Gunung Pulasari

Hidup ibarat mata air di tengah padang belantara. Tidak hanya hewan liar yang menggunakan airnya, tetapi para gembala dan hewan ternaknya yang kehausan pula. Juga, kawanan burung yang kelelahan akibat terbang seharian. Serangga air. Katak. Ular. Demikianlah, mata air kehidupan di dunia yang disebut Nusa Jawa dijadikan persinggahan berbagai makhluk hidup mulai dari manusia, hewan liar, ternak, tetumbuhan, unggas, serangga, dan bahkan makhluk gaib berbadan halus yang disebut gandharwa, peri, mambang, siluman, dan bangsa jin dengan berbagai sukunya.

Golongan yang disebut terakhir ini, makhluk gaib berbadan halus, adalah penghuni Nusa Jawa jauh sebelum pulau ini dihuni bangsa manusia. Sebagaimana lazimnya bangsa yang ada lebih dahulu dibandingkan manusia, para makhluk gaib tersebut selalu merasa sebagai makhluk yang lebih sempurna keberadaannya baik dari kesempurnaan jati diri, ketinggian akal, kemuliaan peradaban, dan keluhuran budaya. Manusia, dalam pandangan mereka, adalah makhluk yang lebih rendah derajatnya tidak ubahnya seperti manusia memandang binatang. Lantaran merasa lebih tinggi derajatnya itulah maka makhluk berbadan halus tersebut menganggap wajar memangsa bangsa manusia sebagaimana manusia menganggap wajar memangsa bangsa binatang.

Menurut keyakinan sebagian orang-orang Islam, para makhluk gaib yang disebut umum dengan nama bangsa jin adalah makhluk berbadan halus keturunan al-Jann. Lantaran itu mereka disebut Banu al-Jann (keturunan al-Jann), yaitu makhluk yang dicipta dari api beracun (nar al-samum) yang menyala-nyala (marij al-nar) (QS al-Hijr:27 ; ar-Rahman:15). Mereka adalah makhluk seketurunan yang merupakan kegandaan dari Sang Iblis (QS al-Kahfi:50). Dan lantaran itu, seperti juga Iblis melihat Adam a.s. sebagai makhluk baru terbuat dari tanah, para jin memandang manusia sebagai keturunan Adam a.s. yang rendah dan tidak memiliki ruh bersifat Ilahiyyah. Namun, saat mereka mengetahui ternyata ada menusia yang bisa menunjukkan kekuatan dan kekuasaan ruh bersifat Ilahiyyah di dalam dirinya, maka mereka pun akan tunduk penuh hormat dan bersedia patuh di bawah perintah manusia tersebut.

Abdul Jalil yang telah menunjukkan kekuatan dan kuasa ruh Ilahiyyah di dalam dirinya, kepada Setan Kabir, mekhluk gaib penguasa Caruban, dalam waktu singkat menjadi bahan pembicaraan di antara para raja makhluk gaib se-Nusa Jawa. Sebagian di antara mereka adayang menganggap Abdul Jalil sebagai pengganti Dang Hyang Semar, yakni manusia yang mamiliki kelenihan ruhani (linuwih) yang harus ditunduki dan dipatuhi di segenap penjuru Nusa Jawa. Namun, tak kurang ada di antara mereka yang ingin menguji lebih dulu kebenaran cerita Setan Kabir tersebut. Sesuai permintaan Abdul Jalil untuk menemui mereka pada saat paro terang bulan Badra, sekitar dua ratus raja makhluk gaib se-Nusa Jawa yang diundang Setan Kabir berkumpul beramai-ramai di puncak Gunung Pulasari, di tanah Banten. Sebagian yakin dengan cerita Setan Kabir, sebagian lagi penuh prasangka.

Abdul Jalil sendiri tidak tahu kenapa ia memilih Gunung Pulasari sebagai tempat yang tepat untuk menemui para raja makhluk gaib Nusa Jawa. Ia hanya berpikir jika menemui mereka di Gunung Pulasari maka ia akan dengan mudah mengetahui di mana letak lingga batu yang dimaksud oleh arwah Ratu Sthri Bhattari Prthiwi. Seperti sebuah kebetulan, saat berjalan menuju Gunung Pulasari ia mengetahui cerita dari penduduk sekitar bahwa sejak zaman dahulu kala Pulasari telah menjadi gunung yang dikeramatkan. Bahkan menurut cerita para pertapa, para sesepuh di Nusa Jawa meyakini Gunung Pulasari sebagai Kailasa – sthana Syiwa – yang berada di Nusa Jawa. Itu sebabnya, wilayah di antara kaki Gunung Pulasari dan Gunung Karang disebut dengan nama Sura, yang bermakna wilayah Sang Sura (Sansekerta: gagah berani, Pahlawan, Dewa), yakni wilayah Syiwa, Sang Pemberani, Sang Mahapahlawan yang telah menunjukkan menelan racun kalakutha untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan. Lantaran meminum racun kalakutha, kerongkongannya menjadi biru sehingga Syiwa pun disebut dengan nama Sang Nilakantha (Sansekerta: Si Kerongkongan Biru).

Di wilayah yang disebut Sura itu terdapat dua tempat untuk upacara Ma-lima (pancamakara) bagi penganut Bhairawa-Tantra. Tempat pertama disebut Mandalasari, yang bermakna lingkaran suci tempat upacara Ma-lima digelar. Upacara Ma-lima meliputi Mamsa (memakan daging), Matsya (memakan ikan), Madya (meminum arak), Maithuna (bersetubuh), Mudra (bersamadi). Tempat kedua disebut Mandalawangi, yang bermakna ksetralaya yaitu lingkaran suci tempat puluhan bahkan ratusan mayat ditumpuk untuk upacara suci penobatan para Pu Palyat (pendeta Bhairawa) yang sudah dianggap sempurna di mana bau busuk mayat-mayat itu dirasakan sebagai tebaran bau wangi semerbak.

Sejak menginjakkan kaki di wilayah Sura, terutama saat melewati Mandalawangi, Abdul Jalil menyaksikan dengan mata batinnya (‘ain al-bashirah) beribu-ribu gandharwa (surasaciwa), mambang (dewayoni), dan peri pengawal Syiwa, Sang Bhairawa Bhutaswara. Meski di sepanjang menuju puncak Pulasari tercium bau wangi bunga mandara dan sesekali diselingi bau busuk mayat, ia tidak mempedulikannya. Ia terus melangkah tertatih-tatih menuju puncak. Setiap kali melangkah ia saksikan para peri dan mambang berhamburan di sekitarnya bagai air laut diaduk gelombang yang berpusar-pusar.

Sementara itu, ketika para raja makhluk gaib penghuni Nusa Jawa yang sudah berada di puncak Gunung Pulasari melihat Abdul Jalil mendaki susah payah dengan kaki bengkak dan terompah robek, mereka menyuruh Setan Kabir untuk menyambutnya dengan didampingi seorang raja jin dari Kalapabernama Sapuregel. Dengan kecepatan angin Setan Kabir dan Sapuregel melesat turun. Saat keduanya sampai di depan Abdul Jalil, mereka mengucap salam dan berkata, “Jika paduka menghendaki, kami bisa membawa paduka dengan cepat ke punacak Gunung Pulasari. Paduka tidak perlu susah payah berjalan kaki.”

Abdul Jalil menjawab salam dan berujar, “Terima kasih, aku akan berjalan sendiri untuk menunjukkan rasa syukurku kepada Dia yang telah memberiku dua kaki dan daya kekuatan manusiawi untuk bisa sampai ke atas.”

“Tetapi dengan kekuatan dan kuasa ruh yang paduka miliki, paduka bisa memerintahkan kami untuk mempermudah perjalanan paduka mencapai puncak.”

“Aku tidak akan menggunakan kekuatan dan kuasa ruh yang disemayamkan-Nya di dalam diriku untuk memerintah siapa pun tanpa kehendak-Nya,” sahut Abdul Jalil kemudian mengalihkan pembicaraan. “O ya, siapakah yang bersamamu itu, Setan Kabir.”

“Dia raja di Kalapa, paduka,” jawab Setan Kabir. “Dia bernama Sapuregel.”

“Apakah Sapuregel yang kedatonnya di dekat muara?”

“Bagaimana paduka bisa tahu?” tukas Sapuregel terheran-heran.

Abdul Jalil tersenyum. “Kehidupan ibarat sebuah sumur yang penuh diliputi kegembiraan, namun jika banyak orang berhati kotor dan bermulut najis beramai-ramai meminum air sumur maka malapetaka jua yang akan ditimbulkan sumur itu. Air sumur jernih yang bisa dipakai bercermin itu tiba-tiba akan berubah menjadi keruh dan beracun karena dibaui oleh napas mereka yang berhati busuk dan bermulut najis.”

“Yang mulia,” seru Sapuregel semakin heran, “bagaimana paduka bisa tahu kedaton saya berada di sebuah sumur tua? Siapakah gerangan sesungguhnya paduka?”

“Aku hanyalah manusia biasa keturunan Adam a.s. Aku Cuma dianugerahi-Nya dengan pengetahuan tentang gaib secara sangat sedikit. Masih banyak yang tidak aku ketahui.”

Sapuregel mengangguk-angguk dan memandang Abdul Jalil dengan takjub. Rupanya Setan kabir telah bercerita banyak tentang Abdul Jalil kepadanya. Itu sebabnya, diam-diam dia bertekad mendukung Abdul Jalil untuk menggantikan kedudukan Dang Hyang Semar sebagaimana perjanjian yang telah dibuat kakeknya. Ia yakin seorang Abdul Jalil tentunya akan menjadi manusia bijak sebagaimana Dang Hyang Semar, guru loka yang tidak akan menjadi malapetaka bagi bangsanya.

Ketika Abdul Jalil sampai di tepi puncak Gunung Pulasari, ia langsung disambut oleh tujuh sosok yang merupakan para raja dari makhluk gaib hijau, kuning, merah, hitam, putih, jingga, dan biru. Mereka dengan penuh hormat berdiri menyambut kedatangannya. Ketujuh makhluk gaib itu memperkenalkan diri. Sosok pertama mengaku raja para makhluk gaib hijau (ratuning jim ijo) bernama Sri Prabu Danapati. Kedatonnya disebut Jongtara. Para pengawal dan raja bawahannya semua tampil serba hijau mulai dari pakaian, ketopong, umbul-umbul, panji-panji, lambang kebesaran, permata hiasan, bahkan perisai dan senjatanya.

Yang kedua, penguasa makhluk gaib kuning (ratuning jim kuning) bernama Ratu Wijanarka. Kedatonnya terletak di Imantara. Para pengawal dan raja bawahannya berpenampilan serba kuning. Yang ketiga, penguasa makhluk gaib merah (ratune jim abang) bernama Sri Naranatha. Kedatonnya berada di Balbera. Sebagaimana makhluk gaib hijau dan kuning, makhluk gaib merah termasuk bangsa yang paling besar jumlahnya. Sementara makhluk gaib putih, hitam, jingga, dan biru memimpin bangsa yang lebih sedikit jumlahnya. Penguasa makhluk gaib putih bernama Prabu Anggaskara. Kedatonnya di Madyantara. Penguasa makhluk gaib hitam bernama Ratu Manonbhawa. Kedatonnya di Megantara. Penguasa makhluk gaib jingga bernama Prabu Manitara. Kedatonnya berada di Sarpengtara. Penguasa makhluk gaib biru bernama Prabu Tamantara. Kedatonnya di Abhyantara.

Bagaikan menyambut maharaja agung yang dimuliakan, ketujuh makhluk gaib itu mengantar Abdul Jalil berjalan ke arah sebuah batu datar yang terletak di depan tugu batu berbentuk lingga. Batu datar dan tugu batu itu ditata seolah-olah singgasana seorang ratu.

Tanpa curiga sedikit pun Abdul Jalil berjalan sambil menyapukan pandangan ke arah kerumunan para raja makhluk gaib yang duduk berkitar membentuk setengah lingkaran. Saat jarak Abdul Jalil dengan batu datar dan tugu tinggal dua tombak, ketujuh makhluk gaib itu mendaulatnya untuk duduk di atas batu datar tersebut. Didaulat seperti itu Abdul Jalil terhenyak seolah dihentakkan oleh suatu kekuatan gaib dari dalam relung-relung jiwanya. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu sambil menatap batu datar dan tugu yang terletak berhadap-hadapan. Sedetik sesudah itu Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya memberitahu bahwa tugu batu itu sesungguhnya lingga lambang pemujaaan Syiwa, sedangkan ketujuh raja makhluk gaib itu sesungguhnya hendak mengujinya.

Mengetahui tugu batu itu lambang pemujaan Syiwa, Abdul Jalil maju mendekat. Kemudian dengan mengucap salam melalui al-ima’ , ia mengelus puncak tugu batu sambil menyapa dengan hormat. Kekuatan gaib yang tersembunyi di dalam tugu batu membalas sapaannya dengan al-ima’ . saat itulah Abdul Jalil mengetahui jika tugu batu tersebut adalah Syiwalingga yang dipuja orang sebagai pratima Syiwa, Sang Girinatha, Bhutaswara, Rudra, Bhairawa, Mahakala, Mahadewa, Mahaguru, Chandrasekara, Nilakanta, Maheswara. Gunung Pulasari sendiri, tempat Syiwalingga terletak, dianggap sebagai Gunung Kailasa tempat Syiwa ber-sthana. Dan nama Pulasari (yang dibalur darah) menggambarkan puncak Kailasa yang berwarna merah jingga; yang selalu dilimpahi cahaya matahari, sejuk, diliputi nyanyian burung, disemarakkan bunga-bunga abadi, diwarnai nyanyian gandharwa, dan diramaikan kelincahan para peri serta mambang.

Beberapa jenak berhadap-hadapan dengan Syiwalingga, Abdul Jalil mengetahui bahwa sesungguhnya lingga itulah yang sesungguhnya disebut-sebut oleh arwah Ratu Stri Bhattari Prthiwi sebagai salah satu sarana untuk menyempurnakan perjalanan jiwanya menuju Brahman. Itu sebabnya, setelah menghormat atas nama Syiwa dan Parwati, Abdul Jalil mengangkat Syiwalingga dan meletakkannya di atas batu datar yang berada di depannya.

Para raja makhluk gaib yang bersila melingkar – terutama ketujuh penguasa makhluk gaib yang berdiri di belakang Abdul Jalil – ternganga mulutnya dan terbelalak matanya menyaksikan tindakan yang dilakukan Abdul Jalil. Mereka segera sadar bahwa usaha mereka untuk membuat Abdul Jalil memunggungi Syiwalingga telah gagal. Bahkan, tanpa terduga Abdul Jalil justru meletakkan lingga itu di atas batu datar sebagaimana letak sesungguhnya. Menyadari kegagalannya itulah para raja makhluk gaib beramai-ramai berlutut dan menundukkan kepala. Mereka merasa kalah karena siasatnya untuk memerangkap Abdul Jalil telah diketahui. Dan, itu berarti mereka harus mengakui keberadaan Abdul Jalil sebagai Guru Loka Nusa Jawa, pengganti Dang Hyang Semar yang harus mereka patuhi semua perintahnya.

Abdul Jalil yang mengetahui siasat licik para raja makhluk gaib itu tidak marah. Ia sadar naluri jin pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan leluhurnya, Sang Iblis, yang cenderung menyesatkan manusia (QS al-An’am:128). Itu sebabnya, setelah meletakkan Syiwalingga di atas batu datar, Abdul Jalil berdiri di sampingnya dan berkata, “Aku beritahukan kepada kalian bahwa sesungguhnya bangsa manusia dan bangsa jin tidaklah diciptakan kecuali semata-mata untuk memuja dan menyembah-Nya (QS adz-Dzariyat:56). Sesungguhnya bangsa kalian dicipta dari api beracun (QS al-Hijr:27), sedangkan bangsa manusia dicipta dari tanah liat (QS al-Hijr:28). Meskipun bangsa kalian merasa lebih unggul dan lebih mulia daripada manusia, hendaknya kalian tahu bahwa pada manusia tersembunyi ruh bersifat Ilahiyyah yang menjadikan seluruh makhluk bersujud kepadanya (QS al-Hijr:29-30) kecuali leluhurmu, Sang Iblis, yang membanggakan asal kejadiannya (QS al-Hijr:33).” “

Sekalipun di antara bangsa manusia memiliki rasa permusuhan dengan leluhur kalian, Sang Iblis, aku tidak menilai Sang Iblis sebagai musuhku. Aku justru menganggap kehadiran Sang Iblis sebagai pengejawantahan Dia, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), yang bertugas utama menjadi peneguh Keesaan Allah SWT, agar manusia yang kepadanya ditiupkan ruh Ilahiyyah tidak terperangkap kepada kebanggaan diri berlebih yang menganggap mereka sama dengan Allah SWT. Dia Yang Maha Mengetahui (al-‘Alim) telah memberitahuku bahwa sesungguhnya Sang Iblis senantiasa mengintai semua gerak-gerik manusia yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).”

“Barang siapa di antara manusia ada yang tergoda oleh keakuan pribadinya untuk melakukan pengambilalihan kuasa Allah, meski hanya di dalam lintasan pikiran, yaitu ingin menyamai Allah SWT dengan mengatakan bahwa ia sama dengan Dia, Zat Yang Meniupkan ruh Ilahiyyah ke tubuhnya, maka merekalah sasaran utama Sang Iblis. Ketika leluhur bangsa manusia, Adam a.s., digoda oleh keakuan untuk hidup abadi – ingin sama dengan Yang Maha Kekal (al-Baqi) – ia menjadi korban tipuan Sang Iblis. Ia memakan buah dari Pohon Keabadian (syajarah al-khuld) yang terlarang dan kemudian justru memperoleh murka Allah SWT (QS al-A’raf:20-24).”

“Tidak berbeda dengan anggapanku terhadap Sang Iblis, demikianlah anggapanku terhadap kalian sebagai hamba Allah SWT yang mengawal ke-Esaan-Nya. Kalian adalah ujian bagiku. Saat kalian menghendaki agar aku memunggungi tugu lingga, aku sadari hal itu sebagai suatu ujian berat yang kalian sajikan untukku. Itu sebabnya, aku berterima kasih kalian yang selalu mengingatkan akan kedudukanku sebagai wakil-Nya, tidak lebih. Kehadiranku di sini hanyalah untuk memperkenalkan diri kepada kalian semua bahwa akulah pewaris ajaran Kapitayan yang telah disempurnakan menjadi ajaran Islam. Sesungguhnya tidak ada yang berubah dari ajaran Kapitayan dengan kehadiran ajara Islam. Sesungguhnya Islam bukan ajaran baru, melainkan hanya penyempurna bagi ajaran-ajaran Tauhid yang sudah ada sebelumnya.”

“Karena aku adalah pewaris ajaran Muhammad Saw., maka aku nyatakan kepada kalian bahwa ajaran yang akan aku sampaikan kepada manusia tidak hanya terbatas di Nusa Jawa, tetapi di semua tempat di permukaan bumi yang mau menerimanya. Dan lantaran itu, aku nyatakan kepada kalian bahwa aku tidak akan menduduki jabatan Guru Loka Nusa Jawa sebagaimana Dang Hyang Semar. Ini semua adalah kehendak-Nya semata bahwa gerak kehidupan akan terus berubah dari waktu ke waktu menuju kesempurnaan.”

“Sebagaimana bangsa manusia yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sesungguhnya bangsa kalian pun mengalami perubahan pula. Jika leluhur kalian, Sang Iblis, adalah makhluk yang dianugerahi-Nya naluri selalu memusuhi manusia, demi keesaan-Nya, maka di antara keturunannya ternyata ada yang menerima Kebenaran Ilahi yang disampaikan manusia. Aku tahu bahwa Hama bin Him bin Laqiz bin Iblis adalah pemuka di antara bangsa kalian yang telah menerima Kebenaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. perlu kalian ketahui, beberapa waktu sebelum ke sini aku telah ditemui oleh Yang Terhormat Syaikh Abi Yusuf, guru agung dan pemuka bangsa kalian yang beragama Islam. Dia menyatakan kepadaku bahwa sebagian di antara kalian telah menjadi pengikutnya.”

“Karena segala sesuatu telah berubah maka aku pun akan melakukan sedikit perubahan atas butir-butir perjanjian yang telah disepakati oleh Dang Hyang Semar dna leluhur kalian. Pertama, di antara bangsa kalian yang telah beriman dan memeluk Islam telah ditetapkan larangan meminum darah saudara-saudaramu dari bangsa manusia yang beriman dalam agama Islam. Akan tetapi, tetap diperbolehkan meminum darah manusia yang memeluk Islam tetapi yang tidak beriman. Kedua, di antara bangsa kalian yang bukan pemeluk Islam telah ditetapkan larangan meminum darah manusia beriman yang bukan pemeluk Islam. Yang diperbolehkan adalah meminum darah manusia pemeluk Islam dan yang bukan pemeluk Islam yang juga tidak beriman. Namun, kalian semua tetap bebas menjalankan naluri kalian untuk menyimpangkan manusia dari jalan Kebenaran. Sebab, aku sendiri tak kuasa menentang kehendak-Nya yang telah menetapkan ketentuan tentang banyaknya jumlah bangsa manusia dan bangsa jin yang bakal menjadi penghuni jahanam (QS al-A’raf:179 ; Hud:119).” “

Sebagai makhluk penghuni alam gaib, kalian tentu telah tahu siapa sesungguhnya manusia-manusia beriman, baik pemeluk Islam mau pun yang bukan pemeluk Islam yang memuja Allah SWT dan siapa di antara mereka yang memuja hawa nafsunya. Kalian lebih tahu siapa manusia yang serakah hingga buta mata hatinya dan tuli pendengaran jiwanya. Kalian pun lebih tahu siapa yang suara nuraninya sudah bisu akibat jiwanya sesak dihuni taghut. Mangsalah mereka itu. Sebab, semua itu adalah kehendak-Nya semata demi menjaga kelestarian bumi dan kelangsungan hidup penghuninya.”

“Kepada kalian, o bangsa jin yang bukan pemeluk Islam, di lereng gunung tadi aku telah ditemui oleh Yang Dipertuan Gunung Pulasari, Ki Dilah, yang tidak lain adalah pemuka dan guru agung kalian. Dia mengatakan kepadaku telah mengetehui adanya perubahan dahsyat yang bakal terjadi di dunia manusia yang sebelumnya juga sudah terjadi di dunia kalian. Itu sebabnya, dia mempersilakan aku untuk menuntun kalian di jalanku. Tetapi, kukatakan kepadanya bahwa memimpin kalian adalah bukan tugasku. Karenanya, tetaplah kalian mengikutinya. Sesungguhnya masing-masing bangsa memiliki pemimpin sendiri sesuai kebangsaannya. Tidak dibenarkan bangsa manusia memimpin bangsa jin atau sebaliknya.”

Dengan tatap tak percaya para raja jin memandang Abdul Jalil seusai mendengar yang baru saja dikemukakannya. Pemuka makhluk gaib merah yang berasal dari Wirabhumi bernama Balabatu berdiri dan berkata, “Jika paduka menolak kedudukan guru loka Nusa Jawa, apakah paduka akan mengubah butir yang lain dari perjanjian leluhur kami dengan Dang Hyang Semar?” “

Sekali-kali tidak, o Balabatu.” “

Jika demikian, kenapa paduka melarang kami yang bukan pemeluk Islam untuk meminum darah manusia bukan pemeluk Islam? Bukankah itu peraturan yang tidak adil?” “

Apa yang menurutmu tidak adil?” “

Jumlah penduduk Islam di Nusa Jawa sangat sedikit sehingga larangan meminum darah manusia beragama Islam sesungguhnya tidak memiliki pengaruh apa-apa pada pelaksanaan pesta darah kami. Sebaliknya, paduka telah memberi keleluasaan di antara saudara-saudara kami yang beragama Islam untuk meminum darah manusia yang bukan Islam. Bukankah peraturan itu tidak adil karena menguntungkan salah satu pihak di antara kami?” protes Balabatu. “

Ketahuilah, o Balabatu, seiring perubahan yang terjadi di kalangan manusia, sesungguhnya tidak lama lagi di Nusa Jawa akan terjadi perubahan besar bahwa manusia akan beramai-ramai memeluk Islam. Engkau pun tidak akan bisa menghitung jumlah umat Islam di kelak kemudian hari. Jika engkau dan saudara-saudaramu bersabar barang sebentar waktu maka engkau dan saudara-saudaramu akan jauh lebih beruntung daripada saudara-saudaramu yang memeluk Islam dalam pelaksanaan pesta darah itu.” “

Selain itu, engkau camkan dan ingat-ingat benar bahwa yang aku tetapkan sebagai larangan bagi kalian yang bukan pemeluk Islam adalah meminum darah manusia beriman yang bukan beragama Islam. Larangan pun berlaku bagi saudara-saudaramu yang beragama Islam untuk tidak meminum darah manusia beriman di antara umat Islam. Ingat-ingat benar perbedaan antara manusia beriman dan manusia sebagai pemeluk suatu agama.” “

Berarti, paduka sesungguhnya tidak melarang tradisi pesta darah bangsa kami?” “

Benar demikian adanya,” sahut Abdul Jalil. “Sebab, telah termaktub di dalam Kitab Allah bahwa binatang (al-dabbah) yang terjahat adalah manusia yang tuli, bisu, dan tidak mau mengerti (QS al-Anfal: 22). Mereka mempertuhankan hawa nafsu tak ubahnya seperti hewan (al-an’am), bahkan lebih sesat (QS al-Furqan: 43-44). Mereka itulah yang digolongkan sebagai manusia tidak beriman, entah mereka itu mengaku Islam atau beragama lain. Itu berarti, kalian bebas memilih siapa di antara manusia tidak beriman yang hidupnya lebih sesat daripada hewan untuk kalian jadikan mangsa dalam pesta darah. Sebab, manusia-manusia sesat pemuja hawa nafsu yang ruhnya telah tertutup sama sekali oleh kegelapan sesungguhnya tidak ubahnya kawanan hewan yang halal bagi kalian, sebagaimana hewan yang merayap di permukaan bumi dihalalkan bagi manusia.” “

Bahkan jika mereka mengaku-aku sebagai umat Islam, namun ternyata mereka terbukti sebagai golongan manusia tidak beriman maka kalian pun boleh memangsanya. Sebab, tidak kurang di antara manusia yang mengaku Islam dan berikrar hanya menjadi pemuja dan penyembah Allah SWT. ternyata adalah pemuja hawa nafsunya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang terhijab dari kebenaran Ilahi. Mereka tidak sedikit pun mencerminkan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh) yang memancarkan citra insani (al-basyar) sekaligus citra Ilahi (ruh), yang membuat para malaikat bersujud. Mereka benar-benar telah menjadi makhluk seperti persangkaan Sang Iblis, yaitu manusia (al-basyar) yang semata-mata tercipta dari bahan tanah.” “

Mulut mereka memang telah mengikrarkan persaksian (syahadat) Tauhid, tetapi hati dan pikiran mereka telah tertutup bagi Kebenaran Yang Tunggal. Tubuh mereka memang bergerak-gerak melakukan penyembahan kepada Allah (shalat), namun kiblat hati dan pikiran mereka tertuju pada taghut (materi). Perut mereka lapar dan tenggorokan mereka kehausan akibat puasa (shaum), namun mulut mereka menebar najis. Hati dan pikiran mereka mengembara ke mana-mana, tidak sedikit pun tertuju kepada Allah SWT.. Harta benda yang mereka miliki diperoleh secara tidak halal. Saat mereka membagi-baginya sebagai zakat, infak, dan sadaqah tidaklah diniatkan untuk mendapatkan ridho Allah SWT., tetapi dengan tujuan utama mencari pujian dan kemasyhuran duniawi. Mereka ibarat hewan, tidak bisa lagi diperingatkan, karena mata hatinya sudah buta, telinga jiwanya tuli, suara nuraninya bisu, akal pikirannya tumpul.” “

Sungguh telah jelas bagiku bahwa manusia apa pun agamanya – entah Islam, entah Hindu, entah Budha – telah terpilah menjadi tiga golongan. Pertama, golongan manusia beragama yang beriman semurni permata. Mereka itulah pemuja Tuhan sejati yang tidak mengharapkan sesuatu kecuali ridho Tuhan. Kedua, adalah golongan manusia beragama yang beriman seperti emas campuran. Mereka itulah pemuja Tuhan yang hati dan pikirannya diliputi pamrih pribadi mengharapkan kenikmatan duniawi dan akhirat. Ketiga, golongan manusia beragama yang tidak beriman. Nafsu mereka seperti batu yang menutupi pintu kecemerlangan ruhani. Golongan yang terakhir ini adalah para pemuja hawa nafsu dan materi yang selalu berteriak-teriak menyatakan diri sebagai pemuja Tuhan sejati.” “

Kelompok dari golongan ketiga itulah yang sesungguhnya disebut golongan ingkar (kufr) dan munafik. Mereka sesungguhnya tidak mengenal Tuhan yang gaib. Mereka rakus, tamak, serakah, dan tak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh. Dengan keserakahan dan ketamakannya mereka selalu menyandang citra makhluk perusak bumi. Mereka itulah yang halal kalian mangsa. Sebab, bumi tidak akan cukup memuat keserakahan mereka. Hari-hari dari kehidupan mereka senantiasa dicitrai oleh bencana dan malapetaka yang mereka timbulkan bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka selalu menjadi binatang bagi sesamanya.” “

Sebagai makhluk penghuni alam gaib, kalian tentu telah tahu tentang siapa sesungguhnya manusia-manusia beriman yang memuja Allah SWT. dan siapa di antara mereka yang memuja hawa nafsunya. Kalian lebih tahu siapa manusia yang serakah hingga buta mata hatinya dan tuli pendengaran jiwanya. Kalian pun lebih tahu siapa yang suara nuraninya sudah bisu akibat jiwanya sesak dihuni taghut. Mangsalah mereka itu. Sebab, semua itu adalah kehendak-Nya semata demi menjaga kelestarian bumi dan kelangsungan hidup penghuninya.”

Para raja makhluk gaib termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Mereka semua terdiam. Namun, beberapa jenak kemudian raja makhluk gaib dari Pakuan yang bernama Kareteg meminta penjelasan tentang “pagar halilintar” yang dibentangkan Abdul Jalil di sepanjang pantai utara Bumi Pasundan. “Para kawula kami sangat cemas dan ketakutan dengan adanya ‘pagar halilintar’ itu. Apakah paduka ingin memasang perangkap yang berbahaya bagi kawula kami?”

Abdul Jalil mengerutkan kening. Ia tidak paham dengan istilah “pagar halilintar” yang dikemukakan Kareteg. Namun, sesaat kemudian ia teringat pada sarana (Tu-mbal) yang telah ia tebar di beberapa tempat yang disebutnya Lemah Abang. Rupanya rangkaian doa yang dilafazkan para santri yang ditinggal di Lemah Abang telah mendatangkan kekuatan adiduniawi di mana para makhluk gaib melihatnya seperti kilatan halilintar. Menyadari hal itu Abdul Jalil pun menjelaskan, “Sesungguhnya aku tidak bermaksud membuat ‘pagar halilintar’ yang bakal mencelakakan bangsa kalian. Aku hanya memberi tengara kepada bangsa kalian bahwa di tempat-tempat yang kalian saksikan ada pancaran cahaya halilintar, itulah tempat aku membuka hunian-hunian baru bagi manusia. Selama kalian masih melihat kilatan cahaya itu hendaknya kalian tidak mendekat apalagi mengganggu. Namun, jika kalian sudah tidak melihat kilatan cahaya itu lagi maka kalian boleh mendekati tempat itu dan mengganggu penghuninya.” “

Berarti ‘pagar halilintar’ itu tidak berlangsung terus-menerus?” tanya Kareteg. “

Jika penghuni tempat-tempat bernama Lemah Abang sudah menjadi pemuja taghut maka kilatan cahaya itu tidak akan kalian saksikan. Jadi, apa pun yang kalian saksikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia manusia, pada dasarnya tidak mengubah hukum kauniyah yang berlaku.”

Ketika fajar mulai menjelang dan puncak Gunung Pulasari telah disaput warna merah, para raja makhluk gaib Nusa Jawa kembali ke kediaman masing-masing. Setelah mengangkat batu lingga ke atas pangkuannya, Abdul Jalil menebarkan tanah yang dibawanya ke seputar batu datar sambil membaca do’a penolak kejahatan jin. Saat baru usai membaca doa tiba-tiba ia sadar betapa di samping kanannya telah berdiri seseorang yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.

Abdul Jalil menoleh. Ia melihat orang yang berdiri di samping kanannya adalah laki-laki berusia lebih setengah abad dan berpakaian brahmana. Wajah laki-laki itu teduh. Matanya bulat lebar. Hidungnya mancung. Rambutnya diikat tiga gulungan ke atas, sementara kumis dan janggutnya menjuntai ke dada. Laki-laki itu memancarkan wibawa seorang pertapa.

Sepintas melihat sorot mata brahmana itu, Abdul Jalil sudah menangkap pancaran kecurigaan akibat batu lingga yang dipangkunya. Tanpa menunggu ditanya ia langsung memperkenalkan diri sekaligus mengungkapkan niatnya untuk membawa lingga tersebut atas permintaan arwah Ratu Sthri Bhattari Prthiwi yang didaharmakan di Kabhumian, Caruban Larang.

Mendengar pengakuan Abdul Jalil, brahmana itu ganti memperkenalkan diri sebagai Brahmana Kandali, pemimpin para Rsigana Domas, yakni delapan ratus orang resi yang tinggal di Gunung Pulasari. Setelah itu, masih dengan tatap mata penuh curiga dia berkata, “Mata hati saya menyaksikan betapa Tuan adalah orang jujur yang berjiwa bersih. Namun, mata indriawi saya melihat Tuan dengan penuh curiga. Wajah Tuan bukan wajah orang Sunda. Pakaian Tuan adalah pakaian orang Islam. Tuan datang ke puncak Pulasari dengan mengangkat Syiwalingga yang kami puja. Jika Tuan mengatakan bahwa apa yang Tuan lakukan adalah atas permohonan arwah Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, tolong jelaskan kepada kami ketidaksesuaian antara penglihatan mata hati dan mata indriawi saya ini.”

Abdul Jalil menarik napas panjang sambil memejamkan mata menembus keheningan persemayaman Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya. Beberapa jenak setelah melintasi relung-relung keheningan jiwanya tiba-tiba ia menyaksikan kelebatan bayangan sosok Rishi Punarjanma, diikuti sentuhan Ruh al-Haqq yang mengisyaratkannya untuk berbicara seputar pendeta yang meninggal di Arafah itu. Mengikuti petunjuk Ruh al-Haqq, ia membuka mata dan berkata, “Saya tidak bisa menjelaskan ketidaksesuaian antara tangkapan mata hati dan mata indriawi Tuan. Namun, jika hal itu terjadi pada diri saya maka saya lebih mempercayai penglihatan mata hati saya.” “

Bisakah Tuan memberi contoh kepada saya jika ketidaksesuaian itu pernah terjadi pada Tuan, agar bisa saya jadikan pedoman dalam perjalanan ruhani saya.”

“Ada sebuah pengalaman yang pernah saya alami, namun sangat tidak masuk akal untuk diterima oleh orang yang mengagungkan pandangan indriawi. Namun, bagi mereka yang percaya bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil bagi kehendak Yang Mahakuasa, apa yang akan saya ceritakan itu tentu akan dipercaya sebagai kebenaran tak tersanggah,” kata Abdul Jalil.

“Cerita tentang apakah itu, Tuan?”

“Cerita tentang seorang pendeta Hindu tua asal Banten Girang yang melakukan ibadah haji ke tanah suci umat Islam, yaitu Makkah di tanah Arab. Pendeta tersebut meninggal di tanah Arafah tepat saat hari Arafah. Dia bahkan meninggal di atas pangkuan saya,” Abdul Jalil memaparkan.

“Pendeta tua asal Banten Girang?” Brahmana Kandali tercekat keheranan. Sambil mengernyitkan kening dia bertanya, “Siapakah namanya?”

“Kepada saya beliau mengaku bernama Rishi Punarjanma,” ujar Abdul Jalil. “Beliau mengaku memiliki seorang putera bernama Nirartha yang tinggal di negeri Daha. Katanya, puteranya itu diasuh oleh adiknya yang bernama Wiku Suta Lokeswara, seorang pendeta Bhairawa penganut Syiwa-Budha.”

Brahmana Kandali tampak tergetar mendengar penjelasan Abdul Jalil. Keringat sebesar butiran kacang menyimbah keningnya. Napasnya mulai naik turun. Matanya berkaca-kaca. Kemudian dengan bibir bergetar ia bertanya, “Bagaimana mungkin guru agung kami Rishi Punarjanma menjalankan ibadah ke tanah suci orang-orang Islam yang letaknya di negeri Arab?”

“Segala sesuatu sesungguhnya tergantung mutlak pada kehendak Sanghyang Tunggal.” Abdul Jalil menyebut nama Tuhan seperti Dang Hyang Semar pernah menyebutnya demikian. “Tapi jika dijelaskan secara manusiawi sesuai pengakuan beliau, sesungguhnya kehadiran beliau ke tanah suci umat Islam adalah semata-mata ‘kekeliruan’ tempat belaka. Maksudnya, niat utama beliau sesungguhnya hendak melakukan pradaksina di Gunung Kailasa, yaitu tempat Syiwa ber-sthana. Namun, arus nasib telah membawanya ke Makkah dan Arafah setelah kapal yang ditumpangi terempas gelombang dan beliau ditolong oleh para pelaut Arab. Beliau bahkan mengira tugu batu raksasa yang terletak di Jabal Rahmah adalah Syiwalingga yang telah beliau lihat di dalam mimpinya. Itu sebabnya, beliau melakukan pradaksina, mengitari Jabal Rahma. Beliau meninggal akibat kelelahan dan kepanasan.”

Brahmana Kandali tak dapat lagi menahan gejolak perasaannya. Ia mengucurkan air mata dan berkata tersendat-sendat, “Tuan, apakah Tuan merawat jenasah beliau dengan baik?”

“Saya dan saudara-saudara saya yang menunaikan ibadah haji telah menguburkan beliau dengan baik.”

“Apakah beliau tidak meninggalkan pesan apa-apa sebelum meninggal?”

“Beliau meminta agar saya menemui puteranya, Nirartha, di negeri Daha,” kata Abdul Jalil, untuk menyampaikan pesan bahwa beliau telah kembali ke Syiwapada karena setia kepada Syiwamarga. Setelah saya kembali dari sini, saya akan berusaha pergi ke negeri Daha untuk menyampaikan pesan Rishi Punarjanma kepada puteranya. Saya tidak tahu kenapa saya harus memenuhi amanat Rishi Punarjanma yang syari’at agamanya tidak sama dengan syari’at agama saya. Saya hanya merasa bahwa mata hati, telinga, jiwa, dan suara nurani saya memerintahkan saya untuk melakukan hal itu.”

Brahmana Kandali duduk berlutut di depan Abdul Jalil. Dengan tangan menyembah ia berkata, “Tuan, terimalah permohonan maaf kami akibat kecurigaan kami yang berlebihan terhadap Tuan. Terimalah juga sembah hormat kami, o Tuan yang mulia, atas segala budi baik yang Tuan telah berikan kepada guru agung kami Rishi Punarjanma. Sungguh, tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan hati Tuan yang begitu luas laksana samudera yang berkenan menerima berbagai aliran sungai dengan begitu tulus.”

“Kami percaya apa yang telah Tuan ceritakan tentang Rishi Punarjanma adalah benar belaka. Sebab, tidak ada orang di negeri Banten ini yang mengetahui beliau memiliki putera bernama Nirartha yang tinggal di negeri Daha dan ikut dengan Wiku Suta Lokeswara, kecuali kami dan beberapa orang saudara kami pemuka Rsigana Domas yang tak pernah turun gunung ini. Itu berarti Tuan benar-benar telah bertemu dengan guru agung kami.”

“Sudah merupakan kewajiban manusia untuk saling menolong di antara sesamanya tanpa melihat latar bangsa, bahasa, dan agama. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesamanya dan seburuk-buruk manusia adalah yang selalu menjadi bencana bagi sesamanya.”

“Sungguh, sekarang kami percaya kepada Tuan. Kami percaya Tuan benar-benar memenuhi permintaan Ratu Sthri Bhattari Prthiwi untuk membawa Syiwalingga ke Caruban Larang. Sesungguhnya tidak ada satu pun di antara manusia yang berhak mengatakan bahwa Syiwalingga itu miliknya. Sebab, Syiwalingga senantiasa dijaga dan dipelihara oleh Bhattara Syiwa sendiri. Jika Syiwalingga harus dipindahkan dari puncak Gunung Pulasari ke Caruban Larang maka hal itu tentunya adalah atas kehendak Bhattara Syiwa sendiri.”

“Memang demikian kenyataannya saat saya memohon perkenan kepada Syiwalingga ini.”

“Tuan sudah meminta izin Bhattara Syiwa? Tuan bisa berhubungan dengan Bhattara Syiwa melalui Syiwalingga?”

“Sesungguhnya saya hanya mengenal nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Syiwa,” ujar Abdul Jalil. “Semalam Dia, Syiwa yang dipuja lewat perlambang Syiwalingga ini, menyapa saya sebagai pengejawantahan Sang Girinatha, Bhutaswara, Rudra, Bhairawa, dan Mahakala. Dia telah berkenan mengizinkan saya membawa Lingga ini ke Caruban Larang sesuai permohonan Bhattari Prthiwi.”

“Tuan,” tanya Brahmana Kandali, “kenapa Bhattara Syiwa membiarkan Syiwalingga itu Tuan bawa ke Caruban Larang? Bukankah hal itu akan mengubah kedudukan Gunung Pulasari sebagai sthana Syiwa?”

“Tidak ada sesuatu yang berubah tanpa kehendak-Nya. Sesungguhnya perubahan yang akan terjadi atas sthana Syiwa di Gunung Pulasari ini semata-mata atas kehendak-Nya juga. Pada masa datang para pemuja Syiwa hendaknya mengikuti pesan Sang Girinatha kepada saya, yaitu tidak harus pergi ke sthana Syiwa di puncak Gunung Pulasari untuk melakukan upacara di Syiwamandala. Sebab, sebenarnya dengan Kebenaran yang sesungguhnya Syiwa berada di mana saja bersama-sama dengan pemuja-Nya yang mengetahui Kulatattwa.”

“Tuan,” seru Brahmana Kandali heran, “bagaimana Tuan yang beragama Islam bisa tahu tentang Kulatattwa?”

“Syiwa yang disebut dengan berbagai nama telah memberitahuku demikian.”

“Jika demikian, tahukah Tuan kenapa Syiwa menghendaki terjadi perubahan seperti itu?”

“Sebab tidak lama lagi akan datang Dajjal Sang Penyesat yang akan membawa manusia ke zaman malapetaka. Pengikut Sang Penyesat akan membawa manusia ke jalan kebinasaan dengan mengingkari keberadaan Tuhan secara benar. Sang Penyesat dengan pesonanya akan membalik kiblat berpikir manusia. Jika saya dan seluruh umat Islam meyakini bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta sebagaimana keyakinan Tuan dan saudara-saudara Tuan yang beragama Hindu, maka Sang Penyesat akan mengatakan bahwa manusialah yang mencipta Tuhan. Jika manusia tidak mencipta Tuhan maka Tuhan tentunya tidak ada.”

“Sesungguhnya mereka adalah para pembohong dan penyesat umat manusia yang bakal membawa kerusakan di permukaan bumi. Tidak umat Islam, tidak umat Hindu, tidak umat Budha, jika menjadi pengikut Dajjal maka akan sesat juga jadinya. Mereka sesungguhnya orang-orang yang sudah buta mata hatinya, tuli telinga jiwanya, dan bisu suara nuraninya. Mereka tidak bisa melihat sesuatu kecuali benda-benda yang kasatmata. Mereka tidak percaya ruh. Mereka tidak percaya adanya hidup setelah mati. Bahkan, andaikata mereka berbicara tentang agama maka sesungguhnya mereka telah menipu karena bagi mereka agama adalah ‘alat’ yang bisa mereka gunakan untuk membenarkan perilaku mereka yang jahat.”

“Apakah kehadiran mereka menandai bakal datangnya zaman Kaliyuga?”

“Kira-kira begitu di dalam keyakinan agama Tuan.”

“Siapakah yang Tuan maksud sebagai Dajjal Sang Penyesat itu?”

“Jika Tuan pernah mendengar cerita tentang Sang Hantaga, saudara Dang Hyang Semar, tentunya Tuan pernah mendengar tokoh bernama Si Kere, putera Sang Hantaga,” ujar Abdul Jalil.

“Ya, ketika kanak-kanak kami pernah mendengar cerita semacam itu.”

“Dajjal Penyesat adalah anak cucu Si Kere,” ujar Abdul Jalil. “Mereka hidup di negeri miskin dan selalu kekurangan makan. Itu sebabnya, mereka akan datang ke negeri-negeri subur tempat padi ditanam dan berbagai jenis emas serta permata didapatkan. Mereka datang untuk menjarah dan merampok harta kekayaan negeri-negeri subur. Mereka akan merampas harta benda penduduk. Mereka akan memperbudak penduduk. Mereka akan mengganti kepercayaan agama penduduk. Mereka akan memaksa penduduk mengikuti kepercayaan dan adat istiadat mereka. Dan yang paling berbahaya, mereka akan menjungkirbalikkan kepercayaan penduduk yang memuja Tuhan agar sejalan dengan kepercayaan mereka yang sesat dan menyesatkan, yaitu tidak mempercayai segala sesuatu yang bersifat gaib.”

“Tuan,” Brahmana Kandali memohon. “Ajarkan kami pengetahuan ruhani yang Tuan miliki. Bimbinglah kami meniti jalan Kebenaran menuju-Nya. Angkatlah kami menjadi siswa Tuan. Kami yakin, guru agung kami, Rishi Punarjanma, mengirim Tuan ke sini tentu dengan maksud agar Tuan menjadi panutan kami. Kami pun bersedia melepas agama kami jika itu memang diisyaratkan menjadi siswa Tuan. Kami tidak ingin hidup di zaman Kaliyuga tanpa bimbingan guru yang sudah mengejawantahkan keberadaan-Nya.”

“Tuan Brahmana, saya tidak keberatan Tuan hendak belajar menempuh jalan ruhani kepada saya. Tetapi, saya tidak pernah mensyaratkan seseorang harus berpindah agama untuk menjadi siswa saya. Sebab, masalah agama – dalam makna syari’at – bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Sungguh, tidak ada paksaan dalam agama. Dan sudah menjadi keyakinan saya, sesungguhnya telah menjadi kehendak-Nya semata bahwa umat manusia harus hidup beraneka ragam baik dalam hal kebangsaan, bahasa, budaya, maupun agama.”

Teluk Persia/Qatar, 05 Oktober 2005, 13:40LT