Wilayah al Ummah

Khotbah-khotbah yang disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang sangat digemari oleh pendengarnya. Itu terlihat saat Abdul Jalil menyampaikan khotbah lanjutan pada hari berikutnya, jumlah pendengar makin berjejal-jejal memadati Tajug Agung dan tanah lapang yang terhampar di depannya. Warga dari pinggiran Kuta Caruban yang letaknya cukup jauh dari Lemah Abang pun berdatangan. Usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil memulai khotbahnya. “

Selama berbilang abad telah ditanamkan ke dalam alam pikiran orang-orang beragama Islam bahwa yang disebut berhala adalah batu-batu, kayu-kayu pahatan, pohon keramat, gunung dan benda-benda alam yang disembah manusia. Selama beratus tahun telah diyakinkan kepada umat Islam bahwa para penyembah berhala adalah orang-orang sesat yang akan hidup celaka karena menyekutukan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.”

“Tetapi malam ini aku katakan kepada kalian semua, o Saudara-saudaraku, bahwa sesungguhnya berhala yang paling menyesatkan dan berbahaya bagi kehidupan manusia adalah sebentuk makhluk jahat yang dipuja-puja dan disembah-sembah oleh sekalian manusia, termasuk di dalamnya umat beragama Islam. Dengan suaranya bergemuruh menggetarkan, makhluk jahat itu telah menjadi kiblat sesembahan baru umat manusia. Dengan bayangan dirinya yang kelam dan mengerikan, makhluk jahat itu dipertuhankan oleh manusia. Apakah nama makhluk jahat yang mengerikan itu? Dari mana makhluk itu berasal? Kejahatan apa yang telah dilakukannya?”

“Aku katakan kepadamu sekalian, o Saudara-saudaraku, bahwa yang disebut makhluk jahat yang disembah manusia itu tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah tatanan hidup manusia yang dinamakan kerajaan atau negara. Itulah tuhan baru. Itulah berhala baru. Itulah makhluk penyesat yang mengerikan. Ingat-ingatlah selalu ucapanku! Di antara berhala-berhala yang paling menyesatkan dan paling berbahaya bagi manusia-manusia beriman adalah makhluk bernama: Kerajaan! Kerajaan! Kerajaan! Negara!”

“Aku beritahukan kepada kalian bahwa yang disebut kerajaan atau negara sesungguhnya adalah makhluk berdarah dingin yang sangat haus darah. Dia makhluk pemangsa berjiwa ganas melebihi serigala yang paling buas. Dari manakah makhluk pemangsa ganas itu berasal? Kalian semua harus tahu bahwa jahat yang mengerikan itu merupakan monster ciptaan para pendusta. Rancangan para pembohong. Rekayasa para penipu. Ya, monster ciptaan para pendusta. Tahukah kalian siapa para pendusta itu? Mereka adalah manusia-manusia setengah binatang yang tubuh dan jiwanya tercipta dari bayangan makhluk paling mengerikan: Iblis.”

“Sesungguhnya para pendusta yang telah mencipta monster bernama kerajaan itu adalah makhluk-makhluk yang lemah dan tak berdaya. Mereka jauh lebih lemah daripada cacing-cacing penghuni tanah. Meski lemah, mereka memiliki akal yang jauh lebih licik dan lebih curang dibandingkan akal busuk serigala. Mereka juga memiliki suara geraman dan gonggongan yang lebih kuat dibanding anjing. Mereka memiliki pamrih yang jauh melebihi pamrih udang di balik batu. Mereka memiliki tubuh yang lebih licin dari belut. Mereka dapat terbang tinggi di angkasa laksana burung nazar pemakan bangkai. Mereka bahkan dapat mengubah-ubah warna kulit melebihi bunglon. Dan, yang membuat mereka menjadi kuat melebihi kekuatan harimau adalah kemampuan mereka untuk bersekongkol dalam kejahatan dengan sesamanya.”

“Tahukah kalian apa hasil persekongkolan makhluk-makhluk lemah berjiwa cacing, serigala, anjing, udang, burung nazar, belut, dan bunglon itu? Kerajaan! Negara! Itulah makhluk pemangsa ganas yang telah mereka cipta dalam persekongkolan yang menjijikkan. Para pendusta bersekongkol membuat dongeng-dongeng palsu yang berisi gantungan harapan bagi manusia. Mereka, para pendusta itu, mendongeng tentang pemangsa ganas bernama kerajaan sebagai tatanan ciptaan Tuhan yang bakal mendatangkan keadilan, kemakmuran, keamanan, kedamaian, keselamatan, dan kemuliaan bagi manusia yang patuh dan setia kepada pemangsa tersebut.”

“Sungguh aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa apa yang mereka dongengkan adalah dusta semua. Di balik dongeng-dongeng itu mereka memasang jerat yang bakal memerangkap setiap orang yang mempercayai dusta mereka. Kemudian, bagaikan kawanan laba-laba yang melihat mangsa terjerat ke dalam jaringan-jaring kepentingan pribadi yang ditebarnya, para pendusta itu akan memangsa siapa saja di antara manusia yang mempercayai kebohongan mereka. Sesungguhnya para pendusta itu makhluk yang lebih rakus, lebih serakah, lebih ganas, dan lebih mengerikan daripada laba-laba. Dengan dongeng-dongeng ciptaannya para pendusta mengendalikan makhluk bernama kerajaan yang mengerikan itu untuk mencabik-cabik kehidupan manusia yang percaya pada dongeng-dongeng mereka.”

“Dengan kerakusan, ketamakan, kelicikan, dan kecurangan tak terbayangkan, para pendusta itu bersekongkol atas nama kerajaan, atas nama negara. Dengan mulut-mulut yang najis mereka berkata kepada komplotannya: ‘Marilah kita satukan bahasa kita untuk menetapkan benar dan salah, baik dan buruk, pahlawan dan pengkhianat, anugerah dan hukuman, sah dan tidak sah, keadilan dan kezaliman. Bahasa lain yang tidak sesuai dengan kita hendaknya kita singkirkan sebagai bahasa yang rancu. Sesungguhnya, dengan bahasa kita itu, kitalah pemilik kebenaran atas nama negara.’”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, dengan bahasa persekongkolan itu para pendusta tengik akan menekuk lutut manusia untuk bersujud di hadapan makhluk ganas yang mereka cipta. Dengan bahasa hasil persekongkolan itu mereka menimbun harta benda dari manusia taklukkan. Kemudian, bagaikan monster kelaparan, mereka mengunyah dan memamah harta benda yang mereka timbun. Sungguh menjijikkan para pendusta itu bagiku. Sungguh najis mulut mereka itu. Apa pun yang keluar dari mulut itu, menurutku, akan ikut menjadi najis.”

“Lihatlah apa yang dilakukan para pendusta saat mereka menyusun tatanan salah dan benar, adil dan zalim, serta sah dan tidak sah dalam bahasa hukum mereka. Kalian akan menemukan bahwa kesalahan adalah hak para kawula, sementara raja dan keluarganya berdiri tegak di atas permadani ketidakbersalahan. Hukum hanya untuk kawula. Hukum tidak untuk raja dan pejabat negara. Itulah bahasa keadilan menurut mereka.”

“Lihatlah apa yang diperbuat para pendusta itu saat mereka sudah memiliki timbunan harta benda yeng mereka peroleh dari sisik, bulu, rambut, dan kotoran makhluk pemangsa ciptaan mereka. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika perut mereka sudah kembung berisi kotoran kerajaan yang najis. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika mereka sudah berkerumun di sekitar tonggak kekuasaan. Dengarkan apa yang mereka ucapkan dengan bahasa dustanya. Lihat! Dengar! Renungkan! Apa yang diperbuat para pendusta terkutuk itu di sana!”

“Di sekeliling tonggak kekuasaan itu mereka menyeringai dengan wajah monyet yang menjijikkan. Mereka memandang ke atas tonggak dengan mata serigala yang menyala penuh hasrat. Mulut mereka berbusa dan meneteskan liur menggelikan ketika menyaksikan gemerlap singgasana yang tergantung di atas tonggak bersalut emas. Mereka tidak kuasa menahan keinginan untuk tidak naik ke atas singgasana.”

“Lihat! Lihatlah para pendusta bermulut najis itu! Mereka bagaikan orang tidak waras berebut memanjat ke atas tonggak kekuasaan tempat singgasana gemerlapan tergantung. Lihat, mereka saling menginjak. Mereka saling menyikut. Saling menggigit. Mereka bahkan saling membunuh. Dan lihat, satu di antara para pendusta itu, yaitu dia yang paling kuat dan paling licik, akan sampai di atas singgasana. Dialah sang pemenang. Dialah sang raja yang berhak duduk di atas singgasana yang dikitari bangkai dan kotoran.”

“Raja yang duduk di atas singgasana itulah hasil persekongkolan para pendusta. Sang raja, menurut bahasa mereka, adalah penunggang dan pengendali makhluk pemangsa ganas bernama kerajaan. Kemudian, dengan bahasa dusta yang digunakannya, para pendusta itu berkata: ‘Lihatlah, Tuhan Yang Mahakuasa telah turun ke dunia sebagai raja. Dia turun dari langit dan duduk di atas singgasana emas dengan dikelilingi bidadari dan ruh suci para leluhur yang berkata-kata memuji sang raja: Jayalah Sang Raja! Kuduslah Sang Raja! Agunglah Sang Raja! Inilah Sang Raja yang duduk di atas takhta Kebenaran. Sang Raja yang berjalan di atas permadani ketidakbersalahan. Sang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja yang agung dan mulia. Sang Raja yang menjadi pemilik segala sesuatu yang terhampar di atas bumi yang dikuasainya. Sang Raja yang wajib disembah dengan segala kepatuhan dan ketundukan. Ya, Sang Raja, jelmaan Tuhan di dunia.’”

“Setelah yakin dusta yang dibangun kaumnya dipercaya banyak manusia maka dengan raungan mengerikan sang raja yang menunggangi makhluk pemangsa mengerikan bernama kerajaan itu bertitah: ‘Akulah yang teragung dan termulia di antara segala raja. Akulah titisan Tuhan di jagad raya. Karena itu, berlutut dan bersujudlah kalian menyembah aku! Barang siapa di antara para kawula yang menghadap raja tidak berlutut, tidak bersujud, dan tidak menyembah akan dipenggal kepalanya.’”

“Aku katakan kepada kalian, semua itu adalah kepalsuan yang dirancang para pendusta dengan mengatasnamakan keberadaan kerajaan sebagai ketentuan Tuhan. Aku katakan bohong dan dusta kata-kata mereka itu. Sebab, apa yang mereka katakan sangatlah bertentangan dengan kenyataan akan asma’ dan shifat Tuhan.”

“Sejak zaman awal hingga akhir nanti Dia, Yang Maha Merajai (al-Malik), tidak pernah ingkar janji dan tidak pernah menyimpang dari asma’ dan shifat-Nya. Jika Dia mewajibkan hamba-Nya untuk patuh, tunduk, dan setia kepada-Nya maka Dia akan melimpahkan semua anugerah yang tak terbayangkan kepada hamba tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Hamba-hamba yang tunduk, patuh, dan setia akan dianugerahi-Nya pangkat takwa. Mereka akan dimuliakan dan diagungkan sepanjang masa.”

“Sementara itu, jika kalian mempercayai dongengan para pendusta, dengan menganggap raja-rajamu sebagai jelmaan al-Malik di dunia, justru kesengsaraan dan kehinaan yang terbukti engkau terima. Ketundukan, kepatuhan, dan kesetiaanmu sebagai hamba dari raja-rajamu tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagimu kecuali penderitaan. Sebab, engkau yang tunduk, patuh, dan setia kepada rajamu akan ditempatkan sebagai hamba sahaya yang selalu hidup dalam keadaan kekurangan, tertindas, teraniaya, dan dizalimi. Raja-rajamu dengan semena-mena bisa bebas merampas harta benda milikmu, bahkan merampas nyawamu. Engkau sekalian tidak diperkenankan memiliki sesuatu melebihi rajamu. Engkau ditempatkan dalam keadaan serba kekurangan, sedangkan rajamu dalam kelimpahruahan.”

“Penderitaan dan kesengsaraan kalian sebagai kawula akan semakin berat dan tidak tertanggungkan ketika kalian dikuasai raja-raja yang gemar berperang. Saat makhluk pemangsa bernama kerajaan itu ditunggangi untuk menyerang makhluk pemangsa lain, yang paling menderita adalah kalian: kawula. Rumah kalian dibakar. Harta benda kalian dijarah. Anak-anak kalian dirampas untuk dijadikan budak. Nyawa kalian pun akan dirampas oleh makhluk pemangsa yang bertarung. Sehingga, sejak zaman purwakala hingga sekarang, sesungguhnya, kalian selalu jatuh di bawah kekuasaan makhluk pemangsa satu ke makhluk pemangsa yang lain. Karena itu, o Saudara-saudaraku, salahkah aku jika mengatakan dengan jujur bahwa raja-raja yang menyatakan jelmaan Tuhan di dunia ini adalah pendusta besar? Salahkah aku jika menggambarkan keberadaan kerajaan sebagai makhluk pemangsa yang paling ganas?”

“Sekarang jelas sudah bagi kalian semua bahwa kepercayaan terhadap dongeng-dongeng tentang raja dan kerajaan yang dirancang para pendusta itu harus diakhiri. Jangan didengar lagi mulut-mulut najis mereka yang menebarkan janji palsu tentang kemakmuran dan keadilan dari makhluk mengerikan yang mereka sebut kerajaan, tunggangan raja-raja yang dikelilingi oleh para pendusta untuk memuaskan nafsu rendah mereka. Sebab, raja dan para pendusta itu adalah manusia berjiwa laba-laba ganas yang selalu merancang siasat untuk menjerat manusia-manusia berjiwa keledai, unta, kuda beban, sapi perah, kerbau, dan anjing peliharaan untuk dijadikan mangsanya.”

“Jika kalian masih percaya dengan ucapan para pendusta itu, sesungguhnya selama ini kalian semua telah memakan dusta para pendusta. Kalian telah terpesona karena para pendusta itu telah memperlihatkan kalian sebuah tontonan menakjubkan tentang sang raja yang duduk di atas singgasana emas bertabur permata. Kalian takjub melihat takhta itu memancarkan kilau indah gemerlapan karena diterangi lampu-lampu yang bercahaya. Kalian terbius karena singgasana itu tegak di tengah kepulan dupa dan kayu gaharu yang wangi. Kalian terheran-heran menyaksikan berderet-deret pejabat dan pendeta peliharaan raja. Kalian terperangah menyaksikan para penari jelita yang melenggak-lenggok di depan sang raja. Sungguh agung dan mulia tontonan itu. Betapa megah dan mewah tontonan itu.”

“Aku tidak menyalahkan kalian yang terpesona oleh tontonan para pendusta itu. Aku hanya meminta, jika kalian adalah orang-orang bijak maka hendaknya kalian bertanya kepada diri: di dalam tontonan yang menakjubkan itu, sesungguhnya di manakah letak kedudukanku? Jika pertanyaan tentang kedudukan diri sudah kalian ajukan maka kalian pun akan segera tahu jawabannya, yaitu kalian akan berkata begini: aku adalah kawula kerajaan. Aku adalah hamba sahaya sang raja. Sebagia kawula, kedudukanku di dalam tontonan agung itu tidak lebih dari sekedar batu-batu pajangan yang hidup tidak mati pun enggan. Batu-batu pajangan yang bisa menyaksikan sang raja berjalan, berlatih memanah, menunggang kuda, berburu, dan menerima sanjungan serta pujian dari kawulanya. Batu-batu pajangan yang setiap saat merelakan dirinya dijadikan alas pijakan para pendusta. Ya, batu-batu pajangan yang dianggap tak bernyawa.”

“Sekarang ini, o Saudara-saudaraku, aku beritakan kepada kalian bahwa telah datang zaman baru sehingga tontonan megah dan mewah ciptaan para pendusta itu harus ditinggalkan. Pada zaman baru ini orang-orang harus berkata: ‘Jangan percaya lagi kepada para pendusta yang mengatakan dirinya abdi raja, abdi negara, hamba hukum, nayakapraja, punggawa, dan pahlawan kerajaan. Jangan percaya ucapan mereka karena mulut mereka najis. Jangan percaya pada janji-janji mereka karena semuanya mengalir dari mulut yang najis.”

“Kenapa aku katakan mulut-mulut najis? Sebab, lidah mereka palsu. Gigi mereka palsu. Bibir mereka palsu. Bahkan tenggorokan, jantung, limpa, dan usus mereka pun palsu. Itu sebabnya, kata-kata yang keluar dari mulut mereka palsu semua. Demikianlah, Kebenaran sesungguhnya tentang para pendusta itu.”

“Dengan memahami kepalsuan tubuh dan jiwa para pendusta yang bersekongkol mencipta makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan, bukan berarti kalian memiliki hak untuk mencela dan menista mereka. Aku katakan bahwa kalian tidak punya hak mencela dan menista, karena makhluk jahat ciptaan mereka itu memang merupakan bagian dari kodrat kehidupan di dunia. Ibarat kawanan laba-laba bebas menebar jaring untuk mencari mangsa, begitulah para pendusta itu bebas menebar kebohongan dan janji palsu untuk memerangkap orang-orang lemah dan bodoh yang mempercayai dusta mereka. Sesungguhnya, hanya mereka yang sudah ditundukkan oleh nafsu rendah badani jua yang akan menjadi kawula taklukan pemangsa jahat bikinan para pendusta itu.”

“Kepada kalian, o adimanusia-adimanusia yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, diwajibkan bagi kalian untuk sadar diri dan tidak mempercayai dusta yang dibangun para pendusta. Ketika kalian meyakini kebenaran yang dibangun para pendusta sehingga menjadikan kalian tunduk dan patuh, berlutut dan bersujud kepada makhluk jahat bernama kerajaan itu maka ‘telunjuk Sang Kebenaran akan ditudingkan ke arah kalian dengan tuduhan: musyrik!’”

“Jika sebelum ini, para ‘alim yang menjadi pemimpin kalian mengatakan: jangan berlutut dan bersujud kepada batu-batu dan kayu-kayu yang dipahat! Maka sekarang aku katakan: Jangan kalian berlutut dan bersujud kepada raja-rajamu! Jangan menyembah raja-rajamu seperti engkau menyembah Tuhanmu. Sesungguhnya, makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan yang ditunggangi sang raja itu adalah berhala baru yang bakal menyesatkan kalian dari jalan Kebenaran Sejati.” “

Wahai Saudara-saudaraku, ingat-ingatlah selalu akan apa yang aku ajarkan. Kendati begitu, tidak lagi mempercayai dongeng-dongeng tentang kerajaan yang dirancang para pendusta bukan berarti kalian harus hidup tanpa pemimpin. Sesuai fitrah makhluk hidup di jagad raya, tiap-tiap puak di antara makhluk ciptaan Ilahi selalu memiliki pemimpin. Tetapi, bagi adimanusia-adimanusia, wakil Allah di muka bumi, kepemimpinan bukanlah seperti kepemimpinan margasatwa. Kepemimpinan adimanusia adalah kepemimpinan yang benar-benar mencerminkan pengejawantahan kewakilan Sang Pencipta.”

“Akan kukatakan kepada kalian tentang kepemimpinan yang benar dan yang sesuai untuk adimanusia yang berkedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi. Sesungguhnya masing-masing manusia secara fitrah memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ yang memancar dari asma’, shifat, dan af’al-Nya, Yang diwakilinya. Tiap-tiap manusia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin karena kedudukannya sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh).”

“Sebagaimana raja-raja dunia yang kalian kenal, sesungguhnya tiap-tiap kalian memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ untuk dimuliakan, karena dia adalah pancaran keterwakilan Yang Mahamulia di muka bumi (khalifah al-Azaiz fi al-ardh). Demikian pun, tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki kuasa-kuasa kodrati’ untuk hidup di atas landasan hukum, karena dia adalah wakil Yang Maha Menetapkan Hukum (khalifah al-Hakam fi al-ardh).”

“Tetapi, ibarat benih yang ditabur di atas tanah, masing-masing manusia harus berjuang melampaui keterbatasannya untuk mewujudkan keberadaan citra dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, seperti yang pernah aku ajarkan kepada kalian, jalan menuju citra adimanusia yang sempurna adalah laksana rentangan antara binatang – manusia – adimanusia yang wajib dilampaui. Maka, begitulah hendaknya masing-masing manusia wajib melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya agar mencapai kedudukan adimanusia yang sempurna.”

“Hanya mereka yang sudah melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaan hingga menjadi adimanusialah yang pantas memimpin manusia lain. Itu berarti, hanya adimanusia yang dapat melepaskan semua pamrih pribadi untuk berkhidmat kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi yang layak menjadi pemimpin manusia. Dan cermin terbaik dari adimanusia yang kumaksudkan adalah citra diri Nabi Muhammad Saw. dengan keempat sahabat penggantinya, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Merekalah adimanusia yang hendaknya dijadikan kiblat dan rujukan keteladanan dalam memimpin manusia.”

“Lihatlah citra kehidupan Nabi Muhammad Saw., sang penyampai Kebenaran, guru, dan pemimpin manusia. Beliaulah sang adimanusia yang dengan tegas menolak jabatan raja, istri cantik, dan harta kekayaan dengan berkata begini: ‘Andaikata rembulan ditaruh di bahu kananku dan matahari ditaruh di bahu kiriku, niscaya aku tidak akan meninggalkan tugasku.’ Ya, itulah citra adimanusia, yang tidur beralaskan anyaman daun kurma dan menambal pakaian dengan tangannya sendiri. Itulah citra adimanusia yang menguasai Jazirah Arabia dan Baitul Mal, namun saat wafat tidak meninggalkan warisan apa-apa kecuali Kitab Allah dan keteladanan hidup.”

“Sekali lagi aku katakan kepada kalian bahwa hanya adimanusia yang tercitrakan pada diri Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat itulah manusia yang boleh menjadi pemimpin para manusia sempurna. Mereka yang masih berada pada kedudukan manusia, apalagi binatang, diharamkan menjadi pemimpin manusia. Sebab, tidak akan ada yang bisa diperbuat oleh seekor binatang di atas singgasananya, kecuali memenuhi perutnya dengan daging mentah dari mayat-mayat yang dimangsanya dan membasahi tenggorokannya dengan darah.”

“Sesungguhnya, seorang adimanusia yang sudah melampaui kemanusiaannya dan menduduki derajat wakil Allah di muka bumi adalah manusia sempurna yang mewakili citra asma’, shifat, dan af’al Allah. Itu sebabnya, ketika ia menjadi pemimpin manusia, sesungguhnya ia merupakan pengejawantahan Yang Maha Merajai (al-Malik), Yang Mahaagung (al-Azhim), Yang Mahaadil (al-‘Adl), Yang Mahabijaksana (al-Hakim), Yang Mahabenar (al-Haqq), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Maha Terpuji (al-Hamid), Yang Mahakaya (al-Ghaniyy), Yang Mahakuasa (al-Qadir), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir), Yang Maha Pemurah (ar-Rahman), Yang Maha Pengasih (ar-Rahim), Yang Maha Pengampun (al-Ghafur), serta semua asma’ dan shifat Ilahi yang lain.”

“Semua atribut Ilahiyyah yang telah aku sebutkan sesungguhnya tidak akan pernah akan bisa memancarkan citra diri-Nya pada manusia pecinta bumi dan kebendaan. Sebab, pecinta bumi dan kebendaan adalah orang-orang yang masih berada pada bentangan kebinatangan dan kemanusiaan. Aku katakan kepada kalian bahwa sungguh telah berdusta orang-orang yang mengatakan bahwa raja-raja pecinta kebendaan dan pengumbar nafsu syahwat itu adalah jelmaan Tuhan di muka bumi. Aku katakan dusta terhadap mereka yang mengatakan para penimbun harta benda sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, karena kalian adalah murid-muridku maka hendaknya kalian meninggalkan para pendusta itu. Jauhi mereka.”

“Jika kalian bertanya kepadaku bagaimana orang-seorang bisa menjadi pemimpin di antara sesamanya? Maka, aku katakan: kepemimpinan manusia atas manusia lain hanya mungkin terjadi dengan benar jika didasarkan pada kerelaan manusia lain untuk memberikan haknya demi memilih orang seorang yang dipercaya dapat membawa mereka kepada jalan kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan. Maksudku, sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi, sesungguhnya masing-masing manusia memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ untuk memimpin. Tetapi ‘kuasa-kuasa kodrati’ itu sangatlah lemah dan kecil pada masing-masing orang. Karena itu, masing-masing pribadi wakil al-Malik di muka bumi harus dengan rela hati mendelegasikan kewakilan dirinya sebagai wakil al-Malik kepada orang seorang yang dipercayanya untuk memimpinnya ke jalan yang benar.”

“Maksudku, dengan asas kerelaan masing-masing wakil al-Malik untuk mendelegasikan haknya kepada orang seorang maka seorang pemimpin manusia wajib muncul berdasarkan pilihan masing-masing wakil al-Malik. Pemimpin manusia wajib didasarkan atas pilihan. Itu sebabnya, aku katakan telah berdusta orang-orang yang menyatakan bahwa kepemimpinan itu harus berdasarkan asas keturunan darah, suku, warna kulit, bahasa, dan agama.” “

Kalian bukan lagi kawula dari raja. Kalian adalah suatu kabilah. Maka hendaklah kalian memilih salah seorang di antara kalian sendiri sebagai pemimpin kabilah. Sesungguhnya, pemimpin kabilah adalah salah seorang di antara kalian yang mendapat kepercayaan dari warga kabilahnya. Dia dipilih dan dikukuhkan oleh warga kabilah dengan tujuan untuk membawa anggota-anggota kabilah yang dipimpinnya ke arah kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan.”

“Jika kalian bertanya disebut apakah kedudukan seorang pemimpin kabilah? Maka, karena kabilah adalah kumpulan manusia di suatu nagari yang terdiri atas beberapa desa, hendaklah pemimpin kabilah itu disebut wali nagari. Jika kalian bertanya kenapa disebut wali nagari dan bukan kepala nagari? Aku katakan kepada kalian, karena sebutan ‘kepala nagari’ bisa bermakna suatu kedudukan yang didasarkan atas asas keturunan. Sedangkan sebutan wali, yang diambil dari kata Arab al-Waly, memiliki makna penguasa, pelindung, dan sahabat yang didasarkan pada asas keterpilihan.”

“Sebagaimana kedudukan Wali Allah dalam makna ruhani yang berarti suatu kedudukan orang seorang yang ‘dipilih’ Allah untuk menjadi sahabat atau kekasih-Nya, demikianlah wali nagari adalah penguasa dan pelindung nagari yang dipilih oleh sahabat-sahabat yang mengasihinya. Itu berarti, seorang wali nagari selain menjadi penguasa dan pelindung nagari, juga menjadi sahabat kabilah yang memilihnya. Dan sebagaimana ketentuan yang digunakan Allah dalam memilih hamba-Nya untuk didudukkan pada derajat Wali Allah, seorang wali nagari hendaknya memiliki derajat ruhani yang lebih tinggi dibandingkan manusia di sekitarnya. Ukuran yang paling sederhana untuk menilainya adalah dengan melihat keterikatan orang-seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu. Itu berarti, semakin kuat keterikatan orang seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu rendah badani maka semakin tidak layak orang tersebut dipilih menjadi wali nagari.”

“Jika pemimpin-pemimpin dari kabilah-kabilah yang disebut wali nagari sudah terbentuk maka menjadi tugas mereka untuk memilih pemimpin bagi seluruh kabilah yang disebut ra’yat atau masyarakat ummah. Pemimpin ra’yat atau masyarakat ummah itulah yang disebut wali al-Ummah, yang bermakna penguasa, pelindung, dan sahabat masyarakat ummah.” “

Karena citra wali al-Ummah adalah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan dilanjutkan oleh keempat sahabatnya maka kedudukan wali al-Ummah bercermin dan melanjutkan tradisi khulafa’ ar-rasyidin, sehingga seorang wali al-Ummah hendaknya kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Kenapa pemimpin masyarakat ummah harus disebut kalifah ar-rasul sayyidin panatagama dan bukan sultan atau amir? Sebab, pemimpin masyarakat ummah adalah cerminan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat kalifah sahabatnya.”

“Sesungguhnya, di balik sebutan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama terkandung makna ruhani yang lebih dalam dibandingkan dengan sebutan sultan atau amir. Sebab, sebutan kalifah merujuk pada khilafah (kekuasaan), imamah (kepemimpinan ummah), dan wilayah (kewalian). Itu sebabnya, seorang kalifah adalah penguasa sekaligus imam ruhani. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat penggantinya, demikianlah hendaknya pemimpin masyarakat ummah menjalankan tugasnya sebagai penguasa duniawi sekaligus imam bagi masyarakat ummah yang dipimpinnya.”

“Oleh karena kiblat yang dijadikan cerminan seorang kalifah ar-rasul sayyidin panatagama adalah Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat maka sesungguhnya sangatlah sulit mendapatkan adimanusia seperti itu. Sebab, sang adimanusia calon kalifah ar-rasul sayyidin panatagama bukan sekadar manusia yang telah mampu melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya. Dia, sang adimanusia itu, hendaknya juga memahami hukum suci Ilahi (syari’at), ilmu siyasah, ilmu pemerintahan, ilmu hikmah, dan yang lainnya.” “

Lantaran ketentuan ini sangat berat maka sampai saat ini aku belum tahu siapa di antara orang-orang yang aku kenal di bumi Caruban Larang ini yang layak untuk ditunjuk dan dipilih bersama sebagai kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Tetapi, aku yakin dia akan muncul tak lama lagi di antara kita. Ya, dia yang dengan sukarela melepaskan seluruh ikatan dunia untuk berkhidmad kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi itu tidak lama lagi akan kita ketahui keberadaannya.”

“Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah kata-kata yang aku ucapkan tentang kedatangan pemimpin masyarakat ummah itu dianggap nubuah atau ramalan gaib? Aku katakan kepada kalian yang bertanya bahwa akal dan hati nuraniku berbicara begini: ‘Perubahan kehidupan manusia dari gelap ke arah terang selalu ditandai oleh munculnya cahaya agung kemanusiaan laksana matahari terbit pada pagi hari.’ Itu sebabnya, di tengah-tengah kegelapan kemanusiaan yang meliputi Bumi Caruban Larang ini, aku yakin akan muncul cahaya agung itu. Hanya saja, karena cahaya itu bersinar terlalu terang, sering kali mata kita tidak mampu melihatnya dari dekat.”

“Dengan segala pertanda dan isyarat yang telah kusampaikan tentang bagaimana seharusnya seseorang layak dipilih menjadi kalifah ar-rasul sayyidin panatagama, maka aku meminta kepada kalian untuk mengamati secara cermat dan jernih tentang siapa di antara manusia di Caruban Larang ini yang memenuhi syarat-syarat itu. Jika di antara kalian ada yang mengetahui siapa yang citra hidupnya paling mirip dengan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat, maka dialah yang layak menduduki jabatan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama.”

East China Sea, North of Taipei (MV. Taho), April 10th 2007 17:45LT