Asrar Muhammad

Muhammad al-Mushthafa Saw, laki-laki buta huruf (ummi), yang lahir di tengah kesunyian padang pasir berbatu jazirah Arabia yang beribu-ribu tahun terkucil dalam keterasingan, adalah nur asy-syams wa al-baha’ (matahari dan sinar keagungan). Dia memancarkan cahaya rahmat-Nya ke segenap penjuru dunia dari waktu ke waktu hingga yaum al-akhir (hari akhir). Bagaikan cahaya matahari menyibak kegelapan malam yang pekat, begitulah cahaya kelembutan dan rahmat yang terpancar dari keagungan dan kemuliaan-Nya menerangi sudut-sudut hati manusia yang berada di bawah terang-Nya melalui laki-laki buta huruf ini.

Laki-laki agung penuh kasih yang tubuhnya bersimbah darah dan kotoran unta ketika menyerukan suara kebenaran itu bukanlan manusia yang dikenal karena mukjizat yang luar biasa, seperti Nabi Nuh, Musa, Sulaiman, dan Isa. Laki-laki yang selama lima belas tahun suka tafakkur dan tanaffus di gua Hira itu bukan pula pendeta keramat yang hidup terasing di pertapaan, menanggalkan seluruh atribut kehidupan duniawi. Sebaliknya, dia juga bukan raja kara raya yang mencontohkan kemegahan duniawi sebagai kebanggaan dan kemuliaan.

Muhammad al-Mushthafa Saw dengan segala kesederhanaan dan kerendahatiannya dikenal sebagai manusia yang jujur dan terpercaya (al-amin). Pembebas sekaligus sahabat para budak. Penyantun janda-janda tua dan anak-anak yatim piatu. Dia melarang pembunuhan bayi-bayi perempuan. Dialah manusia bijak yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Penyempurna akhlak manusia. Utusan Allah yang memerangi paganisme-materialisme demi tegaknya ajaran Tauhid. Sejarah mencatat dengan tinta emas, bagaimana laki-laki itu dalam menunaikan tugas kerasulannya telah menuruni lembah penghinaan dan jurang penistaan, mendaki tebing dan ngarai ancaman, tergiring di padang belantara teror dan provokasi, dan bahkan mengangkat senjata untuk mempertahankan keberadaan diri dari serangan orang-orang yang memusuhinya.

Bagi para pencari Tuhan seperti Abdul Jalil, menilai keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. tidaklah sama dengan sejarawan. Sebab, bagi salik seperti dirinya, menilai keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. tidak sekadar sebagai bagian dari sejarah kemanusiaan dengan segala atribut yang melekat padanya. Menurutnya, yang paling prinsip adalah keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. yang fundamental sebagai utusan Tuhan (Raulallah), kekasih Tuhan (Habibullah), sahabat Tuhan (Khalilullah), wali Tuhan (Waliyyullah), wakil Allah (Khalifatullah), dan pengejawantahan Yang Terpuji (Ahmad) yang telah mewariskan perbendaharaan kehidupan ruhaniah yang begitu agung dan menakjubkan bagi manusia. Dan yang lebih esensial lagi adalah keberadaannya sebagai jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya (QS al-Ma’idah: 35).

Meski belum pernah bertemu muka, Abdul Jalil melalui berbagai hadits meyakini bahwa Muhammad al-Mushthafa Saw dalam penampilan fisik akan melampaui pemuda asing dan aneh yang ditemuinya di Ka’bah maupun hadhrat Abu Bakar ash Shiddiq. Sebab, penampilan fisik pemuda asing yang aneh itu hanya dapat dilihat oleh segelintir orang yang dianugerahi nur lawami’ dan pemahaman fawaid. Sementara penampilan fisik Muhammad al-Mushthafa Saw dapat disaksikan oleh semua orang yang hidup sezaman, kecuali mereka yang jiwanya tertutup hijab rain kekufuran.

Muhammad al-Mushthafa Saw., dalam kesaksian istri-istri dan sahabat-sahabatnya yang hidup sezaman, adalah laki-laki yang tidak tinggi, tetapi tidak pendek. Tidak gemuk, tetapi tidak kurus. Kulitnya tidak putih, tetapi tidak coklat. Kedua matanya bercelak, tetapi tidak layaknya bercelak. Wajahnya elok bagai rembulan purnama, tetapi juga bagai matarahi terbit. Jika berjalan seakan-akan melangkah di jalanan yang menurun. Langkahnya cepat, namun tenang. Jika berbicara ada cahaya memancar dari gigi-giginya. Butir-butir keringatnya laksana mutiara dan berbau wangi.

Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz menyaksikan, “Saat memandangnya seakan-akan aku melihat matahari yang sedang terbit.” Ka’b bin Malik berkata, “Jika sedang gembira, wajahnya berkilau seakan-akan sepotong rembulan.” Jabir bin Samurah berkisah, “Aku pernah melihatnya pada satu malam yang cerah tanpa mendung. Kupandangi Rasulallah Saw lalu ganti kupandang rembulan. Ternyata, menurut penglihatanku, dia lebih indah dari rembulan.” Ali bin Abu Thalib berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti dia, sebelum maupun sesudahnya.”

Dari berbagai kesaksian yang diungkapkan oleh orang-orang yang hidup sezaman, mengenal, dan dekat dengan Muhammad al-Mushthafa Saw., jelas sekali bagi Abdul Jalil bahwa utusan Tuhan yang tidak lain dan tidak bukan adalah leluhurnya itu merupakan anak cucu Adam yang telah tercerahkan dan terlimpahi keagungan dan kemuliaan-Nya. Bahkan berdasar uraian rahasia hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq di ‘alam al-khayal, ia meyakini bahwa Muhammad al-Mushthafa Saw. bukan saja manusia pilihan yang dilimpahi keagungan dan kemuliaan-Nya, melainkan pengejawantanan dari keagungan dan kemuliaan-Nya sendiri.

Mengetahui dan memahami keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. berdasarkan pandangan seorang pencari Tuhan, ternyata menggiring Abdul Jalil ke hamparan kenyataan tak terbantah tentang Muhammad Saw. sebagai pengejawantahan Ahmad. Muhammad Saw yang lahir sebagai bangsa Arab dan berbahasa Arab bukanlah sekadar manusia berdarah dan berdaging yang memiliki atribut-atribut manusiawi. Muhammad Saw adalah Ahmad yang bersabda, “Ana Ahmadun bila mim,” dan “Ana ‘Arab bila ‘ain,” yang kepadanya Allah bersabda, “Laulaka, laulaka, ma khalaqtu al-aflak” (hadits Qudsi) dan “Khalaqtuka min nuri wa kholaqtu khalqa min nurika” (hadits Qudsi).

Tidak dapat diingkari bahwa setelah perjumpaan menakjubkan dengan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq di ‘alam al-khayal, kesadaran demi kesadaran baru yang tersingkap dari tirai-tirai kemanusiaannya berlangsung begitu mencengangkan sekaligus membingungkan. Namun, di antara kesadaran-kesadaran baru itu, yang paling penting dan dinilai sangat revolusioner oleh Abdul Jalil adalah terkuaknya rahasia keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. sebagai pengejawantahan paling sempurna dari Yang Terpuji. Selama ini ia telah memahami pemetaan secara konseptual dan pemahaman ruhani tentang keberadaan-Nya di dalam Benteng Tak Tertembus, termasuk petunjuk tentang “jalan” dan “cara” menuju Benteng-Nya. Namun, yang belum ditemukannya justru keberadaan “pintu” (bab) dan “kunci” (miftah) untuk masuk ke dalam Benteng-Nya. Selama ini ia hanya berputar-putar dan berkeliling.

Kini, kesadaran barunya telah menemukan “pintu” dan “kunci” itu, yakni Muhammad Saw., yang kedatangannya telah diberitakan (mubasysyiran) oleh Isa a.s. dengan nama Ahmad (QS ash-Shaff: 6). Dialah Muhammad al-Mushthafa Saw yang melalui lisannya mengucapkan sabda Allah, “Inilah jalanku (sabili), aku dan pengikut-pengikutku mengajak engkau kepada Allah dengan bashirah (QS Yusuf: 108).”

Kesadaran baru itu tersingkap beberapa saat setelah ia melaksanakan Haji Wada’ dan berdoa di Multazam. Saat itu, tiba-tiba nur lawami’ di kedalaman jiwanya memancar hingga menggelarkan kesadaran baru betapa Ka’bah sebagai Baitullah pun memiliki pintu, meski semua orang tahu bahwa hanya ada ruang kosong belaka di dalamnya. Dengan demikian, pastilah Benteng Tak Tertembus itu pun wajib memiliki pintu, meski yang ada di dalamnya Cuma Kehampaan yang tak terjangkau pikiran dan tak terbandingkan dengan sesuatu.

Pengalaman menakjubkan tentang Nur Muhammad setidaknya menjadi faktor penentu bagi Abdul Jalil untuk memutuskan pilihan bahwa Muhammad al-Mushthafa Saw itulah “pintu” sekaligus “kunci” dari Benteng-Nya Yang Tak Tertembus. Selama ini ia beranggapan bahwa keberadaan Muhammad Saw sebagai wasilah untuk menuju Dia adalah disebabkan oleh faktor kedekatan (qurb), kecintaan (hubb), kerinduan (‘isyq), dan keterpilihan (mushthafa) belaka. Lantaran itu, segala doa tidak akan diterima tanpa disertai salawat kepada Muhammad Saw.

Kini, ketika kiblat hati dan pikirannya diarahkan kepada Muhammad al-Mushthafa Saw., tersingkaplah berbagai rahasia keagungan dan kemuliaan Ilahi yang tersembunyi di balik laki-laki buta huruf dan terpercaya itu. Terbukti sudah bahwa di balik makna Ana Ahmadan bila mim tersembunyi hakikat Ahad. Di balik makna Ana ‘Arab bila ain tersembunyi makna Rabb. Untuk Allah maka orang-orang beriman diwajibkan shalat dan untuk Muhammad Saw. maka orang-orang beriman diwajibkan salawat. Bahkan nilai shalat dianggap batal dan tidak sah jika tidak disertai salawat.

Sadarlah Abdul Jalil bahwa sabda Allah, “Kholaqtuka min nuri wa kholaqtu khalqa min nurika” (hadits Qudsi) itu berkaitan langsung dengan sabda Allah, “Sungguh telah datang seorang rasul dari nafs-mu sendiri (QS At-Taubah: 128).”

Ketika malam tiba dan menggelar permadani hitam dengan hiasan bintang-gemintang, Abdul Jalil melangkah ke persimpangan jalan yang membelah kota Badar dan Yanbu. Di situ, ia berdiri tegak menatap gugusan langit sambil merenungkan kebesaran Ilahi. Malam itu kabilah yang membawa rombongannya dan beberapa kabilah dari Mesir beristirahat di daerah itu. Karena, ada sebagian beberapa orang anggota kabilah yang akan memisahkan diri kembali ke Mesir.

Berbeda dengan jama’ah lain yang memanfaatkan waktu dengan berbincang-bincang, Abdul Jalil memilih berjalan-jalan menuju persimpangan. Malam itu jarak mereka dengan kota Badar tinggal beberapa pal lagi. Itu berarti, kabilah dalam beberapa saat lagi akan sampai di tanah yang bersejarah yang menjadi tonggak awal kemenangan Islam.

Bagi Abdul Jalil, pertempuran di Badar adalah pertempuran yang benar-benar didasari semangat suci menegakkan Kalimat Tauhid. Dalam pertempuran bersejarah itu kaum beriman yang berjumlah 317 orang dibantu oleh seribu malaikat (QS al-Anfal: 9) dan dilimpahi anugerah kemenangan oleh Allah dengan memukul mundur musuh mereka (QS al-Qamar:45). Karena, Allah bersama mereka dan Allah menempatkan rasa takut di dalam hati orang-orang kafir (QS al-Anfal: 12).

Usai perang Badar, Rasulallah Saw. mengungkapkan kepada para sahabat bahwa pertempuran itu adalah pertempuran kecil belaka. Pertempuran yang lebih besar dan dahsyat adalah pertempuran melawan nafsu. Melawan diri sendiri. Ucapan Rasulallah Saw. seusai perang Badar itu terbukti saat perang di Uhud. Dalam perang itu, para pemanah yang ditugaskan menjaga bukit untuk menghadang musuh ternyata berlarian ke bawah untuk berebut pampasan perang. Kemudian terjadilah tragedi paling memilukan dalam sejarah awal kebangkitan Islam. Terbukti, pamrih pribadi dan kecintaan terhadap harta benda adalah pangkal kebinasaan.

Ketika sayap khayalnya mengepak perkasa, terbang di antara gugusan sejarah perang Badar dan Uhud dengan masing-masing latarnya, tiba-tiba ia dihampiri oleh laki-laki muda yang sudah dikenalnya dengan nama Abu Talbis az-Zur. Orang ini berasal dari negeri Mesir. Tubuhnya tinggi kurus dengan wajah tirus, hidung melengkung bagai paruh rajawali, mata cekung, tulang pipi menonjol, dan gigi agak mengedepan. Jika berbicara dia selalu menggerak-gerakkan kedua tangannya seolah-olah tukang sulap memperagakan keahliannya.

Saat di Makah, Abu Talbis az-Zur tinggal dekat dengan pemondokan Abdul Jalil, namun keduanya tak pernah berbincang-bincang kecuali hanya saling melempar senyum saat berpapasan. Malam itu dia berpamitan kepada Abdul Jalil karena esok akan langsung menuju Yanbu untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir. Abdul Jalil menangkap ada yang tidak beres pada diri Abu Talbis az-Zur. Ia kemudian menanyakan apakah laki-laki itu tidak melakukan shalat arba’in di Masjid Nabawi dan ziarah ke makam Rasulallah Saw..

Mendengar pertanyaan itu, Abu Talbis az-Zur tertawa mengejek sambil mendengus. Kemudian, tanpa ada yang meminta dia berkhotbah dengan menyitir dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits yang intinya mengecam kebiasaan sesat yang dilakukan jama’ah haji yang menyekutukan Allah dengan Muhammad Saw. “Muhammad itu manusia biasa. Meski dia nabi dan rasul, tidak boleh dimuliakan melebihi manusia yang lain, apalagi sampai dituhankan. Untuk apa aku shalat arba’in di Masjid Nabawi? Bukankah pahala yang besar sudah kita peroleh saat shalat di Masjidil Haram? Untuk apa aku ziarah ke makam Muhammad? Bukankah sudah cukup kita tawaf mengitari Ka’bah? Semua itu perbuatan sia-sia. Menyekutukan Allah. Musyrik!” cibirnya.

“Tuan,” Abdul Jalil tersenyum, “Tuan boleh saja mengikuti keyakinan Tuan. Namun, janganlah Tuan menista dan menghujat amaliah ibadah yang dilakukan orang lain yang tidak sepaham dengan Tuan.”

“Sebagai sesama Muslim, aku wajib mengingatkan mereka,” Abu Talbis az-Zur melirik ke arah Abdul Jalil. “Sebab, telah tertulis di dalam Al-Qur’an (QS al-‘Ashr: 3) bahwa sesama orang beriman harus saling mengingatkan. Dan bagiku, jelas sudah kebenaran hanya ada pada Al-Qur’an sebagai firman Allah. Allah tidak boleh disekutukan dengan siapa pun, termasuk Muhammad.”

“Tuan,” sergah Abdul Jalil mendadak merasakan dadanya bagai hendak menumpahkan sesuatu, “sebagaimana Tuan, saya pun yakin bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah. Namun, tahukah Tuan dari mana kebenaran Al-Qur’an ayat demi ayat itu bisa sampai kepada kita?”

“Melalui Muhammad, Rasul Allah,” Abu Talbis az-Zur mengerutkan kening.

“Apakah Al-Qur’an itu berupa kitab atau tabut saat diterima Rasulallah, sebagaimana hal itu pernah diterima Musa?”

“Tidak,” sergah Abu Talbis az-Zur menatap tajam Abdul Jalil.

“Jikalau begitu, dengan cara bagaimana Al-Qur’an diturunkan Allah?”

“Diturunkan ayat demi ayat selama dua puluh tiga tahun.”

“Maksud saya,” Abdul Jalil memburu, “apakah ayat demi ayat itu turun dalam bentuk lembaran tertulis atau bagaimana?”

“Tidak,” Abu Talbis az-Zur tercekat, “ayat demi ayat Al-Qur’an disampaikan melalui mulut Muhammad, Rasul Allah.”

“Tuan,” Abdul Jalil menggempur, “jika Muhammad Saw. itu manusia biasa yang makan, minum, kawin, berketurunan, berperang, dan melakukan amaliah seperti manusia lain, kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan Allah melalui manusia yang lain yang juga makan, minum, kawin, berketurunan, berperang, dan melakukan amaliah? Kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan lewat kakek Tuan, misalnya?”

“Andaikata benar kata Tuan bahwa Muhammad Saw. itu manusia biasa,” lanjut Abdul Jalil, “bagaimana Tuan bisa yakin bahwa yang diujarkan oleh lisannya yang kemudian dirangkum menjadi Kitab Suci Al-Qur’an itu adalah firman Allah? Jikalau Muhammad Saw. manusia biasa, apakah Tuan tidak syak atau berprasangka buruk bahwa dia telah melakukan pemalsuan atas ayat-ayat Allah? Bukankah sudah menjadi kodrat manusia untuk tidak lepas dari kesalahan dan pamrih pribadi?”

“Tuan tidak memahami jalan pikiran saya,” kata Talbis az-Zur berkilah. “Saya tetap yakin bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Karena itu, dia diberi sifat amanah, fathanah, dan maksum. Jadi, dia memang diberi kelebihan dari manusia lain. Namun, dia tetaplah manusia biasa. Karena itu, tidak layak bagi mereka yang beriman dan bertauhid kemudian menjadikan Muhammad sebagai wasilah untuk menuju Allah. Karena, tidak ada dalil dan tuntunannya.”

“Tuan,” kata Abdul Jalil tenang, “dalam menjalankan shalat, apakah Tuan membaca salawat kepada Muhammad Saw?”

“Itu sudah pasti karena syari’at mengatur demikian.”

“Berarti Tuan yakin bahwa shalat yang tidak disertai salawat adalah batal dan tidak sah?” tanya Abdul Jalil memancing.

“Ya, karena itu sudah aturan syari’at. Kita ikuti saja tanpa perlu menakwilkan macam-macam,” sahut Abu Talbis az-Zur gerah.

“Tuan percaya pada syafa’at?” tanya Abdul Jalil.

“Ya.”

“Siapa manusia yang berhak memberi syafa’at?”

“Muhammad Rasul Allah.”

“Jika Allah berhak memberi maghfirah maka Muhammad Saw. berhak memberi syafa’at,” kata Abdul Jalil sambil menatap bintang-bintang di langit. “Jika Muhammad Saw dan orang-orang beriman wajib shalat kepada Allah maka Allah beserta para malaikat bersalawat kepada Muhammad Saw.. Dan karena itu, Allah mewajibkan orang-orang beriman bersalawat kepada Muhammad Saw.. Jika Allah murka kepada siapa pun yang mencintai sesuatu selain Dia, baik itu anak, istri, keluarga, harta benda, atau kekuasaan, kenapa Allah tidak murkan kepada orang-orang yang mencintai Muhammad Saw?”

“Tapi Tuanů” Abu Talbis az-Zur gelagapan.

“Tuan Abu Talbis az-Zur,” sahut Abdul Jalil tersenyum, “sebaiknya kita tidak perlu berdebat soal pandangan dan keyakinan kita. Sebab, yang paling utama menurut saya adalah bagaimana kita berjuang menuju Dia. Apakah kita benar-benar menuju Dia dan semata-mata untuk Dia dan karena Dia? Ataukah kita menggunakan agama-Nya untuk sesuatu selain Dia? Bagi saya, telah jelas dalil Al-Qur’an: Wa al-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana (Bagi mereka yang benar-benar berjuang menuju Kami maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami). Itu berarti, jalan menuju Allah tidak satu. Jadi, jika Tuan yakin bahwa jalan Tuan itu benar maka ikutlah jalan itu. Sebaliknya, saya akan meyakini jalan yang saya anggap benar tanpa perlu mencela jalan orang lain apalagi sampai memaksa orang lain agar mengikuti ‘jalan’ dan ‘cara’ saya.”

Rupanya, saat sedang berdebat tentang keberadaan Muhammad Saw., tanpa mereka ketahui telah muncul Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi. Dia cukup lama ikut mendengarkan percakapan mereka. Hal itu baru disadari Abdul Jalil ketika Husein sambil terbatuk-batuk kecil mendekatinya.

Husein tampaknya tidak senang dengan Abu Talbis az-Zur. Itu terlihat dari sikapnya yang mendukung pandangan-pandangan Abdul Jalil secara berlebihan, yang diperkuat oleh dalil-dalil aqli dan naqli tentang keagungan dan kemuliaan Muhammad Saw. yang tidak boleh dilihat dengan pandangan duniawi semata. Dengan paparan dan uraian yang luas yang didasari pemikiran filosofis, tampak sekali Husein bin Amir Muhammad menempatkan Abu Talbis az-Zur sebagai “keledai dungu” yang tidak tahu apa-apa soal agama, kecuali hanya taklid buta.

Sekalipun pengetahuan Abu Talbis az-Zur bukanlah tandingan Husein, laki-laki asal Mesir itu tidak mau kalah. Dengan suara meledak-ledak dia membela kerangka pandan yang dianggapnya benar, meski dengan dalil-dalil yang diulang-ulang. Dan ujung dari perdebatan yang tak diinginkan itu adalah pertengkaran mulut yang hampir saja pecah menjadi adu jotos.

Abdul Jalil buru-buru melerai, apalagi saat itu ia melihat beberapa orang pengikut Husein berlarian ke arah mereka. Ia berulang-ulang memohon kepada Husein agar bersabar dalam menunaikan perjalanan suci ke makam Muhammad Saw.. Sebaliknya, kepada Abu Talbis az-Zur, ia juga memohon agar bersabar dalam melanjutkan perjalanan kembali ke negerinya.

Salawat dan salam semoga disampaikan kepada Yang Terpuji (Muhammad), Imam al-Haqq, al-Khatim, Nur asy-Syams wa al-Baha’, Babullah wa Miftah al-Bab, yang dari nur-Nya alam semesta dicipta, yang dengan nur-Nya orang-orang beriman dibimbing ke hadirat-Nya, yang dengan nur-Nya al-Khalq dapat menyaksikan keagungan dan kemuliaan al-Khaliq, dan yang dengan nur-Nya ‘abid dibimbing dengan ‘ibadah menuju kepada Ma’bud. Hanya melalui “pintu” dan “kunci” inilah segala rahasia manusia dan alam semesta yang digelar-Nya dengan berlapis-lapis hijab dapat disingkapkan.

Di antara kubur Muhammad Saw dan Raudhah, di antara galau jama’ah yang berebut shalat sunnah dan meratap-ratap memanggil nama Muhammad Saw., Abdul Jalil duduk bersila ke arah kubur di mana jasad Muhammad Saw disemayamkan. Setelah menyampaikan salawat dan salam, ia menapaki tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq dengan menghadapkan kiblat hati dan pikirannya kepada nur yang memancar di antara kedua matanya, sebagaimana diajarkan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia tidak mempedulikan lagi hiruk pikuk jama’ah di sekelilingnya.

Setelah beberapa jenak menapaki keempat tangga rahasia itu tiba-tiba nur di antara kedua matanya memancar terang. Kemudian melalui nur itu terlihat citra agung dan mulia di hadapannya. Sekalipun tidak jelas benar wujudnya – karena diliputi pancaran cahaya menyilaukan – ia memahami bahwa citra agung dan mulia itu adalah perwujudan dari Muhammad Saw..

Sementara itu, perasaannya menangkap pancaran daya gaib dari arah kubur Muhammad Saw. secara bergelombang menerpa ke arahnya. Dalam keadaan itu, hampir saja akalnya mempertanyakan ke mana yang paling benar: apakah yang ditangkap nur di antara kedua matanya atau pancaran daya gaib yang ditangkap oleh perasaannya. Namun, kali ini ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi gelegak akalnya. Ia bergulat menyatukan perasaannya ke dalam nur yang memancar di antara kedua matanya.

Beberapa detik bergulat untuk menyatukan kesadaran tiba-tiba ia merasakan citra agung dan mulia yang terpampang di hadapannya itu memancarkan cahaya kilau-kemilau yang menyilaukan. Cahaya luar biasa dahsyat mengisap seluruh kesadaran dirinya.

Ia dengan gemetar dapat merasakan betapa air mata tumpah dari kelopak matanya, darah mengalir dari seluruh pori-pori tubuhnya, gumpalan-gumpalan hitam dosa keluar dari hatinya, kuda-kuda liar dari nafsu hayawaniyyah berlarian dari kedalaman jiwanya, dan keakuannya sebagai pribadi melesat ke arah citra agung dan mulia itu; terisap oleh daya gaib yang memancar darinya. Dan saat seluruh keberadaannya memasuki kumparan cahaya yang melingkupi citra agung dan mulia itu, leburlah segalanya dalam kilauannya.

Melalui pandangan bashirahi, ia menyaksikan pemandangan menakjubkan. Citra agung dan mulia yang semula tidak jelas akibat cahaya terang yang meliputinya kini hadir dalam wujud yang nyata. Muhammad al-Mushthafa Saw. duduk di atas takhta tertinggi dari maqam Muhammad dilingkari rasul-rasul dan malaikat yang berjajar. Hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq tampak di sebelah kanannya. Umar bin Khaththab di sebelah kirinya. Ali bin Abu Thalib berdiri di depan agak ke kanan. Dan Utsman bin Affan berada di depannya.

Bersabdalah citra agung dan mulian melalui al-ima’ yang jika diungkapkan dalam bahasa manusia berbunyi:

“Ketahuilah, o Ahmad, bahwa di dalam dirimu ada bagian dari diriku yang tak dapat dipisah. Bagian diriku yang ada di dalam dirimu itulah yang menjadi mursyid (guru sejati), Imam al-Haqq, yang membimbing dirimu sejati kepada hakikat Dia yang mengutusku.”

“Ketahuilah, o Ahmad, bahwa yang engkau saksikan ini adalah maqam Muhammad yang tinggi dan paling murni. Barang siapa yang naik ke maqam ini maka dia akan mewarisi keagungan dan kemuliaannya. Ketahuilah, o Ahmad, bahwa keberadaan maqam ini tidak di mana-mana, kecuali ada di dalam dirimu sendiri. Namun, engkau harus tahu bahwa antara engkau dengan maqam ini diantarai oleh tujuh langit, tujuh dunia, tujuh neraka, dan tujuh sorga. Dan hanya melalui aku sebagai “pintu” dan “kunci” dari Benteng-Nya Yang Tak Tertembus maka engkau dapat menyaksikan keagungan dan kemuliaan maqam ini.

“Karena engkau telah menyaksikan maqam ini, meski belum bisa mencapainya, maka hendaknya engkau bersabar hingga pada waktunya nanti datang keputusan-Nya. Karena itu, pujilah Dia yang mengutusku. Pujilah Dia yang menetapkan setiap keputusan. Dan sebagai pewarisku, pewaris Muhammad, sampaikanlah kepada manusia tentang apa yang telah kusampaikan. Terangilah kegelapan dunia dengan nur-mu yang memancar dari nur-ku yang merupakan pancaran Nur-Nya. Terangilah kegelapan meski penuh derita dan sengsara, bahkan andaikata darah harus mengalir dari tubuhmu sebagaimana pernah kualami saat Dia mengutusku.”

“Ketahuilah, o Ahmad, bahwa pada saat engkau memerangi mereka yang berada di dalam kegelapan maka saat itulah engkau sebenarnya memerangi dirimu sendiri. Sebab, setiap nafs sebenarnya sama dengan nafs yang ada pada dirimu, yang sumbernya adalah dari nafs-Ku. Ana min nur Allah wa khalq kulluhum min nuri. Aku ada di setiap diri. Karena itu, o Ahmad, jalankanlah tugas sucimu itu dengan penuh kesabaran. Karena, Dia selalu menyertai mereka yang sabar. Dan Dia adalah ash-Shabir (Yang Sabar) itu sendiri.”

Sedetik sesudah itu, pemandangan bashirah yang disaksikan Abdul Jalil terhapus dan mewujud dalam bentuk cahaya menyilaukan yang merampas semua penglihatan dan seluruh ufuk kesadaran. Ia merasakan seluruh cakrawala mewujud dalam Haqiqah Muhammad (Hakikat Yang Terpuji). Keakuannya pun turut terisap. Dan antara sadar, ia saksikan melalui pandangan bashirah dan pendengaran sam’ tentang kebenaran yang sangat rahasia di balik keberadaan Muhammad Saw.: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Terpuji adalah pancaran (rasul) Allah sendiri.”

Seketika kesadarannya hilang. Lenyap. Sirna. Terisap dan lebur ke dalam keagungan dan kemuliaan citra agung dan mulia dari Muhammad Saw..

Pengalaman ruhaniah selama beberapa detik di depan kubur Muhammad Saw itu benar-benar telah membukan cakrawala baru tentang makna “pintu”, “kunci”, mursyid, Imam al-Haqq, Nur asy-Syams wa al-Baha’, al-Khatim, Nur Muhammad, dan Ahmad yang dinisbatkan kepada Muhammad Saw..

Pengalaman menakjubkan dari fana’ yang dialaminya kali ini, meski esensinya sama, manifestasinya sangat berbeda dengan pengalamannya saat di Baitul Haram. Saat itu, ia mendapati seluruh cakrawala menghilang dan melenyap kecuali dirinya yang bagaikan menyatu dengan cahaya yang memancarkan cahaya itu. Kini, di hadapan kubur Muhammad Saw., ia mendapati seluruh cakrawala dan keakuannya menghilang dan terisap lenyap tanpa sisa, kecuali citra agung dan mulia dari Muhammad Saw..

Bertolak dari dua sisi pengalaman yang berbeda, namun sama dalam esensi itu, ia tidak bisa membeda-bedakan mana yang disebut fana’ fi Allah dan mana yang disebut fana fi rassul. Baginya, mengetahui perbedaan keduanya tidaklah penting. Karena, anugerah dari fana’ itu sendiri sudah merupakan puncak dari anugerah yang tak ternilai.

Ako Anchorage (Japan), February 26th 2007