Al-Mir’ah al-Ghaib

Sore setelah pertempuran berakhir, hujan telah reda dan matahari bersinar kemerahan di ufuk barat dengan awan merah menggantung di langit. Abdul Jalil terlihat berjalan menyusuri lorong-lorong Kuta Rajagaluh yang semrawut dipenuhi reruntuhan bangunan, serpihan benda-benda, senjata patah, genagan darah, dan mayat bergelimpangan. Ketika langkah kakinya sampai di puri kediaman raja, tepatnya si Sangga Kamulan, ia menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan: sebuah bentangan Cermin Gaib (al-mir’ah al-ghaib) yang luas antara langit dan bumi tak kelihatan batas-batasnya. Cermin Gaib itu memantulkan beribu-ribu bayangan wajah yang mencitrakan keberadaan adimanusia, manusia, manusia-hewan, binatang buas, binatang melata, dan bahkan makhluk-makhluk pemangsa mengerikan dari Kegelapan.

Cermin Gaib adalah bentangan hijab rahasia yang menyelubungi dan sekaligus merupakan pembatas antara alam kasatmata (‘alam asy-Syahadah) dan tidak kasatmata (‘alam al-ghaib). Cermin itu memantulkan bayangan keberadaan manusia secara lahiriah (mulk) ke dalam hakikat sejati manusia secara ruhaniah (malakut). Wujud lahiriah tiap-tiap manusia yang menghadap ke bentangan Cermin Gaib itu akan memantulkan kesejatian citra ruhaninya sesuai jati diri masing-masing. Dengan demikian, jati diri masing-masing manusia di depan Cermin Gaib akan memantul sebagai wujud bayangan sejati jiwanya.

Di depan bentangan cermin itu Abdul Jalil termangu-mangu menyaksikan wujud dirinya di tengah kilasan-kilasan wajah yang ganti berganti dan sambung menyambung. Ia menjadi sadar betapa keberadaan dirinya di tengah kecamuk perang itu memang tidak terlibat pertempuran dan membasahi tangannya dengan darah siapa pun. Gambaran kuat yang terekam di relung-relung ingatannya menunjukkan betapa saat ia terbangun dan membuka mata, ia melihat dari celah-celah tendanya sesuatu yang terbang di langit, yang wujudnya tak mampu ia gambarkan: Sang Maut, Rajadiraja Kematian yang terbang dengan garang melingkupi penjuru langit dan bumi, yang melihat semua makhluk dengan mata menyala dan cakar-cakar tajam mengembang dan jutaan sayap yang mengepak. Saat terdengar jeritan dahsyat mengguncang langit, ia melihat Sang Maut mengepakkan sayap-sayap kematian yang menggemuruh bagai badai. Kemudian, dengan lahap Sang Maut menyantap setiap makhluk hidup dengan paruh-Nya yang lebih tajam dari pedang. Sementara di bawah kepak sayap Sang Maut terlihat beratus-ratus ribu makhluk gaib penghuni purwa Nusa Jawa berpesta pora memunguti remah-remah sisa santapan-Nya laksana kawanan semut mengerumuni sisa makanan rajawali di padang rumput.

Ketika ia memalingkan pandangan dari bayangan Sang Maut, ia menyaksikan pemandangan lain yang membuat jantungnya berdentam-dentam, mulutnya terkatup, dan tenggorokannya tercekik. Di hadapannya terlihat beribu-ribu bayangan makhluk setengah manusia setengah binatang yang teraduk-aduk kacau seperti laut diempas badai. Makhluk-makhluk mengerikan itu sambil meraung-raung dan melolong-lolong dengan buas dan ganas saling mencabik satu sama lain. Tak kuasa melihat keganasan itu, ia memejamkan mata. Namun, disaat matanya terpejam, telinganya menangkap suara kepak sayap burung-burung, raungan serigala, geraman singa, auman harimau, lolongan anjing, kuak kerbau, dan tangisan anak burung yang mencicit-cicit. Hiruk pikuk suara terdengar berkerumun di sekitar telinganya. Ia menutup telinga dan berusaha menghalau suara-suara yang terus mengerumuninya itu. Anehnya, semakin telinganya ditutup, semakin ia dengar hiruk suara yang menggiriskan itu.

Akhirnya ia membuka mata dan telinganya. Lalu sadarlah ia betapa yang terlihat ke dalam Cermin Gaib itu bukanlah mata inderanya melainkan mata batinnya (‘ain al-bashirah). Yang mendengar suara hiruk pikuk itu bukan telinga inderanya pula melainkan pendengaran batinnya (sam’). Dan di tengah kesadaran itu ia mendapat bisikan dari Ruh al-Haqq bahwa hiruk suara-suara itu sesungguhnya menggemakan getar kebencian yang tersembunyi di kedalaman jiwa makhluk-makhluk yang saling mencabik itu. Ya, suara-suara hiruk itu adalah suara kebencian yang sangat dibencinya.

Mengetahui hiruk suara-suara itu adalah suara kebencian, Abdul Jalil merasa malu dan muak. Ia membalikkan badan dan bergegas meninggalkan tempat laknat itu. Namun, saat ia akan beranjak tiba-tiba telinga batinnya mendengar suara-suara ratapan yang menggema-gema yang memanggil-manggil namanya. “Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Janganlah lari meninggalkan kami! Lihatlah kami! Kami adalah anak-anakmu yang lahir dari dunia baru yang engkau bangun dengan pikiran dan mimpi-mimpimu. Kami adalah anak-anak zaman yang lahir dari kegelapan. Engkaulah ibu dan bapak kami. Janganlah engkau tinggalkan kami!”

Abdul Jalil tercekat mendengar suara-suara itu. Ia merasakan jiwanya tiba-tiba dikuasai oleh rasa belas kasih. Kemudian dengan kata-kata selembut awan ia berkata, “Aku tahu siapa sesungguhnya engkau. Engkau adalah cacing-cacing melata di dalam tanah yang tumbuh menjadi anak-anak harimau dan akan menjelma menjadi adimanusia. Sekarang ini tubuhmu telah menjadi tubuh harimau dan jiwamu pun adalah jiwa harimau. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa ruhmu belumlah ruh manusia. Ruhmu adalah jiwa manusia-hewan yang menyalak penuh kerakusan, kekejian, dendam, dan kebencian. Karena itu, engkau masih membutuhkan waktu untuk menjadi adimanusia seperti yang aku harapkan. Jiwa manusia-hewan yang menguasai kesadaranmu masih membutuhkan waktu dan perjuangan keras untuk bisa menjelma sebagai ruh adimanusia.”

“O Syaikh Lemah Abang! Kami harap engkau tidak memandang kami dari tempatmu yang tinggi. Sebaliknya, engkau harus mematahkan kesombonganmu yang menginginkan seluruh manusia bisa menjelma menjadi sesuatu sesuai mimpi-mimpimu. Engkau tidak bisa mengukur keberadaan manusia dengan menggunakan ukuran dirimu,” suara-suara itu menggeram.

“Apa yang engkau harapkan dariku?”

“Engkau adalah ibu dan bapak yang telah melahirkan kami,” suara-suara itu terdengar bagaikan ciap-ciap anak burung di sarang. “Tunggulah kami! Suapi kami dengan nilai-nilai luhur yang engkau masak dari berbagai jenis makanan jiwa yang menyehatkan dan menguatkan. Susui kami dengan cerita-cerita dan dongeng-dongeng menakjubkan yang menyadarkan keberadaan kami. Tuntun dan bimbing kami meniti jembatan kehidupan agar kami dapat melampaui kemanusiaan dan sampai ke puncak mahligai adimanusia. Pupuklah agar kami bisa tumbuh! Tumbuh menjadi adimanusia sesuai kehendak-Nya dan bukan sesuai kehendakmu.”

Abdul Jalil tertawa. Ia sadar bahwa tiap-tiap jiwa akan tumbuh dan berkembang sesuai kehendak-Nya. Suara-suara itu, katanya dalam hati, benar adanya. Suara-suara itu mengingatkan betapa sombongnya aku yang memimpikan lahirnya adimanusia menurut pikiran dan mimpi-mimpiku. Dan betapa benarnya suara-suara itu yang menginginkan agar aku mematahkan kesombonganku.

Akhirnya, meski rasa muak masih menerkam jiwanya di tengah pertempuran antarbinatang itu, Abdul Jalil merasakan kegembiraan ketika mendapati sekumpulan manusia-hewan bakal adimanusia di dalam Cermin Gaib. Ia bergembira karena seburuk apa pun kumpulan manusia-hewan itu tumbuh, mereka adalah anak-anak harimau yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpinya. Mereka harus dibimbing dan diasuh agar terus tumbuh menjadi manusia dan bahkan adimanusia. Mereka adalah matahari pagi yang sedang merangkak ke tengah hari yang terang-benderang.

Ketika ia membalikkan badan dan menatap Cermin Gaib dengan seksama, ia melihat beratus-ratus bayangan dirinya sebagai kawanan harimau berbulu putih yang seluruh tubuhnya memancarkan cahaya cemerlang. O Yang Mahakuasa, serunya dalam hati, mereka itulah anak-anak zaman yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Merekalah harimau-harimau perkasa yang bakal melampaui manusia dan menjadi adimanusia. Mereka itulah pahlawan-pahlawan gagah yang maju ke medan perang untuk membela keyakinannya, meski kesucian jiwa mereka masih ternodai amarah dan kebencian. Merekalah harimau-harimau zaman yang akan tumbuh menjadi adimanusia. Merekalah harapan masa depan bagi zaman yang gilang-gemilang.

Saat tengah memandang dengan bangga kawanan harimau berbulu putih cemerlang yang menggeram-geram di tengah cermin itu, ia dikejutkan oleh kelebatan-kelebatan bayangan hitam yang berkerumun di sekelilingnya. Makin lama bayangan-bayangan hitam itu makin beriap-riap dan berdesak-desak laksana gumpalan awan hitam menyesaki penjuru bumi. Bayangan-bayangan hitam itu berkelebatan membentuk aneka rupa perwujudan bayangan; serigala, burung nazar, musang, tikus, dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, secara menakjubkan, di tengah kelebatan bayangan-bayangan hitam itu terdengar suara gemerisik seperti derik ribuan ular. Suara gemerisik itu makin lama makin menggema, menjadi kata-kata.

“O Syaikh Lemah Abang. Hari ini kami, anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpimu, telah memenangkan pertempuran. Musuh-musuh kami telah bergelimpangan tanpa nyawa dan sisanya melarikan diri dengan tubuh penuh luka. Kami telah mengibarkan bendera kemenangan. Kami telah menyanyikan lagu kemenangan. Kami telah beroleh dan membagi-bagi pampasan. Tetapi, kami tidak bisa berhenti sampai di situ. Kami tidak bisa kembali ke rumah dengan setumpuk cerita bualan kepada anak-anak dan istri-istri kami. Kami akan terus bergerak ke depan dan mendaki ke atas untuk melampaui kelemahan kami, sebagaimana yang engkau ajarkan. Kami yang berasal dari kalangan rendah dan lemah, yaitu kawanan binatang melata yang engkau sebut cacing-cacing tanah, telah menunjukkan bukti kekuatan kami sebagai adimanusia. Kami akan berebut menaiki singgasana yang telah kami gulingkan. Kami akan menjadi pengganti singa tua yang sudah tenggelam ditelan air bah perubahan. Kamilah yang kini menjadi penguasa. Kamilah kini yang menentukan arah kehidupan manusia.”

Abdul Jalil tertegun mendengar kata-kata yang mengumandang dari kerumunan bayangan hitam. Kegembiraan dan kebanggaan yang dirasakannya mendadak berubah menjadi kemuakan. Ia menjadi muak melihat bayangan hitam yang berkerumun bagaikan kawanan setan itu. Ia tahu, bayangan-bayangan hitam itu adalah jiwa manusia-hewan yang belum matang dan bakal gagal menjadi adimanusia. Bayangan-bayangan hitam itu adalah citra kepalsuan dari jiwa manusia yang terbelenggu nafsu rendah duniawi. Itu sebabnya, dengan suara getir ia berkata, “Aku tahu siapa sesunggunya engkau, o makhluk-makhluk palsu. Engkau adalah jiwa cacing tanah yang sudah melampaui jiwa binatang melata dan menjelma menjadi binatang buas setingkat musang dan serigala. Tetapi, engkau tidak mampu melampaui jiwa harimau dan jiwa singa, apalagi melampaui jiwa manusia untuk menjadi adimanusia. Dengan menutup-nutupi kelemahan diri, engkau justru akan berbelok arah dan menjadi bayang-bayang dari makhluk yang tidak jelas bentuk dan wujudnya. Engkau telah menjadi hitam sehitam bayang-bayang. Engkau telah menyelewengkan apa yang pernah aku ajarkan dan menggunakan kata-katakku sebagai siasat menipu yang menguntungkan dirimu. Sungguh muak aku. Muak. Muak.”

“Bukankah engkau menghendaki kami berjuang mewujudkan diri dari hewan yang rendah menjadi adimanusia? Bukankah semua yang engkau inginkan telah kami penuhi? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami menaklukkan musuh-musuh kami? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami membuat para penentang kami bergelimpangan menjadi mayat tak berguna? Tidakkah engkau saksikan bagaimana kami melampaui sesuatu yang lebih tinggi dari kami?” gerutu suara-suara gemerisik itu bagai daun-daun kering diterbangkan angin.

“Jika engkau berkata bahwa dengan menaklukkan musuh-musuhmu maka dirimu akan menjadi adimanusia maka aku katakan bahwa sesungguhnya telah keliru pendengaranmu menerima kata-kata yang telah aku ucapkan. Sebab, melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk menjadi adimanusia bukanlah seperti engkau melompati selokan dan sungai kecil agar sampai ke seberang. Bukan pula seperti engkau menaklukkan musuh-musuhmu sebagaimana binatang satu menaklukkan binatang yang lain. Seribu kali aku katakan tidak seperti itu.”

“Sekarang buka telingamu lebar-lebar! Yang aku katakan melampaui kebinatangan adalah melampaui naluri-naluri kebinatangan yang tersembunyi di dalam relung-relung jiwamu. Itu sebabnya, yang aku maksud dengan cacing tanah bukanlah hewan melata menjijikkan yang menggeliat-geliat di dalam tanah, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh hijab Kegelapan (mahjub bi mahdh azh-zhulmah) yang tidak memiliki kesadaran lain, kecuali kesadaran untuk makan dan berketurunan. Yang aku maksud dengan manusia-hewan bukanlah tikus, musang, serigala, harimau, dan singa yang merangkak di permukaan bumi, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh Cahaya bersama Kegelapan (mahjub bi nur maqrun bi zhulmah). Yang aku maksud dengan manusia bukanlah makhluk berkaki dua yang bisa berpikir, melainkan keberadaan jiwamu yang terhijab oleh pancaran Cahaya (mahjub bi mahdh al-anwar). Sedangkan yang aku maksud dengan adimanusia bukanlah makhluk berkekuatan raksasa yang dapat menaklukkan musuh-musuhnya, melainkan manusia yang sudah berhasil membebaskan diri dari selubung-selubung hijab dan menyaksikan Kebenaran (ma’rifat al-Haqq) melalui pembersihan keilahian dari kemusyrikan (tanzih ar-rububiyyah).”

“Sadarlah, wahai penipu kecil! Janganlah kesukaanmu akan tidur dan bermalas-malas menjadikanmu sebagai pengkhayal dungu. Bangun dan menggeliatlah engkau dari mimpi dan khayalmu. Berpalinglah dari jalan di depanmu karena kiblat hati dan pikiranmu telah menyimpang jauh dari jalan Kebenaran menuju negeri agung kediaman adimanusia. Bangun dan berjuanglah! Merayaplah ke atas! Karena engkau telah terperosok ke dalam sumur tanpa dasar hingga dirimu menjadi gelap laksana bayangan.”

“Jika kami berpaling dan berbalik kiblat, bagaimana dengan takhta kekuasaan yang sudah berada di depan kami?”

“Dengarlah, wahai pencoleng kecil! Engkau tidak cukup pantas menduduki takhta kekuasaan duniawi sebab engkau belum mampu menaklukkan dan menguasai dirimu sendiri. Pantaskah menurutmu memahkotai seekor babi buruk rupa dan merajakannya bagi manusia? Sungguh muak aku dengan ketulian telingamu dan kebutaan matamu. Sungguh muak aku dengan kebebalan otakmu. Aku muak. Muak. Muak. Berkali-kali muak.”

Abdul Jalil berpaling dan meninggalkan bayangan-bayangan hitam yang terus berkerumun mengitarinya bagai gumpalan awan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia merasa jubahnya ditarik dari belakang. Ia tersentak dan mendengar suara-suara gemerisik itu berkata, “Tinggallah di sini, O Syaik Lemah Abang! Tinggallah di sini! Jangan tinggalkan kami! Kami adalah anak-anakmu. Restuilah kami agar mejadi penguasa bumi. Dukunglah kami agar kami dapat menjadi rajadiraja dunia yang menentukan nasib umat manusia.”

Abdul Jalil merasakan bulu kuduknya merinding ketika melihat bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya itu bergerak mengitarinya dengan tangan mencakar-cakar dan suara gemerisik seperti derik ribuan jangkrik. Ia sadar betapa bayangan itu telingan dan matanya telah tertutup karat sehingga tidak bisa digunakan untuk mendengar dan melihat kenyataan dengan baik. Ketika kerumunan itu makin tak terhitung jumlahnya, ia memungut sepotong kayu dan memukul-mukul sembari berkata, “Tutup mulutmu, he makhluk palsu! Aku muak mendengar ocehan dan igauanmu. Bangunlah engkau dari mimpi kosongmu! Tataplah cermin kenyataan agar engkau dapat melihat siapa sejatinya dirimu. Engkaulah binatang melata yang licik, yang memiliki mata menyala memancarkan api keganasan, kekejaman, kebencian, dan dendam kesumat. Engkaulah binatang rendah yang memiliki mulut berbusa meneteskan liur kelicikan, kepura-puraan, ketidakbersalahan, dan kemabukan pada kekuasaan. O betapa memuakkan engkau. Memuakkan. Memuakkan.”

Tidak lama setelah ia memukul bayangan-bayangan hitam itu dan meninggalkannya pergi, ia melihat ruh seekor singa tua sedang duduk kebingungan di atas sebongkah batu yang mencuat di tengah hamparan air bah. Itulah citra diri Prabu Chakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh di dalam Cermin Gaib. “Inikah raja yang akan digantikan oleh anak-anakku yang sehitam bayangan?” serunya mendekati sang singa dan mengelus-elus rambutnya yang sudah rontok. “Bukankah seekor singa jauh lebih agung dibanding bayangan seribu ekor serigala dan musang?”

Ya, baginya, seekor singa memang lebih agung daripada bayangan hitam kawanan musang. Sebab, setua apa pun usianya, seompong apa pun mulutnya, serontok apa pun rambutnya, ia tetap seekor singa; sang raja rimba. Hanya kelemahan akibat pujian dan sanjungan yang membuat singa tua itu kerasan tinggal di guanya yang sempit dan gelap. Ia tidak sadar bahwa hidup adalah sebuah padang perburuan yang luas dan terus berubah dengan gerakan ke arah depan, tak pernah berhenti, dan tidak pula pernah mundur ke belakang. Singa tua itu tak pernah berusaha untuk melompat keluar gua kesingaannya dan menjelma menjadi manusia. Ketika gerak perubahan hidup melandanya laksana air bah, sang singa kebingungan di dalam guanya. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat oleh seekor singa di tengah terjangan air bah perubahan itu. Ia akhirnya tenggelam diseret arus dan bangkainya tidak pernah diketemukan orang.

Kini, setelah gua yang sempit dan pengap itu kosong, tiba-tiba bayangan-bayangan hitam yang muncul dari gelora bah berkeliaran dan berkerumun mengitari gua. Bayangan-bayangan hitam itu saling desak, saling dorong, saling sikut, saling gigit, dan saling cakar untuk berebut duduk di atas batu singgasana sang singa tua. “Akankah sebuah bayangan hitam lebih agung jika menjadi penguasa gua dibanding seekor singa?” seru Abdul Jalil seolah berkata kepada diri sendiri. “Dihuni singa atau bayangan hitam, sesungguhnya gua tetaplah gua; sebuah keangkeran yang menakutkan bagi manusia. Tetapi, keangkeran yang lahir dari wibawa seekor singa jauh lebih agung dibanding keangkeran yang lahir dari kawanan hantu. Itulah perumpamaan singgasana Rajagaluh jika diduduki Prabu Chakraningrat dan jika diduduki anak-anakku yang belum sempurna menjadi manusia-hewan,” katanya lantang.

Ketika ia memeluk ruh singa tua itu dan membelai rambutnya, ia melihat sekawanan bayangan hitam terbang dalam kerumunan besar di langit laksana gumpalan awan hitam. Kerumunan itu kemudian menukik ke bawah dan mengerumuni tubuhnya. Menyambar-nyambar. Membuat ia harus memutar-mutar potongan kayu di atas kepalanya untuk mengusir kerumunan itu. Ketika potongan kayunya mengenai sesuatu, terdengar jerit kesakitan diikuti suara gemerisik bagai hujan deras tercurah di atap. Sekilas ia menyaksikan puluhan bayangan hitam terempas ke batu-batu dan batang-batang pohon tak berdaun. Ia terbelalak saat melihat puluhan bayangan hitam itu bangkit dan menatap tajam ke arahnya dalam wujud Ki Gedeng Kiban, mantan Adipati Palimanan, dan Rsi Bungsu secara berganti-ganti.

Abdul Jalil berdiri kaku dengan hati ngeri. Ia memandang dengan tatapan nanar ke sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang tiba-tiba menjadi puluhan jumlahnya. Ia berpaling ke Cermin Gaib. Terpampanglah gambaran menggetarkan yang menampakkan jati diri makhluk-makhluk licik yang mabuk kekuasaan itu. Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang telah berlipat-lipat jumlahnya itu menjelma menjadi makhluk mengerikan dari alam kegelapan yang sulit digambarkan wujudnya. Kepalanya mirip ular dan terbuat dari bahan sejenis batu sungai yang keras. Lidahnya bercabang dengan gigi dan taring tajam berbisa. Kulitnya kasar bersisik dan selalu berubah-ubah sesuai keadaan sekitar. Matanya mirip mata buaya, yang jika menangis tidak meneteskan air mata kesedihan, tetapi mengalirkan genangan air kedustaan yang pahit beracun. Hidungnya mirip hidung anjing yang selalu mengendus-endus membaui segala sesuatu di sekitarnya dengan kecurigaan. Mulutnya mirip babi yang najis dan meneteskan kekejian fitnah dan kebohongan. Hatinya logam sepuhan yang berkilau cemerlang bagai emas, namun berubah legam berkarat ketika disinari cahaya Kebenaran. Limpanya, paru-parunya, empedunya, jantungnya, bahkan usus dan duburnya pun terbuat dari bahan palsu dan beracun.

“Aku tahu siapa sesungguhnya engkau,” kata Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukul ke arah bayangan Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu. “Engkau adalah bayangan palsu yang membawa-bawa ajaranku untuk membangun mahligai kekuasaan di atas bumi. Tetapi, karena engkau makhluk palsu maka mahligai yang engkau bangun pun palsu adanya. Kata-katamu palsu. Janjimu palsu. Keringatmu palsu. Air matamu palsu. Air liurmu palsu. Air kencingmu palsu. Tahimu juga palsu. Pendek kata, apa yang keluar dari tubuh makhluk palsu adalah palsu. Palsu. Palsu. Seribu kali palsu.”

Wajah-wajah gelap dan palsu Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu menyeringai. Abdul Jalil sangat terkejut ketika melihat salah satu sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu memudar digantikan oleh sosok wali nagari Kuningan, Angga. Ya, sosok Angga menyeruak keluar dari kerumunan. Ketika ia menegaskan penglihatannya, dilihatnya Angga sebagai seekor gagak yang bulunya rontok dan mengangankan diri sebagai rajawali perkasa. Ibarat dongeng gagak kehilangan daging di paruhnya akibat dipuji serigala, begitulah Angga kehilangan jabatan panglima akibat terlena oleh puja dan puji orang-orang di sekitarnya. Saat gemuruh peperangan terdengar membelah permukaan bumi, Angga hinggap di pohon merenungi nasibnya yang malang.

Citra Angga yang dilihat Abdul Jalil di cermin sebagai burung gagak ternyata memunculkan masalah baru tak lama setelah Caruban memperoleh kemenangan dalam perang. Sebagai gagak yang tak mampu terbang tinggi dan tidak mengetahui jika di atas langit masih ada langit, dia sangat marah dan merasa terhina ketika menerima kabar kemenangan Caruban, terutama saat dia mendengar kegagahan dan keperkasaan Nyi Mas Gandasari, rajawali betina yang dielu-elukan seluruh pasukan karena keberaniannya tak tertandingi.

“Sungguh telah terjadi perubahan tatanan alam ketika seekor burung betina dirajakan mengganti kedudukan sang jantan,” kata Angga kepada berpuluh-puluh gagak tua yang mengerumuninya dengan suara serak dan melengking. Setelah berkaok-kaok melompat-lompat di atas tanah mengais-ngais serpihan daging busuk, gagak-gagak itu berkata serempak. “Jika panji-panji kemenangan dikibarkan di bawah cengkeraman kuku-kuku tajam burung betina bersayap pendek, niscaya matilah seluruh burung jantan akibat tak kuasa menanggung beratnya beban yang bertentangan dengan tatanan alam. Pantaskah burung-burung jantan mengeram dan menunggui sarang. Sementara yang betina terbang ke angkasa memamerkan kegagahan? Pantaskah seekor betina dirajakan atas burung-burung?”

Kecemburuan Angga terhadap kemasyhuran rajawali betina itu nyaris membawa Caruban ke perang lanjutan dalam bentuk penyerangan terhadap Dermayu. Di tengah ketidakpuasan dan rasa penasaran, Angga dengan disertai sejumlah pemuka masyarakat Caruban menghadap Sri Mangana, memohon agar diberi kesempatan untuk menebus kekalahannya yang memalukan. Dengan berkaok-kaok didukung gagak-gagak tua, ia berkata, “O Ratu Ular Laut yang perkasa, kami tidak mampu hidup dengan menanggung segunung aib ini. Para sesepuh pun tidak mampu terbang dengan gagah karena sayap-sayap mereka telah patah oleh timbunan aib. Sungguh berat bagi para burung jantan, o Ratu Ular Laut, jika dipaksa memikul beban tak tertanggungkan ini. Karena itu, kami, para rajawali jantan mohon diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan guna menyerbu Dermayu dan mengislamkan Prabu Indrawijaya bersama para nayaka dan penduduknya. Biarlah kemenangan yang kami peroleh nanti akan menjadi obat bagi luka kami yang tak tersembuhkan.”

Sri Mangana menggeram dan menatap tajam Angga dan burung-burung gagak tua. Menurutnya, tidak cukup kuat alasan bagi Caruban untuk menyerang Dermayu. Itu sebabnya, meski didesak oleh para gagak jantan dan bahkan Angga pun telah bersujud di kakinya, ia menolak untuk menyerang Dermayu yang hampir seluruh penduduknya sudah beragama Islam. Namun, Angga yang sudah dirasuk rasa malu dan disakiti rasa terhina tidak putus harapan. Dengan berdalih mau mengislamkan raja Dermayu dan nayakaprajanya, sekembali menghadap kalifah, ia membawa tiga ribu orang laskar gabungan dari Kuningan, Trusmi, Kalisapu, dan Kuta Caruban. Ia dan laskarnya bergerak bagaikan awan terbawa angin ke Kutaraja Dermayu. Di sepanjang perjalanan, dengan pongah laskar-laskarnya berteriak menepuk dada. “Islamkan para pemuja berhala! Sunat Raja Dermayu! Potong kulup kemaluan orang-orang kafir.”

Prabu Indrawijaya, Yang Dipertuan Dermayu, sangat marah mendengar laporan tentang hasrat kemenakannya yang akan menyerang dan mengislamkannya. Kepalanya nyaris meledak ketika ia mendengar tentang caci maki para laskar yang menistanya sebagai kafir yang najis yang akan dipotong kemaluannya. Prabu Indrawijaya benar-benar merasa dihina dan direndahkan. Dengan kesombongan seekor singa tua yang geramannya masih menggetarkan musuh, ia mengaum, “Kehinaan apa yang aku peroleh jika harus menghadapi si mata sipit kulit pucat itu sebagai lawan? Dasar binatang tak tahu diri. Biarlah babi-babi sombong itu berbaris menuju padang penjagalan yang kita siapkan.”

Tanpa keluar dari kratonnya, Prabu Indrawijaya mengirim dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Lembu Tirta, dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Kidang Taraju, dan seribu pasukan dipimpin Ki Oyod. Pasukan Dermayu yang gagah perkasa itu dititahkan menghadang Angga dan laskarnya di seberang Sungai Kamal. Demikianlah, saat kedua pasukan bertemu, pecahlah pertarungan sengit yang membuat air Sungai Kamal berwarna merah. Dan ternyata, Angga mengalami nasib tidak lebih baik dari saat ia dan pasukannya dihancurkan pasukan Leuwimunding di hutan Kepuh. Dalam pertempuran itu, laskar yang dipimpin Angga hancur binasa. Hampir tiga ribu orang laskar yang dipimpinnya terbunuh. Sisanya melarikan diri. Angga sendiri dengan susah payah meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menghanyutkan diri hingga muara.

Kabar kehancuran laskar Angga diterima dengan ratap tangis para janda baru dan anak-anak yatim yang makin menggunung jumlahnya. Angga sendiri tidak diketahui keberadaannya. Baru pada hari kesepuluh dia muncul dalam keadaan kuyu untuk menghadap kalifah Caruban. Kemudian dengan kepandaiannya bersilat lidah, ia mengatakan akan siap memimpin kembali pasukan Caruban untuk menggempur Dermayu. Dia mengaku hanyut ke muara hingga terdampar ke pulau Menyawak setelah kalah bertempur di Sungai Kamal. Di pulau itu diberi jimat cupu oleh seorang pertapa tua. “Jimat cupu ini katanya bisa mengeluarkan beribu-ribu prajurit, Yang Mulia,” katanya berusaha meyakinkan.

Sri Mangana yang waskita hanya menggeleng-gelengkan kepala menghadapi kenaifan si burung gagak yang tak tahu diri itu. Namun, kali itu sang kalifah sudah habis kesabaran. Dengan suara menggelegar bagai halilintar ia berkata keras, “Cukup sudah tindakanmu mengobarkan nyawa orang-orang tak bersalah. Hentikan tidakan bodohmu yang sudah menciptakan ribuan janda dan anak-anak yatim! Terbukti sudah bahwa engkau tidak memiliki kecakapan apa-apa di medan tempur. Jikalau sekarang engkau masih berani meminta dukungan untuk menyerang Dermayu maka aku katakan bahwa perang dengan Dermayu tidak perlu dilakukan. Kenapa? Sebab, saudaraku Prabu Indrawijaya beserta seluruh keluarga, nayaka, dan punggawanya telah menghadapku. Saudaraku itu telah menyerahkan kekuasaan atas Dermayu kepada Caruban Larang. Bahkan mereka semua telah berikrar memeluk Islam. Karena itu, pergilah engkau ke Dermayu untuk meminta maaf kepada sang ratu yang sudah menjadi pengikut Muhammad Saw. itu.”

Angga tercengang-cengang mendengar penjelasan Sri Mangana. Ia merasa sangat kecewa karena tidak bisa membuktikan kegagahannya sebagai rajawali jantan. Ia sadar tidak bakal dipercaya lagi oleh Sri Mangana. Itu sebabnya, diam-diam ia menyembunyikan api kebencian terhadap sang rajawali betina. Demikianlah, makhluk bercitra gagak seperti Angga tidak memiliki kemampuan untuk bercermin diri sehingga tidak menyadari keberadaan diri sendiri. Ia tidak mengetahui bahwa takdir telah menempatkannya sebagai seekor gagak, sementara ia membayangkan diri seolah-olah rajawali jantan yang gagah perkasa: raja dari segala burung. Dan sebagaimana Angga, kerumunan bayangan hitam di Cermin Gaib itu akan bergulat untuk memperebutkan kekuasaan tanpa sadar bahwa mereka sesungguhnya adalah bayangan palsu dari manusia-hewan yang rendah. Mereka bukan manusia dan bukan pula adimanusia. Mereka adalah mereka: makhluk-makhluk tak tergambarkan yang lahir dari angan-angan kosong, cacing-cacing tanah, dan makhluk mengerikan dari alam Kegelapan.

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 09:30