Al-Malamatiyyah

Ketika Abdul Jalil menginjak usia tiga puluh tiga tahun, sepekan setelah kelahiran puteri pertamanya yang diberi nama Aisyah (kelak diganti nama Zainab oleh kakeknya, dan dijuluki Ratu Arafah yang diijazahkan kepada Raden Sahid/Susuhunan Kalijaga untuk dinikahi sebagai tanda bahwa Raden Sahid telah memperoleh tataran ruhani dari Syaikh Datuk Abdul Jalil/Syaikh Siti Jenar), ia diperintahkan oleh mertuanya untuk meninggalkan Baghdad dan mengembara ke arah timur dengan tujuan akhir negeri Jawa. Perintah itu berkaitan dengan penunjukan Abdul Jalil sebagai pengganti kedudukan Syaikh Abdurrahman Muttaqi al-Jawy.

Ia sendiri tidak terkejut dengan petunjuk mertuanya itu. Sebab, jauh sebelumnya ia telah menangkap sasmita bahwa cepat atau lambat mertuanya bakal memerintahkan dirinya pergi. Namun, yang tak pernah diduganya adalah perintah itu mengharuskannya pergi seorang diri dengan meninggalkan istri dan anaknya di Baghdad.

Sesaat pikirannya sempat teringat jalan pada hidupnya yang selalu ditandai oleh perpisahan dengan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Jauh dikedalaman relung-relung hatinya terbersit rasa kecewa sebagai ayah sekaligus suami muda yang masih terikat oleh jalinan benang-benang kasih dengan puteri sulung dan istri tercinta. Sentakan-sentakan kasih naluri kebapakan menggerus hatinya ketika membayangkan berpisah dengan buah hatinya.

Untunglah perasaan itu tidak berlangsung lama. Mertuanya dengan penuh kearifan menguraikan makna rahasia di balik tugas-tugas yang harus diembannya, termasuk keharusan menikah dan beranak-pinak. “Dia selalu menguji kekasih-Nya dengan ujian-ujian berat dan berliku-liku sampai benar-benar terbukti bahwa kekasih-Nya sungguh-sungguh mencintai-Nya dan memutuskan hubungan kasih dengan yang lain.”

“Apakah kepergian saya ini demi keselamatan Fatimah dan Aisyah?” tanya Abdul Jalil tiba-tiba.

“Engkau sudah paham maksudku,” sahut Syaikh Abdul Malik al-Baghdady. “Itu semua aku jalankan sekadar mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.”

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia sadar bahwa kepergiannya dari Baghdad merupakan sebuah kemestian yang berkenaan dengan tugas yang diembannya dan untuk menghindari keburukan yang diam-diam disulut oleh Ali Anshar at-Tabrizi. Atas dasar itulah kepergian Abdul Jalil tidak disertai istri dan puterinya. Ia menyadari bahwa mertuanya yang arif itu tentu menangkap gelagat tidak baik dari gerakan fitnah yang dilakukan Ali Anshar. Kebencian Ali Anshar kepadanya muncul dari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia harapkan, yakni pernikahannya dengan Fatimah.

Sejak menikahi puteri bungsu Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, ia sudah menangkap benih-benih ketidaksenangan dan kebencian Ali Anshar dari mimik wajah, sikap, dan lontaran ucapan-ucapan yang keluar dari relung-relung terdalam jiwanya yang dipenuhi oleh iri hati dan dendam kesumat.

Semula, Abdul Jalil hanya bisa meraba-raba mengapa Ali Anshar mendadak berubah sikap kepadanya. Meski sejak awal ar-ruh al-idhafi telah membisikkan tentang ketidaksukaan Ali Anshar kepadanya, ia belum mengetahui latar lahirnya kebencian itu. Ia baru paham setelah Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dengan bahasa isyarat mewanti-wanti agar ia berhati-hati terhadap Ali Anshar. Karena, laki-laki asal Tabriz itu sejak lama memendam perasaan cinta kepada Fatimah. “Ali Anshar berpikir engkau telah merampas Fatimah dari pelukan harapannya. Karena itu, dia akan melakukan apa saja untuk merebut kembali harapannya.”

“Tapi Ayahanda, bukankah semua ini di luar kehendak saya?” sahut Abdul Jalil. “Bukankah saya tidak pernah bermimpi apalagi merencanakan pernikahan dengan Fatimah? Bukankah Ali Anshar tahu hal itu? Bukankah ini semua bukan keinginan saya pribadi?”

“Bagi mereka yang terhijab seperti Ali Anshar, penjelasan apa pun tidak akan bisa meyingkapkan tirai kesadarannya,” jelas Syaikh Abdul Malik al-Baghdady.

“Kenapa Allah menempatkan Ali Anshar sebagai musuh saya?”

“Itu sudah menjadi hukum-Nya dan berlaku bagi siapa saja.”

“Hukum-Nya?” sergah Abdul Jalil heran.

“Ketahuilah, o Anakku, bahwa telah menjadi hukum-Nya di mana setiap kemuliaan dilimpahkan kepada seseorang maka akan muncul orang lain yang iri hati dan berujung pada dendam kesumat. Ini berlaku sejak manusia pertama dicipta. Ketika seluruh malaikat diperintahkan-Nya untuk sujud kepada Adam maka dimunculkan-Nya iblis yang iri hati dan menolak kemuliaan Adam. Namun, Adam diam saja tidak memberikan perlawanan. Dan Allah jua yang akhirnya berurusan dengan iblis.”

“Saya paham, Ayahanda,” ujar Abdul Jalil. “Apakah itu berarti saya tidak perlu menanggapi Ali Anshar? Biarlah Allah sendiri yang mengurusnya?”

Syaikh Abdul Malik al-Baghdady tersenyum.

Setelah mendengar uraian mertuanya, diam-diam Abdul Jalil merasa iba kepada Ali Anshar. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali berdiam diri saja, membiarkan gelombang fitnah yang dialamatkan kepadanya semakin dahsyat gelegaknya. Abdul Jalil membiarkan harga diri, kehormatan, dan keberadaan dirinya diluluhlantakkan oleh fitnah-fitnah keji. Ia sadar segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya pada hakikatnya bukanlah miliknya. Semua milik Allah. Karena itu, biarlah Ali Anshar berurusan langsung dengan Sang Pemilik Sejati.

Puncak kepasrahan Abdul Jalil atas segala kepemilikan ditandai dengan kerelaannya melepaskan keterikatan dengan anak dan istri. Ini sungguh ujian terberat. “Ya Allah,” keluhnya dalam hati, “menghadapi ujian seperti ini saja sudah begini susahnya. Sungguh tak terbayangkan betapa berat hati sahabat-Mu Ibrahim al-Khalil a.s. saat Engkau perintahkan menyembelih putera tunggal yang disayanginya.”

Akhirnya setelah bergulat mengatasi keterbatasan diri, ia tanpa berkata apa pun kemudian mencium tangan mertuanya dan dengan gejolak perasaan mengharu biru lantas meninggalkan anak dan istri tercinta. Ia sadar bahwa galau yang dirasakan menyesaki dadanya itu adalah akibat wajar dari hakikat kemanusiaan yang masih menjadi bagian dari kehidupannya. Itu sebabnya, sepanjang perjalanan ia lebih banyak membenamkan diri mengingat Allah dan berusaha sekuat tenaga melupakan rentangan kenangan bersama istri dan puteri sulungnya. “Engkau yang telah mempertemukan kami, Engkau pula yang kini memisahkan kami. Karena itu, hanya kepada Engkau jua semua urusan aku pasrahkan,” batinnya.

Kepedihan hatinya sedikit terobati ketika ia menemui Ahmad Mubasyarah at-Tawallud untuk menumpang kapal menuju Surat, Gujarat. Ia seperti menemukan muara yang membebaskannya dari pusaran aliran kenangan.

Sambil tersenyum lebar, Ahmad at-Tawallud menganjurkan agar Abdul Jalil secepatnya menikah lagi sesampainya di Gujarat. Anjuran sahabatnya itu tentu terasa mengejutkan. Bayangkan, bagaimana mungkin dalam keadaan sedih karena meninggalkan anak yang masih bayi dan istri yang masih sangat muda di bawah tanggungan mertua, ia bisa melakukan perkawinan baru lagi. Sungguh ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mertua yang sangat dihormatinya itu jika ia mengikuti anjuran Ahmad at-Tawallud.

Ahmad at-Tawallud menangkap jalan pikiran Abdul Jalil. Dia seraya tertawa, “Ketahuilah, o saudaraku, memiliki istri-istri dan perempuan-perempuan sebagaimana disahkan oleh syari’at bukanlah bertujuan untuk melampiaskan hasrat nafsu syahwat, apalagi untuk memamerkan kejantanan. Sekali-kali tidak demikian. Istri-istri dan perempuan-perempuan yang kita miliki itu adalah sarana yang harus kita gunakan untuk melepas keterikatan kita pada satu objek yang kita cintai. Sebab, cinta seorang laki-laki kepada satu perempuan sangat kuat daya rekatnya dibanding cinta seorang laki-laki kepada banyak perempuan.”

“Benarkah demikian, o Tuan Yang Mulia?” tanya Abdul Jalil minta penegasan.

“Soal perempuan, engkau memang belum banyak pengalaman,” sahut Ahmad at-Tawallud serius, “namun aku yakin ingatanmu tentang seorang perempuan bernama Nafsa tentu sulit dihilangkan. Bukankah istrimu memiliki kemiripan dengan Nafsa? Bukankah lantaran itu engkau mencintainya?”

“Benarlah apa yang Tuan katakan,” Abdul Jalil menunduk jengah.

“Ketahuilah, o Saudaraku,” ujar Ahmad at-Tawallud, latar di balik syari’at yang membolehkan laki-laki menikahi lebih dari satu perempuan adalah berkaitan dengan kecintaan kepada Allah. Karena itu, syarat keadilan yang dimaksud dalam ketentuan hukum Ilahi bukanlah keadilan dalam membagi cinta terhadap istri-istri, melainkan dalam mengarahkan kiblat cinta kepada-Nya. Sebab, dengan mencintai-Nya maka keadilan akan terwujud dengan sendirinya. Jadi, keadilan di situ jangan diartikan keadilan membagi perhatian kepada masing-masing istri menurut pertimbangan nalar suami atau nilai-nilai yang dianut masyarakat. Dengan demikian, istri-istri dan perempuan-perempuan yang kita miliki itu adalah sarana untuk mengarahkan kiblat cinta hanya kepada-Nya.”

“Karena itu, o Saudaraku, nikahilah perempuan yang tidak mirip Nafsa dan tidak mirip istrimu. Sebab, jika bayangan Nafsa masih melekat dalam ingatanmu, meski sangat lembut dan halus, maka engkau tetap membentangkan hijab dengan-Nya. Engkau masih menduakan Dia dengan yang lain. Engkau harus tahu bahwa Dia sangat pencemburu dan Dia tidak sudi diduakan,” jelas Ahmad at-Tawallud.

“Astaghfirullah!” seru Abdul Jalil menyadari kekeliruannya selama ini. Di benaknya kemudian merentang gambaran tentang mertuanya yang memiliki empat orang istri dan sekitar tujuh istri yang dinikah dengan mut’ah. Rupanya, selama ini ia telah salah memahami mertuanya yang mulia itu. Ia tidak memahami makna di balik kehidupan rumah tangga mertuanya. Padahal, sejatinya mertuanya itu telah mengarahkan kiblat cinta hanya kepada-Nya dengan melepaskan hal-hal duniawi, termasuk dalam bentuk istri, perempuan, serta anak-anak. Ya, Allah memang hanya menghendaki satu kiblat hati dari kekasih yang dicintai-Nya. Itu berarti, yang selain Allah hanyalah bunga-bunga kehidupan duniawi yang nisbi dan maya.

Menyadari kekeliruannya, Abdul Jalil akhirnya berjuang sekuat daya untuk mengarahkan kiblat hati dan pikirannya kepada Allah yang tak berbentuk rupa dan tak tersentuh pancaidera. Ia ingin menghapus kenangan indah tentang Nafsa, Fatimah, dan Aisyah. Betapa sulit. Betapa rumit. Betapa berat.

Setelah sepanjang perjalanan dari Basrah ke Surat berjuang keras mengarahkan kiblat hati dan pikiran melalui anak tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq, ia mulai merasakan betapa kejernihan pikiran dan hatinya telah membukakan cakrawala baru tentang kebenaran yang memancar dari ar-ruh al-idhafi. Ini dialaminya saat kapal berlabuh di pelabuhan Diu. Tiba-tiba saja ia memutuskan untuk turun di situ. Lewat sebuah surat yang dititipkan kepada nahkoda, ia memberi tahu Ahmad at-Tawallud, pembimbing ruhaninya, bahwa ia tidak jadi turun di Surat. Karena, petunjuk ar-ruh al-idhafi menuntunnya demikian.

Kehadiran Abdul Jalil di Diu ternyata sudah ada yang mengetahui. Ini terbukti saat baru saja keluar dari pelabuhan, ia sudah disambut oleh seorang Hindi bernama Adamji Muhammad yang mengaku utusan Syaikh Abdul Ghafur Mufarridun al-Gujarati, salah seorang anggota Jama’ah, yang tinggal di Ahmadabad. Abdul Jalil hanya tersenyum menyalami Adamji Muhammad. Ia mafhum dengan kewaskitaan Syaikh Abdul Ghafur.

Adamji Muhammad adalah lelaki jangkung dan tampan yang berusia sekitar lima puluhan tahun. Kumisnya yang melengkung panjang dipelintir melingkar ke atas. Pakaiannya terbuat dari katun kasar warna putih. Pada bagian pinggangnya dililit kain katun hitam yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Pada kin hitam itulah dia menyelipkan sebilah belati berbentuk bulan sabit. Sementara rambutnya yang tergerai sebahu pada bagian atasnya ditutupi surban putih.

Adamji sangat terbuka. Itu sebabnya segera setelah menemukan Abdul Jalil, serta merta dia menyampaikan pesan guru yang menjadi panutan hidupnya. “Sesuai pesan Pir (guru ruhani) kami, Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati, maka kami sambut kehadiran Tuan sebagai calon menantu kami. Kami mohon agar Tua berkenan menikahi puteri kami yang bernama Shafa.”

“Benarkah demikian pesan Yang Mulia Syaikh Abdul Ghafur?” Abdul Jalil mengerutkan kening. Bersamaan dengan itu, bayangan Ahmad at-Tawallud melintas di benaknya. Betapa aneh liku-liku kehidupan yang dilewatinya. Beberapa hari lalu sahabatnya memberi saran agar ia secepatnya menikah setiba di Gujarat. Ternyata baru saja ia menginjakkan kaki di pelabuhan Diu, seseorang bernama Adamji Muhammad sudah mendaulatnya untuk menikahi puterinya, atas petunjuk Syaikh Abdul Ghafur.

“Memang demikianlah pesan Pir kami,” sahut Adamji serius. “Kami tidak berani menentang titah beliau. Kami juga tidak berani membawa-bawa nama besar beliau tanpa hak.”

“Tuan belum mengenal saya,” Abdul Jalil menguji. “Bagaimana Tuan bisa begitu yakin bahwa saya orang baik?”

“Tuan,” kata Adamji tegas, “Pir kami adalah Aulia keramat. Bagi kami, apa pun yang diucapkannya adalah seperti ucapan Allah. Beliau tidak punya kepentingan apa pun dengan dunia ini. Karena itu, apa saja yang beliau kemukakan pasti bukan untuk kepentingan pribadi.”

“Berbahagialah Tuan yang memiliki Pir seperti beliau, manusia Allah yang hidup sendirian menjauhi keduniaan,” ujar Abdul Jalil.

Negeri Gujarat merupakan tempat leluhur Abdul Jalil menyebarkan dakwah Islamiyah di bawah kibaran bendera kebesaran para Alawiyyin. Namun, karena para Alawiyyin itu memiliki latar paham, doktrin, pandangan, dan pendekatan yang berbeda-beda maka pada gilirannya membuahkan dakwah Islamiyah yang beragam pula.

Madzhab terbesar dari golongan Alawiyyin di negeri Gujarat adalah dari golongan Ismailiyyah yang dipimpin oleh Pir Sadruddin. Madzhab Ismailiyyah beroleh pengikut besar karena memadukan ajaran Islam dan Hindu sedemikian rupa sehingga batas masing-masing ajaran kabur satu dengan yang lainnya.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman Syaikh Abdul Ghafur di pinggiran kota Ahmadabad, Adamji menuturkan berbagai ajaran Islam yang dianut orang-orang di sini. Dari cerita Adamji itulah Abdul Jalil mengetahui Islam yang dianut masyarakat Gujarat sangat jauh berbeda dengan Islam yang dijalankan orang di Baghdad.

Para pengikut Pir Sadruddin, menurut Adamji, memiliki keyakinan bahwa Dewa Wisnu menitis tidak dalam sembilan perwujudan, tetapi sepuluh. Karena, kesembilan titisan Wisynu itu – dari Manu hingga Kalki – adalah jelmaan yang kurang sempurna. Untuk itu, diturunkan avatar kesepuluh sebagai penyempurna, yakni Sayidina Ali bin Abu Thalib. “Keyakinan Trimurti disesuaikan dengan Islam, di mana Dewa Brahma turun ke dunia dalam wujud Nabi Muhammad Saw., Dewa Wisynu menitis dalam wujud Ali bin Abu Thalib, dan Dewa Syiwa menjelma dalam wujud Nabi Adam.”

Apakah Tuan penganut paham madzhab Khojah yang diajarkan Pir Sadruddin?” tanya Abdul Jalil

“Tidak Tuan,” Adamji menyergah. “Semula saya adalah seorang brahmin. Nama asli saya Harirar Saratchandra. Itu sebabnya, saya tahu pasti bahwa ajaran madzhab Khojah tidak benar. Saya memeluk Islam dan kemudian menikah atas petunjuk Pir kami Syaikh Abdu Ghafur al-Gujarati.”

Selama berbincang-bincang, Abdul Jalil mengetahui bahwa Adamji Muhammad berasal dari kalangan darah biru. Kakek buyutnya yang beragama Hindu, yakni Siddha Raj, adalah Raja Gujarat. Itu sebabnya, Abdul Jalil menduga Adamji tidak mau mengikuti madzhab Khojah yang umumnya dianut oleh suku-suku berkasta rendah.

Setelah melakukan perjalanan tiga hari dua malam, sampailah mereka di kediaman Syaikh Abdul Ghafur, yakni sebuah ruang kecil di sisi masjid di selatan kota Ahmadabad. Kehadiran Abdul Jalil bersamaan dengan terbitnya matahari pagi. Ia disambut oleh beberapa kerabat Adamji. Pagi itu rupanya Syaikh Abdul Ghafur telah menyiapkan acara khusus, yakni pernikahan Abdul Jalil dengan Shafa binti Adamji Muhammad.

Abdul Jalil yang kebingungan karena tak menduga bakal secepat itu menikah, tidak bisa berbuat sesuatu kecuali menurut saja ketika beberapa orang kerabat Adamji menuntunnya memasuki masjid. Di dalam, ternyata Syaikh Abdul Ghafur sudah duduk bersila di depan mihrab.

Abdul Jalil terhenyak menyaksikan pancaran kewibawaan Syaikh Abdul Gahfur. Lelaki tua dengan janggut yang dicat warna merah itu benar-benar tidak mengesankan seorang tua bangka, tetapi seekor harimau yang menggetarkan hati siapa pun yang menatap matanya. Itu sebabnya, ia memahami kenapa Adamji Muhammad begitu memuliakan kekasih-Nya yang sepanjang hidupnya menyendiri tak pernah menikah. Dan dengan penuh ketakziman, ia mendekati Syaikh Abdul Ghafur dan mencium haribaannya.

Syaikh Abdul Ghafur yang sejak awal duduk tenang bagai patung batu tiba-tiba merangkul dan menepuk-nepuk punggung Abdul Jalil dengan mesra. Saat orang-orang keheranan menyaksikan peristiwa langka itu, dia malah berbisik ke telinga Abdul Jalil.

“Engkau rajawali yang berlidah fasih dan berpikiran jernih, tugasmu menjalankan amanah-Nya makinlama akan makin berat sampai seluruh keluh kesahmu terhapus dan engkau menyaksikan Dia mengejawantah di mana-mana. Itu sebabnya, engkau harus singgah di sini dan bersarang di tebing yang tinggi sampai anak-anakmu lahir. Jika nanti saat engkau terbang bebas mengepakkan sayapmu dan engkau jatuh dibidik panah sang pemburu maka anak-anakmulah yang terus melanjutkan tugasmu.”

“Saya akan mengikuti kemana arus nasib menggiring saya,” ujar Abdul Jalil.

“Karena, engkau memang tidak dapat melawan arus itu,” sahut Syaikh Abdul Ghafur sambil menepuk keras bahu Abdul Jalil.

“Tuan sudah tahu semuanya,” bisik Abdul Jalil, “tapi saya belum apa-apa.”

“Itu hanya soal waktu saja,” bisiknya, “Akhirnya engkau pun akan tahu bahwa kita ini bukanlah orang lain.”

“Saya camkan benar ucapan Tuan.”

“Ketahuilah, o Rajawali Perkasa, bahwa makna perkawinan bagi orang-orang yang berjuang mengiblatkan perasaan cinta kepada Allah adalah ibarat titian emas yang mengantarai dua sisi sungai. Itu berarti, mereka yang sedang menyeberang tidak akan berhenti dan tinggal selamanya di atas titian emas itu. Mereka harus ke seberang untuk menuju ke istana cinta sejati tempat Sang Mempelai duduk di atas mahligai cinta-Nya.”

“Saya camkan fatwa Tuan,” bisik Abdul Jalil lirih.

Al-Malamatiyyah adalah orang-orang paripurna (al-insan al-kamil) yang citra kehidupan lahiriahnya ditandai keanehan, kehinaan diri, dan kemisteriusan. Mereka dianggap aneh oleh manusia awam karena sering kedapatan melakukan hal-hal yang tidak lazim. Mereka bagaikan manusia asing yang hidup di bawah bimbingan nilai, pandangan-pandangan, paham-paham, dan gagasan-gagasan yang berbeda dengan yang seumumnya dianut masyarakat. Sehingga apa yang tampak pada sisi lahiriah para malamit bukanlah ungkapan hakiki sisi batiniah mereka yang sebenarnya. Mereka, misalnya, mengenal Allah dengan sangat sempurna, namun mereka sering kali tidak menampakkan jejak manifestasi Ketuhanan.

Salah seorang di antara al-Malamatiyyah yang dikenal Abdul Jalil di negeri Gujarat adalah Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati. Laki-laki yang tinggal sendirian di masjid itu dapat dikatakan sebagai orang aneh dan misterius. Dikatakan aneh karena dia yang lahir dari kalangan darah biru itu sejak kecil dikenal sebagai orang cerdik dan memiliki sifat-sifat terpuji. Oleh Sultan Mahmud Bigarah, Raja Gujarat yang tidak lain adalah saudara sepupunya, dia ditawari untuk memilih jabatan tinggi sesuai dengan kemampuannya. Namun, seluruh tawaran itu ditolaknya.

Syaikh Abdul Ghafur memilih hidup bebas meninggalkan atribut-atribut kebangsawanannya. Dia tinggalkan istana dan hidup membujang tanpa anak, istri, harta, dan kemuliaan duniawi. Kehidupannya sehari-hari diisi dengan tugas mengumandangkan adzan, mengisi kolam untuk wudhu, dan membersihkan masjid.

Pilihan hidup dan sikap teguh Syaikh Abdul Ghafur tentu saja aneh menurut ukuran wajar manusia. Sebab, pada saat semua orang berlomba-lomba meraih jabatan tinggi, kehidupan mulia di istana, dan berbagai atribut kebangsawanan, dia yang berasal dari lingkungan bangsawan dan diberi kesempatan menduduki jabatan tinggi justru menolak dan memilih hidup di masjid. Kemisteriusan Syaikh Abdul Ghafur terlihat dari pandainya dia menyembunyikan identitas dirinya sehingga nyaris tidak ada yang tahu siapa dia sesungguhnya. Orang-orang yang selama ini mengenalnya sebagai orang sebatangkara yang tinggal di masjid memanggilnya dengan sebutan yang bernada sangat menghina, yakni hadhrat asy-syaikh (Tuan Guru), padahal mereka tahu dia tidak mengajar siapa pun.

Kepandaian Syaikh Abdul Ghafur menyembunyikan identitas dirinya, baik sebagai keluarga raja maupun kekasih yang dicintai-Nya, benar-benar luar biasa sampai-sampai imam masjid yang bernama Muhammad Asad Khan menganggap dia tidak memiliki kemungkinan hidup lain kecuali mengabdi untuk kepentingan masjid. Hanya orang-orang tertentu seperti Adamji Muhammad yang mengetahui bahwa sesungguhnya Syaikh Abdul Ghafur merupakan syaikh dan pir.

Keinginannya menyembunyikan diri dari pengetahuan banyak manusia pada dasarnya berpangkal pada kehendak-Nya juga, yang menempatkan kekasih-Nya itu sebagai manusia sebatangkara yang hidup mengabdi di masjid. Hampir tidak ada orang yang tahu bahwa Imam Shah Pirana, wali keramat yang dijadikan panutan umat muslim Pirana, adalah murid terkasihnya. Betapa Imam Shah Pirana yang dianggap dapat mendatangkan hujan pada musim kemarau dan berbagai perbuatan keramat lain, jika bertemu Syaikh Abdul Ghafur selalu mencium tangan dan kemudian melakukan argya (penghormatan dengan membasuh kaki).

Abdul Jalil sendiri sebagai anggota Jama’ah tentu memahami keanehan dan kemisteriusan Syaikh Abdul Ghafur. Lantaran itu, ia tidak terkejut dengan sikap dan pandangan-pandangannya yang tidak lazim. Dan kemafhumannya itu terbukti ketika beberapa saat setelah akad nikah, Syaikh Abdul Ghafur langsung mengajaknya berziarah ke makam para anggota Jama’ah terdahulu. Abdul Jalil tidak menolak sama sekali, meski ia merasa iba hati kepada Adamji.

Ia paham bahwa di balik maksud Syaikh Abdul Ghafur mengajaknya berziarah, tersembunyi proses pengujian sekaligus penyucian jiwanya dalam memaknai hakikat perkawinan. Bahkan lebih dari itu, sebenarnya ziarah mendadak itu adalah proses pembelajaran khas al-Malamatiyyah sebagaimana dicontohkan oleh Jibril saat mengajak sang Malamit Agung, Muhammad al-Musthafa Saw., mengunjungi nabi-nabi dan rasul-rasul dalam perjalanan Mi’raj. Dalam ziarah ini, Syaikh Abdul Ghafur mengajak Abdul Jalil melakukan silaturahmi kepada para anggota Jama’ah pendahulunya.

Mula-mula, ia diajak berziarah ke makam Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam yang terletak di pinggiran kota Ahmadabad. Anehnya, meski ia tidak menjelaskan siapa sebenarnya dirinya, Syaikh Abdul Ghafur mengetahui bahwa ia adalah keturunan Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam.

Makam Syaikh Abdul Malik ternyata sangat sederhana dan tidak berbeda dengan makam yang lain. Hal itu sangat jauh dengan bayangan Abdul Jalil selama ini. Berdasarkan cerita uwaknya dan saudara sepupunya, Syaikh Datuk Bayanullah, ia menempatkan harkat leluhurnya itu agak berlebihan. Dalam angan-angannya sempat terlintas bahwa makam leluhurnya itu sedikitnya mendekati bentuk makam Syaikh Abdul Qadir al-Jailany atau Syaikh Abu Nuwas di Baghdad.

Di atas makam Syaikh Abdul Malik tidak ada tanda-tanda bahwa di dalamnya dikuburkan seorang pemuka Alawiyyin. Andaikata yang mengajaknya ziarah bukan Syaikh Abdul Ghafur maka ia tidak akan percaya jika makam sederhana itu merupakan makam leluhurnya yang telah begitu berjasa menyiarkan kebenaran Islam di negeri-negeri timur. Namun, sesaat kemudian ia sadar bahwa Allah seringkali menyelubungi kekasih-Nya dengan hijab-hijab yang tak tertembus sehingga tidak banyak manusia yang tahu siapa sebenarnya kekasih-Nya itu. Dan lantaran Syaikh Abdul Ghafur menjelaskan bahwa leluhurnya adalah anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’ maka ia akhirnya menganggap wajar ketersembunyian citra mulia leluhurnya itu.

Syaikh Abdul Ghafur menjelaskan secara singkat tentang hakikat keberadaan alam kubur. Menurutnya, alam kubur adalah alam penyekat yang mengantarai alam dunia dan akhirat. Alam kubur lebih luas dibanding alam dunia, dengan perbandingan alam rahim dan alam dunia.

“Inilah alam kesadaran manusia yang lebih tinggi dibanding alam kesadaran manusia di dunia. Karena, ruh manusia sudah lepas dari penjara tubuh jasad dan perintah-perintah nafsunya. Di alam kubur inilah ruh setiap manusia menyadari keberadaan dirinya. Karena itu, semua manusia akan terkejut dan baru sadar betapa selama ini mereka telah disibukkan oleh urusan benda-benda duniawi dan mengikuti perintah-perintah nafsunya untuk bermegah-megah diri (QS at-Takasur: 1-4).”

“Apakah ruh, jasad, dan nafsu manusia di alam kubur akan terpisah-pisah?” tanya Abdul Jalil meminta penjelasan.

“Karena telah bebas dari jasad dan dari perintah nafsu maka ruh tiap manusia yang mati akan ditempatkan di alam arwah yang membentang dari al-‘Illiyan hingga ke pintu alam barzakh. Namun, tidak berarti ruh masing-masing manusia lepas dan bebas. Sebab, masing-masing ruh tetap memiliki hubungan dengan jasad dan nafsunya. Itu sebabnya, ketika malaikat Rumman datang dan menyiksa ahli kubur yang durhaka, ruhnya dapat menyaksikan dan merasakan betapa pedih dan sengsaranya siksaan itu. Hal itu terjadi karena kesadaran jasad, kesadaran nafsu, dan kesadaran ruh yang terpisah di alam masing-masing itu merasakan kepedihan dan kesengsaraan sesuai kadar kesadaran masing-masing.”

Saat malaikat Munkar dan Nakir datang dan menanyai amaliah ahli kubur, jasad manusia yang selama hidup di dunia terhijab dari kebenaran-Nya tidak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebab, nafsu dan ruhnya sudah berada di alam barzakh dan alam arwah. Ruh sebenarnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat, namun ia tidak dapat menyampaikan jawaban kepada jasad karena tersekat oleh alam barzakh. Karena itu, ruh ahli kubur yang durhaka dari detik ke detik mengetahui dengan pasti apa yang bakal menimpanya ketika ditanyai malaikat Rumman dan disusul pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Bahkan saat siksaan bertubi-tubi ditimpakan atas jasadnya di alam kubur, ruhnya di alam arwah dan nafsunya di alam barzakh ikut merasakan pedih dan sakitnya siksaan itu.”

“Berarti, manusia di alam dunia ini kesadaran hidupnya belum sempurna. Justru di alam kuburlah kesadaran masing-masing nafsu dan ruh tersingkapkan secara utuh?” tanya Abdul Jalil minta penegasan.

“Hidup manusia di dunia ibarat mimpi singkat,” kata Syaikh Abdul Ghafur menjelaskan. “Kesadaran macam apa yang bisa ditangkap oleh manusia di dalam mimpi, kecuali bayangan-bayangan tidak wujud? Begitulah ibarat kesadaran duniawi itu.”

Sebenarnya Abdul Jalil hendak bertanya sesuatu hal lagi tentang rahasia alam kubur, namun Syaikh Abdul Ghafur memberinya isyarat agar memejamkan mata dan berkonsentrasi, “Lakukan apa yang pernah diajarkan Ario Abdillah ketika mengajakmu masuk ke alam para Jin!”

Abdul Jalil tercekat kaget. Bagaimana mungkin Syaikh Abdul Ghafur mengetahui hubungannya dengan Ario Abdillah? Bagaimana pula dia bisa tahu bahwa ia pernah memasuki alam para Jin? Namun, kilasan keheranan itu cepat ditepisnya. Ia duduk bersila dan memejamkan mata sambil mengarahkan konsentrasi ke nur yang bersinar di antara kedua matanya. Sebaris kalimat doa rahasia yang diajarkan Ario Abdillah dibacanya dengan khusyuk.

Setelah beberapa detik berkonsentrasi, nur di antara kedua matanya makin terang dan memuncak pada terserapnya kesadaran Abdul Jalil ke dalam pancaran cahaya. Dan sekedipan mata kemudian ia telah berada di sebuah tempat yang benderang disinari cahaya putih kehijauan. Ia mendapati Syaikh Abdul Ghafur telah berdiri di sampingnya.

Tempat itu ditebari aroma wangi yang sangat memikat penciuman yang tidak ada padanannya di dunia. Dengan keheranan ia menyapukan pandangan ke segala penjuru dan menyaksikan betapa cahaya putih kehijauan itu memancar dari berbagai sudut cakrawala. Setelah sadar bahwa cahaya-cahaya itu memancar tanpa lampu, ia mengarahkan pandangan ke depan, yakni pada sehelai tilam yang juga memantulkan cahaya hijau keputih-putihan. Ternyata tebaran aroma wangi itu berasal dari sana.

Syaikh Abdul Ghafur memberi isyarat agar Abdul Jalil mengikutinya. Dengan patuh ia melangkah ke depan tepat di sisi Syaikh Abdul Ghafur, sambil tetap memandang ke arah tilam hijau. Betapa terkejutnya ia menyaksikan sesosok manusia yang mirip dirinya sedang terbujur bagaikan orang tidur. Dengan penuh rasa penasaran ia menegaskan lagi sosok manusia itu. Akhirnya ia mendapati kenyataan bahwa wajah orang itu mirip dengannya, namun lebih tua.

“Itulah jasad leluhurmu, Syaikh Abdul Malik al-Qozam,” ujar Syaikh Abdul Ghafur.

“Beliau kakek buyut saya?” Abdul Jalil tercengang. “Kenapa wajahnya sangat mirip dengan saya?”

“Karena, engkau adalah kegandaan dari dirinya. Dan lantaran kegandaan dari ketunggalan yang berujung pada an-nafs al-wahidah itulah maka di antara seluruh keturunannya hanya engkaulah yang menggantikannya sebagai anggota Jama’ah,” jelas Syaikh Abdul Ghafur.

“Apakah itu bermakna saya adalah titisan beliau?” tanya Abdul Jalil.

“Titisan?” Syaikh Abdul Ghafur balik bertanya dengan tersenyum lebar. “Kalau yang engkau maksud dirimu adalah penjelmaan kakek buyutmu baik jasad maupun ruh maka itu pandangan yang keliru. Namun, jika yang engkau maksud ‘titisan’ adalah dirimu merupakan bagian dari kegandaan kakek buyutmu, yang juga berasal dari ketunggalan an-nafs al-wahidah, maka itu benar adanya. Kenapa kukatakan kegandaan dari ketunggalan? Karena, jasad kakek buyutmu tetap ada dan ruh kakek buyutmu juga tetap ada, meski kegandaannya ada pada dirimu.”

“Saya paham, Tuan,” sahut Abdul Jalil.

Syaikh Abdul Ghafur kemudian menjelaskan bahwa jasad Syaikh Abdul Malik yang terbujur damai di atas tilam hijau adalah gambaran dari manusia yang ketika hidup di dunia telah berhasil mangalahkan dan menundukkan an-nafs al-hayawaniyyah, an-nafs al-musawwilah, an-nafs al-ammarrah, an-nafs al-lawwammah, dan an-nafs al-mulhamah. Itu sebabnya, tubuh fisiknya (al-basyar) yang merupakan manifestasi nafs-nafs-nya itu tidur dengan damai di alam kubur hingga yaum al-qiyamah.

Usai menjelaskan tentang jasad Syaikh Abdul Malik, Syaikh Abdul Ghafur menarik tangan Abdul Jalil ke arah depan. Ia tersentak kaget. Namun, bersamaan dengan kedipan matanya, ia mendapati tilam hijau beserta jasad kakek buyutnya lenyap. Tempat yang disinari cahaya putih kehijauan itu juga lenyap. Sebagai ganti, ia melihat hamparan luas tanpa batas yang disinari cahaya hijau cemerlang.

Di hadapannya tampak tilam hijau yang sangat indah, persis dengan pemandangan di alam kubur, dikitari pohon berbuah ranum dan bunga aneka warna semerbak mewangi. Pada dahan pohon-pohon itu bertengger burung-burung berbulu hijau yang berkicau dengan sangat merdu. Dan jika didengarkan dengan seksama, kicauan itu adalah tasbih yang mengagungkan kebesaran Ilahi. Yang menakjubkan, di atas tilam itu terbujur sosok yang mirip dengan dirinya, namun sekujur tubuhnya memancarkan cahaya. Sosok itu tidur sambil tersenyum seolah diluputi kebahagiaan yang tak tergambarkan.

“Apakah itu nafs al-muthma’innah kakek buyut saya?” tanya Abdul Jalil.

“Engkau sudah paham sekarang,” sahut Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati.

“Apakah ini yang disebut alam barzakh?” ia meminta penegasan.

“Ada dua belas tingkatan dari alam kubur ke alam jabarut, yang disebut dengan barzakh, yakni sekat-sekat,” ujar Syaikh Abdul Ghafur. “Namun, kedua belas tingkat itu tidaklah bisa disebut alam lagi karena hakikat keberadaan kedua belasnya tidak bisa dijelaskan.”

“Saya paham Tuan,” ujar Abdul Jalil. “Kedua belas tingkatan itulah yang dilambangkan dengan kelahiran dan kematian Muhammad al-Mushthafa Saw yang tepat pada tanggal 12, lahir tanggal 12, dan wafat tanggal 12. artinya, beliau turun sebagai manusia tingkatan yang paling bawah, yakni yang kedua belas. Dan beliau naik ke tingkatan yang paling atas, yaitu yang kedua belas.”

“Engkau telah paham.”

“Kenapa yang ada di alam barzakh ini hanya an-nafs al-muthma’innah kakek buyutmu. Sebab, di situ bersemayam pula an-nafs al-wahidah, an-nafs al-mardhiyyah, dan an-nafs ar-radhiyyah kakek buyutmu.”

Syaikh Abdul Ghafur kembali menarik tangan Abdul Jalil ke depan. Ia menurut saja dan sekejap kemudian ia mendapati dirinya berada di suatu hamparan luas tanpa batas cakrawala. Ke mana memandang ia menyaksikan cahaya putih kilau-kemilau memancar penuh keagungan. Di tempat itu ia menyaksikan orang-orang yang tubuhnya memancarkan cahaya gemilang. Dari cahaya yang memancar itu berkumandang indah puji-pujian yang mengagungkan kebesaran Ilahi.

“Di manakah kita, Tuan?” tanya Abdul Jalil heran.

“Tidakkah engkau saksikan sosok yang mirip dirimu di sana?” Syaikh Abdul Ghafur bertanya balik.

Mengikuti arah yang ditunjuk Syaikh Abdul Ghafur, ia menyaksikan sosok bercahaya itu tersenyum memandangnya. Kemudian secara menakjubkan sosok itu mendekat hingga berjarak sekitar dua busur panah.

Syaikh Abdul Ghafur mengucapkan salam dan dibalas oleh sosok tersebut. Dia kemudian meminta Abdul Jalil maju.

Dengan pandang takjub dan heran Abdul Jalil terkesima menyaksikan citra dirinya memancar begitu agung dalam wujud sosok bercahaya kilau-kemilau itu. Ia tercengang ketika tangan kanan sosok bercahaya itu mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih. Saat itu sadarlah ia bahwa sosok itu tiada lain adalah ruh kakek buyutnya.

Melalui al-ima’, ruh Syaikh Abdul Malik menguraikan tentang tugas-tugas yang harus dijalankan Abdul Jalil sebagai penggantinya. Dia menceritakan betapa berat menjalankan tugas sebagai anggota Jama’ah di banding kekasih-kekasih-Nya yang tidak menjadi anggota Jama’ah. Itu sebabnya, Abdul Jalil wajib mutlak memasrahkan segala urusan kepada Sang Pemberi Tugas.

Dia menguraikan liku-liku perjalanannya hingga ditabalkan menjadi anggota Jama’ah. Dia menuturkan betapa berat perjuangannya meninggalkan negeri Qozam membawa anak istri dengan bekal terbatas, di bawah ancaman perampok-perampok padang pasir yang merajalela. Bahkan beberapa saat setelah melintasi Tarim, tiga ekor unta beserta seluruh bebannya telah dirampas.

Dalam keadaan tanpa makanan tanpa air di tengah padang pasir dengan tiga anak yang masih kecil dan istri hamil, ungkapnya, tidak ada yang dapat diperbuat kecuali memasrahkan segala urusan kepada-Nya. Saat itu, sudah tidak dipedulikannya lagi tangisan anak-anaknya yang lapar dan haus atau isak tangis istrinya yang tak berhasil membujuk anak-anaknya agar diam. “Itulah perjuangan terberat yang pernah kualami, yakni mengesampingkan naluri kebapakan untuk semata-mata mengarahkan kiblat iman hanya kepada-Nya.”

Pada saat-saat paling menggetarkan ketika matahari bersinar sangat panas dan tangis anak-anak sudah tersekat di leher yang kering, lewatlah kabilah yang hendak menuju pelabuhan Aden. “Pemimpin kabilah itu mengaku bahwa ia hanya kebetulan saja melintasi tempat itu karena jalur itu memang bukan jalan yang lazim dilaluinya. Ternyata, kabilah itu milik kaum Ismailiyyah yang berpangkalan di Alamut. Dan akhirnya, melalui jaringan Ismailiyyah itulah aku dan keluarga sampai di negeri Hindi dan menyebarkan kebenaran Islam di sana.”

Menurutnya, di antara ujian Allah yang senantiasa mencitrai kehidupan anggota Jama’ah dan orang-orang yang dicintai-Nya adalah lingkaran fitnah yang bagai membelit dari segala penjuru. Semakin besar limpahan karunia Ilahi maka akan semakin besar dan dahsyat pula jaring-jaring fitnah. “Karena itu, pasrahkan semua urusan kepada-Nya sebab hanya Dia yang memiliki segala-galanya. Rencana, alur, pelaksana, hingga akhir dari fitnah itu adalah mutlak kehendak-Nya. Semata-mata untuk membuktikan bahwa Dia adalah Sang Pemilik Mutlak dari kehidupan di alam semesta ini, baik yang kasatmata maupun yang gaib.”

Setelah menuturkan perjalanan hidup, memberi petunjuk ini dan itu, termasuk memberi keleluasaan dalam meminta fatwa dan petunjuk dari para anggota Jama’ah terdahulu, dia kemudian memperkenalkan Abdul Jalil kepada salah seorang anggota Jama’ah yang menggantikan kedudukannya sesaat setelah dia di panggil ke hadirat-Nya. Anggota Jama’ah itu adalah Syaikh Abdurrahman Sajistani yang memiliki nama asli Mainuddin Khisti Sajistani.

Syaikh Abdurrahman Sajistani mengaku dilahirkan di Sajistani, yang terletak di bagian timur Persia. Kepergiannya ke negeri Hindi untuk mendakwahkan Islam adalah atas perintah langsung dari Muhammad al-Mushthafa Saw.. Saat itu, ungkapnya, dia sedang melakukan ziarah ke makam Rasulallah Saw. menjelang bulan Zulhijjah. Ketika sedang berdoa tanpa terasa dia tertidur sekejap di sisi makam. Saat itulah, lanjutnya, tiba-tiba dia beroleh mubasyirah (visi mimpi) didatangi Rasulallah Saw.. “Rasulallah Saw bersabda kepadaku: ‘Allah ‘Azza wa jalla mempercayakan negeri Hindi kepadamu. Pergilah ke tempat bernama Ajmir. Menetaplah di sana. Dengan kehendak Allah, Islam akan berkembang melalui perjuanganmu dan kawan-kawanmu’,” ujar Syaikh Abdurrahman Sajistani.

Dia menguraikan betapa berat perasaannya ketika akan berangkat ke negeri Hindi yang tak pernah dikenalnya. Selain itu, keberangkatannya sangat ditentang oleh keluarganya yang merupakan bangsawan terhormat di Sajistan. Mereka khawatir dia akan terlantar dan sengsara. Namun, tekad menyampaikan kebenaran Islam sesuai petunjuk Rasulallah Saw dilaksanakannya juga.

Perjalanan terberat mencapai Ajmir, ungkapnya, adalah saat melintasi pegunungan Hindukus menuju kota Kandahar. Sebab, selain harus menghadapi tantangan alam yang ganas, daerah tersebut menjadi rebutan antara penguasa Persia dan Syaibanid di satu pihak dan antara penguasa Moghul dan Syafawi di pihak lain. Pencegatan, perampasan, penangkapan, pembunuhan, dan penganiayaan adalah cerita sehari-hari yang membuat orang harus berpikir seribu kali untuk melewati kawasan itu. “Namun, dengan bekal keyakinan bahwa perjalananku ke Ajmir adalah atas kehendak-Nya maka segala berita dan kisah menakutkan itu berhasil kusingkirkan dari benak dan perasaanku. Kiblatku hanya Allah. Dan akhirnya kucapai Kandahar dengan selamat. Dari Kandahar aku langsung ke Lahore, terus ke Panipat, dan akhirnya ke Delhi.”

Selama perjalanan dia merasakan dirinya seperti dibimbing oleh kekuatan gaib yang membuatnya sangat disukai dan dipercaya oleh orang-orang yang baru dikenalnya. Itu terbukti saat dia menyampaikan kebenaran Islam kepada orang-orang yang dijumpainya sepanjang perjalanan dari Delhi ke Ajmir, seruannya diterima dengan sukacita. “Saat memasuki kawasan Rajputana, aku tinggal di rumah keluarga Karamchand Gauda, brahmana yang dihormati di Delhi dan Bengali. Keluarga itu selain tergolong ke dalam Panca Gauda, juga merupakan penasihat ruhaniah raja. Dan justru keluarga itulah yang menerima kebenaran Islam yang aku sampaikan,” papar Syaikh Abdurrahman Sajistani.

Sekalipun ada kekuatan gaib yang membimbingnya dalam menyampaikan kebenaran Islam, dia mengaku hidupnya nyaris tak pernah lepas dilingkari belitan ular-ular fitnah yang berbisa. Tak jarang dia dianggap aneh, hidup tak kenal aturan, pemalas, fasik, munafik, bahkan dituduh tidak waras. “Namun, segala urusan akan selesai jika kita kembalikan kepada Sang Pemilik Mutlak,” ujar Syaikh Abdurrahman Sajistani.

Syaikh Abdurrahman Sajistani kemudian menjelaskan saat dia dipanggil ke haribaan-Nya dan jasadnya disemayamkan di pekuburan kota Ajmir, penggantinya adalah Syaikh Abdul Malik Karim at-Tabrizi yang tinggal di Benggala, yakni bagian timur negeri Hindi. Dia kemudian memperkenalkan Abdul Jalil kepada penggantinya yang memiliki nama asli Jalaluddin at-Tabrizi.

Syaikh Abdul Malik Karim menuturkan perjalanan hidupnya hingga tiba di Benggala. Pilihan hidupnya ini sangat ditentang oleh keluarganya yang hidup dilimpahi kemakmuran di Tabriz. Sikap keluarganya, menurutnya, sangat wajar karena menurut pandangan masyarakat umum tidak ada sesuatu yang bisa diperoleh di Benggala, kecuali kesengsaraan dan kemiskinan.

“Namun, Guruku Syaikh Syihabuddin Suhrawardi telah memberi tahu bahwa aku harus ke Benggala untuk menerima perintah-Nya. Akhirnya, tidak ada yang dapat menghalangi jalanku dalam menunaikan tugas dari-Nya.”

Tugas berat yang harus dipikulnya adalah menghadapi masyarakat berkasta rendah yang hidup dibelit kemiskinan. Dalam banyak hal, dia harus memegang peran sebagai pahlawan pembela kalangan miskin dan rendah itu. Tak jarang, misalnya, dia harus membeli anak-anak petani yang dijual pada saat paceklik. “Anak-anak itulah yang kudidik menjadi mubalig-mubalig tangguh dalam menyebarkan Tauhid dan menyadarkan kaumnya dari keterbelakangan dan kehinaan.”

Tak berbeda dengan kesaksian pendahulunya, dia pun mengungkapkan kisah hidupnya yang dibelit bermacam-macam fitnah membingungkan dan membahayakan. Namun, dengan mengembalikan segala urusan kepada Sang Pemilik Mutlak maka fitnah-fitnah itu akan terhalau dengan sendirinya.

Pengganti Syaikh Abdul Malik Karim adalah Syaikh Abdul Qohar al-Bukhari yang memiliki nama asli Sayyid Jalaluddin al-Bukhari. Dia merupakan keturunan keempat Syaikh Sayyid Ismail al-Bukhari, penyiar agama Islam di Lahore yang termasyhur. Syaikh Abdul Qohar tidak tinggal di Benggala, seperti Syaikh Abdul Malik Karim at-Tabrizi yang digantikannya, tetapi berasal dari wilayah Rajputana, tepatnya di daerah Bahawalpur, di kota kecil Ukh.

Setelah hampir setengah abad mendakwahkan Islam, ia dipanggil ke hadirat-Nya. Penggantinya adalah Syaikh Abdul Hamid al-Qalandar, yang bernama asli Abu Ali al-Qalandar, berasal dari Persia. Selama menjalankan tugas-Nya, dia tinggal di kota Panipat hingga Allah memanggilnya dalam usia seratus tahun lebih.

Setelah mengenal para anggota Jama’ah pendahulunya dan mendapat izin untuk menemui mereka sewaktu-waktu dibutuhkan, Abdul Jalil dengan didampingi Syaikh Abdul Ghafur meninggalkan A’la ‘Illiyin yang menjadi persemayaman ruh para malaikat, rasul, nabi, aulia, dan shiddiqin. Ruh-ruh dari A’la ‘Illiyyin inilah yang pada malam Qadr bersama-sama dengan malaikat turun ke dunia untuk mengatur keseimbangan tiap-tiap urusan dengan melimpahkan kesejahteraan hingga terbit fajar. (QS al-Qadr: 1-5).

Perjalanan kembali dari A’la ‘Illiyyin ternyata tidak sesingkat perjalanan berangkatnya. Ini disadari Abdul Jalil ketika ia melintasi dimensi yang tidak disaksikan saat berangkat menuju ke A’la ‘Illiyyin. Pertama-tama, ia menyaksikan hamparan serba hijau yang dipenuhi burung berbulu hijau yang berkicau merdu dan berkejaran dengan sukacita. Abdul Jalil menduga tempat itu tentunya alam barzakh yang menjadi persemayaman an-nafs al-muthma’innah, an-nafs al-wahidah, an-nafs ar-radhiyyah, dan an-nafs al-mardhiyyah kakek buyutnya. Namun, suasana gembira dan sukacita yang mewarnai tempat itu tidak sama dengan tempat persemayaman an-nafs al-muthma’innah kakek buyutnya yang damai, tenang, tenteram, dan hening.

Syaikh Abdul Ghafur menangkap keheranan Abdul Jalil. Dia kemudian menjelaskan bahwa yang mereka lintasi itu adalah alam barzakh tempat kediaman ruh-ruh orang yang mati syahid menegakkan kalimat Allah. Mereka itulah burung-burung kecintaan-Nya yang setiap saat berkicau mengumandangkan kalimat-kalimat yang memuji keagungan-Nya.

Sesaat sesudah itu, Abdul Jalil berada di taman sangat indah dengan sungai yang mengalir penuh pesona menakjubkan. Taman indah itu ditutupi oleh kubah hijau yang keindahannya tak tergambarkan. Di sepanjang tepinya, ia menyaksikan orang-orang beristirahat sambil mendendangkan nyanyian memuji kebesaran Ilahi. Menurut Syaikh Abdul Ghafur, mereka yang beristirahat di tepi sungai itu adalah ruh-ruh para syuhada yang mati di jalan Allah. Tiap pagi dan sore mereka mendapat rezeki dari dalam taman, diantar oleh para pelayan yang ramah dan cantik luar biasa.

Setelah itu, ia menyaksikan kumpulan orang yang berkerumun di luar pintu gerbang. Mereka dengan sangat bernafsu menyaksikan kenikmatan hidup di dalam taman. Mereka ingin masuk, namun tidak bisa. Menurut Syaikh Abdul Ghafur, mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah, namun hati mereka dinodai oleh pamrih-pamrih pribadi untuk kesombongan diri. Mereka sangat bangga dengan amaliahnya dan suka sekali memamer-mamerkan perjuangannya. Lantaran perbuatannya itu, seluruh amaliah mereka terhapus bagaikan impian.

Abdul Jalil kemudian memasuki dimensi yang menggetarkan dari bagian alam kubur, yakni hamparan taman yang ditumbuhi pohon-pohon berbatang, berdahan, berdaun, dan berbuah kobaran api. Rumput-rumput yang menghampar adalah kobaran api. Sungai-sungai pun dialiri kobaran api. Lalu terpampanglah pemandangan mengerikan. Ia menyaksikan seseorang tubuhnya terbakar. Orang itu berteriak-teriak sambil berlarian ke sana dan ke mari. Menurut Syaikh Abdul Ghafur, tempat itu merupakan alam kubur yang ditempati oleh orang yang mati syahid, namun mempunyai sifat curang dan tidak jujur. “Pemandangan yang engkau saksikan itu adalah orang yang mati syahid, namun punya kebiasaan menyembunyikan rampasan perang. Dia suka melucuti barang-barang dari mayat musuh maupun kawannya sendiri.”

Ia ngeri mendengar penjelasan Syaikh Abdul Ghafur. Sungguh ia tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya keadaan orang yang tidak mati syahid, tetapi melakukan kecurangan dan kejahatan menyembunyikan harta benda yang bukan haknya. Tentunya mereka akan mengalami nasib yang lebih buruk.

Keluar dari taman api, ia memasuki dimensi yang seluruhnya dikobari nyala api. Tepat di tengah-tengahnya terdapat tungku raksasa berkobar-kobar. Di atas tungku itu ia menyaksikan seorang perempuan dalam keadaan telanjang dipanggang dengan kemaluan dan dubur ditusuk lonjoran besi mirip tombak.

Perempuan itu dengan mata terbelalak, tangannya menjambak-jambak rambut, berteriak-teriak, dan berkelojotan menahan sakit tak tertahankan. Tubuhnya melepuh. Leleh. Lalu hangus menghitam. Namun, sesudah itu secara ajaib tubuhnya utuh kembali seperti sediakala. Menurut Syaikh Abdul Ghafru, perempuan itu adalah seorang Muslimah yang taat beribadah, namun memiliki kegemaran berzina.

Sungguh ia tidak bisa membayangkan bagaimana siksaan yang bakal diterima oleh ahli zina yang mengaku muslim dan muslimah, namun tidak pernah menjalankan ibadah kepada Allah. Ia juga tidak bisa membayangkan bentuk siksaan yang bakal dialami ahli zina yang terhijab dari kebenaran hidayah-Nya.

Keluar dari alam kubur ahli zina, ia masuk ke dimensi dengan cahaya merah temaram. Sejauh mata memandang ia hanya menyaksikan genangan darah memenuhi cakrawala. Kemudian, dalam keremangan ia mendapati seorang laki-laki sedang berenang. Sambil berteriak-teriak dengan suara serak, dia mencari batu-batu di dalam genangan darah. Ketika sudah ditemukan dengan lahap dia menelan batu-batu yang kasar dan tajam tersebut. Laki-laki itu berteriak-teriak kesakitan karena mulutnya berdarah dan tenggorokannya luka parah.

Menurut Syaikh Abdul Ghafur, laki-laki sengsara yang berenang dalam genangan darah dan menelan batu-batu itu adalah seorang muslim yang saat hidup di dunia memakan harta hasil riba dan mencurangi ukuran timbangan. Laki-laki itu adalah saudagar mata duitan yang menghalalkan segala cara asalkan bisa meraih keuntungan besar. Dia akan mengalami disiksa sampai yaum al-qiyamah. Sungguh mengerikan nasib orang celaka itu.

Setelah keluar dari persemayaman ahli riba dan ahli mencurangi timbangan, Abdul Jalil memasuki dimensi yang gelap. Di sana ia menyaksikan seorang perempuan tubuhnya luluh lantak dijepit bongkahan batu dan tanah. Tulang-belulangnya patah dan mencuat ke permukaan menembus daging. Tengkorak kepalanya remuk mengeluarkan cairan otak. Ratap tangisnya tak bisa digambarkan dengan bahasa manusia.

Perempuan celaka itu sewaktu hidup di dunia sangat kikir dan aniaya terhadap fakir miskin dan anak yatim. Dia suka sekali mengurangi jatah infak dan sadaqah yang disisihkan suaminya. Bahan makanan yang akan diberikan sebagai zakat dan sadaqah pun digantinya dengan bahan bermutu jelek. Pendek kata, perempuan itu selalu menelikung suaminya di dalam hal nafkah, infak, sadaqah, dan zakat.

Pemandangan yang paling mengejutkan Abdul Jalil saat memasuki alam kubur adalah saat menyaksikan siksaan yang dialami oleh seorang laki-laki yang tubuhnya dibelit dan digigiti oleh puluhan ekor ular berbisa. Laki-laki itu meraung-raung dan melolong-lolong kesakitan. Tubuhnya berkelojotan. Namun, ular-ular itu dengan ganas menyemburkan bisa dan menggigitnya tanpa henti. Seketika ia teringat perjalanannya memasuki dimensi an-nafs al-hayawaniyyah di dalam dirinya.

Kali ini, Syaikh Abdul Ghafur tidak menjelaskan siapa laki-laki celaka yang dibelit dan digigiti ular-ular itu. Namun, Abdul Jalil paham bahwa laki-laki itu pastilah orang yang semasa hidup di dunia terbelenggu oleh an-nafs al-hayawaniyyah. Itu berarti, dia adalah orang yang sangat mendewakan kebendaan, keras kepala, menolak kebenaran yang bersifat ruhani, gampang putus asa, dan mendustakan ayat-ayat Allah.

Kehidupan al-Malamatiyyah adalah kehidupan yang diliputi keanehan-keanehan. Karena perjalanan hidup seorang malamit ditandai oleh pengalaman-pengalaman menakjubkan yang nyaris tidak dialami oleh manusia seumumnya. Lantaran itu, seorang malamit tidak dapat hidup sebagaimana lazimnya manusia karena latar pengalaman telah membentuk pandangan-pandangan, paham-paham, gagasan-gagasan, dan kerangka berpikir yang khas al-Malamatiyyah. Dan lantaran itu pula, seorang malamit sering dinilai tidak waras dan keberadaannya dianggap berbeda dari manusia lain.

Rentang waktu yang panjang dan liku-liku pengalaman yang telah dilampaui Abdul Jalil pun pada gilirannya telah menjadikannya sebagai sosok manusia yang dianggap aneh oleh lingkungannya. Hal itu disadari Abdul Jalil ketika istrinya, Shafa, mengingatkan perlakuannya yang sangat berlebihan terhadap seorang sufi pengembara bernama Syamsuddin al-Habba. Shafa yang belum mengenal aturan dan kebiasaan yang berlaku di kalangan sufi menganggap aneh perlakuan suaminya yang membasuh kaki Syamsuddin al-Habba saat menjelang tidur. Shafa juga menganggap aneh tindakan suaminya yang mengantar Syamsuddin al-Habba mandi dan kemudian menggosok punggung, kaki, dan tangannya. Padahal, dia adalah laki-laki asing tak dikenal, berpenampilan lusuh, dan pakaiannya kumal penuh tambalan.

Abdul Jalil menyadari bahwa istrinya berbeda pandangan dengannya. Ia berusaha menjelaskan bahwa ada aturan-aturan yang harus diikuti oleh pengamal ajaran tasawuf, terutama dalam ikatan persahabatan. Ia menjelaskan bahwa hal itu dipatuhi oleh siapa saja, termasuk Pir Agung Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati. Dan hal itu sudah menjadi peraturan sejak zaman nabi dan rasul yang dilestarikan hingga kini.

“Di dalam persahabatan sejati,” ungkapnya, “kita tidak boleh mengedepankan kepentingan pribadi. Sebab, segala keburukan persahabatan sumbernya dari keakuan diri. Orang yang telah berhasil mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan sahabatnya maka orang itu telah berhasil dalam persahabatan.”

Setelah mengarungi kehidupan bersama Shafa selama beberapa waktu, Abdul Jalil menyadari kebenaran ungkapan Ahmad at-Tawallud tentang makna di balik perkawinannya yang baru. Dengan perkawinannya ini, ia benar-benar dapat mengesampingkan citra Nafsa dan “keterkaitan” jiwa dengan istri pertamanya. Ia merasakan betapa kiblat hatinya kepada Allah makin kuat dan jernih. Ia merasakan dirinya bagai burung terbang bebas di angkasa, yang hanya pulang ke sarang untuk memberikan naungan dan perlindungan kepada burung betina dan anak-anaknya.

Shafa binti Adamji Muhammad akhirnya dapat memahami sikap dan pandangan hidup suaminya yang semula dianggap aneh. Namun, saudara, kerabat, serta tetangganya kebanyakan tetap menganggap suaminya itu sebagai orang aneh. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, mereka melihat suami Shafa berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk berbicara dengan orang-orang mengenai bencana besar yang bakal datang jika mereka lalai terhadap ajaran Ilahi. Tindakan Abdul Jalil itu tentu saja dianggap aneh karena menyia-nyiakan waktu bekerja untuk membicarakan soal-soal yang berkaitan dengan dongeng-dongeng lama.

Karena sering berkeliling, Abdul Jalil memiliki banyak kawan dan kenalan. Namun, yang tetap mengherankan orang-orang adalah kawan-kawannya umumnya terdiri atas para yogi, brahmin, rsi, dan sufi yang hidupnya miskin. Mereka silih berganti datang bertamu untuk membicarakan hal-hal yang tak dipahami masyarakat. Untung saja Adamji Muhammad sejak awal sudah diberi tahu oleh pir panutannya, Syaikh Abdul Ghafur, tentang keanehan putera menantunya itu sehingga kasak-kusuk para tetangga tidak sedikit pun dia hiraukan.

Atas petunjuk Syaikh Abdul Ghafur, Abdul Jalil tinggal di rumah yang terletak di samping tempat tinggal mertuanya. Sebab, ia sering bepergian dan meninggalkan istrinya barang sepekan atau sepuluh hari. Saat-saat itulah Adamji Muhammad akan menjaga Shafa. “Engkau yang menolong kekasih-Nya pasti akan ditolong oleh-Nya. Engkau yang membantunya menyelesaikan tugas-tugasnya, pasti tugas-tugasmu akan diselesaikan-Nya. Sungguh Dia Mahatahu dan Mahaadil,” ujar Syaikh Abdul Ghafur.

Adamji yang patuh pada perintah Syaikh Abdul Ghafur dengan penuh sukacita ikut mengurus dan membantu segala kebutuhan menantunya. Tanpa pernah mengeluh dia menerima kasak-kusuk tetangganya. Dan badai kasak-kusuk pun makin dahsyat ketika Shafa sedang hamil tua, namun suaminya pergi ke kota Surat dan belum diketahui kapan kembali.

Adamji sendiri sekalipun sudah memahami bahwa Abdul Jalil menjalankan tugas-tugas Allah, sesekali masih juga dirayapi rasa heran dengan peri kehidupan putera menantunya itu. Perasaan heran itu dirasakannya setelah secara diam-diam dia mengamati perilaku Abdul Jalil ketika berbicara, berjalan, tidur, makan, menerima tamu, dan bahkan saat berbincang-bincang. Namun, keheranan Adamji Muhammad tak berlangsung lama ketika pir Agungnya menguraikan sifat-sifat Abdul Jalil. “Ia sendiri sebenarnya tidak ingin memiliki perilaku seperti itu. Namun, apa yang bisa ia perbuat jikalau Allah menghendakinya berperilaku demikian,” ujar Syaikh Abdul Ghafur.

“Hamba memahami petunjuk Guru Yang Mulia.”

“Ketahuilah, o Adamji, bahwa engkau sebagai orang lain hanya bisa menilai keberadaan putera menantumu dengan keheranan belaka. Tetapi jika engkau menjadi dia, pasti engkau tidak akan kuat menahan beban derita yang dipikulnya.”

“Hamba paham, Guru Mulia.”

Ketika usianya menginjak tiga puluh lima, lahirlah putera pertamanya dari Shafa yang diberi nama Darbuth – dari gabungan kata ad-Dar (rumah, tempat, kediaman) dan al-Buthun (relung kehampaan) – yang bermakna “rumah persembunyian Khazanah Tersembunyi.” Puteranya dinamakan demikian sebab pada malam menjelang kelahirannya, ia mengalami peristiwa ruhaniah terserap masuk ke dalam relung terdalam dari kehampaan yang ada di dalam dirinya, yang merupakan tempat persemayaman al-Haqq.

Sekalipun pengalaman ruhani itu mirip dengan yang pernah dialaminya di Jabal Uhud saat dibimbing Misykat al-Marhum, namun kali ini terdapat perbedaan-perbedaan, baik dalam gambaran-gambaran manifestasi tiap-tiap dimensi maupun tentang hakikat masing-masing dimensi. Hal itu baru disadari saat ia memasuki dimensi serba hitam, yang merupakan manifestasi an-nafs al-hayawaniyyan. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda baik bentuk-bentuk kilasan maupun suasana yang meliputinya.

Kali ini ia tidak lagi melihat bayangan ular raksasa berkepala empat dengan hewan-hewan melata yang mengerumuninya. Suasana di situ juga tidak sepekat pada pengalaman sebelumnya. Ia hanya menyaksikan hamparan hitam memenuhi segenap penjuru penglihatan batinnya. Kemudian bagai matahari terbit di pagi hari, ia mendapati penglihatan batinnya secara jernih dan terang menyingkapkan keberadaan dimensi hitam itu sebagai manifestasi dari an-nafs al-hayawaniyyah dengan segala sifat dan kecenderungannya.

Namun, kenapa gambaran ular raksasa berkepala empat dengan hewan-hewan melata yang mengerumuninya tidak ada?

Karena, Abdul Jalil telah menyumbat sumber hasrat kebendaan dari hati dan pikirannya. Maka, kilasan gambaran-gambaran bentuk itu terhapus. Gambaran dari bentuk-bentuk itu adalah ilusi maya tidak berwujud yang berasal dari lembah angan-angan dari pikiran yang rendah dan berliku-liku. Gambaran ilusi itu baru bisa mewujud dalam bentuk-bentuk manakala hasrat kebendaan yang memancar dari kedalaman relung an-nafs al-hayawaniyyah dibiarkan mengalir menuju ke sungai pikiran yang juga rendah dan berliku-liku.

Hasrat kebendaan ibarat air. Ilusi maya ibarat lembah angan-angan yang rendah dan berliku-liku. Jika lembah angan-angan itu dialiri air dari sumber hasrat kebendaan maka akan terbentuk aliran sungai nafsu kebendaan yang menjadi lahan subur bagi tumbuhnya hutan khayalan tentang benda-benda yang menyesatkan. Namun, Abdul Jalil telah berhasil menyumbat sumber yang memancarkan hasrat kebendaan itu. Hal ini mengakibatkan aliran ilusi maya yang ada di dalam relung an-nafs al-hayawaniyyah-nya tidak mengalir lagi. Lembah angan-angan pun kering. Hutan pun hilang. Demikianlah, kilasan gambaran tentang benda-benda terhapus dari pikiran dan hatinya.

Seperti pengalaman yang sudah-sudah, kali itu pun ia merasakan kesadarannya terisap oleh kekuatan dahsyat dan ia terlempar dari dimensi hitam untuk kemudian memasuki dimensi serba kuning.

Di sini pun ia tidak menyaksikan bayangan anjing raksasa berbulu kuning keemasan berkepala empat. Pemandangan yang terhampar di hadapannya hanyalah wujud serba kuning. Kemudian, dengan mata batinnya yang terang benderang ia mengetahui bahwa dimensi serba kuning itu adalah manifestasi dari an-nafs al-musawwilah dengan semua sifat dan kecenderungannya. Dan ketiadaan kilasan bentuk-bentuk apa pun dikarenakan ia sudah menyumbat sumber hasrat kesyahwatan dari pikiran dan hatinya.

Hal serupa dialaminya ketika memasuki dimensi merah. Ia tidak menyaksikan bayangan kera raksasa berbulu merah menyala, karena an-nafs al-ammarrah di dalam dirinya telah tertaklukkan. Pengalaman yang sama terulang kembali saat memasuki dimensi hijau, yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-lawwammah, dan dimensi biru yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-mulhamah.

Namun, saat memasuki dimensi serba putih yang merupakan manifestasi an-nafs al-muthma’innah, ia mendapati kesaksian baru, terutama tentang makna hakiki dari durrah al-baidha’ dan al-mudhghah. Pada dimensi itu ia memperoleh pencerahan baru tentang ketidakbenaran pengungkapan citra hakiki dari nafs-nafs yang telah dilampauinya.

Pengakuan nafs-nafs sebagai durrah (mutiara), misalnya, baik durrah al-aswad (mutiara hitam), durrah al-ashfar (mutiara kuning), durrah al-ahmar (mutiara merah), durrah al-khadhr (mutiara hijau), dan durrah al-azraq (mutiara biru) pada dasarnya adalah pengakuan yang dilebih-lebihkan. Hakikatnya adalah maya. Sebab, pada kenyataannya, satu-satunya durrah yang nyata dan wujud adalah durrah al-baidha’ yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-muthma’innah.

Terjadinya pengakuan atas durrah berbagai ragam warna maya itu adalah akibat ‘aku’ dari masing-masing nafs telah mengaku-aku keutamaan diri melebihi kenyataan yang sesungguhnya. Ini berbahaya karena nafs-nafs gampang terpengaruh oleh kilasan-kilasan ilusi yang mengalir dari lembah angan-angan, yang mudah terpesona oleh fatamorgana manifestasi Iblis. Dengan ilusi maya itu, nafs-nafs memanifestasikan sifat-sifat Iblis yang berlebihan memuliakan diri sendiri dalam bentuk pemujaan materi, tamak, takabur, ‘ujub, riya, iri hati, cemburu, pemarah, dan pendendam. Penilaian diri berlebihan itulah yang menciptakan ilusi maya tentang musuh menjadi kenyataan. Karena, siapa saja yang dianggap menandingi kemuliaan dirinya akan dianggapnya sebagai musuh. Dan ujung dari kecenderungan ini adalah menganggap malaikat dan bahkan Tuhan sebagai musuh. Sebab, baik malaikat maupun Tuhan dianggap menandingi kemuliaan dirinya. Gejala-gejala pemuliaan diri secara berlebihan seperti itu adalah manifestasi diri dari sifat-sifat dan kecenderungan nafs-nafs yang jauh dari cahaya terang al-Haqq.

Pengalaman itu menyingkapkan kesadaran baru yang lebih jernih dan terang tentang hakikat nafs-nafs. Ia sadar bahwa sisi paling terang yang terentang di antara nafs-nafs yang mendapat pancaran cahaya al-Haqq adalah an-nafs al-muthma’innah, dan sisi yang tergelap adalah an-nafs al-hayawaniyyah. Itu sebabnya, keberadaan an-nafs al-muthma’innah mewujud pada dimensi putih yang disebut durrah al-baidha’, yang wujud jasadnya disebut al-mudhghah.

Berarti, menurut hematnya, pada wujud fisik al-mudhghah (eksistensi ruhaninya disebut qalb) bersemayam hati nur’aini (cahaya mata batin) yang memancari kegelapan hijab-hijab nafs. Pada dimensi inilah medan perang dari perjuangan besar (al-jihad al-akbar) untuk memerangi kecenderungan-kecenderungan nafs digelar, di mana lima pasukan besar nafs (al-bathil) yang menyesatkan, yang muncul dari kegelapan nafs-nafs rendah, berhadapan dengan pasukan ruh (al-haqq) yang muncul dari terang cahaya al-Haqq. Kedua kekuatan dahsyat pasukan besar itu – nafs (gelap) dan ruh (terang) – bertempur untuk saling menguasai Benteng al-mudhghah.

Dari pertempuran dahsyat ini pada gilirannya hanya akan menghasilkan dua kelompok manusia. Kelompok pertama adalah manusia yang telah kalah oleh nafs. Benteng al-mudhghah beserta isinya (qalb) dikuasai oleh pasukan nafs yang berwujud ular, hewan melata, anjing, hewan buas, kera, hewan pemangsa, raksasa-raksasa liar dan ganas, dan berbagai monster mengerikan yang merusak tatanan kehidupan manusia. Kelompok pertama ini akan terperosok ke lembah kebatilan dan jurang kesesatan yang penuh kesengsaraan dan penderitaan. Wujud mereka memang manusia, namun nalurinya binatang dan jiwanya setan terkutuk.

Tanda-tanda utama dari manusia kelompok pertama adalah jika berbicara tentang kehidupan duniawi sangat memesona. Tidak segan mereka menyitir ayat-ayat Allah untuk meneguhkan daya pesonanya. Namun, hidup mereka selalu diwarnai kemudharatan. Mereka tidak bermanfaat bagi manusia lain. Mereka selalu merugikan manusia lain. Mereka menjadi sumber keonaran. Mengutamakan kepentingan pribadi di atas segalanya. Kejahatan akhlak yang mereka lakukan pun tidak pernah terlintas di benak manusia waras. Mereka benar-benar terhijab dari al-Khaliq. Kelompok inilah yang disebut asfala safilin, yang paling rendah di antara yang terendah.

Kelompok kedua adalah manusia yang memenangkan pengaruh ruh dan menaklukkan nafs. Pasukan ruh yang terdiri atas prajurit fawa’id, pengawal ruh, hulubalang sirr, ksatria kafi, menteri akfa, dan Sang Raja Ana al-Haqq, menguasai Benteng al-mudhghah. Merekalah yang disebut mu’minin, shalihin, mujahidun, muttaqin, shiddiqin, muqarrabin, dan muhaimin. Tanda-tanda utama manusia kelompok kedua adalah jika berbicara tentang kehidupan duniawi sangat tidak menarik dan naif karena mereka mengabaikan kebendaan dan kesyahwatan. Hidup mereka dibimbing oleh panglima akhlak. Mereka selalu mengesampingkan kepentingan pribadi untuk kemaslahatan umum. Selalu mendatangkan manfaat bagi manusia lain. Kelompok inilah yang disebut ahsani taqwim, yang terbaik ruhani dan jasmani; yang berkedudukan sebagai insan kamil, manusia paripurna; dan berhak menjadi fi al-ardh, wakil Allah di muka bumi.

Dengan pemahaman baru ini, Abdul Jalil menilai kehidupan manusia justru dimulai dari pengungkapan hakiki dari perjuangan memanifestasikan sifat-sifat dan kecenderungan ruh (al-haqq) untuk memerangi sifat-sifat kecenderungan nafs (al-bathil). Manusia yang hidupnya semata-mata dibimbing oleh sifat-sifat dan kecenderungan nafs maka mereka adalah makhluk yang terhijab, yang pancaran cahaya hati nur ‘aini-nya akan padam. Manusia pada tingkat ini keberadaannya tidak berbeda dengan hewan, bahkan lebih jahat dan lebih berbahaya, karena mereka memiliki senjata akal.

Setelah melintasi dimensi nafs-nafs beserta tirai-tirai hijabnya dan melampaui durrah al-baidha’, Abdul Jalil memasuki dimensi an-nafs al-wahidah. Ia mendapati dimensi ini diterangi cahaya dari qandil yang memancar sangat terang. Inilah lampu yang menyala tanpa api. Inilah dimensi nur al-baidha’. Inilah persemayaman fawa’id. Cahaya dari qandil inilah yang memancar dan menerangi durrah al-baidha’ di mana an-nafs al-muthma’innah bersemayam. Inilah hakikat kemuliaan Adam yang ridho dan diridhoi oleh-Nya.

Dalam mengenali dan memaknai dimensi-dimensi yang ada di dalam dirinya, terutama dimensi nur al-baidha’, Abdul Jalil mendapati keberadaan an-nafs al-wahidah – sebagai satu kesatuan dari bagian an-nafs ar-radhiyah – dan an-nafs al-mardhiyyah seibarat kesatuan antara nyala lampu, sumbu, dan minyak. An-nafs al-wahidah itulah nyala cahaya lampu. An-nafs ar-radhiyah itulah sumbu. An-nafs al-mardhiyah itulah minyak. Demikianlah, an-nafs al-wahidah adalah manifestasi dari fawa’id. An-nafs ar-radhiyah adalah manifestasi dari ruh. An-nafs al-mardhiyah adalah manifestasi dari sirr.

Lebih tegas lagi, an-nafs al-wahidah yang di dalamnya “tersembunyi” fawa’id merupakan manifestasi al-Kamal yang muncul dalam wujud Adam. Sedang an-nafs ar-radhiyah yang di dalamnya ”tersembunyi” ruh adalah manifestasi al-Jalal yang muncul dalam wujud Dinding al-Jalal. Sementara an-nafs al-mardhiyah yang di dalamnya “tersembunyi” sirr adalah manifestasi al-Jamal yang muncul dalam wujud Taman al-Jamal.

Dengan mengenali, memahami, dan memaknai keberadaan dimensi nur al-baidha’, ia menyadari sesadar-sadarnya tentang kemuliaan Adam yang disemayamkan di tengah Taman surgawi yang dilingkari Dinding tak tertembus. Adam sendiri menyaksikan keindahan Taman al-Jamal dan Dinding al-Jalal dengan pandangan bashirah yang merupakan manifestasi dari al-Bashir. Dan lantaran hakikat keberadaan Adam yang begitu mulia, yakni sebagai pengejawantahan Khazanah Tersembunyi, maka seluruh malaikat diperintahkan sujud kepadanya.

Ketika memasuki dimensi paling dalam dari nur al-baidha’, untuk kali keduanya Abdul Jalil menjumpai ar-ruh al-idhafi yang berwujud seperti dirinya dengan pancaran cahaya putih kehijau-hijauan, namun hanya seukuran ibu jari. Inilah manifestasi dari al-khafi yang tiada lain adalah selubung hijab yang disebut hajib ar-Rahman (hijab ar-Rahman). Inilah wilayah gaib yang menjadi pembatas (barzakh) antara makhluk dan al-Khaliq.

Abdul Jalil menyadari sesadar-sadarnya bahwa ar-ruh al-idhafi adalah manifestasi belaka dari al-Haqq yang terselubung dalam kerahasiaan paling rahasia. Itu sebabnya, saat ar-ruh al-idhafi memaparkan berbagai uraian tentang hakikat kebenaran yang menawarkan kemuliaan, keagungan, kehebatan, kekeramatan, serta berbagai kelebihan yang tak dipunyai manusia lain, dengan tegas ia menolaknya. “Saya berharap agar semua keinginan pribadi saya terhapus. Karena, sesungguhnya hanya Allah saja yang memiliki kehendak.”

“Apakah engkau tidak memiliki keinginan bertemu dengan Rabb-mu?” tanya ar-ruh al-idhafi.

“Sesungguhnya, sejak awal perjalanan hidup saya, keinginan saya yang paling tak terkendali adalah bertemu dengan Rabb-ku. Namun, sekarang saya sadar bahwa keinginan kuat yang begitu dahsyat menguasai jiwa saya itu pada dasarnya adalah atas kehendak-Nya jua. Itu sebabnya, saya pasrahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hajat hidup saya kepada-Nya. Dia Mahatahu dan Maha Berkehendak,” ujar Abdul Jalil.

“Tidakkah engkau ingin tahu hakikat terahasia dari keberadaanku?”

“Tuan yang berwujud mirip saya, tentu Tuan lebih tahu tentang hakikat kerahasiaan di balik keberadaan Tuan daripada saya. Namun bagi saya, Tuan adalah manifestasi belaka dari keberadaan al-Haqq. Sebab, menurut keyakinan saya, al-Haqq tidak akan sama dan serupa dengan al-insan. Al-Khaliq tidak bisa dibandingkan dengan makhluk. Dia tidak bisa disetarakan dengan sesuatu (laisa kamitslihi syaiun). Jadi, menurut keyakinan saya, hanya karena Dia, dengan Dia, melalui Dia, dan kehendak Dia semata saya akan menyaksikan kebenaran wujud-Nya entah itu pada tingkat Asma’-Nya, Shifat-Nya, Af’al-Nya, maupun Dzat-Nya. Dan andaikata Dia menetapkan bahwa saya hanya boleh mengenal-Nya dalam wujud manifestasi Tuan maka saya menerima itu sebagai anugerah paling berharga dari-Nya,” ujar Abdul Jalil.

Menyaksikan keteguhan, ketulusan, dan keterbebasan jiwa Abdul Jalil dari pamrih pribadi, ar-ruh al-idhafi memancarkan cahaya sangat terang dari seluruh tubuhnya. Kemudian dengan isyarat, dia memerintahkan Abdul Jalil masuk ke dalam dirinya melalui telinga kirinya.

Perintah itu membuat Abdul Jalil tercengang sejenak, namun ia tidak membiarkan ketakjuban dan keheranan mempengaruhi kesadarannya. Itu sebabnya, dengan gerakan cepat ia bergegas melangkah mendekat. Dengan konsentrasi diarahkan ke telinga ar-ruh al-idhafi, ia menyaksikan peristiwa menakjubkan. Telinga ar-ruh al-idhafi tiba-tiba menjadi sangat besar seibarat gua. Meski demikian, ia tidak tahu pasti apakah dalam hal itu tubuh ar-ruh al-idhafi yang meraksasa hingga telinganya pun sebesar gua atau sebaliknya tubuhnya yang mengecil hingga bisa masuk ke dalam telinga kiri ar-ruh al-idhafi.

Ketika berada di ambang telinga ar-ruh al-idhafi, tiba-tiba ia merasakan kesadarannya terisap oleh kekuatan dahsyat yang menariknya ke arah dalam. Ia tercekat. Kemudian kesadarannya terasa jungkir-balik memasuki kumparan cahaya warna-warni. Sedetik sesudah itu, ia telah berada di hamparan cahaya yang sangat terang.

Hamparan terang itu tanpa wujud bentuk-bentuk, tanpa bayangan, tanpa benda gelap dan terang. Abdul Jalil tercengang menyadari keberadaannya di dimensi asing itu. Sejauh mata batinnya (al-‘ain al-bashirah) memandang, ia hanya menyaksikan gumpalan kabut putih. Dimensi ini sangat asing dan aneh karena tanpa arah timur, barat, selatan, dan utara. Ia bahkan dapat menyaksikan seluruh cakrawala. Inikah dimensi di dalam ar-ruh al-idhafi? Demikian pertanyaannya penuh ketakjuban. Tidak ada apa-apa di dimensi itu: tidak suara, warna, bau, atau rasa. Yang ada hanya kesenyapan. Kelengangan. Kesunyian. Keheningan. Bahkan kehampaan. Anehnya, Abdul Jalil justru merasakan bahwa di dimensi inilah ia berada dalam keadaan sebebas-bebasnya, terbebas dari segala beban; ia merasakan kesadarannya laksana sebutir debu yang terbang melayang-layang dibawa embusan angin. Betapa bebas! Betapa bahagia! Betapa nikmat!

Ketika tengah menikmati kelepasbebasan dengan kebahagiaan tiada tara, tiba-tiba telinga batinnya menangkap al-ima’ yang bergetar dari segenap penjuru cakrawala.

“Inilah Haikal Muqaddas yang merupakan Dar al-Haram persemayaman al-Haqq. Inilah al-Buthun, “persemayaman” Khazanah Tersembunyi yang ditampakkan oleh-Nya dalam penciptaan dirimu. Haikal Muqaddas ini tidak berada di mana-mana, kecuali di dalam dirimu sendiri.”

“Apakah saya diizinkan memasuki altar Haikal Muqaddas agar saya dapat menyaksikan dan menyembah-Nya dengan sebenar-benarnya?”

“Aku Hajibur Rahman, penjaga Haikal Muqaddas, tidak akan mengizinkan siapa pun masuk tanpa izin-Nya.”

“Apakah Tuan mengira kehadiran saya hingga di Haikal Muqaddas ini adalah kehendak saya pribadi dan tanpa izin-Nya? Saya yakin bahwa apa yang saya alami ini adalah atas kehendak-Nya semata. Karena itu, o Hajibur Rahman, mohonkan kepada-Nya agar saya diperkenankan masuk.”

Suasana hening. Senyap. Sepi. Hampa. Namun, sesaat sesudah itu tiba-tiba ia menangkap al-ima’ yang lain lagi.

“Karena Haikal Muqaddas sangat suci dan tidak bisa dimasuki oleh makhluk, maka engkau, makhluk yang berkeinginan memasuki Haikal Muqaddas, hendaknya suci dari semua anasir kemanusiaanmu. Karena itu, o makhluk yang dikasihi-Nya, masuklah engkau ke dalam Haikal Muqaddas melalui pintu al-mir’ah al-hayya’i (cermin memalukan) yang wajib dilalui siapa pun yang ingin masuk ke dalam sini.”

Ia heran dengan perintah itu. Sebab, di segenap penjuru cakrawala dimensi itu tidak terlihat bentuk maupun kilasan gambaran apa pun jua. Namun, seiring dengan keheranannya tiba-tiba gumpalan kabut yang meliputi pandangan mata batinnya menyibak. Kemudian terpampanglah bentangan cermin yang tak diketahui batas tepinya.

Ia terkejut setengah mati menyaksikan bentangan cermin yang terhampar di hadapannya. Sebab, cermin itu tidak saja memantulkan bayangan dirinya, tetapi seluruh perbuatan yang pernah dilakukannya selama hidup terpampang rinci dengan sangat jelas. Sebagai manusia biasa yang tak lepas dari dosa dan kesalahan, terutama memasuki masa-masa remaja, Abdul Jalil tidak mampu menyaksikan rentangan perbuatan yang telah dilakukannya. Ia sangat malu. Bahkan akibat tidak dapat menahan rasa malu, ia menjerit-jerit histeris dan berusaha menutup pandangan mata batinnya. Namun, tidak sedikit pun ia memiliki kekuatan untuk mengatupkan mata batinnya. Puncaknya, ia tidak sadarkan diri.

Entah berapa lama ia pingsan. Namun, saat sadar ia saksikan bentangan cermin lain yang lebih jernih dari cermin sebelumnya. Bahkan begitu jernihnya sehingga bagaikan bukan cermin.

Ia baru mengetahui bahwa yang terbentang di hadapannya adalah cermin yang sangat jernih setelah menyaksikan bayangan dirinya. Begitu sempurnanya bayangan itu, seolah ia menyaksikan dirinya kembar dua. Anehnya, di situ tidak ada bayangan lain. Tidak ada yang lain. Hanya ada dirinya dan bayangan dirinya. Ia tidak dapat berkata-kata, kecuali tercengang dalam pesona ketakjuban.

Ia merasa bingung karena tidak dapat membedakan mana bayangannya dan mana dirinya yang sebenarnya. Ini benar-benar pengalaman menakjubkan sekaligus membingungkan. Ia juga tidak dapat membedakan keakuan dirinya dan keakuan bayangan dirinya. Ia seolah-olah memiliki keakuan ganda, namun kegandaan yang menyatu dalam satu keakuan.

“Siapakah engkau?”

“Engkau adalah aku!”

“Bukahkah engkau hanya bayanganku?”

“Engkaulah yang sebenarnya bayanganku!”

“Jika demikian, siapakah aku dan siapakah engkau?”

“Aku adalah matahari dan engkau adalah bayangan matahari di dalam mangkok berisi air jernih.”

“Apakah engkau Rabb-ku?”

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu!”

“Jika demikian, siapakah sejatinya engkau ini?”

“Ana al-Haqq!”

Abdul Jalil terperangah takjub. Ia pandangi dirinya sendiri kemudian ganti memandangi bayangan dirinya di cermin. Ia benar-benar tercekam ke dalam pesona ketakjuban. Kenapa tidak ada wujud lain kecuali aku dan dia, tanyanya keheranan.

Tiba-tiba bayangan dirinya di cermin memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan hingga nyaris membutakan mata batinnya. Seiring dengan pancaran cahaya itu, dirinya hilang dan bayangan dirinya pun ikut lenyap. Yang tertinggal hanyalah pancaran cahaya yang sangat terang.

Antara sadar dan tidak, ia merasakan kesadarannya terisap. Bagai memasuki pusat matahari, demikianlah kesadarannya masuk ke dalam cahaya yang terangnya tidak dapat diuraikan dengan kata-kata. Entah apa yang terjadi, namun kesadarannya tiba-tiba hilang. Keakuannya lebur ke dalam keakuan cahaya yang membutakan itu. Dan saat itulah, antara sadar dan tidak, ia menangkap al-ima’.

“Keakuanmu telah tenggelam ke dalam keakuan al-Haqq, Rabb-mu, seibarat bersatunya air dengan anggur di dalam gelas. Engkau telah meraih kemenangan, sebag dengan Rabb-mu engkau akan kembali kepada sumber asalmu, Rabb al-Arbab! Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un!”

East China Sea (West of Isigaki Island), March 3rd, 2007