01. Kerajaan Sunda

Dayeuh Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, adalah kutaraja yang sangat makmur, terutama bagi kalangan bangsawan berdarah biru dan lebih khusus lagi bagi keturunan maharaja. Sebagai ibu kota, Pakuan Pajajaran jauh lebih besar dan lebih megah dibandingkan Kuta Caruban. Terletak di antara Sungai Cisadana dan Sungai Cihaliwung, kutaraja Kerajaan Sunda itu cemerlang dan indah laksana surga bagi penghuninya.

Hari-hari yang sejuk di ibu kota Pakuan Pajajaran selalu diwarnai taburan rinai gerimis di musim kemarau dan guyuran hujan lebat di musim penghujan. Beberapa kereta yang indah penuh ukiran terlihat meluncur di atas jalanan kota dengan penumpang bangsawan yang memiliki barang seratus budak sahaya. Bagi bangsawan yang lebih tinggi, mereka ditandu oleh empat penandu. Gerobak-gerobak pedati yang ditarik kerbau akan menepi dari jalanan jika berpapasan dengan kereta atau tandu para bangsawan.

Sebagai pusat pemerintahan, Dayeuh Pakuan Pajajaran terbagi atas tiga wilayah utama yang masing-masing dibatasi oleh pagar batu bata setinggi tujuh depa. Wilayah pertama adalah kawasan kutaraja yang terletak di timur. Untuk masuk ke kutaraja orang harus melewati gerbang besar yang disebut Lawang Gintung. Sebutan Gintung konon terkait dengan dua batang pohon Gintung yang tumbuh bagai raksasa di depan gerbang tersebut. Di kutaraja ini terdapat pasar yang ramai tempat orang berdagang beras, emas, lada, daging, sayur-mayur, kain, pinang, air bunga, rempah-rempah, alat-alat dapur, guci, gerabah, dan bahkan budak belian.

Karena pasar merupakan urat nadi kehidupan ekonomi di kutaraja maka di sekitar pasar Pakuan Pajajaran berdiri sejumlah bangunan besar tempat kediaman pejabat-pejabat kerajaan yang mengurusi perniagaan. Di selatan pasar terdapat sejumlah penginapan yang diperuntukkan bagi para pedagang. Di penginapan-penginapan itu biasanya para pedagang besar melakukan transaksi perniagaan. Sementara untuk para kuli disediakan barak-barak tanpa penyekat di sekitar pasar; mereka terbiasa tidur beralaskan tikar.

Wilayah kedua adalah kawasan jero kutha (kota dalam) yang terletak di sebelah barat kutaraja. Di kawasan ini terdapat Kraton Pakuan Pajajaran yang disebut dengan nama indah: Sri Bhima Untarayana Madura Suradipati atau disingkat Kraton Sang Bhima. Menurut cerita, nama Sang Bhima menunjukkan bahwa sang maharaja adalah keturunan maharaja Tarumanagara, Sri Purnawarman Bhimaparakramadhipa, yang kratonnya juga disebut Sang Bhima. Kraton Sang Bhima sendiri merupakan kantor tempat maharaja Sunda menjalankan tampuk pemerintahan. Di sekitar Kraton Sang Bhima berdiri kediaman para pejabat kerajaan yang mengurusi masalah keamanan, pertahanan, hukum, perniagaan, kesehatan, agama, adat, perpajakan, pendidikan, bahkan pengawas pelacuran. Sementara wilayah ketiga adalah kawasan Puri Kedaton (kediaman pribadi maharaja) yang terletak di barat kawasan jero kutha. Di kawasan Puri Kedaton ini tinggal sang maharaja Sunda dan keluarganya yang besar.

Berbeda dengan rumah para kawula di pedesaan yang terbuat dari bambu beratap ilalang atau daun kawung, rumah-rumah warga Pakuan Pajajaran berdiri megah nan indah terbuat dari kayu-kayu berukir dengan pilar-pilar besar. Atapnya menjulang tinggi bagai hendak menjangkau angkasa. Di dalam setiap rumah megah itu selalu terlihat puluhan kuda yang menunjukkan status kebangsawanan seseorang. Makin tinggi kedudukan seorang bansawan, makin banyak pula kuda yang ia pelihara. Jumlah budak yang dimiliki bangsawan-bangsawan di kutaraja pun tergantung dari tinggi dan rendahnya tingkat kebangsawanan mereka. Sering kedapatan di rumah seorang bangsawan terdapat tak kurang dari tiga ratus budak.

Bangunan terbesar dan termegah di Pakuan Pajajaran tentu saja Kraton Sang Bhima yang terdiri atas tiga bangunan utama, yaitu Bangsal Manguntur, Bangsal Prabhayaksa, dan Bangsal Pancaniti yang merupakan istana tempat maharaja Sunda menerima tamu, mengatur pemerintahan, dan menjalankan hukum kerajaan. Pilar-pilar penyangga Kraton Sang Bhima terbuat dari balok-balok kayu jati ukuran raksasa berjumlah tak kurang dari tiga ratus tiga puluh buah. Tinggi pilar-pilar raksasa itu sekitar lima depa. Setiap tahun sekali para raja muda dari wilayah-wilayah taklukan (sakawat bhumi) datang menghadap maharaja di Bangsal Manguntur sambil membawa upeti dan hadiah. Dari Kraton Sang Bhima inilah seluruh tatanan kehidupan di Bumi Pasundan dikendalikan.

Kediaman pribadi maharaja, Puri Kadaton, yang terletak di belakang Kraton Sang Bhima tak kalah menakjubkan keindahan dan kemegahannya dibandingkan dengan kraton tersebut. Di dalam puri yang megah dengan taman-taman dipenuhi wangi bunga dan kijang-kijang berlarian di rerumputan, sang maharaja tinggal bersama dua permaisuri dan seribu selir dari berbagai negeri. Hari-hari kehidupan sang maharaja lebih banyak dihabiskan untuk berburu rusa dan babi hutan. Atau, bercengkrama dengan selir-selirnya. Atau, berpeahu di Talaga Warna Mahawijaya. Atau, berziarah ke makam leluhur di Pancakaki, Gunatiga, maupun Nusalarang. Atau, menerima utusan dari wilayah-wilayah taklukan yang membawa upeti-upeti. Atau, memimpin rapat para menteri – tetapi ini jarang sekali – untuk mengatasi persoalan pemerintahan.

Kehidupan sang maharaja yang penuh dilingkari kemewahan, kelimpahan, pujian, dan sanjungan itu terbagi-bagi pula kepada putera dan puterinya. Menurut cerita, putera dan puteri sang maharaja – yang entah berjumlah berapa ribu orang – sebagian besar menjadi penguasa di seluruh Bumi Pasundan. Boleh dikata setiap jengkal tanah di Bumi Pasundan sudah menjadi milik turun-temurun para putera maharaja. Para putera maharaja itu lazimnya menunjuk adipati untuk mengelola tanah-tanah miliknya. Para adipati kemudian menyerahkan pengelolaan tanah-tanah itu kepada mantri wadana. Selanjutnya, mantri wadana menyerahkan pengelolaannya kepada wadana. Para wadana kemudian menyewakan tanah garapan kepada kawula. Dengan demikian, secara berjenjang setoran sewa tanah akan sampai kepada para putera sang maharaja.

Yang termasyhur di antara putera-puteri sang maharaja Sunda adalah Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan, ; Sri Mangana, penguasa Caruban Larang; Prabu Cakraningrat, penguasa Rajagaluh; Prabu Pucuk Umun, penguasa Talaga; Susuhunan Pajengan, penguasa Kuningan; Susuhunan Mayak, penguasa Taraju; Susuhunan Ranjam, penguasa Cihaur; Prabu Sedanglumu, penguasa Sagalaherang; Prabu Liman Sanjaya, penguasa Sundalarang; Sanghyang Pandahan, penguasa Ukur; Sanghyang Kartamana, penguasa Limbangan; Sanghyang Sogol, penguasa Maleber; Sanghyang Mayak, penguasa Cilutung; Sanghyang Jamsana, penguasa batulayang; Sanghyang Tabur, penguasa Panembong.

Sebagai keturunan maharaja Sunda, para bangsawan yang mendiami Pakuan Pajajaran adalah orang-orang yang terpilih dan terjaga kemurnian garis keturunannya. Mereka umumnya berperawakan tegap, berkulit kuning kecoklatan, berwajah tampan, dan selalu berpenampilan rapi dengan hiasan-hiasan tubuh. Penampilan ini sangat berbeda dengan penampilan kawula yang bertubuh kecil, berkulit kusam, berpenampilan lusuh, hanya bercawat, dan rambut terurai awut-awutan tak bersisir.

Penduduk kutaraja Pakuan Pajajaran umumnya terdiri atas pedagang besar, pejabat penarik cukai, punggawa kraton, dan para seniman kerajaan. Para pedagang besar menguasai lalu lintas perdagangan dari daerah pedalaman ke bandar-bandar perniagaan seperti Kalapa, Tangeran, banten, Muara Jati, dan Pontang. Sedangkan para pejabat penarik cukai bertugas memungut cukai bagi semua barang niaga yang melintasi gerbang luar di Pakeun Tubui dan gerbang kedua di Pakeun Tayeum sebelum masuk ke kutaraja Pakuan Pajajaran.

Para pedagang besar Pakuan Pajajaran memiliki kekayaan jauh melebihi penguasa-penguasa daerah. Mereka mempunyai puluhan kapal dan perahu baik jenis jung, lancaran, plawa, atau balandongan. Dengan kapal-kapal besar jenis jung dan lancaran mereka hingga ke Malaka dan Maladewa. Sementara itu, perahu-perahu jenis plawa dan balandongan nyaris menguasai daerah-daerah pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Pasundan.

Berbeda dengan kawula Sunda yang umumnya takut kepada orang-orang Majapahit, para pedagang besar Sunda yang berdarah biru umumnya curiga dan menjaga jarak dengan mereka. Meski tidak berhubungan dekat, mereka diam-diam bersaing dengan orang-orang Majapahit yang mereka nilai pongah, gila hormat, curang, suka berkhianat, dan membangga-banggakan kemuliaan diri. Persaingan itu terlihat manakala pihak Sunda atau Majapahit saling merampok kapal di tengah samudera, saat salah satu di antara mereka sedang lengah dalam mengawal kapal dagangnya. Lantaran itu, para pedagang Sunda yang berdagang ke pelabuhan-pelabuhan yang jauh selalu mengangkut barang dagangannya dengan kapal perang.

Sekalipun kehidupan di Dayeuh Pakuan Pajajaran bagi seumumnya orang seperti di surga, bagi Abdul Jalil citra itu justru sangat menyakitkan. Sebab, kemakmuran dan kemuliaan yang tersuguh di ibu kota kerajaan Sunda itu hanya dinikmati oleh segelintir manusia yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sementara bagian terbesar dari penghuni Bumi Pasundan adalah para kawula yang tidak beruntung nasibnya. Beratus-ratus ribu kawula tinggal di ibu kota kerajaan dengan status budak belian yang setiap saat bisa diperjualbelikan. Bagi Abdul Jalil, yang mengidealkan tatanan masyarakat Madinah sebagaimana dibangun Nabi Muhammad Saw., yaitu tatanan masyarakat yang sederhana dan sederajat, kehidupan di Dayeuh Pakuan Pajajaran benar-benar merupakan siksaan jiwa yang sangat menyakitkan. Karena itu, ia semakin memperkuat tekadnya untuk membangun tatanan kehidupan baru yang lebih manusiawi di Caruban Larang.

Ternyata bukan hanya Abdul Jalil yang tidak menyukai tatana kehidupan di Dayeuh Pakuan Pajajaran. Tak kurang ada di antara putera maharaja Sunda yang menyatakan tidak betah tinggal berlama-lama di “surga dunia” itu. Dia, pangeran yang gelisah dengan semarak kehidupan di sekitarnya itu, adalah Bujangga Manik yang memiliki nama kecil Ameng Layaran. Putera maharaja Sunda Prabu Guru Dewata Prana Sri Baduga Maharaja dari istri selir itu tanpa sengaja bertemu Abdul Jalil di gerbang selatan Lawang Gintung. Dari pangeran Bujangga Manik yang suka berkeliling ke berbagai negeri, Abdul Jalil mengetahui berbagai tatanan kehidupan di Sunda maupun Majapahit.

Pangeran Bujangga Manik sesungguhnya adik lain ibu dari Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang. Dia mengaku sangat gembira berjumpa Abdul Jalil. Sebagai pendeta Syiwa yang berhati lembut dan penuh cinta kasih, Pangeran Bujangga Manik mengungkapkan rasa khawatirnya akan sepak terjang kakaknya yang membangun kekuatan militer di Caruban Larang. “Sampaikan kepada ayahandamu, jika dia berkeinginan menggantikan takhta Kerajaan Sunda hendaknya mengikuti peraturan yang berlaku di kerajaan. Maksudnya, meski ayahandaku, Prabu Guru Dewata Prana Maharaja Sunda, tidak menetapkan seorang putera mahkota, janganlah sampai sepeninggal beliau terjadi perebutan takhta dengan menggunakan kekuatan senjata.”

“Saya akan menyampaikan pesan Pamanda kepada ramanda ratu,” kata Abdul Jalil. “Namun, saya berani menjamin ramanda ratu tidak akan merebut takhta Kerajaan Sunda dengan kekuatan senjata. Beliau muslim yang saleh. Sesuai ajaran Islam, beliau tidak akan melakukan kekerasan senjata demi kekuasaan. Islam mengajarkan bahwa kekerasan senjata hanya diperkenankan untuk membela diri.”

“Aku berharap apa yang engkau ucapkan sesuai dengan kenyataan,” ujar Pangeran Bujangga Manik bernada dingin. “Sebab telah termasyhur di negeri Sunda ini, orang-orang Islam yang mengaku paling mulia dan paling benar itu adalah orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Mereka licik dan suka berbuat curang.”

“Mengapa Pamanda berkata demikian?” tanya Abdul Jalil heran.

“Tidakkah engkau pernah mendengar kabar kebesaran Kerajaan Majapahit?”

“Saya sering mendengarnya, Paman.”

“Engkau pernah ke sana?”

“Belum.”

“Kebesaran Majapahit sekarang ini tinggal cerita angin. Itu karena kesalahan raja-raja Majapahit terdahulu yang sangat mempercayai orang-orang Islam menjadi pejabat-pejabat tinggi kerajaan. Orang-orang Islam selalu menganggap diri mereka lebih suci, lebih terhormat, lebih agung, dan lebih mulia daripada sang maharaja yang mereka sebut kafir. Akhirnya, Majapahit rontok digerogoti dari dalam. Sekarang ini sisa-sisa kebesaran Majapahit tinggal sebagai kekuasaan kecil, tak lebih seluas wilayah Caruban Larang. Apa yang sudah terjadi di Majapahit tentu tidak akan dibiarkan terjadi di Kerajaan Sunda. Itu sebabnya, maharaja Sunda menetapkan larangan bagi pedagang beragama Islam untuk tinggal di Dayeuh Pakuan,” jelas Bujangga Manik.

“Tapi Paman, kemerin saya baru singgah ke rumah Ki Purwa Galih di Gadok,” kata Abdul Jalil. “bukankah beliau seorang muslim?”

“Ki Purwa Galih di Gadok adalah kekecualian. Dia orang kepercayaan maharaja, seperti juga Ki Natadani di Kuta Maneuh. Jadi, sekalipun muslim, mereka diperkenankan tinggal di kutaraja. Engkau bertanya kenapa kebijakan itu harus diterapkan di Bumi Pasundan? Bagi kami orang-orang Sunda, kelicikan orang-orang Islam sudah lama kami ketahui. Lihatlah orang-orang Arab pemalas yang mengaku keturunan Nabi, mereka menikahi anak-anak para bupati di pesisir. Mereka mengaku bangsawan terhormat dan karenanya wajib dihormati. Mereka menganggap penduduk sebagai kafir yang rendah dan hina. Mereka selalu menganggap penduduk setempat sebagai para pemalas. Padahal, mereka sendiri tidak bekerja. Mereka menggantungkan hidup pada jasa baik mertuanya. Jika sang mertua mati maka mereka akan meminta warisan paling banyak. Apakah menurutmu baik dan mulia sifat pemalas dari orang-orang rakus yang mengaku muslim itu?”

Abdul Jalil tidak menyanggah pernyataan Pangeran Bujangga Manik yang memiliki kesan tidak baik terhadap orang-orang Islam. Ia tidak tahu pasti apakah ucapan itu benar atau sekedar mengada-ada karena selama belasan tahun ia tidak mengetahui perkembangan di Bumi Pasundan. Setelah berbincang-bincang agak lama, Abdul Jalil mengungkapkan cerita-cerita tentang keniscayaan sebuah perubahan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. “Saya kira masalah curang, licik, rakus, dan pemalas tidak harus dialamatkan kepada orang-orang yang memeluk agama Islam. Hal yang demikian juga tidak bisa dialamatkan kepada orang Arab belaka. Orang-orang yang seagama dengan Pamanda pun bisa licik dan mengkhianati sesamanya. Bukankah menurut cerita, leluhur kita Prabu Linggabhuwana Wisesa Sang Mokteng Bubat telah dikhianati secara licik oleh orang-orang Majapahit? Bukankah Pamanda tadi juga menuturkan bahwa para saudagar Sunda dan Majapahit sering saling merampok barang dagangan di lautan?” Jadi, menurut hemat saya, masalah licik dan khianat itu tidak berhubungan dengan ajaran suatu agama atau citra suatu bangsa.”

02. Gunung Pulasari

Hidup ibarat mata air di tengah padang belantara. Tidak hanya hewan liar yang menggunakan airnya, tetapi para gembala dan hewan ternaknya yang kehausan pula. Juga, kawanan burung yang kelelahan akibat terbang seharian. Serangga air. Katak. Ular. Demikianlah, mata air kehidupan di dunia yang disebut Nusa Jawa dijadikan persinggahan berbagai makhluk hidup mulai dari manusia, hewan liar, ternak, tetumbuhan, unggas, serangga, dan bahkan makhluk gaib berbadan halus yang disebut gandharwa, peri, mambang, siluman, dan bangsa jin dengan berbagai sukunya.

Golongan yang disebut terakhir ini, makhluk gaib berbadan halus, adalah penghuni Nusa Jawa jauh sebelum pulau ini dihuni bangsa manusia. Sebagaimana lazimnya bangsa yang ada lebih dahulu dibandingkan manusia, para makhluk gaib tersebut selalu merasa sebagai makhluk yang lebih sempurna keberadaannya baik dari kesempurnaan jati diri, ketinggian akal, kemuliaan peradaban, dan keluhuran budaya. Manusia, dalam pandangan mereka, adalah makhluk yang lebih rendah derajatnya tidak ubahnya seperti manusia memandang binatang. Lantaran merasa lebih tinggi derajatnya itulah maka makhluk berbadan halus tersebut menganggap wajar memangsa bangsa manusia sebagaimana manusia menganggap wajar memangsa bangsa binatang.

Menurut keyakinan sebagian orang-orang Islam, para makhluk gaib yang disebut umum dengan nama bangsa jin adalah makhluk berbadan halus keturunan al-Jann. Lantaran itu mereka disebut Banu al-Jann (keturunan al-Jann), yaitu makhluk yang dicipta dari api beracun (nar al-samum) yang menyala-nyala (marij al-nar) (QS al-Hijr:27 ; ar-Rahman:15). Mereka adalah makhluk seketurunan yang merupakan kegandaan dari Sang Iblis (QS al-Kahfi:50). Dan lantaran itu, seperti juga Iblis melihat Adam a.s. sebagai makhluk baru terbuat dari tanah, para jin memandang manusia sebagai keturunan Adam a.s. yang rendah dan tidak memiliki ruh bersifat Ilahiyyah. Namun, saat mereka mengetahui ternyata ada menusia yang bisa menunjukkan kekuatan dan kekuasaan ruh bersifat Ilahiyyah di dalam dirinya, maka mereka pun akan tunduk penuh hormat dan bersedia patuh di bawah perintah manusia tersebut.

Abdul Jalil yang telah menunjukkan kekuatan dan kuasa ruh Ilahiyyah di dalam dirinya, kepada Setan Kabir, mekhluk gaib penguasa Caruban, dalam waktu singkat menjadi bahan pembicaraan di antara para raja makhluk gaib se-Nusa Jawa. Sebagian di antara mereka adayang menganggap Abdul Jalil sebagai pengganti Dang Hyang Semar, yakni manusia yang mamiliki kelenihan ruhani (linuwih) yang harus ditunduki dan dipatuhi di segenap penjuru Nusa Jawa. Namun, tak kurang ada di antara mereka yang ingin menguji lebih dulu kebenaran cerita Setan Kabir tersebut. Sesuai permintaan Abdul Jalil untuk menemui mereka pada saat paro terang bulan Badra, sekitar dua ratus raja makhluk gaib se-Nusa Jawa yang diundang Setan Kabir berkumpul beramai-ramai di puncak Gunung Pulasari, di tanah Banten. Sebagian yakin dengan cerita Setan Kabir, sebagian lagi penuh prasangka.

Abdul Jalil sendiri tidak tahu kenapa ia memilih Gunung Pulasari sebagai tempat yang tepat untuk menemui para raja makhluk gaib Nusa Jawa. Ia hanya berpikir jika menemui mereka di Gunung Pulasari maka ia akan dengan mudah mengetahui di mana letak lingga batu yang dimaksud oleh arwah Ratu Sthri Bhattari Prthiwi. Seperti sebuah kebetulan, saat berjalan menuju Gunung Pulasari ia mengetahui cerita dari penduduk sekitar bahwa sejak zaman dahulu kala Pulasari telah menjadi gunung yang dikeramatkan. Bahkan menurut cerita para pertapa, para sesepuh di Nusa Jawa meyakini Gunung Pulasari sebagai Kailasa – sthana Syiwa – yang berada di Nusa Jawa. Itu sebabnya, wilayah di antara kaki Gunung Pulasari dan Gunung Karang disebut dengan nama Sura, yang bermakna wilayah Sang Sura (Sansekerta: gagah berani, Pahlawan, Dewa), yakni wilayah Syiwa, Sang Pemberani, Sang Mahapahlawan yang telah menunjukkan menelan racun kalakutha untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan. Lantaran meminum racun kalakutha, kerongkongannya menjadi biru sehingga Syiwa pun disebut dengan nama Sang Nilakantha (Sansekerta: Si Kerongkongan Biru).

Di wilayah yang disebut Sura itu terdapat dua tempat untuk upacara Ma-lima (pancamakara) bagi penganut Bhairawa-Tantra. Tempat pertama disebut Mandalasari, yang bermakna lingkaran suci tempat upacara Ma-lima digelar. Upacara Ma-lima meliputi Mamsa (memakan daging), Matsya (memakan ikan), Madya (meminum arak), Maithuna (bersetubuh), Mudra (bersamadi). Tempat kedua disebut Mandalawangi, yang bermakna ksetralaya yaitu lingkaran suci tempat puluhan bahkan ratusan mayat ditumpuk untuk upacara suci penobatan para Pu Palyat (pendeta Bhairawa) yang sudah dianggap sempurna di mana bau busuk mayat-mayat itu dirasakan sebagai tebaran bau wangi semerbak.

Sejak menginjakkan kaki di wilayah Sura, terutama saat melewati Mandalawangi, Abdul Jalil menyaksikan dengan mata batinnya (‘ain al-bashirah) beribu-ribu gandharwa (surasaciwa), mambang (dewayoni), dan peri pengawal Syiwa, Sang Bhairawa Bhutaswara. Meski di sepanjang menuju puncak Pulasari tercium bau wangi bunga mandara dan sesekali diselingi bau busuk mayat, ia tidak mempedulikannya. Ia terus melangkah tertatih-tatih menuju puncak. Setiap kali melangkah ia saksikan para peri dan mambang berhamburan di sekitarnya bagai air laut diaduk gelombang yang berpusar-pusar.

Sementara itu, ketika para raja makhluk gaib penghuni Nusa Jawa yang sudah berada di puncak Gunung Pulasari melihat Abdul Jalil mendaki susah payah dengan kaki bengkak dan terompah robek, mereka menyuruh Setan Kabir untuk menyambutnya dengan didampingi seorang raja jin dari Kalapabernama Sapuregel. Dengan kecepatan angin Setan Kabir dan Sapuregel melesat turun. Saat keduanya sampai di depan Abdul Jalil, mereka mengucap salam dan berkata, “Jika paduka menghendaki, kami bisa membawa paduka dengan cepat ke punacak Gunung Pulasari. Paduka tidak perlu susah payah berjalan kaki.”

Abdul Jalil menjawab salam dan berujar, “Terima kasih, aku akan berjalan sendiri untuk menunjukkan rasa syukurku kepada Dia yang telah memberiku dua kaki dan daya kekuatan manusiawi untuk bisa sampai ke atas.”

“Tetapi dengan kekuatan dan kuasa ruh yang paduka miliki, paduka bisa memerintahkan kami untuk mempermudah perjalanan paduka mencapai puncak.”

“Aku tidak akan menggunakan kekuatan dan kuasa ruh yang disemayamkan-Nya di dalam diriku untuk memerintah siapa pun tanpa kehendak-Nya,” sahut Abdul Jalil kemudian mengalihkan pembicaraan. “O ya, siapakah yang bersamamu itu, Setan Kabir.”

“Dia raja di Kalapa, paduka,” jawab Setan Kabir. “Dia bernama Sapuregel.”

“Apakah Sapuregel yang kedatonnya di dekat muara?”

“Bagaimana paduka bisa tahu?” tukas Sapuregel terheran-heran.

Abdul Jalil tersenyum. “Kehidupan ibarat sebuah sumur yang penuh diliputi kegembiraan, namun jika banyak orang berhati kotor dan bermulut najis beramai-ramai meminum air sumur maka malapetaka jua yang akan ditimbulkan sumur itu. Air sumur jernih yang bisa dipakai bercermin itu tiba-tiba akan berubah menjadi keruh dan beracun karena dibaui oleh napas mereka yang berhati busuk dan bermulut najis.”

“Yang mulia,” seru Sapuregel semakin heran, “bagaimana paduka bisa tahu kedaton saya berada di sebuah sumur tua? Siapakah gerangan sesungguhnya paduka?”

“Aku hanyalah manusia biasa keturunan Adam a.s. Aku Cuma dianugerahi-Nya dengan pengetahuan tentang gaib secara sangat sedikit. Masih banyak yang tidak aku ketahui.”

Sapuregel mengangguk-angguk dan memandang Abdul Jalil dengan takjub. Rupanya Setan kabir telah bercerita banyak tentang Abdul Jalil kepadanya. Itu sebabnya, diam-diam dia bertekad mendukung Abdul Jalil untuk menggantikan kedudukan Dang Hyang Semar sebagaimana perjanjian yang telah dibuat kakeknya. Ia yakin seorang Abdul Jalil tentunya akan menjadi manusia bijak sebagaimana Dang Hyang Semar, guru loka yang tidak akan menjadi malapetaka bagi bangsanya.

Ketika Abdul Jalil sampai di tepi puncak Gunung Pulasari, ia langsung disambut oleh tujuh sosok yang merupakan para raja dari makhluk gaib hijau, kuning, merah, hitam, putih, jingga, dan biru. Mereka dengan penuh hormat berdiri menyambut kedatangannya. Ketujuh makhluk gaib itu memperkenalkan diri. Sosok pertama mengaku raja para makhluk gaib hijau (ratuning jim ijo) bernama Sri Prabu Danapati. Kedatonnya disebut Jongtara. Para pengawal dan raja bawahannya semua tampil serba hijau mulai dari pakaian, ketopong, umbul-umbul, panji-panji, lambang kebesaran, permata hiasan, bahkan perisai dan senjatanya.

Yang kedua, penguasa makhluk gaib kuning (ratuning jim kuning) bernama Ratu Wijanarka. Kedatonnya terletak di Imantara. Para pengawal dan raja bawahannya berpenampilan serba kuning. Yang ketiga, penguasa makhluk gaib merah (ratune jim abang) bernama Sri Naranatha. Kedatonnya berada di Balbera. Sebagaimana makhluk gaib hijau dan kuning, makhluk gaib merah termasuk bangsa yang paling besar jumlahnya. Sementara makhluk gaib putih, hitam, jingga, dan biru memimpin bangsa yang lebih sedikit jumlahnya. Penguasa makhluk gaib putih bernama Prabu Anggaskara. Kedatonnya di Madyantara. Penguasa makhluk gaib hitam bernama Ratu Manonbhawa. Kedatonnya di Megantara. Penguasa makhluk gaib jingga bernama Prabu Manitara. Kedatonnya berada di Sarpengtara. Penguasa makhluk gaib biru bernama Prabu Tamantara. Kedatonnya di Abhyantara.

Bagaikan menyambut maharaja agung yang dimuliakan, ketujuh makhluk gaib itu mengantar Abdul Jalil berjalan ke arah sebuah batu datar yang terletak di depan tugu batu berbentuk lingga. Batu datar dan tugu batu itu ditata seolah-olah singgasana seorang ratu.

Tanpa curiga sedikit pun Abdul Jalil berjalan sambil menyapukan pandangan ke arah kerumunan para raja makhluk gaib yang duduk berkitar membentuk setengah lingkaran. Saat jarak Abdul Jalil dengan batu datar dan tugu tinggal dua tombak, ketujuh makhluk gaib itu mendaulatnya untuk duduk di atas batu datar tersebut. Didaulat seperti itu Abdul Jalil terhenyak seolah dihentakkan oleh suatu kekuatan gaib dari dalam relung-relung jiwanya. Untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu sambil menatap batu datar dan tugu yang terletak berhadap-hadapan. Sedetik sesudah itu Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya memberitahu bahwa tugu batu itu sesungguhnya lingga lambang pemujaaan Syiwa, sedangkan ketujuh raja makhluk gaib itu sesungguhnya hendak mengujinya.

Mengetahui tugu batu itu lambang pemujaan Syiwa, Abdul Jalil maju mendekat. Kemudian dengan mengucap salam melalui al-ima’ , ia mengelus puncak tugu batu sambil menyapa dengan hormat. Kekuatan gaib yang tersembunyi di dalam tugu batu membalas sapaannya dengan al-ima’ . saat itulah Abdul Jalil mengetahui jika tugu batu tersebut adalah Syiwalingga yang dipuja orang sebagai pratima Syiwa, Sang Girinatha, Bhutaswara, Rudra, Bhairawa, Mahakala, Mahadewa, Mahaguru, Chandrasekara, Nilakanta, Maheswara. Gunung Pulasari sendiri, tempat Syiwalingga terletak, dianggap sebagai Gunung Kailasa tempat Syiwa ber-sthana. Dan nama Pulasari (yang dibalur darah) menggambarkan puncak Kailasa yang berwarna merah jingga; yang selalu dilimpahi cahaya matahari, sejuk, diliputi nyanyian burung, disemarakkan bunga-bunga abadi, diwarnai nyanyian gandharwa, dan diramaikan kelincahan para peri serta mambang.

Beberapa jenak berhadap-hadapan dengan Syiwalingga, Abdul Jalil mengetahui bahwa sesungguhnya lingga itulah yang sesungguhnya disebut-sebut oleh arwah Ratu Stri Bhattari Prthiwi sebagai salah satu sarana untuk menyempurnakan perjalanan jiwanya menuju Brahman. Itu sebabnya, setelah menghormat atas nama Syiwa dan Parwati, Abdul Jalil mengangkat Syiwalingga dan meletakkannya di atas batu datar yang berada di depannya.

Para raja makhluk gaib yang bersila melingkar – terutama ketujuh penguasa makhluk gaib yang berdiri di belakang Abdul Jalil – ternganga mulutnya dan terbelalak matanya menyaksikan tindakan yang dilakukan Abdul Jalil. Mereka segera sadar bahwa usaha mereka untuk membuat Abdul Jalil memunggungi Syiwalingga telah gagal. Bahkan, tanpa terduga Abdul Jalil justru meletakkan lingga itu di atas batu datar sebagaimana letak sesungguhnya. Menyadari kegagalannya itulah para raja makhluk gaib beramai-ramai berlutut dan menundukkan kepala. Mereka merasa kalah karena siasatnya untuk memerangkap Abdul Jalil telah diketahui. Dan, itu berarti mereka harus mengakui keberadaan Abdul Jalil sebagai Guru Loka Nusa Jawa, pengganti Dang Hyang Semar yang harus mereka patuhi semua perintahnya.

Abdul Jalil yang mengetahui siasat licik para raja makhluk gaib itu tidak marah. Ia sadar naluri jin pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan leluhurnya, Sang Iblis, yang cenderung menyesatkan manusia (QS al-An’am:128). Itu sebabnya, setelah meletakkan Syiwalingga di atas batu datar, Abdul Jalil berdiri di sampingnya dan berkata, “Aku beritahukan kepada kalian bahwa sesungguhnya bangsa manusia dan bangsa jin tidaklah diciptakan kecuali semata-mata untuk memuja dan menyembah-Nya (QS adz-Dzariyat:56). Sesungguhnya bangsa kalian dicipta dari api beracun (QS al-Hijr:27), sedangkan bangsa manusia dicipta dari tanah liat (QS al-Hijr:28). Meskipun bangsa kalian merasa lebih unggul dan lebih mulia daripada manusia, hendaknya kalian tahu bahwa pada manusia tersembunyi ruh bersifat Ilahiyyah yang menjadikan seluruh makhluk bersujud kepadanya (QS al-Hijr:29-30) kecuali leluhurmu, Sang Iblis, yang membanggakan asal kejadiannya (QS al-Hijr:33).” “

Sekalipun di antara bangsa manusia memiliki rasa permusuhan dengan leluhur kalian, Sang Iblis, aku tidak menilai Sang Iblis sebagai musuhku. Aku justru menganggap kehadiran Sang Iblis sebagai pengejawantahan Dia, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), yang bertugas utama menjadi peneguh Keesaan Allah SWT, agar manusia yang kepadanya ditiupkan ruh Ilahiyyah tidak terperangkap kepada kebanggaan diri berlebih yang menganggap mereka sama dengan Allah SWT. Dia Yang Maha Mengetahui (al-‘Alim) telah memberitahuku bahwa sesungguhnya Sang Iblis senantiasa mengintai semua gerak-gerik manusia yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).”

“Barang siapa di antara manusia ada yang tergoda oleh keakuan pribadinya untuk melakukan pengambilalihan kuasa Allah, meski hanya di dalam lintasan pikiran, yaitu ingin menyamai Allah SWT dengan mengatakan bahwa ia sama dengan Dia, Zat Yang Meniupkan ruh Ilahiyyah ke tubuhnya, maka merekalah sasaran utama Sang Iblis. Ketika leluhur bangsa manusia, Adam a.s., digoda oleh keakuan untuk hidup abadi – ingin sama dengan Yang Maha Kekal (al-Baqi) – ia menjadi korban tipuan Sang Iblis. Ia memakan buah dari Pohon Keabadian (syajarah al-khuld) yang terlarang dan kemudian justru memperoleh murka Allah SWT (QS al-A’raf:20-24).”

“Tidak berbeda dengan anggapanku terhadap Sang Iblis, demikianlah anggapanku terhadap kalian sebagai hamba Allah SWT yang mengawal ke-Esaan-Nya. Kalian adalah ujian bagiku. Saat kalian menghendaki agar aku memunggungi tugu lingga, aku sadari hal itu sebagai suatu ujian berat yang kalian sajikan untukku. Itu sebabnya, aku berterima kasih kalian yang selalu mengingatkan akan kedudukanku sebagai wakil-Nya, tidak lebih. Kehadiranku di sini hanyalah untuk memperkenalkan diri kepada kalian semua bahwa akulah pewaris ajaran Kapitayan yang telah disempurnakan menjadi ajaran Islam. Sesungguhnya tidak ada yang berubah dari ajaran Kapitayan dengan kehadiran ajara Islam. Sesungguhnya Islam bukan ajaran baru, melainkan hanya penyempurna bagi ajaran-ajaran Tauhid yang sudah ada sebelumnya.”

“Karena aku adalah pewaris ajaran Muhammad Saw., maka aku nyatakan kepada kalian bahwa ajaran yang akan aku sampaikan kepada manusia tidak hanya terbatas di Nusa Jawa, tetapi di semua tempat di permukaan bumi yang mau menerimanya. Dan lantaran itu, aku nyatakan kepada kalian bahwa aku tidak akan menduduki jabatan Guru Loka Nusa Jawa sebagaimana Dang Hyang Semar. Ini semua adalah kehendak-Nya semata bahwa gerak kehidupan akan terus berubah dari waktu ke waktu menuju kesempurnaan.”

“Sebagaimana bangsa manusia yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sesungguhnya bangsa kalian pun mengalami perubahan pula. Jika leluhur kalian, Sang Iblis, adalah makhluk yang dianugerahi-Nya naluri selalu memusuhi manusia, demi keesaan-Nya, maka di antara keturunannya ternyata ada yang menerima Kebenaran Ilahi yang disampaikan manusia. Aku tahu bahwa Hama bin Him bin Laqiz bin Iblis adalah pemuka di antara bangsa kalian yang telah menerima Kebenaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. perlu kalian ketahui, beberapa waktu sebelum ke sini aku telah ditemui oleh Yang Terhormat Syaikh Abi Yusuf, guru agung dan pemuka bangsa kalian yang beragama Islam. Dia menyatakan kepadaku bahwa sebagian di antara kalian telah menjadi pengikutnya.”

“Karena segala sesuatu telah berubah maka aku pun akan melakukan sedikit perubahan atas butir-butir perjanjian yang telah disepakati oleh Dang Hyang Semar dna leluhur kalian. Pertama, di antara bangsa kalian yang telah beriman dan memeluk Islam telah ditetapkan larangan meminum darah saudara-saudaramu dari bangsa manusia yang beriman dalam agama Islam. Akan tetapi, tetap diperbolehkan meminum darah manusia yang memeluk Islam tetapi yang tidak beriman. Kedua, di antara bangsa kalian yang bukan pemeluk Islam telah ditetapkan larangan meminum darah manusia beriman yang bukan pemeluk Islam. Yang diperbolehkan adalah meminum darah manusia pemeluk Islam dan yang bukan pemeluk Islam yang juga tidak beriman. Namun, kalian semua tetap bebas menjalankan naluri kalian untuk menyimpangkan manusia dari jalan Kebenaran. Sebab, aku sendiri tak kuasa menentang kehendak-Nya yang telah menetapkan ketentuan tentang banyaknya jumlah bangsa manusia dan bangsa jin yang bakal menjadi penghuni jahanam (QS al-A’raf:179 ; Hud:119).” “

Sebagai makhluk penghuni alam gaib, kalian tentu telah tahu siapa sesungguhnya manusia-manusia beriman, baik pemeluk Islam mau pun yang bukan pemeluk Islam yang memuja Allah SWT dan siapa di antara mereka yang memuja hawa nafsunya. Kalian lebih tahu siapa manusia yang serakah hingga buta mata hatinya dan tuli pendengaran jiwanya. Kalian pun lebih tahu siapa yang suara nuraninya sudah bisu akibat jiwanya sesak dihuni taghut. Mangsalah mereka itu. Sebab, semua itu adalah kehendak-Nya semata demi menjaga kelestarian bumi dan kelangsungan hidup penghuninya.”

“Kepada kalian, o bangsa jin yang bukan pemeluk Islam, di lereng gunung tadi aku telah ditemui oleh Yang Dipertuan Gunung Pulasari, Ki Dilah, yang tidak lain adalah pemuka dan guru agung kalian. Dia mengatakan kepadaku telah mengetehui adanya perubahan dahsyat yang bakal terjadi di dunia manusia yang sebelumnya juga sudah terjadi di dunia kalian. Itu sebabnya, dia mempersilakan aku untuk menuntun kalian di jalanku. Tetapi, kukatakan kepadanya bahwa memimpin kalian adalah bukan tugasku. Karenanya, tetaplah kalian mengikutinya. Sesungguhnya masing-masing bangsa memiliki pemimpin sendiri sesuai kebangsaannya. Tidak dibenarkan bangsa manusia memimpin bangsa jin atau sebaliknya.”

Dengan tatap tak percaya para raja jin memandang Abdul Jalil seusai mendengar yang baru saja dikemukakannya. Pemuka makhluk gaib merah yang berasal dari Wirabhumi bernama Balabatu berdiri dan berkata, “Jika paduka menolak kedudukan guru loka Nusa Jawa, apakah paduka akan mengubah butir yang lain dari perjanjian leluhur kami dengan Dang Hyang Semar?” “

Sekali-kali tidak, o Balabatu.” “

Jika demikian, kenapa paduka melarang kami yang bukan pemeluk Islam untuk meminum darah manusia bukan pemeluk Islam? Bukankah itu peraturan yang tidak adil?” “

Apa yang menurutmu tidak adil?” “

Jumlah penduduk Islam di Nusa Jawa sangat sedikit sehingga larangan meminum darah manusia beragama Islam sesungguhnya tidak memiliki pengaruh apa-apa pada pelaksanaan pesta darah kami. Sebaliknya, paduka telah memberi keleluasaan di antara saudara-saudara kami yang beragama Islam untuk meminum darah manusia yang bukan Islam. Bukankah peraturan itu tidak adil karena menguntungkan salah satu pihak di antara kami?” protes Balabatu. “

Ketahuilah, o Balabatu, seiring perubahan yang terjadi di kalangan manusia, sesungguhnya tidak lama lagi di Nusa Jawa akan terjadi perubahan besar bahwa manusia akan beramai-ramai memeluk Islam. Engkau pun tidak akan bisa menghitung jumlah umat Islam di kelak kemudian hari. Jika engkau dan saudara-saudaramu bersabar barang sebentar waktu maka engkau dan saudara-saudaramu akan jauh lebih beruntung daripada saudara-saudaramu yang memeluk Islam dalam pelaksanaan pesta darah itu.” “

Selain itu, engkau camkan dan ingat-ingat benar bahwa yang aku tetapkan sebagai larangan bagi kalian yang bukan pemeluk Islam adalah meminum darah manusia beriman yang bukan beragama Islam. Larangan pun berlaku bagi saudara-saudaramu yang beragama Islam untuk tidak meminum darah manusia beriman di antara umat Islam. Ingat-ingat benar perbedaan antara manusia beriman dan manusia sebagai pemeluk suatu agama.” “

Berarti, paduka sesungguhnya tidak melarang tradisi pesta darah bangsa kami?” “

Benar demikian adanya,” sahut Abdul Jalil. “Sebab, telah termaktub di dalam Kitab Allah bahwa binatang (al-dabbah) yang terjahat adalah manusia yang tuli, bisu, dan tidak mau mengerti (QS al-Anfal: 22). Mereka mempertuhankan hawa nafsu tak ubahnya seperti hewan (al-an’am), bahkan lebih sesat (QS al-Furqan: 43-44). Mereka itulah yang digolongkan sebagai manusia tidak beriman, entah mereka itu mengaku Islam atau beragama lain. Itu berarti, kalian bebas memilih siapa di antara manusia tidak beriman yang hidupnya lebih sesat daripada hewan untuk kalian jadikan mangsa dalam pesta darah. Sebab, manusia-manusia sesat pemuja hawa nafsu yang ruhnya telah tertutup sama sekali oleh kegelapan sesungguhnya tidak ubahnya kawanan hewan yang halal bagi kalian, sebagaimana hewan yang merayap di permukaan bumi dihalalkan bagi manusia.” “

Bahkan jika mereka mengaku-aku sebagai umat Islam, namun ternyata mereka terbukti sebagai golongan manusia tidak beriman maka kalian pun boleh memangsanya. Sebab, tidak kurang di antara manusia yang mengaku Islam dan berikrar hanya menjadi pemuja dan penyembah Allah SWT. ternyata adalah pemuja hawa nafsunya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang terhijab dari kebenaran Ilahi. Mereka tidak sedikit pun mencerminkan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh) yang memancarkan citra insani (al-basyar) sekaligus citra Ilahi (ruh), yang membuat para malaikat bersujud. Mereka benar-benar telah menjadi makhluk seperti persangkaan Sang Iblis, yaitu manusia (al-basyar) yang semata-mata tercipta dari bahan tanah.” “

Mulut mereka memang telah mengikrarkan persaksian (syahadat) Tauhid, tetapi hati dan pikiran mereka telah tertutup bagi Kebenaran Yang Tunggal. Tubuh mereka memang bergerak-gerak melakukan penyembahan kepada Allah (shalat), namun kiblat hati dan pikiran mereka tertuju pada taghut (materi). Perut mereka lapar dan tenggorokan mereka kehausan akibat puasa (shaum), namun mulut mereka menebar najis. Hati dan pikiran mereka mengembara ke mana-mana, tidak sedikit pun tertuju kepada Allah SWT.. Harta benda yang mereka miliki diperoleh secara tidak halal. Saat mereka membagi-baginya sebagai zakat, infak, dan sadaqah tidaklah diniatkan untuk mendapatkan ridho Allah SWT., tetapi dengan tujuan utama mencari pujian dan kemasyhuran duniawi. Mereka ibarat hewan, tidak bisa lagi diperingatkan, karena mata hatinya sudah buta, telinga jiwanya tuli, suara nuraninya bisu, akal pikirannya tumpul.” “

Sungguh telah jelas bagiku bahwa manusia apa pun agamanya – entah Islam, entah Hindu, entah Budha – telah terpilah menjadi tiga golongan. Pertama, golongan manusia beragama yang beriman semurni permata. Mereka itulah pemuja Tuhan sejati yang tidak mengharapkan sesuatu kecuali ridho Tuhan. Kedua, adalah golongan manusia beragama yang beriman seperti emas campuran. Mereka itulah pemuja Tuhan yang hati dan pikirannya diliputi pamrih pribadi mengharapkan kenikmatan duniawi dan akhirat. Ketiga, golongan manusia beragama yang tidak beriman. Nafsu mereka seperti batu yang menutupi pintu kecemerlangan ruhani. Golongan yang terakhir ini adalah para pemuja hawa nafsu dan materi yang selalu berteriak-teriak menyatakan diri sebagai pemuja Tuhan sejati.” “

Kelompok dari golongan ketiga itulah yang sesungguhnya disebut golongan ingkar (kufr) dan munafik. Mereka sesungguhnya tidak mengenal Tuhan yang gaib. Mereka rakus, tamak, serakah, dan tak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh. Dengan keserakahan dan ketamakannya mereka selalu menyandang citra makhluk perusak bumi. Mereka itulah yang halal kalian mangsa. Sebab, bumi tidak akan cukup memuat keserakahan mereka. Hari-hari dari kehidupan mereka senantiasa dicitrai oleh bencana dan malapetaka yang mereka timbulkan bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka selalu menjadi binatang bagi sesamanya.” “

Sebagai makhluk penghuni alam gaib, kalian tentu telah tahu tentang siapa sesungguhnya manusia-manusia beriman yang memuja Allah SWT. dan siapa di antara mereka yang memuja hawa nafsunya. Kalian lebih tahu siapa manusia yang serakah hingga buta mata hatinya dan tuli pendengaran jiwanya. Kalian pun lebih tahu siapa yang suara nuraninya sudah bisu akibat jiwanya sesak dihuni taghut. Mangsalah mereka itu. Sebab, semua itu adalah kehendak-Nya semata demi menjaga kelestarian bumi dan kelangsungan hidup penghuninya.”

Para raja makhluk gaib termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Mereka semua terdiam. Namun, beberapa jenak kemudian raja makhluk gaib dari Pakuan yang bernama Kareteg meminta penjelasan tentang “pagar halilintar” yang dibentangkan Abdul Jalil di sepanjang pantai utara Bumi Pasundan. “Para kawula kami sangat cemas dan ketakutan dengan adanya ‘pagar halilintar’ itu. Apakah paduka ingin memasang perangkap yang berbahaya bagi kawula kami?”

Abdul Jalil mengerutkan kening. Ia tidak paham dengan istilah “pagar halilintar” yang dikemukakan Kareteg. Namun, sesaat kemudian ia teringat pada sarana (Tu-mbal) yang telah ia tebar di beberapa tempat yang disebutnya Lemah Abang. Rupanya rangkaian doa yang dilafazkan para santri yang ditinggal di Lemah Abang telah mendatangkan kekuatan adiduniawi di mana para makhluk gaib melihatnya seperti kilatan halilintar. Menyadari hal itu Abdul Jalil pun menjelaskan, “Sesungguhnya aku tidak bermaksud membuat ‘pagar halilintar’ yang bakal mencelakakan bangsa kalian. Aku hanya memberi tengara kepada bangsa kalian bahwa di tempat-tempat yang kalian saksikan ada pancaran cahaya halilintar, itulah tempat aku membuka hunian-hunian baru bagi manusia. Selama kalian masih melihat kilatan cahaya itu hendaknya kalian tidak mendekat apalagi mengganggu. Namun, jika kalian sudah tidak melihat kilatan cahaya itu lagi maka kalian boleh mendekati tempat itu dan mengganggu penghuninya.” “

Berarti ‘pagar halilintar’ itu tidak berlangsung terus-menerus?” tanya Kareteg. “

Jika penghuni tempat-tempat bernama Lemah Abang sudah menjadi pemuja taghut maka kilatan cahaya itu tidak akan kalian saksikan. Jadi, apa pun yang kalian saksikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia manusia, pada dasarnya tidak mengubah hukum kauniyah yang berlaku.”

Ketika fajar mulai menjelang dan puncak Gunung Pulasari telah disaput warna merah, para raja makhluk gaib Nusa Jawa kembali ke kediaman masing-masing. Setelah mengangkat batu lingga ke atas pangkuannya, Abdul Jalil menebarkan tanah yang dibawanya ke seputar batu datar sambil membaca do’a penolak kejahatan jin. Saat baru usai membaca doa tiba-tiba ia sadar betapa di samping kanannya telah berdiri seseorang yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.

Abdul Jalil menoleh. Ia melihat orang yang berdiri di samping kanannya adalah laki-laki berusia lebih setengah abad dan berpakaian brahmana. Wajah laki-laki itu teduh. Matanya bulat lebar. Hidungnya mancung. Rambutnya diikat tiga gulungan ke atas, sementara kumis dan janggutnya menjuntai ke dada. Laki-laki itu memancarkan wibawa seorang pertapa.

Sepintas melihat sorot mata brahmana itu, Abdul Jalil sudah menangkap pancaran kecurigaan akibat batu lingga yang dipangkunya. Tanpa menunggu ditanya ia langsung memperkenalkan diri sekaligus mengungkapkan niatnya untuk membawa lingga tersebut atas permintaan arwah Ratu Sthri Bhattari Prthiwi yang didaharmakan di Kabhumian, Caruban Larang.

Mendengar pengakuan Abdul Jalil, brahmana itu ganti memperkenalkan diri sebagai Brahmana Kandali, pemimpin para Rsigana Domas, yakni delapan ratus orang resi yang tinggal di Gunung Pulasari. Setelah itu, masih dengan tatap mata penuh curiga dia berkata, “Mata hati saya menyaksikan betapa Tuan adalah orang jujur yang berjiwa bersih. Namun, mata indriawi saya melihat Tuan dengan penuh curiga. Wajah Tuan bukan wajah orang Sunda. Pakaian Tuan adalah pakaian orang Islam. Tuan datang ke puncak Pulasari dengan mengangkat Syiwalingga yang kami puja. Jika Tuan mengatakan bahwa apa yang Tuan lakukan adalah atas permohonan arwah Bhattari Parwati Tunggal Prthiwi, tolong jelaskan kepada kami ketidaksesuaian antara penglihatan mata hati dan mata indriawi saya ini.”

Abdul Jalil menarik napas panjang sambil memejamkan mata menembus keheningan persemayaman Ruh al-Haqq di kedalaman jiwanya. Beberapa jenak setelah melintasi relung-relung keheningan jiwanya tiba-tiba ia menyaksikan kelebatan bayangan sosok Rishi Punarjanma, diikuti sentuhan Ruh al-Haqq yang mengisyaratkannya untuk berbicara seputar pendeta yang meninggal di Arafah itu. Mengikuti petunjuk Ruh al-Haqq, ia membuka mata dan berkata, “Saya tidak bisa menjelaskan ketidaksesuaian antara tangkapan mata hati dan mata indriawi Tuan. Namun, jika hal itu terjadi pada diri saya maka saya lebih mempercayai penglihatan mata hati saya.” “

Bisakah Tuan memberi contoh kepada saya jika ketidaksesuaian itu pernah terjadi pada Tuan, agar bisa saya jadikan pedoman dalam perjalanan ruhani saya.”

“Ada sebuah pengalaman yang pernah saya alami, namun sangat tidak masuk akal untuk diterima oleh orang yang mengagungkan pandangan indriawi. Namun, bagi mereka yang percaya bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil bagi kehendak Yang Mahakuasa, apa yang akan saya ceritakan itu tentu akan dipercaya sebagai kebenaran tak tersanggah,” kata Abdul Jalil.

“Cerita tentang apakah itu, Tuan?”

“Cerita tentang seorang pendeta Hindu tua asal Banten Girang yang melakukan ibadah haji ke tanah suci umat Islam, yaitu Makkah di tanah Arab. Pendeta tersebut meninggal di tanah Arafah tepat saat hari Arafah. Dia bahkan meninggal di atas pangkuan saya,” Abdul Jalil memaparkan.

“Pendeta tua asal Banten Girang?” Brahmana Kandali tercekat keheranan. Sambil mengernyitkan kening dia bertanya, “Siapakah namanya?”

“Kepada saya beliau mengaku bernama Rishi Punarjanma,” ujar Abdul Jalil. “Beliau mengaku memiliki seorang putera bernama Nirartha yang tinggal di negeri Daha. Katanya, puteranya itu diasuh oleh adiknya yang bernama Wiku Suta Lokeswara, seorang pendeta Bhairawa penganut Syiwa-Budha.”

Brahmana Kandali tampak tergetar mendengar penjelasan Abdul Jalil. Keringat sebesar butiran kacang menyimbah keningnya. Napasnya mulai naik turun. Matanya berkaca-kaca. Kemudian dengan bibir bergetar ia bertanya, “Bagaimana mungkin guru agung kami Rishi Punarjanma menjalankan ibadah ke tanah suci orang-orang Islam yang letaknya di negeri Arab?”

“Segala sesuatu sesungguhnya tergantung mutlak pada kehendak Sanghyang Tunggal.” Abdul Jalil menyebut nama Tuhan seperti Dang Hyang Semar pernah menyebutnya demikian. “Tapi jika dijelaskan secara manusiawi sesuai pengakuan beliau, sesungguhnya kehadiran beliau ke tanah suci umat Islam adalah semata-mata ‘kekeliruan’ tempat belaka. Maksudnya, niat utama beliau sesungguhnya hendak melakukan pradaksina di Gunung Kailasa, yaitu tempat Syiwa ber-sthana. Namun, arus nasib telah membawanya ke Makkah dan Arafah setelah kapal yang ditumpangi terempas gelombang dan beliau ditolong oleh para pelaut Arab. Beliau bahkan mengira tugu batu raksasa yang terletak di Jabal Rahmah adalah Syiwalingga yang telah beliau lihat di dalam mimpinya. Itu sebabnya, beliau melakukan pradaksina, mengitari Jabal Rahma. Beliau meninggal akibat kelelahan dan kepanasan.”

Brahmana Kandali tak dapat lagi menahan gejolak perasaannya. Ia mengucurkan air mata dan berkata tersendat-sendat, “Tuan, apakah Tuan merawat jenasah beliau dengan baik?”

“Saya dan saudara-saudara saya yang menunaikan ibadah haji telah menguburkan beliau dengan baik.”

“Apakah beliau tidak meninggalkan pesan apa-apa sebelum meninggal?”

“Beliau meminta agar saya menemui puteranya, Nirartha, di negeri Daha,” kata Abdul Jalil, untuk menyampaikan pesan bahwa beliau telah kembali ke Syiwapada karena setia kepada Syiwamarga. Setelah saya kembali dari sini, saya akan berusaha pergi ke negeri Daha untuk menyampaikan pesan Rishi Punarjanma kepada puteranya. Saya tidak tahu kenapa saya harus memenuhi amanat Rishi Punarjanma yang syari’at agamanya tidak sama dengan syari’at agama saya. Saya hanya merasa bahwa mata hati, telinga, jiwa, dan suara nurani saya memerintahkan saya untuk melakukan hal itu.”

Brahmana Kandali duduk berlutut di depan Abdul Jalil. Dengan tangan menyembah ia berkata, “Tuan, terimalah permohonan maaf kami akibat kecurigaan kami yang berlebihan terhadap Tuan. Terimalah juga sembah hormat kami, o Tuan yang mulia, atas segala budi baik yang Tuan telah berikan kepada guru agung kami Rishi Punarjanma. Sungguh, tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan hati Tuan yang begitu luas laksana samudera yang berkenan menerima berbagai aliran sungai dengan begitu tulus.”

“Kami percaya apa yang telah Tuan ceritakan tentang Rishi Punarjanma adalah benar belaka. Sebab, tidak ada orang di negeri Banten ini yang mengetahui beliau memiliki putera bernama Nirartha yang tinggal di negeri Daha dan ikut dengan Wiku Suta Lokeswara, kecuali kami dan beberapa orang saudara kami pemuka Rsigana Domas yang tak pernah turun gunung ini. Itu berarti Tuan benar-benar telah bertemu dengan guru agung kami.”

“Sudah merupakan kewajiban manusia untuk saling menolong di antara sesamanya tanpa melihat latar bangsa, bahasa, dan agama. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi sesamanya dan seburuk-buruk manusia adalah yang selalu menjadi bencana bagi sesamanya.”

“Sungguh, sekarang kami percaya kepada Tuan. Kami percaya Tuan benar-benar memenuhi permintaan Ratu Sthri Bhattari Prthiwi untuk membawa Syiwalingga ke Caruban Larang. Sesungguhnya tidak ada satu pun di antara manusia yang berhak mengatakan bahwa Syiwalingga itu miliknya. Sebab, Syiwalingga senantiasa dijaga dan dipelihara oleh Bhattara Syiwa sendiri. Jika Syiwalingga harus dipindahkan dari puncak Gunung Pulasari ke Caruban Larang maka hal itu tentunya adalah atas kehendak Bhattara Syiwa sendiri.”

“Memang demikian kenyataannya saat saya memohon perkenan kepada Syiwalingga ini.”

“Tuan sudah meminta izin Bhattara Syiwa? Tuan bisa berhubungan dengan Bhattara Syiwa melalui Syiwalingga?”

“Sesungguhnya saya hanya mengenal nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Syiwa,” ujar Abdul Jalil. “Semalam Dia, Syiwa yang dipuja lewat perlambang Syiwalingga ini, menyapa saya sebagai pengejawantahan Sang Girinatha, Bhutaswara, Rudra, Bhairawa, dan Mahakala. Dia telah berkenan mengizinkan saya membawa Lingga ini ke Caruban Larang sesuai permohonan Bhattari Prthiwi.”

“Tuan,” tanya Brahmana Kandali, “kenapa Bhattara Syiwa membiarkan Syiwalingga itu Tuan bawa ke Caruban Larang? Bukankah hal itu akan mengubah kedudukan Gunung Pulasari sebagai sthana Syiwa?”

“Tidak ada sesuatu yang berubah tanpa kehendak-Nya. Sesungguhnya perubahan yang akan terjadi atas sthana Syiwa di Gunung Pulasari ini semata-mata atas kehendak-Nya juga. Pada masa datang para pemuja Syiwa hendaknya mengikuti pesan Sang Girinatha kepada saya, yaitu tidak harus pergi ke sthana Syiwa di puncak Gunung Pulasari untuk melakukan upacara di Syiwamandala. Sebab, sebenarnya dengan Kebenaran yang sesungguhnya Syiwa berada di mana saja bersama-sama dengan pemuja-Nya yang mengetahui Kulatattwa.”

“Tuan,” seru Brahmana Kandali heran, “bagaimana Tuan yang beragama Islam bisa tahu tentang Kulatattwa?”

“Syiwa yang disebut dengan berbagai nama telah memberitahuku demikian.”

“Jika demikian, tahukah Tuan kenapa Syiwa menghendaki terjadi perubahan seperti itu?”

“Sebab tidak lama lagi akan datang Dajjal Sang Penyesat yang akan membawa manusia ke zaman malapetaka. Pengikut Sang Penyesat akan membawa manusia ke jalan kebinasaan dengan mengingkari keberadaan Tuhan secara benar. Sang Penyesat dengan pesonanya akan membalik kiblat berpikir manusia. Jika saya dan seluruh umat Islam meyakini bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta sebagaimana keyakinan Tuan dan saudara-saudara Tuan yang beragama Hindu, maka Sang Penyesat akan mengatakan bahwa manusialah yang mencipta Tuhan. Jika manusia tidak mencipta Tuhan maka Tuhan tentunya tidak ada.”

“Sesungguhnya mereka adalah para pembohong dan penyesat umat manusia yang bakal membawa kerusakan di permukaan bumi. Tidak umat Islam, tidak umat Hindu, tidak umat Budha, jika menjadi pengikut Dajjal maka akan sesat juga jadinya. Mereka sesungguhnya orang-orang yang sudah buta mata hatinya, tuli telinga jiwanya, dan bisu suara nuraninya. Mereka tidak bisa melihat sesuatu kecuali benda-benda yang kasatmata. Mereka tidak percaya ruh. Mereka tidak percaya adanya hidup setelah mati. Bahkan, andaikata mereka berbicara tentang agama maka sesungguhnya mereka telah menipu karena bagi mereka agama adalah ‘alat’ yang bisa mereka gunakan untuk membenarkan perilaku mereka yang jahat.”

“Apakah kehadiran mereka menandai bakal datangnya zaman Kaliyuga?”

“Kira-kira begitu di dalam keyakinan agama Tuan.”

“Siapakah yang Tuan maksud sebagai Dajjal Sang Penyesat itu?”

“Jika Tuan pernah mendengar cerita tentang Sang Hantaga, saudara Dang Hyang Semar, tentunya Tuan pernah mendengar tokoh bernama Si Kere, putera Sang Hantaga,” ujar Abdul Jalil.

“Ya, ketika kanak-kanak kami pernah mendengar cerita semacam itu.”

“Dajjal Penyesat adalah anak cucu Si Kere,” ujar Abdul Jalil. “Mereka hidup di negeri miskin dan selalu kekurangan makan. Itu sebabnya, mereka akan datang ke negeri-negeri subur tempat padi ditanam dan berbagai jenis emas serta permata didapatkan. Mereka datang untuk menjarah dan merampok harta kekayaan negeri-negeri subur. Mereka akan merampas harta benda penduduk. Mereka akan memperbudak penduduk. Mereka akan mengganti kepercayaan agama penduduk. Mereka akan memaksa penduduk mengikuti kepercayaan dan adat istiadat mereka. Dan yang paling berbahaya, mereka akan menjungkirbalikkan kepercayaan penduduk yang memuja Tuhan agar sejalan dengan kepercayaan mereka yang sesat dan menyesatkan, yaitu tidak mempercayai segala sesuatu yang bersifat gaib.”

“Tuan,” Brahmana Kandali memohon. “Ajarkan kami pengetahuan ruhani yang Tuan miliki. Bimbinglah kami meniti jalan Kebenaran menuju-Nya. Angkatlah kami menjadi siswa Tuan. Kami yakin, guru agung kami, Rishi Punarjanma, mengirim Tuan ke sini tentu dengan maksud agar Tuan menjadi panutan kami. Kami pun bersedia melepas agama kami jika itu memang diisyaratkan menjadi siswa Tuan. Kami tidak ingin hidup di zaman Kaliyuga tanpa bimbingan guru yang sudah mengejawantahkan keberadaan-Nya.”

“Tuan Brahmana, saya tidak keberatan Tuan hendak belajar menempuh jalan ruhani kepada saya. Tetapi, saya tidak pernah mensyaratkan seseorang harus berpindah agama untuk menjadi siswa saya. Sebab, masalah agama – dalam makna syari’at – bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Sungguh, tidak ada paksaan dalam agama. Dan sudah menjadi keyakinan saya, sesungguhnya telah menjadi kehendak-Nya semata bahwa umat manusia harus hidup beraneka ragam baik dalam hal kebangsaan, bahasa, budaya, maupun agama.”

Teluk Persia/Qatar, 05 Oktober 2005, 13:40LT

03. Al-Wahm

Pengharapan (al-raja’) beriringan dengan amal. Pengharapan tanpa amal adalah tebaran jaring-jaring lamunan kosong (al-umniyyah). Sedang tebaran jaring-jaring lamunan kosong adalah kekuatan yang cenderung menuntun manusia ke perangkap angan-angan kosong (al-wahm) yang menjerat. Bagi seorang penempuh jalan ruhani (salik), perangkap al-wahm haruslah dihindari dan dilampaui. Sebab, perangkap al-wahm adalah hijab tebal yang menyelubungi manusia untuk dapat menyaksikan Kebenaran Ilahi.

Terjerat ke perangkap al-wahm itulah yang sesungguhnya dialami oleh Raden Sahid dan Raden Qasim saat keduanya meniti jalan ruhani (suluk) sebagai salik. Terpesona oleh kisah Abdul Jalil tentang Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri, putera mahkota Wijayanagar yang menjadi brahmin pengembara, mereka berdua mengangankan dapat meraih kehidupan ruhani yang agung sebagaimana sang putera mahkota. Namun, pengalaman ruhani yang belum matang mengakibatkan mereka jatuh ke perangkap al-wahm.

Hari-hari yang mereka lewati lebih banyak dihabiskan di sebuah gua yang terletak di belakang pesantren dan di hadapan makam Syaikh Datuk Kahfi. Mereka beranggapan bahwa dengan menghindari berbagai urusan duniawi dan menenggelamkan diri ke dalam kekhusyukan maka mereka akan beroleh karunia ruhani (al-warid) sebagaimana yang telah diperoleh Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri. Saat berada di hadapan makam Syaikh Datuk Kahfi mereka berharap arwah gurunya itu berkenan memohonkan kepada Allah SWT. agar melimpahi mereka dengan berbagai kemurahan karunia ruhani.

Kerasnya semangat (sawabiq al-himam) yang dilakukan Raden Sahid dan Raden Qasim dalam perjuangan memperoleh karunia ruhani ternyata tidak menghasilkan apa-apa, bahkan menjadi penyebab kacaunya jadwal pembelajaran di pesantren. Bagaikan tak kenal siang dan malam, Raden Shid dan Raden Qasim lebih banyak terlihat bertafakur di dalam gua dan di depan makam Syaikh Datuk Kahfi.

Abdul Jalil sendiri semula tidak mengetahui perihal keterperangkapan Raden Sahid dan Raden Qasim ke dalam jeratan al-wahm. Ia mengetahui hal itu secara kebetulan ketika berziarah ke makam Nyi Babadan, istri Syarif Hidayatullah yang meninggal beberapa hari setelah kepergian Abdul Jalil ke Gunung Pulasari. Saat ia bersama Syarif Hidayatullah berziarah, mereka mendapati Raden Sahid dan Raden Qasim sedang bertafakur di depan makam Syaikh Datuk Kahfi.

Sebagai orang yang sudah kenyang mengunyah dan memamah serta menelan pahitnya perjalanana ruhani, Abdul Jalil menangkap sasmita ada ketidakberesan yang terjadi pada kedua orang adik seperguruannya itu. Itu sebabnya, ia menanyakan kepada Syarif Hidayatullah tentang mereka berdua. Betapa terkejut ia saat Syarif Hidayatullah memberi tahu bahwa baik Raden Sahid maupun Raden Qasim sesungguhnya sudah melakukan pengasingan diri beberapa waktu setelah Syaikh Datuk Kahfi wafat.

“Kenapa engkau tidak memberi tahu aku?”

“Bukankah hal itu biasa, Paman?” ujar Syarif Hidayatullah. “Bukankah tidak salah mereka bertafakur di hadapan makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi? Sebab, seingat saya, sesungguhnya orang-orang yang meninggal ndi jalan Allah itu tidaklah mati, bahkan mereka hidup, hanya kita yang tidak menyadari keberadaannya (QS al-Baqarah:154). Bukankah demikian, Paman?”

“Bagi manusia yang mengharapkan karunia ruhani dari Allah SWT., apa yang mereka lakukan memang tidak keliru,” ujar Abdul Jalil menjelaskan. “Tetapi bagi manusia yang mengharap Kebenaran Ilahi, jelas apa yang mereka lakukan merupakan kekeliruan besar. Yang penting engkau pahami, o Anakku, bahwa tanpa pengetahuan rahasia yang bisa menyingkap alam gaib, tidak seorang pun manusia bisa berhubungan dengan ruh seorang ahli kubur. Jika berhubungan denganruh ahli kubur saja tidak bisa, apa lagi berhubungan dengan Sang Kebenaran (al-Haqq).”

“Apakah beda karunia ruhani Ilahi dan Kebenaran Ilahi?”

“Jika seseorang mengharap aku memberikan uang, pakaian, makanan, dan berbagai hal yang aku miliki maka itulah ibarat dari karunia Ilahi. Tetapi jika seseorang berharap bisa menjadi kawanku, sahabat karibku, kekasihku maka itulah ibarat dari Kebenaran Ilahi. Ketahuilah, sesungguhnya mereka berdua bukanlah golongan orang yang biasa yang cukup puas dengan karunia Ilahi. Mereka bisa menjadi sahabat dan bahkan kekasih Allah SWT..”

“Saya paham, Paman.”

Sambil terbatuk-batuk Abdul Jalil melangkah ke arah kedua orang adik seperguruannya dan bertanya, “Apakah sesungguhnya yang telah kalian lakukan di hadapan makam guru agung?”

“Mohon ampun, Pamanda,” kata Raden Sahid. “Kami berdua sedang melakukan iktikaf agar kami beroleh karunia dari-Nya.”

“Kenapa beriktikaf di depan makam guru agung? Apakah kalian berdua hanya menginginkan karunia ruhani dari-Nya?” tanya Abdul Jalil dengan suara ditekan.

“Kami berdua merasa tidak punya kemampuan apa-apa untuk bisa menghadap hadirat-Nya. Itu sebabnya, kami memohon bantuan wasilah kepada guru agung kami yang suci agar menyampaikan hajat kami kepada-Nya. Kami berdua pun tidak berani berharap lebih dari sekedar beroleh karunia ruhani dari-Nya.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, bahwa keinginanmu untuk menghindari urusan duniawi dengan melakukan iktikaf di makam guru agung dapat dikata sebagai getar nafsu kalian yang tersembunyi (asy-syahwat al-khafiyyah). Hal itu menyebabkan keterperangkapan kalian berdua ke dalam jerat al-wahm yang penuh ditebari jaring-jaring lamunan kosong (al-umniyyah). Aku katakan demikian karena kalian berdua belum mengetahui dengan pasti apakah Allah SWT sudah menempatkan diri kalian ke dalam golongan orang-orang yang memang ditentukan-Nya hidup menjauhi urusan duniawi. Perlu Adinda berdua pahami bahwa kerasnya semangat (sawabiq al-himam) yang telah Adinda tunjukkan sesungguhnya tidak mampu menembus takdir-Nya (aswar al-aqdar).”

“Ingat-ingatlah, o Saudara saudaraku, bahwa amal perbuatan hanyalah sebuah bentuk kerangka yang tegak dan tidak hidup (shuwar qa’imah). Hanya nilai keikhlasan (sirr al-ikhlash) jua yang memberikan ruh hidup kepadanya. Itu sebabnya, amal yang telah kalian berdua jalankan selama ini pada hakikatnya hanya menjadi kerangka tegak dan tidak hidup. Seperti arca batu. Dikatakan begitu karena kalian berdua tidak benar-benar ikhlas melakukannya. Kalian berdua masih mengharap turunnya karunia ruhani dari-Nya.”

Mendengar uraian Abdul Jalil yang tajam tentang jalan ruhani, Raden Sahid dan Raden Qasim terdiam. Di dalam diam itu mereka akhirnya memahami kenapa Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi begitu bangga dan sering menjadikan Abdul Jalil sebagai sosok siswa yang harus diteladani. Mereka sadar bahwa kakak seperguruan mereka itu memang memiliki kelebihan dibanding para siswa Syaikh Datuk Kahfi yang lain. Akhirnya, setelah beberapa jenak terdiam, Raden Sahid berkata, Pamanda Abdul Jalil, kami berdua mohon dengan segala hormat sudilah kiranya Pamanda membimbing kami meniti jalan Kebenaran. Sebab menurut guru agung, Pamandalah siswa yang diharapkan menggantikan kedudukan beliau. Bahkan, sejak kami berdua datang beliau selalu meminta agar kami sabar menunggu kepulangan Pamanda dari rantau. Beliau selalu menyebut Pamanda dengan gelar Sang Pajuningrat, yaitu baji pembelah dunia.”

“Guru agung pernah berkata demikian?” Abdul Jalil tersentak heran.

“Kami berdua tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang telah beliau ucapkan.”

Abdul Jalil termangu-mangu. Ia menatap tajam Raden Sahid dan Raden Qasim ganti-berganti seolah-olah hendak mengukur pedalaman kedua adik seperguruannya. Beberpa jenak setelah itu ia bertanya, “Apakah kalian berdua apakah memang sering tafakur di depan makam Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi?”

“Hampir setiap hari kami berdua ke sini,” sahut Raden Sahid.

“Jika kalian berdua akan belajar dariku tentang rahasia Kebenaran-Nya di balik kehidupan yang fana ini,” kata Abdul Jalil tegas, “maka pertama-tama yang harus dipahami adalah kenyataan yang menyatakan bahwa apa yang telah kalian berdua lakukan dengan bertafakur di depan makam guru agung kita adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Sebab, yang kalian hadapi itu sesunguhnya hanya gundukan tanah berisi jasad ramanda dan ibunda guru agung. Arwah beliau berdua tidak berada di kuburan. Arwah beliau berdua sudah tidur damai di alam arwah. Itu sebabnya, jangan sekali-kali kalian mengganggu kedamaian mereka berdua.”

“Selain itu, ada satu hal yang wajib kalian ingat-ingat! Jika kalian belum dikaruniai pengetahuan rahasia untuk bisa menembus alam gaib, jangan sekali-kali kalian tafakur di depan kuburan. Sesungguhnya tindakan bertafakur berlama-lama di suatu kuburan, meski itu kuburan guru agung, adalah tindakan yang berbahaya. Sebab, setiap saat bisa saja manusia terperangkap oleh bisikan setan yang bersembunyi di dalam nafsunya. Dan, biasanya setan akan membuat seolah-olah bisikan itu berasal dari ruh ahli kubur bersangkutan.”

“Kami berdua mohon petunjuk, o Pamanda.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, sesungguhnya Kebenaran tidak berada di kuburan, tidak di pepohonan, tidak di bebatuan, tidak di gunung, dan tidak pula di lautan. Sesungguhnya Kebenaran bersemayam di dalam dan sekaligus di luar diri manusia sendiri. Kebenaran tidak terikat, tetapi juga tidak terlepas sama sekali dari keberadaan manusia. Hanya saja, manusia belum menyadarinya.”

“Kami pusakakan petunjuk Pamanda,” sembah Raden Sahid dan Raden Qasim takzim.

“Hal kedua yang harus selalu kalian ingat,” kata Abdul Jalil, “sekalipun Kebenaran bersemayam di dalam diri manusia sendiri, pada hakikatnya ia tidak terperangkap di dalam tubuh manusia. Ia tidak bisa dibayang-bayangkan seperti sebilah pedang yang berada di dalam sarungnya. Sebab, secara hakiki Kebenaran tidak berada di dalam dan tidak berada di luar diri manusia. Kebenaran tidak terpisah dari diri manusia.” “

Kami pusakakan petunjuk Pamanda.”

“Hal ketiga yang juga harus dicamkan,” ujar Abdul Jalil, “jangan pernah kalian mengandalkan kekuatan akal (‘aql) semata-mata untuk menemukan Kebenaran Sejati. Sebab, ‘aql yang tidak diterangi petunjuk (hidayah) dari-Nya, justru akan mengikat (‘iql) dan memerangkap manusia ke dalam jaring-jaring kejahilan yang menyesatkan.” “

Hal keempat yang tidak boleh dilupakan,” kata Abdul Jalil dengan suara ditekan, “kalian berdua jangan pernah berpikir bahwa Kebenaran secara kebetulan bisa menghampiri seorang pemalas yang tidak mencari-Nya. Kebenaran bukan hak tukang mimpi. Kebenaran juga bukan hak para pembual. Ingat-ingatlah selalu, o Saudara-saudaraku, bahwa peristiwa Nabi Muhammad Saw. menerima Wahyu Ilahi9 di Gua Hira bukanlah peristiwa kebetulan. Lima belas tahun sebelum beroleh Kebenaran Sejati beliau telah berjuang keras meakukan pencarian dengan tanpa kenal lelah dan putus asa. Siapa yang bisa mengingkari Kebenaran sejarah bahwa beliau telah beriktikaf di Gua Hira selama lima belas tahun? Jika kalian berdua membaca liku-liku kehidupan yang beliau jalani maka kalian akan mendapati kenyataan betapa sesungguhnya beliau bukanlah pemalas, bukan pengkhayal, dan bukan pula pembual. Itu sebabnya, jika Adinda berdua hendak berjuang keras mencari Kebenaran, teladanilah jalan hidup beliau!”

“Kami akan pusakakan dan selalu mengingat petunjuk Pamanda.”

Setelah memberi petunjuk jalan ruhani secukupnya kepada Raden Sahid dan Raden Qasim, Abdul Jalil berangkat ke Kuta Caruban untuk menghadap Sri Mangana. Namun, tanpa diduga seorang santri menghadap dan melapor ada tamu asing menunggu di bawah pondok. Ternyata tamu asing itu adalah Abdul Malik Israil al-Gharnatah, kakek Syarif Hidayatullah.

Abdul Malik Israil menyatakan bahwa kehadirannya ke Giri Amparan Jati untuk menyampaikan kabar jatuhnya Granada ke tangan pasangan Ratu Isabella, penguasa Castilla, dan Raja Ferdinand, penguasa Aragon. “Kekuasaan Islam telah jatuh di Andalusia, namun bakal tumbuh di tempat lain, yakni di tanah timur. Karena itu, kehadiranku ke tempat ini juga untuk melihat apakah benih-benih keislaman sudah tumbuh di sini di mana aku harapkan cucuku ikut memupuk dan memeliharanya.”

Bagi Abdul Jalil sendiri, kabar jatuhnya Granada adalah sebagai “cambuk” yang melecut jiwanya agar lebih giat berjuang menjalankan tugas sebagai anggota Jama’ah Karamah al- Auliya’ yang ditempatkan di Nusa Jawa. Kepada Abdul Malik Israil yang lebih tua dan lebih luas pengetahuannya ia memaparkan semua gagasan dan langkah yang bakal ditempuhnya untuk mewujudkan tatanan baru kehidupan masyarakat di Caruban Larang, yang merupakan lahan subur bagi tumbuhnya benih keislaman. Kemudian ia berterus terang tentang kelemahannya di dalam memahami ilmu siyasah (politik) dan kenegaraan. Ia memohon Abdul Malik Israil untuk mengkritik dan sekaligus memberi masukan bagi gagasan dan langkah-langkahnya.

Ternyata, gagasan dan langkah perjuangan Abdul Jalil yang dikritik Abdul Malik Israil adalah pengembangan Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Menurut Abdul Malik Israil, pengembangan lembaga pendidikan Islam itu terlalu mengacu pada pengetahuan berdasarkan nalar. “Memang sangat ideal membawa manusia ke jalan terang akal melalui tradisi bernalar para failasuf. Tetapi, kenyataan membuktikan bahwa tradisi yang dikembangkan di bumi Andalusia itu telah hancur dilanda kefanatikan buta. Itu sebabnya, aku akan sangat bergembira jika tempat ini dijadikan pusat pengembangan pendidikan ruhani masyarakat sebagaimana Lemah Abang,” kata Abdul Malik Israil.

“Apakah itu berarti kita membangun basis keimanan berdasarkan akar tradisi dan budaya?”

“Tepat, itu yang aku maksudkan,” kata Abdul malik Israil. “Kalau kita bercermin pada sejarah, sesungguhnya keberadaan Bani Israil sangat tergantung pada kelestarian tradisi dan budaya mereka. Puak-puak Bani Israil yang sudah terusir dari negerinya selama beribu-ribu tahun tetap menunjukkan jati dirinya dengan memegang erat tradisi dan budaya warisan leluhurnya. Karena itu, sebagaimana Bani Israil dapat bertahan dari musuh-musuhnya , demikianlah hendaknya bangunan masyarakat di negeri ini engkau tegakkan di atas sendi-sendi tradisi dan budayanya.”

“Itu berarti, membangun tradisi bernalar harus dibelakangkan dan jika mungkin hanya dilakukan sedikit orang,” Abdul Jalil menarik napas berat.

“Aku kira itulah pilihan yang bijaksana,” kata Abdul Malik Israil. “Engkau harus membangkitkan kebanggaan (ta’ashahub) terhadap jati diri budaya pengikut-pengikutmu. Dengan cara itu engkau dapat membangun benteng-benteng yang sulit ditembus pasukan Dajjal yang bakal menyerbu dunia.”

Abdul Jalil mengangguk-anggukkan kepala. Ia sadar akan kebenaran di balik kata-kata Abdul Malik Israil. Ia akan mengubah kembali sistem pembelajaran di Pondok Pesantren Giri Amparan Jati. “Tetapi jika aku mengikuti saranmu, o Sahabat, akankah aku membiarkan tumbuh dan berkembangnya tradisi dan budaya orang-orang muslim asal Campa yang penuh dilingkari takhayul dan kurafat? Tidakkah engkau tahu mereka telah mencemaskanku karena menulari masyarakat setempat dengan tradisi dan budaya mereka yang bertentangan dengan akal sehat?”

“Engkau tidak bisa mengubah tradisi dan budaya suatu bangsa, kecuali dengan tradisi dan budaya yang sesuai dengan naluri mereka. Maksudku, jika orang-orang Campa memang bukan tergolong bangsa yang memiliki tradisi bernalar maka hendaknya kita menyampaikan Kebenaran kepada mereka sesuai dengan naluri mereka,” kata Abdul malik Israil.

“Berarti kita harus berkompromi dengan kepercayaan mereka tentang ratusan jenis hantu, ramalan nasib, hitungan hari baik dan buruk, mengeramatkan batu dan kuburan, masalah tabu, sampai menghitung keberuntungan dan kesialan orang berdasar suara tokek?” sergah Abdul Jalil.

“Justru di tengah beratnya medan juang itulah kemuliaan membentangkan permadani kehormatannya di hadapanmu. Sesungguhnya nasib malang yang dialami bangsa Campa, Sunda, dan Jawa tidak jauh berbeda dengan nasib yang pernah dialami Bani Israil, yakni pada saat kemunduran peradabannya mereka cenderung terperangkap pada kerangka pikir mengaitkan satu hal dengan hal lain berdasar bunyi suara dan makna kata (othak-athik mathuk). Lantaran kecenderungan itu sangat kuat, Bani Israil sering menghujat nabi-nabi mereka dengan cerita-cerita dusta yang merendahkan derajat para utusan Allah itu.”

Ketika mereka memaknai nama leluhur mereka Ya’kub (Ya’acob) dengan arti ‘penipu’ maka lahirlah kisah yang menuturkan bahwa Nabi Ya’kub a.s. telah menipu saudaranya dalam memperoleh berkat dari ayahandanya, Ishak. Untuk menutupi makna ‘penipu’ pada identitas keturunan Ya’kub a.s., lahirlah kisah ia bergelut dengan manusia jelmaan Tuhan sehingga Ya’kub a.s. disebut Yisrail. Begitulah, keturunan Nabi Ya’kub a.s. menyebut dirinya Bani Israil untuk menghindari kesan kepenipuan dalam nama Ya’acob.”

“Akan halnya orang-orang Moab, mereka pun memaknai nama suku itu berdasarkan bunyi suara dan makna kata. Karena Moab ditafsirkan me-ab (dari ayah) maka dilahirkanlah kisah bahwa Nabi Luth a.s. telah berzinah dengan puteri-puteri kandungnya sehingga lahir orang Moab. Begitulah kisah-kisah miring tentang utusan-utusan Allah yang suci berlaku di kalangan Bani Israil akibat perangkap pikiran itu. Sehingga, seluruh nabi Bani Israil adalah orang-orang yang tidak sempurna dan tercela; Nuh a.s mabuk dan tidur telanjang lalu mengutuk Kana’an, puteranya; Daud a.s berzina dengan istri Uria, Batsyeba; Ibrahim menikahi saudaranya lain ibu, Sarah.”

“Jika kita telusuri nasib malang yang selalu dialami Bani Israil dari waktu ke waktu, bagian terbesar di antaranya adalah akibat kebiasaan mereka membuat cerita-cerita tercela yang menista dan menghina nabi-nabi utusan Allah. Untuk menghindari terulangnya kecenderungan itu, ajaran Islam dengan tegas menetapkan sifat maksum, amanah, fathanah atas nabi-nabi utusan Tuhan. Ketetapanyang menjadi rukun itu tak bisa ditawar sehingga dengan itu semua penganut Islam menampik mutlak citra buruk yang dialamatkan kepada nabi-nabi suci Bani Israil itu.”

“Aku kira, dengan uraianku ini telah jelas bahwa tugas yang engkau jalankan adalah tugas mahaberat, seibarat tugas nabi-nabi Bani Israil dalam menghadapi kaumnya. Itu berarti, engkau harus siap-siap diperosokkan ke dalam lumpur fitnah dan kenistaan karena ingin membawa kaummu kepada Kebenaran Sejati.”

Setelah berbincang-bincang tentang berbagai hal terkait dengan usaha pembangunan tatanan baru masyarakat di Nusa Jawa, Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil memperbincangkan Syarif Hidayatullah yang baru ditinggal wafat istri tercintanya. Abdul Maik Israil mengusulkan cucunya itu segera dicarikan istri lagi agar tidak terus-menerus teringat pada istrinya. Lantaran di Giri Amparan Jati ada Syarifah, adik Abdurrahman dan Abdurrahim Rumi, yang sudah berusia sebelas tahun, maka disepakatilah untuk menikahkannya dengan Syarif Hidayatullah. Hari itu juga secara sederhana Syarifah dan Syarif Hidayatullah dinikahkan.

Saat upacara pernikahan baru saja usai datanglah serombongan tamu asing berjumlah sekitar empat puluh orang. Tamu-tamu itu mengaku berasal dari negeri Wijayanagar, dipimpin oleh seorang pendeta kulit hitam bernama Ballal Bisvas. “Kami utusan Yang Mulia Brahmin Agung Malaya. Kami dititahkan untuk menemui Tuan Syaikh Abdul Jalil di Negeri Caruban. Kami dititahkan untuk membantu perjuangan Tuan Syaikh semampu yang kami bisa,” ujarnya takzim.

“Brahmin Agung Malaya?” Abdul Jalil mengerutkan kening. Berpikir sejenak dan kemudian berkata, “Apakah yang Tuan Pendeta maksudkan Pangeran Bharatchandra Jagaddhatri?”

“Benarlah demikian, Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil termangu-mangu memandang Ballal Bisvas. Ia merenungkan makna ruhani di balik kehadiran para utusan sahabatnya itu. Saat kali pertama bertemu dengan Ballal Bisvas, Abdul Jalil mendapat isyarat dari Ruh al-Haqq bahwa ia sedang berhadapan dengan seorasng pendeta bhairawa yang memiliki kesaktian luar biasa. Apakah maksud Sang Brahmin Agung mengirimkan pendeta bhairawa untuk mendukung perjuangannya? Apakah perjuangannya akan diwarnai oleh pertumpahan darah seperti pernah dikatakan Sri Mangana saat ia menyampaikan gagasan membangun tatanan baru?

Ketika malam menghiasi langit Caruban Larang dengan taburan bintang-gemintang yang berkilau-kilau cemerlang, Abdul Jalil berdiri tegak di samping Sri Mangana yang menatap nanar para santri Giri Amparan Jati yang tengah menimbuni pendharmaan Bhattari Prthiwi di Kabhumian dengan tanah. Malam itu, sesuai petunjuk arwah Bhattari Prthiwi, Syiwalingga yang dibawa Abdul Jalil dari puncak Gunung Pulasari telah disatukan dengan yoni perlambang pemujaan Shang Bhumi. Sesuai keinginan almarhumah yang tidak ingin diganggu lagi oleh para keturunannya maka Abdul Jalil pun menimbun pendharmaan tersebut.

Menurut rencana, di sebelah utara bekas pendharmaan itu akan dibangun tajug. Ketika sepintas melihat pandangan mata Sri Mangana, Abdul Jalil memahami ada semacam beban yang menggelayuti perasaan ayahanda asuhnya. Penimbunan pendharmaan itu bukan hanya memisahkan ikatan Sri Mangana dengan leluhurnya, melainkan juga terkait dengan kedudukannya sebagai chakrabhumi. Untuk menghibur sekaligus menyadarkan ayahanda asuhnya, Abdul Jalil berkata seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Orang-orang Sunda, seperti orang-orang Jawa, tidak memperbolehkan arwah leluhurnya beristirahat di alam keabadian dengan tenang. Mereka selalu memaksa arwah leluhurnya untuk memenuhi semua keinginan dengan cara membuat senang arwah leluhur lewat sesaji, puji-pujian, dan doa. Sementara itu, mereka tidak mengetahui apa sesungguhnya yang sedang dialami oleh leluhurnya di alam kubur.”

Mendengar ucapan Abdul Jalil, Sri Mangana menarik napas berat dan mengembuskannya keras-keras lewat hidung. Kemudian dengan suara berat ia berkata, “Sesungguhnya aku sadar bahwa sudah selayaknya arwah leluhurku Bhattari Prthiwi beristirahat di alam keabadian. Namun, entah kenapa di dalam benakku masih terbayang sesuatu yang kuat tentang pendharmaannya.”

“Kenangan memang sulit dihapuskan, apalagi jika terekam sejak masa kecil,” ujar Abdul Jalil menjelaskan. “Sebab, kenagan ibarat bayangan yang terus mengikuti kemanapun kita pergi.”

“Itulah yang jadi masalahku sekarang ini.”

“Ramanda Ratu ingat cerita saat Rasulullah Saw. mendakwahkan Islam pertama kali?”

“Ya, kenapa?”

“Jika Ramanda Ratu mencermati para pengikut Nabi Muhammad Saw. yang disebut as-sabiqun awwalun maka Ramanda Ratu akan mendapati betapa bagian terbesar dari pengikut beliau tersebut adalah kalangan muda, sedangkan pihak-pihak yang menentang dan memusuhi beliau saat itu dipelopori orang-orang lanjut usia.”

Apakah maknanya itu, o Puteraku?”

“Kalangan muda yang menerima ajakan Islam sesungguhnya bukan saja disebabkan oleh hidayah yang mereka terima dari Allah SWT, melainkan rekaman kenangan mereka terhadap ajaran yang menganggap Tuhan berbentuk batu dan kayu yang dipahat itu belum terlalu kuat berurat dan berakar. Sementara kalangan tua yang memusuhi Nabi Muhammad Saw. selain tidak beroleh hidayah dari Allah SWT, juga rekaman kenangan terhadap ajaran lama mereka sudah berurat akar selama puluhan tahun. Bahkan pamanda Nabi Muhammad Saw., Abu Thalib, yang berjiwa mulia dan selalu membela dan melindunginya, tergolong kalangan tua yang sudah tercekam oleh ajaran lama tersebut sehingga dia sulit melepaskannya.”

“Jika demikian, berarti rekaman kenangan itu sangat menentukan bagi kita dalam menuju-Nya.”

“Memang demikian adanya, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Bukankah saat menjelang ajal seseorang ditentukan oleh rekaman kenangannya? Bukankah karena alasan itu jua jarang sekali kita jumpai orang menghadapi sakaratul maut dengan hanya mengingat Allah SWT? bukankah karena alasan itu Rasulullah Saw menjamin bahwa barang siapa di antara manusia pada akhir hayatnya bisa mengucap ‘tidak ada Tuhan selain Allah’ – la ilaha illa Allah – bakal masuk surga Allah tanpa hisab?”

“Jika demikian, adakah cara yang bisa dilakukan untuk menghapus rekaman kenangan dari ingatan kita?” Sri Mangana minta penjelasan. “Jujur saja aku katakan, saat ini aku masih sulit melepas pengaruh berbagai ajaran yang kuserap dari lingkungan sekitarku.”

“Hanya dengan bimbingan (huda) dari Allah SWT yang mengalir dari rahmah-Nya maka semua kenangan manusia yang kuat dapat menyingsing sehingga terbentang jalan lurus menuju hadirat-Nya,” ujar Abdul Jalil. “

Bagaimana caranya agar kita bisa mendapat bimbingan dan rahmah-Nya?” “

Bukankah Ramanda Ratu sesungguhnya sudah berada di bawah bimbingan-Nya? Bukankah Ramanda Ratu sudah sampai pada tanah sekat (barzakh) di antara dua lautan dan bahkan telah bertemu Nabi Khidir a.s.?”

“Aku sendiri heran, kenapa perjalananku bisa terhenti dasn aku merasa seolah-olah tidak beranjak ke mana-mana. Maju tidak mundur pun tidak. Apa yang sesungguhnya sedang aku alami?”

“Menurut hemat ananda, wirid yang Ramanda Ratu amalkan mungkin hanya bisa mengantarkan Ramanda Ratu sampai menembus tirai Kebenaran Ilahi.”

“Maksudnya bagaimana?” tanya Sri Mangana heran.

“Sesungguhnya, wirid diamalkan agar orang beroleh karunia ruhani. Suatu karunia ruhani dapat menyebabkan kegaiban (ghaibah), namun dapat juga menyebabkan kegilaan (majnun). Jadi, wirid yang Ramanda Ratu amalkan sesungguhnya telah berhasil mendatangkan kegaiban bagi Ramanda Ratu. Sehingga, ya sudah, sampai di kegaiban itu saja anugerah dari-Nya melimpahi Ramanda Ratu.”

“Kenapa aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ruhaniku?”

“Sebab, yang Ramanda Ratu pahami selama ini memang terbatas pada keinginan beroleh karunia ruhani dari Allah SWT.. Artinya, Ramanda Ratu sesungguhnya tidak berjuang menuju Dia,” ujar Abdul Jalil.

“Astaghfirullah!” seru Sri Mangana dengan nada menyesal. “Sungguh bodoh aku. Selama ini aku tidak membedakan antara berjalan menuju karunia-Nya atau menuju Dia.”

“Sesungguhnya bukan masalah bodoh atau tidak bodoh, Ramanda Ratu. Tetapi, Allah SWT. memang belum menetapkan waktu yang tepat bagi Ramanda Ratu untuk berjalan lurus ke arah-Nya. Sesungguhnya Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi pernah menyuruh ananda untuk mengingatkan Ramanda Ratu tentang hal ini. Namun, saat itu ananda merasa waktunya belum sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, di samping ananda juga merasa segan sebagai anak menggurui ayahnya.”

“Sesungguhnya tidak perlu ada perasaan segan atau tidak segan dalam masalah ini. Bukankah jalan ruhani tidak dibatasi usia dan tidak pula dibatasi oleh kedudukan ayah dan anak? Karena itu, aku memohon kepada engkau, o Puteraku, untuk mengajarkan kepadaku Jalan Lurus menuju-Nya.”

“Ananda tidak akan menjadikan Ramanda Ratu sebagai murid,” kata Abdul Jalil. “Sebab, Ramanda Ratu sudah berjalan jauh hingga di perbatasan antara dua lautan. Jadi, ananda hanya akan memberi sebuah petunjuk yang bisa digunakan untuk meniti jembatan (shirath) ajaib ke arah-Nya. Ananda katakan ajaib karena jembatan itu bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan jarak mereka yang meniti dengan tujuan yang hendak dicapai.” “

Sebagaimana kisah Nabi Musa a.s. dalam perjalanan mencari Khidir a.s., jembatan itu memiliki empat bagian matra yang masing-masing memiliki pintu. Pertama, matra istighfar yang berisi perlambang Nabi Musa a.s. bersama pemuda (al-fata) menjumpai Khidir a.s. di perbatasan antara dua lautan. Kedua, matra salawat yang berisi perlambang Khidir a.s. melubangi perahu. Ketiga, matra tahlil yang berisi perlambang Khidir a.s. membunuh anak. Keempat, matra nafs al-haqq yang berisi perlambang Khidir a.s. menegakkan dinding yang di bawahnya tersembunyi Perbendaharaan.” “

Apakah penjelasan dari makna perlambang matra istighfar?” “

Bagi kalangan awam, istighfar lazimnya dipahami sebagai upaya memohon ampun kepada al-Ghaffar sehingga mereka beroleh ampunan (maghfirah). Tetapi bagi para salik, istighfar adalah upaya memohon pembebasan dari ‘belenggu’ keakuan kepada al-Ghaffar sehingga beroleh maghfirah yang menyingkap tabir ghain yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya, di dalam Asma’ al-Ghaffar terangkum makna Maha Pengampun dan juga makna Maha Menutupi, Maha Menyembunyikan dan Maha Menyelubungi.” “

Sesungguhnya perjalanan Ramanda Ratu telah sampai ke bagian jembatan yang disebut matra istighfar. Tabir ghain yang menyelubungi keakuan Ramanda Ratu telah menyingsing. Ramanda Ratu telah menyaksikan Khidir a.s.. Namun, karena Ramanda Ratu terperangkap pada keinginan untuk beroleh karunia-Nya, maka Ramanda Ratu hanya berputar-putar di matra istighfar yang penuh diliputi gambaran-gambaran indah karunia-Nya.” “

Itulah kekeliruan yang baru aku sadari sekarang ini,” kata Sri Mangana. “Tapi, bagaimana caraku meninggalkan matra istighfar menuju matra salawat? Apakah makna perlambang matra salawat?” “

Melubangi perahu seperti yang dilakukan Khidir a.s.,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “

Kenapa perahu harus dilubangi?” “

Tanpa melubangi perahu, sang salik tidak akan mengetahui hakikat sejati Lautan Wujud (bahr al-wujud). Tanpa melubangi perahu maka kedudukan salik tidak jauh berbeda dengan kedudukan para nelayan; memanfaatkan perahu untuk mencari ikan (pahala) dan berbagai karunia-Nya yang terhampar di permukaan Lautan Wujud, yang selain bergelombang dahsyat juga berisiko dihadang Sang Rajadiraja (al-Malik al-Mulki) yang setiap saat akan merampas perahu-perahu yang baik.” “

Di antara salawat ini sang salik harus menyadari kehambaannya kepada Yang Maha Terpuji (Ahmad) sebagai Sumber segala kejadian. Di matra itu sang salik harus menjadi ghulam yang baik dan berbakti kepada Sumbernya, yakni pancaran Air Kehidupan yang mengalir dari lubang perahu yang dibuat Khidir a.s.. Ghulam yang durhaka dan mengingkari kehambaannya kepada Yang Terpuji harus dibunuh. Sang salik yang tenggelam ke dalam matra salawat ini disebut fana ke dalam Rasulallah (fana fi rasul),” papar Abdul Jalil. “

Aku paham, Air Kehidupan yang memancar dari lubang itu sesungguhnya sama hakikatnya dengan Air Kehidupan yang tergelar di hamparan Lautan Wujud. Walau demikian, tanpa melalui Air Kehidupan yang mengalir dari lubang maka salik tidak akan mencapai Air Kehidupan yang tergelar di Lautan Wujud. Benar demikian, o Puteraku?” “

Benarlah demikian, o Ramanda Ratu.” “

Sekarang terangkanlah kepadaku tentang matra tahlil.” “

Matra tahlil adalah matra Keesaan. Matra Tauhid. Inilah matra Kesatuan Wujud; Lautan Wujud sama hakikatnya dengan Air Kehidupan. Ibarat ungkapan kesaksian tidak ada ilah selain Allah (la ilaha illa Allah), demikianlah di matra ini terungkap kesaksian tidak ada air lain yang tergelar di hamparan Lautan Wujud kecuali Air Kehidupan (Ab al-Hayy) yang mengalir dari Sang Hidup (al-Hayy). Inilah matra yang diibaratkan dalam perlambang dinding yang ditegakkan Khidir a.s. yang di bawahnya tersembunyi Perbendaharaan.” “

Jika demikian, apakah makna matra nafs al-haqq?” “

Matra nafs al-haqq adalah matra rahasia yang tidak bisa diuraikan. Sebab, matra ini menyangkut Perbendaharaan Tersembunyi yang terdapat di bawah dinding. Tak ada satu pun di antara makhluk yang mengetahui keberadaan-Nya, kecuali memang dikehendaki-Nya. Jika Al-Qur’an saja tidak memberikan penjelasan tentang apa sesungguhnya Perbendaharaan, tentunya manusia tidak boleh mengkhayal-khayal tentang Perbendaharaan itu. Gambaran Nabi Musa a.s. yang berpisah dengan Khidir a.s. di matra itu adalah kearifan dari Sang Pencerita untuk tidak mengungkapkan apa yang tidak dapat dipahami pendengar-Nya.” “

Aku kira, aku sudah paham dengan uraianmu, o Puteraku,” kata Sri Mangana. “Sekarang bimbinglah aku ke dalam perjalanan meniti jembatan (shirath) itu menuju-Nya.”

Suao Taiwan ROC. April 09th 2007, 10:20LT

04. Khotbah Pembaharuan

Ketika Abdul Jalil kembali ke Lemah Abang dengan diikuti Abdul Malik Israil, Ballal Bisvas, Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Raden Qasim, Abdurrahman Rumi, dan Abdurrahim Rumi, ia sangat terkejut menyaksikan tempat yang ditinggalkannya tak lebih dari dua bulan itu sudah berubah menjadi desa hunian yang ramai. Tajug Agung dengan tujuh rumah di kanan dan kirinya, yang merupakan hunian pertama di Lemah Abang, tiba-tiba sudah dikepung oleh ratusan rumah dengan beberapa warung dan pasar desa. Ia masih terheran-heran ketika wajah-wajah baru penghuni Lemah Abang dengan penuh hormat menyambut kedatangannya dan menyatakan diri sebagai muridnya. Dengan sangat takzim mereka memanggil Abdul Jalil dengan sebutan baru: Syaikh Lemah Abang (Tuan Guru dari Lemah Abang).

Usai memimpin sembahyang berjama’ah di Tajug Agung, Abdul Jalil menanyakan kepada murid-muridnya tentang perubahan di Lemah Abang yang begitu mengejutkan. Para murid pun kemudian menuturkan bagaimana perubahan menakjubkan itu terjadi. Meski awalnya heran, dengan penjelasan para muridnya, Abdul Jalil akhirnya memahami kenapa desa yang dibukanya bisa berkembang begitu pesat dan menakjubkan.

Ternyata kunci pertumbuhan pesat Lemah Abang itu terletak pada kebijakan Abdul Jalil sendiri yang menghibahkan tanah kepada siapa saja yang berhasarat tinggal di tempat baru itu. Dalam waktu kurang dari sebulan sejak ia berkeliling ke pedalalman Bumi Pasundan, tutur para murid, tak kurang dari delapan puluh kepala keluarga datang ke Lemah Abang. Mereka mendirikan rumah di sekitar Tajug Agung dan mengubah padang alang-alang untuk dijadikan lahan partanian. Dan jumlah itu terus bertambah dari waktu ke waktu.

Abdul Jalil sendiri sesungguhnya sudah memperkirakan kebijakannya membagi-bagikan tanah anugerah dari Sri Mangana akan disambut gembira oleh para kawula Caruban Larang yang belum mengenal hak kepemilikan. Namun, ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan sambutan begitu gegap gempita sehingga dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak desa litu dibuka dan pernyataan hibah itu disebarluaskan, Lemah Abang talah menjadi desa ramai yang dihuni oleh sekitar seribu warga dengan jumlah rumah sekitar dua ratus empat puluh. Seluruh tanah yang dihibahkan dengan jumlah dua ratus jung (560 hektar) itu sufah habis tanpa sisa. Menurut para murid, beberapa warga baru yang tinggal di selatan pasar desa tidak kebagian tanah garapan.

Setelah mengetahui seluk beluk perkembangan Lemah Abang, malam itu juga usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil berkhotbah di depan warga yang meluber hingga ke teras dan halaman Tajug Agung. Dengan penampilan yang memesona Abdul Jalil berkata, “Sekarang ini aku katakan kepada engkau sekalian, o warga baru Lemah Abang, yang mengikrarkan diri sebagai murid-muridku. Hal pertama yang wajib kalian ingat sebagai murid adalah mengikuti ajaran-ajaran yang aku sampaikan dengan baik dan penuh kepatuhan. Pelajaran pertama dariku yang harus benar-benar kalian pahami serta kalian jadikan amaliah dalam kehidupan sehari-hari adalah memegang teguh ajaran tentang hakikat manusia dan tatanan hidup yang layak baginya. Apakah kalian semua bersedia untuk menerima ajaranku itu?”

Bagikan gemuruh suara ribuan lebah, warga serantak menyatakan kesediaan untuk menerima, mematuhi, dan mengamalkan ajaran yang akan disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang. Setelah suara gaduh berlangsung beberapa bentar, keadaan tenang kembali. Abdul Jalil kemudian melanjutkan khotbah.

“Pertama-tama, yang wajib kalian ketahui adalah ajaranku tantang manusia. Sebagai murid-muridku, kalian wajib memiliki keyakinan utama bahwa sejak manusia lahir di dunia yang fana ini tiap-tiap pribadi memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan sebagai makhluk paling sempurna keturunan Adam a.s.. Sebagai makhluk paling sempurna yang disebut adimanusia (al-insan al-kamil), kalian semua dicipta oleh Allah dengan maksud dijadikan wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).”

Sesungguhnya rahasia agung di balik kesemmpurnaan adimanusia terletak pada kenyataan bahwa di dalam tubuh manusia yang terbuat dari tanah liat tersembunyi ruh bersifat Ilahiyyah yang ditiupkan oleh Allah saat penciptaan manusia pertama. Oleh karena adanya tiupan ruh itu maka makhluk yang sudah dicipta lebih dahulu, yaitu para malaikat, serentak sujud kepada manusia pertama tersebut, yakni Adam a.s.. Iblis, makhluk yang dicipta lebih dahulu dari Adam a.s., tetapi tidak mengetahui tentang tiupan ruh tersebut, menolak sujud. Iblis menganggap Adam a.s. hanyalah makhluk rendah yang terbuat dari anasir tanah belaka. Lantaran sikapnya yang keras mengingkari keagungan dan kemuliaan Adam a.s., Iblis dimurkai dan dilaknati Allah (QS Shad: 71 – 8 ).”

“Jika di dunia ini kalian menemukan ajaran, aturan, pandangan, dan tindakan dari orang seorang yang mengingkari keagungan dan kemuliaan manusia maka itulah cerminan dari sifat Iblis yang terkutuk. Jika kalian mendapati ada ajaran yang menista manusia sebagai makhluk rendah yang tubuhnya terbuat dari daging yang bakal membusuk dan karenanya harus direndahkan maka itulah ajaran Iblis. Jika kalian menemukan ada manusia yang suka merendahkan dan menista sesamanya maka itulah manusia Iblis. Pendek kata, apa pun yang terkait dengan penghinaan dan penistaan atas hakikat manusia adalah bertentangan dengan ajaranku.”

“Dengan memahami keyakinan bahwa manusia adalah wakil Allah di muka bumi, maka hal pertama yang harus disadari oleh setiap manusia yang mengaku muridku adalah membiasakan diri untuk selalu menyatakan ikrar bismillah (dengan atas nama Allah) dalam setiap gerak kehidupan yang dijalankannya. Dengan selalu menyatakan ikrar bismillah dalam memulai segala pekerjaan seperti makan, minum, mandi, bersolek, berpakaian, memasak, berjalan, menaiki kendaraan, bergaul dengan istri, membaca kitab, bahkan saat hendak tidur maka kalian akan selalu ingat dan sadar bahwa kalian adalah wakil Allah di dunia ini. Sementara itu, dengan melengkapi ucapan bismillah menjadi bismillahirrahmanirrahim (dengan atas nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang), maka kalian akan selalu ingat dan sadar diri bahwa kalian adalah wakil Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang di muka bumi (khalifah ar-Rahman wa ar-Rahim fi al-ardh). Itu berarti, kalian akan selalu ingat bahwa dalam kehidupan di dunia ini kalian wajib menjadi manusia yang memiliki sifat pemurah dan penyayang sebagaimana sifat Dia yang kalian wakili. Sehingga, dengan selalu ingat akan itu, kalian tidak akan berbuat aniaya di muka bumi ini.”

“Tetapi, keyakinan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna belum cukup untuk membuktikan keagungan dan kemuliaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena, ruh bersifat Ilahiyyah yang ada pada diri manusia banyak yang tidak kuat menanggung beban yang dipikulkan oleh nafsu rendah badani manusia. Ruh suci yang bersemayam di dalam diri manusia banyak yang tak berdaya menghadapi kuasa nafsu badani manusia yang rendah. Ruh suci yang tersembunyi di dalam hakikat manusia banyak yang terperangkap di dalam jaring-jaring kejahilan yang dicipta oleh nafsu rendah badani manusia.”

“Tahukah kalian apakah nafsu rendah badani manusia itu? Nafsu rendah badani manusia adalah jiwa manusia yang cenderung berhasrat kuat mencintai kebendaan. Akibat kecenderungannya itu maka dia bertekuk lutut di hadapan manusia lain sambil berkata, ‘Bebanilah punggungku dengan kebohongan-kebohongan dan janji-janji palsu, o Tuanku, agar aku dengan penuh sukacita dapat memamerkan kesetiaanku kepada Tuan yang bisa memberiku sekadar makanan dan benda-benda. Sesungguhnya aku adalah jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban yang akan menderita sakit jika punggungku tidak Tuan bebani. Tubuhku akan merasa remuk dan aku malas bekerja jika Tuan belum menderaku dengan cambuk. Telingaku akan tuli dan jiwaku akan merana jika Tuan belum mencacimakiku dengan hinaan.”

“Sesungguhnya nafsu rendah badani manusia selalu berubah-ubah sesuai ruang dan waktu di mana ia berada. Jika di berbagai negeri mereka selalu mengaku sebagai jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda, jiwa kuda beban yang selalu ingin memikul beban, maka di Bumi Pasundan dan Majapahit mereka cenderung berkata begini, ‘Pasanglah kuk penarik bajak atau pedati yang terbuat dari kebohongan dan janji palsu di punggungku, o Tuanku, agar aku dapat membuktikan pengabdianku kepada Tuan yang memberiku kandang dan pangan sekadarnya. Sesungguhnya aku adalah jiwa kerbau, jiwa kuda penarik kereta, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan yang akan menderita jika tidak menjalankan tugasku sesuai perintah Tuan. Dera tubuhku dengan cambukmu agar aku menjadi giat bekerja. Perah susuku agar aku menjadi sehat sentosa.” “

Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku murid-muridku, apakah engkau sekalian ingin selamanya menjadi makhluk rendah pembawa beban seperti keledai, unta, kuda beban, kerbau? Inginkah kalian selamanya berlutut di depan manusia lain dengan beban di punggung? Inginkah kalian selamanya menerima deraan, caci-maki dan hinaan dari sesamamu?” “

Sebagai guru di antara manusia aku ajarkan kepada kalian bahwa Adam a.s. tidak diciptakan oleh Allah untuk tujuan menjadi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan bagi makhluk lain. Adam a.s., leluhurmu, diciptakan oleh Allah menjadi wakil Allah di muka bumi. Adam a.s. diciptakan untuk diagungkan dan dimuliakan oleh makhluk lain.” “

Dengarlah, o Saudara-saudaraku, aku katakan kepada kalian bahwa sejak saat ini kalian harus berani memulai perlawanan terhadap kekuasaan nafsu rendah badani manusia yang bersemayam di dalam dirimu sendiri. Lawanlah hantu buruk rupa dari nafsu rendah badani kalian itu. Siram wajahnya yang dipulas bedak kebohongan dan gincu kepalsuan itu dengan air keberanian yang mengalir dari sungai kebenaran. Biarkan dia malu dengan wajahnya yang buruk penuh pulasan itu. Sesungguhnya nafsu badani yang mencengkeramkan kuku tajamnya yang beracun itu adalah hantu yang selalu menakut-nakuti dirinya sendiri. Karena itu, bentangkan cermin kebenaran di dalam jiwamu dan hadapkan ke wajahnya agar ia malu melihat gambar dirinya sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, sesungguhnya hal yang paling ditakuti oleh nafsu rendah badani adalah cermin kebenaran dan udara kebebasan. Sebab, jiwa sejati dari nafsu rendah badani adalah yang takut berkata benar dan ngeri hidup di alam kebebasan. Sebagai seorang guru, aku katakan bahwa mulai sekarang kalian harus melawan kekuasaan nafsu rendah badani yang menjajah dirimu sendiri. Jangan biarkan ia mendiktemu untuk tetap setia pada hasrat dan keinginan rendahnya yang akan menjadikan kalian keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Kalian harus berjuang keras untuk membangunkan ruh keagungan dan kemuliaan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Kalian harus berjuang untuk mewujudkan diri sebagai makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain. Perbaharuilah jiwamu yang lama dengan jiwa yang baru!”

“Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa aku mengajarkan manusia agar memiliki keberanian meninggalkan dunia pengap dengan tatanan lama yang selama ini diikutinya secara membuta berdasarkan petunjuk dari nafsu rendah badani. Sebab, telah terbukti bahwa tatanan lama itu menyesatkan manusia dari jalan yang benar, yakni jalan yang harus dilewati wakil Allah di muka bumi. Tatanan lama itu telah memerangkap manusia ke dalam kandang-kandang kotor yang diperuntukkan bagi keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Karena itu, tinggalkanlah dunia pengap dengan tatanan lama itu, meski nafsu rendah badani akan menghadang dan menakut-nakutimu dengan ancaman kesulitan dan kesengsaraan hidup di dunia.”

“Untuk meninggalkan tatanan lama yang menyesatkan itu, kepada kalian aku beri tahu tentang empat jiwa yang menyemangati ruh yang wajib kalian jadikan pusaka: dialah jiwa kebenaran, jiwa keberanian, jiwa ketabahan, dan jiwa kebebasan. Dengan empat jiwa yang menyemangati ruh itu, kalian akan dapat meninggalkan nafsu rendah badani dan melintasi jiwa keledai, jiwa unta, jiwa kuda beban, jiwa kerbau, jiwa sapi perah, dan jiwa anjing peliharaan. Jika kalian berjuang keras bersama-sama dengan keempat jiwa dari ruh itu maka kalian tidak hanya akan mengalahkan nafsu rendah badani, tetapi juga dapat melampaui keberadaam kalian sebagai manusia untuk menjadi adimanusia, yakni wakil Allah di muka bumi yang membuat para malaikat bersujud.”

Bagaikan cahaya matahari terbit di pagi hari, khotbah yang disampaikan Abdul Jalil menerangi cakrawala jiwa para pendengarnya. Namun, Abdul Jalil sadar bahwa terang matahari pengetahuan yang menyinari jiwa murid-muridnya adalah terang mentari pagi yang masih diselimuti kabut dan embun. Abdul Jalil paham tidak semua pendengar memahami khotbahnya. Itu sebabnya, ia merasa berkewajiban untuk membuat lebih terang cakrawala jiwa para pengikutnya. Sebagaimana khotbah pertama, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang seusai memimpin sembahyang isya. Dengan pandangan penuh kasih kepada para muridnya, ia memulai khotbah dengan suara digetari perasaan lain.

“Seperti telah aku ajarkan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa fitrah dari Sang Pencipta (al-Khaliq) yang diberikan kepada manusia adalah keagungan dan kemuliaan sebagai wakil Allah di muka bumi. Itu sebabnya, setiap orang yang mengaku sebagai muridku hendaknya memulai hidup baru dengan pandangan dan sikap hidup yang baru pula. Mereka yang mengaku muridku wajib menyadari keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ untuk menjadi adimanusia wakil Allah di muka bumi.”

“Jika kalian telah sadar bahwa kalian adalah makhluk paling sempurna yang bisa meraih kedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi, maka hendaknya masing-masing dari kalian berpegang pada tatanan hukum Ilahi (syari’at) yang bersumber dari sabda Allah dan teladan Nabi Muhammad Saw. (sunnah ar-rasul). Tanpa menggunakan pedoman hukum Ilahi, kalian akan kehilangan arah dalam usaha mewujudkan diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Bukankah di manapun manusia berada selalu diatur oleh aturan-aturan hukum yang sesuai dengan lingkungannya? Demikianlah, aku katakan bahwa hukum Ilahi merupakan pedoman yang wajib diikuti oleh mereka yang meyakini bahwa manusia adalah citra wakil Allah di muka bumi.”

“Dengan menyadari keberadaan diri sebagai calon adimanusia dan wakil Allah di muka bumi, maka di dalam tatanan hukum Ilahi termaktub larangan bagi siapa saja yang mengaku orang beriman untuk berlutut dan bersujud kepada sesama makhluk di jagad raya ini. Lantaran ketetapan hukum Ilahi seperti itu maka kalian – yang yakin bahwa manusia dirancang sebagai wakil Allah di muka bumi – dilarang berlutut dan bersujud menyembah pohon, batu, kuburan, gunung, bulan, bintang, matahari, binatang, makhluk gaib, dan sesama manusia. Sebab, tidaklah pantas seorang wakil menyembah sesama wakil atau yang lebih rendah lagi.”

“Jika selama ini aku masih melihat sebagian dari kalian berlutut dan menyembah raja-rajamu dan pemimpin-pemimpinmu maka mulai sekarang semua itu hendaknya harus diubah. Sebab, tidak ada tatanan hukum Ilahi yang ‘mengharuskan’ kalian berlutut dan menyembah kepada selain Allah. Lantaran itu, semua kebiasaan itu harus diperbaharui dengan tatanan baru yang sesuai dengan kodratmu sebagi wakil Allah di muka bumi: jangan berlutut dan menyembah sesuatu selain Dia yang telah mengangkatmu sebagai waki-Nya.”

“Namun, dalam mengamalkan ajaran ini, kalian juga harus ingat bahwa menurut tatanan hukum Ilahi terlarang bagi kalian untuk mencela dan menista manusia lain yang masih melakukan penyembahan kepada sesama makhluk ciptaan Allah. Tidak ada hak bagi kalian untuk mencela orang lain yang tidak sepaham dengan kalian. Sesungguhnya, bagi masing-masing kelompok manusia telah terdapat ketentuan jalan masing-masing. Dan sesungguhnya, segala sesuatu yang terkait dengan penyembahan Allah adalah mutlak atas kehendak-Nya sendiri untuk disembah dengan berbagai nama dan cara. Karena itu, kalian jangan mencela cara-cara yang digunakan orang lain dalam menyembah Allah yang tidak sesuai dengan caramu.”

“Jika ada di antara kalian yang bertanya bagaimanakah tatana baru yang sesuai bagi para wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa tatanan yang berlaku di kediaman kalian, Lemah Abang ini, adalah bukti dari tatanan baru tersebut. Aku katakan tatanan di Lemah Abang adalah tatanan baru sebab ia adalah tatanan yang ditegakkan berdasarkan hukum Ilahi yang diperuntukkan bagi para wakil Allah.”

“Jika selama ini kalian mengikuti tatanan lama secara membuta maka sekarang kalian akan mengikuti tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi. Jika kalian belum paham dengan tatanan baru yang aku maksudkan itu maka sekarang aku akan menerangkan kepada kalian. Adapun tatanan baru yang ditegakkan di Lemah Abang ini adalah tatanan yang berdiri di atas asas-asas hukum Ilahi yang sesuai dengan fitrah wakil Allah di muka bumi.”

“Sungguh telah terdapat tatanan lama, di berbagai belahan bumi, yang menetapkan bahwa setiap penghuni sebuah negeri yang bukan ‘raja’ adalah kumpulan manusia malang yang telah ditekuk oleh kebohongan yang mengatakan bahwa mereka adalah keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang setia. Di Bumi Pasundan dan Majapahit, misalnya, mereka itu disebut kawula (budak) yang tidak diakui keberadaannya sebagai pribadi manusia. Lantaran itu, mereka tidak mempunyai hak apa pun atas hidupnya sendiri. Sementara raja dan keluarganya serta orang-orang di sekitarnya, setiap saat dan setiap tempat dapat mengambil apa saja yang dimiliki kawula, termasuk mengambil nyawa tanpa hak.”

“Tatanan yang tidak memanusiakan manusia itulah yang harus ditingglkan karena tatanan itu menista dan merendahkan harkat dan martabat manusia. Ya, tatanan lama bikinan manusia itulah yang harus diperbaharui oleh tatanan yang bersumber dari sabda Allah dan teladan hidup Nabi Saw.. Karena terbukti sudah bahwa tatanan lama itu menjerumuskan manusia dari kedudukan wakil Allah di muka bumi menjadi kawanan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang hina dina yang menggantungkan hidup kepada tuannya.”

“Sebagai bukti adanya tatanan baru yang bersumber dari hukum Ilahi di Lemah Abang, desa yang baru kita bangun dengan cucuran keringat kita sendiri ini, berlaku ketentuan mutlak yang mewajibkan setiap orang yang mengaku muridku untuk meninggalkan mimpi buruk itu. Semua muridku wajib meninggalkan tatanan lama yang dibangun di atas kebohongan dan dusta itu. Aku katakan sekali lagi, setiap warga Lemah Abang atau setiap orang yang mengaku muridku tidak boleh lagi tunduk dan patuh pada tatanan yang dibangun oleh para pendusta. Murid-muridku tidak boleh membiarkan dirinya dijadikan keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan yang tunduk di bawah kekuasaan manusia lain.”

“Keberadaan masing-masing pribadi manusia sebagai calon wakil-wakil Allah di muka bumi, di Lemah Abang ini, wajib diakui, dihargai, dan dihormati. Itulah asas tatanan baru berdasar hukum Ilahi yang aku maksud. Ingat-ingat! Siapa saja yang berada di Lemah Abang ini sama kedudukan dan derajatnya sebagai manusia. Semua sesaudara, keturunan Adam a.s.. Sebagaimana para raja yang menyatakan diri mereka sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia, begitulah semua manusia di Lemah Abang ini harus dipandang sebagai pengejawantahan Tuhan di dunia. Di Lemah Abang ini setiap manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi. Di Lemah Abang ini tidak ada raja dan tidak ada kawula. Tidak ada gusti dan tidak ada hamba sahaya. Semua manunggal sebagai anak cucu Adam a.s.. Semua adalah sesaudara karena semua berkedudukan sebagai wakil Allah.”

“Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah tatanan baru ini adalah hasil olah pikiran Syaikh Lemah Abang sendiri? Aku katakan kepada kalian bahwa seribu tahun silam peraturan ini sudah pernah oleh seorang laki-laki buta huruf yang agung dan mulia di kota bernama Yatsrib yang terletak di negeri Arabia. Beliau adalah Nabi Muhammad Saw.. Saat itu tidak ada perbedaan derajat antara Bilal bin Rabah yang bekas budak dan bangsawan serta saudagar kaya seperti Utsman bin Affan. Setiap manusia dihargai sebagai pribadi yang utuh. Beliau mengajarkan tiap-tiap manusia baik raja maupun budak akan diminti pertanggungjawaban secara pribadi atas segala apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.”

“Dengan memahami bahwa tatanan yang berlaku di Lemah Abang ini hanya meniru tatana hukum Ilahi yang sudah pernah diterapkan seribu tahun silam maka sesungguhnya tatanan ini tidaklah baru. Jikalau aku sebut tatanan ini baru karena memang baru di Bumi Pasundan dan Majapahit. Sebagaimana saat tatanan itu diterapkan pada zaman Nabi Muhammad Saw., saat sekarang pun tatanan itu banyak menghadapi tantangan dan rintangan. Sebab, dengan tatanan baru itu sesungguhnya sangat banyak para pendusta dan pencinta nafsu duniawi akan dirugikan. Lantaran itu, kalian harus menyiapkan dan menyiagakan diri untuk berhadapan dengan mereka yang mengutuki tatanan baru yang kita berlakukan di Lemah Abang ini.”

Abdul Jalil berhenti sejenak sambil matanya menyapu ke halaman Tajug Agung yang penuh disesaki warga. Ia meninggalkan mimbar dan berjalan ke arah teras Tajug Agung. Setelah berdiri dan menarik napas panjang, ia melanjutkan khotbahnya dengan suara yang lain.

“Wahai saudara-saudaraku, warga Lemah Abang yang mengaku muridku, kepadamu aku akan menerangkan dan menjabarkan tentang makna adimanusia sebagai wakil Allah di muka bumi dan tatanan hukum Ilahi yang menyertainya sebagai keniscayaan yang harus diwujudkan dalam sehari-hari. Kenapa ini harus kujelasjabarkan kepada kalian? Karena hanya dengan memahami apa yang akan aku jelaskan dan jabarkan ini, kalian semua akan beroleh keselamatan hidup yang sejati.”

“Pertama-tama, hendaknya kalian semua menyadari bahwa dengan menduduki derajat adimanusia dan menyandang jabatan wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya secara fitrah keberadaan kalian merupakan manusia menyandang nama (asma’), sifat (shifat), perbuatan (af’al) Allah. Maksudnya, dengan didudukkan pada derajat adimanusia, sesungguhnya kalian memancarkan citra makhluk mulia yang mewakili Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), yaitu pancaran citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).”

“Dengan menyadari bahwa antara adimanusia dan wakil Allah di muka bumi adalah sama pada makna hakiki dalam asma’, shifat, dan af’al maka sesungguhnya tiap-tiap manusia secara fitrah juga menduduki jabatan wakil Yang Zahir di muka bumi (khalifah azh-Zhahir fi al-ardh), wakil Yang Batin di muka bumi (khalifah al-Bhatin fi al-ardh), wakil Yang Maha Menguasai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemberi Rezeki di muka bumi (khalifah al-Razaq fi al-ardh), wakil Yang Maha Pemurah di muka bumi (khalifah ar-Rahman fi al-ardh), wakil Yang Maha Menghakimi di muka bumi (khalifah al-Hakam fi al-ardh), wakil Yang Maha Memelihara di muka bumi (khalifah al-Hafizh fi al-ardh), dan seterusnya. Dan semua makna hakiki asma’, shifat, dan af’al itu menyatu secara seimbang dan sempurna pada citra al-Haqq yang ditiupkan oleh-Nya saat menyempurnakan kejadian wakil-Nya. Sehingga, hakikat sejati keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi sesungguhnya tercitrakan secara utuh pada kedudukan wakil al-Haqq di muka bumi (khalifah al-Haqq fi al-ardh).”

“Dengan memahami dan menyadari bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil al-Haqq di muka bumi maka keberadaan tiap-tiap manusia wajib diakui, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang memiliki hak-hak fitrah sebagai makhluk paling sempurna. Tahukah kalian apa yang dinamakan hak-hak filtrah manusia sebagai wakil al-Haqq? Yaitu, hak diakui keberadaannya melalui kebebasan menyampaikan Kebenaran. Itulah hak paling fitrah dari wakil al-Haqq di muka bumi yang wajib dihargai dan dihormati.”

“Tidak peduli seseorang berkedudukan sebagai raja, pangeran, nayakapraja, pedagang, petani, kuli, bahkan budak sekalipun, secara fitrah memiliki hak untuk bebas menyatakan kebenaran. Sebab, dengan menyatakan Kebenaranlah sesungguhnya orang-seorang diakui keberadaannya sebagai manusia. Bahkan, yang dianggap paling mulia di antara wakil al-Haqq dalam mewujudkan hak fitrahnya adalah mereka yang berani menyampaikan Kebenaran kepada penguasa zalim yang tidak mengakui hak manusia lain. Sesungguhnya, mengingkari keberadaan manusia sebagai pribadi yang mewakili al-Haqq di muka bumi adalah sama artinya dengan mengingkari keberadaan al-Haqq. Itu sebuah kekufuran yang wajib ditentang dan dijauhkan dalam kehidupan.”

“Tahukah kalian apa yang disebut mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia yang mempunyai hak fitrah untuk bebas menyuarakan Kebenaran? Jika engkau mengakui keberadaan seekor burung dan membiarkannya berkicau maka itulah yang kuibaratkan dengan mengakui, menghargai, dan menghormati keberadaan tiap-tiap pribadi manusia. Sebab, kicau burung adalah suara Kebenaran yang dinyanyikan lewat bahasa burung. Demikianlah, mengakui, menghargai, dan menghormati manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah seibarat engkau mengakui keberadaan burung yang bebas membuat sarang untuk berkembang biak dan bebas berkicau di tempat mana pun di muka bumi. Sungguh merupakan kezaliman jika dengan kekuatan tanganmu engkau rusakkan sarang burung dan engkau larang burung-burung berkicau memuji keagungan Penciptanya.”

“Pada masa lalu, barang seribu tahun silam, pengakuan terhadap keberadaan manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang dilanjutkan oleh keempat sahabat yang menjadi penerusnya. Saat itu tiap-tiap manusia dihargai dan dihormati haknya untuk menyuarakan Kebenaran. Itu sebabnya, seorang bekas budak berkulit hitam yang menyampaikan gagasan adzan, cara memanggil orang untuk bersembahyang, oleh Nabi Muhammad Saw. diterima dan dijadikan bagian dari peribadatan yang berlaku sampai sekarang ini. Karena itu, setiap kali kalian mendengar suara adzan dikumandangkan, hendaknya kalian mengingat bahwa penggagas panggilan untuk bersembahyang itu bukanlah raja dan bukan pula bangsawan, melainkan bekas budak kulit hitam bernama Bilal bin Rabah.”

“Sebagai bukti lain bahwa keberadaan tiap-tiap pribadi manusia diakui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah kisah yang menuturkan tentang seorang sahabat Nabi yang buta bernama Ibnu Maktum. Karena Nabi Muhammad Saw. sempat mengabaikan manusia buta itu dan lebih mengutamakan bangsawan Quraisy maka beliau ditegur Allah. Lantaran itu, setiap kali Nabi bertemu Ibnu Maktum, beliau selalu berkata, “Wahai sahabat, yang membuatku ditegur Tuhanku.”

“Dengan apa yang telah aku paparkan ini, jelaslah sudah bahwa pengakuan, penghargaan, dan penghormatan terhadap manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah semata-mata atas kehendak-Nya. Itu sebabnya, Nabi Muhammad Saw. sebagai penyampai Kebenaran Ilahi menjalankan amanah-Nya itu dengan sempurna. Dan karena aku adalah ulama pewaris Nabi (al-ulama’ waratsat al-anbiya’) maka aku pun berkewajiban untuk meneladani beliau. Kalian sebagai murid-muridku hendaknya mengikuti jejakku, yaitu mengakui, menghargai, dan menghormati manusia lain terutama suara Kebenaran yang disampaikannya.” “

Jika selama ini baik di Bumi Pasundan maupun Majapahit terdapat tatanan yang mengatur bahwa siapa pun di antara kawula tidak mempunyai hak apa-apa, karena yang memiliki hak atas segala hak adalah raja, maka kukatakan kepada kalian bahwa tatanan itu sekarang sudah diubah di Lemah Abang ini. Tatanan usang itu harus diperbaharui. Jika selama ini terdapat tatanan yang menetapkan bahwa siapa pun di antara kawula tidak memiliki hak untuk menyuarakan Kebenaran, karena yang berhak mengatakan ini dan itu tentang Kebenaran hanya sang raja, maka kukatakan bahwa tatanan itu pun harus diperbaharui. Maksudku, sejak ini, diawali di Lemah Abang, tidak boleh lagi ada anggapan bahwa yang diakui keberadaannya hanya sang raja, yang wajib didengar kata-katanya sebagai titah hanya sabda sang raja.”

“Untuk membuktikan bahwa apa yang telah aku sampaikan bukanlah angan-angan kosong dan bukan pula impian pembual, di Lemah Abang ini akan menerapkan peraturan yang mengakui, menghargai, dan menghormati tiap-tiap pribadi manusia sebagai wakil al-Haqq di muka bumi. Di Lemah Abang ini kalian semua diakui sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai hak untuk menyampaikan Kebenaran.”

“Hal kedua yang wajib kalian ketahui sebagai wakil al-Haqq di muka bumi adalah keberadaan kalian diakui dalam hal ‘hak milik’ atas sesuatu. Di Lemah Abang ini, ibarat burung yang memiliki sarang dan bebas berkicau, kalian pun telah diakui memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta secukupnya yang bisa kalian jadikan sarana untuk kehidupan kalian di dunia yang fana. Kalian pun dengan bebas dapat menyuarakan Kebenaran. Di Lemah Abang ini hak masing-masing manusia dihargai dan dihormati karena masing-masing warga sadar bahwa semua adalah wakil al-Haqq.”

“Jika kepada kalian ada yang bertanya kenapa di Lemah Abang masing-masing warga memiliki sebidang tanah, sepetak rumah, dan harta benda? Katakan kepada penanya itu bahwa kalian adalah wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik. Sesungguhnya sedikit ‘hak milik’ dalam bentuk tanah, rumah, dan harta yang kalian punyai adalah bagian dari lambang keberadaan kalian sebagai wakil Yang Maha Memiliki (khalifah al-Malik fi al-ardh). Jika Yang Maha Memiliki (al-Malik) adalah Pemilik alam semesta maka sebagai wakil-Nya di muka bumi, fitrah kalian adalah memiliki sebagian kecil milik-Nya sebagai amanat untuk menguji kesetiaan kalian dalam menjalankan tugas sebagai wakil-Nya.”

“Kenapa kepemilikan tanah, rumah, dan harta para muridku aku sebut dengan istilah ‘hak milik’ dari wakil al-HaqqI dan wakil al-Malik? Sebab untuk menjaga keseimbangan tatanan kehidupan wakil-wakil Allah di muka bumi, citra al-Haqq dan al-Malik tidak bisa dipisahkan. Maksudnya, jika kalian hanya menganggap dirimu sebagai wakil al-Malik maka engkau akan cenderung memiliki segala sesuatu dengan tanpa hak. Engkau cenderung menyamai-Nya sebagai pemilik segala. Dan, engkau akan cenderung melanggar hak sesamamu. Jika itu yang terjadi maka timbullah kekacauan di dalam tatanan kehidupan bersama karena wakil al-Malik telah menjadi pesaing dari al-Malik. Ujung dari semua itu adalah keterjerumusan manusia dari kedudukan wakil al-Malik di muka bumi menjadi budak nafsu rendah badani. Lantaran keberadaan manusia adalah sebagai wakil al-Haqq dan sekaligus wakil al-Malik maka manusia wajib mengikuti tatanan hukum Ilahi yang menetapkan ketentuan halal, haram, dan syubat dalam hal perolehan ‘hak milik’ para wakil Allah di muka bumi.”

“Dengan memahami bahwa di Lemah Abang ini kalian telah mempunyai tanah, rumah, dan harta sebagai ‘hak milik’ maka hendaknya kalian pertahankan hak milik itu sebagai pusaka. Karena tanah, rumah, dan harta yang kalian miliki itu diamanatkan al-Haqq dan al-Malik untuk wakil-Nya di muka bumi. Siapa pun di antara manusia yang akan merampas hak milik kalian, hendaknya kalian lawan mereka dengan sekuat daya dan segenap kekuatan. Sebab, dengan melawan para perampas itu maka kalian sesungguhnya telah menunjukkan keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq dan wakil al-Malik.”

“Tetapi, perlu kalian pahami bahwa melawan para perampas hak kalian tidak selalu dengan cara mengangkat senjata dan bertempur melawan mereka. Jika engkau berdiam diri, namun tidak menjalankan titah dan keinginan para perampas itu, sesungguhnya engkau telah melakukan perlawanan. Jika kalian mengajak mereka mengadu hujjah dengan kata-kata maka sesungguhnya kalian telah melakukan perlawanan juga. Dan jika kalian merasa kuat untuk melawan kekuatan para perampas hak itu, bolehlah kalian menggunakan kekerasan sebagaimana yang telah mereka lakukan, namun jangan sampai melampaui batas. Jika kalian terbunuh dalam mempertahankan hak milik kalian, maka kalian termasuk syahid karena kalian terbunuh saat mempertahankan amanat Allah secara benar.”

“Selain hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda dihargai serta dihormati, hak milik kalian atas keluarga juga dihargai dan dihormati di Lemah Abang ini. Sebab, kalian juga adalah wakil Yang Maha Menjaga dan Maha Memberi Kebahagiaan di muka bumi (khalifah al-Muhaimin fi al-ardh). Sesungguhnya anak-anak dan istri kalian adalah titipan dari al-Muhaimin yang diamanatkan kepada kalian, wakil-Nya, untuk kalian jaga dan kalian bahagiakan. Sebagaimana hak milik kalian atas tanah, rumah, dan harta benda, sebagai wakil al-Muhaimin pun kalian tidak lepas dari kedudukan wakil al-Haqq. Kalian adalah wakil al-Haqq dan wakil al-Muhaimin sekaligus. Sehingga, hukum Ilahi menetapkan bahwa setiap manusia hendaknya membangun keluarga dengan cara-cara yang hak.”

“Karena citra al-Haqq tidak terpisah dari citra al-Muhaimin dalam pembentukan keluarga maka keluarga-keluarga yang diakui, dihargai, dan dihormati di Lemah Abang ini adalah keluarga yang dibangun atas asas-asas yang benar (haqq) menurut hukum Ilahi. Istri yang kalian miliki, kalian jaga, dan kalian bahagiakan itu wajiblah istri yang diperoleh dari hasil pernikahan yang sah menurut syari’at agama. Peraturan lama yang mengatakan bahwa istri harus diperoleh dengan cara membawa lari anak orang sebagai lambang kejantanan, tidak berlaku di Lemah Abang ini. Sebab, melarikan anak orang dan kemudian menyetubuhinya tanpa akad nikah merupakan perbuatan zina. Anak yang lahir dari hubungan seperti itu adalah anak haram (haram zadah).”

“Sungguh aku berpesan kepada kalian agar menjaga Lemah Abang ini dengan baik. Jangan jadikan tempat ini sebagai tempat perzinahan. Jangan jadikan tempat ini sebagai hunian anak-anak haram hasil zina. Jangan jadikan tempat ini sarang penyamun, kediaman manusia-manusia tamak yang suka merampas hak orang lain. Dan yang penting kalian ingat, janganlah kalian tinggal lebih lama lagi di tempat ini jika keinginan kalian sebagai wakil al-Muhaimin telah menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan al-Haqq. Maksudnya jangan engkau jaga dan bahagiakan istri-istri dan anak-anakmu dengan melanggar hak orang lain. Hiduplah dengan hak sesuai hukum Ilahi.”

“Dengan menyadari keberadaan diri sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin, hendaknya kalian tidak sekali-kali membiarkan orang lain merampas anak-anak dan istri kalian. Mereka adalah ‘hak milik’ yang wajib kalian jaga dan kalian bahagiakan. Karena itu, tolaklah siapa pun di antara manusia yang meminta anak-anak dan istri kalian, apakah itu untuk alasan mereka akan dijadikan gundik dan hamba raja atau dijadikan wadal bagi pembangunan atau tumbal bagi upacara-upacara darah. Tolak dan lawan para perampas hak itu. Pertahankan keluarga kalian sebagaimana kalian mempertahankan hidup dan mati kalian sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Malik, dan wakil al-Muhaimin. Dengan mempertahankan hak milik kalian atas keluarga, sesungguhnya kalian telah mempertahankan amanat-Nya secara hak. Jika kalian mati maka kalian akan tercatat sebagai syuhada. Kalian akan mati syahid.”

Beberapa jenak Abdul Jalil berhenti. Dengan penuh kasih ia menyapukan pandang ke murid-muridnya yang terperangah seolah-olah menyaksikan dan mendengarkan dongeng yang memesona. Kemudian dengan berapi-api ia meneruskan khotbahnya.

“Satu hal lagi yang penting kalian ingat-ingat, bahwa sebagaimana margasatwa yang bebas dalam menapaki kehidupannya, begitulah hendaknya bagi tiap-tiap warga di Lemah Abang mempunyai hak fitrah untuk memilih sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya. Warga Lemah Abang bebas memilih agama, cara mencari nafkah, pemimpin, tatanan hidup, dan kumpulan yang sesuai keinginannya selama tidak melanggar hak-hak manusia lain. Sesungguhnya, dalam penciptaan wakil-Nya di muka bumi, Dia telah menganugerahi manusia tangan, kaki, tubuh, nafsu, akal, dan ruh sehingga manusia menjadi makhluk paling sempurna di jagad raya. Kesempurnaannya itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain dalam kewenangan memilih. Sebab, keberadaan adimanusia juga menyandang atribut wakil Yang Maha Menentukan di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh). Sehingga, dengan kedudukan itu tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki hak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri sepanjang pilihan itu tidak melanggar hak manusia lain.”

“Dengan memahami keberadaan manusia sebagai wakil al-Muqtadir maka kelirulah anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya manusia mutlak tidak memiliki hak untuk memilih apa pun bagi hidupnya. Semua tergantung pada ketentuan Allah. Itu pandangan Jabariyyah yang mengingkari keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Sebaliknya, keliru pula anggapan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya pilihan mutlak ada pada tangan manusia. Itu pandangan Qadariyyah yang mengingkari kekuasaan al-Muqtadir dalam menentukan kehidupan wakil-Nya.”

“Jika ada yang bertanya kenapa manusia sebagai wakil al-Muqtadir memiliki hak fitrah untuk memilih agama, maka aku katakan bahwa masing-masing atribut Ilahi yang disandang manusia saling terkait satu dengan yang lain. Di atas itu semua, pertentangan masing-masing atribut itu adalah citra kesempurnaan dari hakikat asma’, shifat, dan af’al-Nya. Lantaran kewakilan manusia begitu sempurna dalam mencitrakan asma’, shifat, dan af’al Allah maka diwajibkan bagi manusia untuk menjalani hidup dengan berpedoman pada hukum suci Ilahi demi terwujudnya tatanan yang seimbang dalam kehidupan di bumi.”

“Sesungguhnya, keberadaan manusia sebaagai wakil al-Muqtadir terkait dengan atribut yang lain, yaitu wakil Yang Memberi Petunjuk di muka bumi (khalifah al-Hadi fi al-ardh). Sementara al-Hadi membentangkan ‘jalan-jalan’ untuk mencapai-Nya (wa alladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana). Itu sebabnya, tidak satu pun manusia boleh memaksa orang lain agar menganut agama atau satu jalan tertentu. Tidak boleh ada paksaan dalam agama (la ikraha fi ad-din). Sebab, hak fitrah dari wakil al-Hadi sekadar ‘menyampaikan’ petunjuk (huda) kebenaran (haqq). Seorang manusia yang mengangkat dirinya menjadi penunjuk jalan Kebenaran dan mengatakan apa yang diyakini itu sebagai satu-satunya jalan Kebenaran, maka sesungguhnya dia telah merampas wewenang Dia, Yang diwakilinya. Orang seperti itu telah menjadi pesaing bagi Allah. Sesungguhnya, orang semacam itu telah durhaka terhadap kehendak Allah.”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, bahwa rahasia atas agama-agama adalah mutlak milik-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya yang berhak ikut campur menentukan ke arah mana “wajah al-Hadi” dihadapkan atau dengan cara bagaimana Dia disembah hamba-Nya. Tidak satu pun di antara wakil-Nya boleh berkata: ‘Allah harus disembah dengan cara begini dan begitu. Yang ini benar dan yang itu salah. Surga itu kecil dan karenanya hanya muat untuk saya dan jama’ah saya. Neraka itu besar untuk seluruh makhluk di luar jama’ah saya.”

“Sesungguhnya, jika manusia telah meyakini diri sebagai pemilik Kebenaran maka dia telah merampas hak Allah dan bahkan menista Allah dengan fitnah yang keji. Sebab, orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pemilik Kebenaran akan berkata begini di dalam hatinya: ‘Sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Mahakejam dan Mahatidak adil. Sebab, Dia mencipta surga hanya untuk aku dan jama’ahku yang segelintir jumlahnya, sedangkan makhluk lain disiksanya dengan azab pedih di neraka.”

“Jika dalam kehidupan di dunia ini kalian menemukan manusia-manusia seperti itu, jauhilah mereka. Sesungguhnya merekalah orang-orang yang sakit qalbu-nya. Sesungguhnya, aku katakan kepada kalian semua, bahwa Dia, Allah, adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang disembah manusia dari segala agama. Tuhan yang disembah margasatwa, gunung, hutan, lautan, bumi, bulan, bintang, matahari, setan, iblis, jin , serta seluruh makhluk yang kasatmata maupun yang gaib. Dan sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw., bahwa beliau hanyalah penyampai Kebenaran, maka hendaknya kalian pun jangan melampaui beliau, kiblat panutan kita.”

“Dengan memahami bahwa dalam masalah agama tidak boleh ada paksaan maka, tidak Islam, tidak Hindu tidak Budha, semuanya dihargai hak hidupnya di Lemah Abang ini. Warga Hindu dan Budha yang ingin membangun tempat ibadah di Lemah Abang tidak perlu segan atau takut. Dirikan tempat-tempat ibadah untuk memuja kebesaran Ilahi, Tuhan sarwa sekalian alam, Sang Pencipta, Yang Berkehendak disembah dengan segala macam cara oleh berbagai makhluk ciptaan-Nya baik yang gaib maupun yang kasatmata.”

Untuk itu, ingat-ingatlah selalu, dengan anugerag yang serba sempurna itu, sebagai wakil al-Kamal di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), selain bebas menentukan pilihan dalam beragama, kalian pun mempunyai hak fitrah untuk memilih cara terbaik mencari nafkah. Dengan tangan, kaki, akal, nafsu, dan hati nurani yang kalian miliki, kalian bebas mencari nafkah selama itu tidak melanggar hak manusia lain.”

“Dengan selalu bersyukur karena menyadari keberadaan diri sebagai wakil Yang Mahasempurna di muka bumi (khalifah al-Kamal fi al-ardh), terlarang bagi penghuni Lemah Abang untuk menjadi peminta-minta. Sebab, dengan menjadi peminta-minta sesungguhnya orang seorang telah mengingkari keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Maha Pembalas di muka bumi (khalifah asy-Syaku fi al-ardh). Sungguh celaka manusia yang tidak tahu balas budi atas anugerah kesempurnaan yang diberikan al-Kamal kepadanya.”

“Dengan kesadaran diri sebagai wakil al-Kamal dan wakil asy-Syakur, kalian pun wajib menolak usaha manusia lain yang akan menjerumuskan kalian ke dalam perbudakan, kecuali jika kalian memang menghendakinya. Sebagaimana atribut-atribut Ilahi yang terkait dalam citra wakil al-Haqq, sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil asy-Syakur pun sesungguhnya kalian tetaplah wakil al-Haqq; sehingga di dalam kebebasan mencari nafkah harus diikuti dengan cara-cara yang hak. Janganlah sekali-kali kalian melanggar hak orang lain.”

“Yang tak kalah penting di antara hak fitrah memilih itu adalah yang terkait dengan kehendak bebas memilih pemimpin. Sebagai wakil al-Muqtadir di muka bumi (khalifah al-Muqtadir fi al-ardh), kalian memiliki hak untuk menentukan siapa di antara manusia di dalam golonganmu yang pantas menjadi pemimpinmu. Jika selama ini, di dalam tatanan lama, kalian tidak dilibatkan dalam menentukan siapa pemimpin yang sesuai dengan yang kalian kehendaki maka mulai sekarang hal itu wajib ditinggalkan. Di Lemah Abang akan segera diadakan pemilihan pemimpin berdasarkan pilihan warga. Sebab, tidak ada kehidupan makhluk tanpa pemimpin.”

“Dengan kesadaran sebagai wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, dan wakil al-Haqq, maka hendaknya kalian jangan sekali-kali membiarkan orang lain melanggar, menentukan atau merampas hak fitrah kalian, baik dalam hal memilih agama, menentukan cara mencari nafkah, dan memilih pemimpin. Jangan biarkan orang-orang jahat memaksa kalian untuk berlutut dan bersujud di hadapan batu, pohon, kuburan, gunung, bulan, bintang, dan manusia lain. Jangan pula kalian membiarkan orang-orang keji menjadikan kalian dan anak-anak kalian sebagai budak belian yang terampas kemerdekaannya. Jangan biarkan mereka menjadikanmu dan anak-anakmu mencari nafkah sebagai keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Jangan biarkan orang memperbudak dirimu dan anak keturunanmu. Lawanlah mereka yang merasa berhak memilihkan jalan hidup kalian dan anak-anak kalian sebagai budak hina, karena sejatinya engkau sekalian adalah wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, dan wakil al-Haqq yang memiliki hak fitrah memilih yang terbaik bagi diri sendiri.”

Abdul Jalil berhenti beberapa bentar. Ia saksikan pancaran harapan berkilau-kilau dari mata murid-murid yang mendengarkan khotbahnya. Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan lagi khotbahnya.

“Sebagai penghuni tempat bernama Lemah Abang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi, sesungguhnya kalian memiliki tujuan dan kiblat yang sama, yaitu menjalankan tugas sebagai wakil Allah. Lantaran tujuan dan kiblat kalian sebagai kumpulan pribadi adalah sama maka keberadaan kalian sebagai kumpulan pribadi itu disebut kabilah (qabilah). Aku katakan kiblat kalian sama, sebab baik kalian yang beragama Islam maupun Hindu dan Budha tidak lagi tunduk bersujud kepada sesama makhluk. Yang muslim hanya menyembah Allah. Yang Hindu hanya menyembah Syiwa. Yang Budha hanya menyembah Budha. Sesungguhnya berbagai nama-Nya itu adalah satu jua hakikat-Nya: Tuhan Yang Tak Terbayangkan. Yang Tak Tergambarkan oleh kata-kata. Yang Tak Terbandingkan. Yang Tak Terjangkau pancaindera. Esa. Memenuhi segala.”

“Namun, ingatlah bahwa sebagai sebuah kabilah kalian hanya bisa mencapai tujuan yang kalian arah dalam lingkup kecil yang terbatas, yaitu sebagai sesama warga Lemah Abang dan beberapa desa di sekitarnya. Sedangkan kehidupan ini tidak hanya terbatas di Lemah Abang dan desa-desa di sekitarnya. Itu sebabnya, untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan lebih tinggi sebagai wakil al-Kamal maka kalian harus menjadi bagian dari kumpulan manusia dari kabilah lain. Kumpulan-kumpulan manusia dari kabilah lain dengan prinsip kesetaraan dan kesederajatan sebagai sesama wakil al-Kamal itulah yang disebut ra’yat (ra’iyat), yang bermakna kumpulan dari cabang-cabang anak manusia.”

“Sebagaimana kabilah, ra’yat memiliki makna kumpulan manusia yang memiliki kiblat dan tujuan yang sama, namun skalanya lebih besar. Di dalam kumpulan manusia yang disebut ra’yat, tempat, agama, suku, warna kulit, dan bidang pekerjaan tidak menjadi alat pengikat utama. Alat pengikat utama adalah tujuan yang sama dari pribadi-pribadi di dalam ra’yat tersebut. Namun satu hal yang wajib kalian ingat adalah ra’yat hanya memiliki makna bersatunya tujuan dan kiblat yang sama. Ra’yat belum memiliki makna bergerak bersama. Ra’yat belum melangkah seiya-sekata sebagai gerakan. Karena itu, agar ada gerak hidup dan langkah yang nyata menuju tujuan yang dikehendaki ra’yat maka hendaknya pribadi-pribadi dari ra’yat itu harus saling bekerja untuk bergerak. Dan, ra’yat yang sudah saling bekerja sama untuk bergerak itulah yang disebut masyarakat, yakni pribadi-pribadi dari ra’yat yang melakukan kerja sama (musyarakat).”

“Karena baik ra’yat maupun masyarakat berpangkal pada kabilah maka tujuan maupun gerakan kerja sama itu, di dalam ra’yat atau masyarakat harus memiliki kiblat yang sama. Agar masyarakat memiliki tujuan dan kiblat yang sama dan sekaligus bergerak bersama maka hendaknya masyarakat itu bercirikan ummah, yakni ‘gerak ke depan’ (amam). Dengan demikian, kumpulan-kumpulan manusia sebagai tatanan baru kehidupan yang dimulai di Lemah Abang ini hendaknya disebut ‘masyarakat ummah’ yang tujuan dan gerakannya didasarkan pada musyawarah bersama para wakil Allah di muka bumi.”

Abdul Jalil diam sejenak. Ia memandang wajah-wajah pendengar khotbahnya yang tercengang-cengang bagai mendengarkan dongeng menakjubkan. Sekilas Abdul Jalil menangkap sasmita bahwa tidak semua pendengar memahami maksudnya. Bahkan, beberapa di antara mereka yang paham terlihat ragu-ragu seolah mereka hendak diajak mewujudkan sebuah mimpi yang mengerikan.

“Aku paham jika banyak di antara kalian masih dicekam oleh rasa takut dan ragu untuk mengamalkan ajaranku dan mengikuti tatanan baru di Lemah Abang ini. Selama berpuluh bahkan beratus tahun kalian hidup di lingkungan yang tidak mengenal hak-hak fitrah seorang manusia, wakil Allah di muka bumi. Selama beratus tahun kalian tidak mengetahui jika kalian adalah wakil Allah di muka bumi, yang memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ dari asma’, shifat, dan af’al Allah. Selama ini yang diakui keberadaannya sebagai wakil Tuhan hanya raja. Sementara kalian selama ini ditempatkan sebagai kawula, yang tidak memiliki hak apa pun termasuk hak atas hidup kalian sendiri.”

“Kini aku katakan kepada kalian semua bahwa di Lemah Abang ini sudah tidak ada lagi peraturan yang membedakan kedudukan orang seorang sebagai kawula dan sebagai gusti. Kumpulan manusia di Lemah Abang inilah yang disebut kabilah, sebagai bagian dari masyarakat ummah, yaitu kumpulan pribadi manusia yang mempunyai hak milik atas tanah dan kekayaan pribadi, hak milik atas keluarga, hak milik atas agama, hak untuk mencari nafkah, hak untuk memilih pemimpin. Kumpulan manusia yang memiliki tujuan dan kiblat yang sama yakni mewujudkan jati diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Jika nanti ada pihak-pihak yang mengancam keselamatan kalian maka bekerjasamalah kalian dengan kabilah lain sehingga terbentuk ra’yat dan masyarakat ummah. Insya Allah, dengan bekerjasama dengan manusia lain sebagai masyarakat ummah, kalian akan kuat sentosa menghadapi segala tantangan dan rintangan.”

“Jika di antara kalian ada yang bertanya kenapa ra’yat Lemah Abang harus bekerja sama dengan sesama anggota ra’yat? Maka, aku akan balik bertanya, apakah engkau yang sudah memahami intisari khotbah-khotbahku tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi benar-benar berani dan mampu mewujudkannya seorang diri? Aku memahami bahwa tiap-tiap kalian masih dihantui oleh rasa takut untuk mempertahankan hak-hak yang kalian miliki sebagai wakil Allah.”

“Tidakkah kalian pernah melihat seekor semut yang susah payah membawa sebutir nasi? Kesulitan seekor semut itu teratasi jika ia bekerja sama dengan kawan-kawannya. Ibarat semut-semut membawa sebutir nasi ke sarang, begitulah kumpulan kalian di sebut masyarakat ummah. Nah, dengan akal dan budimu hendaknya engkau sekalian dapat memahami kenapa kalian harus bekerja sama dengan sesama kalian dalam kesetaraan dan kesederajatan. Dengan bekerja sama sesungguhnya kalian akan menjadi lebih kuat sentosa dalam mencapai tujuan yang kalian kehendaki.”

“Dengan alasan bahwa masing-masing kalian harus memperkuat diri dan meneguhkan keberanian maka menjadi keharusan mendasar bagi kalian untuk bekerja sama dengan pribadi-pribadi lain. Sepuluh pribadi yang ketakutan, jika bekerja sama sebagai pribadi-pribadi yang merasa senasib dan sepenanggungan, maka akan menjadi sepuluh pribadi yang kuat dan pemberani. Karena itu, bersatu padulah kalian dalam wadah kabilah, ra’yat, dan masyarakat ummah untuk menghadapi segala kesulitan yang bakal menghadang di tengah jalan.”

“Sesungguhnya sangat banyak manusia rakus dan serakah yang akan tidak suka dan membenci ajaranku di Lemah Abang ini. Mereka tidak akan segan-segan untuk menumpas ajaranku dan tatanan baru di Lemah Abang yang mereka anggap mengancam kepentingan pribadi mereka. Tetapi, aku katakan kepada kalian, lawanlah dengan segenap kuasa dan kemampuanmu mereka-mereka yang akan menghancurkan harapan kalian. Kalian wajib mempertahankan hak-hak kalian yang telah terampas.”

Para warga baru Lemah Abang tercengang-cengang. Belum pernah mereka mendengar ajaran tentang kehidupan dan tatanan baru sebagaimana diuraikan Abdul Jalil. Usai mendengar khotbah sang pembuka desa, warga berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan berbagai hal terkait pelaksanaan ajaran dan tatanan baru tersebut. Mereka berbincang-bincang dari malam hingga dini hari.

Bagaikan matahari yang terus merambat ke puncak langit dengan sinar yang makin terang dan panas, Abdul Jalil menerangi cakrawala kesadaran warga Lemah Abang dengan khotbah-khotbahnya yang cemerlang. Bagaikan margasatwa yang berlarian di padang kehidupan setelah dicekam kegelapan malam, dengan kegembiraan meluap-luap warga Lemah Abang menyambut khotbah-khotbah Abdul Jalil. Laksana margasatwa menyambut kehangatan cahaya matahari sehingga dengan cahaya itu mereka dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk.

Seperti sebelumnya, khotbah berikutnya disampaikan Abdul Jalil usai memimpin sembahyang isya di Tajug Agung Lemah Abang. Namun, malam itu mereka yang hadir di Tajug Agung bukan hanya warga Lemah Abang. Beratus-ratus warga dari desa sekitar Lemah Abang ikut hadir untuk mendengarkan khotbah yang memesona. Malam itu Abdul Jalil berkhotbah di teras Tajug Agung agar suaranya bisa didengar oleh hadirin yang berjejal-jejal hingga ke halaman. Dengan suara berapi-api mengobarkan semangat ia menyadarkan manusia lewat khotbahnya.

“Seperti telah kukatakan kepada kalian bahwa tiap-tiap manusia adalah wakil Allah di muka bumi maka hendaknya kalian mampu memahami makna itu dalam arti yang sebenarnya. Jangan kalian terperangkap oleh akal dan nafsumu yang kerdil dengan memaknai ‘kalifah’ Allah dalam menguasai bumi beserta isinya. Sekali-kali tidak demikian maknanya. Sebab, jika kalian terperangkap pada makna itu maka kalian akan beranggapan bahwa Allah telah mempusakakan bumi dan segala isinya kepada wakil-Nya.”

“Sesungguhnya kata ‘kalifah’ dalam kaitan dengan hakikat khalifah Allah fi al-ardh merujuk pada al-Wakil, yaitu salah satu nama-Nya. Itu sebabnya, selain menyandang kedudukan sebagai wakil al-Haqq, wakil al-Hakim, wakil al-Muhaimin, wakil al-Kamal, wakil al-Muqtadir, wakil asy-Syakur, wakil al-Hakam, wakil ar-Rahman, dan wakil ar-Rahim, sesungguhnya manusia juga wakil al-Wakil di muka bumi (khalifah al-Wakil fi al-ardh). Artinya, manusia menjadi wakil Yang Maha Memelihara penyerahan tiap-tiap urusan. Itu bermakna, tiap-tiap manusia yang menyadari keberadaan dirinya sebagai wakil al-Wakil di muka bumi akan memahami bahwa hak fitrah yang dimilikinya hanyalah sebagai pemelihara dan pengelola bumi. Seorang wakil al-Wakil dilarang menguras kekayaan dan merusak segala sumber daya yang terkandung di permukaan maupun di perut bumi milik Allah.”

“Jika kalian bertanya kenapa manusia tidak menguasai dan mewarisi bumi? Kenapa manusia hanya berwenang memelihara dan mengelola bumi? Aku katakan kepada kalian agar mengingat ajaran yang pernah aku sampaikan sebelumnya. Sesungguhnya manusia terbentuk atas dua anasir utama, yaitu tanah dan ruh suci yang ditiupkan Sang Pencipta saat leluhur manusia diciptakan di surga. Itu sebabnya dalam menjalankan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi, seorang manusia tidak diperkenankan mengikatkan kiblat hati dan pikirannya kepada bumi. Bumi bukanlah hunian asal manusia. Sebab, bumi bukan tempat manusia kembali setelah mati. Bumi hanya hunian sementara. Bumi akan menjadi tempat kembali tubuh kalian yang terbuat dari tanah. Karena itu, kalian semua yang sadar bahwa ruh suci manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah (inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un), hendaknya tidak mencintai segala sesuatu melebihi kecintaanmu kepada Dia dari mana ruh suci berasal. Janganlah kalian terjerat oleh bujuk rayu nafsu rendah badani untuk mencintai bumi beserta segala isinya, karena hal itu akan menyesatkanmu dari jalan Kebenaran-Nya.”

“Ada di antara kalian yang bertanya kepadaku tentang tatanan baru di Lemah Abang yang didasarkan pada kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi. Menurut pamahamannya, tatanan itu sudah tersedia sebagai keniscayaan, seolah-olah kitab ajaib yang jatuh dari langit. Kemudian, karena keajaibannya, maka tatanan dari langit itu wajib dihargai dan dihormati oleh semua orang. Tiap-tiap warga, menurut pamahaman ini, wajib dihargai keberadaan dan seluruh perilakunya. Jika pemahaman seperti itu yang kalian tangkap dari apa yang pernah aku ajarkan maka sesungguhnya kalian telah keliru memahami tatanan baru yang kumaksudkan.”

“Aku memang telah berkata bahwa di Lemah Abang tidak ada perbedaan antara gusti dan kawula. Tidak ada raja, tidak ada hamba sahaya. Semua warga setara dan sederajat. Semua manunggal dalam persaudaraan. Namun, satu hal yang wajib kalian ingat bahwa fitrah manusia sebagai keturunan Adam a.s. sesungguhnya bertingkat-tingkat sesuai kadar ketakwaannya. Karena itu, sungguh keliru mereka yang menelan mentah-mentah ucapanku dengan berkata, ‘Menurut ajaran Syaikh Lemah Abang, semua manusia adalah sama dan sebangun. Sama tinggi. Sama rendah. Sama warna. Sama rupa. Sama derajat.”

“Sungguh picik mereka yang menafsirkan ucapanku tentang kesetaraan dan kesederajatan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi dengan pemahaman seperti itu. Sebab, sebagaimana namanya, Lemah Abang bermakna tanah merah subur yang memberikan kesempatan sama bagi semua benih untuk tumbuh. Di tanah ini tidak ada perbedaan benih ini boleh tumbuh dan benih itu terlarang tumbuh. Benih apa pun boleh tumbuh di Lemah Abang. Tetapi, waktu dan perilaku alam akan menguji daya tumbuh masing-masing benih. Benih yang kuat dan mampu menghadapi tantangan alam akan tumbuh besar dan sentosa dengan akar-akar yang kuat serta buah yang lebat. Namun, benih yang lemah dan tidak mampu mengatasi tantangan alam akan meranggas, merana, layu, dan mati. Demikianlah perumpamaan tentang tatanan baru di Lemah Abang.”

“Lihatlah, o Saudara-saudaraku, hamparan rumput alang-alang di sekitarmu! Jika engkau cermat mengamatinya maka akan engkau dapati kenyataan bahwa tidak ada rumput yang sama tinggi. Tanaman padi pun tidak ada yang sama tinggi. Demikian pun, pohon-pohon hutan yang sama jenisnya tidak ada yang sama tinggi. Sebab, tinggi dan rendah adalah tatanan alam (sunnah Allah) yang tidak bisa diganggu gugat. Dapatkah sungai mengalirkan air jika dasarnya tidak terdapat perbedaan tinggi dan rendah?”

“Sebagaimana tatanan alam yang sudah tergelar, di Lemah Abang pun pada gilirannya akan terdapat perbedaan tinggi dan rendah derajat manusia. Tetapi berbeda dengan di tempat lain yang menata kedudukan tinggi dan rendah berdasarkan suku, warna kulit, agama, dan keturunan; tatanan tinggi dan rendah kedudukan orang seorang di Lemah Abang ini ditentukan oleh kemampuannya dalam mewujudkan citra diri sebagai wakil Allah di muka bumi. Karena itu, yang tertinggi derajatnya di antara penduduk Lemah Abang nanti adalah pahlawan-pahlawan yang berhasil menaklukkan monster ganas di dalam dirinya, yang disebut nafsu rendah badani. Dia yang tertinggi adalah pahlawan-pahlawan yang kembali ke tengah kaumnya dengan membawa bendera kemenangan dan disambut dengan suka cita oleh kaumnya. Dia yang dianugerahi gelar ‘sang pembunuh monster ganas’ di dalam diri sendiri. Pahlawan-pahlawan itulah yang dielu-elukan kaumnya sebagai pelindung dan penjaga kehidupan dan gangguan monster-monster ganas. Dan pahlawan-pahlawan itu, menurut hukum suci Ilahi, disebut dengan gelar agung: qaum al-muttaqin!”

“Aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa kekalifahan manusia sesungguhnya adalah sebuah rentangan kedudukan antara binatang (al-an’am), manusia (al-insan), dan adimanusia (al-insan al-kamil). Karena itu, untuk mencapai kekalifahan, tiap-tiap manusia wajib melewati dan melampaui kebinatangan dan kemanusiaannya. Kekalifahan adalah palagan pertempuran tempat masing-masing manusia menguji diri. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh, berani, tawakal, dan memiliki harapanlah yang bisa mencapai kedudukan kalifah. Mereka yang tidak bersungguh-sungguh, penakut, malas, gampang putus asa, dan tidak memiliki harapan tidak akan pernah bisa melampaui kedudukan kalifah dan tinggal selamanya dalan kedudukan binatang.”

“Ketahuilah, pada saat manusia berjuang melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk mencapai kekalifahan, sesungguhnya akan terdapat orang-orang berjiwa keledai, unta, kuda beban, kerbau, sapi perah, dan anjing peliharaan. Mereka itulah orang-orang yang terikat kecintaan pada diri pribadi secara berlebihan, kiblat hidupnya terarah pada bumi dan kebendaan. Mereka orang-orang yang berada pada kedudukan binatang. Merekalah manusia berderajat rendah yang berjalan terseok-seok di permukaan bumi karena punggungnya memanggul beban keinginan nafsu dan pamrih duniawi yang berat. Makin lama mereka berjalan makin terseok langkahnya karena tubuh makin lemah tak kuat menanggung beban. Sementara itu, beban yang dipanggulnya berangsur-angsur menjelma menjadi monster mengerikan yang mengisap darah dan otak mereka.”

“Ketika beban berat yang dipanggul sudah tak mampu lagi disangga maka mereka yang berjiwa binatang itu akan menjelma jadi binatang bagi sesamanya. Ia akan memangsa sesamanya untuk memenuhi hasrat dan keinginan monster nafsunya yang haus darah. Bahkan mereka akhirnya lebih ganas dari monster yang dipanggulnya. Mereka akan menjadi penebar petaka dan ketakutan bagi penghuni bumi.”

“Sementara itu, yang lebih tinggi derajatnya dari golongan binatang ini adalah golongan manusia. Mereka adalah orang-orang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ adimanusia untuk menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi. Tetapi, mereka hanya mampu memahaminya dalam tingkat pemikiran dan pemahaman belaka. Mereka banyak menemui kegagalan dalam mewujudkan kekalifahan dalam amaliah kehidupan sehari-hari. Mereka itulah orang-orang yang masih cenderung menafsirkan kekalifahannya terkait dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Mereka sering terjebak pada sikap dan tidakan yang tidak adil dan melampaui batas, meski mereka sadar bahwa hal itu tidak benar.”

“Manusia tertinggi di antara manusia adalah mereka yang sudah dapat mewujudkan keberadaan dirinya sebagai adimanusia, yakni manusia sempurna (al-insan al-kamil) yang menjadi wakil Allah di muka bumi. Mereka itulah adimanusia yang telah berhasil menaklukkan monster-monster ganas yang bersembunyi di dalam dirinya. Mereka itulah pahlawan-pahlawan pemberani yang sudah mengepakkan sayap-sayapnya dan terbang ke angkasa meninggalkan tanah berlumpur penuh biji emas yang memanggil-manggil dengan rayuan menggiurkan. Mereka penjaga keseimbangan hidup di bumi. Mereka pemelihara sejati bumi, namun mereka tidak berhasrat terikat dengan bumi. Merekalah penegak keadilan yang berjuang untuk kelestarian bumi beserta isinya. Merekalah pahlawan-pahlawan yang selalu didambakan kehadirannya oleh penghuni bumi karena selalu menjadi rahmat bagi lingkungannya.”

“Jika kalian bertanya bagaimana mewujudkan kehidupan seorang wakil Allah di muka bumi? Kukatakan kepada kalian bahwa seorang wakil Allah bukanlah penumpuk kekayaan berlebih dengan alasan untuk warisan anak cucu. Sebab, mereka yang menjadi penumpuk kekayaan berlebih sesungguhnya telah berbuat tidak adil baik terhadap diri sendiri maupun terhadap anak dan cucu: mereka itulah makhluk rendah yang tergolong sebagai penzalim diri sendiri dan keturunan. Kukatakan tidak adil dan bahkan zalim terhadap diri sendiri dan keturunan karena dengan tindakan menumpuk kekayaan berlebihan itu sesungguhnya mereka telah menzalimi kesucian ruh yang bersemayam di dalam dirinya. Mereka adalah manusia yang terperosok ke jurang kehinaan sebagai makhluk rendah yang mengumbar hasrat nafsu. Jiwa mereka senantiasa diliputi rasa khawatir dan ragu dalam meniti hidup.”

“Jika kalian bertanya apakah mewariskan harta benda berlebih untuk anak cucu merupakan tidakan tidak adil dan zalim? Aku katakan, sungguh telah berbuat tidak adil dan zalim siapa pun di antara manusia yang mewariskan harta benda berlebih kepada anak dan cucunya. Mewariskan harta benda berlimpah berarti seseorang tidak saja telah menjerumuskan anak dan cucunya ke dalam jurang ketamakan, tetapi juga melumpuhkan semangat mereka untuk berjuang menghadapi tantangan hidup. Sesungguhnya kecintaan manusia terhadap anak cucu yang diwujudkan dalam bentuk warisan harta benda berlebih adalah jaring-jaring malapetaka yang justru membahayakan kehidupan para pewaris itu sendiri.”

“Jika di antara kalian ada yang ingin mengetahui siapakah di antara manusia yang tidak berkeinginan mewariskan harta benda kepada keturunannya? Aku tunjukkan kepada kalian bahwa manusia terhormat itu adalah Guru Agung manusia panutanku, Sang Adimanusia, Nabi Muhammad Saw.. Pada zamanya beliau adalah pemimpin umat dan pemegang kunci perbendaharaan Baitul Mal dari sebuah kekuasaan yang membentang di seluruh jazirah Arabia. Tetapi, beliau hidup di samping masjid. Tiap hari sering mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Ketika beliau wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan kepada putera puteri dan cucu-cucunya. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan untuk seluruh manusia adalah Kitab Allah dan keteladanan hidupnya.”

“Sesungguhnya, sebagaimana perilaku Nabi Muhammad Saw., keempat orang sahabat penggantinya adalah adimanusia yang telah terbukti membentangkan cermin kewakilan mereka atas asma’, shifat, dan af’al Allah sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Saw. Sementara itu, karena aku sangat ingin meneladani perikehidupan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya maka aku pun sudah bertekad untuk tidak mewariskan secuil pun harta benda kepada anak keturunanku. Sebagaimana telah kalian ketahui semua, tanah shima (bebas pajak) anugerah dari Sri Mangana telah kubagi-bagikan tanpa sisa kepada kalian. Lantaran itu, sekarang aku tidak memiliki apa-apa lagi. Sejak ini aku akan tinggal di gubug kecil di sampig Tajug Agung.”

“Dengan mengungkap apa yang terkait dengan perilaku Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya, yang telah kuikuti jejaknya itu, janganlah kalian sangka aku mengungkit-ungkit pemberianku kepada kalian, apalagi untuk sekedar pamer kebajikan. Sesungguhnya aku menghendaki agar kalian, yang telah mengakui aku sebagai guru, tidak hidup berlebihan. Ingat-ingatlah bahwa kalian hidup di dunia ini hanya berhak memelihara dan mengelola bumi. Kalian hanya sementara tinggal di sini. Itu sebabnya, jika ada di antara kalian yang mengambil tanah berlebihan dengan alasan yang ini dan yang itu untuk bagian anakku dan yang di sana untuk bagian cucuku, maka hentikanlah itu. Cukuplah kalian mengambil bagian untuk dirimu dan keluargamu sesuai kebutuhan. Kelebihan tanahmu hendaknya engkau berikan kepada saudaramu yang belum kebagian tanah.”

“Aku katakan kepada kalian bahwa warisan yang paling berharga bagi anak dan cucu kalian sesungguhnya adalah bekal iman dan ilmu. Dengan dua bekal itu engkau telah membentangkan jalan keselamatan bagi anak dan cucumu. Sebab, dengan bekal iman dan ilmu sesungguhnya engkau sekalian telah menyerahkan segala urusan keturunanmu kepada al-‘Alim. Dan, ingat-ingatlah selalu bahwa ciri utama dari keberadaan seorang wakil Allah di muka bumi adalah menjadi rahmat bagi makhluk yang lain.”

Ketika Abdul Jalil usai berkhotbah dan berjalan ke arah gubugnya, bubarlah para pendengar. Sebagian kembali ke rumah masing-masing. Sebagian berkerumun dalam kelompok-kelompok untuk membicarakan intisari khotbah. Namun, saat Abdul Jalil akan masuk ke pintu gubugnya, salah seorang pendengar yang datang dari desa lain bertanya, “Bagaimana Tuan Syaikh bisa berkata bahwa manusia yang terikat kecintaan pada bumi dan kebendaan berkedudukan sebagai binatang? Bagaimana Tuan Syaikh bisa menilai rendah kecintaan manusia pada benda hingga menyetarakan mereka sebagai binatang?”

Abdul Jalil yang tak menduga bakal ditanya, terdiam beberapa saat tak menjawab. Sejurus kemudian terdengar keributan di utara desa. Sebagian warga yang sedang berjalan ke rumah masing-masing berhamburan bagai air lautan diaduk. Keributan pun makin hingar-bingar ketika orang-orang berteriak sahut-menyahut dan sambung-menyambung.

Ketika salah seorang murid dengan bercucuran keringat mendekat, Abdul Jalil bertanya, “Apakah sesungguhnya yang sedang terjadi?”

“Orang-orang mengejar babi ngepet, Tuan Syaikh,” sahut sang murid.

“Babi ngepet?” gumam Abdul Jalil sambil memandang orang yang baru saja bertanya kepadanya. “Bukankah itu binatang jadi-jadian yang menurut cerita berasal dari manusia pecinta kebendaan? Bukankah kecintaan terhadap benda bisa menjadikan manusia dalam wujud hina, yaitu binatang yang najis?”

“Maafkan kami, Tuan Syaikh,” kata sang penanya blingsatan dengan muka kecut. “Kami sekarang memahami apa yang telah Tuan Syaikh jelaskan.”

Pacific Ocean On board of MV. Taho, April 10th 2007

05. Wilayah al Ummah

Khotbah-khotbah yang disampaikan Abdul Jalil di Tajug Agung Lemah Abang sangat digemari oleh pendengarnya. Itu terlihat saat Abdul Jalil menyampaikan khotbah lanjutan pada hari berikutnya, jumlah pendengar makin berjejal-jejal memadati Tajug Agung dan tanah lapang yang terhampar di depannya. Warga dari pinggiran Kuta Caruban yang letaknya cukup jauh dari Lemah Abang pun berdatangan. Usai memimpin sembahyang isya, Abdul Jalil memulai khotbahnya. “

Selama berbilang abad telah ditanamkan ke dalam alam pikiran orang-orang beragama Islam bahwa yang disebut berhala adalah batu-batu, kayu-kayu pahatan, pohon keramat, gunung dan benda-benda alam yang disembah manusia. Selama beratus tahun telah diyakinkan kepada umat Islam bahwa para penyembah berhala adalah orang-orang sesat yang akan hidup celaka karena menyekutukan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.”

“Tetapi malam ini aku katakan kepada kalian semua, o Saudara-saudaraku, bahwa sesungguhnya berhala yang paling menyesatkan dan berbahaya bagi kehidupan manusia adalah sebentuk makhluk jahat yang dipuja-puja dan disembah-sembah oleh sekalian manusia, termasuk di dalamnya umat beragama Islam. Dengan suaranya bergemuruh menggetarkan, makhluk jahat itu telah menjadi kiblat sesembahan baru umat manusia. Dengan bayangan dirinya yang kelam dan mengerikan, makhluk jahat itu dipertuhankan oleh manusia. Apakah nama makhluk jahat yang mengerikan itu? Dari mana makhluk itu berasal? Kejahatan apa yang telah dilakukannya?”

“Aku katakan kepadamu sekalian, o Saudara-saudaraku, bahwa yang disebut makhluk jahat yang disembah manusia itu tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah tatanan hidup manusia yang dinamakan kerajaan atau negara. Itulah tuhan baru. Itulah berhala baru. Itulah makhluk penyesat yang mengerikan. Ingat-ingatlah selalu ucapanku! Di antara berhala-berhala yang paling menyesatkan dan paling berbahaya bagi manusia-manusia beriman adalah makhluk bernama: Kerajaan! Kerajaan! Kerajaan! Negara!”

“Aku beritahukan kepada kalian bahwa yang disebut kerajaan atau negara sesungguhnya adalah makhluk berdarah dingin yang sangat haus darah. Dia makhluk pemangsa berjiwa ganas melebihi serigala yang paling buas. Dari manakah makhluk pemangsa ganas itu berasal? Kalian semua harus tahu bahwa jahat yang mengerikan itu merupakan monster ciptaan para pendusta. Rancangan para pembohong. Rekayasa para penipu. Ya, monster ciptaan para pendusta. Tahukah kalian siapa para pendusta itu? Mereka adalah manusia-manusia setengah binatang yang tubuh dan jiwanya tercipta dari bayangan makhluk paling mengerikan: Iblis.”

“Sesungguhnya para pendusta yang telah mencipta monster bernama kerajaan itu adalah makhluk-makhluk yang lemah dan tak berdaya. Mereka jauh lebih lemah daripada cacing-cacing penghuni tanah. Meski lemah, mereka memiliki akal yang jauh lebih licik dan lebih curang dibandingkan akal busuk serigala. Mereka juga memiliki suara geraman dan gonggongan yang lebih kuat dibanding anjing. Mereka memiliki pamrih yang jauh melebihi pamrih udang di balik batu. Mereka memiliki tubuh yang lebih licin dari belut. Mereka dapat terbang tinggi di angkasa laksana burung nazar pemakan bangkai. Mereka bahkan dapat mengubah-ubah warna kulit melebihi bunglon. Dan, yang membuat mereka menjadi kuat melebihi kekuatan harimau adalah kemampuan mereka untuk bersekongkol dalam kejahatan dengan sesamanya.”

“Tahukah kalian apa hasil persekongkolan makhluk-makhluk lemah berjiwa cacing, serigala, anjing, udang, burung nazar, belut, dan bunglon itu? Kerajaan! Negara! Itulah makhluk pemangsa ganas yang telah mereka cipta dalam persekongkolan yang menjijikkan. Para pendusta bersekongkol membuat dongeng-dongeng palsu yang berisi gantungan harapan bagi manusia. Mereka, para pendusta itu, mendongeng tentang pemangsa ganas bernama kerajaan sebagai tatanan ciptaan Tuhan yang bakal mendatangkan keadilan, kemakmuran, keamanan, kedamaian, keselamatan, dan kemuliaan bagi manusia yang patuh dan setia kepada pemangsa tersebut.”

“Sungguh aku katakan kepada kalian, o Saudara-saudaraku, bahwa apa yang mereka dongengkan adalah dusta semua. Di balik dongeng-dongeng itu mereka memasang jerat yang bakal memerangkap setiap orang yang mempercayai dusta mereka. Kemudian, bagaikan kawanan laba-laba yang melihat mangsa terjerat ke dalam jaringan-jaring kepentingan pribadi yang ditebarnya, para pendusta itu akan memangsa siapa saja di antara manusia yang mempercayai kebohongan mereka. Sesungguhnya para pendusta itu makhluk yang lebih rakus, lebih serakah, lebih ganas, dan lebih mengerikan daripada laba-laba. Dengan dongeng-dongeng ciptaannya para pendusta mengendalikan makhluk bernama kerajaan yang mengerikan itu untuk mencabik-cabik kehidupan manusia yang percaya pada dongeng-dongeng mereka.”

“Dengan kerakusan, ketamakan, kelicikan, dan kecurangan tak terbayangkan, para pendusta itu bersekongkol atas nama kerajaan, atas nama negara. Dengan mulut-mulut yang najis mereka berkata kepada komplotannya: ‘Marilah kita satukan bahasa kita untuk menetapkan benar dan salah, baik dan buruk, pahlawan dan pengkhianat, anugerah dan hukuman, sah dan tidak sah, keadilan dan kezaliman. Bahasa lain yang tidak sesuai dengan kita hendaknya kita singkirkan sebagai bahasa yang rancu. Sesungguhnya, dengan bahasa kita itu, kitalah pemilik kebenaran atas nama negara.’”

“Ketahuilah, o Saudara-saudaraku, dengan bahasa persekongkolan itu para pendusta tengik akan menekuk lutut manusia untuk bersujud di hadapan makhluk ganas yang mereka cipta. Dengan bahasa hasil persekongkolan itu mereka menimbun harta benda dari manusia taklukkan. Kemudian, bagaikan monster kelaparan, mereka mengunyah dan memamah harta benda yang mereka timbun. Sungguh menjijikkan para pendusta itu bagiku. Sungguh najis mulut mereka itu. Apa pun yang keluar dari mulut itu, menurutku, akan ikut menjadi najis.”

“Lihatlah apa yang dilakukan para pendusta saat mereka menyusun tatanan salah dan benar, adil dan zalim, serta sah dan tidak sah dalam bahasa hukum mereka. Kalian akan menemukan bahwa kesalahan adalah hak para kawula, sementara raja dan keluarganya berdiri tegak di atas permadani ketidakbersalahan. Hukum hanya untuk kawula. Hukum tidak untuk raja dan pejabat negara. Itulah bahasa keadilan menurut mereka.”

“Lihatlah apa yang diperbuat para pendusta itu saat mereka sudah memiliki timbunan harta benda yeng mereka peroleh dari sisik, bulu, rambut, dan kotoran makhluk pemangsa ciptaan mereka. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika perut mereka sudah kembung berisi kotoran kerajaan yang najis. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika mereka sudah berkerumun di sekitar tonggak kekuasaan. Dengarkan apa yang mereka ucapkan dengan bahasa dustanya. Lihat! Dengar! Renungkan! Apa yang diperbuat para pendusta terkutuk itu di sana!”

“Di sekeliling tonggak kekuasaan itu mereka menyeringai dengan wajah monyet yang menjijikkan. Mereka memandang ke atas tonggak dengan mata serigala yang menyala penuh hasrat. Mulut mereka berbusa dan meneteskan liur menggelikan ketika menyaksikan gemerlap singgasana yang tergantung di atas tonggak bersalut emas. Mereka tidak kuasa menahan keinginan untuk tidak naik ke atas singgasana.”

“Lihat! Lihatlah para pendusta bermulut najis itu! Mereka bagaikan orang tidak waras berebut memanjat ke atas tonggak kekuasaan tempat singgasana gemerlapan tergantung. Lihat, mereka saling menginjak. Mereka saling menyikut. Saling menggigit. Mereka bahkan saling membunuh. Dan lihat, satu di antara para pendusta itu, yaitu dia yang paling kuat dan paling licik, akan sampai di atas singgasana. Dialah sang pemenang. Dialah sang raja yang berhak duduk di atas singgasana yang dikitari bangkai dan kotoran.”

“Raja yang duduk di atas singgasana itulah hasil persekongkolan para pendusta. Sang raja, menurut bahasa mereka, adalah penunggang dan pengendali makhluk pemangsa ganas bernama kerajaan. Kemudian, dengan bahasa dusta yang digunakannya, para pendusta itu berkata: ‘Lihatlah, Tuhan Yang Mahakuasa telah turun ke dunia sebagai raja. Dia turun dari langit dan duduk di atas singgasana emas dengan dikelilingi bidadari dan ruh suci para leluhur yang berkata-kata memuji sang raja: Jayalah Sang Raja! Kuduslah Sang Raja! Agunglah Sang Raja! Inilah Sang Raja yang duduk di atas takhta Kebenaran. Sang Raja yang berjalan di atas permadani ketidakbersalahan. Sang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja yang agung dan mulia. Sang Raja yang menjadi pemilik segala sesuatu yang terhampar di atas bumi yang dikuasainya. Sang Raja yang wajib disembah dengan segala kepatuhan dan ketundukan. Ya, Sang Raja, jelmaan Tuhan di dunia.’”

“Setelah yakin dusta yang dibangun kaumnya dipercaya banyak manusia maka dengan raungan mengerikan sang raja yang menunggangi makhluk pemangsa mengerikan bernama kerajaan itu bertitah: ‘Akulah yang teragung dan termulia di antara segala raja. Akulah titisan Tuhan di jagad raya. Karena itu, berlutut dan bersujudlah kalian menyembah aku! Barang siapa di antara para kawula yang menghadap raja tidak berlutut, tidak bersujud, dan tidak menyembah akan dipenggal kepalanya.’”

“Aku katakan kepada kalian, semua itu adalah kepalsuan yang dirancang para pendusta dengan mengatasnamakan keberadaan kerajaan sebagai ketentuan Tuhan. Aku katakan bohong dan dusta kata-kata mereka itu. Sebab, apa yang mereka katakan sangatlah bertentangan dengan kenyataan akan asma’ dan shifat Tuhan.”

“Sejak zaman awal hingga akhir nanti Dia, Yang Maha Merajai (al-Malik), tidak pernah ingkar janji dan tidak pernah menyimpang dari asma’ dan shifat-Nya. Jika Dia mewajibkan hamba-Nya untuk patuh, tunduk, dan setia kepada-Nya maka Dia akan melimpahkan semua anugerah yang tak terbayangkan kepada hamba tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Hamba-hamba yang tunduk, patuh, dan setia akan dianugerahi-Nya pangkat takwa. Mereka akan dimuliakan dan diagungkan sepanjang masa.”

“Sementara itu, jika kalian mempercayai dongengan para pendusta, dengan menganggap raja-rajamu sebagai jelmaan al-Malik di dunia, justru kesengsaraan dan kehinaan yang terbukti engkau terima. Ketundukan, kepatuhan, dan kesetiaanmu sebagai hamba dari raja-rajamu tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagimu kecuali penderitaan. Sebab, engkau yang tunduk, patuh, dan setia kepada rajamu akan ditempatkan sebagai hamba sahaya yang selalu hidup dalam keadaan kekurangan, tertindas, teraniaya, dan dizalimi. Raja-rajamu dengan semena-mena bisa bebas merampas harta benda milikmu, bahkan merampas nyawamu. Engkau sekalian tidak diperkenankan memiliki sesuatu melebihi rajamu. Engkau ditempatkan dalam keadaan serba kekurangan, sedangkan rajamu dalam kelimpahruahan.”

“Penderitaan dan kesengsaraan kalian sebagai kawula akan semakin berat dan tidak tertanggungkan ketika kalian dikuasai raja-raja yang gemar berperang. Saat makhluk pemangsa bernama kerajaan itu ditunggangi untuk menyerang makhluk pemangsa lain, yang paling menderita adalah kalian: kawula. Rumah kalian dibakar. Harta benda kalian dijarah. Anak-anak kalian dirampas untuk dijadikan budak. Nyawa kalian pun akan dirampas oleh makhluk pemangsa yang bertarung. Sehingga, sejak zaman purwakala hingga sekarang, sesungguhnya, kalian selalu jatuh di bawah kekuasaan makhluk pemangsa satu ke makhluk pemangsa yang lain. Karena itu, o Saudara-saudaraku, salahkah aku jika mengatakan dengan jujur bahwa raja-raja yang menyatakan jelmaan Tuhan di dunia ini adalah pendusta besar? Salahkah aku jika menggambarkan keberadaan kerajaan sebagai makhluk pemangsa yang paling ganas?”

“Sekarang jelas sudah bagi kalian semua bahwa kepercayaan terhadap dongeng-dongeng tentang raja dan kerajaan yang dirancang para pendusta itu harus diakhiri. Jangan didengar lagi mulut-mulut najis mereka yang menebarkan janji palsu tentang kemakmuran dan keadilan dari makhluk mengerikan yang mereka sebut kerajaan, tunggangan raja-raja yang dikelilingi oleh para pendusta untuk memuaskan nafsu rendah mereka. Sebab, raja dan para pendusta itu adalah manusia berjiwa laba-laba ganas yang selalu merancang siasat untuk menjerat manusia-manusia berjiwa keledai, unta, kuda beban, sapi perah, kerbau, dan anjing peliharaan untuk dijadikan mangsanya.”

“Jika kalian masih percaya dengan ucapan para pendusta itu, sesungguhnya selama ini kalian semua telah memakan dusta para pendusta. Kalian telah terpesona karena para pendusta itu telah memperlihatkan kalian sebuah tontonan menakjubkan tentang sang raja yang duduk di atas singgasana emas bertabur permata. Kalian takjub melihat takhta itu memancarkan kilau indah gemerlapan karena diterangi lampu-lampu yang bercahaya. Kalian terbius karena singgasana itu tegak di tengah kepulan dupa dan kayu gaharu yang wangi. Kalian terheran-heran menyaksikan berderet-deret pejabat dan pendeta peliharaan raja. Kalian terperangah menyaksikan para penari jelita yang melenggak-lenggok di depan sang raja. Sungguh agung dan mulia tontonan itu. Betapa megah dan mewah tontonan itu.”

“Aku tidak menyalahkan kalian yang terpesona oleh tontonan para pendusta itu. Aku hanya meminta, jika kalian adalah orang-orang bijak maka hendaknya kalian bertanya kepada diri: di dalam tontonan yang menakjubkan itu, sesungguhnya di manakah letak kedudukanku? Jika pertanyaan tentang kedudukan diri sudah kalian ajukan maka kalian pun akan segera tahu jawabannya, yaitu kalian akan berkata begini: aku adalah kawula kerajaan. Aku adalah hamba sahaya sang raja. Sebagia kawula, kedudukanku di dalam tontonan agung itu tidak lebih dari sekedar batu-batu pajangan yang hidup tidak mati pun enggan. Batu-batu pajangan yang bisa menyaksikan sang raja berjalan, berlatih memanah, menunggang kuda, berburu, dan menerima sanjungan serta pujian dari kawulanya. Batu-batu pajangan yang setiap saat merelakan dirinya dijadikan alas pijakan para pendusta. Ya, batu-batu pajangan yang dianggap tak bernyawa.”

“Sekarang ini, o Saudara-saudaraku, aku beritakan kepada kalian bahwa telah datang zaman baru sehingga tontonan megah dan mewah ciptaan para pendusta itu harus ditinggalkan. Pada zaman baru ini orang-orang harus berkata: ‘Jangan percaya lagi kepada para pendusta yang mengatakan dirinya abdi raja, abdi negara, hamba hukum, nayakapraja, punggawa, dan pahlawan kerajaan. Jangan percaya ucapan mereka karena mulut mereka najis. Jangan percaya pada janji-janji mereka karena semuanya mengalir dari mulut yang najis.”

“Kenapa aku katakan mulut-mulut najis? Sebab, lidah mereka palsu. Gigi mereka palsu. Bibir mereka palsu. Bahkan tenggorokan, jantung, limpa, dan usus mereka pun palsu. Itu sebabnya, kata-kata yang keluar dari mulut mereka palsu semua. Demikianlah, Kebenaran sesungguhnya tentang para pendusta itu.”

“Dengan memahami kepalsuan tubuh dan jiwa para pendusta yang bersekongkol mencipta makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan, bukan berarti kalian memiliki hak untuk mencela dan menista mereka. Aku katakan bahwa kalian tidak punya hak mencela dan menista, karena makhluk jahat ciptaan mereka itu memang merupakan bagian dari kodrat kehidupan di dunia. Ibarat kawanan laba-laba bebas menebar jaring untuk mencari mangsa, begitulah para pendusta itu bebas menebar kebohongan dan janji palsu untuk memerangkap orang-orang lemah dan bodoh yang mempercayai dusta mereka. Sesungguhnya, hanya mereka yang sudah ditundukkan oleh nafsu rendah badani jua yang akan menjadi kawula taklukan pemangsa jahat bikinan para pendusta itu.”

“Kepada kalian, o adimanusia-adimanusia yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, diwajibkan bagi kalian untuk sadar diri dan tidak mempercayai dusta yang dibangun para pendusta. Ketika kalian meyakini kebenaran yang dibangun para pendusta sehingga menjadikan kalian tunduk dan patuh, berlutut dan bersujud kepada makhluk jahat bernama kerajaan itu maka ‘telunjuk Sang Kebenaran akan ditudingkan ke arah kalian dengan tuduhan: musyrik!’”

“Jika sebelum ini, para ‘alim yang menjadi pemimpin kalian mengatakan: jangan berlutut dan bersujud kepada batu-batu dan kayu-kayu yang dipahat! Maka sekarang aku katakan: Jangan kalian berlutut dan bersujud kepada raja-rajamu! Jangan menyembah raja-rajamu seperti engkau menyembah Tuhanmu. Sesungguhnya, makhluk pemangsa jahat bernama kerajaan yang ditunggangi sang raja itu adalah berhala baru yang bakal menyesatkan kalian dari jalan Kebenaran Sejati.” “

Wahai Saudara-saudaraku, ingat-ingatlah selalu akan apa yang aku ajarkan. Kendati begitu, tidak lagi mempercayai dongeng-dongeng tentang kerajaan yang dirancang para pendusta bukan berarti kalian harus hidup tanpa pemimpin. Sesuai fitrah makhluk hidup di jagad raya, tiap-tiap puak di antara makhluk ciptaan Ilahi selalu memiliki pemimpin. Tetapi, bagi adimanusia-adimanusia, wakil Allah di muka bumi, kepemimpinan bukanlah seperti kepemimpinan margasatwa. Kepemimpinan adimanusia adalah kepemimpinan yang benar-benar mencerminkan pengejawantahan kewakilan Sang Pencipta.”

“Akan kukatakan kepada kalian tentang kepemimpinan yang benar dan yang sesuai untuk adimanusia yang berkedudukan sebagai wakil Allah di muka bumi. Sesungguhnya masing-masing manusia secara fitrah memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ yang memancar dari asma’, shifat, dan af’al-Nya, Yang diwakilinya. Tiap-tiap manusia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin karena kedudukannya sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi (khalifah al-Malik fi al-ardh).”

“Sebagaimana raja-raja dunia yang kalian kenal, sesungguhnya tiap-tiap kalian memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ untuk dimuliakan, karena dia adalah pancaran keterwakilan Yang Mahamulia di muka bumi (khalifah al-Azaiz fi al-ardh). Demikian pun, tiap-tiap manusia secara fitrah memiliki kuasa-kuasa kodrati’ untuk hidup di atas landasan hukum, karena dia adalah wakil Yang Maha Menetapkan Hukum (khalifah al-Hakam fi al-ardh).”

“Tetapi, ibarat benih yang ditabur di atas tanah, masing-masing manusia harus berjuang melampaui keterbatasannya untuk mewujudkan keberadaan citra dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, seperti yang pernah aku ajarkan kepada kalian, jalan menuju citra adimanusia yang sempurna adalah laksana rentangan antara binatang – manusia – adimanusia yang wajib dilampaui. Maka, begitulah hendaknya masing-masing manusia wajib melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya agar mencapai kedudukan adimanusia yang sempurna.”

“Hanya mereka yang sudah melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaan hingga menjadi adimanusialah yang pantas memimpin manusia lain. Itu berarti, hanya adimanusia yang dapat melepaskan semua pamrih pribadi untuk berkhidmat kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi yang layak menjadi pemimpin manusia. Dan cermin terbaik dari adimanusia yang kumaksudkan adalah citra diri Nabi Muhammad Saw. dengan keempat sahabat penggantinya, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Merekalah adimanusia yang hendaknya dijadikan kiblat dan rujukan keteladanan dalam memimpin manusia.”

“Lihatlah citra kehidupan Nabi Muhammad Saw., sang penyampai Kebenaran, guru, dan pemimpin manusia. Beliaulah sang adimanusia yang dengan tegas menolak jabatan raja, istri cantik, dan harta kekayaan dengan berkata begini: ‘Andaikata rembulan ditaruh di bahu kananku dan matahari ditaruh di bahu kiriku, niscaya aku tidak akan meninggalkan tugasku.’ Ya, itulah citra adimanusia, yang tidur beralaskan anyaman daun kurma dan menambal pakaian dengan tangannya sendiri. Itulah citra adimanusia yang menguasai Jazirah Arabia dan Baitul Mal, namun saat wafat tidak meninggalkan warisan apa-apa kecuali Kitab Allah dan keteladanan hidup.”

“Sekali lagi aku katakan kepada kalian bahwa hanya adimanusia yang tercitrakan pada diri Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat itulah manusia yang boleh menjadi pemimpin para manusia sempurna. Mereka yang masih berada pada kedudukan manusia, apalagi binatang, diharamkan menjadi pemimpin manusia. Sebab, tidak akan ada yang bisa diperbuat oleh seekor binatang di atas singgasananya, kecuali memenuhi perutnya dengan daging mentah dari mayat-mayat yang dimangsanya dan membasahi tenggorokannya dengan darah.”

“Sesungguhnya, seorang adimanusia yang sudah melampaui kemanusiaannya dan menduduki derajat wakil Allah di muka bumi adalah manusia sempurna yang mewakili citra asma’, shifat, dan af’al Allah. Itu sebabnya, ketika ia menjadi pemimpin manusia, sesungguhnya ia merupakan pengejawantahan Yang Maha Merajai (al-Malik), Yang Mahaagung (al-Azhim), Yang Mahaadil (al-‘Adl), Yang Mahabijaksana (al-Hakim), Yang Mahabenar (al-Haqq), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Maha Terpuji (al-Hamid), Yang Mahakaya (al-Ghaniyy), Yang Mahakuasa (al-Qadir), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir), Yang Maha Pemurah (ar-Rahman), Yang Maha Pengasih (ar-Rahim), Yang Maha Pengampun (al-Ghafur), serta semua asma’ dan shifat Ilahi yang lain.”

“Semua atribut Ilahiyyah yang telah aku sebutkan sesungguhnya tidak akan pernah akan bisa memancarkan citra diri-Nya pada manusia pecinta bumi dan kebendaan. Sebab, pecinta bumi dan kebendaan adalah orang-orang yang masih berada pada bentangan kebinatangan dan kemanusiaan. Aku katakan kepada kalian bahwa sungguh telah berdusta orang-orang yang mengatakan bahwa raja-raja pecinta kebendaan dan pengumbar nafsu syahwat itu adalah jelmaan Tuhan di muka bumi. Aku katakan dusta terhadap mereka yang mengatakan para penimbun harta benda sebagai wakil Allah di muka bumi. Dan, karena kalian adalah murid-muridku maka hendaknya kalian meninggalkan para pendusta itu. Jauhi mereka.”

“Jika kalian bertanya kepadaku bagaimana orang-seorang bisa menjadi pemimpin di antara sesamanya? Maka, aku katakan: kepemimpinan manusia atas manusia lain hanya mungkin terjadi dengan benar jika didasarkan pada kerelaan manusia lain untuk memberikan haknya demi memilih orang seorang yang dipercaya dapat membawa mereka kepada jalan kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan. Maksudku, sebagai wakil Yang Maha Merajai di muka bumi, sesungguhnya masing-masing manusia memiliki ‘kuasa-kuasa kodrati’ untuk memimpin. Tetapi ‘kuasa-kuasa kodrati’ itu sangatlah lemah dan kecil pada masing-masing orang. Karena itu, masing-masing pribadi wakil al-Malik di muka bumi harus dengan rela hati mendelegasikan kewakilan dirinya sebagai wakil al-Malik kepada orang seorang yang dipercayanya untuk memimpinnya ke jalan yang benar.”

“Maksudku, dengan asas kerelaan masing-masing wakil al-Malik untuk mendelegasikan haknya kepada orang seorang maka seorang pemimpin manusia wajib muncul berdasarkan pilihan masing-masing wakil al-Malik. Pemimpin manusia wajib didasarkan atas pilihan. Itu sebabnya, aku katakan telah berdusta orang-orang yang menyatakan bahwa kepemimpinan itu harus berdasarkan asas keturunan darah, suku, warna kulit, bahasa, dan agama.” “

Kalian bukan lagi kawula dari raja. Kalian adalah suatu kabilah. Maka hendaklah kalian memilih salah seorang di antara kalian sendiri sebagai pemimpin kabilah. Sesungguhnya, pemimpin kabilah adalah salah seorang di antara kalian yang mendapat kepercayaan dari warga kabilahnya. Dia dipilih dan dikukuhkan oleh warga kabilah dengan tujuan untuk membawa anggota-anggota kabilah yang dipimpinnya ke arah kesejahteraan, keadilan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan.”

“Jika kalian bertanya disebut apakah kedudukan seorang pemimpin kabilah? Maka, karena kabilah adalah kumpulan manusia di suatu nagari yang terdiri atas beberapa desa, hendaklah pemimpin kabilah itu disebut wali nagari. Jika kalian bertanya kenapa disebut wali nagari dan bukan kepala nagari? Aku katakan kepada kalian, karena sebutan ‘kepala nagari’ bisa bermakna suatu kedudukan yang didasarkan atas asas keturunan. Sedangkan sebutan wali, yang diambil dari kata Arab al-Waly, memiliki makna penguasa, pelindung, dan sahabat yang didasarkan pada asas keterpilihan.”

“Sebagaimana kedudukan Wali Allah dalam makna ruhani yang berarti suatu kedudukan orang seorang yang ‘dipilih’ Allah untuk menjadi sahabat atau kekasih-Nya, demikianlah wali nagari adalah penguasa dan pelindung nagari yang dipilih oleh sahabat-sahabat yang mengasihinya. Itu berarti, seorang wali nagari selain menjadi penguasa dan pelindung nagari, juga menjadi sahabat kabilah yang memilihnya. Dan sebagaimana ketentuan yang digunakan Allah dalam memilih hamba-Nya untuk didudukkan pada derajat Wali Allah, seorang wali nagari hendaknya memiliki derajat ruhani yang lebih tinggi dibandingkan manusia di sekitarnya. Ukuran yang paling sederhana untuk menilainya adalah dengan melihat keterikatan orang-seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu. Itu berarti, semakin kuat keterikatan orang seorang terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu rendah badani maka semakin tidak layak orang tersebut dipilih menjadi wali nagari.”

“Jika pemimpin-pemimpin dari kabilah-kabilah yang disebut wali nagari sudah terbentuk maka menjadi tugas mereka untuk memilih pemimpin bagi seluruh kabilah yang disebut ra’yat atau masyarakat ummah. Pemimpin ra’yat atau masyarakat ummah itulah yang disebut wali al-Ummah, yang bermakna penguasa, pelindung, dan sahabat masyarakat ummah.” “

Karena citra wali al-Ummah adalah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan dilanjutkan oleh keempat sahabatnya maka kedudukan wali al-Ummah bercermin dan melanjutkan tradisi khulafa’ ar-rasyidin, sehingga seorang wali al-Ummah hendaknya kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Kenapa pemimpin masyarakat ummah harus disebut kalifah ar-rasul sayyidin panatagama dan bukan sultan atau amir? Sebab, pemimpin masyarakat ummah adalah cerminan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat kalifah sahabatnya.”

“Sesungguhnya, di balik sebutan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama terkandung makna ruhani yang lebih dalam dibandingkan dengan sebutan sultan atau amir. Sebab, sebutan kalifah merujuk pada khilafah (kekuasaan), imamah (kepemimpinan ummah), dan wilayah (kewalian). Itu sebabnya, seorang kalifah adalah penguasa sekaligus imam ruhani. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. dan keempat penggantinya, demikianlah hendaknya pemimpin masyarakat ummah menjalankan tugasnya sebagai penguasa duniawi sekaligus imam bagi masyarakat ummah yang dipimpinnya.”

“Oleh karena kiblat yang dijadikan cerminan seorang kalifah ar-rasul sayyidin panatagama adalah Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat maka sesungguhnya sangatlah sulit mendapatkan adimanusia seperti itu. Sebab, sang adimanusia calon kalifah ar-rasul sayyidin panatagama bukan sekadar manusia yang telah mampu melampaui matra kebinatangan dan matra kemanusiaannya. Dia, sang adimanusia itu, hendaknya juga memahami hukum suci Ilahi (syari’at), ilmu siyasah, ilmu pemerintahan, ilmu hikmah, dan yang lainnya.” “

Lantaran ketentuan ini sangat berat maka sampai saat ini aku belum tahu siapa di antara orang-orang yang aku kenal di bumi Caruban Larang ini yang layak untuk ditunjuk dan dipilih bersama sebagai kalifah ar-rasul sayyidin panatagama. Tetapi, aku yakin dia akan muncul tak lama lagi di antara kita. Ya, dia yang dengan sukarela melepaskan seluruh ikatan dunia untuk berkhidmad kepada tugasnya sebagai wakil Allah di muka bumi itu tidak lama lagi akan kita ketahui keberadaannya.”

“Jika di antara kalian ada yang bertanya apakah kata-kata yang aku ucapkan tentang kedatangan pemimpin masyarakat ummah itu dianggap nubuah atau ramalan gaib? Aku katakan kepada kalian yang bertanya bahwa akal dan hati nuraniku berbicara begini: ‘Perubahan kehidupan manusia dari gelap ke arah terang selalu ditandai oleh munculnya cahaya agung kemanusiaan laksana matahari terbit pada pagi hari.’ Itu sebabnya, di tengah-tengah kegelapan kemanusiaan yang meliputi Bumi Caruban Larang ini, aku yakin akan muncul cahaya agung itu. Hanya saja, karena cahaya itu bersinar terlalu terang, sering kali mata kita tidak mampu melihatnya dari dekat.”

“Dengan segala pertanda dan isyarat yang telah kusampaikan tentang bagaimana seharusnya seseorang layak dipilih menjadi kalifah ar-rasul sayyidin panatagama, maka aku meminta kepada kalian untuk mengamati secara cermat dan jernih tentang siapa di antara manusia di Caruban Larang ini yang memenuhi syarat-syarat itu. Jika di antara kalian ada yang mengetahui siapa yang citra hidupnya paling mirip dengan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat, maka dialah yang layak menduduki jabatan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama.”

East China Sea, North of Taipei (MV. Taho), April 10th 2007 17:45LT

06. Api Perubahan di Lemah Abang

Setelah menyampaikan khotbah beberapa kali, Abdul Jalil mengetahui dari laporan murid-muridnya bahwa tidak semua pendengar mampu memahami apa yang telah dikemukakannya secara benar. Banyak warga masih heran dan bingung memahami makna kabilah, ra’yat, masyarakat ummah, al-insan al-kamil, khalifah Allah fi al-ardh, hak milik, hak fitrah manusia, wali al-ummah, kalifah ar-rasul, dan istilah-istilah Arab yang masih asing. Namun, satu hal dari laporan para murid itu yang membuat Abdul Jalil bergembira, yaitu hampir semua pendengar memahami intisari khotbah justru dari dongeng-dongeng yang dituturkannya sebagai selingan. Di antara dongeng yang paling disukai adalah dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, Karna anak kusir, Kalilah dan Dimnah, dan kisah para nabi.

Bagi Abdul Jalil, masalah ketidakpahaman terhadap istilah Arab yang digunakannya dalam khotbah bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. Seperti pepatah “alah bisa karena biasa”, istilah-istilah itu secara berangsur-angsur tentu akan terpahami sendiri jika digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Bukankah pada awalnya istilah-istilah dari bahasa Sansekerta pun asing dan sulit dipahami? Bukankah dengan pembiasaan maka istilah-istilah Sansekerta akhirnya dipahami juga?

Sementara itu, khotbahnya lebih mudah dipahami jika disampaikan dalam bentuk dongeng. Ia menilai para pendengarnya adalah manusia yang tidak dibiasakan hidup dalam tradisi bernalar. Itu berarti, penilaian Abdul Malik Israil tentang kemiripan kerangka pikir orang-orang Campa, Sunda, dan Jawa, dengan Bani Israil pada masa kemundurannya tidaklah keliru. Ternyata mereka memang lebih memahami maksudku lewat bahasa dongeng daripada dalam bahasa nalar, katanya dalam hati.

Abdul Jalil tersenyum. Ia teringat pada Shafa, istrinya di Gujarat yang telah menuturkan dongeng-dongeng itu kepadanya. Di antara dongeng yang digemari itu adalah yang mengisahkan keberadaan seekor bayi harimau yang dilahirkan induknya di tepi sebuah hutan tak jauh dari kawanan kambing hutan. Saat melahirkan sang induk mati kelelahan dan kehabisan darah. Bayi harimau kemudian diasuh dan disusui oleh kawanan kambing hutan.

Si harimau kecil tumbuh di lingkungan kambing dan mendapat kasih sayang dari para kambing. Karena hidup di tengah kambing maka si harimau berbicara dalam bahasa kambing, mengembik, bermain-main, dan makan rumput seperti kambing. Si harimau sangat penurut kepada kawanan kambing.

Suatu ketika kawanan kambing hutan diserang seekor harimau jantan tua yang ganas. Ssemua kambing lari berhamburan ketakutan. Anehnya, si harimau kecil tetap berdiri di tempatnya tanpa rasa takut. Dengan terheran-heran ia melihat harimau tua yang ganas itu, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengais dan memamah rumput hijau di depannya sambil mengembik. Kini giliran sang harimau jantan yang terheran-heran. Dengan mata terbelalak harimau jantan bertanya, “Apa yang sedang engkau lakukan di sini bersama kawanan kambing itu, o Harimau kecil? Kenapa engkau memamah rumput? Mengapa engkau mengembik dengan suara tolol itu?”

Harimau kecil tak menjawab. Ia hanya mengembik. Menyaksikan itu, sang harimau jantan yang ganas menyambar tengkuknya dan membawanya ke sungai di dekatnya. Kemudian dengan membungkukkan badan sang harimau tua berkata, “Lihatlah wajahmu, lalu lihat pula wajahku! Bukankah kita sama? Tidakkah engkau sadar betapa baik aku maupun engkau adalah harimau? Mengapa engkau membayangkan dirimu seperti seekor kambing? Kenapa kau mengembik-ngembik? Mengapa kau makan rumput?”

Si Harimau kecil tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa memandang heran wajahnya di permukaan air sungai. Beberapa jenak setelah berkaca dipermukaan air tiba-tiba ia merasakan perubahan terjadi pada dirinya. Cakar-cakarnya mulai mengembang. Dari dalam tenggorokannya tiba-tiba terdengar suara geraman. Namun, ia tetap heran dengan perubahan itu. Melihat perubahan pada diri si harimau kecil, sang harimau jantan ganas kembali menyambar tengkuknya dan membawanya ke sarang. Di sana sang harimau jantan memberinya sekerat daging mentah sisa makannya yang masih dilepoti darah. Si harimau kecil mengembik dan bergidik merasa jijik. Namun, harimau jantan memaksanya memakan daging itu.

Sesaat setelah memakan daging mentah ia merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya. Tiba-tiba saja ia merasakan kekuatan aneh yang dahsyat menggetari jiwanya. Ia merasakan kegembiraan raya yang belum pernah dialaminya selama ini. Ia bangkit dan menguap lebar-lebar seolah-olah baru terbangun dari tidur. Ia menggeliat dan meregangkan cakar-cakarnya. Ekornya dikibas-kibaskan. Dari tenggorokannya terdengar auman yang keras menggetarkan. Sementara itu, harimau jantan yang menjadi gurunya menyaksikan dengan bangga sambil berkata, “Sudah tahukah engakau siapa dirimu sesungguhnya? Karena itu, marilah kita pergi ke padang perburuan untuk membuktikan siapa sesungguhnya kita ini!”

Usaha Abdul Jalil untuk membangkitkan kesadaran diri manusia sebagai makhluk paling agung dan mulia, yaitu manusia sempurna yang menduduki jabatan wakil Allah di muka bumi, justru lebih mudah dijelaskan lewat dongeng. Ya, justru dengan cara itulah manusia-manusia baru bisa disentuh kesadarannya bahwa takdir mereka adalah sebagai harimau bukannya kambing.

Setelah merenungkan dan mengkaji kembali langkah-langkahnya, Abdul Jalil menangkap kesadaran baru dan berkata dalam hatinya, “Sebuah cakrawala baru telah terbentang di hadapanku. Sesungguhnya, aku membutuhkan lebih banyak murid dan sahabat yang bisa mendukung gagasan dan impianku untuk mewujudkan dunia baru. Namun, aku tidak ingin menjadi pemimpin mereka seperti gembala memimpin kawanan domba. Aku ingin murid-murid dan sahabat-sahabatku menyadari bahwa mereka adalah gembala bagi diri mereka sendiri. Mereka akan memusyawarahkan kepentingan mereka. Dan, mereka akan berjalan menuju padang kehidupan yang sesuai dengan kodrat hidup mereka sebagai ciptaan paling sempurna di muka bumi.”

“Jika murid-murid dan sahabat-sahabatku sudah menjadi gembala bagi dirinya sendiri maka mereka akan menjadi pemimpin bagi kumpulan harimau yang sadar diri. Masing-masing dari gembala akan memimpin kawan-kawannya untuk hidup sesuai kodrat harimau di padang perburuan dunia. Dan lantaran kumpulan itu adalah kumpulan harimau-harimau maka masing-masing anggota kumpulan itu akan bersama-sama menjaga kumpulannya dari ancaman makhluk lain. Sesungguhnya masing-masing kumpulan harimau itu akan menjalin persaudaraan dengan kumpulan harimau lain, ibarat ikatan tali yang saling mengait.”

Dengan cakrawala kesadaran barunya, Abdul Jalil kemudian memperbanyak jumlah murid pilihan yang secara khusus dididiknya menjadi gembala yang akan memimpin kumpulan harimau. Jika sebelumnya ia hanya membina dan mendidik Syarif Hidayatullah, Raden Sahid, Abdurrahman Rumi, Raden Qasim, dan Abdurrahim Rumi maka pada gilirannya ia membina dan mendidik pula murid lain agar setara dengan “permata-permata harapan” tersebut. Dan, kehadiran Abdul Malik Israil di Lemah Abang terbukti sangat membantu usahanya dalam melahirkan tatanan baru masyarakat.

Usaha keras Abdul Jalil memperbanyak jumlah murid untuk dididik menjadi gembala bagi kumpulan harimau terbukti tidak sia-sia. Hal itu terlihat ketika para murid dilibatkan dalam usaha menata kehidupan warga. Bagaikan matahari terbit dengan gemilang menerangi langit, terbentanglah cakrawala kehidupan baru yang gemilang di Lemah Abang. Bagaikan kumpulan harimau di padang perburuan, warga Lemah Abang tiba-tiba mewujudkan diri menjadi kabilah berisi sekumpulan “harimau” sebagaimana diangankan Abdul Jalil. Dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak Abdul Jalil menyampaikan khotbah di Tajug Agung Lemah Abang, seluruh penduduk Lemah Abang telah menjadi manusia yang berbeda dalam banyak hal dengan warga Caruban Larang seumumnya.

Perubahan kehidupan warga Lemah Abang sendiri sesungguhnya diketahui oleh warga asal desa sekitar setiap hari pasar tiba. Dari hari pasar satu ke hari pasar yang lain mereka selalu terkejut menyaksikan perubahan yang terjadi pada diri warga Lemah Abang. Dengan terheran-heran mereka mengamati penampilan, perilaku, kata-kata, bahasa pergaulan, pandangan hidup, jalan pikiran, dan gaya hidup yang berbeda dengan yang mereka kenal sebelumnya. Seiring bergulirnya waktu, para pedagang pun akhirnya menjadikan warga Lemah Abang sebagai bahan sorotan dan perbincangan dengan pedagang asal desa lain.

Tidak bisa dielakkan, bermula dari perubahan warga Lemah Abang yang dianggap aneh, sebuah perubahan besar tampaknya sedang terjadi di Caruban Larang. Bagaikan memiliki daya pesona yang kuat, kabar perubahan warga Lemah Abang telah memunculkan rasa ingin tahu warga dari desa lain di wilayah Caruban Larang. Entah siapa yang memulai, dengan berkelompok-kelompok atau sendiri-sendiri, warga dari berbagai desa berdatangan ke Lemah Abang. Sambil berbelanja atau menjual sesuatu mereka ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sesungguhnya keanehan tatanan baru dari kehidupan warga Lemah Abang sebagaimana yang mereka dengar.

Saat warga dari desa lain mengamati gerak kehidupan warga Lemah Abang, yang semula mereka nilai aneh, tanpa mereka sadari telah terjadi pula suatu keanehan lain. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba dari kedalaman jiwa mereka terlintas keinginan kuat untuk meniru keanehan warga Lemah Abang tersebut. Keinginan itu makin kuat manakala mereka diberi tahu oleh warga Lemah Abang tentang ajaran dan tatanan baru sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Lemah Abang dan murid-muridnya. Diam-diam mereka menangkap nuansa kebenaran di balik ajaran Syaikh Lemah Abang. Lantaran hasrat meniru itu makin lama makin menguat di jiwa mereka maka setiap kali pulang dari Lemah Abang mereka diam-diam mencontoh satu demi satu apa yang mereka saksikan, baik dalam hal cara warga berpakaian, berbicara, berjual beli, dan gaya hidup.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peniruan-peniruan yang dilakukan oleh warga desa yang pernah datang ke Lemah Abang tersebut. Orang hanya mengetahui bahwa dalam berbagai perbincangan di antara para petani, nelayan, perajin, tukang, dan pedagang di desa-desa, warga Lemah Abang selalu dikesankan sebagai warga yang berani dalam memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Dengan terheran-heran mereka memperbincangkan bagaimana para petani, pedagang kecil, tukang, perajin, kuli, bahkan janda tua di Lemah Abang berani menyatakan diri sebagai manusia yang sederajat dengan manusia lain. Ya, dengan sangat percaya diri orang-orang Lemah Abang menyatakan punya “hak milik” pribadi atas tanah, rumah, harta benda, keluarga, agama, dan bahkan hak memilih pemimpin; suatu hal aneh yang tidak dipunyai warga desa lain.

Perbincangan tentang warga Lemah Abang ternyata tidak hanya terjadi di kalangan warga desa sekitar yang pernah datang ke sana. Para pedagang Cina, Melayu, Campa, dan Arab yang berniaga di pasar Kuta Caruban, Junti, dan bahkan Dermayu pun sudah mendengar dan memperbincangkan perubahan di sana. Mereka yang umumnya warga keturunan asing itu sangat berharap perubahan yang terjadi di Lemah Abang bisa meluas ke berbagai penjuru negeri Sunda. Dengan tatanan baru yang dirintis Syaikh Lemah Abang mereka berharap dapat setara dan sederajat dengan warga setempat. Tatanan yang berlaku di Bumi Pasundan dan Majapahit sejauh ini menempatkan warga asing yang tidak beragama Hindu sebagai kalangan Mleccha, yakni manusia di luar kasta yang lebih rendah daripada kalangan sudra papa. Dalam berbagai hal, harta benda dan nyawa mereka tidak dijamin secara hukum. Jika terjadi perubahan politik kekuasaan, mereka menjadi sasaran jarahan warga setempat, terutama dari kalangan sudra.

Berawal dari perbincangan para pedagang asing di bandar Dermayu dan Caruban Larang, kabar perubahan warga Lemah Abang pun pada gilirannya tersiar di bandar Kalapa bahkan kutaraja Dayeuh Pakuan. Prabu Guru Dewata Prana Sang Maharaja Sunda sangat terkejut mendengar lahirnya tatanan kehidupan yang aneh di wilayah kekuasaan puteranya itu. Diam-diam maharaja tua itu mengirim Tumenggung Nara Wingkang, penguasa Astana Larang, ke Lemah Abang untuk menyelidiki apa sesungguhnya sedang terjadi di sana.

Dengan didampingi lima perwira, Tumenggung Nara Wingkang menyamar sebagai pedagang kain dan tinggal selama lima hari di Lemah Abang. Selama lima hari itulah sang tumenggung beserta kelima pengawalnya terheran-heran menyaksikan gerak kehidupan warga desa yang baru dibuka belum setahun itu.

Setelah mersasa cukup menyaksikan keanehan tatanan kehidupan warga, Tumenggung Naya Wingkang kembali ke Dayeuh Pakuan menghadap Prabu Guru Dewata Prana, secara kebetulan sang maharaja sedang berbincang-bincang dengan Prabu Sursawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, puteranya. Tumenggung Nara Wingkang menuturkan semua yang telah disaksikannya di Lemah Abang.

“Sejak patik lahir hingga rambut patik ditumbuhi uban, belum pernah patik menyaksikan tatanan kehidupan yang begitu aneh seperti di Lemah Abang. Paduka bisa membayangkan, menurut pengakuan warga, belum genap tiga bulan sejak desa itu dibuka, sudah dihuni oleh sekitar seribu warga yang tinggal di rumah-rumah yang mengitari Tajug Agung dan pasar desa. Yang aneh lagi, Paduka, masing-masing warga Lemah Abang memiliki hak pribadi atas tanah yang mereka buka sebagai hunian, sawah, dan tegalan. Menurut warga, tanah itu mereka dapat dari pemberian Syaikh Lemah Abang, guru ruhani mereka,” ujar Tumenggung Nara Wingkang.

“Bukankah Lemah Abang masuk wilayah Japura?” tanya Prabu Guru Dewata Prana. “Bukankah wilayah itu sudah kuberikan kepada puteraku, Sri Mangana? Bagaimana mungkin tanah Japura bisa dibagi-bagikan kepada kawula tanpa sepengetahuan puteraku? Siapakah Syaikh Lemah Abang itu?

“Itulah pangkalnya, Paduka,” kata Tumenggung Naya Wingkang. “Karena pemimpin di Lemah Abang itu sesungguhnya adalah Datuk Abdul Jalil, putera Sri Mangana.” Prabu Guru Dewata Prana tercekat kaget. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum.

Berbeda dengan ayahandanya, reaksi Prabu Surawisesa saat mendengar penjelasan Tumenggung Nara Wingkang sangat meledak-ledak. Awalnya ia terhenyak kaget. Wajahnya merah padam dijalari api amarah. Kemudian, dengan suara berapi-api ia berkata lantang, “Jelaslah sudah sekarang bahwa keanehan tatanan di Lemah Abang bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Jelas pula bahwa kepemilikan kawula atas tanah di Lemah Abang itu bukan karena kebaikan hati Syaikh Lemah Abang yang membagi-bagikan tanah miliknya kepada para kawula. Jelas juga ucapan Syaikh Lemah Abang yang menyatakan bahwa warga Lemah Abang bukan lagi kawula karena sesungguhnya semua itu bukan tatanan baru yang akan mengubah tatanan yang sudah ada.

“Ya, sekarang sudah jelas bagiku bahwa semua keanehan di Lemah Abang adalah siasat Sri Mangana, Yang Dipertuan Caruban Larang, untuk mengincar takhta kerajaan Sunda. Dia tahu peluangnya menjadi maharaja Sunda menggantikan ayahanda kami sangat kecil karena seluruh kerabat kerajaan diam-diam telah memilihku sebagai pewaris takhta, meski ayahanda kami tidak menunjuk putera mahkota. Jadi, jelaslah bagiku sekarang ini bahwa gejolak kehidupan di Lemah Abang sesungguhnya adalah siasat licik dari Yang Dipertuan Caruban Larang untuk tujuan yang lebih besar, yaitu takhta kerajaan Sunda. Dia menggunakan tangan anaknya untuk merebut takhta.”

Mendengar kata-kata puteranya, Prabu Guru Dewata Prana hanya tersenyum. Sebagai maharaja yang sudah berpengalaman merasakan pahit dan getirnya kekuasaan, ia tidak gampang terpengaruh oleh pandangan puteranya yang terbawa perasaan itu. Untuk memperjelas masalah, ia mengirim kembali Tumenggung Nara Wingkang ke Lemah Abang dengan didampingi Tumenggung Lembu Jaya dari Kidang Lamotan. Sementara kedua utusan itu berangkat, maharaja bijak itu mengirim Tumenggung Jagabhaya dan Ki Purwagalih ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang keanehan tatanan di Lemah Abang.

Menyadari bahwa ayahandanya tidak terpengaruh oleh kata-katanya, Prabu Surawisesa kembali ke Kraton Surawisesa di Galuh Pakuan. Setelah itu, ia mengirim Tumenggung Limbar Kanchana, penguasa Ajong Kidul, ke Lemah Abang. Tumenggung Limbar Kanchana ditugaskan untuk mengetahui seluk beluk kehidupan di Lemah Abang, terutama kemungkinan menguak jaringan rahasia yang menghubungkan Lemah Abang dengan Caruban Larang. “Usahakan engkau dapatkan bukti bahwa kejadian di Lemah Abang adalah kepanjangan tangan Sri Mangana,” ujar Prabu Surawisesa.

Sementara itu, saat Tumenggung Lembu Jaya menginjakkan kaki di Lemah Abang, ia merasa terheran-heran dengan apa yang disaksikannya. Ia yang pernah berkunjung ke Japura barang tujuh tahun silam sangat takjub dengan keberadaan Desa Lemah Abang yang kata orang baru dibuka barang enam tujuh bulan silam. Dulu di kawasan itu tidak dijumpainya satu rumah pun. Saat itu seingat Tumenggung Lembu Jaya, yang ia saksikan hanyalah hutan lebat di selatan Japura dan hamparan rumput alang-alang yang dihuni hewan melata dan serangga ganas yang berbahaya. Jika musim kemarau datang, sejauh mata memandang hanya hamparan rumput alang-alang berwarna coklat yang tergelar. Beberapa bagian dari hamparan alang-alang itu acapkali terbakar menyisakan abu yang menghitam. Sebaliknya, jika musim penghujan tiba hamparan rumput alang-alang berubah menjadi rawa-rawa yang ganas tempat katak, ular, biawak, serangga, dan nyamuk membangun sarang.

Tumenggung Lembu Jaya makin terheran-heran ketika nama Lemah Abang senantiasa dikaitkan oleh warga dengan sosok guru manusia, Syaikh Lemah Abang, yang bernama pribadi Datuk Abdul Jalil. Tokoh yang ternyata putera Sri Mangana itu tidak saja dikenal warga sebagai orang yang merintis pembukaan Desa Lemah Abang, tetapi juga termasyhur sebagai pemimpin dan sekaligus guru manusia yang dijadikan contoh keteladanan dan panutan oleh warga. Orang sepertinya tidak menyebut Lemah Abang jika tidak menyebut nama sang guru manusia itu. Lantaran begitu kuat wibawa dan pengaruhnya, meski masih tergolong muda, Syaikh Lemah Abang sangat disegani dan dihormati pengikutnya. Kata-katanya menjadi sabda yang diikuti dan perintahnya menjadi titah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh pengikutnya.

Sekalipun Syaikh Lemah Abang merupakan pemimpin dan guru manusia yang disegani dan dihormati oleh seluruh pengikutnya, yang mengherankan Tumenggung Lembu Jaya adalah hidupnya terkesan sangat sederhana, bahkan miskin. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk kayu beratap daun kawung yang terletak di samping kiri Tajug Agung. Tidak ada perabot apa pun di dalam gubuk kecil itu kecuali selembar tikar pandan yang dijadikan alas tidur dan sebuah peti kayu berisi empat lembar pakaian. Sebuah lampu minyak kelapa terlihat meringkuk di sudut ruang dan hanya dinyalakan pada malam hari ketika ia makan dan menerima tamu. Ia senantiasa terlihat mengerjakan sendiri semua kebutuhannya mulai dari menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membuat minyak kelapa, menjahit pakaian yang robek, memperbaiki terompah, bahkan mencari kayu bakar.

Di sekitar gubuk Syaikh Lemah Abang, sebagaimana disaksikan Tumenggung Lembu Jaya, dalam jarak sekitar tiga puluh langkah, terdapat sembilan gubuk kayu beratap daun kawung. Gubuk-gubuk itu adalah kediaman para janda tua dan anak-anak yatim. Meski tua, mereka bukan orang lemah apalagi tidak berdaya dan minta dikasihani. Mereka hidup sebagaimana warga yang lain. Mereka sehari-hari terlihat bekerja menganyam tikar, bahkan acapkali terlihat mencari kayu bakar hingga jauh ke pinggiran hutan yang terletak di selatan Lemah Abang. Jika hari pasar tiba, mereka berangkat ke pasar menjual tikar dan kayu bakarnya.

Sementara anak-anak yatim yang tinggal di gubuk-gubuk itu pun bukanlah anak-anak tak berdaya yang meminta dikasihani. Mereka juga hidup sebagaimana anak-anak Lemah Abang yang lain. Jika subuh menjelang mereka selalu terlihat menyapu lantai Tajug Agung, mengisi kolam untuk wudhu, menabuh bedug, sembahyang berjama’ah, dan sesudah itu mengaji hingga matahari terbit. Sebagian di antara mereka seusai mengaji akan bekerja menggembala hewan milik warga atau mencari kayu bakar, sebagian yang lain membantu para janda tua menganyam tikar.

Sekalipun janda tua dan anak yatim di Lemah Abang tidak tampak sebagai orang-orang yang tak berdaya, Syaikh Lemah Abang telah menetapkan bahwa nafkah mereka dijamin oleh siapa saja di antara manusia yang melangkah di jalan Kebenaran. Syaikh Lemah Abang telah memerintahkan kepada semua warga desa dan semua yang mengaku mengikuti jalannya untuk menyantuni dan memuliakan para penghuni gubuk itu. Sebagaimana ajarannya tentang keberadaan manusia sebagai wakil Allah di muka bumi, menyisihkan sebagian nafkah untuk menyantuni janda miskin dan anak-anak yatim adalah bagian dari kewajiban manusia yang menempati kedudukan wakil Yang Maha Pemberi rezeki (khalifah al-Razzaq fi al-ardh).

Sebagai tokoh panutan, terbukti Syaikh Lemah Abang tidak hanya memerintahkan para pengikutnya untuk menyantuni dan memuliakan janda tua dan anak yatim. Ia memberikan keteladanan langsung tentang bagaimana memperhatikan, membimbing, menasihati, menyantuni, mengurusi, dan menghibur warga yang tidak beruntung itu. Sering orang-orang menyaksikan Syaikh Lemah Abang sepulang dari perjalanan jauh mendatangi para penghuni gubuk dengan membawa garam, terasi, kain, beras, gula, bahkan kayu bakar. Sering juga orang melihat ia mendongeng, mengajak makan dan bahkan bergurau dengan mereka.

Kehidupan sehari-hari para janda tua dan anak-anak yatim yang tidak menunjukkan kelemahan apalagi ketidakberdayaan itu sesungguhnya berpangkal dari ajaran yang disampaikan Syaikh Lemah Abang. Tokoh panutan itu sangat menekankan kepada para pengikutnya untuk bangkit dan memerangi kemalasan diri sebagai kewajiban utama manusia. Menurutnya, salah satu kewajiban yang pertama-tama harus dilakukan seorang manusia adalah menggunakan semua anugerah Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari, baik anugerah akal, penglihatan, pendengaran, hati nurani, gerak tangan dan kaki, bahkan tarikan napas.

Seorang manusia, menurut Syaikh Lemah Abang, tidak bisa disebut manusia jika ia malas berpikir, enggan menggerakkan tangan dan kaki, suka menikmati yang enak-enak, tidak mau bersusah payah, gemar berangan-angan dan berkhayal, berputus asa jika menghadapi kesulitan. Manusia pemalas, menurut Syaikh Lemah Abang, adalah makhluk terkutuk yang lebih rendah derajatnya dari binatang. Sebab, manusia pemalas tidak saja menista anugerah Sang Pencipta, tetapi juga akan menjadi bencana bagi kehidupan sesamanya.

Berjuang keras (jihad), ungkap Syaikh Lemah Abang dalam beberapa khotbahnya, merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan manusia untuk meniti kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebab, dengan berjuang keras sesunggunya seorang manusia tidak saja mensyukuri anugerah, tetapi juga memuliakan dan mengagungkan Penciptanya. “Dengan menggerakkan tanganmu untuk menyuapkan nasi ke mulutmu, sesungguhnya engkau telah mensyukuri anugerah sekaligus memuji keagungan-Nya. Lihatlah burung-burung yang terbang di angkasa! Lihatlah hewan-hewan yang berlarian di padang! Lihatlah ikan-ikan yang berenang di lautan! Mereka semua memuji Penciptanya dengan cara menggunakan anugerah-Nya dalam setiap gerak kehidupan,” ujar Syaikh Lemah Abang.

Dengan tanpa kenal lelah, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Tumenggung Lembu Jaya, Syaikh Lemah Abang mengajarkan kepada semua pengikutnya tentang kewajiban utama seorang manusia agar menggunakan akal, qalbu, tenaga, pancaindera, dan anggota tubuhnya untuk memerangi kemalasan diri sendiri. Ia tanamkan kuat-kuat kepada para pengikutnya keyakinan bahwa musuh utama manusia adalah setan kemalasan yang bersembunyi di dalam hati manusia sendiri.

Melalui cerita-cerita, dalil-dalil, dan perumpamaan-perumpamaan Syaikh Lemah Abang mengarahkan pengikutnya untuk benar-benar memahami apa yang disampaikannya. Tanpa kenal jemu, misalnya, ia ulang-ulang dongeng anak harimau disusui kambing, unta dan harimau, juga kisah Nabi saat menerima wahyu Ilahi pertama di Gua Hira. “Apakah kalian pikir Muhammad Rasulullah Saw. itu seorang pemalas yang secara kebetulan datang ke Gua Hira dan secara kebetulan pula menerima anugerah wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla? Apa kalian pikir beliau datang ke Gua Hira hanya satu kali, yaitu pada malam nuzul Al-Qur’an ketika beliau didatangi Jibril a.s.? Sekali-kali tidak demikian! Sesungguhnya Muhammad Rasulullah Saw. telah melakukan khalwat di Gua Hira selama lima belas tahun! Ingat itu! Lima belas tahun beliau berkhalwat tanpa kenal lelah dan patah semangat,” ujar Syaikh Lemah Abang.

Nilai-nilai perjuangan untuk memerangi kemalasan diri yang ditanamkan Syaikh Lemah Abang itulah yang telah menyalakan api semangat para pengikutnya untuk menapaki kehidupan. Dengan bekal semangat memerangi kemalasan diri itu para pengikut Syaikh Lemah Abang memasuki medan perang yang lebih dahsyat, yakni menghadapi keputusan nasib yang diselimuti kabut rahasia. Ibarat memasuki negeri asing yang tak dikenal sebelumnya, begitulah setiap manusia di muka bumi harus berjuang terus menghadapi tantangan dan rintangan untuk mencapai tanah harapan yang diidamkan.

Dengan suara menggema di Tajug Agung, di rumah-rumah, di ujung desa, sawah, tegalan, sungai, lembah, dan gunung, Syaikh Lemah Abang membangkitkan perlawanan manusia-manusia yang selama berbilang abad pasrah dijajah dan ditindas oleh nasibnya karena alasan keturunan. Dengan semangat berapi-api ia berkata dalam setiap pengajian, “Bangkitlah engkau sekalian, o kaum sudra papa yang hidup hina! Sesungguhnya bukan darah yang mengalir di tubuhmu yang membuatmu hina dan nista, melainkan kemalasan diri dan ketakutanmu menghadapi kehidupan jua yang menjadikan dirimu dan seluruh keturunanmu hina dina sepanjang masa. Karena itu, tantanglah kesewenang-wenangan nasib yang selama ini telah memperbudak jiwamu. Bangkitlah dari kemalasan! Bangkitlah dari kerendahan diri! Sulut api keberanian di dalam jiwamu! Lawanlah semua keterbatasan dirimu sekuat kuasamu!”

“Bangkitlah juga, engkau sekalian, o para ksatria berdarah biru! Janganlah engkau menjadi hewan yang hidup diliputi kemalasan menikmati keberuntungan nasib yang meninabobokkanmu dalam buaian angin kepalsuan duniawi. Jangan engkau bermalas-malas menikmati sanjungan dan pujian. Sesungguhnya di balik keberuntungan nasibmu itu terdapat tugas besar bagimu untuk melindungi manusia lain yang lemah dan papa. Bangkitlah dari kemalasan! Bangunlah dari mimpi-mimpi kosong! Hunuslah pedang untuk menantang keterbatasan dirimu sekuat kuasamu! Ujilah dirimu apakah engkau sekalian layak disebut ksatria berdarah biru yang memiliki dharma utama menjadi pelindung dan pengayom jagad.”

Pandangan, paham, gagasan, dan nilai-nilai yang diajarkan Syaikh Lemah Abang untuk menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai adimanusia yang menduduki jabatan wakil Tuhan di muka bumi akhirnya dengan sangat rinci dituturkan oleh Tumenggung Lembu Jaya kepada Prabu Guru Dewata Prana. Sebagai maharaja yang bijaksana, Prabu Guru Dewata Prana menangkap Kebenaran yang sedang berembus di Lemah Abang. Ia menangkap sasmita bahwa suatu angin perubahan sedang bertiup di daerah kekuasaannya. Jika angin itu tidak dihadapi secara bijak akan menjadi prahara yang memporak-porandakan tatanan kehidupan yang sudah ada dengan korban yang tidak sedikit.

Berbeda dengan laporan Tumenggung Lembu Jaya dan Tumenggung Nara Wingkang yang mencermati tatanan, pandangan, gagasan, dan nilai-nilai baru Syaikh Lemah Abang, laporan Tumenggung Limbar Kanchana yang diutus Prabu Surawisesa cenderung mengamati keberadaan Lemah Abang sesuai yang ia saksikan. Ketika masuk ke desa Lemah Abang, misalnya, Tumenggung Limbar Kanchana hanya mengetahui bahwa pusat desa itu adalah Tajug Agung yang terbuat dari kayu dan beratap daun kawung yang berdiri di tengah-tengah desa. Di samping kiri Tajug Agung terletak kediaman Syaikh Lemah Abang serta rumah para janda tua dan anak-anak yatim. Di depan Tajug Agung terhampar lapangan. Di kanan kiri dan belakang Tajug Agung terdapat beratus-ratus rumah yang berderet-deret hampir melingkari lapangan.

Dalam jarak sekitar setengah pal di selatan Tajug Agung berdiri tegak sanggar pamujan yang berdampingan dengan vihara. Seperti bangunan Tajug Agung, kedua bangunan suci warga beragama Hindu dan Budha itu dikitari puluhan rumah yang padat. Warga beragama Hindu dan Budha rajin datang ke situ untuk beribadah. Namun sungguh aneh, para pendeta Hindu dan Budha dari sanggar pamujan dan vihara sering terlihat datang ke rumah kecil di sisi kiri Tajug Agung yang merupakan jediaman Syaikh Lemah Abang. Jika malam menjelang mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan Syaikh Lemah Abang dan beberapa warga muslim Lemah Abang. Bahkan, dengan terang-terangan para pendeta itu mengaku sebagai siswa Syaikh Lemah Abang. Mereka mengakui bahwa Syaikh Lemah Abang adalah penuntun dan pembimbing mereka dalam meniti jalan ruhani.

Sementara itu, di bagian utara desa – dalam jarak sekitar satu pal dari Tajug Agung – terletak pasar desa. Hari pasar berlangsung sepekan sekali pada hari selasa. Pada hari itu pedagang tidak hanya menjual sayur-mayur, lauk-pauk, garam, gula, sirih, kacang, gambir, beras, terasi, dan lada, tetapi menjual juga bahan kain, sisir, kemenyan, kayu gaharu, cermin, peralatan dapur, gerabah, obat-obatan, hewan ternak, dan hasil kerajinan. Di sekitar pasar selain terdapat kedai-kedai yang menjual makanan juga terdapat kedai-kedai yang menjual roda pedati, tapal kuda, pelana, sabuk, cambuk, sabit, cangkul, dan terompah. Sementara di sebelah timur pasar terletak sederetan bangunan yang digunakan untuk kegiatan pande besi, pembuatan gerobak, keranjang, alat-alat dapur, dan bahkan penyamakan kulit.

Kesan padatnya pemukiman di Desa Lemah Abang yang disaksikan Tumenggung Limbar Kanchana menampak kuat manakala ia melihat lalu-lalang manusia yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setiap hari seiring tersingkapnya cakrawala pagi, Desa Lemah Abang selalu diliputi suasana semarak dari para penghuninya yang memulai napas kehidupan sebagai penghuni bumi. Para petani yang berangkat ke sawah terlihat berjalan beriringan; memikul bajak, menuntun kerbau, memanggul cangkul, membawa sabit dan keranjang. Para tukang kayu, tukang batu, pembantu tukang, kuli angkut, terlihat sibuk mendirikan rumah dan bangunan lain. Para perajin, pande besi, peternak, dan pemilik warung tampak sibuk memulai kegiatannya. Desa Lemah Abang pada hari pasar terlihat jauh lebih semarak karena selain para pedagang dan buruhnya yang membawa barang dagangan dengan pedati, gerobak, atau pikulan terlihat pula iring-iringan warga dari desa-desa sekitar yang hendak berbelanja.

Dari lalu-lalangnya manusia di Desa Lemah Abang, terutama pada hari pasar, terlihat asal mereka dari aneka bangsa. Ada orang Sunda, Jawa, Melayu, Cina, Campa, dan Arab. Mereka tampil dengan gaya pakaian masing-masing. Meski demikian, yang terbesar di antara mereka adalah pribumi Sunda dan Jawa dari desa-desa sekitar Lemah Abang. Orang-orang Melayu, Cina, Campa, dan Arab lazimnya adalah warga Kuta Caruban yang datang ke Lemah Abang untuk berdagang.

Tumenggung Limbar Kanchana makin terheran-heran ketika mengamati penampilan warga Lemah Abang. Penampilan warga pribumi Lemah Abang sangat berbeda dengan seumumnya warga pribumi di desa-desa yang ada di Bumi Pasundan. Semua warga perempuan pribumi Lemah Abang baik orang Sunda maupun orang Jawa mengenakan kemben jika berada di luar rumah. Tumenggung Limbar Kanchana makin heran ketika diberi tahu warga bahwa di Lemah Abang berlaku peraturan yang melarang para perempuan keluar rumah tanpa mengenakan penutup dada sebagaimana lazimnya penampilan sehari-hari para perempuan pribumi. Peraturan itu tentu saja sangat aneh bagi masyarakat pribumi yang selama beribu-ribu tahun tidak pernah punya ketentuan untuk mengenakan pakaian penutup dada baik di kalangan keluarga kerajaan maupun kawula jelata.

Tumenggung Limbar Kanchana juga melihat keanehan cara berpakaian warga lelakinya. Laki-laki pribumi mengenakan kain yang menutupi tubuh mereka mulai sebatas pinggang hingga ke bagian bawah lutut jika berada di luar rumah. Selain itu, para laki-laki pribumi mengenakan destar. Mereka yang berambut panjang menggelung rambutnya ke dalam destar. Mereka yang menggunakan destar batik atau kain wulung adalah warga yang masih mengikuti agama leluhur. Sedangkan laki-laki berambut pendek, gundul, atau berambut panjang tetapi digulung ke dalam destar warna putih adalah warga Lemah Abang yang beragama Islam.

Selain mengenakan kain dan destar, laki-laki pribumi di Lemah Abang memiliki kebiasaan baru untuk menyelipkan golok di pinggang kiri mereka. Menurut keyakinan warga Lemah Abang, golok itu adalah lambang kehormatan seorang laki-laki yang sudah menyandang status suami. Golok tidak dimaksudkan untuk kepentingan lain kecuali untuk melindungi kehormatan seorang suami. Maksudnya, golok hanya akan digunakan jika ada orang jahat mengganggu kehormatan istrinya.

Kebiasaan baru lelaki pribumi Lemah Abang menyelipkan golok di pinggang kiri bermula dari pandangan baru yang menyatakan bahwa makhluk perempuan dicipta dari tulang iga kiri laki-laki. Karena itu, iga kiri laki-laki yang hilang dan menjelma menjadi perempuan itu harus dilindungi dengan golok. Barang siapa mengganggu atau merampas iga kiri laki-laki maka laki-laki itu wajib melindungi iga kirinya dengan golok. Dengan munculnya kebiasaan warga pribumi menyelipkan golok di pinggang kiri itu maka kebiasaan lama pribumi untuk menyelipkan keris pusaka di dada tidak lagi terlihat. Penampilan warga Lemah Abang benar-benar menjadi berbeda dengan penampilan seumumnya warga desa di Bumi Pasundan yang masih mengenakan cawat, rambut terurai tak bersisir, dan menyelipkan keris di dada.

Selain penampilan warganya yang aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati peraturan-peraturan yang berlaku di Lemah Abang pun sangat aneh dan tidak lazim. Dalam hal tabu, misalnya, ada larangan keras bagi seluruh warga untuk memakan daging anjing, tikus, katak, cacing, dan ulat. Larangan ini sangat aneh dan tidak lazim karena selama beratus-ratus tahun tabu itu hanya berlaku di lingkungan keluarga raja. Kini peraturan itu diberlakukan bagi warga desa. Bagi warga Lemah Abang yang beragama Islam diberlakukan larangan tambahan, yakni memakan daging babi. Sementara itu, meski tidak ada larangan memakan daging sapi, warga Lemah Abang membiasakan diri menyembelih kerbau untuk pesta dan perhelatan.

Larangan lain yang juga aneh dan tidak lazim yang wajib dipatuhi oleh seluruh warga adalah menjalankan upacara Ma-lima. Larangan itu, menurut Tumenggung Limbar Kanchana, pasti akan menimbulkan huru-hara jika diterapkan di tempat lain sebab upacara Ma-lima sudah menjadi bagian kehidupan warga di seluruh jengkal Bumi Pasundan.

Larangan lain di Lemah Abang yang tak kalah mengherankan bagi Tumenggung Limbar Kanchana adalah larangan menikah lebih dari satu istri jika alasannya semata-mata untuk memenuhi hasrat nafsu belaka. Pernikahan lebih dari satu istri sah dan bahkan dianjurkan jika memiliki alasan bersifat ruhani. “Jika engkau takut tidak bisa berbuat adil maka hendaknya engkau nikahi satu perempuan saja. Yang dimaksud adil adalah al-‘Adl. Maksudnya, jika kiblat hati dan pikiranmu tidak bisa engkau arahkan kepada al-‘Adl, yaitu Tuhan, maka janganlah engkau memiliki istri lebih dari satu. Sebab, jika engkau paksakan hasratmu sesungguhnya engkau telah terpedaya oleh bujuk rayu setan yang bersembunyi di dalam nafsumu,” ujar penduduk menirukan kata-kata Syaikh Lemah Abang.

Selain larangan-larangan aneh, Tumenggung Limbar Kanchana juga mendapati adanya peraturan yang bersifat keharusan bagi warga di Lemah Abang. Semua warga laki-laki diharuskan berlatih menunggang kuda dan memanah. Setiap sore secara bergantian semua warga lelaki berlatih menunggang kuda di lapangan yang terletak di timur Tajug Agung desa. Warga yang memiliki kuda meminjamkan kudanya untuk digunakan berlatih oleh warga yang belum memiliki kuda. Dengan adanya keharusan itu maka seluruh warga Lemah Abang sangat terampil berkuda dan memanah. Pada waktu-waktu tertentu mereka pergi ke hutan untuk berburu kijang. Kebiasaan menunggang kuda, memanah dan berburu yang berkembang di Lemah Abang benar-benar dianggap aneh dan bahkan kurang ajar oleh Tumenggung Limbar Kanchana, karena selama ini kebiasaan itu hanya berlaku di kalangan keluarga raja.

Dengan keterampilan berkuda dan memanah, warga Lemah Abang ternyata tidak hanya berburu, tetapi sering pula mengadakan acara lomba ketangkasan. Lomba diadakan tiga pekan sekali pada hari rabu. Pada hari itu warga dari desa-desa sekitar pun berduyun-duyun ke sana. Seiring semaraknya lomba ketangkasan berkuda dan memanah, kebiasaan warga pribumi menyabung ayam berangsur-angsur jarang dijumpai di desa-desa sekitar Lemah Abang.

Keanehan dan ketidaklaziman lain yang dijumpai di Lemah Abang, yang sempat membut marah Tumenggung Limbar Kanchana, adalah saat ia berbicara dengan warga. Tidak seperti lazimnya warga desa yang cenderung merendahkan diri dengan menggungkan bahasa yang halus untuk lawan bicaranya, orang-orang Lemah Abang berbicara apa adanya tanpa basa-basi. Bagaikan seorang raja berbicara dengan sesama raja, mereka dengan percaya diri tidak menyebut abdi atau kawula yang bermakna budak sebagai kata ganti diri, tetapi ingsun, yang bermakna aku. Tanpa peduli apakah yang diajak bicara itu bangsawan atau rakyat jelata, mereka selalu menggunakan kata ingsun.

Bahkan, Tumenggung Limbar Kanchana nyaris tidak dapat menahan amarah ketika mengetahui sikap warga Lemah Abang yang dengan lancang berani mengikrarkan kesepakatan untuk menolak kehendai siapa saja – termasuk raja dan maharaja – untuk mengambil anak-anak dan istri mereka. Mereka terang-terangan akan melawan punggawa kerajaan yang datang merampas anak-anak dan istri mereka.

Ketika Tumenggung Limbar Kanchana menelusuri lebih lanjut “kekurangajaran” warga Lemah Abang, terhenyaklah ia oleh cerita yang mengungkapkan khotbah Syaikh Lemah Abang tentang kerajaan. Rupanya, seluruh warga Lemah Abang sudah terhasut oleh khotbah itu. Mereka menganggap raja dan seluruh abdinya adalah para pendusta, pembohong, penipu. Puncak ketidakpahaman Tumenggung Limbar Kanchana tentang keanehan di Lemah Abang terjadi ketika ia diberitahu warga bahwa Ki Gedeng Karangsembung menduduki jabatan gedeng karena dipilih langsung oleh warga nagari, termasuk di dalamnya warga Lemah Abang. Akhirnya, dengan dada dan kepala dikobari api amarah ia kembali ke Galuh Pakuan dan menyampaikan semua yang disaksikannya kepada Prabu Surawisesa.

Mendapat laporan dari Tumenggung Limbar Kanchana yang memperkuat laporan Tumenggung Nara Wingkang, sadarlah Prabu Surawisesa bahwa di Lemah Abang telah terjadi percikan api yang membara di bawah permukaan, seibarat bara api menyala di dalam sekam. Prabu Surawisesa pun menangkap sasmita betapa bara api yang memercik di Lemah Abang itu pada gilirannya akan berkobar di Caruban Larang dan dipastikan makin lama akan semakin membesar, membakar seluruh Bumi Pasundan.

East China Sea North of Taipei (MV. Taho), April 10th 2007, 18:05LT

07. Api Perubahan Berkobar di Caruban Larang

Tahun 1415 Saka adalah tahun perubahan yang mulai terasa getarannya di Bumi Pasundan. Percik api yang membara di Lemah Abang pada awal tahun tersebut mengamuk menjadi gelombang dahsyat yang menyambar-nyambar ke berbagai tempat di sekitarnya. Lahirnya tatanan baru kehidupan warga Lemah Abang yang disebut kabilah atau ra’yat ternyata dalam waktu singkat telah berkobar-kobar ke berbagai tempat di wilayah Caruban Larang. Sejumlah nagari yang sudah berubah seperti Lemah Abang adalah wilayah yang dipimpin oleh Ki Gedeng Pasambangan, Ki Gedeng Ujungsemi, Ki Gedeng Sindangkasih, Ki Gedeng Tersana, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Paluamba, Ki Gedeng Surantaka, Ki Gedeng Trusmi, dan Ki Gedeng Caruban Girang.

Seluruh penguasa di Bumi Pasundan melihat perubahan itu dengan perasaan cemas dan gelisah. Mereka seolah-olah menunggu apa yang berikutnya akan terjadi setelah tatanan baru yang diawali di Lemah Abang itu diikuti oleh sembilan nagari di wilayah Caruban Larang. Meski mereka telah mengetahui bahwa tatanan baru itu didasari oleh gagasan Syaikh Lemah Abang, mereka tidak pernah menghitung keberadaan putera asuh Sri Mangana itu. Mereka justru menunggu perkembangan dengan mengarahkan pandangan ke arah Sri Mangana, sang ratu Caruban Larang. Tindakan apa yang akan diambil oleh sang ratu yang selama tahun-tahun belakangan membangun kekuatan militernya itu.

Kacurigaan para penguasa di Bumi Pasundan terhadap Sri Mangana tidaklah salah sama sekali. Kenyataan menunjukkan betapa di balik penerapan tatanan baru di sembilan daerah kagedengan di Caruban Larang sesungguhnya tidak terlepas dari peranan sang ratu Caruban Larang. Sebab, atas petunjuk dan perintah dari sang ratu Caruban Laranglah sesungguhnya para gedeng berani membagi-bagikan tanah kepada warga di wilayah kekuasaannya masing-masing. Atas titah sang ratu Caruban Larang, pemilihan para gedeng di sembilan nagari itu dilakukan hampir berurutan. Demikianlah, melalui wewenag Sri Mangana, perubahan yang terjadi di Lemah Abang dikembangkan dalam lingkup yang lebih luas. Bahkan atas petunjuk Sri Mangana, warga yang tinggal di daerah-daerah para gedeng itu menyebut diri sebagai ra’yat atau masyarakat.

Sebagai satu-satunya orang yang paling memahami gagasan Abdul Jalil, sesungguhnya secara diam-diam raja Caruban Larang itu mengamati semua perkembangan yang terjadi di Lemah Abang sejak kali pertama desa itu dibuka. Ketika ia mendengat laporan tentang khotbah putera asuhnya itu ia sudah mafhum bahwa sebuah prahara perubahan sedang berembus di Bumi Pasundan. Sebagai ratu yang sudah menyataka kesediaan untuk mendukung dengan segenap jiwa dan raga gagasan mulia putera asuhnya itu, Sri Mangana pun pada gilirannya memerintahkan para gedeng bawahannya untuk melakukan hal yang sama seperti yang berlaku di Lemah Abang.

Saat yang ditunggu-tunggu para penguasa Bumi Pasundan ternyata datang dengan cara yang sangat mengejutkan. Tanpa ada yang menduga tiba-tiba Sri Mangana mengumumkan pemberlakuan peraturan baru yang berisi ketetapan-ketetapan tentang kepemilikan tanah yang berlaku di seluruh wilayah Caruban Larang. Peraturan baru itu senapas dengan tatanan di Lemah Abang dan sembilan kagedengan yang lain.

Peraturan beru itu diumumkan sendiri oleh Sri Mangana seusai memimpin sembahyang Jum’at di Tajug Agung Caruban. Di bawah tatapan takjub para jama’ah, ratu Caruban Larang mengumumkan bahwa setiap warga yang tinggal di Caruban Larang akan diakui keberadaannya sebagai pribadi yang bebas, sama, dan sederajat antara satu dan yang lain. Tatanan lama yang menempatkan lapisan masyarakat secara berjenjang berdasarkan keturunan, warna kulit, tempat asal, dan agama tidak lagi berlaku. Setiap pribadi akan diakui kepemilikannya atas tanah, rumah, harta benda, keluarga, dan di dalam memilih agama serta pemimpin. Siapa pun warga Caruban Larang tanpa pandang agama, kebangsaan, keturunan, pangkat, dan jabatan adalah warga yang akan dihormati hak-haknya. Sri Mangana dengan tegas menyatakan, tugasnya sebagai ratu adalah menjadi pelindung bagi hukum, tradisi, dan tatanan kehidupan warga di wilayah kekuasaannya itu.

Pengumuman resmi Yang Dipertuan Caruban Larang itu bagaikan halilintar menyambar di siang hari, mengagetkan seluruh penguasa Bumi Pasundan dan kawula Caruban Larang. Penguasa Pasundan langsung menghamburkan sumpah serapah yang mengutuki kebijakan itu sebagai ambisi tidak waras seorang ratu yang berhasrat menduduki takhta Kerajaan Sunda. Sementara di kalangan kawula Caruban Larang terjadi perbincangan hangat dari mulut ke mulut menyambut peraturan yang mereka nilai aneh itu. Lepas dari aneh atau tidak aneh, seluruh kawula Caruban Larang dengan kegembiraan meluap-luap akhirnya menyambut peraturan tersebut.

Kawula Caruban Larang yang sebelumnya tidak mengenal hak kepemilikan atas sesuatu beramai-ramai melakukan perubahan sesuai peraturan baru sang ratu. Mula-mula mereka menetapkan batas-batas tanah miliknya yang selama ini merupakan tanah garapan yang disewa dari para gedeng dan wadana bawahan Sri Mangana. Namun, kegembiraan yang meluap-luap itu telah membawa banyak warga ke lembah kerakusan yang berisi serigala-serigala buas. Akhirnya, karena banyak warga ingin mendapatkan bagian lebih luas dari yang semestinya maka pecah perselisihan yang membawa korban jiwa.

Ketika perselisihan antarwarga merebak di berbagai tempat, para penguasa Bumi Pasundan bersorak gembira menertawakan kebodohan saudara mereka, Sri Mangana. Namun, mereka segera terdiam manakala Sri Mangana membuat ketetapan tambahan yang mengatur luas tanah yang pantas dimiliki oleh masing-masing keluarga sesuai kebutuhan. Untuk mengatasi kemungkinan perselisihan di kemudian hari, ratu Caruban Larang mengeluarkan ancaman hukuman berat bagi warga yang kedapatan melanggar batas tanah milik warga lain.

Tidak bisa dielakkan, betapa sesungguhnya di balik terbentuknya tatanan baru itu Sri Mangana telah melakukan tidakan yang tak pernah dipikirkan oleh saudara-saudara maupun ayahandanya, yaitu melepaskan hak kepemilikan seorang raja atas setiap jengkal tanah di wilayah kekuasaannya untuk dibagi-bagikan kepada penduduk. Bahkan, hak raja untuk menguasai seluruh hajat hidup para kawula pun dicabutnya. Dengan terheran-heran para penguasa Bumi Pasundan menilai saudara mereka yang menjadi ratu Caruban Larang itu memang sudah tidak lagi waras. Bagaimana mungkin disebut waras, jika seorang ratu merelakan kehilangan semua haknya hanya demi lahirnya tatanan baru kehidupan yang disebut masyarakat ummah!

Sementara para penguasa mengecam peraturan baru yang ditetapkan Sri Mangana, sambutan justru berdatangan dari berbagai kalangan hingga warga di luar wilayah Caruban Larang. Haji Shang Shu, kepala penduduk asal negeri Cina di Kuta Caruban, memberitakan kepada kerabat dan kawan-kawannya di Dermayu dan Junti tentang peraturan baru di Caruban Larang. Itu sebabnya, keluarga-keluarga asal negeri Cina di Dermayu yang dipimpin Lie Han Siang berbondong-bondong datang ke Kuta Caruban. Keluarga-keluarga Cina di Junti yang dipimpin Liu Sung tak ketinggalan ikut hijrah ke Kuta Caruban.

Perpindahan keluarga-keluarga asal negeri Cina ke Kuta Caruban ternyata memunculkan masalah yang berujung pada perselisihan di antara mereka sendiri. Berbeda dengan penduduk setempat yang berselisih karena alasan penentuan batas-batas tanah, para Cina pendatang terlibat perselisihan dengan kawan-kawannya disebabkan oleh masalah kepemimpinan. Haji Shang Shu, pemukim lama Kuta Caruban, menghendaki agar semua warga Kuta Caruban asal negeri Cina berada di bawah kepemimpinannya. Sementara Li Han Siang menolak dan menginginkan kepemimpinan tetap seperti semula, sesuai suku dan marga masing-masing kelompok. Perselisihan makin parah ketika Liu Sung dengan didukung Ling Tan juga menolak kepemimpinan Haji Shang Shu.

Sesungguhnya, perselisihan tentang kepemimpinan itu terjadi karena masing-masing pihak tidak mau direndahkan oleh suku lain. Meski semua pemukim Cina di Caruban muslim, mereka berasal dari suku yang berbeda. Haji Shang Shu, misalnya, berasal dari suku Hui yang lahir di daerah Kunyang di provinsi Yunnan di Cina selatan, sedangkan Lie Han Siang merupakan suku Han asal Shanghai. Li Han Siang adalah keturunan imam Masjid Song Jiang di Shanghai. Itu sebanya, ia tidak mau dipimpin oleh Haji Shang Shu yang dianggapnya lebih rendah kedudukan sukunya maupun status sosial keluarganya. Alasan serupa disampaikan pula oleh Liu Sung yang berasal dari suku Tungsiang dan Ling Tan yang berasal dari suku Han.

Perselisihan di antara warga Cina pendatang sempat pecah menjadi perkelahian massal di Kuta Caruban. Puluhan korban jatuh. Suasana kota menjadi tegang. Sri Mangana yang mendapat laporan tersebut buru-buru memanggil para pemimpin kelompok itu ke Bangsal Keprabon untuk didamaikan. Setelah melalui perundingan yang lama akhirnya semua pihak sepakat bahwa warga Cina di seluruh wilayah Caruban Larang akan mengikuti tatanan sesuai dengan yang diberlakukan di lingkungan warga setempat. Maksudnya, sebagaimana warga setempat yang dipimpin oleh para gedeng, demikianlah para pemuka suku Cina itu akan memimpin kelompoknya sendiri-sendiri. Dengan demikian, Haji Shang Shu tetap memimpin suku Hui, Lie Han Siang memimpin suku Han asal Shanghai, Liu Sung memimpin suju Tunsiang, dan Ling Tan memimpin suku Han asal Kanton. Dan tentu saja, semua pemimpin menyatakan setia berada di bawah lindungan ratu Caruban Larang.

Pendatang yang juga berduyun-duyun masuk ke wilayah Caruban Larang adalah warga asal Campa dan Semenanjung Malaya. Segera setelah peraturan baru tentang kepemilikan diumumkan di Caruban Larang, mereka datang dari daerah Junti, Dermayu, dan Karawang. Mereka umumnya nelayan dan petani. Sebagian memilih tinggal di sepanjang pantai Kebon Kelap, sebagian lagi memilih tana hunian di pedalaman yang masih berupa hutan. Kedatangan mereka ke Caruban Larang tidak menimbulkan masalah karena sudah menikah dengan warga setempat dan beranak-pinak. Sebagaimana lazimnya saat mereka tinggal di Junti, Dermayu, dan Karawang, di tempat tinggalnya yang baru mereka tetap patuh dan setia kepada keturunan pemimpin terdahulu, yaitu Syaikh Bentong dan Haji Musa, putera almarhum Syaikh Hasanuddin.

Sementara itu, bagaikan suatu kebetulan yang mengherankan, beberapa hari setelah peraturan baru tentang kepemilikan tanah diumumkan oleh Sri Mangana, sekitar seribu dua ratus orang asal Baghdad datang ke Giri Amparan Jati. Mereka adalah pengikut Sulaiman Rumi, ayahanda Abdurrahman Rumi dan Abdurrahim Rumi. Mereka datang ke Caruban Larang karena lari dari kejaran penguasa Baghdad. Seperti pepatah pucuk dicinta ulam tiba, kehadiran orang-orang asal Baghdad itu langsung disuguhi pembagian tanah siap huni. Atas usul Abdurrahman Rumi, mereka memilih tinggal di timur Kuta Caruban, tepatnya di wilayah Kalijaga.

Kehadiran para pengikut Sulaiman Rumi ke Caruban Larang sesungguhnya dilatari oleh kecurigaan para penguasa Baghdad terhadap gerakan Sulaiman Rumi yang dituduh menjadi kaki tangan Syah Ismail, pemuka keluarga Shafawy, yang berusaha menegakkan kekuasaan kaum Syi’ah. Sejak masa Syaikh Baha’uddin Rumi, ayahanda Sulaiman Rumi, kecurigaan para penguasa Utsmani sudah terasa menghinggapi keluarga tersebut. Itu sebabnya, Sulaiman Rumi beserta istri dan anak-anaknya pergi meninggalkan Konya dan menetap di Baghdad. Tetapi, para penguasa Baghdad keturunan Timur I Lenk juga mencurigainya sebagai pendukung Shafawy.

Sesungguhnya kecurigaan-kecurigaan yang diarahkan kepada Sulaiman Rumi dan keluarganya itu tanpa dasar. Sebab, Syaikh Baha’uddin Rumi nasabnya bersambung kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Bahkan, sepupu Syaikh Baha’uddin Rumi yang bernama Syaikh Muhammad bin Hamzah al-Dimassyqi al-Rumi adalah ulama masyhur yang menjadi guru Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel, sehingga tuduhan bahwa keluarga Sulaiman Rumi pendukung Shafawy adalah salah alamat. Namun, kecintaan keluarga Sulaiman terhadap golongan Alawiyyin yang mereka muliakan sebagai ahlul bait, telah mengundang kecurigaan berlebihan dari pihak penguasa. Sulaiman Rumi dituduh penganut Syi’ah dan kaki tangan Shafawy yang menjalankan taqiyyah untuk menutupi gerakan makarnya. Walhasil, seperti nasib awal ketika terusir dari Konya, Sulaiman Rumi dan pengikutnya terusir dari Baghdad hanya karena kecintaan mereka terhadap golongan Alawiyyin.

Kehadiran orang-orang Baghdad yang seperti “mendapat durian jatuh” itu ternyata berujung pada perselisihan sebagaimana terjadi pada warga pendatang asal negeri Cina. Ceritanya, Sayyid Habibullah al-Mu’aththal, pemuka warga Arab yang merupakan pemukim lama Kuta Caruban, menghendaki agar semua pendatang dari Baghdad berada di bawag kepemimpinannya. Sementara, orang-orang Baghdad pengikut setia Sulaiman Rumi menghendaki kepemimpinan Abdurrahman Rumi. Ujungnya, Sayyid Habibullah Al-Mu’aththal dengan para pengikutnya, yang didukung warga Trusmi, mengancam orang-orang Baghdad yang mulai membuka pemukiman di Kalijaga. Sayyid Habibullah Al-Muaththal mengancam akan mengusir mereka dari Caruban Larang jika tidak mau mengakui kepemimpinannya.

Perkelahian massal nyaris pecah jika Sri Mangana tidak segera turun tangan melerai. Akhirnya, sebagaimana yang dilakukan pada warga asal negeri Cina, warga Arab pemukim lama maupun yang baru datang dari Baghdad diminta mengikuti tatanan yang berlaku di kalangan penduduk setempat. Sayyid Habibullah Al-Muaththal tetap memimpin keluarga-keluarga Arab, sedangkan pemukim lama Kuta Caruban dan warga Arab pendatang asal Baghdad dipimpin oleh Abdurrahman Rumi. Dan, semua pihak menyatakan setia di bawah lindungan ratu Caruban Larang.

Hampir bersamaan dengan hadirnya para pendatang Cina, Campa, Melayu, dan Arab asal Baghdad, para pemukim lama Kuta Caruban asal Kadipaten Kendal ternyata mendatangkan sanak kerabatnya dari wilayah Kendal untuk mendapat bagian tanah di Caruban Larang. Mereka yang semula datang ke Giri Amparan Jati untuk mengantarkan Siti Zainab dan Umi Kalsum, dan kemudian tinggal di Kuta Caruban selama belasan tahun, tiba-tiba memanggil sanak kerabatnya di Kadipaten Kendal segera setelah peraturan kepemilikan tanah diumumkan Sri Mangana.

Sebagian pendatang baru asal Kendal itu tinggal di sekitar kerabatnya di Kuta Caruban. Sebagian lagi membuka pemukiman baru di dekat Muara Jati. Untuk menandai keberadaan mereka sebagai orang-orang asal Kendal, kediaman mereka dinamakan Karang Kendal. Mereka dipimpin oleh saudara tiri Siti Zainab, Pangeran Soka, yang dikenal dengan nama Pangeran Karang Kendal.

Para pendatang dari Kadipaten Kendal dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat sebab sejak Kadipaten Kendal dipimpin Syaikh Suta Maharaja, sejumlah ulama masyhur didatangkan untuk mengajarkan penduduk agama Islam. Yang termasyhur di antara ulama tersebut, selain Sayyid Maulana Waly al-Islam, ayahanda Umi Kalsum, adalah Syaikh Syarif Syamsuddin. Karena yang terakhir ini tinggal di Magelung. Menurut cerita, saat Syaikh Suta Maharaja gugur dalam pertempuran melawan pasukan Lembusora dari Demak, Syaikh Magelung beserta semua pengikutnya mengantar Umi Kalsum dan Siti Zainab ke Giri Amparan Jati untuk meminta perlindungan kepada Syaikh Datuk Kahfi, dan setelah itu mereka bermukim di sana.

Hingar-bingar kehadiran penduduk baru di wilayah Caruban Larang adalah tengara bagi lahirnya perubahan besar di Nusa Jawa. Sebab, dibandingkan tempat-tempat pemukiman yang ada di Nusa Jawa, hanya di wilayah Caruban Larang terdapat pemukim-pemukim dari berbagai jenis bangsa. Bahkan yang merupakan hal baru, para pemukim itu bukanlah kumpulan manusia yang berkedudukan kawula, melainkan manusia-manusia merdeka yang mempunyai hak milik pribadi. Mereka menyebut diri sebagai masyarakat, yaitu pribadi manusia-manusia merdeka yang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

East China Sea North of Taipei (MV. Taho), April 10th 2007, 18:15LT

08. Khilafah

Ketika api perubahan sedang berkobar di segenap penjuru Caruban Larang membakar tatanan lama dan memberi daya hidup pada tatanan baru, terjadi peristiwa yang tidak disangka-sangka oleh semua orang. Pada saat tatanan baru yang bertolak dari peraturan Sri Mangana itu dijalankan dengan gegap gempita oleh masyarakat dengan kericuhan di sana-sini, tersiar kabar bahwa Sri Mangana gering. Bagaikan kawanan orang yang sedang berpacu dan tiba-tiba terhalang oleh jalan buntu, seluruh penduduk Caruban Larang secara serentak menghentikan kegiatan untuk menggerakkan perubahan. Bagaikan orang kebingungan, mereka saling pandang seolah tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kemudian seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, mereka mengarahkan mata dan telinga ke Puri Kaprabon; menuggu dengan harap-harap cemas tentang apa yang akan terjadi dengan sang ratu Caruban Larang yang mereka jadikan tumpuan harapan.

Sebagai orang-orang yang tidak pernah diperkenalkan pada kebebasan pribadi dan hanya mengenal keberadaan diri sebagai kawula (budak), penduduk Caruban Larang memang sangat tergantung pada keberadaan Sri Mangana. Andaikata yang memimpin gerakan pembangunan tatanan baru itu bukan sang raja muda Caruban Larang, pastilah mereka tidak akan berani mengikutinya. Saat mereka berselisih karena berebut batas tanah, misalnya, junjungan mereka itu dengan mudah melerainya dan menempatkan peraturan tambahan tentang batas-batas kepemilikan tanah yang layak bagi satu keluarga. Bahkan saat tersebar berita yang simpang-siur tentang kemarahan para raja muda dari Galuh Pakuan, Talaga, Raja Galuh, dan Dermayu, tidak sedikit pun mereka risaukan karena bagi mereka raja muda Caruban Larang adalah pimpinan tertinggi yang harus mereka patuhi. Tapi kini, saat kabar geringnya Sri Mangana itu merebak ke berbagai penjuru negeri, mereka benar-benar cemas dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, kecuali menunggu kabar lanjutan tentang ratu mereka.

Di tengah kecemasan seluruh penduduk Caruban Larang, tanpa terduga tersiar kabar yang tak kalah mengejutkan: sesungguhnya Sri Mangana sakit ingatan. Gila. Sehari-harinya ratu Caruba Larang itu mengurung diri di dalam kamar bagaikan orang linglung. Tugas sebagai imam sembahyang Jum’at di Tajug Agung Caruban sudah tidak lagi di lakukannya selama beberapa pekan. Kebiasaannya membaca Al-Qur’an setiap usai sembahyang subuh dan isya tidak lagi berjalan. Kehadirannya di Tajug Jalagrahan dan Pesantren Giri Amparan Jati pun tidak lagi diketahui. Bahkan, putera dan puterinya yang mendekat dihardiknya agar menyingkir.

Kabar sakitnya Sri Mangana, meski agak terlambat, sangat mengejutkan Abdul Jalil yang baru tiba dari Luragung. Dengan diikuti Syaikh Abdul Malik Israil dan Ballal Bisvas, ia datang ke Puri Kaprabon untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang dialami ayahanda asuhnya. Saat sampai di Puri Kaprabon, tepatnya di Purasabha, Abdul Jalil melihat para gedeng berkumpul dengan wajah diliputi kecemasan. Dari mereka Abdul Jalil mendapat penjelasan jika sang ratu benar-benar sedang mengalami tekanan batin. Sikapnya seperti orang hilang akal. Perilakunya bagai orang mengalami gangguan jiwa. “Beliau seperti ketakutan setiap melihat atau mendengar sesuatu,” lapor Ki Gedeng Pasambangan getir.

Saat melangkah masuk ke Parapuri, ia bertemu dengan ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, yang sedang berbincang-bincang dengan kakaknya, Nyi Muthma’inah, di Bale Rangkang. Kemudian dengan beriringan mereka masuk ke dalam ruang utama Parapuri.

Betapa Abdul Jalil terkejut melihat keadaan Sri Mangana. Bagaikan berada di alam mimpi, ia terperangah dengan hati pedih. Ratu Caruban Larang yang selama ini ia kenal sebagai laki-laki tegar dan tak kenal takut itu dilihatnya sedang meringkuk di sudut ruangan dengan wajah kuyu dan tubuh gemetar. Saat Abdul Jalil tengah menduga-duga apa yang sesungguhnya sedang dialami ayahanda asuhnya itu, tiba-tiba Sri Mangana mendekatinya. Ketika jarak mereka tinggal sejangkauan, tiba-tiba Sri Mangana menjulurkan kedua tangannya dan mencengkeram erat-erat kedua bahu Abdul Jalil sambil berkata, “Tolonglah aku, o Puteraku. Aku sekarang sedang mengalami kegilaan. Tidak tahu apa yang sedang aku alami ini. Aku merasa sedang dicekam kegilaan yang tidak aku ketahui ujung dan pangkalnya.”

“Apakah yang sesungguhnya sedang Ramanda Ratu rasakan dan alami?” ujar Abdul Jalil menyeringai kesakitan karena bahunya diterkam Sri Mangana. “Ananda benar-benar tidak melihat ada sesuatu yang disebut kegilaan pada diri Ramanda Ratu.”

“Entah apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada diriku. Aku merasakan segala sesuatu yang ada di dunia ini tiba-tiba berubah dengan aneh. Segala sesuatu yang aku saksikan seperti menyingkapkan tirai dan menunjukkan jati dirinya.” Sri Mangana berkata dengan tangan gemetar dan peluh bercucuran. “Seolah-olah semua yang terhampar di hadapanku menyatakan diri sebagai pengejawantahan Tuhan. Semua selubung tersingkap. Lalu ‘wajah’ Yang Ilahi menampak di mana-mana. Bukankah itu gila? Bukankah itu sesuatu yang menyesatkan? Aku tidak tahu kenapa bisa mengalami kejadian gila seperti itu.”

“Bagaimana awal mula kejadian itu berlaku pada Ramanda Ratu?”

“Awalnya, ketika aku membaca Al-Qur’an tiba-tiba kusaksikan ayat-ayat di situ menyingsingkan selubungnya dan mengungkapkan jati dirinya,” kata Sri Mangana.

“Apakah ketika itu Ramanda Ratu membaca surah al-Fatihah?”

“Benar sekali,” ujar Sri Mangana.

“Apakah Ramanda Ratu melihat ayat demi ayat dari surah itu membuka selubung jati diri?”

Sri Mangana membenarkan. Saat membaca ayat demi ayat surah al-Fatihah, ia mendapati semua ayat tersebut seperti membuka selubung jati diri masing-masing. Pertama-tama, ayat berbunyi alhamdu li Allahi rabbi al-alamin, maknanya bukan lagi sebagai yang ia pahami selama ini yaitu “segala puji bagi Allah Rabb alam semesta.” Masing-masing kata di dalam ayat itu tiba-tiba seperti bisa berbicara dan mengungkapkan jati diri bahwa di balik kata alhamdu sesungguhnya terselubung hakikat al-Hamid. Di balik kata li Allahi sesungguhnya selubung hakikat Allah. Rabbi al-alamin, selubung hakikat al-‘Alim. Begitupun ar-rahman dan ar-rahim, mengungkap jati diri sebagai selubung hakikat ar-Rahman dan ar-Rahim. Maliki yaum ad-din, selubung dari hakikat al-Malik al-Mulki. Iyyaka na’budu, selubung dari hakikat Allah sebagai Ma’bud, yaitu Ism al-Zat dari yang wajib disembahsujudi. Wa iyya nasta’in, selubung dari hakikat ash-Shamad. Ihdina ash-sirath al-mustaqim, selubung dari hakikat al-Hadi. Demikianlah, kata demi kata di dalam al-Fatihah mengungkapkan jati dirinya sebagai selubung dari asma’, shifat, dan af’al Allah, di mana kata dhallin pun merupakan selubung dari hakikat al-Mudhill.

“Usai membaca al-Fatihah, aku langsung menutup al-Qur’an. Aku benar-benar ketakutan karena akalku tidak bisa menerima kenyataan huruf-huruf itu bisa hidup dan memberi kesaksian jati diri kepadaku. Aku merasa sesuatu yang tidak beres pada jiwaku tentu sedang terjadi. Setelah kejadian itu, ke mana pun aku berpaling dan melihat benda-benda aku menyaksikan semuanya mengungkapkan jati diri sebagai pengejawantahan dari ‘wajah’ Ilahiyyah yang menyelubungi hakikat Allah.”

Keanehan yang makin menakutkanku adalah ketika aku kembali dari Tajug Jalagrahan, tepatnya saat melewati pekuburan Pamelathi. Saat itu aku mendengar suara hiruk pikuk yang mengerikan. Sewaktu aku perhatikan, ternyata suara-suara itu berasal dari pekuburan. Suara itu adalah jerit tangis orang-orang mati dari dalam kuburnya. Sungguh menakutkan sekali pengalaman itu. Lantaran aku tidak kuasa menghadapi semua kenyataan itu maka aku mengurung diri di dalam kamar. Aku benar-benar takut jika aku sesungguhnya sedang menderita gangguan jiwa,” kata Sri Mangana.

Abdul Jalil tertawa mendengar penjelasan Sri Mangana. Kemudian dengan bahasa perlambang ia bercerita tentang seekor ikan yang kebingungan katika menyadari keberadaan dirinya di dalam air. Ikan itu makin kebingungan ketika ia bisa menyaksikan betapa sesungguhnya batu karang, pasir laut, ubur-ubur, dan ikan-ikan lain sesungguhnya berada di dalam liputan air. Ketika sedang bingung itulah datanglah seekor ikan tua yang berkata begini: “Sesunguhnya engkau harus menjadi pemimpin dari ikan-ikan sebangsamu. Sebab, engkau telah mengetahui hakikat air dan seluruh kehidupan di dalamnya. Engkau sudah bisa membedakan mana air yang keruh dan mana air yang jernih. Engkau telah tahu ke mana arus air bergerak. Karena itu, o ikan yang sudah sadar diri, jika engkau menjadi pemimpin dari ikan-ikan sebangsamu, pastilah engkau membawa mereka ke jalan keselamatan dan kebahagiaan. Engkau tidak akan mungkin membawa mereka yang engkau pimpin itu masuk ke perairan yang keruh dan dangkal. Engkau juga tidak akan membawa ikan-ikan yang engkau pimpin ke kawasan yang penuh umpan para pemancing.”

“Aku belum paham maksudmu, o Puteraku,” kata Sri Mangana.

“Ramanda Ratu sesungguhnya tidak mengalami kegilaan. Sebaliknya, Ramanda Ratu telah menapaki tangga ma’rifat tanpa Ramanda Ratu sadari. Ramanda Ratu sekarang ini berada dalam keadaan awal menyaksikan ‘wajah’ Yang Ilahi (QS al-Baqarah: 115). Apa yang Ramanda Ratu alami seibarat Rasulullah Saw. Saat menyaksikan Jibril a.s. kali pertama. Beliau saat itu menyaksikan Jibril a.s. laksana cahaya subuh. Ke mana pun berpaling, yang beliau saksikan adalah penampakan Jibril a.s..”

“Sesungguhnya Ramanda Ratu sedang mengalami penyingkapan (kasyf) kesadaran jiwa. Gumpalan awan hitam ghain yang menyelubungi kalbu Ramanda Ratu telah tersingsingkan akibat terbitnya purnama ruhani zawa’id sehingga jiwa Ramanda Ratu diliputi pemahaman ruhani fawa’id. Itu berarti, mata batin Ramanda Ratu telah tercelikkan. Telinga batin (sama’) Ramanda Ratu telah tersingkap. Dan sesungguhnya, itulah yang disebut al-wajd, yang menimbulkan keguncangan pada diri Ramanda Ratu,” Abdul Jalil menjelaskan.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang ini?” tanya Sri Mangana dengan wajah tiba-tiba diliputi harapan dan gairah hidup. “Karena aku sudah menduga jika diriku gila.”

“Ramanda Ratu harus mendaki terus tangga demi tangga maqamah sehingga akhirnya Ramanda Ratu dapat mencapai hadirat-Nya dan fana ke dalam keesaan-Nya.”

“Dengan cara bagaimana?”

“Dengan menyingsingkan keakuan yang lebih dari sebelumnya sampai Ramanda Ratu kehilangan segala-galanya kecuali Allah.”

“Apalagi yang harus aku singsingkan dari keakuanku?” tanya Sri Mangana. “Bukankah aku sudah tidak memiliki sesuatu lagi? Ilmu kedigdayaan, tanah, kawula, sumber nafkah, kekuasaan, kehormatan, bahkan semua pamrih yang melekat ke padaku sudah habis. Aku sekarang ini sudah merasa seperti orang sebatang kara yang hidup sendirian tanpa kawan.”

“Justru saat inilah Ramanda Ratu harus berkhidmat kepada tugas mulia sebagai wakil Allah di muka bumi. Maksud ananda, maqam Ramanda Ratu akan meningkat ke maqamah yang lebih tinggi jika Ramanda Ratu merelakan sisa terakhir yang ada pada Ramanda Ratu untuk dibagi-bagikan lagi kepada yang lain. Apakah sisa terakhir yang paling berharga yang masih Ramanda Ratu miliki? Menurut ananda, keluasan ilmu siyasah dan tata negara yang Ramanda Ratu miliki sebagai harta benda tak ternilai hendaknya didermakan untuk berkhidmat kepada tugas mulia sebagai wakil Rasul Allah. Bukankah saat Rasulullah Saw. Mengalami peristiwa bertemu Jibril a.s. di Gua Hira tidak menjadikan beliau makin bersembunyi? Bukankah setelah itu malah turun ayat yang memerintahkan beliau untuk bangkit memberi peringatan kepada manusia (QS al-Mudatsir: 1-7)? Bukankah Rasulullah Saw. dan keempat sahabatnya tidak pernah mengurung diri di gua? Bukankah berkhidmat kepada umat adalah bagian dari jalan hidup beliau dan keempat sahabatnya?”

Ketika Sri Mangana akan berkata-kata, Abdul Jalil memegang kedua tangan ayahandanya yang masih mencengkeram bahunya. Kemudian dengan mata berbinar-binar Abdul Jalil berkata, “Sekarang ini matahari harapan yang ananda tunggu-tunggu telah terbit. Ternyata matahari itu terbit tidak jauh dari diri ananda, yakni Ramanda Ratu sendiri. Ramanda Ratulah matahari harapan itu.”

“Aku tidak memahami maksudmu, o Puteraku,” kata Sri Mangana dengan tanda tanya.

“Bukankah di tengah perubahan tatanan lama kawula menjadi tatanan baru masyarakat ummah sesungguhnya tetap dibutuhkan seorang pemimpin? Bukankah dalam khotbah-khotbah yang ananda sampaikan selalu ananda katakan bahwa pemimpin masyarakat ummah adalah wali al-Ummah yang bergelar kalifah ar-rasul sayyidin panatagama? Ananda yakin, pasti Ramanda Ratulah wakil Allah di muka bumi yang paling layak menduduki jabatan itu saat ini.”

Ketika para ningrat darah biru Sunda bersukacita mendengar kabaar geringnya Sri Mangana, terjadi suatu peristiwa yang tak pernah mereka bayangkan. Kabar dari para pengintai mengatakan, keberadaan sepuluh gedeng yang menduduki jabatan gedenga atas dasar pilihan warga itu ternyata telah diikuti oleh gedeng yang lain, seperti Ki Gedeng Jatimerta, Ki Gedeng Mundu, Ki Gedeng Ujung Gebang, Ki Gedeng Buntet, Ki Gedeng Selopandan, Ki Gedeng Japura, Ki Gedeng Plumbon, Ki Gedeng Sembung, Ki Gedeng Plered, Ki Gedeng Tedeng, Ki Gedeng Losari, Ki Gedeng Pangarengan, Ki Gedeng Kadanggaru, Ki Gedeng Panderesan, Ki Gedeng Tameng, dan Ki Gedeng Sura (Tegal Gubuk). Yang lebih mengejutkan, seluruh gedeng serempak menyatakan kesepakatan untuk memilih dan mengangkat Sri Mangana sebagai penguasa baru Caruban Larang dengan nama Abhiseka Sri Mangana, Kalifah ar-Rasul Sayyidin Panatagama, Ratu Aji di Caruban.

Kabar dari para pengintai tentu saja membuat para penguasa dan ningrat darah biru Sunda tertegun-tegun. Mereka tidak bisa memahami lahirnya sebuah tatanan baru yang menempatkan keberadaan seorang pemimpin didasarkan atas pilihan para gedeng. Tatanan itu benar-benar aneh dan mengherankan mereka. Peraturan yang berlaku selama ini menunjukkan bahwa para gedeng adalah pejabat daerah yang ditunjuk dan diangkat oleh adipati. Sementara adipati-adipati diangkat atas tunjukan ratu. Dengan demikian, jelaslah bahwa tatanan baru di Caruban Larang merupakan hal aneh karena terbalik dengan tatanan yang ada.

Belum usai para penguasa dan ningrat darah biru Sunda terheran-heran dengan pengangkatan Sri Mangana sebagai kalifah, mereka memperoleh kabar yang lebih mengejutkan. Menurut laporan lanjutan para pengintai, segera setelah dinyatakan terpilih sebagai kalifah, Sri Mangana meninggalkan Puri Kaprabon dan tinggal di gubuk kayu beratap daun kawung yang terletak di luar tembok baluwarti, tepatnya di utara Lawang Gede. Gubuk kayu kecil itu dinamai Pekalipan (pekalifahan), yaitu tempat kediaman sang kalifah. Sementara seluruh keluarganya juga meninggalkan puri dan tinggal di dalam tembok di dekat Lawang Gede. Kediaman baru keluarga sang kalifah itu juga berupa gubuk-gubuk kayu yang sangat sederhana dan disebut ndalem Pekalipan. Dan yang lebih aneh lagi, sekarang ini seluruh kawula dan bahkan budak sekali pun setiap saat dapat menghadap sang kalifah. Bahkan, sejumlah pejabat penting kalifah adalah kawula yang berasal dari kasta rendahan.

Kabar tentang perubahan yang terjadi atas kehidupan Sri Mangana benar-benar menimbulkan kegemparan di kalangan penguasa dan ningrat darah biru Sunda. Mereka tidak paham dengan apa yang sedang terjadi pada pemimpin tertinggi Caruban Larang itu. Prabu Guru Dewata Prana Sang MahaRaja Sunda, ayahanda Sri Mangana, bahkan merasa hatinya pedih dan jiwanya terluka ketika mendengar kabar bahwa puteranya itu memilih hidup dalam kehinaan di gubuk-gubuk kecil dengan didampingi pejabat-pejabat dari kasta rendahan.

Sebagai maharaja yang berkuasa atas seluruh Bumi Pasundan, Prabu Guru Dewata Prana, yang belum mengetahui konsep khilafah di dalam ajaran Islam sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabatnya, sangat berduka mendengar puteranya dipilih dan diangkat sebagai pemimpin tertinggi, namun hidup miskin di gubuk-gubuk hina dengan dibantu pejabat-pejabat berkasta rendah. Sebab, sebagaimana umumnya pandangan yang lazim, Prabu Guru Dewata Prana menganggap tiap-tiap kekuasaan harus selalu terkait kuat dengan kemegahan, kemewahan, kekayaan, dan kemuliaan tetesan darah agung para raja.

Dengan ketidakpahamannya tentang konsep khilafah itulah Prabu Dewata Prana kemudian mengutus Pangeran Raja Sanghara, adik kandung Sri Mangana, dengan didampingi Adipati Liman Sanjaya, Yang Dipertuan Sunda Larang, puteranya yang lain, pergi ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang apa yang sesungguhnya sudah terjadi pada dirinya. “Apa pun yang terjadi, janganlah kalian membiarkan saudaramu itu hidup dalam kehinaan dengan menghuni gubuk-gubuk kecil yang hanya cocok untuk hunian kalangan potet (gelandangan). Sebab, kehinaan yang dialaminya sesungguhnya akan menyangkut-paut pula takhta kerajaan Sunda. Jangan menista dan merendahkan keagungan darah leluhur yang mengalir di tubuhnya dengan memilih hidup seperti itu,” ujar Prabu Guru Dewata Prana sedih.

Pangeran Raja Sanghara dan Adipati Liman Sanjaya pun pergi menemui Sri Mangana untuk menjalankan titah maharaja Sunda. Namun, saat mereka bertemu dan berbincang-bincang dengan Sri Mangana soal khilafah, keduanya justru tertarik. Mereka berdua dapat memahami apa yang dikemukakan Sri Mangana sebagai suatu keniscayaan dari perubahan yang bakal melanda tatanan lama kehidupan di Bumi Pasundan. Sehingga, di sepanjang perjalanan kembali dari Caruban Larang mereka terus memperbincangkan masalah khilafah tersebut.

Ketika hasil pertemuan dengan Sri Mangana disampaikan Pangeran Raja Sanghara kepada ayahandanya, ternyata sang maharaja bertambah bingung. Prabu Guru Dewata Prana sulit sekali menerima alasan-alasan yang mendasari konsep khilafah yang tidak lazim itu. Sebagai keturunan raja besar Sunda, di dalam jiwa dan pikiran Prabu Guru Dewata Prana memang hanya dikenal satu gambaran utuh bahwa sebuah kekuasaan adalah identik dengan kemegahan, kemewahan, keagungan, kemuliaan, kekayaan berlimpah, dan ketidakbersalahan. Itu sebabnya, ia tetap menganggap aneh perilaku puteranya yang menerapkan khilafah di Caruban Larang. Untuk kali kedua ia mengutus Ki Purwagalih menemui Sri Mangana di gubuknya.

Tidak berbeda dengan Pangeran Raja Sanghara dan Adipati Liman Sanjaya, Ki Purwagalih, penasihatnya yang beragama Islam itu, menuturkan alasan-alasan kuat Sri Mangana untuk menerapkan khilafah di Caruban Larang sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat. Dan untuk kali ke sekian, maharaja Sunda itu kecewa karena tetap sulit menerima kenyataan adanya kekuasaan yang terkait dengan kemiskinan dan kekurangan. Setelah itu ia mengutus Adipati Liman Sanjaya kembali ke Kuta Caruban untuk melihat istri-istri dan putera-putera Sri Mangana. Sang maharaja pun makin terkejut ketika mendapat laporan para menantu dan cucunya juga harus hidup di gubuk-gubuk kecil beratap daun kawung. “Aturan hidup apa yang sesungguhnya diikuti oleh puteraku itu? Ini sungguh hal yang sulit dimengerti,” gumam Prabu Guru Dewata Prana pedih.

Keheranan dan ketidakpahaman Prabu Guru Dewata Prana atas apa yang dilakukan Sri Mangana makin meningkat menjadi kekecewaan ketika ia beroleh laporan bahwa puteranya yang menjadi kalifah itu menempatkan orang-orang dari kalangan prthagjana (kasta rendah) sebagai nayakapraja. Bahkan, seorang pujut (budak kulit hitam) bernama Ballal Bisvas dari Bharatnagari tidak ditempatkan sebagai pameng-amengan (permainan kesukaan) sebagaimana lazimnya, tetapi malah diangkat menjadi raja muda dengan gelar Adipati Suranenggala.

Di tengah pusaran arus berita yang teraduk-aduk tentang perubahan di Caruban Larang, Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan, adalah satu-satunya penguasa Bumi Pasundan yang berada pada kedudukan paling sulit. Dikatakan paling sulit karena segala sesuatu yang terkait dengan Sri Mangana, saudara tiri yang menjadi penguasa Caruban Larang itu, sebenarnya telah mengombang-ambingkan harapan dan langkah-langkah yang dilakukannya untuk mewarisi takhta kerajaan Sunda. Sejak awal ketika ia berusaha menancapkan kekuasaan atas Caruban Larang, tanpa terduga saudara tirinya itu muncul dan menjadi penghalang utama yang menjegal langkahnya. Ya, sejak semula saudara tirinya itu telah menjadi penghalang berat baginya untuk meraih takhta kerajaan Sunda.

Sebagai putera maharaja yang sangat yakin bakal mewarisi takhta, di tengah gemuruh ambisi yang mengobari jiwanya, Prabu Surawisesa pun sesungguhnya mewarisi kebijaksanaan ayahandanya. Sekali – di tengah langkah-langkahnya – ia menoleh ke belakang untuk menilai kembali liku-liku dan tanjakan jalan yang telah dilewatinya. Tahun ini ia memasuki usia enam puluh lima tahun. Usia yang sesungguhnya sangat lanjut bagi seseorang untuk memikirkan bagaimana merebut takhta kerajaan.

Prabu Surawisesa sering menyadari bahwa di usianya yang sudah tidak muda itu seharusnya ia lebih memikirkan masalah ruhani. Namun, nafsu kekuasaan yang mengalir di tubuhnya sering menindas kesadaran itu. Yang sering kali muncul di tengah kesadaran itu adalah peristiwa penuh korban besar bagi langkahnya menuju takhta. Itu sebabnya, ia tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan itu.

Sesungguhnya pengorbanan Prabu Surawisesa untuk merebut Caruban Larang sudah sangat besar. Puluhan tahun silam ia telah merelakan putri kesayangannya, Nyi Ratu Inten Dewi, yang kala itu berusia sebelas tahun untuk diperistri kuwu Caruban Ki Danusela yang berusia empat puluh tahun. Selanjutnya, ia juga merelakan puterinya yang lain, Nyi Rara Anjung, yang kala itu berusia sepuluh tahun untuk diperistri oleh Syaikh Datuk Kahfi yang sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Saat itu ia benar-benar yakin tanah samiddha Caruban Larang sudah berada di dalam pengaruhnya. Bahkan saat puteranya, Rsi Bungsu, menduduki jabatan kuwu menggantikan Ki Danusela, ia merasa Caruban Larang benar-benar berada di dalam genggamannya.

Namun, pengorbanan yang dilakukannya untuk merebut Caruban Larang mendadak pupus manakala terjadi kericuhan yang melibatkan orang-orang Demak, yang kemudian disusul munculnya saudara tirinya, Pangeran Walangsungsang, sebagai kuwu sekaligus cakrabhumi Caruban Larang. Pengorbanannya makin terasa sia-sia ketika Pangeran Walangsungsang dinobatkan oleh ayanhandanya sebagai raja muda Caruban Larang dengan gelar Sri Mangana dan diberi kewenangan menerima upeti dari negeri-negeri taklukan (sakawat bhumi) di Sunda wilayah pesisir timur. Kesia-siaan pengorbanannya itu menjadi ancaman ketika ia menerima bahwa Yang Dipertuan Caruban Larang diam-diam giat membangun kekuatan militer dan menjalin hubungan erat dengan para adipati di pesisir Nusa Jawa.

Kini, di tengah kekecewaan dan rasa terancamnya, Prabu Surawisesa semakin cemas dan curiga dengan hingar bingar api perubahan yang disulut Sri Mangana. Sebab, ia sadar benar arah gerakan saudara tirinya itu bermuara ke perebutan takhta Kerajaan Sunda. Lantaran itu, ia menyambut kabar pemilihan ratu Caruban Larang sebagai kalifah itu dengan perasaan yang sulit diungkap: cemas, curiga, penasaran, benci, dan takut yang teraduk-aduk menjadi satu.

Ketika sang penguasa Galuh Pakuan tengah terombang-ambing oleh perasaan yang sulit diungkapkan, tanpa terduga muncul puteranya, bekas kuwu Caruban pengganti Ki Danusela: Rsi Bungsu. Anak bungsunya yang pernah dicari-cari orang Pakuan Pajajaran karena melakukan kekacauan di Caruban Larang dan membohongi maharaja Sunda itu muncul pada saat kesulitan menghadang penguasa Galuh Pakuan. Sebagai seorang ayah, Prabu Surawisesa tahu benar jika kemunculan puteranya itu tentu sudah diperhitungkan.

Rsi Bungsu sendiri tampaknya mengetahui kapan ia harus muncul dan menghadap ayahandanya yang telah diberinya banyak kesulitan akibat sepak terjangnya. Demikianlah, dengan keahliannya bersilat lidah, saat menghadap ayahandanya ia menuturkan perjuangan kerasnya untuk menghalang-halangi niat jahat Sri Mangana yang mengancam keutuhan Kerajaan Sunda. Ia mengemukakan usahanya itu dengan cara memberi nasihat kepada Yang Dipertuan Rajagaluh, Prabu Cakraningrat. “Kepada Pamanda Prabu Cakraningrat ananda mengusulkan untuk menjadikan daerah Palimanan sebagai ‘pagar pertahanan’ dari ancaman Sri Mangana. Maksud ananda, Palimanan yang menjadi bagian dari Caruban Larang harus dimasukkan ke dalam wilayah Rajagaluh melalui siasat. Dan, ternyata siasat ananda berhasil dengan gemilang,” kata Rsi Bungsu.

“Siasat apa? Ceritakanlah kepadaku, o Puteraku terkasih!” kata Prabu Surawisesa.

“Ananda mengikuti tata cara yang sama dengan yang dianut penguasa Caruban Larang.”

“Maksudnya?”

“Penguasa Palimanan harus dipilih oleh para gedeng. Dan penguasa terpilih, sang adipati, akan menyatakan kesetiaan kepada Yang Dipertuan Rajagaluh,” kata Rsi Bungsu.

“Bagaimana hal itu bisa dilakukan?” tanya Prabu Surawisesa penasaran.

“Atas perkenan dan dukungan Pamanda Prabu Cakraningrat, ananda mendatangi Ki Gedeng Kiban, Ki Gedeng Leuimunding, Ki Demang Dipasara, Ki Demang Surabangsa, Ki Gedeng Kenanga, dan Ki Ardisora, penguasa Bobos. Kepada mereka ananda bagikan masing-masing sekarung uang emas dan dua karung uang perak. Kepada mereka ananda menjanjikan jabatan-jabatan tinggi di Rajagaluh jika mereka bersedia secara terbuka memilih adipati Palimanan untuk memimpin mereka. Usaha ananda itu terbukti berhasil gemilang sehingga Palimanan sekarang ini masuk ke dalam wilayah Rajagaluh karena sesuai keinginan para gedengnya masing-masing sebagaimana yang diberlakukan di Caruban Larang,” kata Rsi Bungsu bangga.

“Siapakah adipati Palimanan sekarang ini?” tanya Prabu Surawisesa.

“Ki Kiban, Gedeng Palimanan.”

Prabu Surawisesa sangat bersukacita mendengar penjelasan Rsi Bungsu. Diam-diam ia memuji kecerdikan putera bungsunya. Ia mengakui betapa kemunculan putera bungsunya di Galuh Pakuan telah mengubah kecemasannya menjadi ledakan rasa sukacita. Pasalnya, selain melaporkan keberhasilannya menghalangi usaha ratu Caruban Larang, puteranya itu menyerahkan pula susunan tata pemerintahan kalifah Caruban Larang lengkap dengan nama pejabatnya. Bahkan, puteranya itu masih menyampaikan gagasan-gagasan cemerlang yang dapat digunakan untuk menekuk pesaingnya dalam merebut takhta.

Prabu Surawisesa benar-benar sangat bergembira. Di dalam susunan tata pemerintahan kalifah itu tertera dengan jelas bahwa jabatan-jabatan penting yang ada di Caruban Larang telah dipegang oleh orang-orang bukan Sunda.

“Ananda berharap Ramanda Prabu Guru Dewata, Ratu Aji di Surawisesa, dapat menggunakan apa yang telah ananda peroleh itu untuk menyingkirkan penguasa Caruban Larang yang sudah tidak waras lagi. Tanpa bermaksud menggurui, ananda berharap Ramanda Prabu dapat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Maksud ananda, hendaknya Ramanda Prabu dapat menggunakan masalah banyaknya orang asing dalam pemerintahan di Caruban Larang itu untuk menyulut kebencian orang-orang Sunda. Ananda yakin setiap orang Sunda akan sakit hati jika melihat susunan pemerintahan ratu Caruban Larang.”

“Adakah saranmu yang lebih baik lagi?” tanya Prabu Surawisesa.

“Sebaiknya Ramanda Prabu menyebarkan para pengintai ke berbagai tempat di Caruban Larang dan sepanjang pesisir utara Sunda. Ramanda Prabu hendaknya menitahkan kepada mereka untuk menyebarkan berita burung yang mengatakan bahwa Sri Mangana adalah utusan maharaja Cina yang sedang menjalankan tugas merongrong kerajaan Sunda. Ananda kira, siapa pun di antara orang Sunda dan terutama para putera maharaja akan menentang sang kalifah dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi,” kata Rsi Bungsu.

Prabu Suraswisesa sangat bergembira menerima saran puteranya. Ia merasa seolah-olah telah memiliki senjata ampuh, yang jika dilepaskan akan membinasakan pesaingnya dalam perebutan takhta itu. Ya, sekarang ia telah memegang senjata ampuh. Sebab, di dalam daftar nama pejabatat Pekalipan yang disampaikan puteranya itu, memang menunjukkan lebih dari separo jabatan penting dipegang oleh orang-orang bukan Sunda. Wilayah Caruban Larang, misalnya, dibagi menjadi sembilan nagari yang pemimpinnya disebut wali nagari, dan jabatan itu bahkan lebih banyak diserahkan kepada anak-anak yang terlalu muda usianya.

Pertama, Nagari Kalijaga membawahi Kagedengan Kalijaga, Mundu, Astanamukti, Beber, Karangwuni, Munjul, Japura, Pangarengan, dan Buntet. Para gedeng sepakat menunjuk Raden Sahid putera Adipati Tuban, Arya Sidik, sebagai wali nagari Kalijaga.

Kedua, Nagari Cangkuang membawahi Kagedengan Cangkuang, Ender, Babakan, Gebang, Karangsembung, Kertawana, Cihaur, dan Taraju. Para gedeng sepakat menunjuk Raden Anggaraksa sebagai wali nagari Cangkuang dengan gelar Ki Dipati Cangkuang. Raden Anggaraksa adalah putera Dalem Naya, Yang Dipertuan Ender.

Ketiga, Nagari Losari membawahi Kagedengan Losari, Tersana, Bojong Nagara, Luragung, dan Waled. Para gedeng sepakat menunjuk Arya Wangsa Goparana, mantan penguasa Sagara Herang, sebagai wali nagari. Arya Wangsa Goparana tersingkir dari Sagara Herang dan bermukim di Caruban Larang karena memeluk Islam.

Keempat, Nagari Kuningan membawahi Kagedengan Kuningan, Nanggerang, Panderesan, Cigugur, dan Sambawa. Para gedeng sepakat menunjuk Angga, putera Ki Gedeng Kemuning, sebagai wali nagari Kuningan. Ki Gedeng Kemuning adalah seorang Cina muslim. Ia bernama Ong Wi, keturunan pemuka Cina asal Palembang yang bernama Ong Te.

Kelima, Nagari Gunung Jati membawahi Kagedengan Pasambangan, Trusmi, Kalisapu, Sembung, Babadan, Jamaras, dan Plumbon. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Syarif Hidayatullah, anak muda asal negeri Arab, menantu Ki Gedeng Babadan.

Keenam, Kuta Caruban dan Puri Caruban Girang dipimpin oleh Raden Qasim – di kalangan warga asal Campa dikenal dengan nama Masaih Munat – putera bupati Surabaya, Pangeran Ali Rahmatullah. Agak berbeda dengan wali nagari yang lain, Raden Qasim menduduki jabatan penguasa Kuta Caruban dan Puri Caruban Girang tidak dengan cara dipilih, tapi ditunjuk Sri Mangana. Ia juga dianugerahi gelar Pangeran Darajat oleh sang ratu Caruban Larang karena ayahandanya adalah kemenakan ratu Majapahit.

Ketujuh, Nagari Gegesik yang membawahi Kagedengan Gegesik, Kapetakan, Pangurangan, Karangkendal, Kartasemaya, Srengseng, dan Junti. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Ballal Bisvas yang namanya diganti menjadi Suranenggala, seorang pendeta Bhairawa asal Bharatnagari.

Kedelapan, Nagari Susukan yang membawahi Kagedengan Susukan, Glagahamba, Tegal Karang, Tegal Gubuk, Ujungsemi, dan Luwung Kancana. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Syaikh Jamalullah, gedeng Ujungsemi.

Kesembilan, Nagari Sindangkasih yang membawahi Kagedengan Sindangkasih, Sedong, Kaliaren, Nanggela, dan Pancalang. Kedudukan wali nagari dipercayakan para gedeng kepada Abdul Qadir , seorang kepala pemberontak asal Pulau Upih (Pinang). Dengan sembilan wali nagari di Caruban Larang itu jelaslah bahwa hanya wali nagari Cangkuang dan Losari saja yang putera Sunda, selainnya orang asing.

Selain memuat nama-nama wali nagari, daftar nama yang dibawa Rsi Bungsu juga memuat sejumlah nama pejabat dalam pemerintahan kalifah Caruban Larang yang sangat sedikit menempatkan orang-orang Sunda pada kedudukan penting. Jabatan adhyaksa, misalnya, oleh Sri Mangana dipercayakan kepada Abdurrahim Rumi, anak muda asal Baghdad, kemenakan istri Syaikh Datuk Abdul Kahfi. Jabatan manghuri (sekretaris negara) dipercayakan kepada Haji Musa, putera Syaikh Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq, Karawang.

Jabatan syahbandar diberikan kepada Li Han Siang, pemuka warga Cina asal Dermayu. Pejabat pabean dipercayakan kepada Haji Shang Shu, pemuka warga Cina Kuta Caruban. Jabatan juru sukat dipercayakan kepada Ling Tan, pemuka warga Cina asal Junti. Jabatan baru wazir dipercayakan kepada Syaikh Bentong, saudara tua Haji Musa. Jabatan manggalayuddha Caruban dipegang sendiri oleh Sri Mangana. Sedangkan jabatan kepala perdagangan diserahkan kepada Abdurrahman Rumi, kakak Abdurrahim Rumi, dengan dibantu Wu Lien dan Wang Tao, keduanya orang Cina asal Karawang. Sementara orang-orang Sunda hanya diberi kepercayaan menduduki jabatan demang, wadana, juru demung (kepala pegawai di istana), rangga (pejabat istana), juru gusali (kepala pande besi), juru dyah (kepala pelayan istana), juru taman (kepala tukang kebun istana), juru pangalasan (kepala prajurit pangalasan), tumenggung (pejabat tinggi kraton), dan nayarma domas (komandan batalyon).

Taiwan Strait (MV. Taho), April 10th 2007, 19:30LT

09. Amarah Para Bangsawan

Sesungguhnya, saat Prabu Surawisesa menerima susunan tata pemerintahan Caruban Larang yang baru beserta nama pejabatnya, ia sedang diliputi oleh kegembiraan sehingga tidak memikirkan lebih jauh tentang hal lain di balik itu. Namun, saat ia mencermati lagi tatanan pemerintahan Caruban Larang, ia merasakan kepalanya bagai disambar petir. Pasalnya, di antara nagari-nagari yang dibentuk penguasa kalifah Caruban Larang itu terdapat nama Kuningan dan Luragung. Dua wilayah yang merupakan bagian Galuh Pakuan.

Saat Prabu Surawisesa dengan dada dikobari api amarah memanggil Rsi Bungsu untuk menjelaskan nama-nama tempat terkait dengan nagari-nagari baru di Caruban Larang, menghadaplah adipati Kuningan, Susuhunan Pajengan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudaranya lain ibu. Kepada Prabu Surawisesa, Susuhunan Pajengan melaporkan bahwa ia baru saja kehilangan kekuasaan atas Kadipaten Kuningan. “Para gedeng telah sepakat untuk memilih Angga, anak Ki Gedeng Kemuning, sebagai penggantiku. Usahaku menyadarkan mereka bahwa Kuningan adalah bagian dari Galuh Pakuan tidak mereka hiraukan. Mereka tetap berkukuh bahwa junjungan mereka yang baru adalah Sri Mangana,” ujar Susuhunan Pajengan dengan wajah muram.

“Apakah engkau diusir dari kadipaten?” tanya Prabu Surawisesa berang.

“Tidak, mereka tidak melakukan tindakan apa-apa kepadaku,” kata Susuhunan Pajengan. “Tetapi, semua nayaka di kadipaten tidak lagi mematuhi perintahku. Mereka semua bersikap seolah-olah aku bukan lagi adipati yang menjadi junjungan mereka.”

Mendengar laporan Susuhunan Pajengan, Prabu Surawisesa tak kuasa menahan diri. Dengan amarah meledak-ledak ia memerintahkan patihnya untuk mendampingi Susuhunan Pajengan ke Rajagaluh, Talaga, dan Pakuan Pajajaran. Prabu Surawisesa menitahkan agar mereka berdua menuturkan “kekurangajaran” orang-orang Caruban Larang yang telah merampas wilayah Galuh Pakuan dengan siasat licik.

Beberapa hari setelah sang patih dan Susuhunan Pajengan pergi, Prabu Surawisesa mengutus Rsi Bungsu untuk mengundang Yang Dipertuan Talaga, Yang Dipertuan Dermayu, Yang Dipertuan Sumedang Larang, dan penguasa Bumi Pasundan untuk hadir ke Galuh Pakuan. Ketika semua raja muda Bumi Sunda yang sudah mendapat laporan keluh kesah Susuhunan Pajengan itu berkumpul di Kraton Surawisesa, dengan keahlian bersilat lidah yang menakjubkan Rsi Bungsu berusaha mempengaruhi saudara-saudara ayahandanya agar bersama-sama membenci dan memusuhi Sri Mangana.

“Jelaslah kini bahwa dengan tindakannya itu Yang Dipertuan Caruban Larang memang berkeinginan menghancurkan Kerajaan Sunda yang kita agungkan dan kita muliakan. Bayangkan, dengan mula-mula membuat aturan yang berbunyi ‘tanah untuk ra’yat’ dan ‘pemimpin dipilih dari ra’yat’, Pamanda Sri Mangana berusaha mempengaruhi para kawula agar memandang kita sebagai pendusta dan penipu yang rakus dan menguntungkan diri sendiri.”

“Kini setelah Pamanda Sri Mangana mempunyai kekuatan karena dipilih oleh ra’yat, pejabat-pejabat yang diangkatnya adalah orang-orang dari negeri asing yang bahasa dan agamanya berbeda dengan kita. Jelaslah sudah alasan Pamanda Sri Mangana mengangkat orang asing karena beliau memandang kita sebagai penipu dan pembohong. Tetapi, mungkin juga alasan beliau bukan sekadar itu. Mungkin ada latar lain kenapa beliau lebih percaya kepada orang-orang asing.”

“Sesungguhnya tidak syak lagi, Pamanda Sri Mangana yang telah tersihir oleh kesaktian Syaik Lemah Abang telah menjadikan dirinya perampok sejati yang lebih ganas daripada harimau lapar. Dia tidak saja akan merampas agama warisan leluhur kita untuk diganti dengan agama barunya, bahkan dia akan merampas pula tanah dan kekuasaan yang diwariskan leluhur kita. Sungguh, tidak ada yang tahu, pamanda kami yang tercinta itu sedang menderita sakit gila apa.”

“Sesungguh-sungguhnya, satu hal yang paling tidak kami sukai dari sepak terjang Yang Dipertuan Caruban Larang. Apakah itu? Dia kelihatannya telah bersekongkol dengan maharaja Cina untuk menghancurkan Kerajaan Sunda. Jika dugaan ini benar, kekuasaan yang dia tegakkan di Caruban Larang sebenarnya adalah kepanjangan tangan dari maharaja Cina. Hal itu jelas telah menginjak-injak harga diri dan kehormatan kita sebagai orang Sunda. Sebagai bukti bahwa penguasa Caruban Larang adalah begundal maharaja Cina, paman-paman sekalian bisa melihat nama pejabat baru yang diangkat sang kalifah. Menurut daftar ini, lebih dari separo pejabat Caruban Larang adalah orang-orang Cina perantauan yang tak diketahui asal-usulnya,” ujar Rsi Bungsu sembari menyerahkan susunan pejabat baru Caruban Larang kepada raja muda Talaga, Prabu Pucuk Umun.

Prabu Pucuk Umun yang sebelumnya sudah mendengar keluhan dari saudaranya, Susuhunan Pajengan, dengan mudah terpengaruh oleh kata-kata Rsi Bungsu. Ia makin terpengaruh ketika menerima dan membaca daftar nama para pejabat baru Caruban Larang. Dalam daftar nama itu terbukti jelas jabatan-jabatan penting di Caruban Larang memang dipegang oleh orang asing. Dan di atas semua itu, Prabu Pucuk Umun sangat khawatir saat mendapat bukti bahwa Kuningan dan Luragung sebagai wilayah Galuh Pakuan telah dimasukkan ke dalam wilayah Caruban Larang. Itu berarti, tidak tertutup kemungkinan wilayah Talaga pun sedang menunggu giliran dicaplok Caruban Larang.

Akhirnya, dengan dada dikobari api amarah, Prabu Pucuk Umun kembali ke kratonnya di Talaga. Ia kemudian mengirim para pengintai ke Kuta Caruban untuk membuktikan kebenaran data dari Rsi Bungsu. Prabu Pucuk Umun sendiri sesungguhnya sudah lama mendengar kabar mengkhawatirkan tentang saudaranya yang menjadi penguasa Caruban Larang. Namun, akibat sibuk menikmati kemewahan dan sanjungan di kratonnya, ia tidak menganggap serius kabar tersebut. Dengan sangat yakin diri ia selalu berkata, “Sebuas-buas harimau tidak akan memangsa saudaranya sendiri.”

Kini setelah Kuningan direbut Caruban Larang dan nasib saudaranya, Susuhunan Pajengan, menjadi tidak menentu, sadarlah ia bahwa Sri Mangana tidaklah boleh dianggap sebagai saudara lagi. Sadarlah ia bahwa sang harimau telah menjadi haus darah sehingga akan mungkin akan memangsa dirinya. Harimau itu, kata Prabu Pucuk Umun dalam hati, tidak boleh mendekati Talaga, kalau perlu mesti dibunuh beramai-ramai.

Sementara itu, Prabu Cakraningrat, Yang Dipertuan Rajagaluh, pada awalnya juga berpikiran sama dengan Prabu Pucuk Umun. Segala kabar miring tentang Sri Mangana yang diperolehnya dari Prabu Surawisesa selalu dianggapnya sebagai bagian dari persaingan dua saudara dalam merebut takhta Kerajaan Sunda. Namun, kini ketika Sri Mangana terbukti menerapkan tatanan baru di Caruban Larang, yang jelas-jelas mengancam keberadaan para penguasa di Bumi Pasundan, ia tiba-tiba menjadi sangat cemas. Itu sebabnya, sekembali dari Galuh Pakuan ia buru-buru mengutus Adipati Kiban, Yang Dipertuan Palimanan, ke Kuta Caruban untuk meminta penjelasan dari Sri Mangana tentang nama-nama orang asing dalam tata pemerintahannya yang baru.

Di antara para raja muda yang hadir dalam pertemuan di Galuh Pakuan itu ternyata yang paling tidak diuntungkan kedudukannya akibat gelombang perubahan di Caruban Larang adalah Prabu Indrawijaya, Yang Dipertuan Dermayu. Lebih dari setengah penduduk Dermayu adalah para pendatang Campa, pemukim Melayu, pedagang Siam, dan perantau Cina yang umumnya beragama Islam. Sedangkan sisa penduduk yang terpilah atas orang-orang Sunda dan Jawa lebih setengahnya juga sudah beragama Islam. Walhasil, kekuasaan raja muda Dermayu terkucil ibarat sebuah kapal berada di tengah lautan sehingga saat gelombang pasang perubahan terjadi di Caruban Larang, getarannya terasa hingga di Dermayu dan kapal itu pun ikut oleng diempas ombak perubahan.

“Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi perubahan ini,” kata Prabu Indrawijaya dengan nada putus asa. “Gelombang perubahan itu begitu cepat melanda wilayah kekuasaanku. Para kawula Dermayu yang umumnya muslim mengikuti tindakan saudara-saudaranya di Caruban Larang. Mula-mula Demang Mundu dipilih menjadi gedeng dan ia membagi-bagikan tanah kepada penduduknya. Setelah itu Demang Kertasemaya mengikuti jejaknya. Hingga kini para demang di wilayah Dermayu yang dipilih penduduk menjadi gedeng sudah ada tujuh orang yaitu gedeng Majasih, Rambatan, Tegalwurung, Malang Sumirang, dan Sindang.”

“Menurutku, orang-orang Islam itu sungguh licin dan banyak akal. Mereka memiliki banyak siasat. Saat penduduk Junti membuka desa baru yang dinamai Lemah Abang di sebelah timur Kraton Dermayu, aku mengutus Demang Singajaya untuk menanyakan maksud dan tujuan mereka menamakan desa tersebut Lemah Abang. Ternyata, Demang Singajaya kembali melapor bahwa warga baru itu menamai desanya Lemah Abang, bukan Lemah Abang. Sebaliknya, kampung di selatan Lemah Abang dinamai Lemah Mekar. Saat Demang Pasekan kuutus mengawasi perikehidupan warga dari kedua desa baru itu, dia melaporkan bahwa nama yang benar dari desa-desa itu adalah Lemah Abang dan Lemah Mekar. Ini sungguh memusingkan. Bahkan, saat Demang Singajaya kuutus kembali kedua desa baru itu, penduduk berlagak tolol seolah-olah tidak mengetahui pasti nama yang benar dari desanya.”

Para putera maharaja Sunda yang mendengar keluhan Yang Dipertuan Dermayu tidak bisa memberikan saran apa pun atas nasib malang yang dialami saudaranya. Mereka hanya meminta agar Prabu Indrawijaya tabah dan tidak menyerah pada perubahan yang dilakukan oleh para demang yang membagi-bagikan tanah kepada penduduk. Mereka juga memintanya tidak perlu memikirkan penduduk baru yang membuka desa bernama Lemah Abang. Mereka umumnya menyarankan agar semuanya menunggu kelanjutan dari perubahan di Caruban Larang yang secara cepat atau lambat akan melanda wilayah kekuasaan mereka. Dan, mereka umumnya sangat cemas jika kelak mengalami nasib seperti saudara mereka, Prabu Indrawijaya dan Susuhunan Pajengan.

Sesungguhnya mereka yang cemas dengan perubahan yang terjadi di Caruban Larang bukan hanya putera raja yang menjadi penguasa di berbagai kerajaan kecil di Bumi Pasundan. Para bangsawan rendahan yang menduduki jabatan demang, wadana, dan mantri wadana pun tak kurang cemasnya. Dengan diberlakukannya peraturan baru tentang kepemilikan tanah di Caruban Larang, sesungguhnya pihak yang dirugikan adalah para pemilik tanah, yakni para pangeran dan adipati, yang mempercayakan tanah-tanah mereka kepada para mantri wadana, wadana, dan demang untuk disewakan kepada kawula. Bukankah dengan diakuinya hak kepemilikan pribadi tiap-tiap kawula atas tanah sebenarnya bermakna merampok tanah milik raja yang diwariskan kepada keturunannya? Bukankah dengan peraturan baru itu para demang, wadana, mantri wadana, adipati, dan pangeran tidak lagi menerima uang sewa tanah dari kawula penggarap?

Kecemasan para bangsawan rendahan itu dimanfaatkan benar oleh Prabu Surawisesa untuk memperoleh dukungan besar bagi hasratnya untuk meraih takhta Kerajaan Sunda. Dengan membuat peraturan baru tentang ketentuan mengelola tanah garapan yang memberikan bagian lebih besar kepada para demang dan wadana, dibangunlah kekuatan militer Galuh Pakuan untuk mengimbangi Caruban Larang. Dalam peraturan baru itu masing-masing demang mendapat separo bagian dari uang sewa tanah garapan di daerahnya. Para wadana mendapat bagian seperempat, sedangkan sisanya untuk mantri wadana, adipati dan pangeran pemilik tanah.

Dengan peraturan baru itu bukan berarti para demang dan wadana bisa menikmati bagian besar dari hasil sewa tanah dengan percuma. Sebab masing-masing demang dibebani kewajiban memelihara seratus prajurit, sementara wadana berkewajiban menggalang sepuluh kesatuan prajurit yang dipelihara demang. Itu berarti, bagian yang didapata dari sewa tanah itu digunakan para demang untuk membiayai kehidupan seratus prajurit. Menurut kabar, dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak peraturan baru itu diterapkan, Galuh Pakuan sudah memiliki prajurit sekitar 100.000 orang.

Merasa masih kurang cukup dengan kekuatan militer yang dimilikinya, Prabu Surawisesa meminta dukungan dari saudaranya yang lain, para raja muda Bumi Pasundan, untuk menghadapi kekuatan militer Caruban Larang. Para penguasa Bumi Pasundan yang cemas dengan tindakan-tindakan Sri Mangana memang tidak bisa berbuat lain, kecuali harus medukung Prabu Surawisesa. Akhirnya satuan-satuan pasukan dari berbagai kadipaten seperti Sukapura, Sindangbarang, Kidang Lamotan, Ukur, Sumedang Larang, Kamuning Gading, Ajong Kidul, Pasir Panjang, Limbangan, Maleber, Panembong, dan Batu Layang berdatangan ke Galuh Pakuan untuk memperkuat bala tentara yang disiagakan Prabu Surawisesa dalam menghadapi kekuatan militer Caruban Larang.

Langkah Prabu Surawisesa membangun kekuatan militer Galuh Pakuan diikuti oleh Yang Dipertuan Talaga dan Yang Dipertuan Rajagaluh. Dengan menerapkan peraturan baru yang sama dengan Galuh Pakuan dalam waktu kurang dari dua bulan militer Talaga sudah berjumlah 75.000 orang. Sementara di Rajagaluh, jumlah militer membengkak dari 20.000 menjadi 100.000 orang. Demikianlah, bagaikan sedang berlomba memamerkan kekuatan masing-masing, para putera maharaja Sunda itu saling berpacu menyaingi kekuatan militer Caruban Larang.

Pengangkatan Sri Mangana sebagai kalifah Caruban Larang, ternyata tidak hanya menimbulkan kekhawatiran dan kemarahan para bangsawan Sunda yang merasa terancam kepentingannya. Para bangsawan Arab Kuta Caruban yang dipimpin oleh Sayyid Habibullah al-Mu’aththal sangat tidak suka dengan pengangkatan kalifah tersebut. Pasalnya, menurut Sayyid Habibullah al-Mu’aththal, manusia yang menduduki jabatan kalifah ar-rasul wajib berasal dari suku Quraisy, terutama dari antara ahlul bait, keturunan Nabi Muhammad Saw.

Sayyid Habibullah al-Mu’aththal adalah menantu Ki Gedeng Trusmi. Ia disegani orang lebih disebabkan karena keberadaannya sebagai menantu seorang gedeng. Tanpa status menantu gedeng, ia hanyalah gumpalan daging bernyawa rakus dan tidak pantas dihargai. Hari-hari dilewatinya dengan membual. Makan enak. Tidur mendengkur. Mengumbar nafsu membuat keturunan.

Matanya yang selalu tampak setengah terkatup seperti mengantuk, sering terbelalak dan bersinar kilau-kemilau manakala melihat kelebatan perempuan di depannya. Hidungnya yang sebengkok paruh burung betet termasyhur ketajamannya ketika membaui anak gadis orang dan janda-janda muda. Telinganya yang kecil tetapi panjang keledai akan tegak jika mendengar orang bicara tentang uang dan perempuan. Mulutnya yang tebal ditutupi kumis sering kedapatan berdecak-decak manakala melihat perempuan lewat di depannya.

Sesungguhnya tidak satu pun orang tahu apakah Sayyid Habibullah al-Mu’aththal benar-benar bangsawan Arab keturunan Nabi Muhammad Saw. seperti pengakuannya. Orang hanya mengiyakan karena memang tidak ada yang tahu bagaimana cara membedakan wajah orang Arab satu dengan wajah orang Arab yang lain. Dalam pandangan orang Sunda dan orang Jawa, wajah orang Arab itu sama. Orang umumnya tidak peduli apakah pengakuan seseorang sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. itu butuh bukti atau tidak. Pendek kata, mereka menganggap setiap orang Arab sah saja mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw.

Keluguan orang-orang Caruban dalam menyikapi kehabaiban itu oleh Sayyid Habibullah al-Mu’aththal sering diartikan sebagai ketololan dan kepandiran. Itu sebabnya, dengan kepandaiannya membual ia bentangkan permadani ketidakbersalahan pada alam pikiran orang-orang di sekitarnya. Kemudian di atas permadani itu ia melompat-lompat dan berguling-guling semau-maunya untuk melampiaskan hasrat nafsunya. Ia sangat yakin bahwa penghormatan dan kepatuhan orang-orang kepadanya disebabkan oleh keberhasilannya membual dengan mengaku-aku sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. Padahal, dengan kemalasan, kerakusan, dan bualan kosongnya itu orang tidak pernah menilainya lebih dari segumpal daging bernyawa. Ia dihormati karena keseganan orang terhadap mertuanya, Ki Gedeng Trusmi.

Sekalipun keberadaannya nyaris seperti segumpal daging bernyawa, Sayyid Habibullah al-Mu’aththal sangat cermat mengamati keadaan. Itu sebabnya, meskipun ia sangat tidak senang dengan pengangkatan Sri Mangana sebagai kalifah, ia tidak berani secara terbuka menentangnya. Ia mengetahui benar pengaruh dan kekuatan sang ratu yang semakin kuat setelah diangkat menjadi kalifah. Ia sadar bahwa menggugat keberadaan Sri Mangana pada saat seperti itu sama dengan membenturkan kepala ke tembok. Lantaran itu, diam-diam ia pergi ke Lemah Abang untuk menjumpai Abdul Jalil dan menyampaikan kekecewaan dan luapan amarahnya.

“Antum sudah kelewatan melakukan perubahan, hai Abdul Jalil,” ujar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal dengan suara ditekan tinggi. “Saking kelewatan sampai antum tidak tahu di mana harus berhenti. Antum sudah kebablasan. Antum sudah melanggar kaidah-kaidah kekalifahan yang pernah ada.”

“Aku tidak paham dengan apa yang Anda katakan,” kata Abdul Jalil. “Apa yang Anda anggap telah kelewatan dari perubahan yang kami lakukan? Apakah Anda tidak suka dengan tatanan baru masyarakat ummah? Di mana letak ketidaksetujuan Anda dan di mana letak pelanggaran kami atas kaidah-kaidah kekalifahan?”

“Antum menunjuk Sri Mangana sebagai kalifah,” sergah Sayyid Habibullah al-Mu’aththal keras, “Itu satu kesalahan besar. Itu pelanggaran kaidah-kaidah kekalifahan. Menurutku, kedudukan Sri Mangana sebagai kalifah tidak sah.”

“Bagaimana Anda mengatakan yang menunjuk Sri Mangana sebagai kalifah adalah aku, Syaikh Lemah Abang? Bukankah semua orang tahu bahwa penunjukka beliau sebagai kalifah berdasarkan atas pilihan seluruh gedeng di Caruban Larang? Dan, aku kira itu tidak melanggar kaidah-kaidah kekalifahan,” kata Abdul Jalil.

“Tapi dia itu siapa? Ada hubungan darah apa dia dengan kemuliaan dan kesucian darah Quraisy? Dia anak negeri Sunda, yang kebetulan anak maharaja. Jadi, dia itu hanya layak jadi ratu di negerinya. Ingat itu: Sri Mangana hanya layak jadi ratu. Ratu. Sekali lagi, hanya ratu. Sedang untuk jabatan kalifah, kalifah ar-rasul, dia sama sekali tidak memiliki hak,” kata Sayyid Habibullah al-Mu’aththal dengan sudut bibir mulai membusa.

Sesuatu di dalam diri Abdul Jalil bergolak saat mendengar ucapan Sayyid Habibullah al-Mu’aththal yang merendahkan Sri Mangana. Untuk beberapa jenak ia terdiam. Setelah itu, sesuatu yang bergolak di dalam jiwanya itu menghambur lewat mulut bagaikan semburan kawah gunung berapi.

“Jika Anda menilai Sri Mangana tidak pantas menjadi kalifah ar-rasul dengan alasan keempat sahabat Nabi Muhammad Saw. yang menjadi kalifah adalah orang Quraisy, maka aku katakan bahwa Anda telah keliru memahami maksudku. Dalam berbagai kesempatan telah aku jelaskan bahwa tatanan baru yang disebut masyarakat ummah tidak didasarkan atas ikatan keturunan, kesukuan, kebangsaan, bahasa, dan agama tertentu. Dengan demikian, jelaslah bahwa seorang pemimpin masyarakat ummah yang menduduki jabatan wali al-Ummah pun wajib mengikuti ketentuan yang sama. Sungguh aneh dan lucu jika tatanan masyarakat ummah itu diikuti ketentuan yang mengatakan bahwa pemimpin masyarakat ummah hendaknya berasal dari suku atau keluarga tertentu. Kalau ketentuan itu yang diterapkan, pastilah yang akan menduduki jabatan kalifah ar-rasul sayyidin panatagama di Caruban Larang anda sendiri. Karena, menurut cerita orang Anda adalah ahlul bait keturunan Rasul Allah Saw. yang berasal dari antara orang Quraisy.”

“Sungguh, aku tidak ingin berdebat dengan anda tentang Quraisy dan bukan Quraisy dalam hal kekalifahan. Tetapi, andaikata aku membenarkan dan kemudian mengikuti pandangan Anda, maka sesungguhnya aku akan menempatkan gagasan khilafah hanya dalam mimpi dan angan-angan karena tidak akan mungkin diwujudkan dalam kenyataan. Kenapa aku katakan tidak akan mungkin diwujudkan dalam kenyataan? Sebab, syarat-syarat untuk menjadi kalifah sebagaimana yang aku gagas bukanlah syarat yang ringan. Syarat itu sangat berat. Mahaberat.”

“Pertama, seorang calon kalifah wajib berasal dari kalangan manusia beriman yang dikenal jujur dan terpercaya serta pemberani. Kedua, wajib cerdas dan berwawasan luas. Ketiga, berpengetahuan mendalam tentang agama, tata negara, dan kehidupan masyarakat. Keempat, hidup sebagai zahid sejati agar bisa berbuat adil. Kelima, rela berkorban jiwa, raga, dan harta untuk melindungi dan memakmurkan masyarakat yang dipimpinnya. Keenam, pekerja keras yang menjalankan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi. Ketujuh, dicintai dan dijadikan panutan dan keteladanan masyarakat karena akhlak yang mulia.”

“Nah, dengan tujuh syarat itu, mohon Anda tunjukkan kepada aku siapa di antara keturunan Quraisy di Caruban Larang ini yang bisa memenuhinya? Anda tunjukkan kepada aku calon kalifah yang memenuhi syarat-syarat itu! Jika Anda bisa menunjukkan kepadaku calon kalifah yang memenuhi syarat itu, sekarang juga aku akan pergi ke Kuta Caruban. Aku akan meminta Sri Mangana meletakkan jabatan dan mendaulat sang calon tersebut untuk menggantikannya, dengan catatan calon itu disetujui oleh para gedeng.”

“Sungguh, demi Allah aku bersumpah, sepanjang aku lahir hingga sekarang belum pernah aku jumpai orang di Bumi Caruban Larang yang bisa memenuhi tujuh syarat itu. Bahkan, orang-orang yang mengaku keturunan Quraisy pun tidak. Yang aku saksikan di antara mereka yang mengaku berdarah Quraisy justru para pemalas yang mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw., namun hidup menganggur (mu’aththal). Tidak bekerja. Menikahi anak pejabat negeri setempat. Menambah jumlah istri dan menafkahi istri barunya dengan harta mertua. Anaknya tercecer di mana-mana. Bahkan yang menyedihkan, mereka tidak memahami ajaran Islam dengan baik. Sembahyang lima waktu tidak dijalankan. Puasa Ramadhan tidak dilakukan, apalagi zakat, infak, dan sadaqah. Mereka berdiri di atas permadani ketidakbersalahan dan merasa sudah beroleh jaminan sebagai penghuni surga karena merasa anak cucu Rasulullah Saw.. Sungguh memuakkan tingkah mereka itu bagiku.”

“Sekarang Anda bandingkan mereka dengan Sri Mangana, anak negeri yang Anda nilai tidak pantas dan tidak berhak menjadi kalifah. Pertama-tama, dia adalah mukmin yang tidak diragukan lagi keimanannya. Dia dikenal sebagai orang alim yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Islam. Itu terbukti bahwa dia adalah pengajar tafsir al-Qur’an, fiqh madzhab Syafi’i, ushul fiqh, mustholah hadits, balaghah, dan manthiq di Pesantren Giri Amparan Jati. Beliau satu-satunya orang di Caruban Larang yang memiliki sekaligus mampu mengajarkan kitab asybah wa an-nadhar, bidayah al-mujtahid, bughiyah al-murtasyidin, fath al-wahhab, ijma’adz-dzirayyah, al-luma’, al-jami’ ash-shaghir, al-muhadzdzab. Bahkan, andaikata dibandingkan dengan orang yang mengaku berdarah Quraisy seperti Anda, misalnya, sesungguhnya dia pasti jauh lebih Quraisy dalam lughat ketika membaca Al-Qur’an.”

“Tentang kejujuran? Dia tentu saja sudah termasyhur sebagai raja yang jujur dan dipercaya oleh seluruh ra’yat Caruban Larang. Tentang keberanian? Anda tentu sudah mafhum. Jika ditanya tentang pengetahuan dalam tata negara dan tata kehidupan masyarakat, tentu saja dia jauh lebih layak karena dia seorang raja. Tentang kerelaan berkorban untuk masyarakat yang dipimpinnya? Tentu semua warga Caruban Larang telah paham betapa sesungguhnya dia telah rela memberikan semua tanah miliknya di seluruh negeri untuk dihibahkan demi kemaslahatan masyarakat ummah.”

“Tentang kehidupan sebagai zahid sejati? Dia teladan sempurna di Caruban Larang dan bahkan di seluruh Bumi Pasundan. Siapa pun di antara orang beriman mengetahui dia merupakan zahid sejati, yang pergi meninggalkan kemewahan hidup dan tinggal di gubuk kecil beratap daun kawung. Dia memang memegang kunci perbendaharaan negara (Baitul Mal), namun secuil pun dia tidak pernah mengambil untuk kepentingan pribadi. Dia dan keluarga merajut kopiah dan menenun pakaian untuk dijual sebagai nafkah sehari-hari. Dengan kezahidannya, tidak syak lagi bahwa kebijakan-kebijakan yang diambilnya akan selalu tegak di atas keadilan. Karena, keadilan hanya mungkin dipunyai oleh seorang zahid yang hatinya selalu terikat kepada al-‘Adl.”

“Siapa yang bisa mengingkari kenyataan bahwa Sri Mangana adalah pribadi agung seorang pejuang yang tak pernah kenal istirahat dalam menjalankan dharma sebagai wakil Allah di muka bumi? Seluruh ra’yat Caruban Larang tentu sudah tahu bahwa Sri Mangana adalah satu-satunya raja di Bumi Pasundan yang sangat membenci pesta pora mengumbar kesenangan. Dia pekerja keras yang tidak suka kemalasan. Hartanya lebih banyak didermakan kepada para fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Dan yang terpenting di atas itu semua, dia adalah raja yang dicintai oleh seluruh ra’yatnya, kecuali orang-orang yang pamrih pribadinya terhambat oleh keberadaannya. Sehingga, bagiku, apa yang terkait dengan keberadaan Sri Mangana sebagai kalifah adalah sah dan tidak melanggar kaidah-kaidah kekalifahan yang kumaksud. Entah jika kekalifahan itu menurut Anda.”

Mendengar kata-kata Abdul Jalil yang disemburkan tanpa basa-basi dan sebagian besar menyinggung perasaannya, Sayyid Habibullah al-Mu’aththal bangun dari tempat duduk, berdiri tegak dengan mata berkilat-kilat dan bibir bergetar serta dada naik turun menahan amarah. Tanpa mengucap salam ia bersungut-sungut keluar dari gubuk Abdul Jalil. Mendapati sikap Sayyid Habibullah al-Mu’aththal itu, Abdul Jalil tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia sadar telah menyinggung dan menyakiti hati Sayyid Habibullah al-Mu’aththal tanpa ia kehendaki sebelumnya.

Ketika Abdul Jalil melangkah keluar dari gubuknya mengejar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal yang keluar rumah dengan marah, ia berpapasan dengan Ki Gedeng Pasambangan di pintu. Rupanya, sejak tadi Ki Gedeng Pasambangan mendengar perbincangan Abdul Jalil dengan Sayyid Habibullah al-Mu’aththal. Setelah sama-sama terhenti di depan pintu, Ki Gedeng Pasambangan bertanya, “Hendak ke manakah engkau, o sahabat terkasih?”

“Aku hendak meminta maaf kepada Sayyid Habibullah al-Mu’aththal. Aku merasa telah menyinggung perasaannya sehingga ia pulang dengan hati diliputi kemarahan.”

“Sesungguhnya engkau tidak perlu meminta maaf kepadanya,” kata Ki Gedeng Pasambangan. “Karena apa yang telah engkau katakan benar adanya. Mudah-mudahan dengan ucapanmu itu dia akan sadar diri.”

“Aku tidak paham maksudmu, o Sahabat.”

“Sesungguhnya, al-Mu’aththal itu pemalas termasyhur dan tukang mimpi kawakan,” kata Ki Gedeng Pasambangan. “Aku pertama kali mengenal dia sebagai menantu Ki Gedeng Trusmi. Sejak awal menjadi menantu Ki Gedeng Trusmi sampai sekarang ini dia tidak bekerja apa-apa. Maksudku, dia tidak memiliki pekerjaan tertentu sebagai sumber nafkah. Hidupnya sehari-hari hanya diwarnai kegiatan makan, duduk di teras rumah, mengudap di warung, membual, mengisap candu, beranak pinak, dan tidur. Orang tidak pernah melihatnya ke tajug untuk sembahyang. Orang juga kerap kali melihatnya menyantap makanan di warung pada bulan Ramadhan. Jika orang bertanya kenapa dia tidak pernah kelihatan sembahyang dan berpuasa maka dia akan berkata bahwa anak cucu Rasul Saw. adalah orang-orang suci yang sudah memegang kunci surgawi.”

“Aku tidak tahu makhluk satu itu tubuhnya dibuat dari bahan apa. Aku sering melihat dia suka tidur di atas kursi di rumahnya sambil mendengkur keras-keras. Tubuhnya aku bayangkan seperti kain disangkutkan ke sandaran kursi. Sungguh tidak ada kesan lain yang kutangkap dari al-Mu’aththal kecuali kemalasan. Dengan bualannya yang membosankan, ia berikan alasan-alasan kepada mertuanya untuk menanggung nafkah keluarganya. Bahkan tanpa tahu malu, saat menikah lagi, ia juga menafkahi istri-istri barunya dengan harta mertuanya. Dan yang paling memuakkan, dengan istri-istrinya itu ternyata dia belum puas juga. Kata orang, al-Mu’aththal suka bercanda dan menggoda pelayan-pelayan warung tempat ia mengudap. Sehingga, di Trusmi banyak kedapatan anak-anak pelayan warung yang berwajah Arab. Mereka, entah benar entah tidak, adalah anak gelap al-Mu’aththal dengan para pelayan warung.”

“Menurut pandanganku, al-Mu’aththal itu adalah makhluk tengik yang tidak saja pemalas, tetapi juga rakus. Bayangkan, saat Ki Gedeng Trusmi membagi-bagikan tanah kepada penduduk, dia justru meminta bagian lebih. Tidak ada penduduk yang berani menentangnya. Ki Gedeng Trusmi yang lemah itu membiarkan saja tidakan menantunya yang melanggar hak penduduk lain. Sehingga, dibandingkan dengan penduduk Trusmi yang lain, al-Mu’aththal memiliki tanah sepuluh kali lebih luas. Tanah itu disewakannya kepada penggarap baru. Sepanjang tahun dia menikmati uang hasil sewa sambil bermalas-malasan.”

“Aku sendiri tidak tahu apakah dia benar-benar habaib keturunan Nabi Muhammad Saw. atau petualang Arab yang mengaku-ngaku. Tapi, saat aku bertemu Sayyid Abdurrahman al-Yamani di Dermayu dan menyoal perilaku al-Mu’aththal, beliau hanya berkata begini: ‘Jika benar seseorang mengaku keturunan Rasulullah Saw. hendaknya engkau lihat cerminan akhlaknya. Jika ternyata dia berakhlak bejat maka dia penipu.’ Dengan berpegang pada ucapan Sayyid Abdurrahman al-Yamani itulah aku tidak yakin al-Mu’aththal itu seorang habaib. Lantaran itu, ketika orang-orang ramai memilih calon wali nagari, nama al-Mu’aththal tidak sedikit pun disentuh karena hampir semua gedeng di Caruban Larang ini sudah tahu siapa makhluk itu: pemalas rakus yang berusaha mengeruk keuntungan pribadi dengan berlindung di balik agama dan keturunan Nabi Saw..”

“Apakah dia tidak akan menimbulkan kesulitan di kelak kemudian hari?”

“Aku kira, kesulitan yang akan ditimbulkan al-Mu’aththal tidak banyak berarti. Sebab, semua orang sudah tahu siapa al-Mu’aththal, si pembual yang ke mana-mana tempat hanya menyemburkan busa dari mulutnya.”

Ketika ketegangan antara Sri Mangana dan saudara-saudaranya makin memuncak, terjadilah peristiwa yang tidak tersangka-sangka. Di tengah kobaran api perubahan yang sedang menggelombang menyapu Bumi Caruban Larang, percik apinya ternyata terbawa angin dan menebar ke daerah perbatasan dan menerobos ke sudut-sudut kehidupan penduduk di Bumi Pasundan. Akibatnya, arus perubahan mulai dijadikan bahan pembicaraan para penduduk di pedalaman Bumi Pasundan. Ketika sejumlah demang dan wadana di wilayah Galuh Pakuan mulai sering bertemu dan membicarakan perubahan di Caruban Larang, beratus dan mungkin beribu kawula diam-diam meninggalkan rumah dan kampung halaman untuk menjadi penduduk Caruban Larang.

Prabu Surawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, sangat kebingungan dengan peristiwa tak terduga-duga di wilayah kekuasaannya itu. Padahal, selama ini ia dan saudaranya yang lain sedang bertindak bagaikan sekawanan harimau yang mengendap-ngendap mengintai mangsa: mengamati semua gerak kehidupan Sri Mangana yang sibuk mengendalikan bahtera di tengah arus perubahan. Ternyata, saat hendak menerkam, tiba-tiba mereka disadarkan oleh kenyataan yang menunjukkan bahwa di tempat mereka berdiri sesungguhnya sudah berkobar api perubahan yang siap membakar mereka.

Sekalipun yakin dirinya bakal ditunjuk menjadi pengganti ayahandanya sebagai maharaja Sunda, Prabu Surawisesa tetap sadar bahwa takhta itu belum didudukinya. Itu sebabnya, ia merasa kebingungan untuk membendung gelombang perubahan yang sudah menerobos ke wilayah kekuasannya. Sebagai raja muda, ia tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pelarangan atas nama hukum terhadap gerakan pembaharuan itu. Hak atas hukum masih dipegang oleh maharaja Sunda, yang justru tidak menganggap berbahaya arus perubahan tersebut, bahkan sang maharaja merasa iba hati terhadap nasib pemimpin gerakan perubahan itu.

Di tengah ketidakberdayaan menghadapi arus perubahan yang sudah melanda wilayah kekuasaannya, Prabu Surawisesa didesak oleh Rsi Bungsu, putera bungsunya, agar melakukan tindakan rahasia membendung kekuatan inti dari arus tersebut. “Tanpa memangkas akar utama pohon perubahan itu, ananda kira pohon itu akan terus tumbuh membesar dan membahayakan pohon lain yang sudah ada,” kata Rsi Bungsu.

“Aku tidak paham maksudmu, o Puteraku,” kata Prabu Surawisesa.

“Ramanda Prabu harus mengenyahkan si keparat Abdul Jalil dari muka bumi,” sahut Rsi Bungsu dingin.

“Tapi, dia alat dari ratu Caruban belaka. Jadi menurutku, tidak ada gunanya membunuh dia. Karena hal itu hanya akan menyulut amarah ratu Caruban Larang,” kata Prabu Surawisesa.

“Mohon ampun, sesungguhnya Ramanda Prabu sangat keliru menilai Abdul Jalil,” kata Rsi Bungsu. “Dia bukanlah alat Pamanda Sri Mangana. Justru dialah sesungguhnya binatang penghasut yang telah mempengaruhi saudara Ramanda Prabu itu dengan ilmu sihirnya.”

“Kenapa engkau bisa berkata begitu, o Puteraku?” tanya Prabu Surawisesa mengerutkan kening.

“Abdul Jalil, Syaikh Lemah Abang itu, sesungguhnya adalah anak orang asing yang dipungut Ki Danusela dan diasuh Sri Mangana di padepokan Syaikh Datuk Kahfi. Dia pergi ke negeri asing bertahun-tahun silam. Kemudian, saat kembali dia mendapati ayahanda asuhnya telah menjadi ratu di Caruban Larang. Maka, seperti pengemis hina, dia bersimpuh dan menjilat kepada ayahanda asuhnya agar beroleh kemuliaan di istana.”

“Sesungguhnya Abdul Jalil sangat mengharap kedudukan yang tinggi, yaitu menjadi ratu Caruban Larang menggantikan ayahanda asuhnya. Sebab, dia dulu adalah calon kuwu Caruban. Tapi, dia sadar hal itu mustahil terjadi karena orang-orang Sunda dan Jawa yang menjadi penduduk Caruban Larang tidak akan sudi dipimpin oleh orang asing. Selain itu, dia juga sadar bahwa putera Sri Mangana, Pangeran Cirebon, lebih berhak mengganti kedudukan ayahandanya daripada dia. Nah, tatanan baru yang dikumandangkan Abdul Jalil di Lemah Abang dan diikuti oleh kagedengan di seluruh Caruban Larang sejatinya adalah jalan lurus yang bakal membawanya ke puncak takhta saat Sri Mangana mangkat. Sebab, para gedeng yang kebanyakan adalah murid-muridnya itu tentu akan lebih memilih dia sebagai pengganti Sri Mangana daripada Pangeran Cirebon,” kata Rsi Bungsu berapi-api.

“Tapi, laporan-laporan yang aku terima justru mengatakan bahwa Syaikh Lemah Abang adalah seorang guru ruhani yang hidup menjauhi keduniawian. Bagaimana mungkin orang seperti itu berambisi merebut takhta Caruban Larang?” ujar Prabu Surawisesa.

“Ananda menduga sikapnya itu hanya merupakan kepura-puraan,” kata Rsi Bungsu berusaha meyakinkan ayahandanya. “Tetapi, jika Ramanda Prabu berkenan mengikuti nasihat ananda maka arus itu akan terbendung dengan sendirinya. Sebab, kematian Abdul Jalil memiliki makna kematian juga bagi Sri Mangana.”

“Kenapa engkau berkata begitu?”

“Sebab Abdul Jalil adalah anak kesayangan yang sangat dipercaya oleh saudara Ramanda Prabu itu. Apa pun yang diminta Abdul Jalil pasti dipenuhi Pamanda Sri Mangana. Bahkan, ketika beliau sakit hilang ingatan, mendadak sembuh ketika didatangi Abdul Jalil. Tidakkah Ramanda Prabu mendengar cerita orang yang mengaitkan sembuhnya sakit Sri Mangana dan kedatangan Abdul Jalil?”

“Aku sudah mendengar soal itu.”

“Jadi, menurut hemat ananda, akar dari semua masalah ini adalah Abdul Jalil.”

“Tapi membunuh orang secara licik bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan bagi seorang raja. Aku tidak keberatan engkau membunuh Syaikh Lemah Abang atau Sri Mangana sekalipun dengan caramu, o Puteraku. Namun, aku akan mengatakan kepadamu bahwa aku tidak akan pernah ikut melumuri tanganku dengan darah mereka,” kata Prabu Surawisesa tegas.

Mendapat jawaban tegas Prabu Surawisesa, Rsi Bungsu kecewa. Ia segera berpamitan dan pergi meninggalkan Galuh Pakuan. Ia tahu ayahandanya adalah raja yang memiliki sikap tegas. Ia yakin jika sarannya sudah ditolak, tidak akan dipertimbangkan lagi upaya mengubahnya. Lantaran itu, ia berniat pergi ke Talaga, Rajagaluh, dan Dermayu untuk mempengaruhi paman-pamannya agar menyingkirkan Abdul Jalil dari daftar hidup manusia. Rupanya, Rsi Bungsu diam-diam menyimpan dendam kesumat terhadap Abdul Jalil yang tidak saja dianggap telah merusak rencananya menduduki jabatan kuwu Caruban belasan tahun silam, tetapi juga menjadi sosok yang diam-diam dikagumi putera tunggalnya, Raden Anggaraksa, hingga puteranya itu memeluk Islam.

Sepak terjang Rsi Bungsu di tengah membadainya arus perubahan di Caruban Larang ternyata menimbulkan pengaruh yang tidak kecil bagi perubahan itu sendiri. Ia seperti memunculkan pusaran angin lain yang berputar-putar di sekeliling arus utama angin perubahan. Berbagai kabara angin yang menyangkut keberadaan tatanan baru tiba-tiba terasa menampar-nampar di sekitar gerak perubahan. Satu saat, misalnya, berembus kabar angin bahwa perubahan yang terjadi di Caruban Larang adalah bikinan kaki tangan maharaja Cina. Hal itu terbukti dengan banyaknya jabatan penting yang diduduki oleh orang-orang Cina. Pada saat yang lain, berembus kabar angin yang menyatakan bahwa sang kalifah akan memaksa penduduk Bumi Pasundan untuk memeluk agama Islam dengan cara memotong kemaluan para lelaki secara serentak. Bahkan, tersebar pula kabar angin yang menyatakan bahwa penggagas tatanan baru, Syaikh Lemah Abang, adalah tukang sihir dari negeri Arab yang ditugasi oleh raja Arab untuk menundukkan Kerajaan Sunda melalui penaklukan Caruban Larang.

Di tengah pusaran berita yang teraduk-aduk tak tentu arah itu, terjadi peristiwa lain yang menegangkan para penduduk Caruban Larang. Menurut berita yang beredar dari tajug ke tajug dan dari rumah ke rumah, Prabu Surawisesa Yang Dipertuan Galuh Pakuan telah menggerakkan sekitar 200.000 pasukan ke perbatasan Caruban Larang. Berdasarkan pengakuan penduduk Galuh Pakuan yang berhasil meloloskan diri ke wilayah Caruban Larang, pasukan Galuh Pakuan itu terlihat beriap-riap bagaikan kawanan semut di sepanjang tepi selatan Sungai Sanggarung, antara Sagala Herang hingga Panembong. Mereka seperti hendak mengepung Kuningan dan Luragung. Sementara, Prabu Pucuk Umun Yang Dipertuan Talaga juga menggerakkan sedikitnya 100.000 pasukan yang berpangkalan di Nusa Herang dan Gunung Sirah. Tidak ketinggalan Prabu Cakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh menggerakkan sekitar 120.000 pasukan dengan pangkalan utama di Bobos.

Taiwan Strait (MV. Taho), April 10th 2007, 20:00LT

10. Hantu-Hantu Hitam Berkeliaran

Tahun 1416 Saka merupakan rentangan waktu paling berat bagi penduduk Caruban Larang sejak tengara pembaharuan ditabuh Sri Mangana barang dua tahun silam. Sejak hadirnya pasukan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh di sepanjang perbatasan Caruban Larang pada awal tahun tersebut, hantu-hantu hitam yang mengerikan mulai terlihat bergentayangan di wilayah itu. Hantu-hantu hitam dengan ganas menebar kekacauan dan kematian. Sukacita dan kegembiraan yang semula dirasakan penduduk dengan diterapkannya tatanan baru yang mereka sebut masyarakat adil dan makmur, berangsur-angsur pupus menjadi mimpi buruk yang mencekam dan mengerikan.

Memang, sejak pengerahan besar-besaran pasukan dari tiga kerajaan Sunda itu di perbatasan, semua pandangan diarahkan kepada kalifah Caruban Larang, Sri Mangana. Semua seakan-akan menunggu tindakan apakah gerangan yang akan diambil oleh penguasa Caruban Larang dengan peristiwa-peristiwa yang seolah-olah menantangnya itu. Bagi penduduk Caruban Larang, satu-satunya kekuatan yang mereka miliki untuk bisa tetap bertahan di tengah kecemasan adalah keberadaan Sri Mangana, ratu dan sekaligus kalifah yang mereka jadikan tumpuan harapan.

Beda yang dirasakan penduduk, beda pula yang dirasakan Sri Mangana dan para pemuka masyarakat ummah di Caruban Larang. Pengerahan pasukan besar-besaran dari tiga kerajaan itu bagi mereka adalah bagian dari sebuah “perang siasat” yang sudah berlangsung sejak tengara perubahan dikumandangkan. Maksudnya, meski pasukan ketiga kerajaan dan Caruban Larang tidak berhadap-hadapan sebagai lawan di medan tempur, di bawah permukaan kedua pihak sejatinya sudah saling berusaha mengalahkan satu sama lain dengan siasat yang sering kali tidak disangka-sangka. Ketika gemuruh perubahan berlangsung di segenap penjuru Caruban Larang, misalnya, tanpa terduga tiba-tiba para gedeng di Palimanan memilih adipatinya. Dan, sang adipati terpilih menyatakan diri bernaung di bawah kekuasaan Rajagaluh.

Penguasa Caruban Larang yang tidak menduga langkah licik Rajagaluh itu tidak bisa berbuat sesuatu, kecuali membiarkan Palimanan lepas. Namun, tak lama kemudian para gedeng di perbatasan selatan memilih wali nagari Kuningan sebagai pemimpin. Padahal, Nagari Kuningan adalah wilayah Galuh Pakuan. Tak cukup dengan Kuningan, para gedeng di perbatasan timur memasukkan Luragung ke dalam Nagari Losari. Padahal, Luragung juga termasuk wilayah Galuh Pakuan.

Dalam “perang siasat” itu jelas sekali bahwa pihak Caruban Larang telah kalah karena keliru mengambil langkah. Sebab, dengan tindakan menjadikan Kuningan dan Luragung sebagai bagian dari wilayah Caruban Larang, meski dengan cara pemilihan adipati oleh para gedeng, tersulutlah amarah Yang Dipertuan Galuh Pakuan. Ujung dari peristiwa saling berebut wilayah itu adalah terjadinya pengerahan besar-besaran pasukan Galuh Pakuan di sepanjang tepian Sungai Sanggarung, yang diikuti Talaga dan Rajagaluh.

Saling serang dalam “perang siasat” itu ternyata berlangsung semakin sengit di bawah permukaan seiiring memuncaknya suhu ketegangan kedua belah pihak. Tanpa tersangka-sangka, desa-desa di wilayah Caruban Larang yang berada di dekat perbatasan mendadak diguncang oleh kekacauan. Pencurian, perampokan, penjarahan, perusakan, penganiayaan, bahkan pembunuhan tercurah bagai hujan dari langit. Pihak Caruban Larang buru-buru mengirim pasukan untuk melindungi penduduk di desa-desa perbatasan dan menangkapi para pembuat kekacauan. Berdasarkan pengakuan para pengacau yang tertangkap, mereka hanya sekedar menjalankan tugas dari orang-orang Galuh Pakuan.

Ketika desa-desa di perbatasan Caruban Larang dapat diamankan, ganti wilayah Galuh Pakuan yang terbakar kekacauan, wilayah Galuh Pakuan yang termasyhur subur dan makmur serta aman sentosa tiba-tiba diguncang oleh kawanan pengacau yang dipimpin kepala begal bernama Sang Lokajaya. Kata orang, Sang Lokajaya adalah kepala begal asal Japura, Caruban Larang. Anehnya, yang dirampok dan dijarah kawanan begal pimpinan Sang Lokajaya bukanlah penduduk desa seperti yang terjadi di wilayah Caruban Larang, melainkan para saudagar dan ningrat darah biru. Barang-barang perniagaan para saudagar dirampas ditengah jalan. Rumah dan lumbung para ningrat darah biru dijarah. Dan yang lebih aneh lagi, kawanan begal itu sering kedapatan membagi-bagi hasil rampokannya kepada penduduk desa yang hidup kekurangan.

Para saudagar dan ningrat darah biru Galuh Pakuan yang sangat cemas dengan keadaan buruk itu memohon kepada Prabu Surawisesa agar melakukan larangan bagi pedagang-pedagang Caruban Larang untuk berdagang di wilayah Galuh Pakuan. Sebab, mereka khawatir para pedagang itu adalah mata-mata para begal. Ketika Prabu Surawisesa memenuhi permintaan para saudagar dan ningrat darah biru itu, pihak Caruban Larang membalas dengan tindakan yang sama: melarang semua jenis perahu asal Galuh Pakuan melayari Sungai Sanggarung. Kepala perdagangan Caruban Larang, Abdurrahman Rumi, menetapkan larangan bagi pedagang-pedagang Caruban Larang untuk menjual garam, terasi, petis, dan hasil ikan laut kepada pedagang asal Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh. Langkah itu diikuti oleh para pedagang Dermayu.

Tindakan saling cegat dan saling jegal itu terbukti mengacaukan dan sekaligus memperlemah perekonomian Galuh Pakuan. Galuh Pakuan tidak saja kehilangan penghasilan dari pajak dan cukai lalu lintas perniagaan sungai, tetapi kehilangan pula kesempatan berniaga di kota-kota pelabuhan di pantai utara. Galuh Pakuan praktis bergantung dari hasil pertanian di pedalaman saja. Bahkan, yang membuat para pedagang Galuh Pakuan pontang-panting adalah kesepakatan para pedagang Cina untuk tidak berjual beli dengan mereka karena alasan takut dengan ancaman orang-orang Caruban Larang.

Di tengah sengitnya “perang siasat” itu sesungguhnya bukan hanya penduduk kedua belah pihak yang hidup tercekam, para perencana dan pelaksana perang pun tak luput dari ketegangan dan kecemasan. Mereka sesungguhnya saling bertahan dalam kesabaran untuk tidak lebih dahulu menyerang. Karena, pihak yang memulai peperangan akan dianggap melanggar titah maharaja Sunda yang tidak menghendaki terjadinya perpecahan di wilayah kekuasaannya. Lantaran itu, pertempuran di bawah permukaan itu makin lama terasa makin mencekam, terutama bagi penduduk yang tidak mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya dari berbagai peristiwa yang terjadi sangat membingungkan itu.

Prabu Surawisesa sendiri sudah kehilangan akal menghadapi langkah-langkah Sri Mangana yang terbukti sangat ulet dan sulit dipatahkan. Berbagai usaha yang dilakukannya mulai dari mengadu domba antara Caruban Larang dan Pakuan Pajajaran hingga pelarangan berdagang bagi para pedagang Caruban Larang, tidak satu pun membawa hasil. Hasutan kepada maharaja Sunda bahwa Sri Mangana tidak lagi mengakui kekuasaan maharaja karena kalifah dipilih dan tidak diangkat maharaja, dimentahkan oleh pengiriman bulubekti (upeti) dari Caruban Larang ke Pakuan Pajajaran. Usaha menghasut para rishi dan guru suci di berbagai padepokan yang ada di wilayah Galuh Pakuan, Talaga, Rajagaluh, dan bahkan Caruban Larang digagalkan oleh para rishi yang menjadi siswa Syaikh Lemah Abang.

Di tengah kebingungannya itu Prabu Surawisesa akhirnya lebih banyak menyerahkan masalah “perang siasat” kepada para pembantunya, terutama para perwira muda yang hanya mengenal bahasa tempur. Akibatnya, percik-percik api peperangan mulai tertabur. Pertempuran-pertempuran antar satuan kecil mulai terjadi di wilayah Caruban Larang. Bahkan yang tak pernah disangka-sangka, Syaikh Jamalullah, wali nagari Susukan, tiba-tiba dikabarkan raib ketika melakukan perjalanan dari Susukan ke Ujungsemi. Tak lama setelah itu istri Syaikh Jamalullah dan sejumlah pengawalnya menemukan jenasah sang wali nagari di sungai dalam keadaan mengenaskan.

Ketika jenasah Syaikh Jamalullah dibawa ke Kuta Caruban dan dishalatkan di Tajug Agung, tersiar kabar susulan bahwa Ki Gedeng Kemuning telah raib sekembalinya dari Kadipaten Kuningan. Sepekan kemudian orang menemukan jenasahnya membusuk tergantung di pohon. Ki Gedeng Plumbon yang diutus Sri Mangana ke Kuningan untuk mencari Ki Gedeng Kemuning, kembali dengan menuturkan penemuan jenasah tersebut. Namun, saat ia memaparkan keadaan jenasah di depan hadirin, ia ditegur keras oleh Syarif Hidayatullah karena dalam Islam terlarang membicarakan keburukan mayat. Selanjutnya, atas perkenan Sri Mangana, Ki Gedeng Plumbon diangkat menjadi Gedeng Cigugur.

Perang siasat yang terjadi antara Caruban Larang di satu pihak dan Galuh Pakuan, Rajagaluh, dan Talaga di pihak lain, sesungguhnya dapat digambarkan seperti pertarungan harimau-harimau dalam memperebutkan daerah kekuasaan. Masing-masing harimau merunduk dan menggeram untuk menakuti lawan. Tidak satu pun yang berani menyerang lebih dulu. Harimau-harimau itu hanya meraung dan menggeram-geram sambil mengais-ngaiskan cakarnya ke arah lawan. Harimau-harimau itu hanya menyeringai menunjukkan gigi dan taringnya yang tajam. Namun, bagi binatang lain yang lebih kecil, geraman harimau-harimau yang sedang berlaga itu sungguh sangat menakutkan.

Harapan agar matahari perubahan yang memancarkan daya hidup dan menumbuhkanbenih-benih baru yang tumbuh di atas hamparan bumi Caruban Larang terus bersinar terang ternyata tidak selamanya terpenuhi. Ketika gumpalan awan dari selatan dan barat berarak di atas langit dan mengepung Caruban Larang dengan suara guntur menggemuruh, tercekamlah penduduk dalam kecemasan dan ketegangan.

Kehidupan manusia tidak terlepas dari perilaku alam. Siapa di antara makhluk yang ingin hidup di atas roda kehidupan, wajib berpacu dengan waktu dan sesamanya. Ibarat benih-benih tetumbuhan, yang terlemah dan tidak mempu menghadapi gilasan waktu serta tantangan alam akan merana dan mati, demikian pun gegap gempita tumbuhnya tatanan baru masyarakat di Caruban Larang tidak luput dari perilaku alam. Seiring merebaknya kabar pengepungan Caruban Larang oleh pasukan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh yang menyebar dari tajug ke tajug, dari rumah ke rumah, juga dari mulut ke mulut, disusul kabar terbunuhnya Syaikh Jamalullah, mantan gedeng Ujungsemi, dan Ki Gedeng Kemuning, terjadilah kegemparan yang mengancam kelangsungan hidup tatanan baru yang sedang bersemi tersebut.

Sesungguhnya, tidak banyak yang memahami bahwa bagian terbesar dari penduduk baru yang datang ke Caruban Larang dan membuka lembaran baru kehidupan itu adalah orang-orang yang memiliki harapan untuk sekedar mendapat bagian tanah sehingga dengan tanah itu mereka dapat hidup lebih baik. Tidak banyak yang paham jika mereka adalah sekumpulan tukang mimpi yang menganggap kehidupan di dunia serba mudah dan tanpa resiko. Ya, kumpulan tukang mimpi yang tidak pernah memiliki pandangan masuk akal bahwa kehidupan di alam nyata sangat berbeda dengan kehidupan di alam harapan yang mereka bangun dari angan-angan kosong dan mimpi indah. Itu sebabnya, para tukang mimpi itu sangat terkejut dan ketakutan ketika harus berhadapan dengan kenyataan yang berbeda dengan yang mereka impikan. Mimpi indah yang mereka bayangkan bakal abadi ternyata menjadi hantu menakutkan saat mereka terbangun dalam kenyataan. Mereka seolah-olah menyaksikan isi dunia hanyalah bayangan-bayangan hitam dari hantu-hantu mengerikan yang berkeliaran memenuhi benak dan jiwa.

Belum genap sepekan kabar terbunuhnya Ki Gedeng Kemuning tersebar, ketika matahari bersinar di ufuk timur, terlihatlah di sejumlah desa baru di perbatasan selatan iring-iringan manusia menyuruk-nyuruk di pamatang-pematang sawah dan jalan-jalan desa. Mereka adalah penduduk desa-desa baru, para tukang mimpi, yang meninggalkan rumah dan kampung halaman karena dicekam ketakutan dan kepanikan. Mereka bergerak bagaikan kawanan semut ke arah utara. Sepanjang pergerakan itu, jumlah iring-iringan manusia makin lama makin membesar.

Kabar terjadinya pengungsian besar-besaran penduduk perbatasan selatan dengan cepat melanda Kuta Caruban dan mengejutkan penduduk. Sri Mangana buru-buru mengadakan pertemuan dengan para wali nagari dan semua tokoh pendukung gerakan perubahan di Bangsal Kaprabon. Mereka mencemaskan pengungsian besar-besaran tersebut. Sebab, kehadiran para pengungsi yang ditengara bakal menuju Kuta Caruban itu tidak saja akan menambah berat beban penduduk, tetapi akan meruntuhkan semangat penduduk di tempat lain.

Li Han Siang, syahbandar Caruban, yang mula-mula mengemukakan kemungkinan timbulnya akibat-akibat samping yang buruk dari peristiwa pengungsian tersebut. Syahbandar yang juga pemuka warga Cina asal suku Han itu mengatakan bahwa ia baru saja memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh tiga kepala keluarga Cina yang berada di bawah lindungannya. Pasalnya, sesaat setelah mendengar kabar pengungsian penduduk perbatasan mereka buru-buru mengajak keluarganya pergi meninggalkan Kuta Caruban. “Orang-orang yang ingin hidup enak tanpa mau menanggung resiko tidak pantas hidup di muka bumi. Karena itu, saya selaku pemimpin mereka memutuskan untuk membunuh orang-orang tak berguna itu. Itu saya lakukan untuk menjadi contoh bagi keluarga yang lain agar tidak bersikap bodoh seperti mereka,” papar Li Han Siang kepada Sri Mangana.

Pernyataan Li Han Siang menjadi bahasan utama dalam musyawarah karena menimbulkan kelompok yang setuju dan yang tidak setuju. Kelompok yang setuju menilai tindakan keras itu sangat diperlukan untuk mengendalikan penduduk yang ketakutan dan panik. Kelompok ini diwakili Syaikh Duyuskhani pemuka warga Kalijaga asal Baghdad, sedangkan kelompok yang tidak setuju menganggap tindakan itu tidak perlu dilakukan. Kelompok ini diwakili oleh Sayyid Habibullah al-Mu’aththal, menantu Ki Gedeng Trusmi.

Sayyid Habibullah al-Mu’aththal mengecam tindakan Li Han Siang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan fitrah manusia. Menurutnya, rasa takut adalah fitrah. Karena itu, mengganjar orang ketakutan dengan membunuh mereka merupakan tindak kezaliman. “Justru kita sebagai pemimpin berkewajiban melindungi mereka dan memberikan rasa aman kepada mereka. Sunnguh tidak bisa diterima akal jika ada orang yang ketakutan justru kita bunuh,” ujar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal.

“Adat dan tradisi yang berlaku di kalangan kami memang seperti itu, Tuan Sayyid.” Li Han Siang membela diri. “Siapa di antara anggota kelompok yang sudah tidak patuh kepada pemimpin, apakah dengan alasan takut atau ingin menyelamatkan diri sendiri, mereka wajib dibunuh. Bagi orang-orang perantauan seperti kami, adalah suatu kebohongan jika orang mau hidup enak namun menolak kerja keras dan risiko mati. Sesungguhnya, kepada tiga orang kepala keluarga itu telah kami peringatkan agar tidak meninggalkan Kuta Caruban tanpa perintah kami. Tetapi, mereka malah mempengaruhi kawan-kawannya.”

“Tetapi, membunuh jelas tindakan yang tanpa hak. Tidak ada dalil dan contoh dari Rasulullah Saw. yang membenarkan tindakan itu. Bahkan, kepada orang-orang yang teraniaya Rasulullah Saw. memerintahkan mereka untuk melakukan hijrah,” ujar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal.

Li Han Siang kelihatan terpojok dengan hujjah-hujjah yang disampaikan Sayyid Habibullah al-Mu’aththal. Ia tidak menanggapi kecaman-kecaman yang dilontarkan menantu Ki Gedeng Trusmi itu. Syaikh Duyuskhani yang melihat Li Han Siang terpojok, beringsut ke depan dan berkata, “Sesungguhnya, tindakan yang dilakukan saudara kami, Li Han Siang, sudah kami ketahui. Sesaat setelah itu, kami datang ke Lemah Abang dan bertemu dengan saudara kami Syaikh Abdul Malik Israil. Ketika kami sampaikan kepada beliau, ternyata beliau bisa memahami tindakan yang dilakukan Li Han Siang, meski tidak ada dalil dan contoh dari Rasulullah Saw.. Untuk itu, kami memohon agar saudara kami Syaikh Abdul Malik Israil menjelaskan alasan-alasan kenapa tindakan Li Han Siang dapat dipahami sebagai keniscayaan.”

Para hadirin serentak melemparkan pandangan ke arah Syaikh Abdul Malik Israil yang duduk diapit Abdul Jalil dan Syarif Hidayatullah. Syaikh Abdul Malik Israil yang tidak menduga bakal didaulat untuk berbicara mengernyitkan dahi dan menyapukan pandangan ke arah hadirin yang duduk melingkar. Kemudian dengan suara yang lain, ia berkata, “Sesungguhnya tiap-tiap kelompok bangsa menganut nilai-nilai yang berbeda. Itu sebabnya, anasir-anasir yang mengikuti perubahan suatu bangsa tidaklah wajib sama dengan bangsa yang lain. Gerakan pembaharuan yang saat ini sedang berlaku di negeri Caruban Larang adalah gerakan dari suatu kelompok bangsa yang memiliki nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan apa yang pernah terjadi di belahan bumi lain. Maksud kami, apa yang saat ini sedang terjadi pada tatanan kehidupan masyarakat ummah yang berasal dari gagasan saudara kami Syaikh Datuk Abdul Jalil, tentu berbeda keadaannya dengan saat tatanan ummah yang ditegakkan kali pertama oleh Baginda Rasulullah Saw. di Yatsrib.”

“Kenapa kami katakan berbeda? Sebab, komunitas di Bumi Arabia saat itu terbentuk atas kabilah-kabilah yang dipimpin oleh seorang pemimpin kabilah dan masing-masing anggota kabilah diakui keberadaannya. Seorang kepala keluarga di sebuah kabilah memiliki hak penuh atas tenda dan seluruh isinya, meski untuk hal-hal tertentu ia wajib patuh kepada pemimpin kabilah. Masing-masing anggota kabilah memiliki tujuan dan kiblat yang sama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kebebasan dan tali persaudaraan yang erat di dalam kabilahnya.”

Sebaliknya, penduduk negeri ini adalah kawula yang bermakna sama dengan budak. Penduduk negeri tidak diakui keberadaannya sebagai anggota komunitas. Yang ada dan diakui keberadannya hanya raja dan para pemimpin komunitas. Nilai-nilai yang dibentuk pun adalah nilai-nilai budak. Itu sebabnya, jika seorang raja sebagai pemimpin kawula kalah maka kawula akan memindahkan kiblat panutan kepada tuannya yang baru. Nilai-nilai budak itu rupanya sudah merasuk ke dalam jaringan darah dan segenap penjuru jiwa dan raga para kawula negeri ini.”

“Usaha saudara kami Syaikh Datuk Abdul Jalil dalam mengubah tatanan kawula menjadi tatanan masyarakat ummah sesungguhnya mahaberat dan butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Ia harus didukung banyak pihak demi lahirnya tatanan nilai-nilai baru tersebut. Dan sesungguhnya, pertempuran dalam menegakkan nilai-nilai adalah jauh lebih berat daripada pertempuran di medan laga. Sebagaimana disebutkan dalam sirah nabawi, sekembali dari pertempuran di Badar, Rasulullah Saw. bersabda: ‘Kita baru kembali dari perang kecil dan sedang menuju perang besar, yaitu perang terhadap hawa nafsu.”

“Memang banyak orang menafsirkan perang melawan hawa nafsu hanya sekedar menghindari kemaksiatan sebagaimana diperintahkan hukum suci (syari’at). Tetapi bagi kami pribadi, sabda Rasulullah Saw. jauh lebih luas dan mendalam dibanding sekadar makna kemaksiatan. Kami pribadi malah memahami sabda beliau terkait dengan nilai-nilai karena sejatinya nilai-nilai terbentuk dari hasil pergumulan antara nafsu-nafsu rendah manusia dengan kodrat-kodrat Ilahiyyah yang tersembunyi di dalam diri manusia. Itu sebabnya, tinggi dan rendahnya peradaban suatu bangsa akan tercermin dari nilai-nilai yang dianutnya.”

“Kami tidak perlu menjadikan kasus saudara Li Han Siang sebagai sumber perpecahan di antara kita. Tetapi, dalam hal ini kami akan menuturkan suatu cerita yang mungkin mirip dengan kejadian yang sedang kita alami ini. Cerita itu menyangkut kisah Musa a.s. saat membawa Bani Israil keluar dari gerbang perbudakan Bangsa Mesir. Musa a.s. yang sejak kecil dididik sebagai pangeran di istana Fir’aun menganut nilai-nilai yang sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dianut Bani Israil seumumnya. Musa a.s. terbiasa dengan keagungan, kemuliaan, keberanian, kegagahan, kepahlawanan, kesulitan di medan perang, dan kemenangan. Sementara Bani Israil terbiasa dengan kemiskinan, ketertindasan, ketakutan, kepengecutan, ketidakberdayaan, mimpi-mimpi kosong, dan kekalahan.”

“Jika saudara-saudara sekalian pernah membaca kitab suci Bani Israil yang hal itu dikuatkan dalam Al-Qur’an maka saudara-saudara akam menyaksikan bagaimana Musa a.s. mengalami kekecewaan demi kekecewaan dalam menghadapi sikap dan perilaku bangsanya yang selama beratus tahun tumbuh dan berkembang di bawah kendali nilai-nilai budak. Ketika Musa a.s. atas titah Allah SWT mengajak Bani Israil untuk berperang membebaskan tanah Kanaan yang dihuni bangsa Amalik, Heti, Yebus, dan Amorit, yang diperolehnya bukan sambutan kepahlawanan yang gagah perkasa dari bangsanya. Bani Israil yang masih tercekam oleh nilai-nilai budak malah bersungut-sungut kepada Musa a.s. dan Harun a.s. sambil meratap-ratap: ‘Aduh, sekiranya kami mati di tanah Mesir atau di padang gurun ini, mengapa Tuhan membawa kami ke negeri ini? Apakah agar kami terbunuh oleh pedang dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah kami lebih baik pulang kembali ke Mesir? (Bemidbar, 14: 1-4).”

“Kami kira, apa yang sudah dialami Bani Israil saat dipimpin Musa a.s. keluar dari Mesir tidak berbeda dengan yang sedang terjadi di Caruban Larang sekarang ini. Maksud kami, bangsa ini masih kuat tercekam oleh nilai-nilai kawula yang membentuk alam pikiran dan jiwa mereka. Menurut hemat kami, sangat perlu rangkaian tindak kekerasan sebagaimana yang pernah diberikan Allah SWT. terhadap Bani Israil selama empat puluh tahun pengembaraan di gurun untuk menghilangkan noda-noda hitam dari sisa-sisa jiwa budak yang melekat di tengah matahari keagungan manusia. Sejarah Bani Israil mencatat, betapa generasi tua yang terbentuk oleh nilai-nilai di Mesir itu telah bertumbangan di atas bumi tanpa nyawa ketika generasi baru Bani Israil berhasil menduduki tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.”

“Dengan apa yang sudah kami uraikan ini, sesungguhnya musuh yang paling utama bagi kita bukanlah Yang Dipertuan Galuh Pakuan, Yang Dipertuan Talaga, atau Yang Dipertuan Rajagaluh, justru nilai-nilai kawula yang masih kuat mencengkeram alam pikiran dan jiwa penduduk Caruban Larang itulah yang harus kita tundukkan bersama. Sesungguhnya, apa yang dialami Bani Israil ketika melepaskan diri dari perbudakan adalah cerminan yang paling sesuai bagi usaha-usaha pembaharuan di Caruban Larang ini. Itu sebabnya, kami menilai tindakan saudara kami Li Han Siang, dapat dipahami karena peristiwa itu sesungguhnya pernah tercermin pada cerita Qarun (Korah) dan para pemuka Bani Israil yang menentang Musa a.s., meski alur cerita, tempat kejadian, dan para pelakunya berbeda.”

Mendengar uraian Syaikh Abdul Malik Israil, hadirin mengangguk-angguk kepala tanda setuju. Ketika Sayyid Habibullah al-Mu’aththal menggeser tempat duduknya dan terlihat akan menanggapi Syaikh Abdul Malik Israil, tiba-tiba Syaikh Duyuskhani mengacungkan tangan dan berkata lantang, “Kami kira, masalah yang dihadapi saudata kami, Li Han Siang, tidak perlu dijadikan perdebatan berlarut-larut. Itu bisa kita selesaikan di kelak kemudian hari. Yang penting, sekarang kita perlu ketegasan untuk menghadapi gertakan penguasa Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh. Apakah kita akan lari meninggalkan Caruban Larang dengan berdalih hijrah seperti saat Rasulullah Saw. menganjurkan berhijrah bagi kaum beriman dari Makah? Ataukah kita melawan seperti saat Rasulullah Saw. berada di Yatsrib yang menghadang musuh-musuhnya di Badar dan Uhud?”

“Bagi kami, para pendatang dari Baghdad yang terusir dari tanah kelahiran kami, sebagai seorang laki-laki sejati tidak ada pilihan lain kecuali mengangkat senjata mempertahankan apa yang sudah kami miliki di Caruban Larang ini. Kami semua siap syahid di medan tempur karena kami yakin apa yang kami dukung dalam perjuangan ini adalah Kebenaran yang sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.”

Kata-kata Syaikh Duyuskhani yang berkobar-kobar penuh semangat menimbulkan pengaruh yang sangat besar. Para pemuka warga saling menyatakan tekad untuk maju ke medan tempur dan siap gugur sebagai syuhada.

Sri Mangana yang menyaksikan semangat para pemuka warga dengan gembira menyatakan rasa terima kasihnya. Namun, dengan penuh kearifan ia meminta mereka menyiapkan satuan-satuan yang terlatih sehingga saat maju ke medan tempur tidak hanya berbekal semangat. “Aku akan mengirim perwira-perwira Caruban Larang untuk melatih warga kalian masing-masing. Selama menunggu waktu berlatih itu hendaknya kita tetap waspada akan bahaya penyusupan yang bakal menggeragoti kekuatan kita dari dalam.”

Kisah Nabi Musa a.s. memimpin Bani Israil dari keluar dari gerbang perbudakan di Mesir menuju tanah yang dijanjikan bagi sebagian orang dianggap sebagai kisah biasa yang berisi keteladanan seorang utusan Allah dalam menegakkan ajaran Tauhid. Namun bagi Sri Mangana, kisah yang dipaparkan Syaikh Abdul Malik Israil, meski sudah ia ketahui sebelumnya, menjadi cahaya benderang bagi tersingkapnya kesadaran baru. Sri Mangana mendadak merasakan betapa sesungguhnya ia telah melakukan kesalahan besar dalam menilai gerakan pembaharuan bagi lahirnya tatanan baru yang disebut masyarakat ummah. Ia sadar bahwa langkahnya sesungguhnya terlalu terburu-buru.

Uraian Syaikh Abdul Malik Israil tentang latar nilai-nilai yang membentuk Nabi Musa a.s. dan Bani Israil benar-benar menyadarkannya akan kekeliruan itu. Ya, ia menyadari bahwa sejauh ini ia selalu menganggap kawula Caruban Larang adalah manusia-manusia yang sama dengan dirinya. Padahal, sejak lahir hingga dewasa ia dibentuk oleh nilai-nilai ksatria di istana Pakuan Pajajaran yang menanamkan keagungan, kemuliaan, keberanian, kegagahan, ketabahan, kemenangan, dan prinsip dharma ksatria. Sementara itu, para kawula sejak lahir hingga dewasa dibentuk oleh nilai-nilai budak yang akrab dengan kerendahan diri, ketidakberdayaan, kepengecutan, ketertindasan, kekalahan, dan tak kenal prinsip dharma.

Dengan kesadaran itu Sri Mangana pada gilirannya menyadari betapa sesungguhnya Abdul Jalil, putera asuhnya, sang penggagas masyarakat ummah, pada dasarnya tidak jauh berbeda jauh dengan dirinya. Ya, Abdul Jalil sejak kecil dididik di lingkungan Padepokan Giri Amparan Jati sebagai putera kuwu Caruban. Alam pikiran dan jiwanya dibentuk oleh nilai-nilai keberanian, kejujuran, keagungan, kemuliaan, kesucian, ketabahan, kemenangan, dan prinsip dharma seorang mujahid. Dalam pergulatan mencari jati diri, Abdul Jalil telah membuktikan diri sebagai pribadi yang tabah dan tidak kenal menyerah. Ah, kata Sri Mangana dalam hati, ternyata anak itu juga keliru seperti aku; menilai alam pikiran dan jiwa kawula seakan-akan sama dengan dirinya.

Ketika Sri Mangana menengok ke belakang, menapaki jejak-jejak dari langkah pembaharuan yang sudah dijalankannya, ditemuilah kenyataan yang mengejutkannya; betapa sesungguhnya yang berubah dalam gerakan pembaharuan itu hanyalah tatanan belaka. Pelaku-pelaku dari perubahan itu terbukti tetap sama. Hal itu baru ia sadari ketika merenungkan para pembantunya di dalam pemerintahan kalifah. Betapa yang ia dapati para pembantunya hampir seluruhnya adalah para ningrat darah biru. Ya, para gedeng yang pada masa silam ditunjuk atas kekuasaan ratu, kini, setelah dilakukan pemilihan masyarakat ummah pun yang terpilih tetap juga dari kalangan tersebut. Para wali nagari yang dipilih pun tidak ada yang berasal dari kalangan orang kebanyakan. Semua merupakan pemuka di dalam kelompoknya. Bahkan, para pejabat keturunan Cina yang membantunya pun di kalangan bangsanya adalah kaum ningrat darah biru.

Akhirnya, dengan kesadaran itu, Sri Mangana makin meneguhkan sikap untuk meneruskan perjuangan, dengan mengesampingkan kemungkinan-kemungkinan kecewa dan putus harapan akibat masyarakat ummah yang dipimpinnya sesungguhnya masih merupakan bahan mentah dari kawanan budak. Sebenarnya, kepanikan penduduk yang beramai-ramai mengungsi adalah awal yang paling awal dari rentangan perjuangan yang harus dilaluinya. Ya, aku akan berhadapan dengan “musuh-musuh” yang harus aku lindungi, yaitu masyarakat ummah yang bermental budak. Aku akan bersikap sebagaimana Nabi Musa a.s. menghadapi Bani Israil. Sangat besar kemungkinan aku akan menghadapi kenyataan pahit sebagaimana Nabi Musa a.s. saat mengajak kaumnya bertempur untuk merebut tanah yang dijanjikan, yakni jawaban yang menyakitkan: “Wahai Musa, kami tidak akan memasuki negeri itu selamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah engkau berdua. Sesungguhnya kami akan duduk menunggu di sini saja (QS al-Ma’idah: 23-24).”

Dengan kesadaran itu, segunung masalah yang menunggu sang kalifah di tengah gemuruh arus perubahan yang menegangkan itu, tidaklah dianggapnya sebagai beban mahaberat. Dengan ketenangan yang mengagumkan Sri Mangana menerima berbagai laporan tentang ganasnya perampok-perampok yang membakar dan menjarah desa-desa di lereng timur Gunung Ciremai. Atau, terbunuhnya para santri Giri Amparan Jati yang ditempatkan Abdul Jalil di Lemah Abang di dekat Sukapura. Atau, kepergian mendadak Sayyid Habibullah al-Mu’aththal ke Malaka dengan alasan berniaga sehingga kedudukannya sebagai pemuka warga Arab di Kuta Caruban digantikan oleh Abu Ismail al-Basgrowi. Atau, menyingkirnya sebagian warga Kuta Caruban secara diam-diam ke Dermayu. Semua laporan itu ia terima dengan senyuman sambil berkata dalam hati: ini adalah penyaringan yang dahsyat untuk membedakan siapa di antara warga Caruban Larang yang sudah menjelma menjadi masyarakat ummah dan siapa yang masih terjerat dalam kungkungan kawula.

Saat para pemuka warga di Caruban Larang menghadap Sri Mangana untuk melaporkan gelombang pengungsian yang tidak menyenangkan dari desa-desa di bagian barat dan selatan Caruban Larang, bahkan Kuta Caruban, Sri Mangana dengan tenang berkata, “Sesungguhnya yang tersisa di antara penduduk Caruban Larang adalah para singa dan harimau yang gagah perkasa. Jumlah mereka memang tidak perlu banyak, tetapi mereka adalah penguasa di daerahnya. Sesungguhnya tidak semua warga desa di Caruban Larang ini pergi mengungsi. Lihatlah penduduk Lemah Abang! Lihatlah penduduk Kalijaga! Lihatlah penduduk Gunung Jati! Lihatlah penduduk Kuningan! Lihatlah penduduk Caruban Larang! Merekalah sesungguhnya pahlawan pembaharu yang gagah perkasa. Merekalah kumpulan singa dan harimau Allah yang akan mempertahankan keyakinan dan wilayah kekuasaannya sampai titik darah yang penghabisan.”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil kepada Sri Mangana yang sedang berbincang-bincang dengan Nyi Indang Geulis dan Nyi Muthma’inah di ndalem Pekalipan, “Ananda mohon petunjuk tentang apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi perkembangan keadaan yang semakin tak menentu ini. Sebagian besar penduduk di Caruban Larang beramai-ramai meninggalkan kampung halamannya. Sementara yang tersisa ananda kira tidak akan cukup mampu menghadapi kekuatan gabungan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh.”

“Engkau tidak perlu cemas menghadapi keadaan ini, o Puteraku,” kata Sri Mangana tenang, “Sekecil apa pun kekuatan yang kita miliki, kedudukan kita jauh lebih tangguh dan lebih ulet dibanding yang mereka miliki. Karena itu, dalam hal kekuatan pasukan aku tidak ragu menghadapi mereka bertiga.”

“Berapakah sesungguhnya kekuatan pasukan Caruban Larang?”

“30.000 orang.”

“Hanya 30.000 orang?” gumam Abdul Jalil terkejut. “Padahal, kekuatan Galuh Pakuan saja menurut kabar lebih dari 200.000 orang.”

“Engkau tidak paham tentang kemiliteran, o Puteraku,” kata Sri Mangana tersenyum. “Karena itu, engkau seperti umumnya yang lain, menganggap kekuatan tempur pada jumlah orang dan kelengkapan senjata. Padahal, meski hanya 30.000 orang kekuatan yang telah kubangun selama tujuh tahun ini, mereka adalah orang-orang yang terlatih. Sedangkan prajurit Galuh, Talaga, dan Rajagaluh hanyalah anak bawang dalam pertempuran karena mereka dibentuk secara paksa dan buru-buru. Yang tidak kalah penting untuk dihitung adalah kekuatan warga yang dilatih oleh perwira-perwiraku. Mereka akan menambah jumlah kekuatan Caruban Larang. Aku perkirakan jumlah mereka lebih dari 40.000 orang. Itu pun belum kita hitung bala bantuan dari orang-orang Dermayu.”

“Jika hanya menghadapi Galuh Pakuan, ananda kira pihak kita pasti menang, apalagi kalau yang memimpin Ramanda Ratu sendiri. Tapi, bagaimana dengan Talaga dan Rajagaluh? Ananda juga mendapat kabar jika Prabu Surawisesa sudah mengirim utusan ke Pasir Luhur untuk meminta dukungan dari Prabu Banyak Belanak.”

“Jadi, dia sudah minta bantuan Pasir Luhur?” gumam Sri Mangana dengan wajah merah menahan amarah. “Jika kabar itu benar, berarti dia benar-benar menginginkan perang terbuka. Ini tidak bisa kubiarkan. Besok akan kugerakkan pasukanku. Akan aku hancurkan seluruh kekuatan Galuh Pakuan.”

Menyaksikan Sri Mangana dibakar amarah, Nyi Indang Geulis, sang permaisuri, berusaha meredakannya. “Aku memohon Rakanda Ratu tidak terpancing amarah. Sebab, jika Rakanda Ratu sampai menggerakkan pasukan dan menyerbu Galuh Pakuan maka ayahanda Prabu Guru Dewara Prana akan murka dan menuduh Rakanda Ratu sebagai penyerbu. Karena itu, hendaknya Rakandan Ratu bersabar dan menahan diri.”

“Menunggu sampai si Tua Bangka itu memiliki kekuatan besar?”

“Kita memang harus menunggu, o Rakanda Ratu,” kata Nyi Indang Geulis. “Tetapi, di dalam menunggu itu kita harus melakukan usaha untuk menambah kekuatan sekaligus merongrong kekuatan lawan.”

“Dengan cara apa?”

“Rakanda Ratu selama ini telah melupakan jalinan persaudaraan antarksetra.”

“Astaghfirullah!” seru Sri Mangana dengan wajah mendadak berubah ceria. “Aku sungguh-sungguh lupa pada kekuatan itu. Aku telah lupa bahwa jalinan ksetra-ksetra itulah sesungguhnya kekuatan yang paling kokoh di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan ini. Ya, aku sungguh telah khilaf melupakan petarung-petarung unggulan itu.”

Abdul Jalil yang tidak memahami apa yang dibicarakan Sri Mangana dan permaisuri dengan heran bertanya, “Persaudaraan antarksetra itu apa, o Ibunda Ratu? Kenapa ia disebut kekuatan paling kokoh?” Nyi Indang Geulis tersenyum dan memandang suaminya, seolah menginginkan agar sang suami yang menjawab pertanyaan putera mereka.

“Sesungguhnya, yang dimaksud ksetra adalah lapangan pekuburan tempat para bhairawa-bhairawi melakukan upacara pancamakara. Tiap-tiap ksetra sesungguhnya merupakan jalinan dari ksetra yang lain, seibarat kalung yang terbuat dari untaian mutiara. Tiap-tiap pemimpin dan anggota ksetra satu selalu menganggap pemimpin dan anggota ksetra yang lain sebagai saudara. Karena itu, mereka sangat bersatu padu sehingga saat kekuatan sebuah kerajaan terpecah belah, persaudaraan mereka tetap utuh,” ujar Sri Mangana.

“Sesungguhnya kekuatan yang sebenarnya di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan ini berada di tangan mereka. Sebab, mereka adalah petarung-petarung yang memiliki kesaktian luar biasa dan tanpa tanding. Seratus prajurit pun tidak akan mampu mengalahkan seorang bhairawa karena mereka memiliki ilmu seratus ribu hulubalang. Namun, mereka adalah orang-orang merdeka yang enggan mengabdi kepada kerajaan karena aturan-aturan kerajaan yang bertentangan dengan ajaran mereka. Nah, jika kita dapat merangkul mereka, pastilah kita tidak perlu khawatir dengan kekuatan Galuh Pakuan, Talaga, Rajagaluh, dan bahkan Pakuan Pajajaran sekalipun.”

“Tapi Ramanda Ratu, mereka adalah para peminum darah dan pemakan mayat. Mungkinkah mereka bersedia membantu gerakan kita, orang-orang yang selama ini mengecam mereka sebagai pemeluk ajaran najis?”

“Engkau jangan lupa, o Puteraku, bahwa aku dan ibundamu masih mereka anggap sebagai saudara, meski kami sudah memeluk Islam. Engkau pun harus tahu bahwa di dalam ajaran Bhairawa Tantra tidak dikenal kasta-kasta yang membedakan kedudukan orang seorang. Karena itu, aku yakin mereka akan lebih bersimpati mendukung gerakan masyarakat ummah di Caruban Larang ini daripada mendukung Galuh Pakuan,” kata Sri Mangana.

“Apakah Ramanda Ratu akan berkeliling ke ksetra-ksetra untuk meminta bantuan?”

“Tidak,” Nyi Indang Geulis tiba-tiba menukas, “Ramandamu tidak boleh meninggalkan Caruban Larang pada saat genting seperti ini. Sebaliknya, aku akan meminta izin dari ramandamu untuk berkeliling ke ksetra-ksetra dengan ditemani kakakmu, Nyi Muthma’inah.”

“Jika demikian, ananda juga mohon izin agar diperkenankan pergi ke Kendal, Samarang, Demak, Giri, dan Surabaya untuk meminta bantuan dari sana. Ananda berusaha menemui Pamanda Raden Kusen di Majapahit untuk meminta bantuan. Sungguh, ananda malu jika dalam keadaan seperti ini hanya berpangku tangan tidak berbuat sesuatu. Sebab, semua yang terjadi ini, sesungguhnya adalah akibat dari gagasan ananda. Sungguh, ananda akan merasa jadi manusia durhaka jika harus berdiam diri,” ujar Abdul Jalil.

“Niatmu untuk memperoleh bantuan itu sangat baik, o Puteraku,” kata Sri Mangana penuh kearifan. “Tetapi menurut hematku, ada hal lain yang lebih penting dan lebih mendesak untuk engkau jalankan sebagai bagian dari perjuanganmu menegakkan tatanan baru ini.”

“Ananda mohon petunjuk,” kata Abdul Jalil. “Ananda tidak memahami siyasah, tata negara, dan kemiliteran. Jadi, ananda tidak tahu harus berbuat apa dalam keadaan seperti ini.”

“Ada pepatah lama yang mengatakan sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui,” kata Sri Mangana. “Itulah yang sekarang hendaknya engkau lakukan.”

“Ananda belum memahami maksud Ramanda Ratu. Ananda mohon petunjuk.”

“Tidakkah engkau sadari bahwa di atas segunung masalah yang timbul sekarang ini sesungguhnya berpangkal pada perubahan tatanan yang terjadi di Lemah Abang?” tanya Sri Mangana.

“Ananda paham itu, o Ramanda Ratu.”

“Itu berarti, Lemah Abang adalah benih yang harus ditabur ke berbagai lahan agar tumbuh benih Lemah Abang yang lain. Bukankah menebar butir gabah di atas sawah lebih baik hasilnya daripada di atas pot?”

“Ananda masih belum paham dengan penjelasan Ramanda Ratu.”

“Bukankah engkau sudah membuka Lemah Abang di Karawang dan Sukapura?”

“Benar demikian, o Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Tetapi, itu hanya ananda lakukan untuk menempatkan Tu-mbal yang menangkal pengaruh buruk para makhluk gaib penghuni Nusa Jawa. Para santri yang ananda tempatkan di sana pun dibunuh oleh orang-orang tidak dikenal.”

“Menurut hematku, seharusnya Lemah Abang yang engkau buka bukanlah sekadar tempat menanam Tu-mbal, melainkan hendaknya Lemah Abang sebagai dukuh bertatanan baru sebagaimana yang engkau dirikan di Japura. Ya, Dukuh Lemah Abang di Japura itulah yang hendaknya engkau tebarkan di berbagai tempat. Dengan demikian, jika benih Lemah Abang di Japura harus mati karena suatu hal, setidaknya engkau masih memiliki benih lain.”

“Ah, ananda benar-benar tidak berpikir ke arah sana. Tetapi, apakah dengan menumbuhkan benih Lemah Abang di tempat lain tidak malah memperparah keadaan?” tanya Abdul Jalil.

“Peristiwa kekisruhan yang terjadi di Caruban Larang ini hendaknya kita jadikan pelajaran terbaik,” kata Sri Mangana mengemukakan gagasannya. “Setelah aku nilai kembali, sesungguhnya kita terlalu terburu-buru untuk mewujudkan tatanan baru dengan serentak mengubah tatanan lama dalam lingkup luas. Seharusnya, aku tidak tergesa-gesa menetapkan peraturan tentang tatanan baru itu. Seharusnya, aku harus bersabar menunggu pengaruh Lemah Abang berkembang secara alamiah mempengaruhi wilayah di sekitarnya. Sehingga, saat seluruh tatanan baru sudah siap, barulah dibuat ketetapan resmi tentang diberlakukannya tatanan baru. Ya, kita semua tercekam oleh keinginan untuk buru-buru mewujudkan tatanan baru. Semua tidak bisa menahan kesabaran.”

“Sementara itu, kesalahan yang juga tak kalah penting yang telah kita perbuat adalah kekeliruan kita dalam membaca keberadaan penduduk negeri. Selama ini baik aku maupun engkau sendiri selalu menganggap semua orang sama dengan kita yang dibentuk oleh nilai-nilai yang berbeda dengan seumumnya penduduk. Syaikh Abdul Malik Israil yang menyadarkan aku tentang itu. Karena itu, o Puteraku, hendaknya di dalam menebar benih-benih Lemah Abang di tempat lain masalah itu harus engkau perhatikan benar. Engkau harus sadar bahwa yang akan kita ubah adalah nilai-nilai, bukan sekadar tatanan. Sehingga, sejak awal engkau harus sadar bahwa menata nilai-nilai baru itu membutuhkan waktu lama, setidaknya satu sampai dua generasi.”

“Ananda akan pusakakan petunjuk dan nasihat Ramanda Ratu.”

“Karena itu, jika engkau berangkat ke timur, hendaklah membawa serta murid-muridmu. Tempatkanlah mereka sebagian demi sebagian di Dukuh Lemah Abang baru. Perintahkan kepada mereka agar sedapat mungkin menegakkan tatanan baru di dukuhnya dan kemudian berusaha mempengaruhi dukuh-dukuh di sekitarnya. Insya Allah, dengan cara demikian, gagasanmu untuk mewujudkan tatanan masyarakat ummah tidak akan mati dibentur keadaan dan digilas zaman. Gagasanmu yang mulia itu akan tetap menjadi harapan yang diimpi-impikan oleh setiap orang yang mendambakan kebebasan, kesederajatan, dan keadilan,” kata Sri Mangana.

Abdul Jalil termangu-mangu selama mendengarkan penjelasan dan petunjuk Sri Mangana. Ia merasa setiap kata-kata yang meluncur dari mulut Sri Mangana adalah Sabda Ilahi yang menyingkapkan nur lawami’ dan menerbitkan pemahaman fawa’id di dalam dirinya. Ia merasakan getar-getar Ilahiah meliputi kata-kata yang diucapkan Sri Mangana. Ia pandangi mata ayahanda asuhnya yang bening bagai danau. Ia dapati jiwa yang lain di dalam diri ayahanda asuhnya, yaitu jiwa yang sama dengan jiwanya. Kemudian bagaikan digerakkan oleh kekuatan gaib yang tidak kelihatan, tiba-tiba saja ia menjatuhkan diri diharibaan ayahanda asuhnya seolah-olah seorang anak yang diburu ketakutan dan mencari perlindungan kepada ayahnya.

Taiwan Strait West of Taichung (MV. Taho), April 11st 2007, 00:35LT

11. Sandyakala Majapahit

Abdul Jalil meninggalkan Caruban Larang dengan disertai Abdul Malik Israil, Syarif Hidayatullah, Raden Qasim, tiga puluh tiga murid Paguron Lemah Abang, dan sembilan belas santri Giri Amparan Jati. Ketika ia memasuki kadipaten-kadipaten yang pada masa lalu merupakan bagian Majapahit, sadarlah dia bahwa di balik segunung masalah yang sangat sulit dipecahkan di Caruban Larang itu sesungguhnya terhampar kemudahan di tempat yang selama ini dibayangkannya jauh lebih berat dibandingkan Caruban Larang. Kenyataan tak tersangka-sangka itu dialaminya ketika ia menghadap para adipati muslim yang menjadi penguasa di sepanjang pantai utara Nusa Jawa. Bagaikan menerima sesuatu yang tidak asing, para raja muda itu menyambut dengan suka cita gagasan masyarakat ummah yang ditawarkan Abdul Jalil.

Memang, bagi setiap muslim yang memahami makna Kebenaran Islam secara benar, gagasan Abdul Jalil untuk menegakkan tatanan baru masyarakat ummah bukanlah sesuatu yang sama sekali baru dan asing. Sebab, kisah hidup Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya bukanlah sesuatu yang terpisah sama sekali dari ajaran Islam. Perikehidupan mereka sebagai pemimpin umat telah menjadi bagian dari harapan ideal yang diabadikan dalam kitab-kitab dan dilegendakan dari mulut ke mulut. Gagasan kekalifahan, diakui atau tidak, telah menjadi bayangan indah yang ingin diwujudkan oleh setiap muslim yang benar-benar memahami makna keislaman. Dan lantaran itu, tanpa kesulitan berarti para adipati muslim di sepanjang pesisir utara Nusa Jawa tidak sekadar menerima gagasan masyarakat ummah, tetapi bahkan menyatakan dukungan untuk mewujudkannya dalam kehidupan penduduk di wilayahnya masing-masing.

Mula-mula Abdul Jalil mendapat dukungan dari Pangeran Gandakusuma, Adipati Kendal, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putera adipati pertama, Syaikh Suta Maharaja. Adipati yang juga kakak lain ibu Siti Zainab, istri Abdurrahman Rumi, ternyata sudah mendengar gegap gempita perubahan tatanan baru di Caruban Larang berdasarkan penuturan orang-orang Kendal yang tinggal di sana. Sebagai bukti penerimaan dan dukungannya, sang adipati menghadiahi Abdul Jalil tanah shima seluas 70 jung (196 hektar) yang terletak di antara Sungai Wela dan Sungai Salak. Tanah shima itu adalah tanah perbatasan yang diperebutkan antara adipati Bojong (Tegal), Pangeran Danaraja. Itu berarti, keberadaan tanah itu sebagai shima masih membutuhkan persetujuan dari adipati Bojong.

Abdul Jalil menempatkan sembilan santri Lemah Abang dan Giri Amparan Jati serta membuka pemukiman baru dan mengatur pembagian tanah garapan kepada penduduk yang ingin tinggal di situ. Sesuai petunjuk Sri Mangana, tugas utama mereka adalah menegakkan tatana sebagaimana yang berlaku di Lemah Abang, Japura. Mereka diharapkan dapat mempengaruhi penduduk desa sekitar dengan tatanan baru tersebut.

Dukungan adipati Kendal ternyata tidak hanya pemberian hadiah tanah shima. Sekitar 500 orang prajurit pilihan dikirimnya ke Caruban Larang untuk membantu perjuangan kalifah dan memberikan semangat kepada warga Kendal di Caruban Larang. Sang adipati tampaknya sadar bahwa warga Kadipaten Kendal yang tinggal di Caruban Larang berjumlah ribuan orang, terutama warga asal Kendal, Magelung, Getas, Pandes, dan Gebang. Sehingga, menurut sang adipati, kehancuran kalifah Caruban Larang akan bermakna kehancuran pula bagi warga Caruban Larang asal Kendal. Sebelum pergi meninggalkan kadipaten, Abdul Jalil mendapat kepastian bahwa sang adipati akan segera mewujudkan gagasan masyarakat ummah di Kadipaten Kendal.

Usai dari Kendal, Abdul Jalil dan rombongan menghadap adipati Samarang, Raden Sahun ibnu Abdillah, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putera Ario Abdillah, adipati Palembang. Tanpa kesulitan berarti, adipati yang dikenal dengan sebutan Pangeran Pandanarang (nama tempat di dekat Langkat, Sumatera Selatan) menerima gagasannya dan menyatakan dukungan penuh, terutama setelah Abdul Jalil mengaku putera Ki Danusela, kuwu Caruban, dan murid ruhani almarhum Yang Mulia Ario Abdillah.

Raden Sahun adalah saudara lain ibu Raden Kusen. Ibunya yang bernama Nyimas Sahilan merupakan puteri Syarif Husein Hidayatullah, keturunan Arab yang menjadi pemuka penduduk Usang Sekampung. Lantaran perkawinan ibundanya dengan Ario Abdillah maka kakeknya diangkat menjadi bangsawan Palembang dengan gelar Menak Usang Sekampung. Boleh jadi karena ibundanya berdarah Arab maka Raden Sahun memiliki tubuh lebih tinggi, hidung lebih mancung, kumis dan cambang lebih lebat, serta suara yang lebih lantang dibandingkan orang-orang di sekitarnya.

Sekalipun ketampanan dan kegagahan Raden Sahun pada usianya yang hampir setengah abad itu tak tertandingi oleh orang-orang di sekitarnya, sungguh aneh ketika orang mengetahui bahwa sang adipati ternyata memiliki satu istri, yaitu sang permaisuri. Ya, hanya satu permaisuri tanpa selir seorang pun. Hal itu tidak lazim bagi seorang adipati. Kata orang, sesungguhnya sang adipati tidak berani memiliki selir karena takut dengan sang permaisuri. Pasalnya, sang permaisuri yang bernama Sekar Kedhaton itu adalah puteri Bhattara Katwang, adipati Samarang pertama. Sehingga, Raden Sahun merasa lebih “randah” kedudukannya dibandingkan istrinya. Namun, dengan hanya memiliki satu istri, tidak menjadikan sang adipati itu sedih dan malu. Sebaliknya, ia sangat memuji-muji istrinya yang setia dan telah memberinya lima putera, yaitu Pangeran Mangkubhumi, Pangeran Ketib, Pangeran Bojong, Nyimas Ilir, dan Pangeran Wotgalih.

Sebagaimana yang dilakukan adipati Kendal, sang adipati Samarang pun menghadiahi Abdul Jalil sebidang tanah shima seluas 90 jung (252 hektar), tepatnya di jalur selatan Kadipaten Samarang ke arah Pengging. Tanah shima itu dinamai Dukuh Lemah Abang. Di situ Abdul Jalil meninggalkan lagi sembilan orang santri untuk mengatur pembagian tanah bagi penduduk yang ingin menetap. Demikianlah, tanpa mengalami hambatan berarti, gagasan Abdul Jalil tentang masyarakat ummah diterima dan didukung oleh seluruh penguasa pesisir utara Nusa Jawa seperti adipati Demak, Raden Patah; adipati Pati, Raden Kayu Bralit; adipati Lasem, Pangeran Mahdum Ibrahim; adipati Tuban, Arya Sidik; adipati Siddayu, Pangeran Yusuf Shiddiq; adipati Gresik, Pangeran Zainal Abidin; ratu Giri, Prabu Satmata; dan bupati Surabaya, Pangeran Ali Rahmatullah.

Sesungguhnya, di balik penerimaan dan dukungan terhadap gagasan masyarakat ummah oleh para penguasa muslim di sepanjang pesisir utara Nusa Jawa itu bukan sekadar dilatari oleh kuatnya ghirah keislaman untuk mewujudkan khilafah Islamiyyah sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya. Sebab, jauh di relung-relung jiwa para penguasa tersebut tersembunyi rasa muak dan jijik terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya yang carut-marut dengan nilai-nilai yang jungkir balik membingungkan.

Para adipati dan bupati muslim yang tinggal di bekas wilayah Majapahit merasakan jepitan keadaan yang semrawut seiring mundurnya kerajaan tua itu. Bagaikan hidup di negeri asing dengan nilai-nilai yang rancu, mereka menyaksikan kebejatan dan kebobrokan perilaku manusia terpampang di depan mata. Hari-hari mereka lewati dengan menyaksikan manusia menjadi binatang bagi sesamanya. Di tengah ketercekikan mereka oleh keadaan yang tidak menentu itu, hadirnya sebuah tawaran tentang tatanan baru yang disebut masyarakat ummah yang bertolak dari usaha meneladani kepemimpinan dan kekuasaan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat penggantinya, tentunya menjadi keniscayaan yang tak bisa mereka ingkari.

Gambaran kacau dan rancu tentang manusia bermoral bejat dan berjiwa bobrok setidaknya disaksikan sendiri oleh Abdul Jalil ketika masuk ke pedalaman Majapahit. Sejak menginjakkan kaki di Kadipaten Terung hingga masuk ke Daha melewati Citra Wulan, Wirasabha, ia benar-benar terperangah oleh kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, Abdul Jalil mendengar dan menyaksikan sendiri berbagai peristiwa yang menyesakkan dada itu berjungkir balik. Ujung dari semua simpulannya tentang berbagai peristiwa adalah muncul penilaiannya yang menyatakan betapa sesungguhnya tatanan hidup manusia di pedalaman Majapahit jauh lebih bejat dan lebih bobrok dibandingkan keadaan di pedalaman Bumi Pasundan.

Perempat awal abad kelima belas Saka

Rembang senja menghias di langit Majapahit. Gemilang matahari kebesaran tenggelam di balik samudera kehidupan. Malam yang gelap telah mengintai, dengan gumpalan awan hitam menggantung di cakrawala. Saat itu suasana menjadi remang-remang sehingga segala sesuatu yang berada di bawah langit menjadi samar-samar dan sulit dikenali tanpa bantuan cahaya penerangan.

Rembang senja yang remang-remang itu pula yang sejatinya sedang terjadi di cakrawala jiwa manusia-manusia yang mempermaklumkan dirinya sebagai bagian dari kebesaran dan keagungan Majapahit. Cahaya kebenaran yang menyinari hati mereka telah redup. Di tengah suasana hati yang remang-remang itu mereka tidak dapat lagi membedakan secara semestinya apa yang disebut baik dan buruk, benar dan salah, mulia dan hina, adil dan tidak adil, beradab dan biadab. Bahkan, di ambang kegelapan cakrawala jiwanya itu mereka telah menjelma menjadi hantu-hantu jahil yang liar, buas, kejam, rakus, licik , dan tengik.

Memang, di usia senjanya Majapahit bukan lagi sang surya yang memancarkan kebesaran dan keagungan bagi manusia. Surya Majapahit telah tenggelam ke dasar samudera kejahilan. Yang tersisa hanya hamparan kegelapan, tempat hantu-hantu dan setan gentayangan yang mengancam keselamatan manusia. Segala sesuatu yang tergelar di bawah langit Majapahit telah berubah. Segala sesuatu yang sebelumnya sangat dihargai dan dimuliakan tiba-tiba menjelma menjadi rongsokan tak berharga. Kebesaran, keagungan, kemuliaan, dan kehormatan yang pernah menjadi kebanggaan tiba-tiba berubah asing dan tak dikenal lagi. Kesucian dan keluhuran yang pernah menjadi dambaan tiba-tiba lenyap bagai tertelan bumi.

Kutaramanawa Dharmashastra – kitab perundang-undangan hukum Majapahit – yang selama beratus tahun dijunjung sebagai hukum suci, telah menjadi lembaran-lembaran keropos tak berharga. Sebab, para aparat penegak hukum seperti hakim (pamegat), jaksa (adhyaksa), penasihat hukum (panji), pengawal hukum (bhayangkara) telah menganggap nilai-nilai luhur keadilan yang menjiwai Kutaramanawa tidak lebih dari barang dagangan murah. Bagaikan pedagang kecil menjajakan barang dagangan di pasar, mereka berkeliling menawar-nawarkan pasal-pasal hukum dengan harga murah.

Akibat nilai-nilai luhur keadilan Kutaramanawa sudah diinjak-injak, dikencingi, dan diberaki oleh para aparat penegak hukum, kehidupan manusia pun berlangsung tanpa ditandai rambu-rambu dan aturan. Akibatnya, ketertiban, keamanan, ketenteraman, dan kedamaian menghilang dari permukaan bumi. Sebuah tindak kejahatan tidak lagi dianggap sebagai kejahatan jika pelaku kejahatan dapat membayar para aparat penegak hukum. Hukum hanya berlaku bagi kawula alit yang bodoh dan miskin. Para ningrat darah biru dan saudagar kaya berjalan melenggang di atas permadani ketidakbersalahan.

Karena nilai-nilai luhur Kutaramanawa telah menjadi barang dagangan yang memperkaya para aparat penegaknya, dan sebaliknya hukum menjadi malapetaka bagi kawula miskin yang hina dan papa, akhirnya lahir hukum jalanan yang diprakarsai kawula alit, yang jauh lebih kejam dari pasal-pasal Kutaramanawa. Jika di dalam Kutaramanawa terdapat pasal-pasal tindak pidana (astacorah) yang mengancam hukuman mati bagi pencuri dengan tambahan perampasan terhadap seluruh harta benda beserta anak-anak dan istrinya untuk dipersembahkan kepada raja, maka menurut hukum jalanan seorang pencuri harus dijatuhi hukuman picis; tubuhnya diikat dan ditempatkan di perempatan jalan. Setiap orang yang lewat di situ wajib menyayat tubuhnya dengan bambu tipis (welat) dan mengolesi bekas sayatan itu dengan larutan asam dan garam. Hukuman picis diberlakukan sampai si terhukum mati.

Hukum jalanan yang tak kalah kejam dari hukuman picis adalah hukum pendem. Seorang terhukum, konon, tubuhnya akan dipendam sebatas leher. Kepala terhukum digunduli. Setelah itu didatangkan puluhan ekor ayam kelaparan yang tidak diberi makan selama tiga hari. Kemudian, sambil bersorak-sorak orang-orang menaburkan butiran jagung ke atas kepala si terhukum yang menyembul di permukaan tanah. Hukuman ini diberlakukan sampai si terhukum mati. Namun apa pun namanya, semua hukum jalanan tetap diperuntukkan bagi kalangan kawula alit sendiri. Para ningrat berdarah biru dan orang-orang kaya pemilik uang tidak pernah menjadi korban hukum jalanan.

Coreng-moreng kehidupan Majapahit di usia senjanya tidak hanya mengubah citra agung dan luhur manusia menjadi keropos dan busuk, bahkan telah pula menjelmakan citra suci dan mulia ajaran agama menjadi wajah-wajah hantu yang menakutkan. Citra ajaran Syiwa-Budha yang luhur mulia yang selama beratus tahun memancar gemilang menerangi kebesaran dan keagungan Majapahit telah meredup dan tenggelam. Kejernihan Tauhid Syiwa-Budha telah keruh bercampur lumpur klenik kalangan jelata sehingga sulit dikenali lagi. Kemudian muncul wajah baru, agama ruh dan hantu yang rendah dan penuh dilingkari kepercayaan kalangan jelata yang sarat gegwantuhuwan (Jawa Kuno: takhayul) menyesatkan.

Pengetahuan Brahman (Brahmajnana) yang tinggi dan mulia, yang selama ratusan tahun menjadi ajaran Tauhid rahasia di perguruan-perguruan luhur Majapahit, telah pudar kehilangan makna. Sebagai ganti, muncul ajaran rendah kalangan jelata yang menyeret manusia pada pengingkaran terhadap kemuliaan manusia sebagai pengejawantahan Brahman. Tantra-sadhana yang selama ratusan tahun diyakini memiliki tujuan utama mencapai kesempurnaan (siddhi) telah kabur dan menyeleweng jauh. Yang kemudian dikenal sebagai penggantinya adalah ajaran-ajaran olah kanuragan yang hanya mengajarkan kesaktian dan kedigdayaan, yakni ajaran kalangan jelata yang memerangkap manusia pada sifat adigang-adigung, sapa sira sapa ingsun. Upacara pancamakara yang sakral dan rahasia tiba-tiba menjelma dalam bentuk upacara pemujaan bhairawa-bhairawi haus darah yang gemar menyantap wadal, tumbal, dan mayat.

Di ujung usia senjanya Majapahit benar-benar telah menjadi negara yang tidak berdaya, keropos, berkarat, busuk, dan bejat. Manusia-manusia yang membusuk di kerajaan tua itu bukan hanya mereka yang menjadi nayakapraja, melainkan mereka yang disebut pemuka agama pun ikut membusuk akibat mengikuti nilai-nilai rendah kalangan jelata yang bertentangan dengan kebenaran, akal sehat, kemuliaan, dan keadilan. Ibarat sebatang pohin yang diganyang kawanan ulat ganas, Majapahit perlahan-lahan tetapi pasti telah meranggas, keropos, membusuk, dan akan tumbang digeragoti zaman.

Menurut guru adiraja di Terung, kekuasaan Majapahit mulai terasa melemah ketika memasuki usia hampir dua abad. Hal itu diawali oleh rangkaian panjang yang sambung-menyambung dan susul-menyusul dari peristiwa perebutan takhta penuh warna kekerasan dan pertumpahan darah, laksana guncangan gempa telah merobohkan satu demi satu tiang-tiang penyangga kerajaan yang sudah tua.

Guncangan dahsyat yang awal sekali melanda Majapahit adalah saat terjadi pertempuran antara Bhre Wirabhumi, putera Prabu Hayam Wuruk dari selir yang menjadi penguasa Blambangan, dan Prabu Wikramawarddhana, menantu Prabu Hayam Wuruk. Perang perebutan takhta itu berlarut-larut dengan tempo lamban, bergerak maju dan berhenti, kemudian maju lagi (Jawa Kuno: paregreg). Perang paregreg inilah yang telah menguras kekuatan Majapahit dan perlahan-lahan meruntuhkan tiang-tiang penyangganya ke jurang kebinasaan.

Guncangan susulan terjadi saat Bhre Daha, putera Bhre Wirabhumi, mengangkat senjata hendak merebut takhta dari tangan Prabu Stri Suhita. Kekuatan Bhre Daha ditumpas oleh Ario Damar, putera Dyah Kertawijaya, adik tiri Prabu Stri Suhita. Namun, baru saja gerakan makar Bhre Daha ditumpas, Pasunggiri mengangkat senjata. Pasunggiri pun ditumpas oleh Ario Damar. Belum dingin api pergolakan di Pasunggiri, tiba-tiba kerajaan Gegel di Bali bergolak mengangkat senjata. Lagi-lagi Ario Damar berhasil meredamnya.

Kemunculan Ario Damar ke pentas sejarah Majapahit ternyata membangkitkan rasa takut sejumlah kerabat kerajaan yang berambisi menduduki takhta. Mereka bersekongkol mempengaruhi Prabu Stri Suhita agar menjauhkan Ario Damar dari ibu kota Majapahit dengan dalih diangkat menjadi adipati Palembang. Ario Damar bahkan dibebani tugas utama membawa kembali Palembang – yang sudah dikuasai para petualang Cina – ke pangkuan Majapahit. Keberadaan Ario Damar yang jauh dari ibu kota itu, diakui atau tidak, telah menjadikan Majapahit kehilangan salah satu tiang penyangganya.

Sesungguhnya tengara bakal terjadinya guncangan yang lebih dahsyat di Majapahit sudah sejak awal ditangkap oleh para bijak bestari. Menurut mereka, selama berkuasa, Prabu Stri Suhita lebih banyak berperan sebagai boneka bagi Bhre Parameswara, suaminya. Prabu Stri Suhita hampir tidak pernah menunjukkan keberadaan dirinya kepada dunia sebagai Maharaja agung Majapahit yang sebenarnya. Ia hanya menjadi bayang-bayang suaminya. Padahal, Bhre Parameswara bukan orang cerdas apalagi bijaksana. Hari-hari dari rentang kehidupan Bhre Parameswara lebih banyak diwarnai kemewahan, sanjungan, dan penumpukan kekayaan.

Akibat kegemaran Bhre Parameswara menikmati kemewahan, sanjungan, dan menumpuk kekayaan, berkerumunlah di sekitarnya para penjilat berakhlak bejat dan berjiwa bobrok. Bhre Parameswara yang bertubuh tambun dan berperut buncit telah menjadi tak lebih berharga dari sebongkah bangkai busuk yang dikerumuni lalat-lalat menjijikkan. Bagi Bhre Parameswara dan begundal-begundalnya, nilai kesetiaan, kejujuran, keteguhan, kesederhanaan, dan keberanian tidak lagi dijadikan ukuran utama untuk menilai keberadaan seorang abdi negara. Mereka yang paling pintar menyanjung, menjilat, dan menyenangkan hati atasan, itulah abdi negara yang dinilai terbaik dan terkasih.

Di tengah hiruk keadaan yang menyedihkan itu, tersingkirlah satu demi satu para kerabat kerajaan dan pejabat-pejabat unggul yang berjiwa luhur dan setia. Sebagai ganti, tampil pejabat-pejabat dari kalangan orang kebanyakan yang pintar menjilat dan piawai menyediakan kemewahan bagi atasan. Manusia-manusia unggul seperti Ratu Angabhaya Bhre Narapati dihukum mati. Mahapatih Kanaka yang berwawasan luas dan berpandangan jauh kedepan dipensiun mendadak. Ario Damar, sang pahlawan perang yang tangguh dan tak terkalahkan disingkirkan jauh-jauh dari ibu kota.

Kebijakan menyingkirkan manusia-manusia unggul untuk diganti orang kebanyakan yang mencitrai kekuasaan Prabu Stri Suhita itu, disadari atau tidak disadari telah mengakibatkan merosotnya wibawa pemerintah. Sebab, pejabat-pejabat yang berasal dari kalangan orang kebanyakan yang pintar menjilat dan menyanjung itu umumnya manusia berjiwa kerdil yang tidak cerdas, sempit wawasan, dan picik pandangan. Mereka memang orang-orang yang patuh, setia, dan selalu menyenangkan atasan, namun mereka bukanlah orang-orang berjiwa besar yang memahami makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan.

Jauh hari sebenarnya sudah banyak yang meramalkan akhir kekuasaan Prabu Stri Suhita akan diwarnai guncangan dahsyat yang mungkin akan mengantarkan Majapahit ke jurang keruntuhan. Sebab, kenyataan menunjukkan betapa sejak Prabu Stri Suhita menikah dengan Bhre Parameswara, hingga usia tua mengintai, tidak dikaruniai seorang pun keturunan. Itu berarti, jika Prabu Stri Suhita mangkat akan terjadi ketegangan di antara kerabat kerajaan untuk menentukan hak pewarisan atas takhta kerajaan Majapahit.

Sesungguhnya, meski Prabu Stri Suhita tidak berketurunan, ia masih memiliki dua adik lelaki dari selir-selir ayahandanya, Prabu Wikramawarddhana. Yang pertama, Dyah Kertawijaya. Yang kedua, Bhre Tumapel. Itu berarti, menurut ketentuan yang berlaku umum, sepeninggal Prabu Stri Suhita, yang berhak mewarisi takhta kekuasaan Majapahit adalah Dyah Kertawijaya karena usianya jauh lebih tua dibandingkan Bhre Tumapel.

Sekalipun ketentuan umum menetapkan pewaris takhta sepeninggal Prabu Stri Suhita adalah Dyah Kertawijaya, dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Masalah utama yang dianggap mengganjal oleh kaluarga kerajaan adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa selir Prabu Wikramawarddhana yang melahirkan Dyah Kertawijaya merupakan perempuan berdarah Sunda, puteri Rakryan Pitar, salah seorang mantri pakira-kiran Sri Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sang Mokteng Bubat, maharaja Sunda yang terbunuh di Bubat. Rakryan Pitar merupakan perwira pengikut maharaja Sunda yang selamat dari malapetaka Bubat dan kemudian mengabdi kepada Prabu Singhawarddhana, Bhre Paguhan, yakni ayahanda Prabu Wikramawarddhana.

Dyah Kertawijaya rupanya sadar bahwa pergantian kekuasaan di Majapahit setelah Prabu Stri Suhita meletakkan takhta akan mengalami keruwetan yang menimbulkan perpecahan, terutama yang naik takhta Majapahit adalah dirinya. Hal itu setidaknya sudah disadarinya sejak kakak tirinya, Prabu Stri Suhita, memegang tampuk kekuasaan menggantikan ayahandanya. Sebagai calon pewaris takhta Majapahit, ternyata ia tidak memperoleh gelar tituler apa pun dari Prabu Stri Suhita. Sementara itu, adiknya dianugerahi gelar tituler Bhre Tumapel. Ia tahu semua itu akibat keberadaan dirinya yang berdarah campuran Majapahit-Sunda.

Tengara terjadinya guncangan dahsyat yang ditangkap Dyah Kertawijaya mulai terasa setelah Prabu Stri Suhita mangkat dan ia naik takhta dengan gelar Sri Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana. Saat itu, seperti perulangan peristiwa lama pengangkatan Jayanegara, maharaja berdarah campuran Majapahit-Dharmasraya, merebaklah kasak-kusuk di lingkaran kerabat maharaja dan pejabat-oejabat kerajaan yang tidak puas menerima Sri Prabu Kertawijaya sebagai maharaja Majapahit. Mereka seolah-olah tidak utuh menerima kehadiran pangeran berdarah campuran Majapahit-Sunda itu menduduki takhta yang dibangun oleh keringat dan darah orang-orang Singasari.

Dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak kalangan keluarga kerajaan yang tidak menghendakinya duduk di atas takhta Majapahit, Sri Prabu Kertawijaya berusaha memperoleh dukungan dari berbagai pihak yang dianggapnya dapat memperkuat kedudukannya. Dalam upaya memperoleh dukungan itulah Sri Prabu Kertawijaya melakukan kesalahan yang pernah dilakukan Prabu Stri Suhita.

Sebagai seorang manusia, Sri Prabu Kertawijaya memang tidak luput dari sifat lalai. Itu terlihat dari kebijakan-kebijakan yang dilakukannya saat menjadi maharaja Majapahit. Entah sadar entah tidak, kesalahan Prabu Stri Suhita yang sudah ia ketahui akibat buruknya itu justru dilanjutkannya. Tanpa pertimbangan yang matang ia mengangkat pejabat-pejabat dari kalangan orang kebanyakan. Ia beranggapan pejabat-pejabat dari kalangan orang kebanyakan terkenal akan kesetiaan dan kepatuhannya. Di atas semua pertimbangan, meski menduduki jabatan yang tinggi sekalipun, mereka tidak akan mungkin merebut takhta Majapahit.

Pertimbangan Sri prabu Kertawijaya ternyata keliru. Hal itu menimbulkan sakit hati para ningrat darah biru Majapahit. Dan yang lebih parah, para pejabat yang berasal dari kalangan orang kebanyakan itu ternyata tidak memiliki pandangan jauh ke depan, juga tidak pula memiliki naluri kebesaran dan keagungan. Cakrawala pemikiran mereka umumnya sangat sempit. Setinggi apa pun jabatan yang mereka pegang ternyata tidak banyak mengubah cara pikir, cara pandang, dan cara hidup mereka. Sejauh-jauh mereka memandang ke depan hanya kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga mereka saja yang terlihat. Ketika ada pihak lain yang bersedia memberikan tawaran yang lebih menguntungkan baik itu berupa jabatan, tanah, perempuan cantik, atau sekadar uang maka mereka pun dengan mudah terbeli dengan imbalan yang murah.

Sri Prabu Kertawijaya memang lalai dalam hal mengangkat pejabat. Namun, harus diakui bahwa dialah satu-satunya generasi akhir pewaris takhta Majapahit yang memiliki wawasan luas dan pandangan jauh ke depan seperti para leluhurnya. Dialah satu-satunya maharaja Majapahit yang tanggap dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi di negerinya. Bahkan, dialah maharaja pertama yang berani menentang arus demi menyongsong perubahan. Dialah maharaja Majapahit pertama yang memberi kepercayaan besar kepada orang-orang Islam.

Menurut catatan para adipati di pesisir, sejak usia muda, dengan kecerdasan yang dimiliki ditambah wawasan yang luas, Sri Prabu Kertawijaya telah menangkap tengara bakal terjadi angin perubahan dahsyat yang menentukan hidup dan matinya Majapahit. Pertama-tama, ia menyaksikan kehadiran orang-orang muslim dengan ajaran Islam yang sederhana dan mengajarkan kesederajatan itu makin lama makin menguat pengaruhnya. Di kutaraja Majapahit, terutama di pesisir utara Nusa Jawa. Semakin lama ia mengamati pertumbuhan dan perkembangan orang-orang muslim, semakin sadarlah ia bahwa gelombang kehadiran Islam tidak akan bisa dibendung lagi.

Menurut perhitungan Sri Prabu Kertawijaya yang menerobos jauh ke depan, kehadiran ajaran Islam cepat atau lambat akan menjadi badai yang menyebabkan gelombang perubahan dahsyat. Gelombang perubahan dahsyat yang akan mengempaskan dan mengubur Majapahit ke dasar lautan sejarah selama-lamanya. Jika tidak dihadapi secara bijaksana, gelombang perubahan itu akan menimbulkan banyak korban sia-sia.

Kesadaran Prabu Kertawijaya itu setidaknya telah menjadikannya sebagai satu-satunya pewaris takhta Majapahit yang memiliki hubungan baik dengan orang-orang muslim. Melalui hubungan baik dengan orang-orang muslim itulah ia menguasai arus berita. Melalui orang-orang muslim itu pula ia bisa mengetahui berbagai perubahan yang sedang terjadi baik di wilayah Majapahit maupun di mancanegara. Semakin banyak berita yang diketahuinya, semakin luaslah cakrawala pandangnya dalam memahami kencangnya tiupan angin perubahan.

Hubungan Sri Prabu Kertawijaya dengan orang-orang muslim ternyata makin meluas dan tidak sekadar terkait dengan arus berita. Boleh jadi karena sering bertukar pikiran, ia diketahui sangat tertarik dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran Islam. Nilai-nilai Islam yang oleh orang-orang Majapahit dianggap rendah hasil bangsa biadab dari golongan Mleccha, justru dijadikan sandaran olehnya untuk menentukan baik dan buruk, benar dan salah, lurus dan bengkok, adil dan tidak adil.

Salah seorang tokoh muslim yang sering diajaknya bertukar pikiran tentang nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran Islam adalah Kakek bantal (banyaga wantal), sesepuh Nagari Gresik, yang bernama asli Sayyid Malik Ibrahim. Ia merasa cocok dengan Kakek Bantal. Segala saran dan nasihat Kakek Bantal selalu diikutinya, termasuk saat ia diminta menikahi seorang muslimah asal negeri Campa bernama Darawati.

Setelah menikahi Darawati, untuk memperkuat kedudukan sebagai bakal pewaris takhta Majapahit, Sri Prabu Kertawijaya mengawini beberapa orang puteri dari kerabatnya ditambah puteri-puteri dari para pejabat dan agamawan Majapahit. Melalui pernikahan politis itu ia berusaha membangun kesetiaan di antara kerabatnya, nayakapraja, dan agamawan Majapahit. Namun, di balik semua itu sesungguhnya ia berusaha keras membuka cakrawala pemikiran dan pandangan para pengikutnya agar lebih luas dan menembus jauh ke depan sebagaimana pandangan para leluhur seperti Prabu Kertanegara, Prabu Kertarajasa Jayawarddhana, Prabu Stri Tribhuwanatunggadewi, Prabu Rajasanegara, mahapatih Gajah Mada, dan Prabu Wikramawarddhana.

Usaha Dyah Kertawijaya membuka cakrawala pemikiran dan pandangan para pengikutnya tidak sekadar dilakukan melalui musyawarah pertukaran pikiran, melainkan pula melalui pembagian gelar tituler baru kepada keturunan dan sanak keluarga kerajaan seperti Bhre Kretabhumi, Bhre Singapura, Bhre Kabalan, Tuhan Galuh, dan Tuhan Majaya. Namun, segala usaha itu tidak semua berhasil baik karena komplotan manusia berjiwa kerdil dengan wawasan sempit yang menjamur di Majapahit terbukti lebih kuat menancapkan kuku-kuku tajam kekuasaannya. Keberadaan Sri Prabu Kertawijaya yang berdarah campuran Majapahit-Sunda dan berpandangan jauh ke depan tetap menumbuhkan benih-benih kekhawatiran dan ketakutan yang berujung pada suburnya rasa ketidakpuasan di lingkungan kerabat maharaja dan pejabat kerajaan.

Kasak-kusuk yang mengatakan bahwa Sri Prabu Kertawijaya bakal menjadi penghancur Majapahit tiba-tiba meluas dan membara bagai api dalam sekam. Seiring putaran waktu diketahuilah bahwa salah satu di antara kerabat kerajaan yang gencar menyebarkan kasak-kusuk itu adalah Dyah Wijayakumara Bhre Pamotan. Dengan dukungan putera-puteri dan menantunya, yaitu Bhre Kretabhumi, Sang Nrpati Pamotan, Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, dan Sri Parameswari ing Lasem, Dyah Wijayakumara menempatkan Sri Prabu Kertawijaya sebagai sasaran bidik utama dari fitnah yang dirancangnya.

Sri Prabu Kertawijaya terbukti tidak bisa menghindari bidikan fitnah yang disebar Dyah Wijayakumara. Sebab, kenyataan membuktikan bahwa ia tidak saja telah mengawini Darawati, seorang muslimah asal negeri Campa, tetapi telah mengawini pula Retno Subanci, Cina muslimah puteri Encik Ban Chun, saudagar asal Nagari Gresik. Bahkan, ia juga terbukti mengangkat kemenakan Darawati yang bernama Ali Rahmatullah menjadi pangeran Majapahit dan menabalkannya sebagai bupati Surabaya. Pada saat bersamaan ia juga mengangkat kakak Ali Rahmatullah yang bernama Ali Murtadho menjadi imam Masjid di Nagari Gresik dengan gelar Ratu Pandhita. Sementara sepupu mereka, Raden Burereh (Abu Hurairah), diangkat menjadi leba (mangilala drwya haji) di Wirasabha (Mojoagung) dan yang mengurusi kepentingan orang-orang muslim di sana.

Kasak-kusuk gencar yang menuduh Sri Prabu Kertawijaya bakal menjadi penghancur Majapahit sempat memanas saat Pangeran Ali Rahmatullah dilantik menjadi bupati Surabaya oleh Arya Sena, pecat tandha di Terung, yang mewakili maharaja. Pelantikan bupati Surabaya itu dianggap sebagai bukti nyata dari usaha penghancuran Majapahit karena pusat pangkalan angkatan laut Majapahit yang terletak di Surabaya dimasukkan ke dalam kekuasaan Pangeran Ali Rahmatullah. Itu berarti, kekuatan laut Majapahit telah diserahkan kepada orang asing yang beragama Islam. Sehingga, cepat atau lambat orang-orang Islam bakal meluluhlantakkan kerajaan warisan Prabu Kertarajasa Jayawarddhana itu.

Seiring memanasnya keadaan akibat semakin meluasnya fitnah yang disebar Dyah Wijayakumara, kecurigaan terhadap langkah-langkah kebijakan Sri Prabu Kertawijaya pun makin menajam. Sejak peristiwa pelantikan bupati Surabaya, hampir setiap mata dan telinga di kutaraja seolah-olah diarahkan untuk mengawasi setiap kebijakan, ucapan, tindakan, dan bahkan gerak-gerik Sri Prabu Kertawijaya. Setiap mata dan telinga kerabat maharaja, juga mata dan telinga nayakapraja, juga mata dan telinga dayang-dayang, juga mata dan telinga para pemikul tandu, semuanya, tiba-tiba mengawasi maharajanya dengan penuh kecurigaan dan kebencian.

Puncak ketidakpuasan, kebencian, dan kecurigaan terhadap Sri Prabu Kertawijaya akhirnya meledak juga menjadi malapetaka bagi Majapahit. Menurut cerita, kira-kira dua tahun setelah kematian Darawati, tanpa hujan tanpa angin tiba-tiba maharaja tua itu mengikrarkan diri memeluk Islam di bawah bimbingan saudagar muslim asal negeri Cina, Abdurrahman Tan King Ham. Kabar keislaman maharaja Majapahit itu segera menyulut kegemparan di kutaraja Majapahit dan juga daerah-daerah yang jauh dari ibu kota.

Dyah Wijayakumara beserta putera-puteri dan menantunya sambil tersenyum-senyum mencermati perkembangan berita yang menggemparkan itu. Bagaikan kawanan singa yang tengah mengintai, mereka menunggu kesempatan lengahnya calon mangsa. Saat mereka melihat waktu yang tepat untuk menerkam mangsa sudah datang, dengan didukung sejumlah pejabat Majapahit yang terbakar api amarah, mengamuklah mereka di Bangsal Manguntur. Mereka tahu, pada saat mereka mengamuk para pengawal yang sudah terhasut dan tidak puas itu telah meninggalkan maharajanya seorang diri.

Menurut cerita para adipati pesisir, dalam keadaan tanpa pengawal seorang pun Sri Prabu Kertawijaya yang sudah tua dikepung beramai-ramai oleh Dyah Wijayakumara serta pengikut-pengikutnya. Mereka kemudian mendaulat Sri Prabu Kertawijaya agar turun takhta saat itu juga. Dyah Wijayakumara beralasan apa yang ia lakukan itu adalah demi keselamatan Majapahit.

Ternyata Sri Prabu Kertawijaya tidak memenuhi tuntutan Dyah Wijayakumara. Ia bangkit dari singgasana dengan menghunus keris pusaka Kyai Nagasasra. Namun, apalah daya seorang maharaja tua di tengah kepungan orang-orang yang sudah dirasuk amarah itu. Dengan tanpa kenal belas kasihan para pengepung beramai-ramai menghujani tubuh maharaja dengan panah. Gugurlah maharaja tua itu di Bangsal Manguntur dengan puluhan anak panah menghiasi tubuhnya. Tragedi kematian Sri Prabu Kertawijaya yang memilukan itu diabadikan dengan nama Anumerta Prabu Angkawijaya, yang bermakna “Maharaja yang gugur laksana Raden Angkawijaya, putera Arjuna.” Sri Prabu Kertawijaya dikebumikan secara Islam di Kertawijayapura, tidak jauh dari makam istrinya, Ratu Darawati.

Seperti sudah bisa diduga, sepeninggal Sri Prabu Kertawijaya naiklah Dyah Wijayakumara Bhre Pamotan sebagai maharaja Majapahit. Ia ditabalkan dengan nama Abhiseka Sri Prabu Rajasawarddhana. Namun, sejarah kemudian mencatat bahwa Sri Prabu Rajasawarddhana bukanlah pewaris takhta Majapahit yang bisa dibandingkan dengan Sri Prabu Kertawijaya dalam segala hal. Ia maharaja yang lemah. Gemilang kemewahan, sanjungan, dan penghormatan berlebihan telah menambah parah kelemahannya. Kenyataan kemudian menunjukkan betapa ia tidak cukup kuat menahan badai perlawanan yang timbul akibat kematian Prabu Kertawijaya.

Kerabat kerajaan yang menjadi anggota rajasabha (majelis raja) belum utuh mengakuinya sebagai maharaja Majapahit. Hal itu masih disusul oleh munculnya gelombang perlawanan dari putera-puteri, saudara, menantu, besan, dan para pengikut setia Prabu Kertawijaya sehingga terseretlah Sri Prabu Rajasawarddhana yang lemah itu ke dalam pusaran masalah yang membingungkan. Sebagai raja yang lemah dan berwawasan sempit, ia tidak tahu bagaimana cara mengatasi masalah yang sedang membelitnya. Tinta hitam sejarah kemudian mencatat, belum genap dua tahun berkuasa di atas takhta Majapahit, di tengah amukan badai yang bertiup dari segala arah, Sri Prabu Rajasawarddhana tiba-tiba hilang ingatan. Gila!

Para anggota rajasabha dan pejabat-pejabat kerajaan yang mendukung Sri Prabu Rajasawarddhana mulai cemas ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana maharaja Majapahit yang mereka dukung itu mulai sering mengomel dan tertawa sendiri. Mereka sadar, usaha apa pun yang akan mereka lakukan untuk menutupi kenyataan tidak akan bisa membendung berita-berita tentang sang maharaja yang hilang ingatan. Aib memalukan itu akhirnya menyebar sebagai berita menggemparkan ketika pecah peristiwa berdarah di Bangsal Manguntur saat diadakan pasewakan agung. Menurut para saksi mata, tanpa hujan tanpa angin, tanpa sebab dan tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Sri Prabu Rajasawarddhana mengamuk dan mengakibatkan beberapa orang pengawal dan dayang terbunuh.

Para putera dan menantu Sri Prabu Rajasawarddhana berusaha meredam berita dengan mengancam akan menghukum mati mereka yang hadir di pasewakan agung jika menyebar-nyebarkan peristiwa memalukan itu. Kemudian untuk menyembuhkan ingatan ayahandanya, mereka menghibur dan mengajak ayahandanya bercengkrama di atas perahu yang berlayar di segara (danau buatan) yang terletak di selatan kraton. Mereka berharap usaha itu akan berhasil menyembuhkan ayahandanya. Namun, tanpa terduga sang maharaja yang sudah hilang ingatan itu melemparkan dirinya ke tengah segara hingga tewas.

Menurut catatan, Sri Prabu Rajasawarddhana diperabukan dengan upacara besar. Abunya kemudian didharmakan di Sepang. Saat dilakukan upacara sraddha untuk menyucikan arwahnya, putera-puteri dan menantunya mengadakan pesta besar dengan persembahan perahu bunga (banawa sekar) yang indah dan peristiwa itu diabadikan sebagai kidung oleh Pu Tanakung. Sementara itu, untuk mengenang peristiwa kematiannya yang tragis, para kerabat kerajaan, terutama para keturunan Sri Prabu Kertawijaya memberinya gelar kebesaran yang bersifat mengejek, yaitu Bhre Pamotan Sang Sinagara (Jawa Kuno: Bhre Pamotan yang melemparkan diri ke segara).

Setelah kematian Sri Prabu Rajasawarddhana, Majapahit terseret ke dalam arus kekacauan yang membingungkan. Kutaraja Majapahit yang selama berbilang abad selalu tenang, aman, dan tenteram berubah menjadi tempat penuh penjarahan, perampokan, pencurian, penganiayaan, dan bahkan pembunuhan yang tak terkendali. Tragisnya, para pelaku kejahatan itu bukan hanya para bromocorah, melainkan yang tak kalah ganas dan brutal adalah para prajurit kerajaan yang terhimpit kemiskinan akibat tidak menerima upah. Majapahit benar-benar terpuruk dalam kekacauan dan ketidakpastian. Sementara itu, para pewaris takhta terus berselisih memperebutkan mahkota seolah tidak sadar bahwa tengara kebinasaan sedang mengintai mereka.

Setelah tiga tahun diombang-ambingkan kekacauan dan ketidakpastian tanpa maharaja, akhirnya para kerabat kerajaan, terutama yang menjadi anggota rajasabha, sadar bahwa apa pun yang terjadi Majapahit wajib memiliki maharaja. Para anggota rajasabha kemudian sepakat menunjuk putera Sri Prabu Kertawijaya yang lahir dari Rani Daha sebagai pewaris takhta, yakni Dyah Suryyawikrama Bhre Wengker. Dyah Suryyawikrama diangkat menjadi maharaja Majapahit dengan nama Abhiseka Hyang Purwawisesa.

Naiknya Hyang Purwawisesa ke puncak takhta Majapahit berhasil meredam gejolak. Namun, keadaan Majapahit benar-benar terpuruk dan membutuhkan perjuangan keras untuk menatanya kembali. Itu sebabnya, hampir seluruh waktu Hyang Purwawisesa digunakan untuk menata pemerintahan baru yang porak-poranda. Mula-mula ia tangani hal-hal yang terkait dengan pemeliharaan keamanan dan ketertiban di ibu kota. Setelah itu ia adakan perbaikan militer. Namun, usaha itu terbentur berbagai rintangan karena perekonomian buruk dan terutama mental pejabat yang keropos. Lantaran sibuk menata ibu kota yang sarat berisi pejabat berakhlak bejat dan berjiwa bobrok maka kerajaan-kerajaan bawahan yang jauh dari ibu kota tak terhiraukan. Kerajaan-kerajaan itu banyak yang diam-diam melepaskan diri dari Majapahit.

Menata kembali Majapahit yang dipenuhi pejabat berjiwa kerdil, berakhlak bejat, berjiwa bobrok, berwawasan sempit, dan berpandangan dangkal bukanlah pekerjaan yang ringan. Hari demi hari dilalui Hyang Purwawisesa dengan kerja keras yang sangat menguras tenaga. Usai berjuang keras selama hampir sepuluh tahun, Hyang Purwawisesa jatuh sakit dan akhirnya mangkat dalam usia yang belum setengah abad. Hyang Purwawisesa diperabukan dan dicandikan di dalam Puri.

Sepeninggal Hyang Purwawisesa tiba-tiba muncul Bhre Pandan Salas, seorang anak muda yang berambisi tinggi dan mamiliki banyak pengikut di ibu kota. Bhre Pandan Salas merasa berhak atas takhta Majapahit karena ayahandanya, Bhre Parameswara, merupakan suami Prabu Stri Suhita. Dalam sebuah musyawarah singkat yang dihadiri sebagian kecil anggota rajasabha, terutama para kerabat yang mendukungnya, disepakatilah bahwa Bhre Pandan Salas menjadi maharaja Majapahit menggantikan Hyang Purwawisesa.

Kemunculan Bhre Pandan Salas yang mendadak langsung menimbulkan badai perlawanan dari berbagai penjuru. Para kerabat kerajaan, terutama kekuatan yang mendukung keturunan Sri Prabu Kertawijaya, menolak pengangkatan Bhre Pandan Salas sebagai maharaja Majapahit. Akhirnya, tidak sampai dua tahun memerintah, terjadi kerusuhan besar yang menyebabkan Bhre Pandan Salas melarikan diri dari ibu kota.

Setelah Bhre Pandan Salas lari, rajasabha memutuskan yang berhak menjadi maharaja Majapahit adalah Dyah Suraprabhawa, putera Sri Prabu Kertawijaya dengan Rani Pandan Salas. Dyah Suraprabhawa saat itu sudah berusia setengah abad. Dyah Suraprabhawa naik takhta dengan gelar Sri Adi-Suraprabhawa Singhawikramawarddhana Giripati Prasutabhupatiketubhuta. Di bawah kepemimpinan Sri Adi-Suraprabhawa, keamanan dan ketenteraman ibu kota dapat dicapai. Namun seperti Hyang Purwawisesa, ia tidak dapat mencegah lepasnya kerajaan-kerajaan kecil yang jauh dari ibu kota.

Selama menduduki takhta Majapahit, Sri Adi-Suraprabhawa melanjutkan sejumlah kebijakan yang sudah dilakukan oleh ayahandanya, Sri Prabu Kertawijaya. Ia sadar bahwa jaringan kekuatan Islam yang sudah terbentuk harus lebih diperkuat. Itu sebabnya, tak lama setelah dilantik ia memanggil Pangeran Ali Rahmatullah, bupati Surabaya, dan kakaknya, Pangeran Ali Murtadho, Ratu Pandhita Gresik, ke Majapahit untuk membicarakan perbaikan hubungan antara pihak kerajaan dan kekuatan-kekuatan Islam di pesisir.

Tidak ada yang tahu apa isi pembicaraan Sri Adi-Suraprabhawa dengan Pangeran Ali Rahmatullah dan Pangeran Ali Murtadho. Orang hanya mengetahui dan mencatat bahwa pada awal kekuasaan Sri Adi-Suraprabhawa itu Pangeran Ali Murtadho dinaikkan kedudukannya dari imam masjid menjadi syahbandar di Gresik. Puteranya yang bernama Zainal Abidin diangkat menjadi adipati di Gresik. Puteranya yang lain yang bernama Yusuf Shiddiq diangkat menjadi adipati Siddhayu. Putera Pangeran Ali Rahmatullah yang bernama Pangeran Mahdum Ibrahim diangkat menjadi adipati Lasem. Selain itu, Raden Paku, cucu buyut mendiang Bhre Wirabhumi, diangkat menjadi nrpati di Giri dengan gelar Prabu Satmata (Jawa Kuno: nama Syiwa, Sang Girinatha, Raja Gunung).

Kebijakan lain yang dijalankan oleh Sri Adi-Suraprabhawa untuk meningkatkan hubungan baik dengan kekuatan Islam adalah mengangkat Raden Patah, saudaranya lain ibu, menjadi pecat tandha di Bintara, yakni pejabat bawahan adipati Demak, Lembusora. Raden Kusen, putera Ario Damar, kemenakannya yang belajar ilmu pemerintahan dan agama kepada bupati Surabaya, diangkat menjadi pecat tandha di Terung. Sri Adi-Suraprabhawa juga mengangkat Syaikh Suta Maharaja, saudaranya lain ibu, menjadi adipati Kendal. Bhattara Katwang, juga saudaranya lain ibu, adik kandung Hyang Purwawisesa, diangkat menjadi adipati Samarang.

Usaha Sri Adi-Suraprabhawa melanjutkan kebijakan ayahandanya ternyata dimanfaatkan oleh putera-puteri dan menantu Bhre Pamotan Sang Sinagara untuk menikamnya. Dengan mengulang kembali siasat lama – menyebarkan kasak-kusuk bahaya Islam dan kehancuran Majapahit – mereka berusaha menyusun kekuatan untuk menyingkirkan Sri Adi-Suraprabhawa dari takhta Majapahit. Demikianlah, saat merasa kekuatannya telah besar, putera-puteri dan menantu Bhre Pamotan Sang Sinagara melakukan pemberontakan. Ibu kota dibikin kacau. Sri Adi-Suraprabhawa melakukan perlawanan. Dengan tubuh penuh luka ia dan sebagian prajuritnya yang setia keluar dari ibu kota menuju Daha, namun ia mangkat di perjalanan.

Seperti sudah bisa diduga, yang menggantikan Sri Adi-Suraprabhawa sebagai maharaja Majapahit adalah Bhre Kretabhumi, putera Bhre Pamotan Sang Sinagara. Dengan dibantu saudara-saudaranya, Bhre Kretabhumi berusaha keras memantapkan kekuasaan sebagai maharaja Majapahit. Namun, tantangan dari kerabat kerajaan terutama dari keturunan Sri Prabu Kertawijaya dan Sri Adi-Suraprabhawa sangatlah keras. Ario Damar, adipati Palembang, tegas-tegas menyatakan tidak mengakui kekuasaan Bhre Kretabhumi. Tak lama sesudah itu Andayaningrat, adipati Pengging, menantu Sri Prabu Kertawijaya, ikut menyatakan tidak mengakui kekuasaan Bhre Kretabhumi.

Tindakan penguasa Palembang dan Pengging yang mewakili keturunan Sri Prabu Kertawijaya diikuti oleh Syaikh Suta Maharaja, adipati Kendal. Setelah itu Bhattara Katwang juga ikut menyatakan tidak mengakui kekuasaan Bhre Kretabhumi. Gerakan tidak mengakui kekuasaan Bhre Kretabhumi tampaknya terus bergulir diikuti oleh para penguasa daerah lain yang mendukung keturunan Sri Prabu Kertawijaya.

Menyadari perubahan situasi yang tidak menguntungkan, Bhre Kretabhumi berusaha mencegah agar sikap menolak kepemimpinannya itu tidak berlanjut. Untuk itu, ia melakukan upaya memecah kekuatan para penentang dengan siasat “belah bambu”. Ia menitahkan adipati Pengging dan adipati Demak yang bernama Lembusora untuk menyerang Samarang dengan tuduhan makar. Andayaningrat tidak berani menentang titah maharaja Majapahit kemudian mengirim pasukan Pengging untuk mendukung kekuatan Demak. Dalam sebuah serangan mendadak yang dilakukan pasukan Demak dan Pengging, Bhattara Katwang melarikan diri dari kadipaten dan terus diburu oleh prajurit-prajurit Demak. Sayyid Waly al-Islam yang ikut mempertahankan Samarang, terbunuh dalam pertempuran. Sementara Syaikh Suta Maharaja, adipati Kendal, terluka dalam pertempuran lari ke muara dan meninggal di perjalanan. Lembusora kembali ke kadipaten Demak dengan membawa kemenangan besar.

Peristiwa penyerbuan pasukan Demak yang dipimpin Lembusora ke Samarang dengan cepat menyulut amarah putera-puteri Sri Prabu Kertawijaya. Mereka paham Bhre Kretabhumi bukanlah maharaja yang kuat dan tangguh. Itu sebabnya, mereka serentak menyatakan bela pati atas kematian dua orang saudara mereka, Syaikh Suta Maharaja dan Bhattara Katwang. Ario Damar membawa armada besar dari Palembang dan mendaratkan pasukan di Samarang (tempat mendarat itu kemudian disebut Pedamaran). Raden Patah dengan dibantu sepupunya, Ki Wanasalam, memimpin orang-orang Bintara dan Glagah Arum untuk memberontak terhadap atasannya, adipati Demak, Lembusora. Raden Kusen membawa pasukan dari Terung dan Surabaya ke Demak. Bahkan Adipati Andayaningrat yang merasa bersalah tiba-tiba mengirimkan pasukan Pengging untuk ikut menghukum Lembusora.

Diserbu beramai-ramai dari segala penjuru, Lembusora tak mampu melawan. Seluruh prajurit pengawal sang adipati yang gagah berani tewas terbunuh tanpa sisa. Lembusora sendiri terbunuh di dalam Balai Kadipaten Demak. Lembu Peteng, putera Lembusora yang masih kecil, kemudian dipungut sebagai anak angkat oleh Raden Patah.

Setelah berhasil menguasai Kadipaten Demak, Ario Damar sebagai sesepuh keturunan Sri Prabu Kertawijaya menetapkan Raden Patah menggantikan kedudukan Lembusora menjadi adipati Demak. Sementara itu, karena Bhattara Katwang hanya memiliki seorang puteri yang belum menikah, yaitu Sekar Kedaton, maka dinikahkanlah puteri itu dengan puteranya, Raden Sahun, yang masyhur disebut Pangeran Pandanarang. Lantaran pernikahan itu, Raden Sahun menggantikan kedudukan mertuanya, Bhattara Katwang, sebagai adipati Samarang. Sementara itu, kedudukan adipati Kendal diberikan kepada putera Syaikh Suta Maharaja, Pangeran Gandakusuma.

Menghadapi kekuatan putera-puteri Sri Prabu Kertawijaya, yang terbukti bersatu dan dengan mudah meluluhlantakkan Demak dan menewaskan Lembusora, Bhre Kretabhumi sadar bahwa ia tidak cukup kuat melawan mereka. Itu sebabnya, ia melakukan siasat merangkul lawan dengan mengakui Raden Patah sebagai adipati Demak menggantikan Lembusora. Sebagai bukti pengakuannya, Raden Patah dinyatakan sebagai putera angkatnya dan dianugerahi gelar Arya Sumangsang.

Sesungguhnya, di balik tindakan menunjuk Arya Sumangsang sebagai putera angkatnya, Bhre Kretabhumi justru ingin menghancurkan adipati Demak yang baru itu. Caranya, dengan menerapkan siasat lama, yaitu menempatkan sang adipati Demak sebagai sasaran bidik fitnah. Pertama-tama dengan anugerah nama Arya Sumangsang itu (Jawa Kuno: bangsawan tersangkut, ningrat tempelan), kedudukan adipati Demak yang baru itu sudah jelas tampak berbeda dalam pandangan para bangsawan Majapahit.

Setelah itu, sesuai keahliannya, Bhre Kretabhumi menyebar kasak-kusuk menuduh adipati Demak yang berdarah campuran Majapahit-Sunda-Cina-Palembang sebagai calon maharaja yang bakal menghancurkan Majapahit dari dalam. Bahkan lafal Demak (Jawa Kuno: hadiah) yang semula bermakna “ganjaran untuk tunjangan keluarga raja”, telah disimpangkan menjadi lafal nDemak (Jawa Kuno: menyerang) yang bermakna “menyerang dengan mendadak”.

Nah, dengan siasat lamanya itu Bhre Kretabhumi merasa tenang karena kedudukan Arya Sumangsang sudah “terpaku,” tidak bisa bergerak dengan leluasa untuk mengembangkan kekuasaan. Sebab para penguasa di sekitar Demak – yang masih segar ingatannya pada peristiwa penyerbuan Lembusora – akan bersiaga melindungi diri dari kemungkinan serangan mendadak adipati Demak yang baru itu. Itu berarti, Arya Sumangsang tidak akan gegabah melakukan kekerasan bersenjata untuk merebut takhta Majapahit karena harus berhadapan dengan kadipaten-kadipaten di sekitarnya.

Selat Hormuz, 29 September 2005, 21:30LT

12. Sirna Hilang Kertaning Bhumi

Sebagai maharaja yang berwawasan sempit dan tidak memiliki pandangan jauh ke depan, Bhre Kretabhumi ternyata sangat ketakutan dengan kenyataan yang menunjukkan kuatnya “jaringan hijau” yang dibangun Sri Prabu Kertawijaya dan dilanjutkan oleh Sri Prabu Adi-Suraprabhawa. Itu sebabnya, ia kemudian terlihat lebih mengarahkan kewaspadaan terhadap perkembangan yang terjadi di kawasan pantai utara, di mana kekuatan Islam mulai berkembang kuat. Beribu-ribu telik sandhi disebarkannya untuk memantau segala gerak-gerik para bangsawan, saudagar, guru, nelayan, pedagang kecil, bahkan tukang dan kuli yang rumahnya dekat surau dan pusat-pusat perdagangan orang-orang muslim.

Kewaspadaan berlebihan Bhre Kretabhumi terhadap orang-orang muslim di pantai utara ternyata membuatnya lengah. Ia menjadi sangat mengabaikan perkembangan di pedalaman. Sedikit pun ia tidak mengetahui jika di daerah pedalaman diam-diam sedang terjadi penyusunan kekuatan besar-besaran yang dilakukan oleh Dyah Ranawijaya, putera Sri Adi-Suraprabhawa, yang merasa lebih berhak atas takhta Majapahit. Dyah Ranawijaya tidak sekadar berambisi menuntut hak sebagai pewaris takhta, tetapi yang tak kalah mengerikan, ia juga dirasuk dendam kesumat terhadap Bhre Kretabhumi yang dianggapnya telah menjadi penyebab utama kematian ayahandanya.

Api dendam yang membakar jiwa dan pikiran Dyah Ranawijaya meledak menjadi malapetaka besar bagi Majapahit. Itu terlihat saat ia dengan seratus ribu prajurit datang ke ibu kota untuk mengambil kembali haknya atas takhta Majapahit yang sudah dirampas Bhre Kretabhumi. Dyah Ranawijaya dengan dendam kesumat tak bertepi menyerbu dan melakukan kebiadaban tak terbayangkan. Dikatakan kebiadaban tak terbayangkan sebab dalam penyerbuan itu bala tentara Daha yang dipimpin oleh Dyah Ranawijaya sendiri telah melibatkan para kawula alit untuk menjarah ibu kota.

Keterlibatan kawula alit dalam penyerbuan biadab itu tidak bisa dinilai lain, kecuali sebagai peristiwa munculnya kawanan setan berwujud manusia dari relung-relung bumi yang gelap gulita. Kemunculan kawanan manusia setan yang bangga ketika merusak kebudayaan, menista tradisi, menginjak-injak hukum, menghancurkan tatanan nilai-nilai, dan melampiaskan nafsu yang tak kenal batas.

Menurut ingatan warga ibu kota yang selamat, peristiwa biadab yang menenggelamkan ibu kota Majapahit ke dalam kobaran api dan penjarahan dahsyat itu berlangsung sangat mencekam. Mula-mula berlangsung pertempuran sengit antara pasukan Majapahit dan pasukan Daha di luar dinding baluwarti. Suara gemerincing senjata yang beradu terdengar menggiriskan karena diiringi jerit kesakitan dan lolongan kematian. Ketika pasukan Majapahit terdesak dan bertahan di dalam baluwarti, terdengar suara benturan benda-benda keras seperti suara orang menumbuk padi di lesung. Tak lama kemudian robohlah dinding baluwarti dengan suara gemuruh, diikuti oleh serbuan pasukan Daha yang mengalir seperti kawanan semut memasuki ibu kota.

Pertempuran berlangsung sengit. Pasukan Majapahit berusaha bertahan dengan menghadang gerak maju pasukan Daha setapak demi setapak. Jengkal demi jengkal tanah dipertahankan dengan darah. Ketika pertempuran meluas ke dalam Bangsal Manguntur, tempat para pengawal Bhre Kretabhumi mengadu nyawa untuk menyelamatkan junjungannya, terjadilah peristiwa yang tak pernah terbayangkan: kerumunan-kerumunan kawula alit di antara kalangan hina papa memasuki ibu kota bagai kawanan hewan buas haus darah. Dengan dipimpin satu dan dua prajurit Daha, sambil berteriak-teriak dengan caci-maki yang kasar, mereka menyulutkan api kerumah-rumah dan semua jenis bangunan yang ada. Hanya dalam hitungan detik ibu kota Majapahit tenggelam ke dalam kobaran lautan api yang membara dan menjilat-jilat ke langit.

Penghuni ibu kota yang tak pernah menduga bakal terjadi malapetaka laknat itu hanya kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Rumah mereka luluh lantak dimangsa api. Harta benda mereka dijarah dengan beringas. Di tengah kebingungan itu berpuluh ribu warga, beribu-ribu prajurit, beribu-ribu nayakapraja, beratus-ratus punggawa, beratus-ratus pejabat tinggi, beratus-ratus keluarga maharaja dan bahkan maharaja sendiri terpanggang binasa di tengah lautan api.

Selama tiga hari tiga malam ibu kota Majapahit dimangsa keganasan api. Menjelang hari keempat api mulai padam. Kesenyapan dan kesunyian pun menggelar permadani hitam yang melingkupi reruntuhan bekas ibu kota maha-kerajaan itu. Sejauh mata memandang hanya tumpukan abu hitam dan asap tipis yang mengepul di antara mayat manusia dan bangkai binatang yang hangus meranggas. Sebuah citra kematian yang mencekam dan menakutkan. Di tengah kesenyapan dan kesucian mahakuta yang pernah menjadi kebanggaan itu, para kawi menggubah syair dan kidung ratapan dengan mengguratkan tanah (pena batu) di atas karas (papan batu) yang melukiskan malapetaka itu dengan ungkapan: “Sirna Hilang Kertaning Bhumi” (sirna dan hilang maharaja Kretabhumi) dan “Sunya Nora Yuganing Wwang” (kosong tiada anak manusia), yakni menandai tahun 1400 Saka ketika bencana menggiriskan itu terjadi.

Dengan binasanya Bhre Kretabhumi dan luluh lantaknya ibu kota Majapahit, Dyah Ranawijaya memang berhasil melampiaskan dendam kesumatnya dan merebut takhta Majapahit. Dengan bangga ia mengangkat diri menjadi maharaja Majapahit. Namun seiring dengan naik takhtanya Dyah Ranawijaya, fajar kejayaan Majapahit yang pernah bersinar gemilang telah surut memasuki sandyakala. Panji-panji surya Majapahit yang pernah berkibar di tujuh samudera telah berserpihan menjadi robekan-robekan kain tak bermakna. Pendek kata, ibarat rajawali tua yang telah patah kedua sayapnya, Majapahit di bawah Dyah Ranawijaya tidak mampu lagi terbang ke angkasa memperlihatkan keperkasaan dan kewibawaannya.

Sesungguhnya, pudarnya keperkasaan dan kewibawaan Majapahit tidak terlepas dari para pewaris takhta kekuasaan yang makin lama makin lemah seperti Bhre Pamotan Sang Sinagara, Bhre Kretabhumi, dan Dyah Ranawijaya. Para pewaris takhta yang hidup di tengah kemewahan dan sanjungan itu tidak saja menjadi lemah, tetapi wawasan mereka pun sempit. Mereka tidak lagi memiliki wawasan luas dan pandangan jauh ke depan seperti pendahulunya. Mereka seolah-olah tidak sadar jika negara yang mereka warisi adalah sebuah kekaisaran maharaksasa yang memiliki wilayah membentang dari Lamuri di barat hingga Wuanin di timur dan solor di utara.

Sejarah kebesaran Majapahit akhirnya mencatat, hanya Sri Prabu Kertawijaya seoranglah maharaja terakhir yang memiliki wawasan luas dan pandangan jauh ke depan. Setelah ia mangkat, para penggantinya sekadar raja-raja yang lemah. Mereka naif dan kekanak-kanakan akibat hidupnya dilingkari kemewahan, kemuliaan, sanjungan, dan puja-puji berlebihan. Mereka tenggelam dininabobokkan lingkungan laknat yang sarat dengan penjilat. Kecelakaan sejarah pun akhirnya menjadi keniscayaan ketika maharaja yang mewarisi takhta Majapahit itu dilingkari pejabat-pejabat berjiwa kerdil, bebal, sempit wawasan, dan dangkal pandangan. Pejabat-pejabat yang hanya pintar menjilat, pandai menyanjung, dan piawai dalam menyuguhkan kemewahan kepada maharajanya.

Dyah Ranawijaya adalah salah satu di antara pewaris takhta Majapahit yang hidup dilingkari pejabat-pejabat berjiwa kerdil, berwawasan sempit, dan berpandangan dangkal. Ia hidup dilingkungi pejabat-pejabat bebal. Akhirnya, tak jauh berbeda dengan pejabat-pejabat yang mengitarinya, Dyah Ranawijaya pun kemudian menjadi maharaja berjiwa kerdil yang sempit wawasan dan dangkal pandangan. Ia sesungguhnya tidak memiliki bekal kemampuan apa pun untuk menerima warisan takhta Majapahit. Ia hanya memiliki bekal ambisi yang kuat untuk menduduki takhta kerajaan. Sejarah akhirnya mencatat Dyah Ranawijaya tidak tahu apa yang seharusnya diperbuat seorang maharaja ketika ia berhasil duduk di atas singgasana Majapahit.

Tinta hitam sejarah kesuraman Majapahit mencatat pula, beberapa waktu setelah berhasil meluluhlantakkan ibu kota, Dyah Ranawijaya mengangkat diri sebagai maharaja Majapahit menggantikan Bhre Kretabhumi. Namun, sebagai seorang putra yang sejak kecil tinggal di pedalaman dan dilingkari oleh pejabat-pejabat berjiwa kerdil, ia pun tidak pernah memiliki wawasan berpikir dan pandangan yang lebih jauh dari pemandangan yang disaksikannya sehari-hari. Ia tidak pernah melihat pemandangan lebih jauh dari puri kediamannya yang dilingkari lembah, sawah, sungai, hutan, dan gunung. Ia tidak pernah memiliki kesadaran bahwa Majapahit adalah negara maharaksasa yang wilayahnya jauh lebih luas dari sekedar Daha dan Janggala.

Dyah Ranawijaya pada akhirnya menyadari dirinya sesungguhnya tidak mampu menunjukkan keperkasaan dan kewibawaan sebagai maharaja Majapahit yang agung seperti leluhurnya. Hari-hari dari hidupnya justru selalu dihantui rasa curiga dan ketakutan jika takhta yang sudah didudukinya dirampas oleh sanak kerabatnya.

Diburu rasa takut kehilangan takhta, tanpa pemikiran yang matang, Dyah Ranawijaya akhirnya membuat keputusan konyol memindahkan ibu kota Majapahit ke pedalaman, yakni ke Kadhiri, ibu kota Daha. Keputusan konyol Dyah Ranawijaya itu terungkap saat ia dinobatkan menjadi maharaja Majapahit di Kadhiri dengan bangga ia menggunakan gelar kebesaran Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, Jiwanendradhipa ring Daha, Janggala, Kadhiri.

Jelas sudah, betapa dengan gelar kebesaran sebagai Jiwanendradhipa raing Daha, Janggala, Kadhiri itu, di dalam pandangan Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, Majapahit yang dikuasainya adalah kerajaan kecil yang wilayahnya tidak lebih luas dari Kahuripan, Daha, Janggala, dan ibu kota Kadhiri. Semua itu menunjukkan betapa sesungguhnya ia dengan kekerdilan jiwa dan kepicikan wawasan telah berusaha memperkuat takhta kekuasaannya di pedalaman, ibarat ulat masuk ke dalam kepompong.

Perpindahan ibu kota kerajaan ke pedalaman menjadi titik balik sejarah yang mengakibatkan Majapahit terempas tanpa daya di palagan sejarah akibat tidak mampu menhadapi tiupan dahsyat angin perubahan. Sebab, perpindahan ibu kota ke pedalaman dengan tata pemerintahan dipegang oleh raja dan pejabat-pejabat asal pedalaman yang berwawasan sempit dan berpandangan dangkal mengakibatkan perubahan mendasar dalam tata pemerintahan, terutama kerangka berpikir para pemegang kekuasaan yang didasarkan pada sifat-sifat petani pedesaan.

Menurut catatan-catatan termasyhur para kawi, selama berpuluh windu Majapahit tumbuh dan berkembang sebagai kekuatan laut yang perkasa dan mampu mempersatukan negeri-negeri yang terhampar di samudera raya. Panji-panji Majapahit berkibar gagah di atas kapal-kapal yang mengarungi tujuh samudera. Para kaisar Cina di utara dan para maharaja di Bharatnagari mengakui wilayah kedaulatan Majapahit. Armada-armada dagang yang hilir mudik dari selatan ke utara wajib membayar pajak saat singgah di pelabuhan-pelabuhan Majapahit. Tidak satu pun kapal perang kerajaan lain yang berani memasuki perairan Majapahit tanpa izin!

Kini, setelah ibu kotanya dipindahkan ke pedalaman, Majapahit tiba-tiba berubah menjadi negeri yang bertumpu pada kekuatan pertanian. Majapahit tiba-tiba terkunci di daratan. Armada Majapahit yang pernah jaya di samudera raya tiba-tiba terbengkalai, keropos, berkarat, dan menjadi ronsokan tak berharga. Penanda batas wilayah Majapahit yang berupa gelombang ganas samudera raya, tiba-tiba berubah menjadi lembah subur yang membentang di sepanjang aliran Sungai Brantas yang dibatasi Gunung Kamput (Kelud), Gunung Anjasmara, Gunung Arjuna, Gunung Mahameru, Gunung Lawu, Gunung Wilis, dan sebagian kecil pantai utara Jawadwipa.

Akibat kepindahan ibu kota Majapahit yang diikuti perubahan tatanan pemerintahan yang semula bersifat kelautan menjadi pertanian, ternyata mendatangkan peristiwa-peristiwa yang sangat menyedihkan. Dikatakan menyedihkan karena seiring pernyataan maharaja Majapahit yang memaklumatkan wilayah kekuasaannya hanya mencakup Kahuripan, Daha, Janggala, dan Kadhiri; kerajaan-kerajaan bawahan yang berada di luar wilayah empat tersebut merasa tidak lagi sebagai bagian dari wilayah Majapahit. Akibatnya, kerajaan-kerajaan bawahan yang selama berbilang abad tunduk, patuh, dan setia kepada Majapahit beramai-ramai melepaskan diri dari pemerintahan pusat yang sudah tak bergigi itu.

Bagaikan rajawali tua dengan kedua sayap patah, Sri Prabu Natha Girindrawarddhana yang picik dan kurang cerdas itu hanya bisa kebingungan ketika dipaksa menyaksikan satu demi satu wilayah yang semula dianggapnya bagian Majapahit, memisahkan diri secara diam-diam dari induknya. Ia tidak paham kenapa hal itu bisa terjadi. Ia hanya tertegun-tegun ketika menerima laporan bahwa para raja muda Wirabhumi, Lumajang, Wengker, Kahuripan, Matahun, Pawanuhan, Mataram, Pajang, Pengging, Demak, Giri, Gresik, Siddhayu, Kendal, Samarang, dan Lasem menyatakan kerajaannya berdiri sendiri-sendiri sebagai kekuasaan yang berdaulat dan tidak lagi tunduk kepada maharaja Majapahit.

Di tengah hiruk kerajaan-kerajaan bawahan yang memisahkan diri, bermunculanlah kadipaten-kadipaten gurem yang dengan lantang menyatakan tidak terikat lagi baik dengan Majapahit maupun dengan kerajaan-kerajaan bawahannya. Ibarat bangkitnya kembali bentuk kekuasaan purba yang dipimpin para raka, tumbuhlah kadipaten-kadipaten itu menjadi daerah-daerah guram yang merdeka dan berdaulat seperti Kadipaten Puger, Babadan, Tepasana, Kedhawung, Garudha, Dengkol, Banger, Gending, Panjer, Jamunda, Sengguruh, Hantang, Srengat, Balitar, Rawa, Kampak, Pesagi, Mahespati, Pasir, Uter, Wirasari, Wedi, Taji, Bojong, Jagaraga, Tedunan, Jaratan, Surabaya, Kajongan, Pati, dan Rajegwesi, mengibarkan panji-panji kebesaran masing-masing. Keindahan Majapahit pada masa silam yang berhasil merangkai untaian zamrud hijau laksana mahkota yang mengagumkan, kini berantakan dan tinggal menjadi serpihan-serpihan zamrud retak yang lepas dari tali pengikatnya.

Seiring berserpihannya Majapahit menjadi kerajaan kecil dan kadipaten gurem yang merdeka dan berdaulat, terperosoklah nilai-nilai keagungan dan keluhuran manusia ke tingkat yang paling menjijikkan. Para penguasa kerajaan, terutama penguasa kadipaten gurem, tidak berbuat sesuatu yang pantas untuk meningkatkan harkat, martabat, dan wibawa manusia melalui kekuasaan yang telah mereka genggam. Hari-hari dari kehidupan para penguasa itu nyaris diwarnai perjamuan dan pesta pora besar menikmati lezatnya makanan, merdunya gamelan, kerasnya tuak, gemerincingnya uang, mahalnya hadiah-hadiah, dan hangatnya tubuh para perempuan penghibur.

Entah bodoh, entah berwawasan sempit, entah tidak memiliki pengetahuan pemerintahan, atau entah tidak mampu mengukur kemampuan diri, para pemimpin kadipaten gurem itu secara seragam memiliki anggapan bahwa kebesaran dan keagungan dirinya tergantung pada kemampuan di dalam menjamu dan membayar serta memberi hadiah para kepala desa, kepala begal, bromocorah, dan dukun-dukun yang mendukung kekuasaan mereka. Untuk memperkuat daerah kekuasaan, mereka mengirim hadiah-hadiah mahal ke padepokan-padepokan, asrama-asrama, dan perguruan-perguruan yang kebanyakan dipimpin oleh ruhaniwan-ruhaniwan mata duitan.

Akibat kepicikan dalam memaknai kebesaran dan keagungan seorang penguasa, yang terjadi sebagai keniscayaan adalah kesengsaraan dan penderitaan dari warga yang berkedudukan sebagai kawula alit yang rendah dan hina. Sebab, seiring hingar bingarnya perjamuan, pesta pora, gemerincing uang suap, dan hamburan hadiah-hadiah, tergencetlah para kawula alit dengan berbagai jenis pajak baru yang mencekik.

Entah bodoh, entah kejam, entah bengis, entah tidak memiliki hati nurani, entah setan berwujud manusia, para penguasa kadipaten gurem itu memperkenalkan berbagai jenis pajak yang sebelumnya tidak pernah dikenal oleh penduduk untuk memenuhi segala hajat mereka. Menurut catatan juru manghuri Terung, para penguasa memungut berbagai jenis pajak kepada warganya secara semena-mena berupa pajak tanah (pajeg), pajak pekarangan (karang kopek), pajak rumah tangga (pacumpleng), pajak penghasilan (upajiwa), pajak keamanan (rajabhaja), pajak jalan (kerigaji), pajak untuk upacara-upacara kerajaan (rajawali), pajak pembangunan rumah pejabat (taker turun), pajak cacah jiwa (peniti), pajak hajatan pejabat (pasumbang), pajak kunjungan pejabat (pajidralan), pajak perkenalan pejabat (uwang bekti), dan seterusnya.

Sementara itu, bagi warga miskin yang tidak memiliki tanah dan rumah dikenakan pajak dalam bentuk kerja-wajib tanpa bayar, seperti menjaga rumah pejabat (kemit), melayani pejabat (pancen), membantu urusan rumah tangga pejabat (ayeran), membuat dan memperbaiki jalan umum (krigaji), mengangkut barang milik pejabat (gladhag). Bahkan tak jarang di antara kalangan bernasib sial ini yang harus menyetor anak-anaknya kepada penguasa untuk dijadikan budak, wadal, dan tumbal.

Kesengsaraan dan penderitaan kawula alit yang sudah mengering diisap berbagai jenis pajak, ternyata masih diikuti oleh kesengsaraan dan penderitaan yang tak kalah pedihnya. Hal itu tergambar ketika para penguasa yang mabuk kekuasaan dengan kepercayaan diri yang berlebihan memperluas wilayah kekuasaannya dengan merebut wilayah kadipaten guram lain.

Genderang perang mereka tabuh. Pedang dan tombak mereka acungkan ke atas. Saat sangkakala perang ditiup, pekik peperangan pun mengumandang membelah angkasa. Dan apa yang terjadi setelahnya sudah bisa diduga, yaitu tumpahnya darah para prajurit kecil yang membasahi bumi. Tidak ada tangis dan penyesalan dari para penguasa atas terbunuhnya beribu-ribu prajurit, sebab telah tertulis pada keniscayaan sejarah bahwa di tengah gegap gempita peperangan yang menitikkan air mata duka cita adalah para kawula alit. Bukankah para prajurit yang terbunuh dalam perang – dari pihak mana pun – sesungguhnya merupakan putera-putera terbaik dari para kawula alit, yang mencari sesuap nasi dengan menjadi tentara?

Hari, pekan, bulan, tahun, dan windu yang membentang dalam kehidupan manusia yang hidup di bekas wilayah Majapahit terlewati tanpa kedamaian, tanpa pengayoman, tanpa keamanan, bahkan tanpa tujuan yang pasti. Yang tersuguh sebagai hidangan utama sehari-hari bagi mereka yang hidup di rentangan waktu itu tidak ada yang lain, kecuali kekacauan demi kekacauan yang sambung menyambung dan susul-menyusul seperti tanpa akhir. Api peperangan berkobar dimana-mana. Penjarahan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, dan pembunuhan membadai tanpa kendali dan melanda setiap hunian manusia.

Tidak ada setetes pun tinta sejarah yang mencatat bagaimana kesengsaraan dan penderitaan yang dialami manusia di rentangan kelabu “Sandyakala Majapahit” itu. Tidak ada catatan kesengsaraan dan penderitaan kalangan ningrat berdarah biru, apalagi kalangan kawula alit berdarah hitam yang menempati kedudukan golongan sudra yang hina, nista, dan papa. Lembar-lembar sejarah hanya mencatat bagaimana keagungan, kemuliaan, keperkasaan, serta kehebatan para raja dari kerajaan kecil dan para penguasa kadipaten gurem yang saling pamer kekuatan dalam bertarung, bertempur, saling bunuh untuk memperebutkan takhta kekuasaan dengan membinasakan saudara-saudaranya.

Di tengah hiruk pikuk peperangan yang berkobar, di tengah intaian hantu kematian, di tengah kesibukan para prajurit membinasakan musuh-musuhnya, terjadilah hiruk kebinasaan yang tak kalah dahsyat dibandingkan medan perang. Kawanan bromocorah, perampok, lanun, maling, penjarah, dan bajingan tengik dengan liur menetes laksana binatang buas terlihat berkeliaran mencari mangsa. Manusia-manusia berjiwa binatang itu dengan kelicikan dan kebuasan melebihi hewan liar, menyerbu desa-desa untuk menganiaya, memperkosa, merampas, membakar, dan membunuh kawula alit yang lemah dan tidak memiliki pelindung.

Di rembang senja usianya yang uzur Majapahit benar-benar menjadi tumpukan sampah raksasa yang berisi manusia-manusia berakhlak bejat dan berjiwa bobrok. Manusia-manusia tengik yang tidak mengenal nilai-nilai luhur kemanusiaan. Manusia-manusia jelata yang muncul dari lumpur nista dengan impian tinggi di langit menggapai bintang-bintang. Ibarat pepatah katak hendak menjadi lembu, demikianlah citra diri manusia-manusia berjiwa kerdil itu memenuhi cakrawala Majapahit. Dan saat manusia-manusia rendah itu membusuk dikerumuni lalat-lalat kejahilan, berkumandanglah kidung pralaya Majapahit yang dinyanyikan iring-iringan prajurit Bhattara Yama.

Orang bijak berkata: runtuhnya sebuah bangsa selalu ditandai oleh jungkir baliknya nilai-nilai tatanan kehidupan yang dianut bangsa itu. Tengara kehancuran Majapahit diawali oleh tanda jungkir baliknya nilai-nilai dan tatanan kehidupan yang pernah dijunjung dan dimuliakan di situ.

Kejungkirbalikan nilai-nilai dan tatana kehidupan itu sendiri mulai terlihat pada peristiwa kematian para brahmin, yogi, bagawan, acarya, wiku, muni, rishi, dan guru suci yang agung tanpa penerus yang sesuai. Setelah kepergian mereka, yang muncul sebagai pengganti adalah para pewaris dari kalangan orang kebanyakan, yang dengan pengetahuan rendah, wawasan sempit, dan pandangan dangkalnya menapasi kehidupan asrama-asrama, padepokan-padepokan, vihara-vihara, dan perguruan-perguruan yang unggul.

Jika dicermati lebih rinci, kemunculan gelombang kebangkitan kalangan jelata ke pentas sejarah Majapahit bermula dari lingkaran anggota chakra, yakni penganut Bhairawa-Tantra. Berbeda dengan Weda yang melarang kaum sudra melakukan upacara pemujaan, membaca Weda atau mengungkap rahasia mantra Waidika, di dalam pemujaan Tantrika yang dilakukan penganut Bhairawa Tantra tidak dikenal perbedaan golongan. Itu sebabnya, pada masa kekuasaan Prabu Jayanegara pernah tampil seorang dari golongan jelata menjadi pemimpin chakra: Sang Chakreswara.

Berawal dari Sang Chakreswara ini, selama puluhan dan bahkan ratusan tahun, jumlah golongan jelata yang menempati kedudukan penting di lingkaran anggota chakra makin tak terhitung jumlahnya. Bahkan pada gilirannya tidak sekadar di lingkaran anggota chakra, golongan jelata ini pun akhirnya muncul di berbagai sisi kekuasaan Majapahit, yang hal itu mulai kentara pada masa kekuasaan Prabu Stri Suhita dan dilanjutkan oleh Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana.

Pada masa Sri Prabu Natha Girindrawarddhana berkuasa, keberadaan golongan jelata ini sudah memenuhi hampir seluruh sisi kehidupan Majapahit laksana kawanan semut mengerumuni bangkai. Dan seiring bergulirnya waktu sandyakala bagi Majapahit, bermunculan di panggung sejarah para nayakapraja, brahmin, rishi, yogi, wiku, acarya, guru suci, bahkan para cerdik cendikia dari kalangan jelata yang menganut nilai-nilai jelata.

Kehidupan telah mengajarkan bahwa keberadaan kalangan jelata senantiasa ditandai oleh ciri-ciri khas jelata. Pertama-tama, jika mereka menduduki jabatan yang tinggi, mereka akan segera melupakan asal-usul kelahirannya. Kemudian mereka akan mencari-cari cara bagaimana menempatkan keberadaan dirinya sebagai keturunan bangsawan tinggi. Untuk itu mereka tidak segan-segan bersikap lebih bangsawan dibanding bangsawan berdarah biru yang sebenarnya. Dan kenyataan menunjukkan betapa seluruh adipati gurem yang suka memeras kawula alit dan gemar perang itu senantiasa mengakui diri sebagai trah Majapahit dan bersikap lebih feodal dibandingkan pangeran Majapahit.

Kenyataan pun membuktikan bahwa setinggi apa pun jabatan yang bisa diraih oleh kalangan jelata, tidak akan membuat wawasan mereka lebih luas dan tidak pula membuat pandangan mereka bisa menembus jauh ke depan. Sejauh-jauh pandangan mereka menembus ke depan, hanya dirinya pribadi, keluarganya, dan desanya saja yang terbayang. Sebesar dan seagung apa pun kemuliaan yang bisa mereka peroleh, tidak akan membuat kerangka pikir mereka berubah lebih luas dan lebih jauh.

Para bijak Majapahit berkata, mereka itu sudah dibentuk alam untuk menjadi kalangan jelata yang teguh memegang prinsip “bagaimana aku bisa memanfaatkan segala sesuatu untuk kepentingan diriku”. Mereka orang-orang yang selalu menginginkan orang lain berbuat sesuatu yang berguna untuk kepentingannya. Sementara, mereka tidak pernah peduli dengan nasib orang lain. Itu sebabnya, demi jabatan, mereka tidak segan-segan menyuguhkan istri dan anak-anaknya demi memuaskan junjungannya.

Entah benar entah tidak, entah berdasarkan kenyataan entah hanya isapan jempol, yang jelas kata-kata para bijak Majapahit seperti mengharuskan orang untuk mengiyakan hal tersebut. Kenyataan sejarah mencatat, seiring menjamurnya kalangan jelata yang memenuhi seluruh sisi kehidupan Majapahit, tiba-tiba saja seluruh kegemilangan kerajaan maharaksasa itu memudar. Para muni, brahmin, yogi, acarya, wiku, guru suci, dan kaum cerdik cendikia yang muncul dari kelangan jelata ternyata menunjukkan kecenderungan yang sama yakni kurang menganggap penting keberadaan bahasa Sansekerta sebagai bahasa ilmu. Sesungguhnya mereka adalah pemalas yang enggan bersusah payah mempelajari bahasa Sansekerta.

Tidak bisa diingkari bahwa pengabaian terhadap bahasa ilmu telah menjadi tengara awal bagi runtuhnya peradaban sebuah bangsa. Memudarnya pemahaman atas bahasa Sansekerta telah menjadikan kemustahilan bagi lahirnya manusia-manusia agung yang unggul untuk menghadapi zamannya. Sebaliknya yang terjadi adalah keniscayaan bagi lahirnya manusia-manusia berjiwa kerdil yang berwawasan sempit, yang memiliki kerangka berpikir otak-atik mathuk, yang berbicara dengan bahasa jelata, yang memandang dunia hanya sebatas diri pribadi dan lingkungan sekitarnya, yang mudah berputus asa dalam menghadapi kesulitan, dan yang tidak memiliki keyakinan diri kuat. Ujung dari kemunculan manusia-manusia jelata itu di panggung kekuasaan adalah tergelarnya sebuah lakon yang sangat mengerikan dalam sejarah kehidupan manusia. Laksana binatang buas yang kelaparan; mereka menjelmakan diri menjadi kawanan ganas yang gemar memangsa sesamanya.

Selat Hormuz, 30 September 2005, 20:30LT

13. Pertarungan Rajawali

Ketika kegelapan bagaikan permadani hitam menyelimuti langit jiwa penduduk Majapahit, kematian bergentayangan di sudut-sudut kehidupan dengan kepak-kepak sayap yang menggemuruh. Di tengah ratap tangis anak-anak dan perempuan yang meminta tolong, berkeliaranlah para prajurit yang melambai-lambaikan panji kemenangan dan menyanyikan lagu perang dengan penuh kegembiraan. Itulah gambaran sehari-hari dari kehidupan anak-anak manusia yang tinggal di tengah reruntuhan Kerajaan Majapahit; kecemasan, ketakutan, kepanikan, dan kematian saling berpacu dengan kegembiraan, kemenangan, kekuasaan, dan keangkuhan.

Di tengah reruntuhan Majapahit, ketika adipati-adipati gurem saling berebut kekuasaan bagaikan lalat-lalat memperebutkan bangkai, di atas angkasa sesungguhnya sedang bertarung sengit dua ekor rajawali yang saling menyambar dengan pekikan-pekikan ganas memenuhi langit. Dua rajawali yang bertarung di atas gumpalan awan kelabu Majapahit itu adalah Raden Kusen, adipati Terung, dan Pu Mahodara, patih Majapahit.

Hingar bingar suasana perang pertarungan dua rajawali perkasa. Itulah yang dirasakan Abdul Jalil dan rombongan ketika datang ke Kadipaten Terung. Kibaran umbul-umbul dan panji-panji, kilatan pedang, ringkik kuda, nyanyian kemenangan, dan iring-iringan prajurit terlihat memenuhi penjuru kadipaten. Para prajurit gagah perkasa itu adalah pasukan-pasukan pilihan yang datang dari lima belas kadipaten untuk memberikan dukungan kepada pihak Terung. Menurut rencana, pasukan akan menyerbu Japan, pangkalan utama yang dijadikan pertahanan Pu Mahodara dalam menangkis serangan pasukan Terung.

Menurut Menak Lampor, adipati Tepasana yang memihak Terung, patih Majapahit yang bernama Mahodara itu sesungguhnya berasal dari kalangan sudra papa yang berubah menjadi jahat ketika beroleh kedudukan sebagai patih. Asal usul patih itu dari daerah Propo, Pamadegan, di Pulau Madura. Dia merupakan abdi dari Pangeran Menak Sunaya, putera Ario Damar dengan Dewi Wahita. Lewat jasa Pangeran Menak Sunaya, abdi yang bernama Udara (perut) itu menjadi hamba pembawa kasut Sri Prabu Adi-Suraprabhawa.

Karena selalu dekat maharaja, diam-diam Udara belajar banyak tentang pemerintahan. Lantaran ia pandai menjilat dan menyenangkan hati maharaja maka jabatannya dinaikkan setapak demi setapak hingga menjadi nayakapraja. Udara dikenal sebagai abdi setia yang merelakan apa pun demi kesenangan maharaja. Bahkan, saat terjadi kekacauan di ibu kota akibat pemberontakan Bhre Kretabhumi, Udara dan prajurit-prajurit asal Madura dengan setia mengawal Sri Prabu Adi-Suraprabhawa hingga pengungsian ke Daha.

Karena Sri Prabu Adi-Suraprabhawa mangkat dalam perjalanan maka Udara dan kawan-kawannya kemudian mengabdikan diri kepada Dyah Ranawijaya, putera junjungannya. Rupanya bintang Udara sedang bersinar terang sehingga dia menduduki jabatan patih Daha. Jabatan itu meningkat menjadi patih Majapahit dan namanya diganti menjadi Mahodara segera setelah Dyah Ranawijaya dinobatkan sebagai maharaja Majapahit dengan gelar Sri Prabu Natha Girindrawarddhana. Untuk memperkuat kedudukan, Mahodara menikahkan puteranya, Menak Supethak, dengan puteri Sri Prabu Natha Giridrawarddhana yang bernama Ratu Kadhiri.

Setelah menikahi puteri Sri Prabu Girindrawarddhana, Menak Supethak diangkat menjadi adipati Garudha (Pasuruan). Menak Supethak kemudian menikah lagi dengan puteri Menak Pentor, Yang Dipertuan Wirabhumi. Untuk lebih memperkuat kedudukan, Menak Supethak menikahi cucu Yang Dipertuan Pamadegan, Menak Sunaya. Setelah itu saudara Menak Supethak diangkat menjadi adipati Panjer, Japan, dan Keniten. Bahkan, anak Menak Supethak yang masih belum cukup umur diangkat menjadi adipati Dengkol.

Kedudukan Patih Mahodara makin lama makin kuat dan bahkan lebih kuat dibandingkan Sri Prabu Natha Girindrawarddhana yang terbuai kemewahan, sanjungan, dan puja-puji. Sebagai pejabat yang berkuasa menata dan menjalankan pemerintahan, Patih Mahodara menempatkan orang-orang yang setia kepadanya di berbagai kedudukan penting sehingga kedudukan maharaja Majapahit pada dasarnya hanya sebagai boneka yang tak memiliki kekuatan apa pun, kecuali menjadi lambang kekuasaan. Namun, keleluasaan sang patih di dalam menata dan menjalankan roda pemerintahan Majapahit itu menghadapi “batu sandungan” yang sangat menyusahkan.

Raden Kusen, adipati Terung, cucu Sri Prabu Kertawijaya dan juga sepupu Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, adalah satu-satunya pejabat kerajaan yang berani menantangnya. Malah secara “kurang ajar” Raden Kusen sering menghina dengan menyebutkan namanya yang asli, Udara, yang dianggapnya bekas abdi dari uwaknya, Pangeran Menak Sunaya. Dan yang paling tak pernah diduga, pangeran asal Palembang itu berani menghancurkan pasukan yang dikirim Mahodara untuk mengusir pemukim-pemukim muslim dari Surabaya.

“Peperangan Terung dengan Daha yang pertama terjadi barang tujuh tahun silam,” kata Menak Lampor, yang adalah putera Menak Gadru, adipati Babadan, yang tidak lain merupakan kemenakan Raden Kusen. Meski Menak Lampor beragama Hindu, dalam perselisihan Terung dan Daha itu ia memihak Terung dengan alasan ikatan darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan darah adipati Terung. Bagi para adipati yang mendukung Terung, Patih Mahodara tidak pernah dianggap sebagai sosok yang perlu dihargai dan dihormati karena asal usulnya yang rendah dari kalangan sudra.

Sementara itu, menurut Raden Kusen, pertarungannya menentang Patih Majapahit lebih disebabkan oleh prinsip-prinsip hidup yang sudah diwariskan oleh leluhurnya secara turun-temurun. Hampir tidak ada yang memahami bahwa di tengah hingar-bingar kebangkitan Majapahit itu sesungguhnya terjadi persaingan dan sekaligus persekongkolan antara keturunan Akuwu Tumapel, Sang Jayakerta Tunggul Ametung, dan keturunan raja Tumapel, Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Keturunan Sang Jayakerta Tunggul Ametung menggunakan wangsakara Warddhana, yang bermakna pelindung agama dan pemakmur bumi. Sedangkan keturunan Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi menggunakan wangsakara Rajasa, yang bermakna diberkati sifat rajas (nafsu berahi).

“Sepanjang ratusan tahun sejarah Majapahit, yang berselisih dan sekaligus bersekutu dalam membangun kekuasaan adalah dua trah itu. Pasang dan surut Majapahit tergantung pada dua trah itu. Tapi, sekarang ini ada hamba sahaya yang karena pintar menjilat dan menduduki jabatan patih hendak ikut campur berebut kekuasaan di Majapahit,” kata Raden Kusen dengan mata berkilat-kilat diliputi amarah.

“Mohon maaf, Pamanda Adipati,” kata Abdul Jalil takzim, “Menurut saudara kami, Pangeran Menak Lampor, pertempuran kali ini sesungguhnya merupakan pertempuran yang ketiga dalam tujuh tahun ini. Apakah latar perang kali ini juga akibat masalah yang sama dengan perang pertama dan kedua?”

“Kali ini sudah agak beda masalahnya,” kata Raden Kusen. “Dulu saat pertama kali bertempur, aku hancurkan seluruh pasukannya di Sungai Terung. Tidak satu pun prajuritnya yang aku biarkan hidup. Bahkan, tidak satu pun perahu yang digunakan mengangkut prajurit itu yang tidak dibakar.”

“Apakah itu gara-gara mereka menyerbu Surabaya?”

“Ya,” kata Raden Kusen datar. “Dia tidak menyangka jika aku akan membela Surabaya.”

“Apakah Sri Prabu Natha tidak marah dengan tindakan Pamanda Adipati?”

“Mula-mula begitu. Tetapi, setelah aku jelaskan bahwa tindakan patih dungu itu menyerang Surabaya adalah tindakan bodoh karena sama dengan menista kebijakan Sri Prabu Kertawijaya, barulah Prabu Natha memaklumi tindakanku. Ya, aku jelaskan kepada maharaja Majapahit bahwa kedudukan bupati Surabaya didasarkan atas kebijakan Sri Prabu Kertawijaya. Kedudukan itu diperkuat lagi oleh Sri Prabu Adi-Suraprabhawa. Jadi, menyerang Surabaya, walaupun dengan alasan untuk mengusir orang-orang Islam yang berbahaya bagi Majapahit, tetaplah aku nilai sebagai penghinaan terhadap dua maharaja yang telah mangkat. Dan lantaran itu, mereka tidak pantas diampuni,” kata Raden Kusen dingin.

Abdul Jalil mengangguk-angguk paham dan berkata, “Lalu alasan perang yang kedua, apakah sama?”

“Ya, sama,” kata Raden Kusen. “Perang terjadi ketika patih jahat itu memerintahkan para prajurit untuk mengusir orang-orang Islam di Wirasabha dan kemudian menyuruh anaknya, Menak Supethak, mengusir dan membunuhi orang-orang Islam di Garudha. Aku gempur Garudha. Aku gempur Japan. Bahkan aku sudah menggerakkan pasukan melintasi Wirasabha untuk mengepung ibu kota Daha. Tetapi, Sri Prabu Natha memohon agar aku tidak melanjutkan tindakan menyerang Daha karena orang bisa menyangka aku melakukan pemberontakan.”

“Untuk yang kedua, alasan apakah yang Pamanda Adipati gunakan kepada Sri Prabu Natha? Bukankah Pamanda Adipati bisa dituduh membela orang-orang Islam karena Pamanda beragama Islam? tanya Abdul Jalil.

“Aku katakan kepada Prabu Natha bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah wangsakara Warddhana yang bermakna pelindung agama dan pemakmur bumi. Itu sebabnya, sebagai seorang maharaja beliau wajib menjalankan prinsip-prinsip wangsakara untuk menjadi pelindung bagi agama apa pun di wilayah kekuasaannya. Kepada Prabu Natha aku tunjukkan bukti-bukti betapa sejak masa pemerintahan Sri Prabu Rajasanagara pun sudah tinggal orang-orang muslim di ibu kota. Jadi, lagi-lagi, patih tolol itu aku sudutkan sebagai kerbau dungu yang suka menista dan menghina leluhur maharaja Majapahit,” kata Raden Kusen, kali ini sambil tertawa terbahak-bahak.

“Dan untuk kali ketiga ini rupanya sudah menyangkut kekuasaan.”

“Hmm, begitulah. Patih dungu itu diam-diam sudah menyusun kekuatan di berbagai kadipaten. Dengan iming-iming jabatan tinggi dan kekayaan dia menawari sejumlah adipati untuk mendukung kekuasaannya yang makin kukuh di tengah melemahnya kekuasaan Prabu Natha. Tapi dasar bodoh, dia tidak tahu bahwa lebih dari separo jumlah adipati di Kahuripan, Janggala, Daha, dan Kadhiri adalah keturunan kakekku, Prabu Kertawijaya. Sehingga, hampir semuanya melaporkan kepadaku tentang gerakan busuk patih tolol itu. Dan, aku tentu saja akan mengambil tindakan demi menyelamatkan takhta Majapahit dari orang dungu itu,” kata Raden Kusen.

Abdul Jalil memahami bahwa jika saja mau sesungguhnya Raden Kusen dapat merebut takhta Majapahit dari tangan Sri Prabu Girindrawarddhana. Sebab, ia bukan saja cucu maharaja Majapahit Sri Prabu Kertawijaya, keahliannya dalam pertempuran dan kekuatan pasukan juga kekayaan yang dimilikinya sesungguhnya dapat digunakan dengan mudah untuk meraih takhta Majapahit yang sedang lemah. Sebagai pemimpin perang unggulan di medan tempur, ia termasyhur dengan sebutan Juru Pangalasan ing Terung. Sebagai adipati yang juga merangkap jabatan pecat tandha di Terung, kekayaannya yang tak terhitung tercermin dari sebutan para saudagar Cina yang menamainya Kin San, Sang Gunung Emas.

Semula Abdul Jalil menduga tentulah Raden Kusen yang termasyhur sebagai panglima unggulan dan kaya raya itu akan menolak gagasannya tentang masyarakat ummah. Namun, setelah berbincang-bincang tentang keniscayaan tatanan baru di tengah reruntuhan nilai-nilai luhur yang sudah jungkir balik, tanpa terduga putera Adipati Palembang itu menyatakan sangat senang menerimanya. Ia bahkan menunjuk tanah miliknya yang membentang dari Sumengka di selatan, Wanjang di utara, Kamalagi di barat, dan Sasawo di timur untuk dibagikan kepada siapa pun di antara masyarakat ummah yang berhak. Tanah seluas 200 jung (560 hektar) yang terletak di antara Kedung Peluk dan Wayuwo, jalan masuk ke Tumapel, juga dihibahkan kepada Abdul Jalil untuk dijadikan Dukuh Lemah Abang yang diharapkan dapat menjadi pusat perkembangan tatanan baru di Majapahit.

Tidak cukup menyatakan dukungan dengan bukti pemberian tanah hibah, Raden Kusen yang sedang terlibat perang dengan patih Mahodara itu memutuskan untuk mengirim seribu prajurit pilihan dari Terung ke Caruban Larang. Atas perkenan Raden Kusen, puteri Menak Lampor yang bernama Tepasari dinikahkan dengan Syarif Hidayatullah. “Mudah-mudahan dengan pernikahan ini semua orang tahu bahwa baik Islam, baik Hindu, maupun Budha di negeri ini sesungguhnya disatukan oleh satu ikatan darah, yaitu darah Majapahit. Inilah ajaran yang aku pegang teguh dari guruku yang mulia, Pangeran Ali Rahmatullah,” kata Raden Kusen.

Ketika Abdul Jalil dengan dikawal tiga puluh prajurit pilihan meninggalkan Kadipaten Terung dengan tujuan Daha untuk menemui Nirartha, putera Rsi Punarjanma, ia saksikan pemandangan yang sangat memilukan dari kehidupan penduduk di sekitar Japan. Ketenteraman, keamanan, dan kemakmuran yang dikisahkan menjadi bagian keagungan dan kemuliaan Majapahit tidak lagi terlihat. Di sepanjang perjalanan ia hanya menyaksikan ketakutan, kecurigaan, kecemasan, dan kekurangan membayang di setiap mata penduduk yang menatap langit dengan pandangan kosong tanpa harapan.

Saat melintasi reruntuhan bekas ibu kota Majapahit, Abdul Jalil menyaksikan wajah kematian begitu mencekam di sela-sela dinding baluwarti yang terguling. Dulu, barang dua windu silam, kematian telah membentangkan sayap-sayapnya yang dikobari api. Ya, dua windu silam, kematian berpesta-pora menyantap daging dan menenggak darah penghuni ibu kota Majapahit. Tak kenal orang tua, tak kenal anak, tak kenal bayi, semuanya saat itu dimangsa dengan lahap oleh kematian. Sementara di tengah genangan darah dan air mata itu, para pemenang mengibarkan panji-panji dan umbul-umbul sambil menyanyikan lagu kemenangan. Mereka menyoraki dan mengelu-elukan kematian yang telah memberikan kemenangan bagi mereka.

Perang! Peperangan telah membawa manusia ke hamparan lembah derita yang tak bertepi. Sepanjang hamparan derita itu yang terlihat hanyalah tubuh-tubuh kurus dari manusia-manusia tak berdaya yang harta dan makanannya terampas tangan-tangan perkasa tanpa belas kasih. Atau, mayat-mayat prajurit yang bergelimpangan menebarkan anyir darah. Atau, pedang dan tombak patah yang berserak di antara perisai dan anak panah. Atau, kibaran sisa panji-panji yang berserpihan dilepoti darah kering. Atau, bangkai kuda dan gajah yang bertumpuk di samping bangkai manusia. Atau, burung-burung gagak dan serigala yang berebut daging prajurit-prajurit yang terkapar tak bernyawa. Atau, embusan angin berdebu yang menebarkan bau busuk mayat-mayat membusuk. Atau, sisa-sisa reruntuhan bangunan yang merana terbalut debu.

Pemandangan mengerikan yang disaksikan Abdul Jalil menggetarkan jiwanya yang sedang dicekam oleh suasana ketegangan di Caruban Larang. Apakah yang sedang terjadi di sana sepeninggalnya? Apakah pasukan Galuh Pakuan sudah menerobos masuk ke wilayah Caruban Larang? Apakah sudah pecah pertempuran antara Caruban Larang dan Galuh Pakuan? Apakah Talaga dan Rajagaluh tidak ikut-ikutan mengeroyok Caruban Larang? Mampukah Sri Mangana menghadapi serangan pasukan gabungan yang jumlahnya lima kali lipat pasukannya itu?

Dengan gemuruh tanda tanya yang bergumpal-gumpal memenuhi kepalanya, Abdul Jalil membayangkan pemandangan menyedihkan yang disaksikannya itu seolah-olah peristiwa yang menimpa penduduk Caruban Larang. Ia saksikan tubuh prajurit-prajurit yang berserpihan dagingnya akibat dimangsa anjing dan burung gagak itu sebagai prajurit-prajurit Caruban Larang. Ia bayangkan pedang-pedang yang patah dan berserakan itu adalah pedang prajurit-prajurit Caruban Larang yang kalah perang. Saat ia saksikan anak-anak kecil dengan tubuh kurus dan perut buncit menangis di depan halaman rumah, ia bayangkan seolah-olah anak-anak di Caruban Larang yang menderita akibat peperangan. Ah, akankah setiap perubahan mesti ditandai peperangan?

Selat Taiwan (MV. Taho), 11 April 2007, 13:05LT