Bhayangkari Islah

Raden Ali Rahmatullah di pengujung usianya yang senja hidup dalam kesahajaan. Dalam keseharian dia selalu tampil sangat bersahaja. Mengenakan sarung dan baju kurung serta kopiah putih sebagaimana layaknya pakaian orang Campa muslim. Hanya saat memimpin sembahyang di masjid atau menyampaikan pelajaran agama ia mengenakan jubah dan destar putih. Sebatang tongkat kayu berukir kepala burung digunakan untuk menopang tubuhnya yang sudah condong ke depan jika berjalan.

Sosok Raden Ali Rahmatullah yang sederhana tidak berbeda dengan sosok Syaikh Datuk Kahfi, Syaikh Datuk Ahmad, dan Syaikh Datuk Bayan; orang-orang mulia yang hidup dalam kezuhudan. Sekalipun pernah menjadi penguasa kraton Surabaya selama hampir setengah abad, Raden Ali Rahmatullah memilih hidup dalam kesederhanaan seorang imam masjid. Kraton yang megah dan indah dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya telah ditinggalkannya. Hari-hari dari sisa hidupnya dihabiskan di pondok kecil yang dibangun di samping masjid.

Meski dituakan dan dihormati oleh para penguasa Majapahit, adipati, dan raja muda di pesisir, tidak menjadikan Raden Ali Rahmatullah sebagai sosok yang hidup di menara gading. Dia tetap menjalin keakraban dengan penduduk sekitar masjid yang sebagian besar merupakan tetangga sekaligus pengikutnya. Semua diperlakukan sama sebagai kawan-kawan dekat tanpa membedakan apakah seorang bekerja sebagai tukang, perajin, pedagang kecil, buruh, maupun pejabat. Usai memimpin sembahyang isya, Raden Ali Rahmatullah biasanya terlihat duduk di teras masjid untuk menerima tamu atau berbincang-bincang dan berkelakar dengan tetangga-tetangganya. Bahkan pada saat ia mendongeng sambil rebahan, orang-orang biasanya mendengarkan dengan khidmat sambil memijiti kakinya. Kebiasaan untuk berakrab-akrab dengan penduduk di teras masjid itu adalah kebiasaan raja Surabaya terdahulu, Pangeran Arya Lembu Sura, yang dilanjutkan oleh penggantinya, Raden Ali Rahmatullah.

Bertolak belakang dengan kehidupan sehari-harinya yang bersahaja dan akrab dengan penduduk, di kalangan para adipati dan raja muda Majapahit Raden Ali Rahmatullah sangat dimuliakan dan dihormati layaknya rishi atau bhagawan suci. Para penguasa kadipaten yang kebanyakan adalah sanak kerabatnya, tidak peduli muslim tidak peduli Hindu, setiap menghadapnya selalu berlutut menyembah dan mencium kakinya. Bahkan, dia disebut hormat dengan gelar Kangjeng Susuhunan, yang bermakna Padukan Yang Mulia.

Rupanya, selama menduduki jabatan bupati di Surabaya baik penduduk setempat maupun sanak kerabatnya telah menganggapnya sebagai penerus Arya Lembu Sura, raja Surabaya pertama. Lantaran itulah, oleh penduduk Surabaya dan sanak kerabatnya dia dipanggil dengan sebutan susuhunan, yaitu gelar yang hanya boleh digunakan untuk menyebut seorang raja. Namun, agak berbeda dengan sanak kerabatnya yang menyebutnya Kangjeng Susuhunan, penduduk sekitar menyapanya dengan sebutan akrab: Mbah Sunan.

Usia tua dan kesahajaan ternyata tidak sedikit pun mengurangi pengaruh dan wibawa Raden Ali Rahmatullah. Meski sudah tidak menjadi penguasa Surabaya dan hidup dalam kesahajaan seorang imam masjid, orang tetap menghormati dan mematuhinya. Hal itu paling tidak terlihat saat Raden Ali Rahmatullah mengundang para adipati dan raja muda dari berbagai daerah untuk membicarakan perdamaian antara Terung dan Daha, yang disambut dengan takzim dan penuh hormat. Dalam pertemuan yang digelar di Masjid Ampel Denta itu, para adipati dan raja muda berbondong-bondong datang memenuhi undangannya.

Sebagian besar di antara para penguasa yang hadir itu adalah keturunan Prabu Kertawijaya yang diikuti keturunan Bhre Tumapel dan Bhre Wirabhumi. Yang terkenal di antara mereka adalah Raden Patah Adipati Demak, Raden Kusen Adipati Terung, Arya Danareja Orob Adipati Bojong (Tegal), Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Pangeran Pandanarang Adipati Semarang, Arya Timur Orob Adipati Japara, Kayubralit Adipati Pati, Arya Pikrama Orob Adipati Rembang, Adi-Andayaningrat Adipati Pengging, Arya Sidik Adipati Tuban, Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, Zainal Abidin Adipati Gresik, Arya Bijaya Orob Adipati Tedunan, Lembu Wiraga Adipati Keniten, Kuda Panolih Adipati Sumenep, Arya Timbul Adipati Pamadegan, Bhre Jagaraga, Bhre Kabalan, Bhre Wengker, Nrpati Lasem, Prabu Satmata Ratu Giri Kedhaton, Lembu Peteng Ratu Gili Mandingan, Menak Pentor Ratu Anggabhaya Blambangan, Menak Gadru Ratu Prasadha Babadan, Arya Kedut Patih Majapahit di Japan, Bhima Nabrang Wijaya Juru Demung Majapahit di Japan.

Selain adipati dan raja muda yang sebagian besar adalah keturunan Prabu Kertawijaya, Bhre Tumapel dan Bhre Wirabhumi, hadir pula undangan dari kalangan ulama dan pemuka masyarakat dari berbagai tempat. Di antara mereka itu yang terkenal adalah Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, Sayyid Husayn dari Arosbaya, Sayyid Maulana Gharib, Syaikh Kamarullah Imam Masjid Pinilih, Haji Ban Swi Juru Cina (kepala warga Cina) Surabaya, Tuan Pake Baolong, Juru Kmir (kepala warga Campa) Surabaya, Raden Makhmud Buyut di Wisaya Sepanjang, Raden Hamzah Buyut di Wisaya Tumapel, Raden Ahmad (Pangeran Mamad) Khatib Ampel Denta, Syaikh Manganti guru dan imam di Gribik, Abdul Malik Israil, Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, dan Raden Qasim Wali Nagari Caruban.

Sementara itu, undangan yang mewakili pihak Patih Mahodara hanya beberapa orang saja ditambah beberapa ruhaniwan. Mereka adalah Menak Supethak Adipati Garudha, Raden Pramana Adipati Sengguruh, Nila Suwarna Adipati Panjer, adipati Dengkol, adipati Srengat, adipati Rawa, adipati Mamenang, adipati Pesagi, adipati Mahespati, Ajar Arga Dewa dan Arga Dalem dari Merbabu, Ajar Citragati dari Tirang Amper, dan Empat Serangkai (caturgosthi) penguasa ruhani Pengging, yaitu Ajar Jayapurusa, Ajar Sabuk Janur, Ajar Malang Gati, dan Ajar Gadhung Melati. Mereka yang mewakili kepentingan Patih Mahodara ini dipimpin oleh Syaikh Maulana Gharib.

Entah apa yang sebenarnya terjadi, gegap gempita pertemuan puluhan adipati dan raja muda untuk membahas masalah perdamaian Terung – Daha di Masjid Ampel Denta, dalam kenyataan tidak sesuai dengan semarak suasana yang terlihat. Pertemuan yang digelar pada pagi hari di Masjid Ampel Denta itu berlangsung sangat singkat. Mula-mula pertemuan diawali oleh sambutan Raden Ali Rahmatullah yang menyampaikan pandangannya tentang mudharat perang dan maslahat perdamaian bagi kehidupan di tengah perubahan. Anehnya, usai Raden Ali Rahmatullah berbicara, para adipati, raja muda, ulama, dan pemuka masyarakat yang hadir secara beramai-ramai menyatakan sepakat untuk patuh dan tunduk pada kehendak sang susuhunan yang menginginkan agar peperangan diakhiri. Meski syarat-syarat perdamaian yang disepakati jelas-jelas merugikan pihak Terung, kedua pihak yakin apa yang disampaikan Raden Ali Rahmatullah itu akan berakhir baik bagi semua pihak.

Para adipati, raja muda, ulama, dan pemuka masyarakat di Masjid Ampel Denta rupanya tidak sekadar diajak berbicara tentang perdamaian antara Terung – Daha. Usai pembahasan singkat tentang perdamaian Terung – Daha yang disetujui semua pihak, tiba-tiba Raden Ali Rahmatullah mengajak par hadirin untuk membicarakan masalah baru yang sama sekali tak terduga, yaitu tatanan baru yang digagas Abdul Jalil: masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah, yang ditawarkan untuk menggantikan tatanan lama: Kawula dan Kerajaan.

Sebagai penguasa Surabaya yang selama puluhan tahun mengenal dengan baik cara pandang dan cara pikir orang-orang Majapahit, Raden Ali Rahmatullah mula-mula mengajak hadirin untuk membuka cakrawala pikiran baru sehingga memungkinkan bagi lahirnya wacana baru. Setelah itu ia menyampaikan pengantar bagi gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah. Sampai akhir uraiannya Raden Ali Rahmatullah hanya menyampaikan gagasan tersebut sebagai tawaran-tawaran yang bersifat pemikiran. Maksudnya, gagasan itu ditawarkannya sebagai sebuah wacana masa depan yang tidak harus diterapkan pada kehidupan nyata dalam waktu dekat.

Sekalipun uraian Raden Ali Rahmatullah tentang gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah hanya berupa wacana, bagian terbesar hadirin tertegun-tegun heran mendengarnya. Mereka seolah-olah mendengarkan dongeng yang sangat asing. Keheranan mereka itu terjadi karena nilai-nilai yang mendasari pemikiran tatanan baru yang disebut masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah itu bertolak belakang dengan apa yang selama ini mereka ikuti. Lantaran gagasan baru itu mereka anggap mengada-ada maka mereka pun memberikan tanggapan yang keras. Lebih dari separo jumlah yang hadir tegas-tegas menolak gagasan yang tidak lazim itu. Tidak peduli adipati, raja muda, pemuka masyarakat, dan bahkan ulama menanggapi gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah sebagai pemikiran yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan kodrat hidup manusia. Sebagian lagi ada yang menyatakan bisa menerima gagasan masyarakat ummah, namun menolak gagasan wilayah al-Ummah. Hanya sedikit yang bisa menerima kedua gagasan itu. Pendek kata, sebagian besar hadirin belum bisa menerima gagasan baru tentang kepemimpinan berdasarkan pilihan.

Di tengah penolakan keras itu, tidak pelak Abdul Jalil sebagai penggagas masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah dijadikan sasaran utama dari kecaman dan hujatan hadirin yang menganggap gagasan tersebut sebagai hal yang aneh dan tidak masuk akal. Para hadirin yang selama ini hidup dengan segala kemapanan di atas tatanan kawula dan Kerajaan, telah menangkap gelagat yang membayakan dari gagasan “gila” yang tidak mereka pahami itu. Itu sebabnya, beberapa jenak seusai Raden Ali Rahmatullah memaparkan gagasan tersebut, Abdul Jalil sudah dihujani caci maki dan hujatan. Bahkan, sebagian di antara mereka menertawakan Abdul Jalil sebagai tukang mimpi yang mengigau di tengah hari.

Menghadapi reaksi keras sebagian besar hadirin, Abdul Jalil tidak melakukan pembelaan apa-apa untuk memperthankan hasil buah pikirnya itu. Ia sadar, bagian terbesar dari mereka yang hadir adalah orang-orang yang sejak kecil sudah terbiasa memandang segala sesuatu dengan nilai-nilai yang bersumber dari Hastabrata. Sejak awal menelusuri kehidupan orang-orang di pedalaman Majapahit, ia sudah menduga jika gagasannya bakal menghadapi tantangan sangat keras. Sebab, gagasannya itu jelas-jelas akan mengubah kerangka pandang dan kerangka pikir yang sudah menjajah alam pikiran dan alam kejiwaan bangsa yang sedang sekarat itu.

Dengan diamnya Abdul Jalil, ternyata tidak menjadikan masalah masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah mentah dan ditolak utuh oleh para hadirin. Raden Kusen yang sejak awal hanya berdiam diri tiba-tiba meminta izin kepada Raden Ali Rahmatullah untuk berbicara. Rupanya, kecaman dan hujatan para hadirin terhadap Abdul Jalil telah disalahpahaminya sebagai penghinaan kepada Raden Ali Rahmatullah yang menyampaikan gagasan tersebut. Itu sebabnya, dengan wajah merah padam dan suara menggelegar laksana halilinyar ia menyatakan mendukung dengan sepenuh jiwa gagasan baru yang disampaikan gurunya itu.

“Sebagai bukti bahwa aku mendukung gagasan itu,” ujar Raden Kusen berkobar-kobar. “Barang sebulan lalu, aku telah menghibahkan sebagian tanah milikku untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat ummah. Ketahuilah oleh kalian semua bahwa aku sudah membuat keputusan yang menyatakan bahwa mulai Wisaya Sumengka di selatan, Wisaya Kamalagi di barat, Wisaya Wanjang di utara, hingga Wisaya Sasawo di timur akan aku bagi-bagikan kepada penduduk yang disebut masyarakat. Aku juga telah menghadiahi Syaikh Lemah Abang sebidang tanah seluas 200 jung (560 hektar) yang terletak di antara Kedung Peluk dan Wayuwo untuk digunakan sebagai hunian bagi masyarakat ummah yang dibentuknya.”

Pernyataan adipati Terung tentu mengagetkan sebagian besar hadirin. Mereka tidak bisa memahami kenyataan bahwa Raden Kusen yang mereka hormati dan muliakan menerima gagasan “gila” yang sangat merugikan itu. Mereka tidak bisa memahami bagaimana Raden Kusen bisa memberikan secara Cuma-Cuma tanah di empat wisaya kepada penduduk. Namun, kekagetan mereka makin memuncak ketika Raden Patah tiba-tiba tampil ke depan dan membuat pernyataan serupa. Putera Prabu Kertawijaya dengan muslimah Cina bernama Ratna Subanci itu tanpa terduga-duga memaklumkan bahwa dia selaku penguasa Demak telah menyiapkan rencana untuk membagi-bagikan tanah di Kadipaten Demak seluas 1.200 jung (3360 hektar) kepada penduduk. “Tetapi, berbeda dengan adikku yang menghibahkan begitu saja tanahnya kepada masyarakat, aku akan tetapkan bahwa siapa saja di antara penduduk yang ingin mendapat bagian tanah di Demak wajib membelinya dengan bayaran dua kalimah syahadat,” kata Raden Patah berapi-api.

Kegaduhan tersulut seiring maklumat Raden Patah. Para hadirin dengan terheran-heran bertukar pandang satu sama lain. Setelah itu, mereka saling berbicara tentang hal-hal yang tak mereka pahami. Bahkan sebagian di antara mereka terlihat berceloteh dan menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepala kebingungan. Suasana di dalam Masjid Ampel Denta mendadak riuh dan gaduh bagaikan di tengah pasar.

Peristiwa tak terduga yang muncul susul-menyusul itu memang telah menyeret sebagian besar hadirin ke dalam lingkaran kebingungan yang tak terpahami. Bagaimana mungkin Raden Kusen dan Raden Patah bisa mendukung gagasan “gila” itu? Bukankah mereka berdua akan menderita kerugian besar dengan menerima dan menjalankan gagasan tersebut?

Lingkaran kebingungan yang tak terpahami itu pada gilirannya menyeret mereka ke suasana yang menegangkan manakala mereka mendapati kenyataan yang lebih “gila” berupa: pernyataan susul-menyusul dari Prabu Satmata Ratu Giri Kedaton, Raden Ahmad Khatib Ampel Denta, Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, Raden Makhmud Buyut Wisaya Sapanjang, Raden Hamzah Buyut Wisaya Tumapel, Sayyid Husayn dari Arosbaya, Arya Timbul Adipati Pamadegan, Lembu Peteng Ratu Gili Mandingan, Arya Timur Orob Adipati Japara, Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Pangeran Pandanarang Adipati Samarang, Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, Zainal Abidin Adipati Tandhes, Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, dan Raden Qasim Wali Nagari Caruban, yang menyatakan dukungan mutlak terhadap gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah.

Puncak kebingungan hadirin terjadi ketika Raden Ali Rahmatullah yang mereka hormati dan muliakan menyatakan dukungan pada gagasan baru yang dikemukakan oleh Abdul Jalil tersebut. “Hendaknya kalian semua mengetahui, sejak tiga pekan lalu penduduk Surabaya di Wisaya Ampel Denta, Wisaya Sumber Urip, Wisaya Bukul, bahkan di tanah shima Kertawijaya telah menempati tanahnya sendiri sebagai hak milik pribadi. Mereka tidak perlu lagi membayar sewa tanah kepada para kepala wisaya dan wadana. Namun demikian, untuk memelihara keamanan atas tanah hak milik itu mereka semua dikenai pungutan pajak oleh pihak kadipaten.”

Lengkap sudah ketidakpahaman sebagian besar hadirin setelah Raden Ali Rahhmatullah menyatakan dukungannya atas gagasan “gila” itu. Mereka yang selama ini terlena oleh kemapanan tampaknya sangat sulit menerima segala sesuatu yang terkait dengan perubahan yang bakal menggugat kemapanan mereka. Namun, mereka menjadi penasaran dan memendam amarah di kedalaman jiwanya manakala mereka menyadari bahwa sesuatu yang bakal menggugat kemapanan mereka itu justru didukung oleh tokoh-tokoh yang mereka segani dan hormati.

Akhirnya, meski dalam pertemuan di Masjid Ampel Denta itu mereka tidak dapat berbuat sesuatu, jauh di kedalaman jiwa mereka telah tersulut nyala api ketidaksukaan dan bahkan kebencian terhadap sang penggagas: Syaikh Lemah Abang. Kenyataan itu setidaknya sempat mencuat saat beredar kasak-kusuk di antara hadirin yang menuduh Abdul Jalil sebagai tukang sihir yang telah mempengaruhi Raden Ali Rahmatullah dan murid-muridnya.

Abdul Jalil yang diberi tahu oleh Raden Sulaiman tentang kasak-kusuk yang menghangat di antara hadirin hanya tersenyum tanpa memberikan tanggapan apa pun. Ia menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Ia sangat sadar bahwa bagian terbesar dari peserta pertemuan itu adalah penguasa-penguasa yang picik dan mandek pemikiran maupun jiwanya karena lingkaran kemapanan. Mereka hanya bisa berpikir dangkal betapa mereka bakal kehilangan wibawa dan kekayaan jika menerima dan menerapkan tatanan baru masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah yang berbeda dengan tatanan Kawula dan Kerajaan. Memang, kata Abdul Jalil dalam hati, hampir tidak ada manusia yang mau menerima sesuatu yang baru yang jelas-jelas mengancam kepentingan pribadinya.

Sementara itu, di tengah ketidakpuasan dan rasa penasaran sebagian besar hadirin, Raden Ali Rahmatullah memberikan kebebasan kepada mereka yang sepakat mendukung gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah untuk segera melaksanakan gagasan tersebut. Demikianlah, diawali dari Madura, para adipati dan raja muda Madura sepakat memilih Sayyid Husayn sebagai wali al-Ummah Madura dengan gelar Kalifah ar-Rasul Sayyidin Panatagama. Setelah itu adipati Surabaya, adipati Tedunan, adipati Tandhes, adipati Siddhayu, adipati Tuban, adipati Rembang, adipati Demak, adipati Japara, adipati Samarang, dan adipati Kendal sepakat memilih Prabu Satmata Ratu Giri Kedhaton, murid tertua Raden Ali Rahmatullah sebagai wali al-Ummah dengan gelar Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunngul Khalifatullah.

Sesungguhnya, kesepakatan para adipati pesisir menunjuk Prabu Satmata sebagai kalifah bukan hanya atas pertimbangan usia dan senioritas. Lebih dari itu, pengetahuan agamanya sangat luas dan mendalam di samping tentu saja garis nasabnya yang agung dan mulia: ayahandanya seorang sayyid keturunan Nabi Muhammad Saw. dan ibundanya keturunan Bhre Wirabhumi. Sejak kecil ia diasuh oleh Nyi Ageng Pinatih, janda Pangeran Arya Pinatih, bangsawan Bali dari trah Ksatria Manggis, yang memeluk Islam dan tinggal di Tandhes. Ia dididik oleh Raden Ali Rahmatullah dalam ilmu keagamaan dan tata negara, kemudian mendalami ilmu tasawuf kepada ayahandanya, Syaikh Maulana Ishak, di Pasai.

Ketika adzan dzuhur dikumandangkan, Masjid Ampel Denta telah sepi. Para adipati dan raja muda dan pemuka masyarakat telah kembali ke kediaman masing-masing. Hanya Raden Ali Rahmatullah dan beberapa kerabat serta murid-muridnya yang masih terlihat di situ. Rupanya, siang itu, tanpa istirahat sedikit pun Raden Ali Rahmatullah akan membahas berbagai masalah perubahan yang terjadi seiring makin memburuknya kehidupan di Majapahit. “Aku sudah berbicara banyak dengan saudaraku, Syaikh Lemah Abang, tentang pentingnya sebuah gerakan yang tertata dan terarah untuk melakukan islah guna menata kehidupan penduduk yang sudah memuakkan ini. Kami berdua sepakat untuk membentuk suatu syura (Dewan Musyawarah) tempat berkumpul para muslih (pelopor perbaikan) yang bisa bekerja sama seiya sekata untuk melakukan gerakan pebaikan.”

Para kerabat dan murid yang selama ini sangat patuh dan sangat memahami kehebatan Raden Ali Rahmatullah di dalam merancang suatu gerakan untuk perubahan, tidak sedikit pun menolak rencana pembentukan syura tersebut. Bahkan saat Raden Ali Rahmatullah mengusulkan nama Bhayangkari Islah untuk syura tersebut, semuanya menerima dengan takzim. Dan sesuai kesepakatan, mereka yang ditetapkan sebagai anggota Bhayangkari Islah adalah Syaikh Maulana Gharib, Raden Ahmad Khatib Ampel Denta, Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, Raden Patah Adipati Demak, Prabu Satmata Ratu Giri Kedhaton, Kalifah Husayn Arosbaya, Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, Raden Zainal Abidin Adipati Tandhes, Pangeran Pandanarang Adipati Samarang, Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Raden Qasim Wali Nagari Caruban, Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, Raden Sulaiman Leba Wirasabha, Abdul Malik Israil, dan Syaikh Lemah Abang. Atas usul Abdul Jalil, Raden Sahid yang sedang “berjuang” di Galuh Pakuan dimasukkan ke dalam anggota Bhayangkari Islah.

Kelancaran pembentukan Bhayangkari Islah itu ternyata hanya berlangsung sampai saat penetapan keanggotaan syura. Sebab, pada saat para anggota Bhayangkari Islah membahas bidang garapan dan tugas masing-masing anggota, muncul persoalan rumit yang justru disulut oleh Abdul Jalil. Saat itu tiba-tiba Abdul Jalil mengemukakan masalah pelik yang harus ditangani sebagai bagian dari tugas utama Bhayangkari Islah. Dan yang dimaksud oleh Abdul Jalil sebagai masalah pelik itu adalah pengaruh kepercayaan Campa yang membahayakan akidah umat Islam. “Kami di Caruban tetap memegang prinsip ‘menerima yang baru tetapi tidak menghilangkan yang lama yang bermanfaat’. Maksudnya, segala sesuatu yang sudah ada dan bermanfaat tetap kita lestarikan, namun yang lama yang mudharat dan membahayakan akidah hendaknya kita tinggalkan. Oleh karena kami menilai takhayul asal Campa sebagai sesuatu yang mudharat dan membahayakan akidah maka kami menilai hal itu haruslah dijadikan bagian utama oleh Bhayangkari Islah. Terus terang, kami khawatir takhayul itu akan merusak tauhid dan kelak akan merancukan syarak.”

Masalah pelik sekitar takhayul Campa ternyata menimbulkan masalah tersendiri di tubuh Bhayangkari Islah. Sebab, sebagian anggota Bhayangkari Islah ternyata belum terbebas sama sekali dari pengaruh takhayul tersebut. Dengan berbagai alasan – tanpa dukungan dalil – mereka berusaha menolak usulan Abdul Jalil. Bahkan, mereka beralasan dengan takhayul asal Campa itu sesungguhnya perubahan di Majapahit dapat dilakukan secara berangsur-angsur tanpa menimbulkan konflik dengan kepercayaan setempat yang sudah ada.

Abdul Jalil yang sudah mengetahui dan memahami betapa berbahayanya pengaruh takhayul Campa tidak bisa menerima alasan anggota-anggota Bhayangkari Islah. Ia menolak tegas alasan-alasan mereka yang sedikit pun tidak didukung dalil. Ia tetap beranggapan bahwa sebuah perbaikan tidak sekadar berbentuk perubahan dalam tampilan, tapi yang lebih mendasar adalah perubahan cara berpikir, cara memandang, cara menilai, dan cara menyikapi sesuatu dalam kehidupan.

“Bagi kami, Islam adalah ajaran yang membebaskan manusia dari segala belenggu yang menjajah dan membenamkan manusia ke dalam relung-relung tergelap jiwanya. Islam membebaskan manusia dari rasa takut terhadap segala sesuatu selain Allah. Islam membebaskan manusia dari ketundukan atas segala sesuatu selain Allah. Karena itu, keyakinan takhayul asal Campa yang membawa manusia pada rasa takut terhadap hantu-hantu, hari naas, gegwantuhuan, ajaran klenik, hendaknya dibersihkan dari jiwa umat Islam. Demi Allah, kami tidak ingin menyaksikan di negeri ini kelak menjadi umat pemuja kuburan, penyembah arwah leluhur, yang meminta-minta berkah pada pohon-pohon, dan tunduk bertekuk lutut kepada hantu-hantu yang mereka cipta,” kata Abdul Jalil.

Perselisihan paham tentang penting dan tidaknya takhayul Campa diberantas akan meruncing dan menjadi perpecahan di antara anggota Bhayangkari Islah andaikata Raden Ali Rahmatullah selaku sesepuh tidak menengahi. Dengan sangat bijaksana Raden Ali Rahmatullah yang sudah kenyang merasakan pahitnya perselisihan dan mengunyah getirnya kehidupan menetapkan jalan tengah bagi kedua pihak yang berselisih. Pertama-tama, ia meminta kepada seluruh anggota Bhayangkari Islah untuk menempatkan usaha-usaha mengislamkan penduduk pada urutan pertama dari bidang garapan syura. Untuk itu, ia meminta agar Syaikh Lemah Abang menjadi pelopor bagi pelaksanaan tugas utama itu dengan didukung oleh seluruh anggota tanpa kecuali. “Aku berharap, dari sasyahidan (ajaran kesaksian; syahadat) yang benar akan tumbuh keislaman yang benar. Dengan demikian, jika iman tauhid seorang muslim sudah benar maka segala bentuk takhayul akan sirna dengan sendirinya. Dan aku kira, saudaraku Syaikh Lemah Abang pasti sudah mafhum jika hal itu butuh waktu lama,” ujar Raden Ali Rahmatullah.

Kebijakan Raden Ali Rahmatullah untuk menempatkan Abdul Jalil sebagai pelopor bagi usaha-usaha pengislaman dengan tugas utama mengajarkan sasyahidan, segera disambut gembira oleh anggota Bhayangkari Islah yang menolak gagasan pemberantasan takhayul Campa. Mereka berpikir, dengan tugas utama hanya mengajarkan syahadat, Abdul Jalil pastilah tidak bisa berbuat banyak untuk mencampuri bidang garapan yang lain seperti tauhid, mu’amalah, dan fiqh. Namun, pemikiran mereka itu tentu saja tidak tepat sebab menurut pemahaman Raden Ali Rahmatullah dan Abdul Jalil, justru pada syahadat itulah sejatinya terletak intisari Islam.

Akhirnya, dengan suara bulat Abdul Jalil disepakati menangani tugas utama untuk mensyahadatkan penduduk melalui pengajaran Sasyahidan. Namun, ketika para anggota Bhayangkari Islah akan membahas bidang garapan lain dan membagi-bagi tugas, tiba-tiba tersiar kabar yang dibawa oleh para saudagar Cina Surabaya tentang terjadinya serbuan Rajagaluh ke Caruban Larang. Menurut para pembawa kabar, prajurit-prajurit Caruban Larang masih bertahan di Kagedengan Plumbon dan Jamaras. Meski gerak maju pasukan Rajagaluh dapat ditahan, Kuta Caruban sudah ditinggalkan oleh sebagian besar penduduknya yang mengungsi ke pantai.

Selat Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 14:05LT