Dang Hyang Semar

(Nabi Zaman Purwakala, Sang Guru Loka Nusa Jawa)

Selama berkeliling ke berbagai tempat di Kutha Caruban dan sekitarnya dengan didampingi Sri Mangana, sadarlah Abdul Jalil bahwa pengaruh agama Hindu dan Budha sesungguhnya tidaklah begitu kuat di Bumi Pasundan, terutama di wilayah samiddha Caruban. Sebab, apa yang disebut sebagai pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu pada hakikatnya bukanlah pemujaan dewa-dewa dalam makna yang sesungguhnya sebagaimana yang pernah ia saksikan di negeri Hindustan. Kenyataan yang ditangkapnya justru menunjuk tentang kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur yang dibalut dengan nama-nama dewa Hindu dan Budha.

Jika di kalangan ningrat berdarah biru terdapat kecenderungan mendewakan arwah leluhur dengan menyebut sang raja almarhum sebagai titisan Brahma, Wisynu, Syiwa, Syiwa-Budha, Bhattara Guru, Indra, Surya, dan Dewa yang lain maka di kalangan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa justru tidak akrab dengan nama-nama dewata yang masyhur tersebut. Kalangan orang kebanyakan cenderung lebih akrab dengan nama leluhur mereka yang abadi dalam bentuk punden-punden dan kebuyutan-kebuyutan, yakni kuburan-kuburan leluhur yang mereka jadikan tempat pemujaan dan sesembahan.

Kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur setidaknya bisa dilihat dari susunan kekuasaan yang lazim dianut di Bumi Pasundan. Seorang ratu bukanlah penguasa tertinggi. Sebab, di atas ratu masih ada dewata yang lebih berkuasa. Dan, di atas dewata masih ada hyang (leluhur yang sudah meninggal) yang lebih berkuasa. Itu sebabnya, seorang raja yang hanya bergelar ratu masih berada di bawah raja yang menggunakan gelar dewata. Gelar dewata pun masih berada di bawah gelar hyang. Dengan demikian, hanya seorang maharaja saja yang boleh menggunakan gelar kebesaran dewata dan hyang.

Kuatnya pengaruh pemujaan terhadap arwah leluhur di Bumi Pasundan sempat ditanyakan Abdul Jalil kepada Sri Mangana. Namun, Sri Mangana justru menjelaskan bahwa hal itu adalah kelaziman yang tidak hanya terjadi di Bumi Pasundan, bahkan juga di seluruh Nusa Jawa. Orang-orang Jawa, ungkap Sri Mangana, tidak ada yang benar-benar memuja dewata dalam makna yang sebenarnya sebagaimana dilakukan oleh penganut Hindu di Hindustan. Sesungguhnya, yang dipuja sebagai dewa oleh orang-orang Sunda dan Jawa di candi-candi pemujaan itu adalah abu jenasah dari raja-raja yang di atasnya diberi arca dewata.

“Sebagaimana yang sudah engkau ketahui, Kabhumian, tempat yang disucikan di samiddha Caruban ini, sesungguhnya adalah sebuah pendharmaan berisi abu jenasah Bhattari Prthiwi. Di atas abu jenasah itu ditempatkan yoni keramat lambang sakti Dewa Syiwa. Di situ Bhattari Prthiwi dipuja sebagai Dewi Prthiwi, lambang shakti Wisynu.”

“Sesungguhnya, memuja yoni sebagai shakti Wisynu itu keliru karena yoni adalah lambang Parwati, shakti Syiwa. Tapi, aku sendiri tidak tahu sejak kapan yoni ditempatkan di situ. Yang aku tahu, menurut kakekku, yoni itu sudah ada di situ sejak zaman purwakala. Keberadaan yoni di Pendharmaan Bhattari Prthiwi jelas merupakan ketidaktahuan para keturunannya tentang pemujaan terhadap dewa-dewa secara benar. Namun begitu, aku menduga, sangat mungkin Bhattari Prthiwi yang semula adalah pemuja Wisynu itu kemudian berbalik menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, karena suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati, adalah pemuja Syiwa Mahaguru. Itu sebabnya, sampai sekarang, tidak ada satu pun di antara raja-raja Sunda yang berani memindahkan yoni itu.”

“Menurut hematku, sesungguhnya para raja Sunda yang datang untuk memuja Sang Bhumi sejatinya adalah pemuja arwah leluhurnya, yakni Bhattari Prthiwi. Di Nusa Jawa demikian juga, abu jenasah Sri Prabu Kertanegara, leluhur raja-raja Majapahit, ditempatkan di Jajawi dan di atasnya ditumpangi arca Syiwa-Budha. Beliau kemudian dipuja sebagai Sang Syiwa-Budha,” jelas Sri Mangana.

“Pendapat Ramanda Ratu bahwa Bhattari Prthiwi kemungkinan menjadi pemuja Syiwa Mahaguru memang benar. Itu sebabnya di atas pendharmaan beliau ditempatkan yoni keramat. Jadi, seperti suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya, yang ternyata menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, Bhattari Prthiwi pun pemuja Syiwa Mahaguru.”

Perbincangan antara Abdul Jalil dan Sri Mangana ternyata makin menusuk ke masalah yang terkait pemujaan arwah leluhur. Sekalipun Sri Mangana sudah menjelaskan tentang kenyataan yang menunjuk bahwa sesungguhnya di balik pemujaan terhadap dewa-dewa itu sejatinya adalah pemujaan terhadap arwah leluhur, dia belum bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi. “Sepengetahuanku, para brahmana, wiku, sadhu, acarya, guru-gama, tuha-gama, dan surak-loka selalu mengajarkan tuntunan agama sesuai hukum suci Weda. Tetapi kenyataannya, pada tingkat amaliah semua itu berubah menjadi seperti yang kita lihat. Baik raja-raja Sunda maupun raja-raja Jawa hampir tidak ada yang benar-benar memuja dewa dalam makna yang sebenarnya,” ujar Sri Mangana.

“Saya khawatir, jangan-jangan ajaran Islam pun pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Hindu dan Budha, yaitu menjadi agama yang memuja kubur raja-raja Muslim,” ujar Abdul Jalil.

“Tapi, jika memang itu yang terjadi maka kita tentu tidak bisa berbuat apa-apa.”

Mendengar kata-kata Sri Mangana, Abdul Jalil menarik napas berat. Ia sadar bahwa persoalan naluri penghuni Nusa Jawa dan Bumi Pasundan yang cenderung memuja arwah leluhur adalah persoalan yang rumit. Itu sebabnya, ia memasrahkan urusan itu kepada Allah. Biarlah Allah yang memutuskan bagaimana yang terbaik bagi-Nya untuk dipuja dan disembah suatu bangsa, katanya dalam hati.

Ketika Abdul Jalil dan Sri Mangana (Raja Caruban/sekarang Cirebon) berjalan di sebuah tempat di pinggir hutan kecil yang membentang di tepi sungai, terjadi sesuatu yang mencengangkan. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba di depan mereka dalam jarak sekitar tujuh depa muncul seorang laki-laki tambun berkulit hitam legam. Kepala laki-laki itu ditumbuhi rambut keriting pendek berwarna putih dengan jambul di depan. Matanya bulat dan lebar. Hidungnya besar. Bibirnya tebal. Kumisnya tebal melingkar ka bawah bersambung dengan janggutnya. Selembar kain warna hitam menutupi bagian bawah tubuhnya dari batas perut hingga di atas mata kaki. Anehnya, meski laki-laki tambun itu berkulit hitam legam, pancaran daya pesona, wibawa, dan kharisma dari dirinya sangat memukau. Abdul Jalil menangkap sosok itu sebagai bayangan hitam, tetapi sekaligus sebagai benderang cahaya. Wajahnya bersinar seperti rembulan, tetapi sekaligus seperti langit gelap, tidak hidup dan tidak mati, sederhana tetapi rumit.

Sekalipun tidak sekaget Sri Mangana yang terheran-heran menyaksikan kehadiran mendadak sosok tambun berkulit hitam itu, Abdul Jalil terkesima juga, terutama saat laki-laki itu menyapa melalui al-ima’. Laki-laki tambun kulit hitam itu memperkenalkan diri sebagai Dang Hyang Semar, guru loka Nusa Jawa yang hidup pada jaman purwakala.

Perkenalan mendadak itu membuat Abdul Jalil termangu keheranan. Seingatnya, sejak ia tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati hingga berkelana ke berbagai negeri dan kembali lagi ke Caruban Larang, belum pernah ia mendengar sesuatu tentang manusia bernama Dang Hyang Semar. Saat ia sedang termangu heran tiba-tiba Ruh al-Haqq dari kedalaman relung-relung jiwanya memberi tahu bahwa laki-laki tambun berkulit hitam itu sesungguhnya adalah penampakan ruh seorang nabi dari zaman purba. Menyadari dengan siapa ia berhadap-hadapan, Abdul Jalil menjawab salam Dang Hyang Semar melalui al-ima’ dan menyatakan kebahagiaannya bisa bertemu dengan pesuruh Allah yang mulia itu.

Ketika Abdul Jalil memberi tahu Sri Mangana tentang siapa sesungguhnya laki-laki tambun yang muncul tiba-tiba itu, Sri Mangana terkejut bukan kepalang. Sebab bagi Sri Mangana, keberadaan tokoh yang termasyhur di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan itu memang bukan sosok yang asing. Bertemu muka dengan Dang Hyang Semar tentu merupakan pengalaman yang sulit dipercaya. Seperti digerakkan oleh kekuatan gaib yang tak terlihat mata, Sri Mangana segera bersujud menyembah ke hadapan Dang Hyang Semar. Namun betapa kecewa Sri Mangana, saat terbangun dari sujud menyembah dia tidak mendapati lagi sosok Dang Hyang Semar di depannya.

“Ke mana beliau tadi? Kenapa tiba-tiba beliau menghilang?” tanyanya pada Abdul Jalil.

“Beliau tidak berkenan disembahsujudi sesama manusia dan beliau menyatakan tidak berkenan bertemu dengan Ramanda Ratu,” jelas Abdul Jalil.

“Kenapa Dang Hyang Semar tidak berkenan bertemu aku? Apakah beliau menilai aku manusia kotor sehingga tidak layak ditemui?”

“Beliau menyatakan kepada saya bahwa di dalam diri Ramanda Ratu masih bersemayam kekuatan kelam ilmu seratus ribu hulubalang dari Gunung Kumbhang. Ilmu itu pengaruh Bhairawa haus darah yang tidak beliau sukai.”

“Astaghfirullah!” sahut Sri Mangana dengan wajah pucat. “Bagaimana beliau bisa tahu?”

“Yang terlihat tadi adalah arwah dari Dang Hyang Semar, Ramanda Ratu. Beliau tentu lebih tahu tentang segala sesuatu yang bersifat gaib di negeri ini sejak zaman lampau sampai kini.”

Sri Mangana duduk termangu sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Abdul Jalil yang semula berdiri kemudian duduk bersila di samping Sri Mangana sambil memejamkan mata. Sesungguhnya, saat itu Abdul Jalil sedang berhadap-hadapan dengan ruh Dang Hyang Semar. Namun keberadaan Dang Hyang Semar tidak terlihat oleh Sri Mangana. Melalui al-ima’, berlangsunglah perbincangan akrab antara Dang Hyang Semar dan Abdul Jalil, yang jika diuraikan ke dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:

“Sejak engkau menginjakkan kaki ke Caruban, seluruh alam gaib di Bumi Pasundan dan Nusa Jawa terguncang. Para bangsa berbadan halus, penghuni lama negeri ini meraung dan melolong kegerahan. Sesungguhnya, mereka sangat tidak menyukai kehadiranmu di sini. Namun ketahuilah, o Abdul Jalil, kehadiranmu di sini justru sedang aku nati-nantikan.”

“Apakah Yang Mahagaib memberi tahu paduka tentang kedatangan saya?”

“Ya, Dia Yang Mahagaib memberitahuku tentang kehadiranmu yang akan membawa angin perubahan. Tetapi, Dia tidak memberi tahu secara jelas tentang engkau. Itu sebabnya, o Abdul Jalil, aku ingin mengetahui keberadaan dirimu, terutama tugas-tugas yang akan kau kerjakan di sini. Ini demi kebaikanmu sendiri dalam mengemban tugas dari-Nya untuk mengembuskan angin perubahan di Nusa Jawa.”

“Apakah yang ingin paduka ketahui tentang keberadaan saya?”

“Perubahan apakah yang sesungguhnya akan engkau embuskan di sini?”

“Sesungguhnya, saya tidak mengubah apalagi memperbarui apa pun. Saya hanya ingin menghidupkan tatanan kehidupan lama yang sudah pernah ditegakkan oleh barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak sejak zaman Adam a.s. hingga Muhammad Saw.. Tidak ada yang baru sama sekali dari tugas saya.”

“Jika engkau berbicara tentang barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak, tentunya apa yang akan engkau sampaikan tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah aku sampaikan selama ini.”

“Tepatlah demikian, o Guru Loka Nusa Jawa, saya hanya akan menghidupkan warisan lama yang sudah ada, yaitu warisan lama yang tidak bertentangan dengan ajaran Tauhid, mengesakan Tuhan.”

“Aku percaya akan apa yang engkau sampaikan. Tetapi, hendaknya engkau tidak mengikuti jejak pendahulumu, Syaikh Syamsudin al-Baqir al-Farisi, yang tidak menunggu dan membimbing para pengikutnya untuk setia mengikuti ajarannya. Sehingga, hampir seluruh pengikutnya tumpas dijadikan korban pesta darah oleh para makhluk berbadan halus, penghuni purwakala negeri ini.”

“Pesta darah penghuni purwakala negeri ini?” Abdul Jalil tiba-tiba teringat penjelasan almarhum Ario Abdillah (Ario Damar), Adipati Palembang. “Apakah yang dimaksud pesta darah itu sama dengan yang dijelaskan oleh almarhum Yang Mulia Ario Damar tentang kegemaran bangsa jin meminum darah?”

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa sebelum bumi dihuni manusia,” Dang Hyang Semar memulai cerita, “bumi sudah dihuni oleh bangsa-bangsa berbadan halus. Mereka suka berperang dan menumpahkan darah. Saat manusia akan diturunkan ke bumi, para bangsa halus diusir dari permukaan bumi. Sebagian mereka menghuni samudera raya dan pulau-pulau. Sebagian lagi menghuni dasar bumi. Lalu turunlah manusia yang berkembang biak dengan sangat cepat. Tetapi seperti para penghuni bumi yang lama, manusia suka berperang dan berbuat zalim hingga menimbulkan kerusakan,”

“Untuk menyucikan bumi, Sanghyang Taya, Tuhan, Yang Mahagaib, membinasakan manusia dengan air bah. Saat air bah besar melanda permukaan bumi dan negeriku tenggelam, aku beserta keluarga dan pengikutku naik perahu dan rakit. Jumlah seluruh rombonganku sekitar tiga ratus orang. Sesuai petunjuk Sanghyang Taya, aku mengarahkan perahu ke tengah lautan dan mendarat di sebuah pulau yang disebut Pulau Kendhang (Jawa Kuno: Pulau Hanyut), yang menjadi bagian dari untaian perhiasan mutiara di tengah samudera (rinengga ing jaladhi ajajawan mutyara). Saat aku dan para pengikutku mendarat di Pulau Kendhang, ternyata pulau itu sudah dihuni oleh penduduk purwakala, yaitu bangsa berbadan halus, puak-puak dari kawanan kera raksasa dan bangsa siluman.”

“Pada awalnya, kehadiran kami ditolak baik oleh para raja dari bangsa berbadan halus itu maupun para kera raksasa dan ratu siluman. Satu demi satu mereka berhasil aku halau dan singkirkan, meski beratus-ratus pengikutku meninggal akibat berbagai macam penyakit. Namun, mereka, khususnya para raja bangsa berbadan halus, terus mengganggu pengikutku. Akhirnya, setelah berselisih selama tiga ratusan tahun, aku dan para raja bangsa halus mencapai kesepakatan untuk bisa hidup berdampingan. Dalam kesepakatan itu ditetapkan lima syarat yang harus dipatuhi oleh masing-masing pihak.”

“Pertama, bangsa manusia yang tinggal di Pulau Kendhang tidak diperbolehkan mengganggu adat kebiasaan bangsa berbadan halus, terutama adat kebiasaan menyelenggarakan perayaan pesta darah manusia. Kedua, Dang Hyang Semar menjadi guru loka bagi bangsa manusia dan bangsa berbadan halus di Pulau Kendhang. Ketiga, seluruh bangsa berbadan halus harus tunduk di bawah perintah Dang Hyang Semar. Keempat, bangsa berbadan halus tidak akan mengganggu manusia yang benar-benar memuja Sanghyang Taya sebagaimana diajarkan Dang Hyang Semar. Kelima, untuk melangsungkan tradisi pesta darah manusia, bangsa berbadan halus diperbolehkan memilih korban manusia yang tidak mengikuti atau menyimpang dari ajaran Dang Hyang Semar.”

“Dengan kelima syarat itu, akhirnya bangsa manusia berhasil tinggal di Pulau Kendhang dan hidup berdampingan dengan bangsa berbadan halus yang telah lebih dulu menghuninya. Sebagaimana tugas utama yang kuemban dari Sanghyang Taya maka aku pun menjadi guru loka di Pulau Kendhang untuk mengajar manusia menyembah Sanghyang Taya secara benar.”

“Siapakah yang paduka maksud dengan Sanghyang Taya?” tanya Abdul Jalil.

“Sanghyang Taya adalah Sumber segala kejadian yang tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar telinga, tidak bisa diraba dengan tangan, tidak bisa dibayang-bayangkan, tidak bisa dipikir, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu. Dia adalah Taya (Jawa Kuno: hampa, suwung, awang-uwung). Dia tidak dilahirkan. Tidak berawal. Tidak berakhir. Tidak satu pun makhluk hidup yang bisa mengenal keberadaan-Nya yang sejati.”

“Jika Dia, Taya, adalah Sang Hampa, yang tidak diketahui dan tak dikenali,” tanya Abdul Jalil, “bagaimana manusia bisa mengenal dan menyembah-Nya?”

“Manusia mengenal-Nya melalui pengejawantahan kekuatan dan kekuasaan-Nya di alam ini sebagai Pribadi Ilahi yang menjadi Sumber segala sumber kehidupan yang tergelar di alam semesta, yakni Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat sebagai pengenal keberadaan diri-Nya.”

“Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi apakah kekuatan dan kekuasaan Sanghyang Taya tersebut?”

“Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi yang disebut Tu atau To.”

“Maksud paduka?”

“Tu atau To adalah pengejawantahan Sanghyang Taya sebagai Pribadi Ilahi yang secara samar-samar sudah bisa diketahui dan dikenal baik Sifat maupun nama-Nya. Tu, Pribadi Ilahi, meski Tunggal, Dia memiliki dua sifat yang berbeda seibarat telapak tangan yang putih dan punggung tangan yang hitam. Yang pertama adalah sifat Tu yang baik, yaitu yang mendatangkan kebaikan, kemuliaan, kemakmuran, dan keselamatan kepada manusia. Tu itulah yang dikenal dengan nama Tu-han. Sifat Tu yang baik, yaitu Tu-han, itulah yang dikenal dengan nama Sanghyang Tunggal (Maha Esa); Satu Pribadi Ilahi yang selain memiliki nama dan sifat Tunggal juga memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”

“Yang kedua adalah sifat Tu atau To yang tidak baik, yaitu yang mendatangkan kejahatan, kehinaan, kenistaan, dan kebinasaan. Tu itulah yang dikenal dengan nama han-Tu. Sifat Tu yang tidak baik, yaitu han-Tu, itulah yang disebut dengan nama Sanghyang Manikmaya (Jawa Kuno: Permata Khayalan). Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi yang hanya diketahui nama dan sifat-Nya itu, tak berbeda dengan Sanghyang Tunggal, yakni memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”

“Berarti, Sanghyang Tunggal yang memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan Tu-han Yang Mahakuasa memberi petunjuk kepada makhluk-Nya, begitukah?”

“Benar demikian adanya.”

“Kemudian, Sanghyang Manikmaya yang juga memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan han-Tu, Yang Mahakuasa juga untuk menyesatkan makhluk-Nya, begitukah?”

“Benar demikian adanya.”

“Jika demikian, apakah memuja Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya pada hakikatnya sama saja?”

“Benarlah demikian adanya,” ujar Dang Hyang Semar. “Yang berbeda hanya jalannya saja. Jika kita memuja Sanghyang Tunggal maka kita hanya melewati jalan lempang di dalam menuju Sanghyang Taya (monoteis). Sebaliknya, jika kita memuja Sanghyang Manikmaya maka kita akan melewati banyak jalan untuk menuju Sanghyang Taya (politeis).”

“Jika demikian, Sanghyang Taya yang paduka sembah adalah sama dengan sesembahan saya, yaitu Huwa, Dia, Yang Mahagaib, Yang Tak Terbandingkan dengan segala sesuatu (laisa kamitslihi syaiun). Sedangkan yang disebu Tu adalah sama dengan Allah SWT., yaitu Dia, Pribadi Ilahi Yang menjadi Pusat segala Nama, Sifat, dan Perbuatan Ilahiah (Rab al-Arbab). Yang dari-Nya terdapat Nama dan Sifat dari Rab-Rab, seperti Mahatunggal (al-Wahid), Mahakuasa (al-Qadir), Mahasuci (al-Quddus), Maha Memberi Petunjuk (al-Hadi), sekaligus Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Maha Pembinasa (al-Mumit), Maha Penyiksa (al-Muntaqim), Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr), Mahapenista (al-Khafidh).”

“Sesungguhnya, tidak ada yang berbeda antara apa yang engkau sembah dan apa yang aku sembah. Hanya nama Ilahiah sesembahan kita yang berbeda.”

“Tetapi bagaimana cara memuja Tu, Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat Ilahiah itu, jika kenyataannya Pribadi Ilahi tersebut tidak kasat mata?” tanya Abdul Jalil.

“Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Yang pertama, memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal (Tu-han) melalui sarana bantu sesuatu yang kasatmata seperti Tu-buh dan wa-Tu. Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu-han adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundakku untuk aku ajarkan kepada manusia.”

“Yang kedua, untuk memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Manikmaya (han-Tu) dengan melalui sarana bantu berbagai benda kasatmata, seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu (gigi), pin-Tu, Tu-lang, Tu-nggul (bendera), Tu-mbak, Tu-lup (sumpit), Tu-nggak (tonggak), Tu-rumbuhan (beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), To-peng, To-san (pusaka), To-pong (mahkota), To-parem (baju rompi), To-wok (lembing), To-ya (air), dengan sesaji-sesaji berupa Tu-mpeng, Tu-d (bunga pisang), dan Tu-mbu (tempat sesaji dari anyaman bambu). Memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundak Sang To-gog, saudaraku, untuk diajarkan kepada manusia.”

“Menurut ajaran yang aku sampaikan dan juga yang disampaikan oleh saudaraku To-gog, jika seorang manusia telah patuh dan setia menjalankan pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya, baik melalui pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Tunggal (Tu-han) maupun Sanghyang Manikmaya (han-Tu), maka manusia itu akan dilimpahi kekuatan dan kekuasaan yang bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya. Sebab, satu jalan yang kuajarkan untuk menyembah Sanghyang Tunggal pada hakikatnya sama dengan bermacam-macam jalan yang diajarkan To-gog untuk menyembah Sanghyang Manikmaya, yakni bermuara kepada Sanghyang Taya.”

Itu sebabnya, manusia yang sudah dilimpahi kekuatan dan kekuasaan oleh Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya akan memiliki kekuatan gaib yang memancarkan kekuatan dan kekuasaan Ilahiah dari dalam dirinya. Jika kekuatan dan kekuasaan gaib pada mereka itu bersifat memberkati, melindungi, mengayomi, dan menyelamatkan disebut dengan Tu-ah. Sebaliknya, jika kekuatan dan kekuasaan gaibpada mereka itu bersifat menghukum, mengutuk, mendatangkan bencana, dan membinasakan disebut dengan Tu-lah.

Tu-ah dan Tu-lah yang diperoleh para pemuja Sanghyang Taya itulah yang ditandai dengan kata kunci Pi (Jawa Kuno: rahasia, tersembunyi). Dengan Tu-ah dan Tu-lah itu maka segala sesuatu yang terkait dengan mereka yang sudah dilimpahi kekuatan gaib bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya, gerak-gerik kehidupannya akan ditandai dengan Pi, yaitu kekuatan rahasia Ilahi yang tersembunyi; jika mereka menyebut kata ganti diri sendiri, dikatakan dengan Pi-nakahulun; jika mereka berbicara dikatakan Pi-dato; jika mereka mendengar dikatakan Pi-harsa; jika mereka mengajarkan sesuatu pengetahuan dikatakan Pi-wulang; jika mereka memberi petuah dikatakan Pi-tutur; jika mereka memberi petunjuk dan arahan dikatakan Pi-tuduh; jika mereka menghukum dikatakan Pi-dana; jika mereka memancarkan kekuatan dikatakan Pi-deksa; jika mereka memberikan keteguhan kepada orang lain dikatakan Pi-andel; jika mereka mengobati orang lain dikatakan jam-Pi; bahkan jika mereka sudah tua dan sering lupa dikatakan Pi-kun.

Orang-orang yang sudah memiliki Tu-ah dan Tu-lah berhak menjadi pemimpin bagi manusia yang lain. Orang-orang yang sudah dipancari kekuatan dan kekuasaan gaib Ilahiah oleh Sanghyang Taya itulah yang dijuluk dengan penuh hormat dengan sebutan Pi-nituha, Pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu. Mereka berhak memimpin manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Jika meninggal, mereka tetap dianggap masih hidup dan disebut Pi-tara (arwah leluhur).

Kalangan manusia awam (Tu-gul) meyakini bahwa mereka yang disebut Tu-ha, dha-Tu, dan ra-Tu bisa dimintai bantuan untuk menyelesaikan berbagai urusan baik didalam memuja Sanghyang Taya maupun urusan duniawi. Tu-gul lazimnya memberikan persembahan sesaji kepada arwah leluhur mereka (Pi-tara) dalam sebuah upacara yang disebut Pi-tapuja, sesajinya berupa Pi-nda (kue dari bahan tepung), Pi-nang, Pi-tik (ayam), Pi-ndodakakriya (nasi dan air), dan Pi-sang.”

“Apakah semua umat paduka yang beroleh Tu-ah dan Tu-lah mendudukiderajat yang sama? Dan, siapakah yang dimaksud kalangan awam, yaitu Tu-gul?” tanya Abdul Jalil.

“Tidak semua yang beroleh Tu-ah dan Tu-lah berderajat sama. Sebab para pemuja dan penyembah Sanghyang Taya sesungguhnya terpilah menjadi empat golongan manusia.”

“Siapa sajakah masing-masing golongan manusia itu?”

“Golongan pertama adalah golongan Tu-tug (Jawa Kuno: sampai, sempurna), yaitu golongan orang-orang yang menyembah Sanghyang Taya secara sempurna melalui sarana Tu-buh; duduk bersila dengan tangan swadikep (Jawa Kuno: Swa: diri, keakuan; dikep: menangkap dengan telapak tangan), mengamati keberadaan tubuh, meresapi gerak-gerik tubuh, mencermati kecenderungan jiwa, menata pikiran, mengatur pernapasan, menyatukan kiblat hati dan pikiran guna mencari keakuan di dalam diri dengan meresapi dan menghayati ‘rasa suwung’ di dalam Tu-tud (hati) yang ada pada diri manusia. Mereka yang sudah mengetahui dan mengenal ‘rasa suwung’ di dalam Tu-tud adalah sama dengan mengenal Sanghyang Tunggal, yaitu Sang Suwung: Sanghyang Taya.”

Mereka yang termasuk ke dalam golongan Tu-tug ini tidak menggunakan wa-Tu sebagai sarana bantu memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Mereka itulah pemuja dan penyembah sejati Sanghyang Taya, Sang Hampa Yang Tak Terbayangkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah manusia-manusia yang sudah tidak mengenal pamrih kehidupan duniawi. Hati dan pikiran mereka hanya terarah kepada Sanghyang Taya, yang citra Ilahiah-Nya tersembunyi secara rahasia sebagai “rasa suwung” di dalam Tu-tud pada diri manusia. Itu sebabnya, jika mereka mati maka jiwa mereka akan menyatu ke dalam Kehampaan Taya yang tak terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah yang dengan hormat disebut Tu-ha atau Pi-nituha, yakni pribadi-pribadi manusia suci yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah tanpa kehendak pribadinya. Mereka selalu menjadi sumber kecemburuan dewa-dewa. Mereka disegani sekaligus ditakuti dewa-dewa. Tetapi jumlah mereka sangat sedikit, hanya dalam hitungan jari.

Golongan kedua adalah golongan Tu-hu (Jawa Kuno: benar, tulus, bersungguh-sungguh), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal. Mereka sama seperti para Tu-tug, yaitu menggunakan sarana bantu Tu-buh; mengatur makanan, mengatur ucapan, menyatukan kiblat hati dan pikiran untuk diarahkan ke “rasa suwung” yang tersembunyi di dalam Tu-tud (hati), mengharapkan pancaran Tu-ah dan Tu-lah yang tersembunyi di dalam “rasa suwung” itu. Jika mereka sudah mengenal “rasa suwung” di dalam diri mereka sendiri maka mereka akan mengambil manfaat dari pengenalan tersebut.

Meskipun golongan Tu-hu termasuk manusia yang tercerahkan, jiwa dan pikirannya masih terpengaruh oleh pamrih-pamrih. Mereka yakin bahwa meskipun mereka harus hidup di dunia dengan sengsara dan menderita, jika mati kelak mereka berharap ditempatkan di Tayan (Jawa Kuno: surga, kayangan) untuk menikmati kelezatan hidup abadi bersama leluhur dengandilayani para Tayawara (Jawa Kuno: bidadari). Mereka menempatkan diri sebagai perantara hubungan manusia dengan Sanghyang Tunggal. Mereka itulah yang dengan hormat disebut golongan pi-nituhu yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah untuk menjaga keselarasan kehidupan manusia. Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki, mereka sering menentang, melawan, berperang, dan bahkan mengalahkan dewa-dewa yang menindas manusia. Mereka menjadi pemangku yang bertugas melakukan upacara suci memuja Sanghyang Tunggal. Jumlah golongan pi-nituhu lebih banyak dibandingkan dengan jumlah golongan Tu-ha.

Golongan ketiga adalah golongan Tu-ngga (Jawa Kuno: tinggi, mulia), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal dengan menggunakan perantara bantu wa-Tu; mengatur makanan, mengatur pikiran, mengatur ucapan, mengatur tindakan, bersujud (tondhem) di hadapan wa-Tu sebagai lambang pengejawantahan Sanghyang Tunggal, mengharap pancaran Tu-ah dan Tu-lah yang tersembunyi di dalam lambang wa-Tu. Jika mereka sudah beroleh Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Tunggal lantaran memuja-Nya dengan perantaraan wa-Tu maka Tu-ah dan Tu-lah itu akan mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi sekaligus kepentingan orang banyak.

Mereka adalah orang-orang yang masih kuat terpengaruh oleh pamrih ukhrawi dan duniawi sekaligus. Mereka menggunakan dan memanfaatkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka peroleh dari Sanghyang Tunggal untuk memegahkan diri di dalam kehidupan duniawi, sekaligus berharap saat mati nanti dengan Tu-ah dan Tu-lah itu mereka dapat menikmati kelezatan hidup di Tayan dilayani para Tayawara. Mereka itulah yang disebut dha-Tu atau ra-Tu.

Tu-ah dan Tu-lah yang dimiliki para ra-Tu sesungguhnya tidak sedahsyat Tu-ah dan Tu-lah para pi-nituhu, apalagi para pi-nituha. Itu sebabnya, mereka selalu memperkuat Tu-ah dan Tu-lah dengan bantuan benda-benda bertuah yang lain seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu, Tu-lang, Tu-lup, Tu-mbak, Tu-nggul, To-san, To-pong, To-peng, dan To-wok. Jumlah golongan dha-Tu atau ra-Tu lebih banyak daripada jumlah pi-nituhu.

Golongan keempat adalah golongan Tu-gul (Jawa Kuno: bodoh, awam), yaitu kalangan orang kebanyakan yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya dengan menggunakan sarana bantu berbagai benda terutama wa-Tu serta arwah para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu dan ra-Tu. Mereka merupakan golongan orang-orang yang tidak mengenal Sanghyang Taya secara benar. Mereka hanya mendengar tentang Sanghyang Taya secara samar-samar. Mereka menganggap Sanghyang Taya tinggal di Tayan yang terletak di puncak gunung. Mereka hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut bahwa di dalam wa-Tu, Tu-gu, Tu-nggul, Tu-k, Tu-rumbuhan, Tu-lang, un-Tu, Tu-lup, pin-Tu, To-peng, To-pong, To-san, dan To-wok terdapat daya sakti berupa Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Taya. Mereka bahkan meyakini bahwa di dalam benda-benda tersebut tidak sekedar terdapat daya sakti Tu-ah dan Tu-lah, tetapi bersemayam pula makhluk-makhluk halus yang sewaktu-waktu bisa dimintai bantuan.

Golongan Tu-gul ini merasa rendah diri dan tidak yakin jika mereka dapat memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal secara benar. Itu sebabnya, mereka memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui arwah seorang pi-nituha, pi-nituhu, ra-Tu, atau dha-Tu. Hanya saja, akibat sulitnya mengenal keberadaan seorang pi-nituhu apalagi pi-nituha maka yang lazim dipuja dan disembah oleh golongan Tu-gul adalah arwah para ra-Tu yang dirupakan dalam bentuk wa-Tu yang menjadi tanda kubur sang ra-Tu.

Sepanjang memuja dan menyembah arwah ra-Tu melalui wa-Tu, golongan Tu-gul sesungguhnya hanya berharap agar semua kebutuhan dan keinginan mereka terhadap berbagai tuntutan kehidupan duniawi terpenuhi. Demi memenuhi keinginan duniawinya yang kuat, yang sering berlebihan dalam kerakusan dan keserakahan, mereka tidak hanya memuja dan menyembah arwah ra-Tu, tetapi mereka sering kedapatan bersedia mengikuti cara-cara pemujaan dan penyembahan yang dilakukan Sang To-gog, yakni memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya (han-Tu). Mereka hampir tidak perduli dengan urusan Tayan yang ukhrawi, apalagi dengan Sanghyang Taya. “Mereka itulah yang disebut dengan nama golongan Tu-tut (pengikut). Jumlah golongan Tu-tut ini adalah yang terbanyak di antara semua golongan umatku,” jelas Dang Hyang Semar.

“Sekalipun golongan Tu-tug, Tu-hu, Tu-ngga, dan Tu-gul berbeda tingkatan dalam mengenal keberadaan Sanghyang Taya, hampir semua golongan ini tetap tidak menyimpang dari dasar-dasar ajaranku, yaitu meyakinkan diri bahwa Sanghyang Taya adalah kekuatan dan kekuasaan gaib yang tidak bisa dibayang-bayangkan, dipikir-pikirkan, dibanding-bandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada di antara pengikutku, kecuali mereka yang sudah sangat bodoh dan sesat, beranggapan bahwa Sanghyang Taya memiliki tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”

“Sesungguhnya, hal itu tidak berbeda jauh dengan ajaran Islam yang saya anut,” ujar Abdul Jalil. “Dari sisi batiniah, di kalangan umat Islam pun terdapat tiga golongan besar, yaitu golongan ‘awam, golongan khawash, dan golongan khawash al-khawash. Golongan khawash al-khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut karamah oleh Allah SWT. Dengan karamah itu seorang khawash al-khawash dapat mendatangkan berkah (Tu-ah) dan laknat (Tu-lah).”

“Golongan khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut ma’unah oleh Allah SWT., yakni kekuatan dan kekuasaan gaib yang lebih rendah kadarnya dari karamah. Sedangkan golongan ‘awam tidak dikaruniai apa-apa kecuali rahmat (kasih), maghfirah (pengampunan) Ilahi, dan syafa’at dari Nabi Muhammad Saw. Golongan ‘awam ini masih terpilah lagi ke dalam dua golongan besar. Pertama, golongan ‘awam yaitu mereka yang sangat mencintai dunia tetapi masih mempercayai Allah SWT. Dan kehidupan akhirat. Kedua, golongan ‘awam al-‘awam yaitu mereka yang benar-benar mencintai kehidupan dunia dan tidak peduli dengan urusan kehidupan akhirat apalagi dengan Yang Ilahi. Yang terakhir ini mungkin sama dengan kebanyakan golongan Tu-gul.”

“Menurut saya, sama dengan para pengikut paduka, umat Islam pengikut Nabi Muhammad Saw. pun mulai dari kalangan ‘awam al-‘awam hingga khawash al-khawash, kecuali yang sudah sangat bodoh dan sesat, semua meyakini bahwa Allah SWT. Tidak dapat dibayang-bayangkan, dipikir-pikir, dibanding-bandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada umat Islam yang beranggapan bahwa Allah SWT. Punya tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”

“Sesungguhnya, semua ajaran Kebenaran itu Satu jua Sumbernya.”

“Tapi paduka, bagaimana membedakan ajaran paduka dengan ajaran Sang To-gog?” Abdul Jalil ingin tahu. “Bukankah To-gog juga memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Sanghyang Manikmaya?”

“Sesungguhnya, ajaranku dan ajaran Sang To-gog berasal dari Satu Sumber, yaitu Sanghyang Taya. Namun, ajaran kami dibedakan dalam kiblat pemujaan dan sesembahan. Aku berkiblat kepada Sanghyang Tunggal. To-gog berkiblat kepada Sanghyang Manikmaya. Ajaranku sangat sederhana karena hanya berupa pengarahan kiblat hati dan pikiran kepada Yang Mahagaib yang Tak Terbayangkan melalui satu jalan, yakni Sanghyang Tunggal, yang dicapai melalui sarana bantu Tu-buh, dan wa-Tu.”

“Sedangkan ajaran To-gog jauh lebih rumit karena mengikuti banyak jalan sebagai pengejawantahan Sanghyang Manikmaya. Di samping itu, ajaran Sang To-gog sangat dipenuhi dengan pamrih-pamrih duniawi dan ukhrawi. Ajaranku tidak mengenal sesaji. Ajaran Sang To-gog justru mensyaratkan penggunaan sesaji. Karena ajaran yang disampaikan Sang To-gog melewati banyak jalan di mana masing-masing jalan memiliki aturan dan pranata sendiri maka para pengikut Sang To-gog sering menemui kesulitan dalam memuja-Nya.”

“Sejak semula sudah menjadi kehendak-Nya bahwa tugas yang aku emban bertentangan dengantugas yang diemban saudaraku, Sang To-gog. Itu sebabnya, anak-anak yang membantuku menunaikan tugas selalu bertentangan dengan anak-anak yang membantu tugas Sang To-gog. Sang Dhawala (Jawa Kuno: yang putih menyilaukan) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-hu tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam menjalankan aturan pemujaan dan penyembahan terhadap Sanghyang Tunggal (Tu-han) sebagai Pribadi Ilahi melalui sarana bantu Tu-buh.”

“Sang Udal (Jawa Kuno: yang pasrah) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-ngga tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam mengikuti aturan memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui sarana bantu wa-Tu. Sang Astrajingga (Jawa Kuno: senjata merah menyala) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-gul agar mereka setia menaati ajaranku dengan cara mengikuti dan mematuhi ajaran (pi-wulang), petunjuk (pi-tuduh), teladan (tu-ladha), dan wejangan (pi-tutur) dari para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu.”

Sementara itu, Sang To-gog yang menjalankan tugas memimpin manusia untuk menyembah Sanghyang Manikmaya juga dibantu oleh tiga anaknya. Sang Bilung (Jawa Kuno: hidangan) adalah anak Sang To-gog yang mengajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai jenis sarana bantu. Tujuan utama Sang Bilung dan pengikutnya menyembah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat dan keinginan manusia, terutama kemasyhuran diri di dunia, dikabulkan oleh Sanghyang Manikmaya. Sang Bilung dan pengikutnya yakin bahwa mereka yang memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah, yang berguna untuk meraih kemasyhuran di dunia dan jika mati nanti mereka akan tinggal di Tayan bersama leluhur.

Para pengikut Sang Bilung disebut golongan To-r (Jawa Kuno: yang menyajikan hidangan). Mereka adalah para pemilik kekuatan gaib yang keramat dan memiliki tugas utama mempersembahkan sesaji dan korban kepada Sanghyang Manikmaya. Mereka berupa para dukun dan walyan yang sangat ditakuti karena bisa mengarahkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki untuk mencelakai orang melalui tu-ju (teluh) dan ku-tu-k (sumpah). Mereka umumnya perempuan.

Sang Sarawita (Jawa Kuno: inti, energi, benda) adalah anak Sang To-gog yang mengajarkan manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Tujuan utama mereka memuja dan menyambah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat kecintaan manusia terhadap benda-benda dan kekuasaan duniawi terpenuhi. Sang Sarawita dan pengikutnya yakin bahwa pemuja dan penyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah yang berguna untuk menguasai benda-benda sekaligus menjadi pemegang kekuasaan dunia.

Para pengikut Sang Sarawita disebut golongan Tu-huk (Jawa Kuno: terpuaskan). Mereka adalah para Pa-tu-nggul (Jawa Kuno: pemegang tunggul, pemimpin) yang sakti serta memiliki kekuatan dan kekuasaan besar. Mereka sangat ditakuti karena memiliki harta benda berlimpah, pengikut banyak, kekuasaan besar, dan sakti mandraguna. Mereka acap kali menduduki jabatan dha-Tu dan ra-Tu.

Sedangkan Sang Kere (Jawa Kuno: kurus, hina, miskin, lapar) adalah anak Sang To-gog yang mengajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Sang Kere dan para pengikutnya tidak mengenal Sanghyang Manikmaya, apalagi Sanghyang Taya, secara benar. Sang Kere dan para pengikutnya adalah orang-orang yang rakus, tamak, serakah, kejam, buas, dan mementingkan diri sendiri. Sang Kere dan para pengikutnya adalah pemuja dan penyembah nafsu dan benda-benda duniawi.

“Apakah Sang To-gog dan ketiga puteranya mengajarkan korban berupa Tu-mbal manusia?”

“Sesungguhnya, di dalam ajaran Sang To-gog yang murni tidak dikenal adanya persembahan korban yang disebut Tu-mbal. Itu adalah ajaran yang dibawa oleh Sang Idajil (Si Urat Napas Juling), guru Sang Kere yang lambat laun berhasil mempengaruhi ajaran Sang To-gog.”

“Siapakah Sang Idajil? Kenapa dia bisa mempengaruhi ajaran Sang To-gog?”

To-gog adalah orang yang suka bercanda dan tidak bisa bertindak tegas terhadap perilaku anak-anaknya yang menyimpang. Itu sebabnya, ketika anaknya yang bernama Sang Kere dipengaruhi Sang Idajil, ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan meratap meminta bantuanku untuk melawan Sang Idajil. Namun, aku tidak bisa membantunya karena Sang Idajil diam-diam mulai berusaha mempengaruhi umatku juga. Sehingga, aku dan ketiga orang anakku harus berjuang keras melawan pengaruh jahat Sang Idajil yang menyesatkan itu.”

“Apa ciri-ciri ajaran Sang Idajil?”

“Ibadah sehari-hari para pemuja Sang Idajil, Si Urat Napas Juling, ditandai oleh dua ciri yang sama dengan hakikat nama Idajil. Pertama, melalui pengaturan pernapasan lewat urat napas sebagaimana diajarkan Sang Idajil, mereka akan mencapai tahap tidak sadarkan diri dan kemudian mengomel tidak karuan. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya telah mereka ucapkan dalam omelan itu. Mereka seperti keranjingan arwah, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena getar urat napas yang diatur secara keliru sehingga mempengaruhi kesadaran. Kedua, seperti Sang Idajil yang juling, mereka selalu keliru dalam memandang Kebenaran. Mereka tidak pernah tahu hakikat Tu, Pribadi Ilahi, apalagi hakikat Sanghyang Taya. Mereka hanya mengenal Tu-han sebagai kuasa terang dan kebaikan, sedangkan han-Tu merupakan kuasa kegelapan dan kejahatan. Terang dan gelap adalah dua kekuatan yang saling bertarung memperebutkan keunggulan masing-masing. Itu sebabnya, pengikut Sang Idajil menganggap kebenaran itu dua, bukan sa-Tu atau Tu-nggal.”

Akibat pengaruh Sang Idajil, ajaran Sang To-gog tentang cara-cara manusia memuja Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi, sesuai Tu-ntunan Sanghyang Taya, makin lama makin tenggelam ke dalam ajaran Sang Idajil. Para pengikut Sang To-gog mulai melakukan cara-cara yang lebih rumit, yaitu dengan melakukan upacara yang menggunakan persembahan sesaji-sesaji tambahan dan korban-korban berupa hewan maupun manusia.

Untuk sesaji-sesaji, misalnya, para pengikut Sang Idajil tidak saja menggunakan Tu-mpeng, Tu-d, dan Tu-mbu, tetapi ditambah dengan Tu-ak. Untuk korban digunakan Tu-mbal (manusia) dan Tu-kang (hewan sejenis kera). Baik sesaji maupun korban secara bersama-sama atau terpisah, digunakan sebagai piranti upacara di tempat-tempat keramat seperti Tu-ngkub (bangunan suci), Tu-rumbuhan (pohon beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), Tu-nda (tempat bertingkat-tingkat), Tu-san (tempuran anak sungai), Tu-mpis (lereng gunung). Di tempat-tempat tersebut diletakkan benda-benda bertuah, seperti Tu-gu, wa-Tu, Tu-nggul, Tu-nggak, Tu-ngas, Tu-lang, Tu-lup, To-pong, To-peng, To-san, To-ya, dan To-wok. Waktu upacara lazimnya dilakukan pada saat Tu-nggang gunung (senja). Jumlah sesaji dan korban pun ditentukan berdasarkan hitungan tertentu, yaitu Tu-nggal dan pi-Tu.

“Berarti ajaran Sang To-gog sudah menyimpang dari ajaran yang semula,” kata Abdul Jalil. “Apakah hal itu tidak menimbulkan pertentangan dengan ajaran paduka?”

“Perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, meski aku dan anak-anakku berseberangan dengan Sang To-gog dan anak-anaknya, kami tidak pernah berselisih. Kami sadar bahwa segala perbedaan yang ada pada kami sesungguhnya adalah kehendak Sanghyang Taya belaka. Namun sejak ajarannya terpengaruh Sang Idajil, perselisihan sengit hingga menumpahkan darah memang sering terjadi antara pengikutku dan pengikut Sang To-gog.”

“Apakah ajaran Sang To-gog kemudian menjadi satu dengan ajaran Sang Idajil?”

“Sesungguhnya, ajaran Sang To-gog menyimpang jauh setelah dia meninggal dan ajarannya benar-benar telah dirusak oleh Sang Kere. Namun seratus tahun setelah kematian Sang To-gog, lahirlah keturunannya yang bernama Teja Mantri dari sekian banyak keturunan Sang Bilung. Dialah yang meluruskan kembali ajaran Sang To-gog. Demikianlah, di antara keturunan Sang Teja Mantri kemudian lahir penerus yang meluruskan ajaran leluhurnya sampai pada masa Sang Hantaga, yakni kerurunan Sang To-gog yang tidak memiliki keturunan.”

“Paduka, apakah nama ajaran yang dibawa Sang To-gog?”

“Semula nama ajarannya sama dengan ajaranku. Tetapi lama-lama ajarannya disebut Tata-titi. Padahal, Tata-titi hanyalah bagian dari ajaran yang kami sampaikan.”

“Jika demikian, apakah nama ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia?”

“Karena ajaran yang kusampaikan menyangkut tata cara pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya maka manusia harus diyakinkan dulu tentang keberadaan Sanghyang Taya. Keyakinan terhadap keberadaan Sanghyang Taya itulah yang disebut Pi-Taya (rahasia tentang Yang Suwung). Orang-orang yang yakin dengan keberadaan Sanghyang Taya disebut wwang Pi-Taya (orang yang mempercayai Yang Suwung). Adapun seluk-beluk ajaranku tentang dasar-dasar keyakinan dan tata cara memuja serta menyembah Sanghyang Taya disebut dengan nama Kapitayan.”

“Paduka yang mulia, bagaimanakah cara paduka menjaga kelestarian ajaran Kapitayan dari waktu ke waktu? Apakah dengan cara seperti yang dilakukan Sang To-gog?” Abdul Jalil meminta penjelasan.

“Benar adanya demikian. Setelah aku meninggal dunia pada usia tujuh ratus tahun, terjadilah penyimpangan ajaran Kapitayan. Kemudian lahirlah keturunanku yang meluruskan ajaran itu. Dalam waktu seratus tahun sepeninggalku, rusaklah ajaran Kapitayan. Selama kurun hampir lima puluh tahun Kapitayan sudah bercampur aduk dengan ajaran Sang To-gog yang juga sudah berbaur dengan ajaran Sang Idajil. Tu-han dipuja dan disembah bersama han-Tu. Kebenaran dianggap dua. Sesaji dan korban saling tumpang tindih meminta nyawa orang-orang tak bersalah.”

“Ditengah kerancuan ajaranku muncullah keturunanku yang bernama Dang Hyang Badranaya dan ketiga orang anaknya, yaitu Rahyang Pathuk, Rahyang Gareng, dan Rahyang Somaita yang berjuang keras meluruskan kembali ajaran Kapitayan. Begitu seterusnya, ajaran Kapitayan dari zaman ke zaman diluruskan oleh para keturunanku seperti Dang Hyang Hasmara, Dang Hyang Smarasanta, Pu Walaing, Ki Buyut Wangkeng, dan terakhir Ki Buyut Sondong.”

“Rupanya, Sanghyang Taya telah mengakhiri pelurusan ajaran Kapitayan dengan meninggalnya Ki Buyut Sondong. Sebab, keturunanku itu tidak memiliki keturunan. Dengan demikian, keberadaan ajaran Kapitayan memang sudah dikehendaki-Nya untuk digantikan dengan ajaran baru yang lebih sempurna. Tetapi perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, bahwa apapun nama ajaran baru yang akan disampaikan di Nusa Jawa, yang akan lestari adalah ajaran yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan. Sebab telah menjadi keniscayaan sejarah, berbagai ajaran baru yang disebarkan ke Nusa Jawa yang tidak sesuai dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan tidak akan diterima oleh penghuninya. Bahkan, pengikut ajaran itu akan diancam oleh penghuni purwakala negeri ini.”

“Paduka telah paham bahwa ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia secara hakiki sama dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., yakni memuja dan menyembah Tu-han Yang Tunggal, Mahakuasa, Tak Terbandingkan dengan sesuatu, Sumber segala sesuatu. Namun satu hal yang ingin saya tanyakan kepada paduka, yaitu tentang pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Apakah yang menyebabkan beliau gagal menyiarkan ajaran Islam di Nusa Jawa?” tanya Abdul Jalil.

“Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya semata. Namun jika hendak dicari sebab musababnya, salah satu kekeliruan yang dilakukan pendahulumu adalah kepulangannya yang terlalu cepat ke Negeri Persia beberapa waktu setelah ia mendapat perkenanku menyebarkan ajaran Islam di Nusa Jawa. Sebab, dengan kepergiannya kembali ke Persia, orang-orang Islam di Nusa Jawa menjadi kacau balau dalam mengamalkan ajarannya. Secara berangsur-angsur mereka mulai menganggap bahwa Allah yang mereka sembah bukan lagi Tu-han Yang Tak Terpikirkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu, melainkan seorang dewa perang dengan malaikat-malaikat sebagai panglimanya. Dewa perang yang selalu membela dan melindungi umat Islam, sebaliknya selalu memusuhi dan membinasakan orang-orang yang bukan Islam.”

“Akibat meyakini bahwa Allah yang disembah adalah dewa perang maka orang Islam pengikut Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi sering menumpahkan darah manusia. Mereka suka membunuh manusia lain yang dianggap kafir. Mereka telah mengambil hak Sanghyang Wenang, yaitu mencabut nyawa manusia sekehendak hati. Selain itu, mereka juga menjadi pemuja setia dari kuburan-kuburan pemukanya. Bahkan, banyak di antara mereka yang meyakini bahwa Allah yang mereka sembah itu bisa menjelma dalam wujud manusia tidak waras yang bisa mengabulkan permohonan dan memberi berkah keselamatan.”

“Apa yang terjadi dengan orang-orang Islam di Nusa Jawa setelah kepulangan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi akhirnya menuai bencana. Perkenan yang sudah kuberikan tentu tidak bisa menggugurkan lima syarat perjanjianku dengan para raja bangsa halus penghuni purwakala Nusa Jawa. Orang-orang Islam banyak yang mati terbunuh akibat pertumpahan darah dengan sesama manusia penghuni Nusa Jawa. Akhirnya, jumlah mereka yang tersisa tinggal hitungan jari saja. Jika dilihat dari sisi alam gaib, sebagian besar di antara mereka yang mati itu dijadikan korban dalam pesta darah para makhluk berbadan halus penghuni purwakala negeri ini.”

“Saya mohon petunjuk paduka,” ujar Abdul Jalil. “Bagaimana cara saya menjadikan tawar pengaruh bangsa berbadan halus penghuni purwakala Nusa Jawa ini, selain perkenan paduka tentunya?”

“Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang dilimpahkan-Nya kepadamu, sesungguhnya engkau bisa mengusir seluruh makhluk halus penghuni purwakala Nusa Jawa ke pulau lain atau ke tengah lautan. Namun, jika engkau hendak mengikuti apa yang telah aku lakukan maka engkau harus memasang Tu-mbal di beberapa tempat yang bisa membuat tawar pengaruh jahat mereka. Hanya saja, Tu-mbal yang engkau tetapkan tempatnya itu tidak banyak pengaruhnya untuk melindungi para pemuja duniawi dari pengaruh bangsa halus.”

“Saya akan mengikuti jejak paduka. Sebab, telah jelas bagi saya bahwa ajaran Islam adalah ajaran Tauhid yang dijadikan rahmat oleh-Nya bagi seluruh makhluk di alam semesta. Sesungguhnya, tugas utama saya hanyalah sebagai penyampai berita Kebenaran Islam saja. Saya sekali-kali bukan pengusir bangsa lain apalagi penimbul kebinasaan.”

“Itu baik dan sesuai dengan semangat ajaran Kapitayan.”

“Tapi paduka, apakah pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, juga memasang Tu-mbal di Nusa Jawa? Apakah bentuk Tu-mbal yang digunakannya?” tanya Abdul Jalil.

“Tentu saja,” jawab Dang Hyang Semar. “Dia dulu memasang Tu-mbal di beberapa tempat di pantai utara Nusa Jawa dengan menebarkan tanah dari Negeri Persia. Saat memasang Tu-mbal itu ia mengibarkan bendera hitam yang disebut Tunggul Wulung.”

“Apakah pemasangan Tu-mbal itu dilakukan dari arah barat ke timur?”

“Ya.”

“Dari manakah hal itu dimulai?”

“Dari tiga gunung tempat Sanghyang Tunggal, Sanghyang Manikmaya, dan Idajil dipuja.”

“Lalu di manakah letak ketiga gunung itu?”

“Ditanah kulon tempat aku dan Sang To-gog pertama kali terdampar seusai banjir besar, yaitu di Gunung Karang Tumaritis, Gunung Pulasari, dan Gunung Lancar.”

Usai menjawab pertanyaan Abdul Jalil, tiba-tiba ruh Dang Hyang Semar lenyap. Abdul Jalil gelagapan dan membuka mata dengan celingukan. Ia melihat Sri Mangana masih duduk bersila di sampingnya. Rupanya, ayahanda asuhnya itu menangkap sasmita bahwa beberapa jenak yang lalu ia sesungguhnya sedang berhubungan dengan Dang Hyang Semar meski tidak terlihat. Itu sebabnya, saat ia mengajak pulang, ayahanda asuhnya bertanya sambil menarik napas berat, “Apa saja yang beliau wejangkan kepadamu, o Puteraku?”

“Beliau telah berkenan mengizinkan agama Islam berkembang di Nusa Jawa karena sesungguhnya ajaran Islam secara hakiki tidak berbeda dengan ajaran Kapitayan yang beliau sampaikan kepada manusia. Bedanya dengan ajaran Islam adalah ajaran Kapitayan masih sangat sederhana syari’atnya, tetapi inti Tauhidnya sama. Ini bisa dipahami karena Kapitayan memang untuk manusia yang hidup pada zaman purwakala.”

“Jadi, benar beliau seorang nabi yang membawa ajaran Tauhid?” tanya Sri Mangana.

“Menurut kesaksian ananda, beliau dan keturunannya adalah nabi-nabi yang membawa ajaran lurus keesaan Ilahi kepada manusia, khususnya di Nusa Jawa. Tetapi, sejak Ki Buyut Sodong, keturunan terakhirnya, wafat tanpa keturunan maka tidak ada lagi yang meluruskan ajaran Kapitayan.”

“Jadi, ajaran Kapitayan itu diwariskan turun temurun di antara keturunan Dang Hyang Semar?” gumam Sri Mangana dengan pandang terheran-heran. “Aku pikir ajaran itu hanya disampaikan oleh satu orang saja, yaitu Dang Hyang Semar.”

“Menurut penjelasan beliau tadi, memang demikian adanya.”

“Tetapi, o Puteraku, jika Dang Hyang Semar telah berkenan mengizinkan Islam berkembang di Nusa Jawa, berarti ajaran Kapitayan memang tidak berbeda secara hakiki dengan ajaran Rasulullah Saw..”

“Benar demikian adanya, o Ramanda Ratu. Bahkan menurut hemat ananda, Islam bisa dikatakan ibarat penyempurna bagi ajaran Kapitayan. Hanya bahasa, waktu, dan ruang lingkup saja yang membedakan ajaran Tauhid Kapitayan dan Tauhid Islam.”

“Berarti, ajaran Islam dengan mudah akan berkembang di Nusa Jawa karena kehadiran Islam seperti membangkitkan ajaran lama yang sudah dikenal semua orang.”

“Sesungguhnya tidak bisa disebut mudah, Ramanda Ratu, sebab kita masih harus membuat tawar pengaruh buruk para penghuni purwakala Nusa Jawa.”

“Penghuni purwakala? Siapakah mereka?”

“Menurut Dang Hyang Semar, mereka adalah makhluk berbadan halus. Menurut pikiran ananda, mereka adalah golongan bangsa jin.”

“Caranya bagaimana?”

“Ananda akan memasang Tu-mbal sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu ananda, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi.”

“Memasang Tu-mbal ? Dengan korban sembelihan manusia?”

“Tidak Ramanda Ratu,” sahut Abdul Jalil, “tetapi dengan menebar tanah dari Negeri Persia.”

“Berarti engkau akan ke Persia?”

“Tidak perlu, Ramanda Ratu, karena mertua ananda, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, sudah membekali ananda dengan sekantung tanah yang beliau ambil dari tempat bernama Karbala. Tanah itulah yang akan ananda tebarkan sebagai Tu-mbal.”

“Mudah-mudahan engkau berhasil menjalankan tugasmu, o Puteraku.”

“Ananda mohon doa restu dari Ramanda Ratu.”

“Baiklah, Puteraku,” ujar Sri Mangana. “Untuk mengingat pertemuan mulia ini dan sebagai pertanda bahwa Yang Mulia Dang Hyang Semar, pembawa ajaran Kapitayan, telah berkenan mengizinkan ajaran Islam disampaikan di Nusa Jawa maka tempat di pinggir hutan kecil di tepi sungai ini selanjutnya akan kutetapkan dengan nama Dukuh Semar.”

“Mudah-mudahan dengan mengingat nama Dukuh Semar, orang senantiasa akan mengingat pembawa ajaran Tauhid yang paling awal di Nusa Jawa,” kata Abdul Jalil.

Sejak bertemu dengan ruh Dang Hyang Semar, Abdul Jalil sadar bahwa berbagai kecenderungan para penghuni Bumi Pasundan dan Nusa Jawa untuk mengikuti naluri memuja arwah leluhur, terutama memuja arwah ra-Tu, bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan suatu rangkaian sambung menyambung yang bersumber dari pendangkalan ajaran suci Kapitayan. Pemujaan terhadap arwah ra-Tu terutama amaliah kalangan Tu-gul di dalam menerapkan ajaran Kapitayan pada kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami kecenderungan terjadinya pendangkalan ajaran oleh kalangan awam maka sejak awal Abdul Jalil sudah menangkap sasmita bahwa ajaran Kebenaran Islam yang bakal disampaikannya – khususnya Tarekat Akmaliyyah – akan mengalami nasib sama seperti ajaran Kapitayan, yaitu hanya bisa diikuti oleh beberapa gelintir manusia. Bahkan, ia menangkap kemungkinan ajaran tarekat yang disampaikannya juga bakal didangkalkan dan disimpangkan maknanya. Namun, di atas berbagai kemungkinan itu, ia segera sadar betapa sesungguhnya Allah SWT. memang telah menghendaki semuanya berlangsung demikian demi tetap terjaganya rahasia keagungan dan kesucian-Nya. Sungguh! Tidak semua manusia boleh mengetahui rahasia-Nya.

Berbeda dengan Abdul Jalil, Sri Mangana justru dicekam kegelisahan mendalam usai bertemu Dang Hyang Semar. Dia merasa ada gumpalan kabut hitam menyelimuti kejernihan hatinya yang diliputi rasa bersalah. Penolakan Dang Hyang Semar benar-benar merupakan pukulan dahsyat yang membuatnya makan tak enak dan tidur tak nyenyak.

Penolakan Dang Hyang Semar sangat memukul jiwanya. Sejak dia kecil kisah tentang tokoh sakti yang rendah hati itu telah akrab didengarnya dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari memen (tukang dongeng) di Kraton Pakuan Pajajaran. Dang Hyang Semar, tokoh suci itu, dikenal sebagai manusia jelmaan dewa yang dapat mengalahkan dewa-dewa. Masih melekat di relung-relung ingatannya tentang kisah kehebatan Dang Hyang Semar saat mengalahkan Nini Permoni, titisan Bhatari Durga, penguasa Pasetran Gandalayu. Dan ternyata tokoh suci yang sakti mandraguna itu tidak berkenan menemuinya.

Setelah tak mampu lagi menanggung beban jiwanya, datanglah dia ke hadapan Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi yang sedang berbincang-bincang dengan Abdul Jalil. Dengan segenap kejujuran dan kepasrahan dia menuturkan kepada guru agung yang sangat dihormatinya itu betapa sesungguhnya selama ini dirinya menyembunyikan sesuatu yang tak selayaknya dilakukan seorang muslim yang patuh. “Saya merasa bersalah karena selama ini membiarkan jiwa saya didiami anasir kegelapan ilmu seratus ribu hulu balang. Saya mohon petunjuk apa yang seharusnya saya lakukan?” Ujar Sri Mangana.

Menghadapi pengakuan Sri Mangana, Syaikh Datuk Kahfi menarik napas berat sambil berkata, “Aku tidak begitu memahami ilmu-ilmu gaib semacam itu. Sebagaimana diketahui, aku hanya paham pengetahuan ajaran Islam dari kitab-kitab yang masyhur.”

“Jadi, saya harus bagaimana, Guru Agung?” tanya Sri Mangana.

“Abdul Jalil,” ujar Syaikh Datuk Kahfi, “aku kira engkau lebih tahu apa yang seharusnya engkau lakukan untuk menolong ayahandamu.”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Guru, sesungguhnya masalah Ayahanda saya hanya terkait dengan ilmu Bhairawa yang disebut seratus ribu hulubalang. Ananda kira, jika Ramanda Ratu berkenan melepas ilmu tersebut sebagaimana yang telah dilakukan Yang Mulia Ario Damar, Yang Dipertuan Palembang, maka masalahnya akan selesai dengan sendirinya. Dan setelah itu, ananda kira, Ramanda Ratu akan lebih mudah menapaki jalan Kebenaran-Nya.”

“Ananda telah menangkap sasmita bahwa Ramanda Ratu pernah mengamalkan sebuah wirid yang diperoleh dari Ramanda Guru. Dalam mengamalkan wirid itu, Ramanda Ratu telah bertemu dengan Khidir a.s. Namun, pengalaman batiniah itu hanya berhenti sampai di situ karena Ramanda Ratu masih menyembunyikan ‘sesuatu’ di dalam relung-relung jiwa, yaitu ilmu seratus ribu hulubalang,” kata Abdul Jalil.

Sri Mangana terkejut mendengar penjelasan Abdul Jalil. Dengan alis kanan diangkat dia bertanya heran kepada putra asuhnya, “Bagaimana engkau bisa mengetahui jika aku pernah bertemu betemu dengan Khidir a.s.?”

“Ramanda Ratu, ananda tidak bisa menjelaskan hal itu. Tetapi, seperti yang pernah ananda sampaikan saat kita bertemu Ayunda Nyi Muthmainah, bahwa apa yang ananda ucapkan sering berasal dari ‘sentuhan rasa’ yang meluncur begitu saja dari mulut ananda. Jadi, apa yang ananda ucapkan tadi sesungguhnya sekadar berujar saja. Ananda sesungguhnya tidak tahu jika Ramanda Ratu telah bertemu dengan Khidir a.s.”

Mendengar penjelasan Abdul Jalil yang polos, akhirnya Sri Mangana mengakui bahwa sesungguhnya dia telah bertemu dengan Khidir a.s. ketika mengamalkan wirid yang diperolehnya dari Syaikh Datuk Kahfi. Setelah beberapa waktu mengamalkan wirid itu, tiba-tiba dia mengalami pengalaman luar biasa yang tak pernah diduganya sama sekali.

Saat itu, antara sadar dan tidak, antara tidur dan terjaga, dia seolah-olah berjalan dengan seorang anak muda di sebuah tanah menjorok lurus yang pada sisi kanan dan kirinya merupakan bentangan lautan luas tanpa tepi. Di tempat aneh itu dia merasa berjumpa dengan Khidir a.s. “Dari tengah tanah menjorok itu aku melihat sekawanan udang berenang hilir-mudik di lautan sebelah kananku. Sedangkan di lautan sebelah kiriku, aku juga melihat sekawanan udang berenang di antara batu-batuan dan sebagian bersembunyi di batu-batuan tersebut.”

“Setelah dengan takjub aku pandangi kedua lautan itu, tiba-tiba Khidir a.s. kulihat muncul mendadak di depanku. Tetapi, saat itu ia tidak berkata sesuatu kepadaku. Hanya tangan kanannya menunjuk ke arah kawanan udang yang berenang di lautan sebelah kiri. Aku tidak tahu apa makna pengalamanku bertemu Khidir a.s. Sebab, aku tak pernah mengalami pengalaman seperti itu. Aku berharap engkau dapat menguraikan makna penglihatan batinku (bashirah) dengan jelas.”

Abdul Jalil menarik napas panjang mendengar uraian ayahanda suhnya. Sesaat ia berpaling memandang Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi seolah minta penegasan. Syaikh Datuk Kahfi mengangguk, mengisyaratkan persetujuan.

Setelah merasa beroleh perkenan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil berkata, “Sesungguhnya, Khidir a.s. yang Ramanda Ratu jumpai itu bukanlah sosok lain yang terpisah sama sekali dari keberadaan Ramanda Ratu. Apa yang telah Ramanda Ratu saksikan sebagai tanah menjorok dengan lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu tempat yang berada di luar diri Ramanda Ratu. Tanah itulah yang disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu adalah Lautan Makna (ba-hr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghaib), dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam asy-syahadat).”

“Sedangkan kawanan udang yang Ramanda Ratu saksikan adalah perlambang para pencari Kebenaran yang sudah berenang di perbatasan alam kasatmata dan alam tidak kasatmata. Kawanan udang yang berenang dilautan sebelah kanan adalah perlambang para penempuh jalan ruhani (salik) yang benar-benar bertujuan mencari Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yang berenang di lautan sebelah kiri, di antara batu-batuan, merupakan perlambang para salik yang penuh diliputi hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.”

Mendengar penjelasan Abdul Jalil, Sri Mangana tercekat heran. Beberapa jenak kemudian dia berkata, “Benarkah Khidir a.s. yang aku temui itu muncul dari dalam diriku dan bukan Khidir a.s. seperti yang ditemui Nabi Musa a.s., yaitu Nabi Allah penguasa perairan yang hidup abadi?”

“Sesungguhnya, peristiwa yang dialami Nabi Musa a.s. dengan Khidir a.s., sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an Al-Karim, bukanlah peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan ruhani yang berlangsung di dalam diri Nabi Musa a.s. sendiri. Sebagaimana yang telah ananda jelaskan, yang disebut dua lautan di dalam Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua Lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan atau sekat (barzakh).”

“Bagaimana dengan ikan yang dibawa pemuda yang melompat ke salah satu lautan?”

“Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (‘alam asy-syahadat) yang berbeda dengan wilayah perbatasan yang berdampingan dengan dunia gaib (alam al-ghaib). Maksudnya, jika saat itu Nabi Musa a.s. melihat ikan dan kehidupan yang melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa a.s. akan melihat sang ikan berenang di dalam alamnya. Jika saat itu Nabi Musa a.s. mencermati maka ia akan dapat meyaksikan bahwa sang ikan yang berenang itu sesungguhnya dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air. Maknanya, sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air. Itu sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yang meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yang tak dilihatnya.”

“Sementara itu, seandainya sang ikan di dalam lautan melihat Nabi Musa a.s. dari tempat hidupnya di dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa a.s. di dalam dunianya – yang diliputi udara kosong – dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yang meliputinya itu. Maknanya, Nabi Musa a.s. hidup di dalam liputan udara kosong yang ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa a.s. tidak dapat hidup tanpa udara kosong yang meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana pun Nabi Musa a.s. berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yang tak bisa dilihatnya.”

“Sesungguhnya, tempat di mana Nabi Musa a.s. berdiri di hadapan Khidir a.s. adalah wilayah perbatasan antara alam kasatmata dan alam tidak kasatmata. Apa yang telah Ramanda Ratu saksikan dengan penglihatan batin itu adalah sama dengan peristiwa yang dialami Nabi Musa a.s., yakni berada di perbatasan antara alam kasatmata dan alam tidak kasatmata. Dan sesungguhnya, kawanan udang yang Ramanda Ratu saksikan itu adalah perlambang dari salik yang sudah berada di permukaan dunianya, yaitu salik yang sudah berada di perbatasan (barzakh). Ramanda Ratu sesungguhnya telah memasuki perbatasan alam gaib.”

“Bagaimana dengan anak muda yang berjalan bersamaku?” tanya Sri Mangana. “Apakah pemuda itu sama dengan pemuda yang mendampingi Nabi Musa a.s. saat mencari Khidir a.s?”

“Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yang mendampingi Nabi Musa a.s. dan membawakan belal makanan adalah perlambang dari tebukanya pintu alam tidak kasatmata. Dulu, sebelum bertemu dangan hadrat Abu Bakar ash-Shiddiq di alam khayal, ananda mula-mula bertemu dengan pemuda aneh di Baitullah. Sesungguhnya, di balik keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat Sang Pembuka (al-Fattah). Sebab, hijab gaib yang menyelubungi manusia dari Kebenaran Sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, Sang Pembuka (al-Fattah). Itu sebabnya, saat Nabi Musa a.s. bertemu dengan Khidir a.s., pemuda (al-fata) itu tidak disebut-sebut lagi karena ia sejatinya perlambang keterbukaan hijab gaib.”

“Jika demikian, apakah makna bekal makanan yang dibawa pemuda itu?” tanya Sri Mangana, “dan kenapa pula pemuda itu mengaku telah dibuat lupa oleh setan sehingga ikan yang dibawanya masuk ke laut?”

“Bekal makanan adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-‘amal ash-shalih) yang hanya berguna untuk menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari Kebenaran Sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan sehingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.”

“Andaikata saat itu Nabi Musa a.s. memerintahkan sipemuda untuk mencari bekal yang lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yang telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa a.s. tidak akan bertemu Khidir a.s.. Nabi Musa a.s. dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya Nabi Musa a.s..”

“Ternyata, Nabi Musa a.s. tidak peduli dengan bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu melompat ke laut adalah tempat yang dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari kesadaran Nabi Musa a.s.. Saat itulah purnama ruhani zawa’id berkilau dan Nabi Musa a.s. dapat melihat Khidir a.s., hamba yang dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yang memancar dari citra ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (‘ilm ladunni) yang memancar dari Sang Pengetahuan (al-Alim).”

“Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir a.s. karena dia merupakan hamba-Nya yang telah mereguk Air Kehidupan (abb al-hayat) yang memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di antara manusia yang berhasil bertemu Khidir a.s. di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Pengetahuan (al-Alim), Sang Pengasih (ar-Rahman), dan Sang Penyayang (ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir a.s. itu tidak lain dan tidak bukan adalah ar-ruh al-idhafi, cahaya hijau terang yang tersembunyi di dalam diri manusia, “sang penuntun” anak keturunan Adam a.s. ke jalan Kebenaran Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran (al-Haqq). Dia – sang mursyid – adalah pengejawantahan Yang Maha Menunjuki (ar-Rasyid).”

“Demikianlah, saat Ramanda Ratu melihat Khidir a.s. sesungguhnya Ramanda Ratu telah menyaksikan ar-ruh al-idhafi, mursyid sejati di dalam diri Ramanda Ratu sendiri. Saat Ramanda Ratu menyaksikan kawanan udang di lautan sebelah kanan, sesungguhnya Ramanda Ratu telah menyaksikan Lautan Makna (bahr al-ma’na) yang merupakan hamparan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Namun, dengan terputusnya penglihatan batin (bashirah) Ramanda Ratu sampai di titik itu, berarti ‘perjalanan’ Ramanda Ratu menuju Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.”

Sri Mangana mengangguk-angguk sebagai pertanda paham dengan uraian Abdul Jalil. Namun sejenak setelah itu dia bertanya, “Apakah aku nantinya dapat mengalami perjalanan ruhani seperti Nabi Musa a.s. yang mengikuti Khidir a.s.? Apakah Khidir a.s. yang kutemui nanti akan melubangi perahu seperti ketika ia diikuti Nabi Musa a.s.?”

“Sesungguhnya, perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yang hanya bisa diungkapkan dengan bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing manusia akan mengalami pengalaman ruhani yang berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Pengalaman yang akan Ramanda Ratu alami tidak selalu mirip dengan pengalaman yang dialami Nabi Musa a.s..”

“Jika demikian, beri tahukan aku makna perjalanan Nabi Musa a.s. dan Khidir a.s. agar kelak dapat aku jadikan pedoman di dalam meniti jalan Kebenaran Sejati.”

“Setelah berada di wilayah perbatasan, Khidir a.s. dan Nabi Musa a.s. digambarkan melanjutkan perjalanan memasuki Lautan Makna (bahr al-ma’na), yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yang mereka gunakan untuk menyeberang itu adalah perlambang dari wahana (syari’ah) yang lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang pahala perbuatan baik (al-amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna (bahr al-ma’na) menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yang sangat pribadi menuju Lautan Wujud (bahr al-wujud). Itu sebabnya, perahu (syari’ah) itu harus dilubangi agar air dari Lautan Makna (bahr al-ma’na) masuk ke dalam perahu dan penumpang perahu mengenal dari hakikat air yang mengalir dari lubang tersebut.”

“Setelah penumpang perahu mengenal air yang mengalir dari lubang perahu maka ia akan menjadi sadar bahwa lewat lubang itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna (bahr al-ma’na) yang merupakan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka perahu itu tentu akan dirampas oleh Sang Maharaja (Malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan menjadi tawanan. Jika sudah demikian maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Mahaada (al-Wujud), yang bersemayam di segenap penjuru hamparan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Penumpang perahu itu akan mengalami nasib seperti penumpang perahu yang lain, yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maharaja. Bahkan, jika Sang Maharaja menyukai hamba sahaya-Nya itu maka ia akan diangkat sebagai penghuni Taman (jannah) indah yang merupakan pengejawantahan Yang Mahaindah (al-Jamal).”

“Kenapa wahana (syari’ah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam perjalanan menembus alam gaib menuju Dia?” Sri Mangana meminta penjelasan.

“Sebab, wahana (syari’ah) adalah kendaraan bagi manusia yang hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke Taman Surgawi (al-jannah) pancaran Yang Mahaindah (al-Jamal). Sedangkan alam tidak kasatmata yang tidak jelas batas-batasnya. Alam yang tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal (‘aql) manusia yang mengikat (‘iql) itu tidak bisa ber-ijtihad untuk menetapkan hukum yang berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir a.s. melarang Nabi Musa a.s. bertanya sesuatu dengan akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yang disaksikan Nabi Musa a.s. terhadap perbuatan yang dilakukan Khidir a.s. benar-benar bertentangan dengan hukum suci (syari’at) dan akal sehat yang berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah, dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.”

“Jika wahana (syari’ah) tidak lagi bisa dijadikan petunjuk, pedoman yang harus digunakan oleh manusia yang memasuki alam tidak kasatmata di dalam menuju Kebenaran Sejati?”

“Pedomannya tetap Kitab Allah dan Sunnah Rasul, tetapi pemahamannya bukan denga akal (‘aql) melainkan dengan dzauq, yaitu cita rasa ruhani. Inilah yang disebut cara (thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang keras juga harus pasrah kepada kehendak-Nya. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dengan Dia. Maksudnya, jika Tuhan tidak menghendaki kita mengenal-Nya maka kita pun tidak akan bisa mengenal-Nya. Dan, kita mengenal-Nya pun maka hanya melalui Dia. Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yang tak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan mengharap limpahan rahmah dan hidayah-Nya.”

“Bagaimana dengan makna di balik kisah Khidir a.s. membunuh seorang anak (ghulam)?”

“Anak (ghulam) adalah perlambang keakuan kerdil kekanak-kanakan. Kedewasaan ruhani seseorang yang teguh imannya bisa runtuh akibat terseret rasa cinta kepada keakuan kerdil yang kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil yang kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan ruhani tidak terganggu.”

“Sesungguhnya, di dalam perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yang kekanak-kanakan (ghulam) dari sang salik cenderung mangingkari kehambaan dirinya terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul). Ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaannya kepada Sang Rasul. Jika keakuan kerdil yang kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yang lebih baik dan lebih berbakti yang melihat dengan mata batin (bashirah) bahwa dia sesungguhnya adalah ‘hamba’ dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad).”

“Sesungguhnya, keakuan kerdil yang kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia yang cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yang baik dan berbakti merupakan perlambang dari keberadaan ruh manusia yang cenderung setia dan berbakti kepada Sumbernya. Dan sesungguhnya, perbuatan Khidir a.s. membunuh ghulam itu adalah perlambang yang sama saat nabi Ibrahim a.s. akan menyembelih Nabi Ismail a.s.. ‘Pembunuhan’ itu adalah perlambang puncak dari keimanan mereka yang beriman (mu’min).”

“Bagaimana dengan dinding yang ditinggikan Khidir a.s. bersama Nabi Musa a.s.?”

“Adapun dinding yang ditinggikan Khidir a.s., adalah perlambang Sekat Tertinggi (al-barzakh al-‘a’la) yang disebut juga dengan nama Hijab Yang Mahapemurah (Hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan Yang Mahaluhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan dinding al-Jalal (al-jidar al-jalal), yang di bawahnya tersimpan Khasanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yang ingin diketahui.”

“Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi Musa a.s., yang keberadaannya terbentuk atas jasad ragawi (al-basyar) dan ruhani (ruh). Kegandaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil sendiri (mufrad), dan berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran Nabi Musa a.s. dan bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mir’ah al-hayya’i).”

“Adapun gambaran tentang ‘ayah yang salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yang mewarskan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz), adalah perlambang dari Abu Shalih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka (al-Fattah). Dengan demikian, o Ramanda Ratu, apa yang telah dialami Nabi Musa a.s. dalam perjalanan bersama Khidir a.s. (QS. Al-Kahfi: 60-82), menurut penafsiran ananda, adalah perjalanan ruhani Nabi Musa a.s. ke dalam dirinya sendiri yang penuh dengan perlambang (isyarat),” ujar Abdul Jalil.

“Tapi kenapa di dalam perjalanan itu tidak ada uraian lanjutan yang menjelaskan penemuan Khazanah Perbendaharaan yang tersembunyi?”

“Kisah perjalanan ruhani Nabi Musa a.s. menembus alam gaib memang tidak diungkapkan sampai adegan penemuan Khazanah Perbendaharaan. Sebab, Khazanah Perbendaharaan itu sendiri tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia.”

“Kenapa dua anak yatim dalam kisah Qur’ani ini engkau tafsirkan sama dengan Nabi Musa a.s., yaitu Nabi Musa a.s. dengan bayangannya di depan Cermin Memalukan? Apakah itu berarti jasad ragawi dan ruhani Nabi Musa a.s. lahir dari Sumber yang berlainan?”

“Sekali-kali tidak demikian maksudnya, Ramanda Ratu,” ujar Abdul Jalil. “Memang Nabi Musa a.s. lahir hanya satu. Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama, keberadaanya sebagai al-basyar ‘anak’ Adam a.s. yang berasal dari anasir tanah yang dicipta; dan keberadaannya sebagai ruh ‘anak Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) yang berasal dari tiupan (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad ragawi Nabi Musa a.s. berasal dari ciptaan (al-khalq). Sedangkan sebagai ruh, keberadaan ruhani Nabi Musa a.s. berasal dari Yang Mencipta (al-Khaliq).”

“Apakah kedua anak yatim itu tidak akan berseteru memperebutkan Khazanah Perbendaharaan warisan ayahnya yang salih?” tanya Sri Mangana.

“Hal itu tidak akan pernah terjadi, Ramanda Ratu,” papar Abdul Jalil. “Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan Dinding al-Jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yang ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu keberadaan al-basyar ‘anak’ Adam a.s. akan terserap ke dalam ruh ‘anak’ Nur Muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin) yang merupakan pancaran dari Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa diuraikan dengan kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman pribadi.”

“Jika demikian, apakah dengan pengalaman ruhani yang aku alami saat bertemu Khidir a.s. di tanah perbatasan antara dua lautan itu sejatinya bermakna perjalanan ruhani ke dalam diriku?” tanya Sri Mangana minta penjelasan lebih tegas lagi.

“Bukankah tadi Ramanda Ratu sudah mengatakan bahwa saat kejadian itu Ramanda Ratu berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, antara tidak tidur dan tidak jaga. Itu berarti, apa yang Ramanda Ratu alami merupakan pengalaman ruhani berada di ambang alam gaib dan apa yang Ramanda Ratu saksikan itu adalah suatu pemandangan batin (bashirah).”

“Berarti, aku masih akan mengalami perjalanan ruhani lanjutan?”

“Benar demikian, Ramanda Ratu.”

“Bagaimana caraku memulai?”

“Tergantung keikhlasan Ramanda Ratu sebagaimana saya kemukakan di muka.”

“Aku kira juga demikian,” Syaikh Datuk Kahfi menyela. “Sebab, hanya keikhlasanmu sendiri sajalah yang sesungguhnya dapat menjadi penyebab tergelarnya jalan keselamatan menuju hadirat-Nya.”

“Saya menyerahkan semua keputusan kepada Guru Agung dan putera saya, Abdul Jalil. Apa yang terbaik saya lakukan maski berat akibatnya,” Sri Mangana pasrah. “Sebab, telah terbukti betapa dengan ilmu seratus ribu hulubalang tersebut diri saya menjadi kotor sehingga Dang Hyang Semar pun enggan bertemu dengan saya.”

“Dang Hyang Semar?” Syaikh Datuk Kahfi mengerutkan kening. “Siapakah dia?”

“Beliau adalah nabi dari zaman purba yang mengajarkan Tauhid di Nusa Jawa,” sahut Abdul Jalil.

“Kalian telah bertemu dengan utusan Allah itu?” Syaikh Datuk Kahfi ingin tahu.

“Saya hanya bertemu sekilas, Guru Agung,” sahut Sri Mangana. “Yang lama berbincang-bincang dengan beliau adalah putera saya, Abdul Jalil.”

“Apa sajakah yang beliau bicarakan denganmu, o Anakku?”

“Beliau telah berkenan mengizinkan ajaran Islam berkembang di Nusa Jawa menggantikan ajaran Kapitayan yang beliau ajarkan. Menurut penilaian Dang Hyang Semar, ajaran Islam dan ajaran Kapitayan secara hakiki tidak berbeda yakni memuja Tuhan Yang Tunggal dan tidak terbandingkan dengan segala sesuatu.”

“Menurutmu sendiri bagaimana?”

“Ajaran Kapitayan yang disampaikan Dang Hyang Semar secara hakiki memang tidak berbeda dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. Hanya saja, ajaran Kapitayan masih sangat sederhana karena memang diperuntukkan bagi manusia penghuni Nusa Jawa pada zaman purwakala.”

“Ya, ya, sesungguhnya tiap-tiap bangsa memang telah didampingi oleh masing-masing nabi pada zamannya,” ujar Syaikh Datuk Kahfi menarik napas berat. “Apakah engkau masih ingat pelajaran di waktu kecil dulu tentang jumlah nabi-nabi yang wajib diyakini umat Islam?”

“Yang utama, di antara nabi dan rasul ada dua puluh lima orang. Namun, nabi yang lain jumlahnya seratus dua puluh empat ribu orang. Saya merasa beruntung karena ditakdirkan oleh-Nya untuk bertemu dengan salah seorang di antara nabi-nabi mulia tersebut.”

Akhirnya, setelah berbincang-bincang cukup lama, Sri Mangana sepakat mengikuti arahan dan petunjuk Abdul Jalil untuk melepas ilmu seratus ribu hulubalang dari dirinya. Namun sebelum hal itu dilakukan, Abdul Jalil sudah memberi tahu bahwa usaha itu bukan sesuatu yang mudah. “Tetapi, lebih baik dilakukan sekarang daripada menunggu saat ajal menjemput,” ujar Abdul Jalil.

“Kenapa demikian, o Puteraku?”

“Sebab, keluarnya ilmu semacam itu dari diri manusia sangat susah dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Mereka yang memiliki ilmu semacam itu bisa mengalami saat-saat sakaratul al-maut selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.”

Sri Mangana menarik napas berat, dari dahinya terlihat titik-titik keringat bercucuran.

Ternyata, apa yang dikatakan Abdul Jalil tidak salah. Setelah dengan susah payah melewati pergulatan yang sengit, Sri Mangana baru berhasil mengeluarkan ilmu sakti seratus ribu hulubalang dari relung-relung jiwanya. Namun akibat beratnya upaya melepas ilmu sakti tersebut, Sri Mangana jatuh sakit selama dua pekan. Setelah sembuh dia terlihat sangat lemah dan seolah-olah kehilangan semangat hidup. Abdul Jalil yang mengetahui apa yang dialami oleh mereka yang melepaskan ilmu dahsyat seratus ribu hulubalang, dengan sabar berusaha mendampingi dan memberi kekuatan jiwa kepada ayahanda asuhnya.

On board of MV. Taho, Taiwan Strait, April 4th 2007