Panglima Puteri Caruban

Sementara Ki Gedeng Leuwimunding dan pasukan beserta tetunggul Rajagaluh berpacu menuju ke Leuwimunding, pasukan Caruban Larang yang dipimpin Nyi Mas Gandasari tanpa terduga berbalik arah ketika sampai di hutan Gintung di utara Waringin. Pasukan Caruban tidak melanjutkan perjalanan ke arah Leuwimunding, sebaliknya mereka kembali ke Kadipaten Palimanan. Tanpa menimbulkan suara, di bawah lindungan hutan yang lebat dan kabut tebal serta bentangan malam yang hitam, pasukan itu bergerak melintasi hamparan alang-alang, menyeberangi sungai, dan menjelang tengah malam muncul kembali di Balerante yang sudah ditinggalkan pasukan Rajagaluh sore hari sebelumnya.

Malam itu pangkalan pertahanan Balerante hanya dijaga oleh sekitar tiga puluh orang prajurit sehingga tanpa kesulitan berarti Balerante berhasil dikuasai pasukan Caruban. Satu regu penyergap telah melumpuhkan para penjaga. Setelah mengamankan keadaan, pasukan itu diperintahkan untuk beristirahat. Sebab, dengan menguasai Balerante yang jaraknya hanya dua tiga pal dari Kadipaten Palimanan, kemenangan pasukan Caruban sudah terbayang di depan mata sehingga mereka harus beristirahat mengumpulkan tenaga untuk penyerangan esok hari.

Malam itu ketika para prajurit dan tetunggul Caruban Larang sedang beristirahat sambil membayangkan kemenangan esok hari, di tengah liputan kabut bergumpal dan bentangan selimut kegelapan, penduduk Palimanan, tidak kenal tua, muda, laki-laki, perempuan, dan bahkan anak-anak, tiba-tiba keluar beramai-ramai dari rumah masing-masing dengan membawa obor, parang, arit, cangkul, bedog, pentung, dan pisau. Mereka berjalan dalam iring-iringan kecil menuju ujung desa dan bergabung dengan tetangga lain yang sudah berkumpul di sana.

Mereka berbicara satu sama lain dan kemudian membentuk kerumunan-kerumunan kecil seperti kawanan lebah yang mendengung-dengung di sarangnya.

Kerumunan penduduk itu terjadi karena tersebar kabar yang mengatakan saat matahari terbit di cakrawala timur esok pagi, Sri Mangana akan pergi ke Kadipaten Palimanan dengan diiringi pasukannya yang gagah perkasa. Bagaikan memiliki terkaman daya sihir yang dahsyat, kabar kedatangan Sang Ratu Caruban Larang itu menggerakkan seluruh penduduk Palimanan keluar rumah. Mereka seolah-olah dicekam oleh daya pukau yang dahsyat sehingga mereka ingin menekuk lutut di hadapan Duli Paduka Yang Mulia Sri Mangana, ratu yang mereka cintai dan hormati. Hasrat sangat kuat untuk menyembah sang ratu membuat mereka tak kenal tengah malam, tak kenal gelap, tak kenal dingin, di bawah selimut kabut yang pekat, mereka keluar dari rumah masing-masing untuk menuju ke Kadipaten Palimanan.

Malam yang membentangkan selimut hitam di langit Caruban telah menjelmakan keindahan sangat menakjubkan ketika bentangan cakrawalanya ditebari beribu-ribu obor yang menyala di desa-desa yang terletak di sekitar Kadipaten Palimanan hingga desa-desa di lereng Gunung Ceremai. Bagaikan kawanan kunang-kunang yang terbang dalam kerumunan di tengah kegelapan malam, beribu-ribu obor itu terlihat bergerak menuju satu arah. Mereka itulah penduduk dari berbagai desa yang beriring-iringan menuju Kadipaten Palimanan untuk menyambut kehadiran Sri Mangana beserta pasukannya esok hari.

Kehadiran penduduk itu mengejutkan pasukan Caruban Larang yang beristirahat di Balerante. Beberapa prajurit jaga dengan tergopoh-gopoh melaporkan kejadian itu kepada Nyi Mas Gandasari yang terheran-heran menyaksikan orang-orang desa melewati Balerante. “Apakah yang sesungguhnya terjadi? Kenapa mereka beramai-ramai menuju Kadipaten Palimanan? Apakah mereka akan membela sang adipati untuk melawan kita?” tanya Nyi Mas Gandasari ingin tahu.

“Kami sudah menanyai mereka, Nyi Mas, “ kata prajurit penjaga.

“Apa jawaban mereka?”

“Mereka hendak pergi ke Kadipaten Palimanan untuk menyambut kehadiran Yang Mulia Sri Mangana. Kata orang, besok pagi Yang Mulia Sri Mangana akan ke Kadipaten Palimanan bersama pasukannya.”

“O begitu.” Nyi Mas Gandasari terburu-buru menemui Syarif Hidayatullah untuk membicarakan hal itu. Ternyata, baik Syarif Hidayatullah maupun tetunggul Caruban Larang yang lain sudah mengetahui peristiwa tak terbayangkan itu. Mereka akhirnya bersepakat untuk membatalkan serangan kilat ke Kadipaten Palimanan esok hari. Mereka tahu bahwa Kadipaten Palimanan bakal kembali ke pangkuan Sri Mangana tanpa perlu menumpahkan darah setetes pun.

Sementara itu, Arya Kiban Adipati Palimanan yang hanya dijaga oleh sekitar seratus orang pengawal tidak dapat berkata-kata ketika memperoleh laporan tentang gerakan beribu-ribu orang yang berbondong-bondong menuju Kadipaten Palimanan. Ia menduga ribuan orang yang bergerak ke Ndalem Kadipatennya itu adalah pasukan Caruban yang dipimpin Sri Mangana. Arya Kiban tiba-tiba merasa seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk yang menakutkan. Entah apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja ketika ia berdeham menenangkan diri, ia seperti mendengarkan suara dehamnya bergema di dalam relung-relung jiwanya. Ada semacam kengerian dan kelengangan yang menerkam jiwanya yang tengah diguncang ketakutan. Dan tanpa sadar, dengan suara bergetar ia berkata kepada para pengawalnya, “Kita harus meninggalkan kadipaten sekarang juga.”

Tanpa menunggu waktu, para prajurit pengawal yang juga dicekam ketakkutan itu berhamburan sibuk mengumpulkan istri-istri, anak-anak, dan harta benda sang adipati. Arya Kiban yang gelisah terlihat berdiri kebingungan di Balai Witana. Wajahnya pucat. Dahinya penuh dengan butiran peluh. Tubuhnya basah. Dan napasnya tersengal ketika di benaknya berkelebatan beribu-ribu wajah prajurit Caruban yang menyeringai ganas. Wajah-wajah itu beringas dan buas. Kemudian beribu-ribu mulut menjijikkan dengan gigi bertaring tajam berkerumun dan mengepung menggeram-geram seolah-olah hendak merobek-robek tubuhnya. Bagai orang terbangun dari mimpi buruk, sang adipati berdiri menggigil sambil menyandarkan tubuh pada tiang saka. Ia benar-benar ketakutan. Dengan tatap mata nanar ia menyaksikan para prajurit pengawalnya menyelamatkan harta bendanya dariNdalem Kadipaten. Ia sudah memutuskan, apa pun yang terjadi ia harus secepatnya menjauh dari sini.

Ketika beratus-ratus nyala obor sudah terlihat di sekitar alun-alun Kadipaten Palimanan, Arya Kiban merasakan bulu kuduknya meremang. Ia mendengar teriakan-teriakan marah dan caci maki yang menghujatnya dengan kata-kata kotor yang pernah didengarnya. Ia sadar bahwa tengara kebinasaan sedang mengintai seiring hadirnya orang-orang yang sudah seperti keranjingan setan itu. Bagai disentakkan dari tidur, ia dengan kebingungan melompat ke atas tandu dan dilarikan oleh para pengawalnya untuk menyusul rombongan pengawal lain yang sudah berangkat terlebih dahulu membawa anak-anak dan istri-istrinya.

Anggapan Arya Kiban bahwa ia akan dapat lolos dari sergapan musuh dengan secepatnya keluar lewat pintu belakang ternyata keliru. Saat ia dan para pengawal berada pada jarak sekitar tiga pal di barat Ndalem Kadipaten, ia menyaksikan beratus-ratus bahkan beribu-ribu obor yang menyala laksana lautan api bertebaran di segenap penjuru. Nyala obor itu makin lama makin dekat ke arahnya dengan suara gemuruh derap kaki dan celoteh yang menggema di kegelapan malam.

“Apa yang harus kita lakukan?” gumam Arya Kiban kebingungan.

“Yang Mulia harus menyamar,” kata kepala pengawal.

“Menyamar bagaimana? Menyamar sebagai apa?” Arya Kiban memburu.

“Yang Mulia harus turun dari tandu,” kata kepala pengawal tegas. “Kemudian melepas pakaian dan seluruh atribut adipati. Yang Mulia harus menyamar sebagai penduduk desa.”

“Bagaimana dengan istri-istri dan anak-anakku?”

“Mereka juga harus menyamar.”

Akhirnya, di tengah kengerian yang mencekam, Arya Kiban beserta keluarga dan para pengawal memutuskan untuk menyamar sebagai penduduk desa. Mereka melepas seluruh pakaian dan perhiasan yang gemerlapan yang melumuri wajah dan tangan dengan tanah basah. Mereka teraduk-aduk bersama-sama dengan beribu-ribu orang yang bergerak dalam kerumunan-kerumunan menuju Kadipaten Palimanan. Dan akhirnya, dengan sangat susah payah sang adipati bersama rombongannya berhasil meloloskan diri menuju arah Rajagaluh.

Pagi itu ketika matahari merangkak di ufuk timur terlihat pemandangan yang menakjubkan di Kadipaten Palimanan. Sejauh mata memandang, lautan manusia terhampar memenuhi seluruh penjuru sejak Balai Witana hingga alun-alun, bahkan di luar gerbang kadipaten. Mereka adalah penduduk Palimanan yang datang ke tempat itu sejak malam untuk menghaturkan sembah kepada junjungan mereka Sri Mangana. Hingga matahari naik sepenggalah mereka baru diberi tahu jika Sri Mangana bersama pasukannya akan muncul dari gerbang timur. Ketika akhirnya derit roda kereta perang terdengar di gerbang timur kadipaten, semua orang serentak mengarahkan pandangan ke sana.

Di bawah bayangan gerbang yang memanjang, terlihat pemandangan yang menakjubkan semua orang: sebuah kereta perang dari kayu berukir dengan hiasan emas yang ditarik empat ekor kuda putih keluar dari gerbang diiringi beratus-ratus pasukan berkuda yang diikuti beribu-ribu pasukan tombak. Di samping kanan kereta perang itu terlihat panji-panji hitam bertuliskan kalimah La ilaha illa Allah Muhammad rasul Allah dalam bentuk gambar harimau. Panji-panji itulah yang disebut “Macan Ali”, pataka kebesaran Caruban Larang. Di bawah naungan payung kutlima yang dipegang seorang pengawal ratu, Sri Mangana berdiri tegak dengan surban dan jubah putih berkibaran. Tangan kirinya memegang busur. Tangan kanannya memegang keris Kanta Naga yang terselip di dadanya. Benderang cahaya matahari pagi yang bersinar dari arah belakang, menjelmakan Sri Mangana seolah-olah dewa perang yang turun ke bumi. Dan sebuah pemandangan menakjubkan lain terpampang tatkala kereta perang Paksi Naga Liman yang dikendarai Sri Mangana melaju melintasi alun-alun. Bagaikan digerakkan oleh kekuatan raksasa tak terlihat, tiba-tiba lautan manusia yang melimpah di alun-alun hingga Balai Witana Kadipaten Palimanan itu serentak bersujud dan menyampaikan puja dan puji kepada Ratu Sri Mangana; suaranya menggemuruh sambung-menyambung memenuhi angkasa.

Raja adil disembah, raja lalim disanggah. Begitu kata pepatah. Kehadiran Sri Mangana di Kadipaten Palimanan merupakan bukti nyata dari kebenaran pepatah itu. Penduduk Palimanan yang sejak lahir telah mengenal Sri Mangana sebagai ratunya terbukti tidak dapat dibelokkan kiblat kesetiaannya oleh para petualang, seperti Ki Gedeng Kiban, Ki Gedeng Tegal Karang, Ki Gedeng Kenanga, Ki Demang Dipasara, dan Ki Demang Ardisora. Meski bertahun-tahun para petualang itu menanamkan keyakinan bahwa ratu yang harus disembah oleh penduduk Palimanan adalah Prabu Chakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh, rasa tunduk dan pengabdian mereka terbukti tetap terarah pada junjungan mereka yang sebenarnya, Sri Mangana; sang ratu yang termasyhur adil dan bijaksana. Itu sebabnya, ketika mereka mendengar kabar bahwa ratu mereka akan datang ke Kadipaten Palimanan dengan pasukannya maka mereka pun menyambutnya dengan sukacita. Bahkan, untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan, sejak berangkat dari rumah mereka membawa berbagai jenis senjata. Mereka bertekad akan berkorban jiwa dan raga untuk membela sang ratu yang mereka junjung tinggi dan muliakan itu.

Abdul Jalil yang menunggang kuda di samping kereta perang Sri Mangana hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala saat menyaksikan beribu-ribu orang bersujud menyambut kehadiran ayahandanya. Ia tiba-tiba disentakkan oleh kesadaran bahwa gagasannya tentang masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah pada dasarnya adalah gagasan yang sangat bertentangan dengan adat kebiasaan yang dianut penduduk bumi putera negeri ini. Ia sadar, gagasan yang diilhami pembentukan masyarakat di Yatsrib pada zaman Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat itu memiliki perbedaan mendasar dalam hal adat kebiasaan masyarakat pendukungnya. Orang-orang Arab dan Yahudi, sejak zaman Nabi Muhammad Saw. hingga sekarang tidak memiliki adat kebiasaan bersujud kepada manusia, meski kepada seorang maharaja. Sementara itu, di Bumi Pasundan dan Majapahit, keyakinan tentang Dewaraja yang mewajibkan manusia untuk menekuk lutut menyembah sesamanya justru merupakan keniscayaan. Dengan demikian, menurut hematnya, dibutuhkan kebiasaan yang lebih keras untuk mengubah adat kebiasaan penduduk itu dengan resiko gagal sama sekali atau berhasil lewat penyesuaian-penyesuaian.

Meski tidak mengetahui apa yang berkecamuk di dalam benak Abdul Jalil, Sri Mangana saat menerima para pemuka warga di Balai Witana Kadipaten Palimanan menyatakan bahwa sejak saat ini tatanan yang diberlakukan di Palimanan adalah sama dengan tatanan yang diberlakukan di Caruban. Salah satu tatanan di Caruban yang harus dijalankan saat itu juga adalah meninggalkan adat kebiasaan penduduk untuk bersembah sujud di hadapan raja. Masyarakat Caruban yang ingin menunjukkan hormat kepada rajanya cukup dengan menghadap dan bersalaman sambil mencium tangan raja. Para pemuka warga, tentu sangat terkejut mendengar peraturan baru itu. Namun mereka tidak berani menolaknya. Meski dengan terheran-heran, mereka menyatakan ketundukan dan kesetiaan untuk mengikuti apa saja yang ditetapkan oleh Sri Mangana. Bahkan, mereka menyatakan bahwa ketundukan dan kesetiaan mereka tidak pernah luntur meski selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan Ki Gedeng Kiban dan kawan-kawannya yang berkuasa dengan mengatasnamakan warga Palimanan.

Sri Mangana memahami bahwa selama ini baik penduduk maupun para pemukanya telah menjadi korban dari para penguasa gadungan yang mengatasnamakan penduduk untuk meraih kekuasaan. Lantaran itu, di hadapan para pemuka penduduk dan seluruh yang hadir di Balai Witana Kadipaten Palimanan, ia menetapkan keputusan bahwa wilayah Palimanan telah kembali ke pangkuan Caruban Larang dan akan diatur seperti wilayah Caruban Larang yang lain. Maksudnya, setiap penduduk Palimanan yang kini disebut dengan nama masyarakat akan mendapat jatah tanah secukupnya sebagai hak milik. Seperti penduduk Caruban Larang yang lain, masyarakat Palimanan diperkenankan untuk memilih pemimpin di antara mereka sendiri.

Keputusan Sri Mangana itu disambut dengan sukacita oleh seluruh penduduk. Dengan air mata bercucuran mereka menyampaikan puja dan puji kepada ratu yang mereka junjung tinggi. Di tengah semarak kebahagiaan yang meluap-luap itu, para penduduk Palimanan seolah-olah lupa pada peraturan baru yang barusan ditetapkan Sri Mangana: tanpa ada yang memerintah, mereka secara serentak beramai-ramai bersujud dan memuji-muji Sri Mangana sebagai raja yang adil dan bijaksana.

Sementara itu, kabar jatuhnya Kadipaten Palimanan tanpa meneteskan darah setitik pun benar-benar membuat mulut para tetunggul Rajagaluh bungkam. Mereka tidak bisa berkata sesuatu sebab mereka benar-benar merasa terkecoh oleh siasat cemerlang Sri Mangana yang memancing mereka dengan taktik seolah-olah akan menyerang Leuwimunding. Dan mulut mereka pun makin bungkam manakala mendapat laporan susulan bahwa beberapa jenak setelah menguasai Kadipaten Palimanan, Sri Mangana beserta semua pasukannya telah bergerak ke Rajagaluh dan bahkan mengepung Kutaraja dari timur, selatan, dan barat.

“Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa.” Pangeran Arya Mangkubhumi akhirnya membuka mulut meski terlihat tak bersemangat. “Tetapi, sudah menjadi tugas kita untuk menyelamatkan Sri Baginda dari kepungan musuh.”

“Tapi Yang Mulia, hamba mendapat laporan bahwa pasukan-pasukan yang membantu Caruban berasal dari Demak dan Majapahit. Malahan, pasukan dari Majapahit katanya menggunakan senjata setan jelmaan naga api. Sepanjang malam senjata-senjata setan itu memuntahkan api dari mulutnya sehingga membakar hutan di selatan kutaraja,” kata Ki Gedeng Leuwimunding.

“Bagaimana engkau percaya senjata itu jelmaan naga api?” tanya Pangeran Arya Mangkubhumi.

“Kata orang, senjata itu memiliki mulut seperti naga yang bisa menyemburkan api. Senjata itu hanya digunakan pada malam hari. Jikalau pagi datang senjata-senjata itu dimasukkan ke dalam kotak-kotak dan diselimuti kain hitam. Bukankah hanya setan yang keluar pada malam hari?” kata Ki Gedeng Leuwimunding.

Pangeran Arya Mangkubhumi terdiam. Ia sendiri sebenarnya bingung mendengar cerita-cerita menakutkan tentang senjata setan bernama gurnita yang digunakan pasukan Majapahit asal Terung. Ia tidak tahu senjata pusaka apa sebenarnya gurnita itu. Menurut kabar yang didengarnya, senjata-senjata setan itu sebesar pohon dan memiliki mulut seperti naga yang mengeluarkan api. Sebagaimana kabar yang menebar, ia diam-diam meyakini bahwa senjata bernama gurnita itu memang pusaka yang digerakkan oleh daya sakti sebangsa ruh naga api. Kayakinannya itu makin kuat manakala ia mendapat laporan bahwa pemimpin pasukan Majapahit itu adalah Ki Wedung, pendeta bhairawa pemimpin ksetra yang baru saja memeluk agama Islam.

Dengan meyakini bahwa pasukan Majapahit menggunakan senjata berkekuatan setan, Pangeran Arya Mangkubhumi sadar bahwa cepat atau lambat kekuatan yang dimiliki Rajagaluh akan runtuh. Sebab, diakui atau tidak diakui, semangat pasukan yang dipimpinnya mengalami keruntuhan akibat menyebarnya cerita tentang kehebatan senjata setan itu. Namun, ia juga sadar bahwa menyelamatkan ayahandanya dari kebinasaan adalah kewajiban utama yang tak bisa diabaikannya. Itu sebabnya, dengan mengancam akan menghukum mati siapa saja di antara tetunggul dan prajurit Rajagaluh yang meninggalkan tugas, ia memerintahkan penyerangan besar-besaran terhadap pasukan Caruban yang mengepung Rajagaluh. “Ki Gedeng Leuwimunding menggempur pasukan musuh yang di sebelah timur. Celeng Igel menggempur pasukan musuh di sebelah barat. Aku sendiri akan menerobos ke kutaraja dari arah utara. Apa pun yang terjadi, raja harus diselamatkan dari musuh,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

“Besok pagi, seiring terbitnya sang surya, hamba akan menggempur musuh,” kata Ki Gedeng Leuwimunding bersemangat. “Hamba berharap pasukan dari Sumedang, Maleber, Taraju, Panembong, dan Palimanan berkenan hamba pimpin sehingga hamba dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.”

“Engkau tidak perlu ragu tentang itu. Aku sudah memberi perintah kepada para kepala pasukan agar mematuhimu. Tetapi, yang terpenting engkau harus meyakinkan pasukanmu bahwa jumlah kita lebih banyak dibanding jumlah musuh. Kita masih memiliki sedikitnya 50.000 orang prajurit, sedangkan kekuatan pihak Caruban kurang dari 20.000 orang. Jadi, dengan sedikit memacu semangat pastilah kita akan meraih kemenangan. Yakinkan mereka bahwa kemenangan akan berpihak kepada kita,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

“Hamba akan menjalankan tugas sebaik-baiknya,” Ki Gedeng Leuwimunding menyembah. “Hamba mohon restu, mudah-mudahan pasukan yang hamba pimpin berhasil meraih kemenangan.”

Kabut pagi masih menyelimuti lembah yang memisahkan Sungai Waringin dan Kutaraja Rajagaluh ketika satu detasemen pasukan yang dipimpin Ki Demang Surabangsa mengendap-ngendap menuruni tebing sungai dan menyusuri alirannya ke arah hulu. Di dalam sungai itu mereka berjalan tertatih-tatih di atas bebatuan yang licin. Semangat di dalam jiwa mereka meningkat karena yakin akan mudah mengalahkan musuh yang tidak dibantu oleh kekuatan setan jika bertempur pada siang hari. Tugas mereka pagi itu adalah menghancurkan kotak-kotak setan yang dijadikan senjata andalan pasukan Majapahit.

Usaha pasukan Rajagaluh untuk menyergap pasukan Majapahit yang bersenjata naga setan dilakukan setelah para tetunggul Rajagaluh mendapat laporan tempat senjata-senjata setan itu “tidur”. Tanpa menguji ulang kesahihan laporan itu, Pangeran Arya Mangkubhumi yang sudah dicekam kebingungan memerintahkan Ki Demang Surabangsa untuk menghancurkan senjata-senjata setan itu pada pagi hari, yakni saat setan-setan tidur.

Ketika kabut mulai menipis, mereka mendaki tebing sungai. Sambil merangkak mereka merayap ke arah hutan di timur sungai. Mereka membayangkan tidak lama lagi bakal menemukan kotak-kotak setan pasukan Majapahit yang sedang tidur. Namun, saat mereka sampai di tepi hutan dan mendongakkan kepala ke atas, bukan kotak-kotak setan yang mereka temukan melainkan beratus-ratus wajah beringas dengan mata menyala dan mulut menyeringai yang memandang ganas ke arah mereka. Dan yang paling mencengangkan, tangan-tangan dari pemilik wajah beringas itu menggenggam sebilah tombak yang diarahkan kepada mereka.

“He, kenapa berhenti?” teriak seorang prajurit Rajagaluh dari tebing sungai. “Ayo jalan terus!”

Tidak ada jawaban dari arah depan. Beberapa jenak suasana terasa lengang dan mencekam. Namun, sejurus kemudian terdengar teriakan yang diikuti menghamburnya para prajurit yang merayap di dekat hutan ke arah sungai.

“Lari!”

“Kita dijebak!”

Berpuluh-puluh prajurit yang sudah menirap di atas rumput terkejut dan tidak dapat lagi menahan diri. Sambil berteriak-teriak mereka berdiri dan mengambil langkah seribu mengikuti kawan-kawannya. Mereka berlari tanpa aturan, saling tabrak, saling dorong, saling desak, saling sikut, dan saling mengumpat. Suasana di atas tebing sungai benar-benar kacau. Semua prajurit Rajagaluh berlomba untuk lari sekencang-kencangnya menuruni tebing. Namun malang tak dapat dielakkan, pasukan Majapahit asal Terung yang sudah menunggu sejak pagi itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan jeritan perang menggetarkan, mereka melemparkan tombak-tombak ke arah pasukan Rajagaluh yang semrawut di sisi timur sungai.

Terdengar pekik tertahan ketika tombak-tombak yang dilempar pasukan Terung menghujam punggung para prajurit Rajagaluh hingga tembus ke dada. Setelah itu terlihat pemandangan mengerikan; berpuluh-puluh tubuh bertumbangan tanpa nyawa di atas tanah berumput. Darah menggenang dan lengking kematian terdengar sambung-menyambung diikuti ratap kesakitan.

Para prajurit Terung sendiri adalah orang-orang yang sudah terlatih dalam pertempuran. Mereka sangat terampil menggunakan senjata. Begitu selesai melemparkan tombak-tombaknya, mereka menerjang musuh sambil mencabut keris yang terselip di perut. Dan bagaikan orang keranjingan setan, mereka mengamuk dan membinasakan setiap musuh yang berada di dekatnya. Para prajurit Rajagaluh yang lari berdesak-desak di dalam aliran sungai mereka jadikan sasaran utama amukan. Tebing sungai yang semula hijau dirambati rumput dan sulur-suluran tiba-tiba berubah warna. Aliran sungai yang semula jernih mendadak menjadi merah. Dalam peristiwa mengerikan itu Ki Demang Surabangsa tewas terbunuh. Mayatnya terlihat meringkuk di antara tumpukan mayat prajurit yang melindunginya.

Ketika bala bantuan Rajagaluh yang dipimpin Ki Demang Dipasara datang, prajurit-prajurit Majapahit serentak berbalik arah dan menghilang di antara rimbunan hutan dengan meninggalkan ratusan mayat bergelimpangan di aliran sungai. Rupanya mereka sadar bahwa tugas utama mereka adalah menjaga kotak-kotak berisi senjata gurnita, bukan bertempur muka lawan muka dengan pasukan musuh.

Kehancuran pasukan Rajagaluh yang dipimpin Ki Demang Surabangsa dialami juga oleh pasukan Rajagaluh yang lain. Celeng Igel, perwira asal Sumedang yang memimpin pasukan Sumedang dan Panembong, lari terbirit-birit ketika pasukannya dihancurkan oleh pasukan Naga Laut yang dipimpin Abdul Halim Tan Eng Hoat di garis pertahanan barat. Ngabehi Ardisora yang memimpin pasukan asal Taraju dan Maleber dihancurkan oleh pasukan Liman Bhuwana yang dipimpin Syarif Hidayatullah di garis pertahanan timur. Bahkan, pasukan induk Rajagaluh yang dipimpin Ki Gedeng Leuwimunding yang berhasil menerobos pertahanan pasukan Caruban di garis pertahanan timur dapat dipukul mundur oleh pasukan Nyi Mas Gandasari yang dibantu pasukan Pangeran Soka.

Dengan semua kekalahan itu tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan pasukan Rajagaluh, kecuali bertahan di dalam kubu pertahanan kutaraja. Para tetunggul Rajagaluh sudah bertekad untuk mempertahankan kutaraja sampai titik darah yang penghabisan. Batang-batang pohon dan berbagai jenis benda telah mereka jadikan halang rintang di jalan-jalan yang dijaga oleh prajurit-prajurit pemanah. Kediaman para pangeran yang telah dikosongkan mereka jadikan kubu pertahanan. Bahkan, tumpukan-tumpukan batu di sepanjang dinding yang mengitari Bangsal Kaprabon mereka siapkan sebagai senjata cadangan.

Menghadapi siasat Rajagaluh yang menggelar rencana perang kuta, Sri Mangana hanya tersenyum menerima laporan-laporan dari para pengintainya. Selaku agra-senapati Caruban Larang, ia tidak berpikir sedikit pun untuk memerintahkan penyerbuan besar-besaran pasukannya ke kutaraja Rajagaluh yang sudah terkepung itu. Ia bahkan menjalankan siasat yang tak pernah terpikirkan lawan, yakni membiarkan seluruh penghuni kutaraja Rajagaluh dicekam kecemasan dan ketakutan akibat sepanjang malam mendengar suara gemuruh senjata gurnita yang memekakkan telinga dan mengguncang dada. Secara diam-diam ia meminta kepada sahabat-sahabatnya para mantan pendeta bhairawa untuk masuk ke kuta pada malam hari dan menculik satu demi satu prajurit Rajagaluh yang berjaga malam.

Siasat Sri Mangana meruntuhkan semangat lawan ternyata menunjukkan hasil gemilang. Setelah empat hari dibingungkan oleh gemuruh senjata setan gurnita, penduduk Kutaraja Rajagaluh dicekam oleh rasa takut akibat munculnya makhluk-makhluk sejenis raksasa yang berkeliaran di dalam kuta dan menculik satu atau dua prajurit Rajagaluh untuk dijadikan santapan. Meski belum satu pun korban penculikan itu ditemukan, cerita-cerita mengerikan tentang makhluk-makhluk raksasa itu telah berkembang sedemikian rupa hingga membuat mereka yang mendengar terbelalak ketakutan.

Dicekam kecemasan, ketakutan, kebingungan, dan kekurangan tidur, para prajurit Rajagaluh yang bertahan di kutaraja terombang-ambing dalam ketidakpastian. Ketika ketidakpastian itu makin menggumpal laksana awan hitam, diam-diam para prajurit Rajagaluh melarikan diri dalam kelompok-kelompok kecil meninggalkan kutaraja. Sejumlah perwira yang kebingungan diam-diam membawa pergi keluarganya dari kutaraja dengan menyamar sebagai penduduk biasa. Untuk meyakinkan pasukan Caruban yang mengepung kuta bahwa mereka penduduk biasa, mereka keluar dari kuta dengan membawa tikar, sirih, padi, ubi, ayam, dan kambing.

Ketika para tetunggul Rajagaluh memperoleh laporan tentang pelarian prajurit-prajurit tersebut, keadaan sudah parah. Persediaan gabah di lumbung kraton lebih dari separo raib. Sejumlah pos penjagaan dijaga oleh orang-orangan dari jerami. Tombak, pedang, panah, busur, dan gada bertumpuk-tumpuk di sejumlah barak. Prajurit yang tersisa pun semangatnya sangat merosot. Dan saat dihitung, jumlah mereka sudah berkurang lebih dari separo, termasuk perwira-perwira yang lari bersama keluarganya.

Kabar larinya para prajurit dari kutaraja itu berusaha ditutup keras oleh para tetunggul Rajagaluh. Perintah Pangeran Arya Mangkubhumi “bersikaplah seolah-olah tidak terjadi sesuatu agar musuh tidak mengetahui peristiwa memalukan ini” dijalankan dengan patuh oleh prajurit yang tersisa. Namun, tetap juga kabar memalukan tersebut menyebar bagaikan sekam diterbangkan angin, terutama saat perwira-perwira yang menyingkir tertangkap oleh prajurit Caruban yang curiga dengan barang bawaan mereka yang mewah. Dari mulut merekalah kabar itu menyebar.

Kendati sudah mengetahui kabar larinya para prajurit dari Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana tidak mengambil tindakan apa pun. Arus berita yang menumpuk di kemahnya dibiarkan menggunung. Tampaknya sang kalifah ingin mengalahkan musuh tanpa menumpahkan banyak darah. Semakin sedikit darah yang tumpah akan semakin baik, begitu ia berkata kepada para penasihatnya.

Para penasihat kalifah seperti Pangeran Raja Sanghara, Syaikh Ibrahim Akbar, Syaikh Lemah Abang, dan Syaikh Bentong dapat memahami perasaan sang kalifah yang tidak cukup tega untuk menumpahkan darah Prabu Chakraningrat dan keluarganya, yang bagaimanapun adalah saudara sedarah dan sedagingnya. Namun beda dengan para penasihat, para tetunggul Caruban yang bertempur di medan perang tidak memahami pemikiran dan perasaan Sri Mangana. Mereka bersikukuh memohon agar sang kalifah secepatnya memerintahkan penyerangan ke kubu pertahanan musuh yang sedang lemah. Dengan semangat berkobar-kobar mereka menyampaikan alasan-alasan tentang pentingnya serangan akhir ke kutaraja musuh untuk meraih kemenangan gemilang. “Jika kita berhasil menduduki Rajagaluh, berarti kita mencatat sejarah bahwa inilah kemenangan pertama umat Islam di negeri ini,” kata Pangeran Sabrang Lor didukung tetunggul yang lain.

Akhirnya, setelah didesak dari berbagai sisi Sri Mangana menyetujui serangan besar-besaran terhadap Kutaraja Rajagaluh yang sudah terkepung itu. Dengan dada dikobari kebanggaan, mereka kemudian bermusyawarah merencanakan siasat penyerbuan. Berdasar laporan para pengintai, mereka mengetahui bahwa titik terlemah dari pertahanan Rajagaluh adalah di gapura alit yang terletak di utara kutaraja. Meski parit yang melingkari gapura alit lebih luas dan jaraknya lebih jauh dibanding parit lain, penjagaan di tempat itu amat lemah karena pos-pos jaganya ditunggui orang-orangan dari jerami.

Rencana yang dirancang manusia sering kali meleset jauh dari harapan. Beda yang dibayangkan dalam angan-angan, beda pula yang dihadapi dalam kenyataan. Ketika beribu-ribu pasukan Caruban mulai menyerbu Kutaraja Rajagaluh, terlihatlah manusia mengepung dari selatan, timur, barat, dan utara laksana gelombang samudera mengepung pulau karang di tengah lautan. Umbul-umbul, bendera, panji-panji, dan tombak teracung naik dan turun bagaikan hutan diterpa angin. Pekik peperangan menggemuruh laksana bukit runtuh. Kaki kuda berlomba dengan kaki para prajurit menuju gerbang di empat penjuru kuta dan yang terbesar di gapura alit di utara kuta.

Ketika cipratan air terdengar dari parit yang terinjak ribuan pasang kaki, disusul prajurit-prajurit yang berebut masuk membelah air menuju ujung parit hingga air merendam dada mereka, terjadi peristiwa yang mencengangkan dan membuat terbelalak mata para penyerbu. Saat itu para penyerbu mendadak terpaku serentak bagai orang kebingungan dan kehilangan akal. Mereka tertegun-tegun bagaikan sedang berada di alam mimpi. Darah mereka tersirap manakala menyaksikan air yang menggenangi parit di sekeliling baluwarti itu menggelegak panas. Beberapa prajurit yang berada di garis depan terlihat berlari-lari menjauhi parit seperti orang tersiram air panas. Yang lebih aneh lagi, mereka menyaksikan dinding-dinding baluwarti yang terbuat dari kayu kusam dan berlumut di depan mereka tiba-tiba hilang dari penglihatan. Mereka merasa seolah-olah telempar ke suatu dunia lain yang tak mereka kenal.

Menghadapi kenyataan mencengangkan itu, para prajurit Caruban yang sebagian besar belum terbebas sama sekali dari kekuasaan takhayul tidak dapat menahan diri. Sambil berteriak-teriak ketakutan mereka berhamburan melarikan diri ke garis belakang. Para kepala pasukan yang berteriak-teriak memerintahkan mereka untuk mundur secara teratur tidak digubris sama sekali. Prajurit Caruban terus berlarian sambil melolong-lolong dengan wajah pucat dan peluh bercucuran menyimbah tubuh.

Kegagalan serangan besar-besaran pasukan Caruban itu membingungkan para tetunggul dan bahkan Nyi Mas Gandasari sendiri selaku panglima. Mereka segera berkumpul di kemah Sri Mangana untuk memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah membingungkan tersebut. Mereka tidak tahu kekuatan sihir apa sebenarnya yang digunakan oleh para tetunggul Rajagaluh hingga membuat para penyerbu lari terbirit-birit ketakutan.

Sri Mangana yang sejak awal tidak berminat menyerbu Kutaraja Rajagaluh terlihat diam menghadapi para tetunggulnya yang kebingungan. Beberapa jenak kemudian, sambil menarik napas panjang ia berkata, “Sesungguhnya, tanpa diserbu pun Rajagaluh akan jatuh. Tetapi kita tidak cukup memiliki kesabaran untuk menunggu barang tiga atau empat hari lagi. Kita cenderung terbawa perasaan bangga diri dan menganggap remeh lawan. Kini, setelah gagal, apa yang harus kita lakukan untuk memulihkan semangat prajurit kita yang runtuh?”

“Kami merasa bersalah, Pamanda Ratu,” ucap Pangeran Sabrang Lor lirih. “Ini akan menjadi pelajaran bagi kami selanjutnya. Sekarang kami memang kebingungan karena tidak mampu memulihkan semangat prajurit yang runtuh. Kami mohon petunjuk dan perintah dari Pamanda Ratu untuk mengatasi hal ini.”

Sri Mangana diam. Ia merenungkan rangkaian cerita kegagalan yang sulit diterima nalar itu. Sebagai orang yang pernah menggeluti ajaran bhairawa, ia menangkap sasmita bahwa peristiwa semacam itu hanya mungkin terjadi akibat daya sakti sebuah Sangga Kamulan, terutama daya sakti yang terpancar dari Palinggih. Di Palinggih itulah sakti dari Purusa dan Atma yang disebut Dewi Mayasih memancarkan daya kekuatan gaibnya. Rupanya, di Palinggih Sangga Kamulan itulah daya sakti Dewi Mayasih memancar ke empat penjuru sebagai Ratu Tangkep Langit, Ratu Teba, Ratu Jalawung, dan Ratu Pangandangan sehingga membuat para penyerbu kebingungan. Ya, daya sakti Dewi Mayasih itulah yang telah menggagalkan serbuan besar-besaran pasukan Caruban ke Kutaraja Rajagaluh.

Beberapa jurus tenggelam dalam renungan dan memahami akar masalah, Sri Mangana tanpa terduga tiba-tiba memerintahkan Pangeran Soka untuk menemui pihak Rajagaluh. Pangeran Soka ditugaskan menyampaikan pesan Sri Mangana kepada Prabu Chakraningrat. Setelah Pangeran Soka pergi ke Rajagaluh, Sri Mangana mendaulat Nyi Mas Gandasari untuk mewakilinya merundingkan perdamaian dengan pihak Rajagaluh. “Pergilah engkau menemui Prabu Chakraningrat di kratonnya. Bertindaklah atas namaku untuk mengajak dia berunding tentang kemungkinan damai antara Caruban Larang dan Rajagaluh.”

Nyi Mas Gandasari dengan takzim menerima tugas itu. Namun, para tetunggul Caruban sangat terkejut dengan keputusan yang mereka anggap tidak lazim. Mereka terheran-heran dan saling pandang seolah berkata, “Bagaimana mungkin Caruban yang sudah berada di atas angin tiba-tiba mengirim utusan untuk merundingkan perdamaian? Bukankah dengan satu pukulan saja Rajagaluh akan tersungkur?

Meski terheran-heran dengan keputusan Sri Mangana, tampaknya para tetunggul Caruban tidak ada yang berani mengungkapkan rasa penasarannya itu. Tampaknya mereka masih ingat bagaimana saat mereka mendesakkan keinginan untuk menyerbu ke Rajagaluh yang berakhir dengan kegagalan itu. Lantaran itu, mereka hanya menunggu hasil dari keputusan kalifah Caruban tersebut. Demikianlah, dengan didampingi Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana, Nyi Mas Gandasari pergi ke Kuta Rajagaluh untuk bertemu dengan Prabu Chakraningrat.

Kabar yang disampaikan Pangeran soka tentang kedatangan Nyi Mas Gandasari ke kraton Rajagaluh seketika menggemparkan pihak Rajagaluh. Para prajurit menari-nari kegirangan dan berebut ke gerbang selatan untuk melihat dari dekat panglima puteri Caruban yang sudah melegenda kecantikannya. Malahan, para tetunggul yang penasaran dengan kabar kecantikan Nyi Mas Gandasari berebut ingin mendampingi Prabu Chakraningrat dalam perundingan damai itu.

Kegemparan yang terjadi di Kutaraja Rajagaluh mencapai puncak ketika suatu pagi Nyi Mas Gandasari dengan didampingi Pangeran Soka dan dikawal empat prajurit bertombak muncul di gerbang selatan. Dengan dandanan mengagumkan bak seorang bidadari, Nyi Mas Gandasari melangkah dengan anggun melewati gerbang. Para prajurit yang berdesak-desak di sepanjang kanan dan kiri jalan terlihat berwajah tolol dengan mulut terngaga ketika memandang Nyi Mas Gandasari berjalan perlahan menuju ke Bangsal Kaprabon. Bahkan saat tubuh Nyi Mas Gandasari dan rombongan lenyap di balik pagar, mereka masih terperangah saling pandang kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil mendecakkan mulut.

Ternyata bukan hanya para prajurit dan perwira Rajagaluh yang terpukau oleh daya pesona kecantikan Nyi Mas Gandasari. Prabu Chakraningrat yang sudah uzur pun tidak mampu menyembunyikan hasrat hatinya yang terpesona dan terkagum-kagum pada kecantikan Nyi Mas Gandasari sehingga lupa jika nyawanya sedang diintai maut. Saat bertemu dengan Nyi Mas Gandasari di Bangsal Kaprabon, Prabu Chakraningrat sedikit pun tidak menyinggung masalah perundingan damai. Bagaikan seseorang yang berhasrat membeli perhiasan yang indah, sang Prabu menanyai Nyi Mas Gandasari tentang ini dan itu, terutama asal usul negeri dan keluarganya. Bahkan, tanpa rasa malu sedikit pun sang raja yang jika berbicara sering terbatuk-batuk itu menyampaikan lamaran agar Nyi Mas Gandasari bekenan menjadi istri kesayangannya. “Jika engkau bersedia menjadi istriku, o Cantik,” kata Prabu Chakraningrat terbatuk-batuk. “Apa pun yang engkau inginkan akan aku penuhi. Seluruh kraton ini beserta isinya akan menjadi milikmu,” katanya merayu.

Nyi Mas Gandasari sebenarnya marah dengan tindakan Prabu Chakraningrat yang dianggapnya tidak tahu diri itu. Namun demi menjalankan tugas dari ayahanda angkatnya, ia harus berpura-pura sangat bersukacita menerima lamaran laki-laki tua bangka itu. Dengan senyum yang dipaksakan ia berkata, “Hamba menerima lamaran Paduka dengan sangat gembira. Tetapi sebelum pernikahan dilakukan, sebagaimana kelaziman adat kebiasaan, hamba ingin melakukan pemujaan ke Sangga Kamulan leluhur paduka. Hamba ingin memohon perkenan dan restu arwah para leluhur Rakanda Prabu agar kehadiran hamba diterima.”

Prabu Chakraningrat merasakan hatinya diguyur air dingin dan nyawanya seolah terbang ke angkasa mendengar jawaban Nyi Mas Gandasari, terutama saat ia dipanggil dengan sebutan “Rakanda Prabu”. Tanpa menunggu waktu dan tanpa berpikir lebih jauh, ia memperkenankan dan bahkan mengantar sendiri Nyi Mas Gandasari ke Sangga Kamulan. Ketika beberapa pengawal raja mendekat, dihardiknya dengan kasar. Akhirnya, hanya Prabu Chakraningrat, Nyi Mas Gandasari, Pangeran Soka, beserta keempat pengawalnya yang pergi ke Sangga Kamulan yang terletak di dalam puri kedaton.

Sangga Kamulan, tempat arwah leluhur Prabu Chakraningrat dipuja, adalah sebuah bangunan suci yang terletak di bagian utara puri. Panjangnya sekitar empat belas depa, lebar tiga belas depa, dan dilingkari tembok bata setinggi tiga depa. Di dalam Sangga Kamulan terdapat empat bangunan utama, yaitu Kamulan, Palinggih, Angrurah, dan Pahyasan. Satu-satunya pintu masuk ke Sangga terletak di selatan dan disebut pamedalan. Di Sangga Kamulan itulah ibunda, kakek, dan nenek Prabu Chakraningrat dari pihak ibu dipuja sebagai Dewa Pitara.

Karena Sangga Kamulan adalah bangunan suci yang hanya boleh dimasuki raja dan keluarga maka Pangeran Soka dan keempat pengawal Nyi Mas Gandasari tidak diperkenankan masuk. Mereka diminta menunggu di depan Pamedalan. Nyi Mas Gandasari yang bakal menjadi keluarga raja tampak kebingungan karena baru pertama kali ia berada di suatu Sangga Kamulan. Ia tidak tahu di mana letak bangunan Palinggih yang dimaksud oleh Sri Mangana. Ia menoleh ke arah pamedalan untuk meminta petunjuk kepada para pengawalnya yang berdiri di depan gapura. Dengan isyarat tangan, salah satu pengawal yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ki Tameng menunjuk letak Palinggi itu tepat di utara sangga yang berseberangan dengan gapura pamedalan.

Prabu Chakraningrat yang sudah dimabuk pesona tampaknya sudah tidak memperhatikan gerak-gerik Nyi Mas Gandasari yang mencurigakan. Bahkan saat Nyi Mas Gandasari mengangkat kandaga emas (peti kecil) di atas Palinggih, Prabu Chakraningrat tidak mengetahuinya karena pandangannya terarah pada pinggul Nyi Mas Gandasari.

Prabu Chakraningrat baru tersadar dirinya telah tertipu ketika ia melihat Nyi Mas Gandasari membalikkan badan. Ia terkejut bukan alang kepalang melihat kandaga emas di Palinggih sudah berada di pelukan Nyi Mas Gandasari. Namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Nyi Mas Gandasari sudah melayangkan pukulan menyilang ke arah dagu kanannya. Tanpa sempat berteriak, penguasa Rajagaluh yang sudah tua itu terbanting tubuhnya ke tanah dan pingsan. Sementara itu, dengan gerakan trengginas bagaikan burung sikatan yang lincah, Nyi Mas Gandasari melesat keluar gapura pamedalan.

Rupanya, semua peristiwa yang terjadi di dalam Sangga Kamulan tidak luput dari intaian para pengawal raja yang diam-diam mengikuti ke Sangga Kamulan, meski telah dihardik agar menyingkir oleh sang raja. Saat Nyi Mas Gandasari baru menginjakkan kaki di luar gapura pamedalan, teriakan-teriakan para pengawal raja itu sudah terdengar sahut-menyahut dan sambung-menyambung ke segenap penjuru. Tak kurang dari sepuluh pengawal bersenjata lengkap terlihat berdiri menghadang di depan gapura pamedalan.

Andaikata para pengawal Nyi Mas Gandasari adalah prajurit biasa, mungkin akan terjadi pertempuran sengit. Namun, para pengawal yang sesungguhnya adalah para bekas penguasa ksetra itu memiliki ilmu kadigdayan jauh melebihi prajurit biasa. Mereka tidak memberi kesempatan banyak bagi para pengawal raja untuk menyerang. Dengan menggeram, Ki Tameng tiba-tiba melompat ke depan dan menyergap leher salah seorang pengawal raja. Kemudian dengan kekuatan yang menakjubkan ia mengangkat pengawal itu dengan satu tangan ke atas dan membantingnya ke bawah dengan cara terbalik. Terdengar suara tulang pecah ketika kepala pengawal itu remuk menghantam lantai. Setelah itu, dengan gesit Ki Tameng melompat dan mencengkeram leher salah seorang pengawal yang lain. Mata para pengawal raja terbelalak saat mereka mendengar suara tulang leher patah yang diikuti ambruknya tubuh kawan mereka dengan kepala terkulai.

Menyaksikan peristiwa mengerikan yang berlangsung secepat kilat itu, para pengawal raja berhamburan melarikan diri sambil berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya. Sementara itu, dengan isyarat tangan, Nyi Mas Gandasari beserta keempat pengawalnya membagi diri ke dalam tiga kelompok. Satu ke utara, satu ke timur, dan satu lagi ke barat. Bagaikan angin berembus di musim penghujan, para pendekar itu melesat meninggalkan Sangga Kamulan ke arah yang dituju masing-masing. Para pengawal raja dan prajurit lain yang memburu dari belakang tidak mampu mengimbangi kecepatan lari mereka apalagi, hujan yang mulai melebat menghalangi pandangan.

Tawaran perundingan damai Caruban Larang dan Rajagaluh yang disodorkan Nyi Mas Gandasari pada dasarnya adalah siasat yang disusun sangat cermat oleh Sri Mangana. Ibarat pepatah “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, Sri Mangana dengan sangat teliti sudah memperhitungkan keuntungan ganda dari siasatnya itu. Pertama-tama, ia telah memperhitungkan bahwa Prabu Chakraningrat yang dikenalnya sebagai lelaki mata keranjang tentu akan mengabaikan tawaran perdamaian karena terpesona oleh kemolekan Nyi Mas Gandasari. Setelah itu, ia yakin bahwa Nyi Mas Gandasari dengan kecerdasannya akan dapat memasuki Sangga Kamulan dan membawa lari kandaga emas berisi abu jenasah dari guru Prabu Chakraningrat, seorang pertapa perempuan bernama Nagagini, yang dimasukkan ke dalam cupu emas berbentuk ular yang disebut oray mas. Ia sangat yakin Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Soka beserta keempat pengawalnya akan mampu membuka gerbang Kuta Rajagaluh dari dalam.

Dengan perhitungan cermat itulah ketika Nyi Mas Gandasari dan rombongan berjalan menuju gerbang selatan Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana menyebar puluhan orang pengintai untuk mengawasi keadaan di dalam kuta. Ternyata penjagaan di gerbang timur, barat, dan utara kosong ditinggal pergi prajurit. Prajurit berbondong-bondong menuju gerbang selatan untuk menyaksikan dari dekat kecantikan Nyi Mas Gandasari yang menurut cerita bagaikan Suprabha, bidadari dari Indraloka yang bermata bintang dan berpinggul indah. Setelah itu Sri Mangna mengirim perintah kepada Pangeran Raja Sanghara, Tun Abdul Qadir, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Pangeran Sabrang Lor, dan pemimpin pasukan Caruban lain yang bersiap-siap di barat, timur, dan utara Kuta Rajagaluh untuk menyiagakan penyerbuan. Untuk menyemangati para prajurit disebarkan kabar bahwa penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh itu akan dipimpin sendiri oleh Sri Mangana.

Awan hitam menggantung di langit dan mulai menebarkan titik-titik hujan ketika Sri Mangana keluar dari kemahnya. Sejurus ia menyapukan pandangan ke langit. Setelah berdiri beberapa jenak dengan penuh wibawa di depan kemahnya, ia mengangkat tangan kanannya ke atas dan berseru, “Berdiri dan angkat tinggi-tinggi panji-panji dan senjatamu. Berteriaklah sekeras-kerasnya agar musuh-musuhmu runtuh nyalinya!”

Seiring seruan Sri Mangana, bangkitlah beribu-ribu prajurit Caruban yang sejak pagi meniarap di sekitar perkemahan kalifah hingga tepi parait yang menghampar di selatan gerbang. Ribuan prajurit itu berlindung di balik alang-alang dan tumpukan jerami kering hingga tak terlihat dari arah gerbang. Begitu bangkit, mereka serentak mengacungkan tombak, panji-panji, umbul-umbul, dan bendera diikuti pekik peperangan yang sambung-menyambung. Dan saat Sri Mangana menaiki kereta perangnya, para prajurit pembawa tombak membenturkan pangkal tombaknya ke tanah secara serentak berulang-ulang sehingga bumi bergetar bagai dilanda gempa.

Gegap-gempita pasukan Caruban di seberang gerbang selatan menarik perhatian para prajurit Rajagaluh yang berkerumun di bagian dalam gerbang selatan kuta untuk menunggu Nyi Mas Gandasari kembali dari Bangsal Kaprabon. Mereka sangat terkejut dan kebingungan ketika melihat beribu-ribu pasukan Caruban telah memenuhi tepi parit sambil mengacungkan tombak dan panji-panji, menyanyikan lagu-lagu dan menantang perang.

“Apakah yang telah terjadi?”

“Bukankah Nyi Mas Gandasari masih di kraton?”

“Apakah perundingan damai gagal?”

“Bagaimana nasib Nyi Mas Gandasari?”

Ketika prajurit Rajagaluh sedang kebingungan melihat ancaman serbuan lawan dari luar gerbang selatan, tiba-tiba gerbang timur, barat, dan utara kutaraja secara berurutan dibuka dari dalam oleh Nyi Mas Gandasari, Pangeran Soka, Ki Tameng, Ki Waruanggang, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana. Begitu melihat gerbang terbuka, beribu-ribu prajurit Caruban yang sudah bersiaga mengepung kuta berhamburan dan saling berpacu menerobos gerbang. Namun, di mulut gerbang mereka tertahan oleh tubuh kawan-kawannya. Yang belakang mendorong. Yang depan menggeliat berusaha lepas dari himpitan. Yang tengah terjepit dan terdorong-dorong.

Sambil bersorak-sorai mengacung-acungkan tombak dan panji-panji, di tengah hujan lebat dan guntur bersahut-sahutan, prajurit Caruban mengalir masuk bagaikan air bah. Gerbang timur, barat, dan utara berubah laksana pintu air yang jebol mengalirkan air bah yang berpusar dan teraduk-aduk memenuhi penjuru kuta. Prajurit mengalir ke jalan-jalan dan lorong-lorong kuta untuk mencari musuh-musuhnya. Cipratan air yang terinjak ribuan kaki terdengar menggiriskan. Setiap kali para prajurit itu menjumpai prajurit musuh, tanpa ampun mereka akan menggulung dan menghempaskannya menjadi serpihan daging dan genangan darah.

Perwira dan prajurit Rajagaluh yang berada di gerbang selatan bergegas menyambut serbuan musuh yang menggelombang dari ketiga penjuru. Mereka membawa senjata apa saja yang mereka temukan untuk menghadang serbuan musuh yang mengamuk bersama hujan dan angin. Namun, usaha mereka tampaknya sia-sia. Sebab, tanpa peduli dengan pagar pedang dan hutan tombak yang menghadang, pasukan Caruban terus menerjang ke depan dengan meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan bersimbah darah. Mereka bergerak menerjang dan menggulung apa saja yang menghadang. Mereka mengalir bagaikan air hujan yang memenuhi seluruh lorong, jalanan, dan selokan kutaraja.

Di tengah hiruk pikuk pertempuran yang terjadi di jalan-jalan, terutama di gerbang selatan, Pangeran Arya Mangkubhumi yang berada di dalam purinya tampak terkejut ketika mendengar suara berisik di halaman. Ia sadar suara berisik itu bukanlah guntur atau curahan air hujan, melainkan semacam gemerincing senjata yang beradu dan jeritan-jeritan orang kesakitan.

Perang! Itulah kesan awal yang ditangkapnya. Dengan benak dipenuhi tanda tanya ia bergegas keluar kamar dan menjulurkan kepala ke jendela. Dan kepalanya bagai disambar petir ketika dari jendela itu dilihatnya para prajurit pengawalnya sedang bertempur di gerbang puri. Para pengawal dengan gigih berusaha keras menahan serbuan musuh yang menerobos gerbang. Menyaksikan pemandangan tak terduga itu, ia merasakan dadanya sesak dan tenggorokannya kering sehingga untuk meludah pun ia tidak mampu. Apa yang sesungguhnya yang terjadi, gumamnya berulang-ulang dalam hati.

Sewaktu melihat dua tiga orang pengawalnya roboh bersimbah darah di babat senjata musuh, tanpa sadar ia lari ke dalam kamar dan menyambar tombak yang terletak di raknya. Saat itu tidak ada yang terlintas di dalam pikirannya kecuali ikut mengadu jiwa bersama para pengawal dan menikam siapa saja di antara musuh yang mendekat. Namun, sebelum ia melibatkan diri dalam pertempuran tiba-tiba ia melihat Ki Demang Suradipa dan sepuluh orang pengawalnya berlari ke arah puri dengan napas terengah-engah sambil berseru, “Yang Mulia! Yang Mulia!”

Pangeran Arya Mangkubhumi yang sudah berada di pintu puri berdeham dan bertanya, “Ki Demang! Apa yang terjadi? Ada apa ini? Kenapa ada yang menyerang puriku?”

“Orang-orang Caruban telah masuk kuta dan membuat kerusakan, Yang Mulia.”

“Apa? Orang-orang Caruban? Bagaimana mungkin itu terjadi? Bukankah mereka membuat tawaran damai?” gumam Pangeran Arya Mangkubhumi terheran-heran.

“Mereka telah menipu kita, Pangeran. Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Soka beserta keempat pengawalnya telah membuka gerbang timur, barat, dan utara dari dalam,” kata Ki Demang Suradipa.

“Jagad Dewa Bhattara!”

“Orang-orang Caruban masuk kuta, mengalir seperti air bah. Mayat prajurit kita bergelimpangan di mana-mana. Darah mengalir seperti sungai. Bangunan-bangunan dirobohkan. Mereka seperti orang-orang kerasukan setan,” lapor Ki Demang Suradipa dengan air mata bercucuran membasahi pipinya yang sudah basah.

“Mana tetunggul Rajagaluh yang lain?” Pangeran Arya Mangkubhumi mengangkat alis kirinya.

“Ki Gedeng Leuwimunding, Ki Dipati Kiban, Celeng Igel, Sanghyang Sutem, Sanghyang Tubur, dan Sanghyang Gempol berhasil meloloskan diri ke utara melewati gapura alit. Mereka lari dengan menyamar sebagai pengungsi,” kata Ki Demang Suradipa.

“Bajingan! Pengecut mereka,” kata Pangeran Arya Mangjubhumi dengan wajah merah padam. “Bagaimana nasib Ramanda Prabu?”

“Kami belum mendapat kabar tentang beliau.”

“Bagaimana ini? Bukankah tugas kalian mengawal keamanan raja?” bentak Pangeran Arya Mangkubhumi. “Bagaimana mungkin kalian bisa mengaku tidak tahu nasib rajamu?”

“Ampun Yang Mulia,” Ki Demang Suradipa mengiba. “Semua pengawal raja diperintahkan menyingkir oleh Sang Prabu sewaktu beliau menemui Nyi Mas Gandasari.”

Pangeran Arya Mangkubhumi tiba-tiba memucat wajahnya. Kemudian dengan suara bergetar ia bertanya. “Di mana kalian terakhir melihat raja?”

“Di Sangga Kamulan, Yang Mulia.”

“Ayo, kalian ikut aku mencari beliau.” Pangeran Arya Mangkubhumi melesat keluar puri dengan langkah lebar. Namun, baru sampai di teras puri ia sudah menyaksikan beratus-ratus prajurit Caruban memenuhi halaman purinya. Sisa-sisa prajurit pengawalnya dengan sekuat tenaga berusaha menahan serangan musuh, meski tubuh mereka sudah penuh luka. Sebagai putera mahkota yang sejak kecil dididik dengan adat kebiasaan ksatria, ia tidak gentar menghadapi musuh yang menghadang berapa pun jumlahnya. Dengan wajah ia menoleh sambil berkata kepada pengawal Ki Demang Suradipa, “Kemarikan busurmu! Aku akan hadapi mereka sebagai ksatria! Ayo, ambil anak panahku di kamar. Layani aku!”

Ketika Pangeran Arya Mangkubhumi menghajar musuh-musuhnya dengan tembakan-tembakan anak panah dibantu Ki Demang Suradipa, terdengar gedoran-gedoran kayu yang ditendang di segenap penjuru puri. Rupanya musuh sudah berhasil masuk. Tetapi, ia tidak menghiraukan dan terus menghujani musuh dengan panah. Ia terus menembakkan panah-panahnya kendati mendengar jerit tangis para perempuan dari dalam puri. Ia terus membidik musuh-musuhnya ketika berpuluh-puluh anak panah yang ditembakkan musuh menghambur ke arahnya.

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 09:20LT