebagai gantinya, tampillah Cheng Po Ko yang selalu mengirim upeti sebagai bukti bahwa bandar itu tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Cina.

Kerajaan Majapahit yang makin melemah kekuatannya tidak mengambil tindakan apa pun terhadap kebijakan Kaisar Cina yang telah menjadikan Palembang sebagai bagian dari kekuasaannya. Majapahit terus disibukkan dengan pemberontakan-pemberontakan di dalam negeri. Namun, saat Prabu Kertawijaya naik takhta dengan gelar Sri Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana yang lazim disebut Brawijaya V, masalah Palembang mulai menjadi perhatian penting. Ia mengirimkan seorang puteranya yang bernama Ario Damar sebagai Adipati Palembang dengan tugas utama mengembalikan bandar tua itu ke pangkuan Majapahit.

Ario Damar adalah ksatria tangguh yang telah teruji kecerdasan dan kesaktiannya dalam menumpas pemberontak maupun memperbaiki, menata, dan membangun kembali negeri-negeri yang rusak akibat peperangan. Ia dikenal sebagai negarawan ulung. Ario Damar sejak kecil diasuh oleh uwaknya – kakak kandung ibundanya – seorang pendeta Bhirawatantra bernama Ki Kumbharawa (Jawa Kuno: matahari di dalam tempayan) yang tinggal di hutan Wanasalam di selatan ibu kota Majapahit. Ibunda Ario Damar yang bernama Endang Sasmitapura adalah pengamal ajaran Bhirawatantra. Itu sebabnya saat hamil tua ia diusir oleh suaminya, Prabu Kertawijaya, dari istana Bhre Tumapel, karena kedapatan melakukan pancamakara, yaitu upacara minum darah dan memakan daging manusia.

Oleh didikan Ki Kumbharawa dan Ibundanya, Ario Damar tumbuh sebagai pemuda yang memiliki berbagai kesaktian dan kedigdayaan luar biasa. Itu sebabnya, saat mengabdi ke Majapahit ia dapat menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Bahkan di antara penganut ajaran Bhirawatantra kala itu, Ario Damar dianggap sebagai salah seorang tokoh yang paling sempurna ilmunya sehingga ia disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Dengan kemampuannya yang luar biasa itu, Ario Damar berhasil mengembalikan Palembang ke pangkuan Majapahit. Ia mampu menciptakan suasana aman dan tenteram, juga memakmurkan rakyat Palembang. Palembang yang sudah terpuruk ke jurang kebinasaan itu ternyata bisa bangkit lagi.

Untuk menunjukkan kekuasaan Majapahit atas kekuasaan masyarakat Cina yang selama itu tunduk kepada Kaisar Cina, Prabu Kertawijaya menganugerahkan salah seorang selirnya yang bernama Retno Subanci kepada Ario Damar. Retno Subanci adalah puteri saudagar Cina muslim bernama Encik Ban Chun, asal nagari Gresik. Saat dianugerahkan kepada Ario Damar, ia sedang hamil tua dan mengandung anak Prabu Kertawijaya.

Keberhasilan Ario Damar dalam merebut dan membangun bandar Palembang ternyata berlanjut dengan keberhasilan dirinya membangun nilai-nilai baru yang bersumber pada ajaran Islam. Ario Damar yang sejak kecil akrab dengan ajaran Bhirawatantra, tanpa pernah ada yang menduga sebelumnya, telah memperoleh hidayah cahaya iman dari Allah melalui perantaraan Syaikh Ibrahim as-Samarkandy, saudara ipar Ratu Darawati, istri Prabu Kertawijaya yang berasal dari negeri Campa.

Berita itu menggemparkan para pejabat dan rakyat Palembang, bahkan Dyah Suraprabhawa, maharaja Majapahit, saudara tiri Ario Damar, mengirim utusan untuk mempertanyakan kesetiaannya kepada Majapahit. Ario Damar dengan tegas menyatakan bahwa persoalan ia memeluk Islam adalah persoalan pribadi yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan kesetiaannya kepada Majapahit. Kepada utusan itu Ario Damar memberikan keris pusaka Kyai Kala Canggah yang ujungnya bercabang dua serta upeti berupa emas dan permata sebagai bukti bahwa ia tetap setia kepada Majapahit, meski telah berpindah agama.

Keislaman Ario Damar ternyata tidak hanya berpengaruh pada perubahan suasana kehidupan pribadi dan isi kadipaten, tetapi juga meluas sampai keluar Palembang. Ia mengganti namanya menjadi Ario Abdillah. Putera tirinya diberi nama Raden Kasan, kelak menjadi Arya Sumangsang alias Raden Patah, adipati Demak. Putera sulungnya dari Retno Subanci diberi nama Raden Kusen – kelak menjadi Pecat Tandha dan adipati Terung.

Ketika usianya makin merambat senja, Ario Abdillah meninggalkan kadipaten. Ia digantikan oleh adipati Karang Widara yang bernama Pangeran Surodirejo, yang tidak lain adalah putera Raden Kusen. Ario Abdillah kemudian memilih tinggal di rumah sederhana di kampung yang dinamakan Pedamaran (artinya: kediaman Ario Damar). Dari Pedamaran itulah ia memberitakan kebenaran ajaran Islam. Mula-mula ia menyiarkan kepada penduduk di sekitar Pedamaran. Dulu penduduk di sana terkenal sangat menentang ajaran Islam yang disebarkan oleh Syarif Husin Hidayatullah, bangsawan Arab yang menjadi pemimpin di daerah Usang Sekampung. Namun, di bawah bimbingan Ario Abdillah, penduduk dengan sukarela berkenan memeluk Islam. Begitulah, daerah-daerah kafir seperti Talang Lindung Bunyian, Lebak Teluk Rasau, Lebak Air Hitam, dan Lebak Segalauh telah menjadi perkampungan muslim.

Menurut cerita, tak lama setelah memeluk Islam, Ario Abdillah menikahi puteri Syarif Husin Hidayatullah. Dari pernikahan itu lahirlah Raden Sahun yang diberi gelar Pangeran Pandanarang – kelak menjadi adipati Samarang dan puteranya menjadi Sunan Tembayat. Melalui ikatan perkawinan inilah ia dapat menyiarkan Islam sampai ke daerah Siguntang, Prabumulih, dan Meranjat. Syarif Husin Hidayatullah diangkat menjadi Menak (bangsawan) Palembang.

Begitu turun dari perahu, San Ali langsung menuju ke Pedamaran. Sesampainya di sana, didapatinya Ario Abdillah sedang mengais-ngais tanah di halaman rumah panggungnya. Rupanya, tokoh besar yang berusia hampir delapan puluh tahun itu sedang mencari akar-akaran untuk obat. Meski usianya sudah sangat tua, sisa kegagahan tetap terpahat pada otot-otot tubuhnya yang kukuh. Ketenangan jiwa terpancar dari wajahnya yang teduh.

Sekalipun mata Ario Abdillah lebih bulat dan lebih lebar dibanding Raden Kusen, San Ali mendapati betapa bentuk hidung, mulut, kening, bahkan dagu keduanya sangat mirip. Rambut, alis, kumis dan janggut Ario Abdillah yang memutih tidak menjadikannya manusia renta tanpa daya. Wibawa tetap memancar dari tubuh tua itu. Bahkan siapa saja yang kebetulan melihat sorot matanya, pasti akan merasakan kegentaran menerkam jiwa.

Ketika San Ali mendekat, Ario Abdillah dengan tanpa menoleh dan tangan tetap mencabuti akar-akaran mendendangkan lagu, “Engkau adalah hijab bagi dirimu sendiri, o manusia, maka keluarlah engkau dari padanya. Pengembaraan adalah pematangan bagi jiwa yang mentah. Jika engkau sudah keluar dari hijabmu maka akan engkau temukan alam semesta di dalam dirimu, ibarat lautan engkau temukan di dalam perahu.”

San Ali tercekat. Ia menangkap sasmita tentang kedalaman ajaran di dalam syair lagu itu. Dengan kobaran rasa ingin tahu yang menggelora, ia mendekat dan berkata penuh harap, “O Tuan Manusia Besar yang sudah tercerahkan, berkenankah Tuan mengajari hamba jalan menuju Dia?”

“Aku?” gumam Ario Abdillah terperanjat. “Aku mengajarimu jalan menuju Dia?”

“Besar harapan hamba, Tuan mengabulkan keinginan hamba.”

“Tidak ada yang bisa mengajari manusia menuju jalan-Nya kecuali Dia sendiri, dengan jalan-jalan yang ditentukan-Nya.”

“Tapi, Tuan?”

“Siapakah engkau dan dari manakah asalmu, o Anak Muda?”

“Hamba San Ali, putera angkat Ki Danusela, Kuwu Caruban.”

“Kalau begitu, engkau masih kemenakanku sendiri karena Ki Danusela adalah saudara tiriku,” Ario Abdillah mengangkat alis kanannya ke atas.

“Benar Tuanku, hamba bahkan telah berjumpa dengan Pamanda Raden Kusen, putera Tuanku di Caruban,” San Ali menjelaskan.

Ario Abdillah menunduk. Diam. Sejenak kemudian dia berkata, “Apa yang bisa kuajarkan kepadamu, o Anak, jika engkau memiliki jalan sendiri menuju Dia?”

“Itu benar, o Tuanku. Tetapi, Tuan bisa menceritakan perjalanan Tuan sehingga hamba bisa mengambil hikmah di balik cerita Tuan. Hal itu akan hamba jadikan pedoman dalam perjalanan hamba menuju Dia.”

“Ada banyak orang berkata tentang aku, namun apa yang mereka katakan itu pada hakikatnya tidak tepat sebagaimana aku mengatakan tentang diriku. Akhirnya, akupun bingung tentang siapa yang paling benar mengatakan tentang aku. Lantaran itu, o Anak, kutinggalkan segala perkataan tentang aku, karena itu semua semakin membingungkan ‘aku’-ku. Dan ketahuilah, o Anak, ketika engkau berkata tentang jalanku maka saat itulah engkau telah memunculkan keakuan, baik keakuanmu maupun keakuanku; yang ujung dari semua itu adalah sia-sia.”

“Apakah engkau melihat guna dan manfaat ketika kuceritakan bagaimana kegagahan dan keperkasaanku menghancurkan musuh di medan laga, kalau pada dasarnya justru kepahitan yang kudapati dari cerita itu? Adakah guna dan manfaat ketika kuceritakan kepiawaian dan kebijaksanaanku mengatur negeri, kalau pada dasarnya justru kegetiran yang kurasakan? Adakah guna dan manfaat ketika kuceritakan bagaimana seharusnya aku merasakan kepuasan karena keturunanku menjadi penguasa negeri, kalau akhirnya yang kudapatkanjustru kekecewaan?”

“Ketahuilah, o Anak, bahwa keperkasaan, kegagahan, kepintaran, kabajikan, kebijakan, kepuasan diri dan segala macam penilaian yang mengarah pada pepujian diri adalah hampa semata dengan tepi kepedihan yang menyiksa. Sebab, saat engkau terperangkap pada penilaian baik atau buruk tentang sesuatu mengenai ‘aku’-mu atau ‘aku’-ku atau ‘aku’-siapa saja, maka saat itulah telah terjadi pengakuan terhadap sesuatu yang bukan haknya. Dan mengaku yang bukan hak adalah kepedihan tanpa tepi.”

“Segala sesuatu yang tergelar di alam semesta adalah milik-Nya tanpa kecuali; bumi, bulan, matahari, hewan, manusia, tumbuhan, jin, setan, iblis, malaikat, surga, dan neraka. Puji-pujian, kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan segala sesuatu sekecil apa pun adalah milik-Nya. Bahkan keimanan sekecil tungau pun adalah milik-Nya. Engkau tak memiliki apa pun baik kekayaan duniawi, keluarga, tubuh, nyawa, ruh, dan bahkan iman sekalipun; semua milik-Nya.”

“Kenangkanlah liku-liku jalan yang pernah kulewati sejak aku dilahirkan dari rahim ibundaku, di mana ajaran kebenaran yang kukenal awal sekali ketika aku masih kecil adalah Bhirawatantra yang penuh lumuran darah dan kematian. Saat itu, sangat kuyakini kebenaran ajaran dari leluhurku itu sebagai jalan menuju-Nya. Berbagai kesulitan yang kuhadapi dapat kuatasi dengan ilmu-ilmu yang kupelajari dari ajaran itu. Tetapi, disaat aku berada di puncak kemenangan tiba-tiba Dia memberikan cahaya iman ke dalam jiwaku. Dan kutinggalkan segala apa yang pernah kuraih sebagai kebanggaan masa mudaku itu.”

“Dengan pengalaman hidup yang kulewati ini, o Anak, aku makin sadar bahwa segala sesuatu tanpa kecuali adalah milik-Nya. Karena itu, hari-hariku sekarang ini kuhabiskan untuk menunggu dia mengambil kembali milik-Nya yang kini telah lapuk dan renta dimakan zaman. Dan lantaran itu, kutinggalkan segala sesuatu yang pernah kuanggap sebagai milikku di dunia ini. Kuhadapkan pikiran dan perasaanku hanya kepada-Nya, agar saat Dia mengambilku, seutuhnya diriku kembali kepada-Nya tanpa beban apa pun dari dunia yang pernah kutinggali ini.”

“Jika Tuan ingin kembali hanya kepada-Nya, hamba yakin itu akan terjadi. Tetapi, mohon Tuan jelaskan kepada hamba bagaimana dengan nasib uwak dan ibunda Tuan yang tetap tinggal di dalam kegelapan ajaran najis itu?” kata San Ali.

“O Anak,” sahut Ario Abdillah dengan suara berat. “Engkau tidak bisa menilai sesuatu ajaran sebagai sesuatu yang najis atau suci. Sebab, semua itu berasal dari-Nya. Semua milik-Nya. Perbedaan yang engkau lihat sebenarnya hanya pada tingkat penampakan indrawi belaka; hakikatnya adalah sama, yakni menuju hanya kepada-Nya. Yang gelap maupun yang terang, semua menuju kepada-Nya.”

“Hamba kurang paham dengan penjelasan itu, o Tuan.” San Ali penasaran.

“Ketahuilah, o Anak, bahwa Dia bukan hanya pemilik segala sesuatu yang tergelar di alam semesta. Dia menata dan mengatur semuanya. Jika engkau sekarang ini berada di dalam golongan muslim yang dianugerahi iman maka sesungguhnya engkau berada dalam golongan yang tercerahkan oleh cahaya salah satu nama indah-Nya, yakni al-Hadi (Yang Memberi Petunjuk) yang dari-Nya mengalir para malaikat, nabi, rasul, wali, dan orang-orang saleh.”

“Sementara jika engkau berada di dalam golongan di luar penganut ajaran Islam yang engkau nilai najis karena berlumur darah, maka sesungguhnya engkau berada di dalam golongan yang terbimbing oleh salah satu nama indah-Nya yakni al-Mudhill (Yang Menyesatkan) yang dar-Nya mengalir iblis, setan, penyembah berhala, pemuja kegelapan, dan pengorban darah. Tetapi, semua itu bersumber dari-Nya dan bermuara kepada-Nya. Dialah Yang Tunggal, yang memiliki kekuasaan mutlak menggolongkan orang kepada masing-masing nama-Nya. Dia pula yang berkuasa mutlak membimbing orang ke jalan terang atau menyesatkan orang ke jalan gelap, tanpa ada yang bisa mengganggu gugat.”

“Sudah tertulis di dalam dalil: nurun ‘ala nurin yahdi Allahu linurihi man yasya’u (Cahaya di atas cahaya, Dia membimbing dengan cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki). Tertulis pula dalil: man yahdi Allahu fala mudhilla lahu wa man yudhlilhu fala hadiya lahu (Siapa yang ditunjuki Allah, engkau tak bisa menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan Allah, tak bisa engkau menunjukinya). Jadi, jalan terang atau jalan gelap, pada hakikatnya tergantung mutlak pada kehendak-Nya.”

“Engkau anggap suci ajaran agamamu karena engkau berada di dalam pandangan agamamu yang menganggap ajaran lain sesat dan najis. Namun, jika engkau berada di dalam ajaran lain maka ajaran yang lain itu akan menilai sesat dan najis agamamu. Dia memang menempatkan sudut pandang yang berbeda bagi tiap-tiap umat untuk memandang kenyataan yang tergelar di hadapannya. Dengan sudut pandang itulah masing-masing manusia memiliki perbedaan dalam memandang kebenaran agama yang dianutnya. Semuanya, terutama yang awam, memiliki penilaian bahwa agama yang dianutnya itulah yang paling baik.”

“Ketahuilah, o Anak,” lanjut Ario Abdillah, “bahwa orang menjadi Muslim atau menjadi penganut ajaran Bhairawatantra pada hakikatnya bukanlah keinginan pribadinya. Semua yang menentukan adalah Dia. Tidakkah engkau ingat kisah paman Nabi Muhammad yang bernama Abu Thalib? Kenapa lelaki berhati mulia yang sampai akhir hayat membela Nabi Muhammad itu tidak mati dalam keadaan Muslim? Kenapa saat Nabi Muhammad mendoakannya agar menjadi Muslim justru ditegur oleh Allah bahwa beliau hanya sekadar menyampaikan seruan Islam, sedang yang menentukan orang menjadi Muslim atau tidak adalah Allah?”

“Dengan memahami hakikat ketunggalan-Nya, o Anak, engkau tidak akan terperangkap lagi ke dalam batasan-batasan yang telah dibuat-Nya untuk menghijab ciptaan-Nya dari Dia. Untuk itu, o Anak, jika engkau ingin menuju hanya kepada-Nya maka engkau wajib menyingsingkan tiap-tiap hijab yang membungkus kesadaran sejatimu sehingga engkau memahami bahwa seluruh makhluk di alam semesta ini, mulai dari malaikat, bidadari, manusia, hewan, tumbuhan, jin, setan, bahkan iblis adalah penyembah dan pemuja Dia, meski dengan sebutan dan tata cara yang berbeda. Sesungguhnya Dia itu Esa. Tidak ada sesuatu yang menyamai apalagi menyaingi Dia. Sebab, telah tertulis dalam dalil: kana Allahu wa lam yakun ma’ahu syai’un (Dia ada. Tidak ada sesuatu bersama Dia).

Bumi manusia kediaman anak cucu Nabi Adam pada dasarnya tidak hanya dihuni oleh makhluk-makhluk yang kasatmata. Berbagai makhluk tidak kasatmata pun menjadi penghuni bumi. Bahkan di antara mereka adalah generasi pelanjut makhluk sebelum Nabi Adam menghuni bumi. Mereka berakal dan berbangsa-bangsa. Berbudaya. Berkembang biak. Namun, bentuk fisik mereka tidak padat seperti manusia yang terdiri atas darah, daging, dan tulang. Karenanya, mereka tidak kasatmata.

Kenyataan tentang makhluk tidak kasatmata itu diketahui San Ali saat ia diajak berkelana memasuki matra lain dari bumi manusia untuk menyaksikan Keagungan dan Ketidakterbatasan Kuasa Ilahi. San Ali tidak mengetahui ilmu apa yang digunakan Ario Abdillah untuk menembus matra demi matra yang menyelubungi bumi. Ia hanya merasakan saat Ario Abdillah memerintahkannya duduk berhadapan sambil memejamkan mata berkonsentrasi, tiba-tiba tubuhnya merosot ke bawah. Sesaat sesudah itu, ketika membuka mata ia mendapati dirinya berada di sebuah rongga besar dan luas di bawah tanah. Ario Abdillah dilihatnya berdiri di depannya sambil bersidekap menyilangkan kedua tangan di dada.

Sebelum San Ali bertanya tiba-tiba Ario Abdillah menjelaskan bahwa mereka berada sekitar tujuh puluh depa dari permukaan tanah. “Ini merupakan lapisan pertama dari kediaman anak cucu makhluk-makhluk penghuni bumi sebelum Nabi Adam diturunkan. Mereka adalah keturunan Banu al-Jaan. Mereka mendiami dasar bumi hingga lapis yang ke tujuh.

“Tuanku, apakah mereka itu disebut jin?” tanya San Ali takjub.

“Kita, umat Islam, menyebutnya seperti itu. Sebenarnya mereka beraneka macam. Bentuk mereka mirip manusia dengan satu kepala, dua tangan, dan dua kaki. Sebagian di antara mereka ada yang memiliki sayap seperti kelelawar dan burung, namun sebagian besar tidak bersayap.”

“Apakah mereka hidup dalam puak-puak masyarakat?” San Ali mendecakkan mulut kagum.

“Seperti layaknya manusia, mereka hidup dalam kota-kota dan benteng-benteng. Kendaraan yang mereka gunakan berjalan sangat cepat tanpa perlu ditarik kuda. Bahkan mereka memiliki kereta perang yang bisa terbang seperti milik dewa-dewa. Berbeda dengan kendaraan manusia, kendaraan makhluk-makhluk itu menimbulkan suara gemuruh yang menggetarkan dada dan memekakkan telinga,” Ario Abdillah menguraikan.

“Apakah Tuanku akan mengajak hamba mengunjungi kota-kota mereka?” tanya San Ali dengan rasa ingin tahu yang berkobar-kobar. “Apakah mereka tidak menyerang kita?”

“Sebelum engkau mengenal mereka, o Anak, kata Ario Damar datar, “engkau harus tahu tentang mereka sehingga engkau tidak terperosok ke jurang kesesatan seperti sebagian manusia yang mengenal mereka.”

“Hamba menunggu petunjuk dan akan patuh Tuan.”

Ario Damar diam sesaat. Sejenak sesudah itu dengan suara berat dan penuh keseriusan dia mulai menguraikan tentang makhluk-makhluk penghuni dasar bumi. Menurut Ario Damar, leluhur makhluk-makhluk itu pada zaman dahulu kala menghuni permukaan bumi selayaknya manusia. Namun, mereka sangat sombong dan membanggakan ilmu pengetahuannya. Akhirnya, terperangkaplah mereka ke dalam kebiasaan menumpahkan darah sesamanya. Dengan kereta perang yang bisa terbang, mereka menembus langit menuju ke bintang-bintang tempat kediaman para malaikat, makhluk yang dicipta Allah dari cahaya.

Kesombongan makhluk-makhluk itu menimbulkan kerusakan di permukaan bumi. Tidak hanya makhluk-makhluk itu saja yang binasa dalam setiap peperangan, tetapi makhluk lain pun ikut menjadi korban. Hewan-hewan raksasa, pepohonan, gunung-gunung, dan hutan-hutan luluh lantak karena senjata mereka yang dahsyat. Kematian tersebar dimana-mana. Jika tidak segera dicegah maka dipastikan bumi akan binasa.

Gusti Allah memerintahkan para malaikat untuk membinasakan makhluk-makhluk yang ingkar kepada nikmat-Nya dan membanggakan kesombongan dirinya itu. Gusti Allah akan menggantikan makhluk-makhluk sombong itu dengan makhluk baru, yakni manusia. Demikianlah, para malaikat beramai-ramai turun ke bumi. Kota-kota dan benteng-benteng mereka yang kokoh dan perkasa diluluhlantakkan. Mereka dibinasakan oleh senjata-senjata malaikat yang lebih dahsyat daripada milik mereka. Sebagian besar di antara mereka binasa. Sisanya melarikan diri dari daratan menuju pulau-pulau di tengah samudera. Sebagian lagi bersembunyi di dasar bumi.

Berpuluh, beratus, bahkan beribu tahun makhluk-makhluk sombong yang selamat itu hidup dalam kegelapan dasar bumi. Allah pun menganugerahi mereka dan keturunannya untuk bisa melihat di dalam gelap. Makanan utama mereka adalah saripati tulang belulang. Tetapi, naluri leluhur mereka yang haus darah tidak juga bisa hilang dari keturunan mereka. Makhluk-makhluk itu tetap gemar minum darah manusia.

“Tuanku,” San Ali berkata setelah melihat Ario Abdillah berdiam diri agak lama, “guru agung hamba, Syaikh Datuk Kahfi, pernah membawakan riwayat hadits yang menjelaskan bahwa sebelum Nabi Adam, bumi ini dihuni makhluk dari bangsa jin. Menjelang Nabi Adam turun ke bumi, makhluk-makhluk dari bangsa Jin itu dihalau ke pulau-pulau di samudera. Tetapi, itu semua hanya penuturan beliau, Tuanku. Hamba belum menyaksikan sendiri.”

Ario tidak berkata sepatah pun. Namun, beberapa jenak kemudian tangannya menyambar tangan San Ali. Dan seperti berlari di atas padang rumput yang luas, begitulah Ario Abdillah mengajak San Ali menembusi lorong-lorong bawah tanah yang berliku-liku. Ario Abdillah baru menghentikan langkah ketika mereka sampai di sebuah danau berair jernih yang dilingkari pepohinan rindang.

“Tahukah engkau, o Anak,” gumam Ario Abdillah dengan suara ditekan, “dimanakah kita berada?”

“Hamba tidak tahu, Tuanku,” sahut San Ali.

“ketahuilah bahwa kita berada di Jawadwipa, tepatnya di bawah Gunung Anjasmoro.”

“Di Jawadwipa?” seru San Ali heran. “Kenapa kita tidak melewati laut?”

“Kita tidak melewati laut karena kita berada di dasar bumi,” Ario Abdillah menjelaskan. “Dan ketahuilah bahwa bentangan pulau-pulau di Nusantara pada hakikatnya satu kesatuan ikatan. Adanya laut yang memisahkan pulau satu dengan pulau yang lain bersifat permukaan belaka.”

“Luar biasa,” gumam San Ali sambil menyapukan pandangan ke sekitarnya dengan penuh ketakjuban.

San Ali yang masih diliputi rasa takjub hanya termangu-mangu keheranan ketika menyaksikan kerumunan orang dengan tubuh cabol dengan kepala besar dan tangan menjuntai ke bawah lutut di sekitar danau tak jauh dari tempatnya berdiri. Salah satunya memiliki janggut memanjang hingga ke dada. Rupanya dialah pemimpin mereka. Dengan celoteh yang tak jelas, dia mendekati Ario Abdillah. Kemudian dengan gerakan menghormat, dia merangkul kaki Ario Abdillah.

Ario Abdillah memperkenalkan orang cebol berjanggut panjang itu kepada San Ali dengan nama Kala Hiwang (Jawa Kuno: waktu menyimpang) yang sering dipanggil Buyut Kelewang, Kala Hiwang adalah sahabat yang banyak membantu saat dia masih menggeluti ajaran Bhirawatantra.

Ario Abdillah membaca semacam mantra. Sesaat sesudah itu keanehan terjadi. Tiba-tiba terdengar suara embusan angin bersuit-suit yang diikuti gemuruh bagai halilintar. Kemudian muncul gumpalan asap yang diikuti sesosok makhluk bertubuh raksasa dengan kulit hitam legam dan kepala gundul. Ia tidak berkumis, tetapi janggutnya terjuntai sampai ke perut. Begitu muncul, makhluk itu merunduk dan merangkul kaki Ario Abdillah, seperti Kala Hiwang. Menurut Ario Abdillah, makhluk itu adalah sahabat karibnya yang lain. Ia bernama Kala Hingsa (Jawa Kuno: pembunuh waktu), namun sering disebut Buyut Kelungsu (artinya, isi buah asam yang hitam dan keras).

Ario Abdillah berbicara dengan Kala Hiwang dan Kala Hingsa dengan bahasa yang tidak dimengerti San Ali. Namun, dari nada bicara dan gerak tubuh mereka, ia menangkap makna bahwa mereka bertiga sudah sangat lama tidak berjumpa. Bahkan dalam perbincangan itu, San Ali menangkap isyarat betapa Kala Hiwang dan Kala Hingsa terperangkap ke dalam kesedihan. Ario Abdillah terlihat beberapa kali menarik napas berat seolah-olah melepaskan beban yang menggumpal di dada.

Setelah cukup lama berbincang-bincang akhirnya Ario Abdillah mengajak San Ali meninggalkan tempat itu. Kali ini, San Ali merasakan perjalanannya cepat laksana kilat. Keduanya berhenti di suatu kota yang terang benderang dan berarsitektur aneh. Rumah-rumah dibangun bersusun-susun. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian aneka warna. Kendaraan-kendaraan aneh tanpa hewan penarik berseliweran dengan suara gemuruh. Yang ajaib lagi, lampu-lampu yang menerangi kota tidak menggunakan nyala api.

Ario Abdillah menjelaskan bahwa kota itu terletak di lapis bumi ketujuh, lapisan yang paling dekat dengan tungku bumi. Para penghuninya berperadaban lebih maju dibanding penghuni di lapisan lain. Meski mereka maju, naluri suka menghirup darah manusia tetap belum hilang. Pada saat-saat tertentu, ketika bumi diliputi kegelapan, terutama saat terjadi gerhana, para penghuni lapis ketujuh itu beramai-ramai keluar dari kediaman mereka melalui kawah gunung berapi dan gua-gua. Mereka beriringan mencari mangsa untuk dijadikan jamuan pesta besar di bumi utara yang tenggelam dalam kegelapan selama lima bulan.

San Ali sangat terkesan dengan pengalaman menakjubkan mengenal makhluk-makhluk penghuni bumi selain manusia. Dalam berbagai kesempatan ia terus bertanya dan Ario Abdillah berusaha menjawab semua pertanyaannya. Jika dia tidak bisa menjelaskan tentang peradaban dan hasil budaya mereka maka tidak segan-segan dia mengajak San Ali mengunjungi kediaman mereka.

Suatu malam, Ario Abdillah mengajak San Ali mengunjungi bangsa Jin yang tinggal di bintang-bintang. Ia takjub ketika menginjakkan kaki di buntang az-Zuhal. Rembulan yang mengambang di langit berjumlah sepuluh. Makhluk-makhluk yang tinggal di sana wujudnya mirip manusia, namun kulit mereka sangat putih. Begitu putih sehingga urat-urat yang melingkar di wajah mereka terlihat jelas. Yang laki-laki sangat tampan. Yang perempuan sangat cantik. Semua berhidung mancung. Mata mereka biru bening bagai kristal. Rambut mereka putih agak kelabu. Anehnya, segala sesuatu yang ada di tempat itu berwarna putih. Batu-batuan. Tanah. Gunung. Bangunan. Pepohonan. Bahkan kendaraan-kendaraan aneh yang terbang dengan suara bergemuruh.

Ario Abdillah menjelaskan tentang adanya ruh-ruh manusia bumi yang menikah dan tinggal di alam Jin, sedangkan tubuh wadag-nya tetap di bumi. “Badan wadag tanpa ruh itu hidup tanpa kesadaran utuh. Jika ruhnya berbicara denagn siapa saja di alam Jin maka badan wadag-nya akan berbicara juga. Lantara itu, orang tersebut dianggap gila oleh orang-orang di bumi.”

“Jika ruhnya diajak balik ke badan wadag-nya?” tanya San Ali, “apakah orang tersebut akan sembuh dari gila?”

“Tentu saja, o Anak,” kata Ario Abdillah, “tetapi untuk membawa kembali ruh bukan pekerjaan gampang. Alam makhluk-makhluk itu sangat luas. Bisa saja ia tinggal di dasar bumi atau di bintang az-Zuhal, az-Zuhra, al-Utarid, al-Musytari, al-Murikh, bintang Soma, Bhrihaspati, Sukra, bahkan bintang Buda. Lagi pula, belum tentu ruh itu mau balik ke badan wadag-nya di bumi.”

Ketakjuban San Ali terhadap kehidupan makhluk-makhluk gaib itu nyaris membawanya ke lingkaran ciptaan Ilahi yang tidak diketahui batas akhirnya. Ia seolah-olah melupakan tujuan utamanya mencari Dia Yang Tak Terjangkau dan Tak Bisa Dibayangkan. Andaikan Ario Abdillah tidak menegurnya dengan keras dan mengusirnya, ia tentu akan terus berkutat dengan tumpukan tanda tanya tentang makhluk-makhluk ciptaan Gusti Allah tersebut. San Ali menyadari kekalahannya. Kemudian dengan penuh takzim ia berpamitan.

“Tuanku,” katanya seraya bersimpuh di depan Ario Abdillah, “Jika pada akhirnya tuanku menghendaki hamba melanjutkan perjalanan menuju Dia, kenapa selama ini Tuanku memperkenalkan hamba kepada makhluk-makhluk gaib itu? Bukankah lebih baik jika Tuanku mangajarkan hamba cara tersingkat menjalin hubungan dengan Dia?”

“Aku adalah aku. Engkau adalah engkau!” kata Ario Abdillah dengan suara tinggi. “Aku memiliki jalan sendiri. Engkau pun memiliki jalan sendiri. Karena itu engkau harus mencari jalanmu sendiri, o Anak.”

“Jika demikian, mengapa Tuanku memperkenalkan hamba pada kehidupan makhluk-makhluk gaib?” tanya San Ali penasaran.

“Jalan ini memang harus engkau lalui, o Anak, agar terpatri di dalam jiwa dan pikiranmu bahwa Gusti Allah itu Mahaagung, Mahakuasa, dan Mahapencipta. Keagungan-Nya tanpa batas. Kekuasaan-Nya tanpa batas. Ciptaan-Nya juga tak diketahui batasnya. Artinya dalam pencarian mengenal Dia, hendaknya cakrawala pikiranmu menjadi luas seperti hamparan langit. Dia bukan hanya Gusti Allah yang disembah umat Islam, melainkan Dia adalah Tuhan yang disembah seluruh umat manusia, hewan, tumbuhan, jin, malaikat, setan, iblis, bulan, bintang, matahari, dan berbagai makhluk ciptaan-Nya yang tak diketahui. Makhluk-makhluk itu hanyalah sebagian kecil saja dari ciptaan-Nya.”

San Ali tertunduk diam. Kata-kata yang diucapkan Ario Abdillah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan penjelasan guru agungnya. Namun, kenyataan tentang makhluk-makhluk selain manusia benar-benar mencengangkannya dan hampir membuatnya tergelincir dari tujuan semula.

Ario Abdillah akhirnya berterus terang bahwa tujuannya bertemu dengan Kala Hiwang dan Kala Hingsa di dasar bumi itu sebenarnya hendak berpamitan. “Usiaku sudah lanjut. Sudah saatnya aku kembali kepada-Nya.”

“Bukankah Tuanku masih kuat dan sehat?” tanya San Ali. “Hamba tak yakin barang sepuluh atau lima belas tahun lagi Tuanku bakal meninggal dunia.”

“Tidak,” sahut Ario Abdillah, “usiaku tinggal sepekan lagi. Pada tanggal kesembilan, hari Soma Manis (Senin Legi), bulan Waishaka, saat pecat sawet (pukul 10:00), yakni lima hari lagi, itulah saatku meninggalkan dunia ini. Karena itu, cepat-capetlah engkau pergi dari sini karena aku tidak ingin menyisakan sesuatu di hati dan pikiranku selain Dia.”

“Tuanku,” sergah San Ali heran, “bagaimana Tuanku bisa tahu dengan sangat jelas saat kematian Tuan?”

“Tidak perlu kujelaskan, tetapi jika engkau teguh pada tekadmu dan setia pada jalanmu maka engkau akan dianugerahi-Nya pengetahuan seperti itu,” sahut Ario Abdillah sambil menutup mata dan mulai mengatur napas serta melafalkan dzikir.

“Hamba mohon doa restu, Tuanku,” kata San Ali mencium kaki Ario Abdillah. Ia rasakan ada rongga kosong di dadanya, seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, meskitidak tahu gerangan apa yang hilang itu. Dan sesaat ia merasa kehangatan membasahi pipinya. Sadarlah ia bahwa diam-diam titik-titik air bening telah menetes dari kelopak matanya.

Teluk Persia, 02 Oktober 2005, 09:50LT

06. Mereka Yang Terhijab

Mengikuti petunjuk Ario Abdillah, sesampainya di bandar Malaka, San Ali langsung mengunjungi Syaikh Abul Mahjuubin, seorang ulama terhormat keturunan Tamil-Melayu, penasihat ruhani kerajaan. Meski dikenal sebagai ulama yang alim, kehidupan Syaikh Abul Mahjuubin penuh kemewahan duniawi. Dia memiliki tidak kurang dari dua puluh kedai perniagaan yang tersebar dari bandar Malaka, Kandang, Umbar, Parit, Bunga, hingga Muar.

Sebagai ulama, Syaikh Abul Mahjuubin jarang terlihat keluar rumah. Dia selalu berada di dalam kamar. Tak seorang pun diperkenankan masuk. Jika ada yang bertanya apa yang dikerjakan Syaikh Abul Mahjuubin, murid-murid dan keluarganya akan mengatakan dia sedang menghitung tasbih. Meski kenyataan menunjukkan setiap hari sejumlah kotak berisi uang dari kedai-kedai perniagaan dibawa masuk ke kamar tersebut.

Karena kesibukannya ‘menghitung tasbih’ itu tak kenal waktu maka untuk menemui ulama tersebut bukan hal yang gampang. Beberapa muridnya menyeleksi benar siapa orang yang ingin bertemu Tuan Syaikh yang alim itu. Satu-satunya waktu luang Tuan Syaikh, kata murid-muridnya, hari Jum’at, meski San Ali menyaksikan sendiri bagaimana Tuan Syaikh itu di hari-hari lain menerima tamu-tamu penting, di antaranya pejabat-pejabat kerajaan. Pada hari itu, lanjut murid-muridnya, Tuan Syaikh berangkat ke masjid sambil menebarkan sedekah kepada gembel-gembel yang menunggu di pintu gerbang. Dan usai shalat Jum’at itulah San Ali dipersilakan duduk di ruang tamu, menunggu Tuan Syaikh datang.

Setelah menunggu barang satu jam, Syaikh Abul Mahjuubin kelihatan berjalan dengan kepala mendongak ke atas. Tanpa mengucap salam, ia masuk ke ruang tamu. Setelah bersalaman, Abul Mahjuubin duduk bersila di atas permadani tebal sambil menarik napas berat dan mata memandang penuh curiga ke sekujur tubuh San Ali mulai ujung rambut hingga ujung kaki.

Sebenarnya Syaikh Abul Mahjuubin adalah orang yang ramah dan pandai berbicara untuk menghangatkan suasana. Dengan usia barang enam puluh tahun, dia sepintas tampak bagaikan guru yang bijak. Namun, jika diamati lebih mendalam akan segera terasa bahwa dia bukanlah orang yang tulus dalam segala hal.

“Mamad, pelayanku, sudah menyampaikan hal awak datang kemari,” kata Abul Mahjuubin membuka pembicaraan.

“Juga keinginan saya menjadi murid Tuan?” tanya San Ali.

“Iya,” sahut Abul Mahjuubin pendek. “Dan aku heran, kenapa awak memilih berguru kepada aku?”

“Yang Mulia Ario Abdillah, Yang Dipertuan Palembang, menyarankan saya jika ingin mencari ‘Aku’ hendaknya berguru kepada Tuan,” ujar San Ali apa adanya.

“Masih hidupkah dia?” Abul Mahjuubin mengangkat alis kanannya ke atas.

“Tiga pekan lalu saya menjumpai beliau di kediamannya di Pedamaran. Namun, beliau sempat berkata kepada saya bahwa sepekan lagi beliau akan wafat.”

“Aneh-aneh saha bicara si Tua Bangka itu. Tapi apa maksud dia menyuruh awak berguru kepada aku?” tanya Abul Mahjuubin mengertak gigi tanda tak senang.

San Ali mengangkat bahu sambil menggumam, “Saya tidak tahu, Tuan.”

“Apa yang awak punya untuk bekal berguru kepada aku?” tanya Abul Mahjuubin mengangkat wajahnya ke atas.

“Saya tidak punya apa-apa, o Tuan Guru,” kata San Ali datar,” sebab kita sesungguhnya tidak memiliki apa-apa. Hanya Allah yang memiliki segala.”

“Awak bicara seperti itu sebagai apa?” sahut Abul Mahjuubin sinis. “Sebagai orang zuhud? Atau sebagai orang miskin yang menutupi kemiskinannya dengan alasan yang dibuat-buat? Atau si Tua Bangka itu yang mengajar awak bicara begitu?”

“Terserah Tuan menilai apa,” kata San Ali geli. “Sebab, kenyataannya saya memang tidak memiliki apa-apa. Jangankan uang, harta dan kekayaan lain, tubuh dan nyawa saya ini pun bukanlah milik saya.”

“Bagus jika itu yang awak mau,” Abul Mahjuubin berkata dengan suara ditekan. “Mulai sekarang, awak boleh ikut aku. Tapi ingat, awak harus sabar dan tawakal. Awak harus bisa membuktikan jika awak benar-benar orang zuhud yang tidak terpengaruh oleh gemerlap duniawi.”

“Terima kasih, Tuan.”

Abul Mahjuubin menerima San Ali di rumahnya. Namun, tidak seperti yang diharapkan, Abul Mahjuubin justru menempatkan San Ali di sebuah kedai perniagaan yang terletak di sekitar pelabuhan Malaka. Tidak main-main, San Ali dijadikan saudagar yang berkuasa penuh atas kedai tersebut.

Karena didudukkan sebagai saudagar pengelola kedai maka pakaian yang harus dikenakan San Ali haruslah pakaian yang pantas bagi saudagar. Ia harus memakai pakaian-pakaian yang terbuat dari sutera dengan hiasan benang emas. Terompahnya dari kulit. Dan seikat cincin emas bertahtakan intan menghiasi jari manisnya. “Awak harus bisa membawakan diri sebagai saudagar yang jujur dan terhormat,” Abul Mahjuubin mewanti-wanti.

Sebenarnya, ia hendak menolak dijadikan saudagar karena menurut pikirannya hal itu sangat tidak sesuai dengan jalan yang seyogyanya ditempuh dalam mencari ‘Aku’. Namun mengingat pesan Ario Abdillah, dengan berat hati ia menerima peran sementara menjadi saudagar sebagaimana dikehendaki Abul Mahjuubin. Siapa tahu ini adalah salah satu jalan menuju ‘Aku’, pikirnya.

Sekalipun menyadari bahwa dirinya tidak memiliki bakat berniaga dan sama sekali tidak menyukai pekerjaan berniaga, ia berkemauan keras menjalankan tugas dari Abul Mahjuubin dengan sebaik-baiknya. Ia ingin membuktikan bahwa sedalam apa pun ia menekuni perniagaan, namun hasrat hatinya tidaklah cenderung terhadap kekayaan duniawi yang diburu oleh para saudagar itu.

Entah ujian Tuhan atau keberuntungan sedang berpihak kepada San Ali. Dalam beberapa pekan ia sudah mengeruk keuntungan besar dan mendapatkan pelanggan baru. Dengan kejujuran, kesederhanaan, kepolosan, dan bahkan kenaifannya dalam berniaga, telah menjadikannya mengenal banyak orang, mulai dari saudagar besar, nahkoda, pelaut, tukang perahu, pedagang pasar, sampai kuli pelabuhan.

Perkenalan dengan berbagai kalangan itu membuka cakrawala pemahamannya terhadap keberadaan manusia yang memiliki keragaman sifat dan sikap. Di antara beragam manusia yang dikenalnya, ada seorang yang bernama Abul Maisir, anak sulung Syaikh Abul Mahjuubin.

Berbeda dengan ayahnya yang menjadi guru ruhani, Abul Maisir justru hidup seperti benalu yang berkembang biak di dahan dan ranting pohon keluarganya. Dikatakan benalu karena pekerjaan sehari-hari Abul Maisir adalah datang secara bergilir dari kedai satu ke kedai lain milik ayahnya untuk meminta setoran. Setoaran itu kemudian dibawanya ke meja judi. Seperti menggarami air samudera, begitulah uang yang dibawanya selalu ludes dalam tempo sekejap. Dari meja judi ke meja judi yang lain, dia bergulat dengan waktu untuk memenangkan pertaruhan, seibarat musafir mengejar fatamorgana di tengah gurun pasir. Makin dikejar makin jauh tak terjangkau.

Semula San Ali tidak mengetahui perilaku buruk Abul Maisir. Itu sebabnya, selama beberapa waktu ia selalu menyisihkan uang keuntungan kedai untuk diambil oleh Abul Maisir. Namun, bersama dengan bergulirnya waktu, terutama setelah ia ditanya oleh Abul Mahjuubin tentang hasil keuntungan dari kedai yang dikelolanya, barulah ia sadar bahwa Abul Maisir adalah orang yang keranjingan judi.

Tanpa ditutup-tutupi Abul Mahjuubin menuturkan tentang perilaku anak sulungnya yang memalukan itu. Dia menceritakan betapa Abul Maisir dengan kegemaran berjudinya itu telah menguras kekayaan keluarga lebih dari sepuluh juta ringgit. Abul Mahjuubin mengaku putus asa menghadapi Abul Maisir.

Setelah mendengar penjelasan Abul Mahjuubin, San Ali mengamati lebih cermat kehidupan Abul Maisir. Setelah mengamati selama beberapa waktu, tahulah ia bahwa hari-hari dari hidup Abul Maisir semata-mata memang diabdikan pada perjudian. Tidak ada waktu yang terlewatkan tanpa berjudi. Berapa pun uang yang dimilikinya, selalu tandas di meja judi. Abul Maisir benar-benar lupa daratan.

Jika Abul Maisir sedang kalah judi, begitu yang diketahui San Ali, dia akan marah-marah dan kemudian meminta uang kepada istrinya. Jika tidak ada uang dia akan meminta perhiasan atau barang apa pun yang bisa dijual. Jika tidak dipenuhi dia tidak segan-segan menghajar anak-anak dan istrinya. Abul maisir selalu bermata gelap. San Ali menilai betapa Abul Maisir sebenarnya sudah tidak waras. Jika sedang berjudi, bukan hanya anak dan istri yang dia lupakan, bahkan untuk mandi dan berganti pakaian pun dia seperti tidak ingat. Itu sebabnya, dia selalu tampil kuyu, kumal, dan tengik.

“Aku sebenarnya malu punya anak macam itu,” kata Syaikh Abul Mahjuubin suatu hari dengan wajah penuh duka. “Tetapi, bagaimana lagi? Dia anak sulung yang aku cintai. Dia itu tumpuan harapan aku. Karena itu, aku senantiasa berharap moga-moga dia bisa sadar.”

“Apa Tuan Guru tidak pernah menegurnya?” tanya San Ali ingin tahu.

“Sudah berulang-ulang aku menegurnya.” Syaikh Abul Mahjuubin menarik napas berat, “Namun, anak itu tidak pernah patuh akan nasihat aku.”

“Tuan tidak pernah bertindak kasar untuk mencegahnya berbuat maksiat?”

“Itulah kesulitan aku,” Syaikh Abul Mahjuubin menunduk. “Sejak kecil, dia anak yang aku sayang. Saat aku menderita dalam kemelaratan, dia ikut menghirup penderitaan. Saat aku dan istri hidup di gubuk beratap ijuk yang bocor, dia tidur kedinginan tanpa selimut kecuali sarung yang aku bebatkan ke tubuhnya. Rangkaian kisah sedih pada masa lalu yang aku alami bersama dia itulah yang membuat aku selalu merasa iba dan kasihan terhadap dia. Saat dia sakit demam aku berikrar bahwa andaikan dia sembuh maka segala keinginannya akan aku penuhi.”

Syaikh Abul Mahjuubin melanjutkan kisahnya. “Ikrar aku itulah yang sering dia jadikan senjata untuk memukul balik aku. Dia selalu mengatakan, sesuai ikrar aku dulu, bahwa aku hendaknya mengikuti keinginannya untuk berjudi. Dia mengatakan bahwa di dunia ini dia tidak ingin sesuatu yang berlebihan, istana, istri cantik, rumah mewah, perhiasan emas dan permata, kebun yang luas, atau kuda tunggangan yang mahal. Dia mengaku keinginannya sangat sederhana: berjudi.”

Berangkat dari peristiwa Abul Maisir, dengan cermat dan penuh kehati-hatian San Ali mulai mengamati perilaku anak sulung Syaikh Abul Mahjuubin dan teman-temannya sesama penjudi. Ia terutama memperhatikan sifat-sifat mereka. Apa sebenarnya yang mendorong orang-orang seperti Abul Maisir sampai lupa daratan jika sudah berjudi?

Melalui perenungan mendalam, San Ali beroleh hikmah kenapa syari’at melarang perbuatan judi. Karena, perbuatan itu ternyata mengarahkan dan membiasakan manusia untuk berwatak egois dan mau menang sendiri. Contoh sederhana, para penjudi pada dasarnya tidak memiliki sahabat dan saudara. Bayangkan, meskipun berkawan karib, jika sudah berada di dalam arena judi wajib dikalahkan dan dirampas miliknya. Watak penjudi jelas watak eksploitatif yang merugikan dan mengakibatkan ketidakseimbangan kehidupan bermasyarakat. Dan yang paling pokok adalah penjudi cenderung melupakan Tuhan karena dari waktu ke waktu yang diingat hanyalah kemenangan dan bagaimana cara mengalahkan lawan.

Ada sebuah peristiwa yang melukai jiwa San Ali, setidaknya yang berkenaan dengan kisah pedih para penjudi. Suatu saat, ia mendapati seorang saudagar Cina bernama Sian Coa, kawan judi Abul Maisir, tega menggadaikan istrinya gara-gara kalah berjudi. Betapa bodoh Sian Coa. Sudah seluruh miliknya ludes, istrinya pun tergadai. Bagi San Ali, kasus Sian Coa benar-benar kebodohan yang tak bisa diampuni. Sementara di kalangan kuli pelabuhan, beberapa kali terjadi perkelahian yang berakhir dengan pembunuhan. Bahkan yang sering terjadi, para kuli pelabuhan itu tertangkap mencuri uang gara-gara tak kuat menahan hasrat untuk berjudi.

Lain Abul Maisir lain pula Abul Khamrun, anak kedua Syaikh Abul Mahjuubin. Beda dengan kakaknya, Abul Khamrun gemar sekali mabuk-mabukan. Namun, perbedaan itu hanya pada tingkat kegemaran. Intinya keduanya adalah benalu. Karena, Abul Khamrun pun suka meminta uang kepada para pengelola kedai ayahnya. Lebih parah lagi, dia sering mengganggu orang lain jika sedang mabuk. Abul Khamrun dikenal sebagai pemabuk yang suka berkelahi.

Anak kedua Syaikh Abul Mahjuubin itu juga terseret melakukan perzinaan ke rumah-rumah pelacuran. Jika sudah mabuk dia melupakan anak-anak dan istrinya. Pekerjaan sehari-hari dia abaikan. Satu-satunya pekerjaan rutin Abul Khamrun adalah menunggu datangnya sore hari, ketika orang usai bekerja. Saat itulah, dia bersama-sama kawan-kawannya menikmati minuman keras di lepau tuak; sambil bernyanyi, tertawa-tawa, menari-nari, menantang-nantang, memaki-maki, dan sering berujung dengan perkelahian antara sesama pemabuk.

Di antara anak-anak Syaikh Abul Mahjuubin, yang paling menjengkelkan San Ali adalah Abul Kadzib, si bungsu. Hari-hari dari kehidupan Abul Kadzib dilalui dengan pekerjaan utama sebagai penipu ulung. Entah belajar dari mana Abul Kadzib ini sehingga dia sangat pandai bermanis tutur dan kata, sopan santun, ramah tamah, dan penuh janji indah sehingga setiap orang yang diajaknya berbicara selalu mempercayainya. Dan ujung dari perilaku Abul Kadzib adalah sumpah serapah dari orang-orang yang menjadi korban tipuannya.

Beberapa kali San Ali menyaksikan Abul Kadzib terpojok karena kepergok dengan orang-orang yang pernah ditipunya. Namun, sungguh ajaib, dengan tutur kata yang begitu santun dan penuh janji-janji, dia berhasil meloloskan diri. Bahkan San Ali sempat mengingatkan orang-orang yang pernah ditipu Abul Kadzib agar tidak mempercayai lagi omongannya. Anehnya, orang-orang yang sudah pernah tertipu itu masih juga percaya pada janji-janji Abul Kadzib dan mereka tertipu lagi.

Setelah mengamati dengan cermat, San Ali merasa sangat heran ketika mengetahui kehidupan nyata Abul Kadzib. Bayangkan, Abul Kadzib bukanlah penjudi dan pemabuk. Dia adalah penipu yang tiap saat berhasil mengeruk keuntungan. Anehnya, uang yang diperolehnya dari menipu itu ternyata selalu ludes tanpa sisa.

Setelah diamati lebih dalam, San Ali beroleh penjelasan bahwa Abul Kadzib ternyata sering mengeluarkan uang untuk membiayai anak-anak, istri, atau mertuanya yang sakit. Dia juga sering menyuap petugas yang menangkapnya. Bahkan yang mengherankan, karena susah diterima akal, Abul Kadzib yang kampiun menipu itu sering kehilangan uang karena dicuri, dirampok, dan bahkan ditipu orang.

Uang yang dikumpulkan anak ketiga Syaikh Abul Mahjuubin itu banyak dikeluarkan untuk membeli barang-barang mewah. Hampir tiap pekan Abul Kadzib selalu membeli pakaian bersulam benang emas dan berhias manik-manik. Tidak itu saja, dia melengkapi dirinya dengan keris-keris bergagang emas dengan bertahtakan intan dan permata. Cincin-cincin yang dikenakannya selalu dihiasi permata yang langka.

Bagi yang belum kenal dekat dengan Abul Kadzib, selalu muncul kesan bahwa anak bungsu Syaikh Abul Mahjuubin itu adalah salah seorang pangeran di antara putera-putera sultan. Kesan itu timbul karena penampilannya memang selalu mewah dan mengesankan gerak-gerik kebangsawanan. Namun, bagi yang sudah kenal dekat apalagi sudah pernah ditipu, tentu akan segera mafhum. Dia berpenampilan seperti itu untuk menipu calon korbannya.

Semakin dalam San Ali mempelajari perikehidupan manusia yang dikenalnya, terutama keluarga Syaikh Abul Mahjuubin, ia semakin dapat membaca dan memahami sifat dan kecenderungan-kecenderungan manusia yang berpangkal dari dorongan nafsu lawwammah, su’iyyah, dan ammarrah yang tak terkendali. Maksudnya, dalam memandang contoh perilaku keluarga Syaikh Mahjuubin, ia tidak lagi sebagai perilaku individu, tetapi sebagai sebuah kemestian dari sifat dan perbuatan manusia akibat dorongan ketiga nafsu buruk yang tak terkendali.

Dengan kecerdasan pikiran dan ketajaman mata hatinya, ia menangkap bagaimana citra diri manusia-manusia yang hidupnya dikendalikan oleh ketiga nafsu: lawwammah, su’iyyah, dan ammarrah, melahirkan sifat-sifat buruk, seperti takabbur, kibr, ujub, riya’, ghadhab, tafakhkhur, bukhl, hubbul mal, ghibah, dan namimah; yang berujung pada munculnya perselisihan.

Dengan pemahaman seperti itu, ia menyimpulkan betapa andaikata Allah tidak menurunkan syari’at agama ke permukaan bumi niscaya kehancuranlah yang akan menimpa manusia. Sebab, sifat-sifat yang muncul dari ketiga nafsu itu bermuara kebinasaan. Masing-masing ingin menguasai yang lain. Dan dalam keadaan tercekam oleh pengaruh nafsu tersebut maka kesadaran manusia akan terhijab dari cahaya kebenaran. Maksudnya, semakin kuat seseorang hidup dalam lingkaran nafsu maka akan semakin tebal dinding hijab yang menutupinya dari cahaya kebenaran.

Bagi San Ali, persoalan sifat dan perbuatan manusia yang terkungkung oleh kuatnya hawa nafsu itu hanya bagian dari persoalan yang lebih besar, yakni tentang takdir Ilahi yang berkaitan dengan orang-orang beruntung yang bakal menjadi penghuni surga dan orang-orang sial yang akan menghuni neraka. Kenapa Allah membagi manusia beruntung dan manusia sial? Betapa kasihannya orang-orang yang ditakdirkan bernasib sial?

San Ali berkenalan dengan seorang saudagar muda bernama Datuk Musa, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putera Syaikh Datuk Ahmad. Sedang Syaikh Datuk Ahmad kakak kandung Syaikh Datuk Sholeh, ayah kandung San Ali. Allah Maha Mengatur. Dan bermula dari pertemuan dengan Syaikh Datuk Ahmad inilah, ia mengetahui dengan agak jelas garis keturunan leluhurnya.

Dari penjelasan Datuk Musa, tahulah ia bahwa baik Syaikh Datuk Sholeh maupun Syaikh Datuk Ahmad tidak disukai penguasa. Mereka hidup dalam keprihatinan karena segala gerak-geriknya diawasi oleh kaki tangan penguasa.

Syaikh Datuk Ahmad mencari nafkah dengan membuka kedai kecil yang cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sore hari, lanjut Datuk Musa, ayahandanya hanya diperbolehkan mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an. Tidak satu pun orang dewasa diperbolehkan menimba ilmu kepada Syaikh Datuk Ahmad karena dikhawatirkan akan menggalang kekuatan antipemerintah.

Cerita Datuk Musa itu tentu saja dapat dipahami San Ali. Sepengetahuannya, ayahanda dan guru agungnya sampai tinggal di negeri Caruban pun pada dasarnya karena sultan keturunan Tamil yang berkuasa saat itu mengancam hidup mereka. Jadi, cerita Datuk Musa tentang keprihatinan hidup keluarga ayahandanya merupakan hal yang wajar bagi dirinya. Apa pun keadaannya, ia sangat ingin menemui Syaikh Datuk Ahmad.

Akhirnya, pada suatu malam, dengan penuh kehati-hatian San Ali diantar Datuk Musa menjumpai Syaikh Datuk Ahmad yang tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran bandar Muar. Di depan rumah itu ada kedai kecil. Agak ke samping kiri ada surau untuk anak-anak mengaji. Meski hidup dalam kesederhanaan, tampak sekali kesan bahwa Syaikh Datuk Ahmad adalah orang yang disegani. Ada pancaran wibawa dari rumah sederhana yang dihuninya. Seekor harimau, begitu pikir San Ali, tetaplah harimau meski dimasukkan ke kandang kambing.

Pertemuan antara San Ali dan Syaikh Datuk Ahmad berlangsung dengan penuh rasa haru. Syaikh Datuk Ahmad dengan bercucuran air mata memeluk tubuh San Ali erat-erat seolah-olah tak ingin melepasnya. San Ali merasakan sesak memenuhi dadanya. Ia dekap tubuh renta kakak kandung ayahanda yang tak pernah ia ketahui wajahnya itu. Ia membayangkan Syaikh Datuk Ahmad adalah ayahandanya yang ia rindukan selama bertahun-tahun.

“Sudah sebulan ini,” kata Syaikh Datuk Ahmad terisak, “aku selalu bermimpi didatangi si Sholeh. Tidak tahunya awak sudah sampai kemari. Meski Sholeh sudah meninggal, awak adalah bagian dari jiwanya yang tetap hidup. Awak harus bisa meneruskan perjuangan keluarga kita di dalam menegakkan kebenaran di muka bumi. Awak adalah harapan keluarga besar kita. Aku berharap moga-moga awak memiliki semangat juang seperti si Sholeh yang tak mau tunduk kepada siapa pun dalam menegakkan kebenaran Ilahi.”

“Guru agung saya, Syaikh Datuk Kahfi,” sahut San Ali, “Selalu menanamkan itu kepada saya. Beliau selalu menekankan bahwa di setiap kesempatan apa pun saya harus tetap berjuang membawa kebenaran. Di setiap keadaan saya harus bisa menjadi cahaya penerang bagi mereka yang kegelapan. Dan beliau selalu berwasiat agar saya tak kenal menyerah menghadapi tantangan seberat apa pun.”

“Ah . . . ah, aku tidak menyangka jika anak aku, si Kahfi, berhasil menjadi orang besar di rantau,” kata Syaikh Datuk Ahmad mengusap air mata. “Alhamdulillah, Ya Allah, Engkau angkat derajat kami melalui anak kami. Alhamdulillah, Ya Allah!”

“Uwak,” tanya San Ali dengan kening berkerut, “benarkah Syaikh Datuk Kahfi adalah putera Uwak?”

“Ya, dia, si Kahfi, anak sulungku,” sahut Syaikh Datuk Ahmad masih bercucuran air mata. “Dia kakak si Bayan dan si Musa. Si Bayan sekarang tinggal di Makah. Sudah dua puluh tahun lebih ia di sana. Menurut berita, ia menjadi guru dan disebut orang dengan nama Syaikh Datuk Bayanullah. Sedang si Kahfi, aku tak mengira kalau dia juga jadi guru.”

“Jadi,” gumam San Ali bingung, “Syaikh Datuk Kahfi adalah saudara sepupu saya? Kenapa selama ini beliau mengaku adik sepupu ayahandaku?”

“Si Kahfi selalu punya alasan jika melakukan sesuatu hal,” Syaikh Datuk Ahmad menarik napas berat. “Bisa saja dia mengatakan itu karena tahu engkau dilahirkan dalam keadaan yatim dan kemudian piatu. Sehingga, sebagai satu-satu keluarga, si Kahfi ingin mendudukkan dirinya sebagai pengganti orang tuamu. Sebab, bagi seorang anak yatim dan piatu, kawan sebaya mudah dicari, namun yang bersikap seperti orang tua sangat sulit didapat.

Dari beberapa surat yang dia kirim tidak pernah berkisah kalau dia sudah menjadi orang besar di negeri orang. Dia selalu bercerita kehidupannya dilindungi Allah. Rupanya, anak itu tidak ingin keluarganya di sini mendapat masalah besar jika tahu salah seorang di antara kami ada yang jadi orang besar di rantau.”

San Ali termangu-mangu mendengar penuturan Syaikh Datuk Ahmad. Gambaran-gambaran kasih sayang guru agungnya, yang bagai seorang bapak, berkelebat memasuki benaknya. Saat itu juga ia sadar, betapa bijaksana dan arif guru agungnya itu. Betapa dalam pemahaman guru agungnya atas jiwa manusia. Dan hal yang tak pernah diduganya adalah Syaikh Datuk Kahfi memiliki saudara kandung yang mengajar ilmu agama di Makah. Ini berarti, pikirnya, di dalam darahnya mengalir darah para ulama agung penyebar ajaran Rasulallah Saw.

Menyadari dirinya memiliki darah ulama, San Ali langsung bertanya tentang asal usul leluhurnya, “Apakah para leluhur kita adalah ulama besar? Siapa sajakah para leluhur kita itu, o Uwak Yang Mulia?”

Syaikh Datuk Ahmad terdiam beberapa jenak. Sesudah itu dia menjelaskan, “Ayahanda aku bernama Syaikh Datuk Isa. Dialah yang pertama tinggal di negeri Malaka ini. Kakekku bernama Amir Ahmadsyah Jalaluddin. Dia adalah Kepala Negeri Surat, Gujarat. Beliau menggantikan kedudukan ayahandanya, Amir Abdullah Khanuddin. Sedang ayahanda Amir Abdullah Khanuddin adalah Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam, beliau adalah ulama besar di Surat. Ayahanda Syaikh Sayyid Abdul Malik adalah Sayyid Alawi. Sayyid Alawi merupakan putera Sayyid Muhammad Shohibul Marbath. Sayyid Muhammad Shohibul Marbath putera Sayyid Ali Khaliq al-Qozam. Sayyid Ali Khaliq al-Qozam putera Sayyid Alawi Amir al-Faqih. Sayyid Alawi al-Faqih putera Sayyid Muhammad. Sayyid Muhammad adalah putera Sayyid Alawi. Dan Sayyid Alawi merupakan putera Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad al-Muhajir.”

“Siapakah ayahanda dari neneknda Sayyid Ahmad al-Muhajir?” tanya San Ali.

“Ayah aku tidak jelas menyebutkan nama ayahanda Sayyid Ahmad al-Muhajir. Beliau hanya menyatakan bahwa leluhur kami adalah para ulama Alawiyyin keturunan Sayyidina Husein. Menurut ayah aku, sejak masa Sayyid Ahmad al-Muhajir itulah keturunan Sayyidina Husein bertebaran di bumi Allah menyiarkan api kebenaran Agama Rasulallah. Leluhur kita yang awal sekali menyiarkan Agama Rasulallah Saw. di negeri Gujarat adalah Sayyid Ubaidillah, putera Sayyid Ahmad al-Muhajir. Jadi, di dalam darah kita sesungguhnya mengalir darah para sayyid keturunan Sayyidina Husein bin Ali bin Abu Thalib.”

Ketika San Ali terperangkap ke dalam perenungan, tiba-tiba Syaikh Datuk Ahmad memecah keheningan dengan bertanya, “Anak aku, bolehkah Uwak bertanya sesuatu kepada engkau?”

“Gerangan apakah yang akan Uwak tanyakan?”

“Anak aku, kenapa awak sekarang ini justru menjadi saudagar kaya? Kenapa awak bukannya menjadi seorang guru agama seperti leluhur-leluhur awak?”

San Ali menjelaskan ihwal perjalanan ruhaninya mencari kesejatian ‘Aku’ yang akhirnya membawanya kepada Syaikh Abul Mahjuubin. “Semula saya berpikir hal itu sangat tidak sesuai dengan tujuan saya. Namun, saya terima juga peran itu hingga salah satu hikmahnya adalah pertemuan di antara kita ini, Uwak. Menjadi saudagar bukanlah kehendak saya pribadi, melainkan hanya sebagai salah satu bagian dari perjalanan panjang saya mencari ‘Aku’. Jadi, Uwak, jika saya merasa telah tiba saat saya harus mengakhiri kehidupan sebagai saudagar, tidak pelak lagi akan segera saya tinggalkan semua. Ini bukanlah jalan saya yang sebenarnya, Uwak.”

Syaikh Datuk Ahmad tersenyum dengan air mata terus bercucuran. Dia benar-benar bangga bahwa di antara keluarganya bakal muncul cahaya baru pembawa tugas mulia yang akan menerangi kehidupan umat manusia. Dia bangga, meski kebesaran nama keluarganya hanya dicapai di negeri yang jauh. Syaikh Datuk Ahmad sadar anak-anak kandungnya sendiri tidakklah mungkin mengembangkan diri di bidang dakwah agama di negeri Malaka ini. Pemerintah sudah terlanjur mencurigai keluarganya. Sejak Sultan Muzzafar Syah berkuasa hingga Sultan Mansyur Syah, kebijakan mencurigai keluarganya tak pernah berubah. Dan akibatnya, Datuk Musa, anaknya, yang sebenarnya berilmu agama luas, harus hidup sebagai saudagar. Lantaran itu, Datuk Musa tidak berhak menggunakan gelar kebesaran Syaikh Datuk, ia hanya bisa menyandang gelar Datuk saja.

“Anak saudara aku,” kata Syaikh Datuk Ahmad, “sebenarnya keluarga kita sangat banyak, tetapi kita tidak tahu di mana mereka sekarang berada. Menurut ayah aku, beliau memiliki saudara tiga orang, yaitu Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein, Syaikh Sayyid Malik Ibrahim, dan Syaikh Datuk Imam Wardah. Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein, menurut ayah aku, tinggal di Samarkand dan menjadi guru agung di sana. Syaikh Sayyid Malik Ibrahim menjadi guru agung di Jawa. Sedang Syaikh Datuk Imam Wardah menjadi imam bagi jama’ah Muslim di negeri Kedah. Gelaran Syaikh Datuk bagi ayah aku dan saudaranya, Imam Wardah, didapat dari Sultan Pasai, yakni Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah, dan kemudian dikukuhkan lagi oleh Sultan Malaka, yaitu Sultan Megat Iskandar Syah.”

“Berarti kita masih punya keluarga di Samarkand, Kedah, dan Jawa?”

“Yang di Kedah sudah tidak ada,” kata Syaikh Datuk Ahmad. “Sebab, paman aku itu ketika wafat tidak memiliki keturunan. Beliau dimakamkan di Pasai. Sedang yang di Samarkand dan Jawa dikabarkan menjadi ulama besar. Salah satu putera Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein yang bernama Sayyid Ibrahim, kata ayah aku, pernah tinggal di Gujarat dan bertemu dengan ayah aku di sana. Sayyid Ibrahim ingin ke Kedah dan Jawa untuk menemui paman-pamannya. Tetapi, sesudah itu ayah aku tidak pernah lagi terdengar berita.”

Mendengar uraian uwaknya, San Ali merasakan daya hidup memancar dari kedalaman jiwanya. Ia seperti menemukan harta karun tak ternilai. Harta karun itu adalah keluarga. Ia ternyata tidak sebatangkara, tanpa sanak dan keluarga. Dan yang paling menggembirakan, keluarganya lahir dari lingkungan sayyid keturunan Sayyidina Husein, cucu Rasulallah Saw.

“Anak saudara aku,” kata Syaikh Datuk Ahmad dengan tangan gemetar memegangi kedua bahu San Ali, “sekarang harapan aku dan harapan seluruh keluarga kita hanya ditujukan kepada awak, maka sejak saat ini awak harus menggunakan gelar kebesaran keluarga kita. Awak akan aku beri nama baru dengan gelar kebesaran keluarga kita. Apakah awak bersedia?”

“Apa pun yang Uwak berikan akan saya terima,” kata San Ali memegangi kedua tangan Syaikh Datuk Ahmad. “Hanya doa, berkah, dan restu dari Uwak yang selalu saya harapkan. Semoga saya kuasa menjalankan pesan-pesan dan amanat keluarga kita.”

“Ingat-ingatlah, o Anak Saudara aku,” kata Syaikh Datuk Ahmad bersemangat, “sejak kini awak akan disebut orang dengan nama Datuk Abdul Jalil. Jika awak nanti menjadi guru agama yang arif dan bijak, awak berhak menggunakan gelaran nama Syaikh Datuk Abdul Jalil. Semoga Allah senantiasa merahmati awak. Semoga awak bisa mencapai cita-cita awak dan senantiasa menjadi hamba dari Robbul Jalil yang sejati.”

“Amin!”

Nama baru itu tanpa diduga membawa perubahan besar pada kehidupan San Ali. Gerak-geriknya mulai diamati oleh para pembantunya yang mendapat tugas khusus dari Syaikh Abul Mahjuubin. Beberapa pejabat kerajaan rupanya telah memberi tahu Syaikh Abul Mahjuubin tentang kemunculan keluarga Syaikh Datuk Sholeh dalam wujud Datuk Abdul Jalil, yakni saudagar kepercayaannya yang mengenalkan diri dengan nama San Ali.

Syaikh Abul Mahjuubin menyadari benar bahaya yang bakal dialaminya jika terus memiliki kaitan dengan Datuk Abdul Jalil. Dia lantas mencari jalan agar saudagar kepercayaannya itu terlepas sama sekali dari lingkaran kehidupannya. Meski perniagaannya maju pesat dan untung berlimpah, dia tetap mengutamakan keselamatan diri dan keluarganya. Apa pun yang terjadi, San Ali alias Datuk Abdul Jalil harus terpisah dari kehidupannya, begitu pikir Syaikh Abul Mahjuubin.

Setelah berpikir keras, akhirnya dia menemukan titik lemah Abdul Jalil, yakni kebiasaannya membelanjakan uang keuntungan usaha. Abdul Jalil selalu menyisihkan separo dari keuntungan yang diperolehnya untuk dibagi-bagikan kepada para kuli atau gelandangan yang berkeliaran di pelabuhan.

Kegemaran Abdul Jalil itu oleh Abul Mahjuubin dijadikan alasan untuk marah besar. Satu pagi, dengan lagak bersungut-sungut, dia mendamprat Abdul Jalil. Dia menilai Abdul Jalil telah melakukan kemubaziran dengan membuang-buang uang tanpa guna dan manfaat.

Abdul Jalil yang sejak awal tidak sedikit pun tertarik menjadi saudagar, dengan tenang menjawab semua dampratan Abul Mahjuubin sambil tertawa. “Tuan Guru tak perlu marah! Karena, saya tidak merugikan Tuan dengan apa yang telah saya lakukan ini. Apa yang sudah saya lakukan itu adalah tuntutan agama kita.”

“Bagaimana awak bisa bilang tak merugikan? Bagaimana awak bilang perbuatan mubazir itu tuntutan agama kita?” kata Abul Mahjuubin dengan wajah memerah. “Berapa besar wang yang sudah awak hamburkan? Tidakkah awak pernah menghitungnya?”

“Bukankah itu hanya separo dari keuntungan?” Abdul Jalil mengerutkan kening, “Bukankah Tuan Guru tidak rugi apa-apa?”

“Tapi andaikata tidak awak ambil separo, keuntungan itu kan masih utuh? Apakah awak tidak merasa aneh dengan tindakan membagi-bagi wang itu? Tanyakan kepada seluruh saudagar di Malaka dan di seluruh dunia, adakah mereka yang berbuat seperti awak?” Abul Mahjuubin marah sambil mengertak gigi.

“Tuan Guru,” kata Abdul Jalil tertawa dengan nada mengejek, “apakah Tuan menghendaki saya sebagai orang upahan? Berapa Tuan membayar upah saya? Maksud saya, jika Tuan Guru tidak berkenan dengan apa yang telah saya lakukan maka anggaplah bahwa uang yang saya bagi-bagikan itu sebagai upah saya. Hak saya.”

“Awak adalah murid aku,” sergah Abul Mahjuubin. “Awak aku jadikan saudagar bukanlah sebagai pegawai aku, melainkan sebagai murid aku. Awak aku latih sekaligus aku uji; apakah hati awak terpaut dengan kekayaan duniawi atau tidak. Jadi, awak jangan berbicara tentang upah.”

“Apakah Tuan Guru menganggap saya sebagai budak?” tanya Abdul Jalil tegas.

“Aku tidak pernah menilai begitu. Itu adalah anggapan awak sendiri yang tidak memahami bagaimana maksud aku sebenarnya,” kata Abul Mahjuubin datar.

“Tuan Guru,” sergah Abdul Jalil dengan wajah mengeras, “Tuan telah melihat sendiri bahwa sampai sejauh ini hati saya tetap tidak terpaut dengan harta benda duniawi. Bahkan Tuan Guru tahu bahwa uang dari kedai ini lebih banyak dihamburkan oleh Abul Maisir, Abul Khamrun, dan Abul Kadzib, anak-anak Tuan Guru terkasih daripada oleh saya. Sebab itu, o Tuan Guru, izinkanlah saya meninggalkan pekerjaan ini. Terbukti sudah bahwa hati dan pikiran saya tetap tidak terpengaruh bisikan duniawi sampai kapan pun saya bekerja sebagai saudagar.”

“Tetapi bukankah dengan tetap menjadi saudagar, awak dapat terus mempertahankan kebersihan hati dan pikiran awak dari bisikan duniawi?” Abul Mahjuubin mencoba memancing.

“Tuan Guru,” kata Abdul Jalil mendesah, “jika sebongkah batu hitam ditetesi setitik air terus-menerus maka satu saat batu itu akan berlubang. Begitu juga jika saya menggeluti pekerjaan sebagai saudagar, satu saat kelak hati dan pikiran saya akan berhasil dilubangi oleh setan yang bakal menjerumuskan saya ke jurang kecintaan duniawi. Bagaimana mungkin saya bisa menemukan ‘Aku’ jika setiap hari yang saya kerjakan hanya menghitung ‘aku’ demi ‘aku’ kerdil, yaitu benda-benda duniawi yang ditutupi hijab berlapis-lapis dari ‘Aku’ sejati?”

Akhirnya, Abul Mahjuubin dengan berpura-pura berat hati melepas kepergian Abdul Jalil. Dia merasa ada kekosongan bersimaharajalela di dadanya. Dia merasa pedih menyaksikan tekad Abdul Jalil yang begitu kokoh menghadapi berbagai ujian berat. Andaikata dia yang harus mengalami nasib serupa: mengelola kedai perniagaan selama hampir tiga tahun dan saat mendapat untung besar kedai itu harus ditinggalkan begitu saja tanpa membawa apa-apa; tentu dia merasa berat hati.

Lepas dari kelegaan akibat hidupnya terbebas dari Abdul Jalil yang dicurigai penguasa, Syaikh Abul Mahjuubin merasakan betapa jauh di dalam relung-relung jiwanya dia memendam seberkas penyesalan atas jalan hidupnya yang penuh liku-liku kesulitan; melintasi samudera, gunung, lembah, jurang, dan ngarai bendawi yang tak bertepi. Dia sadar bahwa keberadaann ‘aku’ dirinya sudah terhijab oleh berlapis-lapis tirai bendari dari ‘Aku’. Dia sadar, lantaran keterhijaban itu maka ketiga anaknya terperosok ke dalam lingkaran kemaksiatan yang bakal membawanya ke tungku neraka.

Sebagai guru ruhani, Syaikh Abul Mahjuubin sebenarnya mengetahui bahwa kehidupannya yang dilingkari kemewahan duniawi adalah kehidupan yang jauh dari kebenaran Ilahi. Dia sadar telah terjebak dalam lingkaran kemunafikan, yakni berkata-kata dengan nasihat dan fatwa-fatwa agama, tetapi pada kenyataannya malah melanggar segala yang ditetapkan agama. Ketika mulutnya berkata tentang cinta dan ketaatan kepada Allah maka hati dan perbuatannya menunjukkan cinta dan ketaatan kepada selain Allah. Bahkan anak-anak yang diharapkannya saleh, ternyata menjadi ahli maksiat. “Tetapi, bukankah segala apa yang aku jalani sekarang ini adalah kehendak-Nya juga?” gumamnya menghibur diri.

07. Hijab-Hijab

Perjuangan mencari Allah adalah perjuangan mahadahsyat yang hanya mungkin dilakukan oleh pejuang-pejuang tangguh yang tak kenal kata menyerah. Dikatakan perjuangan mahadahsyat karena Allah bukanlah Tuhan statis yang membiarkan diri-Nya gampang ditemukan. Allah senantiasa membentangkan hijab berlapis-lapis dan berbagai halang rintang untuk menyelubungi keberadaan diri-Nya. Sekalipun para pencari-Nya mengetahui bahwa Dia adalah Inti segala sesuatu dari ciptaan-Nya, baik yang bisa ditangkap pancaindera maupun yang gaib, untuk menemukannya bukanlah persoalan sederhana.

Abdul Jalil pun tetap menghadapi misteri tak terpecahkan tentang Dia. Walaupun telah mengalami pahit dan getir perjalanan hingga terdampar di Malaka, ia sejauh ini hanya mampu menangkap tengara keberadaan hijab-hijab yang tak diketahui batas akhirnya. Bahkan hijab-hijab itu pun baru disadarinya ada setelah ia melampaui berbagai pengalaman ruhani. Setiap kali hijab gaib itu tersingkap; ia merasa beroleh pencerahan baru. Bagai ular yang keluar dari kelongsongnya.

Seingatnya, kesadaran tentang misteri hijab-hijab itu terjadi setelah ia mengenal Ario Abdillah. Sekalipun tidak lebih dari tujuh bulan, Ario Abdillah telah mengenalkan ungkapan-ungkapan sekaligus bukti-bukti tentang hijab-hijab misterius yang menyelubungi rahasia Ilahi. Melalui perenungan mendalam ia akhirnya mampu menangkap keberadaan rahasia hijab ilahi itu dalam ungkapan metaforik, yakni dengan iktibar; tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba, dan tujuh benteng.

Sekalipun terdengar begitu dahsyat dan secara akal sulit dilampaui manusia, ungkapan itu lebih ditujukan pada gambaran suasana ruhaniah diri manusia; sehingga ungkapan itu tidak perlu direnung-renungkan, dipikir, serta dikaji dengan nalar. Maksudnya, ungkapan metaforik tentang tujuh samudera, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba, dan tujuh benteng itu adalah gambaran dari citra diri yang bersifat ruhani. Dengan demikian, perjuangan menyingkap hijab-hijab itu bukanlah dalam makna harfiah. Ungkapan menyeberangi tujuh samudera, misalnya, bukanlah menyeberangi samudera dalam makna kongkret, melainkan melintasi tujuh samudera ruhani yang ada di dalam diri manusia.

Ia menyadari bahwa perjuangan terberat dalam upaya mencari-Nya adalah melintasi samudera, gunung, lembah, jurang, gurun, rimba, dan benteng yang ada di dalam diri sendiri. Karena, sesungguhnya itulah lapisan hijab-hijab yang menyelubungi Dia. Bertolak dari pengalaman ruhani dan perenungan yang telah dilakukannya, ia memahami benar sabda Nabi Muhammad Saw kepada para sahabat ketika kembali dari Perang Badar “Kita baru kembali dari perang kecil untuk menuju perang besar, yakni perang melawan nafsu.”

Berbagai pengalaman pahit dan getir yang ia lampaui telah mengajarkannya bahwa melawan kehendak nafsu adalah perjuangan paling dahsyat, baik yang ia lihat pada orang-orang yang pernah dikenalnya maupun pada dirinya sendiri. Orang-orang seperti Syaikh Abul Mahjuubin dan anak-anaknya, misalnya, adalah gambaran dari hidup terkucil di pulau keakuan yang gersang tanpa mata air dan pepohonan. Mereka adalah gambaran dari orang-orang yang bukan saja tidak mempunyai keinginan melintasi, melainkan juga sangat ketakutan ketika mendengar keberadaan tujuh samudera, tujuh gurun, tujuh gunung, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh rimba, dan tujuh benteng.

Ia sadar bahwa tidak semua orang berani menanggung akibat dari usaha melintasi tujuh hijab itu. Namun, sebagai orang yang sudah bertekad bulat mencari Dia maka tantangan dan rintangan seberat apa pun akan dilintasinya dengan berbagai resiko, termasuk kehilangan nyawa.

Menurut pengalamannya, tantangan awal yang paling berat dan susah adalah melintasi Tujuh Lembah Kasal yang berhawa sejuk, ditumbuhi rumput hijau, taman-taman bunga, pohon kemenyan dan gaharu yang menebar wangi, sungai, danau, dan burung aneka warna yang merdu bernyanyi. Di lembah itu para pencari lebih suka menenggelamkan diri dalam kemalasan naluri manusiawinya daripada bersusah-susah beribadah kepada-Nya.

Tantangan kedua yang tak kalah dahsyat adalah Tujuh Jurang Futur yang menganga siap menelan siapa saja yang jatuh ke dalamnya. Siapa pun yang melihat ke dasar jurang yang seperti tanpa dasar itu lazimnya akan menjadi lemah pendirian dan runtuh tekadnya untuk melanjutkan perjalanan. Bagi para pencari yang masih kuat terpengaruh kehidupan duniawi, Tujuh Jurang Futur itu sangatlah menakutkan sehingga mereka lebih suka tidak melanjutkan perjalanan daripada melintasinya dengan resiko tak pernah kembali. Kebimbangraguan selalu mencekam siapa saja yang mencari-Nya ketika harus melewati tujuh jurang ini.

Tantangan ketiga yang juga dahsyat dan butuh perjuangan khusus adalah Tujuh Gurun Malal, berupa hamparan pasir dan bebatuan yang membosankan. Di tengah perjalanan, para pencari sering dirayapi rasa bosan. Mereka enggan melanjutkan perjalanan, padahal tujuannya masih jauh. Tidak sedikit yang kemudian menggerutu, “Saya sudah berjalan sangat jauh dan mengulang-ulang ibadah yang itu-itu juga, namun tujuan saya belum tercapai.”

Tantangan keempat yang luar biasa sulit dilampaui adalah Tujuh Gunung Riya’ yang sering menggelincirkan para pencari yang berusaha mendakinya. Para pencari yang mendaki Tujuh Gunung Riya’ dengan puncaknya yang tinggi dan selalu diselimuti awan itu cenderung memamerkan kemampuan mereka. Di atas puncak Gunung Riya’, para pencari biasanya lupa pada apa yang mereka cari. Mereka terjebak pada kebanggaan dan memamerkan kemampuan, kehebatan, kegagahan, dan keberanian diri sendiri. Bahkan tak kurang banyak yang terperangkap pada pamrih sehingga tujuan mereka tidak lagi menuju Allah, tetapi ke surga “yang lain dari Allah”.

Tantangan kelima yang sulit ditembus adalah Tujuh Rimba Sum’ah yang berisi raungan serigala, auman harimau, kicau burung, lenguh banteng, dan bunyi batang bambu yang berderak ditiup angin. Di rimba ini, para pencari sering meniru perilaku hewan yang gemar memperdengarkan suaranya. Para pencari suka menceritakan berbagai amaliah ibadah yang mereka lakukan, dengan tujuan agar orang menyanjung dan memuji mereka. Bahkan sering terjadi, para pencari benar-benar terperangkap pada suasana rimba raya sehingga mereka menjelma menjadi hewan yang suka mengaum, melenguh, melolong, dan berkicau untuk memamerkan kehebatan dirinya.

Tantangan keenam yang sulit diseberangi adalah Tujuh Samudera ‘Ujub yang bergelombang dahsyat dengan ombak menggemuruh menerpa pantai dan batu karang. Di samudera ini, para pencari gampang terpengaruh oleh keberadaan samudera yang bangga dengan kedahsyatan ombaknya yang kuat dan tinggi mencakar langit. Di dalam hati mereka muncul kebanggaan dan puja-puji terhadap diri sendiri karena merasa amalnya telah banyak. Mereka tak pernah menduga bahwa saat rasa bangga diri bagai samudera itu mencuat maka yang terjadi adalah makna perjuangan ibadah mereka hilang, ibarat buih ombak di hamparan pasir pantai.

Tantangan ketujuh yang sulit ditaklukkan adalah Tujuh Benteng Hajbun yang berdinding tinggi dengan tembok kokoh dihiasi ukiran-ukiran dan hiasan indah. Benteng-benteng itu dihuni oleh warga yang hidup dalam kemakmuran dan kelimpahan rezeki. Para pencari yang melintasi tujuh benteng ini biasanya terpesona oleh keindahan arsitektur dan kemakmuran para penghuninya. Para pencari yang terpesona ini tak jarang terjebak mengaku bahwa benteng-benteng itu adalah miliknya dan merekalah yang membangunnya. Para pencari yang demikian tak menyadari bahwa saat mereka mengakui keindahan amaliah ibadahnya maka saat itu pula benteng-benteng itu menjadi pasir yang luruh tertiup angin.

Walaupun telah melalui berbagai pengalaman, Abdul Jalil belum berani memberikan penilaian terhadap perjuangannya selama ini dalam melintasi tujuh samudera, gunung, lembah, jurang, gurun, rimba, dan benteng yang terhampar di dalam dirinya. Ia merasa betapa hingga saat ini masih harus bergulat seru untuk menaklkkan keakuan yang terus membayangi semua gerak hidupnya, terutama saat bersinggungan dengan orang lain. Ia masih sering jengkel dan marah kepada diri sendiri karena tanpa sadar ia acap kali terperosok ke Rimba Sum’ah, yakni menceritakan segala amaliah ibadah yang telah dilakukannya dengan secuil maksud agar dirinya dipuji.

Dengan menumpang kapal dagang milik saudagar keturunan Arab-Melayu bernama Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, Abdul Jalil pergi menuju kota pelabuhan Basrah untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Baghdad. Menurut pembicaraan sejumlah orang yang dikenalnya di Malaka, ia beroleh kabar bahwa di Basrah dan Baghdad terdapat banyak ulama masyhur yang memiliki kedalaman ilmu ruhani, bahkan di antaranya terdapat wali-wali keramat. Berangkat dari kehausannya akan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan “Jalan Mencari Tuhan” maka ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Malaka.

Ahmad Mubasyarah at-Tawallud adalah laki-laki gagah berusia empat puluh lima tahun. Kulitnya coklat kemerahan. Hidungnya mancung. Kumisnya lebat. Sekepal janggut dibiarkan menggantung didagunya. Matanya yang lebar dan bening mengesankan bahwa dia orang yang polos dan lugas. Keningnya yang lebar menunjukkan bahwa dia cerdas. Dia selalu tersenyum kepada siapa saja yang diajaknya berbicara.

Sejak pertama kali berkenalan dengan Abdul Jalil, Ahmad at-Tawallud sudah menaruh simpati. Dia yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun sebagai saudagar, menangkap semacam kepolosan dan kejujuran bahkan kenaifan Abdul Jalil dalam berniaga. Itu sebabnya, di sela-sela waktu senggangnya berniaga dia menyempatkan diri berbincang-bincang tentang berbagai hal dari yang sepele hingga tentang nama yang diberikan oleh kakeknya (Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady) dengan Abdul Jalil. Lantaran itu, mereka berdua menjadi akrab.

Dari berbagai perbincangan dan tukar pendapat terutama yang berkaitan dengan masalah agama, Ahmad at-Tawallud merasa tertarik dengan pandangan-pandangan Abdul Jalil yang sering dianggapnya aneh dan sulit dipahami oleh kalangan orang kebanyakan. Namun, dia yakin bahwa Abdul Jalil adalah orang yang tulus dan pantang menyerah. Itu sebabnya, dia berharap Abdul Jalil akan beroleh cakrawala baru setibanya di Basrah dan Baghdad.

Di sepanjang perjalanan, Abdul Jalil berbincang tentang perniagaan, saudagar-saudagar nakal, pelabuhan-pelabuhan besar, agama, ulama-ulama besar di Basrah dan Baghdad, bahkan tentang hal-hal yang bersifat pribadi seperti nama diri. Abdul Jalil mengaku sejak awal perkenalan ia sudah sangat tertarik dengan nama Ahmad Mubasyarah at-Tawallud. Nama itu menurutnya seperti tidak lazim digunakan orang. “Selama ini saya merasa tidak pantas menanyakan soal nama Tuan. Namun, sekarang saya beranikan diri karena tidak dapat lagi menahan rasa ingin tahu saya,” kata Abdul Jalil.

Ahmad at-Tawallud sambil tersenyum menjelaskan bahwa nama itu pemberian kakeknya, Syaikh Ahmad Tauhid al-Af’al bin Abdul Mubdi al-Baghdady, yang lazim disebut Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady. Kakeknya merupakan guru ruhani yang tinggal di pinggiran kota Baghdad. Sekalipun bukan ulama termasyhur, ia memiliki cukup banyak pengikut. “Sampai sekarang makam beliau masih banyak yang menziarahi.”

“Nama beliau Ahmad Tauhid al-Af’al bin Abdul Mubdi al-Baghdady?” kata Abdul Jalil penasaran. “Aneh juga kedengarannya. Tapi, rasanya nama kakek Tuan berkaitan dengan nama Tuan.”

“Benarlah apa yang Tuan katakan itu,” kata Ahmad at-Tawallud. “Nama saya memang berkaitan dengan nama kakek saya. Sepekan sebelum beliau wafat, saat usia saya empat puluh tahun, beliau menjelaskan arti nama saya sekaligus kaitannya dengan nama beliau.”

“Apakah nama Tuan dan nama kakek Tuan berkaitan dengan pengesaan Allah? Tauhid?”

“Tepat begitu, Tuan Abdul Jalil. Menurut kakek, nama beliau mengandung makna ‘Keesaan Af’al Allah’. Maksudnya, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah Af’al (Perbuatan) Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah. Jadi, keliru dan sesat pandangan yang mengatakan bahwa yang baik dari Allah dan yang buruk dari selain Allah,” jelasnya.

“Makna ‘Keesaan Af’al Allah’ pada nama kakek dijabarkan di dalam namaku, yakni Mubasyarah (terpadu) dan at-Tawallud (terlahir),” lanjutnya. “Maknanya, Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena, misalnya, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-Nya, yakni kemampuan kodrati gerak tangan dan kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil: Wa Allahu kholaqakum wa ma ta’malun, yang bermakna: Allah yang menciptakan engkau dan segala apa yang engkau perbuat (QS ash-Shaffat: 96). Inilah makna Mubasyarah.”

“Sedangkan at-Tawallud adalah perbuatan yang terlahir, semisal saya melempar batu. Batu yang terlempar dari tangan saya itu adalah berdasar kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil: Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama, yang bermakna: Bukanlah engkau yang melempar, melainkan Allah jua yang melempar ketika engkau melempar (QS al-Anfal: 17). Itulah yang dinamakan at-Tawallud, pada hakikatnya adalah satu, yakni Af’al Allah SWT,di mana berlaku dalil: La haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyyi al-‘azhimi. Maknanya, tiada daya dan kekuatan melainkan daya dan kekuatan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Rasulallah Saw. dalam sebuah hadits diriwayatkan bersabda: La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi, yang bermakna: Tidak bergerak satu zarah pun melainkan atas izin Allah.”

“Mendalam sekali nama Tuan dan Kakek Tuan,” kata Abdul Jalil menarik napas berat. “Kakek Tuan pastilah seorang sufi agung yang sudah mencapai maqam wahdat al-af’al.”

“Tuan Abdul Jalil, karena saya sudah terlanjur dididik menjadi saudagar oleh ayah saya maka saya tidak banyak mengetahui seluk-beluk keilmuan yang didalami kakek saya. Namun, satu hal dari fatwa beliau yang selalu saya jadikan pegangan hidup, yaitu dalam keadaan apa saja, baik suka maupun duka, saya harus senantiasa meneguhkan keyakinan bahwa semua itu adalah perbuatan yang dikehendaki-Nya. Karena itu, saya selalu disuruh menirukan dia Rasulallah Saw., yakni: Allahumma inni a’udzubika minka (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang datang dari-Mu). Allahumma inni a’udzubika min syarri ma kholaqta (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang Engkau ciptakan). Di sini berlaku dalil: Qul kullun min ‘indi Allahi. Artinya, katakan hai Muhammad segala-galanya adalah dari sisi Allah (QS an-Nisa’: 78).”

Perbincangan dengan Ahmad at-Tawallud telah menambah cakrawala baru bagi pemahaman Abdul Jalil terhadap ‘Keesaan Af’al Allah. Perasaan dan akal budinya menerima secara utuh kebenaran yang terungkap dari perbincangan itu, yakni setiap gerak dari segala peristiwa yang tergelar di alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, pada hakikatnya adalah Af’al Allah. Namun, jauh di kedalaman jiwanya masih terlintas hasrat untuk mengetahui sekaligus merasakan secara nyata bagaimanakah Af’al Allah berlangsung.

Langit hitam dipenuhi sejuta bintang bertaburan laksana permata ketika ia duduk di anjungan mendengarkan debur ombak menghantam lambung kapal dan desau angin menerpa layar. Ia merenungkan berbagai hal sehubungan dengan perbincangannya bersama Ahmad at-Tawallud. Bagaikan ular keluar dari kelonsong kulitnya, demikianlah ia mengalami kesadaran baru: menguak hijab gaib Ilahi dalam kaitan dengan nama-nama.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja ia merasakan kesadaran baru menyingsing dari cakrawala jiwanya saat merenungkan keberadaan langit, bintang-gemintang, laut, kapal, layar, perbincangan dengan Ahmad at-Tawallud, bandar Malaka, Palembang, Caruban, Pakuan, orang-orang yang dikenalnya, dan dirinya sendiri. Ia menangkap makna bahwa segala apa yang telah dilihat dan dikenalnya selama ini pada hakikatnya adalah tidak ada. Semua yang maujud menjadi ada karena memiliki nama. Dan nama-nama itu sendiri jika dicari akarnya justru tidak ada. Nama-nama ada karena disepakati ada.

Tentang negeri Galuh, misalnya. Jika dicari benar di manakah tempat yang bernama Galuh, pastilah tidak ada. Yang ada hanyalah kumpulan desa dan kota seperti Caruban, Pasambangan, Babadan, Giri Amparan Jati, Kawali, Rajagaluh, Palimanan, Sindang Laut, Tegal Alang-Alang, Gegesik, dan Talaga. Desa-desa dan kota-kota itu pun jika dicari letak pastinya juga tidak akan ada. Yang ada hanyalah kumpulan rumah, bangunan, pasar, dan kedai perniagaan. Begitu juga dengan rumah, bangunan, pasar, dan kedai sesungguhnya hanya nama karena yang disebut rumah, bangunan, pasar, dan kedai adalah kumpulan dari bagian yang disebut pintu, jendela, kusen, atap, genteng, usuk, dan reng.

Ia merenungkan pula tentang keberadaan kapal yang ditumpanginya. Ternyata, ia tidak menemukan satu pun tempat di kapal yang bernama “kapal”. Kapal menjadi ada karena ia terdiri atas bagian-bagian, yakni lambung, geladak, tiang, layar, anjungan, kemudi, jangkar, dan tali. Layar pun jika direnungkan ternyata tidak ada. Layar ada karena sebutan. Sejatinya, layar ada karena terbentuk dari tiang, kain, dan tali-temali. Sedang kain layar pun hakikatnya tidak ada, yang ada adalah jalinan benang. Benang pun kalau diurai adalah kumpulan serat.

Ia kemudian merenungkan keberadaan dirinya: seorang manusia yang disebut dengan nama Abdul Jalil. Di manakah Abdul Jalil yang sejati bersemayam? Fakta menunjukkan bahwa yang ada pada tubuh fisiknya tidak ada yang bernama Abdul Jalil. Yang ada adalah kumpulan dari tangan, kaki, kepala, dada, perut, bahu, dan pinggang. Kepala pun pada hakikatnya tidak ada karena yang ada adalah bagian-bagian dari kepala yang disebut kening, telinga, mata, mulut, hidung, dagu, rahang, gigi, rambut, alis, kumis, janggut, dan sebagainya. Lalu di bagian tubuh manakah Abdul Jalil berada? Demikianlah, menurut perenungannya, bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini pada dasarnya hanya nama-nama yang disepakati keberadaannya, meski hakikat sejatinya nama-nama itu ada karena disepakati ada.

Tiba-tiba ia teringat ucapan Ario Abdillah yang selama ini masih sulit dipahaminya. “Jika engkau melihat dengan matamu dan kemudian engkau melihat dengan mata hatimu maka segala nama apa pun jua pada hakikatnya akan kembali kepada sumbernya yang satu, yakni Dia Yang Wujud dari segala yang maujud. Dia inti dari segala nama.”

Mengingat ucapan Ario Abdillah, ada kilatan di kalbunya yang langsung menyambar benaknya. Dan kilatan itu adalah kilasan gambaran dari munculnya nama azh-Zhahir dari Wujud. Ia tersentak kaget. Apakah segala sesuatu yang tergelar di alam semesta yang dapat dilihat dengan mata indriawi adalah pengejawantahan dari azh-Zhahir? Jika memang demikian adanya, berarti di balik segala yang maujud yang zhahir ini mesti ada yang bathin. Dan al-Bathin adalah nama Allah juga.

Saat ia tengah membolak-balik, mengaitkan, menghubungkan, dan menjalin makna azh-Zhahir dan al-Bathin untuk memahami keberadaan yang maujud dan yang Wujud, ia dikejutkan oleh kehadiran Ahmad at-Tawallud yang sudah berada di belakangnya sambil terbatuk-batuk. Tanpa hujan tanpa angin dia berkata, “Dulu sewaktu saya menikmati keheningan malam dengan taburan bintang laksana permata, kakek mengingatkan agar saya tidak terjebak ke dalam pesona yang maujud. Beliau saat itu meminta saya agar selalu mengingat-ingat dan memahami Firman-Nya: Fa ainama tuwallu fatsamma wajhu Allahi (QS al-Baqarah: 115). Namun, sampai sekarang saya tetap belum bisa memahami maknanya.”

Mendengar ucapan Ahmat at-Tawallud, Abdul Jalil merasakan hijab yang menyelubungi kesadarannya tersingkap lebar. Ia menangkap kebenaran di dalam azh-Zhahir dan al-Bathin dalam kaitan dengan keberadaan segala ciptaan: dia adalah kenyataan dari segala sesuatu yang tersembunyi. Dan bersama itu pula, rasa ingin tahunya tentang Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady semakin kuat.

“Tuan, apakah kakek Tuan mencatat pelajaran-pelajaran ruhani yang diberikannya? Ataukah beliau memiliki murid-murid pengganti?”

“Beliau ada mencatat beberapa pelajaran yang tidak saya mengerti,” kata Ahmat at-Tawallud. “Namun, sejumlah buku tulisan para sufi termasyhur yang dimiliki kakaek sampai sekarang masih saya simpan dengan baik. Soal murid-murid kakek, satu pun saya tidak ada yang simpati. Mereka saling berebut jabatan mursyid. Mereka saling mengaku bahwa merekalah pewaris ruhani kakek. Tapi saya tahu persis, hati mereka jahat dan pikiran mereka penuh pamrih duniawi.”

“Jika Tuan berkenan, saya ingin sekali mempelajari kitab-kitab peninggalan kakek Tuan. Saya yakin kitab-kitab itu adalah khazanah perbendaharaan yang tak ternilai,” Abdul Jalil memohon.

“Tapi Tuan Abdul Jalil, kitab-kitab itu adalah kitab-kitab besar yang tidak sembarang orang bisa mempelajarinya. Apakah Tuan bisa membaca dan memahami isinya? Saya sendiri setelah membuka beberapa bagian sudah merasa tidak sanggup melanjutkan.”

“Tuan,” kata Abdul Jalil tersenyum, “sekalipun Tuan mengenal saya sebagai saudagar, perlu Tuan ketahui bahwa sejak kecil saya dididik di Padepokan Giri Amparan Jati di bawah asuhan kakak sepupu saya, Syaikh Datuk Kahfi. Saya sudah menguasai Nahwu, Sharf, dan Balaghah. Saya juga sudah paham tentang ilmu tafsir, mustholah al-hadits, ushul al-fiqh, dan manthiq. Jadi, Insya Allah saya akan mampu mempelajari kitab-kitab peninggalan kakek Tuan.”

“Jika demikian, silakan Tuan mempelajarinya. Saya senang jika ada yang bisa memanfaatkan kitab-kitab warisan kakek saya, terutama orang-orang seperti Tuan yang pandai menyembunyikan keahlian agama.”

“Tuan terlalu memuji.”

“Tidak Tuan,” sahut Ahmad at-Tawallud. “Saya memang tidak menduga jika Tuan memiliki pengetahuan mendalam tentang agama. Selama ini saya menganggap Tuan sebagai orang yang tidak banyak paham tentang agama kita. Maafkan saya karena selama ini menilai Tuan sama seperti para saudagar dari negeri Tuan. Mereka masih mencampuradukkan kemuliaan Islam dengan pemujaan terhadap berhala.”

“Ah, Tuan belum mengenal orang-orang di negeri saya. Sekalipun banyak yang belum memeluk Islam, sebagian di antara ruhaniwan mereka memiliki pandangan ketauhidan yang sama dengan Islam,” jelas Abdul Jalil.

“Itu yang saya belum tahu,” kata Ahmad at-Tawallud heran.

“Karena itu, saya yakin dalam tempo tidak lama mereka akan beramai-ramai memeluk agama Islam,” kata Abdul Jalil.

Hasrat Abdul Jalil untuk menenggak ilmu pengetahuan ruhani di tengah gurun keterbatasan dirinya terlampiaskan saat ia tiba di Basrah. Berbagai kitab peninggalan Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady yang memuat ajaran para ulama sufi besar seperti Abu Mansyur al-Halaj, Abu Yazid Bustami, Abu Said al-Kharaz, Abu Bakar al-Kalabazi, Abul Qasim al-Qusyairy, Muhyiddin Ibnu Araby, al-Ghazali, dan Abdul Karim al-Jili dipelajarinya dengan penuh semangat. Dan bagaikan musafir terlunta-lunta di tengah padang kemudian menemukan mata air, begitulah ia dengan rakus menghirup kesegaran pengetahuan yang digali para ulama agung tersebut.

Di antara sejumlah kitab yang sudah dibaca dan dipahami, yang dianggapnya paling berkesan adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Ilahiyyah, dan al-Insan al-Kamil tulisan Syaikh Abdul Karim al-Jili, yakni ulama sufi yang wafat barang setengah abad silam. Menurut Ahmad at-Tawallud, Abdul Karim al-Jili adalah kawan akrab kakeknya. Mereka berdua sering terlibat perbincangan rahasia yang tak seorang pun boleh mendengarkan.

Abdul Jalil menilai ungkapan-ungkapan yang digunakan al-Jili sangat sederhana. Lugas. Gampang dipahami. Dan yang terpenting, memiliki banyak kemiripan dengan pengalaman ruhani yang telah dilewatinya. Lantaran itu, ia seperti tidak pernah bosan membaca ulang, mengkaji, merenungkan, dan menghayati ketiga kitab tersebut.

Ia semakin merasakan cakrawala pemikiran dan jiwanya terbentang luas dalam memahami hakikat segala sesuatu yang tergelar di alam semesta. Terutama yang berkaitan dengan perjalanan menuju Dia yang dihalangi berbagai rintangan dan tantangan luar biasa. Ia benar-benar sangat rindu mengenal sekaligus merasakan sentuhan kebenaran Ilahi, Af’al, Asma’, Shifat, dan Dzat.

Getaran kerinduan yang makin mencekam jiwa itu ternyata membawanya ke sebuah pengalaman baru. Hal itu dialaminya setelah ia tinggal lebih dari sebulan di rumah Ahmad at-Tawallud.

Ketika pertama kali datang ke Basrah, ia diperkenalkan dengan ibunda Ahmad at-Tawallud yang bernama Siti Fa’ilatun, seorang perempuan Melayu berusia sekitar enam puluh lima tahun. Perempuan setengah baya yang ramah itu menyambut kehadiran Abdul Jalil dengan penuh sukacita. Dia senang bertemu dengan orang sebangsanya yang bisa diajak berbicara tentang berbagai hal, terutama tentang negeri Malaka dan Jawa. Meski sudah bertahun-tahun menjadi warga kota Basrah, dia belum paham benar dengan bahasa Arab yang digunakan di sana. Itu sebabnya, dalam pergaulan sehari-hari dia hanya berkomunikasi dengan suami, anak-anak, dan cucu-cucunya yang mengerti bahasa Melayu.

Ayahanda Ahmad at-Tawallud bernama Abu Amar al-Hissy, yang berusia sekitar tujuh puluh tahun, menyambut pula kehadiran Abdul Jalil di rumahnya dengan penuh keramahan. Ia merasa senang jika Abdul Jalil bersedia mendengarkan cerita-cerita masa mudanya. Semangat hidupnya seakan muncul kembali ketika menuturkan kisah kegagahannya mengarungi samudera dan singgah di berbagai negeri di masa silam.

Sebagai pemuda yang sejak kecil terpisah dari orang tua dan hidup di padepokan dengan penuh keprihatinan, Abdul Jalil merasakan keramahan yang diberikan ayahanda dan ibunda Ahmad at-Tawallud sebagai kehangatan ayah dan ibu yang didambanya dalam mimpi-mimpinya. Itu sebabnya, untuk mengisi waktu senggang saat beristirahat setelah penat mempelajari kitab-kitab, ia gunakan untuk berbincang-bincang dengan mereka.

Bermula dari keakraban dengan ayahanda dan ibunda Ahmad at-Tawallud, Abdul Jalil akhirnya mengenal anak-anaknya juga. Anak pertamanya bernama Fa’ilatun Nafsiyyah, akrab dipanggil Nafsa. Usianya sekitar dua puluh tiga tahun. Belum menikah. Anak kedua juga perempuan bernama Salmah Izzaturrahman. Usianya sekitar dua puluh satu. Anak ketiga, laki-laki bernama Ibnu Afkar al-Afrad. Berusia sekitar sembilan belas tahun. Sudah menikah dan memiliki seorang anak. Anak yang keempat juga laki-laki bernama Ahmad Kasyf al-Bashary. Berusia sekitar tujuh belas tahun. Belum menikah. Belajar di Universitas Nizhamiyyah, Baghdad.

Suatu saat Siti Fa’ilatun menceritakan tentang Nafsa, cucu kesayangannya yang dianggapnya bernasib malang karena sampai memasuki usia dua puluh tiga belum juga menikah. Abdul Jalil menduga anak sulung sahabatnya itu tentulah berwajah jelek dan berperangai buruk. Namun, saat kali pertama ia melihat mata Nafsa yang bulat dan lebar serta ditumbuhi bulu-bulu panjang yang lebat, ia langsung membayangkan bahwa wajah di balik cadar itu pastilah memancarkan kecantikan bidadari.

Ia tidak pernah menduga apalagi membayangkan dirinya bakal terperangkap ke dalam pesona keindahan sesuatu selain Dia. Ia sepanjang perjalanan ruhaninya selalu berusaha menghindari hal-hal duniawi, kini menghadapi persoalan besar yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan dan impikan. Sebelumnya ia selalu berhasil mengusir berbagai bayangan bendawi yang memasuki alam pikiran dan mahligai jiwanya. Kini, setelah melihat mata Nafsa yang indah dan bercahaya seperti kilauan bintang, ia rasakan perubahan besar terjadi pada dirinya. Citra keindahan mata Nafsa tiba-tiba saja sering memasuki ingatannya saat ia shalat, dzikir, tafakur, membaca buku, makan, minum, bahkan saat mengambil wudhu, dan terutama menjelang tidur.

Abdul Jalil heran dengan perubahan dirinya. Bagaimana mungkin ia yang selama ini selalu tenang menghadapi berbagai halangan dan rintangan kehidupan, tiba-tiba saja sering dicekam resah dan gelisah. Rasa itu baru mereda ketika ia melihat atau sekadar membicarakan ini dan itu tentang Nafsa. Ia merasakan betapa jiwanya mendadak terbang ke angkasa laksana elang yang kesunyian, menjerit dalam kepahitan jiwa yang mendamba kehadiran sang betina.

Nafsa adalah perempuan pertama yang keindahan matanya telah membawa kesadaran Abdul Jalil ke taman asmara yang penuh bunga mewangi dan rerumputan harum. Keindahannya telah membius kesadaran Abdul Jalil ke dunia asing yang sebelumnya tak pernah dirasakan dan dikenalnya. Ia melihat pelangi membentang di dalam pancaran mata Nafsa. Cahayanya yang berwarna-warni memasuki relung-relung jiwanya.

Sadar bahwa dirinya sedang terperangkap dalam pesona yang selain Dia, Abdul Jalil berusaha untuk menghapus citra Nafsa dari pikiran dan perasaannya dengan berbagai cara. Pesona itu telah mengganggu perjalanan ruhaninya. Namun, laksana matahari terbit di ufuk timur setiap pagi, begitulah citra keindahan Nafsa terbit di fajar kehidupannya. Menyinari kegelapan jiwa dan mengusir embun dingin dengan kehangatan cinta. Jiwanya tiba-tiba menjelma taman indah dengan kicau burung, dengung lebah, gemericik air sungai, desau angin, goyang bunga-bunga, dan harum rerumputan.

Makin kuat ia berjuang menghalau keindahan Nafsa dari relung-relung ingatan dan mahligai jiwanya, makin hanyut ia ke pusaran sungai kerinduan yang bermuara ke samudera cinta. Pikirannya terbang ke angkasa melintasi awan khayalan, menggapai rembulan dan bintang-gemintang. Dan bagaikan burung patah sayap, begitulah ia merasakan dirinya terkapar tanpa daya melihat khayalnya terbang ke angkasa bermadu kasih dengan bayangan Nafsa, bidadari jiwanya.

08. Kasyf al-Mahjub

Musim gugur tiba dan daun-daun berluluhan, namun taman cinta yang terhampar di jiwa Abdul Jalil justru dipenuhi bunga aneka warna yang menebarkan wangi dan membius penciuman mereka yang dimabuk asmara. Ia merasa ada tangan gaib yang menuntun khayalnya memasuki taman cinta. Ia menyaksikan keindahan demi keindahan yang menyelubungi citra Nafsa disingkapkan sehingga mabuk dan tersungkurlah jiwanya di atas hamparan rumput keindahan.

Jika malam datang, kesunyian dan kesenyapan melingkupi segenap penjuru cakrawala jiwanya. Keindahan taman cinta yang terhampar di jiwanya sering berubah menjadi gurun gersang yang dipenuhi pasir dan bebatuan. Di dalam gelap gulita, ia merasa kebebasan jiwanya terbelenggu di balik terali penjara kepedihan. Lingkaran derita yang dialaminya sejak kanak-kanak hingga sekarang tiba-tiba terpampang memasuki sungai kenangan jiwa yang airnya terasa sangat pahit.

Pancaran citra keindahan Nafsa yang memesona Abdul Jalil ternyata tidak memberikan makna apa-apa bagi harapan-harapan yang melintas di jiwanya, kecuali kepedihan yang getir dari hati yang merana. Belum pernah ia merasakan kepedihan seperti yang sekarang ini. Dan pangkal kepedihan itu terjadi ketika suatu sore, entah disengaja atau tidak, Ahmad at-Tawallud mengatakan pekan depan akan ada pesta sederhana mengundang para fakir, janda tua, dan anak yatim untuk merayakan perkawinan puteri sulungnya, Nafsa, dengan seorang saudagar bernama Hajibur Rahman at-Takalluf.

Untuk kali pertama dalam hidupnya, ia merasa kepalanya disambar petir yang ledakannya meluluhlantakkan ketegaran bukit karang hatinya. Ia merasa samudera darah yang menggelora di tubuhnya panas bagai dikobari api. Sesaat sesudahnya, samudera kesadarannya terisap dalam kegelapan alam. Tubuhnya lemas bagai tanpa tulang. Lidahnya kelu. Matanya memandang hampa matahari angan-angan yang meledak di benaknya. Dan keringat dingin pun mendadak mengucur deras menyimbah tubuhnya.

Ahmad at-Tawallud yang melihat perubahan pada diri Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa sahabatnya sedang mengalami fatrah, yakni padamnya api semangat yang menyertai pencarian ruhani. Dia tahu jika hal itu dibiarkan maka sahabatnya itu akan hancur binasa di tengah perjalanan ruhaninya. Itu sebabnya, dengan penuh kearifan dia mengungkapkan alasannya menikahkan puteri sulungnya itu.

“Hajibur Rahman at-Takalluf, bakal menantuku, adalah kawanku yang usianya hanya selisih tujuh tahun denganku. Ia sangat tua disandingkan dengan Nafsa. Wajahnya tidak tampan. Saat kuberi tahu, Nafsa langsung menangis sedih. Namun, kukatakan kepadanya lebih baik mereguk kepedihan di dunia jika itu berakibat lahirnya keselamatan dan kebahagiaan kita di hadirat-Nya. Aku sadarkan Nafsa bahwa selama kita hidup di dunia ini hendaknya jangan mencintai sesuatu selain Dia. Itu sebabnya, sejak awal kita harus mengambil jarak secara kejiwaan dengan segala sesuatu di sekitar kita entah itu istri, suami, anak-anak, saudara, orang tua, rumah, benda-benda, kekayaan, bahkan kebanggaan diri,” jelasnya.

“Tapi Tuan,” desah Abdul Jalil dengan bibir bergetar, “bukankah dengan keputusan itu berarti Tuan telah menyiksa hati puteri Tuan sepanjang masa? Bukankah Tuan telah menjerumuskan puteri Tuan ke lembah derita yang tanpa akhir?”

“Terserah penilaian orang atas apa yang telah kulakukan,” kata Ahmad at-Tawallud. “Aku memiliki alasan tersendiri.”

Abdul Jalil diam. Ia menelan air ludah, namun tenggorokannya terasa kering.

“Tahukah Tuan kenapa aku menikahkan Nafsa dengan orang yang lebih tua?” tanya Ahmad at-Tawallud memancing.

Abdul Jalil menggeleng lemah.

“Keputusan itu kutetapkan setelah aku yakin bahwa puteriku diam-diam mencintai Tuan, begitu pula sebaliknya,” kata Ahmad at-Tawallud tegar.

“Nafsa mencintai saya?” Abdul Jalil tersentak kaget. Ia rasakan kobaran api menggelora di dalam dadanya.

“Ya.”

“Jikalau demikian, kenapa Tuan justru menikahkan puteri Tuan dengan orang lain yang tidak dia cintai?” sergah Abdul Jalil bertubi-tubi. “Apakah Tuan merasa hina memiliki menantu saya? Apakah karena saya orang Melayu yang sebatangkara? Apakah karena Tuan tahu bahwa saya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa di dunia?”

“Aku tidak peduli apa pun kata Tuan,” tukas Ahmad at-Tawallud menarik napas panjang. “Maksud utamaku adalah demi keselamatan puteriku sekaligus keberhasilan Tuan dalam meniti jembatan menuju Dia.”

“Keselamatan? Keberhasilan?” tanya Abdul Jalil penasaran. “Keselamatan apa yang Tuan ungkapkan jika kenyataannya Tuan justru menyiksa kehidupan puteri Tuan lahir dan batin? Keberhasilan apa pula yang Tuan maksudkan jika kenyataannya Tuan justru menorehkan luka tak tersembuhkan di hati saya?”

“Aku tak peduli apa pun penilaian Tuan,” kata Ahmad at-Tawallud datar, “yang jelas, aku tidak akan mengorbankan puteriku menjadi sekutu-Nya bagi Tuan. Aku tidak akan menikahkan puteriku dengan siapa pun yang telah dipilih-Nya menjadi kekasih, tetapi belum mampu menjaga kesetiaan kepada-Nya.”

“Maksud Tuan?” Abdul Jalil terkejut.

“Tahukah Tuan bahwa Dia Maha Pencemburu? Tahukah Tuan bahwa Dia tidak mau diduakan? Dan sadarkah Tuan bahwa hati Tuan sendiri sebenarnya belum utuh mencintai-Nya? Bukankah belakang ini Tuan sudah tidak setia kepada-Nya? Bukankah hati dan pikiran Tuan belakangan ini selalu terarah kepada “yang selain Dia,” yakni puteriku Nafsa?” tanya Ahmad at-Tawallud bertubi-tubi.

Abdul Jalil terperangah dicecar pertanyaan demi pertanyaan. Secercah kesadaran memancar dari kedalaman hati dan pikirannya. Namun, bagai burung patah sayap, tanpa daya sedikitpun ia menyaksikan kesadarannya terbang ke langit luas, meninggalkan dirinya terkapar kesakitan.

Melihat sahabatnya tak berdaya, Ahmad at-Tawallud berusaha membangkitkan semangat dengan wejangan dan petunjuk. “Tahukah Tuan kisah Ibrahim al-Khalil, sahabat Allah yang sampai usia tua tidak dikaruniai putera? Tahukah Tuan bahwa saat Tuhan memberikannya penyambung keturunan, kecintaan Ibrahim al-Khalil menjadi berlimpah dan meluap-luap kepada sang putera, yakni Ismail? Tahukah Tuan apa yang diperbuat-Nya setelah menyaksikan keakraban dan kecintaan Ibrahim al-Khalil terhadap putera tunggalnya tersebut?”

“Saya paham itu, Tuan,” sahut Abdul Jalil lemah.

“Ya, Allah menguji kadar cinta dan kesetiaan sahabat-Nya. Dan Ibrahim maupun Ismail mampu membuktikan bahwa di atas segalanya yang utama hanya Allah. Hubungan bapak dan anak pada hakikatnya tidak ada. Itulah puncak dari Tauhid yang dikenal Ibrahim al-Khalil dan puteranya yang termaktub di dalam intisari: La ilaha illa Allahu! Tidak ada sesuatu, bahkan ilah-ilah yang lain, selain Allah!”

“Sekarang, apakah Tuan mampu menahan kepedihan dan derita jika setelah Tuan menikahi Nafsa, karena dialah perempuan pertama yang Tuan cintai dengan sepenuh jiwa, Tuan mendapatinya sakit dan mati? Sanggupkah Tuan dipisahkan dari Nafsa setelah Tuan mereguk kenikmatan darinya? Sanggupkah Tuan menerima kenyataan bahwa sewaktu-waktu dia direnggut dari sisi Tuan?” tantang Ahmad at-Tawallud. “Bukankah sekarang ini saja, sebelum Tuan kenal benar akan Nafsa, Tuan sudah tidak mampu menahan kepedihan akibat terpisah darinya?”

“O Tuan,” seru Abdul Jalil sambil berlutut memegangi kedua kaki Ahmad at-Tawallud, “saya sadar bahwa apa yang sedang saya alami ini adalah kesalahan besar. Saya sadar bahwa kehadiran Nafsa bisa menggagalkan perjalanan saya menuju Dia. Saya sadar bahwa Nafsa adalah bagian dari hijab-Nya. Tapi Tuan, saya sungguh-sungguh tidak mampu berbuat apa-apa untuk menghapus citra Nafsa dari hati dan pikiran saya. Saya benar-benar tak berdaya Tuan. Tolonglah saya, o Tuan.”

“Tuan Abdul Jalil,” kata Ahmad at-Tawallud lirih, “bukankah selama ini Tuan ingin merasakan dan menghayati Af’al Allah secara nyata? Nah, dalam kasus yang Tuan alami sekarang ini, apakah Tuan beranggapan bahwa Tuan memiliki niat dan kemampuan pribadi untuk berkehendak dan berbuat, terutama mencintai Nafsa?”

“Tidak, o Tuan,” kata Abdul Jalil pedih, “saya sadar bahwa saya tak memiliki kemampuan apa pun. Sekarang ini saya benar-benar tak berdaya. Bahkan meminta tolong kepada-Nya pun saya seperti tidak mampu. Saya seperti sebutir debu diempas angin.”

“Jika Tuan sudah sadar akan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri Tuan,” kata Ahmad at-Tawallud tenang, “maka Tuan sebaiknya pergi ke Baghdad. Di sana Tuan dapat tinggal di rumah saya. Saya tahu Tuan tidak akan kuat menahan perasaan ketika harus menyaksikan Nafsa bersanding di pelaminan dengan suaminya. Pemandangan itu akan meremukkan hati Tuan.”

“Saya akan mengikuti apa pun perintah Tuan.”

“Itu sangat baik Tuan. Untuk menuju ke muara-Nya, Tuan harus menjadi butiran air yang baik dan setia mengikuti arus.”

“Bolehkah saya bertanya satu hal?”

“Soal apa?”

“Dari manakah Tuan tahu jika Nafsa, puteri Tuan, diam-diam mencintai saya?”

“Ibunda saya yang memberi tahu. Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman, beliau menangkap isyarat yang terpancar dari kedalaman jiwa Tuan saat bertatap mata dengan Nafsa, yang diikuti oleh perubahan sikap Tuan. Beliau tahu Tuan diam-diam memendam rasa cinta kepada Nafsa. Dan satu malam, lewat kata-kata yang halus penuh kebijakan, ibunda saya berhasil menggali perasaan Nafsa. Apakah penjelasan ini penting bagi Tuan? Apakah Tuan masih berkukuh untuk menyimpan harapan dari selain Dia? Bukankah Tuan harus bertobat?”

“Saya paham, Tuan,” Abdul Jalil menunduk dengan wajah memerah. “Saya akan patuh kepada Tuan sebagai pembimbing ruhani saya, dengan kepatuhan seperti mayat yang tak memiliki kehendak dan gerak sendiri.”

“Saya pun pada hakikatnya tidak memiliki kehendak dan gerak sendiri. Semua adalah dari-Nya semata. La haula wa la quwwata illa bi Allahi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya!” timpal Ahmad at-Tawallud.

Bagaikan prajurit kalah perang, demikianlah Abdul Jalil dengan langkah tertatih-tatih, tubuh lunglai, wajah kusut masai, dan pakaian lusuh melintasi jalanan berdebu menuju ke arah Baghdad. Perjalanan ke Baghdad dengan melintasi jalur gurun itu memang ia sengaja, meski ia tahu menggunakan jalur pelayaran lewat sungai Dajlah akan lebih mudah. Ia sengaja melakukan perjalanan yang berat itu dengan tujuan utama melebur keakuan dirinya di atas tungku berupa pasir, batu, debu, angin, dan sengatan matahari membara. Hanya dengan cara inilah ia bisa melepas bayangan Nafsa yang begitu kuat melekat di relung-relung terdalamnya. Dan ia berharap perjuangannya itu sekaligus akan memusnahkan segala ikatan kepada selain Dia.

Panas gurun yang memuai dari atas dan bawah dengan hembusan angin kering membara telah menguapkan kekuatannya. Bagaikan belukar di gugusan gurun, begitulah ia melangkah gontai di tengah deru angin yang bersiut-siut. Dan di antara bibirnya yang kering dan gemetar, ia dengan teguh menyebut-nyebut Asma Allah.

Perjuangan melupakan Nafsa dari hati dan pikirannya adalah perjuangan terdahsyat dan terberat yang pernah dilakukannya selama ini. Belum pernah ia merasakan kesulitan melepas sesuatu “selain Dia”, selain citra Nafsa. Bahkan saat keakuan dirinya luluh lantak dipanggang bara kesengsaraan gurun, bayangan Nafsa masih juga memasuki hati dan pikirannya, meski mulutnya tak henti-henti melafalkan Asma Allah.

Ketika matahari berada di puncak langit dan sinarnya membakar gurun, tubuhnya sudah tidak memiliki kekuatan sedikit pun. Fatamorgana berupa air berkilau-kilau begitu menarik pandangannya yang mulai kabur dan berkunang-kunang. Ketika ia goyah dan ambruk ke atas pasir, sekilas ia melihat bayang-bayang mendekatinya.

Bayang-bayang itu ternyata pengembara bernama Abdus Sukr ar-Rajul. Tanpa berkata, dia langsung mengeluarkan kantung air dan meminumkannya ke mulut Abdul Jalil. Keanehan terjadi, Abdul Jalil merasakan kesegaran luar biasa, tubuhnya bugar seolah-olah tidak sedang melakukan perjalanan berat.

Ia masih tercengang dalam ketakjuban ketika Abdus Sukr ar-Rajul, tanpa diminta, menuturkan kisah tentang Syaikh San’an yang mengalami nasib lebih pedih dibanding dirinya.

Syaikh San’an adalah guru tarekat yang memiliki cukup banyak pengikut. Ia dikenal sebagai orang yang saleh, zuhud, wara’, tawadlu’, dan tak pernah memikirkan sesuatu selain Allah. Semua pengikut dan kawan-kawannya sangat segan dan hormat kepadanya. Lantaran kehidupannya yang saleh dan diabdikan hanya untuk Allah itulah ia belum menikah sampai usianya masuh setengah abad.

Satu saat Syaikh San’an melakukan perjalanan ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Di tengah perjalanan ia sempat singgah di rumah seorang kawannya yang beragama Nasrani. Di tempat itulah ia melihat gadis cantik tetangga kawannya itu. Entah apa yang terjadi, ia mendadak terperangkap oleh pesona sang gadis. Ia bagai kehilangan kesadaran ketika mengungkapkan perasaan cintanya yang tulus. Bahkan tanpa malu-malu ia memohon agar sang gadis berkenan menjadi istrinya.

Gadis cantik itu semula menolak. Namun, karena Syaikh San’an terus memohon akhirnya dia bersedia menerima lamaran itu dengan tiga syarat. Pertama, Syaikh San’an harus bersedia melepas jubah dan surbannya untuk diganti dengan jubah dan ikat pinggang yang disediakan sang gadis. Kedua, Syaikh San’an harus bersedia memelihara seratus ekor babi dari fajar hingga maghrib. Ketiga, selama memelihara keseratus babi itu, Syaikh San’an tidak boleh menelantarkan seekor pun.

Karena pesona kecantikan sang gadis sangat kuat menerkam kesadaran hati dan pikirannya, Syaikh San’an menerima begitu saja ketiga syarat tersebut. Sejak itu, orang melihat Syaikh San’an mengenakan jubah hitam dengan ikat pinggang tali. Sehari-hari ia sibuk mengurus babi. Ia tidak lagi menjalankan shalat. Berdzikir pun ia seolah-olah sudah lupa. Sehari-hari yang diingatnya hanya istrinya yang cantik memesona. Bahkan ia pun seolah lupa diri, tidak menghiraukan lagi tubuhnya dilepoti kotoran babi.

Hal Syaikh San’an itu sampai kepada murid-muridnya. Maka, gemparlah mereka. Berbondong-bondong para murid itu menemui gurunya. Dengan berbagai permohonan, bujukan, rayuan, dan bahkan tangis pedih, mereka mengharap agar gurunya sadar. Namun, Syaikh San’an bergeming. Ia meminta mereka merelakan dirinya hidup menderita karena ketulusan cinta. “Aku tak kuasa menolak hasrat jiwaku untuk selalu dekat dengannya. Aku merasa lebih baik mati di dalam pelukannya daripada hidup dipisahkan darinya. Bersama dia, aku tak butuh lagi harga diri, kehormatan, atau kemuliaan. Bagiku, seluas senyumnya telah menumpahkan air kehidupan yang segar dengan kenikmatan tiada banding. Aku benar-benar tak berdaya untuk menghindar apalagi meninggalkannya.”

Dengan air mata bercucuran dan ratap tangis pedih, para murid itu kembali dan memberitakan hal Syaikh San’an kepada keluarga dan kawan-kawannya. Akhirnya, berkatalah seorang darwis tua kepada seluruh murid Syaikh San’an agar mereka beramai-ramai mendoakan gurunya. Hanya Allah jua yang sanggup menolong Syaikh San’an dari pesona bendawi yang bersifat sementara.

Berkat doa yang tulus dari murid-murid dan kawan-kawannya, Syaikh San’an akhirnya sadar. Kepada istrinya ia menyatakan akan melanjutkan niatnya semula menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ia bahkan bersedia melepaskan segala yang dimilikinya, termasuk istri tercintanya. Istri Syaikh San’an akhirnya menyerah. Dia bahkan berikrar memeluk agama Islam dan ikut menunaikan ibadah haji bersama suaminya.

Setelah mengakhiri ceritanya, Abdus Sukr ar-Rajul berdiri dan hendak pergi. Buru-buru Abdul Jalil mencegahnya dengan bertanya, “Tuan, apakah kisah Syaikh San’an itu pernah ada ataukah hanya sindiran buat saya?”

“Jika engkau menganggap cerita itu ada, tidak ada masalah. Jika engkau menganggapnya sindiran bagi dirimu, itu juga tidak apa-apa. Semua tergantung pada pemahamanmu dalam memaknai kisah itu.”

“Tuan,” kata Abdul Jalil cepat, “bolehkah saya tahu di mana Tuan tinggal? Berkenankah Tuan memberi saya arah menuju Dia?”

“Aku tinggal di mana pun Allah berada karena tujuan utamaku adalah bersama Dia. Jika engkau ingin tahu jalan menuju Dia maka arahkan hati dan pikiranmu hanya kepada-Nya. Hapuskan segala sesuatu selain Dia dari hati dan pikiranmu,” kata Abdus Sukr ar-Rajul sambil melangkah meninggalkan Abdul Jalil.

Dengan termangu takjub Abdul Jalil menatap kepergian Abdus Sukr ar-Rajul sampai lelaki itu hilang di garis cakrawala. Seraya melangkah penuh semangat, ia merenungkan pertemuannya yang aneh dengan pengembara yang hidup bagai debu diembus angin itu.

Di balik kemegahan dan hingar-bingar Baghdad, ternyata terselip sekeping kehidupan yang dihuni oleh para pencari Tuhan, para pengarung samudera kesunyian, dan para pecinta kebenaran yang hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan penghuni kota yang lain. Kehidupan mereka penuh misteri dan tak diketahui warga lain. Mereka ada yang bekerja sebagai saudagar, guru besar, ilmuwan, seniman, penyanyi, ahli fiqh, tabib, pedagang pasar, bahkan ada yang gelandangan. Mereka mengenal sesama mereka. Mereka berkumpul. Berbincang-bincang. Berbagi pengalaman. Dan sesudah itu bubar. Kembali ke kehidupan sebagaimana layaknya warga lain.

Abdul Jalil mengetahui kehidupan orang-orang aneh itu secara kebetulan, ketika ia mengikuti pesta untuk para fakir, janda-janda tua, anak yatim, dan para gelandangan yang diselenggarakan oleh Ahmad at-Tawallud. Pesta yang digelar sebulan sekali saat bulan purnama itu, menurut Ahmad at-Tawallud, bukan kelanjutan dari pesta memeriahkan pernikahan puteri sulungnya. Pesta itu merupakan tradisi yang dilakukan sejak ayah dan kakeknya.

Pesta semarak yang diikuti sekitar seratus orang itu menyuguhkan makanan dan minuman. Diramaikan pula oleh al-Qawwali, grup musik kenamaan di Baghdad, yang dipimpin pemusik terkenal Ahmad al-Qawwal. Dan yang mengejutkan, penyanyi tersohor Baghdad, Abdul Warid al-Wajd, hadir di pesta itu tanpa diundang.

Kehadiran Abdul Warid al-Wajd memang bukan untuk kali pertama. Namun, malam saat pesta itu digelar dia sedang diminta menyanyi di rumah Abu Syarr azh-Zhulmi, seorang pejabat pemungut pajak. Padahal di pesta kaum fakir itu dia tidak dibayar.

“Saudara-Saudaraku, para fakir yang dicintai Allah. Malam ini aku akan menyanyi untuk memeriahkan pesta yang mulia ini. Menghibur Saudara-Saudari sekalian. Menggembirakan Tuan rumah. Semoga niatku ini diridhoi Allah.”

“Sebenarnya, malam ini aku harus menyanyi di pesta mewah yang dihadiri para saudagar dan pejabat kerajaan. Namun, saat aku berada di tengah para tamu yang menunggu penampilanku, aku melihat mereka sebagai orang-orang kaya yang matanya tertutup kilatan dinar, telinganya tersumbat gemerincing emas, mulutnya tersumpal bongkahan permata, telapak tangannya menggenggam erat tali kekikiran, dan hatinya disimbah tetesan liur serigala keuntungan duniawi yang tak pernah terpuaskan.”

“Saat mataku menatap kerakusan mereka menyantap makanan dan menenggak minuman sambil menikmati gerak para penari syahwat, hatiku meronta dan memaksaku agar pergi meninggalkan mereka. Hatiku berkata orang-orang seperti itu tidak akan bisa mendengarkan lagu-lagu yang kunyanyikan. Telinga mereka sudah pekak. Tuli. Mereka tidak bisa membedakan antara syair dan ringkik keledai. Mereka tidak bisa membedakan antara alunan musik sejati dan derit roda gerobak. Telinga mereka hanya bisa mendengar suara gemerincing dinar.”

“Saudara-saudariku, aku menyanyi untuk mengungkapkan suara hatiku, mengumandangkan getaran ruhani yang bertahta di kerajaan jiwaku, mengencangkan tali-tali gambus kerinduanku, dan menabuh musik kecintaanku kepada-Nya. Karena itu, aku tidak mungkin menyanyi di pesta Abu Syarr azh-Zhulmi yang dihadiri oleh orang-orang tolol dan dungu, orang-orang kikir dan tamak, orang-orang sombong dan angkuh, orang-orang yang membabi buta mencintai dunia, orang-orang yang memuja nafsu, dan orang-orang yang telinga jiwanya sudah ditulikan oleh hingar-bingar musik dan nyanyian kecintaan diri.”

“Aku tinggalkan pesta kemewahan di kediaman Abu Syarr azh-Zhulmi karena aku yakin telah menyanyi di tempat yang keliru. Karena itu, o Saudara-Saudariku, aku memilih untuk datang ke pesta yang agung dan mulia ini. Tempat para fakir yang dicintai dan mencintai Allah. Tempat di mana kedermawanan, kasih sayang, ketulusan, kesederhanaan, keheningan, dan keindahan diungkapkan dalam bahasa jiwa. Di sinilah, di pesta kaum fakir inilah aku akan menyanyi. Karena, mata para tamu yang hadir ini adalah mata yang sudah terbangun di antara mata mereka yang tidur. Karena, telinga mereka yang hadir di sini adalah telinga yang rindu mendengar suara kebenaran. Dan hati mereka yang hadir di sini adalah singgasana persemayaman at-Tawajjud.”

Usai mengemukakan alasannya, Abdul Warid al-Wajd melantunkan nyanyian berjudul Ahl al-Kasyf wa al-Wujud, diiringi alunan musik al-Qawwali. Kemerduan suara dan keindahan syair yang dilantunkannya memesona seluruh tamu yang hadir.

Abdul Jalil yang sejak tinggal di Baghdad tiga bulan silam berusaha keras mengikis citra keindahan Nafsa dari hati dan pikirannya, sesaat sempat terjerat kembali pada kilasan khayal ketika alunan suara Abdul Warid al-Wajd menerobos pendengarannya. Betapa indah dan nikmatnya jika saat ini ia bermadu kasih bersama Nafsa tercinta. Namun, secepat itu pula ia memusatkan konsentrasi ke satu titik, yakni Dia. Ia harus bertobat. Mengarahkan hati dan pikiran hanya kepada Dia.

Selama ini tanpa disadari ia telah berpaling dari-Nya karena terpesona oleh keindahan Nafsa yang tidak kekal. Seindah apa pun Nafsa, pada akhirnya dia akan menjadi tua, keropos, rapuh, kemudian tumbang ke permukaan bumi, dan dikuburkan ke dalamnya. Namun, mencintai Dia Yang Abadi bukan soal mudah karena Dia tidak bisa dilihat dan dipegang. Itu sebabnya, Abdul Jalil sering merasakan kerinduan akan keindahan wajah dan keberadaan-Nya.

Setelah bergulat sengit menghalau semua bayangan yang melintas di hati dan pikirannya, ia merasa kesadarannya terbuai oleh lantunan nyanyian Abdul Warid al-Wajd dan alunan musik al-Qawwali. Ia merasa ada daya tarik yang menenggelamkan keakuannya. Ia merasa kesadarannya larut ke dalam lantunan nyanyian dan alunan musik.

Saat ia dan para tamu tengah terpesona, tiba-tiba terjadilah keajaiban. Langit-langit rumah Ahmad at-Tawallud, tempat pesta itu diselenggarakan, terbelah sedemikian rupa hingga langit dengan taburan bintang-gemintang terlihat. Sesaat kemudian langit pun ikut merekah dan pancaran cahaya gemilang menerangi cakrawala.

Pemandangan menakjubkan itu diikuti oleh peristiwa yang lebih menakjubkan lagi. Tiba-tiba di punggung mereka bertumbuhan sepasang sayap putih sekokoh rajawali. Kemudian sambil menyanyi dalam bahasa ruhani yang mendendangkan keindahan, para hadirin mengepakkan sayap dan terbang melalui rekahan langit-langit rumah memasuki pancaran cahaya gemilang yang berpendar di balik belahan langit.

Menyaksikan para hadirin beterbangan memasuki pancaran cahaya, para pemusik al-Qawwali tercekam dalam ketakjuban. Namun, tanpa mereka sadari secara ajaib pula punggung mereka pun ditumbuhi sepasang sayap putih. Dan seolah mengikuti lantunan suara merdu Abdul Warid al-Wajd, para pemusik itu mengepakkan sayap, terbang ke arah pancaran cahaya gemilang, menyusul para hadirin yang telah terbang lebih dulu.

Kini Abdul Warid al-Wajd menyanyikan lagu ‘Alam al-‘Ulwi tanpa iringan musik. Namun, pesona yang mencekam jiwanya membuat dia lupa dengan keberadaan dirinya sebagai penyanyi. Bahkan dia lupa nyanyian yang dilantunkannya, baik syair maupun iramanya. Dan yang membuatnya makin takjub adalah saat dia merasa dirinya adalah Abdul Warid al-Wajd sekaligus Ahmad al-Qawwal. Dan tiba-tiba dia merasa keakuannya larut dan lenyap, menjelma menjadi lantunan lagu dan alunan musik yang mengiringi para hadirin dan pemusik mengepakkan sayap memasuki ‘Alam al-‘Ulwi, di mana berlapis-lapis hijab gaib Ilahi disingkapkan.

Pengalaman menakjubkan itu sangat mengesankan Abdul Jalil. Ia yang saat itu ikut tercekam pesona nyanyian Abdul Warid al-Wajd dan alunan musik al-Qawwali, memperoleh pengalaman baru dalam melintasi hijab-hijab gaib Ilahi. Jika sebelumnya setiap kali melintasi tirai hijab ia selalu merasa seperti ular keluar dari kelongsong kulit maka yang ia rasakan dalam peristiwa semalam adalah bagai ulat keluar dari kepompong dalam bentuk kupu-kupu. Saat kesadarannya lepas, ia dapat dengan bebas terbang menuju ke angkasa raya yang luas tanpa batas.

Pengalaman baru yang dialaminya tersebut benar-benar menyingkapkan cakrawala pemahamannya terhadap segala sesuatu yang tergelar di hadapannya. Sebelum peristiwa ‘Alam al-‘Ulwi, ia melihat dan memahami kenyataan yang tergelar di hadapannya seperti burung yang melihat terali besi, mangkok tempat makanan, gelas tempat minuman, teras rumah, halaman, pepohonan, dan langit biru dari dalam sangkar. Kini, ia seperti burung yang lepas dari sangkar dan terbang ke angkasa bebas menyaksikan segala sesuatu yang terhampar di depannya dengan pemahaman yang serba baru. Ia menyaksikan betapa luasnya hamparan sawah, jajaran gunung-gemunung, bentangan lembah, curamnya ngarai, barisan bukit-bukit, dalamnya jurang, tenangnya air danau, gemericik sungai, gelombang samudera raya, gumpalan awan-gemawan, cahaya matahari, dan hamparan langit biru dari angkasa tempat ia bebas mengepakkan sayap.

Selama ini ia memahami keberadaan benda-benda berdasar pemahaman awam, yakni masing-masing benda terkait dengan wujudnya yang panjang, lebar, tinggi, luas, warna, dan paduan bentuk yang harmonis: kini ia memahaminya dengan cara pandang yang sama sekali berbeda. Sebongkah batu, misalnya, tidak lagi dilihatnya dari wujud fisik dengan bentuk, ukuran, warna, kepadatan, dan tekstur, tetapi ia menangkap makna bahwa pada sebongkah batu itu terdapat suatu “getaran” yang tersembunyi di balik keberadaan fisiknya. “Getaran” yang ia tangkap pada sebongkah batu ternyata sama dengan “getaran” pada bunga-bunga, rerumputan, tanah, pasir, tetumbuhan, pepohonan, manusia, hewan, rembulan, matahari, dan bintang-bintang.

Ia tidak tahu apa sebenarnya “getaran” yang tersembunyi di balik benda-benda itu. Ia hanya menangkap makna betapa “getaran” semua benda itu pada hakikatnya sama. Itu sebabnya, ia menilai bahwa “getaran” itu pada hakikatnya adalah “bekas jejak Ilahi” yang tertinggal pada semua karya ciptaan-Nya. Ini berarti antara manusia, hewan, tetumbuhan, dan alam semesta pada dasarnya memiliki hubungan kausalitas yang sama. Bukan hanya asal usul mereka yang sama dari satu Pencipta, melainkan di antara mereka pun sebenarnya saling mengait.

Pemahaman baru itu makin mengobarkan api semangatnya dalam berjuang mencari Dia. Ia merasa dirinya bagai musafir yang terperangkap dalam hutan lebat pada malam yang gelap dan dari kejauhan melihat nyala api. Jika sebelumnya ia mencari jalan keluar dengan meraba-raba dalam gelap dan tidak mempunyai petunjuk arah yang pasti. Kini ia mendapat arah baru: ia mulai dapat memahami bahwa keberadaan segala sesuatu di sekitarnya bisa membantunya menjadi penunjuk ke arah nyala api.

Ia menyadari bahwa pemahaman baru ini pada dasarnya adalah awal belaka dari tersingkapnya hijab-hijab yang menyelubungi-Nya. Itu sebabnya, ia yakin bahwa yang mengalami peristiwa ini bukan hanya dirinya. Di antara para pencari Dia mungkin ada yang telah sampai pada nyala api.

Bagi Abdul Jalil, persoalan mencapai nyala api adalah persoalan teguhnya perjuangan sekaligus kehendak-Nya. Sebab, ia belum tahu apakah antara dirinya dan nyala api itu hanya dipisahkan oleh hamparan rumput dengan beberapa batang pohon ataukah masih terdapat lembah, jurang, ngarai, bukit, gunung, dan bahkan samudera raya. Hal itu disadarinya karena nyala api yang benderang di kejauhan itu sangat aneh sekali keberadaannya; sekali waktu tampak sangat terang dan dekat, tetapi pada saat lain tiba-tiba menjauh. Pernah suatu kali nyala api itu begitu dekat dengan “penglihatan”-nya sehingga membutakan mata dan membuatnya tidak tahu arah.

East China Sea, Feb 23rd 2007

09. Futuhat al-Insaniyyah

Matahari menyingsing di ufuk barat, awal musim hujan tiba. Berhamburlah kesengsaraan dari langit dan dasar bumi: menerkam kehidupan anak-anak manusia yang merayap di permukaan subur yang membentang di antara kedua sungai Eufrat dan Tigris. Hujan deras tidak saja meluapkan sungai yang menjelma dalam bentuk banjir dan genangan air kotor di kanan dan kirinya, tetapi menebarkan benih-benih penyakit yang merenggut nyawa banyak orang.

Rumah-rumah bobrok dan kumuh yang sebagian berupa puing yang terserak tak terurus di sepanjang sungai itu, terutama di pinggiran barat dan utara kota Bahgdad, dihuni oleh keluarga-keluarga petani, gembala, tukang, dan nelayan miskin. Rumah-rumah kumuh itu umumnya berisi keluarga yang terkapar tanpa daya digeragoti penyakit. Saat seperti itulah para pedagang budak berkeliaran mencari-cari mangsa di antara kesengsaraan dan ketidakberdayaan.

Di antara air kotor bercampur lumpur yang menggenangi desa-desa kumuh, di bawah rengkuhan senjakala, terlihat dua orang berjalan beriringan. Berbekal dua kantung uang emas dan perak, mereka mengetuk pintu-pintu rumah. Laksana malaikat pembawa rezeki, mereka membagi-bagikan kepingan uang kepada penghuninya. Kegembiraan dan sukacita pun menghambur dalam bentuk syukur dan linangan air mata dari keluarga-keluarga miskin yang tercekik kesengsaraan.

Malaikat penolong itu bagi warga miskin yang menghuni pinggiran Baghdad memang sudah tidak asing lagi. Dia adalah Ahmad at-Tawallud, saudagar kaya yang diberkahi Tuahn dengan sifat dermawan,welas asih, penolong, dan kesukaan menjamu para fakir, anak-anak yatim piatu, dan janda-janda tua. Namun, berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini dia mengajak salah seorang sahabatnya, Abdul Jalil.

Setelah berkeliling hingga tengah malam, Abdul Jalil merasa ada yang aneh dengan tugas itu. Sepanjang ingatannya, telah beratus-ratus rumah ia hampiri. Dan telah ia bagikan kepingan uang kepada warga. Jika sebuah rumah berisi keluarga besar maka ia membagi sekitar lima puluh keping uang emas dan seratus uang perak. Anehnya, meski beribu-ribu keping ia ambil, uang yang ada di kantung itu sepertinya hanya berkurang , tidak pernah habis.

Sebenarnya, ia ingin sekali menanyakan hal keanehan kantung uang itu. Namun, ia ingat sebelum berangkat tadi Ahmad at-Tawallud sempat berkata-kata yang intinya menyinggung perjalanan Kidhir dan Musa a.s. “Yang menjadi penyebab utama berpisahnya Musa dari Kidhir a.s. adalah ketidakmampuan Musa a.s. menahan diri untuk tidak bertanya.”

Khawatir kata-kata itu dimaksudkan untuk menyindir soal keanehan yang bakal ditemuinya nanti, Abdul Jalil memilih diam meski di kepalanya berkecamuk lingkaran tanda tanya. Ia berusaha keras untuk tidak bertanya-tanya sesuatu pun. Ia menunggu sampai Ahmad at-Tawallud menjelaskan sendiri hal tersebut.

Ketika memasuki dinihari, telah hampir seribu rumah mereka datangi dan uang di kantung itu benar-benar tak bersisa. Ahmad at-Tawallud mengajak Abdul Jalil beristirahat di reruntuhan rumah yang sebagian temboknya tinggal puing-puing. Dalam keadaan tubuh diterkam keletihan, ia mengikuti ajakan sahabatnya itu. Di antara reruntuhan itu, dalam keremangan yang berkabut, ia melihat seorang perempuan tua duduk melamun dikitari domba-domba dan seekor anjing yang kurus kedinginan.

Sambil duduk di atas batu yang mencuat di samping reruntuhan, Ahmad at-Tawallud menuturkan tentang perempuan tua itu. Perempuan tua itu adalah citra Puteri Baghdad yang sejak zaman purba terkenal dengan kecantikan, keindahan, kesegaran, kesuburan, kemuliaan, dan keagungannya. Puteri Baghdad yang menawan. Puteri Baghdad yang dimahkotai dan ditabalkan di atas singgasana kerajaan dongeng yang membentang di antara dua sungai, yang dilingkari taman-taman dan kebun-kebun indah.

Berbilang abad kawanan domba, angsa, kijang, anjing, kuda, dan burung menikmati kesubur-indahan taman sang Puteri yang menebarkan wangi bunga dan rerumputan. Para raja dan ksatria gagah berani berlomba memamerkan keperkasaan untuk memperebutkan sang puteri. Berbilang raja serta ksatria silih berganti menaklukkan kerajaan dongeng itu dan memahkotai sang Puteri dengan keagungan dan kemuliaan. Mereka mempersubur dan memperindah taman-taman dan kebun-kebun kerajaan.

“Namun berkah kecantikan, keindahan, kesuburan, kesegaran, kemuliaan, dan keagungan sang Puteri di atas singgasana dongeng itu telah menjadikan para raja, ksatria, dan warga kerajaan lupa kepada Maharaja Yang Berkuasa yang telah menciptakan sang Puteri dengan segala kecantikan, kemegahan, dan keagungannya,” kata Ahmad at-Tawallud. “Mereka sehari-hari disibukkan oleh perhelatan dan upacara yang memuliakan dan memuji-muji kecantikan sang Puteri. Bahkan saat Sang Maharaja yang berkuasa dengan adil dan penuh kasih sayang itu mengirimkan para pengawal utusan, serta orang-orang kepercayaan-Nya, malah mereka jadikan bahan tertawaan dan lelucon.”

Berbilang abad Sang Maharaja secara ganti-berganti menjatuhkan hukuman kepada raja-raja, ksatria-ksatria, dan warga-warga yang lebih mencintai sang Puteri, tetapi melupakan hukum dan peraturan kerajaan. Namun, mereka dari generasi ke generasi selalu mewarisi kecenderungan sifat yang sama, yakni mencintai dan membanggakan kecantikan dan keindahan sang Puteri serta memuji-muji negeri dongeng yang berlimpah kesuburan itu. Mereka lupa bahwa penguasa sejati di kerajaan dongeng adalah Sang Maharaja Yang Mahaadil, Mahakuasa, Mahaagung, Mahaperkasa, yang tidak berkenan diduakan dan ditandingi oleh siapa pun, baik dalam kekuasaan maupun dalam kecintaan dan pengabdian semua kawula-Nya.

Setelah berpuluh abad Puteri Baghdad dengan singgasana gading berhias bulu merak dan setelah emas permata menjadi berhala yang dicintai dan dipuja-puji oleh para raja, ksatria, dan warga kerajaan; maka turunlah hukuman yang sangat keras dan pedih dari Sang Maharaja – Penguasa yang memiliki berbagai nama yang menggetarkan: Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Membinasakan (al-Mumit), Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr); Sang Penguasa Tunggal yang berkuasa mutlak atas negeri dongeng beserta seluruh isinya.

Tiba-tiba saja kerajaan dongeng yang subur dan indah dengan taman dan kebun itu telah dikepung oleh kaki-kaki kuda-kuda tunggangan yang perkasa yang mengepulkan debu dari para pengembara biadab asal padang rumput liar Mongolia. Mereka dipimpin oleh Hulagu Khan, anak panglima paling haus darah dalam sejarah kemanusiaan, Jenghis Khan. Bagai kawanan serigala, begitulah mereka mendobrak-dobrak gerbang kerajaan dan menebar rasa takut ke segala penjuru negeri. (*13 Februari 1258, kota Baghdad yang berada di bawah pemerintahan Dinasti Abbasiyah jatuh ke tangan Hulagu Khan dari Mongol. Dalam peristiwa tersebut, setengah penduduk Baghdad dibunuh)

Raja, ksatria, dan warga kerajaan dongeng yang terlena menikmati kesuburan negeri dan memuja-muji kecantikan puterinya, bergetar ketika mendengar raungan para penyerbu yang haus darah. Bulu roma mereka berdiri mendengar derak gerbang kota kebanggaan mereka didobrak kawanan pengembara liar yang meraung dan melolong bagai serigala. Dan ketika para penguasa kerajaan masih gemetar dicekam rasa takut dan gentar, para pengembara perkasa yang datang dari relung-relung terdalam kebiadaban itu menebarkan malapetaka kebinasaan.

Gemerincing senjata berkumandang di segenap sudut negeri. Darah tertumpah memerahkan tanah dan air sungai. Jerit kematian mengumandang ke angkasa. Derak tiang-tiang kayu yang runtuh dimangsa api bersahut-sahutan dari ujung satu ke ujung kota yang lain. Bagai sarang semut dibinasakan, begitulah keindahan, kesuburan, kesegaran, dan kemuliaan negeri dongeng itu diluluhlantakkan dengan kekejaman tiada tara.

Hari-hari hukuman dari Sang Maharaja adalah hari-hari paling mengerikan dalam sejarah kemanusiaan. Para pengembara biadab yang tak kenal ampun itu mencabuti nyawa para ksatria dan warga negeri. Seluruh bangunan istana dan kota mereka ratakan dengan tanah. Saluran-saluran air yang menghidupi taman dan kebun kerajaan tak luput dari kehancuran. Bahkan Puteri Baghdad yang cantik jelita, subur, molek, dan memikat itu dijadikan alat pemuas nafsu jalang mereka. Sang Puteri dijarah dan diperkosa dengan penuh kekerasan dan kekejaman hingga air matanya yang hitam menodai sungai Tigris. Siang dan malam hanya jerit kematian dan gemerincing senjata yang mengumandang bersahut-sahutan dari sudut kota hingga ke lembah, gunung, serta hutan-hutan.

“Itulah cerita Puteri Baghdad yang sudah lapuk dimakan usia dan telah mengenyam pahit dan getir kehidupan,” kata Ahmad at-Tawallud. “Kini tinggal sekawanan domba dan seekor anjing kurus yang setia menungguinya. Sekarang, dia hanya seorang wanita tua, meski gurat-gurat kecantikan masih tersisa di wajahnya. Dia tidak secantik dan semenarik dulu. Taman-taman dan kebun-kebun yang menghiasi mahligai kerajaan pun sudah berlalu. Jika musim kering datang, meranalah tanah itu menjadi dataran tandus yang hanya digunakan sebagai lintasan bagi para gembala ke padang rumput di ujung gunung. Saat musim hujan, meluaplah banjir dengan genangan air kotor beserta penyakit. Keagungan, kemuliaan, kelimpahruahan, keindahan, dan kemakmuran yang pernah dicurahkan ke atas negeri dongeng dengan puterinya yang menawan itu kini sirna.”

“Menurut pandanganku, tragedi yang menimpa Puteri Baghdad dan singgasana dongeng beserta seluruh penghuni kerajaan adalah akibat kealpaan mereka kepada Sang Maharaja. Hari-hari mereka disibukkan dengan urusan duniawi, terutama memuja sang Puteri. Mereka lalai terhadap perintah Maharaja agar seluruh penghuni negeri bertasbih memuji-Nya, baik siang maupun malam (QS Thaha: 130). Mereka terpesona oleh bunga kehidupan dunia yang sebenarnya hanyalah ujian dari-Nya semata yang sedikit pun tidak boleh dijadikan tujuan kedua mata (QS Thaha: 131). Bahkan mereka lupa pada peringatan Sang Maharaja yang memberikan ancaman kepada mereka yang mencintai segala sesuatu selain Dia, utusan-Nya, dan jalan-Nya (QS at-Taubah:24). Demikianlah, para penghuni negeri yang dilimpahi kemakmuran itu luluh lantak ditimpa murka Sang Maharaja,” katanya mengakhiri cerita.

Dari cerita Ahmad at-Tawallud, Abdul Jalil menangkap makna bahwa kiblat hati dan pikiran dalam perjuangan dalam perjuangan menuju Allah memang tidak bisa dipecah. Sebab, Allah tidak menciptakan bagi manusia dua hati (QS al-Ahzab: 5). Karena itu, barang siapa yang mengharap berjumpa dengan Allah hendaknya ia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya (QS al-Kahfi: 110). Dan penderitaan pedih yang dialami warga negeri dongeng itu adalah akibat kecintaan yang berlebihan kepada Sang Puteri pujaan sehingga mereka lupa kepada Sang Maharaja.

Kini, Puteri Baghdad telah menjadi tua renta dan lelah melewati lintasan waktu yang begitu panjang dan penuh derita. Raja demi raja bergantian memahkotai kecantikan dan kesuburannya. Namun, semua raja memiliki kebiasaan yang sama: menganggap Baghdad sebagai puteri cantik yang menawan dan menjadikannya rebutan. Dan setiap pemenang akan memperkosa dan menjarahnya habis-habisan, tanpa sisa. Bahkan di usianya yang tua, Baghdad yang sudah terseok-seok itu tetap menarik perhatian para lelaki perkasa untuk memperebutkan dan menjadikannya sebagai sundal yang bermanfaat untuk mengeruk keuntungan.

Keheningan dinihari telah turun menutupi Puteri Baghdad. Cahaya rembulan yang menyinari bumi hanya membias di atap-atap bangunan raksasa dan kubah-kubah masjid. Selimut kabut memenuhi lorong-lorong dan permukaan bumi. Hening mencekam. Sunyi menerkam.

Abdul Jalil dengan terkantuk-kantuk mengikuti langkah Ahmad at-Tawallud menembusi keheningan jalan becek berlumpur. Pada dinihari yang dingin itu, sayup-sayup terdengar suara orang-orang berdzikir menyebut-nyebut Asma Allah.

Semula ia menganggap suara dzikir itu sebagai hal yang lazim dilakukan oleh jama’ah-jama’ah tarekat yang jumlahnya cukup banyak di Baghdad. Namun, semakin lama didengarkan semakin menimbulkan tanda tanya besar. Entah benar entah tidak, seolah-olah suara dzikir itu berbunyi, “Subhani, al-hamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tidak ada tuhan selain aku, mahabesar aku, sembahlah aku).”

Khawatir terjebak dalam khayal dan mimpi akibat kantuk, ia menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap-usap kedua matanya, berusaha berada pada kondisi sadar seutuhnya. Keanehan mendadak kembali mencekam kesadarannya. Telinganya dengan jelas mendengar dzikir yang mengumandang itu berubah bunyi, “Subhana Allah, al-hamdu li Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu akbar, fa’buduhu (Mahasuci Allah, Segala puji milik Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, sembahlah Dia).” Namun, lagi-lagi kedalaman hatinya menangkap suara dzikir itu berbunyi aneh, “Subhani, al-hambu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni.”

Ketidakselarasan antara pendengaran telinga indriawi dan pendengaran batin membuatnya bingung. Berulang-ulang ia mengusap-usap mata dan terbatuk-batuk untuk meningkatkan kesadaran. Namun, ketidakselarasan suara dzikir itu makin terdengar terang dan jelas. Dan sesaat kemudian yang didengarnya hanyalah suara dzikir yang ditangkap telinga indriawinya. Ia sangat bingung dengan peristiwa itu.

Ahmad at-Tawallud yang berjalan di depan tampaknya menangkap sasmita yang dialami Abdul Jalil. Dengan penuh ketenangan dia mengajak Abdul Jalil berhenti di teras sebuah surau. Setelah beberapa jenak mengatur napas, dia menjelaskan tentang suara-suara dzikir yang mengalun di tengah keheningan.

“Bagi telinga indriawi manusia,” kata Ahmad at-Tawallud dengan suara datar, “suara dzikir itu terdengar sebagai puji-pujian mengagungkan Allah. Namun, bagi mereka yang mulai tersingkap kesadaran sejatinya dari hijab-hijab indriawi, telinga batinnya akan mendengar dzikir itu sebagai puji-pujian terhadap diri sendiri.”

“Saya baru saja mendengar perbedaan suara itu, o Tuan Yang Mulia,” kata Abdul Jalil meminta penjelasan. “Saya sempat berpikir itu hanya mimpi atau khayalan saja.”

“Aku sengaja membawa Tuan melewati kawasan ini untuk menguji pendengaran telinga batin Tuan. Karena menurut hemat saya, Tuan sudah cukup jauh menembus selubung demi selubung hijab yang memenjarakan keakuan sejati Tuan. Itu berarti, Dia sudah menganugerahi kemuliaan sehingga Tuan bisa menangkap perbedaan segala sesuatu yang sejati dan yang palsu.”

“Tapi Tuan,” sergah Abdul Jalil heran, “apakah mungkin ada tarekat palsu yang membalut urusan duniawi dengan dalih ukhrawi? Guru tarekat macam apa mereka itu?”

Ahmad at-Tawallud tersenyum lebar. Kemudian dengan tenang dia menceritakan tentang seorang guru tasawuf bernama Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, mursyid Tarekat Ananiyyah. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi adalah salah seorang murid setia kakeknya. Setelah kakeknya meninggal, tidak seorang pun putera mapun cucu yang menggantikan kedudukannya, juga tidak ada murid yang ditunjuk sebagai pengganti. Murid-murid itu berlomba membentuk jama’ah sendiri-sendiri. “Untuk memperkuat keberadaan diri sebagai guru tarekat, tanpa rasa malu sedikit pun, mereka saling mengaku sebagai khalifah yang ditunjuk kakekku.”

Bagi Ahmad at-Tawallud, perilaku murid-murid kakeknya itu sangat memuakkan. Berbeda dengan gelora semangat yang mengobari perjuangan kakeknya dalam menyeberangi samudera kebenaran, perjuangannya para murid itu dilandasi oleh semangat kecintaan duniawi. Mereka menabalkan diri sebagai mursyid yang menentukan arah kebenaran bagi pengikut-pengikutnya. Mereka menebarkan pandangan bahwa mereka adalah kekasih Allah yang bisa memberi limpahan berkah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Dan sebaliknya bisa mendatangkan laknat dan kutukan dari Allah kepada siapa saja yang mencemoohkan dan tidak menghargai mereka. Celakanya, antara murid satu dan yang lain saling berlomba menjelek-jelekkan dan memfitnah, dengan tujuan utama memenangkan persaingan untuk memperoleh pengikut paling banyak.

Di antara murid-murid kakeknya, Ahmad at-Tawallud paling banyak mengamati perilaku Syaikh Abu azh-Zhulmi. Karena, selain lokasi pesulukannya dekat, dia juga paling licik kelakuannya.

Pertama. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dan pengikutnya menyebarkan berita bahwa dialah satu-satunya murid yang diangkat sebagai khalifah oleh gurunya. Padahal, Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady, gurunya, tidak pernah mengangkatnya menjadi khalifah. Tentang hal ini, baik keluarga kakeknya maupun seluruh murid sepakat bahwa Abu Syarr azh-Zhulmi berbohong.

Kedua. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dengan dukungan para pengikutnya memperkuat pandangan masyarakat melalui cerita-cerita menakjubkan berkait dengan berbagai karomah yang ada pada dirinya. Padahal, segala cerita tentang karomah yang disebarkan itu isapan jempol belaka.

Ketiga. Setiap bulan, tepatnya saat purnama, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi mengajak murid-muridnya melakukan ziarah sekaligus dzikir berjama’ah di makam Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady. Seusai dzikir, dia biasanya mengarang bermacam cerita yang mengaitkan keberadaan dirinya dengan perintah-perintah rahasia dari arwah Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady.

Keempat. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi terbukti sering melakukan tipu daya kepada masyarakat awam yang menjadi pengikutnya. Mereka secara bergantian diwajibkan memenuhi kebutuhan pesulukannya, baik dalam bentuk gandum, daging, roti, rempah-rempah, uang, dan bahan pakaian. Bahkan anak-anak perempuan pengikutnya yang cantik-cantik diperistri oleh guru tengik itu. Alasan utamanya adalah dia akan melimpahkan barokah dan karomah bagi pengikutnya yang patuh dan menimpakan laknat serta kutukan bagi yang menantang kehendaknya.

Kelima. Untuk mengukuhkan diri sebagai mursyid sekaligus memperbanyak pengikut, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menanamkan doktrin bahwa hanya tarekat inilah yang paling benar. Lantaran itu, setiap anggota tarekat dijamin masuk surga dan mereka bisa memberikan syafa’at kepada sembilan orang keluarga terdekat.

“Bertolak dari penilaianku itulah, o Tuan,” kata Ahmad at-Tawallud, “aku melihat keberadaan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dan Tarekat Ananiyyah yang dipimpinnya sebagai sesuatu yang aneh dalam pandangan sufi. Sehari-hari, misalnya, mereka lewati dengan memuja dan memuji diri sendiri serta mencaci maki tarekat lain. Dalam berbagai perbincangan, mereka terkenal sangat mendalam pengetahuan ruhaninya, namun hasrat hati mereka sangat cenderung berpamrih duniawi. Mereka benar-benar licin bagai serigala berbulu domba.”

“Ketahuilah, o Tuan,” lanjutnya, “bahwa tabir yang menutupi hati Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi adalah yang disebut rain, yakni tabir kekufuran dan kesesatan yang tak bisa disingkap kecuali dengan cahaya iman. Dia terperangkap ke dalam lingkaran penjara jiwa yang gelap tanpa cahaya, sebagaimana firman Allah: ‘Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mata hari mereka (QS al-Muthaffifin: 14).’ Jadi, mengerikan sekali keberadaan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi itu.”

“Tapi Tuan, kenapa hati Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi bisa tertabiri kekufuran dan kesesatan?” Abdul Jalil heran. “Bukankah dia muslim?”

“Apakah Tuan mengira setiap orang yang mengaku muslim bahkan ulama, hatinya tidak bisa tertabiri oleh tirai kekufuran dan kesesatan?” Ahmad at-Tawallud balik bertanya.

“Tidak ada yang tidak mungkin, Tuan,” kata Abdul Jalil. “Tapi, bagaimana hal itu bisa terjadi setelah dia beroleh cahaya iman?”

“Tidak semua orang yang mengaku muslim beroleh karunia cahaya iman dari Allah. Sering kali keislaman seseorang diperoleh karena latar keturunan. Itu sebabnya Allah menguji orang-orang yang mengaku beriman dengan berbagai cobaan sesuai kadar kemampuannya. Dan kenyataan sering membuktikan betapa orang-orang yang mengaku muslim dan lahir dari keluarga muslim yang taat, ketika diuji ternyata mudah runtuh keimanannya.”

“Berarti Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tanpa sadar telah mengingkari keberadaan Allah?” tanya Abdul Jalil penasaran. “Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi, o Tuan?”

“Proses itu berlangsung sangat lama dan perlahan-lahan,” Ahmad at-Tawallud menjelaskan. “Mula-mula, seperti umumnya manusia, hati Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tertabiri oleh ghain yang sangat tipis. Ghain adalah hijab yang menyelubungi semua manusia, termasuk nabi-nabi. Namun, karena dia sering melupakan Allah dan melakukan dosa maka makin lama ghain itu makin tebal. Lantaran dia tak pernah melakukan tobat maka ghain pun terus menebal dan menjalin sambungan dengan rain yang menyelubungi hati orang-orang kafir dan sesat.”

“Awalnya proses itu berlangsung sederhana dan sangat lembut, seperti berbohong yang dibiasakan. Padahal, dengan berbohong seseorang secara hakiki telah menafikan sifat Allah Yang Maha Melihat. Jika awalnya hanya menafikan maka lama-kelamaan orang itu akan mengabaikan dan bahkan tidak meyakini hari perhisaban di akhirat. Bohong demi bohong dilakukan. Berarti dosa demi dosa telah dilakukan. Karena, dengan berbohong ia telah terkondisi oleh keadaan jiwa seolah-olah Allah tidak mengetahui perbuatan dosanya. Dan ujung dari proses itu adalah mengingkari keberadaan Allah. Setelah melewati proses yang lama, yang ada bagi seorang pembohong dan penipu adalah dirinya sendiri. Itu sebabnya, alih-alih pembohong itu mulutnya berdzikir mengingat Allah, sesungguhnya hati dan pikirannya berdzikir untuk mengingat keberadaan dirinya sendiri. Artinya, secara hakiki dia telah menjadi pemuja nafs-nya sendiri. Dia telah memuja kepada selain Allah.”

Al-Insan sirri wa ana sirruhu (Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya). Meski singkat, hadits Rasulallah Saw. ini mengandung makna yang luar biasa dahsyat tentang misteri yang menyelubungi keberadaan manusia. Berbagai pengalaman hidup yang dialami Abdul Jalil, terutama yang terkait dengan keberadaan orang-orang yang pernah dikenalnya, memberikan pemahaman baru yang sama sekali berbeda dari pandangan masyarakat awam.

Benar-benar rahasia Allah yang luar biasa menakjubkan. Orang-orang yang dikasihi-Nya ditampakkan kepada dunia dalam wujud tak terduga, yakni manusia bernama Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, saudagar kaya, pemilik puluhan kapal dagang dan kedai di bandar-bandar pelabuhan yang tersebar di berbagai negeri, yang selalu disibuki oleh urusan-urusan perniagaan. Sementara penipu tengik yang terhijab dari-Nya justru ditampakkan dalam wujud “beliau yang terhormat” guru tarekat yang penuh barokah dan karomah, seperti Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.

Selama setahun lebih menjalin keakraban dengan Ahmad at-Tawallud, ia mendapati bahwa sahabat yang juga pembimbing ruhaninya itu adalah salah seorang yang dikasihi-Nya. Kesimpulan ini diambil setelah ia melihat perilaku Ahmad at-Tawallud terbebas dari pamrih pribadi, dari kepemilikan baik harta benda maupun keluarga, dari rasa takut, dari rasa sedih dan kecewa, dan dari sejumlah peristiwa adiduniawi yang terjadi di luar kehendaknya.

Abdul Jalil menyadari penampakan mereka yang dikasihi-Nya sebagai salah satu bagian dari tersingkapnya hijab yang menyelubungi keakuannya. Getaran-getaran halus dan lembut yang memancar dari kedalaman lubuk hatinya bagaikan matahari terbit dari kegelapan, menerangi cakrawala perasaan dan pikirannya. Seolah-olah ada sesuatu di dalam dirinya yang memberi tahu, mengarahkan, menasihati, dan membimbing perasaan dan pikirannya dalam memaknai sesuatu.

Perubahan-perubahan yang dialaminya itu diceritakan kepada Ahmad at-Tawallud. Dan sahabatnya itu dengan bahasa metaforik menjelaskan bahwa apa yang dialaminya itu ibarat orang berjalan dari tempat gelap menuju ke tempat terang, ke arah sumber cahaya. Setiap langkah mendekati sumber cahaya, ungkap Ahmad at-Tawallud, akan membawa pencerahan. Dengan demikian, setiap langkah maju ke arah-Nya identik dengan tersingkapnya hijab-hijab.

“Sekarang ini engkau berada pada perbatasan antara zawa’id dan lawami’ sebagai akibat dari tersingkapnya fawa’id. Zawa’id adalah terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yang membuat ruhanimu tercerahkan. Lawami’ adalah mengejawantahnya cahaya ruhani akibat tersingkapnya fawa’id. Sedang yang dimaksud fawa’id adalah memancarnya potensi pemahaman ruh karena hijab-hijab yang menyelubunginya telah tersingkap. Pada tahap inilah engkau akan menjadi berbeda dengan seumumnya manusia, karena engkau memahami sesuatu dengan fawa’id yang sudah tersingkap selubung hijabnya. Di sini, engkau akan menjadi cerdas tanpa belajar dan tanpa membaca buku.”

“Apakah fawa’id bisa terbungkus selubung hijab lagi?” tanya Abdul Jalil.

“Jika engkau belum bisa melepas segala yang duniawi maka pancaran terang fawa’id tidak akan maksimal,” kata Ahmad at-Tawallud. “Bahkan jika segala yang duniawi itu makin membelenggumu setelah terjadi lawami’ maka hijab yang membungkus fawa’id akan semakin tebal menyelubungi dirimu. Itu berarti engkau berjalan mundur.”

Berdasar uraian Ahmad at-Tawallud tentang zawa’id, lawami’, dan fawa’id, tanpa disadari Abdul Jalil terbawa arus ke lingkaran rahasia para penganut Tarekat Ananiyyah pimpinan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.

Satu senja, Abdul Jalil mengikuti shalat isya berjama’ah di Masjid al-Qubh yang menjadi markas Tarekat Ananiyyah. Ia berperilaku bagai orang asing yang belum mengetahui sesuatu pun tentang tarekat ini. Seusai shalat, ia berkenalan dengan beberapa jama’ah, salah satunya bernama Ibnu Mushtawif yang mengaku sebagai murid terkasih Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.

Selama beberapa jenak berbicara, kejernihan hati Abdul Jalil yang memancarkan cahaya lawami’ dan dapat memahami sesuatu melalui fawa’id, menangkap isyarat bahwa lawan bicaranya adalah pembual besar yang sangat kacau pemahamannya tentang jalan ruhani. Ibnu Mushtawif hanyalah orang awam yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf, namun mengaku memiliki pengetahuan kesufian. Bahkan yang menyedihkan, Ibnu Mushtawif mengaku sanggup membimbing orang menuju Ilahi karena sudah diberi wewenang oleh Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi sebagai khalifahnya.

Sebenarnya, Abdul Jalil ingin sekali mengingatkan Ibnu Mushtawif tentang bahaya akibat mengaku-aku diri sebagai guru ruhani yang bisa membimbing orang lain menuju Allah. Namun, keinginan itu ditahan kuat-kuat karena ia ingin lebih jauh mengetahui lingkaran rahasia tarekat, terutama hasrat untuk berjumpa dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Itu sebabnya, selama berbicara dengan Ibnu Mushtawif, ia selalu bersikap seperti orang awam yang tidak memiliki pengetahuan agama. Dan sikap itu ternyata berhasil memancing Ibnu Mushtawif untuk berbicara banyak tentang seluk-beluk tarekat yang dianutnya.

Pelajaran awal bagi murid yang baru masuk tarekat, ungkap Ibnu Mushtawif, adalah melatih diri melepaskan hal-hal duniawi dari hati dan pikiran. Hal itu dilakukan dengan mewajibkan murid-murid memberikan seperlima dari harta mereka kepada mursyid. Harta ini akan digunakan untuk berjuang di jalan Allah. Selain itu, mereka juga diwajibkan melunasi zakat dan aqiqah yang belum dibayarkan sejak mereka lahir. Semua itu sebagai sarana pembersih jiwa.

Karena Abdul Jalil mengaku awam dan baru menjalankan syari’at Islam sekitar tujuh tahun lalu maka ia diharuskan membayar zakat selama dua puluh tahun, yakni sejak ia dilahirkan dikurangi tujuh tahun. Abdul Jalil juga mengaku ia belum ditebus dengan aqiqah. Dan setelah dihitung-hitung, ia harus menyediakan sekitar seribu tiga ratus dirham uang emas.

Sekalipun berusaha untuk selalu mengiyakan segala apa yang dikatakan Ibnu Mushtawif, ia pada akhirnya tidak mampu untuk menahan diri agar tidak bertanya, terutama tentang uang yang harus disetor kepada mursyid. “Digunakan untuk apakah uang itu?” tanyanya mendadak.

“Tuan,” Ibnu Mushtawif tercekat kaget, “tidakkah Tuan tahu bahwa mursyid adalah pengejawantahan Allah di muka bumi? Jadi, tidak satu pun di antara pengikutnya boleh menanyakan apa yang diperbuat mursyid. Tidakkah Tuan ingat kisah Musa dan Khidir? Dalam menempuh jalan ruhani diharamkan seseorang bertanya ini dan itu kepada mursyidnya. Ia harus menjadi mayat. Diam. Terserah apa kehendak mursyid. Jika tidak berarti ia telah gagal.”

Ketika perbincangannya dengan Ibnu Mushtawif disampaikan kepada Ahmad at-Tawallud, tanpa banyak bicara ia diberi seratus dirham uang emas. “Tuan, berikan uang ini kepada Ibnu Mushtawif. Katakan kepadanya bahwa ini angsuran pertama. Angsuran selanjutnya akan Tuan bayar tiap bulan. Hal membayar mursyid dengan cara mengangsur ini lazim mereka lakukan untuk menipu pengikut-pengikut awam yang miskin.”

“Tapi Tuan?” sergah Abdul Jalil heran, “untuk apa menanggapi penipu seperti Ibnu Mushtawif?”

“Bukankah Tuan ingin berjumpa dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi?” gumam Ahmad at-Tawallud. “Tanpa cara ini, Tuan tak akan dapat menemuinya. Dengan jalan ini Tuan dapat lebih jernih memandang dan menilai manusia. Bukankah Tuan juga ingin menguji pemahaman fawa’id Tuan?”

Ibnu Mushtawif bukanlah orang yang cerdas, meski dia dianggap paling senior di antara murid-murid Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Sebab, dengan “pancingan” seratus dirham emas saja dia sudah yakin bahwa Abdul Jalil masuk ke dalam perangkap. Hal itu setidaknya terlihat dari sikap Ibnu Mushtawif yang begitu terbuka menjelaskan berbagai hal bersifat propaganda tentang tarekat dan mursyid panutannya.

Tanpa diminta dia menuturkan bahwa mursyid yang dijadikan sandaran jalan ruhaninya itu memiliki pengikut orang-orang berpangkat yang dihormati masyarakat. Bahkan sejumlah keluarga Sultan Bayazid diam-diam mengikuti Tarekat Ananiyyah. “Karena itu, para as-sanaziq (bupati), pasya (gubernur), dan bahkan shadr al-a’zham (perdana menteri) sangat hormat kepada mursyid kita, Yang Mulia Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi.”

Berdasarkan cerita-cerita yang diungkap Ibnu Mushtawif, Abdul Jalil memiliki pandangan bahwa Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi selain berkedudukan sebagai guru ruhani juga menjadi calo jabatan bagi orang-orang yang berambisi kuat menjadi pejabat di Kesultanan Utsmani. Sudah bukan rahasia lagi bahwa para pembantu sultan, termasuk shadr al-a’zham, tidak dipilih dari orang-orang yang ahli di bidangnya. Mereka diangkat berdasarkan penilaian siapa yang paling besar sumbangan pribadinya kepada sultan dan keluarganya, termasuk memenuhi segala permintaan sultan. Itu sebabnya, ketika shadr al-a’zham berkuasa maka ia melakukan cara yang sama untuk mengangkat para pasya. Dan para pasya pun mempraktikkan hal serupa ketika mengangkat para as-sanaziq.

Cara mengangkat pejabat kesultanan dengan menggunakan ukuran besarnya sumbangan pribadi ini membentuk mentalitas pejabat-pejabat yang “menjilat ke atas dan menginjak ke bawah”, dengan tekanan terberat terletak pada pundak rakyat jelata. Mereka dibebani pajak berlipat-lipat. Cara seperti itulah yang membuat para guru besar sufi, seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jailany, menolak tegas-tegas sumbangan yang diberikan sultan, karena sumbangan itu diperoleh dari memeras darah rakyat. Anehnya, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi justru menjadi calo setia para ambisius untuk meraih jabatan tinggi di pemerintah.

Cerita yang paling mengejutkan Abdul Jalil adalah tentang peran Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi dalam menggalang para ulama fiqh untuk mensahkan program-program shadr al-a’zham, pasya, dan as-sanaziq agar diterima utuh oleh rakyat. Alih-alih menuturkan kebesaran Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi yang dihormati dan disegani para ulama fiqh, penjelasan Ibnu Mushtawif itu bagi Abdul Jalil justru dinilai sebagai hal yang menyedihkan. Bagaimana mungkin, pikirnya, seseorang yang sudah menduduki jabatan mursyid tarekat justru bekerja sebagai calo yang menjembatani ulama dan umaroh dalam memutuskan kebijakan-kebijakan duniawi dengan selubung legitimasi agama.

Ketika Abdul Jalil menuturkan kembali cerita-cerita Ibnu Mushtawif, Ahmad at-Tawallud mengungkapkan suatu rahasia Ilahi di balik kehidupan makhluk-Nya. “Sudah menjadi hukum-Nya bahwa berbagai jenis makhluk akan digolongkan ke dalam lingkungan yang sejenis. Harimau hidup di lingkungan harimau. Kuda hidup di lingkungan kuda. Domba hidup di lingkungan domba. Anjing hidup di lingkungan anjing. Tikus hidup di lingkungan tikus. Karena itu, jangan gampang terkecoh oleh ucapan tikus yang dengan pongah mengatakan bahwa dirinya adalah bagian dari kawanan harimau. Untuk mengetahui berjenis-jenis makhluk dalam kehidupan manusia memang sulit, karena manusia satu dengan manusia yang lain diselubungi hijab. Hanya mereka yang sudah tersingkap fawa’id dan terpancar cahaya lawami’ saja yang dapat melihat hakikat masing-masing manusia.”

“Apakah menurut Tuan, para as-sanaziq, pasya, shadr al-a’zham, bahkan sultan dan keluarganya pun bukan orang yang baik?” tanya Abdul Jalil meminta penjelasan.

“Bagiku, setiap orang yang mencintai kekuasaan dan benda-benda duniawi, termasuk mencintai keluarga secara berlebihan adalah orang yang tidak baik. Tidakkah Tuan tahu bahwa Sultan Bayazid adalah orang yang sangat ambisius dan pecinta duniawi sehingga tega menista wasiat yang ditetapkan ayahandanya, Sultan Muhammad al-Fatih.”

“Sebelum Sultan Muhammad al-Fatih wafat, beliau sudah berwasian agar yang diangkat menjadi sultan pengganti dirinya adalah putera terkecil, Jammun. Namun, Bayazid selaku putera sulung mempersetankan wasiat itu. Dia naik takhta dan menyingkirkan adiknya. Terjadi perang seru antara dua kekuatan. Setelah berperang selama tujuh tahun, kekuatan Jammun hancur. Tanpa belas kasihan, Bayazid membinasakan Jammun dan sisa-sisa pengikutnya serta memburu semua simpatisannya.”

“Siapa yang menanam akan menuai. Itulah hukum Ilahi. Sekarang ini, saat Sultan Bayazid beranjak tua dan menunjuk Ahmad, putera sulungnya, sebagai penggantinya kelak, justru ditentang oleh Salim, puteranya yang paling kecil. Hanya Allah yang tahu bagaimana akhir pertarungan antara dubug (anjing hutan) dan burung nazar itu dalam memperebutkan bangkai duniawi dari hewan buas bernama Kesultanan Turki Utsmani.”

Mendengar uraian Ahmad at-Tawallud, Abdul Jalil hanya mengangguk-angguk. Karena, ia sendiri pernah mengalami betapa manusia bisa menjadi serigala buas yang berbahaya ketika dimabuk ambisi kekuasaan. Ingatan tentang adik ibunda angkatnya, Rsi Bungsu, berkelebat. Abdul Jalil tidak tahu lagi bagaimana nasib pamandanya itu. Apakah masih hidup atau sudah mati? Diam-diam ia kehilangan semangat untuk bertemu dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Ia merasa mursyid Tarekat Ananiyyah itu adalah bagian dari kawanan dubug dan burung nazar, atau bisa jadi dia hanya cacing yang ikut berpesta pora menikmati kelezatan bangkai kekuasaan duniawi.

Meski sudah kehilangan hasrat untuk bertemu Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, kumparan nasib menentukan lain. Tanpa pernah diduga, tiba-tiba ia berjumpa dengan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi saat berpamitan kepada Ibnu Mushtawif seuasi shalat isya. Rupanya, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi malam itu mengajar di Masjid al-Qubh. Itu sebabnya, Ibnu Mushtawif berusaha keras agar Abdul Jalil bersedia duduk barang sebentar untuk mendengarkan ceramah mursyidnya. “Aku mohon, untuk yang pertama dan mungkin yang terakhir, Tuan harus mendengarkan fatwa-fatwa Tuanku Syaikh. Tuan akan menyaksikan sendiri betapa luas tak terbatasnya samudera pengetahuan Tuanku Syaikh,” Ibnu Mushtawif memohon.

Untuk menghargai Ibnu Mushtawif sekaligus membuktikan kebenaran kisah Ahmad at-Tawallud, ia akhirnya setuju tinggal lebih lama di Masjid al-Qubh. Namun, saat Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi naik ke mimbar dan memulai ceramah dengan puja dan puji kepada Allah dan salawat kepada Rasulallah Saw., tiba-tiba ia menyaksikan kilasan citra yang sebenarnya dari keberadaan pemimpin tarekat itu. Ketika hijab maujudnya sebagai manusia tersingkap, yang tampak adalah wujud burung nazar. Sedetik kemudian wujud burung nazar itu berubah lagi menjadi manusia, tetapi dalam citra yang licik, tidak jujur, bengis, dan menyimpan kejahatan di kedalaman hatinya.

Wajah Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi yang tirus dengan kening tinggi dipahami Abdul Jalil sebagai manusia yang memiliki watak keras dan berpikiran sempit. Matanya yang cekung seperti menyimpan lautan kebencian, gunung ketakaburan, rimba ketidakjujuran, gurun kerakusan, dan matahari kecemburuan. Hidungnya yang bengkok seperti paruh rajawali bagai menyimpan sejuta lakon sandiwara dunia yang penuh kecurangan dan kelicikan. Dan kebiasaannya menggerak-gerakkan tangan ketika berbicara, seperti penipu yang berusaha mengalihkan perhatian orang dari ucapan-ucapannya.

Ia awalnya kurang yakin dengan penglihatan gaib yang dialaminya saat memandang Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. Ia ragu apakah itu pandangan yang berasal dari pemahaman fawa’id dan pancaran nur lawami’ atau sekadar ilusi yang membias dari relung-relung jiwanya akibat mendengar cerita Ahmad at-Tawallud. Namun, keraguannya pupus manakala ia dengan cermat dan teliti mendengarkan ceramah Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi yang berisi puja dan puji terhadap kemuliaan, keagungan, keluhuran, ketaatan, ketawadukan, kekeramatan, dan berbagai citra terpuji diri sendiri.

Dengan penuh yakin Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menjelaskan bahwa dirinya telah menjadi penyebab utama bagi keselamatan dan kemuliaan warga Baghdad dan sekitarnya, terutama orang-orang miskin. “Tiga hari lalu aku datangi cucu guruku yang menjadi saudagar kaya raya. Kusampaikan kepada dia, yaitu Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, bahwa sesuai pesan kakeknya dari alam barzakh maka dia harus membagi-bagikan sebagian kekayaannya untuk menolong para fakir dan miskin. Alhamdulillah, perkataanku dipatuhinya. Maka, bersukacitalah para fakir dan miskin yang terkena musibah itu,” ujar Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi disambut decak kagum para pengikutnya.

Penjelasan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tentu saja mengherankan Abdul Jalil. Bagaimana mungkin guru tarekat itu bisa sedemikian rupa berani berbohong tentang Ahmad at-Tawallud. Sepengetahuannya, sahabatnya itu membagi-bagikan uang atas kemauannya sendiri. Di samping itu, Ahmad at-Tawallud tidak pernah memamerkan amaliah yang telah dilakukannya. Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi tampaknya mengetahui kebiasaan Ahmad at-Tawallud dari cerita-cerita yang disebarkan oleh kalangan fakir dan miskin yang selama ini mendapatkan santunan.

Belum puas mengaku sebagai orang yang berperan penting memberikan perintah kepada Ahmad at-Tawallud, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menguraikan perihal kebaikan orang-orang yang melakukan amaliah secara tersembunyi. Dengan penuh kebanggaan dia menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Ahmad at-Tawallud pada dasarnya adalah amaliah kosong. “Tidak ada yang dia peroleh dari apa yang dia kerjakan kecuali pujian dan ucapan terima kasih dari orang-orang yang diberinya uang.”

Dengan mengutip beberapa hadits Rasulallah Saw., Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi meyakinkan para jama’ah pengikutnya untuk menganggap amaliah yang dilakukan Ahmad at-Tawallud adalah sia-sia. Kemudian tanpa malu sedikit pun dia mengungkapkan bahwa sebenarnya yang beroleh pahala besar dari Allah adalah orang yang berperan penting tetapi tidak diketahui orang lain. “Kalian bisa menilai sendiri bagaimana peranku dalam hal itu. Tetapi, siapa yang tahu jika apa yang dilakukan oleh Ahmad at-Tawallud adalah atas perintahku?” ujarnya penuh bangga, disambut decak kagum pengikutnya.

Seperti tak pernah puas, dia kembali menuturkan kisah fantastis tentang pertemuannya dengan Nabi Khidir tak lama setelah luapan air sungai Dajlah menggenangi pinggiran Baghdad. “Nabi Khidir menemui aku karena sangat simpati dengan kesabaran dan ketawakalanku menghadapi fitnah dan hinaan masyarakat.”

Bagaikan guru ruhani yang sabar dan tawakal, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menyampaikan bahwa keberadaannya selaku mursyid Tarekat Ananiyyah banyak dikecam, difitnah, dicaci maki, dan dianggap menyimpang oleh orang-orang, terutama kawan-kawannya yang pernah berguru kepada Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady. “Mereka iri hati kepadaku sejak dulu. Mereka tak pernah sadar bahwa Syaikh Abdul Mubdi al-Baghdady adalah aulia yang arif billah. Mereka tidak bisa memahami kenapa guruku itu sangat cinta dan hormat kepadaku. Mereka dengki. Dan kedengkian adalah sifat Iblis!” ujarnya berapi-api.

Setelah berkata dengan penuh semangat dan berapi-api, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi menurunkan tekanan suaranya. Dengan bersikap seperti seorang arif yang benar-benar sabar dan tawakal, dia mewanti-wanti agar pengikutnya bersabar menghadapi ujian tersebut. “Biarkan mereka menebar fitnah dan kekejian. Sabar. Tawakal. Biarlah Allah yang mengurus dan memberi hukuman. Bagiku, kehadiran Nabi Khidir adalah pertanda yang baik dan awal dari tersingkapnya kabut kejahatan yang akan memancarkan cahaya kebenaran.”

Menurut cerita Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, ketika itu Nabi Khidir berjalan di atas air sungai Dajlah. Nabi Khidir, lanjutnya, memberi tahu bahwa musibah tahunan yang menimpa penduduk di sekitar sungai Eufrat dan Tigris pada hakikatnya adalah murka Allah karena perilaku orang-orang yang telah berlaku sangat keji kepada para pengamal Tarekat Ananiyyah, terutama kepada mursyidnya.

“Nabi Khidir bersabda bahwa musibah itu datang karena orang-orang telah berani menista dan menghinakan kekasih Allah. Padahal, Allah Ta’ala telah tegas menetapkan ketentuan-Nya di dalam hadits Qudsy bahwa siapa saja yang memusuhi kekasih-Nya berarti memaklumkan perang kepada-Nya. Jadi, musibah ini akan terus berlangsung dari tahun ke tahun sampai orang-orang menyadari kesalahannya. Bagiku, dihina atau dinista bukan masalah penting. Aku pasrah kepada-Nya. Yang membuat aku iba hati adalah orang-orang miskin yang tidak ikut bersalah harus menanggung derita akibat murka Allah. Karena itu, aku berusaha agar mereka mendapat santunan melalui cucu guruku. Dan usahaku itu ternyata berhasil sehingga beban rasa bersalahku jadi berkurang,” ujarnya disambut seruan “Allah” secara serentak dari para pengikutnya.

Bagai orang kehausan minum air laut, selama hampir tiga jam berceramah di atas mimbar, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi terus-menerus membuat cerita dan fatwa yang ujungnya adalah kemuliaan, keluhuran, kemasyhuran, dan kehebatan dirinya sebagai kekasih Allah. Dan di atas segala uraiannya, dengan kelihaiannya berbicara dan bercerita serta memperkuat apa yang disampaikannya itu dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits, dia meyakinkan para pengikutnya bahwa tidak ada yang benar, baik, mulia, luhur, dan diridhoi Allah kecuali Tarekat Ananiyyah, terutama mursyidnya.

Puncak dari bualan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi adalah saat dia berkisah tentang pertemuan gaibnya dengan Rasulallah Saw lewat mimpi yang tergolong ar-ru’yah ash-shadiqah. Dalam pertemuan itu, bualnya, Rasulallah Saw. memintanya agar mengumpulkan semua pengikutnya untuk melakukan dzikir dan doa bersama guna mendukung Lahi bin Zhann azh-Zhulmah agar bisa meraih jabatan pasya di Baghdad, menggantikan Kadar bin Katsif al-Mayl yang sudah uzur.

“Rasulallah Saw. bersabda bahwa Lahi azh-Zhulmah adalah salah seorang keturunannya dari Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Namun, demi kerendahan hati dan terutama penguatan imannya maka ia sengaja menyembunyikan identitas dirinya. Lahi azh-Zhulmah tidak mau dipuja dan dipuji orang sebagai keturunan Rasulallah Saw.. Karena itu, jika ia menjadi pasya maka karunia Allah akan melimpah ke segala penjuru negeri ini. Sebagai keturunan Rasulallah Saw., ia akan membawa berkah, karomah, dan rahmat bagi alam semesta.”

Abdul Jalil yang tekun mendengarkan segala bualan itu terkejut demi mendengar nama Lahi azh-Zhulmah disebut-sebut sebagai keturunan Rasulallah Saw.. Lebih terkejut lagi ketika Abu Syarr azh-Zhulmi menyebutnya sebagai calon pasya di Baghdad. Padahal, berdasarkan keterangan dari Ahmad at-Tawallud, manusia bernama Lahi azh-Zhulmah adalah pedagang budak yang licik, jahat, keji, dan nista perbuatannya.

Abdul Jalil masih ingat benar betapa sepanjang perjalanan membagi-bagi uang emas dan perak di pinggiran Baghdad, Ahmad at-Tawallud menuturkan bahwa Lahi azh-Zhulmah pun melakukan hal yang sama. Bedanya, dia mendatangi rumah-rumah keluarga miskin dengan iktikad menabur piutang.

Keluarga-keluarga miskin yang didatanginya adalah mereka yang memiliki anak-anak kecil dan menginjak remaja. Jika sebuah keluarga sudah terlilit utang dan tidak mampu membayar maka kaki tangan Lahi azh-Zhulmah akan mendatangi mereka. Kemudian, dengan terpaksa keluarga-keluarga itu akan menyerahkan anak-anaknya sebagai pembayar utang. Lazimnya, dia akan memberi sedikit tambahan uang kepada keluarga itu sebagai tanda bahwa anak-anak mereka telah sah menjadi miliknya untuk dijadikan hamba sahaya.

Jika di antara hamba-hamba sahaya itu ada yang berwajah cantik maka Lahi azh-Zhulmah akan menikmati mereka sepuas-puasnya dulu. Jika ada yang hamil maka mereka akan dikirim ke penampungan khusus hingga melahirkan. Kemudian perempuan-perempuan itu langsung dijual sebagai budak belian. Sementara bayi mereka akan diasuh dan dididik sebagai calon pedagang budak.

Dalam memperoleh budak, Lahi azh-Zhulmah tidak hanya menggunakan cara menebar piutang di kalangan keluarga miskin. Dia juga memperoleh “barang dagangan” dari sejumlah perwira militer yang menjadi pemasoknya. Bahkan budak-budak perempuan para perwira itu umumnya cantik-cantik dan sangat mahal. Budak-budak itu diperoleh dari pampasan perang di daerah bergolak di kawasan Macedonia, Salonika, Semenanjung Maura, Sophia, Serbia, Albania, Bisynak, Maghyar, dan Bundukia.

Berbekal budak-budak cantik, Lahi azh-Zhulmah dikenal pula sebagai pemasok “gula-gula pemanis” di kalangan pejabat sultan. Para pejabat yang merindukan jabatan tinggi akan menggunakan jasa Lahi azh-Zhulmah dalam urusan memuaskan keluarga sultan dan perdana menteri. Bahkan dengan budak-budak perempuan itu juga, dia berhasil memerangkap sejumlah ulama ke dalam jaringan terkutuknya. Dan ulama yang masuk ke dalam jaringan terkutuk itu lazimnya mendapat tugas khusus, yakni mensahkan secara fiqhiyah seluruh kebijakan penguasa sekaligus mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, meski sering kali tampak sangat dipaksakan.

Ahmad at-Tawallud sendiri tidak mau menilai baik buruknya manusia bernama Lahi azh-Zhulmah itu. Sebaliknya, dia menyatakan bahwa keberadaan Lahi azh-Zhulmah bagi mereka yang sudah tercerahkan merupakan bukti keagungan Allah.

Mengikuti kerangka berpikir Ahmad at-Tawallud, diam-diam Abdul Jalil berusaha memuji kebesaran Dia, Sang Pencipta, yang telah mencipta makhluk yang tengik seperti Lahi azh-Zhulmah dan juga makhluk yang tak kalah tengik, yakni Abu Syarr azh-Zhulmi. Namun, berbeda dengan Ahmad at-Tawallud, dalam memuji kebesaran-Nya, ia tetap belum sepenuhnya ikhlas. Li Allah. Bi Allah. Bagaimanapun, pikiran dan perasaannya tetap menyatakan bahwa kedua makhluk itu, terutama Abu Syarr azh-Zhulmi, adalah tengik. Bagaimana tidak tengik, pikirnya, sudah suka mengaku-aku amaliah orang lain, gila pujian, waham kebesaran diri, ternyata masih berani mencatut kemuliaan Rasulallah Saw. untuk tujuan politis murahan.

Sebenarnya, ingin sekali ia berdiri kemudian mengumpat dan mencaci-maki guru tarekat palsu itu di depan para pengikutnya. Namun, sekuat tenaga ditahannya keinginan itu. Ia berusaha memuji kebesaran Allah yang telah mencipta makhluk seperti Abu Syarr azh-Zhulmi.

Di mata Abdul Jalil, sekalipun Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi memamerkan keindahan dan kemegahan dirinya bagaikan burung merak, dia tetaplah seperti burung nazar yang menakutkan. Guru tarekat palsu ini adalah orang yang berbahaya karena telah menggiring domba gembalaannya ke puncak gunung ananuyyah yang penuh serigala dan hewan buas lain yang haus darah. Orang itu harus dihentikan, begitu pikirnya berulang-ulang.

Setelah mulai kelihatan letih, Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi berhenti sejenak. Dan tidak sebagaimana biasanya, tiba-tiba dia memberi kesempatan kepada jama’ah pengikutnya untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami dari ceramahnya. Abdul Jalil tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Secepat kilat ia membentangkan busur akal. Kemudian dengan cekatan memasang anak panah dengan lidahnya yang tajam. Dan bagai panglima perang maju ke medan laga menghadapi musuh, ia membidikkan panah ke arah Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi. “Tuan Syaikh, apakah Lahi azh-Zhulmah yang Tuan maksud itu adalah pedagang budak yang tinggal di sebelah barat rumah Tuan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud?”

“Benar,” sahut Abu Syarr azh-Zhulmi mengerutkan kening, “dialah yang kumaksudkan sebagai calon pasya di Baghdad.”

“Apakah Tuan Syaikh tidak keliru mendoakan manusia celaka seperti Lahi azh-Zhulmah?” seru Abdul Jalil berapi-api. “Sepengetahuan saya, Lahi azh-Zhulmah adalah manusia licik, jahat, keji, dan nista perbuatannya. Dialah manusia keji yang telah merenggut anak-anak dari dekapan orang tuanya. Dialah manusia licik yang menebar jerat bagi si miskin dengan perangkap piutang. Dialah yang memisahkan istri-istri dari suami, saudara dari saudara, nenek dari cucu, bapak dari anak, ibu dari bayi susuan. Dialah penabur kepedihan dan derita.”

“Hei, engkau ini siapa?” sergah Abu Syarr azh-Zhulmi dengan mata berkilat dan dada naik turun menahan amarah. “Apakah engkau penyelundup yang hendak merusak jama’ah ini dari dalam?”

“Saya adalah anggota jama’ah baru di sini, Tuan Syaikh,” kata Abdul Jalil merendah. “Saya telah dibimbing oleh khalifah Tuan Syaikh, yaitu ustadz Ibnu Mushtawif. Saya sudah mendapat kewajiban melunasi seribu tiga ratus keping uang emas. Namun, yang baru saya bayar tiga ratus keping.”

“Dia mengaku khalifahku?” Abu Syarr azh-Zhulmi marah-marah sambil memandang tajam ke arah Ibnu Mushtawif yang menunduk di depannya. “Dia telah berbohong. Dia juga tidak menyetor uang itu. Tuan telah ditipu.”

Dengan mengangkat kasus Ibnu Mushtawif yang dianggap telah mengkhianati mursyid, Abu Syarr azh-Zhulmi dengan licin berhasil menghindar bidikan pertanyaan Abdul Jalil. Bahkan tanpa sedikit pun menanggapi pertanyaan sekitar keberadaan Lahi bin Zhann azh-Zhulmah, dia dengan bersungut-sungut meninggalkan mimbar sambil memaki-maki Ibnu Mushtawif. Abdul Jalil yang melihat sendiri betapa lihainya guru tarekat palsu itu meloloskan diri dari bidikan panahnya, akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memuji kebesaran Allah.

Keberadaan Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi beserta segala perilakunya yang menakjubkan itu benar-benar mengesankan Abdul Jalil. Ia semakin terdorong untuk menguak hakikat manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Itu sebabnya, sepulang dari Masjid al-Qubh, ia langsung membaca Al-Qur’an dan menemukan butiran-butiran mutiara kebenaran yang berkilau-kilau dari Kalam Allah itu, terutama tentang hakikat manusia.

Malam itu ia beroleh pengalaman luar biasa dalam membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Mungkin karena pemahaman fawa’id dan nur lawami’ yang memancar dari dalam dirinya sehingga ia beroleh nuansa dan makna baru dari ayat-ayat yang sudah dibacanya berulang-ulang, namun belum diketahui maknanya secara mendalam. Ia mendapati betapa ayat-ayat yang dibacanya itu seolah-olah mengungkapkan sendiri makna keberadaannya sebagai Kalam Allah. Ia menangkap sasmita bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu bagaikan sesuatu yang hidup dan bisa berhubungan secara ruhani dengannya, meski hanya dalam beberapa kejap mata.

Dengan pemahaman barunya atas ayat-ayat Al-Qur’an yang mengungkapkan jati dirinya lewat bahasa ruhani itu, ia mendapatkan pengetahuan baru tentang keberadaan manusia sebagai khalifah Allah. Kata al-Insan, misalnya, mengungkapkan esensi dari wujud sempurna manusia yang menjadi rahasia Ilahi. Al-Insan sirri wa ana sirruhu.

Wujud sempurna manusia yang menjadi rahasia Ilahi itu terdiri atas tiga bagian utama, yakni al-basyar, an-nafs, dan ar-ruh. Al-basyar adalah wujud manusia yang terdiri atas gumpalan daging. Allah mencipta al-basyar dari tanah lempung kering (shalshalin/adamah) yang adonannya “diolah dengan kedua Tangan-Nya” (QS al-Hijr: 28; QS Shad: 75). Al-basyar sendiri mengacu pada makna: “diolah oleh-Nya dengan kelembutan” (al-mubasyarah). Al-basyar yang terbentuk dari bahan tanah (ath-thin) inilah yang oleh iblis dianggap lebih rendah derajatnya daripada dirinya yang terbentuk dari bahan api (QS Shad: 76). Iblis tidak mengetahui rahasia di balik keberadaan al-basyar sebagai ciptaan baru yang diberi-Nya anugerah kemuliaan sebagai khalifah Allah.

An-nafs adalah daya kehidupan (al-hayy) yang bersifat netral. Ia mudah terpengaruh pada lingkungan di mana ia berada. An-nafs memaknai keberadaan al-basyar, sekaligus al-basyar mempengaruhi an-nafs. Tanpa an-nafs maka al-basyar hanyalah gumpalan lempung kering. Dengan an-nafs itulah al-basyar bagaikan tanah lempung kering yang mendapat siraman air hujan, memiliki daya melahirkan benih-benih kehidupan. An-nafs membangkitkan dorongan-dorongan naluriah sehingga al-basyar menyadari keberadaannya sebagai bagian dari dunia materi yang membutuhkan materi-materi lain untuk memperkukuh keberadaannya. An-nafs yang kedudukannya dekat dengan al-basyar di alam indriawi disebut dengan an-nafs al-hayawaniyyah, yang menempati tataran paling rendah dari kemanusiaan (asfal as-safilin) (QS at-Tin: 5) karena cenderung mendorong naluri al-basyar untuk menuju ke alam materi.

Ar-ruh adalah Tiupan Suci Ilahi yang dihembuskan Allah ke dalam al-basyar. Nafakhtu fihi min ruhi (QS Shaad: 72; QS al-Hijr: 29), kepada al-basyar itulah seluruh malaikat diperintahkan untuk bersujud. Ar-ruh yang tidak dicipta adalah Hakikat Yang Terpuji (al-Haqiqat al-Muhammadiyyah). Pada tataran ini ruh bersifat murni. Suci. Bebas dari materialistis. Inilah yang disebut ar-Ruh al-Haqq. Ar-ruh tidak berada di dalam atau di luar tubuh al-basyar. Ia tidak terikat, tetapi juga tidak terlepas bebas. Ar-ruh ada di luar, namun juga ada di dalam. Lantaran ar-ruh berasal dari Tiupan Suci Ilahi dalam kata nafakhtu maka ar-ruh secara alami selalu cenderung menarik kesadaran manusia untuk kembali kepada Allah.

Keberadaan manusia sebagai kesatuan entitas dari al-basyar, an-nafs, dan ar-ruh secara alamiah akan terperangkap pada dualitas sifat yang saling bertentangan. Al-basyar dengan dorongan an-nafs yang berada dekat dengannya cenderung ke arah sifat-sifat duniawi yang materialistik. Sedang ar-ruh cenderung melepaskan segala pengaruh duniawi yang materialistik untuk hanya kembali kepada Allah. Pergulatan manusia dalam kehidupan di dunia pada dasarnya adalah pertarungan internal antara dorongan naluriah al-basyar dengan an-nafs di satu pihak dan melawan tarikan ar-ruh di pihak lain.

Dengan memahami keberadaan mausia sebagai kesatuan entitas, Abdul Jalil menarik kesimpulan bahwa Abu Syarr azh-Zhulmi adalah manusia yang sudah kalah dalam pertarungan internal. Abu Syarr azh-Zhulmi sudah jauh terseret ke gugusan terendah dari dunia materi. Dia adalah citra dari manusia yang hidup di bawah kendali naluriah al-basyar dan an-nafs. Dan citra burung nazar pada Abu Syarr azh-Zhulmi yang sempat ditangkap pandangan mata batin Abdul Jalil adalah citra an-nafs al-hayawaniyyah yang bersimaharajalela menguasai dirinya. Dan lantaran pemahaman baru inilah ia dapat memahami penjelasan Ahmad at-Tawallud yang menunjuk Abu Syarr azh-Zhulmi sebagai orang yang hatinya tertutupi oleh rain. Tindakan apa pun yang diusahakan oleh orang-orang yang tertutupi tabir rain hanya akan mendatangkan tabir bagi hatinya (QS al-Muthaffifin: 14).

Setelah menelaah Abu Syarr azh-Zhulmi, ia kemudian menelaah dirinya sendiri, terutama perjalanan panjangnya dalam mencari Dia. Dia mendapati bahwa pada dasarnya ia belum sepenuhnya secara utuh mengikuti tarikan ar-ruh untuk kembali kepada sumbernya. Berbagai pertimbangan yang berasal dari akal budinya yang dilatari an-nafs masih sangat kuat mengendalikan kehidupannya. Ia mengungkap-ungkap, merenung-renung, menghitung-hitung, dan menelaah berbagai kecenderungan jiwa yang pernah dirasakan dan dilakukannya sebagai amaliah dalam kehidupannya selama ini.

Setelah merenung cukup lama ia menemukan jawaban bahwa an-nafs adalah suatu fenomena kehidupan jiwa yang mengantarai ar-ruh dan al-basyar. Lantaran itu, an-nafs memiliki kecenderungan berada pada titik yang terendah saat ia dekat dengan al-basyar dan cenderung berada pada tingkat yang tertinggi saat dekat dengan ar-ruh. Ini berarti, tingkatan-tingkatan an-nafs dari al-basyar ke ar-ruh adalah: an-nafs al-hayawaniyyah, an-nafs al-ammarrah, an-nafs al-lawwammah, an-nafs al-mulhamah, an-nafs al-muthmainnah, an-nafs al-mardhiyyah, an-nafs al-qudsiyyah. An-nafs al-qudsiyyah inilah yang dekat dengan ar-ruh al-idhafi sehingga ia menjadi suci dan selalu dinapasi oleh ar-ruh al-idhafi untuk senantiasa mengingat-Nya. Dan ar-ruh al-idhafi pun selalu dinapasi oleh ar-Ruh al-Haqq.

Abdul Jalil sendiri belum mengetahui di mana posisi dirinya. Namun, ia sangat sadar bahwa ia masih terperangkap ke dalam lingkaran an-nafs. Itu sebabnya, sambil menarik napas panjang ia menggumam sendiri dengan penuh sesal dan kepasrahan, “O Ilahi, betapa panjang dan berliku jalan yang kutempuh untuk menuju Engkau. Tetapi, setelah sekian jauh dan penuh derita, kudapati diriku baru berputar-putar pada lingkaran nafs-ku sendiri. Betapa jauh! Betapa bodoh aku selama ini!”

Malam itu bagaikan tak kenal lelah ia membaca Al-Qur’an sampai tuntas hingga menjelang subuh. Selama membaca, ia mengesampingkan berbagai dorongan akal budinya, baik yang terkait dengan pahala maupun makna harfiah ayat demi ayat. Bahkan beberapa kali ia mengalami peristiwa aneh berupa munculnya makna hakiki Al-Qur’an dari kalam al-lafzhi menjadi kalam an-nafs. Al-Qur’an adalah Kalam Hidup. Mengejawantah. Riil. Maujud. Namun, pengalaman itu berlangsung sangat singkat sehingga ia tak mampu membedakan apakah yang dialaminya itu mimpi, khayal, atau kenyataan sejati.

 

Melepas keakuan pribadi, sabar, setia, dan pasrah adalah empat pintu gerbang utama yang harus dilampaui dalam perjalanan menuju Yang Wujud. Tanpa melampaui keempat pintu gerbang ini, perjalanan menuju Dia hanya impian dan bohong belaka. Melepas keakuan pribadi adalah melepaskan segala keakuan yang terkait dengan al-basyar dan an-nafs, termasuk keinginan-keinginan, harapan-harapan, gambaran-gambaran, pilihan-pilihan, dan kehendak-kehendak pribadi yang bersifat dunia. Pamrih. Dan itu semua adalah perjuangan dahsyat. Mudah diucapkan, namun sulit dijalankan.

Banyak orang keliru menafsirkan keakuan pribadi dengan kepemilikan dan kekayaan materi yang terkait dengan benda-benda. Melepas keakuan pribadi sering diartikan sekadar melepaskan diri dari benda-benda dan miskin secara lahiriah. Padahal, yang dimaksud dengan melepaskan keakuan pribadi adalah suatu keadaan riil dari kesadaran diri yang menyadari secara pikiran dan perasaan bahwa segala sesuatu yang tergelar di sekitar kita bukanlah milik kita; rumah, anak, istri, keluarga, benda-benda, kehormatan, harga diri, bahkan tubuh dan nyawa kita pun bukanlah milik kita. Itu sebabnya, proses pelepasan ini tidak bisa disebut zuhud, karena sesungguhnya tidak ada yang dilepas atau ditinggalkan dari orang yang tidak memiliki sesuatu.

Selama melampaui pintu gerbang pelepasan keakuan pribadi, seseorang harus sabar. Karena, di situ dia akan mengalami keadaan di mana dia harus menerima pilihan-pilihan dan kehendak yang sering kali bertentangan dengan pilihan dan kehendaknya sendiri. Sering dia harus menerima suatu pilihan yang tidak disukainya. Namun, dia harus tetap sabar. Dalam menerima pilihan-Nya dan kehendak-Nya, seorang salik yang berjuang melepaskan keakuan pribadi tidak boleh mengeluh. Karena, mengeluh adalah ungkapan rasa tidak sabar.

Yang dimaksud setia adalah keteguhan sikap di dalam melintasi gerbang keakuan pribadi menuju ke terminal akhir, yakni Yang Wujud. Berbagai hambatan dan rintangan yang menghalangi perjalanan menuju-Nya tidak boleh disimpangkan ke arah selain Dia. Kesetiaan kepada jalan yang ditempuh akan membawa ke arah pintu gerbang kepasrahan, yakni gerbang paling ujung di dalam perjuangan menuju Dia.

Melintasi keempat gerbang pelepasan untuk menuju Dia memang bukan pekerjaan mudah. Karena, di setiap gerbang pelepasan itu seorang salik sudah dihadang oleh an-nafs beserta derivat-derivatnya yang menjadi penjaga gerbang. An-nafs penjaga dan derivat-derivatnya itu laksana panglima perang beserta bala tentaranya. Di tiap gerbang pelepasan itulah seorang salik harus berjuang pantang menyerah untuk menaklukkan para penghadangnya. Jika dalam pertempuran itu salik terluka maka dia tidak boleh mengeluh kesakitan apalagi merengek-rengek minta dikasihani. Seorang salik harus yakin bahwa Dia akan mengirimkan tabib sekaligus penghibur untuk mengobati kepedihan jiwanya.

Keyakinan, ketakutan, kecintaan, dan harapan yang ditujukan hanya kepada-Nya adalah modal utama bagi seorang salik agar bisa tetap setia pada jalan-Nya. Tidak peduli besarnya jumlah musuh, luka-luka, darah, rasa sakit, pedih, dan derita yang dialami dalam melintasi setiap gerbang, seorang salik wajib setia mengikuti jalan-Nya. Dan di sepanjang jalan melampaui keempat gerbang itu, seorang salik harus teguh dan tegar hati dalam menghadapi segala rintangan. Meski tubuh jiwa penuh luka berdarah, seorang salik sejati akan tetap melangkah tegap dengan hati berbunga-bunga sebagai ksatria perkasa menuju Benteng-Nya, sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan: “Menyingkirlah kalian semua, hei pasukan al-basyar dan an-nafs dari Benteng-Nya. Sesungguhnya, semua raja jika memasuki suatu negeri niscaya akan membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina (QS an-Naml: 34). Menyingkirlah kalian dari Benteng-Nya. Jika melawan maka kalian akan menjadi tawanan-tawanan yang hina. Dialah Maharaja. Tunggal. Penguasa. Mutlak. Aku hanya akan mengabdi kepada-Nya. Dia adalah tujuan akhirku. Demi Dia, kuperangi kalian semua!”

Ketika keheningan merayapi malam, saat para panglima al-basyar dan an-nafs beserta bala tentaranya beristirahat dan menyembuhkan luka-luka mereka maka sang salik berusaha memasuki Benteng-Nya, dengan pedang dzikir, perisai istighfar, dan baju zirah salawat. Namun tanpa diduga, ketika kakinya mulai menginjak gerbang Benteng-Nya, tiba-tiba muncul bidadari berpakaian serba putih yang melayang-layang dari langit. Sayapnya yang berkilau-kilau berkepakan menimbulkan irama musik merdu yang memuji-muji keagungan-Nya. Bidadari itu duduk di atas singgasana yang tergantung di antara langit dan puri Benteng.

Keanehan terjadi. Bidadari agung dengan sayap gemerlapan itu mendadak berubah menjadi hantu menakutkan berpakaian serba hitam dengan sayap kegelapan membentang dari ufuk timur hingga barat. Getaran sayapnya menimbulkan suara gemuruh menyeramkan. Hantu itu duduk di singgasana yang terbalik yang menggantung antara tanah dan puncak menara Benteng.

Menyaksikan pemandangan menggetarkan di hadapannya, sang salik menghunus pedang dzikir dan bersiaga hendak menyerbu ke dalam Benteng untuk menerjang sang hantu hitam. Namun, baru saja kaki kanannya terangkat, tiba-tiba ia kembali melihat bidadari itu berdiri dan menari sambil melantunkan nyanyian merdu diiringi suara kecapi dan harpa dari kepak sayapnya yang berkibaran menaburkan cahaya kilau-kemilau.

“Kemarilah, o cintaku! Dekaplah kerinduan jiwaku yang meringkuk tanpa daya di tengah padang pasir yang gersang. Teteskan air jernih dari telaga cintamu agar terhapus dahaga yang mencekik leherku. Berikan butir-butir kurma, roti, madu, dan susu untuk mengobati rasa lapar jiwaku yang merana.”

“Lihatlah, o kekasih! Sayap-sayap kebebasanku telah diikat oleh belenggu yang merantai kebebasanku. Akankah engkau tega, o kekasih, membiarkan hidupku merana. Mati dalam keadaan lapar dan dahaga oleh cinta dan keindahan.”

“Bangunlah, o pahlawanku! Hunuslah pedangmu! Bebaskan aku dari penjara derita yang menyiksa ini. Biarlah kita nanti akan menari dan menyanyi di padang cinta. Kita akan berlarian dengan sayap-sayap terkepak bebas. Kita akan menjadi raja dan ratu yang duduk di atas singgasana cinta kita yang abadi. Kemarilah, o kekasih!”

Pengalaman menakjubkan dalam bentuk mubashshirah yang sangat yang sangat mengagumkan itu buyar bagai halimun tersapu cahaya matahari ketika adzan subuh berkumandang dari menara masjid. Abdul Jalil bagai tersadar dari mimpi buruk, bergegas mengambil air wudhu. Ia menemukan kesadaran baru tentang dirinya yang masih terikat oleh lingkaran an-nafs. Ia sadar belum bisa memasuki Benteng tempat Sang Raja bersemayam. Namun, sebagai salik yang sudah kenyang dengan pahit dan getir perjuangan menuju-Nya, ia tetap bertekad bulat untuk membebaskan Benteng persemayaman Sang Raja dari kekuasaan tiran insaniyyah yang didukung kekuatan bala tentara al-basyar dan an-nafs.

Japan Sea, Feb 24th 2007

10. Ishthilam

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan melintasi tujuh samudera, tujuh gurun, tujuh lembah, tujuh jurang, tujuh gunung, tujuh rimba, dan tujuh benteng yang rangkaiannya memiliki empat gerbang utama, yakni pelepasan keakuan pribadi, sabar, setia, dan pasrah, yang kesemuanya dijaga oleh bala tentara al-basyar dan an-nafs, Abdul Jalil tersungkur jatuh di atas rerumputan belati yang terhampar di depan pintu gerbang terakhir. Dengan napas tersengal-sengal dan tenaga terkuras habis, ia menatap jauh ke arah jalanan yang telah dilaluinya. Tak ada yang tersisa di jalanan itu kecuali reruntuhan gerbang, tiang-tiang, tembok, puing-puing, tubuh bala tentara al-basyar dan an-nafs yang bergelimpangan tanpa daya.

Ia masih harus berjuang lebih dahsyat lagi untuk membersihkan Benteng kemuliaan tempat persemayaman Sang Raja dari kekuasaan kegelapan al-basyar dan an-nafs. Namun, ia sendiri masih belum paham benar makna di balik gambaran bidadari dan hantu hitam yang menguasai Benteng persemayaman-Nya itu. Sementara Ahmad at-Tawallud yang menjadi pembimbing sekaligus tumpuan berbagai pertanyaan justru tidak berada di Baghdad saat ia tengah menghadapi persoalan yang sangat rumit itu. Lantaran itu, dengan tekad tetap berkobar, ia melangkah mengitari Benteng sambil membawa pedang dzikir, perisai istighfar, dan baju zirah salawat untuk mencari celah-celah yang bisa membawanya masuk dan menghalau seluruh penghuninya dari sana. Kemudian ia bisa mempersilakan Sang Raja bersemayam dengan kemegahan dan keagungan serta kemuliaan-Nya.

Mengitari Benteng apalagi hendak memasukinya tetnyata bukanlah hal yang mudah. Karena, Benteng yang kelihatan kecil dan sederhana itu menyimpan rahasia yang sangat ajaib. Semakin dikitari akan semakin jauhlah jalan yang harus dilewati. Seolah-olah tanpa ujung dan pangkal. Abdul Jalil pun, setelah melintasi padang rumput, gurun, lembah, hutan, dan gunung di dalam dirinya tetap menyaksikan tembok Benteng berdiri tegak di sisinya. Benteng yang dikitarinya seolah bangunan raksasa seluas bumi dan tidak bisa tertembus, kecuali melalui gerbangnya yang ajaib.

Saat ia merenungkan rahasia yang tersembunyi di balik tembok-tembok Benteng yang menakjubkan, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seseorang berjalan terseok-seok sambil membawa tongkat. Ketika makin dekat terlihatlah bahwa orang itu adalah laki-laki berpakaian kusut lusuh penuh tambalan. Meski demikian, wajahnya memancarkan cahaya kewibawaan yang menggetarkan.

“Assalamu’alaikum,” sapa Abdul Jalil.

“Wa’alaikum salam,” sahut laki-laki yang ternyata bernama Qalby Ishthifa.

“Dari mana dan hendak ke manakah, Tuan?” tanya Abdul Jalil.

Qalby Ishthifa tidak menjawab. Diam. Setelah beberapa jenak, dia menuturkan perjalanan hidupnya. Mula-mula dia memaparkan kehidupannya sebagai suami yang sangat mencintai istri yang telah memberinya tiga orang anak; satu perempuan dan dua laki-laki. Kecintaannya kepada istri membuatnya sangat setia dan selalu berusaha membahagiakan hati istrinya. Bagi Qalby Ishthifa, tidak ada perempuan yang cantik, sabar, setia, patuh, dan pandai melayani suami selain istrinya.

“Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia ini,” kata Qalby Ishthifa menarik napas berat. “Istri yang kunilai setia, sabar, patuh, dan pandai melayani suami itu ternyata berkhianat. Diam-diam, ketika aku tidak di rumah, ia menjalin hubungan dengan penjual susu keliling. Meski tidak terbukti melakukan perbuatan zina, dia mengaku bahwa hatinya tertarik kepada penjual susu itu.”

“Saat itu dunia kurasakan runtuh. Harga diri, kehormatan, bahkan kepercayaan diriku ambruk menjadi puing-puing menyedihkan. Istri yang sangat kusayang dan menjadi tambatan hatiku ternyata mencintai orang lain yang hidupnya jauh lebih miskin dariku. Bahkan yang hampir tak masuk akal, orang itu pun tidak baik agamanya. Sudah miskin, jarang shalat pula. Ia juga suka menggoda perempuan-perempuan yang menjadi pelanggannya.”

“Derita yang kualami belumlah usai. Abdullah Waqi’a, anak sulungku, minggat dari rumah karena malu diolok-olok temannya sebagai anak penjual susu. Abdullah Khathir, adiknya, juga mengikuti jejak kakaknya. Alasannya, ia juga malu diolok-olok temannya. Tidak cukup dengan kepergian dua anak laki-lakiku, anakku perempuan, Ummu Safah, sakit dan meninggal dunia.”

“Aku benar-benar tak berdaya. Putus asa. Namun, di dalam derita yang kualami itu tiba-tiba tanpa kusadari terbit cahaya kesadaran baru bahwa apa yang kualami selama ini ternyata berkaitan dengan kecintaanku yang berlebihan terhadap keluarga, terutama terhadap istri. Itu sebabnya, dengan hati kosong aku tinggalkan rumah setelah anakku dikebumikan. Aku tinggalkan semua milikku. Aku tidak peduli lagi dengan nasib istri dan kedua anakku. Kupasrahkan semua kepada-Nya. Dan sejak itu, istana sirr di dalam Benteng hatiku telah kosong dari segala sesuatu kecuali pengetahuan tentang diri-Nya.”

Setelah menuturkan penderitaannya yang berujung pada keberhasilannya mengosongkan istana sirr dari segala sesuatu selain-Nya, Qalby Ishthifa mendadak lenyap dari hadapan Abdul Jalil. Sesaat sesudah itu, di hadapannya muncul sosok laki-laki berusia setengah baya yang berpakaian rapi, namun wajahnya kuyu dan kusut masai. Seperti saat perjumpaan dengan Qalby Ishthifa, Abdul Jalil menyapa dan menanyakan dari mana dan hendak ke mana tujuannya. Sosok laki-laki yang ternyata bernama Aly al-Isytibah itu mengaku tetangga Qalby Ishthifa dan mengalami nasib yang sama, yakni istrinya jatuh cinta kepada kuli batu.

“Namun, beda dengan Qalby Ishthifa,” kata Aly al-Ishtibah memaparkan pengalaman hidupnya, “saya belum mampu mengosongkan hati saya. Sebaliknya, dendam, marah, cemburu, dan sakit hati membakar hati saya. Itu sebabnya, setiap saat saya ingat peristiwa pengkhianatan istri saya, langsung amarah saya memuncak. Saya hajar istri saya bagai hewan. Saya tendangi tubuhnya. Saya injak kepalanya. Saya tinju wajahnya. Pendek kata, saya remukkan dia.”

“Berarti Tuan sangat mencintai istri Tuan?” tanya Abdul Jalil.

“Mencintai?” sergah Aly al-Isytibah menolak. “Tidak! Saya justru membenci dia. Itu sebabnya, dia terus-menerus saya siksa dan aniaya. Saya benci dia. Ingat kata-kata saya, Tuan: saya benci dia!”

“Tuan,” kata Abdul Jalil, “jika Tuan tidak cinta, kenapa Tuan sangat peduli kepada istri Tuan? Jika Tuan tidak cinta, biar saja dia melakukan perbuatan durhaka. Peduli apa dengan orang yang tidak Tuan cintai. Justru dengan amarah Tuan itu sebenarnya terbukti sudah bahwa Tuan sangat mencintai istri Tuan. Tuan akan menderita selamanya jika mengingkari kenyataan itu.”

Aly al-Isytibah tercengang mendengar komentar Abdul Jalil. Namun, dia rupanya masih terperangkap oleh terkaman kuat an-nafs. Dia masih terjerat dalam jaring-jaring ananiyyah. “Aku yang paling benar. Paling mulia. Paling terhormat: Akulah yang paling suci. Karena itu, semua harus tunduk pada kehendakku. Aku harus menang dalam segala hal.” Itu sebabnya, dia sangat sulit memahami penjelasan Abdul Jalil. Dan setelah tercenung beberapa saat, dia membalikkan badan, melangkah meninggalkan Abdul Jalil, menuju ke hamparan padang pasir yang luas tanpa batas. Dia tampaknya harus berjalan di tengah panasnya gurun; dipancari matahari dari atas dan dipanggang bara pasir dari permukaan tanah serta diterpa angin kering yang membakar kedamaian hati.

Sepeninggal Aly al-Isytibah, Abdul Jalil berdoa agar lelaki yang diamuk api cemburu itu diberi pertolongan oleh Allah. Sesudah itu, ia melanjutkan lagi perjalanannya mengitari Benteng. Namun, belum jauh melangkah tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki setengah baya yang berjalan tertatih-tatih dengan disangga sebatang tongkat yang terbuat dari kayu yang menebarkan wangi cendana dan kesturi. Laki-laki itu bernama Qalby Mushthalam al-Bala’. Dia tampak agung dan berwibawa, meski peluh yang menyimbah wajahnya menunjukkan bahwa dia telah melakukan perjalanan amat jauh.

Abdul Jalil mengucap salam dan bertanya dari dan hendak ke manakah dia gerangan. Qalby Mushthalam al-Bala’ menyatakan bahwa dia akan kembali ke negerinya, sesudah melakukan perjalanan jauh ke berbagai tempat yang membuat hatinya tambah merana dan menderita. Dia menuturkan bahwa dirinya adalah raja negeri Ikhtiyar yang merupakan bagian dari kerajaan Iradah yang dipimpin oleh Maharaja Malik al-Mulki.

“Sebagai seorang raja bawahan,” ungkap Qalby Mushthalam al-Bala’, “aku sangat patuh dan setia kepada Sang Maharaja. Aku patuhi berbagai peraturan yang ditetapkan-Nya. Sedikit pun aku tidak berani melanggar ketentuan-ketentuan yang telah digariskan-Nya. Aku sadar bahwa Sang Maharaja mengetahui segala sesuatu yang kuperbuat.”

“Namun, sebagai manusia biasa aku memiliki kelemahan, yaitu kecintaan yang berlebihan terhadap Kadar Qalby al-Katsif, putera tunggal kesayanganku, yang kuharapkan akan menjadi penggantiku. Kadar, puteraku, adalah anak yang tampan, cerdas, kuat, patuh, setia, dan rendah hati. Sepanjang hidupku, belum pernah kudapati seorang anak yang begitu sempurna seperti dia. Itu sebabnya, seluruh perasaan cintaku kutumpahkan hanya kepadanya. Kebiasaan setiap raja untuk memelihara selir tidak kulakukan karena seluruh perhatian hati dan pikiranku sudah tercurah kepada Kadar.”

“Hari-hariku sebagai raja kulalui dnegan mengajar, mendidik, membimbing, dan mengarahkan Kadar agar bisa menjadi raja yang agung, adil, dan bijaksana. Berbagai pelajaran dan latihan yang kuberikan, begitu mudah diterimanya. Bahkan harus kuakui, dalam hal hukum dan sastra, Kadar melebihi aku. Demikianlah, hari-hari kulewati dengan mengajaknya berburu, berlatih memanah, berkuda, memainkan pedang, membaca syair-syair, menyantuni orang-orang miskin, dan melakukan amal ibadah terpuji yang lain.”

“Keakraban yang kubangun bersama putera tunggalku ternyata telah menyeretku ke tindakan yang tidak terpuji sebagai raja. Berbagai urusan kerajaan terbengkalai. Para pejabat dan pegawai kerajaan ternyata memanfaatkan keasyikanku berakrab-akrab dengan puteraku itu. Mereka melakukan tindakan korup, menodai keadilan, dan menista hukum. Derita dan sengsara pun dialami oleh rakyat negeri Ikhtiyar yang selama ini hidup dalam damai dan sejahtera.”

“Kelalaian yang kulakukan itu baru kusadari ketika badai derita dan kepedihan meluluhlantakkan hatiku. Kadar, putera tunggal yang kucintai, jatuh dari kuda ketika kuajak berburu kijang di padang ad-Dunya. Setelah mengalami demam semalaman, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri. Tak pernah kubayangkan putera kesayanganku begitu cepat dipanggil kembali ke haribaan-Nya.”

“Saat itu, duniaku runtuh. Kadar, putera tercinta gantungan harapanku, telah direnggut begitu cepat dari sisiku. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun kurasakan duniaku gelap. Satu senja ketika kulihat kawanan burung terbang di angkasa dan berbondong-bondong pulang ke sarang, tersentaklah jiwaku oleh kesadaran bahwa aku harus kembali ke negeri Ikhtiyar. Namun, aku ragu apakah selama kutinggalkan tahtaku tidak diduduki raja lain?”

“Kepastian untuk kembali ke negeri Ikhtiyar kudapatkan ketika seorang kurir bernama Abdullah al-Qarar yang diutus Maharaja Malik al-Mulki datang kepadaku untuk menyampaikan perintah agar aku secepatnya kembali ke negeriku dan menghadap-Nya di istana Iradah. Demikianlah, dengan hati hancur, aku terpaksa kembali ke negeri Ikhtiyar untuk menghadap ke hadirat-Nya di istana Iradah. Semoga Maharaja mengampuni kelalaian yang telah kulakukan selama ini.”

Abdul Jalil melihat kilauan cahaya memancar dari wajah Qalby Mushthalam al-Bala’. Namun, sedetik sesudah itu tiba-tiba tubuh Qalby Mushthalam al-Bala’ lenyap dari pandangannya. Yang tersisa adalah tebaran wangi semerbak dari kayu cendana dan minyak kesturi.

Ketika Abdul Jalil akan melangkahkan kaki untuk melanjutkan perjalanan mengitari Benteng, tiba-tiba muncul sosok laki-laki bertubuh besar yang mengenakan jubah sutra hitam bersulam benang emas. Laki-laki itu berpenampilan sangat mewah, namun jalannya terseok-seok ditopang sebatang tongkat emas berhias intan permata yang kilau-kemilau ditimpa matahari. Dia bernama Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis, seorang qadhi di negeri Maskan. Wajahnya yang berpeluh, lesu, kuyu, dan kusut terlihat menyimpan keletihan. Tubuhnya yang goyah dan kakinya yang gemetar saat berdiri menunjukkan bahwa dia sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh, melintasi padang belantara kehidupan duniawi.

Seperti pertemuan dengan orang-orang sebelumnya, Abdul Jalil pun menyapa dengan salam dan kemudian menanyakan asal dan tujuannya. Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis dengan jujur menuturkan bahwa dia telah melintasi padang kehidupan ganas dalam upaya memburu kemegahan dan kelezatan duniawi. Kekayaan, pangkat, derajat, dan kemuliaan duniawi telah diperolehnya sebagai kemestian dari usahanya yang diraih dengan susah payah itu. Dia telah memperoleh segala apa yang diinginkan dan diimpikannya.

“Namun, kehidupan dunia ternyata mengecewakan,” katanya sambil menunduk. “Segala yang saya miliki dan saya cintai mendatangkan bencana dan penderitaan batin bagi saya. Istri yang saya cintai, misalnya, senantiasa mengeluh tentang kebutuhan duniawi yang sebenarnya sudah saya berikan berlimpah-limpah. Perhiasan emas dan permata serta uang berpeti-peti tidak membuatnya puas. Dia terus mengeluh kekuarangan ini dan itu. Bahkan lima buah rumah sangat mewah yang saya buatkan ternyata dianggap belum cukup. Istri saya selalu mengeluh kurang. Dia selalu menuntut saya agar lebih giat mencari kekayaan. Jika tuntutannya tidak saya penuhi maka dia akan mengomel sepanjang hari sehingga tak ada ketenangan bagi saya di rumah.”

“Belum usai urusan dengan istri saya, muncul persoalan dengan anak-anak saya, terutama Niza’, puteri kesayangan saya. Tanpa saya kira dan saya duga, tiba-tiba puteri kesayangan saya minggat dengan Abdul Jahl, budak saya. Akibat kejadian itu, seluruh kota gempar. Kehormatan saya runtuh. Nama besar saya jatuh. Harga diri saya terinjak-injak. Saya benar-benar dipermalukan oleh puteri yang selama ini sangat saya sayangi. Saya tidak bisa marah terhadap Niza’ karena hati saya sudah terlanjur menyayanginya. Dan akhirnya, dengan memikul rasa malu, saya terima juga budak terkutuk itu menjadi menantu saya.”

“Belum usai persoalan dengan puteri saya, tiba-tiba saya harus kehilangan jabatan sebagai qadhi akibat fitnah. Kekayaan yang saya kumpulkan dengan susah payah dikatakan sebagai hasil tindakan korup saya. Sultan, entah dari mana asalnya, memiliki daftar kekayaan saya mulai dari rumah, kebun, kedai perniagaan, hewan peliharaan, simpanan emas dan permata, timbunan uang, sampai jumlah budak-budak saya. Dan tanpa memberi kesempatan bagi saya untuk menjelaskan dari mana semua itu saya kumpulkan, Sultan menggantikan kedudukan saya dengan orang yang selama ini sangat memusuhi saya.”

“Saya tidak mengerti, kenapa segala sesuatu yang saya miliki dan saya cintai harus terempas dari genggaman saya. Padahal, saya rajin beribadah. Shalat selalu tepat waktu. Puasa Senin dan Kamis saya jalankan sepanjang waktu. Shalatul Lail juga tidak pernah terluang. Shalat Dhuha apalagi. Saya juga sudah cukup banyak menyumbang pembangunan masjid, menyantuni yatim dan piatu, menafkahi janda-janda tua dan orang-orang terlantar. Infak dan sadaqah yang saya lakukan sudah berlebih. Apalagi yang kurang? Kenapa Allah masih merampas milik saya yang saya cintai?”

Mendengar keluh kesah Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis, tiba-tiba saja Abdul Jalil merasakan pancaran nur lawami’ dan pemahaman fawa’id meledak di relung-relung kesadarannya. Bagaikan didorong oleh kekuatan gaib, ia menanggapi keluhan Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis. “Jika Tuan beranggapan bahwa Allah tidak adil dan sewenang-wenang karena telah merampas milik yang dicintai hamba-Nya yang patuh menjalankan perintah-Nya maka Tuan telah salah memandang Dia. Sebab, dengan ungkapan Tuan tentang kepatuhan menjalankan perintah-Nya maka Tuan sebenarnya telah berpamrih. Artinya, Tuan menjalankan perintah-Nya tidak semata-mata karena Dia. Tuan menjalankan perintah-Nya jelas untuk kepentingan Tuan sendiri. Tuan berharap dengan patuh pada perintah-Nya maka Tuan akan bisa kekal dan abadi mengangkangi semua milik Tuan di dunia ini. Adakah sesuatu di dunia ini yang kekal dan abadi?”

“Ketahuilah, o Tuan, bahwa menjalankan perintah-Nya bukan hanya terletak pada bentuk ibadah badaniah belaka, seperti shalat, infak, sadaqah, zakat, puasa, dan haji. Namun, yang tak kalah penting adalah kiblat hati saat beribadah kepada-Nya. Saya berani mengatakan pembohong bagi orang yang shalat, namun kiblat hatinya kepada selain Allah, begitu juga ibadah lainnya.”

“Dan bagi mereka yang sudah melangkah di jalan-Nya, tidak ada pilihan lain kecuali harus setia mengarahkan kiblat hati hanya kepada-Nya. Tidakkah Tuan ingat peringatan-Nya yang berbunyi: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, karib kerabatmu, harta benda yang kau kumpulkan, perniagaan yang kau takuti kerugiannya, dan tempat tinggal yang kau sukai; jika ini semua lebih kau cintai daripada Allah, rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS at-Taubah: 24).”

“Berdasar kisah tentang derita yang telah Tuan alami, jelas sekali Tuan lebih mencintai segala sesuatu selain Allah, rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya. Kiblat hati Tuan jelas sekali bukan kepada-Nya. Tuan merasa segala apa yang Tuan miliki selama ini adalah milik Tuan. Padahal Tuan hanya mengaku-aku. Tuan sebenarnya tidak memiliki sesuatu pun. Bahkan nyawa dan ruh Tuan pun bukanlah milik Tuan. Untuk itu, bertobatlah, o Tuan, dan bersegeralah memalingkan kiblat hati hanya kepada-Nya. Tuan adalah orang yang telah dipilih-Nya. Kenapa Tuan sampai berpaling dari-Nya?”

Wajah Sa’ad bin Abu Qabdh at-Talbis merah padam. Dadanya seperti dijalari api amarah yang berkobar-kobar. Dia benar-benar merasa ditelanjangi oleh orang muda yang tak pernah dikenalnya itu. Namun, dia rupanya masih berusaha menahan diri dan tidak terpancing emosi. Dia tidak mau berdebat apalagi menerima kritik dan saran dari pemuda yang dianggapnya masih ingusan. Itu sebabnya, dengan wajah bersungut-sungut sambil berlalu menuju ke hamparan padang belantara yang penuh semak-semak berduri, dia menggumam acuh tak acuh, “Siapakah engkau? Tahu apa engkau tentang jalan-Nya?”

Aku adalah “Dia” yang terbatas yang mengejawantah dalam makna tersembunyi Ruh al-Haqq. Engkau adalah Dia Yang Tak Terbatas, Zat Yang Meliputi, Yang Maha Melihat, Mahakuasa, Yang Tersembunyi pada batin segala yang lahiriah. Engkau Mahasuci dari segala sesuatu. Karena itu, jika aku pengejawantahan Ruh al-Haqq, mengarahkan kiblat hanya kepada Engkau, pasrah di haribaan-Mu, mengikuti jalan-Mu, dan terbimbing kembali kepada-Mu, maka terlepaslah segala sesuatu selain Engkau dari lingkaran keakuanku.

Ketika Dia Yang Tak Terbatas berkehendak menarik “Dia” yang terbatas yang mengejawantah dalam makna tersembunyi Ruh al-Haqq, yang terpenjara oleh tubuh duniawi, keakuan, maka disucikanlah Benteng persemayaman Ruh al-Haqq dari segala terali penjara keakuan duniawiah. Dan jika saat yang dikehendaki-Nya telah tiba, sesuai kehendak-Nya, maka luluh lantaklah penjara keakuan duniawi oleh serbuan api bala’ yang tercurah dari langit dan memancar dari dasar bumi. Benteng hari persemayaman Ruh al-Haqq hancur, remuk redam menjadi reruntuhan dan puing-puing yang disebut Qalb al-Mushthalam, “hati yang hancur.”

Abdul Jalil, anak Adam yang sejak lahir ke dunia fana telah ditimpa api bala’ dari segala penjuru kehidupan, ternyata Benteng hatinya belum tersucikan sama sekali dari terali-terali penjara keakuan duniawi. Di dalam relung-relung Benteng hatinya masih terpampang citra indah bidadari dan hantu hitam yang menyelubungi kesucian Ruh al-Haqq. Itu sebabnya, bola-bola api dari langit jiwanya bagai malapetaka Sodom dan Gomorah tercurah ke Benteng hatinya, meluluhlantakkan segala sesuatu yang bukan Dia yang bersarang di dalamnya.

Ia yang selalu tangguh dan ulet dalam menangkis serbuan api bala’ dari atas langit dan dasar bumi jiwanya. Ia yang melepas segala miliknya, prajurit-prajurit, benteng-benteng, puri-puri, gudang makanan, gudang perbendaharaan, mahkota, perisai, baju zirah, busur, anak panah, pedang, tombak, dan bahkan sepatu miliknya demi keselamatan jiwanya, ternyata harus tersungkur tanpa daya ketika menghadapi serbuan akhir. Ia rupanya terpojok. Ia sudah kehilangan segala sesuatu yang berharga yang dapat digunakan untuk mempertahankan dirinya. Dan selembar jubah sutra bersulam keindahan bidadari dan bunga-bunga, yang dikenakan sebagai pakaian kebesaran terakhirnya yang berharga, ternyata harus direnggut dan dicampakkan ke dalam kobaran api bala’ yang tak kenal ampun.

Ia baru menyadari bahwa jubah sutra bersulam keindahan bidadari dari bunga-bunga kebanggaan yang dikenakannya telah terbakar tanpa sisa ketika Ahmad at-Tawallud, sekembali dari Basrah, menuturkan perihal nasib puterinya yang sangat tidak beruntung. Sejak menikah, tidak sedikit pun kebahagiaan pernah diraih oleh puterinya. “Bayangkan, sampai tiga tahun perkawinan mereka belum dikaruniai anak. Tuan bisa membayangkan, apa arti istri yang tidak bisa melahirkan anak bagi laki-laki seperti Hajibur Rahman at-Takalluf.”

Tetesan air mata yang membasahi dukacita Nafsa, ungkap Ahmad at-Tawallud, adalah rentangan panjang kehidupan yang membukan kesadarannya tentang makna bala’ dan Qalb al-Mushthalam. Nafsa menyadari bahwa setiap tetesan air mata yang tertumpah adalah air bening yang menyucikan jiwanya. Dia sadar bahwa segala derita yang menimpanya adalah makna termulia dari kecintaan-Nya terhadap dirinya. Itu sebabnya, dia tidak pernah mau menukar kepedihan jiwanya dengan keriangan dan gelak tawa duniawi.

“Nafsa ingin tetap menjadi hamba-Nya yang menderita,” kata Ahmad at-Tawallud. “Karena, di dalam derita itu dia senantiasa mengingat-Nya. Dia tahu di antara tetesan air matanya itulah keagungan, kemuliaan, dan cinta kasih-Nya merambat dan merayapi getar-getar jiwanya. Di dalam hati yang remuk, dia menangkap pengejawantahan (tajalliyat) Ilahi.”

Dari balik tembok kemanusiaan yang membelenggu jiwanya, Nafsa terbang ke angkasa dengan sayap-sayap kebebasannya. Dia tidak peduli lagi dengan gemerlap perhiasan emas permata serta benda-benda duniawi. Baginya, keindahan kata-kata duniawi adalah tirai-tirai hitam yang menutupi jendela sehingga seluruh ruang jiwanya menjadi gelap gulita. Penderitaan dan kepapaan adalah pintu gerbang menuju ke istana Kebenaran. Itu sebabnya, dia melewati hari-hari deritanya dengan tetesan air mata di dalam kamar gelapnya; meninggalkan hingar-bingar kehidupan duniawi yang gemerlapan dan penuh gelak tawa.

Namun, Nafsa tetaplah Nafsa, bidadari berhati lembut yang sejak kecil hidup dalam kemanjaan dan sukacita. Tubuhnya yang lemah gemulai laksana merpati itu tidak mampu menahan derita panjang yang direguk dan dicecapnya sebagai madu dan susu kehidupan. Tak sampai empat tahun dia menjadi istri Hajibur Rahman at-Takalluf, tubuhnya telah kurus laksana burung merana di sangkarnya. Kehausan telah mencekik lehernya, meski di luar sangkar terdapat kolam berair jernih. Kelaparan telah menerkam perutnya, meski biji jelai terhampar di hadapannya.

Terali-terali sangkar telah memenjarakan kebebasannya. Burung kecil itu tak pernah lagi berkicau. Dia terpenjara dalam sangkar derita. Dan kepedihan panjang yang bagai tanpa tepi akhirnya menggiringnya ke arah kematian. Ya, burung itu telah pergi. Namun, kemerduan kicaunya masih tersisa dan tak akan dapat terlupakan oleh mereka yang pernah mendengarnya. “Bagiku, kematian burung itu adalah pembebasan bagi jiwanya untuk kembali kepada Sang Pemilik. Burung itu telah terbang bebas menuju Sarangnya yang sejati,” kata Ahmad at-Tawallud.

Kabar kematian si burung kecil Nafsa yang tak pernah dibayangkan dan diimpikan itu didengar oleh Abdul Jalil bagaikan ledakan halilintar menyambar tebing-tebing jiwanya. Seluruh aliran sungai pembuluh darahnya tiba-tiba membeku. Bagaikan batuan tebing yang runtuh, ia rasakan tulang-tulang persendiannya luruh. Bagai burung yang patah kedua sayapnya dan jatuh dari angkasa.

Ia tercenung sebisu patung batu. Seperti berada di alam mimpi. Namun, sejenak kemudian ia bagai tersadar oleh hamparan kenyataan yang menunjukkan bahwa dirinya sekarang ini bagaikan raja tanpa mahkota, tanpa kekuasaan, tanpa istana, tanpa tahta, tanpa rakyat, bahkan tanpa pakaian kebesaran. Abdul Jalil menyadari betapa satu-satunya jubah kebesaran terindah yang dikenakannya telah terbakar habis tak bersisa. Citra indah sulaman bidadari dan bunga-bunga itu telah sirna. Harapan dan angan-angannya tentang jubah indah itu telah pupus. Merana. Dan tebing keteguhan hatinya pun runtuh bersama butir-butir air bening yang bergulir dari kelopak matanya, membasahi pipinya.

Ketika malam dibungkus selimut hitam, saat orang-orang meringkuk kedinginan dalam tidur lelap, Abdul Jalil duduk di teras Masjid al-Ishthilam sambil membatin, “Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, o musafir papa, yang tak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak akan pernah kehilangan apa-apa.”

Bintang-gemintang yang menghiasi gelap malam menerbangkan khayalnya ke langit yang diselimuti kabut. Khayal yang melekat di relung-relung ingatannya memunculkan citra Nafsa yang menderita dan merana. Sambil menyaksikan bentangan sayap-sayap khayalnya berkepakan, ia berkata, “Aku tidak pernah kehilanganmu, o Nafsa, karena aku tidak pernah memilikimu. Namun, citra keindahanmu yang memenuhi khayalku adalah kesunyian yang paling menyiksa jiwaku. Terbang bebaslah, o burung kecilku, menuju sarangmu. Berkicaulah dengan kemerduan suaramu untuk memuji Pemilikmu.”

Ketika ia sedang terbang bebas dengan burung khayalnya, tiba-tiba muncul seseorang yang kemudian dikenalnya bernama Ali Anshar at-Tabrizi, musafir asal negeri Persia. Sebagai sesama perantau, dalam tempo singkat mereka terlihat akrab; berkisah tentang asal usul, perjalanan hidup, pandangan-pandangan keagamaan, prinsip-prinsip tauhid, bahkan konsep-konsep dan amaliah perjuangan (jihad) menuju Sang Sumber Sejati.

Ali Anshar pemuda yang cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai hal sehingga persoalan yang sulit dipecahkan akan menjadi mudah dibahas. Namun, ada saat-saat tertentu Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa pengetahuan Ali Anshar pada dasarnya masih pada tingkat pemahaman dan belum sampai pada tataran amaliah. Hanya saja ia belum berani memastikan apakah sasmita yang ditangkapnya itu benar atau tidak. Lantaran itu, ia berusaha tetap menjaga jarak dan tidak semua pandangan Ali Anshar disepakatinya.

Ia sadar selama ini sangat kurang bergaul dengan orang-orang yang bisa diajaknya berbagi pengalaman. Itu sebabnya, meski banyak hal yang tidak disepakatinya, ia merasa sangat membutuhkan kawan bicara secerdas perantau asal Tabriz itu. Keakrabannya dengan Ali Anshar pun makin erat manakala ia mengetahui bahwa pemuda itu meninggalkan negerinya karena tak sanggup menanggung hati yang hancur akibat kematian kekasih tercinta. Kesamaan nasib menumbuhkan empati dan solidaritas.

Ali Anshar menuturkan kisah percintaannya dengan Kamilah, tetangga sebelah rumahnya yang telah dikenalnya sejak masa kanak-kanak. Berbeda dengan keluarga Kamilah yang kaya dan terhormat, keluarga Ali Anshar hidup dalam keterbatasan meski darah yang mengalir di tubuh keluarganya adalah darah Alawiyyin keturunan Rasulallah Saw. “Keluarga kami adalah pendukung setia keluarga Safawy yang sedang berjuang menegakkan kekuasaan ahlul bait. Itu sebabnya, keluarga kami selalu dalam buruan dan penindasan penguasa yang zalim. Namun, kami bertahan terhadap semua tekanan yang diarahkan kepada kami,” katanya dengan mata berapi-api.

Sebagai pendukung setia keluarga Safawy ternyata membawa akibat pedih baginya. Keluarga Kamilah yang sangat membenci perjuangan kaum Safawy tegas-tegas melarang Ali Anshar berhubungan dengan puteri mereka. Mereka tidak ingin tersangkut-paut dengan gerakan pemberontak. “Aku memprotes keputusan itu. Aku katakan kepada ayahanda Kamilah bahwa persoalan cinta tidak ada kaitan dengan perjuangan kaum Safawy. Namun, mereka malah mengusirku. Dan puncaknya, ketika keluarga itu dengan paksa menikahkan Kamilah dengan seorang petugas penarik pajak yang licik dan kejam,” ujar Ali Anshar menarik napas dalam-dalam.

Perkawinan Kamilah ternyata tidak membawa kebahagiaan. Selama bertahun-tahun mereka tidak dikaruniai anak. Itu sebabnya, Kamilah oleh suaminya dijadikan pemuas nafsu belaka. Dia tidak pernah lagi dianggap sebagai istri yang bisa menjadi ibu dari anak-anaknya. Bukan hanya caci-maki dan pukulan yang didapat Kamilah dari suaminya, melainkan silih berganti perempuan cantik dibawa ke rumah dan diperkenalkan sebagai istri-istri baru. Namun, ternyata para perempuan itu tidak melahirkan anak seorang pun bagi suami Kamilah.

Penderitaan lahir dan batin yang dialami Kamilah akhirnya membawanya ke gerbang kematian. “Saat itu aku rasakan duniaku runtuh. Harapan dan khayalku tentang Kamilah yang indah telah sirna tanpa bekas. Mahligai hatiku yang menyimpan citra indah Kamilah telah remuk. Luluh lantak,” tutur Ali Anshar pedih.

Seyogyanya, ungkap Ali Anshar, dia sudah putus harapan dengan kehidupan di dunia ini. Namun, dorongan semangatnya sebagai keturunan Rasulallah Saw. yang mulia telah menumbuhkan kekuatan dahsyat untuk pantang menyerah dalam menghadapi tantangan hidup. “Berbulan-bulan kulalui dengan memohon barokah dan karomah dari Sayyid Hamzah bin Imam Mussa al-Kazim yang dimakamkan di Rey, dekan Tehran. Berbulan-bulan pula kulalui dengan memohon barokah dan karomah dari Sayyid Jalaluddin Asraf bin Imam Mussa al-Kazim yang dimakamkan di Astana Ashrafia di Gilan. Dan alhamdulillah, aku mendapatkan kekuatan baru.”

Selanjutnya, dia mengungkapkan perjalanan ruhaninya menziarahi makam Sayidina Husein di Karbala yang mendatangkan kekuatan batiniah baginya. Ali Anshar yakin bahwa para imam suci beserta seluruh keturunannya adalah pembimbing umat manusia dalam menafsirkan dan mengamalkan ajaran yang telah disampaikan oleh Rasulallah Saw. “Jikalau benar apa yang dikatakan uwak Tuan bahwa Tuan masih keturunan Rasulallah Saw. maka hendaknya Tuan sadari keberadaan yang mulia itu. Tuan hendaknya menjadikan Muhammad Saw. leluhur kita sebagai panutan. Beliau lelaki sejati yang pantang menyerah, meski harus kehilangan orang-orang tercinta termasuk kematian putera-putera kebanggaannya di usia dini. Beliau kuat. Perkasa. Tak goyah menghadapi gempuran dari segenap penjuru,” kata Ali Anshar menyemangati.

Entah akibat kepandaian Ali Anshar berbicara atau karena sedang dalam keadaan sedih dan butuh penguat jiwa, Abdul Jalil merasakan getar kebanggaan menguasai dadanya ketika ia menyadari di dalam dirinya mengalir darah Rasulallah Saw. dan para ulama dari golongan Alawiyyin. Hidup mereka selalu digempur oleh serbuan api bala’, namun mereka tidak pernah menyerah. Bahkan menjadikan mereka sebagai orang-orang mulia yang dekat dengan al-Khaliq. Dan getar kebanggaan yang memenuhi dadanya itu mendorong Abdul Jalil untuk melakukan ziarah ke makam Rasulallah Saw. sekaligus menunaikan ibadah haji.

Keputusan Abdul Jalil untuk berziarah ke makam Rasulallah Saw. pada musim haji mendatang disambut gembira oleh Ali Anshar. Sambil menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil, dia berkata, “Dengan berziarah ke makam Rasulallah Saw. berarti Tuan telah kembali kepada sumber Tuan yang sejati. Mudah-mudahan kita dapat berjumpa di sana pada musim haji mendatang,” ujarnya dengan mata berbinar-binar.

Keakraban Abdul Jalil dan Ali Anshar semakin erat. Hal itu terjadi bukan saja karena Ali Anshar memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai hal, melainkan yang tak kalah penting adalah karena sahabatnya, Ahmad at-Tawallud sedang pergi berlayar ke berbagai negeri mengurus perniagaannya. Abdul Jalil ditinggalkan sendirian di rumahnya yang megah di Baghdad. Ia hanya ditemani beberapa pelayan. Kesendirian di tengah semarak kota Baghdad itulah yang mendekatkan hubungan mereka.

Ali Anshar ternyata sangat pandai menjalin hubungan dengan orang, baik dalam hal kesantunan, keramahan maupun pembicaraan tentang agama, filsafat, sejarah, ketabiban, hingga politik kekuasaan. Kepada Abdul Jalil yang beberapa kali mengunjungi pemondokannya di tepi sungai Tigris, selalu disuguhkan makanan khas Persia: Chelow-kabab (nasi dengan daging panggang), Fessenjan (daging itik kuah dicampur kenari dan sari buah delima), Dolmeh (daging isi dibungkus daun anggur), Abgousht, Ash-e-Reshteh, dan Barbari. Selama menyantap suguhan, Ali Anshar bercerita ini dan itu tentang kehidupan di berbagai negeri terutama di Persia yang menurutnya sedang dikuasai oleh orang-orang zalim yang durhaka karena selalu menodai agama dan menipu rakyat.

Sebagai orang muda yang telah menyaksikan sekaligus mengalami sendiri berbagai sisi kehidupan yang penuh pahit dan getir, Abdul Jalil dengan apa adanya menceritakan perjalanannya dari awal hingga terdampar di Baghdad. Tanpa kecurigaan ia menuturkan bahwa kepergiannya hingga ke negeri dongeng itu adalah bagian dari pencariannya terhadap al-Khaliq. Itu sebabnya, ia sangat tidak tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan duniawi. “Telah jelas bagiku bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan selain Dia akan berakhir dengan kekecewaan dan penderitaan.

Mendengar pengakuan Abdul Jalil, Ali Anshar hanya mengangguk-angguk sambil mendecak kagum. Namun, kepandaian Ali Anshar memberikan alasan-alasan yang masuk akal terutama dorongan semangat, khususnya yang berkaitan dengan keberadaannya sebagai keturunan Rasulallah Saw., telah membuat Abdul Jalil mengerutkan kening untuk berpikir ulang.

“Tuan masih muda dan memiliki kecerdasan luar biasa,” Ali Anshar memuji. “Tuan ibarat buah masak sebelum waktunya. Namun, Tuan harus selalu ingat bahwa nenek moyang kita Muhammad Saw. adalah pejuang kemanusiaan yang agung yang rela berkorban apa saja demi tugas sucinya. Berbelas tahun beliau menyepi sendiri di gua Hira untuk mencari Kebenaran Sejati. Setelah beliau menemukan Kebenaran Sejati, terutama dalam peristiwa agung isra’ wa mi’raj, di mana beliau telah berhadapan langsung dengan Allah, ternyata tidak membuat beliau terputus dengan kehidupan duniawi. Beliau tidak menjadi pertapa yang mengasingkan diri. Beliau justru kembali ke kehidupan dunia dengan mengemban tugas suci dari-Nya; berjuang menegakkan kebenaran agama-Nya, memimpin umat ke jalan-Nya, menjadi teladan umat manusia, menjadi kepala keluarga, dan bahkan menjadi panglima tinggi perang bagi umatnya.”

Selain berkisah tentang Rasulallah Saw., dia juga menuturkan keteladanan para Alawiyyin keturunan Rasulallah Saw., baik dari galur Sayidina Hasan maupun dari Sayidina Husein. Tanpa kenal lelah, ungkap Ali Anshar, para Alawiyyin menyampaikan ajaran Rasulallah Saw. ke berbagai negeri. “Kekalahan para keturunan dan pengikut Sayidina Ali dari si iblis besar Mu’awiyah dan keturunannya, tidak menjadikan mereka patah semangat. Mereka seberangi lautan luas dan gurun yang ganas untuk menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang sedang berada di dalam kegelapan. Tak terhitung jumlah kaum Alawiyyin yang terbunuh di jalan Allah, namun mereka tak pernah surut langkah menegakkan agama Allah. Imam suci sebagai penerus kemuliaan Rasulallah Saw. mereka jadikan sumber ilham yang tak pernah kering bagi gelora semangat perjuangannya,” kata Ali Anshar.

Meski tidak semua pandangan Ali Anshar sesuai dengan jalan pikiran dan perasaannya, Abdul Jalil menangkap semacam kebenaran di balik kata-katanya, terutama jika dikaitkan dengan cerita Syaikh Datuk Ahmad, uwaknya, tentang perjuangan leluhurnya di dalam menyebarkan kebenaran Agama Allah di muka bumi. Diam-diam ia meneguhkan tekad akan mendarmabaktikan seluruh hidupnya di jalan yang telah dilampaui leluhurnya setelah menemukan Kebenaran Sejati. Dan tiba-tiba saja, gambaran tentang kegelapan yang masih menyelimuti orang-orang di negeri kelahirannya, berkelebat ganti-berganti memasuki benaknya.

Kala senja turun, usai orang-orang menunaikan shalat maghrib, Abdul Jalil berjalan melewati perkampungan kumuh di pinggiran Baghdad. Di antara reruntuhan tembok-tembok tua dan puing-puing, di atas tumpukan sampah dekat sebuah rumah yang atapnya ambruk, ia tanpa sengaja melihat laki-laki tua berjongkok mengais-ngais sampah seolah mencari sisa-sisa makanan. Pakaiannya kotor berbalut debu. Wajahnya dilihat sepintas bagai mengungkap derita. Pendek kata, laki-laki itu adalah gelandangan yang hidup dalam kehinaan dan kenistaan. Namun, tatapan mata laki-laki itu, yang menerawang jauh ke gugusan bintang-bintang di langit, menyiratkan ketenangan, kedamaian, dan kewibawaan.

Bagaikan terbimbing oleh tangan gaib, Abdul Jalil menghampirinya. Ia menangkap keanehan pada tubuh tua penuh debu itu. Dan sesaat kemudian, nur lawami’ dan fawa’id di kedalaman jiwanya tiba-tiba menangkap pancaran cahaya gilang-gemilang pada sosok yang hina dalam pandangan mata indriawi itu. Ia makin yakin bahwa laki-laki di atas tumpukan sampah itu bukanlah orang sembarangan. Setelah jarak mereka cukup dekat, ia mengucapkan salam dan laki-laki tua itu menjawabnya, namun dengan sikap tak peduli.

Merasa diabaikan, Abdul Jalil justru mendekat dan ikut berjongkok di depannya sambil mengulurkan tangan. Laki-laki tua itu masih dalam sikap acuh tak acuh mengulurkan tangan menyalami sambil menggumam, “Tidak hinakah seorang keturunan Rasulallah Saw menyalami fakir papa ini?”

“Tuan,” sahut Abdul Jalil hormat, “bagi saya semua manusia adalah sama, yaitu hamba Allah. Hanya pandangan mata indriawi dan peraturan yang dibuat manusia sajalah yang membeda-bedakan satu manusia dengan manusia yang lain. Bangsawan, mulia, agung, terhormat, berpangkat, kaya raya, maupun yang sudra, hina, nista, miskin, fakir, dan papa adalah sama di hadapan-Nya. Yang membedakan mereka hanyalah takwa. Dan ketakwaan tidak bisa dilihat hanya dari penampilan lahiriah semata. Dalam pandangan saya, Tuan adalah hamba-Nya yang mulia lagi terhormat, meski orang lain memandang Tuan sebagai orang hina.”

Laki-laki tua yang ternyata bernama ‘Ainul Barazikh itu tiba-tiba memegang bahu Abdul Jalil. Dia menatap mata Abdul Jalil dalam-dalam seolah hendak mengukur kekuatan jiwanya. Sesaat kemudian dia berkata, “Jika engkau teguh dan istiqamah berpegang pada ucapanmu itu dan engkau duduk laksana pengemis papa di hadirat-Nya maka Allah akan membukakan pintu-pintu ilmu dan menganugerahimu pengetahuan khusus dari-Nya, yaitu tentang rahasia dan pemahaman Ilahiah.”

“Saya akan berusaha istiqamah dan memohon kepada-Nya agar hati saya senantiasa dikosongkan dari sesuatu selain Dia,” kata Abdul Jalil takzim.

“Jika demikian,” sahut ‘Ainul Barazikh tenang, “tinggalkan orang-orang yang akan mempengaruhi jalanmu. Karena, sesungguhnya engkau akan diperankap oleh kebanggaan diri akan nasab yang bermuara ke samudera keakuanmu. Allah tidak pernah menetapkan sesuatu yang dikehendaki-Nya atas dasar nasab semata. Ingat kisah Nuh a.s. yang anaknya durhaka terhadap Allah. Ingat Ibrahim a.s. yang ayahandanya masuk ke dalam golongan orang-orang sesat.”

“Jika engkau setia di jalan-Nya maka engkau akan mendapati Ibrahim a.s. sebagai Bapak Tauhid yang berhasil memutus hubungan antara anak dan ayah (Ibrahim a.s. dan ayahnya, Terah) maupun hubungan antara ayah dan anak (Ibrahim a.s. dan Ismail a.s.) sehingga ia beroleh pencerahan menjadi sahabat Sang Kebenaran Sejati. Sesungguhnya, hubungan ayah dan anak adalah hubungan kemakhlukan yang bersifat nisbi yang berujung pada nafs yang satu (an-nafs al-wahidah), yakni hakikat Adam a.s. – citra sebentuk tanah yang di dalamnya tersembunyi rahasia ruh-Nya. Ibrahim a.s. telah menangkap rahasia paling rahasia Ilahiah dari kalimat: la ilaha illa Allah dan Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un.”

“Ketahuilah bahwa hubungan anak dan ayah, anak dan ibu, suami dan istri, serta laki-laki dan perempuan sesungguhnya adalah hubungan yang bersifat duniawi. Ingatlah, ketika Adam a.s. diciptakan di Jannah Darussalam tidak dibutuhkan ibu dan bapak. Ingat pula ketika Adam a.s. membelah diri saat kemunculan Hawa. Proses itu terjadi bukan di dunia. Karena itu, kebapakan Adam a.s. dan keibuan Hawa saat melahirkan putera-putera terjadinya di bumi. Dan jika engkau naik ke langit maka engkau akan mendapati bahwa di sana tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan, anak dan ayah, anak dan ibu, suami dan istri. Semua adalah universal; bulan, bintang, bumi, matahari, bintang, planet, malaikat.”

“Karena itu, o Anak Muda, jika engkau bertekad bulat untuk mendekati-Nya maka prasyarat mutlak yang wajib engkau penuhi adalah meniggalkan segala sesuatu yang bersifat keduniaan, termasuk kebanggaan terhadap nasab. Dan ketahuilah, o Anak Muda, saat Muhammad Saw. dijalankan oleh-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (isra’) lalu mi’raj ke Sidratul Muntaha, dia bukan lagi sebagai seorang laki-laki bumi. Muhammad Saw. saat itu adalah al-Haqq yang universal yang kembali ke Sumber Sejati. Itu sebabnya, sangat jahil orang yang menggambarkan buraq sebagai hewan tunggangan berkelamin perempuan. Buraq adalah makhluk universal. Tidak jantan dan tidak betina. Dan hanya pikiran keduniaan manusia sajalah yang mengkhayalkan segala sesuatu yang universal identik dengan kebumian yang parsial.”

“Saya paham, Tuan,” sahut Abdul Jalil takzim.

“Karena itu, hatimu harus hancur dari segala hal duniawi jika engkau menghendaki keakraban dengan-Nya,” kata ‘Ainul Barazikh, yang tiba-tiba saja berdiri kemudian membalikkan badan.

Abdul Jalil termangu-mangu menatap kepergian ‘Ainul Barazikh hingga tubuhnya lenyap ditutupi kegelapan malam. Diam-diam ia bersyukur telah diberi anugerah oleh Allah berupa sepercik pengetahuan untuk melihat makna hakiki manusia dengan pandangan mata batin. Pancaran nur lawami’ dan pemahaman fawa’id di kedalaman samudera kesadarannya telah dapat menyaksikan citra agung seorang kekasih Allah yang memancarkan cahaya gilang-gemilang dari seorang gelandangan seperti ‘Ainul Barazikh. Padahal, orang-orang terhormat dan dipuja-puja, seperti Syaikh Abu Syarr azh-Zhulmi, justru membiaskan citra seekor hewan. Ah, pikir Abdul Jalil, betapa menakjubkan Allah yang menebarkan tirai rahasia untuk menghijab kekasih-Nya dari pengetahuan duniawi.

Ako anchorage (Japan), February 25th 2007

11. Baitul Haram

Haji – ibadah yang diwajibkan bagi setiap muslim yang dewasa, berakal sehat, dan mampu melaksanakannya – bukanlah sekadar memakai pakaian ihram, tawaf mengitari Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa, wukuf di Arafah, singgah di Muzdalifah dan Masy’ar al-Haram, dan melempar jumrah di Mina secara badani. Haji yang hakiki adalah peribadatan yang membawa seorang salik mendaki maqam jasadiyyah ke maqam ruhaniyyah; menapaki kembali jejak-jejak Adam a.s. mulai saat menjadi hamba-Nya yang terhukum hingga ke asal penciptaannya yang mulia dan terhormat di antara semua hamba-Nya, yakni Adam a.s. yang kepadanya seluruh malaikat bersujud dan yang dibanggakan Rabb-nya karena mengetahui nama-nama serta bisa berwawansabda dengan al-Khaliq.

Bagi salik yang berhasrat mendaki maqam ruhaniyyah, syarat utama ibadah haji adalah melepas segala ingatan dan pamrih tentang kehidupan duniawi dan ukhrawi sekaligus. Satu-satunya ingatan hanya kepada-Nya. Karena bagi salik, Haji adalah ‘ibadah, yakni wahana yang menghubungkan abid dan Ma’bud. Dan lantaran itu, keberadaan salik sebagai abid yang menggunakan wahana ibadah untuk menujukan kiblat hati dan pikiran hanya kepada Ma’bud hendaknya lurus dan bersih serta suci dari segala sesuatu yang bukan Ma’bud. Bid’ah adalah tambahan-tambahan di dalam ibadah yang membawa abid memalingkan kiblat dari Ma’bud.

Menjelang musim haji, Abdul Jalil yang sudah menyiapkan kebersihan jiwanya untuk memasuki maqam ruhaniyyah, berangkat ke tanah suci dengan melewati samudera. Hasrat dan keinginan hatinya untuk melakukan ziarah ke makam para leluhurnya, yakni Imam Husein di Karbala, Imam Ali di Najaf, Imam Ja’far Shadiq, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin di Baqi’, dan terutama makam Rasulullah Saw. di samping Masjid Nabawi, diurungkannya. Uraian Ainul Barazikh tentang hakikat Tauhid telah meruntuhkan semua dorongan hatinya untuk menapaki kemuliaan dan keluhuran para leluhurnya dengan tujuan mengangkat keberadaan dirinya. Soal ibadah, menurut hematnya, adalah soal pengkiblatan antara abid dengan Ma’bud. Karena itu, tidak sekali-kali abid diperbolehkan menggunakan atribut-atribut di dalam mengarahkan kiblatnya kepada Ma’bud.

Dengan melakukan perjalanan melintasi samudera, ia mendapati kenyataan bahwa di tengah samudera yang biru tidak terdapat sesuatu yang mengusik batin manusia. Hamparan samudera sepanjang waktu tampaknya hanya menyuguhkan ombak yang bergulung-gulung dan ikan yang beriringan melompat-lompat serta kadang kala gelombang yang mengamuk; sebuah pemandangan yang sangat menjemukan. Namun, di tengah samudera itu pulalah hasrat dan dorongan ke arah duniawi dapat sangat kuat menerkam pikiran dan perasaan manusia. Namun, bagi salik seperti Abdul Jalil yang benar-benar telah berjuang keras melepas segala sesuatu selain Dia, perjalanan melintasi samudera justru menjadi sebuah kemestian ibadah yang sangat didambakan. Karena jiwanya yang sudah menapaki maqam ruhaniyyah itu ibarat hamparan samudera yang bersih dari hiruk pikuk duniawi.

Sekalipun ia sudah dinyalakan api tekad untuk tidak menghiraukan segala sesuatu selain Dia, pada kenyataannya ia tidak mempu menghindar dari kehidupan duniawi sehari-hari. Selama di atas kapal, misalnya, meski sudah diusahakan untuk lebih banyak melakukan amaliah ibadah, tak urung ia sempat pula mengenal beberapa penumpang dan awak kapal. Salah seorang penumpang yang dikenalnya saat kapal akan berangkat di pelabuhan Basrah, yang kemudian menjadi kawan berbicara selama di perjalanan, adalah laki-laki peranakan Arab-Persia bernama Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi. Pemuda tiga puluh tahunan asal Pasai.

Perkenalannya dengan Husein dijembatani oleh Ahmad at-Tawallud yang ikut mengantar sampai ke atas kapal beberapa saat sebelum berangkat. Husein adalah putera Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi – Mullah yang sangat dihormati di negeri Pasai – kawan karib ayahanda Ahmad at-Tawallud.

Husein adalah salik yang sedang meniti bahtera menuju ke Pelabuhan Sejati. Itu sebabnya, Ahmad at-Tawallud mengungkapkan, dalam perjalanan menuju ke tanah suci seyogyanya mereka berdua banyak melakukan tukar pengalaman dan pendapat. “Jalan yang dia tempuh dengan jalan yang Tuan tempuh sangat berlainan, meski arahnya sama, yakni menuju ke Pelabuhan Sejati,” bisiknya perlahan ke dekat telinga Abdul Jalil.

Sesuai pesan Ahmad at-Tawallud, sepanjang perjalanan Abdul Jalil berusaha menggunakan waktu luangnya untuk berbincang-bincang dengan Husein. Dalam perbincangan itulah, Husein menuturkan beberapa kerabatnya tinggal dan menjadi penyebar Islam di sana. “Bahkan saudara kakek buyut saya, Sayyid Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi, menjadi pejabat tinggi di Majapahit. Kakek saya, Abdul Qadir al-Abbasi, menceritakan bahwa adik dari kakeknya itu menggunakan nama Jawa – setelah diambil menantu oleh Raja Muda Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura – Arya Teja. Beliau menjadi Syahbandar di pelabuhan Tuban.”

Selanjutnya, dia menuturkan bahwa penyebaran Islam di Jawa yang dilakukan oleh para saudagar dan guru-guru agama yang berasal dari Pasai menggunakan jaringan keluarga al-Abbasi yang menjadi Syahbandar pelabuhan Tuban. Jaringan keluarga al-Abbasi makin kuat manakala salah seorang keturunan Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi yang bernama Abdullah Shidiq menikahi puteri Adipati Tuban dan kemudian dia menggantikan kedudukan mertuanya. Dengan demikian, keluarga al-Abbasi menduduki dua jabatan penting, yaitu syahbandar dan adipati. “Berita terakhir yang saya terima, Abdullah Shidiq menggunakan nama Jawa, yaitu Tumenggung Wilwatikta.”

Berdasar uraian Husein itulah Abdul Jalil mengetahui bahwa pengaruh Alawiyyin khususnya yang berasal dari Persia sangat kuat. Di Pasai menurut Husein, paham yang kuat dianut masyarakat adalah Syiah. Bahkan ibundanya adalah wanita peranakan Persia, puteri Hujjatul Islam Hasan Khair bin al-Amir Ali Astrabadi. “Jadi, kakek saya dari pihak ibu adalah ulama besar asal Persia.”

Abdul Jalil merasa lega mendengar berbagai uraian tentang gerakan dakwah Islam di Jawa yang dilakukan oleh para ulama asal Pasai. Sebab, menurut pikirannya, gerakan dakwah yang dilakukan oleh para saudagar dan guru agama asal Pasai melalui jaringan keluarga al-Abbasi tentu akan membawa hasil yang baik, yakni membangkitkan kesadaran orang-orang yang masih terjebak dalam paganisme dan penindasan atas hak-hak hidup manusia. Sejauh ini, menurut pengalamannya di Caruban, keberadaan Padepokan Giri Amparan Jati yang diasuh Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi belum cukup berarti mempengaruhi kesadaran manusia di daerah Galuh dan Pajajaran. Sementara kekuasaan yang mulai dibangun di daerah Bintara lebih tertumpu pada upaya-upaya penegakan kekuasaan duniawi ketimbang menyadarkan masyarakat dari ketertindasan dan keterbelakangan.

Dalam perbincangan dengan Husein, Abdul Jalil mengungkapkan betapa berat medan dakwah di Jawa karena masyarakat sudah terperangkap ke dalam kerangka berpikir yang beku dan mandeg. Masyarakat, menurut Abdul Jalil, selalu dijadikan permainan oleh para elit untuk kepentingan mereka. Baik penguasa maupun ruhaniwan selalu memanfaatkan dan bahkan cenderung mengorbankan masyarakat untuk kepentingan pribadi mereka. “Hanya aroma keharuman Islam sebagai rahmatan lil alamin sajalah yang bisa membebaskan orang-orang dari penindasan atas sesamanya. Karena, di dalam Islam tidak dikenal golongan-golongan manusia berdasar nasab. Tidak ada sudra tidak ada paria. Semua sama di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah ketakwaan.” Ujar Abdul Jalil.

Sekalipun mereka sama sepakat bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, soal tidak adanya perbedaan golongan di antara manusia ternyata keduanya tidak sepaham. Husein tegas-tegas menolak pandangan Abdul Jalil. Menurutnya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memahami dan mengamalkan agama. Itu sebabnya, masyarakat awam hendaknya taqlid kepada para ulama yang memiliki otoritas di bidangnya. “Para ulama pun tidak boleh semau-maunya menyampaikan ajarannya tanpa memiliki rujukan dari imam yang maksum. Jadi, menurut saya, jikalau semua orang diberi hak yang sama di dalam memahami agama maka yang terjadi adalah kekacauan, yang berujung ke terciptanya kerusuhan besar. Karena, masing-masing akan mengaku paling benar sendiri.”

Sebenarnya, ingin sekali Abdul Jalil mendebat pandangan Husein yang menurutnya tidak sesuai dengan kenyataan sejarah lahirnya Islam yang awal. Menurut pandangan Abdul Jalil, Islam yang diajarka Rasulullah Saw. adalah untuk siapa saja, termasuk budak-budak. Rasulullah Saw. tidak akan mengajarkan Islam yang berbeda antara yang disampaikan kepada Bilal bin Rabah, sang budak, dan yang disampaikan kepada Utsman ibn Affan, sang saudagar kaya raya. Namun, segala keinginan untuk berdebat itu dihalaunya jauh-jauh, dengan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu harus diperdebatkan. Kebenaran akan mewujudkan dirinya sendiri sebagaimana bunga mawar yang harumnya menebar sendiri tanpa perlu diberitakan bahwa mawar adalah bunga yang berbau harum.

Manusia tidaklah memiliki kehendak kecuali apa-apa yang dikehendaki Allah, Rabb alam semesta (QS atTakwir: 29). Dalil ini diyakini benar oleh Abdul Jalil yang sudah mengalami pahit dan getir mengarungi samudera pencarian Kebenaran Sejati. Dan kebenaran dari dalil ini dialaminya untuk kali kesekian saat, tanpa pernah dibayangkan dan diimpikan, tiba-tiba ia bertemu dengan Syaikh Bayanullah, putera uwaknya, Syaikh Datuk Ahmad.

Kisah pertemuan dua saudara sepupu itu bermula dari ketidaksengajaan ketika Abdul Jalil dan Husein mengadakan perjalanan dari bandar pelabuhan Jedah ke Makah. Saat kabilah mereka beristirahat di wadi Fatimah, tiba-tiba melintas kabilah lain yang juga bertujuan ke kota yang sama. Salah satu unta yang ditunggangi lelaki tua terjerembab karena kaki depannya yang kanan terperosok ke lubang. Dalam waktu beruntun, unta pembawa beban yang berada di belakang hewan malang itu ikut terjerembab tersandung tubuh teman di depannya. Kedua kaki unta pembawa beban itu pun terkilir. Menghadapi musibah tak terduga itu, kabilah tersebut terpaksa berhenti di dekat kabilah yang membawa Abdul Jalil dan Husein.

Saat itulah ia berkenalan dengan salah seorang dari mereka , yang ternyata Syaikh Bayanullah. Ia tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Di negeri yang jauh pun ia masih dipertemukan oleh Allah dengan sanak kerabatnya. Dengan demikian, ia telah menyambung kembali tali silaturahmi di antara puak-puak keluarganya yang berserakan di berbagai belahan dunia.

Keakraban pun cepat terbangun, terutama karena Syaikh Bayanullah yang lama tinggal di Makah ternyata orang yang sangat ramah dan terbuka. Dia menuturkan bagaimana liku-liku perjalanan hidupnya sejak menuntut ilmu ke Pasai hingga berziarah ke makam leluhurnya di Gujarat yang berlanjut ke Hadramaut dan Makah. “Apa yang telah aku alami ini adalah akibat kaluarga kita yang terus menerus diwaspadai penguasa. Aku dan saudaraku, si Kahfi, tidak akan meninggalkan Malaka jika keadaannya baik bagi keluarga kita. Tapi, aku pikir, ini semua adalah kehendak-Nya sehingga dengan itu kita semua bisa bertebaran ke muka bumi untuk mendakwahkan agama-Nya.”

Berdasar penuturan Syaikh Bayanullah, Abdul Jalil mengetahui bahwa para Alawiyyin yang menjadi sanak kerabatnya adalah pejuang-pajuang agama yang tersebar ke berbagai belahan dunia. Umumnya mereka sangat berhasil dengan gerakan dakwahnya. Hanya karena sulitnya hubunganlah yang mengakibatkan masing-masing sanak kerabat tidak bisa berkomunikasi dan mengikat tali silaturahmi lebih erat.

“Bahkan salah seorang tetangga aku di Malaka, Maulana Ishak, tiada lain adalah putera Syaikh Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandy. Padahal, Syaikh Ibrahim adalah putera Syaikh Jamaluddin Husein, saudara tua Syaikh Datuk Isa, kakek kita. Hal itu baru aku ketahui ketika ia menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam. Padahal, selama ini aku hanya mengenalnya sebagai tetangga asal Pasai yang pernah bermukim di Jawa. Ya, siapa yang mengira kehendak Allah menentukan seperti itu. Kita tidak mengetahui sesuatu jika tidak dikehendaki-Nya,” ujar Syaikh Bayanullah.

Selain menuturkan hal Maulana Ishak, Syaikh Bayanullah juga menuturkan saudara lain ibu dari Maulana Ishak, yakni Ali Rahmat dan Ali Murtadho. Kedua orang tersebut telah menjadi orang-orang terkemuka di Jawa. Ali Rahmat menjadi guru agung di negeri Ampel Denta. Ali Murtadho menjadi guru agung di negeri Tandhes (Gresik). Putera Maulana Ishak yang bernama ‘Ainul Yaqin telah menjadi penguasa di Giri. Bahkan ‘Ainul Yaqin bersama Mahdum Ibrahim, putera Ali Rahmat, pernah tinggal di Malaka setahun. “Aku kira, Maulana Ishak khawatir berdekatan dengan keluarga aku yang diawasi penguasa terus-menerus sehingga ia juga tidak tahu jika sebenarnya kami masih sesaudara.”

Silsilah leluhur Abdul Jalil hingga kakek

Silsilah hingga diri Abdul Jalil

Silsilah Raden Ali Rahmatullah (susuhunan Ampel 1), sepupu Abdul Jalil

Berdasar kisah Syaikh Bayanullah, Abdul Jalil mengetahui bahwa salah seorang leluhurnya yang bernama Syaikh Sayyid Abdul Malik adalah seorang Alawiyyin asal Hadramaut yang hijrah ke negeri Gujarat, tepatnya di Ahmadabad, dan bukan di Surat seperti pernah dikisahkan uwaknya, Syaikh Datuk Ahmad. Syaikh Sayyid Abdul Malik lahir di Qozam, dekat Tarim, di Hadramaut. Itu sebabnya, kakek buyut dari Syaikh Sayyid Abdul Malik bernama Sayyid Ali Khaliq al-Qozam.

Putera Syaikh Sayyid Abdul Malik yang bernama Syaikh Sayyid Amir Abdullah Khanuddin adalah mursyid Tarekat Syathariyyah yang sangat dihormati di Gujarat. Sampai kini pengikut Tarekat Syathariyyah masih sangat besar. Syaikh Sayyid Amir Abdullah Khanuddin mempunyai putera bernama Syaikh Sayyid Amir Ahmadsyah Jalaluddin. Beliau merupakan mursyid Tarekat Syathariyyah yang masyhur dan sering dimintai pendapat dan fatwa oleh raja-raja dari dinasti Bigarah dan dinasti Chand. Syaikh Sayyid sebelum menjadi mursyid tarekat menggantikan ayahandanya, diangkat oleh raja menjadi amir di Surat. “Beliau itulah kakek buyut kita. Dan lantaran itu, saat di Gujarat aku berbaiat Tarekat Syathariyyah,” ujar Syaikh Bayanullah.

Mendengar penuturan Syaikh Bayanullah tentang perjuangan sanak kerabatnya di dalam menyebarkan agama Allah, Abdul Jalil merasakan pancaran kebanggaan menyesaki dadanya. Namun, buru-buru ia mengalihkan kilasan-kilasan pikirannya dengan memperteguh keyakinan bahwa ia tidak boleh membanggakan sesuatu bahkan berpikir sesuatu selain Allah. Itu sebabnya, ia lebih banyak menjadi pendengar setia dari kisah-kisah kebesaran sanak kerabat yang dikemukakan kakak sepupunya itu. Abdul Jalil berteguh hati, bahwa di Haramain ini ia adalah ‘abid yang sedang menjalankan amaliah ‘ibadah untuk mengarahkan kiblat kepada Ma’bud.

Ketika malam telah menghiasi permukaan bumi dengan cahaya bintang-gemintang, usai menunaikan shalat sunnah, Abdul Jalil berdiri penuh takjub menatap Ka’bah yang tegak kokoh memancarkan daya gaib, yang mampu mengisap kesadaran manusia ke arah leburnya kebesaran diri. Ia merasakan ketidakberdayaan merayapi perasaannya. Ini adalah kali pertama ia melihat Ka’bah. Baitullah. Rumah Allah. Selama menatap Ka’bah penuh ketakjuban, berangsur-angsur hatinya merasakan daya pukau yang kuat yang menuntun kesadaran untuk mengakui keberadaan dirinya sebagai makhluk yang dha’if.

Hingar-bingar beribu-ribu orang yang melakukan tawaf, mengitari Ka’bah sambil mengagungkan asma Allah, membangkitkan rasa aneh yang sulit digambarkan. Itu sebabnya, ia sengaja membiarkan daya pukau itu mempengaruhi dirinya. Ia membiarkan hatinya terbuka. Ia yakinkan diri bahwa sebenarnya ia tidak memiliki kehendak. Yang berkehendak adalah Allah. Dan setelah beberapa jenak terpukau dalam ketakjuban, secara berangsur-angsur ia merasakan betapa hatinya terisap oleh semacam kekuatan gaib sehingga tanpa dipikir lagi kakinya tiba-tiba melangkah ke depan. Tanpa bisa dikendalikan ia berjalan cepat masuk ke dalam lingkaran jama’ah tawaf.

Selama tawaf ia tidak mampu memanjatkan satu kalimat doa pun. Sambil mengagungkan kebesaran Allah dengan suara tersendat-sendat, ia merasakan pandangannya kabur tertutup genangan air mata. Ia merasakan keakuannya larut ke dalam keakuan jama’ah tawaf. Ia bagai setitik air yang hanyut ke arus sungai. Namun, selintas bagaikan kilat, nur lawami dan pemahaman fawa’id-nya mengungkapkan kaitan rahasia di balik tangisan orang-orang yang tawaf dengan keberadaan “Ibu Segala Kota”, Makah, yang di masa lampau bernama Baka, dalam bahasa Arab berarti menangis.

Dengan membiarkan keakuannya hanyut di tengah gerakan jama’ah tawaf, ia tidak mendapati apa-apa dari kiblat-Nya kecuali keagungan-Nya. Berbeda dengan jama’ah lain yang berdoa agar beroleh keselamatan di dunia dan akhirat, ditumpahi rezeki berlimpah ruah, dikuatkan iman, diangkat derajatnya; ia hanya mengagungkan Asma Allah. Ia tidak peduli dengan rezeki duniawi, surga, neraka, derajat, iman, dan berbagai hal yang dibutuhkan manusia. Kiblat hatinya hanya Allah. Itu berarti pamrih pribadinya tidak ada. Semua adalah milik Allah. Lantaran itu, semua harus dikembalikan kepada-Nya.

Selama tawaf, ia merasakan tubuhnya bagai digerakkan oleh kekuatan gaib yang benar-benar di luar kendalinya. Itu sebabnya, dengan rasa takjub tak terhingga, ia rasakan tubuhnya terdorong dan terhimpit ke satu arah, yakni ke sudut Hajar Aswad. Kemudian , bagaikan bermimpi tiba-tiba di hadapannya sudah terpampang batu hitam yang dijadikan rebutan bagi mereka yang ingin menciumnya. Abdul Jalil tercenung takjub. Sesaat kemudian, ia merasakan bagian belakang kepalanya disentuh oleh tangan yang mendorongnya ke arah depan sehingga wajahnya mencium Hajar Aswad.

Beberapa detik menyentuhkan wajah ke Hajar Aswad dengan mata terpejam, ia menyaksikan pemandangan menakjubkan dari nuur yang memancar di antara kedua matanya. Ia bagai melihat alam semesta tergelar di hadapannya. Kemudian nur lawami dan pemahaman fawa’id-nya mengungkapkan bahwa Hajar Aswad itulah batu yakud yang berasal dari surga, yang ajaib yang mampu mencatat dan merekam siapa saja yang pernah melintasi di hadapannya. Karena itu, Rasulullah Saw. mencontohkan untuk menciumnya atau melambaikan tangan jika tidak mampu.

Tiba-tiba saja Abdul Jalil merasa pakaian ihramnya ditarik oleh tangan-tangan yang kuat. Dengan sentakan keras, tubuhnya terpental ke belakang. Ia termangu heran ketika menyadari dirinya sudah berada jauh dari kerumunan orang di Hajar Aswad. Namun, ia tak memberi kesempatan bagi pikirannya untuk mempertanyakan ini dan itu. Ia langsung bertakbir dan melakukan shalat sunnah di dekat maqam Ibrahim.

Usai shalat sunnah, ia melakukan sa’i. Bagai setetes air, ia mengikuti arus jama’ah laksana aliran sungai. Ia biarkan keakuannya terseret arus keakuan jama’ah. Ketika sedang tenggelam di dalam pusaran arus jama’ah sa’i yang hingar-bingar, tiba-tiba pandangan matanya tertumbuk ke arah salah seorang jama’ah yang sedang melakukan doa di atas bukit Marwa. Karena hitungan sa’inya sudah selesai dan berjarak hanya beberapa langkah maka ia dapat mengamati orang itu dengan lebih cermat.

Bagai mengetahui dirinya diamati, seketika orang yang menarik perhatian Abdul Jalil itu menghindar di antara kerumunan jama’ah yang berdoa di atas bukit Marwa. Keanehan terjadi. Saat ia melangkah, jama’ah yang berkerumun itu mendadak menyibak bagaikan memberi jalan. Abdul Jalil makin tertarik. Diam-diam ia mengikuti kemana orang itu pergi. Dan keanehan di bukit Marwa lagi-lagi terulang. Setiap orang itu melangkah selalu ditandai dengan menyibaknya jama’ah.

Ketika berada di dekat maqam Ibrahim, orang itu shalat. Abdul Jalil yang penasaran segera mendekat. Dalam jarak sekitar sepuluh langkah, ia mendapati orang yang sedang shalat itu ternyata pemuda yang sangat aneh di dalam pandangannya. Pemuda itu, menurut pandangan mata indriawinya, memang sedang melakukan gerakan-gerakan shalat. Namun, dengan pandangan nur lawami, pemuda itu adalah yang menyembah sekaligus Yang Disembah. Aneh sekali. Usai shalat pemuda itu melakukan doa. Namun, seiring doanya dia seolah-olah juga mengabulkan doa. Dia tidak hidup juga tidak mati. Dia bergerak namun juga diam. Dia diliputi, namun juga meliputi. Dia bagai bayi, namun juga bagai lelaki dewasa. Dia memancarkan kemuliaan, namun juga mengisap kemuliaan. Dia dinaungi, namun juga menaungi. Keagungan berada di dalam dan di luar dirinya. Pemuda itu benar-benar rumit, tetapi sederhana.

Peristiwa menakjubkan itu mendadak melanda kesadarannya seiring dengan keterisapan dirinya oleh keberadaan pemuda aneh yang misterius itu. Bagaikan persawahan digenangi air bah, demikianlah kesadaran Abdul Jalil tenggelam dilanda kesadaran luas tanpa batas. Dan bagaikan tirai hijab disingkapkan, ia tiba-tiba melihat dan mengetahui bahwa pemuda itu derajat ruhaniahnya berada di luar batasan maqam (tempat) dan zaman (waktu). Pemuda itu yang diliputi sekaligus yang meliputi.

Seluruh perhatiannya terisap ke dalam pusaran pesona yang memancar dari pemuda itu. Begitu dahsyatnya sehingga ia tidak lagi melihat sesuatu di sekitarnya kecuali pemuda aneh itu. Ka’bah dan seluruh jama’ah tawaf seperti terhapus dari perhatiannya. Ia hanya menyaksikan pemuda itu dengan ketakjuban tak bertepi.

Bagai digerakkan oleh kekuatan dahsyat, ia beringsut mendekat. Kemudian diciumnya tangan pemuda itu sambil berkata dengan suara gemetar, “O Tuan, tunjukkanlah kepada saya, jalan mana yang harus saya tempuh dan dengan cara bagaimana saya bisa sampai kepada-Nya.”

Pemuda aneh itu tidak berkata sesuatu. Sebaliknya, dengan isyarat (berbicara melalui bahasa perlambang) dan al-ima’ (berbicara tanpa bahasa lisan dan tanpa bahasa perlambang) dia mengungkapkan bahwa jalan pengetahuan menuju-Nya tidak dapat diungkapkan melalui bahasa manusia yang paling fasih sekalipun. Itu sebabnya, ada “jalan” (sabil) dan “cara” (thariq) yang bisa membawa kepada-Nya.

Mula-mula, dia menggambarkan dengan jelas rahasia keberadaan manusia (basyar) sebagai ciptaan (khalq) dengan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta (Khaliq) dalam hubungan misterius antara ‘abid dan Ma’bud; antara makhluq dan Khaliq, antara ‘alam, ‘alim, ‘ilmu yang melekat pada makhluq dan al-‘Alim dan al-‘Ilmu yang melekat pada al-Khaliq; antara shurah ar-Rahman dan ar-Rahman; antara sama’, bashar, ‘adl, rahman, rahim yang menyifati khalifatullah fil ardhi dan Nama-Nama-Nya Yang Agung, seperti as-Sami’, al-Bashir, ar-Rahman, ar-Rahim, al’Adl. Kemudian, dia menjelaskan pula kaitan rahasia makna hubungan di atas sebagai “jalan lurus” (sabil huda) menuju-Nya.

Masih dengan isyarat, dia kemudian menjelaskan keberadaan manusia sebagai perwujudan ‘alam ash-shaghir (mikrokosmos) sebagai bagian dari ‘alam al-mulk (makrokosmos); dan keduanya merupakan bagian dari ‘alam al-khalq (alam ciptaan yang kasatmata). Pemuda itu mengungkapkan pula hubungan manusia dengan ‘alam al-ghaib (alam gaib) dan ghaib ‘alam al-ghaib (gaibnya alam gaib). Bahkan hubungan manusia dengan ‘alam al-‘izzah (alam kekuasaan agung).

Kemudian dia mengungkapkan tentang keberadaan Ka’bah di Makah dalam kaitannya dengan keberadaan Ka’bah di dalam diri manusia. Hati (qalb) manusia adalah Baitullah atau Ka’bah. Hati manusia bisa memuat Allah jika disiapkan untuk menyambut kedatangan-Nya, dengan cara dibersihkan dan disucikan dari sesuatu selain Dia. Karena, di dalam hati manusia terdapat citra samawi Ka’bah. Citra samawi Ka’bah di dalam hati manusia penuh dengan sifat-sifat Ilahi. Berbagai hakikat ruhaniah manusia mengelilingi hati tersebut, bagaikan orang-orang beriman mengelilingi Ka’bah.

Citra samawi Ka’bah di dalam hati manusia – tempat hakikat ruhaniah mengitari hati – itu disebut bait al-ma’mur. Jika bait al-ma’mur telah bersih dari segala sesuatu selain Allah, yakni hati manusia-manusia yang telah mencapai-Nya, maka hati itu akan menjadi Baitul Haram, yakni Rumah Suci yang hanya memuat Allah saja. Itulah hati al-Insan al-Kamil.

Masih melalui isyarat, dia memerintahkan agar Abdul Jalil mengamati keberadaan dirinya sendiri, baik dalam bentuk dan susunan tubuh jasmani maupun dalam susunan dan kecenderungan sifat dan naluri ruhani. Itulah rahasia manusia yang dicipta dengan sempurna menurut citra Ilahi (shurah ar-Rahman), yang setelah sempurna wujudnya ditiupkan (nafakhtu) ruh-Nya. Dan Allah menempatkan “Sinar Cahaya” (nuur) di antara kedua mata (baina ‘aina) manusia ciptaan-Nya yang sempurna itu.

Di dalam diri manusia itulah, tersembunyi Ruh al-Haqq (ruh-Nya yang ditiupkan saat penciptaan manusia). Ruh al-Haqq itu bersemayam di dalam Baitul Haram yang memuat hakikat tahta ‘arsy di dalam hati manusia. Ketersembunyian Ruh al-Haqq ditabiri oleh ghain yang menghijab kesadaran manusia. Setiap manusia, termasuk nabi dan rasul, hatinya tertabiri oleh ghain. Sedang orang-orang kafir, hatinya ditabiri ghain dan rain.

Pada orang-orang beriman, Ruh al-Haqq hanya bisa terbebas dari “belenggu” keakuan jika ghain disingkap oleh maghfirah-Nya. Itu sebabnya, para nabi dan rasul senantiasa beristighfar. Rasulallah Saw. dalam sehari beristighfar sedikitnya tujuh puluh kali. Dari istighfar muncul maghfirah. Maghfirah muncul dari al-Ghaffar (Maha Pengampun). Al-Ghaffar berasal dari Ghaffara (Yang Menutupi, Yang Mengerudungi, Yang Menyelubungi, Yang Menghijab). Demikianlah, istighfar bagi para nabi, rasul, serta orang-orang beriman yang mengikuti “jalan” dan “cara” bukanlah permohonan ampunan (karena nabi dan rasul adalah maksum, yakni suci dari dosa), melainkan memohon maghfirah dalam arti tersingkapnya tabir ghain yang menyelubungi (ghafara) Ruh al-Haqq di dalam hatinya.

Sementara itu, tabir rain yang menyelubungi hati orang-orang kafir hanya bisa disingkap oleh hidayah-Nya (petunjuk-Nya). Manusia akan tetap terhijab dari penciptanya jika tabir ghain dan rain tidak tersingkap. Karena, Ruh al-Haqq yang bersemayam di dalam Baitul Haram yang memuat hakikat ‘arsy di dalam hatinya tetap tertutupi tabir. Dan kebebasan sempurna Ruh al-Haqq dari “belenggu” keakuan baru bisa dicapai jika al-barzakh al-a’la (barzakh tertinggi) dari nafs ar-Rahman (Napas Yang Maha Pengasih), yang merupakan pengejawantahan al-haqq al-makhluq bihi, telah tersingkap secara paripurna.

Setelah mengungkap rahasia “jalan lurus”, pemuda itu dengan melalui al-ima’ mengungkapkan “cara” bagaimana Ruh al-Haqq yang bersemayam di tahta ‘arsy di dalam Baitul Haram yang tersembunyi di hati manusia menjalin hubungan dengan Dia (Huwa), Yang Meniupkan ruh-Nya (nafakthu), melalui nafs ar-Rahman. Melalui “cara” itulah akan tersingkap rahasia keberadaan al-Haqq (Yang Riil) yang menjadi esensi sekaligus substansi Ruh al-Haqq. Jalinan antara al-Haqq dan Huwa (Dia Yang Mutlak Tak Terbatas) itulah hakikat sejati dari fana’ fi tauhid: Yang Riil Yang Beragam (farq) manunggal dengan Yang Satu (Jam’).

Setelah dengan jelas menunjukkan “jalan” dan “cara” untuk menuju-Nya, pemuda asing aneh itu berkata-kata kepada Abdul Jalil dengan suara yang begitu agung, namun penuh rahasia dan makna. “Itulah hakikat Tauhid yang diajarkan Rasulallah Saw kepada sahabat terkasihnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, ketika berada di dalam gua di gunung Thur yang ada di Makah.”

“O Tuan,” seru Abdul Jalil tercekat ketika melihat pemuda asing yang aneh itu berdiri, “Tidakkah Tuan berkenan menyebutkan nama Tuan?”

“Jika engkau menjalankan “jalan” dan “cara” yang telah kujelaskan tadi maka engkau telah mengenal sahabat terkasih Muhammad Saw. karena, apa yang telah kujelaskan dengan isyarat dan al-ima’ itu adalah apa yang telah diperoleh Abu Bakar ash-Shiddiq dari Rasulallah Saw.,” ujarnya sambil berlalu, menghilang di antara pusaran jama’ah tawaf.

Abdul Jalil termangu bingung dan takjub dengan pengalaman yang aneh yang baru pertama kali dialaminya itu. Sesaat kemudian, nur lawami’ dan pemahaman fawa’id-nya mengungkapkan bahwa pemuda asing yang menakjubkan itu adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terkasih Rasulallah Saw.. Namun, lintasan nalarnya menolak kemungkinan yang tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin Abu Bakar ash-Shiddiq yang wafat delapan ratus tahun silam bisa muncul dalam wujud pemuda misterius? Mungkinkah pemuda itu pewaris ajaran Abu Bakar ash-Shiddiq yang disampaikan melalui al-ima’ dan al-isyarat dari waktu ke waktu? Dan apa makna ungkapan tentang gunung Thur di Makah itu memiliki kaitan makna dengan gunung Thur di Sinai, yakni tempat Musa a.s. menghadap ke hadirat Ilahi dalam wujud api yang tak terbakar?

Ako Anchorage (Japan), February 25th 2007