Di Padepokan Wanasalam

Ketika Abdul Jalil kembali dari pendharmaan Nrpati Dewasimha menuju Terung, tanpa sengaja ia melewati Padepokan Wanasalam, tempat kelahiran Ario Damar, adipati Palembang. Tercekam oleh kemasyhuran Padepokan Wanasalam, ia kemudian memutuskan untuk singgah barang beberapa bentar di padepokan yang didirikan oleh Kaki Palupa, kakek adipati Palembang. Padepokan Wanasalam sendiri saat itu dipimpin oleh Ki Wedung, adik Patih Demak, Ki Wanasalam.

Entah kebetulan entah tidak, saat berada di padepokan itu, tanpa pernah diinginkan, untuk kali pertama sepanjang hidupnya Abdul Jalil menyaksikan keberadaan sebuah ksetra, lebih tepat disebut bekas ksetra; hamparan tanah lapang berumput ilalang di utara padepokan dengan sebuah bukit tulang manusia setinggi tujuh depa terletak di tengah-tengah. Menurut Ki Wedung, ksetra itu sekarang tidak lagi digunakan karena Ario Damar dan Ki Wanasalam selaku sesepuh padepokan telah melarang ksetra itu dipakai untuk upacara. “Kami selaku orang muda patuh saja pada perintah kakak-kakak kami,” ujar Ki Wedung.

Sekalipun ksetra di Padepokan Wanasalam sudah bertahun-tahun tidak digunakan lagi, kengerian masih membayangi keberadaannya. Siapa pun yang belum mengetahui dan mengenal ajaran Bhairawa-Tantra akan meremang bulu kuduknya saat melihatnya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya tulang-tulang manusia yang menggunung dibalut debu tebal. Andaikata ada yang menghitung, jumlah gunungan tulang itu sedikitnya tak kurang dari sembilan ratus orang. Itu belum termasuk tulang-tulang yang berserak di pinggir tanah lapang dan tumpukan-tumpukan kecil di sekitarnya. Entah berapa ribu anak manusia sebenarnya yang telah menjadi korban persembahan bhairawa-bhairawi itu.

Abdul Jalil yang baru sekali itu melihat ksetra merasakan bulu kuduknya meremang saat menekuri tulang-tulang itu. Berulang-ulang ia menarik napas panjang. Tulang-tulang itu, katanya dalam hati, pastilah tulang belulang anak-anak muda dan bayi-bayi tak berdosa. Mereka dirampas dari dekapan kasih orang tuanya untuk dijadikan “jalan pintas” menuju pembebasan jiwa oleh sekelompok orang yang mencari Kebenaran Sejati. Andaikata tidak ada cahaya iman yang dipancarkan Allah SWT. lewat Ario Damar dan Ki Wanasalam, tentulah ksetra itu masih digunakan.

Entah kebetulan entah tidak, ketika Abdul Jalil tinggal beberapa bentar di padepokan yang dianggapnya sebagai tempat kenajisan itu, tanpa diduga-duga ia bertemu dengan Raden Sulaiman, leba Wirasabha, pemimpin penduduk beragama Islam di Wirasabha. Saat itu Raden Sulaiman bersama puluhan orang warga muslim Wirasabha sedang meminta perlindungan di padepokan tersebut. Rupanya penduduk Wirasabha yang beragama Islam sedang mengalami tekanan akibat pecahnya peperangan antara adipati Terung dan Patih Mahodara.

Raden Sulaiman adalah putera Raden Abu Hurairah, leba Wirasabha pertama. Raden Abu Hurairah sendiri merupakan saudara sepupu Raden Ali Rahmatullah, bupati Surabaya, sebab ayahanda Raden Abu Hurairah yang bernama Narpath Arun adalah adik bungsu puteri Candrawati, ibunda Raden Ali Rahmatullah. Raden Abu Hurairah datang ke Majapahit barang setengah abad silam bersama saudara sepupunya, Raden Ali Rahmatullah dan Raden Ali Murtadho. Keduanya putera Candrawati yang menikah dengan Syaikh Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandy. Mereka datang ke Majapahit untuk bersilaturahmi pada bibinya, Ratu Darawati, yang diperistri oleh calon maharaja Majapahit, Sri Prabu Kertawijaya.

Raden Ali Rahmatullah diangkat menjadi imam Masjid Ampel Denta di Surabaya dan Raden Ali Murtadho diangkat menjadi imam masjid di Gresik. Saat itu Raden Abu Hurairah diangkat menjadi leba di Wirasabha, yaitu pejabat khusus yang mengelola sebagian tanah pribadi milik raja (watej i jro) dan berwenang memungut pajak dari tanah tersebut (mangilala drwya haji). Dengan jabatan leba tersebut, Raden Abu Huraira kemudian menjadi pemuka penduduk muslim di Wirasabha, khususnya imam bagi warga peranakan Campa. Ia menikah dengan puteri Arya Teja, syahbandar Tuban. Dari pernikahan itu lahirlah Raden Sulaiman. Sepeninggal Raden Abu Hurairah, yang menggantikan kedudukannya sebagai leba dan imam penduduk beragama Islam di Wirasabha adalah puteranya, Raden Sulaiman.

Belum lama Raden Sulaiman menggantikan ayahandanya, kehidupan di Majapahit mengalami perubahan yang sangat menyedihkan. Perang antarwangsa untuk berebut pengaruh dan kekuasaan telah melahirkan kehidupan yang kacau-balau. Penjarahan terjadi di mana-mana. Penduduk desa yang kehilangan rumah dan harta bendanya datang ke kota-kota terdekat dengan pakaian compang-camping untuk meminta-minta. Di tengah suasana kacau-balau itulah penduduk yang sudah menjadi gelandangan menggantungkan harapan mereka kepada orang-orang Islam di pedalaman. Banyak di antara penduduk itu kemudian memeluk Islam. Kehidupan mereka menjadi lebih baik karena mendapat bantuan dari saudagar-saudagar muslim di pesisir.

Memang, sejak zaman Sri Prabu Rajasanagara berkuasa, di kutaraja Majapahit sudah terdapat warga muslim. Mereka hidup bebas menjalankan keyakinan agamanya, meski di dalam tatanan penduduk mereka dikelompokkan sebagai golongan mleccha, yakni kalangan rendah di luar kasta. Jumlah penduduk muslim di kutaraja makin bertambah ketika Sri Prabu Wikramawarddhana naik takhta. Ini lantaran adik tiri yang diangkatnya menjadi raja muda di Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura, memeluk agama Islam dan menempatkan saudagar-saudagar muslim di kutaraja. Pada saat Sri Prabu Kertawijaya naik takhta, jumlah penduduk muslim di kutaraja makin meningkat karena sang maharaja menikahi perempuan-perempuan muslimah, bahkan terakhir ia memeluk agama Islam.

Ketenangan dan kedamaian penduduk beragama Islam di pedalaman Majapahit ternyata tidak langgeng. Pada saat perselisihan antarwangsa berlangsung sengit, pemegang kekuasaan di Majapahit adalah penguasa-penguasa yang berpikiran picik dan berjiwa kerdil. Penghargaan dan penghormatan atas keberbedaan sebagaimana maharaja terdahulu menjadi terabaikan. Penduduk beragama Islam di pedalaman mulai merasakan tekanan-tekanan dan ancaman-ancaman, bahkan tindak-tindak kekerasan.

Menurut ingatan warga muslim Wirasabha, bencana awal yang dialami penduduk muslim di pedalaman terjadi untuk kali pertama saat pecah pertempuran antara adipati Terung dan Patih Mahodara. Penduduk muslim di Wirasabha yang seabad lebih tidak pernah diganggu tiba-tiba harus ikut menanggung akibat buruk dari pertempuran tersebut. Mereka dijadikan bagian dari sasaran-sasaran tempur oleh kaki tangan Patih Mahodara dalam upaya menekan kekuatan Terung. Rumah mereka dibakar. Harta mereka dijarah. Mereka yang tak sempat lari akan dibunuh. Anehnya, dalam keadaan kacau-balau itu, satu-satunya tempat berlindung yang paling aman bagi umat Islam Wirasabha adalah Padepokan Wanasalam; kediaman para bhairawa pemangsa manusia.

Tentang kecenderungan umat Islam untuk berlindung di Padepokan Wanasalam, menurut Raden Sulaiman, sesungguhnya terkait dengan hubungan lama di antara leba Wirasabha dan pemimpin Padepokan Wanasalam. Sejak kali pertama Raden Abu Hurairah diangkat sebagai leba di Wirasabha sudah terjalin hubungan antara dirinya dan pemimpin Padepokan Wanasalam, Ki Kumbharawa. Hal itu terjadi karena Ki Kumbharawa adalah uwak dari Ario Damar. Ario Damarlah yang mengikatkan jalinan itu. Hubungan itu makin kuat manakala atas bimbingan leba Wirasabha, putera Ki Kumbharawa, yaitu Ki Wanasalam, memeluk Islam. Lantaran Ki Wanasalam sudah memeluk Islam dan menjadi patih di Kadipaten Demak maka sepeninggal Ki Kumbharawa yang menggantikan kedudukannya adalah putera bungsunya, Ki Wedung, yang kala itu masih remaja.

Hubungan erat antara Leba Wirasabha dan pemimpin Padepokan Wanasalam menjadikan keberadaan umat Islam di Wirasabha tak terusik. Semua orang seolah tahu, Sang Leba Wirasabha adalah kerabat pemimpin Padepokan Wanasalam. Itu sebabnya, ketika terjadi penyerbuan pasukan Patih Mahodara yang pertama kali ke Surabaya, umat Islam di Wirasabha tidak sedikit pun diganggu. Baru setelah pecah perang dengan Terung, kaki tangan Patih Mahodara mulai berani menjarah dan merampok umat Islam. Ya, pada masa Patih Mahodaralah untuk kali pertama umat Islam di Wirasabha mulai diganggu.

“Saat kerusuhan pertama pecah,” kata Raden Sulaiman, “seluruh warga muslim di Wirasabha sangat kebingungan. Mereka tidak pernah menduga akan dijadikan sasaran serangan. Tatkala mereka sedang berlarian mencari anak-anak mereka, tiba-tiba rumah mereka sudah rata dengan tanah. Harta benda mereka habis dijarah. Mereka yang tak sempat menghindar, tubuhnya bergelimpangan menjadi mayat di jalan-jalan. Suasana saat itu benar-benar mencekam.”

“Itu terjadi pada perang Terung – Daha yang pertama?” tanya Abdul Jalil.

Raden Sulaiman mengiyakan. Kemudian dia menuturkan betapa di tengah kebingungannya, penduduk muslim Wirasabha berbondong-bondong menyelamatkan diri ke makam leba Wirasabha pertama, Raden Abu Hurairah. Mereka berkerumun dan berdesak-desakan di makam yang terletak di belakang Ndalem Leba. Mereka berdoa sambil menangis memohon pertolongan dari arwah Raden Abu Hurairah. Saat itu semua orang tidak tahu harus berbuat apa untuk menghindar dari kematian. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap terjadi sebuah keajaiban.

“Masih terbayang benar dalam ingatan saya,” Raden Sulaiman mengenang, “betapa mencekam suasana saat itu. Seluruh Wirasabha sudah dikuasai pasukan Patih Mahodara. Puluhan ribu prajurit dengan senjata terhunus berkeliaran di jalan-jalan. Mereka akan menghancurkan apa saja yang mereka ketahui milik warga muslim. Bagaikan kawanan hewan buas kelaparan, prajurit Patih Mahodara dengan wajah beringas dan mata menyala beriring-iringan menuju ke Ndalem Leba.”

“Ndalem Leba mereka kepung. Kemudian, sambil berteriak serentak bagaikan suara guruh bersahut-sahutan, mereka melepaskan beratus-ratus panah berapi. Terjadi hujan api. Dalam sekejap Balai Rangkang dan bangunan-bangunan utama Ndalem Leba tenggelam dalam lautan api. Saat itu semua orang yang berada di makam saling berdesak-desak dan menjerit-jerit ketakutan. Suasana makin tegang, ketakutan makin memuncak, manakala mereka menyaksikan pasukan Patih Mahodara berbondong-bondong masuk ke halaman Ndalem Leba menuju arah makam. Tanpa ada yang menyuruh, semua beramai-ramai melafalkan kalimah tahlil La ilaha illa Allah berulang-ulang karena mereka mengira saat itu adalah saat terakhir mereka hidup di dunia.”

“Ketika semua harapan untuk hidup sudah pupus, tiba-tiba terjadi keajaiban. Allah memberikan pertolongan dalam bentuk yang tak pernah kami bayangkan. Saat itu saudara kami terkasih, Ki Wedung, dengan diikuti oleh sepuluh siswanya menerobos masuk ke Ndalem Leba secara menakjubkan. Laksana kawanan raksasa menakutkan keluar dari hutan, mereka menyibak pasukan Patih Mahodara bagaikan orang menyibak rumput di tengah padang alang-alang. Dengan membentak-bentak Ki Wedung dan siswanya melemparkan para prajurit yang menghalangi jalan. Kemudian, tanpa halangan sedikit pun mereka sudah berada di depan makam.” “

Orang-orang Islam yang tengah ketakutan menjadi panik melihat Ki Wedung dan siswanya mendekati makam. Mereka mengira Ki Wedung adalah raja raksasa yang akan memangsa mereka. Namun, kepanikan mereka sirna seketika saat mereka mendengar teriakan Ki Wedung yang mengerikan. Ia mengancam akan membunuh siapa saja di antara manusia yang berani mengganggu setiap jiwa di Ndalem Leba. Saat itu kami saksikan prajurit Patih Mahodara mundur serentak. Rupanya mereka gentar dengan ancaman Ki Wedung. Kemudian di bawah tatapan para prajurit dan kaki tangan Patih Mahodara, kami semua meninggalkan Ndalem Leba menuju Padepokan Wanasalam. Itulah kisah pengungsian pertama kami yang ajaib. Dan kali ini adalah pengungsian kami yang ketiga kalinya di Padepokan Wanasalam.”

“Kenapa orang-orang mengira Ki Wedung dan siswa-siswanya sebagai raksasa?” tanya Abdul Jalil.

“Karena Ki Wedung saat itu memang seperti raksasa,” papar Raden Sulaiman. “Tingginya sekitar lima depa. Matanya besar dan menyala. Gigi dan taringnya memanjang hingga ke dagu. Bahkan, saya yang sudah mengenalnya dengan baik pun saat itu tidak lagi mengenalinya. Dia benar-benar berubah menjadi raksasa menakutkan.”

“Kenapa tidak ada prajurit Patih Mahodara yang menghalangi Ki Wedung?” tanya Abdul Jalil.

“Saya kira mereka takut,” kata Raden Sulaiman. “Siapa pun di antara warga Wirasabha entah dia prajurit atau bukan, pastilah mereka sudah mendengar jika hutan Wanasalam adalah hutan angker, tempat kediaman para bhairawa yang suka memakan manusia. Munculnya Ki Wedung dalam bentuk raksasa telah menciutkan nyali mereka. Saya kira, sebagian besar mereka pun sudah pernah mendengar cerita keangkeran hutan Wanasalam. Di antara mereka tentu banyak yang pernah mendengar cerita jika leba Wirasabha pertama adalah kerabat pemangku Padepokan Wanasalam.”

“Ah, aku paham sekarang,” kata Abdul Jalil tiba-tiba teringat pada Ki Wanasalam yang ditemuinya di Kadipaten Demak, “kenapa prajurit-prajurit Demak sangat ditakuti di berbagai tempat, bahkan di Bumi Pasundan. Kalau tidak salah karena prajurit-prajurit Demak dipimpin oleh Ki Wanasalam, mantan pendeta bhairawa yang termasyhur sakti mandraguna asal Wanasalam.”

“Saya kira bukan hanya karena patih Wanasalam, Paman,” ujar Raden Sulaiman. “Prajurit Demak ditakuti karena hampir semua lurah prajurit (perwira) dan mantri Demak adalah hasil didikan Padepokan Wanasalam.”

“Benarkah?” sergah Abdul Jalil terkejut. “Bukankah mereka semuanya beragama Islam?”

“Ya, mereka semua memang beragama Islam. Tetapi, sebelum berangkat ke Demak mereka adalah siswa Padepokan Wanasalam. Mereka baru memeluk Islam beberapa waktu sebelum berangkat ke Demak. Menurut adat kebiasaan, mereka selalu mengucapkan ikrar keislaman diNdalem Leba Wirasabha. Ya, para calon punggawa Demak selalu mengikrarkan dua kalimah syahadat di depan leba Wirasabha sebelum berangkat ke Demak. Ketentuan itu ditetapkan oleh Patih Wanasalam sejak ayah kami masih hidup,” kata Raden Sulaiman.

Penjelasan Raden Sulaiman menyibak gumpalan awan tanda tanya di benak Abdul Jalil. Ia selama ini tidak memahami keanehan-keanehan adat kebiasaan para lurah prajurit Demak yang dinilainya menyimpang jauh dari tuntunan Islam. Para lurah prajurit Demak, sepengetahuannya, dikenal sebagai perwira-perwira sakti mandraguna, namun sangat kejam dan telengas di dalam setiap pertempuran. Mereka tidak pernah mengampuni musuh-musuhnya. Bahkan mereka menanamkan kebiasaan menjijikkan di kalangan prajurit Demak; menjilati darah musuh yang melumuri senjatanya. Rupanya, pikir Abdul Jalil, para lurah prajurit itu adalah siswa didikan Padepokan Wanasalam sehingga saat sudah menjadi muslim pun mereka belum bisa meninggalkan kebiasaan minum darah yang sangat terlarang dalam ajaran Islam.

Pertempuran yang terjadi berulang-ulang antara adipati Terung dan Patih Mahodara, yang oleh orang-orang di pesisir dianggap sebagai usaha melindungi umat Islam di pedalaman, ternyata tidak sepenuhnya disetujuai oleh umat Islam di pedalaman. Buktinya, Raden Sulaiman sangat menentang peperangan yang sudah terulang tiga kali itu. “Saya mengira perang itu bukan untuk melindungi umat Islam di pedalaman. Perang itu merupakan pertempuran berebut pengaruh dan kekuasaan antara Yang Dipertuan Terung dan Patih Mahodara.”

Ungkapan Raden Sulaiman tentang pertarungan dua rajawali Majapahit itu dilatari oleh perebutan pengaruh dan kekuasaan bukan tanpa alasan. Dalam peperangan itu masing-masing pihak selalu menyatakan diri sebagai pembela Majapahit sejati. Adipati Terung mengaku sebagai abdi setia Ratu Stri Maskumambang, maharaja Majapahit yang berkedaton di Japan. Sementara itu, Patih Mahodara mengaku sebagai abdi setia Sri Surawiryawangsaja, maharaja Majapahit yang berkedaton di Daha. Padahal, hampir semua orang tahu bahwa baik Ratu Stri Maskumambang maupun Sri Surawiryawangsaja adalah “boneka” dari dua petinggi Majapahit yang berebut pengaruh dan kekuasaan itu.

Abdul Jalil terkejut dengan pengakuan jujur Raden Sulaiman. Dari cerita-cerita yang ia dengar selama ini hampir semua menyatakan jika Patih Mahodara telah mengangkat diri menjadi maharaja Majapahit di Daha, menggantikan kedudukan Sri Prabu Natha Girindrawarddhana. Lantaran itu, adipati Terung menolaknya dan menyatakan tetap setia kepada Ratu Stri Maskumambang. Ternyata, menurut Raden Sulaiman, di Daha sendiri sebenarnya masih ada maharaja Majapahit yang bernama Sri Surawiryawangsaja.

Tentang terbaginya kekuasaan Majapahit, menurut Raden Sulaiman, sesungguhnya sudah terlihat beberapa waktu sebelum Sri Prabu Natha Girindrawarddhana mangkat. Saat itu kekuatan besar di Majapahit yang dapat dikata melampaui kekuatan maharaja dipegang oleh dua orang pejabat tinggi Majapahit: adipati Terung dan Patih Mahodara. Itu sebabnya, sepeninggal Prabu Natha Girindrawarddhana kerajaan terbagi menjadi dua. Masing-masing raja sangat bergantung kepada dua pejabat tinggi tersebut. Bahkan menurut kasak-kusuk yang tersebar di pedalaman, pembagian Majapahit menjadi dua itu sesungguhnya hasil akal-akalan Patih Mahodara dan adipati Terung untuk memperkokoh wibawa dan kekuasaan masing-masing. Maksudnya, mereka berdualah yang sesungguhnya berada di balik pembagian kekuasaan Majapahit ke tangan dua orang raja itu.

“Patih Mahodara dan komplotannya mendaulat adik bungsu Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, yaitu Sri Surawiryawangsaja untuk menjadi maharaja Majapahit, menggantikan takhta kakaknya,” kata Raden Sulaiman. “Tetapi, adipati Terung tersinggung dan marah karena sebagai anggota rajasabha (majelis raja) dia tidak dilibatkan dalam menentukan pengganti maharaja. Karena itu, saat orang-orang di Daha masih merayakan upacara rajasuya (Jawa kuno: upacara korban dalam penobatan raja), dia dan para adipati pesisir memaklumkan diri tunduk di bawah kekuasaan Ratu Stri Maskumambang, maharani Majapahit, pewaris takhta Sri Prabu Natha Girindrawarddhana yang berkedaton di Japan. Dan sejak itu terjadi ketegangan antara sang patih dan Yang Dipertuan Terung, sehingga pecah pertempuran ketiga.”

“Siapakah Ratu Stri Maskumambang?” tanya Abdul Jalil.

“Beliau adalah puteri Sri Prabu Natha Girindrawarddhana. Namanya Dyah Rantnapangkajapatni. Tetapi seperti yang telah kami jelaskan tadi, baik Sri Surawiryawangsaja maupun Ratu Stri Maskumambang sebenarnya hanya boneka dari dua kekuatan yang bertarung itu. Kedua raja itu, menurut penilaian kami, nyaris tidak memiliki kekuatan apa pun. Mereka tidak memiliki angkatan perang, tanah, kekayaan harta benda, dan bahkan tidak memiliki dukungan dari para adipati. Karena itu, sepeninggal Sri Prabu Natha Girindrawarddhana dapat dikata hampir seluruh nayakapraja di kraton Daha dan sejumlah adipati di pedalaman adalah kaki tangan Patih Mahodara. Sementara itu, adipati-adipati muslim di pesisir dan sebagian adipati di wilayah Blambangan berpihak kepada adipati Terung.”

“Sekalipun Patih Mahodara tidak berani secara terbuka mengangkat diri sebagai maharaja, sejatinya dialah yang mengendalikan roda pemerintahan Majapahit di Daha. Sebab, Sri Surawiryawangsaja telah dijadikannya sebagai ‘ratu sangkar emas’ tak bernyawa. Hari-hari dari kehidupan Sri Surawiryawangsaja telah dicipta oleh sang patih menjadi semarak pesta kesenangan yang penuh puja-puji dan sanjungan. Putera Sri Prabu Adi-Suraprabhwa yang sejak kecil sudah dilumpuhkan oleh lingkungan mewah dan penuh sanjungan itu tidak pernah menyadari jika dirinya didudukkan di atas singgasana yang terletak di dalam ‘sangkar emas’ oleh sang patih. Ia tidak pernah tahu jika para punggawa dan kawula Majapahit jauh lebih mengenal nama besar sang patih daripada namanya.”

“Sementara itu, tak berbeda dengan Patih Mahodara, adipati Terung pun menempatkan Dyah Ratnapangkajapatni sebagai ‘ratu sangkar emas’. Tetapi, agak berbeda dengan nasib pamannya yang menjadi ‘tahanan’ Patih Mahodara, Dyah Ratnapangkajapatni lebih bebas dalam menjalankan kekuasaannya. Ratu Japan itu dapat memerintahkan ini dan itu kepada para bawahannya. Malahan, setiap tahun sekitar tiga puluh orang adipati datang ke Japan untuk mempersembahkan upeti kepada sang ratu Japan,” ujar Raden Sulaiman.

“Kalau begitu, ratu Japan tidak boleh disebut sebagai ‘ratu sangkar emas’ peliharaan adipati Terung. Sebab, dia jauh lebih berkuasa dibanding Sri Surawiryawangsaja. Dia tidak berada di bawah kendali adipati Terung. Bahkan, dia sehari-harinya tinggal di Japan, sedangkan adipati Terung tinggal di Terung.”

“Sekilas memang Ratu Stri Maskumambang adalah maharani yang berkuasa penuh. Tetapi jika diselidiki siapa saja para pejabat yang membantunya menjalankan roda pemerintahan, akan tampak bahwa hampir seluruhnya adalah sanak-saudara adipati Terung. Jabatan patih, misalnya, dipegang oleh Ario Kedut, kemenakan sang adipati. Patih Ario Kedut adalah cucu Ario Damar karena ayahandanya yang bernama Ario Menak Sunaya, Yang Dipertuan Pamadegan, adalah putera adipati Palembang itu. Jabatan manghuri (sekretaris negara) dipegang oleh kemenakan sang adipati, yaitu Pangeran Kanduruwan, putera Raden Patah adipati Demak. Selain kemenakan, Pangeran Kanduruwan juga menantu adipati Terung. Jabatan demung (kepala rumah tangga istana) dipegang oleh Bhima Nabrang Wijaya, putera Ario Menak Simbar Blambangan, juga kemenakan sang adipati. Jabatan rangga (perwira pengawal ratu) dipegang oleh Arya Terung, putera adipati Terung. Begitulah, seluruh jabatan penting di kraton Japan dipegang oleh sanak saudara adipati Terung. Ke mana pun Sang Ratu Stri Maskumambang berada selalu dilingkari oleh orang-orang yang patuh kepada sang adipati. Bukankah itu sama artinya dengan sang ratu berada di dalam sangkar emas?” ujar Raden Sulaiman.

Bertolak dari penjelasan Raden Sulaiman, Abdul Jalil menyimpulkan bahwa keadaan di Majapahit sejatinya jauh lebih parah dibandingkan dengan keadaan di Bumi Pasundan. Pasalnya, di Majapahit tidak ada lagi maharaja yang dipatuhi oleh semua pihak yang berselisih memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Sedangkan di Sunda masih ada Prabu Guru Dewata Prana, maharaja Sunda, yang dipatuhi oleh seluruh raja muda Bumi Pasundan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putera-putera dan cucu-cucu maharaja sendiri. Sementara di Majapahit, mereka yang berselisih adalah para pemuka keluarga yang ikatan darahnya sangat jauh, bahkan diperparah oleh munculnya pemuka-pemuka di luar wangsa seperti Patih Mahodara. Dengan begitu, menurut hemat Abdul Jalil, mempersatukan para penguasa di Majapahit jauh lebih sulit dibanding mempersatukan raja-raja di Bumi Pasundan.

Selama beberapa hari tinggal di Padepokan Wanasalam, diam-diam Abdul Jalil mengamati perilaku pengungsi Wirasabha yang menurutnya memiliki kemiripan dengan perilaku orang-orang Caruban, Surabaya, dan Terung, yakni ada pengaruh Campa dalam tata kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya, anak-anak memanggil ibunya dengan sebutan “mak” sebagaimana lazimnya orang-orang Campa menyebut ibunya. Sedangkan di Majapahit orang menggunakan sebutan “ibu”. Seorang kakak menyebut adik atau orang yang lebih muda dengan sebutan “adiy”. Padahal di Majapahit orang lazimnya menggunakan sebutan “rayi”. Seorang adik menyebut kakak atau orang yang lebih tua dengan sebutan “kang”, sementara di Majapahit orang lazimnya menyebut “raka”. Orang-orang tua menyebut anak-anak lelaki kecil dengan panggilan “kachong”, namun di Majapahit orang menggunakan sebutan “rare”.

Karena ingin lebih dalam mengetahui perilaku para pengungsi Wirasabha, Abdul Jalil mengajak berbicara seorang pemuda Wirasabha bernama Kasan yang didapatinya sedang mencuci bilah tombak dengan rendaman buah asam. Kasan menjelaskan kepada Abdul Jalil bahwa bilah tombak itu dicuci agar “sang penghuni” merasa diperhatikan dan dimuliakan. “Kalau pusaka seperti ini tidak dirawat, bisa mendatangkan malapetaka. Sebab, penghuninya akan marah. Sudah banyak bukti, jika pusaka-pusaka seperti ini tidak dicuci dan tidak diberi makan akan mengamuk dan menimbulkan kesulitan bagi pemiliknya,” jelasnya.

“Apakah tombak itu juga butuh makan dan minum seperti manusia?” tanya Abdul Jalil heran.

“Sebulan sekali setiap malam Sukra Manis, kami memberinya makan, Tuan Syaikh.”

“Apa makanan tombakmu itu?”

“Asap kemenyan dan dupa, Tuan Syaikh,” ujar Kasan, “sedangkan minumnya air bunga.”

Abdul Jalil menarik napas berat. Ia paham, apa yang diyakini Kasan dan warga muslim Wirasabha yang lain sesungguhnya tidak berbeda dengan apa yang diyakini orang-orang Caruban, Surabaya, dan Terung. Penggunaan kemenyan untuk upacara-upacara mistis jelas berasal dari pengaruh orang-orang Campa yang membeli kemenyan dari pedagang-pedagang Arab. Orang-orang Sunda dan Majapahit tidak mengenal kemenyan untuk upacara keagamaan. Sepengetahuan Abdul Jalil, pohon kemenyan memang tumbuh di jazirah Arab, terutama di Yaman. Dari sanalah kemenyan dibawa oleh pedagang-pedagang Arab hingga ke Majapahit.

Setelah diam beberapa jenak, Abdul Jalil bertanya lagi kepada Kasan, “Apakah engkau pernah bertemu dengan penghuni tombak itu?”

“Tidak pernah, Tuan Syaikh,” jawab Kasan polos. “Tetapi penghuni pusaka ini, katanya, seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah dan destar putih.”

“Dari mana engkau mengetahui penghuni tombak itu laki-laki berjubah putih?”

“Kakek dan bapak kami yang mengatakannya, Tuan Syaikh.”

“Dan engkau mempercayainya?”

“Kami mengikuti apa yang diajarkan orang tua kami, Tuan Syaikh.”

“Coba kemarikan,” kata Abdul Jalil meminta bilah tombak yang dipegang Kasan. Setelah memegang tombak itu, ia meletakkannya di atas tanah dan kemudian menginjak dengan kaki kirinya sambil berkata, “Menurutmu, apakah penghuni tombak ini akan marah kepada aku?”

“Ampun Tuan Syaikh, mohon Tuan Syaikh tidak melakukan itu. Sebab, kami tidak ingin menerima akibat buruk jika penghuni tombak itu marah,” kata Kasan mengiba dan bersujud di kaki Abdul Jalil.

“Penghuni tombak?” Abdul Jalil menarik napas berat dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidakkah engkau tahu jika penghuni tombakmu sekarang ini menjerit-jerit di bawah telapak kakiku? Dan sejatinya, dia bukan laki-laki tua berjubah dan berdestar putih, melainkan seekor kadal setan.”

“Aduh Tuan Syaikh, apakah kadal setan itu tidak berbahaya?”

“Tentu saja tidak. Mana ada kadal berbahaya.”

“Kalau begitu, apa kegunaan pusaka itu?”

“Tidak ada gunanya,” sahut Abdul Jalil jengkel melihat kebodohan Kasan. “Sebab kadal setan itu telah aku usir. Jadi tombakmu ini sudah kosong.”

“Apakah nanti dia tidak akan kembali lagi ke rumahnya dan marah-marah kepada kami?”

“Ketahuilah, he Kasan, di dalam tubuhmu sesungguhnya terdapat kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibanding penghuni tombak ini. Engkau adalah anak cucu Adam a.s. yang lebih agung dan lebih mulia daripada setan penghuni pusakamu. Sebab, engkau lebih sempurna dalam penciptaan dibanding setan,” ujar Abdul Jalil menyadarkan.

Di luar dugaan tiba-tiba Kasan membenarkan ucapan Abdul Jalil. Dia menyatakan bahwa apa yang dikemukakan Abdul Jalil adalah ajaran yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh kakek dan ayahandanya. Kemudian tanpa diminta Kasan mengungkapkan keyakinan yang diperolehnya dari ayah dan kakeknya.

“Allahuk, TuhanYang Tak Terbandingkan dan Tak Tersentuh Indera, bersemayam di kening manusia. Allah, Sang Pencipta, bersemayam di alis kiri manusia. Muhammad di alis kanan. Jabrail (Jibril) di mata kiri. Ibrahim di mata kanan. Hasan di lubang hidung kiri. Husen di lubang hidung kanan. Hawa di telinga kanan. Itulah ajaran Kebenaran yang kami dengar dari ayahanda dan kakek kami. Jadi, seperti Tuan Syaikh, kami juga percaya bahwa pada diri manusia sejatinya ada terdapat Yang Ilahi.”

Penjelasan pengungsi Wirasabha bernama Kasan itu sangat mengejutkan Abdul Jalil. Ajaran itu sangat ganjil dan tak jelas asal usulnya. Ia menduga ajaran yang dikemukakan Kasan itu pastilah terkait dengan ajaran Syiwa-Budha tentang Nawasanga. Apakah kakek dan ayahanda Kasan terpengaruh dengan ajaran orang-orang Wanasalam? Apakah Islam di Wirasabha terpengaruh Syiwa-Budha dari Wanasalam?

Ketika mengaitkan antara ajaran ganjil itu dan Padepokan Wanasalam, tiba-tiba ingatan Abdul Jalil terlempar kepada sosok Syaikh Ibrahim Akbar, Syaikh Bentong, dan Haji Musa, para tokoh Campa di Caruban. Masih segar dalam ingatannya betapa di dalam musyawarah untuk menetapkan jumlah wali nagari yang sembilan di Caruban Larang itu, baik Syaikh Ibrahim Akbar, Syaikh Bentong, dan Haji Musa sangat mendukung gagasan Sri Mangana. Dengan berbagai alasan, yang secara samar menyinggung gagasan yang mirip ajaran Nawasanga itu, mereka sepakat menetapkan jumlah wali nagari di Caruban Larang sebanyak sembilan. Rupanya, pikir Abdul Jalil, Sri Mangana mengambil jumlah sembilan dari konsep Nawasanga yang berasal dari ajaran Syiwa-Budha, sedangkan ketiga orang tokoh asal Campa itu mengambilnya dari kepercayaan ganjil asal Campa sebagaimana diungkap Kasan.

Ketika Abdul Jalil menanyakan keganjilan ajaran yang dikemukakan Kasan kepada Raden Sulaiman, ia justru tersentak kaget. Sebab, Raden Sulaiman putera Raden Abu Hurairah itu, menurut Abdul Jalil, sedang berada dalam masalah besar. Ya, tidak berbeda dengan Kasan, Raden Sulaiman masih terperangkap ke dalam jerat-jerat takhayul Campa yang menafikan akal sehat. Namun, saat Abdul Jalil mengingatkan bahwa ajaran ganjil itu tidak memiliki dasar, barulah Raden Sulaiman mengungkapkan sesungguhnya sebelum meninggal dunia ayahandanya berwasiat agar dia tidak mengikuti kepercayaan orang-orang Campa dari Annam. Sebab, orang-orang Cam dari Annam itu bodoh dan picik.

“Menurut cerita ayahanda kami, orang-orang Cam asal Annam itu berasal dari keluarga-keluarga suku Cam, Jarai, Rade, Mada, dan Pnong-piak yang tinggal di utara. Mereka semula merupakan orang-orang yang gagah perkasa. Tetapi, selama ratusan tahun mereka berpindah-pindah tempat dari utara ke selatan untuk menghindari kekuasaan bangsa Koci (Vietnam) yang makin meluas. Dan selama ratusan tahun berpindah-pindah itu telah menjadikan mereka dan keturunannya bodoh. Mereka datang ke Majapahit bergelombang-gelombang setelah Pandurangga (Phan-rang) jatuh ke tangan orang-orang Koci. Kalau tidak salah, saat mereka datang ke Wirasabha, usia kami baru sembilan tahun,” kata Raden Sulaiman.

“Apakah ajaran ganjil itu berasal dari mereka?” tanya Abdul Jalil.

“Kami kira demikian, Paman,” kata Raden Sulaiman. “Sebab, ayahanda kami tidak pernah mengajarkan yang demikian itu kepada kami.”

“Jika demikian, engkau sudah melanggar wasiat ayahandamu. Karena sekarang ini, engkau sudah mengikuti keyakinan orang-orang Cam asal Annam itu,” kata Abdul Jalil. “

Kami merasa bersalah, Paman,” kata Raden Sulaiman dengan kening berpeluh dan dada naik turun, “namun kami tidak tahu harus berbuat apa. Sebab, yang kami pelajari sehari-hari adalah kitab-kitab agama yang diwariskan para pengungsi Cam asal Annam itu. Keberadaan kami selaku imam mereka dituntut harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang mereka dapatkan dari adat warisan leluhur mereka.”

“Mereka memiliki kitab-kitab agama?” tanya Abdul Jalil terkejut.

Sesungguhnya, ungkap Raden Sulaiman, para pengungsi Cam asal Annam membawa kitab-kitab agama seperti Tapuk Asalam (Kitab Islam), Tapuk Muhamad (Kitab Muhammad), Tapuk Alamadu (Kitab al-Hamdu), Tapuk Cakaray (Kitab Puji-pujian), Tapuk Musarar (Kitab Rahasia; Primbon), Tapuk Atassadur, dan Tapuk Sidik Swatik Sikariya (Kitab Kebahagiaan, Kesempurnaan, dan Kebaikan).

Di dalam kitab terakhir yang disebut Tapuk Sidik Swatik Sikariya itulah ajaran ganjil yang mirip Nawasanga itu berasal. Bahkan, di dalam kitab terakhir itu terdapat ajaran Martabat Tujuh yang menerangkan bahwa surga dan neraka bertingkat tujuh, di mana semuanya terletak pada tubuh manusia: surga tingkat pertama ada di mulut, kedua di telinga, ketiga di tangan, keempat di mata, kelima di hidung, keenam di kening, dan ketujuh di ubun-ubun. Sedangkan neraka tingkat pertama terletak di perut, kedua di buah dada, ketiga di pusar, keempat di paha, kelima di betis, keenam di mata, ketujuh di kaki.

“Aku katakan kepadamu bahwa engkau tidak bersalah dalam hal ini. Sebab, engkau sebagai imam bagi umat yang tinggal di pedalaman memang tidak memperoleh pendidikan yang memadai tentang Islam. Karena itu, engkau harus ikut aku ke Caruban Larang. Engkau harus belajar tentang Islam secara benar agar engkau bisa menjalankan amanat orang tuamu dengan baik,” kata Abdul Jalil.

“Kami mengikuti saja apa yang Paman kehendaki,” kata Raden Sulaiman.

Selat Taiwan mendekati kota Kaohsiung (MV. Kenho), 20 Mei 2007, 08:50LT