Kerajaan Sunda

Dayeuh Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, adalah kutaraja yang sangat makmur, terutama bagi kalangan bangsawan berdarah biru dan lebih khusus lagi bagi keturunan maharaja. Sebagai ibu kota, Pakuan Pajajaran jauh lebih besar dan lebih megah dibandingkan Kuta Caruban. Terletak di antara Sungai Cisadana dan Sungai Cihaliwung, kutaraja Kerajaan Sunda itu cemerlang dan indah laksana surga bagi penghuninya.

Hari-hari yang sejuk di ibu kota Pakuan Pajajaran selalu diwarnai taburan rinai gerimis di musim kemarau dan guyuran hujan lebat di musim penghujan. Beberapa kereta yang indah penuh ukiran terlihat meluncur di atas jalanan kota dengan penumpang bangsawan yang memiliki barang seratus budak sahaya. Bagi bangsawan yang lebih tinggi, mereka ditandu oleh empat penandu. Gerobak-gerobak pedati yang ditarik kerbau akan menepi dari jalanan jika berpapasan dengan kereta atau tandu para bangsawan.

Sebagai pusat pemerintahan, Dayeuh Pakuan Pajajaran terbagi atas tiga wilayah utama yang masing-masing dibatasi oleh pagar batu bata setinggi tujuh depa. Wilayah pertama adalah kawasan kutaraja yang terletak di timur. Untuk masuk ke kutaraja orang harus melewati gerbang besar yang disebut Lawang Gintung. Sebutan Gintung konon terkait dengan dua batang pohon Gintung yang tumbuh bagai raksasa di depan gerbang tersebut. Di kutaraja ini terdapat pasar yang ramai tempat orang berdagang beras, emas, lada, daging, sayur-mayur, kain, pinang, air bunga, rempah-rempah, alat-alat dapur, guci, gerabah, dan bahkan budak belian.

Karena pasar merupakan urat nadi kehidupan ekonomi di kutaraja maka di sekitar pasar Pakuan Pajajaran berdiri sejumlah bangunan besar tempat kediaman pejabat-pejabat kerajaan yang mengurusi perniagaan. Di selatan pasar terdapat sejumlah penginapan yang diperuntukkan bagi para pedagang. Di penginapan-penginapan itu biasanya para pedagang besar melakukan transaksi perniagaan. Sementara untuk para kuli disediakan barak-barak tanpa penyekat di sekitar pasar; mereka terbiasa tidur beralaskan tikar.

Wilayah kedua adalah kawasan jero kutha (kota dalam) yang terletak di sebelah barat kutaraja. Di kawasan ini terdapat Kraton Pakuan Pajajaran yang disebut dengan nama indah: Sri Bhima Untarayana Madura Suradipati atau disingkat Kraton Sang Bhima. Menurut cerita, nama Sang Bhima menunjukkan bahwa sang maharaja adalah keturunan maharaja Tarumanagara, Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa, yang kratonnya juga disebut Sang Bhima. Kraton Sang Bhima sendiri merupakan kantor tempat maharaja Sunda menjalankan tampuk pemerintahan. Di sekitar Kraton Sang Bhima berdiri kediaman para pejabat kerajaan yang mengurusi masalah keamanan, pertahanan, hukum, perniagaan, kesehatan, agama, adat, perpajakan, pendidikan, bahkan pengawas pelacuran. Sementara wilayah ketiga adalah kawasan Puri Kedaton (kediaman pribadi maharaja) yang terletak di barat kawasan jero kutha. Di kawasan Puri Kedaton ini tinggal sang maharaja Sunda dan keluarganya yang besar.

Berbeda dengan rumah para kawula di pedesaan yang terbuat dari bambu beratap ilalang atau daun kawung, rumah-rumah warga Pakuan Pajajaran berdiri megah nan indah terbuat dari kayu-kayu berukir dengan pilar-pilar besar. Atapnya menjulang tinggi bagai hendak menjangkau angkasa. Di dalam setiap rumah megah itu selalu terlihat puluhan kuda yang menunjukkan status kebangsawanan seseorang. Makin tinggi kedudukan seorang bansawan, makin banyak pula kuda yang ia pelihara. Jumlah budak yang dimiliki bangsawan-bangsawan di kutaraja pun tergantung dari tinggi dan rendahnya tingkat kebangsawanan mereka. Sering kedapatan di rumah seorang bangsawan terdapat tak kurang dari tiga ratus budak.

Bangunan terbesar dan termegah di Pakuan Pajajaran tentu saja Kraton Sang Bhima yang terdiri atas tiga bangunan utama, yaitu Bangsal Manguntur, Bangsal Prabhayaksa, dan Bangsal Pancaniti yang merupakan istana tempat maharaja Sunda menerima tamu, mengatur pemerintahan, dan menjalankan hukum kerajaan. Pilar-pilar penyangga Kraton Sang Bhima terbuat dari balok-balok kayu jati ukuran raksasa berjumlah tak kurang dari tiga ratus tiga puluh buah. Tinggi pilar-pilar raksasa itu sekitar lima depa. Setiap tahun sekali para raja muda dari wilayah-wilayah taklukan (sakawat bhumi) datang menghadap maharaja di Bangsal Manguntur sambil membawa upeti dan hadiah. Dari Kraton Sang Bhima inilah seluruh tatanan kehidupan di Bumi Pasundan dikendalikan.

Kediaman pribadi maharaja, Puri Kadaton, yang terletak di belakang Kraton Sang Bhima tak kalah menakjubkan keindahan dan kemegahannya dibandingkan dengan kraton tersebut. Di dalam puri yang megah dengan taman-taman dipenuhi wangi bunga dan kijang-kijang berlarian di rerumputan, sang maharaja tinggal bersama dua permaisuri dan seribu selir dari berbagai negeri. Hari-hari kehidupan sang maharaja lebih banyak dihabiskan untuk berburu rusa dan babi hutan. Atau, bercengkrama dengan selir-selirnya. Atau, berpeahu di Talaga Warna Mahawijaya. Atau, berziarah ke makam leluhur di Pancakaki, Gunatiga, maupun Nusalarang. Atau, menerima utusan dari wilayah-wilayah taklukan yang membawa upeti-upeti. Atau, memimpin rapat para menteri – tetapi ini jarang sekali – untuk mengatasi persoalan pemerintahan.

Kehidupan sang maharaja yang penuh dilingkari kemewahan, kelimpahan, pujian, dan sanjungan itu terbagi-bagi pula kepada putera dan puterinya. Menurut cerita, putera dan puteri sang maharaja – yang entah berjumlah berapa ribu orang – sebagian besar menjadi penguasa di seluruh Bumi Pasundan. Boleh dikata setiap jengkal tanah di Bumi Pasundan sudah menjadi milik turun-temurun para putera maharaja. Para putera maharaja itu lazimnya menunjuk adipati untuk mengelola tanah-tanah miliknya. Para adipati kemudian menyerahkan pengelolaan tanah-tanah itu kepada mantri wadana. Selanjutnya, mantri wadana menyerahkan pengelolaannya kepada wadana. Para wadana kemudian menyewakan tanah garapan kepada kawula. Dengan demikian, secara berjenjang setoran sewa tanah akan sampai kepada para putera sang maharaja.

Yang termasyhur di antara putera-puteri sang maharaja Sunda adalah Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan, ; Sri Mangana, penguasa Caruban Larang; Prabu Cakraningrat, penguasa Rajagaluh; Prabu Pucuk Umun, penguasa Talaga; Susuhunan Pajengan, penguasa Kuningan; Susuhunan Mayak, penguasa Taraju; Susuhunan Ranjam, penguasa Cihaur; Prabu Sedanglumu, penguasa Sagalaherang; Prabu Liman Sanjaya, penguasa Sundalarang; Sanghyang Pandahan, penguasa Ukur; Sanghyang Kartamana, penguasa Limbangan; Sanghyang Sogol, penguasa Maleber; Sanghyang Mayak, penguasa Cilutung; Sanghyang Jamsana, penguasa batulayang; Sanghyang Tabur, penguasa Panembong.

Sebagai keturunan maharaja Sunda, para bangsawan yang mendiami Pakuan Pajajaran adalah orang-orang yang terpilih dan terjaga kemurnian garis keturunannya. Mereka umumnya berperawakan tegap, berkulit kuning kecoklatan, berwajah tampan, dan selalu berpenampilan rapi dengan hiasan-hiasan tubuh. Penampilan ini sangat berbeda dengan penampilan kawula yang bertubuh kecil, berkulit kusam, berpenampilan lusuh, hanya bercawat, dan rambut terurai awut-awutan tak bersisir.

Penduduk kutaraja Pakuan Pajajaran umumnya terdiri atas pedagang besar, pejabat penarik cukai, punggawa kraton, dan para seniman kerajaan. Para pedagang besar menguasai lalu lintas perdagangan dari daerah pedalaman ke bandar-bandar perniagaan seperti Kalapa, Tangeran, banten, Muara Jati, dan Pontang. Sedangkan para pejabat penarik cukai bertugas memungut cukai bagi semua barang niaga yang melintasi gerbang luar di Pakeun Tubui dan gerbang kedua di Pakeun Tayeum sebelum masuk ke kutaraja Pakuan Pajajaran.

Para pedagang besar Pakuan Pajajaran memiliki kekayaan jauh melebihi penguasa-penguasa daerah. Mereka mempunyai puluhan kapal dan perahu baik jenis jung, lancaran, plawa, atau balandongan. Dengan kapal-kapal besar jenis jung dan lancaran mereka hingga ke Malaka dan Maladewa. Sementara itu, perahu-perahu jenis plawa dan balandongan nyaris menguasai daerah-daerah pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Pasundan.

Berbeda dengan kawula Sunda yang umumnya takut kepada orang-orang Majapahit, para pedagang besar Sunda yang berdarah biru umumnya curiga dan menjaga jarak dengan mereka. Meski tidak berhubungan dekat, mereka diam-diam bersaing dengan orang-orang Majapahit yang mereka nilai pongah, gila hormat, curang, suka berkhianat, dan membangga-banggakan kemuliaan diri. Persaingan itu terlihat manakala pihak Sunda atau Majapahit saling merampok kapal di tengah samudera, saat salah satu di antara mereka sedang lengah dalam mengawal kapal dagangnya. Lantaran itu, para pedagang Sunda yang berdagang ke pelabuhan-pelabuhan yang jauh selalu mengangkut barang dagangannya dengan kapal perang.

Sekalipun kehidupan di Dayeuh Pakuan Pajajaran bagi seumumnya orang seperti di surga, bagi Abdul Jalil citra itu justru sangat menyakitkan. Sebab, kemakmuran dan kemuliaan yang tersuguh di ibu kota kerajaan Sunda itu hanya dinikmati oleh segelintir manusia yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sementara bagian terbesar dari penghuni Bumi Pasundan adalah para kawula yang tidak beruntung nasibnya. Beratus-ratus ribu kawula tinggal di ibu kota kerajaan dengan status budak belian yang setiap saat bisa diperjualbelikan. Bagi Abdul Jalil, yang mengidealkan tatanan masyarakat Madinah sebagaimana dibangun Nabi Muhammad Saw., yaitu tatanan masyarakat yang sederhana dan sederajat, kehidupan di Dayeuh Pakuan Pajajaran benar-benar merupakan siksaan jiwa yang sangat menyakitkan. Karena itu, ia semakin memperkuat tekadnya untuk membangun tatanan kehidupan baru yang lebih manusiawi di Caruban Larang.

Ternyata bukan hanya Abdul Jalil yang tidak menyukai tatana kehidupan di Dayeuh Pakuan Pajajaran. Tak kurang ada di antara putera maharaja Sunda yang menyatakan tidak betah tinggal berlama-lama di “surga dunia” itu. Dia, pangeran yang gelisah dengan semarak kehidupan di sekitarnya itu, adalah Bujangga Manik yang memiliki nama kecil Ameng Layaran. Putera maharaja Sunda Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja dari istri selir itu tanpa sengaja bertemu Abdul Jalil di gerbang selatan Lawang Gintung. Dari pangeran Bujangga Manik yang suka berkeliling ke berbagai negeri, Abdul Jalil mengetahui berbagai tatanan kehidupan di Sunda maupun Majapahit.

Pangeran Bujangga Manik sesungguhnya adik lain ibu dari Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang. Dia mengaku sangat gembira berjumpa Abdul Jalil. Sebagai pendeta Syiwa yang berhati lembut dan penuh cinta kasih, Pangeran Bujangga Manik mengungkapkan rasa khawatirnya akan sepak terjang kakaknya yang membangun kekuatan militer di Caruban Larang. “Sampaikan kepada ayahandamu, jika dia berkeinginan menggantikan takhta Kerajaan Sunda hendaknya mengikuti peraturan yang berlaku di kerajaan. Maksudnya, meski ayahandaku, Prabu Guru Dewata Prana Maharaja Sunda, tidak menetapkan seorang putera mahkota, janganlah sampai sepeninggal beliau terjadi perebutan takhta dengan menggunakan kekuatan senjata.”

“Saya akan menyampaikan pesan Pamanda kepada ramanda ratu,” kata Abdul Jalil. “Namun, saya berani menjamin ramanda ratu tidak akan merebut takhta Kerajaan Sunda dengan kekuatan senjata. Beliau muslim yang saleh. Sesuai ajaran Islam, beliau tidak akan melakukan kekerasan senjata demi kekuasaan. Islam mengajarkan bahwa kekerasan senjata hanya diperkenankan untuk membela diri.”

“Aku berharap apa yang engkau ucapkan sesuai dengan kenyataan,” ujar Pangeran Bujangga Manik bernada dingin. “Sebab telah termasyhur di negeri Sunda ini, orang-orang Islam yang mengaku paling mulia dan paling benar itu adalah orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Mereka licik dan suka berbuat curang.”

“Mengapa Pamanda berkata demikian?” tanya Abdul Jalil heran.

“Tidakkah engkau pernah mendengar kabar kebesaran Kerajaan Majapahit?”

“Saya sering mendengarnya, Paman.”

“Engkau pernah ke sana?”

“Belum.”

“Kebesaran Majapahit sekarang ini tinggal cerita angin. Itu karena kesalahan raja-raja Majapahit terdahulu yang sangat mempercayai orang-orang Islam menjadi pejabat-pejabat tinggi kerajaan. Orang-orang Islam selalu menganggap diri mereka lebih suci, lebih terhormat, lebih agung, dan lebih mulia daripada sang maharaja yang mereka sebut kafir. Akhirnya, Majapahit rontok digerogoti dari dalam. Sekarang ini sisa-sisa kebesaran Majapahit tinggal sebagai kekuasaan kecil, tak lebih seluas wilayah Caruban Larang. Apa yang sudah terjadi di Majapahit tentu tidak akan dibiarkan terjadi di Kerajaan Sunda. Itu sebabnya, maharaja Sunda menetapkan larangan bagi pedagang beragama Islam untuk tinggal di Dayeuh Pakuan,” jelas Bujangga Manik.

“Tapi Paman, kemerin saya baru singgah ke rumah Ki Purwa Galih di Gadok,” kata Abdul Jalil. “bukankah beliau seorang muslim?”

“Ki Purwa Galih di Gadok adalah kekecualian. Dia orang kepercayaan maharaja, seperti juga Ki Natadani di Kuta Maneuh. Jadi, sekalipun muslim, mereka diperkenankan tinggal di kutaraja. Engkau bertanya kenapa kebijakan itu harus diterapkan di Bumi Pasundan? Bagi kami orang-orang Sunda, kelicikan orang-orang Islam sudah lama kami ketahui. Lihatlah orang-orang Arab pemalas yang mengaku keturunan Nabi, mereka menikahi anak-anak para bupati di pesisir. Mereka mengaku bangsawan terhormat dan karenanya wajib dihormati. Mereka menganggap penduduk sebagai kafir yang rendah dan hina. Mereka selalu menganggap penduduk setempat sebagai para pemalas. Padahal, mereka sendiri tidak bekerja. Mereka menggantungkan hidup pada jasa baik mertuanya. Jika sang mertua mati maka mereka akan meminta warisan paling banyak. Apakah menurutmu baik dan mulia sifat pemalas dari orang-orang rakus yang mengaku muslim itu?”

Abdul Jalil tidak menyanggah pernyataan Pangeran Bujangga Manik yang memiliki kesan tidak baik terhadap orang-orang Islam. Ia tidak tahu pasti apakah ucapan itu benar atau sekedar mengada-ada karena selama belasan tahun ia tidak mengetahui perkembangan di Bumi Pasundan. Setelah berbincang-bincang agak lama, Abdul Jalil mengungkapkan cerita-cerita tentang keniscayaan sebuah perubahan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. “Saya kira masalah curang, licik, rakus, dan pemalas tidak harus dialamatkan kepada orang-orang yang memeluk agama Islam. Hal yang demikian juga tidak bisa dialamatkan kepada orang Arab belaka. Orang-orang yang seagama dengan Pamanda pun bisa licik dan mengkhianati sesamanya. Bukankah menurut cerita, leluhur kita Prabu Linggabhuwana Wisesa Sang Mokteng Bubat telah dikhianati secara licik oleh orang-orang Majapahit? Bukankah Pamanda tadi juga menuturkan bahwa para saudagar Sunda dan Majapahit sering saling merampok barang dagangan di lautan?” Jadi, menurut hemat saya, masalah licik dan khianat itu tidak berhubungan dengan ajaran suatu agama atau citra suatu bangsa.”