Karttikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha

Memasuki pekan ketiga kehadiran Abdul Jalil di padepokan, terjadi peristiwa yang tidak tersangka-sangka. Ketika matahari terbenam dan menyisakan cahaya merah darah di langit barat, tiba-tiba ia diingatkan oleh Ruh al-Haqq di kedalaman kalbunya agar secepatnya pergi meninggalkan padepokan. Meski tidak tahu apa yang bakal terjadi, ia menangkap sasmita bahwa suatu marabahaya tampaknya sedang mendekat. Dan kali pertama yang diingatnya adalah Nirartha beserta istri-istri dan putera-puterinya.

Maka, ia buru-buru memerintahkan sepuluh orang prajurit Terung untuk mengiringi Nirartha dan keluarganya meninggalkan padepokan menuju Terung. Nirartha yang belum memahami maksud Abdul Jalil menjadi kebingungan ketika didaulat oleh prajurit Terung untuk meninggalkan padepokan secepatnya. Dengan keheranan dia menghadap Abdul Jalil, “Apakah sebenarnya yang akan terjadi, o Tuan Syaikh, sehingga paduka menghendaki kami dan keluarga harus cepat-cepat pergi meninggalkan padepokan?”

“Demi Allah, aku tidak tahu kenapa harus menyuruhmu pergi meninggalkan padepokan,” kata Abdul Jalil. “Tetapi, aku menangkap sasmita bahwa padepokan ini sedang dikepung oleh marabahaya. Karena itu, engkau dan keluargamu harus secepatnya pergi sebelum hal itu terjadi.”

Nirartha yang sangat mempercayai Abdul Jalil sebagai guru ruhaninya buru-buru memerintahkan para istrinya untuk berkemas. Sedang ia sendiri bergegas menemui Wiku Suta Lokeswara untuk berpamitan. Ternyata Wiku Suta Lokeswara pun menangkap sasmita yang sama dengan Abdul Jalil. Ia menangkap tengara marabahaya yang sedang mengintai padepokannya. Itu sebabnya, saat Nirartha menghadap ia sudah memerintahkan tiga orang siswanya untuk mengiringi Nirartha meninggalkan padepokan. “Apa pun yang terjadi, malam ini engkau harus membawa keluargamu jauh-jauh dari sini. Pilihlah jalan timur yang melintasi hutan Wanasalam. Meski agak jauh dan berat, daerah itu sangat aman,” kata Wiku Suta Lokeswara.

Terburu-buru Nirartha meninggalkan padepokan. Namun, ketika Nirartha dan rombongan belum jauh dari padepokan, masuklah seorang penduduk yang diantar oleh salah seorang siswa. Penduduk itu dengan tergopoh-gopoh menghadap Wiku Suta Lokeswara yang sedang berbincang-bincang dengan Abdul Jalil. Kepada Wiku Suta Lokeswara dia melaporkan kehadiran serombongan prajurit berkuda yang diiringi beratus-ratus prajurit bertombak dari selatan menuju ke arah padepokan. “Kami melihat puluhan kawula di desa-desa selatan bergelimpangan mati. Setiap langkah dari pasukan itu menjadi langkah Bhattara Yama. Mereka menebar kematian di mana-mana, o Paduka Wiku.”

“Pasukan Patih Mahodara,” gumam Wiku Suta Lokeswara dingin.

Mendengar Wiku Suta Lokeswara menggumamkan “Patih Mahodara”, Abdul Jalil menyela, “Kami sungguh merasa bersalah, Paduka Wiku. Mereka kemari tentu telah mengetahui kehadiran kami.”

“Tuan Syaikh tidak perlu merasa bersalah,” kata Wiku Suta Lokeswara. “Tanpa kehadiran Tuan Syaikh pun sang patih akan menyerang padepokan ini. Dia sudah cukup lama tidak menyukai padepokan ini, terutama sejak Nirartha menghindari keinginan sang patih untuk bergabung menjadi pendukungnya.”

Ketika Abdul Jalil akan berkata-kata tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar gerbang selatan padepokan. Ia menoleh dan melemparkan pandangan ke arah gerbang selatan untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Ternyata gerbang selatan telah merah dikobari nyala api. Ia melihat bayangan puluhan penunggang kuda berkelebatan di tengah amukan api sambil berteriak-teriak mengacungkan busur ke atas. Rupanya, para penunggang kuda baru saja melepaskan panah-panah berapi untuk membakar gerbang padepokan. Bahkan setelah itu, Abdul Jalil melihat betapa beringas para penunggang kuda itu menerobos kobaran api dengan cara beriringan. Dalam hitungan detik ia saksikan halaman dalam padepokan sudah dimasuki oleh iring-iringan kuda yang meringkik dan menghentak-hentakkan kakinya ke bumi.

Tak lama kemudian terdengar teriakan-teriakan perang membahana dari berbagai sudut. Mereka serentak menarik tali kekang sehingga membuat kuda-kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Rupanya teriakan-teriakan perang itu berasal dari mulut para prajurit Terung yang menyerang mereka dengan tombak dan pedang. Akhirnya, tak terhindarkan lagi pecah pertarungan sengit di tengah kobaran api yang mulai menyambar-nyambar dan membakar bangunan-bangunan di padepokan.

Di tengah sengitnya pertempuran terdengar teriakan dan sorak-sorai gemuruh dari arah selatan, diikuti tombak-tombak teracung yang bermunculan di tengah kobaran api. Rupanya para prajurit Daha berhasil menerobos masuk ke bagian dalam padepokan. Mereka dengan beringas naik ke asrama-asrama dan membuat kerusakan di sana. Mereka memanjat dinding dan membakari atap-atap. Namun, tindakan perusakan itu tidak berlangsung lama. Mereka dihadang siswa-siswa padepokan dengan dipimpin sendiri oleh Wiku Suta Lokeswara.

Sebagai seorang pendeta bhairawa, Wiku Suta Lokeswara tidaklah berbeda dengan pendeta bhairawa yang lain dalam hal kesaktian. Itu terlihat saat ia dan siswa-siswanya menghadapi prajurit-prajurit Daha yang sedang mengamuk di padepokannya. Bagaikan orang sedang membersihkan halaman dengan sapu, setiap kali ia menggerakkan tangannya ke depan atau ke samping selalu diikuti oleh terpentalnya tubuh prajurit Daha ke berbagai arah, bagaikan daun-daun kering dikebas sapu. Para siswa pun mengikuti tindakan gurunya sehingga dalam waktu singkat terlihat berpuluh-puluh prajurit Daha bergelimpangan di halaman padepokan sambil mengerang kesakitan.

Ketika malam makin merambat menuju puncak, pertempuran di padepokan berlangsung lebih seru dan lebih sengit. Pasukan Daha bagaikan kesetanan merangsak maju sambil berteriak-teriak. Mereka maju dari arah selatan, barat, dan timur. Mereka menyerbu bagaikan kawanan semut mengerumuni bangkai. Sementara itu, para prajurit Terung dan Wiku Suta Lokeswara beserta siswa-siswanya bertahan mati-matian di bagian utara padepokan, di tengah kobaran api yang sudah melahap seluruh bangunan. Mereka bertahan sekuat daya dari serbuan prajurit-prajurit Daha yang menggelombang bagaikan tak ada habisnya.

Menjelang tengah malam, ketika Wiku Suta Lokeswara dan prajurit-prajurit Terung terdesak hebat, terjadi suatu peristiwa aneh. Di tengah kobaran api yang mulai meredup tiba-tiba muncul kabut berasap yang bergumpal-gumpal dan mengambang menutupi sisa-sisa bangunan yang terbakar. Kabut berasap itu terus mengambang seolah-olah menyelimuti padepokan yang sudah menjadi tumpukan arang. Beberapa jenak kemudian, keadaan di sekitar padepokan menjadi sangat gelap. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang terlihat melingkupi. Di tengah kegelapan itu secara samar-samar terlihat bayangan-bayangan hitam berkelebat bagaikan mengitari para prajurit Daha.

Seiring berkelebatnya bayangan hitam, terjadi suatu keanehan lagi: prajurit Daha tiba-tiba saling bertabrakan dengan sesama kawannya. Terdengar suara caci maki, lalu umpatan-umpatan balasan. Setelah itu terdengar jerit kesakitan yang diikuti gemerincing senjata yang beradu. Rupanya terjadi pertempuran di antara prajurit Daha sendiri. Mereka saling menikam.

Menyaksikan para prajurit Daha saling bertempur sendiri di tengah kegelapan, Wiku Suta Lokeswara dan prajurit Terung keheranan. Mereka hanya bisa berdiri tercengang menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu. Namun, tak lama kemudian mereka tersadar dan harus segera mundur, terutama setelah mendapat laporan bahwa Nirartha dan keluarganya telah berhasil melewati kediaman Sang Pamget Kandangan Tuha menuju arah hutan Wanasalam. Demikianlah, dengan diam-diam mereka bergerak mundur ke arah timur, meninggalkan kegelapan yang menyelimuti padepokan dengan kabut berasap itu.

Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk prajurit Daha yang saling bertempur sendiri, di tengah selimut kabut berasap yang bergumpal-gumpal meliputi padepokan, Abdul Jalil yang hanya didampingi seorang prajurit Terung, terlihat menyelinap di bawah sebatang pohon yang terbakar sebagian daunnya. Di tengah kelebatan bayangan-bayangan hitam ia melihat satu sosok dengan kecepatan menakjubkan melintas di atas hamparan kabut berasap; mula-mula sebesar domba, kemudian makin membesar seukuran gajah. Tepat di depan Abdul Jalil, sosok seukuran gajah itu berhenti dan memberikan isyarat gerakan tangan agar ia menjauh.

Sadar bahwa sosok sebesar gajah itu bermaksud baik, Abdul Jalil menarik tangan prajurit Terung di sampingnya. Dengan isyarat gerakan tangan, ia meminta sang prajurit untuk mengikutinya meninggalkan padepokan yang sudah menjadi puing-puing hitam itu. Abdul Jalil tersuruk-suruk di tengah kegelapan. Malam yang berkabut telah membuatnya bergerak tanpa tahu arah, namun ia terus berjalan.

Ia baru sadar dirinya terpisah dari rombongan yang lain pada dini hari ketika berada di tepi sungai Nilakantha di utara Jnanabharan. Ceritanya, saat itu tanpa diduga di depan Abdul Jalil telah berdiri sosok sebesar gajah yang tadi dilihatnya di padepokan. Abdul Jalil terkejut dengan kemunculan tiba-tiba sosok itu. Dari kegelapan ia mengamati sosok tersebut berwujud manusia raksasa setinggi sekitar tujuh depa. Rambutnya yang panjang dan lebat terurai hingga ke bawah lutut. Matanya menyala hijau dengan manik-manik kecil. Abdul Jalil cepat tersadar bahwa sosok di depannya itu bukanlah manusia, melainkan sebangsa makhluk berbadan halus dari antara bangsa jin.

Ketika ia mengecilkan mata untuk menegasi wajah sosok raksasa di depannya itu, tiba-tiba sang makhluk mengucap salam, menyapa dengan bahasa perlambang (isyarat), dan memperkenalkan diri sebagai Yang Dipertuan Bumi Pangjalu, Sang Bhuta Locaya. Ketika melihat Abdul Jalil bergeming, sosok bernama Bhuta Locaya itu mengaku telah pernah bertemu dengannya di Gunung Pulasari. Mendengar pengakuannya, Abdul Jalil segera memahami bahwa keanehan yang baru saja terjadi di padepokan itu tidak lain dan tidak bukan tentu ulah Bhuta Locaya. Itu sebabnya, ia mengucapkan terima kasih kepada penguasa Bumi Pangjalu tersebut.

Mendapat ucapan terima kasih dari Abdul Jalil, Bhuta Locaya heran dan bertanya, “Kenapa Paduka Syaikh mengucapkan terima kasih kepada kami?” Kami merasa tidak melakukan sesuatu untuk Paduka Syaikh. Kami datang ke padepokan Wiku Suta Lokeswara karena kami melihat tengara kabut berasap di situ. Kami menduga Paduka Syaikh sengaja memanggil kami dengan membuat kabut berasap itu.”

Pengakuan Bhuta Locaya bahwa kedatangannya karena kabut berasap itu mengherankan Abdul Jalil. Sebab, ia merasa tidak tahu-menahu. Seingatnya, kabut berasap itu muncul begitu saja menyelimuti padepokan. Lantaran itu, ia akhirnya menganggap peristiwa kabut aneh itu adalah bagian dari pertolongan Ilahi. Hanya Allah jua yang kuasa melakukan hal-hal aneh yang tak masuk akal guna melindungi hamba-Nya.

Ketika Bhuta Locaya menyinggung kembali tentang pertemuan di Gunung Pulasari, ingatan Abdul Jalil pun melayang pada detik-detik saat ia berkhotbah di depan makhluk-makhluk gaib tersebut. Ia tiba-tiba ingat bahwa makhluk-makhluk gaib itu memiliki tradisi pesta darah manusia. Terdengar oleh ingatan tentang kebiasaan berpesta darah manusia, Abdul Jalil pun menanyai Bhuta Locaya, “Apakah di kalangan bangsamu dalam waktu dekat ini tidak ada perhelatan besar pesta darah?”

“O ada, Paduka Syaikh,” sahut Bhuta Locaya gembira. “Kami diundang untuk menghadiri pesta besar perburuan manusia.”

“Siapa yang mengundangmu?”

“Setan Kabir Yang Dipertuan Caruban, Ki Kareteg Yang Dipertuan Pakuan Pajajaran, dan Bangsan Yang Dipertuan Gunung Kumba (ng). Mereka mengundang kami untuk pesta besar itu.”

Abdul Jalil tersentak kaget mendengar pengakuan Bhuta Locaya. Tak pelak lagi, pesta darah para makhluk halus itu akan terjadi di Caruban. Ini bermakna, perang di Caruban tidak akan terhindarkan lagi. Berarti, ia harus secepatnya kembali ke Caruban. Ia tidak bisa meninggalkan ayahanda asuhnya menghadapi masalah itu tanpa keterlibatan dirinya, meski ia sadar tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman berperang. Namun, saat hendak menanya Bhuta Locaya tentang seberapa besar pesta darah itu akan diselenggarakan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh pancaran cahaya gaib yang terlihat oleh mata batinnya (‘ain al-bashirah) dalam wujud sinar (teja) yang memancar dari arah tenggara. Dengan penuh rasa ingin tahu Abdul Jalil bertanya kepada Bhuta Locaya tentang sinar yang tertangkap oleh mata batinnya, “Apakah makam itu milik seorang manusia suci?”

“Sinar apakah yang Paduka saksikan itu, o Paduka Syaikh.” Bhuta Locaya heran karena tidak melihat sesuatu pun. “Kami tidak melihat apa pun di sini.”

“Sinar yang memancar di sana itu,” kata Abdul Jalil menunjuk ke arah sinar.

“Kami tidak melihat apa pun, o Paduka Syaikh. Tetapi, yang paduka tunjuk itu kalau tidak salah adalah pendharmaan Sang Nrpati Dewasimha dan penasihat setianya, Yang Mulia Jnanabhadra.”

“Maksudmu, Yang Mulia Karttikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha, pendiri Kerajaan Kalingga?” sergah Abdul Jalil ingin tahu.

“Benarlah demikian, Paduka Syaikh,” jawab Bhuta Locaya takzim.

“Jika demikian, aku akan berziarah ke sana.”

Pulau-pulau di tengah samudera raya yang dikenal sebagai wilayah Majapahit pada masa silam merupakan negeri yang sangat menakutkan bagi bangsa manusia yang tinggal di Bharatnagari. Tidak banyak yang mengetahui makhluk apa yang tinggal di tengah samudera raya itu. Namun, para dewa mengatakan bahwa di tengah samudera raya itu tinggal para Kalakeya, Naga, Wanara, Lembu, Barwang, Anjing, Rakshasa, Danawa, Daitya, Pisaca, Yaksa, Aditya, dan Asura; makhluk-makhluk demonis pemakan manusia yang sangat buas dan menakutkan. Makhluk-makhluk itu dipimpin oleh seorang Asura Raja bernama Varuna, pemuka wangsa Aditya.

Menurut cerita dewa-dewa, para makhluk buas penghuni samudera raya itu berkali-kali naik ke daratan dan mendaki puncak-puncak gunung tempat persemayaman Bhattara Indra. Dipimpin oleh raja-rajanya yang sakti mandraguna seperti Asura Vrithra, para makhluk buas menjarah Indraloka dan mengejar-ngejar para apsara-apsari. Suatu saat Asura Vrithra berhasil dibinasakan oleh Indra. Namun, lahir lagi pemimpin baru bernama Kasin, yang kembali memimpin makhluk-makhluk mengerikan itu menyerbu Indraloka. Tatkala Kasin dibinasakan Balarama, muncul saudaranya yang bernama Niwatakawaca, yang dengan penuh amarah menggempur Indraloka. Namun, seperti nasib pemimpin makhluk buas terdahulu, Niwatakawaca pun dapat dibinasakan putera Bhattara Indra, Arjuna.

Setelah pemuka-pemukanya terbunuh dalam pertempuran, makhluk-makhluk ganas penghuni lautan itu tidak pernah lagi menyerbu Indraloka. Mereka tinggal tenang di dalam lautan. Namun, sifat mereka yang mirip dengan sifat lautan sering kali berubah dengan cepat dan menggiriskan. Meski tak pernah lagi menyerbu Indraloka, mereka masih sering naik ke daratan Bharatnagari dan melakukan penjarahan serta perampokan besar-besaran. Setelah puas menjarah, merampok, merusak, dan membunuh manusia, makhluk-makhluk ganas itu kembali ke dalam lautan dan tidur selama bertahun-tahun.

Ketika pelaut-pelaut Gurjaradwipa mulai berani berlayar ke tengah samudera, mereka mengunjungi sarang-sarang kediaman para makhluk buas yang menakutkan itu. Dari para pelaut Gurjaradwipa itulah sarang-sarang makhluk ganas di tengah samudera itu disebut dengan nama Nagnaloka (dunia manusia telanjang). Rupanya para makhluk buas itu telah berubah menjadi setengah manusia. Namun, mereka masih belum mengenal pakaian. Sebagian mereka masih menggunakan nama-nama wangsa yang menunjuk pada asal-usul leluhurnya yang buas, yaitu Danawa, Daitya, Rakshasa, Kalakeya, Naga, Wanara, Anjing, Lembu, dan Barwang.

Selama beratus-ratus tahun makhluk setengah manusia itu hidup dalam keadaan liar dan tanpa aturan. Mereka dikenal sebagai bangsa lautan yang memiliki sifat tidak jauh dari leluhurnya yang suka membanggakan kehebatan diri dan kelompoknya, makhluk yang gemar berperang, suka menjarah dan merampok, senang membunuh, dan haus darah. Hari-hari dari kehidupan mereka tidak pernah diwarnai ketenangan, kedamaian, kerukunan, dan ketenteraman. Mereka benar-benar makhluk berjiwa lautan. Sekalipun tampak tenang, tanpa terduga mereka sering mengamuk. Jika mengamuk mereka akan menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya sebagaimana gelombang menghancurkan kapal-kapal dan desa-desa di pesisir.

Di tengah kengerian hidup semacam itu, datanglah ke tengah lautan itu seorang Brahmana Panca Dravida dari negeri Andra di selatan Bharatnagari yang bernama Kundungga. Ia adalah keturunan Asura Varuna dari galur Rishi Agastya. Dari Kundungga lahirlah raja-raja besar yang berusaha menata kehidupan di tengah samudera raya itu sebagaimana layaknya tatanan kehidupan manusia. Di antara keturunan Kundungga yang termasyhur adalah Aswawarman, Bhagawan Manumanasya Sri Jayasinghawarman, Mulawarman, Purnawarman, Suryyawarman, Chakrawarman, Indrawarman, Kesariwarman, dan Singhawarman. Itulah barisan manusia luhur keturunan Varuna yang melahirkan Karttikesingha Sang Nrpati Dewasimha, pendiri kerajaan besar pertama di samudera raya yang masyhur dikenal sebagai Kerajaan Kalingga.

Paparan itulah yang didengar Abdul Jalil dengan isyarah saat menemui arwah Sang Nrpati Dewasimha di pendharmaannya untuk meminta petunjuk bagi penyempurnaan gagasannya tentang khilafah. Yang paling mengejutkan Abdul Jalil, arwah Nrpati Dewasimha menertawakan gagasannya itu dengan ibarat mangga matang sebelum waktu. Merasa bahwa tidak ada yang salah dalam gagasannya tentang khilafah itu, Abdul Jalil memohon agar Nrpati Dewasimha menunjukkan keburukan dan kelemahan gagasannya tersebut.

Sebagai manusia besar yang pernah malang melintang di atas takhta kencana yang menyatukan dua puluh tujuh kerajaan di samudera raya, sang Nrpati Dewasimha sudah tentu sangat memahami tata negara dan tata kehidupan penduduk negerinya. Saat Abdul Jalil memintanya untuk menunjukkan keburukan dan kelemahan khilafah, dengan sangat tenang sang Nrpati Dewasimha berkata, “Tidak ada yang buruk dan tidak ada yang lemah dari gagasanmu itu, o Anak. Yang aku tertawakan adalah rencanamu untuk menerapkan tatanan agung dan mulia itu di negeri ini tanpa memperhitungkan watak dasar dari manusia-manusia yang engkau harapkan mendukung gagasan itu. Sebab, dengan mengabaikan watak dasar manusia pendukung, engkau dapat diibaratkan seperti orang yang berusaha menjadikan sebuah kota sebagai hunian kawanan binatang buas. Sehingga bukan keamanan, ketenteraman, kedamaian, kemakmuran, keadilan, dan kesentosaan yang akan engkau hadapi jika gagasanmu itu dijalankan, sebaliknya kekacauan dan kerusakanlah yang akan terjadi jika gagasan itu engkau laksanakan.”

“Apakah yang harus kami lakukan agar gagasan itu dapat dijalankan dan menghasilkan kemaslahatan bagi seluruh penduduk, o Paduka Mulia?” tanya Abdul Jalil.

“Tidak ada cara lain, kecuali melakukan tindak kekerasan atas nama hukum sebagaimana yang telah aku lakukan,” kata Nrpati Dewasimha tegas. “Sebab, telah berbilang abad leluhurku menegakkan kekuasaan di tengah samudera yang dihuni makhluk-makhluk setengah manusia ini, namun mereka semua merasa gagal menjadikan penghuni negeri ini sebagai manusia sempurna. Kekuasaan yang ditegakkan para leluhurku selalu ternoda oleh kebiadaban para kawula yang memiliki sifat seperti leluhurnya; para makhluk buas dari antara wangsa Kalakeya, Danawa, Daitya, Rakshasa, Yaksa, Naga, Anjing, Wanara, Lembu, dan Barwang.”

“Lantaran itu, ketika aku menegakkan kekuasaan di Kalingga, aku pilih jalan yang paling tegas untuk membedakan manusia dari binatang dan makhluk-makhluk buas yang biadab, yakni dengan cara penegakan hukum. Maksudku, untuk mendidik makhluk setengah manusia agar menjadi manusia utuh, hendaklah dilakukan dengan mengenalkan mereka pada hukum. Seluruh penduduk Kalingga harus disadarkan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang hidup di atas peraturan hukum, bukan hidup liar seperti binatang di hutan.”

“Aku tidak tahu pasti berapa puluh ribu manusia setengah binatang yang terbunuh atas nama hukum Kalingga yang keras. Sebab, tidak kenal kawula, tidak kenal nayakapraja, tidak kenal keluarga raja, yang melanggar peraturan akan dijatuhi hukuman berat. Waktu itu aku dicaci maki oleh semua orang sebagai raja setan yang jahat dan haus darah. Tetapi, aku menutup mata dan telingaku. Tidak ada yang aku dengarkan di antara semua suara itu, kecuali suara hukum yang jernih laksana pantulan denting pedang yang lurus dan tajam.”

“Akhirnya, selama puluhan tahun sejak hukum ditegakkan dengan keras, penduduk Kalingga benar-benar menjadi manusia yang baik budi pekertinya. Sifat-sifat buruk warisan para Kalakeya, Danawa, Daitya, Rakshasa, Pisaca, Yaksa, Naga, Anjing, Wanara, Lembu, dan Barwang telah lari bersembunyi di kedalaman jiwa seluruh penduduk. Seluruh warga Kalingga hidup dalam keadaan aman, damai, tenteram, makmur, dan sentosa. Kejahatan sekecil apa pun tidak terjadi di Bumi Kalingga karena semua penduduk tunduk pada hukum. Semua penduduk sudah menjadi manusia utuh.”

“Tetapi, saat aku mengundurkan diri menjadi pertapa, terjadi peristiwa yang menguji ketegasanku. Pangeran Pradah Putra, putera mahkotaku, melakukan pelanggaran terhadap hukum. Dia menginjak-injak pundi-pundi berisi emas yang diletakkan seorang pedagang Arab di pasar kutaraja. Orang Arab sombong itu tidak yakin bahwa ada bangsa selain bangsanya, apalagi bangsa keturunan makhluk buas, yang bisa patuh hukum. Lantaran itu, dia ingin menguji hukum Kalingga.”

“Selama dua tahun tidak satu pun orang berani menyentuh pundi-pundi itu. Tetapi, putera mahkotaku justru mengijak-injaknya, sebagai ungkapan sikap bahwa tumpukan emas baginya bukanlah barang berharga. Rupanya dia tidak sadar bahwa hukum Kalingga melarang orang-seorang mengganggu barang milik orang lain. Lantaran itu, dia diancam hukuman mati. Sebagaimana aku, istriku yang menggantikan kekuasaanku pun dengan tegas menjatuhkan hukuman mati atas putera mahkota. Hak atas takhta dicabut darinya. Hanya atas saran para pejabat tinggi kerajaan akhirnya hukuman mati dicabut dan diganti hukuman potong kedua kaki. Demikianlah, Pradah Putra, sang putera mahkota dipotong kedua kakinya tanpa ampun. Itulah hukum adil yang harus dipatuhi oleh setiap penghuni negeri tidak pandang kawula, tidak pandang keluarga raja.”

Mendengar uraian Nrpati Dewasimha, Abdul Jalil sadar betapa gagasannya tentang khilafah sangat lemah dalam hal perangkat hukum yang sesuai untuk menata dengan tertib kehidupan masyarakat ummah dan aparat walu al-Ummah. Ia sadar bahwa Nabi Muhammad Saw. pun saat membangun komunitas ummah di Yatsrib menetapkan hukum yang keras sehingga beliau berkata akan memotong sendiri tangan puterinya, Fatimah r.a., jika kedapatan sang puteri terbukti melakukan pencurian. Ah, bukankah kekacauan di Caruban Larang akibat orang-orang berebut tanah hanya bisa diredakan oleh tindakan keras Sri Mangana yang mengancam dengan hukuman berat bagi siapa saja yang terbukti melanggar batas tanah orang lain? Bukankah compang-camping kehidupan di Bumi Majapahit juga disebabkan lumpuhnya penegakan hukum Kutaramanawa?

Petunjuk Nrpati Dewasimha sesungguhnya telah menempatkan Abdul Jalil pada kedudukan yang sulit. Di satu pihak, ia bisa menerima alasan Nrpati Dewasimha itu bahwa penghuni negeri ini hanya bisa dimanusiakan lewat penegakan hukum yang tegas dan keras karena mereka dianggap sebagai manusia setengah hewan. Namun di pihak lain, ia merasa jika petunjuk Nrpati Dewasimha diikuti tentu akan bertentangan dengan dasar-dasar ajaran yang disampaikannya yang meyakini bahwa di dalam diri manusia sejatinya terdapat ruh Yang Ilahi. Dengan ajarannya itu ia secara tegas menghendaki para penghuni negeri dapat mematuhi hukum karena kesadaran, bukan didasari oleh rasa takut. Sebab, jika penegakan hukum hanya didasarkan pada rasa takut maka saat yang ditakuti sudah tidak ada, kembalilah orang-orang ke sifat semula. Porak-porandanya Kalingga terbukti karena raja-raja penerus tidak lagi memiliki sikap tegas seperti Nrpati Dewasimha dan permaisurinya, sehingga para kawula Kalingga kembali menjadi liar sepeninggal mereka.

Taiwan Strait Approaching Kaohsiung (MV. Kenho) , May 20th 2007, 08:20