Pertarungan Rajawali

Ketika kegelapan bagaikan permadani hitam menyelimuti langit jiwa penduduk Majapahit, kematian bergentayangan di sudut-sudut kehidupan dengan kepak-kepak sayap yang menggemuruh. Di tengah ratap tangis anak-anak dan perempuan yang meminta tolong, berkeliaranlah para prajurit yang melambai-lambaikan panji kemenangan dan menyanyikan lagu perang dengan penuh kegembiraan. Itulah gambaran sehari-hari dari kehidupan anak-anak manusia yang tinggal di tengah reruntuhan Kerajaan Majapahit; kecemasan, ketakutan, kepanikan, dan kematian saling berpacu dengan kegembiraan, kemenangan, kekuasaan, dan keangkuhan.

Di tengah reruntuhan Majapahit, ketika adipati-adipati gurem saling berebut kekuasaan bagaikan lalat-lalat memperebutkan bangkai, di atas angkasa sesungguhnya sedang bertarung sengit dua ekor rajawali yang saling menyambar dengan pekikan-pekikan ganas memenuhi langit. Dua rajawali yang bertarung di atas gumpalan awan kelabu Majapahit itu adalah Raden Kusen, adipati Terung, dan Pu Mahodara, patih Majapahit.

Hingar bingar suasana perang pertarungan dua rajawali perkasa. Itulah yang dirasakan Abdul Jalil dan rombongan ketika datang ke Kadipaten Terung. Kibaran umbul-umbul dan panji-panji, kilatan pedang, ringkik kuda, nyanyian kemenangan, dan iring-iringan prajurit terlihat memenuhi penjuru kadipaten. Para prajurit gagah perkasa itu adalah pasukan-pasukan pilihan yang datang dari lima belas kadipaten untuk memberikan dukungan kepada pihak Terung. Menurut rencana, pasukan akan menyerbu Japan, pangkalan utama yang dijadikan pertahanan Pu Mahodara dalam menangkis serangan pasukan Terung.

Menurut Menak Lampor, adipati Tepasana yang memihak Terung, patih Majapahit yang bernama Mahodara itu sesungguhnya berasal dari kalangan sudra papa yang berubah menjadi jahat ketika beroleh kedudukan sebagai patih. Asal usul patih itu dari daerah Propo, Pamadegan, di Pulau Madura. Dia merupakan abdi dari Pangeran Menak Sunaya, putera Ario Damar dengan Dewi Wahita. Lewat jasa Pangeran Menak Sunaya, abdi yang bernama Udara (perut) itu menjadi hamba pembawa kasut Sri Prabu Adi-Suraprabhawa.

Karena selalu dekat maharaja, diam-diam Udara belajar banyak tentang pemerintahan. Lantaran ia pandai menjilat dan menyenangkan hati maharaja maka jabatannya dinaikkan setapak demi setapak hingga menjadi nayakapraja. Udara dikenal sebagai abdi setia yang merelakan apa pun demi kesenangan maharaja. Bahkan, saat terjadi kekacauan di ibu kota akibat pemberontakan Bhre Kretabhumi, Udara dan prajurit-prajurit asal Madura dengan setia mengawal Sri Prabu Adi-Suraprabhawa hingga pengungsian ke Daha.

Karena Sri Prabu Adi-Suraprabhawa mangkat dalam perjalanan maka Udara dan kawan-kawannya kemudian mengabdikan diri kepada Dyah Ranawijaya, putera junjungannya. Rupanya bintang Udara sedang bersinar terang sehingga dia menduduki jabatan patih Daha. Jabatan itu meningkat menjadi patih Majapahit dan namanya diganti menjadi Mahodara segera setelah Dyah Ranawijaya dinobatkan sebagai maharaja Majapahit dengan gelar Sri Prabu Natha Girindrawarddhana. Untuk memperkuat kedudukan, Mahodara menikahkan puteranya, Menak Supethak, dengan puteri Sri Prabu Natha Giridrawarddhana yang bernama Ratu Kadhiri.

Setelah menikahi puteri Sri Prabu Girindrawarddhana, Menak Supethak diangkat menjadi adipati Garudha (Pasuruan). Menak Supethak kemudian menikah lagi dengan puteri Menak Pentor, Yang Dipertuan Wirabhumi. Untuk lebih memperkuat kedudukan, Menak Supethak menikahi cucu Yang Dipertuan Pamadegan, Menak Sunaya. Setelah itu saudara Menak Supethak diangkat menjadi adipati Panjer, Japan, dan Keniten. Bahkan, anak Menak Supethak yang masih belum cukup umur diangkat menjadi adipati Dengkol.

Kedudukan Patih Mahodara makin lama makin kuat dan bahkan lebih kuat dibandingkan Sri Prabu Natha Girindrawarddhana yang terbuai kemewahan, sanjungan, dan puja-puji. Sebagai pejabat yang berkuasa menata dan menjalankan pemerintahan, Patih Mahodara menempatkan orang-orang yang setia kepadanya di berbagai kedudukan penting sehingga kedudukan maharaja Majapahit pada dasarnya hanya sebagai boneka yang tak memiliki kekuatan apa pun, kecuali menjadi lambang kekuasaan. Namun, keleluasaan sang patih di dalam menata dan menjalankan roda pemerintahan Majapahit itu menghadapi “batu sandungan” yang sangat menyusahkan.

Raden Kusen, adipati Terung, cucu Sri Prabu Kertawijaya dan juga sepupu Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, adalah satu-satunya pejabat kerajaan yang berani menantangnya. Malah secara “kurang ajar” Raden Kusen sering menghina dengan menyebutkan namanya yang asli, Udara, yang dianggapnya bekas abdi dari uwaknya, Pangeran Menak Sunaya. Dan yang paling tak pernah diduga, pangeran asal Palembang itu berani menghancurkan pasukan yang dikirim Mahodara untuk mengusir pemukim-pemukim muslim dari Surabaya.

“Peperangan Terung dengan Daha yang pertama terjadi barang tujuh tahun silam,” kata Menak Lampor, yang adalah putera Menak Gadru, adipati Babadan, yang tidak lain merupakan kemenakan Raden Kusen. Meski Menak Lampor beragama Hindu, dalam perselisihan Terung dan Daha itu ia memihak Terung dengan alasan ikatan darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan darah adipati Terung. Bagi para adipati yang mendukung Terung, Patih Mahodara tidak pernah dianggap sebagai sosok yang perlu dihargai dan dihormati karena asal usulnya yang rendah dari kalangan sudra.

Sementara itu, menurut Raden Kusen, pertarungannya menentang Patih Majapahit lebih disebabkan oleh prinsip-prinsip hidup yang sudah diwariskan oleh leluhurnya secara turun-temurun. Hampir tidak ada yang memahami bahwa di tengah hingar-bingar kebangkitan Majapahit itu sesungguhnya terjadi persaingan dan sekaligus persekongkolan antara keturunan Akuwu Tumapel, Sang Jayakerta Tunggul Ametung, dan keturunan raja Tumapel, Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Keturunan Sang Jayakerta Tunggul Ametung menggunakan wangsakara Warddhana, yang bermakna pelindung agama dan pemakmur bumi. Sedangkan keturunan Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi menggunakan wangsakara Rajasa, yang bermakna diberkati sifat rajas (nafsu berahi).

“Sepanjang ratusan tahun sejarah Majapahit, yang berselisih dan sekaligus bersekutu dalam membangun kekuasaan adalah dua trah itu. Pasang dan surut Majapahit tergantung pada dua trah itu. Tapi, sekarang ini ada hamba sahaya yang karena pintar menjilat dan menduduki jabatan patih hendak ikut campur berebut kekuasaan di Majapahit,” kata Raden Kusen dengan mata berkilat-kilat diliputi amarah.

“Mohon maaf, Pamanda Adipati,” kata Abdul Jalil takzim, “Menurut saudara kami, Pangeran Menak Lampor, pertempuran kali ini sesungguhnya merupakan pertempuran yang ketiga dalam tujuh tahun ini. Apakah latar perang kali ini juga akibat masalah yang sama dengan perang pertama dan kedua?”

“Kali ini sudah agak beda masalahnya,” kata Raden Kusen. “Dulu saat pertama kali bertempur, aku hancurkan seluruh pasukannya di Sungai Terung. Tidak satu pun prajuritnya yang aku biarkan hidup. Bahkan, tidak satu pun perahu yang digunakan mengangkut prajurit itu yang tidak dibakar.”

“Apakah itu gara-gara mereka menyerbu Surabaya?”

“Ya,” kata Raden Kusen datar. “Dia tidak menyangka jika aku akan membela Surabaya.”

“Apakah Sri Prabu Natha tidak marah dengan tindakan Pamanda Adipati?”

“Mula-mula begitu. Tetapi, setelah aku jelaskan bahwa tindakan patih dungu itu menyerang Surabaya adalah tindakan bodoh karena sama dengan menista kebijakan Sri Prabu Kertawijaya, barulah Prabu Natha memaklumi tindakanku. Ya, aku jelaskan kepada maharaja Majapahit bahwa kedudukan bupati Surabaya didasarkan atas kebijakan Sri Prabu Kertawijaya. Kedudukan itu diperkuat lagi oleh Sri Prabu Adi-Suraprabhawa. Jadi, menyerang Surabaya, walaupun dengan alasan untuk mengusir orang-orang Islam yang berbahaya bagi Majapahit, tetaplah aku nilai sebagai penghinaan terhadap dua maharaja yang telah mangkat. Dan lantaran itu, mereka tidak pantas diampuni,” kata Raden Kusen dingin.

Abdul Jalil mengangguk-angguk paham dan berkata, “Lalu alasan perang yang kedua, apakah sama?”

“Ya, sama,” kata Raden Kusen. “Perang terjadi ketika patih jahat itu memerintahkan para prajurit untuk mengusir orang-orang Islam di Wirasabha dan kemudian menyuruh anaknya, Menak Supethak, mengusir dan membunuhi orang-orang Islam di Garudha. Aku gempur Garudha. Aku gempur Japan. Bahkan aku sudah menggerakkan pasukan melintasi Wirasabha untuk mengepung ibu kota Daha. Tetapi, Sri Prabu Natha memohon agar aku tidak melanjutkan tindakan menyerang Daha karena orang bisa menyangka aku melakukan pemberontakan.”

“Untuk yang kedua, alasan apakah yang Pamanda Adipati gunakan kepada Sri Prabu Natha? Bukankah Pamanda Adipati bisa dituduh membela orang-orang Islam karena Pamanda beragama Islam? tanya Abdul Jalil.

“Aku katakan kepada Prabu Natha bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah wangsakara Warddhana yang bermakna pelindung agama dan pemakmur bumi. Itu sebabnya, sebagai seorang maharaja beliau wajib menjalankan prinsip-prinsip wangsakara untuk menjadi pelindung bagi agama apa pun di wilayah kekuasaannya. Kepada Prabu Natha aku tunjukkan bukti-bukti betapa sejak masa pemerintahan Sri Prabu Rajasanagara pun sudah tinggal orang-orang muslim di ibu kota. Jadi, lagi-lagi, patih tolol itu aku sudutkan sebagai kerbau dungu yang suka menista dan menghina leluhur maharaja Majapahit,” kata Raden Kusen, kali ini sambil tertawa terbahak-bahak.

“Dan untuk kali ketiga ini rupanya sudah menyangkut kekuasaan.”

“Hmm, begitulah. Patih dungu itu diam-diam sudah menyusun kekuatan di berbagai kadipaten. Dengan iming-iming jabatan tinggi dan kekayaan dia menawari sejumlah adipati untuk mendukung kekuasaannya yang makin kukuh di tengah melemahnya kekuasaan Prabu Natha. Tapi dasar bodoh, dia tidak tahu bahwa lebih dari separo jumlah adipati di Kahuripan, Janggala, Daha, dan Kadhiri adalah keturunan kakekku, Prabu Kertawijaya. Sehingga, hampir semuanya melaporkan kepadaku tentang gerakan busuk patih tolol itu. Dan, aku tentu saja akan mengambil tindakan demi menyelamatkan takhta Majapahit dari orang dungu itu,” kata Raden Kusen.

Abdul Jalil memahami bahwa jika saja mau sesungguhnya Raden Kusen dapat merebut takhta Majapahit dari tangan Sri Prabu Girindrawarddhana. Sebab, ia bukan saja cucu maharaja Majapahit Sri Prabu Kertawijaya, keahliannya dalam pertempuran dan kekuatan pasukan juga kekayaan yang dimilikinya sesungguhnya dapat digunakan dengan mudah untuk meraih takhta Majapahit yang sedang lemah. Sebagai pemimpin perang unggulan di medan tempur, ia termasyhur dengan sebutan Juru Pangalasan ing Terung. Sebagai adipati yang juga merangkap jabatan pecat tandha di Terung, kekayaannya yang tak terhitung tercermin dari sebutan para saudagar Cina yang menamainya Kin San, Sang Gunung Emas.

Semula Abdul Jalil menduga tentulah Raden Kusen yang termasyhur sebagai panglima unggulan dan kaya raya itu akan menolak gagasannya tentang masyarakat ummah. Namun, setelah berbincang-bincang tentang keniscayaan tatanan baru di tengah reruntuhan nilai-nilai luhur yang sudah jungkir balik, tanpa terduga putera Adipati Palembang itu menyatakan sangat senang menerimanya. Ia bahkan menunjuk tanah miliknya yang membentang dari Sumengka di selatan, Wanjang di utara, Kamalagi di barat, dan Sasawo di timur untuk dibagikan kepada siapa pun di antara masyarakat ummah yang berhak. Tanah seluas 200 jung (560 hektar) yang terletak di antara Kedung Peluk dan Wayuwo, jalan masuk ke Tumapel, juga dihibahkan kepada Abdul Jalil untuk dijadikan Dukuh Lemah Abang yang diharapkan dapat menjadi pusat perkembangan tatanan baru di Majapahit.

Tidak cukup menyatakan dukungan dengan bukti pemberian tanah hibah, Raden Kusen yang sedang terlibat perang dengan patih Mahodara itu memutuskan untuk mengirim seribu prajurit pilihan dari Terung ke Caruban Larang. Atas perkenan Raden Kusen, puteri Menak Lampor yang bernama Tepasari dinikahkan dengan Syarif Hidayatullah. “Mudah-mudahan dengan pernikahan ini semua orang tahu bahwa baik Islam, baik Hindu, maupun Budha di negeri ini sesungguhnya disatukan oleh satu ikatan darah, yaitu darah Majapahit. Inilah ajaran yang aku pegang teguh dari guruku yang mulia, Pangeran Ali Rahmatullah,” kata Raden Kusen.

Ketika Abdul Jalil dengan dikawal tiga puluh prajurit pilihan meninggalkan Kadipaten Terung dengan tujuan Daha untuk menemui Nirartha, putera Rsi Punarjanma, ia saksikan pemandangan yang sangat memilukan dari kehidupan penduduk di sekitar Japan. Ketenteraman, keamanan, dan kemakmuran yang dikisahkan menjadi bagian keagungan dan kemuliaan Majapahit tidak lagi terlihat. Di sepanjang perjalanan ia hanya menyaksikan ketakutan, kecurigaan, kecemasan, dan kekurangan membayang di setiap mata penduduk yang menatap langit dengan pandangan kosong tanpa harapan.

Saat melintasi reruntuhan bekas ibu kota Majapahit, Abdul Jalil menyaksikan wajah kematian begitu mencekam di sela-sela dinding baluwarti yang terguling. Dulu, barang dua windu silam, kematian telah membentangkan sayap-sayapnya yang dikobari api. Ya, dua windu silam, kematian berpesta-pora menyantap daging dan menenggak darah penghuni ibu kota Majapahit. Tak kenal orang tua, tak kenal anak, tak kenal bayi, semuanya saat itu dimangsa dengan lahap oleh kematian. Sementara di tengah genangan darah dan air mata itu, para pemenang mengibarkan panji-panji dan umbul-umbul sambil menyanyikan lagu kemenangan. Mereka menyoraki dan mengelu-elukan kematian yang telah memberikan kemenangan bagi mereka.

Perang! Peperangan telah membawa manusia ke hamparan lembah derita yang tak bertepi. Sepanjang hamparan derita itu yang terlihat hanyalah tubuh-tubuh kurus dari manusia-manusia tak berdaya yang harta dan makanannya terampas tangan-tangan perkasa tanpa belas kasih. Atau, mayat-mayat prajurit yang bergelimpangan menebarkan anyir darah. Atau, pedang dan tombak patah yang berserak di antara perisai dan anak panah. Atau, kibaran sisa panji-panji yang berserpihan dilepoti darah kering. Atau, bangkai kuda dan gajah yang bertumpuk di samping bangkai manusia. Atau, burung-burung gagak dan serigala yang berebut daging prajurit-prajurit yang terkapar tak bernyawa. Atau, embusan angin berdebu yang menebarkan bau busuk mayat-mayat membusuk. Atau, sisa-sisa reruntuhan bangunan yang merana terbalut debu.

Pemandangan mengerikan yang disaksikan Abdul Jalil menggetarkan jiwanya yang sedang dicekam oleh suasana ketegangan di Caruban Larang. Apakah yang sedang terjadi di sana sepeninggalnya? Apakah pasukan Galuh Pakuan sudah menerobos masuk ke wilayah Caruban Larang? Apakah sudah pecah pertempuran antara Caruban Larang dan Galuh Pakuan? Apakah Talaga dan Rajagaluh tidak ikut-ikutan mengeroyok Caruban Larang? Mampukah Sri Mangana menghadapi serangan pasukan gabungan yang jumlahnya lima kali lipat pasukannya itu?

Dengan gemuruh tanda tanya yang bergumpal-gumpal memenuhi kepalanya, Abdul Jalil membayangkan pemandangan menyedihkan yang disaksikannya itu seolah-olah peristiwa yang menimpa penduduk Caruban Larang. Ia saksikan tubuh prajurit-prajurit yang berserpihan dagingnya akibat dimangsa anjing dan burung gagak itu sebagai prajurit-prajurit Caruban Larang. Ia bayangkan pedang-pedang yang patah dan berserakan itu adalah pedang prajurit-prajurit Caruban Larang yang kalah perang. Saat ia saksikan anak-anak kecil dengan tubuh kurus dan perut buncit menangis di depan halaman rumah, ia bayangkan seolah-olah anak-anak di Caruban Larang yang menderita akibat peperangan. Ah, akankah setiap perubahan mesti ditandai peperangan?

Selat Taiwan (MV. Taho), 11 April 2007, 13:05LT