Khilafah

Ketika api perubahan sedang berkobar di segenap penjuru Caruban Larang membakar tatanan lama dan memberi daya hidup pada tatanan baru, terjadi peristiwa yang tidak disangka-sangka oleh semua orang. Pada saat tatanan baru yang bertolak dari peraturan Sri Mangana itu dijalankan dengan gegap gempita oleh masyarakat dengan kericuhan di sana-sini, tersiar kabar bahwa Sri Mangana gering. Bagaikan kawanan orang yang sedang berpacu dan tiba-tiba terhalang oleh jalan buntu, seluruh penduduk Caruban Larang secara serentak menghentikan kegiatan untuk menggerakkan perubahan. Bagaikan orang kebingungan, mereka saling pandang seolah tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kemudian seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, mereka mengarahkan mata dan telinga ke Puri Kaprabon; menuggu dengan harap-harap cemas tentang apa yang akan terjadi dengan sang ratu Caruban Larang yang mereka jadikan tumpuan harapan.

Sebagai orang-orang yang tidak pernah diperkenalkan pada kebebasan pribadi dan hanya mengenal keberadaan diri sebagai kawula (budak), penduduk Caruban Larang memang sangat tergantung pada keberadaan Sri Mangana. Andaikata yang memimpin gerakan pembangunan tatanan baru itu bukan sang raja muda Caruban Larang, pastilah mereka tidak akan berani mengikutinya. Saat mereka berselisih karena berebut batas tanah, misalnya, junjungan mereka itu dengan mudah melerainya dan menempatkan peraturan tambahan tentang batas-batas kepemilikan tanah yang layak bagi satu keluarga. Bahkan saat tersebar berita yang simpang-siur tentang kemarahan para raja muda dari Galuh Pakuan, Talaga, Raja Galuh, dan Dermayu, tidak sedikit pun mereka risaukan karena bagi mereka raja muda Caruban Larang adalah pimpinan tertinggi yang harus mereka patuhi. Tapi kini, saat kabar geringnya Sri Mangana itu merebak ke berbagai penjuru negeri, mereka benar-benar cemas dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, kecuali menunggu kabar lanjutan tentang ratu mereka.

Di tengah kecemasan seluruh penduduk Caruban Larang, tanpa terduga tersiar kabar yang tak kalah mengejutkan: sesungguhnya Sri Mangana sakit ingatan. Gila. Sehari-harinya ratu Caruba Larang itu mengurung diri di dalam kamar bagaikan orang linglung. Tugas sebagai imam sembahyang Jum’at di Tajug Agung Caruban sudah tidak lagi di lakukannya selama beberapa pekan. Kebiasaannya membaca Al-Qur’an setiap usai sembahyang subuh dan isya tidak lagi berjalan. Kehadirannya di Tajug Jalagrahan dan Pesantren Giri Amparan Jati pun tidak lagi diketahui. Bahkan, putera dan puterinya yang mendekat dihardiknya agar menyingkir.

Kabar sakitnya Sri Mangana, meski agak terlambat, sangat mengejutkan Abdul Jalil yang baru tiba dari Luragung. Dengan diikuti Syaikh Abdul Malik Israil dan Ballal Bisvas, ia datang ke Puri Kaprabon untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang dialami ayahanda asuhnya. Saat sampai di Puri Kaprabon, tepatnya di Purasabha, Abdul Jalil melihat para gedeng berkumpul dengan wajah diliputi kecemasan. Dari mereka Abdul Jalil mendapat penjelasan jika sang ratu benar-benar sedang mengalami tekanan batin. Sikapnya seperti orang hilang akal. Perilakunya bagai orang mengalami gangguan jiwa. “Beliau seperti ketakutan setiap melihat atau mendengar sesuatu,” lapor Ki Gedeng Pasambangan getir.

Saat melangkah masuk ke Parapuri, ia bertemu dengan ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, yang sedang berbincang-bincang dengan kakaknya, Nyi Muthma’inah, di Bale Rangkang. Kemudian dengan beriringan mereka masuk ke dalam ruang utama Parapuri.

Betapa Abdul Jalil terkejut melihat keadaan Sri Mangana. Bagaikan berada di alam mimpi, ia terperangah dengan hati pedih. Ratu Caruban Larang yang selama ini ia kenal sebagai laki-laki tegar dan tak kenal takut itu dilihatnya sedang meringkuk di sudut ruangan dengan wajah kuyu dan tubuh gemetar. Saat Abdul Jalil tengah menduga-duga apa yang sesungguhnya sedang dialami ayahanda asuhnya itu, tiba-tiba Sri Mangana mendekatinya. Ketika jarak mereka tinggal sejangkauan, tiba-tiba Sri Mangana menjulurkan kedua tangannya dan mencengkeram erat-erat kedua bahu Abdul Jalil sambil berkata, “Tolonglah aku, o Puteraku. Aku sekarang sedang mengalami kegilaan. Tidak tahu apa yang sedang aku alami ini. Aku merasa sedang dicekam kegilaan yang tidak aku ketahui ujung dan pangkalnya.”

“Apakah yang sesungguhnya sedang Ramanda Ratu rasakan dan alami?” ujar Abdul Jalil menyeringai kesakitan karena bahunya diterkam Sri Mangana. “Ananda benar-benar tidak melihat ada sesuatu yang disebut kegilaan pada diri Ramanda Ratu.”

“Entah apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada diriku. Aku merasakan segala sesuatu yang ada di dunia ini tiba-tiba berubah dengan aneh. Segala sesuatu yang aku saksikan seperti menyingkapkan tirai dan menunjukkan jati dirinya.” Sri Mangana berkata dengan tangan gemetar dan peluh bercucuran. “Seolah-olah semua yang terhampar di hadapanku menyatakan diri sebagai pengejawantahan Tuhan. Semua selubung tersingkap. Lalu ‘wajah’ Yang Ilahi menampak di mana-mana. Bukankah itu gila? Bukankah itu sesuatu yang menyesatkan? Aku tidak tahu kenapa bisa mengalami kejadian gila seperti itu.”

“Bagaimana awal mula kejadian itu berlaku pada Ramanda Ratu?”

“Awalnya, ketika aku membaca Al-Qur’an tiba-tiba kusaksikan ayat-ayat di situ menyingsingkan selubungnya dan mengungkapkan jati dirinya,” kata Sri Mangana.

“Apakah ketika itu Ramanda Ratu membaca surah al-Fatihah?”

“Benar sekali,” ujar Sri Mangana.

“Apakah Ramanda Ratu melihat ayat demi ayat dari surah itu membuka selubung jati diri?”

Sri Mangana membenarkan. Saat membaca ayat demi ayat surah al-Fatihah, ia mendapati semua ayat tersebut seperti membuka selubung jati diri masing-masing. Pertama-tama, ayat berbunyi alhamdu li Allahi rabbi al-alamin, maknanya bukan lagi sebagai yang ia pahami selama ini yaitu “segala puji bagi Allah Rabb alam semesta.” Masing-masing kata di dalam ayat itu tiba-tiba seperti bisa berbicara dan mengungkapkan jati diri bahwa di balik kata alhamdu sesungguhnya terselubung hakikat al-Hamid. Di balik kata li Allahi sesungguhnya selubung hakikat Allah. Rabbi al-alamin, selubung hakikat al-‘Alim. Begitupun ar-rahman dan ar-rahim, mengungkap jati diri sebagai selubung hakikat ar-Rahman dan ar-Rahim. Maliki yaum ad-din, selubung dari hakikat al-Malik al-Mulki. Iyyaka na’budu, selubung dari hakikat Allah sebagai Ma’bud, yaitu Ism al-Zat dari yang wajib disembahsujudi. Wa iyya nasta’in, selubung dari hakikat ash-Shamad. Ihdina ash-sirath al-mustaqim, selubung dari hakikat al-Hadi. Demikianlah, kata demi kata di dalam al-Fatihah mengungkapkan jati dirinya sebagai selubung dari asma’, shifat, dan af’al Allah, di mana kata dhallin pun merupakan selubung dari hakikat al-Mudhill.

“Usai membaca al-Fatihah, aku langsung menutup al-Qur’an. Aku benar-benar ketakutan karena akalku tidak bisa menerima kenyataan huruf-huruf itu bisa hidup dan memberi kesaksian jati diri kepadaku. Aku merasa sesuatu yang tidak beres pada jiwaku tentu sedang terjadi. Setelah kejadian itu, ke mana pun aku berpaling dan melihat benda-benda aku menyaksikan semuanya mengungkapkan jati diri sebagai pengejawantahan dari ‘wajah’ Ilahiyyah yang menyelubungi hakikat Allah.”

Keanehan yang makin menakutkanku adalah ketika aku kembali dari Tajug Jalagrahan, tepatnya saat melewati pekuburan Pamelathi. Saat itu aku mendengar suara hiruk pikuk yang mengerikan. Sewaktu aku perhatikan, ternyata suara-suara itu berasal dari pekuburan. Suara itu adalah jerit tangis orang-orang mati dari dalam kuburnya. Sungguh menakutkan sekali pengalaman itu. Lantaran aku tidak kuasa menghadapi semua kenyataan itu maka aku mengurung diri di dalam kamar. Aku benar-benar takut jika aku sesungguhnya sedang menderita gangguan jiwa,” kata Sri Mangana.

Abdul Jalil tertawa mendengar penjelasan Sri Mangana. Kemudian dengan bahasa perlambang ia bercerita tentang seekor ikan yang kebingungan katika menyadari keberadaan dirinya di dalam air. Ikan itu makin kebingungan ketika ia bisa menyaksikan betapa sesungguhnya batu karang, pasir laut, ubur-ubur, dan ikan-ikan lain sesungguhnya berada di dalam liputan air. Ketika sedang bingung itulah datanglah seekor ikan tua yang berkata begini: “Sesunguhnya engkau harus menjadi pemimpin dari ikan-ikan sebangsamu. Sebab, engkau telah mengetahui hakikat air dan seluruh kehidupan di dalamnya. Engkau sudah bisa membedakan mana air yang keruh dan mana air yang jernih. Engkau telah tahu ke mana arus air bergerak. Karena itu, o ikan yang sudah sadar diri, jika engkau menjadi pemimpin dari ikan-ikan sebangsamu, pastilah engkau membawa mereka ke jalan keselamatan dan kebahagiaan. Engkau tidak akan mungkin membawa mereka yang engkau pimpin itu masuk ke perairan yang keruh dan dangkal. Engkau juga tidak akan membawa ikan-ikan yang engkau pimpin ke kawasan yang penuh umpan para pemancing.”

“Aku belum paham maksudmu, o Puteraku,” kata Sri Mangana.

“Ramanda Ratu sesungguhnya tidak mengalami kegilaan. Sebaliknya, Ramanda Ratu telah menapaki tangga ma’rifat tanpa Ramanda Ratu sadari. Ramanda Ratu sekarang ini berada dalam keadaan awal menyaksikan ‘wajah’ Yang Ilahi (QS al-Baqarah: 115). Apa yang Ramanda Ratu alami seibarat Rasulullah Saw. Saat menyaksikan Jibril a.s. kali pertama. Beliau saat itu menyaksikan Jibril a.s. laksana cahaya subuh. Ke mana pun berpaling, yang beliau saksikan adalah penampakan Jibril a.s..”

“Sesungguhnya Ramanda Ratu sedang mengalami penyingkapan (kasyf) kesadaran jiwa. Gumpalan awan hitam ghain yang menyelubungi kalbu Ramanda Ratu telah tersingsingkan akibat terbitnya purnama ruhani zawa’id sehingga jiwa Ramanda Ratu diliputi pemahaman ruhani fawa’id. Itu berarti, mata batin Ramanda Ratu telah tercelikkan. Telinga batin (sama’) Ramanda Ratu telah tersingkap. Dan sesungguhnya, itulah yang disebut al-wajd, yang menimbulkan keguncangan pada diri Ramanda Ratu,” Abdul Jalil menjelaskan.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang ini?” tanya Sri Mangana dengan wajah tiba-tiba diliputi harapan dan gairah hidup. “Karena aku sudah menduga jika diriku gila.”

“Ramanda Ratu harus mendaki terus tangga demi tangga maqamah sehingga akhirnya Ramanda Ratu dapat mencapai hadirat-Nya dan fana ke dalam keesaan-Nya.”

“Dengan cara bagaimana?”

“Dengan menyingsingkan keakuan yang lebih dari sebelumnya sampai Ramanda Ratu kehilangan segala-galanya kecuali Allah.”

“Apalagi yang harus aku singsingkan dari keakuanku?” tanya Sri Mangana. “Bukankah aku sudah tidak memiliki sesuatu lagi? Ilmu kedigdayaan, tanah, kawula, sumber nafkah, kekuasaan, kehormatan, bahkan semua pamrih yang melekat ke padaku sudah habis. Aku sekarang ini sudah merasa seperti orang sebatang kara yang hidup sendirian tanpa kawan.”

“Justru saat inilah Ramanda Ratu harus berkhidmat kepada tugas mulia sebagai wakil Allah di muka bumi. Maksud ananda, maqam Ramanda Ratu akan meningkat ke maqamah yang lebih tinggi jika Ramanda Ratu merelakan sisa terakhir yang ada pada Ramanda Ratu untuk dibagi-bagikan lagi kepada yang lain. Apakah sisa terakhir yang paling berharga yang masih Ramanda Ratu miliki? Menurut ananda, keluasan ilmu siyasah dan tata negara yang Ramanda Ratu miliki sebagai harta benda tak ternilai hendaknya didermakan untuk berkhidmat kepada tugas mulia sebagai wakil Rasul Allah. Bukankah saat Rasulullah Saw. Mengalami peristiwa bertemu Jibril a.s. di Gua Hira tidak menjadikan beliau makin bersembunyi? Bukankah setelah itu malah turun ayat yang memerintahkan beliau untuk bangkit memberi peringatan kepada manusia (QS al-Mudatsir: 1-7)? Bukankah Rasulullah Saw. dan keempat sahabatnya tidak pernah mengurung diri di gua? Bukankah berkhidmat kepada umat adalah bagian dari jalan hidup beliau dan keempat sahabatnya?”

Ketika Sri Mangana akan berkata-kata, Abdul Jalil memegang kedua tangan ayahandanya yang masih mencengkeram bahunya. Kemudian dengan mata berbinar-binar Abdul Jalil berkata, “Sekarang ini matahari harapan yang ananda tunggu-tunggu telah terbit. Ternyata matahari itu terbit tidak jauh dari diri ananda, yakni Ramanda Ratu sendiri. Ramanda Ratulah matahari harapan itu.”

“Aku tidak memahami maksudmu, o Puteraku,” kata Sri Mangana dengan tanda tanya.

“Bukankah di tengah perubahan tatanan lama kawula menjadi tatanan baru masyarakat ummah sesungguhnya tetap dibutuhkan seorang pemimpin? Bukankah dalam khotbah-khotbah yang ananda sampaikan selalu ananda katakan bahwa pemimpin masyarakat ummah adalah wali al-Ummah yang bergelar kalifah ar-rasul sayyidin panatagama? Ananda yakin, pasti Ramanda Ratulah wakil Allah di muka bumi yang paling layak menduduki jabatan itu saat ini.”

Ketika para ningrat darah biru Sunda bersukacita mendengar kabaar geringnya Sri Mangana, terjadi suatu peristiwa yang tak pernah mereka bayangkan. Kabar dari para pengintai mengatakan, keberadaan sepuluh gedeng yang menduduki jabatan gedenga atas dasar pilihan warga itu ternyata telah diikuti oleh gedeng yang lain, seperti Ki Gedeng Jatimerta, Ki Gedeng Mundu, Ki Gedeng Ujung Gebang, Ki Gedeng Buntet, Ki Gedeng Selopandan, Ki Gedeng Japura, Ki Gedeng Plumbon, Ki Gedeng Sembung, Ki Gedeng Plered, Ki Gedeng Tedeng, Ki Gedeng Losari, Ki Gedeng Pangarengan, Ki Gedeng Kadanggaru, Ki Gedeng Panderesan, Ki Gedeng Tameng, dan Ki Gedeng Sura (Tegal Gubuk). Yang lebih mengejutkan, seluruh gedeng serempak menyatakan kesepakatan untuk memilih dan mengangkat Sri Mangana sebagai penguasa baru Caruban Larang dengan nama Abhiseka Sri Mangana, Kalifah ar-Rasul Sayyidin Panatagama, Ratu Aji di Caruban.

Kabar dari para pengintai tentu saja membuat para penguasa dan ningrat darah biru Sunda tertegun-tegun. Mereka tidak bisa memahami lahirnya sebuah tatanan baru yang menempatkan keberadaan seorang pemimpin didasarkan atas pilihan para gedeng. Tatanan itu benar-benar aneh dan mengherankan mereka. Peraturan yang berlaku selama ini menunjukkan bahwa para gedeng adalah pejabat daerah yang ditunjuk dan diangkat oleh adipati. Sementara adipati-adipati diangkat atas tunjukan ratu. Dengan demikian, jelaslah bahwa tatanan baru di Caruban Larang merupakan hal aneh karena terbalik dengan tatanan yang ada.

Belum usai para penguasa dan ningrat darah biru Sunda terheran-heran dengan pengangkatan Sri Mangana sebagai kalifah, mereka memperoleh kabar yang lebih mengejutkan. Menurut laporan lanjutan para pengintai, segera setelah dinyatakan terpilih sebagai kalifah, Sri Mangana meninggalkan Puri Kaprabon dan tinggal di gubuk kayu beratap daun kawung yang terletak di luar tembok baluwarti, tepatnya di utara Lawang Gede. Gubuk kayu kecil itu dinamai Pekalipan (pekalifahan), yaitu tempat kediaman sang kalifah. Sementara seluruh keluarganya juga meninggalkan puri dan tinggal di dalam tembok di dekat Lawang Gede. Kediaman baru keluarga sang kalifah itu juga berupa gubuk-gubuk kayu yang sangat sederhana dan disebut ndalem Pekalipan. Dan yang lebih aneh lagi, sekarang ini seluruh kawula dan bahkan budak sekali pun setiap saat dapat menghadap sang kalifah. Bahkan, sejumlah pejabat penting kalifah adalah kawula yang berasal dari kasta rendahan.

Kabar tentang perubahan yang terjadi atas kehidupan Sri Mangana benar-benar menimbulkan kegemparan di kalangan penguasa dan ningrat darah biru Sunda. Mereka tidak paham dengan apa yang sedang terjadi pada pemimpin tertinggi Caruban Larang itu. Prabu Guru Dewata Prana Sang MahaRaja Sunda, ayahanda Sri Mangana, bahkan merasa hatinya pedih dan jiwanya terluka ketika mendengar kabar bahwa puteranya itu memilih hidup dalam kehinaan di gubuk-gubuk kecil dengan didampingi pejabat-pejabat dari kasta rendahan.

Sebagai maharaja yang berkuasa atas seluruh Bumi Pasundan, Prabu Guru Dewata Prana, yang belum mengetahui konsep khilafah di dalam ajaran Islam sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabatnya, sangat berduka mendengar puteranya dipilih dan diangkat sebagai pemimpin tertinggi, namun hidup miskin di gubuk-gubuk hina dengan dibantu pejabat-pejabat berkasta rendah. Sebab, sebagaimana umumnya pandangan yang lazim, Prabu Guru Dewata Prana menganggap tiap-tiap kekuasaan harus selalu terkait kuat dengan kemegahan, kemewahan, kekayaan, dan kemuliaan tetesan darah agung para raja.

Dengan ketidakpahamannya tentang konsep khilafah itulah Prabu Dewata Prana kemudian mengutus Pangeran Raja Sanghara, adik kandung Sri Mangana, dengan didampingi Adipati Liman Sanjaya, Yang Dipertuan Sunda Larang, puteranya yang lain, pergi ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang apa yang sesungguhnya sudah terjadi pada dirinya. “Apa pun yang terjadi, janganlah kalian membiarkan saudaramu itu hidup dalam kehinaan dengan menghuni gubuk-gubuk kecil yang hanya cocok untuk hunian kalangan potet (gelandangan). Sebab, kehinaan yang dialaminya sesungguhnya akan menyangkut-paut pula takhta kerajaan Sunda. Jangan menista dan merendahkan keagungan darah leluhur yang mengalir di tubuhnya dengan memilih hidup seperti itu,” ujar Prabu Guru Dewata Prana sedih.

Pangeran Raja Sanghara dan Adipati Liman Sanjaya pun pergi menemui Sri Mangana untuk menjalankan titah maharaja Sunda. Namun, saat mereka bertemu dan berbincang-bincang dengan Sri Mangana soal khilafah, keduanya justru tertarik. Mereka berdua dapat memahami apa yang dikemukakan Sri Mangana sebagai suatu keniscayaan dari perubahan yang bakal melanda tatanan lama kehidupan di Bumi Pasundan. Sehingga, di sepanjang perjalanan kembali dari Caruban Larang mereka terus memperbincangkan masalah khilafah tersebut.

Ketika hasil pertemuan dengan Sri Mangana disampaikan Pangeran Raja Sanghara kepada ayahandanya, ternyata sang maharaja bertambah bingung. Prabu Guru Dewata Prana sulit sekali menerima alasan-alasan yang mendasari konsep khilafah yang tidak lazim itu. Sebagai keturunan raja besar Sunda, di dalam jiwa dan pikiran Prabu Guru Dewata Prana memang hanya dikenal satu gambaran utuh bahwa sebuah kekuasaan adalah identik dengan kemegahan, kemewahan, keagungan, kemuliaan, kekayaan berlimpah, dan ketidakbersalahan. Itu sebabnya, ia tetap menganggap aneh perilaku puteranya yang menerapkan khilafah di Caruban Larang. Untuk kali kedua ia mengutus Ki Purwagalih menemui Sri Mangana di gubuknya.

Tidak berbeda dengan Pangeran Raja Sanghara dan Adipati Liman Sanjaya, Ki Purwagalih, penasihatnya yang beragama Islam itu, menuturkan alasan-alasan kuat Sri Mangana untuk menerapkan khilafah di Caruban Larang sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat. Dan untuk kali ke sekian, maharaja Sunda itu kecewa karena tetap sulit menerima kenyataan adanya kekuasaan yang terkait dengan kemiskinan dan kekurangan. Setelah itu ia mengutus Adipati Liman Sanjaya kembali ke Kuta Caruban untuk melihat istri-istri dan putera-putera Sri Mangana. Sang maharaja pun makin terkejut ketika mendapat laporan para menantu dan cucunya juga harus hidup di gubuk-gubuk kecil beratap daun kawung. “Aturan hidup apa yang sesungguhnya diikuti oleh puteraku itu? Ini sungguh hal yang sulit dimengerti,” gumam Prabu Guru Dewata Prana pedih.

Keheranan dan ketidakpahaman Prabu Guru Dewata Prana atas apa yang dilakukan Sri Mangana makin meningkat menjadi kekecewaan ketika ia beroleh laporan bahwa puteranya yang menjadi kalifah itu menempatkan orang-orang dari kalangan prthagjana (kasta rendah) sebagai nayakapraja. Bahkan, seorang pujut (budak kulit hitam) bernama Ballal Bisvas dari Bharatnagari tidak ditempatkan sebagai pameng-amengan (permainan kesukaan) sebagaimana lazimnya, tetapi malah diangkat menjadi raja muda dengan gelar Adipati Suranenggala.

Di tengah pusaran arus berita yang teraduk-aduk tentang perubahan di Caruban Larang, Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan, adalah satu-satunya penguasa Bumi Pasundan yang berada pada kedudukan paling sulit. Dikatakan paling sulit karena segala sesuatu yang terkait dengan Sri Mangana, saudara tiri yang menjadi penguasa Caruban Larang itu, sebenarnya telah mengombang-ambingkan harapan dan langkah-langkah yang dilakukannya untuk mewarisi takhta kerajaan Sunda. Sejak awal ketika ia berusaha menancapkan kekuasaan atas Caruban Larang, tanpa terduga saudara tirinya itu muncul dan menjadi penghalang utama yang menjegal langkahnya. Ya, sejak semula saudara tirinya itu telah menjadi penghalang berat baginya untuk meraih takhta kerajaan Sunda.

Sebagai putera maharaja yang sangat yakin bakal mewarisi takhta, di tengah gemuruh ambisi yang mengobari jiwanya, Prabu Surawisesa pun sesungguhnya mewarisi kebijaksanaan ayahandanya. Sekali – di tengah langkah-langkahnya – ia menoleh ke belakang untuk menilai kembali liku-liku dan tanjakan jalan yang telah dilewatinya. Tahun ini ia memasuki usia enam puluh lima tahun. Usia yang sesungguhnya sangat lanjut bagi seseorang untuk memikirkan bagaimana merebut takhta kerajaan.

Prabu Surawisesa sering menyadari bahwa di usianya yang sudah tidak muda itu seharusnya ia lebih memikirkan masalah ruhani. Namun, nafsu kekuasaan yang mengalir di tubuhnya sering menindas kesadaran itu. Yang sering kali muncul di tengah kesadaran itu adalah peristiwa penuh korban besar bagi langkahnya menuju takhta. Itu sebabnya, ia tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan itu.

Sesungguhnya pengorbanan Prabu Surawisesa untuk merebut Caruban Larang sudah sangat besar. Puluhan tahun silam ia telah merelakan putri kesayangannya, Nyi Ratu Inten Dewi, yang kala itu berusia sebelas tahun untuk diperistri kuwu Caruban Ki Danusela yang berusia empat puluh tahun. Selanjutnya, ia juga merelakan puterinya yang lain, Nyi Rara Anjung, yang kala itu berusia sepuluh tahun untuk diperistri oleh Syaikh Datuk Kahfi yang sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Saat itu ia benar-benar yakin tanah samiddha Caruban Larang sudah berada di dalam pengaruhnya. Bahkan saat puteranya, Rsi Bungsu, menduduki jabatan kuwu menggantikan Ki Danusela, ia merasa Caruban Larang benar-benar berada di dalam genggamannya.

Namun, pengorbanan yang dilakukannya untuk merebut Caruban Larang mendadak pupus manakala terjadi kericuhan yang melibatkan orang-orang Demak, yang kemudian disusul munculnya saudara tirinya, Pangeran Walangsungsang, sebagai kuwu sekaligus cakrabhumi Caruban Larang. Pengorbanannya makin terasa sia-sia ketika Pangeran Walangsungsang dinobatkan oleh ayanhandanya sebagai raja muda Caruban Larang dengan gelar Sri Mangana dan diberi kewenangan menerima upeti dari negeri-negeri taklukan (sakawat bhumi) di Sunda wilayah pesisir timur. Kesia-siaan pengorbanannya itu menjadi ancaman ketika ia menerima bahwa Yang Dipertuan Caruban Larang diam-diam giat membangun kekuatan militer dan menjalin hubungan erat dengan para adipati di pesisir Nusa Jawa.

Kini, di tengah kekecewaan dan rasa terancamnya, Prabu Surawisesa semakin cemas dan curiga dengan hingar bingar api perubahan yang disulut Sri Mangana. Sebab, ia sadar benar arah gerakan saudara tirinya itu bermuara ke perebutan takhta Kerajaan Sunda. Lantaran itu, ia menyambut kabar pemilihan ratu Caruban Larang sebagai kalifah itu dengan perasaan yang sulit diungkap: cemas, curiga, penasaran, benci, dan takut yang teraduk-aduk menjadi satu.

Ketika sang penguasa Galuh Pakuan tengah terombang-ambing oleh perasaan yang sulit diungkapkan, tanpa terduga muncul puteranya, bekas kuwu Caruban pengganti Ki Danusela: Rsi Bungsu. Anak bungsunya yang pernah dicari-cari orang Pakuan Pajajaran karena melakukan kekacauan di Caruban Larang dan membohongi maharaja Sunda itu muncul pada saat kesulitan menghadang penguasa Galuh Pakuan. Sebagai seorang ayah, Prabu Surawisesa tahu benar jika kemunculan puteranya itu tentu sudah diperhitungkan.

Rsi Bungsu sendiri tampaknya mengetahui kapan ia harus muncul dan menghadap ayahandanya yang telah diberinya banyak kesulitan akibat sepak terjangnya. Demikianlah, dengan keahliannya bersilat lidah, saat menghadap ayahandanya ia menuturkan perjuangan kerasnya untuk menghalang-halangi niat jahat Sri Mangana yang mengancam keutuhan Kerajaan Sunda. Ia mengemukakan usahanya itu dengan cara memberi nasihat kepada Yang Dipertuan Rajagaluh, Prabu Cakraningrat. “Kepada Pamanda Prabu Cakraningrat ananda mengusulkan untuk menjadikan daerah Palimanan sebagai ‘pagar pertahanan’ dari ancaman Sri Mangana. Maksud ananda, Palimanan yang menjadi bagian dari Caruban Larang harus dimasukkan ke dalam wilayah Rajagaluh melalui siasat. Dan, ternyata siasat ananda berhasil dengan gemilang,” kata Rsi Bungsu.

“Siasat apa? Ceritakanlah kepadaku, o Puteraku terkasih!” kata Prabu Surawisesa.

“Ananda mengikuti tata cara yang sama dengan yang dianut penguasa Caruban Larang.”

“Maksudnya?”

“Penguasa Palimanan harus dipilih oleh para gedeng. Dan penguasa terpilih, sang adipati, akan menyatakan kesetiaan kepada Yang Dipertuan Rajagaluh,” kata Rsi Bungsu.

“Bagaimana hal itu bisa dilakukan?” tanya Prabu Surawisesa penasaran.

“Atas perkenan dan dukungan Pamanda Prabu Cakraningrat, ananda mendatangi Ki Gedeng Kiban, Ki Gedeng Leuimunding, Ki Demang Dipasara, Ki Demang Surabangsa, Ki Gedeng Kenanga, dan Ki Ardisora, penguasa Bobos. Kepada mereka ananda bagikan masing-masing sekarung uang emas dan dua karung uang perak. Kepada mereka ananda menjanjikan jabatan-jabatan tinggi di Rajagaluh jika mereka bersedia secara terbuka memilih adipati Palimanan untuk memimpin mereka. Usaha ananda itu terbukti berhasil gemilang sehingga Palimanan sekarang ini masuk ke dalam wilayah Rajagaluh karena sesuai keinginan para gedengnya masing-masing sebagaimana yang diberlakukan di Caruban Larang,” kata Rsi Bungsu bangga.

“Siapakah adipati Palimanan sekarang ini?” tanya Prabu Surawisesa.

“Ki Kiban, Gedeng Palimanan.”

Prabu Surawisesa sangat bersukacita mendengar penjelasan Rsi Bungsu. Diam-diam ia memuji kecerdikan putera bungsunya. Ia mengakui betapa kemunculan putera bungsunya di Galuh Pakuan telah mengubah kecemasannya menjadi ledakan rasa sukacita. Pasalnya, selain melaporkan keberhasilannya menghalangi usaha ratu Caruban Larang, puteranya itu menyerahkan pula susunan tata pemerintahan kalifah Caruban Larang lengkap dengan nama pejabatnya. Bahkan, puteranya itu masih menyampaikan gagasan-gagasan cemerlang yang dapat digunakan untuk menekuk pesaingnya dalam merebut takhta.

Prabu Surawisesa benar-benar sangat bergembira. Di dalam susunan tata pemerintahan kalifah itu tertera dengan jelas bahwa jabatan-jabatan penting yang ada di Caruban Larang telah dipegang oleh orang-orang bukan Sunda.

“Ananda berharap Ramanda Prabu Guru Dewata, Ratu Aji di Surawisesa, dapat menggunakan apa yang telah ananda peroleh itu untuk menyingkirkan penguasa Caruban Larang yang sudah tidak waras lagi. Tanpa bermaksud menggurui, ananda berharap Ramanda Prabu dapat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Maksud ananda, hendaknya Ramanda Prabu dapat menggunakan masalah banyaknya orang asing dalam pemerintahan di Caruban Larang itu untuk menyulut kebencian orang-orang Sunda. Ananda yakin setiap orang Sunda akan sakit hati jika melihat susunan pemerintahan ratu Caruban Larang.”

“Adakah saranmu yang lebih baik lagi?” tanya Prabu Surawisesa.

“Sebaiknya Ramanda Prabu menyebarkan para pengintai ke berbagai tempat di Caruban Larang dan sepanjang pesisir utara Sunda. Ramanda Prabu hendaknya menitahkan kepada mereka untuk menyebarkan berita burung yang mengatakan bahwa Sri Mangana adalah utusan maharaja Cina yang sedang menjalankan tugas merongrong kerajaan Sunda. Ananda kira, siapa pun di antara orang Sunda dan terutama para putera maharaja akan menentang sang kalifah dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi,” kata Rsi Bungsu.

Prabu Suraswisesa sangat bergembira menerima saran puteranya. Ia merasa seolah-olah telah memiliki senjata ampuh, yang jika dilepaskan akan membinasakan pesaingnya dalam perebutan takhta itu. Ya, sekarang ia telah memegang senjata ampuh. Sebab, di dalam daftar nama pejabatat Pekalipan yang disampaikan puteranya itu, memang menunjukkan lebih dari separo jabatan penting dipegang oleh orang-orang bukan Sunda. Wilayah Caruban Larang, misalnya, dibagi menjadi sembilan nagari yang pemimpinnya disebut wali nagari, dan jabatan itu bahkan lebih banyak diserahkan kepada anak-anak yang terlalu muda usianya.

Pertama, Nagari Kalijaga membawahi Kagedengan Kalijaga, Mundu, Astanamukti, Beber, Karangwuni, Munjul, Japura, Pangarengan, dan Buntet. Para gedeng sepakat menunjuk Raden Sahid putera Adipati Tuban, Arya Sidik, sebagai wali nagari Kalijaga.

Kedua, Nagari Cangkuang membawahi Kagedengan Cangkuang, Ender, Babakan, Gebang, Karangsembung, Kertawana, Cihaur, dan Taraju. Para gedeng sepakat menunjuk Raden Anggaraksa sebagai wali nagari Cangkuang dengan gelar Ki Dipati Cangkuang. Raden Anggaraksa adalah putera Dalem Naya, Yang Dipertuan Ender.

Ketiga, Nagari Losari membawahi Kagedengan Losari, Tersana, Bojong Nagara, Luragung, dan Waled. Para gedeng sepakat menunjuk Arya Wangsa Goparana, mantan penguasa Sagara Herang, sebagai wali nagari. Arya Wangsa Goparana tersingkir dari Sagara Herang dan bermukim di Caruban Larang karena memeluk Islam.

Keempat, Nagari Kuningan membawahi Kagedengan Kuningan, Nanggerang, Panderesan, Cigugur, dan Sambawa. Para gedeng sepakat menunjuk Angga, putera Ki Gedeng Kemuning, sebagai wali nagari Kuningan. Ki Gedeng Kemuning adalah seorang Cina muslim. Ia bernama Ong Wi, keturunan pemuka Cina asal Palembang yang bernama Ong Te.

Kelima, Nagari Gunung Jati membawahi Kagedengan Pasambangan, Trusmi, Kalisapu, Sembung, Babadan, Jamaras, dan Plumbon. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Syarif Hidayatullah, anak muda asal negeri Arab, menantu Ki Gedeng Babadan.

Keenam, Kuta Caruban dan Puri Caruban Girang dipimpin oleh Raden Qasim – di kalangan warga asal Campa dikenal dengan nama Masaih Munat – putera bupati Surabaya, Pangeran Ali Rahmatullah. Agak berbeda dengan wali nagari yang lain, Raden Qasim menduduki jabatan penguasa Kuta Caruban dan Puri Caruban Girang tidak dengan cara dipilih, tapi ditunjuk Sri Mangana. Ia juga dianugerahi gelar Pangeran Darajat oleh sang ratu Caruban Larang karena ayahandanya adalah kemenakan ratu Majapahit.

Ketujuh, Nagari Gegesik yang membawahi Kagedengan Gegesik, Kapetakan, Pangurangan, Karangkendal, Kartasemaya, Srengseng, dan Junti. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Ballal Bisvas yang namanya diganti menjadi Suranenggala, seorang pendeta Bhairawa asal Bharatnagari.

Kedelapan, Nagari Susukan yang membawahi Kagedengan Susukan, Glagahamba, Tegal Karang, Tegal Gubuk, Ujungsemi, dan Luwung Kancana. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Syaikh Jamalullah, gedeng Ujungsemi.

Kesembilan, Nagari Sindangkasih yang membawahi Kagedengan Sindangkasih, Sedong, Kaliaren, Nanggela, dan Pancalang. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Abdul Qadir , seorang kepala pemberontak asal Pulau Upih (Pinang). Dengan sembilan wali nagari di Caruban Larang itu jelaslah bahwa hanya wali nagari Cangkuang dan Losari saja yang putera Sunda, selainnya orang asing.

Selain memuat nama-nama wali nagari, daftar nama yang dibawa Rsi Bungsu juga memuat sejumlah nama pejabat dalam pemerintahan kalifah Caruban Larang yang sangat sedikit menempatkan orang-orang Sunda pada kedudukan penting. Jabatan adhyaksa, misalnya, oleh Sri Mangana dipercayakan kepada Abdurrahim Rumi, anak muda asal Baghdad, kemenakan istri Syaikh Datuk Abdul Kahfi. Jabatan manghuri (sekretaris negara) dipercayakan kepada Haji Musa, putera Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq, Karawang.

Jabatan syahbandar diberikan kepada Li Han Siang, pemuka warga Cina asal Dermayu. Pejabat pabean dipercayakan kepada Haji Shang Shu, pemuka warga Cina Kuta Caruban. Jabatan juru sukat dipercayakan kepada Ling Tan, pemuka warga Cina asal Junti. Jabatan baru wazir dipercayakan kepada Syaikh Bentong, saudara tua Haji Musa. Jabatan manggalayuddha Caruban dipegang sendiri oleh Sri Mangana. Sedangkan jabatan kepala perdagangan diserahkan kepada Abdurrahman Rumi, kakak Abdurrahim Rumi, dengan dibantu Wu Lien dan Wang Tao, keduanya orang Cina asal Karawang. Sementara orang-orang Sunda hanya diberi kepercayaan menduduki jabatan demang, wadana, juru demung (kepala pegawai di istana), rangga (pejabat istana), juru gusali (kepala pande besi), juru dyah (kepala pelayan istana), juru taman (kepala tukang kebun istana), juru pangalasan (kepala prajurit pangalasan), tumenggung (pejabat tinggi kraton), dan nayarma domas (komandan batalyon).

Taiwan Strait (MV. Taho), April 10th 2007, 19:30LT