Teka-Teki Sang Rajawali

Ketika Abdul Jalil berpaling dan melihat Cermin Gaib di dalam dirinya, ia melihat kilasan-kilasan perwujudan berupa semacam kabut berasap yang tebal dan bergumpal-gumpal. Kabut berasap yang memancarkan cahaya merah menyala, kuning keemasan, dan hitam pekat. Itulah perlambang kekuasaan dari Yang Mengangkat (ar-Rafi’) dan Yang Menjatuhkan (al-Khafidh), yang menyulut api peperangan sebagai bagian dari kuasa-Nya dalam memelihara keseimbangan alam beserta isinya. Peperangan, apa pun alasan yang melatarinya, adalah keniscayaan dari sunnah Allah (hukum alam), di mana ar-Rafi’ dan al-Khafidh selaku Rabb, menjalankan kehendak dari Rabb al-Arbab (Allah) untuk mempergilirkan kejayaan dan keruntuhan di antara manusia (QS. Ali Imran: 140).

Lantaran perang adalah bagian dari sunnah Allah demi keseimbangan alam seisinya, maka bagi mata yang waskita, di tengah gemuruh peperangan itu akan dapat menangkap kuasa-kuasa Ilahi berpusar-pusar dan berkeliaran menentukan arah dan alur peperangan. Sebagai salah satu di antara manusia yang memiliki kewaskitaan, di tengah kecamuk perang Caruban-Rajagaluh itu melihat kehadiran sejumlah kekasih Allah (aulia’ Allah), malaikat-malaikat pencabut nyawa, dan makhluk-makhluk halus penghuni purwa Nusa Jawa.

Para kekasih Allah itu tanpa ada yang mengetahui tiba-tiba muncul di tengah galau pertempuran dalam wujud seorang prajurit rendahan, perwira, penabuh genderang, tukang masak, pengungsi, orang gila, dan bahkan manusia-manusia misterius dari alam gaib (ar-rijal al-ghaib). Di tengah gemuruh hujan, beberapa saat menjelang gerbang Kutaraja Rajagaluh akan dibuka, Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Sri Mangana sempat berbincang-bincang dengan Wahisy al-Majdzub, Ibrahim al-Uryan, Syaikh Ahmad al-Bakhathi, tiga orang kekasih Allah yang dikenal dengan perilaku anehnya. Dengan menyamar sebagai juru jalir (pengawas pelacuran), Wahisy telah membawa para pelacur keluar dari kuta tanpa ditanyai ini dan itu oleh para prajurit Caruban yang mengepung kutaraja. Ibrahim al-Uryan dengan tubuh tanpa kain selembar pun menggiring para ibu dan anak-anak keluar dari kuta. Prajurit Caruban yang melihatnya tertawa-tawa dan menganggapnya gila. Sementara Syaikh Ahmad al-Bakhathi membawa para pendeta dan prajurit Rajagaluh yang terluka keluar dari kuta tanpa diketahui para pengepung.

Syarif Hidayatullah yang sekilas melihat perbincangan aneh itu terheran-heran. Bagaimana mungkin orang-orang terhormat seperti Sri Mangana, Syaikh Abdul Jalil, dan bahkan kakeknya sendiri berbincang-bincang dengan tiga gelandangan tidak waras; yang dua orang berpakaian kumal penuh tambalan dan yang seorang lagi telanjang tanpa pakaian. Malahan, dalam berbincang-bincang itu mereka berenam terlihat tertawa-tawa seolah tak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan kepala dilingkari tanda tanya, sesaat setelah pertempuran usai, Syarif Hidayatullah bergegas menemui Abdul Jalil yang sedang mengetuk-ngetukkan sebatang kayu pemukul dan bertanya kenapa mereka berbicara akrab dengan tiga orang asing yang kelihatannya tidak waras.

Ketika Abdul Jalil memberi tahu bahwa ketiga orang aneh yang diajaknya berbincang-bincang itu adalah Wahisy, Ibrahim al-Uryan, dan Syaikh Ahmad al-Bakhathi, Syarif Hidayatullah amat terkejut. Sebab, sejak lama ia sering mendengar nama buruk ketiga orang tersebut. Itu sebabnya, dengan suara ditekan tinggi ia memprotes tindakan Abdul Jalil, “Kenapa Paman berbicara akrab dengan mereka? Bukankah ketiga orang itu terkenal di mana-mana sebagai orang tidak waras? Bukankah Wahisy itu orang gila yang suka berkeliaran di rumah-rumah pelacuran? Bukankah Syaikh Ibrahim al-Uryan itu dikenal sebagai orang gila yang suka telanjang jika berkhotbah di mimbar? Bukankah Syaikh Ahmad al-Bakhathi itu dikenal sebagai orang yang suka meludahi orang lain?”

“Mereka adalah kekasih-kekasih Allah, Anakku,” kata Abdul Jalil memutar kayu pemukul yang dibawanya.

“Saya ragu mereka wali Allah, Paman. Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari’at Allah? Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan tindakan-tindakan rendah yang memalukan?” tanya Syarif Hidayatullah tak terima.

“Engkau kelak akan mengetahuinya, o Anakku,” kata Abdul Jalil membolak-balik kayu pemukulnya. “Sebab, apa yang engkau lihat dengan mata inderamu tidaklah menunjukkan Kebenaran Sejati tentang sesuatu. Orang-orang seperti Wahisy, misalnya, sekalipun tidur sekamar dengan seratus pelacur tidak akan terkena dosa sebagaimana ditetapkan hukum syari’at. Bahkan aku berani bersaksi, Wahisy tetap suci dan tak ternoda meski ia sudah bergaul dengan ribuan pelacur selama bertahun-tahun.”

“Bagaimana Paman bisa berkata seperti demikian?”

“Sebab aku tahu, jiwa Wahisy sudah menyatu dengan Jiwa Semesta. Dia sudah menjadi makhluk Semesta.”

“Maksud Paman?”

“Dia sudah bukan lagi laki-laki dan bukan pula perempuan. Dia sudah lepas dari jenis kelamin. Hanya tubuh manusiawinya saja yang berkelamin laki-laki, namun jiwanya merupakan semesta. Dan seperti makhluk-makhluk semesta yang lain; bulan, bintang, matahari, malaikat, iblis, Wahisy tidak kenal lagi perbedaan kelamin seperti layaknya manusia dan binatang sehingga kepadanya tidak bisa dikenakan hukum-hukum syari’at yang didasarkan pada penafsiran fiqhiyyah atas ayat-ayat Allah dan sunnah Rasul.”

“Karena itu, o Anakku, jika kelak engkau menjadi seorang guru manusia dan menemui orang-orang seperti Wahisy dan Ibrahim al-Uryan, kenakanlah kepada mereka itu hukum syari’at yang diberlakukan bagi orang gila. Maksudnya, tidak ada hukum syari’at yang melarang orang gila bergaul dengan pelacur. Tidak ada juga hukum syari’at yang melarang orang gila telanjang. Namun, hukum syari’at juga tidak melarang seseorang untuk berbicara dengan orang gila,” Abdul Jalil mendekap kayu pemukulnya.

Syarif Hidayatullah tertawa dan mengangguk-angguk mengisyaratkan bahwa ia sudah memahami masalah itu. Namun saat ia akan kembali ke kemahnya, tiba-tiba bahunya ditarik seseorang dari belakang. Ketika menoleh, ia melihat Syaikh Ibrahim al-Uryan dalam keadaan telanjang duduk di atas punggung seekor sapi. Syarif Hidayatullah yang tak mengetahui bagaimana sang syaikh dan sapi itu dalam sekejap tiba-tiba muncul di belakangnya, dengan tergagap menyampaikan salam. Namun, seperti orang tidak waras yang mengomel sendiri, tanpa menjawab salam Syarif Hidayatullah, Syaikh Ibrahim al-Uryan berkata dengan suara yang lain.

“Lihat burung-burung gagak yang terbang mengepakkan sayap di langit! Mereka berteriak-teriak di angkasa memuji keagungan Sang Maut dan memohon agar Penguasa kerajaan kematian itu turun ke medan perang. Lihat! Lihatlah bagaimana gagak-gagak itu mengiringi Sang Maut turun ke medan perang. Lihat! Apa yang dilakukan para gagak ketika Sang Maut menghantamkan sayap-Nya sehingga mengakibatkan beribu-ribu manusia bergelimpangan tanpa nyawa. Ya, gagak-gagak licik itu berkerumun-kerumun dan sambil memekik-mekik gembira mencabik-cabik mayat-mayat dengan paruhnya yang setajam pedang dan seruncing tombak.”

“Waspada! Waspadalah pada gagak-gagak hitam yang menyembunyikan pamrih serigala dan musang di balik bulu-bulunya yang legam. Tetapi, hendaknya engkau lebih waspada pada kawanan serigala dan musang yang akan keluar dari balik bulu gagak –gagak hitam itu. Sebab, telah termaktub di kitab langit (al-Lauh al-Mahfuzh) bahwa Sang Penentu (al-Muqtadir) telah menggoreskan Pena Mulia (al-qalam al-a’la), bahwa negeri-negeri timur di bawah langit akan dikerumuni dan dijadikan jarahan oleh kawanan serigala dan musang yang membawa malapetaka kegelapan bagi para penghuni bumi. Saat itulah cakrawala di daratan dan di lautan akan tertutupi oleh awan kegelapan sehingga penghuni bumi tidak bisa lagi mengenali satu sama lain karena sejauh mata memandang yang menampak di cakrawala hanyalah benda-benda (thaghut) dan wujud palsu dari angan-angan kosong (al-wahm). Saat itu manusia sudah tinggal menjadi kerangka kosong yang tak memiliki jiwa (ash-shuwar al-qa’imah). Ke mana pun penglihatan diarahkan, yang tampak hanyalah benda-benda yang lain (al-aghyar) yang menyimpang dari Kebenaran (al-Haqq).”

“Aku bukan peramal. Aku bukan tukang sihir. Aku juga bukan ‘orang berkelebihan’ yang dapat melihat gambaran masa depan. Aku hanya seorang tidak waras yang kebetulan melihat dunia masa depan lewat alam khayalku. Ya, aku saksikan bagaimana kapal-kapal berlayar di lautan dan kapal-kapal tertambat di dermaga. Kapal-kapal itu tidak pula memuat manusia dan tidak memuat barang-barang kebutuhan manusia. Sebaliknya, kapal-kapal itu berisi serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa dari Kegelapan yang rakus dan tak pernah kenyang. Sungguh, telah aku saksikan kawanan makhluk mengerikan yang buas dan licik itu menjelma menjadi manusia-manusia berparas mengagumkan dan sangat santun, namun sangat berbahaya. Mereka akan mendatangi manusia dengan senyuman, namun tangan mereka yang tersembunyi di belakang punggungnya menggenggam pisau beracun. Setiap manusia yang lengah dan terpesona oleh ucapan-ucapan manis itu akan ditikamnya.”

“Waspada dan berhati-hatilah engkau, o manusia. Sebab, tikaman pisau beracun manusia-manusia palsu jelmaan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa itu tidaklah membuat manusia mati. Tikaman pisau beracun itu hanya akan membuat hatimu berubah menjadi biru dan membeku. Tak lama setelah itu, hatimu akan menghitam dan membatu. Kemudian engkau akan menjadi mayat-mayat hidup yang berbaris di bawah perintah mereka. Ya, dunia baru yang dihuni manusia-manusia masa depan akan berisi mayat-mayat hidup yang ditinggal pergi oleh jiwa dan ruhnya. Sementara ruh mayat-mayat hidup itu terbang ke alam ruh (‘alam al-arwah), jiwanya bergentayangan menjadi hantu-hantu hitam yang berkeliaran di muka bumi sebagai bayangan-bayangan hitam yang palsu dan menyesatkan. Dan tubuhnya menjadi timbunan daging busuk yang ke mana-mana menebarkan penyakit dan kematian.”

“Demikianlah, penglihatan yang aku tangkap dari dunia masa depan. Sesungguhnya, segala sesuatu yang mengerikan dari masa depan itu tidaklah terjadi kecuali semata-mata karena kehendak-Nya. Sesungguhnya, jika Allah menimpakan marabahaya (mudharat) kepada makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menghindarinya, kecuali Dia sendiri. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menolak kebaikan-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (QS. Yusuf: 107).”

Ketika Syaikh Ibrahim al-Uryan pergi dengan sapinya ke gugusan pohon yang tak lagi berdaun dan menghilang di balik senjakala, Syarif Hidayatullah mendekati Abdul Jalil dan berkata dengan suara tercekat di tenggorokan, “Apa yang pernah Paman ungkapkan tentang Dajjal, Ya’juj wa Ma’juj, yang bakal merusak dan menjarah kehidupan umat manusia barusan telah diungkap pula oleh Syaikh Ibrahim al-Uryan. Apakah yang harus kita lakukan untuk menghadapi mereka?”

“Menyiapkan adimanusia yang siap bertempur di segala medan,” kata Abdul Jalil memainkan kayu pemukul sambil menerawang ke gugusan langit yang mulai gelap. “Sebab, hanya adimanusia yang mampu memimpin manusia-manusia untuk bisa mengalahkan kawanan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa jejadian itu.”

“Apakah kita akan membangun pertahanan di balik benteng-benteng peradaban sebagaimana pernah Paman katakan?” tanya Syarif Hidayatullah minta penjelasan.

“Ya,” kata Abdul Jalil mengetu-ketukkan kayu pemukulnya ke tanah. “Benteng-benteng peradaban yang dilingkari dinding adat kebiasaan dan syari’at. Benteng-benteng peradaban yang dibangun di atas landasan Tauhid.”

“Tetapi, Paman, apakah dengan itu kita tidak perlu membangun kekuatan bersenjata?”

“Kekuatan bersenjata tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan memelihara jiwa ksatria para manusia dan adimanusia. Tetapi satu hal yang perlu diingat, aku sangat tidak menghendaki senjata-senjata pemuntah api seperti gurnita yang digunakan pasukan Terung. Sebab, gurnita mengingatkan aku pada senjata yang digunakan pasukan Dajjal, Ya’juj wa Ma’juj, yaitu ajij dalam bentuk yaf’ul dan maf’ul, yang bermakna ‘semburan api’. Bukankah gurnita itu menyemburkan api? Bukankah senjata gurnita itu yang membakar hutan-hutan di sekitar Kuta Rajagaluh?”

“Memang, dengan senjata-senjata penyembur api semacam gurnita, manusia bisa beroleh kemenangan di medan tempur. Tetapi, pemenang yang agung bukanlah mereka yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di medan tempur, melainkan mereka yang bisa menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Itulah sang pemenang agung sejati. Lantaran itu, menurutku, kita harus menghindari penggunaan senjata-senjata ‘penyembur api’ sebagaimana Ya’juj wa Ma’juj. Sebab, senjata-senjata semacam itu tidak hanya merusak alam dan menghancurkan kehidupan makhluk di muka bumi, tetapi menjungkir-balikkan pula adat kebiasaan ksatria, dan yang paling berbahaya adalah menebarkan daya-daya setani di muka bumi,” kata Abdul Jalil.

“Saya paham, Paman,” kata Syarif Hidayatullah.

“Jika sudah paham, engkau harus berkemas-kemas untuk pergi meninggalkan Caruban.”

“Saya harus meninggalkan Caruban?” gumam Syarif Hidayatullah terkejut.

“Paduka kalifah mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengajakmu ke Banten. Dia akan menguji engkau sebagaimana dia telah menguji Raden Sahid. Ya, dia akan menguji apakah engkau mampu melampaui kemanusiaanmu untuk menjadi adimanusia,” kata Abdul Jalil mengetukkan kayu pemukulnya ke tanah.

“Dengan sukacita saya akan menerima ujian itu Paman,” kata Syarif Hidayatullah mantap.

“Berarti engkau harus siap membangun benteng pertahanan peradaban dan Tauhid di sana dan sekaligus menjadi panglima penguasa benteng,” Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayatullah dan kemudian membalikkan badan meninggalkan tempat seraya bertelekan pada tongkat pemukulnya.

“Paman hendak ke mana?”

“Menjalankan tugasku, mengajarkan sasyahidan kepada para calon adimanusia,” sahut Abdul Jalil sambil melangkahkan kaki melewati rumput-rumput dan bebatuan. Ketika sampai di sebuah belokan jalan yang dibatasi sebatang pohon besar tak berdaun, Abdul Jalil berpapasan dengan Pangeran Soka dan para pengawalnya yang membawa harta pampasan di atas kereta-kereta. Setelah saling bertegur sapa, Pangeran Soka berkata, “Kami mendapat amanat dari paduka kalifah, untuk memberikan bagian pampasan kepada Tuan Syaikh.”

“Pampasan perang untukku?” tukas Abdul Jalil heran. “Bukankah aku tidak ikut berperang? Bagaimana mungkin aku bisa mendapat bagian pampasan?”

“Tuan Syaikh telah menjadi pendamping dan penasihat kalifah sehingga berhak mendapat pampasan. Selain itu, kami tidak berani membantah titah paduka kalifah,” kata Pangeran Soka.

“Jika demikian, aku minta agar bagianku diberikan kepada Li Han Siang.”

“Diberikan kepada Li Han Siang?” sergah Pangeran Soka terheran-heran. “Bukankah dia sudah kaya raya?”

“Itu bukan hibah atau sedekah,” kata Abdul Jalil sambil berlalu, “tapi untuk membayar utangku.”

“Tuan Syaikh,” seru Pangeran Soka, “benarkah Tuan Syaikh berutang kepada Li Han Siang?”

“Ya.”

“Kalau boleh tahu, untuk apa Tuan Syaikh berutang? Bukankah orang seperti Tuan Syaikh sudah tidak butuh uang?” tanya Pangeran Soka terheran-heran.

“Apakah anehnya Syaikh Lemah Abang punya utang? Apakah engkau juga menganggap aneh jika mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. pun pernah berutang?” kata Abdul Jalil melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan ke berbagai tempat dan menyampaikan ajaran sasyahidan, Abdul Jalil sampai ke suatu persimpangan jalan yang terletak di sebuah lembah yang aneh: suatu hamparan tanah berwarna hitam tanpa rumput dan tanpa semak-semak. Bukit-bukit karang yang bertonjolan di permukaan tanah tegak menjulang laksana barisan tombak ditancapkan di tanah berbatu. Di sekitar bukit-bukit karang itu terhampar beratus-ratus lubang tanpa dasar yang akan memerangkap siapa pun makhluk yang kurang waspada. Semua yang tergelar di lembah itu terlihat hitam; tanah, batu, pohon, bukit, awan, langit, bahkan cakrawala. Tidak satu makhluk pun dijumpai Abdul Jalil di lembah itu. Sebab, siapa pun tentu tidak suka datang ke tempat celaka yang disebut “lembah kejahilan” itu.

Tidak berapa jauh setelah Abdul Jalil melangkahkan kaki ke lembah hitam, ia melihat sesosok bayangan hitam manusia sedang duduk merenung di bawah sebongkah batu hitam di kaki bukit. Abdul Jalil mengerutkan kening menajamkan mata dan bertanya, “Siapakah engkau, o sosok hitam yang berkerudung selimut kebingungan?”

“Kami adalah anak-anakmu, o Syaikh Lemah Abang,” kata sosok itu dengan suara gemerisik bagai gesekan batang bambu ditiup angin.

“Kami?” gumam Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukulnya. “Berapakah jumlahmu?”

“Jumlah kami sebanyak semut di sarangnya,” kata bayangan hitam manusia itu seraya berdiri. Lalu terlihatlah pemandangan mencengangkan: batu-batu yang terhampar di kaki bayangan hitam manusia itu tiba-tiba ikut berdiri dalam wujud bayangan hitam manusia dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, dengan suara gemerisik bagai suara ribuan tampah menampi gabah, bayangan-bayangan hitam itu berkata serentak, “Kami adalah cacing-cacing tanah yang telah engkau cipta menjadi hewan melata. Kami telah mengikuti jalan yang engkau bentangkan di hadapan kami agar kami dapat mencapai negeri agung di seberang lembah kejahilan ini dan tinggal di sana sebagai adimanusia. Tetapi, kami tersesat dan tersungkur di lembah ini dan menjadi batu-batu yang sedih dan merana. Sementara beribu-ribu saudara kami malah jatuh terperosok ke dalam lubang-lubang tanpa dasar dan tidak kami ketahui lagi nasibnya. Kami menuntut tanggung jawabmu sebagai ibu dan sekaligus bapak yang telah melahirkan kami ke dunia baru yang mengerikan ini.”

Dengan pandangan penuh kasih Abdul Jalil memandang bayangan-bayangan hitam itu seolah-olah ingin membaca apa yang tertulis di jiwa mereka. Setelah menarik napas beberapa kali, ia berkata dengan suara sebening tetesan air yang jatuh di panci pada malam hari, “Lihat! Lihatlah cahaya gemerlap yang berkilau-kilau di atas tebing-tebing tinggi di tanah seberang itu! Arahkan kiblat hati dan pikiran kalian semua ke sana! Sebab, ke sanalah engkau sekalian harus sampai, yakni negeri agung kediaman para adimanusia.”

“Bukankah selama ini kami telah mengikuti petunjukmu itu? Bukankah kami telah berikrar bahwa tidak ada jalan lain yang harus kami lewati kecuali yang telah dibentangkan oleh Sang Penuntun Agung? Tapi apa yang kami dapatkan? Tidak ada yang lain, kecuali kesengsaraan, penderitaan, dan kesesatan!”

Abdul Jalil menggeram bagai singa dengan wajah merah padam. Seraya mengacungkan tongkat pemukulnya ia berkata lantang, “Tutup mulutmu, he pendusta-pendusta kecil! Aku tahu siapa engkau sesungguhnya. Engkau adalah para pendusta bermulut palsu, berhati palsu, dan berjiwa palsu. Engkau katakan bahwa dirimu telah berikrar untuk tidak mengalihkan kiblat hati dan pikiranmu dari cahaya di seberang lembah itu, namun ikrarmu itu hanya sebatas ucapan di mulutmu yang palsu. Pandangan matamu telah berpaling dari-Nya karena perhatianmu cenderung pada benda-benda yang memesona penglihatanmu. Pendengaran telingamu pun telah pekak dan tidak lagi mendengar suara-Nya. Hatimu yang palsu dan tertutup karat kebendaan tidak dapat lagi menerima benderang cahaya-Nya. Pikiranmu yang palsu dan bercabang-cabang tidak mampu lagi berkiblat kepada-Nya. Lantaran itu, engkau tidak lagi dapat melihat jalan yang benar sesuai petunjuk-Nya sehingga sebagian di antara kalian ada yang tersungkur di lembah kejahilan, bahkan ada yang terperosok ke dalam lubang tanpa dasar.”

“Aku tahu siapa sesungguhnya engkau, he penipu-penipu kecil! Engkau katakan kepada semua orang bahwa engkau adalah orang-orang beriman yang tunduk patuh pada Hukum Suci yang ditetapkan-Nya. Engkau katakan kepadaku bahwa engkau telah menjalankan apa yang telah aku ajarkan dan mengikuti petunjuk jalan yang telah aku berikan. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa engkau telah berdusta. Dusta. Dusta. Seribu kali dusta. Aku tahu, sesungguhnya yang berjalan terseok-seok menyusuri lembah kehidupan bukanlah tubuh, hati, dan pikiranmu, melainkan angan-angan kosong (al-wahm) yang lahir dari lamunan (al-umniyah) jiwamu yang kerdil dan rendah. Ya, yang menjalankan ajaranku adalah angan-angan dan lamunanmu. Sungguh malu aku mendengar engkau mengaku-ngaku sebagai anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Sebab, aku tidak pernah berpikir tentang kekerdilan seekor cacing yang menggeliat di dalam tanah sepanjang zaman. Aku juga tidak pernah bermimpi tentang makhluk-makhluk pemalas yang suka pada pengumbaran nafsu. Malu aku. Malu. Malu. Seribu kali malu.”

“Dengar! Dengarlah, he maling-maling kecil yang mengaku anak-anakku! Akhirilah dustamu! Hentikanlah kebohonganmu! Sadarlah engkau bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan di surga sebagaimana yang engkau bayangkan dan engkau angankan. Kehidupan dunia tidak bisa engkau nikmati dengan kemalasan dan lamunan-lamunan tentang bidadari dengan sungai susu dan kolalm madu. Kehidupan dunia harus engkau lampaui dengan perjuangan keras yang tak kenal menyerah dan tak kenal pula putus asa, sampai engkau menjadi adimanusia yang mewarisi kehidupan di negeri agung yang penuh keselamatan dan kesentosaan. Tanpa perjuangan keras, mustahil engkau dapat meninggalkan lembah kejahilan ini. Kemalasan dan angan-angan kosongmu akan menjadikan engkau tinggal abadi di lembah kejahilan ini bersama anak, cucu, dan buyutmu.”

“Ayo anak-anakku, sekarang ikutilah jekakku! Sebab, aku akan mengajarkan kepadamu tentang sasyahidan, yaitu kesaksian yang benar tentang Sang Cahaya di atas segala cahaya dan Sang Penuntun Agung, agar kalian semua dapat beroleh Kebenaran (al-Haqq) hidup sejati serta tidak menjadi mayat-mayat berjalan tanpa jiwa dan ruh. Aku akan tunjukkan kepadamu kehidupan adimanusia yang tidak bisa ditundukkan dan diperbudak oleh kawanan serigala dan musang yang akan menguasai bumi.”

“Ayo, kemarilah! Aku akan ajarkan kepadamu jalan Kebenaran yang hakiki. Ketahuilah bahwa sejatinya Kebenaran (al-Haqq) adalah Zat Yang Mahatampak (azh-Zhuhur al-Haqq). Dia tampak pada segala sesuatu (azh-zhahir bi kulli syai’). Dia menampakkan segala sesuatu (azh-hara kulla syai’). Dia yang nyata atas tiap-tiap sesuatu (azh-zhahir li kulli syai’). Sebab, Dia adalah Yang Nyata sebelum segala sesuatu ada (huwa zhahir qabla qujudi kulli syai’). Tetapi, akibat benderang cahaya-Nya, engkau sekalian tidak dapat menyaksikan penampakan diri-Nya. Sementara selubung keakuan yang menyelimuti dirimu makin menghijab mata batin (‘ain al-bashirah) yang tersembunyi di dalam dirimu hingga engkau sekalian menjadi buta terhadap-Nya. Lalu di dalam kebutaanmu terhadap-Nya, engkau menjadi budak dari benda-benda.”

“Ayo, sekarang bertobatlah kalian semua untuk kembali setia kepada-Nya. Ucapkanlah persaksian sekali lagi di hadapanku. Persaksianmu kali ini tidak hanya sebatas mulut yang palsu, tetapi kesaksian yang tembus ke hati dan menjadi gerak hidup seluruh tubuh dan jiwamu. Aku katakan kepadamu bahwa kesaksian bukanlah untuk dihafal dan diucapkan berulang-ulang, melainkan untuk dijalani sebagai bagian utama dari kehidupan. Karena itu, ikutilah jejakku meski engkau akan merasakan sakit tak tertahankan!”

“Tahukah engkau apa yang aku maksud dengan mengikuti jejakku dan engkau akan kesakitan? Pertama-tama, engkau harus menyembelih jiwa kekanak-kanakanmu! Lalu, kupas kulit berbulu kemunafikanmu! Lalu, sayat-sayat daging kemalasanmu! Lalu, patahkan tulang-tulang kesombonganmu! Lalu, bersihkan jeroan jiwa busukmu! Lalu, kumpulkan semua keakuanmu dalam tumpukan daging, tulang, dan jeroan! Lalu, bagi-bagikan kepada para fakir agar pengorbanan jiwa dan ragamu sampai kepada-Nya.”

“Sesungguhnya aku tidak pernah mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutajarrid yang melakukan uzlah meninggalkan kehidupan duniawi. Aku justru mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutasabbib yang berkhidmat kepada masyarakat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Untuk menjadi seorang mutasabbib, kewajiban utama yang harus dijalani adalah berkorban. Berkorban. Berkorban. Seribu kali berkorban. Berkorban sampai lenyap semua keakuanmu menjadi korban persembahan untuk-Nya.”

Abdul Jalil mengatupkan mulut rapat-rapat dan memandang bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya. Bayangan-bayangan hitam itu makin lama makin banyak karena mereka yang terjerumus ke dalam lubang tanpa dasar pun tiba-tiba berhasil naik ke permukaan dan ikut berkerumun mendengarkan ajaran sasyahidan yang disampaikan Abdul Jalil. Kemudian terjadi sesuatu yang mengherankan, sekumpulan bayangan hitam tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara gemerisik sambil mengepalkan tangannya ke atas, “Sekarang marilah kita bersama-sama menjalankan segala sesuatu yang diajarkan oleh Syaikh Lemah Abang, ibu dan bapak yang melahirkan kita. Marilah kita mulai berjalan melampaui ‘lembah kejahilan’ ini menuju dunia agung tempat kita akan menjadi adimanusia. Sungguh, telah kami rasakan betapa sengsara dan menderitanya menjadi bayangan-bayangan hitam yang tak jelas bentuk dan wujudnya ini. Ayolah, kita mulai perjalanan panjang yang penuh tantangan ini. Ayolah kita capai Cahaya benderang di puncak tebing menjulang itu karena Cahaya itulah kiblat kita.”

Tanpa menunggu waktu, kumpulan bayangan hitam itu membalikkan badan dan melesat di atas tanah melintasi ‘lembah kejahilan’ di tengah tatap dungu dan pandir kawan-kawannya yang masih duduk melamun, asyik mendengarkan cerita yang disampaikan Abdul Jalil. Melihat pemandangan itu Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia sadar tidak banyak manusia yang cukup cerdas untuk menerima ajaran yang disampaikannya. Mereka, keluhnya dalam hati, lebih suka terbuai cerita dan lalmunan daripada menjalani apa yang diajarkannya. Ajaran sasyahidan yang disampaikannya hanya cocok bagi manusia-manusia yang kuat, cerdas, tabah, berani, dan pantang menyerah dalam mewujudkan jati diri menjadi adimanusia.

Rasa bangga memenuhi dadanya saat ia menyaksikan bagaimana sekumpulan bayangan hitam itu bergulat mempertunjukkan keuletan untuk melampaui rintangan di tengah “lembah kejahilan”. Dengan mata berbinar-binar ia melihat anak-anaknya itu saling berlomba untuk mendahului, meski mereka jatuh bangun dan bergulingan di atas bebatuan dan tanah berdebu. Tapi lihat! Lihatlah! Di tengah lembah itu terjadi sesuatu yang menakjubkan; bayangan-bayangan hitam itu, anak-anak Abdul Jalil itu, tiba-tiba melompat tinggi ke atas melampaui tebing-tebing hitam yang tegak menjulang. Ajaib, tubuh mereka menjelma menjadi singa-singa perkasa berbulu kuning kecoklatan. Mereka mengaum dan berlari terus saling mendahului menuju seberang lembah. Singa-singa itu terus berlari dan melompat meninggalkan tebing-tebing, bukit-bukit, jurang-jurang, batu-batu, pohon-pohon, semak-semak, padang pasir, dan lubang-lubang tanpa dasar. Melihat kejadian menakjubkan itu, tanpa sadar Abdul Jalil mengangkat tongkat pemukulnya ke atas dan berseru gembira, “Ayo maju terus! Songsonglah matahari pagimu yang cemerlang dan gilang-gemilang! Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kesingaanmu agar engkau menjelma menjadi manusia. Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kemanusiaanmu agar engkau menjadi adimanusia!”

Melihat Abdul Jalil mengacung-acungkan tongkat pemukulnya untuk menyemangati kawanan singa yang berlomba melintasi “lembah kejahilan”, bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya tiba-tiba bangkit dan berdiri di samping kanan dan kirinya. Dengan terheran-heran mereka ikut-ikutan melihat ke arah singa-singa yang sedang berpacu melintasi lembah. Namun, dalam penglihatan mereka bukan kawanan singa yang berlomba saling mendahului, melainkan sekumpulan katak hitam yang melompat-lompat di atas tanah berlumpur. Setelah saling memandang dengan tatapan dungu, mereka kemudian bertepuk tangan, bersorak-sorai, tertawa-tawa, dan berteriak-teriak menyemangati katak-katak itu dengan suara gemerisik bagai derik beribu-ribu tonggeret, “Ayo lompat! Jangan mau ketinggalan! Ayo katak, lompati kawanmu! Lompat terus! Lompat!”

Ketika cakrawala terbentang dan bedug subuh ditabuh bertalu-talu, Raden Ketib tersentak dari renungan karena menyaksikan matahari Kebenaran bersinar gemilang dari balik gunung-gunung berkabut di kedalaman jiwanya. Sesaat ia terheran-heran menyaksikan kenyataan itu. Dan ia makin keheranan ketika mendapati dirinya berada di sebuah dunia dengan cakrawala kesadaran baru yang mengubahnya dari seekor kupu-kupu menjadi seekor burung. Ia merasa bumi tiba-tiba menjadi ringan sehingga ia dapat terbang secepat burung ke angkasa. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Dunui yang dikenalnya dulu kini berubah menjadi sesuatu yang lain; cakrawala, langit, awan, air, pohon, batu, rumput, embun, dan bahkan tanah yang dipijaknya terasa lain.

Dengan benak dikerumuni tanda tanya, ia menanyakan perubahan yang dialaminya itu kepada Syaikh Datuk Bardud. Namun, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil itu tidak menjawab dan hanya memberi isyarat agar ia bertanya pada hati nuraninya sendiri. Pada saat ia akan menanyai hati nuraninya, ia tiba-tiba teringat betapa selama menelusuri jejak berliku dari Syaikh Datuk Abdul Jalil, ia telah mengalami perubahan demi perubahan kesadaran yang berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat seibarat kesadaran telur, ulat, kepompong, kupu-kupu, dan kemudian burung. Ya, ia mendadak teringat bahwa di balik tersingkapnya kesadaran demi kesadaran yang dialaminya itu, yakni saat ia melewati tirai demi tirai dan memasuki matra demi matra yang lebih luas, lebih terang, lebih hakiki, sesungguhnya ia diseret oleh suatu “daya gaib” yang tak diketahui dari mana asalnya. Bahkan, kini, saat ia memasuki kesadaran burung, ia tetap merasa segala sesuatu yang ada pada dirinya dilingkupi oleh “daya gaib” tersebut.

Anehnya, dengan kesadaran barunya itu ia tidak sekadar dapat memahami dengan jelas liku-liku perjuangan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang begitu menakjubkan, tetapi ia dapat pula merasakan apa yang dirasakan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil dan mereka yang terlibat di kancah pergulatan sejarah masa lampau. Ia seolah-olah ikut terlibat di dalamnya. Ia merasakan jiwanya ikut terombang-ambing dan terempas bagai air diaduk badai.

Raden Ketib sadar bahwa ia tidak cukup mampu untuk menangkap secara utuh keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil beserta sepak terjangnya yang menakjubkan. Ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keberadaan utuh Syaikh Datuk Abdul Jalil, kecuali menyebutnya sebagai sosok raksasa pada zamannya: raksasa di dalam pemikiran, raksasa di dalam ajaran, dan raksasa di dalam karya. Dengan demikian, segala usaha manusia untuk mengerdilkan sang raksasa pastilah akan berujung pada kegagalan sebab kodrat hidup seorang raksasa adalah menjadi raksasa. Orang boleh membenamkan sang raksasa di bawah kubangan lumpur, atau menyusupkannya di bawah timbunan sampah, atau menyelipkannya di kandang babi, atau menyurukkannya di lubang semut, namun seorang raksasa yang dikodratkan menjadi raksasa akan selalu menjadi raksasa, tidak akan pernah menjadi anjing apalagi cacing tanah.

Tentang keraksasaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, setidaknya diketahui Raden Ketib lewat kesaksian-kesaksian orang-orang dekatnya yang menuturkan keberadaan sang raksasa dengan penuh kekaguman. Bukan hanya Ki Gedeng Pasambangan, Raden Kusen Adipati Terung, Syaikh Maulana Jati, Pangeran Cirebon, Pangeran Pasai Fadhillah Khan, bahkan Raden Sahid yang sangat dihormati di Demak pun tidak dapat menyembunyikan kebanggaan ketika mengungkapkan kesaksiannya tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. Malah, yang tak pernah diduga-duga oleh Raden Ketib adalah pengakuan Susuhunan Kalijaga itu yang menyatakan bahwa sang raksasa yang dikutuk banyak orang itu sejatinya merupakan mertuanya. “Zainab, puteri beliau, adalah istri pertamaku,” ujar Raden Sahid tegas.

Pengakuan Raden Sahid tak pelak menyingkap tirai rahasia yang selama ini menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil dari pengetahuan Raden Ketib. Dengan pengakuan itu, Raden Ketib menangkap kenyataan betapa kehidupan manusia pada dasarnya tidak berdiri sendiri dan tidak pula terlepas dari ikatan antara yang satu dengan yang lain. Kehidupan manusia ibarat rangkaian tali-temali yang saling menjalin. Meski simpul satu dengan simpul yang lain berbeda dalam ukuran dan bentuk, mereka saling menguatkan. Bahkan, keberadaan salah satu simpul tali yang kelihatan paling kusut pun jika diurai dan diamati secara lebih cermat akan memperlihatkan jati diri sebagai ikatan simpul yang paling kuat dan paling menentukan rangkaian tali-temali itu. Demikianlah, keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil sebagai simpul tali yang dianggap paling kusut yang dinista dan dihina sebagai sumber kekusutan seluruh jalinan tali-temali kehidupan manusia, ternyata merupakan simpul tali yang selama puluhan tahun tak pernah putus dan bahkan terus memanjang membuat simpul-simpul baru hingga mirip jaring laba-laba raksasa.

Jaringan tali-temali kehidupan anak manusia yang terikat pada simpul Syaikh Datuk Abdul Jalil setidaknya diketahui Raden Ketib beberapa waktu menjelang Raden Kusen, kakeknya, meninggal dunia. Saat itu, tanpa hujan tanpa angin, Raden Kusen mengirim utusan ke Palembang untuk meminang Nyi Mas Ilir, adik Raden Ketib, untuk dinikahkan dengan Pangeran Wirakusuma, putera Pangeran Cirebon, cucu Sri Mangana. Ketika pesta pernikahan dilangsungkan dan semua kerabat datang, Raden Ketib mendapati sejumlah tamu yang namanya pernah didengarnya berkaitan dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Bahkan, saat Raden Kusen wafat setelah hari ketiga pernikahan, sejumlah orang yang bertakziah diketahui Raden Ketib sebagai pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka berkumpul dari berbagai tempat bagaikan gumpalan kabut yang kemudian menghilang dari penglihatan.

Rupanya, secara diam-diam para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil dengan setia menjalankan gagasan-gagasan yang diwariskannya, baik tentang masyarakat ummah, wilayah al-Ummah, maupun ajaran tarekatnya. Itu sebabnya, sepeninggal Sri Mangana, bukan Pangeran Cirebon yang menggantikannya sebagai kalifah dan ratu Caruban, melainkan Pangeran Muhammad Arifin, putera Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Hal itu terjadi karena para wali nagari dan gedeng se-Caruban Larang bermusyawarah dan bersepakat menunjuk Pangeran Muhammad Arifin yang menggunakan gelar Pangeran Pasarean. Alasan penunjukan Pangeran Pasarean sebagai kalifah Caruban tidak lain dan tidak bukan karena dia dianggap sebagai orang yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sementara untuk melanjutkan kedudukan ratu sebagai bagian dari tradisi, Pangeran Cirebon diangkat sebagai manggalayuddha karena dianggap mewarisi bakat ayahandanya dalam memimpin militer.

Kekuatan jaringan tali-temali yang diikat oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil tanpa terduga tiba-tiba menjerat Raden Ketib dan mengikatnya sebagai bagian dari jaringan tali-temali raksasa yang tak terlihat mata. Alkisah ketika Raden Ketib bersama-sama dengan Syaikh Datuk Bardud berkeliling ke berbagai tempat untuk bersilaturahmi dan sekaligus menguak teka-teki yang menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil, ternyata para gedeng, wali nagari, dan pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil diam-diam mengawasi dan menilainya. Sepekan setelah Raden Kusen wafat tiba-tiba Raden Ketib diundang untuk hadir dalam musyawarah para gedeng di Pekalipan. Ternyata, perwakilan warga Tegal Gubuk dan para gedeng serta kalifah sepakat menunjuk Raden Ketib sebagai gedeng di Tegal Gubuk untuk menggantikan gedeng lama yang meninggal setahun silam. Sebagaimana gedeng terdahulu, Raden Ketib diberi gelar sebutan Ki Gedeng Sura.

Dengan memangku jabatan sebagai gedeng, Raden Ketib sadar tentang kedudukan ruhaninya di tengah gagasan wilayah al-Ummah. Ia sadar belum cukup mampu mencapai kedudukan manusia apalagi adimanusia sebagaimana diharapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, ia tetap berusaha untuk menjalankan apa yang diajarkan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil, yaitu berjuang keras melampaui manusia agar menjadi adimansia. Ia pun sadar tidak cukup banyak orang mampu mewadahi gagasan-gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, apalagi untuk menjalankannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil terlalu raksasa untuk dipahami dan dijalankan oleh makhluk-makhluk kerdil, sebagaimana ketidakmampuan kawanan burung pipit pencuri padi untuk meneladani rajawali raksasa. Raden Ketib tidak memiliki pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu kecuali melalui sindiran pepatah yang berbunyi: “Bagaikan memberi sebutir permata kepada kawanan kera”. Ya, permata gagasan yang disumbangkan Syaikh Datuk Abdul Jalil hanya dijadikan “permainan” oleh orang-orang yang tidak cukup mampu untuk mewadahi, apalagi menjalaninya.

Melalui Syaikh Datuk Bardud, Raden Ketib memang telah berhasil menyingkap sebagian kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil berdasar kesaksian-kesaksian. Namun, ia merasa betapa kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil masih cukup kuat diselubungi teka-teki. Ada banyak rahasia yang masih tersembunyi. Ia demikian berharap dapat beroleh kesaksian yang lebih utuh dari Raden Sahid dan Pangeran Pasai Fadhillah Khan yang telah menyanggupi untuk menuturkan perikehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ya, kata Raden Ketib dalam hati, aku berharap dengan kesaksian-kesaksian mereka akan dapat mengetahui lebih utuh tentang kehidupan manusia raksasa yang terselubungi kabut rahasia kehidupan itu.

Ketika Raden Ketib berencana pergi ke Demak bersama Syaikh Datuk Bardud untuk menemui Susuhunan Kalijaga, tanpa terduga-duga Syaikh Datuk Bardud malah berpamitan akan kembali ke Gujarat. “Sesuai pesan beliau, aku harus kembali ke Gujarat,” kata Syaikh Datuk Bardud sambil memegangi bahu Raden Ketib.

Raden Ketib merasakan bibirnya bergetar, tenggorokannya panas, dan dadanya berdegub keras. Ia terguncang dengan kejadian tak terduga itu. Kemudian dengan suara terbata-bata ia berkata, “Jika saya boleh bertanya, kenapa Rakanda tidak tinggal di Caruban saja untuk melanjutkan ajarannya?” “

Ajaran tarekat, maksud Adinda?” Syaikh Datuk Bardud mengerutkan kening. “

Ya.” “

Bukankah Adinda sudah paham bahwa Tarekat Akmaliyyah itu dinisbatkan kepada Allah dan tidak bisa diwariskan berdasar keturunan?” “

Tetapi, Rakanda memiliki kemampuan untuk menjadi guru manusia.” “

Ketahuilah, o Adinda, bahwa dia tidak menginginkan siapa pun di antara putera-puteri dan keluarganya untuk mengaitkan diri dengan namanya. Sebab, dia memiliki prinsip bahwa yang disebut anak bukanlah pewaris titisan darah, melainkan mereka yang mengikuti jalannya dalam melampaui tingkatan manusia menjadi adimanusia. Itulah yang disebut anak. Dia mengatakan sangat malu jika memiliki keturunan binatang. Itu sebabnya, dia memaksa putera dan puterinya untuk mewujudkan diri sebagai adimanusia,” kata Syaikh Datuk Bardud. “

Saya paham itu, Rakanda,” kata Raden Ketib. “Tapi, satu hal yang saya mohon dari Rakanda agar dikabulkan.” “

Apa itu?” “

Di manakah letak makam Syaikh Datuk Abdul Jalil?”

Syaikh Datuk Bardud tertawa. Kemudian sambil menepuk-nepuk bahu Raden Ketib, ia berkata, “Apakah engkau pikir ayahandaku sudah wafat? Sesungguhnya dia hidup, hanya engkau yang tidak mengetahuinya, o Adinda terkasih.” “

Beliau masih hidup?” seru Raden Ketib bagai tersambar petir. “

Ya.” “

Di manakah beliau sekarang tinggal?” “

Aku tidak berhak memberi tahu. Tetapi jika engkau ingin menjadi putera ruhani Syaikh Datuk Abdul Jalil, engkau harus mencari dan menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu. Sebab sebagaimana kita tahu, dia membenci kemalasan. Lantaran itu, dia selalu membawa tongkat pemukul untuk menghardik para pemalas. Dan dia selalu membentengi diri dengan banyak teka-teki untuk mendidik manusia agar tidak malas berpikir dan malas berusaha. Dengan kemampuanmu, o Adinda terkasih, aku yakin engkau akan dapat memecahkan teka-teki ini.” “

Adakah perlambang yang bisa saya jadikan penunjuk arah untu memecahkan teka-teki ini?” “

Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah seekor rajawali pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Di sanalah, di tengah Kehampaan dan Kesunyian itu, engkau akan mendengar jeritannya yang membelah keheningan. Di sanalah, di puncak-puncak tebing yang menjulang mencakar langit, engkau akan menemukan sarangnya,” kata Syaikh Datuk Bardud menegaskan. “

Aku sekarang telah memiliki kesadaran burung, o Rakanda terkasih,” kata Raden Ketib dengan mata berbinar-binar dan dada menggemuruh dikobari semangat. “Aku yakin akan dapat menemukan sarang sang rajawali, meski badai dan ketinggian akan menghadang usahaku terbang ke puncak-puncak tebing menjulang. Aku akan terus terbang! Terbang! Terbang! Meski sayap-sayapku akan patah.” “

Terbanglah ke angkasa kebebasanmu, o Saudaraku. Terbanglah melampaui keburunganmu yang kecil sampai engkau menjelma menjadi rajawali, pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Terbanglah terus sampai sayap-sayapmu menjadi sayap-sayap malaikat yang menembus ‘tirai gaib’ Kehampaan,” ujar Syaikh Datuk Bardud sambil berlalu dan menghilang dalam selimut kabut malam.

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 20:35LT