Bumi Pasundan

Abdul Jalil telah menyaksikan berbagai negeri dan bangsa. Ia telah memahami pasang dan surut berbagai bangsa meniti jembatan sejarahnya. Ternyata, sejarah mengajarkan bahwa tidak ada satu pun bangsa yang bisa hidup lestari jika tidak menganut nilai-nilai yang cocok dengan bangsa tersebut. Dan, nilai-nilai itu pun ternyata selalu mengalami pasang dan surut seiring menggelindingnya roda waktu.

Sebagaimana bangsa lain, bangsa yang hidup di atas permukaan Bumi Pasundan adalah bangsa yang pernah meraih kebesaran pada masa silam karena menganut tatanan nilai-nilai yang cocok dengan naluri mereka. Namun seiring menggelindingnya roda waktu, nilai-nilai yang dianut bangsa Sunda ternyata berkarat, keropos, dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan serta keniscayaan perubahan.

Bangsa Sunda dalam penilaiannya tampak sedang terpuruk ke dalam lingkaran kemandekan dan keterbendungan sungai zaman. Menurut hematnya, jika tidak adas perubahan nilai-nilai yang sesuai dengan zaman maka dalam waktu yang tidak lama bangsa ini akan porak-poranda terseret arus perubahan, terutama saat nilai-nilai baru yang tersumbat menjelma menjadi air bah perubahan yang membobol kemandekan sungai zaman dengan kekuatan dahsyat yang merusak dan membinasakan.

Jika dikaji secara cermat dan mendalam, sesungguhnya keterpurukan bangsa Sunda bermula dari peristiwa tragis yang dialami Maharaja Sunda, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sang Mokteng Bubat, yang terbunuh di Bubat oleh Gajah Mada, Mahapatih Majapahit. Mimpi buruk itu begitu tak terduga dan sangat mengejutkan sehingga membuat suluruh bangsa Sunda baik kalangan menak berdarah biru maupun kalangan jelata tercengang dalam suasana traumatis selama berpuluh bahkan seratus tahun lebih. Bagaikan tidak sadar jika kehidupan terus berputar, seluruh penghuni Bumi Pasundan seolah-olah tenggelam dalam mimpi kosong tanpa makna dengan bayangan masa lalu yang menakutkan.

Entah sadar entah tidak, tinta sejarah mencatat bahwa bangsa Sunda dalam mimpi kosongnya yang panjang itu telah merasa bersyukur menjunjung kekuasaan pengganti Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sang Mokteng Bubat, yaitu Prabu Niskala Wastu Kencana, sang putera mahkota, yang duduk di atas singgasana Galuh Pakuan selama seratus lima tahun. Kurun seratus lima tahun adalah kurun yang sangat lama dan membosankan bagi satu kekuasaan tunggal di tangan orang yang sama. Namun semua orang Sunda, tidak terkecuali putera mahkota, sepertinya tidak menyadari bahwa kehidupan dunia adalah gerak dinamis yang terus-menerus mangalami perubahan dan dituntut oleh zaman untuk berkembang. Itu sebabnya, selama seratus lima tahun dipimpin Prabu Niskala Wastu Kencana tanpa sedikit pun diganggu Majapahit, tampaknya telah membawa orang-orang Sunda ke suatu matra kehidupan dengan dunianya sendiri yang penuh mimpi.

Kesuburan dan kemakmuran yang berlimpah yang tak habis dimakan tujuh turunan ternyata tidak menjadi berkah bagi bangsa yang lari dari kenyataan dan sedang terjebak dalam mimpi buruk itu. Sebab, kesuburan dan kemakmuran bagi bangsa yang sedang bermimpi adalah bagian dari mata air kemalasan yang melumpuhkan setiap gerak dinamis kehidupan. Demikianlah, bagaikan putaran roda waktu yang sedang dilepas tanpa kendali, tergilaslah para menak berdarah biru Sunda dengan kemewahan dan sanjungan hingga menyebabkan mereka lumpuh tak berdaya. Di dalam dunianya yang sempit mereka bersembunyi dari kenyataan seolah-olah mereka sedang menikmati mimpi surgawi yang penuh pesta pora dan kemalasan.

Ketika Prabu Niskala Wastu Kencana mangkat dalam usia seratus dua belas tahun dengan meninggalkan anak-anak, cucu-cucu (incu), cucu-buyut (piut), dan entah keturunan ke berapa, takhta Kerajaan Sunda terancam perpecahan. Para putera, cucu, dan cucu buyut maharaja yang menjadiraja muda – prabu anom, adipati, bupati, nrpati – saling membangun kekuatan sendiri-sendiri di daerah kekuasaannya masing-masing. Sehingga, saat putera mahkota Prabu Dewa Niskala, yang sudah tua renta, menggantikan kedudukan ayahandanya, tak lebih dari tujuh tahun sudah harus mundur dan digantikan oleh puteranya, yaitu Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Meski ada yang menyatakan bahwa mundurnya Prabu Dewa Niskala akibat melanggar larangan – menikahi puteri larangan sehingga ia disebut Prabu Anggalarang, orang-orang tidak bisa memungkiri bahwa pada saat menduduki takhta Galuh Pakuan, sesungguhnya Prabu Dewa Niskala sudah sangat tua bahkan usianya hampir sembilan puluh tahun. Sementara itu, puteranya yang bernama Pamanah rasa dan bergelar Siliwangi telah membangun kekuatan di Pakuan Pajajaran. Itu sebabnya, usai menggantikan takhta Prabu Dewa Niskala, dia segera mengumumkan bahwa Maharaja Sunda baru yang dinobatkan dengan nama Abhiseka Prabu Guru Dewata Prana memindahkan ibu kota kerajaan dari Galuh Pakuan ke Pakuan Pajajaran. Di Pakuan Pajajaran itu sang maharaja dinobatkan kembali dengan nama Abhiseka Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Di bawah Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Mharaja, yang juga sudah tua, kehidupan di Bumi Pasundan sesungguhnya tetap tidak banyak berubah. Hanya saja, diam-diam mulai terasa terjadi persaingan sengit di antara para putera dan cucu maharaja di dalam upaya merebut takhta. Dan orang-orang bilang: di antara para keturunan Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja yang dianggap paling berbahaya dan menjadi ancaman bagi sudara-saudaranya yang lain adalah Sri Mangana, Raja Muda Caruban Larang. Sebab, dia tidak saja sudah menganut agama yang berbeda dengan agama leluhurnya, tetapi yang tak kalah mengkhawatirkannya adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa penguasa Caruban Larang itu tidak pernah beristirahat dari kegiatan membangun kekuatan militer Caruban Larang. Bahkan, beberapa waktu lalu dia memaklumkan diri sebagai panglima perang (manggalayuddha) Caruban Larang.

Kecurigaan dan kekhawatiran keluarga Maharaja Sunda terhadap gerak dinamis kehidupan Sri Mangana sesungguhnya dapat dipahami. Sebab, selama seratus tahun lebih mereka telah lari dari kenyataan dan menenggelamkan diri ke dalam tidur panjang dengan mimpi-mimpi kosong tanpa makna. Mereka seolah-olah tidak sadar jika dunia di luar mereka berkembang dan bahkan sebagian sedang mengalami guncangan akibat diempas angin perubahan yang menebarkan nilai-nilai baru. Bagaikan barisan lembu menunggu dipotong di rumah jagal, begitulah keberadaan bangsa Sunda yang dengan tenang masih menikmatikesegaran rumput hijau kemakmuran tanpa sedikit pun sadar bahwa prahara perubahan sedang menampar-nampar di belahan bumi lain, yang cepat atau lambat pasti akan mengempaskan mereka ke kenyataan hidup yang menyakitkan.

Kenyataan tentang gerak kehidupan Bangsa Sunda yang lari dari kenyataan dan tenggelam di dalam dunia yang penuh mimpi itu setidaknya disaksikan dengan mata kepala sendiri oleh abdul Jalil saat memasuki daerah pedalaman Bumi Pasundan untuk memasang Tu-mbal sesuai petunjuk Dang Hyang Semar. Saat itu, bagaikan sedang berada di alam mimpi, ia menyaksikan kehidupan sehari-hari penduduk yang tidak saja berbeda jauh dengan warga Baghdad, tetapi juga sangat bertentangan dengan hati nuraninya sebagai menusia.

Dengan terheran-heran ia saksikan para lelaki Sunda di desa-desa yang dilaluinya hidup bersantai-santai menikmati kemakmuran negeri dengan kegiatan sehari-hari mengadu ayam, berjudi, mendatangi rumah pelacuran, meminum minuman keras, mabuk, berkelahi, dan memukuli istri-istri mereka. Sawah dan ladang yang subur dan luas membentang nyaris tidak pernah disentuh oleh tangan kekar para lelaki karena hamparan lahan subur itu lazimnya digarap oleh perempuan, anak-anak, dan para lelaki tua bangka.

Abdul Jalil tidak tahu apa sesungguhnya yang ada di dalam benak para lelaki Sunda itu dengan cara hidup yang nyaris tanpa tantangan sedikit pun. Ia melihat betapa para lelaki itu jika kehabisan uang untuk berjudi akan memeras istri-istrinya demi memenuhi keinginannya memperoleh uang. Jika para istri tidak bisa menyediakan uang maka mereka akan dianiaya dan disiksa. Bahkan tak jarang seorang suami menggadaikan istri dan anak-anaknya untuk taruhan judi.

Ingatan pedih Abdul Jalil tentang seorang penjudi Cina di Malaka bernama Sian Coa yang menggadaikan istri untuk taruhan judi tiba-tiba berkelebat kembali memasuki benaknya. Namun, jika Sian Coa merupakan kasus orang seorang sebagai pribadi maka kasus menggadaikan istri yang ia saksikan di pedalaman Bumi Pasundan justru dianggap sebagai kelaziman di kalangan penduduk.

Bagi Abdul Jalil sendiri, rentang waktu selama melakukan perjalanan melintasi jalan besar antara Caruban Girang – Raja Galuh – Sindangkasih – Sumedang Larang – Sagala Herang adalah rentang waktu yang paling memilukan sejak ia menginjakkan kaki kembali ke Bumi Pasundan. Dalam perjalanan itu ia seperti disuguhi pemandangan yang mencengangkan sekaligus membuat luka hatinya. Ia yang selama berbelas tahun tinggal di Baghdad, kota beradab tempat ilmu pengetahuan dan peradaban berkembang, benar-benar tercengang dengan kenyataan hidup penduduk pedalaman Bumi Pasundan.

Menurut hematnya, penduduk pedalaman Bumi Pasundan yang tinggal di desa-desa itu lebih sesuai disebut sebagai kawanan manusia daripada kumpulan manusia beradab dan berbudaya yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana mungkin mereka bisa disebut manusia beradab jika seorang laki-laki yang sewajibnya menjadi batang penopang tegaknya pohon keluarga justru memperkukuh keakuannya yang kerdil sebagai benalu. Laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom bagi istri dan anak-anaknya justru menjadi benalu perusak yang menakutkan. Istri dan anak-anak hampir dianggap sebagai bagian pohon yang bisa digerogoti untuk memenuhi naluri kebutuhannya sebagai benalu.

Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa seorang bapak yang butuh uang dengan bebas sewaktu-waktu menjual anak-anaknya kepada pedagang budak. Ia juga saksikan seorang suami dengan bebas menggadaikan istrinya sebagai taruhan judi. Bahkan, tak jarang juga anak-anak kecil yang sejatinya haus kasih sayang orang tua tiba-tiba dijadikan budak oleh bapaknya hanya untuk membayar hutang.

Penasaran akibat menyaksikan kehidupan mereka, Abdul Jalil berusaha mengajak bicara beberapa lelaki yang begitu tega menggadaikan istri dan menjual anaknya. Hasilnya, ia mendapatkan penjelasan betapa sesungguhnya para lelaki itu pun sejatinya telah dibentuk oleh nilai-nilai yang mencetak mereka menjadi manusia berjiwa mati dan berpikiran tumpul. Nilai-nilai yang mereka anut telah mengatur keberadaan mereka sebagai kawula sebuah kerajaan. Maksudnya, sesuai nilai-nilai yang mereka anut, para kawula yang tinggal di sebuah kerajaan adalah warga yang tidak memiliki hak apa pun atas suatu kehidupan. Segala sesuatu yang terletak di permukaan dan di dalam bumi mutlak milik raja; tanah, harta benda, anak, istri, keluarga, bahkan tubuh dan nyawa kawula sekalipun adalah milik raja.

Dengan nilai-nilai semacam itu maka seorang raja sewaktu-waktu dap[at mengambil hak miliknya dan sewaktu-waktu dapat pila membagi-bagi hak miliknya kepada mereka yang dikehendakinya. Demikianlah, dalam kehidupan nyata sang raja sewaktu-waktu dapat mengambil anak-anak para kawula untuk dijadikan gundik atau budak. Jika sang raja berencana membangun bangunan baru atau menyelenggarakan upacara Bhairawa-Tantra maka anak-anak para kawula akan diambil untuk dijadikan Tu-mbal dan korban persembahan. Celakanya, perilaku mengambil anak-anak para kawula tidak hanya dilakukan oleh sang raja, tetapi dilakukan pula oleh keluarga dan kerabat serta pejabat tinggi yang mengitari raja.

Sebagian dari anak-anak kawula itu dibawa ke kraton, ada yang dijadikan gundik dan jika beruntung naik status menjadi selir. Namun, bagi yang tidak beruntung, tak jarang setelah “dipakai” mereka dikembalikan kepada orang tuanya atau dijadikan hadiah kepada pejabat bawahan raja. Bahkan, sering pula mereka yang sudah “dipakai” akan diserahkan kepada pengawas pelacuran (juru jalir) untuk dikaryakan. Jika sedang bernasib sial mereka dijadikan Tu-mbal. Mereka selamanya tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang tuanya.

Tidak jarang saat sang raja pergi berburu bersama para pengiringnya dan menginap di daerah pedesaan, berceceran “benih” yang tak jelas asal usulnya apakah dari sang raja atau dari para pengawal. Yang jelas, saat “benih” tercecer itu lahir sebagai bayi tidak ada yang pernah mengakui keberadaannya, apalagi mengurusi kelangsungan hidupnya. Itu sebabnya, di berbagai desa yang sering dijadikan lintasan jalan oleh sang raja dan para ningrat dari Pakuan Pajajaran ke Galuh Pakuan, tersebar beratus-ratus bahkan beribu-ribu anak desa yang sesungguhnya berdarah biru tetapi statusnya kawula. Dengan kenyataan seperti itu, sesungguhnya dapat dipahami kenapa para lelaki di desa-desa hidup begitu tak peduli bagaikan manusia tak berjiwa. Hati mereka sejatinya sudah mati dan otak mereka sudah dibuat tumpul oleh nilai-nilai yang mereka anut.

Tidak jauh berbeda dengan para kawula, para bangsawan yang dijumpai Abdul Jalil di Raja Galuh dan Sumedang Larang pun ternyata jiwanya sudah mati dan pikirannya tumpul. Namun, jika para kawula bernasib malang akibat menganut nilai-nilai laknat yang tidak memihak mereka, para bangsawan berdarah biru menjadi manusia tak berjiwa yang berpikiran tumpul akibat hidup dalam kemewahan, penghormatan, dan sanjungan berlebih-lebihan.

Setelah cukup menyaksikan kehidupan penghuni pedalaman Bumi Pasundan dengan nilai-nilai kawula yang dianutnya, Abdul Jalil menyimpulkan betapa yang paling celaka dalam kehidupan penduduk Bumi Pasundan adalah manusia berjenis kelamin perempuan. Baik perempuan dari kalangan kawula maupun perempuan dari kalangan bangsawan darah biru lazimnya mengalami nasib buruk yang menyedihkan. Mereka benar-benar ibarat benda tak berjiwa yang difungsikan hanya sebagai pemuas nafsu dan sarana meneruskan keturunan. Saat mereka tidak dapat memenuhi tugas, biasanya mereka akan dilempar seperti bangkai menjijikkan.

Puncak kepedihan Abdul Jalil menyaksikan ketidakberuntungan para perempuan Sunda justru terjadi saat ia melihat dengan mata kepala sendiri nasib buruk yang dialami seorang perempuan dari kalangan bangsawan darah biru. Seolah-olah dipaksa oleh satu kekuatan gaib untuk menyaksikan berbagai pertunjukan awal yang memaparkan ketidakberuntungan para perempuan dari kalangan kawula, tiba-tiba ia seperti didorong oleh suatu kekuatan dahsyat untuk menyaksikan pemandangan tragis yang menimpa perempuan kalangan darah biru. Hal menyedihkan itu disaksikannya beberapa waktu seusai memasang Tu-mbal di tepi timur Sungai Perahu (Sungai Cijarong) yang terletak di barat laut Cilamaya.

Usai menebar campuran tanah Karbala dan tanah Kabhumian serta menamai tempat itu Dukuh Lemah Abang, Abdul Jalil berjalan kaki diiringi tujuh orang santri menuju ke arah barat. Sesampainya di sebuah tempat bernama Tanjungpura, ia menyaksikan arak-arakan warga yang sedang menggelandang seorang perempuan ke sebuah kobaran api unggun. Di atas tumpukan kayu yang berkobar itu terlihat semacam menara bambu penuh hiasan yang sudah terbakar. Kemudian dengan diiringi pembacaan mantra-mantra oleh para pendeta, perempuan itu dilemparkan ke dalam kobaran api.

Menyaksikan tubuh perempuan itu berkelojotan meregang nyawa, Abdul Jalil merasakan darahnya menggelegak panas. Tubuhnya menggigil. Napasnya tersengal-sengal. Pemandangan tragis itu benar-benar menimbulkan luka di jiwanya. Ia tidak tahu kesalahan apa sesungguhnya yang telah dilakukan oleh perempuan itu hingga harus menjalani nasib demikian buruk, dibakar hidup-hidup di tengah kobaran api. Saat ia bertanya kepada seorang warga, betapa terkejutnya ia ketika diberi tahu bahwa perempuan yang dibakar itu adalah janda yang baru ditinggal mati suaminya. Menurut adat yang berlaku di kalangan darah biru sejak zaman kuno, untuk menunjukkan bakti dan kesetiaan istri maka seorang janda harus ikut bela pati dengan membakar diri di atas api unggun bersama jenasah suaminya.

Tidak puas dengan jawaban yang diterimanya, Abdul Jalil kembali bertanya ini dan itu tentang janda yang baru saja dibakar itu. Ternyata, janda itu usianya masih sangat muda sekitar lima belas tahun, sedangkan suaminya adalah lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun. Lelaki itu, sebagaimana bangsawan seumumnya, dikenal sebagai tukang kawin dan tukang judi. Sama seperti lelaki Sunda yang lain, sehari-hari dia hanya tidur-tiduran di rumah sambil sesekali memandikan ayam aduan.

Tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat menyakiti jiwanya, Abdul Jalil berdiri tegak menghadap ke arah kobaran api. Dengan kepala tertunduk dan kedua tangan dikepal erat-erat ia mengertak gigi menahan perasaan. Ia tidak peduli dengan para pendeta yang membaca mantra di dekatnya. Ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang keheranan melihatnya. Ia berusaha menenggelamkan diri ke dalam relung-relung jiwanya, mengungkapkan keluh kesah hati nuraninya kepada Sang Pencipta.

“Wahai Rabb yang di genggaman-Mu nyawa hamba-Mu ini berada! Wahai Rabb yang disebut dengan Nama al-Mudhill, al-Jabbar, al-Mutakabbir, al-Qahhar, al-Qabidh, al-Khafidh, al-Qawiy, al-Mumit, al-Muqtadir, al-Muntaqim, adh-Dharr, sesungguhnya mata indriawi hamba-Mu ini tidak kuat menyaksikan pemandangan yang tergelar di hadapan hamba-Mu itu. Sungguh hamba-Mu ini penuh diliputi kelemahan dan ketidakberdayaan. Sungguh, hanya Engkau Yang Mahaagung dan Mahaperkasa tiada tandingan.”

“Wahai Rabb tempat jiwa hamba-Mu bergantung! Sesungguhnya, hamba-Mu ini tidak pernah memohon kepada-Mu untuk kepentingan pribadinya sebab Engkau Maha Mencukupi kebutuhan pribadi hamba-Mu. Tetapi wahai rabb, kabulkanlah permohonan hamba-Mu yang lemah ini: janganlah kiranya Engkau tunjukkan kepada hamba, saudara hamba, keluarga hamba, para pengikut hamba, dan anak-anak keturunan hamba tentang pemandangan yang tak kuat hamba saksikan ini. Hapuskanlah segala kepahitan aturan bagi manusia yang memilukan hati nurani hamba. Sesungguhnya, tanpa upacara-upacara mengorbankan nyawa manusia, Keagungan dan Kemuliaan-Mu tidak akan berkurang. Karena itu, demi rasa cinta hamba kepada Engkau, o Rabb segala Rabb (Rabb al-Arbab), dan demi cinta-Mu kepada hamba, kabulkanlah permohonan hamba-Mu yang rendah ini!”

Saat ia akan melanjutkan keluh kesah jiwanya dalam permohonan doa, tiba-tiba ia disadarkan oleh Ruh al-Haqq yang menyeruak dari kedalaman relung-relung kedalaman jiwanya yang menghendakinya membuka mata dan melihat kobaran api di depannya dengan pandanganbashirah. Mengikuti sentuhan Ruh al-Haqq, ia membuka mata. Ternyata kobaran api itu lenyap. Tidak tampak sesuatu lagi. Yang tergelar di depannya hanya kehampaan.

Abdul Jalil tersentak kaget. Ia tersadar bahwa segala sesuatu yang terkait dengan penglihatan indriawi pada hakikatnya adalah bayangan maya belaka. Seiring kekagetannya, di tengah kehampaan itu ia saksikan kilasan cahaya berbentuk bulan sabit dan bintang yang terang benderang. Kemudian melalui al-ima’, cahaya berbentuk ulan sabit dan bintang cemerlang itu berbicara dengannya, jika diuraikan ke dalam bahasa manusia berbunyi:

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa Dia, yang engkau sebut dengan Nama al-Mudhill, al-Qahhar, al-Mumit, al-Jabbar, al-Qabidh, adh-Dharr, al-Khafidh adalah sama dengan hakikat dengan Dia, yang disebut dengan Nama Syiwa, Bhairawa, Chandrasekara, Bhutaswara, Mahakala, Mahadewa, Girinatha, Mahaguru, yakni suatu pribadi Ilahi dengan sifat berbeda-beda, Pribadi Tunggal Ilahi yang disembah oleh segala bangsa dengan berbagai Nama. Sesungguhnya, segala keragaman nama-Nya adalah Tunggal hakikatnya. Dan sesungguhnya, apa yang engkau keluhkan dan engkau mohonkan kepada-Nya itu pasti akan dikabulkan. Sebab, tanpa permohonanmu pun sesungguhnya telah ditetapkan perubahan-perubahan dalam tata cara memuja keagungan dan kemuliaan-Nya.”

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa terbitnya bulan sabit dan bintang yang bercahaya cemerlang sebagaimana engkau saksikan tidak hanya memiliki makna terbitnya Islam sebagai tatanan baru memuja Dia yang disebut dengan nama Allah. Sebab, di balik terbitnya bulan sabit dan bintang sesungguhnya juga memiliki makna sebagai tatanan baru memuja Dia yang disebut dengan nama Chandrasekara (Sansekerta: Yang Bermahkota Bulan Sabit) dan Mahaguru Sang Bintang Bha (canopus). Ketehuilah, o Abdul Jalil, bahwa sesungguhnya akan terjadi perubahan sehingga para pemuja Syiwa tidak perlu lagi memuja Syiwalingga dalam bentuk batu. Sebab, Syiwa akan menempatkan lingga-Nya ke dalam hati para pemuja-Nya. Sesungguhnya, Syiwa akan dapat ditemukan oleh siapa saja di antara hamba-Nya yang memahami kulatattwa.”

Abdul Jalil melihat kilasan cahaya bulan sabit dan bintang itu berpendar-pendar menyilaukan. Sesaat setelah itu, semuanya lenyap. Ia kembali melihat kobaran api menjilat-jilat angkasa. Saat itulah Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya menyuruhnya segera meninggalkan tempat itu. Abdul Jalil dengan diikuti tujuh orang santri Giri Amparan Jati melanjutkan perjalanan, meninggalkan Tanjungpura dengan diiringi pandangan heran para penduduk yang mengikuti upacara bela pati.

Sungai Tarum (Citarum) memiliki makna paling mendalam bagi penduduk Bumi Pasundan. Dari sungai inilah orang-orang dari Negeri Pasir di Barunadwipa (sekarang Kalimantan) yang berkulit kuning yang dipimpin Sang Purnawarman mendarat dan mendirikan kerajaan Tarumanagara. Purnawarman, sang pemimpin, kemudian menjadi Maharaja Tarumanagara dengan gelar Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa.

Menurut cerita, Sri Purnawarman adalah putera Bhagawan Manu Manasya Sri Jayasinghawarman dan cucu Kudungga, Bhagawan Kumbhayoni. Ibu Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa bernama Sri Indrari, puteri Sri Maharaja Dewawarman, Maharaja Salakanagara.

Kedatangan Sri Purnawarman ke Bumi Pasundan sesungguhnya tidak terlepas dari ambisi saudara sepupunya, Sri Maharaja Mulawarman, Maharaja Kutai, yang sangat berhasrat memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Nusa Jawa. Mulawarman sendiri sangat dicekam oleh hasrat tersembunyi di dalam dirinya untuk bisa mengikuti jejak leluhurnya, Sanghyang Baruna, sang pemersatu samudera raya. Akhirnya, setelah menggabungkan kekuatan militer Pasir dan Kutai, berangkatlah bala tentara gabungan itu menyerbu Nusa Jawa. Beribu-ribu kapal dan perahu berangkat dari Barunadwipa bagaikan barisan pasukan ulat memenuhi samudera.

Menurut catatan orang-orang jawa, mula-mula pasukan gabungan tersebut menggempur kerajaan Medang Gana yang dirajai Sri Maharaja Indra yang kedatonnya terletak di kaki Gunung Semeru di Jawa bagian timur. Namun akibat perlawanan sengit dari Medang Gana, bala tentara dari Barunadwipa dapat dihalau kembali ke samudera.

Gagal mendarat di Medang Gana, bala tentara gabungan dari Barunadwipa menggempur Medang Pura. Namun, Medang Pura melakukan perlawanan sengit hingga bala tentara dari Barunadwipa kembali berhasil dihalau ke arah samudera. Saat menyerbu Medang Prawa, bala tentara Barunadwipa mengalami kegagalan lagi. Dan akhirnya, bala tentara terpecah menjadi dua. Pasukan dari Kutai kembali ke Barunadwipa karena mereka tidak melihat kemungkinan berhasil merebut Nusa Jawa yang dipertahankan mati-matian oleh penduduknya. Sementara itu, Sri Purnawarman beserta pasukan Pasir yang tersisa ternyata tidak menyerah. Ia bergerak terus ke arah barat dan menjumpai tanah gambut berawa-rawa yang keadaannya mirip dengan sebagian besar daerah di Negeri Pasir. Sri Purnawarman kemudian mendaratkan pasukannya di muara sungai yang berawa-rawa itu. Bermula dari daerah di muara sungai itulah ia membangun pemukiman baru dengan menegakkan kedaton di situ. Lantaran di sepanjang sungai itu terdapat banyak sekali pohon tarum maka kedaton itu dinamai Tarumanagara.

Setelah Tarumanagara semakin kuat, Sri Purnawarman menggempur Kerajaan Aruteun yang kedatonnya terletak di tempuran Sungai Ciaruteun dan Sungai Cisadana. Sri Maharaja Balya, Maharaja Aruteun, berhasil dikalahkan. Puterinya yang cantik, Bungatak Mangale-ngale, diperistri oleh Sri Purnawarman dan diberi nama mPu Sanghyang Sri. Sri Purnawarman kemudian memasukkan seluruh bekas wilayah Aruteun ke dalam wilayah Tarumenagara.

Setelah berkuasa selama tiga puluh tujuh tahun, Sri Purnawarman mangkat. Penggantinya adalah puteranya, Sri Maharaja Suryyawarman Mahapurusa Bhimaparakrama Hariwangsa Digwijayabhuanatala. Setelah berkuasa selama tiga puluh enam tahun, Sri Maharaja Suryyawarman mangkat. Digantikan oleh puteranya yang bergelar Sri Cakrawarman Kroncaryadhipahanda Bhimaparakramanindita Digjayotunggadewa. Cakrawarman mangkat digantikan oleh puteranya, Sri Indrawarman. Ketika Sri Indrawarman mangkat ia digantikan oleh Sri Kesariwarman. Saat Sri Kesariwarman berkuasa, ia mengangkat adiknya, Singhawarman menjadi raja muda di Negeri Panjalu di Jawa.

Sri Kesariwarman memiliki puteri bernama Simha. Sedangkan Singhawarman memiliki putera bernama Karttikeyasingha. Simha dan Karttikeyasingha kemudian menikah dan merintis Tegaknya Kerajaan Kalingga yang termasyhur. Karttikeyasingha menjadi Maharaja Kalingga dengan gelar Sri Maharaja Karttikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha. Simha menjadi permaisuri. Ketika suaminya mengundurkan diri sebagai pendeta pertapa, Simha menjadi penggantinya dengan gelar Sri Maharani Simha. Ibu kota Kalingga terletak di Kepung dan puri kedatonnya di Bogor Pradah. Mereka berdua inilah leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Mereka memiliki empat orang putera-puteri, yaitu Anak Mas, Ken Limwa, Pu Kanwa, dan Juwa.

Menurut catatan, Anak Mas, putera mahkota yang digelari Pradah Putra, kehilangan haknya atas takhta Kalingga karena melakukan kesalahan menginjak-injak pundi-pundi emas yang dipasang orang Arab hingga kakinya dipotong. Selanjutnya, Pradah Putra dibuang ke Lwa Daya (Lodaya) di hutan Balitar dan menjadi seorang pendeta Bhairawa. Ken Limwa menjadi raja di Kanjuruhan dengan gelar Sri Maharaja Gajayana. Pu Kanwa menjadi raja di Purwwacarita dengan gelar Sri Mahapunggung, Juwa menjadi raja di Madang Mataram dengan gelar Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi.

Sungai Citarum, tempat Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa pertama kali mendarat bersama pasukannya, adalah saksi sejarah kehadiran orang-orang dari Barunadwipa yang sebagian besar berkulit kuning menjadi penghuni baru Nusa Jawa. Orang-orang Barunadwipa itulah yang menyebut diri sebagai wangsa dari Negeri Galuh (Sansekerta: negeri permata, intan). Penghuni lama Nusa Jawa yang berkulit hitam terdesak ke selatan dan sebagian menyingkir ke timur atau menyeberang ke Suwarnadwipa. Namun, tidak kurang di antara penghuni lama Nusa Jawa itu kemudian menikah dengan para pendatang berkulit kuning dan beranak pinak tak terhitung jumlahnya.

Ketika memasuki pedalaman Bumi Pasundan dan sampai di daerah barat Tanjungpura, tepatnya di barat Sungai Citarum, Abdul Jalil tiba-tiba menghentikan langkah. Entah ia paham entah tidak tentang susur galur sejarah para leluhur raja-raja Sunda dan Jawa saat kali pertama mendarat di Nusa Jawa adalah di kawasan muara Sungai Citarum, namun bagaikan mendapat petunjuk dari alam gaib, ia menebarkan tanah di tempat itu. Kemudian ia menugaskan tujuh orang santri yang mengikutinya untuk tinggal di situ sambil membaca susunan doa yang dibuatnya. Tak berbeda dengan tempat ia telah menebar Tu-mbal sebelumnya, tempat itu pun dinamainya Dukuh Lemah Abang. Setelah itu, Abdul Jalil berjalan lagi ke arah barat. Kali ini ia berjalan seorang diri.

Sepanjang perjalanan ke arah barat itu ia semakin merasa seolah-olah tidak berada di alam dunia manusia. Ia yang selama berbelas tahun berada di Bahgdad, kini seolah-olah sedang berada di negeri asing yang tidak pernah ia saksikan sebelumnya. Di sepanjang perjalanan itu ia semakin merasa betapa sesungguhnya kehidupan manusia yang dilihatnya sudah sangat menyedihkan. Para penduduk di desa-desa bukan hanya diisap dan ditindas oleh para bangsawan, melainkan dijadikan pula hinaan dan nistaan oleh orang-orang Majapahit yang datang dan melintas ke daerah itu.

Dalam perjalanan dari Tanjungpura ke arah selatan dengan tujuan asrama Rishi Samsitawratah yang terletak di kaki Gunung Kamula (Pangrango), Abdul Jalil singgah di Kahuripan (Cileungsi). Tanpa sengaja ia menyaksikan pemandangan yang mengagetkan hati. Saat itu ia melihat seorang laki-laki sedang menghunus keris sambil memaki-maki dalam bahasa Jawa. Di depan laki-laki itu terlihat seorang laki-laki tua sedang bersujud dengan tubuh menggigil memohon ampun sambil mengangkat-angkat kedua tangannya ke atas. Abdul Jalil tidak tahu ada persoalan apa di antara kedua orang itu. Hanya saja, sebagai sesama manusia ia tergerak untuk melerai laki-laki Majapahit yang mulai terlihat gelap mata itu.

Niat baiknya ternyata membuat marah laki-laki Majapahit itu. Tanpa berkata ba atau bu laki-laki itu sekonyong-konyong menikam Abdul Jalil dengan kerisnya. Mendapat serangan mendadak, Abdul Jalil menghindar dengan memiringkan tubuh. Kemudian dengan gerak refleks, tangan kanannya menerkam bahu laki-laki Majapahit itu. Dan, dengan gerak refleks pula Abdul Jalil mengempaskan tubuh laki-laki itu ke samping.

Sebuah peristiwa aneh terjadi. Tubuh laki-laki Majapahit yang diempaskannya terlempar keras ke rimbunan semak-semak dengan jarak sekitar sepuluh tombak. Abdul Jalil terpekik kaget karena ia tidak pernah menduga bakal mampu melempar tubuh manusia sejauh itu. Sebaliknya, laki-laki itu tanpa bisa memekik langsung pingsan di antara semak-semak. Dalam waktu sekejap Abdul Jalil sudah dikerumuni puluhan penduduk yang bersujud dan menyampaikan terima kasih karena telah menolong petani tua itu. Rupanya, sejak semula sudah banyak penduduk yang menyaksikan tetapi tidak berani melibatkan diri atau sekadar untuk menolong.

Abdul Jalil terheran-heran dengan sikap para penduduk yang begitu takut dengan orang Majapahit. Ia menduga laki-laki itu tentu seorang jawara atau begal yang ditakuti. Namun setelah bertanya ini dan itu, barulah ia paham bahwa laki-laki Majapahit itu sesungguhnya hanya pedagang keliling biasa. Berdasarkan cerita penduduk, ia baru tahu bahwa orang-orang Majapahit sejak lama sangat ditakuti di Bumi Pasundan karena mereka suka sekali membunuh orang gara-gara urusan sepele. Petani tua tadi, misalnya, dianggap sebagai binatang rendah yang patut dibunuh karena telah menghina orang Majapahit. Alasannya, petani tua itu telah berani berjalan di atas pematang sawah yang terletak lebih tinggi dari tempat orang Majapahit itu berjalan. “

Hanya karena petani itu berjalan di pematang yang lebih tinggi maka dia sudah dianggap menghina dan patut dibunuh?” tanya Abdul Jalil terheran-heran. “

Hal itu dianggap melanggar sopan santun Majapahit, Gusti.” “

Bagaimana jika saat dia berjalan lalu kalian sedang memetik kelapa di atasnya?” “

Kami tentu akan dibunuh juga, Gusti.” “

Apakah kalian melihat peraturan yang dibuat orang-orang Majapahit itu adil?” “

Tentu saja tidak, Gusti.” “

Kenapa kalian tidak menentang dan melawan mereka?” “

Kami tidak berani, Gusti.” “

Kenapa tidak berani? Bukankah kalian juga punya raja yang melindungi kalian?” “

Raja kami juga tidak berani melawan mereka, Gusti.” “

Kenapa demikian?” “

Menurut dongengan orang tua kami, zaman dahulu kakek buyut raja yang sekarang, yang dianggap melanggar tata krama orang Majapahit, telah dijatuhi hukuman bunuh. Raja beserta seluruh keluarga dan prajurit dibunuh oleh patih Raja Majapahit, Gusti.”

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia menyuruh mereka berdiri. “Jangan kalian bersujud kepada sesama manusia. Dan jika nanti orang Majapahit itu siuman, katakan kepadanya jika aku, Abdul Jalil, adalah orang asal Kutha Caruban. Katakan juga kepadanya, jika aku, orang yang melempar dia, adalah putera Yang Dipertuan Caruban Larang, Sri Mangana. Jika dia tidak terima, suruh dia mencari aku.” “

Terima kasih, Gusti.” Orang-orang itu berkata serentak sambil bersujud lagi.

Abdul Jalil kembali menarik napas dan kemudian bergegas meninggalkan penduduk yang masih bersujud.

Di antara hamparan hutan dan perbukitan yang membentang antara Kutharaja Pakuan Pajajaran dan Gunung Kamula (Pangrango), tempat asrama Rishi Samsitaawratah berada, terdapat bekas reruntuhan batu-batu di sebuah lereng yang dijalari akar-akar pepohonan raksasa yang tegak menjulang di tengah rimbunan semak dan belukar. Sekalipun reruntuhan itu tidak jauh dari jalan ke asrama, tidak ada orang yang memedulikannya. Bahkan saat Abdul Jalil menjadi penghuni asrama, tak sedikit pun pikirannya tergerak untuk mengetahui reruntuhan itu.

Kini, setelah melanglang buana dengan berbagai pengalaman hidup yang menakjubkan, ia baru menyadari bahwa reruntuhan batu itu sesungguhnya bekas tempat pemujaan Tu-han yang dilakukan oleh para ra-Tu dan kalangan Tu-gul. Tumpukan batu itu bertingkat tiga dan melingkar di lereng bukit. Di atas tumpukan batu terdapat tanah datar dengan sebongkah batu besar yang tidak dipahat terletak di tengahnya. Dulu kala di tempat itu mestinya orang-orang duduk berderet-deret menghadap ke bongkahan batu sambil bersujud (tondhem) memuja Sanghyang Tunggal.

Setelah beberapa lama berdiri memandang reruntuhan bekas pemujaan itu, Abdul Jalil duduk di atas sebongkah batu yang terletak di bawah pohon besar sejenis randu alas. Sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon, ia melayangkan pikirannya ke rentangan perjalanannya selama memasuki pedalaman Bumi Pasundan. Betapa sepanjang perjalanan itu sesungguhnya ia telah berpikir sangat keras tentang kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa dilakukannya untuk membangkitkan kembali kepercayaan diri orang-orang Sunda.

Mereka, orang-orang Sunda, ujar Abdul Jalil dalam hati, adalah kumpulan manusia yang selama seabad lebih melarikan diri dari kenyataan dan kemudian terperangkap ke dalam dunia maya yang penuh diliputi bayangan dan mimpi menakutkan. Mereka adalah kawanan manusia yang jiwanya sudah mati dan pikirannya tumpul akibat ditindas dan dijajah oleh nilai-nilai yang menista harkat dan martabat manusia. Mereka adalah orang-orang kalah yang berusaha menghibur diri dengan cara melarikan diri dari kenyataan hidup dan membangun dunianya sendiri dengan mimpi-mimpi kosong tanpa makna.

Saat merenung dan tanpa sadar memandang bongkahan batu di atas reruntuhan itu, Abdul Jalil teringat pada Dang Hyang Semar. Seketika ia terilhami oleh sosok nabi zaman purba yang terkenal sebagai manusia gagah berani yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan siapa pun kecuali Sanghyang Taya. Dang Hyang Semarlah manusia purba yang berhasil menyingsingkan rasa takut dari jiwanya dan termasyhur sebagai pelawan dan penakluk dewa-dewa. Dang Hyang Semarlah manusia yang terkenal tetap teguh memegang keyakinannya, meski keyakinannya itu berbeda dengan raja-raja. Dia manusia yang mau merendahkan diri, tetapi juga tidak suka meninggikan diri. Dan meski berkali-kali berhasil menaklukkan dewa-dewa, dia membenci orang-orang yang bersujud kepadanya.

Sambil membayangkan Dang Hyang Semar, pikiran Abdul Jalil melayang pada sosok Nabi Muhammad Saw., leluhurnya. Ia merasa di antara keduanya sesungguhnya memiliki banyak kemiripan karena mereka berdua adalah nabi-nabi suci. Jika Dang Hyang Semar dikenal sebagai manusia yang mengalahkan dewa-dewa dan bahkan menundukkan Nini Permoni, penguasa Pasetran Gandalayu, jelmaan Bhattari Durga, maka Nabi Muhammad Saw. pun sesungguhnya bisa disebut sebagai manusia penakluk dewa-dewa, baik dewa bernama Hubal, Latta, Uzza, Manat maupun dewa yang lain. Baik Dang Hyang Semar maupun Nabi Muhammad Saw., utusan Tuhan Yang Tunggal, Yang Tak Terbayangkan, Tak Tergambarkan, Tak Terjangkau, dikenal sebagai adimanusia-adimanusia yang menolak disembahsujudi sesama manusia.

Abdul Jalil sadar bahwa hanya dengan meneladani dua sosok adimanusia itulah ia akan dapat mewujudkan harapannya untuk membangun tatanan baru masyarakat, sekumpulan manusia yang memiliki latar asal usul berbeda tetapi disatukan oleh rasa senasib dan sepenanggungan serta saling bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu yang mereka sepakati. Ya, sebuah kehidupan baru di mana pribadi-pribadi memiliki hak-hak untuk memiliki sesuatu sebatas tidak melanggar hak-hak orang lain. Dan tentunya, pikir Abdul Jalil, ia pun pada akhirnya akan mengalami nasib seperti Dang Hyang Semar dan Nabi Muhammad Saw., yakni berbenturan dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh lahirnya masyarakat tersebut.

Abdul Jalil sadar kemungkinan bagi dirinya untuk bisa berhasil mewujudkan masyarakat sangat kecil dibandingkan dengan keberhasilan Dang Hyang Semar dan Nabi Muhammad Saw.. Sebab selain sadar bahwa dirinya bukan nabi, ia juga sadar tidak cukup kuat mendapatkan dukungan dari orang-orang yang memiliki jiwa merdeka, yaitu jiwa bangsa pemenang. Ia sadar-sesadar-sadarnya bahwa keberadaan para Alawiyyin yang menjadi penyebar agama Islam di Bumi Pasundan adalah keberadaan manusia-manusia kalah; yang sering kali harus menyembunyikan jati diri dan gampang berkompromi dengan alasan-alasan melakukan taqiyah. Sementara para penyebar Islam dari Campa pun bukanlah manusia yang berjiwa merdeka yang muncul dari bangsa pemenang; mereka adalah para pelarian dari negeri yang dikalahkan dan ditaklukkan bangsa Vietnam.

Menyadari keberadaan dirinya yang dikelilingi kumpulan manusia kalah, entah orang-orang Sunda, entah golongan Alawiyyin, dan entah para ‘alim asal Campa, Abdul Jalil sempat goyah. Namun setelah merenung-renung, terutama setelah terilhami oleh perjuangan Dang Hyang Semar dan Nabi Muhammad Saw., ia akhirnya memutuskan untuk tetap berjuang mewujudkan gagasannya mengubah dan memperbarui tatanan lama kawula menjadi tatanan baru masyarakat. Ia sadar bahwa satu-satunya kemungkinan yang bisa dijadikan gantungan harapan untuk mewujudkan cita-citanya hanyalah ayahanda asuhnya, Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang. Sebab, Sri Mangana bukan saja satu sosok bercitra manusia merdeka, melainkan juga manusia berjiwa pemenang dalam setiap pergulatan hidup. Mudah-mudahan dengan bantuan dan dukungan yang tulus dari Sri Mangana, ujar Abdul Jalil dalam hati, akan lahir sebuah bangsa baru dengan nilai-nilai tatanan baru yang tumbuh dan berkembang dari sekumpulan pribadi-pribadi merdeka yang disebut masyarakat.

South China Sea, on board of MV. Taho, April 4th 2007, 22:02LT