Tarekat al-Akmaliyyah

Menjelang perempat akhir abad ke-15, kawasan pantai barat Hindustan berada di bawah pemerintahan kaum Muslim dari dinasti Bahmani. Namun, kerajaan yang sudah tegak hampir satu setengah abad itu mulai terancam perpecahan. Raja-raja kecil yang semula tunduk di bawah kekuasaan dinasti Bahmani mulai menunjukkan gejala melepaskan diri dari kekuasaan pusat. Di antara raja-raja kecil yang makin lama makin kuat kedudukannya adalah raja Bijapur. Dan cepat atau lambat, kekuasaan raja Bijapur akan dapat menggantikan kekuasaan dinasti Bahmani.

Di bawah kekuasaan dinasti Bahmani, dakwah Islam dilakukan orang dengan sangat bebas. Para penduduk pantai barat Hindustan banyak yang memeluk Islam atas kesadaran sendiri karena mereka melihat keteladanan-keteladanan hidup orang-orang Muslim. Para penduduk Muslim menunjukkan toleransi yang sangat tinggi. Itu sebabnya, di Bijapur dan sekitarnya pemeluk Hindu masih cukup besar.

Ketika Abdul Jalil dan Syarif Hidayatullah meninggalkan kota Satara menuju Goa dengan melewati Belgaum, mereka menyaksikan pemukim-pemukim keturunan Arab-Hindustan yang memeluk agama Islam hidup di pinggiran kota-kota. Bahkan hampir separo penduduk kota Belgaum adalah para pemukim keturunan Arab-Hindustan. Sedangkan pemukim-pemukim di kawasan pedesaan umumnya beragama Hindu, utamanya dari kalangan berkasta rendah yang hidup sengsara dan menderita.

Abdul Malik Israil yang memberi petunjuk agar Abdul Jalil berangkat ke negeri Jawa melalui pelabuhan Goa, telah berangkat lebih dulu ke kota pelabuhan tersebut. Dia berjanji akan menemui mereka di pinggiran kota Goa dari arah Belgaum setelah menemui beberapa orang kenalannya di kota tersebut.

Sementara itu, begitu tiba di Belgaum, tanpa istirahat untuk makan atau melepas lelah, Abdul Jalil langsung mengajak Syarif Hidayat shalat di sebuah masjid yang dibangun oleh para mualaf di bawah bimbingan Sayyid Makhdum Gisudaraz, seorang kekasih Allah yang berasal dari Gulbarga. Syarif Hidayat yang patuh dan tabah tanpa mengeluh sedikit pun mengikuti Abdul Jalil, meski tubuhnya terasa sangat letih.

Usai shalat, secara sepintas Abdul Jalil menuturkan betapa berat dan susah payahnya para mualaf membangun masjid tersebut. “Bayangkan, untuk makan saja mereka sudah kekurangan. Namun, semangat mereka membangun rumah Allah telah mengalahkan segala keterbatasan mereka. Itulah jihat besar yang telah mereka lakukan, yaitu menaklukkan kepentingan pribadi demi kemenangan mengabdi kepada-Nya,” ujar Abdul Jalil.

“Bagaimana Paman bisa tahu masjid ini dibangun oleh para pengikut Sayyid Makhdum Gisudaraz dengan susah payah?” tanya Syarif Hidayat heran. “Bukankah tadi Paman mengatakan baru sekali ini ke Belgaum.”

“Di pintu masuk kota tadi,” kata Abdul Jalil tenang, “Sayyid Makhdum Gisudaraz menjemputku dan memintaku shalat di masjid yang dibangun oleh para pengikutnya. Dia memintaku berdoa bagi keberkahan warga Belgaum dan keturunan mereka agar tetap diberikan cahaya kebenaran hidayah oleh-Nya.”

“Tapi Paman,” sahut Syarif Hidayat heran, “bukankah sejak tadi Paman bersama saya? Bukankah kita tidak bertemu siapa-siapa?”

“Sayyid Makhdum Gisudaraz memang sudah wafat lima puluh tahun silam,” Abdul Jalil menjelaskan, “karena itu engkau tidak bisa menyaksikan kehadirannya. Namun, suatu saat nanti jika engkau setia mengikuti jalan-Nya dan tetap istiqamah mengarahkan kiblat hati dan pikiranmu hanya kepada-Nya, maka engkau akan dikaruniai pengetahuan yang tak dimiliki manusia seumumnya.”

Syarif Hidayat diam. Ada semacam kebanggaan merayap di hatinya. Rupanya, cerita kakeknya tentang seorang kekasih Allah yang bakal diikutinya telah terbukti. Itu sebabnya, dia bangga dan bahagia karena telah mengenal kekasih Allah yang menurutnya memiliki berbagai karomah menakjubkan.

Abdul Jalil yang melihat Syarif Hidayat terdiam kemudian berkata, “Namun, hendaknya engkau ingat bahwa pengetahuan yang dikaruniakan oleh Allah itu bukanlah tujuan utama. Sebab, jika engkau setia mengikuti jalan-Nya dan istiqamah mengarahkan kiblat hati dan pikiranmu hanya kepada-Nya, semata-mata ingin memperoleh karomah atau ingin menjadi seorang aulia, maka tidak akan pernah kesampaian apa yang engkau harapkan itu. Sebab, kesetiaan pada jalan-Nya dan keistiqamahan mengarahkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada-Nya pada hakikatnya adalah semata-mata untuk-Nya. Tidak ada pamrih. Tidak ada harapan di baliknya.”

“Saya akan selalu ingat petunjuk Paman,” kata Syarif Hidayat takjub karena Abdul Jalil seolah-olah dapat membaca apa yang terlintas di hati dan pikirannya.

“Jika engkau kagum kepada seseorang yang engkau anggap Wali Allah, kekasih Allah,” kata Abdul Jalil menegaskan, “maka janganlah engkau terpancang pada kekaguman akan sosok dan perilaku yang diperbuatnya. Sebab, saat seseorang berada pada tahap kewalian maka keberadaan dirinya sebagai manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al-Waly.”

“Paman,” kata Syarif Hidayat menukas, “kakek pernah mengungkapkan sebuah hadits Qudsi yang isinya menegaskan bahwa jika Allah sudah mencintai hamba-Nya maka Dia akan menjadi ucapannya ketika hamba itu berkata-kata. Allah akan menjadi penglihatannya ketika hamba itu melihat. Allah menjadi pendengarannya ketika hamba itu mendengar. Allah menjadi tangannya ketika hamba itu memukul. Dan Allah menjadi kakinya ketika hamba itu berjalan. Sekarang saya menjadi paham, Paman.”

“Tapi, jangan keliru menafsirkan bahwa Allah meraga jiwa ke dalam tubuh sang wali. Sama sekali bukan seperti itu. Justru saat seperti itu sang wali telah kehilangan kesadaran diri dan tenggelam ke dalam al-Waly,” ujar Abdul Jalil.

“Berarti kewalian tidak bersifat terus-menerus, Paman?”

“Kewalian bersifat terus-menerus, o Anakku,” kata Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayat. “Hanya saja saat sang wali tenggelam ke dalam al-Waly, berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan saat tenggelam ke dalam al-Waly itulah sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al-Waly. Lantaran itu, sang wali memiliki kekeramatan yang tak bisa diukur dengan akal pikiran manusia, di mana karomah itu sendiri pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari kekuasaan al-Waly. Dan lantaran itu pula yang dinamakan karomah adalah sesuatu di luar kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya. Mutlak.”

Syarif Hidayat termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Dia benar-benar merasa sangat beruntung telah mengenal dan bahkan dibimbing oleh seorang kekasih Allah. Namun, saat kebanggaan dan kebahagiaan menguasai dirinya, tiba-tiba Abdul Jalil berkata, “Kekasih Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejauhan, kelihatan sekali terangnya. Namun, jika cahaya itu diletakkan ke mata kita akan silau dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu ke mata maka kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya.”

“Apakah maksudnya, Paman?” tanya Syarif Hidayat heran.

“Engkau bisa melihat cahaya kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu. Namun, engkau tidak bisa melihat cahaya kewalian yang memancar dari diri kakekmu, Abdul Malik Israil dan Abdullah Kahfi al-Mishri.”

“Kakek-kakek saya itu aulia?” seru Syarif Hidayat terkejut luar biasa.

Abdul Jalil tertawa dan tidak menjawab. Namun, sejenak sesudah itu ia berkata dengan nada dingin, “Dengan mengetahui kewalian kakek, ayah, saudara, atau leluhur hendaknya tidak menjadikan seseorang menjadi bangga apalagi takabur. Sebab, anugerah kewalian bukanlah jabatan yang bisa diwariskan turun-temurun. Allah memilih wali-Nya sesuai kehendak-Nya. Dan hal itu tidak ditentukan oleh nasab, warna kulit, dan bahasa.”

“Saya paham, Paman,” kata Syarif Hidayat, “Karena itu saya mohon agar paman tidak bosan membimbing saya.”

Setelah tinggal selama tiga hari di Belgaum, Abdul Jalil dan Syarif Hidayat melanjutkan perjalanan ke barat, menuju bandar Goa. Sepanjang perjalanan itulah mereka menyaksikan kehidupan orang-orang dari kasta rendah yang dililit kesengsaraan dan kehinaan. Panasnya matahari dan semburan debu yang meliputi permukaan bumi yang kering menghamparkan pemandangan menyedihkan tentang anak-anak manusia yang hidup sengsara tanpa harapan.

Setelah berjalan di tengah sengatan terik matahari dan tiupan angin kering, mereka berteduh di bawah pohon Tintira (asam) yang tumbuh di tepi jalan. Saat itulah Abdul Jalil berkenalan dengan mubalig asal Gujarat bernama Fadillah Ahmad. Fadillah Ahmad menuturkan bahwa dia telah menjalankan dakwah Islam di daerah itu, terutama di kalangan masyarakat berkasta rendah. Sebagian di antara dakwahnya disambut baik, namun bagian terbesar masyarakat berkasta rendah itu masih melihatnya dengan sebelah mata. “Mereka seolah-olah sudah putus asa dengan keberadaannya sebagai bagian paling nista dari kehidupan masyarakat. Mereka seolah-olah yakin bahwa kehinaan yang mereka alami itu memang sudah kehendak Dewata,” ujar Fadillah Ahmad. “

Tuan jangan mundur menghadapi mereka,” sahut Abdul Jalil, “sebab Tuan bukanlah orang yang bertugas mengislamkan manusia. Tuan sekedar menyampaikan. Ingatlah: Tuan hanya menyampaikan kebenaran Islam! Tidak lebih! Karena itu, jika Tuan belum berhasil dengan tugas Tuan maka hendaknya Tuan mengubah cara penyampaian yang sesuai dengan pemahaman mereka.”

“Tapi, cara bagaimana lagi saya harus manyampaikan kepada manusia-manusia yang sesatnya melebihi hewan. Saya katakan hewan karena mereka adalah manusia-manusia yang membolehkan perempuan bersuami sampai sepuluh orang. Mereka adalah manusia-manusia yang pada saat paceklik selalu menjual anak-anaknya untuk dijadikan budak. Mereka adalah manusia-manusia yang menyukai kenajisan dan pemuja berhala!” sergah Fadillah Ahmad berapi-api.

“Tuan hendaknya tetap sabar dan jangan sekali-kali menilai keberadaan mereka dari pandangan Tuan sendiri. Sebab, segala sesuatu yang terhampar di alam semesta ini pada hakikatnya adalah kehendak-Nya semata. Jadi, kehinaan dan kenistaan yang ditimpakan kepada mereka bukanlah kehendak mereka, melainkan kehendak-Nya jua. Karena itu, sebagai mubalig yang menyampaikan kebenaran Islam, Tuan hendaknya memohon agar Dia mengubah kehendak-Nya atas masyarakat yang Tuan anggap hina dan nista itu,” kata Abdul Jalil.

“Saya sudah bertahun-tahun berdoa terutama dalam shalat malam. Namun, sampai saat ini belum ada tanda-tanda bahwa doa saya dikabulkan-Nya,” ujar Fadillah Ahmad kecewa.

“Itu bukan berarti doa Tuan tidak dijawab oleh-Nya,” sahut Abdul Jalil tenang. “Mungkin saja Tuan terlalu mendikte Dia dengan kemauan Tuan sendiri. Tuan berdoa kepada-Nya dengan harapan Dia mengabulkan permohonan Tuan sesuai dengan yang Tuan bayangkan dalam benak Tuan. Padahal, Dia sering kali mengabulkan permohonan hamba-Nya dengan bentuk yang tidak sesuai dengan kehendak yang dibayangkan hamba-Nya. Selain itu, manusia pada umumnya cenderung menginginkan segala sesuatu yang berkaitan dengan permohonan dan pekerjaan yang dijalankannya dapat terwujud dalam waktu cepat.”

“Tuan Syaikh,” sahut Fadillah Ahmad dengan hati bergetar, “Tuan sepertinya dapat membaca apa yang tersembunyi di dalam hati dan apa yang telah saya alami selama ini. Apakah Tuan seorang aulia?”

Abdul Jalil tertawa mendengar pertanyaan polos Fadillah Ahmad. Kemudian dengan suara tenang dan mantap ia berkata, “Jika Tuan mempelajari kecenderungan-kecenderungan manusia, sebenarnya Tuan dapat membaca jalan pikiran orang dan menerka-nerka isi hatinya. Jadi, apa yang saya ungkapkan tadi bukanlah karena saya seorang aulia yang dapat membaca jalan pikiran dan hati seseorang. Saya hanya membaca apa yang ada di dalam benak Tuan dan apa yang tersembunyi di hati Tuan. Hal itu mampu saya lakukan karena saya telah lama mempelajari kecenderungan-kecenderungan manusia.”

“Tuan Syaikh,” sergah Fadillah Ahmad, “pastilah Tuan bukan manusia sembarangan. Saat pertama kali melihat Tuan, saya merasakan semacam kewibawaan mahadahsyat memancar dari diri Tuan. Dan setiap kali hendak berbicara kepada Tuan, saya selalu merasakan kegentaran dan rasa aneh yang tidak bisa saya ungkapkan.”

“Tuan jangan melebih-lebihkan sesuatu,” ujar Abdul Jalil datar. “Saya manusia biasa yang tidak jauh berbeda dengan Tuan. Karena itu, ketika terik matahari membakar kepala maka saya bernaung di bawah pohon ini. Dan Tuan bisa melihat sendiri bagaimana pakaianku ini kotor dilekati debu.”

“Tuan Syaikh,” Fadillah Ahmad berkata dengan suara merendah, “sebenarnya kedatangan saya ke daerah ini adalah atas petunjuk yang saya peroleh dalam mimpi di makam Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam kira-kira lima tahun silam. Saat itu saya seperti mendengar suara tanpa rupa yang memerintahkan agar saya menyampaikan dakwah kebenaran Islam di wilayah ini. Suara itu juga menitahkan agar saya menunggu kehadiran seorang Syaikh dari negeri Jawy di mana saya dititahkan untuk berguru kepadanya. Namun, sampai saat ini tidak saya jumpai satu pun syaikh dari negeri Jawy.”

Abdul Jalil tersenyum mendengar cerita Fadillah Ahmad. Namun, sebelum ia berkata sesuatu tiba-tiba saja Syarif Hidayat berkata dengan suara keras kepada Fadillah Ahmad, “Tuan, tidakkah Tuan tahu bahwa Paman saya ini asalnya dari negeri Jawy? Tidakkah Tuan tahu bahwa nama Paman saya adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil al-Jawy? Tidakkah Tuan tahu bahwa kami berdua sedang dalam perjalanan menuju negeri Jawy?”

Bagaikan disambar kilatan halilintar, Fadillah Ahmad terperangah seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Setelah tertegun bagai tugu batu beberapa jenak, dia berlutut dan bersujud merangkul kaki Abdul Jalil sambil bercucuran air mata, “Tuan Syaikh, Tuanlah pir yang kami tunggu dengan segenap kerinduan dan pengharapan. Bimbinglah kami yang telah didera penderitaan selama menanti kedatangan Tuan. Bimbinglah kami agar kami dapat beroleh limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya.”

“Berdirilah Tuan!” kata Abdul Jalil menarik bahu Fadillah Ahmad ke atas, “Tidak boleh bersujud kepada sesama manusia.”

“Tapi Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad gemetar, “kami memohon agar Tuan Syaikh berkenan menjadi pembimbing kami. Kami memohon agar Tuan Syaikh berkenan menjadi pir kami.”

Akhirnya Abdul Jalil tidak dapat menolak keinginan Fadillah Ahmad untuk menjadi muridnya. Namun, sebelum itu ia menjelaskan tentang makna ajaran yang bakal disampaikannya, “Jika Tuan berhasrat kuat untuk mengikuti jalan kami maka yang wajib Tuan sadari pertama-tama adalah kenyataan yang berkait dengan ‘cara’ (thariq) kami yang berbeda dengan ‘cara’ yang umum dianut manusia. Maksudku, tarekat yang kami anut tidak mengenal adanya pir atau mursyid. Karena, yang disebut pir atau mursyid, menurut ‘cara’ kami, berada di dalam diri manusia sendiri. Sementara keberadaan guru hanya terbatas sebagai petunjuk untuk menuntun langkah awal seorang salik dalam mencari guru sejati.” “

Dengan penjelasan ini hendaknya Tuan pahami bahwa pada ‘cara’ kami tidak mengenal adanya wasilah maupun rabithah yang berwujud manusia. Satu-satunya wasilah dan rabithah adalah Nur Muhammad, yang ada di dalam diri setiap manusia. Lewat Nur Muhammad itulah manusia akan mencapai Sumber Segala Sumber.” “

Kami paham, Tuan Syaikh,” sahut Fadillah Ahmad takzim. “Namun, apakah nama ‘cara’ yang Tuan Syaikh ajarkan?” “

Tuan boleh menamai ‘cara’ ini sesuka hati Tuan,” sahut Abdul Jalil. “Namun, hendaknya Tuan ketahui bahwa Nabi Muhammad al-Mushthafa Saw telah mewariskan dua ‘cara’ kepada manusia. ‘Cara’ yang pertama adalah Tarekat al-Akmaliyyah yang diwariskan lewat hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. ‘Cara’ yang kedua adalah Tarekat al-Anfusiyyah yang diwariskan melalui hadhrat Ali bin Abu Thalib. Tarekat yang akan Tuan pelajari dariku adalah Tarekat al-Akmaliyyah.” “

Apakah perbedaan antara Tarekat al-Akmaliyyah dengan Tarekat al-Anfusiyyah?” tanya Fadillah Ahmad minta penjelasan. “

Sebagaimana yang telah kujelaskan sebelumnya bahwa pertama-tama Tarekat al-Akmaliyyah tidak mengenal pir atau mursyid dalam wujud manusia karena pada hakikatnya sudah ada pada diri tiap manusia. Kedua, pir atau mursyid di dalam diri manusia itulah yang disebut Nur Muhammad, yang akan menjadi penuntun sang salik di dalam menuju Dia. Karena itu, Tarekat al-Akmaliyyah tidak mengenal wasilah dan rabithah dalam bentuk manusia. Wasilah dan rabithah dalam Tarekat al-Akmaliyyah adalah Nur Muhammad. Dengan demikian, di dalam Tarekat al-Akmaliyyah tidak dikenal adanya silsilah pir atau mursyid berdasar asas keturunan.” “

Ketiga, para salik yang berjalan melewati Tarekat al-Akmaliyyah wajib berkeyakinan bahwa segala sesuatu termasuk tarekat ini adalah milik Allah. Itu berarti, keberadaan tarekat beserta seluruh pengikutnya adalah semata-mata karena kehendak Allah. Dengan demikian, para pengikut tarekat ini hendaknya tidak membanggakan diri sebagai pendiri atau penguasa tarekat. Tuan tentu pernah mendengar kisah Syaikh Hussein bin Mansyur al-Hallaj yang dihukum cincang dan mayatnya dibakar oleh al-Muqtadir? Dia adalah pengamal ajaran Tarekat al-Akmaliyyah. Namun, murid-muridnya kemudian mendirikan Tarekat dengan nama Hallajiyyah. Itu boleh dan sah-sah saja, walaupun pada akhirnya Hallajiyyah tenggelam karena pengikut-pengikutnya membentuk lembaga baru dengan susunan hierarki kepemimpinan ruhani atas dasar seorang manusia. Sementara Tarekat al-Akmaliyyah tetap lestari hingga sekarang.” “

Apa persamaan antara Tarekat al-Akmaliyyah dan Tarekat al-Anfusiyyah?” tanya Fadillah Ahmad. “

Hakikatnya sama, hanya nama saja yang berbeda,” ujar Abdul Jalil. “Karena, Akmaliyyah berasal dari al-kamal, yakni pengejawantahan dari al-Kamal yang dibentuk oleh al-Jalal dan al-Jamal. Al-kamal itulah Adam Ma’rifat yang kepadanya ditiupkan ruh-Nya, yakni Ruh al-Haqq di mana tersembunyi al-Haqq. Al-kamal atau Adam Ma’rifat itulah yang disebut al-Insan al-Kamil.” “

Sementara itu, Anfusiyyah berasal dari al-anfus, an-nafs al-wahidah, yakni pengejawantahan an-Nafs al-Ilahiyyah. An-nafs al-wahidah itulah Adam Ma’rifat yang kepadanya ditiupkan ruh-Nya, yakni Ruh al-Haqq di mana tersembunyi al-Haqq. An-nafs al-wahidah atau Adam Ma’rifat itulah yang disebut al-Insan al-Kamil.” “

Mana yang lebih benar, Tuan Syaikh?” tanya Fadillah Ahmad. “

Semuanya benar,” sahut Abdul Jalil, “Hanya nama dan ‘cara’-nya saja yang berbeda. Justru ‘cara’ itu menjadi salah dan sesat ketika sang salik menilai terlalu tinggi ‘cara’ yang diikutinya hingga menafikan ‘cara’ yang lain. Sebab, dengan itu sebenarnya sang salik telah memuliakan, mengagungkan, dan membenarkan keakuannya yang kerdil. Berarti, sang salik pada saat itu telah merampas hak Allah. Karena, kemuliaan, keagungan, dan kebenaran hanyalah milik-Nya. Itulah sebabnya, dalil awal yang wajib dipatuhi oleh seorang salik Akmaliyyah adalah meyakini bahwa ‘jalan lurus’ (sabil huda) yang digelar oleh Allah kepada hamba-hamba yang mencari-Nya tidaklah tunggal (wa al-ladzina jahadu finalanahdiyanahum subulana).” “

Hal yang paling penting Tuan pahami lagi adalah Tarekat al-Akmaliyyah ini hanyalah suatu ‘cara’ untuk melewati ‘jalan lurus’. Jadi, jangan beranggapan bahwa ‘cara’ ini adalah segala-galanya. Artinya, jangan menganggap bahwa siapa saja yang mengamalkan ‘cara’ ini dan mengikuti ‘jalan lurus’ yang ada di dalamnya pasti akan selamat sampai kepada-Nya. Sebab, keputusan akhir ada di tangan-Nya juga. Artinya, sangat terbuka kemungkinan pengamal ‘cara’ ini justru akan sesat jalan, jika Dia menghendaki demikian.” “

Saya akan selalu mengingat petunjuk Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad takzim. “Namun, saya mohon agar Tuan Syaikh memberi saya pedoman untuk melintasi ‘jalan lurus’ dengan ‘cara’ Akmaliyyah.” “

Pertama-tama yang harus Tuan pahami,” kata Abdul Jalil menguraikan, “bahwa Allah, tujuan akhir kita, adalah bukan makhluk dan tidak dapat dibayang-bayangkan apalagi dibanding-bandingkan dengan sesuatu bentuk apa pun (laisa kamitslihi syaiun). Karena itu, merupakan suatu keharusan fundamental bahwa untuk menuju Dia, seorang salik harus mengarahkan kiblat hati dan pikirannya hanya kepada-Nya. Artinya, seorang salik harus berjuang keras meninggalkan rasa kepemilikan, ketergantungan, kecintaan, keterikatan, dan keterkaitan dengan segala sesuatu selain Dia.” “

Semakin seorang salik berhasil meninggalkan rasa kepemilikan, ketergantungan, kecintaan, keterikatan, dan keterkaitan dengan segala sesuatu selain Dia maka akan semakin dekatlah ia dengan-Nya. Sebaliknya, jika sang salik tidak mampu maka ia pun akan semakin jauh dari-Nya dan semakin sesat jalannya.” “

Apakah itu bermakna bahwa sang salik harus menanggalkan kehidupan duniawi dan tinggal sebagai pertapa?” tanya Fadillah Ahmad. “

Sama sekali keliru pemahaman itu,” ujar Abdul Jalil, “justru sang salik harus menjadikan kehidupan di dunia ini sebagai medan perjuangan dalam menuju Dia. Bahkan setelah berhasil mencapai-Nya, ia memiliki kewajiban fundamental untuk kembali ke tengah kehidupan manusia biasa sebagaimana hal itu diteladankan oleh Muhammad al-Mushthafa Saw..” “

Dengan demikian, hendaknya sejak awal Tuan sadari bahwa yang dimaksud meninggalkan segala sesuatu selain Dia bukanlah bermakna meninggalkan hidup keduniawian secara mutlak. Karena, yang dimaksud meninggalkan itu berkaitan dengan suasana batin. Jadi, boleh saja seorang salik menjadi raja besar seperti Daud dan Sulaiman, namun kiblat hati dan pikiran tetap hanya mengarah kepada-Nya.” “

Hendaknya Tuan sadari bahwa perjalanan menuju Dia, Subhanahu wa Ta’ala, bukanlah perjalanan ajaib yang berlangsung secara gampang dalam tempo satu hari atau satu pekan. Perjalanan menuju Dia sangatlah sulit dan penuh jebakan. Karena harus melampaui tujuh rintangan besar, yaitu tujuh Lembah Kasal, tujuh jurang Futur, tujuh Gurun Malal, tujuh Gunung Riya’, tujuh Rimba Sum’ah, tujuh Samudera ‘Ujub, dan tujuh Benteng Hajbun.” “

Kenapa semua rintangan itu berjumlah tujuh, o Tuan Syaikh?” tanya Fadillah Ahmad minta penegasan. “

Karena, kita adalah makhluk yang hidup di atas permukaan bumi,” Abdul Jalil menjelaskan. “Allah membentangkan tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita (QS an-Naba’: 12) sebagaimana bumi pun berlapis tujuh (QS ath-Thalaq: 12) dan samudera pun berlapis tujuh (QS Luqman: 27). Bahkan neraka bertingkat tujuh (QS al-Hijr: 44). Tidakkah Tuan ketahui bahwa surga pun berjumlah tujuh, yakni Firdaus, Aden, Ma’wah, Na’im, Darussalam, Khuldy, dan Qaar. Tidakkah Tuan ketahui bahwa dalam beribadah kepada-Nya manusia telah diberi piranti tujuh ayat yang diulang-ulang dari Al-Qur’an (QS al-Hijr: 87) untuk berhubungan dengan-Nya? Tidakkah Tuan sadari bahwa saat Tuan sujud maka tujuh anggota badan Tuan yang menjadi tumpuan?” “

Namun, di antara tujuh hal yang terkait dengan alam semesta ini, yang paling penting Tuan sadari adalah tujuh lapis hal yang berhubungan dengan keberadaan manusia yang diberi tujuh tahap usia, yakni radhi’, fathim, shabiy, ghulam, syabb, kuhl, dan syaikh; yang berkait dengan tujuh nafsu manusia, yakni musawwilah, hayawaniyyah, ammarrah, lawwammah, mulhamah, muthma’innah,dan wahidah. Sebab, dengan menyadari adanya tujuh nafsu maka Tuan akan memahami adanya tujuh martabat yang wajib Tuan lampaui untuk menuju kepada-Nya. Dan sekali lagi ingat-ingatlah bahwa perjalanan ruhani bukan perjalanan ajaib yang bisa tercapai dalam waktu singkat. Rasulallah sendiri membutuhkan waktu lima belas tahun berkhalwat untuk mencapai tahap bertemu Jibril a.s. di gua Hira. Dan perjalanan itu masih terus beliau laksanakan dengan tekun dan istiqamah hingga beliau mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj: menghadap ke hadirat al-Khaliq.” “

Saya akan patuhi petunjuk Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad.

Setelah menguraikan tentang peta “jalan lurus” yang akan dilewati seorang salik, Abdul Jalil memaparkan “cara” yang merupakan wahana untuk melewati “jalan lurus” tersebut,yang meliputi empat hal, yakni asrar al-istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq. abdul Jalil mengakhiri wejangannya dengan uraian rahasia tentang jati diri Muhammad al-Mushthafa Saw. sebagai nabi, rasul, Nur Muhammad, “pintu” (bab), “kunci” (miftah), Haqiqah al-Muhammadiyyah, dan bahkan sebagai pengejawantahan Allah dalam Af’al, Asma’, Shifat, dan Dzat.

Ketika matahari bergeser ke barat, terbentang sisa cahaya kuning kemerahan pada tirai langit yang menghiasi lekuk-liku pegunungan Ghats Barat. Abdul Jalil berdiri di hadapan sekitar seratus penghuni pinggiran kota Goa yang menjadi pengikut Fadillah Ahmad. Bersama mereka hadir pula sekitar tujuh puluh mualaf dari desa-desa yang tersebar antara Belgaum dan Goa. Sore itu, ia didampingi pula oleh Abdul Malik Israil.

Fadillah Ahmad membuka pertemuan itu dengan puja dan puji kepada Allah dan salawat kepada Rasulallah Saw, kemudian memperkenalkan Abdul Jalil kepada para pengikutnya sebagai guru ruhani yang telah ditunggunya selama limat tahun lebih. Itu sebabnya, Fadillah Ahmad berharap Abdul Jalil berkenan memberikan fatwa.

Abdul Jalil yang tak menduga bakal didaulat untuk memberikan fatwa di hadapan pengikut Fadillah Ahmad, tidak dapat mengelak. Ia menunduk diam sambil memejamkan mata. Sejenak kemudian dengan mata menatap jauh ke gugusan langit, ia mulai berkata dengan suara lantang. “Aku beritakan kepadamu, o manusia beriman yang dikasihi Allah, bahwa tidak lama lagi akan datang Dajjal, sang Penyesat, beserta bala tentaranya yang disebut Ya’juj wa Ma’juj ke segenap penjuru dunia. Tugas utama Dajjal beserta bala tentaranya itu adalah menjadi penyesat bagi kaum beriman.” “

Jika Dajjal dan bala tentaranya sudah muncul di hadapanmu maka hendaklah engkau sekalian bergegas-gegas menyucikan hati dan pikiran dari semua noda kebendaan dan pamrih pribadi. Kemudian arahkan kiblat hati dan pikiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, hal itu bukanlah pekerjaan ringan karena Dajjal beserta bala tentaranya akan menggoda dan menguji iman kalian dengan keindahan harta duniawi. Dan telah jelaslah bagi kalian semua bahwa mereka yang tidak teguh iman akan menjadi pengikut Dajjal. Mereka juga bakal menjadi penghuni neraka Jahanam.” “

Ingat-ingatlah, wahai kaum beriman yang dikasihani Allah, bahwa panutan kita Nabi Muhammad Saw telah memberi peringatan tentang kehadiran Dajjal penyesat beserta ciri dan tengara kerusakan yang bakal ditimbulkannya. Pertama, jika Dajjal menampakkan diri maka rupanya putih. Mata kanannya buta. Mata kirinya bersinar seperti bintang gemerlapan (hadits Bukhari). Kedua, pada kening Dajjal akan tertera tulisan ‘kafir’, yakni yang ingkar dan terhijab dari kebenaran, di mana setiap Muslim akan dapat membacanya (hadits Ahmad). Ketiga, jika Dajjal berjalan di atas permukaan bumi maka langkahnya sangat cepat bagai awan terbawa angin (hadits Abu Dawud).” “

Keempat, Dajjal membawa air dan api. Namun, api itulah yang sebenarnya air dan air itulah yang sebenarnya api (hadits Bukhari). Kelima, Dajjal membawa bukit roti dan sungai yang ada airnya (hadits Bukhari). Keenam, sebelum kiamat akan lahir beberapa Dajjal yang pandai berdusta, hampir sebanyak 30 orang, dan semuanya mengaku-aku sebagai utusan Allah (hadits Bukhari). Yang ketujuh, bala tentara Dajjal akan memenuhi permukaan bumi bagaikan kawanan hewan buas yang membuat kerusakan di mana-mana.”

Para hadirin termasuk Fadillah Ahmad dan Syarif Hidayat tercengang keheranan mendengar uraian Abdul Jalil. Ada rasa takut merayapi hati mereka.

Abdul Jalil dengan ketenangan luar biasa menatap mata orang di sekitarnya satu demi satu. Ia dapati betapa pada kedalaman mata mereka tersembunyi kegalauan, meski mulut mereka terkatup rapat. Sesaat kemudian, ia melanjutkan penjelasannya. “

Ketahuilah, o manusia beriman yang dikasihi Allah, bahwa yang disebut Dajjal adalah manusia-manusia yang terhijab dari kebenaran Allah karena Dajjal berasal dari kata Dajala yang bermakna ‘dia yang tertutup’. Itu berarti, baik Dajjal maupun pengikutnya akan menolak hal-hal gaib atau yang bersifat ruhani karena hati dan pikiran mereka telah terhijab dari kebenaran Ilahi. Mereka sangat menakjubkan dan menarik hati jika berbicara tentang kehidupan duniawi. Namun, merekalah perusak dan pembinasa kehidupan duniawi yang sebenarnya. Bahkan jika mereka berbicara dengan mengatasnamakan agama sekalipun maka apa yang mereka bicarakan tidak akan jauh dari kepentingan duniawi.” “

Adapun tentang Ya’juj wa Ma’juj yang berasal dari kata ajij dalam bentuk yaf’ul dan maf’ul, yang bermakna ‘semburan api’, adalah pengikut-pengikut setia Dajjal yang di setiap tempat di permukaan bumi akan menyemburkan api untuk membinasakan manusia-manusia yang melawan mereka, guna membinasakan kehidupan di permukaan bumi. Ya’juj wa Ma’juj, sebagaimana Dajjal, jika berjalan sangat cepat. Karena, Ya’juj wa Ma’juj bisa dimaknai dari kata ajja yang berarti asra’a, yakni ‘berjalan cepat’.” “

Jika engkau sekalian, o manusia beriman yang dikasihi Allah, menyaksikan kehadiran Dajjal beserta bala tentaranya maka larilah engkau sekalian kepada Allah. Fafirru ila Allah! Sebab, kalau hati dan pikiranmu masih terikat pada sesuatu tentang duniawi dan pamrih pribadi maka saat itulah engkau sekalian akan gampang disesatkan oleh Dajjal dan bala tentaranya.”

Seorang pemuda bernama Ghulam Chinibas yang bekerja sebagai pedagang keliling kelihatannya tidak dapat menahan hasrat untuk bertanya lebih jelas tentang Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj. Saat Abdul Jalil berhenti bicara dan menunggu tanggapan para pendengarnya, dia berseru keras, “Terangkan kepada kami tentang Dajjal dan bala tentaranya secara lebih tegas, o Tuan Syaikh! Biarlah kami mengetahui kehadiran mereka agar kami tidak menjadi pengikut mereka.”

Abdul Jalil diam. Ia menunduk sambil memejamkan mata. Sesaat kemudian, ia berkata, “Dajjal dan bala tentaranya adalah manusia-manusia berkulit putih. Mereka datang dari arah lautan dengan menggunakan kapal-kapal yang sangat cepat. Kemudian dengan membawa meriam-meriam penyembur api, mereka akan naik ke daratan dan menebarkan kerusakan. Mereka akan menggiring orang-orang yang lemah iman untuk dijadikan budaknya. Mereka juga akan merampas harta kekayaan di antara manusia-manusia yang lemah iman.” “

Apakah kami boleh melawan mereka, o Tuan Syaikh?” tanya Ghulam Chinibas. “

Jika engkau cinta kepada Allah maka wajib bagimu untuk menantang Dajjal dan bala tentaranya sekuat daya dan kemampuanmu. Namun, jika engkau masih mencintai dirimu, keluargamu, harta bendamu, perdaganganmu, dan keuntunganmu maka janganlah sekali-kali engkau melawan mereka. Niscaya engkau akan dikalahkan dengan mudah,” kata Abdul Jalil menegaskan.

Suara gaduh bagai dengungan ribuan lebah pun terdengar. Mereka berkata ini dan itu seolah-olah mereka akan menghadapi melapetaka yang sangat dahsyat. Mereka seolah-olah tidak berdaya menghadapi serbuan Dajjal beserta tentaranya. Menyaksikan reaksi pembicaraannya yang sangat menggemparkan pendengarnya itu, Abdul Jalil menangkap tengara kegentaran merayapi hati orang-orang yang umumnya masih sangat mencintai kehidupan duniawi. Itu sebabnya, dengan langkah mantap ia mendekati Ghulam Chinibas. Kemudian dengan suara lantang ia berkata. “Wahai engkau, Penjaja Keliling, jadilah engkau penyebar berita tentang kedatangan Dajjal beserta bala tentaranya ke berbagai penjuru negeri. Beritakanlah kepada manusia-manusia pecinta dunia bahwa bakal datang azab Allah untuk mereka dalam bentuk kehadiran Dajjal penyesat beserta bala tentaranya. Kabarkanlah kepada para pecinta dunia bahwa mereka harus melepas baju agar punggung-punggung mereka terbuka untuk dihajar oleh cambuk Dajjal dan bala tentaranya. Kabarkanlah kepada pecinta dunia bahwa mereka harus mengumpulkan harta benda dan kekayaan yang mereka miliki untuk dijadikan barang pampasan oleh Dajjal beserta bala tentaranya. Kabarkanlah kepada para pecinta dunia bahwa mereka harus bersiap siaga menjadi pemeluk agama najis, yaitu penyembah Dajjal. Dan kabarkanlah kepada para pecinta dunia bahwa pintu neraka telah menunggu mereka!”

Seorang mualaf tua bernama Shadgap Dewadatta dengan tertatih-tatih melangkah ke depan. Kemudian dengan suara bergetar dia bertanya, “Tuan Syaikh, kenapa Allah menimpakan malapetaka tak tertahankan ini kepada kami? Apakah kesalahan yang telah kami lakukan? Bukankah kami setia memuja dan menyembah-Nya? Bukankah kami patuhi semua perintah-Nya?” “

Wahai Bapa, hamba Allah yang dikasihi-Nya,” kata Abdul Jalil dengan suara menggeletar, “jangan engkau tanyakan hal itu kepadaku. Karena aku hanyalah orang asing belaka di negeri ini. Sebaliknya, tanyalah kepada penguasa-penguasa yang menjadi pemimpinmu! Tanyakan kepada mereka, apakah mereka telah menjalankan kekuasaan yang diamanatkan kepadanya sesuai ketentuan yang diteladankan oleh Rasulallah Saw dan keempat khalifah penggantinya?” “

Tanyakan kepada para raja (al-malik) penguasa negerimu! Sudahkah mereka mewakili pengejawantahan al-Malik? Tanyakan kepada para wazir yang membantu tugas-tugas rajamu! Sudahkah mereka menjalankan tugas sebagai pembantu raja (tawazzara li al-malik) dengan sebenar-benarnya? Sudahkah menteri kehakiman (wizarah al-haqqaniyyah) dan hakim-hakim bawahannya mencerminkan pengejawantahan al-Haqq – al-Hakim – al’Adl? Apakah menteri keuangan (wizarrah al-maliyyah) orang yang zuhud dan jujur? Apakah menteri wakaf (wizarrah al-auqaf) orang yang amanah dan qana’ah?” “

Apakah engkau pernah menyaksikan pada wajah rajamu bekas tikar yang dipakainya tidur? Apakah engkau pernah menyaksikan kesederhanaan rajamu sebagaimana yang diteladankan Rasulallah Saw dan keempat khalifah penggantinya? Apakah menurut pengetahuanmu, raja-raja yang memimpinmu hidup dalam kesederhanaan, kedermawanan, kezuhudan, dan kecintaan kepada para janda tua, yatim piatu, dan orang hina papa?” “

Namun, Tuan Syaikh,” seru Shadgap Dewadatta berapi-api, “jika kesalahan dan dosa besar telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kami, kenapa pula kai yang tidak tahu-menahu ikut memikul akibatnya? Di manakah letak keadilan Allah?” “

Dengarlah cerita tentang seorang raja tua bangka yang sudah pikun di tengah pengawal dan budak-budaknya,” kata Abdul Jalil. “Pekerjaan raja tua bangka itu sehari-harinya mengantuk di atas singgasana. Tidak ada yang dilakukannya kecuali duduk, makan, dipijat, dikipasi, dan tidur mendengkur. Sementara para wazir, qadhi, kepala daerah, dan aparat kerajaan bekerja dengan sesuka hati mereka. Pekerjaan mereka adalah memeras dan menipu rakyat untuk memperkaya diri sendiri.” “

Satu siang seusai duduk, makan, dipijit, dan dikipasi, seperti biasa sang raja tidur mendengkur di atas singgasana. Begitu lelapnya sehingga mahkota sang raja terjatuh ke lantai. Para budak yang berada di sekitarnya berebut mengambil dan memahkotakan kembali. Padahal, salah seorang pengawal raja tua bangka itu sempat membayangkan seandainya sang raja tetap tidur dan mahkotanya tetap dibiarkan tergeletak di lantai. Bahkan ia sempat berpikir betapa mudah sebenarnya membanting tubuh renta itu ke lantai hingga remuk tulang-belulangnya. Bukankah dengan sekali banting saja raja tua itu akan mati? Namun, kilasan pikiran pengawal itu hanya sampai pada bentangan angan-angan dan gambaran-gambaran khayal belaka. Para pengawal – apalagi para budak – tidak ada yang berani mengganggu sang raja rua bangka yang makin lama makin lapuk digeragoti zaman.” “

Nah, Bapa Tua, menurutmu apakah kejahatan yang dilakukan para wazir, qadhi, kepala daerah, dan aparat kerajaan itu semata-mata kesalahan mereka yang memanfaatkan rajanya yang pikun? Apakah para pengawal dan budak-budak yang setia kepada raja tua bangka yang pikun itu tidak ikut bersalah?”

Shadgap Dewadatta manggut-manggut mendengar uraian perlambang yang dikemukakan Abdul Jalil. Dia menyadari bahwa suatu peristiwa pada hakikatnya saling mengait dengan peristiwa lain.

Abdul Jalil kemudian berkata lantang. “Dan kepada engkau, o Bapa Tua, apakah engkau sudah berbuat adil dan mencintai orang-orang berkasta rendah di sekitarmu, golongan dari mana engkau berasal, yakni mereka yang hidup dalam kesengsaraan dan kepapan? Sudahkah engkau bagikan sebagian harta dan makananmu kepada mereka yang sering merasakan kelaparan di sekitarmu? Sudahkah engkau ulurkan tanganmu untuk membantu tetangga-tetanggamu yang oleh kaumnya dibenamkan sebagai manusia berkasta rendah? Sudahkah engkau mencintai mereka? Sudahkah engkau mampu mewujudkan dirimu sebagai pengikut Muhammad Saw, rahmatan li al-‘alamin?” “

Sepanjang perjalananku dari Ahmadabad hingga Goa, telah aku saksikan betapa kaum Muslimin hidup dalam kemakmuran dan kelimpahan rezeki. Mereka hidup tidak kurang satu apa pun. Namun sungguh menyedihkan, pandangan hidup kaum Muslimin yang kutemui hampir menyerupai kaum berkasta tinggi yang memandang hina kepada orang-orang berkasta rendah. Itu sebabnya, aku saksikan orang-orang Muslim membeli anak-anak kaum berkasta rendah pada masa paceklik. Aku saksikan pula betapa kaum berkasta rendah itu hidup penuh kekurangan, sementara tetangganya yang Muslim hidup berkelimpahan. Sungguh keliru jika kalian beranggapan bahwa bantuan hanya layak diberikan kepada kaum Muslim. Padahal kalian semua tahu bahwa orang menjadi Muslim atau tidak adalah mutlak kewenangan Allah.” “

Karena itu, o saudara-saudaraku kaum beriman, hendaknya kalian datangi saudara-saudaramu dari kaum berkasta rendah yang dibenamkan oleh kaumnya untuk menjadi cacing tanah. Angkat mereka dari dalam kubangan lumpur kehinaan. Bersihkan hati dan pikiran mereka dari lumpur kerendahan diri dengan cinta kasih, kedermawanan, persaudaraan, dan kesetaraan. Rangkullah mereka dengan harkat dan martabat kemanusiaan yang asasi, yakni sebagai anak cucu Adam. Teladanilah Rasulallah beserta sahabat-sahabatnya yang gemar membebaskan budak, menyantuni janda tua, yatim piatu, orang papa, dan mengikat persaudaraan. Teladanilah kesederhanaan Rasulallah beserta para sahabat yang senantiasa saling membantu. Teladanilah Rasulallah beserta sahabat-sahabatnya yang zuhud, yang tidak pernah membangun istana dan rumah mewah. Teladanilah beliau yang hidupnya benar-benar menjadi rahmat bagi yang lain!”

Pada awal abad ke 10 Hijriah, kota pelabuhan Goa telah menjadi pusat perniagaan bagi wilayah Deccan yang diperintah oleh dinasti Bahmani. Jika sebelumnya Goa tak pernah diperhitungkan maka sejak Zafar Khan Bahmani memisahkan wilayahnya dari Kesultanan Delhi dan dinasti Tughlak pada pertengahan abad ke 9 Hijriah, Goa perlahan-lahan menemui makna pentingnya sebagai pelabuhan di wilayah Deccan. Sekalipun pada tahun 905 Hijriah wilayah Berar memisahkan diri, disusul pemberontakan Adil Shahi yang menginginkan wilayah Bijapur yang dikuasainya lepas dari Deccan; dinasti Bahmani tetap mempertahankan Goa sebagai pelabuhan utama Deccan.

Warga Goa yang kebanyakan merupakan keturunan Arab-Hindi telah memberikan citra kota pelabuhan itu sebagai wilayah perdagangan antarbangsa yang sangat ramai. Berbagai saudagar berkebangsaan Arab, Persia, Keling, Malayu, dan bahkan Cina terlihat berdagang dengan bebas di kota tersebut. Rumah, kedai, gudang, dan barak besar milik para pedagang yang dibangun tak jauh dari pelabuhan telah membuat Goa menjadi kota yang makmur.

Terik matahari, embusan angin laut, dan taburan debu yang meliputi permukaan bumi Goa seolah tidak dipedulikan oleh para saudagar, nahkoda, kuli pelabuhan, penarik kereta, dan budak yang terlihat hilir-mudik di tengah kesibukan yang bagai tak kenal istirahat. Mereka seolah-olah larut dalam lingkaran kesibukan duniawi yang bagai tak ada ujung. Mereka seolah telah menjadi bagian dari hiruk-pikuk kehidupan manusia yang bagai tak memiliki tepi.

Suatu siang ketika matahari bersinar terik dan debu beterbangan ditiup angin, Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, Syarif Hidayat, dan Fadillah Ahmad berjalan beriringan memasuki daerah pelabuhan. Mereka menanyakan tujuan dan jadwal keberangkatan kapal-kapal yang berlabuh di Goa. Abdul Malik Israil, lewat seorang kenalannya, telah memesan tumpangan bagi Abdul Jalil dan Syarif Hidayat untuk jurusan Malaka. Walaupun sebenarnya Abdul Jalil ingin menumpang kapal milik Ahmad at-Tawallud yang memiliki tujuan ke Pasai (Aceh).

Ketika mereka sampai di sebuah pertigaan jalan yang menuju ke arah pasar ikan dan pelabuhan, tiba-tiba Abdul Jalil menghentikan langkah di teras sebuah rumah saudagar Keling. Setelah termangu sejenak, ia berkata kepada Fadillah Ahmad, “Jika engkau nanti benar-benar telah menjadi pengamal Tarekat al-Akmaliyyah, seperti yang aku ajarkan, maka engkau akan menganggap brahmin kotor yang duduk di ujung jalan itu sebagai saudaramu.”

“Brahmin itu, Tuan Syaikh?” seru Fadillah Ahmad sambil menatap brahmin yang dimaksudkan oleh Abdul Jalil.

Brahmin yang duduk bersila di ujung pertigaan jalan itu secara jasmaniah benar-benar kotor. Rambutnya yang disanggul secara serampangan tampak kusam dipenuhi debu. Sementara badannya hanya dibungkus kain putih mirip cawat yang kusam, kumal, dan kelihatan coklat kehitaman.

Fadillah Ahmad dan Syarif Hidayat tak kurang herannya dengan ucapan Abdul Jalil. Bagaimana mungkin seorang muslim ber-maqam wali seperti Abdul Jalil bisa mengatakan bahwa brahmin kotor itu sebagai saudara? Namun, sebelum keheranan mereka terjawab, Abdul Jalil telah menunjuk seorang saudagar yang duduk di atas kereta, “Dan jika engkau nanti benar-benar meresapi Tarekat al-Akmaliyyah maka engkau akan menganggap saudagar itu sebagai bukan golonganmu.”

“Bagaimana bisa begitu, Tuan Syaikh?” tanya Fadillah heran bukan kepalang, “bukankah brahmin itu jelas-jelas kafir? Dan bukankah saudagar itu jelas-jelas Muslim?”

Abdul Jalil tersenyum. Sesaat kemudian ia berkata, “Maukah engkau mendengar ceritaku tentang kisah manusia-manusia aneh yang tidak bisa dinilai berdasarkan pandangan mata indriawi kita yang terbatas ini?”

“Saya sangat ingin tahu, Tuan Syaikh.”

Kira-kira dua puluh lima tahun silam di sebuah hutan di lereng pegunungan Nilgiri, hiduplah seorang brahmin muda di tengah kesunyian. Sebenarnya, dia adalah putera Raja Vijayanagar. Dia, atas kemauannya sendiri, meninggalkan takhta dan kemuliaan yang bakal menjadi miliknya untuk digantikan dengan kesunyian hutan. Bertahun-tahun pemuda itu mengakrabi kesunyian dengan tujuan utama memasrahkan seluruh hidupnya kepada Sang Pencipta. Berbagai upaya yang dilakukan oleh keluarganya agar dia membatalkan tekadnya tidak mendapatkan hasil apa-apa, kecuali kepedihan.

Ibu pemuda itu diam-diam menitahkan beberapa pengawal untuk mengawasi dan menjaga keselamatan putera kandungnya. Setiap bulan, para pengawal kembali ke istana dan memberi laporan yang isinya selalu berisi berita menyedihkan: badan sang pemuda makin kurus, rambutnya terurai panjang tak terurus, makanan sehari-hari umbu-umbian, samadi di tengah malam dingin, dan pelbagai tindak penyiksaan tubuh yang tak pantas dilakukan oleh putera raja.

Berita-berita menyedihkan itu akhirnya mencapai puncak manakala suatu pagi para pengawal menyaksikan pondok tempat kediaman sang pemuda telah kosong. Mereka mencari berkeliling namun tidak menemukan bayangannya. Maka, para pengawal pun melaporkan kepada sang ibu bahwa sang putera telah mencapai apa yang diinginkan dan dicita-citakannya, yakni moksha. Sang ibu, meski merasa pedih, tak urung sedikit lega mendengar betapa puteranya telah moksha, menyatu dengan Sang Pencipta.

Namun, hati ibu tetaplah hati ibu yang tak bisa ditipu. Diam-diam, sang ibu tetap yakin bahwa sang putera belumlah mati apalagi moksha. Itu sebabnya, diam-diam ia mulai berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk menelusuri di mana sang putera berada. Bahkan ia menyebar pengawal lain ke berbagai pertapaan untuk mencari tahu berita sang putera.

Usaha keras sang ibu tidak sia-sia. Ceritanya, ketika sang ibu melakukan perjalanan ke kota Dwarasamudra, tanpa sengaja ia menyaksikan seorang brahmin yang kotor dan lusuh sedang duduk di pinggir jalan. Sebagai ibu yang telah mengandung dan melahirkan, ia tidak syak lagi bahwa brahmin itu adalah puteranya tercinta. Dengan penuh cinta kasih, sang ibu memeluk dan menciumi sang putera yang telah mencapai pencerahan itu.

Berbagai usaha dilakukan sang ibu agar puteranya berkenan kembali ke istana dan menjadi raja menggantikan ayahandanya. Namun, tidak membawa hasil apa-apa. Sang putera telah menjadi manusia yang berbeda. Sang putera telah menjadi manusia yang tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki oleh siapa-siapa, kecuali Sang Pencipta. Dari waktu ke waktu, putera raja itu hidup sebagai brahmin gelandangan yang dihina dan dinista orang yang tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. “Dan brahmin kotor yang engkau saksikan duduk di ujung jalan itulah sang Brahmin, putera Raja Vijayanagar, Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri” ujar Abdul Jalil.

“Dia putera Raja Vijayanagar?” tanya Syarif Hidayat terheran-heran.

“Tanyakan kebenarannya kepada kakekmu yang sudah mengenalnya,” kata Abdul Jalil yang disambut anggukan kepala Abdul Malik Israil.

“Dia yang menukar kerajaan dan kemuliaan dengan kesengsaraan dan penderitaan, tentu memiliki pamrih yang lebih besar dari kerajaan dan kemuliaan duniawi,” ujar Fadillah Ahmad.

“Dia benar,” sahut Abdul Jalil. “Karena, lebih memilih Sang Raja dan Sang Pemilik Kemuliaan Abadi.”

“Tetapi, Tuan Syaikh,” tanya Fadillah Ahmad, “bagaimana dengan saudagar di atas kereta itu? Mengapa Tuan Syaikh menganggap dia bukan golongan Tuan?”

“Dalam pandangan mata indriawi, dia memang Muslim yang sudah membaca dua kalimat syahadat. Namun, dalam pandangan bashirah yang hakiki, dia adalah musrik yang memuja kebendaan di luar batas kemestian. Tahukah engkau apakah pekerjaan manusia pemuja dunia itu?” tanya Abdul Jalil.

“Saya tidak tahu, Tuan Syaikh,” jawab Fadillah Ahmad.

“Dia adalah pedagang budak yang memperlakukan budak-budaknya lebih buruk daripada hewan. Dia tidak peduli apakah budak-budaknya itu adalah saudaranya sesama Muslim atau bukan, yang utama baginya adalah soal harga. Dia itulah yang menyebar kaki tangan ke berbagai desa untuk membeli anak-anak mereka yang berkasta rendah. Dia membeli anak-anak itu dengan harga murah. Bahkan anak-anak yang sudah dididik sebagai Muslim pun tetap diperbudaknya.”

“Hari-hari yang dilewati laki-laki celaka itu tidak pernah beranjak dari lingkaran kehidupan duniawi beserta benda-bendanya yang menyesatkan. Jika engkau mengamati perilakunya sehari-hari, engkau tentu akan sering melihatnya menghitung uang, marah-marah, menganiaya budak, menyuap pejabat kerajaan, memuaskan nafsu syahwat dengan budak-budaknya yang cantik, menyedot hashis, dan tidur mendengkur dengan liur menetes. Bahkan jika engkau mendapati ia shalat berjama’ah dengan saudagar-saudagar pelanggannya maka akan engkau dapati pikiran dan hatinya tidak berkiblat kepada Allah, melainkan berputar-putar memikirkan ini dan itu yang berkait dengan barang dagangannya. Bahkan akan engkau dapati betapa dia tidak peduli kepada janda-janda tua, anak yatim, dan orang-orang fakir yang hidup tertindas. Dia tidak segan mempermainkan nilai hitung zakat dengan bersekongkol dengan petugas dari kementerian waqaf.”

“Bagi manusia tengik seperti saudagar budak itu, persoalan agama dan iman hanyalah dianggap sebagai suatu kemestian untuk meraih keberhasilan hidup dalam masyarakat. Bagi manusia seperti dia, Allah hanyalah semacam dongeng yang keberadaannya tidak bisa dibuktikan sehingga dengan leluasa dia melakukan kejahatan dan kekejian tanpa pernah digetari rasa takut. Dia adalah orang yang sudah tebal hijabnya. Hatinya sudah berkarat. Dan lantaran itu, aku katakan bahwa dia bukanlah dari golonganku,” ujar Abdul Jalil.

Fadillah Ahmad dan Syarif Hidayat termangu-mangu takjub dengan uraian Abdul Jalil mengenai dua sosok manusia yang berbeda dalam penampilan dan hakikat itu. Beberapa saat kemudian Fadillah Ahmad bertanya, “Tuan Syaikh, apakah hikmah di balik peristiwa aneh ini?”

“Aku dan Tuan Syaikh Abdul Malik Israil hendak memberi tahu sekaligus mengajarkan kepada kalian berdua tentang pandangan dan prinsip hidup yang kami anut. Tegasnya, bagi kami, yang kami anggap saudara adalah manusia-manusia pecinta Allah yang kiblat hati dan pikirannya diarahkan hanya kepada Allah. Kami tidak peduli apakah agama yang mereka anut Islam, Hindu, Budha, Yahudi, Nasrani, atau Majusi; asal mereka sama dengan kami maka mereka adalah saudara kami. Sebaliknya, manusia-manusia yang kiblat hati da pikirannya hanya ke arah duniawi bukanlah golongan kami, apalagi saudara kami. Mereka adalah pengikut Dajjal. Mereka akan menjadi bagian dari Ya’juj wa Ma’juj. Sekalipun agama mereka Islam, tetaplah tidak bisa kami golongkan sebagai golongan kami, apalagi saudara kami,” ujar Abdul Jalil.

“Tetapi Tuan Syaikh,” sergah Fadillah Ahmad meminta penegasan, “jika kami mengikuti pandangan seperti Tuan Syaikh, apakah kami tidak dianggap aneh dan sesat oleh kaum Muslim seumumnya?”

“Itu jika engkau kemukakan pandanganmu secara terang-terangan kepada masyarakat umum. Itu sebabnya, ajaran Tarekat al-Akmaliyyah adalah ajaran rahasia yang tidak boleh diungkapkan kepada semua orang secara terbuka.”

“Saya paham, Tuan Syaikh.”

“Karena itu,” lanjut Abdul Jalil, “Setelah aku berangkat ke negeri Jawy nanti, kembalilah engkau ke Ahmadabad di Gujarat. Temuilah Syaikh Abdul Ghafur Mufarridun al-Gujarati, ambillah baiat Tarekat asy-Syatariyyah dari saudara kakekku, Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein.

“Jika Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein adalah saudara kakek Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad terperangah heran, “berarti Tuan Syaikh adalah keturunan Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam yang makamnya di Ahmadabad.”

“Benar begitu,” kata Abdul Jalil, “sebab ayahandaku, Syaikh Datuk Sholeh, adalah putera Syaikh Datuk Isa Malaka. Dan kakekku itu adalah putera Syaikh Sayyid Ahmadsyah Jalaluddin bin Abdullah Amir Khan bin Abdul Malik al-Qozam.”

“Saya paham sekarang, Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad dengan suara bergetar, “kenapa di dalam mimpi saya lima tahun silam, Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam memerintahkan saya untuk menunggu Tuan Syaikh di Belgaum. Rupanya, Tuan Syaikh adalah keturunan beliau.”

Abdul Jalil diam. “

Tapi Tuan Syaikh,” Fadillah Ahmad melanjutkan, “bagaimana mungkin saya bisa menjalankan dua tarekat yang berbeda?” “

Tarekat al-Akmaliyyah untuk dirimu pribadi, sedang Tarekat asy-Syatariyyah untuk engkau ajarkan kepada khalayak ramai. Wajib engkau ingat-ingat bahwa apa yang disebut tarekat itu pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama, meski nama dan caranya seolah-olah berbeda. Itu sebabnya, jika engkau teliti benar keberadaan semua tarekat maka akan engkau dapati ‘jalan lurus’ dan ‘cara’ yang mirip satu dengan yang lain.” “

Di dalam berbagai tarekat, misalnya, akan engkau dapati pemaknaan inti dari hakikat istigfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq yang sering dipilah-pilah sebagai dzikir jahr dan dzikir sirri. Semua tarekat pasti mengajarkan istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq. Semua tarekat pasti mengajarkan rahasia Muhammad sebagai ‘pintu’ dan ‘kunci’ untuk membuka hijab-Nya,” ujar Abdul Jalil. “

Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad minta penjelasan, “kenapa tidak Tarekat al-Akmaliyyah saja yang disebarluaskan kepada khalayak ramai? Bukankah hal itu lebih afdol dibanding mengajarkan Tarekat asy-Syatariyyah?” “

Ketahuilah, o Salik, bahwa Tarekat al-Akmaliyyah sejak semula memang tidak untuk diajarkan kepada khalayak ramai. Tidakkah engkau ketahui kisah Syaikh Abu al-Mughits al-Husain bin Mansyur bin Muhammad al-Baidawi al-Hallaj yang menimbulkan kekacauan ketika mengungkapkan pandangan dan pahamnya kepada khalayak ramai? Tidakkah semua orang saat itu tidak mampu memahami ucapan-ucapannya? Tidakkah hanya kesalahpahaman yang justru ditimbulkannya?” “

Pahamilah, o Salik, bahwa apa yang menjadi dasar dari Tarekat al-Akmaliyyah adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan, Pencipta yang tak bisa dibayangkan dan tidak pula bisa dibandingkan dengan sesuatu. Singkatnya, dasar utama dari Tarekat al-Akmaliyyah adalah perjalanan kembali ke asal: Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un! Kembali kepada Yang Mahagaib. Mahakosong. Mahahampa. Maha Tak Terbandingkan.” “

Bagaimana engkau menjelaskan kepada khalayak ramai tentang Dia (Huwa) yang tak bisa digambarkan dan dibayangkan serta tak terbandingkan? Bagaimana cara engkau meminta khalayak ramai untuk mengikuti jalanmu jika engkau tidak bisa menjelaskan kepada mereka tentang kenikmatan, kelezatan, keindahan, kemuliaan, dan keagungan yang bakal engkau capai? Bagaimana engkau bisa menyadarkan khalayak ramai bahwa mereka tidaklah kembali ke surga yang penuh nikmat dan lezat, melainkan kembali kepada Dia yang tak bisa digambarkan?” “

Dengan uraian ini bukan berarti aku menempatkan Tarekat al-Akmaliyyah sebagai Tarekat yang khusus, apalagi lebih tinggi nilainya daripada Tarekat asy-Syatariyyah. Sekali-kali tidak demikian. Sepengetahuanku, Tarekat al-Akmaliyyah memang tidak pernah diajarkan secara terbuka, kecuali pada masa Husain bin Mansyur bin Muhammad al-Baidhawi al-Hallaj. Entah jika satu saat nanti Allah menghendaki-Nya,” ujar Abdul Jalil menjelaskan. “

Tapi Tuan Syaikh, bagaimana kami memberikan kemanfaatan Tarekat al-Akmaliyyah kepada khalayak ramai? Bukankah Tuan Syaikh telah mengajarkan kepada kami bahwa seorang salik yang telah mencapai tujuannya tetaplah harus meneladani Muhammad Saw, yakni tetap hidup di tengah masyarakat?” tanya Fadillah Ahmad. “

Ketahuilah, o Salik,” kata Abdul Jalil menguraikan, “bahwa menurut pemahaman Tarekat al-Akmaliyyah, dalam perjalanan ruhani menuju Dia pada hakikatnya terdapat empat tahapan. Pertama, perjalanan al-insan menuju al-Haqq (as-safar min al-insan ila al-Haqq). kedua, perjalanan di dalam al-Haqq (as-safar fi al-Haqq). ketiga, perjalanan kembali dari al-Haqq menuju al-insan bersama al-Haqq (as-safar min al-Haqq ila al-insan bi al-Haqq). keempat, perjalanan al-insan di tengah ciptaan bersama al-Haqq (safar al-insan fi al-khalq bi al-Haqq).” “

Dengan uraian ini, o Salik, jangan sekali-kali engkau bertanya soal manfaat dan kegunaan. Sebab, telah jelas pada paham ini bahwa barang siapa yang di dalam perjalanannya telah sampai kepada al-Haqq maka dia akan kehilangan keakuannya yang kerdil dan sempit. Itu berarti, dia tidak akan lagi berbicara tentang manfaat, keuntungan, kenikmatan, kelezatan, dan kemuliaan menurut akal pikiran dan hasrat hatinya. Artinya, dia yang telah sampai akan berada pada tingkatan tertinggi dari kepasrahan kepada-Nya. Wama tasya’una illa an yasya’a Allahu rabbu al-‘alamin!”

Pacific Ocean, bound for Tainan fm Hualien March, 9th 2007 21:45