Ar Risalah al Islamiyyah

Pengalaman ruhani yang menggetarkan, menakjubkan, dan membingungkan itu berlangsung beberapa saat sebelum kelahiran putera pertamanya dari Shafa. Itu sebabnya, usai subuh saat masih tercekam oleh pesona pengalaman menakjubkan itu, ia langsung memberikan nama Darbuth kepada puteranya. Nama itu dimaksudkan sebagai tonggak peringatan dari perjalanan ruhaninya memasuki Dar al-Buthun, yakni Rumah “persembunyian” Khazanah Tersembunyi, di mana ia mengenal fana, tenggelam dalam kesatuan Tauhid (fana’ fi Tauhid).

Kelahiran seorang putera adalah kebanggaan bagi seumumnya laki-laki. Karena, putera tidak saja akan menjadi penyambung mata rantai nasab, tetapi menjadi kehormatan dan kemuliaan dalam hidup seorang laki-laki. Namun, Abdul Jalil menyambut kelahiran putera pertamanya dengan perasaan biasa saja. Ia tidak mengharap-harap bayi lelaki montok darah dagingnya itu bakal menjadi penyambung nasabnya yang bisa membawa keharuman namanya. Ia juga tidak membayang-bayangkan kehormatan dan kemuliaan dirinya bakal meningkat dengan kehadiran bayi tersebut.

Ia menganggap kelahiran puteranya adalah atas kehendak-Nya semata. Itu sebabnya, ia tidak dapat memastikan apakah bayi laki-laki itu akan berumur panjang hingga kakek-kakek atau justru akan mati dalam usia dini. Ia juga tidak bisa berharap puteranya bakal menjadi manusia sempurna. Semuanya adalah rahasia Ilahi. Semuanya tergantung pada kehendak-Nya.

Pagi itu, tanpa diundang, Syaikh Abdul Ghafur berkunjung ke rumah Abdul Jalil dengan tujuan utama memberikan berkah dan panjatan doa bagi sang bayi. Namun, saat menjumpai Abdul Jalil bersimpuh di atas sajadah yang tergelar di sudut kamar, dia langsung duduk dan merangkulnya penuh kemesraan. “Sekaranglah waktunya, Abdul Jalil. Sekaranglah waktunya engkau harus ke Jawa menggantikan saudara kita, Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy.”

“Saya telah menemui-Nya, Tuan. Saya telah menemui-Nya,” kata Abdul Jalil dengan perasaan yang sukar dilukiskan.

“Karena itulah engkau harus secepatnya ke negeri Jawa. Karena maqam yang engkau capai telah memenuhi syarat untuk menggantikan kedudukan saudara kita Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy,” kata Syaikh Abdul Ghafur.

“Putera saya baru saja lahir,” kata Abdul Jalil, “apakah pantas jika dia saya tinggalkan?”

“Ini bukan soal pantas atau tidak. Ini juga bukan soal masuk akal atau tidak. Ini adalah tugas suci yang wajib engkau tunaikan. Bukankah keadaanmu ini lebih ringan dibanding Ibrahim al-Khalil yang harus meninggalkan istri dan putera sulungnya di lembah tak berair tak bertetumbuhan? Bukankah mertuamu dengan tulus akan mengambil alih tanggung jawab atas istri dan puteramu? Dan aku, tentu akan bersedia menjadi guru bagi puteramu,” kata Syaikh Abdul Ghafur menguatkan.

“Terima kasih, Tuan guru,” kata Abdul Jalil. “Saya serahkan putera saya, Darbuth, sepenuhnya di bawah asuhan Tuan guru.”

“Engkau namakan siapa puteramu?”

“Darbuth.”

“Apakah engkau ingin memamerkan kepada orang lain bahwa engkau telah mencapai Dar al-Buthun, begitu?”

“Maksud saya, itu hanya sebagai tonggak peringatan.”

“Abdul Jalil, apa yang telah engkau alami adalah rahasia-Nya. Jadi, jangan sekali-kali engkau gegabah mengungkapkan kepada orang-orang yang tidak berhak.”

“Tapi, bukankah itu kehendak-Nya juga?”

“Kehendak-Nya untuk membuka rahasia kepadamu dan tidak untuk yang tidak berhak. Aku sangat khawatir engkau terjebak pada kecerobohan tanpa kendali dengan mengikuti perasaan tanpa pertimbangan akal.”

“Jadi sebaiknya bagaimana, Tuan guru?”

“Berilah puteramu nama Bardud, yang berarti ulat dalam kepompong. Karena, saat lahir ayahandanya telah terbang menjadi kupu-kupu. Dan dia, yang di dalam kepompong, akan mengikuti jejakmu menjadi kupu-kupu yang indah.”

“Tepat sekali perumpamaan Tuan guru,” sahut Abdul Jalil gembira. “Tadi saya benar-benar menyaksikan bagaimana ganas dan jahatnya saya ketika masih menjadi ulat. Di cermin itu (saat peristiwa ruhani), saya melihat semuanya.”

Syaikh Abdul Ghafur tertawa. Abdul Jalil ikut tertawa. Mereka sepakat memberi nama putera pertama Abdul Jalil dengan nama Bardud. Sebab, nama itu bukan saja menjadi tonggak peringatan peristiwa ruhaniah, melainkan pula menjadi pelajaran baginya untuk berhati-hati menggunakan perumpamaan-perumpamaan dalam mengungkapkan rahasia Ilahi.

Sepanjang hari itu mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas Abdul Jalil di negeri Jawa. Sebagai orang yang lebih lama mengarungi samudera kehidupan, Syaikh Abdul Ghafur banyak menceritakan berbagai pengalaman hidup selama menjadi anggota Jama’ah Karamah al-Aulia. Dan Abdul Jalil dengan penuh takzim mendengarkan kisah tersebut.

Ketika malam menyelimuti bumi dengan sutera hitam, Syaikh Abdul Ghafur berpamitan pulang. Abdul Jalil, sesuai pesan Syaikh Abdul Ghafur, menyiapkan diri untuk pergi ke selatan menunaikan tugas menggantikan kedudukan Syaikh Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy. Seiring terbitnya matahari di ufuk timur, ia meninggalkan rumah, meninggalkan anak dan istrinya. Ia tidak tahu apakah akan bisa kembali dan bertemu lagi dengan mereka. Semua yang bakal dialaminya dipasrahkan kepada Allah.

Sepanjang perjalanan ke daerah selatan di pantai barat tanah Bharatnagari (India), Abdul Jalil singgah di desa-desa miskin tempat kediaman suku Kanbi, Kharwa, dan Kori yang merupakan suku-suku berkasta rendah dalam tatanan hidup masyarakat di negeri Gujarat.

Kemiskinan yang beribu-ribu tahun berkuasa dan merajalela di tengah suku-suku malang itu telah membawa Abdul Jalil pada keputusan untuk menyingkapkan cakrawala baru yang menyinarkan cahaya terang matahari kebenaran Islam. Sebab, kemiskinan yang tidak disinari fajar Tauhid akan membawa manusia ke lembah kekufuran. Demikianlah, pada suatu pagi yang terang ia berkata kepada pemimpin suku Kanbi bernama Warnasamkara Saswata yang sedang duduk menggembalakan hewan ternaknya di tengah hamparan rerumputan yang menguning.

“Tahukah engkau, o Manusia, tentang apa dan siapa manusia itu?”

Warnasamkara Sawata tegak berdiri dan berjalan mendekat. Dengan wajah menunduk dan suara gemetaran dia menjawab, “Manusia adalah bayangan maya dari Brahman, sebagaimana percik api yang meletik dari Bunga Api Abadi. Ketika Tuan menanyakan tentang siapakah manusia maka Tuan sesungguhnya sedang menanyakan keberadaan masing-masing percikan api.”

“Jika demikian, apa yang membedakan manusia satu dengan manusia lain? Mengapa manusia yang satu boleh menista dan menghina manusia lain? Mengapa manusia yang satu harus sukarela menerima hinaan dari manusia lain? Mengapa kehinaan yang diterima satu golongan manusia harus diwariskan turun-temurun?” tanya Abdul Jalil bertubi-tubi.

“Tuan,” sahut Warnasamkara Saswata sambil menunjuk sapi kurus gembalaannya, “tidakkah Tuan lihat sapi yang merumput itu? Begitulah keberadaan manusia, utuh laksana perwujudan sempurna seekor sapi. Ada manusia yang menjadi kepala. Ada manusia yang menjadi tubuh. Ada manusia yang menjadi kaki. Dan ada manusia yang menjadi tapak kaki.”

“Apakah Tuan menganggap bahwa suku Kanbi adalah tapak kaki sapi?”

“Demikianlah keyakinan yang kami ikuti, yang kami warisi dari leluhur-leluhur kami sejak ribuan tahun silam.” “

Jika sapi adalah lambang perwujudan manusia yang berasal dari percikan Bunga Api Abadi, lantas siapakah Bunga Api Abadi itu? Apakah Dia adalah Sang Gembala? Jika Dia adalah Sang Gembala, apakah Dia berkedudukan sebagai tapak kaki atau kepala?” tanya Abdul Jalil memburu.

Warnasamkara Saswata diam tak menjawab. Dia bingung diburu rentetan pertanyaan yang dilontarkan Abdul Jalil. Namun, sejenak kemudian pemimpin suku Kanbi itu berkata, “Tuan, pengetahuan tentang Dia bukanlah kewenangan kami. Itu adalah kewenangan para Brahma agung. Kami hanya menjalani apa yang sudah ditentukan olehnya.”

“Bukankah tadi Tuan katakan bahwa manusia adalah percikan api dari Bunga Api Abadi?” tanya Abdul Jalil. “Bukankah percik-percik api itu adalah sama dalam zat dan sifat-sifat, meski bentuk dan kecemerlangannya berbeda-beda? Bukankah masing-masing percik api itu sesungguhnya dapat kembali ke Bunga Api Abadi?”

Warnasamkara Saswata termangu-mangu. Gurat-gurat keras yang menghiasi wajahnya adalah citra keperkasaan yang pantang menyerah menghadapi gelombang samudera kehidupan. Dia meyakini bahwa kerasnya kehidupan sebagai manusia berkasta rendah yang harus dilampauinya itu adalah kodrat manusiawinya, meski jauh di kedalaman relung jiwanya sebenarnya tersembunyi api pemberontakan yang diam-diam menggugat keberadaan dirinya sebagai manusia yang hidup dinista dan dihina. Itu sebabnya, di dalam mimpinya dia merindukan hidup bebas, terhormat, dihargai, dan dimanusiakan.

Akhirnya, dengan suara bergetar dirayapi rasa takut, Warnasamkara Saswata berkata, “Apakah menurut Tuan, zat dan sifat-sifat dari percik api itu sama? Dan apakah percik api dapat mencapai Bunga Api Abadi?” “

Dengarkanlah berita gembira ini, o Manusia,” kata Abdul Jalil dengan suara lembut, namun berwibawa, “bahwa di negeri yang dilingkupi pasir dan batu-batu telah lahir seorang Avatar Agung bernama Muhammad Saw. yang mengajarkan bahwa manusia adalah percik api dari Bunga Api Abadi. Muhammad Saw. mengajarkan bahwa semua percik api adalah sama dalam zat dan sifat-sifat. Karena itu, semua percik api sama di hadapan Bunga Api Abadi. Yang membedakan percik api satu dan percik yang lain adalah kedekatannya dengan-Nya. Percik api yang paling dekat itulah yang disebut muttaqin. Dan percik api bisa berasal dari mana saja tidak dibatasi warna kulit, keturunan, pangkat, jabatan, dan kekayaan.”

“Sang Avatar Agung, Muhammad Saw., yang lahir dari keluarga bangsawan Bani Hasyim dengan tegas menunjukkan bahwa seorang budak berkulit hitam bernama Bilal bin Rabah adalah percik api yang lebih mulia dan lebih terpuji di hadapan Bunga Api Abadi dibanding Omar al-Hakam, sang Abu Jahal, pamannya yang bangsawan dan kaya raya. Bahkan kepada budak hitam Bilal bin Rabah itu diberikan anugerah kemuliaan berupa warisan abadi dalam wujud adzan, yakni seruan memanggil manusia beriman untuk beribadah mengingat Bunga Api Abadi, tempat percik-percik api kelak akan kembali.”

“Tuanku,” kata Warnasamkara Saswata memberanikan diri, “bagaimana pandangan Sang Avatar Agung tentang keberadaan kami, orang-orang dari suku Kanbi, dan saudara-saudara kami suku Kharwa, Kori, Govala, Bagdi, dan Bauri yang berkulit legam serta hidup dalam lingkaran kenistaan dan kehinaan? Apakah kami dapat beroleh anugerah kemuliaan dari Bunga Api Abadi sebagai percik api-Nya sebagaimana yang diperoleh budak hitam bernama Bilal?” “

Sang Avatar Agung, Muhammad Saw., mengajarkan bahwa Bunga Api Abadi yang merupakan pangkal segala kejadian (al-Khaliq) tidak membeda-bedakan percik api yang memancar dari-Nya (makhluk). Yang membedakan adalah kedekatan. Yang paling dekat dengan Sumber Api Abadi itulah yang paling cemerlang sinarnya dan paling mulia. Dan kedekatan dengan Sumber Api Abadi, menurut Sang Avatar Agung, tidaklah berkaitan dengan warna kulit dan anasir-anasir keturunan.”

“Karena itu, o Manusia, jika engkau bersedia menadahkan tanganmu untuk menerima tetesan madu kebenaran dari pinggan sang Avatar Agung maka derajat Tuan adalah sama dengan derajat kami. Jika Tuan disakiti orang maka kami akan membela Tuan seolah-olah yang disakiti oleh orang itu adalah diri kami sendiri. Sebab, sang Avatar Agung mengajarkan bahwa sesama pengikut ajaran sang Avatar Agung adalah sesaudara – sama-sama percik api dari Bunga Api Abadi – yang darah dan kehormatannya wajib dibela dan dihormati.”

Mendengar uraian Abdul Jalil, Warnasamkara Saswata merasakan api pemberontakan di kedalaman relung-relung jiwanya berkobar-kobar dengan hebat hingga membakar bongkahan gunung es yang tegak menjulang di dadanya. Dia merasakan dinding-dinding gunung es di dadanya runtuh dengan suara gemuruh. Dan seiring dengan itu, dia jatuh terduduk di atas lututnya dengan tubuh bergetar dan air mata haru bercucuran membasahi pipi. “

Tuan Guru, apakah kami boleh menjadi pengikut Sang Avatar Agung? Apakah Tuan dan saudara-saudara Tuan berkenan menerima kami yang hina ini sebagai saudara? Apakah syarat-syarat yang harus kami penuhi untuk menjadi pengikut Avatar Agung?” “

Ucapkan dua kalimat kesaksian yang Tuan yakini dengan sepenuh jiwa. Kalimat pertama, Tuan menyaksikan keesaan Sang Bunga Api Abadi, yakni Allah. Kalimat kedua, Tuan menyaksikan bahwa Sang Avatar Abung adalah rasul pancaran Sang Bunga Api Abadi.”

Masih dengan air mata bercucuran, Warnasamkara Saswata bersujud mencium kaki Abdul Jalil sambil berkata, “Bimbinglah kami, o Tuan Guru.”

Abdul Jalil memegang bahu Warnasamkara Saswata dan kemudian menepuk-nepuknya, “Berdirilah Tuan! Sebab, semua pengikut sang Avatar Agung, Muhammad Saw., berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Tidak satu pun di antara pengikut Muhammad Saw. boleh bersujud kepada sesamanya. Satu-satunya yang wajib disujudi adalah Sang Bunga Api Abadi.”

Dengan tubuh gemetar dan hati diamuk perasaan tak karuan, Warnasamkara Saswata berdiri. Disaksikan Abdul Jalil yang wajahnya bersih cemerlang dengan hidung mancung, mata coklat, alis tebal, kumis, dan cambang lebat yang semuanya memancarkan kewibawaan menggetarkan, dia berkata dengan suara bergetar, “Tuan Guru, belum pernah kami mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Belum pernah ada orang yang bersedia menganggap kami sebagai saudara.”

“Kabut kegelapan malam yang menyelimuti hari-harimu dengan kemiskinan, kesengsaraan, kehinaan, dan kenistaan telah terhapus dengan terbitnya matahari kebenaran, Matahari Islam, yang membawa persamaan derajat, persaudaraan, keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan. Marilah Saudaraku, kukuhkan jiwamu dengan menyaksikan keesaan Sang Bunga Api Abadi dan keberadaan sang Avatar Agung sebagai rasul pancaran-Nya.”

Di bawah hangatnya cahaya matahari pagi, dengan suara terbata-bata, namun hati diliputi semangat berkobar menyongsong kehadiran cakrawala hidup baru, Warnasamkara Saswata mengikrarkan diri sebagai Muslim dengan mengucap dua kalimat syahadat di bawah bimbingan Abdul Jalil. Sebagaimana dicontohkan Muhammad al-Mushthafa Saw. saat menyiarkan kebenaran Islam pertama kali, Abdul Jalil pertama-tama menanamkan ruh at-Tauhid ke dalam jiwa Warnasamkara Saswata.

Abdul Jalil pertama-tama mengajarkan tentang keesaan Allah dalam Dzat, Shifat, Af’al, dan Asma’. Allah adalah Tunggal. Meliputi. Tak terbandingkan dengan sesuatu. Dan karenanya, manusia tidak boleh membayang-bayangkan Allah dengan sesuatu. “Karena kekerdilan akal budi manusia saja mereka mengatakan bahwa Tuhan ada di langit, bintang-bintang, matahari, rembulan, gunung-gunung, lautan, batu-batu, dan pohon-pohon. Padahal, ruh-Nya ada di dalam diri manusia. Karena itu, sungguh nista, hina, dan tolol manusia yang sudah tahu bahwa ruh-Nya ada di dalam diri sendiri, namun masih juga ia bertekuk lutut menyembah batu dan pepohonan.”

Ia selanjutnya menjelaskan bahwa sekalipun Tuhan tidak bisa dibanding-bandingkan dan disetarakan dengan sesuatu (laisa kamitslihi syai’un), bukan berarti Tuhan tidak bisa didekati. “Karena, berkali-kali Tuhan mengisyaratkan manifestasi diri-Nya sebagai Cahaya (Nur) langit dan bumi (Allahu Nur as-samawati wa al-ardh) atau Cahaya di atas segala cahaya (Nurun ‘ala nur). Maka, lewat isyarat itulah manusia bisa mendekat. Namun, janganlah membayangkan bahwa Cahaya (Nur) dalam hal ini adalah cahaya (nur) yang bisa dilihat dengan mata indriawi manusia. Sekali-kali cahaya bukanlah Cahaya.”

Warnasamkara Saswata terlihat bingung dengan penjelasan Abdul Jalil tentang Tuhan yang memanifestasikan diri-Nya dalam wujud niscaya Cahaya yang tak bisa dilihat oleh indera manusia. Abdul Jalil yang menangkap ketidakpahaman Warnasamkara Saswata kemudian mengajarkan secara rahasia tentang apa yang dimaksud dengan uraiannya itu. Dengan cara membisikkan ke telinga kiri Warnasamkara Saswata, ia menguraikan sekaligus membuktikan ucapannya bahwa ada cahaya-cahaya yang tidak bisa ditangkap indera penglihatan manusia, namun keberadaannya di dalam diri manusia dapat disaksikan dengan pandangan bashirah.

Ia menguraikan hakikat keberadaan manusia sebagai berbahan dasar lempung yang di dalamnya tersembunyi Ruh Ilahi. “Itulah yang dimaksud dengan percik api dari Bunga Api Abadi. Ini berarti, setiap percik api berhak untuk mendekat dan menyatu kembali dengan Bunga Api Abadi. Bahkan sang Avatar Agung, Muhammad Saw., tegas-tegas mengajarkan bahwa semua percik api pada akhirnya akan kembali kepada Bunga Api Abadi sebagaimana terungkap dalam kalimat: Innali Allahi wa innailaihi raji’un, yang menjadi intisari ajaran Islam.”

“Saya akan jalankan semua petunjuk Tuan Guru,” kata Warnasamkara Saswata.

“Ingat-ingatlah selalu bahwa tugas utamamu sebagai manusia adalah mengingat asal-usulmu yang berasal dari Bunga Api Abadi. Berjuanglah mengisi hari-hari hidupmu dengan mengingat-Nya di saat engkau tidur, duduk, berdiri, berjalan, dan bahkan saat naik kendaraan. Karena dengan mengingat-Nya maka engkau akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Dan manakala engkau mengingat selain Dia, apalagi sampai pikiran dan perasaanmu terikat kepada sesuatu selain Dia, niscaya kesengsaraan dan penderitaan yang akan engkau dapatkan. Ingat-ingatlah selalu: Ingat kepada-Nya. Ingat! Ingat!” Abdul Jalil mewanti-wanti.

Suatu pagi Abdul Jalil sampai di pasar dekat perkampungan suku Kanbi yang ramai. Saat itu bertepatan dengan datangnya pedagang-pedagang suku Kharwa yang membawa gerabah dan pecah-belah. Di tengah pasar, didampingi Warnasamkara Saswata, ia berkata kepada orang-orang yang mengerumuninya. “Aku akan mengajarkan kepada kalian cara menjadi manusia paripurna (al-insan al-kamil) yang memegang jabatan wakil Tuhan di mukan bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Tahukah kalian siapakah yang disebut manusia paripurna? Manusia paripurna adalah manifestasi Tuhan di dunia yang memiliki kewajiban utama mengagungkan dan memuliakan Sang Pencipta. Karena kewajiban utama itulah maka manusia paripurna dianugerahi hak-hak istimewa oleh Tuhan untuk mengatur kehidupan di bumi sebagai wakil-Nya. Dan karena itu, kepada manusia paripurnalah seluruh makhluk di permukaan bumi harus tunduk dan mengikuti perintahnya.” “

Lihatlah kubah biru mahabesar yang diangkat di atas kalian. Tidaklah kubah biru itu dibentangkan dan diangkat ke atas kecuali karena diperuntukkan bagi manusia paripurna. Lihatlah permadani rerumputan yang terbentang hijau di hadapanmu. Tidaklah permadani hijau itu dibentangkan kecuali diperuntukan bagi manusia paripurna. Lihatlah juga bintang-gemintang, matahari, awan, hujan, angin, gunung-gunung, samudera, dan segala isi jagad raya tiadalah dicipta kecuali diperuntukkan bagi manusia paripurna. Kepada manusia paripurnalah diajarkan nama-nama oleh Tuhan, yakni pengetahuan yang tidak diberikan kepada makhluk mulia lain, termasuk malaikat.” “

Namun, sungguh malang nasib manusia. Dari zaman ke zaman hingga zaman ini, manusia cenderung terperosok ke jurang kehinaan yang mengerikan. Manusia tidak hanya kehilangan keparipurnaannya, tetapi yang lebih mengenaskan adalah mereka telah jatuh ke jurang kenistaan dan kehinaan sebagai makhluk serendah hewan. Mereka seolah tidak mengetahui lagi tentang kemuliaan dan keagungan yang telah diperolehnya dari Sang Pencipta. Mereka telah menjadi hewan buas yang memangsa sesamanya. Mereka memperbudak sesamanya. Mereka menindas sesamanya. Bahkan mereka telah memuja dan menyembah sesamanya.”

Seorang suku Kharwa bernama Shyam, pedagang gerabah berkulit hitam, maju dan bertanya, “Bagaimanakah caranya kami bisa menjadi manusia paripurna, o Tuan Guru?” “

Untuk menjadi manusia paripurna, kalian harus melampaui kedudukan kalian sebagai manusia (an-nas) terlebih dahulu. Sebab, tanpa melalui kedudukan sebagai manusia maka kalian tidak lebih dari makhluk berkesadaran hewan yang hanya hidup untuk memangsa dan dimangsa. Jika kedudukan kalian sebagai manusia telah terlampaui maka kalian harus melampaui kedudukan manusia beriman (al-mu’min) terlebih dahulu. Jika kedudukan kalian sebagai manusia beriman (al-mu’min) telah terlampaui maka kalian harus melampaui kedudukan manusia bertakwa (al-muttaqin). Demikian seterusnya, hingga tercapai kedudukan manusia paripurna.” “

Namun, yang paling penting kalian lampaui adalah menjadi manusia terlebih dahulu. Sebab, banyak di antara manusia yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah manusia. Banyak di antara manusia yang merayap di permukaan bumi bagaikan hewan melata yang tidak mampu membayangkan sesuatu selain melampiaskan hasrat hewani untuk memangsa dan berkembang biak. Sungguh banyak di antara manusia yang hidup dengan kesadaran hewan bagaikan cacing, kalajengking, kadal, ular, buaya, tikus, kucing, anjing, kera, dan harimau.”

Seorang pemuda Kanbi bernama Sukhalobhena, dengan suara bersemangat menyela, “Bagaimana cara untuk melampaui kedudukan manusia, o Tuan Guru?”

Abdul Jalil menatap tajam-tajam mata Sukhalobhena seolah hendak mengukur kedalaman jiwa pemuda itu. Sesaat kemudian, dengan suara menggelegar ia berkata, “Untuk melampaui manusia (an-nas), engkau harus menjadi manusia terlebih dahulu. Dan seseorang baru menjadi manusia jika ia punya kehendak untuk tampil dan menyadari keberadaan dirinya sebagai manusia. Engkau baru bisa disebut manusia jika engkau menyadari dirimu memiliki kehendak. Hidup manusia adalah kehendak untuk membuktikan bahwa dirinya ada.” “

Untuk mengetahui keberadaan dirimu sebagai manusia maka ujilah dirimu dengan kesadaran bahwa engkau berkehendak untuk tampil sebagai manusia. Pertama, sadarilah bahwa dirimu merupakan manusia yang terbuat dari bahan dasar lempung yang disemayami Ruh Yang Ilahi. Kedua, sadarilah bahwa keberadaan manusia-manusia yang lain adalah sama dengan dirimu sehingga engkau tidak boleh merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Ketiga, sadarilah bahwa yang paling tinggi derajatnya di antara manusia adalah mereka yang sudah mencapai pencerahan dengan menyaksikan hakikat Yang Ilahi yang tersembunyi di dalam dirinya, yang dengan penyaksian itu membuat mereka mengenal Sang Pencipta.”

Seorang pedagang buah bernama Upahata bertanya, “Tapi, o Tuan Guru, bukankah kelahiran kami sebagai manusia berkasta rendah adalah atas kehendak Yang Ilahi? Bukankah dalam kehidupan sebelum ini kami tidak memiliki kehendak untuk tidak mau dilahirkan di kalangan ini? Bukankah ini semua sudah suratan Yang Ilahi?”

Abdul Jalil mendongakkan kepala menatap gugusan awan yang menggumpal di langit. Sesaat sesudah itu, dengan kekuatan yang memancar dari kedalaman relung-relung jiwanya, ia membuka mulutnya dan berkata, “Camkan, o Manusia, bahwa engkau lahir di dunia ini dengan citra kebebasan merdeka jiwa manusia. Engkau yang berjiwa kerdil bisa membiarkan hidupmu terbelenggu oleh rantai yang memborgol kaki dan tanganmu. Lalu engkau biarkan orang lain memasang kuk di tengkukmu dan membuatmu sebagai hewan yang bisa dikendalikan sesuai kehendak orang yang menguasaimu. Namun, engkau yang berjiwa agung dan perkasa dapat membebaskan diri dari rantai-rantai yang membelenggu kebebasan hidupmu.” “

Memang, pada kelahiranmu yang pertama engkau tidak diberi kewenangan untuk memilih sesuai kehendakmu. Sebab, kelahiranmu yang pertama berada di balik rahasia hijab-Nya; ruang hidupmu diliputi oleh kegelapan rahim. Saat lahir, engkau saksikan cahaya terang matahari. Engkau sambut kebebasanmu di dunia ini dengan tangisan. Dan engkau dapati dirimu lahir sebagai anak yang memunculkan naluri keibuan.” “

Namun, sadarilah bahwa kelahiranmu yang kedua adalah kelahiran jiwa yang kepadanya diberikan kewenangan untuk memilih sesuai kehendakmu. Kelahiranmu yang kedua diterangi oleh pancaran cahaya akal dan budi: ruang hidupmu diterangi oleh pancaran cahaya matahari. Saat lahir, engkau saksikan sinar yang lebih terang dari matahari. Engkau sambut kelahiran keduamu dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Pada kelahiran keduamu, engkau akan mendapati dirimu sebagai manusia yang mewarisi dunia sebagai amanat Yang Ilahi; kelahiran kedua manusia yang melahirkan dunia dan alam semesta.” “

Tapi Tuan Guru,” seru Upahata minta penjelasan, “apa yang Tuan Guru ungkapkan itu bagi kami hanya mimpi indah. Sebab, kami lahir papa, hina, dan nista. Tatanan kehidupan telah menentukan keberadaan kami sebagai telapak kaki yang peran utamanya adalah diinjak-injak.” “

Dengarlah, o Manusia,” seru Abdul Jalil berapi-api, “aku ajarkan kepadamu tentang cara menjadi manusia paripurna. Karena itu, aku serukan kepadamu, jangan mempercayai mereka yang mengajarkan kepadamu adanya perbedaan hakikat manusia karena warna kulit, bahasa, kekayaan dan kemiskinan, nama marga, dan keturunan. Itu semua adalah kebohongan yang dilatari maksud jahat merendahkan harkat dan martabat manusia yang sesungguhnya sangat mulia dan agung. Mereka adalah peracun jahat. Mereka tidak sadar telah meracuni jiwa, pikiran, dan tubuh sendiri sehingga mereka pun akan membusuk bersama-sama orang yang mempercayai kedustaan mereka.” “

Renungkanlah kisah sebutir benih di dalam tanah yang ragu-ragu, gentar, gamang, dan takut berada di dalam kegelapan yang pekat. Namun, ia juga takut pada keluasan langit dan panas matahari yang dikiranya akan menerbangkan dan membakarnya hingga binasa. Meski demikian, hasrat untuk tumbuh di dalam dirinya sangat kuat. Maka, saat lahir sebagai kecambah, sadarlah ia bahwa keluasan langit dan terang cahaya matahari adalah keleluasaan dan berkah yang membuatnya tumbuh dan berkembang menjadi pohon raksasa. Karena itu, o Saudaraku, janganlah engkau takut untuk tumbuh menyongsong cakrawala dan matahari untuk membangun hidup baru sebagai manusia paripurna.” “

Sadarlah, o Saudaraku, bahwa manusia ibarat seutas tambang yang merentangkan harkat hewani dan harkat manusia sempurna yang membentang di atas jurang tanpa sadar. Jika engkau tidak memilik nyali untuk meniti hingga ke seberang – tempat harkat manusia sempurna – engkau akan tetap merayap di sisi jurang harkat hewani. Tidak ada yang berubah pada kehidupan semacam itu, kecuali keberadaanmu yang makin terbenam ke dalam genangan lumpur kehinaan sebagai cacing tanah.” “

Bagiku, sungguh memuakkan harus berkawan apalagi bersaudara dengan mankhluk tak bernyali yang melata. Sebab, pada hati yang lemah bersemayam cacing-cacing menjijikkan yang menggeragoti ketegaran jiwa manusia. Sungguh, aku ingin berkawan dan bersaudara dengan manusia-manusia berhati tegar dan pemberani, yang tak merasa gentar meniti jembatan kehidupannya. Sungguh, hanya mereka yang berhati singa dan bersemangat rajawali saja yang berani bangkit dari lumpur kehinaan menuju mahligai kemuliaan dan keagungan manusia paripurna.” “

Tapi Tuan Guru,” seru Upahata dengan dada naik turun, “bagaimana mungkin kami yang rendah ini berani meniti jembatan tambang kehidupan jika pemimpin kami yang berhati singa belum memberikan keteladanan bagi kami?” “

Apakah yang engkau maksud adalah Warnasamkara Saswata, putera Babu Bepin?” “

Benar, Tuan Guru,” sahut Upahata. “Babuji Warnasamkara itulah pemimpin kami. Jika beliau melarang kami melakukan segala sesuatu maka kami akan patuh.” “

Ketahuilah, o Saudaraku, Putera-Putera Kanbi,” kata Abdul Jalil, “bahwa Singa Allah, pemimpinmu yang teguh dan pemberani itu, telah jauh melompat ke tengah tambang jembatan kehidupannya. Warnasamkara Saswata (peraturan tentang perbedaan warna yang berlaku selama-lamanya), telah meninggalkan ujung tambang kehinaan dirinya. Dia telah menanggalkan kesadaran cacingnya. Dia telah menjadi seekor singa. Dia telah melampaui kemanusiaannya. Dia telah menjadi manusia beriman (mu’min).”

Upahata tercengang mendengar penuturan Abdul Jalil. Sambil berjalan merunduk dia mendekati Warnasamkara Saswata. Kemudian dengan suara terbata-bata dia bertanya, “Benarkah engkau telah meninggalkan negeri asalmu, o Babuji?” “

Upahata,” kata Warnasamkara Saswata tegas, “Aku tidak pernah meninggalkan negeri asalku. Aku hanya mengikuti naluriku untuk tumbuh dan berkembang sebagai pohon. Tanpa berani berkehendak untuk tumbuh, aku tetaplah menjadi butiran benih yang terbenam di dalam kegelapan tanah tanpa manfaat. Aku tidak akan menjadi sesuatu yang berarti bagi bumi.” “

Tapi Babuji?” “

Terang matahari dan luas kubah biru akan menguji kehendakku,” Sahut Warnasamkara Saswata. “Terang matahari dan luasnya kubah biru akan memberiku keleluasaan untuk mewujudkan diri menjadi diriku yang sebenarnya.” “

Babuji?” “

Aku ingin menjadi pohon berdaun rindang dan berbuah lebat,” sahut Warnasamkara Saswata, “yang daun-daunku bisa menaungi mereka yang kepanasan, yang buah-buahku memberikan kesegaran bagi yang memetiknya. Tidakkah engkau sekalian selama ini telah diharuskan menjadi cacing-cacing yang bertugas utama menggemburkan tanah? Cacing-cacing yang harus berkubang lumpur kehinaan, yang tempat tinggalnya di dalam kegelapan tanah?” “

Aku katakan kepada kalian semua, o Saudaraku, bahwa sekarang aku adalah penganut sang Avatar Agung, Muhammad al-Mushthafa Saw.. Sang Avatar yang mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, tidak dibedakan oleh warna kulit, keturunan, kekayaan, dan pangkat jabatan. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara manusia adalah yang paling dekat kedudukannya dengan Sang Pencipta. Karena aku telah menjadi pengikut sang Avatar Agung maka nama yang kupakai yang melambangkan perbedaan derajat manusia berdasar warna kulit telah kuhapus dan kuganti dengan nama baru Abdur Rahman, yang bermakna hamba Yang Mahakasih.” “

Karena itu, o Saudaraku, jika dengan keberanianku untuk mewujudkan kehendakku sebagai manusia paripurna ini kalian meninggalkanku maka tinggalkanlah aku. Sebab, telah jelas bagiku bahwa manusia yang berani menguji dirinya jauh lebih berharga daripada manusia yang berdiam diri menunggu keputusan nasib. Aku sudah bosan dengan larangan beribadah ke candi-candi bagi suku kita. Aku sudah bosan suku kita dihinakan dan dianggap cacing. Karena itu, aku akan berjuang menjadi sesuatu yang lebih berharga daripada cacing. Dan sungguh akan menjadi kegembiraan dan kebahagiaan bagiku jika kalian bersedia ikut meniti jembatan tambang kemanusiaan. Meninggalkan dunia cacing yang hitam pekat untuk menjadi manusia paripurna, yakni wakil Tuhan di muka bumi.” “

Kami setia mengikutimu, o Babuji,” seru orang-orang suku Kanbi sambil berlutut mengikrarkan kesetiaan diri di hadapan Warnasamkara Saswata.

Al-auliya’ – baik yang tergabung dalam Jama’ah Karamah al-Auliya’ atau tidak – adalah manusia-manusia yang diberi tugas (tawalla) oleh Allah untuk melindungi dan memberikan pertolongan pada agama Allah yang telah diturunkan melalui nabi dan rasul di masa silam. Sebab, nabi dan rasul telah diakhiri tugas-tugasnya oleh Muhammad al-Mushthafa Saw. (khatam al-anbiya’ wa ar-rasul). Al-auliya’ pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari al-Waly, yakni Asma Ilahi yang tidak disifatkan kepada nabi dan rasul sehingga karenanya nabi dan rasul memiliki akhir dalam menjalankan tugas. Sementara al-auliya’ sebagai pengejawantahan al-Waly tetap menjalankan tugas sebagai pelindung dan penolong agama Allah sepanjang zaman.

Tugas utama al-auliya’ sebagai pelindung dan penolong agama Allah itu baru disadari oleh Abdul Jalil ketika ia melakukan perjalanan dari Surat ke Goa, di mana ia berjumpa dengan tiga aulia yang berasal dari Andalusia. Yang pertama, Abdul Malik al-Isbiliy (Abdul Malik dari Sevilla) yang meninggalkan negeri kelahirannya untuk menetap di daerah Kandesh dan mengajarkan keahlian membuat alat-alat dari besi seperti cangkul, mata bajak, ladam kuda, pisau, parang, mata tombak, pedang, dan bahkan meriam.

Pertemuan Abdul Jalil dengan Abdul Malik al-Isbiliy terjadi di utara pasar Kandesh. Saat itu Abdul Malik al-Isbiliyah sedang membawa barang dagangannya di atas gerobak untuk dijual ke pasar. Melalui perjumpaan tak sengaja itulah Abdul Jalil mengetahui bahwa kepindahan Abdul Malik al-Isbiliy adalah atas petunjuk Misykat al-Marhum. Dan kepindahannya itu berkaitan dengan isyarat bakal tersingkirnya Islam dari bumi Andalusia (Spanyol).

Islam adalah agama Allah, demikian ungkap Abdul Malik al-Isbiliy. Karena itu, Islam tidak akan musnah dari muka bumi. “Jika Islam akan disingkirkan dari Andalusia maka Allah akan menumbuhkan Islam di tempat lain. Tugasku sama denganmu, yakni menaburkan benih-benih kebenaran Islam di tanah garapan baru yang masih liar dan penuh semak belukar.”

Aulia kedua yang dijumpai Abdul Jalil adalah Abdur Rahim al-Kadisy (Abdur Rahim dari Cadiz) yang meninggalkan negeri kelahirannya untuk menetap di Sibutu (Pulau Zulu, Filipina). Kepindahan Abdur Rahim al-Kadisy tidak berbeda dengan Abdul Malik al-Isbiliy, yakni atas petunjuk Misykat al-Marhum agar pergi meninggalkan Andalusia untuk menebarkan benih-benih baru Islam di tanah timur. “Aku ditunjuk oleh Misykat al-Marhum untuk menggantikan kedudukan Syarif Abdul Karim al-Makduny (Syarif Abdul Karim dari Macedonia) yang telah dipanggil-Nya.”

Aulia ketiga adalah Abdul Malik Israil al-Gharnatah (Abdul Malik Israil dari Granada), yang lahir di Granada, Andalusia. Berasal dari keluarga Yahudi dan memeluk Islam di bawah bimbingan Abdul Malik al-Isbiliy. Atas petunjuk gurunya, dia tinggalkan kota kelahirannya untuk menjadi darwis pengembara dan sempat tinggal setahun di Ismailiyah, Mesir.

Di sanalah, dia menikahi puteri Syaikh Abdul Hamid al-Mishri, seorang ulama di Ismailiyah. Beberapa pekan setelah kelahiran puteri pertamanya, dia mengembara ke timur hingga ke negeri Jawa. Ketika bertahun-tahun kemudian dia kembali ke Ismailiyah, puteri tunggalnya telah dinikahkan oleh sang kakek dengan Syarif Mahmud, putera Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri. Dengan demikian, Abdul Malik Israil al-Gharnatah adalah besan dari wali besar asal Ismailiyah, yaitu Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri. Dari perkawinan tersebut lahirlah dua putera; yang sulung bernama Syarif Hidayatullah dan yang kedua bernama Syarif Nurullah.

Abdul Malik Israil al-Gharnatah adalah kekasih Allah dari Bani Israil. Dia bukan anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’, namun Allah sangat mencintainya. Dia hidup menggelandang dari satu tempat ke tempat lain untuk menyampaikan kebenaran Islam. Menjelang usia tuanya dia mengajak cucu sulungnya, Syarif Hidayatullah, berkelana ke berbagai negeri. Hal itu dilakukan atas petunjuk besannya yang memintanya agar membawa Syarif Hidayatullah mengembara ke negeri timur.

Syarif Hidayatullah atau Syarif Hidayat saat itu baru berusia lima belas tahun. Namun, tempaan hidup yang diajarkan kakeknya, Wali besar Abdullah Kahfi al-Mishri, telah menjadikannya sebagai pemuda tangguh yang tak pernah mengeluh. Ketika diajak oleh kakeknya dari pihak ibu, Abdul Malik Israil al-Gharnatah, untuk mengembara ke timur dengan melintasi berbagai tantangan dan rintangan, dia sangat tabah dan sabar mengahadapi berbagai ujian berupa kekurangan makanan, cuaca ganas, orang-orang yang tidak ramah, bahkan penyakit.

Ketika bertemu dengan Abdul Jalil di pinggiran kota Satara, tepatnya di tepi sungai Krishna di sekitar pegunungan Ghats Barat, tiba-tiba saja ia menyerahkan cucunya. “Telah tiga bulan ini aku menunggu kehadiranmu di sini, o Tuan Abdul Jalil. Bimbing dan asuhlah cucuku sebagai puteramu sendiri. Ini sesuai pesan besanku.”

“Diakah cucu Yang Mulia Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri?” tanya Abdul Jalil sambil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayat.

“Dia juga cucuku,” Abdul Malik Israil tertawa, “karena ibunya adalah puteriku.”

“Ah, siapa namamu, Nak?” tanya Abdul Jalil.

“Nama saya Hidayatullah, Paman,” sahut Syarif Hidayat.

“Namanya memang Hidayatullah,” kata Abdul Malik Israil, “namun karena dia keturunan Imam Hasan bin Ali maka dia disebut orang Syarif Hidayatullah.”

Abdul Jalil tertawa mendengar penjelasan Abdul Malik Israil. Ia kemudian menjelaskan kepada Syarif Hidayat bahwa nama dan gelar adalah atribut-atribut belaka dari makna hakiki. Itu sebabnya, manusia hendaknya tidak terperangkap ke dalam sifat-sifat yang atributif. “Apalah artinya menggunakan nama Syarif jika perbuatan yang dilakukannya tidak berbeda dengan Fir’aun, Namrudz, Samiri, Qarun, Abu Jahal, Musailamah, atau Mu’awiyah,” kelakarnya.

“Saya mohon bimbingan dan petunjuk Paman.”

Abdul Jalil tertawa dan memberi isyarat kepad aAbdul Malik Israil bahwa ia menangkap pancaran nur al-auliya’ yang tersembunyi di relung-relung kedalaman jiwa Syarif Hidayat. Abdul Malik Israil mengangguk tanda setuju. “Sekarang aku serahkan dia kepada Tuan. Sebab, aku harus membantu tugas-tugas guruku, Yang Mulia Abdul Malik al-Isbiliy.”

“Namun, perjalananku masih jauh dan berat karena aku belum tahu dengan pasti di mana aku harus tinggal,” kata Abdul Jalil.

“Cucuku sudah kuajak mengembara selama tiga tahun. Dia terbiasa tidur di bawah langit dengan selimut kabut. Dia terbiasa digigit rasa dingin dan dibakar panas matahari gurun. Dia tidak pernah mengeluh ketika sakit. Dia sangat tabah dan sabar. Dan menyerahkan dia kepada engkau, o Kekasih Allah, tidak ada syak dan kekhawatiran lagi di dalam hatiku. Karena, kemana pun engkau mengajaknya pergi pastilah rahmat dan lindungan Allah senantiasa bersamamu,” Abdul Malik Israil tersenyum hangat.

“Apakah Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri menyampaikan pesan khusus untukku berkenaan dengan penyerahan cucunya ini kepadaku?” tanya Abdul Jalil.

“Dia hanya mengatakan bahwa Islam adalah agama Allah dan karenanya Islam akan dilindungi sendiri oleh Allah melalui wali-wali-Nya yang merupakan pengejawantahan dari al-Waly, nama-Nya,” Abdul Malik Israil menjelaskan. “Artinya, Islam tidak akan terhapus dari muka bumi. Jika Islam nanti terhapus dari bumi Andalusia, bukan berarti Islam akan punah. Sebaliknya, Islam tetap lestari dan hanya akan berpindah tempat belaka, yakni ke arah timur. Itu sebabnya, para aulia ditugaskan menyampaikan risalah kebenaran Islam kepada dunia timur yang masih dipenuhi tanah berbatu dan semak-semak berduri kejahilan.”

“Bawalah Hidayatullah, cucu kita, ke arah timur. Carilah dia yang terkasih, Abdul Jalil al-Jawy, yang akan mengolah lahan gersang menjadi persemaian subur bagi benih-benih Islam. Pasrahkan Hidayatullah kepadanya. Sebab, hanya melalui Abdul Jalil kita bisa ikut menebar benih-benih Islam melalui cucu kita, Hidayatullah. Dan semoga Hidayatullah bisa menjadi lantara bagi tercurahnya hidayah Allah di negeri timur. Itu saja pesan Abdullah Kahfi al-Mishri kepadaku.” lanjut Abdul Malik Israil.

“Tuan Malik Israil,” tanya Abdul Jalil mengerutkan kening, “dari mana Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri mengetahui jika Islam akan dihapus dari tanah Andalusia? Bukankah Andalusia bukan wilayahnya?”

“Aku yang memberi tahu,” kata Abdul Malik Israil. “Aku sendiri diberi tahu oleh guruku, Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy. Dan Tuan pasti tahu, guruku diberi tahu oleh Yang Mulia Misykat al-Marhum.”

Abdul Jalil diam. Beberapa jenak kemudian ia menoleh dan menatap dalam-dalam Syarif Hidayat yang berdiri di sisinya. Setelah itu, ia dengan bahasa isyarat mengatakan kepada Abdul Malik Israil untuk menjelaskan kepada Syarif Hidayat tentang hakikat tersembunyi di balik akan dihapusnya Islam dari bumi Andalusia. Abdul Malik Israil mengangguk tanda setuju.

Dengan bersikap pura-pura tidak tahu tentang hakikat tersembunyi di balik terhapusnya Islam di Andalusia, Abdul Jalil bertanya kepada Abdul Malik Israil, “Pernahkah Tuan Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy menuturkan kenapa Islam akan dihapuskan dari bumi Andalusia? Pernahkah pula beliau menuturkan kenapa Islam harus disebarkan ke dunia timur, padahal di sana tak lama lagi bakal dipusakakan kepada Dajjal sang Penyesat?” “

Tidak,” sahut Abdul Malik Israil tegas. “Beliau tidak pernah menjelaskan ini dan itu tentang hal tersebut. Namun, beliau pernah bertanya kepadaku tentang nabi-nabi Bani Israil dan tentang nasib Bani Israil sendiri yang sering ditimpa malapetaka hingga terusir dari negerinya. Aku paham bahwa di balik pertanyaan itu sebenarnya beliau menyadari bahwa nasib umat Islam di Andalusia sudah mirip dengan Bani Israil.” “

Bisakah Tuan menceritakan tentang kisah-kisah Bani Israil sejak mereka memperoleh kemuliaan dari Allah hingga mereka dihukum dan dihalau dari negeri kelahiran?” pinta Abdul Jalil.

Persoalan Bani Israil dengan Allah pada dasarnya adalah cermin hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Itu sebabnya, inti dan hakikat persoalannya hanya mencakup tiga hal utama. Pertama, sejak manusia pertama dicipta (Adam) sudah diadakan perjanjian antara manusia dan Sang Pencipta (Hosyea 6:7) di mana manusia harus patuh dan taat kepada perintah Sang Pencipta (Beresyit 2:16-17). Namun, manusia pertama, leluhur kita Adam, justru telah melanggar perintah-Nya sehingga dijatuhi hukuman menanggung derita di muka bumi (Beresyit 3:6-19). Kecenderungan manusia keturunan Adam mengingkari perjanjian yang dibuat dengan Sang Pencipta selalu terjadi setiap kurun zaman dan selalu mendatangkan hukuman.

Pada zaman Nuh, hukuman Allah ditimpakan kepada manusia keturunan Adam yang cenderung melakukan kejahatan (Beresyit 6:5) dengan azab berupa air bah yang membinasakan manusia, kecuali Nuh (Beresyit 7:10-23). Perjanjian antara Allah dengan Nuh pun dibuat (Beresyit 9:8-17). Namun, manusia durhaka lagi kepada Allah. Kemudian dihukum lagi di zaman Nabi Shalih, Ibrahim, Luth, dan Syuaib. Allah pun membuat perjanjian dengan Ibrahim dengan tanda khitan (Beresyit 17:9-14). Allah juga membuat perjanjian dengan Musa (Eleh Syemot 19:4-6). Dari berbagai perjanjian yang dibuat antara Allah dan manusia, intinya adalah satu: “Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka!” (Beresyit 17:7; Eleh Haddebarim 4:20; Yirmeyahu 24:7).

Kedua, Allah memberikan karunia kemuliaan, kebebasan, keadilan, kemakmuran, keselamatan, dan bahkan kekuasaan kepada manusia-manusia yang setia memegang perjanjian dengan-Nya. Kemuliaan dan kekuasaan diberikan Allah kepada Daud a.s., di mana karunia itu dalam perjanjian diperuntukkan bagi Daud beserta keturunannya (2 Syemuel 7:8-14; Tehillim 89:4-5). Kemuliaan dan kekuasaan Daud berpuncak pada masa puteranya, yakni Sulaiman. Itulah masa puncak dari manusia beriman yang bisa selaras membangun peradaban dunia dengan tetap memegang teguh perjanjian dengan Allah.

Ketiga, kehidupan dunia adalah kehidupan nisbi yang tidak kekal abadi. Maksudnya, segala sesuatu yang berlangsung di dunia tidak pernah langgeng. Itu sebabnya, perjanjian Allah dan Daud pun bisa gugur. Tidak abadi. Ini terlihat saat Sulaiman usai memerintah maka kekuasaan Bani Israil pun pecah menjadi dua. Seluruh keturunan Daud tidak ada lagi yang dianugerahi kemuliaan dan kekuasaan. Itu sebabnya, perjanjian dibatalkan Allah. Keturunan Daud dicopot dari kekuasaan (pecah menjadi dua. Seluruh keturunan Daud tidak ada lagi yang dianugerahi kemuliaan dan kekuasaan. Itu sebabnya, perjanjian dibatalkan Allah. Keturunan Daud dicopot dari kekuasaan (Yirmeyahu 22-23). “

Apa saja yang sebenarnya yang sudah dilakukan keturunan Daud sehingga mereka dilepas dari perjanjian Allah? Bisakah Tuan menguraikan kisah mereka?” pinta Abdul Jalil. “

Sebenarnya segala kemuliaan, kebebasan, kemakmuran, keadilan, keselamatan, dan kekuasaan yang dikaruniakan Allah kepada manusia-manusia yang patuh dan setia pada perjanjian suci dengan Allah adalah ujian belaka. Apakah dengan karunia itu manusia tetap setia kepada Dia ataukah manusia melupakan Dia karena sibuk menikmati karunia yang telah diberikan-Nya. Hanya Tuhan yang memiliki kewenangan meneruskan atau membatalkan perjanjian.” “

Persoalan yang dihadapi Bani Israil dalam kaitan dengan murka Allah beserta hukuman-Nya dapat dikata hampir sama dari waktu ke waktu, yakni sekitar penyakit jiwa mencintai karunia-karunia pemberian-Nya secara berlebihan. Mereka bukan saja telah mendewakan diri karena leluhurnya telah beroleh janji dari Allah, melainkan mengagungkan kekuasaan, menikmati kemakmuran secara zalim, menjadikan lembaga agama sebagai alat pembenar diri, mempermainkan hukum dan keadilan, mengabaikan hak-hak anak yatim dan janda serta orang-orang miskin, memuja kesyahwatan, dan yang paling keji adalah memberhalakan Allah dalam wujud lembaga agama yang disesuaikan dengan nafsu serta akal pikiran mereka,” papar Abdul Malik Israil. “

Bukankah perilaku itu merupakan kecenderungan seluruh umat manusia, bukan semata-mata Bani Israil?” tanya Abdul Jalil. “

Memang demikianlah adanya,” kata Abdul Malik Israil, “namun Bani Israillah yang mencatat peristiwa-peristiwa celaka itu di dalam kitab sucinya secara rinci lewat kisah nabi-nabinya. Merekalah yang dengan cermat mencatat bagaimana murka Allah ditimpakan atas mereka karena kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan, yakni melanggar perjanjian yang sudah ditetapkan dengan Allah. Dan kesalahan-kesalahan itu diabadikan di dalam kitab suci dan sahifah yang berisi catatan nubuat, yang disampaikan para nabi mereka dari zaman ke zaman.” “

Pada masa Nabi Yesaya a.s., misalnya, Allah sudah mengingatkan para pendusta agama yang berbuat jahat, kejam, kikir, tidak membela hak anak yatim, tidak memperjuangkan hak janda-janda, dan lalai dalam beribadah: ‘Untuk apa korbanmu yang banyak itu? Aku sudah jemu dengan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu, domba, dan kambing jantan pun tidak Aku sukai. Apabila engkau datang untuk menghadap ke hadirat-Ku, jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh-sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku.” “

Jika engaku merayakan bulan baru, sabat, atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Aku benci melihat perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap. Karena itu, jika engkau menadahkan tanganmu untuk berdoa maka Aku akan memalingkan wajah-Ku. Bahkan sekalipun engkau berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah! Bersihkanlah dirimu! Jauhkanlah perbuatan-perbuatan jahatmu dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat! Belajarlah berbuat baik! Usahakanlah keadilan! Kendalikanlah orang kejam! Belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yesyayahu 1: 11-17).” “

Bukankah nubuat Nabi Yesaya itu yang dimaktubkan secara singkat dalam Surat al-Ma’un? Dan bukankah Bani Israil menolak seruan itu?” kata Abdul Jalil. “

Pada masa Nabi Yermia pun seruan yang sama disampaikan kepada Bani Israil di Baitullah. Seruan itu berbunyi: ‘Perbaikilah tingkah laku dan perbuatanmu agar Aku berkenan diam bersamamu di tempat ini. Jangan percaya pada perkataan dusta yang berbunyi: Ini Baitullah! Ini Baitullah! Baitullah! Jika engkau sungguh-sungguh memperbaiki tingkah laku dan perbuatanmu, jika engkau sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kalian, tidak menindas orang asing, anak yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah, dan tidak mengikuti Ilah lain yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku berkenan diam bersama-sama engkau di tempat ini, di tanah yang telah Aku berikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya. Namun, sesungguhnya engkau lebih percaya pada perkataan dusta yang tidak memberi manfaat. Bagaimana mungkin engkau mencuri, membunuh, berzina, bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal, dan mengikuti ilah lain yang tidak engkau kenal, kemudian engkau datang berdiri di hadapan-Ku, pada bait yang di atasnya nama-Ku diserukan, sambil engkau berkata, “Kita selamat supaya dapat melakukan segala perbuatan yang keji ini!” Sudahkah bait yang di atasnya nama-Ku diserukan ini menjadi sarang penyamun di matamu? (Yirmeyahu 7: 3-11).”

Tidak berbeda dengan yang telah dialami Nabi Yesaya, firman Allah yang disampaikan Nabi Yermia pun diabaikan. Bahkan orang-orang fasik di antara penduduk kota Anatot merencanakan akan membunuh Yermia bin Hilkia. Dengan suara kasar mereka mengancam Yermia, “Janganlah engkau bernubuat demi nama Allah supaya engkau tidak mati oleh tangan kami!” Namun, Allah menghukum mereka dengan firman yang berbunyi: “Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan, tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka. Sebab, Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka (Allah menghukum mereka dengan firman yang berbunyi: “Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan, tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka. Sebab, Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka (Yirmeyahu 11: 21-23).

Tantangan yang paling berat dihadapi Yermia justru datang dari kalangan imam Bani Israil yang tidak mempercayai firman Allah yang disampaikan kepadanya. Tersebutlah imam bernama Pasyhur bin Imer yang memukuli Yermia dan memasungnya di gerbang Benyamin di Baitullah. Kemudian turunlah firman Allah yang mengutuk Pasyhur beserta kawan-kawannya dengan ancaman akan diserahkan kepada raja Babylonia untuk ditawan dan dibuang ke sana. Tidak hanya mereka yang beroleh kutukan, bahkan raja-raja Yehuda pun akan turut diserahkan kepada raja Babylonia yang akan menawan, menjarah kekayaan, dan membuang mereka (Yirmeyahu 20: 2-6).

Firman Allah yang disampaikan Yermia tentang raja Babylonia yang bakal menghancurkan raja-raja Yehuda sangat menggemparkan dan membuat marah mereka yang tidak percaya. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa keberadaan mereka sebagai Bani Israil yang dicintai Allah bakal dikalahkan raja kafir Babylonia. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa kemuliaan mereka sebagai Bani Israil akan dihinakan oleh bangsa tak bersunat.

Karunia Allah yang diberikan kepada Bani Israil ternyata telah membuat mereka buta terhadap makna kebenaran sejati Ilahi. Lantaran mereka mencintai karunia itu maka mereka menolak tegas kehadiran Yermia sebagai utusan Allah. Tidak cukup menantang Yermia, para pembesar kerajaan dan imam Bani Israil memunculkan seorang nabi palsu bernama Hananya bin Azur. Dia membuat nubuat-nubuat palsu yang bertentangan dengan nubuat yang disampaikan Yermia. Demikianlah, nubuat yang disampaikan Hananya bin Azur semata-mata untuk memenuhi hasrat dan nafsu Bani Israil belaka. Namun, ketika Yermia menantang mubahalah maka matilah Hananya bin Azur sebagai bukti bahwa dia hanyalah nabi palsu.

Firman Allah yang disampaikan kepada manusia sering kali dianggap aneh dan tidak dipahami karena firman-firman itu cenderung berisi kenyataan pahit dan tidak menyenangkan. Hal itu terlihat saat Yermia harus menyampaikan firman Allah yang memperingatkan penduduk Yerusalem agar keluar dari kota yang akan direbut oleh Nebukadnezar, raja Babylonia. Para pejabat kerajaan, imam, dan pemuka Bani Israil marah dan menganggap Yermia sebagai pengkhianat. Mereka beramai-ramai memohon kepada raja Yehuda, Zedekia bin Yosia, agar Yermia dibunuh saja. Raja Zedekia yang penakut dan tak berdaya menghadapi mereka kemudian menyerahkan Yermia. Lalu dimasukkanlah Yermia ke dalam perigi tak berair agar mati kelaparan. Namun, Allah menolongnya melalui tangan seorang Ethiopia bernama Ebed-Melekh. Yermia berhasil diselamatkan.

Setelah keluar dari perigi tak berair, Yermia memperingatkan raja Zedekia agar menyerahkan diri kepada para perwira Babylonia demi keselamatan dirinya dan kota Yerusalem beserta isinya. Yermia menyatakan bahwa apa yang disampaikannya adalah firman Allah. Zedekia harus menerima firman itu, meski pahit. Namun, kekecutan hati raja Zedekia terhadap para imam dan perwira Yehuda telah menjadikannya mengabaikan peringatan Yermia.

Apa yang disampaikan Yermia ternyata terbukti. Hukuman Allah dijatuhkan atas raja keturunan Daud yang mengabaikan firman-Nya itu. Dan hukuman Allah benar-benar dilaksanakan oleh raja Babylonia, Nebukadnezar. Pasukan Babylonia di bawah pimpinan Nergal-Sarezer dan Nebusyazban serta perwira lain berhasil menjebol gerbang Yerusalem. Zedekia bin Yosia beserta semua tentara yang tidak percaya dengan nubuat Yermia ketakutan dan lari tunggang-langgang menuju Araba-Yordan. Namun, mereka berhasil ditangkap oleh pasukan Babylonia di Yerikho. Mereka dibawa ke Ribla yang terletak di tanah Hamat, tempat Nebukadnezar beserta pasukannya berkemah.

Hukuman pedih pun dijatuhkan kepada Zedekia bin Yosia. Hukuman itu tak terbayangkan sebelumnya, yakni perintah menyembelih anak-anak Zedekia juga semua pembesar Yehuda di depan matanya. Tidak cukup sampai di situ, mata Zedekia dibutakan, tangan serta kakinya dibelenggu dengan rantai tembaga, dan dia digiring ke Babylonia sebagai tawanan. Istana raja dan rumah-rumah rakyat dibakar. Tembok-tembok Yerusalem dirobohkan. Sisa-sisa penduduk Yerusalem serta pejabat Zedekia digiring sebagai tawanan (Yirmeyahu 39: 1-9).”

Abdul Jalil menarik napas berat mendengarkan kisah dramatis yang dialami Bani Israil pada masa Nabi Yermia. Kemudian dengan suara lembut ia berkata kepada Syarif Hidayat, “Itulah kisah keturunan Daud yang telah melanggar perjanjian leluhurnya dengan Allah. Mereka meninggalkan keteladanan leluhurnya dan akhirnya menerima hukuman pedih dari Allah.” “

Karena itu, o cucuku,” seru Abdul Malik Israil, “jangan sekali-kali engkau meninggalkan keteladanan yang telah diwariskan oleh leluhurmu, Muhammad Saw.. Karena, sesungguhnya kecintaan Allah kepada hamba-Nya bukanlah disebabkan oleh garis keturunan atau kebangsaan. Namun, mereka yang setia meneladani kehidupan yang dicontohkan nabi-nabi yang tercitra pada diri Muhammad Saw. itulah yang paling dicintai-Nya.” “

Saya akan selalu ingat pesan Kakek,” sahut Syarif Hidayat takzim. “

Itu artinya,” sela Abdul Jalil, “sebagai seorang syarif keturunan Imam Hasan bin Ali r.a., beban yang engkau pikul sangat berat. Engkau harus mampu mewujudkan keteladanan yang diwariskan leluhurmu. Janganlah kisah keturunan Daud terulang kepadamu dan kepada keturunanmu. Ingat-ingatlah itu.” “

Saya akan selalu ingat pesan Paman,” sahut Syarif Hidayat takzim.

Abdul Jalil tersenyum. Namun, sejenak kemudian ia bertanya kepada Abdul Malik Israil, “Apakah yang dialami umat Islam di Andalusia juga seperti yang dialami Bani Israil pada masa Nabi Yermia?” “

Islam adalah ikatan perjanjian antara manusia dan Sang Pencipta, sebagai kelanjutan perjanjian-perjanjian sebelumnya. Manusia yang mengikatkan diri di dalamnya harus mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan, baik yang bersifat hablun min an-nas maupun hablun min Allah, yakni tatanan kehidupan yang sudah disampaikan oleh barisan nabi-nabi sejak Adam hingga Muhammad.” “

Itu sebabnya, bagi para pengikut Muhammad Saw. diwajibkan meneladani perikehidupan Muhammad Saw. yang merupakan citra seluruh nabi dan rasul. Artinya, citra keteladanan yang diwariskan Muhammad Saw. adalah kecintaan kepada Sang Pencipta yang melebihi segala-galanya, hidup zuhud, tidak makan jika tidak lapar, jika makan pun tidak sampai kenyang, tawakal, sabar, tawadhu’, qana’ah, kuat beribadah, selalu rindu untuk mati, sehingga saat wafat tidak ada yang ditinggalkan kecuali selembar tikar, sebatang busur, dan jubah. Muhammad Saw. dan keempat khalifah penggantinya tidak membangun istana dan gedung megah, padahal mereka menguasai baitul mal.”

“Sementara itu, apa yang sudah berlaku atas umat Islam di Andalusia? Mereka sudah sampai pada puncak perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan yang membawa sebagian besar dari mereka terjebak ke dalam perangkap kesibukan yang berlebihan dalam mencintai karunia Allah. Mereka telah benar-benar sibuk mengurusi karunia sehingga melupakan Sang Pemberi Karunia. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak di antara mereka yang kelihatan tekun menjalankan ibadah, namun hati mereka kering dan tertutup dari cahaya kebenaran Ilahi.”

“Istana agung, bangunan indah, masjid menakjubkan, lembaga pendidikan yang maju telah mereka dirikan dengan kebanggaan sebagai umat berperadaban tinggi. Namun, kecintaan mereka terhadap kebendaan dan pamrih duniawi pun meningkat. Mereka mengedepankan akal dan pikiran sebagai panglima. Mereka mendewakan lembaga agama dan menjadikannya sebagai alat untuk mensahkan kepentingan-kepentingan pribadi. Mereka bahkan membangun surga beserta keindahannya di dunia. Mereka lupa bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.”

“Pendek kata, menurut hematku, kehidupan umat Islam di Andalusia laksana tinggal di surga dunia yang gemerlapan. Mereka tidak lagi menunjukkan citra kehidupan yang diteladankan Muhammad Saw. dan keempat khalifah penggantinya yang mencintai Allah di atas segala-galanya,” ujar Abdul Malik Israil menegaskan.

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia kemudian menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayat sambil berkata, “Camkanlah, o Hidayat, Anakku, intisari dari kisah yang dituturkan oleh kakekmu. Betapa segala sesuatu selain Allah itu pada hakikatnya terbatas dan bersifat sementara. Kebebasan, kemakmuran, keadilan, kemuliaan, kekuasaan, dan bahkan keselamatan yang dikaruniakan Allah kepada manusia semata-mata ujian. Jangan sampai ujian itu memalingkan kita dari Sang Pemberi Karunia. Teladanilah Muhammad al-Mushthafa Saw. yang seluruh hidupnya diabdikan untuk melayani Allah dan mengajak manusia untuk melayani Allah. Ingatlah selalu keteladanan Muhammad Saw. yang ketika lahir ke dunia telanjang dibungkus selembar selimut dan ketika wafat pun telanjang dibungkus selembar kain kafan. Tidak ada mahkota. Tidak ada istana. Tidak ada bangunan megah. Tidak ada sesuatu pun yang ditinggalkannya kecuali Kitab Allah dan keteladanan agung seorang adimanusia yang sempurna.”

“Saya akan selalu ingat fatwa Paman,” kata Syarif Hidayat. “

Namun, engkau harus ingat, o Cucuku,” Abdul Malik Israil menyela, “bahwa perjanjian Islam yang dilakukan Muhammad Saw. dengan Allah adalah perjanjian baru. Meskipun hakikatnya sama dengan perjanjian yang dibuat oleh Adam, Nuh, Ibrahim, dan Daud, cakupan perjanjian antara Muhammad Saw. dan Allah bersifat anugerah, bukan kesepakatan.” “

Saya belum paham, Kakek,” Syarif Hidayat minta penjelasan. “Apakah yang Kakek maksudkan dengan bersifat anugerah dan bukan kesepakatan?” “

Karena perjanjian antara Allah dan Bani Israil telah dilanggar maka Allah mengadakan Perjanjian Baru (Ibrani: Berith Hadasya) dengan keluarga Israel dan keluarga Yehuda (Ibrani: Bait Yisrael we Bait Yehuda), bukan seperti perjanjian terdahulu yang telah diingkari oleh Israel dan Yehuda. Dalam perjanjian baru itu Allah akan menaruh Taurat di dalam batin dan menuliskannya di dalam hati pemegang perjanjian baru, di mana Allah akan menjadi Tuhan mereka dan mereka menjadi umat Allah (we hayu li le am wa ani eheye lahem lelohim, Yirmeyahu 31: 31-33). Perjanjian Baru itulah yang disebut Perjanjian Salam (Ibrani:Berith Syalom; Berith Olam) sebagaimana disampaikan Nabi Yehezkiel a.s. (Yekhezqel 34: 25; 37: 26-27).” “

Jika perjanjian-perjanjian (berith) sebelumnya bersifat kesepakatan (Ibrani: karat-et) antara Allah sebagai Sang Pencipta Yang Mahakuat dan manusia yang lemah, maka Perjanjian Salam bersifat anugerah (Ibrani: karat-le). Artinya, Perjanjian Salam bersifat sukarela. Tidak ada paksaan. Lantaran itu, prinsip dasar di dalam Islam adalah: Tidak ada paksaan dalam agama (QS al-Baqarah: 256). Karena itu, kita umat Islam, sebagaimana Rasulallah, hanya diperintahkan untuk berseru menyampaikan kepada manusia untuk menuju ke jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan jika berbantahan pun dengan cara yang baik pula. Karena, hanya Allah yang tahu siapa manusia-manusia sesat dan siapa manusia-manusia yang beroleh petunjuk (QS an-Nahl: 125),” kata Abdul Malik Israil. “

Dengan Perjanjian Baru yang disebut Perjanjian Salam itu,” sahut Abdul Jalil sambil memandang Syarif Hidayat, “berarti seluruh umat manusia yang memegang Perjanjian Salam adalah sederajat. Maksudnya, kecintaan Allah terhadap manusia-manusia pemegang Perjanjian Salam tidak dibatasi lagi oleh keisrailan, keyahudian, kearaban, atau berdasar keturunan dan warna kulit; tetapi semata karena ketakwaan. Tegasnya lagi, kekasih Allah yang sangat dicintai oleh-Nya bisa berkulit merah, putih, kuning, coklat, dan bahkan hitam sekalipun. Tidak ada monopoli-monopolian keunggulan manusia berdasar warna kulit dan azas keturunan, apalagi berdasar kekayaan bendawi.” “

Muhammad al-Mushthafa Saw. telah mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi Islam bukan karena warna kulit, keturunan, dan kekayaan, melainkan karena semata-mata memang sudah dikehendaki Allah. Tidakkah engkau ingat kisah paman Muhammad Saw. yang juga leluhur kita, Abu Thalib, yang sangat beliau cintai? Allah menentukan bahwa Abu Thalib tidak diberi hidayah-Nya menjadi pemegang Perjanjian Salam. Sementara budak hitam bernama Bilal bin Rabah justru dianugerahi kemuliaan dengan dilimpahi cahaya hidayah oleh Allah sehingga menjadi muadzin Muhammad al-Mushthafa Saw.. Dan jika kita diminta untuk menjawab dengan jujur, manakah yang lebih mulia di hadapan Allah antara Bilal bin Rabah yang berkulit hitam dan leluhur kita Abu Thalib. Tentu kita harus mengatakan bahwa Bilal bin Rabah adalah yang lebih mulia.” “

Namun, yang paling penting, Cucuku,” sahut Abdul Malik Israil, “rahasiakanlah segala apa yang telah aku uraikan ini kepada mereka yang tidak berhak mengetahuinya karena ini adalah rahasia-Nya.” “

Kakek,” kata Syarif Hidayat meminta penegasan, “kenapa Bani Israil menolak kerasulan Rasulallah Saw.? Bukankah telah jelas bagi mereka mana yang haqq dan mana yang batil?” “

Itu semua adalah kehendak-Nya juga, Cucuku.” Kata Abdul Malik Israil. “Dengan dilahirkannya Perjanjian Salam bukan berarti seluruh umat manusia di dunia harus menjadi pemegang perjanjian itu. Karena, keagungan dan kemuliaan Allah justru akan engkau dapati di atas semua keanekaragaman. Dengan demikian, adanya agama Islam, Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, dan berbagai kepercayaan, pada hakikatnya adalah kehendak-nya semata. Dan karena itu, engkau harus memiliki pandangan yang luas bahwa semua agama adalah baik bagi pengikut-pengikutnya masing-masing. Sebab, orang menjadi Muslim, Nasrani, Majusi, Yahudi, Hindu, atau Budha pada hakikatnya bukanlah atas kemauannya sendiri, melainkan karena memang telah ditentukan oleh-Nya.”

Pacific Ocean, North East Taiwan, February, 3rd 2007, 7:45PM