Ajaran Tentang Hidup dan Mati

Sekalipun cukup jauh dari garis depan medan tempur, selentingan berita sekecil apa pun di sana selalu sampai ke Lemah Abang. Rupanya, Tun Abdul Qadir diam-diam telah membentuk semacam lingkaran warta di berbagai tempat yang saling menyambung. Melalui lingkaran warta yang dikuasai kaki tangan pemberontak asal kampung pulau Upih di Malaka itulah semua perkembangan di garis depan pertempuran dapat diketahui bahkan hingga ke Lemah Abang.

Simpang-siur berita dari medan tempur yang sampai ke Lemah Abang ternyata sering menyedihkan dan bahkan menjengkelkan, terutama bagi Abdul Jalil. Sebab, berita-berita yang sampai ke Lemah Abang nyaris berisi kekonyolan-kekonyolan laskar muslim Caruban yang sulit dinalar. Suatu saat datang kabar yang memberitakan tunggang langgangnya laskar muslim Caruban dari medan tempur karena pasukan Rajagaluh dipimpin oleh Ki Gedeng Leuimunding. Pasalnya, nama Munding (Sunda: kerbau) dibayangkan sebagai kerbau. Ki Gedeng Leuimunding dikesankan sebagai manusia siluman berkepala kerbau. Sehingga, saat berhadapan dengan pasukan Leuimunding, mereka lari tunggang langgang sebelum bertempur dengan alasan takut menghadapi siluman kerbau.

Belum dingin berita kekonyolan laskar muslim Caruban itu, muncul berita menggembirakan tetapi juga menjengkelkan. Laskar muslim Caruban yang berhasil memukul mundur pasukan Rajagaluh di Jamaras tidak berani mengejar musuh yang menyeberangi sungai karena mereka meyakini bahwa siapa saja yang berperang lalu menyeberangi sungai itu akan kejatuhan sial. Keberhasilan mereka memukul mundur pasukan Rajagaluh diyakini akibat kesalahan pasukan Rajagaluh yang telah menyeberangi sungai. Sementara laskar Caruban di Plumbon diberitakan meninggalkan pangkalannya di Sindangmekar dan mundur hingga Cempaka gara-gara pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Ki Demang Surabangsa menyerang dari Girinatha. Laskar Caruban tidak saja ketakutan dengan kabar yang mengatakan bahwa gajah tunggangan Ki Demang Surabangsa adalah jelmaan Bhattara Gana, tetapi juga ketakutan karena mereka menyangka Ki Demang Surabangsa adalah titisan Sanghyang Girinatha.

Kekonyolan laskar muslim Caruban ternyata tidak hanya berlangsung di antara laskar-laskar muslim Sunda, Jawa, Cina, Campa, dan Melayu. Laskar muslim Caruban asal Baghdad yang dipimpin oleh Syaikh Duyuskhani ternyata terkena pengaruh takhayul pula. Mereka yang sejak lahir tinggal di Baghdad yang ramai dan gemerlapan ternyata mengalami tekanan yang sangat berat di pangkalan mereka yang terletak di hutan Pancalang. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba di antara mereka tersebar cerita-cerita tentang jin dan ruh jahat penunggu hutan yang suka mengganggu orang asing. Mereka menganggap perwira-perwira Rajagaluh yang tidak mempan ditusuk tombak dan ditebas pedang sebagai bukan manusia, melainkan setan. Akibatnya, sering kali mereka lari tunggang langgang saat mendapati kenyataan salah satu musuh mereka tidak terluka saat dipanah atau ditombak.

Tidak tahan mendengar berita-berita konyol tentang laskar muslim Caruban yang lari dari medan tempur karena takhayul, Abdul Jalil pergi ke Pancalang untuk menemui Syaikh Duyuskhani dan para pengikutnya. Di sana ternyata Abdul Jalil menemui Syaikh Duyuskhani dalam keadaan yang menyedihkan. Tubuhnya kurus, matanya cekung, pakaiannya kotor dan lusuh, suaranya serak, dan kalau berjalan dipapah oleh murid-muridnya. Kepada Abdul Jalil, guru agama yang pantang menyerah itu menyatakan kebingungannya menghadapi laskar yang dipimpinnya. “Segala usaha saya untuk membangkitkan semangat mereka sudah menemui jalan buntu. Mereka takut kepada sesuatu yang tidak berdasar. Satu kelompok demi satu kelompok lari dari medan tempur. Untung saudara ipar Tuan Syaikh dan pengikutnya datang sehingga laskar kita tidak lari,” kata Syaikh Duyuskhani.

“Mereka memang bukan prajurit. Karena itu, sulit berharap mereka bisa berani tempur seperti yang kita harapkan, meski berulang-ulang meyakinkan mereka dengan dalil-dalil,” kata Abdul Jalil.

“Sekarang ini terserah bagaimana cara Tuan Syaikh memacu mereka. Saya sudah tidak mampu meyakinkan mereka. Saya hanyalah guru agama yang tidak paham tentang perang,” kata Syaikh Duyuskhani pasrah. “Bahkan sebelum Tuan Syaikh datang kemari, saya baru saja menyerahkan kepemimpinan laskar kepada adik ipar Tuan Syaikh, Abdul Qadir al-Baghdady.”

Akhirnya, atas permohonan Syaikh Duyuskhani, Abdul Jalil berkhotbah di hadapan para laskar asal Baghdad, termasuk dua orang adik iparnya. Abdul Jalil menyampaikan khotbah tentang Kehidupan dan Kematian, dengan maksud agar para pejuang pembaharuan itu tidak takut menghadapi pertempuran. Dengan suara yang lain ia berkata, “Ketahuilah, o putera-putera Muhammad Saw., bahwa kabar-kabar menyedihkan tentang tunngang langgangnya laskar Caruban dari medan tempur sejatinya cerminan dari rasa takut terhadap Mati. Berbagai alasan yang mereka kemukakan seperti berperang melawan setan, diganggu jin penunggu sungai, dikejar-kejar ruh jahat pemakan manusia, dan bahkan munculnya bintang al-Murikh (Mars) sebagai pertanda kekalahan, sejatinya adalah ungkapan rasa takut akan Mati yang tidak terkendali.”

“Ketahuilah oleh kalian semua bahwa Sang Maut tidak pernah datang terlambat dan tidak pula pernah datang terlalu cepat. Dia selalu datang pada saat yang tepat. Karena itu, wahai engkau sekalian yang pernah lahir ke dunia dan menjadi bagian dari kehidupan dunia, bersiagalah kalian semua untuk menyongsong Sang Maut dengan cara yang gagah dan penuh kemenangan di mana pun kalian berada.”

“Sungguh telah keliru mereka mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Sebab, apa yang disebut Sang Maut (al-Mumit) sejatinya adalah Satu Diri dengan Sang Hidup (al-Hayy). Hanya mereka yang bodoh dan lancang mulut yang mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Apakah mereka sangka Allah bisa mati tidak bernyawa? Aku katakan sekali lagi, sungguh bodoh dan lancang mulut mereka yang mengatakan Mati sebagai Sesuatu yang tidak bernyawa.”

“Aku ajarkan kepada kalian suatu pandangan yang benar tentang Kematian: bahwa Sang Maut adalah Sisi lain dari Sang Hidup, namun sekaligus adalah Satu Diri yang sama, seibarat keping mata uang dengan sisi yang berbeda. Karena itu, bagi mereka yang sadar, Kematian adalah nama lain dari kelahiran. Sebab, mereka yang mati di dunia ini pada hakikatnya lahir di dunia lain yang lebih luas dan lebih abadi, seibarat bayi lahir dari alamnya yang sempit dan gelap di kandungan ibu ke alam dunia. Dan sebagaimana bayi-bayi yang lahir selalu terkejut dan menangis karena memperoleh kesadaran baru, begitulah tiap-tiap manusia yang meninggalkan dunia dan lahir di alam kematian akan terkejut karena mendapatkan kesadaran baru (QS. at-Takatsur: 1-2).”

“Lihatlah perilaku kupu-kupu yang lahir dari kepompong, kepompong lahir dari ulat, dan ulat lahir dari telur. Demikianlah perilaku manusia dalam melintasi Kehidupan dan Kematian. Kematian dan Kehidupan adalah suatu keadaan di mana kesadaran makhluk meningkat seiring matra yang mereka lampaui. Itu sebabnya, aku katakan kepada kalian bahwa telah keliru mereka yang mengatakan bahwa manusia hanya sekali hidup dan sekali mati. Sebab, sebagaimana telur melahirkan ulat dan ulat melahirkan kepompong dan dari kepompong lahir kupu-kupu, demikianlah manusia melintasi Kehidupan dan Kematian berkali-kali sampai kembali ke Asal Sejati (QS. al-Baqarah:28).”

“Jika Sang Maut pada hakikatnya adalah sama dengan Sang Hidup, jika mati adalah sama hakikatnya dengan lahir, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk takut mati. Sesungguhnya, rasa takut pada Sang Maut selalu berpangkal pada kecintaan terhadap dunia yang fana. Manusia mencintai dunia karena beranggapan dunia adalah abadi dan mereka mengikatkan diri pada dunia seerat-eratnya. Tetapi, celaka dan celakalah orang-orang yang terikat kuat pada dunia, karena ibarat ulat mereka menolak menjadi kepompong. Padahal, untuk hidup yang lebih baik ulat hendaknya menjadi kepompong. Ulat yang menolak menjadi kepompong pasti akan menjadi mangsa hewan pemakan ulat dan ia akan lahir kembali sebagai tahi sang hewan pemangsa.”

“Jika kalian memahami apa yang aku ajarkan ini maka tidak ada pilihan lain bagi kalian dalam menyongsong Sang Maut yang pasti datang itu. Pertama, kalian sadar dan dengan gagah perkasa menyongsong Sang Maut dengan keinginan menjadi makhluk baru yang seindah kupu-kupu. Makhluk baru yang terbang di alam bebas mengisap saripati madu yang mengalir dari wangi bunga-bunga. Atau pada pilihan kedua, kalian ketakutan menghadapi Sang Maut dengan keinginan menjadi ulat perusak yang merayap-rayap di dedaunan, yang akan berakhir menjadi tahi hewan.”

“Memang, dalam menghadapi Sang Maut, masing-masing manusia memiliki gambaran yang berbeda. Tetapi, aku katakan kepada kalian bahwa sangat keliru mereka yang menduakan gambaran hakiki Hidup dan Mati. Sebab, mereka yang mengaku mencintai Sang Hidup hendaknya mencintai pula Sang Maut. Mereka yang mencintai Kehidupan tetapi membenci Kematian adalah orang yang belum mengenal Tuhan dalam makna sejati asma’, shifat, dan af’al Ilahi. Mereka masih mendua dalam Tauhid.”

“Aku ajarkan kepada kalian bahwa Sang Maut dan Sang Hidup tidaklah terpisah jauh dan tidak pula dekat dengan makhluk. Mati dan Hidup tidak berada di luar dan tidak berada di dalam diri makhluk. Tetapi, setiap makhluk terikat dan berada di dalam liputan Maut dan Hidup. Sebab, kita, makhluk tak berdaya ini, adalah wujud yang tergantung (mumkin al-wujud), sedangkan Mati dan Hidup adalah Citra Hakiki dari Wujud Mutlak (al-Wujud al-Muthlaq). Sebagaimana hidup dan mati ikan berada di dalam air, demikianlah hidup dan mati kita berada di dalam liputan-Nya. Aku tahu bahwa apa yang aku ajarkan ini sulit dicerna oleh pikiran awam yang sudah terjajah oleh berbagai bentuk takhayul yang membayangkan Kematian adalah bagian dari kegelapan yang dipenuhi banyak hantu dan setan menakutkan. Karena itu, aku akan mengajarkan kepada kalian sesuatu yang baru: belajar mati! Meski kedengaran aneh, dengan belajar mati kalian akan mengenal Sang Maut dalam asma’, shifat, dan af’al. Sehingga, kelak saat Sang Maut membentangkan sayap kematian dan mencengkeram kuku-kuku sakarat al-maut yang tajam, tidak menjadikan kalian gentar dan ketakutan.”

“Aku katakan kepada kalian, dengan belajar mati maka kalian akan mengenal Sang Maut sehingga akan menghilangkan keraguan dan kegentaran kalian menghadapi-Nya. Di saat ajal kalian tidak akan menyeringai, meringis, tersengal-sengal, tercekik-cekik, meraung-raung, dan mengorok seperti hewan sekarat. Hadapilah Sang Maut dengan ramah dan penuh sukacita sebab engkau yang sudah mengenal-Nya akan disambut dengan kemegahan dan kemuliaan seorang sahabat dan kekasih. Engkau akan dimahkotai bunga-bunga surgawi karena telah kembali sebagai pahlawan dengan kemenangan besar.”

Para laskar asal Baghdad, baik yang Arab baik yang Persia, tercengang-cengang mendengar khotbah Abdul Jalil. Sebagian besar di antara mereka tidak memahami intisari khotbah. Hanya Syaikh Duyuskhani, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady, dan beberapa pemuka laskar yang paham.

Untuk memahamkan makna khotbah yang disampaikannya, Abdul Jalil secara bergilir mengajarkan “belajar mati” kepada pemuka-pemuka laskar. Mula-mula ia memandikan dan mengafani Syaikh Duyuskhani sebagaimana layaknya orang mati. Setelah itu, ia membujurkan tubuh Syaikh Duyuskhani dan membisikkan “jalan” (sabil) dan “cara” (thariq) mendaki tangga menuju hadirat-Nya.

Para laskar berkerumun dan berdesak-desak menyaksikan apakah yang akan terjadi dengan Syaikh Duyuskhani. Selama menyaksikan Syaikh Duyuskhani “belajar mati” di bawah bimbingan Abdul Jalil, mereka menahan napas dalam ketegangan. Dengan pandangan nanar mereka saksikan betapa Syaikh Duyuskhani terbujur kaku seolah-olah orang mati. Mereka saling pandang ketika dalam waktu yang lama Syaikh Duyuskhani tidak terbangun. Mereka khawatir dia benar-benar mati.

Setelah cukup lama membiarkan Syaikh Duyuskhani terbujur bagai orang mati, Abdul Jalil membisikkan sesuatu ke telinganya. Syaikh Duyuskhani membuka mata. Sejenak setelah itu dia terbangun dan celingukan seperti orang baru terjaga dari mimpi. Saat melihat para laskar berdesak-desak mengitarinya, dia baru sadar jika barang beberapa jenak lalu ia telah “belajar mati” di bawah bimbingan Syaikh Lemah Abang. Dan saat ia melihat Syaikh Lemah Abang berada di hadapannya, tak dapat ditahan lagi ia menjatuhkan diri menyembah dan mencium kakinya sambil berkata, “Saya mohon, hendaknya Tuan Syaikh mengembalikan saya ke Kematian. Sungguh, saya tidak tahan lagi hidup di dunia fana ini setelah mengetahui dan merasakan pelukan mesra Kematian. Saya mohon. Sekali lagi, saya mohon sudilah Tuan Syaikh mengembalikan saya ke alam Kematian.”

Abdul Jalil menarik bahu Syaikh Duyuskhani dan memintanya duduk di depannya. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Sesungguhnya, apa yang Tuan Syaikh rasakan adalah bagian terkecil dari Kematian. Tuan Syaikh tidak boleh larut oleh perasaan sebab Tuan Syaikh belum benar-benar mengenal-Nya. Tuan Syaikh harus kembali ke alam dunia dan menjalankan tugas Tuan Syaikh yang belum selesai. Sebab, memaksakan datangnya Sang Maut adalah sama maknanya dengan bunuh diri, bukan kemuliaan yang diperoleh melainkan kehinaan.”

“Kepada kalian semua, o putera-putera Muhammad Saw., aku katakan bahwa rasa bahagia dan nikmat yang dirasakan oleh Syaikh Duyuskhani saat “belajar mati” sebenarnya terikat dengan keberadaan jiwanya yang sudah bisa menyingsingkan keterikatan dengan hal-hal duniawi dan pamrih pribadi. Sebab, bagi mereka yang masih sangat kuat terikat kecintaan pada dunia dan pamrih pribadi, bukan saja akan kesulitan mengenal Sang Maut, melainkan akan merasakan penderitaan dan kesengsaraan. Bagi mereka, ‘belajar mati’ akan sama maknanya dengan menambah rasa takut terhadap Kematian. Karena itu, o wahai putera-putera Muhammad Saw., jika kalian ingin merasakan kebahagiaan dan kenikmatan sebagaimana yang dialami Syaikh Duyuskhani, hendaknya kalian mulai belajar mengarahkan kiblat hati dan pikiran kalian kepada Dia Yang Tunggal. Jangan ingat apa pun saat kalian berada di medan tempur kecuali Yang Maha Esa. La ilaha illa Allah ! Jika pada saat itu kalian dijemput oleh Sang Maut maka kalian akan meninggalkan dunia ini dan lahir sebagai makhluk baru di alam Kematian yang tak tergambarkan indah dan nikmatnya. Itu berarti, kalian tidak perlu ‘belajar mati’ karena kalian telah mati secara benar.”

Api pertempuran mengamuk tidak hanya di garis depan, tetapi juga membara di berbagai desa yang tersebar di perbatasan Rajagaluh dengan Caruban Larang, dari Padamatang di selatan Bobos hingga Tegal Karang di barat Jamaras, bahkan berkobar pula di Glagahamba di selatan Susukan. Gerakan serentak laskar-laskar yang tak pernah diperhitungkan itu membuat pasukan Rajagaluh porak-poranda di berbagai pos pertahanannya. Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh, memerintahkan pasukannya untuk mundur teratur dan bertahan di garis pertahanan yang sudah ditentukan, yaitu di Girinatha, Kepuh, Balerante, Lungbenda, Kedung Bunder, dan Palimanan.

Para tetunggul perang Rajagaluh seperti Adipati Kiban, Ki Demang Dipasara, Ki Gedeng Leuwimunding, Ki Demang Surabangsa, Ngabehi Ardisora, Sanghyang Gempol, Sanghyang Mayak, Sanghyang Tubur, Sanghyang Sogol, dan Celeng Igel telah bersumpah untuk menghadang gerak maju laskar-laskar muslim Caruban ke Palimanan. Sebab, membiarkan Palimanan jatuh ke tangan laskar sama maknanya dengan kehancuran nama besar mereka sebagai pahlawan berdarah biru gagah perkasa yang takluk di bawah telapak kaki para laskar yang beranggotakan kalangan rendah tak berkasta.

Pasukan Rajagaluh sendiri sebenarnya bukanlah tandingan laskar muslim Caruban baik dalam hal jumlah prajurit, persenjataan, keterampilan perang, dan mental keprajuritan. Itu sebabnya, selama berlangsung pertempuran yang terkesan tarik-ulur itu, pasukan Rajagaluh cenderung menjadikan laskar muslim Caruban sebagai “kawan berlatih” di medan tempur. Sejak pertempuran awal pecah di Bobos, pihak Rajagaluh kehilangan tak lebih dari lima puluh prajurit, sementara laskar muslim Caruban lebih enam ratus yang terbunuh. Keadaan itu memang sengaja dibiarkan oleh para tetunggul Rajagaluh untuk membiasakan prajurit-prajuritnya menghadapi suasana perang sehingga saat menghadapi pasukan Caruban kelak mereka tidak akan canggung.

Amukan api pertempuran yang berkobar serentak di berbagai desa laksana padang alang-alang terbakar itu tak pelak mengejutkan para tetunggul Rajagaluh. Mereka tidak pernah menduga bahwa para laskar muslim Caruban bisa melakukan perlawanan dengan begitu fanatik, dengan semangat tinggi untuk mati, menerjang musuh tanpa peduli keselamatan diri. Sementara itu, pasukan Rajagaluh yang tak pernah menduga bakal mendapat perlawanan yang begitu gigih, dengan terheran-heran mundur dan sebagian malah lari kocar-kacir meninggalkan senjata di medan tempur.

Keheranan para tetunggul Rajagaluh terhadap peristiwa pertempuran yang memalukan itu baru diketahui sebab-sebabnya ketika mereka berkumpul di Palimanan untuk membahas masalah tersebut. Saat itu, berdasar laporan Rsi Bungsu, diketahuilah bahwa di balik kobaran api perlawanan laskar muslim Caruban yang dahsyat terdapat sosok Syaikh Lemah Abang yang termasyhur kepiawaiannya dalam menghasut.

“Tukang sihir celaka itu telah menyihir para laskar dan penduduk desa untuk melawan kita. Jadi, saat bertempur sesungguhnya para laskar itu sedang berada dalam pengaruh sihir Syaikh Lemah Abang. Mereka dalam keadaan tidak sadar,” kata Rsi Bungsu.

“Tapi, bagaimana mungkin dia bisa menyihir beribu-ribu orang dalam waktu yang sama,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh. “Sebab, sepengetahuanku, pengaruh sihir hanya bisa dilakukan pada beberapa orang saja dalam waktu yang tidak lama. Padahal, selama hampir sepekan pertempuran di berbagai medan, beribu-ribu laskar menyerang tak kenal siang dan malam.”

“Sesungguhnya, Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan kepada para laskar suatu ilmu sihir dahsyat yang disebut mati mawat, pengaruh gaib kematian. Dia bilang, hidup ini adalah mati dan mati adalah hidup. Lewat ilmu itu, tukang sihir laknat tersebut memerintah para laskar untuk menerobos batas Kematian dan Kehidupan seperti orang melewati pintu,” Rsi Bungsu membelok-belokkan tangannya, menggambarkan ajaran yang disampaikan Abdul Jalil.

Para tetunggul Rajagaluh yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana nekat dan ngawurnya laskar muslim Caruban saat bertempur, seolah-olah mereka keranjingan ruh setan, mau tidak mau mempercayai ucapan Rsi Bungsu. Itu sebabnya, mereka sepakat untuk membahas pemecahan masalah yang tak pernah mereka bayangkan itu. Namun setelah berputar-putar dengan berbagai alasan masing-masing, mereka sampai pada simpulan bahwa ujung dari masalah yang rumit itu adalah kalifah Caruban Larang, Sri Mangana. Mereka sepakat bahwa untuk menghindarkan rasa malu akibat kemungkinan kalah dalam pertempuran mendatang, hendaknya penguasa Caruban Larang dilibatkan. Maksudnya, pasukan Rajagaluh harus bertempur melawan pasukan Caruban Larang, bukan menghadapi laskar muslim.

“Kalaupun kita kalah maka kita tidak perlu malu karena kita dikalahkan oleh saudara kita sendiri. Kita tidak malu karena sebagai ksatria kita kalah oleh ksatria lain. Tetapi, kalau kita sampai kalah dengan laskar gelandangan yang tidak terhormat itu maka itu sama artinya dengan kita membiarkan wajah kita dilumuri kotoran. Itu sangat memalukan. Memalukan.” Pangeran Arya Mangkubhumi berang.

“Apakah kita akan menyerang langsung Kuta Caruban?” tanya Rsi Bungsu.

“Itu tindakan tolol,” sergah Pangeran Arya Mangkubhumi yang diam-diam tidak suka dengan Rsi Bungsu yang dinilainya culas dan licik. “Sebab, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan pasukan Caruban Larang.”

“Menurut kabar, kekuatan pasukan Caruban Larang tidak lebih dari sepuluh ribu. Padahal, kekuatan pasukan kita lebih dari seratus ribu prajurit.” Rsi Bungsu meyakinkan.

“Sepuluh ribu itu hanya dugaanmu saja. Sebab setahuku, sudah lebih tujuh tahun silam pamanda ratu menggalang kekuatan militer. Karena itu, jumlah sepuluh ribu adalah dugaan yang mengada-ada. Bahkan kalaupun benar jumlah pasukan Caruban sepuluh ribu, belum tentu kita dapat mengalahkannya dengan mudah. Bukankah kekalahan pasukan kita membuktikan bahwa menghadapi laskar muslim tak terlatih yang jumlahnya tidak sampai sepuluh ribu saja sudah membuat kita kocar-kacir, apalagi menghadapi pasukan Caruban Larang yang terlatih,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

Melihat keadaan makin memanas antardua sepupu itu, para tetunggul Rajagaluh berusaha melerai dengan cara bersepakat untuk menyerahkan masalah itu kepada junjungan mereka, Prabu Chakraningrat, Yang Dipertuan Rajagaluh. Mereka sadar, untuk melibatkan kalifah Caruban Larang dalam perang tidak mungkin terjadi tanpa melibatkan Prabu Chakraningrat.

Sementara itu, di tengah kegembiraan laskar muslim Caruban yang meraih kemenangan di berbagai medan tempur, terdapat kelompok-kelompok penduduk Caruban yang diam-diam menerima kabar itu dengan geram dan sakit hati. Mereka adalah para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat. Mereka geram dan sakit hati karena kemenangan yang diperoleh laskar muslim Caruban itu dikabarkan akibat hasutan Syaikh Lemah Abang yang mengajarkan ilmu mati mawat. Dengan ilmu tersebut, para laskar maju ke medan tempur tanpa membawa perangkat jimat, haekal, dan jampi-jampi. Dengan kemenangan-kemenangan itu, mereka merasa cepat atau lambat sumber nafkah mereka akan terancam hilang.

“Kita tidak bisa membiarkan Tuan Syaikh keparat itu meluaskan pengaruhnya kepada laskar karena dia akan meracuni pikiran mereka untuk tidak mempercayai lagi keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi,” kata Ki Badong, tukang gembleng yang termasyhur kesaktiannya.

“Aku dengar-dengar, dia melarang para laskar yang maju ke medan tempur membawa jimat dan haekal. Dia mengatakan bahwa jimat dan haekal adalah cerminan jiwa pengecut sehingga tidak pantas dibawa oleh para pejuang beriman,” sahut Hargo Belah, jajadug berewokan yang suaranya mirip perempuan.

“Itu ‘kan sama artinya dengan menghina kita,” kata Ki Badong.

“Syaikh jahanam itu malah mengingatkan dalam khotbahnya bahwa siapa saja di antara laskar yang mempercayai jimat, haekal, dan jampi-jampi maka selama empat puluh hari ibadahnya tidak diterima. Dan andaikata mereka membawa jimat itu mati maka matinya dalam keadaan musyrik,” kata Hargo Belah.

“Ini benar-benar penghinaan yang tidak bisa dibiarkan,” kata Ki Badong dengan dada dikobari api. “Bahkan yang paling menyakitkan, dalam khotbahnya dia mengecam tradisi gemblak di kalangan jawara dan jajadug. Dia menyamakan tradisi gemblak dengan tindakan sesat umat Nabi Luth yang dilaknat Gusti Allah. Dia bahkan mengatakan bahwa keyakinan daya sakti yang diperoleh dari gemblakan sebagai kepercayaan setan. Bukankah itu menyindir engkau, o Kawan.”

Hargo Belah, yang sampai usia enam puluh tahun tidak menikah karena suka gemblakan, tersulut amarah mendengar penjelasan Ki Badong. Ia benar-benar merasa ditelanjangi dan dipermalukan oleh Syaikh Lemah Abang. Ia tidak bisa menerima hujatan Syaikh Lemah Abang terhadap perilaku perkelaminan antara lelaki dan lelaki sebagai kepercayaan setan yang sesat. Itu sebabnya, dengan kepala memuai dan dada terbakar, ia berkata meledak-ledak, “Apa yang sekarang harus kita perbuat untuk menghancurkan si keparat itu, Ki?”

“Kita hubungi para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat yang ada di Caruban dan Sunda. Kita harus bersatu untuk menyingkirkan syaikh keparat itu dari muka bumi,” Ki Badong mengertak gigi menahan amarah.

“Kita akan mengeroyok dan membunuhnya beramai-ramai.”

“Tidak, tidak boleh kita berlaku demikian. Sebab, itu akan menyulut amarah para pengikutnya.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Kita angkat kabar tentang banyaknya korban dalam pertempuran tanpa jimat-jimat dan haekal-haekal itu. Kita sebarkan rasa gentar di hati para laskar bahwa mereka akan celaka dan terbunuh secara sia-sia jika maju ke medan tempur tanpa dukungan jimat, haekal, dan jampi-jampi. Bukti banyaknya korban tewas di berbagai tempat dalam pertempuran itu akan kita jadikan bukti,” kata Ki Badong.

“Itu cara yang sangat baik, Ki,” kata Hargo Belah genit. “Aku akan membuat pertunjukan terbuka untuk memamerkan ilmu kawedukan, aji kememayam, pangabaran, karosan, kateguhan, dan pangerutan.”

“Jangan! Jangan pamer ilmu dulu,” kata Ki Badong memohon.

“Kenapa Ki?” tanya Hargo Belah heran.

“Sebab, dalam khotbah-khotbahnya syaikh bedebah itu mengatakan bahwa sangat banyak ilmu kekebalan dan kesaktian yang palsu. Dia menyebut ilmu sulap sebagai ilmu yang menipu dengan kelihaian memperdaya orang. Bahkan dia memberi tahu para laskar bahwa cara untuk menguji keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi adalah di medan perang. Dia berkata begini: ‘Jika datang kepadamu orang yang mengaku jawara, jajadug, dan dukun, kemudian mereka memamerkan keampuhan jimat dan haekalnya dengan mengiriskan dan menyabetkan pedang ke tubuhnya, maka waspadalah. Sebab, sekarang ini banyak penipu yang menggunakan ilmu sulap untuk memperoleh keuntungan. Mereka menjual jimat, haekal, dan jampi-jampi yang katanya dapat menolak Kematian. Tetapi aku katakan kepada kalian, berapa banyak orang yang telah diselamatkan jimat-jimat dan haekal itu? Kenapa dalam pertempuran para pembawa jimat dan haekal itu bergelimpangan menjadi mayat? Sungguh, para penipu itu tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya yang mencelakakan orang lain.’ Demikianlah, Kawan, mulutnya yang lancang itu menghasut para laskar agar meragukan keampuhan ilmu kesaktian kita.”

Hargo Belah menggeram marah. Napasnya terengah-engah dibakar api amarah. Ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang sebagai adonan tepung yang bisa dilumat-lumat sampai hancur lebur tanpa bentuk. Lalu adonan itu ia banting-banting dan tekuk-tekuk seperti jajan. Setelah itu, ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang dilemparkannya ke penggorengan dan kemudian disantapnya hangat-hangat. “Tunggulah pembalasanku, Syaikh tengik,” gumamnya dengan gigi gemeletuk. “Tunggulah saat kematianmu, wahai syaikh keparat. Aku akan mengunyah-ngunyah dan memamah tubuhmu seperti jajan sampai tubuhmu luluh menjadi isi ususku dan keluar menjadi tahiku.”

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 22:00LT