Menyiapkan Perang Peradaban “

Benarkah keadaan di Majapahit jauh lebih buruk dibanding Sunda?” tanya Sri Mangana kepada Abdul Jalil. “

Ananda kira demikianlah keadaannya,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Di sana orang hidup tanpa naungan hukum yang pasti. Para pejabat mengisi hari-hari hidupnya dengan pesta pora dan memeras kawula. Padepokan dan asrama terlantar. Kawula hidup dalam kemiskinan karena diburu bermacam-macam pajak. Bahkan, kesombongan para adipati yang suka berperang makin menjerumuskan kehidupan di Majapahit ke jurang kebinasaan. Semua orang ingin menang sendiri. Semua orang ingin menjadi penguasa tanpa mengukur kemampuan diri.” “

Menurutmu, kenapa keadaan itu bisa terjadi?” tanya Sri Mangana.

“Pertama-tama, nilai-nilai yang dianut di Majapahit sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, terutama setelah generasi-generasi penguasa makin merosot karena dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Kedua, lingkaran pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan yang berjiwa kerdil dan berwawasan sempit sangat mempengaruhi kebijakan maharaja dan roda pemerintahan. Hukum diperjualbelikan. Agama diperdagangkan. Jabatan dijadikan sarana utama untuk memperkaya diri. Kejahatan dilakukan secara kait-mengait dan sambung-menyambung, bahkan acap kali dilakukan dengan cara bergotong-royong,” kata Abdul Jalil.

“Apakah menurutmu peranan pejabat-pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan itu sangat besar dalam menjerumuskan Majapahit ke jurang kebinasaan?” Sri Mangana meminta penjelasan.

“Ananda menyimpulkan begitu. Sejak para penegak hukum, pejabat tinggi kerajaan, nayakapraja, dan punggawa berdarah biru disembelih beramai-ramai oleh para kawula yang mengamuk di kutaraja saat terjadi penyerbuan Prabu Girindrawarddhana, keagunagan dan kemuliaan Majapahit benar-benar sudah berakhir. Orang-orang dari kalangan kebanyakan yang menggantikan kedudukan mereka terbukti hanyalah golongan berderajat sampah yang berjiwa kerdil dan berakhlak bejat. Sehingga setinggi apa pun jabatan yang bisa mereka raih di pemerintahan, tetap tidak bisa mengubah jiwa dan akhlak mereka. Semakin tinggi jabatan mereka, semakin jahat dan nista perbuatan yang mereka lakukan.”

“Jika memang Majapahit mengalami kehancuran karena tampilnya orang-orang kebanyakan,” kata Sri Mangana dengan suara yang lain, “bagaimana pula dengan gagasanmu tentang wilayah al-Ummah?”

Abdul Jalil tersentak kaget ketika ditanya balik oleh Sri Mangana. Setelah diam beberapa jenak, ia berkata, “Setelah ananda berkeliling ke berbagai tempat di Majapahit dan membicarakan gagasan wilayah al-Ummah dengan berbagai pihak yang mumpuni, ananda telah menyadari sejumlah kelemahan dari gagasan tersebut. Itu sebabnya, pelaksanaan wilayah al-Ummah di Majapahit pun disesuaikan dengan keadaan.”

“Apakah di sana gagasanmu itu diterima dan dijalankan?”

“Berkat dukungan sepupu jauh ananda, Raden Ali Rahmatullah, di Majapahit telah terbentuk dua khilafah. Pertama-tama, para penguasa Madura sepakat memilih Sayyid Husayn sebagai kalifah Madura. Setelah itu, para penguasa pesisir Nusa Jawa sepakat memilih Prabu Satmata sebagai kalifah di Majapahit,” papar Abdul Jalil.

“Berarti, semua unsur khilafah di Madura dan Majapahit itu diduduki oleh para bangsawan darah biru. Benarkah itu, o Puteraku?”

“Benarlah demikian, o Ramanda Ratu.”

“Jika demikian, apa beda antara wilayah al-Ummah dan kerajaan?”

“Gambaran wadag khilafah dan kerajaan bisa saja sama. Tetapi, tata aturan dan daya hidup di antara keduanya jelas sangat berbeda. Ibarat sebuah lomba pacuan kuda, tata aturan kerajaan menetapkan bahwa kuda yang boleh mengikuti hanyalah kuda asal gurun yang warna bulunya hitam, coklat, dan putih. Kuda-kuda asal gurun yang memiliki warna jragem dan abu-abu dilarang ikut pacuan. Sementara, tata aturan khilafah tidak membatasi asal-usul kuda, apakah kuda Arab, kuda Persia, ataukah kuda Cina, bahkan kuda warna apa pun boleh ikut pacuan. Yang terkuat dan terperkasa di antara kuda-kuda itulah yang bakal menjadi pemenang.”

“Selama gagasan khilafah ini diterapkan di Caruban dan Majapahit, memang terbukti hampir seluruh jabatan dipegang oleh ningrat darah biru. Tetapi, pada masa datang tidak tertutup kemungkinan adanya tokoh dari kalangan kebanyakan yang bisa naik menjadi bagian terpenting dari khilafah. Selama perjalanan ananda ke sepanjang pesisir utara Nusa Jawa dan pedalaman Majapahit, ananda telah melihat gerak langkah orang-orang kebanyakan dalam berpacu menaiki tangga kekuasaan. Patih Mahodara yang berkuasa di Daha, misalnya, asal-usulnya adalah seorang abdi dari Adipati Pamadegan. Bahkan ananda sempat berbincang-bincang dengan Adi-Andayaningrat, adipati Pengging, yang tiada lain adalah putera Ki Bajul Sengara, buyut di Wisaya Kedung Srengenge. Dia diangkat menjadi adipati dan dijadikan menantu oleh Prabu Kertawijaya karena pengabdian dan kemampuannya yang tinggi dalam membela panji-panji Majapahit.”

“Sesungguhnya, dengan gagasan khilafah yang ananda tawarkan, berbagai ketidakmungkinan yang tak teratasi dalam tatanan kerajaan akan dapat dilampaui. Cerita Karna anak kusir Adiratha, misalnya, tidak perlu menumbuhkan dendam berkelanjutan akibat putera-putera Pandu menghinanya sebagai orang yang tak layak mengikuti lomba karena bukan dari kalangan ningrat darah biru. Dengan demikian, jelaslah bahwa gagasan khilafah yang ananda tawarkan adalah gagasan yang memberikan kemungkinan bagi siapa saja yang mau berjuang keras untuk meraih kemenangan. Tidak peduli apakah orang seorang dari kalangan brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria, mleccha, mambang, kewel, domba, bahkan potet sekalipun dapat menjadi pimpinan, asal memenuhi prasyarat-prasyarat dan berhasil melampaui ujian-ujian yang menghadang di tengah jalan.”

“Pengalaman ananda selama berada di pedalaman Majapahit mengajarkan bahwa tetesan darah biru yang seharusnya menduduki tempat tertinggi, sering kedapatan terpuruk ke jurang hina karena dilemahkan dan dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Sebaliknya, mereka yang tak jelas asal-usulnya dapat menjadi gagah perkasa karena dikuatkan oleh ujian dan tantangan hidup yang keras. Karena itu, ananda berharap agar gagasan khilafah ini tidak dianggap sebagai usaha memberi kesempatan luas bagi kalangan kebanyakan untuk berkuasa dan menutup kesempatan bagi kalangan darah biru untuk melanggengkan kekuasaan. Sekali-kali tidak boleh dianggap begitu. Gagasan khilafah memberi kesempatan kepada semua kalangan tanpa membeda-bedakan asal usul. Jika ternyata yang memegang tampuk kekuasaan di dalam khilafah adalah para ningrat darah biru maka itulah keniscayaan yang harus diakui bahwa mereka adalah orang-orang yang mewarisi keunggulan. Dan, hal itu hanya mungkin terjadi dengan perjuangan keras sesuai tata aturan yang disepakati,” kata Abdul Jalil.

“Menurutmu, butuh waktu berapa lama kalangan kebanyakan bisa mengisi jabatan-jabatan penting di dalam wilayah al-Ummah di Caruban Larang ini?” tanya Sri Mangana.

“Ananda tidak bisa mengira-ngira,” kata Abdul Jalil dengan suara yang lain. “Sebab, sampai saat sekarang ini ananda masih belum melihat satu pun di antara masyarakat ummah yang berasal dari kalangan kebanyakan yang mampu membebaskan diri dari jiwa budak yang menjajahnya. Mereka masih suka meminta daripada memberi. Mereka masih suka tinggal di alam mimpi daripada menghadapi dunia nyata. Mereka masih suka dilindungi daripada melindungi. Mereka masih suka menghamba daripada mempertuan diri sendiri.”

“Dan tahukah engkau, kenapa Kuta Caruban sekarang ini kosong ditinggalkan penduduk?”

“Abdul Jalil tertawa kecut dan berkata, “Karena bagian terbesar penduduknya adalah kalangan kebanyakan yang berjiwa budak, yaitu orang-orang yang mengkhayal hidup mapan di dunia, namun menolak kerja keras dan enggan menerima akibat samping yang tidak menyenangkan dari yang didambakannya. Bahkan, saat melewati gubuk-gubuk dan tenda-tenda pengungsi di Kalisapu, ananda mendengarkan sendiri bagaimana mereka menyalahkan dan mencaci maki ananda sebagai penyebab kesengsaraan mereka.”

“Tapi, engkau tak perlu khawatir,” kata Sri Mangana, “sebab apa yang engkau rintis di Lemah Abang telah menunjukkan hasil. Warga di sana telah berubah menjadi penduduk yang gagah berani. Menurut laporan-laporan yang aku terima, di bawah pimpinan Sang Lokajaya, mereka berani menghadang dan merampok para bangsawan Galuh Pakuan. Tanpa kenal takut mereka melintasi perbatasan Caruban-Galuh Pakuan seperti anak-anak singa melompati sungai kecil di padang perburuan.”

“Mohon ampun, Ramanda Ratu. Jika boleh tahu, siapakah Sang Lokajaya yang membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung itu? Kenapa pula dia bisa memimpin penduduk Lemah Abang tanpa sepengetahuan ananda?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Raden Sahid.”

“Raden Sahid putera Adipati Tuban?” gumam Abdul Jalil terkejut.

Sri Mangana mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi Ramanda Ratu, menurut ananda, usia Raden Sahid masih terlalu muda untuk tugas seperti itu.”

“Apakah engkau juga berpikir bahwa dia terlalu muda untuk menjadi wali nagari Kalijaga? Bukankah selama ini tidak ada satu bukti yang menunjuk bahwa Raden Sahid telah diuji oleh satu tantangan berat sehingga membuatnya pantas menduduki jabatan wali nagari Kalijaga? Nah, tugas yang aku bebankan kepadanya itu adalah bagian dari langkahku untuk menguji kepantasannya menjadi wali nagari Kalijaga. Bukankah itu tidak bertentangan dengan gagasanmu?” kata Sri Mangana.

“Sungguh benar apa yang Ramanda Ratu lakukan.”

“Di sana pun aku tidak melepaskannya sendiri,” kata Sri Mangana. “Tun Abdul Qadir, wali nagari Sindangkasih, aku beri kepercayaan untuk mendampingi dan membimbingnya. Sebab, pemberontak asal pulau Upih di Malaka itu aku ketahui kemampuannya sangat mengagumkan dalam bertempur maupun mempengaruhi orang-orang. Aku berharap Raden Sahid dapat belajar dengan baik kepadanya.”

Sekalipun rasa kasih sebagai ayah dan hasrat menunaikan amanah istri tercinta sangat kuat menghendaki Abdul Jalil mengasuh sendiri puterinya, ia dengan berat hati akhirnya menyerahkan puterinya kepada ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, dan kakaknya, Nyi Muthmainah. Ia sadar, sebagai orang yang disibukkan oleh berbagai urusan terkait dengan perubahan yang menggelombang, kehadiran seorang puteri kecil yang membutuhkan perhatian akan sangat mengganggu tugas-tugasnya. Di samping itu, ia tidak memiliki cukup pengalaman dalam mendidik seorang anak perempuan. Karena itu, permintaan ibunda asuh dan kakaknya untuk mengasuh Zainab tidak bisa ditolaknya.

Keputusan Abdul Jalil untuk menyerahkan pengasuhan puterinya kepada ibunda asuh dan kakaknya terbukti merupakan langkah yang tepat. Sebab, saat ia dan Raden Sulaiman menginjakkan kaki di Lemah Abang, di sana terlihat perubahan yang sangat mengejutkan. Desa yang dibuka dan dikembangkannya itu tiba-tiba berubah menjadi hunian orang-orang kasar dan ganas, yaitu para begal dan bromocorah. Setiap orang yang ditemuinya di jalan-jalan dan bahkan di luar Lemah Abang terlihat membawa kelewang dan tombak terhunus. Wajah mereka kotor dan tidak ramah. Abdul Jalil teringat pada kata-kata Sri Mangana bahwa sejak Japura hingga Luragung kehidupan manusia menjadi tidak aman karena dikacaukan oleh kaki tangan Sang Lokajaya, begal sakti mandraguna. Dan yang terbanyak di antara kaki tangan Sang Lokajaya adalah orang-orang asal Lemah Abang yang kejam dan ganas.

Ia bersyukur puterinya ditinggalkan di Kuta Caruban. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan jika sang puteri yang terbiasa hidup dalam kelemahlembutan para perempuan itu harus tinggal di lingkungan Lemah Abang yang berubah kasar dan menakutkan. Ya, Lemah Abang yang penduduknya dikenal ramah dan rendah hati itu kini telah berubah menjadi tempat menyeramkan. Bahkan yang sulit dibayangkan, bagaimana Raden Sahid yang berpenampilan santun dan lemah lembut itu bisa berperan menjadi pemimpin para begal dan bromocorah yang ganas.

Abdul Jalil sendiri sempat terkejut saat menginjakkan kaki di Japura. Sebab, belum lagi ia melintasi batas gerbang Japura tiba-tiba ia didatangi beramai-ramai oleh sekitar tiga puluh begal dan bromocorah yang kasar dan menakutkan. Ia sempat menarik jubah Raden Sulaiman yang berancang-ancang lari akibat mengira akan diserang oleh orang-orang kasar itu. Ternyata para begal dan bromocorah kasar itu tidak menyerang rombongannya. Sebaliknya, mereka mendekat ke arahnya dengan berbaris ke belakang. Kemudian, sambil merunduk hormat mereka menyalami dan mencium tangannya secara bergantian. Mereka memperkenalkan diri sebagai penduduk Lemah Abang, murid-murid Abdul Jalil. Mereka mengaku mendapat tugas khusus dari wali nagari Kalijaga untuk membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung.

“Tahukah kalian, siapakah yang memimpin gerakan ini?” Abdul Jalil menguji.

“Kami di bawah perintah Sang Lokajaya, Tuan Syaikh,” jawab mereka nyaris serentak.

“Tahukah kalian siapa Sang Lokajaya itu?” tanya Abdul Jalil.

Mereka menggelengkan kepala dan saling memandang satu sama lain. Abdul Jalil tersenyum menyaksikan keluguan dan kepolosan mereka. Diam-diam ia sangat memuji kehebatan Sri Mangana dalam mengatur siasat perang yang sebelumnya tak pernah dibayangkannya. Rupanya, pikir Abdul Jalil, dengan cara membuat kekacauan hanya dibutuhkan kekuatan sekitar dua ribu orang untuk menjaga perbatasan Caruban-Galuh Pakuan yang sangat panjang. Bahkan, para pengacau yang sebagian adalah warga Lemah Abang itu tidak mengetahui jika pemimpin mereka , Sang Lokajaya, sejatinya adalah Raden Sahid, wali nagari Kalijaga sendiri.

“Berapa jumlah seluruh warga Lemah Abang yang ikut berjuang?” tanya Abdul Jalil.

“Tujuh ratus tiga puluh orang, Tuan Syaikh.”

“Bukankah jumlah penduduk Lemah Abang lebih dari seribu orang?” tanya Abdul Jalil minta penjelasan. “Ke mana pula yang lain?”

“Mengungsi ke Pengarengan dan Mundu, Tuan Syaikh.”

“Bagaimana dengan rumah, tanah, dan harta benda mereka?”

“Kami dititipi untuk menjaganya, Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil menggertak gigi menahan marah. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, “Mulai sekarang semua tanah, rumah, dan harta benda yang ada di Lemah Abang adalah milik kalian yang telah berjuang mempertahankan hak milik dengan gagah berani. Mereka yang berjiwa pengecut dan mau menikmati kemapanan tanpa mau berkorban tidak lagi memiliki hak apa pun di Lemah Abang. Jika kelak keadaan sudah aman dan mereka datang untuk meminta kembali hak miliknya, katakan kepada mereka bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi Lemah Abang tidak diwariskan kepada para pemalas berjiwa pengecut. Itulah ketentuan yang berlaku di Lemah Abang. Aku berharap kalian bisa membagi secara adil apa yang kalian terima ini sesuai peran dan jasa kalian dalam mempertahankan desa kalian.”

Setelah berbincang-bincang dengan para pengikutnya yang berperan menjadi orang-orang kasar dan ganas, Abdul Jalil dan Raden Sulaiman pergi ke Lemah Abang. Dengan diiring dalam arak-arakan panjang, ia menuju pondoknya yang terletak di samping Tajug Lemah Abang. Namun saat tiba di sana, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di pondoknya ternyata sudah menunggu saudara sepupunya, Syaikh Bayanullah dan istri, serta imam Masjid Demak, Raden Mahdum Ibrahim. Mereka sedang berbincang-bincang dengan Tun Abdul Qadir dan Raden Sahid tentang berbagai hal mengenai perubahan di Caruban.

Setelah saling melepas rindu, Syaikh Bayanullah menuturkan jika ia sempat terkejut saat kali pertama menginjakkan kaki di Lemah Abang. “Menurut kabar, engkau telah menjadi seorang guru agama di Lemah Abang. Namamu dikenal sebagai Syaikh Lemah Abang. Tapi, sewaktu ke sini aku justru dihadang oleh orang-orang kasar yang membawa senjata. Untung saja aku menyebut namamu dan mengaku saudaramu sehingga aku diantar ke sini. Sepanjang perjalanan aku sempat berpikir jangan-jangan engkau bukan guru agama, melainkan pemimpin lanun. Aku baru paham setelah saudara kita, Tun Abdul Qadir, menjelaskan,” Syaikh Bayanullah tertawa terkekeh-kekeh.

Ternyata, bukan hanya Syaikh Bayanullah yang dihadang anak buah Sang Lokajaya, bahkan Raden Mahdum Ibrahim yang baru kembali dari Pasir Luhur pun dihadang di hutan Jatisari dekat Luragung.

“Atas nama Sri Mangana, kalifah Caruban Larang, aku memohonkan maaf. Mereka melakukan itu demi tugas negara,” kata Abdul Jalil.

“Kami sudah tahu itu. Aku pribadi benar-benar bangga kepada para pemberani ini. Bahkan, nama Sang Lokajaya pertama kali aku dengar saat aku berada di Pasir Luhur,” kata Raden Mahdum Ibrahim.

“O ya, bagaimanakah dengan berita Yang Dipertuan Pasir Luhur?” tanya Abdul Jalil. “Apakah beliau berkenan menolak tawaran Galuh Pakuan untuk bersekutu?”

“Alhamdulillah, adipati Pasir Luhur menyatakan tidak akan membantu Galuh Pakuan. Bahkan dia menyatakan akan mengirimkan bala bantuan untuk mendukung Caruban Larang,” lapor Raden Mahdum Ibrahim.

“Pangeran Banyak Belanak bersedia mendukung Sri Mangana?” gumam Abdul Jalil heran.

“Ya, terutama setelah aku menyampaikan pesan dari Adipati Demak bahwa Yang Dipertuan Pasir Luhur akan memperoleh wilayah Galuh Pakuan jika mendukung Caruban Larang,” ujar Raden Mahdum Ibrahim.

“Bagaimana kita bisa mempercayainya jika kita tahu bahwa dia bersaudara dengan penguasa Galuh?”

“Dia sudah mengikrarkan keislaman di hadapanku,” kata Raden Mahdum Ibrahim.

“Alhamdulillah,” kata Abdul Jalil. “Mudah-mudahan dia membantu perjuangan Caruban bukan semata-mata karena ada janji untuk memberikan Galuh Pakuan kepadanya.”

“Kalaupun dia akhirnya bisa menguasai Galuh Pakuan, aku kira tidak keliru. Dia banyak bercerita kepadaku tentang nasibnya yang disia-siakan oleh ayahandanya, Prabu Guru Dewata Prana. Dia merasa dengan dijadikan menantu raja Pasir Luhur sesungguhnya ayahandanya telah membuangnya. Lantaran itu, dibanding saudara-saudaranya, dia merasa tidak beroleh apa-apa dari ayahandanya. Hanya karena kebetulan semua keturunan adipati Pasir Luhur perempuan maka dia berkesempatan menggantikannya saat sang mertua meninggal dunia,” kata Raden Mahdum Ibrahim menjelaskan.

Sudah hampir tujuh puluh usia Syaikh Bayanullah. Sebuah hitungan yang tidak sedikit bagi usia manusia. Namun, di usianya yang senja itu tubuh Syaikh Bayanullah masih terlihat kukuh. Baik saat berjalan, duduk, maupun berbicara tidak ada kesan bahwa dalam lima atau sepuluh tahun mendatang tubuhnya bakal tumbang. Dia kukuh, meski kerut-kerut kekeriputan sudah membayangi wajahnya. Gigi geliginya masih tampak utuh dan mengkilat hitam karena dipoles air sirih yang dikunyahnya setiap hari. Bahkan yang paling menakjubkan, meski sudah hidup lebih dari tiga dasawarsa di Makah, dia tetap tidak kehilangan jati diri sebagai orang Melayu yang teguh memegang adat istiadatnya.

Keberadaan Syaikh Bayanullah yang bagaikan “tak lapuk karena hujan dan tak lekang terkena panas” itu pada gilirannya mengilhami Abdul Jalil yang sedang mencari bentuk sempurna dari citra masyarakat ummah. Orang-orang yang teguh memegang citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah, kata Abdul Jalil dalam hati, yang seharusnya menjadi penanda utama anggota-anggota masyarakat ummah. Sebab, hanya orang-orang yang teguh dan ulet dalam menjaga citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah yang akan tahan di dalam menghadapi gempuran kawanan Dajjal yang bakal merusak dan memporakporandakan tatanan kehidupan, terutama tatanan keimanan umat manusia.

Abdul Jalil sadar bahwa kemungkinan terburuk dari perjuangan menegakkan tatanan baru itu adalah kekalahan pahit yang dialami para pembaharu di medan tempur. Apakah dengan kekalahan di medan tempur akan bermakna kegagalan bagi usaha-usaha pembaharuan? Tentu saja tidak demikian. Sebab, kalah di medan tempur bukan berarti takluk di palagan pemikiran dan tatanan hidup. Itu berarti, piranti-piranti “perang peradaban” hendaknya dipersiapkan sebaik-baiknya untuk memperkuat benteng jiwa para pembaharu. Dan piranti terdahsyat untuk itu adalah adab dan adat istiadat yang justru tidak begitu dalam dipahami Abdul Jalil.

Sadar akan kelemahan diri yang tidak begitu mendalam memahami adab dan adat istiadat, Abdul Jalil pun memohon kepada Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim untuk mengatasi masalah tersebut. Syaikh Bayanullah sudah terbukti tidak hanya mengetahui dengan mendalam adat istiadat Melayu, tetapi pandai pula bercerita tentang riwayat hidup nabi-nabi dan menghafal di luar kepala dongeng-dongeng Melayu dan Persia. Dengan kemampuannya itu, Syaikh Bayanullah diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai baru untuk diselaraskan dengan nilai-nilai lama. Nilai-nilai gabungan itulah yang akan disebarluaskan dan dijadikan acuan utama dalam menegakkan nilai baik dan buruk, benar dan salah, haram dan halal, serta pantas dan tidak pantas dalam kehidupan masyarakat ummah. Dengan kuatnya benteng pertahanan adab dan adat istiadat, masyarakat ummah dapat bertahan dalam menghadapi terpaan badai kehidupan dari berbagai penjuru dunia, termasuk prahara yang ditimbulkan oleh Dajjal kelak.

Syaikh Bayanullah tampaknya paham dengan kesulitan yang dihadapi saudara sepupunya itu. Itu sebabnya, dengan dibantu Raden Mahdum Ibrahim, Raden Sahid, dan Tun Abdul Qadir, ia menyiasati perubahan tatanan baru itu dengan menyiapkan piranti-piranti adab dan adat istiadat dalam menghadapi perubahan. Sebagai orang-orang yang pernah tinggal di Malaka, baik Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, Abdul Jalil, maupun Tun Abdul Qadir tidak menemui banyak kesulitan dalam menyatukan pandangan untuk menyiasati perubahan. Mereka sadar bahwa pertempuran dengan para penguasa Bumi Pasundan hanyalah suatu pertempuran kecil yang kemungkinan akan dimenangkan para pembaharu. Namun, pertempuran yang lebih dahsyat dalam menghadapi Dajjal di kelak kemudian hari, kecil kemungkinan para pembaharu bisa memenangkannya. Para pembaharu akan terjajah dan tertindas di bawah kekuasaan Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj, pengikutnya. Lantaran itu, untuk menghadapi kemungkinan terburuk tersebut dibutuhkan landasan iman yang kuat bagi umat islam untuk bertahan di bawah penindasan Dajjal. Untuk itu, mereka sepakat menetapkan pepatah Melayu “syarak bersendi adat dan adat bersendi syarak” sebagai dasar utama di dalam menata nilai-nilai dasar adab dan adat istiadat.

“Umat Islam hendaknya bisa meniru buah salak,” kata Syaikh Bayanullah mengambil ibarat. “Kulitnya hitam, buahnya putih, dan bijinya hitam. Jika dikupas, terlihat buah yang segar. Jika buah dimakan, tinggallah biji. Dan dari biji itu akan lahir salak-salak baru yang rasanya manis sepanjang masa. Karena itu, hendaknya iman orang Islam seperti biji salak yang keras, liat, dan tak bisa dimakan orang. Adab orang Islam hendaknya seperti buah salak yang manis dan segar. Dan penampilan orang Islam hendaknya seperti kulit salak yang tersusun rapi dan saling mengait menutupi jati dirinya.”

“Dengan meniru keberadaan buah salak maka siapa pun di antara makhluk yang ingin menguasai orang-orang Islam hendaknya bersedia untuk bersusah payah mengambilnya dari pohonnya yang penuh duri. Jika orang sudah berhasil mengambil buah salak maka ia harus mengupas terlebih dulu kulitnya. Setelah itu, ia baru memakan buah yang melindungi biji. Dengan demikian, para pemangsa salak hanya bisa mengunyah dan memamah buah salak untuk mengenyangkan perut dan memuaskan hasratnya. Orang tetap tidak bisa menyentuh biji salak. Demikianlah, keimanan orang-orang Islam hendaknya dipertahankan di balik lapisan adab dan adat istiadat.”

“Kami berharap buah-buah salak itu tetap menunjukkan asal tumbuhnya,” kata Raden Mahdum Ibrahim, “sehingga orang bisa mengetahui perbedaan salak Jawa, salak Sunda, dan salak Malaka. Dan masing-masing salak harus mengatakan, kamilah salak yang paling manis.”

Apa yang dikemukakan Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim pada hakikatnya tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan Abdul Malik Israil al-Gharnatah. Ta’ashub (kebanggaan) terhadap keberadaan jati diri hendaknya dibangkitkan sebagai penanda keberagaman citra hidup manusia. Orang Jawa harus bangga dengan kejawaannya. Orang Sunda harus bangga dengan kesundaannya. Orang-orang Caruban yang berasal dari berbagai macam bangsa, harus bangga dengan keragamannya. Untuk itu, dibutuhkan piranti-piranti adab dan adat istiadat penanda keberadaan masing-masing puak bangsa. Namun, di atas semua usaha penyiapan piranti adab dan adat istiadat itu, Abdul Jalil tetap menganggap berbahaya keberadaan takhayul Campa yang ternyata sudah membaur dengan takhayul Cina, Sunda, dan Majapahit, yang terbukti melemahkan dan membodohkan manusia. Lantaran itu, ia diam-diam menyiapkan piranti khusus untuk menghadapi perkembangan takhayul-takhayul celaka itu dengan cara mengajarkan sasyahidan kepada masyarakat ummah melalui Lemah Abang-Lemah Abang yang tersebar di berbagai tempat, meski untuk itu ia harus menghadapi akibat besar; dimusuhi oleh kelompok-kelompok pemimpin yang ingin melestarikan kekuasaan dengan membodohkan masyarakat dengan takhayul.

Setelah merasa cukup menyiapkan piranti adab dan adat istiadat, sebagai salah satu ujian untuk mengukur keampuhannya, Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Tun Abdul Qadir mendaulat Raden Sahid untuk menanamkan perangkat nilai-nilai itu kepada masyarakat yang tinggal di wilayah antara Japura dan Luragung. Sebagaimana Sri Mangana mendapuk Raden Sahid sebagai Sang Lokajaya, mereka mendapuk Raden Sahid sebagai amancangah menmen (tukang dongeng keliling) yang memperkenalkan dongeng-dongeng Melayu dan Persia di antara dongeng-dongeng Sunda. Hal itu dilakukan karena Raden Sahid ternyata tak kalah piawai dalam mendongeng dibanging Syaikh Bayanullah. Dengan tugas itu Raden Sahid akan menjalankan peran ganda yang berbeda, yaitu sebagai kepala begal dan bromocorah sekaligus sebagai tukang dongeng keliling. Sementara itu, Syaikh Bayanullah dengan Raden Sulaiman akan tinggal di Pajarakan di lereng Gunung Gundul untuk menyebarkan nilai-nilai baru itu kepada penduduk di perbatasan Caruban – Galuh – Talaga.

Pelabuhan Anping Tainan-Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 21:30LT