Jama’ah Karamah al-Auliya’

Bagaikan tatanan pemerintahan manusia yang memiliki susunan hierarki lengkap dengan tugas masing-masing, seperti maharaja, perdana menteri, panglima angkatan perang, menteri-menteri, jaksa, hakim, adipati, perwira, prajurit, dan nayakapraja; demikianlah kehidupan ruhani mempunyai hierarki pemerintahannya sendiri lengkap dengan tugas-tugas dan kewenangannya masing-masing. Hanya saja, para pemegang jabatan di dalam hierarki pemerintahan ruhaniah itu terdiri atas sejumlah manusia paripurna pilihan (insan al-Kamil) yang tergabung dalam Jama’ah Karamah al-Aulia’. Mereka saling mengetahui siapa-siapa saja yang menjadi anggota Jama’ah dan apa kedudukannya, namun orang di luar kelompok mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan para aulia itu.

Jabatan yang tertinggi di antara anggota Jama’ah Karamah al-Aulia’ adalah Quthb al-Aqthab. Jabatan ini dapat disetarakan dengan jabatan sultan dalam hierarki kepemimpinan manusia. Lantaran itu, Quthb al-Aqthab juga sering disebut Sulthan al-Aulia’. Pada setiap zaman ada seorang Quthb al-Aqthab. Dia menjadi kutub yang dilingkari oleh Haqiqah ar-Ruhaniyyah. Dia adalah cermin Allah. Dia pusat pengawasan Allah atas dunia pada setiap zaman. Dia mengetahui rahasia takdir. Dia pusat tersembunyi dalam hierarki para wali.

Quthb al-Aqthab disebut juga al-Ghauts. Artinya, orang yang menolong dan melindungi dengan kasih sayang. Disebut al-Ghauts karena dia bisa melimpahi orang dengan inayah, yaitu rahmat dan kasih sayang Allah. Quthb al-Aqthab atau al-Ghauts hidup sendirian pada zamannya (wahid az-zaman bi-‘ainihi). Jika seorang Quthb al-Aqthab wafat maka dia akan diganti oleh Quthb al-Aqthab lain.

Di bawah Quthb al-Aqthab ada dua jabatan yang disebut al-Imamani (dua imam), yakni imam kanan dan imam kiri. Imam yang berasal dari sisi kanan Quthb al-Aqthab bertugas mengawasi alam gaib. Imam yang berasal dari sisi kiri Quthb al-Aqthab bertugas mengawasi alam kasatmata (dunia nyata). Di bawah al-Imamani ada jabatan Quthb yang jumlahnya banyak. Di bawah jabatan Quthb ada empat jabatan Autad (pasak). Di bawahnya lagi ada tujuh Abdal (pengganti), demikian seterusnya.

Keberadaan Jama’ah Karamah al-Aulia’ beserta susunan hierarki lengkap dengan tugas-tugasnya itu diketahui Abdul Jalil secara tak terduga, setelah tanpa disangka-sangka ia bertemu Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, usai melaksanakan shalat isya di masjid Nabawi. Malam itu, saudagar kaya raya yang selama ini menjadi pembimbing ruhaninya, tanpa penjelasan ini dan itu tiba-tiba mengajaknya ke daerah Uhud. Dan di sepanjang perjalanan itulah Ahmad at-Tawallud menceritakan tentang Jama’ah al-Aulia’, setelah terlebih dulu menjelaskan bahwa selama ini dia senantiasa melakukan haji setiap tahun.

Selama berjalan ke daerah Uhud yang terletak di utara Yatsrib, Abdul Jalil diam-diam merasa aneh. Ia, misalnya, merasa betapa langkah kakinya sangat ringan. Seolah-olah terbang di atas permukaan tanah. Bahkan yang mengherankan, baru beberapa puluh kali melangkahkan kaki, hamparan gunung batu Uhud telah terpampang di hadapannya.

Masih dengan rasa takjub, ia terus mengikuti langkah Ahmad at-Tawallud yang berjalan di depannya. Begitu berada di kaki Jabal Uhud, Ahmad at-Tawallud berhenti dan langsung duduk di atas sebongkah bati datar. Dia memberi isyarat agar Abdul Jalil duduk di sampingnya. Kemudian dengan suara bening dan bergema, dia menjelaskan bahwa malam itu mereka akan mengikuti pertemuan Jama’ah al-Aulia’ yang dilaksanakan setiap tahun sekali.

Abdul Jalil terkejut setengah mati mendengar penjelasan Ahmad at-Tawallud. Bagaimana mungkin ia bisa diajak mengikuti pertemuan para wali yang seharusnya hanya boleh diketahui oleh sesama wali saja. Namun, sekilas ia memahami betapa keberadaannya di situ adalah karena Ahmad at-Tawallud. Itu sebabnya, ia langsung menangkap sasmita bahwa sahabatnya yang saudagar kaya raya itu sebenarnya merupakan salah seorang wali keramat yang mencintai dan dicintai-Nya.

Menyadari hal itu, ia merasakan kegembiraan merayapi hatinya. Sungguh, ia merasa telah dikaruniai anugerah berlimpah-limpah oleh-Nya untuk mengetahui kekasih-kekasih-Nya yang diselubungi hijab-hijab tak tertembus dari pengetahuan manusia.

Seiring dengan ketakjuban dan kegembiraan yang dialaminya, ia tiba-tiba merasakan satu keanehan lagi tengah berlangsung atas dirinya. Ia, misalnya, tiba-tiba saja mampu menangkap dan membedakan makna ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Ahmad at-Tawallud. Maksudnya, ia bisa membedakan mana suara Ahmad at-Tawallud yang keluar dari keakuan pribadi, mana yang keluar dari Ruh al-Haqq, dan mana yang berasal dari al-Haqq. Dan Ahmad at-Tawallud sambil tertawa dan menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil mengungkapkan isyarat bahwa dia pun telah mengetahui perubahan yang dialami sahabatnya itu.

Ketika tengah mencermati perubahan yang terjadi pada dirinya, di bawah pancaran sinar rembulan ia melihat setitik bayangan hitam melesat cepat di atas garis cakrawala. Semula ia menduga titik itu tentulah seekor burung malam atau sejenis kelelawar. Namun, kecepatan gerak titik itu begitu menakjubkan. Dan sedetik sesudah itu, ia menyaksikan pemandangan yang mencengangkan; ternyata titik hitam itu adalah manusia yang sedang duduk bersila di atas hamparan sajadah terbang.

Ia sangat ingin menanyakan pemandangan yang mencengangkan yang baru pertama kali dilihatnya itu. Namun, Ahmad at-Tawallud dengan isyarat tangan menyuruhnya diam dan menunggu dengan sabar peristiwa apa yang terjadi selanjutnya. Demikianlah, dengan mendaratnya sajadah terbang itu, ia menyaksikan lagi seorang tua kulit hitam berpakaian serba putih muncul dari permukaan tanah, tepat di depannya.

Manusia di atas sajadah terbang itu melambaikan tangan kepada Ahmad at-Tawallud. Orang itu bernama Abdus Salam ath-Thayy al-Maghribi. Dia adalah kekasih-Nya yang berasal dari pinggiran kota Fez di negeri Maghribi (Maroko). Sehari-harinya, Abdus Salam ath-Thayy dikenal sebagai gelandangan tua aneh dan miskin yang dengan pakaian lusuh kadang-kadang terlihat berkeliling memasuki lorong-lorong kumuh dengan seonggok kayu bakar di bahunya. Kayu-kayu itu lazimnya dibagikan kepada janda-janda tua yang hidup dalam lingkaran kemiskinan. “Keberadaan Adus Salam ath-Thayy sebagai anggota Jama’ah Karamah tidak pernah diketahui orang, padahal dia adalah kekasih-Nya yang dianugerahi kemampuan “melipat ruang”. Dia dapat pergi kemana saja dengan cepat sesuai kehendaknya,” bisik Ahmad at-Tawallud.

Orang tua berkulit hitam berpakaian serba putih yang muncul mendadak dari permukaan tanah adalah Abdul Fattah Mutha’ al-Habsy, yang berasal dari desa ditepi danau Tana, di negeri Habbasya (Ethiopia). Dia adalah seorang kepala suku yang sangat dihormati oleh suku-suku di sekitarnya. Orang-orang di negerinya mengenal Abdul Fattah Mutha’ al-Habsy dengan nama kebesarannya sebagai kepala suku, yaitu Dangla. Tidak ada satu pun anggota sukunya yang tahu bahwa Dangla yang mereka hormati itu adalah kekasih-Nya. Mereka hanya tahu bahwa Dangla yang mereka patuhi itu memiliki bermacam kelebihan ruhani yang bisa menghalau hantu-hantu dan ruh-ruh jahat yang suka mengganggu manusia.

Berurutan dengan kehadiran mereka, Abdul Jalil menyaksikan berbagai manusia aneh yang datang dengan berbagai cara yang aneh pula. Ada yang menunggang serigala, berjalan dengan kedua tangan, menaiki pusaran angin gurun, mengendarai gumpalan awan, kursi terbang, dan bahkan tilam terbang.

Di antara sejumlah kekasih Allah yang diketahui Abdul Jalil berdasar penjelasan Ahmad at-Tawallud adalah:

Abdur Rahman Mahfuzh as-Sini asal Kanton (Kwang Tung), di negeri Cina.

Abdul Qadir Maqdur al-Balkhi asal Balkh, di negeri Khurasan (Iran).

Abdur Rahim Habbah an-Nisyaburi asal Nisyapur, di negeri Khurasan (Iran).

Abdullah Khafi al-Mishri asal Ismailliyah, negeri Mesir.

Abdul Malik Muqtashid al-Isfahani, asal Isfahan (Iran).

Abdul Jabbar Shahibul Hal at-Tirmidzi, asal Termez (Uzbekistan).

Abdul Ghafur Mufarridun al-Gujarati, asal Gujarat (India).

Abdul Karim Gurgani (Iran).

Abdul Halim Tabaristani (Iran).

Abdul Hamid Kirmani (Iran).

Abdul Majid Turfani (Tibet).

Abdul Jalal Daghestani (Rusia), dan

Abdul Qohar Punjabi (India).

Ketika sedang mendengar uraian Ahmad at-Tawallud, tiba-tiba pandangan Abdul Jalil terisap oleh kekuatan luar biasa untuk menyaksikan seorang laki-laki tua yang berjalan tertatih-tatih dibantu tongkat penyangga di tangan kanannya. Tidak ada yang aneh pada laki-laki tua itu. Dia berjalan biasa saja. Bahkan dengan usianya yang tua itu betapa sulit dia melangkah di tengah hamparan pasir, terutama saat mendaki lereng Jabal Uhud. Namun, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja ia menangkap ketidakterbatasan pada diri orang tua itu. Orang tua yang kemudian dikenalnya bernama Misykat al-Marhum itu bergerak, namun seolah-olah diam. Rumit, namun sederhana. Meliputi, namun diliputi. Tidak hidup, tetapi tidak mati. Sebuah tampilan menakjubkan yang mirip dengan keberadaan pemuda aneh yang ditemuinya di Masjidil Haram.

Menghadapi keanehan Misykat al-Marhum, Abdul Jalil menangkap isyarat dari nur lawami’ yang menyatakan bahwa laki-laki tua yang sedikitpun tidak menunjukkan keanehan yang mencengangkan itu justru merupakan kekasih-Nya yang paling mulia dan yang paling tinggi maqamnya. Namun, saat ia melirik ke arah Ahmad at-Tawallud untuk meminta penjelasan, sahabatnya itu memberinya isyarat agar diam dan tidak membicarakan Misykat al-Marhum.

Isyarat dari nur lawami’ tentang Misykat al-Marhum ternyata tidak salah. Hal itu diketahuinya ketika Misykat al-Marhum dengan isyarat tangan dan al-ima’ melarangnya untuk mengungkapkan sesuatu mengenai dirinya. Bahkan saat Abdul Jalil menerka-nerka apakah Misykat al-Marhum seorang Quthb atau bahkan Quthb al-Aqthab, dia dengan lebih tegas lagi melarangnya dengan acungan tongkat. Dan saat itu, Abdul Jalil merasa lidahnya kelu dan mulutnya terkunci.

Ketinggian martabat laki-laki lemah yang sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda karomah itu terbukti saat dia setelah dengan susah payah mendaki lereng bukit Uhud langsung disambut dengan penuh hormat oleh para kekasih-Nya. Abdus Salam ath-Thayy menggelar surbannya sebagai alas duduk Misykat al-Marhum. Dan bagaikan orang tua pikun, dia menurut saja ketika dibimbing dan disuruh duduk di atas hamparan tersebut.

Ketika para kekasih Allah itu duduk berhadap-hadapan dalam sebuah lingkaran di atas Jabal Uhud di bawah benderang rembulan, Misykat al-Marhum tanpa terduga mengetuk-ketukkan tongkatnya beberapa kali ke tanah dan kemudian menunjuk ke arah Abdul Jalil sambil berkata, “Malam ini telah hadir anggota baru dalam Jama’ah, yakni Abdul Jalil al-Jawy. Dia telah dipilih-Nya untuk menggantikan kedudukan saudara kita Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy (asal negeri Jawa) yang telah dipanggil-Nya.

Abdul Jalil terkesima kaget. Namun, sebelum ia sempat menyadari apa yang sedang terjadi, tiba-tiba ia menyaksikan pancaran cahaya menyilaukan bagai kilatan petir melesat dari dada Misykat al-Marhum. Dan ia masih dicekam keheranan ketika tubuhnya serasa disentak oleh kekuatan dahsyat akibat disambar oleh cahaya menyilaukan tadi. Beberapa jenak ia hanya bisa termangu-mangu kebingungan bagai orang yang mendadak terbangun dari tidur.

Peristiwa menakjubkan yang berlangsung sekejab itu ternyata membawa perubahan besar pada dirinya. Beberapa jenak setelah terheran-heran, ia merasakan betapa ia seperti telah mengenal akrab para kekasih Allah yang hadir di situ. Seolah-olah ia telah bergaul dengan mereka selama puluhan tahun. Bahkan yang mengherankan, ia merasa mereka adalah bagian dari dirinya.

Saat ia termangu menyaksikan keajaiban yang dialaminya, para kekasih Allah itu berbarengan mengucapkan salam. Dan ia pun menjawabnya. Namun, sesudah itu mereka langsung memperbincangkan kehendak Allah yang akan mengarahkan perjalanan sejarah umat manusia ke sebuah zaman yang sangat menggetarkan, yakni zaman kesesatan umat sebagaimana telah digariskan-Nya di lembaran yang terjaga (al-Lauh al-Mahfuzh). Jika manusia seumumnya memperbincangkan persoalan besar dengan berdebat dan menggunakan hujah-hujah serta dalil-dalil pembenar, maka para wali karomah itu tidak sedikitpun bertentangan pendapat.

Misykat al-Marhum yang dihormati dan dimuliakan oleh para anggota Jama’ah memulai perbincangan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 26: “Allah Pemilik kekuasaan. Dia berikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Ditangan-Nya terletak kebajikan. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Beberapa jenak berhenti, Misykat al-Marhum melanjutkan bacaannya ke ayat 27: “Allah Berkuasa memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dia berkuasa mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia melimpahi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa menghitung-hitung.” Sesudah itu ia membaca Surat al-Qashash ayat 68: “Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi yang lain.”

Kini Misykat al-Marhum membaca Surat Yunus ayat 107: “Jika Allah menimpakan marabahaya (mudharat) kepada makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menghindarinya kecuali Dia sendiri. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Abdul Jalil merasakan jantungnya berdentam-dentam dan sekujur tubuhnya panas dingin. Ia menangkap sasmita bahwa apa yang akan disampaikan Misykat al-Marhum adalah peristiwa menggetarkan yang berkaitan dengan malapetaka luar biasa yang bakal menimpa umat manusia.

Misykat al-Marhum terdiam sejenak. Para wali yang lain membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir mengagungkan kebesaran Allah.

Setelah itu, ia membacakan hadits-hadits yang berkaitan dengan Dajjal, sang Penyesat umat manusia. Kemudian dengan isyarat, ia memberi petunjuk agar para wali yang hadir dalam pertemuan Jama’ah itu menjalankan tugas masing-masing untuk menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Dia juga mengisyaratkan bahwa dunia akan segera dilanda kekuasaan jahat Dajjal dengan pengaruh-pengaruhnya yang menyesatkan, bahkan di kalangan kaum muslimin.

Sebuah pengalaman aneh yang menakjubkan tiba-tiba saja dialami Abdul Jalil seiring dengan usahanya memahami apa yang dikemukakan oleh Misykat al-Marhum. Ia merasakan betapa jantungnya yang berdentam-dentam dan sekujur tubuhnya yang panas dingin itu mendadak tenang. Sedetik kemudian, ia mendapati betapa dirinya telah memahami sedemikian rupa rincinya tentang apa yang dikemukakan Misykat al-Marhum. Bahkan ia menangkap jelas perintah Misykat al-Marhum tentang bagaimana ia harus menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penjaga keseimbangan kehidupan umat ditengah usaha-usaha Dajjal beserta pengikut-pengikutnya mempengaruhi umat. Di antara tugas dan fungsinya itu, ia harus membuat garis batas yang tegas untuk memisahkan umat yang terpengaruh Dajjal dengan umat yang tidak terpengaruh Dajjal.

Dalam memahami ungkapan tentang Dajjal, Abdul Jalil merasakan betapa setiap kali Misykat al-Marhum menyitir hadits maka saat itu pula ia bagaikan menyaksikan pemandangan nyata yang tergelar melalui bashirah. Misalnya, saat Misykat al-Marhum menyitir hadits yang mengungkapkan bahwa Dajjal digambarkan berkulit putih. Mata kanannya buta. Mata kirinya bersinar laksana bintang (HR Bukhari) maka terpampanglah di dalam pemandangan batinnya sosok-sosok dari manusia-manusia berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, berhidung mancung, dan bertubuh tinggi besar. Mata duniawinya (sebelah kiri) terbuka lebar dan sangat cemerlang. Sedang mata ukhrawi-nya (sebelah kanan) buta.

Misykat al-Marhum menyitir hadits yang menyatakan bahwa Dajjal memiliki gunung roti dan sungai madu. Dia juga membawa api dan air di tangannya, namun air itu sebenarnya api, dan api itu sebenarnya air (HR Bukhari). Melalui pandangan bashirah, Abdul Jalil melihat tentang sosok-sosok yang memiliki kekayaan luar biasa. Mereka suka sekali menipu orang lain dengan janji-janji palsu tentang kehidupan duniawi dan ukhrawi. Siapa pun yang menumpukan harapan kepada mereka akan mendapatkan kesesatan dan kebinasaan. Sebaliknya, siapa yang berani menantang akan beroleh kebaikan dan kemenangan.

Ketika Misykat al-Marhum menyitir hadits yang mengungkapkan bahwa Dajjal jika berjalan di atas bumi sangat cepat bagai awan dibawa angin (HR Abu Dawud), tiba-tiba pandangan bashirah Abdul Jalil terpampang kapal-kapal layar berukuran raksasa yang bergerak sangat cepat membelah samudera raya. Kemudian diiringi dentuman meriam, kepulan asap, bau mesiu, mayat bergelimpangan, dan darah berceceran dimana-mana, berhamburanlah kawanan manusia berkulit putih dari dalam kapal-kapal mereka. Demikianlah, kawanan manusia berkulit putih itu melanda ujung-ujung dunia. Dengan kerakusan tiada tara mereka memangsa apa saja yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.

Berdasar hadits-hadits tersebut dan pandangan bashirah, Abdul Jalil menangkap makna bahwa Dajjal sebagai kaum kulit putih yang hidup mengikuti tatanan nilai yang terhijab dari al-Khaliq dan dari kehidupan ukhrawi. Itu sangat sesuai dengan makna di balik nama Dajjal yang berasal dari kata dajala: dia (yang) tertutup. Dengan demikian, yang disebut Dajjal adalah bangsa-bangsa berkulit putih yang seluruh sisi kehidupannya terhijab dar al-Khaliq. Ini berarti, siapa yang mengikuti tatanan nilai bangsa-bangsa berkulit putih maka ia akan terhijab dar al-Khaliq.

Abdul Jalil memahami bahwa tugas utama Dajjal dalam menjalankan fungsinya sebagai sang Penyesat Agung adalah membentuk “hijab-hijab” pada diri manusia, yakni melalui paham-paham yang berkaitan dengan cinta keduniawian-materialisme (hubb ad-dunya); mengagungkan akal (‘aql), yaitu simpul ikatan (‘iql) yang menjerat pikiran manusia ke arah lingkaran setan aturan-aturan indriawi yang jumud; mengumbar hawa nafsu; memuja ananiyyah (egoisme, individualisme, hedonisme); takut mati; mengingkari (kufr) keberadaan yang gaib, termasuk mengingkari keberadaan Allah (ateisme).

Pandangan hidup bangsa-bangsa kulit putih yang mengikuti tata nilai Dajjal itu semata-mata bersifat keduniaan. Lantaran itu, mereka hidup dengan mengikuti naluri keserakahan hawa nafsu. Namun, keserakahan itu akan mereka balut seolah-olah merupakan tuntunan agama. Selain itu, bangsa-bangsa kulit putih pengikut Dajjal memiliki sifat takabur seperti Iblis. Mereka juga suka menghina, menista, serta merendahkan orang lain yang berkulit lebih gelap. Bahkan karena ketakaburan itu mereka menganggap dunia ini milik mereka. Lantaran itu, mereka merasa berhak untuk mengusir dan membunuh bangsa-bangsa berkulit gelap yang mereka anggap hewan-hewan rendah pengotor dunia.

Pandangan hidup yang semata-mata bersifat keduniaan dan dilandasi sifat takabur itu telah membawa mereka pada tindak kejahatan yang paling mengerikan dalam sejarah kemanusiaan, yakni menjadikan agama sebagai alat untuk mensahkan keliaran nafsu, keserakahan, kezaliman, kecurangan, kebiadaban, kekejaman, kebuasan, dan kejahatan. Ini terjadi karena agama yang benar bagi mereka adalah agama yang menguntungkan kehidupan duniawi dan memberi kebebasan untuk mengumbar nafsu. Itu sebabnya, agama mereka tidak mengenal syari’at yang berisi aturan-aturan untuk menata kehidupan manusia sebagai penghuni bumi. Tuhan yang mereka sembah pun adalah Tuhan yang dapat menguntungkan kehidupan duniawi mereka, yakni Tuhan yang menghapuskan hukum dan aturan-aturan yang mengikat kebebasan manusia dalam melampiaskan hawa nafsu.

Manusia-manusia Dajjal itu ditandai oleh perilaku yang khas, yakni sangat mempesona jika berbicara tentang kehidupan duniawi dan mengedepankan kesaksian Allah tentang ketulusan hati mereka. Sebenarnya, mereka justru menyembunyikan pamrih dari apa yang mereka bicarakan. Saat orang-orang terpesona, mereka akan melampiaskan pamrih duniawinya hingga terjadi peperangan, penipuan, penindasan, penyiksaan, penjarahan, penistaan, dan berbagai kerusakan di muka bumi (QS al-Baqarah: 204-205).

Dengan terungkapnya makna Dajjal dalam perbincangan para wali karomah itu maka telah jelaslah bahwa kehadiran bangsa-bangsa berkulit putih ke berbagai belahan bumi senantiasa akan ditandai dengan kerusakan dan kebinasaan. Sebab, sifat dan kecenderungan manusia-manusia yang “tertutup” dari kebenaran (al-Haqq) maka seluruh gerak hidupnya semata-mata dibimbing oleh nafsu-nafsunya yang rendah yang dikendalikan oleh bisikan Iblis. Dan sebagaimana perilaku Iblis, mereka selalu berkata-kata dengan ungkapan-ungkapan yang indah dan mempesona (sebagaimana Iblis membujuk Adam dan Hawa). Mereka akan berkata tentang tugas mereka sebagai utusan Tuhan yang menyebarluaskan -Rahman (Kasih) dan Rahim (Sayang) kepada umat manusia. Namun, berbeda dengan apa yang mereka ucapkan, yang mereka perbuat justru kekejaman, kebuasan, keserakahan, ketakaburan, kecurangan, dan kejahatan yang tak pernah terbayangkan dalam pikiran waras manusia.

Sekalipun telah jelas bahwa Dajjal akan muncul dari bangsa-bangsa berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, berhidung mancung, dan bertubuh tinggi besar, tidak seluruh bangsa itu bisa disebut bangsa Dajjal. Sebab, hidayah Allah tidak mengenal warna kulit. Di antara mereka ada juga yang tidak sepaham dan bahkan menentang nilai-nilai Dajjal. Namun, karena jumlahnya tidak besar maka mereka akan segera tersapu oleh pengaruh Dajjal, bagai selembar daun kering tertiup angin.

Usai membahas tentang kehadiran Dajjal, para wali karomah kemudian bubar begitu saja, kembali ke tempat tinggalnya masing-masing dengan penuh ketenangan dan kegembiraan. Tidak ada petunjuk ini dan itu. Mereka bahkan tidak sedikit pun menunjukkan keprihatinan apalagi cemas menyandang tugas berat yang bakal mereka jalankan.

Cahaya rembulan yang keperakan jatuh ke permukaan lembah, gunung, dan kebun-kebun kurma di sekitarnya. Udara malam sangat dingin. Di atas Jabal Uhud, Abdul Jalil bergeming duduk bersila di tempatnya sambil memandang Ahmad at-Tawallud dan Misykat al-Marhum berbincang-bincang. Suasana sangat sepi. Senyap. Sunyi. Hening. Angin gurun yang biasanya menderu-deru tak terdengar sedikit pun suaranya. Kehidupan bagai terhenti.

Dalam keheningan itu, ia mendengar detak jantung dan desah napasnya serta sayup-sayup suara Ahmad at-Tawallud dan Misykat al-Marhum. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Ia hanya merasa betapa keresahan diam-diam merayap ke dalam hatinya dan menjalar terus ke segenap jaringan tubuhnya. Makin lama makin merajalela.

Berbeda dengan para wali karomah lain, Abdul Jalil yang baru malam itu ditabalkan sebagai anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’, merasa resah karena belum mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Dajjal beserta bala tentaranya. Keresahan itu rupanya diketahui oleh Misykat al-Marhum yang masih berbincang-bincang dengan Ahmad at-Tawallud. Hal itu terlihat ketika dengan lambaian tongkatnya, dia menyuruh Abdul Jalil mendekat dan duduk dihadapannya.

Abdul Jalil menghambur dan buru-buru duduk bersila. Misykat al-Marhum memerintahkannya untuk memejamkan mata dan melakukan nafs al-haqq sebagaimana yang diajarkan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Tanpa bertanya ia melaksanakan perintah itu.

Ketika sedang berjalan setapak demi setapak mendaki nafs al-haqq dengan memusatkan konsentrasi pada nur, ia merasakan bagian bawah keningnya – tepat di antara kedua matanya – disentuh oleh tangan Misykat al-Marhum. Berurutan dengan sentuhan itu tiba-tiba ia menyaksikan cahaya yang luar biasa terang memancar di hadapannya. Sedetik sesudahnya, kesadaran dirinya terisap ke dalam cahaya itu. Kemudian bagai anak panah yang dibidikkan ke matahari, demikianlah ia menyaksikan cahaya di hadapannya itu mekin terang hingga seakan membutakan matanya.

Abdul Jalil yang pernah mengalami berbagai peristiwa ruhani yang menakjubkan selama perjalanan mencari-Nya, sadar benar dengan apa yang dialaminya saat itu. Itu sebabnya, sedikit pun ia tidak berani bertanya-tanya. Ia membiarkan peristiwa yang membawanya ke dimensi lain itu berlangsung dan menganggapnya sebagai bagian dari pengalaman ruhani yang kebenarannya tidak perlu dijabarkan dengan akal dan pikiran. Dan lantaran itu, ia tidak mengetahui secara pasti apakah ia seperti kupu-kupu keluar dari kepompong atau sebaliknya justru seperti ular masuk ke dalam liang.

Peristiwa ruhani itu akhirnya melemparkannya ke dimensi yang tak pernah dikenalnya, yakni hamparan luas tanpa batas dengan kilasan-kilasan aneka bentuk dan warna yang senantiasa berubah-ubah yang tak terlukiskan keindahannya. Hamparan itu begitu luas hingga tidak memiliki garis cakrawala. Seluruh yang tergelar memenuhi segala penglihatan. Sementara cahaya yang luar biasa terangnya itu secara menakjubkan terbit sebagai bulatan cahaya dengan sinar gemilang memancar di kejauhan. Bulatan cahaya itu seolah-olah menjadi tumpuan batas pandangan.

Di tengah hamparan luas tanpa batas itu ia tetap meneguhkan ingatan kepada Allah. Ia mengesampingkan gelegak tanda tanya yang sempat menyembul di benaknya. Beberapa jenak kemudian ia mendengar suara-suara memanggil namanya. Suara-suara itu bukan perempuan dan bukan laki-laki. Mereka semacam al-ima’. Suara-suara itu menggetari kesadarannya.

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa apa yang engkau saksikan ini bukanlah sesuatu yang berada di luar dirimu. Sebab, saat ini engkau tidak berada di mana-mana, melainkan di dalam dirimu sendiri. Hamparan luas tanpa batas yang tergelar di hadapanmu adalah batas khatrat antara dua alam yang terletak di dalam dirimu. Di belakangmu adalah alam akal (‘aql) yang sempit, dangkal, rendah, terbatas, dan terikat oleh dalil-dalil indriawi yang mengikat (‘iql) kebebasanmu dalam menjalin hubungan dengan Dia.”

“Hamparan luas tanpa batas yang tergelar di hadapanmu adalah bahr al-wujud yang menghamparkan kegelapan dan terang dalam bentangan bathil dan haqq, zhulumat dan nur, padat dan halus, buruk dan baik, duniawi dan ukhrawi. Di dalam hamparan bahr al-wujud itu tersembunyi haqiqah, qandil, nur as-samawati wa al-ardh, dan Nurun ‘ala Nurin (QS an-Nur: 35). Karena itu, o Abdul Jalil, ceburkanlah dirimu ke dalam hamparan bahr al-wujud jika engkau ingin mengetahui hakikat asal kejadianmu.”

Tanpa bertanya ini dan itu, ia terus membenamkan ingatannya hanya kepada Allah sambil memusatkan pandangan ke arah bulatan cahaya yang bersinar benderang. Beberapa detik kemudian, ia merasakan kesadarannya bagai terisap oleh kekuatan dahsyat yang memancar dari bulatan cahaya itu. Sesaat kemudian, ia merasakan kesadarannya meluncur masuk ke lubang cahaya tanpa dasar.

Ia membiarkan kesadarannya terseret masuk. Ia menyaksikan kilasan terang dan gelap silih berganti memasuki penglihatannya. Dan bagaikan orang terjatuh ke dalam jurang, ia merasakan kengerian luar biasa menerkam kesadarannya. Ia ingin menjerit, namun lidahnya kelu dan mulutnya seperti terkunci. Akhirnya, ia pasrah dan membiarkan kesadarannya terempas; timbul dan tenggelam di tengah kilasan-kilasan cahaya dalam keadaan antara sadar dan tidak, antara hidup dan mati.

Ketika tengah terombang-ambing di dalam lubang cahaya tiba-tiba ia mengalami peristiwa menakjubkan yang berlangsung sangat mencengangkan. Ia merasakan kesadarannya digetari oleh medan berkekuatan gaib yang sangat dahsyat, yang menyambarnya begitu cepat bagai halilintar.

Ia terkesima. Ngeri dan gentar. Kilasan-kilasan terang dan gelap silih berganti melenyap. Sesaat kemudian, ia mendapati dirinya berada di hamparan serba hitam pekat. Seperti sebuah sumur. Lubang cahaya terang benderang yang mengisapnya tadi telah terlewati. Lubang itu juga lenyap. Namun, secara ajaib lubang terang benderang itu mendadak terbit lagi di kejauhan dalam wujud bulatan yang sangat hitam pekat. Makin dekat pandangan diarahkan makin hitam pekat keadaannya. Sementara makin jauh jarak pandangan dari bulatan hitam itu makin terang keadaannya.

Abdul Jalil merasakan betapa sesuatu yang padat menyesaki kesadarannya. Jika digambarkan dalam panggung kehidupan manusia sehari-hari akan terasa seperti sesak dada dijejali sesuatu yang padat. Pandangan matanya kabur seperti ditutupi selaput. Darahnya mengalir perlahan. Bahkan peluhnya pun menetes kental.

Meski dengan pandangan kabur, ia paksakan juga mengamati hamparan hitam yang tergelar di hadapannya. Saat itulah, secara samar-samar ia menyaksikan kilasan-kilasan pemandangan yang menggetarkan. Di tengah hamparan itu, dari lubang yang hitam pekat, muncullah bayangan seekor ular raksasa berkepala empat sedang menggeliat dan mendesis-desis kelaparan. Dari keempat mulutnya menghamburlah berbagai hewan: buaya, biawak, katak, kalajengking, kelabang, cacing, dan makhluk menjijikkan lainnya. Mereka menebar dan meriap-riap mengerumuni sang ular raksasa berkepala empat.

Meski dalam keremangan, ia melihat kilasan-kilasan berjuta-juta manusia tanpa selembar pakaian berdiri berhadap-hadapan di depan bayangan ular raksasa, seolah-olah bala tentara yang hendak bertempur. Sebagian di antara mereka ada yang menunggang kuda, gajah, dan mengendarai kereta perang. Ada pula yang menumpang kapal, perahu, dan kereta manjanik (alat pelontar batu). Masing-masing memegang senjata berbagai jenis, seperti pedang, panah, tombak, senapan, dan meriam.

Dua barisan manusia yang tak terhitung jumlahnya itu diantarai oleh tumpukan harta dan bukit makanan. Aneka permata berserakan di antara piala, piring, sendok, mahkota, takhta gading, dan berbagai perhiasan yang tak ternilai harganya. Sementara bukit makanan aneka jenis dengan berbagai minuman bertimbun-timbun seolah-olah tidak akan pernah ada habisnya. Mata manusia yang mengapit pada kedua sisinya berkilau-kilau memancarkan nafsu. Air liur mereka menetes membasahi dagu dan dada.

Menyaksikan pemandangan itu, Abdul Jalil merasa tegang. Sedetik sesudah itu, dengan diiringi sorak-sorai menggemuruh bagai bukit batu runtuh, berjuta-juta orang itu berhamburan ke depan; berebut harta dan makanan. Dalam sekejap, bukit harta dan makanan telah berubah menjadi bukit manusia. Sambil tertawa terbahak-bahak orang-orang meraup dan menggenggam apa-apa yang dapat mereka raih. Namun, karena jumlah mereka sangat banyak maka berdesak-desaklah mereka hingga satu dengan yang lainnya saling sikut dan tendang.

Andaikata orang-orang yang berada di atas bukit itu masing-masing bersedia mengambil harta dan makanan secukupnya, tentu tidak akan terjadi kericuhan. Namun, yang terjadi adalah mereka yang sudah berada di atas bukit menghalau kawan-kawannya yang coba mendaki. Mereka membentuk garis lingkaran untuk menandai daerah harta dan makanan yang sudah mereka kuasai, dan menjadikan area di dalam batas itu sebagai milik pribadi.

Keributan pun pecah. Orang-orang yang merasa dihalau terus menyerbu, sedang orang-orang yang berada di belakangnya mendesak ke depan karena takut tidak kebagian. Akhirnya, terjadi saling dorong yang bermuara ke keadaan saling mengumpat, saling memukul, saling menendang, saling menyerang, saling melukai, dan saling membunuh. Jerit kesakitan dan pekik kematian mulai mengumandang bersahut-sahutan. Darah mulai tumpah. Mayat mulai bergelimpangan.

Seiring dengan semakin sengitnya perkelahian terdengarlah ringkik kuda dan jeritan gajah yang diikuti oleh gerakan bergelombang para penunggangnya ke arah bukit harta dan makanan. Roda kereta perang melaju ke arah bukit. Bahkan kereta manjanik mulai menghamburkan batu sebesar kepala kerbau.

Gemuruh peperangan meledak dengan dahsyat bagai air bah membobol tanggul. Kapal-kapal dan perahu-perahu yang semula diam ikut melibatkan diri dalam pertempuran. Gegap-gempita pertempuran pun tak dapat lagi dilukiskan. Abdul Jalil hanya bisa menyaksikan betapa orang-orang yang haus harta dan makanan itu dengan kebuasan, kebrutalan, kecurangan, kekejaman, kebengisan, keserakahan, dan kebiadaban tiada tara, menyerang siapa saja yang menghalangi hasratnya. Darah tumpah, mengalir bagai air bah. Mayat bergelimpangan dan bertumpuk-tumpuk membentuk bukit. Jerit kesakitan dan pekik kematian bersahut-sahutan. Kekacauan merebak. Tidak jelas lagi siapa lawan dan siapa kawan.

Bagaikan hewan buas kelaparan, orang-orang berubah beringas saling memangsa. Makin besar meraksasa tubuh seseorang maka dapat dipastikan dialah yang paling banyak memangsa lawan. Bahkan bagai belum cukup dengan memangsa lawan, mereka mulai menelan kuda, gajah, kereta perang, manjanik, kapal, dan perahu.

Ketika orang yang tersisa di atas bukit tinggal sekitar seratus pemenang bertubuh sangat besar bagai raksasa, terjadilah puncak keserakahan dan kerakusan. Bagaikan menyaksikan makanan lezat, para pemenang yang telah berubah menjadi raksasa itu bergerak ke satu arah, yakni mengincar bulatan hitam pekat di tengah hamparan dimensi gelap. Namun, harapan mereka berbeda dengan kenyataan. Bukan kenikmatan dan kelezatan yang mereka peroleh, melainkan kebinasaan yang mengerikan. Sebab, saat mereka mendekati bulatan hitam tiba-tiba ular raksasa bergerak menjulurkan keempat kepalanya ke depan secara bergantian.

Hap!

Sesosok tubuh raksasa sang pemenang yang paling rakus seketika masuk sebagian ke dalam mulut sang ular. Kemudian dengan kebuasan tiada tara, ketiga kepala ular secara bergantian mencabik-cabik tubuhnya. Darah muncrat ke segala arah. Serpihan daging memburat ke mana-mana. Dan perut sang pemenang yang sebesar gunung itu pun bedah. Isinya terburai menebarkan bau busuk.

Bersamaan dengan memburatnya tubuh sang pemenang ke berbagai arah, menghamburlah hewan-hewan melata yang mengerumuni ular raksasa, menyantap tanpa sisa serpihan-serpihan daging dan isi perut sang pemenang dengan kerakusan tak terbayangkan.

Pemandangan mengerikan itu rupanya tidak dipedulikan oleh pemenang lain. Mereka tetap beramai-ramai dan berdesak-desakan menuju bulatan hitam pekat yang terpampang di depannya. Seolah-olah dengan sengaja menyetorkan nyawanya ke mulut ular raksasa beserta hewan-hewan melata yang bagai tak kenal kenyang itu.

Kilasan-kilasan pemandangan menggetarkan yang disaksikan Abdul Jalil itu adalah samudera hitam ruhaniah yang merupakan hakikat jasad manusiawinya yang terbentuk dari bahan dasar lempung (thin). Dimensi inilah yang disebut al-misykat (lubang dinding yang tak tertembus cahaya). Gelap. Pekat. Hitam. Dan lantaran itu disebut juga dengan nama durrah al-aswad (mutiara hitam). Ini adalah gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-basyar, yakni jasad manusia yang terbentuk dari bahan lempung (thin), lempung pekat (ath-thin al-lazib), saripati lempung (sulalah), dan tanah gemuk (turab). Dari dimensi ini memancarlah sifat-sifat rendah an-nafs al-hayawaniyyah yang merupakan naluri dasar jasad manusia yang cenderung pada kebendaan. Itu sebabnya, dimensi hitam dari an-nafs al-hayawaniyyah ini disifati dengan sifat zhulmun (gelap dan sangat materialistik). Dari dimensi hitam ini terpancarlah sifat-sifat zhulmun, seperti bahimiyyah (naluri hewani), kesyahwatan, kufur, bakhil, tamak, zalim, dan huub ad-dunya.

An-nafs al-hayawaniyyah, dengan sifat zhulmun yang berdimensi hitam pekat, ini merupakan kesadaran ‘aku’ manusia yang paling rendah, yakni ‘aku’ manusia yang cenderung tertarik pada benda-benda dan bernafsu menguasai benda-benda tersebut. Kesadaran ‘aku’ ini setara kerendahannya dengan nafsu hewan melata yang paling rakus, tamak, dan serakah, hingga bangkai membusuk pun akan dimangsa. Kesyahwatan pun adalah kesyahwatan hewani yang mengarah pada naluri pengembangbiakan. Namun, akal (‘aql) manusia yang sudah dikuasai oleh an-nafs al-hayawaniyyah dengan sifat zhulmun ini akibatnya akan jauh lebih merusak dan lebih membinasakan dibanding nafsu rendah hewan melata yang tidak berakal budi.

Manusia-manusia yang tidak mampu melepaskan diri dari an-nafs al-hayawaniyyah ditandai oleh kecenderungan untuk ingkar terhadap nikmat Allah (QS Ibrahim: 34), mendewakan materi (taghut) (QS al-Baqarah: 6-7), jika terkena musibah mudah putus asa (QS Hud: 9), dan mendustakan ayat-ayat Allah (QS al-Ma’idah: 86). Dengan tanda-tanda dari perilaku seperti itu maka manusia yang terperangkap ke dalam an-nafs al-hayawaniyyah akan jatuh ke tingkat makhluk yang paling rendah, yakni asfala safilin (QS at-Tin: 5) yang terus-menerus kufur dan zalim sehingga mereka jatuh ke jurang jahanam (QS an-Nisa’: 168-169).

Saat termangu takjub di tengah-tengah hamparan durrah al-aswad tiba-tiba ia disadarkan oleh al-ima’ yang berasal dari relung-relung kesadarannya yang mengungkapkan hakikat terahasia dari apa yang disaksikannya itu.

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa saat ini engkau tidak berada di mana-mana kecuali di dalam dirimu sendiri. Engkau berada di dalam an-nafs al-hayawaniyyah yang berjasad al-basyar dengan selubung durrah al-aswad yang dilapisi selimut al-misyikat yang ada di dalam dirimu sendiri. Karena itu, o Abdul Jalil, sadarlah bahwa sesungguhnya engkau pun tak berbeda dengan manusia lain, yakni memiliki bakat menjadi manusia paling serakah, rakus, tamak, loba, kufur, bakhil, jahil, zalim, dan cinta duniawi. Karena, sesungguhnya kilasan-kilasan yang engkau saksikan itu tidak di mana-mana tetapi di dalam dirimu sendiri.”

Setelah ungkapan rahasia al-ima’ selesai, ia melihat bulatan hitam pekat itu bergetar. Kemudian, dengan kecepatan menakjubkan bulatan hitam itu melesat ke arahnya, diikuti oleh ular raksasa berkepala empat. Ia terkesiap kaget. Ketegangan menerkam kesadarannya.

Sedetik kemudian, kesadarannya terisap oleh arus gaib yang menyeretnya ke arah salah satu mulut ular raksasa. Ia terkesima. Kengerian menerkam. Namun, ia memasrahkan hidup dan matinya hanya kepada Allah. Kilasan-kilasan tirai demi tirai yang disingkapkan ganti-berganti memasuki penglihatannya. Beberapa detik kemudian, ia terseret masuk ke dalam mulut ular raksasa. Anehnya, di dalam mulut ular itu terdapat bulatan hitam pekat. Beberapa jenak kemudian kembali ia rasakan tubuhnya melesat cepat ke arah bulatan hitam pekat. Beberapa kilasan tirai kembali tersibak dan ia telah masuk ke dalamnya.

Ia tercengang takjub sebab di dalam bulatan hitam pekat yang ia saksikan bukanlah kegelapan, melainkan hamparan samudera luas tanpa batas cakrawala yang seluruhnya berwarna kuning. Bulatan hitam pekat itu lenyap dan secara ajaib terbit kembali dalam wujud bulatan cahaya terang menyinari seluruh penjuru.

Di sana ia menyaksikan pemandangan menggetarkan perasaannya, yakni seekor anjing raksasa berbulu kuning keemasan berkepala empat muncul dari bulatan cahaya berwarna kuning. Masing-masing kepala anjing raksasa itu meraung-raung, melolong-lolong, dan mendengus-dengus sambil menjulurkan lidah. Anjing raksasa itu kelihatan sangat lapar. Lidahnya terjulur. Air liurnya menetes. Matanya nyalang.

Beberapa jenak setelah anjing raksasa muncul, menghamburlah kawanan hewan buas, seperti serigala, singa, harimau, dubug, kucing hitam, dan burung nazar dari keempat mulutnya. Dengan suara meraung-raung dan menggeram-geram, mereka mengerumuni anjing raksasa seolah-olah dia adalah induk meraka.

Bagaikan mimpi buruk yang menjijikkan, tiba-tiba di depan anjing raksasa terpampanglah kilasan-kilasan pemandangan yang menggambarkan berjuta-juta manusia tanpa pakaian. Tubuh mereka hanya ditutupi oleh perhiasan emas dan perak dengan permata manikam sehingga auratnya terbuka. Sebagian memakai topeng, sebagian tidak. Sebagian menunggang kuda, sebagian menggiring kawanan ternak, dan sebagian lagi duduk di atas tumpukan bukit gandum. Mereka terlihat bersukacita meminum anggur dan khamr.

Dalam keadaan mabuk sambil tertawa riang, mereka saling mencari pasangan. Kemudian dengan berbagai bentuk dan posisi, mereka melakukan persetubuhan baik antara laki-laki dan perempuan, laki-laki dan laki-laki, perempuan dan perempuan, bahkan manusia dan hewan. Abdul Jalil kebingungan. Ia ingin memalingkan muka, namun tak mampu melakukannya. Ia tidak mampu berpaling dari pemandangan menjijikkan karena ia tidak lagi memiliki tubuh. Ia hanya merasakan betapa menyakitkannya suatu siksaan dialami tanpa tubuh fisik, karena setiap lintasan rasa yang menerkam kesadarannya menjadi begitu leluasa menembus ke ujung-ujung jiwanya, yang tak diketahui batasnya.

Berurutan dengan kilasan-kilasan gambaran yang membingungkan itu, pemandangan menggetarkan kembali tergelar nyata di hadapan Abdul Jalil. Anjing raksasa berbulu keemasan berkepala empat dengan buas dan ganas tiada tara memangsa sebagian orang telanjang bertopeng yang sedang berpesta pora melakukan hubungan badan. Darah muncrat di mana-mana. Tubuh-tubuh robek berserpihan. Daging berhamburan. Jerit kematian mengumandang bersahut-sahutan.

Kawanan hewan buas yang mengerumuni anjing raksasa pun ikut menghambur ke arah orang-orang bertopeng dan memangsa mereka. Anehnya, bagaikan tidak melihat peristiwa mengerikan itu, orang-orang bertopeng yang lain tetap melakukan pesta pora dan persetubuhan, meski kematian sudah mengepung mereka. Sementara orang-orang telanjang yang tanpa topeng tampaknya mengetahui peristiwa mengerikan itu. Itu sebabnya, mereka menangis meraung dan melolong-lolong sambil bersujud memuji kebesaran Ilahi dengan mengumandangkan istighfar.

Kilasan-kilasan pemandangan menggetarkan yang disaksikan Abdul Jalil adalah samudera kuning yang merupakan hakikat az-zujajah. Itulah gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-mudhghah, yakni jasad manusia yang terbentuk dari bahan dasar lumpur (shalshal), cairan (nuthfah), cairan pekat (maniy), dan air (ma’). Karena warnanya kuning maka dimensi ini disebut durrah al-ashfar (mutiara kuning) yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-musawwilah dengan sifat jahiliah, yakni nafsu manusia yang membangkitkan khayalan menyesatkan dan menipu. An-nafs al-musawwilah ini memancarkan gambaran-gambaran khayali yang menipu dan membawa manusia pada hasrat kesyahwatan, kecintaan terhadap harta benda, mabuk kekayaan duniawi (QS Ali ‘Imran: 14), kesyahwatan yang menyimpang (QS an-Naml: 54-55), sifat kejam (QS Yusuf: 89), tidak peka terhadap derita orang miskin (QS al-Baqarah: 273), serta cenderung berpikir dan berhasrat pada kebendaan sehingga mengingkari yang gaib (QS Hud: 29).

Pada an-nafs al-musawwilah dengan sifat jahiliah ini, kesadaran ‘aku’ manusia sudah lebih tinggi dari kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-hayawaniyyah. Namun, pada tingkat kesadaran ini, sang ‘aku’ masih belum bisa lepas dari berbagai kecenderungan tercela hewan buas (syuba’iyyah). Pada dimensi ini terpancar hasrat-hasrat khayali yang mengumbar keliaran nafsu perut, nafsu syahwat, dan nafsu liar manusia yang apabila tidak dikendalikan akan mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan.

An-nafs al-musawwilah bersifat seperti anjing yang manja, patuh, dan setia, namun masih menyukai najis dan cenderung mengumbar kebuasan dan keliaran. Dari dimensi nafs ini memancar sifat syuba’iyyah, suka mengkhayal, syahwat liar, jahil, kejam, fusuq, nifaq, tha’at, dan setia. Manusia yang perilakunya dikuasai an-nafs al-musawwilah dicirikan dengan sifat-sifat khayali yang membawa orang pada perbuatan suka berdusta, suka bersumpah palsu, menghalangi orang lain menempuh kebenaran, berpaling dari kebenaran, meremehkan kekuasaan Tuhan (QS al-Munafiqun: 1-5), berbuat mungkar dan mencegah perbuatan makruf (QS at-Taubah: 67), menyombongkan diri dan hidup berfoya-foya (QS al-Ahqaf: 20), suka memakan makanan haram dan percaya ramalan dukun (QS al-Ma’idah: 3).

Tak berbeda dengan pengalaman di dimensi hitam durrah al-aswad, pada dimensi kuning ini Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ bahwa apa yang disaksikannya tiada lain berada di dalam dirinya sendiri. Ia sebenarnya sama dengan manusia yang lain, yakni memendam bakat untuk menjadi orang jahil dan fasik. Di sinilah sumber fitnah, perzinahan, fahisyah, kekejian, kekejaman, kebuasan, janji palsu, saksi palsu, suka pamer, persaingan, dan perbuatan-perbuatan rendah yang melebihi hewan buas. Bahkan akal (‘aql) manusia, yang dikuasai oleh an-nafs al-musawwilah ini jika diumbar jauh lebih merusak dan membinasakan dibanding nafsu rendah hewan buas. Karena, dengan ‘aql manusia dapat melakukan apa pun sesuai kekuatan daya pikirnya.

Bulatan cahaya kuning terang yang memancar di atas hamparan samudera kuning mendadak bergerak cepat ke arah Abdul Jalil. Seiring dengannya, bergerak pula anjing raksasa dengan mulut menganga. Abdul Jalil merasakan tubuhnya terisap oleh arus gaib yang makin lama makin cepat. Dan ia pun tercekat ketika mendapati dirinya masuk ke dalam mulut anjing raksasa, lalu terus tembus ke bulatan cahaya kuning.

Bagaikan mengalami mimpi menakjubkan ia menyaksikan kilasan-kilasan bentuk dan warna di dalam mulut anjing raksasa. Namun, dalam tempo beberapa detik kilasan-kilasan bentuk dan warna itu lenyap. Dan ia mendapati dirinya berada di hamparan samudera berwarna merah yang luas tanpa batas. Bulatan cahaya kuning itu pun melenyap, namun terbit lagi dalam wujud bulatan cahaya terang berwarna merah.

Sebagaimana yang telah ia saksikan di dimensi hitam dan kuning, pada dimensi merah ini ia melihat kilasan bayangan seekor kera raksasa berbulu merah menyala, dengan empat kepala dan delapan tangan, muncul dari bulatan cahaya berwarna merah. Dengan suara keras yang menggetarkan segenap penjuru, seolah-olah diterkam kelaparan hebat, kera raksasa itu menepuk-nepuk dadanya dan melompat-lompat sambil menyeringai. Gigi-geligi dan taringnya sangat besar, tajam, serta berkilat-kilat.

Seiring dengan gerakan dan raungan kera raksasa, menghamburlah kawanan kera berbulu merah menyala dengan suara menjerit-jerit kelaparan dari keempat mulutnya. Kawanan kera yang tak terhitung jumlahnya itu kemudian beramai-ramai mengerumuni kera raksasa berkepala empat seolah-olah dia adalah induk mereka.

Tak lama kemudian, Abdul Jalil menyaksikan kilasan bayangan berjuta-juta orang yang berdesak-desakan di sepanjang hamparan samudera. Sebagian dari mereka berwajah mirip kera, sedangkan sebagian lagi berwajah mirip anjing. Mereka tergambar dalam wujud menyeringai, berteriak, menjerit, marah, dendam, bahkan kalap. Kemudian bagaikan bala tentara sedang bertempur, demikianlah jutaan orang yang sedang diterkam amarah dan dendam kesumat itu saling bunuh, saling siksa, saling aniaya, dan saling menyakiti.

Darah tumpah dan berceceran di mana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan. Jerit kematian mengumandang sahut-menyahut. Pekik kesakitan sambung-menyambung. Sementara derai tawa kemenangan menggema di angkasa bagai ledakan halilintar. Dan orang-orang yang merasa menjadi pemenang, setelah berhasil membunuh lawan-lawannya, menepuk-nepuk dada sambil tertawa terbahak-bahak. Namun, baru beberapa jenak para pemenang melampiaskan kegembiraan, tiba-tiba salah satu mayat yang mereka bunuh bangkit sambil menggenggam pisau. Dengan gerakan menakjubkan mayat itu menikamkan pisaunya ke punggung mereka. Raungan panjang terdengar membelah angkasa. Darah muncrat. Sesaat kemudian, mereka pun ambruk ke bawah. Meregang nyawa.

Kilasan-kilasan bayangan dari orang-orang yang dirasuk dendam, amarah, kesombongan, kecemburuan, dan kepenasaran itu berlangsung sangat mengerikan. Perilaku saling bunuh, siksa, aniaya, menyakiti yang mereka lakukan itu tidak pernah berhenti. Terus berputar bagai roda. Mayat-mayat yang bergelimpangan pun bisa bangkit untuk membunuh orang yang membunuhnya. Bahkan sesama mayat itu pun terlibat saling bunuh, saling siksa, saling aniaya, dan saling menyakiti.

Ketika para pemenang dari pertarungan mengerikan itu mulai berbaris bergerak ke arah cahaya merah yang menyala di tengah hamparan luas tanpa batas, kedelapan tangan kera raksasa berbulu merah dengan sigap menangkapi mereka. Kemudian dengan kekuatan dahsyat kera raksasa yang kelaparan itu membanting tubuh mereka hingga remuk tak berbentuk.

Darah kembali muncrat ke mana-mana. Serpihan daging memburat ke berbagai penjuru. Dan sesaat sesudah itu, dengan kelahapan dan kerakusan hewan lapar, kera raksasa berbulu merah menyala menyantap daging para pemenang yang sudah luluh lantak. Keempat mulutnya yang mengang bagai gua bergantian menggigit, mengunyah, memamah, dan menelan daging para pemenang, seolah tak pernah kenyang. Demi menyaksikan kera raksasa menyantap mangsanya, kawanan kera berbulu merah menyala yang mengerumuninya pun menghambur ke depan. Dengan jeritan-jeritan garang, mereka menyerbu para pemenang. Mengeroyok. Mencakar. Menggigit. Dan memangsa.

Anehnya, bagai antri menunggu giliran dijadikan mangsa, para pemenang terus berbaris dan berdesak-desakan menuju ke arah bulatan cahaya. Dan kera raksasa yang berada di depan cahaya berwarna merah itu tinggal menerkam, membanting, dan memasukkan tubuh mereka ke mulutnya.

Kilasan-kilasan pemandangan menggetarkan di dimensi yang serba merah itu adalah manifestasi dari durrah al-ahmar (mutiara merah). Ini merupakan gambaran ruhaniah dari wujud niscaya fawa’id yang merupakan anasir api dari keberadaan jiwa manusia, yakni pengejawantahan dari an-nafs al-ammarrah (QS Yusuf: 53) yang cenderung mengarah pada kejahatan, namun juga mengarah pada rahmat Ilahi. Ini adalah sifat-sifat setani (syaithaniyyah) sekaligus sifat-sifat manusiawi (nafsaniyyah) yang mencitrai keberadaan manusia. Dari an-nafs al-ammarrah ini memancar sifat-sifat yang saling bertentangan, yaitu sifat takabur, ‘ujub, riya, kibr, kidzib, ghibah, namimah, mukhtal, hasad, haqad, ghadab, iri, dengki, dendam kesumat; dan sifat wara’, khauf, raja’, istiqamah, dan ghirah.

Dengan adanya pertentangan sifat-sifat an-nafs al-ammarrah ini maka pengendalian sekaligus pengarahan diri sangat menentukan bagi mereka yang ingin beroleh jalan lurus ke arah-Nya. Sebab, jika an-nafs al-ammarrah yang bersifat setani lepas kendali maka akan menimbulkan kesesatan dan kebinasaan sebagaimana setan menyeret manusia. Namun, jika dikendalikan dan diarahkan ke sifat takwa maka an-nafs al-ammarrah akan menuju kepada Tauhid yang berujung pada limpahan rahmat Ilahi. Sifat dari an-nafs al-ammarrah inilah yang membawa manusia gampang terpengaruh bisikan Iblis, namun sekaligus bisa membawa ke jalan yang teguh di dalam Tauhid.

Kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-ammarrah ini lebih tinggi derajatnya dibanding kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-hayawaniyyah atau pada an-nafs al-musawwilah. Namun, justru di dimensi inilah keberadaan manusia ditentukan: apakah ia akan jatuh ke dimensi yang rendah, yakni ke keburukan Iblis yang terlaknat; atau ke pintu Tauhid yang membawa limpahan rahmat Ilahi. Dimensi durrah al-ahmar atau an-nafs al-ammarrah ini adalah tahap awal dari anak tangga pertama pengetahuan ruhaniah yang wajib dilampaui oleh mereka yang berjuang menuju jalan Allah.

Pada dimensi ini pun Abdul Jalil disadarkan melalui al-ima’ bahwa apa yang disaksikannya itu bukanlah di luar dirinya, melainkan ada di dalam diri sendiri. Karena itu, secara manusiawi ia pun memiliki bakat untuk melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang disaksikannya di dimensi ini, yakni orang-orang yang terpengaruh an-nafs al-ammarrah dan bisikan jahat iblis.

Pancaran bulatan cahaya merah menyala itu tiba-tiba bergetar dan cahayanya berpendar-pendar menyilaukan. Sedetik sesudahnya, bulatan itu melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah Abdul Jalil, diikuti kera raksasa. Ia tercekat galagapan. Kesadarannya terisap ke arus gaib yang sangat kuat yang menyeretnya ke arah mulut kera raksasa. Ia memekik ngeri, namun tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya. Menyadari itu, buru-buru ia menacapkan konsentrasi hanya kepada Allah.

Selama beberapa detik ia merasakan tubuhnya terseret arus gaib yang kuat. Gelap dan terang silih berganti memasuki kesadarannya. Anehnya, ia mendapati dirinya tidak berada di dalam perut kera raksasa, tetapi terus menembus ke arah bulatan cahaya merah. Ia terkesima takjub. Dan mendadak ia sudah berada di hamparan samudera tanpa batas yang berwarna hijau terang. Bulatan cahaya merah menyala berganti menjadi hijau terang.

Berbeda dengan keadaan di dimensi hitam, kuning, dan merah yang telah dilampauinya, di dimensi serba hijau terang ini Abdul Jalil merasakan kesedihan dan kegembiraan silih berganti menguasai kesadarannya.

Beberapa detik merasakan kilasan kesedihan dan kegembiraan datang dan pergi, ia ganti menyaksikan kilasan bayangan raksasa berkulit hijau dengan wajah menunduk sedih muncul dari bulatan cahaya yang menerangi dimensi itu. Begitu muncul, raksasa berkulit hijau itu langsung rukuk. Meski kejadian itu berlangsung sangat cepat, Abdul Jalil sempat melihat betapa wajah raksasa hijau itu mirip dengan wajahnya. Bedanya, sang raksasa mempunyai taring sebesar buah randu.

Tiba-tiba sang raksasa memperdengarkan suara seperti orang menguap. Dan sedetik sesudah itu dari mulutnya menghambur berpuluh, beratus, bahkan beribu makhluk sekecil ibu jari kaki berkulit hijau. Bagai rayap mengerumuni ratunya, demikianlah makhluk-makhluk itu mengerumuni raksasa hijau yang masih rukuk.

Dengan terheran-heran, Abdul Jalil menyaksikan betapa sang raksasa sambil tetap rukuk terus meratap-ratap dengan air mata bercucuran. Ratapannya diikuti oleh makhluk-makhluk kecil di sekitarnya. Suara gaduh dan hingar-bingar terdengar memenuhi segenap penjuru. Rupanya, selama berpuluh-puluh tahun sang raksasa melakukan rukuk dalam keadaan puasa. Hasratnya hanya satu, yakni ingin menjadi seorang manusia paripurna (insanal-kamil). Dia sangat sadar dengan ketidaksempurnaan dirinya yang jauh dari sifat-sifat manusia paripurna.

Sang raksasa acap kali terlihat bingung karena pada saat berbuka puasa dan tidak rukuk ia mendapati dirinya terseret masuk ke dimensi an-nafs al-ammarrah dan an-nafs al-musawwilah. Namun, secepat itu pula ia segera sadar dan memaki-maki dirinya sendiri. Sang raksasa tidak segan-segan mencela perbuatannya yang tidak terpuji. Ia selalu menyesali kesalahannya. Namun, bagaikan seorang pelupa, ia cenderung mengulang-ulang perbuatan serupa. Dan bagai berputar-putar di labirin yang membingungkan, dia terus-menerus terombang-ambing antara rasa sedih yang mengalir dari penyesalan diri dan rasa gembira yang mengalir dari kesadaran terhadap luasnya rahmat Allah, Sang Penguasa samudera tobat.

Kilasan-kilasan pemandangan di dimensi serba hijau itu adalah manifestasi dari durrah al-khadhr (mutiara hijau). Dimensi ini merupakan gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ar-ruh yang merupakan anasir asap dari keberadaan jiwa manusia, yakni pengejawantahan an-nafs al-lawwammah (QS al-Qiyamah: 2), yaitu nafsu yang mencela dan menyesali diri. Dari dimensi an-nafs al-lawwammah inilah lahir kesadaran manusia tentang keberadaan dirinya yang belum sempurna yang masih memiliki sifat-sifat hewan (bahimiyyah), kebuasan (syuba’iyyah), setani (syaithaniyyah), dan keilahian (rububiyyah) yang melahirkan sifat-sifat yang bertentangan, yakni rakus, kufur, fasik, syahwat, pikiran jahat, dusta, marah, zalim, iri hati, benci, dendam, takabur; dan juga rasa sesal, taubah, tawadhu’, Dzauq, dan khauf.

Kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-lawwammah ini jauh lebih tinggi derajatnya dibanding kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-hayawaniyyah, an-nafs al-musawwilah, dan an-nafs al-ammarrah. Sebab, ‘aku’ pada an-nafs al-lawwammah sangat sadar diri dengan berbagai kekurangannya sebagai hamba (‘abid) yang tidak sempurna. Itu sebabnya, an-nafs al-lawwammah ini cenderung membawa manusia kepada jalan Allah melalui muhasabah, taubah, kaba’ir, mujahadah, dan takhal li. An-nafs al-lawwammah adalah anak tangga kedua dari tangga pengetahuan ruhaniah untuk menuju Allah.

Pada dimensi durrah al-khadhr yang serba hijau itu Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ bahwa ia pun sebagaimana manusia lain memiliki bakat untuk menjadi raksasa hijau yang rindu dengan kesempurnaan diri, namun selalu terperangkap ke dalam tindakan tercela yang tak layak dilakukan manusia paripurna.

Kembali bulatan cahaya berwarna hijau terang yang menyinari dimensi an-nafs al-lawwammah mendadak bergetar. Sedetik kemudian, bulatan itu melesat cepat ke arah Abdul Jalil. Sesudah itu, raksasa yang sedang rukuk mendadak bangkit dan melompat ke arahnya dengan mulut terngaga siap menerkam. Ia terperangah. Rasa ngeri menerkamnya.

Pada saat kengerian mencapai puncaknya, ia merasakan kesadarannya terseret arus gaib yang berkumpar-kumpar. Kemudian ia terlempar ke mulut raksasa. Gelap dan terang silih berganti memasuki kesadarannya. Suara-suara meraung terdengar memenuhi segenap pendengarannya.

Sesaat setelah itu, ia mendapati dirinya berada di hamparan samudera luas tanpa batas cakrawala yang seluruhnya berwarna biru terang. Bulatan cahaya hijau pun berganti memancarkan biru kemilau. Di dimensi serba biru ini, ia merasakan kegembiraan menguasai samudera perasaannya.

Beberapa jenak kemudia muncul raksasa berkulit biru terang dari arah bulatan cahaya. Tak berbeda dengan raksasa berkulit hijau, raksasa berkulit biru ini berwajah mirip dengan dirinya. Hanya saja, taringnya tidak sebesar taring raksasa hijau.

Raksasa berkulit biru terang memiliki hasrat yang sama dengan raksasa hijau, yakni ingin menjadi manusia paripurna. Itu sebabnya, dia terlihat sibuk melakukan berbagai amaliah ibadah fardhu maupun sunnah. Bibirnya tak henti-henti berdzikir menyebut Asma Allah. Tangannya bergerak memutar biji tasbih. Namun, pada saat-saat tertentu dia kelihatan termangu-mangu merenungkan lintasan khayalan tentang kehidupan duniawi yang menyenangkan.

Raksasa biru itu meski terlihat beribadah, pikirannya tidak seutuhnya mengarah kepada Allah. Lintasan-lintasan bayangan bersifat keduniaan sering memasuki hatinya yang kemudian mengalir ke alam pikirannya. Dia cenderung terperangkap pada jaring-jaring khayal yang ditebarnya sendiri. Dia sering mengukur-ukur berapa besar pahala yang telah diperolehnya. Bahkan acap kali muncul kefasikan di dalam hatinya yang mempertanyakan keadilan Ilahi yang membiarkan dirinya tetap sebagai raksasa kulit biru, meski telah berpuluh tahun melakukan amaliah ibadah agar bisa menjadi manusia paripurna.

Dalam panggung kehidupan manusia, raksasa berkulit biru dapat digambarkan sebagai manusia yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela dan mengarahkan perbuatannya ke jalan Allah. Namun demikian, manusia pada tingkatan ini belum mampu membebaskan hati (qalb) dari “lintasan pikiran” yang bersifat nafsiyah dan syaithaniyyah. “Lintasan pikiran” di hatinya ini jika dibiarkan akan mempengaruhi akal (‘aql) dan pikiran (fikr). Dan jika dibiarkan terus akan bermuara pada perbuatan fasik.

Kilasan-kilasan pemandangan di dimensi serba biru adalah manifestasi dari durra al-azraq (mutiara biru) atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-khafi yang merupakan anasir angin dari jiwa manusia, yakni pengejawantahan an-nafs al-mulhamah (QS asy-Syams: 7-8). Dari dimensi durrah al-arzaq ini memancar sifat-sifat Tauhid yang membawa manusia pada keyakinan tentang lahir dari “lintasan pikiran” (khawathir) di hati cenderung mengganggunya. Karena, “lintasan pikiran” itu selain ada yang bersifat Ilahiah dan ruhaniah, juga ada yang bersifat nafsaniyyah dan syaithaniyyah . An-nafs al-mulhamah adalah anak tangga ketiga Pengetahuan ruhaniah pada jalan menuju Allah.

Pada dimensi durrah al-azraq itu Abdul Jalil disadarkan bahwa, seperti manusia lainnya, ia pun memiliki kecenderungan menjadi makhluk yang belum sempurna menjadi manusia paripurna; manusia yang masih beroleh “lintasan pikiran” pada qalb-nya dari nafsu ananiyyah dan syaithaniyyah.

Keluar dari dimensi biru, ia masuk ke dalam dimensi putih. Di sini ia merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Saat mengarahkan pandangan ke bulatan cahaya yang sekarang berwarna putih, ia menyaksikan sesosok bayangan muncul. Sosok itu berupa laki-laki tampan, berkulit putih, berhidung mancung, bermata bulat, berambut hitam, dan tubuhnya menebar bau harum kesturi. Laki-laki itu berdiri tegak penuh keagungan. Anehnya, wajahnya sangat mirip dirinya.

Beberapa saat kemudian tubuh laki-laki itu secara ajaib terbelah menjadi dua. Belahan yang pertama tetap menjadi laki-laki berkulit putih tampan berwajah mirip Abdul Jalil. Belahan yang kedua berubah menjadi sosok perempuan yang sangat cantik jelita; kulitnya putih, hidungnya mancung, matanya bulat hitam memancarkan pesona, rambutnya hitam, dan dari tubuhnya menebar bau harum yang memabukkan penciuman. Tubuh perempuan itu benar-benar indah dan sangat sempurna. Belum pernah ia menyaksikan perempuan sesempurna itu, baik kecantikan, keayuan, kemolekan, maupun kesintalan tubuhnya. Anehnya, wajah perempuan itu sepintas juga sangat mirip dengan wajahnya sehingga mereka seolah-olah saudara kembar.

Seiring dengan kemunculan laki-laki dan perempuan sempurna dan bulatan cahaya berwarna putih, Abdul Jalil menyaksikan kilasan-kilasan gambaran dari berjuta-juta orang berkulit putih yang berkumpul di hamparan taman yang sangat luar biasa menakjubkan; bangunan-bangunan untuk melepas lelah yang sangat indah. Bunga-bunga aneka warna terhampar di antara rerumputan hijau. Buah-buahan segar bergantungan di pohon-pohon yang rendah dahannya. Air sungai dari susu mengalir deras. Telaga madu terhampar memukau. Dan berjuta-juta bidadari cantik dengan mata bersinar laksana bintang beterbangan dengan sayap-sayap putih. Orang-orang berkulit putih itu bercengrama dengan bidadari-bidadari di atas tilam sutera sambil menikmati makanan dan minuman. Mereka tertawa riang mendengar alunan musik surgawi yang mengiringi nyanyian bidadari-bidadari yang melantunkan kasidah-kasidah yang syair-syairnya memuji kebesaran Ilahi.

Kilasan-kilasan pemandangan yang disaksikan Abdul Jalil di dimensi yang serba putih itu adalah manifestasi dari durrah al-baidha’ (mutiara putih) atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-akfa yang merupakan anasir cahaya dari keberadaan jiwa manusia, yakni pengejawantahan an-nafs al-muthma’innah (QS al-Fajr: 27) yang memancarkan sifat syukur, qana’ah dzauq, mahabbah, zuhud, sabar, ridho, ikhlas, dan ingat mati. An-nafs al-muthma’innah adalah anak tangga keempat Pengetahuan pada jalan menuju Allah. Pada dimensi durrah al-baidha’ yang serba putih ini terletak perbendaharaan al-Ilmu (‘ilmu al-yaqin) yang menjadi wahana menuju Dia.

Pada dimensi durrah al-baidha’, ia disadarkan oleh al-ima’ bahwa itulah citra surgawi yang berada di dirinya yang merupakan citra kodrati tiap manusia. Itu sebabnya, jika ingin menikmati kelezatan surgawi maka hendaknya ia memasuki dimensi itu dan tinggal abadi di situ. Pada dimensi itulah seluruh kenikmatan dan kelezatan dirasakan manusia, baik dalam hal hawa, jenis makanan, jenis minuman, jenis pakaian, maupun jenis kesyahwatan.

Bulatan cahaya putih terang yang menerangi hamparan luas tanpa batas itu mendadak memancarkan cahaya yang berpendar-pendar menyilaukan mata. Sedetik kemudian, bulatan cahaya itu melesat dengan kecepatan luar biasa ke arahnya. Ia terkesima takjub ketika menyaksikan hamparan luas di depannya terlipat dengan garis cakrawala bergerak tak beraturan. Kilasan-kilasan gambar taman-taman yang indah dengan seluruh penghuninya melenyap. Yang tersisa dari bentuk-bentuk yang mewujud di hamparan luas itu hanya sosok laki-laki berkulit putih dan perempuan cantik yang berwajah mirip dirinya.

Ketika kilauan cahaya yang berpendar-pendar itu makin dekat dan bertumpang tindih tak beraturan, ia menyaksikan sosok laki-laki tampan itu tiba-tiba merentangkan kedua tangannya. Pada saat yang sama, sosok yan perempuan juga melakukan hal serupa.

Dengan kedua tangan terbuka, dua sosok manusia yang bagai kembar itu bergerak maju saling mendekat. Makin lama jarak keduanya makin dekat. Ketika tinggal sejengkal, sosok laki-laki dan perempuan itu bagai memiliki daya isap saling menarik. Keduanya kemudian beradu. Berangkulan. Melekat.

Peristiwa aneh yang menakjubkan itu membuat Abdul Jalil terkesima takjub. Dua sosok manusia yang berangkulan dan melekat itu mendadak melakukan gerakan memutar. Makin lama makin cepat seperti gasing. Dalam hitungan detik, keduanya sudah tidak lagi terlihat bentuknya. Putaran yang cepat itu membuat keduanya mewujud dalam bentuk cahaya bulat dan panjang seperti tongkat.

Ketika putaran bertambah cepat, terjadilah peristiwa yang menggetarkan; cahaya bulat dan panjang bagai gasing itu meledak dengan suara gemuruh disertai percikan cahaya kilau-kemilau yang memburat ke berbagai arah. Di antara pancaran cahaya kemilau itu menyembul sosok laki-laki tampan berkulit putih yang wajahnya mirip Abdul Jalil. Sosok itu berdiri penuh keagungan. Sendirian. Sosok yang perempuan lenyap tanpa bekas.

Belum usai peristiwa menakjubkan itu berlangsung, tiba-tiba peristiwa menakjubkan yang lain terjadi. Dari tubuh laki-laki tampan itu memancar cahaya berpendar-pendar.

Bagaikan mimpi, ia menyaksikan cahaya yang memancar dari tubuh laki-laki itu terbelah dua secara vertikal. Keduanya sama-sama menyilaukan. Cahaya yang memancar dari tubuh bagian kanan mulai dari kepala kanan hingga ke kaki bersinar kemilau laksana pancaran cahaya intan dipantulkan. Cahaya yang memancar dari tubuh bagian kiri mulai dari kepala kiri hingga ke kaki bersinar kemilau laksana pancaran cahaya perak. Dan secara ajaib, dua cahaya yang berbeda itu berkali-kali berganti tampat dari kanan ke kiri dan sebaliknya.

Peristiwa yang disaksikan Abdul Jalil, terutama tampilnya laki-laki yang dipancari dua cahaya itu adalah manifestasi dari nur al-baidha’ (cahaya putih) atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ana yang merupakan citra dari jiwa pertama Adam, yakni pengejawantahan dari an-nafs al-wahidah (QS al-A’raf: 189), sumber asal kejadian manusia. An-nafs al-wahidah ini dicipta dengan “kedua belah tangan” Allah (QS Shad: 75), yaitu pancaran hakiki al-Jalal (Mahaagung) dan al-Jamal (Mahaindah).

Al-Jalal adalah manifestasi ketakterbandingan Allah (tanzih). Sifat-sifat Keagungan-Nya mencakup al-‘Azhim (Mahaagung), al-Qahhar (Mahagagah), al-Qawiy (Mahakuat), al-Jabbar (Mahaperkasa), al-Muntaqim (Maha Penyiksa).

Al-Jamal adalah manifestasi keserupaan Allah (tasybih) yang terdiri atas sifat rahmah dan althaf (Pemurah) dari Kehadiran Ilahi. Sifat-sifat Keindahan-Nya mencakup al-Lathif (Mahalembut), ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Halim (Maha Penyantun), al-Waliy (Maha Melindungi), al-Karim (Maha Pemurah), al-Hayyu (Mahahidup), ash-Shabur (Maha Penyabar).

Sifat-sifat al-Jalal berlawanan dengan sifat al-Jamal. Namun, dari pertentangan dua sifat itulah mengejawantah hakikat al-Kamal (Kesempurnaan). Dengan demikian, Adam yang dicipta dengan “kedua tangan” Allah, yakni al-Jalal dan al-Jamal, secara asasi memiliki sifat-sifat sempurna (kamal). Sifat-sifat sempurna Adam itu termanifestasikan pada keberadaan Adam yang dicipta sesuai gambar-Nya (kholaq al-insan ‘alashurah ar-Rahman). Dan lantaran itu, seluruh malaikat diperintahkan sujud kepada Adam (QS Shad: 72).

Pada manifestasi nur al-baidha’ atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ana yang merupakan citra dari jiwa pertama Adam, yakni pengejawantahan an-nafs al-wahidah, Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ bahwa saat itu ia tidak berada di mana-mana kecuali di dalam dirinya sendiri. Dan sosok bercahaya yang dijumpainya bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri. Dua pancaran cahaya yang berganti-ganti memancar dari tubuh manusia bercahaya itu adalah citra dari dua nafs yang menyatu dalam satu kesatuan an-nafs al-wahidah. Cahaya yang memancar di sebelah kanan adalah manifestasi an-nafs al-mardhiyyah yang memancar dari dinding al-Jalal. Sedang cahaya yang memancar di sebelah kiri adalah manifestasi an-nafs ar-radhiyyah yang memancar dari taman al-Jamal.

Pada pengejawantahan an-nafs al-wahidah inilah terletak jiwa pertama Adam, citra al-insan yang di dalamnya disemayami Ruh Ilahi, yakni Adam Ma’rifat yang tanpa hijab dapat berhubungan dan berwawansabda dengan al-Khaliq, malaikat, dan Iblis. Pada an-nafs al-wahidah itu bersemayam bashirah (mata bathin), yakni piranti yang bersumber dari al-Bashir. Melalui bashirah itu Adam dapat menyaksikan alam gaib. Inilah derajat Adam Ma’rifat. Inilah perbendaharaan al-Bashir (‘ain al-yaqin) yang menjadi piranti utama untuk menyaksikan Keagungan-Nya.

Ketika Abdul Jalil sedang terkesima takjub menyaksikan keajaiban manifestasi an-nafs al-wahidah dalam wujud citra Adam Ma’rifat yang berwajah mirip dirinya, dengan tubuh memancarkan cahaya, tiba-tiba ia menyaksikan citra Adam Ma’rifat itu memancarkan cahayan yang sangat menyilaukan. Ia terperangah takjub. Sedetik kemudian, ia merasakan kesadarannya terisap oleh cahaya yang memancar dari citra Adam Ma’rifat.

Isapan cahaya itu sangat dahsyat. Bagaikan anak panah lepas dari busurnya, kesadaran Abdul Jalil melesat dan menancap ke citra Adam Ma’rifat. Namun, ia tidak tahu apakah kesadarannya sudah berada di dalam atau masih di luar citra Adam Ma’rifat. Ia hanya menyaksikan kilasan-kilasan cahaya berkumpar-kumpar dalam aneka bentuk ketika melintasi tirai-tirai gaib.

Kemudian ia mendapati kesadarannya berada di suatu hamparan luas tanpa batas. Namun, kali ini ia tidak melihat bulatan cahaya. Sejauh mata memandang yang terpampang hanya keluasan yang kosong tanpa bentuk dan tanpa pusat cahaya. Anehnya, tempat ini terang benderang di segenap penjuru. Lebih aneh lagi, ia seperti dapat melihat ke segala arah. Tidak ada arah depan. Tidak ada arah belakang. Tidak ada kanan. Tidak ada kiri. Semuanya terlihat dengan terang dan jelas. Tidak ada bentuk apa pun. Seluruhnya hening. Sunyi. Sepi. Hampa.

Ia tidak merasakan perasaan apa pun baik sedih, kecewa, susah, senang, gembira, damai, maupun bahagia. Ia juga tidak merasakan sejuk, hangat, panas, maupun dingin. Pun tidak ada rasa sakit, letih, lesu, lemah, kuat, sehat, nikmat, ataupun lezat. Seluruh rasa telah terhapus. Seluruh citra manusiawinya seolah-olah sirna.

Ketika sedang termangu takjub menghayati pengalaman aneh itu tiba-tiba ia merasakan kesadarannya terbelah seperti kelopak bunga yang mekar. Kemudian secara ajaib ia saksikan sosok dirinya dalam wujud sebesar ibu jari tangan melayang-layang di atas kelopak kesadarannya. Sosok sebesar ibu jari tangan itu memancarkan cahaya putih kehijau-hijauan yang berkilau bagai permata zamrud disinari cahaya matahari. Sosok itulah satu-satunya wujud di tengah hamparan luas tanpa batas yang disaksikan oleh kesadarannya.

Sosok sebesar ibu jari tangan itu adalah manifestasi dari ar-ruh al-idhafi, yakni ruh-Nya yang ditiupkan ke dalam diri al-basyar (QS Shad: 72). Ruh ini memiliki sifat manusiawi sekaligus ilahiah. Lantaran itu disebut ar-ruh al-idhafi, yakni ruh yang “dinisbatkan” kepada Allah.

Berbeda dengan pengalaman melintasi dimensi-dimensi nafs sebelumnya, di hadapan sosok sebesar ibu jari tangan yang mirip dirinya itu ia tidak mendapati al-ima’ menyeruak dari kedalaman jiwanya. Al-ima’ yang ia dapatkan justru berasal dari sosok itu. Inti percakapan itu berbunyi:

“Jangan syak dan ragu lagi, o Abdul Jalil, bahwa akulah kesadaran ‘aku’ yang terpendam dan tersuci dari kesadaran kemanusiaanmu. Akulah hakikat keberadaanmu yang sejati. Sebab, engkau tiada lain adalah bayangan dari keberadaan sejatiku. Engkau adalah Buah Tauhid segar dari Pohon Kehidupan (syajarah al-hayy) yang tumbuh di Taman Alam Raya (al-jannah al-kauniyyah). Engkaulah salah satu buah terbaik di antara buah yang baik yang dilahirkan untuk manusia (QS Ali ‘Imran: 110), yakni buah yang tumbuh dari Ranting Kesempurnaan (kamaliyyah) yang merupakan cabang dari Dahan Pengetahuan (ma’rifat).”

“Bersyukurlah engkau, o Buah Tauhid, bahwa Dia telah menjadikan sinar untukmu dalam makna: Wa ja’alna lahu nuran (QS al-An’am: 122) yang memancarkan nikmat-Nya yang tak terhitung (QS Ibrahim: 34) sehingga engkau menjadi Buah Tauhid mulia yang tumbuh dair benih Adam dalam makna: Wa laqad karamna bani Adam (QS al-Isra: 70). Engkaulah Buah Tauhid yang ditetapkan oleh-Nya untuk mengetahui hakikat benih yang menjadi asal kejadianmu yang terangkum dalam makna: Innani ana Allah la ilaha illa ana fa’budni (QS Thaha: 14). Bahkan engkau ditetapkan olehnya untuk mengetahui Gudang Simpanan benih (al-kanziyyah) dalam makna: Kuntu kanzan makhfiyyan (hadits Qudsi).”

“Jika aku adalah Buah Tauhid yang mulia yang tumbuh dari benih Adam,” ujar Abdul Jalil, “berarti ada buah yang lain yang tidak termasuk ke dalam kumpulan Buah Tauhid. Dan apakah yang Tuan maksud dengan perumpamaan buah, benih, dahan, cabang, dan ranting itu bermakna dunia ini adalah gambaran simbolik dari sebatang Pohon Dunia (syajarah ad-dunya) yang tumbuh di Taman Alam Raya (al-jannah al-kauniyyah)?”

“Ketahuilah, o Buah Tauhid, bahwa Pohon Dunia yang tumbuh di Taman Alam Raya ini tegak di atas Akar Kehendak (al-Iradah) yang dinaungi Dahan-Dahan Kuasa (al-Qudrah). Dari Dahan-Dahan Kuasa ini muncul dua anak cabang yang berbeda. Pertama, Anak Cabang Pengetahuan (ma’rifat) yang membelah menjadi Ranting Kesempurnaan (kamaliyyah). Kedua, Anak Cabang Ketidaktahuan (nakirah) yang membelah menjadi Ranting Kekufuran (al-kufriyyah).”

“Dari Ranting Kesempurnaan akan muncul Buah Tauhid. Buah-Buah Tauhid itulah yang disebut ashhab al-yamin (kelompok kanan). Di dalam kumpulan ashhab al-yamin terdapat buah-buah segar dan ranum yang disukai Sang Penanam, yakni buah al-muqarrabin, al-muttaqin, as-shiddiqin, al-‘arifin, al-muhibbin.”

“Sedang dari Ranting Kekufuran akan muncul Buah Kekufuran (kufriyyah). Buah-Buah itulah yang disebut ashhab asy-syimal (kelompok kiri). Kumpulan ashhab asy-syimal berisi buah-buah busuk berulat yang tidak disukai Sang Penanam, yakni buah al-munafiqin, al-kafirin, al-fasiqin, al-musyrikin, al-kadzibin, azh-zhalimin.”

“Ketahuilah, o Buah Tauhid, bahwa keberadaan ashhab al-yamin dan ashhab asy-syimal adalah keniscayaan dari keberadaan Pohon Dunia. Karena itu, Sang Pemilik (Malik al-Mulki) Pohon Dunia dan Taman Alam Raya akan memerintahkan para pemetik yang dipimpin oleh Izrail untuk mengambil Buah Tauhid yang terikat dalam kumpulan ashhab al-yamin dengan cara yang baik (husn al-khatimah). Buah-Buah Tauhid itu akan ditempatkan di Keranjang Penantian (al-barzakh) yang baik untuk dipersembahkan kepada Sang Pemilik saat Hari Pemilihan tiba (yaum al-hisab). Saat dihidangkan, buah-buah terpilih itu akan ditempatkan dalam Talam ‘Iliyyn yang tak terbayangkan keindahannya untuk dijadikan “santapan” Sang Pemilik. Bahkan, bagi Buah-Buah Tauhid yang benar-benar terpilih dan disukai Sang Pemilik, begitu dipetik akan langsung dipersembahkan sebagai “santapan” kesukaan Sang Pemilik.”

“Sementara itu, Buah Kekufuran setengah busuk dan yang busuk berulat, yang terikat dalam kumpulan ashhab asy-syimal akan dipetik dengan cara yang sangat buruk (su’ul al-khatimah). Buah-Buah itu akan dikuliti di Keranjang Penantian yang buruk (‘adzab al-qubr). Saat datang Hari Pemilihan (yaum al-hisab), mereka akan dipilah dan dipilih di urutan paling akhir. Demikianlah, mereka akhirnya dilemparkan ke lubang-lubang pembuangan sesuai tingkat kebusukannya. Buah-Buah terbuang itu akan dijauhkan dari Sang Pemilik dan ditempatkan di lubang Sijjin yang tak terbayangkan keburukan dan kenistaannya.”

“Bagaimana dengan peristiwa pemetikan massal buah-buah busuk seperti pada zaman Nuh, Syuaib, Shalih, dan Luth?” tanya Abdul Jalil. “Apakah itu berarti Buah Kekufuran lebih banyak jumlahnya dibanding Buah Tauhid? Jika sudah demikian, kenapa Pohon Dunia tidak ditebang saja?”

“Ketahuilah o Buah Tauhid, bahwa pada musim-musim tertentu yang ditentukan oleh Kehendak-Nya (al-Iradah) dan Kuasa-Nya (al-Qudrah) maka Sang Maha Penyesat (al-Mudhill), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Maha Membinasakan (al-Mumit), Maha Menyiksa (al-Muntaqim), dan Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr) akan meniupkan angin ablasa yang berembus melintasi negeri kesengsaraan membawa benih-benih pohon zaqqum. Ketika angin ablasa meniup maka benih-benih dari pohon zaqqum akan menimbulkan kerusakan dahsyat pada Pohon Dunia.

“Benih-benih itu ketika jatuh di daun, dahan, dan ranting Pohon Dunia akan berubah secara ajaib menjadi ulat-ulat yang sangat ganas. Ulat-ulat jelmaan itu kemudian bergerak menggeragoti buah, bunga, daun, ranting, dan bahkan dahan Pohon Dunia. Saat itulah kebusukan dan kebinasaan menimpa Pohon Dunia. Bahkan secara cepat Buah-Buah Tauhid dari kumpulan ashhab al-yamin yang tumbuh di ranting kamaliyyah ikut membusuk. Demikianlah, dalam tempo singkat hampir seluruh buah di Pohon Dunia itu membusuk, kecuali beberapa butir saja.”

“Melalui Kehendak-Nya dan Kekuasaan-Nya pula Sang Maha Penjaga (al-Muhaimin), Yang Maha Memelihara (al-Hafizh), Maha Penyelamat (as-Salam), Maha Pengasih (ar-Rahman), Maha Penyayang (ar-Rahim), dan Maha Pengampun (al-Ghaffar) saat itu meninggalkan Pohon Dunia. Dan jika sudah demikian, tak perlu dijelaskan lagi apa yang harus dilakukan oleh Sang Pemilik terhadap Buah-Buah Kekufuran yang sudah membusuk dan membahayakan Pohon Dunia.”

Selama ini Pohon Dunia tumbuh sebagai bukti Kebesaran dan Keagungan Sang Pemilik. Itu sebabnya, berbagai kerusakan yang terjadi di antara buah, dedaunan, serta dahan Pohon Dunia hanya dibersihkan pada bagian yang rusak itu saja. Namun, suatu hari ketika Pohon Dunia sudah sangat tua maka Sang Pemilik Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim), Maha Mengakhiri (al-Mu’ahkhir), Maha Membinasakan (al-Mumit), Maha Menista (al-Khafidh), dan Maha Mencabut (al-Qabidh) akan menebang Pohon Dunia untuk dijadikan kayu bakar Tungku Jahanam.”

“Ketahuilah, o Buah Tauhid, bahwa saat Pohon Dunia dijadika kayu bakar Tungku Jahanam maka para pecinta Pohon Dunia akan ikut terbakar. Makin kuat kecintaan buah-buah terhadap Pohon Dunia maka akan semakin dekat ia ke Tungku Jahanam. Sementara orang-orang yang tidak mencintai Pohon Dunia atau orang-orang yang menjadikan Pohon Dunia sebagai tempat tumbuh sementara akan terhindar dari Tungku Jahanam. Karena, mereka termasuk ke dalam kelompok Buah Tauhid dari kumpulan ashhab al-yamin yang dipersembahkan kepada Sang Pemilik.”

“Apakah benih-benih dari pohon zaqqum yang berubah menjadi ulat perusak itu yang kemudian disebut ulat dajjala?” tanya Abdul Jalil.

“Engkau telah tahu akan itu.”

Ketika ia hendak melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan, tiba-tiba ia merasakan kesadarannya ditarik oleh kumparan gaib yang memiliki daya isap luar biasa. Ia tersentak. Citra ar-ruh al-idhafi yang menampak dalam wujud orang yang mirip dirinya, namun besarnya hanya seibu jari tangan itu, mendadak lenyap. Sesaat setelah itu, ia menyaksikan kilasan warna-warni memasuki penglihatannya. Kemudian terang dan gelap berganti-ganti.

Sepersekian detik setelah mengalami peristiwa mencengangkan, ia tersentak kaget bagai terbangun dari mimpi menggetarkan. Saat membuka mata, bentuk yang pertama kali dilihatnya adalah tongkat Misykat al-Marhum yang berdiri tegak di hadapannya dalam jarak sekitar satu depa. Wujud tongkat Misykat al-Marhum yang dilukis warna warni itu sangat mengagetkannya. Tongkat itu mengingatkannya pada dimensi-dimensi dari nafs-nafs yang baru saja dilampauinya. Bagian ujung terbawah tongkat, misalnya, dicat warna hitam, sesudah itu kuning, merah, hijau, biru, putih, dan emas. Di atas warna emas ada batu bulat sejenis kaca yang bening. Kaca bulat itukah citra simbolik dari ar-ruh al-idhafi?

Ketika sedang merangkai-rangkai dan mengait-ngaitkan pengalaman menakjubkan yang baru saja dialaminya dengan warna-warna tongkat, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Misykat al-Marhum yang menyitir sebuah hadits, “Istafti qalbaka wa in aftauka wa aftauka wa aftauka. Mintalah fatwa kepada qalb-mu walau orang lain telah berfatwa kepadamu, telah berfatwa kepadamu, telah berfatwa kepadamu.”

Abdul Jalil menarik napas berat. Meski sangat ingin bertanya, akhirnya ia mengurungkan niatnya. Ia sepertinya menangkap sasmita betapa dengan disitirnya hadits itu maka sangatlah tidak sopan jika ia masih bertanya lagi soal ini dan itu. Itu sebabnya, sebagai tanda memahami isyarat yang dilontarkan Misykat al-Marhum, ia bangkit dari duduk dan kemudian dengan segenap rasa hormat dan takzim mencium kedua kakinya.

Saat mencium kaki Misykat al-Marhum, sekilas di kalbunya terlintas penyesalan karena ia harus kembali lagi ke dunia yang penuh kesengsaraan dan derita. Abdul Jalil jujur mengakui bahwa apa yang telah dialaminya dengan memasuki dimensi di mana ar-ruh al-idhafi bersemayam itu adalah tempat yang paling luar biasa nikmatnya yang sebelumnya tak pernah dirasakannya. Sebenarnya ia sangat tidak ingin meninggalkan dimensi itu. Ia ingin terus tinggal di situ.

Bagaikan mengetahui lintasan perasaan dan kilasan pikiran Abdul Jalil, Misykat al-Marhum mengingatkan, “Jangan engkau anggap ar-ruh al-idhafi yang telah engkau jumpai itu adalah akhir dari perjalananmu. Sebab ar-ruh al-idhafi hanyalah guru sejati tempat engkau bertanya tentang berbagai hal, baik yang ukhrawi maupun duniawi. Dia seibarat bola kaca di atas tongkat ini. Di atas pelambang bola kaca ini masih ada yang tak tampak dan tak dapat dilambangkan, yaitu ar-Ruh al-Haqq. Di atas ar-Ruh al-Haqq masih ada lagi yang lebih tak dapat dilambangkan dan disetarakan sesuatu, yaitu al-Haqq.”

“Saya paham Tuan,” kata Abdul Jalil sambil meneteskan air mata, “namun setelah melewati pengalaman tadi saya seperti tidak sanggup lagi menjalani kesengsaraan dan penderitaan hidup di dunia ini. Saya ingin tinggal di sana.”

Misykat al-Marhum menghentakkan tongkatnya ke tanah. Bumi bergetar. Abdul Jalil merasakan hatinya kecut. “Seorang laki-laki (ar-rajul) yang telah dipilih-Nya adalah manusia sejati (ar-rijal) yang tidak boleh memilih-milih Tempat (makan) dan Waktu (zaman). Sebab, bagi laki-laki terpilih, kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya bukan lagi kemuliaan dalam hal makan, melainkan kemuliaan dalam makanah (tingkatan). Laki-laki yang terpilih sudah merangkum tingkatan-tingkatan dalam kelapangan tempat itu (manzil fi al-bisath). Maknanya, jika engkau beranggapan bahwa di maqam ar-ruh al-idhafi itu engkau harus berhenti maka engkau telah terjebak ke dalam lingkaran nafsumu yang halus. Karena, laki-laki yang terpilih sudah tidak menduduki maqam (la maqam). Sebab, laki-laki terpilih selalu bersama-Nya, Yang Tak Terikat maqam.”

“Laki-laki sejati yang telah dipilih-Nya tidak juga boleh terikat oleh zaman dari Taman Alam Raya, apalagi zaman dari Pohon Dunia. Sebab, laki-laki yang sudah terpilih selalu bersama Sang Waktu Abadi (ad-Dahr). Dia berada di dalam lingkaran zaman hanya untuk menunggu panggilan Sang Waktu Abadi. Lantaran itu, berada di mana pun dan pada saat kapan pun dia tidak boleh memilih-milih yang disukai nafsunya. Bahkan jika harus ditempatkan di neraka jahanam pun dia tidak boleh menolak, karena laki-laki yang terpilih selalu bersama-Nya, Sang Pencipta (al-Khaliq) yang tidak terikat dan tidak terpengaruh oleh ciptaan-Nya (makhluk).”

Manusia pada hakikatnya tidak memiliki kehendak, meski sebesar zarah, sebab yang maha berkehendak hanyalah Allah, Rabb alam semesta (QS at-Takwir: 29). Itu sebabnya, dalam hal kelahiran, perkawinan, peruntungan nasib baik dan buruk, dan kematian adalah mutlak ditentukan oleh-Nya. Tidak satu makhluk pun bisa menentukan apakah dirinya harus menjadi manusia, jin, malaikat, hewan, atau tetumbuhan. Pun tidak seorang juga dapat memilih lahir di dunia sebagai laki-laki atau perempuan. Tidak juga orang dapat memilih harus lahir dari keluarga kaya atau keluarga terhormat. Bahkan seseorang tidak dapat mengatur apakah dirinya harus mati dalam keadaan husn al-khatimah atau su’u al-khatimah. Semua yang mengatur Allah. Mutlak.

Sekalipun apa yang diyakini oleh Abdul Jalil ini secara konseptual tidak ditolak oleh umat Islam pada umumnya, pada tingkat praktik hal itu jarang diterima apalagi dijalankan secara konsekuen. Maksudnya, kaum Muslimin umumnya lebih memilih dan berusaha menjadikan diri mereka sebagai sesuatu yang serba menyenangkan dan menguntungkan. Jika disuruh memilih jenis kelamin, misalnya, seorang Muslim cenderung akan memilih laki-laki. Kalau disuruh memilih status maka mereka cenderung memilih lahir dari keluarga yang kaya dan terhormat. Bahkan kalau disuruh memilih istri maka mereka akan memilih istri cantik, kaya, bangsawan, dan salehah. Begitu juga jika disuruh memilih martabat, pangkat, dan derajat hidup maka akan dipilihnya hidup yang serba dilimpahi rezeki, dilingkari kemewahan, ditaburi puja dan puji, dijejali kesenangan dan kelezatan. Jika mati akan memilih husn al-khatimah dan masuk surga tanpa hisab.

Bertolak dari keyakinan yang kuat tentang kemutlakkan kehendak Allah yang sangat berbeda dalam tataran praktik dibanding pemahaman kaum Muslimin seumumnya, Abdul Jalil tidak mempersoalkan tetek bengek ukuran yang digunakan orang untuk memuaskan hawa nafsunya. Ini setidaknya dibuktikan saat ia menerima keputusan-Nya untuk menikah dengan perempuan yang belum pernah ia lihat wajahnya.

Cerita tentang pernikahan itu bermula dari perintah Misykat al-Marhum agar ia segera menemui Syaikh Abdul Malik al-Baghdady untuk menyampaikan pesan khusus. Abdul Jalil secara lisan diperintahkan untuk memohon kepada Syaikh Abdul Malik al-Baghdady agar diperkenankan memasuki mahligai Adam Ma’rifat yang merupakan manifestasi an-nafs al-wahidah. Misykat al-Marhum tidak menjelaskan makna di balik pesannya itu, kecuali mengisyaratkan bahwa perjalanan menuju-Nya tidak akan sampai jika belum memasuki mahligai Adam Ma’rifat.

Sebagai salik yang mampu berkomunikasi dengan ar-ruh al-idhafi, akhirnya ia menangkap makna di balik pesan Misykat al-Marhum. Ia diberi tahu oleh ar-ruh al-idhafi, melalui al-ima’, bahwa ujung di balik pesan Misykat al-Marhum itu pada hakikatnya adalah ketentuan-Nya yang menghendaki agar dirinya menikah dengan perempuan yang dipilihkan olah Syaikh Abdul Malik.

Sejak mengalami peristiwa menakjubkan memasuki nafs-nafs, ia merasa ada yang aneh pada dirinya, terutama saat menunaikan titah Misykat al-Marhum untuk menjumpai Syaikh Abdul Malik. Semestinya, dengan mengetahui makna di balik titah itu, ia akan memikirkan atau sedikitnya memperoleh lintasan pikiran tentang perempuan yang bakal dijodohkan dengannya. Sebagai manusia yang waras tentu ia akan membayangkan, meski sepintas, perempuan yang bakal dinikahinya: Apakah tubuhnya gemuk, cebol, matanya buta sebelah, giginya merongos, hidungnya melengkung seperti paruh rajawali, atau tangannya lumpuh sebelah?

Namun, nalurinya sebagai laki-laki dari bangsa manusia ternyata tidak terjadi sebagai kemestian. Ia justru merasa benaknya seperti hamparan putih yang tidak ternoda oleh sepercik pun bias angan-angan atau lintasan khayalan, dan berbagai limpahan ilham justru memancar dari mahligai ar-ruh al-idhafi bagaikan mata air yang tak pernah kering. Ini benar-benar peristiwa aneh yang sempat membuatnya terheran-heran dan meragukan kewarasan dirinya. Bahkan ia sedikit pun tidak sempat membayangkan sifat perempuan yang bakal dipilih menjadi istrinya itu: Apakah dia berperangai buruk, berani kepada suami, pemarah, pemalas, jorok, suka mengomel, pecinta duniawi, atau suka berselingkuh?

Ketika lintasan-lintasan pikiran dan perasaan yang selalu mengganggu ketenangan jiwanya benar-benar sirna, ia baru menangkap kebenaran kata-kata Misykat al-Marhum yang menyatakan bahwa seorang ar-rajul tidak boleh memilih makan dan zaman. Di mana pun berada, ar-rajul selalu bersama Sang Pencipta yang tidak terikat apalagi terpengaruh oleh makhluk. Keadaan ini secara ruhaniah baru dirasakan dan dipahaminya kini. Keadaan ini memang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata dari bahasa manusia.

Sebenarnya, dulu ia pernah mengalami keadaan seperti ini, yakni saat kesadaran fawa’id-nya tersingkap membuka selubung lawami’ dan zawa’id. Namun, ketersingkapan itu terasa sangat jauh berbeda dengan yang dialami saat ini. Tersingkapnya hijab ana yang menyelubungi ar-ruh al-idhafi benar-benar telah mengubah sifat dan perilakunya secara dahsyat. Sebelum ini ia selalu menelaah dan mengkaji terlebih dahulu apa yang ia pikirkan dan apa yang bakal ia lakukan, kini semuanya berubah. Benaknya bagaikan langit biru yang luas dan kosong dari gumpalan awan. Nalarnya bagaikan langit cerah dipancari matahari al-ima’ yang bersinar di cakrawala ar-ruh al-haqq.

Dengan perubahan itu ia memasuki mahligai perkawinan sebagai sebuah keniscayaan dari garis kehidupan yang sudah ditentukan oleh-Nya. Maksudnya, ia sudah mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan pribadi maupun ukuran-ukuran syari’at. Ia sepenuhnya pasrah kepada ketentuan-Nya dengan mematuhi perintah Misykat al-Marhum agar menjalankan dan mematuhi apa pun yang diperintahkan Syaikh Abdul Malik. Lantaran itu, ia pun tidak mempertanyakan siapakah Syaikh Abdul Malik yang dimaksud Misykat al-Marhum.

Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, orang yang ditunjuk Misykat al-Marhum untuk menerima pesan bersifat ruhaniah, ternyata ulama besar penganut paham Syi’ah Muntadhar. Dia sangat dihormati masyarakat dan dihormati penguasa. Tidak gampang menemuinya sebab dia selalu dilingkari oleh pengikut-pengikutnya yang setia yang siap berkorban nyawa untuknya.

Sekalipun sudah tinggal barang satu dasawarsa di Baghdad, Abdul Jalil hanya mendengar berita-berita tentang kebesaran ulama Syi’ah Muntadhar itu terutama dari Ali Anshar at-Tabrizi. Ia sejauh ini tidak mengetahui di bagian kota Baghdad mana syaikh termasyhur itu tinggal. Melalui Ali Anshar pula ia menyampaikan keinginan untuk menjumpai ulama masyhur itu dengan menuturkan bahwa ia membawa pesan dari Misykat al-Marhum.

Entah ada hubungan apa antara Misykat al-Marhum dan Syaikh Abdul Malik, yang jelas beberapa saat kemudian ia sudah didaulat untuk menemui pemimpin Syi’ah itu. Dan ternyata, Syaikh Abdul Malik tinggal di rumah sederhana yang tak jauh dari pemondokan Ali Anshar. Kediaman Syaikh Abdul Malik dilingkari oleh rumah dan pondokan para penganut Syi’ah sehingga membentuk pemukiman orang-orang Syi’ah.

Syaikh Abdul Malik, ternyata salah seorang dari anggota Jama’ah Karamah al-Aulia’ yang ikut dalam pertemuan para wali di Jabal Uhud. Itu sebabnya, saat Abdul Jalil masih tercekat kaget, Syaikh Abdul Malik memberi isyarat agar Abdul Jalil menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya. Abdul Jalil yang memahami maksud Syaikh Abdul Malik hanya mengangguk dan harus bersikap takzim seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Ia harus menempatkan diri sebagai orang awam yang sangat hormat dalam memuliakan ulama masyhur.

Sekalipun sudah berusaha bersikap takzim dan memuliakan, adanya hubungan bersifat khusus antara Syaikh Abdul Malik dan dirinya tidak bisa ditutup-tutupi. Hal itu setidaknya terungkap saat tanpa hujan dan tanpa angin, segera setelah Abdul Jalil menyampaikan pesan Misykat al-Marhum, tiba-tiba saja Syaikh Abdul Malik memanggil Ali Anshar dan pengikutnya yang bernama Ali Akbar al-Hamadani. Kemudian tanpa diduga-duga, dia menyatakan akan menikahkan Abdul Jalil dengan puteri bungsunya yang bernama Fatimah, yang usianya belum genap lima belas tahun.

Pada malam pertama perkawinan, ketika angin musim semi menebarkan wangi asap dupa dan harum bunga-bunga, Abdul Jalil tegak memandangi mempelai wanita yang tidur di atas tilam hijau terbuai mimpi indah. Ada suasana aneh dan asing merayap diam-diam di relung-relung jiwanya. Ia merasa betapa liku-liku kehidupannya membentangkan keindahan yang menakjubkan, meski di hampir setiap sudut jalan ia dapati telaga air mata kepedihan.

Rasa aneh dan asing yang dialami Abdul Jalil itu makin lama makin menguak tirai kesadaran hakiki tentang adanya tangan gaib dengan jari-jemari lembut yang diam-diam dan tanpa diketahui telah mengatur setiap gerak dan langkahnya. Ia sadar bahwa pada hakikatnya ia tidak memiliki kehendak pribadi. Semua adalah kehendak-Nya. Perkawinannya dengan Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady ini pun bukanlah kehendak pribadinya. Itu sebabnya, ia merasa aneh dan asing ketika harus memasuki mahligai perkawinan yang menakjubkan ini.

Keanehan yang dianggap menakjubkan ini ada kaitannya dengan mempelai perempuan, yaitu kemiripan yang nyaris sempurna antara mata Fatimah dan mata almarhumah Nafsa. Tanpa sadar diam-diam ia menggumam, “Ya Allah, mengapa mempelaiku secantik Nafsa yang telah merenggut perhatianku? Mengapa dia yang telah engkau jadikan mempelaiku harus mirip dengan Nafsa? Apakah Engkau sengaja menguji keteguhan hatiku kepada-Mu?”

Dalam ketermanguan di tengah ketakjuban dan keanehan, ia mendengarkan suara ar-ruh al-haqq mengumandang di cakrawala jiwanya melalui al-ima’. “Jika Dia sudah berkehendak maka ikutilah kehendak-Nya, meski samudera api dan padang ilalang pedang menghadang di hadapanmu. Jika payung kemuliaan-Nya ditudungkan di atas kepalamu maka bernaunglah di bawah-Nya walau hari terang tanpa hujan setetes pun. Sebab, sebagaimana Dia memuliakan siang yang terang benderang oleh pancaran cahaya mentari, demikianlah Dia memuliakan malam dengan kilau-kemilau cahaya bintang-bintang yang gemerlap laksana permata.”

“Perkawinan adalah penyatuan ajaib dua jiwa yang terpisah oleh rentangan waktu dan hamparan taman semesta. Sebab, dengan penyatuan gaib itulah engkau akan menemukan dirimu berkembang biak dan beriap-riap memenuhi penjuru bumi. Tanpa penyatuan gaib antara dua jiwa yang dipisahkan maka engkau akan tinggal dalam ketunggalan jiwamu yang merana di atas bumi manusia. Namun, hendaklah engkau senantiasa ingat bahwa jiwa yang menjadi pasanganmu hanyalah nuansa angin sejuk yang berembus dan menari-nari di hadapanmu. Engkau boleh menikmatinya sesuka hatimu, namun tetaplah ingat jangan sekali-kali engkau sampai terbelenggu dengan kesejukan dan kenikmatan pasanganmu.”

“Mempelaimu adalah kapal dan engkau nahkoda. Jangan biarkan kapalmu gampang hanyut dipermainkan ombak samudera. Engkaulah nahkoda yang mengemudikan dan membimbing arah kapal hingga sampai ke pelabuhan harapan. Engkaulah nahkoda yang menentukan arah kapal. Engkaulah nahkoda yang mengetahui berapa penumpang yang patut naik ke dalam kapalmu. Jangan biarkan penumpang gelap memasuki kapalmu. Jangan biarkan bajak laut menghadang laju kapalmu. Dan sebagaimana nahkoda yang setia pada hukum-hukum kelautan agar kapal selamat sampai tujuan maka demikianlah hendaknya engkau mengarahkan bahteramu di bawah bimbingan hukum-hukum-Nya. Tetaplah engkau berpedoman pada gerakan matahari di siang hari dan pada cahaya bintang di malam hari yang diliputi kegelapan.”

Pengalaman baru memasuki mahligai perkawinan adalah penyingkapan kesadaran baru tentang makna ketunggalan hakiki yang menyelubungi keragaman dan keberbedaan hidup manusia. Hal itu baru disadarinya ketika ia menapaki liku-liku jalan terjal menuju puncak tertinggi mahligai perkawinan. Keindahan pemandangan, kemerduan nyanyian, kelembutan belaian, kekaguman pesona, kesucian mahligai, dan keharuman desah napas ketika sampai ke puncak; luluh. Lebur. Menyatu. Tunggal.

Saat berada di puncak penyatuan itulah ia mendapati kenyataan bahwa dirinya bukanlah seorang suami dan bukan pula seorang laki-laki. Abdul Jalil merasakan kesadaran dirinya lenyap. Menyatu dalam nikmat. Dan rasa nikmat itu setidaknya pernah dirasakannya saat ia memasuki gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ana yang merupakan pengejawantahan an-nafs al-wahidah. Dengan kenyataan ini, menurut hematnya, berarti setiap manusia secara fitrah dikaruniai anugerah oleh-Nya untuk mengenal jati dirinya yang sejati.

Dengan membandingkan antara pengalaman ruhani ketika memasuki nafs-nafs dan pengalaman saat menapaki puncak mahligai perkawinan, Abdul Jalil sampai pada kesimpulan bahwa pada tiap-tiap tirai kesadaran di mana an-nafs disingkapkan maka akan terbit kesadaran baru dengan tingkat rasa yang makin lama makin tidak tergambarkan oleh kata-kata. Dan sejauh itu, puncak kenikmatan yang pernah dilewatinya justru saat ia memasuki dimensi putih kehijau-hijauan yang menjadi persemayaman ar-ruh al-idhafi yang sebesar ibu jari. Kenikmatan di dimensi yang tak tergambarkan itulah yang menyebabkan ia ditegur keras oleh Misykat al-Marhum karena ingin terus berdiam di situ menikmati kenikmatan tak tergambarkan.

Kini, dengan memahami makna hakiki perkawinan sebagai wujud niscaya dari penyatuan an-nafs al-wahidah, Abdul Jalil memiliki wahana paling dahsyat dalam mengendalikan hasrat dan desakan naluriah dari nafsu-nafsu yang melingkari keberadaan jati dirinya. Sambil berbisik lembut penuh kegembiraan ia melantunkan nyanyian jiwanya.

“O jiwa-jiwa liar, jiwa-jiwa buas, jiwa-jiwa merana, jiwa-jiwa rindu, jiwa-jiwa gembira, jiwa-jiwa bahagia. Langit kegirangan telah tersingkap gaunnya. Tujuh samudera cinta yang berisi air jernih keindahan telah menanti kehadiran kalian di pintu pelabuhan al-wahidah. Pasanglah kemudimu. Bentangkan layarmu. Ikuti hembusan angin buritan. Selaraskan lambung bahteramu dengan alunan ombak.”

“Alangkah nikmatnya berbicara dan bercanda dengan angin yang memainkan gelombang samudera. Di sini, di tengah samudera kebebasan, yang ada hanya bahtera dan sang nahkoda, yang berayun-ayun mengikuti tarian ombak samudera. O meliuklah layar perahu yang sudah condong diempas angin. Usir rasa takutmu ketika gelombang besar membawa bahtera ke puncak ombak dan kemudian terempas. Hilanglah, o bahteraku. Tenggelamlah, o nahkoda dan semua penumpangku. Dan tiada yang menampak di cakrawala pemandanganku kecuali samudera. Air.”

“O jiwa-jiwa liar, jiwa-jiwa buas, jiwa-jiwa merana, jiwa-jiwa rindu, jiwa-jiwa gembira, jiwa-jiwa bahagia yang tenggelam di lautan ketunggalan semesta. O jiwa-jiwa yang menjelma ikan, berenanglah di samuderamu yang sejati. Namun, ingatlah selalu bahwa titah-Nya menempatkanmu sebagai penghuni tanah daratan. Engkaulah citra keagungan dan kesempurnaan Adam. Kembalilah ke mahligai sejatimu dengan ridho dan diridhoi-Nya. Kembali dan nikmati ketunggalan mesramu dalam ingatan sunyi-Nya!”

Berangkat dari pengalaman ruhani yang telah dilaluinya, Abdul Jalil menyadari tentang makna perkawinan yang menjadi keniscayaan dari rahmat-Nya. Lantaran itu, Dia menyeru agar hamba-Nya tidak meninggalkan perkawinan. Sebab, perkawinan bukan hanya bermakna mengembangbiakkan ketunggalan diri (mufrad) menjadi banyak (jamak), melainkan juga mengarahkan jiwa-jiwa yang beragam sifatnya ke mutiara samudera ketunggalan.

Sekalipun Abdul Jalil sudah memaknai hakikat perkawinan sebagai keniscayaan dari kemanunggalan citra keadaman dirinya, ia tetap merasa rindu dengan kenikmatan tak tergambarkan saat memasuki dimensi putih kehijau-hijauan tempat persemayaman ar-ruh al-idhafi. Ia menyadari dirinya tidak akan pernah jenuh dengan gairah jiwa yang membawanya ke puncak mahligai perkawinan, sebagaimana ikan tidak pernah jenuh dengan air. Jauh di relung lubuk jiwanya senantiasa tersembunyi kehausan seekor ikan untuk merasakan kesegaran air dari lautan rahasia yang terletak di balik samudera tempatnya tinggal sekarang ini.

Kehausan itu telah menjadikannya tekun dan giat kembali menapaki tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq. Ia yakin bahwa puncak dari kemabukan dan ketunggalan semesta yang memuaskan hasrat ruhaninya bukanlah bersemayam di puncak mahligai perkawinan dengan mengenakan mahkota raja al-wahid, melainkan membiarkan utuh seluruh kesadarannya untuk direngkuh dalam sayap-sayap ketunggalan Ahadiyyah. Dan itu hanya mungkin dicapai melalui pemaknaan hakiki nafs al-haqq sebagaimana yang telah diajarkan hadrat Abu Bakar ash-Shiddiq dan diperjelas dengan citra kemuliaan Misykat al-Marhum.

Ia sendiri merasakan perbedaan besar saat menapaki tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq sebelum dan sesudah melintasi mahligai perkawinan. Kini, ia merasakan kebebasan dan keleluasaan, betapa perjalanan ruhaninya tidak lagi seperti menaiki anak tangga, tetapi bagai melintasi hamparan permadani luas.

Hikmah di balik perkawinan Abdul Jalil dengan Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady ternyata sulit diuraikan dengan penjelasan manusiawi. Sebab, mahligai perkawinan itu bukan sekadar telah menyingkap hakikat ketunggalan manusia secara jasmani dan ruhani, melainkan telah pula membuka cakrawala baru dalam memandang kehidupan di alam semesta ini. Hal itu terutama dirasakannya setelah ia terlibat perbincangan lebih akrab dengan mertuanya.

Bertolak dari pemahaman baru tentang kehidupan yang harus dilaluinya, Abdul Jalil menjadi paham kenapa Misykat al-Marhum begitu keras menegurnya saat ia menyatakan ingin tenggelam dalam ketenangdamaian persemayaman ar-ruh al-idhafi. Ia juga menyadari kenapa setelah itu Misykat al-Marhum justru menitahkannya untuk menikah dengan cara yang begitu menakjubkan. Ternyata, di balik kelebihan dari kemuliaan yang telah diperolehnya dari Sang Pencipta, ia harus memainkan satu peran dalam kehidupan di dunia. “Suka atau tidak suka kita harus menjalankan peran itu dengan utuh. Dan di situlah ketulusan perjuangan para kekasih diuji oleh Sang Pengasih,” ungkap Syaikh Abdul Malik.

“Berarti pertautan ‘abid dengan Ma’bud bukan akhir perjalanan?” tanya Abdul Jalil minta penegasan.

“Jika engkau berpikir bahwa pencarian seorang salik hanya berakhir pada pertautan antara kekasih (auliya’) dan Sang Pengasih (al-Waly) maka engkau tidak akan masuk ke dalam Jama’ah. Kemuliaan (karamah) dari anggota-anggota Jama’ah adalah ketulusan dan kesungguhan mereka dalam menjalankan peran di tengah perkembangan umat. Itu sebabnya, cinta (hubb) tulus kami kepada-Nya diungkapkan lewat kepasrahan dalam menerima panggilan cinta-Nya, meski untuk itu kami harus menapaki jalan terjal dan berliku-liku penuh marabahaya.”

“Keterpanggilanku ke dalam Jama’ah justru kualami setelah kukorbankan kepentingan pribadiku di tengah gemuruh kehidupan duniawi yang diwarnai perjuangan mempertahankan keutuhan warisan Ahlul Bait. Saat itulah gerbang Benteng-Nya terbuka. Aku terisap masuk. Lebur. Luluh. Larut ke dalam isi Benteng-Nya yang ternyata tak berisi apa-apa, kecuali kekosongan dan kehampaan yang tidak tergambarkan dan tidak terbandingkan.”

“Kenikmatan dan kelezatan tak tergambarkan yang kudapati di dalam Benteng-Nya ternyata bukanlah akhir dari perjuanganku dalam mengungkapkan kecintaan terhadap-Nya. Sebab, aku harus keluar dari Benteng-Nya sebagai pejuang yang memihak kepada salah satu golongan yang teraniaya. Ini adalah tugas berat yang teramat berat. Sebab, telah kuketahui dengan pasti bahwa keteraniayaan dari golongan yang kepada mereka itu aku berpihak pada dasarnya adalah keteraniayaan yang dibuat oleh-Nya sendiri. Dengan demikian, aku sadar sesadar-sadarnya bahwa yang kujalani ini adalah sandiwara kehidupan belaka yang ujung dari akhir kisahnya adalah kemuliaan dan keagungan-Nya jua.”

Penjelasan demi penjelasan yang dipaparkan Syaikh Abdul Malik menyadarkan Abdul Jalil tentang betapa berat sebenarnya tanggungan yang harus dipikul seorang anggota Jama’ah. Ia bukan saja harus memainkan peran-peran yang bersifat kelompok dengan sekat-sekat golongan dan nasab, melainkan yang tak kalah berat adalah mengarungi samudera fitnah yang menjadi selubung jari diri anggota Jama’ah. Menyadari hal itu, rasa hormat Abdul Jalil kepada mertuanya semakin bertambah tinggi. Dia tidak saja telah menyerahkan permata hatinya kepada pemuda yang belum dikenalnya, tetapi mertuanya itu dengan segala ketulusan telah menjalankan perannya selama bertahun-tahun tanpa mengeluh.

East China Sea, March 1st 2007