1. Nafs al Haqq

Ketika malam menghiasi kubah langit dengan gemerlap bintang-gemintang, muncul sosok gemilang berpakaian serba putih di garis cakrawala dan melayang-layang di antara alam al-khalq (alam kasatmata) dengan alam alam al-khayal (alam imajinasi). Keagungan dan kemuliaan sosok itu bagai rembulan muncul di tengah kegelapan, menghisap semua perhatian dengan pesona keindahannya yang tak terlukiskan.

Abdul Jalil yang sedang tenggelam di dalam samudera tahlil setelah melintasi muara salawat dan mengikuti aliran sungai istighfar, tiba-tiba mendengar semacam suara dentang (salsalah al-jaras) memasuki pendengaran indriawi sekaligus pendengaran jiwanya (sam’). Sedetik sesudah itu, ia mendengar gema suara, “Engkau adalah hijab bagi dirimu sendiri, o Abdul Jalil, keluarlah engkau darinya!”

Ia tersentak heran dan bingung. Dalam keheranan dan kebingungan itu tiba-tiba cakrawala di hadapannya tersingkap bagaikan tirai disibakkan. Hatinya seolah dengan paksa digerakkan untuk melihat ke balik cakrawala yang terpampang di hadapannya. Tanpa daya, pandangannya terpaku pada sosok gemilang yang duduk dengan keagungan dan kemuliaannya. Sosok itu sangat nyata dalam pandangan mata batinnya (ain al-bashirah).

Sosok gemilang serba putih itu tak kalah menakjubkan dibanding penampakan pemuda asing yang dijumpainya di Baitullah. Sosok itu tidak hidup, tidak pula mati. Tidak berkata-kata, juga tidak diam. Sederhana, tetapi rumit. Diliputi, tetapi juga meliputi. Memancarkan, tetapi juga mengisap pesona. Dia ibarat setetes air yang di dalamnya memuat tujuh samudera. Sebutir debu yang di dalamnya memuat tujuh gurun. Selembar daun yang memuat tujuh rimba raya. Sebongkah batu yang memuat tujuh benua dengan gunung-gunungnya yang tinggi mencakar langit. Dia, sosok gemilang, keberadaannya begitu menakjubkan hingga tidak bisa diungkapkan secara utuh dengan bahasa manusia.

Seiring dengan pemandangan menakjubkan tergelar di hadapannya, tiba-tiba ia merasakan kesadaran baru dari dalam jiwanya tersingkap tidak sebagaomana mestinya. Dikatakan tidak semestinya karena sebelumnay ia merasa nur lawami’ dan pemahaman fawa’id selalu mengungkapkan pengetahuan gaib ke kedalaman hatinya. Namun, saat ini yang ia rasakan adalah baik lawami’ maupun fawa’id pun memiliki tirai-tirai yang bisa tersingkap. Di balik tirai demi tirai itu tergelar kesadaran demi kesadaran baru.

Kesadaran baru itu secara menakjubkan memaparkan pengetahuan gaib bahwa sosok gemilang di hadapannya adalah hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terkasih Muhammad Saw..

Namun, pikirannya sempat agak meragukan kebenaran itu. Ia menduga bahwa pengetahuan gaib itu adalah pangaruh setani. Anehnya, pengetahuan gaib itu bagai tidak peduli dengan keragu-raguannya. Pengetahuan gaib itu tanpa dikehendaki terus-menerus menyingkapkan tirai demi tirai nur lawami’ dan pemahaman fawa’id. Dan kesadaran demi kesadaran terus tergelar sehingga membuatnya bertambah takjub sekaligus kebingungan.

Kesadaran baru itu ternyata tidak hanya mengungkapkan sosok cemerlang itu sebagai hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq, tetapi juga menjelaskan bahwa keberadaan pemuda asing yang dijumpainya di Baitullah adalah salah seorang kekasih Allah yang mengalami buruj dari hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq.

Setelah beberapa saat berkutat dengan keraguan, akhirnya ia menanggalkan campur tangan pikirannya. Ia ikuti kilasan demi kilasan nur lawami’ dan pemahaman fawa’id. Dengan kesadaran baru itu, tanpa mengalami kesulitan berarti ia bisa menjalin hubungan bathiniyyah dengan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq – sebagai guru dan murid – melalui al-ima’.“

O, engkau yang berpakaian kefakiran,” kata sosok gemilang dengan suara diliputi barokah. “Engkau telah menjadi bagian dari kaum fakir yang tetap berjuang di jalan Allah (QS al-Baqarah: 273), yakni kaum yang lambungnya jauh dari tempat tidur, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap (QS as-Sajdah: 16). Apakah ketundukanmu kepada-Nya karena mengikuti (taqlid) seseorang atau mengikuti akalmu (dalil) sendiri?”

Abdul Jalil menjawab, “Saya tidak mengikuti seseorang dan tidak pula mengikuti akal karena tidak ada daya dan kekuatan pada diri saya untuk mengikuti sesuatu kecuali pasrah dan mengikuti daya serta kekuatan-Nya.”“

Engkau adalah fakir yang tidak memiliki apa-apa. Engkau telah membersihkan segala kepemilikan dari jiwamu. Namun, engkau masih terbelenggu oleh akalmu, yakni sisa terakhir milik kemanusiaanmu. Karena itu, o fakir, tanggalkanlah akalmu. Karena, dengan akal (‘aql) yang membelenggu (‘iqal) maka engkau tidak akan mengenal wajah-Nya.”“

Kenalilah Dia dengan bashirah (QS Yusuf: 108). Kenalilah tanda-tanda-Nya yang ada di luar dan di dalam dirimu (nafs) (QS adz-Dzariyat: 20-21). Kenalilah Dia Yang Wujud. Yang Riil. Kenalilah tanda-tanda-Nya di luar dirimu. Sesungguhnya, milik-Nya jua timur dan barat sehingga ke mana pun engkau palingkan pandanganmu maka di situlah wajah Allah (QS al-Baqarah: 115). Ketahuilah, bahwa wajah Allah itu kekal (QS ar-Rahman: 27). Karena itu, tiap-tiap sesuatu pasti hancur binasa kecuali wajah-Nya (QS al-Qashash: 88).”“

Pahamilah tanda-tanda-Nya di dalam dirimu. Sesungguhnya, Dia Maha Meliputi segala sesuatu (QS Fushshilat: 54). Dia bersamamu di mana pun engkau berada dan Dia Maha Melihat apa yang engkau kerjakan (QS al-Hadid: 4). Dia lebih dekat daripada urat lehermu (QS Qaf: 16). Sesungguhnya, Allah bersama kita (QS at-Taubah: 40).”

Kesadaran demi kesadaran baru tersingkap dari cakrawala jiwa Abdul Jalil seiring dengan terkuaknya ungkapan demi ungkapan rahasia yang disampaikan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq melalui al-ima’. Abdul Jalil terkesima dalam pesona dan ketakjuban yang membingungkan. Pengalaman ini begitu menggetarkan: betapa pengetahuan yang disampaikan tanpa perantara akal dan indera-indera adalah seibarat percampuran anggur dengan air dalam wadah gelas. Tanpa diaduk keduanya melarut dengan cepat dan menyeluruh. Utuh.

Setelah mengungkapkan keberadaan Yang Ilahi, hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq mengungkapkan ada empat anak tangga rahasia untuk menuju hadirat-Nya. Keempat anak tangga rahasia inilah “jalan” (sabil) dan “cara” (thariq) rahasia yang diajarkan Muhammad Saw. kepada sahabat terkasihnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, saat berada di dalam gua di gunung Thur.

Pertama, adalah anak tangga istighfar yang akan membawa salik ke penyingkapan hijab dirinya. Karena dari istighfar akan tercapai maghfirah yang memancar dari al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun), di mana dengan maghfirah itu al-Ghaffar akan menyingkap selubung hijab ghafara.

Kedua, ketika hijab ghafara sudah tersingkap maka salik akan mendaki anak tangga salawat. Pada tahap itu salik menyadari bahwa keberadaan dirinya adalah bagian dari pancaran Nur Muhammad (Cahaya Yang Terpuji, Cahaya Muhammad) sebagaimana sabda Rasulallah Saw., “Anamin nur Allah wa khalq kulluhum min nuri’” (al-hadits) dan “Khalaqtuka min nuri wa khalaqtu khalqa min nurika”(hadits Qudsi). Hanya melalui Nur Muhammad inilah seorang salik dapat melanjutkan perjalanan menuju al-Haqiqah al-Muhammadiyyah (Hakikat Yang Terpuji, Hakikat Muhammad).

Ketiga, ketika salik sudah mencapai pengenalan al-Haqiqah al-Muhammadiyyah maka dia akan mendaki anak tangga tahlil, yakni anak tangga penauhidan. Pada tahap ini, salik akan memahami makna rahasia yang tersembunyi pada al-Haqiqah al-Muhammadiyyah sebagaimana sabda Rasulallah Saw, “Ana Ahmadun bila mim” dan “Ana ‘Arabun bila ‘ain.” Inilah tahap wahdah asy-Syuhud (kesatuan penyaksian).

Keempat, ketika salik sudah mencapai tahap syuhud maka dia akan mendaki anak tangga nafs al-haqq (Jiwa Yang Riil). Inilah tahap di mana salik memasuki tahap fana’ (peniadaan diri) karena jiwa kehidupannya telah terhubung dengan keberadaan al-Haqq, yang tersembunyi di dalam Ruh al-Haqq yang berada di takhta ‘arsy di Baitul Haram hatinya, dengan Huwa yang mutlak dan tak terbatas. Inilah Jiwa Ilahi. Allah meniupkan nafs al-haqq ke dalam ruh al-haqq yang disemayamkan di takhta ‘arsy di Baitul Haram hati manusia. Inilah Jiwa Yang Pengasih (nafs ar-Rahman) yang ditiupkan kepada shurah ar-Rahman. Dan melalui nafs ar-Rahman itulah Dia berbicara.

Pada tahap fana’ ini tidak ada lagi pihak yang menyaksikan dan Pihak Yang Disaksikan. Kemenduaan, kegandaan, dan kejamakan telah lebur. Pada tahap ini, al-Haqq yang tersembunyi secara rahasia di dalam Ruh al-Haqq telah manunggal dengan Huwa (Dia Yang Mahamutlak), sebagaimana kemanunggalan butiran garam dengan air laut. Inilah tahap wahdah al-wujud (kesatuan Wujud), yakni bersatunya al-Haqq dengan Huwa.

Keempat anak tangga rahasia menuju Dia pada dasarnya mengungkapkan penyaksian tentang keberadaan paling rahasia dari Allah sebagai Sebab Pertama, di mana pada Asma Allah tersembunyi hakikat dari hakikat Huwa (Dia Yang Mahamutlak). Asma Allah, terdiri atas empat huruf, yakni ALIF – LAM – LAM – HA. Jika huruf ALIF pada Asma Allah ditiadakan maka yang Ada adalah Lillah. Jika huruf LAM pertama ditiadakan maka yang Ada adalah Lahu. Dan jika huruf LAM kedua ditiadakan, maka yang Ada adalah Hu.

Keempat tahap itu adalah satu kesatuan dari Asma’, Af’al, Shifat, dan Dzat yang tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan yang lain-Nya. Itu berarti, mengenal Dia harus melalui empat tahap pengenalan. Pertama, mengenal Asma’ (Nama). Kedua, mengenal Af’al. Ketiga, mengenal Shifat. Keempat, mengenal Dzat. Dan pengenalan ini tidak bisa dituturkan dengan bahasa manusia, tetapi harus dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman yang sangat pribadi. Bisakah seseorang merasakan manisnya buah anggur dengan hanya mendengarkan cerita dan gambaran tentangnya? Bisakah seekor anai-anai dikatakan telah mengenal nyala api jika tubuhnya belum terbakar?

Setelah mengungkapkan rahasia menuju Dia, hadhrat Abu Bakar ash Shiddiq kemudian mengungkapkan rahasia nur yang ditempatkan Allah di antara dua mata Adam (hadits Qudsi). Nur adalah piranti untuk menyaksikan dan mengenal Sang Cahaya langit dan bumi, Sang Cahaya di atas cahaya, yang dengan cahaya-Nya membimbing siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya (QS an-Nur:35). Melalui nur itu pula akan dicapai Kehadiran Cahaya Murni (hadhrat an-Nur al-Mahdh), yang akan membawa kepada penyaksian Tuhan, dengan pandangan Tuhan, dari Tuhan, di dalam Tuhan, dan melalui mata Tuhan.

Sejak berjumpa dengan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq di alam al-khayal serta mengamalkan “jalan” dan “cara”, kesadaran demi kesadaran baru pada diri Abdul Jalil bagai tak dapat dikendalikan. Tersingkapnya tirai-tirai nur lawami’ dan pemahaman fawa’id menyebabkan ia berada pada keadaan seperti wadah yang terus-menerus diisi. Pengalaman ruhaniah yang terkait dengan penyingkapan kesadaran baru ini sebenarnya sudah pernah dialaminya. Namun, kali ini perubahannya begitu cepat sehingga ia merasa bingung dan takjub.

Pengalaman menakjubkan yang sekaligus membingungkan ini, setidaknya dialaminya ketika melakukan tawaf. Seiring dengan langkah kakinya mengitari Ka’bah, tiba-tiba hatinya diliputi hiruk pikuk hakikat ruhani yang memuji keagungan Ilahi. Ia tercenung bingung. Tanpa dikehendakinya, kilasan demi kilasan kesadaran baru tercurah ke dalam mahligai jiwanya.“

Pengagungan atas-Nya yang dikumandangkan mereka yang mengitari Ka’bah adalah pengagungan al-abid kepada al-Ma’bud, pengagungan al-khalq kepada al-Khaliq, pangagungan yang beragam (farq) kepada Satu Kesatuan (Jam’). Sedangkan engkau, o fakir papa yang telah melampaui mereka dalam takwa, hendaknya mengagungkan-Nya dengan cara yang berbeda. Sebab engkau adalah al-khalil (sahabat), al-habib (kekasih), al-waly (yang dikuasai-Nya), dan al-mushthafa (yang dipilih-Nya). Agungkan Dia dengan segenap kedekatan (qurb), kecintaan (hubb), kerinduan (‘isyq), dan keterkaitan (ta’alluq) jiwa dan ragamu.”

Abdul Jalil tercekat bingung bercampur takjub dengan pengalamannya itu. Selintas, pikirannya mengatakan bahwa kesadaran barunya itu adalah bisikan Iblis yang akan memerangkapnya ke jurang pengakuan diri. Namun, kesadarannya mengatakan bahwa apa yang terungkap itu adalah manifestasi dari al-Haqq yang tidak seorang pun – termasuk malaikat – mengetahuinya sehingga tidak ada alasan untuk dipamer-pamerkan sebagaimana sifat Iblis.

Menyadari kebenaran dari ungkapan al-Haqq itu, ia segera menghadapkan hati dan pikiran hanya kepada-Nya melalui nur yang terletak di antara kedua matanya. Kemudian, dengan “jalan” dan “cara” yang diperoleh dari hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq, ia mendaki anak tangga keempat melalui nafs al-Haqq untuk menjalin hubungan dengan keberadaan al-Haqq yang tersembunyi di dalam Ruh al-Haqq, di dalam takhta arsy di Baitul Haram hatinya dengan Huwa (Dia, Yang Mutlak Tak Terbatas).

Setelah beberapa jenak bergulat mengarahkan hati dan pikiran, tiba-tiba qalbu-nya merasakan Muhammad Saw. hadir di hadapannya dan merampas semua perasaan kepada selain dia. Bersamaan dengan itu, ia mendapati nur di antara kedua matanya memancar sangat terang. Kemudian, bagai memiliki tirai, qalbu dan nur tersingkap dengan cara menakjubkan.

Abdul Jalil tertegun takjub. Berurutan dengan tersingkapnya qalbu, ia merasakan kehadiran Muhammad Saw. secara utuh di segenap cakrawala jiwanya. Sementara saat nur tersingkap secara berurutan, tiba-tiba ia menyaksikan cahaya yang bersinar sangat menyilaukan, jauh lebih terang daripada pancaran nur di antara kedua matanya, itukah Nur di atas nur?

Ia merasa qalbu-nya tiba-tiba menyatu dengan Nur yang menyilaukan itu. Ia merasa Nur itu adalah Nur Muhammad.

Beberapa detik kemudian kesadarannya tersingkap secara aneh. Nur itu tiba-tiba memenuhi segenap pandangannya. Ia merasa tak tahu arah. Tidak ada depan, samping, dan belakang. Ia bisa memandang ke segala arah. Dan pandangan mata batinnya kali ini jauh lebih nyata daripada pandangan indera penglihatannya.

Mendadak Ka’bah yang dikitarinya lenyap. Para jama’ah tawaf juga lenyap. Semua lenyap. Abdul Jalil termangu takjub diliputi kebingungan karena qalbu dan seluruh pandangannya menyaksikan Nur semata. Bahkan akhirnya, ia merasakan Nur itu melenyap dari pandangannya. Tubuhnya seperti memancarkan cahaya dari Nur itu. Ia merasakan dirinya menyatu dengan Nur. Dan lantaran pengalaman itu begitu membingungkan, ia tidak tahu lagi apakah ia berada di dalam atau di luar cahaya Nur yang memancar dengan sangat menyilaukan.

Masih dalam ketakjuban dan kebingungan, tiba-tiba ia merasakan di segenap penjuru pandangannya mewujud manifestasi Nur Muhammad yang mengisap kesadarannya. Antara sadar dan tidak, ia merasakan al-Haqq yang tersembunyi di dalam Ruh al-Haqq yang bersemayam di takhta arsy di Baitul Haram hatinya berkata-kata sendiri. “Anasirr al-haqqi wa ma al-haqq ana, wa ana al-haqq fa innanima ziltu aba wa bi al-haqqi haqqun.”

Ketika matahari memancarkan panas api ke permukaan bumi hingga hamparan pasir dan bebatuan memuai, di tengah hingar-bingar suara ribuan jama’ah melakukan wukuf, mengagungkan dan memuliakan Ilahi pada Yaum al-Arafah (Hari Arafah), Abdul Jalil duduk tegar di bawah bayangan tiang batu yang tegak menjulang di puncak Jabal Rahmah. Tanpa mempedulikan sengatan matahari, ia menghadapkan kiblat hati dan pikirannya hanya kepada Allah.

Seiring dengan melesatnya waktu, tanpa dikehendakinya, tiba-tiba ia membuka mata dan tanpa sengaja pandangannya menatap sesosok tubuh laki-laki tua dengan rambut gundul dengan pakaian ihram kumal yang dililitkan tidak semestinya sedang berjalan tertatih-tatih mengitari Jabal Rahmah. Abdul Jalil memejamkan mata dan membangun lagi kiblat hati dan pikirannya. Namun, entah kekuatan apa yang mengusik, tiba-tiba saja ia membuka mata dan melihat lagi laki-laki tua itu terhuyung-huyung di kaki Jabal Rahmah.

Sepintas, ia menganggap laki-laki tua itu tentu salah seorang jama’ah haji yang ingin melihat dari dekat bukit bersejarah itu. Namun, setelah beberapa jenak ia awasi betapa sosok laki-laki tua itu sudah mengitari Jabal Rahmah beberapa kali maka ia menduga sosok tua itu tentunya tidak mengetahui tata cara menjalankan ibadah haji.

Ia merasakan ada keanehan dengan keberadaan laki-laki tua yang terhuyung-huyung hampir tumbang itu. Sebab, sedikitpun ia tidak merasakan kilasan nur lawami’ dan pemahaman fawa’id muncul dari kedalaman jiwanya. Lantaran itu, ia hanya menduga-duga dan mengira bahwa laki-laki tua itu tentu memiliki anggapan bahwa tawaf selain dilakukan di Ka’bah juga dilakukan di Jabal Rahmah.

Ketika sedang merenungkan perilaku yang tidak lazim itu, tiba-tiba ia terkejut menyaksikan tubuh lelaki itu tumbang ke atas hamparan pasir panas berbatu. Tampaknya tidak ada satu pun di antara jama’ah yang sedang sibuk mengagungkan Allah di atas bukit maupun di dalam tenda mengetahui nasib malang yang menimpa laki-laki tua itu. Dan bagaikan digerakkan oleh kekuatan tak tampak, Abdul Jalil bangkit dan berlari menuruni Jabal Rahmah.

Dugaannya bahwa laki-laki tua itu tidak memahami tata cara menjalankan ibadah haji ternyata tidak salah. Namun, yang membuatnya terheran-heran adalah orang tua yang malang itu bukan Muslim. Dengan suara terputus-putus dengan pandang mata tak bersalah, dia mengaku sebagai pendeta Syiwa, asal Wahanten Girang (Banten), di tanah Pasundan. Dia mengaku bermaksud melakukan ziarah ke sthana Syiwa di gunung Kailasa.

Mendengar pengakuan laki-laki malang yang nyaris mati karena kelelahan dan kehausan itu, Abdul Jalil berulang-ulang mengucapkan tasbih memuji kebesaran Allah. Namun, ia pun buru-buru mengingatkan agar lelaki itu tidak menceritakan jati dirinya kepada jama’ah lain. Hal ini demi keselamatan jiwanya sendiri.

Setelah itu, Abdul Jalil menjelaskan kepada lelaki tua yang ternyata bernama Rsi Punarjanma bahwa bukit yang dikira gunung Kailasa itu adalah Jabal Rahmah, gunung kasih sayang, tempat leluhur pertama manusia, Nabi Adam dan Ibu Hawa dipertemukan oleh yang Mahatunggal. Sedang hamparan di sekitar Jabal Rahma itu disebut Arafah, tempat umat Islam menunaikan ibadah haji. Jadi, tiang batu di atas bukit itu bukan Syiwalingga.

Rsi Punarjanma tercekat sesaat setelah mendengar penjelasan Abdul Jalil perihal Jabal Rahmah dan tanah Arafah yang merupakan tempat peribadatan umat Islam. Dia sadar dirinya telah melakukan kekeliruan. Dia juga tampak heran ketika diberi tahu bahwa tugu batu di atas Jabal Rahmah itu bukanlah Syiwalingga.

Setelah beberapa jenak terdiam, dia tersenyum sambil menatap tajam ke arah tiang batu yang tegak di atas Jabal Rahmah. Kemudian dengan suara serak nyaris berbisik dia berkata, “Anakku, sekarang ini bagiku tidak penting apakah ini tempat suci orang Islam atau sthana Syiwa. Sebab, yang kusaksikan di dalam mimpiku adalah lingga batu di atas bukit itu. Telah jelas di dalam mimpiku bahwa di bawah lingga itulah kematian datang menjemputku.”“

Bapa Rsi kemari hanya karena mimpi?” seru Abdul Jalil heran.

Rsi Punarjanma mengangguk lemah. Kemudian dengan napas tersengal-sengal dan suara terpurus-putus dia menuturkan ihwal sampai terdampar di tanah asing tempat orang-orang Islam menjalankan ibadah haji.

Mula-mula, ungkap Rsi Punarjanma, dia mengalami mimpi sangat aneh yang berulang sampai tiga kali. Di dalam mimpi itu dia dipaksa mengenakan selembar kain putihdan melakukan pradaksina (mengelilingi) lingga raksasa yang tegak di atas sebuah bukit batu yang terletak di tengah padang pasir berbatu. Ketika sedang melakukan pradaksina, lanjutnya, tiba-tiba memancarlah berjuta-juta cahaya menyilaukan dari langit menyinari lingga itu. “Cahaya dari langit itu ternyata adalah dewa-dewa yang beterbangan dengan ribuan sayap indah dan mencurahkan kemuliaan di permukaan bumi di mana lingga itu tegak berdiri. Dan kusaksikan betapa saat para dewa itu kembali terbang ke langit maka diriku pun ikut terbang bersama mereka,” ujar Rsi Punarjanma dengan mata menerawang ke angkasa.

Berangkat dari mimpi sama yang berulang tiga kali itulah dia kemudian mencari tahu dimana lingga agung dan mulia itu berada. Meski dari kawan-kawannya tak diperoleh penjelasan tentang adanya sthana Syiwa seperti terlikis di dalam mimpinya, berkat kegigihannya akhirnya dia beroleh penjelasan dari seorang muni yang pernah berziarah ke Kailasa. Menurut muni itu, bukit tempat sthana Syiwa berada adalah di Kailasa. Beberapa orang kawannya malah memberi tahu bahwa beberapa Rsi dari Jawadwipa setiap tahun sekali berziarah ke sana untuk melakukan pradaksina, mengitari gunung yang garis kelilingnya empat puluh pal.

Berbekal tekad dan sedikit pengetahuan tentang gunung Kailasa yang konon diliputi salju, Rsi Punarjanma berangkat ke negeri Bharat (India). Namun, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, kapal yang ditumpanginya menghantam karang dan tenggelam. Berhari-hari dia terapung-apung hingga para pelaut dari sebuah kapal dagang milik orang-orang Arab datang memberikan pertolongan.

Ketika para pelaut Arab itu bertanya dengan bahasa Arab yang sama sekali tiak dipahaminya maka terpaksa Rsi Punarjanma menjelaskan dengan isyarat tangan bahwa dia bermaksud ke gunung Kailasa untuk melakukan pradaksina dalam rangka memuja lingga. Dia menjelaskan pula bahwa sesuai mimpinya dia hanya berbekal selembar kain putih untuk menjemput kematiannya.

Para pelaut Arab bagaikan mengerti apa yang dia kemukakan. Mereka mengangguk-angguk dan kemudian memberinya makan dan pakaian. Namun, sesuai mimpinya, Rsi Punarjanma menolak pakaian dan tetap mengenakan kain putih untuk menutupi tubuhnya. Setelah sampai di sebuah pelabuhan yang tak dia ketahui namanya, para pelaut Arab itu menurunkannya dan memberinya bekal perjalanan. Bahkan mereka memberinya petunjuk agar berjalan ke arah timur untuk mencapai tempat yang ditujunya itu. “Ternyata lingga suci yang kulihat dalam mimpiku tidak berada di tanah Bharat, tetapi di tanah orang-orang Arab,” kata Rsi Punarjanma dengan napas makin berat.“

Bapa Rsi,” gumam Abdul Jalil sambil memegangi tangan Rsi Punarjanma, “Apakah Bapa yakin bahwa Tuhan itu Tunggal?”“

Anakku,” kata Rsi Punarjanma dengan mata berkilat dan suara bersemangat, “Aku adalah seorang sannyasin yang sudah tyaga (orang yang sudah lepas dari ikatan duniawi). Karena itu, tidak ada sesuatu di dalam hati dan pikiranku kecuali Dia Yang Mahatunggal yang disebut dengan berbagai Nama.”“

Berarti Bapa Rsi tidak pernah melakukan bhakti lagi di hadapan arca dewa-dewa?” tanya Abdul Jalil minta penegasan. “Sebab, seorang tyaga sudah harus lepas dari sesuatu yang bersifat kebendaan.”“

Engkau benar, Anakku,” kata Rsi Punarjanma menguatkan diri. “Bagi seorang tyaga, Tuhan adalah Dia Yang Tunggal, Tak Terjangkau Akal dan Tak Tersentuh Indera, Dia yang memiliki sifat Bhawo (Wujud), Na Jayate (Tidak Dilahirkan), Nitya (Kekal), Saswato (Abadi), Purano (Yang Awal), Satah (Riil), Awinasi (Tak Termusnahkan), Widhi (Mahatahu), Aprameyasya (Tidak Terbatas), Sarwagatah (Mahaada), Sthanur (Tidak Berubah), Acintyo (Tak Terpikirkan), Awyakta (Tak Terbandingkan).”“

Saya percaya itu, Bapa,” kata Abdul Jalil dengan suara berbisik ketika melihat Rsi Punarjanma makin melemah. “Namun, sekarang Bapa Rsi harus menyatukan hati dan pikiran untuk menghadap Dia Yang Tunggal, Sang Sumber Sejati, tempat seluruh ciptaan-Nya kembali.”

Rsi Punarjanma tersenyum, meski napasnya sudah sangat berat. Sambil berbisik dia menggumam, “Anakku, maukah engkau memenuhi permintaanku yang terakhir jika kematian telah menjemputku?”“

Permintaan apakah itu, o Bapa Rsi?” bisik Abdul Jalil lirih.“

Jika engkau kembali ke Jawadwipa,” ujar Rsi Punarjanma lirih, “temuilah anak tunggalku yang tinggal di negeri Daha. Dia sejak kecil diasuh oleh adikku, Wiku Suta Lokeswara, seorang pendeta Bhirawa Syiwa-Budha. Sampaikan kepada puteraku itu bahwa ayahandanya telah kembali ke Syiwapada (Kediaman Syiwa) karena setia pada Siwamarga (Jalan Syiwa).”“

Siapakah nama putera Bapa Rsi?” tanya Abdul Jalil.“

Nirartha,” ujar Rsi Punarjanma dengan suara tercekat di tenggorokan.“

Saya akan menyampaikan pesan Bapa Rsi jika Hyang Tunggal berkenan,” bisik Abdul Jalil lirih di telinga Rsi Punarjanma. “Sekarang, Bapa Rsi hendaknya menyatukan hati dan pikiran untuk menuju Dia.”

Rsi Punarjanma tersenyum, meski terasa dipaksakan. Kemudian dia berjuang mengatur napasnya yang makin berat. Beberapa jenak setelah itu dia terlihat meregang seperti berusaha menyatukan segenap konsentrasinya agar seirama dengan alur pernapasannya. Abdul Jalil yang pernah belajar dari Rsi Samsitawratah tahu bahwa bagi seorang Rsi yang sudah mencapai tingkatan tyaga, tampaknya soal menuju kematian bukan hal yang sulit. Dan itu setidaknya terbukti betapa setelah beberapa jenak mengatur pernapasan dan konsentrasi, menghadapkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada Yang Ilahi, ruh Rsi Punarjanma meninggalkan tubuh wadag-nya yang terkulai lemas di dekapan Abdul Jalil.

Abdul Jalil menarik napas berat sambil memangku kepala Rsi Punarjanma. Segala peristiwa menakjubkan dan pengalaman aneh yang terjadi padanya adalah kehendak-Nya semata. Perjalanan Rsi Punarjanma merupakan bukti tak terbantah bahwa kehendak-Nya adalah di atas segala-galanya. Manusia hanyalah obyek tanpa daya. Manusia pada hakikatnya tidak memiliki kehendak apa pun. Yang berkehendak adalah Allah semata. Dan sambil membopong tubuh Rsi Punarjanma ke arah perkemahan, ia mengumandangkan Firman Allah: “Wama tasya una illa an yasya’a Allahu rabbul alamin.”

Ketika malam membentangkan selimut hitam di atas tubuh bumi, Abdul Jalil duduk bersimpuh di hamparan padang Arafah, di dekat Jabal Rahmah, di lingkungan bebatuan dan pasir, di tengah desau angin yang dingin menggigit. Bintang-gemintang yang memancarkan cahaya di langit berkedip-kedip bagai hiasan permata. Keheningan dan kesunyian menerkam bagai gigi-geligi serigala gurun yang tajam dan menakutkan. Sementara tiang batu yang tegak di atas Jabal Rahmah termangu sendirian bagai menelan kesepian yang tak bertepi.

Di tengah keheningan dalam terkaman kesunyian itulah ia mendaki keempat anak tangga rahasia ruhaniah. Namun, saat berada pada anak tangga salawat tiba-tiba ia merasakan kesadarannya seperti memasuki ambang antara ‘alam al-khalq dan ‘alam al-khayal.

Saat melangkah di anak tangga salawat, melalui pandangan mubashirah, ia melihat bayangan manusia raksasa yang bercahaya terang berjalan di kejauhan. Di belakangnya diikuti barisan manusia yang lebih kecil. Di samping kanan dan kiri agak kebelakang dari manusia raksasa itu berbaris pula manusia-manusia lebih kecil yang lain.

Dengan rasa takjub dan heran ia menyaksikan betapa manusia raksasa bercahaya terang dengan tiga barisan manusia pengiring bergerak ke arahnya. Makin lama bayangan itu makin jelas; seorang manusia setinggi enam puluh hasta dengan tubuh dipenuhi bulu dan rambut terurai ke punggung. Wajahnya bercahaya kilau-kemilau.

Abdul Jalil bangkit menyongsong. Ketika jarak mereka semakin dekat, ia mendadak tahu bahwa sosok itu adalah Adam a.s.. Bahkan berikutnya ia pun mengetahui bahwa manusia raksasa itu adalah Adam yang pertama dicipta di antara sepuluh ribu Adam yang lahir dari generasi ke generasi berikutnya sehingga terlahir keturunannya yang disebut Anwas (manusia) atau Enos (manusia).

Adam dalam wujud manusia raksasa bercahaya terang dan berbulu lebat itu adalah citra Adam saat dicipta kali pertama di surga. Itulah citra Adam sebagai shurah ar-Rahman yang membangkitkan kecemburuan Iblis. Itulah Adam yang menjadi leluhur umat manusia. Adam yang telah “membelah” diri saat melahirkan Hawa.

Berbeda dengan penampilan Adam yang bercahaya terang kilau-kemilau, barisan manusia di belakangnya lebih redup kilau cahayanya. Sedang barisan manusia di sebelah kanan dan kirinya berwarna hitam. Meski kedua belah barisan manusia itu sama-sama berwarna hitam, keduanya berbeda secara esensial.

Barisan kanan adalah golongan aswidah al-qidam (orang-orang hitam dari zaman purba beserta keturunannya) yang bakal menjadi penghuni surga. Barisan kiri adalah golongan aswidah al-‘adam (orang-orang hitam citra bayangan maya) yang bakal menghuni neraka. Sedang Adam a.s. yang berada di depan beserta barisan di belakangnya adalah golongan muqarrabin (orang-orang yang didekatkan) dengan kenikmatan surgawi (QS al-Waqi’ah: 8-12).

Ketika jarak mereka tinggal tujuh langkah, Abdul Jalil menyampaikan salam. Adam membalas salamnya. Sesudah itu, dengan ucapan yang sangat jernih dia berkata-kata kepada barisan di belakang, kanan, dan kirinya sambil menunjuk ke arah Abdul Jalil. Inti kata-kata Adam adalah mengungkapkan bahwa Abdul Jalil merupakan salah satu di antara keturunannya yang bakal menjadi bagian dari barisan di belakangnya.

Kemudian dia memandang Abdul Jalil dengan penuh kasih. Senyum menghiasi wajahnya yang teduh dan diliputi keagungan. Sesaat sesudah itu dia berkata-kata seolah ditujukan kepada Abdul Jalil.“

Al-Hajj ‘Arafah (Haji adalah Arafah). Pada makan (tempat) ini engkau akan menjadi dekat (qurb) dan pada zaman (waktu) engkau akan ma’rifah kepada-Nya. Di Arafah ini, Dia telah menyempurnakan bagimu agamamu, telah Dia cukupkan nikmat-Nya bagimu, dan telah diridhoi-Nya Islam sebagai agamamu (QS al-Ma’idah: 4).”

Dengan penuh kekaguman dan ketakjuban, Abdul Jalil mendengarkan kata-kata Adam. Namun, ketika memandang lebih tegas pada wajah leluhurnya itu, betapa terkejutnya ia saat menyaksikan pemandangan yang tak pernah dibayangkan dan diimpikan sebelumnya; di dalam penglihatannya wajah Adam adalah wajahnya sendiri. Abdul Jalil tertegun diliputi ketakjuban dan ketidakmengertian. Seolah-olah ia sedang berdiri di muka cermin dan melihat pantulan wajahnya.

Setelah melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, Abdul Jalil tiba di Mina. Saat itu rembang senja mulai menyelimuti bumi dengan permadani hitam bersulam hiasan merah cakrawala sutera. Tanpa mempedulikan keletihan yang meremukkan tulang-belulangnya, ia pergi ke jamarah, yakni tempat tiga tugu batu yang menjadi simbol setani.

Di depan tiang jumrah al-ula, di antara kerumunan jama’ah haji, ia termangu sambil menggenggam erat batu-batu yang dipungutnya di Muzdalifah. Ia menangkap makna sejati di balik simbol pelemparan yang dinisbatkan kepada kisah Ibrahim saat akan menyembelih Ismail. Jelas sekali bahwa makna pelemparan batu itu adalah simbol penegasan atas akal, aturan kebumian, pamrih duniawi, dan pelepasan atas materi yang seluruhnya adalah citra setani yang harus dilepaskan dari keberadaan manusia yang bertauhid.

Pergulatan Ibrahim dalam peristiwa itu adalah pergulatan ruhaniah manusia dalam mencapai hadirat-Nya sebagai manusia yang menauhidkan Satu Ilah. Abdul Jalil seolah-olah bisa merasakan bagaimana Ibrahim harus menolak konsep bapak-anak yang menjadi konsep dasar aturan kebumian. Ibrahim juga harus menolak konsep akal manusia di dalam melaksanakan keyakinan imannya. Ibrahim juga harus menolak pamrih duniawi karena harus kehilangan anak yang dijanjikan-Nya akan mengembangkan keturunannya beriap-riap di muka bumi. Ibrahim harus menolak segala sesuatu kecuali Dia. Ibrahim harus menegaskan yang selain Dia, termasuk keberadaan anak gantungan harapannya. Dan, akhirnya Ibrahim berhasil menegaskan segala sesuatu selain Dia dari hati dan pikirannya.

Menyadari makna rahasia di balik ketentuan syari’at melempar batu ke jumrah al-ula, wustha, dan aqabah itu, ia tidak melemparkan batu satu demi satu sebagaimana lazimnya jama’ah lain, melainkan ketujuhnya dilempar serentak ke masing-masing tiang batu sambil mengucapkan kata-kata, “Sesungguhnya telah Engkau halau setan kegelapan keakuan dengan Cahaya Kebenaran-Mu. Dengan menyebut nama-Mu, wahai Allah, kulempar nafsuku yang cenderung kepada selain Engkau, Allahu Akbar!”

Setelah melempar ketiga tiang batu, ia menjauh, dan mendaki empat anak tangga rahasia ruhaniah. Ketika menginjak anak tangga tahlil, tiba-tiba pandangan bashirah-nya melihat seorang tua bongkok berjalan tertath-tatih dengan tangan kanan memegang tongkat emas berhias permata. Orang tua itu kepalanya sangat besar. Kedua kelopak matanya tegak ke atas, yang satu bersinar aneka warna, yang satu hitam bagai lubang tak tembus cahaya hingga seperti buta. Kedua bibirnya yang tebal bagai bibir kerbau dihiasi dua gigi taring yang panjang, tajam, dan berkilat-kilat. Di dagunya menjuntai tujuh helai rambut yang panjangnya seperti surai kuda.

Saat menyaksikan orang tua bongkok yang mengerikan itu, Abdul Jalil mengetahui bahwa dia adalah perwujudan setan. Itu sebabnya, saat orang tua itu mendekat, ia meneguhkan kiblat hati dan pikirannya kepada-Nya belaka.

Ketika jarak di antara mereka sudah dekat, setan itu menyampaikan salam, “Assalamu ‘alaika ya Abdul Jalil.”“

Assalamulillah ya la’in,” sahut Abdul Jalil. “Kenapa engkau kemari, o makhluk yang dikutuk?”“

Aku mendatangimu karena aku melihat engkau sangat berbeda dibanding manusia lain.” Kata setan sambil mengangguk-angguk. “Aku telah melihat saat engkau melempar batu tidak menyebut aku, melainkan engkau sebut nafs-mu. Apa yang menjadi penyebab kelakuanmu itu?”“

Aku tahu, o yang dikutuk, bahwa engkau adalah bagian dari Iblis, sang bayangan maya, yang tidak wujud. Aku tahu, Iblis dan engkau beserta balamu adalah khayyal (ilusi) ciptaan-Nya yang memancar dari nama-Nya, al-Mudhill (Yang Maha Menyesatkan). Karena itu, o setan, akan sia-sia saja aku melempar keberadaanmu karena engkau bersembunyi di mahligai nafsuku,” kata Abdul Jalil tegas.“

Orang-orang yang bertindak keras terhadap nafsunya sendiri sepertimu, o Abdul Jalil, adalah orang-orang yang paling aku benci,” seru setan dengan suara bergetar.“

Sesungguhnya, al-Haqq telah memberi tahu bahwa engkau hanya mampu menjalankan tugasmu dengan baik kepada orang-orang yang memanjakan nafsunya dengan kelezatan dan kenikmatan duniawi serta pikiran-pikiran yang serba menguntungkan diri pribadi belaka. Sedang kepada mereka yang meninggalkan segala sesuatu selain-Nya maka engkau tak akan mampu mempengaruhinya,” kata Abdul Jalil.“

Ketahuilah, o Abdul Jalil,” seru setan dengan napas tersengal-sengal, “ketika engkau melempar ketiga jumrah dengan ikrar melempar nafsumu sendiri, sesungguhnya kudapati diriku bagai disambar halilintar. Tubuhku terasa terbakar. Sebab, di dalam relung nafsu manusialah aku bertakhta. Itu sebabnya, o Abdul Jalil, janganlah kiranya engkau memberitahukan rahasia ini kepada siapa pun agar tugasku memuliakan dan mengagungkan Allah dapat kupenuhi sebaik-baiknya.”

Abdul Jalil tertawa mendengar permohonan itu. Ia sadar bahwa setan sangat ulet dan licin dalam mempengaruhi orang. Setan tidak pernah menyerah dalam upaya menjerumuskan manusia ke jalan sesat yang menyimpang dari-Nya. Itu sebabnya, dengan tegas ia menolak. “Aku tak akan terpedaya oleh kelicikanmu, o Abu Murrah, karena tanpa engkau minta pun aku tidak akan memberitahukan kepada siapa pun tentang apa yang telah kulakukan. Sebab aku tahu, meski seseorang mengucapkan kata-kata seperti yang kuikrarkan, jika hati dan pikiran mereka masih terikat pada pamrih kehidupan duniawi maka tidak akan ada artinya sama sekali. Karena itu, o Abu Murrah, biarlah mereka yang melaksanakan ibadah haji tetap mengikuti ketentuan yang sudah diatur oleh hukum syari’at.”

Mendengar ucapan Abdul Jalil, orang tua bongkok jelmaan setan itu meraung sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke atas tanah. Dia tampak diliputi amarah.

Abdul Jalil yang menyaksikan kemarahan setan itu, bangkit dan berjalan mendekati tiang batu sambil berkata, “Akan kutunjukkan kepadamu, o makhluk terkutuk, di mana pun engkau bersembunyi maka engkau tetaplah bayangan maya yang tanpa wujud. Engkau hanya khayyal yang terkutuk.”“

Apa yang akan engkau lakukan?” seru setan dengan suara gemetar.

Abdul Jalil diam. Ia terus melangkah mendekati tiang batu. Tidak dihiraukannya seruan-seruan setan yang mengharu biru di belakangnya.

Abdul Jalil menunduk memungut sejumlah batu yang berserakan di sekitar tiang batu. Setelah terkumpul dua puluh butir, ia tegak berdiri di hadapan tiang jumrah al-aqabah. Kemudian dengan sekuat tenaga ia lemparkan batu-batu yang digenggamnya sambil berseru. “Rajman li asy-syaithan wa ridhaka robbi, Allahu Akbar!”

Bersamaan dengan terbenturnya batu ke jumrah al-aqabah, terdengar raungan panjang dari orang tua bongkok yang berdiri di belakang Abdul Jalil yang diikuti oleh lenyapnya tubuh tua jelmaan setan itu. Suasana mendadak hening. Sunyi. Senyap.

Di tengah hamparan kesunyian, di bawah selimut hitam malam, sambil bersila membelakangi ketiga tiang batu jamarah, Abdul Jalil meneguhkan lagi perjalanannya mendaki anak tangga tahlil hingga memasuki hamparan nafs al-haqq. Dan malam itu, bagaikan mengulang peristiwa penyembelihan Ismail oleh Ibrahim, ia mendapati dirinya tenggelam ke dalam samudera Tauhid setelah keakuan pribadinya terkapar pasrah di mizbah persembahan sebagai domba sembelihan.

Ako Anchorage (Japan), February 25th 2007

2. Asrar Muhammad

Muhammad al-Mushthafa Saw, laki-laki buta huruf (ummi), yang lahir di tengah kesunyian padang pasir berbatu jazirah Arabia yang beribu-ribu tahun terkucil dalam keterasingan, adalah nur asy-syams wa al-baha’ (matahari dan sinar keagungan). Dia memancarkan cahaya rahmat-Nya ke segenap penjuru dunia dari waktu ke waktu hingga yaum al-akhir (hari akhir). Bagaikan cahaya matahari menyibak kegelapan malam yang pekat, begitulah cahaya kelembutan dan rahmat yang terpancar dari keagungan dan kemuliaan-Nya menerangi sudut-sudut hati manusia yang berada di bawah terang-Nya melalui laki-laki buta huruf ini.

Laki-laki agung penuh kasih yang tubuhnya bersimbah darah dan kotoran unta ketika menyerukan suara kebenaran itu bukanlan manusia yang dikenal karena mukjizat yang luar biasa, seperti Nabi Nuh, Musa, Sulaiman, dan Isa. Laki-laki yang selama lima belas tahun suka tafakkur dan tanaffus di gua Hira itu bukan pula pendeta keramat yang hidup terasing di pertapaan, menanggalkan seluruh atribut kehidupan duniawi. Sebaliknya, dia juga bukan raja kara raya yang mencontohkan kemegahan duniawi sebagai kebanggaan dan kemuliaan.

Muhammad al-Mushthafa Saw dengan segala kesederhanaan dan kerendahatiannya dikenal sebagai manusia yang jujur dan terpercaya (al-amin). Pembebas sekaligus sahabat para budak. Penyantun janda-janda tua dan anak-anak yatim piatu. Dia melarang pembunuhan bayi-bayi perempuan. Dialah manusia bijak yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Penyempurna akhlak manusia. Utusan Allah yang memerangi paganisme-materialisme demi tegaknya ajaran Tauhid. Sejarah mencatat dengan tinta emas, bagaimana laki-laki itu dalam menunaikan tugas kerasulannya telah menuruni lembah penghinaan dan jurang penistaan, mendaki tebing dan ngarai ancaman, tergiring di padang belantara teror dan provokasi, dan bahkan mengangkat senjata untuk mempertahankan keberadaan diri dari serangan orang-orang yang memusuhinya.

Bagi para pencari Tuhan seperti Abdul Jalil, menilai keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. tidaklah sama dengan sejarawan. Sebab, bagi salik seperti dirinya, menilai keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. tidak sekadar sebagai bagian dari sejarah kemanusiaan dengan segala atribut yang melekat padanya. Menurutnya, yang paling prinsip adalah keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. yang fundamental sebagai utusan Tuhan (Raulallah), kekasih Tuhan (Habibullah), sahabat Tuhan (Khalilullah), wali Tuhan (Waliyyullah), wakil Allah (Khalifatullah), dan pengejawantahan Yang Terpuji (Ahmad) yang telah mewariskan perbendaharaan kehidupan ruhaniah yang begitu agung dan menakjubkan bagi manusia. Dan yang lebih esensial lagi adalah keberadaannya sebagai jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya (QS al-Ma’idah: 35).

Meski belum pernah bertemu muka, Abdul Jalil melalui berbagai hadits meyakini bahwa Muhammad al-Mushthafa Saw dalam penampilan fisik akan melampaui pemuda asing dan aneh yang ditemuinya di Ka’bah maupun hadhrat Abu Bakar ash Shiddiq. Sebab, penampilan fisik pemuda asing yang aneh itu hanya dapat dilihat oleh segelintir orang yang dianugerahi nur lawami’ dan pemahaman fawaid. Sementara penampilan fisik Muhammad al-Mushthafa Saw dapat disaksikan oleh semua orang yang hidup sezaman, kecuali mereka yang jiwanya tertutup hijab rain kekufuran.

Muhammad al-Mushthafa Saw., dalam kesaksian istri-istri dan sahabat-sahabatnya yang hidup sezaman, adalah laki-laki yang tidak tinggi, tetapi tidak pendek. Tidak gemuk, tetapi tidak kurus. Kulitnya tidak putih, tetapi tidak coklat. Kedua matanya bercelak, tetapi tidak layaknya bercelak. Wajahnya elok bagai rembulan purnama, tetapi juga bagai matarahi terbit. Jika berjalan seakan-akan melangkah di jalanan yang menurun. Langkahnya cepat, namun tenang. Jika berbicara ada cahaya memancar dari gigi-giginya. Butir-butir keringatnya laksana mutiara dan berbau wangi.

Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz menyaksikan, “Saat memandangnya seakan-akan aku melihat matahari yang sedang terbit.” Ka’b bin Malik berkata, “Jika sedang gembira, wajahnya berkilau seakan-akan sepotong rembulan.” Jabir bin Samurah berkisah, “Aku pernah melihatnya pada satu malam yang cerah tanpa mendung. Kupandangi Rasulallah Saw lalu ganti kupandang rembulan. Ternyata, menurut penglihatanku, dia lebih indah dari rembulan.” Ali bin Abu Thalib berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti dia, sebelum maupun sesudahnya.”

Dari berbagai kesaksian yang diungkapkan oleh orang-orang yang hidup sezaman, mengenal, dan dekat dengan Muhammad al-Mushthafa Saw., jelas sekali bagi Abdul Jalil bahwa utusan Tuhan yang tidak lain dan tidak bukan adalah leluhurnya itu merupakan anak cucu Adam yang telah tercerahkan dan terlimpahi keagungan dan kemuliaan-Nya. Bahkan berdasar uraian rahasia hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq di ‘alam al-khayal, ia meyakini bahwa Muhammad al-Mushthafa Saw. bukan saja manusia pilihan yang dilimpahi keagungan dan kemuliaan-Nya, melainkan pengejawantanan dari keagungan dan kemuliaan-Nya sendiri.

Mengetahui dan memahami keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. berdasarkan pandangan seorang pencari Tuhan, ternyata menggiring Abdul Jalil ke hamparan kenyataan tak terbantah tentang Muhammad Saw. sebagai pengejawantahan Ahmad. Muhammad Saw yang lahir sebagai bangsa Arab dan berbahasa Arab bukanlah sekadar manusia berdarah dan berdaging yang memiliki atribut-atribut manusiawi. Muhammad Saw adalah Ahmad yang bersabda, “Ana Ahmadun bila mim,” dan “Ana ‘Arab bila ‘ain,” yang kepadanya Allah bersabda, “Laulaka, laulaka, ma khalaqtu al-aflak” (hadits Qudsi) dan “Khalaqtuka min nuri wa kholaqtu khalqa min nurika” (hadits Qudsi).

Tidak dapat diingkari bahwa setelah perjumpaan menakjubkan dengan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq di ‘alam al-khayal, kesadaran demi kesadaran baru yang tersingkap dari tirai-tirai kemanusiaannya berlangsung begitu mencengangkan sekaligus membingungkan. Namun, di antara kesadaran-kesadaran baru itu, yang paling penting dan dinilai sangat revolusioner oleh Abdul Jalil adalah terkuaknya rahasia keberadaan Muhammad al-Mushthafa Saw. sebagai pengejawantahan paling sempurna dari Yang Terpuji. Selama ini ia telah memahami pemetaan secara konseptual dan pemahaman ruhani tentang keberadaan-Nya di dalam Benteng Tak Tertembus, termasuk petunjuk tentang “jalan” dan “cara” menuju Benteng-Nya. Namun, yang belum ditemukannya justru keberadaan “pintu” (bab) dan “kunci” (miftah) untuk masuk ke dalam Benteng-Nya. Selama ini ia hanya berputar-putar dan berkeliling.

Kini, kesadaran barunya telah menemukan “pintu” dan “kunci” itu, yakni Muhammad Saw., yang kedatangannya telah diberitakan (mubasysyiran) oleh Isa a.s. dengan nama Ahmad (QS ash-Shaff: 6). Dialah Muhammad al-Mushthafa Saw yang melalui lisannya mengucapkan sabda Allah, “Inilah jalanku (sabili), aku dan pengikut-pengikutku mengajak engkau kepada Allah dengan bashirah (QS Yusuf: 108).”

Kesadaran baru itu tersingkap beberapa saat setelah ia melaksanakan Haji Wada’ dan berdoa di Multazam. Saat itu, tiba-tiba nur lawami’ di kedalaman jiwanya memancar hingga menggelarkan kesadaran baru betapa Ka’bah sebagai Baitullah pun memiliki pintu, meski semua orang tahu bahwa hanya ada ruang kosong belaka di dalamnya. Dengan demikian, pastilah Benteng Tak Tertembus itu pun wajib memiliki pintu, meski yang ada di dalamnya Cuma Kehampaan yang tak terjangkau pikiran dan tak terbandingkan dengan sesuatu.

Pengalaman menakjubkan tentang Nur Muhammad setidaknya menjadi faktor penentu bagi Abdul Jalil untuk memutuskan pilihan bahwa Muhammad al-Mushthafa Saw itulah “pintu” sekaligus “kunci” dari Benteng-Nya Yang Tak Tertembus. Selama ini ia beranggapan bahwa keberadaan Muhammad Saw sebagai wasilah untuk menuju Dia adalah disebabkan oleh faktor kedekatan (qurb), kecintaan (hubb), kerinduan (‘isyq), dan keterpilihan (mushthafa) belaka. Lantaran itu, segala doa tidak akan diterima tanpa disertai salawat kepada Muhammad Saw.

Kini, ketika kiblat hati dan pikirannya diarahkan kepada Muhammad al-Mushthafa Saw., tersingkaplah berbagai rahasia keagungan dan kemuliaan Ilahi yang tersembunyi di balik laki-laki buta huruf dan terpercaya itu. Terbukti sudah bahwa di balik makna Ana Ahmadan bila mim tersembunyi hakikat Ahad. Di balik makna Ana ‘Arab bila ain tersembunyi makna Rabb. Untuk Allah maka orang-orang beriman diwajibkan shalat dan untuk Muhammad Saw. maka orang-orang beriman diwajibkan salawat. Bahkan nilai shalat dianggap batal dan tidak sah jika tidak disertai salawat.

Sadarlah Abdul Jalil bahwa sabda Allah, “Kholaqtuka min nuri wa kholaqtu khalqa min nurika” (hadits Qudsi) itu berkaitan langsung dengan sabda Allah, “Sungguh telah datang seorang rasul dari nafs-mu sendiri (QS At-Taubah: 128).”

Ketika malam tiba dan menggelar permadani hitam dengan hiasan bintang-gemintang, Abdul Jalil melangkah ke persimpangan jalan yang membelah kota Badar dan Yanbu. Di situ, ia berdiri tegak menatap gugusan langit sambil merenungkan kebesaran Ilahi. Malam itu kabilah yang membawa rombongannya dan beberapa kabilah dari Mesir beristirahat di daerah itu. Karena, ada sebagian beberapa orang anggota kabilah yang akan memisahkan diri kembali ke Mesir.

Berbeda dengan jama’ah lain yang memanfaatkan waktu dengan berbincang-bincang, Abdul Jalil memilih berjalan-jalan menuju persimpangan. Malam itu jarak mereka dengan kota Badar tinggal beberapa pal lagi. Itu berarti, kabilah dalam beberapa saat lagi akan sampai di tanah yang bersejarah yang menjadi tonggak awal kemenangan Islam.

Bagi Abdul Jalil, pertempuran di Badar adalah pertempuran yang benar-benar didasari semangat suci menegakkan Kalimat Tauhid. Dalam pertempuran bersejarah itu kaum beriman yang berjumlah 317 orang dibantu oleh seribu malaikat (QS al-Anfal: 9) dan dilimpahi anugerah kemenangan oleh Allah dengan memukul mundur musuh mereka (QS al-Qamar:45). Karena, Allah bersama mereka dan Allah menempatkan rasa takut di dalam hati orang-orang kafir (QS al-Anfal: 12).

Usai perang Badar, Rasulallah Saw. mengungkapkan kepada para sahabat bahwa pertempuran itu adalah pertempuran kecil belaka. Pertempuran yang lebih besar dan dahsyat adalah pertempuran melawan nafsu. Melawan diri sendiri. Ucapan Rasulallah Saw. seusai perang Badar itu terbukti saat perang di Uhud. Dalam perang itu, para pemanah yang ditugaskan menjaga bukit untuk menghadang musuh ternyata berlarian ke bawah untuk berebut pampasan perang. Kemudian terjadilah tragedi paling memilukan dalam sejarah awal kebangkitan Islam. Terbukti, pamrih pribadi dan kecintaan terhadap harta benda adalah pangkal kebinasaan.

Ketika sayap khayalnya mengepak perkasa, terbang di antara gugusan sejarah perang Badar dan Uhud dengan masing-masing latarnya, tiba-tiba ia dihampiri oleh laki-laki muda yang sudah dikenalnya dengan nama Abu Talbis az-Zur. Orang ini berasal dari negeri Mesir. Tubuhnya tinggi kurus dengan wajah tirus, hidung melengkung bagai paruh rajawali, mata cekung, tulang pipi menonjol, dan gigi agak mengedepan. Jika berbicara dia selalu menggerak-gerakkan kedua tangannya seolah-olah tukang sulap memperagakan keahliannya.

Saat di Makah, Abu Talbis az-Zur tinggal dekat dengan pemondokan Abdul Jalil, namun keduanya tak pernah berbincang-bincang kecuali hanya saling melempar senyum saat berpapasan. Malam itu dia berpamitan kepada Abdul Jalil karena esok akan langsung menuju Yanbu untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir. Abdul Jalil menangkap ada yang tidak beres pada diri Abu Talbis az-Zur. Ia kemudian menanyakan apakah laki-laki itu tidak melakukan shalat arba’in di Masjid Nabawi dan ziarah ke makam Rasulallah Saw..

Mendengar pertanyaan itu, Abu Talbis az-Zur tertawa mengejek sambil mendengus. Kemudian, tanpa ada yang meminta dia berkhotbah dengan menyitir dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits yang intinya mengecam kebiasaan sesat yang dilakukan jama’ah haji yang menyekutukan Allah dengan Muhammad Saw. “Muhammad itu manusia biasa. Meski dia nabi dan rasul, tidak boleh dimuliakan melebihi manusia yang lain, apalagi sampai dituhankan. Untuk apa aku shalat arba’in di Masjid Nabawi? Bukankah pahala yang besar sudah kita peroleh saat shalat di Masjidil Haram? Untuk apa aku ziarah ke makam Muhammad? Bukankah sudah cukup kita tawaf mengitari Ka’bah? Semua itu perbuatan sia-sia. Menyekutukan Allah. Musyrik!” cibirnya.

“Tuan,” Abdul Jalil tersenyum, “Tuan boleh saja mengikuti keyakinan Tuan. Namun, janganlah Tuan menista dan menghujat amaliah ibadah yang dilakukan orang lain yang tidak sepaham dengan Tuan.”

“Sebagai sesama Muslim, aku wajib mengingatkan mereka,” Abu Talbis az-Zur melirik ke arah Abdul Jalil. “Sebab, telah tertulis di dalam Al-Qur’an (QS al-‘Ashr: 3) bahwa sesama orang beriman harus saling mengingatkan. Dan bagiku, jelas sudah kebenaran hanya ada pada Al-Qur’an sebagai firman Allah. Allah tidak boleh disekutukan dengan siapa pun, termasuk Muhammad.”

“Tuan,” sergah Abdul Jalil mendadak merasakan dadanya bagai hendak menumpahkan sesuatu, “sebagaimana Tuan, saya pun yakin bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah. Namun, tahukah Tuan dari mana kebenaran Al-Qur’an ayat demi ayat itu bisa sampai kepada kita?”

“Melalui Muhammad, Rasul Allah,” Abu Talbis az-Zur mengerutkan kening.

“Apakah Al-Qur’an itu berupa kitab atau tabut saat diterima Rasulallah, sebagaimana hal itu pernah diterima Musa?”

“Tidak,” sergah Abu Talbis az-Zur menatap tajam Abdul Jalil.

“Jikalau begitu, dengan cara bagaimana Al-Qur’an diturunkan Allah?”

“Diturunkan ayat demi ayat selama dua puluh tiga tahun.”

“Maksud saya,” Abdul Jalil memburu, “apakah ayat demi ayat itu turun dalam bentuk lembaran tertulis atau bagaimana?”

“Tidak,” Abu Talbis az-Zur tercekat, “ayat demi ayat Al-Qur’an disampaikan melalui mulut Muhammad, Rasul Allah.”

“Tuan,” Abdul Jalil menggempur, “jika Muhammad Saw. itu manusia biasa yang makan, minum, kawin, berketurunan, berperang, dan melakukan amaliah seperti manusia lain, kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan Allah melalui manusia yang lain yang juga makan, minum, kawin, berketurunan, berperang, dan melakukan amaliah? Kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan lewat kakek Tuan, misalnya?”

“Andaikata benar kata Tuan bahwa Muhammad Saw. itu manusia biasa,” lanjut Abdul Jalil, “bagaimana Tuan bisa yakin bahwa yang diujarkan oleh lisannya yang kemudian dirangkum menjadi Kitab Suci Al-Qur’an itu adalah firman Allah? Jikalau Muhammad Saw. manusia biasa, apakah Tuan tidak syak atau berprasangka buruk bahwa dia telah melakukan pemalsuan atas ayat-ayat Allah? Bukankah sudah menjadi kodrat manusia untuk tidak lepas dari kesalahan dan pamrih pribadi?”

“Tuan tidak memahami jalan pikiran saya,” kata Talbis az-Zur berkilah. “Saya tetap yakin bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Karena itu, dia diberi sifat amanah, fathanah, dan maksum. Jadi, dia memang diberi kelebihan dari manusia lain. Namun, dia tetaplah manusia biasa. Karena itu, tidak layak bagi mereka yang beriman dan bertauhid kemudian menjadikan Muhammad sebagai wasilah untuk menuju Allah. Karena, tidak ada dalil dan tuntunannya.”

“Tuan,” kata Abdul Jalil tenang, “dalam menjalankan shalat, apakah Tuan membaca salawat kepada Muhammad Saw?”

“Itu sudah pasti karena syari’at mengatur demikian.”

“Berarti Tuan yakin bahwa shalat yang tidak disertai salawat adalah batal dan tidak sah?” tanya Abdul Jalil memancing.

“Ya, karena itu sudah aturan syari’at. Kita ikuti saja tanpa perlu menakwilkan macam-macam,” sahut Abu Talbis az-Zur gerah.

“Tuan percaya pada syafa’at?” tanya Abdul Jalil.

“Ya.”

“Siapa manusia yang berhak memberi syafa’at?”

“Muhammad Rasul Allah.”

“Jika Allah berhak memberi maghfirah maka Muhammad Saw. berhak memberi syafa’at,” kata Abdul Jalil sambil menatap bintang-bintang di langit. “Jika Muhammad Saw dan orang-orang beriman wajib shalat kepada Allah maka Allah beserta para malaikat bersalawat kepada Muhammad Saw.. Dan karena itu, Allah mewajibkan orang-orang beriman bersalawat kepada Muhammad Saw.. Jika Allah murka kepada siapa pun yang mencintai sesuatu selain Dia, baik itu anak, istri, keluarga, harta benda, atau kekuasaan, kenapa Allah tidak murkan kepada orang-orang yang mencintai Muhammad Saw?”

“Tapi Tuanů” Abu Talbis az-Zur gelagapan.

“Tuan Abu Talbis az-Zur,” sahut Abdul Jalil tersenyum, “sebaiknya kita tidak perlu berdebat soal pandangan dan keyakinan kita. Sebab, yang paling utama menurut saya adalah bagaimana kita berjuang menuju Dia. Apakah kita benar-benar menuju Dia dan semata-mata untuk Dia dan karena Dia? Ataukah kita menggunakan agama-Nya untuk sesuatu selain Dia? Bagi saya, telah jelas dalil Al-Qur’an: Wa al-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana (Bagi mereka yang benar-benar berjuang menuju Kami maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami). Itu berarti, jalan menuju Allah tidak satu. Jadi, jika Tuan yakin bahwa jalan Tuan itu benar maka ikutlah jalan itu. Sebaliknya, saya akan meyakini jalan yang saya anggap benar tanpa perlu mencela jalan orang lain apalagi sampai memaksa orang lain agar mengikuti ‘jalan’ dan ‘cara’ saya.”

Rupanya, saat sedang berdebat tentang keberadaan Muhammad Saw., tanpa mereka ketahui telah muncul Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi. Dia cukup lama ikut mendengarkan percakapan mereka. Hal itu baru disadari Abdul Jalil ketika Husein sambil terbatuk-batuk kecil mendekatinya.

Husein tampaknya tidak senang dengan Abu Talbis az-Zur. Itu terlihat dari sikapnya yang mendukung pandangan-pandangan Abdul Jalil secara berlebihan, yang diperkuat oleh dalil-dalil aqli dan naqli tentang keagungan dan kemuliaan Muhammad Saw. yang tidak boleh dilihat dengan pandangan duniawi semata. Dengan paparan dan uraian yang luas yang didasari pemikiran filosofis, tampak sekali Husein bin Amir Muhammad menempatkan Abu Talbis az-Zur sebagai “keledai dungu” yang tidak tahu apa-apa soal agama, kecuali hanya taklid buta.

Sekalipun pengetahuan Abu Talbis az-Zur bukanlah tandingan Husein, laki-laki asal Mesir itu tidak mau kalah. Dengan suara meledak-ledak dia membela kerangka pandan yang dianggapnya benar, meski dengan dalil-dalil yang diulang-ulang. Dan ujung dari perdebatan yang tak diinginkan itu adalah pertengkaran mulut yang hampir saja pecah menjadi adu jotos.

Abdul Jalil buru-buru melerai, apalagi saat itu ia melihat beberapa orang pengikut Husein berlarian ke arah mereka. Ia berulang-ulang memohon kepada Husein agar bersabar dalam menunaikan perjalanan suci ke makam Muhammad Saw.. Sebaliknya, kepada Abu Talbis az-Zur, ia juga memohon agar bersabar dalam melanjutkan perjalanan kembali ke negerinya.

Salawat dan salam semoga disampaikan kepada Yang Terpuji (Muhammad), Imam al-Haqq, al-Khatim, Nur asy-Syams wa al-Baha’, Babullah wa Miftah al-Bab, yang dari nur-Nya alam semesta dicipta, yang dengan nur-Nya orang-orang beriman dibimbing ke hadirat-Nya, yang dengan nur-Nya al-Khalq dapat menyaksikan keagungan dan kemuliaan al-Khaliq, dan yang dengan nur-Nya ‘abid dibimbing dengan ‘ibadah menuju kepada Ma’bud. Hanya melalui “pintu” dan “kunci” inilah segala rahasia manusia dan alam semesta yang digelar-Nya dengan berlapis-lapis hijab dapat disingkapkan.

Di antara kubur Muhammad Saw dan Raudhah, di antara galau jama’ah yang berebut shalat sunnah dan meratap-ratap memanggil nama Muhammad Saw., Abdul Jalil duduk bersila ke arah kubur di mana jasad Muhammad Saw disemayamkan. Setelah menyampaikan salawat dan salam, ia menapaki tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq dengan menghadapkan kiblat hati dan pikirannya kepada nur yang memancar di antara kedua matanya, sebagaimana diajarkan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia tidak mempedulikan lagi hiruk pikuk jama’ah di sekelilingnya.

Setelah beberapa jenak menapaki keempat tangga rahasia itu tiba-tiba nur di antara kedua matanya memancar terang. Kemudian melalui nur itu terlihat citra agung dan mulia di hadapannya. Sekalipun tidak jelas benar wujudnya – karena diliputi pancaran cahaya menyilaukan – ia memahami bahwa citra agung dan mulia itu adalah perwujudan dari Muhammad Saw..

Sementara itu, perasaannya menangkap pancaran daya gaib dari arah kubur Muhammad Saw. secara bergelombang menerpa ke arahnya. Dalam keadaan itu, hampir saja akalnya mempertanyakan ke mana yang paling benar: apakah yang ditangkap nur di antara kedua matanya atau pancaran daya gaib yang ditangkap oleh perasaannya. Namun, kali ini ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi gelegak akalnya. Ia bergulat menyatukan perasaannya ke dalam nur yang memancar di antara kedua matanya.

Beberapa detik bergulat untuk menyatukan kesadaran tiba-tiba ia merasakan citra agung dan mulia yang terpampang di hadapannya itu memancarkan cahaya kilau-kemilau yang menyilaukan. Cahaya luar biasa dahsyat mengisap seluruh kesadaran dirinya.

Ia dengan gemetar dapat merasakan betapa air mata tumpah dari kelopak matanya, darah mengalir dari seluruh pori-pori tubuhnya, gumpalan-gumpalan hitam dosa keluar dari hatinya, kuda-kuda liar dari nafsu hayawaniyyah berlarian dari kedalaman jiwanya, dan keakuannya sebagai pribadi melesat ke arah citra agung dan mulia itu; terisap oleh daya gaib yang memancar darinya. Dan saat seluruh keberadaannya memasuki kumparan cahaya yang melingkupi citra agung dan mulia itu, leburlah segalanya dalam kilauannya.

Melalui pandangan bashirahi, ia menyaksikan pemandangan menakjubkan. Citra agung dan mulia yang semula tidak jelas akibat cahaya terang yang meliputinya kini hadir dalam wujud yang nyata. Muhammad al-Mushthafa Saw. duduk di atas takhta tertinggi dari maqam Muhammad dilingkari rasul-rasul dan malaikat yang berjajar. Hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq tampak di sebelah kanannya. Umar bin Khaththab di sebelah kirinya. Ali bin Abu Thalib berdiri di depan agak ke kanan. Dan Utsman bin Affan berada di depannya.

Bersabdalah citra agung dan mulian melalui al-ima’ yang jika diungkapkan dalam bahasa manusia berbunyi:

“Ketahuilah, o Ahmad, bahwa di dalam dirimu ada bagian dari diriku yang tak dapat dipisah. Bagian diriku yang ada di dalam dirimu itulah yang menjadi mursyid (guru sejati), Imam al-Haqq, yang membimbing dirimu sejati kepada hakikat Dia yang mengutusku.”

“Ketahuilah, o Ahmad, bahwa yang engkau saksikan ini adalah maqam Muhammad yang tinggi dan paling murni. Barang siapa yang naik ke maqam ini maka dia akan mewarisi keagungan dan kemuliaannya. Ketahuilah, o Ahmad, bahwa keberadaan maqam ini tidak di mana-mana, kecuali ada di dalam dirimu sendiri. Namun, engkau harus tahu bahwa antara engkau dengan maqam ini diantarai oleh tujuh langit, tujuh dunia, tujuh neraka, dan tujuh sorga. Dan hanya melalui aku sebagai “pintu” dan “kunci” dari Benteng-Nya Yang Tak Tertembus maka engkau dapat menyaksikan keagungan dan kemuliaan maqam ini.

“Karena engkau telah menyaksikan maqam ini, meski belum bisa mencapainya, maka hendaknya engkau bersabar hingga pada waktunya nanti datang keputusan-Nya. Karena itu, pujilah Dia yang mengutusku. Pujilah Dia yang menetapkan setiap keputusan. Dan sebagai pewarisku, pewaris Muhammad, sampaikanlah kepada manusia tentang apa yang telah kusampaikan. Terangilah kegelapan dunia dengan nur-mu yang memancar dari nur-ku yang merupakan pancaran Nur-Nya. Terangilah kegelapan meski penuh derita dan sengsara, bahkan andaikata darah harus mengalir dari tubuhmu sebagaimana pernah kualami saat Dia mengutusku.”

“Ketahuilah, o Ahmad, bahwa pada saat engkau memerangi mereka yang berada di dalam kegelapan maka saat itulah engkau sebenarnya memerangi dirimu sendiri. Sebab, setiap nafs sebenarnya sama dengan nafs yang ada pada dirimu, yang sumbernya adalah dari nafs-Ku. Ana min nur Allah wa khalq kulluhum min nuri. Aku ada di setiap diri. Karena itu, o Ahmad, jalankanlah tugas sucimu itu dengan penuh kesabaran. Karena, Dia selalu menyertai mereka yang sabar. Dan Dia adalah ash-Shabir (Yang Sabar) itu sendiri.”

Sedetik sesudah itu, pemandangan bashirah yang disaksikan Abdul Jalil terhapus dan mewujud dalam bentuk cahaya menyilaukan yang merampas semua penglihatan dan seluruh ufuk kesadaran. Ia merasakan seluruh cakrawala mewujud dalam Haqiqah Muhammad (Hakikat Yang Terpuji). Keakuannya pun turut terisap. Dan antara sadar, ia saksikan melalui pandangan bashirah dan pendengaran sam’ tentang kebenaran yang sangat rahasia di balik keberadaan Muhammad Saw.: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Terpuji adalah pancaran (rasul) Allah sendiri.”

Seketika kesadarannya hilang. Lenyap. Sirna. Terisap dan lebur ke dalam keagungan dan kemuliaan citra agung dan mulia dari Muhammad Saw..

Pengalaman ruhaniah selama beberapa detik di depan kubur Muhammad Saw itu benar-benar telah membukan cakrawala baru tentang makna “pintu”, “kunci”, mursyid, Imam al-Haqq, Nur asy-Syams wa al-Baha’, al-Khatim, Nur Muhammad, dan Ahmad yang dinisbatkan kepada Muhammad Saw..

Pengalaman menakjubkan dari fana’ yang dialaminya kali ini, meski esensinya sama, manifestasinya sangat berbeda dengan pengalamannya saat di Baitul Haram. Saat itu, ia mendapati seluruh cakrawala menghilang dan melenyap kecuali dirinya yang bagaikan menyatu dengan cahaya yang memancarkan cahaya itu. Kini, di hadapan kubur Muhammad Saw., ia mendapati seluruh cakrawala dan keakuannya menghilang dan terisap lenyap tanpa sisa, kecuali citra agung dan mulia dari Muhammad Saw..

Bertolak dari dua sisi pengalaman yang berbeda, namun sama dalam esensi itu, ia tidak bisa membeda-bedakan mana yang disebut fana’ fi Allah dan mana yang disebut fana fi rassul. Baginya, mengetahui perbedaan keduanya tidaklah penting. Karena, anugerah dari fana’ itu sendiri sudah merupakan puncak dari anugerah yang tak ternilai.

Ako Anchorage (Japan), February 26th 2007

3. Jama’ah Karamah al-Auliya’

Bagaikan tatanan pemerintahan manusia yang memiliki susunan hierarki lengkap dengan tugas masing-masing, seperti maharaja, perdana menteri, panglima angkatan perang, menteri-menteri, jaksa, hakim, adipati, perwira, prajurit, dan nayakapraja; demikianlah kehidupan ruhani mempunyai hierarki pemerintahannya sendiri lengkap dengan tugas-tugas dan kewenangannya masing-masing. Hanya saja, para pemegang jabatan di dalam hierarki pemerintahan ruhaniah itu terdiri atas sejumlah manusia paripurna pilihan (insan al-Kamil) yang tergabung dalam Jama’ah Karamah al-Aulia’. Mereka saling mengetahui siapa-siapa saja yang menjadi anggota Jama’ah dan apa kedudukannya, namun orang di luar kelompok mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan para aulia itu.

Jabatan yang tertinggi di antara anggota Jama’ah Karamah al-Aulia’ adalah Quthb al-Aqthab. Jabatan ini dapat disetarakan dengan jabatan sultan dalam hierarki kepemimpinan manusia. Lantaran itu, Quthb al-Aqthab juga sering disebut Sulthan al-Aulia’. Pada setiap zaman ada seorang Quthb al-Aqthab. Dia menjadi kutub yang dilingkari oleh Haqiqah ar-Ruhaniyyah. Dia adalah cermin Allah. Dia pusat pengawasan Allah atas dunia pada setiap zaman. Dia mengetahui rahasia takdir. Dia pusat tersembunyi dalam hierarki para wali.

Quthb al-Aqthab disebut juga al-Ghauts. Artinya, orang yang menolong dan melindungi dengan kasih sayang. Disebut al-Ghauts karena dia bisa melimpahi orang dengan inayah, yaitu rahmat dan kasih sayang Allah. Quthb al-Aqthab atau al-Ghauts hidup sendirian pada zamannya (wahid az-zaman bi-‘ainihi). Jika seorang Quthb al-Aqthab wafat maka dia akan diganti oleh Quthb al-Aqthab lain.

Di bawah Quthb al-Aqthab ada dua jabatan yang disebut al-Imamani (dua imam), yakni imam kanan dan imam kiri. Imam yang berasal dari sisi kanan Quthb al-Aqthab bertugas mengawasi alam gaib. Imam yang berasal dari sisi kiri Quthb al-Aqthab bertugas mengawasi alam kasatmata (dunia nyata). Di bawah al-Imamani ada jabatan Quthb yang jumlahnya banyak. Di bawah jabatan Quthb ada empat jabatan Autad (pasak). Di bawahnya lagi ada tujuh Abdal (pengganti), demikian seterusnya.

Keberadaan Jama’ah Karamah al-Aulia’ beserta susunan hierarki lengkap dengan tugas-tugasnya itu diketahui Abdul Jalil secara tak terduga, setelah tanpa disangka-sangka ia bertemu Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, usai melaksanakan shalat isya di masjid Nabawi. Malam itu, saudagar kaya raya yang selama ini menjadi pembimbing ruhaninya, tanpa penjelasan ini dan itu tiba-tiba mengajaknya ke daerah Uhud. Dan di sepanjang perjalanan itulah Ahmad at-Tawallud menceritakan tentang Jama’ah al-Aulia’, setelah terlebih dulu menjelaskan bahwa selama ini dia senantiasa melakukan haji setiap tahun.

Selama berjalan ke daerah Uhud yang terletak di utara Yatsrib, Abdul Jalil diam-diam merasa aneh. Ia, misalnya, merasa betapa langkah kakinya sangat ringan. Seolah-olah terbang di atas permukaan tanah. Bahkan yang mengherankan, baru beberapa puluh kali melangkahkan kaki, hamparan gunung batu Uhud telah terpampang di hadapannya.

Masih dengan rasa takjub, ia terus mengikuti langkah Ahmad at-Tawallud yang berjalan di depannya. Begitu berada di kaki Jabal Uhud, Ahmad at-Tawallud berhenti dan langsung duduk di atas sebongkah bati datar. Dia memberi isyarat agar Abdul Jalil duduk di sampingnya. Kemudian dengan suara bening dan bergema, dia menjelaskan bahwa malam itu mereka akan mengikuti pertemuan Jama’ah al-Aulia’ yang dilaksanakan setiap tahun sekali.

Abdul Jalil terkejut setengah mati mendengar penjelasan Ahmad at-Tawallud. Bagaimana mungkin ia bisa diajak mengikuti pertemuan para wali yang seharusnya hanya boleh diketahui oleh sesama wali saja. Namun, sekilas ia memahami betapa keberadaannya di situ adalah karena Ahmad at-Tawallud. Itu sebabnya, ia langsung menangkap sasmita bahwa sahabatnya yang saudagar kaya raya itu sebenarnya merupakan salah seorang wali keramat yang mencintai dan dicintai-Nya.

Menyadari hal itu, ia merasakan kegembiraan merayapi hatinya. Sungguh, ia merasa telah dikaruniai anugerah berlimpah-limpah oleh-Nya untuk mengetahui kekasih-kekasih-Nya yang diselubungi hijab-hijab tak tertembus dari pengetahuan manusia.

Seiring dengan ketakjuban dan kegembiraan yang dialaminya, ia tiba-tiba merasakan satu keanehan lagi tengah berlangsung atas dirinya. Ia, misalnya, tiba-tiba saja mampu menangkap dan membedakan makna ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Ahmad at-Tawallud. Maksudnya, ia bisa membedakan mana suara Ahmad at-Tawallud yang keluar dari keakuan pribadi, mana yang keluar dari Ruh al-Haqq, dan mana yang berasal dari al-Haqq. Dan Ahmad at-Tawallud sambil tertawa dan menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil mengungkapkan isyarat bahwa dia pun telah mengetahui perubahan yang dialami sahabatnya itu.

Ketika tengah mencermati perubahan yang terjadi pada dirinya, di bawah pancaran sinar rembulan ia melihat setitik bayangan hitam melesat cepat di atas garis cakrawala. Semula ia menduga titik itu tentulah seekor burung malam atau sejenis kelelawar. Namun, kecepatan gerak titik itu begitu menakjubkan. Dan sedetik sesudah itu, ia menyaksikan pemandangan yang mencengangkan; ternyata titik hitam itu adalah manusia yang sedang duduk bersila di atas hamparan sajadah terbang.

Ia sangat ingin menanyakan pemandangan yang mencengangkan yang baru pertama kali dilihatnya itu. Namun, Ahmad at-Tawallud dengan isyarat tangan menyuruhnya diam dan menunggu dengan sabar peristiwa apa yang terjadi selanjutnya. Demikianlah, dengan mendaratnya sajadah terbang itu, ia menyaksikan lagi seorang tua kulit hitam berpakaian serba putih muncul dari permukaan tanah, tepat di depannya.

Manusia di atas sajadah terbang itu melambaikan tangan kepada Ahmad at-Tawallud. Orang itu bernama Abdus Salam ath-Thayy al-Maghribi. Dia adalah kekasih-Nya yang berasal dari pinggiran kota Fez di negeri Maghribi (Maroko). Sehari-harinya, Abdus Salam ath-Thayy dikenal sebagai gelandangan tua aneh dan miskin yang dengan pakaian lusuh kadang-kadang terlihat berkeliling memasuki lorong-lorong kumuh dengan seonggok kayu bakar di bahunya. Kayu-kayu itu lazimnya dibagikan kepada janda-janda tua yang hidup dalam lingkaran kemiskinan. “Keberadaan Adus Salam ath-Thayy sebagai anggota Jama’ah Karamah tidak pernah diketahui orang, padahal dia adalah kekasih-Nya yang dianugerahi kemampuan “melipat ruang”. Dia dapat pergi kemana saja dengan cepat sesuai kehendaknya,” bisik Ahmad at-Tawallud.

Orang tua berkulit hitam berpakaian serba putih yang muncul mendadak dari permukaan tanah adalah Abdul Fattah Mutha’ al-Habsy, yang berasal dari desa ditepi danau Tana, di negeri Habbasya (Ethiopia). Dia adalah seorang kepala suku yang sangat dihormati oleh suku-suku di sekitarnya. Orang-orang di negerinya mengenal Abdul Fattah Mutha’ al-Habsy dengan nama kebesarannya sebagai kepala suku, yaitu Dangla. Tidak ada satu pun anggota sukunya yang tahu bahwa Dangla yang mereka hormati itu adalah kekasih-Nya. Mereka hanya tahu bahwa Dangla yang mereka patuhi itu memiliki bermacam kelebihan ruhani yang bisa menghalau hantu-hantu dan ruh-ruh jahat yang suka mengganggu manusia.

Berurutan dengan kehadiran mereka, Abdul Jalil menyaksikan berbagai manusia aneh yang datang dengan berbagai cara yang aneh pula. Ada yang menunggang serigala, berjalan dengan kedua tangan, menaiki pusaran angin gurun, mengendarai gumpalan awan, kursi terbang, dan bahkan tilam terbang.

Di antara sejumlah kekasih Allah yang diketahui Abdul Jalil berdasar penjelasan Ahmad at-Tawallud adalah:

Abdur Rahman Mahfuzh as-Sini asal Kanton (Kwang Tung), di negeri Cina.

Abdul Qadir Maqdur al-Balkhi asal Balkh, di negeri Khurasan (Iran).

Abdur Rahim Habbah an-Nisyaburi asal Nisyapur, di negeri Khurasan (Iran).

Abdullah Khafi al-Mishri asal Ismailliyah, negeri Mesir.

Abdul Malik Muqtashid al-Isfahani, asal Isfahan (Iran).

Abdul Jabbar Shahibul Hal at-Tirmidzi, asal Termez (Uzbekistan).

Abdul Ghafur Mufarridun al-Gujarati, asal Gujarat (India).

Abdul Karim Gurgani (Iran).

Abdul Halim Tabaristani (Iran).

Abdul Hamid Kirmani (Iran).

Abdul Majid Turfani (Tibet).

Abdul Jalal Daghestani (Rusia), dan

Abdul Qohar Punjabi (India).

Ketika sedang mendengar uraian Ahmad at-Tawallud, tiba-tiba pandangan Abdul Jalil terisap oleh kekuatan luar biasa untuk menyaksikan seorang laki-laki tua yang berjalan tertatih-tatih dibantu tongkat penyangga di tangan kanannya. Tidak ada yang aneh pada laki-laki tua itu. Dia berjalan biasa saja. Bahkan dengan usianya yang tua itu betapa sulit dia melangkah di tengah hamparan pasir, terutama saat mendaki lereng Jabal Uhud. Namun, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja ia menangkap ketidakterbatasan pada diri orang tua itu. Orang tua yang kemudian dikenalnya bernama Misykat al-Marhum itu bergerak, namun seolah-olah diam. Rumit, namun sederhana. Meliputi, namun diliputi. Tidak hidup, tetapi tidak mati. Sebuah tampilan menakjubkan yang mirip dengan keberadaan pemuda aneh yang ditemuinya di Masjidil Haram.

Menghadapi keanehan Misykat al-Marhum, Abdul Jalil menangkap isyarat dari nur lawami’ yang menyatakan bahwa laki-laki tua yang sedikitpun tidak menunjukkan keanehan yang mencengangkan itu justru merupakan kekasih-Nya yang paling mulia dan yang paling tinggi maqamnya. Namun, saat ia melirik ke arah Ahmad at-Tawallud untuk meminta penjelasan, sahabatnya itu memberinya isyarat agar diam dan tidak membicarakan Misykat al-Marhum.

Isyarat dari nur lawami’ tentang Misykat al-Marhum ternyata tidak salah. Hal itu diketahuinya ketika Misykat al-Marhum dengan isyarat tangan dan al-ima’ melarangnya untuk mengungkapkan sesuatu mengenai dirinya. Bahkan saat Abdul Jalil menerka-nerka apakah Misykat al-Marhum seorang Quthb atau bahkan Quthb al-Aqthab, dia dengan lebih tegas lagi melarangnya dengan acungan tongkat. Dan saat itu, Abdul Jalil merasa lidahnya kelu dan mulutnya terkunci.

Ketinggian martabat laki-laki lemah yang sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda karomah itu terbukti saat dia setelah dengan susah payah mendaki lereng bukit Uhud langsung disambut dengan penuh hormat oleh para kekasih-Nya. Abdus Salam ath-Thayy menggelar surbannya sebagai alas duduk Misykat al-Marhum. Dan bagaikan orang tua pikun, dia menurut saja ketika dibimbing dan disuruh duduk di atas hamparan tersebut.

Ketika para kekasih Allah itu duduk berhadap-hadapan dalam sebuah lingkaran di atas Jabal Uhud di bawah benderang rembulan, Misykat al-Marhum tanpa terduga mengetuk-ketukkan tongkatnya beberapa kali ke tanah dan kemudian menunjuk ke arah Abdul Jalil sambil berkata, “Malam ini telah hadir anggota baru dalam Jama’ah, yakni Abdul Jalil al-Jawy. Dia telah dipilih-Nya untuk menggantikan kedudukan saudara kita Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy (asal negeri Jawa) yang telah dipanggil-Nya.

Abdul Jalil terkesima kaget. Namun, sebelum ia sempat menyadari apa yang sedang terjadi, tiba-tiba ia menyaksikan pancaran cahaya menyilaukan bagai kilatan petir melesat dari dada Misykat al-Marhum. Dan ia masih dicekam keheranan ketika tubuhnya serasa disentak oleh kekuatan dahsyat akibat disambar oleh cahaya menyilaukan tadi. Beberapa jenak ia hanya bisa termangu-mangu kebingungan bagai orang yang mendadak terbangun dari tidur.

Peristiwa menakjubkan yang berlangsung sekejab itu ternyata membawa perubahan besar pada dirinya. Beberapa jenak setelah terheran-heran, ia merasakan betapa ia seperti telah mengenal akrab para kekasih Allah yang hadir di situ. Seolah-olah ia telah bergaul dengan mereka selama puluhan tahun. Bahkan yang mengherankan, ia merasa mereka adalah bagian dari dirinya.

Saat ia termangu menyaksikan keajaiban yang dialaminya, para kekasih Allah itu berbarengan mengucapkan salam. Dan ia pun menjawabnya. Namun, sesudah itu mereka langsung memperbincangkan kehendak Allah yang akan mengarahkan perjalanan sejarah umat manusia ke sebuah zaman yang sangat menggetarkan, yakni zaman kesesatan umat sebagaimana telah digariskan-Nya di lembaran yang terjaga (al-Lauh al-Mahfuzh). Jika manusia seumumnya memperbincangkan persoalan besar dengan berdebat dan menggunakan hujah-hujah serta dalil-dalil pembenar, maka para wali karomah itu tidak sedikitpun bertentangan pendapat.

Misykat al-Marhum yang dihormati dan dimuliakan oleh para anggota Jama’ah memulai perbincangan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 26: “Allah Pemilik kekuasaan. Dia berikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendaki-Nya. Ditangan-Nya terletak kebajikan. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Beberapa jenak berhenti, Misykat al-Marhum melanjutkan bacaannya ke ayat 27: “Allah Berkuasa memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dia berkuasa mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia melimpahi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa menghitung-hitung.” Sesudah itu ia membaca Surat al-Qashash ayat 68: “Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi yang lain.”

Kini Misykat al-Marhum membaca Surat Yunus ayat 107: “Jika Allah menimpakan marabahaya (mudharat) kepada makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menghindarinya kecuali Dia sendiri. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Abdul Jalil merasakan jantungnya berdentam-dentam dan sekujur tubuhnya panas dingin. Ia menangkap sasmita bahwa apa yang akan disampaikan Misykat al-Marhum adalah peristiwa menggetarkan yang berkaitan dengan malapetaka luar biasa yang bakal menimpa umat manusia.

Misykat al-Marhum terdiam sejenak. Para wali yang lain membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir mengagungkan kebesaran Allah.

Setelah itu, ia membacakan hadits-hadits yang berkaitan dengan Dajjal, sang Penyesat umat manusia. Kemudian dengan isyarat, ia memberi petunjuk agar para wali yang hadir dalam pertemuan Jama’ah itu menjalankan tugas masing-masing untuk menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Dia juga mengisyaratkan bahwa dunia akan segera dilanda kekuasaan jahat Dajjal dengan pengaruh-pengaruhnya yang menyesatkan, bahkan di kalangan kaum muslimin.

Sebuah pengalaman aneh yang menakjubkan tiba-tiba saja dialami Abdul Jalil seiring dengan usahanya memahami apa yang dikemukakan oleh Misykat al-Marhum. Ia merasakan betapa jantungnya yang berdentam-dentam dan sekujur tubuhnya yang panas dingin itu mendadak tenang. Sedetik kemudian, ia mendapati betapa dirinya telah memahami sedemikian rupa rincinya tentang apa yang dikemukakan Misykat al-Marhum. Bahkan ia menangkap jelas perintah Misykat al-Marhum tentang bagaimana ia harus menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penjaga keseimbangan kehidupan umat ditengah usaha-usaha Dajjal beserta pengikut-pengikutnya mempengaruhi umat. Di antara tugas dan fungsinya itu, ia harus membuat garis batas yang tegas untuk memisahkan umat yang terpengaruh Dajjal dengan umat yang tidak terpengaruh Dajjal.

Dalam memahami ungkapan tentang Dajjal, Abdul Jalil merasakan betapa setiap kali Misykat al-Marhum menyitir hadits maka saat itu pula ia bagaikan menyaksikan pemandangan nyata yang tergelar melalui bashirah. Misalnya, saat Misykat al-Marhum menyitir hadits yang mengungkapkan bahwa Dajjal digambarkan berkulit putih. Mata kanannya buta. Mata kirinya bersinar laksana bintang (HR Bukhari) maka terpampanglah di dalam pemandangan batinnya sosok-sosok dari manusia-manusia berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, berhidung mancung, dan bertubuh tinggi besar. Mata duniawinya (sebelah kiri) terbuka lebar dan sangat cemerlang. Sedang mata ukhrawi-nya (sebelah kanan) buta.

Misykat al-Marhum menyitir hadits yang menyatakan bahwa Dajjal memiliki gunung roti dan sungai madu. Dia juga membawa api dan air di tangannya, namun air itu sebenarnya api, dan api itu sebenarnya air (HR Bukhari). Melalui pandangan bashirah, Abdul Jalil melihat tentang sosok-sosok yang memiliki kekayaan luar biasa. Mereka suka sekali menipu orang lain dengan janji-janji palsu tentang kehidupan duniawi dan ukhrawi. Siapa pun yang menumpukan harapan kepada mereka akan mendapatkan kesesatan dan kebinasaan. Sebaliknya, siapa yang berani menantang akan beroleh kebaikan dan kemenangan.

Ketika Misykat al-Marhum menyitir hadits yang mengungkapkan bahwa Dajjal jika berjalan di atas bumi sangat cepat bagai awan dibawa angin (HR Abu Dawud), tiba-tiba pandangan bashirah Abdul Jalil terpampang kapal-kapal layar berukuran raksasa yang bergerak sangat cepat membelah samudera raya. Kemudian diiringi dentuman meriam, kepulan asap, bau mesiu, mayat bergelimpangan, dan darah berceceran dimana-mana, berhamburanlah kawanan manusia berkulit putih dari dalam kapal-kapal mereka. Demikianlah, kawanan manusia berkulit putih itu melanda ujung-ujung dunia. Dengan kerakusan tiada tara mereka memangsa apa saja yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.

Berdasar hadits-hadits tersebut dan pandangan bashirah, Abdul Jalil menangkap makna bahwa Dajjal sebagai kaum kulit putih yang hidup mengikuti tatanan nilai yang terhijab dari al-Khaliq dan dari kehidupan ukhrawi. Itu sangat sesuai dengan makna di balik nama Dajjal yang berasal dari kata dajala: dia (yang) tertutup. Dengan demikian, yang disebut Dajjal adalah bangsa-bangsa berkulit putih yang seluruh sisi kehidupannya terhijab dar al-Khaliq. Ini berarti, siapa yang mengikuti tatanan nilai bangsa-bangsa berkulit putih maka ia akan terhijab dar al-Khaliq.

Abdul Jalil memahami bahwa tugas utama Dajjal dalam menjalankan fungsinya sebagai sang Penyesat Agung adalah membentuk “hijab-hijab” pada diri manusia, yakni melalui paham-paham yang berkaitan dengan cinta keduniawian-materialisme (hubb ad-dunya); mengagungkan akal (‘aql), yaitu simpul ikatan (‘iql) yang menjerat pikiran manusia ke arah lingkaran setan aturan-aturan indriawi yang jumud; mengumbar hawa nafsu; memuja ananiyyah (egoisme, individualisme, hedonisme); takut mati; mengingkari (kufr) keberadaan yang gaib, termasuk mengingkari keberadaan Allah (ateisme).

Pandangan hidup bangsa-bangsa kulit putih yang mengikuti tata nilai Dajjal itu semata-mata bersifat keduniaan. Lantaran itu, mereka hidup dengan mengikuti naluri keserakahan hawa nafsu. Namun, keserakahan itu akan mereka balut seolah-olah merupakan tuntunan agama. Selain itu, bangsa-bangsa kulit putih pengikut Dajjal memiliki sifat takabur seperti Iblis. Mereka juga suka menghina, menista, serta merendahkan orang lain yang berkulit lebih gelap. Bahkan karena ketakaburan itu mereka menganggap dunia ini milik mereka. Lantaran itu, mereka merasa berhak untuk mengusir dan membunuh bangsa-bangsa berkulit gelap yang mereka anggap hewan-hewan rendah pengotor dunia.

Pandangan hidup yang semata-mata bersifat keduniaan dan dilandasi sifat takabur itu telah membawa mereka pada tindak kejahatan yang paling mengerikan dalam sejarah kemanusiaan, yakni menjadikan agama sebagai alat untuk mensahkan keliaran nafsu, keserakahan, kezaliman, kecurangan, kebiadaban, kekejaman, kebuasan, dan kejahatan. Ini terjadi karena agama yang benar bagi mereka adalah agama yang menguntungkan kehidupan duniawi dan memberi kebebasan untuk mengumbar nafsu. Itu sebabnya, agama mereka tidak mengenal syari’at yang berisi aturan-aturan untuk menata kehidupan manusia sebagai penghuni bumi. Tuhan yang mereka sembah pun adalah Tuhan yang dapat menguntungkan kehidupan duniawi mereka, yakni Tuhan yang menghapuskan hukum dan aturan-aturan yang mengikat kebebasan manusia dalam melampiaskan hawa nafsu.

Manusia-manusia Dajjal itu ditandai oleh perilaku yang khas, yakni sangat mempesona jika berbicara tentang kehidupan duniawi dan mengedepankan kesaksian Allah tentang ketulusan hati mereka. Sebenarnya, mereka justru menyembunyikan pamrih dari apa yang mereka bicarakan. Saat orang-orang terpesona, mereka akan melampiaskan pamrih duniawinya hingga terjadi peperangan, penipuan, penindasan, penyiksaan, penjarahan, penistaan, dan berbagai kerusakan di muka bumi (QS al-Baqarah: 204-205).

Dengan terungkapnya makna Dajjal dalam perbincangan para wali karomah itu maka telah jelaslah bahwa kehadiran bangsa-bangsa berkulit putih ke berbagai belahan bumi senantiasa akan ditandai dengan kerusakan dan kebinasaan. Sebab, sifat dan kecenderungan manusia-manusia yang “tertutup” dari kebenaran (al-Haqq) maka seluruh gerak hidupnya semata-mata dibimbing oleh nafsu-nafsunya yang rendah yang dikendalikan oleh bisikan Iblis. Dan sebagaimana perilaku Iblis, mereka selalu berkata-kata dengan ungkapan-ungkapan yang indah dan mempesona (sebagaimana Iblis membujuk Adam dan Hawa). Mereka akan berkata tentang tugas mereka sebagai utusan Tuhan yang menyebarluaskan -Rahman (Kasih) dan Rahim (Sayang) kepada umat manusia. Namun, berbeda dengan apa yang mereka ucapkan, yang mereka perbuat justru kekejaman, kebuasan, keserakahan, ketakaburan, kecurangan, dan kejahatan yang tak pernah terbayangkan dalam pikiran waras manusia.

Sekalipun telah jelas bahwa Dajjal akan muncul dari bangsa-bangsa berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, berhidung mancung, dan bertubuh tinggi besar, tidak seluruh bangsa itu bisa disebut bangsa Dajjal. Sebab, hidayah Allah tidak mengenal warna kulit. Di antara mereka ada juga yang tidak sepaham dan bahkan menentang nilai-nilai Dajjal. Namun, karena jumlahnya tidak besar maka mereka akan segera tersapu oleh pengaruh Dajjal, bagai selembar daun kering tertiup angin.

Usai membahas tentang kehadiran Dajjal, para wali karomah kemudian bubar begitu saja, kembali ke tempat tinggalnya masing-masing dengan penuh ketenangan dan kegembiraan. Tidak ada petunjuk ini dan itu. Mereka bahkan tidak sedikit pun menunjukkan keprihatinan apalagi cemas menyandang tugas berat yang bakal mereka jalankan.

Cahaya rembulan yang keperakan jatuh ke permukaan lembah, gunung, dan kebun-kebun kurma di sekitarnya. Udara malam sangat dingin. Di atas Jabal Uhud, Abdul Jalil bergeming duduk bersila di tempatnya sambil memandang Ahmad at-Tawallud dan Misykat al-Marhum berbincang-bincang. Suasana sangat sepi. Senyap. Sunyi. Hening. Angin gurun yang biasanya menderu-deru tak terdengar sedikit pun suaranya. Kehidupan bagai terhenti.

Dalam keheningan itu, ia mendengar detak jantung dan desah napasnya serta sayup-sayup suara Ahmad at-Tawallud dan Misykat al-Marhum. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Ia hanya merasa betapa keresahan diam-diam merayap ke dalam hatinya dan menjalar terus ke segenap jaringan tubuhnya. Makin lama makin merajalela.

Berbeda dengan para wali karomah lain, Abdul Jalil yang baru malam itu ditabalkan sebagai anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’, merasa resah karena belum mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Dajjal beserta bala tentaranya. Keresahan itu rupanya diketahui oleh Misykat al-Marhum yang masih berbincang-bincang dengan Ahmad at-Tawallud. Hal itu terlihat ketika dengan lambaian tongkatnya, dia menyuruh Abdul Jalil mendekat dan duduk dihadapannya.

Abdul Jalil menghambur dan buru-buru duduk bersila. Misykat al-Marhum memerintahkannya untuk memejamkan mata dan melakukan nafs al-haqq sebagaimana yang diajarkan hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Tanpa bertanya ia melaksanakan perintah itu.

Ketika sedang berjalan setapak demi setapak mendaki nafs al-haqq dengan memusatkan konsentrasi pada nur, ia merasakan bagian bawah keningnya – tepat di antara kedua matanya – disentuh oleh tangan Misykat al-Marhum. Berurutan dengan sentuhan itu tiba-tiba ia menyaksikan cahaya yang luar biasa terang memancar di hadapannya. Sedetik sesudahnya, kesadaran dirinya terisap ke dalam cahaya itu. Kemudian bagai anak panah yang dibidikkan ke matahari, demikianlah ia menyaksikan cahaya di hadapannya itu mekin terang hingga seakan membutakan matanya.

Abdul Jalil yang pernah mengalami berbagai peristiwa ruhani yang menakjubkan selama perjalanan mencari-Nya, sadar benar dengan apa yang dialaminya saat itu. Itu sebabnya, sedikit pun ia tidak berani bertanya-tanya. Ia membiarkan peristiwa yang membawanya ke dimensi lain itu berlangsung dan menganggapnya sebagai bagian dari pengalaman ruhani yang kebenarannya tidak perlu dijabarkan dengan akal dan pikiran. Dan lantaran itu, ia tidak mengetahui secara pasti apakah ia seperti kupu-kupu keluar dari kepompong atau sebaliknya justru seperti ular masuk ke dalam liang.

Peristiwa ruhani itu akhirnya melemparkannya ke dimensi yang tak pernah dikenalnya, yakni hamparan luas tanpa batas dengan kilasan-kilasan aneka bentuk dan warna yang senantiasa berubah-ubah yang tak terlukiskan keindahannya. Hamparan itu begitu luas hingga tidak memiliki garis cakrawala. Seluruh yang tergelar memenuhi segala penglihatan. Sementara cahaya yang luar biasa terangnya itu secara menakjubkan terbit sebagai bulatan cahaya dengan sinar gemilang memancar di kejauhan. Bulatan cahaya itu seolah-olah menjadi tumpuan batas pandangan.

Di tengah hamparan luas tanpa batas itu ia tetap meneguhkan ingatan kepada Allah. Ia mengesampingkan gelegak tanda tanya yang sempat menyembul di benaknya. Beberapa jenak kemudian ia mendengar suara-suara memanggil namanya. Suara-suara itu bukan perempuan dan bukan laki-laki. Mereka semacam al-ima’. Suara-suara itu menggetari kesadarannya.

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa apa yang engkau saksikan ini bukanlah sesuatu yang berada di luar dirimu. Sebab, saat ini engkau tidak berada di mana-mana, melainkan di dalam dirimu sendiri. Hamparan luas tanpa batas yang tergelar di hadapanmu adalah batas khatrat antara dua alam yang terletak di dalam dirimu. Di belakangmu adalah alam akal (‘aql) yang sempit, dangkal, rendah, terbatas, dan terikat oleh dalil-dalil indriawi yang mengikat (‘iql) kebebasanmu dalam menjalin hubungan dengan Dia.”

“Hamparan luas tanpa batas yang tergelar di hadapanmu adalah bahr al-wujud yang menghamparkan kegelapan dan terang dalam bentangan bathil dan haqq, zhulumat dan nur, padat dan halus, buruk dan baik, duniawi dan ukhrawi. Di dalam hamparan bahr al-wujud itu tersembunyi haqiqah, qandil, nur as-samawati wa al-ardh, dan Nurun ‘ala Nurin (QS an-Nur: 35). Karena itu, o Abdul Jalil, ceburkanlah dirimu ke dalam hamparan bahr al-wujud jika engkau ingin mengetahui hakikat asal kejadianmu.”

Tanpa bertanya ini dan itu, ia terus membenamkan ingatannya hanya kepada Allah sambil memusatkan pandangan ke arah bulatan cahaya yang bersinar benderang. Beberapa detik kemudian, ia merasakan kesadarannya bagai terisap oleh kekuatan dahsyat yang memancar dari bulatan cahaya itu. Sesaat kemudian, ia merasakan kesadarannya meluncur masuk ke lubang cahaya tanpa dasar.

Ia membiarkan kesadarannya terseret masuk. Ia menyaksikan kilasan terang dan gelap silih berganti memasuki penglihatannya. Dan bagaikan orang terjatuh ke dalam jurang, ia merasakan kengerian luar biasa menerkam kesadarannya. Ia ingin menjerit, namun lidahnya kelu dan mulutnya seperti terkunci. Akhirnya, ia pasrah dan membiarkan kesadarannya terempas; timbul dan tenggelam di tengah kilasan-kilasan cahaya dalam keadaan antara sadar dan tidak, antara hidup dan mati.

Ketika tengah terombang-ambing di dalam lubang cahaya tiba-tiba ia mengalami peristiwa menakjubkan yang berlangsung sangat mencengangkan. Ia merasakan kesadarannya digetari oleh medan berkekuatan gaib yang sangat dahsyat, yang menyambarnya begitu cepat bagai halilintar.

Ia terkesima. Ngeri dan gentar. Kilasan-kilasan terang dan gelap silih berganti melenyap. Sesaat kemudian, ia mendapati dirinya berada di hamparan serba hitam pekat. Seperti sebuah sumur. Lubang cahaya terang benderang yang mengisapnya tadi telah terlewati. Lubang itu juga lenyap. Namun, secara ajaib lubang terang benderang itu mendadak terbit lagi di kejauhan dalam wujud bulatan yang sangat hitam pekat. Makin dekat pandangan diarahkan makin hitam pekat keadaannya. Sementara makin jauh jarak pandangan dari bulatan hitam itu makin terang keadaannya.

Abdul Jalil merasakan betapa sesuatu yang padat menyesaki kesadarannya. Jika digambarkan dalam panggung kehidupan manusia sehari-hari akan terasa seperti sesak dada dijejali sesuatu yang padat. Pandangan matanya kabur seperti ditutupi selaput. Darahnya mengalir perlahan. Bahkan peluhnya pun menetes kental.

Meski dengan pandangan kabur, ia paksakan juga mengamati hamparan hitam yang tergelar di hadapannya. Saat itulah, secara samar-samar ia menyaksikan kilasan-kilasan pemandangan yang menggetarkan. Di tengah hamparan itu, dari lubang yang hitam pekat, muncullah bayangan seekor ular raksasa berkepala empat sedang menggeliat dan mendesis-desis kelaparan. Dari keempat mulutnya menghamburlah berbagai hewan: buaya, biawak, katak, kalajengking, kelabang, cacing, dan makhluk menjijikkan lainnya. Mereka menebar dan meriap-riap mengerumuni sang ular raksasa berkepala empat.

Meski dalam keremangan, ia melihat kilasan-kilasan berjuta-juta manusia tanpa selembar pakaian berdiri berhadap-hadapan di depan bayangan ular raksasa, seolah-olah bala tentara yang hendak bertempur. Sebagian di antara mereka ada yang menunggang kuda, gajah, dan mengendarai kereta perang. Ada pula yang menumpang kapal, perahu, dan kereta manjanik (alat pelontar batu). Masing-masing memegang senjata berbagai jenis, seperti pedang, panah, tombak, senapan, dan meriam.

Dua barisan manusia yang tak terhitung jumlahnya itu diantarai oleh tumpukan harta dan bukit makanan. Aneka permata berserakan di antara piala, piring, sendok, mahkota, takhta gading, dan berbagai perhiasan yang tak ternilai harganya. Sementara bukit makanan aneka jenis dengan berbagai minuman bertimbun-timbun seolah-olah tidak akan pernah ada habisnya. Mata manusia yang mengapit pada kedua sisinya berkilau-kilau memancarkan nafsu. Air liur mereka menetes membasahi dagu dan dada.

Menyaksikan pemandangan itu, Abdul Jalil merasa tegang. Sedetik sesudah itu, dengan diiringi sorak-sorai menggemuruh bagai bukit batu runtuh, berjuta-juta orang itu berhamburan ke depan; berebut harta dan makanan. Dalam sekejap, bukit harta dan makanan telah berubah menjadi bukit manusia. Sambil tertawa terbahak-bahak orang-orang meraup dan menggenggam apa-apa yang dapat mereka raih. Namun, karena jumlah mereka sangat banyak maka berdesak-desaklah mereka hingga satu dengan yang lainnya saling sikut dan tendang.

Andaikata orang-orang yang berada di atas bukit itu masing-masing bersedia mengambil harta dan makanan secukupnya, tentu tidak akan terjadi kericuhan. Namun, yang terjadi adalah mereka yang sudah berada di atas bukit menghalau kawan-kawannya yang coba mendaki. Mereka membentuk garis lingkaran untuk menandai daerah harta dan makanan yang sudah mereka kuasai, dan menjadikan area di dalam batas itu sebagai milik pribadi.

Keributan pun pecah. Orang-orang yang merasa dihalau terus menyerbu, sedang orang-orang yang berada di belakangnya mendesak ke depan karena takut tidak kebagian. Akhirnya, terjadi saling dorong yang bermuara ke keadaan saling mengumpat, saling memukul, saling menendang, saling menyerang, saling melukai, dan saling membunuh. Jerit kesakitan dan pekik kematian mulai mengumandang bersahut-sahutan. Darah mulai tumpah. Mayat mulai bergelimpangan.

Seiring dengan semakin sengitnya perkelahian terdengarlah ringkik kuda dan jeritan gajah yang diikuti oleh gerakan bergelombang para penunggangnya ke arah bukit harta dan makanan. Roda kereta perang melaju ke arah bukit. Bahkan kereta manjanik mulai menghamburkan batu sebesar kepala kerbau.

Gemuruh peperangan meledak dengan dahsyat bagai air bah membobol tanggul. Kapal-kapal dan perahu-perahu yang semula diam ikut melibatkan diri dalam pertempuran. Gegap-gempita pertempuran pun tak dapat lagi dilukiskan. Abdul Jalil hanya bisa menyaksikan betapa orang-orang yang haus harta dan makanan itu dengan kebuasan, kebrutalan, kecurangan, kekejaman, kebengisan, keserakahan, dan kebiadaban tiada tara, menyerang siapa saja yang menghalangi hasratnya. Darah tumpah, mengalir bagai air bah. Mayat bergelimpangan dan bertumpuk-tumpuk membentuk bukit. Jerit kesakitan dan pekik kematian bersahut-sahutan. Kekacauan merebak. Tidak jelas lagi siapa lawan dan siapa kawan.

Bagaikan hewan buas kelaparan, orang-orang berubah beringas saling memangsa. Makin besar meraksasa tubuh seseorang maka dapat dipastikan dialah yang paling banyak memangsa lawan. Bahkan bagai belum cukup dengan memangsa lawan, mereka mulai menelan kuda, gajah, kereta perang, manjanik, kapal, dan perahu.

Ketika orang yang tersisa di atas bukit tinggal sekitar seratus pemenang bertubuh sangat besar bagai raksasa, terjadilah puncak keserakahan dan kerakusan. Bagaikan menyaksikan makanan lezat, para pemenang yang telah berubah menjadi raksasa itu bergerak ke satu arah, yakni mengincar bulatan hitam pekat di tengah hamparan dimensi gelap. Namun, harapan mereka berbeda dengan kenyataan. Bukan kenikmatan dan kelezatan yang mereka peroleh, melainkan kebinasaan yang mengerikan. Sebab, saat mereka mendekati bulatan hitam tiba-tiba ular raksasa bergerak menjulurkan keempat kepalanya ke depan secara bergantian.

Hap!

Sesosok tubuh raksasa sang pemenang yang paling rakus seketika masuk sebagian ke dalam mulut sang ular. Kemudian dengan kebuasan tiada tara, ketiga kepala ular secara bergantian mencabik-cabik tubuhnya. Darah muncrat ke segala arah. Serpihan daging memburat ke mana-mana. Dan perut sang pemenang yang sebesar gunung itu pun bedah. Isinya terburai menebarkan bau busuk.

Bersamaan dengan memburatnya tubuh sang pemenang ke berbagai arah, menghamburlah hewan-hewan melata yang mengerumuni ular raksasa, menyantap tanpa sisa serpihan-serpihan daging dan isi perut sang pemenang dengan kerakusan tak terbayangkan.

Pemandangan mengerikan itu rupanya tidak dipedulikan oleh pemenang lain. Mereka tetap beramai-ramai dan berdesak-desakan menuju bulatan hitam pekat yang terpampang di depannya. Seolah-olah dengan sengaja menyetorkan nyawanya ke mulut ular raksasa beserta hewan-hewan melata yang bagai tak kenal kenyang itu.

Kilasan-kilasan pemandangan menggetarkan yang disaksikan Abdul Jalil itu adalah samudera hitam ruhaniah yang merupakan hakikat jasad manusiawinya yang terbentuk dari bahan dasar lempung (thin). Dimensi inilah yang disebut al-misykat (lubang dinding yang tak tertembus cahaya). Gelap. Pekat. Hitam. Dan lantaran itu disebut juga dengan nama durrah al-aswad (mutiara hitam). Ini adalah gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-basyar, yakni jasad manusia yang terbentuk dari bahan lempung (thin), lempung pekat (ath-thin al-lazib), saripati lempung (sulalah), dan tanah gemuk (turab). Dari dimensi ini memancarlah sifat-sifat rendah an-nafs al-hayawaniyyah yang merupakan naluri dasar jasad manusia yang cenderung pada kebendaan. Itu sebabnya, dimensi hitam dari an-nafs al-hayawaniyyah ini disifati dengan sifat zhulmun (gelap dan sangat materialistik). Dari dimensi hitam ini terpancarlah sifat-sifat zhulmun, seperti bahimiyyah (naluri hewani), kesyahwatan, kufur, bakhil, tamak, zalim, dan huub ad-dunya.

An-nafs al-hayawaniyyah, dengan sifat zhulmun yang berdimensi hitam pekat, ini merupakan kesadaran ‘aku’ manusia yang paling rendah, yakni ‘aku’ manusia yang cenderung tertarik pada benda-benda dan bernafsu menguasai benda-benda tersebut. Kesadaran ‘aku’ ini setara kerendahannya dengan nafsu hewan melata yang paling rakus, tamak, dan serakah, hingga bangkai membusuk pun akan dimangsa. Kesyahwatan pun adalah kesyahwatan hewani yang mengarah pada naluri pengembangbiakan. Namun, akal (‘aql) manusia yang sudah dikuasai oleh an-nafs al-hayawaniyyah dengan sifat zhulmun ini akibatnya akan jauh lebih merusak dan lebih membinasakan dibanding nafsu rendah hewan melata yang tidak berakal budi.

Manusia-manusia yang tidak mampu melepaskan diri dari an-nafs al-hayawaniyyah ditandai oleh kecenderungan untuk ingkar terhadap nikmat Allah (QS Ibrahim: 34), mendewakan materi (taghut) (QS al-Baqarah: 6-7), jika terkena musibah mudah putus asa (QS Hud: 9), dan mendustakan ayat-ayat Allah (QS al-Ma’idah: 86). Dengan tanda-tanda dari perilaku seperti itu maka manusia yang terperangkap ke dalam an-nafs al-hayawaniyyah akan jatuh ke tingkat makhluk yang paling rendah, yakni asfala safilin (QS at-Tin: 5) yang terus-menerus kufur dan zalim sehingga mereka jatuh ke jurang jahanam (QS an-Nisa’: 168-169).

Saat termangu takjub di tengah-tengah hamparan durrah al-aswad tiba-tiba ia disadarkan oleh al-ima’ yang berasal dari relung-relung kesadarannya yang mengungkapkan hakikat terahasia dari apa yang disaksikannya itu.

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa saat ini engkau tidak berada di mana-mana kecuali di dalam dirimu sendiri. Engkau berada di dalam an-nafs al-hayawaniyyah yang berjasad al-basyar dengan selubung durrah al-aswad yang dilapisi selimut al-misyikat yang ada di dalam dirimu sendiri. Karena itu, o Abdul Jalil, sadarlah bahwa sesungguhnya engkau pun tak berbeda dengan manusia lain, yakni memiliki bakat menjadi manusia paling serakah, rakus, tamak, loba, kufur, bakhil, jahil, zalim, dan cinta duniawi. Karena, sesungguhnya kilasan-kilasan yang engkau saksikan itu tidak di mana-mana tetapi di dalam dirimu sendiri.”

Setelah ungkapan rahasia al-ima’ selesai, ia melihat bulatan hitam pekat itu bergetar. Kemudian, dengan kecepatan menakjubkan bulatan hitam itu melesat ke arahnya, diikuti oleh ular raksasa berkepala empat. Ia terkesiap kaget. Ketegangan menerkam kesadarannya.

Sedetik kemudian, kesadarannya terisap oleh arus gaib yang menyeretnya ke arah salah satu mulut ular raksasa. Ia terkesima. Kengerian menerkam. Namun, ia memasrahkan hidup dan matinya hanya kepada Allah. Kilasan-kilasan tirai demi tirai yang disingkapkan ganti-berganti memasuki penglihatannya. Beberapa detik kemudian, ia terseret masuk ke dalam mulut ular raksasa. Anehnya, di dalam mulut ular itu terdapat bulatan hitam pekat. Beberapa jenak kemudian kembali ia rasakan tubuhnya melesat cepat ke arah bulatan hitam pekat. Beberapa kilasan tirai kembali tersibak dan ia telah masuk ke dalamnya.

Ia tercengang takjub sebab di dalam bulatan hitam pekat yang ia saksikan bukanlah kegelapan, melainkan hamparan samudera luas tanpa batas cakrawala yang seluruhnya berwarna kuning. Bulatan hitam pekat itu lenyap dan secara ajaib terbit kembali dalam wujud bulatan cahaya terang menyinari seluruh penjuru.

Di sana ia menyaksikan pemandangan menggetarkan perasaannya, yakni seekor anjing raksasa berbulu kuning keemasan berkepala empat muncul dari bulatan cahaya berwarna kuning. Masing-masing kepala anjing raksasa itu meraung-raung, melolong-lolong, dan mendengus-dengus sambil menjulurkan lidah. Anjing raksasa itu kelihatan sangat lapar. Lidahnya terjulur. Air liurnya menetes. Matanya nyalang.

Beberapa jenak setelah anjing raksasa muncul, menghamburlah kawanan hewan buas, seperti serigala, singa, harimau, dubug, kucing hitam, dan burung nazar dari keempat mulutnya. Dengan suara meraung-raung dan menggeram-geram, mereka mengerumuni anjing raksasa seolah-olah dia adalah induk meraka.

Bagaikan mimpi buruk yang menjijikkan, tiba-tiba di depan anjing raksasa terpampanglah kilasan-kilasan pemandangan yang menggambarkan berjuta-juta manusia tanpa pakaian. Tubuh mereka hanya ditutupi oleh perhiasan emas dan perak dengan permata manikam sehingga auratnya terbuka. Sebagian memakai topeng, sebagian tidak. Sebagian menunggang kuda, sebagian menggiring kawanan ternak, dan sebagian lagi duduk di atas tumpukan bukit gandum. Mereka terlihat bersukacita meminum anggur dan khamr.

Dalam keadaan mabuk sambil tertawa riang, mereka saling mencari pasangan. Kemudian dengan berbagai bentuk dan posisi, mereka melakukan persetubuhan baik antara laki-laki dan perempuan, laki-laki dan laki-laki, perempuan dan perempuan, bahkan manusia dan hewan. Abdul Jalil kebingungan. Ia ingin memalingkan muka, namun tak mampu melakukannya. Ia tidak mampu berpaling dari pemandangan menjijikkan karena ia tidak lagi memiliki tubuh. Ia hanya merasakan betapa menyakitkannya suatu siksaan dialami tanpa tubuh fisik, karena setiap lintasan rasa yang menerkam kesadarannya menjadi begitu leluasa menembus ke ujung-ujung jiwanya, yang tak diketahui batasnya.

Berurutan dengan kilasan-kilasan gambaran yang membingungkan itu, pemandangan menggetarkan kembali tergelar nyata di hadapan Abdul Jalil. Anjing raksasa berbulu keemasan berkepala empat dengan buas dan ganas tiada tara memangsa sebagian orang telanjang bertopeng yang sedang berpesta pora melakukan hubungan badan. Darah muncrat di mana-mana. Tubuh-tubuh robek berserpihan. Daging berhamburan. Jerit kematian mengumandang bersahut-sahutan.

Kawanan hewan buas yang mengerumuni anjing raksasa pun ikut menghambur ke arah orang-orang bertopeng dan memangsa mereka. Anehnya, bagaikan tidak melihat peristiwa mengerikan itu, orang-orang bertopeng yang lain tetap melakukan pesta pora dan persetubuhan, meski kematian sudah mengepung mereka. Sementara orang-orang telanjang yang tanpa topeng tampaknya mengetahui peristiwa mengerikan itu. Itu sebabnya, mereka menangis meraung dan melolong-lolong sambil bersujud memuji kebesaran Ilahi dengan mengumandangkan istighfar.

Kilasan-kilasan pemandangan menggetarkan yang disaksikan Abdul Jalil adalah samudera kuning yang merupakan hakikat az-zujajah. Itulah gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-mudhghah, yakni jasad manusia yang terbentuk dari bahan dasar lumpur (shalshal), cairan (nuthfah), cairan pekat (maniy), dan air (ma’). Karena warnanya kuning maka dimensi ini disebut durrah al-ashfar (mutiara kuning) yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-musawwilah dengan sifat jahiliah, yakni nafsu manusia yang membangkitkan khayalan menyesatkan dan menipu. An-nafs al-musawwilah ini memancarkan gambaran-gambaran khayali yang menipu dan membawa manusia pada hasrat kesyahwatan, kecintaan terhadap harta benda, mabuk kekayaan duniawi (QS Ali ‘Imran: 14), kesyahwatan yang menyimpang (QS an-Naml: 54-55), sifat kejam (QS Yusuf: 89), tidak peka terhadap derita orang miskin (QS al-Baqarah: 273), serta cenderung berpikir dan berhasrat pada kebendaan sehingga mengingkari yang gaib (QS Hud: 29).

Pada an-nafs al-musawwilah dengan sifat jahiliah ini, kesadaran ‘aku’ manusia sudah lebih tinggi dari kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-hayawaniyyah. Namun, pada tingkat kesadaran ini, sang ‘aku’ masih belum bisa lepas dari berbagai kecenderungan tercela hewan buas (syuba’iyyah). Pada dimensi ini terpancar hasrat-hasrat khayali yang mengumbar keliaran nafsu perut, nafsu syahwat, dan nafsu liar manusia yang apabila tidak dikendalikan akan mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan.

An-nafs al-musawwilah bersifat seperti anjing yang manja, patuh, dan setia, namun masih menyukai najis dan cenderung mengumbar kebuasan dan keliaran. Dari dimensi nafs ini memancar sifat syuba’iyyah, suka mengkhayal, syahwat liar, jahil, kejam, fusuq, nifaq, tha’at, dan setia. Manusia yang perilakunya dikuasai an-nafs al-musawwilah dicirikan dengan sifat-sifat khayali yang membawa orang pada perbuatan suka berdusta, suka bersumpah palsu, menghalangi orang lain menempuh kebenaran, berpaling dari kebenaran, meremehkan kekuasaan Tuhan (QS al-Munafiqun: 1-5), berbuat mungkar dan mencegah perbuatan makruf (QS at-Taubah: 67), menyombongkan diri dan hidup berfoya-foya (QS al-Ahqaf: 20), suka memakan makanan haram dan percaya ramalan dukun (QS al-Ma’idah: 3).

Tak berbeda dengan pengalaman di dimensi hitam durrah al-aswad, pada dimensi kuning ini Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ bahwa apa yang disaksikannya tiada lain berada di dalam dirinya sendiri. Ia sebenarnya sama dengan manusia yang lain, yakni memendam bakat untuk menjadi orang jahil dan fasik. Di sinilah sumber fitnah, perzinahan, fahisyah, kekejian, kekejaman, kebuasan, janji palsu, saksi palsu, suka pamer, persaingan, dan perbuatan-perbuatan rendah yang melebihi hewan buas. Bahkan akal (‘aql) manusia, yang dikuasai oleh an-nafs al-musawwilah ini jika diumbar jauh lebih merusak dan membinasakan dibanding nafsu rendah hewan buas. Karena, dengan ‘aql manusia dapat melakukan apa pun sesuai kekuatan daya pikirnya.

Bulatan cahaya kuning terang yang memancar di atas hamparan samudera kuning mendadak bergerak cepat ke arah Abdul Jalil. Seiring dengannya, bergerak pula anjing raksasa dengan mulut menganga. Abdul Jalil merasakan tubuhnya terisap oleh arus gaib yang makin lama makin cepat. Dan ia pun tercekat ketika mendapati dirinya masuk ke dalam mulut anjing raksasa, lalu terus tembus ke bulatan cahaya kuning.

Bagaikan mengalami mimpi menakjubkan ia menyaksikan kilasan-kilasan bentuk dan warna di dalam mulut anjing raksasa. Namun, dalam tempo beberapa detik kilasan-kilasan bentuk dan warna itu lenyap. Dan ia mendapati dirinya berada di hamparan samudera berwarna merah yang luas tanpa batas. Bulatan cahaya kuning itu pun melenyap, namun terbit lagi dalam wujud bulatan cahaya terang berwarna merah.

Sebagaimana yang telah ia saksikan di dimensi hitam dan kuning, pada dimensi merah ini ia melihat kilasan bayangan seekor kera raksasa berbulu merah menyala, dengan empat kepala dan delapan tangan, muncul dari bulatan cahaya berwarna merah. Dengan suara keras yang menggetarkan segenap penjuru, seolah-olah diterkam kelaparan hebat, kera raksasa itu menepuk-nepuk dadanya dan melompat-lompat sambil menyeringai. Gigi-geligi dan taringnya sangat besar, tajam, serta berkilat-kilat.

Seiring dengan gerakan dan raungan kera raksasa, menghamburlah kawanan kera berbulu merah menyala dengan suara menjerit-jerit kelaparan dari keempat mulutnya. Kawanan kera yang tak terhitung jumlahnya itu kemudian beramai-ramai mengerumuni kera raksasa berkepala empat seolah-olah dia adalah induk mereka.

Tak lama kemudian, Abdul Jalil menyaksikan kilasan bayangan berjuta-juta orang yang berdesak-desakan di sepanjang hamparan samudera. Sebagian dari mereka berwajah mirip kera, sedangkan sebagian lagi berwajah mirip anjing. Mereka tergambar dalam wujud menyeringai, berteriak, menjerit, marah, dendam, bahkan kalap. Kemudian bagaikan bala tentara sedang bertempur, demikianlah jutaan orang yang sedang diterkam amarah dan dendam kesumat itu saling bunuh, saling siksa, saling aniaya, dan saling menyakiti.

Darah tumpah dan berceceran di mana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan. Jerit kematian mengumandang sahut-menyahut. Pekik kesakitan sambung-menyambung. Sementara derai tawa kemenangan menggema di angkasa bagai ledakan halilintar. Dan orang-orang yang merasa menjadi pemenang, setelah berhasil membunuh lawan-lawannya, menepuk-nepuk dada sambil tertawa terbahak-bahak. Namun, baru beberapa jenak para pemenang melampiaskan kegembiraan, tiba-tiba salah satu mayat yang mereka bunuh bangkit sambil menggenggam pisau. Dengan gerakan menakjubkan mayat itu menikamkan pisaunya ke punggung mereka. Raungan panjang terdengar membelah angkasa. Darah muncrat. Sesaat kemudian, mereka pun ambruk ke bawah. Meregang nyawa.

Kilasan-kilasan bayangan dari orang-orang yang dirasuk dendam, amarah, kesombongan, kecemburuan, dan kepenasaran itu berlangsung sangat mengerikan. Perilaku saling bunuh, siksa, aniaya, menyakiti yang mereka lakukan itu tidak pernah berhenti. Terus berputar bagai roda. Mayat-mayat yang bergelimpangan pun bisa bangkit untuk membunuh orang yang membunuhnya. Bahkan sesama mayat itu pun terlibat saling bunuh, saling siksa, saling aniaya, dan saling menyakiti.

Ketika para pemenang dari pertarungan mengerikan itu mulai berbaris bergerak ke arah cahaya merah yang menyala di tengah hamparan luas tanpa batas, kedelapan tangan kera raksasa berbulu merah dengan sigap menangkapi mereka. Kemudian dengan kekuatan dahsyat kera raksasa yang kelaparan itu membanting tubuh mereka hingga remuk tak berbentuk.

Darah kembali muncrat ke mana-mana. Serpihan daging memburat ke berbagai penjuru. Dan sesaat sesudah itu, dengan kelahapan dan kerakusan hewan lapar, kera raksasa berbulu merah menyala menyantap daging para pemenang yang sudah luluh lantak. Keempat mulutnya yang mengang bagai gua bergantian menggigit, mengunyah, memamah, dan menelan daging para pemenang, seolah tak pernah kenyang. Demi menyaksikan kera raksasa menyantap mangsanya, kawanan kera berbulu merah menyala yang mengerumuninya pun menghambur ke depan. Dengan jeritan-jeritan garang, mereka menyerbu para pemenang. Mengeroyok. Mencakar. Menggigit. Dan memangsa.

Anehnya, bagai antri menunggu giliran dijadikan mangsa, para pemenang terus berbaris dan berdesak-desakan menuju ke arah bulatan cahaya. Dan kera raksasa yang berada di depan cahaya berwarna merah itu tinggal menerkam, membanting, dan memasukkan tubuh mereka ke mulutnya.

Kilasan-kilasan pemandangan menggetarkan di dimensi yang serba merah itu adalah manifestasi dari durrah al-ahmar (mutiara merah). Ini merupakan gambaran ruhaniah dari wujud niscaya fawa’id yang merupakan anasir api dari keberadaan jiwa manusia, yakni pengejawantahan dari an-nafs al-ammarrah (QS Yusuf: 53) yang cenderung mengarah pada kejahatan, namun juga mengarah pada rahmat Ilahi. Ini adalah sifat-sifat setani (syaithaniyyah) sekaligus sifat-sifat manusiawi (nafsaniyyah) yang mencitrai keberadaan manusia. Dari an-nafs al-ammarrah ini memancar sifat-sifat yang saling bertentangan, yaitu sifat takabur, ‘ujub, riya, kibr, kidzib, ghibah, namimah, mukhtal, hasad, haqad, ghadab, iri, dengki, dendam kesumat; dan sifat wara’, khauf, raja’, istiqamah, dan ghirah.

Dengan adanya pertentangan sifat-sifat an-nafs al-ammarrah ini maka pengendalian sekaligus pengarahan diri sangat menentukan bagi mereka yang ingin beroleh jalan lurus ke arah-Nya. Sebab, jika an-nafs al-ammarrah yang bersifat setani lepas kendali maka akan menimbulkan kesesatan dan kebinasaan sebagaimana setan menyeret manusia. Namun, jika dikendalikan dan diarahkan ke sifat takwa maka an-nafs al-ammarrah akan menuju kepada Tauhid yang berujung pada limpahan rahmat Ilahi. Sifat dari an-nafs al-ammarrah inilah yang membawa manusia gampang terpengaruh bisikan Iblis, namun sekaligus bisa membawa ke jalan yang teguh di dalam Tauhid.

Kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-ammarrah ini lebih tinggi derajatnya dibanding kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-hayawaniyyah atau pada an-nafs al-musawwilah. Namun, justru di dimensi inilah keberadaan manusia ditentukan: apakah ia akan jatuh ke dimensi yang rendah, yakni ke keburukan Iblis yang terlaknat; atau ke pintu Tauhid yang membawa limpahan rahmat Ilahi. Dimensi durrah al-ahmar atau an-nafs al-ammarrah ini adalah tahap awal dari anak tangga pertama pengetahuan ruhaniah yang wajib dilampaui oleh mereka yang berjuang menuju jalan Allah.

Pada dimensi ini pun Abdul Jalil disadarkan melalui al-ima’ bahwa apa yang disaksikannya itu bukanlah di luar dirinya, melainkan ada di dalam diri sendiri. Karena itu, secara manusiawi ia pun memiliki bakat untuk melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang disaksikannya di dimensi ini, yakni orang-orang yang terpengaruh an-nafs al-ammarrah dan bisikan jahat iblis.

Pancaran bulatan cahaya merah menyala itu tiba-tiba bergetar dan cahayanya berpendar-pendar menyilaukan. Sedetik sesudahnya, bulatan itu melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah Abdul Jalil, diikuti kera raksasa. Ia tercekat galagapan. Kesadarannya terisap ke arus gaib yang sangat kuat yang menyeretnya ke arah mulut kera raksasa. Ia memekik ngeri, namun tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya. Menyadari itu, buru-buru ia menacapkan konsentrasi hanya kepada Allah.

Selama beberapa detik ia merasakan tubuhnya terseret arus gaib yang kuat. Gelap dan terang silih berganti memasuki kesadarannya. Anehnya, ia mendapati dirinya tidak berada di dalam perut kera raksasa, tetapi terus menembus ke arah bulatan cahaya merah. Ia terkesima takjub. Dan mendadak ia sudah berada di hamparan samudera tanpa batas yang berwarna hijau terang. Bulatan cahaya merah menyala berganti menjadi hijau terang.

Berbeda dengan keadaan di dimensi hitam, kuning, dan merah yang telah dilampauinya, di dimensi serba hijau terang ini Abdul Jalil merasakan kesedihan dan kegembiraan silih berganti menguasai kesadarannya.

Beberapa detik merasakan kilasan kesedihan dan kegembiraan datang dan pergi, ia ganti menyaksikan kilasan bayangan raksasa berkulit hijau dengan wajah menunduk sedih muncul dari bulatan cahaya yang menerangi dimensi itu. Begitu muncul, raksasa berkulit hijau itu langsung rukuk. Meski kejadian itu berlangsung sangat cepat, Abdul Jalil sempat melihat betapa wajah raksasa hijau itu mirip dengan wajahnya. Bedanya, sang raksasa mempunyai taring sebesar buah randu.

Tiba-tiba sang raksasa memperdengarkan suara seperti orang menguap. Dan sedetik sesudah itu dari mulutnya menghambur berpuluh, beratus, bahkan beribu makhluk sekecil ibu jari kaki berkulit hijau. Bagai rayap mengerumuni ratunya, demikianlah makhluk-makhluk itu mengerumuni raksasa hijau yang masih rukuk.

Dengan terheran-heran, Abdul Jalil menyaksikan betapa sang raksasa sambil tetap rukuk terus meratap-ratap dengan air mata bercucuran. Ratapannya diikuti oleh makhluk-makhluk kecil di sekitarnya. Suara gaduh dan hingar-bingar terdengar memenuhi segenap penjuru. Rupanya, selama berpuluh-puluh tahun sang raksasa melakukan rukuk dalam keadaan puasa. Hasratnya hanya satu, yakni ingin menjadi seorang manusia paripurna (insanal-kamil). Dia sangat sadar dengan ketidaksempurnaan dirinya yang jauh dari sifat-sifat manusia paripurna.

Sang raksasa acap kali terlihat bingung karena pada saat berbuka puasa dan tidak rukuk ia mendapati dirinya terseret masuk ke dimensi an-nafs al-ammarrah dan an-nafs al-musawwilah. Namun, secepat itu pula ia segera sadar dan memaki-maki dirinya sendiri. Sang raksasa tidak segan-segan mencela perbuatannya yang tidak terpuji. Ia selalu menyesali kesalahannya. Namun, bagaikan seorang pelupa, ia cenderung mengulang-ulang perbuatan serupa. Dan bagai berputar-putar di labirin yang membingungkan, dia terus-menerus terombang-ambing antara rasa sedih yang mengalir dari penyesalan diri dan rasa gembira yang mengalir dari kesadaran terhadap luasnya rahmat Allah, Sang Penguasa samudera tobat.

Kilasan-kilasan pemandangan di dimensi serba hijau itu adalah manifestasi dari durrah al-khadhr (mutiara hijau). Dimensi ini merupakan gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ar-ruh yang merupakan anasir asap dari keberadaan jiwa manusia, yakni pengejawantahan an-nafs al-lawwammah (QS al-Qiyamah: 2), yaitu nafsu yang mencela dan menyesali diri. Dari dimensi an-nafs al-lawwammah inilah lahir kesadaran manusia tentang keberadaan dirinya yang belum sempurna yang masih memiliki sifat-sifat hewan (bahimiyyah), kebuasan (syuba’iyyah), setani (syaithaniyyah), dan keilahian (rububiyyah) yang melahirkan sifat-sifat yang bertentangan, yakni rakus, kufur, fasik, syahwat, pikiran jahat, dusta, marah, zalim, iri hati, benci, dendam, takabur; dan juga rasa sesal, taubah, tawadhu’, Dzauq, dan khauf.

Kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-lawwammah ini jauh lebih tinggi derajatnya dibanding kesadaran ‘aku’ pada an-nafs al-hayawaniyyah, an-nafs al-musawwilah, dan an-nafs al-ammarrah. Sebab, ‘aku’ pada an-nafs al-lawwammah sangat sadar diri dengan berbagai kekurangannya sebagai hamba (‘abid) yang tidak sempurna. Itu sebabnya, an-nafs al-lawwammah ini cenderung membawa manusia kepada jalan Allah melalui muhasabah, taubah, kaba’ir, mujahadah, dan takhal li. An-nafs al-lawwammah adalah anak tangga kedua dari tangga pengetahuan ruhaniah untuk menuju Allah.

Pada dimensi durrah al-khadhr yang serba hijau itu Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ bahwa ia pun sebagaimana manusia lain memiliki bakat untuk menjadi raksasa hijau yang rindu dengan kesempurnaan diri, namun selalu terperangkap ke dalam tindakan tercela yang tak layak dilakukan manusia paripurna.

Kembali bulatan cahaya berwarna hijau terang yang menyinari dimensi an-nafs al-lawwammah mendadak bergetar. Sedetik kemudian, bulatan itu melesat cepat ke arah Abdul Jalil. Sesudah itu, raksasa yang sedang rukuk mendadak bangkit dan melompat ke arahnya dengan mulut terngaga siap menerkam. Ia terperangah. Rasa ngeri menerkamnya.

Pada saat kengerian mencapai puncaknya, ia merasakan kesadarannya terseret arus gaib yang berkumpar-kumpar. Kemudian ia terlempar ke mulut raksasa. Gelap dan terang silih berganti memasuki kesadarannya. Suara-suara meraung terdengar memenuhi segenap pendengarannya.

Sesaat setelah itu, ia mendapati dirinya berada di hamparan samudera luas tanpa batas cakrawala yang seluruhnya berwarna biru terang. Bulatan cahaya hijau pun berganti memancarkan biru kemilau. Di dimensi serba biru ini, ia merasakan kegembiraan menguasai samudera perasaannya.

Beberapa jenak kemudia muncul raksasa berkulit biru terang dari arah bulatan cahaya. Tak berbeda dengan raksasa berkulit hijau, raksasa berkulit biru ini berwajah mirip dengan dirinya. Hanya saja, taringnya tidak sebesar taring raksasa hijau.

Raksasa berkulit biru terang memiliki hasrat yang sama dengan raksasa hijau, yakni ingin menjadi manusia paripurna. Itu sebabnya, dia terlihat sibuk melakukan berbagai amaliah ibadah fardhu maupun sunnah. Bibirnya tak henti-henti berdzikir menyebut Asma Allah. Tangannya bergerak memutar biji tasbih. Namun, pada saat-saat tertentu dia kelihatan termangu-mangu merenungkan lintasan khayalan tentang kehidupan duniawi yang menyenangkan.

Raksasa biru itu meski terlihat beribadah, pikirannya tidak seutuhnya mengarah kepada Allah. Lintasan-lintasan bayangan bersifat keduniaan sering memasuki hatinya yang kemudian mengalir ke alam pikirannya. Dia cenderung terperangkap pada jaring-jaring khayal yang ditebarnya sendiri. Dia sering mengukur-ukur berapa besar pahala yang telah diperolehnya. Bahkan acap kali muncul kefasikan di dalam hatinya yang mempertanyakan keadilan Ilahi yang membiarkan dirinya tetap sebagai raksasa kulit biru, meski telah berpuluh tahun melakukan amaliah ibadah agar bisa menjadi manusia paripurna.

Dalam panggung kehidupan manusia, raksasa berkulit biru dapat digambarkan sebagai manusia yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela dan mengarahkan perbuatannya ke jalan Allah. Namun demikian, manusia pada tingkatan ini belum mampu membebaskan hati (qalb) dari “lintasan pikiran” yang bersifat nafsiyah dan syaithaniyyah. “Lintasan pikiran” di hatinya ini jika dibiarkan akan mempengaruhi akal (‘aql) dan pikiran (fikr). Dan jika dibiarkan terus akan bermuara pada perbuatan fasik.

Kilasan-kilasan pemandangan di dimensi serba biru adalah manifestasi dari durra al-azraq (mutiara biru) atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-khafi yang merupakan anasir angin dari jiwa manusia, yakni pengejawantahan an-nafs al-mulhamah (QS asy-Syams: 7-8). Dari dimensi durrah al-arzaq ini memancar sifat-sifat Tauhid yang membawa manusia pada keyakinan tentang lahir dari “lintasan pikiran” (khawathir) di hati cenderung mengganggunya. Karena, “lintasan pikiran” itu selain ada yang bersifat Ilahiah dan ruhaniah, juga ada yang bersifat nafsaniyyah dan syaithaniyyah . An-nafs al-mulhamah adalah anak tangga ketiga Pengetahuan ruhaniah pada jalan menuju Allah.

Pada dimensi durrah al-azraq itu Abdul Jalil disadarkan bahwa, seperti manusia lainnya, ia pun memiliki kecenderungan menjadi makhluk yang belum sempurna menjadi manusia paripurna; manusia yang masih beroleh “lintasan pikiran” pada qalb-nya dari nafsu ananiyyah dan syaithaniyyah.

Keluar dari dimensi biru, ia masuk ke dalam dimensi putih. Di sini ia merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Saat mengarahkan pandangan ke bulatan cahaya yang sekarang berwarna putih, ia menyaksikan sesosok bayangan muncul. Sosok itu berupa laki-laki tampan, berkulit putih, berhidung mancung, bermata bulat, berambut hitam, dan tubuhnya menebar bau harum kesturi. Laki-laki itu berdiri tegak penuh keagungan. Anehnya, wajahnya sangat mirip dirinya.

Beberapa saat kemudian tubuh laki-laki itu secara ajaib terbelah menjadi dua. Belahan yang pertama tetap menjadi laki-laki berkulit putih tampan berwajah mirip Abdul Jalil. Belahan yang kedua berubah menjadi sosok perempuan yang sangat cantik jelita; kulitnya putih, hidungnya mancung, matanya bulat hitam memancarkan pesona, rambutnya hitam, dan dari tubuhnya menebar bau harum yang memabukkan penciuman. Tubuh perempuan itu benar-benar indah dan sangat sempurna. Belum pernah ia menyaksikan perempuan sesempurna itu, baik kecantikan, keayuan, kemolekan, maupun kesintalan tubuhnya. Anehnya, wajah perempuan itu sepintas juga sangat mirip dengan wajahnya sehingga mereka seolah-olah saudara kembar.

Seiring dengan kemunculan laki-laki dan perempuan sempurna dan bulatan cahaya berwarna putih, Abdul Jalil menyaksikan kilasan-kilasan gambaran dari berjuta-juta orang berkulit putih yang berkumpul di hamparan taman yang sangat luar biasa menakjubkan; bangunan-bangunan untuk melepas lelah yang sangat indah. Bunga-bunga aneka warna terhampar di antara rerumputan hijau. Buah-buahan segar bergantungan di pohon-pohon yang rendah dahannya. Air sungai dari susu mengalir deras. Telaga madu terhampar memukau. Dan berjuta-juta bidadari cantik dengan mata bersinar laksana bintang beterbangan dengan sayap-sayap putih. Orang-orang berkulit putih itu bercengrama dengan bidadari-bidadari di atas tilam sutera sambil menikmati makanan dan minuman. Mereka tertawa riang mendengar alunan musik surgawi yang mengiringi nyanyian bidadari-bidadari yang melantunkan kasidah-kasidah yang syair-syairnya memuji kebesaran Ilahi.

Kilasan-kilasan pemandangan yang disaksikan Abdul Jalil di dimensi yang serba putih itu adalah manifestasi dari durrah al-baidha’ (mutiara putih) atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya al-akfa yang merupakan anasir cahaya dari keberadaan jiwa manusia, yakni pengejawantahan an-nafs al-muthma’innah (QS al-Fajr: 27) yang memancarkan sifat syukur, qana’ah dzauq, mahabbah, zuhud, sabar, ridho, ikhlas, dan ingat mati. An-nafs al-muthma’innah adalah anak tangga keempat Pengetahuan pada jalan menuju Allah. Pada dimensi durrah al-baidha’ yang serba putih ini terletak perbendaharaan al-Ilmu (‘ilmu al-yaqin) yang menjadi wahana menuju Dia.

Pada dimensi durrah al-baidha’, ia disadarkan oleh al-ima’ bahwa itulah citra surgawi yang berada di dirinya yang merupakan citra kodrati tiap manusia. Itu sebabnya, jika ingin menikmati kelezatan surgawi maka hendaknya ia memasuki dimensi itu dan tinggal abadi di situ. Pada dimensi itulah seluruh kenikmatan dan kelezatan dirasakan manusia, baik dalam hal hawa, jenis makanan, jenis minuman, jenis pakaian, maupun jenis kesyahwatan.

Bulatan cahaya putih terang yang menerangi hamparan luas tanpa batas itu mendadak memancarkan cahaya yang berpendar-pendar menyilaukan mata. Sedetik kemudian, bulatan cahaya itu melesat dengan kecepatan luar biasa ke arahnya. Ia terkesima takjub ketika menyaksikan hamparan luas di depannya terlipat dengan garis cakrawala bergerak tak beraturan. Kilasan-kilasan gambar taman-taman yang indah dengan seluruh penghuninya melenyap. Yang tersisa dari bentuk-bentuk yang mewujud di hamparan luas itu hanya sosok laki-laki berkulit putih dan perempuan cantik yang berwajah mirip dirinya.

Ketika kilauan cahaya yang berpendar-pendar itu makin dekat dan bertumpang tindih tak beraturan, ia menyaksikan sosok laki-laki tampan itu tiba-tiba merentangkan kedua tangannya. Pada saat yang sama, sosok yan perempuan juga melakukan hal serupa.

Dengan kedua tangan terbuka, dua sosok manusia yang bagai kembar itu bergerak maju saling mendekat. Makin lama jarak keduanya makin dekat. Ketika tinggal sejengkal, sosok laki-laki dan perempuan itu bagai memiliki daya isap saling menarik. Keduanya kemudian beradu. Berangkulan. Melekat.

Peristiwa aneh yang menakjubkan itu membuat Abdul Jalil terkesima takjub. Dua sosok manusia yang berangkulan dan melekat itu mendadak melakukan gerakan memutar. Makin lama makin cepat seperti gasing. Dalam hitungan detik, keduanya sudah tidak lagi terlihat bentuknya. Putaran yang cepat itu membuat keduanya mewujud dalam bentuk cahaya bulat dan panjang seperti tongkat.

Ketika putaran bertambah cepat, terjadilah peristiwa yang menggetarkan; cahaya bulat dan panjang bagai gasing itu meledak dengan suara gemuruh disertai percikan cahaya kilau-kemilau yang memburat ke berbagai arah. Di antara pancaran cahaya kemilau itu menyembul sosok laki-laki tampan berkulit putih yang wajahnya mirip Abdul Jalil. Sosok itu berdiri penuh keagungan. Sendirian. Sosok yang perempuan lenyap tanpa bekas.

Belum usai peristiwa menakjubkan itu berlangsung, tiba-tiba peristiwa menakjubkan yang lain terjadi. Dari tubuh laki-laki tampan itu memancar cahaya berpendar-pendar.

Bagaikan mimpi, ia menyaksikan cahaya yang memancar dari tubuh laki-laki itu terbelah dua secara vertikal. Keduanya sama-sama menyilaukan. Cahaya yang memancar dari tubuh bagian kanan mulai dari kepala kanan hingga ke kaki bersinar kemilau laksana pancaran cahaya intan dipantulkan. Cahaya yang memancar dari tubuh bagian kiri mulai dari kepala kiri hingga ke kaki bersinar kemilau laksana pancaran cahaya perak. Dan secara ajaib, dua cahaya yang berbeda itu berkali-kali berganti tampat dari kanan ke kiri dan sebaliknya.

Peristiwa yang disaksikan Abdul Jalil, terutama tampilnya laki-laki yang dipancari dua cahaya itu adalah manifestasi dari nur al-baidha’ (cahaya putih) atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ana yang merupakan citra dari jiwa pertama Adam, yakni pengejawantahan dari an-nafs al-wahidah (QS al-A’raf: 189), sumber asal kejadian manusia. An-nafs al-wahidah ini dicipta dengan “kedua belah tangan” Allah (QS Shad: 75), yaitu pancaran hakiki al-Jalal (Mahaagung) dan al-Jamal (Mahaindah).

Al-Jalal adalah manifestasi ketakterbandingan Allah (tanzih). Sifat-sifat Keagungan-Nya mencakup al-‘Azhim (Mahaagung), al-Qahhar (Mahagagah), al-Qawiy (Mahakuat), al-Jabbar (Mahaperkasa), al-Muntaqim (Maha Penyiksa).

Al-Jamal adalah manifestasi keserupaan Allah (tasybih) yang terdiri atas sifat rahmah dan althaf (Pemurah) dari Kehadiran Ilahi. Sifat-sifat Keindahan-Nya mencakup al-Lathif (Mahalembut), ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Halim (Maha Penyantun), al-Waliy (Maha Melindungi), al-Karim (Maha Pemurah), al-Hayyu (Mahahidup), ash-Shabur (Maha Penyabar).

Sifat-sifat al-Jalal berlawanan dengan sifat al-Jamal. Namun, dari pertentangan dua sifat itulah mengejawantah hakikat al-Kamal (Kesempurnaan). Dengan demikian, Adam yang dicipta dengan “kedua tangan” Allah, yakni al-Jalal dan al-Jamal, secara asasi memiliki sifat-sifat sempurna (kamal). Sifat-sifat sempurna Adam itu termanifestasikan pada keberadaan Adam yang dicipta sesuai gambar-Nya (kholaq al-insan ‘alashurah ar-Rahman). Dan lantaran itu, seluruh malaikat diperintahkan sujud kepada Adam (QS Shad: 72).

Pada manifestasi nur al-baidha’ atau gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ana yang merupakan citra dari jiwa pertama Adam, yakni pengejawantahan an-nafs al-wahidah, Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ bahwa saat itu ia tidak berada di mana-mana kecuali di dalam dirinya sendiri. Dan sosok bercahaya yang dijumpainya bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri. Dua pancaran cahaya yang berganti-ganti memancar dari tubuh manusia bercahaya itu adalah citra dari dua nafs yang menyatu dalam satu kesatuan an-nafs al-wahidah. Cahaya yang memancar di sebelah kanan adalah manifestasi an-nafs al-mardhiyyah yang memancar dari dinding al-Jalal. Sedang cahaya yang memancar di sebelah kiri adalah manifestasi an-nafs ar-radhiyyah yang memancar dari taman al-Jamal.

Pada pengejawantahan an-nafs al-wahidah inilah terletak jiwa pertama Adam, citra al-insan yang di dalamnya disemayami Ruh Ilahi, yakni Adam Ma’rifat yang tanpa hijab dapat berhubungan dan berwawansabda dengan al-Khaliq, malaikat, dan Iblis. Pada an-nafs al-wahidah itu bersemayam bashirah (mata bathin), yakni piranti yang bersumber dari al-Bashir. Melalui bashirah itu Adam dapat menyaksikan alam gaib. Inilah derajat Adam Ma’rifat. Inilah perbendaharaan al-Bashir (‘ain al-yaqin) yang menjadi piranti utama untuk menyaksikan Keagungan-Nya.

Ketika Abdul Jalil sedang terkesima takjub menyaksikan keajaiban manifestasi an-nafs al-wahidah dalam wujud citra Adam Ma’rifat yang berwajah mirip dirinya, dengan tubuh memancarkan cahaya, tiba-tiba ia menyaksikan citra Adam Ma’rifat itu memancarkan cahayan yang sangat menyilaukan. Ia terperangah takjub. Sedetik kemudian, ia merasakan kesadarannya terisap oleh cahaya yang memancar dari citra Adam Ma’rifat.

Isapan cahaya itu sangat dahsyat. Bagaikan anak panah lepas dari busurnya, kesadaran Abdul Jalil melesat dan menancap ke citra Adam Ma’rifat. Namun, ia tidak tahu apakah kesadarannya sudah berada di dalam atau masih di luar citra Adam Ma’rifat. Ia hanya menyaksikan kilasan-kilasan cahaya berkumpar-kumpar dalam aneka bentuk ketika melintasi tirai-tirai gaib.

Kemudian ia mendapati kesadarannya berada di suatu hamparan luas tanpa batas. Namun, kali ini ia tidak melihat bulatan cahaya. Sejauh mata memandang yang terpampang hanya keluasan yang kosong tanpa bentuk dan tanpa pusat cahaya. Anehnya, tempat ini terang benderang di segenap penjuru. Lebih aneh lagi, ia seperti dapat melihat ke segala arah. Tidak ada arah depan. Tidak ada arah belakang. Tidak ada kanan. Tidak ada kiri. Semuanya terlihat dengan terang dan jelas. Tidak ada bentuk apa pun. Seluruhnya hening. Sunyi. Sepi. Hampa.

Ia tidak merasakan perasaan apa pun baik sedih, kecewa, susah, senang, gembira, damai, maupun bahagia. Ia juga tidak merasakan sejuk, hangat, panas, maupun dingin. Pun tidak ada rasa sakit, letih, lesu, lemah, kuat, sehat, nikmat, ataupun lezat. Seluruh rasa telah terhapus. Seluruh citra manusiawinya seolah-olah sirna.

Ketika sedang termangu takjub menghayati pengalaman aneh itu tiba-tiba ia merasakan kesadarannya terbelah seperti kelopak bunga yang mekar. Kemudian secara ajaib ia saksikan sosok dirinya dalam wujud sebesar ibu jari tangan melayang-layang di atas kelopak kesadarannya. Sosok sebesar ibu jari tangan itu memancarkan cahaya putih kehijau-hijauan yang berkilau bagai permata zamrud disinari cahaya matahari. Sosok itulah satu-satunya wujud di tengah hamparan luas tanpa batas yang disaksikan oleh kesadarannya.

Sosok sebesar ibu jari tangan itu adalah manifestasi dari ar-ruh al-idhafi, yakni ruh-Nya yang ditiupkan ke dalam diri al-basyar (QS Shad: 72). Ruh ini memiliki sifat manusiawi sekaligus ilahiah. Lantaran itu disebut ar-ruh al-idhafi, yakni ruh yang “dinisbatkan” kepada Allah.

Berbeda dengan pengalaman melintasi dimensi-dimensi nafs sebelumnya, di hadapan sosok sebesar ibu jari tangan yang mirip dirinya itu ia tidak mendapati al-ima’ menyeruak dari kedalaman jiwanya. Al-ima’ yang ia dapatkan justru berasal dari sosok itu. Inti percakapan itu berbunyi:

“Jangan syak dan ragu lagi, o Abdul Jalil, bahwa akulah kesadaran ‘aku’ yang terpendam dan tersuci dari kesadaran kemanusiaanmu. Akulah hakikat keberadaanmu yang sejati. Sebab, engkau tiada lain adalah bayangan dari keberadaan sejatiku. Engkau adalah Buah Tauhid segar dari Pohon Kehidupan (syajarah al-hayy) yang tumbuh di Taman Alam Raya (al-jannah al-kauniyyah). Engkaulah salah satu buah terbaik di antara buah yang baik yang dilahirkan untuk manusia (QS Ali ‘Imran: 110), yakni buah yang tumbuh dari Ranting Kesempurnaan (kamaliyyah) yang merupakan cabang dari Dahan Pengetahuan (ma’rifat).”

“Bersyukurlah engkau, o Buah Tauhid, bahwa Dia telah menjadikan sinar untukmu dalam makna: Wa ja’alna lahu nuran (QS al-An’am: 122) yang memancarkan nikmat-Nya yang tak terhitung (QS Ibrahim: 34) sehingga engkau menjadi Buah Tauhid mulia yang tumbuh dair benih Adam dalam makna: Wa laqad karamna bani Adam (QS al-Isra: 70). Engkaulah Buah Tauhid yang ditetapkan oleh-Nya untuk mengetahui hakikat benih yang menjadi asal kejadianmu yang terangkum dalam makna: Innani ana Allah la ilaha illa ana fa’budni (QS Thaha: 14). Bahkan engkau ditetapkan olehnya untuk mengetahui Gudang Simpanan benih (al-kanziyyah) dalam makna: Kuntu kanzan makhfiyyan (hadits Qudsi).”

“Jika aku adalah Buah Tauhid yang mulia yang tumbuh dari benih Adam,” ujar Abdul Jalil, “berarti ada buah yang lain yang tidak termasuk ke dalam kumpulan Buah Tauhid. Dan apakah yang Tuan maksud dengan perumpamaan buah, benih, dahan, cabang, dan ranting itu bermakna dunia ini adalah gambaran simbolik dari sebatang Pohon Dunia (syajarah ad-dunya) yang tumbuh di Taman Alam Raya (al-jannah al-kauniyyah)?”

“Ketahuilah, o Buah Tauhid, bahwa Pohon Dunia yang tumbuh di Taman Alam Raya ini tegak di atas Akar Kehendak (al-Iradah) yang dinaungi Dahan-Dahan Kuasa (al-Qudrah). Dari Dahan-Dahan Kuasa ini muncul dua anak cabang yang berbeda. Pertama, Anak Cabang Pengetahuan (ma’rifat) yang membelah menjadi Ranting Kesempurnaan (kamaliyyah). Kedua, Anak Cabang Ketidaktahuan (nakirah) yang membelah menjadi Ranting Kekufuran (al-kufriyyah).”

“Dari Ranting Kesempurnaan akan muncul Buah Tauhid. Buah-Buah Tauhid itulah yang disebut ashhab al-yamin (kelompok kanan). Di dalam kumpulan ashhab al-yamin terdapat buah-buah segar dan ranum yang disukai Sang Penanam, yakni buah al-muqarrabin, al-muttaqin, as-shiddiqin, al-‘arifin, al-muhibbin.”

“Sedang dari Ranting Kekufuran akan muncul Buah Kekufuran (kufriyyah). Buah-Buah itulah yang disebut ashhab asy-syimal (kelompok kiri). Kumpulan ashhab asy-syimal berisi buah-buah busuk berulat yang tidak disukai Sang Penanam, yakni buah al-munafiqin, al-kafirin, al-fasiqin, al-musyrikin, al-kadzibin, azh-zhalimin.”

“Ketahuilah, o Buah Tauhid, bahwa keberadaan ashhab al-yamin dan ashhab asy-syimal adalah keniscayaan dari keberadaan Pohon Dunia. Karena itu, Sang Pemilik (Malik al-Mulki) Pohon Dunia dan Taman Alam Raya akan memerintahkan para pemetik yang dipimpin oleh Izrail untuk mengambil Buah Tauhid yang terikat dalam kumpulan ashhab al-yamin dengan cara yang baik (husn al-khatimah). Buah-Buah Tauhid itu akan ditempatkan di Keranjang Penantian (al-barzakh) yang baik untuk dipersembahkan kepada Sang Pemilik saat Hari Pemilihan tiba (yaum al-hisab). Saat dihidangkan, buah-buah terpilih itu akan ditempatkan dalam Talam ‘Iliyyn yang tak terbayangkan keindahannya untuk dijadikan “santapan” Sang Pemilik. Bahkan, bagi Buah-Buah Tauhid yang benar-benar terpilih dan disukai Sang Pemilik, begitu dipetik akan langsung dipersembahkan sebagai “santapan” kesukaan Sang Pemilik.”

“Sementara itu, Buah Kekufuran setengah busuk dan yang busuk berulat, yang terikat dalam kumpulan ashhab asy-syimal akan dipetik dengan cara yang sangat buruk (su’ul al-khatimah). Buah-Buah itu akan dikuliti di Keranjang Penantian yang buruk (‘adzab al-qubr). Saat datang Hari Pemilihan (yaum al-hisab), mereka akan dipilah dan dipilih di urutan paling akhir. Demikianlah, mereka akhirnya dilemparkan ke lubang-lubang pembuangan sesuai tingkat kebusukannya. Buah-Buah terbuang itu akan dijauhkan dari Sang Pemilik dan ditempatkan di lubang Sijjin yang tak terbayangkan keburukan dan kenistaannya.”

“Bagaimana dengan peristiwa pemetikan massal buah-buah busuk seperti pada zaman Nuh, Syuaib, Shalih, dan Luth?” tanya Abdul Jalil. “Apakah itu berarti Buah Kekufuran lebih banyak jumlahnya dibanding Buah Tauhid? Jika sudah demikian, kenapa Pohon Dunia tidak ditebang saja?”

“Ketahuilah o Buah Tauhid, bahwa pada musim-musim tertentu yang ditentukan oleh Kehendak-Nya (al-Iradah) dan Kuasa-Nya (al-Qudrah) maka Sang Maha Penyesat (al-Mudhill), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Maha Membinasakan (al-Mumit), Maha Menyiksa (al-Muntaqim), dan Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr) akan meniupkan angin ablasa yang berembus melintasi negeri kesengsaraan membawa benih-benih pohon zaqqum. Ketika angin ablasa meniup maka benih-benih dari pohon zaqqum akan menimbulkan kerusakan dahsyat pada Pohon Dunia.

“Benih-benih itu ketika jatuh di daun, dahan, dan ranting Pohon Dunia akan berubah secara ajaib menjadi ulat-ulat yang sangat ganas. Ulat-ulat jelmaan itu kemudian bergerak menggeragoti buah, bunga, daun, ranting, dan bahkan dahan Pohon Dunia. Saat itulah kebusukan dan kebinasaan menimpa Pohon Dunia. Bahkan secara cepat Buah-Buah Tauhid dari kumpulan ashhab al-yamin yang tumbuh di ranting kamaliyyah ikut membusuk. Demikianlah, dalam tempo singkat hampir seluruh buah di Pohon Dunia itu membusuk, kecuali beberapa butir saja.”

“Melalui Kehendak-Nya dan Kekuasaan-Nya pula Sang Maha Penjaga (al-Muhaimin), Yang Maha Memelihara (al-Hafizh), Maha Penyelamat (as-Salam), Maha Pengasih (ar-Rahman), Maha Penyayang (ar-Rahim), dan Maha Pengampun (al-Ghaffar) saat itu meninggalkan Pohon Dunia. Dan jika sudah demikian, tak perlu dijelaskan lagi apa yang harus dilakukan oleh Sang Pemilik terhadap Buah-Buah Kekufuran yang sudah membusuk dan membahayakan Pohon Dunia.”

Selama ini Pohon Dunia tumbuh sebagai bukti Kebesaran dan Keagungan Sang Pemilik. Itu sebabnya, berbagai kerusakan yang terjadi di antara buah, dedaunan, serta dahan Pohon Dunia hanya dibersihkan pada bagian yang rusak itu saja. Namun, suatu hari ketika Pohon Dunia sudah sangat tua maka Sang Pemilik Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim), Maha Mengakhiri (al-Mu’ahkhir), Maha Membinasakan (al-Mumit), Maha Menista (al-Khafidh), dan Maha Mencabut (al-Qabidh) akan menebang Pohon Dunia untuk dijadikan kayu bakar Tungku Jahanam.”

“Ketahuilah, o Buah Tauhid, bahwa saat Pohon Dunia dijadika kayu bakar Tungku Jahanam maka para pecinta Pohon Dunia akan ikut terbakar. Makin kuat kecintaan buah-buah terhadap Pohon Dunia maka akan semakin dekat ia ke Tungku Jahanam. Sementara orang-orang yang tidak mencintai Pohon Dunia atau orang-orang yang menjadikan Pohon Dunia sebagai tempat tumbuh sementara akan terhindar dari Tungku Jahanam. Karena, mereka termasuk ke dalam kelompok Buah Tauhid dari kumpulan ashhab al-yamin yang dipersembahkan kepada Sang Pemilik.”

“Apakah benih-benih dari pohon zaqqum yang berubah menjadi ulat perusak itu yang kemudian disebut ulat dajjala?” tanya Abdul Jalil.

“Engkau telah tahu akan itu.”

Ketika ia hendak melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan, tiba-tiba ia merasakan kesadarannya ditarik oleh kumparan gaib yang memiliki daya isap luar biasa. Ia tersentak. Citra ar-ruh al-idhafi yang menampak dalam wujud orang yang mirip dirinya, namun besarnya hanya seibu jari tangan itu, mendadak lenyap. Sesaat setelah itu, ia menyaksikan kilasan warna-warni memasuki penglihatannya. Kemudian terang dan gelap berganti-ganti.

Sepersekian detik setelah mengalami peristiwa mencengangkan, ia tersentak kaget bagai terbangun dari mimpi menggetarkan. Saat membuka mata, bentuk yang pertama kali dilihatnya adalah tongkat Misykat al-Marhum yang berdiri tegak di hadapannya dalam jarak sekitar satu depa. Wujud tongkat Misykat al-Marhum yang dilukis warna warni itu sangat mengagetkannya. Tongkat itu mengingatkannya pada dimensi-dimensi dari nafs-nafs yang baru saja dilampauinya. Bagian ujung terbawah tongkat, misalnya, dicat warna hitam, sesudah itu kuning, merah, hijau, biru, putih, dan emas. Di atas warna emas ada batu bulat sejenis kaca yang bening. Kaca bulat itukah citra simbolik dari ar-ruh al-idhafi?

Ketika sedang merangkai-rangkai dan mengait-ngaitkan pengalaman menakjubkan yang baru saja dialaminya dengan warna-warna tongkat, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Misykat al-Marhum yang menyitir sebuah hadits, “Istafti qalbaka wa in aftauka wa aftauka wa aftauka. Mintalah fatwa kepada qalb-mu walau orang lain telah berfatwa kepadamu, telah berfatwa kepadamu, telah berfatwa kepadamu.”

Abdul Jalil menarik napas berat. Meski sangat ingin bertanya, akhirnya ia mengurungkan niatnya. Ia sepertinya menangkap sasmita betapa dengan disitirnya hadits itu maka sangatlah tidak sopan jika ia masih bertanya lagi soal ini dan itu. Itu sebabnya, sebagai tanda memahami isyarat yang dilontarkan Misykat al-Marhum, ia bangkit dari duduk dan kemudian dengan segenap rasa hormat dan takzim mencium kedua kakinya.

Saat mencium kaki Misykat al-Marhum, sekilas di kalbunya terlintas penyesalan karena ia harus kembali lagi ke dunia yang penuh kesengsaraan dan derita. Abdul Jalil jujur mengakui bahwa apa yang telah dialaminya dengan memasuki dimensi di mana ar-ruh al-idhafi bersemayam itu adalah tempat yang paling luar biasa nikmatnya yang sebelumnya tak pernah dirasakannya. Sebenarnya ia sangat tidak ingin meninggalkan dimensi itu. Ia ingin terus tinggal di situ.

Bagaikan mengetahui lintasan perasaan dan kilasan pikiran Abdul Jalil, Misykat al-Marhum mengingatkan, “Jangan engkau anggap ar-ruh al-idhafi yang telah engkau jumpai itu adalah akhir dari perjalananmu. Sebab ar-ruh al-idhafi hanyalah guru sejati tempat engkau bertanya tentang berbagai hal, baik yang ukhrawi maupun duniawi. Dia seibarat bola kaca di atas tongkat ini. Di atas pelambang bola kaca ini masih ada yang tak tampak dan tak dapat dilambangkan, yaitu ar-Ruh al-Haqq. Di atas ar-Ruh al-Haqq masih ada lagi yang lebih tak dapat dilambangkan dan disetarakan sesuatu, yaitu al-Haqq.”

“Saya paham Tuan,” kata Abdul Jalil sambil meneteskan air mata, “namun setelah melewati pengalaman tadi saya seperti tidak sanggup lagi menjalani kesengsaraan dan penderitaan hidup di dunia ini. Saya ingin tinggal di sana.”

Misykat al-Marhum menghentakkan tongkatnya ke tanah. Bumi bergetar. Abdul Jalil merasakan hatinya kecut. “Seorang laki-laki (ar-rajul) yang telah dipilih-Nya adalah manusia sejati (ar-rijal) yang tidak boleh memilih-milih Tempat (makan) dan Waktu (zaman). Sebab, bagi laki-laki terpilih, kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya bukan lagi kemuliaan dalam hal makan, melainkan kemuliaan dalam makanah (tingkatan). Laki-laki yang terpilih sudah merangkum tingkatan-tingkatan dalam kelapangan tempat itu (manzil fi al-bisath). Maknanya, jika engkau beranggapan bahwa di maqam ar-ruh al-idhafi itu engkau harus berhenti maka engkau telah terjebak ke dalam lingkaran nafsumu yang halus. Karena, laki-laki yang terpilih sudah tidak menduduki maqam (la maqam). Sebab, laki-laki terpilih selalu bersama-Nya, Yang Tak Terikat maqam.”

“Laki-laki sejati yang telah dipilih-Nya tidak juga boleh terikat oleh zaman dari Taman Alam Raya, apalagi zaman dari Pohon Dunia. Sebab, laki-laki yang sudah terpilih selalu bersama Sang Waktu Abadi (ad-Dahr). Dia berada di dalam lingkaran zaman hanya untuk menunggu panggilan Sang Waktu Abadi. Lantaran itu, berada di mana pun dan pada saat kapan pun dia tidak boleh memilih-milih yang disukai nafsunya. Bahkan jika harus ditempatkan di neraka jahanam pun dia tidak boleh menolak, karena laki-laki yang terpilih selalu bersama-Nya, Sang Pencipta (al-Khaliq) yang tidak terikat dan tidak terpengaruh oleh ciptaan-Nya (makhluk).”

Manusia pada hakikatnya tidak memiliki kehendak, meski sebesar zarah, sebab yang maha berkehendak hanyalah Allah, Rabb alam semesta (QS at-Takwir: 29). Itu sebabnya, dalam hal kelahiran, perkawinan, peruntungan nasib baik dan buruk, dan kematian adalah mutlak ditentukan oleh-Nya. Tidak satu makhluk pun bisa menentukan apakah dirinya harus menjadi manusia, jin, malaikat, hewan, atau tetumbuhan. Pun tidak seorang juga dapat memilih lahir di dunia sebagai laki-laki atau perempuan. Tidak juga orang dapat memilih harus lahir dari keluarga kaya atau keluarga terhormat. Bahkan seseorang tidak dapat mengatur apakah dirinya harus mati dalam keadaan husn al-khatimah atau su’u al-khatimah. Semua yang mengatur Allah. Mutlak.

Sekalipun apa yang diyakini oleh Abdul Jalil ini secara konseptual tidak ditolak oleh umat Islam pada umumnya, pada tingkat praktik hal itu jarang diterima apalagi dijalankan secara konsekuen. Maksudnya, kaum Muslimin umumnya lebih memilih dan berusaha menjadikan diri mereka sebagai sesuatu yang serba menyenangkan dan menguntungkan. Jika disuruh memilih jenis kelamin, misalnya, seorang Muslim cenderung akan memilih laki-laki. Kalau disuruh memilih status maka mereka cenderung memilih lahir dari keluarga yang kaya dan terhormat. Bahkan kalau disuruh memilih istri maka mereka akan memilih istri cantik, kaya, bangsawan, dan salehah. Begitu juga jika disuruh memilih martabat, pangkat, dan derajat hidup maka akan dipilihnya hidup yang serba dilimpahi rezeki, dilingkari kemewahan, ditaburi puja dan puji, dijejali kesenangan dan kelezatan. Jika mati akan memilih husn al-khatimah dan masuk surga tanpa hisab.

Bertolak dari keyakinan yang kuat tentang kemutlakkan kehendak Allah yang sangat berbeda dalam tataran praktik dibanding pemahaman kaum Muslimin seumumnya, Abdul Jalil tidak mempersoalkan tetek bengek ukuran yang digunakan orang untuk memuaskan hawa nafsunya. Ini setidaknya dibuktikan saat ia menerima keputusan-Nya untuk menikah dengan perempuan yang belum pernah ia lihat wajahnya.

Cerita tentang pernikahan itu bermula dari perintah Misykat al-Marhum agar ia segera menemui Syaikh Abdul Malik al-Baghdady untuk menyampaikan pesan khusus. Abdul Jalil secara lisan diperintahkan untuk memohon kepada Syaikh Abdul Malik al-Baghdady agar diperkenankan memasuki mahligai Adam Ma’rifat yang merupakan manifestasi an-nafs al-wahidah. Misykat al-Marhum tidak menjelaskan makna di balik pesannya itu, kecuali mengisyaratkan bahwa perjalanan menuju-Nya tidak akan sampai jika belum memasuki mahligai Adam Ma’rifat.

Sebagai salik yang mampu berkomunikasi dengan ar-ruh al-idhafi, akhirnya ia menangkap makna di balik pesan Misykat al-Marhum. Ia diberi tahu oleh ar-ruh al-idhafi, melalui al-ima’, bahwa ujung di balik pesan Misykat al-Marhum itu pada hakikatnya adalah ketentuan-Nya yang menghendaki agar dirinya menikah dengan perempuan yang dipilihkan olah Syaikh Abdul Malik.

Sejak mengalami peristiwa menakjubkan memasuki nafs-nafs, ia merasa ada yang aneh pada dirinya, terutama saat menunaikan titah Misykat al-Marhum untuk menjumpai Syaikh Abdul Malik. Semestinya, dengan mengetahui makna di balik titah itu, ia akan memikirkan atau sedikitnya memperoleh lintasan pikiran tentang perempuan yang bakal dijodohkan dengannya. Sebagai manusia yang waras tentu ia akan membayangkan, meski sepintas, perempuan yang bakal dinikahinya: Apakah tubuhnya gemuk, cebol, matanya buta sebelah, giginya merongos, hidungnya melengkung seperti paruh rajawali, atau tangannya lumpuh sebelah?

Namun, nalurinya sebagai laki-laki dari bangsa manusia ternyata tidak terjadi sebagai kemestian. Ia justru merasa benaknya seperti hamparan putih yang tidak ternoda oleh sepercik pun bias angan-angan atau lintasan khayalan, dan berbagai limpahan ilham justru memancar dari mahligai ar-ruh al-idhafi bagaikan mata air yang tak pernah kering. Ini benar-benar peristiwa aneh yang sempat membuatnya terheran-heran dan meragukan kewarasan dirinya. Bahkan ia sedikit pun tidak sempat membayangkan sifat perempuan yang bakal dipilih menjadi istrinya itu: Apakah dia berperangai buruk, berani kepada suami, pemarah, pemalas, jorok, suka mengomel, pecinta duniawi, atau suka berselingkuh?

Ketika lintasan-lintasan pikiran dan perasaan yang selalu mengganggu ketenangan jiwanya benar-benar sirna, ia baru menangkap kebenaran kata-kata Misykat al-Marhum yang menyatakan bahwa seorang ar-rajul tidak boleh memilih makan dan zaman. Di mana pun berada, ar-rajul selalu bersama Sang Pencipta yang tidak terikat apalagi terpengaruh oleh makhluk. Keadaan ini secara ruhaniah baru dirasakan dan dipahaminya kini. Keadaan ini memang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata dari bahasa manusia.

Sebenarnya, dulu ia pernah mengalami keadaan seperti ini, yakni saat kesadaran fawa’id-nya tersingkap membuka selubung lawami’ dan zawa’id. Namun, ketersingkapan itu terasa sangat jauh berbeda dengan yang dialami saat ini. Tersingkapnya hijab ana yang menyelubungi ar-ruh al-idhafi benar-benar telah mengubah sifat dan perilakunya secara dahsyat. Sebelum ini ia selalu menelaah dan mengkaji terlebih dahulu apa yang ia pikirkan dan apa yang bakal ia lakukan, kini semuanya berubah. Benaknya bagaikan langit biru yang luas dan kosong dari gumpalan awan. Nalarnya bagaikan langit cerah dipancari matahari al-ima’ yang bersinar di cakrawala ar-ruh al-haqq.

Dengan perubahan itu ia memasuki mahligai perkawinan sebagai sebuah keniscayaan dari garis kehidupan yang sudah ditentukan oleh-Nya. Maksudnya, ia sudah mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan pribadi maupun ukuran-ukuran syari’at. Ia sepenuhnya pasrah kepada ketentuan-Nya dengan mematuhi perintah Misykat al-Marhum agar menjalankan dan mematuhi apa pun yang diperintahkan Syaikh Abdul Malik. Lantaran itu, ia pun tidak mempertanyakan siapakah Syaikh Abdul Malik yang dimaksud Misykat al-Marhum.

Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, orang yang ditunjuk Misykat al-Marhum untuk menerima pesan bersifat ruhaniah, ternyata ulama besar penganut paham Syi’ah Muntadhar. Dia sangat dihormati masyarakat dan dihormati penguasa. Tidak gampang menemuinya sebab dia selalu dilingkari oleh pengikut-pengikutnya yang setia yang siap berkorban nyawa untuknya. Sekalipun sudah tinggal barang satu dasawarsa di Baghdad, Abdul Jalil hanya mendengar berita-berita tentang kebesaran ulama Syi’ah Muntadhar itu terutama dari Ali Anshar at-Tabrizi. Ia sejauh ini tidak mengetahui di bagian kota Baghdad mana syaikh termasyhur itu tinggal. Melalui Ali Anshar pula ia menyampaikan keinginan untuk menjumpai ulama masyhur itu dengan menuturkan bahwa ia membawa pesan dari Misykat al-Marhum.

Entah ada hubungan apa antara Misykat al-Marhum dan Syaikh Abdul Malik, yang jelas beberapa saat kemudian ia sudah didaulat untuk menemui pemimpin Syi’ah itu. Dan ternyata, Syaikh Abdul Malik tinggal di rumah sederhana yang tak jauh dari pemondokan Ali Anshar. Kediaman Syaikh Abdul Malik dilingkari oleh rumah dan pondokan para penganut Syi’ah sehingga membentuk pemukiman orang-orang Syi’ah.

Syaikh Abdul Malik, ternyata salah seorang dari anggota Jama’ah Karamah al-Aulia’ yang ikut dalam pertemuan para wali di Jabal Uhud. Itu sebabnya, saat Abdul Jalil masih tercekat kaget, Syaikh Abdul Malik memberi isyarat agar Abdul Jalil menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya. Abdul Jalil yang memahami maksud Syaikh Abdul Malik hanya mengangguk dan harus bersikap takzim seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Ia harus menempatkan diri sebagai orang awam yang sangat hormat dalam memuliakan ulama masyhur.

Sekalipun sudah berusaha bersikap takzim dan memuliakan, adanya hubungan bersifat khusus antara Syaikh Abdul Malik dan dirinya tidak bisa ditutup-tutupi. Hal itu setidaknya terungkap saat tanpa hujan dan tanpa angin, segera setelah Abdul Jalil menyampaikan pesan Misykat al-Marhum, tiba-tiba saja Syaikh Abdul Malik memanggil Ali Anshar dan pengikutnya yang bernama Ali Akbar al-Hamadani. Kemudian tanpa diduga-duga, dia menyatakan akan menikahkan Abdul Jalil dengan puteri bungsunya yang bernama Fatimah, yang usianya belum genap lima belas tahun.

Pada malam pertama perkawinan, ketika angin musim semi menebarkan wangi asap dupa dan harum bunga-bunga, Abdul Jalil tegak memandangi mempelai wanita yang tidur di atas tilam hijau terbuai mimpi indah. Ada suasana aneh dan asing merayap diam-diam di relung-relung jiwanya. Ia merasa betapa liku-liku kehidupannya membentangkan keindahan yang menakjubkan, meski di hampir setiap sudut jalan ia dapati telaga air mata kepedihan.

Rasa aneh dan asing yang dialami Abdul Jalil itu makin lama makin menguak tirai kesadaran hakiki tentang adanya tangan gaib dengan jari-jemari lembut yang diam-diam dan tanpa diketahui telah mengatur setiap gerak dan langkahnya. Ia sadar bahwa pada hakikatnya ia tidak memiliki kehendak pribadi. Semua adalah kehendak-Nya. Perkawinannya dengan Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady ini pun bukanlah kehendak pribadinya. Itu sebabnya, ia merasa aneh dan asing ketika harus memasuki mahligai perkawinan yang menakjubkan ini.

Keanehan yang dianggap menakjubkan ini ada kaitannya dengan mempelai perempuan, yaitu kemiripan yang nyaris sempurna antara mata Fatimah dan mata almarhumah Nafsa. Tanpa sadar diam-diam ia menggumam, “Ya Allah, mengapa mempelaiku secantik Nafsa yang telah merenggut perhatianku? Mengapa dia yang telah engkau jadikan mempelaiku harus mirip dengan Nafsa? Apakah Engkau sengaja menguji keteguhan hatiku kepada-Mu?”

Dalam ketermanguan di tengah ketakjuban dan keanehan, ia mendengarkan suara ar-ruh al-haqq mengumandang di cakrawala jiwanya melalui al-ima’. “Jika Dia sudah berkehendak maka ikutilah kehendak-Nya, meski samudera api dan padang ilalang pedang menghadang di hadapanmu. Jika payung kemuliaan-Nya ditudungkan di atas kepalamu maka bernaunglah di bawah-Nya walau hari terang tanpa hujan setetes pun. Sebab, sebagaimana Dia memuliakan siang yang terang benderang oleh pancaran cahaya mentari, demikianlah Dia memuliakan malam dengan kilau-kemilau cahaya bintang-bintang yang gemerlap laksana permata.”

“Perkawinan adalah penyatuan ajaib dua jiwa yang terpisah oleh rentangan waktu dan hamparan taman semesta. Sebab, dengan penyatuan gaib itulah engkau akan menemukan dirimu berkembang biak dan beriap-riap memenuhi penjuru bumi. Tanpa penyatuan gaib antara dua jiwa yang dipisahkan maka engkau akan tinggal dalam ketunggalan jiwamu yang merana di atas bumi manusia. Namun, hendaklah engkau senantiasa ingat bahwa jiwa yang menjadi pasanganmu hanyalah nuansa angin sejuk yang berembus dan menari-nari di hadapanmu. Engkau boleh menikmatinya sesuka hatimu, namun tetaplah ingat jangan sekali-kali engkau sampai terbelenggu dengan kesejukan dan kenikmatan pasanganmu.”

“Mempelaimu adalah kapal dan engkau nahkoda. Jangan biarkan kapalmu gampang hanyut dipermainkan ombak samudera. Engkaulah nahkoda yang mengemudikan dan membimbing arah kapal hingga sampai ke pelabuhan harapan. Engkaulah nahkoda yang menentukan arah kapal. Engkaulah nahkoda yang mengetahui berapa penumpang yang patut naik ke dalam kapalmu. Jangan biarkan penumpang gelap memasuki kapalmu. Jangan biarkan bajak laut menghadang laju kapalmu. Dan sebagaimana nahkoda yang setia pada hukum-hukum kelautan agar kapal selamat sampai tujuan maka demikianlah hendaknya engkau mengarahkan bahteramu di bawah bimbingan hukum-hukum-Nya. Tetaplah engkau berpedoman pada gerakan matahari di siang hari dan pada cahaya bintang di malam hari yang diliputi kegelapan.”

Pengalaman baru memasuki mahligai perkawinan adalah penyingkapan kesadaran baru tentang makna ketunggalan hakiki yang menyelubungi keragaman dan keberbedaan hidup manusia. Hal itu baru disadarinya ketika ia menapaki liku-liku jalan terjal menuju puncak tertinggi mahligai perkawinan. Keindahan pemandangan, kemerduan nyanyian, kelembutan belaian, kekaguman pesona, kesucian mahligai, dan keharuman desah napas ketika sampai ke puncak; luluh. Lebur. Menyatu. Tunggal.

Saat berada di puncak penyatuan itulah ia mendapati kenyataan bahwa dirinya bukanlah seorang suami dan bukan pula seorang laki-laki. Abdul Jalil merasakan kesadaran dirinya lenyap. Menyatu dalam nikmat. Dan rasa nikmat itu setidaknya pernah dirasakannya saat ia memasuki gambaran ruhaniah dari wujud niscaya ana yang merupakan pengejawantahan an-nafs al-wahidah. Dengan kenyataan ini, menurut hematnya, berarti setiap manusia secara fitrah dikaruniai anugerah oleh-Nya untuk mengenal jati dirinya yang sejati.

Dengan membandingkan antara pengalaman ruhani ketika memasuki nafs-nafs dan pengalaman saat menapaki puncak mahligai perkawinan, Abdul Jalil sampai pada kesimpulan bahwa pada tiap-tiap tirai kesadaran di mana an-nafs disingkapkan maka akan terbit kesadaran baru dengan tingkat rasa yang makin lama makin tidak tergambarkan oleh kata-kata. Dan sejauh itu, puncak kenikmatan yang pernah dilewatinya justru saat ia memasuki dimensi putih kehijau-hijauan yang menjadi persemayaman ar-ruh al-idhafi yang sebesar ibu jari. Kenikmatan di dimensi yang tak tergambarkan itulah yang menyebabkan ia ditegur keras oleh Misykat al-Marhum karena ingin terus berdiam di situ menikmati kenikmatan tak tergambarkan.

Kini, dengan memahami makna hakiki perkawinan sebagai wujud niscaya dari penyatuan an-nafs al-wahidah, Abdul Jalil memiliki wahana paling dahsyat dalam mengendalikan hasrat dan desakan naluriah dari nafsu-nafsu yang melingkari keberadaan jati dirinya. Sambil berbisik lembut penuh kegembiraan ia melantunkan nyanyian jiwanya.

“O jiwa-jiwa liar, jiwa-jiwa buas, jiwa-jiwa merana, jiwa-jiwa rindu, jiwa-jiwa gembira, jiwa-jiwa bahagia. Langit kegirangan telah tersingkap gaunnya. Tujuh samudera cinta yang berisi air jernih keindahan telah menanti kehadiran kalian di pintu pelabuhan al-wahidah. Pasanglah kemudimu. Bentangkan layarmu. Ikuti hembusan angin buritan. Selaraskan lambung bahteramu dengan alunan ombak.”

“Alangkah nikmatnya berbicara dan bercanda dengan angin yang memainkan gelombang samudera. Di sini, di tengah samudera kebebasan, yang ada hanya bahtera dan sang nahkoda, yang berayun-ayun mengikuti tarian ombak samudera. O meliuklah layar perahu yang sudah condong diempas angin. Usir rasa takutmu ketika gelombang besar membawa bahtera ke puncak ombak dan kemudian terempas. Hilanglah, o bahteraku. Tenggelamlah, o nahkoda dan semua penumpangku. Dan tiada yang menampak di cakrawala pemandanganku kecuali samudera. Air.”

“O jiwa-jiwa liar, jiwa-jiwa buas, jiwa-jiwa merana, jiwa-jiwa rindu, jiwa-jiwa gembira, jiwa-jiwa bahagia yang tenggelam di lautan ketunggalan semesta. O jiwa-jiwa yang menjelma ikan, berenanglah di samuderamu yang sejati. Namun, ingatlah selalu bahwa titah-Nya menempatkanmu sebagai penghuni tanah daratan. Engkaulah citra keagungan dan kesempurnaan Adam. Kembalilah ke mahligai sejatimu dengan ridho dan diridhoi-Nya. Kembali dan nikmati ketunggalan mesramu dalam ingatan sunyi-Nya!”

Berangkat dari pengalaman ruhani yang telah dilaluinya, Abdul Jalil menyadari tentang makna perkawinan yang menjadi keniscayaan dari rahmat-Nya. Lantaran itu, Dia menyeru agar hamba-Nya tidak meninggalkan perkawinan. Sebab, perkawinan bukan hanya bermakna mengembangbiakkan ketunggalan diri (mufrad) menjadi banyak (jamak), melainkan juga mengarahkan jiwa-jiwa yang beragam sifatnya ke mutiara samudera ketunggalan.

Sekalipun Abdul Jalil sudah memaknai hakikat perkawinan sebagai keniscayaan dari kemanunggalan citra keadaman dirinya, ia tetap merasa rindu dengan kenikmatan tak tergambarkan saat memasuki dimensi putih kehijau-hijauan tempat persemayaman ar-ruh al-idhafi. Ia menyadari dirinya tidak akan pernah jenuh dengan gairah jiwa yang membawanya ke puncak mahligai perkawinan, sebagaimana ikan tidak pernah jenuh dengan air. Jauh di relung lubuk jiwanya senantiasa tersembunyi kehausan seekor ikan untuk merasakan kesegaran air dari lautan rahasia yang terletak di balik samudera tempatnya tinggal sekarang ini.

Kehausan itu telah menjadikannya tekun dan giat kembali menapaki tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq. Ia yakin bahwa puncak dari kemabukan dan ketunggalan semesta yang memuaskan hasrat ruhaninya bukanlah bersemayam di puncak mahligai perkawinan dengan mengenakan mahkota raja al-wahid, melainkan membiarkan utuh seluruh kesadarannya untuk direngkuh dalam sayap-sayap ketunggalan Ahadiyyah. Dan itu hanya mungkin dicapai melalui pemaknaan hakiki nafs al-haqq sebagaimana yang telah diajarkan hadrat Abu Bakar ash-Shiddiq dan diperjelas dengan citra kemuliaan Misykat al-Marhum.

Ia sendiri merasakan perbedaan besar saat menapaki tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq sebelum dan sesudah melintasi mahligai perkawinan. Kini, ia merasakan kebebasan dan keleluasaan, betapa perjalanan ruhaninya tidak lagi seperti menaiki anak tangga, tetapi bagai melintasi hamparan permadani luas.

Hikmah di balik perkawinan Abdul Jalil dengan Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady ternyata sulit diuraikan dengan penjelasan manusiawi. Sebab, mahligai perkawinan itu bukan sekadar telah menyingkap hakikat ketunggalan manusia secara jasmani dan ruhani, melainkan telah pula membuka cakrawala baru dalam memandang kehidupan di alam semesta ini. Hal itu terutama dirasakannya setelah ia terlibat perbincangan lebih akrab dengan mertuanya.

Bertolak dari pemahaman baru tentang kehidupan yang harus dilaluinya, Abdul Jalil menjadi paham kenapa Misykat al-Marhum begitu keras menegurnya saat ia menyatakan ingin tenggelam dalam ketenangdamaian persemayaman ar-ruh al-idhafi. Ia juga menyadari kenapa setelah itu Misykat al-Marhum justru menitahkannya untuk menikah dengan cara yang begitu menakjubkan. Ternyata, di balik kelebihan dari kemuliaan yang telah diperolehnya dari Sang Pencipta, ia harus memainkan satu peran dalam kehidupan di dunia. “Suka atau tidak suka kita harus menjalankan peran itu dengan utuh. Dan di situlah ketulusan perjuangan para kekasih diuji oleh Sang Pengasih,” ungkap Syaikh Abdul Malik.

“Berarti pertautan ‘abid dengan Ma’bud bukan akhir perjalanan?” tanya Abdul Jalil minta penegasan.

“Jika engkau berpikir bahwa pencarian seorang salik hanya berakhir pada pertautan antara kekasih (auliya’) dan Sang Pengasih (al-Waly) maka engkau tidak akan masuk ke dalam Jama’ah. Kemuliaan (karamah) dari anggota-anggota Jama’ah adalah ketulusan dan kesungguhan mereka dalam menjalankan peran di tengah perkembangan umat. Itu sebabnya, cinta (hubb) tulus kami kepada-Nya diungkapkan lewat kepasrahan dalam menerima panggilan cinta-Nya, meski untuk itu kami harus menapaki jalan terjal dan berliku-liku penuh marabahaya.”

“Keterpanggilanku ke dalam Jama’ah justru kualami setelah kukorbankan kepentingan pribadiku di tengah gemuruh kehidupan duniawi yang diwarnai perjuangan mempertahankan keutuhan warisan Ahlul Bait. Saat itulah gerbang Benteng-Nya terbuka. Aku terisap masuk. Lebur. Luluh. Larut ke dalam isi Benteng-Nya yang ternyata tak berisi apa-apa, kecuali kekosongan dan kehampaan yang tidak tergambarkan dan tidak terbandingkan.”

“Kenikmatan dan kelezatan tak tergambarkan yang kudapati di dalam Benteng-Nya ternyata bukanlah akhir dari perjuanganku dalam mengungkapkan kecintaan terhadap-Nya. Sebab, aku harus keluar dari Benteng-Nya sebagai pejuang yang memihak kepada salah satu golongan yang teraniaya. Ini adalah tugas berat yang teramat berat. Sebab, telah kuketahui dengan pasti bahwa keteraniayaan dari golongan yang kepada mereka itu aku berpihak pada dasarnya adalah keteraniayaan yang dibuat oleh-Nya sendiri. Dengan demikian, aku sadar sesadar-sadarnya bahwa yang kujalani ini adalah sandiwara kehidupan belaka yang ujung dari akhir kisahnya adalah kemuliaan dan keagungan-Nya jua.”

Penjelasan demi penjelasan yang dipaparkan Syaikh Abdul Malik menyadarkan Abdul Jalil tentang betapa berat sebenarnya tanggungan yang harus dipikul seorang anggota Jama’ah. Ia bukan saja harus memainkan peran-peran yang bersifat kelompok dengan sekat-sekat golongan dan nasab, melainkan yang tak kalah berat adalah mengarungi samudera fitnah yang menjadi selubung jari diri anggota Jama’ah. Menyadari hal itu, rasa hormat Abdul Jalil kepada mertuanya semakin bertambah tinggi. Dia tidak saja telah menyerahkan permata hatinya kepada pemuda yang belum dikenalnya, tetapi mertuanya itu dengan segala ketulusan telah menjalankan perannya selama bertahun-tahun tanpa mengeluh.

East China Sea, March 1st 2007

4 Al-Malamatiyyah

Ketika Abdul Jalil menginjak usia tiga puluh tiga tahun, sepekan setelah kelahiran puteri pertamanya yang diberi nama Aisyah (kelak diganti nama Zainab oleh kakeknya, dan dijuluki Ratu Arafah yang diijazahkan kepada Raden Sahid/Susuhunan Kalijaga untuk dinikahi sebagai tanda bahwa Raden Sahid telah memperoleh tataran ruhani dari Syaikh Datuk Abdul Jalil/Syaikh Siti Jenar), ia diperintahkan oleh mertuanya untuk meninggalkan Baghdad dan mengembara ke arah timur dengan tujuan akhir negeri Jawa. Perintah itu berkaitan dengan penunjukan Abdul Jalil sebagai pengganti kedudukan Syaikh Abdurrahman Muttaqi al-Jawy.

Ia sendiri tidak terkejut dengan petunjuk mertuanya itu. Sebab, jauh sebelumnya ia telah menangkap sasmita bahwa cepat atau lambat mertuanya bakal memerintahkan dirinya pergi. Namun, yang tak pernah diduganya adalah perintah itu mengharuskannya pergi seorang diri dengan meninggalkan istri dan anaknya di Baghdad.

Sesaat pikirannya sempat teringat jalan pada hidupnya yang selalu ditandai oleh perpisahan dengan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Jauh dikedalaman relung-relung hatinya terbersit rasa kecewa sebagai ayah sekaligus suami muda yang masih terikat oleh jalinan benang-benang kasih dengan puteri sulung dan istri tercinta. Sentakan-sentakan kasih naluri kebapakan menggerus hatinya ketika membayangkan berpisah dengan buah hatinya.

Untunglah perasaan itu tidak berlangsung lama. Mertuanya dengan penuh kearifan menguraikan makna rahasia di balik tugas-tugas yang harus diembannya, termasuk keharusan menikah dan beranak-pinak. “Dia selalu menguji kekasih-Nya dengan ujian-ujian berat dan berliku-liku sampai benar-benar terbukti bahwa kekasih-Nya sungguh-sungguh mencintai-Nya dan memutuskan hubungan kasih dengan yang lain.”

“Apakah kepergian saya ini demi keselamatan Fatimah dan Aisyah?” tanya Abdul Jalil tiba-tiba.

“Engkau sudah paham maksudku,” sahut Syaikh Abdul Malik al-Baghdady. “Itu semua aku jalankan sekadar mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.”

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia sadar bahwa kepergiannya dari Baghdad merupakan sebuah kemestian yang berkenaan dengan tugas yang diembannya dan untuk menghindari keburukan yang diam-diam disulut oleh Ali Anshar at-Tabrizi. Atas dasar itulah kepergian Abdul Jalil tidak disertai istri dan puterinya. Ia menyadari bahwa mertuanya yang arif itu tentu menangkap gelagat tidak baik dari gerakan fitnah yang dilakukan Ali Anshar. Kebencian Ali Anshar kepadanya muncul dari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia harapkan, yakni pernikahannya dengan Fatimah.

Sejak menikahi puteri bungsu Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, ia sudah menangkap benih-benih ketidaksenangan dan kebencian Ali Anshar dari mimik wajah, sikap, dan lontaran ucapan-ucapan yang keluar dari relung-relung terdalam jiwanya yang dipenuhi oleh iri hati dan dendam kesumat.

Semula, Abdul Jalil hanya bisa meraba-raba mengapa Ali Anshar mendadak berubah sikap kepadanya. Meski sejak awal ar-ruh al-idhafi telah membisikkan tentang ketidaksukaan Ali Anshar kepadanya, ia belum mengetahui latar lahirnya kebencian itu. Ia baru paham setelah Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dengan bahasa isyarat mewanti-wanti agar ia berhati-hati terhadap Ali Anshar. Karena, laki-laki asal Tabriz itu sejak lama memendam perasaan cinta kepada Fatimah. “Ali Anshar berpikir engkau telah merampas Fatimah dari pelukan harapannya. Karena itu, dia akan melakukan apa saja untuk merebut kembali harapannya.”

“Tapi Ayahanda, bukankah semua ini di luar kehendak saya?” sahut Abdul Jalil. “Bukankah saya tidak pernah bermimpi apalagi merencanakan pernikahan dengan Fatimah? Bukankah Ali Anshar tahu hal itu? Bukankah ini semua bukan keinginan saya pribadi?”

“Bagi mereka yang terhijab seperti Ali Anshar, penjelasan apa pun tidak akan bisa meyingkapkan tirai kesadarannya,” jelas Syaikh Abdul Malik al-Baghdady.

“Kenapa Allah menempatkan Ali Anshar sebagai musuh saya?”

“Itu sudah menjadi hukum-Nya dan berlaku bagi siapa saja.”

“Hukum-Nya?” sergah Abdul Jalil heran.

“Ketahuilah, o Anakku, bahwa telah menjadi hukum-Nya di mana setiap kemuliaan dilimpahkan kepada seseorang maka akan muncul orang lain yang iri hati dan berujung pada dendam kesumat. Ini berlaku sejak manusia pertama dicipta. Ketika seluruh malaikat diperintahkan-Nya untuk sujud kepada Adam maka dimunculkan-Nya iblis yang iri hati dan menolak kemuliaan Adam. Namun, Adam diam saja tidak memberikan perlawanan. Dan Allah jua yang akhirnya berurusan dengan iblis.”

“Saya paham, Ayahanda,” ujar Abdul Jalil. “Apakah itu berarti saya tidak perlu menanggapi Ali Anshar? Biarlah Allah sendiri yang mengurusnya?”

Syaikh Abdul Malik al-Baghdady tersenyum.

Setelah mendengar uraian mertuanya, diam-diam Abdul Jalil merasa iba kepada Ali Anshar. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali berdiam diri saja, membiarkan gelombang fitnah yang dialamatkan kepadanya semakin dahsyat gelegaknya. Abdul Jalil membiarkan harga diri, kehormatan, dan keberadaan dirinya diluluhlantakkan oleh fitnah-fitnah keji. Ia sadar segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya pada hakikatnya bukanlah miliknya. Semua milik Allah. Karena itu, biarlah Ali Anshar berurusan langsung dengan Sang Pemilik Sejati.

Puncak kepasrahan Abdul Jalil atas segala kepemilikan ditandai dengan kerelaannya melepaskan keterikatan dengan anak dan istri. Ini sungguh ujian terberat. “Ya Allah,” keluhnya dalam hati, “menghadapi ujian seperti ini saja sudah begini susahnya. Sungguh tak terbayangkan betapa berat hati sahabat-Mu Ibrahim al-Khalil a.s. saat Engkau perintahkan menyembelih putera tunggal yang disayanginya.”

Akhirnya setelah bergulat mengatasi keterbatasan diri, ia tanpa berkata apa pun kemudian mencium tangan mertuanya dan dengan gejolak perasaan mengharu biru lantas meninggalkan anak dan istri tercinta. Ia sadar bahwa galau yang dirasakan menyesaki dadanya itu adalah akibat wajar dari hakikat kemanusiaan yang masih menjadi bagian dari kehidupannya. Itu sebabnya, sepanjang perjalanan ia lebih banyak membenamkan diri mengingat Allah dan berusaha sekuat tenaga melupakan rentangan kenangan bersama istri dan puteri sulungnya. “Engkau yang telah mempertemukan kami, Engkau pula yang kini memisahkan kami. Karena itu, hanya kepada Engkau jua semua urusan aku pasrahkan,” batinnya.

Kepedihan hatinya sedikit terobati ketika ia menemui Ahmad Mubasyarah at-Tawallud untuk menumpang kapal menuju Surat, Gujarat. Ia seperti menemukan muara yang membebaskannya dari pusaran aliran kenangan.

Sambil tersenyum lebar, Ahmad at-Tawallud menganjurkan agar Abdul Jalil secepatnya menikah lagi sesampainya di Gujarat. Anjuran sahabatnya itu tentu terasa mengejutkan. Bayangkan, bagaimana mungkin dalam keadaan sedih karena meninggalkan anak yang masih bayi dan istri yang masih sangat muda di bawah tanggungan mertua, ia bisa melakukan perkawinan baru lagi. Sungguh ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mertua yang sangat dihormatinya itu jika ia mengikuti anjuran Ahmad at-Tawallud.

Ahmad at-Tawallud menangkap jalan pikiran Abdul Jalil. Dia seraya tertawa, “Ketahuilah, o saudaraku, memiliki istri-istri dan perempuan-perempuan sebagaimana disahkan oleh syari’at bukanlah bertujuan untuk melampiaskan hasrat nafsu syahwat, apalagi untuk memamerkan kejantanan. Sekali-kali tidak demikian. Istri-istri dan perempuan-perempuan yang kita miliki itu adalah sarana yang harus kita gunakan untuk melepas keterikatan kita pada satu objek yang kita cintai. Sebab, cinta seorang laki-laki kepada satu perempuan sangat kuat daya rekatnya dibanding cinta seorang laki-laki kepada banyak perempuan.”

“Benarkah demikian, o Tuan Yang Mulia?” tanya Abdul Jalil minta penegasan.

“Soal perempuan, engkau memang belum banyak pengalaman,” sahut Ahmad at-Tawallud serius, “namun aku yakin ingatanmu tentang seorang perempuan bernama Nafsa tentu sulit dihilangkan. Bukankah istrimu memiliki kemiripan dengan Nafsa? Bukankah lantaran itu engkau mencintainya?”

“Benarlah apa yang Tuan katakan,” Abdul Jalil menunduk jengah.

“Ketahuilah, o Saudaraku,” ujar Ahmad at-Tawallud, latar di balik syari’at yang membolehkan laki-laki menikahi lebih dari satu perempuan adalah berkaitan dengan kecintaan kepada Allah. Karena itu, syarat keadilan yang dimaksud dalam ketentuan hukum Ilahi bukanlah keadilan dalam membagi cinta terhadap istri-istri, melainkan dalam mengarahkan kiblat cinta kepada-Nya. Sebab, dengan mencintai-Nya maka keadilan akan terwujud dengan sendirinya. Jadi, keadilan di situ jangan diartikan keadilan membagi perhatian kepada masing-masing istri menurut pertimbangan nalar suami atau nilai-nilai yang dianut masyarakat. Dengan demikian, istri-istri dan perempuan-perempuan yang kita miliki itu adalah sarana untuk mengarahkan kiblat cinta hanya kepada-Nya.”

“Karena itu, o Saudaraku, nikahilah perempuan yang tidak mirip Nafsa dan tidak mirip istrimu. Sebab, jika bayangan Nafsa masih melekat dalam ingatanmu, meski sangat lembut dan halus, maka engkau tetap membentangkan hijab dengan-Nya. Engkau masih menduakan Dia dengan yang lain. Engkau harus tahu bahwa Dia sangat pencemburu dan Dia tidak sudi diduakan,” jelas Ahmad at-Tawallud.

“Astaghfirullah!” seru Abdul Jalil menyadari kekeliruannya selama ini. Di benaknya kemudian merentang gambaran tentang mertuanya yang memiliki empat orang istri dan sekitar tujuh istri yang dinikah dengan mut’ah. Rupanya, selama ini ia telah salah memahami mertuanya yang mulia itu. Ia tidak memahami makna di balik kehidupan rumah tangga mertuanya. Padahal, sejatinya mertuanya itu telah mengarahkan kiblat cinta hanya kepada-Nya dengan melepaskan hal-hal duniawi, termasuk dalam bentuk istri, perempuan, serta anak-anak. Ya, Allah memang hanya menghendaki satu kiblat hati dari kekasih yang dicintai-Nya. Itu berarti, yang selain Allah hanyalah bunga-bunga kehidupan duniawi yang nisbi dan maya.

Menyadari kekeliruannya, Abdul Jalil akhirnya berjuang sekuat daya untuk mengarahkan kiblat hati dan pikirannya kepada Allah yang tak berbentuk rupa dan tak tersentuh pancaidera. Ia ingin menghapus kenangan indah tentang Nafsa, Fatimah, dan Aisyah. Betapa sulit. Betapa rumit. Betapa berat.

Setelah sepanjang perjalanan dari Basrah ke Surat berjuang keras mengarahkan kiblat hati dan pikiran melalui anak tangga istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq, ia mulai merasakan betapa kejernihan pikiran dan hatinya telah membukakan cakrawala baru tentang kebenaran yang memancar dari ar-ruh al-idhafi. Ini dialaminya saat kapal berlabuh di pelabuhan Diu. Tiba-tiba saja ia memutuskan untuk turun di situ. Lewat sebuah surat yang dititipkan kepada nahkoda, ia memberi tahu Ahmad at-Tawallud, pembimbing ruhaninya, bahwa ia tidak jadi turun di Surat. Karena, petunjuk ar-ruh al-idhafi menuntunnya demikian.

Kehadiran Abdul Jalil di Diu ternyata sudah ada yang mengetahui. Ini terbukti saat baru saja keluar dari pelabuhan, ia sudah disambut oleh seorang Hindi bernama Adamji Muhammad yang mengaku utusan Syaikh Abdul Ghafur Mufarridun al-Gujarati, salah seorang anggota Jama’ah, yang tinggal di Ahmadabad. Abdul Jalil hanya tersenyum menyalami Adamji Muhammad. Ia mafhum dengan kewaskitaan Syaikh Abdul Ghafur.

Adamji Muhammad adalah lelaki jangkung dan tampan yang berusia sekitar lima puluhan tahun. Kumisnya yang melengkung panjang dipelintir melingkar ke atas. Pakaiannya terbuat dari katun kasar warna putih. Pada bagian pinggangnya dililit kain katun hitam yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Pada kin hitam itulah dia menyelipkan sebilah belati berbentuk bulan sabit. Sementara rambutnya yang tergerai sebahu pada bagian atasnya ditutupi surban putih.

Adamji sangat terbuka. Itu sebabnya segera setelah menemukan Abdul Jalil, serta merta dia menyampaikan pesan guru yang menjadi panutan hidupnya. “Sesuai pesan Pir (guru ruhani) kami, Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati, maka kami sambut kehadiran Tuan sebagai calon menantu kami. Kami mohon agar Tua berkenan menikahi puteri kami yang bernama Shafa.”

“Benarkah demikian pesan Yang Mulia Syaikh Abdul Ghafur?” Abdul Jalil mengerutkan kening. Bersamaan dengan itu, bayangan Ahmad at-Tawallud melintas di benaknya. Betapa aneh liku-liku kehidupan yang dilewatinya. Beberapa hari lalu sahabatnya memberi saran agar ia secepatnya menikah setiba di Gujarat. Ternyata baru saja ia menginjakkan kaki di pelabuhan Diu, seseorang bernama Adamji Muhammad sudah mendaulatnya untuk menikahi puterinya, atas petunjuk Syaikh Abdul Ghafur.

“Memang demikianlah pesan Pir kami,” sahut Adamji serius. “Kami tidak berani menentang titah beliau. Kami juga tidak berani membawa-bawa nama besar beliau tanpa hak.”

“Tuan belum mengenal saya,” Abdul Jalil menguji. “Bagaimana Tuan bisa begitu yakin bahwa saya orang baik?”

“Tuan,” kata Adamji tegas, “Pir kami adalah Aulia keramat. Bagi kami, apa pun yang diucapkannya adalah seperti ucapan Allah. Beliau tidak punya kepentingan apa pun dengan dunia ini. Karena itu, apa saja yang beliau kemukakan pasti bukan untuk kepentingan pribadi.”

“Berbahagialah Tuan yang memiliki Pir seperti beliau, manusia Allah yang hidup sendirian menjauhi keduniaan,” ujar Abdul Jalil.

Negeri Gujarat merupakan tempat leluhur Abdul Jalil menyebarkan dakwah Islamiyah di bawah kibaran bendera kebesaran para Alawiyyin. Namun, karena para Alawiyyin itu memiliki latar paham, doktrin, pandangan, dan pendekatan yang berbeda-beda maka pada gilirannya membuahkan dakwah Islamiyah yang beragam pula.

Madzhab terbesar dari golongan Alawiyyin di negeri Gujarat adalah dari golongan Ismailiyyah yang dipimpin oleh Pir Sadruddin. Madzhab Ismailiyyah beroleh pengikut besar karena memadukan ajaran Islam dan Hindu sedemikian rupa sehingga batas masing-masing ajaran kabur satu dengan yang lainnya.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman Syaikh Abdul Ghafur di pinggiran kota Ahmadabad, Adamji menuturkan berbagai ajaran Islam yang dianut orang-orang di sini. Dari cerita Adamji itulah Abdul Jalil mengetahui Islam yang dianut masyarakat Gujarat sangat jauh berbeda dengan Islam yang dijalankan orang di Baghdad.

Para pengikut Pir Sadruddin, menurut Adamji, memiliki keyakinan bahwa Dewa Wisnu menitis tidak dalam sembilan perwujudan, tetapi sepuluh. Karena, kesembilan titisan Wisynu itu – dari Manu hingga Kalki – adalah jelmaan yang kurang sempurna. Untuk itu, diturunkan avatar kesepuluh sebagai penyempurna, yakni Sayidina Ali bin Abu Thalib. “Keyakinan Trimurti disesuaikan dengan Islam, di mana Dewa Brahma turun ke dunia dalam wujud Nabi Muhammad Saw., Dewa Wisynu menitis dalam wujud Ali bin Abu Thalib, dan Dewa Syiwa menjelma dalam wujud Nabi Adam.”

Apakah Tuan penganut paham madzhab Khojah yang diajarkan Pir Sadruddin?” tanya Abdul Jalil

“Tidak Tuan,” Adamji menyergah. “Semula saya adalah seorang brahmin. Nama asli saya Harirar Saratchandra. Itu sebabnya, saya tahu pasti bahwa ajaran madzhab Khojah tidak benar. Saya memeluk Islam dan kemudian menikah atas petunjuk Pir kami Syaikh Abdu Ghafur al-Gujarati.”

Selama berbincang-bincang, Abdul Jalil mengetahui bahwa Adamji Muhammad berasal dari kalangan darah biru. Kakek buyutnya yang beragama Hindu, yakni Siddha Raj, adalah Raja Gujarat. Itu sebabnya, Abdul Jalil menduga Adamji tidak mau mengikuti madzhab Khojah yang umumnya dianut oleh suku-suku berkasta rendah.

Setelah melakukan perjalanan tiga hari dua malam, sampailah mereka di kediaman Syaikh Abdul Ghafur, yakni sebuah ruang kecil di sisi masjid di selatan kota Ahmadabad. Kehadiran Abdul Jalil bersamaan dengan terbitnya matahari pagi. Ia disambut oleh beberapa kerabat Adamji. Pagi itu rupanya Syaikh Abdul Ghafur telah menyiapkan acara khusus, yakni pernikahan Abdul Jalil dengan Shafa binti Adamji Muhammad.

Abdul Jalil yang kebingungan karena tak menduga bakal secepat itu menikah, tidak bisa berbuat sesuatu kecuali menurut saja ketika beberapa orang kerabat Adamji menuntunnya memasuki masjid. Di dalam, ternyata Syaikh Abdul Ghafur sudah duduk bersila di depan mihrab.

Abdul Jalil terhenyak menyaksikan pancaran kewibawaan Syaikh Abdul Gahfur. Lelaki tua dengan janggut yang dicat warna merah itu benar-benar tidak mengesankan seorang tua bangka, tetapi seekor harimau yang menggetarkan hati siapa pun yang menatap matanya. Itu sebabnya, ia memahami kenapa Adamji Muhammad begitu memuliakan kekasih-Nya yang sepanjang hidupnya menyendiri tak pernah menikah. Dan dengan penuh ketakziman, ia mendekati Syaikh Abdul Ghafur dan mencium haribaannya.

Syaikh Abdul Ghafur yang sejak awal duduk tenang bagai patung batu tiba-tiba merangkul dan menepuk-nepuk punggung Abdul Jalil dengan mesra. Saat orang-orang keheranan menyaksikan peristiwa langka itu, dia malah berbisik ke telinga Abdul Jalil.

“Engkau rajawali yang berlidah fasih dan berpikiran jernih, tugasmu menjalankan amanah-Nya makinlama akan makin berat sampai seluruh keluh kesahmu terhapus dan engkau menyaksikan Dia mengejawantah di mana-mana. Itu sebabnya, engkau harus singgah di sini dan bersarang di tebing yang tinggi sampai anak-anakmu lahir. Jika nanti saat engkau terbang bebas mengepakkan sayapmu dan engkau jatuh dibidik panah sang pemburu maka anak-anakmulah yang terus melanjutkan tugasmu.”

“Saya akan mengikuti kemana arus nasib menggiring saya,” ujar Abdul Jalil.

“Karena, engkau memang tidak dapat melawan arus itu,” sahut Syaikh Abdul Ghafur sambil menepuk keras bahu Abdul Jalil.

“Tuan sudah tahu semuanya,” bisik Abdul Jalil, “tapi saya belum apa-apa.”

“Itu hanya soal waktu saja,” bisiknya, “Akhirnya engkau pun akan tahu bahwa kita ini bukanlah orang lain.”

“Saya camkan benar ucapan Tuan.”

“Ketahuilah, o Rajawali Perkasa, bahwa makna perkawinan bagi orang-orang yang berjuang mengiblatkan perasaan cinta kepada Allah adalah ibarat titian emas yang mengantarai dua sisi sungai. Itu berarti, mereka yang sedang menyeberang tidak akan berhenti dan tinggal selamanya di atas titian emas itu. Mereka harus ke seberang untuk menuju ke istana cinta sejati tempat Sang Mempelai duduk di atas mahligai cinta-Nya.”

“Saya camkan fatwa Tuan,” bisik Abdul Jalil lirih.

Al-Malamatiyyah adalah orang-orang paripurna (al-insan al-kamil) yang citra kehidupan lahiriahnya ditandai keanehan, kehinaan diri, dan kemisteriusan. Mereka dianggap aneh oleh manusia awam karena sering kedapatan melakukan hal-hal yang tidak lazim. Mereka bagaikan manusia asing yang hidup di bawah bimbingan nilai, pandangan-pandangan, paham-paham, dan gagasan-gagasan yang berbeda dengan yang seumumnya dianut masyarakat. Sehingga apa yang tampak pada sisi lahiriah para malamit bukanlah ungkapan hakiki sisi batiniah mereka yang sebenarnya. Mereka, misalnya, mengenal Allah dengan sangat sempurna, namun mereka sering kali tidak menampakkan jejak manifestasi Ketuhanan.

Salah seorang di antara al-Malamatiyyah yang dikenal Abdul Jalil di negeri Gujarat adalah Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati. Laki-laki yang tinggal sendirian di masjid itu dapat dikatakan sebagai orang aneh dan misterius. Dikatakan aneh karena dia yang lahir dari kalangan darah biru itu sejak kecil dikenal sebagai orang cerdik dan memiliki sifat-sifat terpuji. Oleh Sultan Mahmud Bigarah, Raja Gujarat yang tidak lain adalah saudara sepupunya, dia ditawari untuk memilih jabatan tinggi sesuai dengan kemampuannya. Namun, seluruh tawaran itu ditolaknya.

Syaikh Abdul Ghafur memilih hidup bebas meninggalkan atribut-atribut kebangsawanannya. Dia tinggalkan istana dan hidup membujang tanpa anak, istri, harta, dan kemuliaan duniawi. Kehidupannya sehari-hari diisi dengan tugas mengumandangkan adzan, mengisi kolam untuk wudhu, dan membersihkan masjid.

Pilihan hidup dan sikap teguh Syaikh Abdul Ghafur tentu saja aneh menurut ukuran wajar manusia. Sebab, pada saat semua orang berlomba-lomba meraih jabatan tinggi, kehidupan mulia di istana, dan berbagai atribut kebangsawanan, dia yang berasal dari lingkungan bangsawan dan diberi kesempatan menduduki jabatan tinggi justru menolak dan memilih hidup di masjid. Kemisteriusan Syaikh Abdul Ghafur terlihat dari pandainya dia menyembunyikan identitas dirinya sehingga nyaris tidak ada yang tahu siapa dia sesungguhnya. Orang-orang yang selama ini mengenalnya sebagai orang sebatangkara yang tinggal di masjid memanggilnya dengan sebutan yang bernada sangat menghina, yakni hadhrat asy-syaikh (Tuan Guru), padahal mereka tahu dia tidak mengajar siapa pun.

Kepandaian Syaikh Abdul Ghafur menyembunyikan identitas dirinya, baik sebagai keluarga raja maupun kekasih yang dicintai-Nya, benar-benar luar biasa sampai-sampai imam masjid yang bernama Muhammad Asad Khan menganggap dia tidak memiliki kemungkinan hidup lain kecuali mengabdi untuk kepentingan masjid. Hanya orang-orang tertentu seperti Adamji Muhammad yang mengetahui bahwa sesungguhnya Syaikh Abdul Ghafur merupakan syaikh dan pir.

Keinginannya menyembunyikan diri dari pengetahuan banyak manusia pada dasarnya berpangkal pada kehendak-Nya juga, yang menempatkan kekasih-Nya itu sebagai manusia sebatangkara yang hidup mengabdi di masjid. Hampir tidak ada orang yang tahu bahwa Imam Shah Pirana, wali keramat yang dijadikan panutan umat muslim Pirana, adalah murid terkasihnya. Betapa Imam Shah Pirana yang dianggap dapat mendatangkan hujan pada musim kemarau dan berbagai perbuatan keramat lain, jika bertemu Syaikh Abdul Ghafur selalu mencium tangan dan kemudian melakukan argya (penghormatan dengan membasuh kaki).

Abdul Jalil sendiri sebagai anggota Jama’ah tentu memahami keanehan dan kemisteriusan Syaikh Abdul Ghafur. Lantaran itu, ia tidak terkejut dengan sikap dan pandangan-pandangannya yang tidak lazim. Dan kemafhumannya itu terbukti ketika beberapa saat setelah akad nikah, Syaikh Abdul Ghafur langsung mengajaknya berziarah ke makam para anggota Jama’ah terdahulu. Abdul Jalil tidak menolak sama sekali, meski ia merasa iba hati kepada Adamji.

Ia paham bahwa di balik maksud Syaikh Abdul Ghafur mengajaknya berziarah, tersembunyi proses pengujian sekaligus penyucian jiwanya dalam memaknai hakikat perkawinan. Bahkan lebih dari itu, sebenarnya ziarah mendadak itu adalah proses pembelajaran khas al-Malamatiyyah sebagaimana dicontohkan oleh Jibril saat mengajak sang Malamit Agung, Muhammad al-Musthafa Saw., mengunjungi nabi-nabi dan rasul-rasul dalam perjalanan Mi’raj. Dalam ziarah ini, Syaikh Abdul Ghafur mengajak Abdul Jalil melakukan silaturahmi kepada para anggota Jama’ah pendahulunya.

Mula-mula, ia diajak berziarah ke makam Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam yang terletak di pinggiran kota Ahmadabad. Anehnya, meski ia tidak menjelaskan siapa sebenarnya dirinya, Syaikh Abdul Ghafur mengetahui bahwa ia adalah keturunan Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam.

Makam Syaikh Abdul Malik ternyata sangat sederhana dan tidak berbeda dengan makam yang lain. Hal itu sangat jauh dengan bayangan Abdul Jalil selama ini. Berdasarkan cerita uwaknya dan saudara sepupunya, Syaikh Datuk Bayanullah, ia menempatkan harkat leluhurnya itu agak berlebihan. Dalam angan-angannya sempat terlintas bahwa makam leluhurnya itu sedikitnya mendekati bentuk makam Syaikh Abdul Qadir al-Jailany atau Syaikh Abu Nuwas di Baghdad.

Di atas makam Syaikh Abdul Malik tidak ada tanda-tanda bahwa di dalamnya dikuburkan seorang pemuka Alawiyyin. Andaikata yang mengajaknya ziarah bukan Syaikh Abdul Ghafur maka ia tidak akan percaya jika makam sederhana itu merupakan makam leluhurnya yang telah begitu berjasa menyiarkan kebenaran Islam di negeri-negeri timur. Namun, sesaat kemudian ia sadar bahwa Allah seringkali menyelubungi kekasih-Nya dengan hijab-hijab yang tak tertembus sehingga tidak banyak manusia yang tahu siapa sebenarnya kekasih-Nya itu. Dan lantaran Syaikh Abdul Ghafur menjelaskan bahwa leluhurnya adalah anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’ maka ia akhirnya menganggap wajar ketersembunyian citra mulia leluhurnya itu.

Syaikh Abdul Ghafur menjelaskan secara singkat tentang hakikat keberadaan alam kubur. Menurutnya, alam kubur adalah alam penyekat yang mengantarai alam dunia dan akhirat. Alam kubur lebih luas dibanding alam dunia, dengan perbandingan alam rahim dan alam dunia.

“Inilah alam kesadaran manusia yang lebih tinggi dibanding alam kesadaran manusia di dunia. Karena, ruh manusia sudah lepas dari penjara tubuh jasad dan perintah-perintah nafsunya. Di alam kubur inilah ruh setiap manusia menyadari keberadaan dirinya. Karena itu, semua manusia akan terkejut dan baru sadar betapa selama ini mereka telah disibukkan oleh urusan benda-benda duniawi dan mengikuti perintah-perintah nafsunya untuk bermegah-megah diri (QS at-Takasur: 1-4).”

“Apakah ruh, jasad, dan nafsu manusia di alam kubur akan terpisah-pisah?” tanya Abdul Jalil meminta penjelasan.

“Karena telah bebas dari jasad dan dari perintah nafsu maka ruh tiap manusia yang mati akan ditempatkan di alam arwah yang membentang dari al-‘Illiyan hingga ke pintu alam barzakh. Namun, tidak berarti ruh masing-masing manusia lepas dan bebas. Sebab, masing-masing ruh tetap memiliki hubungan dengan jasad dan nafsunya. Itu sebabnya, ketika malaikat Rumman datang dan menyiksa ahli kubur yang durhaka, ruhnya dapat menyaksikan dan merasakan betapa pedih dan sengsaranya siksaan itu. Hal itu terjadi karena kesadaran jasad, kesadaran nafsu, dan kesadaran ruh yang terpisah di alam masing-masing itu merasakan kepedihan dan kesengsaraan sesuai kadar kesadaran masing-masing.”

Saat malaikat Munkar dan Nakir datang dan menanyai amaliah ahli kubur, jasad manusia yang selama hidup di dunia terhijab dari kebenaran-Nya tidak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebab, nafsu dan ruhnya sudah berada di alam barzakh dan alam arwah. Ruh sebenarnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat, namun ia tidak dapat menyampaikan jawaban kepada jasad karena tersekat oleh alam barzakh. Karena itu, ruh ahli kubur yang durhaka dari detik ke detik mengetahui dengan pasti apa yang bakal menimpanya ketika ditanyai malaikat Rumman dan disusul pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Bahkan saat siksaan bertubi-tubi ditimpakan atas jasadnya di alam kubur, ruhnya di alam arwah dan nafsunya di alam barzakh ikut merasakan pedih dan sakitnya siksaan itu.”

“Berarti, manusia di alam dunia ini kesadaran hidupnya belum sempurna. Justru di alam kuburlah kesadaran masing-masing nafsu dan ruh tersingkapkan secara utuh?” tanya Abdul Jalil minta penegasan.

“Hidup manusia di dunia ibarat mimpi singkat,” kata Syaikh Abdul Ghafur menjelaskan. “Kesadaran macam apa yang bisa ditangkap oleh manusia di dalam mimpi, kecuali bayangan-bayangan tidak wujud? Begitulah ibarat kesadaran duniawi itu.”

Sebenarnya Abdul Jalil hendak bertanya sesuatu hal lagi tentang rahasia alam kubur, namun Syaikh Abdul Ghafur memberinya isyarat agar memejamkan mata dan berkonsentrasi, “Lakukan apa yang pernah diajarkan Ario Abdillah ketika mengajakmu masuk ke alam para Jin!”

Abdul Jalil tercekat kaget. Bagaimana mungkin Syaikh Abdul Ghafur mengetahui hubungannya dengan Ario Abdillah? Bagaimana pula dia bisa tahu bahwa ia pernah memasuki alam para Jin? Namun, kilasan keheranan itu cepat ditepisnya. Ia duduk bersila dan memejamkan mata sambil mengarahkan konsentrasi ke nur yang bersinar di antara kedua matanya. Sebaris kalimat doa rahasia yang diajarkan Ario Abdillah dibacanya dengan khusyuk.

Setelah beberapa detik berkonsentrasi, nur di antara kedua matanya makin terang dan memuncak pada terserapnya kesadaran Abdul Jalil ke dalam pancaran cahaya. Dan sekedipan mata kemudian ia telah berada di sebuah tempat yang benderang disinari cahaya putih kehijauan. Ia mendapati Syaikh Abdul Ghafur telah berdiri di sampingnya.

Tempat itu ditebari aroma wangi yang sangat memikat penciuman yang tidak ada padanannya di dunia. Dengan keheranan ia menyapukan pandangan ke segala penjuru dan menyaksikan betapa cahaya putih kehijauan itu memancar dari berbagai sudut cakrawala. Setelah sadar bahwa cahaya-cahaya itu memancar tanpa lampu, ia mengarahkan pandangan ke depan, yakni pada sehelai tilam yang juga memantulkan cahaya hijau keputih-putihan. Ternyata tebaran aroma wangi itu berasal dari sana.

Syaikh Abdul Ghafur memberi isyarat agar Abdul Jalil mengikutinya. Dengan patuh ia melangkah ke depan tepat di sisi Syaikh Abdul Ghafur, sambil tetap memandang ke arah tilam hijau. Betapa terkejutnya ia menyaksikan sesosok manusia yang mirip dirinya sedang terbujur bagaikan orang tidur. Dengan penuh rasa penasaran ia menegaskan lagi sosok manusia itu. Akhirnya ia mendapati kenyataan bahwa wajah orang itu mirip dengannya, namun lebih tua.

“Itulah jasad leluhurmu, Syaikh Abdul Malik al-Qozam,” ujar Syaikh Abdul Ghafur.

“Beliau kakek buyut saya?” Abdul Jalil tercengang. “Kenapa wajahnya sangat mirip dengan saya?”

“Karena, engkau adalah kegandaan dari dirinya. Dan lantaran kegandaan dari ketunggalan yang berujung pada an-nafs al-wahidah itulah maka di antara seluruh keturunannya hanya engkaulah yang menggantikannya sebagai anggota Jama’ah,” jelas Syaikh Abdul Ghafur.

“Apakah itu bermakna saya adalah titisan beliau?” tanya Abdul Jalil.

“Titisan?” Syaikh Abdul Ghafur balik bertanya dengan tersenyum lebar. “Kalau yang engkau maksud dirimu adalah penjelmaan kakek buyutmu baik jasad maupun ruh maka itu pandangan yang keliru. Namun, jika yang engkau maksud ‘titisan’ adalah dirimu merupakan bagian dari kegandaan kakek buyutmu, yang juga berasal dari ketunggalan an-nafs al-wahidah, maka itu benar adanya. Kenapa kukatakan kegandaan dari ketunggalan? Karena, jasad kakek buyutmu tetap ada dan ruh kakek buyutmu juga tetap ada, meski kegandaannya ada pada dirimu.”

“Saya paham, Tuan,” sahut Abdul Jalil.

Syaikh Abdul Ghafur kemudian menjelaskan bahwa jasad Syaikh Abdul Malik yang terbujur damai di atas tilam hijau adalah gambaran dari manusia yang ketika hidup di dunia telah berhasil mangalahkan dan menundukkan an-nafs al-hayawaniyyah, an-nafs al-musawwilah, an-nafs al-ammarrah, an-nafs al-lawwammah, dan an-nafs al-mulhamah. Itu sebabnya, tubuh fisiknya (al-basyar) yang merupakan manifestasi nafs-nafs-nya itu tidur dengan damai di alam kubur hingga yaum al-qiyamah.

Usai menjelaskan tentang jasad Syaikh Abdul Malik, Syaikh Abdul Ghafur menarik tangan Abdul Jalil ke arah depan. Ia tersentak kaget. Namun, bersamaan dengan kedipan matanya, ia mendapati tilam hijau beserta jasad kakek buyutnya lenyap. Tempat yang disinari cahaya putih kehijauan itu juga lenyap. Sebagai ganti, ia melihat hamparan luas tanpa batas yang disinari cahaya hijau cemerlang.

Di hadapannya tampak tilam hijau yang sangat indah, persis dengan pemandangan di alam kubur, dikitari pohon berbuah ranum dan bunga aneka warna semerbak mewangi. Pada dahan pohon-pohon itu bertengger burung-burung berbulu hijau yang berkicau dengan sangat merdu. Dan jika didengarkan dengan seksama, kicauan itu adalah tasbih yang mengagungkan kebesaran Ilahi. Yang menakjubkan, di atas tilam itu terbujur sosok yang mirip dengan dirinya, namun sekujur tubuhnya memancarkan cahaya. Sosok itu tidur sambil tersenyum seolah diluputi kebahagiaan yang tak tergambarkan.

“Apakah itu nafs al-muthma’innah kakek buyut saya?” tanya Abdul Jalil.

“Engkau sudah paham sekarang,” sahut Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati.

“Apakah ini yang disebut alam barzakh?” ia meminta penegasan.

“Ada dua belas tingkatan dari alam kubur ke alam jabarut, yang disebut dengan barzakh, yakni sekat-sekat,” ujar Syaikh Abdul Ghafur. “Namun, kedua belas tingkat itu tidaklah bisa disebut alam lagi karena hakikat keberadaan kedua belasnya tidak bisa dijelaskan.”

“Saya paham Tuan,” ujar Abdul Jalil. “Kedua belas tingkatan itulah yang dilambangkan dengan kelahiran dan kematian Muhammad al-Mushthafa Saw yang tepat pada tanggal 12, lahir tanggal 12, dan wafat tanggal 12. artinya, beliau turun sebagai manusia tingkatan yang paling bawah, yakni yang kedua belas. Dan beliau naik ke tingkatan yang paling atas, yaitu yang kedua belas.”

“Engkau telah paham.”

“Kenapa yang ada di alam barzakh ini hanya an-nafs al-muthma’innah kakek buyutmu. Sebab, di situ bersemayam pula an-nafs al-wahidah, an-nafs al-mardhiyyah, dan an-nafs ar-radhiyyah kakek buyutmu.”

Syaikh Abdul Ghafur kembali menarik tangan Abdul Jalil ke depan. Ia menurut saja dan sekejap kemudian ia mendapati dirinya berada di suatu hamparan luas tanpa batas cakrawala. Ke mana memandang ia menyaksikan cahaya putih kilau-kemilau memancar penuh keagungan. Di tempat itu ia menyaksikan orang-orang yang tubuhnya memancarkan cahaya gemilang. Dari cahaya yang memancar itu berkumandang indah puji-pujian yang mengagungkan kebesaran Ilahi.

“Di manakah kita, Tuan?” tanya Abdul Jalil heran.

“Tidakkah engkau saksikan sosok yang mirip dirimu di sana?” Syaikh Abdul Ghafur bertanya balik.

Mengikuti arah yang ditunjuk Syaikh Abdul Ghafur, ia menyaksikan sosok bercahaya itu tersenyum memandangnya. Kemudian secara menakjubkan sosok itu mendekat hingga berjarak sekitar dua busur panah.

Syaikh Abdul Ghafur mengucapkan salam dan dibalas oleh sosok tersebut. Dia kemudian meminta Abdul Jalil maju.

Dengan pandang takjub dan heran Abdul Jalil terkesima menyaksikan citra dirinya memancar begitu agung dalam wujud sosok bercahaya kilau-kemilau itu. Ia tercengang ketika tangan kanan sosok bercahaya itu mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih. Saat itu sadarlah ia bahwa sosok itu tiada lain adalah ruh kakek buyutnya.

Melalui al-ima’, ruh Syaikh Abdul Malik menguraikan tentang tugas-tugas yang harus dijalankan Abdul Jalil sebagai penggantinya. Dia menceritakan betapa berat menjalankan tugas sebagai anggota Jama’ah di banding kekasih-kekasih-Nya yang tidak menjadi anggota Jama’ah. Itu sebabnya, Abdul Jalil wajib mutlak memasrahkan segala urusan kepada Sang Pemberi Tugas.

Dia menguraikan liku-liku perjalanannya hingga ditabalkan menjadi anggota Jama’ah. Dia menuturkan betapa berat perjuangannya meninggalkan negeri Qozam membawa anak istri dengan bekal terbatas, di bawah ancaman perampok-perampok padang pasir yang merajalela. Bahkan beberapa saat setelah melintasi Tarim, tiga ekor unta beserta seluruh bebannya telah dirampas.

Dalam keadaan tanpa makanan tanpa air di tengah padang pasir dengan tiga anak yang masih kecil dan istri hamil, ungkapnya, tidak ada yang dapat diperbuat kecuali memasrahkan segala urusan kepada-Nya. Saat itu, sudah tidak dipedulikannya lagi tangisan anak-anaknya yang lapar dan haus atau isak tangis istrinya yang tak berhasil membujuk anak-anaknya agar diam. “Itulah perjuangan terberat yang pernah kualami, yakni mengesampingkan naluri kebapakan untuk semata-mata mengarahkan kiblat iman hanya kepada-Nya.”

Pada saat-saat paling menggetarkan ketika matahari bersinar sangat panas dan tangis anak-anak sudah tersekat di leher yang kering, lewatlah kabilah yang hendak menuju pelabuhan Aden. “Pemimpin kabilah itu mengaku bahwa ia hanya kebetulan saja melintasi tempat itu karena jalur itu memang bukan jalan yang lazim dilaluinya. Ternyata, kabilah itu milik kaum Ismailiyyah yang berpangkalan di Alamut. Dan akhirnya, melalui jaringan Ismailiyyah itulah aku dan keluarga sampai di negeri Hindi dan menyebarkan kebenaran Islam di sana.”

Menurutnya, di antara ujian Allah yang senantiasa mencitrai kehidupan anggota Jama’ah dan orang-orang yang dicintai-Nya adalah lingkaran fitnah yang bagai membelit dari segala penjuru. Semakin besar limpahan karunia Ilahi maka akan semakin besar dan dahsyat pula jaring-jaring fitnah. “Karena itu, pasrahkan semua urusan kepada-Nya sebab hanya Dia yang memiliki segala-galanya. Rencana, alur, pelaksana, hingga akhir dari fitnah itu adalah mutlak kehendak-Nya. Semata-mata untuk membuktikan bahwa Dia adalah Sang Pemilik Mutlak dari kehidupan di alam semesta ini, baik yang kasatmata maupun yang gaib.”

Setelah menuturkan perjalanan hidup, memberi petunjuk ini dan itu, termasuk memberi keleluasaan dalam meminta fatwa dan petunjuk dari para anggota Jama’ah terdahulu, dia kemudian memperkenalkan Abdul Jalil kepada salah seorang anggota Jama’ah yang menggantikan kedudukannya sesaat setelah dia di panggil ke hadirat-Nya. Anggota Jama’ah itu adalah Syaikh Abdurrahman Sajistani yang memiliki nama asli Mainuddin Khisti Sajistani.

Syaikh Abdurrahman Sajistani mengaku dilahirkan di Sajistani, yang terletak di bagian timur Persia. Kepergiannya ke negeri Hindi untuk mendakwahkan Islam adalah atas perintah langsung dari Muhammad al-Mushthafa Saw.. Saat itu, ungkapnya, dia sedang melakukan ziarah ke makam Rasulallah Saw. menjelang bulan Zulhijjah. Ketika sedang berdoa tanpa terasa dia tertidur sekejap di sisi makam. Saat itulah, lanjutnya, tiba-tiba dia beroleh mubasyirah (visi mimpi) didatangi Rasulallah Saw.. “Rasulallah Saw bersabda kepadaku: ‘Allah ‘Azza wa jalla mempercayakan negeri Hindi kepadamu. Pergilah ke tempat bernama Ajmir. Menetaplah di sana. Dengan kehendak Allah, Islam akan berkembang melalui perjuanganmu dan kawan-kawanmu’,” ujar Syaikh Abdurrahman Sajistani.

Dia menguraikan betapa berat perasaannya ketika akan berangkat ke negeri Hindi yang tak pernah dikenalnya. Selain itu, keberangkatannya sangat ditentang oleh keluarganya yang merupakan bangsawan terhormat di Sajistan. Mereka khawatir dia akan terlantar dan sengsara. Namun, tekad menyampaikan kebenaran Islam sesuai petunjuk Rasulallah Saw dilaksanakannya juga.

Perjalanan terberat mencapai Ajmir, ungkapnya, adalah saat melintasi pegunungan Hindukus menuju kota Kandahar. Sebab, selain harus menghadapi tantangan alam yang ganas, daerah tersebut menjadi rebutan antara penguasa Persia dan Syaibanid di satu pihak dan antara penguasa Moghul dan Syafawi di pihak lain. Pencegatan, perampasan, penangkapan, pembunuhan, dan penganiayaan adalah cerita sehari-hari yang membuat orang harus berpikir seribu kali untuk melewati kawasan itu. “Namun, dengan bekal keyakinan bahwa perjalananku ke Ajmir adalah atas kehendak-Nya maka segala berita dan kisah menakutkan itu berhasil kusingkirkan dari benak dan perasaanku. Kiblatku hanya Allah. Dan akhirnya kucapai Kandahar dengan selamat. Dari Kandahar aku langsung ke Lahore, terus ke Panipat, dan akhirnya ke Delhi.”

Selama perjalanan dia merasakan dirinya seperti dibimbing oleh kekuatan gaib yang membuatnya sangat disukai dan dipercaya oleh orang-orang yang baru dikenalnya. Itu terbukti saat dia menyampaikan kebenaran Islam kepada orang-orang yang dijumpainya sepanjang perjalanan dari Delhi ke Ajmir, seruannya diterima dengan sukacita. “Saat memasuki kawasan Rajputana, aku tinggal di rumah keluarga Karamchand Gauda, brahmana yang dihormati di Delhi dan Bengali. Keluarga itu selain tergolong ke dalam Panca Gauda, juga merupakan penasihat ruhaniah raja. Dan justru keluarga itulah yang menerima kebenaran Islam yang aku sampaikan,” papar Syaikh Abdurrahman Sajistani.

Sekalipun ada kekuatan gaib yang membimbingnya dalam menyampaikan kebenaran Islam, dia mengaku hidupnya nyaris tak pernah lepas dilingkari belitan ular-ular fitnah yang berbisa. Tak jarang dia dianggap aneh, hidup tak kenal aturan, pemalas, fasik, munafik, bahkan dituduh tidak waras. “Namun, segala urusan akan selesai jika kita kembalikan kepada Sang Pemilik Mutlak,” ujar Syaikh Abdurrahman Sajistani.

Syaikh Abdurrahman Sajistani kemudian menjelaskan saat dia dipanggil ke haribaan-Nya dan jasadnya disemayamkan di pekuburan kota Ajmir, penggantinya adalah Syaikh Abdul Malik Karim at-Tabrizi yang tinggal di Benggala, yakni bagian timur negeri Hindi. Dia kemudian memperkenalkan Abdul Jalil kepada penggantinya yang memiliki nama asli Jalaluddin at-Tabrizi.

Syaikh Abdul Malik Karim menuturkan perjalanan hidupnya hingga tiba di Benggala. Pilihan hidupnya ini sangat ditentang oleh keluarganya yang hidup dilimpahi kemakmuran di Tabriz. Sikap keluarganya, menurutnya, sangat wajar karena menurut pandangan masyarakat umum tidak ada sesuatu yang bisa diperoleh di Benggala, kecuali kesengsaraan dan kemiskinan.

“Namun, Guruku Syaikh Syihabuddin Suhrawardi telah memberi tahu bahwa aku harus ke Benggala untuk menerima perintah-Nya. Akhirnya, tidak ada yang dapat menghalangi jalanku dalam menunaikan tugas dari-Nya.”

Tugas berat yang harus dipikulnya adalah menghadapi masyarakat berkasta rendah yang hidup dibelit kemiskinan. Dalam banyak hal, dia harus memegang peran sebagai pahlawan pembela kalangan miskin dan rendah itu. Tak jarang, misalnya, dia harus membeli anak-anak petani yang dijual pada saat paceklik. “Anak-anak itulah yang kudidik menjadi mubalig-mubalig tangguh dalam menyebarkan Tauhid dan menyadarkan kaumnya dari keterbelakangan dan kehinaan.”

Tak berbeda dengan kesaksian pendahulunya, dia pun mengungkapkan kisah hidupnya yang dibelit bermacam-macam fitnah membingungkan dan membahayakan. Namun, dengan mengembalikan segala urusan kepada Sang Pemilik Mutlak maka fitnah-fitnah itu akan terhalau dengan sendirinya.

Pengganti Syaikh Abdul Malik Karim adalah Syaikh Abdul Qohar al-Bukhari yang memiliki nama asli Sayyid Jalaluddin al-Bukhari. Dia merupakan keturunan keempat Syaikh Sayyid Ismail al-Bukhari, penyiar agama Islam di Lahore yang termasyhur. Syaikh Abdul Qohar tidak tinggal di Benggala, seperti Syaikh Abdul Malik Karim at-Tabrizi yang digantikannya, tetapi berasal dari wilayah Rajputana, tepatnya di daerah Bahawalpur, di kota kecil Ukh.

Setelah hampir setengah abad mendakwahkan Islam, ia dipanggil ke hadirat-Nya. Penggantinya adalah Syaikh Abdul Hamid al-Qalandar, yang bernama asli Abu Ali al-Qalandar, berasal dari Persia. Selama menjalankan tugas-Nya, dia tinggal di kota Panipat hingga Allah memanggilnya dalam usia seratus tahun lebih.

Setelah mengenal para anggota Jama’ah pendahulunya dan mendapat izin untuk menemui mereka sewaktu-waktu dibutuhkan, Abdul Jalil dengan didampingi Syaikh Abdul Ghafur meninggalkan A’la ‘Illiyin yang menjadi persemayaman ruh para malaikat, rasul, nabi, aulia, dan shiddiqin. Ruh-ruh dari A’la ‘Illiyyin inilah yang pada malam Qadr bersama-sama dengan malaikat turun ke dunia untuk mengatur keseimbangan tiap-tiap urusan dengan melimpahkan kesejahteraan hingga terbit fajar. (QS al-Qadr: 1-5).

Perjalanan kembali dari A’la ‘Illiyyin ternyata tidak sesingkat perjalanan berangkatnya. Ini disadari Abdul Jalil ketika ia melintasi dimensi yang tidak disaksikan saat berangkat menuju ke A’la ‘Illiyyin. Pertama-tama, ia menyaksikan hamparan serba hijau yang dipenuhi burung berbulu hijau yang berkicau merdu dan berkejaran dengan sukacita. Abdul Jalil menduga tempat itu tentunya alam barzakh yang menjadi persemayaman an-nafs al-muthma’innah, an-nafs al-wahidah, an-nafs ar-radhiyyah, dan an-nafs al-mardhiyyah kakek buyutnya. Namun, suasana gembira dan sukacita yang mewarnai tempat itu tidak sama dengan tempat persemayaman an-nafs al-muthma’innah kakek buyutnya yang damai, tenang, tenteram, dan hening.

Syaikh Abdul Ghafur menangkap keheranan Abdul Jalil. Dia kemudian menjelaskan bahwa yang mereka lintasi itu adalah alam barzakh tempat kediaman ruh-ruh orang yang mati syahid menegakkan kalimat Allah. Mereka itulah burung-burung kecintaan-Nya yang setiap saat berkicau mengumandangkan kalimat-kalimat yang memuji keagungan-Nya.

Sesaat sesudah itu, Abdul Jalil berada di taman sangat indah dengan sungai yang mengalir penuh pesona menakjubkan. Taman indah itu ditutupi oleh kubah hijau yang keindahannya tak tergambarkan. Di sepanjang tepinya, ia menyaksikan orang-orang beristirahat sambil mendendangkan nyanyian memuji kebesaran Ilahi. Menurut Syaikh Abdul Ghafur, mereka yang beristirahat di tepi sungai itu adalah ruh-ruh para syuhada yang mati di jalan Allah. Tiap pagi dan sore mereka mendapat rezeki dari dalam taman, diantar oleh para pelayan yang ramah dan cantik luar biasa.

Setelah itu, ia menyaksikan kumpulan orang yang berkerumun di luar pintu gerbang. Mereka dengan sangat bernafsu menyaksikan kenikmatan hidup di dalam taman. Mereka ingin masuk, namun tidak bisa. Menurut Syaikh Abdul Ghafur, mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah, namun hati mereka dinodai oleh pamrih-pamrih pribadi untuk kesombongan diri. Mereka sangat bangga dengan amaliahnya dan suka sekali memamer-mamerkan perjuangannya. Lantaran perbuatannya itu, seluruh amaliah mereka terhapus bagaikan impian.

Abdul Jalil kemudian memasuki dimensi yang menggetarkan dari bagian alam kubur, yakni hamparan taman yang ditumbuhi pohon-pohon berbatang, berdahan, berdaun, dan berbuah kobaran api. Rumput-rumput yang menghampar adalah kobaran api. Sungai-sungai pun dialiri kobaran api. Lalu terpampanglah pemandangan mengerikan. Ia menyaksikan seseorang tubuhnya terbakar. Orang itu berteriak-teriak sambil berlarian ke sana dan ke mari. Menurut Syaikh Abdul Ghafur, tempat itu merupakan alam kubur yang ditempati oleh orang yang mati syahid, namun mempunyai sifat curang dan tidak jujur. “Pemandangan yang engkau saksikan itu adalah orang yang mati syahid, namun punya kebiasaan menyembunyikan rampasan perang. Dia suka melucuti barang-barang dari mayat musuh maupun kawannya sendiri.”

Ia ngeri mendengar penjelasan Syaikh Abdul Ghafur. Sungguh ia tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya keadaan orang yang tidak mati syahid, tetapi melakukan kecurangan dan kejahatan menyembunyikan harta benda yang bukan haknya. Tentunya mereka akan mengalami nasib yang lebih buruk.

Keluar dari taman api, ia memasuki dimensi yang seluruhnya dikobari nyala api. Tepat di tengah-tengahnya terdapat tungku raksasa berkobar-kobar. Di atas tungku itu ia menyaksikan seorang perempuan dalam keadaan telanjang dipanggang dengan kemaluan dan dubur ditusuk lonjoran besi mirip tombak.

Perempuan itu dengan mata terbelalak, tangannya menjambak-jambak rambut, berteriak-teriak, dan berkelojotan menahan sakit tak tertahankan. Tubuhnya melepuh. Leleh. Lalu hangus menghitam. Namun, sesudah itu secara ajaib tubuhnya utuh kembali seperti sediakala. Menurut Syaikh Abdul Ghafru, perempuan itu adalah seorang Muslimah yang taat beribadah, namun memiliki kegemaran berzina.

Sungguh ia tidak bisa membayangkan bagaimana siksaan yang bakal diterima oleh ahli zina yang mengaku muslim dan muslimah, namun tidak pernah menjalankan ibadah kepada Allah. Ia juga tidak bisa membayangkan bentuk siksaan yang bakal dialami ahli zina yang terhijab dari kebenaran hidayah-Nya.

Keluar dari alam kubur ahli zina, ia masuk ke dimensi dengan cahaya merah temaram. Sejauh mata memandang ia hanya menyaksikan genangan darah memenuhi cakrawala. Kemudian, dalam keremangan ia mendapati seorang laki-laki sedang berenang. Sambil berteriak-teriak dengan suara serak, dia mencari batu-batu di dalam genangan darah. Ketika sudah ditemukan dengan lahap dia menelan batu-batu yang kasar dan tajam tersebut. Laki-laki itu berteriak-teriak kesakitan karena mulutnya berdarah dan tenggorokannya luka parah.

Menurut Syaikh Abdul Ghafur, laki-laki sengsara yang berenang dalam genangan darah dan menelan batu-batu itu adalah seorang muslim yang saat hidup di dunia memakan harta hasil riba dan mencurangi ukuran timbangan. Laki-laki itu adalah saudagar mata duitan yang menghalalkan segala cara asalkan bisa meraih keuntungan besar. Dia akan mengalami disiksa sampai yaum al-qiyamah. Sungguh mengerikan nasib orang celaka itu.

Setelah keluar dari persemayaman ahli riba dan ahli mencurangi timbangan, Abdul Jalil memasuki dimensi yang gelap. Di sana ia menyaksikan seorang perempuan tubuhnya luluh lantak dijepit bongkahan batu dan tanah. Tulang-belulangnya patah dan mencuat ke permukaan menembus daging. Tengkorak kepalanya remuk mengeluarkan cairan otak. Ratap tangisnya tak bisa digambarkan dengan bahasa manusia.

Perempuan celaka itu sewaktu hidup di dunia sangat kikir dan aniaya terhadap fakir miskin dan anak yatim. Dia suka sekali mengurangi jatah infak dan sadaqah yang disisihkan suaminya. Bahan makanan yang akan diberikan sebagai zakat dan sadaqah pun digantinya dengan bahan bermutu jelek. Pendek kata, perempuan itu selalu menelikung suaminya di dalam hal nafkah, infak, sadaqah, dan zakat.

Pemandangan yang paling mengejutkan Abdul Jalil saat memasuki alam kubur adalah saat menyaksikan siksaan yang dialami oleh seorang laki-laki yang tubuhnya dibelit dan digigiti oleh puluhan ekor ular berbisa. Laki-laki itu meraung-raung dan melolong-lolong kesakitan. Tubuhnya berkelojotan. Namun, ular-ular itu dengan ganas menyemburkan bisa dan menggigitnya tanpa henti. Seketika ia teringat perjalanannya memasuki dimensi an-nafs al-hayawaniyyah di dalam dirinya.

Kali ini, Syaikh Abdul Ghafur tidak menjelaskan siapa laki-laki celaka yang dibelit dan digigiti ular-ular itu. Namun, Abdul Jalil paham bahwa laki-laki itu pastilah orang yang semasa hidup di dunia terbelenggu oleh an-nafs al-hayawaniyyah. Itu berarti, dia adalah orang yang sangat mendewakan kebendaan, keras kepala, menolak kebenaran yang bersifat ruhani, gampang putus asa, dan mendustakan ayat-ayat Allah.

Kehidupan al-Malamatiyyah adalah kehidupan yang diliputi keanehan-keanehan. Karena perjalanan hidup seorang malamit ditandai oleh pengalaman-pengalaman menakjubkan yang nyaris tidak dialami oleh manusia seumumnya. Lantaran itu, seorang malamit tidak dapat hidup sebagaimana lazimnya manusia karena latar pengalaman telah membentuk pandangan-pandangan, paham-paham, gagasan-gagasan, dan kerangka berpikir yang khas al-Malamatiyyah. Dan lantaran itu pula, seorang malamit sering dinilai tidak waras dan keberadaannya dianggap berbeda dari manusia lain.

Rentang waktu yang panjang dan liku-liku pengalaman yang telah dilampaui Abdul Jalil pun pada gilirannya telah menjadikannya sebagai sosok manusia yang dianggap aneh oleh lingkungannya. Hal itu disadari Abdul Jalil ketika istrinya, Shafa, mengingatkan perlakuannya yang sangat berlebihan terhadap seorang sufi pengembara bernama Syamsuddin al-Habba. Shafa yang belum mengenal aturan dan kebiasaan yang berlaku di kalangan sufi menganggap aneh perlakuan suaminya yang membasuh kaki Syamsuddin al-Habba saat menjelang tidur. Shafa juga menganggap aneh tindakan suaminya yang mengantar Syamsuddin al-Habba mandi dan kemudian menggosok punggung, kaki, dan tangannya. Padahal, dia adalah laki-laki asing tak dikenal, berpenampilan lusuh, dan pakaiannya kumal penuh tambalan.

Abdul Jalil menyadari bahwa istrinya berbeda pandangan dengannya. Ia berusaha menjelaskan bahwa ada aturan-aturan yang harus diikuti oleh pengamal ajaran tasawuf, terutama dalam ikatan persahabatan. Ia menjelaskan bahwa hal itu dipatuhi oleh siapa saja, termasuk Pir Agung Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati. Dan hal itu sudah menjadi peraturan sejak zaman nabi dan rasul yang dilestarikan hingga kini.

“Di dalam persahabatan sejati,” ungkapnya, “kita tidak boleh mengedepankan kepentingan pribadi. Sebab, segala keburukan persahabatan sumbernya dari keakuan diri. Orang yang telah berhasil mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan sahabatnya maka orang itu telah berhasil dalam persahabatan.”

Setelah mengarungi kehidupan bersama Shafa selama beberapa waktu, Abdul Jalil menyadari kebenaran ungkapan Ahmad at-Tawallud tentang makna di balik perkawinannya yang baru. Dengan perkawinannya ini, ia benar-benar dapat mengesampingkan citra Nafsa dan “keterkaitan” jiwa dengan istri pertamanya. Ia merasakan betapa kiblat hatinya kepada Allah makin kuat dan jernih. Ia merasakan dirinya bagai burung terbang bebas di angkasa, yang hanya pulang ke sarang untuk memberikan naungan dan perlindungan kepada burung betina dan anak-anaknya.

Shafa binti Adamji Muhammad akhirnya dapat memahami sikap dan pandangan hidup suaminya yang semula dianggap aneh. Namun, saudara, kerabat, serta tetangganya kebanyakan tetap menganggap suaminya itu sebagai orang aneh. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, mereka melihat suami Shafa berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk berbicara dengan orang-orang mengenai bencana besar yang bakal datang jika mereka lalai terhadap ajaran Ilahi. Tindakan Abdul Jalil itu tentu saja dianggap aneh karena menyia-nyiakan waktu bekerja untuk membicarakan soal-soal yang berkaitan dengan dongeng-dongeng lama.

Karena sering berkeliling, Abdul Jalil memiliki banyak kawan dan kenalan. Namun, yang tetap mengherankan orang-orang adalah kawan-kawannya umumnya terdiri atas para yogi, brahmin, rsi, dan sufi yang hidupnya miskin. Mereka silih berganti datang bertamu untuk membicarakan hal-hal yang tak dipahami masyarakat. Untung saja Adamji Muhammad sejak awal sudah diberi tahu oleh pir panutannya, Syaikh Abdul Ghafur, tentang keanehan putera menantunya itu sehingga kasak-kusuk para tetangga tidak sedikit pun dia hiraukan.

Atas petunjuk Syaikh Abdul Ghafur, Abdul Jalil tinggal di rumah yang terletak di samping tempat tinggal mertuanya. Sebab, ia sering bepergian dan meninggalkan istrinya barang sepekan atau sepuluh hari. Saat-saat itulah Adamji Muhammad akan menjaga Shafa. “Engkau yang menolong kekasih-Nya pasti akan ditolong oleh-Nya. Engkau yang membantunya menyelesaikan tugas-tugasnya, pasti tugas-tugasmu akan diselesaikan-Nya. Sungguh Dia Mahatahu dan Mahaadil,” ujar Syaikh Abdul Ghafur.

Adamji yang patuh pada perintah Syaikh Abdul Ghafur dengan penuh sukacita ikut mengurus dan membantu segala kebutuhan menantunya. Tanpa pernah mengeluh dia menerima kasak-kusuk tetangganya. Dan badai kasak-kusuk pun makin dahsyat ketika Shafa sedang hamil tua, namun suaminya pergi ke kota Surat dan belum diketahui kapan kembali.

Adamji sendiri sekalipun sudah memahami bahwa Abdul Jalil menjalankan tugas-tugas Allah, sesekali masih juga dirayapi rasa heran dengan peri kehidupan putera menantunya itu. Perasaan heran itu dirasakannya setelah secara diam-diam dia mengamati perilaku Abdul Jalil ketika berbicara, berjalan, tidur, makan, menerima tamu, dan bahkan saat berbincang-bincang. Namun, keheranan Adamji Muhammad tak berlangsung lama ketika pir Agungnya menguraikan sifat-sifat Abdul Jalil. “Ia sendiri sebenarnya tidak ingin memiliki perilaku seperti itu. Namun, apa yang bisa ia perbuat jikalau Allah menghendakinya berperilaku demikian,” ujar Syaikh Abdul Ghafur.

“Hamba memahami petunjuk Guru Yang Mulia.”

“Ketahuilah, o Adamji, bahwa engkau sebagai orang lain hanya bisa menilai keberadaan putera menantumu dengan keheranan belaka. Tetapi jika engkau menjadi dia, pasti engkau tidak akan kuat menahan beban derita yang dipikulnya.”

“Hamba paham, Guru Mulia.”

Ketika usianya menginjak tiga puluh lima, lahirlah putera pertamanya dari Shafa yang diberi nama Darbuth – dari gabungan kata ad-Dar (rumah, tempat, kediaman) dan al-Buthun (relung kehampaan) – yang bermakna “rumah persembunyian Khazanah Tersembunyi.” Puteranya dinamakan demikian sebab pada malam menjelang kelahirannya, ia mengalami peristiwa ruhaniah terserap masuk ke dalam relung terdalam dari kehampaan yang ada di dalam dirinya, yang merupakan tempat persemayaman al-Haqq.

Sekalipun pengalaman ruhani itu mirip dengan yang pernah dialaminya di Jabal Uhud saat dibimbing Misykat al-Marhum, namun kali ini terdapat perbedaan-perbedaan, baik dalam gambaran-gambaran manifestasi tiap-tiap dimensi maupun tentang hakikat masing-masing dimensi. Hal itu baru disadari saat ia memasuki dimensi serba hitam, yang merupakan manifestasi an-nafs al-hayawaniyyan. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda baik bentuk-bentuk kilasan maupun suasana yang meliputinya.

Kali ini ia tidak lagi melihat bayangan ular raksasa berkepala empat dengan hewan-hewan melata yang mengerumuninya. Suasana di situ juga tidak sepekat pada pengalaman sebelumnya. Ia hanya menyaksikan hamparan hitam memenuhi segenap penjuru penglihatan batinnya. Kemudian bagai matahari terbit di pagi hari, ia mendapati penglihatan batinnya secara jernih dan terang menyingkapkan keberadaan dimensi hitam itu sebagai manifestasi dari an-nafs al-hayawaniyyah dengan segala sifat dan kecenderungannya.

Namun, kenapa gambaran ular raksasa berkepala empat dengan hewan-hewan melata yang mengerumuninya tidak ada?

Karena, Abdul Jalil telah menyumbat sumber hasrat kebendaan dari hati dan pikirannya. Maka, kilasan gambaran-gambaran bentuk itu terhapus. Gambaran dari bentuk-bentuk itu adalah ilusi maya tidak berwujud yang berasal dari lembah angan-angan dari pikiran yang rendah dan berliku-liku. Gambaran ilusi itu baru bisa mewujud dalam bentuk-bentuk manakala hasrat kebendaan yang memancar dari kedalaman relung an-nafs al-hayawaniyyah dibiarkan mengalir menuju ke sungai pikiran yang juga rendah dan berliku-liku.

Hasrat kebendaan ibarat air. Ilusi maya ibarat lembah angan-angan yang rendah dan berliku-liku. Jika lembah angan-angan itu dialiri air dari sumber hasrat kebendaan maka akan terbentuk aliran sungai nafsu kebendaan yang menjadi lahan subur bagi tumbuhnya hutan khayalan tentang benda-benda yang menyesatkan. Namun, Abdul Jalil telah berhasil menyumbat sumber yang memancarkan hasrat kebendaan itu. Hal ini mengakibatkan aliran ilusi maya yang ada di dalam relung an-nafs al-hayawaniyyah-nya tidak mengalir lagi. Lembah angan-angan pun kering. Hutan pun hilang. Demikianlah, kilasan gambaran tentang benda-benda terhapus dari pikiran dan hatinya.

Seperti pengalaman yang sudah-sudah, kali itu pun ia merasakan kesadarannya terisap oleh kekuatan dahsyat dan ia terlempar dari dimensi hitam untuk kemudian memasuki dimensi serba kuning.

Di sini pun ia tidak menyaksikan bayangan anjing raksasa berbulu kuning keemasan berkepala empat. Pemandangan yang terhampar di hadapannya hanyalah wujud serba kuning. Kemudian, dengan mata batinnya yang terang benderang ia mengetahui bahwa dimensi serba kuning itu adalah manifestasi dari an-nafs al-musawwilah dengan semua sifat dan kecenderungannya. Dan ketiadaan kilasan bentuk-bentuk apa pun dikarenakan ia sudah menyumbat sumber hasrat kesyahwatan dari pikiran dan hatinya.

Hal serupa dialaminya ketika memasuki dimensi merah. Ia tidak menyaksikan bayangan kera raksasa berbulu merah menyala, karena an-nafs al-ammarrah di dalam dirinya telah tertaklukkan. Pengalaman yang sama terulang kembali saat memasuki dimensi hijau, yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-lawwammah, dan dimensi biru yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-mulhamah.

Namun, saat memasuki dimensi serba putih yang merupakan manifestasi an-nafs al-muthma’innah, ia mendapati kesaksian baru, terutama tentang makna hakiki dari durrah al-baidha’ dan al-mudhghah. Pada dimensi itu ia memperoleh pencerahan baru tentang ketidakbenaran pengungkapan citra hakiki dari nafs-nafs yang telah dilampauinya.

Pengakuan nafs-nafs sebagai durrah (mutiara), misalnya, baik durrah al-aswad (mutiara hitam), durrah al-ashfar (mutiara kuning), durrah al-ahmar (mutiara merah), durrah al-khadhr (mutiara hijau), dan durrah al-azraq (mutiara biru) pada dasarnya adalah pengakuan yang dilebih-lebihkan. Hakikatnya adalah maya. Sebab, pada kenyataannya, satu-satunya durrah yang nyata dan wujud adalah durrah al-baidha’ yang merupakan manifestasi dari an-nafs al-muthma’innah.

Terjadinya pengakuan atas durrah berbagai ragam warna maya itu adalah akibat ‘aku’ dari masing-masing nafs telah mengaku-aku keutamaan diri melebihi kenyataan yang sesungguhnya. Ini berbahaya karena nafs-nafs gampang terpengaruh oleh kilasan-kilasan ilusi yang mengalir dari lembah angan-angan, yang mudah terpesona oleh fatamorgana manifestasi Iblis. Dengan ilusi maya itu, nafs-nafs memanifestasikan sifat-sifat Iblis yang berlebihan memuliakan diri sendiri dalam bentuk pemujaan materi, tamak, takabur, ‘ujub, riya, iri hati, cemburu, pemarah, dan pendendam. Penilaian diri berlebihan itulah yang menciptakan ilusi maya tentang musuh menjadi kenyataan. Karena, siapa saja yang dianggap menandingi kemuliaan dirinya akan dianggapnya sebagai musuh. Dan ujung dari kecenderungan ini adalah menganggap malaikat dan bahkan Tuhan sebagai musuh. Sebab, baik malaikat maupun Tuhan dianggap menandingi kemuliaan dirinya. Gejala-gejala pemuliaan diri secara berlebihan seperti itu adalah manifestasi diri dari sifat-sifat dan kecenderungan nafs-nafs yang jauh dari cahaya terang al-Haqq.

Pengalaman itu menyingkapkan kesadaran baru yang lebih jernih dan terang tentang hakikat nafs-nafs. Ia sadar bahwa sisi paling terang yang terentang di antara nafs-nafs yang mendapat pancaran cahaya al-Haqq adalah an-nafs al-muthma’innah, dan sisi yang tergelap adalah an-nafs al-hayawaniyyah. Itu sebabnya, keberadaan an-nafs al-muthma’innah mewujud pada dimensi putih yang disebut durrah al-baidha’, yang wujud jasadnya disebut al-mudhghah.

Berarti, menurut hematnya, pada wujud fisik al-mudhghah (eksistensi ruhaninya disebut qalb) bersemayam hati nur’aini (cahaya mata batin) yang memancari kegelapan hijab-hijab nafs. Pada dimensi inilah medan perang dari perjuangan besar (al-jihad al-akbar) untuk memerangi kecenderungan-kecenderungan nafs digelar, di mana lima pasukan besar nafs (al-bathil) yang menyesatkan, yang muncul dari kegelapan nafs-nafs rendah, berhadapan dengan pasukan ruh (al-haqq) yang muncul dari terang cahaya al-Haqq. Kedua kekuatan dahsyat pasukan besar itu – nafs (gelap) dan ruh (terang) – bertempur untuk saling menguasai Benteng al-mudhghah.

Dari pertempuran dahsyat ini pada gilirannya hanya akan menghasilkan dua kelompok manusia. Kelompok pertama adalah manusia yang telah kalah oleh nafs. Benteng al-mudhghah beserta isinya (qalb) dikuasai oleh pasukan nafs yang berwujud ular, hewan melata, anjing, hewan buas, kera, hewan pemangsa, raksasa-raksasa liar dan ganas, dan berbagai monster mengerikan yang merusak tatanan kehidupan manusia. Kelompok pertama ini akan terperosok ke lembah kebatilan dan jurang kesesatan yang penuh kesengsaraan dan penderitaan. Wujud mereka memang manusia, namun nalurinya binatang dan jiwanya setan terkutuk.

Tanda-tanda utama dari manusia kelompok pertama adalah jika berbicara tentang kehidupan duniawi sangat memesona. Tidak segan mereka menyitir ayat-ayat Allah untuk meneguhkan daya pesonanya. Namun, hidup mereka selalu diwarnai kemudharatan. Mereka tidak bermanfaat bagi manusia lain. Mereka selalu merugikan manusia lain. Mereka menjadi sumber keonaran. Mengutamakan kepentingan pribadi di atas segalanya. Kejahatan akhlak yang mereka lakukan pun tidak pernah terlintas di benak manusia waras. Mereka benar-benar terhijab dari al-Khaliq. Kelompok inilah yang disebut asfala safilin, yang paling rendah di antara yang terendah.

Kelompok kedua adalah manusia yang memenangkan pengaruh ruh dan menaklukkan nafs. Pasukan ruh yang terdiri atas prajurit fawa’id, pengawal ruh, hulubalang sirr, ksatria kafi, menteri akfa, dan Sang Raja Ana al-Haqq, menguasai Benteng al-mudhghah. Merekalah yang disebut mu’minin, shalihin, mujahidun, muttaqin, shiddiqin, muqarrabin, dan muhaimin. Tanda-tanda utama manusia kelompok kedua adalah jika berbicara tentang kehidupan duniawi sangat tidak menarik dan naif karena mereka mengabaikan kebendaan dan kesyahwatan. Hidup mereka dibimbing oleh panglima akhlak. Mereka selalu mengesampingkan kepentingan pribadi untuk kemaslahatan umum. Selalu mendatangkan manfaat bagi manusia lain. Kelompok inilah yang disebut ahsani taqwim, yang terbaik ruhani dan jasmani; yang berkedudukan sebagai insan kamil, manusia paripurna; dan berhak menjadi fi al-ardh, wakil Allah di muka bumi.

Dengan pemahaman baru ini, Abdul Jalil menilai kehidupan manusia justru dimulai dari pengungkapan hakiki dari perjuangan memanifestasikan sifat-sifat dan kecenderungan ruh (al-haqq) untuk memerangi sifat-sifat kecenderungan nafs (al-bathil). Manusia yang hidupnya semata-mata dibimbing oleh sifat-sifat dan kecenderungan nafs maka mereka adalah makhluk yang terhijab, yang pancaran cahaya hati nur ‘aini-nya akan padam. Manusia pada tingkat ini keberadaannya tidak berbeda dengan hewan, bahkan lebih jahat dan lebih berbahaya, karena mereka memiliki senjata akal.

Setelah melintasi dimensi nafs-nafs beserta tirai-tirai hijabnya dan melampaui durrah al-baidha’, Abdul Jalil memasuki dimensi an-nafs al-wahidah. Ia mendapati dimensi ini diterangi cahaya dari qandil yang memancar sangat terang. Inilah lampu yang menyala tanpa api. Inilah dimensi nur al-baidha’. Inilah persemayaman fawa’id. Cahaya dari qandil inilah yang memancar dan menerangi durrah al-baidha’ di mana an-nafs al-muthma’innah bersemayam. Inilah hakikat kemuliaan Adam yang ridho dan diridhoi oleh-Nya.

Dalam mengenali dan memaknai dimensi-dimensi yang ada di dalam dirinya, terutama dimensi nur al-baidha’, Abdul Jalil mendapati keberadaan an-nafs al-wahidah – sebagai satu kesatuan dari bagian an-nafs ar-radhiyah – dan an-nafs al-mardhiyyah seibarat kesatuan antara nyala lampu, sumbu, dan minyak. An-nafs al-wahidah itulah nyala cahaya lampu. An-nafs ar-radhiyah itulah sumbu. An-nafs al-mardhiyah itulah minyak. Demikianlah, an-nafs al-wahidah adalah manifestasi dari fawa’id. An-nafs ar-radhiyah adalah manifestasi dari ruh. An-nafs al-mardhiyah adalah manifestasi dari sirr.

Lebih tegas lagi, an-nafs al-wahidah yang di dalamnya “tersembunyi” fawa’id merupakan manifestasi al-Kamal yang muncul dalam wujud Adam. Sedang an-nafs ar-radhiyah yang di dalamnya ”tersembunyi” ruh adalah manifestasi al-Jalal yang muncul dalam wujud Dinding al-Jalal. Sementara an-nafs al-mardhiyah yang di dalamnya “tersembunyi” sirr adalah manifestasi al-Jamal yang muncul dalam wujud Taman al-Jamal.

Dengan mengenali, memahami, dan memaknai keberadaan dimensi nur al-baidha’, ia menyadari sesadar-sadarnya tentang kemuliaan Adam yang disemayamkan di tengah Taman surgawi yang dilingkari Dinding tak tertembus. Adam sendiri menyaksikan keindahan Taman al-Jamal dan Dinding al-Jalal dengan pandangan bashirah yang merupakan manifestasi dari al-Bashir. Dan lantaran hakikat keberadaan Adam yang begitu mulia, yakni sebagai pengejawantahan Khazanah Tersembunyi, maka seluruh malaikat diperintahkan sujud kepadanya.

Ketika memasuki dimensi paling dalam dari nur al-baidha’, untuk kali keduanya Abdul Jalil menjumpai ar-ruh al-idhafi yang berwujud seperti dirinya dengan pancaran cahaya putih kehijau-hijauan, namun hanya seukuran ibu jari. Inilah manifestasi dari al-khafi yang tiada lain adalah selubung hijab yang disebut hajib ar-Rahman (hijab ar-Rahman). Inilah wilayah gaib yang menjadi pembatas (barzakh) antara makhluk dan al-Khaliq.

Abdul Jalil menyadari sesadar-sadarnya bahwa ar-ruh al-idhafi adalah manifestasi belaka dari al-Haqq yang terselubung dalam kerahasiaan paling rahasia. Itu sebabnya, saat ar-ruh al-idhafi memaparkan berbagai uraian tentang hakikat kebenaran yang menawarkan kemuliaan, keagungan, kehebatan, kekeramatan, serta berbagai kelebihan yang tak dipunyai manusia lain, dengan tegas ia menolaknya. “Saya berharap agar semua keinginan pribadi saya terhapus. Karena, sesungguhnya hanya Allah saja yang memiliki kehendak.”

“Apakah engkau tidak memiliki keinginan bertemu dengan Rabb-mu?” tanya ar-ruh al-idhafi.

“Sesungguhnya, sejak awal perjalanan hidup saya, keinginan saya yang paling tak terkendali adalah bertemu dengan Rabb-ku. Namun, sekarang saya sadar bahwa keinginan kuat yang begitu dahsyat menguasai jiwa saya itu pada dasarnya adalah atas kehendak-Nya jua. Itu sebabnya, saya pasrahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hajat hidup saya kepada-Nya. Dia Mahatahu dan Maha Berkehendak,” ujar Abdul Jalil.

“Tidakkah engkau ingin tahu hakikat terahasia dari keberadaanku?”

“Tuan yang berwujud mirip saya, tentu Tuan lebih tahu tentang hakikat kerahasiaan di balik keberadaan Tuan daripada saya. Namun bagi saya, Tuan adalah manifestasi belaka dari keberadaan al-Haqq. Sebab, menurut keyakinan saya, al-Haqq tidak akan sama dan serupa dengan al-insan. Al-Khaliq tidak bisa dibandingkan dengan makhluk. Dia tidak bisa disetarakan dengan sesuatu (laisa kamitslihi syaiun). Jadi, menurut keyakinan saya, hanya karena Dia, dengan Dia, melalui Dia, dan kehendak Dia semata saya akan menyaksikan kebenaran wujud-Nya entah itu pada tingkat Asma’-Nya, Shifat-Nya, Af’al-Nya, maupun Dzat-Nya. Dan andaikata Dia menetapkan bahwa saya hanya boleh mengenal-Nya dalam wujud manifestasi Tuan maka saya menerima itu sebagai anugerah paling berharga dari-Nya,” ujar Abdul Jalil.

Menyaksikan keteguhan, ketulusan, dan keterbebasan jiwa Abdul Jalil dari pamrih pribadi, ar-ruh al-idhafi memancarkan cahaya sangat terang dari seluruh tubuhnya. Kemudian dengan isyarat, dia memerintahkan Abdul Jalil masuk ke dalam dirinya melalui telinga kirinya.

Perintah itu membuat Abdul Jalil tercengang sejenak, namun ia tidak membiarkan ketakjuban dan keheranan mempengaruhi kesadarannya. Itu sebabnya, dengan gerakan cepat ia bergegas melangkah mendekat. Dengan konsentrasi diarahkan ke telinga ar-ruh al-idhafi, ia menyaksikan peristiwa menakjubkan. Telinga ar-ruh al-idhafi tiba-tiba menjadi sangat besar seibarat gua. Meski demikian, ia tidak tahu pasti apakah dalam hal itu tubuh ar-ruh al-idhafi yang meraksasa hingga telinganya pun sebesar gua atau sebaliknya tubuhnya yang mengecil hingga bisa masuk ke dalam telinga kiri ar-ruh al-idhafi.

Ketika berada di ambang telinga ar-ruh al-idhafi, tiba-tiba ia merasakan kesadarannya terisap oleh kekuatan dahsyat yang menariknya ke arah dalam. Ia tercekat. Kemudian kesadarannya terasa jungkir-balik memasuki kumparan cahaya warna-warni. Sedetik sesudah itu, ia telah berada di hamparan cahaya yang sangat terang.

Hamparan terang itu tanpa wujud bentuk-bentuk, tanpa bayangan, tanpa benda gelap dan terang. Abdul Jalil tercengang menyadari keberadaannya di dimensi asing itu. Sejauh mata batinnya (al-‘ain al-bashirah) memandang, ia hanya menyaksikan gumpalan kabut putih. Dimensi ini sangat asing dan aneh karena tanpa arah timur, barat, selatan, dan utara. Ia bahkan dapat menyaksikan seluruh cakrawala. Inikah dimensi di dalam ar-ruh al-idhafi? Demikian pertanyaannya penuh ketakjuban. Tidak ada apa-apa di dimensi itu: tidak suara, warna, bau, atau rasa. Yang ada hanya kesenyapan. Kelengangan. Kesunyian. Keheningan. Bahkan kehampaan. Anehnya, Abdul Jalil justru merasakan bahwa di dimensi inilah ia berada dalam keadaan sebebas-bebasnya, terbebas dari segala beban; ia merasakan kesadarannya laksana sebutir debu yang terbang melayang-layang dibawa embusan angin. Betapa bebas! Betapa bahagia! Betapa nikmat!

Ketika tengah menikmati kelepasbebasan dengan kebahagiaan tiada tara, tiba-tiba telinga batinnya menangkap al-ima’ yang bergetar dari segenap penjuru cakrawala.

“Inilah Haikal Muqaddas yang merupakan Dar al-Haram persemayaman al-Haqq. Inilah al-Buthun, “persemayaman” Khazanah Tersembunyi yang ditampakkan oleh-Nya dalam penciptaan dirimu. Haikal Muqaddas ini tidak berada di mana-mana, kecuali di dalam dirimu sendiri.”

“Apakah saya diizinkan memasuki altar Haikal Muqaddas agar saya dapat menyaksikan dan menyembah-Nya dengan sebenar-benarnya?”

“Aku Hajibur Rahman, penjaga Haikal Muqaddas, tidak akan mengizinkan siapa pun masuk tanpa izin-Nya.”

“Apakah Tuan mengira kehadiran saya hingga di Haikal Muqaddas ini adalah kehendak saya pribadi dan tanpa izin-Nya? Saya yakin bahwa apa yang saya alami ini adalah atas kehendak-Nya semata. Karena itu, o Hajibur Rahman, mohonkan kepada-Nya agar saya diperkenankan masuk.”

Suasana hening. Senyap. Sepi. Hampa. Namun, sesaat sesudah itu tiba-tiba ia menangkap al-ima’ yang lain lagi.

“Karena Haikal Muqaddas sangat suci dan tidak bisa dimasuki oleh makhluk, maka engkau, makhluk yang berkeinginan memasuki Haikal Muqaddas, hendaknya suci dari semua anasir kemanusiaanmu. Karena itu, o makhluk yang dikasihi-Nya, masuklah engkau ke dalam Haikal Muqaddas melalui pintu al-mir’ah al-hayya’i (cermin memalukan) yang wajib dilalui siapa pun yang ingin masuk ke dalam sini.”

Ia heran dengan perintah itu. Sebab, di segenap penjuru cakrawala dimensi itu tidak terlihat bentuk maupun kilasan gambaran apa pun jua. Namun, seiring dengan keheranannya tiba-tiba gumpalan kabut yang meliputi pandangan mata batinnya menyibak. Kemudian terpampanglah bentangan cermin yang tak diketahui batas tepinya.

Ia terkejut setengah mati menyaksikan bentangan cermin yang terhampar di hadapannya. Sebab, cermin itu tidak saja memantulkan bayangan dirinya, tetapi seluruh perbuatan yang pernah dilakukannya selama hidup terpampang rinci dengan sangat jelas. Sebagai manusia biasa yang tak lepas dari dosa dan kesalahan, terutama memasuki masa-masa remaja, Abdul Jalil tidak mampu menyaksikan rentangan perbuatan yang telah dilakukannya. Ia sangat malu. Bahkan akibat tidak dapat menahan rasa malu, ia menjerit-jerit histeris dan berusaha menutup pandangan mata batinnya. Namun, tidak sedikit pun ia memiliki kekuatan untuk mengatupkan mata batinnya. Puncaknya, ia tidak sadarkan diri.

Entah berapa lama ia pingsan. Namun, saat sadar ia saksikan bentangan cermin lain yang lebih jernih dari cermin sebelumnya. Bahkan begitu jernihnya sehingga bagaikan bukan cermin.

Ia baru mengetahui bahwa yang terbentang di hadapannya adalah cermin yang sangat jernih setelah menyaksikan bayangan dirinya. Begitu sempurnanya bayangan itu, seolah ia menyaksikan dirinya kembar dua. Anehnya, di situ tidak ada bayangan lain. Tidak ada yang lain. Hanya ada dirinya dan bayangan dirinya. Ia tidak dapat berkata-kata, kecuali tercengang dalam pesona ketakjuban.

Ia merasa bingung karena tidak dapat membedakan mana bayangannya dan mana dirinya yang sebenarnya. Ini benar-benar pengalaman menakjubkan sekaligus membingungkan. Ia juga tidak dapat membedakan keakuan dirinya dan keakuan bayangan dirinya. Ia seolah-olah memiliki keakuan ganda, namun kegandaan yang menyatu dalam satu keakuan.

“Siapakah engkau?”

“Engkau adalah aku!”

“Bukahkah engkau hanya bayanganku?”

“Engkaulah yang sebenarnya bayanganku!”

“Jika demikian, siapakah aku dan siapakah engkau?”

“Aku adalah matahari dan engkau adalah bayangan matahari di dalam mangkok berisi air jernih.”

“Apakah engkau Rabb-ku?”

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu!”

“Jika demikian, siapakah sejatinya engkau ini?”

“Ana al-Haqq!”

Abdul Jalil terperangah takjub. Ia pandangi dirinya sendiri kemudian ganti memandangi bayangan dirinya di cermin. Ia benar-benar tercekam ke dalam pesona ketakjuban. Kenapa tidak ada wujud lain kecuali aku dan dia, tanyanya keheranan.

Tiba-tiba bayangan dirinya di cermin memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan hingga nyaris membutakan mata batinnya. Seiring dengan pancaran cahaya itu, dirinya hilang dan bayangan dirinya pun ikut lenyap. Yang tertinggal hanyalah pancaran cahaya yang sangat terang.

Antara sadar dan tidak, ia merasakan kesadarannya terisap. Bagai memasuki pusat matahari, demikianlah kesadarannya masuk ke dalam cahaya yang terangnya tidak dapat diuraikan dengan kata-kata. Entah apa yang terjadi, namun kesadarannya tiba-tiba hilang. Keakuannya lebur ke dalam keakuan cahaya yang membutakan itu. Dan saat itulah, antara sadar dan tidak, ia menangkap al-ima’.

“Keakuanmu telah tenggelam ke dalam keakuan al-Haqq, Rabb-mu, seibarat bersatunya air dengan anggur di dalam gelas. Engkau telah meraih kemenangan, sebag dengan Rabb-mu engkau akan kembali kepada sumber asalmu, Rabb al-Arbab! Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un!”

East China Sea (West of Isigaki Island), March 3rd, 2007

5 Ar Risalah al Islamiyyah

Pengalaman ruhani yang menggetarkan, menakjubkan, dan membingungkan itu berlangsung beberapa saat sebelum kelahiran putera pertamanya dari Shafa. Itu sebabnya, usai subuh saat masih tercekam oleh pesona pengalaman menakjubkan itu, ia langsung memberikan nama Darbuth kepada puteranya. Nama itu dimaksudkan sebagai tonggak peringatan dari perjalanan ruhaninya memasuki Dar al-Buthun, yakni Rumah “persembunyian” Khazanah Tersembunyi, di mana ia mengenal fana, tenggelam dalam kesatuan Tauhid (fana’ fi Tauhid).

Kelahiran seorang putera adalah kebanggaan bagi seumumnya laki-laki. Karena, putera tidak saja akan menjadi penyambung mata rantai nasab, tetapi menjadi kehormatan dan kemuliaan dalam hidup seorang laki-laki. Namun, Abdul Jalil menyambut kelahiran putera pertamanya dengan perasaan biasa saja. Ia tidak mengharap-harap bayi lelaki montok darah dagingnya itu bakal menjadi penyambung nasabnya yang bisa membawa keharuman namanya. Ia juga tidak membayang-bayangkan kehormatan dan kemuliaan dirinya bakal meningkat dengan kehadiran bayi tersebut.

Ia menganggap kelahiran puteranya adalah atas kehendak-Nya semata. Itu sebabnya, ia tidak dapat memastikan apakah bayi laki-laki itu akan berumur panjang hingga kakek-kakek atau justru akan mati dalam usia dini. Ia juga tidak bisa berharap puteranya bakal menjadi manusia sempurna. Semuanya adalah rahasia Ilahi. Semuanya tergantung pada kehendak-Nya.

Pagi itu, tanpa diundang, Syaikh Abdul Ghafur berkunjung ke rumah Abdul Jalil dengan tujuan utama memberikan berkah dan panjatan doa bagi sang bayi. Namun, saat menjumpai Abdul Jalil bersimpuh di atas sajadah yang tergelar di sudut kamar, dia langsung duduk dan merangkulnya penuh kemesraan. “Sekaranglah waktunya, Abdul Jalil. Sekaranglah waktunya engkau harus ke Jawa menggantikan saudara kita, Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy.”

“Saya telah menemui-Nya, Tuan. Saya telah menemui-Nya,” kata Abdul Jalil dengan perasaan yang sukar dilukiskan.

“Karena itulah engkau harus secepatnya ke negeri Jawa. Karena maqam yang engkau capai telah memenuhi syarat untuk menggantikan kedudukan saudara kita Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy,” kata Syaikh Abdul Ghafur.

“Putera saya baru saja lahir,” kata Abdul Jalil, “apakah pantas jika dia saya tinggalkan?”

“Ini bukan soal pantas atau tidak. Ini juga bukan soal masuk akal atau tidak. Ini adalah tugas suci yang wajib engkau tunaikan. Bukankah keadaanmu ini lebih ringan dibanding Ibrahim al-Khalil yang harus meninggalkan istri dan putera sulungnya di lembah tak berair tak bertetumbuhan? Bukankah mertuamu dengan tulus akan mengambil alih tanggung jawab atas istri dan puteramu? Dan aku, tentu akan bersedia menjadi guru bagi puteramu,” kata Syaikh Abdul Ghafur menguatkan.

“Terima kasih, Tuan guru,” kata Abdul Jalil. “Saya serahkan putera saya, Darbuth, sepenuhnya di bawah asuhan Tuan guru.”

“Engkau namakan siapa puteramu?”

“Darbuth.”

“Apakah engkau ingin memamerkan kepada orang lain bahwa engkau telah mencapai Dar al-Buthun, begitu?”

“Maksud saya, itu hanya sebagai tonggak peringatan.”

“Abdul Jalil, apa yang telah engkau alami adalah rahasia-Nya. Jadi, jangan sekali-kali engkau gegabah mengungkapkan kepada orang-orang yang tidak berhak.”

“Tapi, bukankah itu kehendak-Nya juga?”

“Kehendak-Nya untuk membuka rahasia kepadamu dan tidak untuk yang tidak berhak. Aku sangat khawatir engkau terjebak pada kecerobohan tanpa kendali dengan mengikuti perasaan tanpa pertimbangan akal.”

“Jadi sebaiknya bagaimana, Tuan guru?”

“Berilah puteramu nama Bardud, yang berarti ulat dalam kepompong. Karena, saat lahir ayahandanya telah terbang menjadi kupu-kupu. Dan dia, yang di dalam kepompong, akan mengikuti jejakmu menjadi kupu-kupu yang indah.”

“Tepat sekali perumpamaan Tuan guru,” sahut Abdul Jalil gembira. “Tadi saya benar-benar menyaksikan bagaimana ganas dan jahatnya saya ketika masih menjadi ulat. Di cermin itu (saat peristiwa ruhani), saya melihat semuanya.”

Syaikh Abdul Ghafur tertawa. Abdul Jalil ikut tertawa. Mereka sepakat memberi nama putera pertama Abdul Jalil dengan nama Bardud. Sebab, nama itu bukan saja menjadi tonggak peringatan peristiwa ruhaniah, melainkan pula menjadi pelajaran baginya untuk berhati-hati menggunakan perumpamaan-perumpamaan dalam mengungkapkan rahasia Ilahi.

Sepanjang hari itu mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas Abdul Jalil di negeri Jawa. Sebagai orang yang lebih lama mengarungi samudera kehidupan, Syaikh Abdul Ghafur banyak menceritakan berbagai pengalaman hidup selama menjadi anggota Jama’ah Karamah al-Aulia. Dan Abdul Jalil dengan penuh takzim mendengarkan kisah tersebut.

Ketika malam menyelimuti bumi dengan sutera hitam, Syaikh Abdul Ghafur berpamitan pulang. Abdul Jalil, sesuai pesan Syaikh Abdul Ghafur, menyiapkan diri untuk pergi ke selatan menunaikan tugas menggantikan kedudukan Syaikh Abdur Rahman Muttaqi al-Jawy. Seiring terbitnya matahari di ufuk timur, ia meninggalkan rumah, meninggalkan anak dan istrinya. Ia tidak tahu apakah akan bisa kembali dan bertemu lagi dengan mereka. Semua yang bakal dialaminya dipasrahkan kepada Allah.

Sepanjang perjalanan ke daerah selatan di pantai barat tanah Bharatnagari (India), Abdul Jalil singgah di desa-desa miskin tempat kediaman suku Kanbi, Kharwa, dan Kori yang merupakan suku-suku berkasta rendah dalam tatanan hidup masyarakat di negeri Gujarat.

Kemiskinan yang beribu-ribu tahun berkuasa dan merajalela di tengah suku-suku malang itu telah membawa Abdul Jalil pada keputusan untuk menyingkapkan cakrawala baru yang menyinarkan cahaya terang matahari kebenaran Islam. Sebab, kemiskinan yang tidak disinari fajar Tauhid akan membawa manusia ke lembah kekufuran. Demikianlah, pada suatu pagi yang terang ia berkata kepada pemimpin suku Kanbi bernama Warnasamkara Saswata yang sedang duduk menggembalakan hewan ternaknya di tengah hamparan rerumputan yang menguning.

“Tahukah engkau, o Manusia, tentang apa dan siapa manusia itu?”

Warnasamkara Sawata tegak berdiri dan berjalan mendekat. Dengan wajah menunduk dan suara gemetaran dia menjawab, “Manusia adalah bayangan maya dari Brahman, sebagaimana percik api yang meletik dari Bunga Api Abadi. Ketika Tuan menanyakan tentang siapakah manusia maka Tuan sesungguhnya sedang menanyakan keberadaan masing-masing percikan api.”

“Jika demikian, apa yang membedakan manusia satu dengan manusia lain? Mengapa manusia yang satu boleh menista dan menghina manusia lain? Mengapa manusia yang satu harus sukarela menerima hinaan dari manusia lain? Mengapa kehinaan yang diterima satu golongan manusia harus diwariskan turun-temurun?” tanya Abdul Jalil bertubi-tubi.

“Tuan,” sahut Warnasamkara Saswata sambil menunjuk sapi kurus gembalaannya, “tidakkah Tuan lihat sapi yang merumput itu? Begitulah keberadaan manusia, utuh laksana perwujudan sempurna seekor sapi. Ada manusia yang menjadi kepala. Ada manusia yang menjadi tubuh. Ada manusia yang menjadi kaki. Dan ada manusia yang menjadi tapak kaki.”

“Apakah Tuan menganggap bahwa suku Kanbi adalah tapak kaki sapi?”

“Demikianlah keyakinan yang kami ikuti, yang kami warisi dari leluhur-leluhur kami sejak ribuan tahun silam.” “

Jika sapi adalah lambang perwujudan manusia yang berasal dari percikan Bunga Api Abadi, lantas siapakah Bunga Api Abadi itu? Apakah Dia adalah Sang Gembala? Jika Dia adalah Sang Gembala, apakah Dia berkedudukan sebagai tapak kaki atau kepala?” tanya Abdul Jalil memburu.

Warnasamkara Saswata diam tak menjawab. Dia bingung diburu rentetan pertanyaan yang dilontarkan Abdul Jalil. Namun, sejenak kemudian pemimpin suku Kanbi itu berkata, “Tuan, pengetahuan tentang Dia bukanlah kewenangan kami. Itu adalah kewenangan para Brahma agung. Kami hanya menjalani apa yang sudah ditentukan olehnya.”

“Bukankah tadi Tuan katakan bahwa manusia adalah percikan api dari Bunga Api Abadi?” tanya Abdul Jalil. “Bukankah percik-percik api itu adalah sama dalam zat dan sifat-sifat, meski bentuk dan kecemerlangannya berbeda-beda? Bukankah masing-masing percik api itu sesungguhnya dapat kembali ke Bunga Api Abadi?”

Warnasamkara Saswata termangu-mangu. Gurat-gurat keras yang menghiasi wajahnya adalah citra keperkasaan yang pantang menyerah menghadapi gelombang samudera kehidupan. Dia meyakini bahwa kerasnya kehidupan sebagai manusia berkasta rendah yang harus dilampauinya itu adalah kodrat manusiawinya, meski jauh di kedalaman relung jiwanya sebenarnya tersembunyi api pemberontakan yang diam-diam menggugat keberadaan dirinya sebagai manusia yang hidup dinista dan dihina. Itu sebabnya, di dalam mimpinya dia merindukan hidup bebas, terhormat, dihargai, dan dimanusiakan.

Akhirnya, dengan suara bergetar dirayapi rasa takut, Warnasamkara Saswata berkata, “Apakah menurut Tuan, zat dan sifat-sifat dari percik api itu sama? Dan apakah percik api dapat mencapai Bunga Api Abadi?” “

Dengarkanlah berita gembira ini, o Manusia,” kata Abdul Jalil dengan suara lembut, namun berwibawa, “bahwa di negeri yang dilingkupi pasir dan batu-batu telah lahir seorang Avatar Agung bernama Muhammad Saw. Yang mengajarkan bahwa manusia adalah percik api dari Bunga Api Abadi. Muhammad Saw. Mengajarkan bahwa semua percik api adalah sama dalam zat dan sifat-sifat. Karena itu, semua percik api sama di hadapan Bunga Api Abadi. Yang membedakan percik api satu dan percik yang lain adalah kedekatannya dengan-Nya. Percik api yang paling dekat itulah yang disebut muttaqin. Dan percik api bisa berasal dari mana saja tidak dibatasi warna kulit, keturunan, pangkat, jabatan, dan kekayaan.”

“Sang Avatar Agung, Muhammad Saw., yang lahir dari keluarga bangsawan Bani Hasyim dengan tegas menunjukkan bahwa seorang budak berkulit hitam bernama Bilal bin Rabah adalah percik api yang lebih mulia dan lebih terpuji di hadapan Bunga Api Abadi dibanding Omar al-Hakam, sang Abu Jahal, pamannya yang bangsawan dan kaya raya. Bahkan kepada budak hitam Bilal bin Rabah itu diberikan anugerah kemuliaan berupa warisan abadi dalam wujud adzan, yakni seruan memanggil manusia beriman untuk beribadah mengingat Bunga Api Abadi, tempat percik-percik api kelak akan kembali.”

“Tuanku,” kata Warnasamkara Saswata memberanikan diri, “bagaimana pandangan Sang Avatar Agung tentang keberadaan kami, orang-orang dari suku Kanbi, dan saudara-saudara kami suku Kharwa, Kori, Govala, Bagdi, dan Bauri yang berkulit legam serta hidup dalam lingkaran kenistaan dan kehinaan? Apakah kami dapat beroleh anugerah kemuliaan dari Bunga Api Abadi sebagai percik api-Nya sebagaimana yang diperoleh budak hitam bernama Bilal?” “

Sang Avatar Agung, Muhammad Saw., mengajarkan bahwa Bunga Api Abadi yang merupakan pangkal segala kejadian (al-Khaliq) tidak membeda-bedakan percik api yang memancar dari-Nya (makhluk). Yang membedakan adalah kedekatan. Yang paling dekat dengan Sumber Api Abadi itulah yang paling cemerlang sinarnya dan paling mulia. Dan kedekatan dengan Sumber Api Abadi, menurut Sang Avatar Agung, tidaklah berkaitan dengan warna kulit dan anasir-anasir keturunan.”

“Karena itu, o Manusia, jika engkau bersedia menadahkan tanganmu untuk menerima tetesan madu kebenaran dari pinggan sang Avatar Agung maka derajat Tuan adalah sama dengan derajat kami. Jika Tuan disakiti orang maka kami akan membela Tuan seolah-olah yang disakiti oleh orang itu adalah diri kami sendiri. Sebab, sang Avatar Agung mengajarkan bahwa sesama pengikut ajaran sang Avatar Agung adalah sesaudara – sama-sama percik api dari Bunga Api Abadi – yang darah dan kehormatannya wajib dibela dan dihormati.”

Mendengar uraian Abdul Jalil, Warnasamkara Saswata merasakan api pemberontakan di kedalaman relung-relung jiwanya berkobar-kobar dengan hebat hingga membakar bongkahan gunung es yang tegak menjulang di dadanya. Dia merasakan dinding-dinding gunung es di dadanya runtuh dengan suara gemuruh. Dan seiring dengan itu, dia jatuh terduduk di atas lututnya dengan tubuh bergetar dan air mata haru bercucuran membasahi pipi. “

Tuan Guru, apakah kami boleh menjadi pengikut Sang Avatar Agung? Apakah Tuan dan saudara-saudara Tuan berkenan menerima kami yang hina ini sebagai saudara? Apakah syarat-syarat yang harus kami penuhi untuk menjadi pengikut Avatar Agung?” “

Ucapkan dua kalimat kesaksian yang Tuan yakini dengan sepenuh jiwa. Kalimat pertama, Tuan menyaksikan keesaan Sang Bunga Api Abadi, yakni Allah. Kalimat kedua, Tuan menyaksikan bahwa Sang Avatar Abung adalah rasul pancaran Sang Bunga Api Abadi.”

Masih dengan air mata bercucuran, Warnasamkara Saswata bersujud mencium kaki Abdul Jalil sambil berkata, “Bimbinglah kami, o Tuan Guru.”

Abdul Jalil memegang bahu Warnasamkara Saswata dan kemudian menepuk-nepuknya, “Berdirilah Tuan! Sebab, semua pengikut sang Avatar Agung, Muhammad Saw., berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Tidak satu pun di antara pengikut Muhammad Saw. Boleh bersujud kepada sesamanya. Satu-satunya yang wajib disujudi adalah Sang Bunga Api Abadi.”

Dengan tubuh gemetar dan hati diamuk perasaan tak karuan, Warnasamkara Saswata berdiri. Disaksikan Abdul Jalil yang wajahnya bersih cemerlang dengan hidung mancung, mata coklat, alis tebal, kumis, dan cambang lebat yang semuanya memancarkan kewibawaan menggetarkan, dia berkata dengan suara bergetar, “Tuan Guru, belum pernah kami mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Belum pernah ada orang yang bersedia menganggap kami sebagai saudara.”

“Kabut kegelapan malam yang menyelimuti hari-harimu dengan kemiskinan, kesengsaraan, kehinaan, dan kenistaan telah terhapus dengan terbitnya matahari kebenaran, Matahari Islam, yang membawa persamaan derajat, persaudaraan, keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan. Marilah Saudaraku, kukuhkan jiwamu dengan menyaksikan keesaan Sang Bunga Api Abadi dan keberadaan sang Avatar Agung sebagai rasul pancaran-Nya.”

Di bawah hangatnya cahaya matahari pagi, dengan suara terbata-bata, namun hati diliputi semangat berkobar menyongsong kehadiran cakrawala hidup baru, Warnasamkara Saswata mengikrarkan diri sebagai Muslim dengan mengucap dua kalimat syahadat di bawah bimbingan Abdul Jalil. Sebagaimana dicontohkan Muhammad al-Mushthafa Saw. Saat menyiarkan kebenaran Islam pertama kali, Abdul Jalil pertama-tama menanamkan ruh at-Tauhid ke dalam jiwa Warnasamkara Saswata.

Abdul Jalil pertama-tama mengajarkan tentang keesaan Allah dalam Dzat, Shifat, Af’al, dan Asma’. Allah adalah Tunggal. Meliputi. Tak terbandingkan dengan sesuatu. Dan karenanya, manusia tidak boleh membayang-bayangkan Allah dengan sesuatu. “Karena kekerdilan akal budi manusia saja mereka mengatakan bahwa Tuhan ada di langit, bintang-bintang, matahari, rembulan, gunung-gunung, lautan, batu-batu, dan pohon-pohon. Padahal, ruh-Nya ada di dalam diri manusia. Karena itu, sungguh nista, hina, dan tolol manusia yang sudah tahu bahwa ruh-Nya ada di dalam diri sendiri, namun masih juga ia bertekuk lutut menyembah batu dan pepohonan.”

Ia selanjutnya menjelaskan bahwa sekalipun Tuhan tidak bisa dibanding-bandingkan dan disetarakan dengan sesuatu (laisa kamitslihi syai’un), bukan berarti Tuhan tidak bisa didekati. “Karena, berkali-kali Tuhan mengisyaratkan manifestasi diri-Nya sebagai Cahaya (Nur) langit dan bumi (Allahu Nur as-samawati wa al-ardh) atau Cahaya di atas segala cahaya (Nurun ‘ala nur). Maka, lewat isyarat itulah manusia bisa mendekat. Namun, janganlah membayangkan bahwa Cahaya (Nur) dalam hal ini adalah cahaya (nur) yang bisa dilihat dengan mata indriawi manusia. Sekali-kali cahaya bukanlah Cahaya.”

Warnasamkara Saswata terlihat bingung dengan penjelasan Abdul Jalil tentang Tuhan yang memanifestasikan diri-Nya dalam wujud niscaya Cahaya yang tak bisa dilihat oleh indera manusia. Abdul Jalil yang menangkap ketidakpahaman Warnasamkara Saswata kemudian mengajarkan secara rahasia tentang apa yang dimaksud dengan uraiannya itu. Dengan cara membisikkan ke telinga kiri Warnasamkara Saswata, ia menguraikan sekaligus membuktikan ucapannya bahwa ada cahaya-cahaya yang tidak bisa ditangkap indera penglihatan manusia, namun keberadaannya di dalam diri manusia dapat disaksikan dengan pandangan bashirah.

Ia menguraikan hakikat keberadaan manusia sebagai berbahan dasar lempung yang di dalamnya tersembunyi Ruh Ilahi. “Itulah yang dimaksud dengan percik api dari Bunga Api Abadi. Ini berarti, setiap percik api berhak untuk mendekat dan menyatu kembali dengan Bunga Api Abadi. Bahkan sang Avatar Agung, Muhammad Saw., tegas-tegas mengajarkan bahwa semua percik api pada akhirnya akan kembali kepada Bunga Api Abadi sebagaimana terungkap dalam kalimat: Innali Allahi wa innailaihi raji’un, yang menjadi intisari ajaran Islam.”

“Saya akan jalankan semua petunjuk Tuan Guru,” kata Warnasamkara Saswata.

“Ingat-ingatlah selalu bahwa tugas utamamu sebagai manusia adalah mengingat asal-usulmu yang berasal dari Bunga Api Abadi. Berjuanglah mengisi hari-hari hidupmu dengan mengingat-Nya di saat engkau tidur, duduk, berdiri, berjalan, dan bahkan saat naik kendaraan. Karena dengan mengingat-Nya maka engkau akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Dan manakala engkau mengingat selain Dia, apalagi sampai pikiran dan perasaanmu terikat kepada sesuatu selain Dia, niscaya kesengsaraan dan penderitaan yang akan engkau dapatkan. Ingat-ingatlah selalu: Ingat kepada-Nya. Ingat! Ingat!” Abdul Jalil mewanti-wanti.

Suatu pagi Abdul Jalil sampai di pasar dekat perkampungan suku Kanbi yang ramai. Saat itu bertepatan dengan datangnya pedagang-pedagang suku Kharwa yang membawa gerabah dan pecah-belah. Di tengah pasar, didampingi Warnasamkara Saswata, ia berkata kepada orang-orang yang mengerumuninya. “Aku akan mengajarkan kepada kalian cara menjadi manusia paripurna (al-insan al-kamil) yang memegang jabatan wakil Tuhan di mukan bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Tahukah kalian siapakah yang disebut manusia paripurna? Manusia paripurna adalah manifestasi Tuhan di dunia yang memiliki kewajiban utama mengagungkan dan memuliakan Sang Pencipta. Karena kewajiban utama itulah maka manusia paripurna dianugerahi hak-hak istimewa oleh Tuhan untuk mengatur kehidupan di bumi sebagai wakil-Nya. Dan karena itu, kepada manusia paripurnalah seluruh makhluk di permukaan bumi harus tunduk dan mengikuti perintahnya.” “

Lihatlah kubah biru mahabesar yang diangkat di atas kalian. Tidaklah kubah biru itu dibentangkan dan diangkat ke atas kecuali karena diperuntukkan bagi manusia paripurna. Lihatlah permadani rerumputan yang terbentang hijau di hadapanmu. Tidaklah permadani hijau itu dibentangkan kecuali diperuntukan bagi manusia paripurna. Lihatlah juga bintang-gemintang, matahari, awan, hujan, angin, gunung-gunung, samudera, dan segala isi jagad raya tiadalah dicipta kecuali diperuntukkan bagi manusia paripurna. Kepada manusia paripurnalah diajarkan nama-nama oleh Tuhan, yakni pengetahuan yang tidak diberikan kepada makhluk mulia lain, termasuk malaikat.” “

Namun, sungguh malang nasib manusia. Dari zaman ke zaman hingga zaman ini, manusia cenderung terperosok ke jurang kehinaan yang mengerikan. Manusia tidak hanya kehilangan keparipurnaannya, tetapi yang lebih mengenaskan adalah mereka telah jatuh ke jurang kenistaan dan kehinaan sebagai makhluk serendah hewan. Mereka seolah tidak mengetahui lagi tentang kemuliaan dan keagungan yang telah diperolehnya dari Sang Pencipta. Mereka telah menjadi hewan buas yang memangsa sesamanya. Mereka memperbudak sesamanya. Mereka menindas sesamanya. Bahkan mereka telah memuja dan menyembah sesamanya.”

Seorang suku Kharwa bernama Shyam, pedagang gerabah berkulit hitam, maju dan bertanya, “Bagaimanakah caranya kami bisa menjadi manusia paripurna, o Tuan Guru?” “

Untuk menjadi manusia paripurna, kalian harus melampaui kedudukan kalian sebagai manusia (an-nas) terlebih dahulu. Sebab, tanpa melalui kedudukan sebagai manusia maka kalian tidak lebih dari makhluk berkesadaran hewan yang hanya hidup untuk memangsa dan dimangsa. Jika kedudukan kalian sebagai manusia telah terlampaui maka kalian harus melampaui kedudukan manusia beriman (al-mu’min) terlebih dahulu. Jika kedudukan kalian sebagai manusia beriman (al-mu’min) telah terlampaui maka kalian harus melampaui kedudukan manusia bertakwa (al-muttaqin). Demikian seterusnya, hingga tercapai kedudukan manusia paripurna.” “

Namun, yang paling penting kalian lampaui adalah menjadi manusia terlebih dahulu. Sebab, banyak di antara manusia yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah manusia. Banyak di antara manusia yang merayap di permukaan bumi bagaikan hewan melata yang tidak mampu membayangkan sesuatu selain melampiaskan hasrat hewani untuk memangsa dan berkembang biak. Sungguh banyak di antara manusia yang hidup dengan kesadaran hewan bagaikan cacing, kalajengking, kadal, ular, buaya, tikus, kucing, anjing, kera, dan harimau.”

Seorang pemuda Kanbi bernama Sukhalobhena, dengan suara bersemangat menyela, “Bagaimana cara untuk melampaui kedudukan manusia, o Tuan Guru?”

Abdul Jalil menatap tajam-tajam mata Sukhalobhena seolah hendak mengukur kedalaman jiwa pemuda itu. Sesaat kemudian, dengan suara menggelegar ia berkata, “Untuk melampaui manusia (an-nas), engkau harus menjadi manusia terlebih dahulu. Dan seseorang baru menjadi manusia jika ia punya kehendak untuk tampil dan menyadari keberadaan dirinya sebagai manusia. Engkau baru bisa disebut manusia jika engkau menyadari dirimu memiliki kehendak. Hidup manusia adalah kehendak untuk membuktikan bahwa dirinya ada.” “

Untuk mengetahui keberadaan dirimu sebagai manusia maka ujilah dirimu dengan kesadaran bahwa engkau berkehendak untuk tampil sebagai manusia. Pertama, sadarilah bahwa dirimu merupakan manusia yang terbuat dari bahan dasar lempung yang disemayami Ruh Yang Ilahi. Kedua, sadarilah bahwa keberadaan manusia-manusia yang lain adalah sama dengan dirimu sehingga engkau tidak boleh merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Ketiga, sadarilah bahwa yang paling tinggi derajatnya di antara manusia adalah mereka yang sudah mencapai pencerahan dengan menyaksikan hakikat Yang Ilahi yang tersembunyi di dalam dirinya, yang dengan penyaksian itu membuat mereka mengenal Sang Pencipta.”

Seorang pedagang buah bernama Upahata bertanya, “Tapi, o Tuan Guru, bukankah kelahiran kami sebagai manusia berkasta rendah adalah atas kehendak Yang Ilahi? Bukankah dalam kehidupan sebelum ini kami tidak memiliki kehendak untuk tidak mau dilahirkan di kalangan ini? Bukankah ini semua sudah suratan Yang Ilahi?”

Abdul Jalil mendongakkan kepala menatap gugusan awan yang menggumpal di langit. Sesaat sesudah itu, dengan kekuatan yang memancar dari kedalaman relung-relung jiwanya, ia membuka mulutnya dan berkata, “Camkan, o Manusia, bahwa engkau lahir di dunia ini dengan citra kebebasan merdeka jiwa manusia. Engkau yang berjiwa kerdil bisa membiarkan hidupmu terbelenggu oleh rantai yang memborgol kaki dan tanganmu. Lalu engkau biarkan orang lain memasang kuk di tengkukmu dan membuatmu sebagai hewan yang bisa dikendalikan sesuai kehendak orang yang menguasaimu. Namun, engkau yang berjiwa agung dan perkasa dapat membebaskan diri dari rantai-rantai yang membelenggu kebebasan hidupmu.” “

Memang, pada kelahiranmu yang pertama engkau tidak diberi kewenangan untuk memilih sesuai kehendakmu. Sebab, kelahiranmu yang pertama berada di balik rahasia hijab-Nya; ruang hidupmu diliputi oleh kegelapan rahim. Saat lahir, engkau saksikan cahaya terang matahari. Engkau sambut kebebasanmu di dunia ini dengan tangisan. Dan engkau dapati dirimu lahir sebagai anak yang memunculkan naluri keibuan.” “

Namun, sadarilah bahwa kelahiranmu yang kedua adalah kelahiran jiwa yang kepadanya diberikan kewenangan untuk memilih sesuai kehendakmu. Kelahiranmu yang kedua diterangi oleh pancaran cahaya akal dan budi: ruang hidupmu diterangi oleh pancaran cahaya matahari. Saat lahir, engkau saksikan sinar yang lebih terang dari matahari. Engkau sambut kelahiran keduamu dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Pada kelahiran keduamu, engkau akan mendapati dirimu sebagai manusia yang mewarisi dunia sebagai amanat Yang Ilahi; kelahiran kedua manusia yang melahirkan dunia dan alam semesta.” “

Tapi Tuan Guru,” seru Upahata minta penjelasan, “apa yang Tuan Guru ungkapkan itu bagi kami hanya mimpi indah. Sebab, kami lahir papa, hina, dan nista. Tatanan kehidupan telah menentukan keberadaan kami sebagai telapak kaki yang peran utamanya adalah diinjak-injak.” “

Dengarlah, o Manusia,” seru Abdul Jalil berapi-api, “aku ajarkan kepadamu tentang cara menjadi manusia paripurna. Karena itu, aku serukan kepadamu, jangan mempercayai mereka yang mengajarkan kepadamu adanya perbedaan hakikat manusia karena warna kulit, bahasa, kekayaan dan kemiskinan, nama marga, dan keturunan. Itu semua adalah kebohongan yang dilatari maksud jahat merendahkan harkat dan martabat manusia yang sesungguhnya sangat mulia dan agung. Mereka adalah peracun jahat. Mereka tidak sadar telah meracuni jiwa, pikiran, dan tubuh sendiri sehingga mereka pun akan membusuk bersama-sama orang yang mempercayai kedustaan mereka.” “

Renungkanlah kisah sebutir benih di dalam tanah yang ragu-ragu, gentar, gamang, dan takut berada di dalam kegelapan yang pekat. Namun, ia juga takut pada keluasan langit dan panas matahari yang dikiranya akan menerbangkan dan membakarnya hingga binasa. Meski demikian, hasrat untuk tumbuh di dalam dirinya sangat kuat. Maka, saat lahir sebagai kecambah, sadarlah ia bahwa keluasan langit dan terang cahaya matahari adalah keleluasaan dan berkah yang membuatnya tumbuh dan berkembang menjadi pohon raksasa. Karena itu, o Saudaraku, janganlah engkau takut untuk tumbuh menyongsong cakrawala dan matahari untuk membangun hidup baru sebagai manusia paripurna.” “

Sadarlah, o Saudaraku, bahwa manusia ibarat seutas tambang yang merentangkan harkat hewani dan harkat manusia sempurna yang membentang di atas jurang tanpa sadar. Jika engkau tidak memilik nyali untuk meniti hingga ke seberang – tempat harkat manusia sempurna – engkau akan tetap merayap di sisi jurang harkat hewani. Tidak ada yang berubah pada kehidupan semacam itu, kecuali keberadaanmu yang makin terbenam ke dalam genangan lumpur kehinaan sebagai cacing tanah.” “

Bagiku, sungguh memuakkan harus berkawan apalagi bersaudara dengan mankhluk tak bernyali yang melata. Sebab, pada hati yang lemah bersemayam cacing-cacing menjijikkan yang menggeragoti ketegaran jiwa manusia. Sungguh, aku ingin berkawan dan bersaudara dengan manusia-manusia berhati tegar dan pemberani, yang tak merasa gentar meniti jembatan kehidupannya. Sungguh, hanya mereka yang berhati singa dan bersemangat rajawali saja yang berani bangkit dari lumpur kehinaan menuju mahligai kemuliaan dan keagungan manusia paripurna.” “

Tapi Tuan Guru,” seru Upahata dengan dada naik turun, “bagaimana mungkin kami yang rendah ini berani meniti jembatan tambang kehidupan jika pemimpin kami yang berhati singa belum memberikan keteladanan bagi kami?” “

Apakah yang engkau maksud adalah Warnasamkara Saswata, putera Babu Bepin?” “

Benar, Tuan Guru,” sahut Upahata. “Babuji Warnasamkara itulah pemimpin kami. Jika beliau melarang kami melakukan segala sesuatu maka kami akan patuh.” “

Ketahuilah, o Saudaraku, Putera-Putera Kanbi,” kata Abdul Jalil, “bahwa Singa Allah, pemimpinmu yang teguh dan pemberani itu, telah jauh melompat ke tengah tambang jembatan kehidupannya. Warnasamkara Saswata (peraturan tentang perbedaan warna yang berlaku selama-lamanya), telah meninggalkan ujung tambang kehinaan dirinya. Dia telah menanggalkan kesadaran cacingnya. Dia telah menjadi seekor singa. Dia telah melampaui kemanusiaannya. Dia telah menjadi manusia beriman (mu’min).”

Upahata tercengang mendengar penuturan Abdul Jalil. Sambil berjalan merunduk dia mendekati Warnasamkara Saswata. Kemudian dengan suara terbata-bata dia bertanya, “Benarkah engkau telah meninggalkan negeri asalmu, o Babuji?” “

Upahata,” kata Warnasamkara Saswata tegas, “Aku tidak pernah meninggalkan negeri asalku. Aku hanya mengikuti naluriku untuk tumbuh dan berkembang sebagai pohon. Tanpa berani berkehendak untuk tumbuh, aku tetaplah menjadi butiran benih yang terbenam di dalam kegelapan tanah tanpa manfaat. Aku tidak akan menjadi sesuatu yang berarti bagi bumi.” “

Tapi Babuji?” “

Terang matahari dan luas kubah biru akan menguji kehendakku,” Sahut Warnasamkara Saswata. “Terang matahari dan luasnya kubah biru akan memberiku keleluasaan untuk mewujudkan diri menjadi diriku yang sebenarnya.” “

Babuji?” “

Aku ingin menjadi pohon berdaun rindang dan berbuah lebat,” sahut Warnasamkara Saswata, “yang daun-daunku bisa menaungi mereka yang kepanasan, yang buah-buahku memberikan kesegaran bagi yang memetiknya. Tidakkah engkau sekalian selama ini telah diharuskan menjadi cacing-cacing yang bertugas utama menggemburkan tanah? Cacing-cacing yang harus berkubang lumpur kehinaan, yang tempat tinggalnya di dalam kegelapan tanah?” “

Aku katakan kepada kalian semua, o Saudaraku, bahwa sekarang aku adalah penganut sang Avatar Agung, Muhammad al-Mushthafa Saw.. Sang Avatar yang mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, tidak dibedakan oleh warna kulit, keturunan, kekayaan, dan pangkat jabatan. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara manusia adalah yang paling dekat kedudukannya dengan Sang Pencipta. Karena aku telah menjadi pengikut sang Avatar Agung maka nama yang kupakai yang melambangkan perbedaan derajat manusia berdasar warna kulit telah kuhapus dan kuganti dengan nama baru Abdur Rahman, yang bermakna hamba Yang Mahakasih.” “

Karena itu, o Saudaraku, jika dengan keberanianku untuk mewujudkan kehendakku sebagai manusia paripurna ini kalian meninggalkanku maka tinggalkanlah aku. Sebab, telah jelas bagiku bahwa manusia yang berani menguji dirinya jauh lebih berharga daripada manusia yang berdiam diri menunggu keputusan nasib. Aku sudah bosan dengan larangan beribadah ke candi-candi bagi suku kita. Aku sudah bosan suku kita dihinakan dan dianggap cacing. Karena itu, aku akan berjuang menjadi sesuatu yang lebih berharga daripada cacing. Dan sungguh akan menjadi kegembiraan dan kebahagiaan bagiku jika kalian bersedia ikut meniti jembatan tambang kemanusiaan. Meninggalkan dunia cacing yang hitam pekat untuk menjadi manusia paripurna, yakni wakil Tuhan di muka bumi.” “

Kami setia mengikutimu, o Babuji,” seru orang-orang suku Kanbi sambil berlutut mengikrarkan kesetiaan diri di hadapan Warnasamkara Saswata.

Al-auliya’ – baik yang tergabung dalam Jama’ah Karamah al-Auliya’ atau tidak – adalah manusia-manusia yang diberi tugas (tawalla) oleh Allah untuk melindungi dan memberikan pertolongan pada agama Allah yang telah diturunkan melalui nabi dan rasul di masa silam. Sebab, nabi dan rasul telah diakhiri tugas-tugasnya oleh Muhammad al-Mushthafa Saw. (khatam al-anbiya’ wa ar-rasul). Al-auliya’ pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari al-Waly, yakni Asma Ilahi yang tidak disifatkan kepada nabi dan rasul sehingga karenanya nabi dan rasul memiliki akhir dalam menjalankan tugas. Sementara al-auliya’ sebagai pengejawantahan al-Waly tetap menjalankan tugas sebagai pelindung dan penolong agama Allah sepanjang zaman.

Tugas utama al-auliya’ sebagai pelindung dan penolong agama Allah itu baru disadari oleh Abdul Jalil ketika ia melakukan perjalanan dari Surat ke Goa, di mana ia berjumpa dengan tiga aulia yang berasal dari Andalusia. Yang pertama, Abdul Malik al-Isbiliy (Abdul Malik dari Sevilla) yang meninggalkan negeri kelahirannya untuk menetap di daerah Kandesh dan mengajarkan keahlian membuat alat-alat dari besi seperti cangkul, mata bajak, ladam kuda, pisau, parang, mata tombak, pedang, dan bahkan meriam.

Pertemuan Abdul Jalil dengan Abdul Malik al-Isbiliy terjadi di utara pasar Kandesh. Saat itu Abdul Malik al-Isbiliyah sedang membawa barang dagangannya di atas gerobak untuk dijual ke pasar. Melalui perjumpaan tak sengaja itulah Abdul Jalil mengetahui bahwa kepindahan Abdul Malik al-Isbiliy adalah atas petunjuk Misykat al-Marhum. Dan kepindahannya itu berkaitan dengan isyarat bakal tersingkirnya Islam dari bumi Andalusia (Spanyol).

Islam adalah agama Allah, demikian ungkap Abdul Malik al-Isbiliy. Karena itu, Islam tidak akan musnah dari muka bumi. “Jika Islam akan disingkirkan dari Andalusia maka Allah akan menumbuhkan Islam di tempat lain. Tugasku sama denganmu, yakni menaburkan benih-benih kebenaran Islam di tanah garapan baru yang masih liar dan penuh semak belukar.”

Aulia kedua yang dijumpai Abdul Jalil adalah Abdur Rahim al-Kadisy (Abdur Rahim dari Cadiz) yang meninggalkan negeri kelahirannya untuk menetap di Sibutu (Pulau Zulu, Filipina). Kepindahan Abdur Rahim al-Kadisy tidak berbeda dengan Abdul Malik al-Isbiliy, yakni atas petunjuk Misykat al-Marhum agar pergi meninggalkan Andalusia untuk menebarkan benih-benih baru Islam di tanah timur. “Aku ditunjuk oleh Misykat al-Marhum untuk menggantikan kedudukan Syarif Abdul Karim al-Makduny (Syarif Abdul Karim dari Macedonia) yang telah dipanggil-Nya.”

Aulia ketiga adalah Abdul Malik Israil al-Gharnatah (Abdul Malik Israil dari Granada), yang lahir di Granada, Andalusia. Berasal dari keluarga Yahudi dan memeluk Islam di bawah bimbingan Abdul Malik al-Isbiliy. Atas petunjuk gurunya, dia tinggalkan kota kelahirannya untuk menjadi darwis pengembara dan sempat tinggal setahun di Ismailiyah, Mesir.

Di sanalah, dia menikahi puteri Syaikh Abdul Hamid al-Mishri, seorang ulama di Ismailiyah. Beberapa pekan setelah kelahiran puteri pertamanya, dia mengembara ke timur hingga ke negeri Jawa. Ketika bertahun-tahun kemudian dia kembali ke Ismailiyah, puteri tunggalnya telah dinikahkan oleh sang kakek dengan Syarif Mahmud, putera Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri. Dengan demikian, Abdul Malik Israil al-Gharnatah adalah besan dari wali besar asal Ismailiyah, yaitu Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri. Dari perkawinan tersebut lahirlah dua putera; yang sulung bernama Syarif Hidayatullah dan yang kedua bernama Syarif Nurullah.

Abdul Malik Israil al-Gharnatah adalah kekasih Allah dari Bani Israil. Dia bukan anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’, namun Allah sangat mencintainya. Dia hidup menggelandang dari satu tempat ke tempat lain untuk menyampaikan kebenaran Islam. Menjelang usia tuanya dia mengajak cucu sulungnya, Syarif Hidayatullah, berkelana ke berbagai negeri. Hal itu dilakukan atas petunjuk besannya yang memintanya agar membawa Syarif Hidayatullah mengembara ke negeri timur.

Syarif Hidayatullah atau Syarif Hidayat saat itu baru berusia lima belas tahun. Namun, tempaan hidup yang diajarkan kakeknya, Wali besar Abdullah Kahfi al-Mishri, telah menjadikannya sebagai pemuda tangguh yang tak pernah mengeluh. Ketika diajak oleh kakeknya dari pihak ibu, Abdul Malik Israil al-Gharnatah, untuk mengembara ke timur dengan melintasi berbagai tantangan dan rintangan, dia sangat tabah dan sabar mengahadapi berbagai ujian berupa kekurangan makanan, cuaca ganas, orang-orang yang tidak ramah, bahkan penyakit.

Ketika bertemu dengan Abdul Jalil di pinggiran kota Satara, tepatnya di tepi sungai Krishna di sekitar pegunungan Ghats Barat, tiba-tiba saja ia menyerahkan cucunya. “Telah tiga bulan ini aku menunggu kehadiranmu di sini, o Tuan Abdul Jalil. Bimbing dan asuhlah cucuku sebagai puteramu sendiri. Ini sesuai pesan besanku.”

“Diakah cucu Yang Mulia Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri?” tanya Abdul Jalil sambil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayat.

“Dia juga cucuku,” Abdul Malik Israil tertawa, “karena ibunya adalah puteriku.”

“Ah, siapa namamu, Nak?” tanya Abdul Jalil.

“Nama saya Hidayatullah, Paman,” sahut Syarif Hidayat.

“Namanya memang Hidayatullah,” kata Abdul Malik Israil, “namun karena dia keturunan Imam Hasan bin Ali maka dia disebut orang Syarif Hidayatullah.”

Abdul Jalil tertawa mendengar penjelasan Abdul Malik Israil. Ia kemudian menjelaskan kepada Syarif Hidayat bahwa nama dan gelar adalah atribut-atribut belaka dari makna hakiki. Itu sebabnya, manusia hendaknya tidak terperangkap ke dalam sifat-sifat yang atributif. “Apalah artinya menggunakan nama Syarif jika perbuatan yang dilakukannya tidak berbeda dengan Fir’aun, Namrudz, Samiri, Qarun, Abu Jahal, Musailamah, atau Mu’awiyah,” kelakarnya.

“Saya mohon bimbingan dan petunjuk Paman.”

Abdul Jalil tertawa dan memberi isyarat kepad aAbdul Malik Israil bahwa ia menangkap pancaran nur al-auliya’ yang tersembunyi di relung-relung kedalaman jiwa Syarif Hidayat. Abdul Malik Israil mengangguk tanda setuju. “Sekarang aku serahkan dia kepada Tuan. Sebab, aku harus membantu tugas-tugas guruku, Yang Mulia Abdul Malik al-Isbiliy.”

“Namun, perjalananku masih jauh dan berat karena aku belum tahu dengan pasti di mana aku harus tinggal,” kata Abdul Jalil.

“Cucuku sudah kuajak mengembara selama tiga tahun. Dia terbiasa tidur di bawah langit dengan selimut kabut. Dia terbiasa digigit rasa dingin dan dibakar panas matahari gurun. Dia tidak pernah mengeluh ketika sakit. Dia sangat tabah dan sabar. Dan menyerahkan dia kepada engkau, o Kekasih Allah, tidak ada syak dan kekhawatiran lagi di dalam hatiku. Karena, kemana pun engkau mengajaknya pergi pastilah rahmat dan lindungan Allah senantiasa bersamamu,” Abdul Malik Israil tersenyum hangat.

“Apakah Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri menyampaikan pesan khusus untukku berkenaan dengan penyerahan cucunya ini kepadaku?” tanya Abdul Jalil.

“Dia hanya mengatakan bahwa Islam adalah agama Allah dan karenanya Islam akan dilindungi sendiri oleh Allah melalui wali-wali-Nya yang merupakan pengejawantahan dari al-Waly, nama-Nya,” Abdul Malik Israil menjelaskan. “Artinya, Islam tidak akan terhapus dari muka bumi. Jika Islam nanti terhapus dari bumi Andalusia, bukan berarti Islam akan punah. Sebaliknya, Islam tetap lestari dan hanya akan berpindah tempat belaka, yakni ke arah timur. Itu sebabnya, para aulia ditugaskan menyampaikan risalah kebenaran Islam kepada dunia timur yang masih dipenuhi tanah berbatu dan semak-semak berduri kejahilan.”

“Bawalah Hidayatullah, cucu kita, ke arah timur. Carilah dia yang terkasih, Abdul Jalil al-Jawy, yang akan mengolah lahan gersang menjadi persemaian subur bagi benih-benih Islam. Pasrahkan Hidayatullah kepadanya. Sebab, hanya melalui Abdul Jalil kita bisa ikut menebar benih-benih Islam melalui cucu kita, Hidayatullah. Dan semoga Hidayatullah bisa menjadi lantara bagi tercurahnya hidayah Allah di negeri timur. Itu saja pesan Abdullah Kahfi al-Mishri kepadaku.” Lanjut Abdul Malik Israil.

“Tuan Malik Israil,” tanya Abdul Jalil mengerutkan kening, “dari mana Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri mengetahui jika Islam akan dihapus dari tanah Andalusia? Bukankah Andalusia bukan wilayahnya?”

“Aku yang memberi tahu,” kata Abdul Malik Israil. “Aku sendiri diberi tahu oleh guruku, Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy. Dan Tuan pasti tahu, guruku diberi tahu oleh Yang Mulia Misykat al-Marhum.”

Abdul Jalil diam. Beberapa jenak kemudian ia menoleh dan menatap dalam-dalam Syarif Hidayat yang berdiri di sisinya. Setelah itu, ia dengan bahasa isyarat mengatakan kepada Abdul Malik Israil untuk menjelaskan kepada Syarif Hidayat tentang hakikat tersembunyi di balik akan dihapusnya Islam dari bumi Andalusia. Abdul Malik Israil mengangguk tanda setuju.

Dengan bersikap pura-pura tidak tahu tentang hakikat tersembunyi di balik terhapusnya Islam di Andalusia, Abdul Jalil bertanya kepada Abdul Malik Israil, “Pernahkah Tuan Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy menuturkan kenapa Islam akan dihapuskan dari bumi Andalusia? Pernahkah pula beliau menuturkan kenapa Islam harus disebarkan ke dunia timur, padahal di sana tak lama lagi bakal dipusakakan kepada Dajjal sang Penyesat?” “

Tidak,” sahut Abdul Malik Israil tegas. “Beliau tidak pernah menjelaskan ini dan itu tentang hal tersebut. Namun, beliau pernah bertanya kepadaku tentang nabi-nabi Bani Israil dan tentang nasib Bani Israil sendiri yang sering ditimpa malapetaka hingga terusir dari negerinya. Aku paham bahwa di balik pertanyaan itu sebenarnya beliau menyadari bahwa nasib umat Islam di Andalusia sudah mirip dengan Bani Israil.” “

Bisakah Tuan menceritakan tentang kisah-kisah Bani Israil sejak mereka memperoleh kemuliaan dari Allah hingga mereka dihukum dan dihalau dari negeri kelahiran?” pinta Abdul Jalil.

Persoalan Bani Israil dengan Allah pada dasarnya adalah cermin hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Itu sebabnya, inti dan hakikat persoalannya hanya mencakup tiga hal utama. Pertama, sejak manusia pertama dicipta (Adam) sudah diadakan perjanjian antara manusia dan Sang Pencipta (Hosyea 6:7) di mana manusia harus patuh dan taat kepada perintah Sang Pencipta (Beresyit 2:16-17). Namun, manusia pertama, leluhur kita Adam, justru telah melanggar perintah-Nya sehingga dijatuhi hukuman menanggung derita di muka bumi (Beresyit 3:6-19). Kecenderungan manusia keturunan Adam mengingkari perjanjian yang dibuat dengan Sang Pencipta selalu terjadi setiap kurun zaman dan selalu mendatangkan hukuman.

Pada zaman Nuh, hukuman Allah ditimpakan kepada manusia keturunan Adam yang cenderung melakukan kejahatan (Beresyit 6:5) dengan azab berupa air bah yang membinasakan manusia, kecuali Nuh (Beresyit 7:10-23). Perjanjian antara Allah dengan Nuh pun dibuat (Beresyit 9:8-17). Namun, manusia durhaka lagi kepada Allah. Kemudian dihukum lagi di zaman Nabi Shalih, Ibrahim, Luth, dan Syuaib. Allah pun membuat perjanjian dengan Ibrahim dengan tanda khitan (Beresyit 17:9-14). Allah juga membuat perjanjian dengan Musa (Eleh Syemot 19:4-6). Dari berbagai perjanjian yang dibuat antara Allah dan manusia, intinya adalah satu: “Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka!” (Beresyit 17:7; Eleh Haddebarim 4:20; Yirmeyahu 24:7).

Kedua, Allah memberikan karunia kemuliaan, kebebasan, keadilan, kemakmuran, keselamatan, dan bahkan kekuasaan kepada manusia-manusia yang setia memegang perjanjian dengan-Nya. Kemuliaan dan kekuasaan diberikan Allah kepada Daud a.s., di mana karunia itu dalam perjanjian diperuntukkan bagi Daud beserta keturunannya (2 Syemuel 7:8-14; Tehillim 89:4-5). Kemuliaan dan kekuasaan Daud berpuncak pada masa puteranya, yakni Sulaiman. Itulah masa puncak dari manusia beriman yang bisa selaras membangun peradaban dunia dengan tetap memegang teguh perjanjian dengan Allah.

Ketiga, kehidupan dunia adalah kehidupan nisbi yang tidak kekal abadi. Maksudnya, segala sesuatu yang berlangsung di dunia tidak pernah langgeng. Itu sebabnya, perjanjian Allah dan Daud pun bisa gugur. Tidak abadi. Ini terlihat saat Sulaiman usai memerintah maka kekuasaan Bani Israil pun pecah menjadi dua. Seluruh keturunan Daud tidak ada lagi yang dianugerahi kemuliaan dan kekuasaan. Itu sebabnya, perjanjian dibatalkan Allah. Keturunan Daud dicopot dari kekuasaan (pecah menjadi dua. Seluruh keturunan Daud tidak ada lagi yang dianugerahi kemuliaan dan kekuasaan. Itu sebabnya, perjanjian dibatalkan Allah. Keturunan Daud dicopot dari kekuasaan (Yirmeyahu 22-23). “

Apa saja yang sebenarnya yang sudah dilakukan keturunan Daud sehingga mereka dilepas dari perjanjian Allah? Bisakah Tuan menguraikan kisah mereka?” pinta Abdul Jalil. “

Sebenarnya segala kemuliaan, kebebasan, kemakmuran, keadilan, keselamatan, dan kekuasaan yang dikaruniakan Allah kepada manusia-manusia yang patuh dan setia pada perjanjian suci dengan Allah adalah ujian belaka. Apakah dengan karunia itu manusia tetap setia kepada Dia ataukah manusia melupakan Dia karena sibuk menikmati karunia yang telah diberikan-Nya. Hanya Tuhan yang memiliki kewenangan meneruskan atau membatalkan perjanjian.” “

Persoalan yang dihadapi Bani Israil dalam kaitan dengan murka Allah beserta hukuman-Nya dapat dikata hampir sama dari waktu ke waktu, yakni sekitar penyakit jiwa mencintai karunia-karunia pemberian-Nya secara berlebihan. Mereka bukan saja telah mendewakan diri karena leluhurnya telah beroleh janji dari Allah, melainkan mengagungkan kekuasaan, menikmati kemakmuran secara zalim, menjadikan lembaga agama sebagai alat pembenar diri, mempermainkan hukum dan keadilan, mengabaikan hak-hak anak yatim dan janda serta orang-orang miskin, memuja kesyahwatan, dan yang paling keji adalah memberhalakan Allah dalam wujud lembaga agama yang disesuaikan dengan nafsu serta akal pikiran mereka,” papar Abdul Malik Israil. “

Bukankah perilaku itu merupakan kecenderungan seluruh umat manusia, bukan semata-mata Bani Israil?” tanya Abdul Jalil. “

Memang demikianlah adanya,” kata Abdul Malik Israil, “namun Bani Israillah yang mencatat peristiwa-peristiwa celaka itu di dalam kitab sucinya secara rinci lewat kisah nabi-nabinya. Merekalah yang dengan cermat mencatat bagaimana murka Allah ditimpakan atas mereka karena kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan, yakni melanggar perjanjian yang sudah ditetapkan dengan Allah. Dan kesalahan-kesalahan itu diabadikan di dalam kitab suci dan sahifah yang berisi catatan nubuat, yang disampaikan para nabi mereka dari zaman ke zaman.” “

Pada masa Nabi Yesaya a.s., misalnya, Allah sudah mengingatkan para pendusta agama yang berbuat jahat, kejam, kikir, tidak membela hak anak yatim, tidak memperjuangkan hak janda-janda, dan lalai dalam beribadah: ‘Untuk apa korbanmu yang banyak itu? Aku sudah jemu dengan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu, domba, dan kambing jantan pun tidak Aku sukai. Apabila engkau datang untuk menghadap ke hadirat-Ku, jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh-sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku.” “

Jika engaku merayakan bulan baru, sabat, atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Aku benci melihat perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap. Karena itu, jika engkau menadahkan tanganmu untuk berdoa maka Aku akan memalingkan wajah-Ku. Bahkan sekalipun engkau berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah! Bersihkanlah dirimu! Jauhkanlah perbuatan-perbuatan jahatmu dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat! Belajarlah berbuat baik! Usahakanlah keadilan! Kendalikanlah orang kejam! Belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yesyayahu 1: 11-17).” “

Bukankah nubuat Nabi Yesaya itu yang dimaktubkan secara singkat dalam Surat al-Ma’un? Dan bukankah Bani Israil menolak seruan itu?” kata Abdul Jalil. “

Pada masa Nabi Yermia pun seruan yang sama disampaikan kepada Bani Israil di Baitullah. Seruan itu berbunyi: ‘Perbaikilah tingkah laku dan perbuatanmu agar Aku berkenan diam bersamamu di tempat ini. Jangan percaya pada perkataan dusta yang berbunyi: Ini Baitullah! Ini Baitullah! Baitullah! Jika engkau sungguh-sungguh memperbaiki tingkah laku dan perbuatanmu, jika engkau sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kalian, tidak menindas orang asing, anak yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah, dan tidak mengikuti Ilah lain yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku berkenan diam bersama-sama engkau di tempat ini, di tanah yang telah Aku berikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya. Namun, sesungguhnya engkau lebih percaya pada perkataan dusta yang tidak memberi manfaat. Bagaimana mungkin engkau mencuri, membunuh, berzina, bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal, dan mengikuti ilah lain yang tidak engkau kenal, kemudian engkau datang berdiri di hadapan-Ku, pada bait yang di atasnya nama-Ku diserukan, sambil engkau berkata, “Kita selamat supaya dapat melakukan segala perbuatan yang keji ini!” Sudahkah bait yang di atasnya nama-Ku diserukan ini menjadi sarang penyamun di matamu? (Yirmeyahu 7: 3-11).”

Tidak berbeda dengan yang telah dialami Nabi Yesaya, firman Allah yang disampaikan Nabi Yermia pun diabaikan. Bahkan orang-orang fasik di antara penduduk kota Anatot merencanakan akan membunuh Yermia bin Hilkia. Dengan suara kasar mereka mengancam Yermia, “Janganlah engkau bernubuat demi nama Allah supaya engkau tidak mati oleh tangan kami!” Namun, Allah menghukum mereka dengan firman yang berbunyi: “Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan, tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka. Sebab, Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka (Allah menghukum mereka dengan firman yang berbunyi: “Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan, tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka. Sebab, Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka (Yirmeyahu 11: 21-23).

Tantangan yang paling berat dihadapi Yermia justru datang dari kalangan imam Bani Israil yang tidak mempercayai firman Allah yang disampaikan kepadanya. Tersebutlah imam bernama Pasyhur bin Imer yang memukuli Yermia dan memasungnya di gerbang Benyamin di Baitullah. Kemudian turunlah firman Allah yang mengutuk Pasyhur beserta kawan-kawannya dengan ancaman akan diserahkan kepada raja Babylonia untuk ditawan dan dibuang ke sana. Tidak hanya mereka yang beroleh kutukan, bahkan raja-raja Yehuda pun akan turut diserahkan kepada raja Babylonia yang akan menawan, menjarah kekayaan, dan membuang mereka (Yirmeyahu 20: 2-6).

Firman Allah yang disampaikan Yermia tentang raja Babylonia yang bakal menghancurkan raja-raja Yehuda sangat menggemparkan dan membuat marah mereka yang tidak percaya. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa keberadaan mereka sebagai Bani Israil yang dicintai Allah bakal dikalahkan raja kafir Babylonia. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa kemuliaan mereka sebagai Bani Israil akan dihinakan oleh bangsa tak bersunat.

Karunia Allah yang diberikan kepada Bani Israil ternyata telah membuat mereka buta terhadap makna kebenaran sejati Ilahi. Lantaran mereka mencintai karunia itu maka mereka menolak tegas kehadiran Yermia sebagai utusan Allah. Tidak cukup menantang Yermia, para pembesar kerajaan dan imam Bani Israil memunculkan seorang nabi palsu bernama Hananya bin Azur. Dia membuat nubuat-nubuat palsu yang bertentangan dengan nubuat yang disampaikan Yermia. Demikianlah, nubuat yang disampaikan Hananya bin Azur semata-mata untuk memenuhi hasrat dan nafsu Bani Israil belaka. Namun, ketika Yermia menantang mubahalah maka matilah Hananya bin Azur sebagai bukti bahwa dia hanyalah nabi palsu.

Firman Allah yang disampaikan kepada manusia sering kali dianggap aneh dan tidak dipahami karena firman-firman itu cenderung berisi kenyataan pahit dan tidak menyenangkan. Hal itu terlihat saat Yermia harus menyampaikan firman Allah yang memperingatkan penduduk Yerusalem agar keluar dari kota yang akan direbut oleh Nebukadnezar, raja Babylonia. Para pejabat kerajaan, imam, dan pemuka Bani Israil marah dan menganggap Yermia sebagai pengkhianat. Mereka beramai-ramai memohon kepada raja Yehuda, Zedekia bin Yosia, agar Yermia dibunuh saja. Raja Zedekia yang penakut dan tak berdaya menghadapi mereka kemudian menyerahkan Yermia. Lalu dimasukkanlah Yermia ke dalam perigi tak berair agar mati kelaparan. Namun, Allah menolongnya melalui tangan seorang Ethiopia bernama Ebed-Melekh. Yermia berhasil diselamatkan.

Setelah keluar dari perigi tak berair, Yermia memperingatkan raja Zedekia agar menyerahkan diri kepada para perwira Babylonia demi keselamatan dirinya dan kota Yerusalem beserta isinya. Yermia menyatakan bahwa apa yang disampaikannya adalah firman Allah. Zedekia harus menerima firman itu, meski pahit. Namun, kekecutan hati raja Zedekia terhadap para imam dan perwira Yehuda telah menjadikannya mengabaikan peringatan Yermia.

Apa yang disampaikan Yermia ternyata terbukti. Hukuman Allah dijatuhkan atas raja keturunan Daud yang mengabaikan firman-Nya itu. Dan hukuman Allah benar-benar dilaksanakan oleh raja Babylonia, Nebukadnezar. Pasukan Babylonia di bawah pimpinan Nergal-Sarezer dan Nebusyazban serta perwira lain berhasil menjebol gerbang Yerusalem. Zedekia bin Yosia beserta semua tentara yang tidak percaya dengan nubuat Yermia ketakutan dan lari tunggang-langgang menuju Araba-Yordan. Namun, mereka berhasil ditangkap oleh pasukan Babylonia di Yerikho. Mereka dibawa ke Ribla yang terletak di tanah Hamat, tempat Nebukadnezar beserta pasukannya berkemah.

Hukuman pedih pun dijatuhkan kepada Zedekia bin Yosia. Hukuman itu tak terbayangkan sebelumnya, yakni perintah menyembelih anak-anak Zedekia juga semua pembesar Yehuda di depan matanya. Tidak cukup sampai di situ, mata Zedekia dibutakan, tangan serta kakinya dibelenggu dengan rantai tembaga, dan dia digiring ke Babylonia sebagai tawanan. Istana raja dan rumah-rumah rakyat dibakar. Tembok-tembok Yerusalem dirobohkan. Sisa-sisa penduduk Yerusalem serta pejabat Zedekia digiring sebagai tawanan (Yirmeyahu 39: 1-9).”

Abdul Jalil menarik napas berat mendengarkan kisah dramatis yang dialami Bani Israil pada masa Nabi Yermia. Kemudian dengan suara lembut ia berkata kepada Syarif Hidayat, “Itulah kisah keturunan Daud yang telah melanggar perjanjian leluhurnya dengan Allah. Mereka meninggalkan keteladanan leluhurnya dan akhirnya menerima hukuman pedih dari Allah.” “

Karena itu, o cucuku,” seru Abdul Malik Israil, “jangan sekali-kali engkau meninggalkan keteladanan yang telah diwariskan oleh leluhurmu, Muhammad Saw.. Karena, sesungguhnya kecintaan Allah kepada hamba-Nya bukanlah disebabkan oleh garis keturunan atau kebangsaan. Namun, mereka yang setia meneladani kehidupan yang dicontohkan nabi-nabi yang tercitra pada diri Muhammad Saw. Itulah yang paling dicintai-Nya.” “

Saya akan selalu ingat pesan Kakek,” sahut Syarif Hidayat takzim. “

Itu artinya,” sela Abdul Jalil, “sebagai seorang syarif keturunan Imam Hasan bin Ali r.a., beban yang engkau pikul sangat berat. Engkau harus mampu mewujudkan keteladanan yang diwariskan leluhurmu. Janganlah kisah keturunan Daud terulang kepadamu dan kepada keturunanmu. Ingat-ingatlah itu.” “

Saya akan selalu ingat pesan Paman,” sahut Syarif Hidayat takzim.

Abdul Jalil tersenyum. Namun, sejenak kemudian ia bertanya kepada Abdul Malik Israil, “Apakah yang dialami umat Islam di Andalusia juga seperti yang dialami Bani Israil pada masa Nabi Yermia?” “

Islam adalah ikatan perjanjian antara manusia dan Sang Pencipta, sebagai kelanjutan perjanjian-perjanjian sebelumnya. Manusia yang mengikatkan diri di dalamnya harus mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan, baik yang bersifat hablun min an-nas maupun hablun min Allah, yakni tatanan kehidupan yang sudah disampaikan oleh barisan nabi-nabi sejak Adam hingga Muhammad.” “

Itu sebabnya, bagi para pengikut Muhammad Saw. Diwajibkan meneladani perikehidupan Muhammad Saw. Yang merupakan citra seluruh nabi dan rasul. Artinya, citra keteladanan yang diwariskan Muhammad Saw. Adalah kecintaan kepada Sang Pencipta yang melebihi segala-galanya, hidup zuhud, tidak makan jika tidak lapar, jika makan pun tidak sampai kenyang, tawakal, sabar, tawadhu’, qana’ah, kuat beribadah, selalu rindu untuk mati, sehingga saat wafat tidak ada yang ditinggalkan kecuali selembar tikar, sebatang busur, dan jubah. Muhammad Saw. Dan keempat khalifah penggantinya tidak membangun istana dan gedung megah, padahal mereka menguasai baitul mal.”

“Sementara itu, apa yang sudah berlaku atas umat Islam di Andalusia? Mereka sudah sampai pada puncak perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan yang membawa sebagian besar dari mereka terjebak ke dalam perangkap kesibukan yang berlebihan dalam mencintai karunia Allah. Mereka telah benar-benar sibuk mengurusi karunia sehingga melupakan Sang Pemberi Karunia. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak di antara mereka yang kelihatan tekun menjalankan ibadah, namun hati mereka kering dan tertutup dari cahaya kebenaran Ilahi.”

“Istana agung, bangunan indah, masjid menakjubkan, lembaga pendidikan yang maju telah mereka dirikan dengan kebanggaan sebagai umat berperadaban tinggi. Namun, kecintaan mereka terhadap kebendaan dan pamrih duniawi pun meningkat. Mereka mengedepankan akal dan pikiran sebagai panglima. Mereka mendewakan lembaga agama dan menjadikannya sebagai alat untuk mensahkan kepentingan-kepentingan pribadi. Mereka bahkan membangun surga beserta keindahannya di dunia. Mereka lupa bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.”

“Pendek kata, menurut hematku, kehidupan umat Islam di Andalusia laksana tinggal di surga dunia yang gemerlapan. Mereka tidak lagi menunjukkan citra kehidupan yang diteladankan Muhammad Saw. Dan keempat khalifah penggantinya yang mencintai Allah di atas segala-galanya,” ujar Abdul Malik Israil menegaskan.

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia kemudian menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayat sambil berkata, “Camkanlah, o Hidayat, Anakku, intisari dari kisah yang dituturkan oleh kakekmu. Betapa segala sesuatu selain Allah itu pada hakikatnya terbatas dan bersifat sementara. Kebebasan, kemakmuran, keadilan, kemuliaan, kekuasaan, dan bahkan keselamatan yang dikaruniakan Allah kepada manusia semata-mata ujian. Jangan sampai ujian itu memalingkan kita dari Sang Pemberi Karunia. Teladanilah Muhammad al-Mushthafa Saw. Yang seluruh hidupnya diabdikan untuk melayani Allah dan mengajak manusia untuk melayani Allah. Ingatlah selalu keteladanan Muhammad Saw. Yang ketika lahir ke dunia telanjang dibungkus selembar selimut dan ketika wafat pun telanjang dibungkus selembar kain kafan. Tidak ada mahkota. Tidak ada istana. Tidak ada bangunan megah. Tidak ada sesuatu pun yang ditinggalkannya kecuali Kitab Allah dan keteladanan agung seorang adimanusia yang sempurna.”

“Saya akan selalu ingat fatwa Paman,” kata Syarif Hidayat. “

Namun, engkau harus ingat, o Cucuku,” Abdul Malik Israil menyela, “bahwa perjanjian Islam yang dilakukan Muhammad Saw. Dengan Allah adalah perjanjian baru. Meskipun hakikatnya sama dengan perjanjian yang dibuat oleh Adam, Nuh, Ibrahim, dan Daud, cakupan perjanjian antara Muhammad Saw. Dan Allah bersifat anugerah, bukan kesepakatan.” “

Saya belum paham, Kakek,” Syarif Hidayat minta penjelasan. “Apakah yang Kakek maksudkan dengan bersifat anugerah dan bukan kesepakatan?” “

Karena perjanjian antara Allah dan Bani Israil telah dilanggar maka Allah mengadakan Perjanjian Baru (Ibrani: Berith Hadasya) dengan keluarga Israel dan keluarga Yehuda (Ibrani: Bait Yisrael we Bait Yehuda), bukan seperti perjanjian terdahulu yang telah diingkari oleh Israel dan Yehuda. Dalam perjanjian baru itu Allah akan menaruh Taurat di dalam batin dan menuliskannya di dalam hati pemegang perjanjian baru, di mana Allah akan menjadi Tuhan mereka dan mereka menjadi umat Allah (we hayu li le am wa ani eheye lahem lelohim, Yirmeyahu 31: 31-33). Perjanjian Baru itulah yang disebut Perjanjian Salam (Ibrani:Berith Syalom; Berith Olam) sebagaimana disampaikan Nabi Yehezkiel a.s. (Yekhezqel 34: 25; 37: 26-27).” “

Jika perjanjian-perjanjian (berith) sebelumnya bersifat kesepakatan (Ibrani: karat-et) antara Allah sebagai Sang Pencipta Yang Mahakuat dan manusia yang lemah, maka Perjanjian Salam bersifat anugerah (Ibrani: karat-le). Artinya, Perjanjian Salam bersifat sukarela. Tidak ada paksaan. Lantaran itu, prinsip dasar di dalam Islam adalah: Tidak ada paksaan dalam agama (QS al-Baqarah: 256). Karena itu, kita umat Islam, sebagaimana Rasulallah, hanya diperintahkan untuk berseru menyampaikan kepada manusia untuk menuju ke jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan jika berbantahan pun dengan cara yang baik pula. Karena, hanya Allah yang tahu siapa manusia-manusia sesat dan siapa manusia-manusia yang beroleh petunjuk (QS an-Nahl: 125),” kata Abdul Malik Israil. “

Dengan Perjanjian Baru yang disebut Perjanjian Salam itu,” sahut Abdul Jalil sambil memandang Syarif Hidayat, “berarti seluruh umat manusia yang memegang Perjanjian Salam adalah sederajat. Maksudnya, kecintaan Allah terhadap manusia-manusia pemegang Perjanjian Salam tidak dibatasi lagi oleh keisrailan, keyahudian, kearaban, atau berdasar keturunan dan warna kulit; tetapi semata karena ketakwaan. Tegasnya lagi, kekasih Allah yang sangat dicintai oleh-Nya bisa berkulit merah, putih, kuning, coklat, dan bahkan hitam sekalipun. Tidak ada monopoli-monopolian keunggulan manusia berdasar warna kulit dan azas keturunan, apalagi berdasar kekayaan bendawi.” “

Muhammad al-Mushthafa Saw. Telah mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi Islam bukan karena warna kulit, keturunan, dan kekayaan, melainkan karena semata-mata memang sudah dikehendaki Allah. Tidakkah engkau ingat kisah paman Muhammad Saw. Yang juga leluhur kita, Abu Thalib, yang sangat beliau cintai? Allah menentukan bahwa Abu Thalib tidak diberi hidayah-Nya menjadi pemegang Perjanjian Salam. Sementara budak hitam bernama Bilal bin Rabah justru dianugerahi kemuliaan dengan dilimpahi cahaya hidayah oleh Allah sehingga menjadi muadzin Muhammad al-Mushthafa Saw.. Dan jika kita diminta untuk menjawab dengan jujur, manakah yang lebih mulia di hadapan Allah antara Bilal bin Rabah yang berkulit hitam dan leluhur kita Abu Thalib. Tentu kita harus mengatakan bahwa Bilal bin Rabah adalah yang lebih mulia.” “

Namun, yang paling penting, Cucuku,” sahut Abdul Malik Israil, “rahasiakanlah segala apa yang telah aku uraikan ini kepada mereka yang tidak berhak mengetahuinya karena ini adalah rahasia-Nya.” “

Kakek,” kata Syarif Hidayat meminta penegasan, “kenapa Bani Israil menolak kerasulan Rasulallah Saw.? Bukankah telah jelas bagi mereka mana yang haqq dan mana yang batil?” “

Itu semua adalah kehendak-Nya juga, Cucuku.” Kata Abdul Malik Israil. “Dengan dilahirkannya Perjanjian Salam bukan berarti seluruh umat manusia di dunia harus menjadi pemegang perjanjian itu. Karena, keagungan dan kemuliaan Allah justru akan engkau dapati di atas semua keanekaragaman. Dengan demikian, adanya agama Islam, Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, dan berbagai kepercayaan, pada hakikatnya adalah kehendak-nya semata. Dan karena itu, engkau harus memiliki pandangan yang luas bahwa semua agama adalah baik bagi pengikut-pengikutnya masing-masing. Sebab, orang menjadi Muslim, Nasrani, Majusi, Yahudi, Hindu, atau Budha pada hakikatnya bukanlah atas kemauannya sendiri, melainkan karena memang telah ditentukan oleh-Nya.”

Pacific Ocean, North East Taiwan, February, 3rd 2007, 7:45PM

6. Tarekat al-Akmaliyyah

Menjelang perempat akhir abad ke-15, kawasan pantai barat Hindustan berada di bawah pemerintahan kaum Muslim dari dinasti Bahmani. Namun, kerajaan yang sudah tegak hampir satu setengah abad itu mulai terancam perpecahan. Raja-raja kecil yang semula tunduk di bawah kekuasaan dinasti Bahmani mulai menunjukkan gejala melepaskan diri dari kekuasaan pusat. Di antara raja-raja kecil yang makin lama makin kuat kedudukannya adalah raja Bijapur. Dan cepat atau lambat, kekuasaan raja Bijapur akan dapat menggantikan kekuasaan dinasti Bahmani.

Di bawah kekuasaan dinasti Bahmani, dakwah Islam dilakukan orang dengan sangat bebas. Para penduduk pantai barat Hindustan banyak yang memeluk Islam atas kesadaran sendiri karena mereka melihat keteladanan-keteladanan hidup orang-orang Muslim. Para penduduk Muslim menunjukkan toleransi yang sangat tinggi. Itu sebabnya, di Bijapur dan sekitarnya pemeluk Hindu masih cukup besar.

Ketika Abdul Jalil dan Syarif Hidayatullah meninggalkan kota Satara menuju Goa dengan melewati Belgaum, mereka menyaksikan pemukim-pemukim keturunan Arab-Hindustan yang memeluk agama Islam hidup di pinggiran kota-kota. Bahkan hampir separo penduduk kota Belgaum adalah para pemukim keturunan Arab-Hindustan. Sedangkan pemukim-pemukim di kawasan pedesaan umumnya beragama Hindu, utamanya dari kalangan berkasta rendah yang hidup sengsara dan menderita.

Abdul Malik Israil yang memberi petunjuk agar Abdul Jalil berangkat ke negeri Jawa melalui pelabuhan Goa, telah berangkat lebih dulu ke kota pelabuhan tersebut. Dia berjanji akan menemui mereka di pinggiran kota Goa dari arah Belgaum setelah menemui beberapa orang kenalannya di kota tersebut.

Sementara itu, begitu tiba di Belgaum, tanpa istirahat untuk makan atau melepas lelah, Abdul Jalil langsung mengajak Syarif Hidayat shalat di sebuah masjid yang dibangun oleh para mualaf di bawah bimbingan Sayyid Makhdum Gisudaraz, seorang kekasih Allah yang berasal dari Gulbarga. Syarif Hidayat yang patuh dan tabah tanpa mengeluh sedikit pun mengikuti Abdul Jalil, meski tubuhnya terasa sangat letih.

Usai shalat, secara sepintas Abdul Jalil menuturkan betapa berat dan susah payahnya para mualaf membangun masjid tersebut. “Bayangkan, untuk makan saja mereka sudah kekurangan. Namun, semangat mereka membangun rumah Allah telah mengalahkan segala keterbatasan mereka. Itulah jihat besar yang telah mereka lakukan, yaitu menaklukkan kepentingan pribadi demi kemenangan mengabdi kepada-Nya,” ujar Abdul Jalil.

“Bagaimana Paman bisa tahu masjid ini dibangun oleh para pengikut Sayyid Makhdum Gisudaraz dengan susah payah?” tanya Syarif Hidayat heran. “Bukankah tadi Paman mengatakan baru sekali ini ke Belgaum.”

“Di pintu masuk kota tadi,” kata Abdul Jalil tenang, “Sayyid Makhdum Gisudaraz menjemputku dan memintaku shalat di masjid yang dibangun oleh para pengikutnya. Dia memintaku berdoa bagi keberkahan warga Belgaum dan keturunan mereka agar tetap diberikan cahaya kebenaran hidayah oleh-Nya.”

“Tapi Paman,” sahut Syarif Hidayat heran, “bukankah sejak tadi Paman bersama saya? Bukankah kita tidak bertemu siapa-siapa?”

“Sayyid Makhdum Gisudaraz memang sudah wafat lima puluh tahun silam,” Abdul Jalil menjelaskan, “karena itu engkau tidak bisa menyaksikan kehadirannya. Namun, suatu saat nanti jika engkau setia mengikuti jalan-Nya dan tetap istiqamah mengarahkan kiblat hati dan pikiranmu hanya kepada-Nya, maka engkau akan dikaruniai pengetahuan yang tak dimiliki manusia seumumnya.”

Syarif Hidayat diam. Ada semacam kebanggaan merayap di hatinya. Rupanya, cerita kakeknya tentang seorang kekasih Allah yang bakal diikutinya telah terbukti. Itu sebabnya, dia bangga dan bahagia karena telah mengenal kekasih Allah yang menurutnya memiliki berbagai karomah menakjubkan.

Abdul Jalil yang melihat Syarif Hidayat terdiam kemudian berkata, “Namun, hendaknya engkau ingat bahwa pengetahuan yang dikaruniakan oleh Allah itu bukanlah tujuan utama. Sebab, jika engkau setia mengikuti jalan-Nya dan istiqamah mengarahkan kiblat hati dan pikiranmu hanya kepada-Nya, semata-mata ingin memperoleh karomah atau ingin menjadi seorang aulia, maka tidak akan pernah kesampaian apa yang engkau harapkan itu. Sebab, kesetiaan pada jalan-Nya dan keistiqamahan mengarahkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada-Nya pada hakikatnya adalah semata-mata untuk-Nya. Tidak ada pamrih. Tidak ada harapan di baliknya.”

“Saya akan selalu ingat petunjuk Paman,” kata Syarif Hidayat takjub karena Abdul Jalil seolah-olah dapat membaca apa yang terlintas di hati dan pikirannya.

“Jika engkau kagum kepada seseorang yang engkau anggap Wali Allah, kekasih Allah,” kata Abdul Jalil menegaskan, “maka janganlah engkau terpancang pada kekaguman akan sosok dan perilaku yang diperbuatnya. Sebab, saat seseorang berada pada tahap kewalian maka keberadaan dirinya sebagai manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al-Waly.”

“Paman,” kata Syarif Hidayat menukas, “kakek pernah mengungkapkan sebuah hadits Qudsi yang isinya menegaskan bahwa jika Allah sudah mencintai hamba-Nya maka Dia akan menjadi ucapannya ketika hamba itu berkata-kata. Allah akan menjadi penglihatannya ketika hamba itu melihat. Allah menjadi pendengarannya ketika hamba itu mendengar. Allah menjadi tangannya ketika hamba itu memukul. Dan Allah menjadi kakinya ketika hamba itu berjalan. Sekarang saya menjadi paham, Paman.”

“Tapi, jangan keliru menafsirkan bahwa Allah meraga jiwa ke dalam tubuh sang wali. Sama sekali bukan seperti itu. Justru saat seperti itu sang wali telah kehilangan kesadaran diri dan tenggelam ke dalam al-Waly,” ujar Abdul Jalil.

“Berarti kewalian tidak bersifat terus-menerus, Paman?”

“Kewalian bersifat terus-menerus, o Anakku,” kata Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayat. “Hanya saja saat sang wali tenggelam ke dalam al-Waly, berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan saat tenggelam ke dalam al-Waly itulah sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al-Waly. Lantaran itu, sang wali memiliki kekeramatan yang tak bisa diukur dengan akal pikiran manusia, di mana karomah itu sendiri pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari kekuasaan al-Waly. Dan lantaran itu pula yang dinamakan karomah adalah sesuatu di luar kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya. Mutlak.”

Syarif Hidayat termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Dia benar-benar merasa sangat beruntung telah mengenal dan bahkan dibimbing oleh seorang kekasih Allah. Namun, saat kebanggaan dan kebahagiaan menguasai dirinya, tiba-tiba Abdul Jalil berkata, “Kekasih Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejauhan, kelihatan sekali terangnya. Namun, jika cahaya itu diletakkan ke mata kita akan silau dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu ke mata maka kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya.”

“Apakah maksudnya, Paman?” tanya Syarif Hidayat heran.

“Engkau bisa melihat cahaya kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu. Namun, engkau tidak bisa melihat cahaya kewalian yang memancar dari diri kakekmu, Abdul Malik Israil dan Abdullah Kahfi al-Mishri.”

“Kakek-kakek saya itu aulia?” seru Syarif Hidayat terkejut luar biasa.

Abdul Jalil tertawa dan tidak menjawab. Namun, sejenak sesudah itu ia berkata dengan nada dingin, “Dengan mengetahui kewalian kakek, ayah, saudara, atau leluhur hendaknya tidak menjadikan seseorang menjadi bangga apalagi takabur. Sebab, anugerah kewalian bukanlah jabatan yang bisa diwariskan turun-temurun. Allah memilih wali-Nya sesuai kehendak-Nya. Dan hal itu tidak ditentukan oleh nasab, warna kulit, dan bahasa.”

“Saya paham, Paman,” kata Syarif Hidayat, “Karena itu saya mohon agar paman tidak bosan membimbing saya.”

Setelah tinggal selama tiga hari di Belgaum, Abdul Jalil dan Syarif Hidayat melanjutkan perjalanan ke barat, menuju bandar Goa. Sepanjang perjalanan itulah mereka menyaksikan kehidupan orang-orang dari kasta rendah yang dililit kesengsaraan dan kehinaan. Panasnya matahari dan semburan debu yang meliputi permukaan bumi yang kering menghamparkan pemandangan menyedihkan tentang anak-anak manusia yang hidup sengsara tanpa harapan.

Setelah berjalan di tengah sengatan terik matahari dan tiupan angin kering, mereka berteduh di bawah pohon Tintira (asam) yang tumbuh di tepi jalan. Saat itulah Abdul Jalil berkenalan dengan mubalig asal Gujarat bernama Fadillah Ahmad. Fadillah Ahmad menuturkan bahwa dia telah menjalankan dakwah Islam di daerah itu, terutama di kalangan masyarakat berkasta rendah. Sebagian di antara dakwahnya disambut baik, namun bagian terbesar masyarakat berkasta rendah itu masih melihatnya dengan sebelah mata. “Mereka seolah-olah sudah putus asa dengan keberadaannya sebagai bagian paling nista dari kehidupan masyarakat. Mereka seolah-olah yakin bahwa kehinaan yang mereka alami itu memang sudah kehendak Dewata,” ujar Fadillah Ahmad. “

Tuan jangan mundur menghadapi mereka,” sahut Abdul Jalil, “sebab Tuan bukanlah orang yang bertugas mengislamkan manusia. Tuan sekedar menyampaikan. Ingatlah: Tuan hanya menyampaikan kebenaran Islam! Tidak lebih! Karena itu, jika Tuan belum berhasil dengan tugas Tuan maka hendaknya Tuan mengubah cara penyampaian yang sesuai dengan pemahaman mereka.”

“Tapi, cara bagaimana lagi saya harus manyampaikan kepada manusia-manusia yang sesatnya melebihi hewan. Saya katakan hewan karena mereka adalah manusia-manusia yang membolehkan perempuan bersuami sampai sepuluh orang. Mereka adalah manusia-manusia yang pada saat paceklik selalu menjual anak-anaknya untuk dijadikan budak. Mereka adalah manusia-manusia yang menyukai kenajisan dan pemuja berhala!” sergah Fadillah Ahmad berapi-api.

“Tuan hendaknya tetap sabar dan jangan sekali-kali menilai keberadaan mereka dari pandangan Tuan sendiri. Sebab, segala sesuatu yang terhampar di alam semesta ini pada hakikatnya adalah kehendak-Nya semata. Jadi, kehinaan dan kenistaan yang ditimpakan kepada mereka bukanlah kehendak mereka, melainkan kehendak-Nya jua. Karena itu, sebagai mubalig yang menyampaikan kebenaran Islam, Tuan hendaknya memohon agar Dia mengubah kehendak-Nya atas masyarakat yang Tuan anggap hina dan nista itu,” kata Abdul Jalil.

“Saya sudah bertahun-tahun berdoa terutama dalam shalat malam. Namun, sampai saat ini belum ada tanda-tanda bahwa doa saya dikabulkan-Nya,” ujar Fadillah Ahmad kecewa.

“Itu bukan berarti doa Tuan tidak dijawab oleh-Nya,” sahut Abdul Jalil tenang. “Mungkin saja Tuan terlalu mendikte Dia dengan kemauan Tuan sendiri. Tuan berdoa kepada-Nya dengan harapan Dia mengabulkan permohonan Tuan sesuai dengan yang Tuan bayangkan dalam benak Tuan. Padahal, Dia sering kali mengabulkan permohonan hamba-Nya dengan bentuk yang tidak sesuai dengan kehendak yang dibayangkan hamba-Nya. Selain itu, manusia pada umumnya cenderung menginginkan segala sesuatu yang berkaitan dengan permohonan dan pekerjaan yang dijalankannya dapat terwujud dalam waktu cepat.”

“Tuan Syaikh,” sahut Fadillah Ahmad dengan hati bergetar, “Tuan sepertinya dapat membaca apa yang tersembunyi di dalam hati dan apa yang telah saya alami selama ini. Apakah Tuan seorang aulia?”

Abdul Jalil tertawa mendengar pertanyaan polos Fadillah Ahmad. Kemudian dengan suara tenang dan mantap ia berkata, “Jika Tuan mempelajari kecenderungan-kecenderungan manusia, sebenarnya Tuan dapat membaca jalan pikiran orang dan menerka-nerka isi hatinya. Jadi, apa yang saya ungkapkan tadi bukanlah karena saya seorang aulia yang dapat membaca jalan pikiran dan hati seseorang. Saya hanya membaca apa yang ada di dalam benak Tuan dan apa yang tersembunyi di hati Tuan. Hal itu mampu saya lakukan karena saya telah lama mempelajari kecenderungan-kecenderungan manusia.”

“Tuan Syaikh,” sergah Fadillah Ahmad, “pastilah Tuan bukan manusia sembarangan. Saat pertama kali melihat Tuan, saya merasakan semacam kewibawaan mahadahsyat memancar dari diri Tuan. Dan setiap kali hendak berbicara kepada Tuan, saya selalu merasakan kegentaran dan rasa aneh yang tidak bisa saya ungkapkan.”

“Tuan jangan melebih-lebihkan sesuatu,” ujar Abdul Jalil datar. “Saya manusia biasa yang tidak jauh berbeda dengan Tuan. Karena itu, ketika terik matahari membakar kepala maka saya bernaung di bawah pohon ini. Dan Tuan bisa melihat sendiri bagaimana pakaianku ini kotor dilekati debu.”

“Tuan Syaikh,” Fadillah Ahmad berkata dengan suara merendah, “sebenarnya kedatangan saya ke daerah ini adalah atas petunjuk yang saya peroleh dalam mimpi di makam Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam kira-kira lima tahun silam. Saat itu saya seperti mendengar suara tanpa rupa yang memerintahkan agar saya menyampaikan dakwah kebenaran Islam di wilayah ini. Suara itu juga menitahkan agar saya menunggu kehadiran seorang Syaikh dari negeri Jawy di mana saya dititahkan untuk berguru kepadanya. Namun, sampai saat ini tidak saya jumpai satu pun syaikh dari negeri Jawy.”

Abdul Jalil tersenyum mendengar cerita Fadillah Ahmad. Namun, sebelum ia berkata sesuatu tiba-tiba saja Syarif Hidayat berkata dengan suara keras kepada Fadillah Ahmad, “Tuan, tidakkah Tuan tahu bahwa Paman saya ini asalnya dari negeri Jawy? Tidakkah Tuan tahu bahwa nama Paman saya adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil al-Jawy? Tidakkah Tuan tahu bahwa kami berdua sedang dalam perjalanan menuju negeri Jawy?”

Bagaikan disambar kilatan halilintar, Fadillah Ahmad terperangah seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Setelah tertegun bagai tugu batu beberapa jenak, dia berlutut dan bersujud merangkul kaki Abdul Jalil sambil bercucuran air mata, “Tuan Syaikh, Tuanlah pir yang kami tunggu dengan segenap kerinduan dan pengharapan. Bimbinglah kami yang telah didera penderitaan selama menanti kedatangan Tuan. Bimbinglah kami agar kami dapat beroleh limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya.”

“Berdirilah Tuan!” kata Abdul Jalil menarik bahu Fadillah Ahmad ke atas, “Tidak boleh bersujud kepada sesama manusia.”

“Tapi Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad gemetar, “kami memohon agar Tuan Syaikh berkenan menjadi pembimbing kami. Kami memohon agar Tuan Syaikh berkenan menjadi pir kami.”

Akhirnya Abdul Jalil tidak dapat menolak keinginan Fadillah Ahmad untuk menjadi muridnya. Namun, sebelum itu ia menjelaskan tentang makna ajaran yang bakal disampaikannya, “Jika Tuan berhasrat kuat untuk mengikuti jalan kami maka yang wajib Tuan sadari pertama-tama adalah kenyataan yang berkait dengan ‘cara’ (thariq) kami yang berbeda dengan ‘cara’ yang umum dianut manusia. Maksudku, tarekat yang kami anut tidak mengenal adanya pir atau mursyid. Karena, yang disebut pir atau mursyid, menurut ‘cara’ kami, berada di dalam diri manusia sendiri. Sementara keberadaan guru hanya terbatas sebagai petunjuk untuk menuntun langkah awal seorang salik dalam mencari guru sejati.” “

Dengan penjelasan ini hendaknya Tuan pahami bahwa pada ‘cara’ kami tidak mengenal adanya wasilah maupun rabithah yang berwujud manusia. Satu-satunya wasilah dan rabithah adalah Nur Muhammad, yang ada di dalam diri setiap manusia. Lewat Nur Muhammad itulah manusia akan mencapai Sumber Segala Sumber.” “

Kami paham, Tuan Syaikh,” sahut Fadillah Ahmad takzim. “Namun, apakah nama ‘cara’ yang Tuan Syaikh ajarkan?” “

Tuan boleh menamai ‘cara’ ini sesuka hati Tuan,” sahut Abdul Jalil. “Namun, hendaknya Tuan ketahui bahwa Nabi Muhammad al-Mushthafa Saw telah mewariskan dua ‘cara’ kepada manusia. ‘Cara’ yang pertama adalah Tarekat al-Akmaliyyah yang diwariskan lewat hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. ‘Cara’ yang kedua adalah Tarekat al-Anfusiyyah yang diwariskan melalui hadhrat Ali bin Abu Thalib. Tarekat yang akan Tuan pelajari dariku adalah Tarekat al-Akmaliyyah.” “

Apakah perbedaan antara Tarekat al-Akmaliyyah dengan Tarekat al-Anfusiyyah?” tanya Fadillah Ahmad minta penjelasan. “

Sebagaimana yang telah kujelaskan sebelumnya bahwa pertama-tama Tarekat al-Akmaliyyah tidak mengenal pir atau mursyid dalam wujud manusia karena pada hakikatnya sudah ada pada diri tiap manusia. Kedua, pir atau mursyid di dalam diri manusia itulah yang disebut Nur Muhammad, yang akan menjadi penuntun sang salik di dalam menuju Dia. Karena itu, Tarekat al-Akmaliyyah tidak mengenal wasilah dan rabithah dalam bentuk manusia. Wasilah dan rabithah dalam Tarekat al-Akmaliyyah adalah Nur Muhammad. Dengan demikian, di dalam Tarekat al-Akmaliyyah tidak dikenal adanya silsilah pir atau mursyid berdasar asas keturunan.” “

Ketiga, para salik yang berjalan melewati Tarekat al-Akmaliyyah wajib berkeyakinan bahwa segala sesuatu termasuk tarekat ini adalah milik Allah. Itu berarti, keberadaan tarekat beserta seluruh pengikutnya adalah semata-mata karena kehendak Allah. Dengan demikian, para pengikut tarekat ini hendaknya tidak membanggakan diri sebagai pendiri atau penguasa tarekat. Tuan tentu pernah mendengar kisah Syaikh Hussein bin Mansyur al-Hallaj yang dihukum cincang dan mayatnya dibakar oleh al-Muqtadir? Dia adalah pengamal ajaran Tarekat al-Akmaliyyah. Namun, murid-muridnya kemudian mendirikan Tarekat dengan nama Hallajiyyah. Itu boleh dan sah-sah saja, walaupun pada akhirnya Hallajiyyah tenggelam karena pengikut-pengikutnya membentuk lembaga baru dengan susunan hierarki kepemimpinan ruhani atas dasar seorang manusia. Sementara Tarekat al-Akmaliyyah tetap lestari hingga sekarang.” “

Apa persamaan antara Tarekat al-Akmaliyyah dan Tarekat al-Anfusiyyah?” tanya Fadillah Ahmad. “

Hakikatnya sama, hanya nama saja yang berbeda,” ujar Abdul Jalil. “Karena, Akmaliyyah berasal dari al-kamal, yakni pengejawantahan dari al-Kamal yang dibentuk oleh al-Jalal dan al-Jamal. Al-kamal itulah Adam Ma’rifat yang kepadanya ditiupkan ruh-Nya, yakni Ruh al-Haqq di mana tersembunyi al-Haqq. Al-kamal atau Adam Ma’rifat itulah yang disebut al-Insan al-Kamil.” “

Sementara itu, Anfusiyyah berasal dari al-anfus, an-nafs al-wahidah, yakni pengejawantahan an-Nafs al-Ilahiyyah. An-nafs al-wahidah itulah Adam Ma’rifat yang kepadanya ditiupkan ruh-Nya, yakni Ruh al-Haqq di mana tersembunyi al-Haqq. An-nafs al-wahidah atau Adam Ma’rifat itulah yang disebut al-Insan al-Kamil.” “

Mana yang lebih benar, Tuan Syaikh?” tanya Fadillah Ahmad. “

Semuanya benar,” sahut Abdul Jalil, “Hanya nama dan ‘cara’-nya saja yang berbeda. Justru ‘cara’ itu menjadi salah dan sesat ketika sang salik menilai terlalu tinggi ‘cara’ yang diikutinya hingga menafikan ‘cara’ yang lain. Sebab, dengan itu sebenarnya sang salik telah memuliakan, mengagungkan, dan membenarkan keakuannya yang kerdil. Berarti, sang salik pada saat itu telah merampas hak Allah. Karena, kemuliaan, keagungan, dan kebenaran hanyalah milik-Nya. Itulah sebabnya, dalil awal yang wajib dipatuhi oleh seorang salik Akmaliyyah adalah meyakini bahwa ‘jalan lurus’ (sabil huda) yang digelar oleh Allah kepada hamba-hamba yang mencari-Nya tidaklah tunggal (wa al-ladzina jahadu finalanahdiyanahum subulana).” “

Hal yang paling penting Tuan pahami lagi adalah Tarekat al-Akmaliyyah ini hanyalah suatu ‘cara’ untuk melewati ‘jalan lurus’. Jadi, jangan beranggapan bahwa ‘cara’ ini adalah segala-galanya. Artinya, jangan menganggap bahwa siapa saja yang mengamalkan ‘cara’ ini dan mengikuti ‘jalan lurus’ yang ada di dalamnya pasti akan selamat sampai kepada-Nya. Sebab, keputusan akhir ada di tangan-Nya juga. Artinya, sangat terbuka kemungkinan pengamal ‘cara’ ini justru akan sesat jalan, jika Dia menghendaki demikian.” “

Saya akan selalu mengingat petunjuk Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad takzim. “Namun, saya mohon agar Tuan Syaikh memberi saya pedoman untuk melintasi ‘jalan lurus’ dengan ‘cara’ Akmaliyyah.” “

Pertama-tama yang harus Tuan pahami,” kata Abdul Jalil menguraikan, “bahwa Allah, tujuan akhir kita, adalah bukan makhluk dan tidak dapat dibayang-bayangkan apalagi dibanding-bandingkan dengan sesuatu bentuk apa pun (laisa kamitslihi syaiun). Karena itu, merupakan suatu keharusan fundamental bahwa untuk menuju Dia, seorang salik harus mengarahkan kiblat hati dan pikirannya hanya kepada-Nya. Artinya, seorang salik harus berjuang keras meninggalkan rasa kepemilikan, ketergantungan, kecintaan, keterikatan, dan keterkaitan dengan segala sesuatu selain Dia.” “

Semakin seorang salik berhasil meninggalkan rasa kepemilikan, ketergantungan, kecintaan, keterikatan, dan keterkaitan dengan segala sesuatu selain Dia maka akan semakin dekatlah ia dengan-Nya. Sebaliknya, jika sang salik tidak mampu maka ia pun akan semakin jauh dari-Nya dan semakin sesat jalannya.” “

Apakah itu bermakna bahwa sang salik harus menanggalkan kehidupan duniawi dan tinggal sebagai pertapa?” tanya Fadillah Ahmad. “

Sama sekali keliru pemahaman itu,” ujar Abdul Jalil, “justru sang salik harus menjadikan kehidupan di dunia ini sebagai medan perjuangan dalam menuju Dia. Bahkan setelah berhasil mencapai-Nya, ia memiliki kewajiban fundamental untuk kembali ke tengah kehidupan manusia biasa sebagaimana hal itu diteladankan oleh Muhammad al-Mushthafa Saw..” “

Dengan demikian, hendaknya sejak awal Tuan sadari bahwa yang dimaksud meninggalkan segala sesuatu selain Dia bukanlah bermakna meninggalkan hidup keduniawian secara mutlak. Karena, yang dimaksud meninggalkan itu berkaitan dengan suasana batin. Jadi, boleh saja seorang salik menjadi raja besar seperti Daud dan Sulaiman, namun kiblat hati dan pikiran tetap hanya mengarah kepada-Nya.” “

Hendaknya Tuan sadari bahwa perjalanan menuju Dia, Subhanahu wa Ta’ala, bukanlah perjalanan ajaib yang berlangsung secara gampang dalam tempo satu hari atau satu pekan. Perjalanan menuju Dia sangatlah sulit dan penuh jebakan. Karena harus melampaui tujuh rintangan besar, yaitu tujuh Lembah Kasal, tujuh jurang Futur, tujuh Gurun Malal, tujuh Gunung Riya’, tujuh Rimba Sum’ah, tujuh Samudera ‘Ujub, dan tujuh Benteng Hajbun.” “

Kenapa semua rintangan itu berjumlah tujuh, o Tuan Syaikh?” tanya Fadillah Ahmad minta penegasan. “

Karena, kita adalah makhluk yang hidup di atas permukaan bumi,” Abdul Jalil menjelaskan. “Allah membentangkan tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita (QS an-Naba’: 12) sebagaimana bumi pun berlapis tujuh (QS ath-Thalaq: 12) dan samudera pun berlapis tujuh (QS Luqman: 27). Bahkan neraka bertingkat tujuh (QS al-Hijr: 44). Tidakkah Tuan ketahui bahwa surga pun berjumlah tujuh, yakni Firdaus, Aden, Ma’wah, Na’im, Darussalam, Khuldy, dan Qaar. Tidakkah Tuan ketahui bahwa dalam beribadah kepada-Nya manusia telah diberi piranti tujuh ayat yang diulang-ulang dari Al-Qur’an (QS al-Hijr: 87) untuk berhubungan dengan-Nya? Tidakkah Tuan sadari bahwa saat Tuan sujud maka tujuh anggota badan Tuan yang menjadi tumpuan?” “

Namun, di antara tujuh hal yang terkait dengan alam semesta ini, yang paling penting Tuan sadari adalah tujuh lapis hal yang berhubungan dengan keberadaan manusia yang diberi tujuh tahap usia, yakni radhi’, fathim, shabiy, ghulam, syabb, kuhl, dan syaikh; yang berkait dengan tujuh nafsu manusia, yakni musawwilah, hayawaniyyah, ammarrah, lawwammah, mulhamah, muthma’innah,dan wahidah. Sebab, dengan menyadari adanya tujuh nafsu maka Tuan akan memahami adanya tujuh martabat yang wajib Tuan lampaui untuk menuju kepada-Nya. Dan sekali lagi ingat-ingatlah bahwa perjalanan ruhani bukan perjalanan ajaib yang bisa tercapai dalam waktu singkat. Rasulallah sendiri membutuhkan waktu lima belas tahun berkhalwat untuk mencapai tahap bertemu Jibril a.s. di gua Hira. Dan perjalanan itu masih terus beliau laksanakan dengan tekun dan istiqamah hingga beliau mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj: menghadap ke hadirat al-Khaliq.” “

Saya akan patuhi petunjuk Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad.

Setelah menguraikan tentang peta “jalan lurus” yang akan dilewati seorang salik, Abdul Jalil memaparkan “cara” yang merupakan wahana untuk melewati “jalan lurus” tersebut,yang meliputi empat hal, yakni asrar al-istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq. abdul Jalil mengakhiri wejangannya dengan uraian rahasia tentang jati diri Muhammad al-Mushthafa Saw. sebagai nabi, rasul, Nur Muhammad, “pintu” (bab), “kunci” (miftah), Haqiqah al-Muhammadiyyah, dan bahkan sebagai pengejawantahan Allah dalam Af’al, Asma’, Shifat, dan Dzat.

Ketika matahari bergeser ke barat, terbentang sisa cahaya kuning kemerahan pada tirai langit yang menghiasi lekuk-liku pegunungan Ghats Barat. Abdul Jalil berdiri di hadapan sekitar seratus penghuni pinggiran kota Goa yang menjadi pengikut Fadillah Ahmad. Bersama mereka hadir pula sekitar tujuh puluh mualaf dari desa-desa yang tersebar antara Belgaum dan Goa. Sore itu, ia didampingi pula oleh Abdul Malik Israil.

Fadillah Ahmad membuka pertemuan itu dengan puja dan puji kepada Allah dan salawat kepada Rasulallah Saw, kemudian memperkenalkan Abdul Jalil kepada para pengikutnya sebagai guru ruhani yang telah ditunggunya selama limat tahun lebih. Itu sebabnya, Fadillah Ahmad berharap Abdul Jalil berkenan memberikan fatwa.

Abdul Jalil yang tak menduga bakal didaulat untuk memberikan fatwa di hadapan pengikut Fadillah Ahmad, tidak dapat mengelak. Ia menunduk diam sambil memejamkan mata. Sejenak kemudian dengan mata menatap jauh ke gugusan langit, ia mulai berkata dengan suara lantang. “Aku beritakan kepadamu, o manusia beriman yang dikasihi Allah, bahwa tidak lama lagi akan datang Dajjal, sang Penyesat, beserta bala tentaranya yang disebut Ya’juj wa Ma’juj ke segenap penjuru dunia. Tugas utama Dajjal beserta bala tentaranya itu adalah menjadi penyesat bagi kaum beriman.” “

Jika Dajjal dan bala tentaranya sudah muncul di hadapanmu maka hendaklah engkau sekalian bergegas-gegas menyucikan hati dan pikiran dari semua noda kebendaan dan pamrih pribadi. Kemudian arahkan kiblat hati dan pikiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, hal itu bukanlah pekerjaan ringan karena Dajjal beserta bala tentaranya akan menggoda dan menguji iman kalian dengan keindahan harta duniawi. Dan telah jelaslah bagi kalian semua bahwa mereka yang tidak teguh iman akan menjadi pengikut Dajjal. Mereka juga bakal menjadi penghuni neraka Jahanam.” “

Ingat-ingatlah, wahai kaum beriman yang dikasihani Allah, bahwa panutan kita Nabi Muhammad Saw telah memberi peringatan tentang kehadiran Dajjal penyesat beserta ciri dan tengara kerusakan yang bakal ditimbulkannya. Pertama, jika Dajjal menampakkan diri maka rupanya putih. Mata kanannya buta. Mata kirinya bersinar seperti bintang gemerlapan (hadits Bukhari). Kedua, pada kening Dajjal akan tertera tulisan ‘kafir’, yakni yang ingkar dan terhijab dari kebenaran, di mana setiap Muslim akan dapat membacanya (hadits Ahmad). Ketiga, jika Dajjal berjalan di atas permukaan bumi maka langkahnya sangat cepat bagai awan terbawa angin (hadits Abu Dawud).” “

Keempat, Dajjal membawa air dan api. Namun, api itulah yang sebenarnya air dan air itulah yang sebenarnya api (hadits Bukhari). Kelima, Dajjal membawa bukit roti dan sungai yang ada airnya (hadits Bukhari). Keenam, sebelum kiamat akan lahir beberapa Dajjal yang pandai berdusta, hampir sebanyak 30 orang, dan semuanya mengaku-aku sebagai utusan Allah (hadits Bukhari). Yang ketujuh, bala tentara Dajjal akan memenuhi permukaan bumi bagaikan kawanan hewan buas yang membuat kerusakan di mana-mana.”

Para hadirin termasuk Fadillah Ahmad dan Syarif Hidayat tercengang keheranan mendengar uraian Abdul Jalil. Ada rasa takut merayapi hati mereka.

Abdul Jalil dengan ketenangan luar biasa menatap mata orang di sekitarnya satu demi satu. Ia dapati betapa pada kedalaman mata mereka tersembunyi kegalauan, meski mulut mereka terkatup rapat. Sesaat kemudian, ia melanjutkan penjelasannya. “

Ketahuilah, o manusia beriman yang dikasihi Allah, bahwa yang disebut Dajjal adalah manusia-manusia yang terhijab dari kebenaran Allah karena Dajjal berasal dari kata Dajala yang bermakna ‘dia yang tertutup’. Itu berarti, baik Dajjal maupun pengikutnya akan menolak hal-hal gaib atau yang bersifat ruhani karena hati dan pikiran mereka telah terhijab dari kebenaran Ilahi. Mereka sangat menakjubkan dan menarik hati jika berbicara tentang kehidupan duniawi. Namun, merekalah perusak dan pembinasa kehidupan duniawi yang sebenarnya. Bahkan jika mereka berbicara dengan mengatasnamakan agama sekalipun maka apa yang mereka bicarakan tidak akan jauh dari kepentingan duniawi.” “

Adapun tentang Ya’juj wa Ma’juj yang berasal dari kata ajij dalam bentuk yaf’ul dan maf’ul, yang bermakna ‘semburan api’, adalah pengikut-pengikut setia Dajjal yang di setiap tempat di permukaan bumi akan menyemburkan api untuk membinasakan manusia-manusia yang melawan mereka, guna membinasakan kehidupan di permukaan bumi. Ya’juj wa Ma’juj, sebagaimana Dajjal, jika berjalan sangat cepat. Karena, Ya’juj wa Ma’juj bisa dimaknai dari kata ajja yang berarti asra’a, yakni ‘berjalan cepat’.” “

Jika engkau sekalian, o manusia beriman yang dikasihi Allah, menyaksikan kehadiran Dajjal beserta bala tentaranya maka larilah engkau sekalian kepada Allah. Fafirru ila Allah! Sebab, kalau hati dan pikiranmu masih terikat pada sesuatu tentang duniawi dan pamrih pribadi maka saat itulah engkau sekalian akan gampang disesatkan oleh Dajjal dan bala tentaranya.”

Seorang pemuda bernama Ghulam Chinibas yang bekerja sebagai pedagang keliling kelihatannya tidak dapat menahan hasrat untuk bertanya lebih jelas tentang Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj. Saat Abdul Jalil berhenti bicara dan menunggu tanggapan para pendengarnya, dia berseru keras, “Terangkan kepada kami tentang Dajjal dan bala tentaranya secara lebih tegas, o Tuan Syaikh! Biarlah kami mengetahui kehadiran mereka agar kami tidak menjadi pengikut mereka.”

Abdul Jalil diam. Ia menunduk sambil memejamkan mata. Sesaat kemudian, ia berkata, “Dajjal dan bala tentaranya adalah manusia-manusia berkulit putih. Mereka datang dari arah lautan dengan menggunakan kapal-kapal yang sangat cepat. Kemudian dengan membawa meriam-meriam penyembur api, mereka akan naik ke daratan dan menebarkan kerusakan. Mereka akan menggiring orang-orang yang lemah iman untuk dijadikan budaknya. Mereka juga akan merampas harta kekayaan di antara manusia-manusia yang lemah iman.” “

Apakah kami boleh melawan mereka, o Tuan Syaikh?” tanya Ghulam Chinibas. “

Jika engkau cinta kepada Allah maka wajib bagimu untuk menantang Dajjal dan bala tentaranya sekuat daya dan kemampuanmu. Namun, jika engkau masih mencintai dirimu, keluargamu, harta bendamu, perdaganganmu, dan keuntunganmu maka janganlah sekali-kali engkau melawan mereka. Niscaya engkau akan dikalahkan dengan mudah,” kata Abdul Jalil menegaskan.

Suara gaduh bagai dengungan ribuan lebah pun terdengar. Mereka berkata ini dan itu seolah-olah mereka akan menghadapi melapetaka yang sangat dahsyat. Mereka seolah-olah tidak berdaya menghadapi serbuan Dajjal beserta tentaranya. Menyaksikan reaksi pembicaraannya yang sangat menggemparkan pendengarnya itu, Abdul Jalil menangkap tengara kegentaran merayapi hati orang-orang yang umumnya masih sangat mencintai kehidupan duniawi. Itu sebabnya, dengan langkah mantap ia mendekati Ghulam Chinibas. Kemudian dengan suara lantang ia berkata. “Wahai engkau, Penjaja Keliling, jadilah engkau penyebar berita tentang kedatangan Dajjal beserta bala tentaranya ke berbagai penjuru negeri. Beritakanlah kepada manusia-manusia pecinta dunia bahwa bakal datang azab Allah untuk mereka dalam bentuk kehadiran Dajjal penyesat beserta bala tentaranya. Kabarkanlah kepada para pecinta dunia bahwa mereka harus melepas baju agar punggung-punggung mereka terbuka untuk dihajar oleh cambuk Dajjal dan bala tentaranya. Kabarkanlah kepada pecinta dunia bahwa mereka harus mengumpulkan harta benda dan kekayaan yang mereka miliki untuk dijadikan barang pampasan oleh Dajjal beserta bala tentaranya. Kabarkanlah kepada para pecinta dunia bahwa mereka harus bersiap siaga menjadi pemeluk agama najis, yaitu penyembah Dajjal. Dan kabarkanlah kepada para pecinta dunia bahwa pintu neraka telah menunggu mereka!”

Seorang mualaf tua bernama Shadgap Dewadatta dengan tertatih-tatih melangkah ke depan. Kemudian dengan suara bergetar dia bertanya, “Tuan Syaikh, kenapa Allah menimpakan malapetaka tak tertahankan ini kepada kami? Apakah kesalahan yang telah kami lakukan? Bukankah kami setia memuja dan menyembah-Nya? Bukankah kami patuhi semua perintah-Nya?” “

Wahai Bapa, hamba Allah yang dikasihi-Nya,” kata Abdul Jalil dengan suara menggeletar, “jangan engkau tanyakan hal itu kepadaku. Karena aku hanyalah orang asing belaka di negeri ini. Sebaliknya, tanyalah kepada penguasa-penguasa yang menjadi pemimpinmu! Tanyakan kepada mereka, apakah mereka telah menjalankan kekuasaan yang diamanatkan kepadanya sesuai ketentuan yang diteladankan oleh Rasulallah Saw dan keempat khalifah penggantinya?” “

Tanyakan kepada para raja (al-malik) penguasa negerimu! Sudahkah mereka mewakili pengejawantahan al-Malik? Tanyakan kepada para wazir yang membantu tugas-tugas rajamu! Sudahkah mereka menjalankan tugas sebagai pembantu raja (tawazzara li al-malik) dengan sebenar-benarnya? Sudahkah menteri kehakiman (wizarah al-haqqaniyyah) dan hakim-hakim bawahannya mencerminkan pengejawantahan al-Haqq – al-Hakim – al’Adl? Apakah menteri keuangan (wizarrah al-maliyyah) orang yang zuhud dan jujur? Apakah menteri wakaf (wizarrah al-auqaf) orang yang amanah dan qana’ah?” “

Apakah engkau pernah menyaksikan pada wajah rajamu bekas tikar yang dipakainya tidur? Apakah engkau pernah menyaksikan kesederhanaan rajamu sebagaimana yang diteladankan Rasulallah Saw dan keempat khalifah penggantinya? Apakah menurut pengetahuanmu, raja-raja yang memimpinmu hidup dalam kesederhanaan, kedermawanan, kezuhudan, dan kecintaan kepada para janda tua, yatim piatu, dan orang hina papa?” “

Namun, Tuan Syaikh,” seru Shadgap Dewadatta berapi-api, “jika kesalahan dan dosa besar telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kami, kenapa pula kai yang tidak tahu-menahu ikut memikul akibatnya? Di manakah letak keadilan Allah?” “

Dengarlah cerita tentang seorang raja tua bangka yang sudah pikun di tengah pengawal dan budak-budaknya,” kata Abdul Jalil. “Pekerjaan raja tua bangka itu sehari-harinya mengantuk di atas singgasana. Tidak ada yang dilakukannya kecuali duduk, makan, dipijat, dikipasi, dan tidur mendengkur. Sementara para wazir, qadhi, kepala daerah, dan aparat kerajaan bekerja dengan sesuka hati mereka. Pekerjaan mereka adalah memeras dan menipu rakyat untuk memperkaya diri sendiri.” “

Satu siang seusai duduk, makan, dipijit, dan dikipasi, seperti biasa sang raja tidur mendengkur di atas singgasana. Begitu lelapnya sehingga mahkota sang raja terjatuh ke lantai. Para budak yang berada di sekitarnya berebut mengambil dan memahkotakan kembali. Padahal, salah seorang pengawal raja tua bangka itu sempat membayangkan seandainya sang raja tetap tidur dan mahkotanya tetap dibiarkan tergeletak di lantai. Bahkan ia sempat berpikir betapa mudah sebenarnya membanting tubuh renta itu ke lantai hingga remuk tulang-belulangnya. Bukankah dengan sekali banting saja raja tua itu akan mati? Namun, kilasan pikiran pengawal itu hanya sampai pada bentangan angan-angan dan gambaran-gambaran khayal belaka. Para pengawal – apalagi para budak – tidak ada yang berani mengganggu sang raja rua bangka yang makin lama makin lapuk digeragoti zaman.” “

Nah, Bapa Tua, menurutmu apakah kejahatan yang dilakukan para wazir, qadhi, kepala daerah, dan aparat kerajaan itu semata-mata kesalahan mereka yang memanfaatkan rajanya yang pikun? Apakah para pengawal dan budak-budak yang setia kepada raja tua bangka yang pikun itu tidak ikut bersalah?”

Shadgap Dewadatta manggut-manggut mendengar uraian perlambang yang dikemukakan Abdul Jalil. Dia menyadari bahwa suatu peristiwa pada hakikatnya saling mengait dengan peristiwa lain.

Abdul Jalil kemudian berkata lantang. “Dan kepada engkau, o Bapa Tua, apakah engkau sudah berbuat adil dan mencintai orang-orang berkasta rendah di sekitarmu, golongan dari mana engkau berasal, yakni mereka yang hidup dalam kesengsaraan dan kepapan? Sudahkah engkau bagikan sebagian harta dan makananmu kepada mereka yang sering merasakan kelaparan di sekitarmu? Sudahkah engkau ulurkan tanganmu untuk membantu tetangga-tetanggamu yang oleh kaumnya dibenamkan sebagai manusia berkasta rendah? Sudahkah engkau mencintai mereka? Sudahkah engkau mampu mewujudkan dirimu sebagai pengikut Muhammad Saw, rahmatan li al-‘alamin?” “

Sepanjang perjalananku dari Ahmadabad hingga Goa, telah aku saksikan betapa kaum Muslimin hidup dalam kemakmuran dan kelimpahan rezeki. Mereka hidup tidak kurang satu apa pun. Namun sungguh menyedihkan, pandangan hidup kaum Muslimin yang kutemui hampir menyerupai kaum berkasta tinggi yang memandang hina kepada orang-orang berkasta rendah. Itu sebabnya, aku saksikan orang-orang Muslim membeli anak-anak kaum berkasta rendah pada masa paceklik. Aku saksikan pula betapa kaum berkasta rendah itu hidup penuh kekurangan, sementara tetangganya yang Muslim hidup berkelimpahan. Sungguh keliru jika kalian beranggapan bahwa bantuan hanya layak diberikan kepada kaum Muslim. Padahal kalian semua tahu bahwa orang menjadi Muslim atau tidak adalah mutlak kewenangan Allah.” “

Karena itu, o saudara-saudaraku kaum beriman, hendaknya kalian datangi saudara-saudaramu dari kaum berkasta rendah yang dibenamkan oleh kaumnya untuk menjadi cacing tanah. Angkat mereka dari dalam kubangan lumpur kehinaan. Bersihkan hati dan pikiran mereka dari lumpur kerendahan diri dengan cinta kasih, kedermawanan, persaudaraan, dan kesetaraan. Rangkullah mereka dengan harkat dan martabat kemanusiaan yang asasi, yakni sebagai anak cucu Adam. Teladanilah Rasulallah beserta sahabat-sahabatnya yang gemar membebaskan budak, menyantuni janda tua, yatim piatu, orang papa, dan mengikat persaudaraan. Teladanilah kesederhanaan Rasulallah beserta para sahabat yang senantiasa saling membantu. Teladanilah Rasulallah beserta sahabat-sahabatnya yang zuhud, yang tidak pernah membangun istana dan rumah mewah. Teladanilah beliau yang hidupnya benar-benar menjadi rahmat bagi yang lain!”

Pada awal abad ke 10 Hijriah, kota pelabuhan Goa telah menjadi pusat perniagaan bagi wilayah Deccan yang diperintah oleh dinasti Bahmani. Jika sebelumnya Goa tak pernah diperhitungkan maka sejak Zafar Khan Bahmani memisahkan wilayahnya dari Kesultanan Delhi dan dinasti Tughlak pada pertengahan abad ke 9 Hijriah, Goa perlahan-lahan menemui makna pentingnya sebagai pelabuhan di wilayah Deccan. Sekalipun pada tahun 905 Hijriah wilayah Berar memisahkan diri, disusul pemberontakan Adil Shahi yang menginginkan wilayah Bijapur yang dikuasainya lepas dari Deccan; dinasti Bahmani tetap mempertahankan Goa sebagai pelabuhan utama Deccan.

Warga Goa yang kebanyakan merupakan keturunan Arab-Hindi telah memberikan citra kota pelabuhan itu sebagai wilayah perdagangan antarbangsa yang sangat ramai. Berbagai saudagar berkebangsaan Arab, Persia, Keling, Malayu, dan bahkan Cina terlihat berdagang dengan bebas di kota tersebut. Rumah, kedai, gudang, dan barak besar milik para pedagang yang dibangun tak jauh dari pelabuhan telah membuat Goa menjadi kota yang makmur.

Terik matahari, embusan angin laut, dan taburan debu yang meliputi permukaan bumi Goa seolah tidak dipedulikan oleh para saudagar, nahkoda, kuli pelabuhan, penarik kereta, dan budak yang terlihat hilir-mudik di tengah kesibukan yang bagai tak kenal istirahat. Mereka seolah-olah larut dalam lingkaran kesibukan duniawi yang bagai tak ada ujung. Mereka seolah telah menjadi bagian dari hiruk-pikuk kehidupan manusia yang bagai tak memiliki tepi.

Suatu siang ketika matahari bersinar terik dan debu beterbangan ditiup angin, Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, Syarif Hidayat, dan Fadillah Ahmad berjalan beriringan memasuki daerah pelabuhan. Mereka menanyakan tujuan dan jadwal keberangkatan kapal-kapal yang berlabuh di Goa. Abdul Malik Israil, lewat seorang kenalannya, telah memesan tumpangan bagi Abdul Jalil dan Syarif Hidayat untuk jurusan Malaka. Walaupun sebenarnya Abdul Jalil ingin menumpang kapal milik Ahmad at-Tawallud yang memiliki tujuan ke Pasai (Aceh).

Ketika mereka sampai di sebuah pertigaan jalan yang menuju ke arah pasar ikan dan pelabuhan, tiba-tiba Abdul Jalil menghentikan langkah di teras sebuah rumah saudagar Keling. Setelah termangu sejenak, ia berkata kepada Fadillah Ahmad, “Jika engkau nanti benar-benar telah menjadi pengamal Tarekat al-Akmaliyyah, seperti yang aku ajarkan, maka engkau akan menganggap brahmin kotor yang duduk di ujung jalan itu sebagai saudaramu.”

“Brahmin itu, Tuan Syaikh?” seru Fadillah Ahmad sambil menatap brahmin yang dimaksudkan oleh Abdul Jalil.

Brahmin yang duduk bersila di ujung pertigaan jalan itu secara jasmaniah benar-benar kotor. Rambutnya yang disanggul secara serampangan tampak kusam dipenuhi debu. Sementara badannya hanya dibungkus kain putih mirip cawat yang kusam, kumal, dan kelihatan coklat kehitaman.

Fadillah Ahmad dan Syarif Hidayat tak kurang herannya dengan ucapan Abdul Jalil. Bagaimana mungkin seorang muslim ber-maqam wali seperti Abdul Jalil bisa mengatakan bahwa brahmin kotor itu sebagai saudara? Namun, sebelum keheranan mereka terjawab, Abdul Jalil telah menunjuk seorang saudagar yang duduk di atas kereta, “Dan jika engkau nanti benar-benar meresapi Tarekat al-Akmaliyyah maka engkau akan menganggap saudagar itu sebagai bukan golonganmu.”

“Bagaimana bisa begitu, Tuan Syaikh?” tanya Fadillah heran bukan kepalang, “bukankah brahmin itu jelas-jelas kafir? Dan bukankah saudagar itu jelas-jelas Muslim?”

Abdul Jalil tersenyum. Sesaat kemudian ia berkata, “Maukah engkau mendengar ceritaku tentang kisah manusia-manusia aneh yang tidak bisa dinilai berdasarkan pandangan mata indriawi kita yang terbatas ini?”

“Saya sangat ingin tahu, Tuan Syaikh.”

Kira-kira dua puluh lima tahun silam di sebuah hutan di lereng pegunungan Nilgiri, hiduplah seorang brahmin muda di tengah kesunyian. Sebenarnya, dia adalah putera Raja Vijayanagar. Dia, atas kemauannya sendiri, meninggalkan takhta dan kemuliaan yang bakal menjadi miliknya untuk digantikan dengan kesunyian hutan. Bertahun-tahun pemuda itu mengakrabi kesunyian dengan tujuan utama memasrahkan seluruh hidupnya kepada Sang Pencipta. Berbagai upaya yang dilakukan oleh keluarganya agar dia membatalkan tekadnya tidak mendapatkan hasil apa-apa, kecuali kepedihan.

Ibu pemuda itu diam-diam menitahkan beberapa pengawal untuk mengawasi dan menjaga keselamatan putera kandungnya. Setiap bulan, para pengawal kembali ke istana dan memberi laporan yang isinya selalu berisi berita menyedihkan: badan sang pemuda makin kurus, rambutnya terurai panjang tak terurus, makanan sehari-hari umbu-umbian, samadi di tengah malam dingin, dan pelbagai tindak penyiksaan tubuh yang tak pantas dilakukan oleh putera raja.

Berita-berita menyedihkan itu akhirnya mencapai puncak manakala suatu pagi para pengawal menyaksikan pondok tempat kediaman sang pemuda telah kosong. Mereka mencari berkeliling namun tidak menemukan bayangannya. Maka, para pengawal pun melaporkan kepada sang ibu bahwa sang putera telah mencapai apa yang diinginkan dan dicita-citakannya, yakni moksha. Sang ibu, meski merasa pedih, tak urung sedikit lega mendengar betapa puteranya telah moksha, menyatu dengan Sang Pencipta.

Namun, hati ibu tetaplah hati ibu yang tak bisa ditipu. Diam-diam, sang ibu tetap yakin bahwa sang putera belumlah mati apalagi moksha. Itu sebabnya, diam-diam ia mulai berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk menelusuri di mana sang putera berada. Bahkan ia menyebar pengawal lain ke berbagai pertapaan untuk mencari tahu berita sang putera.

Usaha keras sang ibu tidak sia-sia. Ceritanya, ketika sang ibu melakukan perjalanan ke kota Dwarasamudra, tanpa sengaja ia menyaksikan seorang brahmin yang kotor dan lusuh sedang duduk di pinggir jalan. Sebagai ibu yang telah mengandung dan melahirkan, ia tidak syak lagi bahwa brahmin itu adalah puteranya tercinta. Dengan penuh cinta kasih, sang ibu memeluk dan menciumi sang putera yang telah mencapai pencerahan itu.

Berbagai usaha dilakukan sang ibu agar puteranya berkenan kembali ke istana dan menjadi raja menggantikan ayahandanya. Namun, tidak membawa hasil apa-apa. Sang putera telah menjadi manusia yang berbeda. Sang putera telah menjadi manusia yang tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki oleh siapa-siapa, kecuali Sang Pencipta. Dari waktu ke waktu, putera raja itu hidup sebagai brahmin gelandangan yang dihina dan dinista orang yang tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. “Dan brahmin kotor yang engkau saksikan duduk di ujung jalan itulah sang Brahmin, putera Raja Vijayanagar, Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri” ujar Abdul Jalil.

“Dia putera Raja Vijayanagar?” tanya Syarif Hidayat terheran-heran.

“Tanyakan kebenarannya kepada kakekmu yang sudah mengenalnya,” kata Abdul Jalil yang disambut anggukan kepala Abdul Malik Israil.

“Dia yang menukar kerajaan dan kemuliaan dengan kesengsaraan dan penderitaan, tentu memiliki pamrih yang lebih besar dari kerajaan dan kemuliaan duniawi,” ujar Fadillah Ahmad.

“Dia benar,” sahut Abdul Jalil. “Karena, lebih memilih Sang Raja dan Sang Pemilik Kemuliaan Abadi.”

“Tetapi, Tuan Syaikh,” tanya Fadillah Ahmad, “bagaimana dengan saudagar di atas kereta itu? Mengapa Tuan Syaikh menganggap dia bukan golongan Tuan?”

“Dalam pandangan mata indriawi, dia memang Muslim yang sudah membaca dua kalimat syahadat. Namun, dalam pandangan bashirah yang hakiki, dia adalah musrik yang memuja kebendaan di luar batas kemestian. Tahukah engkau apakah pekerjaan manusia pemuja dunia itu?” tanya Abdul Jalil.

“Saya tidak tahu, Tuan Syaikh,” jawab Fadillah Ahmad.

“Dia adalah pedagang budak yang memperlakukan budak-budaknya lebih buruk daripada hewan. Dia tidak peduli apakah budak-budaknya itu adalah saudaranya sesama Muslim atau bukan, yang utama baginya adalah soal harga. Dia itulah yang menyebar kaki tangan ke berbagai desa untuk membeli anak-anak mereka yang berkasta rendah. Dia membeli anak-anak itu dengan harga murah. Bahkan anak-anak yang sudah dididik sebagai Muslim pun tetap diperbudaknya.”

“Hari-hari yang dilewati laki-laki celaka itu tidak pernah beranjak dari lingkaran kehidupan duniawi beserta benda-bendanya yang menyesatkan. Jika engkau mengamati perilakunya sehari-hari, engkau tentu akan sering melihatnya menghitung uang, marah-marah, menganiaya budak, menyuap pejabat kerajaan, memuaskan nafsu syahwat dengan budak-budaknya yang cantik, menyedot hashis, dan tidur mendengkur dengan liur menetes. Bahkan jika engkau mendapati ia shalat berjama’ah dengan saudagar-saudagar pelanggannya maka akan engkau dapati pikiran dan hatinya tidak berkiblat kepada Allah, melainkan berputar-putar memikirkan ini dan itu yang berkait dengan barang dagangannya. Bahkan akan engkau dapati betapa dia tidak peduli kepada janda-janda tua, anak yatim, dan orang-orang fakir yang hidup tertindas. Dia tidak segan mempermainkan nilai hitung zakat dengan bersekongkol dengan petugas dari kementerian waqaf.”

“Bagi manusia tengik seperti saudagar budak itu, persoalan agama dan iman hanyalah dianggap sebagai suatu kemestian untuk meraih keberhasilan hidup dalam masyarakat. Bagi manusia seperti dia, Allah hanyalah semacam dongeng yang keberadaannya tidak bisa dibuktikan sehingga dengan leluasa dia melakukan kejahatan dan kekejian tanpa pernah digetari rasa takut. Dia adalah orang yang sudah tebal hijabnya. Hatinya sudah berkarat. Dan lantaran itu, aku katakan bahwa dia bukanlah dari golonganku,” ujar Abdul Jalil.

Fadillah Ahmad dan Syarif Hidayat termangu-mangu takjub dengan uraian Abdul Jalil mengenai dua sosok manusia yang berbeda dalam penampilan dan hakikat itu. Beberapa saat kemudian Fadillah Ahmad bertanya, “Tuan Syaikh, apakah hikmah di balik peristiwa aneh ini?”

“Aku dan Tuan Syaikh Abdul Malik Israil hendak memberi tahu sekaligus mengajarkan kepada kalian berdua tentang pandangan dan prinsip hidup yang kami anut. Tegasnya, bagi kami, yang kami anggap saudara adalah manusia-manusia pecinta Allah yang kiblat hati dan pikirannya diarahkan hanya kepada Allah. Kami tidak peduli apakah agama yang mereka anut Islam, Hindu, Budha, Yahudi, Nasrani, atau Majusi; asal mereka sama dengan kami maka mereka adalah saudara kami. Sebaliknya, manusia-manusia yang kiblat hati da pikirannya hanya ke arah duniawi bukanlah golongan kami, apalagi saudara kami. Mereka adalah pengikut Dajjal. Mereka akan menjadi bagian dari Ya’juj wa Ma’juj. Sekalipun agama mereka Islam, tetaplah tidak bisa kami golongkan sebagai golongan kami, apalagi saudara kami,” ujar Abdul Jalil.

“Tetapi Tuan Syaikh,” sergah Fadillah Ahmad meminta penegasan, “jika kami mengikuti pandangan seperti Tuan Syaikh, apakah kami tidak dianggap aneh dan sesat oleh kaum Muslim seumumnya?”

“Itu jika engkau kemukakan pandanganmu secara terang-terangan kepada masyarakat umum. Itu sebabnya, ajaran Tarekat al-Akmaliyyah adalah ajaran rahasia yang tidak boleh diungkapkan kepada semua orang secara terbuka.”

“Saya paham, Tuan Syaikh.”

“Karena itu,” lanjut Abdul Jalil, “Setelah aku berangkat ke negeri Jawy nanti, kembalilah engkau ke Ahmadabad di Gujarat. Temuilah Syaikh Abdul Ghafur Mufarridun al-Gujarati, ambillah baiat Tarekat asy-Syatariyyah dari saudara kakekku, Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein.

“Jika Syaikh Sayyid Jamaluddin Husein adalah saudara kakek Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad terperangah heran, “berarti Tuan Syaikh adalah keturunan Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam yang makamnya di Ahmadabad.”

“Benar begitu,” kata Abdul Jalil, “sebab ayahandaku, Syaikh Datuk Sholeh, adalah putera Syaikh Datuk Isa Malaka. Dan kakekku itu adalah putera Syaikh Sayyid Ahmadsyah Jalaluddin bin Abdullah Amir Khan bin Abdul Malik al-Qozam.”

“Saya paham sekarang, Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad dengan suara bergetar, “kenapa di dalam mimpi saya lima tahun silam, Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Qozam memerintahkan saya untuk menunggu Tuan Syaikh di Belgaum. Rupanya, Tuan Syaikh adalah keturunan beliau.”

Abdul Jalil diam. “

Tapi Tuan Syaikh,” Fadillah Ahmad melanjutkan, “bagaimana mungkin saya bisa menjalankan dua tarekat yang berbeda?” “

Tarekat al-Akmaliyyah untuk dirimu pribadi, sedang Tarekat asy-Syatariyyah untuk engkau ajarkan kepada khalayak ramai. Wajib engkau ingat-ingat bahwa apa yang disebut tarekat itu pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama, meski nama dan caranya seolah-olah berbeda. Itu sebabnya, jika engkau teliti benar keberadaan semua tarekat maka akan engkau dapati ‘jalan lurus’ dan ‘cara’ yang mirip satu dengan yang lain.” “

Di dalam berbagai tarekat, misalnya, akan engkau dapati pemaknaan inti dari hakikat istigfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq yang sering dipilah-pilah sebagai dzikir jahr dan dzikir sirri. Semua tarekat pasti mengajarkan istighfar, salawat, tahlil, dan nafs al-haqq. Semua tarekat pasti mengajarkan rahasia Muhammad sebagai ‘pintu’ dan ‘kunci’ untuk membuka hijab-Nya,” ujar Abdul Jalil. “

Tuan Syaikh,” kata Fadillah Ahmad minta penjelasan, “kenapa tidak Tarekat al-Akmaliyyah saja yang disebarluaskan kepada khalayak ramai? Bukankah hal itu lebih afdol dibanding mengajarkan Tarekat asy-Syatariyyah?” “

Ketahuilah, o Salik, bahwa Tarekat al-Akmaliyyah sejak semula memang tidak untuk diajarkan kepada khalayak ramai. Tidakkah engkau ketahui kisah Syaikh Abu al-Mughits al-Husain bin Mansyur bin Muhammad al-Baidawi al-Hallaj yang menimbulkan kekacauan ketika mengungkapkan pandangan dan pahamnya kepada khalayak ramai? Tidakkah semua orang saat itu tidak mampu memahami ucapan-ucapannya? Tidakkah hanya kesalahpahaman yang justru ditimbulkannya?” “

Pahamilah, o Salik, bahwa apa yang menjadi dasar dari Tarekat al-Akmaliyyah adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan, Pencipta yang tak bisa dibayangkan dan tidak pula bisa dibandingkan dengan sesuatu. Singkatnya, dasar utama dari Tarekat al-Akmaliyyah adalah perjalanan kembali ke asal: Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un! Kembali kepada Yang Mahagaib. Mahakosong. Mahahampa. Maha Tak Terbandingkan.” “

Bagaimana engkau menjelaskan kepada khalayak ramai tentang Dia (Huwa) yang tak bisa digambarkan dan dibayangkan serta tak terbandingkan? Bagaimana cara engkau meminta khalayak ramai untuk mengikuti jalanmu jika engkau tidak bisa menjelaskan kepada mereka tentang kenikmatan, kelezatan, keindahan, kemuliaan, dan keagungan yang bakal engkau capai? Bagaimana engkau bisa menyadarkan khalayak ramai bahwa mereka tidaklah kembali ke surga yang penuh nikmat dan lezat, melainkan kembali kepada Dia yang tak bisa digambarkan?” “

Dengan uraian ini bukan berarti aku menempatkan Tarekat al-Akmaliyyah sebagai Tarekat yang khusus, apalagi lebih tinggi nilainya daripada Tarekat asy-Syatariyyah. Sekali-kali tidak demikian. Sepengetahuanku, Tarekat al-Akmaliyyah memang tidak pernah diajarkan secara terbuka, kecuali pada masa Husain bin Mansyur bin Muhammad al-Baidhawi al-Hallaj. Entah jika satu saat nanti Allah menghendaki-Nya,” ujar Abdul Jalil menjelaskan. “

Tapi Tuan Syaikh, bagaimana kami memberikan kemanfaatan Tarekat al-Akmaliyyah kepada khalayak ramai? Bukankah Tuan Syaikh telah mengajarkan kepada kami bahwa seorang salik yang telah mencapai tujuannya tetaplah harus meneladani Muhammad Saw, yakni tetap hidup di tengah masyarakat?” tanya Fadillah Ahmad. “

Ketahuilah, o Salik,” kata Abdul Jalil menguraikan, “bahwa menurut pemahaman Tarekat al-Akmaliyyah, dalam perjalanan ruhani menuju Dia pada hakikatnya terdapat empat tahapan. Pertama, perjalanan al-insan menuju al-Haqq (as-safar min al-insan ila al-Haqq). kedua, perjalanan di dalam al-Haqq (as-safar fi al-Haqq). ketiga, perjalanan kembali dari al-Haqq menuju al-insan bersama al-Haqq (as-safar min al-Haqq ila al-insan bi al-Haqq). keempat, perjalanan al-insan di tengah ciptaan bersama al-Haqq (safar al-insan fi al-khalq bi al-Haqq).” “

Dengan uraian ini, o Salik, jangan sekali-kali engkau bertanya soal manfaat dan kegunaan. Sebab, telah jelas pada paham ini bahwa barang siapa yang di dalam perjalanannya telah sampai kepada al-Haqq maka dia akan kehilangan keakuannya yang kerdil dan sempit. Itu berarti, dia tidak akan lagi berbicara tentang manfaat, keuntungan, kenikmatan, kelezatan, dan kemuliaan menurut akal pikiran dan hasrat hatinya. Artinya, dia yang telah sampai akan berada pada tingkatan tertinggi dari kepasrahan kepada-Nya. Wama tasya’una illa an yasya’a Allahu rabbu al-‘alamin!”

Pacific Ocean, bound for Tainan fm Hualien March, 9th 2007 21:45

7. Warisan Bani Adam

Sejak awal manusia diciptakan dan dikaruniai kemuliaan yang kepadanya malaikat diperintahkan bersujud, Allah telah menempatkan musuh utama baginya, yakni iblis. Dengan musuh itulah manusia setiap saat dapat terancam jatuh ke jurang kenistaan sebagai makhluk yang sederajat dengan iblis. Dan Adam, manusia pertama yang mulia yang disujudi malaikat, ternyata jatuh ke dalam lingkaran tipu daya iblis yang menyebabkannya terdepak dari kemuliaan surgawi ke kenistaan duniawi.

Fitrah Adam yang dicipta sesuai gambar Allah (khalaq al-insan ‘ala shurah ar-Rahman) sebagai makhluk sempurna (al-kamal), yang kepadanya ditiupkan ruh ilahiah (ruh al-haqq) dan dikaruniai kemuliaan untuk disujudi malaikat, ternyata hanya pencitraan yang bersifat nisbi. Artinya, saat iblis muncul dan berhasil memperdayanya maka citra ar-Rahman, al-Kamal, al-Haqq, al-Jalal, al-Jamal, dan berbagai kemuliaan-Nya yang melekat pada Adam terserap kembali kepada-Nya.

Keberadaan Adam beserta keturunannya tidaklah dimaksudkan lain, kecuali sebagai bukti kemuliaan dan kebesaran Allah, Azza wa Jalla, yang memiliki kehendak untuk diketahui keberadaan-Nya. Itu sebabnya, penciptaan Adam di antara berbagai makhluk tidaklah dimaksudkan untuk menandingi Allah, tetapi lebih sebagai citra Esa dari keberadaan diri-Nya. Karena itu, Adam beserta keturunannya hanya berhak menyandang gelar wakil Allah (khalifah Allah) yang kepadanya seluruh makhluk mengenal Kasih (ar-Rahman), Kemuliaan (al-Aziz), Keagungan (al-Jalal), Keindahan (al-Jamal), Kesempurnaan (al-Kamal), dan Kebenaran (al-Haqq) Sang Pencipta.

Jika Allah dilukiskan bersabda kepada malaikat tentang ciptaan-Nya yang paling mulia dan sempurna, Adam, maka kira-kira Dia akan bersabda:

“Ketahuilah, o malaikat-malaikat ciptaan-Ku, telah Aku ciptakan wakil-Ku (khalif) yang jasadnya terbuat dari bahan tanah. Jasad itu diolah oleh kedua belah tangan-Ku (al-Jalal dan al-Jamal). Setelah jasadnya terwujud sempurna (al-Kamal) seperti gambar-Ku (Shurah ar-Rahman) maka Aku tiupkan ruh-Ku ke dalam jasad wakil-Ku itu (QS al-Baqarah:30 Shad:71-72).”

“Ketahuilah, o malaikat-malaikat ciptaan-Ku, bahwa wakil yang kepadanya telah Aku tiupkan ruh-Ku itu akan mewarisi secara nisbi sebagian dari Nama (Asma’) dan Sifat (Shifat) serta perbuatan-Ku (Af’al). Wakil-Ku itu akan mewarisi Nama-Ku (Asma’), yaitu Yang Melihat (al-Bashir), Yang Mendengar (as-Sami’), Yang Mengetahui (al-Alim), Yang Merajai (al-Malik), Yang Agung (al-Jalal), Yang Indah (al-Jamal), Yang Sempurna (al-Kamal), dan Yang Benar (al-Haqq). Wakil-Ku itu juga mewarisi sifat kasih (ar-Rahman), sayang (ar-Rahim), mulia (al-Aziz), mengampuni (al-Ghaffar), dermawan (al-Bari’), bijaksana (al-Hakim), melindungi (al-Waly), dan sabar (ash-Shabur). Oleh karena itu, o malaikat-malaikat ciptaan-Ku, sujudlah engkau sekalian kepada wakil-Ku itu! Karena, sesungguhnya engkau sekalian tidak sujud kepada segumpal tanah yang aku bentuk dengan kedua belah tangan-Ku, melainkan engkau sekalian bersujud memuliakan Aku yang telah meniupkan ruh-Ku kepada segupal tanah itu. Adam itulah citra-Ku yang bisa engkau kenal. Dan engkau sekalian tidak akan mampu mengenal apalagi melihat hakikat Aku yang sesungguhnya.”

“Iblis pun tidaklah Aku cipta kecuali untuk meneguhkan keesaan Aku dalam Af’al, Asma’, Shifat, dan Dzat. Sungguh, iblis Aku cipta sebagai bukti bahwa wakil-Ku, Adam, hanyalah pewaris sebagian kecil Asma’, Shifat, dan Af’al-Ku. Dan lewat iblis jua sekalian makhluk ciptaan-Ku akan mengetahui bahwa wakil-Ku itu, Adam, adalah makhluk yang tidak sempurna, namun diliputi kesempurnaan. Lewat iblis, sekalian makhluk ciptaan-Ku mengetahui bahwa segala sesuatu yang Aku limpahkan kepada Adam adalah nisbi. Sungguh hanya Aku Yang Esa dan Mutlak.”

Dengan memahami keberadaan Adam dan iblis maka menjadi jelaslah bahwa iblis tidak boleh hanya dipandang sebagai musuh bebuyutan bagi Adam beserta keturunannya. Sebab, yang lebih mendasar untuk lebih dipahami dari keberadaan iblis adalah sebagai pengingat bahwa sebenar-benar ar-Rahman, ar-Rahim, al-Aziz, al-Ghaffar, al-Bari’, al-Waly, al-Hakim, ash-Shabur, al-Jalal, al-Jamal, al-Kamal, dan al-Haqq hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemuliaan hanyalah milik Allah. Yang wajib mutlak disujudi hanyalah Allah. Dan lantaran hanya sebagai wakil maka keturunan Adam hanya berhak menggunakan nama Abdur Rahman, Abdur Rahim, Abdul Aziz, Abdul Ghaffar, Abdul Bari’, atau Abdul Hakim.

Manusia sebagai keturunan Adam pada hakikatnya hanyalah sebatas citra kemuliaan yang semata-mata merupakan piranti untuk memuliakan dan mengagungkan-Nya; yang tinggi tidak akan ada jika yang rendah tidak ada. Dengan demikian, manusia bukanlah yang tertinggi, meski malaikat-malaikat diperintahkan sujud kepadanya.

Untuk memelihara kelestarian penauhidan terhadap Allah dan pembatasan terhadap Adam beserta keturunannya agar tidak memuliakan, mengagungkan, meninggikan, dan meyucikan dirinya sebagai pengejawantahan Allah, maka keberadaan iblis pun menjadi keharusan fundamental bagi kehidupan Adam beserta keturunannya. Maksudnya, kemuliaan dan keagungan yang tercurah kepada Adam beserta keturunannya senantiasa diikuti oleh kemunculan iblis dalam berbagai manifestasi. Iblis dalam berbagai bentuknya seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kemuliaan dan keagungan Adam beserta keturunannya.

Kisah tergelincirnya Adam dari kemuliaan dan keagungan akibat tipu daya iblis adalah bagian yang terus-menerus menjadi citra kehidupan keturunannya. Habil yang terkasih dan terpuji harus tersingkir oleh Qabil yang mengejawantahkan sifat iri hati dan dendam kesumat iblis. Kematian Habil bukanlah pertanda bagi kemenangan daya dan kekuatan iblis, melainkan semata-mata untuk meneguhkan keesaan Allah. Citra Habil sebagai anak Adam yang terkasih dan terpuji harus terhapus dari hati ayah, ibunda, dan saudara-saudarinya; hanya Allah saja Yang Mahakasih (Ar-Rahman) dan Maha Terpuji (al-Hamid).

Tak jauh berbeda dengan apa yang telah diwarisi Habil dan Qabil dari ayahanda mereka, Adam, yang kemuliaannya senantiasa terancam intaian kenistaan iblis, Abdul Jalil pun dalam meniti jalan kesempurnaan ruhani ternyata diintai oleh iblis yang mewujud dalam bentuk Ali Anshar at-Tabrizi. Laki-laki yang dikenalnya di Baghdad dan kemudian diketahui sebagai pengikut Syaikh Abdul Malik al-Baghdady itu ternyata memiliki aliran nasib yang tak jauh berbeda dengan Qabil. Bagaikan mengulang sejarah, Ali Anshar pun tanpa sadar telah terperosok ke dalam lingkaran kuasa iblis.

Sebagaiman peristiwa Qabil dan Habil, perseteruan antara Ali Anshar dan Abdul Jalil diawali dengan keberuntungan dan kemuliaan yang diperoleh Abdul Jalil menyunting Fatimah, puteri Syaikh Abdul Malik al-Baghdady. Pernikahan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan itu ternyata telah menumbuhkan benih-benih kekecewaan di dalam hati Ali Anshar.

Benih kekecewaan yang tumbuh di hati Ali Anshar semestinya akakn kering dan mati jika ia memiliki kebesaran jiwa dan iman yang kuat untuk memasrahkan segala urusan yang menimpanya kepada Allah. Namun, Ali Anshar ternyata tidak mampu menerima kekecewaan. Dia seolah-olah lupa bahwa segala yang terjadi di alam semesta baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan adalah semata-mata kehendak Allah.

Berawal dari kekecewaan ini, Ali Anshar pun pada gilirannya terjerat oleh jaring-jaring ilusi yang ditebar iblis. Tanpa disadari dan tanpa dipikir lagi secara jernih, jaring-jaring ilusi iblis di dalam dirinya telah memerangkap kesadarannya untuk memasuki lorong gelap yang membawanya ke hamparan jiwa berwujud tanah berlumpur yang dilingkari sumur api.

Di tengah hamparan itu Ali Anshar mengalami peristiwa yang aneh dan menakjubkan, terutama yang terkait dengan Abdul Jalil. Entah bagaimana awalnya, setiap kali dia menangkap citra diri Abdul Jalil di cakrawala ingatannya maka seluruh sumur di hamparan jiwanya mengobarkan api yang luar biasa dahsyat. Seiring kobaran api dahsyat itu, ikut terbakarlah seluruh hamparan dan lorong-lorong jiwanya.

Keberadaan Abdul Jalil yang semula hanya berupa lintasan ilusi yang tidak menyenangkan, karena ia merupakan pangkal dari segala kekecewaan Ali Anshar, secara berangsur-angsur berubah menjadi benih tumbuhan aneh yang mengerikan. Pada awalnya Ali Anshar hanya menganggap bahwa tanpa kehadiran Abdul Jalil, tentulah ia tidak akan menuai kekecewaan yang sedemikian rupa pahitnya. Namun, lama-kelamaan benih tanaman aneh itu tumbuh berwujud pohon iri hati dengan cabang-cabang kebencian, ranting-ranting kedengkian, daun-daun ‘ujub, bunga-bunga takabur, dan buah dendam kesumat.

Sebagai pengikut Syi’ah yang mendukung gerakan Safawy dan selama bertahun-tahun setia kepada Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, Ali Anshar yang dikenal ramah, santun, berpengetahuan luas, dan memiliki wawasan yang mendalam tentang kehidupan tiba-tiba berubah menjadi sosok menakutkan. Kekecewaan, iri hati, benci, dengki, ‘ujub, takabur, dan dendam kesumat telah mengubahnya menjadi makhluk jahat yang mungkin tidak dikenali bahkan oleh dirinya sendiri.

Jika pada awalnya dia hanya merasa betapa semua harapannya untuk memiliki Fatimah dan menjadi bagian keluarga mulia Syaikh Abdul Malik al-Baghdady telah pupus, maka berikutnya dia merasa harga diri dan kehormatannya telah diinjak-injak dan dihinakan. Namun, dia tidak berani menuduh bahwa Syaikh Abdul Malik al-Baghdadylah sumber petaka itu. Sebaliknya, dia menduga Abdul Jalil telah menipu dan bahkan mungkin menggunakan sihir untuk mempengaruhi Syaikh Abdul Malik al-Baghdady.

Bagaimana mungkin Abdul Jalil yang tidak jelas galur nasabnya itu tiba-tiba bisa masuk ke dalam keluarga Syaikh Abdul Malik? Bagaimana mungkin Abdul Jalil yang sebelumnya tak pernah dikenal itu mendadak bisa menjadi menantu Syaikh Abdul Malik yang terhormat? Jika tanpa tipuan atau pengaruh ilmu sihir mana mungkin ia bisa menipu Syaikh Abdul Malik?

Berangkat dari rasa penasaran, iri hati, benci, dan dendam kesumat, Ali Anshar tidak lagi menyadari apa yang sedang dialaminya. Dia hanya merasakan betapa seluruh aliran darahnya terbakar hebat setiap kali melihat Abdul Jalil. Dadanya terasa sesak. Matanya pedih. Giginya bergemerutuk. Seolah-olah melihat dirinya terkapar bagai bangkai anjing najis yang tidak berharga. Saat seperti itu dia hanya melihat satu kemungkinan untuk mengubah keadaan dirinya yang terhinakan itu, yakni membuat Abdul Jalil celaka dan sengsara melebihi dirinya. Bahkan tidak cukup sampai di situ, dia menginginkan Abdul Jalil lenyap dari muka bumi dan tenggelam ke dasar neraka jahanam.

Ali Anshar benar-benar menjelma sebagai iblis berwujud manusia. Tidak ada hari yang terlewatkan tanpa membayangkan Abdul Jalil. Benaknya seolah penuh berisi sosok Abdul Jalil dalam berbagai keadaan yang hina dan nista. Malah dalam doa-doanya tak pernah luput nama Abdul Jalil disebut dengan getar kebencian tanpa tepi. Dalam amalan-amalan hizb yang dibacanya senantiasa tersangkut nama Abdul Jalil sebagai sasaran bidik yang harus binasa. Singkatnya, seolah-olah mewarisi permusuhan Qabil dan Habil, dia telah membulatkan tekad untuk menjadikan Abdul Jalil sebagai satu-satunya musuh terbesar yang wajib dibinasakan.

Sebenarnya, ayahanda mertua Abdul Jalil telah mengetahui bara api yang berkobar di hati Ali Anshar karena hasrat cintanya kepada Fatimah tidak kesampaian. Sebagai seorang wali Allah, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady paham benar betapa berbahayanya jiwa Ali Anshar yang sudah dikuasai nafsu setani. Itu sebabnya, dengan penuh kebijakan dia perintahkan Abdul Jalil secepatnya pergi dari Baghdad ke negeri Jawy.

Abdul Jalil sendiri baru menangkap upaya bijak mertuanya yang ingin menghindarkannya dari api dendam Ali Anshar setelah berbincang-bincang dengan Ahmad at-Tawallud. Sahabatnya itu bahkan dengan tegas mengingatkannya pada bahaya Ali Anshar.

Sekalipun demikian, Abdul Jalil tidak pernah menghiraukan apalagi memberi kesempatan bagi pikirannya untuk menilai sepak terjang Ali Anshar. Ia tidak ingin membiarkan pikirannya terbawa oleh kumparan kecurigaan dan prasangka-prasangka. Ia tidak mau hati dan pikirannya disemayami bayangan manusia bernama Ali Anshar. Ia pasrahkan semua yang berkenaan dengan keberadaan dirinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ali Anshar sendiri tampaknya sudah tidak mampu mengendalikan iri hati, benci, dan dendamnya. Itu sebabnya, saat Abdul Jalil meninggalkan Baghdad, diam-diam dia mengikuti ke mana pun musuh besarnya itu pergi. Bagaikan memiliki penglihatan batin yang tajam, dia seolah-olah mengetahui di mana pun Abdul Jalil berada. Dan lantaran itu, saat Abdul Jalil menikahi Shafa binti Adamji Muhammad, dia menyambutnya dengan penuh sukacita. Kemudian lewat seorang pendukung Safawy yang akan ke Baghdad, dia menitipkan pesan agar berita pernikahan Abdul Jalil disebarluaskan di lingkungan keluarga Syaikh Abdul Malik al-Baghdady.

Tidak cukup mengawasi semua gerak-gerik Abdul Jalil selama di Gujarat, dia juga telah menebarkan fitnah di kalangan kaum Ismailiyyah Gujarat. Dikatakannya bahwa Abdul Jalil adalah nawasib (pemberontak) yang berasal dari golongan Khawarij yang ditugaskan menyusup ke kalangan penganut Syi’ah untuk memecah-belah golongan Alawiyyin dari dalam. Lantaran fitnah itu maka ke mana pun Abdul Jalil pergi menyampaikan risalah kebenaran Islam di Gujarat, ia senantiasa di kuntit oleh pengikut Ismailiyyah. Dan melihat isi dari khotbah yang disampaikan Abdul Jalil, yang intisarinya mengungkapkan kesadaran bahwa setiap manusia pada dasarnya adalah sama dan sederajat sebagai Bani Adam; tidak boleh ada manusia atau kelompok yang meninggikan diri dan merendahkan manusia atau kelompok lain; seluruh manusia berhak menjadi Adam Ma’rifat, al-Insan al-Kamil; dan pengakuan terhadap keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; maka kaum Ismailiyyah pun makin yakin dengan kebenaran fitnah Ali Anshar.

Sebenarnya, beberapa pengikut Ismailiyyah di Gujarat telah merencanakan pembunuhan terhadap Abdul Jalil. Namun tanpa diduga, beberapa hari setelah putera Abdul Jalil lahir ke dunia, ia pergi meninggalkan Gujarat. Rencana pembunuhan itu pun tertunda karena Abdul Jalil diketahui memasuki wilayah Deccan yang sedang bergolak akibat Adil Shahi, Raja Bijapur yang menganut paham Syi’ah Isna Asyariyah, berusaha memisahkan wilayahnya dari Deccan. Namun, Ali Anshar tidak surut langkah. Dia terus mengintai dan mengikuti ke mana pun Abdul Jalil pergi.

Ketika Abdul Jalil tiba di wilayah Deccan, Ali Anshar menghubungi sejumlah pengikut Syi’ah Isna Asyariyah yang dikenalnya. Kepada mereka, dia mengatakan bahwa Abdul Jalil adalah seorang Alamutiah sisa-sisa pengikut Hasan bin Muhammad Sabbah al-Himyari. Abdul Jalil, menurut fitnah itu, merupakan malahidah (ateis) yang bersembunyi di belakang paham Ghalliah (Syi’ah Ghullat) yang mengajarkan kepercayaan tentang penitisan, Muhammad adalah penjelmaan Allah, dan menyesuaikan doktrin tritunggal Nasrani menjadi pancatunggal (Muhammad – Ali – Fatimah – Hasan – Husain). Kehadiran Abdul Jalil di wilayah Deccan semata-mata untuk merusak tata kehidupan masyarakat pecinta Ahlul Bait.

Selain fitnah, dia juga menyebarkan berita buruk tentang Abdul Jalil kepada sejumlah pejabat Deccan yang setia kepada Brahmani. Dikatakannya bahwa Abdul Jalil adalah pengikut Sultan Umar Syaikh Mirza, penguasa kerajaan Farghana. Abdul Jalil membawa misi sultan keturunan Timur I Lenk itu untuk memecah-belah kekuasaan raja-raja Muslim di selatan, termasuk Deccan.

Ali Anshar yang memiliki pengetahuan luas dengan mudah meyakinkan pejabat-pejabat Deccan dengan mengajukan bukti-bukti tentang adanya tengara bahwa Adil Shahi ingin memisahkan diri dari Deccan untuk menjadi raja Bijapur. Jika hal itu dibiarkan maka kekuasaan dinasti Bahmani akan hancur dalam tempo lima belas tahun mendatang. “Setelah Berar dan Bijapur lepas, bagaimana jika Golkunda, Ahmadnagar, Bidar, Gulbarga, dan Raicur ikut-ikutan memisahkan diri? Bukankah itu akan membuat dinasti Bahmani hancur berkeping-keping karena semuanya ingin menjadi raja sendiri-sendiri di wilayahnya?”

Untuk membuktikan kebenaran informasi yang disampaikan Ali Anshar, pejabat-pejabat Deccan mengirimkan beberapa kurir untuk mengawasi gerak-gerik Abdul Jalil dan pandangan-pandangannya yang dianggap membahayakan kerajaan. Dan keterangan yang disampaikan oleh Ali Anshar benar-benar ditangkap sebagai kebenaran oleh para pejabat Deccan setelah mereka mendapat laporan dari para kurir. “

Kepada kaum Muslimin, mualaf, dan dari kalangan berkasta rendah, Abdul Jalil jelas-jelas telah membakar semangat perlawanan mereka terhadap raja. Ia bercerita tentang raja tua bangka yang tetap dipertahankan menduduki takhtanya karena para pelayan dan pengawal raja tua bangka itu bermental budak. Itu yang saya ketahui tentang pengacau bernama Abdul Jalil, Tuanku,” kata kurir itu menjelaskan.

Bagi sebuah dinasti yang berusia hampir satu setengah abad, kekuasaan Bahmani atas wilayah Deccan memang semakin merosot. Korupsi di kalangan pejabat berlangsung semena-mena. Keamanaan rakyat tidak terjamin. Kemakmuran makin jauh. Pada saat seperti itu, fitnah dan adu domba berlangsung sangat mengerikan karena bermuara pada terciptanya kerusuhan yang berujung pada kematian dan kerusakan. Pihak kerajaan sendiri tidak mampu lagi bersikap arif dalam mengatasi perubahan-perubahan. Yang terjadi justru sebaliknya, pihak kerajaan menjadi sangat sensitif dan penuh curiga terhadap berita dan laporan yang acap kali hanya didasarkan pada prasangka-prasangka dan bahkan fitnah.

Abdul Jalil harus menghadapi ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat merenggut nyawanya. Ali Anshar yang mewarisi naluri leluhurnya, Qabil, telah memasang perangkap yang mematikan. Jika Qabil membunuh saudaranya, Habil, dengan kedua tangannya sendiri, maka Ali Anshar akan membunuh Abdul Jalil melalui kecerdikan akalnya dengan menggunakan tangan orang lain, yakni tangan kekuasaan penguasa Deccan.

Angin laut berhembus di antara rumah-rumah yang berdiri di pelabuhan Goa ketika seseorang memacu kudanya menembusi keremangan malam. Di tengah kelengangan suasana, kemunculan penunggang kuda itu menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Saat sampai di depan sebuah rumah besar yang berdiri di pertigaan jalan ke arah pelabuhan dan pasar, penunggang kuda itu berhenti dan melompat turun dengan sigap. Tanpa menambatkan kudanya, dia langsung bergegas masuk lewat pintu belakang.

Ramchandra Gauranga, saudagar asal Khozikode (Calicut), pemilik rumah, saat itu sedang berbincang-bincang dengan tamunya ketika pelayannya memberi tahu kedatangan sang penunggang kuda yang tidak lain adalah kurirnya. “Suruh dia menunggu sebentar,” perintahnya.

Setelah berpamitan pada tamunya, ia bergegas ke belakang. Namun, tak lama kemudian ia tergopoh-gopoh menemui tamunya sambil berkata, “Celaka Tuan Abdul Malik, pasukan kerajaan baru saja masuk ke gerbang utara kota Goa. Kata kurir saya, mereka mancari Tuan Abdul Jalil yang dituduh bersekongkol dengan gerakan pemberontakan Yang Mulia Adil Shahi. Celakanya lagi, mereka tahu bahwa Tuan Abdul Jalil besok pagi akan menumpang kapal saya ke Malaka.”

Abdul Malik Israil, tamu Ramchandra Gauranga, menegrutkan kening sambil menggumam, “Dari mana mereka tahu Abdul Jalil akan naik kapal Tuan?”

“Itulah persoalannya, Tuan,” kata Ramchandra Gauranga dengan kening dipenuhi keringat dingin. “Pasukan itu pasti akan mengobrak-abrik seluruh tempat di Goa, termasuk kapal-kapal yang akan berangkat besok pagi, utamanya kapal saya.”

“Jikalau demikian, keberangkatan sahabat saya, Abdul Jalil, dan cucu saya harus dibatalkan. Saya tidak mau Tuan menerima akibat dari sesuatu yang tidak Tuan lakukan. Saya tidak ingin Tuan kecewa karena iktikad baik Tuan ternyata berbuah kesusahan,” ujar Abdul Malik Israil.

“Tuan dan sahabat serta cucu Tuan dapat berlindung di rumah saya di Bijapur. Di sana pasukan kerajaan tidak akan berani masuk karena seluruh warga Bijapur sydah memihak kepada Yang Mulia Adil Shahi. Biar nanti kurir saya yang mengantarkan Tuan ke sana,” tawar Ramchandra Gauranga.

“Terima kasih atas kebaikan hati Tuan,” kata Abdul Mailk Israil, “namun saya akan menemui sahabat dan cucu saya lebih dulu. Sekali lagi, terima kasih atas kebeikan Tuan yang sangat peduli kepada kami.”

“Itu sudah kewajiban saya sebagai kawan,” kata Ramchandra Gauranga sambil memeluk dan menepuk-nepuk bahu Abdul Malik Israil.

Setelah berpamitan, Abdul Malik Israil bergegas keluar rumah. Seorang pelayan mengantarkannya sampai ke pintu belakang. Kemudian dengan langkah cepat dia bergerak ke arah selatan, menembus keremangan malam.

Setelah beberapa jenak berjalan, tepat di tikungan dekat pasar dia bertemu dengan Abdul Jalil, Syarif Hidayat, dan Fadillah Ahmad. Rupanya, saat Abdul Malik Israil bertamu ke rumah Ramchandra Gauranga untuk menegaskan keberangkatan mereka ke Malaka esok pagi, ketiganya menunggu di pinggir jalan. Abdul Jalil tampaknya sudah menangkap gelagat tidak baik jika ia juga ikut bertamu. Itu sebabnya, ia memilih menunggu di luar.

Berita yang dibawa Abdul Malik Israil bahwa pasukan dari Deccan telah masuk ke gerbang utara kota Goa untuk mencari Abdul Jalil diterima dengan tarikan napas berat. Setelah berdiam beberapa jenak, ia kemudian berkata dengan suara datar, “Andaikata aku ikut ke rumah Ramchandra, kenalan saudaraku Malik Israil, tentulah dia akan menerima musibah dari kehadiranku. Dia akan celakan oleh sesuatu yang dianggapnya baik, yaitu menolong orang yang membutuhkan bantuannya. Namun, Allah Maha Mengatur semuanya.”

“Ramchandra tadi menawari aku untuk berlindung di rumahnya di Bijapur,” kata Abdul Malik Israil. “Menurutnya, pasukan kerajaan tidak berani melakukan tidakan apa-apa di wilayah kekuasaan Adil Shahi.”

“Ramchandra memang orang baik,” kata Abdul Jalil. “Namun, demi kebaikan bersama maka kita harus menolak tawarannya. Sebab, jika kita menerima kebaikannya itu, tidak ada yang menjamin bahwa Ramchandra tidak bakal menemui kesulitan dengan kaki tangan Adil Shahi.”

“Aku juga berpikir demikian,” sahut Abdul Malik Israil, “karena bagaimana pun, Ramchandra adalah saudagar asal Calicut. Dia warga Wijayanagar dan beragama Hindu. Selama ini ia tinggal di Goa karena mendapat perintah dari permaisuri untuk mengawasi Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri, putera Maharaja Wijayanagar, yang meninggalkan istana dan menjalani hidup sebagai brahmin gelandangan.”

Ketika Abdul Malik Israil hendak melanjutkan kata-kata, tiba-tiba dari arah utara terdengar hingar-bingar memecah kegelapan. Makin lama suara itu makin mendekat.

“Itu pasti suara pasukan kuda kerajaan,” kata Abdul Jalil.

“Ya, itu suara derap ladam kuda,” kata Abdul Malik Israil.

“Tuan Syaikh,” Fadillah Ahmad menyela dengan suara bergetar, “kita harus pergi dari sini sebelum pasukan kerajaan menemukan Tuan.”

Abdul Jalil diam seolah tidak menghiraukan ucapan Fadillah Ahmad. Sebaliknya, ia bersujud ke hamparan jalan berdebu sambil menggumam lirih, “Ya Allah, jika Engkau hendak menguji hamba dengan rasa takut maka hamba memohon kepada-Mu agar hamba senantiasa dikuatkan dan diteguhkan dalam keberanian. Sungguh, hanya Engkau yang hamba takuti. Hamba yakin pasukan-pasukan berkuda itu hanya ‘alat’ yang Engkau jadikan sarana untuk menguji iman hamba.”

Beberapa jenak bersujud, Abdul Jalil lantas berdiri. Ia menyaksikan Fadillah Ahmad tegak di depannya dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Abdul Jalil tersenyum. Kemudian dengan suara mantap ia menyitir ayat-ayat Al-Qur’an, “Sungguh Allah akan memberikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan jiwa ....... Sampaikan kabar gembira bagi mereka yang sabar, yaitu mereka yang jika ditimpa musibah mengucapkan inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un (QS al-Baqarah:155-156). Bagaimana manusia bisa digolongkan sebagai orang sabar sehingga dapat bersama-sama dengan ash-Shabur, jika kiblat hati dan pikirannya berubah arah hanya dikarenakan munculnya manusia-manusia penunggang kuda yang mencari orang di dekatnya?”

“Tuan Syaikh, maafkan saya,” kata Fadillah Ahmad dengan bibir bergetar dan suara terbata-bata, “Saya paham bahwa Tuan Syaikh telah mengenal Allah lebih dari saya. Tuan Syaikh telah membuktikan keberadaan Allah. Karenaitu, kiblat hati dan pikiran Tuan tidak berubah arah ketika Tuan menghadapi ujian yang berat dari-Nya. Tetapi saya, Tuan Syaikh, saya hanya kenal Allah dari cerita ayah, ibu, guru mengaji, kawan-kawan, dan dari Tuan Syaikh sendiri. Jujur saja saya katakan bahwa saya masih sering ragu dan melupakan keberadaan Allah. Saya masih terpengaruh oleh segala sesuatu di sekitar saya yang bisa ditangkap indera. Sementara Allah, hanya saya kenal dari dalil-dalil kitab yang saya baca. Itu sebabnya, o Tuan Syaikh, sekarang ini saya benar-benar takut mendengar kabar bahwa pasukan kerajaan sedang mencari Tuan. Maafkan saya, Tuan Syaikh.”

Badul Jalil tersenyum mendengar kepolosan Fadillah Ahmad. Tanpa berkomentar apa pun, kembali ia menyitir ayat-ayat Al-Qur’an, “Sungguh engkau akan diuji dengan harta dan jiwamu (QS Ali Imran:186). Jika Allah menghendaki, niscaya Allah akan menghancurkan mereka, namun Allah hendak menguji sebagian engkau dengan sebagian yang lain (QS Muhammad:4). Janganlah engkau takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu dan agar engkau mendapat petunjuk (QS al-Baqarah:150).”

“Janganlah rasa takut terhadap sesuatu selain Allah membuatmu kehilangan keyakinanmu kepada-Nya. Janganlah engkau mengikuti jejak murid Nabi Isa yang karena rasa takutnya tak terkendali ketika pasukan kerajaan mencari gurunya maka sebelum ayam berkokok dia telah mengingkari gurunya tiga kali. Sebaliknya, ikutilah jejak sahabat Abu Thalhah yang menyediakan dadanya untuk melindungi Rasulullah Saw. dari panah musuh saat perang Uhud. Ikuti juga jejak Abu Dujanah yang melindungi Rasulullah Saw. dengan menyediakan punggungnya sebagai perisai untuk panah-panah yang dibidikkan musuh!”

“Tapi, dengan cara bagaimana saya mengatasi rasa takut ini, o Tuan Syaikh?” Fadillah Ahmad terbata-bata.

“Duduklah!” kata Abdul Jalil menekan bahu Fadillah Ahmad ke bawah.

Fadillah Ahmad yang tertekan bahunya langsung duduk bersila dengan dada turun naik menahan gejolak perasaan.

“Pejamkan matamu!” kata Abdul Jalildengan suara ditekan. “Atur napasmu! Tutup telinga inderamu dari mendengar sesuatu di sekitarmu! Arahkan kiblat kesadaran hati dan pikiranmu ke cahaya di antara kedua matamu sebagaimana yang telah aku ajarkan!”

Fadillah Ahmad mengikuti perintah Abdul Jalil.

Setelah melihat Fadillah Ahmad tenggelam dalam konsentrasi, Abdul Jalil mendekati Syarif Hidayat dan berkata, “Apakah engkau tidak takut, Anakku?”

“Saya tadi sempat takut, Paman,” kata Syarif Hidayat polos, “namun sekarang tidak lagi. Rasa takut saya sudah hilang.”

“Kenapa?” tanya Abdul Jalil.

“Karena saya segera sadar bahwa saya sekarang ini bersama Paman dan Kakek saya, yaitu orang-orang yang dicintai Allah. Jadi, saya sangat yakin Allah pasti akan menolong Paman dan Kakek saya,” kata Syarif Hidayat.

Abdul Jalil tertawa. Abdul Malik Israil juga tertawa.

Sementara itu, pasukan berkuda kerajaan yang telah sampai di pertigaan jalan berpencar menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bergerak ke arah pelabuhan. Kelompok kedua bergerak menuju pasar.

Syarif Hidayat, yang melihat betapa pasukan berkuda itu bergerak ke arah mereka, segera berseru, “Paman! Kakek! Orang-orang berkuda itu ke sini!”

Abdul Malik Israil menoleh ke arah pertigaan jalan. Dengan cepat dia menggandeng tangan Syarif Hidayat dan mengajaknya ke lorong yang memisahkan deretan rumah dengan pasar. Sementara Abdul Jalil dengan tenang menunduk sambil menepuk bahu Fadillah Ahmad dan menggumam, “Bangunlah!”

Fadillah Ahmad membuka mata sambil berkata, “Rasa takut saya sudah agak berkurang, Tuan Syaikh.”

“Kalau begitu, ikuti aku!” kata Abdul Jalil menarik tangan Fadillah Ahmad dan mengajaknya berjalan ke arah lorong mengikuti jejak Abdul Malik Israil dan Syarif Hidayat.

Dari dalam lorong yang gelap, dengan jelas mereka menyaksikan pasukan berkuda itu bergerak di jalan yang jaraknya hanya tujuh tombak dari persembunyian mereka. Saat itulah Fadillah Ahmad menyaksikan pedagang budak, yang kemarin dilihatnya duduk di kereta, ada bersama para penunggang kuda.

“Bukankah itu pedagang budak yang Tuan Syaikh tunjukkan kepada saya?” gumamnya dengan kening berkerut bercampur terkejut.

Abdul Jalil mengangguk sambil memberi isyarat agar diam. Fadillah Ahmad terdiam. Namun, dalam hati dia membenarkan ucapan guru ruhaninya itu, betapa pedagang budak itu pada hakikatnya memang bukan saudara sesama pemuja Allah. Entah untuk alasan duniawi apa sehingga pedagang budak itu ikut bersama pasukan kerajaan mencari gurunya.

Ketika sedang memikirkan kebenaran demi kebenaran yang telah diungkapkan oleh Abdul Jalil, tiba-tiba saja ia merasakan denyut jantungnya lenyap tatkala pasukan berkuda itu berhenti tepat di depan pasar dekat dengan tempat persembunyian mereka. Darahnya serasa berhenti mengalir. Dadanya bagai lautan diaduk gelombang yang mengguncangkan jiwa. Namun, cepat-cepat ia menarik napas untuk meneguhkan keberanian. Ia berusaha membulatkan tekad untuk menghadapi bahaya apa pun bersama dengan gurunya.

Beberapa jenak setelah pasukan berkuda itu berhenti, tiba-tiba pemimpin pasukan yang berada di barisan paling depan mengangkat pedangnya ke atas. Kemudian dengan teriakan keras dan tudingan ke arah depan, menghamburlah pasukan berkuda ke arah pasar dan rumah-rumah di sekitarnya. Bagaikan kawanan pemburu mengejar mangsa yang tersembunyi di semak-semak belukar, mereka mengobrak-abrik seluruh isi pasar dan dengan beringas menggedor setiap pintu rumah.

Di tengah hujaman rasa takut dan gentar, tanpa sadar Fadillah Ahmad memejamkan mata dengan perasaan panik ketika dia melihat beberapa penunggang kuda bergerak ke arah lorong. Dia genggam lengan Abdul Jalil erat-erat dan menahan napas ketika telinganya mendengar detak ladam kuda makin mendekat. Kelebatan bayangan prajurit-prajurit ganas yang mengerikan memasuki benaknya ganti-berganti, makin membuatnya tegang dan panik.

Ketika jarak mereka tinggal satu tombak, terdengar salah seorang prajurit berseru keras, “Itu dia yang kita cari. Tangkap! Tangkap!”

Dalam sekejap para penunggang kuda berhamburan. Bukan ke arah lorong, melainkan ke arah pasar. Mereka berteriak-teriak keras. Abdul Jalil dengan sigap menutup mulut Fadillah Ahmad yang hendak memekik dengan tangan kanannya. Suara caci maki dan detak ladam kuda sahut-menyahut dan sela-menyela, membelah keheningan malam.

“Seret dia kemari!”

“Cari kawannya!”

“Pancung saja kepalanya!”

“Gantung di gerbang kota biar jadi contoh yang lain.”

“Ayo menyebar! Cari kawan-kawannya!”

Fadillah Ahmad yang masih memejamkan mata sudah membayangkan bagaimana guru yang dimuliakannya itu ditangkap dan diseret beramai-ramai oleh orang-orang berkuda. Dia bayangkan betapa dengan keganasan tiada tara gurunya dihajar dan dicambuk hingga tersungkur ke tanah. Diterkam oleh lintasan-lintasan bayangan yang berkelebatan memasuki benaknya dia pun nekat membela gurunya. Namun, saat dia meronta dan membuka matanya, sadarlah dia bahwa guru mulia yang dihormatinya itu masih berada di sisinya. Dia baru sadar jika tangannya menggenggam erat-erat lengan gurunya.

“Siapakah yang ditangkap, Tuan Syaikh?” kata Fadillah gemetar.

“Dia berteriak-teriak, mengaku pencuri,” sahut Abdul Jalil.

Fadillah Ahmad menarik napas lega. Namun, sedetik sesudah itu ketegangan kembali merayapi aliran darahnya ketika seorang penunggang kuda menuju ke arah lorong persembunyiannya sambil berteriak-teriak. Tidak bisa tidak, serunya dalam hati, dia pasti akan menemukan kami karena lorong ini satu arah.

Saat penunggang kuda sudah berada di ujung lorong, muncul bayangan manusia berkelebat. Sekejap kemudian, di antara keremangan, tampaklah sosok Brahmin yang dengan tegar berdiri menghadang penunggang kuda. Samar-samar terlihat brahmin itu menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah menyuruh penunggang kuda berbalik arah. Anehnya, bagai tersihir, penunggang kuda itu menarik kendali kudanya, tidak jadi masuk ke lorong.

Beberapa jenak setelah berdiri di ujung lorong, Brahmin itu membalikkan badan dan melangkah ke dalam. Dengan sikap tidak peduli dia berjalan dengan langkah lebar. Ketika malewati Abdul Jalil, brahmin itu berkata dengan suara dingin, “Ikutilah saya jika Tuan-Tuan ingin selamat dari terkaman hewan-hewan pemangsa yang buas itu.”

Dengan beriringan mereka mengikuti langkah Brahmin yang berjalan cepat menembusi kegelapan lorong. Ketika sampai di ujung lorong yang mengarah ke pantai, dia menghentikan langkah. Kemudian dengan isyarat tangan, dia memerintahkan agar semuanya merunduk. Rupanya, empat orang penunggang kuda sedang melintas di depan jalan.

Ketika penunggang kuda paling belakang sudah berlalu, Brahmin dengan cepat berlari ke seberang jalan sambil tangannya memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Abdul Jalil dan yang lainnya bergegas mengikuti Brahmin yang begitu sampai di seberang jalan, bayangannya langsung menghilang. Ternyata di sana terdapat parit kering yang menuju ke arah laut. Melalui parit itulah mereka sampai di pantai selatan pelabuhan Goa.

Setelah sekitar seperempat jam berjalan, sampailah mereka di suatu tempat yang ditumbuhi pohon-pohon Chatka dan Saptaparna. Di tempat itu telah menunggu tiga laki-laki berkulit legam yang membawa lima ekor kuda. Ketiga orang itu rupanya adalah pengikut Brahmin. Itu terlihat dari sikap mereka yang sangat hormat kepadanya.

Brahmin yang kemudian dikenali oleh Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil sebagai Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri, tanpa berkata sesuatu mempersilakan mereka menaiki kuda. Namun, Abdul Jalil tidak segera naik, sebaliknya ia melangkah mendekat sambil berkata lirih, “Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri yang telah menolong kami.”

“Tuan mengenal saya?” tanya Brahmin mengerutkan kening. “Apakah Tuan diberi tahu oleh Ramchandra Gauranga?”

“Sejak pertama kali melihat Tuan duduk di pertigaan jalan, saya telah mengenali siapa Tuan sebenarnya,” kata Abdul Jalil menjabat tangan Brahmin, “yaitu, seorang manusia yang jauh lebih agung dan lebih mulia daripada takhta yang ditinggalkannya. Bahkan saat Tuan barusan tadi menyebut penunggang kuda itu dengan sebutan hewan pemangsa yang buas, saya makin yakin bahwa Tuan benar-benar telah melihat kenyataan bahwa para penunggang kuda itu adalah manusia-manusia yang mengerikan karena mereka membawa hewan buas pemangsa di dalam diri mereka. Tuan telah “terbangun” dari tidur sesaat di dunia ini dan menyaksikan kenyataan yang sebenarnya dari kehidupan ini.”

Brahmin tercengang makna-makna di balik pembicaraan Abdul Jalil. Itu sebabnya, dengan pandangan tajam dia menatap mata Abdul Jalil seolah ingin mengukur kedalaman jiwanya. Namun, setelah beberapa jenak dia tertawa terkekeh-kekeh dan merangkul erat-erat Abdul Jalil sambil menggumam, “Pantas saja hati saya tergerak untuk menolong Tuan, ternyata Tuan bukanlah orang lain, melainkan diri saya sendiri yang terpisah karena kehendak-Nya.”

Fadillah Ahmad, Syarif Hidayat, dan ketiga orang berkulit hitam itu tercengang keheranan melihat adegan aneh itu. Mereka benar-benar tidak bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi, terutama ketika mendengar isi pembicaraan keduanya. Bahkan yang paling takjub adalah ketiga orang berkulit hitam yang sepanjang hidupnya belum pernah melihat junjungannya itu tersenyum apalagi tertawa. Lantaran itu, mereka bertiga merasakan seolah-olah sedang bermimpi.

Pembicaraan yang akrab dan aneh antara Abdul Jalil dan Bharatchandra Jagaddhatri ternyata tak berlangsung lama. Sebab, dari arah utara terdengar suara hingar-bingar suara derap kaki kuda dan jeritan sahut menyahut dari para penunggangnya.

“Perahunya di mana, Tamrej?” seru Brahmin kepada salah seorang lelaki berkulit hitam yang bertubuh paling tinggi.

“Di pantai Karwar, Yang Mulia,” sahut Tamrej takzim.

“jauh sekali.”

“Tero, teman hamba, tidak berani berlabuh dekat Goa,” kata Tamrej.

“Jika begitu, larilah engkau dan kawan-kawanmu ke arah pantai. Biar aku akan mengalihkan perhatian mereka,” kata Bharatchandra Jagaddhatri tegas.

Dengan penuh takzim Tamrej dan kedua kawannya melakukan anjali (menghormat dengan dua tangan seperti menyembah) kepada Bharatchandra Jagaddhatri. Kemudian bagaikan terbang, mereka melesat ke arah pantai yang menuju Karwar. Dalam tempo singkat, mereka telah hilang ditelan kegelapan malam.

“Saudaraku,” seru Bharatchandra Jagaddhatri kepada Abdul Jalil, “cepatlah berpacu ke arah selatan dengan menyisir pantai. Perahu yang akan membawamu ke Calicut sudah menunggu di sana. Cepatlah! Tero sudah menunggumu!”

Abdul Jalil menarik napas berat sambil menatap dalam-dalam mata Bharatchandra Jagaddhatri. Ada semacam rasa berat menggelayuti hatinya. Namun, dengan terpaksa ia menaiki kudanya.

Saat ia baru saja duduk di atas pelana, tiba-tiba Bharatchandra Jagaddhatri menepuk keras pantat kuda yang ditungganginya. Merasa kaget, kuda Abdul Jalil melonjak dan meringkik, kemudian melesat ke arah selatan dengan membawa penunggangnya. Abdul Malik Israil, Syarif Hidayat, dan Fadillah Ahmad yang sudah menunggu, secara serentak memacu kudanya mengikuti Abdul Jalil.

Bharatchandra Jagaddhatri ternyata tidak kehilangan kemampuannya menunggang kuda, meski dia telah bertahun-tahun hidup sebagai brahmin. Dengan gesit dia melompat ke atas punggung kuda dan kemudian memacunya dengan gerakan melingkar dan berputar-putar. Bharatchandra Jagaddhatri seolah-olah menunggu kehadiran pasukan pemburu Abdul Jalil.

Beberapa jenak menunggu, dia melihat bayangan tujuh ekor kuda beserta penunggangnya bergerak cepat ke arahnya. Makin lama makin dekat. Debu mengepul. Dengan tenang, Bharatchandra menghadapkan kudanya ke arah datangnya ketujuh penunggang. Kemudian dia membungkukkan badan seolah-olah hendak merangkul leher kudanya.

Ketika bayangan tujuh ekor kuda itu makin dekat, tampaklah para penunggangnya mengacungkan pedang sambil berteriak-teriak. Bharatchandra bergeming dan tetap membungkukkan badan. Penunggang kuda paling depan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, hendak diayun menebas ke arah depan. Bharatchandra tetap menunggu.

Saat jarak mereka tinggal sekitar dua tombak, tiba-tiba penunggang kuda terdepan menebaskan pedangnya tepat ke arah kepala Bharatchandra. Angin maut berdesir. Bharatchandra menjatuhkan tubuhnya ke samping kiri lambung kuda tunggangannya dengan kaki masih melekat di pijakan pelana.

Tebasan pedang mengenai angin kosong. Kemudian bagai didorong kekuatan raksasa, penunggang kuda itu melesat ke selatan diikuti oleh kawan-kawannya. Bharatchandra tegak kembali di atas kudanya. Sedetik kemudian dia sudah melesat ke arah utara menuju pasar.

Ketujuh penunggang kuda itu berteriak-teriak marah. Mereka berbalik arah. Kemudian sambil mencaci-maki, mereka memburu Bharatchandra. Namun, arah utara yang dituju Bharatchandra ternyata hanya siasat. Setelah berlari cepat sejauh tujuh puluh tombak, tiba-tiba dia membelokkan kudanya ke timur. Bagaikan hendak mengejek para pemburunya, Bharatchandra sengaja memperlambat lari kudanya.

Ketujuh penunggang kuda yang sudah dirasuk amarah itu dengan sumpah serapah yang kasar terus memburu ke mana pun Bharatchandra memacu kudanya. Dada mereka bahkan hendak meledak ketika melihat Bharatchandra mempermainkan irama lari kudanya. Kadang lambat dan kadang cepat. Mereka terus memburu Bharatchandra hingga tidak sadar telah masuk ke kawasan selatan Belgaum yang dikuasai oleh para pengikut Adil Shahi.

Sementara itu, tanpa menemui kesulitan berarti rombingan Abdul Jalil telah mencapai pantai Karwar. Tero, pemilik perahu, sudah gelisah menunggu kehadiran junjungannya yang sampai larut malam belum juga datang. Dia merasa lega ketika melihat bayangan empat orang dari arah utara. Namun, betapa kecewanya Tero saat mengetahui bahwa junjungannya tidak ikut bersama mereka.

Tero hampir tidak mempercayai bahwa Abdul Jalil adalah kawan Bharatchandra, junjungannya. Dia baru yakin setelah Tamrej beserta kedua kawannya menyusul ke tempat itu dan menjelaskan bahwa Abdul Jalil dan kawan-kawan adalah sahabat junjungannya. Meski demikian, tak urung hatinya diamuk gelisah tak bertepi.

Sebenarnya, bukan hanya Tero yang gelisah menunggu kehadiran Bharatchandra. Mereka semua malihat ke arah utara dengan hati berdebar-debar. Waktu berjalan begitu lambat dan menyiksa.

Ketika kabut mulai turun menyelimuti bumi, pertanda dinihari, tiba-tiba Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa sesuatu yang tidak diharapkan telah terjadi pada diri Bharatchandra. Itu sebabnya, ia bangkit dari duduk dan melangkah ke arah kuda tunggangannya. Ia memutuskan menyusul Bharatchandra apa pun resiko yang bakal dihadapinya.

“Tuan Syaikh mau kemana?” tanya Fadillah Ahmad.

“Aku hendak menyusul saudaraku, Bharatchandra Jagaddhatri. Aku merasa ada sesuatu yang tidak kita harapkan telah terjadi padanya. Aku akan menjemputnya apa pun resiko yang akan aku hadapi.”

“Tuan,” seru Tamrej menyela, “Tuan jangan pergi. Yang Mulia Bharatchandra Jagaddhatri telah mewanti-wanti kami agar membawa Tuan ke Calicut, apa pun yang terjadi dengan kami. Karena itu, Tuan, biarlah kami saja yang menyusul junjungan kami. Biarlah Tuan menunggu di sini.”

Namun, belum lagi Tamrej melanjutkan kata-katanya, Abdul Jalil melihat bayangan kuda hitam berjalan dari arah utara. Tanpa menunggu waktu, ia langsung berlari ke arah kuda yang berjalan sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dan ternyata, di atas punggung kuda itu telah terkulai tubuh Bharatchandra Jagaddhatri dengan posisi tertelungkup. Di punggungnya tertancap sebatang anak panah.

“Saudaraku, apa yang terjadi?” seru Abdul Jalil sambil menurunkan Bharatchandra.

Bharatchandra adalah manusia yang memiliki daya tahan luar biasa dan kuat menahan rasa sakit. Dia hanya tersenyum sambil menggumam, “Aku terkena panah nyasar. Namun, tujuh orang penunggang kuda yang memburuku mati semua dihabisi orang-orang Adil Shahi.”

Angin pagi berembus kering menerpa daun-daun kelapa yang berjajar di sepanjang pantai barat Wijayanagar. Di bawah bayangan pohon kelapa di utara pelabuhan Calicut, Abdul Jalil berdiri tegak memandang ke arah laut yang menggelora. Di samping kirinya berdiri Syarif Hidayat dan Fadillah Ahmad. Di samping kanannya berdiri Bharatchandra Jagaddhatri.

Bagaikan melihat bentangan gambar kehidupannya tergelar di hamparan lautan, ia merasakan dirinya bagai seorang anak yang akan pergi bermain ke tengah lautan. Ia bayangkan dirinya berlari-lari di atas gelombang. Dan saat itu, ia merasakan sentuhan lembut menyentuh kedalaman jiwanya seiring kelebatan bayangan orang-orang yang dicintainya, yang tertinggal nun jauh di dalam selimut halimun kenangan indahnya.

Ia teringat saat kali pertama meninggalkan tanah kelahiran tercinta, Caruban Girang. Saat itu, ia merasa sedih dan pilu menyayat jiwanya. Ia rasakan kehampaan memenuhi dadanya. Ia benar-benar merasakan sentakan pedih ketika harus melepaskan diri dari orang-orang yang dicintainya. Namun, kini, setelah peristiwa itu berlalu puluhan tahun silam, ia tidak merasakan kepedihan dan kepiluan apa-apa dari kepergiannya meninggalkan mereka yang dekat dengannya. Ia justru merasakan dirinya seperti anak-anak yang sedang bermain penuh kegembiraan.

Ketika pandang matanya diarahkan ke utara, ia saksikan kapal yang bakal dinaikinya diliputi kesibukan luar biasa. Sebagian awak ada yang mengatur tali-temali, menata layar, mengikat peti-peti, dan ada beberapa yang naik ke anjungan.

Menyaksikan kesibukan di atas kapal, ia tahu bahwa beberapa saat lagi ia akan berangkat merenangi lautan menuju Malaka. Itu berarti ia akan mengalami babak baru kehidupan sebagai bagian dari alur cerita yang ditentukan-Nya. Itu sebabnya, sebelum menaiki kapal, ia memberi amanat kepada Fadillah Ahmad untuk secepatnya kembali ke Ahmadabad dan mengambil baiat kepada Syaikh Abdul Ghafur Muffaridun al-Gujarati.

“Engkau lebih dibutuhkan di Ahmadabad,” ujar Abdul Jalil.

“Tapi Tuan Syaikh,” ujar Fadillah Ahmad, “Bolehkah saya bertanya sesuatu tentang Tarekat asy-Syatariyyah yang Tuan suruh saya berbaiat kepadanya?”

“Apa yang engkau tanyakan?”

“Saat di Belgaum, Tuan Syaikh meminta saya untuk berbaiat Tarekat asy-Suatariyyah. Saya merasa heran karena saya yang tinggal di Ahmadabad bertahun-tahun belum sedikit pun pernah mendengar nama tarekat seperti itu. Bahkan saat saya renung-renungkan, sepanjang pengetahuan saya tidak ada tarekat seperti itu di Ahmadabad. Apakah Tarekat asy-Syatariyyah itu sama rahasianya dengan Tarekat al-Akmaliyyah?” tanya Fadillah Ahmad.

Abdul Jalil tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar pertanyaan Fadillah Ahmad. Ia sadar bahwa apa yang disampaikannya itu memang tidak lazim. Itu sebabnya, ia segera memberi penjelasan, “Aku telah keliru menyebutkan istilah asy-Syatariyyah kepadamu. Karena, engkau cari sampai ke ujung dunia pun, engkau tidak akan mendapati Tarekat asy-Syatariyyah.”

“Ketahuilah, o salik, bahwa Tarekat asy-Syatariyyah adalah sebutan rahasia bagi tarekat yang diajarkan oleh kalangan Alawiyyin, khususnya dari keturunan Syaikh Abdul Malik al-Qozam. Sebutan tarekat itu sendiri adalah ajaran rahasia yang diajarkan turun-temurun dari kalangan Ahlul Bait Rasulullah Saw., yaitu dari Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husein, Imam Ali Zainal Abidin, Imam al-Baqir, Imam Ja’far Shadiq, dan seterusnya hingga akhir zaman nanti. Tarekat itu ada yang menyebut dengan nama Ja’fariyyah yang dibangsakan (dinisbatkan)kepada Imam Ja’far Shadiq. Namun, ada juga yang menggunakan sebutan lain.”

“Tarekat asy-Syatariyyah adalah sebutan yang diberikan oleh kakek buyutku Syaikh Sayyid Amir Abdullah Khanuddin. Aku sendiri semula tidak tahu kenapa beliau menamakan tarekat yang diajarkannya demikian. Namun, belakangan baru aku tahu bahwa hal itu terkait dengan rahasia-Nya. Jadi, kupesankan kepadamu, o Salik, bahwa mulai saat ini jangan sekali-kali engkau secara terbuka menyebut Tarekat asy-Syatariyyah di mana pun dan kepada siapa pun. Karena, sekali engkau menyebut-nyebutnya berarti engkau telah membuka rahasia-Nya.”

“Kenapa demikian, o Tuan Syaikh?” Fadillah Ahmad heran.

“Karena, Tarekat asy-Syatariyyah baru diajarkan secara terbuka barang seratus tahun lagi dari sekarang. Saat ini, tarekat ini diajarkan sangat tertutup kepada kalangan terbatas, terutama di kalangan Alawiyyin. Karena itu, meskipun diam-diam banyak orang mengamalkan tarekat ini, diharamkan bagi mereka untuk menyebutkan secara terbuka nama Syatariyyah. Itu sebabnya, sekarang ini tidak akan engkau dapati sebutan Syatariyyah di mana pun di negeri Gujarat. Sebab, dia yang akan mengajarkan Tarekat asy-Syatariyyah secara terbuka, hidupnya sezaman dengan cucuku. Jadi, aku pun tidak akan bertemu dia,” ujar Abdul Jalil.

Fadillah Ahmad termangu sambil mengangguk-angguk takjub. Sungguh dia nyaris tidak bisa memahami bagaimana mungkin ajaran yang bakal lahir seratus tahun lagi sudah bisa diketahui saat ini. Namun, selama mendampingi Abdul Jalil sejak di Belgaum, Fadillah Ahmad yakin sekali bahwa Tuan Syaikhnya itu adalah kekasih Allah yang diliputi barokah dan karomah pengetahuan ilahiah yang penuh keajaiban. Karena itu, tak perlu lagi ada yang ditanyakan terhadap uraiannya tentang Tarekat asy-Syatariyyah. Bahkan diam-diam ia bangga karena akan berbaiat suatu tarekat yang baru dikenal orang seratus tahun lagi.

Ketika layar-layar kapal mulai dibentangkan, Abdul Jalil memegang erat tangan Bharatchandra Jagaddhatri, Brahmin yang telah begitu berkesan dalam jiwanya, meski dipertemukan dalam tempo singkat. Ia pandangi matanya yang teduh bagai telaga. Ia saksikan getar-getar ilahiah yang memancar dari keteduhan jiwanya. Dan bagaikan hendak berpisah dengan dirinya sendiri, ia merasakan jiwanya menyentak-nyentak kesadarannya.

Tak berbeda dengan Abdul Jalil, Bharatchandra Jagaddhatri pun merasakan semacam kehilangan merajalela di jiwanya. Namun, secepat itu dia sadar bahwa keterikatan antara dia dan Abdul Jalil adalah keterikatan jiwa yang satu, yang sudah tersingkap selubungnya. Itu sebabnya, sambil menarik napas berat dia kemudian menggumam, “Bagaikan anak-anak berlari di pantai, kita akan bermain penuh kegembiraan. Namun, jika sore menjelang kita akan pulang ke rumah kita yang sejati. Kapankah kita akan bertemu lagi di pantai yang lain?”

“Saudaraku, di mana pun pantai adalah sama, meski namanya berbeda. Tapi, satu hal yang hendak kutanyakan kepadamu, o Saudaraku,” kata Abdul Jalil.

“Tentang apa?”

“Apakah engkau tetap dengan tekadmu untuk pergi dari kerajaan dan menyerahkan takhta kepada adikmu?” tanya Abdul Jalil.

Bharatchandra Jagaddhatri mengangguk sambil tersenyum.

Abdul Jalil tersenyum lebar dan kemudian merangkul Bharatchandra Jagaddhatri sambil berbisik lirih, “Dia yang meninggalkan kerajaan dan kemuliaan duniawi tentu lebih mulia dari kerajaan dan kemuliaan duniawi.”

Sayap malam yang terbentang menutupi permukaan bumi telah terangkat ketika cahaya merah sang surya mulai membias tipis di ufuk timur. Angin berdesau di pepohonan menghamburkan hawa dingin di antara tetes-tetes embun pagi. Di kejauhan terdengar pukulan bedug ditabuh bertalu-talu pertanda waktu subuh datang menjelang.

Di pendapa ndalem Pemelekaran, di bawah pancaran cahaya pelita yang bergoyang-goyang, Ki Gedeng Pasambangan duduk bersila dengan punggung disandarkan pada tiang saka, dengan mata menatap ke depan seolah-olah melihat keremangan pagi yang diliputi kabut. Setelah bercerita semalaman, dia kelihatan lelah. Itu sebabnya, setelah berhenti sesaat dan menarik napas dalam-dalam, dengan senyum mengembang dalam mata tuanya, dia melanjutkan ceritanya. “Setelah Syaikh Datuk Abdul Jalil berangkat dari Calicut dan kapal yang ditumpanginya berlabuh di Pasai, ia tinggal selama sebulan di situ, di kediaman sahabat yang dikenalnya sewaktu haji, Husein bin Amir Muhammad. Di Pasai, dalam waktu singkat ia telah memiliki tiga pengikut dari antara pembesar Pasai, yakni Orang Kaya Kenayan, Abdullah Kandang, dan Abdurrahman Singkel. Namun, suasana perang yang terjadi antara Sultan Zainal Abidin dan adiknya yang berlarut-larut, telah menyebabkan ia harus cepat-cepat meninggalkan Pasai menuju Malaka. Di Malaka, dia mendapati uwaknya, Syaikh Datuk Ahmad, telah wafat. Maka, ia pun segera bertolak ke Palembang untuk berziarah ke makam Ario Abdillah di Pedamaran. Sesudah itu, ia pergi ke Caruban.” “

Begitulah Raden, kisah sahabat dan guru Aki, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Cerita Aki disudahi dulu sampai di sini. Soalnya, tidak terasa sudah semalam suntuk Aki bercerita. Sekarang waktu subuh sudah datang.” “

Ah, maafkan saya karena telah menyusahkan Aki,” ujar Raden Ketib merendah. “Namun, sungguh saya tidak sadar telah semalam suntuk mendengar cerita Aki yang begitu menarik dan memukau. Saya merasakan seperti sedang bermimpi ketika mendengar cerita Aki tentang liku-liku perjalanan Syaikh Datuk Abdul Jalil dalam mencari Kebenaran Sejati.” “

Sebelumnya Aki mohon maaf, Raden, jika dalam bercerita ada hal-hal yang tidak sengaja atau sengaja Aki tambah-tambahi tentang sahabat dan guru Aki itu. Namun, itulah garis besar perjalanannya di dalam mencari Kebenaran Sejati. Apakah Raden menganggap dia orang sesat atau tidak, itu terserah sepenuhnya kepada Raden,” Ki Gedeng Pasambangan tertawa hangat. “

Setelah mendengar cerita Aki, mana mungkin saya berani gegabah menuduh ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil sebagai ajaran sesat. Namun, yang saya herankan kenapa beliau sampai mengalami nasib begitu memilukan? Karena itu, saya mohon agar Aki berkenan menceritakan kepada saya kelanjutan kisah Syaikh Datuk Abdul Jalil sampai tuntas,” kata Raden Ketib berharap.

Ki Gedeng Pasambangan mengangguk sambil tertawa hangat. Setelah itu, dia berdiri dan melangkah menuju ke masjid diikuti oleh Raden Ketib.

Usai shalat subuh dan keduanya hendak berpisah, Raden Ketib dengan agak ragu-ragu bertanya, “Sebelum kita berpisah, apakah Aki membpunyai warisan berharga dari Syaikh Datuk Abdul Jalil yang bisa Aki ajarkan kepada saya?”

Ki Gedeng Pasambangan tersenyum hangat memandangi Raden Ketib dengan tenang dan damai. Raden Ketib, memandang Ki Gedeng Pasambangan dengan pandangan penuh harapan.

Beberapa jenak terdiam, Ki Gedeng Pasambangan tersenyum hangat mengulurkan tangan kanannya sambil berbisik lirih, “Jabatlah tanganku! Mendekatlah kemari! Dan pejamkan matamu!”

Dengan keheranan dan benak diliputi tanda tanya, Raden Ketib menjabat tangan kanan Ki Gedeng Pasambangan dan mendekatkan tubuhnya. Ia memajamkan matanya. Tangan kiri Ki Gedeng Pasambangan kemudian memegang bahunya. Beberapa jenak Raden Ketib merasakan keheningan meliputi dirinya. Dan saat itulah dengan suara lirih Ki Gedeng Pasambangan membisikkan sesuatu ke telinga kirinya.

Raden Ketib tersentak kaget mendengar bisikan Ki Gedeng Pasambangan. Di tengah kekagetannya itu ia merasakan bisikan Ki Gedeng Pasambangan mengalir deras ke kedalaman jiwanya bagaikan cahaya. Ia biarkan bisikan itu meluncur terus menembus relung-relung jiwanya hingga cakrawala kesadaran di hamparan jiwanya yang ditutupi lapisan-lapisan hijab tersingkap bagai tirai disibakkan. Raden Ketib merasakan matahari kesadarannya bersinar kilau-kemilau menerangi jiwa.

Ketika sedang meresapi perubahan yang dialaminya itu, sesuatu yang menakjubkan terjadi padanya. Selagi membuka matanya tiba-tiba ia mendapati dirinya seperti sebongkah batu di dalam sungai dangkal yang sangat jernih. Ia bisa melihat dan merasakan aliran sungai kehidupan yang sambung-menyambung dan susul-menyusul dalam satu rangkaian tak berkesudahan. Dia bisa melihat matahari menyinari bumi, namun sekaligus merasakan hangatnya yang menimpa permukaan air dan mengalir ke pedalaman. Langit biru lazuardi yang membentang di atasnya, terbias bayangannya bagai cermin di permukaan air dan terserap ke dalamnya. Awan-gemawan yang putih berarak dalam bentuk-bentuk yang terus berubah membias di permukaan air dan terserap ke dalamnya. Burung-burung beterbangan dengan aneka bulu dan kicaunya pun membayang di permukaan air dan tembus ke dalamnya.

Tercengang oleh peristiwa itu, Raden Ketib memandang wajah Ki Gedeng Pasambangan yang hanya tiga empat jengkal di depannya. Namun, betapa terperanjatnya ia ketika menyaksikan wajah Ki Gedeng Pasambangan berubah-ubah secara ajaib. Wajah tua itu tiba-tiba menjadi muda dan berubah lagi seperti bayi. Dan wajah itu berangsur-angsur berganda dan berderet-deret panjang bagaikan aliran sungai sambung-menyambung dan susul-menyusul.

Dalam ketakjuban luar biasa, ia terus melihat wajah itu berjajar-jajar dalam rangkaian panjang, berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, berjuta-juta wajah. Secara ajaib kemudian mewujud dalam bentuk pohon-pohon, rerumputan, bebatuan, gunung, lembah, tebing, bukit, awan, langit, matahari, hewan-hewan, ikan, burung, serangga, dan manusia. Makna apakah di balik yang tergelar di hadapanku ini, tanya Raden Ketib dalam hati. Antara sadar dan tidak, antara lantang dan samar-samar, antara hingar-bingar dan hening, jauh di kedalaman jiwanya, ia menangkap getaran suara dalam bahasa perlambang, yang maknanya kira-kira berbunyi: “Ke mana pun engkau menghadap, di situ wajah Allah” (QS al-Baqarah: 115).

Pacific Ocean Approaching Hualien Harbor, March, 13rd 2007, 08:50LT