Ain al-Bashirah

Saat-saat awal ketersingkapan (kasyf) kesadaran jiwa adalah saat-saat yang paling berkesan bagi seorang penempuh jalan ruhani (salik). Dikatakan paling berkesan karena selama melintasi detik-detik terhalaunya gumpalan awan hitam penutup hati (ghain) yang menyesaki jiwanya, seorang salik akan mengalami pengalaman yang tak pernah ia pikirkan dan ia bayang-bayangkan sebelumnya.

Dengan ketakjuban luar biasa, saat itu sang salik akan merasakan pancaran kecermelangan purnama ruhani (zawa’id) melimpahi relung-relung kalbunya yang diliputi pemahaman ruhani (fawa’id). Ia juga akan merasakan betapa menggetarkan dan memesonanya saat mata batin (‘ain al-bashirah) dengan kejernihan dan kebeningan kesadaran jiwanya menyaksikan pancaran keindahan bintang-gemintang pengetahuan hati (thawali’) yang tak tergambarkan oleh bahasa manusia.

Ketersingkapan awal seorang salik adalah pengalaman paling menggetarkan yang tidak akan terlupakan. Karena dalam detik-detik dari rentangan waktu itu, kesadaran jiwanya akan menyaksikan gambaran-gambaran matra baru yang serba asing yang dicitrai nuansa pelangi aneka rasa dan aneka warna kebahagiaan. Ibarat hari-hari malam dari cakrawala al-basyar yang gelap diliputi kesunyian, kepedihan, nestapa, dan duka cita, ketersingkapan itu menyembulkan purnama kesadaran cahaya berkah dalam alunan irama musik dan nyanyian ruhani.

Sebagaimana para salik yang lain, saat mengalami peristiwa awal penyingkapan kesadaran jiwa itu, Raden Ketib tercengang-cengang dalam pesona ketakjuban. Bagaikan mengalami peristiwa yang mengguncang jiwa, dalam waktu cukup lama ia masih merasakan betapa kuat kesan itu melekat di relung-relung ingatannya. Ia seperti masih bisa merasakan betapa saat itu seolah-olah bertiup angin yang membadai dan mengamuk dari relung-relung kedalaman jiwanya, menghalau gumpalan awan hitam penutup hati ghain yang menyesaki cakrawala jiwanya. setelah itu, dengan sangat jelas, ia saksikan terbitnya matahari zawa’id yang bersinar gemilang menerangi relung-relung pemahaman fawa’id yang membentang di cakrawala jiwanya.

Meski kesan dari peristiwa itu sangat kuat melekat di relung-relung kedalaman jiwanya, Raden Ketib sendiri sulit menggambarkan dengan bahasa manusia tentang bagaimana sejatinya rangkaian penyaksian dan perasaan yang dialaminya saat detik-detik kesadaran jiwanya itu tersingkap. Ia hanya bisa membandingkan pengalamannya itu ibarat kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Demikianlah ia merasakan kesadaran jiwanya tersingkap. Kemudian, dengan kepak sayap yang indah sang kupu-kupu terbang bebas menyaksikan keluasan dunia baru yang jauh lebih akbar dan menakjubkan dibandingkan dengan kepompong.

Di tengah semerbak wangi bunga-bunga, sejuk udara, dingin embun, dan hangatnya mentari pagi, sang kupu-kupu yang keluar dari kepompong mengepakkan sayap untuk mencari sari madu di antara kelopak bunga sambil memuji keagungan dan kemuliaan Ilahi. Sang kupu-kupu merasa dunianya adalah dunia keindahan dan kesucian yang diliputi keagungan dan kemuliaan. Namun, saat terbang di antara bunga-bunga itulah dengan pandang heran ia melihat – dengan pandangan mata seekor kupu-kupu – kawanan ulat yang ganas dan rakus menggeragoti daun-daun, buah, dan bunga dari Pohon Kehidupan. Ah, betapa rakus. Betapa ganas. Betapa menjijikkan. Tidak ada manfaat apa pun dari ulat-ulat ganas dan rakus itu selain merusak dan membinasakan Pohon Kehidupan. Dan, sang kupu-kupu pun berkata dalam hati, “Sesungguhnya, dari ulat-ulat yang ganas, rakus, dan menjijikkan itulah aku dulu berasal.”

Selama mengalami ketersingkapan itu Raden Ketib merasakan tengara misterius yang mengisyaratkan betapa sesungguhnya awan hitam ghain yang bergumpal-gumpal menyesaki jiwanya itu tidak pernah terhalau tanpa kehendak Yang Ilahi, yakni Dia Sang Pencipta, Yang Berkuasa mutlak memberi petunjuk (al-Hadi) sekaligus Yang Berkuasa mutlak menyesatkan (al-Mudhill) makhluk ciptaan-Nya. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya, yang jelas sejak mengalami peristiwa itu ia benar-benar merasa gumpalan awan hitam penutup hatinya disibakkan oleh kuasa gaib al-Hadi, seibarat terkuaknya lapisan kepompong saat sang ulat hendak keluar menjadi kupu-kupu.

Pengalaman ruhani adalah pengalaman rasa. Itu sebabnya, Raden Ketib tidak bisa menjelaskan dalam bahasa manusia bahwa sesungguhnya keakuannya tidak ikut campur dalam proses menguak lapisan kepompong saat ia merasakan keberadaan dirinya sebagai kupu-kupu. Ia tidak bisa menjelaskan pengalamannya secara tepat, kecuali mengungkapkan dengan jujur betapa dirinya dalam bentuk kupu-kupu itu telah diserap oleh semacam “daya gaib” yang mendorongnya keluar dari kepompong. Bahkan, saat dirinya telah keluar dari kepompong pun ia hanya bisa mengungkapkan perasaan betapa semua gerak dari kehidupannya sebagai kupu-kupu seolah-olah diarahkan dan dituntun oleh “daya gaib” tersebut.

Ya, “daya gaib” misterius itulah yang sejatinya telah membimbingnya untuk mengenal dan memahani makna kehidupan yang tergelar di hadapannya. Laksana wangi bunga yang menarik penciuman kupu-kupu, begitulah keberadaan “daya gaib” itu telah memesonanya untuk mengepakkan sayap dan terbang. “Daya gaib” itu telah menuntunnya untuk mengenali dan memahami alam semesta tempat hakikat pengetahuan (‘ilm) tersembunyi, yang membawanya pada penyaksian (ma’rifat) atas Kebenaran Sejati (al-haqq) sebagai pengejawantahan dari Yang Mahaada (al-Wujud).

Peristiwa penyingkapan kesadaran jiwa yang dirasakan Raden Ketib ternyata menjadi peristiwa yang sangat menentukan perubahan jalan hidupnya. Peristiwa itu tidak saja membuat awan hitam ghain yang menyesaki jiwanya terhalau sehingga purnama pemahaman fawa’id bersinar benderang di cakrawala jiwanya, tetapi ia juga merasakan betapa cakrawala pemahaman baru atas keberadaan segala sesuatu di sekitarnya tiba-tiba terasa membentang luas dan ganti-berganti di hadapannya. Benda-benda yang terhampar di sekitarnya, misalnya, sebelumnya selalu ia pahami sebagai benda mati tak berjiwa. Seiring terkuaknya tirai penutup hati hingga terpancar purnama pemahaman fawa’id, ia tiba-tiba menangkap suatu pemahaman aneh yang mengungkapkan betapa di dalam benda-benda yang terhampar di sekitarnya itu sesungguhnya tersembunyi “bekas jejak” ciptaan yang sama dengan keberadaan dirinya.

Keberadaan makhluk hidup yang selama ini dianggapnya sosok asing yang sama sekali tidak berhubungan dengan dirinya, tiba-tiba disadarinya memiliki “bekas jejak” ciptaan yang sama dengan dirinya. Ia merasa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta; manusia, burung, hewan melata, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan semua makhluk hidup tiba-tiba berubah seolah-olah menjadi sesuatu yang memiliki hubungan dengan dirinya. Demikianlah, meski sulit diterima nalar, ia merasakan betapa sesungguhnya keberadaan dirinya menjadi bagian dari semesta benda, makhluk hidup, rembulan, matahari, bintang, tanah, langit, air, dan angin.

Penyingkapan yang dirasakan Raden Ketib ternyata tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap segala sesuatu yang tergelar di alam semesta, tetapi berkaitan pula dengan perubahan liku-liku perjalanan hidup yang dilaluinya. Entah apa yang sesungguhnya telah terjadi dengannya. Kini ia tiba-tiba merasa gerak kehidupannya seolah-olah diarahkan dan dituntun oleh “daya gaib” ke arah yang tidak ia ketahuhi ujungnya. Bahkan, saat menghadapi persoalan rumit pun ia merasakan seolah-olah diarahkan oleh “daya gaib” untuk mengikuti jalan yang sering kali tak pernah dipikir dan dibayangkannya.

Keberadaan “daya gaib” dalam gerak kehidupan itu setidaknya ia rasakan saat ia dililit persoalan rumit yang terkait dengan liku-liku usahanya mengungkap tabir misteri di balik kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sebelum mengalami peristiwa penyingkapan itu, ia merasakan betapa rumit dan berliku-liku jalan untuk menguak misteri Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, setelah peristiwa menakjubkan itu ia seolah-olah selalu mendapat jalan mudah yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran dan angan-angannya. Tabir gelap misteri kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil yang selama ini tertutup gumpalan awan hitam tebal tiba-tiba bersinar terang di hadapannya, laksana matahari kebenaran yang menginginkan keberadaannya diketahui.

Setelah tabir awal misteri Syaikh Abdul Jalil disingkap oleh Ki Gedeng Pasambangan, tiba-tiba ia merasa dibimbing oleh “daya gaib” misterius ke arah penyingkapan tirai kedua. Yang mengherankannya, tabir kedua itu justru disingkap oleh Pangeran Pamelekaran, kakeknya sendiri. Sungguh, sebelumnya tidak pernah ia bayangkan di benaknya bahwa sang kakek pernah bertemu apalagi sampai memiliki hubungan dekat dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Pangeran Pamelekaran ternyata telah berkali-kali bertemu dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil; bukan hanya dalam peristiwa penyerangan Pakuwuan Caruban, melainkan juga dalam serangkaian peristiwa penting baik di Terung, Surabaya, Demak, Caruban, bahkan di Wirasabha.

Tersingkapnya tirai pertama dan kedua yang menyelubungi kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil ternyata diikuti dengan tersingkapnya tirai-tirai berikutnya. Tanpa pernah menduga sebelumnya ia berjumpa dengan pembuka tirai ketiga, yakni Adipati Cirebon. Sang Adipati merupakan putera almarhum Raja Muda (prabu anom) Caruban Larang, Sri Mangana. Dia ternyata mengenal Syaikh Datuk Abdul Jalil dengan sangat dekat, yang sudah dianggapnya kakak sulung. Adipati Cirebon banyak mengungkap liku-liku perjuangan dan ajaran rahasia yang disampaikan Syaikh Datuk Abdul Jalil, termasuk yang berasal dari penuturan ayahandanya, Sri Mangana.

Tirai keempat tanpa disangka-sangka disingkap oleh Syaikh Maulana Jati, guru agungnya, saat ia diajak Ki Gedeng Pasambangan ke Banten. Sebagaimana kisah yang telah diketahuinya dari penuturan Ki Gedeng Pasambangan, ternyata guru agungnya itu benar-benar mengetahui secara mendalam kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil setelah kembali dari Hindustan. Dari Guru Agung Syaikh Maulana Jati itu pula ia mengetahui bahwa sesungguhnya Syaikh Datuk Abdul Jalil bukan hanya seorang guru manusia, melainkan juga seorang pembaharu yang menata kehidupan masyarakat dengan kaidah-kaidah dan asas-asas yang sama sekali baru pada zamannya. “

Tetapi seibarat matahari yang tak pernah menyisakan pamrih akan kecemerlangan cahayanya saat menerangi dunia, demikianlah Syaikh Datuk Abdul Jalil meninggalkan semua hasil perjuangannya, demi menyongsong datangnya malam indah yang diterangi bulan sabit dan berjuta-juta bintang yang gemerlapan memenuhi penjuru langit,” ujar Syaikh Maulana Jati tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil yang sangat dihormati dan dimuliakannya.

Kebenaran, jika sudah muncul maka ia akan terbit laksana matahari di pagi hari. Pencarian kebenaran tentang kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil yang dilakukan Raden Ketib telah membawanya ke cakrawala pagi saat terbit fajar kebenaran. Bagaikan berada di alam mimpi, tiba-tiba ia merasakan bimbingan “daya gaib” telah mempertemukannya dengan Syaikh Datuk Bardud, salah seorang putera Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia akan bertemu dengan putera guru manusia dan tokoh pembaharu itu. Bahkan, yang lebih membuatnya terheran-heran adalah kenyataan bahwa Syaikh Datuk Bardud selama ini ternyata tinggal di ndalem Pamelekaran bersama kakeknya.

Keberadaan Syaikh Datuk Bardud di kediaman kakeknya sempat memunculkan tanda tanya di benak Raden Ketib tentang sikap kakeknya yang seperti sengaja menyembunyikan putera Syaikh Datuk Abdul Jalil itu. Kenapa tidak sejak awal ia diperkenalkan dengan Syaikh Datuk Bardud? Kenapa ia terlebih dahulu harus diperkenalkan dengan Ki Gedeng Pasambangan? Kenapa keberadaan Syaikh Datuk Bardud di kediaman kakeknya sangat dirahasiakan hingga ia pun tidak diperbolehkan mengetahuinya?

Di tengah kecamuk tanda tanya yang memenuhi benaknya itulah Raden Ketib menjalin keakraban dengan Syaikh Datuk Bardud yang usianya lebih tua sekitar sepuluh tahun. Meski usia Syaikh Datuk Bardud baru sekitar empat puluhan tahun, dia tampak lebih tua. Kumis dan cambangnya yang dibiarkan memenuhi hampir separo wajah mengesankan dia seolah-olah berusia hampir enam puluhan tahun. Selama berbincang-bincang dengan Syaikh Datuk Bardud itulah Raden Ketib menangkap pancaran mutiara kebijaksanaan di tengah samudera pengetahuan yang tersembunyi di kedalaman jiwanya. “

Sebagian orang menilai ayahandaku, Syaikh Datuk Abdul Jalil, adalah manusia besar yang salah tempat dan salah waktu lahir ke dunia sehingga kehadirannya sulit diterima,” Syaikh Datuk Bardud menuturkan kisah kehidupan ayahandanya kepada Raden Ketib. “Namun bagiku, o Adinda, segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan beliau semata-mata adalah rahasia-Nya. Sebab sesuai ajaran beliau, Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah keliru menempatkan seseorang pada suatu zaman. Dan, lantaran itu saya yakin bahwa kelahiran, liku-liku hidup, bahkan kematiannya adalah semata-mata karena kehendak-Nya.” “

Sungguh telah termaktub di dalam firman-Nya bahwa tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya serta tidak seorang pun perempuan mengandung dan tidak pula melahirkan, kecuali dengan pengetahuan-Nya (QS Fushshilat: 47). Ini bukan berarti bahwa Sang Pencipta hanya menyaksikan segala sesuatu secara pasif, melainkan secara mutlak dan aktif. Dia ikut terlibat di dalam merancang, membentuk, memelihara, dan bahkan menghancurkan seluruh ciptaan melalui ilmu-Nya. Bukankah Dia, Yang Maha Mengetahui, tiada lain adalah Sang Pengetahuan (al-‘Alim) itu sendiri?” “

Jika Adinda bertanya-tanya tentang keberadaan saya yang disembunyikan oleh Eyang Pangeran Pamelekaran di kediamannya tanpa sepengetahuan Adinda, pun jika Adinda bertanya kenapa tidak diperkenalkan dengan rakanda sejak awal, maka sesungguhnya hal itu adalah atas kehendak-Nya semata. Sesungguhnya, liku-liku perjalanan Adinda dalam menelusuri jejak kehidupan dan ajaran ayahandaku merupakan bagian dari “jalan” (sabil) yang digelar-Nya. Sebab, jika Dia menghendaki, bisa saja Eyang Pangeran Pamelekaran langsung memperkenalkan Adinda dengan saya sehingga Adinda tidak perlu susah payah menelusuri jejak kehidupan ayahandaku. Namun, Dia menghendaki agar Adinda berjalan melingkar-lingkar dulu dengan berbagai hambatan dan rintangan. Itu berarti, dengan sukarela atau terpaksa, Adinda harus menerima kehendak-Nya tanpa perlu bertanya ini dan itu.” “

Sesungguhnya, menurut ajaran ayahandaku, segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini sudah ditata sangat rapi tanpa setitik pun mengandung kekeliruan. Hanya mereka yang terhijab dari kebenaran-Nya saja yang menganggap kehidupan di alam semesta ini kacau balau tidak teratur. Saya masih ingat bagaimana ayahandaku mengambil ibarat dengan mengisahkan sekumpulan orang buta yang diundang dalam perjamuan agung oleh sang raja.” “

Dalam kisah itu disebutkan pada saat pesta dimulai sekumpulan orang buta yang diundang sang raja datang dan berjalan beriring-iringan. Saat memasuki bangsal agung yang sudah dipenuhi hidangan lezat yang tertata rapi di atas meja, tiba-tiba salah seorang di antara mereka menabrak meja. Tumpah-ruahlah sebagian hidangan tersebut. Sang raja tersenyum. Para undangan juga tersenyum. Namun, orang buta itu marah-marah. Dia memaki-maki para pelayan yang dianggapnya tidak mengatur meja secara benar. Seperti halnya orang buta itu, kawan-kawannya yang juga buta menganggap ruangan itu tidak diatur dengan baik dan benar.” “

Begitulah, Adinda, bagi mereka yang telah tercelikkan mata batinnya (ain al-bashirah) akan memahami bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta sesungguhnya sudah diatur dan ditata secara sempurna oleh Sang Pencipta. (al-Khaliq). Bahkan bagi yang sudah tercelikkan mata batinnya, kehidupan di dunia ini hanya sebuah mimpi yang harus dilampaui seperti saat kita tertidur singkat. Hanya mereka yang sudah tercelikkan mata batinnya saja yang bisa memahami makna kebenaran (al-haqq) di balik kehidupan yang dekat (ad-Dunya) ini.” “

Apakah Rakanda melihat saya tergolong d antara mereka yang sudah tercelikkan mata batinnya?” tanya Raden Ketib meminta penjelasan.

Syaikh Datuk Bardud tersenyum mendengar pertanyaan Raden Ketib. Sesaat setelah itu, dengan bahasa perlambang (isyarat), dia mengatakan bahwa Raden Ketib sesungguhnya telah dapat merasakan dan menerima pesan darinya tanpa melalui bahasa indriawi manusia. Lantaran itu, pertanyaan lisan itu tidak perlu dijawab melalui bahasa indriawi manusia.

Raden Ketib tertegun saat menyadari betapa dirinya dapat menangkap bahasan perlambang yang diungkapkan Syaikh Datuk Bardud. Namun, saat itu pula ia sadar bahwa yang dimaksud Syaikh Datuk Bardud sebagai manusia yang sudah tercelikkan mata batinnya itu tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang telah tersingsingkan awan hitam ghain dari dalam hatinya hingga pemahaman fawa’id-nya dapat menangkap kenyataan yang tergelar di sekitarnya sebagai kebenaran hakiki (al-haqq). Dengan kesadaran itu, Raden Ketib bersyukur bahwa dirinya telah beroleh anugerah tak ternilai berupa ketercelikan mata batin dari kebutaan (zhulman) manusiawi (al-basyar).

Dalam berbagai perbincangan dengan Raden Ketib, Syaikh Datuk Bardud mengungkapkan kesaksian tentang ayahandanya dengan luas dan mendalam. Dia tidak hanya mengungkapkan kesaksian tentang liku-liku kehidupan dan ajaran ayahandanya, tetapi mengisahkan pula tentang siapa saja putera-puteri, sanak keluarga, kerabat, dan pengikut-pengikut utama ayahandanya baik yang tinggal di Caruban Larang, Banten Girang, Jawa, Malaka, maupun Gujarat.

Keakraban Raden Ketib dan Syaikh Datuk Bardud ternyata tidak sekadar dibangun melalui perbincangan mendalam tentang perikehidupan dan ajaran Abdul Jalil. Hubungan itu dilanjutkan pula melalui penguatan tali silaturahmi. Melalui Syaikh Datuk Bardud pula, Raden Ketib pada gilirannya dapat bertemu dengan Raden Sahid, adik seperguruan sekaligus murid ruhani Syaikh Datuk Abdul Jalil yang menjadi Susuhunan Kalijaga (Jawa Kuno: Raja Muda Kalijaga), yang tinggal di Demak. Ia juga diperkenalkan dengan menantu Syaikh Maulana Jati, yaitu Pangeran Pasai Fadhillah Khan, kemenakan Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Ibarat pembuktian kebenaran melalui tingkat keyakinan ilmu (‘ilm al-yaqin), Raden Ketib secara bertahap merasa setapak demi setapak langkah pencariannya mendekati matahari kebenaran. Entah benar entah tidak penuturan para saksi kepadanya, yang jelas ia telah memiliki cakrawala pandang sendiri tentang bagaimana sesungguhnya kebenaran kisah kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil, Sang Pembaharu itu. Saat ia bersama Syaikh Datuk Bardud menapaktilasi liku-liku perjuangan Syaikh Datuk Abdul Jalil berdasarkan kesaksian para saksi hidup yang mengenal dengan sangat dekat tokoh tersebut, ia seolah-olah terlempar kembali ke masa silam, ke sebuah kurun waktu yang mencengangkan, yakni kurun ketika Syaikh Datuk Abdul Jalil meniti tali sejarah yang membentang di antara dua bukit karang yang tegak di tengah samudera kehidupan yang penuh karang tajam dan empasan ombak mengerikan.