Wahdah al-Adyan

Ketika malam membentangkan selimut hitam di atas permukaan bumi, kegelapan pun mengembangkan sayap-sayapnya yang sehitam bulu gagak. Di tengah kegelapan yang menghitam, di antara ladang-ladang dan hutan-hutan yang terhampar di negeri Daha, terlihat bayangan sebuah padepokan kecil yang dibangun dari bahan kayu dengan atap ijuk, yang letaknya tak jauh di barat sebuah candi. Baik candi baik padepokan, di malam yang hitam itu terlihat seperti bayangan hewan raksasa yang mendekam di tengah kegelapan.

Padepokan itu terletak kira-kira empat atau lima pal dari candi, berdiri di atas tanah shima (perdikan) milik candi, yang menurut cerita adalah tanah milik Dang Acarya Tunglur, pemangku Candi Surabhawana. Padepokan itu sendiri, menurut cerita, dibangun oleh cucu buyut Dang Acarya Tunglur yang bernama Wiku Suta Lokeswara, seorang guru agung para pendeta bhairawa di negeri Daha. Di padepokan itulah para pendeta penganut ajaran Bhairawapaksa – salah satu sekte dari madzhab Kalacakra yang paling berpengaruh di Majapahit menuntut ilmu kepada Wiku Suta Lokeswara.

Malam itu, di tengah kegelapan langit dan bumi, sang wiku terlihat duduk di atas batu gilang yang terletak di halaman asrama. Di hadapannya para siswa duduk bersila menirukan sikap duduk sang guru agung. Malam itu Wiku Suta Lokeswara akan memberikan wejangan. Namun, baru berujar beberapa kata tiba-tiba salah seorang siswa datang dan menyembah sambil berkata, “O Guru Agung, hamba melaporkan bahwa serombongan tamu yang mengaku dari Kadipaten Terung menunggu di luar padepokan. Mereka ingin bertemu dengan Guru Agung. Bicara mereka sangat aneh dan tidak hamba mengerti. Tetapi, satu orang yang bernama Syaikh Lemah Abang berbicara tentang Rishi Purnajanma dan Wahanten Girang. Hamba menduga mereka adalah orang Wahanten Girang dan orang-orang Terung.”

Wiku Suta Lokeswara terdiam dan mengerutkan kening. Sejenak setelah itu ia bangkit dan berjalan ke pintu pagar padepokan. Sepanjang berjalan ia menduga-duga, salah seorang tamu tak diundang itu mestilah orang asal Wahanten Girang yang membawa berita tentang kakaknya, Rishi Punarjanma. Dan saat bertemu dengan tamunya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Abdul Jalil, dugaan sang wiku terbukti benar, sang tamu memang membawa berita tentang kakak kandungnya.

“Ah rakanda Rishi, engkau telah mendahului kami,” kata Wiku Suta Lokeswara menarik napas berat dengan mata berkaca-kaca, saat mengetahui kakaknya telah pergi ke Syiwapada dengan kisah yang begitu aneh.

Kabar meninggalnya Rishi Purnajanma yang dibawa Abdul Jalil memang menyulut tanda tanya besar dalam benak Wiku Suta Lokeswara. Sebab, apa yang dikemukakan Abdul Jalil tentang kematian kakaknya itu seperti dongeng yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang rishi meninggal di tanah suci milik orang Islam? Bagaimana mungkin di tanah suci orang-orang Islam yang suka mencela orang-orang Hindu sebagai pemuja berhala ternyata terdapat lingga raksasa di atas bukit yang disucikan? Bagaimana mungkin ada seseorang beragama Islam bersedia dengan susah payah datang ke negeri Daha yang sedang dilanda peperangan hanya untuk menyampaikan amanat seorang rishi?

Sekalipun gumpalan tanda tanya menumpuk di benak Wiku Suta Lokeswara, ia sadar sangatlah tidak pantas mengemukakannya kepada tamu yang telah bersusah payah menyampaikan kabar duka tersebut. Itu sebabnya, selama menjamu Abdul Jalil dan rombongan ia memulai pembicaraan dengan menuturkan tentang keberadaan Rishi Purnajanma.

Kepada Abdul Jalil, Wiku Suta Lokeswara mengisahkan bahwa kakaknya itu adalah pejabat keagamaan di Majapahit yang dikenal dengan nama Mantri Herhaji Dang Acaryya Candralekha. Dia dikenal sangat dekat dengan para maharaja Majapahit sejak Hyang Purwawisesa hingga Prabu Adi-Suraprabhawa. Di dalam tata praja Majapahit, mantri herhaji merupakan pejabat keagamaan kerajaan yang mengawasi bangunan-bangunan suci para rishi (dharma ipas karsyan). Jabatan mantri herhaji sendiri kedudukannya setara dengan jabatan dharmadhyaksa ring Kasyaiwan dan dharmadhyaksa ring Kasogatan, sehingga sang mantri herhaji pun dibantu oleh tujuh pejabat bawahannya yang disebut saptopapatri, yaitu Tirwan, Kandamuhi, Panjang Jiwa, Kandangan Atuha, Kandangan Raray, Lekan, dan Tanggar.

“Ketika terjadi kekacauan di ibukota yang mengakibatkan Sri Prabu Adi-Suraprabhawa menyingkir dari Kedaton Wilwatikta, kakak kami itulah yang mengiringkan sang maharaja hingga ke Daha. Ketika Prabu Adi-Suraprabhawa mangkat, kakak kami itu menolak kepemimpinan Prabu Kretabhumi yang dianggapnya pemberontak. Dia kemudian mengabdi kepada Dyah Ranawijaya, putera mahkota Sri Prabu Adi-Suraprabhawa. Sebagai risiko dari penolakannya itu, dia kehilangan jabatan mantri herhaji Majapahit. Tetapi saat Dyah Ranawijaya dengan pasukan Daha menghancurleburkan kutaraja Majapahit tanpa sisa, kakak kami sangat kecewa. Dia kemudian meninggalkan Bumi Majapahit setelah menitipkan puteranya, Nirartha, kepada kami. Dan kabar terakhir, kami dengar dia tinggal di Wahanten Girang. Di sana dia menjadi guru sekaligus pemimpin Rsigana Domas di Gunung Pulasari, yaitu sthana Syiwa di Jawadwipa,” ujar Wiku Suta Lokeswara.

Abdul Jalil tercenung lama. Ia sungguh tak mengira, rishi tua yang memiliki kisah hidup menakjubkan itu adalah pejabat tinggi keagamaan di Majapahit. Namun, dengan kenyataan itu Abdul Jalil pun akhirnya memahami kenapa Rishi Purnajanma begitu dihormati oleh para Rsigana Domas. Rupanya, pengetahuan dan wawasan sang rishi yang jauh melebihi para anggota Rsigana Domas lain itu karena latar belakangnya sebagai pejabat tinggi Majapahit.

Ketika perbincangan makin akrab, Abdul Jalil menuturkan keberadaan dirinya sebagai putra Sri Mangana, ratu Caruban Larang. Wiku Suta Lokeswara pun merasa keheranan. Sebab menurut sang wiku, Sri Mangana yang memiliki nama Walangsungsang itu adalah anggota persaudaraan antarksetra. “Sungguh kami terkejut dan heran jika saudara kami itu telah memeluk Islam dan sudah naik haji pula. Sungguh aneh kejadian ini. Semua orang ramai masuk Islam dan menjadi haji,” ujar Wiku Suta Lokeswara.

Melihat sang wiku terheran-heran, Abdul Jalil malah menambahkan jika ayahanda asuhnya sedang membangun tatanan baru kehidupan yang berbeda dengan tatanan lama. Sebuah tatanan kehidupan manusia yang sederajat sebagaimana tatanan yang didambakan oleh para penganut ajaran bhairawa. Namun akibat usahanya itu, ungkap Abdul Jalil, keberadaan Sri Mangana saat ini menjadi terancam. Seluruh penguasa Bumi Pasundan marah bahkan memusuhi dan menginginkan kematian Sri Mangana.

Mendengar kabar Sri Mangana terancam, Wiku Suta Lokeswara tiba-tiba merah wajahnya. Tanpa diminta ia menyatakan kesediaan untuk berangkat ke Caruban Larang demi membela saudaranya tersebut. “Hidup atau mati, kami adalah bersaudara. Baik atau buruk, kami juga bersaudara. Jika darahnya tumpah maka darahku pun harus tumpah pula,” kata Wiku Suta Lokeswara seolah-olah kepada dirinya sendiri.

Mendengar tekad Wiku Suta Lokeswara untuk membela Sri Mangana, Abdul Jalil tercekat kaget. Ia tidak menduga jika ikatan persaudaraan antarksetra yang pernah diungkapkan ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, terbukti melebihi dugaannya. Dan tanpa sadar ingatan Abdul Jalil melayang kepada ibunda asuhnya yang sedang berkeliling ke berbagai ksetra di Bumi Pasundan maupun Nusa Jawa. Ia dapat mengira-ngira ibundanya itu pastilah tidak akan menemui banyak kesulitan untuk memperoleh dukungan dari para penguasa ksetra yang begitu kuat rasa persaudaraannya.

Setelah membayangkan besarnya dukungan yang bakal diperoleh dari ksetra-ksetra, Abdul Jalil menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menggumam dalam hati, “Ya Allah, bantuan yang hamba harapkan datang dari saudara-saudara hamba seagama seperti Sayyid Habibullah al-Mu’aththal untuk mendukung perjuangan mulia ini ternyata Engkau gagalkan. Sebaliknya, dukungan kuat justru hamba terima dari orang-orang yang paling tidak hamba sukai, yaitu para peminum darah dan pemangsa manusia. Tetapi, apa yang terjadi ini sesungguhnya bergantung mutlak pada kehendak-Mu. Engkau Zat Yang Maha Berkuasa, Maha Mengatur, dan Maha Menentukan segala-galanya. Sesungguhnya, apa yang hamba anggap buruk, belum tentu buruk. Sedang apa yang Engkau anggap baik, pastilah itu yang terbaik.”

Setelah berkisah cukup lama tentang berbagai hal, termasuk kepergian ibunda asuhnya ke berbagai ksetra untuk mencari dukungan membangun tatanan masyarakat ummah, Abdul Jalil bertanya, “Dimanakah putera Rishi Purnajanma yang bernama Nirartha? Sebab, kami harus menyampaikan pesan khusus ayahandanya kepadanya.”

“Dia baru sepekan ini kembali dari Gelgel di Balidwipa. Dia berencana akan membawa istri dan putera-puteranya ke Balidwipa,” kata Wiku Suta Lokeswara.

“Apakah Paduka Wiku memiliki keluarga di Balidwipa?”

“O tidak. Dia pergi ke Balidwipa barang empat tahun silam ketika terjadi perang kedua antara Yang Mulia Adipati Terung dan Patih Mahodara. Hal itu dilakukannya demi menghindari usaha sang patih untuk melibatkan padepokan ini dalam peperangan dengan Terung. Dia bercerita kalau kehadirannya di Balidwipa sudah bisa diterima oleh Dalem Waturenggong, Yang Dipertuan Gelgel. Tetapi, bagaimana enaknya hidup di rantau, dia tetap tidak bisa melupakan istri-istri dan anak-anaknya di Daha.”

“Ah, kami ingin sekali bertemu dengannya,” kata Abdul Jalil.

“Biar nanti dia dipanggil kemari,” kata Wiku Suta Lokeswara memerintahkan seorang siswa untuk memanggil Nirartha.

Selama menunggu kehadiran Nirartha, Wiku Suta Lokeswara akhirnya tidak dapat menahan gejolak jiwanya untuk tidak menanyakan hal kematian kakaknya yang aneh itu. Ia menanyakan ini dan itu kepada Abdul Jalil. “Penjelasan Tuan Syaikh sungguh mengherankan saya. Bagaimana mungkin orang-orang Islam mencela dan mengutuk orang-orang Hindu dan Budha sebagai pemuja berhala jika ternyata di negeri asal mereka itu ada pemujaan terhadap lingga? Padahal, selama ini yang kami pahami, orang-orang Islam menyembah kuburan pendeta agungnya yang bernama Muhammad di negeri Arab. Ini sungguh aneh dan membingungkan,” ujar Wiku Suta Lokeswara.

Abdul Jalil tersenyum. Kemudian dengan berpegang pada prinsip dakwah yang menetapkan bahwa ia harus berbicara kepada suatu kaum sesuai bahasa dan pemahamannya, maka ia pun berkata, “Sesungguhnya, antara ajaran Islam dan Syiwa-Budha tidak ada beda dalam hakikat. Hanya nama-nama, bahasa, serta tatanan yang ada pada keduanya yang berbeda. Sebab, sesungguhnya semua ajaran agama adalah satu dalam hakikat (wahdah al-adyan). Jika kita kaji dan renungkan secara benar apa yang disebut dengan ‘Yang Mahabaik dan Pangkal Keselamatan’ di dalam keyakinan Syiwa-Budha, sejatinya tidaklah berbeda dengan apa yang disebut Allah ‘Yang Mahabaik (al-Jamal al-Kamal) dan ‘Pangkal Keselamatan (as-Salam)’ di dalam Islam.”

“Jika Syiwa sebagai pangkal penciptaan makhluk yang dicipta-Nya disebut dengan nama Brahma, maka Allah sebagai pangkal penciptaan makhluk yang dicipta-Nya disebut dengan nama al-Khaliq. Syiwa sebagai penguasa makhluk disebut Prajapati, Allah sebagai penguasa makhluk disebut al-Malik al-Mulki. Jika Syiwa sebagai penguasa Iblis disebut Bhutaswara maka Allah pun sebagai penguasa Iblis disebut al-Mudhill. Syiwa sebagai Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih disebut Sankara, Allah sebagai Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih disebut ar-Rahman ar-Rahim.”

“Sesungguhnya, lambang-lambang lingga yang dijadikan pratima (sarana bantu) bagi pemujaan terhadap Syiwa tidaklah berbeda dengan Ka’bah batu yang dijadikan kiblat oleh orang-orang Islam di dalam menyembah Allah. Baik Syiwalingga maupun Ka’bah adalah lambang yang menyelubungi rahasia keberadaan-Nya. Sebab, baik Syiwa maupun Allah, pada hakikat-Nya adalah Dia; Yang Ilahi, Yang Mahatunggal, Yang Tak Terjangkau Akal, dan Yang Tak Tersentuh Indera, yaitu Dia; yang memiliki sifat Bhawo (Wujud), Na Jayate (Tak Dilahirkan), Nitya (Kekal), Saswato (Abadi), Purano (Yang Awal), Satah (Riil), Awinasi (Tak Termusnahkan), Widhi (Mahatahu), Aprameyasya (Tidak Terbatas), Sarwagatah (Mahaada), Sthanur (Tidak Berubah), Acintya (Tidak Terpikirkan), Awyakta (Tidak Terbandingkan).”

“Jadi, dengan memahami bahwa keberadaan Ka’bah bagi orang-orang Islam adalah tidak berbeda dengan keberadaan Lingga bagi orang-orang Hindu, yakni sebagai lambang pemujaan kepada Yang Mutlak, maka kami katakan, sangatlah tidak benar jika ada yang menganggap orang-orang Islam adalah penyembah kuburan pendeta agungnya yang bernama Muhammad Saw.. Sebab, orang-orang Islam jika bersembahyang menghadap ke arah Ka’bah, bukan ke arah makam Nabi Muhammad Saw.. Bahkan jika dihitung dengan ukuran, jarak antara makam Nabi Muhammad Saw. di kota Yatsrib dan Ka’bah di kota Makah jauhnya hampir empat ratus yojana.”

“Kami berani mengatakan kepada Paduka Wiku bahwa sebenarnya tiap-tiap pertentangan dalam masalah agama sejatinya berpangkal pada ketidaktahuan masing-masing pengikut agama terhadap hakikat Yang Ilahi dan alam ciptaan-Nya beserta peraturan-peraturan yang ditetapkan-Nya. Orang Islam mencela Syiwa-Budha, itu disebabkan mereka tidak mengetahui bahwa di dalam Syiwa-Budha pun terdapat ajaran rahasia adwayasastra (ilmu tauhid) yang mengesakan Tuhan. Orang-orang Islam awam banyak yang tidak mengetahui bahwa di antara umat Hindu terdapat orang-orang ahli tauhid, seperti Rishi Purnajanma dan Paduka Wiku, yaitu mereka yang tidak lagi menggunakan pratima dalam memuja-Nya, yakni orang-orang yang mengenal Syiwa melalui Kulatattwa. Orang-orang Islam awam juga banyak yang tidak menyadari jika dengan bersembahyang menghadap ke Ka’bah, sesungguhnya mereka menggunakan pratima sebagaimana penganut Syiwa-Budha menggunakan lingga.”

“Sementara itu, umat Hindu awam yang mencela Islam sebagai agama pemuja kuburan pun sebenarnya berpangkal dari ketidaktahuan mereka tentang hakikat ajaran Islam yang sempurna. Mereka tidak mengetahui bahwa kiblat umat Islam bukan kuburan Nabi Muhammad Saw., melainkan Ka’bah, yakni pratima yang disebut Rumah Tuhan (Baitullah) yang terletak di kota Makah. Yang membedakan Ka’bah dan Syiwalinnga adalah pratima Ka’bah itu merupakan satu kiblat pemujaan umat Islam di seluruh dunia, sedangkan Syiwalingga berada di berbagai tempat di mana orang bisa memuja-Nya. Dan sejatinya, baik Ka’bah maupun Syiwalingga adalah pratima, yakni lambang Yang Ilahi dalam bentuk batu.”

“Ah, jika saja orang-orang Islam seperti Tuan Syaikh, pastilah agama itu akan mudah diikuti oleh orang-orang Majapahit,” ujar Wiku Suta Lokeswara sembari menuturkan suatu rangkaian kekacauan yang pernah terjadi di pedalaman Daha akibat tindak kekerasan yang dilakukan orang-orang Islam. Barang tiga windu silam, ungkap sang wiku, putera bupati Surabaya yang bernama Raden Mahdum Ibrahim pernah mengacau kehidupan di Daha. Dia menyiarkan Islam dari barat sungai, tepatnya di Thani Singkal yang masuk ke dalam Wisaya Urawan. Dia dan pengikutnya tidak sekadar mencela dan mencaci maki penduduk yang dianggapnya memuja berhala, tetapi merusakkan pula arca-arca dengan kapak dan memporakporandakan ksetra-ksetra.

Saat itu, ungkap Wiku Suta Lokeswara, penduduk dan pejabat keagamaan di Daha serba susah. Mau dilawan, namun dia adalah putera Pangeran Ampel Denta, yang tidak lain adalah kerabat maharaja Majapahit. Jika tidak dilawan, keyakinan penduduk dirusakbinasakan. Namun, keadaan itu mulai mereda ketika terjadi pertempuran antara Raden Mahdum Ibrahim dan Nyi Pluncing, seorang Bhairawi (bhairawa perempuan) asal Wisaya Siman. Dalam pertempuran itu Raden Mahdum Ibrahim terluka parah, namun Nyi Pluncing tewas terbunuh. “Untuk meredam keadaan di pedalaman, Sri Prabu Adi-Suraprabhawa kemudian mengangkat Raden Mahdum Ibrahim sebagai adipati Lasem. Meski keadaan di Daha sudah tenteram kembali, sejak saat itu hampir semua penduduk di negeri Daha menganggap Islam sebagai ajaran yang suka mencela, mencaci maki, menghina, dan merusak agama lain.”

“Ah, sesungguhnya hal itu dilakukan Raden Mahdum Ibrahim karena dorongan masa muda yang berkobar-kobar. Kira-kira tiga pekan silam kami bertemu dia di Surabaya. Dia sudah banyak berubah. Dia menjadi orang tua yang sangat bijak dan memiliki wawasan yang luas, sehingga dia dengan mudah dapat menerima gagasan kami tentang masyarakat ummah yang menghargai keragaman. Mungkin peristiwa masa mudanya di Daha telah menjadi pelajaran berharga bagi langkah-langkah hidupnya kemudian,” kata Abdul Jalil.

“Tapi benarkah dia tidak menikah sampai sekarang?” tanya Wiku Suta Lokeswara.

“Tentang itu kami tidak tahu. Kami bertemu sangat singkat di Surabaya. Tetapi yang kami dengar, dia memang tidak memiliki istri. Tapi dia memiliki puteri angkat,” kata Abdul Jalil.

“Kami menduga Raden Mahdum Ibrahim terluka sangat parah saat bertempur dengan Nyi Pluncing,” kata Wiku Suta Lokeswara, “sebab Nyi Pluncing itu bhairawi yang sangat ahli dalam menggunakan berjenis-jenis racun.” “

Kami pernah diberi tahu oleh Tuan Abdurrahman Tan King Ham, saudagar Cina di kutaraja Majapahit, bahwa di dalam ajaran Islam sebenarnya dikenal juga tentang loka-loka dari tiga dunia yang mirip dengan ajaran Syiwa-Budha tentang Bhur Bhuwa Swa. Yang membedakan adalah orang-orang Islam meyakini bahwa kehidupan si swarga dan neraka itu kekal abadi. Sedang, menurut Syiwa-Budha, yang abadi hanya Brahman. Swarga dan neraka akan hancur karena keduanya adalah ciptaan. Keduanya bersifat maya,” kata Wiku Suta Lokeswara.

“Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, swarga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal swarga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua itu hanya makhluk ciptaan. Jadi, keduanya wajib rusak dan binasa. Hanya Allah, Zat Yang Wajib Abadi, Kekal, Langgeng, dan Azali,” kata Abdul Jalil.

“Apakah di dalam ajaran Islam yang disebut swarga itu juga bertingkat-tingkat seperti yang diyakini oleh kalangan kami, yaitu ada Bhurloka, Bhuwarloka, Swarloka, Maharloka, Janarloka, Tapoloka, dan Satyaloka?”

“Sesungguhnya tempat kebahagiaan dan kemuliaan yang disebut swarga oleh orang-orang Hindu-Budha, di dalam Islam disebut dengan nama Jannah (Taman), yang bermakna tempat sangat menyenangkan yang di dalamnya hanya terdapat kebahagiaan dan kegembiraan. Hampir mirip dengan swarga yang dikenal di dalam Syiwa-Budha, di dalam Islam dikenal ada tujuh surga besar yang disebut ‘Ala ‘Iliyyin, al-Firdaus, al-‘Adn, an-Na’im, al-Khuld, al-Ma’wah, Darussalam. Di surga-surga itulah arwah orang-orang yang baik ditempatkan sesuai amal ibadahnya selama hidup di dunia.”

“Sementara itu, tidak berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha yang meyakini adanya Alam Bawah, yaitu neraka yang bertingkat-tingkat dan jumlahnya sebanyak jenis siksaan, Islam pun mengajarkan demikian. Jika di dalam ajaran Syiwa-Budha dikenal ada tujuh neraka besar, yaitu Sutala, Witala, Talatala, Mahatala, Rasatala, Atala, dan Patala, maka di dalam ajaran Islam pun dikenal tujuh neraka besar yang disebut Jahannam, Huthamah, Hawiyyah, Saqar, Jahim, dan Wail. Bahkan sebagaimana kenyataan yang ada di dalam agama Hindu, di dalam agama Islam pun masalah swarga dan neraka adalah masalah yang selalu menjadi bahasan utama kalangan awam. Sehingga, mereka salig berebut pengakuan sebagai yang paling benar dan paling berhak menghuni swarga. Orang-orang bertentangan dengan mereka dianggap sebagai calon penghuni neraka,” kata Abdul Jalil.

“Kata Tuan Abdurrahman Tan King Ham, orang-orang Islam pun sama seperti pengikut Syiwa-Budha dalam mempercayai hari kebinasaan alam semesta yang disebut kiamat. Benarkah itu?” tanya Wiku Suta Lokeswara.

“Itu benar adanya. Yang membedakan hanya nama. Jika orang Islam menyebut hari kehancuran semesta itu dengan nama hari akhir (yaum al-akhir) atau di kalangan awam disebut Hari Kiamat (yaum al-qiyamah), maka di kalangan penganut Syiwa-Budha disebut Pralaya (kehancuran semesta) yang terjadi pada zaman akhir (kaliyuga).”

“Jika memang banyak persamaan antara Islam dan ajaran Syiwa-Budha,” kata Wiku Suta Lokeswara, “kenapa orang harus berselisih?”

“Sesungguhnya semua agama adalah sama dalam hakikat, yaitu berisi tatanan yang mengatur kehidupan makhluk terhadap sesamanya dan terhadap Penciptanya. Semua agama yang benar pasti berisi ajaran penyembahan kepada Tuhan, Sang Pencipta. Semua agama yang benar pasti berdiri di atas landasan Hukum Suci yang berdasarkan moral demi terjaganya keseimbangan di dunia. Tetapi, hal itu tidak berarti bahwa semua agama adalah sama, sebangun, sewarna, dan secitra. Keragaman agama-agama justru merupakan keniscayaan dari kesempurnaan-Nya sebagai Sang Pencipta yang wajib disembah oleh segala bangsa dan segala agama, bahkan oleh segala makhluk di alam semesta yang tak terhitung ragamnya,” kata Abdul Jalil.

“Jika demikian, apakah yang merupakan perbedaan mendasar antara Islam dan Syiwa-Budha?” tanya Wiku Suta Lokeswara.

“Kalau tidak salah, perbedaan keduanya terletak pada pemujaan terhadap pengejawantahan Tuhan. Jika di dalam Syiwa-Budha tidak ada pembedaan dalam pemujaan terhadap Tuhan dalam manifestasi Mahadewa, Mahaguru, Mahakala, Sankara, Sambho, Chandrasekhara, Bhirawa, Putikecwara, Bhutaswara, Rudra, dan Mrtyunjaya, maka di dalam Islam pemujaan terhadap Tuhan dipilahkan secara tegas melalui Hukum Suci yang disebut syari’at. Di dalam Islam, misalnya, Tuhan dipuja dan dusembahsujudi sebagai manifestasi Yang Mahabaik, Maha Pemurah, Mahakasih, Maha Penyelamat, Mahaagung, Mahasuci, dan Maha segala yang baik dan sempurna. Tidak ada ajaran Islam yang memberi petunjuk untuk memuja Dia Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill).”

“Lantaran keniscayaan Islam seperti itu maka tidak dikenal adanya ajaran korban-korban berwujud manusia seperti dikenal dalam ajaran Bhairawa-Tantra. Sebab, bagi hukum Islam, sungguh merupakan hal yang bertentangan dengan kodrat dan akal sehat manusia jika sebuah ‘jalan kebebasan’ menuju Yang Ilahi untuk melepas keakuan dilakukan dengan cara mengorbankan keakuan orang lain. Meski demikian, di dalam Islam tetap ada korban darah, yakni korban sembelihan berupa hewan peliharaan domba, yang dagingnya didermakan kepada orang-orang fakir dan miskin yang membutuhkan.”

“Apakah itu berarti Islam lebih benar dibanding Syiwa-Budha?”

“Sesungguhnya tidak ada hal yang keliru dalam ajaran suatu agama. Tidak ada agama yang keliru dalam pandangan Tuhan. Yang membedakan agama satu dengan agama yang lain adalah zaman di mana bagian-bagian dari ajaran sebuah agama bisa dijalankan dan kapan bagian-bagian tersebut tidak dapat dijalankan. Maksudnya, ajaran Bhairawa-Tantra yang merupakan bagian dari ajaran Syiwa-Budha yang paduka Wiku jalankan saat ini tidak akan lagi bisa dipertahankan untuk masa yang akan datang. Kenapa demikian? Sebab, ajaran Bhairawa-Tantra pada masa datang akan dijadikan bahan ejekan dan cercaan oleh orang-orang. Bahkan, ajaran Pancamakara bisa dianggap melanggar hukum. Sebab, pada masa datang orang-orang dari berbagai belahan dunia dengan agama-agama mereka pasti datang ke Bumi Majapahit. Mereka pasti akan menilai ajaran Bhairawa-Tantra sebagai ajaran aneh dan mengerikan yang bertentangan dengan rasa keadilan,” kata Abdul Jalil.

“Apakah orang-orang dari belahan dunia lain itu orang-orang Islam seperti Raden Makhdum Ibrahim?”

“Tentu saja tidak, o Paduka Wiku,” kata Abdul Jalil. “Mereka ada yang datang dari negeri-negeri Barat dengan membawa agamanya yang sangat berbeda dengan Syiwa-Budha. Mereka ada yang beragama Nasrani, Yahudi, dan Islam. Mereka semua pasti menolak upacara korban manusia. Mereka akan datang ke Bumi Majapahit ini dengan jumlah yang tidak bisa dihitung dengan jari. Mereka akan berdatangan bagaikan daun-daun kering ditiup angin. Mereka datang beriap-riap memenuhi permukaan Bumi Majapahit.”

“Apakah itu berarti Syiwa tidak akan dipuja lagi di dunia?”

“Syiwa tetap akan dipuja sepanjang zaman sampai akhir dunia. Tetapi, pada masa mendatang Dia akan dipuja dengan ‘Wajah’ yang lain. Pada saat kami berada di pedalaman Bumi Pasundan, kami telah menyaksikan ‘penampakan gaib’ yang menunjukkan bahwa Islam di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan akan menggantikan ajaran Syiwa-Budha. Maksudnya, dalam ‘penampakan gaib’ itu Syiwa sendiri telah berkenan memalingkan wajah-Nya yang menyeramkan sebagai Rudra, Bhirawa, Bhutaswara, Putikecwara, dan Mahakala, kemudian menampakkan wajah-Nya yang indah sempurna dan penuh welas asih, yaitu sebagai Mahadewa Yang Bermahkota Rembulan (Chandrasekhara), Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang (Sankhara), dan Sang Mahaguru (Bintang Agastya).”

“Dengan demikian, terlebih dahulu kami beri tahukan hendaknya Paduka Wiku nanti tidak terkejut jika kelak melihat orang-orang Islam mengibarkan panji-panji berlambang bulan sabit dengan bintang di atasnya. Sebab, sesungguhnya itulah lambang-lambang keagungan Sang Chandrasekhara, Sankara, dan Agastya. Itulah lambang ardachandra, nada, dan windu yang membentuk kata suci OM. Jika nanti Paduka Wiku menyaksikan juga panji-panji bergambar Trisula bercadik (tulisan Allah dalam huruf Arab) dikibarkan orang-orang Islam, maka itulah penampakan lambang Syiwa, Mahadewa Yang Bersenjata Trisula. Jika Paduka Wiku kelak menyaksikan orang-orang Islam mengibarkan lambang harimau Ali (kaligrafi mirip harimau), maka itulah lambang penampakan pakaian Syiwa yang terbuat dari kulit harimau. Bahkan, jika Paduka Wiku menyaksikan orang-orang Islam ke mana-mana membawa aksamala (biji tasbih), maka mereka itu sejatinya menampakkan lambang atribut Syiwa,” ujar Abdul Jalil.

“Ah, aku sekarang mulai paham,” kata Wiku Suta Lokeswara. “Rupanya, kakakku itu meninggal saat melakukan ibadah haji karena dia sebelumnya sudah mendapat perlambang dengan menduduki jabatan mantri herhaji. Bukankah demikian makna rahasia di balik kematian kakak kami?”

Mendengar komentar Wiku Suta Lokeswara, Abdul Jalil tercekat. Ia mulai menangkap gejala buruk dari kerangka berpikir otak-atik mathuk dari sang wiku, yang mengaitkan jabatan mantri herhaji dengan ibadah haji. Abdul Jalil makin tertegun-tegun ketika sang wiku menganggap agama Islam sesungguhnya ajaran yang diperuntukkan bagi para raja (Jawa Kuno, Haji: raja), terbukti dengan masuk Islamnya Prabu Kertawijaya dan para raja muda (adipati) di pesisir. “Rupanya, Yang Mulia Prabu Kertawijaya dan para adipati di pesisir sudah mengetahui perubahan itu daripada kami, yang tinggal di pedalaman,” kata Wiku Suta Lokeswara.

“Sesungguhnya, yang disebut Islam tidaklah seperti itu, o Paduka Wiku,” kata Abdul Jalil menjelaskan. Ia kemudian memaparkan bahwa di dalam ajaran Islam tidak dikenal perbedaan derajat dan kedudukan manusia sebagaimana yang dikenal di dalam tatanan Hindu. Ajaran Islam justru lebih mirip tatanan Syiwa-Budha yang tak mengenal kasta. “Di dalam Islam, perbedaan derajat dan kedudukan manusia di depan Tuhan bukan didasarkan atas keturunan, pangkat, kedudukan, dan kekayaan, tetapi oleh ketakwaan, yakni kedekatan orang-seorang terhadap Tuhan. Jadi, seperti ajaran Syiwa-Budha, jalan pembebasan dalam Islam dapat dicapai oleh siapa saja di antara manusia tanpa memandang tinggi dan rendahnya kasta seseorang,” ujar Abdul Jalil.

Nirartha, putera Rishi Purnajanma, adalah laki-laki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Perawakannya yang tinggi semampai dengan kulit kuning bersih menunjukkan asal-usul leluhurnya bukanlah orang kebanyakan. Kepalanya yang besar dengan kening lebar mencerminkan kecerdasan para cerdik cendikia. Matanya bulat lebar dan bening memancarkan kebijaksanaan para brahmana. Alisnya yang tinggi adalah alis para raja agung dan berwibawa. Bentuk rahangnya yang kukuh menyimpan keteguhan jiwa dan cermin keberpantangan untuk menyerah dalam menghadapi tantangan seberat apa pun.

Kesan itu tidakklah berlebihan. Saat Nirartha melakukan pertukaran pikiran dan menyauk Kebenaran Sejati dari Abdul Jalil, terbentanglah kenyataan tentang betapa cerdas dan mudah putera Rishi Purnajanma itu dalam memahami sesuatu. Meski sejak kecil dia tinggal di pedalaman, saat diajak oleh Abdul Jalil untuk memperbincangkan gagasan dan pemikiran yang lazim dijadikan pokok bahasan oleh cendikiawan Baghdad, terbukti dia dapat menerima dan memahaminya tanpa kesulitan. Dalam waktu singkat ia sudah dapat memahami gagasan dan pemikiran besar yang disampaikan Abdul Jalil.

Nirartha yang sejak pergi ke Balidwipa hingga menginjakkan kaki kembali ke Daha masih seorang Nirartha yang berwawasan pedalaman sempit, dalam hitungan hari ternyata sudah tercerahkan oleh matahari kesadaran yang dipancarkan Abdul Jalil. Dia mendadak sadar betapa bangsa Majapahit yang dibanggakannya itu sesungguhnya sedang sekarat akibat mengikuti nilai-nilai yang sudah tidak sesuai dengan zaman. Ia sadar betapa sejak perbatasan Kadipaten Pasir di barat hingga kerajaan Blambangan di timur, raksasa Majapahit sesungguhnya sedang mengerang kesakitan menunggu ajal. Ibarat orang sedang terserang kusta, keperkasaan Majapahit digerogoti borok-borok busuk yang mengerikan. Ya, raksasa Majapahit sedang sekarat menunggu ajal. Tubuhnya yang perkasa sedang terlepas satu persatu diganyang borok-borok kusta yang mengerikan.

Nilai-nilai! Ya, nilai-nilai yang menjadi pegangan dan kebanggaan wangsa-wangsa Majapahit selama ratusan tahun kini berubah menjadi senjata dahsyat yang bakal memangsa tuannya. Keagungan, kemuliaan, keberanian, keperkasaan, kemenangan, kebanggaan, penaklukan, dan ketidakbersalahan yang menjadi sendi-sendi utama nilai-nilai di Majapahit telah menjadi Yamastra (senjata Yama, Sang Pencabut Nyawa) yang berhamburan laksana hujan dari langit dan menghujam dengan ganas ke tubuh para pemujanya. Anehnya, orang-orang yang sedang mabuk dengan nilai-nilai itu tidak ada yang sadar bahwa mereka sebenarnya sedang berbaris-baris di depan Sang Maut, menunggu disembelih para Yamakingkara, pasukan penjagal, yang membantu Yama mencabut nyawa.

Memang, selama ratusan tahun nilai-nilai keagungan dan penaklukan yang dianut di Majapahit telah membawa wangsa-wangsa pada kebesaran dan keagungan. Ya, kebanggaan terhadap sifat adhigana (paling unggul), adhigung (paling agung), adhiguna (paling hebat), rajas (nafsu syahwat yang berkobar-kobar), jaya (penaklukan), niratisaya (tak tertanding), dan nirbhaya (tak kenal takut) memang telah membawa Majapahit ke puncak kebesaran. Dengan sifat-sifat yang dibanggakannya itu, manusia-manusia Majapahit telah berhasil menaklukkan manusia-manusia di sekitarnya dan menjadikan manusia taklukan itu sebagai budak. Ya, dengan nilai-nilai itu Majapahit telah menjadi kekaisaran besar yang membentang di tujuh samudra dan tujuh benua; dari Lamuri di barat hingga Wwanin di timur dan Solor di utara. Tiap-tiap bangsa harus tunduk di bawah kuasanya.

Kenapa nilai-nilai yang bersumber dari kebanggaan akan sifat-sifat keagungan dan penaklukan itu bisa membawa Majapahit pada kebesaran dan keagungan? Sesungguhnya, nilai-nilai itu menjadi daya hidup yang kuat ketika berada di tangan para pemimpin yang lahir dari antara manusia-manusia unggul. Para pemimpin yang memiliki wawasan luas, pandangan jauh ke depan, dan dapat mempersatukan seluruh kekuatan wangsa-wangsa yang terbentuk atas nilai-nilai keagungan dan penaklukan. Para manusia unggul itulah yang di dalam sejarah dikenal dengan nama Sri Prabu Kertanegara, Sri Prabu Kertarajasa Jayawarddhana, Sri Prabu Tribhuwanatunggadewi, Sri Prabu Rajasanagara, Sri Prabu Wikramawarddhana, dan terakhir Sri Prabu Kertawijaya.

Ketika tidak lagi lahir pemimpin-pemimpin unggul di antara wangsa-wangsa Majapahit, jatuhlah seluruh bangunan keagungan dan kemegahannya. Sebab, para pemuka wangsa tidak lagi bersatu, saling merasa diri sebagai penguasa yang paling berhak memimpin wangsa lain dengan mengatasnamakan Majapahit. Dan muara dari kecenderungan itu adalah pecahlah pertempuran antar wangsa. Wangsa satu dengan wangsa yang lain sama-sama bernafsu untuk berkuasa dengan cara penundukan dan penaklukan.

Nilai-nilai yang dibangga-banggakan Majapahit terbukti telah berubah menjadi senjata pembunuh mengerikan. Para pemuka wangsa yang entah bodoh, entah lemah, entah picik, entah tidak bercermin diri, dengan kepercayaan diri berlebih berdiri di atas bukit ambisi sambil berteriak lantang: “Akulah putera terbaik wangsa-wangsa Majapahit yang paling unggul, paling agung, paling hebat, paling tak tertandingi, paling tak kenal rasa takut, sang pemilik sifat rajas, dan sang penakluk yang berkemenangan. Aku lahir sebagai penakluk besar. Karena itu, takluklah kalian semua, o wangsa-wangsa rendah, di bawah kaki serojaku.”

Nirartha sadar apa yang dikemukakan Syaikh Lemah Abang adalah benar adanya. Betapa sudah waktunya nilai-nilai keagungan dan penaklukan yang dibanggakan wangsa-wangsa Majapahit harus diakhiri dengan cara melahirkan tatanan nilai-nilai baru. Bukti sejarah menunjuk, betapa para pemuka wangsa yang mengikuti nilai-nilai lama itu telah membawa malapetaka bagi segenap penghuni Bumi Majapahit. Mereka saling perang dan saling bunuh hanya karena ingin mewujudkan diri sebagai sang penakluk yang berkemenangan.

Perang! Ya, perang berkepanjangan bagaikan tanpa akhir telah menjelma menjadi padang penjagalan terbesar sepanjang sejarah Majapahit. Beratus-ratus ribu bahkan berjuta penduduk Majapahit terbunuh. Sungguh tak terbilang jumlah nyawa yang binasa hanya karena rasa bangga mengikuti para pemuka wangsa yang mabuk kekuasaan. Bahkan, pertempuran antara Adipati Terung dan Patih Mahodara pun sesungguhnya merupakan pertarungan antarwangsa yang berpangkal pada kesetiaan terhadap nilai-nilai keagungan dan penaklukan Majapahit.

Dengan terbitnya cakrawala kesadaran itulah Nirartha kemudian mempelajari nilai-nilai baru kepada Abdul Jalil, yaitu nilai-nilai asing yang sebelumnya tak pernah dikenalnya. Nilai-nilai tentang penghormatan dan keselarasan hidup yang bertolak dari ajaran Islam tentang kesabaran, kerelaan (ridho), keadilan (‘adl), keikhlasan, pengorbanan (qurb), kerukunan (ukhuwah), tawakal, sederhana (qama’ah), randah hati (tawadhu’), sebagai penyeimbang dari nilai-nilai keagungan dan penaklukan yang bersumber pada kebanggaan terhadap sifat adhigana, adhigung, adhiguna, rajas, niratisaya, jaya, nirbhaya. Ya, dengan nilai-nilai baru yang masih asing inilah, pikir Nirartha, sejatinya sisa-sisa penduduk Majapahit dapat diselamatkan dari kebinasaan.

Nilai penghormatan dan keselarasan yang diajarkan Abdul Jalil telah membentangkan cakrawala kesadaran Nirartha. Ia benar-benar sadar bahwa hanya dengan nilai-nilai baru itulah cakrawala baru akan bersinar benderang menggantikan malam-malam Majapahit yang tak lagi disinari rembulan dan gemintang. Ya, dengan nilai-nilai baru itu – penghormatan dan keselarasan – Nirartha dapat memahami kelak ajaran Islam akan lebih bisa diterima di Majapahit yang sedang sekarat. Ah, betapa indah jika tatanan kehidupan di Majapahit sekarang ini tegak di atas nilai penghormatan dan keselarasan, ungkapnya dalam hati. Para adipati yang suka berperang dan mabuk kuasa itu akan bisa menghargai dan menghormati adipati lain demi terciptanya keselarasan dalam tatanan kehidupan negerinya. Betapa indahnya!

Penerimaan Nirartha terhadap nilai-nilai baru itu tidak sekadar penerimaan dalam pemikiran dan pemahaman. Ia menerima dan sekaligus menerapkannya sebagai jalan hidup. Itu terbukti saat ia dengan tegas memohon Abdul Jalil berkenan menjadi guru ruhani yang mengajarkan rahasia Kebenaran dari agama yang selama ini dianggapnya asing. Rupanya, bertolak dari nilai penghormatan dan keselarasan itu, Nirartha akhirnya menyadari bahwa “jalan” Kalachakra yang diikutinya harus diakhiri. Upacara meminum darah dan memakan daging manusia yang dikorbankan, apa pun alasannya, adalah tindakan yang tidak bisa diterima apalagi jika dikaitkan dengan nilai penghormatan dan keselarasan. Sehingga, di hadapan Abdul Jalil, ia mengikrarkan diri untuk tidak lagi melakukan upacara-upacara itu.

Sebenarnya, sejak lama Nirartha gelisah dengan perkembangan ajaran Bhairawa-Tantra yang sangat merosot. Para pendeta bhairawa dari kalangan muda terbukti tidak ada yang bisa dibandingkan dengan pendeta dari generasi sebelumnya, baik dalam pemahaman maupun pengalaman ajaran. Kalangan kebanyakan yang beramai-ramai mempelajari dan mendalami ajaran Bhairawa-Tantra tidak lebih dari manusia rendah pencari harta dan kekuasaan. Mereka mempelajari yoga-tantra hanya demi menjadi orang-orang sakti andalan para adipati yang membayarnya untuk keperluan perang. Mereka hanyalah para bhairawa peminum darah yang mendalami ilmu untuk mencari nafkah. Mereka sekadar orang-orang bayaran yang rendah dan nista.

Di tengah kegelisahannya itulah Nirartha menyaksikan cakrawala baru yang dibentangkan Abdul Jalil, yang dirasanya jauh lebih manusiawi dan lebih masuk akal. Itu sebabnya, ia sangat menaruh minat besar terhadap ajaran Islam yang disampaikan Abdul Jalil. Nirartha menilai ajaran baru itu sangat sederhana dan gampang dipahami. Akhirnya, pada hari kesembilan dari perjumpaannya dengan Abdul Jalil, Nirartha mengambil baiat Tarekat Akmaliyyah.

Samudera Pacific, Timur Kota Hualien Taiwan (MV. Kenho) 16 Mei 2007, 19:00LT