Nafs al Haqq

Ketika malam menghiasi kubah langit dengan gemerlap bintang-gemintang, muncul sosok gemilang berpakaian serba putih di garis cakrawala dan melayang-layang di antara alam al-khalq (alam kasatmata) dengan alam alam al-khayal (alam imajinasi). Keagungan dan kemuliaan sosok itu bagai rembulan muncul di tengah kegelapan, menghisap semua perhatian dengan pesona keindahannya yang tak terlukiskan.

Abdul Jalil yang sedang tenggelam di dalam samudera tahlil setelah melintasi muara salawat dan mengikuti aliran sungai istighfar, tiba-tiba mendengar semacam suara dentang (salsalah al-jaras) memasuki pendengaran indriawi sekaligus pendengaran jiwanya (sam’). Sedetik sesudah itu, ia mendengar gema suara, “Engkau adalah hijab bagi dirimu sendiri, o Abdul Jalil, keluarlah engkau darinya!”

Ia tersentak heran dan bingung. Dalam keheranan dan kebingungan itu tiba-tiba cakrawala di hadapannya tersingkap bagaikan tirai disibakkan. Hatinya seolah dengan paksa digerakkan untuk melihat ke balik cakrawala yang terpampang di hadapannya. Tanpa daya, pandangannya terpaku pada sosok gemilang yang duduk dengan keagungan dan kemuliaannya. Sosok itu sangat nyata dalam pandangan mata batinnya (ain al-bashirah).

Sosok gemilang serba putih itu tak kalah menakjubkan dibanding penampakan pemuda asing yang dijumpainya di Baitullah. Sosok itu tidak hidup, tidak pula mati. Tidak berkata-kata, juga tidak diam. Sederhana, tetapi rumit. Diliputi, tetapi juga meliputi. Memancarkan, tetapi juga mengisap pesona. Dia ibarat setetes air yang di dalamnya memuat tujuh samudera. Sebutir debu yang di dalamnya memuat tujuh gurun. Selembar daun yang memuat tujuh rimba raya. Sebongkah batu yang memuat tujuh benua dengan gunung-gunungnya yang tinggi mencakar langit. Dia, sosok gemilang, keberadaannya begitu menakjubkan hingga tidak bisa diungkapkan secara utuh dengan bahasa manusia.

Seiring dengan pemandangan menakjubkan tergelar di hadapannya, tiba-tiba ia merasakan kesadaran baru dari dalam jiwanya tersingkap tidak sebagaomana mestinya. Dikatakan tidak semestinya karena sebelumnay ia merasa nur lawami’ dan pemahaman fawa’id selalu mengungkapkan pengetahuan gaib ke kedalaman hatinya. Namun, saat ini yang ia rasakan adalah baik lawami’ maupun fawa’id pun memiliki tirai-tirai yang bisa tersingkap. Di balik tirai demi tirai itu tergelar kesadaran demi kesadaran baru.

Kesadaran baru itu secara menakjubkan memaparkan pengetahuan gaib bahwa sosok gemilang di hadapannya adalah hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terkasih Muhammad Saw..

Namun, pikirannya sempat agak meragukan kebenaran itu. Ia menduga bahwa pengetahuan gaib itu adalah pangaruh setani. Anehnya, pengetahuan gaib itu bagai tidak peduli dengan keragu-raguannya. Pengetahuan gaib itu tanpa dikehendaki terus-menerus menyingkapkan tirai demi tirai nur lawami’ dan pemahaman fawa’id. Dan kesadaran demi kesadaran terus tergelar sehingga membuatnya bertambah takjub sekaligus kebingungan.

Kesadaran baru itu ternyata tidak hanya mengungkapkan sosok cemerlang itu sebagai hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq, tetapi juga menjelaskan bahwa keberadaan pemuda asing yang dijumpainya di Baitullah adalah salah seorang kekasih Allah yang mengalami buruj dari hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq.

Setelah beberapa saat berkutat dengan keraguan, akhirnya ia menanggalkan campur tangan pikirannya. Ia ikuti kilasan demi kilasan nur lawami’ dan pemahaman fawa’id. Dengan kesadaran baru itu, tanpa mengalami kesulitan berarti ia bisa menjalin hubungan bathiniyyah dengan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq – sebagai guru dan murid – melalui al-ima’.

“O, engkau yang berpakaian kefakiran,” kata sosok gemilang dengan suara diliputi barokah. “Engkau telah menjadi bagian dari kaum fakir yang tetap berjuang di jalan Allah (QS al-Baqarah: 273), yakni kaum yang lambungnya jauh dari tempat tidur, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap (QS as-Sajdah: 16). Apakah ketundukanmu kepada-Nya karena mengikuti (taqlid) seseorang atau mengikuti akalmu (dalil) sendiri?”

Abdul Jalil menjawab, “Saya tidak mengikuti seseorang dan tidak pula mengikuti akal karena tidak ada daya dan kekuatan pada diri saya untuk mengikuti sesuatu kecuali pasrah dan mengikuti daya serta kekuatan-Nya.”

“Engkau adalah fakir yang tidak memiliki apa-apa. Engkau telah membersihkan segala kepemilikan dari jiwamu. Namun, engkau masih terbelenggu oleh akalmu, yakni sisa terakhir milik kemanusiaanmu. Karena itu, o fakir, tanggalkanlah akalmu. Karena, dengan akal (‘aql) yang membelenggu (‘iqal) maka engkau tidak akan mengenal wajah-Nya.”

“Kenalilah Dia dengan bashirah (QS Yusuf: 108). Kenalilah tanda-tanda-Nya yang ada di luar dan di dalam dirimu (nafs) (QS adz-Dzariyat: 20-21). Kenalilah Dia Yang Wujud. Yang Riil. Kenalilah tanda-tanda-Nya di luar dirimu. Sesungguhnya, milik-Nya jua timur dan barat sehingga ke mana pun engkau palingkan pandanganmu maka di situlah wajah Allah (QS al-Baqarah: 115). Ketahuilah, bahwa wajah Allah itu kekal (QS ar-Rahman: 27). Karena itu, tiap-tiap sesuatu pasti hancur binasa kecuali wajah-Nya (QS al-Qashash: 88).”

“Pahamilah tanda-tanda-Nya di dalam dirimu. Sesungguhnya, Dia Maha Meliputi segala sesuatu (QS Fushshilat: 54). Dia bersamamu di mana pun engkau berada dan Dia Maha Melihat apa yang engkau kerjakan (QS al-Hadid: 4). Dia lebih dekat daripada urat lehermu (QS Qaf: 16). Sesungguhnya, Allah bersama kita (QS at-Taubah: 40).”

Kesadaran demi kesadaran baru tersingkap dari cakrawala jiwa Abdul Jalil seiring dengan terkuaknya ungkapan demi ungkapan rahasia yang disampaikan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq melalui al-ima’. Abdul Jalil terkesima dalam pesona dan ketakjuban yang membingungkan. Pengalaman ini begitu menggetarkan: betapa pengetahuan yang disampaikan tanpa perantara akal dan indera-indera adalah seibarat percampuran anggur dengan air dalam wadah gelas. Tanpa diaduk keduanya melarut dengan cepat dan menyeluruh. Utuh.

Setelah mengungkapkan keberadaan Yang Ilahi, hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq mengungkapkan ada empat anak tangga rahasia untuk menuju hadirat-Nya. Keempat anak tangga rahasia inilah “jalan” (sabil) dan “cara” (thariq) rahasia yang diajarkan Muhammad Saw. kepada sahabat terkasihnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, saat berada di dalam gua di gunung Thur.

Pertama, adalah anak tangga istighfar yang akan membawa salik ke penyingkapan hijab dirinya. Karena dari istighfar akan tercapai maghfirah yang memancar dari al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun), di mana dengan maghfirah itu al-Ghaffar akan menyingkap selubung hijab ghafara.

Kedua, ketika hijab ghafara sudah tersingkap maka salik akan mendaki anak tangga salawat. Pada tahap itu salik menyadari bahwa keberadaan dirinya adalah bagian dari pancaran Nur Muhammad (Cahaya Yang Terpuji, Cahaya Muhammad) sebagaimana sabda Rasulallah Saw., “Anamin nur Allah wa khalq kulluhum min nuri’” (al-hadits) dan “Khalaqtuka min nuri wa khalaqtu khalqa min nurika”(hadits Qudsi). Hanya melalui Nur Muhammad inilah seorang salik dapat melanjutkan perjalanan menuju al-Haqiqah al-Muhammadiyyah (Hakikat Yang Terpuji, Hakikat Muhammad).

Ketiga, ketika salik sudah mencapai pengenalan al-Haqiqah al-Muhammadiyyah maka dia akan mendaki anak tangga tahlil, yakni anak tangga penauhidan. Pada tahap ini, salik akan memahami makna rahasia yang tersembunyi pada al-Haqiqah al-Muhammadiyyah sebagaimana sabda Rasulallah Saw, “Ana Ahmadun bila mim” dan “Ana ‘Arabun bila ‘ain.” Inilah tahap wahdah asy-Syuhud (kesatuan penyaksian).

Keempat, ketika salik sudah mencapai tahap syuhud maka dia akan mendaki anak tangga nafs al-haqq (Jiwa Yang Riil). Inilah tahap di mana salik memasuki tahap fana’ (peniadaan diri) karena jiwa kehidupannya telah terhubung dengan keberadaan al-Haqq, yang tersembunyi di dalam Ruh al-Haqq yang berada di takhta ‘arsy di Baitul Haram hatinya, dengan Huwa yang mutlak dan tak terbatas. Inilah Jiwa Ilahi. Allah meniupkan nafs al-haqq ke dalam ruh al-haqq yang disemayamkan di takhta ‘arsy di Baitul Haram hati manusia. Inilah Jiwa Yang Pengasih (nafs ar-Rahman) yang ditiupkan kepada shurah ar-Rahman. Dan melalui nafs ar-Rahman itulah Dia berbicara.

Pada tahap fana’ ini tidak ada lagi pihak yang menyaksikan dan Pihak Yang Disaksikan. Kemenduaan, kegandaan, dan kejamakan telah lebur. Pada tahap ini, al-Haqq yang tersembunyi secara rahasia di dalam Ruh al-Haqq telah manunggal dengan Huwa (Dia Yang Mahamutlak), sebagaimana kemanunggalan butiran garam dengan air laut. Inilah tahap wahdah al-wujud (kesatuan Wujud), yakni bersatunya al-Haqq dengan Huwa.

Keempat anak tangga rahasia menuju Dia pada dasarnya mengungkapkan penyaksian tentang keberadaan paling rahasia dari Allah sebagai Sebab Pertama, di mana pada Asma Allah tersembunyi hakikat dari hakikat Huwa (Dia Yang Mahamutlak). Asma Allah, terdiri atas empat huruf, yakni ALIF – LAM – LAM – HA. Jika huruf ALIF pada Asma Allah ditiadakan maka yang Ada adalah Lillah. Jika huruf LAM pertama ditiadakan maka yang Ada adalah Lahu. Dan jika huruf LAM kedua ditiadakan, maka yang Ada adalah Hu.

Keempat tahap itu adalah satu kesatuan dari Asma’, Af’al, Shifat, dan Dzat yang tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan yang lain-Nya. Itu berarti, mengenal Dia harus melalui empat tahap pengenalan. Pertama, mengenal Asma’ (Nama). Kedua, mengenal Af’al. Ketiga, mengenal Shifat. Keempat, mengenal Dzat. Dan pengenalan ini tidak bisa dituturkan dengan bahasa manusia, tetapi harus dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman yang sangat pribadi. Bisakah seseorang merasakan manisnya buah anggur dengan hanya mendengarkan cerita dan gambaran tentangnya? Bisakah seekor anai-anai dikatakan telah mengenal nyala api jika tubuhnya belum terbakar?

Setelah mengungkapkan rahasia menuju Dia, hadhrat Abu Bakar ash Shiddiq kemudian mengungkapkan rahasia nur yang ditempatkan Allah di antara dua mata Adam (hadits Qudsi). Nur adalah piranti untuk menyaksikan dan mengenal Sang Cahaya langit dan bumi, Sang Cahaya di atas cahaya, yang dengan cahaya-Nya membimbing siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya (QS an-Nur:35). Melalui nur itu pula akan dicapai Kehadiran Cahaya Murni (hadhrat an-Nur al-Mahdh), yang akan membawa kepada penyaksian Tuhan, dengan pandangan Tuhan, dari Tuhan, di dalam Tuhan, dan melalui mata Tuhan.

Sejak berjumpa dengan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq di alam al-khayal serta mengamalkan “jalan” dan “cara”, kesadaran demi kesadaran baru pada diri Abdul Jalil bagai tak dapat dikendalikan. Tersingkapnya tirai-tirai nur lawami’ dan pemahaman fawa’id menyebabkan ia berada pada keadaan seperti wadah yang terus-menerus diisi. Pengalaman ruhaniah yang terkait dengan penyingkapan kesadaran baru ini sebenarnya sudah pernah dialaminya. Namun, kali ini perubahannya begitu cepat sehingga ia merasa bingung dan takjub.

Pengalaman menakjubkan yang sekaligus membingungkan ini, setidaknya dialaminya ketika melakukan tawaf. Seiring dengan langkah kakinya mengitari Ka’bah, tiba-tiba hatinya diliputi hiruk pikuk hakikat ruhani yang memuji keagungan Ilahi. Ia tercenung bingung. Tanpa dikehendakinya, kilasan demi kilasan kesadaran baru tercurah ke dalam mahligai jiwanya.

“Pengagungan atas-Nya yang dikumandangkan mereka yang mengitari Ka’bah adalah pengagungan al-abid kepada al-Ma’bud, pengagungan al-khalq kepada al-Khaliq, pangagungan yang beragam (farq) kepada Satu Kesatuan (Jam’). Sedangkan engkau, o fakir papa yang telah melampaui mereka dalam takwa, hendaknya mengagungkan-Nya dengan cara yang berbeda. Sebab engkau adalah al-khalil (sahabat), al-habib (kekasih), al-waly (yang dikuasai-Nya), dan al-mushthafa (yang dipilih-Nya). Agungkan Dia dengan segenap kedekatan (qurb), kecintaan (hubb), kerinduan (‘isyq), dan keterkaitan (ta’alluq) jiwa dan ragamu.”

Abdul Jalil tercekat bingung bercampur takjub dengan pengalamannya itu. Selintas, pikirannya mengatakan bahwa kesadaran barunya itu adalah bisikan Iblis yang akan memerangkapnya ke jurang pengakuan diri. Namun, kesadarannya mengatakan bahwa apa yang terungkap itu adalah manifestasi dari al-Haqq yang tidak seorang pun – termasuk malaikat – mengetahuinya sehingga tidak ada alasan untuk dipamer-pamerkan sebagaimana sifat Iblis.

Menyadari kebenaran dari ungkapan al-Haqq itu, ia segera menghadapkan hati dan pikiran hanya kepada-Nya melalui nur yang terletak di antara kedua matanya. Kemudian, dengan “jalan” dan “cara” yang diperoleh dari hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq, ia mendaki anak tangga keempat melalui nafs al-Haqq untuk menjalin hubungan dengan keberadaan al-Haqq yang tersembunyi di dalam Ruh al-Haqq, di dalam takhta arsy di Baitul Haram hatinya dengan Huwa (Dia, Yang Mutlak Tak Terbatas).

Setelah beberapa jenak bergulat mengarahkan hati dan pikiran, tiba-tiba qalbu-nya merasakan Muhammad Saw. hadir di hadapannya dan merampas semua perasaan kepada selain dia. Bersamaan dengan itu, ia mendapati nur di antara kedua matanya memancar sangat terang. Kemudian, bagai memiliki tirai, qalbu dan nur tersingkap dengan cara menakjubkan.

Abdul Jalil tertegun takjub. Berurutan dengan tersingkapnya qalbu, ia merasakan kehadiran Muhammad Saw. secara utuh di segenap cakrawala jiwanya. Sementara saat nur tersingkap secara berurutan, tiba-tiba ia menyaksikan cahaya yang bersinar sangat menyilaukan, jauh lebih terang daripada pancaran nur di antara kedua matanya, itukah Nur di atas nur?

Ia merasa qalbu-nya tiba-tiba menyatu dengan Nur yang menyilaukan itu. Ia merasa Nur itu adalah Nur Muhammad.

Beberapa detik kemudian kesadarannya tersingkap secara aneh. Nur itu tiba-tiba memenuhi segenap pandangannya. Ia merasa tak tahu arah. Tidak ada depan, samping, dan belakang. Ia bisa memandang ke segala arah. Dan pandangan mata batinnya kali ini jauh lebih nyata daripada pandangan indera penglihatannya.

Mendadak Ka’bah yang dikitarinya lenyap. Para jama’ah tawaf juga lenyap. Semua lenyap. Abdul Jalil termangu takjub diliputi kebingungan karena qalbu dan seluruh pandangannya menyaksikan Nur semata. Bahkan akhirnya, ia merasakan Nur itu melenyap dari pandangannya. Tubuhnya seperti memancarkan cahaya dari Nur itu. Ia merasakan dirinya menyatu dengan Nur. Dan lantaran pengalaman itu begitu membingungkan, ia tidak tahu lagi apakah ia berada di dalam atau di luar cahaya Nur yang memancar dengan sangat menyilaukan.

Masih dalam ketakjuban dan kebingungan, tiba-tiba ia merasakan di segenap penjuru pandangannya mewujud manifestasi Nur Muhammad yang mengisap kesadarannya. Antara sadar dan tidak, ia merasakan al-Haqq yang tersembunyi di dalam Ruh al-Haqq yang bersemayam di takhta arsy di Baitul Haram hatinya berkata-kata sendiri. “Anasirr al-haqqi wa ma al-haqq ana, wa ana al-haqq fa innanima ziltu aba wa bi al-haqqi haqqun.”

Ketika matahari memancarkan panas api ke permukaan bumi hingga hamparan pasir dan bebatuan memuai, di tengah hingar-bingar suara ribuan jama’ah melakukan wukuf, mengagungkan dan memuliakan Ilahi pada Yaum al-Arafah (Hari Arafah), Abdul Jalil duduk tegar di bawah bayangan tiang batu yang tegak menjulang di puncak Jabal Rahmah. Tanpa mempedulikan sengatan matahari, ia menghadapkan kiblat hati dan pikirannya hanya kepada Allah.

Seiring dengan melesatnya waktu, tanpa dikehendakinya, tiba-tiba ia membuka mata dan tanpa sengaja pandangannya menatap sesosok tubuh laki-laki tua dengan rambut gundul dengan pakaian ihram kumal yang dililitkan tidak semestinya sedang berjalan tertatih-tatih mengitari Jabal Rahmah. Abdul Jalil memejamkan mata dan membangun lagi kiblat hati dan pikirannya. Namun, entah kekuatan apa yang mengusik, tiba-tiba saja ia membuka mata dan melihat lagi laki-laki tua itu terhuyung-huyung di kaki Jabal Rahmah.

Sepintas, ia menganggap laki-laki tua itu tentu salah seorang jama’ah haji yang ingin melihat dari dekat bukit bersejarah itu. Namun, setelah beberapa jenak ia awasi betapa sosok laki-laki tua itu sudah mengitari Jabal Rahmah beberapa kali maka ia menduga sosok tua itu tentunya tidak mengetahui tata cara menjalankan ibadah haji.

Ia merasakan ada keanehan dengan keberadaan laki-laki tua yang terhuyung-huyung hampir tumbang itu. Sebab, sedikitpun ia tidak merasakan kilasan nur lawami’ dan pemahaman fawa’id muncul dari kedalaman jiwanya. Lantaran itu, ia hanya menduga-duga dan mengira bahwa laki-laki tua itu tentu memiliki anggapan bahwa tawaf selain dilakukan di Ka’bah juga dilakukan di Jabal Rahmah.

Ketika sedang merenungkan perilaku yang tidak lazim itu, tiba-tiba ia terkejut menyaksikan tubuh lelaki itu tumbang ke atas hamparan pasir panas berbatu. Tampaknya tidak ada satu pun di antara jama’ah yang sedang sibuk mengagungkan Allah di atas bukit maupun di dalam tenda mengetahui nasib malang yang menimpa laki-laki tua itu. Dan bagaikan digerakkan oleh kekuatan tak tampak, Abdul Jalil bangkit dan berlari menuruni Jabal Rahmah.

Dugaannya bahwa laki-laki tua itu tidak memahami tata cara menjalankan ibadah haji ternyata tidak salah. Namun, yang membuatnya terheran-heran adalah orang tua yang malang itu bukan Muslim. Dengan suara terputus-putus dengan pandang mata tak bersalah, dia mengaku sebagai pendeta Syiwa, asal Wahanten Girang (Banten), di tanah Pasundan. Dia mengaku bermaksud melakukan ziarah ke sthana Syiwa di gunung Kailasa.

Mendengar pengakuan laki-laki malang yang nyaris mati karena kelelahan dan kehausan itu, Abdul Jalil berulang-ulang mengucapkan tasbih memuji kebesaran Allah. Namun, ia pun buru-buru mengingatkan agar lelaki itu tidak menceritakan jati dirinya kepada jama’ah lain. Hal ini demi keselamatan jiwanya sendiri.

Setelah itu, Abdul Jalil menjelaskan kepada lelaki tua yang ternyata bernama Rsi Punarjanma bahwa bukit yang dikira gunung Kailasa itu adalah Jabal Rahmah, gunung kasih sayang, tempat leluhur pertama manusia, Nabi Adam dan Ibu Hawa dipertemukan oleh yang Mahatunggal. Sedang hamparan di sekitar Jabal Rahma itu disebut Arafah, tempat umat Islam menunaikan ibadah haji. Jadi, tiang batu di atas bukit itu bukan Syiwalingga.

Rsi Punarjanma tercekat sesaat setelah mendengar penjelasan Abdul Jalil perihal Jabal Rahmah dan tanah Arafah yang merupakan tempat peribadatan umat Islam. Dia sadar dirinya telah melakukan kekeliruan. Dia juga tampak heran ketika diberi tahu bahwa tugu batu di atas Jabal Rahmah itu bukanlah Syiwalingga.

Setelah beberapa jenak terdiam, dia tersenyum sambil menatap tajam ke arah tiang batu yang tegak di atas Jabal Rahmah. Kemudian dengan suara serak nyaris berbisik dia berkata, “Anakku, sekarang ini bagiku tidak penting apakah ini tempat suci orang Islam atau sthana Syiwa. Sebab, yang kusaksikan di dalam mimpiku adalah lingga batu di atas bukit itu. Telah jelas di dalam mimpiku bahwa di bawah lingga itulah kematian datang menjemputku.”

“Bapa Rsi kemari hanya karena mimpi?” seru Abdul Jalil heran.

Rsi Punarjanma mengangguk lemah. Kemudian dengan napas tersengal-sengal dan suara terpurus-putus dia menuturkan ihwal sampai terdampar di tanah asing tempat orang-orang Islam menjalankan ibadah haji.

Mula-mula, ungkap Rsi Punarjanma, dia mengalami mimpi sangat aneh yang berulang sampai tiga kali. Di dalam mimpi itu dia dipaksa mengenakan selembar kain putihdan melakukan pradaksina (mengelilingi) lingga raksasa yang tegak di atas sebuah bukit batu yang terletak di tengah padang pasir berbatu. Ketika sedang melakukan pradaksina, lanjutnya, tiba-tiba memancarlah berjuta-juta cahaya menyilaukan dari langit menyinari lingga itu. “Cahaya dari langit itu ternyata adalah dewa-dewa yang beterbangan dengan ribuan sayap indah dan mencurahkan kemuliaan di permukaan bumi di mana lingga itu tegak berdiri. Dan kusaksikan betapa saat para dewa itu kembali terbang ke langit maka diriku pun ikut terbang bersama mereka,” ujar Rsi Punarjanma dengan mata menerawang ke angkasa.

Berangkat dari mimpi sama yang berulang tiga kali itulah dia kemudian mencari tahu dimana lingga agung dan mulia itu berada. Meski dari kawan-kawannya tak diperoleh penjelasan tentang adanya sthana Syiwa seperti terlikis di dalam mimpinya, berkat kegigihannya akhirnya dia beroleh penjelasan dari seorang muni yang pernah berziarah ke Kailasa. Menurut muni itu, bukit tempat sthana Syiwa berada adalah di Kailasa. Beberapa orang kawannya malah memberi tahu bahwa beberapa Rsi dari Jawadwipa setiap tahun sekali berziarah ke sana untuk melakukan pradaksina, mengitari gunung yang garis kelilingnya empat puluh pal.

Berbekal tekad dan sedikit pengetahuan tentang gunung Kailasa yang konon diliputi salju, Rsi Punarjanma berangkat ke negeri Bharat (India). Namun, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, kapal yang ditumpanginya menghantam karang dan tenggelam. Berhari-hari dia terapung-apung hingga para pelaut dari sebuah kapal dagang milik orang-orang Arab datang memberikan pertolongan.

Ketika para pelaut Arab itu bertanya dengan bahasa Arab yang sama sekali tiak dipahaminya maka terpaksa Rsi Punarjanma menjelaskan dengan isyarat tangan bahwa dia bermaksud ke gunung Kailasa untuk melakukan pradaksina dalam rangka memuja lingga. Dia menjelaskan pula bahwa sesuai mimpinya dia hanya berbekal selembar kain putih untuk menjemput kematiannya.

Para pelaut Arab bagaikan mengerti apa yang dia kemukakan. Mereka mengangguk-angguk dan kemudian memberinya makan dan pakaian. Namun, sesuai mimpinya, Rsi Punarjanma menolak pakaian dan tetap mengenakan kain putih untuk menutupi tubuhnya. Setelah sampai di sebuah pelabuhan yang tak dia ketahui namanya, para pelaut Arab itu menurunkannya dan memberinya bekal perjalanan. Bahkan mereka memberinya petunjuk agar berjalan ke arah timur untuk mencapai tempat yang ditujunya itu. “Ternyata lingga suci yang kulihat dalam mimpiku tidak berada di tanah Bharat, tetapi di tanah orang-orang Arab,” kata Rsi Punarjanma dengan napas makin berat.

“Bapa Rsi,” gumam Abdul Jalil sambil memegangi tangan Rsi Punarjanma, “Apakah Bapa yakin bahwa Tuhan itu Tunggal?”

“Anakku,” kata Rsi Punarjanma dengan mata berkilat dan suara bersemangat, “Aku adalah seorang sannyasin yang sudah tyaga (orang yang sudah lepas dari ikatan duniawi). Karena itu, tidak ada sesuatu di dalam hati dan pikiranku kecuali Dia Yang Mahatunggal yang disebut dengan berbagai Nama.”

“Berarti Bapa Rsi tidak pernah melakukan bhakti lagi di hadapan arca dewa-dewa?” tanya Abdul Jalil minta penegasan. “Sebab, seorang tyaga sudah harus lepas dari sesuatu yang bersifat kebendaan.”

“Engkau benar, Anakku,” kata Rsi Punarjanma menguatkan diri. “Bagi seorang tyaga, Tuhan adalah Dia Yang Tunggal, Tak Terjangkau Akal dan Tak Tersentuh Indera, Dia yang memiliki sifat Bhawo (Wujud), Na Jayate (Tidak Dilahirkan), Nitya (Kekal), Saswato (Abadi), Purano (Yang Awal), Satah (Riil), Awinasi (Tak Termusnahkan), Widhi (Mahatahu), Aprameyasya (Tidak Terbatas), Sarwagatah (Mahaada), Sthanur (Tidak Berubah), Acintyo (Tak Terpikirkan), Awyakta (Tak Terbandingkan).”

“Saya percaya itu, Bapa,” kata Abdul Jalil dengan suara berbisik ketika melihat Rsi Punarjanma makin melemah. “Namun, sekarang Bapa Rsi harus menyatukan hati dan pikiran untuk menghadap Dia Yang Tunggal, Sang Sumber Sejati, tempat seluruh ciptaan-Nya kembali.”

Rsi Punarjanma tersenyum, meski napasnya sudah sangat berat. Sambil berbisik dia menggumam, “Anakku, maukah engkau memenuhi permintaanku yang terakhir jika kematian telah menjemputku?”

“Permintaan apakah itu, o Bapa Rsi?” bisik Abdul Jalil lirih.

“Jika engkau kembali ke Jawadwipa,” ujar Rsi Punarjanma lirih, “temuilah anak tunggalku yang tinggal di negeri Daha. Dia sejak kecil diasuh oleh adikku, Wiku Suta Lokeswara, seorang pendeta Bhirawa Syiwa-Budha. Sampaikan kepada puteraku itu bahwa ayahandanya telah kembali ke Syiwapada (Kediaman Syiwa) karena setia pada Siwamarga (Jalan Syiwa).”

“Siapakah nama putera Bapa Rsi?” tanya Abdul Jalil.

“Nirartha,” ujar Rsi Punarjanma dengan suara tercekat di tenggorokan.

“Saya akan menyampaikan pesan Bapa Rsi jika Hyang Tunggal berkenan,” bisik Abdul Jalil lirih di telinga Rsi Punarjanma. “Sekarang, Bapa Rsi hendaknya menyatukan hati dan pikiran untuk menuju Dia.”

Rsi Punarjanma tersenyum, meski terasa dipaksakan. Kemudian dia berjuang mengatur napasnya yang makin berat. Beberapa jenak setelah itu dia terlihat meregang seperti berusaha menyatukan segenap konsentrasinya agar seirama dengan alur pernapasannya. Abdul Jalil yang pernah belajar dari Rsi Samsitawratah tahu bahwa bagi seorang Rsi yang sudah mencapai tingkatan tyaga, tampaknya soal menuju kematian bukan hal yang sulit. Dan itu setidaknya terbukti betapa setelah beberapa jenak mengatur pernapasan dan konsentrasi, menghadapkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada Yang Ilahi, ruh Rsi Punarjanma meninggalkan tubuh wadag-nya yang terkulai lemas di dekapan Abdul Jalil.

Abdul Jalil menarik napas berat sambil memangku kepala Rsi Punarjanma. Segala peristiwa menakjubkan dan pengalaman aneh yang terjadi padanya adalah kehendak-Nya semata. Perjalanan Rsi Punarjanma merupakan bukti tak terbantah bahwa kehendak-Nya adalah di atas segala-galanya. Manusia hanyalah obyek tanpa daya. Manusia pada hakikatnya tidak memiliki kehendak apa pun. Yang berkehendak adalah Allah semata. Dan sambil membopong tubuh Rsi Punarjanma ke arah perkemahan, ia mengumandangkan Firman Allah: “Wama tasya una illa an yasya’a Allahu rabbul alamin.”

Ketika malam membentangkan selimut hitam di atas tubuh bumi, Abdul Jalil duduk bersimpuh di hamparan padang Arafah, di dekat Jabal Rahmah, di lingkungan bebatuan dan pasir, di tengah desau angin yang dingin menggigit. Bintang-gemintang yang memancarkan cahaya di langit berkedip-kedip bagai hiasan permata. Keheningan dan kesunyian menerkam bagai gigi-geligi serigala gurun yang tajam dan menakutkan. Sementara tiang batu yang tegak di atas Jabal Rahmah termangu sendirian bagai menelan kesepian yang tak bertepi.

Di tengah keheningan dalam terkaman kesunyian itulah ia mendaki keempat anak tangga rahasia ruhaniah. Namun, saat berada pada anak tangga salawat tiba-tiba ia merasakan kesadarannya seperti memasuki ambang antara ‘alam al-khalq dan ‘alam al-khayal.

Saat melangkah di anak tangga salawat, melalui pandangan mubashirah, ia melihat bayangan manusia raksasa yang bercahaya terang berjalan di kejauhan. Di belakangnya diikuti barisan manusia yang lebih kecil. Di samping kanan dan kiri agak kebelakang dari manusia raksasa itu berbaris pula manusia-manusia lebih kecil yang lain.

Dengan rasa takjub dan heran ia menyaksikan betapa manusia raksasa bercahaya terang dengan tiga barisan manusia pengiring bergerak ke arahnya. Makin lama bayangan itu makin jelas; seorang manusia setinggi enam puluh hasta dengan tubuh dipenuhi bulu dan rambut terurai ke punggung. Wajahnya bercahaya kilau-kemilau.

Abdul Jalil bangkit menyongsong. Ketika jarak mereka semakin dekat, ia mendadak tahu bahwa sosok itu adalah Adam a.s.. Bahkan berikutnya ia pun mengetahui bahwa manusia raksasa itu adalah Adam yang pertama dicipta di antara sepuluh ribu Adam yang lahir dari generasi ke generasi berikutnya sehingga terlahir keturunannya yang disebut Anwas (manusia) atau Enos (manusia).

Adam dalam wujud manusia raksasa bercahaya terang dan berbulu lebat itu adalah citra Adam saat dicipta kali pertama di surga. Itulah citra Adam sebagai shurah ar-Rahman yang membangkitkan kecemburuan Iblis. Itulah Adam yang menjadi leluhur umat manusia. Adam yang telah “membelah” diri saat melahirkan Hawa.

Berbeda dengan penampilan Adam yang bercahaya terang kilau-kemilau, barisan manusia di belakangnya lebih redup kilau cahayanya. Sedang barisan manusia di sebelah kanan dan kirinya berwarna hitam. Meski kedua belah barisan manusia itu sama-sama berwarna hitam, keduanya berbeda secara esensial.

Barisan kanan adalah golongan aswidah al-qidam (orang-orang hitam dari zaman purba beserta keturunannya) yang bakal menjadi penghuni surga. Barisan kiri adalah golongan aswidah al-‘adam (orang-orang hitam citra bayangan maya) yang bakal menghuni neraka. Sedang Adam a.s. yang berada di depan beserta barisan di belakangnya adalah golongan muqarrabin (orang-orang yang didekatkan) dengan kenikmatan surgawi (QS al-Waqi’ah: 8-12).

Ketika jarak mereka tinggal tujuh langkah, Abdul Jalil menyampaikan salam. Adam membalas salamnya. Sesudah itu, dengan ucapan yang sangat jernih dia berkata-kata kepada barisan di belakang, kanan, dan kirinya sambil menunjuk ke arah Abdul Jalil. Inti kata-kata Adam adalah mengungkapkan bahwa Abdul Jalil merupakan salah satu di antara keturunannya yang bakal menjadi bagian dari barisan di belakangnya.

Kemudian dia memandang Abdul Jalil dengan penuh kasih. Senyum menghiasi wajahnya yang teduh dan diliputi keagungan. Sesaat sesudah itu dia berkata-kata seolah ditujukan kepada Abdul Jalil.

“Al-Hajj ‘Arafah (Haji adalah Arafah). Pada makan (tempat) ini engkau akan menjadi dekat (qurb) dan pada zaman (waktu) engkau akan ma’rifah kepada-Nya. Di Arafah ini, Dia telah menyempurnakan bagimu agamamu, telah Dia cukupkan nikmat-Nya bagimu, dan telah diridhoi-Nya Islam sebagai agamamu (QS al-Ma’idah: 4).”

Dengan penuh kekaguman dan ketakjuban, Abdul Jalil mendengarkan kata-kata Adam. Namun, ketika memandang lebih tegas pada wajah leluhurnya itu, betapa terkejutnya ia saat menyaksikan pemandangan yang tak pernah dibayangkan dan diimpikan sebelumnya; di dalam penglihatannya wajah Adam adalah wajahnya sendiri. Abdul Jalil tertegun diliputi ketakjuban dan ketidakmengertian. Seolah-olah ia sedang berdiri di muka cermin dan melihat pantulan wajahnya.

Setelah melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, Abdul Jalil tiba di Mina. Saat itu rembang senja mulai menyelimuti bumi dengan permadani hitam bersulam hiasan merah cakrawala sutera. Tanpa mempedulikan keletihan yang meremukkan tulang-belulangnya, ia pergi ke jamarah, yakni tempat tiga tugu batu yang menjadi simbol setani.

Di depan tiang jumrah al-ula, di antara kerumunan jama’ah haji, ia termangu sambil menggenggam erat batu-batu yang dipungutnya di Muzdalifah. Ia menangkap makna sejati di balik simbol pelemparan yang dinisbatkan kepada kisah Ibrahim saat akan menyembelih Ismail. Jelas sekali bahwa makna pelemparan batu itu adalah simbol penegasan atas akal, aturan kebumian, pamrih duniawi, dan pelepasan atas materi yang seluruhnya adalah citra setani yang harus dilepaskan dari keberadaan manusia yang bertauhid.

Pergulatan Ibrahim dalam peristiwa itu adalah pergulatan ruhaniah manusia dalam mencapai hadirat-Nya sebagai manusia yang menauhidkan Satu Ilah. Abdul Jalil seolah-olah bisa merasakan bagaimana Ibrahim harus menolak konsep bapak-anak yang menjadi konsep dasar aturan kebumian. Ibrahim juga harus menolak konsep akal manusia di dalam melaksanakan keyakinan imannya. Ibrahim juga harus menolak pamrih duniawi karena harus kehilangan anak yang dijanjikan-Nya akan mengembangkan keturunannya beriap-riap di muka bumi. Ibrahim harus menolak segala sesuatu kecuali Dia. Ibrahim harus menegaskan yang selain Dia, termasuk keberadaan anak gantungan harapannya. Dan, akhirnya Ibrahim berhasil menegaskan segala sesuatu selain Dia dari hati dan pikirannya.

Menyadari makna rahasia di balik ketentuan syari’at melempar batu ke jumrah al-ula, wustha, dan aqabah itu, ia tidak melemparkan batu satu demi satu sebagaimana lazimnya jama’ah lain, melainkan ketujuhnya dilempar serentak ke masing-masing tiang batu sambil mengucapkan kata-kata, “Sesungguhnya telah Engkau halau setan kegelapan keakuan dengan Cahaya Kebenaran-Mu. Dengan menyebut nama-Mu, wahai Allah, kulempar nafsuku yang cenderung kepada selain Engkau, Allahu Akbar!”

Setelah melempar ketiga tiang batu, ia menjauh, dan mendaki empat anak tangga rahasia ruhaniah. Ketika menginjak anak tangga tahlil, tiba-tiba pandangan bashirah-nya melihat seorang tua bongkok berjalan tertath-tatih dengan tangan kanan memegang tongkat emas berhias permata. Orang tua itu kepalanya sangat besar. Kedua kelopak matanya tegak ke atas, yang satu bersinar aneka warna, yang satu hitam bagai lubang tak tembus cahaya hingga seperti buta. Kedua bibirnya yang tebal bagai bibir kerbau dihiasi dua gigi taring yang panjang, tajam, dan berkilat-kilat. Di dagunya menjuntai tujuh helai rambut yang panjangnya seperti surai kuda.

Saat menyaksikan orang tua bongkok yang mengerikan itu, Abdul Jalil mengetahui bahwa dia adalah perwujudan setan. Itu sebabnya, saat orang tua itu mendekat, ia meneguhkan kiblat hati dan pikirannya kepada-Nya belaka.

Ketika jarak di antara mereka sudah dekat, setan itu menyampaikan salam, “Assalamu ‘alaika ya Abdul Jalil.”

“Assalamulillah ya la’in,” sahut Abdul Jalil. “Kenapa engkau kemari, o makhluk yang dikutuk?”

“Aku mendatangimu karena aku melihat engkau sangat berbeda dibanding manusia lain.” Kata setan sambil mengangguk-angguk. “Aku telah melihat saat engkau melempar batu tidak menyebut aku, melainkan engkau sebut nafs-mu. Apa yang menjadi penyebab kelakuanmu itu?”

“Aku tahu, o yang dikutuk, bahwa engkau adalah bagian dari Iblis, sang bayangan maya, yang tidak wujud. Aku tahu, Iblis dan engkau beserta balamu adalah khayyal (ilusi) ciptaan-Nya yang memancar dari nama-Nya, al-Mudhill (Yang Maha Menyesatkan). Karena itu, o setan, akan sia-sia saja aku melempar keberadaanmu karena engkau bersembunyi di mahligai nafsuku,” kata Abdul Jalil tegas.

“Orang-orang yang bertindak keras terhadap nafsunya sendiri sepertimu, o Abdul Jalil, adalah orang-orang yang paling aku benci,” seru setan dengan suara bergetar.

“Sesungguhnya, al-Haqq telah memberi tahu bahwa engkau hanya mampu menjalankan tugasmu dengan baik kepada orang-orang yang memanjakan nafsunya dengan kelezatan dan kenikmatan duniawi serta pikiran-pikiran yang serba menguntungkan diri pribadi belaka. Sedang kepada mereka yang meninggalkan segala sesuatu selain-Nya maka engkau tak akan mampu mempengaruhinya,” kata Abdul Jalil.

“Ketahuilah, o Abdul Jalil,” seru setan dengan napas tersengal-sengal, “ketika engkau melempar ketiga jumrah dengan ikrar melempar nafsumu sendiri, sesungguhnya kudapati diriku bagai disambar halilintar. Tubuhku terasa terbakar. Sebab, di dalam relung nafsu manusialah aku bertakhta. Itu sebabnya, o Abdul Jalil, janganlah kiranya engkau memberitahukan rahasia ini kepada siapa pun agar tugasku memuliakan dan mengagungkan Allah dapat kupenuhi sebaik-baiknya.”

Abdul Jalil tertawa mendengar permohonan itu. Ia sadar bahwa setan sangat ulet dan licin dalam mempengaruhi orang. Setan tidak pernah menyerah dalam upaya menjerumuskan manusia ke jalan sesat yang menyimpang dari-Nya. Itu sebabnya, dengan tegas ia menolak. “Aku tak akan terpedaya oleh kelicikanmu, o Abu Murrah, karena tanpa engkau minta pun aku tidak akan memberitahukan kepada siapa pun tentang apa yang telah kulakukan. Sebab aku tahu, meski seseorang mengucapkan kata-kata seperti yang kuikrarkan, jika hati dan pikiran mereka masih terikat pada pamrih kehidupan duniawi maka tidak akan ada artinya sama sekali. Karena itu, o Abu Murrah, biarlah mereka yang melaksanakan ibadah haji tetap mengikuti ketentuan yang sudah diatur oleh hukum syari’at.”

Mendengar ucapan Abdul Jalil, orang tua bongkok jelmaan setan itu meraung sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke atas tanah. Dia tampak diliputi amarah.

Abdul Jalil yang menyaksikan kemarahan setan itu, bangkit dan berjalan mendekati tiang batu sambil berkata, “Akan kutunjukkan kepadamu, o makhluk terkutuk, di mana pun engkau bersembunyi maka engkau tetaplah bayangan maya yang tanpa wujud. Engkau hanya khayyal yang terkutuk.”

“Apa yang akan engkau lakukan?” seru setan dengan suara gemetar.

Abdul Jalil diam. Ia terus melangkah mendekati tiang batu. Tidak dihiraukannya seruan-seruan setan yang mengharu biru di belakangnya.

Abdul Jalil menunduk memungut sejumlah batu yang berserakan di sekitar tiang batu. Setelah terkumpul dua puluh butir, ia tegak berdiri di hadapan tiang jumrah al-aqabah. Kemudian dengan sekuat tenaga ia lemparkan batu-batu yang digenggamnya sambil berseru. “Rajman li asy-syaithan wa ridhaka robbi, Allahu Akbar!”

Bersamaan dengan terbenturnya batu ke jumrah al-aqabah, terdengar raungan panjang dari orang tua bongkok yang berdiri di belakang Abdul Jalil yang diikuti oleh lenyapnya tubuh tua jelmaan setan itu. Suasana mendadak hening. Sunyi. Senyap.

Di tengah hamparan kesunyian, di bawah selimut hitam malam, sambil bersila membelakangi ketiga tiang batu jamarah, Abdul Jalil meneguhkan lagi perjalanannya mendaki anak tangga tahlil hingga memasuki hamparan nafs al-haqq. Dan malam itu, bagaikan mengulang peristiwa penyembelihan Ismail oleh Ibrahim, ia mendapati dirinya tenggelam ke dalam samudera Tauhid setelah keakuan pribadinya terkapar pasrah di mizbah persembahan sebagai domba sembelihan.

Ako Anchorage (Japan), February 25th 2007