Angin Perubahan

Seorang ‘arif yang sudah tercelikkan mata hatinya (‘ain al-bashirah), tidak akan bisa mencapai kedudukan (maqam) tertinggi jika tidak memiliki kepedulian terhadap kehidupan mesyarakat yang sedang terjebak ke dalam perangkap kejahilan. Atau, tidak memiliki semangat (ghirah) untuk membebaskan kaum tertindas dari para penindasnya. Atau, tidak terketuk hatinya untuk membebaskan para budak dari rantai perbudakan. Atau, tidak menggunakan gerak tubuh dan daya nalarnya untuk membersihkan sungai kehidupan dari kotoran sampah kejahatan. Atau, tidak memiliki peran apa pun bagi terciptanya suatu perubahan dinamika kehidupan.

Ibarat orang yang tiba-tiba tersentak bangun pada malam hari dan menyadari bakal terjadi bencana yang membahayakan kehidupan di sekitarnya, seorang ‘arif memiliki kewajiban utama membangunkan orang-orang di sekitarnya agar segera bangkit dan beramai-ramai melakukan usaha untuk menghindari bencana tersebut. Dan, sebagai seorang anak negeri yang sudah “terbangun” di antara saudara-saudara sebangsanya, Abdul Jalil sadar bahwa kewajiban utama yang harus dijalankannya adalah “membangunkan” saudara-saudaranya dari tidur panjang dengan mimpi kosong. Ia harus memperingatkan saudara-saudaranya tentang akan datangnya marabahaya yang mengintai kehidupan bangsa.

Sebagai orang yang sudah “terbangun” dan tercelikkan mata hatinya, Abdul Jalil sadar bahwa “membangunkan” saudara-saudaranya dari mimpi kosong dan menyadarkan mereka tentang suatu bencana yang bakal hadir adalah pekerjaan berat dengan kemungkinan bertaruh nyawa. Namun dengan kesadaran seseorang yang sudah mengenal jati dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh), ia tidak memedulikan lagi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bakal dihadapinya saat menjalankan kewajibannya tersebut.

Bagi Abdul Jalil, seorang ‘arif, manusia yang sudah terbangun dan tercelikkan mata hatinya, adalah manusia yang sadar bahwa ia harus menghancurleburkan keakuan pribadi beserta pamrih-pamrih duniawi demi lahirnya suatu kehidupan baru yang selaras dan seimbang dengan hukum-hukum kauniyah. Seorang ‘arif harus menjadi gumpalan awan yang rela menghamburkan khazanah air yang dikandungnya sebagai hujan demi tumbuhnya benih-benih kehidupan baru. Atau, seperti matahari yang menebarkan kehangatan bagi kehidupan makhluk penghuni bumi tanpa meminta imbalan apa pun. Atau, seperti bumi yang merelakan dirinya diinjak-injak, dilukai dengan cangkul dan bajak, diludahi, dikencingi, bahkan diberaki demi kelangsungan hidup para penghuninya. Dan di atas itu semua, seorang ‘arif haruslah meneladani gerak kehidupan Nabi Muhammad Saw., sang limpahan rahmah bagi alam semesta.

Boleh jadi akibat pandangannya dalam memaknai keberadaan dirinya seperti itu maka di mana pun Abdul Jalil berada – entah disadari entah tidak – selalu ditandai oleh citra gerak yang selalu diikuti oleh terjadinya perubahan dinamis yang membawa pula suatu pembaruan. Andaikata ia ditanya kenapa harus melakukan pembaruan maka ia kira-kira akan menjawab seperti ini:

“Tugas utama nabi dan rasul adalah melakukan perubahan yang bersifat memperbarui. Tidak ada seorang pun di antara nabi dan rasul yang diturunkan ke dunia yang tidak melakukan perubahan untuk memperbarui apa yang ada demi menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Tidak ada seorang pun di antara nabi dan rasul diturunkan kepada suatu kaum yang sudah mapan dan hidup secara sempurna.”

“Sebagai orang yang sudah ‘terjaga’, aku sadar bahwa keberadaanku sebagai seorang ‘alim adalah pewaris nabi-nabi (al-‘ulama’ waratsat al-anbiya’). Karena itu, sudah menjadi kewajiban asasiku untuk melanjutkan tugas utama para nabi dan rasul, yaitu melakukan perubahan dan pembaruan – terutama menyadarkan manusia tentang keberadaannya sebagai makhluk paripurna (al-insan al-kamil) yang menjadi wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh) – di mana pun aku berada. Merubah dan memperbarui sesuatu ke arah yang lebih baik, itulah tugas utamaku.”

Dengan pandangan semacam itu, ketika ia kembali dari pengembaraan ruhaninya dan tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati, maka tak pelak lagi padepokan itulah yang menjadi sasaran utama dari kewajibannya untuk mengubah dan memperbarui segala sesuatu. Namun demikian, karena perubahan dan pembaruan yang dilakukannya di Padepokan Giri Amparan Jati sangat cepat dan susul-menyusul, sempat membuat khawatir Syaikh Datuk Kahfi, pendiri sekaligus pengasuh padepokan tertua di Caruban Larang. Kekahwatiran Syaikh Datuk Kahfi, sesungguhnya bisa dipahami karena perubahan dan pembaruan yang dilakukan Abdul Jalil memang kurang lazim dilakukan orang. Sehingga, wajar jika Syaikh Datuk Kahfi mengkhawatirkan jika hal itu sangat mungkin bakal menemui kegagalan karena terlalu sulit diwujudkan.

“Sesungguhnya, aku sangat bergembira jika engkau bisa mewujudkan gagasanmu untuk mengubah padepokan ini menjadi lembaga pendidikan yang lebih maju seperti di Baghdad atau lebih dari itu,” ungkap Syaikh Datuk Kahfi suatu malam. “Tetapi, aku khawatir gagasanmu itu sulit diwujudkan. Sebab, di Caruban Larang ini, sepengetahuanku, belum ada guru yang mamiliki kemampuan memadai untuk mengajarkan kuliah-kuliah seperti gagasanmu itu.”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Guru, jika ananda telah membuat Ramanda Guru khawatir dengan gagasan ananda yang terlalu muluk ini,” sahut Abdul Jalil dengan takzim. “Gagasan ini tidak ananda harapkan bisa diwujudkan secara sempurna. Ananda berharap gagasan untuk memperbaiki pendidikan di Padepokan Giri Amparan Jati ini paling tidak dicapai selama kurun dua dasawarsa. Ananda yakin dalam kurun waktu tersebut ilmu pengetahuan yang telah Ramanda Guru wariskan kepada para siswa akan tumbuh dan berkembang dengan subur serta menghasilkan buah-buah yang ranum. Saat itulah ananda harapkan Padepokan Giri Amparan Jati dapat menjadi kiblat pendidikan di Bumi Pasundan dan bahkan di Nusa Jawa.”

Mendengar penjelasan Abdul Jalil, Syaikh Datuk Kahfi bisa memahami. Akhirnya, dia hanya bisa berdiam diri sambil mengawasi sekaligus berdoa agar apa yang dilakukan Abdul Jalil dapat diwujudkan sesuai harapan. Demikianlah, bagaikan sedang menyaksikan seorang seniman mengubah benda-benda biasa menjadi karya bernilai seni tinggi, Syaikh Datuk Kahfi dengan takjub menyaksikan Abdul Jalil melakukan pengembangan seni mendidik di padepokan yang didirikannya tersebut dengan cara-cara yang sangat mencengangkan.

Syaikh Datuk Kahfi yang semakin uzur memang sudah menyerahkan pengasuhan padepokan kepada Abdul Jalil. Namun, dia tidak pernah menduga jika saudara sepupu sekaligus siswa yang dikasihinya itu bakal melakukan langkah-langkah perubahan yang begitu mencengangkan, yakni menata kembali dan mengembangkan tatanan belajar dan mengajar di padepokan dengan gagasan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Keheranan Syaikh Datuk Kahfi sesungguhnya dapat dipahami, karena dalam mengubah padepokan itu Abdul Jalil bertindak bagaikan orang yang sedang bertriwikrama menjejakkan kaki ketiga dunia untuk melakukan tiga perubahan pokok. Perubahan pertama, ia menata kerangka acuan perkuliahan yang harus dipelajari para siswa sekaligus menentukan buku-buku teks yang digunakan sebagai pedoman belajar dan mengajar. Kedua, menambah dan memperbaiki tata cara belajar dan mengajar. Ketiga, memperbarui ketentuan penerimaan siswa.

Tiga langkah perubahan itu, meski gagasannya sudah diketahui oleh Syaikh Datuk Kahfi, saat diterapkan justru membuat pendiri Padepokan Giri Amparan Jati itu tertegun-tegun. Dengan pandang heran Syaikh Datuk Kahfi menyaksikan gerak perubahan di padepokannya berlangsung sangat cepat dan belum lazim dilakukan orang di padepokan mana pun di Bumi Pasundan dan Nusa Jawa.

Misalnya saja, selama ini mata kuliah yang diberikan di Padepokan Giri Amparan Jati lazimnya lebih ditekankan pada penguasaan ilmu alat (nahwu-sharf), fiqh madzhab Syafi’i, tafsir Al-Qur’an, hafalan hadits, dan dasar-dasar ilmu logika (manthiq). Namun, oleh Abdul Jalil mata kuliah itu diperbarui dengan menambahkan ‘ilmu balaghah pada penguasaan ilmu alat (nahwu-sharf); fiqh madzhab Syafi’i dijadikan bagian dari mata kuliah lima madzhab (al-madzahib al-khamsah), yaitu Syafi’iyyah – Hanafiyyah – Hambaliyyah – Malikiyyah – Jakfariyyah; ushul fiqh yang semula tidak diajarkan mulai diberikan; mata kuliah tafsir Al-Qur’an diperluas menjadi mata kuliah ilmu-ilmu Al-Qur’an (‘ulum Al-Qur’an); hafalan hadits dikembangkan menjadi ‘ulum al-hadits; mata kuliah manthiq diperdalam dan ditambah dengan mata kuliah filsafat, ilmu hikmah, dan ‘irfan.

Langkah kedua, yang terkait dengan perubahan tata cara belajar dan mengajar, juga mencengangkan. Sebab, langkah tersebut juga tidak lazim dilakukan di padepokan mana pun di Bumi Pasundan maupun di Nusa Jawa. Selama ini cara belajar siswa selalu mengikuti cara lama, yaitu mengitari guru yang mengungkap (wetu) kandungan kitab tertentu sambil mencatat apa mekna yang terurai dalam ungkapan tersebut. Ternyata, oleh Abdul Jalil cara lama itu ditambah cara baru yang disebut bedah masalah (mudzakarah). Para siswa saling mengajukan argumentasi dalam memecahkan masalah dengan dukungan dalil-dalil dari kitab. Sementara itu, siswa-siswa yang dinilai cerdas atau sudah lanjut pengetahuannya dalam penguasaan kitab diberi kewenangan untuk menyodorkan (sorog) kitab yang telah dibaca dan dipahaminya untuk diuji oleh guru.

Dengan mengubah mata kuliah untuk para siswa di Padepokan Giri Amparan Jati, jelaslah bahwa arah yang hendak dicapai oleh Abdul Jalil adalah menciptakan pencerahan di dalam cara berpikir dengan tetap berpedoman pada kaidah-kaidah Tauhid. Singkatnya, dengan pembaruannya itu Abdul Jalil menginginkan lahirnya tradisi berpikir yang didasari bukti-bukti (burhani) yang diterangi pancaran mata hati (bashirah). Itu sebabnya, ia menghapus pelajaran hafalan hadits dan memasukkan mata kuliah filsafat, ilmu hikmah, dan ‘irfan.

Sementara itu, perubahan yang paling mencolok yang dilakukan Abdul Jalil dalam menata Padepokan Giri Amparan Jati adalah yang terkait dengan ketentuan penerimaan siswa. Jika sebelumnya para siswa yang belajar di padepokan hampir seluruhnya berasal dari kalangan menak berdarah biru dan keluarga kaya, terutama putera-putera pejabat setempat dan saudagar muslim, tiba-tiba Abdul Jalil menyiarkan maklumat akan menerima siswa dari semua golongan penduduk baik anak-anak pejabat, menak berdarah biru, saudagar, petani, perajin, nelayan, tukang, bahkan anak-anak kuli miskin sekalipun.

Perubahan ketentuan dalam penerimaan siswa itu, meski sangat mengejutkan banyak pihak pada awalnya, akhirnya dapat dipahami dan diterima, terutama setelah mendapat dukungan dari Ratu Caruban Larang, Sri Mangana. Bahkan, ketentuan penerimaan siswa baru itu mempercepat terjadinya perubahan di Padepokan Giri Amparan Jati. Padepokan yang sebelumnya hanya berisi sekitar empat puluh siswa tiba-tiba dibanjiri tujuh ratus orang lebih. Siswa baru yang belajar di Padepokan Giri Amparan Jati bukan hanya anak-anak penduduk Caruban Larang dan sekitarnya, bahkan tak kurang ada di antara mereka berasal dari tempat yang jauh seperti Dermayu, Tegal, Samarang, dan Demak.

Abdul Jalil sadar bahwa perubahan yang dilakukannya di Padepokan Giri Amparan Jati tidak akan membawa hasil sesuai harapan jika tidak didukung oleh guru yang benar-benar menguasai keilmuan secara memadai. Itu sebabnya, ia menghubungi para kerabat, sahabat, serta kenalannya untuk berkenan membantu gagasannya mengembangkan Padepokan Giri Amparan Jati. Untuk mewujudkan gagasannya itu ia secara khusus membimbing Syarif Hidayatullah, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi agar bisa menjadi guru dan pemimpin yang tidak saja memiliki pengetahuan luas dan mendalam, tetapi mampu mewarisi nilai-nilai kejuangan Syaikh Datuk Kahfi, ulama mulia yang mewarisi keteladanan Nabi Muhammad Saw..

Abdul Jalil menyadari bahwa keberadaan Abdurraman Rumi dan Abdurrahim Rumi di padepokan berbeda dengan keberadaan Syarif Hidayatullah yang belum memiliki akar kuat. Sebab, selain masih dianggap pendatang baru yang belum banyak dikenal, Syarif Hidayatullah juga masih belum fasih berbicara dalam bahasa setempat, yaitu bahasa Jawa Caruban. Karena itu, untuk memperkuat kedudukan Syarif Hidayatullah sebagai calon guru dan pemimpin masa depan, Abdul Jalil meminang puteri Ki Gedeng Babadan untuk disandingkan sebagai istri Syarif Hidayatullah. Dengan menikahi Nyai Babadan puteri Ki Gedeng Babadan, pikir Abdul Jalil, maka Syarif Hidayatullah akan menjadi menantu seorang gedeng yang berpengaruh dan disegani di Caruban Larang.

Sebagai teman mengaji sejak kecil di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi, pinangan Abdul Jalil itu diterima dengan sukacita oleh Ki Gedeng Babadan. Pernikahan Syarif Hidayatullah dilaksanakan di tajug padepokan dengan sangat sederhana. Meski sederhana, kabar tentang pernikahan itu menyebar ke seluruh penjuru Caruban Larang. Setelah pernikahan itu Ki Gedeng Babadan sering terlihat ke padepokan untuk mengunjungi Syaikh Datuk Kahfi atau berbincang-bincang dengan Abdul Jalil. Bahkan, akhirnya Ki Gedeng Babadan sering terlihat ikut mengajar di padepokan.

Selama membimbing Syarif Hidayatullah, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi diam-diam Abdul Jalil menemukan dua permata di antara siswa padepokan. Dua permata itu adalah Raden Sahid (kelak menjadi Susuhunan Kalijaga), putera Arya Sidik, Adipati Tuban, dan Raden Qasim (kelak menjadi Susuhunan Bonang), putera Raden Ali Rahmatullah (Susuhunan Ampel pertama), Bupati Surabaya. Sesungguhnya, mereka berdua masih saudara sepupu karena bibi Raden Sahid yang bernama Nyi Ageng Manila diperistri oleh Bupati Surabaya, Raden Ali Rahmatullah. Sementara itu, lantaran usia Raden Sahid, Raden Qasim, dan Syarif Hidayatullah sebaya, maka Abdul Jalil pun secara khusus membimbing ketiganya agar kelak dapat bersama-sama menjadi guru dan pemimpin yang dibutuhkan zamannya.

Berbagai perubahan yang terjadi di Padepokan Giri Amparan Jati tidak lepas dari pengamatan Syaikh Datuk Kahfi yang sering mencucurkan airmata haru. Dia tak pernah menduga bahwa perubahan besar telah terjadi di padepokan yang telah dirintisnya dengan susah payah dalam waktu secepat itu. Rupanya, sasmita yang ditangkapnya puluhan tahun silam terkait kebesaran yang bakal dicapai saudara sepupunya itu telah terbukti menjadi kenyataan. Baginya, perubahan di Padepokan Giri Amparan Jati dianggap sebagai sebuah penyempurnaan dari amaliah mewariskan ilmu pengetahuan bermanfaat yang akan menyertainya kelak di alam kubur.

Bagi Syaikh Datuk Kahfi, perubahan itu dianggapnya sebagai kegembiraan surgawi yang sudah bisa dirasakan nikmatnya di dunia. Dia yang selama ini selalu gelisah akibat tidak melihat calon pengganti dirinya, kini merasa gembira karena anak-anak muda seperti Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, dan Raden Qasim telah dapat berperan sebagai guru bagi siswa yang lain. Demikianlah, untuk mengungkapkan rasa bahagianya, setiap usai shalat subuh, Syaikh Datuk Kahfi dengan bertumpu pada tongkat selalu terlihat berkeliling untuk melihat para siswa mengaji di berbagai tempat di dalam lingkungan padepokan.

Kebahagiaan dan sukacita yang dirasakan Syaikh Datuk Kahfi atas perubahan di Padepokan Giri Amparan Jati ternyata tidak berlangsung lama. Belum genap setahun setelah perubahan itu terjadi, Syaikh Datuk Kahfi jatuh sakit. Dia mendapat isyarat bahwa ajal tak lama lagi akan menjemputnya. Itu sebabnya, dia mengumpulkan seluruh keluarga, siswa, dan sahabat untuk berpamitan meninggalkan dunia yang fana. Dalam waktu singkat hadirlah di Padepokan Giri Amparan Jati para siswa seperti Sri Mangana, Nyi Indang Geulis, Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Surantaka, sanak kerabat seperti Nyi Mas Gandasari, dua orang putera Syaikh Hasanuddin, Haji Musa, dan Jurugem (Syaikh Bentong), sahabat terkasih Syaikh Ibrahim Akbar (mertua Sri Mangana). Sementara Nyi Halimah, sang istri, dan ketiga orang kemenakannya terlihat tak pernah jauh dari peraduan Syaikh Datuk Kahfi.

Seiring turunnya matahari ke ufuk barat, dengan pandangan yang mulai meredup Syaikh Datuk Kahfi berbisik lirih ke telinga Abdul Jalil yang duduk merangkulnya, “Anakku, apakah engkau kelak mau bersaksi bahwa ilmu yang aku tinggalkan di dunia ini memiliki arti bagi tegaknya Agama Allah dan bermanfaat bagi kehidupan manusia?”

Abdul Jalil menarik napas berat dan kemudian berbisik lirih, “Ramanda Guru adalah seorang ‘alim yang benar-benar menjadi cerminan pewaris Nabi Muhammad Saw. Ananda bersaksi saat ini Ramanda Guru adalah benar-benar al-‘alim pengejawantahan al-‘Alim. Itu sebabnya, Ramanda Guru sesungguhnya tidak membutuhkan lagi kesaksian siapa pun di antara manusia tentang apa yang telah Ramanda Guru jalankan selama ini sebagai penebar ilmu.”

“Kenapa demikian, o Anakku?” bisik Syaikh Datuk Kahfi lemah.

“Sebab seluruh yang hadir di sini, baik manusia, tanah, batu, pohon, rumput, binatang, angin, maupun langit telah bersaksi bahwa Ramanda Guru adalah sang pembuka pengetahuan (fatih al-‘ilm), yakni cerminan citra al-Fattah dan al-‘Alim. Bahkan saat ini, di tengah kesaksian segenap makhluk terhadap kemuliaan Ramanda Guru, sesungguhnya telah bersaksi pula Dia, Yang Maha Menyaksikan (asy-Syahid),” bisik Abdul Jalil.

Syaikh Datuk Kahfi menggenggam erat tangan Abdul Jalil. Dia seperti beroleh kekuatan baru untuk menghadapi ajal yang sedang menjemputnya. Merasakan bahwa ajal sudah semakin dekat, Abdul Jalil pun membisikkan petunjuk ke telinga Syaikh Datuk Kahfi tentang jalan lurus meniti rentangan tali serambut dibelah tujuh yang memuat hakikat La ilaha illa Allah (tidak ada sesuatu yang disisakan dalam kiblat hati dan pikiran kecuali Allah).

Ketika senjakala turun melingkupi Giri Amparan Jati dengan gumpalan awan kelabu di langit menaburkan rinai gerimis, diiringi isak tangis istri, kerabat, sahabat, dan siswa-siswa, di bawah bimbingan Abdul Jalil, Syaikh Datuk Kahfi menghadap ke hadirat Ilahi dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Saat itu pohon-pohon jati yang terhampar di sekitar padepokan berdiri tegak bergeming seolah-olah ikut mengantar kepergian Syaikh Datuk Kahfi menghadap Khaliknya. Daun-daun jati yang jatuh berserakan diterpa angin menimbulkan suara gemerisik seolah-olah ratapan pedih anak-anak yang ditinggal orang tuanya. Tetes-tetes air hujan yang jatuh dari daun-daun jati menitik bagaikan tangisan pedih alam atas keprgian sang ‘alim. Ikan-ikan di sungai dan lautan berhenti berenang beberapa jenak. Burung-burung tidak ada yang terbang. Semuanya terdiam, seolah-olah ikut mengiringkan kepergian sang penebar ilmu, citra indah pengejawantahan Sang Ilmu (al-‘Alim), yang kembali ke hadirat-Nya.

Dengan diiringi ratapan seluruh penghuni bumi, jenasah Syaikh Datuk Kahfi dimakamkan di samping makam Nyi Rara Anjung, di samping kiri tajug padepokan. Seperti ulama pewaris para nabi seumumnya, saat wafat Syaikh Datuk Kahfi tidak meninggalkan warisan apa-apa, kecuali khazanah ilmu yang tak bakal habis ditelan zaman. Sejarah bahkan mencatat: mereka yang menghadiri pemakamannya, tidak ada satu pun yang tidak pernah mencicipi nikmatnya ilmu pengetahuan dari Syaikh Datuk Kahfi. Dan sesungguhnya, dengan dipanggilnya kembali Syaikh Datuk Kahfi ke hadirat-Nya, salah satu di antara cahaya pengetahuan yang menerangi dunia telah dipadamkan oleh-Nya. Sehingga, bagi mereka yang sadar, kematian seorang ‘alim yang benar-benar mewarisi citra nabi-nabi (al-‘ulama’ waratsat al-anbiya’) adalah sebuah kehilangan yang tak ternilai dibandingkan dengan seluruh isi dunia.

Matahari membentangkan selembar kain merah di atas Giri Amparan Jati ketika usai pemakaman Syaikh Datuk Kahfi seluruh siswa dan sanak kerabat sang guru agung berkumpul dan mengadakan pertemuan untuk menunjuk sang pengganti. Tanpa perlu berdebat panjang mereka sepakat menunjuk Abdul Jalil sebagai pengganti Syaikh Datuk Kahfi. Sebab, selain masih saudara sepupu Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil juga merupakan siswa generasi pertama yang dianggap memiliki ilmu agama paling mumpuni. Bahkan saat Syaikh Datuk Kahfi masih hidup, ia telah ditunjuk sebagai pengasuh padepokan yang diberi kewenangan melakukan perubahan demi perubahan.

Kesepakatan para siswa dan kerabat itu ternyata ditolak oleh Abdul Jalil. Ia mengemukakan alasan bahwa pola lama kepemimpinan padepokan yang dipegang oleh satu tangan sudah saatnya diakhiri. Untuk menjalankan sebuah lembaga pendidikan yang memiliki siswa ratusan orang tidak akan bisa diatasi oleh satu tangan. Itu sebabnya, ia mengusulkan agar dibentuk dewan guru (syura al-masyayikh). Masing-masing anggota dewan itu memiliki kewajiban bersama untuk bertanggung jawab atas keberhasilan proses belajar dan mengajar di padepokan.

Mendengar usulnya itu para kerabat dan siswa sadar bahwa hal itu merupakan keharusan bagi sebuah padepokan yang memiliki siswa berjumlah ratusan orang. Mereka sepakat untuk membentuk dewan guru. Dan sesuai kesepakatan, mereka yang akhirnya tergabung dalam dewan guru adalah Abdul Jalil, Sri Mangana, Syaikh Ibrahim Akbar (mertua Sri Mangana), Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Surantaka, Haji Musa bin Hasanuddin, Syaikh Jurugem bin Hasanuddin, Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, dan Raden Qasim.

Entah sengaja entah tidak, ketika dewan guru sudah terbentuk dan tinggal menentukan siapa di antara mereka yang ditunjuk sebagai ketua, terjadi suatu ketidaklaziman. Dikatakan tidak lazim karena Abdul Jalil yang diharapkan menjadi ketua justru menunjuk Syarif Hidayatullah. Padahal, semua mengetahui bahwa Syarif Hidayatullah selain usianya masih sangat muda juga bukan kerabat atau siswa Syaikh Datuk Kahfi. Bukankah masih ada anggota dewan guru yang lebih tua dan merupakan siswa Syaikh Datuk Kahfi seperti Syaikh Ibrahim Akbar, Sri Mangana, Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, dan Ki Gedeng Surantaka? Bukankah masih ada keluarga Syaikh Datuk Kahfi seperti Abdul Jalil, Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi? Kenapa bukan salah satu di antara mereka yang ditunjuk memimpin dewan guru?

Menghadapi sikap kurang puas terhadap usulannya, Abdul Jalil mengajukan alasan sederhana yang menjelaskan bahwa tugas utama pimpinan dewan guru hanyalah mengatur kelancaran belajar para siswa di padepokan. Itu sebabnya, dibutuhkan guru yang setiap saat bisa mengatur dan mengawasi proses belajar para siswa. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh guru yang tinggal di padepokan. Sementara, para anggota dewan guru yang sudah berusia adalah pejabat-pejabat yang selain dibutuhkan oleh masyarakat juga bertempat tinggal jauh dari padepokan. Akhirnya, demi alasan kemaslahatan bersama, semua anggota dewan guru sepakat mendukung Syarif Hidayatullah sebagai pemimpin.

Perubahan yang dilakukan Abdul Jalil di Padepokan Giri Amparan Jati terus bergulir ibarat roda kereta yang berputar tak bisa dihentikan. Setelah merubah kerangka acuan mata kuliah, tata cara belajar, ketentuan penerimaan siswa, dan pengelolaan padepokan oleh sebuah dewan guru, terjadi lagi perubahan dalam membuka wawasan dan cakrawala berpikir. Tradisi mengembangkan nalar sebagaimana menjadi kelaziman di lembaga-lembaga pendidikan di Baghdad, tiba-tiba diperkenalkan Abdul Jalil di kalangan anak negeri yang selama beratus-ratus tahun hidup dalam kemandekan dan kejumudan berpikir.

Melalui dewan guru yang dipimpin Syarif Hidayatullah, misalnya, diadakan perubahan atas segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha pengembangan padepokan dan dakwah Islamiyyah. Dengan berpedoman pada kaidah pemikiran ushuliyya “menerima yang baru tetapi tidak menghilangkan yang lama yang bermanfaat,” dimulailah perubahan-perubahan yang diharapkan akan dapat mengubah perikehidupan warga Padepokan Giri Amparan Jati, bahkan perikehidupan warga di Bumi Pasundan.

Sebagai langkah awal perubahan membuka wawasan dan cakrawala berpikir, misalnya, atas usulan Syarif Hidayatullah istilah padepokan yang digunakan sebagai identitas lembaga pendidikan Islam Giri Amparan Jati harus diubah menjadi pondok. Istilah pondok sendiri dipungut dari kata Arab funduq, yang bermakna tempat kediaman atau penginapan. Menurut Syarif Hidayatullah, istilah padepokan kurang cocok karena bermakna pertapaan. Padahal, para siswa yang menuntut ilmu-ilmu Keislaman di Giri Amparan Jati bukan calon pertapa. Di dalam jaran Islam pun tidak dikenal amaliah ibadah yang disebut bertapa.

Usul Syarif Hidayatullah itu ada yang menerima dan ada pula yang menolak. Yang menerima beranggapan bahwa istilah itu lebih tepat dibandingkan padepokan. Sedangkan yang menolak beranggapan bahwa istilah pondok (funduq) yang bermakna tempat kediaman sering diartikan rumah penginapan, yaitu tempat siapa saja di antara manusia bisa menginap asal membayar. Padahal, para siswa adalah orang-orang yang bertujuan menuntut ilmu pengetahuan dan tinggal di padepokan tanpa membayar sepeser pun.

Akhirnya, setelah berdebat seru adu argumentasi, atas saran Raden Sahid perbedaan pandangan itu bisa dijembatani. Mula-mula, Raden Sahid meminta agar istilah pondok tetap digunakan menggantikan istilah padepokan tetapi dengan catatan harus disempurnakan agar bisa diterima oleh telinga dan perasaan masyarakat setempat. Untuk itu, Raden Sahid mengusulkan adanya perubahan susulan, yaitu istilah siswa yang dipungut dari kata Sansekerta sisya, yang bermakna murid ruhaniah, diubah menjadi santri. Menurut Raden Sahid, istilah santri lebih cocok untuk menyebut para siswa Padepokan Giri Amparan Jati. Sebab mereka bukan siswa yang menuntut ilmu-ilmu bersifat ruhaniah, melainkan menuntut ilmu-ilmu yang terkait dengan pemahaman atas kitab suci. Itu sebabnya, istilah santri yang diambil dari kata Sansekerta shastri, yang bermakna murid yang mempelajari kitab suci (shastra), lebih masuk akal. Dengan demikian, menurut Raden Sahid, jika disatukan dalam satu kesatuan makna, maka nama yang tepat untuk menggantikan istilah padepokan adalah Pondok Pesantren, yang bermakna “tempat tinggal para murid yang mempelajari kitab suci”.

Usulan Raden Sahid yang melengkapi usulan Syarif Hidayatullah itu akhirnya disepakati oleh semua anggota dewan guru. Berdasarkan kesepakatan yang juga disetujui oleh Yang Dipertuan Caruban Larang, maka sebutan Padepokan Giri Amparan Jati resmi diubah menjadi Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Itu berarti, Giri Amparan Jati adalah lembaga pendidikan Islam pertama di Bumi Pasundan yang menggunakan istilah pondok pesantren.

Seiring dengan perubahan sebutan dari padepokan menjadi Pondok Pesantren Giri Amparan Jati, dilakukan pula berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan amaliah ibadah umat Islam. Perubahan terkait amaliah ibadah umat Islam itu tetap menganut kaidah berpikir ushuliyyah “menerima yang baru tetapi tidak menghilangkan yang lama yang bermanfaat”. Istilah beribadah menyembah Allah SWT., misalnya, disepakati untuk tidak menggunakan istilah shalat, tetapi sembahyang.

Istilah sembahyang dipungut dari kata “sembah” dan “hyang”. Istilah sembahyang dipilih karena lebih akrab dengan telinga dan perasaan penduduk setempat yang lazimnya sulit mengucapkan istilah-istilah asing yang kurang mereka pahami. Istilah sembahyang sendiri sesungguhnya sudah digunakan oleh para penganut ajaran Kapitayan sejak zaman purba. Namun, istilah ini kemudian tenggelam seiring berkembangnya ajaran Hindu yang menyebut ibadah menyembah Dewa dengan istilah bhakti. Dengan digunakannya kembali istilah sembahyang, diharapkan ajaran Islam tidak lagi dianggap asing dan sekaligus istilah itu dapat menggugah kembali “ingatan purba” penduduk tentang keberadaan ajaran agama lama leluhur mereka, yaitu Kapitayan.

Sebagai akibat perubahan istilah shlat menjadi sembahyang maka tempat untuk beribadah menyembah Allah SWT. pun tidak menyebut mushala (tempat shalat), tetapi disebut tajug, yakni istilah yang digunakan oleh orang Sunda untuk menyebut tempat mereka beribadah menghaturkan sesaji kepada arwah leluhur. Istilah tajug sendiri sudah digunakan oleh Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq saat pertama kali mendirikan Padepokan Kuro di Karawang dan kemudian diikuti oleh kaum muslimin di Bumi Pasundan. Sementara itu, istilah tajug di Jawa memiliki makna yang agak berbeda, yaitu hiasan mahkota berbentuk bunga emas. Nah, dengan penggunaan istilah tajug untuk mengganti istilah mushala, diharapkan timbul kesan di kalangan penduduk bahwa mereka yang menyembah hyang di tajug akan menjadi seperti para pangeran, putera, dan puteri raja yang mengenakan mahkota berhias bunga emas.

Perubahan paling penting yang dilakukan oleh dewan guru di Pondok Pesantren Giri Amparan Jati dalam upaya mempermudah para santri mempelajari kandungan kitab-kitab yang dijadikan buku teks, terutama tafsir Al-Qur’an, adalah usaha menerjemahkan ke dalam bahasa Jawa Caruban. Di antara hasil terjemahan anggota dewan guru itu yang termasyhur, selain kitab Samarqandy (ilmu balaghah) dan Tijan (Tauhid), adalah tafsir Al-Qur’an yang dianggap paling sederhana dan paling mudah dipelajari, yaitu Tafsir Al-Qur’an Jalalain yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad Jalaluddin al-Muhali dan Syaikh Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Abu Bakar Umar bin Khalil bin Nashr bin Khadhir bin Hamam Jalaluddin as-Suyuthi.

Kepulangan Abdul Jalil ke Giri Amparan Jati setelah mengembara belasan tahun ternyata telah mengubah dengan cepat gerak kehidupan di pesantren tersebut. Selain pesantren itu menjadi ramai akibat hadirnya santri baru yang memunculkan pondok-pondok hunian baru, juga kawan-kawan Abdul Jalil sewaktu belajar di padepokan di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi dahulu pun, yang sebagian sudah menjadi orang-orang terpandang, secara bergiliran datang mengunjunginya.

Mula-mula para teman lama itu, khususnya Ki Gedeng Pasambangan dan Ki Gedeng Babadan, hanya ingin melepas rindu sebagai sahabat lama sekaligus berziarah ke makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi. Namun, setelah berbincang-bincang secara mendalam tentang berbagai hal yang menyangkut kehidupan, terutama tentang hakikat Kebenaran Ilahi, mereka pun menjadi tertarik dengan apa yang dikemukakan Abdul Jalil. Pandangan, gagasan, dan jalan pikiran Abdul Jalil yang dicitrai kerangka pandang kota antarabangsa Baghdad benar-benar telah memesona kawan-kawan lamanya.

Seiring bergulirnya waktu, tanpa disadari sebelumnya, para mantan siswa padepokan itu telah meminta dengan hormat agar Abdul Jalil berkenan mengangkat mereka menjadi siswa, khususnya dalam meniti jalan Kebenaran Ilahi. Abdul Jalil tidak bisa menolak permintaan kawan-kawan lamanya. Namun, ia sadar bahwa mengajarkan ilmu yang bersifat rahasia tidak bisa digabungkan dengan pengajaran ilmu-ilmu yang bersifat umum dan terbuka. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk mendirikan tempat belajar baru yang letaknya di luar lingkungan Pesantren Giri Amparan Jati.

Sesungguhnya, gagasan Abdul Jalil mendirikan padepokan baru di luar Pesantren Giri Amparan Jati adalah bagian dari gagasan besarnya melahirkan tatanan baru kehidupan manusia yang disebut masyarakat dengan asas-asas ummah sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. saat menata kehidupan warga kota Yatsrib. Dimulai dari Pondok Pesantren Giri Amparan Jati dan padepokan baru yang akan didirikannya itu, ia berharap akan terbentuk tatanan kehidupan baru masyarakat di Caruban Larang. Akibat dicekam oleh gagasan tentang masyarakat itulah selama beberapa malam Abdul Jalil tidak tidur. Ia terlihat mencorat-coret pena ke atas lembaran-lembaran kertas yang sudah penuh gambar bagan dan catatan.

Ia paham bahwa keberhasilan Nabi Muhammad Saw. dalam melahirkan tatanan kehidupan baru yang disebut ummah di Yatsrib pada masa kebangkitan Islam, tidaklah lepas sama sekali dari adanya dukungan kuat para pemuka suku ‘Aus dan suku Khazraj (Anshor) beserta kaum Muhajirin. Ia sangat sadar bahwa gagasan besarnya untuk mencontoh Nabi Muhammad Saw. membentuk tatanan baru masyarakat itu tidak akan bisa diwujudkan tanpa bantuan orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan di Caruban Larang. Lantaran itu, ia sangat mengharapkan dukungan ayahanda asuhnya, Sri Mangana.

Suatu malam kira-kira sepekan setelah Syaikh Datuk Kahfi wafat, Abdul Jalil menghadap Sri Mangana di Bale Rangkang. Kepada Yang Dipertuan Caruban Larang itu ia mengungkapkan gagasan besarnya untuk melahirkan tatanan baru masyarakat demi menggantikan tatanan lama yang disebut kawula (budak).

Dengan pengetahuannya yang luas tentang perubahan dunia Islam, Abdul Jalil menjelaskan kepada Sri Mangana bahwa perubahan besar akibat kedatangan Dajjal penyesat yang membawa pasukan perusak dunia Ya’juj wa Ma’juj tidak bisa lagi dihindari. Itu berarti, segala sesuatu yang terkait dengan keberadaan suatu bangsa yang kurang kuat memegang nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran kebenaran akan tersapu dari permukaan bumi. “Karena bagian terbesar bangsa Sunda adalah kawula dan sedikit sekali yang berasal dari golongan menak berdarah biru maka ananda yakin bangsa ini tidak akan mampu menghadapi serbuan Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj yang membawa nilai-nilai baru yang menyesatkan. Sebab, para kawula sedikit pun tidak memiliki kepedulian tentang nasib bangsa dan negerinya. Artinya, jika sang raja sebagai penguasa tunggal di seluruh negeri Sunda sudah takluk kepada musuh maka seluruh kawula raja akan ikut tunduk pula kepada tuan barunya,” ujar Abdul Jalil.

Bertolak dari kekhawatirannya itu, Abdul Jalil menganggap penting terwujudnya kehidupan manusia dengan tatanan baru yang disebut masyarakat untuk menghadapi perubahan yang dibawa Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj. Sebagai langkah awal untuk menghadapi kedatangan Dajjal, ungkap Abdul Jalil, yang harus dilakukan adalah membuka pemukiman baru yang menjadi pusat lahirnya tatanan baru untuk menghadapi Dajjal. “Sebagaimana Rasulullah Saw. memi8liki Yatsrib sebagai kelahiran dunia baru maka ananda pun ingin memiliki Yatsrib juga di Caruban Larang ini,” ujar Abdul Jalil.

“Apakah mungkin engkau membangun tatanan dunia baru di negeri ini, o Puteraku?” tanya Sri Mangana seolah menguji keseriusan Abdul Jalil. “Bukankah tatanan yang ada di negeri ini sangat berbeda dengan tatanan di negeri Arabia pada masa Nabi Muhammad Saw.?”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” ujar Abdul Jalil. “Meskipun dasar-dasar gagasan ananda adalah meneladani gagasan ummah yang ditegakkan Rasulullah Saw. di Yatsrib, masyarakat yang hendak ananda bangun memiliki perbedaan-perbedaan. Maksud ananda, tatana masyarakat di Caruban Larang nanti merupakan perpaduan antara gagasan ummah di Yatsrib dan kenyataan kehidupan yang berlaku di negeri ini.”

“Tatanan baru yang bagaimana yang engkau maksud sebagai tatanan masyarakat di Caruban Larang nanti?”

Abdul Jalil mengeluarkan selembar lipatan kertas dari balik jubahnya. Seraya membuka lipatan kertas yang bergambar segitiga itu, ia berkata, “Ananda memiliki gambar segitiga dengan empat titik utama. Tiga titik yang terletak pada masing-masing sudut adalah tempat kemunculan tatanan baru. Ketiganya kemudian akan menuju ke titik pusat yang terletak di tengah-tengah segitiga.”

“Titik utama di sudut pertama adalah gambaran Giri Amparan Jati yang akan ananda jadikan pusat lahirnya tatana komunitas yang disebut kaum (qaum). Titik utama di sudut kedua adalah gambaran Puri Caruban Girang yang akan ananda jadikan pusat lahirnya tatana komunitas yang disebut kelompok (tha’ifah). Titik utama di sudut ketiga belum ananda tentukan tempatnya dan nanti akan ananda jadikan pusat lahirnya tatanan komunitas yang disebut kabilah (qabilah). Sedangkan titik pusat dari segitiga tersebut adalah Kutha Caruban yang akan ananda jadikan pusat lahirnya tatana komunitas yang disebut lapisan (thabaqah).”

“Jika masing-masing titik utama dipertemukan di titik pusat maka bertemulah tatanan qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah di Kutha Caruban. Nah, di Kutha Caruban itulah keempat komunitas itu akan membentuk suatu tatanan baru yang lahir dari kesadaran masing-masing komunitas. Tatanan baru yang berdasarkan kesadaran itu ananda sebut dengan istilah masyarakat, yakni kumpulan manusia di suatu tempat yang berasal dari berbagai-bagai latar kehidupan yang melakukan kerja sama (musyarakat) untuk mencapai tujuan yang mereka harapkan dan mereka sepakati bersama.”

“Apakah yang bisa engkau jelaskan kepadaku tentang maksud dari qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah?”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil menguraikan gagasannya. “Yang ananda maksud qaum adalah suatu kehidupan berkelompok yang dibangun atas dasar tegaknya pribadi-pribadi yang mendiami wilayah tertentu dan pribadi-pribadi itu secara bersama-sama bangkit melakukan pekerjaan yang sama. Kenapa ananda memilih Giri Amparan Jati sebagai tempat lahirnya komunitas qaum? Sebab, masing-masing warga Giri Amparan Jati adalah pribadi-pribadi yang secara bersama-sama telah terbiasa melakukan pekerjaan yang sama mulai dari mengerjakan sembahyang, puasa, mengaji, membaca kasidah, berlatih silat, menangkap ikan, mencari kayu, berladang, membuat perahu, sampai membangun pondok-pondok. Kebiasaan adalah modal utama yang sangat berguna untuk dikembangkan menuju pencapaian sasaran.”

“Thaifah adalah perkumpulan manusia yang mengelilingi wilayah tertentu dengan menggantungkan kebutuhan pada wilayah yang dikelilingi tersebut. Di padang Arabia, Thaifah digambarkan sebagai penghuni desa yang hidup mengitari sumur yang ada padang gembalaannya. Kenapa ananda memilih Puri Caruban Girang sebagai tempat lahirnya komunitasThaifah? Sebab, seluruh penduduk Caruban Girang pada dasarnya melingkari Puri Caruban Girang seperti gembala Arab mengitari sumur dan padang gembalaan. Mereka adalah nayakapraja dan abdi yang terbiasa berkhidmat kepada junjungannya dan menggantungkan semua harapan dan hidupnya kepada puri tersebut.”

“Sedangkan yang disebut qabilah adalah sekumpulan pribadi manusia yang memiliki tujuan dan arah yang satu dalam hidupb mereka, di mana ikatan pribadi yang terkuat adalah kesamaan harapan dan kiblat yang dituju. Untuk melahirkan komunitas qabilah ini, ananda menggunakan ajaran Tauhid Ilahi sebagai ikatan pribadi-pribadi yang memiliki kiblat tujuan yang sama. Namun, sampai saat ini ananda belum menentukan di mana tempat yang sesuai untuk melahirkan komunitas qabilah. Ananda hanya mempunyai ancar-ancar daerah itu harusnya terletak di sebelah tenggara Puri Caruban Girang.”

“Sementara yang dimaksud thabaqah adalah sekumpulan manusia yang memiliki kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan penghasilan yang sama di mana mereka itu kemudian menduduki lap[isan yang sama di dalam tatanan penduduk. Ikatan mereka makin menemukan bentuk sempurna ketika mereka melakukan persekutuan-persekutuan dalam pekerjaan, jabatan, penghasilan, dan kepentingan mereka hingga terbentuk lapisan khas dalam komunitas. Kenapa ananda memilih Kutha Caruban untuk melahirkan komunitas thabaqah? Sebab, tatanan kehidupan penduduk di Kutha Caruban pada dasarnya sudah terbentuk atas dasar lapisan-lapisan berdasarkan jabatan, pekerjaan, dan penghasilan.”

“Demikianlah, o Ramanda Ratu, gagasan ananda tentang pembentukan tatanan komunitas yang disebut qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah. Jika semuanya dipertemukan maka keempatnya akan mengalami perpaduan dan penyelarasan-penyelarasan sehingga pada gilirannya akan lahir komunitas baru yang lebih besar dan lebih kuat ikatannya, yaitu komunitas yang disebut masyarakat.”

“Komunitas itu disebut masyarakat, menurut hemat ananda, karena para anggota komunitas qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah secara sadar menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup sendiri tanpa kerja sama dengan komunitas yang lain. Itu sebabnya, mereka merasa wajib untuk melakukan kerja sama (musyarakat) atas dasar pemenuhan kepentingan bersama sebagaimana mereka sepakati. Nah, kerja sama (musyarakat) yang terjadi di antara masing-masing komunitas itulah yang disebut masyarakat. Ananda harapkan, masyarakat itulah yang akan menggantikan tatanan lama di negeri ini yang disebut komunitas kawula, yakni tatanan komunitas budak hina dina yang tidak memiliki hak apa pun, bahkan hak untuk hidup sekalipun.”

Sebagai seorang pemimpin yang cerdas, tanggap, dan sudah sering menelan pahit dan getir kekuasaan, Sri Mangana langsung memahami dan sekaligus menangkap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi jika gagasan putera asuhnya tersebut diwujudkan dalam kenyataan. Itu sebabnya, sambil menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil, penguasa Caruban Larang itu tertawa terkekeh-kekeh sampai bahunya terguncang-guncang.

Melihat ayahanda asuhnya tertawa terkekeh-kekeh, Abdul Jalil dengan heran bertanya, “Kenapa Ramanda Ratu tertawa mendengar paparan ananda tentang tatanan baru masyarakat? Adakah yang tidak masuk akal dari apa yang ananda paparkan?

“Bukan. Sekali-kali bukan karena tidak masuk akal. Tetapi, gagasan yang engkau ungkapkan barusan sesungguhnya sama artinya dengan engkau memerintahkan aku secara langsung atau tidak langsung untuk menyiapkan angkatan perang yang kuat,” jawab Sri Mangana sambil terus tertawa terkekeh-kekeh.

“Kenapa harus menyiapkan angkatan perang segala, o Ramanda Ratu?” Abdul Jalil tidak paham.

“Apakah engkau pikir tidak akan ada pihak yang dirugikan oleh gagasanmu itu?”

“Tentunya ada, o Ramanda Ratu,” sahut Abdul Jalil.

“Apakah engkau pikir para adipati di Bumi Pasundan dan bahkan ayahandaku sendiri sebagai Maharaja Sunda akan berdiam diri dengan lahirnya tatanan baru masyarakat yang mengancam kedudukan mereka? Apakah engkau pikir mereka akan diam begitu saja kehilangan hak-hak mereka atas setiap kepala manusia yang disebut kawula (budak) di wilayah kekuasaannya? Apa engkau pikir mereka rela melihat para kawula memiliki tanah dan kekayaan pribadi?”

“Ananda belum berpikir sejauh itu, o Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil dengan tubuh lemah seolah kehilangan semangat. “Ananda tidak tahu harus berbuat apa jika menghadapi yang demikian itu. Ananda mohon petunjuk Ramanda Ratu yang lebih memahami dan lebih menguasai masalah siyasah (politik).”

“Camkan olehmu, o Puteraku, bahwa secara utuh aku mendukung gagasanmu dalam membentuk tatanan dunia baru yang disebut masyarakat itu. Aku sendiri sesungguhnya sudah tidak tahan dengan mandeknya gerak kehidupan di negeri ini. Aku sudah muak dengan kehidupan para menak berdarah biru yang lemah akibat kemewahan dan sanjungan. Aku sudah tak tahan menyaksikan ratap tangis kawula yang selalu diisap oleh pemuka-pemukanya. Karena itu, o Puteraku terkasih, pilihlah di bagian mana dari tanah di Caruban Larang ini yang akan engkau jadikan tempat bagi lahirnya komunitas qabilah. Aku akan anugerahkan tanah itu kepadamu sebagai tanah shima (bebas pajak),” ujar Sri Mangana.

“Tapi Ramanda Ratu, bagaimana dengan kemungkinan bangkitnya amarah para adipati dan bahkan Sri Maharaja Sunda? Sungguh, ananda tidak sedikit pun berharap terjadinya pertumpahan darah untuk mewujudkan gagasan yang ananda impi-impikan tersebut,” kata Abdul Jalil takzim.

“Engkau jalankan saja gagasanmu itu, o Puteraku terkasih.” Sri Mangana membesarkan hati Abdul Jalil. “Aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan untuk mendukungmu mewujudkan gagasan mulia itu. Bahkan, andaikata aku harus mengangkat senjata dan memulai pertempuran dengan siapa pun yang mengahalangi cita-cita yang mulia itu, pastilah akan aku lakukan juga.”

“Terima kasih, Ramanda Ratu.” Abdul Jalil merangkul lutut ayahanda asuhnya dengan takzim. “Ananda hanya bisa berdoa, semoga Dia, Yang Maha Menyaksikan (asy-Syahid), mempersaksikan niat suci Ramanda Ratu.

Mendapat kesanggupan dari ayahanda asuhnya (Sri Mangana) tentang diberikannya tanah perdikan untuk memulai mewujudkan tatanan baru masyarakat ummah di Caruban Larang, saat sedang berkeliling mencari tempat yang sesuai, menjelang senja tiba-tiba ia dikejutkan oleh munculnya sesosok makhluk yang mencengangkan. Makhluk itu berwujud seorang laki-laki tambun berperut buncit. Tingginya sekitar enam depa. Kulitnya coklat kehitaman. Rambutnya panjang terurai hingga ke paha. Matanya mirip mata rajawali dengan bulatan manik-manik sangat kecil. Hidungnya mancung, bahkan cenderung bengkok mirip kakaktua. Kumisnya lebat menggantung. Janggutnya panjang menjuntai hingga ke perut. Yang lebih mengerikan adalah saat dia tersenyum, terlihat dua buah taringnya yang tajam berkilau. Bagaikan sengaja menghadang jalan, lelaki tambun berperut buncit itu bertolak pinggang di depan Abdul Jalil.

Sesaat memandang sosok mencengangka di depannya, Abdul Jalil langsung teringat kepada Dang Hyang Semar. Mungkin inilah makhluk berbadan halus penghuni purwakala Nusa Jawa yang pernah dikatakan Dang Hyang Semar, ia menduga-duga dalam hati. Dugaannya tidak meleset ketika sosok itu mengucapkan salam melalui bahasa perlambang (isyarat) dan memperkenalkan diri sebagai Yang Dipertuan Caruban Larang, Sang Setan Kabir.

Beberapa jenak setelah saling mengenalkan diri, terjadilah perbincangan antara Abdul Jalil an Sang Setan Kabir melalui bahasa perlambang, yang jika diungkap ke dalam bahasa manusia kira-kira berbunyi:

“Apakah yang engkau inginkan, o manusia, berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di wilayah kekuasaanku ini? Apakah engkau hendak membangun hunian-hunian baru bagi pengikutmu dengan menyingkirkan penghuni purwakala negeri ini?”

“Sesungguhnya, Allah SWT., Tuhan Yng Mahakuasa, tidaklah mencipta bangsa Jin dan Manusia kecuali untuk memuja dan menyembah keagungan-Nya. Sesungguhnya, jin dan manusia hidup ditempatkan di alam yang berdampingan, tidak dekat tetapi juga tidak terpisah jauh. Masing-masing makhluk (al-khalq) memuja dan menyembah Sang Pencipta (al-Khaliq) sesuai cara yang ditentukan-Nya. Tidak boleh ada yang mengganggu antara makhluk satu dan makhluk yang lain. Demikianlah peraturan yang berlaku di antara bangsa jin dan manusia,” sahut Abdul Jalil.

“Tetapi kenyataannya, sejak zaman dahulu kala, kehadiran bangsa manusia selalu berakibat bencana bagi bangsa kami. Menurut kakek buyutku, beliau dulu adalah raja besar penghuni dunia. Namun sejak manusia ditirunkan ke dunia, bangsa kami diusir ke tengah lautan dan menghuni pulau-pulau yang terpencil. Sampai kini ternyata bangsa manusia terus bertebaran ke segenap penjuru dunia dan bahkan merambah lautan. Mereka seolah-olah tidak rela melihat bangsa kami menghuni bumi. Mereka ingin mengusir kami ke tengah lautan dan bahkan keluar dari dunia ke gugusan bintang-bintang. Sungguh jahat watak manusia.”

“Tidak semua manusia seperti itu, o Setan Kabir. Sesungguhnya, penilaianmu itu terjadi karena engkau memandang keberadaan bangsa manusia berdasarkan pandangan bangsamu. Tidakkah engkau tahu betapa bangsa manusia selalu merasa ketakutan melihat perilaku bangsamu yang suka merayakan pesta darah dengan membunuh manusia? Bukankah di antara bangsa manusia tidak ada yang melakukan pesta dengan membunuh bangsamu?”

Setan Kabir tertawa terbahak-bahak sampai perutnya yang buncit terguncang-guncang. Beberapa jenak sesudah itu dia berkata, “Pesta darah yang engkau maksud itu adalah pesta biasa sebagaimana manusia menyelenggarakan pesta-pesta perhelatan dengan menyembelih hewan. Apa yang aneh dari adat kebiasaan itu?”

“Engkau mungkin tidak merasa aneh dengan adat kebiasaan bangsamu sebab engkau memandangnya berdasarkan pandangan bangsamu. Tetapi bagi manusia, kebiasaan bangsamu itu sangat menakutkan karena merekalah yang menjadi korban sembelihan bangsamu.”

“Bagaimana dengan bangsa manusia yang membunuh bangsa hewan untuk pesta perhelatan?”

“Hewan adalah makhluk yang tidak mempunyai ruh dan mereka memang diciptakan untuk menjadi makanan manusia,” sahut Abdul Jalil.

“Bukankah ketentuan itu sama dengan yang diyakini bangsa kami?” ujar Sang Setan Kabir. “Bukankah manusia juga tidak mempunyai ruh? Sehingga bangsa kami berhak memangsa mereka sebagaimana manusia memangsa hewan?”

“Engkau keliru jika memandang bangsa manusia tidak memiliki ruh,” tukas Abdul Jalil. “Justru karena ruh yang ada pada manusia itulah yang menyebabkan seluruh malaikat bersujud kepada Adam a.s., leluhur manusia. Hanya satu makhluk yang tidak mengetahui bahwa pada diri manusia sesungguhnya tersembunyi ruh Ilahiah. Makhluk itu tidak lain adalah Iblis yang dilaknat Allah SWT., yakni salah satu leluhur bangsamu.”

“Apakah engkau memiliki ruh Ilahiah?” tanya Setan Kabir Sinis. “Tunjukkan kepadaku dimana ruh Ilahiah yang tersembunyi di dalam dirimu yang menyebabkan para malaikat harus tunduk dan bersujud kepada leluhurmu yang bernama Adam!”

Abdul Jalil terperangah kebingungan mendapat tantangan Setan Kabir. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membuktikan kepada Setan Kabir bahwa di dalam dirinya sesungguhnya terdapat ruh Ilahiah. Namun beberapa jenak setelah tercekam kebingungan, tiba-tiba Ruh al-Haqq dari kedalaman relung-relung jiwanya memberikan isyarat agar ia meminta Setan Kabir melihat ke dalam mulutnya, hendaknya ia melakukan nafs al-haqq, demikian isyarat dari Ruh al-Haqq.

Sesuai isyarat dari Ruh al-Haqq, Abdul Jalil meminta Setan Kabir untuk mendekat dan melihat ke dalam rongga mulutnya yang ternganga. Mendapat permintaan Abdul Jalil, ganti Setan Kabir yang kebingungan. Namun dengan menundukkan tubuh ke depan, akhirnya Setan Kabir melihat ke dalam rongga mulut Abdul Jalil.

Saat Setan Kabir melihat rongga mulut Abdul Jalil, dia tiba-tiba tersentak kaget bagaikan disambar petir. Sekujur tubuhnya bergetar keras. Seiring kekagetannya itu, dia tampak tercengang takjub dengan mata tetap terarah ke dalam rongga mulut Abdul Jalil.

Saat itu Setan Kabir menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan. Di dalam rongga mulut Abdul Jalil terdapat hamparan samudera mahaluas dengan gelombang bergulung-gulung susul-menyusul. Di tengah samudera itu terlihat pula gugusan pulau dan benua, hutan rimba yang lebat, jajaran gunung, gurun, lembah, ngarai, dan jurang. Setelah itu, di atas suatu daratan luas terlihat berjuta-juta bangsa jin sedang berperang saling membunuh sesamanya. Mayat para jin bergelimpangan dan bertumpuk-tumpuk membentuk bukit mayat. Pekik peperangan terus terdengar sahut menyahut di tengah suara gemerincing senjata.

Tiba-tiba suara sangkakala terdengar membelah angkasa. Para jin yang berperang berhenti. Namun, sesaat sesudah itu mereka berperang lagi dengan lebih sengit. Di tengah gemuruh peperangan seketika muncul cahaya yang bersinar terang benderang melebihi ahaya matahari. Akibat cahaya yang menyilaukan mata itu, para jin yang sedang berperang menjadi buta. Sambil berteriak-teriak mereka berjalan ke berbagai arah dengan menggapai-gapai layaknya si buta mencari jalan.

Terpukau oleh pemandangan menakjubkan dan silau menyaksikan benderang cahaya cemerlang yang bersinar di dalam rongga mulut Abdul Jalil, Setan Kabir melompat mundur ke belakang dengan tubuh menggigil. Setelah itu ia duduk berlutut di depan Abdul Jalil sambil bertanya dengan sikap yang sangat menghormat, “Apakah cahaya yang menyilaukan laksana benderang matahari itu adalah ruh Ilahiah yang tersembunyi di dalam diri manusia?”

“Ruh manusia bukan cahaya matahari, tetapi ruh manusia bisa lebih terang dari cahaya matahari dan bahkan ruh manusia bisa memuat beribu-ribu matahari,” jawab Abdul Jalil.

“Pemandangan menyilaukan dari ruh manusia itu pernah aku saksikan pada diri Dang Hyang Hasmara, keturunan Dang Hyang Semar.”

“Engkau kenal dengan Dang Hyang Hasmara?”

“Ya, beliau adalah pelanjut ajaran Dang Hyang Semar.”

“Berapa sekarang ini usiamu, o Sang Setan Kabir?”

“Usiaku?” Setan Kabir mengira-ngira, “Kalau dihitung dengan waktu manusia, kira-kira seribu sembilan ratus tahun.”

“Aku belum pernah ketemu Dang Hyang Hasmara. Tetapi, beberapa waktu lalu aku bertemu dengan arwah Dang Hyang Semar.”

“Paduka bertemu dengan Dang Hyang Semar Sendiri?”

“Ya, saat itu beliau memberitahuku tentang keberadaan bangsamu yang sudah menghuni Nusa Jawa jauh sebelum kehadiran bangsa manusia. Beliau bahkan telah mengizinkan aku untuk menyebarkan ajaran kebenaran Islam yang merupakan ajaran sempurna dari ajaran Kapitayan di Nusa Jawa.”

“Benarkah demikian?”

Setan Kabir tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Berarti, paduka tidak akan mengusir bangsa kami?”

“Ketahuilah, o Setan Kabir, bahwa Nabi Muhammad Saw., pembawa ajaran Islam adalah penerang bagi alam semesta. Muhammad Saw. adalah rahmah - pengejawantahan ar-Rahman dan ar-Rahim - bagi alam semesta. Itu sebabnya, kehadiran ajaran yang beliau sampaikan tidak akan menjadi bencana bagi makhluk yang lain. Bahkan di antara pengikut-pengikut beliau terdapat segolongan yang berasal dari bangsamu.”

“Ketahuilah, o Setan Kabir, bahwa kewajiban Nabi Muhammad Saw. adalah sama dengan kewajiban para utusan Tuhan (rasul) yang lain, yakni hanya sebagai penyampai (balaqh) Kebenaran Ilahi (QS. Al-Maidah:99). Dan bagiku, pewaris ajaran para utusan seperti Nabi Muhammad Saw., tidak ada kewenangan untuk mengusir makhluk lain dari suatu tempat di muka bumi. Sebab, kewajibanku pun hanya menyampaikan ajaran Kebenaran Ilahi, tidak lebih.”

“Berarti, paduka tidak akan mengubah perjanjian leluhur kami dengan Dang Hyang Semar?”

“Benar demikian adanya,” ujar Abdul Jalil. “Sebab, kesepakatan yang telah dilakukan Dang Hyang Semar tidak bertentangan dengan hukum alam (sunnah Allah). Sesungguhnya, pada tiap-tiap umat terdapat seorang utusan Tuhan (rasul) yang mengajarkan kepada umat tersebut untuk memuja dan menyembah Tuhan dan menjauhi pemujaan kebendaan (thaghut). Namun, di antara umat itu ada yang mendapat petunjuk (hidayah) dari Tuhan dan ada pula yang tetap sesat (adh-dhalalah) (QS. An-Nahl:36). Dan sesungguhnya, mereka yang tetap sesat, yakni tetap memuja kebendaan (thaghut) dan bergelimang kejahatan akan dibinasakan untuk diganti umat baru (QS. al-An’am:6). Hukum alam (sunnah Allah) ini berlaku dari zaman ke zaman hingga hari akhir.”

“Karena itu, o Setan Kabir, apa yang telah dilakukan oleh Dang Hyang Semar dengan leluhurmu dalam ikatan perjanjian itu sesungguhnya sudah sesuai dengan hukum alam (sunnah Allah), di mana penghuni Nusa Jawa yang dijadikan mangsa dalam pesta darah bangsamu itu adalah manusia-manusia sesat pemuja kebendaan (thaghut) yang hidup bergelimang kejahatan. Dengan demikian, satu pun diantara lima butir perjanjian itu tidak akan aku perbarui. Artinya, mangsalah dan jadikanlah santapan dalam pesta darahmu para penghuni Nusa Jawa yang sesat, yakni mereka, para pemuja kebendaan, yang bergelimang kejahatan meskipun mereka mengaku-aku umat Islam.”

“Aku akan sampaikan berita gembira ini kepada para raja di antara bangsaku,” ujar Setan Kabir. “Aku akan sampaikan pula bahwa manusia yang harus kami patuhi mulai saat ini adalah paduka, Syaikh Datuk Abdul Jalil, penerus dan penyempurna ajaran Dang Hyang Semar.”

“Tapi ada satu tugas khusus yang harus engkau jalankan dariku.”

“Tugas apa itu paduka?”

“Kumpulkan raja-raja di antara bangsamu se Nusa Jawa untuk menemuiku pada paro terang bulan Badra.”

“Dimana kami harus berkumpul?”

“Di puncak Gunung Pulasari di tanah Banten.”

“Kami akan laksanakan perintah paduka.”

Setelah berkeliling ke berbagai tempat di sekitar Caruban Larang, Abdul Jalil akhirnya menemukan suatu tanah terlantar berupa hamparan rumput alang-alang yang terletak di sebelah tenggara Kutha Caruban dan Puri Caruban Girang. Tanah itu sesungguhnya masuk ke dalam wilayah Negari Japura yang dirajai Prabu Amuk Marugul. Namun, Negari Japura telah dimasukkan ke dalam wilayah samiddha Caruban Larang setelah Prabu Amuk Marugul diangkat menjadi penasihat maharaja di Pakuan Pajajaran.

Jika diukur, jarak tanah yang dipilih Abdul Jalil itu hampir sama dengan jarak Pesantren Giri Amparan Jati ke Puri Caruban Girang. Hanya saja, Giri Amparan Jati terletak di sebelah utara Puri Caruban Girang, sedangkan tanah itu terletak di sebelah tenggara. Dan, jika ditarik garis lurus maka antara Puri Caruban Girang, Giri Amparan Jati, dan tanah baru itu akan membentuk segitiga dengan Kutha Caruban terletak di tengahnya.

Sementara itu, saat mengetahui tanah yang ditunjuk Abdul Jalil, Sri Mangana terheran-heran dan bertanya, “Kenapa engkau memilih tanah yang ganas dan tidak ramah itu, o Puteraku terkasih? Kenapa engkau tidak memilih tanah yang lebih baik di sekitar Kutha Caruban seperti tanah kosong di sebelah selatan Kesambi atau Kalijaga?”

Mendengar pertanyaan ayahanda asuhnya yang terheran-heran dengan permintaannya itu, Abdul Jalil menjelaskan bahwa tanah ganas dan tidak ramah itu sengaja dipilih karena memiliki kemiripan dengan sekantung tanah yang diterimanya dari ayahanda mertuanya, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, juga jaraknya sesuai dengan gambar segitiga yang dibuatnya. Setelah memahami alasan putera asuhnya, Sri Mangana segera mengeluarkan maklumat yang isinya menetapkan anugerah tanah shima seluas dua ratus jung (sekitar 560 hektar) di wilayah Japura kepada Abdul Jalil lengkap dengan batas-batasnya.

Dengan anugerah tanah shima seluas dua ratus jung itu, Abdul Jalil sadar bahwa ia sesungguhnya telah mulai menapakkan kaki ke dunia nyata untuk mewujudkan gagasan besar yang selama ini tersembunyi di relung-relung impiannya. Namun sebelum memulai pekerjaan awal membangun tanah itu menjadi pemukiman bagi komunitas qabilah, Abdul Jalil terlebih dulu harus memasang Tu-mbal sebagaimana pernah dilakukan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi atas petunjuk Dang Hyang Semar. Meski semula tanah yang akan disebar di tempat yang bakal dijadikan bangunan hunian itu adalah tanah dari Karbala bekal dari mertuanya, Abdul Jalil tiba-tiba beroleh ilham untuk mencampur tanah Karbala dengan tanah dari pendharmaan Bhattari Prthiwi di Kabhumian.

Ia sendiri tidak mengetahui ada rahasia apa sebenarnya di balik pemasangan Tu-mbal berupa taburan tanah yang sudah dilakukan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Ia juga tidak mengetahui rahasia apa di balik sekantung tanah yang dibekalkan mertuanya itu. Namun, ia lakukan juga hal itu semata-mata untuk menghormati petunjuk orang-orang yang hidup lebih dulu yang tentunya lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan masa silam.

Ketika ia sedang berdiri tegak di atas tanah shima dan menyaksikan tebaran tanah campuran yang baru ditaburnya di atas rumput alang-alang, tiba-tiba Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya berseru, “Ketahuilah, o Abdul Jalil, sesungguhnya sarana (Tu-mbal) tanah itu tidak dimaksudkan lain, kecuali hanya sebagai pemakluman manusia keturunan Adam a.s. (Bani Adam) yang badan jasmaninya terbuat dari tanah. Pemakluman itu akan disaksikan oleh para Jin, penghuni purwakala Nusa Jawa. Tindakanmu mencampur kedua tanah itu sudah benar sebab para penghuni purwakala Nusa Jawa akan menangkap perlambang yang engkau isyaratkan, yakni bersatunya anak eturunan Adam a.s. secara selaras baik yang mengikuti ajaran Kapitayan, Hindu, Budha maupun Islam, dan sekaligus menyatunya dua jenis tanah yang berbeda jiwa dan semangatnya; tanah Kabhumian melambangkan jiwa kasih dan semangat kesetiaan, sedangkan tanah Karbala melambangkan jiwa suci sekaligus semangat pengkhianat.”

Setelah memahami sekeping rahasia di balik penyebaran tanah yang disebut Tu-mbal (sarana), Abdul Jalil sadar bahwa di atas semua ketentuan yang terkait dengan upaya membuat tawar pengaruh jahat para bangsa halus penghuni purwakala Nusa Jawa itu, sesungguhnya yang paling menentukan adalah manusia. Tanah hanya sarana pemakluman. Tanah hanya perlambang penampakan keberadaan jati diri manusia. Yang berperan utama tetaplah manusia, makhluk agung yang terbuat dari tanah tetapi mewarisi Ruh al-Haqq yang menjadi penyebab seluruh malaikat bersujud.

Peran utama manusia itu setidaknya terlihat pada peristiwa pemasangan Tu-mbal yang telah dilakukan oleh Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Meski telah memasang Tu-mbal tanah dari Karbala, ternyata pengaruh jahat bangsa halus tidak bisa dihindari. Ketika Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi kembali ke Persia, para pengikutnya dijadikan “santapan” para penghuni purwakala Nusa Jawa.

Menyadari betapa penting peran manusia dalam upaya membuat tawar pengaruh jahat para makhluk berbadan halus, Abdul Jalil kemudian menempatkan tujuh orang santri dari Giri Amparan Jati untuk menunggui tebaran tanah yang telah ditaburnya. Kepada ketujuh orang santri itu ia memberikan petunjuk agar mereka membaca urut-urutan doa yang telah disusunnya. Urutan doa itu adalah rangkaian doa pengusir pengaruh jahat jin dan setan sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad Saw. rangkaian doa itu meliputi: surat al-Fatihah: 1-7; surat al-Ikhlas: 1-4; surat al-Falaq: 1-5; surat an-Naas: 1-6; surat al-Baqarah: 1-5, 255 (ayat kursi), 284-286; istighfar; shalawat; tahlil; ditutup doa penolak godaan setan dan permohonan keselamatan manusia beriman.

Tujuh hari berturut-turut setiap usai Maghrib rangkaian doa pengaruh jahat jin dan setan itu dibaca. Kemudian dimulailah pembangunan pertama di tanah baru itu, yakni tajug kayu dengan atap daun kawung. Menurut rencana, di teras kiri tajug akan didirikan pondok yang dijadikan tempat tinggal Abdul Jalil. Sedangkan di teras kanan tajug akan didirikan pondok yang dijadikan penginapan sementara para siswa.

Demikianlah, dengan dibantu sekitar dua puluh santri Giri Amparan Jati dan kawan-kawan lamanya, Abdul Jalil memulai pekerjaan besarnya; mengubah tanah anugerah berupa hamparan rumput alang-alang menjadi tempat baru yang bisa dihuni manusia. Kemudian, sesuai dengan warna tanah Karbala dan tanah Kabhumian yang dicampurnya, daerah pemukiman baru yang terletak di bekas wilayah Japura itu oleh Abdul Jalil dinamai Dukuh Lemah Abang. Istilah dukuh dipungut dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “tempat sunyi” kediaman Dang Hyang Semar. Ia berharap dengan menggunakan istilah dukuh, ingatan purba masyarakat tentang Dang Hyang Semar beserta ajarannya akan terbit kembali.

Dari sebuah pondok kayu beratap daun kawung yang terletak di teras kiri tajug Dukuh Lemah Abang, Abdul Jalil mulai mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat rahasia kepada para muridnya yang umumnya seusia bahkan lebih tua darinya. Sebagaimana saat ia menata perkuliahan di Giri Amparan Jati, di Lemah Abang pun ia mengajarkan ilmu-ilmu bersifat rahasia dengan terlebih dahulu memperkenalkan ilmu hikmah dan ‘irfan.

Ilmu hikmah adalah ilmu yang terkait dengan usaha-usaha untuk mencapai keseimbangan yang sempurna antara ilmu dan amal sehingga tercapai suatu keadilan (‘adl), yakni meletakkan sesuatu secara tepat pada tempat yang semestinya. Dengan demikian, sekalipun dalam ilmu hikmah ini diyakini bahwa Kebenaran Sejati hanya bisa diperoleh secara ruhaniah melalui pengembaraan ruhani, ilmu itu tetap dapat diungkap secara akal. Mereka yang memahami ilmu hikmah, ketika beroleh anugerah limpahan pengetahuan ruhani (warid), akan mengalami kegaiban (ghaibah). Sedangkan mereka yang sama sekali buta terhadap ilmu hikmah cenderung mengalami kegilaan (majnun) ketika beroleh limpahan pengetahuan ruhani.

‘Irfan secara harfiah dapat diartikan ilmu pengetahuan tentang Ketuhanan yang memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang sering kali berbeda dengan kaidah-kaidah syari’at (fiqhiyyah). ‘Irfan lebih ditekankan pada masalah-masalah yang terkait dengan pengetahuan Ilahiah seperti Nama-Nama yang Tarpelihara (al-ism al-musta’tsar), Nama-Nama Agung (al-ism al-a’zham), Akhlak yang Mulia (al-akhlaq al-Karimah), makna rahasia di balik Al-Qur’an, isyarat-isyarat ruhaniah dengan takwil-takwilnya, dan segala sesuatu yang terkait dengan pengungkapan rahasia atas Khazanah Tersembunyi Ilahi. Dengan demikian, dalam pandangan ‘irfani, seseorang yang berkata benar di depan penguasa zalim dianggap seseorang yang sudah melakukan jihad terbesar dibandingkan dengan orang yang bertempur dengan pedang di medan laga. Kejayaan jihad terbesar dalam pandangan ‘irfan adalah keberhasilan menaklukkan nafsu pribadi, sedangkan kejayaan jihad di medan tempur dianggap keberhasilan kecil.

Sementara itu, sebagaimana Giri Amparan Jati yang disebut pondok pesantren, tempat Abdul Jalil mengajarkan ilmu-ilmu rahasia tidak disebut padepokan yang bermakna pertapaan dan tidak juga disebut biara, pasulukan, atau asrama. Abdul Jalil dengan sederhana menamai tempatnya mengajar dengan sebutan Paguron Lemah Abang. Istilah paguron sendiri dipungut dari bahasa Jawa Kuno aguron-guron (menjadi murid) yang sama maknanya dengan “menjadi sang penempuh” (salik). Jadi, paguron bermakna “tempat orang-orang yang menjadi murid” atau “tempat salik” menuntut pelajaran rahasia untuk mencari Kebenaran Sejati.

Sekalipun nama tempat mengajar itu disebut paguron, mereka yang belajar di situ tidak disebut aguron-guron, tetapi murid. Sebab, menurut Abdul Jalil, di dalam bahasa Arab al-murid bermakna “yang menginginkan Allah”. Sebutan murid diambil dari salah satu nama Allah yang indah, yaitu Yang Memiliki Kehendak (al-Murid). Dengan adanya hubungan timbal balik antara al-murid dan al-Murid maka akan terjadi hubungan saling mendekat dengan cepat dan tepat sesuai firman-Nya: “Jika engkau mendekat sejengkal maka Aku akan mendekat selangkah. Jika engkau mendekat dengan berjalan maka Aku akan mendekat dengan cara berlari.” Demikianlah, tidak berbeda dengan penggantian istilah padepokan menjadi pondok pesantren, penggunaan istilah paguron dan murid merupakan “perkawinan” yang selaras antara istilah Arab dan istilah setempat.

Sesuai ajaran Tarekat al-Akmaliyyah yang disampaikannya, yang tidak mengenal mursyid dalam wujud manusia, Abdul Jalil melarang murid-murid untuk menganggapnya sebagai mursyid, yaitu pancaran dari Yang Maha Menunjuki (ar-Rasyid). Mursyid, menurut Abdul Jalil, adalah ar-ruh al-idhafi yang ada di dalam diri pribadi tiap-tiap manusia. Kepada para muridnya Abdul Jalil memperkenalkan keberadaan dirinya sebagai guru ruhani yang berkewajiban membimbing murid untuk mengenal mursyid di dalam dirinya. Itu sebabnya, ia hanya berkenan dipanggil dengan sebutan syaikh (Arab: guru ruhani).

Tidak berbeda dengan kebijakannya dalam menentukan penerimaan santri di Pondok Pesantren Giri Amparan Jati, di Paguron Lemah Abang pun Abdul Jalil menerima murid dari berbagai kalangan tanpa melihat latar kedudukan sosial, asal-usul keturunan, dan agamanya. Para murid yang belajar ilmu-ilmu rahasia kepada Abdul Jalil ada yang berasal dari kalangan darah biru yang berkuasa di Caruban Larang seperti Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Tegal Alang-Alang, Ki Gedeng Surantaka, dan ada pula yang berasal dari kalangan orang kebanyakan seperti pedagang, petani, nelayan, perajin, atau tukang.

Berbeda dengan para santri pondok Pesantren Giri Amparan Jati yang harus tinggal dalam jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan pelajarannya, di Paguron Lemah Abang para murid hanya tinggal dalam tempo sehari atau paling lama sepekan. Para murid secara bergiliran menghadap Abdul Jalil untuk memperoleh wejangan berupa petunjuk perjalanan menuju Kebenaran Sejati dengan memahami ilmu hikmah dan ‘irfan. Setelah paham maka sang murid dipersilakan kembali hidup di tengah masyarakat untuk mengamalkan wejangan itu.

Kebenaran Sejati, menurut pandangan Abdul Jalil, tidak berada di kuburan-kuburan, di gua-gua, di pohon-pohon besar, di gunung, di laut, maupun di langit. Sesungguhnya, Kebenaran Sejati lebih dekat dari urat leher manusia. Jadi? Carilah Kebenaran Sejati di tengah kehidupan manusia, di tengah-tengah tarikan napas kehidupan, di tengah keramaian dan keheningan alam kehidupan. Dan sesungguhnya, tanpa pedoman ilmu hikmah dan ‘irfan, sangatlah sulit memperoleh anugerah ruhani yang menyebabkan kegaiban (ghaibah) yang merupakan prasyarat utama bagi ditemukannya Kebenaran Sejati.

On board of MV. Taho, Taiwan Strait, April 7th 2007