Pengantar Redaksi

Daya tahan setiap pemikiran, ajaran, aliran, ideologi, peradaban, dan semacamnya sangat ditentukan oleh seberapa besar pemikiran tersebut dapat diterima di tengah masyarakat, penguasa, dan komitmen para pengikutnya dalam menjaga kelangsungan. Bila ketiga komponen tersebut tumbuh subur maka akan menemukan masa kejayaan. Sebaliknya, bila salah satu dari ketiga komponen tersebut tidak seiring maka akan mengalami ketersendatan, keterpurukan, bahkan kepunahan.

Oleh karena itu, wajar bila sering kali terjadi sebuah pemikiran pada satu zaman masyhur, namun pada zaman yang berbeda mengalami keredupan, atau sebaliknya. Pada periode tertentu dikutuk, pada saat yang lain dipuja habis-habisan. Dalam situasi seperti ini kaum elit (masyarakat agamawan-penguasa-intelektual) memegang peran yang sangat menentukan.

Salah satu contoh peran signifikan kaum elit ini dapat disimak dalam kasus yang menimpa Syaikh Siti Jenar. Dalam cerita-cerita babad, ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar dianggap sebagai bid’ah, menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karena itu, melalui sidang dewan Wali, Syaikh Siti Jenar dihukum mati. Polemik terjadi tatkala kitab rujukan yang berbeda kita jajarkan. Katakanlah novel yang ada di tangan pembaca ini kita jadikan rujukan.

Novel ini sangat menarik karena memberikan perspektif baru dalam cara baca-pandang terhadap sejarah. Dengan merujuk pada kitab-kitab versi Cirebon, novel ini mampu menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan Syaikh Siti Jenar. Novel ini mampu hadir tanpa absurditas dan paradoksal. Tidak ada tragedi pengadilan oleh Wali Songo, apalagi hingga putusan hukuman mati.

Pada buku pertama, pembaca telah diajak berziarah pada konsep filosofis Yang Wujud dan maujud serta pengalaman ruhani Syaikh Siti Jenar menuju Yang Mutlak. Menyusur jauh pada asal-usul Syaikh Siti Jenar hingga berangkat menjalankan ibadah haji ke Makah. Di Makah inilah Syaikh Siti Jenar “berjumpa” dengan Abu Bakar Asy-Shiddiq yang mengajarkan tarekat kepadanya. Pada buku kedua, memuat kembalinya Syaikh Siti Jenar dari Makah, menyebarkan ajarannya, hingga diangkat menjadi dewan Wali.

Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan buku ketiga, yang mengupas tentang perjalanan Syaikh Siti Jenar setelah menjadi dewan wali. Sebagai seorang tokoh yang ditugaskan di tanah Jawa, Syaikh Siti Jenar melakukan beberapa pembaruan seperti penggunaan istilah Pondok Pesantren (sebelumnya: Padepokan) dan membangun konsep masyarakat (sebelumnya: konsep kawula). Secara substantif, konsep masyarakat (Arab: Musyarakah) menempatkan setiap individu pada derajat yang sama dan memiliki hak-hak dasar yang tidak dapat diganggu oleh siapa pun, termasuk dalam hal keyakinan beragama. Konsep yang dikembangkan secara masif oleh Syaikh Siti Jenar ini mendapatkan perlawanan dari penguasa absolut, monarki, raja. Karena dengan Musyarakah hak-hak prerogatif (mutlak) raja mendapatkan kendali. Konsep kawula yang secara kebahasaan (apalagi secara istilahi) berkonotasi ketakberdayaan manusia satu atas manusia yang lain, semakin redup.

Pada buku ketiga ini (sampai kelima nanti) kami memberi “identitas” baru pada seri “Syaikh Siti Jenar” karya Agus Sunyoto ini dengan judul Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar.

Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Mas Agus Sunyoto yang mempercayakan penerbitan karya ini kepada kami. Demikian pula pada sidang pembaca sekalian, yang antusias menyambut baik karya Agus Sunyoto ini. Berbagai sambutan pembaca yang masuk ke meja redaksi, baik melalui surat pos, e-mail, maupun telepon yang mempertanyakan “apakah seri Syaikh Siti Jenar yang lain telah terbit” cukup menggembirakan kami. Meskipun buku pertama dan kedua saat ini masing-masing telah cetak ulang yang ketiga, semoga buku ketiga ini dapat semakin memperlancar seri-seri berikutnya. Sebagai penutup, semoga buku-buku yang kami terbitkan dapat memberikan manfaat bagi khasanah sastra dan historiografi, khususnya di tanah air dan dunia Islam pada umumnya. Selamat membaca.***

1. ‘Ain al-Bashirah

Saat-saat awal ketersingkapan (kasyf) kesadaran jiwa adalah saat-saat yang paling berkesan bagi seorang penempuh jalan ruhani (salik). Dikatakan paling berkesan karena selama melintasi detik-detik terhalaunya gumpalan awan hitam penutup hati (ghain) yang menyesaki jiwanya, seorang salik akan mengalami pengalaman yang tak pernah ia pikirkan dan ia bayang-bayangkan sebelumnya.

Dengan ketakjuban luar biasa, saat itu sang salik akan merasakan pancaran kecermelangan purnama ruhani (zawa’id) melimpahi relung-relung kalbunya yang diliputi pemahaman ruhani (fawa’id). Ia juga akan merasakan betapa menggetarkan dan memesonanya saat mata batin (‘ain al-bashirah) dengan kejernihan dan kebeningan kesadaran jiwanya menyaksikan pancaran keindahan bintang-gemintang pengetahuan hati (thawali’) yang tak tergambarkan oleh bahasa manusia.

Ketersingkapan awal seorang salik adalah pengalaman paling menggetarkan yang tidak akan terlupakan. Karena dalam detik-detik dari rentangan waktu itu, kesadaran jiwanya akan menyaksikan gambaran-gambaran matra baru yang serba asing yang dicitrai nuansa pelangi aneka rasa dan aneka warna kebahagiaan. Ibarat hari-hari malam dari cakrawala al-basyar yang gelap diliputi kesunyian, kepedihan, nestapa, dan duka cita, ketersingkapan itu menyembulkan purnama kesadaran cahaya berkah dalam alunan irama musik dan nyanyian ruhani.

Sebagaimana para salik yang lain, saat mengalami peristiwa awal penyingkapan kesadaran jiwa itu, Raden Ketib tercengang-cengang dalam pesona ketakjuban. Bagaikan mengalami peristiwa yang mengguncang jiwa, dalam waktu cukup lama ia masih merasakan betapa kuat kesan itu melekat di relung-relung ingatannya. Ia seperti masih bisa merasakan betapa saat itu seolah-olah bertiup angin yang membadai dan mengamuk dari relung-relung kedalaman jiwanya, menghalau gumpalan awan hitam penutup hati ghain yang menyesaki cakrawala jiwanya. setelah itu, dengan sangat jelas, ia saksikan terbitnya matahari zawa’id yang bersinar gemilang menerangi relung-relung pemahaman fawa’id yang membentang di cakrawala jiwanya.

Meski kesan dari peristiwa itu sangat kuat melekat di relung-relung kedalaman jiwanya, Raden Ketib sendiri sulit menggambarkan dengan bahasa manusia tentang bagaimana sejatinya rangkaian penyaksian dan perasaan yang dialaminya saat detik-detik kesadaran jiwanya itu tersingkap. Ia hanya bisa membandingkan pengalamannya itu ibarat kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Demikianlah ia merasakan kesadaran jiwanya tersingkap. Kemudian, dengan kepak sayap yang indah sang kupu-kupu terbang bebas menyaksikan keluasan dunia baru yang jauh lebih akbar dan menakjubkan dibandingkan dengan kepompong.

Di tengah semerbak wangi bunga-bunga, sejuk udara, dingin embun, dan hangatnya mentari pagi, sang kupu-kupu yang keluar dari kepompong mengepakkan sayap untuk mencari sari madu di antara kelopak bunga sambil memuji keagungan dan kemuliaan Ilahi. Sang kupu-kupu merasa dunianya adalah dunia keindahan dan kesucian yang diliputi keagungan dan kemuliaan. Namun, saat terbang di antara bunga-bunga itulah dengan pandang heran ia melihat – dengan pandangan mata seekor kupu-kupu – kawanan ulat yang ganas dan rakus menggeragoti daun-daun, buah, dan bunga dari Pohon Kehidupan. Ah, betapa rakus. Betapa ganas. Betapa menjijikkan. Tidak ada manfaat apa pun dari ulat-ulat ganas dan rakus itu selain merusak dan membinasakan Pohon Kehidupan. Dan, sang kupu-kupu pun berkata dalam hati, “Sesungguhnya, dari ulat-ulat yang ganas, rakus, dan menjijikkan itulah aku dulu berasal.”

Selama mengalami ketersingkapan itu Raden Ketib merasakan tengara misterius yang mengisyaratkan betapa sesungguhnya awan hitam ghain yang bergumpal-gumpal menyesaki jiwanya itu tidak pernah terhalau tanpa kehendak Yang Ilahi, yakni Dia Sang Pencipta, Yang Berkuasa mutlak memberi petunjuk (al-Hadi) sekaligus Yang Berkuasa mutlak menyesatkan (al-Mudhill) makhluk ciptaan-Nya. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya, yang jelas sejak mengalami peristiwa itu ia benar-benar merasa gumpalan awan hitam penutup hatinya disibakkan oleh kuasa gaib al-Hadi, seibarat terkuaknya lapisan kepompong saat sang ulat hendak keluar menjadi kupu-kupu.

Pengalaman ruhani adalah pengalaman rasa. Itu sebabnya, Raden Ketib tidak bisa menjelaskan dalam bahasa manusia bahwa sesungguhnya keakuannya tidak ikut campur dalam proses menguak lapisan kepompong saat ia merasakan keberadaan dirinya sebagai kupu-kupu. Ia tidak bisa menjelaskan pengalamannya secara tepat, kecuali mengungkapkan dengan jujur betapa dirinya dalam bentuk kupu-kupu itu telah diserap oleh semacam “daya gaib” yang mendorongnya keluar dari kepompong. Bahkan, saat dirinya telah keluar dari kepompong pun ia hanya bisa mengungkapkan perasaan betapa semua gerak dari kehidupannya sebagai kupu-kupu seolah-olah diarahkan dan dituntun oleh “daya gaib” tersebut.

Ya, “daya gaib” misterius itulah yang sejatinya telah membimbingnya untuk mengenal dan memahani makna kehidupan yang tergelar di hadapannya. Laksana wangi bunga yang menarik penciuman kupu-kupu, begitulah keberadaan “daya gaib” itu telah memesonanya untuk mengepakkan sayap dan terbang. “Daya gaib” itu telah menuntunnya untuk mengenali dan memahami alam semesta tempat hakikat pengetahuan (‘ilm) tersembunyi, yang membawanya pada penyaksian (ma’rifat) atas Kebenaran Sejati (al-haqq) sebagai pengejawantahan dari Yang Mahaada (al-Wujud).

Peristiwa penyingkapan kesadaran jiwa yang dirasakan Raden Ketib ternyata menjadi peristiwa yang sangat menentukan perubahan jalan hidupnya. Peristiwa itu tidak saja membuat awan hitam ghain yang menyesaki jiwanya terhalau sehingga purnama pemahaman fawa’id bersinar benderang di cakrawala jiwanya, tetapi ia juga merasakan betapa cakrawala pemahaman baru atas keberadaan segala sesuatu di sekitarnya tiba-tiba terasa membentang luas dan ganti-berganti di hadapannya. Benda-benda yang terhampar di sekitarnya, misalnya, sebelumnya selalu ia pahami sebagai benda mati tak berjiwa. Seiring terkuaknya tirai penutup hati hingga terpancar purnama pemahaman fawa’id, ia tiba-tiba menangkap suatu pemahaman aneh yang mengungkapkan betapa di dalam benda-benda yang terhampar di sekitarnya itu sesungguhnya tersembunyi “bekas jejak” ciptaan yang sama dengan keberadaan dirinya.

Keberadaan makhluk hidup yang selama ini dianggapnya sosok asing yang sama sekali tidak berhubungan dengan dirinya, tiba-tiba disadarinya memiliki “bekas jejak” ciptaan yang sama dengan dirinya. Ia merasa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta; manusia, burung, hewan melata, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan semua makhluk hidup tiba-tiba berubah seolah-olah menjadi sesuatu yang memiliki hubungan dengan dirinya. Demikianlah, meski sulit diterima nalar, ia merasakan betapa sesungguhnya keberadaan dirinya menjadi bagian dari semesta benda, makhluk hidup, rembulan, matahari, bintang, tanah, langit, air, dan angin.

Penyingkapan yang dirasakan Raden Ketib ternyata tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap segala sesuatu yang tergelar di alam semesta, tetapi berkaitan pula dengan perubahan liku-liku perjalanan hidup yang dilaluinya. Entah apa yang sesungguhnya telah terjadi dengannya. Kini ia tiba-tiba merasa gerak kehidupannya seolah-olah diarahkan dan dituntun oleh “daya gaib” ke arah yang tidak ia ketahuhi ujungnya. Bahkan, saat menghadapi persoalan rumit pun ia merasakan seolah-olah diarahkan oleh “daya gaib” untuk mengikuti jalan yang sering kali tak pernah dipikir dan dibayangkannya.

Keberadaan “daya gaib” dalam gerak kehidupan itu setidaknya ia rasakan saat ia dililit persoalan rumit yang terkait dengan liku-liku usahanya mengungkap tabir misteri di balik kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sebelum mengalami peristiwa penyingkapan itu, ia merasakan betapa rumit dan berliku-liku jalan untuk menguak misteri Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, setelah peristiwa menakjubkan itu ia seolah-olah selalu mendapat jalan mudah yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran dan angan-angannya. Tabir gelap misteri kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil yang selama ini tertutup gumpalan awan hitam tebal tiba-tiba bersinar terang di hadapannya, laksana matahari kebenaran yang menginginkan keberadaannya diketahui.

Setelah tabir awal misteri Syaikh Abdul Jalil disingkap oleh Ki Gedeng Pasambangan, tiba-tiba ia merasa dibimbing oleh “daya gaib” misterius ke arah penyingkapan tirai kedua. Yang mengherankannya, tabir kedua itu justru disingkap oleh Pangeran Pamelekaran, kakeknya sendiri. Sungguh, sebelumnya tidak pernah ia bayangkan di benaknya bahwa sang kakek pernah bertemu apalagi sampai memiliki hubungan dekat dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Pangeran Pamelekaran ternyata telah berkali-kali bertemu dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil; bukan hanya dalam peristiwa penyerangan Pakuwuan Caruban, melainkan juga dalam serangkaian peristiwa penting baik di Terung, Surabaya, Demak, Caruban, bahkan di Wirasabha.

Tersingkapnya tirai pertama dan kedua yang menyelubungi kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil ternyata diikuti dengan tersingkapnya tirai-tirai berikutnya. Tanpa pernah menduga sebelumnya ia berjumpa dengan pembuka tirai ketiga, yakni Adipati Cirebon. Sang Adipati merupakan putera almarhum Raja Muda (prabu anom) Caruban Larang, Sri Mangana. Dia ternyata mengenal Syaikh Datuk Abdul Jalil dengan sangat dekat, yang sudah dianggapnya kakak sulung. Adipati Cirebon banyak mengungkap liku-liku perjuangan dan ajaran rahasia yang disampaikan Syaikh Datuk Abdul Jalil, termasuk yang berasal dari penuturan ayahandanya, Sri Mangana.

Tirai keempat tanpa disangka-sangka disingkap oleh Syaikh Maulana Jati, guru agungnya, saat ia diajak Ki Gedeng Pasambangan ke Banten. Sebagaimana kisah yang telah diketahuinya dari penuturan Ki Gedeng Pasambangan, ternyata guru agungnya itu benar-benar mengetahui secara mendalam kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil setelah kembali dari Hindustan. Dari Guru Agung Syaikh Maulana Jati itu pula ia mengetahui bahwa sesungguhnya Syaikh Datuk Abdul Jalil bukan hanya seorang guru manusia, melainkan juga seorang pembaharu yang menata kehidupan masyarakat dengan kaidah-kaidah dan asas-asas yang sama sekali baru pada zamannya. “

Tetapi seibarat matahari yang tak pernah menyisakan pamrih akan kecemerlangan cahayanya saat menerangi dunia, demikianlah Syaikh Datuk Abdul Jalil meninggalkan semua hasil perjuangannya, demi menyongsong datangnya malam indah yang diterangi bulan sabit dan berjuta-juta bintang yang gemerlapan memenuhi penjuru langit,” ujar Syaikh Maulana Jati tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil yang sangat dihormati dan dimuliakannya.

Kebenaran, jika sudah muncul maka ia akan terbit laksana matahari di pagi hari. Pencarian kebenaran tentang kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil yang dilakukan Raden Ketib telah membawanya ke cakrawala pagi saat terbit fajar kebenaran. Bagaikan berada di alam mimpi, tiba-tiba ia merasakan bimbingan “daya gaib” telah mempertemukannya dengan Syaikh Datuk Bardud, salah seorang putera Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia akan bertemu dengan putera guru manusia dan tokoh pembaharu itu. Bahkan, yang lebih membuatnya terheran-heran adalah kenyataan bahwa Syaikh Datuk Bardud selama ini ternyata tinggal di ndalem Pamelekaran bersama kakeknya.

Keberadaan Syaikh Datuk Bardud di kediaman kakeknya sempat memunculkan tanda tanya di benak Raden Ketib tentang sikap kakeknya yang seperti sengaja menyembunyikan putera Syaikh Datuk Abdul Jalil itu. Kenapa tidak sejak awal ia diperkenalkan dengan Syaikh Datuk Bardud? Kenapa ia terlebih dahulu harus diperkenalkan dengan Ki Gedeng Pasambangan? Kenapa keberadaan Syaikh Datuk Bardud di kediaman kakeknya sangat dirahasiakan hingga ia pun tidak diperbolehkan mengetahuinya?

Di tengah kecamuk tanda tanya yang memenuhi benaknya itulah Raden Ketib menjalin keakraban dengan Syaikh Datuk Bardud yang usianya lebih tua sekitar sepuluh tahun. Meski usia Syaikh Datuk Bardud baru sekitar empat puluhan tahun, dia tampak lebih tua. Kumis dan cambangnya yang dibiarkan memenuhi hampir separo wajah mengesankan dia seolah-olah berusia hampir enam puluhan tahun. Selama berbincang-bincang dengan Syaikh Datuk Bardud itulah Raden Ketib menangkap pancaran mutiara kebijaksanaan di tengah samudera pengetahuan yang tersembunyi di kedalaman jiwanya. “

Sebagian orang menilai ayahandaku, Syaikh Datuk Abdul Jalil, adalah manusia besar yang salah tempat dan salah waktu lahir ke dunia sehingga kehadirannya sulit diterima,” Syaikh Datuk Bardud menuturkan kisah kehidupan ayahandanya kepada Raden Ketib. “Namun bagiku, o Adinda, segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan beliau semata-mata adalah rahasia-Nya. Sebab sesuai ajaran beliau, Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah keliru menempatkan seseorang pada suatu zaman. Dan, lantaran itu saya yakin bahwa kelahiran, liku-liku hidup, bahkan kematiannya adalah semata-mata karena kehendak-Nya.” “

Sungguh telah termaktub di dalam firman-Nya bahwa tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya serta tidak seorang pun perempuan mengandung dan tidak pula melahirkan, kecuali dengan pengetahuan-Nya (QS Fushshilat: 47). Ini bukan berarti bahwa Sang Pencipta hanya menyaksikan segala sesuatu secara pasif, melainkan secara mutlak dan aktif. Dia ikut terlibat di dalam merancang, membentuk, memelihara, dan bahkan menghancurkan seluruh ciptaan melalui ilmu-Nya. Bukankah Dia, Yang Maha Mengetahui, tiada lain adalah Sang Pengetahuan (al-‘Alim) itu sendiri?” “

Jika Adinda bertanya-tanya tentang keberadaan saya yang disembunyikan oleh Eyang Pangeran Pamelekaran di kediamannya tanpa sepengetahuan Adinda, pun jika Adinda bertanya kenapa tidak diperkenalkan dengan rakanda sejak awal, maka sesungguhnya hal itu adalah atas kehendak-Nya semata. Sesungguhnya, liku-liku perjalanan Adinda dalam menelusuri jejak kehidupan dan ajaran ayahandaku merupakan bagian dari “jalan” (sabil) yang digelar-Nya. Sebab, jika Dia menghendaki, bisa saja Eyang Pangeran Pamelekaran langsung memperkenalkan Adinda dengan saya sehingga Adinda tidak perlu susah payah menelusuri jejak kehidupan ayahandaku. Namun, Dia menghendaki agar Adinda berjalan melingkar-lingkar dulu dengan berbagai hambatan dan rintangan. Itu berarti, dengan sukarela atau terpaksa, Adinda harus menerima kehendak-Nya tanpa perlu bertanya ini dan itu.” “

Sesungguhnya, menurut ajaran ayahandaku, segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini sudah ditata sangat rapi tanpa setitik pun mengandung kekeliruan. Hanya mereka yang terhijab dari kebenaran-Nya saja yang menganggap kehidupan di alam semesta ini kacau balau tidak teratur. Saya masih ingat bagaimana ayahandaku mengambil ibarat dengan mengisahkan sekumpulan orang buta yang diundang dalam perjamuan agung oleh sang raja.” “

Dalam kisah itu disebutkan pada saat pesta dimulai sekumpulan orang buta yang diundang sang raja datang dan berjalan beriring-iringan. Saat memasuki bangsal agung yang sudah dipenuhi hidangan lezat yang tertata rapi di atas meja, tiba-tiba salah seorang di antara mereka menabrak meja. Tumpah-ruahlah sebagian hidangan tersebut. Sang raja tersenyum. Para undangan juga tersenyum. Namun, orang buta itu marah-marah. Dia memaki-maki para pelayan yang dianggapnya tidak mengatur meja secara benar. Seperti halnya orang buta itu, kawan-kawannya yang juga buta menganggap ruangan itu tidak diatur dengan baik dan benar.” “

Begitulah, Adinda, bagi mereka yang telah tercelikkan mata batinnya (ain al-bashirah) akan memahami bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta sesungguhnya sudah diatur dan ditata secara sempurna oleh Sang Pencipta. (al-Khaliq). Bahkan bagi yang sudah tercelikkan mata batinnya, kehidupan di dunia ini hanya sebuah mimpi yang harus dilampaui seperti saat kita tertidur singkat. Hanya mereka yang sudah tercelikkan mata batinnya saja yang bisa memahami makna kebenaran (al-haqq) di balik kehidupan yang dekat (ad-Dunya) ini.” “

Apakah Rakanda melihat saya tergolong d antara mereka yang sudah tercelikkan mata batinnya?” tanya Raden Ketib meminta penjelasan.

Syaikh Datuk Bardud tersenyum mendengar pertanyaan Raden Ketib. Sesaat setelah itu, dengan bahasa perlambang (isyarat), dia mengatakan bahwa Raden Ketib sesungguhnya telah dapat merasakan dan menerima pesan darinya tanpa melalui bahasa indriawi manusia. Lantaran itu, pertanyaan lisan itu tidak perlu dijawab melalui bahasa indriawi manusia.

Raden Ketib tertegun saat menyadari betapa dirinya dapat menangkap bahasan perlambang yang diungkapkan Syaikh Datuk Bardud. Namun, saat itu pula ia sadar bahwa yang dimaksud Syaikh Datuk Bardud sebagai manusia yang sudah tercelikkan mata batinnya itu tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang telah tersingsingkan awan hitam ghain dari dalam hatinya hingga pemahaman fawa’id-nya dapat menangkap kenyataan yang tergelar di sekitarnya sebagai kebenaran hakiki (al-haqq). Dengan kesadaran itu, Raden Ketib bersyukur bahwa dirinya telah beroleh anugerah tak ternilai berupa ketercelikan mata batin dari kebutaan (zhulman) manusiawi (al-basyar).

Dalam berbagai perbincangan dengan Raden Ketib, Syaikh Datuk Bardud mengungkapkan kesaksian tentang ayahandanya dengan luas dan mendalam. Dia tidak hanya mengungkapkan kesaksian tentang liku-liku kehidupan dan ajaran ayahandanya, tetapi mengisahkan pula tentang siapa saja putera-puteri, sanak keluarga, kerabat, dan pengikut-pengikut utama ayahandanya baik yang tinggal di Caruban Larang, Banten Girang, Jawa, Malaka, maupun Gujarat.

Keakraban Raden Ketib dan Syaikh Datuk Bardud ternyata tidak sekadar dibangun melalui perbincangan mendalam tentang perikehidupan dan ajaran Abdul Jalil. Hubungan itu dilanjutkan pula melalui penguatan tali silaturahmi. Melalui Syaikh Datuk Bardud pula, Raden Ketib pada gilirannya dapat bertemu dengan Raden Sahid, adik seperguruan sekaligus murid ruhani Syaikh Datuk Abdul Jalil yang menjadi Susuhunan Kalijaga (Jawa Kuno: Raja Muda Kalijaga), yang tinggal di Demak. Ia juga diperkenalkan dengan menantu Syaikh Maulana Jati, yaitu Pangeran Pasai Fadhillah Khan, kemenakan Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Ibarat pembuktian kebenaran melalui tingkat keyakinan ilmu (‘ilm al-yaqin), Raden Ketib secara bertahap merasa setapak demi setapak langkah pencariannya mendekati matahari kebenaran. Entah benar entah tidak penuturan para saksi kepadanya, yang jelas ia telah memiliki cakrawala pandang sendiri tentang bagaimana sesungguhnya kebenaran kisah kehidupan dan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil, Sang Pembaharu itu. Saat ia bersama Syaikh Datuk Bardud menapaktilasi liku-liku perjuangan Syaikh Datuk Abdul Jalil berdasarkan kesaksian para saksi hidup yang mengenal dengan sangat dekat tokoh tersebut, ia seolah-olah terlempar kembali ke masa silam, ke sebuah kurun waktu yang mencengangkan, yakni kurun ketika Syaikh Datuk Abdul Jalil meniti tali sejarah yang membentang di antara dua bukit karang yang tegak di tengah samudera kehidupan yang penuh karang tajam dan empasan ombak mengerikan.

2. Kembali ke Sarang

Abdul Jalil, anak negeri yang lahir dalam kepedihan seorang yatim dan tumbuh di tengah hiruk pikuk sejarah dan ketidakpastian zaman, adalah manusia yang hanyut diseret arus nasib hingga terlempar jauh dari bumi tumpah darahnya yang diliputi kegelapan. Kerinduannya akan kebenaran telah mengubah arus kehidupannya menjadi sesuatu yang mencengangkan zamannya. Dengan kenaifan seorang anak dari negeri yang sedang dilanda kegelapan, ia saksikan gilang-gemilangnya kota antarabangsa, Baghdad. Di kota sumber pengetahuan dan pusat peradaban itulah ia sadari keberadaan dirinya yang laksana setitik air sedang terbawa arus menuju ke samudera kehidupan tak bertepi.

Dengan kesadaran diri bagai setitik air, Abdul Jalil membiarkan dirinya hanyut mengikuti liku-liku sungai nasib hingga ke muara. Di muara nasib itu ia dapati dirinya hanyut terbawa pusaran air ke tengah samudera kemanusiaan. Dengan ketakjuban setitik air, ia terbawa terbang ke angkasa oleh kumparan nasib menjadi setitik air jernih di tengah gumpalan awan. Lalu jatuhlah ia ke tanah suci sebagai setitik air di tengah rinai hujan yang mengguyur padang belantara. Dan, tercenganglah ia saat menyadari betapa dirinya telah berada di Mata Air Suci Abadiyang merupakan Sumber segala sumber air kehidupan. Kesadarannya tersingkap (kasyf), kekeruhan (ghain) jiwanya tersibak, jiwanya terjernihkan (zawa’id), mata hatinya (‘ain al-bashirah) tercelikkan. Ia pun menjadi sadar betapa di dalam setitik air itu sesungguhnya tersimpan hakikat mata air, sungai, telaga, air terjun, muara, samudera, awan, hujan, angin, dan getar kehidupan sejati.

Kini, setelah diseret kembali oleh arus nasib pengembaraan panjang pencarian jati diri tentang asal usul kejadian dari mana segala sesuatu berawal, ia telah menjadi anak negeri yang terjaga di antara bangsanya yang masih terlelap tidur. Seiring terbitnya matahari pagi kehidupan, ia dengan didampingi Syarif Hidayatullah kembali ke tanah kelahirannya di Caruban Larang dengan tugas utama untuk membangunkan saudara-saudara sebangsanya yang sedang mengalami mimpi buruk; terjerat jaring-jaring kejahilan yang mereka pintal sendiri menjadi tali-temali yang membahayakan kehidupan seluruh negeri.

Ibarat pepatah setinggi-tinggi burung terbang akhirnya kembali ke sarang juga, begitulah Abdul Jalil kembali dari pengembaraan melanglang buana langsung menuju ke sarang asalnya, Padepokan Giri Amparan Jati, tempat ia sebagai telur telah ditetaskan dan dibesarkan oleh induknya. Ia pun bersyukur saat mendapati guru agung yang telah mengukir jiwanya, Syaikh Datuk Kahfi, berada dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa pun, meski usianya sudah lebih tujuh puluh tahun.

Dengan air mata bercucuran menyaksikan anak asuh, saudara sepupu, dan murid terkasih yang senantiasa dirindukannya, Syaikh Datuk Kahfi bergumam dengan suara bergetar, “Ya Allah, terima kasih. Engkau telah mengabulkan permohonan hamba untuk tidak memanggil hamba ke hadirat-Mu sebelum bertemu kembali dengan anak yang hamba rindukan ini. Kini, hamba telah siap menghadap-Mu, Ya Ilahi Rabbi, Gantungan jiwa hamba.”

Abdul Jalil tidak berkata sesuatu. Ia hanya bersujud ke haribaan Syaikh Datuk Kahfi. Ia seperti terlempar kembali ke rentangan masa kecil saat ia bermanja dengan sang guru yang berperan sebagai pengganti ayahandanya itu. Ia seolah ingin merasakan kembali kehangatan kasih guru agung yang sangat dihormati dan dimuliakannya. Sementara itu, menghadapi sikap Abdul Jalil yang bagai mengurai masa silam, Syaikh Datuk Kahfi tersenyum bahagia dengan air mata berlinang-linang membasahi kelopak matanya. Kemudian dengan suara tersendat-sendat ia berkata, “Anakku, di ujung usiaku yang sudah senja ini, tidak ada lagi yang aku inginkan dari sisa hidupku kecuali ingin melihatmu kembali dengan selamat dan berharap engkau berhasil menemukan apa yang engkau cari. Jika engkau tidak keberatan, aku mohon agar engkau berkenan menuturkan tentang apa saja yang telah engkau alami dan engkau peroleh dari pencarianmu selama ini. Sebab, hari-hari dari hidupku sejak kepergianmu selalu kuisi dengan doa agar kelak aku bisa bertemu kembali denganmu dan bisa mendengar kisahmu menemukan Kebenaran Sejati. Di atas itu semua, o Anakku, hanya satu harapan yang aku harapkan darimu, yaitu engkau bisa menjadi penuntunku saat aku menghadapi ajal.”

Abdul Jalil tercekat mendengar ucapan Syaikh Datuk Kahfi. Ia menangkap betapa arif guru agungnya itu dalam menentukan pilihan hidup yang beragam. Harapan utamanya agar dituntun saat menghadapi ajal telah menunjukkan kewaskitaan yang menakjubkan. Sebab, pada detik-detik menjelang ajal itulah sesungguhnya citra keselamatan dan ketidakselamatan seorang manusia tercermin. Lantaran itu, sambil mencium tangan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil berkata, “Sungguh, Allah SWT. telah membentangkan jalan keselamatan atas Ramanda Guru. Semua perjuangan Ramanda Guru yang tak kenal lelah dan tak kenal menyerah dalam menerangi jalan hidup manusia telah menuai hasil. Ramanda Guru telah dianugerahi pengetahuan rahasia oleh-Nya untuk bisa memilih jalan terang keselamatan.” “

Jalan keselamatan Allah SWT. untukku? Aku dianugerahi-Nya pengetahuan untuk bisa memilih jalan terang keselamatan? Apa maksud semua ini, o Anakku?” tanya Syaikh Datuk Kahfi heran. “

Harapan Ramanda Guru untuk bisa dituntun secara benar saat menjelang ajal adalah bukti bahwa Ramanda Guru telah dianugerahi pengetahuan rahasia oleh Yang Ilahi. Sebab, tidak banyak orang tahu bahwa citra keselamatan dan citra ketidakselamatan manusia akan terlihat saat ia menjelang ajal. Betapa banyak manusia yang bibirnya bergerak-gerak dan tangannya tak henti-henti memutar biji tasbih berdzikir menyebut Asma Allah, namun saat menjelang ajal justru hilang akal dan tidak bisa mengingat Allah.” “

Rasulullah Saw. sudah menyatakan jaminan bahwa barang siapa di antara manusia saat menjelang ajal bisa berujar tidak ada sesembahan yang lain selain Allah (La ilaha illa Allah), ia bakal masuk surga tanpa hisab. Namun, prasyarat sederhana itu ternyata menjadi masalah maharumit manakala dihadapkan pada kenyataan hidup. Bahkan, jumlah umat Islam yang bisa mengucap La ilaha illa Allah dalam makna yang sebenarnya saat menjelang ajal bisa dihitung dengan jari. Karena itu, o Ramanda Guru, sungguh arif keinginan paduka yang menempatkan tuntunan yang benar saat menjelang ajal itu sebagai pilihan utama. Sebab, di situlah terletak kunci rahasia keselamatan yang hampir selalu dilalaikan manusia,” kata Abdul Jalil.

Syaikh Datuk Kahfi mengangguk haru mendengar uraian Abdul Jalil. Dia menangkap sasmita bahwa saudara sepupu sekaligus siswa kesayangannya itu kiranya telah menemukan hakikat Kebenaran yang selama ini dicarinya. Dengan suara bergetar dia berkata, “Aku tahu, o Anakku, bahwa engkau telah menemukan apa yang engkau cari selama ini. Karena itu, ajarilah aku tentang jalan Kebenaran Sejati menuju-Nya.” “

Ananda tidak berani berlaku tidak pantas kepada paduka, Ramanda Guru,” ujar Abdul Jalil sambil menghaturkan sembah. “Ananda hanyalah seorang siswa. Justru dari Ramanda Guru jua ananda selama ini berhasil mengatasi berbagai rintangan. Bahkan, ananda yakin Allah SWT. telah mengajarkan jalan Kebenaran Sejati kepada Ramanda Guru.” “

Engkau benar sekali, Anakku. Memang Allah SWT. selama ini telah mengajarkan jalan Kebenaran kepadaku. Namun, jalan Kebenaran yang aku lewati itu belum selesai aku lintasi. Kini Allah SWT. menyuruhku agar meminta engkau menuntun aku melewati lintasan jalan akhir kebenaran-Nya. Maklum, mungkin aku sudah tua bangka, rabun, dan tidak kuat lagi berjalan di atas jalan Kebenaran-Nya sehingga aku harus dituntun oleh yang lebih muda dan yang lebih tahu arah.”

Abdul Jalil tersenyum kagum mendengar ucapan Syaikh Datuk Kahfi. Ia tahu bahwa saudara sepupu sekaligus guru agungnya itu memang dikenalnya sebagai orang cerdik dan sangat piawai dalam memainkan kaidah-kaidah ilmu manthiq (ilmu logika). Rupanya, usia tua tidak menjadikannya lemah dalam berpikir. Diam-diam Abdul Jalil bersyukur karena selama hampir lima belas tahun ia telah dibimbing untuk menggunakan kecerdasan akalnya oleh seorang guru cerdik seperti Syaikh Datuk Kahfi. Ia pun harus mengakui bahwa dalam menggunakan nalar berpikir, jejak-jejak yang ditinggalkan Syaikh Datuk Kahfi di benaknya masih sangat jelas mencitrai kerangka dan alur berpikirnya.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, tiba-tiba Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa ada sesuatu yang terjadi pada ibunda asuhnya, Nyi Rara Anjung, yang tidak ia lihat sejak ia menginjakkan kaki ke padepokan. Dengan tergesa ia bertanya, “Ampun seribu ampun, o Ramanda Guru, di manakah gerangan ibunda saya? Kenapa sejak tadi ananda tidak melihat beliau?”

Syaikh Datuk Kahfi tidak menjawab. Diam seribu bahasa. Hanya air matanya tiba-tiba jatuh bercucuran membasahi pipinya yang keriput. Setelah beberapa jenak terisak dia berkata tersendat-sendat, “Ibundamu kurang beruntung, o Anakku. Barang tiga bulan yang lalu dia telah dipanggil menghadap hadirat-Nya. Sungguh menyedihkan, dia tidak sempat melihat putera kesayangannya kembali dari rantau.” “

Inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un,” desah Abdul Jalil menarik napas panjang dan berat. “

Sesungguhnya, ibundamu tidak sakit apa-apa. Dia masih sangat sehat. Tapi aku kira dia sangat terkejut dan terpukul jiwanya.” “

Ada kejadian apakah sebenarnya, o Ramanda Guru, sehingga ibunda saya terpukul jiwanya?” “

Salah satunya peristiwa Raden Anggaraksa masuk Islam.” “

Raden Anggaraksa, putera Pamanda Rsi Bungsu?” “

Ya.” “

Apa yang membuat ibunda terpukul dengan masuk Islamnya Raden Anggaraksa?” “

Ceritanya panjang, o Anakku. Tapi, pangkalnya justru bermula dari keinginan keras Raden Anggaraksa memeluk Islam. Hal itu telah membuat marah ayahandanya yang sangat melarang keras keinginannya itu. Tetapi ia nekat dan melarikan diri dari rumah. Ia meminta perlindungan ibundamu. Ia membaca syahadat di masjid Amparan Jati dan kemudian tinggal di sini sampai dua bulan lebih. Namanya kuganti menjadi Hasan Ali, nama yang mirip denganmu.” “

Namun, tanpa terduga tiba-tiba padepokan ini diserang para begal yang dipimpin Bergola Hideung. Tiga pondok tempat siswa tinggal dibakar. Anehnya, para begal itu tidak merampok apa-apa kecuali menculik Hasan Ali. Nah, peristiwa aneh itulah yang rupanya memukul jiwa ibundamu. Bermalam-malam dia tidak bisa tidur dan terus-menerus menangis. Dia tidak saja khawatir dengan nasib kemenakannya, tetapi sifat buruk adiknya yang tak pernah bisa berubah itu pun benar-benar membuatnya sangat sedih.” “

Jadi, ibunda saya sudah tahu jika yang menyuruh para begal itu adalah Pamanda Rsi Bungsu?” “

Aku kira ibundamu lebih paham sifat adiknya itu.” “

Di manakah ibunda saya dimakamkan?” “

Di sebelah kiri tajug.” “

Ananda mohon izin berziarah ke makam beliau.” “

Sebentar,” Syaikh Datuk Kahfi menyela, “siapakah pemuda tampan di belakangmu itu?” “

Dia Syarif Hidayatullah, putera dari Syarif Mahmud al-Yamani, cucu Syaikh Syarif Abdullah al-Yamani. Ibundanya adalah puteri Abdul Malik Israil al-Gharnatah, sahabat saya. Jika ditinjau dari nasabnya, Syarif Hidayatullah masih sedarah dengan kita.” “

Berarti dia dari golongan Alawiyyin.” “

Benar, tapi dia dari golongan Syarif, keturunan Imam Hasan. Bahkan, kakeknya, Syaikh Syarif Abdullah al-Yamani adalah wali Allah yang di antara segolongannya disebut dengan nama rahasia Syaikh Abdullah Kahfi al-Mishri.”

Syaikh Datuk Kahfi mengangguk-angguk sambil memandangi Syarif Hidayatullah yang beringsut ke arahnya, menyalami, dan mencium tangannya. Lama dia memandangi Syarif Hidayatullah seolah-olah hendak mengukur pedalamannya. Bagaikan menyaksikan bias cahaya rembulan di malam hari, begitulah dia menangkap pancaran kemuliaan yang tersembunyi di dalam diri Syarif Hidayatullah.

Tanpa terasa telah hampir seharian Abdul Jalil menuturkan liku-liku perjalanan pencariannya. Namun ia terkejut ketika usai ziarah ke makam ibundanya, tiba-tiba Syaikh Datuk Kahfi memperkenalkan keluarganya yang baru; istri keduanya, Nyi Halimah, dan tiga orang kemenakan Nyi Halimah, yaitu Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi, dan Siti Syarifah.

Tentang keluarga barunya itu, menurut Syaikh Datuk Kahfi, sesungguhnya terkait dengan kepergian Abdul Jalil dari padepokan. Saat Abdul Jalil meninggalkan padepokan barang tiga bulan, Syaikh Datuk Kahfi dengan terpaksa pergi meninggalkan Giri Amparan Jati mencari Abdul Jalil hingga ke Baghdad. Kepergian Syaikh Datuk Kahfi sendiri sesungguhnya akibat desakan, rasa iba, sekaligus rasa bersalahnya terhadap seorang saudara sepupunya yang bernama Muthmainah, yang terus memohon agar Abdul Jalil dapat kembali ke padepokan.

Selama di Baghdad Syaikh Datuk Kahfi tinggal di rumah salah seorang kenalannya yang bernama Sulaiman Rumi. Dia kemudian dinikahkan dengan saudari Sulaiman Rumi yang bernama Halimah. Setelah tinggal kira-kira tiga tahun di Baghdad dan usai menunaikan ibadah Haji, Syaikh Datuk Kahfi kembali ke Giri Amparan Jati dengan membawa serta istri dan anak-anak Sulaiman Rumi yang masih kecil. Rupanya, saat itu Sulaiman Rumi sedang dikejar-kejar oleh penguasa Baghdad karena dituduh sebagai pendukung keluarga Shafawy.

Mendengar penuturan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya, “Siapakah sepupu Ramanda Guru yang bernama Nyi Muthmainah itu? Mengapa dia mendesak Ramanda Guru untuk mencari ananda?”

Syaikh Datuk Kahfi menunduk dengan air mata berlinang-linang. Kemudian dengan terisak-isak dia berkata, “Muthmainah sesungguhnya kakakmu lain ibu. Dia adalah puteri ayahandamu dengan Nyi Fatimah binti Abdul Malik Khan, asal Gujarat yang tinggal di Negeri Pasai.”

Abdul Jalil merasakan kilat menyambar kepalanya. Ia sangat terkejut dengan kenyataan yang tak pernah dibayangkannya itu. Kemudian dengan terburu-buru ia bertanya, “Jadi, saya masih memiliki seorang saudari? Kenapa Ramanda Guru tidak pernah menceritakan hal itu kepada saya?” “

Aku dan ayahanda asuhnya, Ki Samadullah, telah terikat janji dengan ayahanda angkatmu, Ki Danusela. Kami berdua terikat janji untuk tidak menceritakan kepada siapa pun tentang jati dirimu. Karena, beliau akan mengangkatmu sebagai Kuwu Caruban, penggantinya kelak. Jika orang-orang tahu bahwa engkau bukan putera kandung Ki Danusela, pastilah kelak mereka akan menolakmu untuk menggantikan kedudukannya sebagai Kuwu Caruban. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain. Rsi Bungsu sudah membuka semua rahasia tentang jati dirimu,” jelas Syaikh Datuk Kahfi. “

Tetapi, kenapa setelah ayahanda meninggal Ramanda Guru tidak menceritakannya kepada saya?” “

Saat itu semua sedang kalut. Keributan terjadi di mana-mana. Engkau sendiri tahu bagaimana keadaan waktu itu. Aku baru sadar saat Muthmainah datan ke sini dan menangis, memintaku untuk mencarimu yang telah pergi entah ke mana.” “

Jika demikian,” sahut Abdul Jalil, “di manakah selama ini kakak saya tinggal?” “

Muthmainah diangkat anak oleh ayahanda asuhmu, Ki Samadullah. Tetapi dia tinggal di Selapandan, dititipkan di bawah asuhan Ki Gedeng Selapandan. Dia sengaja dijauhkan darimu demi memenuhi janji kami kepada Ki Danusela.” “

Manusia pada hakikatnya hanya berusaha, tetapi Allah jua yang menentukan dan mengatur segala sesuatu,” gumam Abdul Jalil seolah kepada diri sendiri sambil menarik napas dalam-dalam. “

Bahkan sesungguhnya engkau masih memiliki seorang kakak lagi yang sekarang ini tinggal di Pasai. Namanya Tughra Hasan Khan. Ia kakak kandung Muthmainah. Tetapi, sejak kecil ia diasuh oleh kakak ibundamu yang bernama Tughril Ahmad Khan,” kata Syaikh Datuk Kahfi. “

Mahasuci Allah, Zat Yang Berkuasa mengatur kehidupan makhluk sesuai kehendak-Nya.” “

Justru karena aku merasa telah berusaha mengubah sesuatu yang bertentangan dengan syari’at maka akibatnya menjadi kacau,” gumam Syaikh Datuk Kahfi pedih. “Sampai kini aku masih merasa bersalah terhadap Muthmainah, meski dia sudah memaafkan aku. Aku selalu merasa bahwa tekadnya untuk tidak menikah sebelum bertemu denganmu adalah hukuman yang berat bagiku. Aku selalu merasakan lecutan cambuk mendera hatiku setiap kali aku berbicara tentang dia.” “

Jadi, kaka saya sampai sekarang belum menikah?” “

Ya, karena dia sudah bersumpah untuk tidak menikah sebelum bertemu denganmu.” “

Berapa usaianya sekarang?” “

Dia setahun di atasmu.” “

Ananda ingin sekali menemuinya. Ananda ingin mensyukuri nikmat-Nya yang telah menggelarkan kenyataan bahwa ananda bukanlah putera tunggal dan bukan pula sebatangkara.” “

Sesungguhnya, tidak ada manusia yang sebatangkara di dunia ini,” ujar Syaikh Datuk Kahfi. “

Saat ananda tadi diberi tahu bahwa ibunda telah kembali ke hadirat-Nya, sempat ananda bayangkan Ramanda Guru tentu sangat kesepian hidup sendiri. Ternyata, Ramanda Guru sudah memiliki keluarga baru.”

Disinggung tentang keluarga barunya, Syaikh Datuk Kahfi menuturkan bahwa beberapa bulan sebelum keberangkatan Abdul Jalil meninggalkan Nagari Caruban, datanglah dua gadis kecil bernama Umi Kalsum dan Siti Zainab ke Padepokan Kuro di Karawang. Usia mereka sekitar delapan dan sembilan tahunan. Mereka meminta perlindungan kepada Syaikh Hasanuddin karena ayahanda Umi Kalsum, Sayyid Maulana Waly al-Islam, dan ayahanda Nyai Siti Zainab, Syaikh Suta Maharaja, gugur dalam pertempuran mempertahankan Kadipaten Samarang dari serbuan pasukan Demak yang dipimpin Adipati Lembusora.

Sesungguhnya, Umi Kalsum masih tergolong kerabat Syaikh Datuk Kahfi karena ayahandanya adalah putera Sayyid Jamaluddin Husein, saudara kanduk Syaikh Datuk Isa Malaka. Sayyid Maulana Waly al-Islam adalah sepupu Syaikh Datuk Ahmad dan Syaikh Datuk Sholeh. Umi Kalsum memiliki tidak kakak lelaki, yaitu Sayyid Kalkum, Sayyid Adurrahman, dan Sayyid Abdullah. Namun akibat porak-porandanya kekuatan Kadipaten Samarang, Sayyid Kalkum lari ke Negeri Benggala, Sayyid Abdurrahman lari ke Gujarat, dan Sayyid Abdullah menyingkir ke lereng Gunuhng Merbabu. Di sana dia disebut orang dengan nama Syaikh Jatiswara.

Sementara Siti Zainab pun tergolong kerabat Syaikh Datuk Kahfi karena ayahandanya adalah putera Sri Prabu Kertawijaya dengan Ratu Darawati, puteri asal Campa yang merupakan adik ipar Sayyid Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandi, putera Sayyid Jamaluddin Husein. Jadi, baik Umi Kalsum dan Siti Zainab sesungguhnya masih terhitung kerabat karena mereka berdua adalah cucu Sayyid Jamaluddin Husein.

Selama beberapa waktu kedua gadis kecil itu tinggal di Padepokan Kuro. Tergugah oleh rasa iba melihat nasib mereka maka Syaikh Datuk Kahfi meminta keduanya tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati sekaligus menemani Nyi Rara Anjung, yang akan ditinggalkan selama dia pergi mencari San Ali. “Saat aku kembali dari Baghdad dengan istri dan ketiga orang kemenakan istriku yang masih belum dewasa, mereka kuasuh bersama-sama dengan Umi Kalsum dan Siti Zainab. Setelah cukup umur mereka aku nikahkan. Abdurrahman Rumi aku nikahkan dengan Umi Kalsum. Abdurrahim Rumi aku nikahkan dengan Siti Zainab.” “

Jika ananda boleh bertanya, dengan nama Rumi, benarkah keluarga baru Ramanda Guru sesungguhnya bukan orang Baghdad?” “

Memang, Baha’uddin Rumi, ayah mertuaku, adalah orang asal Persia yang tinggal di Konya, Turki. Tetapi, karena beliau diburu penguasa yang menuduhnya sebagai pendukun keluarga Shafawy maka beliau kemudian berpindah-pindah dan akhirnya tinggal di Baghdad.”

Kenangan adalah bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun manusia berada. Semua kenangan, manis maupun pahit, tidak pernah bisa ditinggalkan. Laksana bayangan, ia akan terus mengendap di relung-relung jiwa manusia. Kenangan memang tidak terpisah dengan kesan. Itu sebabnya, kesan seseorang terhadap sesuatu, sebagaimana kenangan baik manis maupun pahit, cenderung tidak berubah sekalipun kenyataan telah berubah.

Ketidaksesuaian antara kenangan dan kesan di satu sisi dan kenyataan di sisi lain, setidaknya dialami Abdul Jalil saat ia dengan didampingi Syarif Hidayatullah menghadap ayahanda dan ibunda asuhnya di Kraton Caruban Larang. Sejak berangkat dari Padepokan Giri Amparan Jati hingga menapakkan kaki di halaman Bale Rangkang, yang terbayang di benaknya adalah wajah dan sosok Ki Samadullah dan Nyi Indang Geulis sebagaimana yang pernah ia kenal dulu. Ia juga membayangkan suasana kraton yang tak jauh berbeda seperti saat masih menjadi Pakuwuan Caruban.

Namun, beda yang dibayangkan ternyata beda pula yang terpampang sebagai kenyataan. Ketika Abdul Jalil menginjakkan kaki di halaman Bangsal Kaprabon (kantor raja) di lingkungan Kraton Caruban Larang, ia justru termangu keheranan menyaksikan perubahan yang begitu dahsyat dari bumi tumpah darahnya itu. Ternyata ia salah. Kraton Caruban Larang yang sekarang tidak sama dengan Pakuwuan Caruban sebagaimana ia kenal dulu.

Pakuwuan Caruban yang dulu dikenalnya berubah dengan sangat menakjubkan. Bangsal Kaprabon yang terdiri atas tiga bangunan besar – Bangsal Manguntur, Bangsal Sri Manganti, dan Bangsal Prabhayaksa – yang menggantikan pendapa pakuwuan, terlihat tegak menjulang bagaikan bangsal seorang maharaja agung. Di belakang Bangsal Kaprabon yang dibatasi dinding baluwarti (benteng) membentang kawasan puri kediaman pribadi raja. Di dalamnya terdapat Bale Rangkang, Parapuri, Purasabha, Kaputrian, dan Kebon Raja. Sementara agak jauh ke arah tenggara terlihat menara pengawas jagasatru.

Kesalahan kesan itu terulang saat ia mengurai kembali kenangan manis masa kecil di tanah kelahiran yang telah berbelas tahun ditinggalkannya. Ia tercekam oleh kenangan belaian kasih yang tulus dari ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, yang tiba-tiba berkelebatan memasuki ingatannya. Kesabaran ibunda asuhnya yang penuh perhatian mengurus segala kebutuhannya itu tiba-tiba membayang lagi di pelupuk matanya. Ia juga membayangkan kesabaran ayahanda asuhnya yang sering mengantarnya berkeliling ke desa-desa sekitar pakuwuan.

Ternyata kesan yang terbayang di benak Abdul Jalil salah lagi. Ketika menginjakkan kaki ke Bale Rangkang yang masuk ke dalam wilayah puri, ia benar-benar terkejut saat berhadap-hadapan dengan Ki Samadullah. Ayahanda asuhnya itu kini telah menjadi Raja Muda (prabu anom) Caruban Larang dengan gelar Sri Mangana. Sri Mangana bukan lagi sosok laki-laki muda bernama Ki Samadullah yang pernah dikenalnya dulu. Kesan Abdul Jalil tentang ayahanda asuhnya benar-benar salah.

Meski demikian, ia tetap dapat menangkap wajah dan sosok Sri Mangana yang masih mencerminkan citra Ki Samadullah. Hanya saja, kehidupan telah mengubahnya menjadi laki-laki gagah dan penuh wibawa di usianya yang setengah abad lebih itu. Tubuhnya jangkung. Kulitnya kuning. Wajahnya bulat dihiasi kumis tebal dan dagunya digantungi janggut. Sorot matanya tajam laksana rajawali. Siapa saja yang berhadapan dengannya akan menunduk tak kuasa menatap pancaran wibawanya. Di atas semua perubahan itu, berdasarkan kesan Abdul Jalil, Sri Mangana dalam pandangannya sekarang adalah perwujudan citra diri Ki Samadullah yang sudah matang.

Penampilan keseharian Sri Mangana memang tidak berbeda dengan penampilan Ki Samadullah yang pernah dikenalnya, yakni selalu diliputi kesahajaan. Malam itu Sri Mangana yang sedang tidak dinas terlihat duduk bersila di atas permadani tebal bikinan Persia yang digelar di Bale Rangkang. Ia hanya mengenakan kain putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya dari perut hingga ke lutut. Kepalanya gundul ditumbuhi rambut halus dengan beberapa uban dibiarkan terbuka tanpa destar.

Kata orang, saat berdinas sebagai raja pun Sri Mangana selalu terlihat bersahaja, malah sangat bersahaja dibandingkan dengan para raja di Bumi Pasundan yang lain. Ia tidak pernah terlihat mengenakan mahkota emas bertatah intan permata. Ia juga tidak pernah terlihat mengenakan perhiasan tubuh sebagaimana lazimnya pakaian kebesaran para raja di Bumi Pasundan. Saat berdinas sebagai raja tubuhnya yang gagah hanya ditutupi jubah putih. Kepalanya ditutupi destar polos putih. Semuanya dibuat dari kain katun kasar dan tanpa hiasan. Satu-satunya benda mewah yang melekat di tubuhnya adalah sebilah keris bergagang gading berukir kepala naga dengan serasa emas dan hiasan intan permata gemerlapan. Keris itu masyhur disebut orang: Kanta Naga.

Menurut cerita, keris Kanta Naga adalah anugerah dari ayahanda Raja Caruban Larang, Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran. Keris tersebut dianugerahkan bersamaan dengan pelantikan Pangeran Walangsungsang menjadi raja muda Caruban Larang dengan gelar Abhiseka Sri Mangana. Penganugerahan keris pusaka dan nama abhiseka itu sesungguhnya menyiratkan makna yang selaras, yakni pengakuan terhadap keberadaan raja muda Caruban Larang sebagai penjaga wilayah lautan bagi Kerajaan Sunda. Kanta Naga (Sansekerta: dinding naga) adalah perlambang kubu (benteng) yang melingkari Kerajaan Sunda laksana seekor naga, sedangkan nama Abhiseka Sri Mangana (Sansekerta: cahaya kekuasaan sang ular laut) adalah perlambang sang panglima penjaga kubu.

Meski telah menduduki jabatan yang sangat penting di Kerajaan Sunda, sebagaimana sifat ular laut (mang), Sri Mangana tetap terlihat bersahaja dan tenang. Dengan kesahajaan dan ketenangannya itu ia sangat dihormati dan dimuliakan laksana maharaja agung. Kata-katanya menjadi sabda dan perintahnya menjadi titah tak tersanggah. Seluruh penghuni Caruban Larang baik yang tinggal di sekitar Kutha Caruban, lingkungan kraton di desa-desa di lereng gunung tunduk patuh di bawah kuasa dan wibawanya yang luar biasa.

Sri Mangana sendiri selain dikenal sebagai orang yang bersahaja, juga dikenal sebagai raja yang ramah dan suka bergaul dengan berbagai jenis manusia mulai raja-raja, pangeran, saudagar, ruhaniwan, kepala desa, pedagang kecil, bahkan perajin dan nelayan. Ia juga dikenal sebagai pelindung kaum fakir miskin, penegak keadilan, dan pemberi pengayoman bagi yang lemah. Harta kekayaannya senantiasa terbuka bagi mereka yang membutuhkan. Ia dikenal sebagai raja yang sangat saleh dan taat menjalankan perintah agamanya. Setiap sore usai menjalankan tugas sebagai raja muda ia selalu menyempatkan diri mengajar agama di Tajug Jalagrahan.

Kegagahan dan kewibawaan yang memancar dari pribadi Sri Mangana sesungguhnya merupakan warisan dari para leluhurnya, yaitu para raja Sunda yang agung dan mulia. Semua orang percaya, darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah biru para Raja Agung Bumi Pasundan. Semua sesepuh Caruban mengatakan bahwa Sri Mangana adalah putera Prabu Siliwangi, Maharaja Sunda yang termasyhur dengan gelar kebesaran Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Jika dirunut ke atas, galur leluhur Sri Mangana setelah Prabu Siliwangi adalah Prabu Dewa Niskala, Prabu Niskala Wastu Kancana, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat (Maharaja yang gugur di Bubat), Prabu Banyak Wangi (Sang Adubasu), Prabu Banyak Larang (Sang Pulanggana), Prabu Susuk Tunggal (Sang Haliwungan), Prabu Lingga Wastu (Sang Surugana), Prabu Lingga Wesi (Sang Halu Wesi), Prabu Lingga Hyang (Bhattara Hyang Purnawijaya), Ratu Stri Purbasari Bhattari Prthiwi, Prabu Dharmastyadewa (Prabu Siung Wanara), Prabu Lingga Sakti, Prabu Arya Galuh (Sang Rawisrengga), dan Raka I Sirikan Pu Samarawikranta.

Adapun Raka I Sirikan Pu Samarawikranta adalah Raja Galuh Lalean pertama yang dikenal dengan nama Abhiseka Prabu Hari Murti Ratu Haji di Adi Mulya. Dia adalah putera Maharaja Mataram Raka I Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu dan adik lain ibu Sri Maharaja Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya. Dyah Balitung adalah putera Raka I Kayuwangi Dyah Lokapala Sri Sajjanotsawatungga. Raka I Kayuwangi putera Raka I Pikatan Pu Manuku Sang Jatiningrat.

Raka i Pikatan Pu Manuku Sang Jatiningrat adalah putera Sri Mani Raja Wwotan Mas. Sri Mani putera Sang Manarah Brahmanaraja, yakni Sang Surottama pendiri Wwotan Mas. Sang Surottama putera Rahyang Tamperan (Sang Wariga Agung). Rahyang Tamperan putera Sri Maharaja Raka I Mataram Ratu Sanjaya, yang tak lain adalah putera Sang Sannaha dengan Maharaja Sanna. Dan, Sang Sannaha adalah puteri Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi. Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi adalah puteri hasil perkawinan Prabu Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha dengan Sri Maharani Simha, pendiri Kerajaan Kalingga. Dengan demikian, jika ditarik ke atas para leluhur Sri Mangana adalah para raja Sunda keturunan Sri Purnawarman Bhimaparakramadipa, Maharaja Tarumanagara, karena baik Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha maupun Sri Maharani Simha adalah keturunan Maharaja Tarumanagara.

Meski darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah para Raja Bumi Pasundan, berbeda dengan selazimnya para ningrat yang bangga dengan darah birunya, Sri Mangana, pangeran yang pernah lari dari lingkungan istana dan hidup sebagai orang kebanyakan itu, tidak membeda-bedakan keberadaan manusia berdasarkan warna kulit dan aliran darah. Ia selalu terlihat bersahaja, meski telah menduduki takhta Caruban Larang. Kesahajaannya itu setidaknya tercermin saat ia menerima putera asuhnya, Abdul Jalil, di Bale Rangkang, balai tamu pribadi raja di dalam Kraton Caruban Larang. Bagi Abdul Jalil, penerimaan dirinya di Bale Rangkang itu mengandung makna betapa sesungguhnya ayahanda asuhnya tidak pernah berubah sedikit pun dalam sikap dan kesahajaan. Bahkan, setelah menjadi raja pun ia tetap mengakui Abdul Jalil sebagai putera, bagian dari keluarga dalamnya.

Kesan keakraban antara putera dan ibunda serta ayahanda asuh yang pernah dibangun sejak masa kecil ternyata tidak berubah. Hal itu terlihat, saat mereka usai melepas rindu dan berbincang-bincang tentang keadaan masing-masing, ketika Sri Mangana mempertemukan Abdul Jalil dengan para selir dan putera-puterinya. Yang mengejutkan, ia memperkenalkan Abdul Jalil sebagai putera sulung yang selalu dirindukan kedatangannya.

Tidak berbeda jauh dengan Sri Mangana, Nyi Indang Geulis, sang permaisuri yang adalah ibunda asuh Abdul Jalil, dalam pertemuan itu juga tampil seperti biasanya, yakni sangat bersahaja sehingga tidak mengesankan bahwa dia adalah permaisuri raja. Dia tidak mengenakan perhiasan berlebih di tubuhnya, kecuali dua pasang giwang emas dengan hiasan permata sebesar butiran kacang. Meski demikian, keanggunan dan kewibawaan seorang permaisuri memancar agung dari citra dirinya. Sejumlah uban yang tampak menyelip di rambutnya yang hitam tidak menghapus gari-garis kecantikan yang masih membias di wajahnya.

Bagi Abdul Jalil, ibunda asuh yang dihadapinya malam itu, meski sudah berubah dalam tampilan, yakni lebih tua dan lebih berwibawa, tidaklah berubah dalam sikap. Ibunda asuhnya itu seperti tidak peduli bahwa ia telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang telah merasakan pahit dan getir kehidupan. Ibunda asuhnya seolah-olah tetap menganggap San Ali kecil yang bisa digendong, ditimang, dimanja, dan diawasi gerak-geriknya. Di atas itu semua, Abdul Jalil menangkap kesan bahwa ibunda asuhnya kini telah berubah menjadi perempuan yang tegas, penuh semangat, tegar, berwibawa, bahkan cenderung menguasai.

Kesan yang ditangkap Abdul Jalil tampaknya tidak keliru. Malam itu setiap orang yang berada di Bale Rangkang, baik Sri Mangana, Abdul Jalil, Syarif Hidayatullah, para selir maupun putera-puteri raja, lebih banyak menjadi pemirsa dan pendengar pembicaraan sang permaisuri. Mereka tidak berbicara jika tidak diperintah. Mereka tidak menjawab jika tidak ditanya. Saat diresapi lebih mendalam, terhampar kenyataan yang menunjukkan betapa di antara sang raja dan keluarganya yang memiliki pancaran kharisma sejatinya bukanlah sang raja, melainkan sang permaisuri, Nyi Indang Geulis.

Saat Abdul Jalil tertegun-tegun menyaksikan betapa ibunda asuhnya menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir di Bale Rangkang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seruan Ruh al-Haqq yang menggema dari kedalaman jiwanya, yang jika dipaparkan dalam bahasa manusia intinya kira-kira berbunyi: “Ketahuilah, o Abdul Jalil, sesungguhnya perempuan perkasa itu adalah penghulu para perempuan pada zamannya. Dia adalah perempuan yang paling sabar pada zamannya sehingga di mana pun dia berada selalu bersama-sama dengan Yang Mahasabar (ash-Shabur). Sesungguhnya, tanpa keberadaan perempuan mulia itu, sudah lama Raja Caruban Larang tumbang ke bumi memunguti remah-remah kehidupan dan menelan kekalahan yang pahit.” “

Ayahanda asuhmu memang lahir dari kalangan darah biru sebagai ksatria yang memiliki sifat pemberani, penuh semangat, tahan menderita, dan pantang menyerah. Namun, ia adalah manusia yang sembrono, kurang perhitungan, meledak-ledak, tidak pedulian, dan cenderung nekat. Sehingga, dengan sifatnya itu ia cenderung gampang terperosok ke jurang kekalahan. Sesungguhnya, tanpa pengendalian dan arahan dari permaisurinya, dia tidak akan pernah berhasil melampaui berbagai tantangan kehidupan. Tanpa istrinya, ia tidak akan pernah menjadi raja. Dan, jika engkau saksikan ke kedalaman hatinya, sesungguhnya jauh di relung-relung terdalam dirinya tersembunyi kekuatan kelam dari ilmu sakti seratus ribu hulubalang yang diperolehnya dari Gunung Kumbha(ng).”

Abdul Jalil tersentak kaget. Kemudian dengan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala ia memandang ibunda asuhnya penuh ketakjuban. Sungguh, mereka yang melihat ibunda asuhnya dari penglihatan indriawi tidak akan mampu menangkap kenyataan betapa di dalam penampilan ibunda asuhnya yang tegas, penuh semangat, berwibawa, dan cenderung menguasai itu sesungguhnya tersembunyi kesabaran yang tak tertandingi. Bahkan, lantaran kesabarannya itulah dia diangkat menjadi penghulu para perempuan yang dicintai Allah pada zamannya.

Kemuliaan Nyi Indang Geulis sendiri baru tersingkap sebagian ketika hari sudah larut dan semua yang hadir sudah beristirahat, kecuali Abdul Jalil yang masih duduk di Bale Rangkang bersama Sri Mangana dan Sang Permaisuri. Dengan tidak menutup-nutupi apa yang telah diterimanya dari Ruh al-Haqq, Abdul Jalil berkata, “Barusan tadi ananda mendapat isyarat gaib yang menyatakan bahwa sesungguhnya Ibunda adalah penghulu para perempuan yang paling agung dan mulia pada zaman ini. Ibunda adalah perempuan yang paling sabar sehingga di mana pun Ibunda berada, selalu bersama-sama dengan Yang Mahasabar (ash-Shabur). Apakah sesungguhnya amaliah ibadah yang telah Ibunda lakukan sehingga Ibunda berkedudukan begitu mulia di hadapan-Nya?”

Mendengar kata-kata Abdul Jalil, ganti Nyi Indang Geulis tercengang keheranan. Dengan suara bergetar dia bertanya, “O Puteraku terkasih, dari mana engkau mengetahui jika ibundamu ini selama bertahun-tahun berjuang menahan kesabaran sampai tidak lagi bisa membedakan apa yang disebut sabar dan tidak sabar? Bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa sekaran aku sudah menyerahkan segala urusan hanya kepada Yang Mahasabar? Bagaimana engkau bisa tahu jika sekarang ini tidak ada yang bisa membuatku marah karena sesungguhnya aku sudah tidak memiliki sesuatu yang bisa membuatku marah?”

Abdul Jalil tidak bisa menjawab. Ia terdiam selama beberapa jenak. Saat suasana hening tiba-tiba Sri Mangana berkata, “Engkau tidak perlu bertanya kepada puteramu bagaimana ia bisa mengetahui pedalamanmu yang aku pun tidak pernah mengetahuinya. Tetapi perlu engkau ketahui, o Adinda, bahwa dulu sewaktu puteramu masih kecil, guru agung kita, Syaikh Datuk Kahfi, pernah mengungkapkan suatu rahasia tentang puteramu itu kepadaku. Beliau saat itu berkata bahwa puteramu kelak akan menjadi kekasih Allah. Dan, aku diminta untuk melindunginya meski dengan taruhan nyawaku. Nah, Adinda, aku kira puteramu mengetahui pedalamanmu karena ia telah diberi tahu oleh Dia Yang Mengasihinya.”

Dengan mata berkaca-kaca Nyi Indang Geulis bertanya, “Benarkah ucapan ayahandamu itu, o Puteraku?” “

Ibunda,” kata Abdul Jalil tenang, “sesungguhnya untuk mengetahui apakah kita tergolong kekasih Allah atau bukan tergantung pada penilaian jujur kita terhadap diri sendiri. Maksud ananda, apakah kita sudah meyakini dengan jujur bahwa kiblat hati dan pikiran tertuju utuh hanya kepada Allah? Jika kita yakin sepenuh jiwa dan raga bahwa hati dan pikiran kita benar-benar hanya terarah kepada Allah maka sesungguhnya Allah telah mengasihi kita. Itu berarti sudah menjadi kekasih-Nya.”

Nyi Indang Geulis tersedu sedan mendengar penjelasan putera asuhnya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang dia mengungkapkan dengan jujur keadaan jiwanya saat itu. Dia jelaskan kepada suami dan putera asuhnya bahwa saat itu sesungguhnya dia sudah tidak lagi merasakan keterikatan yang kuat dengan suami dan putera-puterinya. “Bukan aku tidak mencintai mereka, o Puteraku. Tapi, aku merasa ada semacam jarak gaib yang telah memisahkan aku dengan mereka. Aku sendiri tidak tahu apa sesungguhnya yang sedang aku alami.” “

Ibunda, sesungguhnya keindahan perjalanan hidup manusia bukanlah saat ia berada di puncak kehidupan yang sejati. Ibarat seseorang mendaki gunung, keindahan perjalanan hidup bukanlah kebanggaan dan bukan pula kegembiraan saat ia berada di puncak. Melainkan, liku-liku perjuangan saat ia meninggalkan rumah, keluarga, kampung halaman, dan merangkak di antara tebing-tebing yang curam itulah keindahan dari sebuah perjalanan hidup.” “

Karena itu, o Ibunda, sangatlah wajar jika Ibunda saat ini yang sudah berada di puncak justru merasakan ada jarak gaib yang memisahkan ibunda dengan suami, putera-puteri, dan segala sesuatu yang Ibunda miliki. Karena, Ibunda sudah berada di puncak kehidupan yang sejati. Saat ini sejauh Ibunda menyapukan pandangan, hanya langit luas, gumpalan awan, gugusan sawah, hutan, desa-desa, aliran sungai, dan lautan saja yang tampak di kejauhan. Ibunda tidak merasa memiliki semuanya. Ada jarak yang memisahkan Ibunda dengan mereka. Bahkan, jika dirasa-rasakan saat ini Ibunda sesungguhnya tegak sendirian di puncak gunung kehidupan. Ibunda hanya dikawani rasa sunyi, senyap, hening, dan hampa. Dan, sesungguhnya rasa hampa yang meliputi Ibunda, yakni rasa hampa yang tak terjangkau akal, tak tersentuh pikiran, tak terbayangkan, tak terbandingkan, itulah hakikat sejati dari kedekatan Ibunda dengan Sang Hampa (laisa kamitslihi syaiun) yaitu Sang Mahaada (al-Wujud), Yang Zhahir dan Batin.” “

Benarlah apa yang engkau ucapkan, o Puteraku,” ujar Nyi Indang Geulis. “Saat ini aku merasakan sesuatu yang aneh pada jiwaku. Aku merasakan jiwaku kosong, tetapi sekaligus penuh. Ketika kuintai kekosongan yang kudapati justru kepenuhan. Ketika kuanggap penuh, ia justru kosong. Karena itu, tidak ada kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, sukacita, dan berbagai jenis perasaan yang bisa masuk dan bersemayam di dalam hatiku. Sungguh! Selama ini tidak ada satu pun orang yang bisa menjelaskan kepadaku apa sesungguhnya yang telah aku alami ini. Sebab, aku tidak pernah mengungkapkannya, bahkan kepada ayahandamu pun aku tidak pernah bercerita.” “

Berbahagialah Ibunda yang telah sampai di puncak kehidupan sejati. Tetapi jika ananda boleh tahu, laku kesabaran apa yang telah Ibunda laksanakan sehingga Ibunda bisa mencapai kedudukan yang begitu mulia di hadapan-Nya?”

Nyi Indang Geulis diam sejenak seolah mengingat-ingat. Beberapa saat kemudian dia bercerita bahwa pada awalnya dia sangat terkesan oleh wejangan Syaikh Datuk Kahfi saat mengupas hakikat agama. Menurut Syaikh Datuk Kahfi, pada hakikatnya apa yang disebut agama adalah ajaran yang melatih, menekan, bahkan memaksa manusia untuk menahan dan mengekang diri dari dorongan keakuan. Pengekangan diri, menurut Syaikh Datuk Kahfi, bisa menjadi siksaan bagi mereka yang mencintai kehidupan duniawi. Tetapi sebaliknya, pengekangan akan menjadi kegembiraan bagi para pencari Kebenaran Sejati.

Ajaran agama yang dimaknai pengekangan diri itu ternyata memiliki arti yang luas dan mendalam. Sebab, telah terbukti bahwa segala sesuatu yang terkait dengan amaliah ibadah yang diajarkan oleh agama-agama yang benar, pada hakikatnya dinilai sebagai penyiksaan oleh para pecinta kehidupan duniawi. Orang-orang Hindu yang melakukan upawasa (puasa), menjalankan dharma, melakukan yoga-samadi, menjalani wairagya, oleh para pecinta kehidupan duniawi dianggap telah melakukan kebodohan dalam bentuk penyiksaan diri. Padahal, bagi para pencari Kebenaran Sejati, tanpa perjuangan keras mengekang dan menyiksa diri, seorang manusia tidak akan pernah menjadi orang-orang suci yang tercerahkan seperti para Rishi, Brahmana, Sannyasin, dan Sadhu.

Orang-orang muslim pun jika dilihat dari pandangan para pecinta kehidupan duniawi tidak lepas dari kecenderungan mengekang dan menyiksa diri. Itu tercermin dari ketentuan ajaran Islam untuk berkhitan, berpuasa menahan lapar dan dahaga sebulan penuh, bersembahyang wajib sehari lima kali ditambah sembahyang sunnah, berzakat dan bersedekah mengeluarkan harta, menunaikan ibadah haji, dan berbagai ibadah nawafil yang lain yang oleh para pecinta tubuh dianggap sebagai kebodohan dan penyiksaan diri. “

Saat aku bertanya kepada guru agung apakah amaliah ibadah yang paling menyiksa, tetapi paling utama bagi seorang perempuan?” ujar Nyi Indang Geulis, “beliau menjawab: sabar dan ikhlas dimadu.” “

Ah, ananda tadi sudah mengira ketika Ibunda memperkenalkan dua selir Ramanda Ratu beserta putera dan puterinya,” Abdul Jalil tersenyum lebar. “Ananda sudah menduga Ibunda pasti melewati jalur pintas yang luar biasa berat itu.” “

Tapi tungguh dulu,” tukas Nyi Indang Geulis. “Sesungguhnya bukan aku yang dimadu oleh ayahandamu, sebaliknya aku yang sengaja memadukan diriku.” “

Maksud Ibunda?” “

Yang merencanakan semua perkawinan ramandamu adalah aku. Padahal, saat itu ramandamu sedikit pun tidak memiliki niat untuk menikah lagi.” “

Mahasuci Allah,” gumam Abdul Jalil. “Dia telah membentangkan jalan-jalan menuju-Nya dengan cara yang tak terduga dan tak terpikirkan. Tetapi sebagaimana yang ananda tadi jelaskan, keindahan bagi sang pemenang bukanlah saat ia meraih kemenangan. Keindahan bagi pendaki gunung bukanlah saat ia berada di puncak, melainkan justru perjuangan menuju puncak itulah perjalanan yang terindah.” “

Benarlah apa yang engkau ucapkan itu, o Puteraku,” kata Nyi Indang Geulis. “Saat aku sendirian di puncak dan kemudian teringat akan masa-masa jahil ketika aku masih menjadi pecinta kehidupan duniawi, sering aku menertawakan sendiri kebodohan diriku. Saat itu betapa tidak tahu malunya aku karena menganggap segala apa yang mengitariku adala mutlak milikku. Suami, anak-anak, keluarga, perhiasan, harta benda, rumah, kehormatan, kemuliaan, dan sanjungan kuanggap sebagai milikku yang tak bisa diganggu gugat. Ketika itu aku sungguh-sungguh merasa diriku seperti iblis jahat yang tidak pernah rela melihat manusia lain beroleh keberuntungan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kemuliaan yang melebihi diriku. Semuanya seolah-olah harus kuakui sebagai milikku.” “

Berkali-kali aku tanya diriku apakah sesungguhnya beban tanggungan yang paling berat bagi manusia? Kuperoleh jawaban: beban tanggungan terberat bagi manusia adalah keangkuhan dan kepongahan seekor merak yang dengan sombong membentangkan ekornya di bawah intaian harimau pemangsa. Atau, kebanggaan seekor gajah yang membanggakan kebesaran tubuhnya yang terperosok ke perigi. Atau, nyanyian seekor burung yang berkicau di sangkar emas. Atau, kelincahan seekor kijang yang diincar panah pemburu. Itu berarti, sesungguhnya beban tanggungan terberat bagi manusia adalah beban keakuan yang menjadikan manusia sebagai hewan pengangkut beban. Ya, beban keakuan yang menyebabkan jiwa manusia berlutut seperti kuda yang memohon punggungnya ditunggangi beban. Adakah kejahilan yang melebihi kebodohan dan ketololan manusia yang sudah diperbudak beban keakuan diri yang mengendalikan jalan hidupnya?” “

Syukurlah, kejahilan jiwaku yang gelap, pengap, dan panas laksana api itu berangsur-angsur pupus digantikan pancaran keindahan ketika aku lewati liku-liku pendakian hidup yang curam dan terjal. Perlahan-lahan tetapi pasti, aku tanggalkan beban keakuan yang memberati punggungku. Aku lepaskan keterikatanku pada suami. Aku lepas rasa kepemilikanku terhadap suami. Saat itu aku yakinkan sepenuh jiwaku bahwa sesungguhnya suamiku bukanlah milikku. Suamiku adalah milik Allah. Demikian pun, aku tekan rasa kepemilikanku untuk bisa bersabar dan ikhlas menyaksikan perempuan lain – para maduku – menikmati kebahagiaan bersama suamiku. Ah, betapa indah saat aku bergulat mati-matian memerangi diriku sendiri. Betapa indahnya saat aku menitikkan air mata di lereng terjal pendakianku. Dan, betapa indah saat awal aku gapai puncak kemenanganku.” “

Jika Ibunda tidak keberatan, bolehkah ananda mendengarkan kisah indah Ibunda saat berjuang menaklukkan diri sendiri, agar nanti bisa ananda ceritakan kepada istri-istri ananda. Biarlah mereka berdua meneladani keteguhan dan ketegaran Ibunda mertuanya yang telah berhasil meraih kemenangan dan mengibarkan bendera kejayaan,” ujar Abdul Jalil.

Seperti tanpa beban apa pun Nyi Indang Geulis menuturkan liku-liku cerita yang melatari perkawinan suaminya. Mula-mula, ia memaparkan kenyataan betapa selama bertahun-tahun perkawinannya ternyata tidak dikaruniai keturunan. Namun, saat itu dia tidak pernah merasakan keadaan itu sebagai sesuatu yang berat karena dia selalu menumpahkan kasih sayang seorang ibu kepada putera asuhnya, San Ali. “Tetapi, semenjak kepergianmu, o Puteraku, aku rasakan hidupku tiba-tiba menjadi sepi dan lengang. Apa yang aku rasakan itu ternyata dirasakan juga oleh ramandamu. Akhirnya, aku meminta saran guru agung. Dan, beliau menuturkan tentang ketentuan hukum kauniyah adanya pertemuan dan perpisahan, di mana keberadaan agama pada hakikatnya adalah melatih manusia untuk tulus mengikuti hukum kauniyah itu dengan pengekangan-pengekangan dan bahkan penyiksaan diri,” ujar Nyi Indang Geulis.

Langkah awal yang dilakkukannya untuk mengekang diri, ungkap Nyi Indang Geulis, adalah memohon kepada Syaikh Datuk Kahfi untuk menikahkan suaminya dengan Nyai Retna Riris, puteri almarhum Ki Danusela. Mula-mula Syaikh Datuk Kahfi terkejut dengan permohonan itu, namun akhirnya ia bisa memahami. Pernikahan itu terjadi dan hasilnya adala seorang putera yang dinamai Pangeran Cirebon.

Mendengar uraian Nyi Indang Geulis bahwa istri kedua Sri Mangana adalah puteri Ki Danusela, Abdul Jalil tercekat kaget. Sebab, sepengetahuannya, Ki Danusela, ayahanda angkatnya itu, tidak memiliki keturunan seorang pun. Itu sebabnya dengan penasaran ia bertanya, “Apakah Ibunda maksud Ki Danusela, ayahanda Nyi Retna Riris itu adalah ayahanda saya?” “

Ya, benar begitu, Puteraku.” “

Bukankah beliau tidak memiliki keturunan seorang pun?” “

Dari ibundamu Nyi Ratu Inten Dewi, beliau memang tidak memiliki keturunan. Namun, dari istrinya yang bernama Ratu Arumsari, puteri Yang Dipertuan Singhapura, beliau memiliki puteri bernama Nyi Retna Riris.” “

Kenapa ananda tidak pernah tahu akan hal itu?” “

Tentang itu tanyalah ayahandamu sebab ayahandamu lebih tahu tentang persoalan itu.”

Abdul Jalil menarik napas berat dan kemudian memandang Sri Mangana dengan tatapan memohon. Sri Mangana yang tidak sampai hati menyaksikan putera asuhnya terombang-ambing ketidakpastian, akhirnya bercerita. “

Ketahuilah, o Puteraku, bahwa sesungguhnya ayahandamu memang memiliki istri selain ibundamu, yaitu Ratu Arumsari. Dan, sesungguhnya Ratu Arumsari adalah bibiku karena dia adala puteri Ratu Surantaka. Sedangkan Ratu Surantaka adalah saudara lain ibu dari kakekku, Ki Gedeng Tapa. Ratu Surantaka adalah putera kakek buyutku, Prabu Kasmaya dengan Ratu Suragharini Bhre Singhapura, puteri Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit.” “

Karena di dalam diri Ratu Arumsari mengalir darah Majapahit maka atas perintah ayahandaku, Prabu Guru Dewata Prana, Ki Danusela menikahinya. Tujuannya tidak lain untuk memasukkan semua kekuatan Majapahit di Bumi Pasundan ke dalam lingkungan kekuasaan Maharaja Sunda. Bahkan, beberapa waktu setelah ayahandamu meninggal dan aku menikahi Nyi Retna Riris, datanglah utusan dari Pakuan Pajajaran yang membawa pesan Sri Maharaja agar aku menikahi puteri Ki Danusela itu. Saat itu aku katakan kepada utusan itu bahwa sesungguhnya aku telah menikahinya beberapa waktu lalu sebelum perintah itu aku terima.” “

Jika demikian, Nyi Retna Riris adalah saudara angkat saya?” “

Demikianlah sebenarnya. Dia sekarang bernama Nyi Kencana Larang?” “

Jika demikian, tentunya Nyi Kencana Larang masih sepupu Ibunda Nyi Indang Geulis.” “

Benarlah demikian, o Puteraku, karena ayahanda Nyi Kencana Larang adalah adik Ki Danuwarsih, ayahanda ibundamu Nyi Indang Geulis.” “

Tapi, kenapa perkawinan itu dilakukan secara diam-diam dan seolah-olah rahasia?” “

Sebab, di balik niat perkawinan ayahandamu dengan Ratu Arumsari tersembunyi iktikad untuk menghilangkan pengaruh Majapahit. Itu sebabnya, setelah penguasa Singhapura, Dyah Surawijaya Bhre Singhapura, meninggal, yang menggantikannya adalah kakekku, Ki Gedeng Tapa, yakni kemenakan tirinya. Di bawah kakekku itulah nama Singhapura diam-diam ditenggelamkan oleh nama Pasambangan.”

Abdul Jalil mengangguk-angguk. Ia memahami penjelasan ayahanda asuhnya itu. Ia sadar bahwa di balik perkawinan-perkawinan itu sesungguhnya terselip hasrat perebutan kekuasaan yang dahsyat. Lantaran tak ingin terperangkap ke dalam lingkaran setan tak berujung pangkal, ia pun meminta ibundanya, Nyi Indang Geulis, untuk melanjutkan kisah perjuangan menaklukkan keakuannya.

Nyi Indang Geulis melanjutkan cerita dengan menuturkan kehadiran seorang ulama asal Negeri Campa bernama Syaikh Ibrahim Akbar bersama puterinya, Nyai Rasa Jati. Syaikh Ibrahim Akbar adalah sepupu Raden Ali Rahmatullah, Bupati Surabaya. Semula Syaikh Ibrahim Akbar tinggal di rumah kerabatnya, Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Siddhiq, di Padepokan Kuro, Karawang. Tak lama sesudah itu ia dan puterinya tinggal di Junti dan kemudian di Giri Amparan Jati.

Bersimpati terhadap nasib tak beruntung yang dialami Syaikh Ibrahim Akbar dan puterinya, akhirnya Nyi Indang Geulis meminta agar Syaikh Datuk Kahfi menikahkan Nyai Rasa Jati dengan suaminya. Keinginan Nyi Indang Geulis itu pun dikabulkan oleh Syaikh Datuk Kahfi. Dari pernikahan itu Sri Mangana dikaruniai tujuh puteri, yaitu Nyai Rara Konda, Nyai Rara Sejati, Nyai Jatimerta, Nyai Jamaras, Nyai Mertasinga, Nyai Campa, dan Nyai Rasa Melasih.

Pergulatan Nyi Indang Geulis untuk menaklukkan diri sendiri ternyata berbuah kegembiraan yang tidak pernah diduganya. Saat dia sudah tidak lagi mengharapkan kelahiran seorang bayi dari rahimnya, tiba-tiba saja dia hamil. Padahal, saat itu usia perkawinannya sudah lebih dari dua puluh tahun. Lalu lahirlah seorang puteri yang dinamai Pakungwati. “Lahirnya puteriku itu sempat membuatku berpaling. Puteriku sempat menjadi buah hatiku dan kuanggap sebagai milikku yang paling berharga. Tetapi, kemudian aku sadari bahwa dia sesungguhnya milik-Nya, yang digunakan untuk menguji keteguhan hati dan kesetiaanku kepada-Nya.”

Nyi Muthmainah yang masyhur disebut Nyi Mas Gandasari, puteri angkat Raja Caruban Larang, Sri Mangana, adalah perempuan yang sangat cantik. Tubuhnya tinggi dan terkesan sangat jangkung dibandingkan dengan perempuan Sunda seumumnya. Mukanya bulat telur. Bentuk matanya bulat indah dengan bulu mata lebat. Namun, di balik mata yang indah itu memancar sorot ketegaran sebongkah bukit karang tak tergoyahkan. Hidungnya tinggi dan mancung. Bibirnya berbentuk sangat indah, tetapi selalu mengatup.

Penampakan fisik Nyi Mas Gandasari adalah penampilan perempuan yang lahir dari macam-macam anasir bangsa. Dari ibundanya mengalir darah Hindustan dan Mongolia karena leluhurnya adalah keturunan Janghiz Khan yang menaklukkan Hindustan dan mendirikan Dinasti Moghul. Sedangkan dari ayahandanya mengalir darah Arab-Hindustan-Campa karena neneknya dari pihak ayah adalah seorang muslimah asal Campa yang tinggal di Malaka. Dan, boleh jadi karena mewarisi berbagai-bagai aliran darah maka naluri yang mengendap di kedalaman jiwa Nyi Mas Gandasari agak berbeda dengan seumumnya perempuan Sunda. Baju warna hitam penutup tubuh bagian bawah, memang terlihat aneh bagi seumumnya perempuan di Bumi Pasundan yang hanya menutup bagian bawah tubuhnya – sebatas perut ke bawah lutut – dengan kain. Sementara itu, sebilah keris yang terselip di dadanya menunjukkan Nyi Mas Gandasari adalah seekor singa betina pada zamannya; singa betina yang ditakuti binatang jantan yang bukan singa.

Menurut cerita orang-orang Caruban Larang, Nyi Mas Gandasari merupakan puteri Syaikh Datuk Sholeh yang diangkat anak oleh Raja Caruban Larang untuk dijadikan panglima perempuan Caruban Larang yang bakal mengalahkan penguasa Galuh Pakuan. Sebab, menurut ramalan, Yang Dipertuan Galuh, Ratu Aji Surawisesa, Sang Putera Mahkota Pakuan Pajajaran, yang tidak lain adalah saudara lain ibu Sri Mangana, konon tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh seorang perempuan hing wanojaha kang pangawijing. Entah benar entah tidak cerita orang-orang Caruban Larang yang berkembang dari mulut ke mulut itu, yang jelas orang akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan Nyi Mas Gandasari sebagai pendekar wanita yang sakti mandraguna; wanojaha linggihing pangelmu wuleding raga kang sakti mandraguna; wanojaha pangestu mungguhing sesanggah.

Sementara menurut cerita orang-orang Galuh Pakuan, Nyi Mas Gandasari sengaja disiapkan sebagai alat oleh Sri Mangana untuk merebut takhta Pakuan Pajajaran yang sudah jelas-jelas menjadi hak Ratu Aji Surawisesa, sang putera mahkota, yakni putera Prabu Guru Dewata Prana dari permaisuri. Niat Sri Mangana itu setidaknya terlihat saat terjadi kekisruhan di Pakuwuan Caruban. Saat itu, Ki Danusela, Kuwu Caruban, adalah menantu Ratu Aji Surawisesa. Namun, saat Ki Danusela meninggal secara misterius dan kedudukannya digantikan oleh Rsi Bungsu, putera Ratu Aji Surawisesa, justru Sri Mangana merebutnya dengan kekerasan bersama-sama dengan orang Demak. Bahkan setelah menduduki jabatan Kuwu, Sri Mangana masih belum puas dan meminta kepada ayahandanya agar dianugerahi jabatan Raja Caruban Larang.

Entah yang benar orang-orang Caruban Larang atau orang-orang Galuh Pakuan, orang umumnya hampir tidak peduli dengan pertikaian dua bersaudara tersebut dalam memperebutkan kekuasaan. Hari demi hari orang-orang justru seperti tidak ada bosan-bosannya membicarakan kecantikan, kegagahan, sekaligus kesaktian Nyi Mas Gandasari. Ibarat wangi bunga yang memabukkan kumbang-kumbang jantan, begitulah keharuman nama Nyi Mas Gandasari telah memabukkan banyak lelaki. Namun setiap kali datang kumbang hendak membaui keharumannya, Nyi Mas Gandasari selalu menghalau mereka dengan duri-durinya yang tajam.

Orang bilang jumlah kumbang jantan yang luka tertusuk duri bunga Gandasari sudah tidak terhitung. Di antara beberapa kumbang jantan yang terbanting dari kelopak bunga harum Gandasari yang diingat orang adalah Ki Gedeng Plered, Ki Gedeng Dermayu, Ki Gedeng Pekandangan, Ki Gedeng Paluamba, Ki Gedeng Sindanggaru, Ki Gede Sembung, Ki Gede Bungko, dan Syaikh Magelung.

Sekalipun kesaktian dan keteguhan Nyi Mas Gandasari sudah termasyhur melebihi laki-laki, hati yang tersembunyi di dalam dadanya sesungguhnya tetaplah hati perempuan yang penuh kasih dan kelembutan. Hal itu terlihat tatkala Sri Mangana mengunjunginya dengan mengajak Abdul Jalil. Semula, seperti sikap sehari-harinya dalam menghadapi laki-laki, dia sedikit pun tidak menghiraukan Abdul Jalil. Dia hanya menyongsong ayahanda angkatnya dan mempersilakannya masuk.

Saat Abdul Jalil duduk bersila penuh hormat di hadapannya, Nyi Mas Gandasari tetap tidak menghiraukannya meski dia merasakan suatu sentuhan melintas di hatinya saat sepintas melihat Abdul Jalil. Namun, sentuhan itu ia abaikan karena yang terbayang di dalam benaknya adalah kesan bahwa kehadiran ayahanda angkatnya tentu tidak jauh berbeda dengan kehadiran-kehadiran sebelumnya, yakni memintanya untuk menikah dengan lelaki yang dianggapnya baik.

Namun, anggapan Nyi Mas Gandasari ternyata salah. Saat ayahanda angkatnya menjelaskan bahwa laki-laki muda yang duduk di hadapannya adalah adik yang selalu dirindukannya selama bertahun-tahun, yaitu San Ali, runtuhlah keteguhan bukit karang hatinya yang termasyhur itu. Bagaikan selembar kain jatuh, dia duduk berlutut dan merangkul adik yang dirindukannya sambil menangis tersedu-sedu. Dia menjadi perempuan biasa yang berhati sangat lembut.

Abdul Jalil membiarkan Nyi Mas Gandasari menumpahkan semua gelegak perasaannya. Ia membiarkan jubah di bagian bahunya basah oleh air mata bahagia kakaknya. Ia hanya duduk bersila sambil merenungi liku-liku kehidupan yang dilaluinya yang penuh pergulatan tak berkesudahan dan hampir selalu menampilkan keanehan-keanehan yang tak ia pahami.

Betapa aneh hidup ini jika direnungkan, ujarnya dalam hati. Betapa berbelit hidup ini jika dipikir-pikir. Betapa mengherankan hidup ini jika dibayang-bayangkan. Dan, betapa berat hidup ini jika diingat-ingat lekuk dan likunya. Namun sebagai manusia yang sudah merasakan pahit dan getir hidup hingga mencapai kedewasaan ruhani, aku sadar bahwa hidup adalah untuk dinikmati dan dijalani apa adanya tanpa perlu dipikir-pikir, direnung-renung, dibayang-bayangkan, dan diingat-ingat. Hidup adalah ibarat setitik air yang harus setia pada aliran hukum kauniyah yang menyeretnya ke lingkaran siklus, yaitu menuju ke Muara dan sekaligus Sumber Sejati.

Sri Mangana yang berdiri di belakang Abdul Jalil dan menyaksikan pemandangan mengharukan itu berkali-kali menarik napas berat. Beberapa jenak kemudian dengan terbatuk-batuk kecil ia berkata, “Sekarang sirna sudah kabut kepedihan karena terbitnya matahari kebahagiaan. Engkau, putera dan puteriku terkasih, adalah rembulan dan matahari yang didambakan oleh mereka yang sedang berada di dalam kegelapan. Sebagaimana dambaanku yang ingin melihat kalian berdua sebagai rembulan dan matahari yang ditunggu terbitnya oleh umat manusia pada siang dan malam hari, demikianlah hendaknya kalian berdua memaknai hidup kalian.”

Nyi Mas Gandasari tersadar dia telah cukup lama mengabaikan ayahanda angkatnya. Buru-buru dia bersimpuh menyembah sambil berucap, “Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu. Ananda telah berlaku kurang pantas membiarkan Ramanda Ratu. Ananda memohon ampunan dari Ramanda Ratu.” “

Sudahlah, tidak perlu berbasa-basi,” sahut Sri Mangana duduk bersila di samping Abdul Jalil. “Aku ini ayahanda kalian berdua. Aku tahu, pusaran nasib telah memisahkan kalian berdua. Tetapi, aku berharap kalian berdua, terutama engkau, o Puteriku, untuk bisa berbesar hati menerima kehendak-Nya meski itu sering tidak engkau pahami.” “

Ananda mempusakakan wasiat Ramanda Ratu.” “

Satu hal yang harus engkau ketahui, yaitu adik yang terus-menerus engkau rindukan sekarang telah kembali dengan membawa kemenangan. Maksudku, ia telah berhasil meraih keinginannya yaitu menemukan Kebenaran Sejati. Itu sebabnya, sebagaimana aku, hendaknya engkau pun belajar darinya tentang jalan Kebenaran Sejati.” “

Benarkah demikian, o Adikku,” tanya Nyi Mas Gandasari dengan mata berkilat-kilat penuh harap. “

Maafkan saya, o Ayunda,” Abdul Jalil merendah, “sesungguhnya jalan Kebenaran yang telah saya temukan hanyalah jalan Kebenaran menuju Dia, al-Haqq, Yang Tak Terjangkau Akal dan Tak Tersentuh Pancaindra. Maksudnya, saya tidak memiliki ilmu kesaktian dan kedigdayaan seperti aji-aji kememayam, pangasihan, pangabaran, kapaliyasan, karosan, kateguhan, pangerutan, dan kadewan. Jadi, meski saya mengetahui jalan Kebenaran, saya bukanlah orang yang memiliki kelebihan apa pun apalagi sakti mandraguna.”

Nyi Mas Gandasari tersentak kaget mendengar ujar Abdul Jalil. Sebab, beberapa macam ilmu yang disebut oleh adiknya itu justru merupakan ilmu andalan yang dia warisi dari Sri Mangana dan Ki Gede Selapandan, gurunya. Sambil tersenyum kecut dia berkata kepada Sri Mangana, “Ramanda Ratu ternyata benar. Rupanya, dia bisa mengetahui segala apa yang ada di dalam diri kita. Itukah yang disebut waskita? Weruh sadurunge winara?” “

Karena itulah aku sendiri ingin belajar tentang ilmu Kebenaran Sejati kepadanya.” “

Mohon maaf kepada Ramanda Ratu dan Ayunda,” Abdul Jalil menyela, “sesungguhnya, saya sedikit pun tidak memiliki kewaskitaan untuk bisa mengetahui hal-hal gaib dan kejadian yang akan datang. Sungguh, demi Allah, saya tidak memiliki kemampuan itu. Saya hanya berbicara sesuai ‘sentuhan rasa’ yang saya rasakan di kedalaman relung-relung jiwa saya. Dengan demikian, sesungguhnya saya tidak mengetahui apakah ucapan saya itu mengenai seseorang atau tidak.” “

Justru ‘sentuhan rasa’ yang engkau hamburkan lewat mulutmu itulah, o Puteraku, yang sering menelanjangi orang seorang. Dan sebagaimana telah dialamai orang lain, aku kira kakakmu pun barusan tadi telah engkau telanjangi hingga terlihat jelas semua ilmu yang disembunyikannya. Aku rasa, aku pun tinggal menunggu giliran,” ujar Sri Mangana tertawa.

Abdul Jali tertegun. Sesaat kemudian ia pun tertawa.

Malam terus bergulir bersama putaran roda waktu. Sri Mangana, Nyi Mas Gandasari, dan Abdul Jalil seperti jari-jari roda, ikut berputar dalam pusaran perbincangan; menyeret masa lalu dan menarik masa depan. Sebagai anak negeri yang sudah melanglang buana hingga menjadi salah satu warga Bumi Pasundan yang terbuka cakrawala pandangnya, ia terlihat lebih banyak menguraikan tentang perubahan-perubahan yang bakal terjadi di berbagai negeri di muka bumi. “Tidak terkecuali Bumi Pasundan, akan terlanda prahara perubahan. Itu sebabnya, bagi mereka yang belum sadar dengan datangnya perubahan dahsyat itu pastilah bakal tersapu dari permukaan bumi.”

Taichung Harbor ROC, March, 21st 2007

3. Tanah Samiddha “

Aku benar-benar heran dengan tingkah laku manusia bernama Rsi Bungsu itu,” ujar Sri Mangana suatu malam kepada Abdul Jali dalam perbincangan di Bale Rangkang. “Seluruh hidupnya seolah-olah diabdikan untuk memuja setan dendam dan iblis kebencian yang berkuasa di hatinya. Kalau kuingat-ingat, selama aku mengenal dia sebagai kemenakanku, belum terlihat satu pun kebaikan yang pernah dilakukannya. Entah dia itu jelmaan iblis atau apa, sepengetahuanku, dia selalu menjadi bencana bagi orang lain.” “

Tapi Ramanda Ratu, sepengetahuan ananda, Pamanda Rsi Bungsu tidak punya alasan untuk memusuhi Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi. Bukankah selama ini beliau berdua tidak pernah berselisih?” “

Memang, antara Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi dan Rsi Bungsu tak pernah terjadi perselisihan,” ujar Sri Mangana. “Namun, sejak Raden Anggaraksa, puteranya, memeluk Islam dan meminta perlindungan kepada uwaknya di Giri Amparan Jati, api kebencian telah membakar hatinya yang sudah hangus menghitam itu. Itu sebabnya, tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba ia memerintahkan sekawanan begal yang dipimpin Bergola Hideung untuk menjarah dan membakar seluruh bangunan yang ada di Giri Amparan Jati. Untung yang terbakar hanya tiga pondok hunian siswa.” “

Dia menduga perbuatan busuknya itu tidak akan diketahui. Namun, sejak awal kejadian aku sudah menangkap keanehan peristiwa itu. Pertama, belum pernah terdengar cerita di Bumi Pasundan ini ada kawanan begal merampok padepokan. Kedua, kejahatan itu dilakukan di Caruban Larang, tanah samiddha yang disucikan. Ketiga, kawanan Bergola Hideung tidak menjarah apa-apa, tetapi hanya menculik Raden Anggaraksa. Ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan Rsi Bungsu. Dan, dugaanku ternyata tidak meleset. Saat beberapa orang anak buah Bergola Hideung tertangkap, mereka mengaku bahwa sesungguhnya yang memerintahkan pembakaran Padepokan Giri Amparan Jati adalah Rsi Bungsu.”

Abdul Jalil tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar uraian Sri Mangana. Melihat putera asuhnya hanya tersenyum, Sri Mangana bertanya keheranan, “Kenapa engkau tersenyum mendengar ceritaku, o Puteraku? Apakah engkau tidak marah melihat kekurangajaran Rsi Bungsu yang sudah menista padepokan tempatmu menimba ilmu?” “

Ramanda Ratu, ananda memang sedih dan marah melihat hasil perbuatan Pamanda Rsi Bungsu, apalagi jika melihat perbuatan-perbuatannya pada masa lalu. Namun, dalam memahami hal ini ananda tidak mau terperangkap oleh pandangan perseorangan yang bersifat pribadi. Maksudnya, ananda tidak mau melihat hasil perbuatan Pamanda Rsi Bungsu sebagai perbuatan pribadi seorang manusia jahat bernama Rsi Bungsu yang bejar akhlaknya. Sebaliknya, ananda ingin melihat apa yang sesungguhnya telah terjadi di balik perbuatan Pamanda Rsi Bungsu itu. Maksud ananda, kenapa Pamanda Rsi Bungsu bisa berbuat begitu jahat? Apa yang menyebabkan dia selalu melakukan perbuatan tetcela? Dan, anasir-anasir apa sesungguhnya yang menjadikan Pamanda Rsi Bungsu menjadi jahat?” “

Apakah engkau akan mengatakan bahwa sesungguhnya yang menjadikan Rsi Bungsu itu manusia terkutuk yang selalu melakukan perbuatan jahat adalah Allah ‘Azza wa Jalla?” tanya Sri Mangana. “

Kita tidak perlu berbicara terlalu jauh tentang persoalan itu, o Ramanda Ratu,” ujar Abdul Jalil dengan suara direndahkan. “Kita bicarakan saja tentang apa sesungguhnya yang telah diperbuat Allah SWT. terhadap Pamanda Rsi Bungsu yang jahat itu. Tidakkah Ramanda Ratu menangkap jeritan pilu dan rintihan pedih Pamanda Rsi Bungsu di tengah-tengah perbuatan jahatnya? Tidakkah Ramanda Ratu menangkap keputusasaan Pamanda Rsi Bungsu dengan peristiwa keislaman putera laki-laki tunggalnya? Cobalah Ramanda Ratu renungkan sekejap saja, bagaimana seandainya Ramanda Ratu berada pada kedudukan Pamanda Rsi Bungsu.”

Sebagai raja yang sudah puluhan tahun merasakan pahit dan getir kehidupan, Sri Mangana paham apa yang dimaksud oleh putera asuhnya. Dengan menggumam seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri dia berkata, “Rsi Bungsu dalam pandanganku tak lebih dari seekor anjing hutan yang kelaparan, tetapi lehernya diikat tali yang kuat. Saat melihat segumpal daging segar ia menggeram dan meneteskan air liur. Namun setiap kali ia meronta berusaha menerkam dan menyantap daging itu, selalu saja tali yang mengikat lehernya itu mencekiknya. Tali itu terlalu kuat untuk diputuskan oleh rontaan tubuh, gigitan taring, atau cakaran kukunya. Kini saat anjing tua itu sudah sangat kelaparan dan kehilangan daya, tiba-tiba ia dikebiri pula oleh pemeliharanya. Ya Allah, siksa dan azab apa yang Engkau timpakan kepada manusia celaka itu?” “

Ramanda Ratu,” Abdul Jalil menyela, “kenapa Ramanda Ratu membayangkan Pamanda Rsi Bungsu seperti seekor anjing tua yang dikebiri?” “

Sebab, dia tidak akan memiliki keturunan yang meneruskan kehidupannya,” ujar Sri Mangana. “

Bukankah Raden Anggaraksa keturunan Pamanda Rsi Bungsu?” “

Sampai usianya masuk tiga puluh tahun dia tidak mau menikah. Malah sekaran ini dia memeluk Islam. Bukankah itu sama artinya dengan dikebiri bagi Rsi Bungsu?” “

Ramanda Ratu,” Abdul Jalil tersenyum, “mohon sudilah Ramanda Ratu memaafkan Pamanda Rsi Bungsu atas apa yang telah diperbuatnya terhadap Padepokan Giri Amparan Jati. Sebab, saat ini beliau sedang dijepit dan dipanggang oleh neraka kehidupan dunianya. Tidakkah Ramanda Ratu bisa membayangkan bagaimana azab dan derita yang dirasakan Pamanda Rsi Bungsu saat ini? Putera lelaki satu-satunya yang menjadi gantungan harapan telah lepas dari pangkuan. Siapakah yang akan meneruskan kebanggaan Pamanda Rsi Bungsu jika putera terkasih penerus keturunannya tidak berkenan menikah dan malah mengikuti agama yang lain pula? Adakah siksa dan derita yang melebihi pedihnya laki-laki tua yang bangga dengan darah birunya, tetapi tidak memiliki anak dan cucu pewaris kemurnian dan kemuliaan darahnya?”

Sri Mangana menarik napas panjang. Dia bisa memahami jalan pikiran putera asuhnya. Kemudian dengan suara ditekan dia bertanya, “Jika demikian, apa yang harus aku perbuat untuk dia?” “

Ramanda Ratu tidak perlu lagi memerintahkan orang untuk mencari dan membunuh Pamanda Rsi Bungsu. Biarkanlah Allah sendiri yang menghukum Pamanda Rsi Bungsu dengan cara-Nya. Sesungguhnya, hukuman Allah jauh lebih pedih dibanding hukuman yang pernah dibayangkan manusia.”

Sri Mangana mengangguk-angguk dan berkata, “Aku pikir itu keputusan yang terbaik. Berita terakhir yang aku dengar menyebutkan Raden Anggaraksa berhasil meloloskan diri dari sergapan ayahandanya dan saat ini dia berada di Giri Kedaton meminta perlindungan kepada Prabu Satmata. Aku yakin Rsi Bungsu sekarang ini pasti sedang kebingungan.” “

Mudah-mudahan Allah memberi perlindungan kepada Raden Anggaraksa dan segera menyadarkan Pamanda Rsi Bungsu.” “

Tapi ada satu hal yang perlu engkau ketahui tentang Rsi Bungsu, o Puteraku,” ujar Sri Mangana. “

Apakah itu, o Ramanda Ratu?” “

Sesungguhnya, saat ini Rsi Bungsu belum lepas dari buruan orang-orang Pakuan Pajajaran. Sebab, dia telah dua kali mengulang kesalahan yang sama. Pertama, ketika dia merancang pembunuhan Ki Danusela dan membohongi Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran untuk menyerang Pakuwuan Caruban. Kedua, dia menyuruh Bergola Hideung, pemimpin kawanan begal, membakar Padepokan Giri Amparan Jati.” “

Ramanda Ratu,” tanya Abdul Jalil heran, “jika orang-orang Pakuan Pajajaran marah kepada Pamanda Rsi Bungsu akibat membohongi Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, itu masih bisa saya pahami. Tetapi, bagaimana mungkin mereka bisa marah terhadap tindakan Pamanda Rsi Bungsu yang menyuruh kawanan begal membakar Giri Amparan Jati? Bukankah orang-orang Pakuan Pajajaran tidak terkait dengan Padepokan Giri Amparan Jati?” “

Ketahuilah, o Puteraku, bahwa kesalahan terbesar Rsi Bungsu adalah dua kali membuat kekisruhan di wilayah Caruban Larang. Itulah kesalahan besar tak terampunkan. Sebab, tidak ada satu pun manusia yang berbuat kekacauan di tanah ini, bahkan kekuasaan maharaja sekalipun,” jelas Sri Mangana. “

Kenapa bisa demikian, o Ramanda Ratu?” “

Sepanjang ingatanmu, sejak engkau lahir hingga pergi berkelana, pernahkah engkau menyaksikan kekisruhan terjadi di bumi tumpah darahmu ini?” “

Belum pernah, kecuali saat Pamanda Rsi Bungsu merebut Pakuwuan Caruban.” “

Ketentraman terpelihara di sini karena tanah ini bernama Caruban Larang.” “

Saya belum paham, o Ramanda Ratu.” “

Ketahuilah, o Puteraku, sesungguhnya nama sebenar tanah tumpah darahmu ini adalah Carubana. Caru berarti persembahan. Bana berarti hutan. Jadi, Carubana bermakna hutan untuk persembahan. Maksudnya, hutan Carubana ini sesungguhnya adalah sebuah samiddha, yaitu hutan yang kayu-kayunya tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain kecuali untuk upacara-upacara persembahan kepada dewata dan arwah leluhur. Hutan samiddha disucikan dan terlarang bagi siapa pun yang tidak berhak memasukinya,” papar Sri Mangana. “

Apakah ketentuan itu sudah berlaku sejak lama?” “

Aku tidak tahu pasti sejak kapan tempat ini menjadi samiddha. Tetapi sejak zaman kuno, menurut cerita, tanah ini sudah menjadi batas antara Bumi Pasundan dan Bumi Jawa. Engkau tentu masih ingat batas sebelah timur dari Caruban Larang adalah Cipamali (Sungai Pamali), yakni sungai larangan. Dikatakan sungai larangan karena sejak zaman kuno sungai itu tidak boleh diakui sebagai milik raja-raja Sunda maupun raja-raja Jawa.” “

Cipamali adalah sungai pembatas, tanah larangan milik Sang Bhumi, Bhattari Prhtiwi, leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Itu sebabnya, sejak zaman baheula, telah ada semacam kesepakatan antara raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa bahwa mereka yang ditunjuk sebagai pemelihara samiddha Carubana – tanah khusus milik Sang Bhumi – adalah para keturunan raja yang berdarah campuran. Engkau tentunya masih ingat kenapa ayahandamu, Ki Danusela, bisa menjadi Kuwu? Sebab, ayahandamu itu berdarah campuran Jawa-Sunda.” “

Ayahanda saya berdarah campuran Sunda-Jawa?” “

Ya, karena ayahanda beliau, Ki Danusetra, adalah putera Kaki Palupa dan Nyai Kundisari. Kaki Palupa orang Sunda, sedangkan Nyai Kundisari berasal dari Negeri Mataram. Ki Danusetra memiliki dua saudara lain ibu, yaitu Ki Kumbharawa dan Endang Sasmitapura. Namun, sejak kecil Ki Danusetra diasuh oleh saudara tua Nyai Kundisari yang bernama Rishi Suryya Wisesa, seorang pendeta Bhairawa (Pu Palyat) di Gunung Dieng di tanah Mataram. Ki Danusetra kemudian menikahi seorang perempuan asal Galuh Pakuan dan tinggal di Galuh Pakuan. Beliau mengabdi kepada Prabu Niskala Wastu Kencana, kakek buyutku. Ki Danusetra memiliki dua orang putera yaitu, Ki Danuwarsih dan Ki Danusela, yang tak lain adalah ayahandamu, Kuwu Caruban. Jadi, baik kakek maupun ibunda Ki Danuwarsih dan Ki Danusela adalah orang-orang Sunda.” “

Jika penguasa Caruban Larang harus berdarah campuran, bagaimana dengan Ramanda Ratu sendiri? Bukankah Ramanda Ratu tidak berdarah campuran?” tanya Abdul Jalil. “

Semula aku menganggap diriku adalah putera Sunda asli. Tetapi ayahandaku, Sri Prabu Guru Dewataprana Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, menyatakan bahwa ibunda kandungku, Nyi Subanglarang, sesungguhnya puteri berdarah campuran Sunda-Campa. Sebab istri Ki Gedeng Tapa, Nyi Ratna Karanjang, adalah seorang perempuan Campa asal Malaka. Lantaran aku dianggap sebagai putera raja yang berdarah campuran maka aku sah ditabalkan sebagai ratu yang berkuasa atas samiddha Caruban ini.” “

Nenek Ramanda Ratu orang Campa asal Malaka?” tanya Abdul Jalil. “Jangan-jangan beliau kenal dengan keluarga kakek saya.” “

Memang benarlah demikian,” kata Sri Mangana. “Syaikh Datuk Kahfi pernah bercerita tentang nenekku, Nyi Ratna Karanjang. Nenekku kenal baik dengan kakekmu karena mereka bertetangga. Bahkan, menurut Syaikh Datuk Kahfi, justru atas jasa nenekku itulah ayahanda kandungmu, Syaikh Datuk Sholeh, yang saat itu menjadi buruan penguasa Malaka bisa tinggal di Caruban Larang. Tidak hanya itu, para pengungsi Campa yang berserakan akibat perang saudara pada masa Raja Indrawarman III dapat tinggal menjadi penduduk di berbagai tempat di Bumi Pasundan adalah atas jasa baik nenekku.” “

Pernikahan kakek dengan nenekku sesungguhnya terjadi melalui jasa saudara tua kakekku, yaitu Nyi Rara Rudra. Beliau bersuamikan orang Campa, Haji Ma Huang, yang saat di Campa bertetangga dengan keluarga nenekku. Puteri Nyi Rara Rudra yang bernama Jata Mernam, tapi lazim dikenal dengan sebutan Aci Putih, dipersunting oleh ayahandaku, Prabu Siliwangi.” “

Ananda pernah mendengar cerita bahwa ibunda Ramanda Ratu pergi ke Malaka bersama Nyi Rara Rudra dan Haji Ma Huang. Berarti, ibunda Ramanda Ratu memang memiliki keluarga di Malaka.” “

Ya, memang demikian adanya,” ujar Sri Mangana. “Bahkan Syaikh Hasanuddin, pengasuh Padepokan Kuro di Karawang, sesungguhnya adalah saudara sepupu Nyi Ratna Karanjang, nenekku.” “

Jadi, cerita Ramanda Ratu dahulu yang menuturkan bahwa Nyi Subanglarang belajar agama Islam kepada Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq berarti sesungguhnya dia tidak belajar kepada orang lain, tetapi kepada kerabatnya sendiri. Benarkah demikian?” “

Memang, jika ditelusuri seperti itu ceritanya. Tetapi, aku mengetahui hal itu justru setelah diberi tahu oleh ayahandaku dan aku sahihkan cerita itu kepada Syaikh Datuk Kahfi.”

Abdul Jalil termangu-mangu mendengar semua uraian Sri Mangana. Ia merasa betapa sesungguhnya dunia ini sangat sempit hingga ke mana ia berada seolah-olah dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Kesebatangkaraan yang pernah ia rasakan selama tahun-tahun pengembaraannya ternyata menjadi bukti bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang sebatangkara di dunia ini. Kesebatangkaraan, nyatanya, hanya ada akibat ketidaktahuan seseorang akan keberadaan jati dirinya sebagai bagian dari keturunan Adam a.s.. Hal itu juga terjadi akibat enggan bersilaturahmi, sempit wawasan, membanggakan warna tetesan darah, dan kekerdilan jiwa.

Caruban Larang, tanah samiddha, tanah khusus milik Sang Bhumi, ternyata adalah tanah yang memiliki sifat terbuka seperti sifat bumi yang membiarkan dirinya dihuni berbagai makhluk yang kasatmata maupun yang tidak kasatmata. Dengan kekhusussannya sebagai wilayah Sang Bhumi, Caruban Larang tidaklah menjadi tanah terbuka yang membiarkan berbagai ragam bangsa tinggal di situ; Sunda, Jawa, Cina, Campa, Melayu, Arab, India, Persia, dan Pegu berbaur menjadi satu. Sehingga, samiddha Caruban yang semula dimaksudkan sebagai tanah khusus milik Sang Bhumi berupa hutan larangan yang hasil kayunya hanya untuk sarana persembahan kepada dewa-dewa dan arwah leluhur, justru menjadi tanah yang terbuka untuk hunian segala bangsa. Dan lantaran itu, Caruban oleh penduduk setempat sering dimaknai sebagai Carub, yakni campuran berbagai macam bangsa.

Kenyataan terkait dengan keberadaan tanah samiddha Caruban yang tertutup tetapi sekaligus terbuka itu setidaknya telah menjadi salah satu sumber bagi lahirnya sejumlah pandangan, gagasan, wacana, dan wawasan Abdul Jalil dalam memaknai citra baru kehidupan manusia yang ingin diwujudkannya di tengah kebekuan dan kemandekan zaman. Bertolak dari samiddha Caruban, Abdul Jalil mengangankan lahirnya komunitas baru yang terbuka, tetapi sekaligus berpribagi kuat. Hanya masyarakat yang terbuka dan berkepribadian kuatlah yang akan dapat bertahan menghadapi perubahan sejarah yang sering kali sangat kejam dan keras.

Keberadaan tanah samiddha Caruban akhirnya menggugah kesadaran Abdul Jalil untuk menanyakan status tanah itu kepada Sri Mangana. “Seingat ananda, setelah peristiwa kekisruhan di Pakuwuan Caruban sepeninggal Ayahanda Ki Danusela, Pamanda Raden Kusen telah menyatakan bahwa Pakuwuan Caruban tidak lagi berada di bawah kekuasaan Maharaja Sunda, tetapi di bawah Demak. Apakah hal itu tidak menyalahi ketentuan Caruban sebagai samiddha? Apakah hal itu tidak menimbulkan masalah dengan orang-orang Sunda?” “

Tentu saja keputusan sepihak Raden Kusen itu menimbulkan kemarahan semua orang Sunda dan hampir saja terjadi perang besar. Bahkan lantaran itu, aku pun akhirnya membuka penyamaranku yang sudah kulakukan bertahun-tahun. Selam ini pihak Kerajaan Sunda hanya mengenalku sebagai Ki Samadullah, Kuwu yang menggantikan Ki Danusela atas perkenan Raden Kusen, adik Adipati Demak. Saat suasana meruncing aku pun akhirnya mengaku jika sesungguhnya pengganti Ki Danusela bukanlah orang lain, melainkan Pangeran Walangsungsang, putera Raden Pamanah Rasa, cucu Prabu Dewa Niskala. Itu berarti, Kuwu Caruban yang baru adalah putera Maharaja Sunda karena Raden Pamanah Rasa setelah dilantik menjadi Maharaja Sunda berganti nama menjadi Abhiseka Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.” “

Setelah utusan dari Pakuan Pajajaran yakin bahwa aku memang cucu Prabu Dewa Niskala, yang berarti pula putera Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran, maka bergembiralah ayahandaku karena puteranya yang hilang telah ditemukan kembali. Lalu diputuskanlah oleh ayahandaku untuk menyelesaikan perkara samiddha melalui jalan damai perundingan. Demikianlah, setelah melalui beberapa kali pertemuan akhirnya kedua belah pihak yang berselisih mencapai kesepakatan, yaitu menunjuk Ario Abdullah Yang Dipertuan Palembang sebagai penengah. Namun, saat utusan dari Pakuan Pajajaran sampai ke Palembang, Yang Mulia Ario Abdillah ternyata sudah meninggal dan kedudukannya digantikan oleh Pangeran Surodirejo, putera Raden Kusen yang masih belum dewasa yang bergelar Adipati Widarakandang. Pangeran Surodirejo yang masih didampingi beberapa orang walinya itu akhirnya menunjuk Tuan Milinadi untuk mewakili Palembang dalam menengahi masalah perebutan samiddha Caruban.” “

Tuan Milinadi adalah saudagar Palembang yang memiliki hubungan dekat baik dengan Maharaja Sunda maupun dengan Adipati Demak. Di samping itu, Tuan Milinadi yang sudah sangat tua itu dikenal dekat dengan Yang Mulia Ario Abdillah dan mengetahui seluk-beluk keluarga serta kerabat Yang Dipertuan Palembang itu. Akhirnya, dengan penengah Tuan Milinadi, diambil kata sepakat oleh kedua pihak untuk mengembalikan Caruban Larang sebagai samiddha milik Sang Bhumi.” “

Maksudnya, baik pihak Demak maupun pihak Sunda tidak berhak mengakui Caruban Larang sebagai wilayahnya. Caruban Larang dianggap sebagai tanah khusus milik leluhur. Di dalam kesepakatan itu kedua belah pihak juga setuju untuk mengangkat aku sebagai penguasa samiddha Caruban, menggantikan Ki Danusela. Bahkan, sebagai pemangku Khabumian aku diberi jabatan yang lebih tinggi, yaitu dari jabatan pangraksabhumi (Penjaga Kabhumian) menjadi chakrabhumi (Penguasa Kabhumian).” “

Sesungguhnya, di balik pengangkatanku sebagai chakrabhumi terdapat kesepakatan antara pihak Demak dan Kerajaan Sunda unguk menampik kekuasaan Maharaja Majapahit Bhre Kretabhumi atas samiddha Caruban. Itu berarti, pengakuan Bhre Kretabhumi atas seluruh wilayah samiddha Caruban tidak lagi diakui. Dan, itu juga berarti dengan pengangkatanku sebagai chakrabhumi, baik pihak Kadipaten Demak maupun Kerajaan Sunda merasa diuntungkan. Sebab, aku adalah putera Maharaja Sunda sekaligus mewakili orang-orang di Bumi Pasundan.” “

Bagaimana mungkin kedua belah pihak bisa sepakat menunjuk Yang Mulia Ario Abdillah sebagai penengah? Bukankah itu sesungguhnya akan merugikan pihak Sunda karena Yang Mulia Ario Damar sangat mungkin memihak puteranya, yaitu Yang Dipertuan Demak?” Abdul Jalil minta penegasan. “

Aku sendiri semula tidak paham tentang hal itu,” sahut Sri Mangana, “tetapi akhirnya ayahandaku menjelaskan bahwa Yang Mulia Ario Abdillah sesungguhnya seorang putera raja berdarah Majapahit-Sunda.” “

Yang Mulia Ario Abdillah berdarah campuran Majapahit-Sunda?” Abdul Jalil heran. “

Ya. Sebab, kakek beliau yang bernama Kaki Palupa adalah kepala prajurit pembawa gada (rakryan atandha ing palu-palu) Kerajaan Sunda. Kaki Palupa termasuk salah satu pengikut setia kakek buyutku, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat, yang berhasil lolos dari malapetaka di Bubat. Beliau bisa lolos dari maut karena memiliki ilmu sakti seratus ribu hulubalang. Kaki Palupa kemudian menjadi pendeta Bhairawa (Pu Palyat) di hutan Wanasalam yang terletak di sebelah selatan ibu kota Majapahit.” “

Menurut cerita, Kaki Palupa menikah dengan Nini Palupuy, puteri perwira Sunda (rakryan bhatamantri) Soang Sasaka, yang gugur dalam peristiwa Bubat. Dari pernikahan itu lahirlah dua orang anak, yaitu seorang putera dan puteri. Yang pertama bernama Ki Wanasalam, patih di Kadipaten Demak. Yang kedua, Nyi Endang Sasmitapura, yang dinikahi Prabu Kertawijaya dan kemudian melahirkan Yang Mulia Ario Abdillah.” “

Kaki Palupa kemudian menikah lagi dengan Nyai Kundisari, adik seorang pendeta Bhairawa bernama Rishi Suryya Wisesa, yang bertapa di Gunung Dieng. Hasil pernikahan Kaki Palupa dan Nyai Kundisari melahirkan Ki Danusetra yang diasuh oleh uwaknya di Gunung Dieng. Nah, dengan mengetahui adanya ikatan darah Majapahit-Sunda di dalam tubuh keturunan Kaki Palupa maka tidak salah jika pihak Sunda kemudian memilih Yang Mulia Ario Abdillah sebagai penengah dalam masalah perebutan samiddha Caruban Larang. Dan, Tuan Milinadi, sahabat Yang Mulia Ario Abdillah, mengetahui juga hal ikatan darah tersebut, termasuk keberadaan samiddha Caruban Larang sebagai wilayah khusus milik Sang Bhumi.” “

Saya paham sekarang, Ramanda Ratu,” Abdul Jalil manggut-manggut. “Sekarang saya bisa memahami kenapa orang-orang Pakuan Pajajaran sangat marah kepada Pamanda Rsi Bungsu yang merusak Padepokan Giri Amparan Jati. Kemarahan mereka pastilah bukan karena Pamanda Rsi Bungsu mendalangi pembakaran padepokan, melainkan karena padepokan yang dirusak itu berada di samiddha Caruban yang mereka sucikan.” “

Benarlah apa yang engkau katakan itu, o Puteraku. Karena itu, aku berharap engkau mengikuti jejak Guru Agung Syaik Datuk Kahfi. Maksudku, meski niat utama beliau membangun padepokan di tanah larangan ini adalah semata-mata untuk mengembangkan dakwa Islam, beliau tetap menghormati kepercayaan orang-orang setempat. Beliau memahami bahwa sesungguhnya Padepokan Giri Amparan Jati yang terletak di samiddha Caruban tidak hanya dianggap sebagai milik orang-orang muslim, tetapi juga dianggap sebagai milik semua orang Sunda dan Jawa, tidak peduli apakah dia Muslim, Hindu atau Budha,” ujar Sri Mangana.

Ibarat panglima perang yang wajib mengetahui keadaan medan tempur sebelum peperangan dimulai, dengan didampingi Sri Mangana, Abdul Jalil berkeliling ke seluruh sudut Kutha Caruban untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Sebelum mengetahui dan memahami kehidupan manusia yang tinggal di permukaan bumi Caruban Larang, ia ingin mengetahui secara lebih mendalam tentang nama-nama tempat di daerah itu.

Abdul Jalil sadar betapa di balik nama-nama tempat yang ada di permukaan bumi, sesungguhnya tersembunyi makna sejarah yang dalam dari kehidupan manusia masa silam yang terkait dengan kehidupan masa kini dan mendatang. Ia sadar bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya adalah rangkaian sejarah yang sambung-menyambung ibarat untaian perhiasan kalung mutiara. Lantaran itu, ia tidak ingin menuangkan gagasan dan impiannya membangun sejarah kehidupan baru dengan membinasakan seluruh sisa kehidupan lama yang bisa dimanfaatkan sebagai akar penguat.

Kutha Caruban yang disaksikan Abdul Jalil dalam perjalanan kelilingnya memang sudah jauh berbeda dengan saat ia tinggalkan belasan tahun silam. Dermaga pelabuhan yang terletak di Muara Jati telah dibangun lebih besar dan lebih kukuh. Dermaga baru itu tiap hari ramai disandari kapal-kapal besar. Setiap hari terlihat iring-iringan gerobak, kuda, pedati, dan kuli angkut bergerak hilir-mudik dari pelabuhan ke arah Kutha Caruban.

Bangsal Pakuwuan yang kecil sudah berubah menjadi Bangsal Kaprabon yang dibangun dari kayu jati berukir dengan atap bertingkat tiga. Jika dilihat dari jalan atau pantai, Bangsal Kaprabon tampak sangat kokoh dan megah seolah-olah tidak kalah dengan Bangsal Manguntur milik Maharaja Sunda di Kutharaja Pakuan Pajajaran. Di depan Bangsal Kaprabon terhampar alun-alun yang luas. Di antara alun-alun dan Bangsal Kaprabon terdapat Siti Hinggil (Lemah Wungkuk). Di sebelah utara alun-alun berdiri Tajug Agung (masjid agung) Caruban. Di sebelah barat alun-alun terdapat pasar. Di sebelah timur alun-alun berdiri bangunan Kadhyaksan, tempat para pejabat kehakiman (adhiyaksa) bekerja.

Di bagian belakang Bangsal Kaprabon, yang dibatasi dinding tinggi, adalah wilayah puri kediaman pribadi raja. Di dalamnya terdapat Bale Rangkang, Parapuri, Purasabha, Kaputrian, dan Kebon Raja. Agak jauh ke arah selatan tetapi masih di dalam dinding baluwarti (benteng) terdapat kawasan hunian pejabat khusus pembantu raja, yakni para pakring (mangilala drwya haji). Kawasan hunian pejabat pangkring itu disebut Pakringan.

Di sebelah barat Pakringan, masih di dalam dinding baluwarti, terdapat sebuah wilayah suci yang disebut Pakalangan, yakni tempat batu suci (sang hyang susuk) kerajaan ditempatkan di sebuah lingkaran keramat. Lingkaran itu dianggap keramat dan suci karena untuk upacara pancamakara atau yang lazim disebut Ma-lima, yakni upacara Bhairawa-Tantra. Para pejabat pakring memiliki tugas utama menjaga dan memelihara kawasan Pakalangan yang keramat tersebut.

Kebon Raja adalah tamansari yang luas dan indah, di dalamnya terdapat taman air yang sangat indah ditumbuhi bunga teratai. Di Kebon Raja itulah para puteri dan keluarga raja yang lain bercengkrama dan bersukacita. Tak jauh di sebelah timur Bangsal Kaprabon, di luar dinding baluwarti terdapat Pagajahan, yakni tempat orang menambatkan gajah milik raja. Di selatan Pagajahan terdapat sebuah bangunan besar dengan menara pengawas yang disebut Jagasatru, yakni satuan penjaga yang bertugas menangkis kekuatan pihak musuh (apinggel kana langsaran kalih kalawan jagasatru). Tugas utama satuan Jagasatru ini selain menjaga Lawang Gede (gapura agung) juga memeriksa orang-orang yang akan menghadap raja.

Di luar dinding baluwarti, di selatan Pagajahan terdapat deretan bangunan bale-bale tempat menginap para utusan dari wilayah taklukan (sekawat bhumi) yang disebut Pakawatan. Setiap tahun sekali para utusan dari daerah taklukan (kawat) itu menghadap raja dengan membawa upeti (bulu bekti). Baik para kawat maupun mereka yang ingin menghadap raja hendaknya memiliki hati yang bersih. Itu sebabnya, mereka biasanya menginap dulu di beberapa bale-bale yang disebut suci manah (suci hati dan pikiran).

Bagian kutha yang paling ramai adalah kawasan jalan yang membentang antara Katandhan hingga Pasukatan. Sebab, di Katandhan terletak kantor panca tandha (pejabat-pejabat pengawas pabean) dan di Pasukatan terletak kantor juru sukat (pengawas ukuran timbangan dan penarik retribusi). Setiap hari, dari pagi hingga sore, berbagai jenis angkutan mulai gerobak sampai pedati melintasi kawasan ini. Di Katandhan inilah para saudagar membayar pungutan pajak dan cukai atas barang-barang yang diangkut dari Kutha Caruban maupun yang diturunkan ke Kutha Caruban.

Semua barang yang diturunkan maupun diangkut dari Kutha Caruban akan diawasi ukuran penimbangannya dan kemudian dipungut biaya retribusi sesuai berat dan banyaknya. Berbagai jenis barang dagangan dari Caruban yang sangat laris dibeli orang adalah alat-alat dari tembaga yang dibuat di Pasayangan (Jawa Kuno: tempat pande tembaga). Selain itu, barang dagangan yang juga laris dibeli orang dari Caruban adalah peralatan gerabah, seperti periuk, belanga, tempayan, gentong, dan guci yang dibuat di Pandyunan (Jawa Kuno: tempat pembuat dyun, gerabah).

Di antara sejumlah tempat yang dikunjungi Abdul Jalil dan Sri Mangana di Kutha Caruban, yang paling mengesankan adalah tempat yang disebut Kabumen (Kabhumian), kediaman Sang Bhumi, yang ditandai oleh tanah lapang dengan sebuah gundukan tanah di tengah dan tumpukan batu-batu persegi ukuran besar dan sebuah yoni kuno terletak di atasnya. Sri Mangana menjelaskan bahwa di situlah sesungguhnya pusat samiddha Caruban karena yang disebut Kabhumian adalah Kerajaan Leluhur (Medang Kamulan) raja-raja Sunda.

Menurut Sri Mangana, sejak zaman lampau para penguasa samiddha Caruban selalu menduduki jabatan rangkap. Pertama, jabatan penguasa wilayah samiddha Caruban yang menyandang gelar ratu, bhre, prabu anom, sri, adipati, kuwu. Kedua, jabatan pemangku Kabhumian yang mempunyai tugas khusus memelihara kediaman dhatu leluhur (Sang hyang Dharma Kamulan), yaitu Sang Bhumi beserta upacara-upacara pemujaannya. Jabatan pemangku itu disebut mangkubhumi, pangraksabhumi, chakrabhumi.

Pada saat Prabu Niskala Wastu Kancana berkuasa, ungkap Sri Mangana, yang ditunjuk sebagai penguasa samiddha Caruban adalah cucunya, Dyah Surawijaya Bhre Singhapura, yaitu keturunan yang diperoleh dari hasil pernikahan puterinya, Tohaan di Galuh, dengan Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit. Sedangkan yang ditunjuk sebagai mangkubhumi, pemangku Kabhumian, adalah Ratu Kasmaya, putera Prabu Garbha Menak, cucu Prabu Niskala Wastu Kancana. Ratu Kasmaya menikah dengan sepupunya, kakak Dyah Surawijaya yang bernama Dyah Suragharini Bhre Singhapura.

Pengangkatan Dyah Surawijaya sebagai penguasa samiddha Caruban sesungguhnya bertentangan dengan adat kebiasaan yang berlaku di Caruban Larang, yaitu kepewarisan berdasarkan garis ibu. Seharusnya yang menjadi penguasa samiddha adalah Dyah Suragharini. Itu sebabnya, Dyah Surawijaya tidak lama memerintah. Dia meninggal tanpa keturunan. Kemudian mangkubhumi Singhapura, Ratu Kasmaya, naik jabatan menjadi penguasa samiddha Caruban. Putera Ratu Kasmaya yang bernama Ki Gedeng Tapa menggantikan kedudukannya, yaitu menjadi mangkubhumi Singhapura.

Ketika Ratu Kasmaya uzur, jabatan penguasa samiddha diserahkan kepada Ki Gedeng Tapa menjadi penguasa samiddha, jabatan mangkubhumi diberikan kepada Ki Danusela, adik Ki Danuwarsih, putera Ki Danusetra. Jabatan itu jatuh ke tangan Ki Danusela karena pernikahannya dengan Ratu Arumsari, puteri Dyah Suragharini, yakni adik lain ibu Ki Gedeng Tapa.

Ki Gedeng Tapa sendiri menjabat kedudukan Raja Singhapura hanya beberapa tahun, menunggu Ratu Arumsari dewasa. Setelah Ratu Arumsari dewasa dan menikah dengan Ki Danusela maka jabatan itu diserahkan kepada suaminya. Demikianlah, Ki Danusela kemudian menduduki jabatan rangkap, yakni sebagai penguasa samiddha, jabatan kuwu (jabatan di bawah akuwu), sekaligus jabatan pemangku Kabhumian.

Turunnya jabatan Ki Danusela dari bhre (raja) menjadi kuwu disebabkan oleh kenyaaan bahwa ia sesungguhnya hanya putera menantu dari keturunan Majapahit dan tidak termasuk keluarga raja. Itu sebabnya, Ki Danusela akhirnya hanya bergelar Kuwu sekaligus pangraksabhumi. Tetapi, belakangan jabatan pangraksabhumi diserahkan kepada Raden Walangsungsang, cucu Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Danusela meninggal, Raden Walangsungsang merangkap kedua jabatan itu lagi, yakni sebagai Kuwu samiddha Caruban sekaligus pemangku Kabhumian, tempat suci kediaman Sang Bhumi. Bahkan, saat jabatannya dinaikkan dari kuwu menjadi raja muda (prabu anom), jabatan pangraksabhumi pun dinaikkan menjadi chakrabhumi.

Sesungguhnya, yang disebut Sang Bhumi, pemilik wilayah suci Kabhumian, adalah leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Itu sebabnya, sejak zaman purba wilayah samiddha ini disebut dengan berbagai nama seperti Kretabhumi (ditegakkan di bawah lindungan Sang Bhumi), Carubana (hutan untuk persembahan), Ceribon (Sunda Kuno: cereibu-an: wilayah warisan ibu), atau Puser Bhumi (pusat wilayah Sang Bhumi). Semua sebutan itu menunjuk makna bahwa wilayah ini bukanlah milik manusia. Adapun leluhur yang didharmakan di Kabhumian adalah seorang ratu puteri bernama Ratu Purbasari yang masyhur dengan nama Ratu Stri Bhattari Prthiwi.

Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah leluhur raja-raja Sunda. Ia puteri bungsu Prabu Dharmasatyadewa (Prabu Siung Wanara) Maharaja Pasir Batang (Kerajaan Galuh Negara Tengah) yang beribu kota di Bojong. Ibunda Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah permaisuri sang maharaja, yaitu Ratu Niti-Iswari. Meskipun ia merupakan puteri bungsu dari tujuh bersaudara, karena kecerdasan, kebijaksanaan, kesetiaan, dan kepeduliannya terhadap para kawula sangat tinggi maka ia ditunjuk ayahandanya untuk menggantikan kedudukan sebagai raja.

Ketika Prabu Dharmasatyadewa mangkat, takhta Kerajaan Pasir Batang justru diduduki oleh kakaknya tertua, Ratu Purba Larang. Dengan naik takhtanya Ratu Purba Larang maka terjadilah perselisihan dengan Ratu Purbasari yang berusaha merebut kembali takhta Pasir Batang yang menjadi haknya. Dalam perjuangan melawan saudari tuanya itu, Ratu Purbasari didukung oleh suaminya Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya Harogawarddhana Wikramotunggadewa Maharaja Sunda. Sebagai permaisuri Maharaja Sunda, Ratu Purbasari dianugerahi gelar Ratu Stri Bhattari Prthiwi.

Sri Maharaja Jayabhupati sendiri sesungguhnya masih kerabat Ratu Stri Bhattari Prthiwi, yaitu keturunan Wangsa Sanjaya dari galur Rahyang Tamperan. Menurut silsilah, baik Ratu Stri Bhattari Prthiwi maupun Sri Maharaja Jayabhupati adalah keturunan kedua belas Rahyang Tamperan dari galur Maharaja Mataram Raka i Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu.

Leluhur keduanya terpisah pada leluhur yang bernama Raka i Layang Dyah Tulodong Sri Sajjanasatmata Nuragatunggadewa yang memiliki dua orang adik lain ibu, yaitu Raka i Hino Pu Kethudara dan Raka i Sirikan Pu Samarawikranta. Baik Dyah Tulodong maupun Pu Kethudara dan Pu Samarawikranta adalah cucu Maharaja Mataram Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu karena mereka bertiga adalah putera Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya.

Ketika Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksayaksaya mangkat, yang menggantikan takhtanya adalah Raka i Layang Dyah Tulodong dengan gelar Sri Sajjanasatmata Nuragatunggadewa. Adiknya, Pu Kethudara, diangkat menjadi mahapatih. Sedangkan adiknya yang lain, Pu Samarawikranta, diangkat menjadi raja muda di Galuh Lalean yang beribu kota di Adi Mulya dengan gelar Prabu Hari Murti. Demikianlah, Dyah Tulodong merupakan leluhur Sri Maharaja Jayabhupati. Sementara itu, Prabu Hari Murti adalah leluhur Ratu Purbasari.

Ketika terjadi kemelut dalam pemerintahan Dyah Wawa Sri Wijayaloka, pengganti Tulodong, kekuasaan terpecah menjadi dua. Pertama, menantu Dyah Wawa yang bernama Raka i Hino Pu Sindok Sri Isanatunggawijaya membangun kekuasaan di wilayah timur dengan kedaton di Watu Galuh. Kedua, Prabu Arya Galuh putera Prabu Hari Murti tetap berkuasa di Adi Mulya.

Ketika cucu Prabu Arya Galuh yang bernama Prabu Dharmasatyadewa naik takhta, Kerajaan Galuh Lalean bergeser ke arah barat. Nama Galuh Lalean diganti menjadi Pasir Batang (Galuh Nagara Tengah) dan ibu kotanya dipindahkan dari Adi Mulya ke Bojong.

Sementara itu, di antara keturunan Pu Sindok lahirlah Sri Jayabhupati, putera Sri Makutawangsawarddhana. Sri Jayabhupati membangun kekuasaan di Bumi Pasundan segera setelah kekuasaan saudaranya, Sri Dharmawangsa Tguh, di Wwotan Mas dihancurkan oleh Aji Wurawari dari Lwwaram. Ibu Sri Jayabhupati adalah puteri Sunda yang dikenal dengan nama Sri Kahulunan, cucu Raka i Sirikan Pu Samarawikranta, penguasa Palutungan.

Menurut cerita, Palutungan adalah milik Ratu Pastika, puteri Pu Catura dan saudari Pu Munggu, yang dijadikan permaisuri oleh Maharaja Mataram Raka i Kayuwangi Sri Sajjanotsawatungga. Dengan demikian, ibunda Sri Jayabhupati merupakan keturunan kelima Ratu Pastika. Karena merasa sebagai keturunan Ratu Pastika Kahulunan dan putera Sri Kahulunan maka ia merasa berhak atas Palutungan sehingga ia kemudian membangun kekuasaan di situ.

Sri Jayabhupati dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana serta sangat memperhatikan kehidupan kawulanya. Anehnya, diam-diam orang menjulukinya dengan sebutan bernada merendahkan, yaitu Prabu Lutung Kasarung (Sunda: penguasa Sungai Cilutung yang sesat jalan). Sri Jayabhupati disebut raja sesat jalan karena dia telah murtad dari agama yang dianut ayahanda dan ibunda serta leluhurnya. Seluruh kawula Kerajaan Palutungan dan semua leluhur Sri Maharaja Jayabhupati adalah pemuja Wisynu, sementara Sri Jayabhupati justru menjadi pemuja Syiwa Mahaguru. Dan lantaran itu, selain disebut dengan nama Prabu Lutung Kasarung, ia juga disebut Guru Minda yang bermakna “yang berpindah (memuja) Sang Syiwa Mahaguru.”

Sri Jayabhupati sangat berhasrat memperluas wilayah kekuasaannya. Itu sebabnya, ia kemudian memindahkan kedatonnya dari kaki Gunung Chakrabhuwana di hulu Sungai Cilutung ke arah wilayah dekat muara. Ia kemudian membangun angkatan perang yang kuat dan menggunakan nama Abhiseka Wisynumurti Samarawijaya (Dewa Wisynu penguasa muara yang penuh kemenangan) dan menamai kerajaannya yang baru dengan Singhapura (kerajaan Sang Narasingha, jelmaan Wisynu). Anehnya, meski ia menggunakan lambang-lambang Waisnawa, prasasti-prasasti yang dikeluarkannya selalu memuji-muji Agastya, Sang Kumbhayoni, yaitu Syiwa Mahaguru.

Sri Maharaja Jayabhupati berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke barat, ke bekas Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Aruteun. Bahkan, Kerajaan Pasir Batang pun berhasil dijadikan sebagai wilayah taklukan (sakawat bhumi). Dengan keberhasilan menaklukkan Pasir Batang atau Galuh Nagara Tengah maka kerajaannya kemudian dinamakan Galuh Singhapura dan Sri Jayabhupati kemudian menggunakan gelar Maharaja.

Pasangan Sri Maharaja Jayabhupati dan permaisuri Ratu Stri Bhattari Prthiwi berkuasa sangat lama. Mereka dikenal sebagai pasangan maharaja dan maharani yang adil, bijaksana, dan dicintai seluruh kawulanya. Dari perkawinan mereka lahirlah empat putera, yaitu Sang Lingga Hyang, Dewi Purnawati, Dewi Surabhi, dan Sang Surendra. Sementara itu, Sri Maharaja Jayabhupati memiliki dua orang selir, yaitu Ratu Wulansari dan Ratu Sudhiwati. Ratu Wulansari adalah puteri Sri Prabu Dharmawangsa Tguh, Maharaja Kahuripan. Dari Ratu Wulansari lahirlah empat orang putera, yaitu Sang Dharmaraja, Sang Suryyanagara, Dewi Nirmala, dan Dewi Sughara. Sedangkan dari Ratu Sudhiwati lahir dua putera, yaitu Sang Wirakusuma dan Sang Wikramajaya.

Karena Ratu Stri Bhattari Prthiwi adalah permaisuri dan sekaligus puteri mahkota Maharaja Pasir Batang maka yang ditetapkan sebagai putera mahkota Galuh Singhapura adalah Sang Lingga Hyang, putera sulungnya. Namun saat Ratu Stri Bhattari Prthiwi dan Sri Maharaja Jayabhupati mangkat, terjadi perebutan kekuasaan. Sang Dharmaraja, putera Sri Maharaja Jayabhupati dari Dewi Wulansari menuntut bagian haknya atas takhta Galuh Singhapura.

Khawatir bakal pecah perselisihan yang menumpahkan darah maka atas kesepakatan para sesepuh kerajaan dibagilah kerajaan menjadi dua yaitu, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Singhapura. Disepakati pula bahwa pembatas kedua wilayah kerajaan adalah gunung tempat Sri Jayabhupati didharmakan. Kerajaan yang wilayahnya terletak di sebelah utara gunung disebut Singhapura yang beribu kota di Purwawinangun dengan raja Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya. Sedangkan kerajaan yang wilayahnya berada di sebelah selatan gunung disebut Galuh dan beribu kota di Dharmaraja dengan raja Sri Prabu Dharmaraja. Agar batas-batas wilayah kedua kerajaan mudah diingat oleh masing-masing pihak maka wilayah Kerajaan Singhapura disebut dengan nama Bumi Ceribon (bahasa Sunda Kuno: cere-ibu-an: wilayah warisan ibu) yang bermakna wilayah kerajaan warisan sang ibu yang membentang dari wilayah Singhapura hingga Pasir Batang (Galuh Negara Tengah). Sementara itu, gunung pembatas wilayah Bumi Ceribon disebut Gunung Ceremai (bahasa Sunda Kuno: cere-ama-i: wilayah warisan bapak) yang bermakna gunung pembatas wilayah kerajaan warisan sang bapak yang membentang di seluruh daerah pedalaman.

Sang Lingga Hyang yang naik takhta Singhapura dengan nama Abhiseka Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya itu beroleh warisan dari ibundanya. Sejak itu dibuatlah peraturan bahwa pewaris yang berhak atas Kerajaan Singhapura adalah keturunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi dengan Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya.

Untuk menandai keabsahan kekuasaannya sebagai Raja Singhapura maka Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya menjadikan pendharmaan Bhattari Prthiwi sebagai Kerajaan Leluhur (Medang Kamulan), yakni tempat kerajaan suci arwah Sang (ibu) Prthiwi. Bertolak dari nama Sang (ibu) Prthiwi itulah kemudian lahir sebutan Sang Bhumi (Sansekerta: Prthiwi: bumi, dunia, tanah). Tempat pendharmaan itu kemudian disebut dengan nama Kabhumian (wilayah khusus milik Sang Bhumi).

Di sebelah selatan Kerajaan Leluhur Kabhumian Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya membangun tempat khusus untuk kediaman para kubja (Sansekerta: orang bungkuk), yang menurut peraturan di kerajaan-kerajaan lama bertugas menjadi pengiring puteri. Tak jauh dari kediaman para kubja terdapat gundukan bukit kecil yang dijadikan Ksiti Inggil (tanah atau bumi mulia) yang disebut Lemah Wungkuk, yakni tempat Watu Gilang untuk menobatkan raja-raja keturunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi. Orang-orang percaya bahwa pada saat penobatan raja, Sang Bhumi akan datang memberkati sang raja dengan diiringi para kubja. Bahkan, saat Sri Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya melakukan ziarah (siddhayatra) ke Kabhumian selalu disambut dan diiringi oleh para kubja yang diyakini mengiring arwah ibundanya, Bhattari Prthiwi Sang (ibu) Bhumi.

Sementara itu, tempat pendharmaan Sri Maharaja Jayabhupati di lereng Gunung Ceremai dijadikan Kerajaan Leluhur oleh Raja Galuh Sri Prabu Dharmaraja. Ia dipuja sebagai Syiwa Mahaguru Sang Girinatha. Pendharmaan Sri Maharaja Jayabhupati yang disucikan dan dijadikan Kerajaan Leluhur itu disebut Linggasasana.

Menurut catatan sejarah, sesungguhnya pembagian kerajaan berdasarkan pewarisan garis keturunan ibu dan bapak yang terjadi di antara kerutunan Ratu Stri Bhattari Prthiwi dengan Sri Maharaja Jayabhupati itu bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada masa akhir pemerintahan Prabu Stri Bhattari Parwati, terjadi juga perselisihan perebutan takhta berdasarkan hak kepewarisan garis bapak dan ibu. Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, yang saat muda bernama Ratu Juwa, adalah puteri Kartikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha dengan Sri Maharani Simha, Maharaja Kalingga.

Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi adalah Raja Madang Mataram yang beribu kota di Pragawatipura, yakni di sekitar tempuran Sungai Praga dan Sungai Helo. Menurut cerita, Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prtiwi menikah dengan Prabu Purbasora, sepupunya, dan memiliki dua keturunan, yaitu Sang Sannaha dan Rakryan Narayana.

Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi yang diam-diam tertarik dengan ajaran Shakta Bhairawa sering berhubungan dengan Raja Galuh, Prabu Kalakutha Sang Racun Agung (Sang Mandi Minyak), yang menjadi penganut Bhairawa-Tantra. Dari pelbagai upacara pancamakara, Ma-lima, akhirnya mengakibatkan lahirnya anak Sang Mandi Minyak, yaitu Sang Sanna.

Semula Sang Mandi Minyak enggan mengakui Sanna sebagai anak. Itu sebabnya, Sang Sanna dibuang dan dibesarkan di “tegal ksetra”. Akhirnya, Sang Mandi Minyak mengakui Sang Sanna sebagai anak setelah melihat tanda-tanda menakjubkan dari anak tersebut. Setelah Sang Sanna dewasa, ia dinikahkan dengan saudarinya, Sang Sannaha. Lantaran riwayat Sang Sanna sejak lahir hingga menikah dianggap keliru maka ia kerap disebut orang dengan nama lain “Salah”.

Ketika Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi mangkat, dia didharmakan di daerah barat ibu kota Pragawatipura, tepatnya di tepi timur Sungai Wluku-loh (Jawa Kuno: sungai bajak, subur). Pendharmaan itu disucikan sebagai Kerajaan Leluhur oleh para keturunannya. Bertolak dari nama Parwati Tunggal Prthiwi itulah pendharmaan itu kemudian disebut Kabhumian (Sansekerta: Prthiwi: bumi, dunia, tanah) yang bermakna wilayah khusus Sang Bhumi.

Kabhumian tempat Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi didharmakan itulah yang menjadi pusat wilayah suci Kerajaan Mataram (Sansekerta:Mataram: ibu negeri, tanah air) yang mendatangkan kemakmuran. Daerah di sekitar Kabhumian disebut Patanahan (kediaman sang tanah, bumi). Kawasan berlimpah kesuburan yang membentang antara Sungai Wluku-loh dan Sungai Praga yang sering dijadikan medan perang perebutan takhta di antara keturunan Sang Bhumi kemudian disebut dengan nama Bagelen (Sansekerta: Bhaga-halina: warisan ibu yang subur).

Seiring mangkatnya Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, terjadilah perebutan takhta. Rakryan Narayana yang telah diberi bagian wilayah utara ingin menguasai seluruh wilayah kekuasaan ibundanya. Dengan dukungan bala tentara dari Sriwijaya, Rakryan Narayana berhasil merebut takhta Mataram. Ibu kota Pragawatipura diduduki dan ia dinobatkan sebagai Maharaja Mataram dengan gelar Syailendra.

Sang Sannaha dan Sanna berhasil lolos dari ibu kota Pragawatipura. Mereka menyingkir ke arah utara ke kawasan antara Gunung Chandramukha (Merbabu) dan Gunung Chandrageni (Merapi). Atas jasa Maharishi Bhannu Mas, Sang Sannaha yang sedang hamil tua diungsikan ke timur, ke kediaman Maharishi Bhannu Wangi, saudara kembar Maharishi Bhannu Mas. Di sana, di tanah timur itu, lahirlah putera Sang Sannaha yang diberi nama Rake Jambri.

Akhirnya, Sang Sanna dengan sisa-sisa prajuritnya memimpin serangan menghadapi kekuatan Syailendra yang didukung oleh Sriwijaya. Sang Sanna berhasil menghalau pasukan Sriwijaya dari Pragawatipura dan memburunya hingga ke pangkalan induknya di Pamiridan. Di Pamiridan pasukan Sriwijaya yang bergabung dengan induknya bertempur sengit melawan pasukan Mataram yang dipimpin Sang Sanna. Dalam sebuah pertempuran yang sengit, pasukan Mataram berhasil mematahkan kekuatan pasukan Sriwijaya yang mundur ke arah barat. Orang-orang bilang, konon, tempat pasukan Mataram berhasil memukul mundur pasukan Sriwijaya itu diabadikan dengan nama Balapulang (Jawa Kuno: bala tentara kembali).

Setelah berhasil mematahkan kekuatan Syailendra, saudara dan sekaligus iparnya, Sang Sanna menegakkan lagi kekuasaan Mataram warisan ibundanya. Namun, ia meninggalkan kedaton lama dan membangun kedaton baru di sebelah timur ibu kota lama. Sang Sanna memberi banyak anugerah kepada mereka yang berjasa membantunya. Putera Maharishi Bhannu Mas ia angkat sebagai raja muda. Kepada mereka yang setia ia bagi-bagikan tanah simha (perdikan). Sanna termasyhur sebagai maharaja agung dan bijaksana yang disegani kawan maupun lawan. Bahkan saudaranya, Syailendra, yang kalah itu diampuni dan dibiarkan hidup sebagai raja yang berkuasa di pantai utara.

Kekuasaan Sanna diwariskan kepada puteranya, Rake Jambri, yang masyhur disebut Sang Ratu Sanjaya. Sang Ratu Sanjaya menyatakan diri sebagai penguasa Mataram (ibu). Ratu Sanjaya inilah dhatu leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa dari Sanjayawangsa. Sedangkan Syailendra menjadi dhatu leluhur raja-raja Jawa dan raja-raja Sriwijaya dari Sailendrawangsa. Demikianlah, Prabu Stri Purbasari Bhattari Prthiwi yang didharmakan di Kabhumian di Bumi Caruban adalah keturunan kedua belas dari Raka i Mataram Ratu Sanjaya dan keturunan keempat belas dari Prabu Stri Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi yang didharmakan di kabhumian Pragawatipura di Bumi Mataram.

Penjelasan panjang lebar Sri Mangana tentang siapa sesungguhnya yang didharmakan di tempat yang disebut Kabhumian itu dibenarkan oleh Abdul Jalil yang melalui cara gaib membuktikan kebenaran cerita tersebut. Untuk membuktikan bahwa ia telah menghubungi secara gaib arwah Bhattari Prthiwi, Abdul Jalil menyinggung leluhur almarhumah yang jarang dikenal nama pribadinya, yakni Rahyang Tamperan. “Apakah leluhur Bhattari Prthiwi yang disebut Rahyang Tamperan itu bernama pribadi Sang Wariga Agung? Benarkah nama Rahyang Tamperan diberikan orang karena beliau menjadi pertapa?” “

Benar sekali dan aku mempercayaimu. Sebab, nama itu hanya diketahui oleh keluarga Maharaja Sunda yang pernah membaca naskah-naskah kuno di Kapustakaan Pakuan Pajajaran,” ujar Sri Mangana. “

Bukankah Sang Manarah, putera Rahyang Tamperan, kemudian mendirikan kerajaan baru di Jawa dengan ibu kota di Wwotan yang terletak di kaki Gunung Pananggusama?” “

Benar demikian adanya.” “

Dan, tempat Rahyang Tamperan pertama kali menginjakkan kaki di Jawa disebut orang dengan nama Desa Turun Hyang?” “

Aku percaya kepadamu karena apa yang engkau ungkapkan itu sesungguhnya menjadi pengetahuan rahasia keluarga Maharaja Sunda.”

Meski Abdul Jalil dan Sri Mangana sama-sama meyakini susur galur trah raja-raja Sunda dan Jawa, Abdul Jalil memiliki pandangan yang berbeda dengan Sri Mangana khususnya tentang leluhur yang didharmakan di Kabhumian. Jika Sri Mangana menilai pemujaan terhadap Sang Bhumi sebagai keniscayaan adat bagi raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa, Abdul Jalil justru menilai hal-hal terkait dengan pemujaan tersebut sesungguhnya harus diakhiri. “Ada satu hal yang perlu Ramanda Ratu ketahui tentang keinginan beliau, leluhur Ramanda Ratu yang dipuja di Kabhumian ini,” kata Abdul Jalil. “

Apa sesungguhnya keinginan beliau yang dipuja di Kabhumian ini?” “

Beliau ingin beristirahat dengan tenang di alam kelanggengan,” Abdul Jalil menjelaskan, “sebab telah berbilang abad beliau selalu diganggu dan disibukkan oleh berbagai macam urusan duniawi para keturunannya. Beliau kelihatan sangat menderita.” “

Jadi, bagaimanakah ini? Apa yang harus aku perbuat untuk memenuhi keinginan beliau?” “

Semua itu tergantung pada kebijaksanaan Ramanda Ratu.” “

Maksudnya?” “

Ramanda Ratu adalah Sang Chakrabhumi, penguasa Kabhumian. Jika Ramanda Ratu mencintai jabatan maka Ramanda Ratu tidak perlu memenuhi keinginan beliau. Ramanda Ratu setiap saat bisa meminta bantuan dari arwah beliau untuk menyelesaikan urusan-urusan duniawi semua raja keturunan beliau. Tetapi, jika Ramanda Ratu mencintai beliau sebagai leluhur yang telah berjasa mewariskan segala kemuliaan di antara manusia maka Ramanda Ratu harus merelakan jabatan chakrabhumi untuk diakhiri selama-lamanya agar beliau bisa beristirahat dengan tenang di alam kelanggengan.”

Sri Mangana terperangah mendengar penjelasan Abdul Jalil. Lama dia terdiam dan merenung. Setelah itu dengan nada ragu-ragu ia berkata, “Ketahuilah, o Puteraku, sesungguhnya aku tidak memberati jabatan apa pun di dunia ini. Tetapi dengan cara bagaimana aku bisa mengakhiri jabatan chakrabhumi? Bukankah hal itu akan membangkitkan amarah seluruh penghuni Bumi Pasundan?” “

Hal itu tidak akan terjadi, Ramanda Ratu.” “

Kenapa bisa demikian?” “

Menurut petunjuk arwah Ratu Stri Bhattari Prthiwi, segalah Tu-ah dan Tu-lah yang memancar dari Kabhumian akan sirna jika yoni tempat memuja beliau ditutup dengan lingga suci yang terletak di puncak Gunung Pulasari di tanah Banten. Jika petunjuk beliau itu terlaksana maka tidak saja Tu-ah dan Tu-lah dari Kabhumian ini akan sirna, tetapi orang pun akan tersilap melupakan Kabhumian,” jelas Abdul Jalil. “

Kenapa harus lingga yang berada di puncak Gunung Pulasari?” “

Karena yang menempatkan lingga itu adalah Sri Maharaja Jayabhupati, suami Ratu Stri Bhattari Prthiwi.”

Sri Mangana termangu-mangu mendengar penjelasan Abdul Jalil. Dia tidak memikirkan tentang disirnakannya Tu-ah dan Tu-lah dari Kabhumian, tetapi justru merenungkan syarat lingga suci dari puncak Gunung Pulasari di tanah Banten. Bukankah Gunung Pulasari dianggap gunung keramat tempat Dewa Syiwa bersemayam? Apakah ada rahasia di balik keberadaan yoni Caruban dan lingga di Banten sehingga keduanya memiliki ikatan yang kuat? Caruban Larang sebagai samiddha jelas menyediakan kayu-kayu untuk persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa. Sementara itu, upacara sesaji persembahan justru dilakukan di Banten dengan pusat di Gunung Pulasari, Gunung Karang, dan Gunung Lancar.

Abdul Jalil yang melihat Sri Mangana termenung lama kemudian berkata, “Sesungguhnya, menguasai wilayah samiddha Caruban dan wilayah Banten sama artinya dengan mewarisi takhta Kerajaan Sunda yang diwariskan oleh Sri Maharaja Jayabhupati dan Ratu Stri Bhattari Prthiwi. Sebab tanpa wilayah Caruban Larang dan wilayah Banten, sesungguhnya Kerajaan Sunda hanyalah hamparan bumi biasa, yakni tanah tak bertuan yang dihuni hewan dan manusia liar yang tak bisa diatur.” “

Maksudnya?” “

Sekalipun Ramanda Ratu bukan putera mahkota, Ramanda Ratu akan menjadi pewaris takhta Kerajaan Sunda jika Ramanda Ratu dapat menguasai Caruban Larang dan Banten. Sebab dengan dikuasainya Caruban Larang dan Banten, sesungguhnya takhta kekuasaan raja-raja Sunda sudah kehilangan Tu-ah dan Tu-lah. Tanpa Caruban dan Banten, takhta Kerajaan Sunda tidak memiliki wibawa apa-apa.”

Selain Kabhumian, tempat bersejarah di Caruban Larang yang dikunjungi Abdul Jalil dan Sri Mangana adalah Palimanan yang terletak di sebelah barat Kutha Caruban. Daerah itu, menurut Sri Mangana, disebut Palimanan karena digunakan orang sebagai tempat memuja Bhattara Ganesha. Menurut cerita, pada masa silam hewan gajah dipuja sebagai penjelmaan Ganesha, putera Parwati. Tempat pemujaan Ganesha yang dikeramatkan itu dibangun oleh Sri Jayabhupati, pemuja Syiwa, dan disebut dengan nama Palimanan (Jawa Kuno: tempat gajah). Di Palimanan gajah-gajah liar dilepas bebas dan terlarang untuk diganggu. Seiring bergulirnya waktu, pemujaan terhadap Sang Ganesha pernah memudar selama berpuluh tahun. Hal itu, konon, membuat marah Sang Ganesha. Lalu terjadilah bencana terbunuhnya Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda di Bubat beserta para pengikut, termasuk permaisuri dan puterinya oleh Sang Gajah Mada, Mahapatih Majapahit.

Para sesepuh Sunda yang tak menduga bakal terjadi peristiwa memilukan itu meyakini bahwa peristiwa tragis di Bubat bukanlah peristiwa biasa, melainkan memiliki kaitan dengan amarah Sang Ganesha yang murka akibat tidak lagi dipuja di Palimanan. Menurut keyakinan para sesepuh, Sang Ganesha, dewa gajah yang marah itu, menitis kepada Mahapatih Gajah Mada dan mengirim pesan kepada raja-raja Sunda agar mereka memuja kembali putera Syiwa itu.

Dengan keyakinan seperti itu, demi menolak bala bencana yang lebih dahsyat akibat amarah Sang Ganesha Sanghyang Ganapati, atas saran para sesepuh, putera Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana, memperbaiki kembali tempat pemujaan bagi Sang Ganesha di Palimanan. Para sesepuh berharap dengan diperbaiki dan dipujanya kembali Sang Ganesha di Palimanan, diharapkan amarah dewa gajah itu dapat diredam. Sementara itu, untuk menangkal pengaruh buruk akibat kemarahan Sang Ganesha, gajah-gajah yang dipuja kembali di Palimanan sebagian ditangkap dan ditambat di Pagajahan untuk dijinakkan dengan mantra-mantra. “

Lepas benar atau tidak pandangan para sesepuh itu,” ujar Sri Mangana, “yang jelas, sejak Sang Ganesha dipuja kembali di Palimanan dan kemudian ditambat dan dijinakkan dengan mantra-mantra di Pagajahan, terbukti pengaruh jahat dari Sang Gajah tidak terjadi lagi atas Bumi Pasundan. Sejarah mencatar, Sang Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, tidak pernah menginjakkan kaki ke Bumi Pasundan.” “

Saya memahami keyakinan itu, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Tapi jika saya boleh tahu, pada masa pemerintahan kakek buyut Ramanda Ratu, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana, Negeri Caruban Larang dijadikan samiddha dan Kerajaan Singhapura menjadi wilayah kecil. Apakah Kerajaan Singhapura yang pernah dipimpin Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya itu sudah runtuh?” “

Ya, seperti kebiasaan raja-raja Sunda dan Jawa, runtuhnya kerajaan selalu disebabkan oleh perebutan takhta di antara keturunan sang raja. Kerajaan Galuh Singhapura yang besar pecah menjadi dua pada masa Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya dan Sri Prabu Dharmaraja. Sepeninggal Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya terjadi perebutan di antara keturunannya.” “

Menurut cerita, pada masa akhir pemerintahan Prabu Lingga Wastu Sang Surugana, cucu dari Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya, terjadi perebutan sengit hingga putera mahkota beserta pengikutnya melarikan diri ke barat dan membangun kerajaan baru. Putera mahkota itulah yang kemudian menjadi raja dengan gelar Prabu Susuk Tunggal Sang Haliwungan (penguasa Sungai Liwung). Sepeninggal Prabu Susuk Tunggal ternyata terjadi lagi perebutan takhta hingga putera mahkota Sang Pulanggana mendirikan kerajaan baru di sebelah timur, yaitu Galuh Pakuan. Sang Pulanggana bergelar Prabu Banyak Larang. Beliau itulah kakek dari Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja yang mangkat di Bubat.” “

Jika demikian, menurut hemat ananda, Kerajaan Singhapura yang besar akhirnya terlantar karena diperintah oleh raja-raja yang lemah. Benarkah demikian?” tanya Abdul Jalil. “

Begitulah adanya sehingga pada masa kakek buyutku berkuasa bukan saja kraton Singhapura menjadi tidak terurus dan merana, melainkan pendharmaan Prabu Stri Bhattari Prthiwi di Kabhumian pun tak terawat. Kawasan itu benar-benar terlantar hingga ditumbuhi rumput alang-alang sehingga disebut Tegal Alang-Alang.” “

Tapi seingat ananda, belum pernah ananda mendengar nama Cerebon untuk daerah Caruban Larang ini. Apakah nama itu merupakan sebutan lama untuk Caruban?” tanya Abdul Jalil. “

Nama Cerebon memang digunakan pada masa Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya untuk membedakan wilayahnya dengan wilayah Sang Dharmaraja. Namun, istilah itu tenggelam seiring tenggelamnya Singhapura. Itu sebabnya, aku ingin mengungkapkan kembali nama itu tetapi dengan makna ganda,” ujar Sri Mangana. “

Makna ganda yang bagaimanakah yang Ramanda Ratu maksud?” “

Selain bermakna wilayah warisan ibu (Sunda: cere-ibu-an), Cerebon juga akan bermakna warisan Sang Udang (Sunda: cere-rebon),” ujar Sri Mangana. “

Warisan Sang Udang?” Abdul Jalil heran. “Siapakah yang dimaksud Sang Udang?” “

Akulah yang dimaksud Sang Udang,” kata Sri Mangana. “Akulah yang akan menegakkan dinasti Udang bagi keturunanku di Bumi Pasundan ini.” “

Ramanda Ratu adalah Sang Udang?” Abdul Jalil kembali terheran-heran. “Ananda belum memahami maksudnya. Kenapa Ramanda Ratu menganggap diri sebagai udang?” “

Sesungguhnya, saat lahir aku dinamai Hurang Sasaka (Sunda: udang pusaka). Nama itu untuk mengingat penderitaan ayahandaku saat tersingkir dari Galuh Pakuan dan mengabdi kepada Ki Gedeng Sindangkasih, syahbandar (juru labuhan) di pelabuhan Muara Jati. Selama bertahun-tahun ayahandaku ditugaskan menjadi pengawas pelabuhan ikan (juru iwak) sampai beliau diambil menantu oleh Ki Gedeng Sindangkasih.” “

Juru labuhan Muara Jati sendiri ada di bawah kewenangan Raja Singhapura yang saat itu dipegang oleh kakek buyutku, Ratu Kasmaya. Selama menjadi juru iwak itulah ayahandaku mengenal ibundaku, puteri mangkubhumi Singhapura. Akhirnya, ayahandaku menikah dengan ibundaku. Ketika Ki Gedeng Sindangkasih meninggal, ayahandaku menggantikan kedudukannya sebagai juru labuhan.”

Bermula dari Muara Jati, ayahandaku menyusun kekuatan. Beliau dibantu para pengungsi dari Campa yang dibawa Tuan Milinadi, orang Campa yang menjadi saudagar di Palembang. Beliau kemudian menjadi raja Singhapura dan menggunakan nama Siliwangi, yang dipungut dari kata Sili (sejenis ikan laut) dan wangi. Rupanya, pengalaman menjadi juru iwak itu sangat berkesan di dalam hatinya. Itu sebabnya, saat lahir aku dinamai Hurang Sasaka. Bahkan, kraton yang beliau bangun di Singhapura dinamai Kraton Pangurangan (kediaman Sang Udang), yaitu kraton yang terletak di utara kraton lama Purwwawinangun.” “

Jika nama Ramanda Ratu saat lahir adalah Hurang Sasaka, kenapa diubah menjadi Walangsungsang? Bukankah sangat jauh beda makna antara udang dengan belalang?” “

Nama Walangsungsang diberikan ketika aku dewasa dan mulai sering berselisih pendapat dengan ayahandaku, terutama soal agama. Beliau rupanya sangat sedih dan marah melihat kecenderunganku kepada agama Islam yang begitu kuat. Akhirnya, beliau mengganti namaku dengan nama Walangsungsang yang bermakna ‘yang jungkir balik dalam ketidakpastian’ (walang-walang sungsang) dan mengangkatku sebagai pejabat parang sungsang (watek i jro). Kemudian aku pun pergi meninggalkan Pakuan Pajajaran.” “

Jikalau nama Ramanda Ratu yang sesungguhnya adalah Hurang Sasaka,” lanjut Abdul Jalil, “maka ananda dapat memahami kenapa putera sulung Ramanda Ratu disebut dengan nama Pangeran Cerebon yang bermakna pewaris Sang Udang. Ananda juga bisa paham kenapa puteri Ramanda Ratu dinamai Pakungwati yang bermakna Puteri Udang.”

Sri Mangana mengangguk-angguk sambil menyapukan pandangan ke gugusan awan yang menggantung di langit dan kemudian berkata, “Bahkan aku berencana untuk menamai Kutha Caruban ini dengan nama baru Kutha Cerebon, yang bermakna kutha udang yang harum, diambil dari kata cere (Jawa Kuno: wangi uttama ning dhupa ngaranya minyak cere) dan rebon (Jawa Kuno: udang sungai).” “

Ananda berdoa semoga keinginan Ramanda Ratu yang mulia itu akan tercapai. Setiap waktu orang menyebut Cerebon akan selalu teringat kepada Ramanda Ratu sebab Ramanda Ratulah yang telah membangun pakuwuan kecil Caruban menjadi kutha yang makmur dan sejahtera. Ananda berharap orang tidak akan pernah lupa bahwa Ramanda Ratu adalah raja yang membangun tempat ibadah (tajug) pertama di Jalagrahan (Jawa Kuno: menjala gerhana) yang merupakan bekas pakalangan suci (ksetra) upacara Bhairawa-Tantra. Ananda juga berharap orang tidak akan pernah lupa bahwa Ramanda Ratulah raja yang pertama kali membangun Tajug Agung di Kutha Caruban ini.” “

Siapakah yang bisa mengingkari kenyataan bahwa pelindung dan pengembang agama Islam di Caruban Larang adalah Ramanda Ratu? Siapakah yang bisa mengingkari bahwa Ramanda Ratu adalah raja yang adil dan bijaksana, yaitu raja yang bisa melindungi dan mengayomi seluruh penduduk Caruban Larang yang berasal dari pelbagai negeri dengan berbagai agama yang berbeda? Mudah-mudahan doa ananda dikabulkan oleh Allah, Sang Penentu (al-Muqtadir).”

Sri Mangana menadahkan tangan mengamini doa Abdul Jalil.

Usai berdoa Abdul Jalil bertanya, “Sesungguhnya, di mana sajakah batas-batas samiddha Caruban ini, o Ramanda Ratu?” “

Menurut kakekku Ki Gedeng Tapa dan dibenarkan oleh Ki Danusela, batas sebelah timur samiddha Caruban sama dengan batas wilayah Kerajaan Singhapura Lama, yaitu membentang di Bumi Ceribon, dengan batas di sebelah timur mulai dari Sungai Pamali sampai ke tempuran Sungai Cigunung. Batas sebelah selatan mulai tempuran Sungai Cigunung sampai ke Cigugur di kaki Gunung Ceremai. Batas sebelah barat dari Pegunungan Kromong hingga tepi timur Sungai Cimanuk. Sementara itu, di sebelah utara berbataskan Junti,” papar Sri Mangana menegaskan.

Mendengar penjelasan Sri Mangana, Abdul Jalil termangu-mangu takjub dan diam-diam memuji kehebatan ayahanda asuhnya yang merintis kembali pembangunan Kerajaan Caruban Larang dari reruntuhan kerajaan lama Singhapura. Ia masih ingat benar betapa saat ia pergi meninggalkan Bhumi Caruban belasan tahun silam, Kutha Caruban hanya sebuah ibu kota dari pakuwuan yang sangat sepi. Bale Pakuwuan saat itu berdiri dengan dikitari beberapa belas rumah. Dermaga Muara Jati pun hanya merupakan pelabuhan kecil yang disandari perahu-perahu kecil. Sementara griya pakuwuan tempat tinggal pribadi kuwu terletak di Caruban Girang, yang jaraknya cukup jauh dari Bale Pakuwuan.

Kini, dalam tempo sekitar tujuh belas tahun, Kutha Caruban telah berubah menjadi kutharaja yang jauh lebih besar dan lebih ramai dibandingkan dengan Dermayu. Bale Pakuwuan yang dibangun menjadi Bangsal Kaprabon telah menjelma menjadi istana raja yang megah dan indah dilingkari tembok baluwarti. Bangunan-bangunan besar tempat nayakapraja bekerja ditata selayaknya kutharaja kerajaan besar. Bekas Kerajaan Leluhur Kabhumian dibangun lebih megah. Lemah Wungkuk yang terlantar pun telah dibangun kembali sebagai Siti Hinggil kerajaan. Bahkan, alur perdagangan tidak saja dibuka bagi pedagang-pedagang pedalaman, tetapi dibuka pula bagi saudagar-saudagar mancanegara. Sungguh, hanya manusia besar yang mampu melahirkan karya besar, kata Abdul Jalil dalam hati memuji ayahanda asuhnya.

Pacific Ocean, April 2, 2007, 10:35LT

4. Dang Hyang Semar

(Nabi Zaman Purwakala, Sang Guru Loka Nusa Jawa)

Selama berkeliling ke berbagai tempat di Kutha Caruban dan sekitarnya dengan didampingi Sri Mangana, sadarlah Abdul Jalil bahwa pengaruh agama Hindu dan Budha sesungguhnya tidaklah begitu kuat di Bumi Pasundan, terutama di wilayah samiddha Caruban. Sebab, apa yang disebut sebagai pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu pada hakikatnya bukanlah pemujaan dewa-dewa dalam makna yang sesungguhnya sebagaimana yang pernah ia saksikan di negeri Hindustan. Kenyataan yang ditangkapnya justru menunjuk tentang kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur yang dibalut dengan nama-nama dewa Hindu dan Budha.

Jika di kalangan ningrat berdarah biru terdapat kecenderungan mendewakan arwah leluhur dengan menyebut sang raja almarhum sebagai titisan Brahma, Wisynu, Syiwa, Syiwa-Budha, Bhattara Guru, Indra, Surya, dan Dewa yang lain maka di kalangan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa justru tidak akrab dengan nama-nama dewata yang masyhur tersebut. Kalangan orang kebanyakan cenderung lebih akrab dengan nama leluhur mereka yang abadi dalam bentuk punden-punden dan kebuyutan-kebuyutan, yakni kuburan-kuburan leluhur yang mereka jadikan tempat pemujaan dan sesembahan.

Kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur setidaknya bisa dilihat dari susunan kekuasaan yang lazim dianut di Bumi Pasundan. Seorang ratu bukanlah penguasa tertinggi. Sebab, di atas ratu masih ada dewata yang lebih berkuasa. Dan, di atas dewata masih ada hyang (leluhur yang sudah meninggal) yang lebih berkuasa. Itu sebabnya, seorang raja yang hanya bergelar ratu masih berada di bawah raja yang menggunakan gelar dewata. Gelar dewata pun masih berada di bawah gelar hyang. Dengan demikian, hanya seorang maharaja saja yang boleh menggunakan gelar kebesaran dewata dan hyang.

Kuatnya pengaruh pemujaan terhadap arwah leluhur di Bumi Pasundan sempat ditanyakan Abdul Jalil kepada Sri Mangana. Namun, Sri Mangana justru menjelaskan bahwa hal itu adalah kelaziman yang tidak hanya terjadi di Bumi Pasundan, bahkan juga di seluruh Nusa Jawa. Orang-orang Jawa, ungkap Sri Mangana, tidak ada yang benar-benar memuja dewata dalam makna yang sebenarnya sebagaimana dilakukan oleh penganut Hindu di Hindustan. Sesungguhnya, yang dipuja sebagai dewa oleh orang-orang Sunda dan Jawa di candi-candi pemujaan itu adalah abu jenasah dari raja-raja yang di atasnya diberi arca dewata.

“Sebagaimana yang sudah engkau ketahui, Kabhumian, tempat yang disucikan di samiddha Caruban ini, sesungguhnya adalah sebuah pendharmaan berisi abu jenasah Bhattari Prthiwi. Di atas abu jenasah itu ditempatkan yoni keramat lambang sakti Dewa Syiwa. Di situ Bhattari Prthiwi dipuja sebagai Dewi Prthiwi, lambang shakti Wisynu.”

“Sesungguhnya, memuja yoni sebagai shakti Wisynu itu keliru karena yoni adalah lambang Parwati, shakti Syiwa. Tapi, aku sendiri tidak tahu sejak kapan yoni ditempatkan di situ. Yang aku tahu, menurut kakekku, yoni itu sudah ada di situ sejak zaman purwakala. Keberadaan yoni di Pendharmaan Bhattari Prthiwi jelas merupakan ketidaktahuan para keturunannya tentang pemujaan terhadap dewa-dewa secara benar. Namun begitu, aku menduga, sangat mungkin Bhattari Prthiwi yang semula adalah pemuja Wisynu itu kemudian berbalik menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, karena suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati, adalah pemuja Syiwa Mahaguru. Itu sebabnya, sampai sekarang, tidak ada satu pun di antara raja-raja Sunda yang berani memindahkan yoni itu.”

“Menurut hematku, sesungguhnya para raja Sunda yang datang untuk memuja Sang Bhumi sejatinya adalah pemuja arwah leluhurnya, yakni Bhattari Prthiwi. Di Nusa Jawa demikian juga, abu jenasah Sri Prabu Kertanegara, leluhur raja-raja Majapahit, ditempatkan di Jajawi dan di atasnya ditumpangi arca Syiwa-Budha. Beliau kemudian dipuja sebagai Sang Syiwa-Budha,” jelas Sri Mangana.

“Pendapat Ramanda Ratu bahwa Bhattari Prthiwi kemungkinan menjadi pemuja Syiwa Mahaguru memang benar. Itu sebabnya di atas pendharmaan beliau ditempatkan yoni keramat. Jadi, seperti suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya, yang ternyata menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, Bhattari Prthiwi pun pemuja Syiwa Mahaguru.”

Perbincangan antara Abdul Jalil dan Sri Mangana ternyata makin menusuk ke masalah yang terkait pemujaan arwah leluhur. Sekalipun Sri Mangana sudah menjelaskan tentang kenyataan yang menunjuk bahwa sesungguhnya di balik pemujaan terhadap dewa-dewa itu sejatinya adalah pemujaan terhadap arwah leluhur, dia belum bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi. “Sepengetahuanku, para brahmana, wiku, sadhu, acarya, guru-gama, tuha-gama, dan surak-loka selalu mengajarkan tuntunan agama sesuai hukum suci Weda. Tetapi kenyataannya, pada tingkat amaliah semua itu berubah menjadi seperti yang kita lihat. Baik raja-raja Sunda maupun raja-raja Jawa hampir tidak ada yang benar-benar memuja dewa dalam makna yang sebenarnya,” ujar Sri Mangana.

“Saya khawatir, jangan-jangan ajaran Islam pun pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Hindu dan Budha, yaitu menjadi agama yang memuja kubur raja-raja Muslim,” ujar Abdul Jalil.

“Tapi, jika memang itu yang terjadi maka kita tentu tidak bisa berbuat apa-apa.”

Mendengar kata-kata Sri Mangana, Abdul Jalil menarik napas berat. Ia sadar bahwa persoalan naluri penghuni Nusa Jawa dan Bumi Pasundan yang cenderung memuja arwah leluhur adalah persoalan yang rumit. Itu sebabnya, ia memasrahkan urusan itu kepada Allah. Biarlah Allah yang memutuskan bagaimana yang terbaik bagi-Nya untuk dipuja dan disembah suatu bangsa, katanya dalam hati.

Ketika Abdul Jalil dan Sri Mangana (Raja Caruban/sekarang Cirebon) berjalan di sebuah tempat di pinggir hutan kecil yang membentang di tepi sungai, terjadi sesuatu yang mencengangkan. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba di depan mereka dalam jarak sekitar tujuh depa muncul seorang laki-laki tambun berkulit hitam legam. Kepala laki-laki itu ditumbuhi rambut keriting pendek berwarna putih dengan jambul di depan. Matanya bulat dan lebar. Hidungnya besar. Bibirnya tebal. Kumisnya tebal melingkar ka bawah bersambung dengan janggutnya. Selembar kain warna hitam menutupi bagian bawah tubuhnya dari batas perut hingga di atas mata kaki. Anehnya, meski laki-laki tambun itu berkulit hitam legam, pancaran daya pesona, wibawa, dan kharisma dari dirinya sangat memukau. Abdul Jalil menangkap sosok itu sebagai bayangan hitam, tetapi sekaligus sebagai benderang cahaya. Wajahnya bersinar seperti rembulan, tetapi sekaligus seperti langit gelap, tidak hidup dan tidak mati, sederhana tetapi rumit.

Sekalipun tidak sekaget Sri Mangana yang terheran-heran menyaksikan kehadiran mendadak sosok tambun berkulit hitam itu, Abdul Jalil terkesima juga, terutama saat laki-laki itu menyapa melalui al-ima’. Laki-laki tambun kulit hitam itu memperkenalkan diri sebagai Dang Hyang Semar, guru loka Nusa Jawa yang hidup pada jaman purwakala.

Perkenalan mendadak itu membuat Abdul Jalil termangu keheranan. Seingatnya, sejak ia tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati hingga berkelana ke berbagai negeri dan kembali lagi ke Caruban Larang, belum pernah ia mendengar sesuatu tentang manusia bernama Dang Hyang Semar. Saat ia sedang termangu heran tiba-tiba Ruh al-Haqq dari kedalaman relung-relung jiwanya memberi tahu bahwa laki-laki tambun berkulit hitam itu sesungguhnya adalah penampakan ruh seorang nabi dari zaman purba. Menyadari dengan siapa ia berhadap-hadapan, Abdul Jalil menjawab salam Dang Hyang Semar melalui al-ima’ dan menyatakan kebahagiaannya bisa bertemu dengan pesuruh Allah yang mulia itu.

Ketika Abdul Jalil memberi tahu Sri Mangana tentang siapa sesungguhnya laki-laki tambun yang muncul tiba-tiba itu, Sri Mangana terkejut bukan kepalang. Sebab bagi Sri Mangana, keberadaan tokoh yang termasyhur di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan itu memang bukan sosok yang asing. Bertemu muka dengan Dang Hyang Semar tentu merupakan pengalaman yang sulit dipercaya. Seperti digerakkan oleh kekuatan gaib yang tak terlihat mata, Sri Mangana segera bersujud menyembah ke hadapan Dang Hyang Semar. Namun betapa kecewa Sri Mangana, saat terbangun dari sujud menyembah dia tidak mendapati lagi sosok Dang Hyang Semar di depannya.

“Ke mana beliau tadi? Kenapa tiba-tiba beliau menghilang?” tanyanya pada Abdul Jalil.

“Beliau tidak berkenan disembahsujudi sesama manusia dan beliau menyatakan tidak berkenan bertemu dengan Ramanda Ratu,” jelas Abdul Jalil.

“Kenapa Dang Hyang Semar tidak berkenan bertemu aku? Apakah beliau menilai aku manusia kotor sehingga tidak layak ditemui?”

“Beliau menyatakan kepada saya bahwa di dalam diri Ramanda Ratu masih bersemayam kekuatan kelam ilmu seratus ribu hulubalang dari Gunung Kumbhang. Ilmu itu pengaruh Bhairawa haus darah yang tidak beliau sukai.”

“Astaghfirullah!” sahut Sri Mangana dengan wajah pucat. “Bagaimana beliau bisa tahu?”

“Yang terlihat tadi adalah arwah dari Dang Hyang Semar, Ramanda Ratu. Beliau tentu lebih tahu tentang segala sesuatu yang bersifat gaib di negeri ini sejak zaman lampau sampai kini.”

Sri Mangana duduk termangu sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Abdul Jalil yang semula berdiri kemudian duduk bersila di samping Sri Mangana sambil memejamkan mata. Sesungguhnya, saat itu Abdul Jalil sedang berhadap-hadapan dengan ruh Dang Hyang Semar. Namun keberadaan Dang Hyang Semar tidak terlihat oleh Sri Mangana. Melalui al-ima’, berlangsunglah perbincangan akrab antara Dang Hyang Semar dan Abdul Jalil, yang jika diuraikan ke dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:

“Sejak engkau menginjakkan kaki ke Caruban, seluruh alam gaib di Bumi Pasundan dan Nusa Jawa terguncang. Para bangsa berbadan halus, penghuni lama negeri ini meraung dan melolong kegerahan. Sesungguhnya, mereka sangat tidak menyukai kehadiranmu di sini. Namun ketahuilah, o Abdul Jalil, kehadiranmu di sini justru sedang aku nati-nantikan.”

“Apakah Yang Mahagaib memberi tahu paduka tentang kedatangan saya?”

“Ya, Dia Yang Mahagaib memberitahuku tentang kehadiranmu yang akan membawa angin perubahan. Tetapi, Dia tidak memberi tahu secara jelas tentang engkau. Itu sebabnya, o Abdul Jalil, aku ingin mengetahui keberadaan dirimu, terutama tugas-tugas yang akan kau kerjakan di sini. Ini demi kebaikanmu sendiri dalam mengemban tugas dari-Nya untuk mengembuskan angin perubahan di Nusa Jawa.”

“Apakah yang ingin paduka ketahui tentang keberadaan saya?”

“Perubahan apakah yang sesungguhnya akan engkau embuskan di sini?”

“Sesungguhnya, saya tidak mengubah apalagi memperbarui apa pun. Saya hanya ingin menghidupkan tatanan kehidupan lama yang sudah pernah ditegakkan oleh barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak sejak zaman Adam a.s. hingga Muhammad Saw.. Tidak ada yang baru sama sekali dari tugas saya.”

“Jika engkau berbicara tentang barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak, tentunya apa yang akan engkau sampaikan tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah aku sampaikan selama ini.”

“Tepatlah demikian, o Guru Loka Nusa Jawa, saya hanya akan menghidupkan warisan lama yang sudah ada, yaitu warisan lama yang tidak bertentangan dengan ajaran Tauhid, mengesakan Tuhan.”

“Aku percaya akan apa yang engkau sampaikan. Tetapi, hendaknya engkau tidak mengikuti jejak pendahulumu, Syaikh Syamsudin al-Baqir al-Farisi, yang tidak menunggu dan membimbing para pengikutnya untuk setia mengikuti ajarannya. Sehingga, hampir seluruh pengikutnya tumpas dijadikan korban pesta darah oleh para makhluk berbadan halus, penghuni purwakala negeri ini.”

“Pesta darah penghuni purwakala negeri ini?” Abdul Jalil tiba-tiba teringat penjelasan almarhum Ario Abdillah (Ario Damar), Adipati Palembang. “Apakah yang dimaksud pesta darah itu sama dengan yang dijelaskan oleh almarhum Yang Mulia Ario Damar tentang kegemaran bangsa jin meminum darah?”

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa sebelum bumi dihuni manusia,” Dang Hyang Semar memulai cerita, “bumi sudah dihuni oleh bangsa-bangsa berbadan halus. Mereka suka berperang dan menumpahkan darah. Saat manusia akan diturunkan ke bumi, para bangsa halus diusir dari permukaan bumi. Sebagian mereka menghuni samudera raya dan pulau-pulau. Sebagian lagi menghuni dasar bumi. Lalu turunlah manusia yang berkembang biak dengan sangat cepat. Tetapi seperti para penghuni bumi yang lama, manusia suka berperang dan berbuat zalim hingga menimbulkan kerusakan,”

“Untuk menyucikan bumi, Sanghyang Taya, Tuhan, Yang Mahagaib, membinasakan manusia dengan air bah. Saat air bah besar melanda permukaan bumi dan negeriku tenggelam, aku beserta keluarga dan pengikutku naik perahu dan rakit. Jumlah seluruh rombonganku sekitar tiga ratus orang. Sesuai petunjuk Sanghyang Taya, aku mengarahkan perahu ke tengah lautan dan mendarat di sebuah pulau yang disebut Pulau Kendhang (Jawa Kuno: Pulau Hanyut), yang menjadi bagian dari untaian perhiasan mutiara di tengah samudera (rinengga ing jaladhi ajajawan mutyara). Saat aku dan para pengikutku mendarat di Pulau Kendhang, ternyata pulau itu sudah dihuni oleh penduduk purwakala, yaitu bangsa berbadan halus, puak-puak dari kawanan kera raksasa dan bangsa siluman.”

“Pada awalnya, kehadiran kami ditolak baik oleh para raja dari bangsa berbadan halus itu maupun para kera raksasa dan ratu siluman. Satu demi satu mereka berhasil aku halau dan singkirkan, meski beratus-ratus pengikutku meninggal akibat berbagai macam penyakit. Namun, mereka, khususnya para raja bangsa berbadan halus, terus mengganggu pengikutku. Akhirnya, setelah berselisih selama tiga ratusan tahun, aku dan para raja bangsa halus mencapai kesepakatan untuk bisa hidup berdampingan. Dalam kesepakatan itu ditetapkan lima syarat yang harus dipatuhi oleh masing-masing pihak.”

“Pertama, bangsa manusia yang tinggal di Pulau Kendhang tidak diperbolehkan mengganggu adat kebiasaan bangsa berbadan halus, terutama adat kebiasaan menyelenggarakan perayaan pesta darah manusia. Kedua, Dang Hyang Semar menjadi guru loka bagi bangsa manusia dan bangsa berbadan halus di Pulau Kendhang. Ketiga, seluruh bangsa berbadan halus harus tunduk di bawah perintah Dang Hyang Semar. Keempat, bangsa berbadan halus tidak akan mengganggu manusia yang benar-benar memuja Sanghyang Taya sebagaimana diajarkan Dang Hyang Semar. Kelima, untuk melangsungkan tradisi pesta darah manusia, bangsa berbadan halus diperbolehkan memilih korban manusia yang tidak mengikuti atau menyimpang dari ajaran Dang Hyang Semar.”

“Dengan kelima syarat itu, akhirnya bangsa manusia berhasil tinggal di Pulau Kendhang dan hidup berdampingan dengan bangsa berbadan halus yang telah lebih dulu menghuninya. Sebagaimana tugas utama yang kuemban dari Sanghyang Taya maka aku pun menjadi guru loka di Pulau Kendhang untuk mengajar manusia menyembah Sanghyang Taya secara benar.”

“Siapakah yang paduka maksud dengan Sanghyang Taya?” tanya Abdul Jalil.

“Sanghyang Taya adalah Sumber segala kejadian yang tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar telinga, tidak bisa diraba dengan tangan, tidak bisa dibayang-bayangkan, tidak bisa dipikir, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu. Dia adalah Taya (Jawa Kuno: hampa, suwung, awang-uwung). Dia tidak dilahirkan. Tidak berawal. Tidak berakhir. Tidak satu pun makhluk hidup yang bisa mengenal keberadaan-Nya yang sejati.”

“Jika Dia, Taya, adalah Sang Hampa, yang tidak diketahui dan tak dikenali,” tanya Abdul Jalil, “bagaimana manusia bisa mengenal dan menyembah-Nya?”

“Manusia mengenal-Nya melalui pengejawantahan kekuatan dan kekuasaan-Nya di alam ini sebagai Pribadi Ilahi yang menjadi Sumber segala sumber kehidupan yang tergelar di alam semesta, yakni Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat sebagai pengenal keberadaan diri-Nya.”

“Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi apakah kekuatan dan kekuasaan Sanghyang Taya tersebut?”

“Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi yang disebut Tu atau To.”

“Maksud paduka?”

“Tu atau To adalah pengejawantahan Sanghyang Taya sebagai Pribadi Ilahi yang secara samar-samar sudah bisa diketahui dan dikenal baik Sifat maupun nama-Nya. Tu, Pribadi Ilahi, meski Tunggal, Dia memiliki dua sifat yang berbeda seibarat telapak tangan yang putih dan punggung tangan yang hitam. Yang pertama adalah sifat Tu yang baik, yaitu yang mendatangkan kebaikan, kemuliaan, kemakmuran, dan keselamatan kepada manusia. Tu itulah yang dikenal dengan nama Tu-han. Sifat Tu yang baik, yaitu Tu-han, itulah yang dikenal dengan nama Sanghyang Tunggal (Maha Esa); Satu Pribadi Ilahi yang selain memiliki nama dan sifat Tunggal juga memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”

“Yang kedua adalah sifat Tu atau To yang tidak baik, yaitu yang mendatangkan kejahatan, kehinaan, kenistaan, dan kebinasaan. Tu itulah yang dikenal dengan nama han-Tu. Sifat Tu yang tidak baik, yaitu han-Tu, itulah yang disebut dengan nama Sanghyang Manikmaya (Jawa Kuno: Permata Khayalan). Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi yang hanya diketahui nama dan sifat-Nya itu, tak berbeda dengan Sanghyang Tunggal, yakni memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”

“Berarti, Sanghyang Tunggal yang memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan Tu-han Yang Mahakuasa memberi petunjuk kepada makhluk-Nya, begitukah?”

“Benar demikian adanya.”

“Kemudian, Sanghyang Manikmaya yang juga memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan han-Tu, Yang Mahakuasa juga untuk menyesatkan makhluk-Nya, begitukah?”

“Benar demikian adanya.”

“Jika demikian, apakah memuja Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya pada hakikatnya sama saja?”

“Benarlah demikian adanya,” ujar Dang Hyang Semar. “Yang berbeda hanya jalannya saja. Jika kita memuja Sanghyang Tunggal maka kita hanya melewati jalan lempang di dalam menuju Sanghyang Taya (monoteis). Sebaliknya, jika kita memuja Sanghyang Manikmaya maka kita akan melewati banyak jalan untuk menuju Sanghyang Taya (politeis).”

“Jika demikian, Sanghyang Taya yang paduka sembah adalah sama dengan sesembahan saya, yaitu Huwa, Dia, Yang Mahagaib, Yang Tak Terbandingkan dengan segala sesuatu (laisa kamitslihi syaiun). Sedangkan yang disebu Tu adalah sama dengan Allah SWT., yaitu Dia, Pribadi Ilahi Yang menjadi Pusat segala Nama, Sifat, dan Perbuatan Ilahiah (Rab al-Arbab). Yang dari-Nya terdapat Nama dan Sifat dari Rab-Rab, seperti Mahatunggal (al-Wahid), Mahakuasa (al-Qadir), Mahasuci (al-Quddus), Maha Memberi Petunjuk (al-Hadi), sekaligus Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Maha Pembinasa (al-Mumit), Maha Penyiksa (al-Muntaqim), Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr), Mahapenista (al-Khafidh).”

“Sesungguhnya, tidak ada yang berbeda antara apa yang engkau sembah dan apa yang aku sembah. Hanya nama Ilahiah sesembahan kita yang berbeda.”

“Tetapi bagaimana cara memuja Tu, Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat Ilahiah itu, jika kenyataannya Pribadi Ilahi tersebut tidak kasat mata?” tanya Abdul Jalil.

“Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Yang pertama, memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal (Tu-han) melalui sarana bantu sesuatu yang kasatmata seperti Tu-buh dan wa-Tu. Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu-han adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundakku untuk aku ajarkan kepada manusia.”

“Yang kedua, untuk memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Manikmaya (han-Tu) dengan melalui sarana bantu berbagai benda kasatmata, seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu (gigi), pin-Tu, Tu-lang, Tu-nggul (bendera), Tu-mbak, Tu-lup (sumpit), Tu-nggak (tonggak), Tu-rumbuhan (beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), To-peng, To-san (pusaka), To-pong (mahkota), To-parem (baju rompi), To-wok (lembing), To-ya (air), dengan sesaji-sesaji berupa Tu-mpeng, Tu-d (bunga pisang), dan Tu-mbu (tempat sesaji dari anyaman bambu). Memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundak Sang To-gog, saudaraku, untuk diajarkan kepada manusia.”

“Menurut ajaran yang aku sampaikan dan juga yang disampaikan oleh saudaraku To-gog, jika seorang manusia telah patuh dan setia menjalankan pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya, baik melalui pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Tunggal (Tu-han) maupun Sanghyang Manikmaya (han-Tu), maka manusia itu akan dilimpahi kekuatan dan kekuasaan yang bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya. Sebab, satu jalan yang kuajarkan untuk menyembah Sanghyang Tunggal pada hakikatnya sama dengan bermacam-macam jalan yang diajarkan To-gog untuk menyembah Sanghyang Manikmaya, yakni bermuara kepada Sanghyang Taya.”

Itu sebabnya, manusia yang sudah dilimpahi kekuatan dan kekuasaan oleh Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya akan memiliki kekuatan gaib yang memancarkan kekuatan dan kekuasaan Ilahiah dari dalam dirinya. Jika kekuatan dan kekuasaan gaib pada mereka itu bersifat memberkati, melindungi, mengayomi, dan menyelamatkan disebut dengan Tu-ah. Sebaliknya, jika kekuatan dan kekuasaan gaibpada mereka itu bersifat menghukum, mengutuk, mendatangkan bencana, dan membinasakan disebut dengan Tu-lah.

Tu-ah dan Tu-lah yang diperoleh para pemuja Sanghyang Taya itulah yang ditandai dengan kata kunci Pi (Jawa Kuno: rahasia, tersembunyi). Dengan Tu-ah dan Tu-lah itu maka segala sesuatu yang terkait dengan mereka yang sudah dilimpahi kekuatan gaib bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya, gerak-gerik kehidupannya akan ditandai dengan Pi, yaitu kekuatan rahasia Ilahi yang tersembunyi; jika mereka menyebut kata ganti diri sendiri, dikatakan dengan Pi-nakahulun; jika mereka berbicara dikatakan Pi-dato; jika mereka mendengar dikatakan Pi-harsa; jika mereka mengajarkan sesuatu pengetahuan dikatakan Pi-wulang; jika mereka memberi petuah dikatakan Pi-tutur; jika mereka memberi petunjuk dan arahan dikatakan Pi-tuduh; jika mereka menghukum dikatakan Pi-dana; jika mereka memancarkan kekuatan dikatakan Pi-deksa; jika mereka memberikan keteguhan kepada orang lain dikatakan Pi-andel; jika mereka mengobati orang lain dikatakan jam-Pi; bahkan jika mereka sudah tua dan sering lupa dikatakan Pi-kun.

Orang-orang yang sudah memiliki Tu-ah dan Tu-lah berhak menjadi pemimpin bagi manusia yang lain. Orang-orang yang sudah dipancari kekuatan dan kekuasaan gaib Ilahiah oleh Sanghyang Taya itulah yang dijuluk dengan penuh hormat dengan sebutan Pi-nituha, Pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu. Mereka berhak memimpin manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Jika meninggal, mereka tetap dianggap masih hidup dan disebut Pi-tara (arwah leluhur).

Kalangan manusia awam (Tu-gul) meyakini bahwa mereka yang disebut Tu-ha, dha-Tu, dan ra-Tu bisa dimintai bantuan untuk menyelesaikan berbagai urusan baik didalam memuja Sanghyang Taya maupun urusan duniawi. Tu-gul lazimnya memberikan persembahan sesaji kepada arwah leluhur mereka (Pi-tara) dalam sebuah upacara yang disebut Pi-tapuja, sesajinya berupa Pi-nda (kue dari bahan tepung), Pi-nang, Pi-tik (ayam), Pi-ndodakakriya (nasi dan air), dan Pi-sang.”

“Apakah semua umat paduka yang beroleh Tu-ah dan Tu-lah mendudukiderajat yang sama? Dan, siapakah yang dimaksud kalangan awam, yaitu Tu-gul?” tanya Abdul Jalil.

“Tidak semua yang beroleh Tu-ah dan Tu-lah berderajat sama. Sebab para pemuja dan penyembah Sanghyang Taya sesungguhnya terpilah menjadi empat golongan manusia.”

“Siapa sajakah masing-masing golongan manusia itu?”

“Golongan pertama adalah golongan Tu-tug (Jawa Kuno: sampai, sempurna), yaitu golongan orang-orang yang menyembah Sanghyang Taya secara sempurna melalui sarana Tu-buh; duduk bersila dengan tangan swadikep (Jawa Kuno: Swa: diri, keakuan; dikep: menangkap dengan telapak tangan), mengamati keberadaan tubuh, meresapi gerak-gerik tubuh, mencermati kecenderungan jiwa, menata pikiran, mengatur pernapasan, menyatukan kiblat hati dan pikiran guna mencari keakuan di dalam diri dengan meresapi dan menghayati ‘rasa suwung’ di dalam Tu-tud (hati) yang ada pada diri manusia. Mereka yang sudah mengetahui dan mengenal ‘rasa suwung’ di dalam Tu-tud adalah sama dengan mengenal Sanghyang Tunggal, yaitu Sang Suwung: Sanghyang Taya.”

Mereka yang termasuk ke dalam golongan Tu-tug ini tidak menggunakan wa-Tu sebagai sarana bantu memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Mereka itulah pemuja dan penyembah sejati Sanghyang Taya, Sang Hampa Yang Tak Terbayangkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah manusia-manusia yang sudah tidak mengenal pamrih kehidupan duniawi. Hati dan pikiran mereka hanya terarah kepada Sanghyang Taya, yang citra Ilahiah-Nya tersembunyi secara rahasia sebagai “rasa suwung” di dalam Tu-tud pada diri manusia. Itu sebabnya, jika mereka mati maka jiwa mereka akan menyatu ke dalam Kehampaan Taya yang tak terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah yang dengan hormat disebut Tu-ha atau Pi-nituha, yakni pribadi-pribadi manusia suci yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah tanpa kehendak pribadinya. Mereka selalu menjadi sumber kecemburuan dewa-dewa. Mereka disegani sekaligus ditakuti dewa-dewa. Tetapi jumlah mereka sangat sedikit, hanya dalam hitungan jari.

Golongan kedua adalah golongan Tu-hu (Jawa Kuno: benar, tulus, bersungguh-sungguh), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal. Mereka sama seperti para Tu-tug, yaitu menggunakan sarana bantu Tu-buh; mengatur makanan, mengatur ucapan, menyatukan kiblat hati dan pikiran untuk diarahkan ke “rasa suwung” yang tersembunyi di dalam Tu-tud (hati), mengharapkan pancaran Tu-ah dan Tu-lah yang tersembunyi di dalam “rasa suwung” itu. Jika mereka sudah mengenal “rasa suwung” di dalam diri mereka sendiri maka mereka akan mengambil manfaat dari pengenalan tersebut.

Meskipun golongan Tu-hu termasuk manusia yang tercerahkan, jiwa dan pikirannya masih terpengaruh oleh pamrih-pamrih. Mereka yakin bahwa meskipun mereka harus hidup di dunia dengan sengsara dan menderita, jika mati kelak mereka berharap ditempatkan di Tayan (Jawa Kuno: surga, kayangan) untuk menikmati kelezatan hidup abadi bersama leluhur dengandilayani para Tayawara (Jawa Kuno: bidadari). Mereka menempatkan diri sebagai perantara hubungan manusia dengan Sanghyang Tunggal. Mereka itulah yang dengan hormat disebut golongan pi-nituhu yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah untuk menjaga keselarasan kehidupan manusia. Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki, mereka sering menentang, melawan, berperang, dan bahkan mengalahkan dewa-dewa yang menindas manusia. Mereka menjadi pemangku yang bertugas melakukan upacara suci memuja Sanghyang Tunggal. Jumlah golongan pi-nituhu lebih banyak dibandingkan dengan jumlah golongan Tu-ha.

Golongan ketiga adalah golongan Tu-ngga (Jawa Kuno: tinggi, mulia), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal dengan menggunakan perantara bantu wa-Tu; mengatur makanan, mengatur pikiran, mengatur ucapan, mengatur tindakan, bersujud (tondhem) di hadapan wa-Tu sebagai lambang pengejawantahan Sanghyang Tunggal, mengharap pancaran Tu-ah dan Tu-lah yang tersembunyi di dalam lambang wa-Tu. Jika mereka sudah beroleh Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Tunggal lantaran memuja-Nya dengan perantaraan wa-Tu maka Tu-ah dan Tu-lah itu akan mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi sekaligus kepentingan orang banyak.

Mereka adalah orang-orang yang masih kuat terpengaruh oleh pamrih ukhrawi dan duniawi sekaligus. Mereka menggunakan dan memanfaatkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka peroleh dari Sanghyang Tunggal untuk memegahkan diri di dalam kehidupan duniawi, sekaligus berharap saat mati nanti dengan Tu-ah dan Tu-lah itu mereka dapat menikmati kelezatan hidup di Tayan dilayani para Tayawara. Mereka itulah yang disebut dha-Tu atau ra-Tu.

Tu-ah dan Tu-lah yang dimiliki para ra-Tu sesungguhnya tidak sedahsyat Tu-ah dan Tu-lah para pi-nituhu, apalagi para pi-nituha. Itu sebabnya, mereka selalu memperkuat Tu-ah dan Tu-lah dengan bantuan benda-benda bertuah yang lain seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu, Tu-lang, Tu-lup, Tu-mbak, Tu-nggul, To-san, To-pong, To-peng, dan To-wok. Jumlah golongan dha-Tu atau ra-Tu lebih banyak daripada jumlah pi-nituhu.

Golongan keempat adalah golongan Tu-gul (Jawa Kuno: bodoh, awam), yaitu kalangan orang kebanyakan yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya dengan menggunakan sarana bantu berbagai benda terutama wa-Tu serta arwah para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu dan ra-Tu. Mereka merupakan golongan orang-orang yang tidak mengenal Sanghyang Taya secara benar. Mereka hanya mendengar tentang Sanghyang Taya secara samar-samar. Mereka menganggap Sanghyang Taya tinggal di Tayan yang terletak di puncak gunung. Mereka hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut bahwa di dalam wa-Tu, Tu-gu, Tu-nggul, Tu-k, Tu-rumbuhan, Tu-lang, un-Tu, Tu-lup, pin-Tu, To-peng, To-pong, To-san, dan To-wok terdapat daya sakti berupa Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Taya. Mereka bahkan meyakini bahwa di dalam benda-benda tersebut tidak sekedar terdapat daya sakti Tu-ah dan Tu-lah, tetapi bersemayam pula makhluk-makhluk halus yang sewaktu-waktu bisa dimintai bantuan.

Golongan Tu-gul ini merasa rendah diri dan tidak yakin jika mereka dapat memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal secara benar. Itu sebabnya, mereka memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui arwah seorang pi-nituha, pi-nituhu, ra-Tu, atau dha-Tu. Hanya saja, akibat sulitnya mengenal keberadaan seorang pi-nituhu apalagi pi-nituha maka yang lazim dipuja dan disembah oleh golongan Tu-gul adalah arwah para ra-Tu yang dirupakan dalam bentuk wa-Tu yang menjadi tanda kubur sang ra-Tu.

Sepanjang memuja dan menyembah arwah ra-Tu melalui wa-Tu, golongan Tu-gul sesungguhnya hanya berharap agar semua kebutuhan dan keinginan mereka terhadap berbagai tuntutan kehidupan duniawi terpenuhi. Demi memenuhi keinginan duniawinya yang kuat, yang sering berlebihan dalam kerakusan dan keserakahan, mereka tidak hanya memuja dan menyembah arwah ra-Tu, tetapi mereka sering kedapatan bersedia mengikuti cara-cara pemujaan dan penyembahan yang dilakukan Sang To-gog, yakni memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya (han-Tu). Mereka hampir tidak perduli dengan urusan Tayan yang ukhrawi, apalagi dengan Sanghyang Taya. “Mereka itulah yang disebut dengan nama golongan Tu-tut (pengikut). Jumlah golongan Tu-tut ini adalah yang terbanyak di antara semua golongan umatku,” jelas Dang Hyang Semar.

“Sekalipun golongan Tu-tug, Tu-hu, Tu-ngga, dan Tu-gul berbeda tingkatan dalam mengenal keberadaan Sanghyang Taya, hampir semua golongan ini tetap tidak menyimpang dari dasar-dasar ajaranku, yaitu meyakinkan diri bahwa Sanghyang Taya adalah kekuatan dan kekuasaan gaib yang tidak bisa dibayang-bayangkan, dipikir-pikirkan, dibanding-bandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada di antara pengikutku, kecuali mereka yang sudah sangat bodoh dan sesat, beranggapan bahwa Sanghyang Taya memiliki tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”

“Sesungguhnya, hal itu tidak berbeda jauh dengan ajaran Islam yang saya anut,” ujar Abdul Jalil. “Dari sisi batiniah, di kalangan umat Islam pun terdapat tiga golongan besar, yaitu golongan ‘awam, golongan khawash, dan golongan khawash al-khawash. Golongan khawash al-khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut karamah oleh Allah SWT. Dengan karamah itu seorang khawash al-khawash dapat mendatangkan berkah (Tu-ah) dan laknat (Tu-lah).”

“Golongan khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut ma’unah oleh Allah SWT., yakni kekuatan dan kekuasaan gaib yang lebih rendah kadarnya dari karamah. Sedangkan golongan ‘awam tidak dikaruniai apa-apa kecuali rahmat (kasih), maghfirah (pengampunan) Ilahi, dan syafa’at dari Nabi Muhammad Saw. Golongan ‘awam ini masih terpilah lagi ke dalam dua golongan besar. Pertama, golongan ‘awam yaitu mereka yang sangat mencintai dunia tetapi masih mempercayai Allah SWT. Dan kehidupan akhirat. Kedua, golongan ‘awam al-‘awam yaitu mereka yang benar-benar mencintai kehidupan dunia dan tidak peduli dengan urusan kehidupan akhirat apalagi dengan Yang Ilahi. Yang terakhir ini mungkin sama dengan kebanyakan golongan Tu-gul.”

“Menurut saya, sama dengan para pengikut paduka, umat Islam pengikut Nabi Muhammad Saw. pun mulai dari kalangan ‘awam al-‘awam hingga khawash al-khawash, kecuali yang sudah sangat bodoh dan sesat, semua meyakini bahwa Allah SWT. Tidak dapat dibayang-bayangkan, dipikir-pikir, dibanding-bandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada umat Islam yang beranggapan bahwa Allah SWT. Punya tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”

“Sesungguhnya, semua ajaran Kebenaran itu Satu jua Sumbernya.”

“Tapi paduka, bagaimana membedakan ajaran paduka dengan ajaran Sang To-gog?” Abdul Jalil ingin tahu. “Bukankah To-gog juga memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Sanghyang Manikmaya?”

“Sesungguhnya, ajaranku dan ajaran Sang To-gog berasal dari Satu Sumber, yaitu Sanghyang Taya. Namun, ajaran kami dibedakan dalam kiblat pemujaan dan sesembahan. Aku berkiblat kepada Sanghyang Tunggal. To-gog berkiblat kepada Sanghyang Manikmaya. Ajaranku sangat sederhana karena hanya berupa pengarahan kiblat hati dan pikiran kepada Yang Mahagaib yang Tak Terbayangkan melalui satu jalan, yakni Sanghyang Tunggal, yang dicapai melalui sarana bantu Tu-buh, dan wa-Tu.”

“Sedangkan ajaran To-gog jauh lebih rumit karena mengikuti banyak jalan sebagai pengejawantahan Sanghyang Manikmaya. Di samping itu, ajaran Sang To-gog sangat dipenuhi dengan pamrih-pamrih duniawi dan ukhrawi. Ajaranku tidak mengenal sesaji. Ajaran Sang To-gog justru mensyaratkan penggunaan sesaji. Karena ajaran yang disampaikan Sang To-gog melewati banyak jalan di mana masing-masing jalan memiliki aturan dan pranata sendiri maka para pengikut Sang To-gog sering menemui kesulitan dalam memuja-Nya.”

“Sejak semula sudah menjadi kehendak-Nya bahwa tugas yang aku emban bertentangan dengantugas yang diemban saudaraku, Sang To-gog. Itu sebabnya, anak-anak yang membantuku menunaikan tugas selalu bertentangan dengan anak-anak yang membantu tugas Sang To-gog. Sang Dhawala (Jawa Kuno: yang putih menyilaukan) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-hu tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam menjalankan aturan pemujaan dan penyembahan terhadap Sanghyang Tunggal (Tu-han) sebagai Pribadi Ilahi melalui sarana bantu Tu-buh.”

“Sang Udal (Jawa Kuno: yang pasrah) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-ngga tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam mengikuti aturan memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui sarana bantu wa-Tu. Sang Astrajingga (Jawa Kuno: senjata merah menyala) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-gul agar mereka setia menaati ajaranku dengan cara mengikuti dan mematuhi ajaran (pi-wulang), petunjuk (pi-tuduh), teladan (tu-ladha), dan wejangan (pi-tutur) dari para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu.”

Sementara itu, Sang To-gog yang menjalankan tugas memimpin manusia untuk menyembah Sanghyang Manikmaya juga dibantu oleh tiga anaknya. Sang Bilung (Jawa Kuno: hidangan) adalah anak Sang To-gog yang mengajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai jenis sarana bantu. Tujuan utama Sang Bilung dan pengikutnya menyembah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat dan keinginan manusia, terutama kemasyhuran diri di dunia, dikabulkan oleh Sanghyang Manikmaya. Sang Bilung dan pengikutnya yakin bahwa mereka yang memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah, yang berguna untuk meraih kemasyhuran di dunia dan jika mati nanti mereka akan tinggal di Tayan bersama leluhur.

Para pengikut Sang Bilung disebut golongan To-r (Jawa Kuno: yang menyajikan hidangan). Mereka adalah para pemilik kekuatan gaib yang keramat dan memiliki tugas utama mempersembahkan sesaji dan korban kepada Sanghyang Manikmaya. Mereka berupa para dukun dan walyan yang sangat ditakuti karena bisa mengarahkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki untuk mencelakai orang melalui tu-ju (teluh) dan ku-tu-k (sumpah). Mereka umumnya perempuan.

Sang Sarawita (Jawa Kuno: inti, energi, benda) adalah anak Sang To-gog yang mengajarkan manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Tujuan utama mereka memuja dan menyambah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat kecintaan manusia terhadap benda-benda dan kekuasaan duniawi terpenuhi. Sang Sarawita dan pengikutnya yakin bahwa pemuja dan penyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah yang berguna untuk menguasai benda-benda sekaligus menjadi pemegang kekuasaan dunia.

Para pengikut Sang Sarawita disebut golongan Tu-huk (Jawa Kuno: terpuaskan). Mereka adalah para Pa-tu-nggul (Jawa Kuno: pemegang tunggul, pemimpin) yang sakti serta memiliki kekuatan dan kekuasaan besar. Mereka sangat ditakuti karena memiliki harta benda berlimpah, pengikut banyak, kekuasaan besar, dan sakti mandraguna. Mereka acap kali menduduki jabatan dha-Tu dan ra-Tu.

Sedangkan Sang Kere (Jawa Kuno: kurus, hina, miskin, lapar) adalah anak Sang To-gog yang mengajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Sang Kere dan para pengikutnya tidak mengenal Sanghyang Manikmaya, apalagi Sanghyang Taya, secara benar. Sang Kere dan para pengikutnya adalah orang-orang yang rakus, tamak, serakah, kejam, buas, dan mementingkan diri sendiri. Sang Kere dan para pengikutnya adalah pemuja dan penyembah nafsu dan benda-benda duniawi.

“Apakah Sang To-gog dan ketiga puteranya mengajarkan korban berupa Tu-mbal manusia?”

“Sesungguhnya, di dalam ajaran Sang To-gog yang murni tidak dikenal adanya persembahan korban yang disebut Tu-mbal. Itu adalah ajaran yang dibawa oleh Sang Idajil (Si Urat Napas Juling), guru Sang Kere yang lambat laun berhasil mempengaruhi ajaran Sang To-gog.”

“Siapakah Sang Idajil? Kenapa dia bisa mempengaruhi ajaran Sang To-gog?”

To-gog adalah orang yang suka bercanda dan tidak bisa bertindak tegas terhadap perilaku anak-anaknya yang menyimpang. Itu sebabnya, ketika anaknya yang bernama Sang Kere dipengaruhi Sang Idajil, ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan meratap meminta bantuanku untuk melawan Sang Idajil. Namun, aku tidak bisa membantunya karena Sang Idajil diam-diam mulai berusaha mempengaruhi umatku juga. Sehingga, aku dan ketiga orang anakku harus berjuang keras melawan pengaruh jahat Sang Idajil yang menyesatkan itu.”

“Apa ciri-ciri ajaran Sang Idajil?”

“Ibadah sehari-hari para pemuja Sang Idajil, Si Urat Napas Juling, ditandai oleh dua ciri yang sama dengan hakikat nama Idajil. Pertama, melalui pengaturan pernapasan lewat urat napas sebagaimana diajarkan Sang Idajil, mereka akan mencapai tahap tidak sadarkan diri dan kemudian mengomel tidak karuan. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya telah mereka ucapkan dalam omelan itu. Mereka seperti keranjingan arwah, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena getar urat napas yang diatur secara keliru sehingga mempengaruhi kesadaran. Kedua, seperti Sang Idajil yang juling, mereka selalu keliru dalam memandang Kebenaran. Mereka tidak pernah tahu hakikat Tu, Pribadi Ilahi, apalagi hakikat Sanghyang Taya. Mereka hanya mengenal Tu-han sebagai kuasa terang dan kebaikan, sedangkan han-Tu merupakan kuasa kegelapan dan kejahatan. Terang dan gelap adalah dua kekuatan yang saling bertarung memperebutkan keunggulan masing-masing. Itu sebabnya, pengikut Sang Idajil menganggap kebenaran itu dua, bukan sa-Tu atau Tu-nggal.”

Akibat pengaruh Sang Idajil, ajaran Sang To-gog tentang cara-cara manusia memuja Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi, sesuai Tu-ntunan Sanghyang Taya, makin lama makin tenggelam ke dalam ajaran Sang Idajil. Para pengikut Sang To-gog mulai melakukan cara-cara yang lebih rumit, yaitu dengan melakukan upacara yang menggunakan persembahan sesaji-sesaji tambahan dan korban-korban berupa hewan maupun manusia.

Untuk sesaji-sesaji, misalnya, para pengikut Sang Idajil tidak saja menggunakan Tu-mpeng, Tu-d, dan Tu-mbu, tetapi ditambah dengan Tu-ak. Untuk korban digunakan Tu-mbal (manusia) dan Tu-kang (hewan sejenis kera). Baik sesaji maupun korban secara bersama-sama atau terpisah, digunakan sebagai piranti upacara di tempat-tempat keramat seperti Tu-ngkub (bangunan suci), Tu-rumbuhan (pohon beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), Tu-nda (tempat bertingkat-tingkat), Tu-san (tempuran anak sungai), Tu-mpis (lereng gunung). Di tempat-tempat tersebut diletakkan benda-benda bertuah, seperti Tu-gu, wa-Tu, Tu-nggul, Tu-nggak, Tu-ngas, Tu-lang, Tu-lup, To-pong, To-peng, To-san, To-ya, dan To-wok. Waktu upacara lazimnya dilakukan pada saat Tu-nggang gunung (senja). Jumlah sesaji dan korban pun ditentukan berdasarkan hitungan tertentu, yaitu Tu-nggal dan pi-Tu.

“Berarti ajaran Sang To-gog sudah menyimpang dari ajaran yang semula,” kata Abdul Jalil. “Apakah hal itu tidak menimbulkan pertentangan dengan ajaran paduka?”

“Perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, meski aku dan anak-anakku berseberangan dengan Sang To-gog dan anak-anaknya, kami tidak pernah berselisih. Kami sadar bahwa segala perbedaan yang ada pada kami sesungguhnya adalah kehendak Sanghyang Taya belaka. Namun sejak ajarannya terpengaruh Sang Idajil, perselisihan sengit hingga menumpahkan darah memang sering terjadi antara pengikutku dan pengikut Sang To-gog.”

“Apakah ajaran Sang To-gog kemudian menjadi satu dengan ajaran Sang Idajil?”

“Sesungguhnya, ajaran Sang To-gog menyimpang jauh setelah dia meninggal dan ajarannya benar-benar telah dirusak oleh Sang Kere. Namun seratus tahun setelah kematian Sang To-gog, lahirlah keturunannya yang bernama Teja Mantri dari sekian banyak keturunan Sang Bilung. Dialah yang meluruskan kembali ajaran Sang To-gog. Demikianlah, di antara keturunan Sang Teja Mantri kemudian lahir penerus yang meluruskan ajaran leluhurnya sampai pada masa Sang Hantaga, yakni kerurunan Sang To-gog yang tidak memiliki keturunan.”

“Paduka, apakah nama ajaran yang dibawa Sang To-gog?”

“Semula nama ajarannya sama dengan ajaranku. Tetapi lama-lama ajarannya disebut Tata-titi. Padahal, Tata-titi hanyalah bagian dari ajaran yang kami sampaikan.”

“Jika demikian, apakah nama ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia?”

“Karena ajaran yang kusampaikan menyangkut tata cara pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya maka manusia harus diyakinkan dulu tentang keberadaan Sanghyang Taya. Keyakinan terhadap keberadaan Sanghyang Taya itulah yang disebut Pi-Taya (rahasia tentang Yang Suwung). Orang-orang yang yakin dengan keberadaan Sanghyang Taya disebut wwang Pi-Taya (orang yang mempercayai Yang Suwung). Adapun seluk-beluk ajaranku tentang dasar-dasar keyakinan dan tata cara memuja serta menyembah Sanghyang Taya disebut dengan nama Kapitayan.”

“Paduka yang mulia, bagaimanakah cara paduka menjaga kelestarian ajaran Kapitayan dari waktu ke waktu? Apakah dengan cara seperti yang dilakukan Sang To-gog?” Abdul Jalil meminta penjelasan.

“Benar adanya demikian. Setelah aku meninggal dunia pada usia tujuh ratus tahun, terjadilah penyimpangan ajaran Kapitayan. Kemudian lahirlah keturunanku yang meluruskan ajaran itu. Dalam waktu seratus tahun sepeninggalku, rusaklah ajaran Kapitayan. Selama kurun hampir lima puluh tahun Kapitayan sudah bercampur aduk dengan ajaran Sang To-gog yang juga sudah berbaur dengan ajaran Sang Idajil. Tu-han dipuja dan disembah bersama han-Tu. Kebenaran dianggap dua. Sesaji dan korban saling tumpang tindih meminta nyawa orang-orang tak bersalah.”

“Ditengah kerancuan ajaranku muncullah keturunanku yang bernama Dang Hyang Badranaya dan ketiga orang anaknya, yaitu Rahyang Pathuk, Rahyang Gareng, dan Rahyang Somaita yang berjuang keras meluruskan kembali ajaran Kapitayan. Begitu seterusnya, ajaran Kapitayan dari zaman ke zaman diluruskan oleh para keturunanku seperti Dang Hyang Hasmara, Dang Hyang Smarasanta, Pu Walaing, Ki Buyut Wangkeng, dan terakhir Ki Buyut Sondong.”

“Rupanya, Sanghyang Taya telah mengakhiri pelurusan ajaran Kapitayan dengan meninggalnya Ki Buyut Sondong. Sebab, keturunanku itu tidak memiliki keturunan. Dengan demikian, keberadaan ajaran Kapitayan memang sudah dikehendaki-Nya untuk digantikan dengan ajaran baru yang lebih sempurna. Tetapi perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, bahwa apapun nama ajaran baru yang akan disampaikan di Nusa Jawa, yang akan lestari adalah ajaran yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan. Sebab telah menjadi keniscayaan sejarah, berbagai ajaran baru yang disebarkan ke Nusa Jawa yang tidak sesuai dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan tidak akan diterima oleh penghuninya. Bahkan, pengikut ajaran itu akan diancam oleh penghuni purwakala negeri ini.”

“Paduka telah paham bahwa ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia secara hakiki sama dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., yakni memuja dan menyembah Tu-han Yang Tunggal, Mahakuasa, Tak Terbandingkan dengan sesuatu, Sumber segala sesuatu. Namun satu hal yang ingin saya tanyakan kepada paduka, yaitu tentang pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Apakah yang menyebabkan beliau gagal menyiarkan ajaran Islam di Nusa Jawa?” tanya Abdul Jalil.

“Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya semata. Namun jika hendak dicari sebab musababnya, salah satu kekeliruan yang dilakukan pendahulumu adalah kepulangannya yang terlalu cepat ke Negeri Persia beberapa waktu setelah ia mendapat perkenanku menyebarkan ajaran Islam di Nusa Jawa. Sebab, dengan kepergiannya kembali ke Persia, orang-orang Islam di Nusa Jawa menjadi kacau balau dalam mengamalkan ajarannya. Secara berangsur-angsur mereka mulai menganggap bahwa Allah yang mereka sembah bukan lagi Tu-han Yang Tak Terpikirkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu, melainkan seorang dewa perang dengan malaikat-malaikat sebagai panglimanya. Dewa perang yang selalu membela dan melindungi umat Islam, sebaliknya selalu memusuhi dan membinasakan orang-orang yang bukan Islam.”

“Akibat meyakini bahwa Allah yang disembah adalah dewa perang maka orang Islam pengikut Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi sering menumpahkan darah manusia. Mereka suka membunuh manusia lain yang dianggap kafir. Mereka telah mengambil hak Sanghyang Wenang, yaitu mencabut nyawa manusia sekehendak hati. Selain itu, mereka juga menjadi pemuja setia dari kuburan-kuburan pemukanya. Bahkan, banyak di antara mereka yang meyakini bahwa Allah yang mereka sembah itu bisa menjelma dalam wujud manusia tidak waras yang bisa mengabulkan permohonan dan memberi berkah keselamatan.”

“Apa yang terjadi dengan orang-orang Islam di Nusa Jawa setelah kepulangan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi akhirnya menuai bencana. Perkenan yang sudah kuberikan tentu tidak bisa menggugurkan lima syarat perjanjianku dengan para raja bangsa halus penghuni purwakala Nusa Jawa. Orang-orang Islam banyak yang mati terbunuh akibat pertumpahan darah dengan sesama manusia penghuni Nusa Jawa. Akhirnya, jumlah mereka yang tersisa tinggal hitungan jari saja. Jika dilihat dari sisi alam gaib, sebagian besar di antara mereka yang mati itu dijadikan korban dalam pesta darah para makhluk berbadan halus penghuni purwakala negeri ini.”

“Saya mohon petunjuk paduka,” ujar Abdul Jalil. “Bagaimana cara saya menjadikan tawar pengaruh bangsa berbadan halus penghuni purwakala Nusa Jawa ini, selain perkenan paduka tentunya?”

“Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang dilimpahkan-Nya kepadamu, sesungguhnya engkau bisa mengusir seluruh makhluk halus penghuni purwakala Nusa Jawa ke pulau lain atau ke tengah lautan. Namun, jika engkau hendak mengikuti apa yang telah aku lakukan maka engkau harus memasang Tu-mbal di beberapa tempat yang bisa membuat tawar pengaruh jahat mereka. Hanya saja, Tu-mbal yang engkau tetapkan tempatnya itu tidak banyak pengaruhnya untuk melindungi para pemuja duniawi dari pengaruh bangsa halus.”

“Saya akan mengikuti jejak paduka. Sebab, telah jelas bagi saya bahwa ajaran Islam adalah ajaran Tauhid yang dijadikan rahmat oleh-Nya bagi seluruh makhluk di alam semesta. Sesungguhnya, tugas utama saya hanyalah sebagai penyampai berita Kebenaran Islam saja. Saya sekali-kali bukan pengusir bangsa lain apalagi penimbul kebinasaan.”

“Itu baik dan sesuai dengan semangat ajaran Kapitayan.”

“Tapi paduka, apakah pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, juga memasang Tu-mbal di Nusa Jawa? Apakah bentuk Tu-mbal yang digunakannya?” tanya Abdul Jalil.

“Tentu saja,” jawab Dang Hyang Semar. “Dia dulu memasang Tu-mbal di beberapa tempat di pantai utara Nusa Jawa dengan menebarkan tanah dari Negeri Persia. Saat memasang Tu-mbal itu ia mengibarkan bendera hitam yang disebut Tunggul Wulung.”

“Apakah pemasangan Tu-mbal itu dilakukan dari arah barat ke timur?”

“Ya.”

“Dari manakah hal itu dimulai?”

“Dari tiga gunung tempat Sanghyang Tunggal, Sanghyang Manikmaya, dan Idajil dipuja.”

“Lalu di manakah letak ketiga gunung itu?”

“Ditanah kulon tempat aku dan Sang To-gog pertama kali terdampar seusai banjir besar, yaitu di Gunung Karang Tumaritis, Gunung Pulasari, dan Gunung Lancar.”

Usai menjawab pertanyaan Abdul Jalil, tiba-tiba ruh Dang Hyang Semar lenyap. Abdul Jalil gelagapan dan membuka mata dengan celingukan. Ia melihat Sri Mangana masih duduk bersila di sampingnya. Rupanya, ayahanda asuhnya itu menangkap sasmita bahwa beberapa jenak yang lalu ia sesungguhnya sedang berhubungan dengan Dang Hyang Semar meski tidak terlihat. Itu sebabnya, saat ia mengajak pulang, ayahanda asuhnya bertanya sambil menarik napas berat, “Apa saja yang beliau wejangkan kepadamu, o Puteraku?”

“Beliau telah berkenan mengizinkan agama Islam berkembang di Nusa Jawa karena sesungguhnya ajaran Islam secara hakiki tidak berbeda dengan ajaran Kapitayan yang beliau sampaikan kepada manusia. Bedanya dengan ajaran Islam adalah ajaran Kapitayan masih sangat sederhana syari’atnya, tetapi inti Tauhidnya sama. Ini bisa dipahami karena Kapitayan memang untuk manusia yang hidup pada zaman purwakala.”

“Jadi, benar beliau seorang nabi yang membawa ajaran Tauhid?” tanya Sri Mangana.

“Menurut kesaksian ananda, beliau dan keturunannya adalah nabi-nabi yang membawa ajaran lurus keesaan Ilahi kepada manusia, khususnya di Nusa Jawa. Tetapi, sejak Ki Buyut Sodong, keturunan terakhirnya, wafat tanpa keturunan maka tidak ada lagi yang meluruskan ajaran Kapitayan.”

“Jadi, ajaran Kapitayan itu diwariskan turun temurun di antara keturunan Dang Hyang Semar?” gumam Sri Mangana dengan pandang terheran-heran. “Aku pikir ajaran itu hanya disampaikan oleh satu orang saja, yaitu Dang Hyang Semar.”

“Menurut penjelasan beliau tadi, memang demikian adanya.”

“Tetapi, o Puteraku, jika Dang Hyang Semar telah berkenan mengizinkan Islam berkembang di Nusa Jawa, berarti ajaran Kapitayan memang tidak berbeda secara hakiki dengan ajaran Rasulullah Saw..”

“Benar demikian adanya, o Ramanda Ratu. Bahkan menurut hemat ananda, Islam bisa dikatakan ibarat penyempurna bagi ajaran Kapitayan. Hanya bahasa, waktu, dan ruang lingkup saja yang membedakan ajaran Tauhid Kapitayan dan Tauhid Islam.”

“Berarti, ajaran Islam dengan mudah akan berkembang di Nusa Jawa karena kehadiran Islam seperti membangkitkan ajaran lama yang sudah dikenal semua orang.”

“Sesungguhnya tidak bisa disebut mudah, Ramanda Ratu, sebab kita masih harus membuat tawar pengaruh buruk para penghuni purwakala Nusa Jawa.”

“Penghuni purwakala? Siapakah mereka?”

“Menurut Dang Hyang Semar, mereka adalah makhluk berbadan halus. Menurut pikiran ananda, mereka adalah golongan bangsa jin.”

“Caranya bagaimana?”

“Ananda akan memasang Tu-mbal sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu ananda, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi.”

“Memasang Tu-mbal ? Dengan korban sembelihan manusia?”

“Tidak Ramanda Ratu,” sahut Abdul Jalil, “tetapi dengan menebar tanah dari Negeri Persia.”

“Berarti engkau akan ke Persia?”

“Tidak perlu, Ramanda Ratu, karena mertua ananda, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, sudah membekali ananda dengan sekantung tanah yang beliau ambil dari tempat bernama Karbala. Tanah itulah yang akan ananda tebarkan sebagai Tu-mbal.”

“Mudah-mudahan engkau berhasil menjalankan tugasmu, o Puteraku.”

“Ananda mohon doa restu dari Ramanda Ratu.”

“Baiklah, Puteraku,” ujar Sri Mangana. “Untuk mengingat pertemuan mulia ini dan sebagai pertanda bahwa Yang Mulia Dang Hyang Semar, pembawa ajaran Kapitayan, telah berkenan mengizinkan ajaran Islam disampaikan di Nusa Jawa maka tempat di pinggir hutan kecil di tepi sungai ini selanjutnya akan kutetapkan dengan nama Dukuh Semar.”

“Mudah-mudahan dengan mengingat nama Dukuh Semar, orang senantiasa akan mengingat pembawa ajaran Tauhid yang paling awal di Nusa Jawa,” kata Abdul Jalil.

Sejak bertemu dengan ruh Dang Hyang Semar, Abdul Jalil sadar bahwa berbagai kecenderungan para penghuni Bumi Pasundan dan Nusa Jawa untuk mengikuti naluri memuja arwah leluhur, terutama memuja arwah ra-Tu, bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan suatu rangkaian sambung menyambung yang bersumber dari pendangkalan ajaran suci Kapitayan. Pemujaan terhadap arwah ra-Tu terutama amaliah kalangan Tu-gul di dalam menerapkan ajaran Kapitayan pada kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami kecenderungan terjadinya pendangkalan ajaran oleh kalangan awam maka sejak awal Abdul Jalil sudah menangkap sasmita bahwa ajaran Kebenaran Islam yang bakal disampaikannya – khususnya Tarekat Akmaliyyah – akan mengalami nasib sama seperti ajaran Kapitayan, yaitu hanya bisa diikuti oleh beberapa gelintir manusia. Bahkan, ia menangkap kemungkinan ajaran tarekat yang disampaikannya juga bakal didangkalkan dan disimpangkan maknanya. Namun, di atas berbagai kemungkinan itu, ia segera sadar betapa sesungguhnya Allah SWT. memang telah menghendaki semuanya berlangsung demikian demi tetap terjaganya rahasia keagungan dan kesucian-Nya. Sungguh! Tidak semua manusia boleh mengetahui rahasia-Nya.

Berbeda dengan Abdul Jalil, Sri Mangana justru dicekam kegelisahan mendalam usai bertemu Dang Hyang Semar. Dia merasa ada gumpalan kabut hitam menyelimuti kejernihan hatinya yang diliputi rasa bersalah. Penolakan Dang Hyang Semar benar-benar merupakan pukulan dahsyat yang membuatnya makan tak enak dan tidur tak nyenyak.

Penolakan Dang Hyang Semar sangat memukul jiwanya. Sejak dia kecil kisah tentang tokoh sakti yang rendah hati itu telah akrab didengarnya dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari memen (tukang dongeng) di Kraton Pakuan Pajajaran. Dang Hyang Semar, tokoh suci itu, dikenal sebagai manusia jelmaan dewa yang dapat mengalahkan dewa-dewa. Masih melekat di relung-relung ingatannya tentang kisah kehebatan Dang Hyang Semar saat mengalahkan Nini Permoni, titisan Bhatari Durga, penguasa Pasetran Gandalayu. Dan ternyata tokoh suci yang sakti mandraguna itu tidak berkenan menemuinya.

Setelah tak mampu lagi menanggung beban jiwanya, datanglah dia ke hadapan Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi yang sedang berbincang-bincang dengan Abdul Jalil. Dengan segenap kejujuran dan kepasrahan dia menuturkan kepada guru agung yang sangat dihormatinya itu betapa sesungguhnya selama ini dirinya menyembunyikan sesuatu yang tak selayaknya dilakukan seorang muslim yang patuh. “Saya merasa bersalah karena selama ini membiarkan jiwa saya didiami anasir kegelapan ilmu seratus ribu hulu balang. Saya mohon petunjuk apa yang seharusnya saya lakukan?” Ujar Sri Mangana.

Menghadapi pengakuan Sri Mangana, Syaikh Datuk Kahfi menarik napas berat sambil berkata, “Aku tidak begitu memahami ilmu-ilmu gaib semacam itu. Sebagaimana diketahui, aku hanya paham pengetahuan ajaran Islam dari kitab-kitab yang masyhur.”

“Jadi, saya harus bagaimana, Guru Agung?” tanya Sri Mangana.

“Abdul Jalil,” ujar Syaikh Datuk Kahfi, “aku kira engkau lebih tahu apa yang seharusnya engkau lakukan untuk menolong ayahandamu.”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Guru, sesungguhnya masalah Ayahanda saya hanya terkait dengan ilmu Bhairawa yang disebut seratus ribu hulubalang. Ananda kira, jika Ramanda Ratu berkenan melepas ilmu tersebut sebagaimana yang telah dilakukan Yang Mulia Ario Damar, Yang Dipertuan Palembang, maka masalahnya akan selesai dengan sendirinya. Dan setelah itu, ananda kira, Ramanda Ratu akan lebih mudah menapaki jalan Kebenaran-Nya.”

“Ananda telah menangkap sasmita bahwa Ramanda Ratu pernah mengamalkan sebuah wirid yang diperoleh dari Ramanda Guru. Dalam mengamalkan wirid itu, Ramanda Ratu telah bertemu dengan Khidir a.s. Namun, pengalaman batiniah itu hanya berhenti sampai di situ karena Ramanda Ratu masih menyembunyikan ‘sesuatu’ di dalam relung-relung jiwa, yaitu ilmu seratus ribu hulubalang,” kata Abdul Jalil.

Sri Mangana terkejut mendengar penjelasan Abdul Jalil. Dengan alis kanan diangkat dia bertanya heran kepada putra asuhnya, “Bagaimana engkau bisa mengetahui jika aku pernah bertemu betemu dengan Khidir a.s.?”

“Ramanda Ratu, ananda tidak bisa menjelaskan hal itu. Tetapi, seperti yang pernah ananda sampaikan saat kita bertemu Ayunda Nyi Muthmainah, bahwa apa yang ananda ucapkan sering berasal dari ‘sentuhan rasa’ yang meluncur begitu saja dari mulut ananda. Jadi, apa yang ananda ucapkan tadi sesungguhnya sekadar berujar saja. Ananda sesungguhnya tidak tahu jika Ramanda Ratu telah bertemu dengan Khidir a.s.”

Mendengar penjelasan Abdul Jalil yang polos, akhirnya Sri Mangana mengakui bahwa sesungguhnya dia telah bertemu dengan Khidir a.s. ketika mengamalkan wirid yang diperolehnya dari Syaikh Datuk Kahfi. Setelah beberapa waktu mengamalkan wirid itu, tiba-tiba dia mengalami pengalaman luar biasa yang tak pernah diduganya sama sekali.

Saat itu, antara sadar dan tidak, antara tidur dan terjaga, dia seolah-olah berjalan dengan seorang anak muda di sebuah tanah menjorok lurus yang pada sisi kanan dan kirinya merupakan bentangan lautan luas tanpa tepi. Di tempat aneh itu dia merasa berjumpa dengan Khidir a.s. “Dari tengah tanah menjorok itu aku melihat sekawanan udang berenang hilir-mudik di lautan sebelah kananku. Sedangkan di lautan sebelah kiriku, aku juga melihat sekawanan udang berenang di antara batu-batuan dan sebagian bersembunyi di batu-batuan tersebut.”

“Setelah dengan takjub aku pandangi kedua lautan itu, tiba-tiba Khidir a.s. kulihat muncul mendadak di depanku. Tetapi, saat itu ia tidak berkata sesuatu kepadaku. Hanya tangan kanannya menunjuk ke arah kawanan udang yang berenang di lautan sebelah kiri. Aku tidak tahu apa makna pengalamanku bertemu Khidir a.s. Sebab, aku tak pernah mengalami pengalaman seperti itu. Aku berharap engkau dapat menguraikan makna penglihatan batinku (bashirah) dengan jelas.”

Abdul Jalil menarik napas panjang mendengar uraian ayahanda suhnya. Sesaat ia berpaling memandang Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi seolah minta penegasan. Syaikh Datuk Kahfi mengangguk, mengisyaratkan persetujuan.

Setelah merasa beroleh perkenan Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil berkata, “Sesungguhnya, Khidir a.s. yang Ramanda Ratu jumpai itu bukanlah sosok lain yang terpisah sama sekali dari keberadaan Ramanda Ratu. Apa yang telah Ramanda Ratu saksikan sebagai tanah menjorok dengan lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu tempat yang berada di luar diri Ramanda Ratu. Tanah itulah yang disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu adalah Lautan Makna (ba-hr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghaib), dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam asy-syahadat).”

“Sedangkan kawanan udang yang Ramanda Ratu saksikan adalah perlambang para pencari Kebenaran yang sudah berenang di perbatasan alam kasatmata dan alam tidak kasatmata. Kawanan udang yang berenang dilautan sebelah kanan adalah perlambang para penempuh jalan ruhani (salik) yang benar-benar bertujuan mencari Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yang berenang di lautan sebelah kiri, di antara batu-batuan, merupakan perlambang para salik yang penuh diliputi hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.”

Mendengar penjelasan Abdul Jalil, Sri Mangana tercekat heran. Beberapa jenak kemudian dia berkata, “Benarkah Khidir a.s. yang aku temui itu muncul dari dalam diriku dan bukan Khidir a.s. seperti yang ditemui Nabi Musa a.s., yaitu Nabi Allah penguasa perairan yang hidup abadi?”

“Sesungguhnya, peristiwa yang dialami Nabi Musa a.s. dengan Khidir a.s., sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an Al-Karim, bukanlah peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan ruhani yang berlangsung di dalam diri Nabi Musa a.s. sendiri. Sebagaimana yang telah ananda jelaskan, yang disebut dua lautan di dalam Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua Lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan atau sekat (barzakh).”

“Bagaimana dengan ikan yang dibawa pemuda yang melompat ke salah satu lautan?”

“Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (‘alam asy-syahadat) yang berbeda dengan wilayah perbatasan yang berdampingan dengan dunia gaib (alam al-ghaib). Maksudnya, jika saat itu Nabi Musa a.s. melihat ikan dan kehidupan yang melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa a.s. akan melihat sang ikan berenang di dalam alamnya. Jika saat itu Nabi Musa a.s. mencermati maka ia akan dapat meyaksikan bahwa sang ikan yang berenang itu sesungguhnya dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air. Maknanya, sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air. Itu sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yang meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yang tak dilihatnya.”

“Sementara itu, seandainya sang ikan di dalam lautan melihat Nabi Musa a.s. dari tempat hidupnya di dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa a.s. di dalam dunianya – yang diliputi udara kosong – dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yang meliputinya itu. Maknanya, Nabi Musa a.s. hidup di dalam liputan udara kosong yang ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa a.s. tidak dapat hidup tanpa udara kosong yang meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana pun Nabi Musa a.s. berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yang tak bisa dilihatnya.”

“Sesungguhnya, tempat di mana Nabi Musa a.s. berdiri di hadapan Khidir a.s. adalah wilayah perbatasan antara alam kasatmata dan alam tidak kasatmata. Apa yang telah Ramanda Ratu saksikan dengan penglihatan batin itu adalah sama dengan peristiwa yang dialami Nabi Musa a.s., yakni berada di perbatasan antara alam kasatmata dan alam tidak kasatmata. Dan sesungguhnya, kawanan udang yang Ramanda Ratu saksikan itu adalah perlambang dari salik yang sudah berada di permukaan dunianya, yaitu salik yang sudah berada di perbatasan (barzakh). Ramanda Ratu sesungguhnya telah memasuki perbatasan alam gaib.”

“Bagaimana dengan anak muda yang berjalan bersamaku?” tanya Sri Mangana. “Apakah pemuda itu sama dengan pemuda yang mendampingi Nabi Musa a.s. saat mencari Khidir a.s?”

“Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yang mendampingi Nabi Musa a.s. dan membawakan belal makanan adalah perlambang dari tebukanya pintu alam tidak kasatmata. Dulu, sebelum bertemu dangan hadrat Abu Bakar ash-Shiddiq di alam khayal, ananda mula-mula bertemu dengan pemuda aneh di Baitullah. Sesungguhnya, di balik keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat Sang Pembuka (al-Fattah). Sebab, hijab gaib yang menyelubungi manusia dari Kebenaran Sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, Sang Pembuka (al-Fattah). Itu sebabnya, saat Nabi Musa a.s. bertemu dengan Khidir a.s., pemuda (al-fata) itu tidak disebut-sebut lagi karena ia sejatinya perlambang keterbukaan hijab gaib.”

“Jika demikian, apakah makna bekal makanan yang dibawa pemuda itu?” tanya Sri Mangana, “dan kenapa pula pemuda itu mengaku telah dibuat lupa oleh setan sehingga ikan yang dibawanya masuk ke laut?”

“Bekal makanan adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-‘amal ash-shalih) yang hanya berguna untuk menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari Kebenaran Sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan sehingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.”

“Andaikata saat itu Nabi Musa a.s. memerintahkan sipemuda untuk mencari bekal yang lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yang telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa a.s. tidak akan bertemu Khidir a.s.. Nabi Musa a.s. dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya Nabi Musa a.s..”

“Ternyata, Nabi Musa a.s. tidak peduli dengan bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu melompat ke laut adalah tempat yang dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari kesadaran Nabi Musa a.s.. Saat itulah purnama ruhani zawa’id berkilau dan Nabi Musa a.s. dapat melihat Khidir a.s., hamba yang dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yang memancar dari citra ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (‘ilm ladunni) yang memancar dari Sang Pengetahuan (al-Alim).”

“Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir a.s. karena dia merupakan hamba-Nya yang telah mereguk Air Kehidupan (abb al-hayat) yang memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di antara manusia yang berhasil bertemu Khidir a.s. di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Pengetahuan (al-Alim), Sang Pengasih (ar-Rahman), dan Sang Penyayang (ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir a.s. itu tidak lain dan tidak bukan adalah ar-ruh al-idhafi, cahaya hijau terang yang tersembunyi di dalam diri manusia, “sang penuntun” anak keturunan Adam a.s. ke jalan Kebenaran Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran (al-Haqq). Dia – sang mursyid – adalah pengejawantahan Yang Maha Menunjuki (ar-Rasyid).”

“Demikianlah, saat Ramanda Ratu melihat Khidir a.s. sesungguhnya Ramanda Ratu telah menyaksikan ar-ruh al-idhafi, mursyid sejati di dalam diri Ramanda Ratu sendiri. Saat Ramanda Ratu menyaksikan kawanan udang di lautan sebelah kanan, sesungguhnya Ramanda Ratu telah menyaksikan Lautan Makna (bahr al-ma’na) yang merupakan hamparan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Namun, dengan terputusnya penglihatan batin (bashirah) Ramanda Ratu sampai di titik itu, berarti ‘perjalanan’ Ramanda Ratu menuju Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.”

Sri Mangana mengangguk-angguk sebagai pertanda paham dengan uraian Abdul Jalil. Namun sejenak setelah itu dia bertanya, “Apakah aku nantinya dapat mengalami perjalanan ruhani seperti Nabi Musa a.s. yang mengikuti Khidir a.s.? Apakah Khidir a.s. yang kutemui nanti akan melubangi perahu seperti ketika ia diikuti Nabi Musa a.s.?”

“Sesungguhnya, perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yang hanya bisa diungkapkan dengan bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing manusia akan mengalami pengalaman ruhani yang berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Pengalaman yang akan Ramanda Ratu alami tidak selalu mirip dengan pengalaman yang dialami Nabi Musa a.s..”

“Jika demikian, beri tahukan aku makna perjalanan Nabi Musa a.s. dan Khidir a.s. agar kelak dapat aku jadikan pedoman di dalam meniti jalan Kebenaran Sejati.”

“Setelah berada di wilayah perbatasan, Khidir a.s. dan Nabi Musa a.s. digambarkan melanjutkan perjalanan memasuki Lautan Makna (bahr al-ma’na), yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yang mereka gunakan untuk menyeberang itu adalah perlambang dari wahana (syari’ah) yang lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang pahala perbuatan baik (al-amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna (bahr al-ma’na) menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yang sangat pribadi menuju Lautan Wujud (bahr al-wujud). Itu sebabnya, perahu (syari’ah) itu harus dilubangi agar air dari Lautan Makna (bahr al-ma’na) masuk ke dalam perahu dan penumpang perahu mengenal dari hakikat air yang mengalir dari lubang tersebut.”

“Setelah penumpang perahu mengenal air yang mengalir dari lubang perahu maka ia akan menjadi sadar bahwa lewat lubang itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna (bahr al-ma’na) yang merupakan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka perahu itu tentu akan dirampas oleh Sang Maharaja (Malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan menjadi tawanan. Jika sudah demikian maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Mahaada (al-Wujud), yang bersemayam di segenap penjuru hamparan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Penumpang perahu itu akan mengalami nasib seperti penumpang perahu yang lain, yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maharaja. Bahkan, jika Sang Maharaja menyukai hamba sahaya-Nya itu maka ia akan diangkat sebagai penghuni Taman (jannah) indah yang merupakan pengejawantahan Yang Mahaindah (al-Jamal).”

“Kenapa wahana (syari’ah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam perjalanan menembus alam gaib menuju Dia?” Sri Mangana meminta penjelasan.

“Sebab, wahana (syari’ah) adalah kendaraan bagi manusia yang hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke Taman Surgawi (al-jannah) pancaran Yang Mahaindah (al-Jamal). Sedangkan alam tidak kasatmata yang tidak jelas batas-batasnya. Alam yang tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal (‘aql) manusia yang mengikat (‘iql) itu tidak bisa ber-ijtihad untuk menetapkan hukum yang berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir a.s. melarang Nabi Musa a.s. bertanya sesuatu dengan akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yang disaksikan Nabi Musa a.s. terhadap perbuatan yang dilakukan Khidir a.s. benar-benar bertentangan dengan hukum suci (syari’at) dan akal sehat yang berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah, dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.”

“Jika wahana (syari’ah) tidak lagi bisa dijadikan petunjuk, pedoman yang harus digunakan oleh manusia yang memasuki alam tidak kasatmata di dalam menuju Kebenaran Sejati?”

“Pedomannya tetap Kitab Allah dan Sunnah Rasul, tetapi pemahamannya bukan denga akal (‘aql) melainkan dengan dzauq, yaitu cita rasa ruhani. Inilah yang disebut cara (thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang keras juga harus pasrah kepada kehendak-Nya. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dengan Dia. Maksudnya, jika Tuhan tidak menghendaki kita mengenal-Nya maka kita pun tidak akan bisa mengenal-Nya. Dan, kita mengenal-Nya pun maka hanya melalui Dia. Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yang tak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan mengharap limpahan rahmah dan hidayah-Nya.”

“Bagaimana dengan makna di balik kisah Khidir a.s. membunuh seorang anak (ghulam)?”

“Anak (ghulam) adalah perlambang keakuan kerdil kekanak-kanakan. Kedewasaan ruhani seseorang yang teguh imannya bisa runtuh akibat terseret rasa cinta kepada keakuan kerdil yang kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil yang kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan ruhani tidak terganggu.”

“Sesungguhnya, di dalam perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yang kekanak-kanakan (ghulam) dari sang salik cenderung mangingkari kehambaan dirinya terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul). Ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaannya kepada Sang Rasul. Jika keakuan kerdil yang kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yang lebih baik dan lebih berbakti yang melihat dengan mata batin (bashirah) bahwa dia sesungguhnya adalah ‘hamba’ dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad).”

“Sesungguhnya, keakuan kerdil yang kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia yang cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yang baik dan berbakti merupakan perlambang dari keberadaan ruh manusia yang cenderung setia dan berbakti kepada Sumbernya. Dan sesungguhnya, perbuatan Khidir a.s. membunuh ghulam itu adalah perlambang yang sama saat nabi Ibrahim a.s. akan menyembelih Nabi Ismail a.s.. ‘Pembunuhan’ itu adalah perlambang puncak dari keimanan mereka yang beriman (mu’min).”

“Bagaimana dengan dinding yang ditinggikan Khidir a.s. bersama Nabi Musa a.s.?”

“Adapun dinding yang ditinggikan Khidir a.s., adalah perlambang Sekat Tertinggi (al-barzakh al-‘a’la) yang disebut juga dengan nama Hijab Yang Mahapemurah (Hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan Yang Mahaluhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan dinding al-Jalal (al-jidar al-jalal), yang di bawahnya tersimpan Khasanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yang ingin diketahui.”

“Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi Musa a.s., yang keberadaannya terbentuk atas jasad ragawi (al-basyar) dan ruhani (ruh). Kegandaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil sendiri (mufrad), dan berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran Nabi Musa a.s. dan bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mir’ah al-hayya’i).”

“Adapun gambaran tentang ‘ayah yang salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yang mewarskan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz), adalah perlambang dari Abu Shalih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka (al-Fattah). Dengan demikian, o Ramanda Ratu, apa yang telah dialami Nabi Musa a.s. dalam perjalanan bersama Khidir a.s. (QS. Al-Kahfi: 60-82), menurut penafsiran ananda, adalah perjalanan ruhani Nabi Musa a.s. ke dalam dirinya sendiri yang penuh dengan perlambang (isyarat),” ujar Abdul Jalil.

“Tapi kenapa di dalam perjalanan itu tidak ada uraian lanjutan yang menjelaskan penemuan Khazanah Perbendaharaan yang tersembunyi?”

“Kisah perjalanan ruhani Nabi Musa a.s. menembus alam gaib memang tidak diungkapkan sampai adegan penemuan Khazanah Perbendaharaan. Sebab, Khazanah Perbendaharaan itu sendiri tidak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia.”

“Kenapa dua anak yatim dalam kisah Qur’ani ini engkau tafsirkan sama dengan Nabi Musa a.s., yaitu Nabi Musa a.s. dengan bayangannya di depan Cermin Memalukan? Apakah itu berarti jasad ragawi dan ruhani Nabi Musa a.s. lahir dari Sumber yang berlainan?”

“Sekali-kali tidak demikian maksudnya, Ramanda Ratu,” ujar Abdul Jalil. “Memang Nabi Musa a.s. lahir hanya satu. Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama, keberadaanya sebagai al-basyar ‘anak’ Adam a.s. yang berasal dari anasir tanah yang dicipta; dan keberadaannya sebagai ruh ‘anak Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) yang berasal dari tiupan (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad ragawi Nabi Musa a.s. berasal dari ciptaan (al-khalq). Sedangkan sebagai ruh, keberadaan ruhani Nabi Musa a.s. berasal dari Yang Mencipta (al-Khaliq).”

“Apakah kedua anak yatim itu tidak akan berseteru memperebutkan Khazanah Perbendaharaan warisan ayahnya yang salih?” tanya Sri Mangana.

“Hal itu tidak akan pernah terjadi, Ramanda Ratu,” papar Abdul Jalil. “Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan Dinding al-Jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yang ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu keberadaan al-basyar ‘anak’ Adam a.s. akan terserap ke dalam ruh ‘anak’ Nur Muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin) yang merupakan pancaran dari Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa diuraikan dengan kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman pribadi.”

“Jika demikian, apakah dengan pengalaman ruhani yang aku alami saat bertemu Khidir a.s. di tanah perbatasan antara dua lautan itu sejatinya bermakna perjalanan ruhani ke dalam diriku?” tanya Sri Mangana minta penjelasan lebih tegas lagi.

“Bukankah tadi Ramanda Ratu sudah mengatakan bahwa saat kejadian itu Ramanda Ratu berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, antara tidak tidur dan tidak jaga. Itu berarti, apa yang Ramanda Ratu alami merupakan pengalaman ruhani berada di ambang alam gaib dan apa yang Ramanda Ratu saksikan itu adalah suatu pemandangan batin (bashirah).”

“Berarti, aku masih akan mengalami perjalanan ruhani lanjutan?”

“Benar demikian, Ramanda Ratu.”

“Bagaimana caraku memulai?”

“Tergantung keikhlasan Ramanda Ratu sebagaimana saya kemukakan di muka.”

“Aku kira juga demikian,” Syaikh Datuk Kahfi menyela. “Sebab, hanya keikhlasanmu sendiri sajalah yang sesungguhnya dapat menjadi penyebab tergelarnya jalan keselamatan menuju hadirat-Nya.”

“Saya menyerahkan semua keputusan kepada Guru Agung dan putera saya, Abdul Jalil. Apa yang terbaik saya lakukan maski berat akibatnya,” Sri Mangana pasrah. “Sebab, telah terbukti betapa dengan ilmu seratus ribu hulubalang tersebut diri saya menjadi kotor sehingga Dang Hyang Semar pun enggan bertemu dengan saya.”

“Dang Hyang Semar?” Syaikh Datuk Kahfi mengerutkan kening. “Siapakah dia?”

“Beliau adalah nabi dari zaman purba yang mengajarkan Tauhid di Nusa Jawa,” sahut Abdul Jalil.

“Kalian telah bertemu dengan utusan Allah itu?” Syaikh Datuk Kahfi ingin tahu.

“Saya hanya bertemu sekilas, Guru Agung,” sahut Sri Mangana. “Yang lama berbincang-bincang dengan beliau adalah putera saya, Abdul Jalil.”

“Apa sajakah yang beliau bicarakan denganmu, o Anakku?”

“Beliau telah berkenan mengizinkan ajaran Islam berkembang di Nusa Jawa menggantikan ajaran Kapitayan yang beliau ajarkan. Menurut penilaian Dang Hyang Semar, ajaran Islam dan ajaran Kapitayan secara hakiki tidak berbeda yakni memuja Tuhan Yang Tunggal dan tidak terbandingkan dengan segala sesuatu.”

“Menurutmu sendiri bagaimana?”

“Ajaran Kapitayan yang disampaikan Dang Hyang Semar secara hakiki memang tidak berbeda dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. Hanya saja, ajaran Kapitayan masih sangat sederhana karena memang diperuntukkan bagi manusia penghuni Nusa Jawa pada zaman purwakala.”

“Ya, ya, sesungguhnya tiap-tiap bangsa memang telah didampingi oleh masing-masing nabi pada zamannya,” ujar Syaikh Datuk Kahfi menarik napas berat. “Apakah engkau masih ingat pelajaran di waktu kecil dulu tentang jumlah nabi-nabi yang wajib diyakini umat Islam?”

“Yang utama, di antara nabi dan rasul ada dua puluh lima orang. Namun, nabi yang lain jumlahnya seratus dua puluh empat ribu orang. Saya merasa beruntung karena ditakdirkan oleh-Nya untuk bertemu dengan salah seorang di antara nabi-nabi mulia tersebut.”

Akhirnya, setelah berbincang-bincang cukup lama, Sri Mangana sepakat mengikuti arahan dan petunjuk Abdul Jalil untuk melepas ilmu seratus ribu hulubalang dari dirinya. Namun sebelum hal itu dilakukan, Abdul Jalil sudah memberi tahu bahwa usaha itu bukan sesuatu yang mudah. “Tetapi, lebih baik dilakukan sekarang daripada menunggu saat ajal menjemput,” ujar Abdul Jalil.

“Kenapa demikian, o Puteraku?”

“Sebab, keluarnya ilmu semacam itu dari diri manusia sangat susah dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Mereka yang memiliki ilmu semacam itu bisa mengalami saat-saat sakaratul al-maut selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.”

Sri Mangana menarik napas berat, dari dahinya terlihat titik-titik keringat bercucuran.

Ternyata, apa yang dikatakan Abdul Jalil tidak salah. Setelah dengan susah payah melewati pergulatan yang sengit, Sri Mangana baru berhasil mengeluarkan ilmu sakti seratus ribu hulubalang dari relung-relung jiwanya. Namun akibat beratnya upaya melepas ilmu sakti tersebut, Sri Mangana jatuh sakit selama dua pekan. Setelah sembuh dia terlihat sangat lemah dan seolah-olah kehilangan semangat hidup. Abdul Jalil yang mengetahui apa yang dialami oleh mereka yang melepaskan ilmu dahsyat seratus ribu hulubalang, dengan sabar berusaha mendampingi dan memberi kekuatan jiwa kepada ayahanda asuhnya.

On board of MV. Taho, Taiwan Strait, April 4th 2007

5. Angin Perubahan

Seorang ‘arif yang sudah tercelikkan mata hatinya (‘ain al-bashirah), tidak akan bisa mencapai kedudukan (maqam) tertinggi jika tidak memiliki kepedulian terhadap kehidupan mesyarakat yang sedang terjebak ke dalam perangkap kejahilan. Atau, tidak memiliki semangat (ghirah) untuk membebaskan kaum tertindas dari para penindasnya. Atau, tidak terketuk hatinya untuk membebaskan para budak dari rantai perbudakan. Atau, tidak menggunakan gerak tubuh dan daya nalarnya untuk membersihkan sungai kehidupan dari kotoran sampah kejahatan. Atau, tidak memiliki peran apa pun bagi terciptanya suatu perubahan dinamika kehidupan.

Ibarat orang yang tiba-tiba tersentak bangun pada malam hari dan menyadari bakal terjadi bencana yang membahayakan kehidupan di sekitarnya, seorang ‘arif memiliki kewajiban utama membangunkan orang-orang di sekitarnya agar segera bangkit dan beramai-ramai melakukan usaha untuk menghindari bencana tersebut. Dan, sebagai seorang anak negeri yang sudah “terbangun” di antara saudara-saudara sebangsanya, Abdul Jalil sadar bahwa kewajiban utama yang harus dijalankannya adalah “membangunkan” saudara-saudaranya dari tidur panjang dengan mimpi kosong. Ia harus memperingatkan saudara-saudaranya tentang akan datangnya marabahaya yang mengintai kehidupan bangsa.

Sebagai orang yang sudah “terbangun” dan tercelikkan mata hatinya, Abdul Jalil sadar bahwa “membangunkan” saudara-saudaranya dari mimpi kosong dan menyadarkan mereka tentang suatu bencana yang bakal hadir adalah pekerjaan berat dengan kemungkinan bertaruh nyawa. Namun dengan kesadaran seseorang yang sudah mengenal jati dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh), ia tidak memedulikan lagi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bakal dihadapinya saat menjalankan kewajibannya tersebut.

Bagi Abdul Jalil, seorang ‘arif, manusia yang sudah terbangun dan tercelikkan mata hatinya, adalah manusia yang sadar bahwa ia harus menghancurleburkan keakuan pribadi beserta pamrih-pamrih duniawi demi lahirnya suatu kehidupan baru yang selaras dan seimbang dengan hukum-hukum kauniyah. Seorang ‘arif harus menjadi gumpalan awan yang rela menghamburkan khazanah air yang dikandungnya sebagai hujan demi tumbuhnya benih-benih kehidupan baru. Atau, seperti matahari yang menebarkan kehangatan bagi kehidupan makhluk penghuni bumi tanpa meminta imbalan apa pun. Atau, seperti bumi yang merelakan dirinya diinjak-injak, dilukai dengan cangkul dan bajak, diludahi, dikencingi, bahkan diberaki demi kelangsungan hidup para penghuninya. Dan di atas itu semua, seorang ‘arif haruslah meneladani gerak kehidupan Nabi Muhammad Saw., sang limpahan rahmah bagi alam semesta.

Boleh jadi akibat pandangannya dalam memaknai keberadaan dirinya seperti itu maka di mana pun Abdul Jalil berada – entah disadari entah tidak – selalu ditandai oleh citra gerak yang selalu diikuti oleh terjadinya perubahan dinamis yang membawa pula suatu pembaruan. Andaikata ia ditanya kenapa harus melakukan pembaruan maka ia kira-kira akan menjawab seperti ini:

“Tugas utama nabi dan rasul adalah melakukan perubahan yang bersifat memperbarui. Tidak ada seorang pun di antara nabi dan rasul yang diturunkan ke dunia yang tidak melakukan perubahan untuk memperbarui apa yang ada demi menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Tidak ada seorang pun di antara nabi dan rasul diturunkan kepada suatu kaum yang sudah mapan dan hidup secara sempurna.”

“Sebagai orang yang sudah ‘terjaga’, aku sadar bahwa keberadaanku sebagai seorang ‘alim adalah pewaris nabi-nabi (al-‘ulama’ waratsat al-anbiya’). Karena itu, sudah menjadi kewajiban asasiku untuk melanjutkan tugas utama para nabi dan rasul, yaitu melakukan perubahan dan pembaruan – terutama menyadarkan manusia tentang keberadaannya sebagai makhluk paripurna (al-insan al-kamil) yang menjadi wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh) – di mana pun aku berada. Merubah dan memperbarui sesuatu ke arah yang lebih baik, itulah tugas utamaku.”

Dengan pandangan semacam itu, ketika ia kembali dari pengembaraan ruhaninya dan tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati, maka tak pelak lagi padepokan itulah yang menjadi sasaran utama dari kewajibannya untuk mengubah dan memperbarui segala sesuatu. Namun demikian, karena perubahan dan pembaruan yang dilakukannya di Padepokan Giri Amparan Jati sangat cepat dan susul-menyusul, sempat membuat khawatir Syaikh Datuk Kahfi, pendiri sekaligus pengasuh padepokan tertua di Caruban Larang. Kekahwatiran Syaikh Datuk Kahfi, sesungguhnya bisa dipahami karena perubahan dan pembaruan yang dilakukan Abdul Jalil memang kurang lazim dilakukan orang. Sehingga, wajar jika Syaikh Datuk Kahfi mengkhawatirkan jika hal itu sangat mungkin bakal menemui kegagalan karena terlalu sulit diwujudkan.

“Sesungguhnya, aku sangat bergembira jika engkau bisa mewujudkan gagasanmu untuk mengubah padepokan ini menjadi lembaga pendidikan yang lebih maju seperti di Baghdad atau lebih dari itu,” ungkap Syaikh Datuk Kahfi suatu malam. “Tetapi, aku khawatir gagasanmu itu sulit diwujudkan. Sebab, di Caruban Larang ini, sepengetahuanku, belum ada guru yang mamiliki kemampuan memadai untuk mengajarkan kuliah-kuliah seperti gagasanmu itu.”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Guru, jika ananda telah membuat Ramanda Guru khawatir dengan gagasan ananda yang terlalu muluk ini,” sahut Abdul Jalil dengan takzim. “Gagasan ini tidak ananda harapkan bisa diwujudkan secara sempurna. Ananda berharap gagasan untuk memperbaiki pendidikan di Padepokan Giri Amparan Jati ini paling tidak dicapai selama kurun dua dasawarsa. Ananda yakin dalam kurun waktu tersebut ilmu pengetahuan yang telah Ramanda Guru wariskan kepada para siswa akan tumbuh dan berkembang dengan subur serta menghasilkan buah-buah yang ranum. Saat itulah ananda harapkan Padepokan Giri Amparan Jati dapat menjadi kiblat pendidikan di Bumi Pasundan dan bahkan di Nusa Jawa.”

Mendengar penjelasan Abdul Jalil, Syaikh Datuk Kahfi bisa memahami. Akhirnya, dia hanya bisa berdiam diri sambil mengawasi sekaligus berdoa agar apa yang dilakukan Abdul Jalil dapat diwujudkan sesuai harapan. Demikianlah, bagaikan sedang menyaksikan seorang seniman mengubah benda-benda biasa menjadi karya bernilai seni tinggi, Syaikh Datuk Kahfi dengan takjub menyaksikan Abdul Jalil melakukan pengembangan seni mendidik di padepokan yang didirikannya tersebut dengan cara-cara yang sangat mencengangkan.

Syaikh Datuk Kahfi yang semakin uzur memang sudah menyerahkan pengasuhan padepokan kepada Abdul Jalil. Namun, dia tidak pernah menduga jika saudara sepupu sekaligus siswa yang dikasihinya itu bakal melakukan langkah-langkah perubahan yang begitu mencengangkan, yakni menata kembali dan mengembangkan tatanan belajar dan mengajar di padepokan dengan gagasan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Keheranan Syaikh Datuk Kahfi sesungguhnya dapat dipahami, karena dalam mengubah padepokan itu Abdul Jalil bertindak bagaikan orang yang sedang bertriwikrama menjejakkan kaki ketiga dunia untuk melakukan tiga perubahan pokok. Perubahan pertama, ia menata kerangka acuan perkuliahan yang harus dipelajari para siswa sekaligus menentukan buku-buku teks yang digunakan sebagai pedoman belajar dan mengajar. Kedua, menambah dan memperbaiki tata cara belajar dan mengajar. Ketiga, memperbarui ketentuan penerimaan siswa.

Tiga langkah perubahan itu, meski gagasannya sudah diketahui oleh Syaikh Datuk Kahfi, saat diterapkan justru membuat pendiri Padepokan Giri Amparan Jati itu tertegun-tegun. Dengan pandang heran Syaikh Datuk Kahfi menyaksikan gerak perubahan di padepokannya berlangsung sangat cepat dan belum lazim dilakukan orang di padepokan mana pun di Bumi Pasundan dan Nusa Jawa.

Misalnya saja, selama ini mata kuliah yang diberikan di Padepokan Giri Amparan Jati lazimnya lebih ditekankan pada penguasaan ilmu alat (nahwu-sharf), fiqh madzhab Syafi’i, tafsir Al-Qur’an, hafalan hadits, dan dasar-dasar ilmu logika (manthiq). Namun, oleh Abdul Jalil mata kuliah itu diperbarui dengan menambahkan ‘ilmu balaghah pada penguasaan ilmu alat (nahwu-sharf); fiqh madzhab Syafi’i dijadikan bagian dari mata kuliah lima madzhab (al-madzahib al-khamsah), yaitu Syafi’iyyah – Hanafiyyah – Hambaliyyah – Malikiyyah – Jakfariyyah; ushul fiqh yang semula tidak diajarkan mulai diberikan; mata kuliah tafsir Al-Qur’an diperluas menjadi mata kuliah ilmu-ilmu Al-Qur’an (‘ulum Al-Qur’an); hafalan hadits dikembangkan menjadi ‘ulum al-hadits; mata kuliah manthiq diperdalam dan ditambah dengan mata kuliah filsafat, ilmu hikmah, dan ‘irfan.

Langkah kedua, yang terkait dengan perubahan tata cara belajar dan mengajar, juga mencengangkan. Sebab, langkah tersebut juga tidak lazim dilakukan di padepokan mana pun di Bumi Pasundan maupun di Nusa Jawa. Selama ini cara belajar siswa selalu mengikuti cara lama, yaitu mengitari guru yang mengungkap (wetu) kandungan kitab tertentu sambil mencatat apa mekna yang terurai dalam ungkapan tersebut. Ternyata, oleh Abdul Jalil cara lama itu ditambah cara baru yang disebut bedah masalah (mudzakarah). Para siswa saling mengajukan argumentasi dalam memecahkan masalah dengan dukungan dalil-dalil dari kitab. Sementara itu, siswa-siswa yang dinilai cerdas atau sudah lanjut pengetahuannya dalam penguasaan kitab diberi kewenangan untuk menyodorkan (sorog) kitab yang telah dibaca dan dipahaminya untuk diuji oleh guru.

Dengan mengubah mata kuliah untuk para siswa di Padepokan Giri Amparan Jati, jelaslah bahwa arah yang hendak dicapai oleh Abdul Jalil adalah menciptakan pencerahan di dalam cara berpikir dengan tetap berpedoman pada kaidah-kaidah Tauhid. Singkatnya, dengan pembaruannya itu Abdul Jalil menginginkan lahirnya tradisi berpikir yang didasari bukti-bukti (burhani) yang diterangi pancaran mata hati (bashirah). Itu sebabnya, ia menghapus pelajaran hafalan hadits dan memasukkan mata kuliah filsafat, ilmu hikmah, dan ‘irfan.

Sementara itu, perubahan yang paling mencolok yang dilakukan Abdul Jalil dalam menata Padepokan Giri Amparan Jati adalah yang terkait dengan ketentuan penerimaan siswa. Jika sebelumnya para siswa yang belajar di padepokan hampir seluruhnya berasal dari kalangan menak berdarah biru dan keluarga kaya, terutama putera-putera pejabat setempat dan saudagar muslim, tiba-tiba Abdul Jalil menyiarkan maklumat akan menerima siswa dari semua golongan penduduk baik anak-anak pejabat, menak berdarah biru, saudagar, petani, perajin, nelayan, tukang, bahkan anak-anak kuli miskin sekalipun.

Perubahan ketentuan dalam penerimaan siswa itu, meski sangat mengejutkan banyak pihak pada awalnya, akhirnya dapat dipahami dan diterima, terutama setelah mendapat dukungan dari Ratu Caruban Larang, Sri Mangana. Bahkan, ketentuan penerimaan siswa baru itu mempercepat terjadinya perubahan di Padepokan Giri Amparan Jati. Padepokan yang sebelumnya hanya berisi sekitar empat puluh siswa tiba-tiba dibanjiri tujuh ratus orang lebih. Siswa baru yang belajar di Padepokan Giri Amparan Jati bukan hanya anak-anak penduduk Caruban Larang dan sekitarnya, bahkan tak kurang ada di antara mereka berasal dari tempat yang jauh seperti Dermayu, Tegal, Samarang, dan Demak.

Abdul Jalil sadar bahwa perubahan yang dilakukannya di Padepokan Giri Amparan Jati tidak akan membawa hasil sesuai harapan jika tidak didukung oleh guru yang benar-benar menguasai keilmuan secara memadai. Itu sebabnya, ia menghubungi para kerabat, sahabat, serta kenalannya untuk berkenan membantu gagasannya mengembangkan Padepokan Giri Amparan Jati. Untuk mewujudkan gagasannya itu ia secara khusus membimbing Syarif Hidayatullah, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi agar bisa menjadi guru dan pemimpin yang tidak saja memiliki pengetahuan luas dan mendalam, tetapi mampu mewarisi nilai-nilai kejuangan Syaikh Datuk Kahfi, ulama mulia yang mewarisi keteladanan Nabi Muhammad Saw..

Abdul Jalil menyadari bahwa keberadaan Abdurraman Rumi dan Abdurrahim Rumi di padepokan berbeda dengan keberadaan Syarif Hidayatullah yang belum memiliki akar kuat. Sebab, selain masih dianggap pendatang baru yang belum banyak dikenal, Syarif Hidayatullah juga masih belum fasih berbicara dalam bahasa setempat, yaitu bahasa Jawa Caruban. Karena itu, untuk memperkuat kedudukan Syarif Hidayatullah sebagai calon guru dan pemimpin masa depan, Abdul Jalil meminang puteri Ki Gedeng Babadan untuk disandingkan sebagai istri Syarif Hidayatullah. Dengan menikahi Nyai Babadan puteri Ki Gedeng Babadan, pikir Abdul Jalil, maka Syarif Hidayatullah akan menjadi menantu seorang gedeng yang berpengaruh dan disegani di Caruban Larang.

Sebagai teman mengaji sejak kecil di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi, pinangan Abdul Jalil itu diterima dengan sukacita oleh Ki Gedeng Babadan. Pernikahan Syarif Hidayatullah dilaksanakan di tajug padepokan dengan sangat sederhana. Meski sederhana, kabar tentang pernikahan itu menyebar ke seluruh penjuru Caruban Larang. Setelah pernikahan itu Ki Gedeng Babadan sering terlihat ke padepokan untuk mengunjungi Syaikh Datuk Kahfi atau berbincang-bincang dengan Abdul Jalil. Bahkan, akhirnya Ki Gedeng Babadan sering terlihat ikut mengajar di padepokan.

Selama membimbing Syarif Hidayatullah, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi diam-diam Abdul Jalil menemukan dua permata di antara siswa padepokan. Dua permata itu adalah Raden Sahid (kelak menjadi Susuhunan Kalijaga), putera Arya Sidik, Adipati Tuban, dan Raden Qasim (kelak menjadi Susuhunan Bonang), putera Raden Ali Rahmatullah (Susuhunan Ampel pertama), Bupati Surabaya. Sesungguhnya, mereka berdua masih saudara sepupu karena bibi Raden Sahid yang bernama Nyi Ageng Manila diperistri oleh Bupati Surabaya, Raden Ali Rahmatullah. Sementara itu, lantaran usia Raden Sahid, Raden Qasim, dan Syarif Hidayatullah sebaya, maka Abdul Jalil pun secara khusus membimbing ketiganya agar kelak dapat bersama-sama menjadi guru dan pemimpin yang dibutuhkan zamannya.

Berbagai perubahan yang terjadi di Padepokan Giri Amparan Jati tidak lepas dari pengamatan Syaikh Datuk Kahfi yang sering mencucurkan airmata haru. Dia tak pernah menduga bahwa perubahan besar telah terjadi di padepokan yang telah dirintisnya dengan susah payah dalam waktu secepat itu. Rupanya, sasmita yang ditangkapnya puluhan tahun silam terkait kebesaran yang bakal dicapai saudara sepupunya itu telah terbukti menjadi kenyataan. Baginya, perubahan di Padepokan Giri Amparan Jati dianggap sebagai sebuah penyempurnaan dari amaliah mewariskan ilmu pengetahuan bermanfaat yang akan menyertainya kelak di alam kubur.

Bagi Syaikh Datuk Kahfi, perubahan itu dianggapnya sebagai kegembiraan surgawi yang sudah bisa dirasakan nikmatnya di dunia. Dia yang selama ini selalu gelisah akibat tidak melihat calon pengganti dirinya, kini merasa gembira karena anak-anak muda seperti Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, dan Raden Qasim telah dapat berperan sebagai guru bagi siswa yang lain. Demikianlah, untuk mengungkapkan rasa bahagianya, setiap usai shalat subuh, Syaikh Datuk Kahfi dengan bertumpu pada tongkat selalu terlihat berkeliling untuk melihat para siswa mengaji di berbagai tempat di dalam lingkungan padepokan.

Kebahagiaan dan sukacita yang dirasakan Syaikh Datuk Kahfi atas perubahan di Padepokan Giri Amparan Jati ternyata tidak berlangsung lama. Belum genap setahun setelah perubahan itu terjadi, Syaikh Datuk Kahfi jatuh sakit. Dia mendapat isyarat bahwa ajal tak lama lagi akan menjemputnya. Itu sebabnya, dia mengumpulkan seluruh keluarga, siswa, dan sahabat untuk berpamitan meninggalkan dunia yang fana. Dalam waktu singkat hadirlah di Padepokan Giri Amparan Jati para siswa seperti Sri Mangana, Nyi Indang Geulis, Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Surantaka, sanak kerabat seperti Nyi Mas Gandasari, dua orang putera Syaikh Hasanuddin, Haji Musa, dan Jurugem (Syaikh Bentong), sahabat terkasih Syaikh Ibrahim Akbar (mertua Sri Mangana). Sementara Nyi Halimah, sang istri, dan ketiga orang kemenakannya terlihat tak pernah jauh dari peraduan Syaikh Datuk Kahfi.

Seiring turunnya matahari ke ufuk barat, dengan pandangan yang mulai meredup Syaikh Datuk Kahfi berbisik lirih ke telinga Abdul Jalil yang duduk merangkulnya, “Anakku, apakah engkau kelak mau bersaksi bahwa ilmu yang aku tinggalkan di dunia ini memiliki arti bagi tegaknya Agama Allah dan bermanfaat bagi kehidupan manusia?”

Abdul Jalil menarik napas berat dan kemudian berbisik lirih, “Ramanda Guru adalah seorang ‘alim yang benar-benar menjadi cerminan pewaris Nabi Muhammad Saw. Ananda bersaksi saat ini Ramanda Guru adalah benar-benar al-‘alim pengejawantahan al-‘Alim. Itu sebabnya, Ramanda Guru sesungguhnya tidak membutuhkan lagi kesaksian siapa pun di antara manusia tentang apa yang telah Ramanda Guru jalankan selama ini sebagai penebar ilmu.”

“Kenapa demikian, o Anakku?” bisik Syaikh Datuk Kahfi lemah.

“Sebab seluruh yang hadir di sini, baik manusia, tanah, batu, pohon, rumput, binatang, angin, maupun langit telah bersaksi bahwa Ramanda Guru adalah sang pembuka pengetahuan (fatih al-‘ilm), yakni cerminan citra al-Fattah dan al-‘Alim. Bahkan saat ini, di tengah kesaksian segenap makhluk terhadap kemuliaan Ramanda Guru, sesungguhnya telah bersaksi pula Dia, Yang Maha Menyaksikan (asy-Syahid),” bisik Abdul Jalil.

Syaikh Datuk Kahfi menggenggam erat tangan Abdul Jalil. Dia seperti beroleh kekuatan baru untuk menghadapi ajal yang sedang menjemputnya. Merasakan bahwa ajal sudah semakin dekat, Abdul Jalil pun membisikkan petunjuk ke telinga Syaikh Datuk Kahfi tentang jalan lurus meniti rentangan tali serambut dibelah tujuh yang memuat hakikat La ilaha illa Allah (tidak ada sesuatu yang disisakan dalam kiblat hati dan pikiran kecuali Allah).

Ketika senjakala turun melingkupi Giri Amparan Jati dengan gumpalan awan kelabu di langit menaburkan rinai gerimis, diiringi isak tangis istri, kerabat, sahabat, dan siswa-siswa, di bawah bimbingan Abdul Jalil, Syaikh Datuk Kahfi menghadap ke hadirat Ilahi dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Saat itu pohon-pohon jati yang terhampar di sekitar padepokan berdiri tegak bergeming seolah-olah ikut mengantar kepergian Syaikh Datuk Kahfi menghadap Khaliknya. Daun-daun jati yang jatuh berserakan diterpa angin menimbulkan suara gemerisik seolah-olah ratapan pedih anak-anak yang ditinggal orang tuanya. Tetes-tetes air hujan yang jatuh dari daun-daun jati menitik bagaikan tangisan pedih alam atas keprgian sang ‘alim. Ikan-ikan di sungai dan lautan berhenti berenang beberapa jenak. Burung-burung tidak ada yang terbang. Semuanya terdiam, seolah-olah ikut mengiringkan kepergian sang penebar ilmu, citra indah pengejawantahan Sang Ilmu (al-‘Alim), yang kembali ke hadirat-Nya.

Dengan diiringi ratapan seluruh penghuni bumi, jenasah Syaikh Datuk Kahfi dimakamkan di samping makam Nyi Rara Anjung, di samping kiri tajug padepokan. Seperti ulama pewaris para nabi seumumnya, saat wafat Syaikh Datuk Kahfi tidak meninggalkan warisan apa-apa, kecuali khazanah ilmu yang tak bakal habis ditelan zaman. Sejarah bahkan mencatat: mereka yang menghadiri pemakamannya, tidak ada satu pun yang tidak pernah mencicipi nikmatnya ilmu pengetahuan dari Syaikh Datuk Kahfi. Dan sesungguhnya, dengan dipanggilnya kembali Syaikh Datuk Kahfi ke hadirat-Nya, salah satu di antara cahaya pengetahuan yang menerangi dunia telah dipadamkan oleh-Nya. Sehingga, bagi mereka yang sadar, kematian seorang ‘alim yang benar-benar mewarisi citra nabi-nabi (al-‘ulama’ waratsat al-anbiya’) adalah sebuah kehilangan yang tak ternilai dibandingkan dengan seluruh isi dunia.

Matahari membentangkan selembar kain merah di atas Giri Amparan Jati ketika usai pemakaman Syaikh Datuk Kahfi seluruh siswa dan sanak kerabat sang guru agung berkumpul dan mengadakan pertemuan untuk menunjuk sang pengganti. Tanpa perlu berdebat panjang mereka sepakat menunjuk Abdul Jalil sebagai pengganti Syaikh Datuk Kahfi. Sebab, selain masih saudara sepupu Syaikh Datuk Kahfi, Abdul Jalil juga merupakan siswa generasi pertama yang dianggap memiliki ilmu agama paling mumpuni. Bahkan saat Syaikh Datuk Kahfi masih hidup, ia telah ditunjuk sebagai pengasuh padepokan yang diberi kewenangan melakukan perubahan demi perubahan.

Kesepakatan para siswa dan kerabat itu ternyata ditolak oleh Abdul Jalil. Ia mengemukakan alasan bahwa pola lama kepemimpinan padepokan yang dipegang oleh satu tangan sudah saatnya diakhiri. Untuk menjalankan sebuah lembaga pendidikan yang memiliki siswa ratusan orang tidak akan bisa diatasi oleh satu tangan. Itu sebabnya, ia mengusulkan agar dibentuk dewan guru (syura al-masyayikh). Masing-masing anggota dewan itu memiliki kewajiban bersama untuk bertanggung jawab atas keberhasilan proses belajar dan mengajar di padepokan.

Mendengar usulnya itu para kerabat dan siswa sadar bahwa hal itu merupakan keharusan bagi sebuah padepokan yang memiliki siswa berjumlah ratusan orang. Mereka sepakat untuk membentuk dewan guru. Dan sesuai kesepakatan, mereka yang akhirnya tergabung dalam dewan guru adalah Abdul Jalil, Sri Mangana, Syaikh Ibrahim Akbar (mertua Sri Mangana), Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Surantaka, Haji Musa bin Hasanuddin, Syaikh Jurugem bin Hasanuddin, Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, dan Raden Qasim.

Entah sengaja entah tidak, ketika dewan guru sudah terbentuk dan tinggal menentukan siapa di antara mereka yang ditunjuk sebagai ketua, terjadi suatu ketidaklaziman. Dikatakan tidak lazim karena Abdul Jalil yang diharapkan menjadi ketua justru menunjuk Syarif Hidayatullah. Padahal, semua mengetahui bahwa Syarif Hidayatullah selain usianya masih sangat muda juga bukan kerabat atau siswa Syaikh Datuk Kahfi. Bukankah masih ada anggota dewan guru yang lebih tua dan merupakan siswa Syaikh Datuk Kahfi seperti Syaikh Ibrahim Akbar, Sri Mangana, Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, dan Ki Gedeng Surantaka? Bukankah masih ada keluarga Syaikh Datuk Kahfi seperti Abdul Jalil, Abdurrahman Rumi, Abdurrahim Rumi? Kenapa bukan salah satu di antara mereka yang ditunjuk memimpin dewan guru?

Menghadapi sikap kurang puas terhadap usulannya, Abdul Jalil mengajukan alasan sederhana yang menjelaskan bahwa tugas utama pimpinan dewan guru hanyalah mengatur kelancaran belajar para siswa di padepokan. Itu sebabnya, dibutuhkan guru yang setiap saat bisa mengatur dan mengawasi proses belajar para siswa. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh guru yang tinggal di padepokan. Sementara, para anggota dewan guru yang sudah berusia adalah pejabat-pejabat yang selain dibutuhkan oleh masyarakat juga bertempat tinggal jauh dari padepokan. Akhirnya, demi alasan kemaslahatan bersama, semua anggota dewan guru sepakat mendukung Syarif Hidayatullah sebagai pemimpin.

Perubahan yang dilakukan Abdul Jalil di Padepokan Giri Amparan Jati terus bergulir ibarat roda kereta yang berputar tak bisa dihentikan. Setelah merubah kerangka acuan mata kuliah, tata cara belajar, ketentuan penerimaan siswa, dan pengelolaan padepokan oleh sebuah dewan guru, terjadi lagi perubahan dalam membuka wawasan dan cakrawala berpikir. Tradisi mengembangkan nalar sebagaimana menjadi kelaziman di lembaga-lembaga pendidikan di Baghdad, tiba-tiba diperkenalkan Abdul Jalil di kalangan anak negeri yang selama beratus-ratus tahun hidup dalam kemandekan dan kejumudan berpikir.

Melalui dewan guru yang dipimpin Syarif Hidayatullah, misalnya, diadakan perubahan atas segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha pengembangan padepokan dan dakwah Islamiyyah. Dengan berpedoman pada kaidah pemikiran ushuliyya “menerima yang baru tetapi tidak menghilangkan yang lama yang bermanfaat,” dimulailah perubahan-perubahan yang diharapkan akan dapat mengubah perikehidupan warga Padepokan Giri Amparan Jati, bahkan perikehidupan warga di Bumi Pasundan.

Sebagai langkah awal perubahan membuka wawasan dan cakrawala berpikir, misalnya, atas usulan Syarif Hidayatullah istilah padepokan yang digunakan sebagai identitas lembaga pendidikan Islam Giri Amparan Jati harus diubah menjadi pondok. Istilah pondok sendiri dipungut dari kata Arab funduq, yang bermakna tempat kediaman atau penginapan. Menurut Syarif Hidayatullah, istilah padepokan kurang cocok karena bermakna pertapaan. Padahal, para siswa yang menuntut ilmu-ilmu Keislaman di Giri Amparan Jati bukan calon pertapa. Di dalam jaran Islam pun tidak dikenal amaliah ibadah yang disebut bertapa.

Usul Syarif Hidayatullah itu ada yang menerima dan ada pula yang menolak. Yang menerima beranggapan bahwa istilah itu lebih tepat dibandingkan padepokan. Sedangkan yang menolak beranggapan bahwa istilah pondok (funduq) yang bermakna tempat kediaman sering diartikan rumah penginapan, yaitu tempat siapa saja di antara manusia bisa menginap asal membayar. Padahal, para siswa adalah orang-orang yang bertujuan menuntut ilmu pengetahuan dan tinggal di padepokan tanpa membayar sepeser pun.

Akhirnya, setelah berdebat seru adu argumentasi, atas saran Raden Sahid perbedaan pandangan itu bisa dijembatani. Mula-mula, Raden Sahid meminta agar istilah pondok tetap digunakan menggantikan istilah padepokan tetapi dengan catatan harus disempurnakan agar bisa diterima oleh telinga dan perasaan masyarakat setempat. Untuk itu, Raden Sahid mengusulkan adanya perubahan susulan, yaitu istilah siswa yang dipungut dari kata Sansekerta sisya, yang bermakna murid ruhaniah, diubah menjadi santri. Menurut Raden Sahid, istilah santri lebih cocok untuk menyebut para siswa Padepokan Giri Amparan Jati. Sebab mereka bukan siswa yang menuntut ilmu-ilmu bersifat ruhaniah, melainkan menuntut ilmu-ilmu yang terkait dengan pemahaman atas kitab suci. Itu sebabnya, istilah santri yang diambil dari kata Sansekerta shastri, yang bermakna murid yang mempelajari kitab suci (shastra), lebih masuk akal. Dengan demikian, menurut Raden Sahid, jika disatukan dalam satu kesatuan makna, maka nama yang tepat untuk menggantikan istilah padepokan adalah Pondok Pesantren, yang bermakna “tempat tinggal para murid yang mempelajari kitab suci”.

Usulan Raden Sahid yang melengkapi usulan Syarif Hidayatullah itu akhirnya disepakati oleh semua anggota dewan guru. Berdasarkan kesepakatan yang juga disetujui oleh Yang Dipertuan Caruban Larang, maka sebutan Padepokan Giri Amparan Jati resmi diubah menjadi Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Itu berarti, Giri Amparan Jati adalah lembaga pendidikan Islam pertama di Bumi Pasundan yang menggunakan istilah pondok pesantren.

Seiring dengan perubahan sebutan dari padepokan menjadi Pondok Pesantren Giri Amparan Jati, dilakukan pula berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan amaliah ibadah umat Islam. Perubahan terkait amaliah ibadah umat Islam itu tetap menganut kaidah berpikir ushuliyyah “menerima yang baru tetapi tidak menghilangkan yang lama yang bermanfaat”. Istilah beribadah menyembah Allah SWT., misalnya, disepakati untuk tidak menggunakan istilah shalat, tetapi sembahyang.

Istilah sembahyang dipungut dari kata “sembah” dan “hyang”. Istilah sembahyang dipilih karena lebih akrab dengan telinga dan perasaan penduduk setempat yang lazimnya sulit mengucapkan istilah-istilah asing yang kurang mereka pahami. Istilah sembahyang sendiri sesungguhnya sudah digunakan oleh para penganut ajaran Kapitayan sejak zaman purba. Namun, istilah ini kemudian tenggelam seiring berkembangnya ajaran Hindu yang menyebut ibadah menyembah Dewa dengan istilah bhakti. Dengan digunakannya kembali istilah sembahyang, diharapkan ajaran Islam tidak lagi dianggap asing dan sekaligus istilah itu dapat menggugah kembali “ingatan purba” penduduk tentang keberadaan ajaran agama lama leluhur mereka, yaitu Kapitayan.

Sebagai akibat perubahan istilah shlat menjadi sembahyang maka tempat untuk beribadah menyembah Allah SWT. pun tidak menyebut mushala (tempat shalat), tetapi disebut tajug, yakni istilah yang digunakan oleh orang Sunda untuk menyebut tempat mereka beribadah menghaturkan sesaji kepada arwah leluhur. Istilah tajug sendiri sudah digunakan oleh Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq saat pertama kali mendirikan Padepokan Kuro di Karawang dan kemudian diikuti oleh kaum muslimin di Bumi Pasundan. Sementara itu, istilah tajug di Jawa memiliki makna yang agak berbeda, yaitu hiasan mahkota berbentuk bunga emas. Nah, dengan penggunaan istilah tajug untuk mengganti istilah mushala, diharapkan timbul kesan di kalangan penduduk bahwa mereka yang menyembah hyang di tajug akan menjadi seperti para pangeran, putera, dan puteri raja yang mengenakan mahkota berhias bunga emas.

Perubahan paling penting yang dilakukan oleh dewan guru di Pondok Pesantren Giri Amparan Jati dalam upaya mempermudah para santri mempelajari kandungan kitab-kitab yang dijadikan buku teks, terutama tafsir Al-Qur’an, adalah usaha menerjemahkan ke dalam bahasa Jawa Caruban. Di antara hasil terjemahan anggota dewan guru itu yang termasyhur, selain kitab Samarqandy (ilmu balaghah) dan Tijan (Tauhid), adalah tafsir Al-Qur’an yang dianggap paling sederhana dan paling mudah dipelajari, yaitu Tafsir Al-Qur’an Jalalain yang disusun oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad Jalaluddin al-Muhali dan Syaikh Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Abu Bakar Umar bin Khalil bin Nashr bin Khadhir bin Hamam Jalaluddin as-Suyuthi.

Kepulangan Abdul Jalil ke Giri Amparan Jati setelah mengembara belasan tahun ternyata telah mengubah dengan cepat gerak kehidupan di pesantren tersebut. Selain pesantren itu menjadi ramai akibat hadirnya santri baru yang memunculkan pondok-pondok hunian baru, juga kawan-kawan Abdul Jalil sewaktu belajar di padepokan di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi dahulu pun, yang sebagian sudah menjadi orang-orang terpandang, secara bergiliran datang mengunjunginya.

Mula-mula para teman lama itu, khususnya Ki Gedeng Pasambangan dan Ki Gedeng Babadan, hanya ingin melepas rindu sebagai sahabat lama sekaligus berziarah ke makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi. Namun, setelah berbincang-bincang secara mendalam tentang berbagai hal yang menyangkut kehidupan, terutama tentang hakikat Kebenaran Ilahi, mereka pun menjadi tertarik dengan apa yang dikemukakan Abdul Jalil. Pandangan, gagasan, dan jalan pikiran Abdul Jalil yang dicitrai kerangka pandang kota antarabangsa Baghdad benar-benar telah memesona kawan-kawan lamanya.

Seiring bergulirnya waktu, tanpa disadari sebelumnya, para mantan siswa padepokan itu telah meminta dengan hormat agar Abdul Jalil berkenan mengangkat mereka menjadi siswa, khususnya dalam meniti jalan Kebenaran Ilahi. Abdul Jalil tidak bisa menolak permintaan kawan-kawan lamanya. Namun, ia sadar bahwa mengajarkan ilmu yang bersifat rahasia tidak bisa digabungkan dengan pengajaran ilmu-ilmu yang bersifat umum dan terbuka. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk mendirikan tempat belajar baru yang letaknya di luar lingkungan Pesantren Giri Amparan Jati.

Sesungguhnya, gagasan Abdul Jalil mendirikan padepokan baru di luar Pesantren Giri Amparan Jati adalah bagian dari gagasan besarnya melahirkan tatanan baru kehidupan manusia yang disebut masyarakat dengan asas-asas ummah sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. saat menata kehidupan warga kota Yatsrib. Dimulai dari Pondok Pesantren Giri Amparan Jati dan padepokan baru yang akan didirikannya itu, ia berharap akan terbentuk tatanan kehidupan baru masyarakat di Caruban Larang. Akibat dicekam oleh gagasan tentang masyarakat itulah selama beberapa malam Abdul Jalil tidak tidur. Ia terlihat mencorat-coret pena ke atas lembaran-lembaran kertas yang sudah penuh gambar bagan dan catatan.

Ia paham bahwa keberhasilan Nabi Muhammad Saw. dalam melahirkan tatanan kehidupan baru yang disebut ummah di Yatsrib pada masa kebangkitan Islam, tidaklah lepas sama sekali dari adanya dukungan kuat para pemuka suku ‘Aus dan suku Khazraj (Anshor) beserta kaum Muhajirin. Ia sangat sadar bahwa gagasan besarnya untuk mencontoh Nabi Muhammad Saw. membentuk tatanan baru masyarakat itu tidak akan bisa diwujudkan tanpa bantuan orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan di Caruban Larang. Lantaran itu, ia sangat mengharapkan dukungan ayahanda asuhnya, Sri Mangana.

Suatu malam kira-kira sepekan setelah Syaikh Datuk Kahfi wafat, Abdul Jalil menghadap Sri Mangana di Bale Rangkang. Kepada Yang Dipertuan Caruban Larang itu ia mengungkapkan gagasan besarnya untuk melahirkan tatanan baru masyarakat demi menggantikan tatanan lama yang disebut kawula (budak).

Dengan pengetahuannya yang luas tentang perubahan dunia Islam, Abdul Jalil menjelaskan kepada Sri Mangana bahwa perubahan besar akibat kedatangan Dajjal penyesat yang membawa pasukan perusak dunia Ya’juj wa Ma’juj tidak bisa lagi dihindari. Itu berarti, segala sesuatu yang terkait dengan keberadaan suatu bangsa yang kurang kuat memegang nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran kebenaran akan tersapu dari permukaan bumi. “Karena bagian terbesar bangsa Sunda adalah kawula dan sedikit sekali yang berasal dari golongan menak berdarah biru maka ananda yakin bangsa ini tidak akan mampu menghadapi serbuan Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj yang membawa nilai-nilai baru yang menyesatkan. Sebab, para kawula sedikit pun tidak memiliki kepedulian tentang nasib bangsa dan negerinya. Artinya, jika sang raja sebagai penguasa tunggal di seluruh negeri Sunda sudah takluk kepada musuh maka seluruh kawula raja akan ikut tunduk pula kepada tuan barunya,” ujar Abdul Jalil.

Bertolak dari kekhawatirannya itu, Abdul Jalil menganggap penting terwujudnya kehidupan manusia dengan tatanan baru yang disebut masyarakat untuk menghadapi perubahan yang dibawa Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj. Sebagai langkah awal untuk menghadapi kedatangan Dajjal, ungkap Abdul Jalil, yang harus dilakukan adalah membuka pemukiman baru yang menjadi pusat lahirnya tatanan baru untuk menghadapi Dajjal. “Sebagaimana Rasulullah Saw. memi8liki Yatsrib sebagai kelahiran dunia baru maka ananda pun ingin memiliki Yatsrib juga di Caruban Larang ini,” ujar Abdul Jalil.

“Apakah mungkin engkau membangun tatanan dunia baru di negeri ini, o Puteraku?” tanya Sri Mangana seolah menguji keseriusan Abdul Jalil. “Bukankah tatanan yang ada di negeri ini sangat berbeda dengan tatanan di negeri Arabia pada masa Nabi Muhammad Saw.?”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” ujar Abdul Jalil. “Meskipun dasar-dasar gagasan ananda adalah meneladani gagasan ummah yang ditegakkan Rasulullah Saw. di Yatsrib, masyarakat yang hendak ananda bangun memiliki perbedaan-perbedaan. Maksud ananda, tatana masyarakat di Caruban Larang nanti merupakan perpaduan antara gagasan ummah di Yatsrib dan kenyataan kehidupan yang berlaku di negeri ini.”

“Tatanan baru yang bagaimana yang engkau maksud sebagai tatanan masyarakat di Caruban Larang nanti?”

Abdul Jalil mengeluarkan selembar lipatan kertas dari balik jubahnya. Seraya membuka lipatan kertas yang bergambar segitiga itu, ia berkata, “Ananda memiliki gambar segitiga dengan empat titik utama. Tiga titik yang terletak pada masing-masing sudut adalah tempat kemunculan tatanan baru. Ketiganya kemudian akan menuju ke titik pusat yang terletak di tengah-tengah segitiga.”

“Titik utama di sudut pertama adalah gambaran Giri Amparan Jati yang akan ananda jadikan pusat lahirnya tatana komunitas yang disebut kaum (qaum). Titik utama di sudut kedua adalah gambaran Puri Caruban Girang yang akan ananda jadikan pusat lahirnya tatana komunitas yang disebut kelompok (tha’ifah). Titik utama di sudut ketiga belum ananda tentukan tempatnya dan nanti akan ananda jadikan pusat lahirnya tatanan komunitas yang disebut kabilah (qabilah). Sedangkan titik pusat dari segitiga tersebut adalah Kutha Caruban yang akan ananda jadikan pusat lahirnya tatana komunitas yang disebut lapisan (thabaqah).”

“Jika masing-masing titik utama dipertemukan di titik pusat maka bertemulah tatanan qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah di Kutha Caruban. Nah, di Kutha Caruban itulah keempat komunitas itu akan membentuk suatu tatanan baru yang lahir dari kesadaran masing-masing komunitas. Tatanan baru yang berdasarkan kesadaran itu ananda sebut dengan istilah masyarakat, yakni kumpulan manusia di suatu tempat yang berasal dari berbagai-bagai latar kehidupan yang melakukan kerja sama (musyarakat) untuk mencapai tujuan yang mereka harapkan dan mereka sepakati bersama.”

“Apakah yang bisa engkau jelaskan kepadaku tentang maksud dari qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah?”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil menguraikan gagasannya. “Yang ananda maksud qaum adalah suatu kehidupan berkelompok yang dibangun atas dasar tegaknya pribadi-pribadi yang mendiami wilayah tertentu dan pribadi-pribadi itu secara bersama-sama bangkit melakukan pekerjaan yang sama. Kenapa ananda memilih Giri Amparan Jati sebagai tempat lahirnya komunitas qaum? Sebab, masing-masing warga Giri Amparan Jati adalah pribadi-pribadi yang secara bersama-sama telah terbiasa melakukan pekerjaan yang sama mulai dari mengerjakan sembahyang, puasa, mengaji, membaca kasidah, berlatih silat, menangkap ikan, mencari kayu, berladang, membuat perahu, sampai membangun pondok-pondok. Kebiasaan adalah modal utama yang sangat berguna untuk dikembangkan menuju pencapaian sasaran.”

“Thaifah adalah perkumpulan manusia yang mengelilingi wilayah tertentu dengan menggantungkan kebutuhan pada wilayah yang dikelilingi tersebut. Di padang Arabia, Thaifah digambarkan sebagai penghuni desa yang hidup mengitari sumur yang ada padang gembalaannya. Kenapa ananda memilih Puri Caruban Girang sebagai tempat lahirnya komunitasThaifah? Sebab, seluruh penduduk Caruban Girang pada dasarnya melingkari Puri Caruban Girang seperti gembala Arab mengitari sumur dan padang gembalaan. Mereka adalah nayakapraja dan abdi yang terbiasa berkhidmat kepada junjungannya dan menggantungkan semua harapan dan hidupnya kepada puri tersebut.”

“Sedangkan yang disebut qabilah adalah sekumpulan pribadi manusia yang memiliki tujuan dan arah yang satu dalam hidupb mereka, di mana ikatan pribadi yang terkuat adalah kesamaan harapan dan kiblat yang dituju. Untuk melahirkan komunitas qabilah ini, ananda menggunakan ajaran Tauhid Ilahi sebagai ikatan pribadi-pribadi yang memiliki kiblat tujuan yang sama. Namun, sampai saat ini ananda belum menentukan di mana tempat yang sesuai untuk melahirkan komunitas qabilah. Ananda hanya mempunyai ancar-ancar daerah itu harusnya terletak di sebelah tenggara Puri Caruban Girang.”

“Sementara yang dimaksud thabaqah adalah sekumpulan manusia yang memiliki kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan penghasilan yang sama di mana mereka itu kemudian menduduki lap[isan yang sama di dalam tatanan penduduk. Ikatan mereka makin menemukan bentuk sempurna ketika mereka melakukan persekutuan-persekutuan dalam pekerjaan, jabatan, penghasilan, dan kepentingan mereka hingga terbentuk lapisan khas dalam komunitas. Kenapa ananda memilih Kutha Caruban untuk melahirkan komunitas thabaqah? Sebab, tatanan kehidupan penduduk di Kutha Caruban pada dasarnya sudah terbentuk atas dasar lapisan-lapisan berdasarkan jabatan, pekerjaan, dan penghasilan.”

“Demikianlah, o Ramanda Ratu, gagasan ananda tentang pembentukan tatanan komunitas yang disebut qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah. Jika semuanya dipertemukan maka keempatnya akan mengalami perpaduan dan penyelarasan-penyelarasan sehingga pada gilirannya akan lahir komunitas baru yang lebih besar dan lebih kuat ikatannya, yaitu komunitas yang disebut masyarakat.”

“Komunitas itu disebut masyarakat, menurut hemat ananda, karena para anggota komunitas qaum, tha’ifah, qabilah, dan thabaqah secara sadar menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup sendiri tanpa kerja sama dengan komunitas yang lain. Itu sebabnya, mereka merasa wajib untuk melakukan kerja sama (musyarakat) atas dasar pemenuhan kepentingan bersama sebagaimana mereka sepakati. Nah, kerja sama (musyarakat) yang terjadi di antara masing-masing komunitas itulah yang disebut masyarakat. Ananda harapkan, masyarakat itulah yang akan menggantikan tatanan lama di negeri ini yang disebut komunitas kawula, yakni tatanan komunitas budak hina dina yang tidak memiliki hak apa pun, bahkan hak untuk hidup sekalipun.”

Sebagai seorang pemimpin yang cerdas, tanggap, dan sudah sering menelan pahit dan getir kekuasaan, Sri Mangana langsung memahami dan sekaligus menangkap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi jika gagasan putera asuhnya tersebut diwujudkan dalam kenyataan. Itu sebabnya, sambil menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil, penguasa Caruban Larang itu tertawa terkekeh-kekeh sampai bahunya terguncang-guncang.

Melihat ayahanda asuhnya tertawa terkekeh-kekeh, Abdul Jalil dengan heran bertanya, “Kenapa Ramanda Ratu tertawa mendengar paparan ananda tentang tatanan baru masyarakat? Adakah yang tidak masuk akal dari apa yang ananda paparkan?

“Bukan. Sekali-kali bukan karena tidak masuk akal. Tetapi, gagasan yang engkau ungkapkan barusan sesungguhnya sama artinya dengan engkau memerintahkan aku secara langsung atau tidak langsung untuk menyiapkan angkatan perang yang kuat,” jawab Sri Mangana sambil terus tertawa terkekeh-kekeh.

“Kenapa harus menyiapkan angkatan perang segala, o Ramanda Ratu?” Abdul Jalil tidak paham.

“Apakah engkau pikir tidak akan ada pihak yang dirugikan oleh gagasanmu itu?”

“Tentunya ada, o Ramanda Ratu,” sahut Abdul Jalil.

“Apakah engkau pikir para adipati di Bumi Pasundan dan bahkan ayahandaku sendiri sebagai Maharaja Sunda akan berdiam diri dengan lahirnya tatanan baru masyarakat yang mengancam kedudukan mereka? Apakah engkau pikir mereka akan diam begitu saja kehilangan hak-hak mereka atas setiap kepala manusia yang disebut kawula (budak) di wilayah kekuasaannya? Apa engkau pikir mereka rela melihat para kawula memiliki tanah dan kekayaan pribadi?”

“Ananda belum berpikir sejauh itu, o Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil dengan tubuh lemah seolah kehilangan semangat. “Ananda tidak tahu harus berbuat apa jika menghadapi yang demikian itu. Ananda mohon petunjuk Ramanda Ratu yang lebih memahami dan lebih menguasai masalah siyasah (politik).”

“Camkan olehmu, o Puteraku, bahwa secara utuh aku mendukung gagasanmu dalam membentuk tatanan dunia baru yang disebut masyarakat itu. Aku sendiri sesungguhnya sudah tidak tahan dengan mandeknya gerak kehidupan di negeri ini. Aku sudah muak dengan kehidupan para menak berdarah biru yang lemah akibat kemewahan dan sanjungan. Aku sudah tak tahan menyaksikan ratap tangis kawula yang selalu diisap oleh pemuka-pemukanya. Karena itu, o Puteraku terkasih, pilihlah di bagian mana dari tanah di Caruban Larang ini yang akan engkau jadikan tempat bagi lahirnya komunitas qabilah. Aku akan anugerahkan tanah itu kepadamu sebagai tanah shima (bebas pajak),” ujar Sri Mangana.

“Tapi Ramanda Ratu, bagaimana dengan kemungkinan bangkitnya amarah para adipati dan bahkan Sri Maharaja Sunda? Sungguh, ananda tidak sedikit pun berharap terjadinya pertumpahan darah untuk mewujudkan gagasan yang ananda impi-impikan tersebut,” kata Abdul Jalil takzim.

“Engkau jalankan saja gagasanmu itu, o Puteraku terkasih.” Sri Mangana membesarkan hati Abdul Jalil. “Aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan untuk mendukungmu mewujudkan gagasan mulia itu. Bahkan, andaikata aku harus mengangkat senjata dan memulai pertempuran dengan siapa pun yang mengahalangi cita-cita yang mulia itu, pastilah akan aku lakukan juga.”

“Terima kasih, Ramanda Ratu.” Abdul Jalil merangkul lutut ayahanda asuhnya dengan takzim. “Ananda hanya bisa berdoa, semoga Dia, Yang Maha Menyaksikan (asy-Syahid), mempersaksikan niat suci Ramanda Ratu.

Mendapat kesanggupan dari ayahanda asuhnya (Sri Mangana) tentang diberikannya tanah perdikan untuk memulai mewujudkan tatanan baru masyarakat ummah di Caruban Larang, saat sedang berkeliling mencari tempat yang sesuai, menjelang senja tiba-tiba ia dikejutkan oleh munculnya sesosok makhluk yang mencengangkan. Makhluk itu berwujud seorang laki-laki tambun berperut buncit. Tingginya sekitar enam depa. Kulitnya coklat kehitaman. Rambutnya panjang terurai hingga ke paha. Matanya mirip mata rajawali dengan bulatan manik-manik sangat kecil. Hidungnya mancung, bahkan cenderung bengkok mirip kakaktua. Kumisnya lebat menggantung. Janggutnya panjang menjuntai hingga ke perut. Yang lebih mengerikan adalah saat dia tersenyum, terlihat dua buah taringnya yang tajam berkilau. Bagaikan sengaja menghadang jalan, lelaki tambun berperut buncit itu bertolak pinggang di depan Abdul Jalil.

Sesaat memandang sosok mencengangka di depannya, Abdul Jalil langsung teringat kepada Dang Hyang Semar. Mungkin inilah makhluk berbadan halus penghuni purwakala Nusa Jawa yang pernah dikatakan Dang Hyang Semar, ia menduga-duga dalam hati. Dugaannya tidak meleset ketika sosok itu mengucapkan salam melalui bahasa perlambang (isyarat) dan memperkenalkan diri sebagai Yang Dipertuan Caruban Larang, Sang Setan Kabir.

Beberapa jenak setelah saling mengenalkan diri, terjadilah perbincangan antara Abdul Jalil an Sang Setan Kabir melalui bahasa perlambang, yang jika diungkap ke dalam bahasa manusia kira-kira berbunyi:

“Apakah yang engkau inginkan, o manusia, berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di wilayah kekuasaanku ini? Apakah engkau hendak membangun hunian-hunian baru bagi pengikutmu dengan menyingkirkan penghuni purwakala negeri ini?”

“Sesungguhnya, Allah SWT., Tuhan Yng Mahakuasa, tidaklah mencipta bangsa Jin dan Manusia kecuali untuk memuja dan menyembah keagungan-Nya. Sesungguhnya, jin dan manusia hidup ditempatkan di alam yang berdampingan, tidak dekat tetapi juga tidak terpisah jauh. Masing-masing makhluk (al-khalq) memuja dan menyembah Sang Pencipta (al-Khaliq) sesuai cara yang ditentukan-Nya. Tidak boleh ada yang mengganggu antara makhluk satu dan makhluk yang lain. Demikianlah peraturan yang berlaku di antara bangsa jin dan manusia,” sahut Abdul Jalil.

“Tetapi kenyataannya, sejak zaman dahulu kala, kehadiran bangsa manusia selalu berakibat bencana bagi bangsa kami. Menurut kakek buyutku, beliau dulu adalah raja besar penghuni dunia. Namun sejak manusia ditirunkan ke dunia, bangsa kami diusir ke tengah lautan dan menghuni pulau-pulau yang terpencil. Sampai kini ternyata bangsa manusia terus bertebaran ke segenap penjuru dunia dan bahkan merambah lautan. Mereka seolah-olah tidak rela melihat bangsa kami menghuni bumi. Mereka ingin mengusir kami ke tengah lautan dan bahkan keluar dari dunia ke gugusan bintang-bintang. Sungguh jahat watak manusia.”

“Tidak semua manusia seperti itu, o Setan Kabir. Sesungguhnya, penilaianmu itu terjadi karena engkau memandang keberadaan bangsa manusia berdasarkan pandangan bangsamu. Tidakkah engkau tahu betapa bangsa manusia selalu merasa ketakutan melihat perilaku bangsamu yang suka merayakan pesta darah dengan membunuh manusia? Bukankah di antara bangsa manusia tidak ada yang melakukan pesta dengan membunuh bangsamu?”

Setan Kabir tertawa terbahak-bahak sampai perutnya yang buncit terguncang-guncang. Beberapa jenak sesudah itu dia berkata, “Pesta darah yang engkau maksud itu adalah pesta biasa sebagaimana manusia menyelenggarakan pesta-pesta perhelatan dengan menyembelih hewan. Apa yang aneh dari adat kebiasaan itu?”

“Engkau mungkin tidak merasa aneh dengan adat kebiasaan bangsamu sebab engkau memandangnya berdasarkan pandangan bangsamu. Tetapi bagi manusia, kebiasaan bangsamu itu sangat menakutkan karena merekalah yang menjadi korban sembelihan bangsamu.”

“Bagaimana dengan bangsa manusia yang membunuh bangsa hewan untuk pesta perhelatan?”

“Hewan adalah makhluk yang tidak mempunyai ruh dan mereka memang diciptakan untuk menjadi makanan manusia,” sahut Abdul Jalil.

“Bukankah ketentuan itu sama dengan yang diyakini bangsa kami?” ujar Sang Setan Kabir. “Bukankah manusia juga tidak mempunyai ruh? Sehingga bangsa kami berhak memangsa mereka sebagaimana manusia memangsa hewan?”

“Engkau keliru jika memandang bangsa manusia tidak memiliki ruh,” tukas Abdul Jalil. “Justru karena ruh yang ada pada manusia itulah yang menyebabkan seluruh malaikat bersujud kepada Adam a.s., leluhur manusia. Hanya satu makhluk yang tidak mengetahui bahwa pada diri manusia sesungguhnya tersembunyi ruh Ilahiah. Makhluk itu tidak lain adalah Iblis yang dilaknat Allah SWT., yakni salah satu leluhur bangsamu.”

“Apakah engkau memiliki ruh Ilahiah?” tanya Setan Kabir Sinis. “Tunjukkan kepadaku dimana ruh Ilahiah yang tersembunyi di dalam dirimu yang menyebabkan para malaikat harus tunduk dan bersujud kepada leluhurmu yang bernama Adam!”

Abdul Jalil terperangah kebingungan mendapat tantangan Setan Kabir. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membuktikan kepada Setan Kabir bahwa di dalam dirinya sesungguhnya terdapat ruh Ilahiah. Namun beberapa jenak setelah tercekam kebingungan, tiba-tiba Ruh al-Haqq dari kedalaman relung-relung jiwanya memberikan isyarat agar ia meminta Setan Kabir melihat ke dalam mulutnya, hendaknya ia melakukan nafs al-haqq, demikian isyarat dari Ruh al-Haqq.

Sesuai isyarat dari Ruh al-Haqq, Abdul Jalil meminta Setan Kabir untuk mendekat dan melihat ke dalam rongga mulutnya yang ternganga. Mendapat permintaan Abdul Jalil, ganti Setan Kabir yang kebingungan. Namun dengan menundukkan tubuh ke depan, akhirnya Setan Kabir melihat ke dalam rongga mulut Abdul Jalil.

Saat Setan Kabir melihat rongga mulut Abdul Jalil, dia tiba-tiba tersentak kaget bagaikan disambar petir. Sekujur tubuhnya bergetar keras. Seiring kekagetannya itu, dia tampak tercengang takjub dengan mata tetap terarah ke dalam rongga mulut Abdul Jalil.

Saat itu Setan Kabir menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan. Di dalam rongga mulut Abdul Jalil terdapat hamparan samudera mahaluas dengan gelombang bergulung-gulung susul-menyusul. Di tengah samudera itu terlihat pula gugusan pulau dan benua, hutan rimba yang lebat, jajaran gunung, gurun, lembah, ngarai, dan jurang. Setelah itu, di atas suatu daratan luas terlihat berjuta-juta bangsa jin sedang berperang saling membunuh sesamanya. Mayat para jin bergelimpangan dan bertumpuk-tumpuk membentuk bukit mayat. Pekik peperangan terus terdengar sahut menyahut di tengah suara gemerincing senjata.

Tiba-tiba suara sangkakala terdengar membelah angkasa. Para jin yang berperang berhenti. Namun, sesaat sesudah itu mereka berperang lagi dengan lebih sengit. Di tengah gemuruh peperangan seketika muncul cahaya yang bersinar terang benderang melebihi ahaya matahari. Akibat cahaya yang menyilaukan mata itu, para jin yang sedang berperang menjadi buta. Sambil berteriak-teriak mereka berjalan ke berbagai arah dengan menggapai-gapai layaknya si buta mencari jalan.

Terpukau oleh pemandangan menakjubkan dan silau menyaksikan benderang cahaya cemerlang yang bersinar di dalam rongga mulut Abdul Jalil, Setan Kabir melompat mundur ke belakang dengan tubuh menggigil. Setelah itu ia duduk berlutut di depan Abdul Jalil sambil bertanya dengan sikap yang sangat menghormat, “Apakah cahaya yang menyilaukan laksana benderang matahari itu adalah ruh Ilahiah yang tersembunyi di dalam diri manusia?”

“Ruh manusia bukan cahaya matahari, tetapi ruh manusia bisa lebih terang dari cahaya matahari dan bahkan ruh manusia bisa memuat beribu-ribu matahari,” jawab Abdul Jalil.

“Pemandangan menyilaukan dari ruh manusia itu pernah aku saksikan pada diri Dang Hyang Hasmara, keturunan Dang Hyang Semar.”

“Engkau kenal dengan Dang Hyang Hasmara?”

“Ya, beliau adalah pelanjut ajaran Dang Hyang Semar.”

“Berapa sekarang ini usiamu, o Sang Setan Kabir?”

“Usiaku?” Setan Kabir mengira-ngira, “Kalau dihitung dengan waktu manusia, kira-kira seribu sembilan ratus tahun.”

“Aku belum pernah ketemu Dang Hyang Hasmara. Tetapi, beberapa waktu lalu aku bertemu dengan arwah Dang Hyang Semar.”

“Paduka bertemu dengan Dang Hyang Semar Sendiri?”

“Ya, saat itu beliau memberitahuku tentang keberadaan bangsamu yang sudah menghuni Nusa Jawa jauh sebelum kehadiran bangsa manusia. Beliau bahkan telah mengizinkan aku untuk menyebarkan ajaran kebenaran Islam yang merupakan ajaran sempurna dari ajaran Kapitayan di Nusa Jawa.”

“Benarkah demikian?”

Setan Kabir tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Berarti, paduka tidak akan mengusir bangsa kami?”

“Ketahuilah, o Setan Kabir, bahwa Nabi Muhammad Saw., pembawa ajaran Islam adalah penerang bagi alam semesta. Muhammad Saw. adalah rahmah - pengejawantahan ar-Rahman dan ar-Rahim - bagi alam semesta. Itu sebabnya, kehadiran ajaran yang beliau sampaikan tidak akan menjadi bencana bagi makhluk yang lain. Bahkan di antara pengikut-pengikut beliau terdapat segolongan yang berasal dari bangsamu.”

“Ketahuilah, o Setan Kabir, bahwa kewajiban Nabi Muhammad Saw. adalah sama dengan kewajiban para utusan Tuhan (rasul) yang lain, yakni hanya sebagai penyampai (balaqh) Kebenaran Ilahi (QS. Al-Maidah:99). Dan bagiku, pewaris ajaran para utusan seperti Nabi Muhammad Saw., tidak ada kewenangan untuk mengusir makhluk lain dari suatu tempat di muka bumi. Sebab, kewajibanku pun hanya menyampaikan ajaran Kebenaran Ilahi, tidak lebih.”

“Berarti, paduka tidak akan mengubah perjanjian leluhur kami dengan Dang Hyang Semar?”

“Benar demikian adanya,” ujar Abdul Jalil. “Sebab, kesepakatan yang telah dilakukan Dang Hyang Semar tidak bertentangan dengan hukum alam (sunnah Allah). Sesungguhnya, pada tiap-tiap umat terdapat seorang utusan Tuhan (rasul) yang mengajarkan kepada umat tersebut untuk memuja dan menyembah Tuhan dan menjauhi pemujaan kebendaan (thaghut). Namun, di antara umat itu ada yang mendapat petunjuk (hidayah) dari Tuhan dan ada pula yang tetap sesat (adh-dhalalah) (QS. An-Nahl:36). Dan sesungguhnya, mereka yang tetap sesat, yakni tetap memuja kebendaan (thaghut) dan bergelimang kejahatan akan dibinasakan untuk diganti umat baru (QS. al-An’am:6). Hukum alam (sunnah Allah) ini berlaku dari zaman ke zaman hingga hari akhir.”

“Karena itu, o Setan Kabir, apa yang telah dilakukan oleh Dang Hyang Semar dengan leluhurmu dalam ikatan perjanjian itu sesungguhnya sudah sesuai dengan hukum alam (sunnah Allah), di mana penghuni Nusa Jawa yang dijadikan mangsa dalam pesta darah bangsamu itu adalah manusia-manusia sesat pemuja kebendaan (thaghut) yang hidup bergelimang kejahatan. Dengan demikian, satu pun diantara lima butir perjanjian itu tidak akan aku perbarui. Artinya, mangsalah dan jadikanlah santapan dalam pesta darahmu para penghuni Nusa Jawa yang sesat, yakni mereka, para pemuja kebendaan, yang bergelimang kejahatan meskipun mereka mengaku-aku umat Islam.”

“Aku akan sampaikan berita gembira ini kepada para raja di antara bangsaku,” ujar Setan Kabir. “Aku akan sampaikan pula bahwa manusia yang harus kami patuhi mulai saat ini adalah paduka, Syaikh Datuk Abdul Jalil, penerus dan penyempurna ajaran Dang Hyang Semar.”

“Tapi ada satu tugas khusus yang harus engkau jalankan dariku.”

“Tugas apa itu paduka?”

“Kumpulkan raja-raja di antara bangsamu se Nusa Jawa untuk menemuiku pada paro terang bulan Badra.”

“Dimana kami harus berkumpul?”

“Di puncak Gunung Pulasari di tanah Banten.”

“Kami akan laksanakan perintah paduka.”

Setelah berkeliling ke berbagai tempat di sekitar Caruban Larang, Abdul Jalil akhirnya menemukan suatu tanah terlantar berupa hamparan rumput alang-alang yang terletak di sebelah tenggara Kutha Caruban dan Puri Caruban Girang. Tanah itu sesungguhnya masuk ke dalam wilayah Negari Japura yang dirajai Prabu Amuk Marugul. Namun, Negari Japura telah dimasukkan ke dalam wilayah samiddha Caruban Larang setelah Prabu Amuk Marugul diangkat menjadi penasihat maharaja di Pakuan Pajajaran.

Jika diukur, jarak tanah yang dipilih Abdul Jalil itu hampir sama dengan jarak Pesantren Giri Amparan Jati ke Puri Caruban Girang. Hanya saja, Giri Amparan Jati terletak di sebelah utara Puri Caruban Girang, sedangkan tanah itu terletak di sebelah tenggara. Dan, jika ditarik garis lurus maka antara Puri Caruban Girang, Giri Amparan Jati, dan tanah baru itu akan membentuk segitiga dengan Kutha Caruban terletak di tengahnya.

Sementara itu, saat mengetahui tanah yang ditunjuk Abdul Jalil, Sri Mangana terheran-heran dan bertanya, “Kenapa engkau memilih tanah yang ganas dan tidak ramah itu, o Puteraku terkasih? Kenapa engkau tidak memilih tanah yang lebih baik di sekitar Kutha Caruban seperti tanah kosong di sebelah selatan Kesambi atau Kalijaga?”

Mendengar pertanyaan ayahanda asuhnya yang terheran-heran dengan permintaannya itu, Abdul Jalil menjelaskan bahwa tanah ganas dan tidak ramah itu sengaja dipilih karena memiliki kemiripan dengan sekantung tanah yang diterimanya dari ayahanda mertuanya, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, juga jaraknya sesuai dengan gambar segitiga yang dibuatnya. Setelah memahami alasan putera asuhnya, Sri Mangana segera mengeluarkan maklumat yang isinya menetapkan anugerah tanah shima seluas dua ratus jung (sekitar 560 hektar) di wilayah Japura kepada Abdul Jalil lengkap dengan batas-batasnya.

Dengan anugerah tanah shima seluas dua ratus jung itu, Abdul Jalil sadar bahwa ia sesungguhnya telah mulai menapakkan kaki ke dunia nyata untuk mewujudkan gagasan besar yang selama ini tersembunyi di relung-relung impiannya. Namun sebelum memulai pekerjaan awal membangun tanah itu menjadi pemukiman bagi komunitas qabilah, Abdul Jalil terlebih dulu harus memasang Tu-mbal sebagaimana pernah dilakukan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi atas petunjuk Dang Hyang Semar. Meski semula tanah yang akan disebar di tempat yang bakal dijadikan bangunan hunian itu adalah tanah dari Karbala bekal dari mertuanya, Abdul Jalil tiba-tiba beroleh ilham untuk mencampur tanah Karbala dengan tanah dari pendharmaan Bhattari Prthiwi di Kabhumian.

Ia sendiri tidak mengetahui ada rahasia apa sebenarnya di balik pemasangan Tu-mbal berupa taburan tanah yang sudah dilakukan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Ia juga tidak mengetahui rahasia apa di balik sekantung tanah yang dibekalkan mertuanya itu. Namun, ia lakukan juga hal itu semata-mata untuk menghormati petunjuk orang-orang yang hidup lebih dulu yang tentunya lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan masa silam.

Ketika ia sedang berdiri tegak di atas tanah shima dan menyaksikan tebaran tanah campuran yang baru ditaburnya di atas rumput alang-alang, tiba-tiba Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya berseru, “Ketahuilah, o Abdul Jalil, sesungguhnya sarana (Tu-mbal) tanah itu tidak dimaksudkan lain, kecuali hanya sebagai pemakluman manusia keturunan Adam a.s. (Bani Adam) yang badan jasmaninya terbuat dari tanah. Pemakluman itu akan disaksikan oleh para Jin, penghuni purwakala Nusa Jawa. Tindakanmu mencampur kedua tanah itu sudah benar sebab para penghuni purwakala Nusa Jawa akan menangkap perlambang yang engkau isyaratkan, yakni bersatunya anak eturunan Adam a.s. secara selaras baik yang mengikuti ajaran Kapitayan, Hindu, Budha maupun Islam, dan sekaligus menyatunya dua jenis tanah yang berbeda jiwa dan semangatnya; tanah Kabhumian melambangkan jiwa kasih dan semangat kesetiaan, sedangkan tanah Karbala melambangkan jiwa suci sekaligus semangat pengkhianat.”

Setelah memahami sekeping rahasia di balik penyebaran tanah yang disebut Tu-mbal (sarana), Abdul Jalil sadar bahwa di atas semua ketentuan yang terkait dengan upaya membuat tawar pengaruh jahat para bangsa halus penghuni purwakala Nusa Jawa itu, sesungguhnya yang paling menentukan adalah manusia. Tanah hanya sarana pemakluman. Tanah hanya perlambang penampakan keberadaan jati diri manusia. Yang berperan utama tetaplah manusia, makhluk agung yang terbuat dari tanah tetapi mewarisi Ruh al-Haqq yang menjadi penyebab seluruh malaikat bersujud.

Peran utama manusia itu setidaknya terlihat pada peristiwa pemasangan Tu-mbal yang telah dilakukan oleh Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Meski telah memasang Tu-mbal tanah dari Karbala, ternyata pengaruh jahat bangsa halus tidak bisa dihindari. Ketika Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi kembali ke Persia, para pengikutnya dijadikan “santapan” para penghuni purwakala Nusa Jawa.

Menyadari betapa penting peran manusia dalam upaya membuat tawar pengaruh jahat para makhluk berbadan halus, Abdul Jalil kemudian menempatkan tujuh orang santri dari Giri Amparan Jati untuk menunggui tebaran tanah yang telah ditaburnya. Kepada ketujuh orang santri itu ia memberikan petunjuk agar mereka membaca urut-urutan doa yang telah disusunnya. Urutan doa itu adalah rangkaian doa pengusir pengaruh jahat jin dan setan sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad Saw. rangkaian doa itu meliputi: surat al-Fatihah: 1-7; surat al-Ikhlas: 1-4; surat al-Falaq: 1-5; surat an-Naas: 1-6; surat al-Baqarah: 1-5, 255 (ayat kursi), 284-286; istighfar; shalawat; tahlil; ditutup doa penolak godaan setan dan permohonan keselamatan manusia beriman.

Tujuh hari berturut-turut setiap usai Maghrib rangkaian doa pengaruh jahat jin dan setan itu dibaca. Kemudian dimulailah pembangunan pertama di tanah baru itu, yakni tajug kayu dengan atap daun kawung. Menurut rencana, di teras kiri tajug akan didirikan pondok yang dijadikan tempat tinggal Abdul Jalil. Sedangkan di teras kanan tajug akan didirikan pondok yang dijadikan penginapan sementara para siswa.

Demikianlah, dengan dibantu sekitar dua puluh santri Giri Amparan Jati dan kawan-kawan lamanya, Abdul Jalil memulai pekerjaan besarnya; mengubah tanah anugerah berupa hamparan rumput alang-alang menjadi tempat baru yang bisa dihuni manusia. Kemudian, sesuai dengan warna tanah Karbala dan tanah Kabhumian yang dicampurnya, daerah pemukiman baru yang terletak di bekas wilayah Japura itu oleh Abdul Jalil dinamai Dukuh Lemah Abang. Istilah dukuh dipungut dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “tempat sunyi” kediaman Dang Hyang Semar. Ia berharap dengan menggunakan istilah dukuh, ingatan purba masyarakat tentang Dang Hyang Semar beserta ajarannya akan terbit kembali.

Dari sebuah pondok kayu beratap daun kawung yang terletak di teras kiri tajug Dukuh Lemah Abang, Abdul Jalil mulai mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat rahasia kepada para muridnya yang umumnya seusia bahkan lebih tua darinya. Sebagaimana saat ia menata perkuliahan di Giri Amparan Jati, di Lemah Abang pun ia mengajarkan ilmu-ilmu bersifat rahasia dengan terlebih dahulu memperkenalkan ilmu hikmah dan ‘irfan.

Ilmu hikmah adalah ilmu yang terkait dengan usaha-usaha untuk mencapai keseimbangan yang sempurna antara ilmu dan amal sehingga tercapai suatu keadilan (‘adl), yakni meletakkan sesuatu secara tepat pada tempat yang semestinya. Dengan demikian, sekalipun dalam ilmu hikmah ini diyakini bahwa Kebenaran Sejati hanya bisa diperoleh secara ruhaniah melalui pengembaraan ruhani, ilmu itu tetap dapat diungkap secara akal. Mereka yang memahami ilmu hikmah, ketika beroleh anugerah limpahan pengetahuan ruhani (warid), akan mengalami kegaiban (ghaibah). Sedangkan mereka yang sama sekali buta terhadap ilmu hikmah cenderung mengalami kegilaan (majnun) ketika beroleh limpahan pengetahuan ruhani.

‘Irfan secara harfiah dapat diartikan ilmu pengetahuan tentang Ketuhanan yang memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang sering kali berbeda dengan kaidah-kaidah syari’at (fiqhiyyah). ‘Irfan lebih ditekankan pada masalah-masalah yang terkait dengan pengetahuan Ilahiah seperti Nama-Nama yang Tarpelihara (al-ism al-musta’tsar), Nama-Nama Agung (al-ism al-a’zham), Akhlak yang Mulia (al-akhlaq al-Karimah), makna rahasia di balik Al-Qur’an, isyarat-isyarat ruhaniah dengan takwil-takwilnya, dan segala sesuatu yang terkait dengan pengungkapan rahasia atas Khazanah Tersembunyi Ilahi. Dengan demikian, dalam pandangan ‘irfani, seseorang yang berkata benar di depan penguasa zalim dianggap seseorang yang sudah melakukan jihad terbesar dibandingkan dengan orang yang bertempur dengan pedang di medan laga. Kejayaan jihad terbesar dalam pandangan ‘irfan adalah keberhasilan menaklukkan nafsu pribadi, sedangkan kejayaan jihad di medan tempur dianggap keberhasilan kecil.

Sementara itu, sebagaimana Giri Amparan Jati yang disebut pondok pesantren, tempat Abdul Jalil mengajarkan ilmu-ilmu rahasia tidak disebut padepokan yang bermakna pertapaan dan tidak juga disebut biara, pasulukan, atau asrama. Abdul Jalil dengan sederhana menamai tempatnya mengajar dengan sebutan Paguron Lemah Abang. Istilah paguron sendiri dipungut dari bahasa Jawa Kuno aguron-guron (menjadi murid) yang sama maknanya dengan “menjadi sang penempuh” (salik). Jadi, paguron bermakna “tempat orang-orang yang menjadi murid” atau “tempat salik” menuntut pelajaran rahasia untuk mencari Kebenaran Sejati.

Sekalipun nama tempat mengajar itu disebut paguron, mereka yang belajar di situ tidak disebut aguron-guron, tetapi murid. Sebab, menurut Abdul Jalil, di dalam bahasa Arab al-murid bermakna “yang menginginkan Allah”. Sebutan murid diambil dari salah satu nama Allah yang indah, yaitu Yang Memiliki Kehendak (al-Murid). Dengan adanya hubungan timbal balik antara al-murid dan al-Murid maka akan terjadi hubungan saling mendekat dengan cepat dan tepat sesuai firman-Nya: “Jika engkau mendekat sejengkal maka Aku akan mendekat selangkah. Jika engkau mendekat dengan berjalan maka Aku akan mendekat dengan cara berlari.” Demikianlah, tidak berbeda dengan penggantian istilah padepokan menjadi pondok pesantren, penggunaan istilah paguron dan murid merupakan “perkawinan” yang selaras antara istilah Arab dan istilah setempat.

Sesuai ajaran Tarekat al-Akmaliyyah yang disampaikannya, yang tidak mengenal mursyid dalam wujud manusia, Abdul Jalil melarang murid-murid untuk menganggapnya sebagai mursyid, yaitu pancaran dari Yang Maha Menunjuki (ar-Rasyid). Mursyid, menurut Abdul Jalil, adalah ar-ruh al-idhafi yang ada di dalam diri pribadi tiap-tiap manusia. Kepada para muridnya Abdul Jalil memperkenalkan keberadaan dirinya sebagai guru ruhani yang berkewajiban membimbing murid untuk mengenal mursyid di dalam dirinya. Itu sebabnya, ia hanya berkenan dipanggil dengan sebutan syaikh (Arab: guru ruhani).

Tidak berbeda dengan kebijakannya dalam menentukan penerimaan santri di Pondok Pesantren Giri Amparan Jati, di Paguron Lemah Abang pun Abdul Jalil menerima murid dari berbagai kalangan tanpa melihat latar kedudukan sosial, asal-usul keturunan, dan agamanya. Para murid yang belajar ilmu-ilmu rahasia kepada Abdul Jalil ada yang berasal dari kalangan darah biru yang berkuasa di Caruban Larang seperti Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Tegal Alang-Alang, Ki Gedeng Surantaka, dan ada pula yang berasal dari kalangan orang kebanyakan seperti pedagang, petani, nelayan, perajin, atau tukang.

Berbeda dengan para santri pondok Pesantren Giri Amparan Jati yang harus tinggal dalam jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan pelajarannya, di Paguron Lemah Abang para murid hanya tinggal dalam tempo sehari atau paling lama sepekan. Para murid secara bergiliran menghadap Abdul Jalil untuk memperoleh wejangan berupa petunjuk perjalanan menuju Kebenaran Sejati dengan memahami ilmu hikmah dan ‘irfan. Setelah paham maka sang murid dipersilakan kembali hidup di tengah masyarakat untuk mengamalkan wejangan itu.

Kebenaran Sejati, menurut pandangan Abdul Jalil, tidak berada di kuburan-kuburan, di gua-gua, di pohon-pohon besar, di gunung, di laut, maupun di langit. Sesungguhnya, Kebenaran Sejati lebih dekat dari urat leher manusia. Jadi? Carilah Kebenaran Sejati di tengah kehidupan manusia, di tengah-tengah tarikan napas kehidupan, di tengah keramaian dan keheningan alam kehidupan. Dan sesungguhnya, tanpa pedoman ilmu hikmah dan ‘irfan, sangatlah sulit memperoleh anugerah ruhani yang menyebabkan kegaiban (ghaibah) yang merupakan prasyarat utama bagi ditemukannya Kebenaran Sejati.

On board of MV. Taho, Taiwan Strait, April 7th 2007

6. Bumi Pasundan

Abdul Jalil telah menyaksikan berbagai negeri dan bangsa. Ia telah memahami pasang dan surut berbagai bangsa meniti jembatan sejarahnya. Ternyata, sejarah mengajarkan bahwa tidak ada satu pun bangsa yang bisa hidup lestari jika tidak menganut nilai-nilai yang cocok dengan bangsa tersebut. Dan, nilai-nilai itu pun ternyata selalu mengalami pasang dan surut seiring menggelindingnya roda waktu.

Sebagaimana bangsa lain, bangsa yang hidup di atas permukaan Bumi Pasundan adalah bangsa yang pernah meraih kebesaran pada masa silam karena menganut tatanan nilai-nilai yang cocok dengan naluri mereka. Namun seiring menggelindingnya roda waktu, nilai-nilai yang dianut bangsa Sunda ternyata berkarat, keropos, dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan serta keniscayaan perubahan.

Bangsa Sunda dalam penilaiannya tampak sedang terpuruk ke dalam lingkaran kemandekan dan keterbendungan sungai zaman. Menurut hematnya, jika tidak adas perubahan nilai-nilai yang sesuai dengan zaman maka dalam waktu yang tidak lama bangsa ini akan porak-poranda terseret arus perubahan, terutama saat nilai-nilai baru yang tersumbat menjelma menjadi air bah perubahan yang membobol kemandekan sungai zaman dengan kekuatan dahsyat yang merusak dan membinasakan.

Jika dikaji secara cermat dan mendalam, sesungguhnya keterpurukan bangsa Sunda bermula dari peristiwa tragis yang dialami Maharaja Sunda, Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sang Mokteng Bubat, yang terbunuh di Bubat oleh Gajah Mada, Mahapatih Majapahit. Mimpi buruk itu begitu tak terduga dan sangat mengejutkan sehingga membuat suluruh bangsa Sunda baik kalangan menak berdarah biru maupun kalangan jelata tercengang dalam suasana traumatis selama berpuluh bahkan seratus tahun lebih. Bagaikan tidak sadar jika kehidupan terus berputar, seluruh penghuni Bumi Pasundan seolah-olah tenggelam dalam mimpi kosong tanpa makna dengan bayangan masa lalu yang menakutkan.

Entah sadar entah tidak, tinta sejarah mencatat bahwa bangsa Sunda dalam mimpi kosongnya yang panjang itu telah merasa bersyukur menjunjung kekuasaan pengganti Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sang Mokteng Bubat, yaitu Prabu Niskala Wastu Kencana, sang putera mahkota, yang duduk di atas singgasana Galuh Pakuan selama seratus lima tahun. Kurun seratus lima tahun adalah kurun yang sangat lama dan membosankan bagi satu kekuasaan tunggal di tangan orang yang sama. Namun semua orang Sunda, tidak terkecuali putera mahkota, sepertinya tidak menyadari bahwa kehidupan dunia adalah gerak dinamis yang terus-menerus mangalami perubahan dan dituntut oleh zaman untuk berkembang. Itu sebabnya, selama seratus lima tahun dipimpin Prabu Niskala Wastu Kencana tanpa sedikit pun diganggu Majapahit, tampaknya telah membawa orang-orang Sunda ke suatu matra kehidupan dengan dunianya sendiri yang penuh mimpi.

Kesuburan dan kemakmuran yang berlimpah yang tak habis dimakan tujuh turunan ternyata tidak menjadi berkah bagi bangsa yang lari dari kenyataan dan sedang terjebak dalam mimpi buruk itu. Sebab, kesuburan dan kemakmuran bagi bangsa yang sedang bermimpi adalah bagian dari mata air kemalasan yang melumpuhkan setiap gerak dinamis kehidupan. Demikianlah, bagaikan putaran roda waktu yang sedang dilepas tanpa kendali, tergilaslah para menak berdarah biru Sunda dengan kemewahan dan sanjungan hingga menyebabkan mereka lumpuh tak berdaya. Di dalam dunianya yang sempit mereka bersembunyi dari kenyataan seolah-olah mereka sedang menikmati mimpi surgawi yang penuh pesta pora dan kemalasan.

Ketika Prabu Niskala Wastu Kencana mangkat dalam usia seratus dua belas tahun dengan meninggalkan anak-anak, cucu-cucu (incu), cucu-buyut (piut), dan entah keturunan ke berapa, takhta Kerajaan Sunda terancam perpecahan. Para putera, cucu, dan cucu buyut maharaja yang menjadiraja muda – prabu anom, adipati, bupati, nrpati – saling membangun kekuatan sendiri-sendiri di daerah kekuasaannya masing-masing. Sehingga, saat putera mahkota Prabu Dewa Niskala, yang sudah tua renta, menggantikan kedudukan ayahandanya, tak lebih dari tujuh tahun sudah harus mundur dan digantikan oleh puteranya, yaitu Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja Ratu haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Meski ada yang menyatakan bahwa mundurnya Prabu Dewa Niskala akibat melanggar larangan – menikahi puteri larangan sehingga ia disebut Prabu Anggalarang, orang-orang tidak bisa memungkiri bahwa pada saat menduduki takhta Galuh Pakuan, sesungguhnya Prabu Dewa Niskala sudah sangat tua bahkan usianya hampir sembilan puluh tahun. Sementara itu, puteranya yang bernama Pamanah rasa dan bergelar Siliwangi telah membangun kekuatan di Pakuan Pajajaran. Itu sebabnya, usai menggantikan takhta Prabu Dewa Niskala, dia segera mengumumkan bahwa Maharaja Sunda baru yang dinobatkan dengan nama Abhiseka Prabu Guru Dewata Prana memindahkan ibu kota kerajaan dari Galuh Pakuan ke Pakuan Pajajaran. Di Pakuan Pajajaran itu sang maharaja dinobatkan kembali dengan nama Abhiseka Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Di bawah Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Mharaja, yang juga sudah tua, kehidupan di Bumi Pasundan sesungguhnya tetap tidak banyak berubah. Hanya saja, diam-diam mulai terasa terjadi persaingan sengit di antara para putera dan cucu maharaja di dalam upaya merebut takhta. Dan orang-orang bilang: di antara para keturunan Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja yang dianggap paling berbahaya dan menjadi ancaman bagi sudara-saudaranya yang lain adalah Sri Mangana, Raja Muda Caruban Larang. Sebab, dia tidak saja sudah menganut agama yang berbeda dengan agama leluhurnya, tetapi yang tak kalah mengkhawatirkannya adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa penguasa Caruban Larang itu tidak pernah beristirahat dari kegiatan membangun kekuatan militer Caruban Larang. Bahkan, beberapa waktu lalu dia memaklumkan diri sebagai panglima perang (manggalayuddha) Caruban Larang.

Kecurigaan dan kekhawatiran keluarga Maharaja Sunda terhadap gerak dinamis kehidupan Sri Mangana sesungguhnya dapat dipahami. Sebab, selama seratus tahun lebih mereka telah lari dari kenyataan dan menenggelamkan diri ke dalam tidur panjang dengan mimpi-mimpi kosong tanpa makna. Mereka seolah-olah tidak sadar jika dunia di luar mereka berkembang dan bahkan sebagian sedang mengalami guncangan akibat diempas angin perubahan yang menebarkan nilai-nilai baru. Bagaikan barisan lembu menunggu dipotong di rumah jagal, begitulah keberadaan bangsa Sunda yang dengan tenang masih menikmatikesegaran rumput hijau kemakmuran tanpa sedikit pun sadar bahwa prahara perubahan sedang menampar-nampar di belahan bumi lain, yang cepat atau lambat pasti akan mengempaskan mereka ke kenyataan hidup yang menyakitkan.

Kenyataan tentang gerak kehidupan Bangsa Sunda yang lari dari kenyataan dan tenggelam di dalam dunia yang penuh mimpi itu setidaknya disaksikan dengan mata kepala sendiri oleh abdul Jalil saat memasuki daerah pedalaman Bumi Pasundan untuk memasang Tu-mbal sesuai petunjuk Dang Hyang Semar. Saat itu, bagaikan sedang berada di alam mimpi, ia menyaksikan kehidupan sehari-hari penduduk yang tidak saja berbeda jauh dengan warga Baghdad, tetapi juga sangat bertentangan dengan hati nuraninya sebagai menusia.

Dengan terheran-heran ia saksikan para lelaki Sunda di desa-desa yang dilaluinya hidup bersantai-santai menikmati kemakmuran negeri dengan kegiatan sehari-hari mengadu ayam, berjudi, mendatangi rumah pelacuran, meminum minuman keras, mabuk, berkelahi, dan memukuli istri-istri mereka. Sawah dan ladang yang subur dan luas membentang nyaris tidak pernah disentuh oleh tangan kekar para lelaki karena hamparan lahan subur itu lazimnya digarap oleh perempuan, anak-anak, dan para lelaki tua bangka.

Abdul Jalil tidak tahu apa sesungguhnya yang ada di dalam benak para lelaki Sunda itu dengan cara hidup yang nyaris tanpa tantangan sedikit pun. Ia melihat betapa para lelaki itu jika kehabisan uang untuk berjudi akan memeras istri-istrinya demi memenuhi keinginannya memperoleh uang. Jika para istri tidak bisa menyediakan uang maka mereka akan dianiaya dan disiksa. Bahkan tak jarang seorang suami menggadaikan istri dan anak-anaknya untuk taruhan judi.

Ingatan pedih Abdul Jalil tentang seorang penjudi Cina di Malaka bernama Sian Coa yang menggadaikan istri untuk taruhan judi tiba-tiba berkelebat kembali memasuki benaknya. Namun, jika Sian Coa merupakan kasus orang seorang sebagai pribadi maka kasus menggadaikan istri yang ia saksikan di pedalaman Bumi Pasundan justru dianggap sebagai kelaziman di kalangan penduduk.

Bagi Abdul Jalil sendiri, rentang waktu selama melakukan perjalanan melintasi jalan besar antara Caruban Girang – Raja Galuh – Sindangkasih – Sumedang Larang – Sagala Herang adalah rentang waktu yang paling memilukan sejak ia menginjakkan kaki kembali ke Bumi Pasundan. Dalam perjalanan itu ia seperti disuguhi pemandangan yang mencengangkan sekaligus membuat luka hatinya. Ia yang selama berbelas tahun tinggal di Baghdad, kota beradab tempat ilmu pengetahuan dan peradaban berkembang, benar-benar tercengang dengan kenyataan hidup penduduk pedalaman Bumi Pasundan.

Menurut hematnya, penduduk pedalaman Bumi Pasundan yang tinggal di desa-desa itu lebih sesuai disebut sebagai kawanan manusia daripada kumpulan manusia beradab dan berbudaya yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana mungkin mereka bisa disebut manusia beradab jika seorang laki-laki yang sewajibnya menjadi batang penopang tegaknya pohon keluarga justru memperkukuh keakuannya yang kerdil sebagai benalu. Laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom bagi istri dan anak-anaknya justru menjadi benalu perusak yang menakutkan. Istri dan anak-anak hampir dianggap sebagai bagian pohon yang bisa digerogoti untuk memenuhi naluri kebutuhannya sebagai benalu.

Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa seorang bapak yang butuh uang dengan bebas sewaktu-waktu menjual anak-anaknya kepada pedagang budak. Ia juga saksikan seorang suami dengan bebas menggadaikan istrinya sebagai taruhan judi. Bahkan, tak jarang juga anak-anak kecil yang sejatinya haus kasih sayang orang tua tiba-tiba dijadikan budak oleh bapaknya hanya untuk membayar hutang.

Penasaran akibat menyaksikan kehidupan mereka, Abdul Jalil berusaha mengajak bicara beberapa lelaki yang begitu tega menggadaikan istri dan menjual anaknya. Hasilnya, ia mendapatkan penjelasan betapa sesungguhnya para lelaki itu pun sejatinya telah dibentuk oleh nilai-nilai yang mencetak mereka menjadi manusia berjiwa mati dan berpikiran tumpul. Nilai-nilai yang mereka anut telah mengatur keberadaan mereka sebagai kawula sebuah kerajaan. Maksudnya, sesuai nilai-nilai yang mereka anut, para kawula yang tinggal di sebuah kerajaan adalah warga yang tidak memiliki hak apa pun atas suatu kehidupan. Segala sesuatu yang terletak di permukaan dan di dalam bumi mutlak milik raja; tanah, harta benda, anak, istri, keluarga, bahkan tubuh dan nyawa kawula sekalipun adalah milik raja.

Dengan nilai-nilai semacam itu maka seorang raja sewaktu-waktu dap[at mengambil hak miliknya dan sewaktu-waktu dapat pila membagi-bagi hak miliknya kepada mereka yang dikehendakinya. Demikianlah, dalam kehidupan nyata sang raja sewaktu-waktu dapat mengambil anak-anak para kawula untuk dijadikan gundik atau budak. Jika sang raja berencana membangun bangunan baru atau menyelenggarakan upacara Bhairawa-Tantra maka anak-anak para kawula akan diambil untuk dijadikan Tu-mbal dan korban persembahan. Celakanya, perilaku mengambil anak-anak para kawula tidak hanya dilakukan oleh sang raja, tetapi dilakukan pula oleh keluarga dan kerabat serta pejabat tinggi yang mengitari raja.

Sebagian dari anak-anak kawula itu dibawa ke kraton, ada yang dijadikan gundik dan jika beruntung naik status menjadi selir. Namun, bagi yang tidak beruntung, tak jarang setelah “dipakai” mereka dikembalikan kepada orang tuanya atau dijadikan hadiah kepada pejabat bawahan raja. Bahkan, sering pula mereka yang sudah “dipakai” akan diserahkan kepada pengawas pelacuran (juru jalir) untuk dikaryakan. Jika sedang bernasib sial mereka dijadikan Tu-mbal. Mereka selamanya tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang tuanya.

Tidak jarang saat sang raja pergi berburu bersama para pengiringnya dan menginap di daerah pedesaan, berceceran “benih” yang tak jelas asal usulnya apakah dari sang raja atau dari para pengawal. Yang jelas, saat “benih” tercecer itu lahir sebagai bayi tidak ada yang pernah mengakui keberadaannya, apalagi mengurusi kelangsungan hidupnya. Itu sebabnya, di berbagai desa yang sering dijadikan lintasan jalan oleh sang raja dan para ningrat dari Pakuan Pajajaran ke Galuh Pakuan, tersebar beratus-ratus bahkan beribu-ribu anak desa yang sesungguhnya berdarah biru tetapi statusnya kawula. Dengan kenyataan seperti itu, sesungguhnya dapat dipahami kenapa para lelaki di desa-desa hidup begitu tak peduli bagaikan manusia tak berjiwa. Hati mereka sejatinya sudah mati dan otak mereka sudah dibuat tumpul oleh nilai-nilai yang mereka anut.

Tidak jauh berbeda dengan para kawula, para bangsawan yang dijumpai Abdul Jalil di Raja Galuh dan Sumedang Larang pun ternyata jiwanya sudah mati dan pikirannya tumpul. Namun, jika para kawula bernasib malang akibat menganut nilai-nilai laknat yang tidak memihak mereka, para bangsawan berdarah biru menjadi manusia tak berjiwa yang berpikiran tumpul akibat hidup dalam kemewahan, penghormatan, dan sanjungan berlebih-lebihan.

Setelah cukup menyaksikan kehidupan penghuni pedalaman Bumi Pasundan dengan nilai-nilai kawula yang dianutnya, Abdul Jalil menyimpulkan betapa yang paling celaka dalam kehidupan penduduk Bumi Pasundan adalah manusia berjenis kelamin perempuan. Baik perempuan dari kalangan kawula maupun perempuan dari kalangan bangsawan darah biru lazimnya mengalami nasib buruk yang menyedihkan. Mereka benar-benar ibarat benda tak berjiwa yang difungsikan hanya sebagai pemuas nafsu dan sarana meneruskan keturunan. Saat mereka tidak dapat memenuhi tugas, biasanya mereka akan dilempar seperti bangkai menjijikkan.

Puncak kepedihan Abdul Jalil menyaksikan ketidakberuntungan para perempuan Sunda justru terjadi saat ia melihat dengan mata kepala sendiri nasib buruk yang dialami seorang perempuan dari kalangan bangsawan darah biru. Seolah-olah dipaksa oleh satu kekuatan gaib untuk menyaksikan berbagai pertunjukan awal yang memaparkan ketidakberuntungan para perempuan dari kalangan kawula, tiba-tiba ia seperti didorong oleh suatu kekuatan dahsyat untuk menyaksikan pemandangan tragis yang menimpa perempuan kalangan darah biru. Hal menyedihkan itu disaksikannya beberapa waktu seusai memasang Tu-mbal di tepi timur Sungai Perahu (Sungai Cijarong) yang terletak di barat laut Cilamaya.

Usai menebar campuran tanah Karbala dan tanah Kabhumian serta menamai tempat itu Dukuh Lemah Abang, Abdul Jalil berjalan kaki diiringi tujuh orang santri menuju ke arah barat. Sesampainya di sebuah tempat bernama Tanjungpura, ia menyaksikan arak-arakan warga yang sedang menggelandang seorang perempuan ke sebuah kobaran api unggun. Di atas tumpukan kayu yang berkobar itu terlihat semacam menara bambu penuh hiasan yang sudah terbakar. Kemudian dengan diiringi pembacaan mantra-mantra oleh para pendeta, perempuan itu dilemparkan ke dalam kobaran api.

Menyaksikan tubuh perempuan itu berkelojotan meregang nyawa, Abdul Jalil merasakan darahnya menggelegak panas. Tubuhnya menggigil. Napasnya tersengal-sengal. Pemandangan tragis itu benar-benar menimbulkan luka di jiwanya. Ia tidak tahu kesalahan apa sesungguhnya yang telah dilakukan oleh perempuan itu hingga harus menjalani nasib demikian buruk, dibakar hidup-hidup di tengah kobaran api. Saat ia bertanya kepada seorang warga, betapa terkejutnya ia ketika diberi tahu bahwa perempuan yang dibakar itu adalah janda yang baru ditinggal mati suaminya. Menurut adat yang berlaku di kalangan darah biru sejak zaman kuno, untuk menunjukkan bakti dan kesetiaan istri maka seorang janda harus ikut bela pati dengan membakar diri di atas api unggun bersama jenasah suaminya.

Tidak puas dengan jawaban yang diterimanya, Abdul Jalil kembali bertanya ini dan itu tentang janda yang baru saja dibakar itu. Ternyata, janda itu usianya masih sangat muda sekitar lima belas tahun, sedangkan suaminya adalah lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun. Lelaki itu, sebagaimana bangsawan seumumnya, dikenal sebagai tukang kawin dan tukang judi. Sama seperti lelaki Sunda yang lain, sehari-hari dia hanya tidur-tiduran di rumah sambil sesekali memandikan ayam aduan.

Tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat menyakiti jiwanya, Abdul Jalil berdiri tegak menghadap ke arah kobaran api. Dengan kepala tertunduk dan kedua tangan dikepal erat-erat ia mengertak gigi menahan perasaan. Ia tidak peduli dengan para pendeta yang membaca mantra di dekatnya. Ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang keheranan melihatnya. Ia berusaha menenggelamkan diri ke dalam relung-relung jiwanya, mengungkapkan keluh kesah hati nuraninya kepada Sang Pencipta.

“Wahai Rabb yang di genggaman-Mu nyawa hamba-Mu ini berada! Wahai Rabb yang disebut dengan Nama al-Mudhill, al-Jabbar, al-Mutakabbir, al-Qahhar, al-Qabidh, al-Khafidh, al-Qawiy, al-Mumit, al-Muqtadir, al-Muntaqim, adh-Dharr, sesungguhnya mata indriawi hamba-Mu ini tidak kuat menyaksikan pemandangan yang tergelar di hadapan hamba-Mu itu. Sungguh hamba-Mu ini penuh diliputi kelemahan dan ketidakberdayaan. Sungguh, hanya Engkau Yang Mahaagung dan Mahaperkasa tiada tandingan.”

“Wahai Rabb tempat jiwa hamba-Mu bergantung! Sesungguhnya, hamba-Mu ini tidak pernah memohon kepada-Mu untuk kepentingan pribadinya sebab Engkau Maha Mencukupi kebutuhan pribadi hamba-Mu. Tetapi wahai rabb, kabulkanlah permohonan hamba-Mu yang lemah ini: janganlah kiranya Engkau tunjukkan kepada hamba, saudara hamba, keluarga hamba, para pengikut hamba, dan anak-anak keturunan hamba tentang pemandangan yang tak kuat hamba saksikan ini. Hapuskanlah segala kepahitan aturan bagi manusia yang memilukan hati nurani hamba. Sesungguhnya, tanpa upacara-upacara mengorbankan nyawa manusia, Keagungan dan Kemuliaan-Mu tidak akan berkurang. Karena itu, demi rasa cinta hamba kepada Engkau, o Rabb segala Rabb (Rabb al-Arbab), dan demi cinta-Mu kepada hamba, kabulkanlah permohonan hamba-Mu yang rendah ini!”

Saat ia akan melanjutkan keluh kesah jiwanya dalam permohonan doa, tiba-tiba ia disadarkan oleh Ruh al-Haqq yang menyeruak dari kedalaman relung-relung kedalaman jiwanya yang menghendakinya membuka mata dan melihat kobaran api di depannya dengan pandanganbashirah. Mengikuti sentuhan Ruh al-Haqq, ia membuka mata. Ternyata kobaran api itu lenyap. Tidak tampak sesuatu lagi. Yang tergelar di depannya hanya kehampaan.

Abdul Jalil tersentak kaget. Ia tersadar bahwa segala sesuatu yang terkait dengan penglihatan indriawi pada hakikatnya adalah bayangan maya belaka. Seiring kekagetannya, di tengah kehampaan itu ia saksikan kilasan cahaya berbentuk bulan sabit dan bintang yang terang benderang. Kemudian melalui al-ima’, cahaya berbentuk ulan sabit dan bintang cemerlang itu berbicara dengannya, jika diuraikan ke dalam bahasa manusia berbunyi:

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa Dia, yang engkau sebut dengan Nama al-Mudhill, al-Qahhar, al-Mumit, al-Jabbar, al-Qabidh, adh-Dharr, al-Khafidh adalah sama dengan hakikat dengan Dia, yang disebut dengan Nama Syiwa, Bhairawa, Chandrasekara, Bhutaswara, Mahakala, Mahadewa, Girinatha, Mahaguru, yakni suatu pribadi Ilahi dengan sifat berbeda-beda, Pribadi Tunggal Ilahi yang disembah oleh segala bangsa dengan berbagai Nama. Sesungguhnya, segala keragaman nama-Nya adalah Tunggal hakikatnya. Dan sesungguhnya, apa yang engkau keluhkan dan engkau mohonkan kepada-Nya itu pasti akan dikabulkan. Sebab, tanpa permohonanmu pun sesungguhnya telah ditetapkan perubahan-perubahan dalam tata cara memuja keagungan dan kemuliaan-Nya.”

“Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa terbitnya bulan sabit dan bintang yang bercahaya cemerlang sebagaimana engkau saksikan tidak hanya memiliki makna terbitnya Islam sebagai tatanan baru memuja Dia yang disebut dengan nama Allah. Sebab, di balik terbitnya bulan sabit dan bintang sesungguhnya juga memiliki makna sebagai tatanan baru memuja Dia yang disebut dengan nama Chandrasekara (Sansekerta: Yang Bermahkota Bulan Sabit) dan Mahaguru Sang Bintang Bha (canopus). Ketehuilah, o Abdul Jalil, bahwa sesungguhnya akan terjadi perubahan sehingga para pemuja Syiwa tidak perlu lagi memuja Syiwalingga dalam bentuk batu. Sebab, Syiwa akan menempatkan lingga-Nya ke dalam hati para pemuja-Nya. Sesungguhnya, Syiwa akan dapat ditemukan oleh siapa saja di antara hamba-Nya yang memahami kulatattwa.”

Abdul Jalil melihat kilasan cahaya bulan sabit dan bintang itu berpendar-pendar menyilaukan. Sesaat setelah itu, semuanya lenyap. Ia kembali melihat kobaran api menjilat-jilat angkasa. Saat itulah Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya menyuruhnya segera meninggalkan tempat itu. Abdul Jalil dengan diikuti tujuh orang santri Giri Amparan Jati melanjutkan perjalanan, meninggalkan Tanjungpura dengan diiringi pandangan heran para penduduk yang mengikuti upacara bela pati.

Sungai Tarum (Citarum) memiliki makna paling mendalam bagi penduduk Bumi Pasundan. Dari sungai inilah orang-orang dari Negeri Pasir di Barunadwipa (sekarang Kalimantan) yang berkulit kuning yang dipimpin Sang Purnawarman mendarat dan mendirikan kerajaan Tarumanagara. Purnawarman, sang pemimpin, kemudian menjadi Maharaja Tarumanagara dengan gelar Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa.

Menurut cerita, Sri Purnawarman adalah putera Bhagawan Manu Manasya Sri Jayasinghawarman dan cucu Kudungga, Bhagawan Kumbhayoni. Ibu Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa bernama Sri Indrari, puteri Sri Maharaja Dewawarman, Maharaja Salakanagara.

Kedatangan Sri Purnawarman ke Bumi Pasundan sesungguhnya tidak terlepas dari ambisi saudara sepupunya, Sri Maharaja Mulawarman, Maharaja Kutai, yang sangat berhasrat memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Nusa Jawa. Mulawarman sendiri sangat dicekam oleh hasrat tersembunyi di dalam dirinya untuk bisa mengikuti jejak leluhurnya, Sanghyang Baruna, sang pemersatu samudera raya. Akhirnya, setelah menggabungkan kekuatan militer Pasir dan Kutai, berangkatlah bala tentara gabungan itu menyerbu Nusa Jawa. Beribu-ribu kapal dan perahu berangkat dari Barunadwipa bagaikan barisan pasukan ulat memenuhi samudera.

Menurut catatan orang-orang jawa, mula-mula pasukan gabungan tersebut menggempur kerajaan Medang Gana yang dirajai Sri Maharaja Indra yang kedatonnya terletak di kaki Gunung Semeru di Jawa bagian timur. Namun akibat perlawanan sengit dari Medang Gana, bala tentara dari Barunadwipa dapat dihalau kembali ke samudera.

Gagal mendarat di Medang Gana, bala tentara gabungan dari Barunadwipa menggempur Medang Pura. Namun, Medang Pura melakukan perlawanan sengit hingga bala tentara dari Barunadwipa kembali berhasil dihalau ke arah samudera. Saat menyerbu Medang Prawa, bala tentara Barunadwipa mengalami kegagalan lagi. Dan akhirnya, bala tentara terpecah menjadi dua. Pasukan dari Kutai kembali ke Barunadwipa karena mereka tidak melihat kemungkinan berhasil merebut Nusa Jawa yang dipertahankan mati-matian oleh penduduknya. Sementara itu, Sri Purnawarman beserta pasukan Pasir yang tersisa ternyata tidak menyerah. Ia bergerak terus ke arah barat dan menjumpai tanah gambut berawa-rawa yang keadaannya mirip dengan sebagian besar daerah di Negeri Pasir. Sri Purnawarman kemudian mendaratkan pasukannya di muara sungai yang berawa-rawa itu. Bermula dari daerah di muara sungai itulah ia membangun pemukiman baru dengan menegakkan kedaton di situ. Lantaran di sepanjang sungai itu terdapat banyak sekali pohon tarum maka kedaton itu dinamai Tarumanagara.

Setelah Tarumanagara semakin kuat, Sri Purnawarman menggempur Kerajaan Aruteun yang kedatonnya terletak di tempuran Sungai Ciaruteun dan Sungai Cisadana. Sri Maharaja Balya, Maharaja Aruteun, berhasil dikalahkan. Puterinya yang cantik, Bungatak Mangale-ngale, diperistri oleh Sri Purnawarman dan diberi nama mPu Sanghyang Sri. Sri Purnawarman kemudian memasukkan seluruh bekas wilayah Aruteun ke dalam wilayah Tarumenagara.

Setelah berkuasa selama tiga puluh tujuh tahun, Sri Purnawarman mangkat. Penggantinya adalah puteranya, Sri Maharaja Suryyawarman Mahapurusa Bhimaparakrama Hariwangsa Digwijayabhuanatala. Setelah berkuasa selama tiga puluh enam tahun, Sri Maharaja Suryyawarman mangkat. Digantikan oleh puteranya yang bergelar Sri Cakrawarman Kroncaryadhipahanda Bhimaparakramanindita Digjayotunggadewa. Cakrawarman mangkat digantikan oleh puteranya, Sri Indrawarman. Ketika Sri Indrawarman mangkat ia digantikan oleh Sri Kesariwarman. Saat Sri Kesariwarman berkuasa, ia mengangkat adiknya, Singhawarman menjadi raja muda di Negeri Panjalu di Jawa.

Sri Kesariwarman memiliki puteri bernama Simha. Sedangkan Singhawarman memiliki putera bernama Karttikeyasingha. Simha dan Karttikeyasingha kemudian menikah dan merintis Tegaknya Kerajaan Kalingga yang termasyhur. Karttikeyasingha menjadi Maharaja Kalingga dengan gelar Sri Maharaja Karttikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha. Simha menjadi permaisuri. Ketika suaminya mengundurkan diri sebagai pendeta pertapa, Simha menjadi penggantinya dengan gelar Sri Maharani Simha. Ibu kota Kalingga terletak di Kepung dan puri kedatonnya di Bogor Pradah. Mereka berdua inilah leluhur raja-raja Sunda dan raja-raja Jawa. Mereka memiliki empat orang putera-puteri, yaitu Anak Mas, Ken Limwa, Pu Kanwa, dan Juwa.

Menurut catatan, Anak Mas, putera mahkota yang digelari Pradah Putra, kehilangan haknya atas takhta Kalingga karena melakukan kesalahan menginjak-injak pundi-pundi emas yang dipasang orang Arab hingga kakinya dipotong. Selanjutnya, Pradah Putra dibuang ke Lwa Daya (Lodaya) di hutan Balitar dan menjadi seorang pendeta Bhairawa. Ken Limwa menjadi raja di Kanjuruhan dengan gelar Sri Maharaja Gajayana. Pu Kanwa menjadi raja di Purwwacarita dengan gelar Sri Mahapunggung, Juwa menjadi raja di Madang Mataram dengan gelar Prabu Stri Parwati Tunggal Prthiwi.

Sungai Citarum, tempat Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa pertama kali mendarat bersama pasukannya, adalah saksi sejarah kehadiran orang-orang dari Barunadwipa yang sebagian besar berkulit kuning menjadi penghuni baru Nusa Jawa. Orang-orang Barunadwipa itulah yang menyebut diri sebagai wangsa dari Negeri Galuh (Sansekerta: negeri permata, intan). Penghuni lama Nusa Jawa yang berkulit hitam terdesak ke selatan dan sebagian menyingkir ke timur atau menyeberang ke Suwarnadwipa. Namun, tidak kurang di antara penghuni lama Nusa Jawa itu kemudian menikah dengan para pendatang berkulit kuning dan beranak pinak tak terhitung jumlahnya.

Ketika memasuki pedalaman Bumi Pasundan dan sampai di daerah barat Tanjungpura, tepatnya di barat Sungai Citarum, Abdul Jalil tiba-tiba menghentikan langkah. Entah ia paham entah tidak tentang susur galur sejarah para leluhur raja-raja Sunda dan Jawa saat kali pertama mendarat di Nusa Jawa adalah di kawasan muara Sungai Citarum, namun bagaikan mendapat petunjuk dari alam gaib, ia menebarkan tanah di tempat itu. Kemudian ia menugaskan tujuh orang santri yang mengikutinya untuk tinggal di situ sambil membaca susunan doa yang dibuatnya. Tak berbeda dengan tempat ia telah menebar Tu-mbal sebelumnya, tempat itu pun dinamainya Dukuh Lemah Abang. Setelah itu, Abdul Jalil berjalan lagi ke arah barat. Kali ini ia berjalan seorang diri.

Sepanjang perjalanan ke arah barat itu ia semakin merasa seolah-olah tidak berada di alam dunia manusia. Ia yang selama berbelas tahun berada di Bahgdad, kini seolah-olah sedang berada di negeri asing yang tidak pernah ia saksikan sebelumnya. Di sepanjang perjalanan itu ia semakin merasa betapa sesungguhnya kehidupan manusia yang dilihatnya sudah sangat menyedihkan. Para penduduk di desa-desa bukan hanya diisap dan ditindas oleh para bangsawan, melainkan dijadikan pula hinaan dan nistaan oleh orang-orang Majapahit yang datang dan melintas ke daerah itu.

Dalam perjalanan dari Tanjungpura ke arah selatan dengan tujuan asrama Rishi Samsitawratah yang terletak di kaki Gunung Kamula (Pangrango), Abdul Jalil singgah di Kahuripan (Cileungsi). Tanpa sengaja ia menyaksikan pemandangan yang mengagetkan hati. Saat itu ia melihat seorang laki-laki sedang menghunus keris sambil memaki-maki dalam bahasa Jawa. Di depan laki-laki itu terlihat seorang laki-laki tua sedang bersujud dengan tubuh menggigil memohon ampun sambil mengangkat-angkat kedua tangannya ke atas. Abdul Jalil tidak tahu ada persoalan apa di antara kedua orang itu. Hanya saja, sebagai sesama manusia ia tergerak untuk melerai laki-laki Majapahit yang mulai terlihat gelap mata itu.

Niat baiknya ternyata membuat marah laki-laki Majapahit itu. Tanpa berkata ba atau bu laki-laki itu sekonyong-konyong menikam Abdul Jalil dengan kerisnya. Mendapat serangan mendadak, Abdul Jalil menghindar dengan memiringkan tubuh. Kemudian dengan gerak refleks, tangan kanannya menerkam bahu laki-laki Majapahit itu. Dan, dengan gerak refleks pula Abdul Jalil mengempaskan tubuh laki-laki itu ke samping.

Sebuah peristiwa aneh terjadi. Tubuh laki-laki Majapahit yang diempaskannya terlempar keras ke rimbunan semak-semak dengan jarak sekitar sepuluh tombak. Abdul Jalil terpekik kaget karena ia tidak pernah menduga bakal mampu melempar tubuh manusia sejauh itu. Sebaliknya, laki-laki itu tanpa bisa memekik langsung pingsan di antara semak-semak. Dalam waktu sekejap Abdul Jalil sudah dikerumuni puluhan penduduk yang bersujud dan menyampaikan terima kasih karena telah menolong petani tua itu. Rupanya, sejak semula sudah banyak penduduk yang menyaksikan tetapi tidak berani melibatkan diri atau sekadar untuk menolong.

Abdul Jalil terheran-heran dengan sikap para penduduk yang begitu takut dengan orang Majapahit. Ia menduga laki-laki itu tentu seorang jawara atau begal yang ditakuti. Namun setelah bertanya ini dan itu, barulah ia paham bahwa laki-laki Majapahit itu sesungguhnya hanya pedagang keliling biasa. Berdasarkan cerita penduduk, ia baru tahu bahwa orang-orang Majapahit sejak lama sangat ditakuti di Bumi Pasundan karena mereka suka sekali membunuh orang gara-gara urusan sepele. Petani tua tadi, misalnya, dianggap sebagai binatang rendah yang patut dibunuh karena telah menghina orang Majapahit. Alasannya, petani tua itu telah berani berjalan di atas pematang sawah yang terletak lebih tinggi dari tempat orang Majapahit itu berjalan. “

Hanya karena petani itu berjalan di pematang yang lebih tinggi maka dia sudah dianggap menghina dan patut dibunuh?” tanya Abdul Jalil terheran-heran. “

Hal itu dianggap melanggar sopan santun Majapahit, Gusti.” “

Bagaimana jika saat dia berjalan lalu kalian sedang memetik kelapa di atasnya?” “

Kami tentu akan dibunuh juga, Gusti.” “

Apakah kalian melihat peraturan yang dibuat orang-orang Majapahit itu adil?” “

Tentu saja tidak, Gusti.” “

Kenapa kalian tidak menentang dan melawan mereka?” “

Kami tidak berani, Gusti.” “

Kenapa tidak berani? Bukankah kalian juga punya raja yang melindungi kalian?” “

Raja kami juga tidak berani melawan mereka, Gusti.” “

Kenapa demikian?” “

Menurut dongengan orang tua kami, zaman dahulu kakek buyut raja yang sekarang, yang dianggap melanggar tata krama orang Majapahit, telah dijatuhi hukuman bunuh. Raja beserta seluruh keluarga dan prajurit dibunuh oleh patih Raja Majapahit, Gusti.”

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia menyuruh mereka berdiri. “Jangan kalian bersujud kepada sesama manusia. Dan jika nanti orang Majapahit itu siuman, katakan kepadanya jika aku, Abdul Jalil, adalah orang asal Kutha Caruban. Katakan juga kepadanya, jika aku, orang yang melempar dia, adalah putera Yang Dipertuan Caruban Larang, Sri Mangana. Jika dia tidak terima, suruh dia mencari aku.” “

Terima kasih, Gusti.” Orang-orang itu berkata serentak sambil bersujud lagi.

Abdul Jalil kembali menarik napas dan kemudian bergegas meninggalkan penduduk yang masih bersujud.

Di antara hamparan hutan dan perbukitan yang membentang antara Kutharaja Pakuan Pajajaran dan Gunung Kamula (Pangrango), tempat asrama Rishi Samsitaawratah berada, terdapat bekas reruntuhan batu-batu di sebuah lereng yang dijalari akar-akar pepohonan raksasa yang tegak menjulang di tengah rimbunan semak dan belukar. Sekalipun reruntuhan itu tidak jauh dari jalan ke asrama, tidak ada orang yang memedulikannya. Bahkan saat Abdul Jalil menjadi penghuni asrama, tak sedikit pun pikirannya tergerak untuk mengetahui reruntuhan itu.

Kini, setelah melanglang buana dengan berbagai pengalaman hidup yang menakjubkan, ia baru menyadari bahwa reruntuhan batu itu sesungguhnya bekas tempat pemujaan Tu-han yang dilakukan oleh para ra-Tu dan kalangan Tu-gul. Tumpukan batu itu bertingkat tiga dan melingkar di lereng bukit. Di atas tumpukan batu terdapat tanah datar dengan sebongkah batu besar yang tidak dipahat terletak di tengahnya. Dulu kala di tempat itu mestinya orang-orang duduk berderet-deret menghadap ke bongkahan batu sambil bersujud (tondhem) memuja Sanghyang Tunggal.

Setelah beberapa lama berdiri memandang reruntuhan bekas pemujaan itu, Abdul Jalil duduk di atas sebongkah batu yang terletak di bawah pohon besar sejenis randu alas. Sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon, ia melayangkan pikirannya ke rentangan perjalanannya selama memasuki pedalaman Bumi Pasundan. Betapa sepanjang perjalanan itu sesungguhnya ia telah berpikir sangat keras tentang kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa dilakukannya untuk membangkitkan kembali kepercayaan diri orang-orang Sunda.

Mereka, orang-orang Sunda, ujar Abdul Jalil dalam hati, adalah kumpulan manusia yang selama seabad lebih melarikan diri dari kenyataan dan kemudian terperangkap ke dalam dunia maya yang penuh diliputi bayangan dan mimpi menakutkan. Mereka adalah kawanan manusia yang jiwanya sudah mati dan pikirannya tumpul akibat ditindas dan dijajah oleh nilai-nilai yang menista harkat dan martabat manusia. Mereka adalah orang-orang kalah yang berusaha menghibur diri dengan cara melarikan diri dari kenyataan hidup dan membangun dunianya sendiri dengan mimpi-mimpi kosong tanpa makna.

Saat merenung dan tanpa sadar memandang bongkahan batu di atas reruntuhan itu, Abdul Jalil teringat pada Dang Hyang Semar. Seketika ia terilhami oleh sosok nabi zaman purba yang terkenal sebagai manusia gagah berani yang tidak pernah tunduk pada kekuasaan siapa pun kecuali Sanghyang Taya. Dang Hyang Semarlah manusia purba yang berhasil menyingsingkan rasa takut dari jiwanya dan termasyhur sebagai pelawan dan penakluk dewa-dewa. Dang Hyang Semarlah manusia yang terkenal tetap teguh memegang keyakinannya, meski keyakinannya itu berbeda dengan raja-raja. Dia manusia yang mau merendahkan diri, tetapi juga tidak suka meninggikan diri. Dan meski berkali-kali berhasil menaklukkan dewa-dewa, dia membenci orang-orang yang bersujud kepadanya.

Sambil membayangkan Dang Hyang Semar, pikiran Abdul Jalil melayang pada sosok Nabi Muhammad Saw., leluhurnya. Ia merasa di antara keduanya sesungguhnya memiliki banyak kemiripan karena mereka berdua adalah nabi-nabi suci. Jika Dang Hyang Semar dikenal sebagai manusia yang mengalahkan dewa-dewa dan bahkan menundukkan Nini Permoni, penguasa Pasetran Gandalayu, jelmaan Bhattari Durga, maka Nabi Muhammad Saw. pun sesungguhnya bisa disebut sebagai manusia penakluk dewa-dewa, baik dewa bernama Hubal, Latta, Uzza, Manat maupun dewa yang lain. Baik Dang Hyang Semar maupun Nabi Muhammad Saw., utusan Tuhan Yang Tunggal, Yang Tak Terbayangkan, Tak Tergambarkan, Tak Terjangkau, dikenal sebagai adimanusia-adimanusia yang menolak disembahsujudi sesama manusia.

Abdul Jalil sadar bahwa hanya dengan meneladani dua sosok adimanusia itulah ia akan dapat mewujudkan harapannya untuk membangun tatanan baru masyarakat, sekumpulan manusia yang memiliki latar asal usul berbeda tetapi disatukan oleh rasa senasib dan sepenanggungan serta saling bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu yang mereka sepakati. Ya, sebuah kehidupan baru di mana pribadi-pribadi memiliki hak-hak untuk memiliki sesuatu sebatas tidak melanggar hak-hak orang lain. Dan tentunya, pikir Abdul Jalil, ia pun pada akhirnya akan mengalami nasib seperti Dang Hyang Semar dan Nabi Muhammad Saw., yakni berbenturan dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh lahirnya masyarakat tersebut.

Abdul Jalil sadar kemungkinan bagi dirinya untuk bisa berhasil mewujudkan masyarakat sangat kecil dibandingkan dengan keberhasilan Dang Hyang Semar dan Nabi Muhammad Saw.. Sebab selain sadar bahwa dirinya bukan nabi, ia juga sadar tidak cukup kuat mendapatkan dukungan dari orang-orang yang memiliki jiwa merdeka, yaitu jiwa bangsa pemenang. Ia sadar-sesadar-sadarnya bahwa keberadaan para Alawiyyin yang menjadi penyebar agama Islam di Bumi Pasundan adalah keberadaan manusia-manusia kalah; yang sering kali harus menyembunyikan jati diri dan gampang berkompromi dengan alasan-alasan melakukan taqiyah. Sementara para penyebar Islam dari Campa pun bukanlah manusia yang berjiwa merdeka yang muncul dari bangsa pemenang; mereka adalah para pelarian dari negeri yang dikalahkan dan ditaklukkan bangsa Vietnam.

Menyadari keberadaan dirinya yang dikelilingi kumpulan manusia kalah, entah orang-orang Sunda, entah golongan Alawiyyin, dan entah para ‘alim asal Campa, Abdul Jalil sempat goyah. Namun setelah merenung-renung, terutama setelah terilhami oleh perjuangan Dang Hyang Semar dan Nabi Muhammad Saw., ia akhirnya memutuskan untuk tetap berjuang mewujudkan gagasannya mengubah dan memperbarui tatanan lama kawula menjadi tatanan baru masyarakat. Ia sadar bahwa satu-satunya kemungkinan yang bisa dijadikan gantungan harapan untuk mewujudkan cita-citanya hanyalah ayahanda asuhnya, Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang. Sebab, Sri Mangana bukan saja satu sosok bercitra manusia merdeka, melainkan juga manusia berjiwa pemenang dalam setiap pergulatan hidup. Mudah-mudahan dengan bantuan dan dukungan yang tulus dari Sri Mangana, ujar Abdul Jalil dalam hati, akan lahir sebuah bangsa baru dengan nilai-nilai tatanan baru yang tumbuh dan berkembang dari sekumpulan pribadi-pribadi merdeka yang disebut masyarakat.

South China Sea, on board of MV. Taho, April 4th 2007, 22:02LT