Api Perubahan di Lemah Abang

Setelah menyampaikan khotbah beberapa kali, Abdul Jalil mengetahui dari laporan murid-muridnya bahwa tidak semua pendengar mampu memahami apa yang telah dikemukakannya secara benar. Banyak warga masih heran dan bingung memahami makna kabilah, ra’yat, masyarakat ummah, al-insan al-kamil, khalifah Allah fi al-ardh, hak milik, hak fitrah manusia, wali al-ummah, kalifah ar-rasul, dan istilah-istilah Arab yang masih asing. Namun, satu hal dari laporan para murid itu yang membuat Abdul Jalil bergembira, yaitu hampir semua pendengar memahami intisari khotbah justru dari dongeng-dongeng yang dituturkannya sebagai selingan. Di antara dongeng yang paling disukai adalah dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, Karna anak kusir, Kalilah dan Dimnah, dan kisah para nabi.

Bagi Abdul Jalil, masalah ketidakpahaman terhadap istilah Arab yang digunakannya dalam khotbah bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. Seperti pepatah “alah bisa karena biasa”, istilah-istilah itu secara berangsur-angsur tentu akan terpahami sendiri jika digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Bukankah pada awalnya istilah-istilah dari bahasa Sansekerta pun asing dan sulit dipahami? Bukankah dengan pembiasaan maka istilah-istilah Sansekerta akhirnya dipahami juga?

Sementara itu, khotbahnya lebih mudah dipahami jika disampaikan dalam bentuk dongeng. Ia menilai para pendengarnya adalah manusia yang tidak dibiasakan hidup dalam tradisi bernalar. Itu berarti, penilaian Abdul Malik Israil tentang kemiripan kerangka pikir orang-orang Campa, Sunda, dan Jawa, dengan Bani Israil pada masa kemundurannya tidaklah keliru. Ternyata mereka memang lebih memahami maksudku lewat bahasa dongeng daripada dalam bahasa nalar, katanya dalam hati.

Abdul Jalil tersenyum. Ia teringat pada Shafa, istrinya di Gujarat yang telah menuturkan dongeng-dongeng itu kepadanya. Di antara dongeng yang digemari itu adalah yang mengisahkan keberadaan seekor bayi harimau yang dilahirkan induknya di tepi sebuah hutan tak jauh dari kawanan kambing hutan. Saat melahirkan sang induk mati kelelahan dan kehabisan darah. Bayi harimau kemudian diasuh dan disusui oleh kawanan kambing hutan.

Si harimau kecil tumbuh di lingkungan kambing dan mendapat kasih sayang dari para kambing. Karena hidup di tengah kambing maka si harimau berbicara dalam bahasa kambing, mengembik, bermain-main, dan makan rumput seperti kambing. Si harimau sangat penurut kepada kawanan kambing.

Suatu ketika kawanan kambing hutan diserang seekor harimau jantan tua yang ganas. Ssemua kambing lari berhamburan ketakutan. Anehnya, si harimau kecil tetap berdiri di tempatnya tanpa rasa takut. Dengan terheran-heran ia melihat harimau tua yang ganas itu, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengais dan memamah rumput hijau di depannya sambil mengembik. Kini giliran sang harimau jantan yang terheran-heran. Dengan mata terbelalak harimau jantan bertanya, “Apa yang sedang engkau lakukan di sini bersama kawanan kambing itu, o Harimau kecil? Kenapa engkau memamah rumput? Mengapa engkau mengembik dengan suara tolol itu?”

Harimau kecil tak menjawab. Ia hanya mengembik. Menyaksikan itu, sang harimau jantan yang ganas menyambar tengkuknya dan membawanya ke sungai di dekatnya. Kemudian dengan membungkukkan badan sang harimau tua berkata, “Lihatlah wajahmu, lalu lihat pula wajahku! Bukankah kita sama? Tidakkah engkau sadar betapa baik aku maupun engkau adalah harimau? Mengapa engkau membayangkan dirimu seperti seekor kambing? Kenapa kau mengembik-ngembik? Mengapa kau makan rumput?”

Si Harimau kecil tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa memandang heran wajahnya di permukaan air sungai. Beberapa jenak setelah berkaca dipermukaan air tiba-tiba ia merasakan perubahan terjadi pada dirinya. Cakar-cakarnya mulai mengembang. Dari dalam tenggorokannya tiba-tiba terdengar suara geraman. Namun, ia tetap heran dengan perubahan itu. Melihat perubahan pada diri si harimau kecil, sang harimau jantan ganas kembali menyambar tengkuknya dan membawanya ke sarang. Di sana sang harimau jantan memberinya sekerat daging mentah sisa makannya yang masih dilepoti darah. Si harimau kecil mengembik dan bergidik merasa jijik. Namun, harimau jantan memaksanya memakan daging itu.

Sesaat setelah memakan daging mentah ia merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya. Tiba-tiba saja ia merasakan kekuatan aneh yang dahsyat menggetari jiwanya. Ia merasakan kegembiraan raya yang belum pernah dialaminya selama ini. Ia bangkit dan menguap lebar-lebar seolah-olah baru terbangun dari tidur. Ia menggeliat dan meregangkan cakar-cakarnya. Ekornya dikibas-kibaskan. Dari tenggorokannya terdengar auman yang keras menggetarkan. Sementara itu, harimau jantan yang menjadi gurunya menyaksikan dengan bangga sambil berkata, “Sudah tahukah engakau siapa dirimu sesungguhnya? Karena itu, marilah kita pergi ke padang perburuan untuk membuktikan siapa sesungguhnya kita ini!”

Usaha Abdul Jalil untuk membangkitkan kesadaran diri manusia sebagai makhluk paling agung dan mulia, yaitu manusia sempurna yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, justru lebih mudah dijelaskan lewat dongeng. Ya, justru dengan cara itulah manusia-manusia baru bisa disentuh kesadarannya bahwa takdir mereka adalah sebagai harimau bukannya kambing.

Setelah merenungkan dan mengkaji kembali langkah-langkahnya, Abdul Jalil menangkap kesadaran baru dan berkata dalam hatinya, “Sebuah cakrawala baru telah terbentang di hadapanku. Sesungguhnya, aku membutuhkan lebih banyak murid dan sahabat yang bisa mendukung gagasan dan impianku untuk mewujudkan dunia baru. Namun, aku tidak ingin menjadi pemimpin mereka seperti gembala memimpin kawanan domba. Aku ingin murid-murid dan sahabat-sahabatku menyadari bahwa mereka adalah gembala bagi diri mereka sendiri. Mereka akan memusyawarahkan kepentingan mereka. Dan, mereka akan berjalan menuju padang kehidupan yang sesuai dengan kodrat hidup mereka sebagai ciptaan paling sempurna di muka bumi.”

“Jika murid-murid dan sahabat-sahabatku sudah menjadi gembala bagi dirinya sendiri maka mereka akan menjadi pemimpin bagi kumpulan harimau yang sadar diri. Masing-masing dari gembala akan memimpin kawan-kawannya untuk hidup sesuai kodrat harimau di padang perburuan dunia. Dan lantaran kumpulan itu adalah kumpulan harimau-harimau maka masing-masing anggota kumpulan itu akan bersama-sama menjaga kumpulannya dari ancaman makhluk lain. Sesungguhnya masing-masing kumpulan harimau itu akan menjalin persaudaraan dengan kumpulan harimau lain, ibarat ikatan tali yang saling mengait.”

Dengan cakrawala kesadaran barunya, Abdul Jalil kemudian memperbanyak jumlah murid pilihan yang secara khusus dididiknya menjadi gembala yang akan memimpin kumpulan harimau. Jika sebelumnya ia hanya membina dan mendidik Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Abdurrahman Rumi, Raden Qasim, dan Abdurrahim Rumi maka pada gilirannya ia membina dan mendidik pula murid lain agar setara dengan “permata-permata harapan” tersebut. Dan, kehadiran Abdul Malik Israil di Lemah Abang terbukti sangat membantu usahanya dalam melahirkan tatanan baru masyarakat.

Usaha keras Abdul Jalil memperbanyak jumlah murid untuk dididik menjadi gembala bagi kumpulan harimau terbukti tidak sia-sia. Hal itu terlihat ketika para murid dilibatkan dalam usaha menata kehidupan warga. Bagaikan matahari terbit dengan gemilang menerangi langit, terbentanglah cakrawala kehidupan baru yang gemilang di Lemah Abang. Bagaikan kumpulan harimau di padang perburuan, warga Lemah Abang tiba-tiba mewujudkan diri menjadi kabilah berisi sekumpulan “harimau” sebagaimana diangankan Abdul Jalil. Dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak Abdul Jalil menyampaikan khotbah di Tajug Agung Lemah Abang, seluruh penduduk Lemah Abang telah menjadi manusia yang berbeda dalam banyak hal dengan warga Caruban Larang seumumnya.

Perubahan kehidupan warga Lemah Abang sendiri sesungguhnya diketahui oleh warga asal desa sekitar setiap hari pasar tiba. Dari hari pasar satu ke hari pasar yang lain mereka selalu terkejut menyaksikan perubahan yang terjadi pada diri warga Lemah Abang. Dengan terheran-heran mereka mengamati penampilan, perilaku, kata-kata, bahasa pergaulan, pandangan hidup, jalan pikiran, dan gaya hidup yang berbeda dengan yang mereka kenal sebelumnya. Seiring bergulirnya waktu, para pedagang pun akhirnya menjadikan warga Lemah Abang sebagai bahan sorotan dan perbincangan dengan pedagang asal desa lain.

Tidak bisa dielakkan, bermula dari perubahan warga Lemah Abang yang dianggap aneh, sebuah perubahan besar tampaknya sedang terjadi di Caruban Larang. Bagaikan memiliki daya pesona yang kuat, kabar perubahan warga Lemah Abang telah memunculkan rasa ingin tahu warga dari desa lain di wilayah Caruban Larang. Entah siapa yang memulai, dengan berkelompok-kelompok atau sendiri-sendiri, warga dari berbagai desa berdatangan ke Lemah Abang. Sambil berbelanja atau menjual sesuatu mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sesungguhnya keanehan tatanan baru dari kehidupan warga Lemah Abang sebagaimana yang mereka dengar.

Saat warga dari desa lain mengamati gerak kehidupan warga Lemah Abang, yang semula mereka nilai aneh, tanpa mereka sadari telah terjadi pula suatu keanehan lain. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba dari kedalaman jiwa mereka terlintas keinginan kuat untuk meniru keanehan warga Lemah Abang tersebut. Keinginan itu makin kuat manakala mereka diberi tahu oleh warga Lemah Abang tentang ajaran dan tatanan baru sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang dan murid-muridnya. Diam-diam mereka menangkap nuansa kebenaran di balik ajaran Syaikh Lemah Abang. Lantaran hasrat meniru itu makin lama makin menguat di jiwa mereka maka setiap kali pulang dari Lemah Abang mereka diam-diam mencontoh satu demi satu apa yang mereka saksikan, baik dalam hal cara warga berpakaian, berbicara, berjual beli, dan gaya hidup.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peniruan-peniruan yang dilakukan oleh warga desa yang pernah datang ke Lemah Abang tersebut. Orang hanya mengetahui bahwa dalam berbagai perbincangan di antara para petani, nelayan, perajin, tukang, dan pedagang di desa-desa, warga Lemah Abang selalu dikesankan sebagai warga yang berani dalam memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Dengan terheran-heran mereka memperbincangkan bagaimana para petani, pedagang kecil, tukang, perajin, kuli, bahkan janda tua di Lemah Abang berani menyatakan diri sebagai manusia yang sederajat dengan manusia lain. Ya, dengan sangat percaya diri orang-orang Lemah Abang menyatakan punya “hak milik” pribadi atas tanah, rumah, harta benda, keluarga, agama, dan bahkan hak memilih pemimpin; suatu hal aneh yang tidak dipunyai warga desa lain.

Perbincangan tentang warga Lemah Abang ternyata tidak hanya terjadi di kalangan warga desa sekitar yang pernah datang ke sana. Para pedagang Cina, Melayu, Campa, dan Arab yang berniaga di pasar Kuta Caruban, Junti, dan bahkan Dermayu pun sudah mendengar dan memperbincangkan perubahan di sana. Mereka yang umumnya warga keturunan asing itu sangat berharap perubahan yang terjadi di Lemah Abang bisa meluas ke berbagai penjuru negeri Sunda. Dengan tatanan baru yang dirintis Syaikh Lemah Abang mereka berharap dapat setara dan sederajat dengan warga setempat. Tatanan yang berlaku di Bumi Pasundan dan Majapahit sejauh ini menempatkan warga asing yang tidak beragama Hindu sebagai kalangan Mleccha, yakni manusia di luar kasta yang lebih rendah daripada kalangan sudra papa. Dalam berbagai hal, harta benda dan nyawa mereka tidak dijamin secara hukum. Jika terjadi perubahan politik kekuasaan, mereka menjadi sasaran jarahan warga setempat, terutama dari kalangan sudra.

Berawal dari perbincangan para pedagang asing di bandar Dermayu dan Caruban Larang, kabar perubahan warga Lemah Abang pun pada gilirannya tersiar di bandar Kalapa bahkan kutaraja Dayeuh Pakuan. Prabu Guru Dewata Prana Sang Maharaja Sunda sangat terkejut mendengar lahirnya tatanan kehidupan yang aneh di wilayah kekuasaan puteranya itu. Diam-diam maharaja tua itu mengirim Tumenggung Nara Wingkang, penguasa Astana Larang, ke Lemah Abang untuk menyelidiki apa sesungguhnya sedang terjadi di sana.

Dengan didampingi lima perwira, Tumenggung Nara Wingkang menyamar sebagai pedagang kain dan tinggal selama lima hari di Lemah Abang. Selama lima hari itulah sang tumenggung beserta kelima pengawalnya terheran-heran menyaksikan gerak kehidupan warga desa yang baru dibuka belum setahun itu.

Setelah mersasa cukup menyaksikan keanehan tatanan kehidupan warga, Tumenggung Naya Wingkang kembali ke Dayeuh Pakuan menghadap Prabu Guru Dewata Prana, secara kebetulan sang maharaja sedang berbincang-bincang dengan Prabu Sursawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, puteranya. Tumenggung Nara Wingkang menuturkan semua yang telah disaksikannya di Lemah Abang.

“Sejak patik lahir hingga rambut patik ditumbuhi uban, belum pernah patik menyaksikan tatanan kehidupan yang begitu aneh seperti di Lemah Abang. Paduka bisa membayangkan, menurut pengakuan warga, belum genap tiga bulan sejak desa itu dibuka, sudah dihuni oleh sekitar seribu warga yang tinggal di rumah-rumah yang mengitari Tajug Agung dan pasar desa. Yang aneh lagi, Paduka, masing-masing warga Lemah Abang memiliki hak pribadi atas tanah yang mereka buka sebagai hunian, sawah, dan tegalan. Menurut warga, tanah itu mereka dapat dari pemberian Syaikh Lemah Abang, guru ruhani mereka,” ujar Tumenggung Nara Wingkang.

“Bukankah Lemah Abang masuk wilayah Japura?” tanya Prabu Guru Dewata Prana. “Bukankah wilayah itu sudah kuberikan kepada puteraku, Sri Mangana? Bagaimana mungkin tanah Japura bisa dibagi-bagikan kepada kawula tanpa sepengetahuan puteraku? Siapakah Syaikh Lemah Abang itu?

“Itulah pangkalnya, Paduka,” kata Tumenggung Naya Wingkang. “Karena pemimpin di Lemah Abang itu sesungguhnya adalah Datuk Abdul Jalil, putera Sri Mangana.” Prabu Guru Dewata Prana tercekat kaget. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum.

Berbeda dengan ayahandanya, reaksi Prabu Surawisesa saat mendengar penjelasan Tumenggung Nara Wingkang sangat meledak-ledak. Awalnya ia terhenyak kaget. Wajahnya merah padam dijalari api amarah. Kemudian, dengan suara berapi-api ia berkata lantang, “Jelaslah sudah sekarang bahwa keanehan tatanan di Lemah Abang bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Jelas pula bahwa kepemilikan kawula atas tanah di Lemah Abang itu bukan karena kebaikan hati Syaikh Lemah Abang yang membagi-bagikan tanah miliknya kepada para kawula. Jelas juga ucapan Syaikh Lemah Abang yang menyatakan bahwa warga Lemah Abang bukan lagi kawula karena sesungguhnya semua itu bukan tatanan baru yang akan mengubah tatanan yang sudah ada.

“Ya, sekarang sudah jelas bagiku bahwa semua keanehan di Lemah Abang adalah siasat Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang, untuk mengincar takhta kerajaan Sunda. Dia tahu peluangnya menjadi maharaja Sunda menggantikan ayahanda kami sangat kecil karena seluruh kerabat kerajaan diam-diam telah memilihku sebagai pewaris takhta, meski ayahanda kami tidak menunjuk putera mahkota. Jadi, jelaslah bagiku sekarang ini bahwa gejolak kehidupan di Lemah Abang sesungguhnya adalah siasat licik dari Yang Dipertuan Caruban Larang untuk tujuan yang lebih besar, yaitu takhta kerajaan Sunda. Dia menggunakan tangan anaknya untuk merebut takhta.”

Mendengar kata-kata puteranya, Prabu Guru Dewata Prana hanya tersenyum. Sebagai maharaja yang sudah berpengalaman merasakan pahit dan getirnya kekuasaan, ia tidak gampang terpengaruh oleh pandangan puteranya yang terbawa perasaan itu. Untuk memperjelas masalah, ia mengirim kembali Tumenggung Nara Wingkang ke Lemah Abang dengan didampingi Tumenggung Lembu Jaya dari Kidang Lamotan. Sementara kedua utusan itu berangkat, maharaja bijak itu mengirim Tumenggung Jagabhaya dan Ki Purwagalih ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang keanehan tatanan di Lemah Abang.

Menyadari bahwa ayahandanya tidak terpengaruh oleh kata-katanya, Prabu Surawisesa kembali ke Kraton Surawisesa di Galuh Pakuan. Setelah itu, ia mengirim Tumenggung Limbar Kanchana, penguasa Ajong Kidul, ke Lemah Abang. Tumenggung Limbar Kanchana ditugaskan untuk mengetahui seluk beluk kehidupan di Lemah Abang, terutama kemungkinan menguak jaringan rahasia yang menghubungkan Lemah Abang dengan Caruban Larang. “Usahakan engkau dapatkan bukti bahwa kejadian di Lemah Abang adalah kepanjangan tangan Sri Mangana,” ujar Prabu Surawisesa.

Sementara itu, saat Tumenggung Lembu Jaya menginjakkan kaki di Lemah Abang, ia merasa terheran-heran dengan apa yang disaksikannya. Ia yang pernah berkunjung ke Japura barang tujuh tahun silam sangat takjub dengan keberadaan Desa Lemah Abang yang kata orang baru dibuka barang enam tujuh bulan silam. Dulu di kawasan itu tidak dijumpainya satu rumah pun. Saat itu seingat Tumenggung Lembu Jaya, yang ia saksikan hanyalah hutan lebat di selatan Japura dan hamparan rumput alang-alang yang dihuni hewan melata dan serangga ganas yang berbahaya. Jika musim kemarau datang, sejauh mata memandang hanya hamparan rumput alang-alang berwarna coklat yang tergelar. Beberapa bagian dari hamparan alang-alang itu acapkali terbakar menyisakan abu yang menghitam. Sebaliknya, jika musim penghujan tiba hamparan rumput alang-alang berubah menjadi rawa-rawa yang ganas tempat katak, ular, biawak, serangga, dan nyamuk membangun sarang.

Tumenggung Lembu Jaya makin terheran-heran ketika nama Lemah Abang senantiasa dikaitkan oleh warga dengan sosok guru manusia, Syaikh Lemah Abang, yang bernama pribadi Datuk Abdul Jalil. Tokoh yang ternyata putera Sri Mangana itu tidak saja dikenal warga sebagai orang yang merintis pembukaan Desa Lemah Abang, tetapi juga termasyhur sebagai pemimpin dan sekaligus guru manusia yang dijadikan contoh keteladanan dan panutan oleh warga. Orang sepertinya tidak menyebut Lemah Abang jika tidak menyebut nama sang guru manusia itu. Lantaran begitu kuat wibawa dan pengaruhnya, meski masih tergolong muda, Syaikh Lemah Abang sangat disegani dan dihormati pengikutnya. Kata-katanya menjadi sabda yang diikuti dan perintahnya menjadi titah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh pengikutnya.

Sekalipun Syaikh Lemah Abang merupakan pemimpin dan guru manusia yang disegani dan dihormati oleh seluruh pengikutnya, yang mengherankan Tumenggung Lembu Jaya adalah hidupnya terkesan sangat sederhana, bahkan miskin. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk kayu beratap daun kawung yang terletak di samping kiri Tajug Agung. Tidak ada perabot apa pun di dalam gubuk kecil itu kecuali selembar tikar pandan yang dijadikan alas tidur dan sebuah peti kayu berisi empat lembar pakaian. Sebuah lampu minyak kelapa terlihat meringkuk di sudut ruang dan hanya dinyalakan pada malam hari ketika ia makan dan menerima tamu. Ia senantiasa terlihat mengerjakan sendiri semua kebutuhannya mulai dari menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membuat minyak kelapa, menjahit pakaian yang robek, memperbaiki terompah, bahkan mencari kayu bakar.

Di sekitar gubuk Syaikh Lemah Abang, sebagaimana disaksikan Tumenggung Lembu Jaya, dalam jarak sekitar tiga puluh langkah, terdapat sembilan gubuk kayu beratap daun kawung. Gubuk-gubuk itu adalah kediaman para janda tua dan anak-anak yatim. Meski tua, mereka bukan orang lemah apalagi tidak berdaya dan minta dikasihani. Mereka hidup sebagaimana warga yang lain. Mereka sehari-hari terlihat bekerja menganyam tikar, bahkan acapkali terlihat mencari kayu bakar hingga jauh ke pinggiran hutan yang terletak di selatan Lemah Abang. Jika hari pasar tiba, mereka berangkat ke pasar menjual tikar dan kayu bakarnya.

Sementara anak-anak yatim yang tinggal di gubuk-gubuk itu pun bukanlah anak-anak tak berdaya yang meminta dikasihani. Mereka juga hidup sebagaimana anak-anak Lemah Abang yang lain. Jika subuh menjelang mereka selalu terlihat menyapu lantai Tajug Agung, mengisi kolam untuk wudhu, menabuh bedug, sembahyang berjama’ah, dan sesudah itu mengaji hingga matahari terbit. Sebagian di antara mereka seusai mengaji akan bekerja menggembala hewan milik warga atau mencari kayu bakar, sebagian yang lain membantu para janda tua menganyam tikar.

Sekalipun janda tua dan anak yatim di Lemah Abang tidak tampak sebagai orang-orang yang tak berdaya, Syaikh Lemah Abang telah menetapkan bahwa nafkah mereka dijamin oleh siapa saja di antara manusia yang melangkah di jalan Kebenaran. Syaikh Lemah Abang telah memerintahkan kepada semua warga desa dan semua yang mengaku mengikuti jalannya untuk menyantuni dan memuliakan para penghuni gubuk itu. Sebagaimana ajarannya tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi, menyisihkan sebagian nafkah untuk menyantuni janda miskin dan anak-anak yatim adalah bagian dari kewajiban manusia yang menempati kedudukan wakil Yang Maha Pemberi rezeki (khalifah al-Razzaq fi al-ardh).

Sebagai tokoh panutan, terbukti Syaikh Lemah Abang tidak hanya memerintahkan para pengikutnya untuk menyantuni dan memuliakan janda tua dan anak yatim. Ia memberikan keteladanan langsung tentang bagaimana memperhatikan, membimbing, menasihati, menyantuni, mengurusi, dan menghibur warga yang tidak beruntung itu. Sering orang-orang menyaksikan Syaikh Lemah Abang sepulang dari perjalanan jauh mendatangi para penghuni gubuk dengan membawa garam, terasi, kain, beras, gula, bahkan kayu bakar. Sering juga orang melihat ia mendongeng, mengajak makan dan bahkan bergurau dengan mereka.

Kehidupan sehari-hari para janda tua dan anak-anak yatim yang tidak menunjukkan kelemahan apalagi ketidakberdayaan itu sesungguhnya berpangkal dari ajaran yang disampaikan Syaikh Lemah Abang. Tokoh panutan itu sangat menekankan kepada para pengikutnya untuk bangkit dan memerangi kemalasan diri sebagai kewajiban utama manusia. Menurutnya, salah satu kewajiban yang pertama-tama harus dilakukan seorang manusia adalah menggunakan semua anugerah Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari, baik anugerah akal, penglihatan, pendengaran, hati nurani, gerak tangan dan kaki, bahkan tarikan napas.

Seorang manusia, menurut Syaikh Lemah Abang, tidak bisa disebut manusia jika ia malas berpikir, enggan menggerakkan tangan dan kaki, suka menikmati yang enak-enak, tidak mau bersusah payah, gemar berangan-angan dan berkhayal, berputus asa jika menghadapi kesulitan. Manusia pemalas, menurut Syaikh Lemah Abang, adalah makhluk terkutuk yang lebih rendah derajatnya dari binatang. Sebab, manusia pemalas tidak saja menista anugerah Sang Pencipta, tetapi juga akan menjadi bencana bagi kehidupan sesamanya.

Berjuang keras (jihad), ungkap Syaikh Lemah Abang dalam beberapa khotbahnya, merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan manusia untuk meniti kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebab, dengan berjuang keras sesunggunya seorang manusia tidak saja mensyukuri anugerah, tetapi juga memuliakan dan mengagungkan Penciptanya. “Dengan menggerakkan tanganmu untuk menyuapkan nasi ke mulutmu, sesungguhnya engkau telah mensyukuri anugerah sekaligus memuji keagungan-Nya. Lihatlah burung-burung yang terbang di angkasa! Lihatlah hewan-hewan yang berlarian di padang! Lihatlah ikan-ikan yang berenang di lautan! Mereka semua memuji Penciptanya dengan cara menggunakan anugerah-Nya dalam setiap gerak kehidupan,” ujar Syaikh Lemah Abang.

Dengan tanpa kenal lelah, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Tumenggung Lembu Jaya, Syaikh Lemah Abang mengajarkan kepada semua pengikutnya tentang kewajiban utama seorang manusia agar menggunakan akal, qalbu, tenaga, pancaindera, dan anggota tubuhnya untuk memerangi kemalasan diri sendiri. Ia tanamkan kuat-kuat kepada para pengikutnya keyakinan bahwa musuh utama manusia adalah setan kemalasan yang bersembunyi di dalam hati manusia sendiri.

Melalui cerita-cerita, dalil-dalil, dan perumpamaan-perumpamaan Syaikh Lemah Abang mengarahkan pengikutnya untuk benar-benar memahami apa yang disampaikannya. Tanpa kenal jemu, misalnya, ia ulang-ulang dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, juga kisah Nabi saat menerima wahyu Ilahi pertama di Gua Hira. “Apakah kalian pikir Muhammad Rasulullah Saw. itu seorang pemalas yang secara kebetulan datang ke Gua Hira dan secara kebetulan pula menerima anugerah wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla? Apa kalian pikir beliau datang ke Gua Hira hanya satu kali, yaitu pada malam nuzul Al-Qur’an ketika beliau didatangi Jibril a.s.? Sekali-kali tidak demikian! Sesungguhnya Muhammad Rasulullah Saw. telah melakukan khalwat di Gua Hira selama lima belas tahun! Ingat itu! Lima belas tahun beliau berkhalwat tanpa kenal lelah dan patah semangat,” ujar Syaikh Lemah Abang.

Nilai-nilai perjuangan untuk memerangi kemalasan diri yang ditanamkan Syaikh Lemah Abang itulah yang telah menyalakan api semangat para pengikutnya untuk menapaki kehidupan. Dengan bekal semangat memerangi kemalasan diri itu para pengikut Syaikh Lemah Abang memasuki medan perang yang lebih dahsyat, yakni menghadapi keputusan nasib yang diselimuti kabut rahasia. Ibarat memasuki negeri asing yang tak dikenal sebelumnya, begitulah setiap manusia di muka bumi harus berjuang terus menghadapi tantangan dan rintangan untuk mencapai tanah harapan yang diidamkan.

Dengan suara menggema di Tajug Agung, di rumah-rumah, di ujung desa, sawah, tegalan, sungai, lembah, dan gunung, Syaikh Lemah Abang membangkitkan perlawanan manusia-manusia yang selama berbilang abad pasrah dijajah dan ditindas oleh nasibnya karena alasan keturunan. Dengan semangat berapi-api ia berkata dalam setiap pengajian, “Bangkitlah engkau sekalian, o kaum sudra papa yang hidup hina! Sesungguhnya bukan darah yang mengalir di tubuhmu yang membuatmu hina dan nista, melainkan kemalasan diri dan ketakutanmu menghadapi kehidupan jua yang menjadikan dirimu dan seluruh keturunanmu hina dina sepanjang masa. Karena itu, tantanglah kesewenang-wenangan nasib yang selama ini telah memperbudak jiwamu. Bangkitlah dari kemalasan! Bangkitlah dari kerendahan diri! Sulut api keberanian di dalam jiwamu! Lawanlah semua keterbatasan dirimu sekuat kuasamu!”

“Bangkitlah juga, engkau sekalian, o para ksatria berdarah biru! Janganlah engkau menjadi hewan yang hidup diliputi kemalasan menikmati keberuntungan nasib yang meninabobokkanmu dalam buaian angin kepalsuan duniawi. Jangan engkau bermalas-malas menikmati sanjungan dan pujian. Sesungguhnya di balik keberuntungan nasibmu itu terdapat tugas besar bagimu untuk melindungi manusia lain yang lemah dan papa. Bangkitlah dari kemalasan! Bangunlah dari mimpi-mimpi kosong! Hunuslah pedang untuk menantang keterbatasan dirimu sekuat kuasamu! Ujilah dirimu apakah engkau sekalian layak disebut ksatria berdarah biru yang memiliki dharma utama menjadi pelindung dan pengayom jagad.”

Pandangan, paham, gagasan, dan nilai-nilai yang diajarkan Syaikh Lemah Abang untuk menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai adimanusia yang menduduki jabatan wakil Tuhan di muka bumi akhirnya dengan sangat rinci dituturkan oleh Tumenggung Lembu Jaya kepada Prabu Guru Dewata Prana. Sebagai maharaja yang bijaksana, Prabu Guru Dewata Prana menangkap Kebenaran yang sedang berembus di Lemah Abang. Ia menangkap sasmita bahwa suatu angin perubahan sedang bertiup di daerah kekuasaannya. Jika angin itu tidak dihadapi secara bijak akan menjadi prahara yang memporak-porandakan tatanan kehidupan yang sudah ada dengan korban yang tidak sedikit.

Berbeda dengan laporan Tumenggung Lembu Jaya dan Tumenggung Nara Wingkang yang mencermati tatanan, pandangan, gagasan, dan nilai-nilai baru Syaikh Lemah Abang, laporan Tumenggung Limbar Kanchana yang diutus Prabu Surawisesa cenderung mengamati keberadaan Lemah Abang sesuai yang ia saksikan. Ketika masuk ke desa Lemah Abang, misalnya, Tumenggung Limbar Kanchana hanya mengetahui bahwa pusat desa itu adalah Tajug Agung yang terbuat dari kayu dan beratap daun kawung yang berdiri di tengah-tengah desa. Di samping kiri Tajug Agung terletak kediaman Syaikh Lemah Abang serta rumah para janda tua dan anak-anak yatim. Di depan Tajug Agung terhampar lapangan. Di kanan kiri dan belakang Tajug Agung terdapat beratus-ratus rumah yang berderet-deret hampir melingkari lapangan.

Dalam jarak sekitar setengah pal di selatan Tajug Agung berdiri tegak sanggar pamujan yang berdampingan dengan vihara. Seperti bangunan Tajug Agung, kedua bangunan suci warga beragama Hindu dan Budha itu dikitari puluhan rumah yang padat. Warga beragama Hindu dan Budha rajin datang ke situ untuk beribadah. Namun sungguh aneh, para pendeta Hindu dan Budha dari sanggar pamujan dan vihara sering terlihat datang ke rumah kecil di sisi kiri Tajug Agung yang merupakan jediaman Syaikh Lemah Abang. Jika malam menjelang mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan Syaikh Lemah Abang dan beberapa warga muslim Lemah Abang. Bahkan, dengan terang-terangan para pendeta itu mengaku sebagai siswa Syaikh Lemah Abang. Mereka mengakui bahwa Syaikh Lemah Abang adalah penuntun dan pembimbing mereka dalam meniti jalan ruhani.

Sementara itu, di bagian utara desa – dalam jarak sekitar satu pal dari Tajug Agung – terletak pasar desa. Hari pasar berlangsung sepekan sekali pada hari selasa. Pada hari itu pedagang tidak hanya menjual sayur-mayur, lauk-pauk, garam, gula, sirih, kacang, gambir, beras, terasi, dan lada, tetapi menjual juga bahan kain, sisir, kemenyan, kayu gaharu, cermin, peralatan dapur, gerabah, obat-obatan, hewan ternak, dan hasil kerajinan. Di sekitar pasar selain terdapat kedai-kedai yang menjual makanan juga terdapat kedai-kedai yang menjual roda pedati, tapal kuda, pelana, sabuk, cambuk, sabit, cangkul, dan terompah. Sementara di sebelah timur pasar terletak sederetan bangunan yang digunakan untuk kegiatan pande besi, pembuatan gerobak, keranjang, alat-alat dapur, dan bahkan penyamakan kulit.

Kesan padatnya pemukiman di Desa Lemah Abang yang disaksikan Tumenggung Limbar Kanchana menampak kuat manakala ia melihat lalu-lalang manusia yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setiap hari seiring tersingkapnya cakrawala pagi, Desa Lemah Abang selalu diliputi suasana semarak dari para penghuninya yang memulai napas kehidupan sebagai penghuni bumi. Para petani yang berangkat ke sawah terlihat berjalan beriringan; memikul bajak, menuntun kerbau, memanggul cangkul, membawa sabit dan keranjang. Para tukang kayu, tukang batu, pembantu tukang, kuli angkut, terlihat sibuk mendirikan rumah dan bangunan lain. Para perajin, pande besi, peternak, dan pemilik warung tampak sibuk memulai kegiatannya. Desa Lemah Abang pada hari pasar terlihat jauh lebih semarak karena selain para pedagang dan buruhnya yang membawa barang dagangan dengan pedati, gerobak, atau pikulan terlihat pula iring-iringan warga dari desa-desa sekitar yang hendak berbelanja.

Dari lalu-lalangnya manusia di Desa Lemah Abang, terutama pada hari pasar, terlihat asal mereka dari aneka bangsa. Ada orang Sunda, Jawa, Melayu, Cina, Campa, dan Arab. Mereka tampil dengan gaya pakaian masing-masing. Meski demikian, yang terbesar di antara mereka adalah pribumi Sunda dan Jawa dari desa-desa sekitar Lemah Abang. Orang-orang Melayu, Cina, Campa, dan Arab lazimnya adalah warga Kuta Caruban yang datang ke Lemah Abang untuk berdagang.

Tumenggung Limbar Kanchana makin terheran-heran ketika mengamati penampilan warga Lemah Abang. Penampilan warga pribumi Lemah Abang sangat berbeda dengan seumumnya warga pribumi di desa-desa yang ada di Bumi Pasundan. Semua warga perempuan pribumi Lemah Abang baik orang Sunda maupun orang Jawa mengenakan kemben jika berada di luar rumah. Tumenggung Limbar Kanchana makin heran ketika diberi tahu warga bahwa di Lemah Abang berlaku peraturan yang melarang para perempuan keluar rumah tanpa mengenakan penutup dada sebagaimana lazimnya penampilan sehari-hari para perempuan pribumi. Peraturan itu tentu saja sangat aneh bagi masyarakat pribumi yang selama beribu-ribu tahun tidak pernah punya ketentuan untuk mengenakan pakaian penutup dada baik di kalangan keluarga kerajaan maupun kawula jelata.

Tumenggung Limbar Kanchana juga melihat keanehan cara berpakaian warga lelakinya. Laki-laki pribumi mengenakan kain yang menutupi tubuh mereka mulai sebatas pinggang hingga ke bagian bawah lutut jika berada di luar rumah. Selain itu, para laki-laki pribumi mengenakan destar. Mereka yang berambut panjang menggelung rambutnya ke dalam destar. Mereka yang menggunakan destar batik atau kain wulung adalah warga yang masih mengikuti agama leluhur. Sedangkan laki-laki berambut pendek, gundul, atau berambut panjang tetapi digulung ke dalam destar warna putih adalah warga Lemah Abang yang beragama Islam.

Selain mengenakan kain dan destar, laki-laki pribumi di Lemah Abang memiliki kebiasaan baru untuk menyelipkan golok di pinggang kiri mereka. Menurut keyakinan warga Lemah Abang, golok itu adalah lambang kehormatan seorang laki-laki yang sudah menyandang status suami. Golok tidak dimaksudkan untuk kepentingan lain kecuali untuk melindungi kehormatan seorang suami. Maksudnya, golok hanya akan digunakan jika ada orang jahat mengganggu kehormatan istrinya.

Kebiasaan baru lelaki pribumi Lemah Abang menyelipkan golok di pinggang kiri bermula dari pandangan baru yang menyatakan bahwa makhluk perempuan dicipta dari tulang iga kiri laki-laki. Karena itu, iga kiri laki-laki yang hilang dan menjelma menjadi perempuan itu harus dilindungi dengan golok. Barang siapa mengganggu atau merampas iga kiri laki-laki maka laki-laki itu wajib melindungi iga kirinya dengan golok. Dengan munculnya kebiasaan warga pribumi menyelipkan golok di pinggang kiri itu maka kebiasaan lama pribumi untuk menyelipkan keris pusaka di dada tidak lagi terlihat. Penampilan warga Lemah Abang benar-benar menjadi berbeda dengan penampilan seumumnya warga desa di Bumi Pasundan yang masih mengenakan cawat, rambut terurai tak bersisir, dan menyelipkan keris di dada.

Selain penampilan warganya yang aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati peraturan-peraturan yang berlaku di Lemah Abang pun sangat aneh dan tidak lazim. Dalam hal tabu, misalnya, ada larangan keras bagi seluruh warga untuk memakan daging anjing, tikus, katak, cacing, dan ulat. Larangan ini sangat aneh dan tidak lazim karena selama beratus-ratus tahun tabu itu hanya berlaku di lingkungan keluarga raja. Kini peraturan itu diberlakukan bagi warga desa. Bagi warga Lemah Abang yang beragama Islam diberlakukan larangan tambahan, yakni memakan daging babi. Sementara itu, meski tidak ada larangan memakan daging sapi, warga Lemah Abang membiasakan diri menyembelih kerbau untuk pesta dan perhelatan.

Larangan lain yang juga aneh dan tidak lazim yang wajib dipatuhi oleh seluruh warga adalah menjalankan upacara Ma-lima. Larangan itu, menurut Tumenggung Limbar Kanchana, pasti akan menimbulkan huru-hara jika diterapkan di tempat lain sebab upacara Ma-lima sudah menjadi bagian kehidupan warga di seluruh jengkal Bumi Pasundan.

Larangan lain di Lemah Abang yang tak kalah mengherankan bagi Tumenggung Limbar Kanchana adalah larangan menikah lebih dari satu istri jika alasannya semata-mata untuk memenuhi hasrat nafsu belaka. Pernikahan lebih dari satu istri sah dan bahkan dianjurkan jika memiliki alasan bersifat ruhani. “Jika engkau takut tidak bisa berbuat adil maka hendaknya engkau nikahi satu perempuan saja. Yang dimaksud adil adalah al-‘Adl. Maksudnya, jika kiblat hati dan pikiranmu tidak bisa engkau arahkan kepada al-‘Adl, yaitu Tuhan, maka janganlah engkau memiliki istri lebih dari satu. Sebab, jika engkau paksakan hasratmu sesungguhnya engkau telah terpedaya oleh bujuk rayu setan yang bersembunyi di dalam nafsumu,” ujar penduduk menirukan kata-kata Syaikh Lemah Abang.

Selain larangan-larangan aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati adanya peraturan yang bersifat keharusan bagi warga di Lemah Abang. Semua warga laki-laki diharuskan berlatih menunggang kuda dan memanah. Setiap sore secara bergantian semua warga lelaki berlatih menunggang kuda di lapangan yang terletak di timur Tajug Agung desa. Warga yang memiliki kuda meminjamkan kudanya untuk digunakan berlatih oleh warga yang belum memiliki kuda. Dengan adanya keharusan itu maka seluruh warga Lemah Abang sangat terampil berkuda dan memanah. Pada waktu-waktu tertentu mereka pergi ke hutan untuk berburu kijang. Kebiasaan menunggang kuda, memanah dan berburu yang berkembang di Lemah Abang benar-benar dianggap aneh dan bahkan kurang ajar oleh Tumenggung Limbar Kanchana, karena selama ini kebiasaan itu hanya berlaku di kalangan keluarga raja.

Dengan keterampilan berkuda dan memanah, warga Lemah Abang ternyata tidak hanya berburu, tetapi sering pula mengadakan acara lomba ketangkasan. Lomba diadakan tiga pekan sekali pada hari rabu. Pada hari itu warga dari desa-desa sekitar pun berduyun-duyun ke sana. Seiring semaraknya lomba ketangkasan berkuda dan memanah, kebiasaan warga pribumi menyabung ayam berangsur-angsur jarang dijumpai di desa-desa sekitar Lemah Abang.

Keanehan dan ketidaklaziman lain yang dijumpai di Lemah Abang, yang sempat membut marah Tumenggung Limbar Kanchana, adalah saat ia berbicara dengan warga. Tidak seperti lazimnya warga desa yang cenderung merendahkan diri dengan menggungkan bahasa yang halus untuk lawan bicaranya, orang-orang Lemah Abang berbicara apa adanya tanpa basa-basi. Bagaikan seorang raja berbicara dengan sesama raja, mereka dengan percaya diri tidak menyebut abdi atau kawula yang bermakna budak sebagai kata ganti diri, tetapi ingsun, yang bermakna aku. Tanpa peduli apakah yang diajak bicara itu bangsawan atau rakyat jelata, mereka selalu menggunakan kata ingsun.

Bahkan, Tumenggung Limbar Kanchana nyaris tidak dapat menahan amarah ketika mengetahui sikap warga Lemah Abang yang dengan lancang berani mengikrarkan kesepakatan untuk menolak kehendai siapa saja – termasuk raja dan maharaja – untuk mengambil anak-anak dan istri mereka. Mereka terang-terangan akan melawan punggawa kerajaan yang datang merampas anak-anak dan istri mereka.

Ketika Tumenggung Limbar Kanchana menelusuri lebih lanjut “kekurangajaran” warga Lemah Abang, terhenyaklah ia oleh cerita yang mengungkapkan khotbah Syaikh Lemah Abang tentang kerajaan. Rupanya, seluruh warga Lemah Abang sudah terhasut oleh khotbah itu. Mereka menganggap raja dan seluruh abdinya adalah para pendusta, pembohong, penipu. Puncak ketidakpahaman Tumenggung Limbar Kanchana tentang keanehan di Lemah Abang terjadi ketika ia diberitahu warga bahwa Ki Gedeng Karangsembung menduduki jabatan gedeng karena dipilih langsung oleh warga nagari, termasuk di dalamnya warga Lemah Abang. Akhirnya, dengan dada dan kepala dikobari api amarah ia kembali ke Galuh Pakuan dan menyampaikan semua yang disaksikannya kepada Prabu Surawisesa.

Mendapat laporan dari Tumenggung Limbar Kanchana yang memperkuat laporan Tumenggung Nara Wingkang, sadarlah Prabu Surawisesa bahwa di Lemah Abang telah terjadi percikan api yang membara di bawah permukaan, seibarat bara api menyala di dalam sekam. Prabu Surawisesa pun menangkap sasmita betapa bara api yang memercik di Lemah Abang itu pada gilirannya akan berkobar di Caruban Larang dan dipastikan makin lama akan semakin membesar, membakar seluruh Bumi Pasundan.

East China Sea North of Taipei (MV. Taho), April 10th 2007, 18:05LT