Para Penghindar Kematian

Pantai Kalisapu yang terletak di selatan pelabuhan Muara Jati adalah salah satu tempat yang dijadikan hunian sementara para pengungsi asal Kuta Caruban. Dilihat dari laut tampak gubuk-gubuk beratap ilalang dan tenda-tenda kain sejak tepian pantai hingga ke kaki Gunung Jati yang melatarbelakanginya. Bagaikan bercak-bercak hitam dan putih, berkerumun-kerumun di antara batang-batang pohon kelapa. Gubuk dan tenda itu sulit digambarkan karena sudah tak karuan warnanya, kumuh, penuh dilepoti tanah dan pasir berlumpur. Semakin didekati, kekumuhannya makin sulit digambarkan, karena bukan hanya warnanya yang tak karuan, melainkan bau menyengat yang mengitarinya membuat bulu kuduk meremang. Sapi, kerbau, dan kambing yang ditambat di batang-batang pohon kelapa dekat gubuk-gubuk telah membuat perut serasa diremas-remas dan kepala pening. Sementara puluhan bebek dan ayam yang ditempatkan di kandang-kandang bambu kotor, memberikan andil tidak sedikit dalam menebarkan kemuakan.

Di pengujung musim hujan ini deretan gubuk dan tenda kumuh itu terus-menerus diguyur hujan lebat disertai angin dan halilintar. Jika hujan melebat, debu merah yang menempel di daunan dan atap-atap terlihat berdesak-desakan turun menuju permukaan tanah, menggenang, dan kemudian menjadi kubangan keruh berwarna coklat kemerahan. Tidak hanya debu, tetapi tahi sapi, tahi kerbau, tahi kambing, tahi bebek, dan tahi ayam pun berbaris bersama air hujan menuju kubangan demi kubangan. Hujan yang tak kenal waktu telah mengubah tanah menjadi kubangan lumpur berupa gumpalan lempung bercampur kotoran mirip sawah yang baru dibajak dan ditaburi rabuk. Bagaikan kerumunan makhluk aneh, gubuk dan tenda kumuh itu meringkuk kedinginan di tengah kubangan lumpur raksasa. Tidak ada suara di situ selain rintik hujan, desau angin, gemuruh guruh, ledakan halilintar, tangis anak kecil, dan gerutu orang-orang yang mengutuk hujan tak kenal istirahat.

Selama empat pekan lebih tinggal di dalam gubuk-gubuk dan tenda-tenda kumuh itu, para pengungsi selalu menggerutu. Mereka menggerutu karena hujan telah membuat tanah becek dan berlumpur dan kemudian mengalir ke dalam gubuk. Mereka menggerutu pada nyamuk-nyamuk ganas yang mengisap darah. Mereka menggerutu karena persediaan makanan sudah habis dan air untuk minum pun sangat keruh. Mereka menggerutu dan bahkan berkeluh-kesah ketika salah satu anggota keluarga jatuh sakit.

Bagi para pengungsi, bukan hanya debu, pasir, tanah, dan hujan yang teraduk menjadi kubangan lumpur bergumpal lempung. Jiwa mereka pun dari waktu ke waktu diaduk-aduk oleh kecemasan, ketakutan, kegamangan, dan kebingungan akibat peperangan yang berkecamuk dengan simpang-siur berita yang tidak menentu. Jiwa mereka sekeruh lumpur dan teraduk-aduk. Ketidakpastian telah membanting-banting jiwa dan raga. Di tengah keremukluluhan itulah mereka dengan harap-harap cemas akan menanya siapa saja di antara orang yang datang ke situ tentang ini dan itu sekitar kecamuk perang. Bahkan di tengah hujan lebat pun, dengan bertudung daun pisang, para lelaki akan keluar dari gubuk untuk menanya siapa saja di antara orang-orang yang datang; apakah perang masih berlanjut atau sudah selesai.

Sebelum senja turun, ketika peperangan memasuki pekan kelima, serombongan orang sekitar lima belas jumlahnya terlihat beriringan melewati hunian para pengungsi di Kalisapu. Mereka berjalan dari arah pelabuhan Muara Jati ke Gunung Jati. Mereka adalah Abdul Jalil, Syarif Hidayatullah, Raden Qasim, Raden Sulaiman, Abdul Halim Tan Eng Hoat putera Abdurrahman Tan King Ham, Wiku Suta Lokeswara dan siswa-siswanya. Saat berangkat dari pelabuhan Kendal rombongan itu berjumlah empat puluh orang, namun di Kebon Pesisir rombongan itu dibagi dua. Yang pertama, Abdul Malik Israil dan istri cucunya, Nyi Tepasari, bersama para pengawal menuju Kuta Caruban melalui Sungai Suba. Rombongan kedua, Abdul Jalil dan kawan-kawan yang mendarat di Muara Jati dengan tujuan ingin menyaksikan kebenaran kabar yang menuturkan banyak pengungsi di Kalisapu menderita karena kekurangan makan dan diganyang penyakit.

Saat Abdul Jalil dan rombongan mendekati hunian para pengungsi, hujan sudah mulai reda, namun rintik-rintiknya masih tersisa membasahi apa saja yang ada di sana. Ketika kaki-kaki mereka yang kotor dilepoti lumpur melintas di atas jalan becek, beberapa kepala terjulur dari balik tenda untuk melihat kedatangan mereka.

Tiga orang lelaki Cina setengah baya terlihat melesat dari dalam tenda yang sebagian robek-robek. Kemudian, dengan sikap penuh selidik, mereka bertanya kepada Abdul Jalil dan rombongan tentang maksud dan tujuan datang ke tempat ini. Mereka juga bertanya ini dan itu, termasuk apakah perang sudah selesai atau belum. Namun, mereka menjadi terheran-heran dan curiga ketika mendapat jawaban bahwa rombongan itu akan ke Kuta Caruban.

“Kami ini orang Kuta Caruban, Tuan-Tuan,” kata lelaki yang mengenakan baju dan celana panjang hitam potongan Cina dengan wajah diliputi kecurigaan. “Di kuta sedang tidak aman. Kami mengungsi ke sini karena di kuta orang sedang perang. Kenapa Tuan-Tuan ini malah mau ke sana?”

“Kami ada urusan penting yang harus diselesaikan di Kuta Caruban,” sahut Syarif Hidayatullah.

“Kalau boleh tahu, urusan apa?” tanyanya dengan sorot mata makin diliputi kecurigaan.

“Kami mau menemui kalifah Caruban Larang, Sri Mangana,” Abdul Halim Tan Eng Hoat menyela dengan nada tinggi. Ia menangkap isyarat bahwa para lelaki Cina itu mencurigai mereka sebagai penjarah. “Kami ingin membantu perjuangan beliau melawan Yang Dipertuan Rajagaluh. Sebaliknya, Tuan-Tuan ini yang mengaku sebagai penduduk Kuta Caruban, kenapa berada di sini? Tidakkah Tuan-Tuan seharusnya wajib membantu pertahanan Kuta Caruban tempat rumah, tanah, dan harta benda Tuan-Tuan berada?”

“Pemimpin kami, Kongcu Ling Tan, telah mati terbunuh dalam perang. Kami yang tua-tua ini tidak pandai perang. Kami harus menjaga istri dan anak-anak juga keluarga kami. Kami tinggal di tempat ini karena ada kabar orang-orang Rajagaluh akan menyerbu Kuta Caruban,” katanya beralasan.

“Bagaimana dengan tanah, rumah, dan harta benda Tuan di Kuta Caruban?” tanya Raden Qasim menyela.

“Kami sudah tinggalkan budak di sana untuk jaga rumah dan barang-barang,” jawab lelaki Cina itu.

“Tuan mempercayakan rumah dan harta Tuan kepada budak-budak?” Raden Qasim minta penegasan.

“Ya, Tuan.”

“Tidakkah Tuan sudah mengetahui jika peraturan baru yang dibuat kalifah Caruban melarang semua penduduk untuk memelihara dan berjual beli budak-budak?” tanya Raden Qasim menatap tajam lelaki Cina itu.

“Ee, maksud kami bukan budak. Maksud kami, kacung. Ya, ya, maksud kami orang upahan.”

Raden Qasim mendengus dan berkata perlahan meminta pertimbangan kepada Abdul Halim Tan Eng Hoat, “Bagaimana ini? Orang-orang ini jelas sudah menyalahi peraturan kalifah.”

“Karena sudah ada bukti bahwa mereka adalah orang tak berguna, orang yang mau enak sendiri dan tidak mau susah, maka rumah dan hartanya hendaknya diberikan kepada orang-orang yang telah bertaruh nyawa menjaganya. Itu hukum perang yang berlaku di mana saja.” Abdul Halim Tan Eng Hoat sambil berpaling meminta pertimbangan Syarif Hidayatullah, “Bukankah demikian, Saudaraku?”

“Ya, sebagai wali nagari Kuta Caruban, engkau harus tegas memutuskan hal itu agar menjadi pelajaran bagi yang lain,” kata Syarif Hidayatullah kepada Raden Qasim. “Karena kalau sikap orang tak berguna itu ditiru yang lain, akan berat bagi perjuangan kita di kelak kemudian hari.”

“Aku akan lakukan itu setelah menghadap kalifah.”

Sementara itu, Abdul Jalil merasakan kepedihan menyayat hatinya saat mendengar Ling Tan gugur dalam perang. Sambil mengucapkan inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un, ia menarik napas panjang. Bayangan Ling Tan, Abdurrahman Ling Tan, pemimpin warga Cina asal Junti itu berkelebatan memasuki relung-relung ingatannya. Abdurrahman Ling Tan adalah peranakan Cina yang memiliki pengaruh kuat di kalangan penduduk setempat karena ayahandanya, Tumenggung Wangsanegara, adalah orang Sunda yang menjadi pejabat pangasalan (pengawal raja) di Caruban Larang. Ia dikenal sebagai orang yang jujur, tegas, pemberani, dan dermawan. Lantaran itu, warga Cina perantauan dan keturunannya di Junti lebih suka dipimpin Abdurrahman Ling Tan bahkan sampai saat mereka pindah ke Kuta Caruban. Sekalipun Abdurrahman Ling Tan seorang muslim yang taat, penduduk Cina yang dipimpinnya sebagian besar bukan muslim.

Membandingkan keempat lelaki Cina pengungsi itu dengan Abdurrahman Ling Tan memang seperti membandingkan bumi dan langit. Abdurrahman Ling Tan sejak kecil dididik di lingkungan bangsawan Sunda dan keluarga saudagar Cina jelas-jelas menunjukkan jiwa ksatria yang memiliki rasa tanggung jawab besar dan kerelaan untuk berkorban. Ia gugur dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Sementara ketiga lelaki Cina pengungsi itu, yang mungkin berasal dari kalangan orang kebanyakan, tidak sedikit pun menunjukkan jiwa ksatria yang bertanggung jawab dan rela berkorban, meski untuk sekadar melindungi rumah, tanah, dan harta benda milik sendiri. Mereka memang memelihara budak-budak, namun sesungguhnya mereka sendirilah orang-orang yang bermental budak. Mereka orang-orang yang mendamba kemapanan hidup di dunia, namun enggan bersusah payah. Mereka datang jika keadaan menguntungkan dan akan buru-buru menyingkir jika keadaan merugi.

Akhirnya, tanpa memperkenalkan diri dan tanpa menanyai ketiga orang Cina itu, Abdul Jalil dan rombongan meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan menyusuri tanah berlumpur dan berbau busuk di antara gubuk dan tenda yang tak karuan bentuk dan warnanya. Sepanjang perjalanan itu Abdul Jalil merenungkan keanehan pemikiran dan perilaku para pengungsi yang tercermin dari gerutu dan keluh-kesah mereka. Mereka mengatakan terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari Kematian yang berkeliaran akibat perang. Anehnya, mereka tidak mempersiapkan kemungkinan lain bahwa Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja tanpa perlu ditandai perang. Tampaknya, para pengungsi secara merata hampir tidak ada yang mempersiapkan bekal untuk menghadapi Kematian yang sewaktu-waktu dapat merenggut hidup mereka. Hari-hari dari rentang kehidupan mereka disibukkan untuk mengurus sapi, kerbau, kambing, bebek, ayam, perhiasan, tikar butut, bantal, dan pakaian-pakaian kumal. Bukankah mereka sejatinya lebih tepat disebut sebagai orang-orang yang berusaha menyelamatkan harta benda dan ternak daripada orang yang menyelamatkan nyawa dari Kematian? Bukankah ucapan mereka tentang “menyelamatkan diri dari Kematian” itu pada hakikatnya hanya sebuah kebohongan? Sebab, mereka sejatinya tidak pernah ingat mati dan tidak siap menghadapi Kematian.

Liku-liku kehidupan yang dijalaninya dengan berbagai gambaran manusia dari aneka bangsa telah memahamkan Abdul Jalil tentang betapa kuat kalangan orang-orang kebanyakan terjajah oleh kekuasaan kebendaan (thaghut). Rupanya, pikir Abdul Jalil, kiblat hati dan pikiran dari kalangan itu lebih terarah pada kebendaan. Kehidupan sehari-hari mereka lebih banyak diwarnai oleh ingatan tentang harta benda dan bayangan-bayangan kelezatan. Mereka adalah orang-orang lemah yang gampang terseret bayangan nafsu rendah duniawi. Mereka tidak pernah siap menghadapi kesulitan dan tantangan dalam dunia nyata yang tergelar di hadapannya. Mereka selalu menggerutu dan berkeluh kesah saat menghadapi ujian, namun lupa daratan jika beroleh kesenangan. Ya, merekalah manusia berderajat rendah pendamba dunia. Mereka adalah para pemimpi kenikmatan dunia tetapi dihajar oleh cambuk ganas kenyataan hidup. Mereka mendamba hidup abadi, namun yang diperoleh justru kebinasaan. Mereka para pengkhayal yang terperosok ke jurang kehidupan maya di bawah bayang-bayang Sang Penyesat. Mereka para penghindar Kematian, namun jalan yang mereka pilih justru menuju altar Kematian. Dan Kematian yang tak kenal kenyang dan lapar itu sepanjang waktu dengan lahap menyantap mereka sebagai hidangan kesukaan.

Sepanjang perjalanan melewati gubuk dan tenda pengungsi, baik Abdul Jalil maupun anggota rombongan yang lain terus-menerus mendengar gerutu dan keluh-kesah mereka yang menganggap tempat itu sebagai neraka. Malah tak kurang di antara pengungsi itu berdoa dengan suara keras, namun intinya seolah-olah menyalahkan Tuhan yang telah menimbulkan kesengsaraan bagi mereka. Namun, di antara gerutu dan keluh-kesah itu ada yang sangat mengejutkan dan tak pernah disangka-sangka.

“Kalau saja Syaikh Lemah Abang tidak bikin ulah, pasti tidak akan ada perang laknat ini.”

“Memang, pangkal dari semua bencana ini adalah Tuan Syaikh celaka itu. Aku dengar-dengar orang satu itu memang bikin masalah terus. Kata orang, sejak kecil dia sudah menimbulkan kekisruhan di Caruban ini.”

“Aku memang pernah dengar cerita itu. Katanya, dia itu orang yang tidak tanggung jawab. Suka bikin kisruh. Setelah keadaan kisruh, dia minggat. Yang susah adalah orang-orang yang ditinggalkan.”

“Sekarang ini, kata orang-orang dia minggat entah ke mana.”

“Ee, hati-hati kau. Kalau bicara jangan keras-keras! Kata orang, dia itu tukang sihir yang jahat.”

“Alah, tukang sihir apa. Kalau dia sakti, pasti sudah disihirnya orang-orang Rajagaluh yang memusuhinya.”

“Ya, kita doakan saja mudah-mudahan tukang sihir laknat itu cepat-cepat mati disambar petir!”

Wiku Suta Lokeswara yang berjalan di samping Abdul Jalil dengan jelas mendengar kasak-kusuk dan gerutuan yang diucapkan keras-keras itu. Ia menghentikan langkah dan menajamkan telinga untuk mengetahui dari gubuk mana suara itu diucapkan. Sebagai seorang mantan juru demung (kepala rumah tangga kraton), ia menangkap gelagat tidak beres pada ucapan-ucapan itu. Tanpa terduga, dengan gerakan kilat ia melangkah ke pintu salah satu gubuk dan menjulurkan tangan kirinya ke dalam. Sedetik setelah itu ia menarik tangannya keluar dan terlihatlah pemandangan menakjubkan. Wiku Suta Lokeswara mencengkeram tengkuk seorang laki-laki muda yang pucat pasi. Kemudian dengan sekali sentakan, tubuh laki-laki tak berdaya itu terangkat ke atas. Namun, saat ia kelihatan akan membanting orang di cengkeramannya itu, Abdul Jalil buru-buru menyergah, “Apa yang akan Paduka Wiku lakukan?”

“Makhluk laknat ini seorang telik sandhi (mata-mata) yang menyusup ke kalangan pengungsi.”

“Kami mohon, sudilah kiranya Paduka Wiku melepaskannya,” Abdul Jalil memohon.

“Heh, bagaimana Tuan Syaikh ini? Bukankah tiap-tiap telik sandhi harus dibunuh? Bukankah seorang telik sandhi lebih berbahaya daripada seribu prajurit?”

“Paduka Wiku, jika dia memang terbukti telik sandhi maka biarlah prajurit Caruban yang menangkapnya. Tapi, kita belum punya cukup bukti jika dia seorang telik sandhi. Kita menduga dia telik sandhi karena kebetulan kita mendengar dia menggerutu dan mengumpat salah satu di antara kita. Kami menganggap yang dia lakukan itu bukan suatu kesalahan,” kata Abdul Jalil.

“Tapi Paman,” Syarif Hidayatullah menyela, “ucapan orang ini sangat berbahaya. Apa yang dia ucapkan bisa mempengaruhi orang lain.”

“Aku tidak melihat ada ucapannya yang berbahaya,” kata Abdul Jalil tenang, “sebab yang dia umpat adalah aku, Syaikh Lemah Abang. Andaikata yang dia umpat adalah Sri Mangana, kalifah Caruban Larang, atau engkau, wali nagari Gunung Jati, maka dia dapat dituduh melakukan tindakan yang membahayakan. Dia bisa dituduh telik sandhi. Tapi, yang dia umpat adalah aku. Ya, aku yang dia umpat. Dan aku ini orang biasa. Aku bukan pejabat negara. Aku bukan apa-apa. Aku hanya seorang guru di kampung kecil. Jadi menurutku, bukan suatu kesalahan jika dia mengumpat dan mencaci maki aku.”

Mendengar ucapan Abdul Jalil, Wiku Sura Lokeswara menghela napas panjang dan kemudian melemparkan tubuh laki-laki yang dicengkeramnya itu ke atas tanah. Tubuh laki-laki itu terguling-guling berlepot lumpur. Secepat itu dia berusaha bangkit, namun tubuhnya terguling. Akhirnya, dengan gemetaran dan tubuh kotor penuh lumpur laki-laki muda itu merangkak dan menyembah di hadapan Abdul Jalil sambil mengiba memohon ampun. Abdul Jali menarik bahu laki-laki itu ke atas dan berkata, “Berdirilah! Tidak boleh ada manusia berlutut dan menyembah kepada sesama manusia. Tetapi, mulai sekarang berhati-hatilah engkau jika berbicara. Sebab, celaka dan tidaknya seseorang sering kali disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam menjaga mulut.”

Dengan membungkuk-bungkuk dan mengucapkan terima kasih, laki-laki itu melangkah terseok-seok masuk ke dalam gubuknya. Setelah melihat laki-laki itu menghilang, Abdul Jalil berkata kepada Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim, “Mulai sekarang kalian berdua harus bisa membiasakan diri untuk tahan mendengarkan aku dicaci maki dan diumpat-umpat oleh siapa pun di antara manusia. Sebab, dalam perubahan besar ini aku telah memilih kedudukan sebagai tanah pijakan bagi bangunan yang sedang kita tegakkan bersama, yaitu bangunan baru masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah.”

“Mulai sekarang, aku berharap kalian berdua memandang tatanan yang sedang kita tegakkan bersama ini dalam ibarat bangunan baru. Kita adalah anasir yang membentuk dan memberi daya hidup bangunan tersebut. Sri Mangana, misalnya, harus kita ibaratkan sebagai dinding bangunanyang berperan utama melindungi penghuni dan mencitrai keindahan bangunan. Raden Sahid dapat kita ibaratkan sebagai tiang saka yang menopang atap dan memperkuat bangunan. Raden Qasim dapat diibaratkan menjadi kusen pintu. Dan engkau, anakku, dapat diibaratkan menjadi atap yang memayungi dan memperindahnya. Sahabatku Abdul Malik Israil dapat diibaratkan sebagai salah satu tukangnya. Sementara yang lain adalah ibarat bagian-bagian yang melengkapi keutuhan bangunan tersebut. Dan di dalam usaha menegakkan bangunan baru itu, aku telah memilih peran sebagai tanah tempat bangunan baru itu ditegakkan.”

“Di Surabaya, aku sudah menyatakan kepada saudaraku, Raden Ali Rahmatullah, bahwa di dalam membangun tatanan baru di Majapahit, aku telah menetapkan kedudukan diriku sebagai tanah yang menjadi pijakan bagi bangunan baru tersebut. Dan sebagaimana lazimnya tanah maka menjadi kewajiban asasi bagi kedudukannya untuk diinjak-injak, dilukai dengan cangkul, dikencingi, diberaki, dijadikan tempat buangan sampah, namun sekaligus sebagai tempat orang bercocok tanam dan mendirikan bangunan. Sekalipun tidak pernah diperhitungkan dalam menegakkan bangunan, di atas tanah itulah sejatinya tiap-tiap bangunan bisa berdiri. Tanpa tanah yang diinjak-injak, tidak mungkin bagunan-bangunan bisa ditegakkan. Bahkan agar orang bisa berdiri tegak pun, dibutuhkan tanah untuk tempat berpijak.”

“Dengan memahami hakikat tatanan baru yang sedang kita tegakkan seibarat bangunan, hendaknya kalian sadar bahwa kedudukanku harus rendah di hadapan manusia sebagaimana kedudukan tanah. Bahkan andaikata nanti bangunan baru itu sudah tegak dengan megah dan orang-orang mengagumi keindahannya, pastilah orang tidak akan ada yang mengagumi dan memuji tanah tempat bangunan tersebut berdiri. Hanya bagian-bagian dari bangunan itulah yang menyadari dan dapat menghargai kedudukan tanah tempatnya berdiri. Karena itu, jika sewaktu-waktu kalian berdua mendapati aku dicaci maki, diumpat, dikutuk, dan direndahkan orang, hendaknya kalian tidak merasa tersinggung atau marah. Bahkan sebaliknya, jika kalian berdua mendapati aku dipuji orang seolah-olah aku adalah dewa dari langit maka kewajiban kalianlah untuk merendahkanku sesuai kedudukanku sebagai tanah. Ingat-ingatlah selalu kalian akan pesanku ini. Ingat-ingatlah bahwa aku adalah tanah. Tanah. Tanah. Seribu kali tanah. Sebagaimana kedudukan tanah, keberadaanku pun wajiblah diinjak-injak dan direndahkan oleh siapa pun yang ingin berdiri tegak di atasku. Hendaknya kalian ketahui bahwa sebutan Syaikh Lemah Abang yang diberikan orang kepadaku bukanlah suatu kebetulan, melainkan justru merupakan cerminan kedudukanku sebagaimana dikehendaki-Nya.”

Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim tercengang mendengar uraian Abdul Jalil. Mereka menangkap sebuah kebenaran di dalam kata-kata Abdul Jalil. Namun, dengan kenyataan itu mereka tiba-tiba merasakan betapa berat tanggungan jiwa yang harus dipikul guru manusia yang sangat mereka hormati itu. Sejurus mereka tenggelam ke dalam lamunan diri; mengingat bagaimana para peserta pertemuan di Masjid Ampel Denta mengecam dan menjadikan sosok Abdul Jalil sebagai bahan ejekan. Masih segar dalam ingatan mereka bagaimana sebagian anggota Bhayangkari Islah menjadikan Abdul Jalil sebagai sasaran kemarahan dan gerutuan. Dan kini pun mereka baru saksikan para pengungsi yang tidak mengerti persoalan ikut mengumpat dan mencaci maki manusia malang itu. Akhirnya, baik Syarif Hidayatullah maupun Raden Qasim tidak berani membayangkan apa yang bakal dialami Abdul Jalil pada masa datang. Mereka tidak berani melewati batas angan-angan untuk membayangkan lebih jauh tentang rentang hidup penggagas tatanan baru itu. Namun, rekaman ingatan tentang liku-liku hidup yang telah mereka alami bersama Abdul Jalil, sebagaimana mereka saksikan dan mereka rasakan sendiri, telah membuat mereka terheran-heran dengan kumparan nasib yang membelit orang yang mereka hormati itu.

Ujian berat (bala’) selalu ditimpakan kepada para nabi, wali, dan orang-orang semisal mereka, demikian sabda Nabi Muhammad Saw.. Sebagai salah seorang anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’, Abdul Jalil tampaknya tak luput dari keniscayaan sabda Nabi Saw. tersebut.

Ketika Caruban Larang diamuk peperangan, diterkam ketakutan, diguncang ketegangan, diintai ancaman kematian, dan diwarnai semrawut kehidupan para pengungsi yang berduyun-duyun menghindari keganasa perang, terjadi peristiwa yang tak tersangka-sangka. Barang dua pekan setelah perang berkecamuk, datanglah serombongan orang yang mengaku asal negeri Baghdad ke Giri Amparan Jati. Rombongan yang berjumlah sekitar empat puluh orang itu dipimpin oleh Abdul Qadir dan Abdul Qahhar bin Abdul Malik al-Baghdady, dua orang adik ipar Abdul Jalil, yakni adik lain ibu dari Fatimah, istri pertama Abdul Jalil. Yang tak terduga, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar datang dengan membawa serta puteri Abdul Jalil yang sudah berusia delapan tahun dan membawa pula kabar duka tentang kematian istri Abdul Jalil barang tiga bulan silam akibat sakit keras di Wadi al-Ubayyid, di tengah perjalanan dari Karbala ke Nukhayb sewaktu Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dan pengikut-pengikutnya diburu-buru oleh penguasa Baghdad.

Karena Abdul Jalil tidak berada di tempat, rombongan asal Baghdad itu ditampung di Giri Amparan Jati. Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady yang belum lepas dari rasa gentar akibat diburu-buru penguasa Baghdad, sangat cemas ketika mengetahui mereka berada di sebuah daerah yang sedang dicekam peperangan. Mereka selalu menanyakan kapan saudara ipar mereka kembali dengan harapan mereka akan diungsikan ke tempat yang lebih aman. Namun, harapan mereka tidak kesampaian karena Abdul Jalil yang mereka temui ternyata dengan tegas menolak mencarikan mereka tempat aman yang jauh dari perang. Dengan suara yang lain ia berkata, “Sesungguhnya, di mana pun tempat di dunia ini adalah aman selama kalian bernaung di bawah lindungan Sang Penyelamat (as-Salam). Betapa salahnya kalian memandang jika Kematian hanya berkeliaran di tengah peperangan. Sebab, tidak ada dalil yang mengatakan bahwa Sang Maut (al-Mumit) bersemayam di atas langit medan tempur, merentangkan sayap dan cakar-Nya untuk memangsa setiap orang yang berada di sana. Apakah kalian pikir di tempat yang jauh dari medan tempur tidak ada Sang Maut? Tidakkah kalian sadar bahwa Sang Maut berada di mana pun Sang Hidup berada, karena Sang Maut adalah Wajah yang lain dari Sang Hidup (al-Hayy).”

Merasa keinginannya tidak dipenuhi, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady tidak menyerah. Mereka berusaha mempengaruhi Abdul Jalil melalui kemenakan mereka, Zainab, puteri Abdul Jalil. Mereka beralasan bahwa keinginan untuk jauh dari daerah perang itu sesungguhnya demi keselamatan kemenakan mereka, yakni darah dan daging Abdul Jalil sendiri. Kemenakan mereka itu telah piatu dan karenanya harus diselamatkan sesuai amanat kakak mereka, Fatimah. “Kami jauh-jauh ke negeri ini hanya memenuhi amanat kakak kami,” Abdul Qahhar berharap.

Abdul Jalil bergeming dari pandangannya. Dengan suara dingin ia berkata, “Jika kalian berdua takut maka kalian berdua akan aku tempatkan di Kalisapu atau di Pantai Mundu bersama-sama dengan para pengungsi yang berjiwa pengecut. Tetapi perlu kalian ketahui, puteriku akan aku tempatkan di sini, di tengah kancah peperangan ini agar dia bisa merasakan panasnya hawa perang yang akan menempa keberanian di dalam jiwanya. Aku akan ajarkan kepada dia bahwa di mana pun dia berada senantiasa berada dalam liputan Kematian dan Kehidupan. Tidak ada yang menjamin jika dia aku tunggui dan aku tempatkan di daerah aman maka dia akan selamat dan terus hidup. Sebaliknya, tidak ada yang menjamin bahwa dengan tinggal di daerah perang, dia akan celaka dan terbunuh.”

Akhirnya, setelah mendengar uraian Abdul Jalil secara panjang dan lebar, baik Abdul Qadir maupun Abdul Qahhar al-Baghdady menyatakan kesediaannya untuk tinggal di Caruban. Mereka merasa kepalang basah jauh dari tanah kelahiran dan mereka tentu saja tidak mau dinilai pengecut. Bahkan, mereka kemudian meminta untuk bergabung dengan laskar Caruban asal Baghdad yang dipimpin Syaikh Duyuskhani. Demikianlah, setelah menyerahkan Zainab kepada Abdul Jalil, kedua orang putera Syaikh Abdul Malik al-Baghdady beserta empat puluh orang pengikutnya itu diantar oleh tiga santri Giri Amparan Jati ke Pancalang, yaitu pangkalan pertahanan laskar muslim Caruban.

Sementara itu, Abdul Jalil diam-diam merasakan keanehan ketika ia diberi tahu oleh kedua orang adik iparnya tentang kematian istrinya. Aneh, katanya dalam hati, kabar kematian istriku ternyata tidak mengejutkan aku. Ya, aku tidak terkejut. Tidak menangis. Tidak pula meratap. Entah kenapa aku seolah-olah sudah menangkap tengara kematian istriku, Fatimah, barang setahun silam dari alam bawah sadarku. Lantaran itu, kabar duka dari Abdul Qadir dan Abdul Qahhar kurasakan seolah-olah hanya sebagai penyingkap selubung rahasia yang selama ini menutupi kenyataan kematian Fatimah.

Manusia hidup memang memiliki riwayat yang panjang dan berliku-liku, gumam Abdul Jalil dalam hati, namun adakalanya riwayat manusia sangat pendek dan tidak bersambung sebagaimana riwayat Nafsa dan Fatimah, dua orang perempuan yang pernah bersemayam penuh keindahan di dalam relung-relung jiwaku. Mereka berdua kini sudah kembali menghadap hadirat-Nya. Namun Fatimah, istriku, merki riwayatnya sangat pendek ternyata masih bersambung. Ia masih meninggalkan citra keindahannya dalam wujud puteri kecil kami, Aisyah, yang oleh kakeknya namanya diubah menjadi Zainab. Ya, inilah kebersambungan riwayat Fatimah, yang kini diserahkan kepadaku untuk kujaga dan kuantarkan ke gerbang kehidupan yang sesuai dengan jati dirinya.

Sekalipun Abdul Jalil tidak merasa terkejut mendengar kabar kematian istrinya, sebagai manusia ia tidak lepas dari rasa pedih yang mencakari jiwanya. Selama beberapa jenak ia termangu-mangu sambil membelai rambut puteri semata wayang yang duduk di pangkuannya. Ia bayangkan betapa berat perjalanan yang dilakukan istrinya saat melintasi padang gurun ganas dari Karbala hingga Wadi al-Ubayyid. Fatimah yang sejak kecil hidup penuh kemanjaan dan dilimpahi kasih orang-orang yang mencintainya tentu sangat menderita saat diterkam keganasan gurun yang buas.

Seperti rekaman bayangan yang terpampang di bentangan ingatannya, Abdul Jalil menyaksikan bayangan Fatimah mengelebat di dalam benaknya. Fatimah yang menggigil kedinginan di malam hari dan terengah-engah kepanasan di siang hari. Fatimah yang tubuhnya lemah tak berdaya, menggeliat sekarat terpanggang ganasnya gurun. Fatimah yang bibirnya pecah-pecah karena kehausan. Mata Fatimah yang mirip mata Nafsa itu meredup dengan linangan air mata pada saat-saat terakhir menyaksikan puterinya, Zainab, yang akan ditinggal untuk selamanya. Ah, betapa menderitanya engkau, Fatimah, setelah bertahun-tahun ditinggal suami dengan segala kerinduanmu, ternyata yang datang menjemputmu adalah Sang Maut.

Bayangan yang berkelebatan di dalam benaknya itu menyingsing dalam keremangan jiwa manakala dari kedalaman kalbunya terbit matahari kenangan yang menyinari sosok Fatimah. Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady adalah citra abadi seorang istri, seorang perempuan, yang kuat perkasa, penuh daya hidup, dan teguh dalam menghadapi tantangan. Meski merasa pahit saat ditinggalkan sebagai ibu muda, ia tetap tabah menjalani hidup dalam kesendirian mengasuh puterinya. Betapa kuat. Betapa tabah. Fatimah tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan yang bagaimanapun rumitnya. Bahkan pada saat-saat terakhir menjelang ajal, menurut Abdul Qadir, ia masih sempat berpesan agar puterinya diserahkan kepada sang ayah supaya dibimbing ke jalan Kebenaran (al-Haqq).

Abdul Jalil sendiri hanya bisa menarik napas panjang saat Abdul Qadir menyampaikan amanat terakhir Fatimah. Di tengah kecamuk perang dan beban berat seorang penggagas pembaharuan yang dimusuhi banyak orang, menjadi seorang ayah dan sekaligus ibu bagi seorang puteri bukanlah hal ringan. Sementara ayahanda mertuanya, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, tidak ketinggalan menitipkan pula sebuah amanah berupa “perintah” agar ia memberikan hukuman kepada Ali Anshar at-Tabrizi. Rupanya Ali Anshar telah berkhianat hingga menyebabkan Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dan pengikutnya diburu-buru penguasa Baghdad. Ali Anshar, menurut Abdul Qadir, ditengarai pergi ke Nusa Jawa untuk melampiaskan dendam kesumatnya kepada Abdul Jalil. Dan tentu saja, amanah istri dan ayahanda mertuanya itu menambah berat beban yang harus dipikulnya di tengah ketidakpastian keadaan yang membayanginya.

Andaikata Abdul Jalil orang biasa, pastilah dengan beban berat yang makin menumpuk di pundaknya itu ia akan tumbang dan jatuh ke dalam lumpur pekat kehidupan yang membuatnya sulit bernapas. Atau setidaknya, benak di kepalanya akan memuai dan meleleh. Atau hatinya terbakar dan meledak berkeping-keping. Namun, di tengah tumpukan beban itu ia terlihat sangat tabah. Sebagai anggota Jama’ah Karamah al-Aulia’, cermin pengejawantahan al-Waly, jiwanya ditempatkan pada kedudukan yang lebih tinggi dibanding jiwa manusia seumumnya. Jiwanya disemayamkan di sebuah gunung menjulang yang dilindungi tebing batu sangat kuat. Di tengah berat beban yang harus dipikulnya, jiwanya justru terluput dari percikan rasa takut, khawatir, dan sedih yang berkepanjangan.

Dengan kedudukan jiwa yang tinggi, ia dapat melihat dengan jelas segala pusaran kehidupan yang tergelar di bawahnya. Sehingga saat segunung masalah beriringan menaiki tangga menara dan menghampirinya, ia selalu menyambutnya dengan menengadahkan wajah ke atas. Ia memasrahkan segala sesuatu yang menghampirinya kepada al-Wakil, Zat yang memelihara penyerahan segala urusan. Dengan jiwanya yang sudah tercerahkan, ia senantiasa menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada al-Waly, Zat yang melindungi. Sebesar dan seberat apa pun beban masalah yang dipikulnya tak pernah dianggapnya sebagai sesuatu yang terpisah dari kehendak-Nya; Wama tasya’una illa an yasya’a Allahu rabb al-alamin. Ia senantiasa mengembalikan segala sesuatu yang berasal dari-Nya kepada-Nya; inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un.

Sekalipun jiwanya terpelihara di tempat tinggi, sebagai manusia yang dha’if, ia tidak luput dari terkaman rasa sedih dan duka. Namun berbeda dengan manusia seumumnya, rasa sedih dan duka itu tak pernah lama merajalela menguasai jiwanya. Beberapa jenak tenggelam dalam lamunan yang memedihkan akibat mendengar kabar kematian istrinya, ia sudah disentakkan oleh tarikan kesadaran akibat bisikan Ruh al-Haqq.

“Sadarlah engkau, o Rajawali, pengarung kesunyian sejati. Engkau bukan burung-burung kecil yang terbang dalam kawanan-kawanan untuk mencuri padi di sawah. Engkau juga bukan gurung gagak pemakan bangkai. Pun engkau bukan binatang melata yang merayap di muka bumi dengan perutnya. Engkau Rajawali, raja segala burung yang terbang tinggi di angkasa dan bersarang di tebing-tebing karang yang tegak menggapai langit. Engkau tidak makan jika tidak lapar. Engkau tidak minum jika tidak kehausan. Engka selalu memandang ke bawah dengan mata menyala, menyaksikan kehidupan makhluk yang melata di permukaan bumi. Engkau terbang sendiri tanpa kawan. Tetapi, engkau tidak bersedih karena kawanmu adalah Kehampaan. Ketika engkau menjerit: Haqq! Haqq! Kehampaan menjawab dengan pantulan gema yang menggetarkan penjuru langit dan bumi. Sadarilah, o Rajawali, bahwa kodratmu adalah sendiri dan berteman dengan Kehampaan.”

Dengan bisikan Ruh al-Haqq, ia tetap tersadarkan meski kesedihan dan derita mengepung segenap penjuru jiwa. Ia sadar tentang kehendak-Nya di balik rahasia kehidupan yang digelar di depannya. Betapa kematian istri dan kehadiran Zainab, puterinya, di tengah kecamuk perang itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah bagian dari liku-liku ujian-Nya yang harus dilampaui. Puterinya yang telah piatu itu dihadirkan-Nya di tengah keadaan sulit ini untuk menguji keteguhannya dalam menjaga kiblat hati dan pikiran kepada Yang Maha Berkehendak. Dan sebagaimana rajawali, ia terus mengepakkan sayap-sayap jiwanya mengarungi kesunyian menuju Kehampaan Sejati.

Bagi para pengarung kesunyian seperti Abdul Jalil, makna suka dan duka, sedih dan gembira, bahagia dan menderita, hidup dan mati, sangat berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan apa yang dipahami oleh orang kebanyakan. Sebab, duka cita dan kesedihan yang dikaitkan dengan penghiburan oleh orang kebanyakan sering dimaknai dengan arti kegembiraan yang menyenangkan hati; habis duka cita terbitlah sukacita, di mana ada suka di situ ada duka, sedih dan gembira ibarat siang dan malam yang saling berganti. Sementara bagi pengarung kesunyian seperti Abdul Jalil, duka cita dan kesedihan dipandang sebagai sesuatu yang terkait dengan keberadaan dan ketiadaan. Suka dan duka, sedih dan gembira, bahagia dan derita, hanya muncul ketika seseorang menganggap keakuan dirinya ada. Namun, kegandaan itu akan menyingsing manakala keakuan seseorang ditiadakan dan ditenggelamkan ke dalam Aku Semesta: Kehampaan Sejati.

Tidak berbeda dalam hal memaknai suka dan duka, dalam memaknai kehidupan pribadi pun orang seperti Abdul Jalil berbeda dengan manusia seumumnya. Baik ruang, baik waktu, baik kehidupan yang tergelar di dalamnya, dengan segala kekuatan alamiahnya seolah-olah menempatkan Abdul Jalil sebagai orang yang tidak diberi kesempatan cukup banyak untuk mengurus kehidupan pribadi. Bahkan, untuk meresapi kesedihan dan memanjakan puteri semata wayangnya pun ia seolah-olah tidak diberi peluang barang sejenak. Ketika ia baru tersentak oleh kesadaran setelah terlena beberapa saat mengenang istri dan melepas rindu kepada puterinya, ia sudah dikejutkan oleh kabar laskar muslim Caruban yang berduyun-duyun melarikan diri dari medan tempur di Jamaras. Abdul Malik Israil yang baru saja kembali dari Kuta Caruban muncul menemuinya. “Apa yang dulu engkau takutkan, o Sahabatku, kini telah terbukti menjadi kenyataan pahit.”

“Apakah yang telah terjadi, o Sahabat?” tanya Abdul Jalil minta penjelasan.

“Ratusan laskar muslim Caruban yang dipimpin Abdul Karim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien terbirit-birit melarikan diri dari medan tempur karena tidak kuasa mengendalikan setan takhayul yang menguasai jiwa dan pikiran mereka,” kata Abdul Malik Israil menggeleng-geleng kepala. “Mereka lari ketakutan demi mendengar kabar panglima Rajagaluh, Adipati Kiban, mengendarai gajah yang muncul dari Gunung Liman. Gajah itu konon bernama Sang Bango.”

“Kenapa pula dengan gajah tunggangan Adipati Kiban itu?”

“Para laskar berpikir gajah bernama Sang Bango itu adalah gajah siluman bersayap dan bisa terbang seperti burung bangau. Karena itu, saat mereka berhadap-hadapan dengan pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Adipati Kiban, mereka lari tunggang langgang karena takut dengan gajah siluman itu,” kata Abdul Malik Israil.

“Astaghfirullah al-azhim,” Abdul Jalil mendecakkan mulut sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Apa yang harus kita lakukan menghadapi manusia-manusia yang sudah dibodohkan dan dilemahkan oleh takhayul itu?”

“Menurut hematku, mereka harus diberi kekuatan baru yang sesuai dengan naluri mereka.”

“Apakah kita harus mengenalkan kepada mereka takhayul-takhayul baru?”

“Tentu saja tidak,” kata Abdul Malik Israil, “Mereka harus kita bawa secara perlahan-lahan untuk mengenal Tauhid melalui tahapan-tahapan, yaitu melalui pengenalan kekuatan gaib doa, hizb, wafak, dan khasiat ayat-ayat al-Qur’an untuk keperluan hidup sehari-hari. Aku kira, dengan cara itu mereka akan dapat kita arahkan ke pusat Kebenaran, meski harus melewati jalan berliku dan berbelit-belit.”

“Sesungguhnya, aku khawatir mereka akan terperangkap ke lingkaran takhayul lain. Tetapi, jika itu yang harus dilakukan maka sebaiknya engkau beserta Syaikh Ibrahim Akbar dan Syaikh Bentong bekerja sama membina mereka ke arah itu. Engkau bisa mengajari orang-orang dengan amalan-amalan yang pernah dijalankan Bani Israil di masa lampau, yang menggunakan bahasa Suryan (bahasa Arab kuno). Biarlah Syaikh Ibrahim Akbar dan Syaikh Bentong mengajari mereka tentang wafak dan hizb. Aku sendiri akan mengajar sasyahidan, karena aku tidak pandai dalam hal hizb, wafak, doa, dan pengenalan khasiat ayat-ayat al-Qur’an. Aku hanya mengajarkan sasyahidan sebagaimana tugas itu dibebankan Bhayangkari Islah kepadaku.” Abdul Jalil tiba-tiba teringat pada sosok Dang Hyang Semar, yang bagian terbesar di antara pengikutnya adalah kalangan Tu-gul yang awam dan hidupnya penuh dilingkari gegwantuhuan. Akankah Islam mengalami nasib seperti Kapitayan yang diajarkan Dang Hyang Semar, tanyanya dalam hati, yakni hanya dijadikan keyakinan “topeng” oleh kalangan awam yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Yang Mahatunggal.

Di tengah kegelapan malam Kematian membentangkan sayap dan mencengkeramkan kuku-kuku tajamnya di atas langit Caruban Larang, memperdengarkan suara-Nya yang melengking, meruntuhkan nyali seluruh makhluk hidup. Meski tidak semua orang mengetahui apa yang disebut Kematian, bagi mereka yang waskita, Kematian adalah sisi lain dari Kehidupan. Kematian dan Kehidupan ibarat sosok dan bayangan yang berhadap-hadapan di depan cermin yang sama. Sebagaimana Kehidupan yang tak pernah kekurangan dan berkurang dalam menumbuhkan segala sesuatu yang hidup, Kematian pun tidak pernah kekenyangan dan tidak pernah pula terpuaskan, meski setiap waktu Dia melahap jiwa-jiwa segala sesuatu yang hidup.

Di tengah intaian Kematian, di antara kesenyapan dan kegelapan yang melingkari Kuta Caruban, Abdul Jalil menggandeng puterinya menyusuri jalanan yang lengang. Di depannya berjalan Wiku Suta Lokeswara, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Abdul Malik Israil, Syarif Hidayatullah, Raden Sulaiman, dan Raden Qasim. Sepanjang menyusuri jalan-jalan tampaklah bahwa Kuta Caruban benar-benar ditinggalkan oleh sebagian besar penghuninya. Rumah dan bangunan yang teronggok di tengah kegelapan terlihat bagaikan bayangan hantu. Satu dua memang terlihat nyala pelita, namun selebihnya hanya kegelapan yang mengambang di permukaan bumi bersama selimut kabut.

Sekalipun pada malam hari Kuta Caruban sunyi dan lengang, jangan dikira orang tak dikenal dapat bebas masuk ke rumah-rumah yang kosong ditinggal penghuninya. Berpuluh-puluh dan bahkan beratus-ratus pasang mata setidaknya mengintai setiap gerakan di tengah kegelapan. Sesekali terlihat bayangan-bayangan hitam bergerak sangat cepat dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Andaikata saat itu ada orang tak dikenal yang berniat jahat hendak mencuri atau menjarah kuta, dapat dipastikan mereka akan berhadapan dengan Kematian. Bahkan, karena keadaan itu para pemilik rumah yang sedang mengungsi pun tidak ada yang berani ke kuta dan masuk ke rumahnya pada malam hari.

Ketika Abdul Jalil menanyakan keadaan yang begitu mencekam di Kuta Caruban kepada Sri Mangana, ia diberi tahu jika mereka yang berkeliaran di malam hari itu adalah prajurit-prajurit Caruban. Jumlah mereka sekitar seribu orang. Mereka memang disiagakan untuk menjaga keamanan di kuta. Siang hari mereka ditugaskan berjalan seorang-seorang dari satu tempat ke tempat yang lain secara bergilir. Setiap kali mereka sampai di tempat yang ditentukan, mereka akan berganti pakaian dan berjalan lagi ke tempat yang lain. Dengan cara itu, pada pagi dan siang hari Kuta Caruban menjadi semarak seolah-olah masih dihuni oleh banyak penduduk. Menjelang sore, sebagian di antara prajurit-prajurit itu akan berbaris dengan pakaian prajurit menuju Pekalipan.

Siasat menempatkan seribu prajurit di Kuta Caruban, menurut Sri Mangana, terpaksa dilakukan karena sejak hari kedua pertempuran, Kuta Caruban sudah mulai ditinggalkan penduduk yang mendengar berita-berita menyeramkan tentang keganasan perang. Memasuki hari kelima terjadi lagi pengungsian lebih besar ketika tersebar bahwa Abdurrahman Ling Tan gugur. Saat itu tidak peduli penduduk Cina pengikut Abdul Karim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien, semua beramai-ramai meninggalkan Kuta Caruban. Memasuki hari ketujuh pertempuran, penduduk asal Baghdad di Kalijaga pengikut Syaikh Duyuskhani bersama penduduk Sunda dan Jawa ikut kabur meninggalkan kuta. Sebagian bergerak ke arah selatan, ke pantai Mundu dan Pangarengan, sebagian lagi ke arah utara, ke pantai Kalisapu dan Muara Jati.

Sri Mangana sendiri mengaku tidak menduga jika pertempuran akan terjadi secepat itu. Lantaran itu, akunya, ia sempat kelabakan menempatkan pasukan Caruban Larang yang berjumlah sekitar 30.000 orang untuk menjaga perbatasan yang begitu panjang. Pada saat pecah pertempuran di Bobos antara pasukan Rajagaluh dan Kuningan, ia mengutus Abdurrahman Ling Tan dan Abdul Karim Wang Tao untuk membantu pasukan Kuningan dengan kekuatan sekitar tiga ratus laskar. “Kekuatan Rajagaluh terlalu besar untuk dilawan Kuningan meski ditambah tiga ratus laskar. Sebab, Rajagaluh mendapat bantuan pasukan dari Talaga dan Galuh Pakuan. Akhirnya, pasukan Kuningan dan laskar Caruban berhasil dipukul mundur dan pecah menjadi dua. Pasukan Kuningan terpukul mundur ke selatan hingga ke Singkup. Sedangkan laskar yang dipimpin Abdurrahman Ling Tan dan Abdul Karim Wang Tao terpukul mundur hingga ke Plumbon. Bahkan, Abdurrahman Ling Tan gugur saat menghadang gerak maju musuh di Warugede,” kata Sri Mangana memaparkan lika-liku jalannya pertempuran.

“Apakah Rajagaluh menyerang dengan mendadak tanpa alasan sehingga Ramanda Ratu tidak siap menghadapinya?” tanya Abdul Jalil meminta penjelasan. “Kenapa pula yang bertempur adalah pasukan Kuningan? Dan bagaimana mungkin pertempuran pertama pecah di Bobos, yang termasuk ke dalam wilayah Palimanan?”

“Ya, itu semua gara-gara si Angga, wali nagari Kuningan yang tidak dapat menahan diri,” Sri Mangana memaparkan. “Saat dia hendak ke Giri Amparan Jati untuk memberi tahu Syarif Hidayatullah bahwa adik perempuannya, Ong Tien, istri Syarif Hidayatullah, telah melahirkan seorang putera, ia bertemu dengan wahuta (pemungut pajak) Rajagaluh, Ki Dipasara. Ki Dipasara ingin menemui Syarif Hidayatullah untuk membicarakan kewajiban membayar pajak kepada Yang Dipertuan Rajagaluh. Namun, Syarif Hidayatullah tidak ada di tempat. Penasaran mengetahui pejabat Rajagaluh berada di Giri Amparan Jati, Angga pun meminta penjelasan Ki Dipasara tentang kehadirannya di situ. Jawaban Ki Dipasara yang menyatakan bahwa kehadirannya di situ untuk kepentingan memungut pajak dari Giri Amparan Jati menyulut amarahnya. Menurutnya, Giri Amparan Jati adalah bagian dari Caruban Larang sehingga Rajagaluh tidak berhak memungut pajak. Lalu terjadi selisih paham yang berujung pecahnya peperangan.”

“Berarti pihak Rajagaluh sengaja mencari gara-gara.”

“Itu memang bagian dari perang siasat Rajagaluh. Tetapi, si Angga rupanya tidak bisa menahan sabar. Dia terpancing. Bahkan yang sangat aku sesalkan, dia memimpin pasukan Kuningan untuk menyerang pasukan Rajagaluh yang berpangkalan di Bobos tanpa memberi tahu aku,” kata Sri Mangana.

“Jadi, pihak Kuningan yang memulai serangan?” tanya Abdul Jalil kaget.

“Itulah kecerobohan anak muda yang terlalu bangga diri dan cenderung meremehkan orang lain. Angga sangat yakin bahwa sekuat apa pun pasukan kafir akan dapat dihancurkannya dengan pedang. Dan ternyata dia terkejut ketika pasukannya dihancurkan pasukan Rajagaluh di Bobos. Bahkan, dia mengaku seperti bermimpi saat menyaksikan pasukan yang dibanggakannya lari tunggang langgang dari medan tempur,” kata Sri Mangana.

“Tetapi, ananda dengar si Angga sampai sekarang ini masih memimpin pasukan di Singkup, sedangkan laskar muslim dipimpin Abdulkarim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien bertahan di Plumbon dan Jamaras. Sementara itu, laskar pimpinan Syaikh Duyuskhani bertahan di Pancalang.”

“Aku memang menghukum Angga dengan menempatkannya sebagai pemimpin perang pasukan Kuningan. Aku tidak ingin Caruban Larang terlibat pertempuran langsung dengan Rajagaluh. Karena itu, yang membantu pasukan Kuningan adalah laskar-laskar dan prajurit-prajurit yang menyamar sebagai laskar,” ujar Sri Mangana.

“Berarti perang ini hanya perang antara Kuningan dan Rajagaluh?” tanya Abdul Jalil heran.

“Ya. Tetapi, akhirnya nanti akan melibatkan Caruban. Karena itu, kita semua saat ini dituntut sabar dan kuat menahan tekanan-tekanan pihak luar yang berusaha memancing kita ke perang terbuka. Sekarang ini kita masih memiliki waktu untuk memperkuat pertahanan,” kata Sri Mangana.

Mendengar penjelasan Sri Mangana, bukan hanya Abdul Jalil yang kagum dengan kecerdikan sang kalifah dalam menyiasati keadaan yang genting itu, Wiku Suta Lokeswara yang mantan pejabat tinggi Majapahit pun tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji langkah-langkah cemerlang tersebut. Bahkan, semua hadirin mendecakkan mulut penuh kekaguman ketika Sri Mangana memaparkan bagaimana ia menata 30.000 orang prajuritnya untuk menghadapi ancaman dari Galuh Pakuan, Talaga, Rajagaluh, dan Dermayu yang sewaktu-waktu dapat menyerang wilayah Caruban Larang. Dengan luasnya wilayah Caruban Larang dan ancaman musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat, sebenarnya keberadaan 30.000 orang prajurit tidaklah berarti apa-apa, namun dengan siasat yang sulit dibayangkan, Sri Mangana telah menatanya sebagai kekuatan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Abdul Jalil sendiri sangat menyayangkan kecerobohan wali nagari Kuningan yang telah memulai perang. Namun, ia paham mengapa Angga sangat berani mengambil tindakan tanpa sepengetahuan Sri Mangana. Mereka mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat. Ibu Angga, Ratu Siliwangi, adalah kakak lain ibu Sri Mangana yang sejak kecil diasuh bersama di Caruban. Ong Wi, ayah Angga, adalah putera saudagar Palembang bernama Ong Te yang kenal dengan Prabu Guru Dewata Prana melalui Tuan Milinadi, saudagar Palembang yang berniaga di negeri Sunda. Ong Wi dapat menjadi gedeng di Kuningan karena menikahi Ratu Siliwangi. Pernikahan Ratu Siliwangi dengan Ong Wi, meski disetujui Prabu Dewata Prana, tidak disukai oleh saudara-saudaranya. Itu sebabnya, saudara-saudara Ratu Siliwangi memanggil Ong Wi dengan sebutan Ngewalarang yang bermakna “orang yang paling dibenci”. Dari perkawinan dengan Ratu Siliwangi, Ong Wi mendapat dua orang anak yaitu Angga dan Selalarang. Sedang dari istrinya yang lain, yaitu seorang perempuan Cina, Ong Wi memiliki tiga orang anak, Ong Tien, Anggasura, dan Anggarunting. Rupanya, kedekatan darah dengan Sri Mangana itulah yang membuat Angga sering melakukan tindakan-tindakan yang berlebihan dan kadangkala tidak terpuji.

Selat Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 14:30LT