Tanah Samiddha “

Aku benar-benar heran dengan tingkah laku manusia bernama Rsi Bungsu itu,” ujar Sri Mangana suatu malam kepada Abdul Jali dalam perbincangan di Bale Rangkang. “Seluruh hidupnya seolah-olah diabdikan untuk memuja setan dendam dan iblis kebencian yang berkuasa di hatinya. Kalau kuingat-ingat, selama aku mengenal dia sebagai kemenakanku, belum terlihat satu pun kebaikan yang pernah dilakukannya. Entah dia itu jelmaan iblis atau apa, sepengetahuanku, dia selalu menjadi bencana bagi orang lain.” “

Tapi Ramanda Ratu, sepengetahuan ananda, Pamanda Rsi Bungsu tidak punya alasan untuk memusuhi Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi. Bukankah selama ini beliau berdua tidak pernah berselisih?” “

Memang, antara Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi dan Rsi Bungsu tak pernah terjadi perselisihan,” ujar Sri Mangana. “Namun, sejak Raden Anggaraksa, puteranya, memeluk Islam dan meminta perlindungan kepada uwaknya di Giri Amparan Jati, api kebencian telah membakar hatinya yang sudah hangus menghitam itu. Itu sebabnya, tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba ia memerintahkan sekawanan begal yang dipimpin Bergola Hideung untuk menjarah dan membakar seluruh bangunan yang ada di Giri Amparan Jati. Untung yang terbakar hanya tiga pondok hunian siswa.” “

Dia menduga perbuatan busuknya itu tidak akan diketahui. Namun, sejak awal kejadian aku sudah menangkap keanehan peristiwa itu. Pertama, belum pernah terdengar cerita di Bumi Pasundan ini ada kawanan begal merampok padepokan. Kedua, kejahatan itu dilakukan di Caruban Larang, tanah samiddha yang disucikan. Ketiga, kawanan Bergola Hideung tidak menjarah apa-apa, tetapi hanya menculik Raden Anggaraksa. Ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan Rsi Bungsu. Dan, dugaanku ternyata tidak meleset. Saat beberapa orang anak buah Bergola Hideung tertangkap, mereka mengaku bahwa sesungguhnya yang memerintahkan pembakaran Padepokan Giri Amparan Jati adalah Rsi Bungsu.”

Abdul Jalil tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar uraian Sri Mangana. Melihat putera asuhnya hanya tersenyum, Sri Mangana bertanya keheranan, “Kenapa engkau tersenyum mendengar ceritaku, o Puteraku? Apakah engkau tidak marah melihat kekurangajaran Rsi Bungsu yang sudah menista padepokan tempatmu menimba ilmu?” “

Ramanda Ratu, ananda memang sedih dan marah melihat hasil perbuatan Pamanda Rsi Bungsu, apalagi jika melihat perbuatan-perbuatannya pada masa lalu. Namun, dalam memahami hal ini ananda tidak mau terperangkap oleh pandangan perseorangan yang bersifat pribadi. Maksudnya, ananda tidak mau melihat hasil perbuatan Pamanda Rsi Bungsu sebagai perbuatan pribadi seorang manusia jahat bernama Rsi Bungsu yang bejar akhlaknya. Sebaliknya, ananda ingin melihat apa yang sesungguhnya telah terjadi di balik perbuatan Pamanda Rsi Bungsu itu. Maksud ananda, kenapa Pamanda Rsi Bungsu bisa berbuat begitu jahat? Apa yang menyebabkan dia selalu melakukan perbuatan tetcela? Dan, anasir-anasir apa sesungguhnya yang menjadikan Pamanda Rsi Bungsu menjadi jahat?” “

Apakah engkau akan mengatakan bahwa sesungguhnya yang menjadikan Rsi Bungsu itu manusia terkutuk yang selalu melakukan perbuatan jahat adalah Allah ‘Azza wa Jalla?” tanya Sri Mangana. “

Kita tidak perlu berbicara terlalu jauh tentang persoalan itu, o Ramanda Ratu,” ujar Abdul Jalil dengan suara direndahkan. “Kita bicarakan saja tentang apa sesungguhnya yang telah diperbuat Allah SWT. terhadap Pamanda Rsi Bungsu yang jahat itu. Tidakkah Ramanda Ratu menangkap jeritan pilu dan rintihan pedih Pamanda Rsi Bungsu di tengah-tengah perbuatan jahatnya? Tidakkah Ramanda Ratu menangkap keputusasaan Pamanda Rsi Bungsu dengan peristiwa keislaman putera laki-laki tunggalnya? Cobalah Ramanda Ratu renungkan sekejap saja, bagaimana seandainya Ramanda Ratu berada pada kedudukan Pamanda Rsi Bungsu.”

Sebagai raja yang sudah puluhan tahun merasakan pahit dan getir kehidupan, Sri Mangana paham apa yang dimaksud oleh putera asuhnya. Dengan menggumam seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri dia berkata, “Rsi Bungsu dalam pandanganku tak lebih dari seekor anjing hutan yang kelaparan, tetapi lehernya diikat tali yang kuat. Saat melihat segumpal daging segar ia menggeram dan meneteskan air liur. Namun setiap kali ia meronta berusaha menerkam dan menyantap daging itu, selalu saja tali yang mengikat lehernya itu mencekiknya. Tali itu terlalu kuat untuk diputuskan oleh rontaan tubuh, gigitan taring, atau cakaran kukunya. Kini saat anjing tua itu sudah sangat kelaparan dan kehilangan daya, tiba-tiba ia dikebiri pula oleh pemeliharanya. Ya Allah, siksa dan azab apa yang Engkau timpakan kepada manusia celaka itu?” “

Ramanda Ratu,” Abdul Jalil menyela, “kenapa Ramanda Ratu membayangkan Pamanda Rsi Bungsu seperti seekor anjing tua yang dikebiri?” “

Sebab, dia tidak akan memiliki keturunan yang meneruskan kehidupannya,” ujar Sri Mangana. “

Bukankah Raden Anggaraksa keturunan Pamanda Rsi Bungsu?” “

Sampai usianya masuk tiga puluh tahun dia tidak mau menikah. Malah sekaran ini dia memeluk Islam. Bukankah itu sama artinya dengan dikebiri bagi Rsi Bungsu?” “

Ramanda Ratu,” Abdul Jalil tersenyum, “mohon sudilah Ramanda Ratu memaafkan Pamanda Rsi Bungsu atas apa yang telah diperbuatnya terhadap Padepokan Giri Amparan Jati. Sebab, saat ini beliau sedang dijepit dan dipanggang oleh neraka kehidupan dunianya. Tidakkah Ramanda Ratu bisa membayangkan bagaimana azab dan derita yang dirasakan Pamanda Rsi Bungsu saat ini? Putera lelaki satu-satunya yang menjadi gantungan harapan telah lepas dari pangkuan. Siapakah yang akan meneruskan kebanggaan Pamanda Rsi Bungsu jika putera terkasih penerus keturunannya tidak berkenan menikah dan malah mengikuti agama yang lain pula? Adakah siksa dan derita yang melebihi pedihnya laki-laki tua yang bangga dengan darah birunya, tetapi tidak memiliki anak dan cucu pewaris kemurnian dan kemuliaan darahnya?”

Sri Mangana menarik napas panjang. Dia bisa memahami jalan pikiran putera asuhnya. Kemudian dengan suara ditekan dia bertanya, “Jika demikian, apa yang harus aku perbuat untuk dia?” “

Ramanda Ratu tidak perlu lagi memerintahkan orang untuk mencari dan membunuh Pamanda Rsi Bungsu. Biarkanlah Allah sendiri yang menghukum Pamanda Rsi Bungsu dengan cara-Nya. Sesungguhnya, hukuman Allah jauh lebih pedih dibanding hukuman yang pernah dibayangkan manusia.”

Sri Mangana mengangguk-angguk dan berkata, “Aku pikir itu keputusan yang terbaik. Berita terakhir yang aku dengar menyebutkan Raden Anggaraksa berhasil meloloskan diri dari sergapan ayahandanya dan saat ini dia berada di Giri Kedaton meminta perlindungan kepada Prabu Satmata. Aku yakin Rsi Bungsu sekarang ini pasti sedang kebingungan.” “

Mudah-mudahan Allah memberi perlindungan kepada Raden Anggaraksa dan segera menyadarkan Pamanda Rsi Bungsu.” “

Tapi ada satu hal yang perlu engkau ketahui tentang Rsi Bungsu, o Puteraku,” ujar Sri Mangana. “

Apakah itu, o Ramanda Ratu?” “

Sesungguhnya, saat ini Rsi Bungsu belum lepas dari buruan orang-orang Pakuan Pajajaran. Sebab, dia telah dua kali mengulang kesalahan yang sama. Pertama, ketika dia merancang pembunuhan Ki Danusela dan membohongi Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran untuk menyerang Pakuwuan Caruban. Kedua, dia menyuruh Bergola Hideung, pemimpin kawanan begal, membakar Padepokan Giri Amparan Jati.” “

Ramanda Ratu,” tanya Abdul Jalil heran, “jika orang-orang Pakuan Pajajaran marah kepada Pamanda Rsi Bungsu akibat membohongi Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, itu masih bisa saya pahami. Tetapi, bagaimana mungkin mereka bisa marah terhadap tindakan Pamanda Rsi Bungsu yang menyuruh kawanan begal membakar Giri Amparan Jati? Bukankah orang-orang Pakuan Pajajaran tidak terkait dengan Padepokan Giri Amparan Jati?” “

Ketahuilah, o Puteraku, bahwa kesalahan terbesar Rsi Bungsu adalah dua kali membuat kekisruhan di wilayah Caruban Larang. Itulah kesalahan besar tak terampunkan. Sebab, tidak ada satu pun manusia yang berbuat kekacauan di tanah ini, bahkan kekuasaan maharaja sekalipun,” jelas Sri Mangana. “

Kenapa bisa demikian, o Ramanda Ratu?” “

Sepanjang ingatanmu, sejak engkau lahir hingga pergi berkelana, pernahkah engkau menyaksikan kekisruhan terjadi di bumi tumpah darahmu ini?” “

Belum pernah, kecuali saat Pamanda Rsi Bungsu merebut Pakuwuan Caruban.” “

Ketentraman terpelihara di sini karena tanah ini bernama Caruban Larang.” “

Saya belum paham, o Ramanda Ratu.” “

Ketahuilah, o Puteraku, sesungguhnya nama sebenar tanah tumpah darahmu ini adalah Carubana. Caru berarti persembahan. Bana berarti hutan. Jadi, Carubana bermakna hutan untuk persembahan. Maksudnya, hutan Carubana ini sesungguhnya adalah sebuah samiddha, yaitu hutan yang kayu-kayunya tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain kecuali untuk upacara-upacara persembahan kepada dewata dan arwah leluhur. Hutan samiddha disucikan dan terlarang bagi siapa pun yang tidak berhak memasukinya,” papar Sri Mangana. “

Apakah ketentuan itu sudah berlaku sejak lama?” “

Aku tidak tahu pasti sejak kapan tempat ini menjadi samiddha. Tetapi sejak zaman kuno, menurut cerita, tanah ini sudah menjadi batas antara Bumi Pasundan dan Bumi Jawa. Engkau tentu masih ingat batas sebelah timur dari Caruban Larang adalah Cipamali (Sungai Pamali), yakni sungai larangan. Dikatakan sungai larangan karena sejak zaman kuno sungai itu tidak boleh diakui sebagai milik raja-raja Sunda maupun raja-raja Jawa.” “

Cipamali adalah sungai pembatas, tanah larangan milik Sang Bhumi, Bhattari Prhtiwi, leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Itu sebabnya, sejak zaman baheula, telah ada semacam kesepakatan antara raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa bahwa mereka yang ditunjuk sebagai pemelihara samiddha Carubana – tanah khusus milik Sang Bhumi – adalah para keturunan raja yang berdarah campuran. Engkau tentunya masih ingat kenapa ayahandamu, Ki Danusela, bisa menjadi Kuwu? Sebab, ayahandamu itu berdarah campuran Jawa-Sunda.” “

Ayahanda saya berdarah campuran Sunda-Jawa?” “

Ya, karena ayahanda beliau, Ki Danusetra, adalah putera Kaki Palupa dan Nyai Kundisari. Kaki Palupa orang Sunda, sedangkan Nyai Kundisari berasal dari Negeri Mataram. Ki Danusetra memiliki dua saudara lain ibu, yaitu Ki Kumbharawa dan Endang Sasmitapura. Namun, sejak kecil Ki Danusetra diasuh oleh saudara tua Nyai Kundisari yang bernama Rishi Suryya Wisesa, seorang pendeta Bhairawa (Pu Palyat) di Gunung Dieng di tanah Mataram. Ki Danusetra kemudian menikahi seorang perempuan asal Galuh Pakuan dan tinggal di Galuh Pakuan. Beliau mengabdi kepada Prabu Niskala Wastu Kencana, kakek buyutku. Ki Danusetra memiliki dua orang putera yaitu, Ki Danuwarsih dan Ki Danusela, yang tak lain adalah ayahandamu, Kuwu Caruban. Jadi, baik kakek maupun ibunda Ki Danuwarsih dan Ki Danusela adalah orang-orang Sunda.” “

Jika penguasa Caruban Larang harus berdarah campuran, bagaimana dengan Ramanda Ratu sendiri? Bukankah Ramanda Ratu tidak berdarah campuran?” tanya Abdul Jalil. “

Semula aku menganggap diriku adalah putera Sunda asli. Tetapi ayahandaku, Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, menyatakan bahwa ibunda kandungku, Nyi Subanglarang, sesungguhnya puteri berdarah campuran Sunda-Campa. Sebab istri Ki Gedeng Tapa, Nyi Ratna Karanjang, adalah seorang perempuan Campa asal Malaka. Lantaran aku dianggap sebagai putera raja yang berdarah campuran maka aku sah ditabalkan sebagai ratu yang berkuasa atas samiddha Caruban ini.” “

Nenek Ramanda Ratu orang Campa asal Malaka?” tanya Abdul Jalil. “Jangan-jangan beliau kenal dengan keluarga kakek saya.” “

Memang benarlah demikian,” kata Sri Mangana. “Syaikh Datuk Kahfi pernah bercerita tentang nenekku, Nyi Ratna Karanjang. Nenekku kenal baik dengan kakekmu karena mereka bertetangga. Bahkan, menurut Syaikh Datuk Kahfi, justru atas jasa nenekku itulah ayahanda kandungmu, Syaikh Datuk Sholeh, yang saat itu menjadi buruan penguasa Malaka bisa tinggal di Caruban Larang. Tidak hanya itu, para pengungsi Campa yang berserakan akibat perang saudara pada masa Raja Indrawarman III dapat tinggal menjadi penduduk di berbagai tempat di Bumi Pasundan adalah atas jasa baik nenekku.” “

Pernikahan kakek dengan nenekku sesungguhnya terjadi melalui jasa saudara tua kakekku, yaitu Nyi Rara Rudra. Beliau bersuamikan orang Campa, Haji Ma Huang, yang saat di Campa bertetangga dengan keluarga nenekku. Puteri Nyi Rara Rudra yang bernama Jata Mernam, tapi lazim dikenal dengan sebutan Aci Putih, dipersunting oleh ayahandaku, Prabu Siliwangi.” “

Ananda pernah mendengar cerita bahwa ibunda Ramanda Ratu pergi ke Malaka bersama Nyi Rara Rudra dan Haji Ma Huang. Berarti, ibunda Ramanda Ratu memang memiliki keluarga di Malaka.” “

Ya, memang demikian adanya,” ujar Sri Mangana. “Bahkan Syaikh Hasanuddin, pengasuh Padepokan Kuro di Karawang, sesungguhnya adalah saudara sepupu Nyi Ratna Karanjang, nenekku.” “

Jadi, cerita Ramanda Ratu dahulu yang menuturkan bahwa Nyi Subanglarang belajar agama Islam kepada Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq berarti sesungguhnya dia tidak belajar kepada orang lain, tetapi kepada kerabatnya sendiri. Benarkah demikian?” “

Memang, jika ditelusuri seperti itu ceritanya. Tetapi, aku mengetahui hal itu justru setelah diberi tahu oleh ayahandaku dan aku sahihkan cerita itu kepada Syaikh Datuk Kahfi.”

Abdul Jalil termangu-mangu mendengar semua uraian Sri Mangana. Ia merasa betapa sesungguhnya dunia ini sangat sempit hingga ke mana ia berada seolah-olah dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Kesebatangkaraan yang pernah ia rasakan selama tahun-tahun pengembaraannya ternyata menjadi bukti bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang sebatangkara di dunia ini. Kesebatangkaraan, nyatanya, hanya ada akibat ketidaktahuan seseorang akan keberadaan jati dirinya sebagai bagian dari keturunan Adam a.s.. Hal itu juga terjadi akibat enggan bersilaturahmi, sempit wawasan, membanggakan warna tetesan darah, dan kekerdilan jiwa.

Caruban Larang, tanah samiddha, tanah khusus milik Sang Bhumi, ternyata adalah tanah yang memiliki sifat terbuka seperti sifat bumi yang membiarkan dirinya dihuni berbagai makhluk yang kasatmata maupun yang tidak kasatmata. Dengan kekhusussannya sebagai wilayah Sang Bhumi, Caruban Larang tidaklah menjadi tanah terbuka yang membiarkan berbagai ragam bangsa tinggal di situ; Sunda, Jawa, Cina, Campa, Melayu, Arab, India, Persia, dan Pegu berbaur menjadi satu. Sehingga, samiddha Caruban yang semula dimaksudkan sebagai tanah khusus milik Sang Bhumi berupa hutan larangan yang hasil kayunya hanya untuk sarana persembahan kepada dewa-dewa dan arwah leluhur, justru menjadi tanah yang terbuka untuk hunian segala bangsa. Dan lantaran itu, Caruban oleh penduduk setempat sering dimaknai sebagai Carub, yakni campuran berbagai macam bangsa.

Kenyataan terkait dengan keberadaan tanah samiddha Caruban yang tertutup tetapi sekaligus terbuka itu setidaknya telah menjadi salah satu sumber bagi lahirnya sejumlah pandangan, gagasan, wacana, dan wawasan Abdul Jalil dalam memaknai citra baru kehidupan manusia yang ingin diwujudkannya di tengah kebekuan dan kemandekan zaman. Bertolak dari samiddha Caruban, Abdul Jalil mengangankan lahirnya komunitas baru yang terbuka, tetapi sekaligus berpribagi kuat. Hanya masyarakat yang terbuka dan berkepribadian kuatlah yang akan dapat bertahan menghadapi perubahan sejarah yang sering kali sangat kejam dan keras.

Keberadaan tanah samiddha Caruban akhirnya menggugah kesadaran Abdul Jalil untuk menanyakan status tanah itu kepada Sri Mangana. “Seingat ananda, setelah peristiwa kekisruhan di Pakuwuan Caruban sepeninggal Ayahanda Ki Danusela, Pamanda Raden Kusen telah menyatakan bahwa Pakuwuan Caruban tidak lagi berada di bawah kekuasaan Maharaja Sunda, tetapi di bawah Demak. Apakah hal itu tidak menyalahi ketentuan Caruban sebagai samiddha? Apakah hal itu tidak menimbulkan masalah dengan orang-orang Sunda?” “

Tentu saja keputusan sepihak Raden Kusen itu menimbulkan kemarahan semua orang Sunda dan hampir saja terjadi perang besar. Bahkan lantaran itu, aku pun akhirnya membuka penyamaranku yang sudah kulakukan bertahun-tahun. Selam ini pihak Kerajaan Sunda hanya mengenalku sebagai Ki Samadullah, Kuwu yang menggantikan Ki Danusela atas perkenan Raden Kusen, adik Adipati Demak. Saat suasana meruncing aku pun akhirnya mengaku jika sesungguhnya pengganti Ki Danusela bukanlah orang lain, melainkan Pangeran Walangsungsang, putera Raden Pamanah Rasa, cucu Prabu Dewa Niskala. Itu berarti, Kuwu Caruban yang baru adalah putera Maharaja Sunda karena Raden Pamanah Rasa setelah dilantik menjadi Maharaja Sunda berganti nama menjadi Abhiseka Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.” “

Setelah utusan dari Pakuan Pajajaran yakin bahwa aku memang cucu Prabu Dewa Niskala, yang berarti pula putera Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran, maka bergembiralah ayahandaku karena puteranya yang hilang telah ditemukan kembali. Lalu diputuskanlah oleh ayahandaku untuk menyelesaikan perkara samiddha melalui jalan damai perundingan. Demikianlah, setelah melalui beberapa kali pertemuan akhirnya kedua belah pihak yang berselisih mencapai kesepakatan, yaitu menunjuk Ario Abdullah Yang Dipertuan Palembang sebagai penengah. Namun, saat utusan dari Pakuan Pajajaran sampai ke Palembang, Yang Mulia Ario Abdillah ternyata sudah meninggal dan kedudukannya digantikan oleh Pangeran Surodirejo, putera Raden Kusen yang masih belum dewasa yang bergelar Adipati Widarakandang. Pangeran Surodirejo yang masih didampingi beberapa orang walinya itu akhirnya menunjuk Tuan Milinadi untuk mewakili Palembang dalam menengahi masalah perebutan samiddha Caruban.” “

Tuan Milinadi adalah saudagar Palembang yang memiliki hubungan dekat baik dengan Maharaja Sunda maupun dengan Adipati Demak. Di samping itu, Tuan Milinadi yang sudah sangat tua itu dikenal dekat dengan Yang Mulia Ario Abdillah dan mengetahui seluk-beluk keluarga serta kerabat Yang Dipertuan Palembang itu. Akhirnya, dengan penengah Tuan Milinadi, diambil kata sepakat oleh kedua pihak untuk mengembalikan Caruban Larang sebagai samiddha milik Sang Bhumi.” “

Maksudnya, baik pihak Demak maupun pihak Sunda tidak berhak mengakui Caruban Larang sebagai wilayahnya. Caruban Larang dianggap sebagai tanah khusus milik leluhur. Di dalam kesepakatan itu kedua belah pihak juga setuju untuk mengangkat aku sebagai penguasa samiddha Caruban, menggantikan Ki Danusela. Bahkan, sebagai pemangku Khabumian aku diberi jabatan yang lebih tinggi, yaitu dari jabatan pangraksabhumi (Penjaga Kabhumian) menjadi chakrabhumi (Penguasa Kabhumian).” “

Sesungguhnya, di balik pengangkatanku sebagai chakrabhumi terdapat kesepakatan antara pihak Demak dan Kerajaan Sunda unguk menampik kekuasaan Maharaja Majapahit Bhre Kretabhumi atas samiddha Caruban. Itu berarti, pengakuan Bhre Kretabhumi atas seluruh wilayah samiddha Caruban tidak lagi diakui. Dan, itu juga berarti dengan pengangkatanku sebagai chakrabhumi, baik pihak Kadipaten Demak maupun Kerajaan Sunda merasa diuntungkan. Sebab, aku adalah putera Maharaja Sunda sekaligus mewakili orang-orang di Bumi Pasundan.” “

Bagaimana mungkin kedua belah pihak bisa sepakat menunjuk Yang Mulia Ario Abdillah sebagai penengah? Bukankah itu sesungguhnya akan merugikan pihak Sunda karena Yang Mulia Ario Damar sangat mungkin memihak puteranya, yaitu Yang Dipertuan Demak?” Abdul Jalil minta penegasan. “

Aku sendiri semula tidak paham tentang hal itu,” sahut Sri Mangana, “tetapi akhirnya ayahandaku menjelaskan bahwa Yang Mulia Ario Abdillah sesungguhnya seorang putera raja berdarah Majapahit-Sunda.” “

Yang Mulia Ario Abdillah berdarah campuran Majapahit-Sunda?” Abdul Jalil heran. “

Ya. Sebab, kakek beliau yang bernama Kaki Palupa adalah kepala prajurit pembawa gada (rakryan atandha ing palu-palu) Kerajaan Sunda. Kaki Palupa termasuk salah satu pengikut setia kakek buyutku, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat, yang berhasil lolos dari malapetaka di Bubat. Beliau bisa lolos dari maut karena memiliki ilmu sakti seratus ribu hulubalang. Kaki Palupa kemudian menjadi pendeta Bhairawa (Pu Palyat) di hutan Wanasalam yang terletak di sebelah selatan ibu kota Majapahit.” “

Menurut cerita, Kaki Palupa menikah dengan Nini Palupuy, puteri perwira Sunda (rakryan bhatamantri) Soang Sasaka, yang gugur dalam peristiwa Bubat. Dari pernikahan itu lahirlah dua orang anak, yaitu seorang putera dan puteri. Yang pertama bernama Ki Wanasalam, patih di Kadipaten Demak. Yang kedua, Nyi Endang Sasmitapura, yang dinikahi Prabu Kertawijaya dan kemudian melahirkan Yang Mulia Ario Abdillah.” “

Kaki Palupa kemudian menikah lagi dengan Nyai Kundisari, adik seorang pendeta Bhairawa bernama Rishi Suryya Wisesa, yang bertapa di Gunung Dieng. Hasil pernikahan Kaki Palupa dan Nyai Kundisari melahirkan Ki Danusetra yang diasuh oleh uwaknya di Gunung Dieng. Nah, dengan mengetahui adanya ikatan darah Majapahit-Sunda di dalam tubuh keturunan Kaki Palupa maka tidak salah jika pihak Sunda kemudian memilih Yang Mulia Ario Abdillah sebagai penengah dalam masalah perebutan samiddha Caruban Larang. Dan, Tuan Milinadi, sahabat Yang Mulia Ario Abdillah, mengetahui juga hal ikatan darah tersebut, termasuk keberadaan samiddha Caruban Larang sebagai wilayah khusus milik Sang Bhumi.” “

Saya paham sekarang, Ramanda Ratu,” Abdul Jalil manggut-manggut. “Sekarang saya bisa memahami kenapa orang-orang Pakuan Pajajaran sangat marah kepada Pamanda Rsi Bungsu yang merusak Padepokan Giri Amparan Jati. Kemarahan mereka pastilah bukan karena Pamanda Rsi Bungsu mendalangi pembakaran padepokan, melainkan karena padepokan yang dirusak itu berada di samiddha Caruban yang mereka sucikan.” “

Benarlah apa yang engkau katakan itu, o Puteraku. Karena itu, aku berharap engkau mengikuti jejak Guru Agung Syaik Datuk Kahfi. Maksudku, meski niat utama beliau membangun padepokan di tanah larangan ini adalah semata-mata untuk mengembangkan dakwa Islam, beliau tetap menghormati kepercayaan orang-orang setempat. Beliau memahami bahwa sesungguhnya Padepokan Giri Amparan Jati yang terletak di samiddha Caruban tidak hanya dianggap sebagai milik orang-orang muslim, tetapi juga dianggap sebagai milik semua orang Sunda dan Jawa, tidak peduli apakah dia Muslim, Hindu atau Budha,” ujar Sri Mangana.

Ibarat panglima perang yang wajib mengetahui keadaan medan tempur sebelum peperangan dimulai, dengan didampingi Sri Mangana, Abdul Jalil berkeliling ke seluruh sudut Kutha Caruban untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Sebelum mengetahui dan memahami kehidupan manusia yang tinggal di permukaan bumi Caruban Larang, ia ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang nama-nama tempat di daerah itu.

Abdul Jalil sadar betapa di balik nama-nama tempat yang ada di permukaan bumi, sesungguhnya tersembunyi makna sejarah yang dalam dari kehidupan manusia masa silam yang terkait dengan kehidupan masa kini dan mendatang. Ia sadar bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya adalah rangkaian sejarah yang sambung-menyambung ibarat untaian perhiasan kalung mutiara. Lantaran itu, ia tidak ingin menuangkan gagasan dan impiannya membangun sejarah kehidupan baru dengan membinasakan seluruh sisa kehidupan lama yang bisa dimanfaatkan sebagai akar penguat.

Kutha Caruban yang disaksikan Abdul Jalil dalam perjalanan kelilingnya memang sudah jauh berbeda dengan saat ia tinggalkan belasan tahun silam. Dermaga pelabuhan yang terletak di Muara Jati telah dibangun lebih besar dan lebih kukuh. Dermaga baru itu tiap hari ramai disandari kapal-kapal besar. Setiap hari terlihat iring-iringan gerobak, kuda, pedati, dan kuli angkut bergerak hilir-mudik dari pelabuhan ke arah Kutha Caruban.

Bangsal Pakuwuan yang kecil sudah berubah menjadi Bangsal Kaprabon yang dibangun dari kayu jati berukir dengan atap bertingkat tiga. Jika dilihat dari jalan atau pantai, Bangsal Kaprabon tampak sangat kokoh dan megah seolah-olah tidak kalah dengan Bangsal Manguntur milik Maharaja Sunda di Kutharaja Pakuan Pajajaran. Di depan Bangsal Kaprabon terhampar alun-alun yang luas. Di antara alun-alun dan Bangsal Kaprabon terdapat Siti Hinggil (Lemah Wungkuk). Di sebelah utara alun-alun berdiri Tajug Agung (masjid agung) Caruban. Di sebelah barat alun-alun terdapat pasar. Di sebelah timur alun-alun berdiri bangunan Kadhyaksan, tempat para pejabat kehakiman (adhiyaksa) bekerja.

Di bagian belakang Bangsal Kaprabon, yang dibatasi dinding tinggi, adalah wilayah puri kediaman pribadi raja. Di dalamnya terdapat Bale Rangkang, Parapuri, Purasabha, Kaputrian, dan Kebon Raja. Agak jauh ke arah selatan tetapi masih di dalam dinding baluwarti (benteng) terdapat kawasan hunian pejabat khusus pembantu raja, yakni para pakring (mangilala drwya haji). Kawasan hunian pejabat pangkring itu disebut Pakringan.

Di sebelah barat Pakringan, masih di dalam dinding baluwarti, terdapat sebuah wilayah suci yang disebut Pakalangan, yakni tempat batu suci (sang hyang susuk) kerajaan ditempatkan di sebuah lingkaran keramat. Lingkaran itu dianggap keramat dan suci karena untuk upacara pancamakara atau yang lazim disebut Ma-lima, yakni upacara Bhairawa-Tantra. Para pejabat pakring memiliki tugas utama menjaga dan memelihara kawasan Pakalangan yang keramat tersebut.

Kebon Raja adalah tamansari yang luas dan indah, di dalamnya terdapat taman air yang sangat indah ditumbuhi bunga teratai. Di Kebon Raja itulah para puteri dan keluarga raja yang lain bercengkrama dan bersukacita. Tak jauh di sebelah timur Bangsal Kaprabon, di luar dinding baluwarti terdapat Pagajahan, yakni tempat orang menambatkan gajah milik raja. Di selatan Pagajahan terdapat sebuah bangunan besar dengan menara pengawas yang disebut Jagasatru, yakni satuan penjaga yang bertugas menangkis kekuatan pihak musuh (apinggel kana langsaran kalih kalawan jagasatru). Tugas utama satuan Jagasatru ini selain menjaga Lawang Gede (gapura agung) juga memeriksa orang-orang yang akan menghadap raja.

Di luar dinding baluwarti, di selatan Pagajahan terdapat deretan bangunan bale-bale tempat menginap para utusan dari wilayah taklukan (sekawat bhumi) yang disebut Pakawatan. Setiap tahun sekali para utusan dari daerah taklukan (kawat) itu menghadap raja dengan membawa upeti (bulu bekti). Baik para kawat maupun mereka yang ingin menghadap raja hendaknya memiliki hati yang bersih. Itu sebabnya, mereka biasanya menginap dulu di beberapa bale-bale yang disebut suci manah (suci hati dan pikiran).

Bagian kutha yang paling ramai adalah kawasan jalan yang membentang antara Katandhan hingga Pasukatan. Sebab, di Katandhan terletak kantor panca tandha (pejabat-pejabat pengawas pabean) dan di Pasukatan terletak kantor juru sukat (pengawas ukuran timbangan dan penarik retribusi). Setiap hari, dari pagi hingga sore, berbagai jenis angkutan mulai gerobak sampai pedati melintasi kawasan ini. Di Katandhan inilah para saudagar membayar pungutan pajak dan cukai atas barang-barang yang diangkut dari Kutha Caruban maupun yang diturunkan ke Kutha Caruban.

Semua barang yang diturunkan maupun diangkut dari Kutha Caruban akan diawasi ukuran penimbangannya dan kemudian dipungut biaya retribusi sesuai berat dan banyaknya. Berbagai jenis barang dagangan dari Caruban yang sangat laris dibeli orang adalah alat-alat dari tembaga yang dibuat di Pasayangan (Jawa Kuno: tempat pande tembaga). Selain itu, barang dagangan yang juga laris dibeli orang dari Caruban adalah peralatan gerabah, seperti periuk, belanga, tempayan, gentong, dan guci yang dibuat di Pandyunan (Jawa Kuno: tempat pembuat dyun, gerabah).

Di antara sejumlah tempat yang dikunjungi Abdul Jalil dan Sri Mangana di Kutha Caruban, yang paling mengesankan adalah tempat yang disebut Kabumen (Kabhumian), kediaman Sang Bhumi, yang ditandai oleh tanah lapang dengan sebuah gundukan tanah di tengah dan tumpukan batu-batu persegi ukuran besar dan sebuah yoni kuno terletak di atasnya. Sri Mangana menjelaskan bahwa di situlah sesungguhnya pusat samiddha Caruban karena yang disebut Kabhumian adalah Kerajaan Leluhur (Medang Kamulan) raja-raja Sunda.

Menurut Sri Mangana, sejak zaman lampau para penguasa samiddha Caruban selalu menduduki jabatan rangkap. Pertama, jabatan penguasa wilayah samiddha Caruban yang menyandang gelar ratu, bhre, prabu anom, sri, adipati, kuwu. Kedua, jabatan pemangku Kabhumian yang mempunyai tugas khusus memelihara kediaman dhatu leluhur (Sang hyang Dharma Kamulan), yaitu Sang Bhumi beserta upacara-upacara pemujaannya. Jabatan pemangku itu disebut mangkubhumi, pangraksabhumi, chakrabhumi.

Pada saat Prabu Niskala Wastu Kancana berkuasa, ungkap Sri Mangana, yang ditunjuk sebagai penguasa samiddha Caruban adalah cucunya, Dyah Surawijaya Bhre Singhapura, yaitu keturunan yang diperoleh dari hasil pernikahan puterinya, Tohaan di Galuh, dengan Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit. Sedangkan yang ditunjuk sebagai mangkubhumi, pemangku Kabhumian, adalah Ratu Kasmaya, putera Prabu Garbha Menak, cucu Prabu Niskala Wastu Kancana. Ratu Kasmaya menikah dengan sepupunya, kakak Dyah Surawijaya yang bernama Dyah Suragharini Bhre Singhapura.

Pengangkatan Dyah Surawijaya sebagai penguasa samiddha Caruban sesungguhnya bertentangan dengan adat kebiasaan yang berlaku di Caruban Larang, yaitu kepewarisan berdasarkan garis ibu. Seharusnya yang menjadi penguasa samiddha adalah Dyah Suragharini. Itu sebabnya, Dyah Surawijaya tidak lama memerintah. Dia meninggal tanpa keturunan. Kemudian mangkubhumi Singhapura, Ratu Kasmaya, naik jabatan menjadi penguasa samiddha Caruban. Putera Ratu Kasmaya yang bernama Ki Gedeng Tapa menggantikan kedudukannya, yaitu menjadi mangkubhumi Singhapura.

Ketika Ratu Kasmaya uzur, jabatan penguasa samiddha diserahkan kepada Ki Gedeng Tapa menjadi penguasa samiddha, jabatan mangkubhumi diberikan kepada Ki Danusela, adik Ki Danuwarsih, putera Ki Danusetra. Jabatan itu jatuh ke tangan Ki Danusela karena pernikahannya dengan Ratu Arumsari, puteri Dyah Suragharini, yakni adik lain ibu Ki Gedeng Tapa.

Ki Gedeng Tapa sendiri menjabat kedudukan Raja Singhapura hanya beberapa tahun, menunggu Ratu Arumsari dewasa. Setelah Ratu Arumsari dewasa dan menikah dengan Ki Danusela maka jabatan itu diserahkan kepada suaminya. Demikianlah, Ki Danusela kemudian menduduki jabatan rangkap, yakni sebagai penguasa samiddha, jabatan kuwu (jabatan di bawah akuwu), sekaligus jabatan pemangku Kabhumian.

Turunnya jabatan Ki Danusela dari bhre (raja) menjadi kuwu disebabkan oleh kenyaaan bahwa ia sesungguhnya hanya putera menantu dari keturunan Majapahit dan tidak termasuk keluarga raja. Itu sebabnya, Ki Danusela akhirnya hanya bergelar Kuwu sekaligus pangraksabhumi. Tetapi, belakangan jabatan pangraksabhumi diserahkan kepada Raden Walangsungsang, cucu Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Danusela meninggal, Raden Walangsungsang merangkap kedua jabatan itu lagi, yakni sebagai Kuwu samiddha Caruban sekaligus pemangku Kabhumian, tempat suci kediaman Sang Bhumi. Bahkan, saat jabatannya dinaikkan dari kuwu menjadi raja muda (prabu anom), jabatan pangraksabhumi pun dinaikkan menjadi chakrabhumi.

Sesungguhnya, yang disebut Sang Bhumi, pemilik wilayah suci Kabhumian, adalah leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Itu sebabnya, sejak zaman purba wilayah samiddha ini disebut dengan berbagai nama seperti Kretabhumi (ditegakkan di bawah lindungan Sang Bhumi), Carubana (hutan untuk persembahan), Ceribon (Sunda Kuno: cereibu-an: wilayah warisan ibu), atau Puser Bhumi (pusat wilayah Sang Bhumi). Semua sebutan itu menunjuk makna bahwa wilayah ini bukanlah milik manusia. Adapun leluhur yang didharmakan di Kabhumian adalah seorang ratu puteri bernama Ratu Purbasari yang masyhur dengan nama Ratu Stri Bhattari Prthiwi.

Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah leluhur raja-raja Sunda. Ia puteri bungsu Prabu Dharmasatyadewa (Prabu Siung Wanara) Maharaja Pasir Batang (Kerajaan Galuh Negara Tengah) yang beribu kota di Bojong. Ibunda Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah permaisuri sang maharaja, yaitu Ratu Niti-Iswari. Meskipun ia merupakan puteri bungsu dari tujuh bersaudara, karena kecerdasan, kebijaksanaan, kesetiaan, dan kepeduliannya terhadap para kawula sangat tinggi maka ia ditunjuk ayahandanya untuk menggantikan kedudukan sebagai raja.

Ketika Prabu Dharmasatyadewa mangkat, takhta Kerajaan Pasir Batang justru diduduki oleh kakaknya tertua, Ratu Purba Larang. Dengan naik takhtanya Ratu Purba Larang maka terjadilah perselisihan dengan Ratu Purbasari yang berusaha merebut kembali takhta Pasir Batang yang menjadi haknya. Dalam perjuangan melawan saudari tuanya itu, Ratu Purbasari didukung oleh suaminya Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya Harogawarddhana Wikramotunggadewa Maharaja Sunda. Sebagai permaisuri Maharaja Sunda, Ratu Purbasari dianugerahi gelar Ratu Stri Bhattari Prthiwi.

Sri Maharaja Jayabhupati sendiri sesungguhnya masih kerabat Ratu Stri Bhattari Prthiwi, yaitu keturunan Wangsa Sanjaya dari galur Rahyang Tamperan. Menurut silsilah, baik Ratu Stri Bhattari Prthiwi maupun Sri Maharaja Jayabhupati adalah keturunan kedua belas Rahyang Tamperan dari galur Maharaja Mataram Raka i Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu.

Leluhur keduanya terpisah pada leluhur yang bernama Raka i Layang Dyah Tulodong Sri Sajjanasatmata Nuragatunggadewa yang memiliki dua orang adik lain ibu, yaitu Raka i Hino Pu Kethudara dan Raka i Sirikan Pu Samarawikranta. Baik Dyah Tulodong maupun Pu Kethudara dan Pu Samarawikranta adalah cucu Maharaja Mataram Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu karena mereka bertiga adalah putera Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya.

Ketika Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya mangkat, yang menggantikan takhtanya adalah Raka i Layang Dyah Tulodong dengan gelar Sri Sajjanasatmata Nuragatunggadewa. Adiknya, Pu Kethudara, diangkat menjadi mahapatih. Sedangkan adiknya yang lain, Pu Samarawikranta, diangkat menjadi raja muda di Galuh Lalean yang beribu kota di Adi Mulya dengan gelar Prabu Hari Murti. Demikianlah, Dyah Tulodong merupakan leluhur Sri Maharaja Jayabhupati. Sementara itu, Prabu Hari Murti adalah leluhur Ratu Purbasari.

Ketika terjadi kemelut dalam pemerintahan Dyah Wawa Sri Wijayaloka, pengganti Tulodong, kekuasaan terpecah menjadi dua. Pertama, menantu Dyah Wawa yang bernama Raka i Hino Pu Sindok Sri Isanatunggawijaya membangun kekuasaan di wilayah timur dengan kedaton di Watu Galuh. Kedua, Prabu Arya Galuh putera Prabu Hari Murti tetap berkuasa di Adi Mulya.

Ketika cucu Prabu Arya Galuh yang bernama Prabu Dharmasatyadewa naik takhta, Kerajaan Galuh Lalean bergeser ke arah barat. Nama Galuh Lalean diganti menjadi Pasir Batang (Galuh Nagara Tengah) dan ibu kotanya dipindahkan dari Adi Mulya ke Bojong.

Sementara itu, di antara keturunan Pu Sindok lahirlah Sri Jayabhupati, putera Sri Makutawangsawarddhana. Sri Jayabhupati membangun kekuasaan di Bumi Pasundan segera setelah kekuasaan saudaranya, Sri Dharmawangsa Tguh, di Wwotan Mas dihancurkan oleh Aji Wurawari dari Lwwaram. Ibu Sri Jayabhupati adalah puteri Sunda yang dikenal dengan nama Sri Kahulunan, cucu Raka i Sirikan Pu Samarawikranta, penguasa Palutungan.

Menurut cerita, Palutungan adalah milik Ratu Pastika, puteri Pu Catura dan saudari Pu Munggu, yang dijadikan permaisuri oleh Maharaja Mataram Raka i Kayuwangi Sri Sajjanotsawatungga. Dengan demikian, ibunda Sri Jayabhupati merupakan keturunan kelima Ratu Pastika. Karena merasa sebagai keturunan Ratu Pastika Kahulunan dan putera Sri Kahulunan maka ia merasa berhak atas Palutungan sehingga ia kemudian membangun kekuasaan di situ.

Sri Jayabhupati dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana serta sangat memperhatikan kehidupan kawulanya. Anehnya, diam-diam orang menjulukinya dengan sebutan bernada merendahkan, yaitu Prabu Lutung Kasarung (Sunda: penguasa Sungai Cilutung yang sesat jalan). Sri Jayabhupati disebut raja sesat jalan karena dia telah murtad dari agama yang dianut ayahanda dan ibunda serta leluhurnya. Seluruh kawula Kerajaan Palutungan dan semua leluhur Sri Maharaja Jayabhupati adalah pemuja Wisynu, sementara Sri Jayabhupati justru menjadi pemuja Syiwa Mahaguru. Dan lantaran itu, selain disebut dengan nama Prabu Lutung Kasarung, ia juga disebut Guru Minda yang bermakna “yang berpindah (memuja) Sang Syiwa Mahaguru.”

Sri Jayabhupati sangat berhasrat memperluas wilayah kekuasaannya. Itu sebabnya, ia kemudian memindahkan kedatonnya dari kaki Gunung Chakrabhuwana di hulu Sungai Cilutung ke arah wilayah dekat muara. Ia kemudian membangun angkatan perang yang kuat dan menggunakan nama Abhiseka Wisynumurti Samarawijaya (Dewa Wisynu penguasa muara yang penuh kemenangan) dan menamai kerajaannya yang baru dengan Singhapura (kerajaan Sang Narasingha, jelmaan Wisynu). Anehnya, meski ia menggunakan lambang-lambang Waisnawa, prasasti-prasasti yang dikeluarkannya selalu memuji-muji Agastya, Sang Kumbhayoni, yaitu Syiwa Mahaguru.

Sri Maharaja Jayabhupati berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke barat, ke bekas Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Aruteun. Bahkan, Kerajaan Pasir Batang pun berhasil dijadikan sebagai wilayah taklukan (sakawat bhumi). Dengan keberhasilan menaklukkan Pasir Batang atau Galuh Nagara Tengah maka kerajaannya kemudian dinamakan Galuh Singhapura dan Sri Jayabhupati kemudian menggunakan gelar Maharaja.

Pasangan Sri Maharaja Jayabhupati dan permaisuri Ratu Stri Bhattari Prthiwi berkuasa sangat lama. Mereka dikenal sebagai pasangan maharaja dan maharani yang adil, bijaksana, dan dicintai seluruh kawulanya. Dari perkawinan mereka lahirlah empat putera, yaitu Sang Lingga Hyang, Dewi Purnawati, Dewi Surabhi, dan Sang Surendra. Sementara itu, Sri Maharaja Jayabhupati memiliki dua orang selir, yaitu Ratu Wulansari dan Ratu Sudhiwati. Ratu Wulansari adalah puteri Sri Prabu Dharmawangsa Tguh, Maharaja Kahuripan. Dari Ratu Wulansari lahirlah empat orang putera, yaitu Sang Dharmaraja, Sang Suryyanagara, Dewi Nirmala, dan Dewi Sughara. Sedangkan dari Ratu Sudhiwati lahir dua putera, yaitu Sang Wirakusuma dan Sang Wikramajaya.

Karena Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah permaisuri dan sekaligus puteri mahkota Maharaja Pasir Batang maka yang ditetapkan sebagai putera mahkota Galuh Singhapura adalah Sang Lingga Hyang, putera sulungnya. Namun saat Ratu Stri Bhattari Prthiwi dan Sri Maharaja Jayabhupati mangkat, terjadi perebutan kekuasaan. Sang Dharmaraja, putera Sri Maharaja Jayabhupati dari Dewi Wulansari menuntut bagian haknya atas takhta Galuh Singhapura.

Khawatir bakal pecah perselisihan yang menumpahkan darah maka atas kesepakatan para sesepuh kerajaan dibagilah kerajaan menjadi dua yaitu, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Singhapura. Disepakati pula bahwa pembatas kedua wilayah kerajaan adalah gunung tempat Sri Jayabhupati didharmakan. Kerajaan yang wilayahnya terletak di sebelah utara gunung disebut Singhapura yang beribu kota di Purwawinangun dengan raja Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya. Sedangkan kerajaan yang wilayahnya berada di sebelah selatan gunung disebut Galuh dan beribu kota di Dharmaraja dengan raja Sri Prabu Dharmaraja. Agar batas-batas wilayah kedua kerajaan mudah diingat oleh masing-masing pihak maka wilayah Kerajaan Singhapura disebut dengan nama Bumi Ceribon (bahasa Sunda Kuno: cere-ibu-an: wilayah warisan ibu) yang bermakna wilayah kerajaan warisan sang ibu yang membentang dari wilayah Singhapura hingga Pasir Batang (Galuh Negara Tengah). Sementara itu, gunung pembatas wilayah Bumi Ceribon disebut Gunung Ceremai (bahasa Sunda Kuno: cere-ama-i: wilayah warisan bapak) yang bermakna gunung pembatas wilayah kerajaan warisan sang bapak yang membentang di seluruh daerah pedalaman.

Sang Lingga Hyang yang naik takhta Singhapura dengan nama Abhiseka Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya itu beroleh warisan dari ibundanya. Sejak itu dibuatlah peraturan bahwa pewaris yang berhak atas Kerajaan Singhapura adalah keturunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi dengan Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya.

Untuk menandai keabsahan kekuasaannya sebagai Raja Singhapura maka Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya menjadikan pendharmaan Bhattari Prthiwi sebagai Kerajaan Leluhur (Medang Kamulan), yakni tempat kerajaan suci arwah Sang (ibu) Prthiwi. Bertolak dari nama Sang (ibu) Prthiwi itulah kemudian lahir sebutan Sang Bhumi (Sansekerta: Prthiwi: bumi, dunia, tanah). Tempat pendharmaan itu kemudian disebut dengan nama Kabhumian (wilayah khusus milik Sang Bhumi).

Di sebelah selatan Kerajaan Leluhur Kabhumian Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya membangun tempat khusus untuk kediaman para kubja (Sansekerta: orang bungkuk), yang menurut peraturan di kerajaan-kerajaan lama bertugas menjadi pengiring puteri. Tak jauh dari kediaman para kubja terdapat gundukan bukit kecil yang dijadikan Ksiti Inggil (tanah atau bumi mulia) yang disebut Lemah Wungkuk, yakni tempat Watu Gilang untuk menobatkan raja-raja keturunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi. Orang-orang percaya bahwa pada saat penobatan raja, Sang Bhumi akan datang memberkati sang raja dengan diiringi para kubja. Bahkan, saat Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya melakukan ziarah (siddhayatra) ke Kabhumian selalu disambut dan diiringi oleh para kubja yang diyakini mengiring arwah ibundanya, Bhattari Prthiwi Sang (ibu) Bhumi.

Sementara itu, tempat pendharmaan Sri Maharaja Jayabhupati di lereng Gunung Ceremai dijadikan Kerajaan Leluhur oleh Raja Galuh Sri Prabu Dharmaraja. Ia dipuja sebagai Syiwa Mahaguru Sang Girinatha. Pendharmaan Sri Maharaja Jayabhupati yang disucikan dan dijadikan Kerajaan Leluhur itu disebut Linggasasana.

Menurut catatan sejarah, sesungguhnya pembagian kerajaan berdasarkan pewarisan garis keturunan ibu dan bapak yang terjadi di antara kerutunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi dengan Sri Maharaja Jayabhupati itu bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada masa akhir pemerintahan Prabu Stri Bhattari Parwati, terjadi juga perselisihan perebutan takhta berdasarkan hak kepewarisan garis bapak dan ibu. Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, yang saat muda bernama Ratu Juwa, adalah puteri Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha dengan Sri Maharani Simha, Maharaja Kalingga.

Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi adalah Raja Madang Mataram yang beribu kota di Pragawatipura, yakni di sekitar tempuran Sungai Praga dan Sungai Helo. Menurut cerita, Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prtiwi menikah dengan Prabu Purbasora, sepupunya, dan memiliki dua keturunan, yaitu Sang Sannaha dan Rakryan Narayana.

Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi yang diam-diam tertarik dengan ajaran Shakta Bhairawa sering berhubungan dengan Raja Galuh, Prabu Kalakutha Sang Racun Agung (Sang Mandi Minyak), yang menjadi penganut Bhairawa-Tantra. Dari pelbagai upacara pancamakara, Ma-lima, akhirnya mengakibatkan lahirnya anak Sang Mandi Minyak, yaitu Sang Sanna.

Semula Sang Mandi Minyak enggan mengakui Sanna sebagai anak. Itu sebabnya, Sang Sanna dibuang dan dibesarkan di “tegal ksetra”. Akhirnya, Sang Mandi Minyak mengakui Sang Sanna sebagai anak setelah melihat tanda-tanda menakjubkan dari anak tersebut. Setelah Sang Sanna dewasa, ia dinikahkan dengan saudarinya, Sang Sannaha. Lantaran riwayat Sang Sanna sejak lahir hingga menikah dianggap keliru maka ia kerap disebut orang dengan nama lain “Salah”.

Ketika Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi mangkat, dia didharmakan di daerah barat ibu kota Pragawatipura, tepatnya di tepi timur Sungai Wluku-loh (Jawa Kuno: sungai bajak, subur). Pendharmaan itu disucikan sebagai Kerajaan Leluhur oleh para keturunannya. Bertolak dari nama Parwati Tunggal Prthiwi itulah pendharmaan itu kemudian disebut Kabhumian (Sansekerta: Prthiwi: bumi, dunia, tanah) yang bermakna wilayah khusus Sang Bhumi.

Kabhumian tempat Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi didharmakan itulah yang menjadi pusat wilayah suci Kerajaan Mataram (Sansekerta:Mataram: ibu negeri, tanah air) yang mendatangkan kemakmuran. Daerah di sekitar Kabhumian disebut Patanahan (kediaman sang tanah, bumi). Kawasan berlimpah kesuburan yang membentang antara Sungai Wluku-loh dan Sungai Praga yang sering dijadikan medan perang perebutan takhta di antara keturunan Sang Bhumi kemudian disebut dengan nama Bagelen (Sansekerta: Bhaga-halina: warisan ibu yang subur).

Seiring mangkatnya Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, terjadilah perebutan takhta. Rakryan Narayana yang telah diberi bagian wilayah utara ingin menguasai seluruh wilayah kekuasaan ibundanya. Dengan dukungan bala tentara dari Sriwijaya, Rakryan Narayana berhasil merebut takhta Mataram. Ibu kota Pragawatipura diduduki dan ia dinobatkan sebagai Maharaja Mataram dengan gelar Syailendra.

Sang Sannaha dan Sanna berhasil lolos dari ibu kota Pragawatipura. Mereka menyingkir ke arah utara ke kawasan antara Gunung Chandramukha (Merbabu) dan Gunung Chandrageni (Merapi). Atas jasa Maharishi Bhannu Mas, Sang Sannaha yang sedang hamil tua diungsikan ke timur, ke kediaman Maharishi Bhannu Wangi, saudara kembar Maharishi Bhannu Mas. Di sana, di tanah timur itu, lahirlah putera Sang Sannaha yang diberi nama Rake Jambri.

Akhirnya, Sang Sanna dengan sisa-sisa prajuritnya memimpin serangan menghadapi kekuatan Syailendra yang didukung oleh Sriwijaya. Sang Sanna berhasil menghalau pasukan Sriwijaya dari Pragawatipura dan memburunya hingga ke pangkalan induknya di Pamiridan. Di Pamiridan pasukan Sriwijaya yang bergabung dengan induknya bertempur sengit melawan pasukan Mataram yang dipimpin Sang Sanna. Dalam sebuah pertempuran yang sengit, pasukan Mataram berhasil mematahkan kekuatan pasukan Sriwijaya yang mundur ke arah barat. Orang-orang bilang, konon, tempat pasukan Mataram berhasil memukul mundur pasukan Sriwijaya itu diabadikan dengan nama Balapulang (Jawa Kuno: bala tentara kembali).

Setelah berhasil mematahkan kekuatan Syailendra, saudara dan sekaligus iparnya, Sang Sanna menegakkan lagi kekuasaan Mataram warisan ibundanya. Namun, ia meninggalkan kedaton lama dan membangun kedaton baru di sebelah timur ibu kota lama. Sang Sanna memberi banyak anugerah kepada mereka yang berjasa membantunya. Putera Maharishi Bhannu Mas ia angkat sebagai raja muda. Kepada mereka yang setia ia bagi-bagikan tanah simha (perdikan). Sanna termasyhur sebagai maharaja agung dan bijaksana yang disegani kawan maupun lawan. Bahkan saudaranya, Syailendra, yang kalah itu diampuni dan dibiarkan hidup sebagai raja yang berkuasa di pantai utara.

Kekuasaan Sanna diwariskan kepada puteranya, Rake Jambri, yang masyhur disebut Sang Ratu Sanjaya. Sang Ratu Sanjaya menyatakan diri sebagai penguasa Mataram (ibu). Ratu Sanjaya inilah dhatu leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa dari Sanjayawangsa. Sedangkan Syailendra menjadi dhatu leluhur raja-raja Jawa dan raja-raja Sriwijaya dari Sailendrawangsa. Demikianlah, Prabu Stri Purbasari Bhattari Prthiwi yang didharmakan di Kabhumian di Bumi Caruban adalah keturunan kedua belas dari Raka i Mataram Ratu Sanjaya dan keturunan keempat belas dari Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi yang didharmakan di kabhumian Pragawatipura di Bumi Mataram.

Penjelasan panjang lebar Sri Mangana tentang siapa sesungguhnya yang didharmakan di tempat yang disebut Kabhumian itu dibenarkan oleh Abdul Jalil yang melalui cara gaib membuktikan kebenaran cerita tersebut. Untuk membuktikan bahwa ia telah menghubungi secara gaib arwah Bhattari Prthiwi, Abdul Jalil menyinggung leluhur almarhumah yang jarang dikenal nama pribadinya, yakni Rahyang Tamperan. “Apakah leluhur Bhattari Prthiwi yang disebut Rahyang Tamperan itu bernama pribadi Sang Wariga Agung? Benarkah nama Rahyang Tamperan diberikan orang karena beliau menjadi pertapa?” “

Benar sekali dan aku mempercayaimu. Sebab, nama itu hanya diketahui oleh keluarga Maharaja Sunda yang pernah membaca naskah-naskah kuno di Kapustakaan Pakuan Pajajaran,” ujar Sri Mangana. “

Bukankah Sang Manarah, putera Rahyang Tamperan, kemudian mendirikan kerajaan baru di Jawa dengan ibu kota di Wwotan yang terletak di kaki Gunung Pananggusama?” “

Benar demikian adanya.” “

Dan, tempat Rahyang Tamperan pertama kali menginjakkan kaki di Jawa disebut orang dengan nama Desa Turun Hyang?” “

Aku percaya kepadamu karena apa yang engkau ungkapkan itu sesungguhnya menjadi pengetahuan rahasia keluarga Maharaja Sunda.”

Meski Abdul Jalil dan Sri Mangana sama-sama meyakini susur galur trah raja-raja Sunda dan Jawa, Abdul Jalil memiliki pandangan yang berbeda dengan Sri Mangana khususnya tentang leluhur yang didharmakan di Kabhumian. Jika Sri Mangana menilai pemujaan terhadap Sang Bhumi sebagai keniscayaan adat bagi raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa, Abdul Jalil justru menilai hal-hal terkait dengan pemujaan tersebut sesungguhnya harus diakhiri. “Ada satu hal yang perlu Ramanda Ratu ketahui tentang keinginan beliau, leluhur Ramanda Ratu yang dipuja di Kabhumian ini,” kata Abdul Jalil. “

Apa sesungguhnya keinginan beliau yang dipuja di Kabhumian ini?” “

Beliau ingin beristirahat dengan tenang di alam kelanggengan,” Abdul Jalil menjelaskan, “sebab telah berbilang abad beliau selalu diganggu dan disibukkan oleh berbagai macam urusan duniawi para keturunannya. Beliau kelihatan sangat menderita.” “

Jadi, bagaimanakah ini? Apa yang harus aku perbuat untuk memenuhi keinginan beliau?” “

Semua itu tergantung pada kebijaksanaan Ramanda Ratu.” “

Maksudnya?” “

Ramanda Ratu adalah Sang Chakrabhumi, penguasa Kabhumian. Jika Ramanda Ratu mencintai jabatan maka Ramanda Ratu tidak perlu memenuhi keinginan beliau. Ramanda Ratu setiap saat bisa meminta bantuan dari arwah beliau untuk menyelesaikan urusan-urusan duniawi semua raja keturunan beliau. Tetapi, jika Ramanda Ratu mencintai beliau sebagai leluhur yang telah berjasa mewariskan segala kemuliaan di antara manusia maka Ramanda Ratu harus merelakan jabatan chakrabhumi untuk diakhiri selama-lamanya agar beliau bisa beristirahat dengan tenang di alam kelanggengan.”

Sri Mangana terperangah mendengar penjelasan Abdul Jalil. Lama dia terdiam dan merenung. Setelah itu dengan nada ragu-ragu ia berkata, “Ketahuilah, o Puteraku, sesungguhnya aku tidak memberati jabatan apa pun di dunia ini. Tetapi dengan cara bagaimana aku bisa mengakhiri jabatan chakrabhumi? Bukankah hal itu akan membangkitkan amarah seluruh penghuni Bumi Pasundan?” “

Hal itu tidak akan terjadi, Ramanda Ratu.” “

Kenapa bisa demikian?” “

Menurut petunjuk arwah Ratu Stri Bhattari Prthiwi, segalah Tu-ah dan Tu-lah yang memancar dari Kabhumian akan sirna jika yoni tempat memuja beliau ditutup dengan lingga suci yang terletak di puncak Gunung Pulasari di tanah Banten. Jika petunjuk beliau itu terlaksana maka tidak saja Tu-ah dan Tu-lah dari Kabhumian ini akan sirna, tetapi orang pun akan tersilap melupakan Kabhumian,” jelas Abdul Jalil. “

Kenapa harus lingga yang berada di puncak Gunung Pulasari?” “

Karena yang menempatkan lingga itu adalah Sri Maharaja Jayabhupati, suami Ratu Stri Bhattari Prthiwi.”

Sri Mangana termangu-mangu mendengar penjelasan Abdul Jalil. Dia tidak memikirkan tentang disirnakannya Tu-ah dan Tu-lah dari Kabhumian, tetapi justru merenungkan syarat lingga suci dari puncak Gunung Pulasari di tanah Banten. Bukankah Gunung Pulasari dianggap gunung keramat tempat Dewa Syiwa bersemayam? Apakah ada rahasia di balik keberadaan yoni Caruban dan lingga di Banten sehingga keduanya memiliki ikatan yang kuat? Caruban Larang sebagai samiddha jelas menyediakan kayu-kayu untuk persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa. Sementara itu, upacara sesaji persembahan justru dilakukan di Banten dengan pusat di Gunung Pulasari, Gunung Karang, dan Gunung Lancar.

Abdul Jalil yang melihat Sri Mangana termenung lama kemudian berkata, “Sesungguhnya, menguasai wilayah samiddha Caruban dan wilayah Banten sama artinya dengan mewarisi takhta Kerajaan Sunda yang diwariskan oleh Sri Maharaja Jayabhupati dan Ratu Stri Bhattari Prthiwi. Sebab tanpa wilayah Caruban Larang dan wilayah Banten, sesungguhnya Kerajaan Sunda hanyalah hamparan bumi biasa, yakni tanah tak bertuan yang dihuni hewan dan manusia liar yang tak bisa diatur.” “

Maksudnya?” “

Sekalipun Ramanda Ratu bukan putera mahkota, Ramanda Ratu akan menjadi pewaris takhta Kerajaan Sunda jika Ramanda Ratu dapat menguasai Caruban Larang dan Banten. Sebab dengan dikuasainya Caruban Larang dan Banten, sesungguhnya takhta kekuasaan raja-raja Sunda sudah kehilangan Tu-ah dan Tu-lah. Tanpa Caruban dan Banten, takhta Kerajaan Sunda tidak memiliki wibawa apa-apa.”

Selain Kabhumian, tempat bersejarah di Caruban Larang yang dikunjungi Abdul Jalil dan Sri Mangana adalah Palimanan yang terletak di sebelah barat Kutha Caruban. Daerah itu, menurut Sri Mangana, disebut Palimanan karena digunakan orang sebagai tempat memuja Bhattara Ganesha. Menurut cerita, pada masa silam hewan gajah dipuja sebagai penjelmaan Ganesha, putera Parwati. Tempat pemujaan Ganesha yang dikeramatkan itu dibangun oleh Sri Jayabhupati, pemuja Syiwa, dan disebut dengan nama Palimanan (Jawa Kuno: tempat gajah). Di Palimanan gajah-gajah liar dilepas bebas dan terlarang untuk diganggu. Seiring bergulirnya waktu, pemujaan terhadap Sang Ganesha pernah memudar selama berpuluh tahun. Hal itu, konon, membuat marah Sang Ganesha. Lalu terjadilah bencana terbunuhnya Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda di Bubat beserta para pengikut, termasuk permaisuri dan puterinya oleh Sang Gajah Mada, Mahapatih Majapahit.

Para sesepuh Sunda yang tak menduga bakal terjadi peristiwa memilukan itu meyakini bahwa peristiwa tragis di Bubat bukanlah peristiwa biasa, melainkan memiliki kaitan dengan amarah Sang Ganesha yang murka akibat tidak lagi dipuja di Palimanan. Menurut keyakinan para sesepuh, Sang Ganesha, dewa gajah yang marah itu, menitis kepada Mahapatih Gajah Mada dan mengirim pesan kepada raja-raja Sunda agar mereka memuja kembali putera Syiwa itu.

Dengan keyakinan seperti itu, demi menolak bala bencana yang lebih dahsyat akibat amarah Sang Ganesha Sanghyang Ganapati, atas saran para sesepuh, putera Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana, memperbaiki kembali tempat pemujaan bagi Sang Ganesha di Palimanan. Para sesepuh berharap dengan diperbaiki dan dipujanya kembali Sang Ganesha di Palimanan, diharapkan amarah dewa gajah itu dapat diredam. Sementara itu, untuk menangkal pengaruh buruk akibat kemarahan Sang Ganesha, gajah-gajah yang dipuja kembali di Palimanan sebagian ditangkap dan ditambat di Pagajahan untuk dijinakkan dengan mantra-mantra. “

Lepas benar atau tidak pandangan para sesepuh itu,” ujar Sri Mangana, “yang jelas, sejak Sang Ganesha dipuja kembali di Palimanan dan kemudian ditambat dan dijinakkan dengan mantra-mantra di Pagajahan, terbukti pengaruh jahat dari Sang Gajah tidak terjadi lagi atas Bumi Pasundan. Sejarah mencatar, Sang Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, tidak pernah menginjakkan kaki ke Bumi Pasundan.” “

Saya memahami keyakinan itu, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Tapi jika saya boleh tahu, pada masa pemerintahan kakek buyut Ramanda Ratu, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana, Negeri Caruban Larang dijadikan samiddha dan Kerajaan Singhapura menjadi wilayah kecil. Apakah Kerajaan Singhapura yang pernah dipimpin Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya itu sudah runtuh?” “

Ya, seperti kebiasaan raja-raja Sunda dan Jawa, runtuhnya kerajaan selalu disebabkan oleh perebutan takhta di antara keturunan sang raja. Kerajaan Galuh Singhapura yang besar pecah menjadi dua pada masa Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya dan Sri Prabu Dharmaraja. Sepeninggal Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya terjadi perebutan di antara keturunannya.” “

Menurut cerita, pada masa akhir pemerintahan Prabu Lingga Wastu Sang Surugana, cucu dari Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya, terjadi perebutan sengit hingga putera mahkota beserta pengikutnya melarikan diri ke barat dan membangun kerajaan baru. Putera mahkota itulah yang kemudian menjadi raja dengan gelar Prabu Susuk Tunggal Sang Haliwungan (penguasa Sungai Liwung). Sepeninggal Prabu Susuk Tunggal ternyata terjadi lagi perebutan takhta hingga putera mahkota Sang Pulanggana mendirikan kerajaan baru di sebelah timur, yaitu Galuh Pakuan. Sang Pulanggana bergelar Prabu Banyak Larang. Beliau itulah kakek dari Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja yang mangkat di Bubat.” “

Jika demikian, menurut hemat ananda, Kerajaan Singhapura yang besar akhirnya terlantar karena diperintah oleh raja-raja yang lemah. Benarkah demikian?” tanya Abdul Jalil. “

Begitulah adanya sehingga pada masa kakek buyutku berkuasa bukan saja kraton Singhapura menjadi tidak terurus dan merana, melainkan pendharmaan Prabu Stri Bhattari Prthiwi di Kabhumian pun tak terawat. Kawasan itu benar-benar terlantar hingga ditumbuhi rumput alang-alang sehingga disebut Tegal Alang-Alang.” “

Tapi seingat ananda, belum pernah ananda mendengar nama Cerebon untuk daerah Caruban Larang ini. Apakah nama itu merupakan sebutan lama untuk Caruban?” tanya Abdul Jalil. “

Nama Cerebon memang digunakan pada masa Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya untuk membedakan wilayahnya dengan wilayah Sang Dharmaraja. Namun, istilah itu tenggelam seiring tenggelamnya Singhapura. Itu sebabnya, aku ingin mengungkapkan kembali nama itu tetapi dengan makna ganda,” ujar Sri Mangana. “

Makna ganda yang bagaimanakah yang Ramanda Ratu maksud?” “

Selain bermakna wilayah warisan ibu (Sunda: cere-ibu-an), Cerebon juga akan bermakna warisan Sang Udang (Sunda: cere-rebon),” ujar Sri Mangana. “

Warisan Sang Udang?” Abdul Jalil heran. “Siapakah yang dimaksud Sang Udang?” “

Akulah yang dimaksud Sang Udang,” kata Sri Mangana. “Akulah yang akan menegakkan dinasti Udang bagi keturunanku di Bumi Pasundan ini.” “

Ramanda Ratu adalah Sang Udang?” Abdul Jalil kembali terheran-heran. “Ananda belum memahami maksudnya. Kenapa Ramanda Ratu menganggap diri sebagai udang?” “

Sesungguhnya, saat lahir aku dinamai Hurang Sasaka (Sunda: udang pusaka). Nama itu untuk mengingat penderitaan ayahandaku saat tersingkir dari Galuh Pakuan dan mengabdi kepada Ki Gedeng Sindangkasih, syahbandar (juru labuhan) di pelabuhan Muara Jati. Selama bertahun-tahun ayahandaku ditugaskan menjadi pengawas pelabuhan ikan (juru iwak) sampai beliau diambil menantu oleh Ki Gedeng Sindangkasih.” “

Juru labuhan Muara Jati sendiri ada di bawah kewenangan Raja Singhapura yang saat itu dipegang oleh kakek buyutku, Ratu Kasmaya. Selama menjadi juru iwak itulah ayahandaku mengenal ibundaku, puteri mangkubhumi Singhapura. Akhirnya, ayahandaku menikah dengan ibundaku. Ketika Ki Gedeng Sindangkasih meninggal, ayahandaku menggantikan kedudukannya sebagai juru labuhan.”

Bermula dari Muara Jati, ayahandaku menyusun kekuatan. Beliau dibantu para pengungsi dari Campa yang dibawa Tuan Milinadi, orang Campa yang menjadi saudagar di Palembang. Beliau kemudian menjadi raja Singhapura dan menggunakan nama Siliwangi, yang dipungut dari kata Sili (sejenis ikan laut) dan wangi. Rupanya, pengalaman menjadi juru iwak itu sangat berkesan di dalam hatinya. Itu sebabnya, saat lahir aku dinamai Hurang Sasaka. Bahkan, kraton yang beliau bangun di Singhapura dinamai Kraton Pangurangan (kediaman Sang Udang), yaitu kraton yang terletak di utara kraton lama Purwwawinangun.” “

Jika nama Ramanda Ratu saat lahir adalah Hurang Sasaka, kenapa diubah menjadi Walangsungsang? Bukankah sangat jauh beda makna antara udang dengan belalang?” “

Nama Walangsungsang diberikan ketika aku dewasa dan mulai sering berselisih pendapat dengan ayahandaku, terutama soal agama. Beliau rupanya sangat sedih dan marah melihat kecenderunganku kepada agama Islam yang begitu kuat. Akhirnya, beliau mengganti namaku dengan nama Walangsungsang yang bermakna ‘yang jungkir balik dalam ketidakpastian’ (walang-walang sungsang) dan mengangkatku sebagai pejabat parang sungsang (watek i jro). Kemudian aku pun pergi meninggalkan Pakuan Pajajaran.” “

Jikalau nama Ramanda Ratu yang sesungguhnya adalah Hurang Sasaka,” lanjut Abdul Jalil, “maka ananda dapat memahami kenapa putera sulung Ramanda Ratu disebut dengan nama Pangeran Cerebon yang bermakna pewaris Sang Udang. Ananda juga bisa paham kenapa puteri Ramanda Ratu dinamai Pakungwati yang bermakna Puteri Udang.”

Sri Mangana mengangguk-angguk sambil menyapukan pandangan ke gugusan awan yang menggantung di langit dan kemudian berkata, “Bahkan aku berencana untuk menamai Kutha Caruban ini dengan nama baru Kutha Cerebon, yang bermakna kutha udang yang harum, diambil dari kata cere (Jawa Kuno: wangi uttama ning dhupa ngaranya minyak cere) dan rebon (Jawa Kuno: udang sungai).” “

Ananda berdoa semoga keinginan Ramanda Ratu yang mulia itu akan tercapai. Setiap waktu orang menyebut Cerebon akan selalu teringat kepada Ramanda Ratu sebab Ramanda Ratulah yang telah membangun pakuwuan kecil Caruban menjadi kutha yang makmur dan sejahtera. Ananda berharap orang tidak akan pernah lupa bahwa Ramanda Ratu adalah raja yang membangun tempat ibadah (tajug) pertama di Jalagrahan (Jawa Kuno: menjala gerhana) yang merupakan bekas pakalangan suci (ksetra) upacara Bhairawa-Tantra. Ananda juga berharap orang tidak akan pernah lupa bahwa Ramanda Ratulah raja yang pertama kali membangun Tajug Agung di Kutha Caruban ini.” “

Siapakah yang bisa mengingkari kenyataan bahwa pelindung dan pengembang agama Islam di Caruban Larang adalah Ramanda Ratu? Siapakah yang bisa mengingkari bahwa Ramanda Ratu adalah raja yang adil dan bijaksana, yaitu raja yang bisa melindungi dan mengayomi seluruh penduduk Caruban Larang yang berasal dari pelbagai negeri dengan berbagai agama yang berbeda? Mudah-mudahan doa ananda dikabulkan oleh Allah, Sang Penentu (al-Muqtadir).”

Sri Mangana menadahkan tangan mengamini doa Abdul Jalil.

Usai berdoa Abdul Jalil bertanya, “Sesungguhnya, di mana sajakah batas-batas samiddha Caruban ini, o Ramanda Ratu?” “

Menurut kakekku Ki Gedeng Tapa dan dibenarkan oleh Ki Danusela, batas sebelah timur samiddha Caruban sama dengan batas wilayah Kerajaan Singhapura Lama, yaitu membentang di Bumi Ceribon, dengan batas di sebelah timur mulai dari Sungai Pamali sampai ke tempuran Sungai Cigunung. Batas sebelah selatan mulai tempuran Sungai Cigunung sampai ke Cigugur di kaki Gunung Ceremai. Batas sebelah barat dari Pegunungan Kromong hingga tepi timur Sungai Cimanuk. Sementara itu, di sebelah utara berbataskan Junti,” papar Sri Mangana menegaskan.

Mendengar penjelasan Sri Mangana, Abdul Jalil termangu-mangu takjub dan diam-diam memuji kehebatan ayahanda asuhnya yang merintis kembali pembangunan Kerajaan Caruban Larang dari reruntuhan kerajaan lama Singhapura. Ia masih ingat benar betapa saat ia pergi meninggalkan Bhumi Caruban belasan tahun silam, Kutha Caruban hanya sebuah ibu kota dari pakuwuan yang sangat sepi. Bale Pakuwuan saat itu berdiri dengan dikitari beberapa belas rumah. Dermaga Muara Jati pun hanya merupakan pelabuhan kecil yang disandari perahu-perahu kecil. Sementara griya pakuwuan tempat tinggal pribadi kuwu terletak di Caruban Girang, yang jaraknya cukup jauh dari Bale Pakuwuan.

Kini, dalam tempo sekitar tujuh belas tahun, Kutha Caruban telah berubah menjadi kutharaja yang jauh lebih besar dan lebih ramai dibandingkan dengan Dermayu. Bale Pakuwuan yang dibangun menjadi Bangsal Kaprabon telah menjelma menjadi istana raja yang megah dan indah dilingkari tembok baluwarti. Bangunan-bangunan besar tempat nayakapraja bekerja ditata selayaknya kutharaja kerajaan besar. Bekas Kerajaan Leluhur Kabhumian dibangun lebih megah. Lemah Wungkuk yang terlantar pun telah dibangun kembali sebagai Siti Hinggil kerajaan. Bahkan, alur perdagangan tidak saja dibuka bagi pedagang-pedagang pedalaman, tetapi dibuka pula bagi saudagar-saudagar mancanegara. Sungguh, hanya manusia besar yang mampu melahirkan karya besar, kata Abdul Jalil dalam hati memuji ayahanda asuhnya.

Pacific Ocean, April 2, 2007, 10:35LT