Al-Wahm

Pengharapan (al-raja’) beriringan dengan amal. Pengharapan tanpa amal adalah tebaran jaring-jaring lamunan kosong (al-umniyyah). Sedang tebaran jaring-jaring lamunan kosong adalah kekuatan yang cenderung menuntun manusia ke perangkap angan-angan kosong (al-wahm) yang menjerat. Bagi seorang penempuh jalan ruhani (salik), perangkap al-wahm haruslah dihindari dan dilampaui. Sebab, perangkap al-wahm adalah hijab tebal yang menyelubungi manusia untuk dapat menyaksikan Kebenaran Ilahi.

Terjerat ke perangkap al-wahm itulah yang sesungguhnya dialami oleh Raden Sahid dan Raden Qasim saat keduanya meniti jalan ruhani (suluk) sebagai salik. Terpesona oleh kisah Abdul Jalil tentang Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri, putera mahkota Wijayanagar yang menjadi brahmin pengembara, mereka berdua mengangankan dapat meraih kehidupan ruhani yang agung sebagaimana sang putera mahkota. Namun, pengalaman ruhani yang belum matang mengakibatkan mereka jatuh ke perangkap al-wahm.

Hari-hari yang mereka lewati lebih banyak dihabiskan di sebuah gua yang terletak di belakang pesantren dan di hadapan makam Syaikh Datuk Kahfi. Mereka beranggapan bahwa dengan menghindari berbagai urusan duniawi dan menenggelamkan diri ke dalam kekhusyukan maka mereka akan beroleh karunia ruhani (al-warid) sebagaimana yang telah diperoleh Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri. Saat berada di hadapan makam Syaikh Datuk Kahfi mereka berharap arwah gurunya itu berkenan memohonkan kepada Allah SWT. agar melimpahi mereka dengan berbagai kemurahan karunia ruhani.

Kerasnya semangat (sawabiq al-himam) yang dilakukan Raden Sahid dan Raden Qasim dalam perjuangan memperoleh karunia ruhani ternyata tidak menghasilkan apa-apa, bahkan menjadi penyebab kacaunya jadwal pembelajaran di pesantren. Bagaikan tak kenal siang dan malam, Raden Shid dan Raden Qasim lebih banyak terlihat bertafakur di dalam gua dan di depan makam Syaikh Datuk Kahfi.

Abdul Jalil sendiri semula tidak mengetahui perihal keterperangkapan Raden Sahid dan Raden Qasim ke dalam jeratan al-wahm. Ia mengetahui hal itu secara kebetulan ketika berziarah ke makam Nyi Babadan, istri Syarif Hidayatullah yang meninggal beberapa hari setelah kepergian Abdul Jalil ke Gunung Pulasari. Saat ia bersama Syarif Hidayatullah berziarah, mereka mendapati Raden Sahid dan Raden Qasim sedang bertafakur di depan makam Syaikh Datuk Kahfi.

Sebagai orang yang sudah kenyang mengunyah dan memamah serta menelan pahitnya perjalanana ruhani, Abdul Jalil menangkap sasmita ada ketidakberesan yang terjadi pada kedua orang adik seperguruannya itu. Itu sebabnya, ia menanyakan kepada Syarif Hidayatullah tentang mereka berdua. Betapa terkejut ia saat Syarif Hidayatullah memberi tahu bahwa baik Raden Sahid maupun Raden Qasim sesungguhnya sudah melakukan pengasingan diri beberapa waktu setelah Syaikh Datuk Kahfi wafat.

“Kenapa engkau tidak memberi tahu aku?”

“Bukankah hal itu biasa, Paman?” ujar Syarif Hidayatullah. “Bukankah tidak salah mereka bertafakur di hadapan makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi? Sebab, seingat saya, sesungguhnya orang-orang yang meninggal ndi jalan Allah itu tidaklah mati, bahkan mereka hidup, hanya kita yang tidak menyadari keberadaannya (QS al-Baqarah:154). Bukankah demikian, Paman?”

“Bagi manusia yang mengharapkan karunia ruhani dari Allah SWT., apa yang mereka lakukan memang tidak keliru,” ujar Abdul Jalil menjelaskan. “Tetapi bagi manusia yang mengharap Kebenaran Ilahi, jelas apa yang mereka lakukan merupakan kekeliruan besar. Yang penting engkau pahami, o Anakku, bahwa tanpa pengetahuan rahasia yang bisa menyingkap alam gaib, tidak seorang pun manusia bisa berhubungan dengan ruh seorang ahli kubur. Jika berhubungan denganruh ahli kubur saja tidak bisa, apa lagi berhubungan dengan Sang Kebenaran (al-Haqq).”

“Apakah beda karunia ruhani Ilahi dan Kebenaran Ilahi?”

“Jika seseorang mengharap aku memberikan uang, pakaian, makanan, dan berbagai hal yang aku miliki maka itulah ibarat dari karunia Ilahi. Tetapi jika seseorang berharap bisa menjadi kawanku, sahabat karibku, kekasihku maka itulah ibarat dari Kebenaran Ilahi. Ketahuilah, sesungguhnya mereka berdua bukanlah golongan orang yang biasa yang cukup puas dengan karunia Ilahi. Mereka bisa menjadi sahabat dan bahkan kekasih Allah SWT..”

“Saya paham, Paman.”

Sambil terbatuk-batuk Abdul Jalil melangkah ke arah kedua orang adik seperguruannya dan bertanya, “Apakah sesungguhnya yang telah kalian lakukan di hadapan makam guru agung?”

“Mohon ampun, Pamanda,” kata Raden Sahid. “Kami berdua sedang melakukan iktikaf agar kami beroleh karunia dari-Nya.”

“Kenapa beriktikaf di depan makam guru agung? Apakah kalian berdua hanya menginginkan karunia ruhani dari-Nya?” tanya Abdul Jalil dengan suara ditekan.

“Kami berdua merasa tidak punya kemampuan apa-apa untuk bisa menghadap hadirat-Nya. Itu sebabnya, kami memohon bantuan wasilah kepada guru agung kami yang suci agar menyampaikan hajat kami kepada-Nya. Kami berdua pun tidak berani berharap lebih dari sekedar beroleh karunia ruhani dari-Nya.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, bahwa keinginanmu untuk menghindari urusan duniawi dengan melakukan iktikaf di makam guru agung dapat dikata sebagai getar nafsu kalian yang tersembunyi (asy-syahwat al-khafiyyah). Hal itu menyebabkan keterperangkapan kalian berdua ke dalam jerat al-wahm yang penuh ditebari jaring-jaring lamunan kosong (al-umniyyah). Aku katakan demikian karena kalian berdua belum mengetahui dengan pasti apakah Allah SWT sudah menempatkan diri kalian ke dalam golongan orang-orang yang memang ditentukan-Nya hidup menjauhi urusan duniawi. Perlu Adinda berdua pahami bahwa kerasnya semangat (sawabiq al-himam) yang telah Adinda tunjukkan sesungguhnya tidak mampu menembus takdir-Nya (aswar al-aqdar).”

“Ingat-ingatlah, o Saudara saudaraku, bahwa amal perbuatan hanyalah sebuah bentuk kerangka yang tegak dan tidak hidup (shuwar qa’imah). Hanya nilai keikhlasan (sirr al-ikhlash) jua yang memberikan ruh hidup kepadanya. Itu sebabnya, amal yang telah kalian berdua jalankan selama ini pada hakikatnya hanya menjadi kerangka tegak dan tidak hidup. Seperti arca batu. Dikatakan begitu karena kalian berdua tidak benar-benar ikhlas melakukannya. Kalian berdua masih mengharap turunnya karunia ruhani dari-Nya.”

Mendengar uraian Abdul Jalil yang tajam tentang jalan ruhani, Raden Sahid dan Raden Qasim terdiam. Di dalam diam itu mereka akhirnya memahami kenapa Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi begitu bangga dan sering menjadikan Abdul Jalil sebagai sosok siswa yang harus diteladani. Mereka sadar bahwa kakak seperguruan mereka itu memang memiliki kelebihan dibanding para siswa Syaikh Datuk Kahfi yang lain. Akhirnya, setelah beberapa jenak terdiam, Raden Sahid berkata, Pamanda Abdul Jalil, kami berdua mohon dengan segala hormat sudilah kiranya Pamanda membimbing kami meniti jalan Kebenaran. Sebab menurut guru agung, Pamandalah siswa yang diharapkan menggantikan kedudukan beliau. Bahkan, sejak kami berdua datang beliau selalu meminta agar kami sabar menunggu kepulangan Pamanda dari rantau. Beliau selalu menyebut Pamanda dengan gelar Sang Pajuningrat, yaitu baji pembelah dunia.”

“Guru agung pernah berkata demikian?” Abdul Jalil tersentak heran.

“Kami berdua tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang telah beliau ucapkan.”

Abdul Jalil termangu-mangu. Ia menatap tajam Raden Sahid dan Raden Qasim ganti-berganti seolah-olah hendak mengukur pedalaman kedua adik seperguruannya. Beberpa jenak setelah itu ia bertanya, “Apakah kalian berdua apakah memang sering tafakur di depan makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi?”

“Hampir setiap hari kami berdua ke sini,” sahut Raden Sahid.

“Jika kalian berdua akan belajar dariku tentang rahasia Kebenaran-Nya di balik kehidupan yang fana ini,” kata Abdul Jalil tegas, “maka pertama-tama yang harus dipahami adalah kenyataan yang menyatakan bahwa apa yang telah kalian berdua lakukan dengan bertafakur di depan makam guru agung kita adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Sebab, yang kalian hadapi itu sesunguhnya hanya gundukan tanah berisi jasad ramanda dan ibunda guru agung. Arwah beliau berdua tidak berada di kuburan. Arwah beliau berdua sudah tidur damai di alam arwah. Itu sebabnya, jangan sekali-kali kalian mengganggu kedamaian mereka berdua.”

“Selain itu, ada satu hal yang wajib kalian ingat-ingat! Jika kalian belum dikaruniai pengetahuan rahasia untuk bisa menembus alam gaib, jangan sekali-kali kalian tafakur di depan kuburan. Sesungguhnya tindakan bertafakur berlama-lama di suatu kuburan, meski itu kuburan guru agung, adalah tindakan yang berbahaya. Sebab, setiap saat bisa saja manusia terperangkap oleh bisikan setan yang bersembunyi di dalam nafsunya. Dan, biasanya setan akan membuat seolah-olah bisikan itu berasal dari ruh ahli kubur bersangkutan.”

“Kami berdua mohon petunjuk, o Pamanda.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, sesungguhnya Kebenaran tidak berada di kuburan, tidak di pepohonan, tidak di bebatuan, tidak di gunung, dan tidak pula di lautan. Sesungguhnya Kebenaran bersemayam di dalam dan sekaligus di luar diri manusia sendiri. Kebenaran tidak terikat, tetapi juga tidak terlepas sama sekali dari keberadaan manusia. Hanya saja, manusia belum menyadarinya.”

“Kami pusakakan petunjuk Pamanda,” sembah Raden Sahid dan Raden Qasim takzim.

“Hal kedua yang harus selalu kalian ingat,” kata Abdul Jalil, “sekalipun Kebenaran bersemayam di dalam diri manusia sendiri, pada hakikatnya ia tidak terperangkap di dalam tubuh manusia. Ia tidak bisa dibayang-bayangkan seperti sebilah pedang yang berada di dalam sarungnya. Sebab, secara hakiki Kebenaran tidak berada di dalam dan tidak berada di luar diri manusia. Kebenaran tidak terpisah dari diri manusia.” “

Kami pusakakan petunjuk Pamanda.”

“Hal ketiga yang juga harus dicamkan,” ujar Abdul Jalil, “jangan pernah kalian mengandalkan kekuatan akal (‘aql) semata-mata untuk menemukan Kebenaran Sejati. Sebab, ‘aql yang tidak diterangi petunjuk (hidayah) dari-Nya, justru akan mengikat (‘iql) dan memerangkap manusia ke dalam jaring-jaring kejahilan yang menyesatkan.” “

Hal keempat yang tidak boleh dilupakan,” kata Abdul Jalil dengan suara ditekan, “kalian berdua jangan pernah berpikir bahwa Kebenaran secara kebetulan bisa menghampiri seorang pemalas yang tidak mencari-Nya. Kebenaran bukan hak tukang mimpi. Kebenaran juga bukan hak para pembual. Ingat-ingatlah selalu, o Saudara-saudaraku, bahwa peristiwa Nabi Muhammad Saw. menerima Wahyu Ilahi9 di Gua Hira bukanlah peristiwa kebetulan. Lima belas tahun sebelum beroleh Kebenaran Sejati beliau telah berjuang keras meakukan pencarian dengan tanpa kenal lelah dan putus asa. Siapa yang bisa mengingkari Kebenaran sejarah bahwa beliau telah beriktikaf di Gua Hira selama lima belas tahun? Jika kalian berdua membaca liku-liku kehidupan yang beliau jalani maka kalian akan mendapati kenyataan betapa sesungguhnya beliau bukanlah pemalas, bukan pengkhayal, dan bukan pula pembual. Itu sebabnya, jika Adinda berdua hendak berjuang keras mencari Kebenaran, teladanilah jalan hidup beliau!”

“Kami akan pusakakan dan selalu mengingat petunjuk Pamanda.”

Setelah memberi petunjuk jalan ruhani secukupnya kepada Raden Sahid dan Raden Qasim, Abdul Jalil berangkat ke Kuta Caruban untuk menghadap Sri Mangana. Namun, tanpa diduga seorang santri menghadap dan melapor ada tamu asing menunggu di bawah pondok. Ternyata tamu asing itu adalah Abdul Malik Israil al-Gharnatah, kakek Syarif Hidayatullah.

Abdul Malik Israil menyatakan bahwa kehadirannya ke Giri Amparan Jati untuk menyampaikan kabar jatuhnya Granada ke tangan pasangan Ratu Isabella, penguasa Castilla, dan Raja Ferdinand, penguasa Aragon. “Kekuasaan Islam telah jatuh di Andalusia, namun bakal tumbuh di tempat lain, yakni di tanah timur. Karena itu, kehadiranku ke tempat ini juga untuk melihat apakah benih-benih keislaman sudah tumbuh di sini di mana aku harapkan cucuku ikut memupuk dan memeliharanya.”

Bagi Abdul Jalil sendiri, kabar jatuhnya Granada adalah sebagai “cambuk” yang melecut jiwanya agar lebih giat berjuang menjalankan tugas sebagai anggota Jama’ah Karamah al- Auliya’ yang ditempatkan di Nusa Jawa. Kepada Abdul Malik Israil yang lebih tua dan lebih luas pengetahuannya ia memaparkan semua gagasan dan langkah yang bakal ditempuhnya untuk mewujudkan tatanan baru kehidupan masyarakat di Caruban Larang, yang merupakan lahan subur bagi tumbuhnya benih keislaman. Kemudian ia berterus terang tentang kelemahannya di dalam memahami ilmu siyasah (politik) dan kenegaraan. Ia memohon Abdul Malik Israil untuk mengkritik dan sekaligus memberi masukan bagi gagasan dan langkah-langkahnya.

Ternyata, gagasan dan langkah perjuangan Abdul Jalil yang dikritik Abdul Malik Israil adalah pengembangan Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Menurut Abdul Malik Israil, pengembangan lembaga pendidikan Islam itu terlalu mengacu pada pengetahuan berdasarkan nalar. “Memang sangat ideal membawa manusia ke jalan terang akal melalui tradisi bernalar para failasuf. Tetapi, kenyataan membuktikan bahwa tradisi yang dikembangkan di bumi Andalusia itu telah hancur dilanda kefanatikan buta. Itu sebabnya, aku akan sangat bergembira jika tempat ini dijadikan pusat pengembangan pendidikan ruhani masyarakat sebagaimana Lemah Abang,” kata Abdul Malik Israil.

“Apakah itu berarti kita membangun basis keimanan berdasarkan akar tradisi dan budaya?”

“Tepat, itu yang aku maksudkan,” kata Abdul malik Israil. “Kalau kita bercermin pada sejarah, sesungguhnya keberadaan Bani Israil sangat tergantung pada kelestarian tradisi dan budaya mereka. Puak-puak Bani Israil yang sudah terusir dari negerinya selama beribu-ribu tahun tetap menunjukkan jati dirinya dengan memegang erat tradisi dan budaya warisan leluhurnya. Karena itu, sebagaimana Bani Israil dapat bertahan dari musuh-musuhnya , demikianlah hendaknya bangunan masyarakat di negeri ini engkau tegakkan di atas sendi-sendi tradisi dan budayanya.”

“Itu berarti, membangun tradisi bernalar harus dibelakangkan dan jika mungkin hanya dilakukan sedikit orang,” Abdul Jalil menarik napas berat.

“Aku kira itulah pilihan yang bijaksana,” kata Abdul Malik Israil. “Engkau harus membangkitkan kebanggaan (ta’ashahub) terhadap jati diri budaya pengikut-pengikutmu. Dengan cara itu engkau dapat membangun benteng-benteng yang sulit ditembus pasukan Dajjal yang bakal menyerbu dunia.”

Abdul Jalil mengangguk-anggukkan kepala. Ia sadar akan kebenaran di balik kata-kata Abdul Malik Israil. Ia akan mengubah kembali sistem pembelajaran di Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. “Tetapi jika aku mengikuti saranmu, o Sahabat, akankah aku membiarkan tumbuh dan berkembangnya tradisi dan budaya orang-orang muslim asal Campa yang penuh dilingkari takhayul dan kurafat? Tidakkah engkau tahu mereka telah mencemaskanku karena menulari masyarakat setempat dengan tradisi dan budaya mereka yang bertentangan dengan akal sehat?”

“Engkau tidak bisa mengubah tradisi dan budaya suatu bangsa, kecuali dengan tradisi dan budaya yang sesuai dengan naluri mereka. Maksudku, jika orang-orang Campa memang bukan tergolong bangsa yang memiliki tradisi bernalar maka hendaknya kita menyampaikan Kebenaran kepada mereka sesuai dengan naluri mereka,” kata Abdul malik Israil.

“Berarti kita harus berkompromi dengan kepercayaan mereka tentang ratusan jenis hantu, ramalan nasib, hitungan hari baik dan buruk, mengeramatkan batu dan kuburan, masalah tabu, sampai menghitung keberuntungan dan kesialan orang berdasar suara tokek?” sergah Abdul Jalil.

“Justru di tengah beratnya medan juang itulah kemuliaan membentangkan permadani kehormatannya di hadapanmu. Sesungguhnya nasib malang yang dialami bangsa Campa, Sunda, dan Jawa tidak jauh berbeda dengan nasib yang pernah dialami Bani Israil, yakni pada saat kemunduran peradabannya mereka cenderung terperangkap pada kerangka pikir mengaitkan satu hal dengan hal lain berdasar bunyi suara dan makna kata (othak-athik mathuk). Lantaran kecenderungan itu sangat kuat, Bani Israil sering menghujat nabi-nabi mereka dengan cerita-cerita dusta yang merendahkan derajat para utusan Allah itu.”

Ketika mereka memaknai nama leluhur mereka Ya’kub (Ya’acob) dengan arti ‘penipu’ maka lahirlah kisah yang menuturkan bahwa Nabi Ya’kub a.s. telah menipu saudaranya dalam memperoleh berkat dari ayahandanya, Ishak. Untuk menutupi makna ‘penipu’ pada identitas keturunan Ya’kub a.s., lahirlah kisah ia bergelut dengan manusia jelmaan Tuhan sehingga Ya’kub a.s. disebut Yisrail. Begitulah, keturunan Nabi Ya’kub a.s. menyebut dirinya Bani Israil untuk menghindari kesan kepenipuan dalam nama Ya’acob.”

“Akan halnya orang-orang Moab, mereka pun memaknai nama suku itu berdasarkan bunyi suara dan makna kata. Karena Moab ditafsirkan me-ab (dari ayah) maka dilahirkanlah kisah bahwa Nabi Luth a.s. telah berzinah dengan puteri-puteri kandungnya sehingga lahir orang Moab. Begitulah kisah-kisah miring tentang utusan-utusan Allah yang suci berlaku di kalangan Bani Israil akibat perangkap pikiran itu. Sehingga, seluruh nabi Bani Israil adalah orang-orang yang tidak sempurna dan tercela; Nuh a.s mabuk dan tidur telanjang lalu mengutuk Kana’an, puteranya; Daud a.s berzina dengan istri Uria, Batsyeba; Ibrahim menikahi saudaranya lain ibu, Sarah.”

“Jika kita telusuri nasib malang yang selalu dialami Bani Israil dari waktu ke waktu, bagian terbesar di antaranya adalah akibat kebiasaan mereka membuat cerita-cerita tercela yang menista dan menghina nabi-nabi utusan Allah. Untuk menghindari terulangnya kecenderungan itu, ajaran Islam dengan tegas menetapkan sifat maksum, amanah, fathanah atas nabi-nabi utusan Tuhan. Ketetapanyang menjadi rukun itu tak bisa ditawar sehingga dengan itu semua penganut Islam menampik mutlak citra buruk yang dialamatkan kepada nabi-nabi suci Bani Israil itu.”

“Aku kira, dengan uraianku ini telah jelas bahwa tugas yang engkau jalankan adalah tugas mahaberat, seibarat tugas nabi-nabi Bani Israil dalam menghadapi kaumnya. Itu berarti, engkau harus siap-siap diperosokkan ke dalam lumpur fitnah dan kenistaan karena ingin membawa kaummu kepada Kebenaran Sejati.”

Setelah berbincang-bincang tentang berbagai hal terkait dengan usaha pembangunan tatanan baru masyarakat di Nusa Jawa, Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil memperbincangkan Syarif Hidayatullah yang baru ditinggal wafat istri tercintanya. Abdul Maik Israil mengusulkan cucunya itu segera dicarikan istri lagi agar tidak terus-menerus teringat pada istrinya. Lantaran di Giri Amparan Jati ada Syarifah, adik Abdurrahman dan Abdurrahim Rumi, yang sudah berusia sebelas tahun, maka disepakatilah untuk menikahkannya dengan Syarif Hidayatullah. Hari itu juga secara sederhana Syarifah dan Syarif Hidayatullah dinikahkan.

Saat upacara pernikahan baru saja usai datanglah serombongan tamu asing berjumlah sekitar empat puluh orang. Tamu-tamu itu mengaku berasal dari negeri Wijayanagar, dipimpin oleh seorang pendeta kulit hitam bernama Ballal Bisvas. “Kami utusan Yang Mulia Brahmin Agung Malaya. Kami dititahkan untuk menemui Tuan Syaikh Abdul Jalil di Negeri Caruban. Kami dititahkan untuk membantu perjuangan Tuan Syaikh semampu yang kami bisa,” ujarnya takzim.

“Brahmin Agung Malaya?” Abdul Jalil mengerutkan kening. Berpikir sejenak dan kemudian berkata, “Apakah yang Tuan Pendeta maksudkan Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri?”

“Benarlah demikian, Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil termangu-mangu memandang Ballal Bisvas. Ia merenungkan makna ruhani di balik kehadiran para utusan sahabatnya itu. Saat kali pertama bertemu dengan Ballal Bisvas, Abdul Jalil mendapat isyarat dari Ruh al-Haqq bahwa ia sedang berhadapan dengan seorasng pendeta bhairawa yang memiliki kesaktian luar biasa. Apakah maksud Sang Brahmin Agung mengirimkan pendeta bhairawa untuk mendukung perjuangannya? Apakah perjuangannya akan diwarnai oleh pertumpahan darah seperti pernah dikatakan Sri Mangana saat ia menyampaikan gagasan membangun tatanan baru?

Ketika malam menghiasi langit Caruban Larang dengan taburan bintang-gemintang yang berkilau-kilau cemerlang, Abdul Jalil berdiri tegak di samping Sri Mangana yang menatap nanar para santri Giri Amparan Jati yang tengah menimbuni pendharmaan Bhattari Prthiwi di Kabhumian dengan tanah. Malam itu, sesuai petunjuk arwah Bhattari Prthiwi, Syiwalingga yang dibawa Abdul Jalil dari puncak Gunung Pulasari telah disatukan dengan yoni perlambang pemujaan Shang Bhumi. Sesuai keinginan almarhumah yang tidak ingin diganggu lagi oleh para keturunannya maka Abdul Jalil pun menimbun pendharmaan tersebut.

Menurut rencana, di sebelah utara bekas pendharmaan itu akan dibangun tajug. Ketika sepintas melihat pandangan mata Sri Mangana, Abdul Jalil memahami ada semacam beban yang menggelayuti perasaan ayahanda asuhnya. Penimbunan pendharmaan itu bukan hanya memisahkan ikatan Sri Mangana dengan leluhurnya, melainkan juga terkait dengan kedudukannya sebagai chakrabhumi. Untuk menghibur sekaligus menyadarkan ayahanda asuhnya, Abdul Jalil berkata seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Orang-orang Sunda, seperti orang-orang Jawa, tidak memperbolehkan arwah leluhurnya beristirahat di alam keabadian dengan tenang. Mereka selalu memaksa arwah leluhurnya untuk memenuhi semua keinginan dengan cara membuat senang arwah leluhur lewat sesaji, puji-pujian, dan doa. Sementara itu, mereka tidak mengetahui apa sesungguhnya yang sedang dialami oleh leluhurnya di alam kubur.”

Mendengar ucapan Abdul Jalil, Sri Mangana menarik napas berat dan mengembuskannya keras-keras lewat hidung. Kemudian dengan suara berat ia berkata, “Sesungguhnya aku sadar bahwa sudah selayaknya arwah leluhurku Bhattari Prthiwi beristirahat di alam keabadian. Namun, entah kenapa di dalam benakku masih terbayang sesuatu yang kuat tentang pendharmaannya.”

“Kenangan memang sulit dihapuskan, apalagi jika terekam sejak masa kecil,” ujar Abdul Jalil menjelaskan. “Sebab, kenagan ibarat bayangan yang terus mengikuti kemanapun kita pergi.”

“Itulah yang jadi masalahku sekarang ini.”

“Ramanda Ratu ingat cerita saat Rasulullah Saw. mendakwahkan Islam pertama kali?”

“Ya, kenapa?”

“Jika Ramanda Ratu mencermati para pengikut Nabi Muhammad Saw. yang disebut as-sabiqun awwalun maka Ramanda Ratu akan mendapati betapa bagian terbesar dari pengikut beliau tersebut adalah kalangan muda, sedangkan pihak-pihak yang menentang dan memusuhi beliau saat itu dipelopori orang-orang lanjut usia.”

Apakah maknanya itu, o Puteraku?”

“Kalangan muda yang menerima ajakan Islam sesungguhnya bukan saja disebabkan oleh hidayah yang mereka terima dari Allah SWT, melainkan rekaman kenangan mereka terhadap ajaran yang menganggap Tuhan berbentuk batu dan kayu yang dipahat itu belum terlalu kuat berurat dan berakar. Sementara kalangan tua yang memusuhi Nabi Muhammad Saw. selain tidak beroleh hidayah dari Allah SWT, juga rekaman kenangan terhadap ajaran lama mereka sudah berurat akar selama puluhan tahun. Bahkan pamanda Nabi Muhammad Saw., Abu Thalib, yang berjiwa mulia dan selalu membela dan melindunginya, tergolong kalangan tua yang sudah tercekam oleh ajaran lama tersebut sehingga dia sulit melepaskannya.”

“Jika demikian, berarti rekaman kenangan itu sangat menentukan bagi kita dalam menuju-Nya.”

“Memang demikian adanya, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Bukankah saat menjelang ajal seseorang ditentukan oleh rekaman kenangannya? Bukankah karena alasan itu jua jarang sekali kita jumpai orang menghadapi sakaratul maut dengan hanya mengingat Allah SWT? bukankah karena alasan itu Rasulullah Saw menjamin bahwa barang siapa di antara manusia pada akhir hayatnya bisa mengucap ‘tidak ada Tuhan selain Allah’ – la ilaha illa Allah – bakal masuk surga Allah tanpa hisab?”

“Jika demikian, adakah cara yang bisa dilakukan untuk menghapus rekaman kenangan dari ingatan kita?” Sri Mangana minta penjelasan. “Jujur saja aku katakan, saat ini aku masih sulit melepas pengaruh berbagai ajaran yang kuserap dari lingkungan sekitarku.”

“Hanya dengan bimbingan (huda) dari Allah SWT yang mengalir dari rahmah-Nya maka semua kenangan manusia yang kuat dapat menyingsing sehingga terbentang jalan lurus menuju hadirat-Nya,” ujar Abdul Jalil. “

Bagaimana caranya agar kita bisa mendapat bimbingan dan rahmah-Nya?” “

Bukankah Ramanda Ratu sesungguhnya sudah berada di bawah bimbingan-Nya? Bukankah Ramanda Ratu sudah sampai pada tanah sekat (barzakh) di antara dua lautan dan bahkan telah bertemu Nabi Khidir a.s.?”

“Aku sendiri heran, kenapa perjalananku bisa terhenti dasn aku merasa seolah-olah tidak beranjak ke mana-mana. Maju tidak mundur pun tidak. Apa yang sesungguhnya sedang aku alami?”

“Menurut hemat ananda, wirid yang Ramanda Ratu amalkan mungkin hanya bisa mengantarkan Ramanda Ratu sampai menembus tirai Kebenaran Ilahi.”

“Maksudnya bagaimana?” tanya Sri Mangana heran.

“Sesungguhnya, wirid diamalkan agar orang beroleh karunia ruhani. Suatu karunia ruhani dapat menyebabkan kegaiban (ghaibah), namun dapat juga menyebabkan kegilaan (majnun). Jadi, wirid yang Ramanda Ratu amalkan sesungguhnya telah berhasil mendatangkan kegaiban bagi Ramanda Ratu. Sehingga, ya sudah, sampai di kegaiban itu saja anugerah dari-Nya melimpahi Ramanda Ratu.”

“Kenapa aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ruhaniku?”

“Sebab, yang Ramanda Ratu pahami selama ini memang terbatas pada keinginan beroleh karunia ruhani dari Allah SWT.. Artinya, Ramanda Ratu sesungguhnya tidak berjuang menuju Dia,” ujar Abdul Jalil.

“Astaghfirullah!” seru Sri Mangana dengan nada menyesal. “Sungguh bodoh aku. Selama ini aku tidak membedakan antara berjalan menuju karunia-Nya atau menuju Dia.”

“Sesungguhnya bukan masalah bodoh atau tidak bodoh, Ramanda Ratu. Tetapi, Allah SWT. memang belum menetapkan waktu yang tepat bagi Ramanda Ratu untuk berjalan lurus ke arah-Nya. Sesungguhnya Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi pernah menyuruh ananda untuk mengingatkan Ramanda Ratu tentang hal ini. Namun, saat itu ananda merasa waktunya belum sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, di samping ananda juga merasa segan sebagai anak menggurui ayahnya.”

“Sesungguhnya tidak perlu ada perasaan segan atau tidak segan dalam masalah ini. Bukankah jalan ruhani tidak dibatasi usia dan tidak pula dibatasi oleh kedudukan ayah dan anak? Karena itu, aku memohon kepada engkau, o Puteraku, untuk mengajarkan kepadaku Jalan Lurus menuju-Nya.”

“Ananda tidak akan menjadikan Ramanda Ratu sebagai murid,” kata Abdul Jalil. “Sebab, Ramanda Ratu sudah berjalan jauh hingga di perbatasan antara dua lautan. Jadi, ananda hanya akan memberi sebuah petunjuk yang bisa digunakan untuk meniti jembatan (shirath) ajaib ke arah-Nya. Ananda katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan jarak mereka yang meniti dengan tujuan yang hendak dicapai.” “

Sebagaimana kisah Nabi Musa a.s. dalam perjalanan mencari Khidir a.s., jembatan itu memiliki empat bagian matra yang masing-masing memiliki pintu. Pertama, matra istighfar yang berisi perlambang Nabi Musa a.s. bersama pemuda (al-fata) menjumpai Khidir a.s. di perbatasan antara dua lautan. Kedua, matra salawat yang berisi perlambang Khidir a.s. melubangi perahu. Ketiga, matra tahlil yang berisi perlambang Khidir a.s. membunuh anak. Keempat, matra nafs al-haqq yang berisi perlambang Khidir a.s. menegakkan dinding yang di bawahnya tersembunyi Perbendaharaan.” “

Apakah penjelasan dari makna perlambang matra istighfar?” “

Bagi kalangan awam, istighfar lazimnya dipahami sebagai upaya memohon ampun kepada al-Ghaffar sehingga mereka beroleh ampunan (maghfirah). Tetapi bagi para salik, istighfar adalah upaya memohon pembebasan dari ‘belenggu’ keakuan kepada al-Ghaffar sehingga beroleh maghfirah yang menyingkap tabir ghain yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya, di dalam Asma’ al-Ghaffar terangkum makna Maha Pengampun dan juga makna Maha Menutupi, Maha Menyembunyikan dan Maha Menyelubungi.” “

Sesungguhnya perjalanan Ramanda Ratu telah sampai ke bagian jembatan yang disebut matra istighfar. Tabir ghain yang menyelubungi keakuan Ramanda Ratu telah menyingsing. Ramanda Ratu telah menyaksikan Khidir a.s.. Namun, karena Ramanda Ratu terperangkap pada keinginan untuk beroleh karunia-Nya, maka Ramanda Ratu hanya berputar-putar di matra istighfar yang penuh diliputi gambaran-gambaran indah karunia-Nya.” “

Itulah kekeliruan yang baru aku sadari sekarang ini,” kata Sri Mangana. “Tapi, bagaimana caraku meninggalkan matra istighfar menuju matra salawat? Apakah makna perlambang matra salawat?” “

Melubangi perahu seperti yang dilakukan Khidir a.s.,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “

Kenapa perahu harus dilubangi?” “

Tanpa melubangi perahu, sang salik tidak akan mengetahui hakikat sejati Lautan Wujud (bahr al-wujud). Tanpa melubangi perahu maka kedudukan salik tidak jauh berbeda dengan kedudukan para nelayan; memanfaatkan perahu untuk mencari ikan (pahala) dan berbagai karunia-Nya yang terhampar di permukaan Lautan Wujud, yang selain bergelombang dahsyat juga berisiko dihadang Sang Rajadiraja (al-Malik al-Mulki) yang setiap saat akan merampas perahu-perahu yang baik.” “

Di antara salawat ini sang salik harus menyadari kehambaannya kepada Yang Maha Terpuji (Ahmad) sebagai Sumber segala kejadian. Di matra itu sang salik harus menjadi ghulam yang baik dan berbakti kepada Sumbernya, yakni pancaran Air Kehidupan yang mengalir dari lubang perahu yang dibuat Khidir a.s.. Ghulam yang durhaka dan mengingkari kehambaannya kepada Yang Terpuji harus dibunuh. Sang salik yang tenggelam ke dalam matra salawat ini disebut fana ke dalam Rasulallah (fana fi rasul),” papar Abdul Jalil. “

Aku paham, Air Kehidupan yang memancar dari lubang itu sesungguhnya sama hakikatnya dengan Air Kehidupan yang tergelar di hamparan Lautan Wujud. Walau demikian, tanpa melalui Air Kehidupan yang mengalir dari lubang maka salik tidak akan mencapai Air Kehidupan yang tergelar di Lautan Wujud. Benar demikian, o Puteraku?” “

Benarlah demikian, o Ramanda Ratu.” “

Sekarang terangkanlah kepadaku tentang matra tahlil.” “

Matra tahlil adalah matra Keesaan. Matra Tauhid. Inilah matra Kesatuan Wujud; Lautan Wujud sama hakikatnya dengan Air Kehidupan. Ibarat ungkapan kesaksian tidak ada ilah selain Allah (la ilaha illa Allah), demikianlah di matra ini terungkap kesaksian tidak ada air lain yang tergelar di hamparan Lautan Wujud kecuali Air Kehidupan (Ab al-Hayy) yang mengalir dari Sang Hidup (al-Hayy). Inilah matra yang diibaratkan dalam perlambang dinding yang ditegakkan Khidir a.s. yang di bawahnya tersembunyi Perbendaharaan.” “

Jika demikian, apakah makna matra nafs al-haqq?” “

Matra nafs al-haqq adalah matra rahasia yang tidak bisa diuraikan. Sebab, matra ini menyangkut Perbendaharaan Tersembunyi yang terdapat di bawah dinding. Tak ada satu pun di antara makhluk yang mengetahui keberadaan-Nya, kecuali memang dikehendaki-Nya. Jika Al-Qur’an saja tidak memberikan penjelasan tentang apa sesungguhnya Perbendaharaan, tentunya manusia tidak boleh mengkhayal-khayal tentang Perbendaharaan itu. Gambaran Nabi Musa a.s. yang berpisah dengan Khidir a.s. di matra itu adalah kearifan dari Sang Pencerita untuk tidak mengungkapkan apa yang tidak dapat dipahami pendengar-Nya.” “

Aku kira, aku sudah paham dengan uraianmu, o Puteraku,” kata Sri Mangana. “Sekarang bimbinglah aku ke dalam perjalanan meniti jembatan (shirath) itu menuju-Nya.”

Suao Taiwan ROC. April 09th 2007, 10:20LT