Warisan Bani Adam

Sejak awal manusia diciptakan dan dikaruniai kemuliaan yang kepadanya malaikat diperintahkan bersujud, Allah telah menempatkan musuh utama baginya, yakni iblis. Dengan musuh itulah manusia setiap saat dapat terancam jatuh ke jurang kenistaan sebagai makhluk yang sederajat dengan iblis. Dan Adam, manusia pertama yang mulia yang disujudi malaikat, ternyata jatuh ke dalam lingkaran tipu daya iblis yang menyebabkannya terdepak dari kemuliaan surgawi ke kenistaan duniawi.

Fitrah Adam yang dicipta sesuai gambar Allah (khalaq al-insan ‘ala shurah ar-Rahman) sebagai makhluk sempurna (al-kamal), yang kepadanya ditiupkan ruh ilahiah (ruh al-haqq) dan dikaruniai kemuliaan untuk disujudi malaikat, ternyata hanya pencitraan yang bersifat nisbi. Artinya, saat iblis muncul dan berhasil memperdayanya maka citra ar-Rahman, al-Kamal, al-Haqq, al-Jalal, al-Jamal, dan berbagai kemuliaan-Nya yang melekat pada Adam terserap kembali kepada-Nya.

Keberadaan Adam beserta keturunannya tidaklah dimaksudkan lain, kecuali sebagai bukti kemuliaan dan kebesaran Allah, Azza wa Jalla, yang memiliki kehendak untuk diketahui keberadaan-Nya. Itu sebabnya, penciptaan Adam di antara berbagai makhluk tidaklah dimaksudkan untuk menandingi Allah, tetapi lebih sebagai citra Esa dari keberadaan diri-Nya. Karena itu, Adam beserta keturunannya hanya berhak menyandang gelar wakil Allah (khalifah Allah) yang kepadanya seluruh makhluk mengenal Kasih (ar-Rahman), Kemuliaan (al-Aziz), Keagungan (al-Jalal), Keindahan (al-Jamal), Kesempurnaan (al-Kamal), dan Kebenaran (al-Haqq) Sang Pencipta.

Jika Allah dilukiskan bersabda kepada malaikat tentang ciptaan-Nya yang paling mulia dan sempurna, Adam, maka kira-kira Dia akan bersabda:

“Ketahuilah, o malaikat-malaikat ciptaan-Ku, telah Aku ciptakan wakil-Ku (khalif) yang jasadnya terbuat dari bahan tanah. Jasad itu diolah oleh kedua belah tangan-Ku (al-Jalal dan al-Jamal). Setelah jasadnya terwujud sempurna (al-Kamal) seperti gambar-Ku (Shurah ar-Rahman) maka Aku tiupkan ruh-Ku ke dalam jasad wakil-Ku itu (QS al-Baqarah:30 Shad:71-72).”

“Ketahuilah, o malaikat-malaikat ciptaan-Ku, bahwa wakil yang kepadanya telah Aku tiupkan ruh-Ku itu akan mewarisi secara nisbi sebagian dari Nama (Asma’) dan Sifat (Shifat) serta perbuatan-Ku (Af’al). Wakil-Ku itu akan mewarisi Nama-Ku (Asma’), yaitu Yang Melihat (al-Bashir), Yang Mendengar (as-Sami’), Yang Mengetahui (al-Alim), Yang Merajai (al-Malik), Yang Agung (al-Jalal), Yang Indah (al-Jamal), Yang Sempurna (al-Kamal), dan Yang Benar (al-Haqq). Wakil-Ku itu juga mewarisi sifat kasih (ar-Rahman), sayang (ar-Rahim), mulia (al-Aziz), mengampuni (al-Ghaffar), dermawan (al-Bari’), bijaksana (al-Hakim), melindungi (al-Waly), dan sabar (ash-Shabur). Oleh karena itu, o malaikat-malaikat ciptaan-Ku, sujudlah engkau sekalian kepada wakil-Ku itu! Karena, sesungguhnya engkau sekalian tidak sujud kepada segumpal tanah yang aku bentuk dengan kedua belah tangan-Ku, melainkan engkau sekalian bersujud memuliakan Aku yang telah meniupkan ruh-Ku kepada segupal tanah itu. Adam itulah citra-Ku yang bisa engkau kenal. Dan engkau sekalian tidak akan mampu mengenal apalagi melihat hakikat Aku yang sesungguhnya.”

“Iblis pun tidaklah Aku cipta kecuali untuk meneguhkan keesaan Aku dalam Af’al, Asma’, Shifat, dan Dzat. Sungguh, iblis Aku cipta sebagai bukti bahwa wakil-Ku, Adam, hanyalah pewaris sebagian kecil Asma’, Shifat, dan Af’al-Ku. Dan lewat iblis jua sekalian makhluk ciptaan-Ku akan mengetahui bahwa wakil-Ku itu, Adam, adalah makhluk yang tidak sempurna, namun diliputi kesempurnaan. Lewat iblis, sekalian makhluk ciptaan-Ku mengetahui bahwa segala sesuatu yang Aku limpahkan kepada Adam adalah nisbi. Sungguh hanya Aku Yang Esa dan Mutlak.”

Dengan memahami keberadaan Adam dan iblis maka menjadi jelaslah bahwa iblis tidak boleh hanya dipandang sebagai musuh bebuyutan bagi Adam beserta keturunannya. Sebab, yang lebih mendasar untuk lebih dipahami dari keberadaan iblis adalah sebagai pengingat bahwa sebenar-benar ar-Rahman, ar-Rahim, al-Aziz, al-Ghaffar, al-Bari’, al-Waly, al-Hakim, ash-Shabur, al-Jalal, al-Jamal, al-Kamal, dan al-Haqq hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemuliaan hanyalah milik Allah. Yang wajib mutlak disujudi hanyalah Allah. Dan lantaran hanya sebagai wakil maka keturunan Adam hanya berhak menggunakan nama Abdur Rahman, Abdur Rahim, Abdul Aziz, Abdul Ghaffar, Abdul Bari’, atau Abdul Hakim.

Manusia sebagai keturunan Adam pada hakikatnya hanyalah sebatas citra kemuliaan yang semata-mata merupakan piranti untuk memuliakan dan mengagungkan-Nya; yang tinggi tidak akan ada jika yang rendah tidak ada. Dengan demikian, manusia bukanlah yang tertinggi, meski malaikat-malaikat diperintahkan sujud kepadanya.

Untuk memelihara kelestarian penauhidan terhadap Allah dan pembatasan terhadap Adam beserta keturunannya agar tidak memuliakan, mengagungkan, meninggikan, dan meyucikan dirinya sebagai pengejawantahan Allah, maka keberadaan iblis pun menjadi keharusan fundamental bagi kehidupan Adam beserta keturunannya. Maksudnya, kemuliaan dan keagungan yang tercurah kepada Adam beserta keturunannya senantiasa diikuti oleh kemunculan iblis dalam berbagai manifestasi. Iblis dalam berbagai bentuknya seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kemuliaan dan keagungan Adam beserta keturunannya.

Kisah tergelincirnya Adam dari kemuliaan dan keagungan akibat tipu daya iblis adalah bagian yang terus-menerus menjadi citra kehidupan keturunannya. Habil yang terkasih dan terpuji harus tersingkir oleh Qabil yang mengejawantahkan sifat iri hati dan dendam kesumat iblis. Kematian Habil bukanlah pertanda bagi kemenangan daya dan kekuatan iblis, melainkan semata-mata untuk meneguhkan keesaan Allah. Citra Habil sebagai anak Adam yang terkasih dan terpuji harus terhapus dari hati ayah, ibunda, dan saudara-saudarinya; hanya Allah saja Yang Mahakasih (Ar-Rahman) dan Maha Terpuji (al-Hamid).

Tak jauh berbeda dengan apa yang telah diwarisi Habil dan Qabil dari ayahanda mereka, Adam, yang kemuliaannya senantiasa terancam intaian kenistaan iblis, Abdul Jalil pun dalam meniti jalan kesempurnaan ruhani ternyata diintai oleh iblis yang mewujud dalam bentuk Ali Anshar at-Tabrizi. Laki-laki yang dikenalnya di Baghdad dan kemudian diketahui sebagai pengikut Syaikh Abdul Malik al-Baghdady itu ternyata memiliki aliran nasib yang tak jauh berbeda dengan Qabil. Bagaikan mengulang sejarah, Ali Anshar pun tanpa sadar telah terperosok ke dalam lingkaran kuasa iblis.

Sebagaiman peristiwa Qabil dan Habil, perseteruan antara Ali Anshar dan Abdul Jalil diawali dengan keberuntungan dan kemuliaan yang diperoleh Abdul Jalil menyunting Fatimah, puteri Syaikh Abdul Malik al-Baghdady. Pernikahan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan itu ternyata telah menumbuhkan benih-benih kekecewaan di dalam hati Ali Anshar.

Benih kekecewaan yang tumbuh di hati Ali Anshar semestinya akakn kering dan mati jika ia memiliki kebesaran jiwa dan iman yang kuat untuk memasrahkan segala urusan yang menimpanya kepada Allah. Namun, Ali Anshar ternyata tidak mampu menerima kekecewaan. Dia seolah-olah lupa bahwa segala yang terjadi di alam semesta baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan adalah semata-mata kehendak Allah.

Berawal dari kekecewaan ini, Ali Anshar pun pada gilirannya terjerat oleh jaring-jaring ilusi yang ditebar iblis. Tanpa disadari dan tanpa dipikir lagi secara jernih, jaring-jaring ilusi iblis di dalam dirinya telah memerangkap kesadarannya untuk memasuki lorong gelap yang membawanya ke hamparan jiwa berwujud tanah berlumpur yang dilingkari sumur api.

Di tengah hamparan itu Ali Anshar mengalami peristiwa yang aneh dan menakjubkan, terutama yang terkait dengan Abdul Jalil. Entah bagaimana awalnya, setiap kali dia menangkap citra diri Abdul Jalil di cakrawala ingatannya maka seluruh sumur di hamparan jiwanya mengobarkan api yang luar biasa dahsyat. Seiring kobaran api dahsyat itu, ikut terbakarlah seluruh hamparan dan lorong-lorong jiwanya.

Keberadaan Abdul Jalil yang semula hanya berupa lintasan ilusi yang tidak menyenangkan, karena ia merupakan pangkal dari segala kekecewaan Ali Anshar, secara berangsur-angsur berubah menjadi benih tumbuhan aneh yang mengerikan. Pada awalnya Ali Anshar hanya menganggap bahwa tanpa kehadiran Abdul Jalil, tentulah ia tidak akan menuai kekecewaan yang sedemikian rupa pahitnya. Namun, lama-kelamaan benih tanaman aneh itu tumbuh berwujud pohon iri hati dengan cabang-cabang kebencian, ranting-ranting kedengkian, daun-daun ‘ujub, bunga-bunga takabur, dan buah dendam kesumat.

Sebagai pengikut Syi’ah yang mendukung gerakan Safawy dan selama bertahun-tahun setia kepada Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, Ali Anshar yang dikenal ramah, santun, berpengetahuan luas, dan memiliki wawasan yang mendalam tentang kehidupan tiba-tiba berubah menjadi sosok menakutkan. Kekecewaan, iri hati, benci, dengki, ‘ujub, takabur, dan dendam kesumat telah mengubahnya menjadi makhluk jahat yang mungkin tidak dikenali bahkan oleh dirinya sendiri.

Jika pada awalnya dia hanya merasa betapa semua harapannya untuk memiliki Fatimah dan menjadi bagian keluarga mulia Syaikh Abdul Malik al-Baghdady telah pupus, maka berikutnya dia merasa harga diri dan kehormatannya telah diinjak-injak dan dihinakan. Namun, dia tidak berani menuduh bahwa Syaikh Abdul Malik al-Baghdadylah sumber petaka itu. Sebaliknya, dia menduga Abdul Jalil telah menipu dan bahkan mungkin menggunakan sihir untuk mempengaruhi Syaikh Abdul Malik al-Baghdady.

Bagaimana mungkin Abdul Jalil yang tidak jelas galur nasabnya itu tiba-tiba bisa masuk ke dalam keluarga Syaikh Abdul Malik? Bagaimana mungkin Abdul Jalil yang sebelumnya tak pernah dikenal itu mendadak bisa menjadi menantu Syaikh Abdul Malik yang terhormat? Jika tanpa tipuan atau pengaruh ilmu sihir mana mungkin ia bisa menipu Syaikh Abdul Malik?

Berangkat dari rasa penasaran, iri hati, benci, dan dendam kesumat, Ali Anshar tidak lagi menyadari apa yang sedang dialaminya. Dia hanya merasakan betapa seluruh aliran darahnya terbakar hebat setiap kali melihat Abdul Jalil. Dadanya terasa sesak. Matanya pedih. Giginya bergemerutuk. Seolah-olah melihat dirinya terkapar bagai bangkai anjing najis yang tidak berharga. Saat seperti itu dia hanya melihat satu kemungkinan untuk mengubah keadaan dirinya yang terhinakan itu, yakni membuat Abdul Jalil celaka dan sengsara melebihi dirinya. Bahkan tidak cukup sampai di situ, dia menginginkan Abdul Jalil lenyap dari muka bumi dan tenggelam ke dasar neraka jahanam.

Ali Anshar benar-benar menjelma sebagai iblis berwujud manusia. Tidak ada hari yang terlewatkan tanpa membayangkan Abdul Jalil. Benaknya seolah penuh berisi sosok Abdul Jalil dalam berbagai keadaan yang hina dan nista. Malah dalam doa-doanya tak pernah luput nama Abdul Jalil disebut dengan getar kebencian tanpa tepi. Dalam amalan-amalan hizb yang dibacanya senantiasa tersangkut nama Abdul Jalil sebagai sasaran bidik yang harus binasa. Singkatnya, seolah-olah mewarisi permusuhan Qabil dan Habil, dia telah membulatkan tekad untuk menjadikan Abdul Jalil sebagai satu-satunya musuh terbesar yang wajib dibinasakan.

Sebenarnya, ayahanda mertua Abdul Jalil telah mengetahui bara api yang berkobar di hati Ali Anshar karena hasrat cintanya kepada Fatimah tidak kesampaian. Sebagai seorang wali Allah, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady paham benar betapa berbahayanya jiwa Ali Anshar yang sudah dikuasai nafsu setani. Itu sebabnya, dengan penuh kebijakan dia perintahkan Abdul Jalil secepatnya pergi dari Baghdad ke negeri Jawy.

Abdul Jalil sendiri baru menangkap upaya bijak mertuanya yang ingin menghindarkannya dari api dendam Ali Anshar setelah berbincang-bincang dengan Ahmad at-Tawallud. Sahabatnya itu bahkan dengan tegas mengingatkannya pada bahaya Ali Anshar.

Sekalipun demikian, Abdul Jalil tidak pernah menghiraukan apalagi memberi kesempatan bagi pikirannya untuk menilai sepak terjang Ali Anshar. Ia tidak ingin membiarkan pikirannya terbawa oleh kumparan kecurigaan dan prasangka-prasangka. Ia tidak mau hati dan pikirannya disemayami bayangan manusia bernama Ali Anshar. Ia pasrahkan semua yang berkenaan dengan keberadaan dirinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ali Anshar sendiri tampaknya sudah tidak mampu mengendalikan iri hati, benci, dan dendamnya. Itu sebabnya, saat Abdul Jalil meninggalkan Baghdad, diam-diam dia mengikuti ke mana pun musuh besarnya itu pergi. Bagaikan memiliki penglihatan batin yang tajam, dia seolah-olah mengetahui di mana pun Abdul Jalil berada. Dan lantaran itu, saat Abdul Jalil menikahi Shafa binti Adamji Muhammad, dia menyambutnya dengan penuh sukacita. Kemudian lewat seorang pendukung Safawy yang akan ke Baghdad, dia menitipkan pesan agar berita pernikahan Abdul Jalil disebarluaskan di lingkungan keluarga Syaikh Abdul Malik al-Baghdady.

Tidak cukup mengawasi semua gerak-gerik Abdul Jalil selama di Gujarat, dia juga telah menebarkan fitnah di kalangan kaum Ismailiyyah Gujarat. Dikatakannya bahwa Abdul Jalil adalah nawasib (pemberontak) yang berasal dari golongan Khawarij yang ditugaskan menyusup ke kalangan penganut Syi’ah untuk memecah-belah golongan Alawiyyin dari dalam. Lantaran fitnah itu maka ke mana pun Abdul Jalil pergi menyampaikan risalah kebenaran Islam di Gujarat, ia senantiasa di kuntit oleh pengikut Ismailiyyah. Dan melihat isi dari khotbah yang disampaikan Abdul Jalil, yang intisarinya mengungkapkan kesadaran bahwa setiap manusia pada dasarnya adalah sama dan sederajat sebagai Bani Adam; tidak boleh ada manusia atau kelompok yang meninggikan diri dan merendahkan manusia atau kelompok lain; seluruh manusia berhak menjadi Adam Ma’rifat, al-Insan al-Kamil; dan pengakuan terhadap keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; maka kaum Ismailiyyah pun makin yakin dengan kebenaran fitnah Ali Anshar.

Sebenarnya, beberapa pengikut Ismailiyyah di Gujarat telah merencanakan pembunuhan terhadap Abdul Jalil. Namun tanpa diduga, beberapa hari setelah putera Abdul Jalil lahir ke dunia, ia pergi meninggalkan Gujarat. Rencana pembunuhan itu pun tertunda karena Abdul Jalil diketahui memasuki wilayah Deccan yang sedang bergolak akibat Adil Shahi, Raja Bijapur yang menganut paham Syi’ah Isna Asyariyah, berusaha memisahkan wilayahnya dari Deccan. Namun, Ali Anshar tidak surut langkah. Dia terus mengintai dan mengikuti ke mana pun Abdul Jalil pergi.

Ketika Abdul Jalil tiba di wilayah Deccan, Ali Anshar menghubungi sejumlah pengikut Syi’ah Isna Asyariyah yang dikenalnya. Kepada mereka, dia mengatakan bahwa Abdul Jalil adalah seorang Alamutiah sisa-sisa pengikut Hasan bin Muhammad Sabbah al-Himyari. Abdul Jalil, menurut fitnah itu, merupakan malahidah (ateis) yang bersembunyi di belakang paham Ghalliah (Syi’ah Ghullat) yang mengajarkan kepercayaan tentang penitisan, Muhammad adalah penjelmaan Allah, dan menyesuaikan doktrin tritunggal Nasrani menjadi pancatunggal (Muhammad – Ali – Fatimah – Hasan – Husain). Kehadiran Abdul Jalil di wilayah Deccan semata-mata untuk merusak tata kehidupan masyarakat pecinta Ahlul Bait.

Selain fitnah, dia juga menyebarkan berita buruk tentang Abdul Jalil kepada sejumlah pejabat Deccan yang setia kepada Brahmani. Dikatakannya bahwa Abdul Jalil adalah pengikut Sultan Umar Syaikh Mirza, penguasa kerajaan Farghana. Abdul Jalil membawa misi sultan keturunan Timur I Lenk itu untuk memecah-belah kekuasaan raja-raja Muslim di selatan, termasuk Deccan.

Ali Anshar yang memiliki pengetahuan luas dengan mudah meyakinkan pejabat-pejabat Deccan dengan mengajukan bukti-bukti tentang adanya tengara bahwa Adil Shahi ingin memisahkan diri dari Deccan untuk menjadi raja Bijapur. Jika hal itu dibiarkan maka kekuasaan dinasti Bahmani akan hancur dalam tempo lima belas tahun mendatang. “Setelah Berar dan Bijapur lepas, bagaimana jika Golkunda, Ahmadnagar, Bidar, Gulbarga, dan Raicur ikut-ikutan memisahkan diri? Bukankah itu akan membuat dinasti Bahmani hancur berkeping-keping karena semuanya ingin menjadi raja sendiri-sendiri di wilayahnya?”

Untuk membuktikan kebenaran informasi yang disampaikan Ali Anshar, pejabat-pejabat Deccan mengirimkan beberapa kurir untuk mengawasi gerak-gerik Abdul Jalil dan pandangan-pandangannya yang dianggap membahayakan kerajaan. Dan keterangan yang disampaikan oleh Ali Anshar benar-benar ditangkap sebagai kebenaran oleh para pejabat Deccan setelah mereka mendapat laporan dari para kurir. “

Kepada kaum Muslimin, mualaf, dan dari kalangan berkasta rendah, Abdul Jalil jelas-jelas telah membakar semangat perlawanan mereka terhadap raja. Ia bercerita tentang raja tua bangka yang tetap dipertahankan menduduki takhtanya karena para pelayan dan pengawal raja tua bangka itu bermental budak. Itu yang saya ketahui tentang pengacau bernama Abdul Jalil, Tuanku,” kata kurir itu menjelaskan.

Bagi sebuah dinasti yang berusia hampir satu setengah abad, kekuasaan Bahmani atas wilayah Deccan memang semakin merosot. Korupsi di kalangan pejabat berlangsung semena-mena. Keamanaan rakyat tidak terjamin. Kemakmuran makin jauh. Pada saat seperti itu, fitnah dan adu domba berlangsung sangat mengerikan karena bermuara pada terciptanya kerusuhan yang berujung pada kematian dan kerusakan. Pihak kerajaan sendiri tidak mampu lagi bersikap arif dalam mengatasi perubahan-perubahan. Yang terjadi justru sebaliknya, pihak kerajaan menjadi sangat sensitif dan penuh curiga terhadap berita dan laporan yang acap kali hanya didasarkan pada prasangka-prasangka dan bahkan fitnah.

Abdul Jalil harus menghadapi ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya. Ali Anshar yang mewarisi naluri leluhurnya, Qabil, telah memasang perangkap yang mematikan. Jika Qabil membunuh saudaranya, Habil, dengan kedua tangannya sendiri, maka Ali Anshar akan membunuh Abdul Jalil melalui kecerdikan akalnya dengan menggunakan tangan orang lain, yakni tangan kekuasaan penguasa Deccan.

Angin laut berhembus di antara rumah-rumah yang berdiri di pelabuhan Goa ketika seseorang memacu kudanya menembusi keremangan malam. Di tengah kelengangan suasana, kemunculan penunggang kuda itu menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Saat sampai di depan sebuah rumah besar yang berdiri di pertigaan jalan ke arah pelabuhan dan pasar, penunggang kuda itu berhenti dan melompat turun dengan sigap. Tanpa menambatkan kudanya, dia langsung bergegas masuk lewat pintu belakang.

Ramchandra Gauranga, saudagar asal Khozikode (Calicut), pemilik rumah, saat itu sedang berbincang-bincang dengan tamunya ketika pelayannya memberi tahu kedatangan sang penunggang kuda yang tidak lain adalah kurirnya. “Suruh dia menunggu sebentar,” perintahnya.

Setelah berpamitan pada tamunya, ia bergegas ke belakang. Namun, tak lama kemudian ia tergopoh-gopoh menemui tamunya sambil berkata, “Celaka Tuan Abdul Malik, pasukan kerajaan baru saja masuk ke gerbang utara kota Goa. Kata kurir saya, mereka mancari Tuan Abdul Jalil yang dituduh bersekongkol dengan gerakan pemberontakan Yang Mulia Adil Shahi. Celakanya lagi, mereka tahu bahwa Tuan Abdul Jalil besok pagi akan menumpang kapal saya ke Malaka.”

Abdul Malik Israil, tamu Ramchandra Gauranga, menegrutkan kening sambil menggumam, “Dari mana mereka tahu Abdul Jalil akan naik kapal Tuan?”

“Itulah persoalannya, Tuan,” kata Ramchandra Gauranga dengan kening dipenuhi keringat dingin. “Pasukan itu pasti akan mengobrak-abrik seluruh tempat di Goa, termasuk kapal-kapal yang akan berangkat besok pagi, utamanya kapal saya.”

“Jikalau demikian, keberangkatan sahabat saya, Abdul Jalil, dan cucu saya harus dibatalkan. Saya tidak mau Tuan menerima akibat dari sesuatu yang tidak Tuan lakukan. Saya tidak ingin Tuan kecewa karena iktikad baik Tuan ternyata berbuah kesusahan,” ujar Abdul Malik Israil.

“Tuan dan sahabat serta cucu Tuan dapat berlindung di rumah saya di Bijapur. Di sana pasukan kerajaan tidak akan berani masuk karena seluruh warga Bijapur sydah memihak kepada Yang Mulia Adil Shahi. Biar nanti kurir saya yang mengantarkan Tuan ke sana,” tawar Ramchandra Gauranga.

“Terima kasih atas kebaikan hati Tuan,” kata Abdul Mailk Israil, “namun saya akan menemui sahabat dan cucu saya lebih dulu. Sekali lagi, terima kasih atas kebeikan Tuan yang sangat peduli kepada kami.”

“Itu sudah kewajiban saya sebagai kawan,” kata Ramchandra Gauranga sambil memeluk dan menepuk-nepuk bahu Abdul Malik Israil.

Setelah berpamitan, Abdul Malik Israil bergegas keluar rumah. Seorang pelayan mengantarkannya sampai ke pintu belakang. Kemudian dengan langkah cepat dia bergerak ke arah selatan, menembus keremangan malam.

Setelah beberapa jenak berjalan, tepat di tikungan dekat pasar dia bertemu dengan Abdul Jalil, Syarif Hidayat, dan Fadillah Ahmad. Rupanya, saat Abdul Malik Israil bertamu ke rumah Ramchandra Gauranga untuk menegaskan keberangkatan mereka ke Malaka esok pagi, ketiganya menunggu di pinggir jalan. Abdul Jalil tampaknya sudah menangkap gelagat tidak baik jika ia juga ikut bertamu. Itu sebabnya, ia memilih menunggu di luar.

Berita yang dibawa Abdul Malik Israil bahwa pasukan dari Deccan telah masuk ke gerbang utara kota Goa untuk mencari Abdul Jalil diterima dengan tarikan napas berat. Setelah berdiam beberapa jenak, ia kemudian berkata dengan suara datar, “Andaikata aku ikut ke rumah Ramchandra, kenalan saudaraku Malik Israil, tentulah dia akan menerima musibah dari kehadiranku. Dia akan celakan oleh sesuatu yang dianggapnya baik, yaitu menolong orang yang membutuhkan bantuannya. Namun, Allah Maha Mengatur semuanya.”

“Ramchandra tadi menawari aku untuk berlindung di rumahnya di Bijapur,” kata Abdul Malik Israil. “Menurutnya, pasukan kerajaan tidak berani melakukan tidakan apa-apa di wilayah kekuasaan Adil Shahi.”

“Ramchandra memang orang baik,” kata Abdul Jalil. “Namun, demi kebaikan bersama maka kita harus menolak tawarannya. Sebab, jika kita menerima kebaikannya itu, tidak ada yang menjamin bahwa Ramchandra tidak bakal menemui kesulitan dengan kaki tangan Adil Shahi.”

“Aku juga berpikir demikian,” sahut Abdul Malik Israil, “karena bagaimana pun, Ramchandra adalah saudagar asal Calicut. Dia warga Wijayanagar dan beragama Hindu. Selama ini ia tinggal di Goa karena mendapat perintah dari permaisuri untuk mengawasi Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri, putera Maharaja Wijayanagar, yang meninggalkan istana dan menjalani hidup sebagai brahmin gelandangan.”

Ketika Abdul Malik Israil hendak melanjutkan kata-kata, tiba-tiba dari arah utara terdengar hingar-bingar memecah kegelapan. Makin lama suara itu makin mendekat.

“Itu pasti suara pasukan kuda kerajaan,” kata Abdul Jalil.

“Ya, itu suara derap ladam kuda,” kata Abdul Malik Israil.

“Tuan Syaikh,” Fadillah Ahmad menyela dengan suara bergetar, “kita harus pergi dari sini sebelum pasukan kerajaan menemukan Tuan.”

Abdul Jalil diam seolah tidak menghiraukan ucapan Fadillah Ahmad. Sebaliknya, ia bersujud ke hamparan jalan berdebu sambil menggumam lirih, “Ya Allah, jika Engkau hendak menguji hamba dengan rasa takut maka hamba memohon kepada-Mu agar hamba senantiasa dikuatkan dan diteguhkan dalam keberanian. Sungguh, hanya Engkau yang hamba takuti. Hamba yakin pasukan-pasukan berkuda itu hanya ‘alat’ yang Engkau jadikan sarana untuk menguji iman hamba.”

Beberapa jenak bersujud, Abdul Jalil lantas berdiri. Ia menyaksikan Fadillah Ahmad tegak di depannya dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Abdul Jalil tersenyum. Kemudian dengan suara mantap ia menyitir ayat-ayat Al-Qur’an, “Sungguh Allah akan memberikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan jiwa ....... Sampaikan kabar gembira bagi mereka yang sabar, yaitu mereka yang jika ditimpa musibah mengucapkan inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un (QS al-Baqarah:155-156). Bagaimana manusia bisa digolongkan sebagai orang sabar sehingga dapat bersama-sama dengan ash-Shabur, jika kiblat hati dan pikirannya berubah arah hanya dikarenakan munculnya manusia-manusia penunggang kuda yang mencari orang di dekatnya?”

“Tuan Syaikh, maafkan saya,” kata Fadillah Ahmad dengan bibir bergetar dan suara terbata-bata, “Saya paham bahwa Tuan Syaikh telah mengenal Allah lebih dari saya. Tuan Syaikh telah membuktikan keberadaan Allah. Karenaitu, kiblat hati dan pikiran Tuan tidak berubah arah ketika Tuan menghadapi ujian yang berat dari-Nya. Tetapi saya, Tuan Syaikh, saya hanya kenal Allah dari cerita ayah, ibu, guru mengaji, kawan-kawan, dan dari Tuan Syaikh sendiri. Jujur saja saya katakan bahwa saya masih sering ragu dan melupakan keberadaan Allah. Saya masih terpengaruh oleh segala sesuatu di sekitar saya yang bisa ditangkap indera. Sementara Allah, hanya saya kenal dari dalil-dalil kitab yang saya baca. Itu sebabnya, o Tuan Syaikh, sekarang ini saya benar-benar takut mendengar kabar bahwa pasukan kerajaan sedang mencari Tuan. Maafkan saya, Tuan Syaikh.”

Badul Jalil tersenyum mendengar kepolosan Fadillah Ahmad. Tanpa berkomentar apa pun, kembali ia menyitir ayat-ayat Al-Qur’an, “Sungguh engkau akan diuji dengan harta dan jiwamu (QS Ali Imran:186). Jika Allah menghendaki, niscaya Allah akan menghancurkan mereka, namun Allah hendak menguji sebagian engkau dengan sebagian yang lain (QS Muhammad:4). Janganlah engkau takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan agar engkau mendapat petunjuk (QS al-Baqarah:150).”

“Janganlah rasa takut terhadap sesuatu selain Allah membuatmu kehilangan keyakinanmu kepada-Nya. Janganlah engkau mengikuti jejak murid Nabi Isa yang karena rasa takutnya tak terkendali ketika pasukan kerajaan mencari gurunya maka sebelum ayam berkokok dia telah mengingkari gurunya tiga kali. Sebaliknya, ikutilah jejak sahabat Abu Thalhah yang menyediakan dadanya untuk melindungi Rasulullah Saw. dari panah musuh saat perang Uhud. Ikuti juga jejak Abu Dujanah yang melindungi Rasulullah Saw. dengan menyediakan punggungnya sebagai perisai untuk panah-panah yang dibidikkan musuh!”

“Tapi, dengan cara bagaimana saya mengatasi rasa takut ini, o Tuan Syaikh?” Fadillah Ahmad terbata-bata.

“Duduklah!” kata Abdul Jalil menekan bahu Fadillah Ahmad ke bawah.

Fadillah Ahmad yang tertekan bahunya langsung duduk bersila dengan dada turun naik menahan gejolak perasaan.

“Pejamkan matamu!” kata Abdul Jalildengan suara ditekan. “Atur napasmu! Tutup telinga inderamu dari mendengar sesuatu di sekitarmu! Arahkan kiblat kesadaran hati dan pikiranmu ke cahaya di antara kedua matamu sebagaimana yang telah aku ajarkan!”

Fadillah Ahmad mengikuti perintah Abdul Jalil.

Setelah melihat Fadillah Ahmad tenggelam dalam konsentrasi, Abdul Jalil mendekati Syarif Hidayat dan berkata, “Apakah engkau tidak takut, Anakku?”

“Saya tadi sempat takut, Paman,” kata Syarif Hidayat polos, “namun sekarang tidak lagi. Rasa takut saya sudah hilang.”

“Kenapa?” tanya Abdul Jalil.

“Karena saya segera sadar bahwa saya sekarang ini bersama Paman dan Kakek saya, yaitu orang-orang yang dicintai Allah. Jadi, saya sangat yakin Allah pasti akan menolong Paman dan Kakek saya,” kata Syarif Hidayat.

Abdul Jalil tertawa. Abdul Malik Israil juga tertawa.

Sementara itu, pasukan berkuda kerajaan yang telah sampai di pertigaan jalan berpencar menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bergerak ke arah pelabuhan. Kelompok kedua bergerak menuju pasar.

Syarif Hidayat, yang melihat betapa pasukan berkuda itu bergerak ke arah mereka, segera berseru, “Paman! Kakek! Orang-orang berkuda itu ke sini!”

Abdul Malik Israil menoleh ke arah pertigaan jalan. Dengan cepat dia menggandeng tangan Syarif Hidayat dan mengajaknya ke lorong yang memisahkan deretan rumah dengan pasar. Sementara Abdul Jalil dengan tenang menunduk sambil menepuk bahu Fadillah Ahmad dan menggumam, “Bangunlah!”

Fadillah Ahmad membuka mata sambil berkata, “Rasa takut saya sudah agak berkurang, Tuan Syaikh.”

“Kalau begitu, ikuti aku!” kata Abdul Jalil menarik tangan Fadillah Ahmad dan mengajaknya berjalan ke arah lorong mengikuti jejak Abdul Malik Israil dan Syarif Hidayat.

Dari dalam lorong yang gelap, dengan jelas mereka menyaksikan pasukan berkuda itu bergerak di jalan yang jaraknya hanya tujuh tombak dari persembunyian mereka. Saat itulah Fadillah Ahmad menyaksikan pedagang budak, yang kemarin dilihatnya duduk di kereta, ada bersama para penunggang kuda.

“Bukankah itu pedagang budak yang Tuan Syaikh tunjukkan kepada saya?” gumamnya dengan kening berkerut bercampur terkejut.

Abdul Jalil mengangguk sambil memberi isyarat agar diam. Fadillah Ahmad terdiam. Namun, dalam hati dia membenarkan ucapan guru ruhaninya itu, betapa pedagang budak itu pada hakikatnya memang bukan saudara sesama pemuja Allah. Entah untuk alasan duniawi apa sehingga pedagang budak itu ikut bersama pasukan kerajaan mencari gurunya.

Ketika sedang memikirkan kebenaran demi kebenaran yang telah diungkapkan oleh Abdul Jalil, tiba-tiba saja ia merasakan denyut jantungnya lenyap tatkala pasukan berkuda itu berhenti tepat di depan pasar dekat dengan tempat persembunyian mereka. Darahnya serasa berhenti mengalir. Dadanya bagai lautan diaduk gelombang yang mengguncangkan jiwa. Namun, cepat-cepat ia menarik napas untuk meneguhkan keberanian. Ia berusaha membulatkan tekad untuk menghadapi bahaya apa pun bersama dengan gurunya.

Beberapa jenak setelah pasukan berkuda itu berhenti, tiba-tiba pemimpin pasukan yang berada di barisan paling depan mengangkat pedangnya ke atas. Kemudian dengan teriakan keras dan tudingan ke arah depan, menghamburlah pasukan berkuda ke arah pasar dan rumah-rumah di sekitarnya. Bagaikan kawanan pemburu mengejar mangsa yang tersembunyi di semak-semak belukar, mereka mengobrak-abrik seluruh isi pasar dan dengan beringas menggedor setiap pintu rumah.

Di tengah hujaman rasa takut dan gentar, tanpa sadar Fadillah Ahmad memejamkan mata dengan perasaan panik ketika dia melihat beberapa penunggang kuda bergerak ke arah lorong. Dia genggam lengan Abdul Jalil erat-erat dan menahan napas ketika telinganya mendengar detak ladam kuda makin mendekat. Kelebatan bayangan prajurit-prajurit ganas yang mengerikan memasuki benaknya ganti-berganti, makin membuatnya tegang dan panik.

Ketika jarak mereka tinggal satu tombak, terdengar salah seorang prajurit berseru keras, “Itu dia yang kita cari. Tangkap! Tangkap!”

Dalam sekejap para penunggang kuda berhamburan. Bukan ke arah lorong, melainkan ke arah pasar. Mereka berteriak-teriak keras. Abdul Jalil dengan sigap menutup mulut Fadillah Ahmad yang hendak memekik dengan tangan kanannya. Suara caci maki dan detak ladam kuda sahut-menyahut dan sela-menyela, membelah keheningan malam.

“Seret dia kemari!”

“Cari kawannya!”

“Pancung saja kepalanya!”

“Gantung di gerbang kota biar jadi contoh yang lain.”

“Ayo menyebar! Cari kawan-kawannya!”

Fadillah Ahmad yang masih memejamkan mata sudah membayangkan bagaimana guru yang dimuliakannya itu ditangkap dan diseret beramai-ramai oleh orang-orang berkuda. Dia bayangkan betapa dengan keganasan tiada tara gurunya dihajar dan dicambuk hingga tersungkur ke tanah. Diterkam oleh lintasan-lintasan bayangan yang berkelebatan memasuki benaknya dia pun nekat membela gurunya. Namun, saat dia meronta dan membuka matanya, sadarlah dia bahwa guru mulia yang dihormatinya itu masih berada di sisinya. Dia baru sadar jika tangannya menggenggam erat-erat lengan gurunya.

“Siapakah yang ditangkap, Tuan Syaikh?” kata Fadillah gemetar.

“Dia berteriak-teriak, mengaku pencuri,” sahut Abdul Jalil.

Fadillah Ahmad menarik napas lega. Namun, sedetik sesudah itu ketegangan kembali merayapi aliran darahnya ketika seorang penunggang kuda menuju ke arah lorong persembunyiannya sambil berteriak-teriak. Tidak bisa tidak, serunya dalam hati, dia pasti akan menemukan kami karena lorong ini satu arah.

Saat penunggang kuda sudah berada di ujung lorong, muncul bayangan manusia berkelebat. Sekejap kemudian, di antara keremangan, tampaklah sosok Brahmin yang dengan tegar berdiri menghadang penunggang kuda. Samar-samar terlihat brahmin itu menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah menyuruh penunggang kuda berbalik arah. Anehnya, bagai tersihir, penunggang kuda itu menarik kendali kudanya, tidak jadi masuk ke lorong.

Beberapa jenak setelah berdiri di ujung lorong, Brahmin itu membalikkan badan dan melangkah ke dalam. Dengan sikap tidak peduli dia berjalan dengan langkah lebar. Ketika malewati Abdul Jalil, brahmin itu berkata dengan suara dingin, “Ikutilah saya jika Tuan-Tuan ingin selamat dari terkaman hewan-hewan pemangsa yang buas itu.”

Dengan beriringan mereka mengikuti langkah Brahmin yang berjalan cepat menembusi kegelapan lorong. Ketika sampai di ujung lorong yang mengarah ke pantai, dia menghentikan langkah. Kemudian dengan isyarat tangan, dia memerintahkan agar semuanya merunduk. Rupanya, empat orang penunggang kuda sedang melintas di depan jalan.

Ketika penunggang kuda paling belakang sudah berlalu, Brahmin dengan cepat berlari ke seberang jalan sambil tangannya memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Abdul Jalil dan yang lainnya bergegas mengikuti Brahmin yang begitu sampai di seberang jalan, bayangannya langsung menghilang. Ternyata di sana terdapat parit kering yang menuju ke arah laut. Melalui parit itulah mereka sampai di pantai selatan pelabuhan Goa.

Setelah sekitar seperempat jam berjalan, sampailah mereka di suatu tempat yang ditumbuhi pohon-pohon Chatka dan Saptaparna. Di tempat itu telah menunggu tiga laki-laki berkulit legam yang membawa lima ekor kuda. Ketiga orang itu rupanya adalah pengikut Brahmin. Itu terlihat dari sikap mereka yang sangat hormat kepadanya.

Brahmin yang kemudian dikenali oleh Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil sebagai Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri, tanpa berkata sesuatu mempersilakan mereka menaiki kuda. Namun, Abdul Jalil tidak segera naik, sebaliknya ia melangkah mendekat sambil berkata lirih, “Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri yang telah menolong kami.”

“Tuan mengenal saya?” tanya Brahmin mengerutkan kening. “Apakah Tuan diberi tahu oleh Ramchandra Gauranga?”

“Sejak pertama kali melihat Tuan duduk di pertigaan jalan, saya telah mengenali siapa Tuan sebenarnya,” kata Abdul Jalil menjabat tangan Brahmin, “yaitu, seorang manusia yang jauh lebih agung dan lebih mulia daripada takhta yang ditinggalkannya. Bahkan saat Tuan barusan tadi menyebut penunggang kuda itu dengan sebutan hewan pemangsa yang buas, saya makin yakin bahwa Tuan benar-benar telah melihat kenyataan bahwa para penunggang kuda itu adalah manusia-manusia yang mengerikan karena mereka membawa hewan buas pemangsa di dalam diri mereka. Tuan telah “terbangun” dari tidur sesaat di dunia ini dan menyaksikan kenyataan yang sebenarnya dari kehidupan ini.”

Brahmin tercengang makna-makna di balik pembicaraan Abdul Jalil. Itu sebabnya, dengan pandangan tajam dia menatap mata Abdul Jalil seolah ingin mengukur kedalaman jiwanya. Namun, setelah beberapa jenak dia tertawa terkekeh-kekeh dan merangkul erat-erat Abdul Jalil sambil menggumam, “Pantas saja hati saya tergerak untuk menolong Tuan, ternyata Tuan bukanlah orang lain, melainkan diri saya sendiri yang terpisah karena kehendak-Nya.”

Fadillah Ahmad, Syarif Hidayat, dan ketiga orang berkulit hitam itu tercengang keheranan melihat adegan aneh itu. Mereka benar-benar tidak bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi, terutama ketika mendengar isi pembicaraan keduanya. Bahkan yang paling takjub adalah ketiga orang berkulit hitam yang sepanjang hidupnya belum pernah melihat junjungannya itu tersenyum apalagi tertawa. Lantaran itu, mereka bertiga merasakan seolah-olah sedang bermimpi.

Pembicaraan yang akrab dan aneh antara Abdul Jalil dan Bharatchandra Jagaddhatri ternyata tak berlangsung lama. Sebab, dari arah utara terdengar suara hingar-bingar suara derap kaki kuda dan jeritan sahut menyahut dari para penunggangnya.

“Perahunya di mana, Tamrej?” seru Brahmin kepada salah seorang lelaki berkulit hitam yang bertubuh paling tinggi.

“Di pantai Karwar, Yang Mulia,” sahut Tamrej takzim.

“jauh sekali.”

“Tero, teman hamba, tidak berani berlabuh dekat Goa,” kata Tamrej.

“Jika begitu, larilah engkau dan kawan-kawanmu ke arah pantai. Biar aku akan mengalihkan perhatian mereka,” kata Bharatchandra Jagaddhatri tegas.

Dengan penuh takzim Tamrej dan kedua kawannya melakukan anjali (menghormat dengan dua tangan seperti menyembah) kepada Bharatchandra Jagaddhatri. Kemudian bagaikan terbang, mereka melesat ke arah pantai yang menuju Karwar. Dalam tempo singkat, mereka telah hilang ditelan kegelapan malam.

“Saudaraku,” seru Bharatchandra Jagaddhatri kepada Abdul Jalil, “cepatlah berpacu ke arah selatan dengan menyisir pantai. Perahu yang akan membawamu ke Calicut sudah menunggu di sana. Cepatlah! Tero sudah menunggumu!”

Abdul Jalil menarik napas berat sambil menatap dalam-dalam mata Bharatchandra Jagaddhatri. Ada semacam rasa berat menggelayuti hatinya. Namun, dengan terpaksa ia menaiki kudanya.

Saat ia baru saja duduk di atas pelana, tiba-tiba Bharatchandra Jagaddhatri menepuk keras pantat kuda yang ditungganginya. Merasa kaget, kuda Abdul Jalil melonjak dan meringkik, kemudian melesat ke arah selatan dengan membawa penunggangnya. Abdul Malik Israil, Syarif Hidayat, dan Fadillah Ahmad yang sudah menunggu, secara serentak memacu kudanya mengikuti Abdul Jalil.

Bharatchandra Jagaddhatri ternyata tidak kehilangan kemampuannya menunggang kuda, meski dia telah bertahun-tahun hidup sebagai brahmin. Dengan gesit dia melompat ke atas punggung kuda dan kemudian memacunya dengan gerakan melingkar dan berputar-putar. Bharatchandra Jagaddhatri seolah-olah menunggu kehadiran pasukan pemburu Abdul Jalil.

Beberapa jenak menunggu, dia melihat bayangan tujuh ekor kuda beserta penunggangnya bergerak cepat ke arahnya. Makin lama makin dekat. Debu mengepul. Dengan tenang, Bharatchandra menghadapkan kudanya ke arah datangnya ketujuh penunggang. Kemudian dia membungkukkan badan seolah-olah hendak merangkul leher kudanya.

Ketika bayangan tujuh ekor kuda itu makin dekat, tampaklah para penunggangnya mengacungkan pedang sambil berteriak-teriak. Bharatchandra bergeming dan tetap membungkukkan badan. Penunggang kuda paling depan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, hendak diayun menebas ke arah depan. Bharatchandra tetap menunggu.

Saat jarak mereka tinggal sekitar dua tombak, tiba-tiba penunggang kuda terdepan menebaskan pedangnya tepat ke arah kepala Bharatchandra. Angin maut berdesir. Bharatchandra menjatuhkan tubuhnya ke samping kiri lambung kuda tunggangannya dengan kaki masih melekat di pijakan pelana.

Tebasan pedang mengenai angin kosong. Kemudian bagai didorong kekuatan raksasa, penunggang kuda itu melesat ke selatan diikuti oleh kawan-kawannya. Bharatchandra tegak kembali di atas kudanya. Sedetik kemudian dia sudah melesat ke arah utara menuju pasar.

Ketujuh penunggang kuda itu berteriak-teriak marah. Mereka berbalik arah. Kemudian sambil mencaci-maki, mereka memburu Bharatchandra. Namun, arah utara yang dituju Bharatchandra ternyata hanya siasat. Setelah berlari cepat sejauh tujuh puluh tombak, tiba-tiba dia membelokkan kudanya ke timur. Bagaikan hendak mengejek para pemburunya, Bharatchandra sengaja memperlambat lari kudanya.

Ketujuh penunggang kuda yang sudah dirasuk amarah itu dengan sumpah serapah yang kasar terus memburu ke mana pun Bharatchandra memacu kudanya. Dada mereka bahkan hendak meledak ketika melihat Bharatchandra mempermainkan irama lari kudanya. Kadang lambat dan kadang cepat. Mereka terus memburu Bharatchandra hingga tidak sadar telah masuk ke kawasan selatan Belgaum yang dikuasai oleh para pengikut Adil Shahi.

Sementara itu, tanpa menemui kesulitan berarti rombingan Abdul Jalil telah mencapai pantai Karwar. Tero, pemilik perahu, sudah gelisah menunggu kehadiran junjungannya yang sampai larut malam belum juga datang. Dia merasa lega ketika melihat bayangan empat orang dari arah utara. Namun, betapa kecewanya Tero saat mengetahui bahwa junjungannya tidak ikut bersama mereka.

Tero hampir tidak mempercayai bahwa Abdul Jalil adalah kawan Bharatchandra, junjungannya. Dia baru yakin setelah Tamrej beserta kedua kawannya menyusul ke tempat itu dan menjelaskan bahwa Abdul Jalil dan kawan-kawan adalah sahabat junjungannya. Meski demikian, tak urung hatinya diamuk gelisah tak bertepi.

Sebenarnya, bukan hanya Tero yang gelisah menunggu kehadiran Bharatchandra. Mereka semua malihat ke arah utara dengan hati berdebar-debar. Waktu berjalan begitu lambat dan menyiksa.

Ketika kabut mulai turun menyelimuti bumi, pertanda dinihari, tiba-tiba Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa sesuatu yang tidak diharapkan telah terjadi pada diri Bharatchandra. Itu sebabnya, ia bangkit dari duduk dan melangkah ke arah kuda tunggangannya. Ia memutuskan menyusul Bharatchandra apa pun resiko yang bakal dihadapinya.

“Tuan Syaikh mau kemana?” tanya Fadillah Ahmad.

“Aku hendak menyusul saudaraku, Bharatchandra Jagaddhatri. Aku merasa ada sesuatu yang tidak kita harapkan telah terjadi padanya. Aku akan menjemputnya apa pun resiko yang akan aku hadapi.”

“Tuan,” seru Tamrej menyela, “Tuan jangan pergi. Yang Mulia Bharatchandra Jagaddhatri telah mewanti-wanti kami agar membawa Tuan ke Calicut, apa pun yang terjadi dengan kami. Karena itu, Tuan, biarlah kami saja yang menyusul junjungan kami. Biarlah Tuan menunggu di sini.”

Namun, belum lagi Tamrej melanjutkan kata-katanya, Abdul Jalil melihat bayangan kuda hitam berjalan dari arah utara. Tanpa menunggu waktu, ia langsung berlari ke arah kuda yang berjalan sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dan ternyata, di atas punggung kuda itu telah terkulai tubuh Bharatchandra Jagaddhatri dengan posisi tertelungkup. Di punggungnya tertancap sebatang anak panah.

“Saudaraku, apa yang terjadi?” seru Abdul Jalil sambil menurunkan Bharatchandra.

Bharatchandra adalah manusia yang memiliki daya tahan luar biasa dan kuat menahan rasa sakit. Dia hanya tersenyum sambil menggumam, “Aku terkena panah nyasar. Namun, tujuh orang penunggang kuda yang memburuku mati semua dihabisi orang-orang Adil Shahi.”

Angin pagi berembus kering menerpa daun-daun kelapa yang berjajar di sepanjang pantai barat Wijayanagar. Di bawah bayangan pohon kelapa di utara pelabuhan Calicut, Abdul Jalil berdiri tegak memandang ke arah laut yang menggelora. Di samping kirinya berdiri Syarif Hidayat dan Fadillah Ahmad. Di samping kanannya berdiri Bharatchandra Jagaddhatri.

Bagaikan melihat bentangan gambar kehidupannya tergelar di hamparan lautan, ia merasakan dirinya bagai seorang anak yang akan pergi bermain ke tengah lautan. Ia bayangkan dirinya berlari-lari di atas gelombang. Dan saat itu, ia merasakan sentuhan lembut menyentuh kedalaman jiwanya seiring kelebatan bayangan orang-orang yang dicintainya, yang tertinggal nun jauh di dalam selimut halimun kenangan indahnya.

Ia teringat saat kali pertama meninggalkan tanah kelahiran tercinta, Caruban Girang. Saat itu, ia merasa sedih dan pilu menyayat jiwanya. Ia rasakan kehampaan memenuhi dadanya. Ia benar-benar merasakan sentakan pedih ketika harus melepaskan diri dari orang-orang yang dicintainya. Namun, kini, setelah peristiwa itu berlalu puluhan tahun silam, ia tidak merasakan kepedihan dan kepiluan apa-apa dari kepergiannya meninggalkan mereka yang dekat dengannya. Ia justru merasakan dirinya seperti anak-anak yang sedang bermain penuh kegembiraan.

Ketika pandang matanya diarahkan ke utara, ia saksikan kapal yang bakal dinaikinya diliputi kesibukan luar biasa. Sebagian awak ada yang mengatur tali-temali, menata layar, mengikat peti-peti, dan ada beberapa yang naik ke anjungan.

Menyaksikan kesibukan di atas kapal, ia tahu bahwa beberapa saat lagi ia akan berangkat merenangi lautan menuju Malaka. Itu berarti ia akan mengalami babak baru kehidupan sebagai bagian dari alur cerita yang ditentukan-Nya. Itu sebabnya, sebelum menaiki kapal, ia memberi amanat kepada Fadillah Ahmad untuk secepatnya kembali ke Ahmadabad dan mengambil baiat kepada Syaikh Abdul Ghafur Muffaridun al-Gujarati.

“Engkau lebih dibutuhkan di Ahmadabad,” ujar Abdul Jalil.

“Tapi Tuan Syaikh,” ujar Fadillah Ahmad, “Bolehkah saya bertanya sesuatu tentang Tarekat asy-Syatariyyah yang Tuan suruh saya berbaiat kepadanya?”

“Apa yang engkau tanyakan?”

“Saat di Belgaum, Tuan Syaikh meminta saya untuk berbaiat Tarekat asy-Suatariyyah. Saya merasa heran karena saya yang tinggal di Ahmadabad bertahun-tahun belum sedikit pun pernah mendengar nama tarekat seperti itu. Bahkan saat saya renung-renungkan, sepanjang pengetahuan saya tidak ada tarekat seperti itu di Ahmadabad. Apakah Tarekat asy-Syatariyyah itu sama rahasianya dengan Tarekat al-Akmaliyyah?” tanya Fadillah Ahmad.

Abdul Jalil tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar pertanyaan Fadillah Ahmad. Ia sadar bahwa apa yang disampaikannya itu memang tidak lazim. Itu sebabnya, ia segera memberi penjelasan, “Aku telah keliru menyebutkan istilah asy-Syatariyyah kepadamu. Karena, engkau cari sampai ke ujung dunia pun, engkau tidak akan mendapati Tarekat asy-Syatariyyah.”

“Ketahuilah, o salik, bahwa Tarekat asy-Syatariyyah adalah sebutan rahasia bagi tarekat yang diajarkan oleh kalangan Alawiyyin, khususnya dari keturunan Syaikh Abdul Malik al-Qozam. Sebutan tarekat itu sendiri adalah ajaran rahasia yang diajarkan turun-temurun dari kalangan Ahlul Bait Rasulullah Saw., yaitu dari Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husein, Imam Ali Zainal Abidin, Imam al-Baqir, Imam Ja’far Shadiq, dan seterusnya hingga akhir zaman nanti. Tarekat itu ada yang menyebut dengan nama Ja’fariyyah yang dibangsakan (dinisbatkan)kepada Imam Ja’far Shadiq. Namun, ada juga yang menggunakan sebutan lain.”

“Tarekat asy-Syatariyyah adalah sebutan yang diberikan oleh kakek buyutku Syaikh Sayyid Amir Abdullah Khanuddin. Aku sendiri semula tidak tahu kenapa beliau menamakan tarekat yang diajarkannya demikian. Namun, belakangan baru aku tahu bahwa hal itu terkait dengan rahasia-Nya. Jadi, kupesankan kepadamu, o Salik, bahwa mulai saat ini jangan sekali-kali engkau secara terbuka menyebut Tarekat asy-Syatariyyah di mana pun dan kepada siapa pun. Karena, sekali engkau menyebut-nyebutnya berarti engkau telah membuka rahasia-Nya.”

“Kenapa demikian, o Tuan Syaikh?” Fadillah Ahmad heran.

“Karena, Tarekat asy-Syatariyyah baru diajarkan secara terbuka barang seratus tahun lagi dari sekarang. Saat ini, tarekat ini diajarkan sangat tertutup kepada kalangan terbatas, terutama di kalangan Alawiyyin. Karena itu, meskipun diam-diam banyak orang mengamalkan tarekat ini, diharamkan bagi mereka untuk menyebutkan secara terbuka nama Syatariyyah. Itu sebabnya, sekarang ini tidak akan engkau dapati sebutan Syatariyyah di mana pun di negeri Gujarat. Sebab, dia yang akan mengajarkan Tarekat asy-Syatariyyah secara terbuka, hidupnya sezaman dengan cucuku. Jadi, aku pun tidak akan bertemu dia,” ujar Abdul Jalil.

Fadillah Ahmad termangu sambil mengangguk-angguk takjub. Sungguh dia nyaris tidak bisa memahami bagaimana mungkin ajaran yang bakal lahir seratus tahun lagi sudah bisa diketahui saat ini. Namun, selama mendampingi Abdul Jalil sejak di Belgaum, Fadillah Ahmad yakin sekali bahwa Tuan Syaikhnya itu adalah kekasih Allah yang diliputi barokah dan karomah pengetahuan ilahiah yang penuh keajaiban. Karena itu, tak perlu lagi ada yang ditanyakan terhadap uraiannya tentang Tarekat asy-Syatariyyah. Bahkan diam-diam ia bangga karena akan berbaiat suatu tarekat yang baru dikenal orang seratus tahun lagi.

Ketika layar-layar kapal mulai dibentangkan, Abdul Jalil memegang erat tangan Bharatchandra Jagaddhatri, Brahmin yang telah begitu berkesan dalam jiwanya, meski dipertemukan dalam tempo singkat. Ia pandangi matanya yang teduh bagai telaga. Ia saksikan getar-getar ilahiah yang memancar dari keteduhan jiwanya. Dan bagaikan hendak berpisah dengan dirinya sendiri, ia merasakan jiwanya menyentak-nyentak kesadarannya.

Tak berbeda dengan Abdul Jalil, Bharatchandra Jagaddhatri pun merasakan semacam kehilangan merajalela di jiwanya. Namun, secepat itu dia sadar bahwa keterikatan antara dia dan Abdul Jalil adalah keterikatan jiwa yang satu, yang sudah tersingkap selubungnya. Itu sebabnya, sambil menarik napas berat dia kemudian menggumam, “Bagaikan anak-anak berlari di pantai, kita akan bermain penuh kegembiraan. Namun, jika sore menjelang kita akan pulang ke rumah kita yang sejati. Kapankah kita akan bertemu lagi di pantai yang lain?”

“Saudaraku, di mana pun pantai adalah sama, meski namanya berbeda. Tapi, satu hal yang hendak kutanyakan kepadamu, o Saudaraku,” kata Abdul Jalil.

“Tentang apa?”

“Apakah engkau tetap dengan tekadmu untuk pergi dari kerajaan dan menyerahkan takhta kepada adikmu?” tanya Abdul Jalil.

Bharatchandra Jagaddhatri mengangguk sambil tersenyum.

Abdul Jalil tersenyum lebar dan kemudian merangkul Bharatchandra Jagaddhatri sambil berbisik lirih, “Dia yang meninggalkan kerajaan dan kemuliaan duniawi tentu lebih mulia dari kerajaan dan kemuliaan duniawi.”

Sayap malam yang terbentang menutupi permukaan bumi telah terangkat ketika cahaya merah sang surya mulai membias tipis di ufuk timur. Angin berdesau di pepohonan menghamburkan hawa dingin di antara tetes-tetes embun pagi. Di kejauhan terdengar pukulan bedug ditabuh bertalu-talu pertanda waktu subuh datang menjelang.

Di pendapa ndalem Pemelekaran, di bawah pancaran cahaya pelita yang bergoyang-goyang, Ki Gedeng Pasambangan duduk bersila dengan punggung disandarkan pada tiang saka, dengan mata menatap ke depan seolah-olah melihat keremangan pagi yang diliputi kabut. Setelah bercerita semalaman, dia kelihatan lelah. Itu sebabnya, setelah berhenti sesaat dan menarik napas dalam-dalam, dengan senyum mengembang dalam mata tuanya, dia melanjutkan ceritanya. “Setelah Syaikh Datuk Abdul Jalil berangkat dari Calicut dan kapal yang ditumpanginya berlabuh di Pasai, ia tinggal selama sebulan di situ, di kediaman sahabat yang dikenalnya sewaktu haji, Husein bin Amir Muhammad. Di Pasai, dalam waktu singkat ia telah memiliki tiga pengikut dari antara pembesar Pasai, yakni Orang Kaya Kenayan, Abdullah Kandang, dan Abdurrahman Singkel. Namun, suasana perang yang terjadi antara Sultan Zainal Abidin dan adiknya yang berlarut-larut, telah menyebabkan ia harus cepat-cepat meninggalkan Pasai menuju Malaka. Di Malaka, dia mendapati uwaknya, Syaikh Datuk Ahmad, telah wafat. Maka, ia pun segera bertolak ke Palembang untuk berziarah ke makam Ario Abdillah di Pedamaran. Sesudah itu, ia pergi ke Caruban.” “

Begitulah Raden, kisah sahabat dan guru Aki, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Cerita Aki disudahi dulu sampai di sini. Soalnya, tidak terasa sudah semalam suntuk Aki bercerita. Sekarang waktu subuh sudah datang.” “

Ah, maafkan saya karena telah menyusahkan Aki,” ujar Raden Ketib merendah. “Namun, sungguh saya tidak sadar telah semalam suntuk mendengar cerita Aki yang begitu menarik dan memukau. Saya merasakan seperti sedang bermimpi ketika mendengar cerita Aki tentang liku-liku perjalanan Syaikh Datuk Abdul Jalil dalam mencari Kebenaran Sejati.” “

Sebelumnya Aki mohon maaf, Raden, jika dalam bercerita ada hal-hal yang tidak sengaja atau sengaja Aki tambah-tambahi tentang sahabat dan guru Aki itu. Namun, itulah garis besar perjalanannya di dalam mencari Kebenaran Sejati. Apakah Raden menganggap dia orang sesat atau tidak, itu terserah sepenuhnya kepada Raden,” Ki Gedeng Pasambangan tertawa hangat. “

Setelah mendengar cerita Aki, mana mungkin saya berani gegabah menuduh ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil sebagai ajaran sesat. Namun, yang saya herankan kenapa beliau sampai mengalami nasib begitu memilukan? Karena itu, saya mohon agar Aki berkenan menceritakan kepada saya kelanjutan kisah Syaikh Datuk Abdul Jalil sampai tuntas,” kata Raden Ketib berharap.

Ki Gedeng Pasambangan mengangguk sambil tertawa hangat. Setelah itu, dia berdiri dan melangkah menuju ke masjid diikuti oleh Raden Ketib.

Usai shalat subuh dan keduanya hendak berpisah, Raden Ketib dengan agak ragu-ragu bertanya, “Sebelum kita berpisah, apakah Aki membpunyai warisan berharga dari Syaikh Datuk Abdul Jalil yang bisa Aki ajarkan kepada saya?”

Ki Gedeng Pasambangan tersenyum hangat memandangi Raden Ketib dengan tenang dan damai. Raden Ketib, memandang Ki Gedeng Pasambangan dengan pandangan penuh harapan.

Beberapa jenak terdiam, Ki Gedeng Pasambangan tersenyum hangat mengulurkan tangan kanannya sambil berbisik lirih, “Jabatlah tanganku! Mendekatlah kemari! Dan pejamkan matamu!”

Dengan keheranan dan benak diliputi tanda tanya, Raden Ketib menjabat tangan kanan Ki Gedeng Pasambangan dan mendekatkan tubuhnya. Ia memajamkan matanya. Tangan kiri Ki Gedeng Pasambangan kemudian memegang bahunya. Beberapa jenak Raden Ketib merasakan keheningan meliputi dirinya. Dan saat itulah dengan suara lirih Ki Gedeng Pasambangan membisikkan sesuatu ke telinga kirinya.

Raden Ketib tersentak kaget mendengar bisikan Ki Gedeng Pasambangan. Di tengah kekagetannya itu ia merasakan bisikan Ki Gedeng Pasambangan mengalir deras ke kedalaman jiwanya bagaikan cahaya. Ia biarkan bisikan itu meluncur terus menembus relung-relung jiwanya hingga cakrawala kesadaran di hamparan jiwanya yang ditutupi lapisan-lapisan hijab tersingkap bagai tirai disibakkan. Raden Ketib merasakan matahari kesadarannya bersinar kilau-kemilau menerangi jiwa.

Ketika sedang meresapi perubahan yang dialaminya itu, sesuatu yang menakjubkan terjadi padanya. Selagi membuka matanya tiba-tiba ia mendapati dirinya seperti sebongkah batu di dalam sungai dangkal yang sangat jernih. Ia bisa melihat dan merasakan aliran sungai kehidupan yang sambung-menyambung dan susul-menyusul dalam satu rangkaian tak berkesudahan. Dia bisa melihat matahari menyinari bumi, namun sekaligus merasakan hangatnya yang menimpa permukaan air dan mengalir ke pedalaman. Langit biru lazuardi yang membentang di atasnya, terbias bayangannya bagai cermin di permukaan air dan terserap ke dalamnya. Awan-gemawan yang putih berarak dalam bentuk-bentuk yang terus berubah membias di permukaan air dan terserap ke dalamnya. Burung-burung beterbangan dengan aneka bulu dan kicaunya pun membayang di permukaan air dan tembus ke dalamnya.

Tercengang oleh peristiwa itu, Raden Ketib memandang wajah Ki Gedeng Pasambangan yang hanya tiga empat jengkal di depannya. Namun, betapa terperanjatnya ia ketika menyaksikan wajah Ki Gedeng Pasambangan berubah-ubah secara ajaib. Wajah tua itu tiba-tiba menjadi muda dan berubah lagi seperti bayi. Dan wajah itu berangsur-angsur berganda dan berderet-deret panjang bagaikan aliran sungai sambung-menyambung dan susul-menyusul.

Dalam ketakjuban luar biasa, ia terus melihat wajah itu berjajar-jajar dalam rangkaian panjang, berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, berjuta-juta wajah. Secara ajaib kemudian mewujud dalam bentuk pohon-pohon, rerumputan, bebatuan, gunung, lembah, tebing, bukit, awan, langit, matahari, hewan-hewan, ikan, burung, serangga, dan manusia. Makna apakah di balik yang tergelar di hadapanku ini, tanya Raden Ketib dalam hati. Antara sadar dan tidak, antara lantang dan samar-samar, antara hingar-bingar dan hening, jauh di kedalaman jiwanya, ia menangkap getaran suara dalam bahasa perlambang, yang maknanya kira-kira berbunyi: “Ke mana pun engkau menghadap, di situ wajah Allah” (QS al-Baqarah: 115).

Pacific Ocean Approaching Hualien Harbor, March, 13rd 2007, 08:50LT