Sirna Hilang Kertaning Bhumi

Sebagai maharaja yang berwawasan sempit dan tidak memiliki pandangan jauh ke depan, Bhre Kretabhumi ternyata sangat ketakutan dengan kenyataan yang menunjukkan kuatnya “jaringan hijau” yang dibangun Sri Prabu Kertawijaya dan dilanjutkan oleh Sri Prabu Adi-Suraprabhawa. Itu sebabnya, ia kemudian terlihat lebih mengarahkan kewaspadaan terhadap perkembangan yang terjadi di kawasan pantai utara, di mana kekuatan Islam mulai berkembang kuat. Beribu-ribu telik sandhi disebarkannya untuk memantau segala gerak-gerik para bangsawan, saudagar, guru, nelayan, pedagang kecil, bahkan tukang dan kuli yang rumahnya dekat surau dan pusat-pusat perdagangan orang-orang muslim.

Kewaspadaan berlebihan Bhre Kretabhumi terhadap orang-orang muslim di pantai utara ternyata membuatnya lengah. Ia menjadi sangat mengabaikan perkembangan di pedalaman. Sedikit pun ia tidak mengetahui jika di daerah pedalaman diam-diam sedang terjadi penyusunan kekuatan besar-besaran yang dilakukan oleh Dyah Ranawijaya, putera Sri Adi-Suraprabhawa, yang merasa lebih berhak atas takhta Majapahit. Dyah Ranawijaya tidak sekadar berambisi menuntut hak sebagai pewaris takhta, tetapi yang tak kalah mengerikan, ia juga dirasuk dendam kesumat terhadap Bhre Kretabhumi yang dianggapnya telah menjadi penyebab utama kematian ayahandanya.

Api dendam yang membakar jiwa dan pikiran Dyah Ranawijaya meledak menjadi malapetaka besar bagi Majapahit. Itu terlihat saat ia dengan seratus ribu prajurit datang ke ibu kota untuk mengambil kembali haknya atas takhta Majapahit yang sudah dirampas Bhre Kretabhumi. Dyah Ranawijaya dengan dendam kesumat tak bertepi menyerbu dan melakukan kebiadaban tak terbayangkan. Dikatakan kebiadaban tak terbayangkan sebab dalam penyerbuan itu bala tentara Daha yang dipimpin oleh Dyah Ranawijaya sendiri telah melibatkan para kawula alit untuk menjarah ibu kota.

Keterlibatan kawula alit dalam penyerbuan biadab itu tidak bisa dinilai lain, kecuali sebagai peristiwa munculnya kawanan setan berwujud manusia dari relung-relung bumi yang gelap gulita. Kemunculan kawanan manusia setan yang bangga ketika merusak kebudayaan, menista tradisi, menginjak-injak hukum, menghancurkan tatanan nilai-nilai, dan melampiaskan nafsu yang tak kenal batas.

Menurut ingatan warga ibu kota yang selamat, peristiwa biadab yang menenggelamkan ibu kota Majapahit ke dalam kobaran api dan penjarahan dahsyat itu berlangsung sangat mencekam. Mula-mula berlangsung pertempuran sengit antara pasukan Majapahit dan pasukan Daha di luar dinding baluwarti. Suara gemerincing senjata yang beradu terdengar menggiriskan karena diiringi jerit kesakitan dan lolongan kematian. Ketika pasukan Majapahit terdesak dan bertahan di dalam baluwarti, terdengar suara benturan benda-benda keras seperti suara orang menumbuk padi di lesung. Tak lama kemudian robohlah dinding baluwarti dengan suara gemuruh, diikuti oleh serbuan pasukan Daha yang mengalir seperti kawanan semut memasuki ibu kota.

Pertempuran berlangsung sengit. Pasukan Majapahit berusaha bertahan dengan menghadang gerak maju pasukan Daha setapak demi setapak. Jengkal demi jengkal tanah dipertahankan dengan darah. Ketika pertempuran meluas ke dalam Bangsal Manguntur, tempat para pengawal Bhre Kretabhumi mengadu nyawa untuk menyelamatkan junjungannya, terjadilah peristiwa yang tak pernah terbayangkan: kerumunan-kerumunan kawula alit di antara kalangan hina papa memasuki ibu kota bagai kawanan hewan buas haus darah. Dengan dipimpin satu dan dua prajurit Daha, sambil berteriak-teriak dengan caci-maki yang kasar, mereka menyulutkan api kerumah-rumah dan semua jenis bangunan yang ada. Hanya dalam hitungan detik ibu kota Majapahit tenggelam ke dalam kobaran lautan api yang membara dan menjilat-jilat ke langit.

Penghuni ibu kota yang tak pernah menduga bakal terjadi malapetaka laknat itu hanya kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Rumah mereka luluh lantak dimangsa api. Harta benda mereka dijarah dengan beringas. Di tengah kebingungan itu berpuluh ribu warga, beribu-ribu prajurit, beribu-ribu nayakapraja, beratus-ratus punggawa, beratus-ratus pejabat tinggi, beratus-ratus keluarga maharaja dan bahkan maharaja sendiri terpanggang binasa di tengah lautan api.

Selama tiga hari tiga malam ibu kota Majapahit dimangsa keganasan api. Menjelang hari keempat api mulai padam. Kesenyapan dan kesunyian pun menggelar permadani hitam yang melingkupi reruntuhan bekas ibu kota maha-kerajaan itu. Sejauh mata memandang hanya tumpukan abu hitam dan asap tipis yang mengepul di antara mayat manusia dan bangkai binatang yang hangus meranggas. Sebuah citra kematian yang mencekam dan menakutkan. Di tengah kesenyapan dan kesucian mahakuta yang pernah menjadi kebanggaan itu, para kawi menggubah syair dan kidung ratapan dengan mengguratkan tanah (pena batu) di atas karas (papan batu) yang melukiskan malapetaka itu dengan ungkapan: “Sirna Hilang Kertaning Bhumi” (sirna dan hilang maharaja Kretabhumi) dan “Sunya Nora Yuganing Wwang” (kosong tiada anak manusia), yakni menandai tahun 1400 Saka ketika bencana menggiriskan itu terjadi.

Dengan binasanya Bhre Kretabhumi dan luluh lantaknya ibu kota Majapahit, Dyah Ranawijaya memang berhasil melampiaskan dendam kesumatnya dan merebut takhta Majapahit. Dengan bangga ia mengangkat diri menjadi maharaja Majapahit. Namun seiring dengan naik takhtanya Dyah Ranawijaya, fajar kejayaan Majapahit yang pernah bersinar gemilang telah surut memasuki sandyakala. Panji-panji surya Majapahit yang pernah berkibar di tujuh samudera telah berserpihan menjadi robekan-robekan kain tak bermakna. Pendek kata, ibarat rajawali tua yang telah patah kedua sayapnya, Majapahit di bawah Dyah Ranawijaya tidak mampu lagi terbang ke angkasa memperlihatkan keperkasaan dan kewibawaannya.

Sesungguhnya, pudarnya keperkasaan dan kewibawaan Majapahit tidak terlepas dari para pewaris takhta kekuasaan yang makin lama makin lemah seperti Bhre Pamotan Sang Sinagara, Bhre Kretabhumi, dan Dyah Ranawijaya. Para pewaris takhta yang hidup di tengah kemewahan dan sanjungan itu tidak saja menjadi lemah, tetapi wawasan mereka pun sempit. Mereka tidak lagi memiliki wawasan luas dan pandangan jauh ke depan seperti pendahulunya. Mereka seolah-olah tidak sadar jika negara yang mereka warisi adalah sebuah kekaisaran maharaksasa yang memiliki wilayah membentang dari Lamuri di barat hingga Wuanin di timur dan solor di utara.

Sejarah kebesaran Majapahit akhirnya mencatat, hanya Sri Prabu Kertawijaya seoranglah maharaja terakhir yang memiliki wawasan luas dan pandangan jauh ke depan. Setelah ia mangkat, para penggantinya sekadar raja-raja yang lemah. Mereka naif dan kekanak-kanakan akibat hidupnya dilingkari kemewahan, kemuliaan, sanjungan, dan puja-puji berlebihan. Mereka tenggelam dininabobokkan lingkungan laknat yang sarat dengan penjilat. Kecelakaan sejarah pun akhirnya menjadi keniscayaan ketika maharaja yang mewarisi takhta Majapahit itu dilingkari pejabat-pejabat berjiwa kerdil, bebal, sempit wawasan, dan dangkal pandangan. Pejabat-pejabat yang hanya pintar menjilat, pandai menyanjung, dan piawai dalam menyuguhkan kemewahan kepada maharajanya.

Dyah Ranawijaya adalah salah satu di antara pewaris takhta Majapahit yang hidup dilingkari pejabat-pejabat berjiwa kerdil, berwawasan sempit, dan berpandangan dangkal. Ia hidup dilingkungi pejabat-pejabat bebal. Akhirnya, tak jauh berbeda dengan pejabat-pejabat yang mengitarinya, Dyah Ranawijaya pun kemudian menjadi maharaja berjiwa kerdil yang sempit wawasan dan dangkal pandangan. Ia sesungguhnya tidak memiliki bekal kemampuan apa pun untuk menerima warisan takhta Majapahit. Ia hanya memiliki bekal ambisi yang kuat untuk menduduki takhta kerajaan. Sejarah akhirnya mencatat Dyah Ranawijaya tidak tahu apa yang seharusnya diperbuat seorang maharaja ketika ia berhasil duduk di atas singgasana Majapahit.

Tinta hitam sejarah kesuraman Majapahit mencatat pula, beberapa waktu setelah berhasil meluluhlantakkan ibu kota, Dyah Ranawijaya mengangkat diri sebagai maharaja Majapahit menggantikan Bhre Kretabhumi. Namun, sebagai seorang putra yang sejak kecil tinggal di pedalaman dan dilingkari oleh pejabat-pejabat berjiwa kerdil, ia pun tidak pernah memiliki wawasan berpikir dan pandangan yang lebih jauh dari pemandangan yang disaksikannya sehari-hari. Ia tidak pernah melihat pemandangan lebih jauh dari puri kediamannya yang dilingkari lembah, sawah, sungai, hutan, dan gunung. Ia tidak pernah memiliki kesadaran bahwa Majapahit adalah negara maharaksasa yang wilayahnya jauh lebih luas dari sekedar Daha dan Janggala.

Dyah Ranawijaya pada akhirnya menyadari dirinya sesungguhnya tidak mampu menunjukkan keperkasaan dan kewibawaan sebagai maharaja Majapahit yang agung seperti leluhurnya. Hari-hari dari hidupnya justru selalu dihantui rasa curiga dan ketakutan jika takhta yang sudah didudukinya dirampas oleh sanak kerabatnya.

Diburu rasa takut kehilangan takhta, tanpa pemikiran yang matang, Dyah Ranawijaya akhirnya membuat keputusan konyol memindahkan ibu kota Majapahit ke pedalaman, yakni ke Kadhiri, ibu kota Daha. Keputusan konyol Dyah Ranawijaya itu terungkap saat ia dinobatkan menjadi maharaja Majapahit di Kadhiri dengan bangga ia menggunakan gelar kebesaran Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, Jiwanendradhipa ring Daha, Janggala, Kadhiri.

Jelas sudah, betapa dengan gelar kebesaran sebagai Jiwanendradhipa raing Daha, Janggala, Kadhiri itu, di dalam pandangan Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, Majapahit yang dikuasainya adalah kerajaan kecil yang wilayahnya tidak lebih luas dari Kahuripan, Daha, Janggala, dan ibu kota Kadhiri. Semua itu menunjukkan betapa sesungguhnya ia dengan kekerdilan jiwa dan kepicikan wawasan telah berusaha memperkuat takhta kekuasaannya di pedalaman, ibarat ulat masuk ke dalam kepompong.

Perpindahan ibu kota kerajaan ke pedalaman menjadi titik balik sejarah yang mengakibatkan Majapahit terempas tanpa daya di palagan sejarah akibat tidak mampu menhadapi tiupan dahsyat angin perubahan. Sebab, perpindahan ibu kota ke pedalaman dengan tata pemerintahan dipegang oleh raja dan pejabat-pejabat asal pedalaman yang berwawasan sempit dan berpandangan dangkal mengakibatkan perubahan mendasar dalam tata pemerintahan, terutama kerangka berpikir para pemegang kekuasaan yang didasarkan pada sifat-sifat petani pedesaan.

Menurut catatan-catatan termasyhur para kawi, selama berpuluh windu Majapahit tumbuh dan berkembang sebagai kekuatan laut yang perkasa dan mampu mempersatukan negeri-negeri yang terhampar di samudera raya. Panji-panji Majapahit berkibar gagah di atas kapal-kapal yang mengarungi tujuh samudera. Para kaisar Cina di utara dan para maharaja di Bharatnagari mengakui wilayah kedaulatan Majapahit. Armada-armada dagang yang hilir mudik dari selatan ke utara wajib membayar pajak saat singgah di pelabuhan-pelabuhan Majapahit. Tidak satu pun kapal perang kerajaan lain yang berani memasuki perairan Majapahit tanpa izin!

Kini, setelah ibu kotanya dipindahkan ke pedalaman, Majapahit tiba-tiba berubah menjadi negeri yang bertumpu pada kekuatan pertanian. Majapahit tiba-tiba terkunci di daratan. Armada Majapahit yang pernah jaya di samudera raya tiba-tiba terbengkalai, keropos, berkarat, dan menjadi ronsokan tak berharga. Penanda batas wilayah Majapahit yang berupa gelombang ganas samudera raya, tiba-tiba berubah menjadi lembah subur yang membentang di sepanjang aliran Sungai Brantas yang dibatasi Gunung Kamput (Kelud), Gunung Anjasmara, Gunung Arjuna, Gunung Mahameru, Gunung Lawu, Gunung Wilis, dan sebagian kecil pantai utara Jawadwipa.

Akibat kepindahan ibu kota Majapahit yang diikuti perubahan tatanan pemerintahan yang semula bersifat kelautan menjadi pertanian, ternyata mendatangkan peristiwa-peristiwa yang sangat menyedihkan. Dikatakan menyedihkan karena seiring pernyataan maharaja Majapahit yang memaklumatkan wilayah kekuasaannya hanya mencakup Kahuripan, Daha, Janggala, dan Kadhiri; kerajaan-kerajaan bawahan yang berada di luar wilayah empat tersebut merasa tidak lagi sebagai bagian dari wilayah Majapahit. Akibatnya, kerajaan-kerajaan bawahan yang selama berbilang abad tunduk, patuh, dan setia kepada Majapahit beramai-ramai melepaskan diri dari pemerintahan pusat yang sudah tak bergigi itu.

Bagaikan rajawali tua dengan kedua sayap patah, Sri Prabu Natha Girindrawarddhana yang picik dan kurang cerdas itu hanya bisa kebingungan ketika dipaksa menyaksikan satu demi satu wilayah yang semula dianggapnya bagian Majapahit, memisahkan diri secara diam-diam dari induknya. Ia tidak paham kenapa hal itu bisa terjadi. Ia hanya tertegun-tegun ketika menerima laporan bahwa para raja muda Wirabhumi, Lumajang, Wengker, Kahuripan, Matahun, Pawanuhan, Mataram, Pajang, Pengging, Demak, Giri, Gresik, Siddhayu, Kendal, Samarang, dan Lasem menyatakan kerajaannya berdiri sendiri-sendiri sebagai kekuasaan yang berdaulat dan tidak lagi tunduk kepada maharaja Majapahit.

Di tengah hiruk kerajaan-kerajaan bawahan yang memisahkan diri, bermunculanlah kadipaten-kadipaten gurem yang dengan lantang menyatakan tidak terikat lagi baik dengan Majapahit maupun dengan kerajaan-kerajaan bawahannya. Ibarat bangkitnya kembali bentuk kekuasaan purba yang dipimpin para raka, tumbuhlah kadipaten-kadipaten itu menjadi daerah-daerah guram yang merdeka dan berdaulat seperti Kadipaten Puger, Babadan, Tepasana, Kedhawung, Garudha, Dengkol, Banger, Gending, Panjer, Jamunda, Sengguruh, Hantang, Srengat, Balitar, Rawa, Kampak, Pesagi, Mahespati, Pasir, Uter, Wirasari, Wedi, Taji, Bojong, Jagaraga, Tedunan, Jaratan, Surabaya, Kajongan, Pati, dan Rajegwesi, mengibarkan panji-panji kebesaran masing-masing. Keindahan Majapahit pada masa silam yang berhasil merangkai untaian zamrud hijau laksana mahkota yang mengagumkan, kini berantakan dan tinggal menjadi serpihan-serpihan zamrud retak yang lepas dari tali pengikatnya.

Seiring berserpihannya Majapahit menjadi kerajaan kecil dan kadipaten gurem yang merdeka dan berdaulat, terperosoklah nilai-nilai keagungan dan keluhuran manusia ke tingkat yang paling menjijikkan. Para penguasa kerajaan, terutama penguasa kadipaten gurem, tidak berbuat sesuatu yang pantas untuk meningkatkan harkat, martabat, dan wibawa manusia melalui kekuasaan yang telah mereka genggam. Hari-hari dari kehidupan para penguasa itu nyaris diwarnai perjamuan dan pesta pora besar menikmati lezatnya makanan, merdunya gamelan, kerasnya tuak, gemerincingnya uang, mahalnya hadiah-hadiah, dan hangatnya tubuh para perempuan penghibur.

Entah bodoh, entah berwawasan sempit, entah tidak memiliki pengetahuan pemerintahan, atau entah tidak mampu mengukur kemampuan diri, para pemimpin kadipaten gurem itu secara seragam memiliki anggapan bahwa kebesaran dan keagungan dirinya tergantung pada kemampuan di dalam menjamu dan membayar serta memberi hadiah para kepala desa, kepala begal, bromocorah, dan dukun-dukun yang mendukung kekuasaan mereka. Untuk memperkuat daerah kekuasaan, mereka mengirim hadiah-hadiah mahal ke padepokan-padepokan, asrama-asrama, dan perguruan-perguruan yang kebanyakan dipimpin oleh ruhaniwan-ruhaniwan mata duitan.

Akibat kepicikan dalam memaknai kebesaran dan keagungan seorang penguasa, yang terjadi sebagai keniscayaan adalah kesengsaraan dan penderitaan dari warga yang berkedudukan sebagai kawula alit yang rendah dan hina. Sebab, seiring hingar bingarnya perjamuan, pesta pora, gemerincing uang suap, dan hamburan hadiah-hadiah, tergencetlah para kawula alit dengan berbagai jenis pajak baru yang mencekik.

Entah bodoh, entah kejam, entah bengis, entah tidak memiliki hati nurani, entah setan berwujud manusia, para penguasa kadipaten gurem itu memperkenalkan berbagai jenis pajak yang sebelumnya tidak pernah dikenal oleh penduduk untuk memenuhi segala hajat mereka. Menurut catatan juru manghuri Terung, para penguasa memungut berbagai jenis pajak kepada warganya secara semena-mena berupa pajak tanah (pajeg), pajak pekarangan (karang kopek), pajak rumah tangga (pacumpleng), pajak penghasilan (upajiwa), pajak keamanan (rajabhaja), pajak jalan (kerigaji), pajak untuk upacara-upacara kerajaan (rajawali), pajak pembangunan rumah pejabat (taker turun), pajak cacah jiwa (peniti), pajak hajatan pejabat (pasumbang), pajak kunjungan pejabat (pajidralan), pajak perkenalan pejabat (uwang bekti), dan seterusnya.

Sementara itu, bagi warga miskin yang tidak memiliki tanah dan rumah dikenakan pajak dalam bentuk kerja-wajib tanpa bayar, seperti menjaga rumah pejabat (kemit), melayani pejabat (pancen), membantu urusan rumah tangga pejabat (ayeran), membuat dan memperbaiki jalan umum (krigaji), mengangkut barang milik pejabat (gladhag). Bahkan tak jarang di antara kalangan bernasib sial ini yang harus menyetor anak-anaknya kepada penguasa untuk dijadikan budak, wadal, dan tumbal.

Kesengsaraan dan penderitaan kawula alit yang sudah mengering diisap berbagai jenis pajak, ternyata masih diikuti oleh kesengsaraan dan penderitaan yang tak kalah pedihnya. Hal itu tergambar ketika para penguasa yang mabuk kekuasaan dengan kepercayaan diri yang berlebihan memperluas wilayah kekuasaannya dengan merebut wilayah kadipaten guram lain.

Genderang perang mereka tabuh. Pedang dan tombak mereka acungkan ke atas. Saat sangkakala perang ditiup, pekik peperangan pun mengumandang membelah angkasa. Dan apa yang terjadi setelahnya sudah bisa diduga, yaitu tumpahnya darah para prajurit kecil yang membasahi bumi. Tidak ada tangis dan penyesalan dari para penguasa atas terbunuhnya beribu-ribu prajurit, sebab telah tertulis pada keniscayaan sejarah bahwa di tengah gegap gempita peperangan yang menitikkan air mata duka cita adalah para kawula alit. Bukankah para prajurit yang terbunuh dalam perang – dari pihak mana pun – sesungguhnya merupakan putera-putera terbaik dari para kawula alit, yang mencari sesuap nasi dengan menjadi tentara?

Hari, pekan, bulan, tahun, dan windu yang membentang dalam kehidupan manusia yang hidup di bekas wilayah Majapahit terlewati tanpa kedamaian, tanpa pengayoman, tanpa keamanan, bahkan tanpa tujuan yang pasti. Yang tersuguh sebagai hidangan utama sehari-hari bagi mereka yang hidup di rentangan waktu itu tidak ada yang lain, kecuali kekacauan demi kekacauan yang sambung menyambung dan susul-menyusul seperti tanpa akhir. Api peperangan berkobar dimana-mana. Penjarahan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, dan pembunuhan membadai tanpa kendali dan melanda setiap hunian manusia.

Tidak ada setetes pun tinta sejarah yang mencatat bagaimana kesengsaraan dan penderitaan yang dialami manusia di rentangan kelabu “Sandyakala Majapahit” itu. Tidak ada catatan kesengsaraan dan penderitaan kalangan ningrat berdarah biru, apalagi kalangan kawula alit berdarah hitam yang menempati kedudukan golongan sudra yang hina, nista, dan papa. Lembar-lembar sejarah hanya mencatat bagaimana keagungan, kemuliaan, keperkasaan, serta kehebatan para raja dari kerajaan kecil dan para penguasa kadipaten gurem yang saling pamer kekuatan dalam bertarung, bertempur, saling bunuh untuk memperebutkan takhta kekuasaan dengan membinasakan saudara-saudaranya.

Di tengah hiruk pikuk peperangan yang berkobar, di tengah intaian hantu kematian, di tengah kesibukan para prajurit membinasakan musuh-musuhnya, terjadilah hiruk kebinasaan yang tak kalah dahsyat dibandingkan medan perang. Kawanan bromocorah, perampok, lanun, maling, penjarah, dan bajingan tengik dengan liur menetes laksana binatang buas terlihat berkeliaran mencari mangsa. Manusia-manusia berjiwa binatang itu dengan kelicikan dan kebuasan melebihi hewan liar, menyerbu desa-desa untuk menganiaya, memperkosa, merampas, membakar, dan membunuh kawula alit yang lemah dan tidak memiliki pelindung.

Di rembang senja usianya yang uzur Majapahit benar-benar menjadi tumpukan sampah raksasa yang berisi manusia-manusia berakhlak bejat dan berjiwa bobrok. Manusia-manusia tengik yang tidak mengenal nilai-nilai luhur kemanusiaan. Manusia-manusia jelata yang muncul dari lumpur nista dengan impian tinggi di langit menggapai bintang-bintang. Ibarat pepatah katak hendak menjadi lembu, demikianlah citra diri manusia-manusia berjiwa kerdil itu memenuhi cakrawala Majapahit. Dan saat manusia-manusia rendah itu membusuk dikerumuni lalat-lalat kejahilan, berkumandanglah kidung pralaya Majapahit yang dinyanyikan iring-iringan prajurit Bhattara Yama.

Orang bijak berkata: runtuhnya sebuah bangsa selalu ditandai oleh jungkir baliknya nilai-nilai tatanan kehidupan yang dianut bangsa itu. Tengara kehancuran Majapahit diawali oleh tanda jungkir baliknya nilai-nilai dan tatanan kehidupan yang pernah dijunjung dan dimuliakan di situ.

Kejungkirbalikan nilai-nilai dan tatana kehidupan itu sendiri mulai terlihat pada peristiwa kematian para brahmin, yogi, bagawan, acarya, wiku, muni, rishi, dan guru suci yang agung tanpa penerus yang sesuai. Setelah kepergian mereka, yang muncul sebagai pengganti adalah para pewaris dari kalangan orang kebanyakan, yang dengan pengetahuan rendah, wawasan sempit, dan pandangan dangkalnya menapasi kehidupan asrama-asrama, padepokan-padepokan, vihara-vihara, dan perguruan-perguruan yang unggul.

Jika dicermati lebih rinci, kemunculan gelombang kebangkitan kalangan jelata ke pentas sejarah Majapahit bermula dari lingkaran anggota chakra, yakni penganut Bhairawa-Tantra. Berbeda dengan Weda yang melarang kaum sudra melakukan upacara pemujaan, membaca Weda atau mengungkap rahasia mantra Waidika, di dalam pemujaan Tantrika yang dilakukan penganut Bhairawa Tantra tidak dikenal perbedaan golongan. Itu sebabnya, pada masa kekuasaan Prabu Jayanegara pernah tampil seorang dari golongan jelata menjadi pemimpin chakra: Sang Chakreswara.

Berawal dari Sang Chakreswara ini, selama puluhan dan bahkan ratusan tahun, jumlah golongan jelata yang menempati kedudukan penting di lingkaran anggota chakra makin tak terhitung jumlahnya. Bahkan pada gilirannya tidak sekadar di lingkaran anggota chakra, golongan jelata ini pun akhirnya muncul di berbagai sisi kekuasaan Majapahit, yang hal itu mulai kentara pada masa kekuasaan Prabu Stri Suhita dan dilanjutkan oleh Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana.

Pada masa Sri Prabu Natha Girindrawarddhana berkuasa, keberadaan golongan jelata ini sudah memenuhi hampir seluruh sisi kehidupan Majapahit laksana kawanan semut mengerumuni bangkai. Dan seiring bergulirnya waktu sandyakala bagi Majapahit, bermunculan di panggung sejarah para nayakapraja, brahmin, rishi, yogi, wiku, acarya, guru suci, bahkan para cerdik cendikia dari kalangan jelata yang menganut nilai-nilai jelata.

Kehidupan telah mengajarkan bahwa keberadaan kalangan jelata senantiasa ditandai oleh ciri-ciri khas jelata. Pertama-tama, jika mereka menduduki jabatan yang tinggi, mereka akan segera melupakan asal-usul kelahirannya. Kemudian mereka akan mencari-cari cara bagaimana menempatkan keberadaan dirinya sebagai keturunan bangsawan tinggi. Untuk itu mereka tidak segan-segan bersikap lebih bangsawan dibanding bangsawan berdarah biru yang sebenarnya. Dan kenyataan menunjukkan betapa seluruh adipati gurem yang suka memeras kawula alit dan gemar perang itu senantiasa mengakui diri sebagai trah Majapahit dan bersikap lebih feodal dibandingkan pangeran Majapahit.

Kenyataan pun membuktikan bahwa setinggi apa pun jabatan yang bisa diraih oleh kalangan jelata, tidak akan membuat wawasan mereka lebih luas dan tidak pula membuat pandangan mereka bisa menembus jauh ke depan. Sejauh-jauh pandangan mereka menembus ke depan, hanya dirinya pribadi, keluarganya, dan desanya saja yang terbayang. Sebesar dan seagung apa pun kemuliaan yang bisa mereka peroleh, tidak akan membuat kerangka pikir mereka berubah lebih luas dan lebih jauh.

Para bijak Majapahit berkata, mereka itu sudah dibentuk alam untuk menjadi kalangan jelata yang teguh memegang prinsip “bagaimana aku bisa memanfaatkan segala sesuatu untuk kepentingan diriku”. Mereka orang-orang yang selalu menginginkan orang lain berbuat sesuatu yang berguna untuk kepentingannya. Sementara, mereka tidak pernah peduli dengan nasib orang lain. Itu sebabnya, demi jabatan, mereka tidak segan-segan menyuguhkan istri dan anak-anaknya demi memuaskan junjungannya.

Entah benar entah tidak, entah berdasarkan kenyataan entah hanya isapan jempol, yang jelas kata-kata para bijak Majapahit seperti mengharuskan orang untuk mengiyakan hal tersebut. Kenyataan sejarah mencatat, seiring menjamurnya kalangan jelata yang memenuhi seluruh sisi kehidupan Majapahit, tiba-tiba saja seluruh kegemilangan kerajaan maharaksasa itu memudar. Para muni, brahmin, yogi, acarya, wiku, guru suci, dan kaum cerdik cendikia yang muncul dari kelangan jelata ternyata menunjukkan kecenderungan yang sama yakni kurang menganggap penting keberadaan bahasa Sansekerta sebagai bahasa ilmu. Sesungguhnya mereka adalah pemalas yang enggan bersusah payah mempelajari bahasa Sansekerta.

Tidak bisa diingkari bahwa pengabaian terhadap bahasa ilmu telah menjadi tengara awal bagi runtuhnya peradaban sebuah bangsa. Memudarnya pemahaman atas bahasa Sansekerta telah menjadikan kemustahilan bagi lahirnya manusia-manusia agung yang unggul untuk menghadapi zamannya. Sebaliknya yang terjadi adalah keniscayaan bagi lahirnya manusia-manusia berjiwa kerdil yang berwawasan sempit, yang memiliki kerangka berpikir otak-atik mathuk, yang berbicara dengan bahasa jelata, yang memandang dunia hanya sebatas diri pribadi dan lingkungan sekitarnya, yang mudah berputus asa dalam menghadapi kesulitan, dan yang tidak memiliki keyakinan diri kuat. Ujung dari kemunculan manusia-manusia jelata itu di panggung kekuasaan adalah tergelarnya sebuah lakon yang sangat mengerikan dalam sejarah kehidupan manusia. Laksana binatang buas yang kelaparan; mereka menjelmakan diri menjadi kawanan ganas yang gemar memangsa sesamanya.

Selat Hormuz, 30 September 2005, 20:30LT