Hantu-Hantu Hitam Berkeliaran

Tahun 1416 Saka merupakan rentangan waktu paling berat bagi penduduk Caruban Larang sejak tengara pembaharuan ditabuh Sri Mangana barang dua tahun silam. Sejak hadirnya pasukan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh di sepanjang perbatasan Caruban Larang pada awal tahun tersebut, hantu-hantu hitam yang mengerikan mulai terlihat bergentayangan di wilayah itu. Hantu-hantu hitam dengan ganas menebar kekacauan dan kematian. Sukacita dan kegembiraan yang semula dirasakan penduduk dengan diterapkannya tatanan baru yang mereka sebut masyarakat adil dan makmur, berangsur-angsur pupus menjadi mimpi buruk yang mencekam dan mengerikan.

Memang, sejak pengerahan besar-besaran pasukan dari tiga kerajaan Sunda itu di perbatasan, semua pandangan diarahkan kepada kalifah Caruban Larang, Sri Mangana. Semua seakan-akan menunggu tindakan apakah gerangan yang akan diambil oleh penguasa Caruban Larang dengan peristiwa-peristiwa yang seolah-olah menantangnya itu. Bagi penduduk Caruban Larang, satu-satunya kekuatan yang mereka miliki untuk bisa tetap bertahan di tengah kecemasan adalah keberadaan Sri Mangana, ratu dan sekaligus kalifah yang mereka jadikan tumpuan harapan.

Beda yang dirasakan penduduk, beda pula yang dirasakan Sri Mangana dan para pemuka masyarakat ummah di Caruban Larang. Pengerahan pasukan besar-besaran dari tiga kerajaan itu bagi mereka adalah bagian dari sebuah “perang siasat” yang sudah berlangsung sejak tengara perubahan dikumandangkan. Maksudnya, meski pasukan ketiga kerajaan dan Caruban Larang tidak berhadap-hadapan sebagai lawan di medan tempur, di bawah permukaan kedua pihak sejatinya sudah saling berusaha mengalahkan satu sama lain dengan siasat yang sering kali tidak disangka-sangka. Ketika gemuruh perubahan berlangsung di segenap penjuru Caruban Larang, misalnya, tanpa terduga tiba-tiba para gedeng di Palimanan memilih adipatinya. Dan, sang adipati terpilih menyatakan diri bernaung di bawah kekuasaan Rajagaluh.

Penguasa Caruban Larang yang tidak menduga langkah licik Rajagaluh itu tidak bisa berbuat sesuatu, kecuali membiarkan Palimanan lepas. Namun, tak lama kemudian para gedeng di perbatasan selatan memilih wali nagari Kuningan sebagai pemimpin. Padahal, Nagari Kuningan adalah wilayah Galuh Pakuan. Tak cukup dengan Kuningan, para gedeng di perbatasan timur memasukkan Luragung ke dalam Nagari Losari. Padahal, Luragung juga termasuk wilayah Galuh Pakuan.

Dalam “perang siasat” itu jelas sekali bahwa pihak Caruban Larang telah kalah karena keliru mengambil langkah. Sebab, dengan tindakan menjadikan Kuningan dan Luragung sebagai bagian dari wilayah Caruban Larang, meski dengan cara pemilihan adipati oleh para gedeng, tersulutlah amarah Yang Dipertuan Galuh Pakuan. Ujung dari peristiwa saling berebut wilayah itu adalah terjadinya pengerahan besar-besaran pasukan Galuh Pakuan di sepanjang tepian Sungai Sanggarung, yang diikuti Talaga dan Rajagaluh.

Saling serang dalam “perang siasat” itu ternyata berlangsung semakin sengit di bawah permukaan seiiring memuncaknya suhu ketegangan kedua belah pihak. Tanpa tersangka-sangka, desa-desa di wilayah Caruban Larang yang berada di dekat perbatasan mendadak diguncang oleh kekacauan. Pencurian, perampokan, penjarahan, perusakan, penganiayaan, bahkan pembunuhan tercurah bagai hujan dari langit. Pihak Caruban Larang buru-buru mengirim pasukan untuk melindungi penduduk di desa-desa perbatasan dan menangkapi para pembuat kekacauan. Berdasarkan pengakuan para pengacau yang tertangkap, mereka hanya sekedar menjalankan tugas dari orang-orang Galuh Pakuan.

Ketika desa-desa di perbatasan Caruban Larang dapat diamankan, ganti wilayah Galuh Pakuan yang terbakar kekacauan, wilayah Galuh Pakuan yang termasyhur subur dan makmur serta aman sentosa tiba-tiba diguncang oleh kawanan pengacau yang dipimpin kepala begal bernama Sang Lokajaya. Kata orang, Sang Lokajaya adalah kepala begal asal Japura, Caruban Larang. Anehnya, yang dirampok dan dijarah kawanan begal pimpinan Sang Lokajaya bukanlah penduduk desa seperti yang terjadi di wilayah Caruban Larang, melainkan para saudagar dan ningrat darah biru. Barang-barang perniagaan para saudagar dirampas ditengah jalan. Rumah dan lumbung para ningrat darah biru dijarah. Dan yang lebih aneh lagi, kawanan begal itu sering kedapatan membagi-bagi hasil rampokannya kepada penduduk desa yang hidup kekurangan.

Para saudagar dan ningrat darah biru Galuh Pakuan yang sangat cemas dengan keadaan buruk itu memohon kepada Prabu Surawisesa agar melakukan larangan bagi pedagang-pedagang Caruban Larang untuk berdagang di wilayah Galuh Pakuan. Sebab, mereka khawatir para pedagang itu adalah mata-mata para begal. Ketika Prabu Surawisesa memenuhi permintaan para saudagar dan ningrat darah biru itu, pihak Caruban Larang membalas dengan tindakan yang sama: melarang semua jenis perahu asal Galuh Pakuan melayari Sungai Sanggarung. Kepala perdagangan Caruban Larang, Abdurrahman Rumi, menetapkan larangan bagi pedagang-pedagang Caruban Larang untuk menjual garam, terasi, petis, dan hasil ikan laut kepada pedagang asal Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh. Langkah itu diikuti oleh para pedagang Dermayu.

Tindakan saling cegat dan saling jegal itu terbukti mengacaukan dan sekaligus memperlemah perekonomian Galuh Pakuan. Galuh Pakuan tidak saja kehilangan penghasilan dari pajak dan cukai lalu lintas perniagaan sungai, tetapi kehilangan pula kesempatan berniaga di kota-kota pelabuhan di pantai utara. Galuh Pakuan praktis bergantung dari hasil pertanian di pedalaman saja. Bahkan, yang membuat para pedagang Galuh Pakuan pontang-panting adalah kesepakatan para pedagang Cina untuk tidak berjual beli dengan mereka karena alasan takut dengan ancaman orang-orang Caruban Larang.

Di tengah sengitnya “perang siasat” itu sesungguhnya bukan hanya penduduk kedua belah pihak yang hidup tercekam, para perencana dan pelaksana perang pun tak luput dari ketegangan dan kecemasan. Mereka sesungguhnya saling bertahan dalam kesabaran untuk tidak lebih dahulu menyerang. Karena, pihak yang memulai peperangan akan dianggap melanggar titah maharaja Sunda yang tidak menghendaki terjadinya perpecahan di wilayah kekuasaannya. Lantaran itu, pertempuran di bawah permukaan itu makin lama terasa makin mencekam, terutama bagi penduduk yang tidak mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya dari berbagai peristiwa yang terjadi sangat membingungkan itu.

Prabu Surawisesa sendiri sudah kehilangan akal menghadapi langkah-langkah Sri Mangana yang terbukti sangat ulet dan sulit dipatahkan. Berbagai usaha yang dilakukannya mulai dari mengadu domba antara Caruban Larang dan Pakuan Pajajaran hingga pelarangan berdagang bagi para pedagang Caruban Larang, tidak satu pun membawa hasil. Hasutan kepada maharaja Sunda bahwa Sri Mangana tidak lagi mengakui kekuasaan maharaja karena kalifah dipilih dan tidak diangkat maharaja, dimentahkan oleh pengiriman bulubekti (upeti) dari Caruban Larang ke Pakuan Pajajaran. Usaha menghasut para rishi dan guru suci di berbagai padepokan yang ada di wilayah Galuh Pakuan, Talaga, Rajagaluh, dan bahkan Caruban Larang digagalkan oleh para rishi yang menjadi siswa Syaikh Lemah Abang.

Di tengah kebingungannya itu Prabu Surawisesa akhirnya lebih banyak menyerahkan masalah “perang siasat” kepada para pembantunya, terutama para perwira muda yang hanya mengenal bahasa tempur. Akibatnya, percik-percik api peperangan mulai tertabur. Pertempuran-pertempuran antar satuan kecil mulai terjadi di wilayah Caruban Larang. Bahkan yang tak pernah disangka-sangka, Syaikh Jamalullah, wali nagari Susukan, tiba-tiba dikabarkan raib ketika melakukan perjalanan dari Susukan ke Ujungsemi. Tak lama setelah itu istri Syaikh Jamalullah dan sejumlah pengawalnya menemukan jenasah sang wali nagari di sungai dalam keadaan mengenaskan.

Ketika jenasah Syaikh Jamalullah dibawa ke Kuta Caruban dan dishalatkan di Tajug Agung, tersiar kabar susulan bahwa Ki Gedeng Kemuning telah raib sekembalinya dari Kadipaten Kuningan. Sepekan kemudian orang menemukan jenasahnya membusuk tergantung di pohon. Ki Gedeng Plumbon yang diutus Sri Mangana ke Kuningan untuk mencari Ki Gedeng Kemuning, kembali dengan menuturkan penemuan jenasah tersebut. Namun, saat ia memaparkan keadaan jenasah di depan hadirin, ia ditegur keras oleh Syarif Hidayatullah karena dalam Islam terlarang membicarakan keburukan mayat. Selanjutnya, atas perkenan Sri Mangana, Ki Gedeng Plumbon diangkat menjadi Gedeng Cigugur.

Perang siasat yang terjadi antara Caruban Larang di satu pihak dan Galuh Pakuan, Rajagaluh, dan Talaga di pihak lain, sesungguhnya dapat digambarkan seperti pertarungan harimau-harimau dalam memperebutkan daerah kekuasaan. Masing-masing harimau merunduk dan menggeram untuk menakuti lawan. Tidak satu pun yang berani menyerang lebih dulu. Harimau-harimau itu hanya meraung dan menggeram-geram sambil mengais-ngaiskan cakarnya ke arah lawan. Harimau-harimau itu hanya menyeringai menunjukkan gigi dan taringnya yang tajam. Namun, bagi binatang lain yang lebih kecil, geraman harimau-harimau yang sedang berlaga itu sungguh sangat menakutkan.

Harapan agar matahari perubahan yang memancarkan daya hidup dan menumbuhkanbenih-benih baru yang tumbuh di atas hamparan bumi Caruban Larang terus bersinar terang ternyata tidak selamanya terpenuhi. Ketika gumpalan awan dari selatan dan barat berarak di atas langit dan mengepung Caruban Larang dengan suara guntur menggemuruh, tercekamlah penduduk dalam kecemasan dan ketegangan.

Kehidupan manusia tidak terlepas dari perilaku alam. Siapa di antara makhluk yang ingin hidup di atas roda kehidupan, wajib berpacu dengan waktu dan sesamanya. Ibarat benih-benih tetumbuhan, yang terlemah dan tidak mempu menghadapi gilasan waktu serta tantangan alam akan merana dan mati, demikian pun gegap gempita tumbuhnya tatanan baru masyarakat di Caruban Larang tidak luput dari perilaku alam. Seiring merebaknya kabar pengepungan Caruban Larang oleh pasukan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh yang menyebar dari tajug ke tajug, dari rumah ke rumah, juga dari mulut ke mulut, disusul kabar terbunuhnya Syaikh Jamalullah, mantan gedeng Ujungsemi, dan Ki Gedeng Kemuning, terjadilah kegemparan yang mengancam kelangsungan hidup tatanan baru yang sedang bersemi tersebut.

Sesungguhnya, tidak banyak yang memahami bahwa bagian terbesar dari penduduk baru yang datang ke Caruban Larang dan membuka lembaran baru kehidupan itu adalah orang-orang yang memiliki harapan untuk sekedar mendapat bagian tanah sehingga dengan tanah itu mereka dapat hidup lebih baik. Tidak banyak yang paham jika mereka adalah sekumpulan tukang mimpi yang menganggap kehidupan di dunia serba mudah dan tanpa resiko. Ya, kumpulan tukang mimpi yang tidak pernah memiliki pandangan masuk akal bahwa kehidupan di alam nyata sangat berbeda dengan kehidupan di alam harapan yang mereka bangun dari angan-angan kosong dan mimpi indah. Itu sebabnya, para tukang mimpi itu sangat terkejut dan ketakutan ketika harus berhadapan dengan kenyataan yang berbeda dengan yang mereka impikan. Mimpi indah yang mereka bayangkan bakal abadi ternyata menjadi hantu menakutkan saat mereka terbangun dalam kenyataan. Mereka seolah-olah menyaksikan isi dunia hanyalah bayangan-bayangan hitam dari hantu-hantu mengerikan yang berkeliaran memenuhi benak dan jiwa.

Belum genap sepekan kabar terbunuhnya Ki Gedeng Kemuning tersebar, ketika matahari bersinar di ufuk timur, terlihatlah di sejumlah desa baru di perbatasan selatan iring-iringan manusia menyuruk-nyuruk di pamatang-pematang sawah dan jalan-jalan desa. Mereka adalah penduduk desa-desa baru, para tukang mimpi, yang meninggalkan rumah dan kampung halaman karena dicekam ketakutan dan kepanikan. Mereka bergerak bagaikan kawanan semut ke arah utara. Sepanjang pergerakan itu, jumlah iring-iringan manusia makin lama makin membesar.

Kabar terjadinya pengungsian besar-besaran penduduk perbatasan selatan dengan cepat melanda Kuta Caruban dan mengejutkan penduduk. Sri Mangana buru-buru mengadakan pertemuan dengan para wali nagari dan semua tokoh pendukung gerakan perubahan di Bangsal Kaprabon. Mereka mencemaskan pengungsian besar-besaran tersebut. Sebab, kehadiran para pengungsi yang ditengara bakal menuju Kuta Caruban itu tidak saja akan menambah berat beban penduduk, tetapi akan meruntuhkan semangat penduduk di tempat lain.

Li Han Siang, syahbandar Caruban, yang mula-mula mengemukakan kemungkinan timbulnya akibat-akibat samping yang buruk dari peristiwa pengungsian tersebut. Syahbandar yang juga pemuka warga Cina asal suku Han itu mengatakan bahwa ia baru saja memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh tiga kepala keluarga Cina yang berada di bawah lindungannya. Pasalnya, sesaat setelah mendengar kabar pengungsian penduduk perbatasan mereka buru-buru mengajak keluarganya pergi meninggalkan Kuta Caruban. “Orang-orang yang ingin hidup enak tanpa mau menanggung resiko tidak pantas hidup di muka bumi. Karena itu, saya selaku pemimpin mereka memutuskan untuk membunuh orang-orang tak berguna itu. Itu saya lakukan untuk menjadi contoh bagi keluarga yang lain agar tidak bersikap bodoh seperti mereka,” papar Li Han Siang kepada Sri Mangana.

Pernyataan Li Han Siang menjadi bahasan utama dalam musyawarah karena menimbulkan kelompok yang setuju dan yang tidak setuju. Kelompok yang setuju menilai tindakan keras itu sangat diperlukan untuk mengendalikan penduduk yang ketakutan dan panik. Kelompok ini diwakili Syaikh Duyuskhani pemuka warga Kalijaga asal Baghdad, sedangkan kelompok yang tidak setuju menganggap tindakan itu tidak perlu dilakukan. Kelompok ini diwakili oleh Sayyid Habibullah al-Mu’aththal, menantu Ki Gedeng Trusmi.

Sayyid Habibullah al-Mu’aththal mengecam tindakan Li Han Siang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan fitrah manusia. Menurutnya, rasa takut adalah fitrah. Karena itu, mengganjar orang ketakutan dengan membunuh mereka merupakan tindak kezaliman. “Justru kita sebagai pemimpin berkewajiban melindungi mereka dan memberikan rasa aman kepada mereka. Sunnguh tidak bisa diterima akal jika ada orang yang ketakutan justru kita bunuh,” ujar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal.

“Adat dan tradisi yang berlaku di kalangan kami memang seperti itu, Tuan Sayyid.” Li Han Siang membela diri. “Siapa di antara anggota kelompok yang sudah tidak patuh kepada pemimpin, apakah dengan alasan takut atau ingin menyelamatkan diri sendiri, mereka wajib dibunuh. Bagi orang-orang perantauan seperti kami, adalah suatu kebohongan jika orang mau hidup enak namun menolak kerja keras dan risiko mati. Sesungguhnya, kepada tiga orang kepala keluarga itu telah kami peringatkan agar tidak meninggalkan Kuta Caruban tanpa perintah kami. Tetapi, mereka malah mempengaruhi kawan-kawannya.”

“Tetapi, membunuh jelas tindakan yang tanpa hak. Tidak ada dalil dan contoh dari Rasulullah Saw. yang membenarkan tindakan itu. Bahkan, kepada orang-orang yang teraniaya Rasulullah Saw. memerintahkan mereka untuk melakukan hijrah,” ujar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal.

Li Han Siang kelihatan terpojok dengan hujjah-hujjah yang disampaikan Sayyid Habibullah al-Mu’aththal. Ia tidak menanggapi kecaman-kecaman yang dilontarkan menantu Ki Gedeng Trusmi itu. Syaikh Duyuskhani yang melihat Li Han Siang terpojok, beringsut ke depan dan berkata, “Sesungguhnya, tindakan yang dilakukan saudara kami, Li Han Siang, sudah kami ketahui. Sesaat setelah itu, kami datang ke Lemah Abang dan bertemu dengan saudara kami Syaikh Abdul Malik Israil. Ketika kami sampaikan kepada beliau, ternyata beliau bisa memahami tindakan yang dilakukan Li Han Siang, meski tidak ada dalil dan contoh dari Rasulullah Saw.. Untuk itu, kami memohon agar saudara kami Syaikh Abdul Malik Israil menjelaskan alasan-alasan kenapa tindakan Li Han Siang dapat dipahami sebagai keniscayaan.”

Para hadirin serentak melemparkan pandangan ke arah Syaikh Abdul Malik Israil yang duduk diapit Abdul Jalil dan Syarif Hidayatullah. Syaikh Abdul Malik Israil yang tidak menduga bakal didaulat untuk berbicara mengernyitkan dahi dan menyapukan pandangan ke arah hadirin yang duduk melingkar. Kemudian dengan suara yang lain, ia berkata, “Sesungguhnya tiap-tiap kelompok bangsa menganut nilai-nilai yang berbeda. Itu sebabnya, anasir-anasir yang mengikuti perubahan suatu bangsa tidaklah wajib sama dengan bangsa yang lain. Gerakan pembaharuan yang saat ini sedang berlaku di negeri Caruban Larang adalah gerakan dari suatu kelompok bangsa yang memiliki nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan apa yang pernah terjadi di belahan bumi lain. Maksud kami, apa yang saat ini sedang terjadi pada tatanan kehidupan masyarakat ummah yang berasal dari gagasan saudara kami Syaikh Datuk Abdul Jalil, tentu berbeda keadaannya dengan saat tatanan ummah yang ditegakkan kali pertama oleh Baginda Rasulullah Saw. di Yatsrib.”

“Kenapa kami katakan berbeda? Sebab, komunitas di Bumi Arabia saat itu terbentuk atas kabilah-kabilah yang dipimpin oleh seorang pemimpin kabilah dan masing-masing anggota kabilah diakui keberadaannya. Seorang kepala keluarga di sebuah kabilah memiliki hak penuh atas tenda dan seluruh isinya, meski untuk hal-hal tertentu ia wajib patuh kepada pemimpin kabilah. Masing-masing anggota kabilah memiliki tujuan dan kiblat yang sama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kebebasan dan tali persaudaraan yang erat di dalam kabilahnya.”

Sebaliknya, penduduk negeri ini adalah kawula yang bermakna sama dengan budak. Penduduk negeri tidak diakui keberadaannya sebagai anggota komunitas. Yang ada dan diakui keberadannya hanya raja dan para pemimpin komunitas. Nilai-nilai yang dibentuk pun adalah nilai-nilai budak. Itu sebabnya, jika seorang raja sebagai pemimpin kawula kalah maka kawula akan memindahkan kiblat panutan kepada tuannya yang baru. Nilai-nilai budak itu rupanya sudah merasuk ke dalam jaringan darah dan segenap penjuru jiwa dan raga para kawula negeri ini.”

“Usaha saudara kami Syaikh Datuk Abdul Jalil dalam mengubah tatanan kawula menjadi tatanan masyarakat ummah sesungguhnya mahaberat dan butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Ia harus didukung banyak pihak demi lahirnya tatanan nilai-nilai baru tersebut. Dan sesungguhnya, pertempuran dalam menegakkan nilai-nilai adalah jauh lebih berat daripada pertempuran di medan laga. Sebagaimana disebutkan dalam sirah nabawi, sekembali dari pertempuran di Badar, Rasulullah Saw. bersabda: ‘Kita baru kembali dari perang kecil dan sedang menuju perang besar, yaitu perang terhadap hawa nafsu.”

“Memang banyak orang menafsirkan perang melawan hawa nafsu hanya sekedar menghindari kemaksiatan sebagaimana diperintahkan hukum suci (syari’at). Tetapi bagi kami pribadi, sabda Rasulullah Saw. jauh lebih luas dan mendalam dibanding sekadar makna kemaksiatan. Kami pribadi malah memahami sabda beliau terkait dengan nilai-nilai karena sejatinya nilai-nilai terbentuk dari hasil pergumulan antara nafsu-nafsu rendah manusia dengan kodrat-kodrat Ilahiyyah yang tersembunyi di dalam diri manusia. Itu sebabnya, tinggi dan rendahnya peradaban suatu bangsa akan tercermin dari nilai-nilai yang dianutnya.”

“Kami tidak perlu menjadikan kasus saudara Li Han Siang sebagai sumber perpecahan di antara kita. Tetapi, dalam hal ini kami akan menuturkan suatu cerita yang mungkin mirip dengan kejadian yang sedang kita alami ini. Cerita itu menyangkut kisah Musa a.s. saat membawa Bani Israil keluar dari gerbang perbudakan Bangsa Mesir. Musa a.s. yang sejak kecil dididik sebagai pangeran di istana Fir’aun menganut nilai-nilai yang sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dianut Bani Israil seumumnya. Musa a.s. terbiasa dengan keagungan, kemuliaan, keberanian, kegagahan, kepahlawanan, kesulitan di medan perang, dan kemenangan. Sementara Bani Israil terbiasa dengan kemiskinan, ketertindasan, ketakutan, kepengecutan, ketidakberdayaan, mimpi-mimpi kosong, dan kekalahan.”

“Jika saudara-saudara sekalian pernah membaca kitab suci Bani Israil yang hal itu dikuatkan dalam Al-Qur’an maka saudara-saudara akam menyaksikan bagaimana Musa a.s. mengalami kekecewaan demi kekecewaan dalam menghadapi sikap dan perilaku bangsanya yang selama beratus tahun tumbuh dan berkembang di bawah kendali nilai-nilai budak. Ketika Musa a.s. atas titah Allah SWT mengajak Bani Israil untuk berperang membebaskan tanah Kanaan yang dihuni bangsa Amalik, Heti, Yebus, dan Amorit, yang diperolehnya bukan sambutan kepahlawanan yang gagah perkasa dari bangsanya. Bani Israil yang masih tercekam oleh nilai-nilai budak malah bersungut-sungut kepada Musa a.s. dan Harun a.s. sambil meratap-ratap: ‘Aduh, sekiranya kami mati di tanah Mesir atau di padang gurun ini, mengapa Tuhan membawa kami ke negeri ini? Apakah agar kami terbunuh oleh pedang dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah kami lebih baik pulang kembali ke Mesir? (Bemidbar, 14: 1-4).”

“Kami kira, apa yang sudah dialami Bani Israil saat dipimpin Musa a.s. keluar dari Mesir tidak berbeda dengan yang sedang terjadi di Caruban Larang sekarang ini. Maksud kami, bangsa ini masih kuat tercekam oleh nilai-nilai kawula yang membentuk alam pikiran dan jiwa mereka. Menurut hemat kami, sangat perlu rangkaian tindak kekerasan sebagaimana yang pernah diberikan Allah SWT. terhadap Bani Israil selama empat puluh tahun pengembaraan di gurun untuk menghilangkan noda-noda hitam dari sisa-sisa jiwa budak yang melekat di tengah matahari keagungan manusia. Sejarah Bani Israil mencatat, betapa generasi tua yang terbentuk oleh nilai-nilai di Mesir itu telah bertumbangan di atas bumi tanpa nyawa ketika generasi baru Bani Israil berhasil menduduki tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.”

“Dengan apa yang sudah kami uraikan ini, sesungguhnya musuh yang paling utama bagi kita bukanlah Yang Dipertuan Galuh Pakuan, Yang Dipertuan Talaga, atau Yang Dipertuan Rajagaluh, justru nilai-nilai kawula yang masih kuat mencengkeram alam pikiran dan jiwa penduduk Caruban Larang itulah yang harus kita tundukkan bersama. Sesungguhnya, apa yang dialami Bani Israil ketika melepaskan diri dari perbudakan adalah cerminan yang paling sesuai bagi usaha-usaha pembaharuan di Caruban Larang ini. Itu sebabnya, kami menilai tindakan saudara kami Li Han Siang, dapat dipahami karena peristiwa itu sesungguhnya pernah tercermin pada cerita Qarun (Korah) dan para pemuka Bani Israil yang menentang Musa a.s., meski alur cerita, tempat kejadian, dan para pelakunya berbeda.”

Mendengar uraian Syaikh Abdul Malik Israil, hadirin mengangguk-angguk kepala tanda setuju. Ketika Sayyid Habibullah al-Mu’aththal menggeser tempat duduknya dan terlihat akan menanggapi Syaikh Abdul Malik Israil, tiba-tiba Syaikh Duyuskhani mengacungkan tangan dan berkata lantang, “Kami kira, masalah yang dihadapi saudata kami, Li Han Siang, tidak perlu dijadikan perdebatan berlarut-larut. Itu bisa kita selesaikan di kelak kemudian hari. Yang penting, sekarang kita perlu ketegasan untuk menghadapi gertakan penguasa Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh. Apakah kita akan lari meninggalkan Caruban Larang dengan berdalih hijrah seperti saat Rasulullah Saw. menganjurkan berhijrah bagi kaum beriman dari Makah? Ataukah kita melawan seperti saat Rasulullah Saw. berada di Yatsrib yang menghadang musuh-musuhnya di Badar dan Uhud?”

“Bagi kami, para pendatang dari Baghdad yang terusir dari tanah kelahiran kami, sebagai seorang laki-laki sejati tidak ada pilihan lain kecuali mengangkat senjata mempertahankan apa yang sudah kami miliki di Caruban Larang ini. Kami semua siap syahid di medan tempur karena kami yakin apa yang kami dukung dalam perjuangan ini adalah Kebenaran yang sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.”

Kata-kata Syaikh Duyuskhani yang berkobar-kobar penuh semangat menimbulkan pengaruh yang sangat besar. Para pemuka warga saling menyatakan tekad untuk maju ke medan tempur dan siap gugur sebagai syuhada.

Sri Mangana yang menyaksikan semangat para pemuka warga dengan gembira menyatakan rasa terima kasihnya. Namun, dengan penuh kearifan ia meminta mereka menyiapkan satuan-satuan yang terlatih sehingga saat maju ke medan tempur tidak hanya berbekal semangat. “Aku akan mengirim perwira-perwira Caruban Larang untuk melatih warga kalian masing-masing. Selama menunggu waktu berlatih itu hendaknya kita tetap waspada akan bahaya penyusupan yang bakal menggeragoti kekuatan kita dari dalam.”

Kisah Nabi Musa a.s. memimpin Bani Israil dari keluar dari gerbang perbudakan di Mesir menuju tanah yang dijanjikan bagi sebagian orang dianggap sebagai kisah biasa yang berisi keteladanan seorang utusan Allah dalam menegakkan ajaran Tauhid. Namun bagi Sri Mangana, kisah yang dipaparkan Syaikh Abdul Malik Israil, meski sudah ia ketahui sebelumnya, menjadi cahaya benderang bagi tersingkapnya kesadaran baru. Sri Mangana mendadak merasakan betapa sesungguhnya ia telah melakukan kesalahan besar dalam menilai gerakan pembaharuan bagi lahirnya tatanan baru yang disebut masyarakat ummah. Ia sadar bahwa langkahnya sesungguhnya terlalu terburu-buru.

Uraian Syaikh Abdul Malik Israil tentang latar nilai-nilai yang membentuk Nabi Musa a.s. dan Bani Israil benar-benar menyadarkannya akan kekeliruan itu. Ya, ia menyadari bahwa sejauh ini ia selalu menganggap kawula Caruban Larang adalah manusia-manusia yang sama dengan dirinya. Padahal, sejak lahir hingga dewasa ia dibentuk oleh nilai-nilai ksatria di istana Pakuan Pajajaran yang menanamkan keagungan, kemuliaan, keberanian, kegagahan, ketabahan, kemenangan, dan prinsip dharma ksatria. Sementara itu, para kawula sejak lahir hingga dewasa dibentuk oleh nilai-nilai budak yang akrab dengan kerendahan diri, ketidakberdayaan, kepengecutan, ketertindasan, kekalahan, dan tak kenal prinsip dharma.

Dengan kesadaran itu Sri Mangana pada gilirannya menyadari betapa sesungguhnya Abdul Jalil, putera asuhnya, sang penggagas masyarakat ummah, pada dasarnya tidak jauh berbeda jauh dengan dirinya. Ya, Abdul Jalil sejak kecil dididik di lingkungan Padepokan Giri Amparan Jati sebagai putera kuwu Caruban. Alam pikiran dan jiwanya dibentuk oleh nilai-nilai keberanian, kejujuran, keagungan, kemuliaan, kesucian, ketabahan, kemenangan, dan prinsip dharma seorang mujahid. Dalam pergulatan mencari jati diri, Abdul Jalil telah membuktikan diri sebagai pribadi yang tabah dan tidak kenal menyerah. Ah, kata Sri Mangana dalam hati, ternyata anak itu juga keliru seperti aku; menilai alam pikiran dan jiwa kawula seakan-akan sama dengan dirinya.

Ketika Sri Mangana menengok ke belakang, menapaki jejak-jejak dari langkah pembaharuan yang sudah dijalankannya, ditemuilah kenyataan yang mengejutkannya; betapa sesungguhnya yang berubah dalam gerakan pembaharuan itu hanyalah tatanan belaka. Pelaku-pelaku dari perubahan itu terbukti tetap sama. Hal itu baru ia sadari ketika merenungkan para pembantunya di dalam pemerintahan kalifah. Betapa yang ia dapati para pembantunya hampir seluruhnya adalah para ningrat darah biru. Ya, para gedeng yang pada masa silam ditunjuk atas kekuasaan ratu, kini, setelah dilakukan pemilihan masyarakat ummah pun yang terpilih tetap juga dari kalangan tersebut. Para wali nagari yang dipilih pun tidak ada yang berasal dari kalangan orang kebanyakan. Semua merupakan pemuka di dalam kelompoknya. Bahkan, para pejabat keturunan Cina yang membantunya pun di kalangan bangsanya adalah kaum ningrat darah biru.

Akhirnya, dengan kesadaran itu, Sri Mangana makin meneguhkan sikap untuk meneruskan perjuangan, dengan mengesampingkan kemungkinan-kemungkinan kecewa dan putus harapan akibat masyarakat ummah yang dipimpinnya sesungguhnya masih merupakan bahan mentah dari kawanan budak. Sebenarnya, kepanikan penduduk yang beramai-ramai mengungsi adalah awal yang paling awal dari rentangan perjuangan yang harus dilaluinya. Ya, aku akan berhadapan dengan “musuh-musuh” yang harus aku lindungi, yaitu masyarakat ummah yang bermental budak. Aku akan bersikap sebagaimana Nabi Musa a.s. menghadapi Bani Israil. Sangat besar kemungkinan aku akan menghadapi kenyataan pahit sebagaimana Nabi Musa a.s. saat mengajak kaumnya bertempur untuk merebut tanah yang dijanjikan, yakni jawaban yang menyakitkan: “Wahai Musa, kami tidak akan memasuki negeri itu selamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah engkau berdua. Sesungguhnya kami akan duduk menunggu di sini saja (QS al-Ma’idah: 23-24).”

Dengan kesadaran itu, segunung masalah yang menunggu sang kalifah di tengah gemuruh arus perubahan yang menegangkan itu, tidaklah dianggapnya sebagai beban mahaberat. Dengan ketenangan yang mengagumkan Sri Mangana menerima berbagai laporan tentang ganasnya perampok-perampok yang membakar dan menjarah desa-desa di lereng timur Gunung Ciremai. Atau, terbunuhnya para santri Giri Amparan Jati yang ditempatkan Abdul Jalil di Lemah Abang di dekat Sukapura. Atau, kepergian mendadak Sayyid Habibullah al-Mu’aththal ke Malaka dengan alasan berniaga sehingga kedudukannya sebagai pemuka warga Arab di Kuta Caruban digantikan oleh Abu Ismail al-Basgrowi. Atau, menyingkirnya sebagian warga Kuta Caruban secara diam-diam ke Dermayu. Semua laporan itu ia terima dengan senyuman sambil berkata dalam hati: ini adalah penyaringan yang dahsyat untuk membedakan siapa di antara warga Caruban Larang yang sudah menjelma menjadi masyarakat ummah dan siapa yang masih terjerat dalam kungkungan kawula.

Saat para pemuka warga di Caruban Larang menghadap Sri Mangana untuk melaporkan gelombang pengungsian yang tidak menyenangkan dari desa-desa di bagian barat dan selatan Caruban Larang, bahkan Kuta Caruban, Sri Mangana dengan tenang berkata, “Sesungguhnya yang tersisa di antara penduduk Caruban Larang adalah para singa dan harimau yang gagah perkasa. Jumlah mereka memang tidak perlu banyak, tetapi mereka adalah penguasa di daerahnya. Sesungguhnya tidak semua warga desa di Caruban Larang ini pergi mengungsi. Lihatlah penduduk Lemah Abang! Lihatlah penduduk Kalijaga! Lihatlah penduduk Gunung Jati! Lihatlah penduduk Kuningan! Lihatlah penduduk Caruban Larang! Merekalah sesungguhnya pahlawan pembaharu yang gagah perkasa. Merekalah kumpulan singa dan harimau Allah yang akan mempertahankan keyakinan dan wilayah kekuasaannya sampai titik darah yang penghabisan.”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil kepada Sri Mangana yang sedang berbincang-bincang dengan Nyi Indang Geulis dan Nyi Muthma’inah di ndalem Pekalipan, “Ananda mohon petunjuk tentang apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi perkembangan keadaan yang semakin tak menentu ini. Sebagian besar penduduk di Caruban Larang beramai-ramai meninggalkan kampung halamannya. Sementara yang tersisa ananda kira tidak akan cukup mampu menghadapi kekuatan gabungan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh.”

“Engkau tidak perlu cemas menghadapi keadaan ini, o Puteraku,” kata Sri Mangana tenang, “Sekecil apa pun kekuatan yang kita miliki, kedudukan kita jauh lebih tangguh dan lebih ulet dibanding yang mereka miliki. Karena itu, dalam hal kekuatan pasukan aku tidak ragu menghadapi mereka bertiga.”

“Berapakah sesungguhnya kekuatan pasukan Caruban Larang?”

“30.000 orang.”

“Hanya 30.000 orang?” gumam Abdul Jalil terkejut. “Padahal, kekuatan Galuh Pakuan saja menurut kabar lebih dari 200.000 orang.”

“Engkau tidak paham tentang kemiliteran, o Puteraku,” kata Sri Mangana tersenyum. “Karena itu, engkau seperti umumnya yang lain, menganggap kekuatan tempur pada jumlah orang dan kelengkapan senjata. Padahal, meski hanya 30.000 orang kekuatan yang telah kubangun selama tujuh tahun ini, mereka adalah orang-orang yang terlatih. Sedangkan prajurit Galuh, Talaga, dan Rajagaluh hanyalah anak bawang dalam pertempuran karena mereka dibentuk secara paksa dan buru-buru. Yang tidak kalah penting untuk dihitung adalah kekuatan warga yang dilatih oleh perwira-perwiraku. Mereka akan menambah jumlah kekuatan Caruban Larang. Aku perkirakan jumlah mereka lebih dari 40.000 orang. Itu pun belum kita hitung bala bantuan dari orang-orang Dermayu.”

“Jika hanya menghadapi Galuh Pakuan, ananda kira pihak kita pasti menang, apalagi kalau yang memimpin Ramanda Ratu sendiri. Tapi, bagaimana dengan Talaga dan Rajagaluh? Ananda juga mendapat kabar jika Prabu Surawisesa sudah mengirim utusan ke Pasir Luhur untuk meminta dukungan dari Prabu Banyak Belanak.”

“Jadi, dia sudah minta bantuan Pasir Luhur?” gumam Sri Mangana dengan wajah merah menahan amarah. “Jika kabar itu benar, berarti dia benar-benar menginginkan perang terbuka. Ini tidak bisa kubiarkan. Besok akan kugerakkan pasukanku. Akan aku hancurkan seluruh kekuatan Galuh Pakuan.”

Menyaksikan Sri Mangana dibakar amarah, Nyi Indang Geulis, sang permaisuri, berusaha meredakannya. “Aku memohon Rakanda Ratu tidak terpancing amarah. Sebab, jika Rakanda Ratu sampai menggerakkan pasukan dan menyerbu Galuh Pakuan maka ayahanda Prabu Guru Dewara Prana akan murka dan menuduh Rakanda Ratu sebagai penyerbu. Karena itu, hendaknya Rakandan Ratu bersabar dan menahan diri.”

“Menunggu sampai si Tua Bangka itu memiliki kekuatan besar?”

“Kita memang harus menunggu, o Rakanda Ratu,” kata Nyi Indang Geulis. “Tetapi, di dalam menunggu itu kita harus melakukan usaha untuk menambah kekuatan sekaligus merongrong kekuatan lawan.”

“Dengan cara apa?”

“Rakanda Ratu selama ini telah melupakan jalinan persaudaraan antarksetra.”

“Astaghfirullah!” seru Sri Mangana dengan wajah mendadak berubah ceria. “Aku sungguh-sungguh lupa pada kekuatan itu. Aku telah lupa bahwa jalinan ksetra-ksetra itulah sesungguhnya kekuatan yang paling kokoh di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan ini. Ya, aku sungguh telah khilaf melupakan petarung-petarung unggulan itu.”

Abdul Jalil yang tidak memahami apa yang dibicarakan Sri Mangana dan permaisuri dengan heran bertanya, “Persaudaraan antarksetra itu apa, o Ibunda Ratu? Kenapa ia disebut kekuatan paling kokoh?” Nyi Indang Geulis tersenyum dan memandang suaminya, seolah menginginkan agar sang suami yang menjawab pertanyaan putera mereka.

“Sesungguhnya, yang dimaksud ksetra adalah lapangan pekuburan tempat para bhairawa-bhairawi melakukan upacara pancamakara. Tiap-tiap ksetra sesungguhnya merupakan jalinan dari ksetra yang lain, seibarat kalung yang terbuat dari untaian mutiara. Tiap-tiap pemimpin dan anggota ksetra satu selalu menganggap pemimpin dan anggota ksetra yang lain sebagai saudara. Karena itu, mereka sangat bersatu padu sehingga saat kekuatan sebuah kerajaan terpecah belah, persaudaraan mereka tetap utuh,” ujar Sri Mangana.

“Sesungguhnya kekuatan yang sebenarnya di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan ini berada di tangan mereka. Sebab, mereka adalah petarung-petarung yang memiliki kesaktian luar biasa dan tanpa tanding. Seratus prajurit pun tidak akan mampu mengalahkan seorang bhairawa karena mereka memiliki ilmu seratus ribu hulubalang. Namun, mereka adalah orang-orang merdeka yang enggan mengabdi kepada kerajaan karena aturan-aturan kerajaan yang bertentangan dengan ajaran mereka. Nah, jika kita dapat merangkul mereka, pastilah kita tidak perlu khawatir dengan kekuatan Galuh Pakuan, Talaga, Rajagaluh, dan bahkan Pakuan Pajajaran sekalipun.”

“Tapi Ramanda Ratu, mereka adalah para peminum darah dan pemakan mayat. Mungkinkah mereka bersedia membantu gerakan kita, orang-orang yang selama ini mengecam mereka sebagai pemeluk ajaran najis?”

“Engkau jangan lupa, o Puteraku, bahwa aku dan ibundamu masih mereka anggap sebagai saudara, meski kami sudah memeluk Islam. Engkau pun harus tahu bahwa di dalam ajaran Bhairawa Tantra tidak dikenal kasta-kasta yang membedakan kedudukan orang seorang. Karena itu, aku yakin mereka akan lebih bersimpati mendukung gerakan masyarakat ummah di Caruban Larang ini daripada mendukung Galuh Pakuan,” kata Sri Mangana.

“Apakah Ramanda Ratu akan berkeliling ke ksetra-ksetra untuk meminta bantuan?”

“Tidak,” Nyi Indang Geulis tiba-tiba menukas, “Ramandamu tidak boleh meninggalkan Caruban Larang pada saat genting seperti ini. Sebaliknya, aku akan meminta izin dari ramandamu untuk berkeliling ke ksetra-ksetra dengan ditemani kakakmu, Nyi Muthma’inah.”

“Jika demikian, ananda juga mohon izin agar diperkenankan pergi ke Kendal, Samarang, Demak, Giri, dan Surabaya untuk meminta bantuan dari sana. Ananda berusaha menemui Pamanda Raden Kusen di Majapahit untuk meminta bantuan. Sungguh, ananda malu jika dalam keadaan seperti ini hanya berpangku tangan tidak berbuat sesuatu. Sebab, semua yang terjadi ini, sesungguhnya adalah akibat dari gagasan ananda. Sungguh, ananda akan merasa jadi manusia durhaka jika harus berdiam diri,” ujar Abdul Jalil.

“Niatmu untuk memperoleh bantuan itu sangat baik, o Puteraku,” kata Sri Mangana penuh kearifan. “Tetapi menurut hematku, ada hal lain yang lebih penting dan lebih mendesak untuk engkau jalankan sebagai bagian dari perjuanganmu menegakkan tatanan baru ini.”

“Ananda mohon petunjuk,” kata Abdul Jalil. “Ananda tidak memahami siyasah, tata negara, dan kemiliteran. Jadi, ananda tidak tahu harus berbuat apa dalam keadaan seperti ini.”

“Ada pepatah lama yang mengatakan sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui,” kata Sri Mangana. “Itulah yang sekarang hendaknya engkau lakukan.”

“Ananda belum memahami maksud Ramanda Ratu. Ananda mohon petunjuk.”

“Tidakkah engkau sadari bahwa di atas segunung masalah yang timbul sekarang ini sesungguhnya berpangkal pada perubahan tatanan yang terjadi di Lemah Abang?” tanya Sri Mangana.

“Ananda paham itu, o Ramanda Ratu.”

“Itu berarti, Lemah Abang adalah benih yang harus ditabur ke berbagai lahan agar tumbuh benih Lemah Abang yang lain. Bukankah menebar butir gabah di atas sawah lebih baik hasilnya daripada di atas pot?”

“Ananda masih belum paham dengan penjelasan Ramanda Ratu.”

“Bukankah engkau sudah membuka Lemah Abang di Karawang dan Sukapura?”

“Benar demikian, o Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Tetapi, itu hanya ananda lakukan untuk menempatkan Tu-mbal yang menangkal pengaruh buruk para makhluk gaib penghuni Nusa Jawa. Para santri yang ananda tempatkan di sana pun dibunuh oleh orang-orang tidak dikenal.”

“Menurut hematku, seharusnya Lemah Abang yang engkau buka bukanlah sekadar tempat menanam Tu-mbal, melainkan hendaknya Lemah Abang sebagai dukuh bertatanan baru sebagaimana yang engkau dirikan di Japura. Ya, Dukuh Lemah Abang di Japura itulah yang hendaknya engkau tebarkan di berbagai tempat. Dengan demikian, jika benih Lemah Abang di Japura harus mati karena suatu hal, setidaknya engkau masih memiliki benih lain.”

“Ah, ananda benar-benar tidak berpikir ke arah sana. Tetapi, apakah dengan menumbuhkan benih Lemah Abang di tempat lain tidak malah memperparah keadaan?” tanya Abdul Jalil.

“Peristiwa kekisruhan yang terjadi di Caruban Larang ini hendaknya kita jadikan pelajaran terbaik,” kata Sri Mangana mengemukakan gagasannya. “Setelah aku nilai kembali, sesungguhnya kita terlalu terburu-buru untuk mewujudkan tatanan baru dengan serentak mengubah tatanan lama dalam lingkup luas. Seharusnya, aku tidak tergesa-gesa menetapkan peraturan tentang tatanan baru itu. Seharusnya, aku harus bersabar menunggu pengaruh Lemah Abang berkembang secara alamiah mempengaruhi wilayah di sekitarnya. Sehingga, saat seluruh tatanan baru sudah siap, barulah dibuat ketetapan resmi tentang diberlakukannya tatanan baru. Ya, kita semua tercekam oleh keinginan untuk buru-buru mewujudkan tatanan baru. Semua tidak bisa menahan kesabaran.”

“Sementara itu, kesalahan yang juga tak kalah penting yang telah kita perbuat adalah kekeliruan kita dalam membaca keberadaan penduduk negeri. Selama ini baik aku maupun engkau sendiri selalu menganggap semua orang sama dengan kita yang dibentuk oleh nilai-nilai yang berbeda dengan seumumnya penduduk. Syaikh Abdul Malik Israil yang menyadarkan aku tentang itu. Karena itu, o Puteraku, hendaknya di dalam menebar benih-benih Lemah Abang di tempat lain masalah itu harus engkau perhatikan benar. Engkau harus sadar bahwa yang akan kita ubah adalah nilai-nilai, bukan sekadar tatanan. Sehingga, sejak awal engkau harus sadar bahwa menata nilai-nilai baru itu membutuhkan waktu lama, setidaknya satu sampai dua generasi.”

“Ananda akan pusakakan petunjuk dan nasihat Ramanda Ratu.”

“Karena itu, jika engkau berangkat ke timur, hendaklah membawa serta murid-muridmu. Tempatkanlah mereka sebagian demi sebagian di Dukuh Lemah Abang baru. Perintahkan kepada mereka agar sedapat mungkin menegakkan tatanan baru di dukuhnya dan kemudian berusaha mempengaruhi dukuh-dukuh di sekitarnya. Insya Allah, dengan cara demikian, gagasanmu untuk mewujudkan tatanan masyarakat ummah tidak akan mati dibentur keadaan dan digilas zaman. Gagasanmu yang mulia itu akan tetap menjadi harapan yang diimpi-impikan oleh setiap orang yang mendambakan kebebasan, kesederajatan, dan keadilan,” kata Sri Mangana.

Abdul Jalil termangu-mangu selama mendengarkan penjelasan dan petunjuk Sri Mangana. Ia merasa setiap kata-kata yang meluncur dari mulut Sri Mangana adalah Sabda Ilahi yang menyingkapkan nur lawami’ dan menerbitkan pemahaman fawa’id di dalam dirinya. Ia merasakan getar-getar Ilahiah meliputi kata-kata yang diucapkan Sri Mangana. Ia pandangi mata ayahanda asuhnya yang bening bagai danau. Ia dapati jiwa yang lain di dalam diri ayahanda asuhnya, yaitu jiwa yang sama dengan jiwanya. Kemudian bagaikan digerakkan oleh kekuatan gaib yang tidak kelihatan, tiba-tiba saja ia menjatuhkan diri diharibaan ayahanda asuhnya seolah-olah seorang anak yang diburu ketakutan dan mencari perlindungan kepada ayahnya.

Taiwan Strait West of Taichung (MV. Taho), April 11st 2007, 00:35LT