Kembali ke Sarang

Abdul Jalil, anak negeri yang lahir dalam kepedihan seorang yatim dan tumbuh di tengah hiruk pikuk sejarah dan ketidakpastian zaman, adalah manusia yang hanyut diseret arus nasib hingga terlempar jauh dari bumi tumpah darahnya yang diliputi kegelapan. Kerinduannya akan kebenaran telah mengubah arus kehidupannya menjadi sesuatu yang mencengangkan zamannya. Dengan kenaifan seorang anak dari negeri yang sedang dilanda kegelapan, ia saksikan gilang-gemilangnya kota antarabangsa, Baghdad. Di kota sumber pengetahuan dan pusat peradaban itulah ia sadari keberadaan dirinya yang laksana setitik air sedang terbawa arus menuju ke samudera kehidupan tak bertepi.

Dengan kesadaran diri bagai setitik air, Abdul Jalil membiarkan dirinya hanyut mengikuti liku-liku sungai nasib hingga ke muara. Di muara nasib itu ia dapati dirinya hanyut terbawa pusaran air ke tengah samudera kemanusiaan. Dengan ketakjuban setitik air, ia terbawa terbang ke angkasa oleh kumparan nasib menjadi setitik air jernih di tengah gumpalan awan. Lalu jatuhlah ia ke tanah suci sebagai setitik air di tengah rinai hujan yang mengguyur padang belantara. Dan, tercenganglah ia saat menyadari betapa dirinya telah berada di Mata Air Suci Abadiyang merupakan Sumber segala sumber air kehidupan. Kesadarannya tersingkap (kasyf), kekeruhan (ghain) jiwanya tersibak, jiwanya terjernihkan (zawa’id), mata hatinya (‘ain al-bashirah) tercelikkan. Ia pun menjadi sadar betapa di dalam setitik air itu sesungguhnya tersimpan hakikat mata air, sungai, telaga, air terjun, muara, samudera, awan, hujan, angin, dan getar kehidupan sejati.

Kini, setelah diseret kembali oleh arus nasib pengembaraan panjang pencarian jati diri tentang asal usul kejadian dari mana segala sesuatu berawal, ia telah menjadi anak negeri yang terjaga di antara bangsanya yang masih terlelap tidur. Seiring terbitnya matahari pagi kehidupan, ia dengan didampingi Syarif Hidayatullah kembali ke tanah kelahirannya di Caruban Larang dengan tugas utama untuk membangunkan saudara-saudara sebangsanya yang sedang mengalami mimpi buruk; terjerat jaring-jaring kejahilan yang mereka pintal sendiri menjadi tali-temali yang membahayakan kehidupan seluruh negeri.

Ibarat pepatah setinggi-tinggi burung terbang akhirnya kembali ke sarang juga, begitulah Abdul Jalil kembali dari pengembaraan melanglang buana langsung menuju ke sarang asalnya, Padepokan Giri Amparan Jati, tempat ia sebagai telur telah ditetaskan dan dibesarkan oleh induknya. Ia pun bersyukur saat mendapati guru agung yang telah mengukir jiwanya, Syaikh Datuk Kahfi, berada dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa pun, meski usianya sudah lebih tujuh puluh tahun.

Dengan air mata bercucuran menyaksikan anak asuh, saudara sepupu, dan murid terkasih yang senantiasa dirindukannya, Syaikh Datuk Kahfi bergumam dengan suara bergetar, “Ya Allah, terima kasih. Engkau telah mengabulkan permohonan hamba untuk tidak memanggil hamba ke hadirat-Mu sebelum bertemu kembali dengan anak yang hamba rindukan ini. Kini, hamba telah siap menghadap-Mu, Ya Ilahi Rabbi, Gantungan jiwa hamba.”

Abdul Jalil tidak berkata sesuatu. Ia hanya bersujud ke haribaan Syaikh Datuk Kahfi. Ia seperti terlempar kembali ke rentangan masa kecil saat ia bermanja dengan sang guru yang berperan sebagai pengganti ayahandanya itu. Ia seolah ingin merasakan kembali kehangatan kasih guru agung yang sangat dihormati dan dimuliakannya. Sementara itu, menghadapi sikap Abdul Jalil yang bagai mengurai masa silam, Syaikh Datuk Kahfi tersenyum bahagia dengan air mata berlinang-linang membasahi kelopak matanya. Kemudian dengan suara tersendat-sendat ia berkata, “Anakku, di ujung usiaku yang sudah senja ini, tidak ada lagi yang aku inginkan dari sisa hidupku kecuali ingin melihatmu kembali dengan selamat dan berharap engkau berhasil menemukan apa yang engkau cari. Jika engkau tidak keberatan, aku mohon agar engkau berkenan menuturkan tentang apa saja yang telah engkau alami dan engkau peroleh dari pencarianmu selama ini. Sebab, hari-hari dari hidupku sejak kepergianmu selalu kuisi dengan doa agar kelak aku bisa bertemu kembali denganmu dan bisa mendengar kisahmu menemukan Kebenaran Sejati. Di atas itu semua, o Anakku, hanya satu harapan yang aku harapkan darimu, yaitu engkau bisa menjadi penuntunku saat aku menghadapi ajal.”

Abdul Jalil tercekat mendengar ucapan Syaikh Datuk Kahfi. Ia menangkap betapa arif guru agungnya itu dalam menentukan pilihan hidup yang beragam. Harapan utamanya agar dituntun saat menghadapi ajal telah menunjukkan kewaskitaan yang menakjubkan. Sebab, pada detik-detik menjelang ajal itulah sesungguhnya citra keselamatan dan ketidakselamatan seorang manusia tercermin. Lantaran itu, sambil mencium tangan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil berkata, “Sungguh, Allah SWT. telah membentangkan jalan keselamatan atas Ramanda Guru. Semua perjuangan Ramanda Guru yang tak kenal lelah dan tak kenal menyerah dalam menerangi jalan hidup manusia telah menuai hasil. Ramanda Guru telah dianugerahi pengetahuan rahasia oleh-Nya untuk bisa memilih jalan terang keselamatan.” “

Jalan keselamatan Allah SWT. untukku? Aku dianugerahi-Nya pengetahuan untuk bisa memilih jalan terang keselamatan? Apa maksud semua ini, o Anakku?” tanya Syaikh Datuk Kahfi heran. “

Harapan Ramanda Guru untuk bisa dituntun secara benar saat menjelang ajal adalah bukti bahwa Ramanda Guru telah dianugerahi pengetahuan rahasia oleh Yang Ilahi. Sebab, tidak banyak orang tahu bahwa citra keselamatan dan citra ketidakselamatan manusia akan terlihat saat ia menjelang ajal. Betapa banyak manusia yang bibirnya bergerak-gerak dan tangannya tak henti-henti memutar biji tasbih berdzikir menyebut Asma Allah, namun saat menjelang ajal justru hilang akal dan tidak bisa mengingat Allah.” “

Rasulullah Saw. sudah menyatakan jaminan bahwa barang siapa di antara manusia saat menjelang ajal bisa berujar tidak ada sesembahan yang lain selain Allah (La ilaha illa Allah), ia bakal masuk surga tanpa hisab. Namun, prasyarat sederhana itu ternyata menjadi masalah maharumit manakala dihadapkan pada kenyataan hidup. Bahkan, jumlah umat Islam yang bisa mengucap La ilaha illa Allah dalam makna yang sebenarnya saat menjelang ajal bisa dihitung dengan jari. Karena itu, o Ramanda Guru, sungguh arif keinginan paduka yang menempatkan tuntunan yang benar saat menjelang ajal itu sebagai pilihan utama. Sebab, di situlah terletak kunci rahasia keselamatan yang hampir selalu dilalaikan manusia,” kata Abdul Jalil.

Syaikh Datuk Kahfi mengangguk haru mendengar uraian Abdul Jalil. Dia menangkap sasmita bahwa saudara sepupu sekaligus siswa kesayangannya itu kiranya telah menemukan hakikat Kebenaran yang selama ini dicarinya. Dengan suara bergetar dia berkata, “Aku tahu, o Anakku, bahwa engkau telah menemukan apa yang engkau cari selama ini. Karena itu, ajarilah aku tentang jalan Kebenaran Sejati menuju-Nya.” “

Ananda tidak berani berlaku tidak pantas kepada paduka, Ramanda Guru,” ujar Abdul Jalil sambil menghaturkan sembah. “Ananda hanyalah seorang siswa. Justru dari Ramanda Guru jua ananda selama ini berhasil mengatasi berbagai rintangan. Bahkan, ananda yakin Allah SWT. telah mengajarkan jalan Kebenaran Sejati kepada Ramanda Guru.” “

Engkau benar sekali, Anakku. Memang Allah SWT. selama ini telah mengajarkan jalan Kebenaran kepadaku. Namun, jalan Kebenaran yang aku lewati itu belum selesai aku lintasi. Kini Allah SWT. menyuruhku agar meminta engkau menuntun aku melewati lintasan jalan akhir kebenaran-Nya. Maklum, mungkin aku sudah tua bangka, rabun, dan tidak kuat lagi berjalan di atas jalan Kebenaran-Nya sehingga aku harus dituntun oleh yang lebih muda dan yang lebih tahu arah.”

Abdul Jalil tersenyum kagum mendengar ucapan Syaikh Datuk Kahfi. Ia tahu bahwa saudara sepupu sekaligus guru agungnya itu memang dikenalnya sebagai orang cerdik dan sangat piawai dalam memainkan kaidah-kaidah ilmu manthiq (ilmu logika). Rupanya, usia tua tidak menjadikannya lemah dalam berpikir. Diam-diam Abdul Jalil bersyukur karena selama hampir lima belas tahun ia telah dibimbing untuk menggunakan kecerdasan akalnya oleh seorang guru cerdik seperti Syaikh Datuk Kahfi. Ia pun harus mengakui bahwa dalam menggunakan nalar berpikir, jejak-jejak yang ditinggalkan Syaikh Datuk Kahfi di benaknya masih sangat jelas mencitrai kerangka dan alur berpikirnya.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, tiba-tiba Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa ada sesuatu yang terjadi pada ibunda asuhnya, Nyi Rara Anjung, yang tidak ia lihat sejak ia menginjakkan kaki ke padepokan. Dengan tergesa ia bertanya, “Ampun seribu ampun, o Ramanda Guru, di manakah gerangan ibunda saya? Kenapa sejak tadi ananda tidak melihat beliau?”

Syaikh Datuk Kahfi tidak menjawab. Diam seribu bahasa. Hanya air matanya tiba-tiba jatuh bercucuran membasahi pipinya yang keriput. Setelah beberapa jenak terisak dia berkata tersendat-sendat, “Ibundamu kurang beruntung, o Anakku. Barang tiga bulan yang lalu dia telah dipanggil menghadap hadirat-Nya. Sungguh menyedihkan, dia tidak sempat melihat putera kesayangannya kembali dari rantau.” “

Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un,” desah Abdul Jalil menarik napas panjang dan berat. “

Sesungguhnya, ibundamu tidak sakit apa-apa. Dia masih sangat sehat. Tapi aku kira dia sangat terkejut dan terpukul jiwanya.” “

Ada kejadian apakah sebenarnya, o Ramanda Guru, sehingga ibunda saya terpukul jiwanya?” “

Salah satunya peristiwa Raden Anggaraksa masuk Islam.” “

Raden Anggaraksa, putera Pamanda Rsi Bungsu?” “

Ya.” “

Apa yang membuat ibunda terpukul dengan masuk Islamnya Raden Anggaraksa?” “

Ceritanya panjang, o Anakku. Tapi, pangkalnya justru bermula dari keinginan keras Raden Anggaraksa memeluk Islam. Hal itu telah membuat marah ayahandanya yang sangat melarang keras keinginannya itu. Tetapi ia nekat dan melarikan diri dari rumah. Ia meminta perlindungan ibundamu. Ia membaca syahadat di masjid Amparan Jati dan kemudian tinggal di sini sampai dua bulan lebih. Namanya kuganti menjadi Hasan Ali, nama yang mirip denganmu.” “

Namun, tanpa terduga tiba-tiba padepokan ini diserang para begal yang dipimpin Bergola Hideung. Tiga pondok tempat siswa tinggal dibakar. Anehnya, para begal itu tidak merampok apa-apa kecuali menculik Hasan Ali. Nah, peristiwa aneh itulah yang rupanya memukul jiwa ibundamu. Bermalam-malam dia tidak bisa tidur dan terus-menerus menangis. Dia tidak saja khawatir dengan nasib kemenakannya, tetapi sifat buruk adiknya yang tak pernah bisa berubah itu pun benar-benar membuatnya sangat sedih.” “

Jadi, ibunda saya sudah tahu jika yang menyuruh para begal itu adalah Pamanda Rsi Bungsu?” “

Aku kira ibundamu lebih paham sifat adiknya itu.” “

Di manakah ibunda saya dimakamkan?” “

Di sebelah kiri tajug.” “

Ananda mohon izin berziarah ke makam beliau.” “

Sebentar,” Syaikh Datuk Kahfi menyela, “siapakah pemuda tampan di belakangmu itu?” “

Dia Syarif Hidayatullah, putera dari Syarif Mahmud al-Yamani, cucu Syaikh Syarif Abdullah al-Yamani. Ibundanya adalah puteri Abdul Malik Israil al-Gharnatah, sahabat saya. Jika ditinjau dari nasabnya, Syarif Hidayatullah masih sedarah dengan kita.” “

Berarti dia dari golongan Alawiyyin.” “

Benar, tapi dia dari golongan Syarif, keturunan Imam Hasan. Bahkan, kakeknya, Syaikh Syarif Abdullah al-Yamani adalah wali Allah yang di antara segolongannya disebut dengan nama rahasia Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri.”

Syaikh Datuk Kahfi mengangguk-angguk sambil memandangi Syarif Hidayatullah yang beringsut ke arahnya, menyalami, dan mencium tangannya. Lama dia memandangi Syarif Hidayatullah seolah-olah hendak mengukur pedalamannya. Bagaikan menyaksikan bias cahaya rembulan di malam hari, begitulah dia menangkap pancaran kemuliaan yang tersembunyi di dalam diri Syarif Hidayatullah.

Tanpa terasa telah hampir seharian Abdul Jalil menuturkan liku-liku perjalanan pencariannya. Namun ia terkejut ketika usai ziarah ke makam ibundanya, tiba-tiba Syaikh Datuk Kahfi memperkenalkan keluarganya yang baru; istri keduanya, Nyi Halimah, dan tiga orang kemenakan Nyi Halimah, yaitu Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi, dan Siti Syarifah.

Tentang keluarga barunya itu, menurut Syaikh Datuk Kahfi, sesungguhnya terkait dengan kepergian Abdul Jalil dari padepokan. Saat Abdul Jalil meninggalkan padepokan barang tiga bulan, Syaikh Datuk Kahfi dengan terpaksa pergi meninggalkan Giri Amparan Jati mencari Abdul Jalil hingga ke Baghdad. Kepergian Syaikh Datuk Kahfi sendiri sesungguhnya akibat desakan, rasa iba, sekaligus rasa bersalahnya terhadap seorang saudara sepupunya yang bernama Muthmainah, yang terus memohon agar Abdul Jalil dapat kembali ke padepokan.

Selama di Baghdad Syaikh Datuk Kahfi tinggal di rumah salah seorang kenalannya yang bernama Sulaiman Rumi. Dia kemudian dinikahkan dengan saudari Sulaiman Rumi yang bernama Halimah. Setelah tinggal kira-kira tiga tahun di Baghdad dan usai menunaikan ibadah Haji, Syaikh Datuk Kahfi kembali ke Giri Amparan Jati dengan membawa serta istri dan anak-anak Sulaiman Rumi yang masih kecil. Rupanya, saat itu Sulaiman Rumi sedang dikejar-kejar oleh penguasa Baghdad karena dituduh sebagai pendukung keluarga Shafawy.

Mendengar penuturan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya, “Siapakah sepupu Ramanda Guru yang bernama Nyi Muthmainah itu? Mengapa dia mendesak Ramanda Guru untuk mencari ananda?”

Syaikh Datuk Kahfi menunduk dengan air mata berlinang-linang. Kemudian dengan terisak-isak dia berkata, “Muthmainah sesungguhnya kakakmu lain ibu. Dia adalah puteri ayahandamu dengan Nyi Fatimah binti Abdul Malik Khan, asal Gujarat yang tinggal di Negeri Pasai.”

Abdul Jalil merasakan kilat menyambar kepalanya. Ia sangat terkejut dengan kenyataan yang tak pernah dibayangkannya itu. Kemudian dengan terburu-buru ia bertanya, “Jadi, saya masih memiliki seorang saudari? Kenapa Ramanda Guru tidak pernah menceritakan hal itu kepada saya?” “

Aku dan ayahanda asuhnya, Ki Samadullah, telah terikat janji dengan ayahanda angkatmu, Ki Danusela. Kami berdua terikat janji untuk tidak menceritakan kepada siapa pun tentang jati dirimu. Karena, beliau akan mengangkatmu sebagai Kuwu Caruban, penggantinya kelak. Jika orang-orang tahu bahwa engkau bukan putera kandung Ki Danusela, pastilah kelak mereka akan menolakmu untuk menggantikan kedudukannya sebagai Kuwu Caruban. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain. Rsi Bungsu sudah membuka semua rahasia tentang jati dirimu,” jelas Syaikh Datuk Kahfi. “

Tetapi, kenapa setelah ayahanda meninggal Ramanda Guru tidak menceritakannya kepada saya?” “

Saat itu semua sedang kalut. Keributan terjadi di mana-mana. Engkau sendiri tahu bagaimana keadaan waktu itu. Aku baru sadar saat Muthmainah datan ke sini dan menangis, memintaku untuk mencarimu yang telah pergi entah ke mana.” “

Jika demikian,” sahut Abdul Jalil, “di manakah selama ini kakak saya tinggal?” “

Muthmainah diangkat anak oleh ayahanda asuhmu, Ki Samadullah. Tetapi dia tinggal di Selapandan, dititipkan di bawah asuhan Ki Gedeng Selapandan. Dia sengaja dijauhkan darimu demi memenuhi janji kami kepada Ki Danusela.” “

Manusia pada hakikatnya hanya berusaha, tetapi Allah jua yang menentukan dan mengatur segala sesuatu,” gumam Abdul Jalil seolah kepada diri sendiri sambil menarik napas dalam-dalam. “

Bahkan sesungguhnya engkau masih memiliki seorang kakak lagi yang sekarang ini tinggal di Pasai. Namanya Tughra Hasan Khan. Ia kakak kandung Muthmainah. Tetapi, sejak kecil ia diasuh oleh kakak ibundamu yang bernama Tughril Ahmad Khan,” kata Syaikh Datuk Kahfi. “

Mahasuci Allah, Zat Yang Berkuasa mengatur kehidupan makhluk sesuai kehendak-Nya.” “

Justru karena aku merasa telah berusaha mengubah sesuatu yang bertentangan dengan syari’at maka akibatnya menjadi kacau,” gumam Syaikh Datuk Kahfi pedih. “Sampai kini aku masih merasa bersalah terhadap Muthmainah, meski dia sudah memaafkan aku. Aku selalu merasa bahwa tekadnya untuk tidak menikah sebelum bertemu denganmu adalah hukuman yang berat bagiku. Aku selalu merasakan lecutan cambuk mendera hatiku setiap kali aku berbicara tentang dia.” “

Jadi, kaka saya sampai sekarang belum menikah?” “

Ya, karena dia sudah bersumpah untuk tidak menikah sebelum bertemu denganmu.” “

Berapa usaianya sekarang?” “

Dia setahun di atasmu.” “

Ananda ingin sekali menemuinya. Ananda ingin mensyukuri nikmat-Nya yang telah menggelarkan kenyataan bahwa ananda bukanlah putera tunggal dan bukan pula sebatangkara.” “

Sesungguhnya, tidak ada manusia yang sebatangkara di dunia ini,” ujar Syaikh Datuk Kahfi. “

Saat ananda tadi diberi tahu bahwa ibunda telah kembali ke hadirat-Nya, sempat ananda bayangkan Ramanda Guru tentu sangat kesepian hidup sendiri. Ternyata, Ramanda Guru sudah memiliki keluarga baru.”

Disinggung tentang keluarga barunya, Syaikh Datuk Kahfi menuturkan bahwa beberapa bulan sebelum keberangkatan Abdul Jalil meninggalkan Nagari Caruban, datanglah dua gadis kecil bernama Umi Kalsum dan Siti Zainab ke Padepokan Kuro di Karawang. Usia mereka sekitar delapan dan sembilan tahunan. Mereka meminta perlindungan kepada Syaikh Hasanuddin karena ayahanda Umi Kalsum, Sayyid Maulana Waly al-Islam, dan ayahanda Nyai Siti Zainab, Syaikh Suta Maharaja, gugur dalam pertempuran mempertahankan Kadipaten Samarang dari serbuan pasukan Demak yang dipimpin Adipati Lembusora.

Sesungguhnya, Umi Kalsum masih tergolong kerabat Syaikh Datuk Kahfi karena ayahandanya adalah putera Sayyid Jamaluddin Husein, saudara kanduk Syaikh Datuk Isa Malaka. Sayyid Maulana Waly al-Islam adalah sepupu Syaikh Datuk Ahmad dan Syaikh Datuk Sholeh. Umi Kalsum memiliki tidak kakak lelaki, yaitu Sayyid Kalkum, Sayyid Adurrahman, dan Sayyid Abdullah. Namun akibat porak-porandanya kekuatan Kadipaten Samarang, Sayyid Kalkum lari ke Negeri Benggala, Sayyid Abdurrahman lari ke Gujarat, dan Sayyid Abdullah menyingkir ke lereng Gunuhng Merbabu. Di sana dia disebut orang dengan nama Syaikh Jatiswara.

Sementara Siti Zainab pun tergolong kerabat Syaikh Datuk Kahfi karena ayahandanya adalah putera Sri Prabu Kertawijaya dengan Ratu Darawati, puteri asal Campa yang merupakan adik ipar Sayyid Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandi, putera Sayyid Jamaluddin Husein. Jadi, baik Umi Kalsum dan Siti Zainab sesungguhnya masih terhitung kerabat karena mereka berdua adalah cucu Sayyid Jamaluddin Husein.

Selama beberapa waktu kedua gadis kecil itu tinggal di Padepokan Kuro. Tergugah oleh rasa iba melihat nasib mereka maka Syaikh Datuk Kahfi meminta keduanya tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati sekaligus menemani Nyi Rara Anjung, yang akan ditinggalkan selama dia pergi mencari San Ali. “Saat aku kembali dari Baghdad dengan istri dan ketiga orang kemenakan istriku yang masih belum dewasa, mereka kuasuh bersama-sama dengan Umi Kalsum dan Siti Zainab. Setelah cukup umur mereka aku nikahkan. Abdurrahman Rumi aku nikahkan dengan Umi Kalsum. Abdurrahim Rumi aku nikahkan dengan Siti Zainab.” “

Jika ananda boleh bertanya, dengan nama Rumi, benarkah keluarga baru Ramanda Guru sesungguhnya bukan orang Baghdad?” “

Memang, Baha’uddin Rumi, ayah mertuaku, adalah orang asal Persia yang tinggal di Konya, Turki. Tetapi, karena beliau diburu penguasa yang menuduhnya sebagai pendukun keluarga Shafawy maka beliau kemudian berpindah-pindah dan akhirnya tinggal di Baghdad.”

Kenangan adalah bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun manusia berada. Semua kenangan, manis maupun pahit, tidak pernah bisa ditinggalkan. Laksana bayangan, ia akan terus mengendap di relung-relung jiwa manusia. Kenangan memang tidak terpisah dengan kesan. Itu sebabnya, kesan seseorang terhadap sesuatu, sebagaimana kenangan baik manis maupun pahit, cenderung tidak berubah sekalipun kenyataan telah berubah.

Ketidaksesuaian antara kenangan dan kesan di satu sisi dan kenyataan di sisi lain, setidaknya dialami Abdul Jalil saat ia dengan didampingi Syarif Hidayatullah menghadap ayahanda dan ibunda asuhnya di Kraton Caruban Larang. Sejak berangkat dari Padepokan Giri Amparan Jati hingga menapakkan kaki di halaman Bale Rangkang, yang terbayang di benaknya adalah wajah dan sosok Ki Samadullah dan Nyi Indang Geulis sebagaimana yang pernah ia kenal dulu. Ia juga membayangkan suasana kraton yang tak jauh berbeda seperti saat masih menjadi Pakuwuan Caruban.

Namun, beda yang dibayangkan ternyata beda pula yang terpampang sebagai kenyataan. Ketika Abdul Jalil menginjakkan kaki di halaman Bangsal Kaprabon (kantor raja) di lingkungan Kraton Caruban Larang, ia justru termangu keheranan menyaksikan perubahan yang begitu dahsyat dari bumi tumpah darahnya itu. Ternyata ia salah. Kraton Caruban Larang yang sekarang tidak sama dengan Pakuwuan Caruban sebagaimana ia kenal dulu.

Pakuwuan Caruban yang dulu dikenalnya berubah dengan sangat menakjubkan. Bangsal Kaprabon yang terdiri atas tiga bangunan besar – Bangsal Manguntur, Bangsal Sri Manganti, dan Bangsal Prabhayaksa – yang menggantikan pendapa pakuwuan, terlihat tegak menjulang bagaikan bangsal seorang maharaja agung. Di belakang Bangsal Kaprabon yang dibatasi dinding baluwarti (benteng) membentang kawasan puri kediaman pribadi raja. Di dalamnya terdapat Bale Rangkang, Parapuri, Purasabha, Kaputrian, dan Kebon Raja. Sementara agak jauh ke arah tenggara terlihat menara pengawas jagasatru.

Kesalahan kesan itu terulang saat ia mengurai kembali kenangan manis masa kecil di tanah kelahiran yang telah berbelas tahun ditinggalkannya. Ia tercekam oleh kenangan belaian kasih yang tulus dari ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, yang tiba-tiba berkelebatan memasuki ingatannya. Kesabaran ibunda asuhnya yang penuh perhatian mengurus segala kebutuhannya itu tiba-tiba membayang lagi di pelupuk matanya. Ia juga membayangkan kesabaran ayahanda asuhnya yang sering mengantarnya berkeliling ke desa-desa sekitar pakuwuan.

Ternyata kesan yang terbayang di benak Abdul Jalil salah lagi. Ketika menginjakkan kaki ke Bale Rangkang yang masuk ke dalam wilayah puri, ia benar-benar terkejut saat berhadap-hadapan dengan Ki Samadullah. Ayahanda asuhnya itu kini telah menjadi Raja Muda (prabu anom) Caruban Larang dengan gelar Sri Mangana. Sri Mangana bukan lagi sosok laki-laki muda bernama Ki Samadullah yang pernah dikenalnya dulu. Kesan Abdul Jalil tentang ayahanda asuhnya benar-benar salah.

Meski demikian, ia tetap dapat menangkap wajah dan sosok Sri Mangana yang masih mencerminkan citra Ki Samadullah. Hanya saja, kehidupan telah mengubahnya menjadi laki-laki gagah dan penuh wibawa di usianya yang setengah abad lebih itu. Tubuhnya jangkung. Kulitnya kuning. Wajahnya bulat dihiasi kumis tebal dan dagunya digantungi janggut. Sorot matanya tajam laksana rajawali. Siapa saja yang berhadapan dengannya akan menunduk tak kuasa menatap pancaran wibawanya. Di atas semua perubahan itu, berdasarkan kesan Abdul Jalil, Sri Mangana dalam pandangannya sekarang adalah perwujudan citra diri Ki Samadullah yang sudah matang.

Penampilan keseharian Sri Mangana memang tidak berbeda dengan penampilan Ki Samadullah yang pernah dikenalnya, yakni selalu diliputi kesahajaan. Malam itu Sri Mangana yang sedang tidak dinas terlihat duduk bersila di atas permadani tebal bikinan Persia yang digelar di Bale Rangkang. Ia hanya mengenakan kain putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya dari perut hingga ke lutut. Kepalanya gundul ditumbuhi rambut halus dengan beberapa uban dibiarkan terbuka tanpa destar.

Kata orang, saat berdinas sebagai raja pun Sri Mangana selalu terlihat bersahaja, malah sangat bersahaja dibandingkan dengan para raja di Bumi Pasundan yang lain. Ia tidak pernah terlihat mengenakan mahkota emas bertatah intan permata. Ia juga tidak pernah terlihat mengenakan perhiasan tubuh sebagaimana lazimnya pakaian kebesaran para raja di Bumi Pasundan. Saat berdinas sebagai raja tubuhnya yang gagah hanya ditutupi jubah putih. Kepalanya ditutupi destar polos putih. Semuanya dibuat dari kain katun kasar dan tanpa hiasan. Satu-satunya benda mewah yang melekat di tubuhnya adalah sebilah keris bergagang gading berukir kepala naga dengan serasa emas dan hiasan intan permata gemerlapan. Keris itu masyhur disebut orang: Kanta Naga.

Menurut cerita, keris Kanta Naga adalah anugerah dari ayahanda Raja Caruban Larang, Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran. Keris tersebut dianugerahkan bersamaan dengan pelantikan Pangeran Walangsungsang menjadi raja muda Caruban Larang dengan gelar Abhiseka Sri Mangana. Penganugerahan keris pusaka dan nama abhiseka itu sesungguhnya menyiratkan makna yang selaras, yakni pengakuan terhadap keberadaan raja muda Caruban Larang sebagai penjaga wilayah lautan bagi Kerajaan Sunda. Kanta Naga (Sansekerta: dinding naga) adalah perlambang kubu (benteng) yang melingkari Kerajaan Sunda laksana seekor naga, sedangkan nama Abhiseka Sri Mangana (Sansekerta: cahaya kekuasaan sang ular laut) adalah perlambang sang panglima penjaga kubu.

Meski telah menduduki jabatan yang sangat penting di Kerajaan Sunda, sebagaimana sifat ular laut (mang), Sri Mangana tetap terlihat bersahaja dan tenang. Dengan kesahajaan dan ketenangannya itu ia sangat dihormati dan dimuliakan laksana maharaja agung. Kata-katanya menjadi sabda dan perintahnya menjadi titah tak tersanggah. Seluruh penghuni Caruban Larang baik yang tinggal di sekitar Kutha Caruban, lingkungan kraton di desa-desa di lereng gunung tunduk patuh di bawah kuasa dan wibawanya yang luar biasa.

Sri Mangana sendiri selain dikenal sebagai orang yang bersahaja, juga dikenal sebagai raja yang ramah dan suka bergaul dengan berbagai jenis manusia mulai raja-raja, pangeran, saudagar, ruhaniwan, kepala desa, pedagang kecil, bahkan perajin dan nelayan. Ia juga dikenal sebagai pelindung kaum fakir miskin, penegak keadilan, dan pemberi pengayoman bagi yang lemah. Harta kekayaannya senantiasa terbuka bagi mereka yang membutuhkan. Ia dikenal sebagai raja yang sangat saleh dan taat menjalankan perintah agamanya. Setiap sore usai menjalankan tugas sebagai raja muda ia selalu menyempatkan diri mengajar agama di Tajug Jalagrahan.

Kegagahan dan kewibawaan yang memancar dari pribadi Sri Mangana sesungguhnya merupakan warisan dari para leluhurnya, yaitu para raja Sunda yang agung dan mulia. Semua orang percaya, darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah biru para Raja Agung Bumi Pasundan. Semua sesepuh Caruban mengatakan bahwa Sri Mangana adalah putera Prabu Siliwangi, Maharaja Sunda yang termasyhur dengan gelar kebesaran Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Jika dirunut ke atas, galur leluhur Sri Mangana setelah Prabu Siliwangi adalah Prabu Dewa Niskala, Prabu Niskala Wastu Kancana, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat (Maharaja yang gugur di Bubat), Prabu Banyak Wangi (Sang Adubasu), Prabu Banyak Larang (Sang Pulanggana), Prabu Susuk Tunggal (Sang Haliwungan), Prabu Lingga Wastu (Sang Surugana), Prabu Lingga Wesi (Sang Halu Wesi), Prabu Lingga Hyang (Bhattara Hyang Purnawijaya), Ratu Stri Purbasari Bhattari Prthiwi, Prabu Dharmastyadewa (Prabu Siung Wanara), Prabu Lingga Sakti, Prabu Arya Galuh (Sang Rawisrengga), dan Raka I Sirikan Pu Samarawikranta.

Adapun Raka I Sirikan Pu Samarawikranta adalah Raja Galuh Lalean pertama yang dikenal dengan nama Abhiseka Prabu Hari Murti Ratu Haji di Adi Mulya. Dia adalah putera Maharaja Mataram Raka I Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu dan adik lain ibu Sri Maharaja Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya. Dyah Balitung adalah putera Raka I Kayuwangi Dyah Lokapala Sri Sajjanotsawatungga. Raka I Kayuwangi putera Raka I Pikatan Pu Manuku Sang Jatiningrat.

Raka i Pikatan Pu Manuku Sang Jatiningrat adalah putera Sri Mani Raja Wwotan Mas. Sri Mani putera Sang Manarah Brahmanaraja, yakni Sang Surottama pendiri Wwotan Mas. Sang Surottama putera Rahyang Tamperan (Sang Wariga Agung). Rahyang Tamperan putera Sri Maharaja Raka I Mataram Ratu Sanjaya, yang tak lain adalah putera Sang Sannaha dengan Maharaja Sanna. Dan, Sang Sannaha adalah puteri Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi. Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi adalah puteri hasil perkawinan Prabu Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha dengan Sri Maharani Simha, pendiri Kerajaan Kalingga. Dengan demikian, jika ditarik ke atas para leluhur Sri Mangana adalah para raja Sunda keturunan Sri Purnawarman Bhimaparakramadipa, Maharaja Tarumanagara, karena baik Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha maupun Sri Maharani Simha adalah keturunan Maharaja Tarumanagara.

Meski darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah para Raja Bumi Pasundan, berbeda dengan selazimnya para ningrat yang bangga dengan darah birunya, Sri Mangana, pangeran yang pernah lari dari lingkungan istana dan hidup sebagai orang kebanyakan itu, tidak membeda-bedakan keberadaan manusia berdasarkan warna kulit dan aliran darah. Ia selalu terlihat bersahaja, meski telah menduduki takhta Caruban Larang. Kesahajaannya itu setidaknya tercermin saat ia menerima putera asuhnya, Abdul Jalil, di Bale Rangkang, balai tamu pribadi raja di dalam Kraton Caruban Larang. Bagi Abdul Jalil, penerimaan dirinya di Bale Rangkang itu mengandung makna betapa sesungguhnya ayahanda asuhnya tidak pernah berubah sedikit pun dalam sikap dan kesahajaan. Bahkan, setelah menjadi raja pun ia tetap mengakui Abdul Jalil sebagai putera, bagian dari keluarga dalamnya.

Kesan keakraban antara putera dan ibunda serta ayahanda asuh yang pernah dibangun sejak masa kecil ternyata tidak berubah. Hal itu terlihat, saat mereka usai melepas rindu dan berbincang-bincang tentang keadaan masing-masing, ketika Sri Mangana mempertemukan Abdul Jalil dengan para selir dan putera-puterinya. Yang mengejutkan, ia memperkenalkan Abdul Jalil sebagai putera sulung yang selalu dirindukan kedatangannya.

Tidak berbeda jauh dengan Sri Mangana, Nyi Indang Geulis, sang permaisuri yang adalah ibunda asuh Abdul Jalil, dalam pertemuan itu juga tampil seperti biasanya, yakni sangat bersahaja sehingga tidak mengesankan bahwa dia adalah permaisuri raja. Dia tidak mengenakan perhiasan berlebih di tubuhnya, kecuali dua pasang giwang emas dengan hiasan permata sebesar butiran kacang. Meski demikian, keanggunan dan kewibawaan seorang permaisuri memancar agung dari citra dirinya. Sejumlah uban yang tampak menyelip di rambutnya yang hitam tidak menghapus gari-garis kecantikan yang masih membias di wajahnya.

Bagi Abdul Jalil, ibunda asuh yang dihadapinya malam itu, meski sudah berubah dalam tampilan, yakni lebih tua dan lebih berwibawa, tidaklah berubah dalam sikap. Ibunda asuhnya itu seperti tidak peduli bahwa ia telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang telah merasakan pahit dan getir kehidupan. Ibunda asuhnya seolah-olah tetap menganggap San Ali kecil yang bisa digendong, ditimang, dimanja, dan diawasi gerak-geriknya. Di atas itu semua, Abdul Jalil menangkap kesan bahwa ibunda asuhnya kini telah berubah menjadi perempuan yang tegas, penuh semangat, tegar, berwibawa, bahkan cenderung menguasai.

Kesan yang ditangkap Abdul Jalil tampaknya tidak keliru. Malam itu setiap orang yang berada di Bale Rangkang, baik Sri Mangana, Abdul Jalil, Syarif Hidayatullah, para selir maupun putera-puteri raja, lebih banyak menjadi pemirsa dan pendengar pembicaraan sang permaisuri. Mereka tidak berbicara jika tidak diperintah. Mereka tidak menjawab jika tidak ditanya. Saat diresapi lebih mendalam, terhampar kenyataan yang menunjukkan betapa di antara sang raja dan keluarganya yang memiliki pancaran kharisma sejatinya bukanlah sang raja, melainkan sang permaisuri, Nyi Indang Geulis.

Saat Abdul Jalil tertegun-tegun menyaksikan betapa ibunda asuhnya menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir di Bale Rangkang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seruan Ruh al-Haqq yang menggema dari kedalaman jiwanya, yang jika dipaparkan dalam bahasa manusia intinya kira-kira berbunyi: “Ketahuilah, o Abdul Jalil, sesungguhnya perempuan perkasa itu adalah penghulu para perempuan pada zamannya. Dia adalah perempuan yang paling sabar pada zamannya sehingga di mana pun dia berada selalu bersama-sama dengan Yang Mahasabar (ash-Shabur). Sesungguhnya, tanpa keberadaan perempuan mulia itu, sudah lama Raja Caruban Larang tumbang ke bumi memunguti remah-remah kehidupan dan menelan kekalahan yang pahit.” “

Ayahanda asuhmu memang lahir dari kalangan darah biru sebagai ksatria yang memiliki sifat pemberani, penuh semangat, tahan menderita, dan pantang menyerah. Namun, ia adalah manusia yang sembrono, kurang perhitungan, meledak-ledak, tidak pedulian, dan cenderung nekat. Sehingga, dengan sifatnya itu ia cenderung gampang terperosok ke jurang kekalahan. Sesungguhnya, tanpa pengendalian dan arahan dari permaisurinya, dia tidak akan pernah berhasil melampaui berbagai tantangan kehidupan. Tanpa istrinya, ia tidak akan pernah menjadi raja. Dan, jika engkau saksikan ke kedalaman hatinya, sesungguhnya jauh di relung-relung terdalam dirinya tersembunyi kekuatan kelam dari ilmu sakti seratus ribu hulubalang yang diperolehnya dari Gunung Kumbha(ng).”

Abdul Jalil tersentak kaget. Kemudian dengan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala ia memandang ibunda asuhnya penuh ketakjuban. Sungguh, mereka yang melihat ibunda asuhnya dari penglihatan indriawi tidak akan mampu menangkap kenyataan betapa di dalam penampilan ibunda asuhnya yang tegas, penuh semangat, berwibawa, dan cenderung menguasai itu sesungguhnya tersembunyi kesabaran yang tak tertandingi. Bahkan, lantaran kesabarannya itulah dia diangkat menjadi penghulu para perempuan yang dicintai Allah pada zamannya.

Kemuliaan Nyi Indang Geulis sendiri baru tersingkap sebagian ketika hari sudah larut dan semua yang hadir sudah beristirahat, kecuali Abdul Jalil yang masih duduk di Bale Rangkang bersama Sri Mangana dan Sang Permaisuri. Dengan tidak menutup-nutupi apa yang telah diterimanya dari Ruh al-Haqq, Abdul Jalil berkata, “Barusan tadi ananda mendapat isyarat gaib yang menyatakan bahwa sesungguhnya Ibunda adalah penghulu para perempuan yang paling agung dan mulia pada zaman ini. Ibunda adalah perempuan yang paling sabar sehingga di mana pun Ibunda berada, selalu bersama-sama dengan Yang Mahasabar (ash-Shabur). Apakah sesungguhnya amaliah ibadah yang telah Ibunda lakukan sehingga Ibunda berkedudukan begitu mulia di hadapan-Nya?”

Mendengar kata-kata Abdul Jalil, ganti Nyi Indang Geulis tercengang keheranan. Dengan suara bergetar dia bertanya, “O Puteraku terkasih, dari mana engkau mengetahui jika ibundamu ini selama bertahun-tahun berjuang menahan kesabaran sampai tidak lagi bisa membedakan apa yang disebut sabar dan tidak sabar? Bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa sekaran aku sudah menyerahkan segala urusan hanya kepada Yang Mahasabar? Bagaimana engkau bisa tahu jika sekarang ini tidak ada yang bisa membuatku marah karena sesungguhnya aku sudah tidak memiliki sesuatu yang bisa membuatku marah?”

Abdul Jalil tidak bisa menjawab. Ia terdiam selama beberapa jenak. Saat suasana hening tiba-tiba Sri Mangana berkata, “Engkau tidak perlu bertanya kepada puteramu bagaimana ia bisa mengetahui pedalamanmu yang aku pun tidak pernah mengetahuinya. Tetapi perlu engkau ketahui, o Adinda, bahwa dulu sewaktu puteramu masih kecil, guru agung kita, Syaikh Datuk Kahfi, pernah mengungkapkan suatu rahasia tentang puteramu itu kepadaku. Beliau saat itu berkata bahwa puteramu kelak akan menjadi kekasih Allah. Dan, aku diminta untuk melindunginya meski dengan taruhan nyawaku. Nah, Adinda, aku kira puteramu mengetahui pedalamanmu karena ia telah diberi tahu oleh Dia Yang Mengasihinya.”

Dengan mata berkaca-kaca Nyi Indang Geulis bertanya, “Benarkah ucapan ayahandamu itu, o Puteraku?” “

Ibunda,” kata Abdul Jalil tenang, “sesungguhnya untuk mengetahui apakah kita tergolong kekasih Allah atau bukan tergantung pada penilaian jujur kita terhadap diri sendiri. Maksud ananda, apakah kita sudah meyakini dengan jujur bahwa kiblat hati dan pikiran tertuju utuh hanya kepada Allah? Jika kita yakin sepenuh jiwa dan raga bahwa hati dan pikiran kita benar-benar hanya terarah kepada Allah maka sesungguhnya Allah telah mengasihi kita. Itu berarti sudah menjadi kekasih-Nya.”

Nyi Indang Geulis tersedu sedan mendengar penjelasan putera asuhnya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang dia mengungkapkan dengan jujur keadaan jiwanya saat itu. Dia jelaskan kepada suami dan putera asuhnya bahwa saat itu sesungguhnya dia sudah tidak lagi merasakan keterikatan yang kuat dengan suami dan putera-puterinya. “Bukan aku tidak mencintai mereka, o Puteraku. Tapi, aku merasa ada semacam jarak gaib yang telah memisahkan aku dengan mereka. Aku sendiri tidak tahu apa sesungguhnya yang sedang aku alami.” “

Ibunda, sesungguhnya keindahan perjalanan hidup manusia bukanlah saat ia berada di puncak kehidupan yang sejati. Ibarat seseorang mendaki gunung, keindahan perjalanan hidup bukanlah kebanggaan dan bukan pula kegembiraan saat ia berada di puncak. Melainkan, liku-liku perjuangan saat ia meninggalkan rumah, keluarga, kampung halaman, dan merangkak di antara tebing-tebing yang curam itulah keindahan dari sebuah perjalanan hidup.” “

Karena itu, o Ibunda, sangatlah wajar jika Ibunda saat ini yang sudah berada di puncak justru merasakan ada jarak gaib yang memisahkan ibunda dengan suami, putera-puteri, dan segala sesuatu yang Ibunda miliki. Karena, Ibunda sudah berada di puncak kehidupan yang sejati. Saat ini sejauh Ibunda menyapukan pandangan, hanya langit luas, gumpalan awan, gugusan sawah, hutan, desa-desa, aliran sungai, dan lautan saja yang tampak di kejauhan. Ibunda tidak merasa memiliki semuanya. Ada jarak yang memisahkan Ibunda dengan mereka. Bahkan, jika dirasa-rasakan saat ini Ibunda sesungguhnya tegak sendirian di puncak gunung kehidupan. Ibunda hanya dikawani rasa sunyi, senyap, hening, dan hampa. Dan, sesungguhnya rasa hampa yang meliputi Ibunda, yakni rasa hampa yang tak terjangkau akal, tak tersentuh pikiran, tak terbayangkan, tak terbandingkan, itulah hakikat sejati dari kedekatan Ibunda dengan Sang Hampa (laisa kamitslihi syaiun) yaitu Sang Mahaada (al-Wujud), Yang Zhahir dan Batin.” “

Benarlah apa yang engkau ucapkan, o Puteraku,” ujar Nyi Indang Geulis. “Saat ini aku merasakan sesuatu yang aneh pada jiwaku. Aku merasakan jiwaku kosong, tetapi sekaligus penuh. Ketika kuintai kekosongan yang kudapati justru kepenuhan. Ketika kuanggap penuh, ia justru kosong. Karena itu, tidak ada kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, sukacita, dan berbagai jenis perasaan yang bisa masuk dan bersemayam di dalam hatiku. Sungguh! Selama ini tidak ada satu pun orang yang bisa menjelaskan kepadaku apa sesungguhnya yang telah aku alami ini. Sebab, aku tidak pernah mengungkapkannya, bahkan kepada ayahandamu pun aku tidak pernah bercerita.” “

Berbahagialah Ibunda yang telah sampai di puncak kehidupan sejati. Tetapi jika ananda boleh tahu, laku kesabaran apa yang telah Ibunda laksanakan sehingga Ibunda bisa mencapai kedudukan yang begitu mulia di hadapan-Nya?”

Nyi Indang Geulis diam sejenak seolah mengingat-ingat. Beberapa saat kemudian dia bercerita bahwa pada awalnya dia sangat terkesan oleh wejangan Syaikh Datuk Kahfi saat mengupas hakikat agama. Menurut Syaikh Datuk Kahfi, pada hakikatnya apa yang disebut agama adalah ajaran yang melatih, menekan, bahkan memaksa manusia untuk menahan dan mengekang diri dari dorongan keakuan. Pengekangan diri, menurut Syaikh Datuk Kahfi, bisa menjadi siksaan bagi mereka yang mencintai kehidupan duniawi. Tetapi sebaliknya, pengekangan akan menjadi kegembiraan bagi para pencari Kebenaran Sejati.

Ajaran agama yang dimaknai pengekangan diri itu ternyata memiliki arti yang luas dan mendalam. Sebab, telah terbukti bahwa segala sesuatu yang terkait dengan amaliah ibadah yang diajarkan oleh agama-agama yang benar, pada hakikatnya dinilai sebagai penyiksaan oleh para pecinta kehidupan duniawi. Orang-orang Hindu yang melakukan upawasa (puasa), menjalankan dharma, melakukan yoga-samadi, menjalani wairagya, oleh para pecinta kehidupan duniawi dianggap telah melakukan kebodohan dalam bentuk penyiksaan diri. Padahal, bagi para pencari Kebenaran Sejati, tanpa perjuangan keras mengekang dan menyiksa diri, seorang manusia tidak akan pernah menjadi orang-orang suci yang tercerahkan seperti para Rishi, Brahmana, Sannyasin, dan Sadhu.

Orang-orang muslim pun jika dilihat dari pandangan para pecinta kehidupan duniawi tidak lepas dari kecenderungan mengekang dan menyiksa diri. Itu tercermin dari ketentuan ajaran Islam untuk berkhitan, berpuasa menahan lapar dan dahaga sebulan penuh, bersembahyang wajib sehari lima kali ditambah sembahyang sunnah, berzakat dan bersedekah mengeluarkan harta, menunaikan ibadah haji, dan berbagai ibadah nawafil yang lain yang oleh para pecinta tubuh dianggap sebagai kebodohan dan penyiksaan diri. “

Saat aku bertanya kepada guru agung apakah amaliah ibadah yang paling menyiksa, tetapi paling utama bagi seorang perempuan?” ujar Nyi Indang Geulis, “beliau menjawab: sabar dan ikhlas dimadu.” “

Ah, ananda tadi sudah mengira ketika Ibunda memperkenalkan dua selir Ramanda Ratu beserta putera dan puterinya,” Abdul Jalil tersenyum lebar. “Ananda sudah menduga Ibunda pasti melewati jalur pintas yang luar biasa berat itu.” “

Tapi tungguh dulu,” tukas Nyi Indang Geulis. “Sesungguhnya bukan aku yang dimadu oleh ayahandamu, sebaliknya aku yang sengaja memadukan diriku.” “

Maksud Ibunda?” “

Yang merencanakan semua perkawinan ramandamu adalah aku. Padahal, saat itu ramandamu sedikit pun tidak memiliki niat untuk menikah lagi.” “

Mahasuci Allah,” gumam Abdul Jalil. “Dia telah membentangkan jalan-jalan menuju-Nya dengan cara yang tak terduga dan tak terpikirkan. Tetapi sebagaimana yang ananda tadi jelaskan, keindahan bagi sang pemenang bukanlah saat ia meraih kemenangan. Keindahan bagi pendaki gunung bukanlah saat ia berada di puncak, melainkan justru perjuangan menuju puncak itulah perjalanan yang terindah.” “

Benarlah apa yang engkau ucapkan itu, o Puteraku,” kata Nyi Indang Geulis. “Saat aku sendirian di puncak dan kemudian teringat akan masa-masa jahil ketika aku masih menjadi pecinta kehidupan duniawi, sering aku menertawakan sendiri kebodohan diriku. Saat itu betapa tidak tahu malunya aku karena menganggap segala apa yang mengitariku adala mutlak milikku. Suami, anak-anak, keluarga, perhiasan, harta benda, rumah, kehormatan, kemuliaan, dan sanjungan kuanggap sebagai milikku yang tak bisa diganggu gugat. Ketika itu aku sungguh-sungguh merasa diriku seperti iblis jahat yang tidak pernah rela melihat manusia lain beroleh keberuntungan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kemuliaan yang melebihi diriku. Semuanya seolah-olah harus kuakui sebagai milikku.” “

Berkali-kali aku tanya diriku apakah sesungguhnya beban tanggungan yang paling berat bagi manusia? Kuperoleh jawaban: beban tanggungan terberat bagi manusia adalah keangkuhan dan kepongahan seekor merak yang dengan sombong membentangkan ekornya di bawah intaian harimau pemangsa. Atau, kebanggaan seekor gajah yang membanggakan kebesaran tubuhnya yang terperosok ke perigi. Atau, nyanyian seekor burung yang berkicau di sangkar emas. Atau, kelincahan seekor kijang yang diincar panah pemburu. Itu berarti, sesungguhnya beban tanggungan terberat bagi manusia adalah beban keakuan yang menjadikan manusia sebagai hewan pengangkut beban. Ya, beban keakuan yang menyebabkan jiwa manusia berlutut seperti kuda yang memohon punggungnya ditunggangi beban. Adakah kejahilan yang melebihi kebodohan dan ketololan manusia yang sudah diperbudak beban keakuan diri yang mengendalikan jalan hidupnya?” “

Syukurlah, kejahilan jiwaku yang gelap, pengap, dan panas laksana api itu berangsur-angsur pupus digantikan pancaran keindahan ketika aku lewati liku-liku pendakian hidup yang curam dan terjal. Perlahan-lahan tetapi pasti, aku tanggalkan beban keakuan yang memberati punggungku. Aku lepaskan keterikatanku pada suami. Aku lepas rasa kepemilikanku terhadap suami. Saat itu aku yakinkan sepenuh jiwaku bahwa sesungguhnya suamiku bukanlah milikku. Suamiku adalah milik Allah. Demikian pun, aku tekan rasa kepemilikanku untuk bisa bersabar dan ikhlas menyaksikan perempuan lain – para maduku – menikmati kebahagiaan bersama suamiku. Ah, betapa indah saat aku bergulat mati-matian memerangi diriku sendiri. Betapa indahnya saat aku menitikkan air mata di lereng terjal pendakianku. Dan, betapa indah saat awal aku gapai puncak kemenanganku.” “

Jika Ibunda tidak keberatan, bolehkah ananda mendengarkan kisah indah Ibunda saat berjuang menaklukkan diri sendiri, agar nanti bisa ananda ceritakan kepada istri-istri ananda. Biarlah mereka berdua meneladani keteguhan dan ketegaran Ibunda mertuanya yang telah berhasil meraih kemenangan dan mengibarkan bendera kejayaan,” ujar Abdul Jalil.

Seperti tanpa beban apa pun Nyi Indang Geulis menuturkan liku-liku cerita yang melatari perkawinan suaminya. Mula-mula, ia memaparkan kenyataan betapa selama bertahun-tahun perkawinannya ternyata tidak dikaruniai keturunan. Namun, saat itu dia tidak pernah merasakan keadaan itu sebagai sesuatu yang berat karena dia selalu menumpahkan kasih sayang seorang ibu kepada putera asuhnya, San Ali. “Tetapi, semenjak kepergianmu, o Puteraku, aku rasakan hidupku tiba-tiba menjadi sepi dan lengang. Apa yang aku rasakan itu ternyata dirasakan juga oleh ramandamu. Akhirnya, aku meminta saran guru agung. Dan, beliau menuturkan tentang ketentuan hukum kauniyah adanya pertemuan dan perpisahan, di mana keberadaan agama pada hakikatnya adalah melatih manusia untuk tulus mengikuti hukum kauniyah itu dengan pengekangan-pengekangan dan bahkan penyiksaan diri,” ujar Nyi Indang Geulis.

Langkah awal yang dilakkukannya untuk mengekang diri, ungkap Nyi Indang Geulis, adalah memohon kepada Syaikh Datuk Kahfi untuk menikahkan suaminya dengan Nyai Retna Riris, puteri almarhum Ki Danusela. Mula-mula Syaikh Datuk Kahfi terkejut dengan permohonan itu, namun akhirnya ia bisa memahami. Pernikahan itu terjadi dan hasilnya adala seorang putera yang dinamai Pangeran Cirebon.

Mendengar uraian Nyi Indang Geulis bahwa istri kedua Sri Mangana adalah puteri Ki Danusela, Abdul Jalil tercekat kaget. Sebab, sepengetahuannya, Ki Danusela, ayahanda angkatnya itu, tidak memiliki keturunan seorang pun. Itu sebabnya dengan penasaran ia bertanya, “Apakah Ibunda maksud Ki Danusela, ayahanda Nyi Retna Riris itu adalah ayahanda saya?” “

Ya, benar begitu, Puteraku.” “

Bukankah beliau tidak memiliki keturunan seorang pun?” “

Dari ibundamu Nyi Ratu Inten Dewi, beliau memang tidak memiliki keturunan. Namun, dari istrinya yang bernama Ratu Arumsari, puteri Yang Dipertuan Singhapura, beliau memiliki puteri bernama Nyi Retna Riris.” “

Kenapa ananda tidak pernah tahu akan hal itu?” “

Tentang itu tanyalah ayahandamu sebab ayahandamu lebih tahu tentang persoalan itu.”

Abdul Jalil menarik napas berat dan kemudian memandang Sri Mangana dengan tatapan memohon. Sri Mangana yang tidak sampai hati menyaksikan putera asuhnya terombang-ambing ketidakpastian, akhirnya bercerita. “

Ketahuilah, o Puteraku, bahwa sesungguhnya ayahandamu memang memiliki istri selain ibundamu, yaitu Ratu Arumsari. Dan, sesungguhnya Ratu Arumsari adalah bibiku karena dia adala puteri Ratu Surantaka. Sedangkan Ratu Surantaka adalah saudara lain ibu dari kakekku, Ki Gedeng Tapa. Ratu Surantaka adalah putera kakek buyutku, Prabu Kasmaya dengan Ratu Suragharini Bhre Singhapura, puteri Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit.” “

Karena di dalam diri Ratu Arumsari mengalir darah Majapahit maka atas perintah ayahandaku, Prabu Guru Dewata Prana, Ki Danusela menikahinya. Tujuannya tidak lain untuk memasukkan semua kekuatan Majapahit di Bumi Pasundan ke dalam lingkungan kekuasaan Maharaja Sunda. Bahkan, beberapa waktu setelah ayahandamu meninggal dan aku menikahi Nyi Retna Riris, datanglah utusan dari Pakuan Pajajaran yang membawa pesan Sri Maharaja agar aku menikahi puteri Ki Danusela itu. Saat itu aku katakan kepada utusan itu bahwa sesungguhnya aku telah menikahinya beberapa waktu lalu sebelum perintah itu aku terima.” “

Jika demikian, Nyi Retna Riris adalah saudara angkat saya?” “

Demikianlah sebenarnya. Dia sekarang bernama Nyi Kencana Larang?” “

Jika demikian, tentunya Nyi Kencana Larang masih sepupu Ibunda Nyi Indang Geulis.” “

Benarlah demikian, o Puteraku, karena ayahanda Nyi Kencana Larang adalah adik Ki Danuwarsih, ayahanda ibundamu Nyi Indang Geulis.” “

Tapi, kenapa perkawinan itu dilakukan secara diam-diam dan seolah-olah rahasia?” “

Sebab, di balik niat perkawinan ayahandamu dengan Ratu Arumsari tersembunyi iktikad untuk menghilangkan pengaruh Majapahit. Itu sebabnya, setelah penguasa Singhapura, Dyah Surawijaya Bhre Singhapura, meninggal, yang menggantikannya adalah kakekku, Ki Gedeng Tapa, yakni kemenakan tirinya. Di bawah kakekku itulah nama Singhapura diam-diam ditenggelamkan oleh nama Pasambangan.”

Abdul Jalil mengangguk-angguk. Ia memahami penjelasan ayahanda asuhnya itu. Ia sadar bahwa di balik perkawinan-perkawinan itu sesungguhnya terselip hasrat perebutan kekuasaan yang dahsyat. Lantaran tak ingin terperangkap ke dalam lingkaran setan tak berujung pangkal, ia pun meminta ibundanya, Nyi Indang Geulis, untuk melanjutkan kisah perjuangan menaklukkan keakuannya.

Nyi Indang Geulis melanjutkan cerita dengan menuturkan kehadiran seorang ulama asal Negeri Campa bernama Syaikh Ibrahim Akbar bersama puterinya, Nyai Rasa Jati. Syaikh Ibrahim Akbar adalah sepupu Raden Ali Rahmatullah, Bupati Surabaya. Semula Syaikh Ibrahim Akbar tinggal di rumah kerabatnya, Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Siddhiq, di Padepokan Kuro, Karawang. Tak lama sesudah itu ia dan puterinya tinggal di Junti dan kemudian di Giri Amparan Jati.

Bersimpati terhadap nasib tak beruntung yang dialami Syaikh Ibrahim Akbar dan puterinya, akhirnya Nyi Indang Geulis meminta agar Syaikh Datuk Kahfi menikahkan Nyai Rasa Jati dengan suaminya. Keinginan Nyi Indang Geulis itu pun dikabulkan oleh Syaikh Datuk Kahfi. Dari pernikahan itu Sri Mangana dikaruniai tujuh puteri, yaitu Nyai Rara Konda, Nyai Rara Sejati, Nyai Jatimerta, Nyai Jamaras, Nyai Mertasinga, Nyai Campa, dan Nyai Rasa Melasih.

Pergulatan Nyi Indang Geulis untuk menaklukkan diri sendiri ternyata berbuah kegembiraan yang tidak pernah diduganya. Saat dia sudah tidak lagi mengharapkan kelahiran seorang bayi dari rahimnya, tiba-tiba saja dia hamil. Padahal, saat itu usia perkawinannya sudah lebih dari dua puluh tahun. Lalu lahirlah seorang puteri yang dinamai Pakungwati. “Lahirnya puteriku itu sempat membuatku berpaling. Puteriku sempat menjadi buah hatiku dan kuanggap sebagai milikku yang paling berharga. Tetapi, kemudian aku sadari bahwa dia sesungguhnya milik-Nya, yang digunakan untuk menguji keteguhan hati dan kesetiaanku kepada-Nya.”

Nyi Muthmainah yang masyhur disebut Nyi Mas Gandasari, puteri angkat Raja Caruban Larang, Sri Mangana, adalah perempuan yang sangat cantik. Tubuhnya tinggi dan terkesan sangat jangkung dibandingkan dengan perempuan Sunda seumumnya. Mukanya bulat telur. Bentuk matanya bulat indah dengan bulu mata lebat. Namun, di balik mata yang indah itu memancar sorot ketegaran sebongkah bukit karang tak tergoyahkan. Hidungnya tinggi dan mancung. Bibirnya berbentuk sangat indah, tetapi selalu mengatup.

Penampakan fisik Nyi Mas Gandasari adalah penampilan perempuan yang lahir dari macam-macam anasir bangsa. Dari ibundanya mengalir darah Hindustan dan Mongolia karena leluhurnya adalah keturunan Janghiz Khan yang menaklukkan Hindustan dan mendirikan Dinasti Moghul. Sedangkan dari ayahandanya mengalir darah Arab-Hindustan-Campa karena neneknya dari pihak ayah adalah seorang muslimah asal Campa yang tinggal di Malaka. Dan, boleh jadi karena mewarisi berbagai-bagai aliran darah maka naluri yang mengendap di kedalaman jiwa Nyi Mas Gandasari agak berbeda dengan seumumnya perempuan Sunda. Baju warna hitam penutup tubuh bagian bawah, memang terlihat aneh bagi seumumnya perempuan di Bumi Pasundan yang hanya menutup bagian bawah tubuhnya – sebatas perut ke bawah lutut – dengan kain. Sementara itu, sebilah keris yang terselip di dadanya menunjukkan Nyi Mas Gandasari adalah seekor singa betina pada zamannya; singa betina yang ditakuti binatang jantan yang bukan singa.

Menurut cerita orang-orang Caruban Larang, Nyi Mas Gandasari merupakan puteri Syaikh Datuk Sholeh yang diangkat anak oleh Raja Caruban Larang untuk dijadikan panglima perempuan Caruban Larang yang bakal mengalahkan penguasa Galuh Pakuan. Sebab, menurut ramalan, Yang Dipertuan Galuh, Ratu Aji Surawisesa, Sang Putera Mahkota Pakuan Pajajaran, yang tidak lain adalah saudara lain ibu Sri Mangana, konon tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh seorang perempuan hing wanojaha kang pangawijing. Entah benar entah tidak cerita orang-orang Caruban Larang yang berkembang dari mulut ke mulut itu, yang jelas orang akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan Nyi Mas Gandasari sebagai pendekar wanita yang sakti mandraguna; wanojaha linggihing pangelmu wuleding raga kang sakti mandraguna; wanojaha pangestu mungguhing sesanggah.

Sementara menurut cerita orang-orang Galuh Pakuan, Nyi Mas Gandasari sengaja disiapkan sebagai alat oleh Sri Mangana untuk merebut takhta Pakuan Pajajaran yang sudah jelas-jelas menjadi hak Ratu Aji Surawisesa, sang putera mahkota, yakni putera Prabu Guru Dewata Prana dari permaisuri. Niat Sri Mangana itu setidaknya terlihat saat terjadi kekisruhan di Pakuwuan Caruban. Saat itu, Ki Danusela, Kuwu Caruban, adalah menantu Ratu Aji Surawisesa. Namun, saat Ki Danusela meninggal secara misterius dan kedudukannya digantikan oleh Rsi Bungsu, putera Ratu Aji Surawisesa, justru Sri Mangana merebutnya dengan kekerasan bersama-sama dengan orang Demak. Bahkan setelah menduduki jabatan Kuwu, Sri Mangana masih belum puas dan meminta kepada ayahandanya agar dianugerahi jabatan Raja Caruban Larang.

Entah yang benar orang-orang Caruban Larang atau orang-orang Galuh Pakuan, orang umumnya hampir tidak peduli dengan pertikaian dua bersaudara tersebut dalam memperebutkan kekuasaan. Hari demi hari orang-orang justru seperti tidak ada bosan-bosannya membicarakan kecantikan, kegagahan, sekaligus kesaktian Nyi Mas Gandasari. Ibarat wangi bunga yang memabukkan kumbang-kumbang jantan, begitulah keharuman nama Nyi Mas Gandasari telah memabukkan banyak lelaki. Namun setiap kali datang kumbang hendak membaui keharumannya, Nyi Mas Gandasari selalu menghalau mereka dengan duri-durinya yang tajam.

Orang bilang jumlah kumbang jantan yang luka tertusuk duri bunga Gandasari sudah tidak terhitung. Di antara beberapa kumbang jantan yang terbanting dari kelopak bunga harum Gandasari yang diingat orang adalah Ki Gedeng Plered, Ki Gedeng Dermayu, Ki Gedeng Pekandangan, Ki Gedeng Paluamba, Ki Gedeng Sindanggaru, Ki Gede Sembung, Ki Gede Bungko, dan Syaikh Magelung.

Sekalipun kesaktian dan keteguhan Nyi Mas Gandasari sudah termasyhur melebihi laki-laki, hati yang tersembunyi di dalam dadanya sesungguhnya tetaplah hati perempuan yang penuh kasih dan kelembutan. Hal itu terlihat tatkala Sri Mangana mengunjunginya dengan mengajak Abdul Jalil. Semula, seperti sikap sehari-harinya dalam menghadapi laki-laki, dia sedikit pun tidak menghiraukan Abdul Jalil. Dia hanya menyongsong ayahanda angkatnya dan mempersilakannya masuk.

Saat Abdul Jalil duduk bersila penuh hormat di hadapannya, Nyi Mas Gandasari tetap tidak menghiraukannya meski dia merasakan suatu sentuhan melintas di hatinya saat sepintas melihat Abdul Jalil. Namun, sentuhan itu ia abaikan karena yang terbayang di dalam benaknya adalah kesan bahwa kehadiran ayahanda angkatnya tentu tidak jauh berbeda dengan kehadiran-kehadiran sebelumnya, yakni memintanya untuk menikah dengan lelaki yang dianggapnya baik.

Namun, anggapan Nyi Mas Gandasari ternyata salah. Saat ayahanda angkatnya menjelaskan bahwa laki-laki muda yang duduk di hadapannya adalah adik yang selalu dirindukannya selama bertahun-tahun, yaitu San Ali, runtuhlah keteguhan bukit karang hatinya yang termasyhur itu. Bagaikan selembar kain jatuh, dia duduk berlutut dan merangkul adik yang dirindukannya sambil menangis tersedu-sedu. Dia menjadi perempuan biasa yang berhati sangat lembut.

Abdul Jalil membiarkan Nyi Mas Gandasari menumpahkan semua gelegak perasaannya. Ia membiarkan jubah di bagian bahunya basah oleh air mata bahagia kakaknya. Ia hanya duduk bersila sambil merenungi liku-liku kehidupan yang dilaluinya yang penuh pergulatan tak berkesudahan dan hampir selalu menampilkan keanehan-keanehan yang tak ia pahami.

Betapa aneh hidup ini jika direnungkan, ujarnya dalam hati. Betapa berbelit hidup ini jika dipikir-pikir. Betapa mengherankan hidup ini jika dibayang-bayangkan. Dan, betapa berat hidup ini jika diingat-ingat lekuk dan likunya. Namun sebagai manusia yang sudah merasakan pahit dan getir hidup hingga mencapai kedewasaan ruhani, aku sadar bahwa hidup adalah untuk dinikmati dan dijalani apa adanya tanpa perlu dipikir-pikir, direnung-renung, dibayang-bayangkan, dan diingat-ingat. Hidup adalah ibarat setitik air yang harus setia pada aliran hukum kauniyah yang menyeretnya ke lingkaran siklus, yaitu menuju ke Muara dan sekaligus Sumber Sejati.

Sri Mangana yang berdiri di belakang Abdul Jalil dan menyaksikan pemandangan mengharukan itu berkali-kali menarik napas berat. Beberapa jenak kemudian dengan terbatuk-batuk kecil ia berkata, “Sekarang sirna sudah kabut kepedihan karena terbitnya matahari kebahagiaan. Engkau, putera dan puteriku terkasih, adalah rembulan dan matahari yang didambakan oleh mereka yang sedang berada di dalam kegelapan. Sebagaimana dambaanku yang ingin melihat kalian berdua sebagai rembulan dan matahari yang ditunggu terbitnya oleh umat manusia pada siang dan malam hari, demikianlah hendaknya kalian berdua memaknai hidup kalian.”

Nyi Mas Gandasari tersadar dia telah cukup lama mengabaikan ayahanda angkatnya. Buru-buru dia bersimpuh menyembah sambil berucap, “Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu. Ananda telah berlaku kurang pantas membiarkan Ramanda Ratu. Ananda memohon ampunan dari Ramanda Ratu.” “

Sudahlah, tidak perlu berbasa-basi,” sahut Sri Mangana duduk bersila di samping Abdul Jalil. “Aku ini ayahanda kalian berdua. Aku tahu, pusaran nasib telah memisahkan kalian berdua. Tetapi, aku berharap kalian berdua, terutama engkau, o Puteriku, untuk bisa berbesar hati menerima kehendak-Nya meski itu sering tidak engkau pahami.” “

Ananda mempusakakan wasiat Ramanda Ratu.” “

Satu hal yang harus engkau ketahui, yaitu adik yang terus-menerus engkau rindukan sekarang telah kembali dengan membawa kemenangan. Maksudku, ia telah berhasil meraih keinginannya yaitu menemukan Kebenaran Sejati. Itu sebabnya, sebagaimana aku, hendaknya engkau pun belajar darinya tentang jalan Kebenaran Sejati.” “

Benarkah demikian, o Adikku,” tanya Nyi Mas Gandasari dengan mata berkilat-kilat penuh harap. “

Maafkan saya, o Ayunda,” Abdul Jalil merendah, “sesungguhnya jalan Kebenaran yang telah saya temukan hanyalah jalan Kebenaran menuju Dia, al-Haqq, Yang Tak Terjangkau Akal dan Tak Tersentuh Pancaindra. Maksudnya, saya tidak memiliki ilmu kesaktian dan kedigdayaan seperti aji-aji kememayam, pangasihan, pangabaran, kapaliyasan, karosan, kateguhan, pangerutan, dan kadewan. Jadi, meski saya mengetahui jalan Kebenaran, saya bukanlah orang yang memiliki kelebihan apa pun apalagi sakti mandraguna.”

Nyi Mas Gandasari tersentak kaget mendengar ujar Abdul Jalil. Sebab, beberapa macam ilmu yang disebut oleh adiknya itu justru merupakan ilmu andalan yang dia warisi dari Sri Mangana dan Ki Gede Selapandan, gurunya. Sambil tersenyum kecut dia berkata kepada Sri Mangana, “Ramanda Ratu ternyata benar. Rupanya, dia bisa mengetahui segala apa yang ada di dalam diri kita. Itukah yang disebut waskita? Weruh sadurunge winara?” “

Karena itulah aku sendiri ingin belajar tentang ilmu Kebenaran Sejati kepadanya.” “

Mohon maaf kepada Ramanda Ratu dan Ayunda,” Abdul Jalil menyela, “sesungguhnya, saya sedikit pun tidak memiliki kewaskitaan untuk bisa mengetahui hal-hal gaib dan kejadian yang akan datang. Sungguh, demi Allah, saya tidak memiliki kemampuan itu. Saya hanya berbicara sesuai ‘sentuhan rasa’ yang saya rasakan di kedalaman relung-relung jiwa saya. Dengan demikian, sesungguhnya saya tidak mengetahui apakah ucapan saya itu mengenai seseorang atau tidak.” “

Justru ‘sentuhan rasa’ yang engkau hamburkan lewat mulutmu itulah, o Puteraku, yang sering menelanjangi orang seorang. Dan sebagaimana telah dialamai orang lain, aku kira kakakmu pun barusan tadi telah engkau telanjangi hingga terlihat jelas semua ilmu yang disembunyikannya. Aku rasa, aku pun tinggal menunggu giliran,” ujar Sri Mangana tertawa.

Abdul Jali tertegun. Sesaat kemudian ia pun tertawa.

Malam terus bergulir bersama putaran roda waktu. Sri Mangana, Nyi Mas Gandasari, dan Abdul Jalil seperti jari-jari roda, ikut berputar dalam pusaran perbincangan; menyeret masa lalu dan menarik masa depan. Sebagai anak negeri yang sudah melanglang buana hingga menjadi salah satu warga Bumi Pasundan yang terbuka cakrawala pandangnya, ia terlihat lebih banyak menguraikan tentang perubahan-perubahan yang bakal terjadi di berbagai negeri di muka bumi. “Tidak terkecuali Bumi Pasundan, akan terlanda prahara perubahan. Itu sebabnya, bagi mereka yang belum sadar dengan datangnya perubahan dahsyat itu pastilah bakal tersapu dari permukaan bumi.”

Taichung Harbor ROC, March, 21st 2007