Perang Caruban-Rajagaluh

Kabar terpukul mundurnya pasukan Rajagaluh di berbagai garis depan medan tempur oleh laskar muslim Caruban diterima Prabu Chakraningrat dengan darah mendidih dan kepala nyaris meledak. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa para ksatria yang dibangga-banggakan dan diunggulkannya itu bisa kalah oleh para laskar, kawanan gelandangan rendah yang tidak ketahuan asal usulnya dan tidak memiliki ketrampilan perang. Bagaimana mungkin para ksatria mulia yang gagah perkasa bisa dikalahkan kaum sudra hina dan mleccha rendahan, gumamnya berulang-ulang sambil hilir mudik di balairung.

Ketika Pangeran Arya Mangkubhumi dan para tetunggul menghadap, Prabu Chakraningrat tidak dapat menahan amarah. Dengan suara dikobari api ia menghardik putera mahkota dan para perwiranya, “Aku berpikir kalian telah menjadi lemah karena sibuk berpesta pora dan mengumbar kesenangan. Sungguh memalukan, para ksatria kebanggaan Rajagaluh bisa dengan mudah dikalahkan oleh orang-orang rendah dari kalangan sudra, paria, mleccha, domba, kewel, dan potet.”

Pangeran Arya Mangkubhumi dan para tetunggul diam. Mereka membiarkan sang raja melampiaskan amarah. Baru setelah amarah sang raja mereda, mereka menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari kekalahan pasukan yang dipimpinnya. Prabu Chakraningrat sendiri akhirnya tidak bisa berkata apa-apa kecuali menerima kenyataan itu meski merasa pahit dan getir. Bahkan saat para tetunggul yang dibanggakannya itu memohon agar ia menantang perang Sri Mangana demi menyelamatkan harga diri para ksatria, ia penuhi juga tanpa bertanya ini dan itu. Demikianlah, demi mempertahankan harga diri dan kehormatan para ksatria, ia memerintahkan sang manghuri (sekretaris negara) untuk menuliskan ucapannya ke atas sepucuk surat yang ditujukan kepada saudaranya, Sri Mangana.

Betapa menyedihkan manusia yang hidup bermegah-megah dilimpahi kekayaan dalam mimpi, namun melarat dan sengsara ketika terbangun. Betapa kasihan manusia yang menyambut bangsa lain dengan kehormatan dan kemuliaan, namun memperlakukan bangsa sendiri sehina dan senista binatang. Betapa memalukan manusia yang merusakbinasakan budaya leluhurnya, namun membangun budaya bangsa lain yang tak dikenalnya. Betapa dungu manusia yang mengusir para ksatria mulia dari takhta persahabatan, namun menjadikan para gelandangan sebagai sahabat. Betapa pandirnya manusia yang digambarkan pepatah “anak di pangkuan dilepaskan, beruk di hutan disusukan”.

Menerima dan membaca surat dari Prabu Chakraningrat, Sri Mangana tersenyum. Ia kemudian memerintahkan Haji Musa, adik Syaikh Bentong, untuk menuliskan surat balasan kepada Yang Dipertuan Rajagaluh.

Apa yang engkau inginkan, wahai pecinta dunia? Apakah engkau belum puas dengan istana-istana indah dan gemerlap yang engkau bangun dari tetesan darah dan keringat kawulamu? Apakah engkau belum puas menipu kawulamu dengan cerita-cerita palsu tentang Dewaraja? Apakah engkau berpikir bahwa kehidupan di dunia ini adalah kekal dan abadi seperti abadinya kekuasaan yang engkau kangkangi?

Aku katakan kepadamu, o pecinta dunia, bahwa kehidupan selalu mengalir seperti sungai. Sebagaimana rembulan memiliki saat purnama dan saat sabit, demikianlah kehidupan selalu berubah dan berganti-ganti. Hanya mereka yang dungu dan pandir yang menganggap kehidupan tidak berubah. Hanya mereka yang berhati batu yang menganggap kehidupan di dunia ini mandeg. Hanya mereka yang buta oleh kenikmatan nafsulah yang mengingkari perubahan sebagai keniscayaan hidup di dunia.

Buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan kata-kataku, o pecinta dunia! Bahwa telah aku saksikan dan aku dengar sendiri, bagaimana jiwa para pecinta dunia membeku dan kaku seperti mayat dibungkus selimut. Aku saksikan dan aku dengar jiwa mereka menjelma menjadi hantu menakutkan yang dikitari oleh pengikut-pengikutnya, para dukun dan tukang sihir dan peramal. Kemudian, dengan menyeringai bengis hantu itu memamerkan taringnya, yang membuat seluruh kawula tersungkur ketakutan. Dan bagaikan serigala lapar, begitulah hantu jelmaan para pecinta dunia itu menginjak-injak tubuh manusia, mengalirkan darah orang-orang tak bersalah, mengisap darah orang miskin dan papa, menjilati nanah busuk para gelandangan, dan menakut-nakuti musuh-musuhnya dengan pedang berkarat.

Apakah sesungguhnya yang engkau inginkan, wahai pecinta dunia? Apakah engkau ingin tetap menjadi penguasa duniamu yang berkarat dan membusuk? Ataukah engkau ingin menjadi hantu yang berkeliaran memamerkan taring untuk menakut-nakuti kawulamu?

Prabu Chakraningrat terbakar amarah saat membaca surat balasan dari Sri Mangana. Ia menitahkan sang manghuri untuk membalasnya dengan isi yang lebih tegas.

Aku merasa sebaiknya Tuan menghadapkan pasukan Caruban dengan Rajagaluh sebagai pertarungan ksatria melawan ksatria, sebagaimana pertarungan antara Kurawa dan Pandawa di Kurusetra. Sebagai saudara yang dididik dengan nilai-nilai ksatria dan hidup sesuai dharma ksatria, aku memohon kepada Tuan, agar Tuan tidak mempermalukan saudara Tuan di depan arwah leluhur, dengan membiarkan saudara Tuan menghadapi kawanan gelandangan yang Tuan pelihara. Marilah kita bertempur sebagai ksatria!

Sri Mangana tersenyum bangga membaca surat balasan dari Prabu Chakraningrat. Ia sadar, cepat atau lambat Caruban memang harus terlibat perang dengan Rajagaluh, bahkan mungkin dengan Talaga, Galuh Pakuan, dan Dermayu. Namun, surat balasan yang dikirim oleh penguasa Rajagaluh telah mendorongnya untuk mempercepat keterlibatan Caruban di medan tempur. Sebab, apa pun yang terjadi ia tidak sampai hati melukai hati seorang ksatria dengan menorehkan luka akibat sayatan rasa malu.

Sri Mangana sendiri adalah ratu yang dipercaya oleh maharaja Pakuan Pajajaran, Prabu Guru Dewata Prana, untuk menjaga kekuasaan laut kerajaan Sunda. Ia dikenal sebagai ahli strategi perang (yuddhawira sadah) dan cakap dalam peperangan (yuddha-nipuna). Itu sebabnya, ia tidak akan mungkin menolak tantangan Prabu Chakraningrat. Ia pasti akan meladeni tantangan perang penguasa Rajagaluh itu secara ksatria. Namun sesuai gelarnya, Sri Mangana, yang berarti cahaya kekuasaan ular laut, ia bukanlah orang yang gegabah dalam mengambil keputusan. Ia sangat berhati-hati. Dan dalam hal tantangan Prabu Chakraningrat, ia tahu pasti bahwa Yang Dipertuan Rajagaluh itu tidak bertindak sendiri. Ia mengetahui di belakang saudara tirinya itu tersembunyi kekuatan penguasa Galuh Pakuan, Talaga, Dermayu, Palutungan, Maleber, Panembong, Taraju, Sumedang Larang, dan Batu Layang.

Untuk menghadapi kekuatan Rajagaluh yang diam-diam didukung banyak pihak itu dibutuhkan siasat yang tepat sekaligus penataan kekuatan yang baik dan tak terbaca lawan. Ia sadar bahwa dalam menghadapi Rajagaluh, ia tidak sekadar dituntut menyiagakan kekuatan pasukannya untuk bertempur, tetapi juga menyiapkan kemungkinan terjadinya serangan tak terduga dari Talaga, Galuh Pakuan, dan Dermayu. Ia benar-benar sadar betapa kekuatan pasukannya yang kurang dari 30.000 orang ditambah sekitar 4.600 laskar muslim itu tidak mungkin dibenturkan dengan pasukan Rajagaluh yang jumlah pasukannya 100.000 orang lebih.

“Menurut perkiraanmu, kapan kira-kira bala bantuan dari timur sampai ke Caruban?” tanya Sri Mangana kepada Abdul Jalil, yang dipanggilnya ke Ndalem Pekalipan beberapa saat setelah ia menerima surat tantangan dari Prabu Chakraningrat.

“Ananda perkirakan dalam sepekan ini mereka mestinya sudah sampai ke sini,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Apakah keadaan di medan tempur mengalami perubahan sehingga Ramanda Ratu menanyakan mereka?”

“Di medan tempur laskar muslim Caruban tetap menang, namun Prabu Chakraningrat mengirimkan surat tantangan langsung kepadaku. Dia mengajak perang terbuka antara Rajagaluh dan Caruban,” kata Sri Mangana.

“Ramanda Ratu akan melayani tantangan itu?”

“Hmm,” Sri Mangana mengangguk dan berkata, “Jika tidak dilayani, nanti orang akan menganggap islam sebagai agama yang tidak mengajarkan nilai-nilai ksatria. Islam akan dianggap sebagai agama yang dipeluk para pembual dan penipu yang berjiwa pengecut. Tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan orang-0rang Rajagaluh ketika mereka mendengar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal kabur dari Caruban?”

“Tapi, Rajagaluh dibantu banyak pihak. Jumlah pasukannya jauh lebih besar dibanding jumlah pasukan Caruban. Kalau harus dibenturkan berhadap-hadapan, tentunya pasukan Caruban akan kalah,” gumam Abdul Jalil.

“Justru itu yang diinginkan Prabu Chakraningrat. Karena itu, dia menantang perang antar ksatria, sebagaimana saat Kurawa bertempur dengan Pandawa dalam Bharatayudha,” kata Sri Mangana.

“Aku memang sudah mengambil keputusan untuk menyiasati keadaan ini.”

“Aku akan menunda mengirimkan surat balasan kepada Prabu Chkraningrat selama sepekan. Biarkan dia berpikir aku ketakutan menerima tantangannya. Tetapi, selama sepekan itu aku akan membuat kejutan-kejutan untuknya.”

“Sesungguhnya Allah SWT. bersama hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.”

Selama rentang waktu sepekan sambil menunggu kedatangan bala bantuan dari luar Caruban, Sri Mangana melakukan tindakan-tindakan mengejutkan yang bertujuan meruntuhkan semangat pihak Rajagaluh. Tanpa terduga-duga ia mengumumkan terbentuknya kesatuan Naga Laut yang dipimpin oleh Bhatamantri (perwira tinggi) Abdul Halim Tan Eng Hoat, Cina muslim asal Majapahit, putera Abdurrahman Tan King Ham. Kesatuan baru itu terdiri atas seribu pasukan laut Caruban ditambah dua ribu laskar muslim Cina. Abdul Halim Tan Eng Hoat dibantu oleh tiga orang bhrtyamantri (perwira menengah), yaitu Tumenggung Jaya Orean, Abdul Karim Wang Tao, dan Abdul Razaq Wu Lien.

Kabar itu oleh Sri Mangana sengaja disebarkan ke Palimanan dan Rajagaluh sehingga para tetunggul Rajagaluh bertanya-tanya tentang tujuan utama di balik pembentukan kesatuan Naga Laut. Namun, saat para tetunggul Rajagaluh membicarakan kesatuan baru itu tiba-tiba Sri Mangana mengumumkan terbentuknya kesatuan Liman Bhuwana yang dipimpin oleh Bhatamantri Syarif Hidayatullah, wali nagari Gunung Jati. Kesatuan baru itu terdiri atas seribu pasukan berkuda dan seribu pasukan tombak Caruban ditambah dua ribu laskar muslim Arab dan Persia. Syarif Hidayatullah dibantu lima orang bhrtyamantri, yaitu Syaikh Duyuskhani, Abdul Rahim Rumi, Abdul Rahman Rumi, Abdul Qadir al-Baghdady, dan Abdul Qahhar al-Baghdady.

Ketika orang-orang Rajagaluh masih sibuk membicarakan kesatuan Naga Laut dan Liman Bhuwana, Sri Mangana mengumumkan lagi pembentukan kesatuan baru, yaitu Paksi Raja yang dipimpin Bhatamantri Tun Abdul Qadir, wali nagari Sindangkasih, pemimpin para pemberontak asal Malaka. Kesatua Paksi Raja terdiri atas seribu pasukan laut Caruban ditambah tiga ribu laskar muslim asal Malaka, Campa, Keling, Pegu, Yawana, Kendal, dan Palembang. Tun Abdul Qadir dibantu empat bhrtyamantri, yaitu wali nagari Gegesik, Li Han Siang, Syaikh Bentong, dan Haji Shang Shu.

Ketika para tetunggul Rajagaluh dengan sangat hati-hati membicarakan pembentukan tiga kesatuan baru itu, terjadi peristiwa yang mengguncangkan jiwa mereka. Tanpa terduga-duga, tiba-tiba saja Sri Mangana menunjuk seorang pendekar puteri termasyhur, Nyi Mas Gandasari, sebagai agra-senopati (panglima tinggi) Caruban Larang.

Kabar pengangkatan Nyi Mas Gandasari dengan cepat berkobar membakar amarah para tetunggul Rajagaluh bagaikan api membakar ilalang. Para tetunggul Rajagaluh merasakan panas api membakar tubuh mereka dari telapak kaki hingg ujung rambut. Keputusan itu dianggap sebagai tamparan bagi para tetunggul Rajagaluh. Sebab, menurut mereka, pengangkatan Nyi Mas Gandasari pada dasarnya adalah siasat licik Sri Mangana untuk menghalang-halangi Prabu Surawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, dalam peperangan Caruban-Rajagaluh. Menurut mereka, Sri Mangana memanfaatkan kepercayaan yang diyakini banyak orang yang menyatakan bahwa Prabu Surawisesa tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh seorang perempuan hing wanojaha kang pangawijing. Semenjak lama sudah tersebar kasak-kusuk yang menyatakan bahwa Nyi Mas Gandasari sengaja diasuh sejak kecil oleh Sri Mangana karena disiapkan untuk tujuan menghadapi Prabu Surawisesa.

Sebenarnya, mereka yang merasa gerah dan tidak suka dengan pengangkatan Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati Caruban bukan hanya pihak Rajagaluh. Sejumlah pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban Larang pun diam-diam banyak yang menyayangkan keputusan Sri Mangana yang mereka anggap tidak bijaksana. Mereka menganggap seorang perempuan terlarang menjadi pemimpin laki-laki, apalagi dalam perang. Mereka memang tidak berani terang-terangan menentang keputusan Sri Mangana, tetapi bara api ketidakpuasan telah mereka sulut di dalam jiwa para pengikutnya. Dan bara api itu terlihat kobarannya manakala Angga, wali nagari Kuningan, dan Ki Demang Singagati, mantri kepercayaannya, dengan terang-terangan mengemukakan keberatan mereka kepada Sri Mangana atas penunjukan Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati Caruban.

Menghadapi keberatan wali nagari Kuningan dan Ki Demang Singagati itu, Sri Manganan mengumpulkan para pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban untuk memusyawarahkan keputusannya tersebut. Ternyata, terjadi beda pendapat yang sengit tentang masalah itu. Para pemuka warga keturunan Campa menyatakan dukungan penuh karena adat istiadat mereka menganut asas keibuan sehingga tampilnya pemimpin perempuan dapat diterima asalkan memiliki kemampuan. Syaikh Duyuskhani dan para pengikutnya mendukung Nyi Mas Gandasari dengan alasan agra-senapati perempuan adalah seorang sayyidah keturunan Fatimah az-Zahrah, puteri Nabi Muhammad Saw.. Namun, para pemuka warga Arab, Cina, dan Pegu menyatakan keberatan atas dasar ketentuan syari’at Islam. Menurut mereka, tidak ada satu pun dalil yang membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki.

Sadar bahwa perbedaan pendapat di tengah suasana genting akan sangat merugikan, akhirnya Sri Mangana memutuskan untuk memegang sendiri jabatan agra-senapati Caruban Larang dan memilih dua orang panglima wakil senapati di medan tempur, yaitu wali nagari Kuningan dan Nyi Mas Gandasari. Ia menyatakan bahwa keputusannya itu untuk menguji kemampuan mereka berdua di bidang olah tempur dan keprajuritan. Keputusan Sri Mangana disepakati oleh semua pihak, meski di dalam hati masih ada pihak yang tidak puas dengan keterlibatan perempuan dalam masalah pertempuran. Pihak itu beranggapan tempat perempuan berkiprah bukan di medan tempur, melainkan di dapur dan kamar tidur.

Ketika surat jawaban kepada Prabu Chakraningrat baru saja dikirim dan ketika orang masih sibuk membicarakan langkah-langkah Sri Mangana yang menggemparkan, terjadi kegemparan lain di Muara Jati. Orang-orang yang tinggal di sekitar pelabuhan dikejutkan oleh mendaratnya bala bantuan dari luar Caruban Larang. Mula-mula orang menyaksikan sekitar seribu pasukan turun dari kapal-kapal di pelabuhan Muara Jati. Pasukan itu mengibarkan umbul-umbul dan bendera warna merah dan hitam. Panji-panjinya berwarna hitam bergambar bulan sabit yang ditulisi kaligrafi La ilaha illa Allah. Penduduk dengan terheran-heran melihat pasukan itu berbaris menuju Kuta Caruban dengan membawa kotak-kotak besar berjumlah sekitar dua puluh lima buah. Pasukan itu merupakan bala bantuan dari Majapahit asal Kadipaten Terung yang dipimpin oleh Ki Wedung, adik kandung Patih Demak Ki Wanasalam. Kotak-kotak besar yang dibawa pasukan Majapahit itu disebut gurnita (Jawa Kuni: halilintar, gemuruh, gaduh). Konon berasal dari Palembang. Jika tutup-tutup kotak itu dibuka akan terdengar suara gemuruh dan kilatan halilintar yang akan membakar apa saja yang ada di depannya.

Tidak lama setelah pasukan Majapahit asal Kadipaten Terung meninggalkan Muara Jati, mendaratlah secara berturut-turut pasukan dari berbagai kadipaten lain, yaitu seribu orang pasukan dari Kadipaten Demak dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor, putera Adipati Demak Raden Patah. Pasukan ini mengibarkan panji-panji hijau bergambar kura-kura dan petir. Setelah itu mendarat sekitar lima ratus orang pasukan dari Kadipaten Samarang dipimpin Pangeran Welang, mengibarkan panji-panji kuning bergambar kepala yaksa. Disusul tujuh ratus orang pasukan dari Kadipaten Kendal, dipimpin Pangeran Soka, mengibarkan panji-panji putih bergambar kepala harimau; lima ratus orang pasukan dari Kadipaten Japara dipimpin Pangeran Luhung, mengibarkan panji-panji hitam bergambar bintang dan api menyala; lima ratus orang dari Giri Kedhaton dipimpin Ki Buyut Gresik, mengibarkan panji-panji putih bergambar trisula; tujuh ratus orang pasukan dari Surabaya dipimpin Pangeran Kejawan, mengibarkan panji-panji merah bergambar ayam jago. Tak ketinggalan rombongan kecil para pendeta bhairawa dari berbagai ksetra yang dihubungi oleh Nyi Indang Geulis dan Nyi Muthmainah, ikut berdatangan ke Caruban Larang untuk membantu Sri Mangana bertempur menghadapi Rajagaluh.

Kehadiran bala bantuan dari luar Caruban menimbulkan semarak yang membangkitkan semangat penduduk Caruban. Sepanjang jalan menuju Kuta Caruban orang-orang terlihat berdiri di pinggir jalan mengelu-elukan mereka. Alun-alun Kuta Caruban yang biasanya lengang tiba-tiba hiruk pikuk diwarnai prajurit yang mempersiapkan barisan dan peralatan tempur.

Di tengah hiruk persiapan perang pasukan Caruban itu terjadi peristiwa tidak tersangka-sangka dan tak terbayangkan sebelumnya. Para pendeta bhairawa pemimpin ksetra-ksetra yang datang ke Caruban menyatakan diri sebagai pemeluk Islam. Keinginan itu lahir terutama setelah mereka berbincang-bincang dengan Sri Mangana dan Abdul Jalil serta setelah mereka menyaksikan sendiri lambang-lambang pada panji-panji yang dikibarkan pasukan dari berbagai kadipaten muslim yang mereka kesankan sebagai lambang Syiwa. Mereka makin yakin bahwa Islam adalah penjelmaan baru Syiwa-Budha, apalagi setelah mereka mengetahui sendiri bentuk pemerintahan kalifah Caruban yang menganut asas kesederajatan dan tidak membeda-bedakan manusia berdasar keturunan, yaitu tatanan ideal yang diidamkan oleh para penganut ajaran bhairawa.

Dengan disaksikan para sesepuh dan tetunggul Caruban, Balal Bisvas, wali nagari Gegesik, pertama-tama menyatakan memeluk Islam beserta seluruh keluarga dan pengikutnya. Ia mendapat nama baru Suranenggala. Setelah itu Ki Wedung, pemimpin pasukan Terung, menyatakan bahwa dia sudah mengucapkan dua kalimah syahadat di Wirasabha, beberapa saat sebelum berangkat ke Caruban. Wiku Suta Lokeswara tak ketinggalan mengikrarkan keislaman dan memperoleh nama baru Ki Waruanggang. Sanghyang Bango Samparan, pemimpin ksetra di Gunung Cangak, mengikrarkan keislaman dan memperoleh nama baru Ki Tameng. Wiku Danumaya, putera Ajar Semana, pemimpin ksetra di Gunung Merapi, sepupu Nyi Indang Geulis, menyatakan memeluk Islam dan memperoleh nama baru Ki Tedeng. Sementara Ki Golok Cabang, putera Sanghyang Nago, pemimpin ksetra Gunung Ciangkup, menyatakan memeluk Islam dan memperoleh nama baru Ki Sukawiyana.

Kabar masuk Islamnya para pendeta bhairawa pemimpin ksetra itu sangat mengejutkan orang-orang Rajagaluh sekaligus menyulut api amarah mereka. Mereka merasa telah dikhianati oleh para pemangsa manusia itu. Beberapa waktu lalu mereka telah mengirimkan utusan yang membawa berbagai hadiah dan persembahan ke Gunung Ciangkup, Gunung Kumbha (ng), Gunung Cangak, dan Arga Liwung untuk mendapat dukungan dari ksetra-ksetra tersebut. Meski belum memperoleh kepastian dukungan, mereka sangat yakin bahwa para pemimpin ksetra itu akan mendukung mereka. Ternyata, tanpa mereka duga-duga, para pemimpin ksetra di gunung-gunung keramat itu malah datang kepada Sri Mangana dan menyatakan memeluk Islam. Berarti, pihak yang mereka bayangkan akan menjadi kawan justru menjadi lawan.

Kemarahan yang sudah membakar para tetunggul Rajagaluh itu seketika berubah menjadi kecemasan ketika mereka mendengar kabar dari para telik sandhi bahwa Pangeran Raja Sanghara (Sansekerta: Raja Penghancur Jagad), adik kandung Sri Mangana, telah meninggalkan Kraton Pakuan Pajajaran. Sang pangeran pergi dengan membawa lima ratus orang pasukan berkuda. Tidak ada yang tahu ke mana ia dan pasukannya pergi. Belakangan muncul kabar yang menyatakan Pangeran Raja Sanghara bersama pasukan berkudanya muncul di Kuta Caruban dan menyatakan ikrar memeluk Islam.

Lembah Girinatha yang terhampar di kaki Gunung Ceremai diselimuti kabut pagi yang membekukan mayat-mayat yang bergelimpangan di atas rerumputan. Cahaya matahari pagi yang menyapu permukaan bumi telah menjelmakan lembah itu seolah-olah terbakar api. Merah. Semerah darah yang mengering di tubuh tak bernyawa itu.

Itulah pemandangan hasil pertempuran di hari pertama antara pasukan Caruban Larang yang dipimpin oleh wali nagari Kuningan dan pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Adipati Palimanan Arya Kiban. Mayat-mayat yang bergelimpangan itu sebagian besar adalah mayat-mayat prajurit Rajagaluh.

Kata orang, kemenangan yang diraih wali nagari Kuningan pada pertempuran hari pertama itu banyak ditentukan oleh siasat cemerlang pihak Kuningan yang mengutamakan penghancuran cerita kemasyhuran gajah tunggangan Adipati Palimanan. Untuk menandingi gajah terkenal itu, wali nagari Kuningan mengendarai kuda hitam bernama Sang Winduhaji, konon berupa kuda perkasa keturunan kuda sembrani yang bisa terbang.

Saat dua panglima itu berhadap-hadapan di medan tempur, sasaran utama yang diincar-incar oleh wali nagari Kuningan bukanlah Adipati Kiban, melainkan gajah tunggangannya yang ditakuti oleh prajurit Kuningan. Demikianlah, saat wali nagari Kuningan yang dibantu Ki Demang Singagati, Ki Anggarunting, dan Ki Anggasura berhasil menjungkalkan Sang Bango dengan tujuh batang tombak di lehernya, semangat pasukan Kuningan pun menjadi berkobar-kobar. Sebaliknya, semangat pasukan Rajagaluh padam. Akhirnya, pada pertempuran hari pertama itu pasukan Rajagaluh berantakan. Barisan depan bertumbangan bagaikan alang-alang dibabat parang. Barisan belakang mundur ke Palimanan, sedangkan barisan tengah lari tunggang langgang meninggalkan senjatanya. Bahkan, Adipati Kiban sendiri lari terbirit-birit dari medan tempur tak tentu arah sehingga saat orang-orang menemukannya ia dalam keadaan bingung di pantai Dermayu.

Keberhasilan gemilang memukul berantakan pasukan Rajagaluh membuat dada wali nagari Kuningan membusung dan kepalanya membesar. Ia mabuk kemenangan. Tanpa berpikir lebih jauh, dengan kegembiraan meluap-luap ia memerintahkan pasukannya untuk memburu dan memusnahkan sisa-sisa pasukan Rajagaluh. Para prajurit Kuningan yang juga sedang mabuk kemenangan dengan gembira berangkat menunaikan perintah. Tanpa kenal lelah, sejak sore hingga malam mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil dan berkeliaran di sekitar lembah Girinatha untuk memburu dan memusnahkan sisa-sisa pasukan Rajagaluh yang mereka temukan.

Ketika matahari terbit di hari kedua peperangan, kelompok-kelompok kecil pasukan Kuningan telah kembali dari perburuan. Sebagian mereka terlihat memanggul lima atau enam kepala musuh. Sebagian lagi terlihat mengikat rambut sepuluh sampai lima belas kepala musuh di pelana kudanya. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang membawa satu kepala. Dengan langkah terseok mereka kembali ke induk pasukan. Sekalipun kebanggaan akan kemenangan terlihat membias di wajah mereka, di pagi hari pada perang hari kedua itu mereka terlihat sangat lelah dan mengantuk. Mereka tampak kurang bersemangat saat menata barisan, padahal hari itu mereka harus bersiap-siaga menghadapi pertempuran.

Dalam pertempuran di hari kedua, pasukan Rajagaluh yang berpangkalan di Kepuh berjumlah sekitar 10.000 orang dan dipimpin oleh Ki Gedeng Leuwimunding. Pasukan itu terdiri atas tiga ribu pasukan tombak, dua ribu pasukan pedang, seribu pasukan gada, seribu pasukan berkuda, dan tiga ribu pasukan panah. Sejak dini hari Ki Gedeng Leuwimunding sudah menerima laporan kekalahan Adipati Kiban. Itu sebabnya, ia sangat berhati-hati pada pertempuran hari kedua itu. Ia memutuskan untuk menggunakan formasi tempur yang disebut kananabyuha (Sansekerta: gelar perang “hutan”), karena formasi tempur Bajrapanjarabyuha (Sansekerta: gelar perang “sangkar intan”) yang digunakan Adipati Kiban terbukti dapat dihancurkan musuh.

Pagi hari ketika pasukan Kuningan sedang mengatur barisan di lembah Girinatha, Ki Gedeng Leuwimunding menempatkan tiga ribu pasukan panahnya di hutan Kepuh yang terletak di utara Girinatha dalam bentuk setengah lingkaran. Tiga ribu pasukan tombak ditempatkannya di selatan hutan dalam jarak sekitar satu pal. Mereka ditugaskan menunggu kedatangan pasukan Kuningan. Dengan kibaran umbul-umbul dan bendera warna kuning serta merah, prajurit-prajurit penombak itu menghentakkan tombaknya ke tanah secara serentak hingga terdengar suara gemuruh bagaikan gempa. Kemudian, secara bergantian mereka menantang-nantang dan mengejek-ejek pasukan Kuningan.

Ki Gedeng Leuwimunding yang duduk gagah di atas gajah tunggangannya di dalam hutan terlihat gelisah, meski dikitari pasukan berkuda dan pasukan pembawa gada. Ketika di kejauhan ia menyaksikan debu mengepul dan titik-titik hitam bergerak ke arahnya, ia memanggil para perwiranya dan mewanti-wanti, “Pasukan Kuningan sudah bergerak kemari. Jangan ada yang menyerang sebelum ada perintahku.” Setelah menyampaikan beberapa petunjuk, ia menyemangati pasukannya dengan janji. “Siapa saja yang dapat membawa satu kepala musuh akan mendapat sepuluh pikul padi (6,2 kuintal).”

Gelar perang Kananabyuha yang digelar di hutan Kepuh oleh Ki Gedeng Leuwimunding ternyata berhasil mengecoh pasukan lawan. Pasukan Kuningan yang pada hari sebelumnya meluluhlantakkan pasukan Adipati Kiban sangat marah ditantang dan diejek oleh pasukan tombak Rajagaluh. Dengan dada dikobari api amarah, mereka menyerang pasukan tombak Rajagaluh. Sambil memaki-maki mereka berpacu menerjang musuh laksana awan hitam tertiup angin. Kaki-kaki kuda yang berkeringat saling mendahului dengan kaki prajurit pembawa pedang dan pasukan tombak. Namun, saat jarak mereka dengan pasukan terdepan Rajagaluh hanya sekitar tiga puluh tombak tiba-tiba mereka mendengar pasukan Rajagaluh berteriak keras secara serentak. Mereka terkejut mendengar suara gemuruh laksana halilintar itu.

Seketika terlihat pemandangan mengerikan. Di tengah suara gemuruh itu beribu-ribu tombak tampak melesat bagaikan awan hitam. Pasukan Kuningan yang sudah berlari ke arah musuh tersentak kaget. Pasukan berkuda yang berada di barisan terdepan serentak menarik tali kekang keras-keras. Sementara pasukan pedang dan tombak yang melaju berusaha menghentikan laju kakinya dengan mata memandang ngeri ke atas. Namun, usaha mereka terlambat. Dalam sekejap terdengar jerit kematian yang diikuti bertumbangannya tubuh kuda dan penunggangnya serta tubuh prajurit Kuningan ke tanah bagai batang padi tertiup angin.

Menyaksikan pemandangan tak terduga itu, para kepala pasukan Kuningan berteriak-teriak memerintahkan mundur pasukannya. Namun, pekik kesakitan dan jerit kematian para prajurit menenggelamkan suara mereka. Prajurit-prajurit Kuningan di barisan tengah tetap merangsak ke depan, terutama ketika mereka melihat pasukan tombak musuh melarikan diri setelah melempar tombaknya.

”Mereka lari!”

“Kejar!”

Melihat barisan tengah pasukan Kuningan menerjang ke depan untuk memburu pasukan tombak Rajagaluh, Ki Gedeng Leuwimunding menyadari bahwa saat pembalasan telah tiba. Dari atas gajah tunggangannya, ia menunggu dengan hati cemas masuknya pasukan Kuningan ke dalam jarak tembak pasukan panahnya. Waktu tiba-tiba ia rasakan berjalan sangat lambat.

Sementara itu, wali nagari Kuningan yang menyadari bahwa pasukannya sedang memasuki perangkap musuh berusaha meneriaki mereka agar mundur. Namun sampai suaranya serak, para prajurit yang sudah mabuk kemenangan itu terus memburu pasukan musuh yang lari ke arah hutan. Saat prajurit-prajuritnya berada di tepi hutan, ia terperangah menyaksikan gemuruh bayangan hitam bagai kawanan serangga melesat dari antara pepohonan hutan. Rupanya, bayangan hitam mirip serangga itu adalah hujan anak panah. Bagaikan sedang bermimpi, sang adipati menyaksikan prajurit-prajuritnya berjumpalitan dan bertumbangan ke tanah dengan tubuh memerah dihiasi anak panah. Pasukan berkuda yang dibanggakannya bergelimpangan di tanah meregang nyawa.

Wali nagari Kuningan yang masih terbelalak menyaksikan kehancuran pasukannya, tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri ketika melihat beratus-ratus pasukan berkuda musuh yang diikuti beribu-ribu pasukan pedang dan gada keluar berbondong-bondong dari balik pohon-pohon hutan bagaikan kawanan semut menyerbu ke arahnya. Umbul-umbul dan bendera yang dikibarkan musuh berkebaran di tengah acungan tombak dan kelebatan pedang. Pekik peperangan terdengar menggemuruh, sahut-menyahut, dan sambung-menyambung laksana guruh. Pasukan Kuningan yang kelelahan dan mengantuk serta kehilangan semangat tempur itu melakukan perlawanan dengan sisa kekuatan yang ada. Tetapi, perlawanan setengah hati itu akhirnya membuat mereka semburat tak tentu arah; sebagian meloloskan diri ke lereng Gunung Ceremai, namun sebagian terbesar di antara mereka menghadap Sang Maut.

Dengan susah payah wali nagari Kuningan, Ki Demang Singagati, Ki Anggasura, dan Ki Anggarunting berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Rajagaluh. Meski mereka berhasil selamat mencapai Pancalang dan meneruskan perjalanan ke Kuningan, pasukan mereka sudah hancur binasa. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Kuningan terbunuh pada hari kedua pertempuran. Sedang pihak Rajagaluh hanya kehilangan sekitar empat ratus prajurit. Menurut sisa-sisa prajurit Kuningan yang berhasil meloloskan diri, mayat kawan-kawan mereka bergelimpangan antara hutan Kepuh hingga Pancalang. Sebagian besar di antara mayat-mayat itu saat ditemukan sudah tidak berkepala lagi.

Kabar kehancuran pasukan Kuningan disambut pilu di seluruh Caruban. Tidak kenal siang tidak kenal malam, orang membicarakan kekalahan pahit itu dengan kecemasan dan ketakutan berlebihan. Sejumlah besar pengungsi di Kalisapu diam-diam mulai meninggalkan gubuk dan tendanya menuju Mundu, Pengarengan, bahkan ke Bojong, Kendal, Samarang, dan Demak. Pada saat seperti itu tiba-tiba berkeliaran “kambing hitam” yang dijadikan sasaran hujatan dan kecaman karena dianggap sebagai binatang celaka paling bersalah yang menjadi penyebab kekalahan itu. Kambing hitam itulah Syaikh Lemah Abang.

Entah siapa yang memulai, di tengah kecemasan dan ketakutan yang mencekam jiwa penduduk dan pengungsi Caruban, tersebar kasak-kusuk yang mengaitkan kekalahan pasukan Kuningan dengan khotbah-khotbah Abdul Jalil kepada para laskar muslim di Pancalang, Jamaras, Plumbon, dan Gunung Jati. Akibat Syaikh Lemah Abang melarang para pejuang muslim membawa jimat dan pusaka sakti saat berperang, begitu kasak-kusuk itu menyebar, maka kebinasaan pun dialami pasukan Kuningan yang maju ke medan perang tanpa membawa “bekal” apa pun. Bahkan, di dalam khotbah-khotbahnya itu Syaikh Lemah Abang mengajarkan orang-orang untuk mencintai kematian dan mencari mati sehingga mengakibatkan kehancuran bagi pasukan Kuningan.

“Pokoknya, mulai sekarang jangan didengar khotbah syaikh sesat itu.”

“Kita sebut saja dia dengan gelar Sang Pengkhotbah Kematian.”

“Aku dengar-dengar, arwah prajurit-prajurit Kuningan yang terbunuh sekarang ini menjadi budak Syaikh Lemah Abang. Mereka sengaja dikorbankan untuk menambah hebat ilmunya.”

Ketika Sri Mangana mendengar kasak-kusuk yang menghujat Syaikh Lemah Abang sebagai orang yang paling bersalah dalam kekalahan pasukan Kuningan, ia mengumpulkan seluruh pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban di Bangsal Manguntur. Wali nagari Kuningan yang hadir didampingi Ki Demang Singagati, Ki Anggasura, dan Ki Anggarunting dengan berurai air mata menyatakan penyesalannya kepada Sri Mangana atas ketidakmampuan mereka dalam memimpin pasukan.

Sri Mangana yang sudah memperoleh laporan lengkap tentang jalannya pertempuran, dengan penuh wibawa mengingatkan wali nagari Kuningan tentang kekeliruan-kekeliruan yang telah dilakukannya selama pertempuran. “Ada tiga sebab utama yang menurut hematku menjadi penyebab dari kekalahanmu. Pertama-tama, saat engkau tidak menyetujui kebijakanku menunjuk Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati. Tanpa mengetahui kemampuan orang lain, engkau hanya mengemukakan alasan bahwa seorang perempuan tidak boleh memimpin para lelaki. Sekarang ini, kenyataan menunjukkan bahwa engkau dan pasukanmu yang bertempur di Kepuh hancur berantakan digilas pasukan Leuwimunding. Sementara Nyi Mas Gandasari yang membawa pasukan Liman Bhuwana berhasil menghancurkan pasukan Rajagaluh di Tegal Karang. Bahkan dua orang manggala Rajagaluh, yaitu Tumenggung Bhaya Pethak dan Arya Pekik, menyerah dan ditawan. Bagaimana ini? Apakah aku yang salah memilih orang atau engkau yang terlalu takkabur dan menilai diri terlalu tinggi?”

“Kami mengaku salah, Paduka,” kata wali nagari Kuningan pasrah.

“Kekeliruanmu yang kedua,” kata Sri Mangana dingin, “setelah mengalahkan pasukan adipati Palimanan, engkau mabuk kemenangan dan lupa daratan. Engkau memerintahkan pasukanmu untuk memburu musuh dan memberikan hadiah bagi tiap kepala musuh yang didapatkan masing-masing prajurit. Itu perintah apa? Tidakkah engkau sadar jika kebiasaan memenggal kepala dan merusak jenasah dalam perang adalah kebiasaan buruk orang-orang kafir yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam? Bagaimana mungkin engkau sebagai pemimpin orang-orang beriman bisa memerintahkan orang memenggal kepala mayat dan merusak jenasah?”

“Kami khilaf, Paduka,” wali nagari Kuningan berkata lemah. “Kami mohon dihukum.”

“Aku tahu, engkau ingin membalas tindakan yang sama yang dilakukan musuh terhadap pasukanmu. Tetapi, engkau lupa bahwa memenggal kepala mayat dan merusak jenasah diharamkan dalam Islam. Sepanjang sejarah yang diteladankan Nabi Muhammad Saw., tidak pernah terjadi tindakan merusak dan memenggal kepala mayat. Bahkan saat jenasah Sayyidina Hamzah, pamanda Nabi Muhammad Saw., dirusak orang-orang kafir Quraisy dan jantungnya dimakan oleh Hindun, tidak menjadikan beliau dan orang-orang Islam gelap mata dan meniru tindakan Hindun. Sebab, kalau tindakan merusak jenasah Sayyidina Hamzah itu dibalas dengan cara yang sama, apa yang membedakan seseorang itu masuk ke dalam golongan beriman dan bukan golongan beriman? Apa yang membedakan keharusan seorang muslim untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. jika mereka meniru tindakan Hindun?”

“Kami salah. Kami benar-benar salah dan tak berguna. Kami mohon diberi hukuman.”

“Dan kesalahanmu yang ketiga, engkau dan seluruh pasukan yang engkau pimpin menggantungkan hidup dan mati pada jimat dan pusakan bikinan dukun dan jawara lepus. Aku tidak tahu sudah berapa banyak dana yang engkau hamburkan untuk membeli keris, cincin bermata akik, badong, akar bahar, kutang antakusuma, kuku dan kumis macan, rajah-rajah, juga kalung rantai babi yang engkau anggap bertuah. Aku juga tidak tahu berapa banyak dana yang dibelanjakan prajuritmu untuk membeli benda-benda tak berguna itu. Yang aku tahu, semua jimat dan pusaka yang dijadikan bekal andalan oleh prajuritmu itu tidak berguna. Buktinya, mereka terbunuh beramai-ramai di medan perang. Mana kekuatan sakti dari benda-benda itu?”

“Aku tidak melarang siapa pun di antara penduduk Caruban untuk memiliki benda-benda apa pun yang disukainya. Tetapi sebagai seorang pemimpin, aku mencontohkan bahwa hidupku tidak tergantung pada benda apa pun. Perlu kalian ketahui, semua benda-benda kraton yang pernah dianggap bertuah, yang berasal dari Gunung Ciangkup, Gunung Kumbha (ng), Gunung Cangak, Gunung Liwung, dan Gunung Merapi seperti caping, badong, bedog, baju waring, topong, umbul-umbul, dan batok bolu telah aku buang ke lautan. Segala benda bertuah tidak lagi dimiliki oleh kalifah Caruban. Sebab, tuah dan keramat, bagi kalifah, tidak terletak di benda-benda tetapi di dalam diri manusia. Beritakan apa yang aku katakan ini kepada semua orang. Kabarkan kepada mereka bahwa di kraton Caruban sudah tidak ada benda-benda pusaka karena semua tuah dan keramat telah disatukan di dalam diri orang yang paling takwa di antara manusia,” kata Sri Mangana.

Para hadirin diam mendengar uraian Sri Mangana. Sebagian di antara mereka memahami simpang-siur yang berkembang selama ini adalah sesuatu yang salah. Namun di antara para hadirin, yang paling merasa gerah adalah para jawara, dukun, dan jajadug. Mereka seolah-olah ditampar oleh kalifah Caruban di hadapan orang banyak tanpa bisa membela diri. Saat api amarah di pedalaman jiwa mereka bagaikan hutan terbakar, berkelebatanlah bayangan Abdul Jalil di benak mereka sebagai sasaran yang harus mereka lumat dan musnahkan.

Sri Mangana yang menangkap pertanda ketidakpuasan atas ucapannya, kemudian melanjutkan kata-katanya, “Sekarang ini telah terbukti bahwa Angga, wali nagari Kuningan, gagal menjalankan tugas sebagai panglima yang mewakili senapati di medan tempur. Pasukannya yang berjumlah empat ribu telah terbunuh lebih dari tiga ribu orang. Sisanya yang kembali ke Kuningan menurut laporan hanya tiga ratus orang. Yang lain hilang entah ke mana. Sebaliknya, Nyi Mas Gandasari, panglima puteri Caruban dengan dukungan wali nagari Gunung Jati, menunjukkan keberhasilan dalam menjalankan tugasnya.”

“Dengan kenyataan ini, jelas-jelas sekarang hanya Nyi Mas Gandasari satu-satunya panglima yang mewakili senapati di medan tempur. Sebab, pasukannya masih utuh. Karena itu, aku tawarkan kepada siapa saja di antara pendekar laki-laki di Caruban ini yang merasa mampu menggantikan kedudukan Nyi Mas Gandasari. Silakan maju ke depan untuk menggantikannya. Ambillah kedudukan panglima Caruban dan rebutlah kemenangan yang gemilang daripada yang sudah ditunjukkan Nyi Mas Gandasari. Tetapi ingat, jabatan panglima bukan untuk main-main dan coba-coba karena yang dipertaruhkan dalam pertempuran ini adalah nyawa prajurit Caruban yang memiliki anak-anak dan istri. Sehingga, kegagalan dalam menjalankan tugas akan mendapat imbalan hukuman pancung. Tawaranku ini berlaku kapan saja dan tidak dibatasi waktu. Siapa saja pendekar yang berani dan mampu silakan menggantikan Nyi Mas Gandasari, sebab, yang kita butuhkan dalam pertempuran ini adalah kenyataan dan bukannya dalil-dalil yang masih diperdebatkan kebenarannya.”

Para tetunggul dan pemuka masyarakat Caruban menunduk diam. Mereka tidak ada yang berani mengangkat wajah menatap Sri Mangana. Mereka merasa tidak bisa menyampaikan hujah-hujah lagi untuk menentang penunjukan Nyi Mas Gandasari sebagai panglima yang sudah membuktikan kehebatannya di medan perang. Namun, di kalangan para jawara, dukun, dan jajadug, keadaan yang diwarnai nuansa ketidakpuasan itu tetap saja dikaitkan dengan keberadaan sang kambing hitam Abdul Jalil. Sambil mengedipkan mata satu sama lain, mereka bersepakat untuk menyamakan sudut pandang bahwa pengangkatan Nyi Mas Gandasari sebagai panglima puteri Caruban pada dasarnya lebih disebabkan karena dia adalah saudara tua Syaikh Lemah Abang, tukang sihir yang sudah menguasai Sri Mangana dengan kekuatan sihirnya.

Ibarat pepatah “nasi sudah menjadi bubur”, tidak ada gunanya kekalahan pasukan Kuningan disesali. Sebab sesuai hukum perang, ada pihak yang kalah dan ada pula pihak yang menang. Sesungguhnya, kekalahan pasukan Kuningan di hutan Kepuh telah diimbangi dengan kekalahan pasukan Rajagaluh pimpinan Tumenggung Bhaya Petak dan Arya Pekik di Tegal Karang. Bahkan kemenangan Nyi Mas Gandasari itu semakin meruntuhkan semangat para tetunggul Rajagaluh yang sudah dicekam oleh keyakinan bahwa kekalahan Prabu Surawisesa terletak di tangan prajurit perempuan. Semangat mereka bertambah padam terutama setelah Yang Dipertuan Galuh Pakuan menarik pasukannya yang diperbantukan ke Rajagaluh.

Kabar ditariknya sekitar 30.000 orang pasukan Galuh Pakuan dari Rajagaluh diterima pihak Caruban dengan gembira. Setelah memperhitungkan secara matang kekuatan dan kelemahan Rajagaluh, Sri Mangana memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran ke Kutaraja Rajagaluh dengan menggunakan kekuatan pasukan gabungan Caruban Larang dan pasukan dari kadipaten-kadipaten pesisir Nusa Jawa. Dengan serangan serentak itu dipastikan Rajagaluh akan kalang kabut, terutama saat mereka mendengar keterlibatan pasukan Majapahit dan Demak. Dengan melibatkan pasukan Majapahit asal Terung, kata Sri Mangana dalam hati, pihak Rajagaluh pasti runtuh nyalinya.

Memang, sejak kedatangan pasukan Majapahit asal Terung dengan kotak-kotak sakti yang disebut gurnita, orang tak henti-hentinya berbicara tentang senjata dahsyat asal Palembang itu. Baik prajurit Rajagaluh, baik prajurit Caruban Larang, seperti tak kenal bosan membicarakan kotak-kotak keramat itu. Ada yang menduga kotak-kotak itu berisi arwah dan ada pula yang menduga berisi mayat orang sakti. Bahkan tak kurang ada yang menduga kotak-kotak itu berasal dari kahyangan dan merupakan anugerah dewa-dewa.

Dalam masalah menata kekuatan dan siasat perang, Sri Mangana sangat tertutup. Berbeda dengan masalah-masalah pemerintahan yang selalu dimusyawarahkannya dengan banyak pihak, dalam mengatur siasat perang ia hanya mengajak bicara beberapa gelintir orang yang dianggapnya memiliki kemampuan di bidang tersebut. Untuk menjalankan rencana penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana mengajak musyawarah Pangeran Raja Sanghara, Pangeran Sabrang Lor, Nyi Mas Gandasari, dan Tun Abdul Qadir.

Dalam rencana penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh itu, ia mengemukakan gagasan untuk membagi kekuatan Caruban menjadi dua. Kekuatan pertama akan diserahkan kepada Nyi Mas Gandasari dengan tugas utama menyerang Kuta Rajagaluh dari timur. Kekuatan kedua akan dipimpinnya sendiri dengan tugas utama menyerang Kuta Rajagaluh dari selatan. “Pasukan yang aku bawa hanya sepertiga dari seluruh kekuatan pasukan gabungan. Aku memiliki banyak informasi bahwa ibukota Rajagaluh hanya dijaga oleh pasukan pengawal raja. Seluruh kekuatan Rajagaluh disiagakan di Palimanan.”

“Apakah tidak mungkin saat kita mengepung Kuta Rajagaluh, pihak musuh yang berpangkalan di Palimanan tiba-tiba menerobos dan menyerang Kuta Caruban?” tanya Pangeran Sabrang Lor.

“Paman sudah memperhitungkan itu, Ananda,” kata Sri Mangana tenang. “Pertama-tama, kita harus memancing pasukan Rajagaluh di Palimanan agar keluar dari pangkalan dengan cara seolah-olah kita akan menyerang Leuwimunding. Saat mereka keluar, pasukan kita akan masuk ke Palimanan. Dari Palimanan kita langsung menggempur Rajagaluh. Sementara itu, Kuta Caruban sudah kosong dari penduduk dan dijaga oleh dua ribu pasukan yang terlatih. Andaikata pihak Rajagaluh menerobos dan menyerang Kuta Caruban, para prajurit pengawal kuta akan melawan dengan melakukan perang kuta. Mereka akan menimbulkan kesulitan bagi pasukan Rajagaluh karena mereka lebih menguasai keadaan kuta dibanding pasukan Rajagaluh,” Sri Mangana menjelaskan.

“Jika demikian, apa tugas kami sebagai pasukan dari luar Caruban?” tanya Pangeran Sabrang Lor.

“Ananda kami tunjuk sebagai panglima bagi pasukan dari pesisir. Ananda akan membawa pasukan yang Ananda pimpin bersama pasukanku ke Rajagaluh. Kita akan bahu membahu merebut ibukota musuh dengan terlebih dulu merebut Palimanan.”

Akhirnya, semua hadirin sepakat mendukung rencana yang diajukan Sri Mangana. Nyi Mas Gandasari, panglima puteri Caruban, ditugaskan memimpin penyerbuan ke Kuta Rajagaluh dari arah timur, dengan membawahi 20.000 orang prajurit. Ia dibantu oleh perwira-perwira dan penasihat-penasihat unggul, seperti Pangeran Soka, Pangeran Pandyunan, Pangeran Kadhyaksan, Wali Nagari Gegesik, Abdul Karim Wang Tao, Wali Nagari Gunung Jati, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Wali Nagari Susukan, Abdul Razaq Wu Lien, Wali Nagari Cangkuang, Abdul Qadir al-Baghdady, Syaikh Bentong, Li Han Siang, Abdul Qahhar al-Baghdady, Syaikh Ibrahim Akbar, dan Haji Shang Shu. Sedangkan Sri Mangana akan memimpin 6.000 prajurit gabungan Caruban dan Demak, dibantu oleh perwira-perwira dan penasihat-penasihat unggulan seperti Pangeran Raja Sanghara, Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Luhung, Pangeran Kejawan, Wali Nagari Losari, Syaikh Duyuskhani, Wali Nagari Sindangkasih, Abdul Malik Israil, Ki Wedung, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, Ki Sukawiyana, dan Syaikh Lemah Abang.

Dalam rencana penyerbuan itu, Raden Qasim dan Raden Mahdum Ibrahim tidak dilibatkan. Mereka diminta oleh Sri Mangana dan Abdul Jalil untuk kembali ke Surabaya menemui ayahandanya, dengan alasan untuk memohonkan doa bagi kemenangan pasukan Caruban. Namun saat Raden Mahdum Ibrahim bergeming dengan tatap mata curiga menerima tugas itu, Abdul Jalil mendekatinya dan berbisik lirih, “Semalam ayahanda Raden mendatangiku lewat ‘alam al-khayal. Beliau berpamitan akan kembali ke hadirat-Nya.”

Raden Mahdum Ibrahim tersentak kaget. Dengan suara bergetar ia berkata lirih, “Semalam saya juga bermimpi didatangi beliau. Tapi, beliau tidak berkata apa-apa. Beliau hanya tersenyum.”

“Beliau juga mendatangi Sri Mangana dan memberi isyarat akan kembali ke hadirat-Nya.”

“Apakah beliau tidak berpesan apa-apa?” tanya Raden Mahdum Ibrahim.

“Beliau tidak berpesan apa-apa. Tetapi aku bisa menduga-duga, beliau tidak ingin kabar wafatnya diketahui banyak orang. Beliau ingin dimakamkan sendiri oleh tangan putera-putera dan cucu-cucunya,” kata Abdul Jalil menarik napas berat.

Raden Mahdum Ibrahim tertunduk diam. Setelah itu, ia menyalami dan merangkul Abdul Jalil sambil membisikkan sesuatu.

Sementara itu, saat Sri Mangana dan para tetunggul Caruban menyusun siasat penyerbuan besar-besaran, Ki Gedeng Leuwimunding dan pasukannya justru sedang merayakan pesta kemenangan. Di tengah hujan yang terus menerus mengguyur bumi, prajurit Leuwimunding terlihat menari-nari dan melantunkan tembang sambil menenggak arak dan merangkul ronggeng. Mereka tenggelam dalam sukacita dimabuk kemenangan. Mereka seolah-olah tidak peduli kawan-kawan mereka dihancurkan pasukan Caruban di Tegal Karang. Mereka terus menari-nari, menembang, menenggak arak, berteriak-teriak, menikmati kehangatan tubuh ronggeng dan perempuan penghibur.

Ketika pesta merayakan kemenangan itu sudah berlangsung empat hari, Ki Gedeng Leuwimunding berencana menghentikannya dan menata kembali pasukannya untuk pertempuran berikutnya. Kemenangan mutlak yang diraihnya di hutan Kepuh telah membuat dadanya membusung dan kepalanya membesar. Pujian dan sanjungan yang diterimanya dari Prabu Chakraningrat dan tetunggul Rajagaluh telah membuatnya mabuk kebesaran dan lupa diri. Itu sebabnya, dengan keyakinan diri berlebih ia menyatakan kepada para tetunggul Rajagaluh bahwa pada hari kelima kemenangannya, ia akan menggempur Kuta Caruban. “Aku sudah beroleh kepastian bahwa Kuta Caruban sesungguhnya kosong ditinggalkan penduduknya. Dengan pasukan yang aku pimpin, ditambah pasukan yang dipimpin Ki Demang Surabangsa dan Ngabehi Ardisora, aku yakin bisa menghadiahkan kemenangan kepada Sang Prabu Chakraningrat,” Ki Gedeng Leuwimunding berkata jumawa.

Kesombongan Ki Gedeng Leuwimunding ternyata tidak berlangsung lama. Pada saat ia menghadiri jamuan yang diadakan Adipati Kiban di Balai Witana Kadipaten Palimanan bersama para tetunggul Rajagaluh, wajahnya menjadi pucat pasi ketika ia diberi tahu oleh Pangeran Arya Mangkubhumi bahwa sekitar 15.000 orang prajurit Caruban sedang bergerak dari Tegal Karang menuju Glagahamba terus ke Babakan. “Menurut laporan para telik sandhi, pasukan itu bergerak terus ke barat. Dan menurut dugaan, pasukan itu akan menyerbu Leuwimunding,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

Ki Gedeng Leuwimunding yang saat datang ke Kadipaten Palimanan terlihat membusungkan dada dan mendongakkan kepala saat berjalan, tiba-tiba meringkuk tanpa daya mendengar ucapan Pangeran Arya Mangkubhumi. Wajahnya pucat. Bibirnya pun mendadak bergetar dan lututnya gemetaran. Kemudian dengan suara tergagap-gagap ia menggumam, “Kalau demikian, saya harus ke sana. Ya, ya, saya harus segera ke Leuwimunding.” “

Itu memang harus engkau lakukan,” sergah Pangeran Arya Mangkubhumi tak senang, “sebab jatuhnya Leuwimunding adalah sama maknanya dengan jatuhnya Kutaraja Rajagaluh.”

“Bagaimana dengan rencana penyerbuan hamba ke Kuta Caruban, o Pangeran?” tanya Ki Gedeng Leuwimunding untuk menutupi kegentaran yang merayapi hatinya. “Apakah harus dibatalkan?”

“Jika engkau menginginkan pasukanmu dijagal di sana, berangkatlah ke Kuta Caruban.”

“Dijagal?” Ki Gedeng Leuwimunding tercengang. “Bukankah Kuta Caruban sudah kosong?”

“Bodoh kau!” teriak Pangeran Arya Mangkubhumi jengkel. “Yang Dipertuan Caruban menyiagakan pasukan pilihan di kutarajanya. Entah berapa ribu jumlahnya, yang jelas, pamanku yang cerdik dan perkasa itu sengaja memasang jebakan untuk memerangkap orang-orang sombong seperti engkau.”

“Kalau demikian, hamba mohon restu, Pangeran.” Ki Gedeng Leuwimunding menyembah. “Hamba dan pasukan akan berangkat ke Leuwimunding sekarang juga.”

“Berangkatlah,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi dingin. “Kita nanti bertemu di Leuwimunding karena pasukanku sudah berangkat lebih dulu ke sana.”

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 09:00LT