Para Penguasa Surabaya

Ketika Abdul Jalil dan Raden Sulaiman beserta prajurit pengawal Terung memasuki Kadipaten Terung dari gerbang selatan, rembang senja sudah menggantung di langit barat; kegelapan mulai menyelimuti lembah dan bengawan Terung. Tidak seperti biasanya, Balai Witana (pendapa) Kadipaten Terung terlihat sangat sepi. Hanya tiga empat orang prajurit yang terlihat menyalakan lampu. Sementara, sekitar lima prajurit pengawal terlihat berjalan hilir mudik di halaman Balai Witana.

Saat Abdul Jalil meninggalkan Balai Witana dan melintas di depan Balai Rangkang, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Pangeran Kanduruwan, kemenakan dan menantu Raden Kusen, yang menjadi pejabat manghuri di Japan. Putera Raden Patah dari selir itu baru menginjak tujuh belas tahun. Dia ditugaskan menjaga Kadipaten Terung, khususnya mengawal Ratu Stri Maskumambang yang tengah berada di Terung.

Dalam perbincangan singkat dengan Pangeran Kanduruwan, Abdul Jalil mengetahui jika adipati Terung dan sejumlah sesepuh dari trah Prabu Kertawijaya sedang berada di Surabaya, tepatnya di Masjid Ampel Denta. Mereka akan bermusyawarah tentang peperangan yang terjadi antara adipati Terung dan Patih Mahodara. “Semua rombongan dari Caruban juga ikut ke Surabaya,” kata Pangeran Kanduruwan.

“Apakah rombongan dari Daha juga ikut ke Surabaya?” tanya Abdul Jalil.

“Maksud Paman, rombongan pendeta muda bernama Nirartha?”

“Ya.”

“Empat hari lalu rombongan pendeta muda Nirartha dari Daha tiba di sini dengan dikawal prajurit-prajurit Terung. Dia datang bersama istri-istri dan anak-anaknya. Tapi, dua hari lalu dia pergi bersama-sama dengan adipati Tepasana, Menak Lampor. Katanya, dia akan ke Bali karena padepokannya di Daha dihancurkan Patih Mahodara,” kata Pangeran Kanduruwan.

“Apakah Wiku Suta Lokeswara juga sudah sampai ke sini?” tanya Abdul Jalil.

“Maksud Paman, wiku tua ayahanda Nirartha?”

“Ya.”

“Dia sampai ke sini esok hari setelah kedatangan Nirartha.”

“Apakah dia ikut ke Bali?”

“Tidak, Paman,” kata Pangeran Kanduruwan. “Resi muda Nirartha berangkat ke Bali dengan anak-anak dan istri-istrinya, sedangkan wiku tua itu ikut rombongan Paman Adipati Terung ke Surabaya.”

“Jika boleh tahu, musyawarah apakah yang akan digelar di Surabaya? Kelihatannya penting sekali.”

“Mungkin untuk menghentikan peperangan, Paman,” jelas Pangeran Kanduruwan. “Sebab, Patih Mahodara telah mengutus menantunya, Syaikh Maulana Gharib, untuk menghadap Pangeran Ahmad, Imam Masjid, putera Susuhunan Ampel Denta, untuk mendamaikan peperangan yang menyengsarakan kawula itu. Sebagaimana perdamaian pada perang pertama dan kedua, Pangeran Ali Rahmatullah diharapkan berkenan menjadi juru damai.”

“Jadi Patih Mahodara punya menantu seorang syaikh?” Abdul Jalil heran. “Bukankah dia dikenal sebagai pejabat Majapahit yang sangat membenci orang-orang Islam?”

“Patih Mahodara itu cerdik, sekalipun oleh banyak orang dia dianggap keturunan seekor anjing. Dalam dua pertempuran yang tidak dimenangkannya itu, rupanya dia sadar tidak boleh lagi membentur kekuatan Islam yang terbukti sudah sangat kuat di pesisir. Itu sebabnya, dia kemudian berusaha memperkuat pertahanan dirinya dengan memanfaatkan dukungan pemuka-pemuka Islam,” kata Pangeran Kanduruwan.

“Kemudian dia menikahkan puterinya dengan Syaikh Maulana Gharib, begitu?”

“Kira-kira begitulah, Paman,” kata Raden Sulaiman. “Puteri Patih Mahodara yang bernama Niken Sundara yang masih kecil dinikahkan dengan Syaikh Maulana Gharib yang sudah sangat tua.”

“Tapi siapakah Syaikh Maulana Gharib itu? Aku belum pernah mendengar namanya.”

“Dia adalah adik Syaikh Maulana Ishak,” ujar Raden Sulaiman. “Dia juga paman Prabu Satmata, Yang Dipertuan Giri Kedhaton.”

“Jika demikian, Syaikh Maulana Gharib masih berkerabat dengan aku. Sebab ayahandanya, Syaikh Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandy, adalah saudara sepupu ayahandaku,” kata Abdul Jalil. Dengan memahami lingkaran kekerabatan antara Syaikh Maulana Gharib dan para penguasa di pesisir, Abdul Jalil diam-diam memuji sang patih yang mengambil Maulana Gharib sebagai menantu. Dengan keberadaan Syaikh Maulana Gharib sebagai menantu berarti Patih Mahodara telah mendapatkan pengaruh imam Masjid Ampel Denta yang sekarang. “Ah, cerdik sekali Patih Mahodara.”

“Dia memang cerdik, licin, ulet, namun licik seperti ular yang menakutkan,” kata Pangeran Kanduruwan.

Dibanding pelabuhan Tuban, Surabaya hanyalah pelabuhan kecil yang tak berarti. Dermaga di pelabuhan Surabaya terlihat seperti lonjoran-lonjoran kayu yang menjorok ke laut dengan sejumlah balok yang dipancang untuk menambat kapal-kapal kecil. Meski kecil dan tak berarti, suasana di pelabuhan sangat ramai. Sederetan bangunan besar dengan atap menjulang seolah menggapai langit terletak di selatan dermaga. Di sekitarnya terlihat puluhan rumah yang lebih kecil. Itulah kediaman para perwira angkatan laut Majapahit yang dilingkari rumah para bintara.

Sekalipun sebagai pelabuhan niaga Surabaya tergolong kecil dan tidak berarti, sebagai pangkalan armada laut, Surabaya adalah yang terbesar dan tak tertandingi. Di belakang kediaman para perwira dan bintara angkatan laut yang terletak di selatan dermaga, terdapat dermaga rahasia yang luar biasa besar. Dermaga itu berada di laut buatan yang terbentang di antara Sungai Mas dan Sungai Patukangan. Jika orang melihat dari arah laut, agak jauh di belakang deretan atap kediaman para perwira yang terletak di tepi timur Sungai Mas itu, terlihat tiang-tiang kapal perang yang tegak menjulang bagaikan barisan tombak raksasa. Agak keselatan dari muara terlihat sebuah kanal laut buatan untuk pintu keluar bagi kapal-kapal perang Majapahit menuju muara Sungai Mas. Sedangkan pintu masuknya terletak di kanal di muara Sungai Patukangan.

Lantaran Surabaya merupakan pangkalan angkatan laut Majapahit maka kapal-kapal perang Majapahit, baik yang dibikin di galangan Surabaya, Tuban, Samarang, maupun yang dibeli dari Pegu (Burma) ditempatkan di Surabaya. Dari pangkalan di Surabayalah kapal-kapal Majapahit menyebar ke berbagai penjuru Nusantara. Jumlah pasukan laut Majapahit yang disiagakan di Surabaya diperkirakan sekitar lima puluh ribu orang. Mereka tinggal dirumah-rumah para perwira dan bintara serta di barak-barak prajurit.

Karena Surabaya adalah pangkalan utama angkatan laut yang menyimpan banyak rahasia militer, maka ia tertutup bagi perdagangan. Kapal-kapal dan perahu niaga yang diizinkan bersandar di dermaga pelabuhan Surabaya hanyalah kapal dan perahu niaga milik saudagar setempat. Mereka memuat barang-barang dagangan yang dibutuhkan oleh para anggota angkatan laut Majapahit seperti beras, garam, minyak kelapa, gula, kain, arang, dan alat-alat perbaikan kapal.

Keberadaan para pelaut di Surabaya itu mendorong penduduk untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Agak jauh di selatan dermaga rahasia berdiri puluhan warung-warung makan. Di kanan kiri warung-warung itu terdapat sejumlah rumah petak milik para mucikari yang dihuni pelacur-pelacur. Kawasan itu diawasi oleh seorang juru jalir (Jawa Kuno: pengawas pelacuran) yang selain mengutip pajak pelacuran juga berhak menangkap bangsawan dan perwira yang kedapatan masuk daerah tersebut. Sesuai penghuninya, tempat itu dinamai Srenggakarana (Jawa Kuno: pembangkit nafsu syahwat). Di seberang barat Srenggakarana, dipisahkan Sungai Patukangan, terdapat tempat orang-orang menggelar pertunjukan wayang, sandiwara, tayuban, dan berjenis-jenis tontonan. Kawasan ini diawasi oleh seorang tuha padahi (Jawa Kuno: pengawas seni pertunjukan). Dan sesuai kegunaannya, tempat itu disebut Panggung (Jawa Kuno: pentas pertunjukan). Kedua tempat itu ramai dikunjungi oleh para prajurit laut rendahan Majapahit.

Karena kedudukannya yang tertutup, penjagaan sejak di muara Sungai Mas sampai ke kawasan Supit Urang di tempuran Sungai Brantas di selatan sangatlah ketat. Kapal-kapal atau perahu niaga yang akan masuk ke muara Sungai Mas diperiksa terlebih dulu di dermaga utama. Selepas dari dermaga utama, kapal-kapal dan perahu niaga itu akan diperiksa lagi di Pabean. Jika ingin meneruskan pelayaran ke selatan, akan diperiksa lagi secara berturut-turut di Kabangsri, Bukul, dan Supit Urang.

Karena ketatnya pemeriksaan maka kapal-kapal niaga yang akan menuju kutaraja Majapahit untuk berdagang di pelabuhan Canggu nyaris tidak ada yang masuk melalui Sungai Mas. Mereka biasanya masuk lewat muara Sungai Brantas yang terletak sekitar dua puluh pal di timur Sungai Mas. Kapal-kapal itu akan masuk lewat Supit Urang, terus ke Gsang, Tda, dan Canggu tanpa diperiksa. Jalur lain yang juga ramai dan sejak zaman kuno digunakan oleh kapal-kapal ukuran besar adalah muara Sungai Porong dengan dermaga di Kambang Sri, Jedong, Terung, dan Canggu. Kapal-kapal dan perahu niaga itu baru dikenai pungutan cukai dan biaya sandar di Canggu.

Boleh jadi karena pangkalan angkatan laut lebih membutuhkan keterampilan dibidang pembuatan kapal, perbaikan, peralatan perang, pertukangan, dan pemenuhan kebutuhan prajurit maka bagian terbesar penduduk Surabaya adalah para pekerja yang sangat ahli dalam bidangnya. Mereka adalah para pembuat dan ahli memperbaiki kapal (undahagi; amaranggi; juru palwa; juru pelang), penggergaji kayu, pembuat berjenis-jenis senjata (gusali), pembuat kain layar (agawai layar, pembuat alat-alat pelontar api (juru gurnita), pembuat bangunan-bangunan untuk prajurit. Mereka didatangkan dari berbagai tempat di segenap penjuru negeri bahkan mancanegara. Kediaman para tukang itu terletak di selatan dermaga rahasia Surabaya. Orang-orang menyebut tempat itu dengan nama Patukangan.

Entah kebetulan entah tidak, keberadaan Surabaya sebagai pangkalan angkatan laut Majapahit seolah-olah memiliki pengaruh kuat dalam membentuk watak penduduknya. Adat kebiasaan penduduk Surabaya seolah-olah tumbuh dan berkembang di bawah bayang-bayang nilai keprajuritan, jauh dari adat kebiasaan penduduk Majapahit di tempat lain. Tidak seorang pun mengetahui kapan adat kebiasaan itu mulai dijalankan oleh penduduk Surabaya. Orang hanya ingat bahwa adat kebiasaan penduduk Surabaya seolah mendidik dan melatih semua orang agar menjadi prajurit yang tangguh. Sejak masih usia kanak-kanak penduduk Surabaya yang berasal dari berbagai suku dan bangsa itu sudah diarahkan untuk menjadi petarung-petarung unggul melalui perkelahian-perkelahian. Berkelahi baik sendiri-sendiri atau keroyokan, adalah bagian utama dari kebanggaan dan kehormatan penduduk Surabaya. Bahkan, kata tawur yang bermakna sesaji persembahan, di Surabaya dimaknai sebagai perkelahian keroyokan untuk membalas tindakan lawan.

Adat kebiasaan di Surabaya, benar-benar menempatkan keterampilan berkelahi sebagai bagian utama dari cara pengasuhan anak-anak sejak mereka berani bermain di luar rumah. Tidak peduli anak pejabat tinggi, tidak peduli anak prajurit atau anak tukang, yang paling disanjung dan dibangga-banggakan oleh kawan-kawannya adalah yang paling kuat dan paling pemberani. Di Surabaya, kemuliaan dan kehormatan diperoleh orang seorang bukan berdasarkan keturunan, kekayaan, kedudukan, dan pangkat tertentu, melainkan karena keberanian, perlawanan dan kesetiakawanan. Dengan adat kebiasaan yang tak lazim itu, penduduk Surabaya adalah orang-orang yang sangat berlebihan membanggakan diri, tidak mau kalah, suka melawan, gemar berkelahi, nekat, sombong, suka membual, tetapi sangat setia kawan. Watak ini dimaknai singkat oleh warga Surabaya dalam istilah sederhana: bagedyut (suka membualkan kehebatan diri sendiri).

Untuk melestarikan adat kebiasaan berkelahi itu, sejak kecil anak-anak Surabaya sudah dicekoki dengan cerita-cerita peperangan dan perkelahian. Yang termasyhur di antaranya adalah dongeng terjadinya nama Surabaya. Dongeng ini diawali oleh kehadiran seekor ikan sura (hiu) yang masuk ke aliran Sungai Mas. Ikan itu dihalau oleh buaya penghuni sungai. Kemudian terjadilah pertarungan sengit antara kedua hewan itu yang berakhir dengan terusirnya ikan sura kelautan.Untuk memperingati peristiwa itu, maka tempat terjadinya pertarungan itu disebut dengan nama Surabaya. Selain itu hampir setiap anak di Surabaya menghafal sebait pantun yang berbunyi:

"Pring ditumpuk-tumpuk, bumbung wadahe merang"

"Cilik diipuk-ipuk, nek wis gede budhal perang"

artinya: "Bambu ditumpuk-tumpuk, tabung bambu tempat jerami kering"

"Waktu kecil disayang sayang, jika sudah besar berangkat/maju perang".

Untuk waktu yang lama, Surabaya hidup dengan dongeng dan adat kebiasaan berkelahinya sendiri. Laksamana laut Majapahit yang ditunjuk sebagai penguasa Surabaya hanya mengawasi dari kediamannya di kutaraja. Ia sepenuhnya menyandarkan dari laporan bawahannya. Manakala adat kebiasaan berkelahi di Surabaya merangkak sampai ke puncak dan meledak dalam bentuk kerusuhan, semua pihak menjadi bingung. Rupanya, kegemaran berkelahi di Surabaya itu meluas hingga kalangan prajurit rendahan. Prajurit-prajurit laut yang umumnya berusia muda dan berdarah panas itu berkelahi dengan pemuda kampung. Mereka sering menyerang rumah penduduk. Penduduk kampung Surabaya tentu saja tidak mau kalah. Mereka ganti menyerbu barak-barak tempat prajurit laut itu tinggal. Kekacauan pun pecah. Korban berjatuhan di kedua belah pihak karena penduduk melengkapi diri dengan senjata buatan mereka sendiri.

Peritiwa kekacauan besar di Surabaya yang melibatkan prajurit laut dan penduduk terjadi tak lama setelah Prabu Wikramawarddhana naik takhta menggantikan Prabu Rajasanegara. Dalam kekacauan itu rumah penduduk di kampung-kampung dirusak dan dibakar. Mayat kedua pihak bergelimpangan di jalan-jalan. Kekacauan merebak di seluruh penjuru kota. Petugas padam apuy (Jawa Kuno: pemadam kebakaran) dari angkatan laut nyaris tak berdaya menanggulangi kebakaran yang marak. Surabaya yang dihuni berbagai suku dan bangsa yang memiliki watak berbeda-beda itu benar-benar mencekam karena baik para prajurit maupun penduduk tidak ada yang mau mengalah. Jalanan sepi, sungai-sungai tak dilayari. Sementara di sudut-sudut kampung terlihat kerumunan orang membawa berbagai jenis senjata.

Menghadapi peristiwa yang tidak diharapkan itu, Prabu Wikramawarddhana sadar bahwa sebuah tempat yang berkembang dengan jumlah penduduk hampir seratus ribu orang tidaklah mungkin dilepaskan tanpa pemimpin. Laksamana laut memang dapat mengendalikan pasukannya, namun penduduk yang tidak memiliki pemimpin dapat bertindak semaunya tanpa arahan dari seorang pemimpin yang dipatuhi.

Akhirnya, Prabu Wikramawarddhana memutuskan untuk mengangkat seorang raja muda di Surabaya dengan tugas utama menertibkan pangkalan angkatan laut dan kota dari kekacauan. Orang yang dinilai cocok untuk memangku jabatan raja muda Surabaya adalah Pangeran Arya Lembu Sura, putera Singhawarddhana Bhre Paguhan, saudara lain ibu Prabu Wikramawarddhana. Pangeran Arya Lembu Sura dianggap mampu memimpin Surabaya yang sedang kacau karena sejak kecil ia tinggal di Surabaya dan sudah sangat mengenal watak penduduk. Di samping itu, hampir semua penduduk Surabaya dari prajurit hingga tukang dan buruh sudah mengenal sang pangeran yang tinggal di Puri Surabayan tersebut.

Pangeran Arya Lembu Sura, raja pertama Surabaya, adalah pangeran gagah berani yang terkenal dermawan dan suka bergaul dengan siapa saja tanpa melihat asal usul dan derajat orang sebagaimana umumnya penduduk Surabaya, ia sudah terbiasa dengan kehidupan keras di lingkungannya. Meski ibu sang pangeran adalah puteri Janggala dan ayahandanya raja di Paguhan, kedudukan itu tidak menghalangi sang pangeran untuk gemar berkelahi seperti lazimnya anak-anak Surabaya. Bahkan karena kegemaran berkelahi itu sang pangeran memiliki banyak kawan dan sangat dibangga-banggakan oleh mereka.

Pengangkatan Pangeran Arya Lembu Sura sebagai raja muda Surabaya disambut dengan suka cita oleh penduduk. Hampir semua penduduk mengenal sang pangeran yang pemberani, dermawan, setia kawan, dan tidak membeda-bedakan manusia berdasar keturunan dan jabatan. Sikap sang pangeran yang tidak membeda-bedakan orang berdasar keturunan lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa ia seorang muslim. Menurut kisah orang-orang, Pangeran Arya Lembu Sura adalah pangeran Majapahit pertama yang memeluk agama Islam.

Sukacita atas pengangkatan Pangeran Arya Lembu Sura diwujudkan dalam bentuk pesta besar yang diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam di kediaman sang pangeran. Dalam pesta itu, selain mengundang penduduk, sang pangeran juga mengundang kawan-kawannya, baik yang menjadi pemuka warga di kampung-kampung, maupun yang menduduki jabatan perwira dan bintara di angkatan laut. Ternyata setelah lewat tujuh hari seusai pelantikan, keadaan di Surabaya berangsur-angsur mereda. Jalan-jalan ramai kembali. Orang-orang bekerja lagi. Penduduk secara gotong royong membangun rumah-rumah yang rusak.

Di bawah kepemimpinan Pangeran Arya Lembu Sura kehidupan penduduk Surabaya sarat dengan limpahan kemakmuran. Sebab para nayakapraja yang membantu sang raja tidak saja dikenal sebagai pejabat-pejabat yang jujur, bahkan sang raja menetapkan peraturan yang tidak lazim, yaitu menghapus semua jenis pajak bagi penduduk Surabaya yang bekerja sebagai tukang, perajin, pedagang kecil, buruh, dan petani berlahan sempit. Pajak hanya dikenakan kepada pen-duduk yang memiliki kapal, balai rangkang, tandu, gajah, payung kutlima, tanah seluas sepuluh tampah (7,6 hektar), saudagar emas, saudagar permata, dan pedagang logam.

Pada masa Pangeran Arya Lembu Sura berkuasa, untuk kali pertama dibangun sebuah kraton di Surabaya. Letaknya di tepi barat Sungai Mas, kira-kira tiga pal di utara Puri Surabayan. Berpusat dari kraton inilah sang raja memacu pertumbuhan Surabaya menjadi kota besar tempat sebuah pemerintahan ditegakkan. Bangunan-bangunan baru di sekitar kraton tumbuh sesuai tuntutan tata pemerintahan, seperti Ndalem Kepatihan, Katumenggungan, Kacarikan (manghuri), Karanggan, dan Katandhan. Tembok baluwarti setinggi lima depa dibangun mengitari kraton sejak tepi barat Sungai Mas hingga ke barat sepanjang tiga pal. Sebuah taman sari (kebon raja) yang indah dibangun di utara kraton dengan kolam ikan (paulaman) yang luas.

Entah benar entah tidak, menurut dongeng orang-orang tua, sejak Pangeran Arya Lembu Sura berkuasa sebagai raja terbentuklah untuk kali pertama perkampungan muslim di Surabaya. Perkampungan itu terletak di seberang timur kraton dan dinamai Pinilih (Jawa Kuno: bebas memilih). Penduduk muslim di Kampung Pinilih umumnya perajin, pedagang kecil, dan pengecor logam. Mereka adalah para pembuat tikar rotan (agawai lampit), pemintal benang (angapus), tu-kang jagal (juru bapuh), tukang celup (mangkala), buruh yang mengurusi ayam aduan (juru kurung), dan penempa logam (apande salwir ning apande). Untuk kepentingan ibadah warga muslim di Pinilih, Pangeran Arya Lembu Sura membangun masjid di sana. Itulah masjid pertama di Surabaya.

Perkampungan muslim kedua terbentuk di tepi timur Sungai Mas kira-kira tiga pal di utara Pinilih. Perkampungan baru itu disebut Ampel Denta (Jawa Kuno: Bambu Gading) karena di situ banyak tumbuh pohon bambu gading. Letak Ampel Denta di sebelah selatan Kampung Patukangan. Meski berdekatan dengan Kampung Patukangan, penduduk Ampel Denta bukanlah tukang. Mereka umumnya bekerja di bidang kerajinan dan perdagangan kecil, seperti perajin emas (limus galuh), tukang jahit (juru basana), perajin permata (pamanikan), pembuat payung (payungan), pedagang bantal (banyaga wantal), pedagang kapur (wli hapu), pedagang terompah (wli tarumpah), dan pedagang kemenyan dan dupa (wli pulageni).

Agak berbeda dengan penduduk muslim Pinilih, penduduk Ampel Denta kebanyakan orang-orang Kmir (Jawa Kuno: Campa; Khmer) dan peranakan Arab. Yang paling berpengaruh di antara penduduk muslim peranakan di Surabaya, terutama di Ampel Denta, adalah tiga bersaudara Bong (Sam Bong), yaitu Haji Bong Swi Hoo, Haji Bong An Sui, dan Haji Bong Sam Hong. Mereka merupakan cucu Bong Tak Keng, orang asal Sin Fun An (Pnom-penh) yang datang untuk berdagang ke Majapahit sejak Prabu Rajasanegara memerintah. Sama seperti kakeknya, Bong Swi Hoo dan dua orang saudaranya adalah pedagang sutra yang tinggal di dermaga Jedong di hilir Sungai Porong. Ketika mendengar raja Surabaya yang baru dilantik adalah seorang muslim, dengan diikuti sejumlah penduduk yang beragama Islam, ia dan saudara-saudaranya pindah ke Surabaya. Bong Swi Hoo bersaudara meminta perkenan Pangeran Arya Lembu Sura agar ia dan saudara-saudaranya dapat tinggal di Surabaya. Dan Pangeran Arya Lembu Sura meluluskan permintaannya.

Bong Swi Hoo bersaudara kemudian tinggal di selatan Ampel Denta. Penduduk Surabaya menyebut kediaman tiga bersaudara Bong itu dengan nama Kampung Sam Bong-an (tempat tinggal Sam Bong). Tiga bersaudara Bong itu dikenal sebagai penyumbang dana terbesar bagi pembangunan Masjid Ampel Denta, yang merupakan masjid kedua di Surabaya. Mereka tidak hanya dikenal sebagai saudagar yang dermawan, tetapi juga diketahui penduduk sebagai mertua raja Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura.

Sebagai seorang raja muslim, Pangeran Arya Lembu Sura memiliki hubungan baik dengan saudagar-saudagar muslim dan guru-guru agama Islam di Majapahit. Salah seorang guru dan sekaligus sahabat yang paling dipercayainya adalah Sayyid Malik Ibrahim, banyaga wantal yang tinggal di Thani Sembalo Wisaya Tandhes (Gresik). Berbeda dengan banyaga wantal yang tinggal di Ampel Denta, bantal-bantal yang diperdagangkan Sayyid Malik Ibrahim merupakan bantal bermutu tinggi buatan Persia dan Gujarat. Bantal-bantal itu hanya diperdagangkan di kalangan pejabat tinggi Majapahit, terutama di lingkungan keluarga Maharaja.

Sayyid Malik Ibrahim sendiri dikenal sebagai orang yang cerdik, sabar, dermawan, bijaksana dan pandai bercerita. Para pangeran kecil Majapahit selalu menunggu-nunggu kehadirannya untuk mendengarkan kisah-kisahnya yang menakjubkan. Di lingkungan keluarga maharaja di kutaraja, Sayyid Malik Ibrahim dikenal dengan sebutan Kake' Bantal Sang Amancangah (Kakek Bantal Si Juru Dongeng). Lewat cerita-ceritanya yang menakjubkan itulah dia berkenalan dan menjalin persahabatan dengan Pangeran Arya Lembu Sura, saat sang pangeran berkunjung ke kutaraja. Dan lewat bimbingan Sayyid Malik Ibrahim, Pangeran Arya Lembu Sura kemudian memeluk agama Islam.

Hubungan sebagai guru dan murid antara Sayyid Malik Ibrahim dan Pangeran Arya Lembu Sura berlangsung dengan akrab selama bertahun-tahun. Hubungan itu makin dekat ketika sang pangeran berkenalan dengan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar, kemenakan Sayyid Malik Ibrahim. Sayyid Ibrahim Zainal Akbar adalah banyaga wesi yang memperdagangkan berjenis-jenis besi bermutu tinggi dari berbagai negeri. Melalui jasa Pangeran Arya Lembu Sura, ia menjadi pemasok utama kebutuhan Majapahit akan besi-besi bermutu yang digunakan membuat senjata-senjata pusaka. Yang paling masyhur di antaranya adalah yang disebut Wesi Purasani. Besi itu menjadi bahan utama bagi pembuatan pusaka di lingkungan kraton. Sebutan Purasani sendiri berasal dari kekeliruan lidah orang-orang Majapahit melafalkan "Khurasani", yaitu besi asal besi itu. Hampir semua pusaka kerajaan yang dibuat dari bahan besi asal Khurasan berasal dari pasokan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar.

Sayyid Malik Ibrahim dan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar merupakan orang-orang yang sangat dipercaya oleh Arya Lembu Sura. Sebab, mereka dikenal jujur dan selalu menjalankan apa yang mereka ucapkan. Atas saran Sayyid Malik Ibrahim, pangeran Arya Lembu Sura menikahi anak-anak tiga bersaudara Bong. Dari anak Haji Bong Swi Hoo, sang pangeran memperoleh putera sulung, yaitu Arya Sena, yang setelah dewasa diangkat oleh maharaja menjadi pecat tandha di Terung. Dari anak Haji Bong An Sui, sang pangeran memperoleh keturunan puteri yang dinamai Ratna Wulan. Puteri itu diperistri orang Arab asal Pasai bernama Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi. Sedang dari anak Haji Bong Sam Hong, sang pangeran memperoleh keturunan puteri yang dinamai Ratna Panjawi. Puteri itu diperistri Dyah Kertawijaya, kemenakannya sendiri. Sementara atas saran Sayyid Ibrahim Zainal Akbar, Pangeran Arya Lembu Sura menikahi perempuan Wandan muslim anak kepala suku Wandan. Dari perempuan Wandan itu ia memiliki putera bernama Arya Bribin, yang setelah dewasa diangkat oleh maharaja menjadi adipati di Arosbaya, Madura.

Ketika Majapahit mulai melemah akibat perang berkepanjangan dengan Blambangan yang diikuti meredupnya kekuatan laut, Arya Lembu Sura mengambil langkah mengejutkan: mengubah Surabaya dari pangkalan utama angkatan laut menjadi bandar perniagaan. Menurut hemat Arya Lembu Sura, jika Surabaya tetap dipertahankan sebagai pangkalan tertutup dengan puluhan ribu prajurit laut yang tidak terurus, dipastikan akan pecah kekacauan yang tak terbayangkan. Ia berharap dengan dibukanya pelabuhan Surabaya sebagai bandar niaga maka kekuatan laut Majapahit secara berangsur-angsur akan dialihkan menjadi kekuatan niaga. Kapal-kapal perang Majapahit bisa diubah menjadi kapal niaga. Para prajurit laut bisa dialihkan menjadi awak kapal niaga.

Keputusan Arya Lembu Sura membuka pelabuhan Surabaya terbukti sangat tepat. Sebab, kapal-kapal perang Majapahit yang diubah menjadi kapal dagang sangat disukai oleh para saudagar untuk mengangkut barang dagangan. Kapal-kapal itu selain lebih kuat dan muatannya lebih banyak, lajunya juga lebih cepat dibanding kapal niaga biasa. Sementara itu, jarak bandar Surabaya ke kutaraja Majapahit yang lebih dekat dibanding jarak dari Tuban menyebabkan para saudagar lebih memilih menurunkan dan mamunggah barang dagangannya di Surabaya. Demikianlah, dalam waktu singkat pelabuhan dagang Surabaya berkembang pesat. Saudagar-saudagar dari berbagai negeri berniaga di Surabaya dan banyak di antara mereka yang kemudian menjadi penduduk Surabaya.

Sebagai satu-satunya pangeran Majapahit yang beragama Islam di zamannya, Arya Lembu Sura dikenal sebagai pelindung dan sekaligus tumpuan bagi orang-orang Islam di Majapahit. Lewat tangan Arya Lembu Sura, sejumlah jabatan penting di Majapahit diduduki oleh orang-orang Islam. Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi, menantu Arya Lembu Sura, misalnya, diangkat oleh Prabu Wikramawarddhana menjadi syahbandar di Tuban. Ia dianugerahi gelar Arya Teja. Arya Bribin, puteranya, diangkat menjadi adipati di Arosbaya. Sayyid Malik Ibrahim diangkat menjadi imam masjid di Tandhes dan memimpin warga muslim di sana. Ia bahkan dianugerahi gelar Raja Pandita.

Peran Arya Lembu Sura dalam menempatkan orang-orang Islam di dalam pemerintahan terlihat makin kuat manakala menantu yang juga kemenakannya, Dyah Kertawijaya, naik takhta Majapahit dengan gelar Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana. Atas saran Arya Lembu Sura, putera Sayyid Ibrahim Zainal Akbar yang bernama Sayyid Salim Najah (dikenal dengan nama Sayyid Es) diangkat anak oleh Prabu Kertawijaya dan dijadikan adipati Kendal. Namanya diganti menjadi Syaikh Suta Maharaja. Saudara tua Sayyid Salim Najah, Sayyid Waly al-Islam oleh Arya Lembu Sura dinikahkan dengan Ratna Sambodhi, puteri Lembu Miruda Panembahan Bromo, saudara lain ibu Arya Lembu Sura. Sayyid Waly al-Islam diangkat menjadi imam masjid di Samarang. Bahkan saudara termuda mereka, Sayyid Husayn, oleh Arya Lembu Sura dinikahkan dengan cucunya, puteri Arya Bribin Adipati Arosbaya.

Ketika usia Arya Lembu Sura mencapai hampir tujuh puluh, Dyah Kertawijaya, kedatangan tiga orang kemenakan istrinya. Karena Dyah Kertawijaya masih seorang pangeran yang sedang bersaing memperebutkan takhta yang sedang diduduki kakaknya, Prabu Stri Suhita, maka ketiga orang kemenakannya itu dititipkan kepada Arya Lembu Sura. Ketiga kemenakan itu adalah Sayyid Ali Murtadho, Sayyid Ali Rahmatullah, dan Abu Hurairah. Ketiganya kemenakan Ratu Darawati, istri Prabu Kertawijaya yang berasal dari negeri Campa.

Arya Lembu Sura sangat gembira menerima kehadiran ketiga pemuda Campa itu, terutama setelah ia mengetahui bahwa Raden Ali Murtadho dan Raden Ali Rahmatullah adalah kemenakan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar, sahabatnya. Mereka berdua adalah putera Ibrahim al-Ghozi as Samarkandy, saudara kandung Sayyid Ibrahim Zainal Akbar. Dengan begitu mereka berdua merupakan cucu kemenakan Sayyid Malik Ibrahim, guru ruhani yang telah membimbingnya ke jalan Kebenaran Islam. Kegembiraan Arya Lembu Sura berubah menjadi kasih sayang ketika mengetahui Ali Murtadho dan Ali Rahmatullah memiliki pengetahuan luas dan semangat kuat dalam bidang agama. Mereka kemudian diminta untuk menjadi guru bagi penduduk muslim di sekitar masjid.

Barang tiga empat tahun setelah ketiganya mengabdi di Surabaya, Dyah Kertawijaya naik takhta Majapahit dengan gelar Sri Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana. Atas permohonan istrinya, Prabu Kertawijaya kemudian menganugerahi ketiga orang kemenakan istrinya itu gelar kebangsawanan Rahadyan (Jawa Kuno: Tuan Yang Mulia, yang kelak dilafalkan "raden"). Arya Lembu Sura sangat bergembira dengan hal itu. Itu sebabnya, ia menikahkan ketiga orang pangeran itu dengan cucu-cucunya, putera Arya Teja, syahbandar Tuban.

Setelah menikah, Raden Ali Murtadho tinggal di rumah pemberian Arya Lembu Sura di timur Masjid Pinilih. Ia ditetapkan sebagai imam Masjid Pinilih karena posisinya sebagai saudara tua, sedangkan Raden Ali Rahmatullah bersama istrinya tinggal di rumah pemberian Arya Lembu Sura yang terletak di timur Masjid Ampel Denta. Ia ditetapkan sebagai imam masjid, yang selain bertugas memimpin sembahyang juga memberikan pelajaran agama kepada warga sekitar. Sementara Raden Abu Hurairah diangkat menjadi leba di Wirasabha, yakni pejabat kraton yang ditugaskan mengurus tanah milik maharaja dan berhak memungut pajak atas tanah tersebut. Raden Abu Hurairah sangat disayangi oleh Ratu Darawati karena sejak kecil ia sudah menjadi yatim piatu dan diasuh oleh uwaknya, Candrawati. Itu sebabnya, ia ditempatkan di Wirasabha agar dapat sering berkunjung ke kediaman Ratu Darawati di kraton Majapahit.

Sekalipun sibuk mengurusi Masjid Ampel Denta, Raden Ali Rahmatullah berusaha meluangkan waktu untuk belajar ilmu tata negara, ilmu pemerintahan, dan perniagaan kepada Arya Lembu Sura yang kini menjadi kakeknya itu. Lantaran rajin dan tekun belajar, hubungannya dengan Arya Lembu Sura menjadi sangat dekat. Kemanapun Arya Lembu Sura pergi, cucu menantunya itu selalu mendampinginya. Bahkan saat sakit pun, dengan penuh kesabaran ia merawat raja Surabaya yang sudah uzur itu. Dan boleh jadi karena hubungan keduanya sudah terlalu dekat maka saat menjelang ajal, Arya Lembu Sura meninggalkan wasiat kepada keluarganya agar kedudukannya sebagai raja Surabaya digantikan oleh cucu menantunya, yaitu Raden Ali Rahmatullah.

Akhirnya, pada usia tujuh puluh dua tahun Arya Lembu Sura Wafat. Ia dimakamkan di Batu Putih yang terletak di seberang timur Kampung Ampel Denta. Namun seiring kabar kematiannya itu, tersiar pula kabar tentang wasiatnya yang menunjuk Raden Ali Rahmatullah sebagai penggantinya. Kabar terakhir itu sangat mengejutkan para pejabat Majapahit. Sebab bagi Majapahit, Surabaya selain masih menjadi pangkalan angkatan laut juga menjadi gerbang perniagaan yang mengalirkan dana sangat besar bagi kas kerajaan. Penyerahan tampuk kekuasaan di Surabaya ke tangan orang asing yang beragama Islam secara sederhana dapat dianggap sebagai ancaman yang berbahaya bagi Majapahit.

Di tengah desas desus yang memanas di kutaraja tentang wasiat Arya Lembu Sura itu, Prabu Kertawijaya yang menjadi salah satu sasaran kabar burung itu kemudian mengambil langkah bijaksana. Pertama-tama ia secara resmi mengangkat Raden Ali Rahmatullah sebagai imam Masjid Ampel Denta. Kemudian ia mengangkat pula Raden Ali Murtadho sebagai imam Masjid Tandhes (Gresik) dengan gelar Raja Pandhita. Untuk melantik Raden Ali Rahmatullah dan Raden Ali Murtadho sebagai imam masjid, Prabu Kertawijaya menunjuk sepupu dan sekaligus iparnya, Pangeran Arya Sena, pecat tandha di Terung, putera almarhum Arya Lembu Sura.

Dengan kebijakan mengangkat Raden Ali Rahmatullah sebagai imam Masjid Ampel Denta dan Raden Ali Murtadho sebagai imam Masjid Tandhes, Prabu Kertawijaya berharap dapat menunjukkan bukti kepada kalangan pejabat kerajaan bahwa kemenakan istrinya itu telah dijauhkan dari pusat kraton Surabaya. Namun, kebijakan itu menimbulkan ketidakpuasan penduduk Surabaya. Rupanya, penduduk Surabaya yang mengetahui pesan terakhir rajanya itu dengan tegas tidak mau menerima keputusan Prabu Kertawijaya. Beramai-ramai mereka keluar dari kampungnya masing-masing dan berbondong-bondong menuju Ampel Denta. Demikianlah, dengan arak-arakan panjang yang memenuhi jalan-jalan dan sungai, Raden Ali Rahmatullah didaulat untuk tinggal di kraton Surabaya menggantikan kakeknya Arya Lembu Sura.

Prabu Kertawijaya yang menerima laporan peristiwa itu tidak terkejut, ia malah tertawa. Ia sangat paham dengan watak penduduk Surabaya yang setia, namun cenderung melawan terhadap sesuatu yang bertentangan dengan keinginan mereka. Akhirnya, setelah memperoleh masukan dari para penasihat kerajaan, Prabu Kertawijaya memutuskan untuk mengangkat Raden Ali Rahmatullah sebagai raja muda Surabaya dengan jabatan bupati, yaitu jabatan raja muda yang berkuasa atas wilayah tertentu, namun tidak memiliki kewenangan memerintah angkatan perang. Namun kebijakan itu ternyata tidak mampu meredam suasana panas di kutaraja. Desas desus yang meluas akibat pengangkatan bupati Surabaya itu makin memanas dikipas-kipas oleh menantu dan sekaligus kemenakan maharaja, sehingga ujung dari masalah pelik itu adalah jatuhnya Prabu Kertawijaya dari takhta.

Memasuki perempat awal abad ke-14 Saka, usia Raden Ali Rahmatullah hampir delapan puluh. Ia sudah berkuasa selama hampir setengah abad serta dikaruniai anak-anak, cucu, dan cicit yang sangat banyak. Dari putera dan puterinya yang berjumlah tujuh belas orang itu, Raden Ali Rahmatullah dikaruniai tujuh puluh tujuh cucu dan seratus cicit. Pada usianya yang sudah senja itu ia mengundurkan diri dari jabatan bupati Surabaya dan menjadi imam di Masjid Ampel Denta.

Sebelumnya, banyak orang menduga bahwa pewaris yang akan menggantikan kedudukan Raden Ali Rahmatullah adalah Raden Akhmad yang terkenal dengan sebutan Pangeran Mamad, puteranya dengan Nyi Ageng Bela. Namun orang-orang menjadi heran ketika Raden Ali Rahmatullah menunjuk Raden Kusen Adipati Terung, putera Ario Damar yang tidak lain dan tidak bukan adalah siswanya terkasih, sebagai penggantinya. Raden Kusen dikenal sangat patuh dan setia kepada gurunya. Itu sebabnya, ia tidak berani menolak keinginan sang guru. Ia menerima saja kedudukan itu sesuai keinginan gurunya, namun ia tidak berani tinggal di kraton Surabaya. Seusai dilantik oleh wakil ratu Japan, patih Arya Kedut, Raden Kusen tetap menempati kediamannya sendiri yang terletak di lingkungan puri Surabayan, yaitu di Tegal Bubatsari.

Kabar pergantian kekuasaan di Surabaya dari Raden Ali Rahmatullah ke Adipati Terung itu ternyata sangat mengejutkan para pejabat tinggi Majapahit di Daha, terutama Patih Mahodara. Sebab dengan merangkap dua jabatan sebagai Adipati Terung sekaligus bupati Surabaya, putera Ario Damar itu dipastikan akan membawa malapetaka besar bagi kelangsungan hidup Majapahit di pedalaman. Kenyataan setidaknya telah menunjukkan bahwa sejak pecah pertempuran pertama antara Adipati Terung dan Patih Mahodara, jalur perniagaan sepanjang Sungai Porong yang menghubungkan wilayah pedalaman Majapahit dengan daerah pesisir telah ditutup, mulai dari Kambang Sri, Jedong, Terung, dan Canggu. Kini, setelah menjadi penguasa Surabaya, dipastikan Raden Kusen akan melakukan tindakan serupa, yakni melarang kapal-kapal dan perahu asal Daha melewati Sungai Brantas yang mengalir ke Sungai Mas dan Supit Urang.

Sadar bahwa malapetaka sedang mengintai kekuatannya seiring naiknya Raden Kusen menjadi adipati Surabaya, Patih Mahodara mengirim menantunya, Syaikh Maulana Gharib, ke Ampel Denta untuk menemui Raden Ali Rahmatullah. Syaikh Maulana Gharib sendiri adalah saudara lain ibu Raden Ali Rahmatullah. Ia adik kandung Maulana Ishak yang bungsu. Melalui Syaikh Maulana Gharib, sang patih memohon agar Raden Ali Rahmatullah berkenan mendamaikan perselisihannya dengan Adipati Terung. Dalam perselisihan pertama dan kedua, sifat keras kepala Adipati Terung terbukti hanya bisa dilunakkan oleh Raden Ali Rahmatullah. Dan ternyata Raden Ali Rahmatullah menyambut baik permohonan Patih Mahodara.

Perselisihan antara Adipati Terung dan Patih Mahodara sendiri sejatinya telah menguras segenap daya dan kekuatan kedua belah pihak. Bukan hanya pasukan Terung dan Daha yang bertempur, melainkan para Adipati yang memihak masing-masing kekuatan pun jumlahnya mencapai puluhan. Lantaran itu, untuk menghentikan perselisihan dibutuhkan kesepakatan dari para adipati yang terlibat untuk mengakhiri peperangan yang menyengsarakan kawula. Raden Ali Rahmatullah mengumpulkan seluruh sanak kerabat dan siswanya yang menjadi penguasa-penguasa di pesisir, terutama para keturunan Prabu Kertawijaya, Bhre Tumapel dan Bhre Wirabhumi. Sedangkan Syaikh Maulana Gharib mengumpulkan para adipati yang mendukung Patih Mahodara. Kabar berkumpulnya para adipati itu dengan cepat meluas ke berbagai tempat. Tak lama kemudian penduduk Surabaya menyaksikan para adipati dari berbagai daerah berdatangan ke kotanya. Mereka ditempatkan di kraton Surabaya, meski rencana pertemuan akan digelar di Masjid Ampel Denta.

Abdul Jalil yang agak terlambat mendengar kabar itu dari Pangeran Kanduruwan bergegas ke Surabaya bersama-sama dengan Raden Sulaiman. Namun, saat tiba di Surabaya ternyata pertemuan itu belum dilakukan. Para adipati dan raja muda yang hadir masih tinggal di kraton Surabaya untuk menunggu saudara-saudaranya yang belum datang. Abdul Jalil dan Raden Sulaiman kemudian menghadap Raden Ali Rahmatullah yang tinggal di sebuah pondok kecil di samping Masjid Ampel Denta.

Kepada sepupu jauhnya itu, Abdul Jalil menuturkan semua pengalamannya selama berada di pedalaman Majapahit yang begitu kacau balau. Ia meminta saran dan petunjuk apa yang sebaiknya ia lakukan untuk menghadapi perubahan yang berat itu. Ternyata, saran dan petunjuk Raden Ali Rahmatullah tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dipikirkannya; bahwa perjuangan mengubah tatanan kehidupan di tengah reruntuhan Majapahit harus dilakukan secara serentak oleh banyak orang yang memiliki pandangan dan semangat yang sama, yaitu para pejuang yang memiliki semangat perbaikan (islah) untuk menciptakan kehidupan anak manusia yang lebih baik.

Laut Arab (MV. Kenho) 27 September 2005, 22:30LT