Amarah Para Bangsawan

Sesungguhnya, saat Prabu Surawisesa menerima susunan tata pemerintahan Caruban Larang yang baru beserta nama pejabatnya, ia sedang diliputi oleh kegembiraan sehingga tidak memikirkan lebih jauh tentang hal lain di balik itu. Namun, saat ia mencermati lagi tatanan pemerintahan Caruban Larang, ia merasakan kepalanya bagai disambar petir. Pasalnya, di antara nagari-nagari yang dibentuk penguasa kalifah Caruban Larang itu terdapat nama Kuningan dan Luragung. Dua wilayah yang merupakan bagian Galuh Pakuan.

Saat Prabu Surawisesa dengan dada dikobari api amarah memanggil Rsi Bungsu untuk menjelaskan nama-nama tempat terkait dengan nagari-nagari baru di Caruban Larang, menghadaplah adipati Kuningan, Susuhunan Pajengan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudaranya lain ibu. Kepada Prabu Surawisesa, Susuhunan Pajengan melaporkan bahwa ia baru saja kehilangan kekuasaan atas Kadipaten Kuningan. “Para gedeng telah sepakat untuk memilih Angga, anak Ki Gedeng Kemuning, sebagai penggantiku. Usahaku menyadarkan mereka bahwa Kuningan adalah bagian dari Galuh Pakuan tidak mereka hiraukan. Mereka tetap berkukuh bahwa junjungan mereka yang baru adalah Sri Mangana,” ujar Susuhunan Pajengan dengan wajah muram.

“Apakah engkau diusir dari kadipaten?” tanya Prabu Surawisesa berang.

“Tidak, mereka tidak melakukan tindakan apa-apa kepadaku,” kata Susuhunan Pajengan. “Tetapi, semua nayaka di kadipaten tidak lagi mematuhi perintahku. Mereka semua bersikap seolah-olah aku bukan lagi adipati yang menjadi junjungan mereka.”

Mendengar laporan Susuhunan Pajengan, Prabu Surawisesa tak kuasa menahan diri. Dengan amarah meledak-ledak ia memerintahkan patihnya untuk mendampingi Susuhunan Pajengan ke Rajagaluh, Talaga, dan Pakuan Pajajaran. Prabu Surawisesa menitahkan agar mereka berdua menuturkan “kekurangajaran” orang-orang Caruban Larang yang telah merampas wilayah Galuh Pakuan dengan siasat licik.

Beberapa hari setelah sang patih dan Susuhunan Pajengan pergi, Prabu Surawisesa mengutus Rsi Bungsu untuk mengundang Yang Dipertuan Talaga, Yang Dipertuan Dermayu, Yang Dipertuan Sumedang Larang, dan penguasa Bumi Pasundan untuk hadir ke Galuh Pakuan. Ketika semua raja muda Bumi Sunda yang sudah mendapat laporan keluh kesah Susuhunan Pajengan itu berkumpul di Kraton Surawisesa, dengan keahlian bersilat lidah yang menakjubkan Rsi Bungsu berusaha mempengaruhi saudara-saudara ayahandanya agar bersama-sama membenci dan memusuhi Sri Mangana.

“Jelaslah kini bahwa dengan tindakannya itu Yang Dipertuan Caruban Larang memang berkeinginan menghancurkan Kerajaan Sunda yang kita agungkan dan kita muliakan. Bayangkan, dengan mula-mula membuat aturan yang berbunyi ‘tanah untuk ra’yat’ dan ‘pemimpin dipilih dari ra’yat’, Pamanda Sri Mangana berusaha mempengaruhi para kawula agar memandang kita sebagai pendusta dan penipu yang rakus dan menguntungkan diri sendiri.”

“Kini setelah Pamanda Sri Mangana mempunyai kekuatan karena dipilih oleh ra’yat, pejabat-pejabat yang diangkatnya adalah orang-orang dari negeri asing yang bahasa dan agamanya berbeda dengan kita. Jelaslah sudah alasan Pamanda Sri Mangana mengangkat orang asing karena beliau memandang kita sebagai penipu dan pembohong. Tetapi, mungkin juga alasan beliau bukan sekadar itu. Mungkin ada latar lain kenapa beliau lebih percaya kepada orang-orang asing.”

“Sesungguhnya tidak syak lagi, Pamanda Sri Mangana yang telah tersihir oleh kesaktian Syaik Lemah Abang telah menjadikan dirinya perampok sejati yang lebih ganas daripada harimau lapar. Dia tidak saja akan merampas agama warisan leluhur kita untuk diganti dengan agama barunya, bahkan dia akan merampas pula tanah dan kekuasaan yang diwariskan leluhur kita. Sungguh, tidak ada yang tahu, pamanda kami yang tercinta itu sedang menderita sakit gila apa.”

“Sesungguh-sungguhnya, satu hal yang paling tidak kami sukai dari sepak terjang Yang Dipertuan Caruban Larang. Apakah itu? Dia kelihatannya telah bersekongkol dengan maharaja Cina untuk menghancurkan Kerajaan Sunda. Jika dugaan ini benar, kekuasaan yang dia tegakkan di Caruban Larang sebenarnya adalah kepanjangan tangan dari maharaja Cina. Hal itu jelas telah menginjak-injak harga diri dan kehormatan kita sebagai orang Sunda. Sebagai bukti bahwa penguasa Caruban Larang adalah begundal maharaja Cina, paman-paman sekalian bisa melihat nama pejabat baru yang diangkat sang kalifah. Menurut daftar ini, lebih dari separo pejabat Caruban Larang adalah orang-orang Cina perantauan yang tak diketahui asal-usulnya,” ujar Rsi Bungsu sembari menyerahkan susunan pejabat baru Caruban Larang kepada raja muda Talaga, Prabu Pucuk Umun.

Prabu Pucuk Umun yang sebelumnya sudah mendengar keluhan dari saudaranya, Susuhunan Pajengan, dengan mudah terpengaruh oleh kata-kata Rsi Bungsu. Ia makin terpengaruh ketika menerima dan membaca daftar nama para pejabat baru Caruban Larang. Dalam daftar nama itu terbukti jelas jabatan-jabatan penting di Caruban Larang memang dipegang oleh orang asing. Dan di atas semua itu, Prabu Pucuk Umun sangat khawatir saat mendapat bukti bahwa Kuningan dan Luragung sebagai wilayah Galuh Pakuan telah dimasukkan ke dalam wilayah Caruban Larang. Itu berarti, tidak tertutup kemungkinan wilayah Talaga pun sedang menunggu giliran dicaplok Caruban Larang.

Akhirnya, dengan dada dikobari api amarah, Prabu Pucuk Umun kembali ke kratonnya di Talaga. Ia kemudian mengirim para pengintai ke Kuta Caruban untuk membuktikan kebenaran data dari Rsi Bungsu. Prabu Pucuk Umun sendiri sesungguhnya sudah lama mendengar kabar mengkhawatirkan tentang saudaranya yang menjadi penguasa Caruban Larang. Namun, akibat sibuk menikmati kemewahan dan sanjungan di kratonnya, ia tidak menganggap serius kabar tersebut. Dengan sangat yakin diri ia selalu berkata, “Sebuas-buas harimau tidak akan memangsa saudaranya sendiri.”

Kini setelah Kuningan direbut Caruban Larang dan nasib saudaranya, Susuhunan Pajengan, menjadi tidak menentu, sadarlah ia bahwa Sri Mangana tidaklah boleh dianggap sebagai saudara lagi. Sadarlah ia bahwa sang harimau telah menjadi haus darah sehingga akan mungkin akan memangsa dirinya. Harimau itu, kata Prabu Pucuk Umun dalam hati, tidak boleh mendekati Talaga, kalau perlu mesti dibunuh beramai-ramai.

Sementara itu, Prabu Cakraningrat, Yang Dipertuan Rajagaluh, pada awalnya juga berpikiran sama dengan Prabu Pucuk Umun. Segala kabar miring tentang Sri Mangana yang diperolehnya dari Prabu Surawisesa selalu dianggapnya sebagai bagian dari persaingan dua saudara dalam merebut takhta Kerajaan Sunda. Namun, kini ketika Sri Mangana terbukti menerapkan tatanan baru di Caruban Larang, yang jelas-jelas mengancam keberadaan para penguasa di Bumi Pasundan, ia tiba-tiba menjadi sangat cemas. Itu sebabnya, sekembali dari Galuh Pakuan ia buru-buru mengutus Adipati Kiban, Yang Dipertuan Palimanan, ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang nama-nama orang asing dalam tata pemerintahannya yang baru.

Di antara para raja muda yang hadir dalam pertemuan di Galuh Pakuan itu ternyata yang paling tidak diuntungkan kedudukannya akibat gelombang perubahan di Caruban Larang adalah Prabu Indrawijaya, Yang Dipertuan Dermayu. Lebih dari setengah penduduk Dermayu adalah para pendatang Campa, pemukim Melayu, pedagang Siam, dan perantau Cina yang umumnya beragama Islam. Sedangkan sisa penduduk yang terpilah atas orang-orang Sunda dan Jawa lebih setengahnya juga sudah beragama Islam. Walhasil, kekuasaan raja muda Dermayu terkucil ibarat sebuah kapal berada di tengah lautan sehingga saat gelombang pasang perubahan terjadi di Caruban Larang, getarannya terasa hingga di Dermayu dan kapal itu pun ikut oleng diempas ombak perubahan.

“Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi perubahan ini,” kata Prabu Indrawijaya dengan nada putus asa. “Gelombang perubahan itu begitu cepat melanda wilayah kekuasaanku. Para kawula Dermayu yang umumnya muslim mengikuti tindakan saudara-saudaranya di Caruban Larang. Mula-mula Demang Mundu dipilih menjadi gedeng dan ia membagi-bagikan tanah kepada penduduknya. Setelah itu Demang Kertasemaya mengikuti jejaknya. Hingga kini para demang di wilayah Dermayu yang dipilih penduduk menjadi gedeng sudah ada tujuh orang yaitu gedeng Majasih, Rambatan, Tegalwurung, Malang Sumirang, dan Sindang.”

“Menurutku, orang-orang Islam itu sungguh licin dan banyak akal. Mereka memiliki banyak siasat. Saat penduduk Junti membuka desa baru yang dinamai Lemah Abang di sebelah timur Kraton Dermayu, aku mengutus Demang Singajaya untuk menanyakan maksud dan tujuan mereka menamakan desa tersebut Lemah Abang. Ternyata, Demang Singajaya kembali melapor bahwa warga baru itu menamai desanya Lemah Abang, bukan Lemah Abang. Sebaliknya, kampung di selatan Lemah Abang dinamai Lemah Mekar. Saat Demang Pasekan kuutus mengawasi perikehidupan warga dari kedua desa baru itu, dia melaporkan bahwa nama yang benar dari desa-desa itu adalah Lemah Abang dan Lemah Mekar. Ini sungguh memusingkan. Bahkan, saat Demang Singajaya kuutus kembali kedua desa baru itu, penduduk berlagak tolol seolah-olah tidak mengetahui pasti nama yang benar dari desanya.”

Para putera maharaja Sunda yang mendengar keluhan Yang Dipertuan Dermayu tidak bisa memberikan saran apa pun atas nasib malang yang dialami saudaranya. Mereka hanya meminta agar Prabu Indrawijaya tabah dan tidak menyerah pada perubahan yang dilakukan oleh para demang yang membagi-bagikan tanah kepada penduduk. Mereka juga memintanya tidak perlu memikirkan penduduk baru yang membuka desa bernama Lemah Abang. Mereka umumnya menyarankan agar semuanya menunggu kelanjutan dari perubahan di Caruban Larang yang secara cepat atau lambat akan melanda wilayah kekuasaan mereka. Dan, mereka umumnya sangat cemas jika kelak mengalami nasib seperti saudara mereka, Prabu Indrawijaya dan Susuhunan Pajengan.

Sesungguhnya mereka yang cemas dengan perubahan yang terjadi di Caruban Larang bukan hanya putera raja yang menjadi penguasa di berbagai kerajaan kecil di Bumi Pasundan. Para bangsawan rendahan yang menduduki jabatan demang, wadana, dan mantri wadana pun tak kurang cemasnya. Dengan diberlakukannya peraturan baru tentang kepemilikan tanah di Caruban Larang, sesungguhnya pihak yang dirugikan adalah para pemilik tanah, yakni para pangeran dan adipati, yang mempercayakan tanah-tanah mereka kepada para mantri wadana, wadana, dan demang untuk disewakan kepada kawula. Bukankah dengan diakuinya hak kepemilikan pribadi tiap-tiap kawula atas tanah sebenarnya bermakna merampok tanah milik raja yang diwariskan kepada keturunannya? Bukankah dengan peraturan baru itu para demang, wadana, mantri wadana, adipati, dan pangeran tidak lagi menerima uang sewa tanah dari kawula penggarap?

Kecemasan para bangsawan rendahan itu dimanfaatkan benar oleh Prabu Surawisesa untuk memperoleh dukungan besar bagi hasratnya untuk meraih takhta Kerajaan Sunda. Dengan membuat peraturan baru tentang ketentuan mengelola tanah garapan yang memberikan bagian lebih besar kepada para demang dan wadana, dibangunlah kekuatan militer Galuh Pakuan untuk mengimbangi Caruban Larang. Dalam peraturan baru itu masing-masing demang mendapat separo bagian dari uang sewa tanah garapan di daerahnya. Para wadana mendapat bagian seperempat, sedangkan sisanya untuk mantri wadana, adipati dan pangeran pemilik tanah.

Dengan peraturan baru itu bukan berarti para demang dan wadana bisa menikmati bagian besar dari hasil sewa tanah dengan percuma. Sebab masing-masing demang dibebani kewajiban memelihara seratus prajurit, sementara wadana berkewajiban menggalang sepuluh kesatuan prajurit yang dipelihara demang. Itu berarti, bagian yang didapata dari sewa tanah itu digunakan para demang untuk membiayai kehidupan seratus prajurit. Menurut kabar, dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak peraturan baru itu diterapkan, Galuh Pakuan sudah memiliki prajurit sekitar 100.000 orang.

Merasa masih kurang cukup dengan kekuatan militer yang dimilikinya, Prabu Surawisesa meminta dukungan dari saudaranya yang lain, para raja muda Bumi Pasundan, untuk menghadapi kekuatan militer Caruban Larang. Para penguasa Bumi Pasundan yang cemas dengan tindakan-tindakan Sri Mangana memang tidak bisa berbuat lain, kecuali harus medukung Prabu Surawisesa. Akhirnya satuan-satuan pasukan dari berbagai kadipaten seperti Sukapura, Sindangbarang, Kidang Lamotan, Ukur, Sumedang Larang, Kamuning Gading, Ajong Kidul, Pasir Panjang, Limbangan, Maleber, Panembong, dan Batu Layang berdatangan ke Galuh Pakuan untuk memperkuat bala tentara yang disiagakan Prabu Surawisesa dalam menghadapi kekuatan militer Caruban Larang.

Langkah Prabu Surawisesa membangun kekuatan militer Galuh Pakuan diikuti oleh Yang Dipertuan Talaga dan Yang Dipertuan Rajagaluh. Dengan menerapkan peraturan baru yang sama dengan Galuh Pakuan dalam waktu kurang dari dua bulan militer Talaga sudah berjumlah 75.000 orang. Sementara di Rajagaluh, jumlah militer membengkak dari 20.000 menjadi 100.000 orang. Demikianlah, bagaikan sedang berlomba memamerkan kekuatan masing-masing, para putera maharaja Sunda itu saling berpacu menyaingi kekuatan militer Caruban Larang.

Pengangkatan Sri Mangana sebagai kalifah Caruban Larang, ternyata tidak hanya menimbulkan kekhawatiran dan kemarahan para bangsawan Sunda yang merasa terancam kepentingannya. Para bangsawan Arab Kuta Caruban yang dipimpin oleh Sayyid Habibullah al-Mu’aththal sangat tidak suka dengan pengangkatan kalifah tersebut. Pasalnya, menurut Sayyid Habibullah al-Mu’aththal, manusia yang menduduki jabatan kalifah ar-rasul wajib berasal dari suku Quraisy, terutama dari antara ahlul bait, keturunan Nabi Muhammad Saw.

Sayyid Habibullah al-Mu’aththal adalah menantu Ki Gedeng Trusmi. Ia disegani orang lebih disebabkan karena keberadaannya sebagai menantu seorang gedeng. Tanpa status menantu gedeng, ia hanyalah gumpalan daging bernyawa rakus dan tidak pantas dihargai. Hari-hari dilewatinya dengan membual. Makan enak. Tidur mendengkur. Mengumbar nafsu membuat keturunan.

Matanya yang selalu tampak setengah terkatup seperti mengantuk, sering terbelalak dan bersinar kilau-kemilau manakala melihat kelebatan perempuan di depannya. Hidungnya yang sebengkok paruh burung betet termasyhur ketajamannya ketika membaui anak gadis orang dan janda-janda muda. Telinganya yang kecil tetapi panjang keledai akan tegak jika mendengar orang bicara tentang uang dan perempuan. Mulutnya yang tebal ditutupi kumis sering kedapatan berdecak-decak manakala melihat perempuan lewat di depannya.

Sesungguhnya tidak satu pun orang tahu apakah Sayyid Habibullah al-Mu’aththal benar-benar bangsawan Arab keturunan Nabi Muhammad Saw. seperti pengakuannya. Orang hanya mengiyakan karena memang tidak ada yang tahu bagaimana cara membedakan wajah orang Arab satu dengan wajah orang Arab yang lain. Dalam pandangan orang Sunda dan orang Jawa, wajah orang Arab itu sama. Orang umumnya tidak peduli apakah pengakuan seseorang sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. itu butuh bukti atau tidak. Pendek kata, mereka menganggap setiap orang Arab sah saja mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw.

Keluguan orang-orang Caruban dalam menyikapi kehabaiban itu oleh Sayyid Habibullah al-Mu’aththal sering diartikan sebagai ketololan dan kepandiran. Itu sebabnya, dengan kepandaiannya membual ia bentangkan permadani ketidakbersalahan pada alam pikiran orang-orang di sekitarnya. Kemudian di atas permadani itu ia melompat-lompat dan berguling-guling semau-maunya untuk melampiaskan hasrat nafsunya. Ia sangat yakin bahwa penghormatan dan kepatuhan orang-orang kepadanya disebabkan oleh keberhasilannya membual dengan mengaku-aku sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. Padahal, dengan kemalasan, kerakusan, dan bualan kosongnya itu orang tidak pernah menilainya lebih dari segumpal daging bernyawa. Ia dihormati karena keseganan orang terhadap mertuanya, Ki Gedeng Trusmi.

Sekalipun keberadaannya nyaris seperti segumpal daging bernyawa, Sayyid Habibullah al-Mu’aththal sangat cermat mengamati keadaan. Itu sebabnya, meskipun ia sangat tidak senang dengan pengangkatan Sri Mangana sebagai kalifah, ia tidak berani secara terbuka menentangnya. Ia mengetahui benar pengaruh dan kekuatan sang ratu yang semakin kuat setelah diangkat menjadi kalifah. Ia sadar bahwa menggugat keberadaan Sri Mangana pada saat seperti itu sama dengan membenturkan kepala ke tembok. Lantaran itu, diam-diam ia pergi ke Lemah Abang untuk menjumpai Abdul Jalil dan menyampaikan kekecewaan dan luapan amarahnya.

“Antum sudah kelewatan melakukan perubahan, hai Abdul Jalil,” ujar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal dengan suara ditekan tinggi. “Saking kelewatan sampai antum tidak tahu di mana harus berhenti. Antum sudah kebablasan. Antum sudah melanggar kaidah-kaidah kekalifahan yang pernah ada.”

“Aku tidak paham dengan apa yang Anda katakan,” kata Abdul Jalil. “Apa yang Anda anggap telah kelewatan dari perubahan yang kami lakukan? Apakah Anda tidak suka dengan tatanan baru masyarakat ummah? Di mana letak ketidaksetujuan Anda dan di mana letak pelanggaran kami atas kaidah-kaidah kekalifahan?”

“Antum menunjuk Sri Mangana sebagai kalifah,” sergah Sayyid Habibullah al-Mu’aththal keras, “Itu satu kesalahan besar. Itu pelanggaran kaidah-kaidah kekalifahan. Menurutku, kedudukan Sri Mangana sebagai kalifah tidak sah.”

“Bagaimana Anda mengatakan yang menunjuk Sri Mangana sebagai kalifah adalah aku, Syaikh Lemah Abang? Bukankah semua orang tahu bahwa penunjukka beliau sebagai kalifah berdasarkan atas pilihan seluruh gedeng di Caruban Larang? Dan, aku kira itu tidak melanggar kaidah-kaidah kekalifahan,” kata Abdul Jalil.

“Tapi dia itu siapa? Ada hubungan darah apa dia dengan kemuliaan dan kesucian darah Quraisy? Dia anak negeri Sunda, yang kebetulan anak maharaja. Jadi, dia itu hanya layak jadi ratu di negerinya. Ingat itu: Sri Mangana hanya layak jadi ratu. Ratu. Sekali lagi, hanya ratu. Sedang untuk jabatan kalifah, kalifah ar-rasul, dia sama sekali tidak memiliki hak,” kata Sayyid Habibullah al-Mu’aththal dengan sudut bibir mulai membusa.

Sesuatu di dalam diri Abdul Jalil bergolak saat mendengar ucapan Sayyid Habibullah al-Mu’aththal yang merendahkan Sri Mangana. Untuk beberapa jenak ia terdiam. Setelah itu, sesuatu yang bergolak di dalam jiwanya itu menghambur lewat mulut bagaikan semburan kawah gunung berapi.

“Jika Anda menilai Sri Mangana tidak pantas menjadi kalifah ar-rasul dengan alasan keempat sahabat Nabi Muhammad Saw. yang menjadi kalifah adalah orang Quraisy, maka aku katakan bahwa Anda telah keliru memahami maksudku. Dalam berbagai kesempatan telah aku jelaskan bahwa tatanan baru yang disebut masyarakat ummah tidak didasarkan atas ikatan keturunan, kesukuan, kebangsaan, bahasa, dan agama tertentu. Dengan demikian, jelaslah bahwa seorang pemimpin masyarakat ummah yang menduduki jabatan wali al-Ummah pun wajib mengikuti ketentuan yang sama. Sungguh aneh dan lucu jika tatanan masyarakat ummah itu diikuti ketentuan yang mengatakan bahwa pemimpin masyarakat ummah hendaknya berasal dari suku atau keluarga tertentu. Kalau ketentuan itu yang diterapkan, pastilah yang akan menduduki jabatan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama di Caruban Larang anda sendiri. Karena, menurut cerita orang Anda adalah ahlul bait keturunan Rasul Allah Saw. yang berasal dari antara orang Quraisy.”

“Sungguh, aku tidak ingin berdebat dengan anda tentang Quraisy dan bukan Quraisy dalam hal kekalifahan. Tetapi, andaikata aku membenarkan dan kemudian mengikuti pandangan Anda, maka sesungguhnya aku akan menempatkan gagasan khilafah hanya dalam mimpi dan angan-angan karena tidak akan mungkin diwujudkan dalam kenyataan. Kenapa aku katakan tidak akan mungkin diwujudkan dalam kenyataan? Sebab, syarat-syarat untuk menjadi kalifah sebagaimana yang aku gagas bukanlah syarat yang ringan. Syarat itu sangat berat. Mahaberat.”

“Pertama, seorang calon kalifah wajib berasal dari kalangan manusia beriman yang dikenal jujur dan terpercaya serta pemberani. Kedua, wajib cerdas dan berwawasan luas. Ketiga, berpengetahuan mendalam tentang agama, tata negara, dan kehidupan masyarakat. Keempat, hidup sebagai zahid sejati agar bisa berbuat adil. Kelima, rela berkorban jiwa, raga, dan harta untuk melindungi dan memakmurkan masyarakat yang dipimpinnya. Keenam, pekerja keras yang menjalankan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi. Ketujuh, dicintai dan dijadikan panutan dan keteladanan masyarakat karena akhlak yang mulia.”

“Nah, dengan tujuh syarat itu, mohon Anda tunjukkan kepada aku siapa di antara keturunan Quraisy di Caruban Larang ini yang bisa memenuhinya? Anda tunjukkan kepada aku calon kalifah yang memenuhi syarat-syarat itu! Jika Anda bisa menunjukkan kepadaku calon kalifah yang memenuhi syarat itu, sekarang juga aku akan pergi ke Kuta Caruban. Aku akan meminta Sri Mangana meletakkan jabatan dan mendaulat sang calon tersebut untuk menggantikannya, dengan catatan calon itu disetujui oleh para gedeng.”

“Sungguh, demi Allah aku bersumpah, sepanjang aku lahir hingga sekarang belum pernah aku jumpai orang di Bumi Caruban Larang yang bisa memenuhi tujuh syarat itu. Bahkan, orang-orang yang mengaku keturunan Quraisy pun tidak. Yang aku saksikan di antara mereka yang mengaku berdarah Quraisy justru para pemalas yang mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw., namun hidup menganggur (mu’aththal). Tidak bekerja. Menikahi anak pejabat negeri setempat. Menambah jumlah istri dan menafkahi istri barunya dengan harta mertua. Anaknya tercecer di mana-mana. Bahkan yang menyedihkan, mereka tidak memahami ajaran Islam dengan baik. Sembahyang lima waktu tidak dijalankan. Puasa Ramadhan tidak dilakukan, apalagi zakat, infak, dan sadaqah. Mereka berdiri di atas permadani ketidakbersalahan dan merasa sudah beroleh jaminan sebagai penghuni surga karena merasa anak cucu Rasulullah Saw.. Sungguh memuakkan tingkah mereka itu bagiku.”

“Sekarang Anda bandingkan mereka dengan Sri Mangana, anak negeri yang Anda nilai tidak pantas dan tidak berhak menjadi kalifah. Pertama-tama, dia adalah mukmin yang tidak diragukan lagi keimanannya. Dia dikenal sebagai orang alim yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Islam. Itu terbukti bahwa dia adalah pengajar tafsir al-Qur’an, fiqh madzhab Syafi’i, ushul fiqh, mustholah hadits, balaghah, dan manthiq di Pesantren Giri Amparan Jati. Beliau satu-satunya orang di Caruban Larang yang memiliki sekaligus mampu mengajarkan kitab asybah wa an-nadhar, bidayah al-mujtahid, bughiyah al-murtasyidin, fath al-wahhab, ijma’adz-dzirayyah, al-luma’, al-jami’ ash-shaghir, al-muhadzdzab. Bahkan, andaikata dibandingkan dengan orang yang mengaku berdarah Quraisy seperti Anda, misalnya, sesungguhnya dia pasti jauh lebih Quraisy dalam lughat ketika membaca Al-Qur’an.”

“Tentang kejujuran? Dia tentu saja sudah termasyhur sebagai raja yang jujur dan dipercaya oleh seluruh ra’yat Caruban Larang. Tentang keberanian? Anda tentu sudah mafhum. Jika ditanya tentang pengetahuan dalam tata negara dan tata kehidupan masyarakat, tentu saja dia jauh lebih layak karena dia seorang raja. Tentang kerelaan berkorban untuk masyarakat yang dipimpinnya? Tentu semua warga Caruban Larang telah paham betapa sesungguhnya dia telah rela memberikan semua tanah miliknya di seluruh negeri untuk dihibahkan demi kemaslahatan masyarakat ummah.”

“Tentang kehidupan sebagai zahid sejati? Dia teladan sempurna di Caruban Larang dan bahkan di seluruh Bumi Pasundan. Siapa pun di antara orang beriman mengetahui dia merupakan zahid sejati, yang pergi meninggalkan kemewahan hidup dan tinggal di gubuk kecil beratap daun kawung. Dia memang memegang kunci perbendaharaan negara (Baitul Mal), namun secuil pun dia tidak pernah mengambil untuk kepentingan pribadi. Dia dan keluarga merajut kopiah dan menenun pakaian untuk dijual sebagai nafkah sehari-hari. Dengan kezahidannya, tidak syak lagi bahwa kebijakan-kebijakan yang diambilnya akan selalu tegak di atas keadilan. Karena, keadilan hanya mungkin dipunyai oleh seorang zahid yang hatinya selalu terikat kepada al-‘Adl.”

“Siapa yang bisa mengingkari kenyataan bahwa Sri Mangana adalah pribadi agung seorang pejuang yang tak pernah kenal istirahat dalam menjalankan dharma sebagai wakil Allah di muka bumi? Seluruh ra’yat Caruban Larang tentu sudah tahu bahwa Sri Mangana adalah satu-satunya raja di Bumi Pasundan yang sangat membenci pesta pora mengumbar kesenangan. Dia pekerja keras yang tidak suka kemalasan. Hartanya lebih banyak didermakan kepada para fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Dan yang terpenting di atas itu semua, dia adalah raja yang dicintai oleh seluruh ra’yatnya, kecuali orang-orang yang pamrih pribadinya terhambat oleh keberadaannya. Sehingga, bagiku, apa yang terkait dengan keberadaan Sri Mangana sebagai kalifah adalah sah dan tidak melanggar kaidah-kaidah kekalifahan yang kumaksud. Entah jika kekalifahan itu menurut Anda.”

Mendengar kata-kata Abdul Jalil yang disemburkan tanpa basa-basi dan sebagian besar menyinggung perasaannya, Sayyid Habibullah al-Mu’aththal bangun dari tempat duduk, berdiri tegak dengan mata berkilat-kilat dan bibir bergetar serta dada naik turun menahan amarah. Tanpa mengucap salam ia bersungut-sungut keluar dari gubuk Abdul Jalil. Mendapati sikap Sayyid Habibullah al-Mu’aththal itu, Abdul Jalil tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia sadar telah menyinggung dan menyakiti hati Sayyid Habibullah al-Mu’aththal tanpa ia kehendaki sebelumnya.

Ketika Abdul Jalil melangkah keluar dari gubuknya mengejar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal yang keluar rumah dengan marah, ia berpapasan dengan Ki Gedeng Pasambangan di pintu. Rupanya, sejak tadi Ki Gedeng Pasambangan mendengar perbincangan Abdul Jalil dengan Sayyid Habibullah al-Mu’aththal. Setelah sama-sama terhenti di depan pintu, Ki Gedeng Pasambangan bertanya, “Hendak ke manakah engkau, o sahabat terkasih?”

“Aku hendak meminta maaf kepada Sayyid Habibullah al-Mu’aththal. Aku merasa telah menyinggung perasaannya sehingga ia pulang dengan hati diliputi kemarahan.”

“Sesungguhnya engkau tidak perlu meminta maaf kepadanya,” kata Ki Gedeng Pasambangan. “Karena apa yang telah engkau katakan benar adanya. Mudah-mudahan dengan ucapanmu itu dia akan sadar diri.”

“Aku tidak paham maksudmu, o Sahabat.”

“Sesungguhnya, al-Mu’aththal itu pemalas termasyhur dan tukang mimpi kawakan,” kata Ki Gedeng Pasambangan. “Aku pertama kali mengenal dia sebagai menantu Ki Gedeng Trusmi. Sejak awal menjadi menantu Ki Gedeng Trusmi sampai sekarang ini dia tidak bekerja apa-apa. Maksudku, dia tidak memiliki pekerjaan tertentu sebagai sumber nafkah. Hidupnya sehari-hari hanya diwarnai kegiatan makan, duduk di teras rumah, mengudap di warung, membual, mengisap candu, beranak pinak, dan tidur. Orang tidak pernah melihatnya ke tajug untuk sembahyang. Orang juga kerap kali melihatnya menyantap makanan di warung pada bulan Ramadhan. Jika orang bertanya kenapa dia tidak pernah kelihatan sembahyang dan berpuasa maka dia akan berkata bahwa anak cucu Rasul Saw. adalah orang-orang suci yang sudah memegang kunci surgawi.”

“Aku tidak tahu makhluk satu itu tubuhnya dibuat dari bahan apa. Aku sering melihat dia suka tidur di atas kursi di rumahnya sambil mendengkur keras-keras. Tubuhnya aku bayangkan seperti kain disangkutkan ke sandaran kursi. Sungguh tidak ada kesan lain yang kutangkap dari al-Mu’aththal kecuali kemalasan. Dengan bualannya yang membosankan, ia berikan alasan-alasan kepada mertuanya untuk menanggung nafkah keluarganya. Bahkan tanpa tahu malu, saat menikah lagi, ia juga menafkahi istri-istri barunya dengan harta mertuanya. Dan yang paling memuakkan, dengan istri-istrinya itu ternyata dia belum puas juga. Kata orang, al-Mu’aththal suka bercanda dan menggoda pelayan-pelayan warung tempat ia mengudap. Sehingga, di Trusmi banyak kedapatan anak-anak pelayan warung yang berwajah Arab. Mereka, entah benar entah tidak, adalah anak gelap al-Mu’aththal dengan para pelayan warung.”

“Menurut pandanganku, al-Mu’aththal itu adalah makhluk tengik yang tidak saja pemalas, tetapi juga rakus. Bayangkan, saat Ki Gedeng Trusmi membagi-bagikan tanah kepada penduduk, dia justru meminta bagian lebih. Tidak ada penduduk yang berani menentangnya. Ki Gedeng Trusmi yang lemah itu membiarkan saja tidakan menantunya yang melanggar hak penduduk lain. Sehingga, dibandingkan dengan penduduk Trusmi yang lain, al-Mu’aththal memiliki tanah sepuluh kali lebih luas. Tanah itu disewakannya kepada penggarap baru. Sepanjang tahun dia menikmati uang hasil sewa sambil bermalas-malasan.”

“Aku sendiri tidak tahu apakah dia benar-benar habaib keturunan Nabi Muhammad Saw. atau petualang Arab yang mengaku-ngaku. Tapi, saat aku bertemu Sayyid Abdurrahman al-Yamani di Dermayu dan menyoal perilaku al-Mu’aththal, beliau hanya berkata begini: ‘Jika benar seseorang mengaku keturunan Rasulullah Saw. hendaknya engkau lihat cerminan akhlaknya. Jika ternyata dia berakhlak bejat maka dia penipu.’ Dengan berpegang pada ucapan Sayyid Abdurrahman al-Yamani itulah aku tidak yakin al-Mu’aththal itu seorang habaib. Lantaran itu, ketika orang-orang ramai memilih calon wali nagari, nama al-Mu’aththal tidak sedikit pun disentuh karena hampir semua gedeng di Caruban Larang ini sudah tahu siapa makhluk itu: pemalas rakus yang berusaha mengeruk keuntungan pribadi dengan berlindung di balik agama dan keturunan Nabi Saw..”

“Apakah dia tidak akan menimbulkan kesulitan di kelak kemudian hari?”

“Aku kira, kesulitan yang akan ditimbulkan al-Mu’aththal tidak banyak berarti. Sebab, semua orang sudah tahu siapa al-Mu’aththal, si pembual yang ke mana-mana tempat hanya menyemburkan busa dari mulutnya.”

Ketika ketegangan antara Sri Mangana dan saudara-saudaranya makin memuncak, terjadilah peristiwa yang tidak tersangka-sangka. Di tengah kobaran api perubahan yang sedang menggelombang menyapu Bumi Caruban Larang, percik apinya ternyata terbawa angin dan menebar ke daerah perbatasan dan menerobos ke sudut-sudut kehidupan penduduk di Bumi Pasundan. Akibatnya, arus perubahan mulai dijadikan bahan pembicaraan para penduduk di pedalaman Bumi Pasundan. Ketika sejumlah demang dan wadana di wilayah Galuh Pakuan mulai sering bertemu dan membicarakan perubahan di Caruban Larang, beratus dan mungkin beribu kawula diam-diam meninggalkan rumah dan kampung halaman untuk menjadi penduduk Caruban Larang.

Prabu Surawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, sangat kebingungan dengan peristiwa tak terduga-duga di wilayah kekuasaannya itu. Padahal, selama ini ia dan saudaranya yang lain sedang bertindak bagaikan sekawanan harimau yang mengendap-ngendap mengintai mangsa: mengamati semua gerak kehidupan Sri Mangana yang sibuk mengendalikan bahtera di tengah arus perubahan. Ternyata, saat hendak menerkam, tiba-tiba mereka disadarkan oleh kenyataan yang menunjukkan bahwa di tempat mereka berdiri sesungguhnya sudah berkobar api perubahan yang siap membakar mereka.

Sekalipun yakin dirinya bakal ditunjuk menjadi pengganti ayahandanya sebagai maharaja Sunda, Prabu Surawisesa tetap sadar bahwa takhta itu belum didudukinya. Itu sebabnya, ia merasa kebingungan untuk membendung gelombang perubahan yang sudah menerobos ke wilayah kekuasannya. Sebagai raja muda, ia tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pelarangan atas nama hukum terhadap gerakan pembaharuan itu. Hak atas hukum masih dipegang oleh maharaja Sunda, yang justru tidak menganggap berbahaya arus perubahan tersebut, bahkan sang maharaja merasa iba hati terhadap nasib pemimpin gerakan perubahan itu.

Di tengah ketidakberdayaan menghadapi arus perubahan yang sudah melanda wilayah kekuasaannya, Prabu Surawisesa didesak oleh Rsi Bungsu, putera bungsunya, agar melakukan tindakan rahasia membendung kekuatan inti dari arus tersebut. “Tanpa memangkas akar utama pohon perubahan itu, ananda kira pohon itu akan terus tumbuh membesar dan membahayakan pohon lain yang sudah ada,” kata Rsi Bungsu.

“Aku tidak paham maksudmu, o Puteraku,” kata Prabu Surawisesa.

“Ramanda Prabu harus mengenyahkan si keparat Abdul Jalil dari muka bumi,” sahut Rsi Bungsu dingin.

“Tapi, dia alat dari ratu Caruban belaka. Jadi menurutku, tidak ada gunanya membunuh dia. Karena hal itu hanya akan menyulut amarah ratu Caruban Larang,” kata Prabu Surawisesa.

“Mohon ampun, sesungguhnya Ramanda Prabu sangat keliru menilai Abdul Jalil,” kata Rsi Bungsu. “Dia bukanlah alat Pamanda Sri Mangana. Justru dialah sesungguhnya binatang penghasut yang telah mempengaruhi saudara Ramanda Prabu itu dengan ilmu sihirnya.”

“Kenapa engkau bisa berkata begitu, o Puteraku?” tanya Prabu Surawisesa mengerutkan kening.

“Abdul Jalil, Syaikh Lemah Abang itu, sesungguhnya adalah anak orang asing yang dipungut Ki Danusela dan diasuh Sri Mangana di padepokan Syaikh Datuk Kahfi. Dia pergi ke negeri asing bertahun-tahun silam. Kemudian, saat kembali dia mendapati ayahanda asuhnya telah menjadi ratu di Caruban Larang. Maka, seperti pengemis hina, dia bersimpuh dan menjilat kepada ayahanda asuhnya agar beroleh kemuliaan di istana.”

“Sesungguhnya Abdul Jalil sangat mengharap kedudukan yang tinggi, yaitu menjadi ratu Caruban Larang menggantikan ayahanda asuhnya. Sebab, dia dulu adalah calon kuwu Caruban. Tapi, dia sadar hal itu mustahil terjadi karena orang-orang Sunda dan Jawa yang menjadi penduduk Caruban Larang tidak akan sudi dipimpin oleh orang asing. Selain itu, dia juga sadar bahwa putera Sri Mangana, Pangeran Cirebon, lebih berhak mengganti kedudukan ayahandanya daripada dia. Nah, tatanan baru yang dikumandangkan Abdul Jalil di Lemah Abang dan diikuti oleh kagedengan di seluruh Caruban Larang sejatinya adalah jalan lurus yang bakal membawanya ke puncak takhta saat Sri Mangana mangkat. Sebab, para gedeng yang kebanyakan adalah murid-muridnya itu tentu akan lebih memilih dia sebagai pengganti Sri Mangana daripada Pangeran Cirebon,” kata Rsi Bungsu berapi-api.

“Tapi, laporan-laporan yang aku terima justru mengatakan bahwa Syaikh Lemah Abang adalah seorang guru ruhani yang hidup menjauhi keduniawian. Bagaimana mungkin orang seperti itu berambisi merebut takhta Caruban Larang?” ujar Prabu Surawisesa.

“Ananda menduga sikapnya itu hanya merupakan kepura-puraan,” kata Rsi Bungsu berusaha meyakinkan ayahandanya. “Tetapi, jika Ramanda Prabu berkenan mengikuti nasihat ananda maka arus itu akan terbendung dengan sendirinya. Sebab, kematian Abdul Jalil memiliki makna kematian juga bagi Sri Mangana.”

“Kenapa engkau berkata begitu?”

“Sebab Abdul Jalil adalah anak kesayangan yang sangat dipercaya oleh saudara Ramanda Prabu itu. Apa pun yang diminta Abdul Jalil pasti dipenuhi Pamanda Sri Mangana. Bahkan, ketika beliau sakit hilang ingatan, mendadak sembuh ketika didatangi Abdul Jalil. Tidakkah Ramanda Prabu mendengar cerita orang yang mengaitkan sembuhnya sakit Sri Mangana dan kedatangan Abdul Jalil?”

“Aku sudah mendengar soal itu.”

“Jadi, menurut hemat ananda, akar dari semua masalah ini adalah Abdul Jalil.”

“Tapi membunuh orang secara licik bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan bagi seorang raja. Aku tidak keberatan engkau membunuh Syaikh Lemah Abang atau Sri Mangana sekalipun dengan caramu, o Puteraku. Namun, aku akan mengatakan kepadamu bahwa aku tidak akan pernah ikut melumuri tanganku dengan darah mereka,” kata Prabu Surawisesa tegas.

Mendapat jawaban tegas Prabu Surawisesa, Rsi Bungsu kecewa. Ia segera berpamitan dan pergi meninggalkan Galuh Pakuan. Ia tahu ayahandanya adalah raja yang memiliki sikap tegas. Ia yakin jika sarannya sudah ditolak, tidak akan dipertimbangkan lagi upaya mengubahnya. Lantaran itu, ia berniat pergi ke Talaga, Rajagaluh, dan Dermayu untuk mempengaruhi paman-pamannya agar menyingkirkan Abdul Jalil dari daftar hidup manusia. Rupanya, Rsi Bungsu diam-diam menyimpan dendam kesumat terhadap Abdul Jalil yang tidak saja dianggap telah merusak rencananya menduduki jabatan kuwu Caruban belasan tahun silam, tetapi juga menjadi sosok yang diam-diam dikagumi putera tunggalnya, Raden Anggaraksa, hingga puteranya itu memeluk Islam.

Sepak terjang Rsi Bungsu di tengah membadainya arus perubahan di Caruban Larang ternyata menimbulkan pengaruh yang tidak kecil bagi perubahan itu sendiri. Ia seperti memunculkan pusaran angin lain yang berputar-putar di sekeliling arus utama angin perubahan. Berbagai kabara angin yang menyangkut keberadaan tatanan baru tiba-tiba terasa menampar-nampar di sekitar gerak perubahan. Satu saat, misalnya, berembus kabar angin bahwa perubahan yang terjadi di Caruban Larang adalah bikinan kaki tangan maharaja Cina. Hal itu terbukti dengan banyaknya jabatan penting yang diduduki oleh orang-orang Cina. Pada saat yang lain, berembus kabar angin yang menyatakan bahwa sang kalifah akan memaksa penduduk Bumi Pasundan untuk memeluk agama Islam dengan cara memotong kemaluan para lelaki secara serentak. Bahkan, tersebar pula kabar angin yang menyatakan bahwa penggagas tatanan baru, Syaikh Lemah Abang, adalah tukang sihir dari negeri Arab yang ditugasi oleh raja Arab untuk menundukkan Kerajaan Sunda melalui penaklukan Caruban Larang.

Di tengah pusaran berita yang teraduk-aduk tak tentu arah itu, terjadi peristiwa lain yang menegangkan para penduduk Caruban Larang. Menurut berita yang beredar dari tajug ke tajug dan dari rumah ke rumah, Prabu Surawisesa Yang Dipertuan Galuh Pakuan telah menggerakkan sekitar 200.000 pasukan ke perbatasan Caruban Larang. Berdasarkan pengakuan penduduk Galuh Pakuan yang berhasil meloloskan diri ke wilayah Caruban Larang, pasukan Galuh Pakuan itu terlihat beriap-riap bagaikan kawanan semut di sepanjang tepi selatan Sungai Sanggarung, antara Sagala Herang hingga Panembong. Mereka seperti hendak mengepung Kuningan dan Luragung. Sementara, Prabu Pucuk Umun Yang Dipertuan Talaga juga menggerakkan sedikitnya 100.000 pasukan yang berpangkalan di Nusa Herang dan Gunung Sirah. Tidak ketinggalan Prabu Cakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh menggerakkan sekitar 120.000 pasukan dengan pangkalan utama di Bobos.

Taiwan Strait (MV. Taho), April 10th 2007, 20:00LT