Khotbah Pembaharuan

Ketika Abdul Jalil kembali ke Lemah Abang dengan diikuti Abdul Malik Israil, Ballal Bisvas, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Raden Qasim, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi, ia sangat terkejut menyaksikan tempat yang ditinggalkannya tak lebih dari dua bulan itu sudah berubah menjadi desa hunian yang ramai. Tajug Agung dengan tujuh rumah di kanan dan kirinya, yang merupakan hunian pertama di Lemah Abang, tiba-tiba sudah dikepung oleh ratusan rumah dengan beberapa warung dan pasar desa. Ia masih terheran-heran ketika wajah-wajah baru penghuni Lemah Abang dengan penuh hormat menyambut kedatangannya dan menyatakan diri sebagai muridnya. Dengan sangat takzim mereka memanggil Abdul Jalil dengan sebutan baru: Syaikh Lemah Abang (Tuan Guru dari Lemah Abang).

Usai memimpin sembahyang berjama’ah di Tajug Agung, Abdul Jalil menanyakan kepada murid-muridnya tentang perubahan di Lemah Abang yang begitu mengejutkan. Para murid pun kemudian menuturkan bagaimana perubahan menakjubkan itu terjadi. Meski awalnya heran, dengan penjelasan para muridnya, Abdul Jalil akhirnya memahami kenapa desa yang dibukanya bisa berkembang begitu pesat dan menakjubkan.

Ternyata kunci pertumbuhan pesat Lemah Abang itu terletak pada kebijakan Abdul Jalil sendiri yang menghibahkan tanah kepada siapa saja yang berhasarat tinggal di tempat baru itu. Dalam waktu kurang dari sebulan sejak ia berkeliling ke pedalalman Bumi Pasundan, tutur para murid, tak kurang dari delapan puluh kepala keluarga datang ke Lemah Abang. Mereka mendirikan rumah di sekitar Tajug Agung dan mengubah padang alang-alang untuk dijadikan lahan partanian. Dan jumlah itu terus bertambah dari waktu ke waktu.

Abdul Jalil sendiri sesungguhnya sudah memperkirakan kebijakannya membagi-bagikan tanah anugerah dari Sri Mangana akan disambut gembira oleh para kawula Caruban Larang yang belum mengenal hak kepemilikan. Namun, ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan sambutan begitu gegap gempita sehingga dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak desa litu dibuka dan pernyataan hibah itu disebarluaskan, Lemah Abang talah menjadi desa ramai yang dihuni oleh sekitar seribu warga dengan jumlah rumah sekitar dua ratus empat puluh. Seluruh tanah yang dihibahkan dengan jumlah dua ratus jung (560 hektar) itu sufah habis tanpa sisa. Menurut para murid, beberapa warga baru yang tinggal di selatan pasar desa tidak kebagian tanah garapan.

Setelah mengetahui seluk beluk perkembangan Lemah Abang, malam itu juga usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil berkhotbah di depan warga yang meluber hingga ke teras dan halaman Tajug Agung. Dengan penampilan yang memesona Abdul Jalil berkata, “Sekarang ini aku katakan kepada engkau sekalian, o warga baru Lemah Abang, yang mengikrarkan diri sebagai murid-muridku. Hal pertama yang wajib kalian ingat sebagai murid adalah mengikuti ajaran-ajaran yang aku sampaikan dengan baik dan penuh kepatuhan. Pelajaran pertama dariku yang harus benar-benar kalian pahami serta kalian jadikan amaliah dalam kehidupan sehari-hari adalah memegang teguh ajaran tentang hakikat manusia dan tatanan hidup yang layak baginya. Apakah kalian semua bersedia untuk menerima ajaranku itu?”

Bagikan gemuruh suara ribuan lebah, warga serantak menyatakan kesediaan untuk menerima, mematuhi, dan mengamalkan ajaran yang akan disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang. Setelah suara gaduh berlangsung beberapa bentar, keadaan tenang kembali. Abdul Jalil kemudian melanjutkan khotbah.

“Pertama-tama, yang wajib kalian ketahui adalah ajaranku tantang manusia. Sebagai murid-muridku, kalian wajib memiliki keyakinan utama bahwa sejak manusia lahir di dunia yang fana ini tiap-tiap pribadi memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan sebagai makhluk paling sempurna keturunan Adam a.s.. Sebagai makhluk paling sempurna yang disebut adimanusia (al-insan al-kamil), kalian semua dicipta oleh Allah dengan maksud dijadikan wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).”

Sesungguhnya rahasia agung di balik kesemmpurnaan adimanusia terletak pada kenyataan bahwa di dalam tubuh manusia yang terbuat dari tanah liat tersembunyi ruh bersifat Ilahiyyah yang ditiupkan oleh Allah saat penciptaan manusia pertama. Oleh karena adanya tiupan ruh itu maka makhluk yang sudah dicipta lebih dahulu, yaitu para malaikat, serentak sujud kepada manusia pertama tersebut, yakni Adam a.s.. Iblis, makhluk yang dicipta lebih dahulu dari Adam a.s., tetapi tidak mengetahui tentang tiupan ruh tersebut, menolak sujud. Iblis menganggap Adam a.s. hanyalah makhluk rendah yang terbuat dari anasir tanah belaka. Lantaran sikapnya yang keras mengingkari keagungan dan kemuliaan Adam a.s., Iblis dimurkai dan dilaknati Allah (QS Shad: 71 – 8 ).”

“Jika di dunia ini kalian menemukan ajaran, aturan, pandangan, dan tindakan dari orang seorang yang mengingkari keagungan dan kemuliaan manusia maka itulah cerminan dari sifat Iblis yang terkutuk. Jika kalian mendapati ada ajaran yang menista manusia sebagai makhluk rendah yang tubuhnya terbuat dari daging yang bakal membusuk dan karenanya harus direndahkan maka itulah ajaran Iblis. Jika kalian menemukan ada manusia yang suka merendahkan dan menista sesamanya maka itulah manusia Iblis. Pendek kata, apa pun yang terkait dengan penghinaan dan penistaan atas hakikat manusia adalah bertentangan dengan ajaranku.”

“Dengan memahami keyakinan bahwa manusia adalah wakil Allah di muka bumi, maka hal pertama yang harus disadari oleh setiap manusia yang mengaku muridku adalah membiasakan diri untuk selalu menyatakan ikrar bismillah (dengan atas nama Allah) dalam setiap gerak kehidupan yang dijalankannya. Dengan selalu menyatakan ikrar bismillah dalam memulai segala pekerjaan seperti makan, minum, mandi, bersolek, berpakaian, memasak, berjalan, menaiki kendaraan, bergaul dengan istri, membaca kitab, bahkan saat hendak tidur maka kalian akan selalu ingat dan sadar bahwa kalian adalah wakil Allah di dunia ini. Sementara itu, dengan melengkapi ucapan bismillah menjadi bismillahirrahmanirrahim (dengan atas nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang), maka kalian akan selalu ingat dan sadar diri bahwa kalian adalah wakil Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang di muka bumi (khalifah ar-Rahman wa ar-Rahim fi al-ardh). Itu berarti, kalian akan selalu ingat bahwa dalam kehidupan di dunia ini kalian wajib menjadi manusia yang memiliki sifat pemurah dan penyayang sebagaimana sifat Dia yang kalian wakili. Sehingga, dengan selalu ingat akan itu, kalian tidak akan berbuat aniaya di muka bumi ini.”

“Tetapi, keyakinan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna belum cukup untuk membuktikan keagungan dan kemuliaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena, ruh bersifat Ilahiyyah yang ada pada diri manusia banyak yang tidak kuat menanggung beban yang dipikulkan oleh nafsu rendah badani manusia. Ruh suci yang bersemayam di dalam diri manusia banyak yang tak berdaya menghadapi kuasa nafsu badani manusia yang rendah. Ruh suci yang tersembunyi di dalam hakikat manusia banyak yang terperangkap di dalam jaring-jaring kejahilan yang dicipta oleh nafsu rendah badani manusia.”

“Tahukah kalian apakah nafsu rendah badani manusia itu? Nafsu rendah badani manusia adalah jiwa manusia yang cenderung berhasrat kuat mencintai kebendaan. Akibat kecenderungannya itu maka dia bertekuk lutut di hadapan manusia lain sambil berkata, ‘Bebanilah punggungku dengan kebohongan-kebohongan dan janji-janji palsu, o Tuanku, agar aku dengan penuh sukacita dapat memamerkan kesetiaanku kepada Tuan yang bisa memberiku sekadar makanan dan benda-benda. Sesungguhnya aku adalah jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban yang akan menderita sakit jika punggungku tidak Tuan bebani. Tubuhku akan merasa remuk dan aku malas bekerja jika Tuan belum menderaku dengan cambuk. Telingaku akan tuli dan jiwaku akan merana jika Tuan belum mencacimakiku dengan hinaan.”

“Sesungguhnya nafsu rendah badani manusia selalu berubah-ubah sesuai ruang dan waktu di mana ia berada. Jika di berbagai negeri mereka selalu mengaku sebagai jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda, jiwa kuda beban yang selalu ingin memikul beban, maka di Bumi Pasundan dan Majapahit mereka cenderung berkata begini, ‘Pasanglah kuk penarik bajak atau pedati yang terbuat dari kebohongan dan janji palsu di punggungku, o Tuanku, agar aku dapat membuktikan pengabdianku kepada Tuan yang memberiku kandang dan pangan sekadarnya. Sesungguhnya aku adalah jiwa kerbau, jiwa kuda penarik kereta, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan yang akan menderita jika tidak menjalankan tugasku sesuai perintah Tuan. Dera tubuhku dengan cambukmu agar aku menjadi giat bekerja. Perah susuku agar aku menjadi sehat sentosa.” “

Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku murid-muridku, apakah engkau sekalian ingin selamanya menjadi makhluk rendah pembawa beban seperti keledai, unta, kuda beban, kerbau? Inginkah kalian selamanya berlutut di depan manusia lain dengan beban di punggung? Inginkah kalian selamanya menerima deraan, caci-maki dan hinaan dari sesamamu?” “

Sebagai guru di antara manusia aku ajarkan kepada kalian bahwa Adam a.s. tidak diciptakan oleh Allah untuk tujuan menjadi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan bagi makhluk lain. Adam a.s., leluhurmu, diciptakan oleh Allah menjadi wakil Allah di muka bumi. Adam a.s. diciptakan untuk diagungkan dan dimuliakan oleh makhluk lain.” “

Dengarlah, o Saudara-saudaraku, aku katakan kepada kalian bahwa sejak saat ini kalian harus berani memulai perlawanan terhadap kekuasaan nafsu rendah badani manusia yang bersemayam di dalam dirimu sendiri. Lawanlah hantu buruk rupa dari nafsu rendah badani kalian itu. Siram wajahnya yang dipulas bedak kebohongan dan gincu kepalsuan itu dengan air keberanian yang mengalir dari sungai kebenaran. Biarkan dia malu dengan wajahnya yang buruk penuh pulasan itu. Sesungguhnya nafsu badani yang mencengkeramkan kuku tajamnya yang beracun itu adalah hantu yang selalu menakut-nakuti dirinya sendiri. Karena itu, bentangkan cermin kebenaran di dalam jiwamu dan hadapkan ke wajahnya agar ia malu melihat gambar dirinya sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, sesungguhnya hal yang paling ditakuti oleh nafsu rendah badani adalah cermin kebenaran dan udara kebebasan. Sebab, jiwa sejati dari nafsu rendah badani adalah yang takut berkata benar dan ngeri hidup di alam kebebasan. Sebagai seorang guru, aku katakan bahwa mulai sekarang kalian harus melawan kekuasaan nafsu rendah badani yang menjajah dirimu sendiri. Jangan biarkan ia mendiktemu untuk tetap setia pada hasrat dan keinginan rendahnya yang akan menjadikan kalian keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Kalian harus berjuang keras untuk membangunkan ruh keagungan dan kemuliaan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Kalian harus berjuang untuk mewujudkan diri sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain. Perbaharuilah jiwamu yang lama dengan jiwa yang baru!”

“Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa aku mengajarkan manusia agar memiliki keberanian meninggalkan dunia pengap dengan tatanan lama yang selama ini diikutinya secara membuta berdasarkan petunjuk dari nafsu rendah badani. Sebab, telah terbukti bahwa tatanan lama itu menyesatkan manusia dari jalan yang benar, yakni jalan yang harus dilewati wakil Allah di muka bumi. Tatanan lama itu telah memerangkap manusia ke dalam kandang-kandang kotor yang diperuntukkan bagi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Karena itu, tinggalkanlah dunia pengap dengan tatanan lama itu, meski nafsu rendah badani akan menghadang dan menakut-nakutimu dengan ancaman kesulitan dan kesengsaraan hidup di dunia.”

“Untuk meninggalkan tatanan lama yang menyesatkan itu, kepada kalian aku beri tahu tentang empat jiwa yang menyemangati ruh yang wajib kalian jadikan pusaka: dialah jiwa kebenaran, jiwa keberanian, jiwa ketabahan, dan jiwa kebebasan. Dengan empat jiwa yang menyemangati ruh itu, kalian akan dapat meninggalkan nafsu rendah badani dan melintasi jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban, jiwa kerbau, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan. Jika kalian berjuang keras bersama-sama dengan keempat jiwa dari ruh itu maka kalian tidak hanya akan mengalahkan nafsu rendah badani, tetapi juga dapat melampaui keberadaam kalian sebagai manusia untuk menjadi adimanusia, yakni wakil Allah di muka bumi yang membuat para malaikat bersujud.”

Bagaikan cahaya matahari terbit di pagi hari, khotbah yang disampaikan Abdul Jalil menerangi cakrawala jiwa para pendengarnya. Namun, Abdul Jalil sadar bahwa terang matahari pengetahuan yang menyinari jiwa murid-muridnya adalah terang mentari pagi yang masih diselimuti kabut dan embun. Abdul Jalil paham tidak semua pendengar memahami khotbahnya. Itu sebabnya, ia merasa berkewajiban untuk membuat lebih terang cakrawala jiwa para pengikutnya. Sebagaimana khotbah pertama, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang seusai memimpin sembahyang isya. Dengan pandangan penuh kasih kepada para muridnya, ia memulai khotbah dengan suara digetari perasaan lain.

“Seperti telah aku ajarkan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa fitrah dari Sang Pencipta (al-Khaliq) yang diberikan kepada manusia adalah keagungan dan kemuliaan sebagai wakil Allah di muka bumi. Itu sebabnya, setiap orang yang mengaku sebagai muridku hendaknya memulai hidup baru dengan pandangan dan sikap hidup yang baru pula. Mereka yang mengaku muridku wajib menyadari keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ untuk menjadi adimanusia wakil Allah di muka bumi.”

“Jika kalian telah sadar bahwa kalian adalah makhluk paling sempurna yang bisa meraih kedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi, maka hendaknya masing-masing dari kalian berpegang pada tatanan hukum Ilahi (syari’at) yang bersumber dari sabda Allah dan teladan Nabi Muhammad Saw. (sunnah ar-rasul). Tanpa menggunakan pedoman hukum Ilahi, kalian akan kehilangan arah dalam usaha mewujudkan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Bukankah di manapun manusia berada selalu diatur oleh aturan-aturan hukum yang sesuai dengan lingkungannya? Demikianlah, aku katakan bahwa hukum Ilahi merupakan pedoman yang wajib diikuti oleh mereka yang meyakini bahwa manusia adalah citra wakil Allah di muka bumi.”

“Dengan menyadari keberadaan diri sebagai calon adimanusia dan wakil Allah di muka bumi, maka di dalam tatanan hukum Ilahi termaktub larangan bagi siapa saja yang mengaku orang beriman untuk berlutut dan bersujud kepada sesama makhluk di jagad raya ini. Lantaran ketetapan hukum Ilahi seperti itu maka kalian – yang yakin bahwa manusia dirancang sebagai wakil Allah di muka bumi – dilarang berlutut dan bersujud menyembah pohon, batu, kuburan, gunung, bulan, bintang, matahari, binatang, makhluk gaib, dan sesama manusia. Sebab, tidaklah pantas seorang wakil menyembah sesama wakil atau yang lebih rendah lagi.”

“Jika selama ini aku masih melihat sebagian dari kalian berlutut dan menyembah raja-rajamu dan pemimpin-pemimpinmu maka mulai sekarang semua itu hendaknya harus diubah. Sebab, tidak ada tatanan hukum Ilahi yang ‘mengharuskan’ kalian berlutut dan menyembah kepada selain Allah. Lantaran itu, semua kebiasaan itu harus diperbaharui dengan tatanan baru yang sesuai dengan kodratmu sebagi wakil Allah di muka bumi: jangan berlutut dan menyembah sesuatu selain Dia yang telah mengangkatmu sebagai waki-Nya.”

“Namun, dalam mengamalkan ajaran ini, kalian juga harus ingat bahwa menurut tatanan hukum Ilahi terlarang bagi kalian untuk mencela dan menista manusia lain yang masih melakukan penyembahan kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Tidak ada hak bagi kalian untuk mencela orang lain yang tidak sepaham dengan kalian. Sesungguhnya, bagi masing-masing kelompok manusia telah terdapat ketentuan jalan masing-masing. Dan sesungguhnya, segala sesuatu yang terkait dengan penyembahan Allah adalah mutlak atas kehendak-Nya sendiri untuk disembah dengan berbagai nama dan cara. Karena itu, kalian jangan mencela cara-cara yang digunakan orang lain dalam menyembah Allah yang tidak sesuai dengan caramu.”

“Jika ada di antara kalian yang bertanya bagaimanakah tatana baru yang sesuai bagi para wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa tatanan yang berlaku di kediaman kalian, Lemah Abang ini, adalah bukti dari tatanan baru tersebut. Aku katakan tatanan di Lemah Abang adalah tatanan baru sebab ia adalah tatanan yang ditegakkan berdasarkan hukum Ilahi yang diperuntukkan bagi para wakil Allah.”

“Jika selama ini kalian mengikuti tatanan lama secara membuta maka sekarang kalian akan mengikuti tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi. Jika kalian belum paham dengan tatanan baru yang aku maksudkan itu maka sekarang aku akan menerangkan kepada kalian. Adapun tatanan baru yang ditegakkan di Lemah Abang ini adalah tatanan yang berdiri di atas asas-asas hukum Ilahi yang sesuai dengan fitrah wakil Allah di muka bumi.”

“Sungguh telah terdapat tatanan lama, di berbagai belahan bumi, yang menetapkan bahwa setiap penghuni sebuah negeri yang bukan ‘raja’ adalah kumpulan manusia malang yang telah ditekuk oleh kebohongan yang mengatakan bahwa mereka adalah keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang setia. Di Bumi Pasundan dan Majapahit, misalnya, mereka itu disebut kawula (budak) yang tidak diakui keberadaannya sebagai pribadi manusia. Lantaran itu, mereka tidak mempunyai hak apa pun atas hidupnya sendiri. Sementara raja dan keluarganya serta orang-orang di sekitarnya, setiap saat dan setiap tempat dapat mengambil apa saja yang dimiliki kawula, termasuk mengambil nyawa tanpa hak.”

“Tatanan yang tidak memanusiakan manusia itulah yang harus ditingglkan karena tatanan itu menista dan merendahkan harkat dan martabat manusia. Ya, tatanan lama bikinan manusia itulah yang harus diperbaharui oleh tatanan yang bersumber dari sabda Allah dan teladan hidup Nabi Saw.. Karena terbukti sudah bahwa tatanan lama itu menjerumuskan manusia dari kedudukan wakil Allah di muka bumi menjadi kawanan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang hina dina yang menggantungkan hidup kepada tuannya.”

“Sebagai bukti adanya tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi di Lemah Abang, desa yang baru kita bangun dengan cucuran keringat kita sendiri ini, berlaku ketentuan mutlak yang mewajibkan setiap orang yang mengaku muridku untuk meninggalkan mimpi buruk itu. Semua muridku wajib meninggalkan tatanan lama yang dibangun di atas kebohongan dan dusta itu. Aku katakan sekali lagi, setiap warga Lemah Abang atau setiap orang yang mengaku muridku tidak boleh lagi tunduk dan patuh pada tatanan yang dibangun oleh para pendusta. Murid-muridku tidak boleh membiarkan dirinya dijadikan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang tunduk di bawah kekuasaan manusia lain.”

“Keberadaan masing-masing pribadi manusia sebagai calon wakil-wakil Allah di muka bumi, di Lemah Abang ini, wajib diakui, dihargai, dan dihormati. Itulah asas tatanan baru berdasar hukum Ilahi yang aku maksud. Ingat-ingat! Siapa saja yang berada di Lemah Abang ini sama kedudukan dan derajatnya sebagai manusia. Semua sesaudara, keturunan Adam a.s.. Sebagaimana para raja yang menyatakan diri mereka sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia, begitulah semua manusia di Lemah Abang ini harus dipandang sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia. Di Lemah Abang ini setiap manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi. Di Lemah Abang ini tidak ada raja dan tidak ada kawula. Tidak ada gusti dan tidak ada hamba sahaya. Semua manunggal sebagai anak cucu Adam a.s.. Semua adalah sesaudara karena semua berkedudukan sebagai wakil Allah.”

“Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah tatanan baru ini adalah hasil olah pikiran Syaikh Lemah Abang sendiri? Aku katakan kepada kalian bahwa seribu tahun silam peraturan ini sudah pernah oleh seorang laki-laki buta huruf yang agung dan mulia di kota bernama Yatsrib yang terletak di negeri Arabia. Beliau adalah Nabi Muhammad Saw.. Saat itu tidak ada perbedaan derajat antara Bilal bin Rabah yang bekas budak dan bangsawan serta saudagar kaya seperti Utsman bin Affan. Setiap manusia dihargai sebagai pribadi yang utuh. Beliau mengajarkan tiap-tiap manusia baik raja maupun budak akan diminti pertanggungjawaban secara pribadi atas segala apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.”

“Dengan memahami bahwa tatanan yang berlaku di Lemah Abang ini hanya meniru tatana hukum Ilahi yang sudah pernah diterapkan seribu tahun silam maka sesungguhnya tatanan ini tidaklah baru. Jikalau aku sebut tatanan ini baru karena memang baru di Bumi Pasundan dan Majapahit. Sebagaimana saat tatanan itu diterapkan pada zaman Nabi Muhammad Saw., saat sekarang pun tatanan itu banyak menghadapi tantangan dan rintangan. Sebab, dengan tatanan baru itu sesungguhnya sangat banyak para pendusta dan pencinta nafsu duniawi akan dirugikan. Lantaran itu, kalian harus menyiapkan dan menyiagakan diri untuk berhadapan dengan mereka yang mengutuki tatanan baru yang kita berlakukan di Lemah Abang ini.”

Abdul Jalil berhenti sejenak sambil matanya menyapu ke halaman Tajug Agung yang penuh disesaki warga. Ia meninggalkan mimbar dan berjalan ke arah teras Tajug Agung. Setelah berdiri dan menarik napas panjang, ia melanjutkan khotbahnya dengan suara yang lain.

“Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku muridku, kepadamu aku akan menerangkan dan menjabarkan tentang makna adimanusia sebagai wakil Allah di muka bumi dan tatanan hukum Ilahi yang menyertainya sebagai keniscayaan yang harus diwujudkan dalam sehari-hari. Kenapa ini harus kujelasjabarkan kepada kalian? Karena hanya dengan memahami apa yang akan aku jelaskan dan jabarkan ini, kalian semua akan beroleh keselamatan hidup yang sejati.”

“Pertama-tama, hendaknya kalian semua menyadari bahwa dengan menduduki derajat adimanusia dan menyandang jabatan wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya secara fitrah keberadaan kalian merupakan manusia menyandang nama (asma’), sifat (shifat), perbuatan (af’al) Allah. Maksudnya, dengan didudukkan pada derajat adimanusia, sesungguhnya kalian memancarkan citra makhluk mulia yang mewakili Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), yaitu pancaran citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).”

“Dengan menyadari bahwa antara adimanusia dan wakil Allah di muka bumi adalah sama pada makna hakiki dalam asma’, shifat, dan af’al maka sesungguhnya tiap-tiap manusia secara fitrah juga menduduki jabatan wakil Yang Zahir di muka bumi (khalifah azh-Zhahir fi al-ardh), wakil Yang Batin di muka bumi (khalifah al-Bhatin fi al-ardh), wakil Yang Maha Menguasai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemberi Rezeki di muka bumi (khalifah al-Razaq fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemurah di muka bumi (khalifah ar-Rahman fi al-ardh), wakil Yang Maha Menghakimi di muka bumi (khalifah al-Hakam fi al-ardh), wakil Yang Maha Memelihara di muka bumi (khalifah al-Hafizh fi al-ardh), dan seterusnya. Dan semua makna hakiki asma’, shifat, dan af’al itu menyatu secara seimbang dan sempurna pada citra al-Haqq yang ditiupkan oleh-Nya saat menyempurnakan kejadian wakil-Nya. Sehingga, hakikat sejati keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi sesungguhnya tercitrakan secara utuh pada kedudukan wakil al-Haqq di muka bumi (khalifah al-Haqq fi al-ardh).”

“Dengan memahami dan menyadari bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil al-Haqq di muka bumi maka keberadaan tiap-tiap manusia wajib diakui, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang memiliki hak-hak fitrah sebagai makhluk paling sempurna. Tahukah kalian apa yang dinamakan hak-hak filtrah manusia sebagai wakil al-Haqq? Yaitu, hak diakui keberadaannya melalui kebebasan menyampaikan Kebenaran. Itulah hak paling fitrah dari wakil al-Haqq di muka bumi yang wajib dihargai dan dihormati.”

“Tidak peduli seseorang berkedudukan sebagai raja, pangeran, nayakapraja, pedagang, petani, kuli, bahkan budak sekalipun, secara fitrah memiliki hak untuk bebas menyatakan kebenaran. Sebab, dengan menyatakan Kebenaranlah sesungguhnya orang-seorang diakui keberadaannya sebagai manusia. Bahkan, yang dianggap paling mulia di antara wakil al-Haqq dalam mewujudkan hak fitrahnya adalah mereka yang berani menyampaikan Kebenaran kepada penguasa zalim yang tidak mengakui hak manusia lain. Sesungguhnya, mengingkari keberadaan manusia sebagai pribadi yang mewakili al-Haqq di muka bumi adalah sama artinya dengan mengingkari keberadaan al-Haqq. Itu sebuah kekufuran yang wajib ditentang dan dijauhkan dalam kehidupan.”

“Tahukah kalian apa yang disebut mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia yang mempunyai hak fitrah untuk bebas menyuarakan Kebenaran? Jika engkau mengakui keberadaan seekor burung dan membiarkannya berkicau maka itulah yang kuibaratkan dengan mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia. Sebab, kicau burung adalah suara Kebenaran yang dinyanyikan lewat bahasa burung. Demikianlah, mengakui, menghargai, dan menghormati manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah seibarat engkau mengakui keberadaan burung yang bebas membuat sarang untuk berkembang biak dan bebas berkicau di tempat mana pun di muka bumi. Sungguh merupakan kezaliman jika dengan kekuatan tanganmu engkau rusakkan sarang burung dan engkau larang burung-burung berkicau memuji keagungan Penciptanya.”

“Pada masa lalu, barang seribu tahun silam, pengakuan terhadap keberadaan manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang dilanjutkan oleh keempat sahabat yang menjadi penerusnya. Saat itu tiap-tiap manusia dihargai dan dihormati haknya untuk menyuarakan Kebenaran. Itu sebabnya, seorang bekas budak berkulit hitam yang menyampaikan gagasan adzan, cara memanggil orang untuk bersembahyang, oleh Nabi Muhammad Saw. diterima dan dijadikan bagian dari peribadatan yang berlaku sampai sekarang ini. Karena itu, setiap kali kalian mendengar suara adzan dikumandangkan, hendaknya kalian mengingat bahwa penggagas panggilan untuk bersembahyang itu bukanlah raja dan bukan pula bangsawan, melainkan bekas budak kulit hitam bernama Bilal bin Rabah.”

“Sebagai bukti lain bahwa keberadaan tiap-tiap pribadi manusia diakui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah kisah yang menuturkan tentang seorang sahabat Nabi yang buta bernama Ibnu Maktum. Karena Nabi Muhammad Saw. sempat mengabaikan manusia buta itu dan lebih mengutamakan bangsawan Quraisy maka beliau ditegur Allah. Lantaran itu, setiap kali Nabi bertemu Ibnu Maktum, beliau selalu berkata, “Wahai sahabat, yang membuatku ditegur Tuhanku.”

“Dengan apa yang telah aku paparkan ini, jelaslah sudah bahwa pengakuan, penghargaan, dan penghormatan terhadap manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah semata-mata atas kehendak-Nya. Itu sebabnya, Nabi Muhammad Saw. sebagai penyampai Kebenaran Ilahi menjalankan amanah-Nya itu dengan sempurna. Dan karena aku adalah ulama pewaris Nabi (al-ulama’ waratsat al-anbiya’) maka aku pun berkewajiban untuk meneladani beliau. Kalian sebagai murid-muridku hendaknya mengikuti jejakku, yaitu mengakui, menghargai, dan menghormati manusia lain terutama suara Kebenaran yang disampaikannya.” “

Jika selama ini baik di Bumi Pasundan maupun Majapahit terdapat tatanan yang mengatur bahwa siapa pun di antara kawula tidak mempunyai hak apa-apa, karena yang memiliki hak atas segala hak adalah raja, maka kukatakan kepada kalian bahwa tatanan itu sekarang sudah diubah di Lemah Abang ini. Tatanan usang itu harus diperbaharui. Jika selama ini terdapat tatanan yang menetapkan bahwa siapa pun di antara kawula tidak memiliki hak untuk menyuarakan Kebenaran, karena yang berhak mengatakan ini dan itu tentang Kebenaran hanya sang raja, maka kukatakan bahwa tatanan itu pun harus diperbaharui. Maksudku, sejak ini, diawali di Lemah Abang, tidak boleh lagi ada anggapan bahwa yang diakui keberadaannya hanya sang raja, yang wajib didengar kata-katanya sebagai titah hanya sabda sang raja.”

“Untuk membuktikan bahwa apa yang telah aku sampaikan bukanlah angan-angan kosong dan bukan pula impian pembual, di Lemah Abang ini akan menerapkan peraturan yang mengakui, menghargai, dan menghormati tiap-tiap pribadi manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi. Di Lemah Abang ini kalian semua diakui sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai hak untuk menyampaikan Kebenaran.”

“Hal kedua yang wajib kalian ketahui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah keberadaan kalian diakui dalam hal ‘hak milik’ atas sesuatu. Di Lemah Abang ini, ibarat burung yang memiliki sarang dan bebas berkicau, kalian pun telah diakui memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta secukupnya yang bisa kalian jadikan sarana untuk kehidupan kalian di dunia yang fana. Kalian pun dengan bebas dapat menyuarakan Kebenaran. Di Lemah Abang ini hak masing-masing manusia dihargai dan dihormati karena masing-masing warga sadar bahwa semua adalah wakil al-Haqq.”

“Jika kepada kalian ada yang bertanya kenapa di Lemah Abang masing-masing warga memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta benda? Katakan kepada penanya itu bahwa kalian adalah wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik. Sesungguhnya sedikit ‘hak milik’ dalam bentuk tanah, rumah, dan harta yang kalian punyai adalah bagian dari lambang keberadaan kalian sebagai wakil Yang Maha Memiliki (khalifah al-Malik fi al-ardh). Jika Yang Maha Memiliki (al-Malik) adalah Pemilik alam semesta maka sebagai wakil-Nya di muka bumi, fitrah kalian adalah memiliki sebagian kecil milik-Nya sebagai amanat untuk menguji kesetiaan kalian dalam menjalankan tugas sebagai wakil-Nya.”

“Kenapa kepemilikan tanah, rumah, dan harta para muridku aku sebut dengan istilah ‘hak milik’ dari wakil al-HaqqI dan wakil al-Malik? Sebab untuk menjaga keseimbangan tatanan kehidupan wakil-wakil Allah di muka bumi, citra al-Haqq dan al-Malik tidak bisa dipisahkan. Maksudnya, jika kalian hanya menganggap dirimu sebagai wakil al-Malik maka engkau akan cenderung memiliki segala sesuatu dengan tanpa hak. Engkau cenderung menyamai-Nya sebagai pemilik segala. Dan, engkau akan cenderung melanggar hak sesamamu. Jika itu yang terjadi maka timbullah kekacauan di dalam tatanan kehidupan bersama karena wakil al-Malik telah menjadi pesaing dari al-Malik. Ujung dari semua itu adalah keterjerumusan manusia dari kedudukan wakil al-Malik di muka bumi menjadi budak nafsu rendah badani. Lantaran keberadaan manusia adalah sebagai wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik maka manusia wajib mengikuti tatanan hukum Ilahi yang menetapkan ketentuan halal, haram, dan syubat dalam hal perolehan ‘hak milik’ para wakil Allah di muka bumi.”

“Dengan memahami bahwa di Lemah Abang ini kalian telah mempunyai tanah, rumah, dan harta sebagai ‘hak milik’ maka hendaknya kalian pertahankan hak milik itu sebagai pusaka. Karena tanah, rumah, dan harta yang kalian miliki itu diamanatkan al-Haqq dan al-Malik untuk wakil-Nya di muka bumi. Siapa pun di antara manusia yang akan merampas hak milik kalian, hendaknya kalian lawan mereka dengan sekuat daya dan segenap kekuatan. Sebab, dengan melawan para perampas itu maka kalian sesungguhnya telah menunjukkan keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq dan wakil al-Malik.”

“Tetapi, perlu kalian pahami bahwa melawan para perampas hak kalian tidak selalu dengan cara mengangkat senjata dan bertempur melawan mereka. Jika engkau berdiam diri, namun tidak menjalankan titah dan keinginan para perampas itu, sesungguhnya engkau telah melakukan perlawanan. Jika kalian mengajak mereka mengadu hujjah dengan kata-kata maka sesungguhnya kalian telah melakukan perlawanan juga. Dan jika kalian merasa kuat untuk melawan kekuatan para perampas hak itu, bolehlah kalian menggunakan kekerasan sebagaimana yang telah mereka lakukan, namun jangan sampai melampaui batas. Jika kalian terbunuh dalam mempertahankan hak milik kalian, maka kalian termasuk syahid karena kalian terbunuh saat mempertahankan amanat Allah secara benar.”

“Selain hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda dihargai serta dihormati, hak milik kalian atas keluarga juga dihargai dan dihormati di Lemah Abang ini. Sebab, kalian juga adalah wakil Yang Maha Menjaga dan Maha Memberi Kebahagiaan di muka bumi (khalifah al-Muhaimin fi al-ardh). Sesungguhnya anak-anak dan istri kalian adalah titipan dari al-Muhaimin yang diamanatkan kepada kalian, wakil-Nya, untuk kalian jaga dan kalian bahagiakan. Sebagaimana hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda, sebagai wakil al-Muhaimin pun kalian tidak lepas dari kedudukan wakil al-Haqq. Kalian adalah wakil al-Haqq dan wakil al-Muhaimin sekaligus. Sehingga, hukum Ilahi menetapkan bahwa setiap manusia hendaknya membangun keluarga dengan cara-cara yang hak.”

“Karena citra al-Haqq tidak terpisah dari citra al-Muhaimin dalam pembentukan keluarga maka keluarga-keluarga yang diakui, dihargai, dan dihormati di Lemah Abang ini adalah keluarga yang dibangun atas asas-asas yang benar (haqq) menurut hukum Ilahi. Istri yang kalian miliki, kalian jaga, dan kalian bahagiakan itu wajiblah istri yang diperoleh dari hasil pernikahan yang sah menurut syari’at agama. Peraturan lama yang mengatakan bahwa istri harus diperoleh dengan cara membawa lari anak orang sebagai lambang kejantanan, tidak berlaku di Lemah Abang ini. Sebab, melarikan anak orang dan kemudian menyetubuhinya tanpa akad nikah merupakan perbuatan zina. Anak yang lahir dari hubungan seperti itu adalah anak haram (haram zadah).”

“Sungguh aku berpesan kepada kalian agar menjaga Lemah Abang ini dengan baik. Jangan jadikan tempat ini sebagai tempat perzinahan. Jangan jadikan tempat ini sebagai hunian anak-anak haram hasil zina. Jangan jadikan tempat ini sarang penyamun, kediaman manusia-manusia tamak yang suka merampas hak orang lain. Dan yang penting kalian ingat, janganlah kalian tinggal lebih lama lagi di tempat ini jika keinginan kalian sebagai wakil al-Muhaimin telah menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan al-Haqq. Maksudnya jangan engkau jaga dan bahagiakan istri-istri dan anak-anakmu dengan melanggar hak orang lain. Hiduplah dengan hak sesuai hukum Ilahi.”

“Dengan menyadari keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin, hendaknya kalian tidak sekali-kali membiarkan orang lain merampas anak-anak dan istri kalian. Mereka adalah ‘hak milik’ yang wajib kalian jaga dan kalian bahagiakan. Karena itu, tolaklah siapa pun di antara manusia yang meminta anak-anak dan istri kalian, apakah itu untuk alasan mereka akan dijadikan gundik dan hamba raja atau dijadikan wadal bagi pembangunan atau tumbal bagi upacara-upacara darah. Tolak dan lawan para perampas hak itu. Pertahankan keluarga kalian sebagaimana kalian mempertahankan hidup dan mati kalian sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin. Dengan mempertahankan hak milik kalian atas keluarga, sesungguhnya kalian telah mempertahankan amanat-Nya secara hak. Jika kalian mati maka kalian akan tercatat sebagai syuhada. Kalian akan mati syahid.”

Beberapa jenak Abdul Jalil berhenti. Dengan penuh kasih ia menyapukan pandang ke murid-muridnya yang terperangah seolah-olah menyaksikan dan mendengarkan dongeng yang memesona. Kemudian dengan berapi-api ia meneruskan khotbahnya.

“Satu hal lagi yang penting kalian ingat-ingat, bahwa sebagaimana margasatwa yang bebas dalam menapaki kehidupannya, begitulah hendaknya bagi tiap-tiap warga di Lemah Abang mempunyai hak fitrah untuk memilih sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya. Warga Lemah Abang bebas memilih agama, cara mencari nafkah, pemimpin, tatanan hidup, dan kumpulan yang sesuai keinginannya selama tidak melanggar hak-hak manusia lain. Sesungguhnya, dalam penciptaan wakil-Nya di muka bumi, Dia telah menganugerahi manusia tangan, kaki, tubuh, nafsu, akal, dan ruh sehingga manusia menjadi makhluk paling sempurna di jagad raya. Kesempurnaannya itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain dalam kewenangan memilih. Sebab, keberadaan adimanusia juga menyandang atribut wakil Yang Maha Menentukan di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh). Sehingga, dengan kedudukan itu tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki hak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri sepanjang pilihan itu tidak melanggar hak manusia lain.”

“Dengan memahami keberadaan manusia sebagai wakil al-Muqtadir maka kelirulah anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia mutlak tidak memiliki hak untuk memilih apa pun bagi hidupnya. Semua tergantung pada ketentuan Allah. Itu pandangan Jabariyyah yang mengingkari keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Sebaliknya, keliru pula anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya pilihan mutlak ada pada tangan manusia. Itu pandangan Qadariyyah yang mengingkari kekuasaan al-Muqtadir dalam menentukan kehidupan wakil-Nya.”

“Jika ada yang bertanya kenapa manusia sebagai wakil al-Muqtadir memiliki hak fitrah untuk memilih agama, maka aku katakan bahwa masing-masing atribut Ilahi yang disandang manusia saling terkait satu dengan yang lain. Di atas itu semua, pertentangan masing-masing atribut itu adalah citra kesempurnaan dari hakikat asma’, shifat, dan af’al-Nya. Lantaran kewakilan manusia begitu sempurna dalam mencitrakan asma’, shifat, dan af’al Allah maka diwajibkan bagi manusia untuk menjalani hidup dengan berpedoman pada hukum suci Ilahi demi terwujudnya tatanan yang seimbang dalam kehidupan di bumi.”

“Sesungguhnya, keberadaan manusia sebaagai wakil al-Muqtadir terkait dengan atribut yang lain, yaitu wakil Yang Memberi Petunjuk di muka bumi (khalifah al-Hadi fi al-ardh). Sementara al-Hadi membentangkan ‘jalan-jalan’ untuk mencapai-Nya (wa alladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana). Itu sebabnya, tidak satu pun manusia boleh memaksa orang lain agar menganut agama atau satu jalan tertentu. Tidak boleh ada paksaan dalam agama (la ikraha fi ad-din). Sebab, hak fitrah dari wakil al-Hadi sekadar ‘menyampaikan’ petunjuk (huda) kebenaran (haqq). Seorang manusia yang mengangkat dirinya menjadi penunjuk jalan Kebenaran dan mengatakan apa yang diyakini itu sebagai satu-satunya jalan Kebenaran, maka sesungguhnya dia telah merampas wewenang Dia, Yang diwakilinya. Orang seperti itu telah menjadi pesaing bagi Allah. Sesungguhnya, orang semacam itu telah durhaka terhadap kehendak Allah.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, bahwa rahasia atas agama-agama adalah mutlak milik-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya yang berhak ikut campur menentukan ke arah mana “wajah al-Hadi” dihadapkan atau dengan cara bagaimana Dia disembah hamba-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya boleh berkata: ‘Allah harus disembah dengan cara begini dan begitu. Yang ini benar dan yang itu salah. Surga itu kecil dan karenanya hanya muat untuk saya dan jama’ah saya. Neraka itu besar untuk seluruh makhluk di luar jama’ah saya.”

“Sesungguhnya, jika manusia telah meyakini diri sebagai pemilik Kebenaran maka dia telah merampas hak Allah dan bahkan menista Allah dengan fitnah yang keji. Sebab, orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pemilik Kebenaran akan berkata begini di dalam hatinya: ‘Sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Mahakejam dan Mahatidak adil. Sebab, Dia mencipta surga hanya untuk aku dan jama’ahku yang segelintir jumlahnya, sedangkan makhluk lain disiksanya dengan azab pedih di neraka.”

“Jika dalam kehidupan di dunia ini kalian menemukan manusia-manusia seperti itu, jauhilah mereka. Sesungguhnya merekalah orang-orang yang sakit qalbu-nya. Sesungguhnya, aku katakan kepada kalian semua, bahwa Dia, Allah, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang disembah manusia dari segala agama. Tuhan yang disembah margasatwa, gunung, hutan, lautan, bumi, bulan, bintang, matahari, setan, iblis, jin , serta seluruh makhluk yang kasatmata maupun yang gaib. Dan sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw., bahwa beliau hanyalah penyampai Kebenaran, maka hendaknya kalian pun jangan melampaui beliau, kiblat panutan kita.”

“Dengan memahami bahwa dalam masalah agama tidak boleh ada paksaan maka, tidak Islam, tidak Hindu tidak Budha, semuanya dihargai hak hidupnya di Lemah Abang ini. Warga Hindu dan Budha yang ingin membangun tempat ibadah di Lemah Abang tidak perlu segan atau takut. Dirikan tempat-tempat ibadah untuk memuja kebesaran Ilahi, Tuhan sarwa sekalian alam, Sang Pencipta, Yang Berkehendak disembah dengan segala macam cara oleh berbagai makhluk ciptaan-Nya baik yang gaib maupun yang kasatmata.”

Untuk itu, ingat-ingatlah selalu, dengan anugerag yang serba sempurna itu, sebagai wakil al-Kamal di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), selain bebas menentukan pilihan dalam beragama, kalian pun mempunyai hak fitrah untuk memilih cara terbaik mencari nafkah. Dengan tangan, kaki, akal, nafsu, dan hati nurani yang kalian miliki, kalian bebas mencari nafkah selama itu tidak melanggar hak manusia lain.”

“Dengan selalu bersyukur karena menyadari keberadaan diri sebagai wakil Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), terlarang bagi penghuni Lemah Abang untuk menjadi peminta-minta. Sebab, dengan menjadi peminta-minta sesungguhnya orang seorang telah mengingkari keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Maha Pembalas di muka bumi (khalifah asy-Syaku fi al-ardh). Sungguh celaka manusia yang tidak tahu balas budi atas anugerah kesempurnaan yang diberikan al-Kamal kepadanya.”

“Dengan kesadaran diri sebagai wakil al-Kamal dan wakil asy-Syakur, kalian pun wajib menolak usaha manusia lain yang akan menjerumuskan kalian ke dalam perbudakan, kecuali jika kalian memang menghendakinya. Sebagaimana atribut-atribut Ilahi yang terkait dalam citra wakil al-Haqq, sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil asy-Syakur pun sesungguhnya kalian tetaplah wakil al-Haqq; sehingga di dalam kebebasan mencari nafkah harus diikuti dengan cara-cara yang hak. Janganlah sekali-kali kalian melanggar hak orang lain.”

“Yang tak kalah penting di antara hak fitrah memilih itu adalah yang terkait dengan kehendak bebas memilih pemimpin. Sebagai wakil al-Muqtadir di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh), kalian memiliki hak untuk menentukan siapa di antara manusia di dalam golonganmu yang pantas menjadi pemimpinmu. Jika selama ini, di dalam tatanan lama, kalian tidak dilibatkan dalam menentukan siapa pemimpin yang sesuai dengan yang kalian kehendaki maka mulai sekarang hal itu wajib ditinggalkan. Di Lemah Abang akan segera diadakan pemilihan pemimpin berdasarkan pilihan warga. Sebab, tidak ada kehidupan makhluk tanpa pemimpin.”

“Dengan kesadaran sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, dan wakil al-Haqq, maka hendaknya kalian jangan sekali-kali membiarkan orang lain melanggar, menentukan atau merampas hak fitrah kalian, baik dalam hal memilih agama, menentukan cara mencari nafkah, dan memilih pemimpin. Jangan biarkan orang-orang jahat memaksa kalian untuk berlutut dan bersujud di hadapan batu, pohon, kuburan, gunung, bulan, bintang, dan manusia lain. Jangan pula kalian membiarkan orang-orang keji menjadikan kalian dan anak-anak kalian sebagai budak belian yang terampas kemerdekaannya. Jangan biarkan mereka menjadikanmu dan anak-anakmu mencari nafkah sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Jangan biarkan orang memperbudak dirimu dan anak keturunanmu. Lawanlah mereka yang merasa berhak memilihkan jalan hidup kalian dan anak-anak kalian sebagai budak hina, karena sejatinya engkau sekalian adalah wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil al-Haqq yang memiliki hak fitrah memilih yang terbaik bagi diri sendiri.”

Abdul Jalil berhenti beberapa bentar. Ia saksikan pancaran harapan berkilau-kilau dari mata murid-murid yang mendengarkan khotbahnya. Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan lagi khotbahnya.

“Sebagai penghuni tempat bernama Lemah Abang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya kalian memiliki tujuan dan kiblat yang sama, yaitu menjalankan tugas sebagai wakil Allah. Lantaran tujuan dan kiblat kalian sebagai kumpulan pribadi adalah sama maka keberadaan kalian sebagai kumpulan pribadi itu disebut kabilah (qabilah). Aku katakan kiblat kalian sama, sebab baik kalian yang beragama Islam maupun Hindu dan Budha tidak lagi tunduk bersujud kepada sesama makhluk. Yang muslim hanya menyembah Allah. Yang Hindu hanya menyembah Syiwa. Yang Budha hanya menyembah Budha. Sesungguhnya berbagai nama-Nya itu adalah satu jua hakikat-Nya: Tuhan Yang Tak Terbayangkan. Yang Tak Tergambarkan oleh kata-kata. Yang Tak Terbandingkan. Yang Tak Terjangkau pancaindera. Esa. Memenuhi segala.”

“Namun, ingatlah bahwa sebagai sebuah kabilah kalian hanya bisa mencapai tujuan yang kalian arah dalam lingkup kecil yang terbatas, yaitu sebagai sesama warga Lemah Abang dan beberapa desa di sekitarnya. Sedangkan kehidupan ini tidak hanya terbatas di Lemah Abang dan desa-desa di sekitarnya. Itu sebabnya, untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan lebih tinggi sebagai wakil al-Kamal maka kalian harus menjadi bagian dari kumpulan manusia dari kabilah lain. Kumpulan-kumpulan manusia dari kabilah lain dengan prinsip kesetaraan dan kesederajatan sebagai sesama wakil al-Kamal itulah yang disebut ra’yat (ra’iyat), yang bermakna kumpulan dari cabang-cabang anak manusia.”

“Sebagaimana kabilah, ra’yat memiliki makna kumpulan manusia yang memiliki kiblat dan tujuan yang sama, namun skalanya lebih besar. Di dalam kumpulan manusia yang disebut ra’yat, tempat, agama, suku, warna kulit, dan bidang pekerjaan tidak menjadi alat pengikat utama. Alat pengikat utama adalah tujuan yang sama dari pribadi-pribadi di dalam ra’yat tersebut. Namun satu hal yang wajib kalian ingat adalah ra’yat hanya memiliki makna bersatunya tujuan dan kiblat yang sama. Ra’yat belum memiliki makna bergerak bersama. Ra’yat belum melangkah seiya-sekata sebagai gerakan. Karena itu, agar ada gerak hidup dan langkah yang nyata menuju tujuan yang dikehendaki ra’yat maka hendaknya pribadi-pribadi dari ra’yat itu harus saling bekerja untuk bergerak. Dan, ra’yat yang sudah saling bekerja sama untuk bergerak itulah yang disebut masyarakat, yakni pribadi-pribadi dari ra’yat yang melakukan kerja sama (musyarakat).”

“Karena baik ra’yat maupun masyarakat berpangkal pada kabilah maka tujuan maupun gerakan kerja sama itu, di dalam ra’yat atau masyarakat harus memiliki kiblat yang sama. Agar masyarakat memiliki tujuan dan kiblat yang sama dan sekaligus bergerak bersama maka hendaknya masyarakat itu bercirikan ummah, yakni ‘gerak ke depan’ (amam). Dengan demikian, kumpulan-kumpulan manusia sebagai tatanan baru kehidupan yang dimulai di Lemah Abang ini hendaknya disebut ‘masyarakat ummah’ yang tujuan dan gerakannya didasarkan pada musyawarah bersama para wakil Allah di muka bumi.”

Abdul Jalil diam sejenak. Ia memandang wajah-wajah pendengar khotbahnya yang tercengang-cengang bagai mendengarkan dongeng menakjubkan. Sekilas Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa tidak semua pendengar memahami maksudnya. Bahkan, beberapa di antara mereka yang paham terlihat ragu-ragu seolah mereka hendak diajak mewujudkan sebuah mimpi yang mengerikan.

“Aku paham jika banyak di antara kalian masih dicekam oleh rasa takut dan ragu untuk mengamalkan ajaranku dan mengikuti tatanan baru di Lemah Abang ini. Selama berpuluh bahkan beratus tahun kalian hidup di lingkungan yang tidak mengenal hak-hak fitrah seorang manusia, wakil Allah di muka bumi. Selama beratus tahun kalian tidak mengetahui jika kalian adalah wakil Allah di muka bumi, yang memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ dari asma’, shifat, dan af’al Allah. Selama ini yang diakui keberadaannya sebagai wakil Tuhan hanya raja. Sementara kalian selama ini ditempatkan sebagai kawula, yang tidak memiliki hak apa pun termasuk hak atas hidup kalian sendiri.”

“Kini aku katakan kepada kalian semua bahwa di Lemah Abang ini sudah tidak ada lagi peraturan yang membedakan kedudukan orang seorang sebagai kawula dan sebagai gusti. Kumpulan manusia di Lemah Abang inilah yang disebut kabilah, sebagai bagian dari masyarakat ummah, yaitu kumpulan pribadi manusia yang mempunyai hak milik atas tanah dan kekayaan pribadi, hak milik atas keluarga, hak milik atas agama, hak untuk mencari nafkah, hak untuk memilih pemimpin. Kumpulan manusia yang memiliki tujuan dan kiblat yang sama yakni mewujudkan jati diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Jika nanti ada pihak-pihak yang mengancam keselamatan kalian maka bekerjasamalah kalian dengan kabilah lain sehingga terbentuk ra’yat dan masyarakat ummah. Insya Allah, dengan bekerjasama dengan manusia lain sebagai masyarakat ummah, kalian akan kuat sentosa menghadapi segala tantangan dan rintangan.”

“Jika di antara kalian ada yang bertanya kenapa ra’yat Lemah Abang harus bekerja sama dengan sesama anggota ra’yat? Maka, aku akan balik bertanya, apakah engkau yang sudah memahami intisari khotbah-khotbahku tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi benar-benar berani dan mampu mewujudkannya seorang diri? Aku memahami bahwa tiap-tiap kalian masih dihantui oleh rasa takut untuk mempertahankan hak-hak yang kalian miliki sebagai wakil Allah.”

“Tidakkah kalian pernah melihat seekor semut yang susah payah membawa sebutir nasi? Kesulitan seekor semut itu teratasi jika ia bekerja sama dengan kawan-kawannya. Ibarat semut-semut membawa sebutir nasi ke sarang, begitulah kumpulan kalian di sebut masyarakat ummah. Nah, dengan akal dan budimu hendaknya engkau sekalian dapat memahami kenapa kalian harus bekerja sama dengan sesama kalian dalam kesetaraan dan kesederajatan. Dengan bekerja sama sesungguhnya kalian akan menjadi lebih kuat sentosa dalam mencapai tujuan yang kalian kehendaki.”

“Dengan alasan bahwa masing-masing kalian harus memperkuat diri dan meneguhkan keberanian maka menjadi keharusan mendasar bagi kalian untuk bekerja sama dengan pribadi-pribadi lain. Sepuluh pribadi yang ketakutan, jika bekerja sama sebagai pribadi-pribadi yang merasa senasib dan sepenanggungan, maka akan menjadi sepuluh pribadi yang kuat dan pemberani. Karena itu, bersatu padulah kalian dalam wadah kabilah, ra’yat, dan masyarakat ummah untuk menghadapi segala kesulitan yang bakal menghadang di tengah jalan.”

“Sesungguhnya sangat banyak manusia rakus dan serakah yang akan tidak suka dan membenci ajaranku di Lemah Abang ini. Mereka tidak akan segan-segan untuk menumpas ajaranku dan tatanan baru di Lemah Abang yang mereka anggap mengancam kepentingan pribadi mereka. Tetapi, aku katakan kepada kalian, lawanlah dengan segenap kuasa dan kemampuanmu mereka-mereka yang akan menghancurkan harapan kalian. Kalian wajib mempertahankan hak-hak kalian yang telah terampas.”

Para warga baru Lemah Abang tercengang-cengang. Belum pernah mereka mendengar ajaran tentang kehidupan dan tatanan baru sebagaimana diuraikan Abdul Jalil. Usai mendengar khotbah sang pembuka desa, warga berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan berbagai hal terkait pelaksanaan ajaran dan tatanan baru tersebut. Mereka berbincang-bincang dari malam hingga dini hari.

Bagaikan matahari yang terus merambat ke puncak langit dengan sinar yang makin terang dan panas, Abdul Jalil menerangi cakrawala kesadaran warga Lemah Abang dengan khotbah-khotbahnya yang cemerlang. Bagaikan margasatwa yang berlarian di padang kehidupan setelah dicekam kegelapan malam, dengan kegembiraan meluap-luap warga Lemah Abang menyambut khotbah-khotbah Abdul Jalil. Laksana margasatwa menyambut kehangatan cahaya matahari sehingga dengan cahaya itu mereka dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk.

Seperti sebelumnya, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil usai memimpin sembahyang isya di Tajug Agung Lemah Abang. Namun, malam itu mereka yang hadir di Tajug Agung bukan hanya warga Lemah Abang. Beratus-ratus warga dari desa sekitar Lemah Abang ikut hadir untuk mendengarkan khotbah yang memesona. Malam itu Abdul Jalil berkhotbah di teras Tajug Agung agar suaranya bisa didengar oleh hadirin yang berjejal-jejal hingga ke halaman. Dengan suara berapi-api mengobarkan semangat ia menyadarkan manusia lewat khotbahnya.

“Seperti telah kukatakan kepada kalian bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil Allah di muka bumi maka hendaknya kalian mampu memahami makna itu dalam arti yang sebenarnya. Jangan kalian terperangkap oleh akal dan nafsumu yang kerdil dengan memaknai ‘kalifah’ Allah dalam menguasai bumi beserta isinya. Sekali-kali tidak demikian maknanya. Sebab, jika kalian terperangkap pada makna itu maka kalian akan beranggapan bahwa Allah telah mempusakakan bumi dan segala isinya kepada wakil-Nya.”

“Sesungguhnya kata ‘kalifah’ dalam kaitan dengan hakikat khalifah Allah fi al-ardh merujuk pada al-Wakil, yaitu salah satu nama-Nya. Itu sebabnya, selain menyandang kedudukan sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Hakim, wakil al-Muhaimin, wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, wakil al-Hakam, wakil ar-Rahman, dan wakil ar-Rahim, sesungguhnya manusia juga wakil al-Wakil di muka bumi (khalifah al-Wakil fi al-ardh). Artinya, manusia menjadi wakil Yang Maha Memelihara penyerahan tiap-tiap urusan. Itu bermakna, tiap-tiap manusia yang menyadari keberadaan dirinya sebagai wakil al-Wakil di muka bumi akan memahami bahwa hak fitrah yang dimilikinya hanyalah sebagai pemelihara dan pengelola bumi. Seorang wakil al-Wakil dilarang menguras kekayaan dan merusak segala sumber daya yang terkandung di permukaan maupun di perut bumi milik Allah.”

“Jika kalian bertanya kenapa manusia tidak menguasai dan mewarisi bumi? Kenapa manusia hanya berwenang memelihara dan mengelola bumi? Aku katakan kepada kalian agar mengingat ajaran yang pernah aku sampaikan sebelumnya. Sesungguhnya manusia terbentuk atas dua anasir utama, yaitu tanah dan ruh suci yang ditiupkan Sang Pencipta saat leluhur manusia diciptakan di surga. Itu sebabnya dalam menjalankan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi, seorang manusia tidak diperkenankan mengikatkan kiblat hati dan pikirannya kepada bumi. Bumi bukanlah hunian asal manusia. Sebab, bumi bukan tempat manusia kembali setelah mati. Bumi hanya hunian sementara. Bumi akan menjadi tempat kembali tubuh kalian yang terbuat dari tanah. Karena itu, kalian semua yang sadar bahwa ruh suci manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah (inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un), hendaknya tidak mencintai segala sesuatu melebihi kecintaanmu kepada Dia dari mana ruh suci berasal. Janganlah kalian terjerat oleh bujuk rayu nafsu rendah badani untuk mencintai bumi beserta segala isinya, karena hal itu akan menyesatkanmu dari jalan Kebenaran-Nya.”

“Ada di antara kalian yang bertanya kepadaku tentang tatanan baru di Lemah Abang yang didasarkan pada kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Menurut pamahamannya, tatanan itu sudah tersedia sebagai keniscayaan, seolah-olah kitab ajaib yang jatuh dari langit. Kemudian, karena keajaibannya, maka tatanan dari langit itu wajib dihargai dan dihormati oleh semua orang. Tiap-tiap warga, menurut pamahaman ini, wajib dihargai keberadaan dan seluruh perilakunya. Jika pemahaman seperti itu yang kalian tangkap dari apa yang pernah aku ajarkan maka sesungguhnya kalian telah keliru memahami tatanan baru yang kumaksudkan.”

“Aku memang telah berkata bahwa di Lemah Abang tidak ada perbedaan antara gusti dan kawula. Tidak ada raja, tidak ada hamba sahaya. Semua warga setara dan sederajat. Semua manunggal dalam persaudaraan. Namun, satu hal yang wajib kalian ingat bahwa fitrah manusia sebagai keturunan Adam a.s. sesungguhnya bertingkat-tingkat sesuai kadar ketakwaannya. Karena itu, sungguh keliru mereka yang menelan mentah-mentah ucapanku dengan berkata, ‘Menurut ajaran Syaikh Lemah Abang, semua manusia adalah sama dan sebangun. Sama tinggi. Sama rendah. Sama warna. Sama rupa. Sama derajat.”

“Sungguh picik mereka yang menafsirkan ucapanku tentang kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi dengan pemahaman seperti itu. Sebab, sebagaimana namanya, Lemah Abang bermakna tanah merah subur yang memberikan kesempatan sama bagi semua benih untuk tumbuh. Di tanah ini tidak ada perbedaan benih ini boleh tumbuh dan benih itu terlarang tumbuh. Benih apa pun boleh tumbuh di Lemah Abang. Tetapi, waktu dan perilaku alam akan menguji daya tumbuh masing-masing benih. Benih yang kuat dan mampu menghadapi tantangan alam akan tumbuh besar dan sentosa dengan akar-akar yang kuat serta buah yang lebat. Namun, benih yang lemah dan tidak mampu mengatasi tantangan alam akan meranggas, merana, layu, dan mati. Demikianlah perumpamaan tentang tatanan baru di Lemah Abang.”

“Lihatlah, o Saudara-saudaraku, hamparan rumput alang-alang di sekitarmu! Jika engkau cermat mengamatinya maka akan engkau dapati kenyataan bahwa tidak ada rumput yang sama tinggi. Tanaman padi pun tidak ada yang sama tinggi. Demikian pun, pohon-pohon hutan yang sama jenisnya tidak ada yang sama tinggi. Sebab, tinggi dan rendah adalah tatanan alam (sunnah Allah) yang tidak bisa diganggu gugat. Dapatkah sungai mengalirkan air jika dasarnya tidak terdapat perbedaan tinggi dan rendah?”

“Sebagaimana tatanan alam yang sudah tergelar, di Lemah Abang pun pada gilirannya akan terdapat perbedaan tinggi dan rendah derajat manusia. Tetapi berbeda dengan di tempat lain yang menata kedudukan tinggi dan rendah berdasarkan suku, warna kulit, agama, dan keturunan; tatanan tinggi dan rendah kedudukan orang seorang di Lemah Abang ini ditentukan oleh kemampuannya dalam mewujudkan citra diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena itu, yang tertinggi derajatnya di antara penduduk Lemah Abang nanti adalah pahlawan-pahlawan yang berhasil menaklukkan monster ganas di dalam dirinya, yang disebut nafsu rendah badani. Dia yang tertinggi adalah pahlawan-pahlawan yang kembali ke tengah kaumnya dengan membawa bendera kemenangan dan disambut dengan suka cita oleh kaumnya. Dia yang dianugerahi gelar ‘sang pembunuh monster ganas’ di dalam diri sendiri. Pahlawan-pahlawan itulah yang dielu-elukan kaumnya sebagai pelindung dan penjaga kehidupan dan gangguan monster-monster ganas. Dan pahlawan-pahlawan itu, menurut hukum suci Ilahi, disebut dengan gelar agung: qaum al-muttaqin!”

“Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa kekalifahan manusia sesungguhnya adalah sebuah rentangan kedudukan antara binatang (al-an’am), manusia (al-insan), dan adimanusia (al-insan al-kamil). Karena itu, untuk mencapai kekalifahan, tiap-tiap manusia wajib melewati dan melampaui kebinatangan dan kemanusiaannya. Kekalifahan adalah palagan pertempuran tempat masing-masing manusia menguji diri. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh, berani, tawakal, dan memiliki harapanlah yang bisa mencapai kedudukan kalifah. Mereka yang tidak bersungguh-sungguh, penakut, malas, gampang putus asa, dan tidak memiliki harapan tidak akan pernah bisa melampaui kedudukan kalifah dan tinggal selamanya dalan kedudukan binatang.”

“Ketahuilah, pada saat manusia berjuang melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk mencapai kekalifahan, sesungguhnya akan terdapat orang-orang berjiwa keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Mereka itulah orang-orang yang terikat kecintaan pada diri pribadi secara berlebihan, kiblat hidupnya terarah pada bumi dan kebendaan. Mereka orang-orang yang berada pada kedudukan binatang. Merekalah manusia berderajat rendah yang berjalan terseok-seok di permukaan bumi karena punggungnya memanggul beban keinginan nafsu dan pamrih duniawi yang berat. Makin lama mereka berjalan makin terseok langkahnya karena tubuh makin lemah tak kuat menanggung beban. Sementara itu, beban yang dipanggulnya berangsur-angsur menjelma menjadi monster mengerikan yang mengisap darah dan otak mereka.”

“Ketika beban berat yang dipanggul sudah tak mampu lagi disangga maka mereka yang berjiwa binatang itu akan menjelma jadi binatang bagi sesamanya. Ia akan memangsa sesamanya untuk memenuhi hasrat dan keinginan monster nafsunya yang haus darah. Bahkan mereka akhirnya lebih ganas dari monster yang dipanggulnya. Mereka akan menjadi penebar petaka dan ketakutan bagi penghuni bumi.”

“Sementara itu, yang lebih tinggi derajatnya dari golongan binatang ini adalah golongan manusia. Mereka adalah orang-orang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ adimanusia untuk menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi. Tetapi, mereka hanya mampu memahaminya dalam tingkat pemikiran dan pemahaman belaka. Mereka banyak menemui kegagalan dalam mewujudkan kekalifahan dalam amaliah kehidupan sehari-hari. Mereka itulah orang-orang yang masih cenderung menafsirkan kekalifahannya terkait dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Mereka sering terjebak pada sikap dan tidakan yang tidak adil dan melampaui batas, meski mereka sadar bahwa hal itu tidak benar.”

“Manusia tertinggi di antara manusia adalah mereka yang sudah dapat mewujudkan keberadaan dirinya sebagai adimanusia, yakni manusia sempurna (al-insan al-kamil) yang menjadi wakil Allah di muka bumi. Mereka itulah adimanusia yang telah berhasil menaklukkan monster-monster ganas yang bersembunyi di dalam dirinya. Mereka itulah pahlawan-pahlawan pemberani yang sudah mengepakkan sayap-sayapnya dan terbang ke angkasa meninggalkan tanah berlumpur penuh biji emas yang memanggil-manggil dengan rayuan menggiurkan. Mereka penjaga keseimbangan hidup di bumi. Mereka pemelihara sejati bumi, namun mereka tidak berhasrat terikat dengan bumi. Merekalah penegak keadilan yang berjuang untuk kelestarian bumi beserta isinya. Merekalah pahlawan-pahlawan yang selalu didambakan kehadirannya oleh penghuni bumi karena selalu menjadi rahmat bagi lingkungannya.”

“Jika kalian bertanya bagaimana mewujudkan kehidupan seorang wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa seorang wakil Allah bukanlah penumpuk kekayaan berlebih dengan alasan untuk warisan anak cucu. Sebab, mereka yang menjadi penumpuk kekayaan berlebih sesungguhnya telah berbuat tidak adil baik terhadap diri sendiri maupun terhadap anak dan cucu: mereka itulah makhluk rendah yang tergolong sebagai penzalim diri sendiri dan keturunan. Kukatakan tidak adil dan bahkan zalim terhadap diri sendiri dan keturunan karena dengan tindakan menumpuk kekayaan berlebihan itu sesungguhnya mereka telah menzalimi kesucian ruh yang bersemayam di dalam dirinya. Mereka adalah manusia yang terperosok ke jurang kehinaan sebagai makhluk rendah yang mengumbar hasrat nafsu. Jiwa mereka senantiasa diliputi rasa khawatir dan ragu dalam meniti hidup.”

“Jika kalian bertanya apakah mewariskan harta benda berlebih untuk anak cucu merupakan tidakan tidak adil dan zalim? Aku katakan, sungguh telah berbuat tidak adil dan zalim siapa pun di antara manusia yang mewariskan harta benda berlebih kepada anak dan cucunya. Mewariskan harta benda berlimpah berarti seseorang tidak saja telah menjerumuskan anak dan cucunya ke dalam jurang ketamakan, tetapi juga melumpuhkan semangat mereka untuk berjuang menghadapi tantangan hidup. Sesungguhnya kecintaan manusia terhadap anak cucu yang diwujudkan dalam bentuk warisan harta benda berlebih adalah jaring-jaring malapetaka yang justru membahayakan kehidupan para pewaris itu sendiri.”

“Jika di antara kalian ada yang ingin mengetahui siapakah di antara manusia yang tidak berkeinginan mewariskan harta benda kepada keturunannya? Aku tunjukkan kepada kalian bahwa manusia terhormat itu adalah Guru Agung manusia panutanku, Sang Adimanusia, Nabi Muhammad Saw.. Pada zamanya beliau adalah pemimpin umat dan pemegang kunci perbendaharaan Baitul Mal dari sebuah kekuasaan yang membentang di seluruh jazirah Arabia. Tetapi, beliau hidup di samping masjid. Tiap hari sering mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Ketika beliau wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan kepada putera puteri dan cucu-cucunya. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan untuk seluruh manusia adalah Kitab Allah dan keteladanan hidupnya.”

“Sesungguhnya, sebagaimana perilaku Nabi Muhammad Saw., keempat orang sahabat penggantinya adalah adimanusia yang telah terbukti membentangkan cermin kewakilan mereka atas asma’, shifat, dan af’al Allah sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Saw. Sementara itu, karena aku sangat ingin meneladani perikehidupan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya maka aku pun sudah bertekad untuk tidak mewariskan secuil pun harta benda kepada anak keturunanku. Sebagaimana telah kalian ketahui semua, tanah shima (bebas pajak) anugerah dari Sri Mangana telah kubagi-bagikan tanpa sisa kepada kalian. Lantaran itu, sekarang aku tidak memiliki apa-apa lagi. Sejak ini aku akan tinggal di gubug kecil di sampig Tajug Agung.”

“Dengan mengungkap apa yang terkait dengan perilaku Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya, yang telah kuikuti jejaknya itu, janganlah kalian sangka aku mengungkit-ungkit pemberianku kepada kalian, apalagi untuk sekedar pamer kebajikan. Sesungguhnya aku menghendaki agar kalian, yang telah mengakui aku sebagai guru, tidak hidup berlebihan. Ingat-ingatlah bahwa kalian hidup di dunia ini hanya berhak memelihara dan mengelola bumi. Kalian hanya sementara tinggal di sini. Itu sebabnya, jika ada di antara kalian yang mengambil tanah berlebihan dengan alasan yang ini dan yang itu untuk bagian anakku dan yang di sana untuk bagian cucuku, maka hentikanlah itu. Cukuplah kalian mengambil bagian untuk dirimu dan keluargamu sesuai kebutuhan. Kelebihan tanahmu hendaknya engkau berikan kepada saudaramu yang belum kebagian tanah.”

“Aku katakan kepada kalian bahwa warisan yang paling berharga bagi anak dan cucu kalian sesungguhnya adalah bekal iman dan ilmu. Dengan dua bekal itu engkau telah membentangkan jalan keselamatan bagi anak dan cucumu. Sebab, dengan bekal iman dan ilmu sesungguhnya engkau sekalian telah menyerahkan segala urusan keturunanmu kepada al-‘Alim. Dan, ingat-ingatlah selalu bahwa ciri utama dari keberadaan seorang wakil Allah di muka bumi adalah menjadi rahmat bagi makhluk yang lain.”

Ketika Abdul Jalil usai berkhotbah dan berjalan ke arah gubugnya, bubarlah para pendengar. Sebagian kembali ke rumah masing-masing. Sebagian berkerumun dalam kelompok-kelompok untuk membicarakan intisari khotbah. Namun, saat Abdul Jalil akan masuk ke pintu gubugnya, salah seorang pendengar yang datang dari desa lain bertanya, “Bagaimana Tuan Syaikh bisa berkata bahwa manusia yang terikat kecintaan pada bumi dan kebendaan berkedudukan sebagai binatang? Bagaimana Tuan Syaikh bisa menilai rendah kecintaan manusia pada benda hingga menyetarakan mereka sebagai binatang?”

Abdul Jalil yang tak menduga bakal ditanya, terdiam beberapa saat tak menjawab. Sejurus kemudian terdengar keributan di utara desa. Sebagian warga yang sedang berjalan ke rumah masing-masing berhamburan bagai air lautan diaduk. Keributan pun makin hingar-bingar ketika orang-orang berteriak sahut-menyahut dan sambung-menyambung.

Ketika salah seorang murid dengan bercucuran keringat mendekat, Abdul Jalil bertanya, “Apakah sesungguhnya yang sedang terjadi?”

“Orang-orang mengejar babi ngepet, Tuan Syaikh,” sahut sang murid.

“Babi ngepet?” gumam Abdul Jalil sambil memandang orang yang baru saja bertanya kepadanya. “Bukankah itu binatang jadi-jadian yang menurut cerita berasal dari manusia pecinta kebendaan? Bukankah kecintaan terhadap benda bisa menjadikan manusia dalam wujud hina, yaitu binatang yang najis?”

“Maafkan kami, Tuan Syaikh,” kata sang penanya blingsatan dengan muka kecut. “Kami sekarang memahami apa yang telah Tuan Syaikh jelaskan.”

Pacific Ocean On board of MV. Taho, April 10th 2007