00. Pengantar Redaksi

Daya tahan setiap pemikiran, ajaran, aliran, ideologi, peradaban, dan semacamnya sangat ditentukan oleh seberapa besar pemikiran tersebut dapat diterima di tengah masyarakat, penguasa, dan komitmen para pengikutnya dalam menjaga kelangsungan. Bila ketiga komponen tersebut tumbuh subur maka akan menemukan masa kejayaan. Sebaliknya, bila salah satu dari ketiga komponen tersebut tidak seiring maka akan mengalami ketersendatan, keterpurukan, bahkan kepunahan.

Oleh karena itu, wajar bila sering kali terjadi sebuah pemikiran pada satu zaman masyhur, namun pada zaman yang berbeda mengalami keredupan, atau sebaliknya. Pada periode tertentu dikutuk, pada saat yang lain dipuja habis-habisan. Dalam situasi seperti ini kaum elit (masyarakat agamawan-penguasa-intelektual) memegang peran yang sangat menentukan.

Salah satu contoh peran signifikan kaum elit ini dapat disimak dalam kasus yang menimpa Syaikh Siti Jenar. Dalam cerita-cerita babad, ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar dianggap sebagai bid’ah, menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karena itu, melalui sidang dewan Wali, Syaikh Siti Jenar dihukum mati. Polemik terjadi tatkala kitab rujukan yang berbeda kita jajarkan. Katakanlah novel yang ada di tangan pembaca ini kita jadikan rujukan.

Novel ini sangat menarik karena memberikan perspektif baru dalam cara baca-pandang terhadap sejarah. Dengan merujuk pada kitab-kitab versi Cirebon, novel ini mampu menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan Syaikh Siti Jenar. Novel ini mampu hadir tanpa absurditas dan paradoksal. Tidak ada tragedi pengadilan oleh Wali Songo, apalagi hingga putusan hukuman mati.

Pada buku pertama, pembaca telah diajak berziarah pada konsep filosofis Yang Wujud dan maujud serta pengalaman ruhani Syaikh Siti Jenar menuju Yang Mutlak. Menyusur jauh pada asal-usul Syaikh Siti Jenar hingga berangkat menjalankan ibadah haji ke Makah. Di Makah inilah Syaikh Siti Jenar “berjumpa” dengan Abu Bakar Asy-Shiddiq yang mengajarkan tarekat kepadanya. Pada buku kedua, memuat kembalinya Syaikh Siti Jenar dari Makah, menyebarkan ajarannya, hingga diangkat menjadi dewan Wali.

Sebagai bagian dari dewan wali, Syaikh Siti Jenar mendapat tugas di tanah Jawa. Kesempatan ini digunakan Syaikh Siti Jenar untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan, seperti penggunaan istilah pondok pesantren (sebelumnya: padepokan) dan membangun konsep masyarakat (sebelumnya: konsep kawula). Secara substantif, konsep masyarakat (Arab: Musyarakah) menempatkan setiap individu pada derajat yang sama dan memiliki hak-hak dasar yang tidak dapat diganggu oleh siapa pun, termasuk dalam hal keyakinan beragama. Konsep yang dikembangkan secara masif oleh Syaikh Siti Jenar ini mendapatkan perlawanan dari penguasa absolut, monarki, raja. Karena dengan musyarakah, hak-hak prerogatif (mutlak) raja mendapatkan kendali. Konsep kawula yang secara kebahasaan (apalagi secara istilahi) berkonotasi ketakberdayaan manusia satu atas manusia yang lain, semakin redup.

Buku keempat memberikan perspektif lebih tajam, yakni pendidikan penyadaran kepada rakyat dan juga kaum elit penguasa. Bagi Syaikh Siti Jenar, manusia secara fitrah adalah merdeka. Manusia dengan sesamanya adalah setara, sederajat. Maka, tidak benar bila ada manusia “kawula” yang sah diperbudak dan ada manusia “gusti” yang sah pula memperbudak.

Karena manusia adalah diri yang merdeka, lahirnya konsep kawula-gusti (misalnya) merupakan fakta sejarah dan konstruksi sosial yang mendehumanisasi. Dehumanisasi bukanlah takdir Tuhan, melainkan hasil dari ketidakadilan yang menghasilkan kekejaman-kekejaman, kolonislisasi, dominasi, dan hegemoni. Pembaca dapat menikmati efek spiritualitas, kemasyarakatan, dan kebangsaan “teori perlawanan” Syaikh Siti Jenar pada buku keempat. Pada zamannya, Syaikh Siti Jenar adalah seorang tokoh yang memberikan pencerahan karena konsisten melawan setiap ajaran, konsep, gerakan, dan pendidikan yang melumpuhkan (disabling) nalar kritis.

Pada buku kelima ini aroma konflik dan peperangan terasa kental. Peperangan antara pihak yang menerima tatanan baru masyarakat ummah dan pihak yang mempertahankan tatanan lama kawula-gusti. Syaikh Siti Jenar pun mulai menuai kebencian dari orang-orang yang merasa dirugikan akibat gagasan pembaharuan yang dibawanya. Jerat fitnah itu berasal dari para darah biru dan pejabat yang merasa kehilangan sumber pendapatan dengan dihapuskannya sistem sewa tanah; amarah pemuka masyarakat Campa akibat sikap keras Syaikh Siti Jenar dalam hal takhayul yang tidak sesuai dengan syari’at, kebencian penduduk berjiwa pengecut yang kehilangan ketentraman akibat perang; dendam kesumat dari Rsi Bungsu; kemarahan para dukun, jawara, jajadug, serta pedagang jimat, haekal, dan jampi.

Namun demikian, Syaikh Siti Jenar telah dengan sadar menetapkan dirinya sebagai tanah tempat berpijak. Tanah yang boleh diperlakukan apa pun oleh penghuni yang berdiri tegak di atasnya, termasuk sasaran caci maki yang paling keji sekalipun.

Di dalam buku ini juga pembaca dikenalkan dengan konsep ketatanegaraan Majapahit Astabrata (Delapan Ajaran) dan Nawasanga (Sembilan Perwujudan Syiwa) yang dipelajari Syaikh Siti Jenar dari seorang pendeta Bhairawa. Lebih jauh, ia mengajarkan “belajar mencintai mati”. Sebab, Kematian pada dasarnya adalah Wajah lain dari Kehidupan.

01. Wahdah al-Adyan

Ketika malam membentangkan selimut hitam di atas permukaan bumi, kegelapan pun mengembangkan sayap-sayapnya yang sehitam bulu gagak. Di tengah kegelapan yang menghitam, di antara ladang-ladang dan hutan-hutan yang terhampar di negeri Daha, terlihat bayangan sebuah padepokan kecil yang dibangun dari bahan kayu dengan atap ijuk, yang letaknya tak jauh di barat sebuah candi. Baik candi baik padepokan, di malam yang hitam itu terlihat seperti bayangan hewan raksasa yang mendekam di tengah kegelapan.

Padepokan itu terletak kira-kira empat atau lima pal dari candi, berdiri di atas tanah shima (perdikan) milik candi, yang menurut cerita adalah tanah milik Dang Acarya Tunglur, pemangku Candi Surabhawana. Padepokan itu sendiri, menurut cerita, dibangun oleh cucu buyut Dang Acarya Tunglur yang bernama Wiku Suta Lokeswara, seorang guru agung para pendeta bhairawa di negeri Daha. Di padepokan itulah para pendeta penganut ajaran Bhairawapaksa – salah satu sekte dari madzhab Kalacakra yang paling berpengaruh di Majapahit menuntut ilmu kepada Wiku Suta Lokeswara.

Malam itu, di tengah kegelapan langit dan bumi, sang wiku terlihat duduk di atas batu gilang yang terletak di halaman asrama. Di hadapannya para siswa duduk bersila menirukan sikap duduk sang guru agung. Malam itu Wiku Suta Lokeswara akan memberikan wejangan. Namun, baru berujar beberapa kata tiba-tiba salah seorang siswa datang dan menyembah sambil berkata, “O Guru Agung, hamba melaporkan bahwa serombongan tamu yang mengaku dari Kadipaten Terung menunggu di luar padepokan. Mereka ingin bertemu dengan Guru Agung. Bicara mereka sangat aneh dan tidak hamba mengerti. Tetapi, satu orang yang bernama Syaikh Lemah Abang berbicara tentang Rishi Purnajanma dan Wahanten Girang. Hamba menduga mereka adalah orang Wahanten Girang dan orang-orang Terung.”

Wiku Suta Lokeswara terdiam dan mengerutkan kening. Sejenak setelah itu ia bangkit dan berjalan ke pintu pagar padepokan. Sepanjang berjalan ia menduga-duga, salah seorang tamu tak diundang itu mestilah orang asal Wahanten Girang yang membawa berita tentang kakaknya, Rishi Punarjanma. Dan saat bertemu dengan tamunya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Abdul Jalil, dugaan sang wiku terbukti benar, sang tamu memang membawa berita tentang kakak kandungnya.

“Ah rakanda Rishi, engkau telah mendahului kami,” kata Wiku Suta Lokeswara menarik napas berat dengan mata berkaca-kaca, saat mengetahui kakaknya telah pergi ke Syiwapada dengan kisah yang begitu aneh.

Kabar meninggalnya Rishi Purnajanma yang dibawa Abdul Jalil memang menyulut tanda tanya besar dalam benak Wiku Suta Lokeswara. Sebab, apa yang dikemukakan Abdul Jalil tentang kematian kakaknya itu seperti dongeng yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang rishi meninggal di tanah suci milik orang Islam? Bagaimana mungkin di tanah suci orang-orang Islam yang suka mencela orang-orang Hindu sebagai pemuja berhala ternyata terdapat lingga raksasa di atas bukit yang disucikan? Bagaimana mungkin ada seseorang beragama Islam bersedia dengan susah payah datang ke negeri Daha yang sedang dilanda peperangan hanya untuk menyampaikan amanat seorang rishi?

Sekalipun gumpalan tanda tanya menumpuk di benak Wiku Suta Lokeswara, ia sadar sangatlah tidak pantas mengemukakannya kepada tamu yang telah bersusah payah menyampaikan kabar duka tersebut. Itu sebabnya, selama menjamu Abdul Jalil dan rombongan ia memulai pembicaraan dengan menuturkan tentang keberadaan Rishi Purnajanma.

Kepada Abdul Jalil, Wiku Suta Lokeswara mengisahkan bahwa kakaknya itu adalah pejabat keagamaan di Majapahit yang dikenal dengan nama Mantri Herhaji Dang Acaryya Candralekha. Dia dikenal sangat dekat dengan para maharaja Majapahit sejak Hyang Purwawisesa hingga Prabu Adi-Suraprabhawa. Di dalam tata praja Majapahit, mantri herhaji merupakan pejabat keagamaan kerajaan yang mengawasi bangunan-bangunan suci para rishi (dharma ipas karsyan). Jabatan mantri herhaji sendiri kedudukannya setara dengan jabatan dharmadhyaksa ring Kasyaiwan dan dharmadhyaksa ring Kasogatan, sehingga sang mantri herhaji pun dibantu oleh tujuh pejabat bawahannya yang disebut saptopapatri, yaitu Tirwan, Kandamuhi, Panjang Jiwa, Kandangan Atuha, Kandangan Raray, Lekan, dan Tanggar.

“Ketika terjadi kekacauan di ibukota yang mengakibatkan Sri Prabu Adi-Suraprabhawa menyingkir dari Kedaton Wilwatikta, kakak kami itulah yang mengiringkan sang maharaja hingga ke Daha. Ketika Prabu Adi-Suraprabhawa mangkat, kakak kami itu menolak kepemimpinan Prabu Kretabhumi yang dianggapnya pemberontak. Dia kemudian mengabdi kepada Dyah Ranawijaya, putera mahkota Sri Prabu Adi-Suraprabhawa. Sebagai risiko dari penolakannya itu, dia kehilangan jabatan mantri herhaji Majapahit. Tetapi saat Dyah Ranawijaya dengan pasukan Daha menghancurleburkan kutaraja Majapahit tanpa sisa, kakak kami sangat kecewa. Dia kemudian meninggalkan Bumi Majapahit setelah menitipkan puteranya, Nirartha, kepada kami. Dan kabar terakhir, kami dengar dia tinggal di Wahanten Girang. Di sana dia menjadi guru sekaligus pemimpin Rsigana Domas di Gunung Pulasari, yaitu sthana Syiwa di Jawadwipa,” ujar Wiku Suta Lokeswara.

Abdul Jalil tercenung lama. Ia sungguh tak mengira, rishi tua yang memiliki kisah hidup menakjubkan itu adalah pejabat tinggi keagamaan di Majapahit. Namun, dengan kenyataan itu Abdul Jalil pun akhirnya memahami kenapa Rishi Purnajanma begitu dihormati oleh para Rsigana Domas. Rupanya, pengetahuan dan wawasan sang rishi yang jauh melebihi para anggota Rsigana Domas lain itu karena latar belakangnya sebagai pejabat tinggi Majapahit.

Ketika perbincangan makin akrab, Abdul Jalil menuturkan keberadaan dirinya sebagai putra Sri Mangana, ratu Caruban Larang. Wiku Suta Lokeswara pun merasa keheranan. Sebab menurut sang wiku, Sri Mangana yang memiliki nama Walangsungsang itu adalah anggota persaudaraan antarksetra. “Sungguh kami terkejut dan heran jika saudara kami itu telah memeluk Islam dan sudah naik haji pula. Sungguh aneh kejadian ini. Semua orang ramai masuk Islam dan menjadi haji,” ujar Wiku Suta Lokeswara.

Melihat sang wiku terheran-heran, Abdul Jalil malah menambahkan jika ayahanda asuhnya sedang membangun tatanan baru kehidupan yang berbeda dengan tatanan lama. Sebuah tatanan kehidupan manusia yang sederajat sebagaimana tatanan yang didambakan oleh para penganut ajaran bhairawa. Namun akibat usahanya itu, ungkap Abdul Jalil, keberadaan Sri Mangana saat ini menjadi terancam. Seluruh penguasa Bumi Pasundan marah bahkan memusuhi dan menginginkan kematian Sri Mangana.

Mendengar kabar Sri Mangana terancam, Wiku Suta Lokeswara tiba-tiba merah wajahnya. Tanpa diminta ia menyatakan kesediaan untuk berangkat ke Caruban Larang demi membela saudaranya tersebut. “Hidup atau mati, kami adalah bersaudara. Baik atau buruk, kami juga bersaudara. Jika darahnya tumpah maka darahku pun harus tumpah pula,” kata Wiku Suta Lokeswara seolah-olah kepada dirinya sendiri.

Mendengar tekad Wiku Suta Lokeswara untuk membela Sri Mangana, Abdul Jalil tercekat kaget. Ia tidak menduga jika ikatan persaudaraan antarksetra yang pernah diungkapkan ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, terbukti melebihi dugaannya. Dan tanpa sadar ingatan Abdul Jalil melayang kepada ibunda asuhnya yang sedang berkeliling ke berbagai ksetra di Bumi Pasundan maupun Nusa Jawa. Ia dapat mengira-ngira ibundanya itu pastilah tidak akan menemui banyak kesulitan untuk memperoleh dukungan dari para penguasa ksetra yang begitu kuat rasa persaudaraannya.

Setelah membayangkan besarnya dukungan yang bakal diperoleh dari ksetra-ksetra, Abdul Jalil menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menggumam dalam hati, “Ya Allah, bantuan yang hamba harapkan datang dari saudara-saudara hamba seagama seperti Sayyid Habibullah al-Mu’aththal untuk mendukung perjuangan mulia ini ternyata Engkau gagalkan. Sebaliknya, dukungan kuat justru hamba terima dari orang-orang yang paling tidak hamba sukai, yaitu para peminum darah dan pemangsa manusia. Tetapi, apa yang terjadi ini sesungguhnya bergantung mutlak pada kehendak-Mu. Engkau Zat Yang Maha Berkuasa, Maha Mengatur, dan Maha Menentukan segala-galanya. Sesungguhnya, apa yang hamba anggap buruk, belum tentu buruk. Sedang apa yang Engkau anggap baik, pastilah itu yang terbaik.”

Setelah berkisah cukup lama tentang berbagai hal, termasuk kepergian ibunda asuhnya ke berbagai ksetra untuk mencari dukungan membangun tatanan masyarakat ummah, Abdul Jalil bertanya, “Dimanakah putera Rishi Purnajanma yang bernama Nirartha? Sebab, kami harus menyampaikan pesan khusus ayahandanya kepadanya.”

“Dia baru sepekan ini kembali dari Gelgel di Balidwipa. Dia berencana akan membawa istri dan putera-puteranya ke Balidwipa,” kata Wiku Suta Lokeswara.

“Apakah Paduka Wiku memiliki keluarga di Balidwipa?”

“O tidak. Dia pergi ke Balidwipa barang empat tahun silam ketika terjadi perang kedua antara Yang Mulia Adipati Terung dan Patih Mahodara. Hal itu dilakukannya demi menghindari usaha sang patih untuk melibatkan padepokan ini dalam peperangan dengan Terung. Dia bercerita kalau kehadirannya di Balidwipa sudah bisa diterima oleh Dalem Waturenggong, Yang Dipertuan Gelgel. Tetapi, bagaimana enaknya hidup di rantau, dia tetap tidak bisa melupakan istri-istri dan anak-anaknya di Daha.”

“Ah, kami ingin sekali bertemu dengannya,” kata Abdul Jalil.

“Biar nanti dia dipanggil kemari,” kata Wiku Suta Lokeswara memerintahkan seorang siswa untuk memanggil Nirartha.

Selama menunggu kehadiran Nirartha, Wiku Suta Lokeswara akhirnya tidak dapat menahan gejolak jiwanya untuk tidak menanyakan hal kematian kakaknya yang aneh itu. Ia menanyakan ini dan itu kepada Abdul Jalil. “Penjelasan Tuan Syaikh sungguh mengherankan saya. Bagaimana mungkin orang-orang Islam mencela dan mengutuk orang-orang Hindu dan Budha sebagai pemuja berhala jika ternyata di negeri asal mereka itu ada pemujaan terhadap lingga? Padahal, selama ini yang kami pahami, orang-orang Islam menyembah kuburan pendeta agungnya yang bernama Muhammad di negeri Arab. Ini sungguh aneh dan membingungkan,” ujar Wiku Suta Lokeswara.

Abdul Jalil tersenyum. Kemudian dengan berpegang pada prinsip dakwah yang menetapkan bahwa ia harus berbicara kepada suatu kaum sesuai bahasa dan pemahamannya, maka ia pun berkata, “Sesungguhnya, antara ajaran Islam dan Syiwa-Budha tidak ada beda dalam hakikat. Hanya nama-nama, bahasa, serta tatanan yang ada pada keduanya yang berbeda. Sebab, sesungguhnya semua ajaran agama adalah satu dalam hakikat (wahdah al-adyan). Jika kita kaji dan renungkan secara benar apa yang disebut dengan ‘Yang Mahabaik dan Pangkal Keselamatan’ di dalam keyakinan Syiwa-Budha, sejatinya tidaklah berbeda dengan apa yang disebut Allah ‘Yang Mahabaik (al-Jamal al-Kamal) dan ‘Pangkal Keselamatan (as-Salam)’ di dalam Islam.”

“Jika Syiwa sebagai pangkal penciptaan makhluk yang dicipta-Nya disebut dengan nama Brahma, maka Allah sebagai pangkal penciptaan makhluk yang dicipta-Nya disebut dengan nama al-Khaliq. Syiwa sebagai penguasa makhluk disebut Prajapati, Allah sebagai penguasa makhluk disebut al-Malik al-Mulki. Jika Syiwa sebagai penguasa Iblis disebut Bhutaswara maka Allah pun sebagai penguasa Iblis disebut al-Mudhill. Syiwa sebagai Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih disebut Sankara, Allah sebagai Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih disebut ar-Rahman ar-Rahim.”

“Sesungguhnya, lambang-lambang lingga yang dijadikan pratima (sarana bantu) bagi pemujaan terhadap Syiwa tidaklah berbeda dengan Ka’bah batu yang dijadikan kiblat oleh orang-orang Islam di dalam menyembah Allah. Baik Syiwalingga maupun Ka’bah adalah lambang yang menyelubungi rahasia keberadaan-Nya. Sebab, baik Syiwa maupun Allah, pada hakikat-Nya adalah Dia; Yang Ilahi, Yang Mahatunggal, Yang Tak Terjangkau Akal, dan Yang Tak Tersentuh Indera, yaitu Dia; yang memiliki sifat Bhawo (Wujud), Na Jayate (Tak Dilahirkan), Nitya (Kekal), Saswato (Abadi), Purano (Yang Awal), Satah (Riil), Awinasi (Tak Termusnahkan), Widhi (Mahatahu), Aprameyasya (Tidak Terbatas), Sarwagatah (Mahaada), Sthanur (Tidak Berubah), Acintya (Tidak Terpikirkan), Awyakta (Tidak Terbandingkan).”

“Jadi, dengan memahami bahwa keberadaan Ka’bah bagi orang-orang Islam adalah tidak berbeda dengan keberadaan Lingga bagi orang-orang Hindu, yakni sebagai lambang pemujaan kepada Yang Mutlak, maka kami katakan, sangatlah tidak benar jika ada yang menganggap orang-orang Islam adalah penyembah kuburan pendeta agungnya yang bernama Muhammad Saw.. Sebab, orang-orang Islam jika bersembahyang menghadap ke arah Ka’bah, bukan ke arah makam Nabi Muhammad Saw.. Bahkan jika dihitung dengan ukuran, jarak antara makam Nabi Muhammad Saw. di kota Yatsrib dan Ka’bah di kota Makah jauhnya hampir empat ratus yojana.”

“Kami berani mengatakan kepada Paduka Wiku bahwa sebenarnya tiap-tiap pertentangan dalam masalah agama sejatinya berpangkal pada ketidaktahuan masing-masing pengikut agama terhadap hakikat Yang Ilahi dan alam ciptaan-Nya beserta peraturan-peraturan yang ditetapkan-Nya. Orang Islam mencela Syiwa-Budha, itu disebabkan mereka tidak mengetahui bahwa di dalam Syiwa-Budha pun terdapat ajaran rahasia adwayasastra (ilmu tauhid) yang mengesakan Tuhan. Orang-orang Islam awam banyak yang tidak mengetahui bahwa di antara umat Hindu terdapat orang-orang ahli tauhid, seperti Rishi Purnajanma dan Paduka Wiku, yaitu mereka yang tidak lagi menggunakan pratima dalam memuja-Nya, yakni orang-orang yang mengenal Syiwa melalui Kulatattwa. Orang-orang Islam awam juga banyak yang tidak menyadari jika dengan bersembahyang menghadap ke Ka’bah, sesungguhnya mereka menggunakan pratima sebagaimana penganut Syiwa-Budha menggunakan lingga.”

“Sementara itu, umat Hindu awam yang mencela Islam sebagai agama pemuja kuburan pun sebenarnya berpangkal dari ketidaktahuan mereka tentang hakikat ajaran Islam yang sempurna. Mereka tidak mengetahui bahwa kiblat umat Islam bukan kuburan Nabi Muhammad Saw., melainkan Ka’bah, yakni pratima yang disebut Rumah Tuhan (Baitullah) yang terletak di kota Makah. Yang membedakan Ka’bah dan Syiwalinnga adalah pratima Ka’bah itu merupakan satu kiblat pemujaan umat Islam di seluruh dunia, sedangkan Syiwalingga berada di berbagai tempat di mana orang bisa memuja-Nya. Dan sejatinya, baik Ka’bah maupun Syiwalingga adalah pratima, yakni lambang Yang Ilahi dalam bentuk batu.”

“Ah, jika saja orang-orang Islam seperti Tuan Syaikh, pastilah agama itu akan mudah diikuti oleh orang-orang Majapahit,” ujar Wiku Suta Lokeswara sembari menuturkan suatu rangkaian kekacauan yang pernah terjadi di pedalaman Daha akibat tindak kekerasan yang dilakukan orang-orang Islam. Barang tiga windu silam, ungkap sang wiku, putera bupati Surabaya yang bernama Raden Mahdum Ibrahim pernah mengacau kehidupan di Daha. Dia menyiarkan Islam dari barat sungai, tepatnya di Thani Singkal yang masuk ke dalam Wisaya Urawan. Dia dan pengikutnya tidak sekadar mencela dan mencaci maki penduduk yang dianggapnya memuja berhala, tetapi merusakkan pula arca-arca dengan kapak dan memporakporandakan ksetra-ksetra.

Saat itu, ungkap Wiku Suta Lokeswara, penduduk dan pejabat keagamaan di Daha serba susah. Mau dilawan, namun dia adalah putera Pangeran Ampel Denta, yang tidak lain adalah kerabat maharaja Majapahit. Jika tidak dilawan, keyakinan penduduk dirusakbinasakan. Namun, keadaan itu mulai mereda ketika terjadi pertempuran antara Raden Mahdum Ibrahim dan Nyi Pluncing, seorang Bhairawi (bhairawa perempuan) asal Wisaya Siman. Dalam pertempuran itu Raden Mahdum Ibrahim terluka parah, namun Nyi Pluncing tewas terbunuh. “Untuk meredam keadaan di pedalaman, Sri Prabu Adi-Suraprabhawa kemudian mengangkat Raden Mahdum Ibrahim sebagai adipati Lasem. Meski keadaan di Daha sudah tenteram kembali, sejak saat itu hampir semua penduduk di negeri Daha menganggap Islam sebagai ajaran yang suka mencela, mencaci maki, menghina, dan merusak agama lain.”

“Ah, sesungguhnya hal itu dilakukan Raden Mahdum Ibrahim karena dorongan masa muda yang berkobar-kobar. Kira-kira tiga pekan silam kami bertemu dia di Surabaya. Dia sudah banyak berubah. Dia menjadi orang tua yang sangat bijak dan memiliki wawasan yang luas, sehingga dia dengan mudah dapat menerima gagasan kami tentang masyarakat ummah yang menghargai keragaman. Mungkin peristiwa masa mudanya di Daha telah menjadi pelajaran berharga bagi langkah-langkah hidupnya kemudian,” kata Abdul Jalil.

“Tapi benarkah dia tidak menikah sampai sekarang?” tanya Wiku Suta Lokeswara.

“Tentang itu kami tidak tahu. Kami bertemu sangat singkat di Surabaya. Tetapi yang kami dengar, dia memang tidak memiliki istri. Tapi dia memiliki puteri angkat,” kata Abdul Jalil.

“Kami menduga Raden Mahdum Ibrahim terluka sangat parah saat bertempur dengan Nyi Pluncing,” kata Wiku Suta Lokeswara, “sebab Nyi Pluncing itu bhairawi yang sangat ahli dalam menggunakan berjenis-jenis racun.” “

Kami pernah diberi tahu oleh Tuan Abdurrahman Tan King Ham, saudagar Cina di kutaraja Majapahit, bahwa di dalam ajaran Islam sebenarnya dikenal juga tentang loka-loka dari tiga dunia yang mirip dengan ajaran Syiwa-Budha tentang Bhur Bhuwa Swa. Yang membedakan adalah orang-orang Islam meyakini bahwa kehidupan si swarga dan neraka itu kekal abadi. Sedang, menurut Syiwa-Budha, yang abadi hanya Brahman. Swarga dan neraka akan hancur karena keduanya adalah ciptaan. Keduanya bersifat maya,” kata Wiku Suta Lokeswara.

“Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, swarga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal swarga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua itu hanya makhluk ciptaan. Jadi, keduanya wajib rusak dan binasa. Hanya Allah, Zat Yang Wajib Abadi, Kekal, Langgeng, dan Azali,” kata Abdul Jalil.

“Apakah di dalam ajaran Islam yang disebut swarga itu juga bertingkat-tingkat seperti yang diyakini oleh kalangan kami, yaitu ada Bhurloka, Bhuwarloka, Swarloka, Maharloka, Janarloka, Tapoloka, dan Satyaloka?”

“Sesungguhnya tempat kebahagiaan dan kemuliaan yang disebut swarga oleh orang-orang Hindu-Budha, di dalam Islam disebut dengan nama Jannah (Taman), yang bermakna tempat sangat menyenangkan yang di dalamnya hanya terdapat kebahagiaan dan kegembiraan. Hampir mirip dengan swarga yang dikenal di dalam Syiwa-Budha, di dalam Islam dikenal ada tujuh surga besar yang disebut ‘Ala ‘Iliyyin, al-Firdaus, al-‘Adn, an-Na’im, al-Khuld, al-Ma’wah, Darussalam. Di surga-surga itulah arwah orang-orang yang baik ditempatkan sesuai amal ibadahnya selama hidup di dunia.”

“Sementara itu, tidak berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha yang meyakini adanya Alam Bawah, yaitu neraka yang bertingkat-tingkat dan jumlahnya sebanyak jenis siksaan, Islam pun mengajarkan demikian. Jika di dalam ajaran Syiwa-Budha dikenal ada tujuh neraka besar, yaitu Sutala, Witala, Talatala, Mahatala, Rasatala, Atala, dan Patala, maka di dalam ajaran Islam pun dikenal tujuh neraka besar yang disebut Jahannam, Huthamah, Hawiyyah, Saqar, Jahim, dan Wail. Bahkan sebagaimana kenyataan yang ada di dalam agama Hindu, di dalam agama Islam pun masalah swarga dan neraka adalah masalah yang selalu menjadi bahasan utama kalangan awam. Sehingga, mereka salig berebut pengakuan sebagai yang paling benar dan paling berhak menghuni swarga. Orang-orang bertentangan dengan mereka dianggap sebagai calon penghuni neraka,” kata Abdul Jalil.

“Kata Tuan Abdurrahman Tan King Ham, orang-orang Islam pun sama seperti pengikut Syiwa-Budha dalam mempercayai hari kebinasaan alam semesta yang disebut kiamat. Benarkah itu?” tanya Wiku Suta Lokeswara.

“Itu benar adanya. Yang membedakan hanya nama. Jika orang Islam menyebut hari kehancuran semesta itu dengan nama hari akhir (yaum al-akhir) atau di kalangan awam disebut Hari Kiamat (yaum al-qiyamah), maka di kalangan penganut Syiwa-Budha disebut Pralaya (kehancuran semesta) yang terjadi pada zaman akhir (kaliyuga).”

“Jika memang banyak persamaan antara Islam dan ajaran Syiwa-Budha,” kata Wiku Suta Lokeswara, “kenapa orang harus berselisih?”

“Sesungguhnya semua agama adalah sama dalam hakikat, yaitu berisi tatanan yang mengatur kehidupan makhluk terhadap sesamanya dan terhadap Penciptanya. Semua agama yang benar pasti berisi ajaran penyembahan kepada Tuhan, Sang Pencipta. Semua agama yang benar pasti berdiri di atas landasan Hukum Suci yang berdasarkan moral demi terjaganya keseimbangan di dunia. Tetapi, hal itu tidak berarti bahwa semua agama adalah sama, sebangun, sewarna, dan secitra. Keragaman agama-agama justru merupakan keniscayaan dari kesempurnaan-Nya sebagai Sang Pencipta yang wajib disembah oleh segala bangsa dan segala agama, bahkan oleh segala makhluk di alam semesta yang tak terhitung ragamnya,” kata Abdul Jalil.

“Jika demikian, apakah yang merupakan perbedaan mendasar antara Islam dan Syiwa-Budha?” tanya Wiku Suta Lokeswara.

“Kalau tidak salah, perbedaan keduanya terletak pada pemujaan terhadap pengejawantahan Tuhan. Jika di dalam Syiwa-Budha tidak ada pembedaan dalam pemujaan terhadap Tuhan dalam manifestasi Mahadewa, Mahaguru, Mahakala, Sankara, Sambho, Chandrasekhara, Bhirawa, Putikecwara, Bhutaswara, Rudra, dan Mrtyunjaya, maka di dalam Islam pemujaan terhadap Tuhan dipilahkan secara tegas melalui Hukum Suci yang disebut syari’at. Di dalam Islam, misalnya, Tuhan dipuja dan dusembahsujudi sebagai manifestasi Yang Mahabaik, Maha Pemurah, Mahakasih, Maha Penyelamat, Mahaagung, Mahasuci, dan Maha segala yang baik dan sempurna. Tidak ada ajaran Islam yang memberi petunjuk untuk memuja Dia Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill).”

“Lantaran keniscayaan Islam seperti itu maka tidak dikenal adanya ajaran korban-korban berwujud manusia seperti dikenal dalam ajaran Bhairawa-Tantra. Sebab, bagi hukum Islam, sungguh merupakan hal yang bertentangan dengan kodrat dan akal sehat manusia jika sebuah ‘jalan kebebasan’ menuju Yang Ilahi untuk melepas keakuan dilakukan dengan cara mengorbankan keakuan orang lain. Meski demikian, di dalam Islam tetap ada korban darah, yakni korban sembelihan berupa hewan peliharaan domba, yang dagingnya didermakan kepada orang-orang fakir dan miskin yang membutuhkan.”

“Apakah itu berarti Islam lebih benar dibanding Syiwa-Budha?”

“Sesungguhnya tidak ada hal yang keliru dalam ajaran suatu agama. Tidak ada agama yang keliru dalam pandangan Tuhan. Yang membedakan agama satu dengan agama yang lain adalah zaman di mana bagian-bagian dari ajaran sebuah agama bisa dijalankan dan kapan bagian-bagian tersebut tidak dapat dijalankan. Maksudnya, ajaran Bhairawa-Tantra yang merupakan bagian dari ajaran Syiwa-Budha yang paduka Wiku jalankan saat ini tidak akan lagi bisa dipertahankan untuk masa yang akan datang. Kenapa demikian? Sebab, ajaran Bhairawa-Tantra pada masa datang akan dijadikan bahan ejekan dan cercaan oleh orang-orang. Bahkan, ajaran Pancamakara bisa dianggap melanggar hukum. Sebab, pada masa datang orang-orang dari berbagai belahan dunia dengan agama-agama mereka pasti datang ke Bumi Majapahit. Mereka pasti akan menilai ajaran Bhairawa-Tantra sebagai ajaran aneh dan mengerikan yang bertentangan dengan rasa keadilan,” kata Abdul Jalil.

“Apakah orang-orang dari belahan dunia lain itu orang-orang Islam seperti Raden Makhdum Ibrahim?”

“Tentu saja tidak, o Paduka Wiku,” kata Abdul Jalil. “Mereka ada yang datang dari negeri-negeri Barat dengan membawa agamanya yang sangat berbeda dengan Syiwa-Budha. Mereka ada yang beragama Nasrani, Yahudi, dan Islam. Mereka semua pasti menolak upacara korban manusia. Mereka akan datang ke Bumi Majapahit ini dengan jumlah yang tidak bisa dihitung dengan jari. Mereka akan berdatangan bagaikan daun-daun kering ditiup angin. Mereka datang beriap-riap memenuhi permukaan Bumi Majapahit.”

“Apakah itu berarti Syiwa tidak akan dipuja lagi di dunia?”

“Syiwa tetap akan dipuja sepanjang zaman sampai akhir dunia. Tetapi, pada masa mendatang Dia akan dipuja dengan ‘Wajah’ yang lain. Pada saat kami berada di pedalaman Bumi Pasundan, kami telah menyaksikan ‘penampakan gaib’ yang menunjukkan bahwa Islam di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan akan menggantikan ajaran Syiwa-Budha. Maksudnya, dalam ‘penampakan gaib’ itu Syiwa sendiri telah berkenan memalingkan wajah-Nya yang menyeramkan sebagai Rudra, Bhirawa, Bhutaswara, Putikecwara, dan Mahakala, kemudian menampakkan wajah-Nya yang indah sempurna dan penuh welas asih, yaitu sebagai Mahadewa Yang Bermahkota Rembulan (Chandrasekhara), Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang (Sankhara), dan Sang Mahaguru (Bintang Agastya).”

“Dengan demikian, terlebih dahulu kami beri tahukan hendaknya Paduka Wiku nanti tidak terkejut jika kelak melihat orang-orang Islam mengibarkan panji-panji berlambang bulan sabit dengan bintang di atasnya. Sebab, sesungguhnya itulah lambang-lambang keagungan Sang Chandrasekhara, Sankara, dan Agastya. Itulah lambang ardachandra, nada, dan windu yang membentuk kata suci OM. Jika nanti Paduka Wiku menyaksikan juga panji-panji bergambar Trisula bercadik (tulisan Allah dalam huruf Arab) dikibarkan orang-orang Islam, maka itulah penampakan lambang Syiwa, Mahadewa Yang Bersenjata Trisula. Jika Paduka Wiku kelak menyaksikan orang-orang Islam mengibarkan lambang harimau Ali (kaligrafi mirip harimau), maka itulah lambang penampakan pakaian Syiwa yang terbuat dari kulit harimau. Bahkan, jika Paduka Wiku menyaksikan orang-orang Islam ke mana-mana membawa aksamala (biji tasbih), maka mereka itu sejatinya menampakkan lambang atribut Syiwa,” ujar Abdul Jalil.

“Ah, aku sekarang mulai paham,” kata Wiku Suta Lokeswara. “Rupanya, kakakku itu meninggal saat melakukan ibadah haji karena dia sebelumnya sudah mendapat perlambang dengan menduduki jabatan mantri herhaji. Bukankah demikian makna rahasia di balik kematian kakak kami?”

Mendengar komentar Wiku Suta Lokeswara, Abdul Jalil tercekat. Ia mulai menangkap gejala buruk dari kerangka berpikir otak-atik mathuk dari sang wiku, yang mengaitkan jabatan mantri herhaji dengan ibadah haji. Abdul Jalil makin tertegun-tegun ketika sang wiku menganggap agama Islam sesungguhnya ajaran yang diperuntukkan bagi para raja (Jawa Kuno, Haji: raja), terbukti dengan masuk Islamnya Prabu Kertawijaya dan para raja muda (adipati) di pesisir. “Rupanya, Yang Mulia Prabu Kertawijaya dan para adipati di pesisir sudah mengetahui perubahan itu daripada kami, yang tinggal di pedalaman,” kata Wiku Suta Lokeswara.

“Sesungguhnya, yang disebut Islam tidaklah seperti itu, o Paduka Wiku,” kata Abdul Jalil menjelaskan. Ia kemudian memaparkan bahwa di dalam ajaran Islam tidak dikenal perbedaan derajat dan kedudukan manusia sebagaimana yang dikenal di dalam tatanan Hindu. Ajaran Islam justru lebih mirip tatanan Syiwa-Budha yang tak mengenal kasta. “Di dalam Islam, perbedaan derajat dan kedudukan manusia di depan Tuhan bukan didasarkan atas keturunan, pangkat, kedudukan, dan kekayaan, tetapi oleh ketakwaan, yakni kedekatan orang-seorang terhadap Tuhan. Jadi, seperti ajaran Syiwa-Budha, jalan pembebasan dalam Islam dapat dicapai oleh siapa saja di antara manusia tanpa memandang tinggi dan rendahnya kasta seseorang,” ujar Abdul Jalil.

Nirartha, putera Rishi Purnajanma, adalah laki-laki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Perawakannya yang tinggi semampai dengan kulit kuning bersih menunjukkan asal-usul leluhurnya bukanlah orang kebanyakan. Kepalanya yang besar dengan kening lebar mencerminkan kecerdasan para cerdik cendikia. Matanya bulat lebar dan bening memancarkan kebijaksanaan para brahmana. Alisnya yang tinggi adalah alis para raja agung dan berwibawa. Bentuk rahangnya yang kukuh menyimpan keteguhan jiwa dan cermin keberpantangan untuk menyerah dalam menghadapi tantangan seberat apa pun.

Kesan itu tidakklah berlebihan. Saat Nirartha melakukan pertukaran pikiran dan menyauk Kebenaran Sejati dari Abdul Jalil, terbentanglah kenyataan tentang betapa cerdas dan mudah putera Rishi Purnajanma itu dalam memahami sesuatu. Meski sejak kecil dia tinggal di pedalaman, saat diajak oleh Abdul Jalil untuk memperbincangkan gagasan dan pemikiran yang lazim dijadikan pokok bahasan oleh cendikiawan Baghdad, terbukti dia dapat menerima dan memahaminya tanpa kesulitan. Dalam waktu singkat ia sudah dapat memahami gagasan dan pemikiran besar yang disampaikan Abdul Jalil.

Nirartha yang sejak pergi ke Balidwipa hingga menginjakkan kaki kembali ke Daha masih seorang Nirartha yang berwawasan pedalaman sempit, dalam hitungan hari ternyata sudah tercerahkan oleh matahari kesadaran yang dipancarkan Abdul Jalil. Dia mendadak sadar betapa bangsa Majapahit yang dibanggakannya itu sesungguhnya sedang sekarat akibat mengikuti nilai-nilai yang sudah tidak sesuai dengan zaman. Ia sadar betapa sejak perbatasan Kadipaten Pasir di barat hingga kerajaan Blambangan di timur, raksasa Majapahit sesungguhnya sedang mengerang kesakitan menunggu ajal. Ibarat orang sedang terserang kusta, keperkasaan Majapahit digerogoti borok-borok busuk yang mengerikan. Ya, raksasa Majapahit sedang sekarat menunggu ajal. Tubuhnya yang perkasa sedang terlepas satu persatu diganyang borok-borok kusta yang mengerikan.

Nilai-nilai! Ya, nilai-nilai yang menjadi pegangan dan kebanggaan wangsa-wangsa Majapahit selama ratusan tahun kini berubah menjadi senjata dahsyat yang bakal memangsa tuannya. Keagungan, kemuliaan, keberanian, keperkasaan, kemenangan, kebanggaan, penaklukan, dan ketidakbersalahan yang menjadi sendi-sendi utama nilai-nilai di Majapahit telah menjadi Yamastra (senjata Yama, Sang Pencabut Nyawa) yang berhamburan laksana hujan dari langit dan menghujam dengan ganas ke tubuh para pemujanya. Anehnya, orang-orang yang sedang mabuk dengan nilai-nilai itu tidak ada yang sadar bahwa mereka sebenarnya sedang berbaris-baris di depan Sang Maut, menunggu disembelih para Yamakingkara, pasukan penjagal, yang membantu Yama mencabut nyawa.

Memang, selama ratusan tahun nilai-nilai keagungan dan penaklukan yang dianut di Majapahit telah membawa wangsa-wangsa pada kebesaran dan keagungan. Ya, kebanggaan terhadap sifat adhigana (paling unggul), adhigung (paling agung), adhiguna (paling hebat), rajas (nafsu syahwat yang berkobar-kobar), jaya (penaklukan), niratisaya (tak tertanding), dan nirbhaya (tak kenal takut) memang telah membawa Majapahit ke puncak kebesaran. Dengan sifat-sifat yang dibanggakannya itu, manusia-manusia Majapahit telah berhasil menaklukkan manusia-manusia di sekitarnya dan menjadikan manusia taklukan itu sebagai budak. Ya, dengan nilai-nilai itu Majapahit telah menjadi kekaisaran besar yang membentang di tujuh samudra dan tujuh benua; dari Lamuri di barat hingga Wwanin di timur dan Solor di utara. Tiap-tiap bangsa harus tunduk di bawah kuasanya.

Kenapa nilai-nilai yang bersumber dari kebanggaan akan sifat-sifat keagungan dan penaklukan itu bisa membawa Majapahit pada kebesaran dan keagungan? Sesungguhnya, nilai-nilai itu menjadi daya hidup yang kuat ketika berada di tangan para pemimpin yang lahir dari antara manusia-manusia unggul. Para pemimpin yang memiliki wawasan luas, pandangan jauh ke depan, dan dapat mempersatukan seluruh kekuatan wangsa-wangsa yang terbentuk atas nilai-nilai keagungan dan penaklukan. Para manusia unggul itulah yang di dalam sejarah dikenal dengan nama Sri Prabu Kertanegara, Sri Prabu Kertarajasa Jayawarddhana, Sri Prabu Tribhuwanatunggadewi, Sri Prabu Rajasanagara, Sri Prabu Wikramawarddhana, dan terakhir Sri Prabu Kertawijaya.

Ketika tidak lagi lahir pemimpin-pemimpin unggul di antara wangsa-wangsa Majapahit, jatuhlah seluruh bangunan keagungan dan kemegahannya. Sebab, para pemuka wangsa tidak lagi bersatu, saling merasa diri sebagai penguasa yang paling berhak memimpin wangsa lain dengan mengatasnamakan Majapahit. Dan muara dari kecenderungan itu adalah pecahlah pertempuran antar wangsa. Wangsa satu dengan wangsa yang lain sama-sama bernafsu untuk berkuasa dengan cara penundukan dan penaklukan.

Nilai-nilai yang dibangga-banggakan Majapahit terbukti telah berubah menjadi senjata pembunuh mengerikan. Para pemuka wangsa yang entah bodoh, entah lemah, entah picik, entah tidak bercermin diri, dengan kepercayaan diri berlebih berdiri di atas bukit ambisi sambil berteriak lantang: “Akulah putera terbaik wangsa-wangsa Majapahit yang paling unggul, paling agung, paling hebat, paling tak tertandingi, paling tak kenal rasa takut, sang pemilik sifat rajas, dan sang penakluk yang berkemenangan. Aku lahir sebagai penakluk besar. Karena itu, takluklah kalian semua, o wangsa-wangsa rendah, di bawah kaki serojaku.”

Nirartha sadar apa yang dikemukakan Syaikh Lemah Abang adalah benar adanya. Betapa sudah waktunya nilai-nilai keagungan dan penaklukan yang dibanggakan wangsa-wangsa Majapahit harus diakhiri dengan cara melahirkan tatanan nilai-nilai baru. Bukti sejarah menunjuk, betapa para pemuka wangsa yang mengikuti nilai-nilai lama itu telah membawa malapetaka bagi segenap penghuni Bumi Majapahit. Mereka saling perang dan saling bunuh hanya karena ingin mewujudkan diri sebagai sang penakluk yang berkemenangan.

Perang! Ya, perang berkepanjangan bagaikan tanpa akhir telah menjelma menjadi padang penjagalan terbesar sepanjang sejarah Majapahit. Beratus-ratus ribu bahkan berjuta penduduk Majapahit terbunuh. Sungguh tak terbilang jumlah nyawa yang binasa hanya karena rasa bangga mengikuti para pemuka wangsa yang mabuk kekuasaan. Bahkan, pertempuran antara Adipati Terung dan Patih Mahodara pun sesungguhnya merupakan pertarungan antarwangsa yang berpangkal pada kesetiaan terhadap nilai-nilai keagungan dan penaklukan Majapahit.

Dengan terbitnya cakrawala kesadaran itulah Nirartha kemudian mempelajari nilai-nilai baru kepada Abdul Jalil, yaitu nilai-nilai asing yang sebelumnya tak pernah dikenalnya. Nilai-nilai tentang penghormatan dan keselarasan hidup yang bertolak dari ajaran Islam tentang kesabaran, kerelaan (ridho), keadilan (‘adl), keikhlasan, pengorbanan (qurb), kerukunan (ukhuwah), tawakal, sederhana (qama’ah), randah hati (tawadhu’), sebagai penyeimbang dari nilai-nilai keagungan dan penaklukan yang bersumber pada kebanggaan terhadap sifat adhigana, adhigung, adhiguna, rajas, niratisaya, jaya, nirbhaya. Ya, dengan nilai-nilai baru yang masih asing inilah, pikir Nirartha, sejatinya sisa-sisa penduduk Majapahit dapat diselamatkan dari kebinasaan.

Nilai penghormatan dan keselarasan yang diajarkan Abdul Jalil telah membentangkan cakrawala kesadaran Nirartha. Ia benar-benar sadar bahwa hanya dengan nilai-nilai baru itulah cakrawala baru akan bersinar benderang menggantikan malam-malam Majapahit yang tak lagi disinari rembulan dan gemintang. Ya, dengan nilai-nilai baru itu – penghormatan dan keselarasan – Nirartha dapat memahami kelak ajaran Islam akan lebih bisa diterima di Majapahit yang sedang sekarat. Ah, betapa indah jika tatanan kehidupan di Majapahit sekarang ini tegak di atas nilai penghormatan dan keselarasan, ungkapnya dalam hati. Para adipati yang suka berperang dan mabuk kuasa itu akan bisa menghargai dan menghormati adipati lain demi terciptanya keselarasan dalam tatanan kehidupan negerinya. Betapa indahnya!

Penerimaan Nirartha terhadap nilai-nilai baru itu tidak sekadar penerimaan dalam pemikiran dan pemahaman. Ia menerima dan sekaligus menerapkannya sebagai jalan hidup. Itu terbukti saat ia dengan tegas memohon Abdul Jalil berkenan menjadi guru ruhani yang mengajarkan rahasia Kebenaran dari agama yang selama ini dianggapnya asing. Rupanya, bertolak dari nilai penghormatan dan keselarasan itu, Nirartha akhirnya menyadari bahwa “jalan” Kalachakra yang diikutinya harus diakhiri. Upacara meminum darah dan memakan daging manusia yang dikorbankan, apa pun alasannya, adalah tindakan yang tidak bisa diterima apalagi jika dikaitkan dengan nilai penghormatan dan keselarasan. Sehingga, di hadapan Abdul Jalil, ia mengikrarkan diri untuk tidak lagi melakukan upacara-upacara itu.

Sebenarnya, sejak lama Nirartha gelisah dengan perkembangan ajaran Bhairawa-Tantra yang sangat merosot. Para pendeta bhairawa dari kalangan muda terbukti tidak ada yang bisa dibandingkan dengan pendeta dari generasi sebelumnya, baik dalam pemahaman maupun pengalaman ajaran. Kalangan kebanyakan yang beramai-ramai mempelajari dan mendalami ajaran Bhairawa-Tantra tidak lebih dari manusia rendah pencari harta dan kekuasaan. Mereka mempelajari yoga-tantra hanya demi menjadi orang-orang sakti andalan para adipati yang membayarnya untuk keperluan perang. Mereka hanyalah para bhairawa peminum darah yang mendalami ilmu untuk mencari nafkah. Mereka sekadar orang-orang bayaran yang rendah dan nista.

Di tengah kegelisahannya itulah Nirartha menyaksikan cakrawala baru yang dibentangkan Abdul Jalil, yang dirasanya jauh lebih manusiawi dan lebih masuk akal. Itu sebabnya, ia sangat menaruh minat besar terhadap ajaran Islam yang disampaikan Abdul Jalil. Nirartha menilai ajaran baru itu sangat sederhana dan gampang dipahami. Akhirnya, pada hari kesembilan dari perjumpaannya dengan Abdul Jalil, Nirartha mengambil baiat Tarekat Akmaliyyah.

Samudera Pacific, Timur Kota Hualien Taiwan (MV. Kenho) 16 Mei 2007, 19:00LT

02. Belajar kepada Pendeta Bhairawa

Menuntut ilmu wajib bagi tiap muslim. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga masuk ke liang kubur! Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina! Sabda Nabi Muhammad Saw. itu mendorong Abdul Jalil untuk belajar tentang sesuatu yang belum diketahuinya: tata praja dan tatanan kehidupan kawula Majapahit. Untuk maksud itu, ia belajar kepada Wiku Suta Lokeswara, yang belakangan diketahuinya adalah mantan pejabat negara Majapahit berpangkat demung (pengatur rumah tangga kerajaan) yang masyhur dikenal dengan sebutan Rakryan Demung Pu Hastadhara. Sekalipun telah belasan tahun mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dan menjadi dewa guru, pengetahuannya tentang tata praja dan tata kehidupan kawula serta pasang surut sejarah para penguasa Majapahit masih belum hilang dari ingatannya.

Berdasar penjelasan Wiku Suta Lokeswara, Abdul Jalil mengetahui jika tata pemerintahan Majapahit terbagi atas lima bagian menurut asas peranan masing-masing dalam pemerintahan. Pertama, raja. Kedua, dewan pertimbangan kerajaan. Ketiga, pejabat pemerintah. Keempat, pejabat keagamaan dan peradilan. Dan kelima, pejabat lain yang membantu pelaksanaan pemerintahan.

Seorang raja dalam tata praja Majapahit adalah pusat seluruh kekuasaan dalam negara. Itu sebabnya, raja haruslah titisan dewata yang suci (avatar) dan mampu menjalankan tugas-tugasnya baik sebagai pelindung dunia, pemelihara agama, penjaga moral, pemakmur bumi, maupun penyejahtera kawula. Ukuran kelayakan seorang raja adalah tuntunan tentang Astabrata (Delapan Ajaran) yang memberikan gambaran ideal tentang raja yang dapat menjalankan tugasnya sebagaimana dewa-dewa memelihara seluruh dunia. Tetapi di atas itu semua, untuk menduduki jabatan raja, seseorang harus memiliki hubungan darah dengan raja terdahulu yang sudah membuktikan “kedewaan” dirinya. Dan para raja Majapahit adalah pewaris keagungan dan kemuliaan darah Raja Tumapel pertama, Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, titisan Brahma, Bhattara Guru, dan Wisynu yang mengalirkan benihnya ke dunia lewat cahaya (teja) yang memancar dari “rahasia” Ken Dedes, naraiswari (raja puteri) Kerajaan Purwa.

Ketika Wiku Suta Lokeswara memaparkan konsep Nawasanga (sembilan perwujudan Syiwa) dalam lingkup kekuasaan seorang raja, Abdul Jalil terkejut. Ingatannya tiba-tiba melayang ke Caruban Larang. Sosok Sri Mangana pun melesat ke relung-relung ingatannya. Ya, ia ingat benar ketika ayahanda asuhnya itu mengemukakan pandangan untuk menyempurnakan gagasan khilafah yang diajukannya dengan membagi wilayah Caruban Larang menjadi sembilan nagari. Rupanya, pikir Abdul Jalil, ayahanda asuhnya mengikuti konsep Nawasanga, lambang Syiwa yang dikelilingi delapan manifestasi-Nya: Brahma (selatan), Maheswara (barat laut), Mahadewa (barat), Sangkhara (barat laut), Wisynu (utara), Sambhu (timur laut), Iswara (timur), Rudra (tenggara), dan Paramasyiwa sebagai pusat.

Dengan menduga kemungkinan diterapkannya konsep Nawasanga dalam tatanan baru khilafah, Abdul Jalil pun mengira-ngira tentang sikap para penguasa Galuh Pakuan, Rajagaluh, Talaga, dan Dermayu yang belum berani mengambil tindakan terhadap Caruban Larang. Boleh jadi mereka mengetahui sang kalifah Caruban Larang menerapkan gagasan Nawasanga dalam menata kekuasaannya sehingga mereka tidak berani gegabah menyerangnya.

Dengan dugaan itu, Abdul Jalil pun memahami betapa di balik “perang siasat” antara Sri Mangana dan saudara-saudaranya sesungguhnya berlangsung pergulatan sengit untuk mengukuhkan diri sebagai “titisan dewa”. Dan Sri Mangana tampaknya menang beberapa langkah dibanding saudara-saudaranya karena pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang ajaran Syiwa-Budha. Sebab, dengan konsep Nawasanga itu Sri Mangana tidak sekadar menunjukkan keberadaan dirinya sebagai penguasa unsur-unsur alam, tetapi juga sebagai penjaga tanah-tanah larangan (samiddha) di keempat gerbang Mahameru. Sehingga, di dalam “perang siasat” itu Sri Mangana seolah-olah berkata, “Akulah Paramasyiwa, pusat dari delapan penjuru dunia. Siapakah di antara manusia yang berani berdiri tegak melawan kekuasaanku?”

Dengan pandangan bahwa raja adalah titisan dewa, menurut hemat Abdul Jalil, sesungguhnya sebuah tatanan kekuasaan memang bisa menjadi sangat ideal terutama jika sang raja benar-benar dapat berkuasa sesuai sifat-sifat dewa dalam Astabrata. Namun, bahaya dari tatanan semacam itu adalah saat tampilnya raja yang jahat dan mengabaikan Astabrata. Bahkan bahaya yang lebih dahsyat lagi, jika anak-anak raja yang sama-sama mengaku titisan dewa itu kemudian berebut takhta sepeninggal orang tuanya. Tak pelak lagi, akan terjadi keguncangan jagad semesta karena anak-anak dewa tersebut saling bertempur mengadu kekuatan. Kemunduran Majapahit jelas berpangkal dari pertarungan “anak-anak dewa” itu dalam berebut mahkota. Mereka melibatkan para pemuja dan penyembahnya masing-masing. Bahkan, di tengah kecamuk perang bermunculan adipati-adipati gurem yang mengaku “cucu dewa”, “cucu buyut dewa”, dan bahkan “keturunan kelima dewa”, merki kenyataan menunjuk bahwa bagian terbesar di antara mereka adalah begundal Patih Mahodara.

Setelah memahami seluk-beluk tata praja Majapahit dari Wiku Suta Lokeswara, Abdul Jalil akhirnya memahami kenapa para penguasa Bumi Pasundan sangat sulit menerima gagasannya tentang khilafah. Rupanya orang-orang Sunda tidak berbeda dengan orang-orang Majapahit. Mereka menetapkan tata prajanya didasarkan pada ajaran Astabrata, yakni menempatkan maharaja sebagai penguasa puncak yang memiliki citra diri dewa-dewa. Salah satu gambaran ideal raja, sebagaimana tuntunan Astabrata, selain wajib memiliki keunggulan di bidang kewiraan seperti Bhattara Indra, dewa perang, juga wajib memiliki keunggulan dalam kepemilikan harta seperti Bhattara Kuwera (dewa kekayaan; kakak Rahuwana, Raja Lankapura).

Dengan citra diri sebagai jelmaan Bhattara Kuwera maka seorang maharaja di Majapahit maupun Sunda harus menempati kedudukan sebagai “manusia dewa” yang paling kaya di seluruh penjuru negeri. Tidak boleh ada satu pun orang yang memiliki kekayaan melebihi maharaja. Salah satu pintu gerbang untuk memperoleh kekayaan itu adalah ketentuan hukum yang mengatur hak-hak istimewa bagi sang raja untuk memungut pajak (drwya haji), menerima upeti (paripuja), menerima persembahan (bulubekti), dan hadiah lain-lain. Bahkan, di dalam pasal-pasal hukum perundang-undangan Majapahit, Kutaramanawa, maharaja beroleh hak untuk memperoleh harta benda dan anak-anak beserta istri para pelanggar hukum pidana.

Dengan memahami betapa mengakarnya ajaran Astabrata di kalangan penguasa dan nayakapraja, Abdul Jalil pun sadar jika gagasan khilafah yang ditawarkannya sesungguhnya akan sulit diterima baik di Bumi Sunda maupun di Majapahit. Sebab, konsep khilafah yang mendasarkan kekuasaan pada masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah itu justru menempatkan kezahidan (asketisme) sebagai syarat mutlak bagi seorang wali nagari terutama wali al-Ummah. Ya, konsep dasar khilafah yang diajukannya jelas-jelas bertentangan dengan konsep kerajaan berdasar Astabrata.

Demikianlah, semakin memahami tata praja Majapahit, semakin sadarlah Abdul Jalil bahwa gagasannya merupakan sesuatu yang asing di Majapahit dan Sunda. Bahkan, kelihatannya para adipati muslim di pesisir utara pun tidak semuanya bisa menerima utuh gagasannya tentang khilafah, terutama yang terkait dengan wilayah al-Ummah.

Wilayah al-Ummah. Kepemimpinan yang dipilih! Gagasan itu tampaknya berlawanan dengan kelaziman yang berlaku. Baik penduduk beragama Syiwa-Budha maupun Islam yang tinggal di Bumi Pasundan dan Majapahit sebagian besar tetap meyakini bahwa kekuasaan dan kepemimpinan wajiblah ditentukan oleh faktor keturunan. Lantaran itu, perselisihan untuk berebut takhta pun sejatinya hanya boleh terjadi di antara para keturunan penguasa sendiri. Padahal, kenyataan menunjukkan bahwa Patih Mahodara yang berasal dari kalangan kebanyakan dapat menduduki jabatan tinggi di Majapahit. Bukankah Patih Gajah Mada pun berasal dari kalangan kebanyakan? Bukankah imam besar Syiwa-Budha yang bernama Anawung Sangkha juga berasal dari kasta rendah? Bukankah Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, leluhur raja-raja Majapahit, asalnya dari kalangan kebanyakan juga?

Berdasarkan uraian Wiku Suta Lokeswara, semakin sadarlah Abdul Jalil bahwa nilai-nilai lama masih sangat kuat dianut oleh orang-orang Majapahit. Itu sebabnya, pertikaian di seputar perebutan takhta adalah perselisihan antarwangsa di dalam keluarga. Bahkan, yang berkembang terakhir adalah perselisihan sengit antara keturunan dua bersaudara putera Prabu Wikramawarddhana: Prabu Kertawijaya dan Bhre Tumapel. Perebutan kedua keturunan itulah yang sebenarnya telah menguras habis keperkasaan Majapahit.

Pangkal pertikaian disulut kali pertama oleh Dyah Wijayakumara Bhre Pamotan Sang Sinagara, yakni orang yang membunuh Prabu Kertawijaya di atas dampar kanchana. Dyah Wijayakumara sendiri sejatinya bukan orang lain, melainkan kemenakan dan sekaligus menantu Prabu Kertawijaya. Ia putera sulung Bhre Tumapel, saudara lain ibu Prabu Kertawijaya. Dyah Wijayakumara memiliki tubuh pendek sehingga ia dijuluki gelas ejekan Ratu Bajang oleh kerabatnya sesama pangeran Majapahit.

Boleh jadi karena sering diejek, Dyah Wijayakumara dikenal sebagai orang yang selalu mau menang sendiri. Dia selalu berusaha memperoleh posisi tinggi dalam pergaulan. Untuk itu, dia tidak segan-sagan menghamburkan kekayaan dan membual tentang kehebatan dirinya. Dalam setiap kesempatan dia seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa sekalipun tubuhnya pendek, ia tidak akan pernah kalah dalam segala hal dengan orang-orang yang bertubuh lebih tinggi. Lantaran sifatnya itu dianggap berlebihan maka dia sangat tidak disukai di lingkungan kraton Majapahit.

Ketika Bhre Tumapel, ayahandanya, meninggal, Dyah Wijayakumara beroleh banyak anugerah dari pamannya, Prabu Kertawijaya. Ia mula-mula dijadikan raja muda di Keling dengan gelar Bhre Keling. Namun, ia tidak merasa senang karena para kerabatnya masih mengejeknya dengan sebutan “Si Bajang, Ratu Keling” yang bermakna “Si Cebol, raja orang-orang berkulit hitam”. Itu sebabnya, Prabu Kertawijaya kemudian menganugerahinya gelar tituler Bhre Pamotan, meski ia tetap menduduki takhta di Keling. Bahkan sang Ratu Bajang itu diambil menantu oleh Prabu Kertawijaya.

Anak-anak Dyah Wijayakumara yang masih kecil tak luput dari kasih sayang Prabu Kertawijaya. Mereka dianugerahi gelar tituler Bhre Mataram, Bhre Kretabhumi, Bhre Pamotan, dan Bhre Kahuripan. Masing-masing mereka diberi puri di kutaraja. Adik Dyah Wijayakumara yang bungsu dan masih kecil, Dyah Suryyawikrama dipungut sebagai anak oleh Prabu Kertawijaya dan dianugerahi gelar tituler Bhre Wengker. Dyah Suryyawikrama diasuh oleh Bhre Daha, istri Prabu Kertawijaya, bersama-sama putera-puteri kandungnya sendiri: Bhattara Katwang, Bhre Kabalan, dan Bhre Jagaraga.

Namun, segala kebaikan dari Prabu Kertawijaya ternyata malah mengobarkan rencana jahat Dyah Wijayakumara. Para kawi mencatat, maharaja Majapahit ketujuh itu dimangsa oleh “hewan peliharaan” yang selama ini dirawat dengan penuh kebaikan dan kasih sayang. “Sungguh amat jahatlah manusia yang sudah mabuk kekuasaan sehingga dia tidak kenal lagi akan paman dan tidak pula kenal akan mertua yang berjasa. Sesungguhnya telah buta orang-orang yang dicekam kuat oleh hasrat berkuasa yang tak terkendali. Sejak Dyah Wijayakumara, terbakarlah takhta Majapahit dalam pertikaian tak berujung. Kasih sayang yang seharusnya menjadi ikatan persaudaraan telah berubah bara api yang membakar lautan dendam kesumat,” kata Wiku Suta Lokeswara.

“Jika tidak salah, paman Adipati Terung menyatakan bahwa pertikaian untuk memperebutkan takhta itu telah meluas menjadi tiga poros kekuatan. Benarkah demikian keadaannya?” tanya Abdul Jalil.

“Sekarang ini memang demikian itu keadaannya,” ujar Wiku Suta Lokeswara. Sebagaimana telah dijelaskan Adipati Terung, kekuatan yang ada di Majapahit dewasa ini terbagi atas tiga kelompok besar. Pertama, kekuatan dari para adipati yang memihak kepada keturunan Sri Prabu Kertawijaya. Kedua, kekuatan para adipati yang memihak kepada keturunan Bhre Tumapel. Dan yang ketiga, kekuatan para adipati dan pejabat kerajaan yang berpihak kepada Patih Mahodara; pejabat asal Madura yang tak tahu diri, yang belakangan ini mewajibkan para pengikutnya yang hendak menghadap dengan menyebut kata ganti diri sebagai lebu ni paduka Sri Prabu Udara (debu di bawah telapak kaki Sri Prabu Udara).”

Tindakan Patih Mahodara yang bertindak seolah-olah maharaja Majapahit itulah yang menjadi salah satu pemicu bagi kemunculan kadipaten-kadipaten gurem. Sebab, pertama-tama, adipati-adipati yang merasa memiliki ikatan darah dengan Prabu Kertawijaya dan Bhre Tumapel tidak ada yang sudi mengakui kekuasaan patih tak tahu diri itu. Lantaran itu, para buyut yang mengepalai wisaya banyak yang diangkat oleh sang patih menjadi adipati, dengan catatan akan bersetia kepadanya.

Pengangkatan adipati-adipati gurem yang berasal dari para buyut itu bisa terjadi karena berpangkal pada kelemahan sistem tatanan kehidupan desa-desa di Majapahit. Menurut Wiku Suta Lokeswara, desa-desa di Majapahit disebut dengan nama thani. Pemimpin thani disebut wisaya. Nah, pemimpin wisaya dipilih oleh raja di antara para rama yang ada. Pemimpin wisaya terpilih itulah yang disebut buyut.

Sepanjang sejarah Majapahit, ungkap sang wiku, yang disebut buyut adalah kepala wisaya yang memiliki makna “sesepuh” yang disegani dan dihormati oleh para rama yang mewakili thani-thani. Mereka lazimnya dipilih di antara para rama yang sudah tua usianya. Namun, di bawah patih Mahodara, jabatan buyut diisi oleh orang-orang pilihan sang patih yang umumnya berusia sangat muda. Mereka adalah pribadi-pribadi yang mengatasnamakan wisaya, namun sejatinya abdi setia sang patih. Mereka dikenal sebagai makhluk-makhluk rakus dan serakah, yang kerjanya sehari-hari menumpuk kekayaan dan bersenang-senang. Mereka tidak pernah peduli dengan nasib penduduk wisaya yang mereka kuasai dan wakili. Umumnya mereka berasal dari kalangan kebanyakan yang mengharapkan kamukten (kemuliaan) tanpa peduli jalan yang dilewatinya akan mengorbankan orang lain atau tidak.

Ketika para buyut busuk itu dinilai sudah memiliki kekayaan cukup melimpah dan prajurit-prajurit pengawal yang banyak jumlahnya, diam-diam mereka diperintahkan oleh sang patih untuk memaklumkan diri sebagai adipati. Biasanya, seiring dengan pemakluman seorang buyut menjadi adipati, sang patih selalu mendatanginya atas nama maharaja untuk mengakui keberadaan kadipaten baru itu sebagai bagian dari Majapahit. Walhasil, pada masa akhir kekuasaan Sri Prabu Girindrawarddhana, telah bermunculan kadipaten-kadipaten gurem yang dipimpin para petualang tengik yang terkenal rakus dan berakhlak bejat; para adipati jahat yang mengumbar nafsu berkuasa dan meyengsarakan penduduk.

Di dalam tata praja Majapahit, baik rama maupun buyut adalah bawahan dari raja. Itu sebabnya, seorang rama atau buyut memiliki kewenangan mengatur desa dengan atas nama sang raja. Bahkan, untuk desa-desa khusus seperti shima dan watek i jro, pemimpinnya memiliki hak-hak untuk bertindak atas nama raja; baik dalam hal memungut pajak (mangilala drwya haji), menarik denda kepada para pelanggar peraturan, mengerahkan tenaga penduduk (kerigaji), memakan makanan jenis khusus yang dimakan para raja (rajamangsa), menggunakan payung putih kutlima, dan berpakaian sebagaimana yang dikenakan keluarga raja. Di antara mereka bahkan ada yang beroleh perkenan dari raja untuk menggunakan ceker (genteng) untuk atap rumahnya dan ada pula yang beroleh tandu.

Dengan membandingkan tatanan tata praja Majapahit yang begitu rumit, feodal, menguntungkan para petualang tengik, dan sangat menyengsarakan kawula, Abdul Jalil melihat kemungkinan-kemungkinan buruk dari gagasan khilafah yang ditawarkannya. Maksudnya, meski gagasan khilafah jauh lebih baik dan lebih ideal dibandingkan dengan tatanan kerajaan, gagasan itu sejatinya juga mengandung bahaya yang tidak kalah dahsyat. Sebab, jika gagasan khilafah yang didasarkan pada konsep masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah itu diselewengkan oleh manusia-manusia berakhlak bejat dan berjiwa bobrok, sebagaimana para petualang busuk memanfaatkan tatanan kerajaan di Majapahit, boleh jadi gagasan khilafah itu justru akan menjadi monster yang jauh lebih kejam, lebih buas, dan lebih biadab daripada monster kerajaan. “

Ayahanda kami, Sri Mangana, pernah mengatakan bahwa kepercayaan orang-orang Majapahit pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kepercayaan penduduk Sunda. Maksudnya, di balik keyakinan terhadap dewa-dewa sesungguhnya orang-orang Majapahit melakukan pemujaan terhadap arwah leluhur. Bahkan, kepercayaan di kalangan kawula sangat berbeda dengan keyakinan para penghuni kraton,” kata Abdul Jalil.

“Kami kira memang demikian kenyataannya,” kata Wiku Suta Lokeswara. “Kami tidak tahu bagaimana perbedaan kepercayaan di Sunda. Tetapi, di Majapahit kepercayaan para kawula memang berbeda dengan kepercayaan kalangan kraton.”

“Berarti penduduk Majapahit di pedesaan jarang yang mengenal dewa-dewa Hindu-Budha?”

“Hampir bisa dikatakan begitu,” kata Wiku Suta Lokeswara. “Sebab, penduduk desa umumnya tidak peduli dengan dewa-dewa. Mereka hanya butuh hidup aman dan makmur. Karena itu, seorang janggan (dukun) yang bisa membantu penduduk dalam memilihkan hari baik untuk menanam padi, memperbaiki rumah, mempunyai hajat, mengobati orang sakit, dan meramal peruntungan nasib lebih dibutuhkan daripada seorang pendeta. Selain itu, penduduk desa yang umumnya kalangan sudra memang tidak diperkenankan mengurusi sesuatu yang berkaitan dengan agama. Jadi, penduduk desa di Majapahit memang hidup dengan dunianya sendiri.”

“Apakah para kawula di desa-desa tidak ada yang pergi ke pura untuk beribadah?”

“Para perajin di desa-desa biasanya membawa sesaji persembahan kepada sthapaka (pendeta penjaga candi) yang mengadakan upacara-upacara di candi. Tapi, itu dilakukan lebih banyak untuk memenuhi tuntutan agar ‘sang penguasa candi’ memberi berkah dan tidak menimbulkan bencana bagi penduduk sekitar. Sedang para petani lazimnya memuja Sri-Sadhana dan arwah leluhurnya. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu penduduk mendatangi para marhyang (juru kunci) yang menjadi ‘pengantar’ mereka dalam memuja batu-batu keramat dari leluhur pembuka desanya,” kata Wiku Suta Lokeswara.

Saat kami berada di Surabaya dan Kadipaten Terung, kami saksikan banyak penduduk yang mempercayai berbagai jenis makhluk berbadan halus yang menghuni pohon, sungai, danau, hutan, gunung, dan batu. Apakah penduduk Majapahit juga seperti mereka?” tanya Abdul Jalil.

“Sesungguhnya kepercayaan terhadap makhluk berbadan halus bukan hanya menjadi keyakinan penduduk di Surabaya dan Terung. Penduduk kutaraja pun mempercayai yang demikian. Mereka yakin di sekitar mereka hidup makhluk-makhluk setengah dewa, seperti Yaksa, Pisaca, Wwil, Raksasa, Gandharwa, Bhuta, Khinnara, Widyadhara, Ilu-Ilu, Dewayoni, Banaspati, dan arwah leluhur.”

Dari penjelasan Wiku Suta Lokeswara, Abdul Jalil menyimpulkan bahwa kepercayaan orang-orang Surabaya dan Terung yang mirip dengan kepercayaan orang-orang Caruban Larang kelihatannya bukan berasal dari Majapahit, melainkan kepercayaan dari orang-orang Campa. Sebab, baik di Caruban, Surabaya, dan Terung, orang-orang mempercayai berbagai jenis makhluk halus yang tidak dikenal penduduk pedalaman Sunda dan Majapahit. Mereka, misalnya, percaya ada hantu penghuni danau dan sungai yang bernama Ka-lap. Mereka percaya ada hantu yang disebut Setan Gundul, Jim, Gendruwo, Way-Way, Demit, Kuntilanak, Wedhon, Thuyul, Kemamang, dan banyak lagi jenis hantu yang sesungguhnya tak dikenal penduduk pedalaman Sunda dan Majapahit.

Belum puas dengan jawaban Wiku Suta Lokeswara, Abdul Jalil bertanya tentang kebiasaan orang pedalaman Majapahit untuk memperingati hari kematian orang-seorang. Ternyata, menurut sang wiku, di Majapahit orang hanya kenal upacara enthas-enthas dan sraddha yang dilaksanakan dua belas tahun setelah kematian seseorang. Padahal, di Caruban, Surabaya, dan Terung, orang mati diperingati pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, keseribu, dan setiap tahun sekali. Berarti, semua kepercayaan itu merupakan hal baru yang berasal dari pengaruh Campa.

Ketika Abdul Jalil meminta penjelasan kepada Wiku Suta Lokeswara tentang kebiasaan orang-orang Terung memperingati orang mati, sang wiku menyatakan tidak paham. “Kami tidak mengetahui banyak tentang hal itu. Tetapi seingat kami, yang melakukan kebiasaan itu adalah orang-orang Campa muslim di kutaraja.”

“Itu benar sekali,” sahut Abdul Jalil. “Di Caruban pun kepercayaan itu sangat kuat diyakini orang-orang keturunan Campa. Tapi, bagaimana pengaruh itu bisa sampai ke Terung?”

“Sepengetahuan kami, kepercayaan Campa mulai dikenal di sekitar kutaraja kira-kira tujuh windu silam. Saat itu Prabu Kertawijaya menikahi puteri Darawati dari Campa. Para pengiring sang puteri tinggal dan menetap di kutaraja. Mereka itu orang-orang Islam yang sangat ramah dan karenanya disukai oleh warga kutaraja. Mereka menikah dengan orang-orang Majapahit dan tinggal di kutaraja. Mereka itulah yang kami ketahui memiliki adat yang jauh lebih rumit daripada adat orang-orang Majapahit. Tentang berkembangnya kepercayaan itu hingga ke Terung, kami tidak tahu pasti. Tetapi, kami mengira itu berkaitan dengan pengungsian besar-besaran warga kutaraja saat terjadi penyerbuan Dyah Ranawijaya Girindrawarddhana. Sehari sebelum kutaraja dihancurkan, orang-orang Islam telah keluar meninggalkan kutaraja dibawah lindungan adipati Terung,” kata Wiku Suta Lokeswara.

Dengan penjelasan Wiku Suta Lokeswara, semakin jelaslah bagi Abdul Jalil bahwa tugas yang harus dipikulnya benar-benar berat. Ia tidak hanya dituntut untuk berjuang mempengaruhi perubahan komunitas masyarakat di Sunda yang bermental budak menjadi komunitas bermental tuan, atau menjadikan orang-orang Majapahit yang “gila” keagungan dan penaklukan menjadi orang-orang rendah hati dan mau menghargai orang lain, tetapi juga harus menghadapi “mental kalah” orang-orang Campa yang sudah mempengaruhi orang-orang Majapahit dan Sunda. Abdul Jalil sendiri memahami betapa di tengah kekalahannya yang pahit itu, bangsa Campa telah lari dari kenyataan dan jatuh ke jurang takhayul. Ya, mereka telah lari dari dunia nyata dan terjerembab ke dalam dunia khayalan. Kepercayaan bangsa Campa yang sedang mengalami kemerosotan itu tampaknya bakal menjadi santapan yang menyenangkan bagi orang-orang Majapahit yang juga sedang mengalami kemerosotan di berbagai bidang kehidupan.

Sepanjang kesaksiannya tentang kehidupan penduduk di pedalaman Sunda dan Majapahit, Abdul Jalil memang menyaksikan betapa kuat sisa-sisa ajatan Sang To-gog dalam bentuk pengeramatan benda-benda bertuah, seperti To-san (pusaka), To-peng, To-pong (mahkota), To-wok (lembing), Tu-mbak, Tu-nggul (bendera), Tu-k (mata air), Tu-gu. Sisa-sisa ajaran Sang To-gog makin tumbuh dan berkembang sangat rumit ketika mendapat pengaruh kepercayaan orang-orang keturunan Campa yang penuh diliputi takhayul. Bagi guru manusia yang ingin menyampaikan ajaran Tauhid sejati seperti Abdul Jalil, keadaan itu benar-benar sangat mencemaskan. Sebab, sewaktu-waktu keadaan itu akan bisa berkembang tanpa kendali seibarat benang kusut.

Menurut hematnya, kepercayaan penduduk negeri ini sesungguhnya sudah sangat berlebihan. Dunia tempat mereka hidup seolah-olah penuh sesak dihuni hantu-hantu dan makhluk gaib yang menakutkan. Di dalam rumah, di dapur, di kamar tengah (sentong), di pintu, di teras, di pohon, di sawah, di perempatan jalan. Pendek kata. Di segala tempat di penjuru dunia penuh sesak dihuni hantu. Dan hantu-hantu itu jumlahnya makin bertambah dengan terjadinya kematian manusia karena mereka yakin sebagian hantu-hantu itu berasal dari ruh orang mati.

Ya, orang-orang keturunan Campa sangat meyakini bahwa orang-orang yang mati dalam keadaan buruk, seperti kecelakaan atau bunuh diri, arwahnya akan gentayangan menjadi hantu yang suka menggoda orang lewat. Para ibu yang mati saat melahirkan juga akan menjadi hantu. Orang mati yang tidak dilepas ikatan tali mayitnya akan menjadi hantu juga. Anak-anak yang dikorbankan untuk mencari kekayaan akan menjadi hantu. Bayi-bayi yang mati karena keguguran juga akan menjadi hantu. Pendek kata, mereka meyakini orang mati masih terikat dengan kehidupan di dunia ini dalam wujud arwah gentayangan. Padahal, keyakinan itu menurut akidah Islam sangat ganjil dan menyesatkan dan tanpa dasar sama sekali.

Abdul Jalil sendiri sangat heran dengan cara pandang dan cara bernalar orang-orang keturunan Campa yang sarat dikuasai takhayul. Mereka sangat yakin suara tokek dapat mendatangkan keberuntungan sekaligus kesialan. Lantaran itu, saat mendengar tokek bersuara, mereka akan menghitung jumlah bunyi untuk menentukan keberuntungan dan kesialan yang ditimbulkannya. Takhayul lain yang tak kalah ganjil adalah, meski orang-orang Campa dan keturunannya adalah muslim, mereka yakin bahwa leluhur mereka merupakan binatang seperti harimau, banteng, ikan lele, belalang, buaya, kura-kura, burung, atau kucing sehingga mereka tabu memakan daging binatang-binatang tersebut. Mereka pantang menyebut harimau sebagai harimau, melainkan menyebutnya dengan penuh hormat dengan sebutan “Yang” (kakek). Mereka juga pantang menyebut tikus sebagai tikus, namun menyebutnya dengan penuh hormat dengan sebutan “tuan yang tampan”. Bahkan di kalangan keturunan Campa di Junti, Abdul Jalil pernah mendengar cerita takhayul yang sangat merusak akidah, yang intinya begini:

Mula-mula alam diliputi kegelapan dan kekacauan. Lalu muncul Dewa yang pertama, Po Nagar, kemudian diikuti Po Allah, Po Ya Ama dan Po Dobataswar. Po Nagar meletakkan tangan di atas kekacauan. Lalu terbentuklah angkasa. Kemudian Po Nagar memerintahkan Po Allah untuk membangun masjid dan menciptakan para imam dan khatib. Po Nagar menugaskan Po Dobataswar membuat perahu serta menciptakan pendeta dan ajar. Po Ya Ama ditugaskan meniup sangkakala untuk menghidupkan manusia dan hewan. Kemudian Po Nagar mencipta neraca. Dari neraca itu ketiga dewa tersebut kemudian mencipta bumi, air, padi, tepung, batu, dan pohon.

Sesungguhnya tidak berbeda dengan orang-orang Majapahit dan Sunda, orang-orang Campa dan keturunannya memiliki kepercayaan pada Tu-ah yang bersembunyi di dalam benda-benda. Namun, jumlah Tu-ah dalam kepercayaan Campa lebih banyak dan lebih rumit. Orang-orang keturunan Campa sangat yakin kalau kuku, kumis, kulit, gigi, dan tulang harimau memiliki daya sakti yang bisa melindungi orang dari marabahaya. Mereka percaya cermin atau air kencing dapat mengusir setan. Mereka yakin jika kuburan seseorang dijadikan sarang anai-anai maka keluarga ahli kubur akan dapat keberuntungan besar. Mereka sangat percaya pada perhitungan hari baik dan buruk, juga berbagai jenis ramalan sebagaimana termaktub dalam Tapuk Musarar (Kitab Rahasia) yang mereka bawa dari Campa. Bahkan, berbagai jenis hantu yang mereka yakini pun jumlahnya jauh melebihi keyakinan orang-orang Majapahit dan Sunda.

Masalah kepercayaan orang-orang Campa yang sarat takhayul ini tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa arah. Sebab, kepercayaan mereka terhadap takhayul benar-benar sudah berlebihan. Padahal, segala sesuatu yang berlebihan pasti akan menimbulkan ketidakseimbangan. Lantaran itu, Abdul Jalil berusaha mengatasinya dengan cara membuka cakrawala kesadaran umat Islam di Caruban Larang lewat pesantren.

Ia menganggap dunia takhayul yang merebak begitu kuat di kalangan umat Islam Caruban Larang hanya bisa diatasi dengan pengembangan tradisi keilmuan. Itu sebabnya, ia menata Pesantren Giri Amparan Jati sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan agama. Dengan harapan, penduduk Caruban khususnya warga keturunan Campa yang belajar di situ akan terdidik menjadi orang-orang yang dapat menggunakan penalaran secara baik dan perlahan-lahan akan meninggalkan hal-hal yang terkait dengan takhayul. Namun, usaha itu terpaksa dihentikannya karena menurut Syaikh Abdul Malik Israil, kekuasaan nalar di Granada telah kalah oleh kefanatikan. Sehingga, pendidikan di Giri Amparan Jati pun pada gilirannya lebih diarahkannya pada hal-hal yang terkait dengan pengembangan Tauhid, Fiqh, pendalaman Al-Qur’an, hadits, dan kesenian.

Menyadari “medan tempur” yang dihadapinya begitu berat, Abdul Jalil sadar dirinya tidak akan cukup mampu mempengaruhi perubahan tersebut seorang diri. Sebab, yang dihadapinya adalah pekerjaan maharaksasa yang hanya mungkin dilakukan secara serentak oleh banyak pihak dengan risiko akan jatuh banyak korban. Bagaikan orang mendirikan bangunan baru dari reruntuhan bangunan lama, hendaknya ada martir yang bersedia menjadi umpak, dinding, tiang, sakaguru, blandar, dan atapnya. Bagi Abdul Jalil, cukuplah dirinya menjelma sebagai tanah yang menghampar bangunan baru yang disebut khilafah itu akan ditegakkan agar bisa dijadikan tempat berlindung yang aman bagi penghuninya.

Samudera Pacific, Timur Kota Hualien Taiwan (MV. Kenho), 17 Mei 2007, 06:30LT

03. Karttikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha

Memasuki pekan ketiga kehadiran Abdul Jalil di padepokan, terjadi peristiwa yang tidak tersangka-sangka. Ketika matahari terbenam dan menyisakan cahaya merah darah di langit barat, tiba-tiba ia diingatkan oleh Ruh al-Haqq di kedalaman kalbunya agar secepatnya pergi meninggalkan padepokan. Meski tidak tahu apa yang bakal terjadi, ia menangkap sasmita bahwa suatu marabahaya tampaknya sedang mendekat. Dan kali pertama yang diingatnya adalah Nirartha beserta istri-istri dan putera-puterinya.

Maka, ia buru-buru memerintahkan sepuluh orang prajurit Terung untuk mengiringi Nirartha dan keluarganya meninggalkan padepokan menuju Terung. Nirartha yang belum memahami maksud Abdul Jalil menjadi kebingungan ketika didaulat oleh prajurit Terung untuk meninggalkan padepokan secepatnya. Dengan keheranan dia menghadap Abdul Jalil, “Apakah sebenarnya yang akan terjadi, o Tuan Syaikh, sehingga paduka menghendaki kami dan keluarga harus cepat-cepat pergi meninggalkan padepokan?”

“Demi Allah, aku tidak tahu kenapa harus menyuruhmu pergi meninggalkan padepokan,” kata Abdul Jalil. “Tetapi, aku menangkap sasmita bahwa padepokan ini sedang dikepung oleh marabahaya. Karena itu, engkau dan keluargamu harus secepatnya pergi sebelum hal itu terjadi.”

Nirartha yang sangat mempercayai Abdul Jalil sebagai guru ruhaninya buru-buru memerintahkan para istrinya untuk berkemas. Sedang ia sendiri bergegas menemui Wiku Suta Lokeswara untuk berpamitan. Ternyata Wiku Suta Lokeswara pun menangkap sasmita yang sama dengan Abdul Jalil. Ia menangkap tengara marabahaya yang sedang mengintai padepokannya. Itu sebabnya, saat Nirartha menghadap ia sudah memerintahkan tiga orang siswanya untuk mengiringi Nirartha meninggalkan padepokan. “Apa pun yang terjadi, malam ini engkau harus membawa keluargamu jauh-jauh dari sini. Pilihlah jalan timur yang melintasi hutan Wanasalam. Meski agak jauh dan berat, daerah itu sangat aman,” kata Wiku Suta Lokeswara.

Terburu-buru Nirartha meninggalkan padepokan. Namun, ketika Nirartha dan rombongan belum jauh dari padepokan, masuklah seorang penduduk yang diantar oleh salah seorang siswa. Penduduk itu dengan tergopoh-gopoh menghadap Wiku Suta Lokeswara yang sedang berbincang-bincang dengan Abdul Jalil. Kepada Wiku Suta Lokeswara dia melaporkan kehadiran serombongan prajurit berkuda yang diiringi beratus-ratus prajurit bertombak dari selatan menuju ke arah padepokan. “Kami melihat puluhan kawula di desa-desa selatan bergelimpangan mati. Setiap langkah dari pasukan itu menjadi langkah Bhattara Yama. Mereka menebar kematian di mana-mana, o Paduka Wiku.”

“Pasukan Patih Mahodara,” gumam Wiku Suta Lokeswara dingin.

Mendengar Wiku Suta Lokeswara menggumamkan “Patih Mahodara”, Abdul Jalil menyela, “Kami sungguh merasa bersalah, Paduka Wiku. Mereka kemari tentu telah mengetahui kehadiran kami.”

“Tuan Syaikh tidak perlu merasa bersalah,” kata Wiku Suta Lokeswara. “Tanpa kehadiran Tuan Syaikh pun sang patih akan menyerang padepokan ini. Dia sudah cukup lama tidak menyukai padepokan ini, terutama sejak Nirartha menghindari keinginan sang patih untuk bergabung menjadi pendukungnya.”

Ketika Abdul Jalil akan berkata-kata tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar gerbang selatan padepokan. Ia menoleh dan melemparkan pandangan ke arah gerbang selatan untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Ternyata gerbang selatan telah merah dikobari nyala api. Ia melihat bayangan puluhan penunggang kuda berkelebatan di tengah amukan api sambil berteriak-teriak mengacungkan busur ke atas. Rupanya, para penunggang kuda baru saja melepaskan panah-panah berapi untuk membakar gerbang padepokan. Bahkan setelah itu, Abdul Jalil melihat betapa beringas para penunggang kuda itu menerobos kobaran api dengan cara beriringan. Dalam hitungan detik ia saksikan halaman dalam padepokan sudah dimasuki oleh iring-iringan kuda yang meringkik dan menghentak-hentakkan kakinya ke bumi.

Tak lama kemudian terdengar teriakan-teriakan perang membahana dari berbagai sudut. Mereka serentak menarik tali kekang sehingga membuat kuda-kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Rupanya teriakan-teriakan perang itu berasal dari mulut para prajurit Terung yang menyerang mereka dengan tombak dan pedang. Akhirnya, tak terhindarkan lagi pecah pertarungan sengit di tengah kobaran api yang mulai menyambar-nyambar dan membakar bangunan-bangunan di padepokan.

Di tengah sengitnya pertempuran terdengar teriakan dan sorak-sorai gemuruh dari arah selatan, diikuti tombak-tombak teracung yang bermunculan di tengah kobaran api. Rupanya para prajurit Daha berhasil menerobos masuk ke bagian dalam padepokan. Mereka dengan beringas naik ke asrama-asrama dan membuat kerusakan di sana. Mereka memanjat dinding dan membakari atap-atap. Namun, tindakan perusakan itu tidak berlangsung lama. Mereka dihadang siswa-siswa padepokan dengan dipimpin sendiri oleh Wiku Suta Lokeswara.

Sebagai seorang pendeta bhairawa, Wiku Suta Lokeswara tidaklah berbeda dengan pendeta bhairawa yang lain dalam hal kesaktian. Itu terlihat saat ia dan siswa-siswanya menghadapi prajurit-prajurit Daha yang sedang mengamuk di padepokannya. Bagaikan orang sedang membersihkan halaman dengan sapu, setiap kali ia menggerakkan tangannya ke depan atau ke samping selalu diikuti oleh terpentalnya tubuh prajurit Daha ke berbagai arah, bagaikan daun-daun kering dikebas sapu. Para siswa pun mengikuti tindakan gurunya sehingga dalam waktu singkat terlihat berpuluh-puluh prajurit Daha bergelimpangan di halaman padepokan sambil mengerang kesakitan.

Ketika malam makin merambat menuju puncak, pertempuran di padepokan berlangsung lebih seru dan lebih sengit. Pasukan Daha bagaikan kesetanan merangsak maju sambil berteriak-teriak. Mereka maju dari arah selatan, barat, dan timur. Mereka menyerbu bagaikan kawanan semut mengerumuni bangkai. Sementara itu, para prajurit Terung dan Wiku Suta Lokeswara beserta siswa-siswanya bertahan mati-matian di bagian utara padepokan, di tengah kobaran api yang sudah melahap seluruh bangunan. Mereka bertahan sekuat daya dari serbuan prajurit-prajurit Daha yang menggelombang bagaikan tak ada habisnya.

Menjelang tengah malam, ketika Wiku Suta Lokeswara dan prajurit-prajurit Terung terdesak hebat, terjadi suatu peristiwa aneh. Di tengah kobaran api yang mulai meredup tiba-tiba muncul kabut berasap yang bergumpal-gumpal dan mengambang menutupi sisa-sisa bangunan yang terbakar. Kabut berasap itu terus mengambang seolah-olah menyelimuti padepokan yang sudah menjadi tumpukan arang. Beberapa jenak kemudian, keadaan di sekitar padepokan menjadi sangat gelap. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang terlihat melingkupi. Di tengah kegelapan itu secara samar-samar terlihat bayangan-bayangan hitam berkelebat bagaikan mengitari para prajurit Daha.

Seiring berkelebatnya bayangan hitam, terjadi suatu keanehan lagi: prajurit Daha tiba-tiba saling bertabrakan dengan sesama kawannya. Terdengar suara caci maki, lalu umpatan-umpatan balasan. Setelah itu terdengar jerit kesakitan yang diikuti gemerincing senjata yang beradu. Rupanya terjadi pertempuran di antara prajurit Daha sendiri. Mereka saling menikam.

Menyaksikan para prajurit Daha saling bertempur sendiri di tengah kegelapan, Wiku Suta Lokeswara dan prajurit Terung keheranan. Mereka hanya bisa berdiri tercengang menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu. Namun, tak lama kemudian mereka tersadar dan harus segera mundur, terutama setelah mendapat laporan bahwa Nirartha dan keluarganya telah berhasil melewati kediaman Sang Pamget Kandangan Tuha menuju arah hutan Wanasalam. Demikianlah, dengan diam-diam mereka bergerak mundur ke arah timur, meninggalkan kegelapan yang menyelimuti padepokan dengan kabut berasap itu.

Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk prajurit Daha yang saling bertempur sendiri, di tengah selimut kabut berasap yang bergumpal-gumpal meliputi padepokan, Abdul Jalil yang hanya didampingi seorang prajurit Terung, terlihat menyelinap di bawah sebatang pohon yang terbakar sebagian daunnya. Di tengah kelebatan bayangan-bayangan hitam ia melihat satu sosok dengan kecepatan menakjubkan melintas di atas hamparan kabut berasap; mula-mula sebesar domba, kemudian makin membesar seukuran gajah. Tepat di depan Abdul Jalil, sosok seukuran gajah itu berhenti dan memberikan isyarat gerakan tangan agar ia menjauh.

Sadar bahwa sosok sebesar gajah itu bermaksud baik, Abdul Jalil menarik tangan prajurit Terung di sampingnya. Dengan isyarat gerakan tangan, ia meminta sang prajurit untuk mengikutinya meninggalkan padepokan yang sudah menjadi puing-puing hitam itu. Abdul Jalil tersuruk-suruk di tengah kegelapan. Malam yang berkabut telah membuatnya bergerak tanpa tahu arah, namun ia terus berjalan.

Ia baru sadar dirinya terpisah dari rombongan yang lain pada dini hari ketika berada di tepi sungai Nilakantha di utara Jnanabharan. Ceritanya, saat itu tanpa diduga di depan Abdul Jalil telah berdiri sosok sebesar gajah yang tadi dilihatnya di padepokan. Abdul Jalil terkejut dengan kemunculan tiba-tiba sosok itu. Dari kegelapan ia mengamati sosok tersebut berwujud manusia raksasa setinggi sekitar tujuh depa. Rambutnya yang panjang dan lebat terurai hingga ke bawah lutut. Matanya menyala hijau dengan manik-manik kecil. Abdul Jalil cepat tersadar bahwa sosok di depannya itu bukanlah manusia, melainkan sebangsa makhluk berbadan halus dari antara bangsa jin.

Ketika ia mengecilkan mata untuk menegasi wajah sosok raksasa di depannya itu, tiba-tiba sang makhluk mengucap salam, menyapa dengan bahasa perlambang (isyarat), dan memperkenalkan diri sebagai Yang Dipertuan Bumi Pangjalu, Sang Bhuta Locaya. Ketika melihat Abdul Jalil bergeming, sosok bernama Bhuta Locaya itu mengaku telah pernah bertemu dengannya di Gunung Pulasari. Mendengar pengakuannya, Abdul Jalil segera memahami bahwa keanehan yang baru saja terjadi di padepokan itu tidak lain dan tidak bukan tentu ulah Bhuta Locaya. Itu sebabnya, ia mengucapkan terima kasih kepada penguasa Bumi Pangjalu tersebut.

Mendapat ucapan terima kasih dari Abdul Jalil, Bhuta Locaya heran dan bertanya, “Kenapa Paduka Syaikh mengucapkan terima kasih kepada kami?” Kami merasa tidak melakukan sesuatu untuk Paduka Syaikh. Kami datang ke padepokan Wiku Suta Lokeswara karena kami melihat tengara kabut berasap di situ. Kami menduga Paduka Syaikh sengaja memanggil kami dengan membuat kabut berasap itu.”

Pengakuan Bhuta Locaya bahwa kedatangannya karena kabut berasap itu mengherankan Abdul Jalil. Sebab, ia merasa tidak tahu-menahu. Seingatnya, kabut berasap itu muncul begitu saja menyelimuti padepokan. Lantaran itu, ia akhirnya menganggap peristiwa kabut aneh itu adalah bagian dari pertolongan Ilahi. Hanya Allah jua yang kuasa melakukan hal-hal aneh yang tak masuk akal guna melindungi hamba-Nya.

Ketika Bhuta Locaya menyinggung kembali tentang pertemuan di Gunung Pulasari, ingatan Abdul Jalil pun melayang pada detik-detik saat ia berkhotbah di depan makhluk-makhluk gaib tersebut. Ia tiba-tiba ingat bahwa makhluk-makhluk gaib itu memiliki tradisi pesta darah manusia. Terdengar oleh ingatan tentang kebiasaan berpesta darah manusia, Abdul Jalil pun menanyai Bhuta Locaya, “Apakah di kalangan bangsamu dalam waktu dekat ini tidak ada perhelatan besar pesta darah?”

“O ada, Paduka Syaikh,” sahut Bhuta Locaya gembira. “Kami diundang untuk menghadiri pesta besar perburuan manusia.”

“Siapa yang mengundangmu?”

“Setan Kabir Yang Dipertuan Caruban, Ki Kareteg Yang Dipertuan Pakuan Pajajaran, dan Bangsan Yang Dipertuan Gunung Kumba (ng). Mereka mengundang kami untuk pesta besar itu.”

Abdul Jalil tersentak kaget mendengar pengakuan Bhuta Locaya. Tak pelak lagi, pesta darah para makhluk halus itu akan terjadi di Caruban. Ini bermakna, perang di Caruban tidak akan terhindarkan lagi. Berarti, ia harus secepatnya kembali ke Caruban. Ia tidak bisa meninggalkan ayahanda asuhnya menghadapi masalah itu tanpa keterlibatan dirinya, meski ia sadar tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman berperang. Namun, saat hendak menanya Bhuta Locaya tentang seberapa besar pesta darah itu akan diselenggarakan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh pancaran cahaya gaib yang terlihat oleh mata batinnya (‘ain al-bashirah) dalam wujud sinar (teja) yang memancar dari arah tenggara. Dengan penuh rasa ingin tahu Abdul Jalil bertanya kepada Bhuta Locaya tentang sinar yang tertangkap oleh mata batinnya, “Apakah makam itu milik seorang manusia suci?”

“Sinar apakah yang Paduka saksikan itu, o Paduka Syaikh.” Bhuta Locaya heran karena tidak melihat sesuatu pun. “Kami tidak melihat apa pun di sini.”

“Sinar yang memancar di sana itu,” kata Abdul Jalil menunjuk ke arah sinar.

“Kami tidak melihat apa pun, o Paduka Syaikh. Tetapi, yang paduka tunjuk itu kalau tidak salah adalah pendharmaan Sang Nrpati Dewasimha dan penasihat setianya, Yang Mulia Jnanabhadra.”

“Maksudmu, Yang Mulia Karttikeyasingha Sang Nrpati Dewasimha, pendiri Kerajaan Kalingga?” sergah Abdul Jalil ingin tahu.

“Benarlah demikian, Paduka Syaikh,” jawab Bhuta Locaya takzim.

“Jika demikian, aku akan berziarah ke sana.”

Pulau-pulau di tengah samudera raya yang dikenal sebagai wilayah Majapahit pada masa silam merupakan negeri yang sangat menakutkan bagi bangsa manusia yang tinggal di Bharatnagari. Tidak banyak yang mengetahui makhluk apa yang tinggal di tengah samudera raya itu. Namun, para dewa mengatakan bahwa di tengah samudera raya itu tinggal para Kalakeya, Naga, Wanara, Lembu, Barwang, Anjing, Rakshasa, Danawa, Daitya, Pisaca, Yaksa, Aditya, dan Asura; makhluk-makhluk demonis pemakan manusia yang sangat buas dan menakutkan. Makhluk-makhluk itu dipimpin oleh seorang Asura Raja bernama Varuna, pemuka wangsa Aditya.

Menurut cerita dewa-dewa, para makhluk buas penghuni samudera raya itu berkali-kali naik ke daratan dan mendaki puncak-puncak gunung tempat persemayaman Bhattara Indra. Dipimpin oleh raja-rajanya yang sakti mandraguna seperti Asura Vrithra, para makhluk buas menjarah Indraloka dan mengejar-ngejar para apsara-apsari. Suatu saat Asura Vrithra berhasil dibinasakan oleh Indra. Namun, lahir lagi pemimpin baru bernama Kasin, yang kembali memimpin makhluk-makhluk mengerikan itu menyerbu Indraloka. Tatkala Kasin dibinasakan Balarama, muncul saudaranya yang bernama Niwatakawaca, yang dengan penuh amarah menggempur Indraloka. Namun, seperti nasib pemimpin makhluk buas terdahulu, Niwatakawaca pun dapat dibinasakan putera Bhattara Indra, Arjuna.

Setelah pemuka-pemukanya terbunuh dalam pertempuran, makhluk-makhluk ganas penghuni lautan itu tidak pernah lagi menyerbu Indraloka. Mereka tinggal tenang di dalam lautan. Namun, sifat mereka yang mirip dengan sifat lautan sering kali berubah dengan cepat dan menggiriskan. Meski tak pernah lagi menyerbu Indraloka, mereka masih sering naik ke daratan Bharatnagari dan melakukan penjarahan serta perampokan besar-besaran. Setelah puas menjarah, merampok, merusak, dan membunuh manusia, makhluk-makhluk ganas itu kembali ke dalam lautan dan tidur selama bertahun-tahun.

Ketika pelaut-pelaut Gurjaradwipa mulai berani berlayar ke tengah samudera, mereka mengunjungi sarang-sarang kediaman para makhluk buas yang menakutkan itu. Dari para pelaut Gurjaradwipa itulah sarang-sarang makhluk ganas di tengah samudera itu disebut dengan nama Nagnaloka (dunia manusia telanjang). Rupanya para makhluk buas itu telah berubah menjadi setengah manusia. Namun, mereka masih belum mengenal pakaian. Sebagian mereka masih menggunakan nama-nama wangsa yang menunjuk pada asal-usul leluhurnya yang buas, yaitu Danawa, Daitya, Rakshasa, Kalakeya, Naga, Wanara, Anjing, Lembu, dan Barwang.

Selama beratus-ratus tahun makhluk setengah manusia itu hidup dalam keadaan liar dan tanpa aturan. Mereka dikenal sebagai bangsa lautan yang memiliki sifat tidak jauh dari leluhurnya yang suka membanggakan kehebatan diri dan kelompoknya, makhluk yang gemar berperang, suka menjarah dan merampok, senang membunuh, dan haus darah. Hari-hari dari kehidupan mereka tidak pernah diwarnai ketenangan, kedamaian, kerukunan, dan ketenteraman. Mereka benar-benar makhluk berjiwa lautan. Sekalipun tampak tenang, tanpa terduga mereka sering mengamuk. Jika mengamuk mereka akan menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya sebagaimana gelombang menghancurkan kapal-kapal dan desa-desa di pesisir.

Di tengah kengerian hidup semacam itu, datanglah ke tengah lautan itu seorang Brahmana Panca Dravida dari negeri Andra di selatan Bharatnagari yang bernama Kundungga. Ia adalah keturunan Asura Varuna dari galur Rishi Agastya. Dari Kundungga lahirlah raja-raja besar yang berusaha menata kehidupan di tengah samudera raya itu sebagaimana layaknya tatanan kehidupan manusia. Di antara keturunan Kundungga yang termasyhur adalah Aswawarman, Bhagawan Manumanasya Sri Jayasinghawarman, Mulawarman, Purnawarman, Suryyawarman, Chakrawarman, Indrawarman, Kesariwarman, dan Singhawarman. Itulah barisan manusia luhur keturunan Varuna yang melahirkan Karttikesingha Sang Nrpati Dewasimha, pendiri kerajaan besar pertama di samudera raya yang masyhur dikenal sebagai Kerajaan Kalingga.

Paparan itulah yang didengar Abdul Jalil dengan isyarah saat menemui arwah Sang Nrpati Dewasimha di pendharmaannya untuk meminta petunjuk bagi penyempurnaan gagasannya tentang khilafah. Yang paling mengejutkan Abdul Jalil, arwah Nrpati Dewasimha menertawakan gagasannya itu dengan ibarat mangga matang sebelum waktu. Merasa bahwa tidak ada yang salah dalam gagasannya tentang khilafah itu, Abdul Jalil memohon agar Nrpati Dewasimha menunjukkan keburukan dan kelemahan gagasannya tersebut.

Sebagai manusia besar yang pernah malang melintang di atas takhta kencana yang menyatukan dua puluh tujuh kerajaan di samudera raya, sang Nrpati Dewasimha sudah tentu sangat memahami tata negara dan tata kehidupan penduduk negerinya. Saat Abdul Jalil memintanya untuk menunjukkan keburukan dan kelemahan khilafah, dengan sangat tenang sang Nrpati Dewasimha berkata, “Tidak ada yang buruk dan tidak ada yang lemah dari gagasanmu itu, o Anak. Yang aku tertawakan adalah rencanamu untuk menerapkan tatanan agung dan mulia itu di negeri ini tanpa memperhitungkan watak dasar dari manusia-manusia yang engkau harapkan mendukung gagasan itu. Sebab, dengan mengabaikan watak dasar manusia pendukung, engkau dapat diibaratkan seperti orang yang berusaha menjadikan sebuah kota sebagai hunian kawanan binatang buas. Sehingga bukan keamanan, ketenteraman, kedamaian, kemakmuran, keadilan, dan kesentosaan yang akan engkau hadapi jika gagasanmu itu dijalankan, sebaliknya kekacauan dan kerusakanlah yang akan terjadi jika gagasan itu engkau laksanakan.”

“Apakah yang harus kami lakukan agar gagasan itu dapat dijalankan dan menghasilkan kemaslahatan bagi seluruh penduduk, o Paduka Mulia?” tanya Abdul Jalil.

“Tidak ada cara lain, kecuali melakukan tindak kekerasan atas nama hukum sebagaimana yang telah aku lakukan,” kata Nrpati Dewasimha tegas. “Sebab, telah berbilang abad leluhurku menegakkan kekuasaan di tengah samudera yang dihuni makhluk-makhluk setengah manusia ini, namun mereka semua merasa gagal menjadikan penghuni negeri ini sebagai manusia sempurna. Kekuasaan yang ditegakkan para leluhurku selalu ternoda oleh kebiadaban para kawula yang memiliki sifat seperti leluhurnya; para makhluk buas dari antara wangsa Kalakeya, Danawa, Daitya, Rakshasa, Yaksa, Naga, Anjing, Wanara, Lembu, dan Barwang.”

“Lantaran itu, ketika aku menegakkan kekuasaan di Kalingga, aku pilih jalan yang paling tegas untuk membedakan manusia dari binatang dan makhluk-makhluk buas yang biadab, yakni dengan cara penegakan hukum. Maksudku, untuk mendidik makhluk setengah manusia agar menjadi manusia utuh, hendaklah dilakukan dengan mengenalkan mereka pada hukum. Seluruh penduduk Kalingga harus disadarkan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang hidup di atas peraturan hukum, bukan hidup liar seperti binatang di hutan.”

“Aku tidak tahu pasti berapa puluh ribu manusia setengah binatang yang terbunuh atas nama hukum Kalingga yang keras. Sebab, tidak kenal kawula, tidak kenal nayakapraja, tidak kenal keluarga raja, yang melanggar peraturan akan dijatuhi hukuman berat. Waktu itu aku dicaci maki oleh semua orang sebagai raja setan yang jahat dan haus darah. Tetapi, aku menutup mata dan telingaku. Tidak ada yang aku dengarkan di antara semua suara itu, kecuali suara hukum yang jernih laksana pantulan denting pedang yang lurus dan tajam.”

“Akhirnya, selama puluhan tahun sejak hukum ditegakkan dengan keras, penduduk Kalingga benar-benar menjadi manusia yang baik budi pekertinya. Sifat-sifat buruk warisan para Kalakeya, Danawa, Daitya, Rakshasa, Pisaca, Yaksa, Naga, Anjing, Wanara, Lembu, dan Barwang telah lari bersembunyi di kedalaman jiwa seluruh penduduk. Seluruh warga Kalingga hidup dalam keadaan aman, damai, tenteram, makmur, dan sentosa. Kejahatan sekecil apa pun tidak terjadi di Bumi Kalingga karena semua penduduk tunduk pada hukum. Semua penduduk sudah menjadi manusia utuh.”

“Tetapi, saat aku mengundurkan diri menjadi pertapa, terjadi peristiwa yang menguji ketegasanku. Pangeran Pradah Putra, putera mahkotaku, melakukan pelanggaran terhadap hukum. Dia menginjak-injak pundi-pundi berisi emas yang diletakkan seorang pedagang Arab di pasar kutaraja. Orang Arab sombong itu tidak yakin bahwa ada bangsa selain bangsanya, apalagi bangsa keturunan makhluk buas, yang bisa patuh hukum. Lantaran itu, dia ingin menguji hukum Kalingga.”

“Selama dua tahun tidak satu pun orang berani menyentuh pundi-pundi itu. Tetapi, putera mahkotaku justru mengijak-injaknya, sebagai ungkapan sikap bahwa tumpukan emas baginya bukanlah barang berharga. Rupanya dia tidak sadar bahwa hukum Kalingga melarang orang-seorang mengganggu barang milik orang lain. Lantaran itu, dia diancam hukuman mati. Sebagaimana aku, istriku yang menggantikan kekuasaanku pun dengan tegas menjatuhkan hukuman mati atas putera mahkota. Hak atas takhta dicabut darinya. Hanya atas saran para pejabat tinggi kerajaan akhirnya hukuman mati dicabut dan diganti hukuman potong kedua kaki. Demikianlah, Pradah Putra, sang putera mahkota dipotong kedua kakinya tanpa ampun. Itulah hukum adil yang harus dipatuhi oleh setiap penghuni negeri tidak pandang kawula, tidak pandang keluarga raja.”

Mendengar uraian Nrpati Dewasimha, Abdul Jalil sadar betapa gagasannya tentang khilafah sangat lemah dalam hal perangkat hukum yang sesuai untuk menata dengan tertib kehidupan masyarakat ummah dan aparat walu al-Ummah. Ia sadar bahwa Nabi Muhammad Saw. pun saat membangun komunitas ummah di Yatsrib menetapkan hukum yang keras sehingga beliau berkata akan memotong sendiri tangan puterinya, Fatimah r.a., jika kedapatan sang puteri terbukti melakukan pencurian. Ah, bukankah kekacauan di Caruban Larang akibat orang-orang berebut tanah hanya bisa diredakan oleh tindakan keras Sri Mangana yang mengancam dengan hukuman berat bagi siapa saja yang terbukti melanggar batas tanah orang lain? Bukankah compang-camping kehidupan di Bumi Majapahit juga disebabkan lumpuhnya penegakan hukum Kutaramanawa?

Petunjuk Nrpati Dewasimha sesungguhnya telah menempatkan Abdul Jalil pada kedudukan yang sulit. Di satu pihak, ia bisa menerima alasan Nrpati Dewasimha itu bahwa penghuni negeri ini hanya bisa dimanusiakan lewat penegakan hukum yang tegas dan keras karena mereka dianggap sebagai manusia setengah hewan. Namun di pihak lain, ia merasa jika petunjuk Nrpati Dewasimha diikuti tentu akan bertentangan dengan dasar-dasar ajaran yang disampaikannya yang meyakini bahwa di dalam diri manusia sejatinya terdapat ruh Yang Ilahi. Dengan ajarannya itu ia secara tegas menghendaki para penghuni negeri dapat mematuhi hukum karena kesadaran, bukan didasari oleh rasa takut. Sebab, jika penegakan hukum hanya didasarkan pada rasa takut maka saat yang ditakuti sudah tidak ada, kembalilah orang-orang ke sifat semula. Porak-porandanya Kalingga terbukti karena raja-raja penerus tidak lagi memiliki sikap tegas seperti Nrpati Dewasimha dan permaisurinya, sehingga para kawula Kalingga kembali menjadi liar sepeninggal mereka.

Taiwan Strait Approaching Kaohsiung (MV. Kenho) , May 20th 2007, 08:20

04. Di Padepokan Wanasalam

Ketika Abdul Jalil kembali dari pendharmaan Nrpati Dewasimha menuju Terung, tanpa sengaja ia melewati Padepokan Wanasalam, tempat kelahiran Ario Damar, adipati Palembang. Tercekam oleh kemasyhuran Padepokan Wanasalam, ia kemudian memutuskan untuk singgah barang beberapa bentar di padepokan yang didirikan oleh Kaki Palupa, kakek adipati Palembang. Padepokan Wanasalam sendiri saat itu dipimpin oleh Ki Wedung, adik Patih Demak, Ki Wanasalam.

Entah kebetulan entah tidak, saat berada di padepokan itu, tanpa pernah diinginkan, untuk kali pertama sepanjang hidupnya Abdul Jalil menyaksikan keberadaan sebuah ksetra, lebih tepat disebut bekas ksetra; hamparan tanah lapang berumput ilalang di utara padepokan dengan sebuah bukit tulang manusia setinggi tujuh depa terletak di tengah-tengah. Menurut Ki Wedung, ksetra itu sekarang tidak lagi digunakan karena Ario Damar dan Ki Wanasalam selaku sesepuh padepokan telah melarang ksetra itu dipakai untuk upacara. “Kami selaku orang muda patuh saja pada perintah kakak-kakak kami,” ujar Ki Wedung.

Sekalipun ksetra di Padepokan Wanasalam sudah bertahun-tahun tidak digunakan lagi, kengerian masih membayangi keberadaannya. Siapa pun yang belum mengetahui dan mengenal ajaran Bhairawa-Tantra akan meremang bulu kuduknya saat melihatnya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya tulang-tulang manusia yang menggunung dibalut debu tebal. Andaikata ada yang menghitung, jumlah gunungan tulang itu sedikitnya tak kurang dari sembilan ratus orang. Itu belum termasuk tulang-tulang yang berserak di pinggir tanah lapang dan tumpukan-tumpukan kecil di sekitarnya. Entah berapa ribu anak manusia sebenarnya yang telah menjadi korban persembahan bhairawa-bhairawi itu.

Abdul Jalil yang baru sekali itu melihat ksetra merasakan bulu kuduknya meremang saat menekuri tulang-tulang itu. Berulang-ulang ia menarik napas panjang. Tulang-tulang itu, katanya dalam hati, pastilah tulang belulang anak-anak muda dan bayi-bayi tak berdosa. Mereka dirampas dari dekapan kasih orang tuanya untuk dijadikan “jalan pintas” menuju pembebasan jiwa oleh sekelompok orang yang mencari Kebenaran Sejati. Andaikata tidak ada cahaya iman yang dipancarkan Allah SWT. lewat Ario Damar dan Ki Wanasalam, tentulah ksetra itu masih digunakan.

Entah kebetulan entah tidak, ketika Abdul Jalil tinggal beberapa bentar di padepokan yang dianggapnya sebagai tempat kenajisan itu, tanpa diduga-duga ia bertemu dengan Raden Sulaiman, leba Wirasabha, pemimpin penduduk beragama Islam di Wirasabha. Saat itu Raden Sulaiman bersama puluhan orang warga muslim Wirasabha sedang meminta perlindungan di padepokan tersebut. Rupanya penduduk Wirasabha yang beragama Islam sedang mengalami tekanan akibat pecahnya peperangan antara adipati Terung dan Patih Mahodara.

Raden Sulaiman adalah putera Raden Abu Hurairah, leba Wirasabha pertama. Raden Abu Hurairah sendiri merupakan saudara sepupu Raden Ali Rahmatullah, bupati Surabaya, sebab ayahanda Raden Abu Hurairah yang bernama Narpath Arun adalah adik bungsu puteri Candrawati, ibunda Raden Ali Rahmatullah. Raden Abu Hurairah datang ke Majapahit barang setengah abad silam bersama saudara sepupunya, Raden Ali Rahmatullah dan Raden Ali Murtadho. Keduanya putera Candrawati yang menikah dengan Syaikh Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandy. Mereka datang ke Majapahit untuk bersilaturahmi pada bibinya, Ratu Darawati, yang diperistri oleh calon maharaja Majapahit, Sri Prabu Kertawijaya.

Raden Ali Rahmatullah diangkat menjadi imam Masjid Ampel Denta di Surabaya dan Raden Ali Murtadho diangkat menjadi imam masjid di Gresik. Saat itu Raden Abu Hurairah diangkat menjadi leba di Wirasabha, yaitu pejabat khusus yang mengelola sebagian tanah pribadi milik raja (watej i jro) dan berwenang memungut pajak dari tanah tersebut (mangilala drwya haji). Dengan jabatan leba tersebut, Raden Abu Huraira kemudian menjadi pemuka penduduk muslim di Wirasabha, khususnya imam bagi warga peranakan Campa. Ia menikah dengan puteri Arya Teja, syahbandar Tuban. Dari pernikahan itu lahirlah Raden Sulaiman. Sepeninggal Raden Abu Hurairah, yang menggantikan kedudukannya sebagai leba dan imam penduduk beragama Islam di Wirasabha adalah puteranya, Raden Sulaiman.

Belum lama Raden Sulaiman menggantikan ayahandanya, kehidupan di Majapahit mengalami perubahan yang sangat menyedihkan. Perang antarwangsa untuk berebut pengaruh dan kekuasaan telah melahirkan kehidupan yang kacau-balau. Penjarahan terjadi di mana-mana. Penduduk desa yang kehilangan rumah dan harta bendanya datang ke kota-kota terdekat dengan pakaian compang-camping untuk meminta-minta. Di tengah suasana kacau-balau itulah penduduk yang sudah menjadi gelandangan menggantungkan harapan mereka kepada orang-orang Islam di pedalaman. Banyak di antara penduduk itu kemudian memeluk Islam. Kehidupan mereka menjadi lebih baik karena mendapat bantuan dari saudagar-saudagar muslim di pesisir.

Memang, sejak zaman Sri Prabu Rajasanagara berkuasa, di kutaraja Majapahit sudah terdapat warga muslim. Mereka hidup bebas menjalankan keyakinan agamanya, meski di dalam tatanan penduduk mereka dikelompokkan sebagai golongan mleccha, yakni kalangan rendah di luar kasta. Jumlah penduduk muslim di kutaraja makin bertambah ketika Sri Prabu Wikramawarddhana naik takhta. Ini lantaran adik tiri yang diangkatnya menjadi raja muda di Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura, memeluk agama Islam dan menempatkan saudagar-saudagar muslim di kutaraja. Pada saat Sri Prabu Kertawijaya naik takhta, jumlah penduduk muslim di kutaraja makin meningkat karena sang maharaja menikahi perempuan-perempuan muslimah, bahkan terakhir ia memeluk agama Islam.

Ketenangan dan kedamaian penduduk beragama Islam di pedalaman Majapahit ternyata tidak langgeng. Pada saat perselisihan antarwangsa berlangsung sengit, pemegang kekuasaan di Majapahit adalah penguasa-penguasa yang berpikiran picik dan berjiwa kerdil. Penghargaan dan penghormatan atas keberbedaan sebagaimana maharaja terdahulu menjadi terabaikan. Penduduk beragama Islam di pedalaman mulai merasakan tekanan-tekanan dan ancaman-ancaman, bahkan tindak-tindak kekerasan.

Menurut ingatan warga muslim Wirasabha, bencana awal yang dialami penduduk muslim di pedalaman terjadi untuk kali pertama saat pecah pertempuran antara adipati Terung dan Patih Mahodara. Penduduk muslim di Wirasabha yang seabad lebih tidak pernah diganggu tiba-tiba harus ikut menanggung akibat buruk dari pertempuran tersebut. Mereka dijadikan bagian dari sasaran-sasaran tempur oleh kaki tangan Patih Mahodara dalam upaya menekan kekuatan Terung. Rumah mereka dibakar. Harta mereka dijarah. Mereka yang tak sempat lari akan dibunuh. Anehnya, dalam keadaan kacau-balau itu, satu-satunya tempat berlindung yang paling aman bagi umat Islam Wirasabha adalah Padepokan Wanasalam; kediaman para bhairawa pemangsa manusia.

Tentang kecenderungan umat Islam untuk berlindung di Padepokan Wanasalam, menurut Raden Sulaiman, sesungguhnya terkait dengan hubungan lama di antara leba Wirasabha dan pemimpin Padepokan Wanasalam. Sejak kali pertama Raden Abu Hurairah diangkat sebagai leba di Wirasabha sudah terjalin hubungan antara dirinya dan pemimpin Padepokan Wanasalam, Ki Kumbharawa. Hal itu terjadi karena Ki Kumbharawa adalah uwak dari Ario Damar. Ario Damarlah yang mengikatkan jalinan itu. Hubungan itu makin kuat manakala atas bimbingan leba Wirasabha, putera Ki Kumbharawa, yaitu Ki Wanasalam, memeluk Islam. Lantaran Ki Wanasalam sudah memeluk Islam dan menjadi patih di Kadipaten Demak maka sepeninggal Ki Kumbharawa yang menggantikan kedudukannya adalah putera bungsunya, Ki Wedung, yang kala itu masih remaja.

Hubungan erat antara Leba Wirasabha dan pemimpin Padepokan Wanasalam menjadikan keberadaan umat Islam di Wirasabha tak terusik. Semua orang seolah tahu, Sang Leba Wirasabha adalah kerabat pemimpin Padepokan Wanasalam. Itu sebabnya, ketika terjadi penyerbuan pasukan Patih Mahodara yang pertama kali ke Surabaya, umat Islam di Wirasabha tidak sedikit pun diganggu. Baru setelah pecah perang dengan Terung, kaki tangan Patih Mahodara mulai berani menjarah dan merampok umat Islam. Ya, pada masa Patih Mahodaralah untuk kali pertama umat Islam di Wirasabha mulai diganggu.

“Saat kerusuhan pertama pecah,” kata Raden Sulaiman, “seluruh warga muslim di Wirasabha sangat kebingungan. Mereka tidak pernah menduga akan dijadikan sasaran serangan. Tatkala mereka sedang berlarian mencari anak-anak mereka, tiba-tiba rumah mereka sudah rata dengan tanah. Harta benda mereka habis dijarah. Mereka yang tak sempat menghindar, tubuhnya bergelimpangan menjadi mayat di jalan-jalan. Suasana saat itu benar-benar mencekam.”

“Itu terjadi pada perang Terung – Daha yang pertama?” tanya Abdul Jalil.

Raden Sulaiman mengiyakan. Kemudian dia menuturkan betapa di tengah kebingungannya, penduduk muslim Wirasabha berbondong-bondong menyelamatkan diri ke makam leba Wirasabha pertama, Raden Abu Hurairah. Mereka berkerumun dan berdesak-desakan di makam yang terletak di belakang Ndalem Leba. Mereka berdoa sambil menangis memohon pertolongan dari arwah Raden Abu Hurairah. Saat itu semua orang tidak tahu harus berbuat apa untuk menghindar dari kematian. Mereka hanya bisa berdoa dan berharap terjadi sebuah keajaiban.

“Masih terbayang benar dalam ingatan saya,” Raden Sulaiman mengenang, “betapa mencekam suasana saat itu. Seluruh Wirasabha sudah dikuasai pasukan Patih Mahodara. Puluhan ribu prajurit dengan senjata terhunus berkeliaran di jalan-jalan. Mereka akan menghancurkan apa saja yang mereka ketahui milik warga muslim. Bagaikan kawanan hewan buas kelaparan, prajurit Patih Mahodara dengan wajah beringas dan mata menyala beriring-iringan menuju ke Ndalem Leba.”

“Ndalem Leba mereka kepung. Kemudian, sambil berteriak serentak bagaikan suara guruh bersahut-sahutan, mereka melepaskan beratus-ratus panah berapi. Terjadi hujan api. Dalam sekejap Balai Rangkang dan bangunan-bangunan utama Ndalem Leba tenggelam dalam lautan api. Saat itu semua orang yang berada di makam saling berdesak-desak dan menjerit-jerit ketakutan. Suasana makin tegang, ketakutan makin memuncak, manakala mereka menyaksikan pasukan Patih Mahodara berbondong-bondong masuk ke halaman Ndalem Leba menuju arah makam. Tanpa ada yang menyuruh, semua beramai-ramai melafalkan kalimah tahlil La ilaha illa Allah berulang-ulang karena mereka mengira saat itu adalah saat terakhir mereka hidup di dunia.”

“Ketika semua harapan untuk hidup sudah pupus, tiba-tiba terjadi keajaiban. Allah memberikan pertolongan dalam bentuk yang tak pernah kami bayangkan. Saat itu saudara kami terkasih, Ki Wedung, dengan diikuti oleh sepuluh siswanya menerobos masuk ke Ndalem Leba secara menakjubkan. Laksana kawanan raksasa menakutkan keluar dari hutan, mereka menyibak pasukan Patih Mahodara bagaikan orang menyibak rumput di tengah padang alang-alang. Dengan membentak-bentak Ki Wedung dan siswanya melemparkan para prajurit yang menghalangi jalan. Kemudian, tanpa halangan sedikit pun mereka sudah berada di depan makam.” “

Orang-orang Islam yang tengah ketakutan menjadi panik melihat Ki Wedung dan siswanya mendekati makam. Mereka mengira Ki Wedung adalah raja raksasa yang akan memangsa mereka. Namun, kepanikan mereka sirna seketika saat mereka mendengar teriakan Ki Wedung yang mengerikan. Ia mengancam akan membunuh siapa saja di antara manusia yang berani mengganggu setiap jiwa di Ndalem Leba. Saat itu kami saksikan prajurit Patih Mahodara mundur serentak. Rupanya mereka gentar dengan ancaman Ki Wedung. Kemudian di bawah tatapan para prajurit dan kaki tangan Patih Mahodara, kami semua meninggalkan Ndalem Leba menuju Padepokan Wanasalam. Itulah kisah pengungsian pertama kami yang ajaib. Dan kali ini adalah pengungsian kami yang ketiga kalinya di Padepokan Wanasalam.”

“Kenapa orang-orang mengira Ki Wedung dan siswa-siswanya sebagai raksasa?” tanya Abdul Jalil.

“Karena Ki Wedung saat itu memang seperti raksasa,” papar Raden Sulaiman. “Tingginya sekitar lima depa. Matanya besar dan menyala. Gigi dan taringnya memanjang hingga ke dagu. Bahkan, saya yang sudah mengenalnya dengan baik pun saat itu tidak lagi mengenalinya. Dia benar-benar berubah menjadi raksasa menakutkan.”

“Kenapa tidak ada prajurit Patih Mahodara yang menghalangi Ki Wedung?” tanya Abdul Jalil.

“Saya kira mereka takut,” kata Raden Sulaiman. “Siapa pun di antara warga Wirasabha entah dia prajurit atau bukan, pastilah mereka sudah mendengar jika hutan Wanasalam adalah hutan angker, tempat kediaman para bhairawa yang suka memakan manusia. Munculnya Ki Wedung dalam bentuk raksasa telah menciutkan nyali mereka. Saya kira, sebagian besar mereka pun sudah pernah mendengar cerita keangkeran hutan Wanasalam. Di antara mereka tentu banyak yang pernah mendengar cerita jika leba Wirasabha pertama adalah kerabat pemangku Padepokan Wanasalam.”

“Ah, aku paham sekarang,” kata Abdul Jalil tiba-tiba teringat pada Ki Wanasalam yang ditemuinya di Kadipaten Demak, “kenapa prajurit-prajurit Demak sangat ditakuti di berbagai tempat, bahkan di Bumi Pasundan. Kalau tidak salah karena prajurit-prajurit Demak dipimpin oleh Ki Wanasalam, mantan pendeta bhairawa yang termasyhur sakti mandraguna asal Wanasalam.”

“Saya kira bukan hanya karena patih Wanasalam, Paman,” ujar Raden Sulaiman. “Prajurit Demak ditakuti karena hampir semua lurah prajurit (perwira) dan mantri Demak adalah hasil didikan Padepokan Wanasalam.”

“Benarkah?” sergah Abdul Jalil terkejut. “Bukankah mereka semuanya beragama Islam?”

“Ya, mereka semua memang beragama Islam. Tetapi, sebelum berangkat ke Demak mereka adalah siswa Padepokan Wanasalam. Mereka baru memeluk Islam beberapa waktu sebelum berangkat ke Demak. Menurut adat kebiasaan, mereka selalu mengucapkan ikrar keislaman diNdalem Leba Wirasabha. Ya, para calon punggawa Demak selalu mengikrarkan dua kalimah syahadat di depan leba Wirasabha sebelum berangkat ke Demak. Ketentuan itu ditetapkan oleh Patih Wanasalam sejak ayah kami masih hidup,” kata Raden Sulaiman.

Penjelasan Raden Sulaiman menyibak gumpalan awan tanda tanya di benak Abdul Jalil. Ia selama ini tidak memahami keanehan-keanehan adat kebiasaan para lurah prajurit Demak yang dinilainya menyimpang jauh dari tuntunan Islam. Para lurah prajurit Demak, sepengetahuannya, dikenal sebagai perwira-perwira sakti mandraguna, namun sangat kejam dan telengas di dalam setiap pertempuran. Mereka tidak pernah mengampuni musuh-musuhnya. Bahkan mereka menanamkan kebiasaan menjijikkan di kalangan prajurit Demak; menjilati darah musuh yang melumuri senjatanya. Rupanya, pikir Abdul Jalil, para lurah prajurit itu adalah siswa didikan Padepokan Wanasalam sehingga saat sudah menjadi muslim pun mereka belum bisa meninggalkan kebiasaan minum darah yang sangat terlarang dalam ajaran Islam.

Pertempuran yang terjadi berulang-ulang antara adipati Terung dan Patih Mahodara, yang oleh orang-orang di pesisir dianggap sebagai usaha melindungi umat Islam di pedalaman, ternyata tidak sepenuhnya disetujuai oleh umat Islam di pedalaman. Buktinya, Raden Sulaiman sangat menentang peperangan yang sudah terulang tiga kali itu. “Saya mengira perang itu bukan untuk melindungi umat Islam di pedalaman. Perang itu merupakan pertempuran berebut pengaruh dan kekuasaan antara Yang Dipertuan Terung dan Patih Mahodara.”

Ungkapan Raden Sulaiman tentang pertarungan dua rajawali Majapahit itu dilatari oleh perebutan pengaruh dan kekuasaan bukan tanpa alasan. Dalam peperangan itu masing-masing pihak selalu menyatakan diri sebagai pembela Majapahit sejati. Adipati Terung mengaku sebagai abdi setia Ratu Stri Maskumambang, maharaja Majapahit yang berkedaton di Japan. Sementara itu, Patih Mahodara mengaku sebagai abdi setia Sri Surawiryawangsaja, maharaja Majapahit yang berkedaton di Daha. Padahal, hampir semua orang tahu bahwa baik Ratu Stri Maskumambang maupun Sri Surawiryawangsaja adalah “boneka” dari dua petinggi Majapahit yang berebut pengaruh dan kekuasaan itu.

Abdul Jalil terkejut dengan pengakuan jujur Raden Sulaiman. Dari cerita-cerita yang ia dengar selama ini hampir semua menyatakan jika Patih Mahodara telah mengangkat diri menjadi maharaja Majapahit di Daha, menggantikan kedudukan Sri Prabu Natha Girindrawarddhana. Lantaran itu, adipati Terung menolaknya dan menyatakan tetap setia kepada Ratu Stri Maskumambang. Ternyata, menurut Raden Sulaiman, di Daha sendiri sebenarnya masih ada maharaja Majapahit yang bernama Sri Surawiryawangsaja.

Tentang terbaginya kekuasaan Majapahit, menurut Raden Sulaiman, sesungguhnya sudah terlihat beberapa waktu sebelum Sri Prabu Natha Girindrawarddhana mangkat. Saat itu kekuatan besar di Majapahit yang dapat dikata melampaui kekuatan maharaja dipegang oleh dua orang pejabat tinggi Majapahit: adipati Terung dan Patih Mahodara. Itu sebabnya, sepeninggal Prabu Natha Girindrawarddhana kerajaan terbagi menjadi dua. Masing-masing raja sangat bergantung kepada dua pejabat tinggi tersebut. Bahkan menurut kasak-kusuk yang tersebar di pedalaman, pembagian Majapahit menjadi dua itu sesungguhnya hasil akal-akalan Patih Mahodara dan adipati Terung untuk memperkokoh wibawa dan kekuasaan masing-masing. Maksudnya, mereka berdualah yang sesungguhnya berada di balik pembagian kekuasaan Majapahit ke tangan dua orang raja itu.

“Patih Mahodara dan komplotannya mendaulat adik bungsu Sri Prabu Natha Girindrawarddhana, yaitu Sri Surawiryawangsaja untuk menjadi maharaja Majapahit, menggantikan takhta kakaknya,” kata Raden Sulaiman. “Tetapi, adipati Terung tersinggung dan marah karena sebagai anggota rajasabha (majelis raja) dia tidak dilibatkan dalam menentukan pengganti maharaja. Karena itu, saat orang-orang di Daha masih merayakan upacara rajasuya (Jawa kuno: upacara korban dalam penobatan raja), dia dan para adipati pesisir memaklumkan diri tunduk di bawah kekuasaan Ratu Stri Maskumambang, maharani Majapahit, pewaris takhta Sri Prabu Natha Girindrawarddhana yang berkedaton di Japan. Dan sejak itu terjadi ketegangan antara sang patih dan Yang Dipertuan Terung, sehingga pecah pertempuran ketiga.”

“Siapakah Ratu Stri Maskumambang?” tanya Abdul Jalil.

“Beliau adalah puteri Sri Prabu Natha Girindrawarddhana. Namanya Dyah Rantnapangkajapatni. Tetapi seperti yang telah kami jelaskan tadi, baik Sri Surawiryawangsaja maupun Ratu Stri Maskumambang sebenarnya hanya boneka dari dua kekuatan yang bertarung itu. Kedua raja itu, menurut penilaian kami, nyaris tidak memiliki kekuatan apa pun. Mereka tidak memiliki angkatan perang, tanah, kekayaan harta benda, dan bahkan tidak memiliki dukungan dari para adipati. Karena itu, sepeninggal Sri Prabu Natha Girindrawarddhana dapat dikata hampir seluruh nayakapraja di kraton Daha dan sejumlah adipati di pedalaman adalah kaki tangan Patih Mahodara. Sementara itu, adipati-adipati muslim di pesisir dan sebagian adipati di wilayah Blambangan berpihak kepada adipati Terung.”

“Sekalipun Patih Mahodara tidak berani secara terbuka mengangkat diri sebagai maharaja, sejatinya dialah yang mengendalikan roda pemerintahan Majapahit di Daha. Sebab, Sri Surawiryawangsaja telah dijadikannya sebagai ‘ratu sangkar emas’ tak bernyawa. Hari-hari dari kehidupan Sri Surawiryawangsaja telah dicipta oleh sang patih menjadi semarak pesta kesenangan yang penuh puja-puji dan sanjungan. Putera Sri Prabu Adi-Suraprabhwa yang sejak kecil sudah dilumpuhkan oleh lingkungan mewah dan penuh sanjungan itu tidak pernah menyadari jika dirinya didudukkan di atas singgasana yang terletak di dalam ‘sangkar emas’ oleh sang patih. Ia tidak pernah tahu jika para punggawa dan kawula Majapahit jauh lebih mengenal nama besar sang patih daripada namanya.”

“Sementara itu, tak berbeda dengan Patih Mahodara, adipati Terung pun menempatkan Dyah Ratnapangkajapatni sebagai ‘ratu sangkar emas’. Tetapi, agak berbeda dengan nasib pamannya yang menjadi ‘tahanan’ Patih Mahodara, Dyah Ratnapangkajapatni lebih bebas dalam menjalankan kekuasaannya. Ratu Japan itu dapat memerintahkan ini dan itu kepada para bawahannya. Malahan, setiap tahun sekitar tiga puluh orang adipati datang ke Japan untuk mempersembahkan upeti kepada sang ratu Japan,” ujar Raden Sulaiman.

“Kalau begitu, ratu Japan tidak boleh disebut sebagai ‘ratu sangkar emas’ peliharaan adipati Terung. Sebab, dia jauh lebih berkuasa dibanding Sri Surawiryawangsaja. Dia tidak berada di bawah kendali adipati Terung. Bahkan, dia sehari-harinya tinggal di Japan, sedangkan adipati Terung tinggal di Terung.”

“Sekilas memang Ratu Stri Maskumambang adalah maharani yang berkuasa penuh. Tetapi jika diselidiki siapa saja para pejabat yang membantunya menjalankan roda pemerintahan, akan tampak bahwa hampir seluruhnya adalah sanak-saudara adipati Terung. Jabatan patih, misalnya, dipegang oleh Ario Kedut, kemenakan sang adipati. Patih Ario Kedut adalah cucu Ario Damar karena ayahandanya yang bernama Ario Menak Sunaya, Yang Dipertuan Pamadegan, adalah putera adipati Palembang itu. Jabatan manghuri (sekretaris negara) dipegang oleh kemenakan sang adipati, yaitu Pangeran Kanduruwan, putera Raden Patah adipati Demak. Selain kemenakan, Pangeran Kanduruwan juga menantu adipati Terung. Jabatan demung (kepala rumah tangga istana) dipegang oleh Bhima Nabrang Wijaya, putera Ario Menak Simbar Blambangan, juga kemenakan sang adipati. Jabatan rangga (perwira pengawal ratu) dipegang oleh Arya Terung, putera adipati Terung. Begitulah, seluruh jabatan penting di kraton Japan dipegang oleh sanak saudara adipati Terung. Ke mana pun Sang Ratu Stri Maskumambang berada selalu dilingkari oleh orang-orang yang patuh kepada sang adipati. Bukankah itu sama artinya dengan sang ratu berada di dalam sangkar emas?” ujar Raden Sulaiman.

Bertolak dari penjelasan Raden Sulaiman, Abdul Jalil menyimpulkan bahwa keadaan di Majapahit sejatinya jauh lebih parah dibandingkan dengan keadaan di Bumi Pasundan. Pasalnya, di Majapahit tidak ada lagi maharaja yang dipatuhi oleh semua pihak yang berselisih memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Sedangkan di Sunda masih ada Prabu Guru Dewata Prana, maharaja Sunda, yang dipatuhi oleh seluruh raja muda Bumi Pasundan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah putera-putera dan cucu-cucu maharaja sendiri. Sementara di Majapahit, mereka yang berselisih adalah para pemuka keluarga yang ikatan darahnya sangat jauh, bahkan diperparah oleh munculnya pemuka-pemuka di luar wangsa seperti Patih Mahodara. Dengan begitu, menurut hemat Abdul Jalil, mempersatukan para penguasa di Majapahit jauh lebih sulit dibanding mempersatukan raja-raja di Bumi Pasundan.

Selama beberapa hari tinggal di Padepokan Wanasalam, diam-diam Abdul Jalil mengamati perilaku pengungsi Wirasabha yang menurutnya memiliki kemiripan dengan perilaku orang-orang Caruban, Surabaya, dan Terung, yakni ada pengaruh Campa dalam tata kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya, anak-anak memanggil ibunya dengan sebutan “mak” sebagaimana lazimnya orang-orang Campa menyebut ibunya. Sedangkan di Majapahit orang menggunakan sebutan “ibu”. Seorang kakak menyebut adik atau orang yang lebih muda dengan sebutan “adiy”. Padahal di Majapahit orang lazimnya menggunakan sebutan “rayi”. Seorang adik menyebut kakak atau orang yang lebih tua dengan sebutan “kang”, sementara di Majapahit orang lazimnya menyebut “raka”. Orang-orang tua menyebut anak-anak lelaki kecil dengan panggilan “kachong”, namun di Majapahit orang menggunakan sebutan “rare”.

Karena ingin lebih dalam mengetahui perilaku para pengungsi Wirasabha, Abdul Jalil mengajak berbicara seorang pemuda Wirasabha bernama Kasan yang didapatinya sedang mencuci bilah tombak dengan rendaman buah asam. Kasan menjelaskan kepada Abdul Jalil bahwa bilah tombak itu dicuci agar “sang penghuni” merasa diperhatikan dan dimuliakan. “Kalau pusaka seperti ini tidak dirawat, bisa mendatangkan malapetaka. Sebab, penghuninya akan marah. Sudah banyak bukti, jika pusaka-pusaka seperti ini tidak dicuci dan tidak diberi makan akan mengamuk dan menimbulkan kesulitan bagi pemiliknya,” jelasnya.

“Apakah tombak itu juga butuh makan dan minum seperti manusia?” tanya Abdul Jalil heran.

“Sebulan sekali setiap malam Sukra Manis, kami memberinya makan, Tuan Syaikh.”

“Apa makanan tombakmu itu?”

“Asap kemenyan dan dupa, Tuan Syaikh,” ujar Kasan, “sedangkan minumnya air bunga.”

Abdul Jalil menarik napas berat. Ia paham, apa yang diyakini Kasan dan warga muslim Wirasabha yang lain sesungguhnya tidak berbeda dengan apa yang diyakini orang-orang Caruban, Surabaya, dan Terung. Penggunaan kemenyan untuk upacara-upacara mistis jelas berasal dari pengaruh orang-orang Campa yang membeli kemenyan dari pedagang-pedagang Arab. Orang-orang Sunda dan Majapahit tidak mengenal kemenyan untuk upacara keagamaan. Sepengetahuan Abdul Jalil, pohon kemenyan memang tumbuh di jazirah Arab, terutama di Yaman. Dari sanalah kemenyan dibawa oleh pedagang-pedagang Arab hingga ke Majapahit.

Setelah diam beberapa jenak, Abdul Jalil bertanya lagi kepada Kasan, “Apakah engkau pernah bertemu dengan penghuni tombak itu?”

“Tidak pernah, Tuan Syaikh,” jawab Kasan polos. “Tetapi penghuni pusaka ini, katanya, seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah dan destar putih.”

“Dari mana engkau mengetahui penghuni tombak itu laki-laki berjubah putih?”

“Kakek dan bapak kami yang mengatakannya, Tuan Syaikh.”

“Dan engkau mempercayainya?”

“Kami mengikuti apa yang diajarkan orang tua kami, Tuan Syaikh.”

“Coba kemarikan,” kata Abdul Jalil meminta bilah tombak yang dipegang Kasan. Setelah memegang tombak itu, ia meletakkannya di atas tanah dan kemudian menginjak dengan kaki kirinya sambil berkata, “Menurutmu, apakah penghuni tombak ini akan marah kepada aku?”

“Ampun Tuan Syaikh, mohon Tuan Syaikh tidak melakukan itu. Sebab, kami tidak ingin menerima akibat buruk jika penghuni tombak itu marah,” kata Kasan mengiba dan bersujud di kaki Abdul Jalil.

“Penghuni tombak?” Abdul Jalil menarik napas berat dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidakkah engkau tahu jika penghuni tombakmu sekarang ini menjerit-jerit di bawah telapak kakiku? Dan sejatinya, dia bukan laki-laki tua berjubah dan berdestar putih, melainkan seekor kadal setan.”

“Aduh Tuan Syaikh, apakah kadal setan itu tidak berbahaya?”

“Tentu saja tidak. Mana ada kadal berbahaya.”

“Kalau begitu, apa kegunaan pusaka itu?”

“Tidak ada gunanya,” sahut Abdul Jalil jengkel melihat kebodohan Kasan. “Sebab kadal setan itu telah aku usir. Jadi tombakmu ini sudah kosong.”

“Apakah nanti dia tidak akan kembali lagi ke rumahnya dan marah-marah kepada kami?”

“Ketahuilah, he Kasan, di dalam tubuhmu sesungguhnya terdapat kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibanding penghuni tombak ini. Engkau adalah anak cucu Adam a.s. yang lebih agung dan lebih mulia daripada setan penghuni pusakamu. Sebab, engkau lebih sempurna dalam penciptaan dibanding setan,” ujar Abdul Jalil menyadarkan.

Di luar dugaan tiba-tiba Kasan membenarkan ucapan Abdul Jalil. Dia menyatakan bahwa apa yang dikemukakan Abdul Jalil adalah ajaran yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh kakek dan ayahandanya. Kemudian tanpa diminta Kasan mengungkapkan keyakinan yang diperolehnya dari ayah dan kakeknya.

“Allahuk, TuhanYang Tak Terbandingkan dan Tak Tersentuh Indera, bersemayam di kening manusia. Allah, Sang Pencipta, bersemayam di alis kiri manusia. Muhammad di alis kanan. Jabrail (Jibril) di mata kiri. Ibrahim di mata kanan. Hasan di lubang hidung kiri. Husen di lubang hidung kanan. Hawa di telinga kanan. Itulah ajaran Kebenaran yang kami dengar dari ayahanda dan kakek kami. Jadi, seperti Tuan Syaikh, kami juga percaya bahwa pada diri manusia sejatinya ada terdapat Yang Ilahi.”

Penjelasan pengungsi Wirasabha bernama Kasan itu sangat mengejutkan Abdul Jalil. Ajaran itu sangat ganjil dan tak jelas asal usulnya. Ia menduga ajaran yang dikemukakan Kasan itu pastilah terkait dengan ajaran Syiwa-Budha tentang Nawasanga. Apakah kakek dan ayahanda Kasan terpengaruh dengan ajaran orang-orang Wanasalam? Apakah Islam di Wirasabha terpengaruh Syiwa-Budha dari Wanasalam?

Ketika mengaitkan antara ajaran ganjil itu dan Padepokan Wanasalam, tiba-tiba ingatan Abdul Jalil terlempar kepada sosok Syaikh Ibrahim Akbar, Syaikh Bentong, dan Haji Musa, para tokoh Campa di Caruban. Masih segar dalam ingatannya betapa di dalam musyawarah untuk menetapkan jumlah wali nagari yang sembilan di Caruban Larang itu, baik Syaikh Ibrahim Akbar, Syaikh Bentong, dan Haji Musa sangat mendukung gagasan Sri Mangana. Dengan berbagai alasan, yang secara samar menyinggung gagasan yang mirip ajaran Nawasanga itu, mereka sepakat menetapkan jumlah wali nagari di Caruban Larang sebanyak sembilan. Rupanya, pikir Abdul Jalil, Sri Mangana mengambil jumlah sembilan dari konsep Nawasanga yang berasal dari ajaran Syiwa-Budha, sedangkan ketiga orang tokoh asal Campa itu mengambilnya dari kepercayaan ganjil asal Campa sebagaimana diungkap Kasan.

Ketika Abdul Jalil menanyakan keganjilan ajaran yang dikemukakan Kasan kepada Raden Sulaiman, ia justru tersentak kaget. Sebab, Raden Sulaiman putera Raden Abu Hurairah itu, menurut Abdul Jalil, sedang berada dalam masalah besar. Ya, tidak berbeda dengan Kasan, Raden Sulaiman masih terperangkap ke dalam jerat-jerat takhayul Campa yang menafikan akal sehat. Namun, saat Abdul Jalil mengingatkan bahwa ajaran ganjil itu tidak memiliki dasar, barulah Raden Sulaiman mengungkapkan sesungguhnya sebelum meninggal dunia ayahandanya berwasiat agar dia tidak mengikuti kepercayaan orang-orang Campa dari Annam. Sebab, orang-orang Cam dari Annam itu bodoh dan picik.

“Menurut cerita ayahanda kami, orang-orang Cam asal Annam itu berasal dari keluarga-keluarga suku Cam, Jarai, Rade, Mada, dan Pnong-piak yang tinggal di utara. Mereka semula merupakan orang-orang yang gagah perkasa. Tetapi, selama ratusan tahun mereka berpindah-pindah tempat dari utara ke selatan untuk menghindari kekuasaan bangsa Koci (Vietnam) yang makin meluas. Dan selama ratusan tahun berpindah-pindah itu telah menjadikan mereka dan keturunannya bodoh. Mereka datang ke Majapahit bergelombang-gelombang setelah Pandurangga (Phan-rang) jatuh ke tangan orang-orang Koci. Kalau tidak salah, saat mereka datang ke Wirasabha, usia kami baru sembilan tahun,” kata Raden Sulaiman.

“Apakah ajaran ganjil itu berasal dari mereka?” tanya Abdul Jalil.

“Kami kira demikian, Paman,” kata Raden Sulaiman. “Sebab, ayahanda kami tidak pernah mengajarkan yang demikian itu kepada kami.”

“Jika demikian, engkau sudah melanggar wasiat ayahandamu. Karena sekarang ini, engkau sudah mengikuti keyakinan orang-orang Cam asal Annam itu,” kata Abdul Jalil. “

Kami merasa bersalah, Paman,” kata Raden Sulaiman dengan kening berpeluh dan dada naik turun, “namun kami tidak tahu harus berbuat apa. Sebab, yang kami pelajari sehari-hari adalah kitab-kitab agama yang diwariskan para pengungsi Cam asal Annam itu. Keberadaan kami selaku imam mereka dituntut harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang mereka dapatkan dari adat warisan leluhur mereka.”

“Mereka memiliki kitab-kitab agama?” tanya Abdul Jalil terkejut.

Sesungguhnya, ungkap Raden Sulaiman, para pengungsi Cam asal Annam membawa kitab-kitab agama seperti Tapuk Asalam (Kitab Islam), Tapuk Muhamad (Kitab Muhammad), Tapuk Alamadu (Kitab al-Hamdu), Tapuk Cakaray (Kitab Puji-pujian), Tapuk Musarar (Kitab Rahasia; Primbon), Tapuk Atassadur, dan Tapuk Sidik Swatik Sikariya (Kitab Kebahagiaan, Kesempurnaan, dan Kebaikan).

Di dalam kitab terakhir yang disebut Tapuk Sidik Swatik Sikariya itulah ajaran ganjil yang mirip Nawasanga itu berasal. Bahkan, di dalam kitab terakhir itu terdapat ajaran Martabat Tujuh yang menerangkan bahwa surga dan neraka bertingkat tujuh, di mana semuanya terletak pada tubuh manusia: surga tingkat pertama ada di mulut, kedua di telinga, ketiga di tangan, keempat di mata, kelima di hidung, keenam di kening, dan ketujuh di ubun-ubun. Sedangkan neraka tingkat pertama terletak di perut, kedua di buah dada, ketiga di pusar, keempat di paha, kelima di betis, keenam di mata, ketujuh di kaki.

“Aku katakan kepadamu bahwa engkau tidak bersalah dalam hal ini. Sebab, engkau sebagai imam bagi umat yang tinggal di pedalaman memang tidak memperoleh pendidikan yang memadai tentang Islam. Karena itu, engkau harus ikut aku ke Caruban Larang. Engkau harus belajar tentang Islam secara benar agar engkau bisa menjalankan amanat orang tuamu dengan baik,” kata Abdul Jalil.

“Kami mengikuti saja apa yang Paman kehendaki,” kata Raden Sulaiman.

Selat Taiwan mendekati kota Kaohsiung (MV. Kenho), 20 Mei 2007, 08:50LT

05. Para Penguasa Surabaya

Ketika Abdul Jalil dan Raden Sulaiman beserta prajurit pengawal Terung memasuki Kadipaten Terung dari gerbang selatan, rembang senja sudah menggantung di langit barat; kegelapan mulai menyelimuti lembah dan bengawan Terung. Tidak seperti biasanya, Balai Witana (pendapa) Kadipaten Terung terlihat sangat sepi. Hanya tiga empat orang prajurit yang terlihat menyalakan lampu. Sementara, sekitar lima prajurit pengawal terlihat berjalan hilir mudik di halaman Balai Witana.

Saat Abdul Jalil meninggalkan Balai Witana dan melintas di depan Balai Rangkang, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Pangeran Kanduruwan, kemenakan dan menantu Raden Kusen, yang menjadi pejabat manghuri di Japan. Putera Raden Patah dari selir itu baru menginjak tujuh belas tahun. Dia ditugaskan menjaga Kadipaten Terung, khususnya mengawal Ratu Stri Maskumambang yang tengah berada di Terung.

Dalam perbincangan singkat dengan Pangeran Kanduruwan, Abdul Jalil mengetahui jika adipati Terung dan sejumlah sesepuh dari trah Prabu Kertawijaya sedang berada di Surabaya, tepatnya di Masjid Ampel Denta. Mereka akan bermusyawarah tentang peperangan yang terjadi antara adipati Terung dan Patih Mahodara. “Semua rombongan dari Caruban juga ikut ke Surabaya,” kata Pangeran Kanduruwan.

“Apakah rombongan dari Daha juga ikut ke Surabaya?” tanya Abdul Jalil.

“Maksud Paman, rombongan pendeta muda bernama Nirartha?”

“Ya.”

“Empat hari lalu rombongan pendeta muda Nirartha dari Daha tiba di sini dengan dikawal prajurit-prajurit Terung. Dia datang bersama istri-istri dan anak-anaknya. Tapi, dua hari lalu dia pergi bersama-sama dengan adipati Tepasana, Menak Lampor. Katanya, dia akan ke Bali karena padepokannya di Daha dihancurkan Patih Mahodara,” kata Pangeran Kanduruwan.

“Apakah Wiku Suta Lokeswara juga sudah sampai ke sini?” tanya Abdul Jalil.

“Maksud Paman, wiku tua ayahanda Nirartha?”

“Ya.”

“Dia sampai ke sini esok hari setelah kedatangan Nirartha.”

“Apakah dia ikut ke Bali?”

“Tidak, Paman,” kata Pangeran Kanduruwan. “Resi muda Nirartha berangkat ke Bali dengan anak-anak dan istri-istrinya, sedangkan wiku tua itu ikut rombongan Paman Adipati Terung ke Surabaya.”

“Jika boleh tahu, musyawarah apakah yang akan digelar di Surabaya? Kelihatannya penting sekali.”

“Mungkin untuk menghentikan peperangan, Paman,” jelas Pangeran Kanduruwan. “Sebab, Patih Mahodara telah mengutus menantunya, Syaikh Maulana Gharib, untuk menghadap Pangeran Ahmad, Imam Masjid, putera Susuhunan Ampel Denta, untuk mendamaikan peperangan yang menyengsarakan kawula itu. Sebagaimana perdamaian pada perang pertama dan kedua, Pangeran Ali Rahmatullah diharapkan berkenan menjadi juru damai.”

“Jadi Patih Mahodara punya menantu seorang syaikh?” Abdul Jalil heran. “Bukankah dia dikenal sebagai pejabat Majapahit yang sangat membenci orang-orang Islam?”

“Patih Mahodara itu cerdik, sekalipun oleh banyak orang dia dianggap keturunan seekor anjing. Dalam dua pertempuran yang tidak dimenangkannya itu, rupanya dia sadar tidak boleh lagi membentur kekuatan Islam yang terbukti sudah sangat kuat di pesisir. Itu sebabnya, dia kemudian berusaha memperkuat pertahanan dirinya dengan memanfaatkan dukungan pemuka-pemuka Islam,” kata Pangeran Kanduruwan.

“Kemudian dia menikahkan puterinya dengan Syaikh Maulana Gharib, begitu?”

“Kira-kira begitulah, Paman,” kata Raden Sulaiman. “Puteri Patih Mahodara yang bernama Niken Sundara yang masih kecil dinikahkan dengan Syaikh Maulana Gharib yang sudah sangat tua.”

“Tapi siapakah Syaikh Maulana Gharib itu? Aku belum pernah mendengar namanya.”

“Dia adalah adik Syaikh Maulana Ishak,” ujar Raden Sulaiman. “Dia juga paman Prabu Satmata, Yang Dipertuan Giri Kedhaton.”

“Jika demikian, Syaikh Maulana Gharib masih berkerabat dengan aku. Sebab ayahandanya, Syaikh Ibrahim al-Ghozi as-Samarkandy, adalah saudara sepupu ayahandaku,” kata Abdul Jalil. Dengan memahami lingkaran kekerabatan antara Syaikh Maulana Gharib dan para penguasa di pesisir, Abdul Jalil diam-diam memuji sang patih yang mengambil Maulana Gharib sebagai menantu. Dengan keberadaan Syaikh Maulana Gharib sebagai menantu berarti Patih Mahodara telah mendapatkan pengaruh imam Masjid Ampel Denta yang sekarang. “Ah, cerdik sekali Patih Mahodara.”

“Dia memang cerdik, licin, ulet, namun licik seperti ular yang menakutkan,” kata Pangeran Kanduruwan.

Dibanding pelabuhan Tuban, Surabaya hanyalah pelabuhan kecil yang tak berarti. Dermaga di pelabuhan Surabaya terlihat seperti lonjoran-lonjoran kayu yang menjorok ke laut dengan sejumlah balok yang dipancang untuk menambat kapal-kapal kecil. Meski kecil dan tak berarti, suasana di pelabuhan sangat ramai. Sederetan bangunan besar dengan atap menjulang seolah menggapai langit terletak di selatan dermaga. Di sekitarnya terlihat puluhan rumah yang lebih kecil. Itulah kediaman para perwira angkatan laut Majapahit yang dilingkari rumah para bintara.

Sekalipun sebagai pelabuhan niaga Surabaya tergolong kecil dan tidak berarti, sebagai pangkalan armada laut, Surabaya adalah yang terbesar dan tak tertandingi. Di belakang kediaman para perwira dan bintara angkatan laut yang terletak di selatan dermaga, terdapat dermaga rahasia yang luar biasa besar. Dermaga itu berada di laut buatan yang terbentang di antara Sungai Mas dan Sungai Patukangan. Jika orang melihat dari arah laut, agak jauh di belakang deretan atap kediaman para perwira yang terletak di tepi timur Sungai Mas itu, terlihat tiang-tiang kapal perang yang tegak menjulang bagaikan barisan tombak raksasa. Agak keselatan dari muara terlihat sebuah kanal laut buatan untuk pintu keluar bagi kapal-kapal perang Majapahit menuju muara Sungai Mas. Sedangkan pintu masuknya terletak di kanal di muara Sungai Patukangan.

Lantaran Surabaya merupakan pangkalan angkatan laut Majapahit maka kapal-kapal perang Majapahit, baik yang dibikin di galangan Surabaya, Tuban, Samarang, maupun yang dibeli dari Pegu (Burma) ditempatkan di Surabaya. Dari pangkalan di Surabayalah kapal-kapal Majapahit menyebar ke berbagai penjuru Nusantara. Jumlah pasukan laut Majapahit yang disiagakan di Surabaya diperkirakan sekitar lima puluh ribu orang. Mereka tinggal dirumah-rumah para perwira dan bintara serta di barak-barak prajurit.

Karena Surabaya adalah pangkalan utama angkatan laut yang menyimpan banyak rahasia militer, maka ia tertutup bagi perdagangan. Kapal-kapal dan perahu niaga yang diizinkan bersandar di dermaga pelabuhan Surabaya hanyalah kapal dan perahu niaga milik saudagar setempat. Mereka memuat barang-barang dagangan yang dibutuhkan oleh para anggota angkatan laut Majapahit seperti beras, garam, minyak kelapa, gula, kain, arang, dan alat-alat perbaikan kapal.

Keberadaan para pelaut di Surabaya itu mendorong penduduk untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Agak jauh di selatan dermaga rahasia berdiri puluhan warung-warung makan. Di kanan kiri warung-warung itu terdapat sejumlah rumah petak milik para mucikari yang dihuni pelacur-pelacur. Kawasan itu diawasi oleh seorang juru jalir (Jawa Kuno: pengawas pelacuran) yang selain mengutip pajak pelacuran juga berhak menangkap bangsawan dan perwira yang kedapatan masuk daerah tersebut. Sesuai penghuninya, tempat itu dinamai Srenggakarana (Jawa Kuno: pembangkit nafsu syahwat). Di seberang barat Srenggakarana, dipisahkan Sungai Patukangan, terdapat tempat orang-orang menggelar pertunjukan wayang, sandiwara, tayuban, dan berjenis-jenis tontonan. Kawasan ini diawasi oleh seorang tuha padahi (Jawa Kuno: pengawas seni pertunjukan). Dan sesuai kegunaannya, tempat itu disebut Panggung (Jawa Kuno: pentas pertunjukan). Kedua tempat itu ramai dikunjungi oleh para prajurit laut rendahan Majapahit.

Karena kedudukannya yang tertutup, penjagaan sejak di muara Sungai Mas sampai ke kawasan Supit Urang di tempuran Sungai Brantas di selatan sangatlah ketat. Kapal-kapal atau perahu niaga yang akan masuk ke muara Sungai Mas diperiksa terlebih dulu di dermaga utama. Selepas dari dermaga utama, kapal-kapal dan perahu niaga itu akan diperiksa lagi di Pabean. Jika ingin meneruskan pelayaran ke selatan, akan diperiksa lagi secara berturut-turut di Kabangsri, Bukul, dan Supit Urang.

Karena ketatnya pemeriksaan maka kapal-kapal niaga yang akan menuju kutaraja Majapahit untuk berdagang di pelabuhan Canggu nyaris tidak ada yang masuk melalui Sungai Mas. Mereka biasanya masuk lewat muara Sungai Brantas yang terletak sekitar dua puluh pal di timur Sungai Mas. Kapal-kapal itu akan masuk lewat Supit Urang, terus ke Gsang, Tda, dan Canggu tanpa diperiksa. Jalur lain yang juga ramai dan sejak zaman kuno digunakan oleh kapal-kapal ukuran besar adalah muara Sungai Porong dengan dermaga di Kambang Sri, Jedong, Terung, dan Canggu. Kapal-kapal dan perahu niaga itu baru dikenai pungutan cukai dan biaya sandar di Canggu.

Boleh jadi karena pangkalan angkatan laut lebih membutuhkan keterampilan dibidang pembuatan kapal, perbaikan, peralatan perang, pertukangan, dan pemenuhan kebutuhan prajurit maka bagian terbesar penduduk Surabaya adalah para pekerja yang sangat ahli dalam bidangnya. Mereka adalah para pembuat dan ahli memperbaiki kapal (undahagi; amaranggi; juru palwa; juru pelang), penggergaji kayu, pembuat berjenis-jenis senjata (gusali), pembuat kain layar (agawai layar, pembuat alat-alat pelontar api (juru gurnita), pembuat bangunan-bangunan untuk prajurit. Mereka didatangkan dari berbagai tempat di segenap penjuru negeri bahkan mancanegara. Kediaman para tukang itu terletak di selatan dermaga rahasia Surabaya. Orang-orang menyebut tempat itu dengan nama Patukangan.

Entah kebetulan entah tidak, keberadaan Surabaya sebagai pangkalan angkatan laut Majapahit seolah-olah memiliki pengaruh kuat dalam membentuk watak penduduknya. Adat kebiasaan penduduk Surabaya seolah-olah tumbuh dan berkembang di bawah bayang-bayang nilai keprajuritan, jauh dari adat kebiasaan penduduk Majapahit di tempat lain. Tidak seorang pun mengetahui kapan adat kebiasaan itu mulai dijalankan oleh penduduk Surabaya. Orang hanya ingat bahwa adat kebiasaan penduduk Surabaya seolah mendidik dan melatih semua orang agar menjadi prajurit yang tangguh. Sejak masih usia kanak-kanak penduduk Surabaya yang berasal dari berbagai suku dan bangsa itu sudah diarahkan untuk menjadi petarung-petarung unggul melalui perkelahian-perkelahian. Berkelahi baik sendiri-sendiri atau keroyokan, adalah bagian utama dari kebanggaan dan kehormatan penduduk Surabaya. Bahkan, kata tawur yang bermakna sesaji persembahan, di Surabaya dimaknai sebagai perkelahian keroyokan untuk membalas tindakan lawan.

Adat kebiasaan di Surabaya, benar-benar menempatkan keterampilan berkelahi sebagai bagian utama dari cara pengasuhan anak-anak sejak mereka berani bermain di luar rumah. Tidak peduli anak pejabat tinggi, tidak peduli anak prajurit atau anak tukang, yang paling disanjung dan dibangga-banggakan oleh kawan-kawannya adalah yang paling kuat dan paling pemberani. Di Surabaya, kemuliaan dan kehormatan diperoleh orang seorang bukan berdasarkan keturunan, kekayaan, kedudukan, dan pangkat tertentu, melainkan karena keberanian, perlawanan dan kesetiakawanan. Dengan adat kebiasaan yang tak lazim itu, penduduk Surabaya adalah orang-orang yang sangat berlebihan membanggakan diri, tidak mau kalah, suka melawan, gemar berkelahi, nekat, sombong, suka membual, tetapi sangat setia kawan. Watak ini dimaknai singkat oleh warga Surabaya dalam istilah sederhana: bagedyut (suka membualkan kehebatan diri sendiri).

Untuk melestarikan adat kebiasaan berkelahi itu, sejak kecil anak-anak Surabaya sudah dicekoki dengan cerita-cerita peperangan dan perkelahian. Yang termasyhur di antaranya adalah dongeng terjadinya nama Surabaya. Dongeng ini diawali oleh kehadiran seekor ikan sura (hiu) yang masuk ke aliran Sungai Mas. Ikan itu dihalau oleh buaya penghuni sungai. Kemudian terjadilah pertarungan sengit antara kedua hewan itu yang berakhir dengan terusirnya ikan sura kelautan.Untuk memperingati peristiwa itu, maka tempat terjadinya pertarungan itu disebut dengan nama Surabaya. Selain itu hampir setiap anak di Surabaya menghafal sebait pantun yang berbunyi:

"Pring ditumpuk-tumpuk, bumbung wadahe merang"

"Cilik diipuk-ipuk, nek wis gede budhal perang"

artinya: "Bambu ditumpuk-tumpuk, tabung bambu tempat jerami kering"

"Waktu kecil disayang sayang, jika sudah besar berangkat/maju perang".

Untuk waktu yang lama, Surabaya hidup dengan dongeng dan adat kebiasaan berkelahinya sendiri. Laksamana laut Majapahit yang ditunjuk sebagai penguasa Surabaya hanya mengawasi dari kediamannya di kutaraja. Ia sepenuhnya menyandarkan dari laporan bawahannya. Manakala adat kebiasaan berkelahi di Surabaya merangkak sampai ke puncak dan meledak dalam bentuk kerusuhan, semua pihak menjadi bingung. Rupanya, kegemaran berkelahi di Surabaya itu meluas hingga kalangan prajurit rendahan. Prajurit-prajurit laut yang umumnya berusia muda dan berdarah panas itu berkelahi dengan pemuda kampung. Mereka sering menyerang rumah penduduk. Penduduk kampung Surabaya tentu saja tidak mau kalah. Mereka ganti menyerbu barak-barak tempat prajurit laut itu tinggal. Kekacauan pun pecah. Korban berjatuhan di kedua belah pihak karena penduduk melengkapi diri dengan senjata buatan mereka sendiri.

Peritiwa kekacauan besar di Surabaya yang melibatkan prajurit laut dan penduduk terjadi tak lama setelah Prabu Wikramawarddhana naik takhta menggantikan Prabu Rajasanegara. Dalam kekacauan itu rumah penduduk di kampung-kampung dirusak dan dibakar. Mayat kedua pihak bergelimpangan di jalan-jalan. Kekacauan merebak di seluruh penjuru kota. Petugas padam apuy (Jawa Kuno: pemadam kebakaran) dari angkatan laut nyaris tak berdaya menanggulangi kebakaran yang marak. Surabaya yang dihuni berbagai suku dan bangsa yang memiliki watak berbeda-beda itu benar-benar mencekam karena baik para prajurit maupun penduduk tidak ada yang mau mengalah. Jalanan sepi, sungai-sungai tak dilayari. Sementara di sudut-sudut kampung terlihat kerumunan orang membawa berbagai jenis senjata.

Menghadapi peristiwa yang tidak diharapkan itu, Prabu Wikramawarddhana sadar bahwa sebuah tempat yang berkembang dengan jumlah penduduk hampir seratus ribu orang tidaklah mungkin dilepaskan tanpa pemimpin. Laksamana laut memang dapat mengendalikan pasukannya, namun penduduk yang tidak memiliki pemimpin dapat bertindak semaunya tanpa arahan dari seorang pemimpin yang dipatuhi.

Akhirnya, Prabu Wikramawarddhana memutuskan untuk mengangkat seorang raja muda di Surabaya dengan tugas utama menertibkan pangkalan angkatan laut dan kota dari kekacauan. Orang yang dinilai cocok untuk memangku jabatan raja muda Surabaya adalah Pangeran Arya Lembu Sura, putera Singhawarddhana Bhre Paguhan, saudara lain ibu Prabu Wikramawarddhana. Pangeran Arya Lembu Sura dianggap mampu memimpin Surabaya yang sedang kacau karena sejak kecil ia tinggal di Surabaya dan sudah sangat mengenal watak penduduk. Di samping itu, hampir semua penduduk Surabaya dari prajurit hingga tukang dan buruh sudah mengenal sang pangeran yang tinggal di Puri Surabayan tersebut.

Pangeran Arya Lembu Sura, raja pertama Surabaya, adalah pangeran gagah berani yang terkenal dermawan dan suka bergaul dengan siapa saja tanpa melihat asal usul dan derajat orang sebagaimana umumnya penduduk Surabaya, ia sudah terbiasa dengan kehidupan keras di lingkungannya. Meski ibu sang pangeran adalah puteri Janggala dan ayahandanya raja di Paguhan, kedudukan itu tidak menghalangi sang pangeran untuk gemar berkelahi seperti lazimnya anak-anak Surabaya. Bahkan karena kegemaran berkelahi itu sang pangeran memiliki banyak kawan dan sangat dibangga-banggakan oleh mereka.

Pengangkatan Pangeran Arya Lembu Sura sebagai raja muda Surabaya disambut dengan suka cita oleh penduduk. Hampir semua penduduk mengenal sang pangeran yang pemberani, dermawan, setia kawan, dan tidak membeda-bedakan manusia berdasar keturunan dan jabatan. Sikap sang pangeran yang tidak membeda-bedakan orang berdasar keturunan lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa ia seorang muslim. Menurut kisah orang-orang, Pangeran Arya Lembu Sura adalah pangeran Majapahit pertama yang memeluk agama Islam.

Sukacita atas pengangkatan Pangeran Arya Lembu Sura diwujudkan dalam bentuk pesta besar yang diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam di kediaman sang pangeran. Dalam pesta itu, selain mengundang penduduk, sang pangeran juga mengundang kawan-kawannya, baik yang menjadi pemuka warga di kampung-kampung, maupun yang menduduki jabatan perwira dan bintara di angkatan laut. Ternyata setelah lewat tujuh hari seusai pelantikan, keadaan di Surabaya berangsur-angsur mereda. Jalan-jalan ramai kembali. Orang-orang bekerja lagi. Penduduk secara gotong royong membangun rumah-rumah yang rusak.

Di bawah kepemimpinan Pangeran Arya Lembu Sura kehidupan penduduk Surabaya sarat dengan limpahan kemakmuran. Sebab para nayakapraja yang membantu sang raja tidak saja dikenal sebagai pejabat-pejabat yang jujur, bahkan sang raja menetapkan peraturan yang tidak lazim, yaitu menghapus semua jenis pajak bagi penduduk Surabaya yang bekerja sebagai tukang, perajin, pedagang kecil, buruh, dan petani berlahan sempit. Pajak hanya dikenakan kepada pen-duduk yang memiliki kapal, balai rangkang, tandu, gajah, payung kutlima, tanah seluas sepuluh tampah (7,6 hektar), saudagar emas, saudagar permata, dan pedagang logam.

Pada masa Pangeran Arya Lembu Sura berkuasa, untuk kali pertama dibangun sebuah kraton di Surabaya. Letaknya di tepi barat Sungai Mas, kira-kira tiga pal di utara Puri Surabayan. Berpusat dari kraton inilah sang raja memacu pertumbuhan Surabaya menjadi kota besar tempat sebuah pemerintahan ditegakkan. Bangunan-bangunan baru di sekitar kraton tumbuh sesuai tuntutan tata pemerintahan, seperti Ndalem Kepatihan, Katumenggungan, Kacarikan (manghuri), Karanggan, dan Katandhan. Tembok baluwarti setinggi lima depa dibangun mengitari kraton sejak tepi barat Sungai Mas hingga ke barat sepanjang tiga pal. Sebuah taman sari (kebon raja) yang indah dibangun di utara kraton dengan kolam ikan (paulaman) yang luas.

Entah benar entah tidak, menurut dongeng orang-orang tua, sejak Pangeran Arya Lembu Sura berkuasa sebagai raja terbentuklah untuk kali pertama perkampungan muslim di Surabaya. Perkampungan itu terletak di seberang timur kraton dan dinamai Pinilih (Jawa Kuno: bebas memilih). Penduduk muslim di Kampung Pinilih umumnya perajin, pedagang kecil, dan pengecor logam. Mereka adalah para pembuat tikar rotan (agawai lampit), pemintal benang (angapus), tu-kang jagal (juru bapuh), tukang celup (mangkala), buruh yang mengurusi ayam aduan (juru kurung), dan penempa logam (apande salwir ning apande). Untuk kepentingan ibadah warga muslim di Pinilih, Pangeran Arya Lembu Sura membangun masjid di sana. Itulah masjid pertama di Surabaya.

Perkampungan muslim kedua terbentuk di tepi timur Sungai Mas kira-kira tiga pal di utara Pinilih. Perkampungan baru itu disebut Ampel Denta (Jawa Kuno: Bambu Gading) karena di situ banyak tumbuh pohon bambu gading. Letak Ampel Denta di sebelah selatan Kampung Patukangan. Meski berdekatan dengan Kampung Patukangan, penduduk Ampel Denta bukanlah tukang. Mereka umumnya bekerja di bidang kerajinan dan perdagangan kecil, seperti perajin emas (limus galuh), tukang jahit (juru basana), perajin permata (pamanikan), pembuat payung (payungan), pedagang bantal (banyaga wantal), pedagang kapur (wli hapu), pedagang terompah (wli tarumpah), dan pedagang kemenyan dan dupa (wli pulageni).

Agak berbeda dengan penduduk muslim Pinilih, penduduk Ampel Denta kebanyakan orang-orang Kmir (Jawa Kuno: Campa; Khmer) dan peranakan Arab. Yang paling berpengaruh di antara penduduk muslim peranakan di Surabaya, terutama di Ampel Denta, adalah tiga bersaudara Bong (Sam Bong), yaitu Haji Bong Swi Hoo, Haji Bong An Sui, dan Haji Bong Sam Hong. Mereka merupakan cucu Bong Tak Keng, orang asal Sin Fun An (Pnom-penh) yang datang untuk berdagang ke Majapahit sejak Prabu Rajasanegara memerintah. Sama seperti kakeknya, Bong Swi Hoo dan dua orang saudaranya adalah pedagang sutra yang tinggal di dermaga Jedong di hilir Sungai Porong. Ketika mendengar raja Surabaya yang baru dilantik adalah seorang muslim, dengan diikuti sejumlah penduduk yang beragama Islam, ia dan saudara-saudaranya pindah ke Surabaya. Bong Swi Hoo bersaudara meminta perkenan Pangeran Arya Lembu Sura agar ia dan saudara-saudaranya dapat tinggal di Surabaya. Dan Pangeran Arya Lembu Sura meluluskan permintaannya.

Bong Swi Hoo bersaudara kemudian tinggal di selatan Ampel Denta. Penduduk Surabaya menyebut kediaman tiga bersaudara Bong itu dengan nama Kampung Sam Bong-an (tempat tinggal Sam Bong). Tiga bersaudara Bong itu dikenal sebagai penyumbang dana terbesar bagi pembangunan Masjid Ampel Denta, yang merupakan masjid kedua di Surabaya. Mereka tidak hanya dikenal sebagai saudagar yang dermawan, tetapi juga diketahui penduduk sebagai mertua raja Surabaya, Pangeran Arya Lembu Sura.

Sebagai seorang raja muslim, Pangeran Arya Lembu Sura memiliki hubungan baik dengan saudagar-saudagar muslim dan guru-guru agama Islam di Majapahit. Salah seorang guru dan sekaligus sahabat yang paling dipercayainya adalah Sayyid Malik Ibrahim, banyaga wantal yang tinggal di Thani Sembalo Wisaya Tandhes (Gresik). Berbeda dengan banyaga wantal yang tinggal di Ampel Denta, bantal-bantal yang diperdagangkan Sayyid Malik Ibrahim merupakan bantal bermutu tinggi buatan Persia dan Gujarat. Bantal-bantal itu hanya diperdagangkan di kalangan pejabat tinggi Majapahit, terutama di lingkungan keluarga Maharaja.

Sayyid Malik Ibrahim sendiri dikenal sebagai orang yang cerdik, sabar, dermawan, bijaksana dan pandai bercerita. Para pangeran kecil Majapahit selalu menunggu-nunggu kehadirannya untuk mendengarkan kisah-kisahnya yang menakjubkan. Di lingkungan keluarga maharaja di kutaraja, Sayyid Malik Ibrahim dikenal dengan sebutan Kake' Bantal Sang Amancangah (Kakek Bantal Si Juru Dongeng). Lewat cerita-ceritanya yang menakjubkan itulah dia berkenalan dan menjalin persahabatan dengan Pangeran Arya Lembu Sura, saat sang pangeran berkunjung ke kutaraja. Dan lewat bimbingan Sayyid Malik Ibrahim, Pangeran Arya Lembu Sura kemudian memeluk agama Islam.

Hubungan sebagai guru dan murid antara Sayyid Malik Ibrahim dan Pangeran Arya Lembu Sura berlangsung dengan akrab selama bertahun-tahun. Hubungan itu makin dekat ketika sang pangeran berkenalan dengan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar, kemenakan Sayyid Malik Ibrahim. Sayyid Ibrahim Zainal Akbar adalah banyaga wesi yang memperdagangkan berjenis-jenis besi bermutu tinggi dari berbagai negeri. Melalui jasa Pangeran Arya Lembu Sura, ia menjadi pemasok utama kebutuhan Majapahit akan besi-besi bermutu yang digunakan membuat senjata-senjata pusaka. Yang paling masyhur di antaranya adalah yang disebut Wesi Purasani. Besi itu menjadi bahan utama bagi pembuatan pusaka di lingkungan kraton. Sebutan Purasani sendiri berasal dari kekeliruan lidah orang-orang Majapahit melafalkan "Khurasani", yaitu besi asal besi itu. Hampir semua pusaka kerajaan yang dibuat dari bahan besi asal Khurasan berasal dari pasokan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar.

Sayyid Malik Ibrahim dan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar merupakan orang-orang yang sangat dipercaya oleh Arya Lembu Sura. Sebab, mereka dikenal jujur dan selalu menjalankan apa yang mereka ucapkan. Atas saran Sayyid Malik Ibrahim, pangeran Arya Lembu Sura menikahi anak-anak tiga bersaudara Bong. Dari anak Haji Bong Swi Hoo, sang pangeran memperoleh putera sulung, yaitu Arya Sena, yang setelah dewasa diangkat oleh maharaja menjadi pecat tandha di Terung. Dari anak Haji Bong An Sui, sang pangeran memperoleh keturunan puteri yang dinamai Ratna Wulan. Puteri itu diperistri orang Arab asal Pasai bernama Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi. Sedang dari anak Haji Bong Sam Hong, sang pangeran memperoleh keturunan puteri yang dinamai Ratna Panjawi. Puteri itu diperistri Dyah Kertawijaya, kemenakannya sendiri. Sementara atas saran Sayyid Ibrahim Zainal Akbar, Pangeran Arya Lembu Sura menikahi perempuan Wandan muslim anak kepala suku Wandan. Dari perempuan Wandan itu ia memiliki putera bernama Arya Bribin, yang setelah dewasa diangkat oleh maharaja menjadi adipati di Arosbaya, Madura.

Ketika Majapahit mulai melemah akibat perang berkepanjangan dengan Blambangan yang diikuti meredupnya kekuatan laut, Arya Lembu Sura mengambil langkah mengejutkan: mengubah Surabaya dari pangkalan utama angkatan laut menjadi bandar perniagaan. Menurut hemat Arya Lembu Sura, jika Surabaya tetap dipertahankan sebagai pangkalan tertutup dengan puluhan ribu prajurit laut yang tidak terurus, dipastikan akan pecah kekacauan yang tak terbayangkan. Ia berharap dengan dibukanya pelabuhan Surabaya sebagai bandar niaga maka kekuatan laut Majapahit secara berangsur-angsur akan dialihkan menjadi kekuatan niaga. Kapal-kapal perang Majapahit bisa diubah menjadi kapal niaga. Para prajurit laut bisa dialihkan menjadi awak kapal niaga.

Keputusan Arya Lembu Sura membuka pelabuhan Surabaya terbukti sangat tepat. Sebab, kapal-kapal perang Majapahit yang diubah menjadi kapal dagang sangat disukai oleh para saudagar untuk mengangkut barang dagangan. Kapal-kapal itu selain lebih kuat dan muatannya lebih banyak, lajunya juga lebih cepat dibanding kapal niaga biasa. Sementara itu, jarak bandar Surabaya ke kutaraja Majapahit yang lebih dekat dibanding jarak dari Tuban menyebabkan para saudagar lebih memilih menurunkan dan mamunggah barang dagangannya di Surabaya. Demikianlah, dalam waktu singkat pelabuhan dagang Surabaya berkembang pesat. Saudagar-saudagar dari berbagai negeri berniaga di Surabaya dan banyak di antara mereka yang kemudian menjadi penduduk Surabaya.

Sebagai satu-satunya pangeran Majapahit yang beragama Islam di zamannya, Arya Lembu Sura dikenal sebagai pelindung dan sekaligus tumpuan bagi orang-orang Islam di Majapahit. Lewat tangan Arya Lembu Sura, sejumlah jabatan penting di Majapahit diduduki oleh orang-orang Islam. Abdurrahim bin Kourames al-Abbasi, menantu Arya Lembu Sura, misalnya, diangkat oleh Prabu Wikramawarddhana menjadi syahbandar di Tuban. Ia dianugerahi gelar Arya Teja. Arya Bribin, puteranya, diangkat menjadi adipati di Arosbaya. Sayyid Malik Ibrahim diangkat menjadi imam masjid di Tandhes dan memimpin warga muslim di sana. Ia bahkan dianugerahi gelar Raja Pandita.

Peran Arya Lembu Sura dalam menempatkan orang-orang Islam di dalam pemerintahan terlihat makin kuat manakala menantu yang juga kemenakannya, Dyah Kertawijaya, naik takhta Majapahit dengan gelar Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana. Atas saran Arya Lembu Sura, putera Sayyid Ibrahim Zainal Akbar yang bernama Sayyid Salim Najah (dikenal dengan nama Sayyid Es) diangkat anak oleh Prabu Kertawijaya dan dijadikan adipati Kendal. Namanya diganti menjadi Syaikh Suta Maharaja. Saudara tua Sayyid Salim Najah, Sayyid Waly al-Islam oleh Arya Lembu Sura dinikahkan dengan Ratna Sambodhi, puteri Lembu Miruda Panembahan Bromo, saudara lain ibu Arya Lembu Sura. Sayyid Waly al-Islam diangkat menjadi imam masjid di Samarang. Bahkan saudara termuda mereka, Sayyid Husayn, oleh Arya Lembu Sura dinikahkan dengan cucunya, puteri Arya Bribin Adipati Arosbaya.

Ketika usia Arya Lembu Sura mencapai hampir tujuh puluh, Dyah Kertawijaya, kedatangan tiga orang kemenakan istrinya. Karena Dyah Kertawijaya masih seorang pangeran yang sedang bersaing memperebutkan takhta yang sedang diduduki kakaknya, Prabu Stri Suhita, maka ketiga orang kemenakannya itu dititipkan kepada Arya Lembu Sura. Ketiga kemenakan itu adalah Sayyid Ali Murtadho, Sayyid Ali Rahmatullah, dan Abu Hurairah. Ketiganya kemenakan Ratu Darawati, istri Prabu Kertawijaya yang berasal dari negeri Campa.

Arya Lembu Sura sangat gembira menerima kehadiran ketiga pemuda Campa itu, terutama setelah ia mengetahui bahwa Raden Ali Murtadho dan Raden Ali Rahmatullah adalah kemenakan Sayyid Ibrahim Zainal Akbar, sahabatnya. Mereka berdua adalah putera Ibrahim al-Ghozi as Samarkandy, saudara kandung Sayyid Ibrahim Zainal Akbar. Dengan begitu mereka berdua merupakan cucu kemenakan Sayyid Malik Ibrahim, guru ruhani yang telah membimbingnya ke jalan Kebenaran Islam. Kegembiraan Arya Lembu Sura berubah menjadi kasih sayang ketika mengetahui Ali Murtadho dan Ali Rahmatullah memiliki pengetahuan luas dan semangat kuat dalam bidang agama. Mereka kemudian diminta untuk menjadi guru bagi penduduk muslim di sekitar masjid.

Barang tiga empat tahun setelah ketiganya mengabdi di Surabaya, Dyah Kertawijaya naik takhta Majapahit dengan gelar Sri Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana. Atas permohonan istrinya, Prabu Kertawijaya kemudian menganugerahi ketiga orang kemenakan istrinya itu gelar kebangsawanan Rahadyan (Jawa Kuno: Tuan Yang Mulia, yang kelak dilafalkan "raden"). Arya Lembu Sura sangat bergembira dengan hal itu. Itu sebabnya, ia menikahkan ketiga orang pangeran itu dengan cucu-cucunya, putera Arya Teja, syahbandar Tuban.

Setelah menikah, Raden Ali Murtadho tinggal di rumah pemberian Arya Lembu Sura di timur Masjid Pinilih. Ia ditetapkan sebagai imam Masjid Pinilih karena posisinya sebagai saudara tua, sedangkan Raden Ali Rahmatullah bersama istrinya tinggal di rumah pemberian Arya Lembu Sura yang terletak di timur Masjid Ampel Denta. Ia ditetapkan sebagai imam masjid, yang selain bertugas memimpin sembahyang juga memberikan pelajaran agama kepada warga sekitar. Sementara Raden Abu Hurairah diangkat menjadi leba di Wirasabha, yakni pejabat kraton yang ditugaskan mengurus tanah milik maharaja dan berhak memungut pajak atas tanah tersebut. Raden Abu Hurairah sangat disayangi oleh Ratu Darawati karena sejak kecil ia sudah menjadi yatim piatu dan diasuh oleh uwaknya, Candrawati. Itu sebabnya, ia ditempatkan di Wirasabha agar dapat sering berkunjung ke kediaman Ratu Darawati di kraton Majapahit.

Sekalipun sibuk mengurusi Masjid Ampel Denta, Raden Ali Rahmatullah berusaha meluangkan waktu untuk belajar ilmu tata negara, ilmu pemerintahan, dan perniagaan kepada Arya Lembu Sura yang kini menjadi kakeknya itu. Lantaran rajin dan tekun belajar, hubungannya dengan Arya Lembu Sura menjadi sangat dekat. Kemanapun Arya Lembu Sura pergi, cucu menantunya itu selalu mendampinginya. Bahkan saat sakit pun, dengan penuh kesabaran ia merawat raja Surabaya yang sudah uzur itu. Dan boleh jadi karena hubungan keduanya sudah terlalu dekat maka saat menjelang ajal, Arya Lembu Sura meninggalkan wasiat kepada keluarganya agar kedudukannya sebagai raja Surabaya digantikan oleh cucu menantunya, yaitu Raden Ali Rahmatullah.

Akhirnya, pada usia tujuh puluh dua tahun Arya Lembu Sura Wafat. Ia dimakamkan di Batu Putih yang terletak di seberang timur Kampung Ampel Denta. Namun seiring kabar kematiannya itu, tersiar pula kabar tentang wasiatnya yang menunjuk Raden Ali Rahmatullah sebagai penggantinya. Kabar terakhir itu sangat mengejutkan para pejabat Majapahit. Sebab bagi Majapahit, Surabaya selain masih menjadi pangkalan angkatan laut juga menjadi gerbang perniagaan yang mengalirkan dana sangat besar bagi kas kerajaan. Penyerahan tampuk kekuasaan di Surabaya ke tangan orang asing yang beragama Islam secara sederhana dapat dianggap sebagai ancaman yang berbahaya bagi Majapahit.

Di tengah desas desus yang memanas di kutaraja tentang wasiat Arya Lembu Sura itu, Prabu Kertawijaya yang menjadi salah satu sasaran kabar burung itu kemudian mengambil langkah bijaksana. Pertama-tama ia secara resmi mengangkat Raden Ali Rahmatullah sebagai imam Masjid Ampel Denta. Kemudian ia mengangkat pula Raden Ali Murtadho sebagai imam Masjid Tandhes (Gresik) dengan gelar Raja Pandhita. Untuk melantik Raden Ali Rahmatullah dan Raden Ali Murtadho sebagai imam masjid, Prabu Kertawijaya menunjuk sepupu dan sekaligus iparnya, Pangeran Arya Sena, pecat tandha di Terung, putera almarhum Arya Lembu Sura.

Dengan kebijakan mengangkat Raden Ali Rahmatullah sebagai imam Masjid Ampel Denta dan Raden Ali Murtadho sebagai imam Masjid Tandhes, Prabu Kertawijaya berharap dapat menunjukkan bukti kepada kalangan pejabat kerajaan bahwa kemenakan istrinya itu telah dijauhkan dari pusat kraton Surabaya. Namun, kebijakan itu menimbulkan ketidakpuasan penduduk Surabaya. Rupanya, penduduk Surabaya yang mengetahui pesan terakhir rajanya itu dengan tegas tidak mau menerima keputusan Prabu Kertawijaya. Beramai-ramai mereka keluar dari kampungnya masing-masing dan berbondong-bondong menuju Ampel Denta. Demikianlah, dengan arak-arakan panjang yang memenuhi jalan-jalan dan sungai, Raden Ali Rahmatullah didaulat untuk tinggal di kraton Surabaya menggantikan kakeknya Arya Lembu Sura.

Prabu Kertawijaya yang menerima laporan peristiwa itu tidak terkejut, ia malah tertawa. Ia sangat paham dengan watak penduduk Surabaya yang setia, namun cenderung melawan terhadap sesuatu yang bertentangan dengan keinginan mereka. Akhirnya, setelah memperoleh masukan dari para penasihat kerajaan, Prabu Kertawijaya memutuskan untuk mengangkat Raden Ali Rahmatullah sebagai raja muda Surabaya dengan jabatan bupati, yaitu jabatan raja muda yang berkuasa atas wilayah tertentu, namun tidak memiliki kewenangan memerintah angkatan perang. Namun kebijakan itu ternyata tidak mampu meredam suasana panas di kutaraja. Desas desus yang meluas akibat pengangkatan bupati Surabaya itu makin memanas dikipas-kipas oleh menantu dan sekaligus kemenakan maharaja, sehingga ujung dari masalah pelik itu adalah jatuhnya Prabu Kertawijaya dari takhta.

Memasuki perempat awal abad ke-14 Saka, usia Raden Ali Rahmatullah hampir delapan puluh. Ia sudah berkuasa selama hampir setengah abad serta dikaruniai anak-anak, cucu, dan cicit yang sangat banyak. Dari putera dan puterinya yang berjumlah tujuh belas orang itu, Raden Ali Rahmatullah dikaruniai tujuh puluh tujuh cucu dan seratus cicit. Pada usianya yang sudah senja itu ia mengundurkan diri dari jabatan bupati Surabaya dan menjadi imam di Masjid Ampel Denta.

Sebelumnya, banyak orang menduga bahwa pewaris yang akan menggantikan kedudukan Raden Ali Rahmatullah adalah Raden Akhmad yang terkenal dengan sebutan Pangeran Mamad, puteranya dengan Nyi Ageng Bela. Namun orang-orang menjadi heran ketika Raden Ali Rahmatullah menunjuk Raden Kusen Adipati Terung, putera Ario Damar yang tidak lain dan tidak bukan adalah siswanya terkasih, sebagai penggantinya. Raden Kusen dikenal sangat patuh dan setia kepada gurunya. Itu sebabnya, ia tidak berani menolak keinginan sang guru. Ia menerima saja kedudukan itu sesuai keinginan gurunya, namun ia tidak berani tinggal di kraton Surabaya. Seusai dilantik oleh wakil ratu Japan, patih Arya Kedut, Raden Kusen tetap menempati kediamannya sendiri yang terletak di lingkungan puri Surabayan, yaitu di Tegal Bubatsari.

Kabar pergantian kekuasaan di Surabaya dari Raden Ali Rahmatullah ke Adipati Terung itu ternyata sangat mengejutkan para pejabat tinggi Majapahit di Daha, terutama Patih Mahodara. Sebab dengan merangkap dua jabatan sebagai Adipati Terung sekaligus bupati Surabaya, putera Ario Damar itu dipastikan akan membawa malapetaka besar bagi kelangsungan hidup Majapahit di pedalaman. Kenyataan setidaknya telah menunjukkan bahwa sejak pecah pertempuran pertama antara Adipati Terung dan Patih Mahodara, jalur perniagaan sepanjang Sungai Porong yang menghubungkan wilayah pedalaman Majapahit dengan daerah pesisir telah ditutup, mulai dari Kambang Sri, Jedong, Terung, dan Canggu. Kini, setelah menjadi penguasa Surabaya, dipastikan Raden Kusen akan melakukan tindakan serupa, yakni melarang kapal-kapal dan perahu asal Daha melewati Sungai Brantas yang mengalir ke Sungai Mas dan Supit Urang.

Sadar bahwa malapetaka sedang mengintai kekuatannya seiring naiknya Raden Kusen menjadi adipati Surabaya, Patih Mahodara mengirim menantunya, Syaikh Maulana Gharib, ke Ampel Denta untuk menemui Raden Ali Rahmatullah. Syaikh Maulana Gharib sendiri adalah saudara lain ibu Raden Ali Rahmatullah. Ia adik kandung Maulana Ishak yang bungsu. Melalui Syaikh Maulana Gharib, sang patih memohon agar Raden Ali Rahmatullah berkenan mendamaikan perselisihannya dengan Adipati Terung. Dalam perselisihan pertama dan kedua, sifat keras kepala Adipati Terung terbukti hanya bisa dilunakkan oleh Raden Ali Rahmatullah. Dan ternyata Raden Ali Rahmatullah menyambut baik permohonan Patih Mahodara.

Perselisihan antara Adipati Terung dan Patih Mahodara sendiri sejatinya telah menguras segenap daya dan kekuatan kedua belah pihak. Bukan hanya pasukan Terung dan Daha yang bertempur, melainkan para Adipati yang memihak masing-masing kekuatan pun jumlahnya mencapai puluhan. Lantaran itu, untuk menghentikan perselisihan dibutuhkan kesepakatan dari para adipati yang terlibat untuk mengakhiri peperangan yang menyengsarakan kawula. Raden Ali Rahmatullah mengumpulkan seluruh sanak kerabat dan siswanya yang menjadi penguasa-penguasa di pesisir, terutama para keturunan Prabu Kertawijaya, Bhre Tumapel dan Bhre Wirabhumi. Sedangkan Syaikh Maulana Gharib mengumpulkan para adipati yang mendukung Patih Mahodara. Kabar berkumpulnya para adipati itu dengan cepat meluas ke berbagai tempat. Tak lama kemudian penduduk Surabaya menyaksikan para adipati dari berbagai daerah berdatangan ke kotanya. Mereka ditempatkan di kraton Surabaya, meski rencana pertemuan akan digelar di Masjid Ampel Denta.

Abdul Jalil yang agak terlambat mendengar kabar itu dari Pangeran Kanduruwan bergegas ke Surabaya bersama-sama dengan Raden Sulaiman. Namun, saat tiba di Surabaya ternyata pertemuan itu belum dilakukan. Para adipati dan raja muda yang hadir masih tinggal di kraton Surabaya untuk menunggu saudara-saudaranya yang belum datang. Abdul Jalil dan Raden Sulaiman kemudian menghadap Raden Ali Rahmatullah yang tinggal di sebuah pondok kecil di samping Masjid Ampel Denta.

Kepada sepupu jauhnya itu, Abdul Jalil menuturkan semua pengalamannya selama berada di pedalaman Majapahit yang begitu kacau balau. Ia meminta saran dan petunjuk apa yang sebaiknya ia lakukan untuk menghadapi perubahan yang berat itu. Ternyata, saran dan petunjuk Raden Ali Rahmatullah tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dipikirkannya; bahwa perjuangan mengubah tatanan kehidupan di tengah reruntuhan Majapahit harus dilakukan secara serentak oleh banyak orang yang memiliki pandangan dan semangat yang sama, yaitu para pejuang yang memiliki semangat perbaikan (islah) untuk menciptakan kehidupan anak manusia yang lebih baik.

Laut Arab (MV. Kenho) 27 September 2005, 22:30LT

06. Bhayangkari Islah

Raden Ali Rahmatullah di pengujung usianya yang senja hidup dalam kesahajaan. Dalam keseharian dia selalu tampil sangat bersahaja. Mengenakan sarung dan baju kurung serta kopiah putih sebagaimana layaknya pakaian orang Campa muslim. Hanya saat memimpin sembahyang di masjid atau menyampaikan pelajaran agama ia mengenakan jubah dan destar putih. Sebatang tongkat kayu berukir kepala burung digunakan untuk menopang tubuhnya yang sudah condong ke depan jika berjalan.

Sosok Raden Ali Rahmatullah yang sederhana tidak berbeda dengan sosok Syaikh Datuk Kahfi, Syaikh Datuk Ahmad, dan Syaikh Datuk Bayan; orang-orang mulia yang hidup dalam kezuhudan. Sekalipun pernah menjadi penguasa kraton Surabaya selama hampir setengah abad, Raden Ali Rahmatullah memilih hidup dalam kesederhanaan seorang imam masjid. Kraton yang megah dan indah dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya telah ditinggalkannya. Hari-hari dari sisa hidupnya dihabiskan di pondok kecil yang dibangun di samping masjid.

Meski dituakan dan dihormati oleh para penguasa Majapahit, adipati, dan raja muda di pesisir, tidak menjadikan Raden Ali Rahmatullah sebagai sosok yang hidup di menara gading. Dia tetap menjalin keakraban dengan penduduk sekitar masjid yang sebagian besar merupakan tetangga sekaligus pengikutnya. Semua diperlakukan sama sebagai kawan-kawan dekat tanpa membedakan apakah seorang bekerja sebagai tukang, perajin, pedagang kecil, buruh, maupun pejabat. Usai memimpin sembahyang isya, Raden Ali Rahmatullah biasanya terlihat duduk di teras masjid untuk menerima tamu atau berbincang-bincang dan berkelakar dengan tetangga-tetangganya. Bahkan pada saat ia mendongeng sambil rebahan, orang-orang biasanya mendengarkan dengan khidmat sambil memijiti kakinya. Kebiasaan untuk berakrab-akrab dengan penduduk di teras masjid itu adalah kebiasaan raja Surabaya terdahulu, Pangeran Arya Lembu Sura, yang dilanjutkan oleh penggantinya, Raden Ali Rahmatullah.

Bertolak belakang dengan kehidupan sehari-harinya yang bersahaja dan akrab dengan penduduk, di kalangan para adipati dan raja muda Majapahit Raden Ali Rahmatullah sangat dimuliakan dan dihormati layaknya rishi atau bhagawan suci. Para penguasa kadipaten yang kebanyakan adalah sanak kerabatnya, tidak peduli muslim tidak peduli Hindu, setiap menghadapnya selalu berlutut menyembah dan mencium kakinya. Bahkan, dia disebut hormat dengan gelar Kangjeng Susuhunan, yang bermakna Padukan Yang Mulia.

Rupanya, selama menduduki jabatan bupati di Surabaya baik penduduk setempat maupun sanak kerabatnya telah menganggapnya sebagai penerus Arya Lembu Sura, raja Surabaya pertama. Lantaran itulah, oleh penduduk Surabaya dan sanak kerabatnya dia dipanggil dengan sebutan susuhunan, yaitu gelar yang hanya boleh digunakan untuk menyebut seorang raja. Namun, agak berbeda dengan sanak kerabatnya yang menyebutnya Kangjeng Susuhunan, penduduk sekitar menyapanya dengan sebutan akrab: Mbah Sunan.

Usia tua dan kesahajaan ternyata tidak sedikit pun mengurangi pengaruh dan wibawa Raden Ali Rahmatullah. Meski sudah tidak menjadi penguasa Surabaya dan hidup dalam kesahajaan seorang imam masjid, orang tetap menghormati dan mematuhinya. Hal itu paling tidak terlihat saat Raden Ali Rahmatullah mengundang para adipati dan raja muda dari berbagai daerah untuk membicarakan perdamaian antara Terung dan Daha, yang disambut dengan takzim dan penuh hormat. Dalam pertemuan yang digelar di Masjid Ampel Denta itu, para adipati dan raja muda berbondong-bondong datang memenuhi undangannya.

Sebagian besar di antara para penguasa yang hadir itu adalah keturunan Prabu Kertawijaya yang diikuti keturunan Bhre Tumapel dan Bhre Wirabhumi. Yang terkenal di antara mereka adalah Raden Patah Adipati Demak, Raden Kusen Adipati Terung, Arya Danareja Orob Adipati Bojong (Tegal), Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Pangeran Pandanarang Adipati Semarang, Arya Timur Orob Adipati Japara, Kayubralit Adipati Pati, Arya Pikrama Orob Adipati Rembang, Adi-Andayaningrat Adipati Pengging, Arya Sidik Adipati Tuban, Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, Zainal Abidin Adipati Gresik, Arya Bijaya Orob Adipati Tedunan, Lembu Wiraga Adipati Keniten, Kuda Panolih Adipati Sumenep, Arya Timbul Adipati Pamadegan, Bhre Jagaraga, Bhre Kabalan, Bhre Wengker, Nrpati Lasem, Prabu Satmata Ratu Giri Kedhaton, Lembu Peteng Ratu Gili Mandingan, Menak Pentor Ratu Anggabhaya Blambangan, Menak Gadru Ratu Prasadha Babadan, Arya Kedut Patih Majapahit di Japan, Bhima Nabrang Wijaya Juru Demung Majapahit di Japan.

Selain adipati dan raja muda yang sebagian besar adalah keturunan Prabu Kertawijaya, Bhre Tumapel dan Bhre Wirabhumi, hadir pula undangan dari kalangan ulama dan pemuka masyarakat dari berbagai tempat. Di antara mereka itu yang terkenal adalah Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, Sayyid Husayn dari Arosbaya, Sayyid Maulana Gharib, Syaikh Kamarullah Imam Masjid Pinilih, Haji Ban Swi Juru Cina (kepala warga Cina) Surabaya, Tuan Pake Baolong, Juru Kmir (kepala warga Campa) Surabaya, Raden Makhmud Buyut di Wisaya Sepanjang, Raden Hamzah Buyut di Wisaya Tumapel, Raden Ahmad (Pangeran Mamad) Khatib Ampel Denta, Syaikh Manganti guru dan imam di Gribik, Abdul Malik Israil, Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, dan Raden Qasim Wali Nagari Caruban.

Sementara itu, undangan yang mewakili pihak Patih Mahodara hanya beberapa orang saja ditambah beberapa ruhaniwan. Mereka adalah Menak Supethak Adipati Garudha, Raden Pramana Adipati Sengguruh, Nila Suwarna Adipati Panjer, adipati Dengkol, adipati Srengat, adipati Rawa, adipati Mamenang, adipati Pesagi, adipati Mahespati, Ajar Arga Dewa dan Arga Dalem dari Merbabu, Ajar Citragati dari Tirang Amper, dan Empat Serangkai (caturgosthi) penguasa ruhani Pengging, yaitu Ajar Jayapurusa, Ajar Sabuk Janur, Ajar Malang Gati, dan Ajar Gadhung Melati. Mereka yang mewakili kepentingan Patih Mahodara ini dipimpin oleh Syaikh Maulana Gharib.

Entah apa yang sebenarnya terjadi, gegap gempita pertemuan puluhan adipati dan raja muda untuk membahas masalah perdamaian Terung – Daha di Masjid Ampel Denta, dalam kenyataan tidak sesuai dengan semarak suasana yang terlihat. Pertemuan yang digelar pada pagi hari di Masjid Ampel Denta itu berlangsung sangat singkat. Mula-mula pertemuan diawali oleh sambutan Raden Ali Rahmatullah yang menyampaikan pandangannya tentang mudharat perang dan maslahat perdamaian bagi kehidupan di tengah perubahan. Anehnya, usai Raden Ali Rahmatullah berbicara, para adipati, raja muda, ulama, dan pemuka masyarakat yang hadir secara beramai-ramai menyatakan sepakat untuk patuh dan tunduk pada kehendak sang susuhunan yang menginginkan agar peperangan diakhiri. Meski syarat-syarat perdamaian yang disepakati jelas-jelas merugikan pihak Terung, kedua pihak yakin apa yang disampaikan Raden Ali Rahmatullah itu akan berakhir baik bagi semua pihak.

Para adipati, raja muda, ulama, dan pemuka masyarakat di Masjid Ampel Denta rupanya tidak sekadar diajak berbicara tentang perdamaian antara Terung – Daha. Usai pembahasan singkat tentang perdamaian Terung – Daha yang disetujui semua pihak, tiba-tiba Raden Ali Rahmatullah mengajak par hadirin untuk membicarakan masalah baru yang sama sekali tak terduga, yaitu tatanan baru yang digagas Abdul Jalil: masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah, yang ditawarkan untuk menggantikan tatanan lama: Kawula dan Kerajaan.

Sebagai penguasa Surabaya yang selama puluhan tahun mengenal dengan baik cara pandang dan cara pikir orang-orang Majapahit, Raden Ali Rahmatullah mula-mula mengajak hadirin untuk membuka cakrawala pikiran baru sehingga memungkinkan bagi lahirnya wacana baru. Setelah itu ia menyampaikan pengantar bagi gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah. Sampai akhir uraiannya Raden Ali Rahmatullah hanya menyampaikan gagasan tersebut sebagai tawaran-tawaran yang bersifat pemikiran. Maksudnya, gagasan itu ditawarkannya sebagai sebuah wacana masa depan yang tidak harus diterapkan pada kehidupan nyata dalam waktu dekat.

Sekalipun uraian Raden Ali Rahmatullah tentang gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah hanya berupa wacana, bagian terbesar hadirin tertegun-tegun heran mendengarnya. Mereka seolah-olah mendengarkan dongeng yang sangat asing. Keheranan mereka itu terjadi karena nilai-nilai yang mendasari pemikiran tatanan baru yang disebut masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah itu bertolak belakang dengan apa yang selama ini mereka ikuti. Lantaran gagasan baru itu mereka anggap mengada-ada maka mereka pun memberikan tanggapan yang keras. Lebih dari separo jumlah yang hadir tegas-tegas menolak gagasan yang tidak lazim itu. Tidak peduli adipati, raja muda, pemuka masyarakat, dan bahkan ulama menanggapi gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah sebagai pemikiran yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan kodrat hidup manusia. Sebagian lagi ada yang menyatakan bisa menerima gagasan masyarakat ummah, namun menolak gagasan wilayah al-Ummah. Hanya sedikit yang bisa menerima kedua gagasan itu. Pendek kata, sebagian besar hadirin belum bisa menerima gagasan baru tentang kepemimpinan berdasarkan pilihan.

Di tengah penolakan keras itu, tidak pelak Abdul Jalil sebagai penggagas masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah dijadikan sasaran utama dari kecaman dan hujatan hadirin yang menganggap gagasan tersebut sebagai hal yang aneh dan tidak masuk akal. Para hadirin yang selama ini hidup dengan segala kemapanan di atas tatanan kawula dan Kerajaan, telah menangkap gelagat yang membayakan dari gagasan “gila” yang tidak mereka pahami itu. Itu sebabnya, beberapa jenak seusai Raden Ali Rahmatullah memaparkan gagasan tersebut, Abdul Jalil sudah dihujani caci maki dan hujatan. Bahkan, sebagian di antara mereka menertawakan Abdul Jalil sebagai tukang mimpi yang mengigau di tengah hari.

Menghadapi reaksi keras sebagian besar hadirin, Abdul Jalil tidak melakukan pembelaan apa-apa untuk memperthankan hasil buah pikirnya itu. Ia sadar, bagian terbesar dari mereka yang hadir adalah orang-orang yang sejak kecil sudah terbiasa memandang segala sesuatu dengan nilai-nilai yang bersumber dari Hastabrata. Sejak awal menelusuri kehidupan orang-orang di pedalaman Majapahit, ia sudah menduga jika gagasannya bakal menghadapi tantangan sangat keras. Sebab, gagasannya itu jelas-jelas akan mengubah kerangka pandang dan kerangka pikir yang sudah menjajah alam pikiran dan alam kejiwaan bangsa yang sedang sekarat itu.

Dengan diamnya Abdul Jalil, ternyata tidak menjadikan masalah masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah mentah dan ditolak utuh oleh para hadirin. Raden Kusen yang sejak awal hanya berdiam diri tiba-tiba meminta izin kepada Raden Ali Rahmatullah untuk berbicara. Rupanya, kecaman dan hujatan para hadirin terhadap Abdul Jalil telah disalahpahaminya sebagai penghinaan kepada Raden Ali Rahmatullah yang menyampaikan gagasan tersebut. Itu sebabnya, dengan wajah merah padam dan suara menggelegar laksana halilinyar ia menyatakan mendukung dengan sepenuh jiwa gagasan baru yang disampaikan gurunya itu.

“Sebagai bukti bahwa aku mendukung gagasan itu,” ujar Raden Kusen berkobar-kobar. “Barang sebulan lalu, aku telah menghibahkan sebagian tanah milikku untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat ummah. Ketahuilah oleh kalian semua bahwa aku sudah membuat keputusan yang menyatakan bahwa mulai Wisaya Sumengka di selatan, Wisaya Kamalagi di barat, Wisaya Wanjang di utara, hingga Wisaya Sasawo di timur akan aku bagi-bagikan kepada penduduk yang disebut masyarakat. Aku juga telah menghadiahi Syaikh Lemah Abang sebidang tanah seluas 200 jung (560 hektar) yang terletak di antara Kedung Peluk dan Wayuwo untuk digunakan sebagai hunian bagi masyarakat ummah yang dibentuknya.”

Pernyataan adipati Terung tentu mengagetkan sebagian besar hadirin. Mereka tidak bisa memahami kenyataan bahwa Raden Kusen yang mereka hormati dan muliakan menerima gagasan “gila” yang sangat merugikan itu. Mereka tidak bisa memahami bagaimana Raden Kusen bisa memberikan secara Cuma-Cuma tanah di empat wisaya kepada penduduk. Namun, kekagetan mereka makin memuncak ketika Raden Patah tiba-tiba tampil ke depan dan membuat pernyataan serupa. Putera Prabu Kertawijaya dengan muslimah Cina bernama Ratna Subanci itu tanpa terduga-duga memaklumkan bahwa dia selaku penguasa Demak telah menyiapkan rencana untuk membagi-bagikan tanah di Kadipaten Demak seluas 1.200 jung (3360 hektar) kepada penduduk. “Tetapi, berbeda dengan adikku yang menghibahkan begitu saja tanahnya kepada masyarakat, aku akan tetapkan bahwa siapa saja di antara penduduk yang ingin mendapat bagian tanah di Demak wajib membelinya dengan bayaran dua kalimah syahadat,” kata Raden Patah berapi-api.

Kegaduhan tersulut seiring maklumat Raden Patah. Para hadirin dengan terheran-heran bertukar pandang satu sama lain. Setelah itu, mereka saling berbicara tentang hal-hal yang tak mereka pahami. Bahkan sebagian di antara mereka terlihat berceloteh dan menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepala kebingungan. Suasana di dalam Masjid Ampel Denta mendadak riuh dan gaduh bagaikan di tengah pasar.

Peristiwa tak terduga yang muncul susul-menyusul itu memang telah menyeret sebagian besar hadirin ke dalam lingkaran kebingungan yang tak terpahami. Bagaimana mungkin Raden Kusen dan Raden Patah bisa mendukung gagasan “gila” itu? Bukankah mereka berdua akan menderita kerugian besar dengan menerima dan menjalankan gagasan tersebut?

Lingkaran kebingungan yang tak terpahami itu pada gilirannya menyeret mereka ke suasana yang menegangkan manakala mereka mendapati kenyataan yang lebih “gila” berupa: pernyataan susul-menyusul dari Prabu Satmata Ratu Giri Kedaton, Raden Ahmad Khatib Ampel Denta, Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, Raden Makhmud Buyut Wisaya Sapanjang, Raden Hamzah Buyut Wisaya Tumapel, Sayyid Husayn dari Arosbaya, Arya Timbul Adipati Pamadegan, Lembu Peteng Ratu Gili Mandingan, Arya Timur Orob Adipati Japara, Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Pangeran Pandanarang Adipati Samarang, Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, Zainal Abidin Adipati Tandhes, Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, dan Raden Qasim Wali Nagari Caruban, yang menyatakan dukungan mutlak terhadap gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah.

Puncak kebingungan hadirin terjadi ketika Raden Ali Rahmatullah yang mereka hormati dan muliakan menyatakan dukungan pada gagasan baru yang dikemukakan oleh Abdul Jalil tersebut. “Hendaknya kalian semua mengetahui, sejak tiga pekan lalu penduduk Surabaya di Wisaya Ampel Denta, Wisaya Sumber Urip, Wisaya Bukul, bahkan di tanah shima Kertawijaya telah menempati tanahnya sendiri sebagai hak milik pribadi. Mereka tidak perlu lagi membayar sewa tanah kepada para kepala wisaya dan wadana. Namun demikian, untuk memelihara keamanan atas tanah hak milik itu mereka semua dikenai pungutan pajak oleh pihak kadipaten.”

Lengkap sudah ketidakpahaman sebagian besar hadirin setelah Raden Ali Rahhmatullah menyatakan dukungannya atas gagasan “gila” itu. Mereka yang selama ini terlena oleh kemapanan tampaknya sangat sulit menerima segala sesuatu yang terkait dengan perubahan yang bakal menggugat kemapanan mereka. Namun, mereka menjadi penasaran dan memendam amarah di kedalaman jiwanya manakala mereka menyadari bahwa sesuatu yang bakal menggugat kemapanan mereka itu justru didukung oleh tokoh-tokoh yang mereka segani dan hormati.

Akhirnya, meski dalam pertemuan di Masjid Ampel Denta itu mereka tidak dapat berbuat sesuatu, jauh di kedalaman jiwa mereka telah tersulut nyala api ketidaksukaan dan bahkan kebencian terhadap sang penggagas: Syaikh Lemah Abang. Kenyataan itu setidaknya sempat mencuat saat beredar kasak-kusuk di antara hadirin yang menuduh Abdul Jalil sebagai tukang sihir yang telah mempengaruhi Raden Ali Rahmatullah dan murid-muridnya.

Abdul Jalil yang diberi tahu oleh Raden Sulaiman tentang kasak-kusuk yang menghangat di antara hadirin hanya tersenyum tanpa memberikan tanggapan apa pun. Ia menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Ia sangat sadar bahwa bagian terbesar dari peserta pertemuan itu adalah penguasa-penguasa yang picik dan mandek pemikiran maupun jiwanya karena lingkaran kemapanan. Mereka hanya bisa berpikir dangkal betapa mereka bakal kehilangan wibawa dan kekayaan jika menerima dan menerapkan tatanan baru masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah yang berbeda dengan tatanan Kawula dan Kerajaan. Memang, kata Abdul Jalil dalam hati, hampir tidak ada manusia yang mau menerima sesuatu yang baru yang jelas-jelas mengancam kepentingan pribadinya.

Sementara itu, di tengah ketidakpuasan dan rasa penasaran sebagian besar hadirin, Raden Ali Rahmatullah memberikan kebebasan kepada mereka yang sepakat mendukung gagasan masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah untuk segera melaksanakan gagasan tersebut. Demikianlah, diawali dari Madura, para adipati dan raja muda Madura sepakat memilih Sayyid Husayn sebagai wali al-Ummah Madura dengan gelar Kalifah ar-Rasul Sayyidin Panatagama. Setelah itu adipati Surabaya, adipati Tedunan, adipati Tandhes, adipati Siddhayu, adipati Tuban, adipati Rembang, adipati Demak, adipati Japara, adipati Samarang, dan adipati Kendal sepakat memilih Prabu Satmata Ratu Giri Kedhaton, murid tertua Raden Ali Rahmatullah sebagai wali al-Ummah dengan gelar Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunngul Khalifatullah.

Sesungguhnya, kesepakatan para adipati pesisir menunjuk Prabu Satmata sebagai kalifah bukan hanya atas pertimbangan usia dan senioritas. Lebih dari itu, pengetahuan agamanya sangat luas dan mendalam di samping tentu saja garis nasabnya yang agung dan mulia: ayahandanya seorang sayyid keturunan Nabi Muhammad Saw. dan ibundanya keturunan Bhre Wirabhumi. Sejak kecil ia diasuh oleh Nyi Ageng Pinatih, janda Pangeran Arya Pinatih, bangsawan Bali dari trah Ksatria Manggis, yang memeluk Islam dan tinggal di Tandhes. Ia dididik oleh Raden Ali Rahmatullah dalam ilmu keagamaan dan tata negara, kemudian mendalami ilmu tasawuf kepada ayahandanya, Syaikh Maulana Ishak, di Pasai.

Ketika adzan dzuhur dikumandangkan, Masjid Ampel Denta telah sepi. Para adipati dan raja muda dan pemuka masyarakat telah kembali ke kediaman masing-masing. Hanya Raden Ali Rahmatullah dan beberapa kerabat serta murid-muridnya yang masih terlihat di situ. Rupanya, siang itu, tanpa istirahat sedikit pun Raden Ali Rahmatullah akan membahas berbagai masalah perubahan yang terjadi seiring makin memburuknya kehidupan di Majapahit. “Aku sudah berbicara banyak dengan saudaraku, Syaikh Lemah Abang, tentang pentingnya sebuah gerakan yang tertata dan terarah untuk melakukan islah guna menata kehidupan penduduk yang sudah memuakkan ini. Kami berdua sepakat untuk membentuk suatu syura (Dewan Musyawarah) tempat berkumpul para muslih (pelopor perbaikan) yang bisa bekerja sama seiya sekata untuk melakukan gerakan pebaikan.”

Para kerabat dan murid yang selama ini sangat patuh dan sangat memahami kehebatan Raden Ali Rahmatullah di dalam merancang suatu gerakan untuk perubahan, tidak sedikit pun menolak rencana pembentukan syura tersebut. Bahkan saat Raden Ali Rahmatullah mengusulkan nama Bhayangkari Islah untuk syura tersebut, semuanya menerima dengan takzim. Dan sesuai kesepakatan, mereka yang ditetapkan sebagai anggota Bhayangkari Islah adalah Syaikh Maulana Gharib, Raden Ahmad Khatib Ampel Denta, Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, Raden Patah Adipati Demak, Prabu Satmata Ratu Giri Kedhaton, Kalifah Husayn Arosbaya, Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, Raden Zainal Abidin Adipati Tandhes, Pangeran Pandanarang Adipati Samarang, Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Raden Qasim Wali Nagari Caruban, Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati, Raden Sulaiman Leba Wirasabha, Abdul Malik Israil, dan Syaikh Lemah Abang. Atas usul Abdul Jalil, Raden Sahid yang sedang “berjuang” di Galuh Pakuan dimasukkan ke dalam anggota Bhayangkari Islah.

Kelancaran pembentukan Bhayangkari Islah itu ternyata hanya berlangsung sampai saat penetapan keanggotaan syura. Sebab, pada saat para anggota Bhayangkari Islah membahas bidang garapan dan tugas masing-masing anggota, muncul persoalan rumit yang justru disulut oleh Abdul Jalil. Saat itu tiba-tiba Abdul Jalil mengemukakan masalah pelik yang harus ditangani sebagai bagian dari tugas utama Bhayangkari Islah. Dan yang dimaksud oleh Abdul Jalil sebagai masalah pelik itu adalah pengaruh kepercayaan Campa yang membahayakan akidah umat Islam. “Kami di Caruban tetap memegang prinsip ‘menerima yang baru tetapi tidak menghilangkan yang lama yang bermanfaat’. Maksudnya, segala sesuatu yang sudah ada dan bermanfaat tetap kita lestarikan, namun yang lama yang mudharat dan membahayakan akidah hendaknya kita tinggalkan. Oleh karena kami menilai takhayul asal Campa sebagai sesuatu yang mudharat dan membahayakan akidah maka kami menilai hal itu haruslah dijadikan bagian utama oleh Bhayangkari Islah. Terus terang, kami khawatir takhayul itu akan merusak tauhid dan kelak akan merancukan syarak.”

Masalah pelik sekitar takhayul Campa ternyata menimbulkan masalah tersendiri di tubuh Bhayangkari Islah. Sebab, sebagian anggota Bhayangkari Islah ternyata belum terbebas sama sekali dari pengaruh takhayul tersebut. Dengan berbagai alasan – tanpa dukungan dalil – mereka berusaha menolak usulan Abdul Jalil. Bahkan, mereka beralasan dengan takhayul asal Campa itu sesungguhnya perubahan di Majapahit dapat dilakukan secara berangsur-angsur tanpa menimbulkan konflik dengan kepercayaan setempat yang sudah ada.

Abdul Jalil yang sudah mengetahui dan memahami betapa berbahayanya pengaruh takhayul Campa tidak bisa menerima alasan anggota-anggota Bhayangkari Islah. Ia menolak tegas alasan-alasan mereka yang sedikit pun tidak didukung dalil. Ia tetap beranggapan bahwa sebuah perbaikan tidak sekadar berbentuk perubahan dalam tampilan, tapi yang lebih mendasar adalah perubahan cara berpikir, cara memandang, cara menilai, dan cara menyikapi sesuatu dalam kehidupan.

“Bagi kami, Islam adalah ajaran yang membebaskan manusia dari segala belenggu yang menjajah dan membenamkan manusia ke dalam relung-relung tergelap jiwanya. Islam membebaskan manusia dari rasa takut terhadap segala sesuatu selain Allah. Islam membebaskan manusia dari ketundukan atas segala sesuatu selain Allah. Karena itu, keyakinan takhayul asal Campa yang membawa manusia pada rasa takut terhadap hantu-hantu, hari naas, gegwantuhuan, ajaran klenik, hendaknya dibersihkan dari jiwa umat Islam. Demi Allah, kami tidak ingin menyaksikan di negeri ini kelak menjadi umat pemuja kuburan, penyembah arwah leluhur, yang meminta-minta berkah pada pohon-pohon, dan tunduk bertekuk lutut kepada hantu-hantu yang mereka cipta,” kata Abdul Jalil.

Perselisihan paham tentang penting dan tidaknya takhayul Campa diberantas akan meruncing dan menjadi perpecahan di antara anggota Bhayangkari Islah andaikata Raden Ali Rahmatullah selaku sesepuh tidak menengahi. Dengan sangat bijaksana Raden Ali Rahmatullah yang sudah kenyang merasakan pahitnya perselisihan dan mengunyah getirnya kehidupan menetapkan jalan tengah bagi kedua pihak yang berselisih. Pertama-tama, ia meminta kepada seluruh anggota Bhayangkari Islah untuk menempatkan usaha-usaha mengislamkan penduduk pada urutan pertama dari bidang garapan syura. Untuk itu, ia meminta agar Syaikh Lemah Abang menjadi pelopor bagi pelaksanaan tugas utama itu dengan didukung oleh seluruh anggota tanpa kecuali. “Aku berharap, dari sasyahidan (ajaran kesaksian; syahadat) yang benar akan tumbuh keislaman yang benar. Dengan demikian, jika iman tauhid seorang muslim sudah benar maka segala bentuk takhayul akan sirna dengan sendirinya. Dan aku kira, saudaraku Syaikh Lemah Abang pasti sudah mafhum jika hal itu butuh waktu lama,” ujar Raden Ali Rahmatullah.

Kebijakan Raden Ali Rahmatullah untuk menempatkan Abdul Jalil sebagai pelopor bagi usaha-usaha pengislaman dengan tugas utama mengajarkan sasyahidan, segera disambut gembira oleh anggota Bhayangkari Islah yang menolak gagasan pemberantasan takhayul Campa. Mereka berpikir, dengan tugas utama hanya mengajarkan syahadat, Abdul Jalil pastilah tidak bisa berbuat banyak untuk mencampuri bidang garapan yang lain seperti tauhid, mu’amalah, dan fiqh. Namun, pemikiran mereka itu tentu saja tidak tepat sebab menurut pemahaman Raden Ali Rahmatullah dan Abdul Jalil, justru pada syahadat itulah sejatinya terletak intisari Islam.

Akhirnya, dengan suara bulat Abdul Jalil disepakati menangani tugas utama untuk mensyahadatkan penduduk melalui pengajaran Sasyahidan. Namun, ketika para anggota Bhayangkari Islah akan membahas bidang garapan lain dan membagi-bagi tugas, tiba-tiba tersiar kabar yang dibawa oleh para saudagar Cina Surabaya tentang terjadinya serbuan Rajagaluh ke Caruban Larang. Menurut para pembawa kabar, prajurit-prajurit Caruban Larang masih bertahan di Kagedengan Plumbon dan Jamaras. Meski gerak maju pasukan Rajagaluh dapat ditahan, Kuta Caruban sudah ditinggalkan oleh sebagian besar penduduknya yang mengungsi ke pantai.

Selat Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 14:05LT

07. Para Penghindar Kematian

Pantai Kalisapu yang terletak di selatan pelabuhan Muara Jati adalah salah satu tempat yang dijadikan hunian sementara para pengungsi asal Kuta Caruban. Dilihat dari laut tampak gubuk-gubuk beratap ilalang dan tenda-tenda kain sejak tepian pantai hingga ke kaki Gunung Jati yang melatarbelakanginya. Bagaikan bercak-bercak hitam dan putih, berkerumun-kerumun di antara batang-batang pohon kelapa. Gubuk dan tenda itu sulit digambarkan karena sudah tak karuan warnanya, kumuh, penuh dilepoti tanah dan pasir berlumpur. Semakin didekati, kekumuhannya makin sulit digambarkan, karena bukan hanya warnanya yang tak karuan, melainkan bau menyengat yang mengitarinya membuat bulu kuduk meremang. Sapi, kerbau, dan kambing yang ditambat di batang-batang pohon kelapa dekat gubuk-gubuk telah membuat perut serasa diremas-remas dan kepala pening. Sementara puluhan bebek dan ayam yang ditempatkan di kandang-kandang bambu kotor, memberikan andil tidak sedikit dalam menebarkan kemuakan.

Di pengujung musim hujan ini deretan gubuk dan tenda kumuh itu terus-menerus diguyur hujan lebat disertai angin dan halilintar. Jika hujan melebat, debu merah yang menempel di daunan dan atap-atap terlihat berdesak-desakan turun menuju permukaan tanah, menggenang, dan kemudian menjadi kubangan keruh berwarna coklat kemerahan. Tidak hanya debu, tetapi tahi sapi, tahi kerbau, tahi kambing, tahi bebek, dan tahi ayam pun berbaris bersama air hujan menuju kubangan demi kubangan. Hujan yang tak kenal waktu telah mengubah tanah menjadi kubangan lumpur berupa gumpalan lempung bercampur kotoran mirip sawah yang baru dibajak dan ditaburi rabuk. Bagaikan kerumunan makhluk aneh, gubuk dan tenda kumuh itu meringkuk kedinginan di tengah kubangan lumpur raksasa. Tidak ada suara di situ selain rintik hujan, desau angin, gemuruh guruh, ledakan halilintar, tangis anak kecil, dan gerutu orang-orang yang mengutuk hujan tak kenal istirahat.

Selama empat pekan lebih tinggal di dalam gubuk-gubuk dan tenda-tenda kumuh itu, para pengungsi selalu menggerutu. Mereka menggerutu karena hujan telah membuat tanah becek dan berlumpur dan kemudian mengalir ke dalam gubuk. Mereka menggerutu pada nyamuk-nyamuk ganas yang mengisap darah. Mereka menggerutu karena persediaan makanan sudah habis dan air untuk minum pun sangat keruh. Mereka menggerutu dan bahkan berkeluh-kesah ketika salah satu anggota keluarga jatuh sakit.

Bagi para pengungsi, bukan hanya debu, pasir, tanah, dan hujan yang teraduk menjadi kubangan lumpur bergumpal lempung. Jiwa mereka pun dari waktu ke waktu diaduk-aduk oleh kecemasan, ketakutan, kegamangan, dan kebingungan akibat peperangan yang berkecamuk dengan simpang-siur berita yang tidak menentu. Jiwa mereka sekeruh lumpur dan teraduk-aduk. Ketidakpastian telah membanting-banting jiwa dan raga. Di tengah keremukluluhan itulah mereka dengan harap-harap cemas akan menanya siapa saja di antara orang yang datang ke situ tentang ini dan itu sekitar kecamuk perang. Bahkan di tengah hujan lebat pun, dengan bertudung daun pisang, para lelaki akan keluar dari gubuk untuk menanya siapa saja di antara orang-orang yang datang; apakah perang masih berlanjut atau sudah selesai.

Sebelum senja turun, ketika peperangan memasuki pekan kelima, serombongan orang sekitar lima belas jumlahnya terlihat beriringan melewati hunian para pengungsi di Kalisapu. Mereka berjalan dari arah pelabuhan Muara Jati ke Gunung Jati. Mereka adalah Abdul Jalil, Syarif Hidayatullah, Raden Qasim, Raden Sulaiman, Abdul Halim Tan Eng Hoat putera Abdurrahman Tan King Ham, Wiku Suta Lokeswara dan siswa-siswanya. Saat berangkat dari pelabuhan Kendal rombongan itu berjumlah empat puluh orang, namun di Kebon Pesisir rombongan itu dibagi dua. Yang pertama, Abdul Malik Israil dan istri cucunya, Nyi Tepasari, bersama para pengawal menuju Kuta Caruban melalui Sungai Suba. Rombongan kedua, Abdul Jalil dan kawan-kawan yang mendarat di Muara Jati dengan tujuan ingin menyaksikan kebenaran kabar yang menuturkan banyak pengungsi di Kalisapu menderita karena kekurangan makan dan diganyang penyakit.

Saat Abdul Jalil dan rombongan mendekati hunian para pengungsi, hujan sudah mulai reda, namun rintik-rintiknya masih tersisa membasahi apa saja yang ada di sana. Ketika kaki-kaki mereka yang kotor dilepoti lumpur melintas di atas jalan becek, beberapa kepala terjulur dari balik tenda untuk melihat kedatangan mereka.

Tiga orang lelaki Cina setengah baya terlihat melesat dari dalam tenda yang sebagian robek-robek. Kemudian, dengan sikap penuh selidik, mereka bertanya kepada Abdul Jalil dan rombongan tentang maksud dan tujuan datang ke tempat ini. Mereka juga bertanya ini dan itu, termasuk apakah perang sudah selesai atau belum. Namun, mereka menjadi terheran-heran dan curiga ketika mendapat jawaban bahwa rombongan itu akan ke Kuta Caruban.

“Kami ini orang Kuta Caruban, Tuan-Tuan,” kata lelaki yang mengenakan baju dan celana panjang hitam potongan Cina dengan wajah diliputi kecurigaan. “Di kuta sedang tidak aman. Kami mengungsi ke sini karena di kuta orang sedang perang. Kenapa Tuan-Tuan ini malah mau ke sana?”

“Kami ada urusan penting yang harus diselesaikan di Kuta Caruban,” sahut Syarif Hidayatullah.

“Kalau boleh tahu, urusan apa?” tanyanya dengan sorot mata makin diliputi kecurigaan.

“Kami mau menemui kalifah Caruban Larang, Sri Mangana,” Abdul Halim Tan Eng Hoat menyela dengan nada tinggi. Ia menangkap isyarat bahwa para lelaki Cina itu mencurigai mereka sebagai penjarah. “Kami ingin membantu perjuangan beliau melawan Yang Dipertuan Rajagaluh. Sebaliknya, Tuan-Tuan ini yang mengaku sebagai penduduk Kuta Caruban, kenapa berada di sini? Tidakkah Tuan-Tuan seharusnya wajib membantu pertahanan Kuta Caruban tempat rumah, tanah, dan harta benda Tuan-Tuan berada?”

“Pemimpin kami, Kongcu Ling Tan, telah mati terbunuh dalam perang. Kami yang tua-tua ini tidak pandai perang. Kami harus menjaga istri dan anak-anak juga keluarga kami. Kami tinggal di tempat ini karena ada kabar orang-orang Rajagaluh akan menyerbu Kuta Caruban,” katanya beralasan.

“Bagaimana dengan tanah, rumah, dan harta benda Tuan di Kuta Caruban?” tanya Raden Qasim menyela.

“Kami sudah tinggalkan budak di sana untuk jaga rumah dan barang-barang,” jawab lelaki Cina itu.

“Tuan mempercayakan rumah dan harta Tuan kepada budak-budak?” Raden Qasim minta penegasan.

“Ya, Tuan.”

“Tidakkah Tuan sudah mengetahui jika peraturan baru yang dibuat kalifah Caruban melarang semua penduduk untuk memelihara dan berjual beli budak-budak?” tanya Raden Qasim menatap tajam lelaki Cina itu.

“Ee, maksud kami bukan budak. Maksud kami, kacung. Ya, ya, maksud kami orang upahan.”

Raden Qasim mendengus dan berkata perlahan meminta pertimbangan kepada Abdul Halim Tan Eng Hoat, “Bagaimana ini? Orang-orang ini jelas sudah menyalahi peraturan kalifah.”

“Karena sudah ada bukti bahwa mereka adalah orang tak berguna, orang yang mau enak sendiri dan tidak mau susah, maka rumah dan hartanya hendaknya diberikan kepada orang-orang yang telah bertaruh nyawa menjaganya. Itu hukum perang yang berlaku di mana saja.” Abdul Halim Tan Eng Hoat sambil berpaling meminta pertimbangan Syarif Hidayatullah, “Bukankah demikian, Saudaraku?”

“Ya, sebagai wali nagari Kuta Caruban, engkau harus tegas memutuskan hal itu agar menjadi pelajaran bagi yang lain,” kata Syarif Hidayatullah kepada Raden Qasim. “Karena kalau sikap orang tak berguna itu ditiru yang lain, akan berat bagi perjuangan kita di kelak kemudian hari.”

“Aku akan lakukan itu setelah menghadap kalifah.”

Sementara itu, Abdul Jalil merasakan kepedihan menyayat hatinya saat mendengar Ling Tan gugur dalam perang. Sambil mengucapkan inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un, ia menarik napas panjang. Bayangan Ling Tan, Abdurrahman Ling Tan, pemimpin warga Cina asal Junti itu berkelebatan memasuki relung-relung ingatannya. Abdurrahman Ling Tan adalah peranakan Cina yang memiliki pengaruh kuat di kalangan penduduk setempat karena ayahandanya, Tumenggung Wangsanegara, adalah orang Sunda yang menjadi pejabat pangasalan (pengawal raja) di Caruban Larang. Ia dikenal sebagai orang yang jujur, tegas, pemberani, dan dermawan. Lantaran itu, warga Cina perantauan dan keturunannya di Junti lebih suka dipimpin Abdurrahman Ling Tan bahkan sampai saat mereka pindah ke Kuta Caruban. Sekalipun Abdurrahman Ling Tan seorang muslim yang taat, penduduk Cina yang dipimpinnya sebagian besar bukan muslim.

Membandingkan keempat lelaki Cina pengungsi itu dengan Abdurrahman Ling Tan memang seperti membandingkan bumi dan langit. Abdurrahman Ling Tan sejak kecil dididik di lingkungan bangsawan Sunda dan keluarga saudagar Cina jelas-jelas menunjukkan jiwa ksatria yang memiliki rasa tanggung jawab besar dan kerelaan untuk berkorban. Ia gugur dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakini kebenarannya. Sementara ketiga lelaki Cina pengungsi itu, yang mungkin berasal dari kalangan orang kebanyakan, tidak sedikit pun menunjukkan jiwa ksatria yang bertanggung jawab dan rela berkorban, meski untuk sekadar melindungi rumah, tanah, dan harta benda milik sendiri. Mereka memang memelihara budak-budak, namun sesungguhnya mereka sendirilah orang-orang yang bermental budak. Mereka orang-orang yang mendamba kemapanan hidup di dunia, namun enggan bersusah payah. Mereka datang jika keadaan menguntungkan dan akan buru-buru menyingkir jika keadaan merugi.

Akhirnya, tanpa memperkenalkan diri dan tanpa menanyai ketiga orang Cina itu, Abdul Jalil dan rombongan meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan menyusuri tanah berlumpur dan berbau busuk di antara gubuk dan tenda yang tak karuan bentuk dan warnanya. Sepanjang perjalanan itu Abdul Jalil merenungkan keanehan pemikiran dan perilaku para pengungsi yang tercermin dari gerutu dan keluh-kesah mereka. Mereka mengatakan terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari Kematian yang berkeliaran akibat perang. Anehnya, mereka tidak mempersiapkan kemungkinan lain bahwa Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja tanpa perlu ditandai perang. Tampaknya, para pengungsi secara merata hampir tidak ada yang mempersiapkan bekal untuk menghadapi Kematian yang sewaktu-waktu dapat merenggut hidup mereka. Hari-hari dari rentang kehidupan mereka disibukkan untuk mengurus sapi, kerbau, kambing, bebek, ayam, perhiasan, tikar butut, bantal, dan pakaian-pakaian kumal. Bukankah mereka sejatinya lebih tepat disebut sebagai orang-orang yang berusaha menyelamatkan harta benda dan ternak daripada orang yang menyelamatkan nyawa dari Kematian? Bukankah ucapan mereka tentang “menyelamatkan diri dari Kematian” itu pada hakikatnya hanya sebuah kebohongan? Sebab, mereka sejatinya tidak pernah ingat mati dan tidak siap menghadapi Kematian.

Liku-liku kehidupan yang dijalaninya dengan berbagai gambaran manusia dari aneka bangsa telah memahamkan Abdul Jalil tentang betapa kuat kalangan orang-orang kebanyakan terjajah oleh kekuasaan kebendaan (thaghut). Rupanya, pikir Abdul Jalil, kiblat hati dan pikiran dari kalangan itu lebih terarah pada kebendaan. Kehidupan sehari-hari mereka lebih banyak diwarnai oleh ingatan tentang harta benda dan bayangan-bayangan kelezatan. Mereka adalah orang-orang lemah yang gampang terseret bayangan nafsu rendah duniawi. Mereka tidak pernah siap menghadapi kesulitan dan tantangan dalam dunia nyata yang tergelar di hadapannya. Mereka selalu menggerutu dan berkeluh kesah saat menghadapi ujian, namun lupa daratan jika beroleh kesenangan. Ya, merekalah manusia berderajat rendah pendamba dunia. Mereka adalah para pemimpi kenikmatan dunia tetapi dihajar oleh cambuk ganas kenyataan hidup. Mereka mendamba hidup abadi, namun yang diperoleh justru kebinasaan. Mereka para pengkhayal yang terperosok ke jurang kehidupan maya di bawah bayang-bayang Sang Penyesat. Mereka para penghindar Kematian, namun jalan yang mereka pilih justru menuju altar Kematian. Dan Kematian yang tak kenal kenyang dan lapar itu sepanjang waktu dengan lahap menyantap mereka sebagai hidangan kesukaan.

Sepanjang perjalanan melewati gubuk dan tenda pengungsi, baik Abdul Jalil maupun anggota rombongan yang lain terus-menerus mendengar gerutu dan keluh-kesah mereka yang menganggap tempat itu sebagai neraka. Malah tak kurang di antara pengungsi itu berdoa dengan suara keras, namun intinya seolah-olah menyalahkan Tuhan yang telah menimbulkan kesengsaraan bagi mereka. Namun, di antara gerutu dan keluh-kesah itu ada yang sangat mengejutkan dan tak pernah disangka-sangka.

“Kalau saja Syaikh Lemah Abang tidak bikin ulah, pasti tidak akan ada perang laknat ini.”

“Memang, pangkal dari semua bencana ini adalah Tuan Syaikh celaka itu. Aku dengar-dengar orang satu itu memang bikin masalah terus. Kata orang, sejak kecil dia sudah menimbulkan kekisruhan di Caruban ini.”

“Aku memang pernah dengar cerita itu. Katanya, dia itu orang yang tidak tanggung jawab. Suka bikin kisruh. Setelah keadaan kisruh, dia minggat. Yang susah adalah orang-orang yang ditinggalkan.”

“Sekarang ini, kata orang-orang dia minggat entah ke mana.”

“Ee, hati-hati kau. Kalau bicara jangan keras-keras! Kata orang, dia itu tukang sihir yang jahat.”

“Alah, tukang sihir apa. Kalau dia sakti, pasti sudah disihirnya orang-orang Rajagaluh yang memusuhinya.”

“Ya, kita doakan saja mudah-mudahan tukang sihir laknat itu cepat-cepat mati disambar petir!”

Wiku Suta Lokeswara yang berjalan di samping Abdul Jalil dengan jelas mendengar kasak-kusuk dan gerutuan yang diucapkan keras-keras itu. Ia menghentikan langkah dan menajamkan telinga untuk mengetahui dari gubuk mana suara itu diucapkan. Sebagai seorang mantan juru demung (kepala rumah tangga kraton), ia menangkap gelagat tidak beres pada ucapan-ucapan itu. Tanpa terduga, dengan gerakan kilat ia melangkah ke pintu salah satu gubuk dan menjulurkan tangan kirinya ke dalam. Sedetik setelah itu ia menarik tangannya keluar dan terlihatlah pemandangan menakjubkan. Wiku Suta Lokeswara mencengkeram tengkuk seorang laki-laki muda yang pucat pasi. Kemudian dengan sekali sentakan, tubuh laki-laki tak berdaya itu terangkat ke atas. Namun, saat ia kelihatan akan membanting orang di cengkeramannya itu, Abdul Jalil buru-buru menyergah, “Apa yang akan Paduka Wiku lakukan?”

“Makhluk laknat ini seorang telik sandhi (mata-mata) yang menyusup ke kalangan pengungsi.”

“Kami mohon, sudilah kiranya Paduka Wiku melepaskannya,” Abdul Jalil memohon.

“Heh, bagaimana Tuan Syaikh ini? Bukankah tiap-tiap telik sandhi harus dibunuh? Bukankah seorang telik sandhi lebih berbahaya daripada seribu prajurit?”

“Paduka Wiku, jika dia memang terbukti telik sandhi maka biarlah prajurit Caruban yang menangkapnya. Tapi, kita belum punya cukup bukti jika dia seorang telik sandhi. Kita menduga dia telik sandhi karena kebetulan kita mendengar dia menggerutu dan mengumpat salah satu di antara kita. Kami menganggap yang dia lakukan itu bukan suatu kesalahan,” kata Abdul Jalil.

“Tapi Paman,” Syarif Hidayatullah menyela, “ucapan orang ini sangat berbahaya. Apa yang dia ucapkan bisa mempengaruhi orang lain.”

“Aku tidak melihat ada ucapannya yang berbahaya,” kata Abdul Jalil tenang, “sebab yang dia umpat adalah aku, Syaikh Lemah Abang. Andaikata yang dia umpat adalah Sri Mangana, kalifah Caruban Larang, atau engkau, wali nagari Gunung Jati, maka dia dapat dituduh melakukan tindakan yang membahayakan. Dia bisa dituduh telik sandhi. Tapi, yang dia umpat adalah aku. Ya, aku yang dia umpat. Dan aku ini orang biasa. Aku bukan pejabat negara. Aku bukan apa-apa. Aku hanya seorang guru di kampung kecil. Jadi menurutku, bukan suatu kesalahan jika dia mengumpat dan mencaci maki aku.”

Mendengar ucapan Abdul Jalil, Wiku Sura Lokeswara menghela napas panjang dan kemudian melemparkan tubuh laki-laki yang dicengkeramnya itu ke atas tanah. Tubuh laki-laki itu terguling-guling berlepot lumpur. Secepat itu dia berusaha bangkit, namun tubuhnya terguling. Akhirnya, dengan gemetaran dan tubuh kotor penuh lumpur laki-laki muda itu merangkak dan menyembah di hadapan Abdul Jalil sambil mengiba memohon ampun. Abdul Jali menarik bahu laki-laki itu ke atas dan berkata, “Berdirilah! Tidak boleh ada manusia berlutut dan menyembah kepada sesama manusia. Tetapi, mulai sekarang berhati-hatilah engkau jika berbicara. Sebab, celaka dan tidaknya seseorang sering kali disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam menjaga mulut.”

Dengan membungkuk-bungkuk dan mengucapkan terima kasih, laki-laki itu melangkah terseok-seok masuk ke dalam gubuknya. Setelah melihat laki-laki itu menghilang, Abdul Jalil berkata kepada Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim, “Mulai sekarang kalian berdua harus bisa membiasakan diri untuk tahan mendengarkan aku dicaci maki dan diumpat-umpat oleh siapa pun di antara manusia. Sebab, dalam perubahan besar ini aku telah memilih kedudukan sebagai tanah pijakan bagi bangunan yang sedang kita tegakkan bersama, yaitu bangunan baru masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah.”

“Mulai sekarang, aku berharap kalian berdua memandang tatanan yang sedang kita tegakkan bersama ini dalam ibarat bangunan baru. Kita adalah anasir yang membentuk dan memberi daya hidup bangunan tersebut. Sri Mangana, misalnya, harus kita ibaratkan sebagai dinding bangunanyang berperan utama melindungi penghuni dan mencitrai keindahan bangunan. Raden Sahid dapat kita ibaratkan sebagai tiang saka yang menopang atap dan memperkuat bangunan. Raden Qasim dapat diibaratkan menjadi kusen pintu. Dan engkau, anakku, dapat diibaratkan menjadi atap yang memayungi dan memperindahnya. Sahabatku Abdul Malik Israil dapat diibaratkan sebagai salah satu tukangnya. Sementara yang lain adalah ibarat bagian-bagian yang melengkapi keutuhan bangunan tersebut. Dan di dalam usaha menegakkan bangunan baru itu, aku telah memilih peran sebagai tanah tempat bangunan baru itu ditegakkan.”

“Di Surabaya, aku sudah menyatakan kepada saudaraku, Raden Ali Rahmatullah, bahwa di dalam membangun tatanan baru di Majapahit, aku telah menetapkan kedudukan diriku sebagai tanah yang menjadi pijakan bagi bangunan baru tersebut. Dan sebagaimana lazimnya tanah maka menjadi kewajiban asasi bagi kedudukannya untuk diinjak-injak, dilukai dengan cangkul, dikencingi, diberaki, dijadikan tempat buangan sampah, namun sekaligus sebagai tempat orang bercocok tanam dan mendirikan bangunan. Sekalipun tidak pernah diperhitungkan dalam menegakkan bangunan, di atas tanah itulah sejatinya tiap-tiap bangunan bisa berdiri. Tanpa tanah yang diinjak-injak, tidak mungkin bagunan-bangunan bisa ditegakkan. Bahkan agar orang bisa berdiri tegak pun, dibutuhkan tanah untuk tempat berpijak.”

“Dengan memahami hakikat tatanan baru yang sedang kita tegakkan seibarat bangunan, hendaknya kalian sadar bahwa kedudukanku harus rendah di hadapan manusia sebagaimana kedudukan tanah. Bahkan andaikata nanti bangunan baru itu sudah tegak dengan megah dan orang-orang mengagumi keindahannya, pastilah orang tidak akan ada yang mengagumi dan memuji tanah tempat bangunan tersebut berdiri. Hanya bagian-bagian dari bangunan itulah yang menyadari dan dapat menghargai kedudukan tanah tempatnya berdiri. Karena itu, jika sewaktu-waktu kalian berdua mendapati aku dicaci maki, diumpat, dikutuk, dan direndahkan orang, hendaknya kalian tidak merasa tersinggung atau marah. Bahkan sebaliknya, jika kalian berdua mendapati aku dipuji orang seolah-olah aku adalah dewa dari langit maka kewajiban kalianlah untuk merendahkanku sesuai kedudukanku sebagai tanah. Ingat-ingatlah selalu kalian akan pesanku ini. Ingat-ingatlah bahwa aku adalah tanah. Tanah. Tanah. Seribu kali tanah. Sebagaimana kedudukan tanah, keberadaanku pun wajiblah diinjak-injak dan direndahkan oleh siapa pun yang ingin berdiri tegak di atasku. Hendaknya kalian ketahui bahwa sebutan Syaikh Lemah Abang yang diberikan orang kepadaku bukanlah suatu kebetulan, melainkan justru merupakan cerminan kedudukanku sebagaimana dikehendaki-Nya.”

Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim tercengang mendengar uraian Abdul Jalil. Mereka menangkap sebuah kebenaran di dalam kata-kata Abdul Jalil. Namun, dengan kenyataan itu mereka tiba-tiba merasakan betapa berat tanggungan jiwa yang harus dipikul guru manusia yang sangat mereka hormati itu. Sejurus mereka tenggelam ke dalam lamunan diri; mengingat bagaimana para peserta pertemuan di Masjid Ampel Denta mengecam dan menjadikan sosok Abdul Jalil sebagai bahan ejekan. Masih segar dalam ingatan mereka bagaimana sebagian anggota Bhayangkari Islah menjadikan Abdul Jalil sebagai sasaran kemarahan dan gerutuan. Dan kini pun mereka baru saksikan para pengungsi yang tidak mengerti persoalan ikut mengumpat dan mencaci maki manusia malang itu. Akhirnya, baik Syarif Hidayatullah maupun Raden Qasim tidak berani membayangkan apa yang bakal dialami Abdul Jalil pada masa datang. Mereka tidak berani melewati batas angan-angan untuk membayangkan lebih jauh tentang rentang hidup penggagas tatanan baru itu. Namun, rekaman ingatan tentang liku-liku hidup yang telah mereka alami bersama Abdul Jalil, sebagaimana mereka saksikan dan mereka rasakan sendiri, telah membuat mereka terheran-heran dengan kumparan nasib yang membelit orang yang mereka hormati itu.

Ujian berat (bala’) selalu ditimpakan kepada para nabi, wali, dan orang-orang semisal mereka, demikian sabda Nabi Muhammad Saw.. Sebagai salah seorang anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’, Abdul Jalil tampaknya tak luput dari keniscayaan sabda Nabi Saw. tersebut.

Ketika Caruban Larang diamuk peperangan, diterkam ketakutan, diguncang ketegangan, diintai ancaman kematian, dan diwarnai semrawut kehidupan para pengungsi yang berduyun-duyun menghindari keganasa perang, terjadi peristiwa yang tak tersangka-sangka. Barang dua pekan setelah perang berkecamuk, datanglah serombongan orang yang mengaku asal negeri Baghdad ke Giri Amparan Jati. Rombongan yang berjumlah sekitar empat puluh orang itu dipimpin oleh Abdul Qadir dan Abdul Qahhar bin Abdul Malik al-Baghdady, dua orang adik ipar Abdul Jalil, yakni adik lain ibu dari Fatimah, istri pertama Abdul Jalil. Yang tak terduga, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar datang dengan membawa serta puteri Abdul Jalil yang sudah berusia delapan tahun dan membawa pula kabar duka tentang kematian istri Abdul Jalil barang tiga bulan silam akibat sakit keras di Wadi al-Ubayyid, di tengah perjalanan dari Karbala ke Nukhayb sewaktu Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dan pengikut-pengikutnya diburu-buru oleh penguasa Baghdad.

Karena Abdul Jalil tidak berada di tempat, rombongan asal Baghdad itu ditampung di Giri Amparan Jati. Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady yang belum lepas dari rasa gentar akibat diburu-buru penguasa Baghdad, sangat cemas ketika mengetahui mereka berada di sebuah daerah yang sedang dicekam peperangan. Mereka selalu menanyakan kapan saudara ipar mereka kembali dengan harapan mereka akan diungsikan ke tempat yang lebih aman. Namun, harapan mereka tidak kesampaian karena Abdul Jalil yang mereka temui ternyata dengan tegas menolak mencarikan mereka tempat aman yang jauh dari perang. Dengan suara yang lain ia berkata, “Sesungguhnya, di mana pun tempat di dunia ini adalah aman selama kalian bernaung di bawah lindungan Sang Penyelamat (as-Salam). Betapa salahnya kalian memandang jika Kematian hanya berkeliaran di tengah peperangan. Sebab, tidak ada dalil yang mengatakan bahwa Sang Maut (al-Mumit) bersemayam di atas langit medan tempur, merentangkan sayap dan cakar-Nya untuk memangsa setiap orang yang berada di sana. Apakah kalian pikir di tempat yang jauh dari medan tempur tidak ada Sang Maut? Tidakkah kalian sadar bahwa Sang Maut berada di mana pun Sang Hidup berada, karena Sang Maut adalah Wajah yang lain dari Sang Hidup (al-Hayy).”

Merasa keinginannya tidak dipenuhi, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady tidak menyerah. Mereka berusaha mempengaruhi Abdul Jalil melalui kemenakan mereka, Zainab, puteri Abdul Jalil. Mereka beralasan bahwa keinginan untuk jauh dari daerah perang itu sesungguhnya demi keselamatan kemenakan mereka, yakni darah dan daging Abdul Jalil sendiri. Kemenakan mereka itu telah piatu dan karenanya harus diselamatkan sesuai amanat kakak mereka, Fatimah. “Kami jauh-jauh ke negeri ini hanya memenuhi amanat kakak kami,” Abdul Qahhar berharap.

Abdul Jalil bergeming dari pandangannya. Dengan suara dingin ia berkata, “Jika kalian berdua takut maka kalian berdua akan aku tempatkan di Kalisapu atau di Pantai Mundu bersama-sama dengan para pengungsi yang berjiwa pengecut. Tetapi perlu kalian ketahui, puteriku akan aku tempatkan di sini, di tengah kancah peperangan ini agar dia bisa merasakan panasnya hawa perang yang akan menempa keberanian di dalam jiwanya. Aku akan ajarkan kepada dia bahwa di mana pun dia berada senantiasa berada dalam liputan Kematian dan Kehidupan. Tidak ada yang menjamin jika dia aku tunggui dan aku tempatkan di daerah aman maka dia akan selamat dan terus hidup. Sebaliknya, tidak ada yang menjamin bahwa dengan tinggal di daerah perang, dia akan celaka dan terbunuh.”

Akhirnya, setelah mendengar uraian Abdul Jalil secara panjang dan lebar, baik Abdul Qadir maupun Abdul Qahhar al-Baghdady menyatakan kesediaannya untuk tinggal di Caruban. Mereka merasa kepalang basah jauh dari tanah kelahiran dan mereka tentu saja tidak mau dinilai pengecut. Bahkan, mereka kemudian meminta untuk bergabung dengan laskar Caruban asal Baghdad yang dipimpin Syaikh Duyuskhani. Demikianlah, setelah menyerahkan Zainab kepada Abdul Jalil, kedua orang putera Syaikh Abdul Malik al-Baghdady beserta empat puluh orang pengikutnya itu diantar oleh tiga santri Giri Amparan Jati ke Pancalang, yaitu pangkalan pertahanan laskar muslim Caruban.

Sementara itu, Abdul Jalil diam-diam merasakan keanehan ketika ia diberi tahu oleh kedua orang adik iparnya tentang kematian istrinya. Aneh, katanya dalam hati, kabar kematian istriku ternyata tidak mengejutkan aku. Ya, aku tidak terkejut. Tidak menangis. Tidak pula meratap. Entah kenapa aku seolah-olah sudah menangkap tengara kematian istriku, Fatimah, barang setahun silam dari alam bawah sadarku. Lantaran itu, kabar duka dari Abdul Qadir dan Abdul Qahhar kurasakan seolah-olah hanya sebagai penyingkap selubung rahasia yang selama ini menutupi kenyataan kematian Fatimah.

Manusia hidup memang memiliki riwayat yang panjang dan berliku-liku, gumam Abdul Jalil dalam hati, namun adakalanya riwayat manusia sangat pendek dan tidak bersambung sebagaimana riwayat Nafsa dan Fatimah, dua orang perempuan yang pernah bersemayam penuh keindahan di dalam relung-relung jiwaku. Mereka berdua kini sudah kembali menghadap hadirat-Nya. Namun Fatimah, istriku, merki riwayatnya sangat pendek ternyata masih bersambung. Ia masih meninggalkan citra keindahannya dalam wujud puteri kecil kami, Aisyah, yang oleh kakeknya namanya diubah menjadi Zainab. Ya, inilah kebersambungan riwayat Fatimah, yang kini diserahkan kepadaku untuk kujaga dan kuantarkan ke gerbang kehidupan yang sesuai dengan jati dirinya.

Sekalipun Abdul Jalil tidak merasa terkejut mendengar kabar kematian istrinya, sebagai manusia ia tidak lepas dari rasa pedih yang mencakari jiwanya. Selama beberapa jenak ia termangu-mangu sambil membelai rambut puteri semata wayang yang duduk di pangkuannya. Ia bayangkan betapa berat perjalanan yang dilakukan istrinya saat melintasi padang gurun ganas dari Karbala hingga Wadi al-Ubayyid. Fatimah yang sejak kecil hidup penuh kemanjaan dan dilimpahi kasih orang-orang yang mencintainya tentu sangat menderita saat diterkam keganasan gurun yang buas.

Seperti rekaman bayangan yang terpampang di bentangan ingatannya, Abdul Jalil menyaksikan bayangan Fatimah mengelebat di dalam benaknya. Fatimah yang menggigil kedinginan di malam hari dan terengah-engah kepanasan di siang hari. Fatimah yang tubuhnya lemah tak berdaya, menggeliat sekarat terpanggang ganasnya gurun. Fatimah yang bibirnya pecah-pecah karena kehausan. Mata Fatimah yang mirip mata Nafsa itu meredup dengan linangan air mata pada saat-saat terakhir menyaksikan puterinya, Zainab, yang akan ditinggal untuk selamanya. Ah, betapa menderitanya engkau, Fatimah, setelah bertahun-tahun ditinggal suami dengan segala kerinduanmu, ternyata yang datang menjemputmu adalah Sang Maut.

Bayangan yang berkelebatan di dalam benaknya itu menyingsing dalam keremangan jiwa manakala dari kedalaman kalbunya terbit matahari kenangan yang menyinari sosok Fatimah. Fatimah binti Abdul Malik al-Baghdady adalah citra abadi seorang istri, seorang perempuan, yang kuat perkasa, penuh daya hidup, dan teguh dalam menghadapi tantangan. Meski merasa pahit saat ditinggalkan sebagai ibu muda, ia tetap tabah menjalani hidup dalam kesendirian mengasuh puterinya. Betapa kuat. Betapa tabah. Fatimah tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan yang bagaimanapun rumitnya. Bahkan pada saat-saat terakhir menjelang ajal, menurut Abdul Qadir, ia masih sempat berpesan agar puterinya diserahkan kepada sang ayah supaya dibimbing ke jalan Kebenaran (al-Haqq).

Abdul Jalil sendiri hanya bisa menarik napas panjang saat Abdul Qadir menyampaikan amanat terakhir Fatimah. Di tengah kecamuk perang dan beban berat seorang penggagas pembaharuan yang dimusuhi banyak orang, menjadi seorang ayah dan sekaligus ibu bagi seorang puteri bukanlah hal ringan. Sementara ayahanda mertuanya, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, tidak ketinggalan menitipkan pula sebuah amanah berupa “perintah” agar ia memberikan hukuman kepada Ali Anshar at-Tabrizi. Rupanya Ali Anshar telah berkhianat hingga menyebabkan Syaikh Abdul Malik al-Baghdady dan pengikutnya diburu-buru penguasa Baghdad. Ali Anshar, menurut Abdul Qadir, ditengarai pergi ke Nusa Jawa untuk melampiaskan dendam kesumatnya kepada Abdul Jalil. Dan tentu saja, amanah istri dan ayahanda mertuanya itu menambah berat beban yang harus dipikulnya di tengah ketidakpastian keadaan yang membayanginya.

Andaikata Abdul Jalil orang biasa, pastilah dengan beban berat yang makin menumpuk di pundaknya itu ia akan tumbang dan jatuh ke dalam lumpur pekat kehidupan yang membuatnya sulit bernapas. Atau setidaknya, benak di kepalanya akan memuai dan meleleh. Atau hatinya terbakar dan meledak berkeping-keping. Namun, di tengah tumpukan beban itu ia terlihat sangat tabah. Sebagai anggota Jama’ah Karamah al-Aulia’, cermin pengejawantahan al-Waly, jiwanya ditempatkan pada kedudukan yang lebih tinggi dibanding jiwa manusia seumumnya. Jiwanya disemayamkan di sebuah gunung menjulang yang dilindungi tebing batu sangat kuat. Di tengah berat beban yang harus dipikulnya, jiwanya justru terluput dari percikan rasa takut, khawatir, dan sedih yang berkepanjangan.

Dengan kedudukan jiwa yang tinggi, ia dapat melihat dengan jelas segala pusaran kehidupan yang tergelar di bawahnya. Sehingga saat segunung masalah beriringan menaiki tangga menara dan menghampirinya, ia selalu menyambutnya dengan menengadahkan wajah ke atas. Ia memasrahkan segala sesuatu yang menghampirinya kepada al-Wakil, Zat yang memelihara penyerahan segala urusan. Dengan jiwanya yang sudah tercerahkan, ia senantiasa menyerahkan seluruh hidupnya hanya kepada al-Waly, Zat yang melindungi. Sebesar dan seberat apa pun beban masalah yang dipikulnya tak pernah dianggapnya sebagai sesuatu yang terpisah dari kehendak-Nya; Wama tasya’una illa an yasya’a Allahu rabb al-alamin. Ia senantiasa mengembalikan segala sesuatu yang berasal dari-Nya kepada-Nya; inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un.

Sekalipun jiwanya terpelihara di tempat tinggi, sebagai manusia yang dha’if, ia tidak luput dari terkaman rasa sedih dan duka. Namun berbeda dengan manusia seumumnya, rasa sedih dan duka itu tak pernah lama merajalela menguasai jiwanya. Beberapa jenak tenggelam dalam lamunan yang memedihkan akibat mendengar kabar kematian istrinya, ia sudah disentakkan oleh tarikan kesadaran akibat bisikan Ruh al-Haqq.

“Sadarlah engkau, o Rajawali, pengarung kesunyian sejati. Engkau bukan burung-burung kecil yang terbang dalam kawanan-kawanan untuk mencuri padi di sawah. Engkau juga bukan gurung gagak pemakan bangkai. Pun engkau bukan binatang melata yang merayap di muka bumi dengan perutnya. Engkau Rajawali, raja segala burung yang terbang tinggi di angkasa dan bersarang di tebing-tebing karang yang tegak menggapai langit. Engkau tidak makan jika tidak lapar. Engkau tidak minum jika tidak kehausan. Engka selalu memandang ke bawah dengan mata menyala, menyaksikan kehidupan makhluk yang melata di permukaan bumi. Engkau terbang sendiri tanpa kawan. Tetapi, engkau tidak bersedih karena kawanmu adalah Kehampaan. Ketika engkau menjerit: Haqq! Haqq! Kehampaan menjawab dengan pantulan gema yang menggetarkan penjuru langit dan bumi. Sadarilah, o Rajawali, bahwa kodratmu adalah sendiri dan berteman dengan Kehampaan.”

Dengan bisikan Ruh al-Haqq, ia tetap tersadarkan meski kesedihan dan derita mengepung segenap penjuru jiwa. Ia sadar tentang kehendak-Nya di balik rahasia kehidupan yang digelar di depannya. Betapa kematian istri dan kehadiran Zainab, puterinya, di tengah kecamuk perang itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah bagian dari liku-liku ujian-Nya yang harus dilampaui. Puterinya yang telah piatu itu dihadirkan-Nya di tengah keadaan sulit ini untuk menguji keteguhannya dalam menjaga kiblat hati dan pikiran kepada Yang Maha Berkehendak. Dan sebagaimana rajawali, ia terus mengepakkan sayap-sayap jiwanya mengarungi kesunyian menuju Kehampaan Sejati.

Bagi para pengarung kesunyian seperti Abdul Jalil, makna suka dan duka, sedih dan gembira, bahagia dan menderita, hidup dan mati, sangat berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan apa yang dipahami oleh orang kebanyakan. Sebab, duka cita dan kesedihan yang dikaitkan dengan penghiburan oleh orang kebanyakan sering dimaknai dengan arti kegembiraan yang menyenangkan hati; habis duka cita terbitlah sukacita, di mana ada suka di situ ada duka, sedih dan gembira ibarat siang dan malam yang saling berganti. Sementara bagi pengarung kesunyian seperti Abdul Jalil, duka cita dan kesedihan dipandang sebagai sesuatu yang terkait dengan keberadaan dan ketiadaan. Suka dan duka, sedih dan gembira, bahagia dan derita, hanya muncul ketika seseorang menganggap keakuan dirinya ada. Namun, kegandaan itu akan menyingsing manakala keakuan seseorang ditiadakan dan ditenggelamkan ke dalam Aku Semesta: Kehampaan Sejati.

Tidak berbeda dalam hal memaknai suka dan duka, dalam memaknai kehidupan pribadi pun orang seperti Abdul Jalil berbeda dengan manusia seumumnya. Baik ruang, baik waktu, baik kehidupan yang tergelar di dalamnya, dengan segala kekuatan alamiahnya seolah-olah menempatkan Abdul Jalil sebagai orang yang tidak diberi kesempatan cukup banyak untuk mengurus kehidupan pribadi. Bahkan, untuk meresapi kesedihan dan memanjakan puteri semata wayangnya pun ia seolah-olah tidak diberi peluang barang sejenak. Ketika ia baru tersentak oleh kesadaran setelah terlena beberapa saat mengenang istri dan melepas rindu kepada puterinya, ia sudah dikejutkan oleh kabar laskar muslim Caruban yang berduyun-duyun melarikan diri dari medan tempur di Jamaras. Abdul Malik Israil yang baru saja kembali dari Kuta Caruban muncul menemuinya. “Apa yang dulu engkau takutkan, o Sahabatku, kini telah terbukti menjadi kenyataan pahit.”

“Apakah yang telah terjadi, o Sahabat?” tanya Abdul Jalil minta penjelasan.

“Ratusan laskar muslim Caruban yang dipimpin Abdul Karim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien terbirit-birit melarikan diri dari medan tempur karena tidak kuasa mengendalikan setan takhayul yang menguasai jiwa dan pikiran mereka,” kata Abdul Malik Israil menggeleng-geleng kepala. “Mereka lari ketakutan demi mendengar kabar panglima Rajagaluh, Adipati Kiban, mengendarai gajah yang muncul dari Gunung Liman. Gajah itu konon bernama Sang Bango.”

“Kenapa pula dengan gajah tunggangan Adipati Kiban itu?”

“Para laskar berpikir gajah bernama Sang Bango itu adalah gajah siluman bersayap dan bisa terbang seperti burung bangau. Karena itu, saat mereka berhadap-hadapan dengan pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Adipati Kiban, mereka lari tunggang langgang karena takut dengan gajah siluman itu,” kata Abdul Malik Israil.

“Astaghfirullah al-azhim,” Abdul Jalil mendecakkan mulut sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Apa yang harus kita lakukan menghadapi manusia-manusia yang sudah dibodohkan dan dilemahkan oleh takhayul itu?”

“Menurut hematku, mereka harus diberi kekuatan baru yang sesuai dengan naluri mereka.”

“Apakah kita harus mengenalkan kepada mereka takhayul-takhayul baru?”

“Tentu saja tidak,” kata Abdul Malik Israil, “Mereka harus kita bawa secara perlahan-lahan untuk mengenal Tauhid melalui tahapan-tahapan, yaitu melalui pengenalan kekuatan gaib doa, hizb, wafak, dan khasiat ayat-ayat al-Qur’an untuk keperluan hidup sehari-hari. Aku kira, dengan cara itu mereka akan dapat kita arahkan ke pusat Kebenaran, meski harus melewati jalan berliku dan berbelit-belit.”

“Sesungguhnya, aku khawatir mereka akan terperangkap ke lingkaran takhayul lain. Tetapi, jika itu yang harus dilakukan maka sebaiknya engkau beserta Syaikh Ibrahim Akbar dan Syaikh Bentong bekerja sama membina mereka ke arah itu. Engkau bisa mengajari orang-orang dengan amalan-amalan yang pernah dijalankan Bani Israil di masa lampau, yang menggunakan bahasa Suryan (bahasa Arab kuno). Biarlah Syaikh Ibrahim Akbar dan Syaikh Bentong mengajari mereka tentang wafak dan hizb. Aku sendiri akan mengajar sasyahidan, karena aku tidak pandai dalam hal hizb, wafak, doa, dan pengenalan khasiat ayat-ayat al-Qur’an. Aku hanya mengajarkan sasyahidan sebagaimana tugas itu dibebankan Bhayangkari Islah kepadaku.” Abdul Jalil tiba-tiba teringat pada sosok Dang Hyang Semar, yang bagian terbesar di antara pengikutnya adalah kalangan Tu-gul yang awam dan hidupnya penuh dilingkari gegwantuhuan. Akankah Islam mengalami nasib seperti Kapitayan yang diajarkan Dang Hyang Semar, tanyanya dalam hati, yakni hanya dijadikan keyakinan “topeng” oleh kalangan awam yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Yang Mahatunggal.

Di tengah kegelapan malam Kematian membentangkan sayap dan mencengkeramkan kuku-kuku tajamnya di atas langit Caruban Larang, memperdengarkan suara-Nya yang melengking, meruntuhkan nyali seluruh makhluk hidup. Meski tidak semua orang mengetahui apa yang disebut Kematian, bagi mereka yang waskita, Kematian adalah sisi lain dari Kehidupan. Kematian dan Kehidupan ibarat sosok dan bayangan yang berhadap-hadapan di depan cermin yang sama. Sebagaimana Kehidupan yang tak pernah kekurangan dan berkurang dalam menumbuhkan segala sesuatu yang hidup, Kematian pun tidak pernah kekenyangan dan tidak pernah pula terpuaskan, meski setiap waktu Dia melahap jiwa-jiwa segala sesuatu yang hidup.

Di tengah intaian Kematian, di antara kesenyapan dan kegelapan yang melingkari Kuta Caruban, Abdul Jalil menggandeng puterinya menyusuri jalanan yang lengang. Di depannya berjalan Wiku Suta Lokeswara, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Abdul Malik Israil, Syarif Hidayatullah, Raden Sulaiman, dan Raden Qasim. Sepanjang menyusuri jalan-jalan tampaklah bahwa Kuta Caruban benar-benar ditinggalkan oleh sebagian besar penghuninya. Rumah dan bangunan yang teronggok di tengah kegelapan terlihat bagaikan bayangan hantu. Satu dua memang terlihat nyala pelita, namun selebihnya hanya kegelapan yang mengambang di permukaan bumi bersama selimut kabut.

Sekalipun pada malam hari Kuta Caruban sunyi dan lengang, jangan dikira orang tak dikenal dapat bebas masuk ke rumah-rumah yang kosong ditinggal penghuninya. Berpuluh-puluh dan bahkan beratus-ratus pasang mata setidaknya mengintai setiap gerakan di tengah kegelapan. Sesekali terlihat bayangan-bayangan hitam bergerak sangat cepat dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Andaikata saat itu ada orang tak dikenal yang berniat jahat hendak mencuri atau menjarah kuta, dapat dipastikan mereka akan berhadapan dengan Kematian. Bahkan, karena keadaan itu para pemilik rumah yang sedang mengungsi pun tidak ada yang berani ke kuta dan masuk ke rumahnya pada malam hari.

Ketika Abdul Jalil menanyakan keadaan yang begitu mencekam di Kuta Caruban kepada Sri Mangana, ia diberi tahu jika mereka yang berkeliaran di malam hari itu adalah prajurit-prajurit Caruban. Jumlah mereka sekitar seribu orang. Mereka memang disiagakan untuk menjaga keamanan di kuta. Siang hari mereka ditugaskan berjalan seorang-seorang dari satu tempat ke tempat yang lain secara bergilir. Setiap kali mereka sampai di tempat yang ditentukan, mereka akan berganti pakaian dan berjalan lagi ke tempat yang lain. Dengan cara itu, pada pagi dan siang hari Kuta Caruban menjadi semarak seolah-olah masih dihuni oleh banyak penduduk. Menjelang sore, sebagian di antara prajurit-prajurit itu akan berbaris dengan pakaian prajurit menuju Pekalipan.

Siasat menempatkan seribu prajurit di Kuta Caruban, menurut Sri Mangana, terpaksa dilakukan karena sejak hari kedua pertempuran, Kuta Caruban sudah mulai ditinggalkan penduduk yang mendengar berita-berita menyeramkan tentang keganasan perang. Memasuki hari kelima terjadi lagi pengungsian lebih besar ketika tersebar bahwa Abdurrahman Ling Tan gugur. Saat itu tidak peduli penduduk Cina pengikut Abdul Karim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien, semua beramai-ramai meninggalkan Kuta Caruban. Memasuki hari ketujuh pertempuran, penduduk asal Baghdad di Kalijaga pengikut Syaikh Duyuskhani bersama penduduk Sunda dan Jawa ikut kabur meninggalkan kuta. Sebagian bergerak ke arah selatan, ke pantai Mundu dan Pangarengan, sebagian lagi ke arah utara, ke pantai Kalisapu dan Muara Jati.

Sri Mangana sendiri mengaku tidak menduga jika pertempuran akan terjadi secepat itu. Lantaran itu, akunya, ia sempat kelabakan menempatkan pasukan Caruban Larang yang berjumlah sekitar 30.000 orang untuk menjaga perbatasan yang begitu panjang. Pada saat pecah pertempuran di Bobos antara pasukan Rajagaluh dan Kuningan, ia mengutus Abdurrahman Ling Tan dan Abdul Karim Wang Tao untuk membantu pasukan Kuningan dengan kekuatan sekitar tiga ratus laskar. “Kekuatan Rajagaluh terlalu besar untuk dilawan Kuningan meski ditambah tiga ratus laskar. Sebab, Rajagaluh mendapat bantuan pasukan dari Talaga dan Galuh Pakuan. Akhirnya, pasukan Kuningan dan laskar Caruban berhasil dipukul mundur dan pecah menjadi dua. Pasukan Kuningan terpukul mundur ke selatan hingga ke Singkup. Sedangkan laskar yang dipimpin Abdurrahman Ling Tan dan Abdul Karim Wang Tao terpukul mundur hingga ke Plumbon. Bahkan, Abdurrahman Ling Tan gugur saat menghadang gerak maju musuh di Warugede,” kata Sri Mangana memaparkan lika-liku jalannya pertempuran.

“Apakah Rajagaluh menyerang dengan mendadak tanpa alasan sehingga Ramanda Ratu tidak siap menghadapinya?” tanya Abdul Jalil meminta penjelasan. “Kenapa pula yang bertempur adalah pasukan Kuningan? Dan bagaimana mungkin pertempuran pertama pecah di Bobos, yang termasuk ke dalam wilayah Palimanan?”

“Ya, itu semua gara-gara si Angga, wali nagari Kuningan yang tidak dapat menahan diri,” Sri Mangana memaparkan. “Saat dia hendak ke Giri Amparan Jati untuk memberi tahu Syarif Hidayatullah bahwa adik perempuannya, Ong Tien, istri Syarif Hidayatullah, telah melahirkan seorang putera, ia bertemu dengan wahuta (pemungut pajak) Rajagaluh, Ki Dipasara. Ki Dipasara ingin menemui Syarif Hidayatullah untuk membicarakan kewajiban membayar pajak kepada Yang Dipertuan Rajagaluh. Namun, Syarif Hidayatullah tidak ada di tempat. Penasaran mengetahui pejabat Rajagaluh berada di Giri Amparan Jati, Angga pun meminta penjelasan Ki Dipasara tentang kehadirannya di situ. Jawaban Ki Dipasara yang menyatakan bahwa kehadirannya di situ untuk kepentingan memungut pajak dari Giri Amparan Jati menyulut amarahnya. Menurutnya, Giri Amparan Jati adalah bagian dari Caruban Larang sehingga Rajagaluh tidak berhak memungut pajak. Lalu terjadi selisih paham yang berujung pecahnya peperangan.”

“Berarti pihak Rajagaluh sengaja mencari gara-gara.”

“Itu memang bagian dari perang siasat Rajagaluh. Tetapi, si Angga rupanya tidak bisa menahan sabar. Dia terpancing. Bahkan yang sangat aku sesalkan, dia memimpin pasukan Kuningan untuk menyerang pasukan Rajagaluh yang berpangkalan di Bobos tanpa memberi tahu aku,” kata Sri Mangana.

“Jadi, pihak Kuningan yang memulai serangan?” tanya Abdul Jalil kaget.

“Itulah kecerobohan anak muda yang terlalu bangga diri dan cenderung meremehkan orang lain. Angga sangat yakin bahwa sekuat apa pun pasukan kafir akan dapat dihancurkannya dengan pedang. Dan ternyata dia terkejut ketika pasukannya dihancurkan pasukan Rajagaluh di Bobos. Bahkan, dia mengaku seperti bermimpi saat menyaksikan pasukan yang dibanggakannya lari tunggang langgang dari medan tempur,” kata Sri Mangana.

“Tetapi, ananda dengar si Angga sampai sekarang ini masih memimpin pasukan di Singkup, sedangkan laskar muslim dipimpin Abdulkarim Wang Tao dan Abdul Razaq Wu Lien bertahan di Plumbon dan Jamaras. Sementara itu, laskar pimpinan Syaikh Duyuskhani bertahan di Pancalang.”

“Aku memang menghukum Angga dengan menempatkannya sebagai pemimpin perang pasukan Kuningan. Aku tidak ingin Caruban Larang terlibat pertempuran langsung dengan Rajagaluh. Karena itu, yang membantu pasukan Kuningan adalah laskar-laskar dan prajurit-prajurit yang menyamar sebagai laskar,” ujar Sri Mangana.

“Berarti perang ini hanya perang antara Kuningan dan Rajagaluh?” tanya Abdul Jalil heran.

“Ya. Tetapi, akhirnya nanti akan melibatkan Caruban. Karena itu, kita semua saat ini dituntut sabar dan kuat menahan tekanan-tekanan pihak luar yang berusaha memancing kita ke perang terbuka. Sekarang ini kita masih memiliki waktu untuk memperkuat pertahanan,” kata Sri Mangana.

Mendengar penjelasan Sri Mangana, bukan hanya Abdul Jalil yang kagum dengan kecerdikan sang kalifah dalam menyiasati keadaan yang genting itu, Wiku Suta Lokeswara yang mantan pejabat tinggi Majapahit pun tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji langkah-langkah cemerlang tersebut. Bahkan, semua hadirin mendecakkan mulut penuh kekaguman ketika Sri Mangana memaparkan bagaimana ia menata 30.000 orang prajuritnya untuk menghadapi ancaman dari Galuh Pakuan, Talaga, Rajagaluh, dan Dermayu yang sewaktu-waktu dapat menyerang wilayah Caruban Larang. Dengan luasnya wilayah Caruban Larang dan ancaman musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat, sebenarnya keberadaan 30.000 orang prajurit tidaklah berarti apa-apa, namun dengan siasat yang sulit dibayangkan, Sri Mangana telah menatanya sebagai kekuatan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Abdul Jalil sendiri sangat menyayangkan kecerobohan wali nagari Kuningan yang telah memulai perang. Namun, ia paham mengapa Angga sangat berani mengambil tindakan tanpa sepengetahuan Sri Mangana. Mereka mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat. Ibu Angga, Ratu Siliwangi, adalah kakak lain ibu Sri Mangana yang sejak kecil diasuh bersama di Caruban. Ong Wi, ayah Angga, adalah putera saudagar Palembang bernama Ong Te yang kenal dengan Prabu Guru Dewata Prana melalui Tuan Milinadi, saudagar Palembang yang berniaga di negeri Sunda. Ong Wi dapat menjadi gedeng di Kuningan karena menikahi Ratu Siliwangi. Pernikahan Ratu Siliwangi dengan Ong Wi, meski disetujui Prabu Dewata Prana, tidak disukai oleh saudara-saudaranya. Itu sebabnya, saudara-saudara Ratu Siliwangi memanggil Ong Wi dengan sebutan Ngewalarang yang bermakna “orang yang paling dibenci”. Dari perkawinan dengan Ratu Siliwangi, Ong Wi mendapat dua orang anak yaitu Angga dan Selalarang. Sedang dari istrinya yang lain, yaitu seorang perempuan Cina, Ong Wi memiliki tiga orang anak, Ong Tien, Anggasura, dan Anggarunting. Rupanya, kedekatan darah dengan Sri Mangana itulah yang membuat Angga sering melakukan tindakan-tindakan yang berlebihan dan kadangkala tidak terpuji.

Selat Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 14:30LT

08. Menyiapkan Perang Peradaban “

Benarkah keadaan di Majapahit jauh lebih buruk dibanding Sunda?” tanya Sri Mangana kepada Abdul Jalil. “

Ananda kira demikianlah keadaannya,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Di sana orang hidup tanpa naungan hukum yang pasti. Para pejabat mengisi hari-hari hidupnya dengan pesta pora dan memeras kawula. Padepokan dan asrama terlantar. Kawula hidup dalam kemiskinan karena diburu bermacam-macam pajak. Bahkan, kesombongan para adipati yang suka berperang makin menjerumuskan kehidupan di Majapahit ke jurang kebinasaan. Semua orang ingin menang sendiri. Semua orang ingin menjadi penguasa tanpa mengukur kemampuan diri.” “

Menurutmu, kenapa keadaan itu bisa terjadi?” tanya Sri Mangana.

“Pertama-tama, nilai-nilai yang dianut di Majapahit sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, terutama setelah generasi-generasi penguasa makin merosot karena dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Kedua, lingkaran pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan yang berjiwa kerdil dan berwawasan sempit sangat mempengaruhi kebijakan maharaja dan roda pemerintahan. Hukum diperjualbelikan. Agama diperdagangkan. Jabatan dijadikan sarana utama untuk memperkaya diri. Kejahatan dilakukan secara kait-mengait dan sambung-menyambung, bahkan acap kali dilakukan dengan cara bergotong-royong,” kata Abdul Jalil.

“Apakah menurutmu peranan pejabat-pejabat yang berasal dari kalangan kebanyakan itu sangat besar dalam menjerumuskan Majapahit ke jurang kebinasaan?” Sri Mangana meminta penjelasan.

“Ananda menyimpulkan begitu. Sejak para penegak hukum, pejabat tinggi kerajaan, nayakapraja, dan punggawa berdarah biru disembelih beramai-ramai oleh para kawula yang mengamuk di kutaraja saat terjadi penyerbuan Prabu Girindrawarddhana, keagunagan dan kemuliaan Majapahit benar-benar sudah berakhir. Orang-orang dari kalangan kebanyakan yang menggantikan kedudukan mereka terbukti hanyalah golongan berderajat sampah yang berjiwa kerdil dan berakhlak bejat. Sehingga setinggi apa pun jabatan yang bisa mereka raih di pemerintahan, tetap tidak bisa mengubah jiwa dan akhlak mereka. Semakin tinggi jabatan mereka, semakin jahat dan nista perbuatan yang mereka lakukan.”

“Jika memang Majapahit mengalami kehancuran karena tampilnya orang-orang kebanyakan,” kata Sri Mangana dengan suara yang lain, “bagaimana pula dengan gagasanmu tentang wilayah al-Ummah?”

Abdul Jalil tersentak kaget ketika ditanya balik oleh Sri Mangana. Setelah diam beberapa jenak, ia berkata, “Setelah ananda berkeliling ke berbagai tempat di Majapahit dan membicarakan gagasan wilayah al-Ummah dengan berbagai pihak yang mumpuni, ananda telah menyadari sejumlah kelemahan dari gagasan tersebut. Itu sebabnya, pelaksanaan wilayah al-Ummah di Majapahit pun disesuaikan dengan keadaan.”

“Apakah di sana gagasanmu itu diterima dan dijalankan?”

“Berkat dukungan sepupu jauh ananda, Raden Ali Rahmatullah, di Majapahit telah terbentuk dua khilafah. Pertama-tama, para penguasa Madura sepakat memilih Sayyid Husayn sebagai kalifah Madura. Setelah itu, para penguasa pesisir Nusa Jawa sepakat memilih Prabu Satmata sebagai kalifah di Majapahit,” papar Abdul Jalil.

“Berarti, semua unsur khilafah di Madura dan Majapahit itu diduduki oleh para bangsawan darah biru. Benarkah itu, o Puteraku?”

“Benarlah demikian, o Ramanda Ratu.”

“Jika demikian, apa beda antara wilayah al-Ummah dan kerajaan?”

“Gambaran wadag khilafah dan kerajaan bisa saja sama. Tetapi, tata aturan dan daya hidup di antara keduanya jelas sangat berbeda. Ibarat sebuah lomba pacuan kuda, tata aturan kerajaan menetapkan bahwa kuda yang boleh mengikuti hanyalah kuda asal gurun yang warna bulunya hitam, coklat, dan putih. Kuda-kuda asal gurun yang memiliki warna jragem dan abu-abu dilarang ikut pacuan. Sementara, tata aturan khilafah tidak membatasi asal-usul kuda, apakah kuda Arab, kuda Persia, ataukah kuda Cina, bahkan kuda warna apa pun boleh ikut pacuan. Yang terkuat dan terperkasa di antara kuda-kuda itulah yang bakal menjadi pemenang.”

“Selama gagasan khilafah ini diterapkan di Caruban dan Majapahit, memang terbukti hampir seluruh jabatan dipegang oleh ningrat darah biru. Tetapi, pada masa datang tidak tertutup kemungkinan adanya tokoh dari kalangan kebanyakan yang bisa naik menjadi bagian terpenting dari khilafah. Selama perjalanan ananda ke sepanjang pesisir utara Nusa Jawa dan pedalaman Majapahit, ananda telah melihat gerak langkah orang-orang kebanyakan dalam berpacu menaiki tangga kekuasaan. Patih Mahodara yang berkuasa di Daha, misalnya, asal-usulnya adalah seorang abdi dari Adipati Pamadegan. Bahkan ananda sempat berbincang-bincang dengan Adi-Andayaningrat, adipati Pengging, yang tiada lain adalah putera Ki Bajul Sengara, buyut di Wisaya Kedung Srengenge. Dia diangkat menjadi adipati dan dijadikan menantu oleh Prabu Kertawijaya karena pengabdian dan kemampuannya yang tinggi dalam membela panji-panji Majapahit.”

“Sesungguhnya, dengan gagasan khilafah yang ananda tawarkan, berbagai ketidakmungkinan yang tak teratasi dalam tatanan kerajaan akan dapat dilampaui. Cerita Karna anak kusir Adiratha, misalnya, tidak perlu menumbuhkan dendam berkelanjutan akibat putera-putera Pandu menghinanya sebagai orang yang tak layak mengikuti lomba karena bukan dari kalangan ningrat darah biru. Dengan demikian, jelaslah bahwa gagasan khilafah yang ananda tawarkan adalah gagasan yang memberikan kemungkinan bagi siapa saja yang mau berjuang keras untuk meraih kemenangan. Tidak peduli apakah orang seorang dari kalangan brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria, mleccha, mambang, kewel, domba, bahkan potet sekalipun dapat menjadi pimpinan, asal memenuhi prasyarat-prasyarat dan berhasil melampaui ujian-ujian yang menghadang di tengah jalan.”

“Pengalaman ananda selama berada di pedalaman Majapahit mengajarkan bahwa tetesan darah biru yang seharusnya menduduki tempat tertinggi, sering kedapatan terpuruk ke jurang hina karena dilemahkan dan dilumpuhkan oleh kemewahan dan sanjungan. Sebaliknya, mereka yang tak jelas asal-usulnya dapat menjadi gagah perkasa karena dikuatkan oleh ujian dan tantangan hidup yang keras. Karena itu, ananda berharap agar gagasan khilafah ini tidak dianggap sebagai usaha memberi kesempatan luas bagi kalangan kebanyakan untuk berkuasa dan menutup kesempatan bagi kalangan darah biru untuk melanggengkan kekuasaan. Sekali-kali tidak boleh dianggap begitu. Gagasan khilafah memberi kesempatan kepada semua kalangan tanpa membeda-bedakan asal usul. Jika ternyata yang memegang tampuk kekuasaan di dalam khilafah adalah para ningrat darah biru maka itulah keniscayaan yang harus diakui bahwa mereka adalah orang-orang yang mewarisi keunggulan. Dan, hal itu hanya mungkin terjadi dengan perjuangan keras sesuai tata aturan yang disepakati,” kata Abdul Jalil.

“Menurutmu, butuh waktu berapa lama kalangan kebanyakan bisa mengisi jabatan-jabatan penting di dalam wilayah al-Ummah di Caruban Larang ini?” tanya Sri Mangana.

“Ananda tidak bisa mengira-ngira,” kata Abdul Jalil dengan suara yang lain. “Sebab, sampai saat sekarang ini ananda masih belum melihat satu pun di antara masyarakat ummah yang berasal dari kalangan kebanyakan yang mampu membebaskan diri dari jiwa budak yang menjajahnya. Mereka masih suka meminta daripada memberi. Mereka masih suka tinggal di alam mimpi daripada menghadapi dunia nyata. Mereka masih suka dilindungi daripada melindungi. Mereka masih suka menghamba daripada mempertuan diri sendiri.”

“Dan tahukah engkau, kenapa Kuta Caruban sekarang ini kosong ditinggalkan penduduk?”

“Abdul Jalil tertawa kecut dan berkata, “Karena bagian terbesar penduduknya adalah kalangan kebanyakan yang berjiwa budak, yaitu orang-orang yang mengkhayal hidup mapan di dunia, namun menolak kerja keras dan enggan menerima akibat samping yang tidak menyenangkan dari yang didambakannya. Bahkan, saat melewati gubuk-gubuk dan tenda-tenda pengungsi di Kalisapu, ananda mendengarkan sendiri bagaimana mereka menyalahkan dan mencaci maki ananda sebagai penyebab kesengsaraan mereka.”

“Tapi, engkau tak perlu khawatir,” kata Sri Mangana, “sebab apa yang engkau rintis di Lemah Abang telah menunjukkan hasil. Warga di sana telah berubah menjadi penduduk yang gagah berani. Menurut laporan-laporan yang aku terima, di bawah pimpinan Sang Lokajaya, mereka berani menghadang dan merampok para bangsawan Galuh Pakuan. Tanpa kenal takut mereka melintasi perbatasan Caruban-Galuh Pakuan seperti anak-anak singa melompati sungai kecil di padang perburuan.”

“Mohon ampun, Ramanda Ratu. Jika boleh tahu, siapakah Sang Lokajaya yang membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung itu? Kenapa pula dia bisa memimpin penduduk Lemah Abang tanpa sepengetahuan ananda?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Raden Sahid.”

“Raden Sahid putera Adipati Tuban?” gumam Abdul Jalil terkejut.

Sri Mangana mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi Ramanda Ratu, menurut ananda, usia Raden Sahid masih terlalu muda untuk tugas seperti itu.”

“Apakah engkau juga berpikir bahwa dia terlalu muda untuk menjadi wali nagari Kalijaga? Bukankah selama ini tidak ada satu bukti yang menunjuk bahwa Raden Sahid telah diuji oleh satu tantangan berat sehingga membuatnya pantas menduduki jabatan wali nagari Kalijaga? Nah, tugas yang aku bebankan kepadanya itu adalah bagian dari langkahku untuk menguji kepantasannya menjadi wali nagari Kalijaga. Bukankah itu tidak bertentangan dengan gagasanmu?” kata Sri Mangana.

“Sungguh benar apa yang Ramanda Ratu lakukan.”

“Di sana pun aku tidak melepaskannya sendiri,” kata Sri Mangana. “Tun Abdul Qadir, wali nagari Sindangkasih, aku beri kepercayaan untuk mendampingi dan membimbingnya. Sebab, pemberontak asal pulau Upih di Malaka itu aku ketahui kemampuannya sangat mengagumkan dalam bertempur maupun mempengaruhi orang-orang. Aku berharap Raden Sahid dapat belajar dengan baik kepadanya.”

Sekalipun rasa kasih sebagai ayah dan hasrat menunaikan amanah istri tercinta sangat kuat menghendaki Abdul Jalil mengasuh sendiri puterinya, ia dengan berat hati akhirnya menyerahkan puterinya kepada ibunda asuhnya, Nyi Indang Geulis, dan kakaknya, Nyi Muthmainah. Ia sadar, sebagai orang yang disibukkan oleh berbagai urusan terkait dengan perubahan yang menggelombang, kehadiran seorang puteri kecil yang membutuhkan perhatian akan sangat mengganggu tugas-tugasnya. Di samping itu, ia tidak memiliki cukup pengalaman dalam mendidik seorang anak perempuan. Karena itu, permintaan ibunda asuh dan kakaknya untuk mengasuh Zainab tidak bisa ditolaknya.

Keputusan Abdul Jalil untuk menyerahkan pengasuhan puterinya kepada ibunda asuh dan kakaknya terbukti merupakan langkah yang tepat. Sebab, saat ia dan Raden Sulaiman menginjakkan kaki di Lemah Abang, di sana terlihat perubahan yang sangat mengejutkan. Desa yang dibuka dan dikembangkannya itu tiba-tiba berubah menjadi hunian orang-orang kasar dan ganas, yaitu para begal dan bromocorah. Setiap orang yang ditemuinya di jalan-jalan dan bahkan di luar Lemah Abang terlihat membawa kelewang dan tombak terhunus. Wajah mereka kotor dan tidak ramah. Abdul Jalil teringat pada kata-kata Sri Mangana bahwa sejak Japura hingga Luragung kehidupan manusia menjadi tidak aman karena dikacaukan oleh kaki tangan Sang Lokajaya, begal sakti mandraguna. Dan yang terbanyak di antara kaki tangan Sang Lokajaya adalah orang-orang asal Lemah Abang yang kejam dan ganas.

Ia bersyukur puterinya ditinggalkan di Kuta Caruban. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan jika sang puteri yang terbiasa hidup dalam kelemahlembutan para perempuan itu harus tinggal di lingkungan Lemah Abang yang berubah kasar dan menakutkan. Ya, Lemah Abang yang penduduknya dikenal ramah dan rendah hati itu kini telah berubah menjadi tempat menyeramkan. Bahkan yang sulit dibayangkan, bagaimana Raden Sahid yang berpenampilan santun dan lemah lembut itu bisa berperan menjadi pemimpin para begal dan bromocorah yang ganas.

Abdul Jalil sendiri sempat terkejut saat menginjakkan kaki di Japura. Sebab, belum lagi ia melintasi batas gerbang Japura tiba-tiba ia didatangi beramai-ramai oleh sekitar tiga puluh begal dan bromocorah yang kasar dan menakutkan. Ia sempat menarik jubah Raden Sulaiman yang berancang-ancang lari akibat mengira akan diserang oleh orang-orang kasar itu. Ternyata para begal dan bromocorah kasar itu tidak menyerang rombongannya. Sebaliknya, mereka mendekat ke arahnya dengan berbaris ke belakang. Kemudian, sambil merunduk hormat mereka menyalami dan mencium tangannya secara bergantian. Mereka memperkenalkan diri sebagai penduduk Lemah Abang, murid-murid Abdul Jalil. Mereka mengaku mendapat tugas khusus dari wali nagari Kalijaga untuk membuat kekacauan antara Japura hingga Luragung.

“Tahukah kalian, siapakah yang memimpin gerakan ini?” Abdul Jalil menguji.

“Kami di bawah perintah Sang Lokajaya, Tuan Syaikh,” jawab mereka nyaris serentak.

“Tahukah kalian siapa Sang Lokajaya itu?” tanya Abdul Jalil.

Mereka menggelengkan kepala dan saling memandang satu sama lain. Abdul Jalil tersenyum menyaksikan keluguan dan kepolosan mereka. Diam-diam ia sangat memuji kehebatan Sri Mangana dalam mengatur siasat perang yang sebelumnya tak pernah dibayangkannya. Rupanya, pikir Abdul Jalil, dengan cara membuat kekacauan hanya dibutuhkan kekuatan sekitar dua ribu orang untuk menjaga perbatasan Caruban-Galuh Pakuan yang sangat panjang. Bahkan, para pengacau yang sebagian adalah warga Lemah Abang itu tidak mengetahui jika pemimpin mereka , Sang Lokajaya, sejatinya adalah Raden Sahid, wali nagari Kalijaga sendiri.

“Berapa jumlah seluruh warga Lemah Abang yang ikut berjuang?” tanya Abdul Jalil.

“Tujuh ratus tiga puluh orang, Tuan Syaikh.”

“Bukankah jumlah penduduk Lemah Abang lebih dari seribu orang?” tanya Abdul Jalil minta penjelasan. “Ke mana pula yang lain?”

“Mengungsi ke Pengarengan dan Mundu, Tuan Syaikh.”

“Bagaimana dengan rumah, tanah, dan harta benda mereka?”

“Kami dititipi untuk menjaganya, Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil menggertak gigi menahan marah. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, “Mulai sekarang semua tanah, rumah, dan harta benda yang ada di Lemah Abang adalah milik kalian yang telah berjuang mempertahankan hak milik dengan gagah berani. Mereka yang berjiwa pengecut dan mau menikmati kemapanan tanpa mau berkorban tidak lagi memiliki hak apa pun di Lemah Abang. Jika kelak keadaan sudah aman dan mereka datang untuk meminta kembali hak miliknya, katakan kepada mereka bahwa segala sesuatu yang ada di atas bumi Lemah Abang tidak diwariskan kepada para pemalas berjiwa pengecut. Itulah ketentuan yang berlaku di Lemah Abang. Aku berharap kalian bisa membagi secara adil apa yang kalian terima ini sesuai peran dan jasa kalian dalam mempertahankan desa kalian.”

Setelah berbincang-bincang dengan para pengikutnya yang berperan menjadi orang-orang kasar dan ganas, Abdul Jalil dan Raden Sulaiman pergi ke Lemah Abang. Dengan diiring dalam arak-arakan panjang, ia menuju pondoknya yang terletak di samping Tajug Lemah Abang. Namun saat tiba di sana, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di pondoknya ternyata sudah menunggu saudara sepupunya, Syaikh Bayanullah dan istri, serta imam Masjid Demak, Raden Mahdum Ibrahim. Mereka sedang berbincang-bincang dengan Tun Abdul Qadir dan Raden Sahid tentang berbagai hal mengenai perubahan di Caruban.

Setelah saling melepas rindu, Syaikh Bayanullah menuturkan jika ia sempat terkejut saat kali pertama menginjakkan kaki di Lemah Abang. “Menurut kabar, engkau telah menjadi seorang guru agama di Lemah Abang. Namamu dikenal sebagai Syaikh Lemah Abang. Tapi, sewaktu ke sini aku justru dihadang oleh orang-orang kasar yang membawa senjata. Untung saja aku menyebut namamu dan mengaku saudaramu sehingga aku diantar ke sini. Sepanjang perjalanan aku sempat berpikir jangan-jangan engkau bukan guru agama, melainkan pemimpin lanun. Aku baru paham setelah saudara kita, Tun Abdul Qadir, menjelaskan,” Syaikh Bayanullah tertawa terkekeh-kekeh.

Ternyata, bukan hanya Syaikh Bayanullah yang dihadang anak buah Sang Lokajaya, bahkan Raden Mahdum Ibrahim yang baru kembali dari Pasir Luhur pun dihadang di hutan Jatisari dekat Luragung.

“Atas nama Sri Mangana, kalifah Caruban Larang, aku memohonkan maaf. Mereka melakukan itu demi tugas negara,” kata Abdul Jalil.

“Kami sudah tahu itu. Aku pribadi benar-benar bangga kepada para pemberani ini. Bahkan, nama Sang Lokajaya pertama kali aku dengar saat aku berada di Pasir Luhur,” kata Raden Mahdum Ibrahim.

“O ya, bagaimanakah dengan berita Yang Dipertuan Pasir Luhur?” tanya Abdul Jalil. “Apakah beliau berkenan menolak tawaran Galuh Pakuan untuk bersekutu?”

“Alhamdulillah, adipati Pasir Luhur menyatakan tidak akan membantu Galuh Pakuan. Bahkan dia menyatakan akan mengirimkan bala bantuan untuk mendukung Caruban Larang,” lapor Raden Mahdum Ibrahim.

“Pangeran Banyak Belanak bersedia mendukung Sri Mangana?” gumam Abdul Jalil heran.

“Ya, terutama setelah aku menyampaikan pesan dari Adipati Demak bahwa Yang Dipertuan Pasir Luhur akan memperoleh wilayah Galuh Pakuan jika mendukung Caruban Larang,” ujar Raden Mahdum Ibrahim.

“Bagaimana kita bisa mempercayainya jika kita tahu bahwa dia bersaudara dengan penguasa Galuh?”

“Dia sudah mengikrarkan keislaman di hadapanku,” kata Raden Mahdum Ibrahim.

“Alhamdulillah,” kata Abdul Jalil. “Mudah-mudahan dia membantu perjuangan Caruban bukan semata-mata karena ada janji untuk memberikan Galuh Pakuan kepadanya.”

“Kalaupun dia akhirnya bisa menguasai Galuh Pakuan, aku kira tidak keliru. Dia banyak bercerita kepadaku tentang nasibnya yang disia-siakan oleh ayahandanya, Prabu Guru Dewata Prana. Dia merasa dengan dijadikan menantu raja Pasir Luhur sesungguhnya ayahandanya telah membuangnya. Lantaran itu, dibanding saudara-saudaranya, dia merasa tidak beroleh apa-apa dari ayahandanya. Hanya karena kebetulan semua keturunan adipati Pasir Luhur perempuan maka dia berkesempatan menggantikannya saat sang mertua meninggal dunia,” kata Raden Mahdum Ibrahim menjelaskan.

Sudah hampir tujuh puluh usia Syaikh Bayanullah. Sebuah hitungan yang tidak sedikit bagi usia manusia. Namun, di usianya yang senja itu tubuh Syaikh Bayanullah masih terlihat kukuh. Baik saat berjalan, duduk, maupun berbicara tidak ada kesan bahwa dalam lima atau sepuluh tahun mendatang tubuhnya bakal tumbang. Dia kukuh, meski kerut-kerut kekeriputan sudah membayangi wajahnya. Gigi geliginya masih tampak utuh dan mengkilat hitam karena dipoles air sirih yang dikunyahnya setiap hari. Bahkan yang paling menakjubkan, meski sudah hidup lebih dari tiga dasawarsa di Makah, dia tetap tidak kehilangan jati diri sebagai orang Melayu yang teguh memegang adat istiadatnya.

Keberadaan Syaikh Bayanullah yang bagaikan “tak lapuk karena hujan dan tak lekang terkena panas” itu pada gilirannya mengilhami Abdul Jalil yang sedang mencari bentuk sempurna dari citra masyarakat ummah. Orang-orang yang teguh memegang citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah, kata Abdul Jalil dalam hati, yang seharusnya menjadi penanda utama anggota-anggota masyarakat ummah. Sebab, hanya orang-orang yang teguh dan ulet dalam menjaga citra diri seperti Syaikh Bayanullah itulah yang akan tahan di dalam menghadapi gempuran kawanan Dajjal yang bakal merusak dan memporakporandakan tatanan kehidupan, terutama tatanan keimanan umat manusia.

Abdul Jalil sadar bahwa kemungkinan terburuk dari perjuangan menegakkan tatanan baru itu adalah kekalahan pahit yang dialami para pembaharu di medan tempur. Apakah dengan kekalahan di medan tempur akan bermakna kegagalan bagi usaha-usaha pembaharuan? Tentu saja tidak demikian. Sebab, kalah di medan tempur bukan berarti takluk di palagan pemikiran dan tatanan hidup. Itu berarti, piranti-piranti “perang peradaban” hendaknya dipersiapkan sebaik-baiknya untuk memperkuat benteng jiwa para pembaharu. Dan piranti terdahsyat untuk itu adalah adab dan adat istiadat yang justru tidak begitu dalam dipahami Abdul Jalil.

Sadar akan kelemahan diri yang tidak begitu mendalam memahami adab dan adat istiadat, Abdul Jalil pun memohon kepada Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim untuk mengatasi masalah tersebut. Syaikh Bayanullah sudah terbukti tidak hanya mengetahui dengan mendalam adat istiadat Melayu, tetapi pandai pula bercerita tentang riwayat hidup nabi-nabi dan menghafal di luar kepala dongeng-dongeng Melayu dan Persia. Dengan kemampuannya itu, Syaikh Bayanullah diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai baru untuk diselaraskan dengan nilai-nilai lama. Nilai-nilai gabungan itulah yang akan disebarluaskan dan dijadikan acuan utama dalam menegakkan nilai baik dan buruk, benar dan salah, haram dan halal, serta pantas dan tidak pantas dalam kehidupan masyarakat ummah. Dengan kuatnya benteng pertahanan adab dan adat istiadat, masyarakat ummah dapat bertahan dalam menghadapi terpaan badai kehidupan dari berbagai penjuru dunia, termasuk prahara yang ditimbulkan oleh Dajjal kelak.

Syaikh Bayanullah tampaknya paham dengan kesulitan yang dihadapi saudara sepupunya itu. Itu sebabnya, dengan dibantu Raden Mahdum Ibrahim, Raden Sahid, dan Tun Abdul Qadir, ia menyiasati perubahan tatanan baru itu dengan menyiapkan piranti-piranti adab dan adat istiadat dalam menghadapi perubahan. Sebagai orang-orang yang pernah tinggal di Malaka, baik Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, Abdul Jalil, maupun Tun Abdul Qadir tidak menemui banyak kesulitan dalam menyatukan pandangan untuk menyiasati perubahan. Mereka sadar bahwa pertempuran dengan para penguasa Bumi Pasundan hanyalah suatu pertempuran kecil yang kemungkinan akan dimenangkan para pembaharu. Namun, pertempuran yang lebih dahsyat dalam menghadapi Dajjal di kelak kemudian hari, kecil kemungkinan para pembaharu bisa memenangkannya. Para pembaharu akan terjajah dan tertindas di bawah kekuasaan Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj, pengikutnya. Lantaran itu, untuk menghadapi kemungkinan terburuk tersebut dibutuhkan landasan iman yang kuat bagi umat islam untuk bertahan di bawah penindasan Dajjal. Untuk itu, mereka sepakat menetapkan pepatah Melayu “syarak bersendi adat dan adat bersendi syarak” sebagai dasar utama di dalam menata nilai-nilai dasar adab dan adat istiadat.

“Umat Islam hendaknya bisa meniru buah salak,” kata Syaikh Bayanullah mengambil ibarat. “Kulitnya hitam, buahnya putih, dan bijinya hitam. Jika dikupas, terlihat buah yang segar. Jika buah dimakan, tinggallah biji. Dan dari biji itu akan lahir salak-salak baru yang rasanya manis sepanjang masa. Karena itu, hendaknya iman orang Islam seperti biji salak yang keras, liat, dan tak bisa dimakan orang. Adab orang Islam hendaknya seperti buah salak yang manis dan segar. Dan penampilan orang Islam hendaknya seperti kulit salak yang tersusun rapi dan saling mengait menutupi jati dirinya.”

“Dengan meniru keberadaan buah salak maka siapa pun di antara makhluk yang ingin menguasai orang-orang Islam hendaknya bersedia untuk bersusah payah mengambilnya dari pohonnya yang penuh duri. Jika orang sudah berhasil mengambil buah salak maka ia harus mengupas terlebih dulu kulitnya. Setelah itu, ia baru memakan buah yang melindungi biji. Dengan demikian, para pemangsa salak hanya bisa mengunyah dan memamah buah salak untuk mengenyangkan perut dan memuaskan hasratnya. Orang tetap tidak bisa menyentuh biji salak. Demikianlah, keimanan orang-orang Islam hendaknya dipertahankan di balik lapisan adab dan adat istiadat.”

“Kami berharap buah-buah salak itu tetap menunjukkan asal tumbuhnya,” kata Raden Mahdum Ibrahim, “sehingga orang bisa mengetahui perbedaan salak Jawa, salak Sunda, dan salak Malaka. Dan masing-masing salak harus mengatakan, kamilah salak yang paling manis.”

Apa yang dikemukakan Syaikh Bayanullah dan Raden Mahdum Ibrahim pada hakikatnya tidak berbeda dengan apa yang dikemukakan Abdul Malik Israil al-Gharnatah. Ta’ashub (kebanggaan) terhadap keberadaan jati diri hendaknya dibangkitkan sebagai penanda keberagaman citra hidup manusia. Orang Jawa harus bangga dengan kejawaannya. Orang Sunda harus bangga dengan kesundaannya. Orang-orang Caruban yang berasal dari berbagai macam bangsa, harus bangga dengan keragamannya. Untuk itu, dibutuhkan piranti-piranti adab dan adat istiadat penanda keberadaan masing-masing puak bangsa. Namun, di atas semua usaha penyiapan piranti adab dan adat istiadat itu, Abdul Jalil tetap menganggap berbahaya keberadaan takhayul Campa yang ternyata sudah membaur dengan takhayul Cina, Sunda, dan Majapahit, yang terbukti melemahkan dan membodohkan manusia. Lantaran itu, ia diam-diam menyiapkan piranti khusus untuk menghadapi perkembangan takhayul-takhayul celaka itu dengan cara mengajarkan sasyahidan kepada masyarakat ummah melalui Lemah Abang-Lemah Abang yang tersebar di berbagai tempat, meski untuk itu ia harus menghadapi akibat besar; dimusuhi oleh kelompok-kelompok pemimpin yang ingin melestarikan kekuasaan dengan membodohkan masyarakat dengan takhayul.

Setelah merasa cukup menyiapkan piranti adab dan adat istiadat, sebagai salah satu ujian untuk mengukur keampuhannya, Syaikh Bayanullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Tun Abdul Qadir mendaulat Raden Sahid untuk menanamkan perangkat nilai-nilai itu kepada masyarakat yang tinggal di wilayah antara Japura dan Luragung. Sebagaimana Sri Mangana mendapuk Raden Sahid sebagai Sang Lokajaya, mereka mendapuk Raden Sahid sebagai amancangah menmen (tukang dongeng keliling) yang memperkenalkan dongeng-dongeng Melayu dan Persia di antara dongeng-dongeng Sunda. Hal itu dilakukan karena Raden Sahid ternyata tak kalah piawai dalam mendongeng dibanging Syaikh Bayanullah. Dengan tugas itu Raden Sahid akan menjalankan peran ganda yang berbeda, yaitu sebagai kepala begal dan bromocorah sekaligus sebagai tukang dongeng keliling. Sementara itu, Syaikh Bayanullah dengan Raden Sulaiman akan tinggal di Pajarakan di lereng Gunung Gundul untuk menyebarkan nilai-nilai baru itu kepada penduduk di perbatasan Caruban – Galuh – Talaga.

Pelabuhan Anping Tainan-Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 21:30LT

09. Ajaran Tentang Hidup dan Mati

Sekalipun cukup jauh dari garis depan medan tempur, selentingan berita sekecil apa pun di sana selalu sampai ke Lemah Abang. Rupanya, Tun Abdul Qadir diam-diam telah membentuk semacam lingkaran warta di berbagai tempat yang saling menyambung. Melalui lingkaran warta yang dikuasai kaki tangan pemberontak asal kampung pulau Upih di Malaka itulah semua perkembangan di garis depan pertempuran dapat diketahui bahkan hingga ke Lemah Abang.

Simpang-siur berita dari medan tempur yang sampai ke Lemah Abang ternyata sering menyedihkan dan bahkan menjengkelkan, terutama bagi Abdul Jalil. Sebab, berita-berita yang sampai ke Lemah Abang nyaris berisi kekonyolan-kekonyolan laskar muslim Caruban yang sulit dinalar. Suatu saat datang kabar yang memberitakan tunggang langgangnya laskar muslim Caruban dari medan tempur karena pasukan Rajagaluh dipimpin oleh Ki Gedeng Leuimunding. Pasalnya, nama Munding (Sunda: kerbau) dibayangkan sebagai kerbau. Ki Gedeng Leuimunding dikesankan sebagai manusia siluman berkepala kerbau. Sehingga, saat berhadapan dengan pasukan Leuimunding, mereka lari tunggang langgang sebelum bertempur dengan alasan takut menghadapi siluman kerbau.

Belum dingin berita kekonyolan laskar muslim Caruban itu, muncul berita menggembirakan tetapi juga menjengkelkan. Laskar muslim Caruban yang berhasil memukul mundur pasukan Rajagaluh di Jamaras tidak berani mengejar musuh yang menyeberangi sungai karena mereka meyakini bahwa siapa saja yang berperang lalu menyeberangi sungai itu akan kejatuhan sial. Keberhasilan mereka memukul mundur pasukan Rajagaluh diyakini akibat kesalahan pasukan Rajagaluh yang telah menyeberangi sungai. Sementara laskar Caruban di Plumbon diberitakan meninggalkan pangkalannya di Sindangmekar dan mundur hingga Cempaka gara-gara pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Ki Demang Surabangsa menyerang dari Girinatha. Laskar Caruban tidak saja ketakutan dengan kabar yang mengatakan bahwa gajah tunggangan Ki Demang Surabangsa adalah jelmaan Bhattara Gana, tetapi juga ketakutan karena mereka menyangka Ki Demang Surabangsa adalah titisan Sanghyang Girinatha.

Kekonyolan laskar muslim Caruban ternyata tidak hanya berlangsung di antara laskar-laskar muslim Sunda, Jawa, Cina, Campa, dan Melayu. Laskar muslim Caruban asal Baghdad yang dipimpin oleh Syaikh Duyuskhani ternyata terkena pengaruh takhayul pula. Mereka yang sejak lahir tinggal di Baghdad yang ramai dan gemerlapan ternyata mengalami tekanan yang sangat berat di pangkalan mereka yang terletak di hutan Pancalang. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba di antara mereka tersebar cerita-cerita tentang jin dan ruh jahat penunggu hutan yang suka mengganggu orang asing. Mereka menganggap perwira-perwira Rajagaluh yang tidak mempan ditusuk tombak dan ditebas pedang sebagai bukan manusia, melainkan setan. Akibatnya, sering kali mereka lari tunggang langgang saat mendapati kenyataan salah satu musuh mereka tidak terluka saat dipanah atau ditombak.

Tidak tahan mendengar berita-berita konyol tentang laskar muslim Caruban yang lari dari medan tempur karena takhayul, Abdul Jalil pergi ke Pancalang untuk menemui Syaikh Duyuskhani dan para pengikutnya. Di sana ternyata Abdul Jalil menemui Syaikh Duyuskhani dalam keadaan yang menyedihkan. Tubuhnya kurus, matanya cekung, pakaiannya kotor dan lusuh, suaranya serak, dan kalau berjalan dipapah oleh murid-muridnya. Kepada Abdul Jalil, guru agama yang pantang menyerah itu menyatakan kebingungannya menghadapi laskar yang dipimpinnya. “Segala usaha saya untuk membangkitkan semangat mereka sudah menemui jalan buntu. Mereka takut kepada sesuatu yang tidak berdasar. Satu kelompok demi satu kelompok lari dari medan tempur. Untung saudara ipar Tuan Syaikh dan pengikutnya datang sehingga laskar kita tidak lari,” kata Syaikh Duyuskhani.

“Mereka memang bukan prajurit. Karena itu, sulit berharap mereka bisa berani tempur seperti yang kita harapkan, meski berulang-ulang meyakinkan mereka dengan dalil-dalil,” kata Abdul Jalil.

“Sekarang ini terserah bagaimana cara Tuan Syaikh memacu mereka. Saya sudah tidak mampu meyakinkan mereka. Saya hanyalah guru agama yang tidak paham tentang perang,” kata Syaikh Duyuskhani pasrah. “Bahkan sebelum Tuan Syaikh datang kemari, saya baru saja menyerahkan kepemimpinan laskar kepada adik ipar Tuan Syaikh, Abdul Qadir al-Baghdady.”

Akhirnya, atas permohonan Syaikh Duyuskhani, Abdul Jalil berkhotbah di hadapan para laskar asal Baghdad, termasuk dua orang adik iparnya. Abdul Jalil menyampaikan khotbah tentang Kehidupan dan Kematian, dengan maksud agar para pejuang pembaharuan itu tidak takut menghadapi pertempuran. Dengan suara yang lain ia berkata, “Ketahuilah, o putera-putera Muhammad Saw., bahwa kabar-kabar menyedihkan tentang tunngang langgangnya laskar Caruban dari medan tempur sejatinya cerminan dari rasa takut terhadap Mati. Berbagai alasan yang mereka kemukakan seperti berperang melawan setan, diganggu jin penunggu sungai, dikejar-kejar ruh jahat pemakan manusia, dan bahkan munculnya bintang al-Murikh (Mars) sebagai pertanda kekalahan, sejatinya adalah ungkapan rasa takut akan Mati yang tidak terkendali.”

“Ketahuilah oleh kalian semua bahwa Sang Maut tidak pernah datang terlambat dan tidak pula pernah datang terlalu cepat. Dia selalu datang pada saat yang tepat. Karena itu, wahai engkau sekalian yang pernah lahir ke dunia dan menjadi bagian dari kehidupan dunia, bersiagalah kalian semua untuk menyongsong Sang Maut dengan cara yang gagah dan penuh kemenangan di mana pun kalian berada.”

“Sungguh telah keliru mereka mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Sebab, apa yang disebut Sang Maut (al-Mumit) sejatinya adalah Satu Diri dengan Sang Hidup (al-Hayy). Hanya mereka yang bodoh dan lancang mulut yang mengatakan Kematian adalah akhir dari Kehidupan. Apakah mereka sangka Allah bisa mati tidak bernyawa? Aku katakan sekali lagi, sungguh bodoh dan lancang mulut mereka yang mengatakan Mati sebagai Sesuatu yang tidak bernyawa.”

“Aku ajarkan kepada kalian suatu pandangan yang benar tentang Kematian: bahwa Sang Maut adalah Sisi lain dari Sang Hidup, namun sekaligus adalah Satu Diri yang sama, seibarat keping mata uang dengan sisi yang berbeda. Karena itu, bagi mereka yang sadar, Kematian adalah nama lain dari kelahiran. Sebab, mereka yang mati di dunia ini pada hakikatnya lahir di dunia lain yang lebih luas dan lebih abadi, seibarat bayi lahir dari alamnya yang sempit dan gelap di kandungan ibu ke alam dunia. Dan sebagaimana bayi-bayi yang lahir selalu terkejut dan menangis karena memperoleh kesadaran baru, begitulah tiap-tiap manusia yang meninggalkan dunia dan lahir di alam kematian akan terkejut karena mendapatkan kesadaran baru (QS. at-Takatsur: 1-2).”

“Lihatlah perilaku kupu-kupu yang lahir dari kepompong, kepompong lahir dari ulat, dan ulat lahir dari telur. Demikianlah perilaku manusia dalam melintasi Kehidupan dan Kematian. Kematian dan Kehidupan adalah suatu keadaan di mana kesadaran makhluk meningkat seiring matra yang mereka lampaui. Itu sebabnya, aku katakan kepada kalian bahwa telah keliru mereka yang mengatakan bahwa manusia hanya sekali hidup dan sekali mati. Sebab, sebagaimana telur melahirkan ulat dan ulat melahirkan kepompong dan dari kepompong lahir kupu-kupu, demikianlah manusia melintasi Kehidupan dan Kematian berkali-kali sampai kembali ke Asal Sejati (QS. al-Baqarah:28).”

“Jika Sang Maut pada hakikatnya adalah sama dengan Sang Hidup, jika mati adalah sama hakikatnya dengan lahir, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk takut mati. Sesungguhnya, rasa takut pada Sang Maut selalu berpangkal pada kecintaan terhadap dunia yang fana. Manusia mencintai dunia karena beranggapan dunia adalah abadi dan mereka mengikatkan diri pada dunia seerat-eratnya. Tetapi, celaka dan celakalah orang-orang yang terikat kuat pada dunia, karena ibarat ulat mereka menolak menjadi kepompong. Padahal, untuk hidup yang lebih baik ulat hendaknya menjadi kepompong. Ulat yang menolak menjadi kepompong pasti akan menjadi mangsa hewan pemakan ulat dan ia akan lahir kembali sebagai tahi sang hewan pemangsa.”

“Jika kalian memahami apa yang aku ajarkan ini maka tidak ada pilihan lain bagi kalian dalam menyongsong Sang Maut yang pasti datang itu. Pertama, kalian sadar dan dengan gagah perkasa menyongsong Sang Maut dengan keinginan menjadi makhluk baru yang seindah kupu-kupu. Makhluk baru yang terbang di alam bebas mengisap saripati madu yang mengalir dari wangi bunga-bunga. Atau pada pilihan kedua, kalian ketakutan menghadapi Sang Maut dengan keinginan menjadi ulat perusak yang merayap-rayap di dedaunan, yang akan berakhir menjadi tahi hewan.”

“Memang, dalam menghadapi Sang Maut, masing-masing manusia memiliki gambaran yang berbeda. Tetapi, aku katakan kepada kalian bahwa sangat keliru mereka yang menduakan gambaran hakiki Hidup dan Mati. Sebab, mereka yang mengaku mencintai Sang Hidup hendaknya mencintai pula Sang Maut. Mereka yang mencintai Kehidupan tetapi membenci Kematian adalah orang yang belum mengenal Tuhan dalam makna sejati asma’, shifat, dan af’al Ilahi. Mereka masih mendua dalam Tauhid.”

“Aku ajarkan kepada kalian bahwa Sang Maut dan Sang Hidup tidaklah terpisah jauh dan tidak pula dekat dengan makhluk. Mati dan Hidup tidak berada di luar dan tidak berada di dalam diri makhluk. Tetapi, setiap makhluk terikat dan berada di dalam liputan Maut dan Hidup. Sebab, kita, makhluk tak berdaya ini, adalah wujud yang tergantung (mumkin al-wujud), sedangkan Mati dan Hidup adalah Citra Hakiki dari Wujud Mutlak (al-Wujud al-Muthlaq). Sebagaimana hidup dan mati ikan berada di dalam air, demikianlah hidup dan mati kita berada di dalam liputan-Nya. Aku tahu bahwa apa yang aku ajarkan ini sulit dicerna oleh pikiran awam yang sudah terjajah oleh berbagai bentuk takhayul yang membayangkan Kematian adalah bagian dari kegelapan yang dipenuhi banyak hantu dan setan menakutkan. Karena itu, aku akan mengajarkan kepada kalian sesuatu yang baru: belajar mati! Meski kedengaran aneh, dengan belajar mati kalian akan mengenal Sang Maut dalam asma’, shifat, dan af’al. Sehingga, kelak saat Sang Maut membentangkan sayap kematian dan mencengkeram kuku-kuku sakarat al-maut yang tajam, tidak menjadikan kalian gentar dan ketakutan.”

“Aku katakan kepada kalian, dengan belajar mati maka kalian akan mengenal Sang Maut sehingga akan menghilangkan keraguan dan kegentaran kalian menghadapi-Nya. Di saat ajal kalian tidak akan menyeringai, meringis, tersengal-sengal, tercekik-cekik, meraung-raung, dan mengorok seperti hewan sekarat. Hadapilah Sang Maut dengan ramah dan penuh sukacita sebab engkau yang sudah mengenal-Nya akan disambut dengan kemegahan dan kemuliaan seorang sahabat dan kekasih. Engkau akan dimahkotai bunga-bunga surgawi karena telah kembali sebagai pahlawan dengan kemenangan besar.”

Para laskar asal Baghdad, baik yang Arab baik yang Persia, tercengang-cengang mendengar khotbah Abdul Jalil. Sebagian besar di antara mereka tidak memahami intisari khotbah. Hanya Syaikh Duyuskhani, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady, dan beberapa pemuka laskar yang paham.

Untuk memahamkan makna khotbah yang disampaikannya, Abdul Jalil secara bergilir mengajarkan “belajar mati” kepada pemuka-pemuka laskar. Mula-mula ia memandikan dan mengafani Syaikh Duyuskhani sebagaimana layaknya orang mati. Setelah itu, ia membujurkan tubuh Syaikh Duyuskhani dan membisikkan “jalan” (sabil) dan “cara” (thariq) mendaki tangga menuju hadirat-Nya.

Para laskar berkerumun dan berdesak-desak menyaksikan apakah yang akan terjadi dengan Syaikh Duyuskhani. Selama menyaksikan Syaikh Duyuskhani “belajar mati” di bawah bimbingan Abdul Jalil, mereka menahan napas dalam ketegangan. Dengan pandangan nanar mereka saksikan betapa Syaikh Duyuskhani terbujur kaku seolah-olah orang mati. Mereka saling pandang ketika dalam waktu yang lama Syaikh Duyuskhani tidak terbangun. Mereka khawatir dia benar-benar mati.

Setelah cukup lama membiarkan Syaikh Duyuskhani terbujur bagai orang mati, Abdul Jalil membisikkan sesuatu ke telinganya. Syaikh Duyuskhani membuka mata. Sejenak setelah itu dia terbangun dan celingukan seperti orang baru terjaga dari mimpi. Saat melihat para laskar berdesak-desak mengitarinya, dia baru sadar jika barang beberapa jenak lalu ia telah “belajar mati” di bawah bimbingan Syaikh Lemah Abang. Dan saat ia melihat Syaikh Lemah Abang berada di hadapannya, tak dapat ditahan lagi ia menjatuhkan diri menyembah dan mencium kakinya sambil berkata, “Saya mohon, hendaknya Tuan Syaikh mengembalikan saya ke Kematian. Sungguh, saya tidak tahan lagi hidup di dunia fana ini setelah mengetahui dan merasakan pelukan mesra Kematian. Saya mohon. Sekali lagi, saya mohon sudilah Tuan Syaikh mengembalikan saya ke alam Kematian.”

Abdul Jalil menarik bahu Syaikh Duyuskhani dan memintanya duduk di depannya. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Sesungguhnya, apa yang Tuan Syaikh rasakan adalah bagian terkecil dari Kematian. Tuan Syaikh tidak boleh larut oleh perasaan sebab Tuan Syaikh belum benar-benar mengenal-Nya. Tuan Syaikh harus kembali ke alam dunia dan menjalankan tugas Tuan Syaikh yang belum selesai. Sebab, memaksakan datangnya Sang Maut adalah sama maknanya dengan bunuh diri, bukan kemuliaan yang diperoleh melainkan kehinaan.”

“Kepada kalian semua, o putera-putera Muhammad Saw., aku katakan bahwa rasa bahagia dan nikmat yang dirasakan oleh Syaikh Duyuskhani saat “belajar mati” sebenarnya terikat dengan keberadaan jiwanya yang sudah bisa menyingsingkan keterikatan dengan hal-hal duniawi dan pamrih pribadi. Sebab, bagi mereka yang masih sangat kuat terikat kecintaan pada dunia dan pamrih pribadi, bukan saja akan kesulitan mengenal Sang Maut, melainkan akan merasakan penderitaan dan kesengsaraan. Bagi mereka, ‘belajar mati’ akan sama maknanya dengan menambah rasa takut terhadap Kematian. Karena itu, o wahai putera-putera Muhammad Saw., jika kalian ingin merasakan kebahagiaan dan kenikmatan sebagaimana yang dialami Syaikh Duyuskhani, hendaknya kalian mulai belajar mengarahkan kiblat hati dan pikiran kalian kepada Dia Yang Tunggal. Jangan ingat apa pun saat kalian berada di medan tempur kecuali Yang Maha Esa. La ilaha illa Allah ! Jika pada saat itu kalian dijemput oleh Sang Maut maka kalian akan meninggalkan dunia ini dan lahir sebagai makhluk baru di alam Kematian yang tak tergambarkan indah dan nikmatnya. Itu berarti, kalian tidak perlu ‘belajar mati’ karena kalian telah mati secara benar.”

Api pertempuran mengamuk tidak hanya di garis depan, tetapi juga membara di berbagai desa yang tersebar di perbatasan Rajagaluh dengan Caruban Larang, dari Padamatang di selatan Bobos hingga Tegal Karang di barat Jamaras, bahkan berkobar pula di Glagahamba di selatan Susukan. Gerakan serentak laskar-laskar yang tak pernah diperhitungkan itu membuat pasukan Rajagaluh porak-poranda di berbagai pos pertahanannya. Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh, memerintahkan pasukannya untuk mundur teratur dan bertahan di garis pertahanan yang sudah ditentukan, yaitu di Girinatha, Kepuh, Balerante, Lungbenda, Kedung Bunder, dan Palimanan.

Para tetunggul perang Rajagaluh seperti Adipati Kiban, Ki Demang Dipasara, Ki Gedeng Leuwimunding, Ki Demang Surabangsa, Ngabehi Ardisora, Sanghyang Gempol, Sanghyang Mayak, Sanghyang Tubur, Sanghyang Sogol, dan Celeng Igel telah bersumpah untuk menghadang gerak maju laskar-laskar muslim Caruban ke Palimanan. Sebab, membiarkan Palimanan jatuh ke tangan laskar sama maknanya dengan kehancuran nama besar mereka sebagai pahlawan berdarah biru gagah perkasa yang takluk di bawah telapak kaki para laskar yang beranggotakan kalangan rendah tak berkasta.

Pasukan Rajagaluh sendiri sebenarnya bukanlah tandingan laskar muslim Caruban baik dalam hal jumlah prajurit, persenjataan, keterampilan perang, dan mental keprajuritan. Itu sebabnya, selama berlangsung pertempuran yang terkesan tarik-ulur itu, pasukan Rajagaluh cenderung menjadikan laskar muslim Caruban sebagai “kawan berlatih” di medan tempur. Sejak pertempuran awal pecah di Bobos, pihak Rajagaluh kehilangan tak lebih dari lima puluh prajurit, sementara laskar muslim Caruban lebih enam ratus yang terbunuh. Keadaan itu memang sengaja dibiarkan oleh para tetunggul Rajagaluh untuk membiasakan prajurit-prajuritnya menghadapi suasana perang sehingga saat menghadapi pasukan Caruban kelak mereka tidak akan canggung.

Amukan api pertempuran yang berkobar serentak di berbagai desa laksana padang alang-alang terbakar itu tak pelak mengejutkan para tetunggul Rajagaluh. Mereka tidak pernah menduga bahwa para laskar muslim Caruban bisa melakukan perlawanan dengan begitu fanatik, dengan semangat tinggi untuk mati, menerjang musuh tanpa peduli keselamatan diri. Sementara itu, pasukan Rajagaluh yang tak pernah menduga bakal mendapat perlawanan yang begitu gigih, dengan terheran-heran mundur dan sebagian malah lari kocar-kacir meninggalkan senjata di medan tempur.

Keheranan para tetunggul Rajagaluh terhadap peristiwa pertempuran yang memalukan itu baru diketahui sebab-sebabnya ketika mereka berkumpul di Palimanan untuk membahas masalah tersebut. Saat itu, berdasar laporan Rsi Bungsu, diketahuilah bahwa di balik kobaran api perlawanan laskar muslim Caruban yang dahsyat terdapat sosok Syaikh Lemah Abang yang termasyhur kepiawaiannya dalam menghasut.

“Tukang sihir celaka itu telah menyihir para laskar dan penduduk desa untuk melawan kita. Jadi, saat bertempur sesungguhnya para laskar itu sedang berada dalam pengaruh sihir Syaikh Lemah Abang. Mereka dalam keadaan tidak sadar,” kata Rsi Bungsu.

“Tapi, bagaimana mungkin dia bisa menyihir beribu-ribu orang dalam waktu yang sama,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi, manggalayuddha Rajagaluh. “Sebab, sepengetahuanku, pengaruh sihir hanya bisa dilakukan pada beberapa orang saja dalam waktu yang tidak lama. Padahal, selama hampir sepekan pertempuran di berbagai medan, beribu-ribu laskar menyerang tak kenal siang dan malam.”

“Sesungguhnya, Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan kepada para laskar suatu ilmu sihir dahsyat yang disebut mati mawat, pengaruh gaib kematian. Dia bilang, hidup ini adalah mati dan mati adalah hidup. Lewat ilmu itu, tukang sihir laknat tersebut memerintah para laskar untuk menerobos batas Kematian dan Kehidupan seperti orang melewati pintu,” Rsi Bungsu membelok-belokkan tangannya, menggambarkan ajaran yang disampaikan Abdul Jalil.

Para tetunggul Rajagaluh yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana nekat dan ngawurnya laskar muslim Caruban saat bertempur, seolah-olah mereka keranjingan ruh setan, mau tidak mau mempercayai ucapan Rsi Bungsu. Itu sebabnya, mereka sepakat untuk membahas pemecahan masalah yang tak pernah mereka bayangkan itu. Namun setelah berputar-putar dengan berbagai alasan masing-masing, mereka sampai pada simpulan bahwa ujung dari masalah yang rumit itu adalah kalifah Caruban Larang, Sri Mangana. Mereka sepakat bahwa untuk menghindarkan rasa malu akibat kemungkinan kalah dalam pertempuran mendatang, hendaknya penguasa Caruban Larang dilibatkan. Maksudnya, pasukan Rajagaluh harus bertempur melawan pasukan Caruban Larang, bukan menghadapi laskar muslim.

“Kalaupun kita kalah maka kita tidak perlu malu karena kita dikalahkan oleh saudara kita sendiri. Kita tidak malu karena sebagai ksatria kita kalah oleh ksatria lain. Tetapi, kalau kita sampai kalah dengan laskar gelandangan yang tidak terhormat itu maka itu sama artinya dengan kita membiarkan wajah kita dilumuri kotoran. Itu sangat memalukan. Memalukan.” Pangeran Arya Mangkubhumi berang.

“Apakah kita akan menyerang langsung Kuta Caruban?” tanya Rsi Bungsu.

“Itu tindakan tolol,” sergah Pangeran Arya Mangkubhumi yang diam-diam tidak suka dengan Rsi Bungsu yang dinilainya culas dan licik. “Sebab, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan pasukan Caruban Larang.”

“Menurut kabar, kekuatan pasukan Caruban Larang tidak lebih dari sepuluh ribu. Padahal, kekuatan pasukan kita lebih dari seratus ribu prajurit.” Rsi Bungsu meyakinkan.

“Sepuluh ribu itu hanya dugaanmu saja. Sebab setahuku, sudah lebih tujuh tahun silam pamanda ratu menggalang kekuatan militer. Karena itu, jumlah sepuluh ribu adalah dugaan yang mengada-ada. Bahkan kalaupun benar jumlah pasukan Caruban sepuluh ribu, belum tentu kita dapat mengalahkannya dengan mudah. Bukankah kekalahan pasukan kita membuktikan bahwa menghadapi laskar muslim tak terlatih yang jumlahnya tidak sampai sepuluh ribu saja sudah membuat kita kocar-kacir, apalagi menghadapi pasukan Caruban Larang yang terlatih,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

Melihat keadaan makin memanas antardua sepupu itu, para tetunggul Rajagaluh berusaha melerai dengan cara bersepakat untuk menyerahkan masalah itu kepada junjungan mereka, Prabu Chakraningrat, Yang Dipertuan Rajagaluh. Mereka sadar, untuk melibatkan kalifah Caruban Larang dalam perang tidak mungkin terjadi tanpa melibatkan Prabu Chakraningrat.

Sementara itu, di tengah kegembiraan laskar muslim Caruban yang meraih kemenangan di berbagai medan tempur, terdapat kelompok-kelompok penduduk Caruban yang diam-diam menerima kabar itu dengan geram dan sakit hati. Mereka adalah para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat. Mereka geram dan sakit hati karena kemenangan yang diperoleh laskar muslim Caruban itu dikabarkan akibat hasutan Syaikh Lemah Abang yang mengajarkan ilmu mati mawat. Dengan ilmu tersebut, para laskar maju ke medan tempur tanpa membawa perangkat jimat, haekal, dan jampi-jampi. Dengan kemenangan-kemenangan itu, mereka merasa cepat atau lambat sumber nafkah mereka akan terancam hilang.

“Kita tidak bisa membiarkan Tuan Syaikh keparat itu meluaskan pengaruhnya kepada laskar karena dia akan meracuni pikiran mereka untuk tidak mempercayai lagi keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi,” kata Ki Badong, tukang gembleng yang termasyhur kesaktiannya.

“Aku dengar-dengar, dia melarang para laskar yang maju ke medan tempur membawa jimat dan haekal. Dia mengatakan bahwa jimat dan haekal adalah cerminan jiwa pengecut sehingga tidak pantas dibawa oleh para pejuang beriman,” sahut Hargo Belah, jajadug berewokan yang suaranya mirip perempuan.

“Itu ‘kan sama artinya dengan menghina kita,” kata Ki Badong.

“Syaikh jahanam itu malah mengingatkan dalam khotbahnya bahwa siapa saja di antara laskar yang mempercayai jimat, haekal, dan jampi-jampi maka selama empat puluh hari ibadahnya tidak diterima. Dan andaikata mereka membawa jimat itu mati maka matinya dalam keadaan musyrik,” kata Hargo Belah.

“Ini benar-benar penghinaan yang tidak bisa dibiarkan,” kata Ki Badong dengan dada dikobari api. “Bahkan yang paling menyakitkan, dalam khotbahnya dia mengecam tradisi gemblak di kalangan jawara dan jajadug. Dia menyamakan tradisi gemblak dengan tindakan sesat umat Nabi Luth yang dilaknat Gusti Allah. Dia bahkan mengatakan bahwa keyakinan daya sakti yang diperoleh dari gemblakan sebagai kepercayaan setan. Bukankah itu menyindir engkau, o Kawan.”

Hargo Belah, yang sampai usia enam puluh tahun tidak menikah karena suka gemblakan, tersulut amarah mendengar penjelasan Ki Badong. Ia benar-benar merasa ditelanjangi dan dipermalukan oleh Syaikh Lemah Abang. Ia tidak bisa menerima hujatan Syaikh Lemah Abang terhadap perilaku perkelaminan antara lelaki dan lelaki sebagai kepercayaan setan yang sesat. Itu sebabnya, dengan kepala memuai dan dada terbakar, ia berkata meledak-ledak, “Apa yang sekarang harus kita perbuat untuk menghancurkan si keparat itu, Ki?”

“Kita hubungi para jawara, dukun, jajadug, dan pedagang jimat yang ada di Caruban dan Sunda. Kita harus bersatu untuk menyingkirkan syaikh keparat itu dari muka bumi,” Ki Badong mengertak gigi menahan amarah.

“Kita akan mengeroyok dan membunuhnya beramai-ramai.”

“Tidak, tidak boleh kita berlaku demikian. Sebab, itu akan menyulut amarah para pengikutnya.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Kita angkat kabar tentang banyaknya korban dalam pertempuran tanpa jimat-jimat dan haekal-haekal itu. Kita sebarkan rasa gentar di hati para laskar bahwa mereka akan celaka dan terbunuh secara sia-sia jika maju ke medan tempur tanpa dukungan jimat, haekal, dan jampi-jampi. Bukti banyaknya korban tewas di berbagai tempat dalam pertempuran itu akan kita jadikan bukti,” kata Ki Badong.

“Itu cara yang sangat baik, Ki,” kata Hargo Belah genit. “Aku akan membuat pertunjukan terbuka untuk memamerkan ilmu kawedukan, aji kememayam, pangabaran, karosan, kateguhan, dan pangerutan.”

“Jangan! Jangan pamer ilmu dulu,” kata Ki Badong memohon.

“Kenapa Ki?” tanya Hargo Belah heran.

“Sebab, dalam khotbah-khotbahnya syaikh bedebah itu mengatakan bahwa sangat banyak ilmu kekebalan dan kesaktian yang palsu. Dia menyebut ilmu sulap sebagai ilmu yang menipu dengan kelihaian memperdaya orang. Bahkan dia memberi tahu para laskar bahwa cara untuk menguji keampuhan jimat, haekal, dan jampi-jampi adalah di medan perang. Dia berkata begini: ‘Jika datang kepadamu orang yang mengaku jawara, jajadug, dan dukun, kemudian mereka memamerkan keampuhan jimat dan haekalnya dengan mengiriskan dan menyabetkan pedang ke tubuhnya, maka waspadalah. Sebab, sekarang ini banyak penipu yang menggunakan ilmu sulap untuk memperoleh keuntungan. Mereka menjual jimat, haekal, dan jampi-jampi yang katanya dapat menolak Kematian. Tetapi aku katakan kepada kalian, berapa banyak orang yang telah diselamatkan jimat-jimat dan haekal itu? Kenapa dalam pertempuran para pembawa jimat dan haekal itu bergelimpangan menjadi mayat? Sungguh, para penipu itu tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya yang mencelakakan orang lain.’ Demikianlah, Kawan, mulutnya yang lancang itu menghasut para laskar agar meragukan keampuhan ilmu kesaktian kita.”

Hargo Belah menggeram marah. Napasnya terengah-engah dibakar api amarah. Ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang sebagai adonan tepung yang bisa dilumat-lumat sampai hancur lebur tanpa bentuk. Lalu adonan itu ia banting-banting dan tekuk-tekuk seperti jajan. Setelah itu, ia bayangkan tubuh Syaikh Lemah Abang dilemparkannya ke penggorengan dan kemudian disantapnya hangat-hangat. “Tunggulah pembalasanku, Syaikh tengik,” gumamnya dengan gigi gemeletuk. “Tunggulah saat kematianmu, wahai syaikh keparat. Aku akan mengunyah-ngunyah dan memamah tubuhmu seperti jajan sampai tubuhmu luluh menjadi isi ususku dan keluar menjadi tahiku.”

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 21 Mei 2007, 22:00LT

10. Perang Caruban-Rajagaluh

Kabar terpukul mundurnya pasukan Rajagaluh di berbagai garis depan medan tempur oleh laskar muslim Caruban diterima Prabu Chakraningrat dengan darah mendidih dan kepala nyaris meledak. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa para ksatria yang dibangga-banggakan dan diunggulkannya itu bisa kalah oleh para laskar, kawanan gelandangan rendah yang tidak ketahuan asal usulnya dan tidak memiliki ketrampilan perang. Bagaimana mungkin para ksatria mulia yang gagah perkasa bisa dikalahkan kaum sudra hina dan mleccha rendahan, gumamnya berulang-ulang sambil hilir mudik di balairung.

Ketika Pangeran Arya Mangkubhumi dan para tetunggul menghadap, Prabu Chakraningrat tidak dapat menahan amarah. Dengan suara dikobari api ia menghardik putera mahkota dan para perwiranya, “Aku berpikir kalian telah menjadi lemah karena sibuk berpesta pora dan mengumbar kesenangan. Sungguh memalukan, para ksatria kebanggaan Rajagaluh bisa dengan mudah dikalahkan oleh orang-orang rendah dari kalangan sudra, paria, mleccha, domba, kewel, dan potet.”

Pangeran Arya Mangkubhumi dan para tetunggul diam. Mereka membiarkan sang raja melampiaskan amarah. Baru setelah amarah sang raja mereda, mereka menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari kekalahan pasukan yang dipimpinnya. Prabu Chakraningrat sendiri akhirnya tidak bisa berkata apa-apa kecuali menerima kenyataan itu meski merasa pahit dan getir. Bahkan saat para tetunggul yang dibanggakannya itu memohon agar ia menantang perang Sri Mangana demi menyelamatkan harga diri para ksatria, ia penuhi juga tanpa bertanya ini dan itu. Demikianlah, demi mempertahankan harga diri dan kehormatan para ksatria, ia memerintahkan sang manghuri (sekretaris negara) untuk menuliskan ucapannya ke atas sepucuk surat yang ditujukan kepada saudaranya, Sri Mangana.

Betapa menyedihkan manusia yang hidup bermegah-megah dilimpahi kekayaan dalam mimpi, namun melarat dan sengsara ketika terbangun. Betapa kasihan manusia yang menyambut bangsa lain dengan kehormatan dan kemuliaan, namun memperlakukan bangsa sendiri sehina dan senista binatang. Betapa memalukan manusia yang merusakbinasakan budaya leluhurnya, namun membangun budaya bangsa lain yang tak dikenalnya. Betapa dungu manusia yang mengusir para ksatria mulia dari takhta persahabatan, namun menjadikan para gelandangan sebagai sahabat. Betapa pandirnya manusia yang digambarkan pepatah “anak di pangkuan dilepaskan, beruk di hutan disusukan”.

Menerima dan membaca surat dari Prabu Chakraningrat, Sri Mangana tersenyum. Ia kemudian memerintahkan Haji Musa, adik Syaikh Bentong, untuk menuliskan surat balasan kepada Yang Dipertuan Rajagaluh.

Apa yang engkau inginkan, wahai pecinta dunia? Apakah engkau belum puas dengan istana-istana indah dan gemerlap yang engkau bangun dari tetesan darah dan keringat kawulamu? Apakah engkau belum puas menipu kawulamu dengan cerita-cerita palsu tentang Dewaraja? Apakah engkau berpikir bahwa kehidupan di dunia ini adalah kekal dan abadi seperti abadinya kekuasaan yang engkau kangkangi?

Aku katakan kepadamu, o pecinta dunia, bahwa kehidupan selalu mengalir seperti sungai. Sebagaimana rembulan memiliki saat purnama dan saat sabit, demikianlah kehidupan selalu berubah dan berganti-ganti. Hanya mereka yang dungu dan pandir yang menganggap kehidupan tidak berubah. Hanya mereka yang berhati batu yang menganggap kehidupan di dunia ini mandeg. Hanya mereka yang buta oleh kenikmatan nafsulah yang mengingkari perubahan sebagai keniscayaan hidup di dunia.

Buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan kata-kataku, o pecinta dunia! Bahwa telah aku saksikan dan aku dengar sendiri, bagaimana jiwa para pecinta dunia membeku dan kaku seperti mayat dibungkus selimut. Aku saksikan dan aku dengar jiwa mereka menjelma menjadi hantu menakutkan yang dikitari oleh pengikut-pengikutnya, para dukun dan tukang sihir dan peramal. Kemudian, dengan menyeringai bengis hantu itu memamerkan taringnya, yang membuat seluruh kawula tersungkur ketakutan. Dan bagaikan serigala lapar, begitulah hantu jelmaan para pecinta dunia itu menginjak-injak tubuh manusia, mengalirkan darah orang-orang tak bersalah, mengisap darah orang miskin dan papa, menjilati nanah busuk para gelandangan, dan menakut-nakuti musuh-musuhnya dengan pedang berkarat.

Apakah sesungguhnya yang engkau inginkan, wahai pecinta dunia? Apakah engkau ingin tetap menjadi penguasa duniamu yang berkarat dan membusuk? Ataukah engkau ingin menjadi hantu yang berkeliaran memamerkan taring untuk menakut-nakuti kawulamu?

Prabu Chakraningrat terbakar amarah saat membaca surat balasan dari Sri Mangana. Ia menitahkan sang manghuri untuk membalasnya dengan isi yang lebih tegas.

Aku merasa sebaiknya Tuan menghadapkan pasukan Caruban dengan Rajagaluh sebagai pertarungan ksatria melawan ksatria, sebagaimana pertarungan antara Kurawa dan Pandawa di Kurusetra. Sebagai saudara yang dididik dengan nilai-nilai ksatria dan hidup sesuai dharma ksatria, aku memohon kepada Tuan, agar Tuan tidak mempermalukan saudara Tuan di depan arwah leluhur, dengan membiarkan saudara Tuan menghadapi kawanan gelandangan yang Tuan pelihara. Marilah kita bertempur sebagai ksatria!

Sri Mangana tersenyum bangga membaca surat balasan dari Prabu Chakraningrat. Ia sadar, cepat atau lambat Caruban memang harus terlibat perang dengan Rajagaluh, bahkan mungkin dengan Talaga, Galuh Pakuan, dan Dermayu. Namun, surat balasan yang dikirim oleh penguasa Rajagaluh telah mendorongnya untuk mempercepat keterlibatan Caruban di medan tempur. Sebab, apa pun yang terjadi ia tidak sampai hati melukai hati seorang ksatria dengan menorehkan luka akibat sayatan rasa malu.

Sri Mangana sendiri adalah ratu yang dipercaya oleh maharaja Pakuan Pajajaran, Prabu Guru Dewata Prana, untuk menjaga kekuasaan laut kerajaan Sunda. Ia dikenal sebagai ahli strategi perang (yuddhawira sadah) dan cakap dalam peperangan (yuddha-nipuna). Itu sebabnya, ia tidak akan mungkin menolak tantangan Prabu Chakraningrat. Ia pasti akan meladeni tantangan perang penguasa Rajagaluh itu secara ksatria. Namun sesuai gelarnya, Sri Mangana, yang berarti cahaya kekuasaan ular laut, ia bukanlah orang yang gegabah dalam mengambil keputusan. Ia sangat berhati-hati. Dan dalam hal tantangan Prabu Chakraningrat, ia tahu pasti bahwa Yang Dipertuan Rajagaluh itu tidak bertindak sendiri. Ia mengetahui di belakang saudara tirinya itu tersembunyi kekuatan penguasa Galuh Pakuan, Talaga, Dermayu, Palutungan, Maleber, Panembong, Taraju, Sumedang Larang, dan Batu Layang.

Untuk menghadapi kekuatan Rajagaluh yang diam-diam didukung banyak pihak itu dibutuhkan siasat yang tepat sekaligus penataan kekuatan yang baik dan tak terbaca lawan. Ia sadar bahwa dalam menghadapi Rajagaluh, ia tidak sekadar dituntut menyiagakan kekuatan pasukannya untuk bertempur, tetapi juga menyiapkan kemungkinan terjadinya serangan tak terduga dari Talaga, Galuh Pakuan, dan Dermayu. Ia benar-benar sadar betapa kekuatan pasukannya yang kurang dari 30.000 orang ditambah sekitar 4.600 laskar muslim itu tidak mungkin dibenturkan dengan pasukan Rajagaluh yang jumlah pasukannya 100.000 orang lebih.

“Menurut perkiraanmu, kapan kira-kira bala bantuan dari timur sampai ke Caruban?” tanya Sri Mangana kepada Abdul Jalil, yang dipanggilnya ke Ndalem Pekalipan beberapa saat setelah ia menerima surat tantangan dari Prabu Chakraningrat.

“Ananda perkirakan dalam sepekan ini mereka mestinya sudah sampai ke sini,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Apakah keadaan di medan tempur mengalami perubahan sehingga Ramanda Ratu menanyakan mereka?”

“Di medan tempur laskar muslim Caruban tetap menang, namun Prabu Chakraningrat mengirimkan surat tantangan langsung kepadaku. Dia mengajak perang terbuka antara Rajagaluh dan Caruban,” kata Sri Mangana.

“Ramanda Ratu akan melayani tantangan itu?”

“Hmm,” Sri Mangana mengangguk dan berkata, “Jika tidak dilayani, nanti orang akan menganggap islam sebagai agama yang tidak mengajarkan nilai-nilai ksatria. Islam akan dianggap sebagai agama yang dipeluk para pembual dan penipu yang berjiwa pengecut. Tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan orang-0rang Rajagaluh ketika mereka mendengar Sayyid Habibullah al-Mu’aththal kabur dari Caruban?”

“Tapi, Rajagaluh dibantu banyak pihak. Jumlah pasukannya jauh lebih besar dibanding jumlah pasukan Caruban. Kalau harus dibenturkan berhadap-hadapan, tentunya pasukan Caruban akan kalah,” gumam Abdul Jalil.

“Justru itu yang diinginkan Prabu Chakraningrat. Karena itu, dia menantang perang antar ksatria, sebagaimana saat Kurawa bertempur dengan Pandawa dalam Bharatayudha,” kata Sri Mangana.

“Aku memang sudah mengambil keputusan untuk menyiasati keadaan ini.”

“Aku akan menunda mengirimkan surat balasan kepada Prabu Chkraningrat selama sepekan. Biarkan dia berpikir aku ketakutan menerima tantangannya. Tetapi, selama sepekan itu aku akan membuat kejutan-kejutan untuknya.”

“Sesungguhnya Allah SWT. bersama hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.”

Selama rentang waktu sepekan sambil menunggu kedatangan bala bantuan dari luar Caruban, Sri Mangana melakukan tindakan-tindakan mengejutkan yang bertujuan meruntuhkan semangat pihak Rajagaluh. Tanpa terduga-duga ia mengumumkan terbentuknya kesatuan Naga Laut yang dipimpin oleh Bhatamantri (perwira tinggi) Abdul Halim Tan Eng Hoat, Cina muslim asal Majapahit, putera Abdurrahman Tan King Ham. Kesatuan baru itu terdiri atas seribu pasukan laut Caruban ditambah dua ribu laskar muslim Cina. Abdul Halim Tan Eng Hoat dibantu oleh tiga orang bhrtyamantri (perwira menengah), yaitu Tumenggung Jaya Orean, Abdul Karim Wang Tao, dan Abdul Razaq Wu Lien.

Kabar itu oleh Sri Mangana sengaja disebarkan ke Palimanan dan Rajagaluh sehingga para tetunggul Rajagaluh bertanya-tanya tentang tujuan utama di balik pembentukan kesatuan Naga Laut. Namun, saat para tetunggul Rajagaluh membicarakan kesatuan baru itu tiba-tiba Sri Mangana mengumumkan terbentuknya kesatuan Liman Bhuwana yang dipimpin oleh Bhatamantri Syarif Hidayatullah, wali nagari Gunung Jati. Kesatuan baru itu terdiri atas seribu pasukan berkuda dan seribu pasukan tombak Caruban ditambah dua ribu laskar muslim Arab dan Persia. Syarif Hidayatullah dibantu lima orang bhrtyamantri, yaitu Syaikh Duyuskhani, Abdul Rahim Rumi, Abdul Rahman Rumi, Abdul Qadir al-Baghdady, dan Abdul Qahhar al-Baghdady.

Ketika orang-orang Rajagaluh masih sibuk membicarakan kesatuan Naga Laut dan Liman Bhuwana, Sri Mangana mengumumkan lagi pembentukan kesatuan baru, yaitu Paksi Raja yang dipimpin Bhatamantri Tun Abdul Qadir, wali nagari Sindangkasih, pemimpin para pemberontak asal Malaka. Kesatua Paksi Raja terdiri atas seribu pasukan laut Caruban ditambah tiga ribu laskar muslim asal Malaka, Campa, Keling, Pegu, Yawana, Kendal, dan Palembang. Tun Abdul Qadir dibantu empat bhrtyamantri, yaitu wali nagari Gegesik, Li Han Siang, Syaikh Bentong, dan Haji Shang Shu.

Ketika para tetunggul Rajagaluh dengan sangat hati-hati membicarakan pembentukan tiga kesatuan baru itu, terjadi peristiwa yang mengguncangkan jiwa mereka. Tanpa terduga-duga, tiba-tiba saja Sri Mangana menunjuk seorang pendekar puteri termasyhur, Nyi Mas Gandasari, sebagai agra-senopati (panglima tinggi) Caruban Larang.

Kabar pengangkatan Nyi Mas Gandasari dengan cepat berkobar membakar amarah para tetunggul Rajagaluh bagaikan api membakar ilalang. Para tetunggul Rajagaluh merasakan panas api membakar tubuh mereka dari telapak kaki hingg ujung rambut. Keputusan itu dianggap sebagai tamparan bagi para tetunggul Rajagaluh. Sebab, menurut mereka, pengangkatan Nyi Mas Gandasari pada dasarnya adalah siasat licik Sri Mangana untuk menghalang-halangi Prabu Surawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan, dalam peperangan Caruban-Rajagaluh. Menurut mereka, Sri Mangana memanfaatkan kepercayaan yang diyakini banyak orang yang menyatakan bahwa Prabu Surawisesa tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh seorang perempuan hing wanojaha kang pangawijing. Semenjak lama sudah tersebar kasak-kusuk yang menyatakan bahwa Nyi Mas Gandasari sengaja diasuh sejak kecil oleh Sri Mangana karena disiapkan untuk tujuan menghadapi Prabu Surawisesa.

Sebenarnya, mereka yang merasa gerah dan tidak suka dengan pengangkatan Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati Caruban bukan hanya pihak Rajagaluh. Sejumlah pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban Larang pun diam-diam banyak yang menyayangkan keputusan Sri Mangana yang mereka anggap tidak bijaksana. Mereka menganggap seorang perempuan terlarang menjadi pemimpin laki-laki, apalagi dalam perang. Mereka memang tidak berani terang-terangan menentang keputusan Sri Mangana, tetapi bara api ketidakpuasan telah mereka sulut di dalam jiwa para pengikutnya. Dan bara api itu terlihat kobarannya manakala Angga, wali nagari Kuningan, dan Ki Demang Singagati, mantri kepercayaannya, dengan terang-terangan mengemukakan keberatan mereka kepada Sri Mangana atas penunjukan Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati Caruban.

Menghadapi keberatan wali nagari Kuningan dan Ki Demang Singagati itu, Sri Manganan mengumpulkan para pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban untuk memusyawarahkan keputusannya tersebut. Ternyata, terjadi beda pendapat yang sengit tentang masalah itu. Para pemuka warga keturunan Campa menyatakan dukungan penuh karena adat istiadat mereka menganut asas keibuan sehingga tampilnya pemimpin perempuan dapat diterima asalkan memiliki kemampuan. Syaikh Duyuskhani dan para pengikutnya mendukung Nyi Mas Gandasari dengan alasan agra-senapati perempuan adalah seorang sayyidah keturunan Fatimah az-Zahrah, puteri Nabi Muhammad Saw.. Namun, para pemuka warga Arab, Cina, dan Pegu menyatakan keberatan atas dasar ketentuan syari’at Islam. Menurut mereka, tidak ada satu pun dalil yang membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki.

Sadar bahwa perbedaan pendapat di tengah suasana genting akan sangat merugikan, akhirnya Sri Mangana memutuskan untuk memegang sendiri jabatan agra-senapati Caruban Larang dan memilih dua orang panglima wakil senapati di medan tempur, yaitu wali nagari Kuningan dan Nyi Mas Gandasari. Ia menyatakan bahwa keputusannya itu untuk menguji kemampuan mereka berdua di bidang olah tempur dan keprajuritan. Keputusan Sri Mangana disepakati oleh semua pihak, meski di dalam hati masih ada pihak yang tidak puas dengan keterlibatan perempuan dalam masalah pertempuran. Pihak itu beranggapan tempat perempuan berkiprah bukan di medan tempur, melainkan di dapur dan kamar tidur.

Ketika surat jawaban kepada Prabu Chakraningrat baru saja dikirim dan ketika orang masih sibuk membicarakan langkah-langkah Sri Mangana yang menggemparkan, terjadi kegemparan lain di Muara Jati. Orang-orang yang tinggal di sekitar pelabuhan dikejutkan oleh mendaratnya bala bantuan dari luar Caruban Larang. Mula-mula orang menyaksikan sekitar seribu pasukan turun dari kapal-kapal di pelabuhan Muara Jati. Pasukan itu mengibarkan umbul-umbul dan bendera warna merah dan hitam. Panji-panjinya berwarna hitam bergambar bulan sabit yang ditulisi kaligrafi La ilaha illa Allah. Penduduk dengan terheran-heran melihat pasukan itu berbaris menuju Kuta Caruban dengan membawa kotak-kotak besar berjumlah sekitar dua puluh lima buah. Pasukan itu merupakan bala bantuan dari Majapahit asal Kadipaten Terung yang dipimpin oleh Ki Wedung, adik kandung Patih Demak Ki Wanasalam. Kotak-kotak besar yang dibawa pasukan Majapahit itu disebut gurnita (Jawa Kuni: halilintar, gemuruh, gaduh). Konon berasal dari Palembang. Jika tutup-tutup kotak itu dibuka akan terdengar suara gemuruh dan kilatan halilintar yang akan membakar apa saja yang ada di depannya.

Tidak lama setelah pasukan Majapahit asal Kadipaten Terung meninggalkan Muara Jati, mendaratlah secara berturut-turut pasukan dari berbagai kadipaten lain, yaitu seribu orang pasukan dari Kadipaten Demak dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor, putera Adipati Demak Raden Patah. Pasukan ini mengibarkan panji-panji hijau bergambar kura-kura dan petir. Setelah itu mendarat sekitar lima ratus orang pasukan dari Kadipaten Samarang dipimpin Pangeran Welang, mengibarkan panji-panji kuning bergambar kepala yaksa. Disusul tujuh ratus orang pasukan dari Kadipaten Kendal, dipimpin Pangeran Soka, mengibarkan panji-panji putih bergambar kepala harimau; lima ratus orang pasukan dari Kadipaten Japara dipimpin Pangeran Luhung, mengibarkan panji-panji hitam bergambar bintang dan api menyala; lima ratus orang dari Giri Kedhaton dipimpin Ki Buyut Gresik, mengibarkan panji-panji putih bergambar trisula; tujuh ratus orang pasukan dari Surabaya dipimpin Pangeran Kejawan, mengibarkan panji-panji merah bergambar ayam jago. Tak ketinggalan rombongan kecil para pendeta bhairawa dari berbagai ksetra yang dihubungi oleh Nyi Indang Geulis dan Nyi Muthmainah, ikut berdatangan ke Caruban Larang untuk membantu Sri Mangana bertempur menghadapi Rajagaluh.

Kehadiran bala bantuan dari luar Caruban menimbulkan semarak yang membangkitkan semangat penduduk Caruban. Sepanjang jalan menuju Kuta Caruban orang-orang terlihat berdiri di pinggir jalan mengelu-elukan mereka. Alun-alun Kuta Caruban yang biasanya lengang tiba-tiba hiruk pikuk diwarnai prajurit yang mempersiapkan barisan dan peralatan tempur.

Di tengah hiruk persiapan perang pasukan Caruban itu terjadi peristiwa tidak tersangka-sangka dan tak terbayangkan sebelumnya. Para pendeta bhairawa pemimpin ksetra-ksetra yang datang ke Caruban menyatakan diri sebagai pemeluk Islam. Keinginan itu lahir terutama setelah mereka berbincang-bincang dengan Sri Mangana dan Abdul Jalil serta setelah mereka menyaksikan sendiri lambang-lambang pada panji-panji yang dikibarkan pasukan dari berbagai kadipaten muslim yang mereka kesankan sebagai lambang Syiwa. Mereka makin yakin bahwa Islam adalah penjelmaan baru Syiwa-Budha, apalagi setelah mereka mengetahui sendiri bentuk pemerintahan kalifah Caruban yang menganut asas kesederajatan dan tidak membeda-bedakan manusia berdasar keturunan, yaitu tatanan ideal yang diidamkan oleh para penganut ajaran bhairawa.

Dengan disaksikan para sesepuh dan tetunggul Caruban, Balal Bisvas, wali nagari Gegesik, pertama-tama menyatakan memeluk Islam beserta seluruh keluarga dan pengikutnya. Ia mendapat nama baru Suranenggala. Setelah itu Ki Wedung, pemimpin pasukan Terung, menyatakan bahwa dia sudah mengucapkan dua kalimah syahadat di Wirasabha, beberapa saat sebelum berangkat ke Caruban. Wiku Suta Lokeswara tak ketinggalan mengikrarkan keislaman dan memperoleh nama baru Ki Waruanggang. Sanghyang Bango Samparan, pemimpin ksetra di Gunung Cangak, mengikrarkan keislaman dan memperoleh nama baru Ki Tameng. Wiku Danumaya, putera Ajar Semana, pemimpin ksetra di Gunung Merapi, sepupu Nyi Indang Geulis, menyatakan memeluk Islam dan memperoleh nama baru Ki Tedeng. Sementara Ki Golok Cabang, putera Sanghyang Nago, pemimpin ksetra Gunung Ciangkup, menyatakan memeluk Islam dan memperoleh nama baru Ki Sukawiyana.

Kabar masuk Islamnya para pendeta bhairawa pemimpin ksetra itu sangat mengejutkan orang-orang Rajagaluh sekaligus menyulut api amarah mereka. Mereka merasa telah dikhianati oleh para pemangsa manusia itu. Beberapa waktu lalu mereka telah mengirimkan utusan yang membawa berbagai hadiah dan persembahan ke Gunung Ciangkup, Gunung Kumbha (ng), Gunung Cangak, dan Arga Liwung untuk mendapat dukungan dari ksetra-ksetra tersebut. Meski belum memperoleh kepastian dukungan, mereka sangat yakin bahwa para pemimpin ksetra itu akan mendukung mereka. Ternyata, tanpa mereka duga-duga, para pemimpin ksetra di gunung-gunung keramat itu malah datang kepada Sri Mangana dan menyatakan memeluk Islam. Berarti, pihak yang mereka bayangkan akan menjadi kawan justru menjadi lawan.

Kemarahan yang sudah membakar para tetunggul Rajagaluh itu seketika berubah menjadi kecemasan ketika mereka mendengar kabar dari para telik sandhi bahwa Pangeran Raja Sanghara (Sansekerta: Raja Penghancur Jagad), adik kandung Sri Mangana, telah meninggalkan Kraton Pakuan Pajajaran. Sang pangeran pergi dengan membawa lima ratus orang pasukan berkuda. Tidak ada yang tahu ke mana ia dan pasukannya pergi. Belakangan muncul kabar yang menyatakan Pangeran Raja Sanghara bersama pasukan berkudanya muncul di Kuta Caruban dan menyatakan ikrar memeluk Islam.

Lembah Girinatha yang terhampar di kaki Gunung Ceremai diselimuti kabut pagi yang membekukan mayat-mayat yang bergelimpangan di atas rerumputan. Cahaya matahari pagi yang menyapu permukaan bumi telah menjelmakan lembah itu seolah-olah terbakar api. Merah. Semerah darah yang mengering di tubuh tak bernyawa itu.

Itulah pemandangan hasil pertempuran di hari pertama antara pasukan Caruban Larang yang dipimpin oleh wali nagari Kuningan dan pasukan Rajagaluh yang dipimpin oleh Adipati Palimanan Arya Kiban. Mayat-mayat yang bergelimpangan itu sebagian besar adalah mayat-mayat prajurit Rajagaluh.

Kata orang, kemenangan yang diraih wali nagari Kuningan pada pertempuran hari pertama itu banyak ditentukan oleh siasat cemerlang pihak Kuningan yang mengutamakan penghancuran cerita kemasyhuran gajah tunggangan Adipati Palimanan. Untuk menandingi gajah terkenal itu, wali nagari Kuningan mengendarai kuda hitam bernama Sang Winduhaji, konon berupa kuda perkasa keturunan kuda sembrani yang bisa terbang.

Saat dua panglima itu berhadap-hadapan di medan tempur, sasaran utama yang diincar-incar oleh wali nagari Kuningan bukanlah Adipati Kiban, melainkan gajah tunggangannya yang ditakuti oleh prajurit Kuningan. Demikianlah, saat wali nagari Kuningan yang dibantu Ki Demang Singagati, Ki Anggarunting, dan Ki Anggasura berhasil menjungkalkan Sang Bango dengan tujuh batang tombak di lehernya, semangat pasukan Kuningan pun menjadi berkobar-kobar. Sebaliknya, semangat pasukan Rajagaluh padam. Akhirnya, pada pertempuran hari pertama itu pasukan Rajagaluh berantakan. Barisan depan bertumbangan bagaikan alang-alang dibabat parang. Barisan belakang mundur ke Palimanan, sedangkan barisan tengah lari tunggang langgang meninggalkan senjatanya. Bahkan, Adipati Kiban sendiri lari terbirit-birit dari medan tempur tak tentu arah sehingga saat orang-orang menemukannya ia dalam keadaan bingung di pantai Dermayu.

Keberhasilan gemilang memukul berantakan pasukan Rajagaluh membuat dada wali nagari Kuningan membusung dan kepalanya membesar. Ia mabuk kemenangan. Tanpa berpikir lebih jauh, dengan kegembiraan meluap-luap ia memerintahkan pasukannya untuk memburu dan memusnahkan sisa-sisa pasukan Rajagaluh. Para prajurit Kuningan yang juga sedang mabuk kemenangan dengan gembira berangkat menunaikan perintah. Tanpa kenal lelah, sejak sore hingga malam mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil dan berkeliaran di sekitar lembah Girinatha untuk memburu dan memusnahkan sisa-sisa pasukan Rajagaluh yang mereka temukan.

Ketika matahari terbit di hari kedua peperangan, kelompok-kelompok kecil pasukan Kuningan telah kembali dari perburuan. Sebagian mereka terlihat memanggul lima atau enam kepala musuh. Sebagian lagi terlihat mengikat rambut sepuluh sampai lima belas kepala musuh di pelana kudanya. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang membawa satu kepala. Dengan langkah terseok mereka kembali ke induk pasukan. Sekalipun kebanggaan akan kemenangan terlihat membias di wajah mereka, di pagi hari pada perang hari kedua itu mereka terlihat sangat lelah dan mengantuk. Mereka tampak kurang bersemangat saat menata barisan, padahal hari itu mereka harus bersiap-siaga menghadapi pertempuran.

Dalam pertempuran di hari kedua, pasukan Rajagaluh yang berpangkalan di Kepuh berjumlah sekitar 10.000 orang dan dipimpin oleh Ki Gedeng Leuwimunding. Pasukan itu terdiri atas tiga ribu pasukan tombak, dua ribu pasukan pedang, seribu pasukan gada, seribu pasukan berkuda, dan tiga ribu pasukan panah. Sejak dini hari Ki Gedeng Leuwimunding sudah menerima laporan kekalahan Adipati Kiban. Itu sebabnya, ia sangat berhati-hati pada pertempuran hari kedua itu. Ia memutuskan untuk menggunakan formasi tempur yang disebut kananabyuha (Sansekerta: gelar perang “hutan”), karena formasi tempur Bajrapanjarabyuha (Sansekerta: gelar perang “sangkar intan”) yang digunakan Adipati Kiban terbukti dapat dihancurkan musuh.

Pagi hari ketika pasukan Kuningan sedang mengatur barisan di lembah Girinatha, Ki Gedeng Leuwimunding menempatkan tiga ribu pasukan panahnya di hutan Kepuh yang terletak di utara Girinatha dalam bentuk setengah lingkaran. Tiga ribu pasukan tombak ditempatkannya di selatan hutan dalam jarak sekitar satu pal. Mereka ditugaskan menunggu kedatangan pasukan Kuningan. Dengan kibaran umbul-umbul dan bendera warna kuning serta merah, prajurit-prajurit penombak itu menghentakkan tombaknya ke tanah secara serentak hingga terdengar suara gemuruh bagaikan gempa. Kemudian, secara bergantian mereka menantang-nantang dan mengejek-ejek pasukan Kuningan.

Ki Gedeng Leuwimunding yang duduk gagah di atas gajah tunggangannya di dalam hutan terlihat gelisah, meski dikitari pasukan berkuda dan pasukan pembawa gada. Ketika di kejauhan ia menyaksikan debu mengepul dan titik-titik hitam bergerak ke arahnya, ia memanggil para perwiranya dan mewanti-wanti, “Pasukan Kuningan sudah bergerak kemari. Jangan ada yang menyerang sebelum ada perintahku.” Setelah menyampaikan beberapa petunjuk, ia menyemangati pasukannya dengan janji. “Siapa saja yang dapat membawa satu kepala musuh akan mendapat sepuluh pikul padi (6,2 kuintal).”

Gelar perang Kananabyuha yang digelar di hutan Kepuh oleh Ki Gedeng Leuwimunding ternyata berhasil mengecoh pasukan lawan. Pasukan Kuningan yang pada hari sebelumnya meluluhlantakkan pasukan Adipati Kiban sangat marah ditantang dan diejek oleh pasukan tombak Rajagaluh. Dengan dada dikobari api amarah, mereka menyerang pasukan tombak Rajagaluh. Sambil memaki-maki mereka berpacu menerjang musuh laksana awan hitam tertiup angin. Kaki-kaki kuda yang berkeringat saling mendahului dengan kaki prajurit pembawa pedang dan pasukan tombak. Namun, saat jarak mereka dengan pasukan terdepan Rajagaluh hanya sekitar tiga puluh tombak tiba-tiba mereka mendengar pasukan Rajagaluh berteriak keras secara serentak. Mereka terkejut mendengar suara gemuruh laksana halilintar itu.

Seketika terlihat pemandangan mengerikan. Di tengah suara gemuruh itu beribu-ribu tombak tampak melesat bagaikan awan hitam. Pasukan Kuningan yang sudah berlari ke arah musuh tersentak kaget. Pasukan berkuda yang berada di barisan terdepan serentak menarik tali kekang keras-keras. Sementara pasukan pedang dan tombak yang melaju berusaha menghentikan laju kakinya dengan mata memandang ngeri ke atas. Namun, usaha mereka terlambat. Dalam sekejap terdengar jerit kematian yang diikuti bertumbangannya tubuh kuda dan penunggangnya serta tubuh prajurit Kuningan ke tanah bagai batang padi tertiup angin.

Menyaksikan pemandangan tak terduga itu, para kepala pasukan Kuningan berteriak-teriak memerintahkan mundur pasukannya. Namun, pekik kesakitan dan jerit kematian para prajurit menenggelamkan suara mereka. Prajurit-prajurit Kuningan di barisan tengah tetap merangsak ke depan, terutama ketika mereka melihat pasukan tombak musuh melarikan diri setelah melempar tombaknya.

”Mereka lari!”

“Kejar!”

Melihat barisan tengah pasukan Kuningan menerjang ke depan untuk memburu pasukan tombak Rajagaluh, Ki Gedeng Leuwimunding menyadari bahwa saat pembalasan telah tiba. Dari atas gajah tunggangannya, ia menunggu dengan hati cemas masuknya pasukan Kuningan ke dalam jarak tembak pasukan panahnya. Waktu tiba-tiba ia rasakan berjalan sangat lambat.

Sementara itu, wali nagari Kuningan yang menyadari bahwa pasukannya sedang memasuki perangkap musuh berusaha meneriaki mereka agar mundur. Namun sampai suaranya serak, para prajurit yang sudah mabuk kemenangan itu terus memburu pasukan musuh yang lari ke arah hutan. Saat prajurit-prajuritnya berada di tepi hutan, ia terperangah menyaksikan gemuruh bayangan hitam bagai kawanan serangga melesat dari antara pepohonan hutan. Rupanya, bayangan hitam mirip serangga itu adalah hujan anak panah. Bagaikan sedang bermimpi, sang adipati menyaksikan prajurit-prajuritnya berjumpalitan dan bertumbangan ke tanah dengan tubuh memerah dihiasi anak panah. Pasukan berkuda yang dibanggakannya bergelimpangan di tanah meregang nyawa.

Wali nagari Kuningan yang masih terbelalak menyaksikan kehancuran pasukannya, tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri ketika melihat beratus-ratus pasukan berkuda musuh yang diikuti beribu-ribu pasukan pedang dan gada keluar berbondong-bondong dari balik pohon-pohon hutan bagaikan kawanan semut menyerbu ke arahnya. Umbul-umbul dan bendera yang dikibarkan musuh berkebaran di tengah acungan tombak dan kelebatan pedang. Pekik peperangan terdengar menggemuruh, sahut-menyahut, dan sambung-menyambung laksana guruh. Pasukan Kuningan yang kelelahan dan mengantuk serta kehilangan semangat tempur itu melakukan perlawanan dengan sisa kekuatan yang ada. Tetapi, perlawanan setengah hati itu akhirnya membuat mereka semburat tak tentu arah; sebagian meloloskan diri ke lereng Gunung Ceremai, namun sebagian terbesar di antara mereka menghadap Sang Maut.

Dengan susah payah wali nagari Kuningan, Ki Demang Singagati, Ki Anggasura, dan Ki Anggarunting berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Rajagaluh. Meski mereka berhasil selamat mencapai Pancalang dan meneruskan perjalanan ke Kuningan, pasukan mereka sudah hancur binasa. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Kuningan terbunuh pada hari kedua pertempuran. Sedang pihak Rajagaluh hanya kehilangan sekitar empat ratus prajurit. Menurut sisa-sisa prajurit Kuningan yang berhasil meloloskan diri, mayat kawan-kawan mereka bergelimpangan antara hutan Kepuh hingga Pancalang. Sebagian besar di antara mayat-mayat itu saat ditemukan sudah tidak berkepala lagi.

Kabar kehancuran pasukan Kuningan disambut pilu di seluruh Caruban. Tidak kenal siang tidak kenal malam, orang membicarakan kekalahan pahit itu dengan kecemasan dan ketakutan berlebihan. Sejumlah besar pengungsi di Kalisapu diam-diam mulai meninggalkan gubuk dan tendanya menuju Mundu, Pengarengan, bahkan ke Bojong, Kendal, Samarang, dan Demak. Pada saat seperti itu tiba-tiba berkeliaran “kambing hitam” yang dijadikan sasaran hujatan dan kecaman karena dianggap sebagai binatang celaka paling bersalah yang menjadi penyebab kekalahan itu. Kambing hitam itulah Syaikh Lemah Abang.

Entah siapa yang memulai, di tengah kecemasan dan ketakutan yang mencekam jiwa penduduk dan pengungsi Caruban, tersebar kasak-kusuk yang mengaitkan kekalahan pasukan Kuningan dengan khotbah-khotbah Abdul Jalil kepada para laskar muslim di Pancalang, Jamaras, Plumbon, dan Gunung Jati. Akibat Syaikh Lemah Abang melarang para pejuang muslim membawa jimat dan pusaka sakti saat berperang, begitu kasak-kusuk itu menyebar, maka kebinasaan pun dialami pasukan Kuningan yang maju ke medan perang tanpa membawa “bekal” apa pun. Bahkan, di dalam khotbah-khotbahnya itu Syaikh Lemah Abang mengajarkan orang-orang untuk mencintai kematian dan mencari mati sehingga mengakibatkan kehancuran bagi pasukan Kuningan.

“Pokoknya, mulai sekarang jangan didengar khotbah syaikh sesat itu.”

“Kita sebut saja dia dengan gelar Sang Pengkhotbah Kematian.”

“Aku dengar-dengar, arwah prajurit-prajurit Kuningan yang terbunuh sekarang ini menjadi budak Syaikh Lemah Abang. Mereka sengaja dikorbankan untuk menambah hebat ilmunya.”

Ketika Sri Mangana mendengar kasak-kusuk yang menghujat Syaikh Lemah Abang sebagai orang yang paling bersalah dalam kekalahan pasukan Kuningan, ia mengumpulkan seluruh pemuka masyarakat dan tetunggul Caruban di Bangsal Manguntur. Wali nagari Kuningan yang hadir didampingi Ki Demang Singagati, Ki Anggasura, dan Ki Anggarunting dengan berurai air mata menyatakan penyesalannya kepada Sri Mangana atas ketidakmampuan mereka dalam memimpin pasukan.

Sri Mangana yang sudah memperoleh laporan lengkap tentang jalannya pertempuran, dengan penuh wibawa mengingatkan wali nagari Kuningan tentang kekeliruan-kekeliruan yang telah dilakukannya selama pertempuran. “Ada tiga sebab utama yang menurut hematku menjadi penyebab dari kekalahanmu. Pertama-tama, saat engkau tidak menyetujui kebijakanku menunjuk Nyi Mas Gandasari sebagai agra-senapati. Tanpa mengetahui kemampuan orang lain, engkau hanya mengemukakan alasan bahwa seorang perempuan tidak boleh memimpin para lelaki. Sekarang ini, kenyataan menunjukkan bahwa engkau dan pasukanmu yang bertempur di Kepuh hancur berantakan digilas pasukan Leuwimunding. Sementara Nyi Mas Gandasari yang membawa pasukan Liman Bhuwana berhasil menghancurkan pasukan Rajagaluh di Tegal Karang. Bahkan dua orang manggala Rajagaluh, yaitu Tumenggung Bhaya Pethak dan Arya Pekik, menyerah dan ditawan. Bagaimana ini? Apakah aku yang salah memilih orang atau engkau yang terlalu takkabur dan menilai diri terlalu tinggi?”

“Kami mengaku salah, Paduka,” kata wali nagari Kuningan pasrah.

“Kekeliruanmu yang kedua,” kata Sri Mangana dingin, “setelah mengalahkan pasukan adipati Palimanan, engkau mabuk kemenangan dan lupa daratan. Engkau memerintahkan pasukanmu untuk memburu musuh dan memberikan hadiah bagi tiap kepala musuh yang didapatkan masing-masing prajurit. Itu perintah apa? Tidakkah engkau sadar jika kebiasaan memenggal kepala dan merusak jenasah dalam perang adalah kebiasaan buruk orang-orang kafir yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam? Bagaimana mungkin engkau sebagai pemimpin orang-orang beriman bisa memerintahkan orang memenggal kepala mayat dan merusak jenasah?”

“Kami khilaf, Paduka,” wali nagari Kuningan berkata lemah. “Kami mohon dihukum.”

“Aku tahu, engkau ingin membalas tindakan yang sama yang dilakukan musuh terhadap pasukanmu. Tetapi, engkau lupa bahwa memenggal kepala mayat dan merusak jenasah diharamkan dalam Islam. Sepanjang sejarah yang diteladankan Nabi Muhammad Saw., tidak pernah terjadi tindakan merusak dan memenggal kepala mayat. Bahkan saat jenasah Sayyidina Hamzah, pamanda Nabi Muhammad Saw., dirusak orang-orang kafir Quraisy dan jantungnya dimakan oleh Hindun, tidak menjadikan beliau dan orang-orang Islam gelap mata dan meniru tindakan Hindun. Sebab, kalau tindakan merusak jenasah Sayyidina Hamzah itu dibalas dengan cara yang sama, apa yang membedakan seseorang itu masuk ke dalam golongan beriman dan bukan golongan beriman? Apa yang membedakan keharusan seorang muslim untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. jika mereka meniru tindakan Hindun?”

“Kami salah. Kami benar-benar salah dan tak berguna. Kami mohon diberi hukuman.”

“Dan kesalahanmu yang ketiga, engkau dan seluruh pasukan yang engkau pimpin menggantungkan hidup dan mati pada jimat dan pusakan bikinan dukun dan jawara lepus. Aku tidak tahu sudah berapa banyak dana yang engkau hamburkan untuk membeli keris, cincin bermata akik, badong, akar bahar, kutang antakusuma, kuku dan kumis macan, rajah-rajah, juga kalung rantai babi yang engkau anggap bertuah. Aku juga tidak tahu berapa banyak dana yang dibelanjakan prajuritmu untuk membeli benda-benda tak berguna itu. Yang aku tahu, semua jimat dan pusaka yang dijadikan bekal andalan oleh prajuritmu itu tidak berguna. Buktinya, mereka terbunuh beramai-ramai di medan perang. Mana kekuatan sakti dari benda-benda itu?”

“Aku tidak melarang siapa pun di antara penduduk Caruban untuk memiliki benda-benda apa pun yang disukainya. Tetapi sebagai seorang pemimpin, aku mencontohkan bahwa hidupku tidak tergantung pada benda apa pun. Perlu kalian ketahui, semua benda-benda kraton yang pernah dianggap bertuah, yang berasal dari Gunung Ciangkup, Gunung Kumbha (ng), Gunung Cangak, Gunung Liwung, dan Gunung Merapi seperti caping, badong, bedog, baju waring, topong, umbul-umbul, dan batok bolu telah aku buang ke lautan. Segala benda bertuah tidak lagi dimiliki oleh kalifah Caruban. Sebab, tuah dan keramat, bagi kalifah, tidak terletak di benda-benda tetapi di dalam diri manusia. Beritakan apa yang aku katakan ini kepada semua orang. Kabarkan kepada mereka bahwa di kraton Caruban sudah tidak ada benda-benda pusaka karena semua tuah dan keramat telah disatukan di dalam diri orang yang paling takwa di antara manusia,” kata Sri Mangana.

Para hadirin diam mendengar uraian Sri Mangana. Sebagian di antara mereka memahami simpang-siur yang berkembang selama ini adalah sesuatu yang salah. Namun di antara para hadirin, yang paling merasa gerah adalah para jawara, dukun, dan jajadug. Mereka seolah-olah ditampar oleh kalifah Caruban di hadapan orang banyak tanpa bisa membela diri. Saat api amarah di pedalaman jiwa mereka bagaikan hutan terbakar, berkelebatanlah bayangan Abdul Jalil di benak mereka sebagai sasaran yang harus mereka lumat dan musnahkan.

Sri Mangana yang menangkap pertanda ketidakpuasan atas ucapannya, kemudian melanjutkan kata-katanya, “Sekarang ini telah terbukti bahwa Angga, wali nagari Kuningan, gagal menjalankan tugas sebagai panglima yang mewakili senapati di medan tempur. Pasukannya yang berjumlah empat ribu telah terbunuh lebih dari tiga ribu orang. Sisanya yang kembali ke Kuningan menurut laporan hanya tiga ratus orang. Yang lain hilang entah ke mana. Sebaliknya, Nyi Mas Gandasari, panglima puteri Caruban dengan dukungan wali nagari Gunung Jati, menunjukkan keberhasilan dalam menjalankan tugasnya.”

“Dengan kenyataan ini, jelas-jelas sekarang hanya Nyi Mas Gandasari satu-satunya panglima yang mewakili senapati di medan tempur. Sebab, pasukannya masih utuh. Karena itu, aku tawarkan kepada siapa saja di antara pendekar laki-laki di Caruban ini yang merasa mampu menggantikan kedudukan Nyi Mas Gandasari. Silakan maju ke depan untuk menggantikannya. Ambillah kedudukan panglima Caruban dan rebutlah kemenangan yang gemilang daripada yang sudah ditunjukkan Nyi Mas Gandasari. Tetapi ingat, jabatan panglima bukan untuk main-main dan coba-coba karena yang dipertaruhkan dalam pertempuran ini adalah nyawa prajurit Caruban yang memiliki anak-anak dan istri. Sehingga, kegagalan dalam menjalankan tugas akan mendapat imbalan hukuman pancung. Tawaranku ini berlaku kapan saja dan tidak dibatasi waktu. Siapa saja pendekar yang berani dan mampu silakan menggantikan Nyi Mas Gandasari, sebab, yang kita butuhkan dalam pertempuran ini adalah kenyataan dan bukannya dalil-dalil yang masih diperdebatkan kebenarannya.”

Para tetunggul dan pemuka masyarakat Caruban menunduk diam. Mereka tidak ada yang berani mengangkat wajah menatap Sri Mangana. Mereka merasa tidak bisa menyampaikan hujah-hujah lagi untuk menentang penunjukan Nyi Mas Gandasari sebagai panglima yang sudah membuktikan kehebatannya di medan perang. Namun, di kalangan para jawara, dukun, dan jajadug, keadaan yang diwarnai nuansa ketidakpuasan itu tetap saja dikaitkan dengan keberadaan sang kambing hitam Abdul Jalil. Sambil mengedipkan mata satu sama lain, mereka bersepakat untuk menyamakan sudut pandang bahwa pengangkatan Nyi Mas Gandasari sebagai panglima puteri Caruban pada dasarnya lebih disebabkan karena dia adalah saudara tua Syaikh Lemah Abang, tukang sihir yang sudah menguasai Sri Mangana dengan kekuatan sihirnya.

Ibarat pepatah “nasi sudah menjadi bubur”, tidak ada gunanya kekalahan pasukan Kuningan disesali. Sebab sesuai hukum perang, ada pihak yang kalah dan ada pula pihak yang menang. Sesungguhnya, kekalahan pasukan Kuningan di hutan Kepuh telah diimbangi dengan kekalahan pasukan Rajagaluh pimpinan Tumenggung Bhaya Petak dan Arya Pekik di Tegal Karang. Bahkan kemenangan Nyi Mas Gandasari itu semakin meruntuhkan semangat para tetunggul Rajagaluh yang sudah dicekam oleh keyakinan bahwa kekalahan Prabu Surawisesa terletak di tangan prajurit perempuan. Semangat mereka bertambah padam terutama setelah Yang Dipertuan Galuh Pakuan menarik pasukannya yang diperbantukan ke Rajagaluh.

Kabar ditariknya sekitar 30.000 orang pasukan Galuh Pakuan dari Rajagaluh diterima pihak Caruban dengan gembira. Setelah memperhitungkan secara matang kekuatan dan kelemahan Rajagaluh, Sri Mangana memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran ke Kutaraja Rajagaluh dengan menggunakan kekuatan pasukan gabungan Caruban Larang dan pasukan dari kadipaten-kadipaten pesisir Nusa Jawa. Dengan serangan serentak itu dipastikan Rajagaluh akan kalang kabut, terutama saat mereka mendengar keterlibatan pasukan Majapahit dan Demak. Dengan melibatkan pasukan Majapahit asal Terung, kata Sri Mangana dalam hati, pihak Rajagaluh pasti runtuh nyalinya.

Memang, sejak kedatangan pasukan Majapahit asal Terung dengan kotak-kotak sakti yang disebut gurnita, orang tak henti-hentinya berbicara tentang senjata dahsyat asal Palembang itu. Baik prajurit Rajagaluh, baik prajurit Caruban Larang, seperti tak kenal bosan membicarakan kotak-kotak keramat itu. Ada yang menduga kotak-kotak itu berisi arwah dan ada pula yang menduga berisi mayat orang sakti. Bahkan tak kurang ada yang menduga kotak-kotak itu berasal dari kahyangan dan merupakan anugerah dewa-dewa.

Dalam masalah menata kekuatan dan siasat perang, Sri Mangana sangat tertutup. Berbeda dengan masalah-masalah pemerintahan yang selalu dimusyawarahkannya dengan banyak pihak, dalam mengatur siasat perang ia hanya mengajak bicara beberapa gelintir orang yang dianggapnya memiliki kemampuan di bidang tersebut. Untuk menjalankan rencana penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana mengajak musyawarah Pangeran Raja Sanghara, Pangeran Sabrang Lor, Nyi Mas Gandasari, dan Tun Abdul Qadir.

Dalam rencana penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh itu, ia mengemukakan gagasan untuk membagi kekuatan Caruban menjadi dua. Kekuatan pertama akan diserahkan kepada Nyi Mas Gandasari dengan tugas utama menyerang Kuta Rajagaluh dari timur. Kekuatan kedua akan dipimpinnya sendiri dengan tugas utama menyerang Kuta Rajagaluh dari selatan. “Pasukan yang aku bawa hanya sepertiga dari seluruh kekuatan pasukan gabungan. Aku memiliki banyak informasi bahwa ibukota Rajagaluh hanya dijaga oleh pasukan pengawal raja. Seluruh kekuatan Rajagaluh disiagakan di Palimanan.”

“Apakah tidak mungkin saat kita mengepung Kuta Rajagaluh, pihak musuh yang berpangkalan di Palimanan tiba-tiba menerobos dan menyerang Kuta Caruban?” tanya Pangeran Sabrang Lor.

“Paman sudah memperhitungkan itu, Ananda,” kata Sri Mangana tenang. “Pertama-tama, kita harus memancing pasukan Rajagaluh di Palimanan agar keluar dari pangkalan dengan cara seolah-olah kita akan menyerang Leuwimunding. Saat mereka keluar, pasukan kita akan masuk ke Palimanan. Dari Palimanan kita langsung menggempur Rajagaluh. Sementara itu, Kuta Caruban sudah kosong dari penduduk dan dijaga oleh dua ribu pasukan yang terlatih. Andaikata pihak Rajagaluh menerobos dan menyerang Kuta Caruban, para prajurit pengawal kuta akan melawan dengan melakukan perang kuta. Mereka akan menimbulkan kesulitan bagi pasukan Rajagaluh karena mereka lebih menguasai keadaan kuta dibanding pasukan Rajagaluh,” Sri Mangana menjelaskan.

“Jika demikian, apa tugas kami sebagai pasukan dari luar Caruban?” tanya Pangeran Sabrang Lor.

“Ananda kami tunjuk sebagai panglima bagi pasukan dari pesisir. Ananda akan membawa pasukan yang Ananda pimpin bersama pasukanku ke Rajagaluh. Kita akan bahu membahu merebut ibukota musuh dengan terlebih dulu merebut Palimanan.”

Akhirnya, semua hadirin sepakat mendukung rencana yang diajukan Sri Mangana. Nyi Mas Gandasari, panglima puteri Caruban, ditugaskan memimpin penyerbuan ke Kuta Rajagaluh dari arah timur, dengan membawahi 20.000 orang prajurit. Ia dibantu oleh perwira-perwira dan penasihat-penasihat unggul, seperti Pangeran Soka, Pangeran Pandyunan, Pangeran Kadhyaksan, Wali Nagari Gegesik, Abdul Karim Wang Tao, Wali Nagari Gunung Jati, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Wali Nagari Susukan, Abdul Razaq Wu Lien, Wali Nagari Cangkuang, Abdul Qadir al-Baghdady, Syaikh Bentong, Li Han Siang, Abdul Qahhar al-Baghdady, Syaikh Ibrahim Akbar, dan Haji Shang Shu. Sedangkan Sri Mangana akan memimpin 6.000 prajurit gabungan Caruban dan Demak, dibantu oleh perwira-perwira dan penasihat-penasihat unggulan seperti Pangeran Raja Sanghara, Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Luhung, Pangeran Kejawan, Wali Nagari Losari, Syaikh Duyuskhani, Wali Nagari Sindangkasih, Abdul Malik Israil, Ki Wedung, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, Ki Sukawiyana, dan Syaikh Lemah Abang.

Dalam rencana penyerbuan itu, Raden Qasim dan Raden Mahdum Ibrahim tidak dilibatkan. Mereka diminta oleh Sri Mangana dan Abdul Jalil untuk kembali ke Surabaya menemui ayahandanya, dengan alasan untuk memohonkan doa bagi kemenangan pasukan Caruban. Namun saat Raden Mahdum Ibrahim bergeming dengan tatap mata curiga menerima tugas itu, Abdul Jalil mendekatinya dan berbisik lirih, “Semalam ayahanda Raden mendatangiku lewat ‘alam al-khayal. Beliau berpamitan akan kembali ke hadirat-Nya.”

Raden Mahdum Ibrahim tersentak kaget. Dengan suara bergetar ia berkata lirih, “Semalam saya juga bermimpi didatangi beliau. Tapi, beliau tidak berkata apa-apa. Beliau hanya tersenyum.”

“Beliau juga mendatangi Sri Mangana dan memberi isyarat akan kembali ke hadirat-Nya.”

“Apakah beliau tidak berpesan apa-apa?” tanya Raden Mahdum Ibrahim.

“Beliau tidak berpesan apa-apa. Tetapi aku bisa menduga-duga, beliau tidak ingin kabar wafatnya diketahui banyak orang. Beliau ingin dimakamkan sendiri oleh tangan putera-putera dan cucu-cucunya,” kata Abdul Jalil menarik napas berat.

Raden Mahdum Ibrahim tertunduk diam. Setelah itu, ia menyalami dan merangkul Abdul Jalil sambil membisikkan sesuatu.

Sementara itu, saat Sri Mangana dan para tetunggul Caruban menyusun siasat penyerbuan besar-besaran, Ki Gedeng Leuwimunding dan pasukannya justru sedang merayakan pesta kemenangan. Di tengah hujan yang terus menerus mengguyur bumi, prajurit Leuwimunding terlihat menari-nari dan melantunkan tembang sambil menenggak arak dan merangkul ronggeng. Mereka tenggelam dalam sukacita dimabuk kemenangan. Mereka seolah-olah tidak peduli kawan-kawan mereka dihancurkan pasukan Caruban di Tegal Karang. Mereka terus menari-nari, menembang, menenggak arak, berteriak-teriak, menikmati kehangatan tubuh ronggeng dan perempuan penghibur.

Ketika pesta merayakan kemenangan itu sudah berlangsung empat hari, Ki Gedeng Leuwimunding berencana menghentikannya dan menata kembali pasukannya untuk pertempuran berikutnya. Kemenangan mutlak yang diraihnya di hutan Kepuh telah membuat dadanya membusung dan kepalanya membesar. Pujian dan sanjungan yang diterimanya dari Prabu Chakraningrat dan tetunggul Rajagaluh telah membuatnya mabuk kebesaran dan lupa diri. Itu sebabnya, dengan keyakinan diri berlebih ia menyatakan kepada para tetunggul Rajagaluh bahwa pada hari kelima kemenangannya, ia akan menggempur Kuta Caruban. “Aku sudah beroleh kepastian bahwa Kuta Caruban sesungguhnya kosong ditinggalkan penduduknya. Dengan pasukan yang aku pimpin, ditambah pasukan yang dipimpin Ki Demang Surabangsa dan Ngabehi Ardisora, aku yakin bisa menghadiahkan kemenangan kepada Sang Prabu Chakraningrat,” Ki Gedeng Leuwimunding berkata jumawa.

Kesombongan Ki Gedeng Leuwimunding ternyata tidak berlangsung lama. Pada saat ia menghadiri jamuan yang diadakan Adipati Kiban di Balai Witana Kadipaten Palimanan bersama para tetunggul Rajagaluh, wajahnya menjadi pucat pasi ketika ia diberi tahu oleh Pangeran Arya Mangkubhumi bahwa sekitar 15.000 orang prajurit Caruban sedang bergerak dari Tegal Karang menuju Glagahamba terus ke Babakan. “Menurut laporan para telik sandhi, pasukan itu bergerak terus ke barat. Dan menurut dugaan, pasukan itu akan menyerbu Leuwimunding,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

Ki Gedeng Leuwimunding yang saat datang ke Kadipaten Palimanan terlihat membusungkan dada dan mendongakkan kepala saat berjalan, tiba-tiba meringkuk tanpa daya mendengar ucapan Pangeran Arya Mangkubhumi. Wajahnya pucat. Bibirnya pun mendadak bergetar dan lututnya gemetaran. Kemudian dengan suara tergagap-gagap ia menggumam, “Kalau demikian, saya harus ke sana. Ya, ya, saya harus segera ke Leuwimunding.” “

Itu memang harus engkau lakukan,” sergah Pangeran Arya Mangkubhumi tak senang, “sebab jatuhnya Leuwimunding adalah sama maknanya dengan jatuhnya Kutaraja Rajagaluh.”

“Bagaimana dengan rencana penyerbuan hamba ke Kuta Caruban, o Pangeran?” tanya Ki Gedeng Leuwimunding untuk menutupi kegentaran yang merayapi hatinya. “Apakah harus dibatalkan?”

“Jika engkau menginginkan pasukanmu dijagal di sana, berangkatlah ke Kuta Caruban.”

“Dijagal?” Ki Gedeng Leuwimunding tercengang. “Bukankah Kuta Caruban sudah kosong?”

“Bodoh kau!” teriak Pangeran Arya Mangkubhumi jengkel. “Yang Dipertuan Caruban menyiagakan pasukan pilihan di kutarajanya. Entah berapa ribu jumlahnya, yang jelas, pamanku yang cerdik dan perkasa itu sengaja memasang jebakan untuk memerangkap orang-orang sombong seperti engkau.”

“Kalau demikian, hamba mohon restu, Pangeran.” Ki Gedeng Leuwimunding menyembah. “Hamba dan pasukan akan berangkat ke Leuwimunding sekarang juga.”

“Berangkatlah,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi dingin. “Kita nanti bertemu di Leuwimunding karena pasukanku sudah berangkat lebih dulu ke sana.”

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 09:00LT

11. Panglima Puteri Caruban

Sementara Ki Gedeng Leuwimunding dan pasukan beserta tetunggul Rajagaluh berpacu menuju ke Leuwimunding, pasukan Caruban Larang yang dipimpin Nyi Mas Gandasari tanpa terduga berbalik arah ketika sampai di hutan Gintung di utara Waringin. Pasukan Caruban tidak melanjutkan perjalanan ke arah Leuwimunding, sebaliknya mereka kembali ke Kadipaten Palimanan. Tanpa menimbulkan suara, di bawah lindungan hutan yang lebat dan kabut tebal serta bentangan malam yang hitam, pasukan itu bergerak melintasi hamparan alang-alang, menyeberangi sungai, dan menjelang tengah malam muncul kembali di Balerante yang sudah ditinggalkan pasukan Rajagaluh sore hari sebelumnya.

Malam itu pangkalan pertahanan Balerante hanya dijaga oleh sekitar tiga puluh orang prajurit sehingga tanpa kesulitan berarti Balerante berhasil dikuasai pasukan Caruban. Satu regu penyergap telah melumpuhkan para penjaga. Setelah mengamankan keadaan, pasukan itu diperintahkan untuk beristirahat. Sebab, dengan menguasai Balerante yang jaraknya hanya dua tiga pal dari Kadipaten Palimanan, kemenangan pasukan Caruban sudah terbayang di depan mata sehingga mereka harus beristirahat mengumpulkan tenaga untuk penyerangan esok hari.

Malam itu ketika para prajurit dan tetunggul Caruban Larang sedang beristirahat sambil membayangkan kemenangan esok hari, di tengah liputan kabut bergumpal dan bentangan selimut kegelapan, penduduk Palimanan, tidak kenal tua, muda, laki-laki, perempuan, dan bahkan anak-anak, tiba-tiba keluar beramai-ramai dari rumah masing-masing dengan membawa obor, parang, arit, cangkul, bedog, pentung, dan pisau. Mereka berjalan dalam iring-iringan kecil menuju ujung desa dan bergabung dengan tetangga lain yang sudah berkumpul di sana.

Mereka berbicara satu sama lain dan kemudian membentuk kerumunan-kerumunan kecil seperti kawanan lebah yang mendengung-dengung di sarangnya.

Kerumunan penduduk itu terjadi karena tersebar kabar yang mengatakan saat matahari terbit di cakrawala timur esok pagi, Sri Mangana akan pergi ke Kadipaten Palimanan dengan diiringi pasukannya yang gagah perkasa. Bagaikan memiliki terkaman daya sihir yang dahsyat, kabar kedatangan Sang Ratu Caruban Larang itu menggerakkan seluruh penduduk Palimanan keluar rumah. Mereka seolah-olah dicekam oleh daya pukau yang dahsyat sehingga mereka ingin menekuk lutut di hadapan Duli Paduka Yang Mulia Sri Mangana, ratu yang mereka cintai dan hormati. Hasrat sangat kuat untuk menyembah sang ratu membuat mereka tak kenal tengah malam, tak kenal gelap, tak kenal dingin, di bawah selimut kabut yang pekat, mereka keluar dari rumah masing-masing untuk menuju ke Kadipaten Palimanan.

Malam yang membentangkan selimut hitam di langit Caruban telah menjelmakan keindahan sangat menakjubkan ketika bentangan cakrawalanya ditebari beribu-ribu obor yang menyala di desa-desa yang terletak di sekitar Kadipaten Palimanan hingga desa-desa di lereng Gunung Ceremai. Bagaikan kawanan kunang-kunang yang terbang dalam kerumunan di tengah kegelapan malam, beribu-ribu obor itu terlihat bergerak menuju satu arah. Mereka itulah penduduk dari berbagai desa yang beriring-iringan menuju Kadipaten Palimanan untuk menyambut kehadiran Sri Mangana beserta pasukannya esok hari.

Kehadiran penduduk itu mengejutkan pasukan Caruban Larang yang beristirahat di Balerante. Beberapa prajurit jaga dengan tergopoh-gopoh melaporkan kejadian itu kepada Nyi Mas Gandasari yang terheran-heran menyaksikan orang-orang desa melewati Balerante. “Apakah yang sesungguhnya terjadi? Kenapa mereka beramai-ramai menuju Kadipaten Palimanan? Apakah mereka akan membela sang adipati untuk melawan kita?” tanya Nyi Mas Gandasari ingin tahu.

“Kami sudah menanyai mereka, Nyi Mas, “ kata prajurit penjaga.

“Apa jawaban mereka?”

“Mereka hendak pergi ke Kadipaten Palimanan untuk menyambut kehadiran Yang Mulia Sri Mangana. Kata orang, besok pagi Yang Mulia Sri Mangana akan ke Kadipaten Palimanan bersama pasukannya.”

“O begitu.” Nyi Mas Gandasari terburu-buru menemui Syarif Hidayatullah untuk membicarakan hal itu. Ternyata, baik Syarif Hidayatullah maupun tetunggul Caruban Larang yang lain sudah mengetahui peristiwa tak terbayangkan itu. Mereka akhirnya bersepakat untuk membatalkan serangan kilat ke Kadipaten Palimanan esok hari. Mereka tahu bahwa Kadipaten Palimanan bakal kembali ke pangkuan Sri Mangana tanpa perlu menumpahkan darah setetes pun.

Sementara itu, Arya Kiban Adipati Palimanan yang hanya dijaga oleh sekitar seratus orang pengawal tidak dapat berkata-kata ketika memperoleh laporan tentang gerakan beribu-ribu orang yang berbondong-bondong menuju Kadipaten Palimanan. Ia menduga ribuan orang yang bergerak ke Ndalem Kadipatennya itu adalah pasukan Caruban yang dipimpin Sri Mangana. Arya Kiban tiba-tiba merasa seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk yang menakutkan. Entah apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja ketika ia berdeham menenangkan diri, ia seperti mendengarkan suara dehamnya bergema di dalam relung-relung jiwanya. Ada semacam kengerian dan kelengangan yang menerkam jiwanya yang tengah diguncang ketakutan. Dan tanpa sadar, dengan suara bergetar ia berkata kepada para pengawalnya, “Kita harus meninggalkan kadipaten sekarang juga.”

Tanpa menunggu waktu, para prajurit pengawal yang juga dicekam ketakkutan itu berhamburan sibuk mengumpulkan istri-istri, anak-anak, dan harta benda sang adipati. Arya Kiban yang gelisah terlihat berdiri kebingungan di Balai Witana. Wajahnya pucat. Dahinya penuh dengan butiran peluh. Tubuhnya basah. Dan napasnya tersengal ketika di benaknya berkelebatan beribu-ribu wajah prajurit Caruban yang menyeringai ganas. Wajah-wajah itu beringas dan buas. Kemudian beribu-ribu mulut menjijikkan dengan gigi bertaring tajam berkerumun dan mengepung menggeram-geram seolah-olah hendak merobek-robek tubuhnya. Bagai orang terbangun dari mimpi buruk, sang adipati berdiri menggigil sambil menyandarkan tubuh pada tiang saka. Ia benar-benar ketakutan. Dengan tatap mata nanar ia menyaksikan para prajurit pengawalnya menyelamatkan harta bendanya dariNdalem Kadipaten. Ia sudah memutuskan, apa pun yang terjadi ia harus secepatnya menjauh dari sini.

Ketika beratus-ratus nyala obor sudah terlihat di sekitar alun-alun Kadipaten Palimanan, Arya Kiban merasakan bulu kuduknya meremang. Ia mendengar teriakan-teriakan marah dan caci maki yang menghujatnya dengan kata-kata kotor yang pernah didengarnya. Ia sadar bahwa tengara kebinasaan sedang mengintai seiring hadirnya orang-orang yang sudah seperti keranjingan setan itu. Bagai disentakkan dari tidur, ia dengan kebingungan melompat ke atas tandu dan dilarikan oleh para pengawalnya untuk menyusul rombongan pengawal lain yang sudah berangkat terlebih dahulu membawa anak-anak dan istri-istrinya.

Anggapan Arya Kiban bahwa ia akan dapat lolos dari sergapan musuh dengan secepatnya keluar lewat pintu belakang ternyata keliru. Saat ia dan para pengawal berada pada jarak sekitar tiga pal di barat Ndalem Kadipaten, ia menyaksikan beratus-ratus bahkan beribu-ribu obor yang menyala laksana lautan api bertebaran di segenap penjuru. Nyala obor itu makin lama makin dekat ke arahnya dengan suara gemuruh derap kaki dan celoteh yang menggema di kegelapan malam.

“Apa yang harus kita lakukan?” gumam Arya Kiban kebingungan.

“Yang Mulia harus menyamar,” kata kepala pengawal.

“Menyamar bagaimana? Menyamar sebagai apa?” Arya Kiban memburu.

“Yang Mulia harus turun dari tandu,” kata kepala pengawal tegas. “Kemudian melepas pakaian dan seluruh atribut adipati. Yang Mulia harus menyamar sebagai penduduk desa.”

“Bagaimana dengan istri-istri dan anak-anakku?”

“Mereka juga harus menyamar.”

Akhirnya, di tengah kengerian yang mencekam, Arya Kiban beserta keluarga dan para pengawal memutuskan untuk menyamar sebagai penduduk desa. Mereka melepas seluruh pakaian dan perhiasan yang gemerlapan yang melumuri wajah dan tangan dengan tanah basah. Mereka teraduk-aduk bersama-sama dengan beribu-ribu orang yang bergerak dalam kerumunan-kerumunan menuju Kadipaten Palimanan. Dan akhirnya, dengan sangat susah payah sang adipati bersama rombongannya berhasil meloloskan diri menuju arah Rajagaluh.

Pagi itu ketika matahari merangkak di ufuk timur terlihat pemandangan yang menakjubkan di Kadipaten Palimanan. Sejauh mata memandang, lautan manusia terhampar memenuhi seluruh penjuru sejak Balai Witana hingga alun-alun, bahkan di luar gerbang kadipaten. Mereka adalah penduduk Palimanan yang datang ke tempat itu sejak malam untuk menghaturkan sembah kepada junjungan mereka Sri Mangana. Hingga matahari naik sepenggalah mereka baru diberi tahu jika Sri Mangana bersama pasukannya akan muncul dari gerbang timur. Ketika akhirnya derit roda kereta perang terdengar di gerbang timur kadipaten, semua orang serentak mengarahkan pandangan ke sana.

Di bawah bayangan gerbang yang memanjang, terlihat pemandangan yang menakjubkan semua orang: sebuah kereta perang dari kayu berukir dengan hiasan emas yang ditarik empat ekor kuda putih keluar dari gerbang diiringi beratus-ratus pasukan berkuda yang diikuti beribu-ribu pasukan tombak. Di samping kanan kereta perang itu terlihat panji-panji hitam bertuliskan kalimah La ilaha illa Allah Muhammad rasul Allah dalam bentuk gambar harimau. Panji-panji itulah yang disebut “Macan Ali”, pataka kebesaran Caruban Larang. Di bawah naungan payung kutlima yang dipegang seorang pengawal ratu, Sri Mangana berdiri tegak dengan surban dan jubah putih berkibaran. Tangan kirinya memegang busur. Tangan kanannya memegang keris Kanta Naga yang terselip di dadanya. Benderang cahaya matahari pagi yang bersinar dari arah belakang, menjelmakan Sri Mangana seolah-olah dewa perang yang turun ke bumi. Dan sebuah pemandangan menakjubkan lain terpampang tatkala kereta perang Paksi Naga Liman yang dikendarai Sri Mangana melaju melintasi alun-alun. Bagaikan digerakkan oleh kekuatan raksasa tak terlihat, tiba-tiba lautan manusia yang melimpah di alun-alun hingga Balai Witana Kadipaten Palimanan itu serentak bersujud dan menyampaikan puja dan puji kepada Ratu Sri Mangana; suaranya menggemuruh sambung-menyambung memenuhi angkasa.

Raja adil disembah, raja lalim disanggah. Begitu kata pepatah. Kehadiran Sri Mangana di Kadipaten Palimanan merupakan bukti nyata dari kebenaran pepatah itu. Penduduk Palimanan yang sejak lahir telah mengenal Sri Mangana sebagai ratunya terbukti tidak dapat dibelokkan kiblat kesetiaannya oleh para petualang, seperti Ki Gedeng Kiban, Ki Gedeng Tegal Karang, Ki Gedeng Kenanga, Ki Demang Dipasara, dan Ki Demang Ardisora. Meski bertahun-tahun para petualang itu menanamkan keyakinan bahwa ratu yang harus disembah oleh penduduk Palimanan adalah Prabu Chakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh, rasa tunduk dan pengabdian mereka terbukti tetap terarah pada junjungan mereka yang sebenarnya, Sri Mangana; sang ratu yang termasyhur adil dan bijaksana. Itu sebabnya, ketika mereka mendengar kabar bahwa ratu mereka akan datang ke Kadipaten Palimanan dengan pasukannya maka mereka pun menyambutnya dengan sukacita. Bahkan, untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan, sejak berangkat dari rumah mereka membawa berbagai jenis senjata. Mereka bertekad akan berkorban jiwa dan raga untuk membela sang ratu yang mereka junjung tinggi dan muliakan itu.

Abdul Jalil yang menunggang kuda di samping kereta perang Sri Mangana hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala saat menyaksikan beribu-ribu orang bersujud menyambut kehadiran ayahandanya. Ia tiba-tiba disentakkan oleh kesadaran bahwa gagasannya tentang masyarakat ummah dan wilayah al-Ummah pada dasarnya adalah gagasan yang sangat bertentangan dengan adat kebiasaan yang dianut penduduk bumi putera negeri ini. Ia sadar, gagasan yang diilhami pembentukan masyarakat di Yatsrib pada zaman Nabi Muhammad Saw. dan keempat sahabat itu memiliki perbedaan mendasar dalam hal adat kebiasaan masyarakat pendukungnya. Orang-orang Arab dan Yahudi, sejak zaman Nabi Muhammad Saw. hingga sekarang tidak memiliki adat kebiasaan bersujud kepada manusia, meski kepada seorang maharaja. Sementara itu, di Bumi Pasundan dan Majapahit, keyakinan tentang Dewaraja yang mewajibkan manusia untuk menekuk lutut menyembah sesamanya justru merupakan keniscayaan. Dengan demikian, menurut hematnya, dibutuhkan kebiasaan yang lebih keras untuk mengubah adat kebiasaan penduduk itu dengan resiko gagal sama sekali atau berhasil lewat penyesuaian-penyesuaian.

Meski tidak mengetahui apa yang berkecamuk di dalam benak Abdul Jalil, Sri Mangana saat menerima para pemuka warga di Balai Witana Kadipaten Palimanan menyatakan bahwa sejak saat ini tatanan yang diberlakukan di Palimanan adalah sama dengan tatanan yang diberlakukan di Caruban. Salah satu tatanan di Caruban yang harus dijalankan saat itu juga adalah meninggalkan adat kebiasaan penduduk untuk bersembah sujud di hadapan raja. Masyarakat Caruban yang ingin menunjukkan hormat kepada rajanya cukup dengan menghadap dan bersalaman sambil mencium tangan raja. Para pemuka warga, tentu sangat terkejut mendengar peraturan baru itu. Namun mereka tidak berani menolaknya. Meski dengan terheran-heran, mereka menyatakan ketundukan dan kesetiaan untuk mengikuti apa saja yang ditetapkan oleh Sri Mangana. Bahkan, mereka menyatakan bahwa ketundukan dan kesetiaan mereka tidak pernah luntur meski selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan Ki Gedeng Kiban dan kawan-kawannya yang berkuasa dengan mengatasnamakan warga Palimanan.

Sri Mangana memahami bahwa selama ini baik penduduk maupun para pemukanya telah menjadi korban dari para penguasa gadungan yang mengatasnamakan penduduk untuk meraih kekuasaan. Lantaran itu, di hadapan para pemuka penduduk dan seluruh yang hadir di Balai Witana Kadipaten Palimanan, ia menetapkan keputusan bahwa wilayah Palimanan telah kembali ke pangkuan Caruban Larang dan akan diatur seperti wilayah Caruban Larang yang lain. Maksudnya, setiap penduduk Palimanan yang kini disebut dengan nama masyarakat akan mendapat jatah tanah secukupnya sebagai hak milik. Seperti penduduk Caruban Larang yang lain, masyarakat Palimanan diperkenankan untuk memilih pemimpin di antara mereka sendiri.

Keputusan Sri Mangana itu disambut dengan sukacita oleh seluruh penduduk. Dengan air mata bercucuran mereka menyampaikan puja dan puji kepada ratu yang mereka junjung tinggi. Di tengah semarak kebahagiaan yang meluap-luap itu, para penduduk Palimanan seolah-olah lupa pada peraturan baru yang barusan ditetapkan Sri Mangana: tanpa ada yang memerintah, mereka secara serentak beramai-ramai bersujud dan memuji-muji Sri Mangana sebagai raja yang adil dan bijaksana.

Sementara itu, kabar jatuhnya Kadipaten Palimanan tanpa meneteskan darah setitik pun benar-benar membuat mulut para tetunggul Rajagaluh bungkam. Mereka tidak bisa berkata sesuatu sebab mereka benar-benar merasa terkecoh oleh siasat cemerlang Sri Mangana yang memancing mereka dengan taktik seolah-olah akan menyerang Leuwimunding. Dan mulut mereka pun makin bungkam manakala mendapat laporan susulan bahwa beberapa jenak setelah menguasai Kadipaten Palimanan, Sri Mangana beserta semua pasukannya telah bergerak ke Rajagaluh dan bahkan mengepung Kutaraja dari timur, selatan, dan barat.

“Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa.” Pangeran Arya Mangkubhumi akhirnya membuka mulut meski terlihat tak bersemangat. “Tetapi, sudah menjadi tugas kita untuk menyelamatkan Sri Baginda dari kepungan musuh.”

“Tapi Yang Mulia, hamba mendapat laporan bahwa pasukan-pasukan yang membantu Caruban berasal dari Demak dan Majapahit. Malahan, pasukan dari Majapahit katanya menggunakan senjata setan jelmaan naga api. Sepanjang malam senjata-senjata setan itu memuntahkan api dari mulutnya sehingga membakar hutan di selatan kutaraja,” kata Ki Gedeng Leuwimunding.

“Bagaimana engkau percaya senjata itu jelmaan naga api?” tanya Pangeran Arya Mangkubhumi.

“Kata orang, senjata itu memiliki mulut seperti naga yang bisa menyemburkan api. Senjata itu hanya digunakan pada malam hari. Jikalau pagi datang senjata-senjata itu dimasukkan ke dalam kotak-kotak dan diselimuti kain hitam. Bukankah hanya setan yang keluar pada malam hari?” kata Ki Gedeng Leuwimunding.

Pangeran Arya Mangkubhumi terdiam. Ia sendiri sebenarnya bingung mendengar cerita-cerita menakutkan tentang senjata setan bernama gurnita yang digunakan pasukan Majapahit asal Terung. Ia tidak tahu senjata pusaka apa sebenarnya gurnita itu. Menurut kabar yang didengarnya, senjata-senjata setan itu sebesar pohon dan memiliki mulut seperti naga yang mengeluarkan api. Sebagaimana kabar yang menebar, ia diam-diam meyakini bahwa senjata bernama gurnita itu memang pusaka yang digerakkan oleh daya sakti sebangsa ruh naga api. Kayakinannya itu makin kuat manakala ia mendapat laporan bahwa pemimpin pasukan Majapahit itu adalah Ki Wedung, pendeta bhairawa pemimpin ksetra yang baru saja memeluk agama Islam.

Dengan meyakini bahwa pasukan Majapahit menggunakan senjata berkekuatan setan, Pangeran Arya Mangkubhumi sadar bahwa cepat atau lambat kekuatan yang dimiliki Rajagaluh akan runtuh. Sebab, diakui atau tidak diakui, semangat pasukan yang dipimpinnya mengalami keruntuhan akibat menyebarnya cerita tentang kehebatan senjata setan itu. Namun, ia juga sadar bahwa menyelamatkan ayahandanya dari kebinasaan adalah kewajiban utama yang tak bisa diabaikannya. Itu sebabnya, dengan mengancam akan menghukum mati siapa saja di antara tetunggul dan prajurit Rajagaluh yang meninggalkan tugas, ia memerintahkan penyerangan besar-besaran terhadap pasukan Caruban yang mengepung Rajagaluh. “Ki Gedeng Leuwimunding menggempur pasukan musuh yang di sebelah timur. Celeng Igel menggempur pasukan musuh di sebelah barat. Aku sendiri akan menerobos ke kutaraja dari arah utara. Apa pun yang terjadi, raja harus diselamatkan dari musuh,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

“Besok pagi, seiring terbitnya sang surya, hamba akan menggempur musuh,” kata Ki Gedeng Leuwimunding bersemangat. “Hamba berharap pasukan dari Sumedang, Maleber, Taraju, Panembong, dan Palimanan berkenan hamba pimpin sehingga hamba dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.”

“Engkau tidak perlu ragu tentang itu. Aku sudah memberi perintah kepada para kepala pasukan agar mematuhimu. Tetapi, yang terpenting engkau harus meyakinkan pasukanmu bahwa jumlah kita lebih banyak dibanding jumlah musuh. Kita masih memiliki sedikitnya 50.000 orang prajurit, sedangkan kekuatan pihak Caruban kurang dari 20.000 orang. Jadi, dengan sedikit memacu semangat pastilah kita akan meraih kemenangan. Yakinkan mereka bahwa kemenangan akan berpihak kepada kita,” kata Pangeran Arya Mangkubhumi.

“Hamba akan menjalankan tugas sebaik-baiknya,” Ki Gedeng Leuwimunding menyembah. “Hamba mohon restu, mudah-mudahan pasukan yang hamba pimpin berhasil meraih kemenangan.”

Kabut pagi masih menyelimuti lembah yang memisahkan Sungai Waringin dan Kutaraja Rajagaluh ketika satu detasemen pasukan yang dipimpin Ki Demang Surabangsa mengendap-ngendap menuruni tebing sungai dan menyusuri alirannya ke arah hulu. Di dalam sungai itu mereka berjalan tertatih-tatih di atas bebatuan yang licin. Semangat di dalam jiwa mereka meningkat karena yakin akan mudah mengalahkan musuh yang tidak dibantu oleh kekuatan setan jika bertempur pada siang hari. Tugas mereka pagi itu adalah menghancurkan kotak-kotak setan yang dijadikan senjata andalan pasukan Majapahit.

Usaha pasukan Rajagaluh untuk menyergap pasukan Majapahit yang bersenjata naga setan dilakukan setelah para tetunggul Rajagaluh mendapat laporan tempat senjata-senjata setan itu “tidur”. Tanpa menguji ulang kesahihan laporan itu, Pangeran Arya Mangkubhumi yang sudah dicekam kebingungan memerintahkan Ki Demang Surabangsa untuk menghancurkan senjata-senjata setan itu pada pagi hari, yakni saat setan-setan tidur.

Ketika kabut mulai menipis, mereka mendaki tebing sungai. Sambil merangkak mereka merayap ke arah hutan di timur sungai. Mereka membayangkan tidak lama lagi bakal menemukan kotak-kotak setan pasukan Majapahit yang sedang tidur. Namun, saat mereka sampai di tepi hutan dan mendongakkan kepala ke atas, bukan kotak-kotak setan yang mereka temukan melainkan beratus-ratus wajah beringas dengan mata menyala dan mulut menyeringai yang memandang ganas ke arah mereka. Dan yang paling mencengangkan, tangan-tangan dari pemilik wajah beringas itu menggenggam sebilah tombak yang diarahkan kepada mereka.

“He, kenapa berhenti?” teriak seorang prajurit Rajagaluh dari tebing sungai. “Ayo jalan terus!”

Tidak ada jawaban dari arah depan. Beberapa jenak suasana terasa lengang dan mencekam. Namun, sejurus kemudian terdengar teriakan yang diikuti menghamburnya para prajurit yang merayap di dekat hutan ke arah sungai.

“Lari!”

“Kita dijebak!”

Berpuluh-puluh prajurit yang sudah menirap di atas rumput terkejut dan tidak dapat lagi menahan diri. Sambil berteriak-teriak mereka berdiri dan mengambil langkah seribu mengikuti kawan-kawannya. Mereka berlari tanpa aturan, saling tabrak, saling dorong, saling desak, saling sikut, dan saling mengumpat. Suasana di atas tebing sungai benar-benar kacau. Semua prajurit Rajagaluh berlomba untuk lari sekencang-kencangnya menuruni tebing. Namun malang tak dapat dielakkan, pasukan Majapahit asal Terung yang sudah menunggu sejak pagi itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan jeritan perang menggetarkan, mereka melemparkan tombak-tombak ke arah pasukan Rajagaluh yang semrawut di sisi timur sungai.

Terdengar pekik tertahan ketika tombak-tombak yang dilempar pasukan Terung menghujam punggung para prajurit Rajagaluh hingga tembus ke dada. Setelah itu terlihat pemandangan mengerikan; berpuluh-puluh tubuh bertumbangan tanpa nyawa di atas tanah berumput. Darah menggenang dan lengking kematian terdengar sambung-menyambung diikuti ratap kesakitan.

Para prajurit Terung sendiri adalah orang-orang yang sudah terlatih dalam pertempuran. Mereka sangat terampil menggunakan senjata. Begitu selesai melemparkan tombak-tombaknya, mereka menerjang musuh sambil mencabut keris yang terselip di perut. Dan bagaikan orang keranjingan setan, mereka mengamuk dan membinasakan setiap musuh yang berada di dekatnya. Para prajurit Rajagaluh yang lari berdesak-desak di dalam aliran sungai mereka jadikan sasaran utama amukan. Tebing sungai yang semula hijau dirambati rumput dan sulur-suluran tiba-tiba berubah warna. Aliran sungai yang semula jernih mendadak menjadi merah. Dalam peristiwa mengerikan itu Ki Demang Surabangsa tewas terbunuh. Mayatnya terlihat meringkuk di antara tumpukan mayat prajurit yang melindunginya.

Ketika bala bantuan Rajagaluh yang dipimpin Ki Demang Dipasara datang, prajurit-prajurit Majapahit serentak berbalik arah dan menghilang di antara rimbunan hutan dengan meninggalkan ratusan mayat bergelimpangan di aliran sungai. Rupanya mereka sadar bahwa tugas utama mereka adalah menjaga kotak-kotak berisi senjata gurnita, bukan bertempur muka lawan muka dengan pasukan musuh.

Kehancuran pasukan Rajagaluh yang dipimpin Ki Demang Surabangsa dialami juga oleh pasukan Rajagaluh yang lain. Celeng Igel, perwira asal Sumedang yang memimpin pasukan Sumedang dan Panembong, lari terbirit-birit ketika pasukannya dihancurkan oleh pasukan Naga Laut yang dipimpin Abdul Halim Tan Eng Hoat di garis pertahanan barat. Ngabehi Ardisora yang memimpin pasukan asal Taraju dan Maleber dihancurkan oleh pasukan Liman Bhuwana yang dipimpin Syarif Hidayatullah di garis pertahanan timur. Bahkan, pasukan induk Rajagaluh yang dipimpin Ki Gedeng Leuwimunding yang berhasil menerobos pertahanan pasukan Caruban di garis pertahanan timur dapat dipukul mundur oleh pasukan Nyi Mas Gandasari yang dibantu pasukan Pangeran Soka.

Dengan semua kekalahan itu tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan pasukan Rajagaluh, kecuali bertahan di dalam kubu pertahanan kutaraja. Para tetunggul Rajagaluh sudah bertekad untuk mempertahankan kutaraja sampai titik darah yang penghabisan. Batang-batang pohon dan berbagai jenis benda telah mereka jadikan halang rintang di jalan-jalan yang dijaga oleh prajurit-prajurit pemanah. Kediaman para pangeran yang telah dikosongkan mereka jadikan kubu pertahanan. Bahkan, tumpukan-tumpukan batu di sepanjang dinding yang mengitari Bangsal Kaprabon mereka siapkan sebagai senjata cadangan.

Menghadapi siasat Rajagaluh yang menggelar rencana perang kuta, Sri Mangana hanya tersenyum menerima laporan-laporan dari para pengintainya. Selaku agra-senapati Caruban Larang, ia tidak berpikir sedikit pun untuk memerintahkan penyerbuan besar-besaran pasukannya ke kutaraja Rajagaluh yang sudah terkepung itu. Ia bahkan menjalankan siasat yang tak pernah terpikirkan lawan, yakni membiarkan seluruh penghuni kutaraja Rajagaluh dicekam kecemasan dan ketakutan akibat sepanjang malam mendengar suara gemuruh senjata gurnita yang memekakkan telinga dan mengguncang dada. Secara diam-diam ia meminta kepada sahabat-sahabatnya para mantan pendeta bhairawa untuk masuk ke kuta pada malam hari dan menculik satu demi satu prajurit Rajagaluh yang berjaga malam.

Siasat Sri Mangana meruntuhkan semangat lawan ternyata menunjukkan hasil gemilang. Setelah empat hari dibingungkan oleh gemuruh senjata setan gurnita, penduduk Kutaraja Rajagaluh dicekam oleh rasa takut akibat munculnya makhluk-makhluk sejenis raksasa yang berkeliaran di dalam kuta dan menculik satu atau dua prajurit Rajagaluh untuk dijadikan santapan. Meski belum satu pun korban penculikan itu ditemukan, cerita-cerita mengerikan tentang makhluk-makhluk raksasa itu telah berkembang sedemikian rupa hingga membuat mereka yang mendengar terbelalak ketakutan.

Dicekam kecemasan, ketakutan, kebingungan, dan kekurangan tidur, para prajurit Rajagaluh yang bertahan di kutaraja terombang-ambing dalam ketidakpastian. Ketika ketidakpastian itu makin menggumpal laksana awan hitam, diam-diam para prajurit Rajagaluh melarikan diri dalam kelompok-kelompok kecil meninggalkan kutaraja. Sejumlah perwira yang kebingungan diam-diam membawa pergi keluarganya dari kutaraja dengan menyamar sebagai penduduk biasa. Untuk meyakinkan pasukan Caruban yang mengepung kuta bahwa mereka penduduk biasa, mereka keluar dari kuta dengan membawa tikar, sirih, padi, ubi, ayam, dan kambing.

Ketika para tetunggul Rajagaluh memperoleh laporan tentang pelarian prajurit-prajurit tersebut, keadaan sudah parah. Persediaan gabah di lumbung kraton lebih dari separo raib. Sejumlah pos penjagaan dijaga oleh orang-orangan dari jerami. Tombak, pedang, panah, busur, dan gada bertumpuk-tumpuk di sejumlah barak. Prajurit yang tersisa pun semangatnya sangat merosot. Dan saat dihitung, jumlah mereka sudah berkurang lebih dari separo, termasuk perwira-perwira yang lari bersama keluarganya.

Kabar larinya para prajurit dari kutaraja itu berusaha ditutup keras oleh para tetunggul Rajagaluh. Perintah Pangeran Arya Mangkubhumi “bersikaplah seolah-olah tidak terjadi sesuatu agar musuh tidak mengetahui peristiwa memalukan ini” dijalankan dengan patuh oleh prajurit yang tersisa. Namun, tetap juga kabar memalukan tersebut menyebar bagaikan sekam diterbangkan angin, terutama saat perwira-perwira yang menyingkir tertangkap oleh prajurit Caruban yang curiga dengan barang bawaan mereka yang mewah. Dari mulut merekalah kabar itu menyebar.

Kendati sudah mengetahui kabar larinya para prajurit dari Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana tidak mengambil tindakan apa pun. Arus berita yang menumpuk di kemahnya dibiarkan menggunung. Tampaknya sang kalifah ingin mengalahkan musuh tanpa menumpahkan banyak darah. Semakin sedikit darah yang tumpah akan semakin baik, begitu ia berkata kepada para penasihatnya.

Para penasihat kalifah seperti Pangeran Raja Sanghara, Syaikh Ibrahim Akbar, Syaikh Lemah Abang, dan Syaikh Bentong dapat memahami perasaan sang kalifah yang tidak cukup tega untuk menumpahkan darah Prabu Chakraningrat dan keluarganya, yang bagaimanapun adalah saudara sedarah dan sedagingnya. Namun beda dengan para penasihat, para tetunggul Caruban yang bertempur di medan perang tidak memahami pemikiran dan perasaan Sri Mangana. Mereka bersikukuh memohon agar sang kalifah secepatnya memerintahkan penyerangan ke kubu pertahanan musuh yang sedang lemah. Dengan semangat berkobar-kobar mereka menyampaikan alasan-alasan tentang pentingnya serangan akhir ke kutaraja musuh untuk meraih kemenangan gemilang. “Jika kita berhasil menduduki Rajagaluh, berarti kita mencatat sejarah bahwa inilah kemenangan pertama umat Islam di negeri ini,” kata Pangeran Sabrang Lor didukung tetunggul yang lain.

Akhirnya, setelah didesak dari berbagai sisi Sri Mangana menyetujui serangan besar-besaran terhadap Kutaraja Rajagaluh yang sudah terkepung itu. Dengan dada dikobari kebanggaan, mereka kemudian bermusyawarah merencanakan siasat penyerbuan. Berdasar laporan para pengintai, mereka mengetahui bahwa titik terlemah dari pertahanan Rajagaluh adalah di gapura alit yang terletak di utara kutaraja. Meski parit yang melingkari gapura alit lebih luas dan jaraknya lebih jauh dibanding parit lain, penjagaan di tempat itu amat lemah karena pos-pos jaganya ditunggui orang-orangan dari jerami.

Rencana yang dirancang manusia sering kali meleset jauh dari harapan. Beda yang dibayangkan dalam angan-angan, beda pula yang dihadapi dalam kenyataan. Ketika beribu-ribu pasukan Caruban mulai menyerbu Kutaraja Rajagaluh, terlihatlah manusia mengepung dari selatan, timur, barat, dan utara laksana gelombang samudera mengepung pulau karang di tengah lautan. Umbul-umbul, bendera, panji-panji, dan tombak teracung naik dan turun bagaikan hutan diterpa angin. Pekik peperangan menggemuruh laksana bukit runtuh. Kaki kuda berlomba dengan kaki para prajurit menuju gerbang di empat penjuru kuta dan yang terbesar di gapura alit di utara kuta.

Ketika cipratan air terdengar dari parit yang terinjak ribuan pasang kaki, disusul prajurit-prajurit yang berebut masuk membelah air menuju ujung parit hingga air merendam dada mereka, terjadi peristiwa yang mencengangkan dan membuat terbelalak mata para penyerbu. Saat itu para penyerbu mendadak terpaku serentak bagai orang kebingungan dan kehilangan akal. Mereka tertegun-tegun bagaikan sedang berada di alam mimpi. Darah mereka tersirap manakala menyaksikan air yang menggenangi parit di sekeliling baluwarti itu menggelegak panas. Beberapa prajurit yang berada di garis depan terlihat berlari-lari menjauhi parit seperti orang tersiram air panas. Yang lebih aneh lagi, mereka menyaksikan dinding-dinding baluwarti yang terbuat dari kayu kusam dan berlumut di depan mereka tiba-tiba hilang dari penglihatan. Mereka merasa seolah-olah telempar ke suatu dunia lain yang tak mereka kenal.

Menghadapi kenyataan mencengangkan itu, para prajurit Caruban yang sebagian besar belum terbebas sama sekali dari kekuasaan takhayul tidak dapat menahan diri. Sambil berteriak-teriak ketakutan mereka berhamburan melarikan diri ke garis belakang. Para kepala pasukan yang berteriak-teriak memerintahkan mereka untuk mundur secara teratur tidak digubris sama sekali. Prajurit Caruban terus berlarian sambil melolong-lolong dengan wajah pucat dan peluh bercucuran menyimbah tubuh.

Kegagalan serangan besar-besaran pasukan Caruban itu membingungkan para tetunggul dan bahkan Nyi Mas Gandasari sendiri selaku panglima. Mereka segera berkumpul di kemah Sri Mangana untuk memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah membingungkan tersebut. Mereka tidak tahu kekuatan sihir apa sebenarnya yang digunakan oleh para tetunggul Rajagaluh hingga membuat para penyerbu lari terbirit-birit ketakutan.

Sri Mangana yang sejak awal tidak berminat menyerbu Kutaraja Rajagaluh terlihat diam menghadapi para tetunggulnya yang kebingungan. Beberapa jenak kemudian, sambil menarik napas panjang ia berkata, “Sesungguhnya, tanpa diserbu pun Rajagaluh akan jatuh. Tetapi kita tidak cukup memiliki kesabaran untuk menunggu barang tiga atau empat hari lagi. Kita cenderung terbawa perasaan bangga diri dan menganggap remeh lawan. Kini, setelah gagal, apa yang harus kita lakukan untuk memulihkan semangat prajurit kita yang runtuh?”

“Kami merasa bersalah, Pamanda Ratu,” ucap Pangeran Sabrang Lor lirih. “Ini akan menjadi pelajaran bagi kami selanjutnya. Sekarang kami memang kebingungan karena tidak mampu memulihkan semangat prajurit yang runtuh. Kami mohon petunjuk dan perintah dari Pamanda Ratu untuk mengatasi hal ini.”

Sri Mangana diam. Ia merenungkan rangkaian cerita kegagalan yang sulit diterima nalar itu. Sebagai orang yang pernah menggeluti ajaran bhairawa, ia menangkap sasmita bahwa peristiwa semacam itu hanya mungkin terjadi akibat daya sakti sebuah Sangga Kamulan, terutama daya sakti yang terpancar dari Palinggih. Di Palinggih itulah sakti dari Purusa dan Atma yang disebut Dewi Mayasih memancarkan daya kekuatan gaibnya. Rupanya, di Palinggih Sangga Kamulan itulah daya sakti Dewi Mayasih memancar ke empat penjuru sebagai Ratu Tangkep Langit, Ratu Teba, Ratu Jalawung, dan Ratu Pangandangan sehingga membuat para penyerbu kebingungan. Ya, daya sakti Dewi Mayasih itulah yang telah menggagalkan serbuan besar-besaran pasukan Caruban ke Kutaraja Rajagaluh.

Beberapa jurus tenggelam dalam renungan dan memahami akar masalah, Sri Mangana tanpa terduga tiba-tiba memerintahkan Pangeran Soka untuk menemui pihak Rajagaluh. Pangeran Soka ditugaskan menyampaikan pesan Sri Mangana kepada Prabu Chakraningrat. Setelah Pangeran Soka pergi ke Rajagaluh, Sri Mangana mendaulat Nyi Mas Gandasari untuk mewakilinya merundingkan perdamaian dengan pihak Rajagaluh. “Pergilah engkau menemui Prabu Chakraningrat di kratonnya. Bertindaklah atas namaku untuk mengajak dia berunding tentang kemungkinan damai antara Caruban Larang dan Rajagaluh.”

Nyi Mas Gandasari dengan takzim menerima tugas itu. Namun, para tetunggul Caruban sangat terkejut dengan keputusan yang mereka anggap tidak lazim. Mereka terheran-heran dan saling pandang seolah berkata, “Bagaimana mungkin Caruban yang sudah berada di atas angin tiba-tiba mengirim utusan untuk merundingkan perdamaian? Bukankah dengan satu pukulan saja Rajagaluh akan tersungkur?

Meski terheran-heran dengan keputusan Sri Mangana, tampaknya para tetunggul Caruban tidak ada yang berani mengungkapkan rasa penasarannya itu. Tampaknya mereka masih ingat bagaimana saat mereka mendesakkan keinginan untuk menyerbu ke Rajagaluh yang berakhir dengan kegagalan itu. Lantaran itu, mereka hanya menunggu hasil dari keputusan kalifah Caruban tersebut. Demikianlah, dengan didampingi Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana, Nyi Mas Gandasari pergi ke Kuta Rajagaluh untuk bertemu dengan Prabu Chakraningrat.

Kabar yang disampaikan Pangeran soka tentang kedatangan Nyi Mas Gandasari ke kraton Rajagaluh seketika menggemparkan pihak Rajagaluh. Para prajurit menari-nari kegirangan dan berebut ke gerbang selatan untuk melihat dari dekat panglima puteri Caruban yang sudah melegenda kecantikannya. Malahan, para tetunggul yang penasaran dengan kabar kecantikan Nyi Mas Gandasari berebut ingin mendampingi Prabu Chakraningrat dalam perundingan damai itu.

Kegemparan yang terjadi di Kutaraja Rajagaluh mencapai puncak ketika suatu pagi Nyi Mas Gandasari dengan didampingi Pangeran Soka dan dikawal empat prajurit bertombak muncul di gerbang selatan. Dengan dandanan mengagumkan bak seorang bidadari, Nyi Mas Gandasari melangkah dengan anggun melewati gerbang. Para prajurit yang berdesak-desak di sepanjang kanan dan kiri jalan terlihat berwajah tolol dengan mulut terngaga ketika memandang Nyi Mas Gandasari berjalan perlahan menuju ke Bangsal Kaprabon. Bahkan saat tubuh Nyi Mas Gandasari dan rombongan lenyap di balik pagar, mereka masih terperangah saling pandang kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil mendecakkan mulut.

Ternyata bukan hanya para prajurit dan perwira Rajagaluh yang terpukau oleh daya pesona kecantikan Nyi Mas Gandasari. Prabu Chakraningrat yang sudah uzur pun tidak mampu menyembunyikan hasrat hatinya yang terpesona dan terkagum-kagum pada kecantikan Nyi Mas Gandasari sehingga lupa jika nyawanya sedang diintai maut. Saat bertemu dengan Nyi Mas Gandasari di Bangsal Kaprabon, Prabu Chakraningrat sedikit pun tidak menyinggung masalah perundingan damai. Bagaikan seseorang yang berhasrat membeli perhiasan yang indah, sang Prabu menanyai Nyi Mas Gandasari tentang ini dan itu, terutama asal usul negeri dan keluarganya. Bahkan, tanpa rasa malu sedikit pun sang raja yang jika berbicara sering terbatuk-batuk itu menyampaikan lamaran agar Nyi Mas Gandasari bekenan menjadi istri kesayangannya. “Jika engkau bersedia menjadi istriku, o Cantik,” kata Prabu Chakraningrat terbatuk-batuk. “Apa pun yang engkau inginkan akan aku penuhi. Seluruh kraton ini beserta isinya akan menjadi milikmu,” katanya merayu.

Nyi Mas Gandasari sebenarnya marah dengan tindakan Prabu Chakraningrat yang dianggapnya tidak tahu diri itu. Namun demi menjalankan tugas dari ayahanda angkatnya, ia harus berpura-pura sangat bersukacita menerima lamaran laki-laki tua bangka itu. Dengan senyum yang dipaksakan ia berkata, “Hamba menerima lamaran Paduka dengan sangat gembira. Tetapi sebelum pernikahan dilakukan, sebagaimana kelaziman adat kebiasaan, hamba ingin melakukan pemujaan ke Sangga Kamulan leluhur paduka. Hamba ingin memohon perkenan dan restu arwah para leluhur Rakanda Prabu agar kehadiran hamba diterima.”

Prabu Chakraningrat merasakan hatinya diguyur air dingin dan nyawanya seolah terbang ke angkasa mendengar jawaban Nyi Mas Gandasari, terutama saat ia dipanggil dengan sebutan “Rakanda Prabu”. Tanpa menunggu waktu dan tanpa berpikir lebih jauh, ia memperkenankan dan bahkan mengantar sendiri Nyi Mas Gandasari ke Sangga Kamulan. Ketika beberapa pengawal raja mendekat, dihardiknya dengan kasar. Akhirnya, hanya Prabu Chakraningrat, Nyi Mas Gandasari, Pangeran Soka, beserta keempat pengawalnya yang pergi ke Sangga Kamulan yang terletak di dalam puri kedaton.

Sangga Kamulan, tempat arwah leluhur Prabu Chakraningrat dipuja, adalah sebuah bangunan suci yang terletak di bagian utara puri. Panjangnya sekitar empat belas depa, lebar tiga belas depa, dan dilingkari tembok bata setinggi tiga depa. Di dalam Sangga Kamulan terdapat empat bangunan utama, yaitu Kamulan, Palinggih, Angrurah, dan Pahyasan. Satu-satunya pintu masuk ke Sangga terletak di selatan dan disebut pamedalan. Di Sangga Kamulan itulah ibunda, kakek, dan nenek Prabu Chakraningrat dari pihak ibu dipuja sebagai Dewa Pitara.

Karena Sangga Kamulan adalah bangunan suci yang hanya boleh dimasuki raja dan keluarga maka Pangeran Soka dan keempat pengawal Nyi Mas Gandasari tidak diperkenankan masuk. Mereka diminta menunggu di depan Pamedalan. Nyi Mas Gandasari yang bakal menjadi keluarga raja tampak kebingungan karena baru pertama kali ia berada di suatu Sangga Kamulan. Ia tidak tahu di mana letak bangunan Palinggih yang dimaksud oleh Sri Mangana. Ia menoleh ke arah pamedalan untuk meminta petunjuk kepada para pengawalnya yang berdiri di depan gapura. Dengan isyarat tangan, salah satu pengawal yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ki Tameng menunjuk letak Palinggi itu tepat di utara sangga yang berseberangan dengan gapura pamedalan.

Prabu Chakraningrat yang sudah dimabuk pesona tampaknya sudah tidak memperhatikan gerak-gerik Nyi Mas Gandasari yang mencurigakan. Bahkan saat Nyi Mas Gandasari mengangkat kandaga emas (peti kecil) di atas Palinggih, Prabu Chakraningrat tidak mengetahuinya karena pandangannya terarah pada pinggul Nyi Mas Gandasari.

Prabu Chakraningrat baru tersadar dirinya telah tertipu ketika ia melihat Nyi Mas Gandasari membalikkan badan. Ia terkejut bukan alang kepalang melihat kandaga emas di Palinggih sudah berada di pelukan Nyi Mas Gandasari. Namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Nyi Mas Gandasari sudah melayangkan pukulan menyilang ke arah dagu kanannya. Tanpa sempat berteriak, penguasa Rajagaluh yang sudah tua itu terbanting tubuhnya ke tanah dan pingsan. Sementara itu, dengan gerakan trengginas bagaikan burung sikatan yang lincah, Nyi Mas Gandasari melesat keluar gapura pamedalan.

Rupanya, semua peristiwa yang terjadi di dalam Sangga Kamulan tidak luput dari intaian para pengawal raja yang diam-diam mengikuti ke Sangga Kamulan, meski telah dihardik agar menyingkir oleh sang raja. Saat Nyi Mas Gandasari baru menginjakkan kaki di luar gapura pamedalan, teriakan-teriakan para pengawal raja itu sudah terdengar sahut-menyahut dan sambung-menyambung ke segenap penjuru. Tak kurang dari sepuluh pengawal bersenjata lengkap terlihat berdiri menghadang di depan gapura pamedalan.

Andaikata para pengawal Nyi Mas Gandasari adalah prajurit biasa, mungkin akan terjadi pertempuran sengit. Namun, para pengawal yang sesungguhnya adalah para bekas penguasa ksetra itu memiliki ilmu kadigdayan jauh melebihi prajurit biasa. Mereka tidak memberi kesempatan banyak bagi para pengawal raja untuk menyerang. Dengan menggeram, Ki Tameng tiba-tiba melompat ke depan dan menyergap leher salah seorang pengawal raja. Kemudian dengan kekuatan yang menakjubkan ia mengangkat pengawal itu dengan satu tangan ke atas dan membantingnya ke bawah dengan cara terbalik. Terdengar suara tulang pecah ketika kepala pengawal itu remuk menghantam lantai. Setelah itu, dengan gesit Ki Tameng melompat dan mencengkeram leher salah seorang pengawal yang lain. Mata para pengawal raja terbelalak saat mereka mendengar suara tulang leher patah yang diikuti ambruknya tubuh kawan mereka dengan kepala terkulai.

Menyaksikan peristiwa mengerikan yang berlangsung secepat kilat itu, para pengawal raja berhamburan melarikan diri sambil berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya. Sementara itu, dengan isyarat tangan, Nyi Mas Gandasari beserta keempat pengawalnya membagi diri ke dalam tiga kelompok. Satu ke utara, satu ke timur, dan satu lagi ke barat. Bagaikan angin berembus di musim penghujan, para pendekar itu melesat meninggalkan Sangga Kamulan ke arah yang dituju masing-masing. Para pengawal raja dan prajurit lain yang memburu dari belakang tidak mampu mengimbangi kecepatan lari mereka apalagi, hujan yang mulai melebat menghalangi pandangan.

Tawaran perundingan damai Caruban Larang dan Rajagaluh yang disodorkan Nyi Mas Gandasari pada dasarnya adalah siasat yang disusun sangat cermat oleh Sri Mangana. Ibarat pepatah “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, Sri Mangana dengan sangat teliti sudah memperhitungkan keuntungan ganda dari siasatnya itu. Pertama-tama, ia telah memperhitungkan bahwa Prabu Chakraningrat yang dikenalnya sebagai lelaki mata keranjang tentu akan mengabaikan tawaran perdamaian karena terpesona oleh kemolekan Nyi Mas Gandasari. Setelah itu, ia yakin bahwa Nyi Mas Gandasari dengan kecerdasannya akan dapat memasuki Sangga Kamulan dan membawa lari kandaga emas berisi abu jenasah dari guru Prabu Chakraningrat, seorang pertapa perempuan bernama Nagagini, yang dimasukkan ke dalam cupu emas berbentuk ular yang disebut oray mas. Ia sangat yakin Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Soka beserta keempat pengawalnya akan mampu membuka gerbang Kuta Rajagaluh dari dalam.

Dengan perhitungan cermat itulah ketika Nyi Mas Gandasari dan rombongan berjalan menuju gerbang selatan Kutaraja Rajagaluh, Sri Mangana menyebar puluhan orang pengintai untuk mengawasi keadaan di dalam kuta. Ternyata penjagaan di gerbang timur, barat, dan utara kosong ditinggal pergi prajurit. Prajurit berbondong-bondong menuju gerbang selatan untuk menyaksikan dari dekat kecantikan Nyi Mas Gandasari yang menurut cerita bagaikan Suprabha, bidadari dari Indraloka yang bermata bintang dan berpinggul indah. Setelah itu Sri Mangna mengirim perintah kepada Pangeran Raja Sanghara, Tun Abdul Qadir, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Pangeran Sabrang Lor, dan pemimpin pasukan Caruban lain yang bersiap-siap di barat, timur, dan utara Kuta Rajagaluh untuk menyiagakan penyerbuan. Untuk menyemangati para prajurit disebarkan kabar bahwa penyerbuan ke Kutaraja Rajagaluh itu akan dipimpin sendiri oleh Sri Mangana.

Awan hitam menggantung di langit dan mulai menebarkan titik-titik hujan ketika Sri Mangana keluar dari kemahnya. Sejurus ia menyapukan pandangan ke langit. Setelah berdiri beberapa jenak dengan penuh wibawa di depan kemahnya, ia mengangkat tangan kanannya ke atas dan berseru, “Berdiri dan angkat tinggi-tinggi panji-panji dan senjatamu. Berteriaklah sekeras-kerasnya agar musuh-musuhmu runtuh nyalinya!”

Seiring seruan Sri Mangana, bangkitlah beribu-ribu prajurit Caruban yang sejak pagi meniarap di sekitar perkemahan kalifah hingga tepi parait yang menghampar di selatan gerbang. Ribuan prajurit itu berlindung di balik alang-alang dan tumpukan jerami kering hingga tak terlihat dari arah gerbang. Begitu bangkit, mereka serentak mengacungkan tombak, panji-panji, umbul-umbul, dan bendera diikuti pekik peperangan yang sambung-menyambung. Dan saat Sri Mangana menaiki kereta perangnya, para prajurit pembawa tombak membenturkan pangkal tombaknya ke tanah secara serentak berulang-ulang sehingga bumi bergetar bagai dilanda gempa.

Gegap-gempita pasukan Caruban di seberang gerbang selatan menarik perhatian para prajurit Rajagaluh yang berkerumun di bagian dalam gerbang selatan kuta untuk menunggu Nyi Mas Gandasari kembali dari Bangsal Kaprabon. Mereka sangat terkejut dan kebingungan ketika melihat beribu-ribu pasukan Caruban telah memenuhi tepi parit sambil mengacungkan tombak dan panji-panji, menyanyikan lagu-lagu dan menantang perang.

“Apakah yang telah terjadi?”

“Bukankah Nyi Mas Gandasari masih di kraton?”

“Apakah perundingan damai gagal?”

“Bagaimana nasib Nyi Mas Gandasari?”

Ketika prajurit Rajagaluh sedang kebingungan melihat ancaman serbuan lawan dari luar gerbang selatan, tiba-tiba gerbang timur, barat, dan utara kutaraja secara berurutan dibuka dari dalam oleh Nyi Mas Gandasari, Pangeran Soka, Ki Tameng, Ki Waruanggang, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana. Begitu melihat gerbang terbuka, beribu-ribu prajurit Caruban yang sudah bersiaga mengepung kuta berhamburan dan saling berpacu menerobos gerbang. Namun, di mulut gerbang mereka tertahan oleh tubuh kawan-kawannya. Yang belakang mendorong. Yang depan menggeliat berusaha lepas dari himpitan. Yang tengah terjepit dan terdorong-dorong.

Sambil bersorak-sorai mengacung-acungkan tombak dan panji-panji, di tengah hujan lebat dan guntur bersahut-sahutan, prajurit Caruban mengalir masuk bagaikan air bah. Gerbang timur, barat, dan utara berubah laksana pintu air yang jebol mengalirkan air bah yang berpusar dan teraduk-aduk memenuhi penjuru kuta. Prajurit mengalir ke jalan-jalan dan lorong-lorong kuta untuk mencari musuh-musuhnya. Cipratan air yang terinjak ribuan kaki terdengar menggiriskan. Setiap kali para prajurit itu menjumpai prajurit musuh, tanpa ampun mereka akan menggulung dan menghempaskannya menjadi serpihan daging dan genangan darah.

Perwira dan prajurit Rajagaluh yang berada di gerbang selatan bergegas menyambut serbuan musuh yang menggelombang dari ketiga penjuru. Mereka membawa senjata apa saja yang mereka temukan untuk menghadang serbuan musuh yang mengamuk bersama hujan dan angin. Namun, usaha mereka tampaknya sia-sia. Sebab, tanpa peduli dengan pagar pedang dan hutan tombak yang menghadang, pasukan Caruban terus menerjang ke depan dengan meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan bersimbah darah. Mereka bergerak menerjang dan menggulung apa saja yang menghadang. Mereka mengalir bagaikan air hujan yang memenuhi seluruh lorong, jalanan, dan selokan kutaraja.

Di tengah hiruk pikuk pertempuran yang terjadi di jalan-jalan, terutama di gerbang selatan, Pangeran Arya Mangkubhumi yang berada di dalam purinya tampak terkejut ketika mendengar suara berisik di halaman. Ia sadar suara berisik itu bukanlah guntur atau curahan air hujan, melainkan semacam gemerincing senjata yang beradu dan jeritan-jeritan orang kesakitan.

Perang! Itulah kesan awal yang ditangkapnya. Dengan benak dipenuhi tanda tanya ia bergegas keluar kamar dan menjulurkan kepala ke jendela. Dan kepalanya bagai disambar petir ketika dari jendela itu dilihatnya para prajurit pengawalnya sedang bertempur di gerbang puri. Para pengawal dengan gigih berusaha keras menahan serbuan musuh yang menerobos gerbang. Menyaksikan pemandangan tak terduga itu, ia merasakan dadanya sesak dan tenggorokannya kering sehingga untuk meludah pun ia tidak mampu. Apa yang sesungguhnya yang terjadi, gumamnya berulang-ulang dalam hati.

Sewaktu melihat dua tiga orang pengawalnya roboh bersimbah darah di babat senjata musuh, tanpa sadar ia lari ke dalam kamar dan menyambar tombak yang terletak di raknya. Saat itu tidak ada yang terlintas di dalam pikirannya kecuali ikut mengadu jiwa bersama para pengawal dan menikam siapa saja di antara musuh yang mendekat. Namun, sebelum ia melibatkan diri dalam pertempuran tiba-tiba ia melihat Ki Demang Suradipa dan sepuluh orang pengawalnya berlari ke arah puri dengan napas terengah-engah sambil berseru, “Yang Mulia! Yang Mulia!”

Pangeran Arya Mangkubhumi yang sudah berada di pintu puri berdeham dan bertanya, “Ki Demang! Apa yang terjadi? Ada apa ini? Kenapa ada yang menyerang puriku?”

“Orang-orang Caruban telah masuk kuta dan membuat kerusakan, Yang Mulia.”

“Apa? Orang-orang Caruban? Bagaimana mungkin itu terjadi? Bukankah mereka membuat tawaran damai?” gumam Pangeran Arya Mangkubhumi terheran-heran.

“Mereka telah menipu kita, Pangeran. Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Soka beserta keempat pengawalnya telah membuka gerbang timur, barat, dan utara dari dalam,” kata Ki Demang Suradipa.

“Jagad Dewa Bhattara!”

“Orang-orang Caruban masuk kuta, mengalir seperti air bah. Mayat prajurit kita bergelimpangan di mana-mana. Darah mengalir seperti sungai. Bangunan-bangunan dirobohkan. Mereka seperti orang-orang kerasukan setan,” lapor Ki Demang Suradipa dengan air mata bercucuran membasahi pipinya yang sudah basah.

“Mana tetunggul Rajagaluh yang lain?” Pangeran Arya Mangkubhumi mengangkat alis kirinya.

“Ki Gedeng Leuwimunding, Ki Dipati Kiban, Celeng Igel, Sanghyang Sutem, Sanghyang Tubur, dan Sanghyang Gempol berhasil meloloskan diri ke utara melewati gapura alit. Mereka lari dengan menyamar sebagai pengungsi,” kata Ki Demang Suradipa.

“Bajingan! Pengecut mereka,” kata Pangeran Arya Mangjubhumi dengan wajah merah padam. “Bagaimana nasib Ramanda Prabu?”

“Kami belum mendapat kabar tentang beliau.”

“Bagaimana ini? Bukankah tugas kalian mengawal keamanan raja?” bentak Pangeran Arya Mangkubhumi. “Bagaimana mungkin kalian bisa mengaku tidak tahu nasib rajamu?”

“Ampun Yang Mulia,” Ki Demang Suradipa mengiba. “Semua pengawal raja diperintahkan menyingkir oleh Sang Prabu sewaktu beliau menemui Nyi Mas Gandasari.”

Pangeran Arya Mangkubhumi tiba-tiba memucat wajahnya. Kemudian dengan suara bergetar ia bertanya. “Di mana kalian terakhir melihat raja?”

“Di Sangga Kamulan, Yang Mulia.”

“Ayo, kalian ikut aku mencari beliau.” Pangeran Arya Mangkubhumi melesat keluar puri dengan langkah lebar. Namun, baru sampai di teras puri ia sudah menyaksikan beratus-ratus prajurit Caruban memenuhi halaman purinya. Sisa-sisa prajurit pengawalnya dengan sekuat tenaga berusaha menahan serangan musuh, meski tubuh mereka sudah penuh luka. Sebagai putera mahkota yang sejak kecil dididik dengan adat kebiasaan ksatria, ia tidak gentar menghadapi musuh yang menghadang berapa pun jumlahnya. Dengan wajah ia menoleh sambil berkata kepada pengawal Ki Demang Suradipa, “Kemarikan busurmu! Aku akan hadapi mereka sebagai ksatria! Ayo, ambil anak panahku di kamar. Layani aku!”

Ketika Pangeran Arya Mangkubhumi menghajar musuh-musuhnya dengan tembakan-tembakan anak panah dibantu Ki Demang Suradipa, terdengar gedoran-gedoran kayu yang ditendang di segenap penjuru puri. Rupanya musuh sudah berhasil masuk. Tetapi, ia tidak menghiraukan dan terus menghujani musuh dengan panah. Ia terus menembakkan panah-panahnya kendati mendengar jerit tangis para perempuan dari dalam puri. Ia terus membidik musuh-musuhnya ketika berpuluh-puluh anak panah yang ditembakkan musuh menghambur ke arahnya.

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 09:20LT

12. Al-Mir’ah al-Ghaib

Sore setelah pertempuran berakhir, hujan telah reda dan matahari bersinar kemerahan di ufuk barat dengan awan merah menggantung di langit. Abdul Jalil terlihat berjalan menyusuri lorong-lorong Kuta Rajagaluh yang semrawut dipenuhi reruntuhan bangunan, serpihan benda-benda, senjata patah, genagan darah, dan mayat bergelimpangan. Ketika langkah kakinya sampai di puri kediaman raja, tepatnya si Sangga Kamulan, ia menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan: sebuah bentangan Cermin Gaib (al-mir’ah al-ghaib) yang luas antara langit dan bumi tak kelihatan batas-batasnya. Cermin Gaib itu memantulkan beribu-ribu bayangan wajah yang mencitrakan keberadaan adimanusia, manusia, manusia-hewan, binatang buas, binatang melata, dan bahkan makhluk-makhluk pemangsa mengerikan dari Kegelapan.

Cermin Gaib adalah bentangan hijab rahasia yang menyelubungi dan sekaligus merupakan pembatas antara alam kasatmata (‘alam asy-Syahadah) dan tidak kasatmata (‘alam al-ghaib). Cermin itu memantulkan bayangan keberadaan manusia secara lahiriah (mulk) ke dalam hakikat sejati manusia secara ruhaniah (malakut). Wujud lahiriah tiap-tiap manusia yang menghadap ke bentangan Cermin Gaib itu akan memantulkan kesejatian citra ruhaninya sesuai jati diri masing-masing. Dengan demikian, jati diri masing-masing manusia di depan Cermin Gaib akan memantul sebagai wujud bayangan sejati jiwanya.

Di depan bentangan cermin itu Abdul Jalil termangu-mangu menyaksikan wujud dirinya di tengah kilasan-kilasan wajah yang ganti berganti dan sambung menyambung. Ia menjadi sadar betapa keberadaan dirinya di tengah kecamuk perang itu memang tidak terlibat pertempuran dan membasahi tangannya dengan darah siapa pun. Gambaran kuat yang terekam di relung-relung ingatannya menunjukkan betapa saat ia terbangun dan membuka mata, ia melihat dari celah-celah tendanya sesuatu yang terbang di langit, yang wujudnya tak mampu ia gambarkan: Sang Maut, Rajadiraja Kematian yang terbang dengan garang melingkupi penjuru langit dan bumi, yang melihat semua makhluk dengan mata menyala dan cakar-cakar tajam mengembang dan jutaan sayap yang mengepak. Saat terdengar jeritan dahsyat mengguncang langit, ia melihat Sang Maut mengepakkan sayap-sayap kematian yang menggemuruh bagai badai. Kemudian, dengan lahap Sang Maut menyantap setiap makhluk hidup dengan paruh-Nya yang lebih tajam dari pedang. Sementara di bawah kepak sayap Sang Maut terlihat beratus-ratus ribu makhluk gaib penghuni purwa Nusa Jawa berpesta pora memunguti remah-remah sisa santapan-Nya laksana kawanan semut mengerumuni sisa makanan rajawali di padang rumput.

Ketika ia memalingkan pandangan dari bayangan Sang Maut, ia menyaksikan pemandangan lain yang membuat jantungnya berdentam-dentam, mulutnya terkatup, dan tenggorokannya tercekik. Di hadapannya terlihat beribu-ribu bayangan makhluk setengah manusia setengah binatang yang teraduk-aduk kacau seperti laut diempas badai. Makhluk-makhluk mengerikan itu sambil meraung-raung dan melolong-lolong dengan buas dan ganas saling mencabik satu sama lain. Tak kuasa melihat keganasan itu, ia memejamkan mata. Namun, disaat matanya terpejam, telinganya menangkap suara kepak sayap burung-burung, raungan serigala, geraman singa, auman harimau, lolongan anjing, kuak kerbau, dan tangisan anak burung yang mencicit-cicit. Hiruk pikuk suara terdengar berkerumun di sekitar telinganya. Ia menutup telinga dan berusaha menghalau suara-suara yang terus mengerumuninya itu. Anehnya, semakin telinganya ditutup, semakin ia dengar hiruk suara yang menggiriskan itu.

Akhirnya ia membuka mata dan telinganya. Lalu sadarlah ia betapa yang terlihat ke dalam Cermin Gaib itu bukanlah mata inderanya melainkan mata batinnya (‘ain al-bashirah). Yang mendengar suara hiruk pikuk itu bukan telinga inderanya pula melainkan pendengaran batinnya (sam’). Dan di tengah kesadaran itu ia mendapat bisikan dari Ruh al-Haqq bahwa hiruk suara-suara itu sesungguhnya menggemakan getar kebencian yang tersembunyi di kedalaman jiwa makhluk-makhluk yang saling mencabik itu. Ya, suara-suara hiruk itu adalah suara kebencian yang sangat dibencinya.

Mengetahui hiruk suara-suara itu adalah suara kebencian, Abdul Jalil merasa malu dan muak. Ia membalikkan badan dan bergegas meninggalkan tempat laknat itu. Namun, saat ia akan beranjak tiba-tiba telinga batinnya mendengar suara-suara ratapan yang menggema-gema yang memanggil-manggil namanya. “Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Janganlah lari meninggalkan kami! Lihatlah kami! Kami adalah anak-anakmu yang lahir dari dunia baru yang engkau bangun dengan pikiran dan mimpi-mimpimu. Kami adalah anak-anak zaman yang lahir dari kegelapan. Engkaulah ibu dan bapak kami. Janganlah engkau tinggalkan kami!”

Abdul Jalil tercekat mendengar suara-suara itu. Ia merasakan jiwanya tiba-tiba dikuasai oleh rasa belas kasih. Kemudian dengan kata-kata selembut awan ia berkata, “Aku tahu siapa sesungguhnya engkau. Engkau adalah cacing-cacing melata di dalam tanah yang tumbuh menjadi anak-anak harimau dan akan menjelma menjadi adimanusia. Sekarang ini tubuhmu telah menjadi tubuh harimau dan jiwamu pun adalah jiwa harimau. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa ruhmu belumlah ruh manusia. Ruhmu adalah jiwa manusia-hewan yang menyalak penuh kerakusan, kekejian, dendam, dan kebencian. Karena itu, engkau masih membutuhkan waktu untuk menjadi adimanusia seperti yang aku harapkan. Jiwa manusia-hewan yang menguasai kesadaranmu masih membutuhkan waktu dan perjuangan keras untuk bisa menjelma sebagai ruh adimanusia.”

“O Syaikh Lemah Abang! Kami harap engkau tidak memandang kami dari tempatmu yang tinggi. Sebaliknya, engkau harus mematahkan kesombonganmu yang menginginkan seluruh manusia bisa menjelma menjadi sesuatu sesuai mimpi-mimpimu. Engkau tidak bisa mengukur keberadaan manusia dengan menggunakan ukuran dirimu,” suara-suara itu menggeram.

“Apa yang engkau harapkan dariku?”

“Engkau adalah ibu dan bapak yang telah melahirkan kami,” suara-suara itu terdengar bagaikan ciap-ciap anak burung di sarang. “Tunggulah kami! Suapi kami dengan nilai-nilai luhur yang engkau masak dari berbagai jenis makanan jiwa yang menyehatkan dan menguatkan. Susui kami dengan cerita-cerita dan dongeng-dongeng menakjubkan yang menyadarkan keberadaan kami. Tuntun dan bimbing kami meniti jembatan kehidupan agar kami dapat melampaui kemanusiaan dan sampai ke puncak mahligai adimanusia. Pupuklah agar kami bisa tumbuh! Tumbuh menjadi adimanusia sesuai kehendak-Nya dan bukan sesuai kehendakmu.”

Abdul Jalil tertawa. Ia sadar bahwa tiap-tiap jiwa akan tumbuh dan berkembang sesuai kehendak-Nya. Suara-suara itu, katanya dalam hati, benar adanya. Suara-suara itu mengingatkan betapa sombongnya aku yang memimpikan lahirnya adimanusia menurut pikiran dan mimpi-mimpiku. Dan betapa benarnya suara-suara itu yang menginginkan agar aku mematahkan kesombonganku.

Akhirnya, meski rasa muak masih menerkam jiwanya di tengah pertempuran antarbinatang itu, Abdul Jalil merasakan kegembiraan ketika mendapati sekumpulan manusia-hewan bakal adimanusia di dalam Cermin Gaib. Ia bergembira karena seburuk apa pun kumpulan manusia-hewan itu tumbuh, mereka adalah anak-anak harimau yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpinya. Mereka harus dibimbing dan diasuh agar terus tumbuh menjadi manusia dan bahkan adimanusia. Mereka adalah matahari pagi yang sedang merangkak ke tengah hari yang terang-benderang.

Ketika ia membalikkan badan dan menatap Cermin Gaib dengan seksama, ia melihat beratus-ratus bayangan dirinya sebagai kawanan harimau berbulu putih yang seluruh tubuhnya memancarkan cahaya cemerlang. O Yang Mahakuasa, serunya dalam hati, mereka itulah anak-anak zaman yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Merekalah harimau-harimau perkasa yang bakal melampaui manusia dan menjadi adimanusia. Mereka itulah pahlawan-pahlawan gagah yang maju ke medan perang untuk membela keyakinannya, meski kesucian jiwa mereka masih ternodai amarah dan kebencian. Merekalah harimau-harimau zaman yang akan tumbuh menjadi adimanusia. Merekalah harapan masa depan bagi zaman yang gilang-gemilang.

Saat tengah memandang dengan bangga kawanan harimau berbulu putih cemerlang yang menggeram-geram di tengah cermin itu, ia dikejutkan oleh kelebatan-kelebatan bayangan hitam yang berkerumun di sekelilingnya. Makin lama bayangan-bayangan hitam itu makin beriap-riap dan berdesak-desak laksana gumpalan awan hitam menyesaki penjuru bumi. Bayangan-bayangan hitam itu berkelebatan membentuk aneka rupa perwujudan bayangan; serigala, burung nazar, musang, tikus, dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, secara menakjubkan, di tengah kelebatan bayangan-bayangan hitam itu terdengar suara gemerisik seperti derik ribuan ular. Suara gemerisik itu makin lama makin menggema, menjadi kata-kata.

“O Syaikh Lemah Abang. Hari ini kami, anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpimu, telah memenangkan pertempuran. Musuh-musuh kami telah bergelimpangan tanpa nyawa dan sisanya melarikan diri dengan tubuh penuh luka. Kami telah mengibarkan bendera kemenangan. Kami telah menyanyikan lagu kemenangan. Kami telah beroleh dan membagi-bagi pampasan. Tetapi, kami tidak bisa berhenti sampai di situ. Kami tidak bisa kembali ke rumah dengan setumpuk cerita bualan kepada anak-anak dan istri-istri kami. Kami akan terus bergerak ke depan dan mendaki ke atas untuk melampaui kelemahan kami, sebagaimana yang engkau ajarkan. Kami yang berasal dari kalangan rendah dan lemah, yaitu kawanan binatang melata yang engkau sebut cacing-cacing tanah, telah menunjukkan bukti kekuatan kami sebagai adimanusia. Kami akan berebut menaiki singgasana yang telah kami gulingkan. Kami akan menjadi pengganti singa tua yang sudah tenggelam ditelan air bah perubahan. Kamilah yang kini menjadi penguasa. Kamilah kini yang menentukan arah kehidupan manusia.”

Abdul Jalil tertegun mendengar kata-kata yang mengumandang dari kerumunan bayangan hitam. Kegembiraan dan kebanggaan yang dirasakannya mendadak berubah menjadi kemuakan. Ia menjadi muak melihat bayangan hitam yang berkerumun bagaikan kawanan setan itu. Ia tahu, bayangan-bayangan hitam itu adalah jiwa manusia-hewan yang belum matang dan bakal gagal menjadi adimanusia. Bayangan-bayangan hitam itu adalah citra kepalsuan dari jiwa manusia yang terbelenggu nafsu rendah duniawi. Itu sebabnya, dengan suara getir ia berkata, “Aku tahu siapa sesunggunya engkau, o makhluk-makhluk palsu. Engkau adalah jiwa cacing tanah yang sudah melampaui jiwa binatang melata dan menjelma menjadi binatang buas setingkat musang dan serigala. Tetapi, engkau tidak mampu melampaui jiwa harimau dan jiwa singa, apalagi melampaui jiwa manusia untuk menjadi adimanusia. Dengan menutup-nutupi kelemahan diri, engkau justru akan berbelok arah dan menjadi bayang-bayang dari makhluk yang tidak jelas bentuk dan wujudnya. Engkau telah menjadi hitam sehitam bayang-bayang. Engkau telah menyelewengkan apa yang pernah aku ajarkan dan menggunakan kata-katakku sebagai siasat menipu yang menguntungkan dirimu. Sungguh muak aku. Muak. Muak.”

“Bukankah engkau menghendaki kami berjuang mewujudkan diri dari hewan yang rendah menjadi adimanusia? Bukankah semua yang engkau inginkan telah kami penuhi? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami menaklukkan musuh-musuh kami? Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana kami membuat para penentang kami bergelimpangan menjadi mayat tak berguna? Tidakkah engkau saksikan bagaimana kami melampaui sesuatu yang lebih tinggi dari kami?” gerutu suara-suara gemerisik itu bagai daun-daun kering diterbangkan angin.

“Jika engkau berkata bahwa dengan menaklukkan musuh-musuhmu maka dirimu akan menjadi adimanusia maka aku katakan bahwa sesungguhnya telah keliru pendengaranmu menerima kata-kata yang telah aku ucapkan. Sebab, melampaui kebinatangan dan kemanusiaan untuk menjadi adimanusia bukanlah seperti engkau melompati selokan dan sungai kecil agar sampai ke seberang. Bukan pula seperti engkau menaklukkan musuh-musuhmu sebagaimana binatang satu menaklukkan binatang yang lain. Seribu kali aku katakan tidak seperti itu.”

“Sekarang buka telingamu lebar-lebar! Yang aku katakan melampaui kebinatangan adalah melampaui naluri-naluri kebinatangan yang tersembunyi di dalam relung-relung jiwamu. Itu sebabnya, yang aku maksud dengan cacing tanah bukanlah hewan melata menjijikkan yang menggeliat-geliat di dalam tanah, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh hijab Kegelapan (mahjub bi mahdh azh-zhulmah) yang tidak memiliki kesadaran lain, kecuali kesadaran untuk makan dan berketurunan. Yang aku maksud dengan manusia-hewan bukanlah tikus, musang, serigala, harimau, dan singa yang merangkak di permukaan bumi, melainkan keberadaan jiwamu yang terselubungi oleh Cahaya bersama Kegelapan (mahjub bi nur maqrun bi zhulmah). Yang aku maksud dengan manusia bukanlah makhluk berkaki dua yang bisa berpikir, melainkan keberadaan jiwamu yang terhijab oleh pancaran Cahaya (mahjub bi mahdh al-anwar). Sedangkan yang aku maksud dengan adimanusia bukanlah makhluk berkekuatan raksasa yang dapat menaklukkan musuh-musuhnya, melainkan manusia yang sudah berhasil membebaskan diri dari selubung-selubung hijab dan menyaksikan Kebenaran (ma’rifat al-Haqq) melalui pembersihan keilahian dari kemusyrikan (tanzih ar-rububiyyah).”

“Sadarlah, wahai penipu kecil! Janganlah kesukaanmu akan tidur dan bermalas-malas menjadikanmu sebagai pengkhayal dungu. Bangun dan menggeliatlah engkau dari mimpi dan khayalmu. Berpalinglah dari jalan di depanmu karena kiblat hati dan pikiranmu telah menyimpang jauh dari jalan Kebenaran menuju negeri agung kediaman adimanusia. Bangun dan berjuanglah! Merayaplah ke atas! Karena engkau telah terperosok ke dalam sumur tanpa dasar hingga dirimu menjadi gelap laksana bayangan.”

“Jika kami berpaling dan berbalik kiblat, bagaimana dengan takhta kekuasaan yang sudah berada di depan kami?”

“Dengarlah, wahai pencoleng kecil! Engkau tidak cukup pantas menduduki takhta kekuasaan duniawi sebab engkau belum mampu menaklukkan dan menguasai dirimu sendiri. Pantaskah menurutmu memahkotai seekor babi buruk rupa dan merajakannya bagi manusia? Sungguh muak aku dengan ketulian telingamu dan kebutaan matamu. Sungguh muak aku dengan kebebalan otakmu. Aku muak. Muak. Muak. Berkali-kali muak.”

Abdul Jalil berpaling dan meninggalkan bayangan-bayangan hitam yang terus berkerumun mengitarinya bagai gumpalan awan. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia merasa jubahnya ditarik dari belakang. Ia tersentak dan mendengar suara-suara gemerisik itu berkata, “Tinggallah di sini, O Syaik Lemah Abang! Tinggallah di sini! Jangan tinggalkan kami! Kami adalah anak-anakmu. Restuilah kami agar mejadi penguasa bumi. Dukunglah kami agar kami dapat menjadi rajadiraja dunia yang menentukan nasib umat manusia.”

Abdul Jalil merasakan bulu kuduknya merinding ketika melihat bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya itu bergerak mengitarinya dengan tangan mencakar-cakar dan suara gemerisik seperti derik ribuan jangkrik. Ia sadar betapa bayangan itu telingan dan matanya telah tertutup karat sehingga tidak bisa digunakan untuk mendengar dan melihat kenyataan dengan baik. Ketika kerumunan itu makin tak terhitung jumlahnya, ia memungut sepotong kayu dan memukul-mukul sembari berkata, “Tutup mulutmu, he makhluk palsu! Aku muak mendengar ocehan dan igauanmu. Bangunlah engkau dari mimpi kosongmu! Tataplah cermin kenyataan agar engkau dapat melihat siapa sejatinya dirimu. Engkaulah binatang melata yang licik, yang memiliki mata menyala memancarkan api keganasan, kekejaman, kebencian, dan dendam kesumat. Engkaulah binatang rendah yang memiliki mulut berbusa meneteskan liur kelicikan, kepura-puraan, ketidakbersalahan, dan kemabukan pada kekuasaan. O betapa memuakkan engkau. Memuakkan. Memuakkan.”

Tidak lama setelah ia memukul bayangan-bayangan hitam itu dan meninggalkannya pergi, ia melihat ruh seekor singa tua sedang duduk kebingungan di atas sebongkah batu yang mencuat di tengah hamparan air bah. Itulah citra diri Prabu Chakraningrat Yang Dipertuan Rajagaluh di dalam Cermin Gaib. “Inikah raja yang akan digantikan oleh anak-anakku yang sehitam bayangan?” serunya mendekati sang singa dan mengelus-elus rambutnya yang sudah rontok. “Bukankah seekor singa jauh lebih agung dibanding bayangan seribu ekor serigala dan musang?”

Ya, baginya, seekor singa memang lebih agung daripada bayangan hitam kawanan musang. Sebab, setua apa pun usianya, seompong apa pun mulutnya, serontok apa pun rambutnya, ia tetap seekor singa; sang raja rimba. Hanya kelemahan akibat pujian dan sanjungan yang membuat singa tua itu kerasan tinggal di guanya yang sempit dan gelap. Ia tidak sadar bahwa hidup adalah sebuah padang perburuan yang luas dan terus berubah dengan gerakan ke arah depan, tak pernah berhenti, dan tidak pula pernah mundur ke belakang. Singa tua itu tak pernah berusaha untuk melompat keluar gua kesingaannya dan menjelma menjadi manusia. Ketika gerak perubahan hidup melandanya laksana air bah, sang singa kebingungan di dalam guanya. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat oleh seekor singa di tengah terjangan air bah perubahan itu. Ia akhirnya tenggelam diseret arus dan bangkainya tidak pernah diketemukan orang.

Kini, setelah gua yang sempit dan pengap itu kosong, tiba-tiba bayangan-bayangan hitam yang muncul dari gelora bah berkeliaran dan berkerumun mengitari gua. Bayangan-bayangan hitam itu saling desak, saling dorong, saling sikut, saling gigit, dan saling cakar untuk berebut duduk di atas batu singgasana sang singa tua. “Akankah sebuah bayangan hitam lebih agung jika menjadi penguasa gua dibanding seekor singa?” seru Abdul Jalil seolah berkata kepada diri sendiri. “Dihuni singa atau bayangan hitam, sesungguhnya gua tetaplah gua; sebuah keangkeran yang menakutkan bagi manusia. Tetapi, keangkeran yang lahir dari wibawa seekor singa jauh lebih agung dibanding keangkeran yang lahir dari kawanan hantu. Itulah perumpamaan singgasana Rajagaluh jika diduduki Prabu Chakraningrat dan jika diduduki anak-anakku yang belum sempurna menjadi manusia-hewan,” katanya lantang.

Ketika ia memeluk ruh singa tua itu dan membelai rambutnya, ia melihat sekawanan bayangan hitam terbang dalam kerumunan besar di langit laksana gumpalan awan hitam. Kerumunan itu kemudian menukik ke bawah dan mengerumuni tubuhnya. Menyambar-nyambar. Membuat ia harus memutar-mutar potongan kayu di atas kepalanya untuk mengusir kerumunan itu. Ketika potongan kayunya mengenai sesuatu, terdengar jerit kesakitan diikuti suara gemerisik bagai hujan deras tercurah di atap. Sekilas ia menyaksikan puluhan bayangan hitam terempas ke batu-batu dan batang-batang pohon tak berdaun. Ia terbelalak saat melihat puluhan bayangan hitam itu bangkit dan menatap tajam ke arahnya dalam wujud Ki Gedeng Kiban, mantan Adipati Palimanan, dan Rsi Bungsu secara berganti-ganti.

Abdul Jalil berdiri kaku dengan hati ngeri. Ia memandang dengan tatapan nanar ke sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang tiba-tiba menjadi puluhan jumlahnya. Ia berpaling ke Cermin Gaib. Terpampanglah gambaran menggetarkan yang menampakkan jati diri makhluk-makhluk licik yang mabuk kekuasaan itu.

Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu yang telah berlipat-lipat jumlahnya itu menjelma menjadi makhluk mengerikan dari alam kegelapan yang sulit digambarkan wujudnya. Kepalanya mirip ular dan terbuat dari bahan sejenis batu sungai yang keras. Lidahnya bercabang dengan gigi dan taring tajam berbisa. Kulitnya kasar bersisik dan selalu berubah-ubah sesuai keadaan sekitar. Matanya mirip mata buaya, yang jika menangis tidak meneteskan air mata kesedihan, tetapi mengalirkan genangan air kedustaan yang pahit beracun.

Hidungnya mirip hidung anjing yang selalu mengendus-endus membaui segala sesuatu di sekitarnya dengan kecurigaan. Mulutnya mirip babi yang najis dan meneteskan kekejian fitnah dan kebohongan. Hatinya logam sepuhan yang berkilau cemerlang bagai emas, namun berubah legam berkarat ketika disinari cahaya Kebenaran. Limpanya, paru-parunya, empedunya, jantungnya, bahkan usus dan duburnya pun terbuat dari bahan palsu dan beracun.

“Aku tahu siapa sesungguhnya engkau,” kata Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukul ke arah bayangan Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu. “Engkau adalah bayangan palsu yang membawa-bawa ajaranku untuk membangun mahligai kekuasaan di atas bumi. Tetapi, karena engkau makhluk palsu maka mahligai yang engkau bangun pun palsu adanya. Kata-katamu palsu. Janjimu palsu. Keringatmu palsu. Air matamu palsu. Air liurmu palsu. Air kencingmu palsu. Tahimu juga palsu. Pendek kata, apa yang keluar dari tubuh makhluk palsu adalah palsu. Palsu. Palsu. Seribu kali palsu.”

Wajah-wajah gelap dan palsu Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu menyeringai. Abdul Jalil sangat terkejut ketika melihat salah satu sosok Ki Gedeng Kiban dan Rsi Bungsu memudar digantikan oleh sosok wali nagari Kuningan, Angga. Ya, sosok Angga menyeruak keluar dari kerumunan. Ketika ia menegaskan penglihatannya, dilihatnya Angga sebagai seekor gagak yang bulunya rontok dan mengangankan diri sebagai rajawali perkasa. Ibarat dongeng gagak kehilangan daging di paruhnya akibat dipuji serigala, begitulah Angga kehilangan jabatan panglima akibat terlena oleh puja dan puji orang-orang di sekitarnya. Saat gemuruh peperangan terdengar membelah permukaan bumi, Angga hinggap di pohon merenungi nasibnya yang malang.

Citra Angga yang dilihat Abdul Jalil di cermin sebagai burung gagak ternyata memunculkan masalah baru tak lama setelah Caruban memperoleh kemenangan dalam perang. Sebagai gagak yang tak mampu terbang tinggi dan tidak mengetahui jika di atas langit masih ada langit, dia sangat marah dan merasa terhina ketika menerima kabar kemenangan Caruban, terutama saat dia mendengar kegagahan dan keperkasaan Nyi Mas Gandasari, rajawali betina yang dielu-elukan seluruh pasukan karena keberaniannya tak tertandingi.

“Sungguh telah terjadi perubahan tatanan alam ketika seekor burung betina dirajakan mengganti kedudukan sang jantan,” kata Angga kepada berpuluh-puluh gagak tua yang mengerumuninya dengan suara serak dan melengking. Setelah berkaok-kaok melompat-lompat di atas tanah mengais-ngais serpihan daging busuk, gagak-gagak itu berkata serempak. “Jika panji-panji kemenangan dikibarkan di bawah cengkeraman kuku-kuku tajam burung betina bersayap pendek, niscaya matilah seluruh burung jantan akibat tak kuasa menanggung beratnya beban yang bertentangan dengan tatanan alam. Pantaskah burung-burung jantan mengeram dan menunggui sarang. Sementara yang betina terbang ke angkasa memamerkan kegagahan? Pantaskah seekor betina dirajakan atas burung-burung?”

Kecemburuan Angga terhadap kemasyhuran rajawali betina itu nyaris membawa Caruban ke perang lanjutan dalam bentuk penyerangan terhadap Dermayu. Di tengah ketidakpuasan dan rasa penasaran, Angga dengan disertai sejumlah pemuka masyarakat Caruban menghadap Sri Mangana, memohon agar diberi kesempatan untuk menebus kekalahannya yang memalukan. Dengan berkaok-kaok didukung gagak-gagak tua, ia berkata, “O Ratu Ular Laut yang perkasa, kami tidak mampu hidup dengan menanggung segunung aib ini.

Para sesepuh pun tidak mampu terbang dengan gagah karena sayap-sayap mereka telah patah oleh timbunan aib. Sungguh berat bagi para burung jantan, o Ratu Ular Laut, jika dipaksa memikul beban tak tertanggungkan ini. Karena itu, kami, para rajawali jantan mohon diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan guna menyerbu Dermayu dan mengislamkan Prabu Indrawijaya bersama para nayaka dan penduduknya. Biarlah kemenangan yang kami peroleh nanti akan menjadi obat bagi luka kami yang tak tersembuhkan.”

Sri Mangana menggeram dan menatap tajam Angga dan burung-burung gagak tua. Menurutnya, tidak cukup kuat alasan bagi Caruban untuk menyerang Dermayu. Itu sebabnya, meski didesak oleh para gagak jantan dan bahkan Angga pun telah bersujud di kakinya, ia menolak untuk menyerang Dermayu yang hampir seluruh penduduknya sudah beragama Islam. Namun, Angga yang sudah dirasuk rasa malu dan disakiti rasa terhina tidak putus harapan. Dengan berdalih mau mengislamkan raja Dermayu dan nayakaprajanya, sekembali menghadap kalifah, ia membawa tiga ribu orang laskar gabungan dari Kuningan, Trusmi, Kalisapu, dan Kuta Caruban. Ia dan laskarnya bergerak bagaikan awan terbawa angin ke Kutaraja Dermayu. Di sepanjang perjalanan, dengan pongah laskar-laskarnya berteriak menepuk dada. “Islamkan para pemuja berhala! Sunat Raja Dermayu! Potong kulup kemaluan orang-orang kafir.”

Prabu Indrawijaya, Yang Dipertuan Dermayu, sangat marah mendengar laporan tentang hasrat kemenakannya yang akan menyerang dan mengislamkannya. Kepalanya nyaris meledak ketika ia mendengar tentang caci maki para laskar yang menistanya sebagai kafir yang najis yang akan dipotong kemaluannya.

Prabu Indrawijaya benar-benar merasa dihina dan direndahkan. Dengan kesombongan seekor singa tua yang geramannya masih menggetarkan musuh, ia mengaum, “Kehinaan apa yang aku peroleh jika harus menghadapi si mata sipit kulit pucat itu sebagai lawan? Dasar binatang tak tahu diri. Biarlah babi-babi sombong itu berbaris menuju padang penjagalan yang kita siapkan.”

Tanpa keluar dari kratonnya, Prabu Indrawijaya mengirim dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Lembu Tirta, dua ribu pasukan yang dipimpin Pangeran Kidang Taraju, dan seribu pasukan dipimpin Ki Oyod. Pasukan Dermayu yang gagah perkasa itu dititahkan menghadang Angga dan laskarnya di seberang Sungai Kamal.

Demikianlah, saat kedua pasukan bertemu, pecahlah pertarungan sengit yang membuat air Sungai Kamal berwarna merah. Dan ternyata, Angga mengalami nasib tidak lebih baik dari saat ia dan pasukannya dihancurkan pasukan Leuwimunding di hutan Kepuh. Dalam pertempuran itu, laskar yang dipimpin Angga hancur binasa. Hampir tiga ribu orang laskar yang dipimpinnya terbunuh. Sisanya melarikan diri. Angga sendiri dengan susah payah meloloskan diri dengan berpura-pura mati dan menghanyutkan diri hingga muara.

Kabar kehancuran laskar Angga diterima dengan ratap tangis para janda baru dan anak-anak yatim yang makin menggunung jumlahnya. Angga sendiri tidak diketahui keberadaannya. Baru pada hari kesepuluh dia muncul dalam keadaan kuyu untuk menghadap kalifah Caruban. Kemudian dengan kepandaiannya bersilat lidah, ia mengatakan akan siap memimpin kembali pasukan Caruban untuk menggempur Dermayu. Dia mengaku hanyut ke muara hingga terdampar ke pulau Menyawak setelah kalah bertempur di Sungai Kamal. Di pulau itu diberi jimat cupu oleh seorang pertapa tua. “Jimat cupu ini katanya bisa mengeluarkan beribu-ribu prajurit, Yang Mulia,” katanya berusaha meyakinkan.

Sri Mangana yang waskita hanya menggeleng-gelengkan kepala menghadapi kenaifan si burung gagak yang tak tahu diri itu. Namun, kali itu sang kalifah sudah habis kesabaran. Dengan suara menggelegar bagai halilintar ia berkata keras, “Cukup sudah tindakanmu mengobarkan nyawa orang-orang tak bersalah. Hentikan tidakan bodohmu yang sudah menciptakan ribuan janda dan anak-anak yatim! Terbukti sudah bahwa engkau tidak memiliki kecakapan apa-apa di medan tempur.

Jikalau sekarang engkau masih berani meminta dukungan untuk menyerang Dermayu maka aku katakan bahwa perang dengan Dermayu tidak perlu dilakukan. Kenapa? Sebab, saudaraku Prabu Indrawijaya beserta seluruh keluarga, nayaka, dan punggawanya telah menghadapku. Saudaraku itu telah menyerahkan kekuasaan atas Dermayu kepada Caruban Larang. Bahkan mereka semua telah berikrar memeluk Islam. Karena itu, pergilah engkau ke Dermayu untuk meminta maaf kepada sang ratu yang sudah menjadi pengikut Muhammad Saw. itu.”

Angga tercengang-cengang mendengar penjelasan Sri Mangana. Ia merasa sangat kecewa karena tidak bisa membuktikan kegagahannya sebagai rajawali jantan. Ia sadar tidak bakal dipercaya lagi oleh Sri Mangana. Itu sebabnya, diam-diam ia menyembunyikan api kebencian terhadap sang rajawali betina. Demikianlah, makhluk bercitra gagak seperti Angga tidak memiliki kemampuan untuk bercermin diri sehingga tidak menyadari keberadaan diri sendiri. Ia tidak mengetahui bahwa takdir telah menempatkannya sebagai seekor gagak, sementara ia membayangkan diri seolah-olah rajawali jantan yang gagah perkasa: raja dari segala burung.

Dan sebagaimana Angga, kerumunan bayangan hitam di Cermin Gaib itu akan bergulat untuk memperebutkan kekuasaan tanpa sadar bahwa mereka sesungguhnya adalah bayangan palsu dari manusia-hewan yang rendah. Mereka bukan manusia dan bukan pula adimanusia. Mereka adalah mereka: makhluk-makhluk tak tergambarkan yang lahir dari angan-angan kosong, cacing-cacing tanah, dan makhluk mengerikan dari alam Kegelapan.

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 09:30

13. Teka-Teki Sang Rajawali

Ketika Abdul Jalil berpaling dan melihat Cermin Gaib di dalam dirinya, ia melihat kilasan-kilasan perwujudan berupa semacam kabut berasap yang tebal dan bergumpal-gumpal. Kabut berasap yang memancarkan cahaya merah menyala, kuning keemasan, dan hitam pekat. Itulah perlambang kekuasaan dari Yang Mengangkat (ar-Rafi’) dan Yang Menjatuhkan (al-Khafidh), yang menyulut api peperangan sebagai bagian dari kuasa-Nya dalam memelihara keseimbangan alam beserta isinya. Peperangan, apa pun alasan yang melatarinya, adalah keniscayaan dari sunnah Allah (hukum alam), di mana ar-Rafi’ dan al-Khafidh selaku Rabb, menjalankan kehendak dari Rabb al-Arbab (Allah) untuk mempergilirkan kejayaan dan keruntuhan di antara manusia (QS. Ali Imran: 140).

Lantaran perang adalah bagian dari sunnah Allah demi keseimbangan alam seisinya, maka bagi mata yang waskita, di tengah gemuruh peperangan itu akan dapat menangkap kuasa-kuasa Ilahi berpusar-pusar dan berkeliaran menentukan arah dan alur peperangan. Sebagai salah satu di antara manusia yang memiliki kewaskitaan, di tengah kecamuk perang Caruban-Rajagaluh itu melihat kehadiran sejumlah kekasih Allah (aulia’ Allah), malaikat-malaikat pencabut nyawa, dan makhluk-makhluk halus penghuni purwa Nusa Jawa.

Para kekasih Allah itu tanpa ada yang mengetahui tiba-tiba muncul di tengah galau pertempuran dalam wujud seorang prajurit rendahan, perwira, penabuh genderang, tukang masak, pengungsi, orang gila, dan bahkan manusia-manusia misterius dari alam gaib (ar-rijal al-ghaib). Di tengah gemuruh hujan, beberapa saat menjelang gerbang Kutaraja Rajagaluh akan dibuka, Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Sri Mangana sempat berbincang-bincang dengan Wahisy al-Majdzub, Ibrahim al-Uryan, Syaikh Ahmad al-Bakhathi, tiga orang kekasih Allah yang dikenal dengan perilaku anehnya. Dengan menyamar sebagai juru jalir (pengawas pelacuran), Wahisy telah membawa para pelacur keluar dari kuta tanpa ditanyai ini dan itu oleh para prajurit Caruban yang mengepung kutaraja. Ibrahim al-Uryan dengan tubuh tanpa kain selembar pun menggiring para ibu dan anak-anak keluar dari kuta. Prajurit Caruban yang melihatnya tertawa-tawa dan menganggapnya gila. Sementara Syaikh Ahmad al-Bakhathi membawa para pendeta dan prajurit Rajagaluh yang terluka keluar dari kuta tanpa diketahui para pengepung.

Syarif Hidayatullah yang sekilas melihat perbincangan aneh itu terheran-heran. Bagaimana mungkin orang-orang terhormat seperti Sri Mangana, Syaikh Abdul Jalil, dan bahkan kakeknya sendiri berbincang-bincang dengan tiga gelandangan tidak waras; yang dua orang berpakaian kumal penuh tambalan dan yang seorang lagi telanjang tanpa pakaian. Malahan, dalam berbincang-bincang itu mereka berenam terlihat tertawa-tawa seolah tak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan kepala dilingkari tanda tanya, sesaat setelah pertempuran usai, Syarif Hidayatullah bergegas menemui Abdul Jalil yang sedang mengetuk-ngetukkan sebatang kayu pemukul dan bertanya kenapa mereka berbicara akrab dengan tiga orang asing yang kelihatannya tidak waras.

Ketika Abdul Jalil memberi tahu bahwa ketiga orang aneh yang diajaknya berbincang-bincang itu adalah Wahisy, Ibrahim al-Uryan, dan Syaikh Ahmad al-Bakhathi, Syarif Hidayatullah amat terkejut. Sebab, sejak lama ia sering mendengar nama buruk ketiga orang tersebut. Itu sebabnya, dengan suara ditekan tinggi ia memprotes tindakan Abdul Jalil, “Kenapa Paman berbicara akrab dengan mereka? Bukankah ketiga orang itu terkenal di mana-mana sebagai orang tidak waras? Bukankah Wahisy itu orang gila yang suka berkeliaran di rumah-rumah pelacuran? Bukankah Syaikh Ibrahim al-Uryan itu dikenal sebagai orang gila yang suka telanjang jika berkhotbah di mimbar? Bukankah Syaikh Ahmad al-Bakhathi itu dikenal sebagai orang yang suka meludahi orang lain?”

“Mereka adalah kekasih-kekasih Allah, Anakku,” kata Abdul Jalil memutar kayu pemukul yang dibawanya.

“Saya ragu mereka wali Allah, Paman. Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari’at Allah? Bagaimana mungkin kekasih Allah melakukan tindakan-tindakan rendah yang memalukan?” tanya Syarif Hidayatullah tak terima.

“Engkau kelak akan mengetahuinya, o Anakku,” kata Abdul Jalil membolak-balik kayu pemukulnya. “Sebab, apa yang engkau lihat dengan mata inderamu tidaklah menunjukkan Kebenaran Sejati tentang sesuatu. Orang-orang seperti Wahisy, misalnya, sekalipun tidur sekamar dengan seratus pelacur tidak akan terkena dosa sebagaimana ditetapkan hukum syari’at. Bahkan aku berani bersaksi, Wahisy tetap suci dan tak ternoda meski ia sudah bergaul dengan ribuan pelacur selama bertahun-tahun.”

“Bagaimana Paman bisa berkata seperti demikian?”

“Sebab aku tahu, jiwa Wahisy sudah menyatu dengan Jiwa Semesta. Dia sudah menjadi makhluk Semesta.”

“Maksud Paman?”

“Dia sudah bukan lagi laki-laki dan bukan pula perempuan. Dia sudah lepas dari jenis kelamin. Hanya tubuh manusiawinya saja yang berkelamin laki-laki, namun jiwanya merupakan semesta. Dan seperti makhluk-makhluk semesta yang lain; bulan, bintang, matahari, malaikat, iblis, Wahisy tidak kenal lagi perbedaan kelamin seperti layaknya manusia dan binatang sehingga kepadanya tidak bisa dikenakan hukum-hukum syari’at yang didasarkan pada penafsiran fiqhiyyah atas ayat-ayat Allah dan sunnah Rasul.”

“Karena itu, o Anakku, jika kelak engkau menjadi seorang guru manusia dan menemui orang-orang seperti Wahisy dan Ibrahim al-Uryan, kenakanlah kepada mereka itu hukum syari’at yang diberlakukan bagi orang gila. Maksudnya, tidak ada hukum syari’at yang melarang orang gila bergaul dengan pelacur. Tidak ada juga hukum syari’at yang melarang orang gila telanjang. Namun, hukum syari’at juga tidak melarang seseorang untuk berbicara dengan orang gila,” Abdul Jalil mendekap kayu pemukulnya.

Syarif Hidayatullah tertawa dan mengangguk-angguk mengisyaratkan bahwa ia sudah memahami masalah itu. Namun saat ia akan kembali ke kemahnya, tiba-tiba bahunya ditarik seseorang dari belakang. Ketika menoleh, ia melihat Syaikh Ibrahim al-Uryan dalam keadaan telanjang duduk di atas punggung seekor sapi. Syarif Hidayatullah yang tak mengetahui bagaimana sang syaikh dan sapi itu dalam sekejap tiba-tiba muncul di belakangnya, dengan tergagap menyampaikan salam. Namun, seperti orang tidak waras yang mengomel sendiri, tanpa menjawab salam Syarif Hidayatullah, Syaikh Ibrahim al-Uryan berkata dengan suara yang lain.

“Lihat burung-burung gagak yang terbang mengepakkan sayap di langit! Mereka berteriak-teriak di angkasa memuji keagungan Sang Maut dan memohon agar Penguasa kerajaan kematian itu turun ke medan perang. Lihat! Lihatlah bagaimana gagak-gagak itu mengiringi Sang Maut turun ke medan perang. Lihat! Apa yang dilakukan para gagak ketika Sang Maut menghantamkan sayap-Nya sehingga mengakibatkan beribu-ribu manusia bergelimpangan tanpa nyawa. Ya, gagak-gagak licik itu berkerumun-kerumun dan sambil memekik-mekik gembira mencabik-cabik mayat-mayat dengan paruhnya yang setajam pedang dan seruncing tombak.”

“Waspada! Waspadalah pada gagak-gagak hitam yang menyembunyikan pamrih serigala dan musang di balik bulu-bulunya yang legam. Tetapi, hendaknya engkau lebih waspada pada kawanan serigala dan musang yang akan keluar dari balik bulu gagak –gagak hitam itu. Sebab, telah termaktub di kitab langit (al-Lauh al-Mahfuzh) bahwa Sang Penentu (al-Muqtadir) telah menggoreskan Pena Mulia (al-qalam al-a’la), bahwa negeri-negeri timur di bawah langit akan dikerumuni dan dijadikan jarahan oleh kawanan serigala dan musang yang membawa malapetaka kegelapan bagi para penghuni bumi. Saat itulah cakrawala di daratan dan di lautan akan tertutupi oleh awan kegelapan sehingga penghuni bumi tidak bisa lagi mengenali satu sama lain karena sejauh mata memandang yang menampak di cakrawala hanyalah benda-benda (thaghut) dan wujud palsu dari angan-angan kosong (al-wahm). Saat itu manusia sudah tinggal menjadi kerangka kosong yang tak memiliki jiwa (ash-shuwar al-qa’imah). Ke mana pun penglihatan diarahkan, yang tampak hanyalah benda-benda yang lain (al-aghyar) yang menyimpang dari Kebenaran (al-Haqq).”

“Aku bukan peramal. Aku bukan tukang sihir. Aku juga bukan ‘orang berkelebihan’ yang dapat melihat gambaran masa depan. Aku hanya seorang tidak waras yang kebetulan melihat dunia masa depan lewat alam khayalku. Ya, aku saksikan bagaimana kapal-kapal berlayar di lautan dan kapal-kapal tertambat di dermaga. Kapal-kapal itu tidak pula memuat manusia dan tidak memuat barang-barang kebutuhan manusia. Sebaliknya, kapal-kapal itu berisi serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa dari Kegelapan yang rakus dan tak pernah kenyang. Sungguh, telah aku saksikan kawanan makhluk mengerikan yang buas dan licik itu menjelma menjadi manusia-manusia berparas mengagumkan dan sangat santun, namun sangat berbahaya. Mereka akan mendatangi manusia dengan senyuman, namun tangan mereka yang tersembunyi di belakang punggungnya menggenggam pisau beracun. Setiap manusia yang lengah dan terpesona oleh ucapan-ucapan manis itu akan ditikamnya.”

“Waspada dan berhati-hatilah engkau, o manusia. Sebab, tikaman pisau beracun manusia-manusia palsu jelmaan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa itu tidaklah membuat manusia mati. Tikaman pisau beracun itu hanya akan membuat hatimu berubah menjadi biru dan membeku. Tak lama setelah itu, hatimu akan menghitam dan membatu. Kemudian engkau akan menjadi mayat-mayat hidup yang berbaris di bawah perintah mereka. Ya, dunia baru yang dihuni manusia-manusia masa depan akan berisi mayat-mayat hidup yang ditinggal pergi oleh jiwa dan ruhnya. Sementara ruh mayat-mayat hidup itu terbang ke alam ruh (‘alam al-arwah), jiwanya bergentayangan menjadi hantu-hantu hitam yang berkeliaran di muka bumi sebagai bayangan-bayangan hitam yang palsu dan menyesatkan. Dan tubuhnya menjadi timbunan daging busuk yang ke mana-mana menebarkan penyakit dan kematian.”

“Demikianlah, penglihatan yang aku tangkap dari dunia masa depan. Sesungguhnya, segala sesuatu yang mengerikan dari masa depan itu tidaklah terjadi kecuali semata-mata karena kehendak-Nya. Sesungguhnya, jika Allah menimpakan marabahaya (mudharat) kepada makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menghindarinya, kecuali Dia sendiri. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi makhluk-Nya maka tidak ada yang dapat menolak kebaikan-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (QS. Yusuf: 107).”

Ketika Syaikh Ibrahim al-Uryan pergi dengan sapinya ke gugusan pohon yang tak lagi berdaun dan menghilang di balik senjakala, Syarif Hidayatullah mendekati Abdul Jalil dan berkata dengan suara tercekat di tenggorokan, “Apa yang pernah Paman ungkapkan tentang Dajjal, Ya’juj wa Ma’juj, yang bakal merusak dan menjarah kehidupan umat manusia barusan telah diungkap pula oleh Syaikh Ibrahim al-Uryan. Apakah yang harus kita lakukan untuk menghadapi mereka?”

“Menyiapkan adimanusia yang siap bertempur di segala medan,” kata Abdul Jalil memainkan kayu pemukul sambil menerawang ke gugusan langit yang mulai gelap. “Sebab, hanya adimanusia yang mampu memimpin manusia-manusia untuk bisa mengalahkan kawanan serigala, musang, dan makhluk-makhluk pemangsa jejadian itu.”

“Apakah kita akan membangun pertahanan di balik benteng-benteng peradaban sebagaimana pernah Paman katakan?” tanya Syarif Hidayatullah minta penjelasan.

“Ya,” kata Abdul Jalil mengetu-ketukkan kayu pemukulnya ke tanah. “Benteng-benteng peradaban yang dilingkari dinding adat kebiasaan dan syari’at. Benteng-benteng peradaban yang dibangun di atas landasan Tauhid.”

“Tetapi, Paman, apakah dengan itu kita tidak perlu membangun kekuatan bersenjata?”

“Kekuatan bersenjata tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan memelihara jiwa ksatria para manusia dan adimanusia. Tetapi satu hal yang perlu diingat, aku sangat tidak menghendaki senjata-senjata pemuntah api seperti gurnita yang digunakan pasukan Terung. Sebab, gurnita mengingatkan aku pada senjata yang digunakan pasukan Dajjal, Ya’juj wa Ma’juj, yaitu ajij dalam bentuk yaf’ul dan maf’ul, yang bermakna ‘semburan api’. Bukankah gurnita itu menyemburkan api? Bukankah senjata gurnita itu yang membakar hutan-hutan di sekitar Kuta Rajagaluh?”

“Memang, dengan senjata-senjata penyembur api semacam gurnita, manusia bisa beroleh kemenangan di medan tempur. Tetapi, pemenang yang agung bukanlah mereka yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di medan tempur, melainkan mereka yang bisa menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Itulah sang pemenang agung sejati. Lantaran itu, menurutku, kita harus menghindari penggunaan senjata-senjata ‘penyembur api’ sebagaimana Ya’juj wa Ma’juj. Sebab, senjata-senjata semacam itu tidak hanya merusak alam dan menghancurkan kehidupan makhluk di muka bumi, tetapi menjungkir-balikkan pula adat kebiasaan ksatria, dan yang paling berbahaya adalah menebarkan daya-daya setani di muka bumi,” kata Abdul Jalil.

“Saya paham, Paman,” kata Syarif Hidayatullah.

“Jika sudah paham, engkau harus berkemas-kemas untuk pergi meninggalkan Caruban.”

“Saya harus meninggalkan Caruban?” gumam Syarif Hidayatullah terkejut.

“Paduka kalifah mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengajakmu ke Banten. Dia akan menguji engkau sebagaimana dia telah menguji Raden Sahid. Ya, dia akan menguji apakah engkau mampu melampaui kemanusiaanmu untuk menjadi adimanusia,” kata Abdul Jalil mengetukkan kayu pemukulnya ke tanah.

“Dengan sukacita saya akan menerima ujian itu Paman,” kata Syarif Hidayatullah mantap.

“Berarti engkau harus siap membangun benteng pertahanan peradaban dan Tauhid di sana dan sekaligus menjadi panglima penguasa benteng,” Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu Syarif Hidayatullah dan kemudian membalikkan badan meninggalkan tempat seraya bertelekan pada tongkat pemukulnya.

“Paman hendak ke mana?”

“Menjalankan tugasku, mengajarkan sasyahidan kepada para calon adimanusia,” sahut Abdul Jalil sambil melangkahkan kaki melewati rumput-rumput dan bebatuan. Ketika sampai di sebuah belokan jalan yang dibatasi sebatang pohon besar tak berdaun, Abdul Jalil berpapasan dengan Pangeran Soka dan para pengawalnya yang membawa harta pampasan di atas kereta-kereta. Setelah saling bertegur sapa, Pangeran Soka berkata, “Kami mendapat amanat dari paduka kalifah, untuk memberikan bagian pampasan kepada Tuan Syaikh.”

“Pampasan perang untukku?” tukas Abdul Jalil heran. “Bukankah aku tidak ikut berperang? Bagaimana mungkin aku bisa mendapat bagian pampasan?”

“Tuan Syaikh telah menjadi pendamping dan penasihat kalifah sehingga berhak mendapat pampasan. Selain itu, kami tidak berani membantah titah paduka kalifah,” kata Pangeran Soka.

“Jika demikian, aku minta agar bagianku diberikan kepada Li Han Siang.”

“Diberikan kepada Li Han Siang?” sergah Pangeran Soka terheran-heran. “Bukankah dia sudah kaya raya?”

“Itu bukan hibah atau sedekah,” kata Abdul Jalil sambil berlalu, “tapi untuk membayar utangku.”

“Tuan Syaikh,” seru Pangeran Soka, “benarkah Tuan Syaikh berutang kepada Li Han Siang?”

“Ya.”

“Kalau boleh tahu, untuk apa Tuan Syaikh berutang? Bukankah orang seperti Tuan Syaikh sudah tidak butuh uang?” tanya Pangeran Soka terheran-heran.

“Apakah anehnya Syaikh Lemah Abang punya utang? Apakah engkau juga menganggap aneh jika mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. pun pernah berutang?” kata Abdul Jalil melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan ke berbagai tempat dan menyampaikan ajaran sasyahidan, Abdul Jalil sampai ke suatu persimpangan jalan yang terletak di sebuah lembah yang aneh: suatu hamparan tanah berwarna hitam tanpa rumput dan tanpa semak-semak. Bukit-bukit karang yang bertonjolan di permukaan tanah tegak menjulang laksana barisan tombak ditancapkan di tanah berbatu. Di sekitar bukit-bukit karang itu terhampar beratus-ratus lubang tanpa dasar yang akan memerangkap siapa pun makhluk yang kurang waspada. Semua yang tergelar di lembah itu terlihat hitam; tanah, batu, pohon, bukit, awan, langit, bahkan cakrawala. Tidak satu makhluk pun dijumpai Abdul Jalil di lembah itu. Sebab, siapa pun tentu tidak suka datang ke tempat celaka yang disebut “lembah kejahilan” itu.

Tidak berapa jauh setelah Abdul Jalil melangkahkan kaki ke lembah hitam, ia melihat sesosok bayangan hitam manusia sedang duduk merenung di bawah sebongkah batu hitam di kaki bukit. Abdul Jalil mengerutkan kening menajamkan mata dan bertanya, “Siapakah engkau, o sosok hitam yang berkerudung selimut kebingungan?”

“Kami adalah anak-anakmu, o Syaikh Lemah Abang,” kata sosok itu dengan suara gemerisik bagai gesekan batang bambu ditiup angin.

“Kami?” gumam Abdul Jalil mengacungkan kayu pemukulnya. “Berapakah jumlahmu?”

“Jumlah kami sebanyak semut di sarangnya,” kata bayangan hitam manusia itu seraya berdiri. Lalu terlihatlah pemandangan mencengangkan: batu-batu yang terhampar di kaki bayangan hitam manusia itu tiba-tiba ikut berdiri dalam wujud bayangan hitam manusia dan makhluk-makhluk mengerikan dari Kegelapan. Kemudian, dengan suara gemerisik bagai suara ribuan tampah menampi gabah, bayangan-bayangan hitam itu berkata serentak, “Kami adalah cacing-cacing tanah yang telah engkau cipta menjadi hewan melata. Kami telah mengikuti jalan yang engkau bentangkan di hadapan kami agar kami dapat mencapai negeri agung di seberang lembah kejahilan ini dan tinggal di sana sebagai adimanusia. Tetapi, kami tersesat dan tersungkur di lembah ini dan menjadi batu-batu yang sedih dan merana. Sementara beribu-ribu saudara kami malah jatuh terperosok ke dalam lubang-lubang tanpa dasar dan tidak kami ketahui lagi nasibnya. Kami menuntut tanggung jawabmu sebagai ibu dan sekaligus bapak yang telah melahirkan kami ke dunia baru yang mengerikan ini.”

Dengan pandangan penuh kasih Abdul Jalil memandang bayangan-bayangan hitam itu seolah-olah ingin membaca apa yang tertulis di jiwa mereka. Setelah menarik napas beberapa kali, ia berkata dengan suara sebening tetesan air yang jatuh di panci pada malam hari, “Lihat! Lihatlah cahaya gemerlap yang berkilau-kilau di atas tebing-tebing tinggi di tanah seberang itu! Arahkan kiblat hati dan pikiran kalian semua ke sana! Sebab, ke sanalah engkau sekalian harus sampai, yakni negeri agung kediaman para adimanusia.”

“Bukankah selama ini kami telah mengikuti petunjukmu itu? Bukankah kami telah berikrar bahwa tidak ada jalan lain yang harus kami lewati kecuali yang telah dibentangkan oleh Sang Penuntun Agung? Tapi apa yang kami dapatkan? Tidak ada yang lain, kecuali kesengsaraan, penderitaan, dan kesesatan!”

Abdul Jalil menggeram bagai singa dengan wajah merah padam. Seraya mengacungkan tongkat pemukulnya ia berkata lantang, “Tutup mulutmu, he pendusta-pendusta kecil! Aku tahu siapa engkau sesungguhnya. Engkau adalah para pendusta bermulut palsu, berhati palsu, dan berjiwa palsu. Engkau katakan bahwa dirimu telah berikrar untuk tidak mengalihkan kiblat hati dan pikiranmu dari cahaya di seberang lembah itu, namun ikrarmu itu hanya sebatas ucapan di mulutmu yang palsu. Pandangan matamu telah berpaling dari-Nya karena perhatianmu cenderung pada benda-benda yang memesona penglihatanmu. Pendengaran telingamu pun telah pekak dan tidak lagi mendengar suara-Nya. Hatimu yang palsu dan tertutup karat kebendaan tidak dapat lagi menerima benderang cahaya-Nya. Pikiranmu yang palsu dan bercabang-cabang tidak mampu lagi berkiblat kepada-Nya. Lantaran itu, engkau tidak lagi dapat melihat jalan yang benar sesuai petunjuk-Nya sehingga sebagian di antara kalian ada yang tersungkur di lembah kejahilan, bahkan ada yang terperosok ke dalam lubang tanpa dasar.”

“Aku tahu siapa sesungguhnya engkau, he penipu-penipu kecil! Engkau katakan kepada semua orang bahwa engkau adalah orang-orang beriman yang tunduk patuh pada Hukum Suci yang ditetapkan-Nya. Engkau katakan kepadaku bahwa engkau telah menjalankan apa yang telah aku ajarkan dan mengikuti petunjuk jalan yang telah aku berikan. Tetapi, aku katakan kepadamu bahwa engkau telah berdusta. Dusta. Dusta. Seribu kali dusta. Aku tahu, sesungguhnya yang berjalan terseok-seok menyusuri lembah kehidupan bukanlah tubuh, hati, dan pikiranmu, melainkan angan-angan kosong (al-wahm) yang lahir dari lamunan (al-umniyah) jiwamu yang kerdil dan rendah. Ya, yang menjalankan ajaranku adalah angan-angan dan lamunanmu. Sungguh malu aku mendengar engkau mengaku-ngaku sebagai anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpiku. Sebab, aku tidak pernah berpikir tentang kekerdilan seekor cacing yang menggeliat di dalam tanah sepanjang zaman. Aku juga tidak pernah bermimpi tentang makhluk-makhluk pemalas yang suka pada pengumbaran nafsu. Malu aku. Malu. Malu. Seribu kali malu.”

“Dengar! Dengarlah, he maling-maling kecil yang mengaku anak-anakku! Akhirilah dustamu! Hentikanlah kebohonganmu! Sadarlah engkau bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan di surga sebagaimana yang engkau bayangkan dan engkau angankan. Kehidupan dunia tidak bisa engkau nikmati dengan kemalasan dan lamunan-lamunan tentang bidadari dengan sungai susu dan kolalm madu. Kehidupan dunia harus engkau lampaui dengan perjuangan keras yang tak kenal menyerah dan tak kenal pula putus asa, sampai engkau menjadi adimanusia yang mewarisi kehidupan di negeri agung yang penuh keselamatan dan kesentosaan. Tanpa perjuangan keras, mustahil engkau dapat meninggalkan lembah kejahilan ini. Kemalasan dan angan-angan kosongmu akan menjadikan engkau tinggal abadi di lembah kejahilan ini bersama anak, cucu, dan buyutmu.”

“Ayo anak-anakku, sekarang ikutilah jekakku! Sebab, aku akan mengajarkan kepadamu tentang sasyahidan, yaitu kesaksian yang benar tentang Sang Cahaya di atas segala cahaya dan Sang Penuntun Agung, agar kalian semua dapat beroleh Kebenaran (al-Haqq) hidup sejati serta tidak menjadi mayat-mayat berjalan tanpa jiwa dan ruh. Aku akan tunjukkan kepadamu kehidupan adimanusia yang tidak bisa ditundukkan dan diperbudak oleh kawanan serigala dan musang yang akan menguasai bumi.”

“Ayo, kemarilah! Aku akan ajarkan kepadamu jalan Kebenaran yang hakiki. Ketahuilah bahwa sejatinya Kebenaran (al-Haqq) adalah Zat Yang Mahatampak (azh-Zhuhur al-Haqq). Dia tampak pada segala sesuatu (azh-zhahir bi kulli syai’). Dia menampakkan segala sesuatu (azh-hara kulla syai’). Dia yang nyata atas tiap-tiap sesuatu (azh-zhahir li kulli syai’). Sebab, Dia adalah Yang Nyata sebelum segala sesuatu ada (huwa zhahir qabla qujudi kulli syai’). Tetapi, akibat benderang cahaya-Nya, engkau sekalian tidak dapat menyaksikan penampakan diri-Nya. Sementara selubung keakuan yang menyelimuti dirimu makin menghijab mata batin (‘ain al-bashirah) yang tersembunyi di dalam dirimu hingga engkau sekalian menjadi buta terhadap-Nya. Lalu di dalam kebutaanmu terhadap-Nya, engkau menjadi budak dari benda-benda.”

“Ayo, sekarang bertobatlah kalian semua untuk kembali setia kepada-Nya. Ucapkanlah persaksian sekali lagi di hadapanku. Persaksianmu kali ini tidak hanya sebatas mulut yang palsu, tetapi kesaksian yang tembus ke hati dan menjadi gerak hidup seluruh tubuh dan jiwamu. Aku katakan kepadamu bahwa kesaksian bukanlah untuk dihafal dan diucapkan berulang-ulang, melainkan untuk dijalani sebagai bagian utama dari kehidupan. Karena itu, ikutilah jejakku meski engkau akan merasakan sakit tak tertahankan!”

“Tahukah engkau apa yang aku maksud dengan mengikuti jejakku dan engkau akan kesakitan? Pertama-tama, engkau harus menyembelih jiwa kekanak-kanakanmu! Lalu, kupas kulit berbulu kemunafikanmu! Lalu, sayat-sayat daging kemalasanmu! Lalu, patahkan tulang-tulang kesombonganmu! Lalu, bersihkan jeroan jiwa busukmu! Lalu, kumpulkan semua keakuanmu dalam tumpukan daging, tulang, dan jeroan! Lalu, bagi-bagikan kepada para fakir agar pengorbanan jiwa dan ragamu sampai kepada-Nya.”

“Sesungguhnya aku tidak pernah mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutajarrid yang melakukan uzlah meninggalkan kehidupan duniawi. Aku justru mengajarkan kepada engkau sekalian untuk menjadi seorang mutasabbib yang berkhidmat kepada masyarakat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Untuk menjadi seorang mutasabbib, kewajiban utama yang harus dijalani adalah berkorban. Berkorban. Berkorban. Seribu kali berkorban. Berkorban sampai lenyap semua keakuanmu menjadi korban persembahan untuk-Nya.”

Abdul Jalil mengatupkan mulut rapat-rapat dan memandang bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya. Bayangan-bayangan hitam itu makin lama makin banyak karena mereka yang terjerumus ke dalam lubang tanpa dasar pun tiba-tiba berhasil naik ke permukaan dan ikut berkerumun mendengarkan ajaran sasyahidan yang disampaikan Abdul Jalil. Kemudian terjadi sesuatu yang mengherankan, sekumpulan bayangan hitam tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara gemerisik sambil mengepalkan tangannya ke atas, “Sekarang marilah kita bersama-sama menjalankan segala sesuatu yang diajarkan oleh Syaikh Lemah Abang, ibu dan bapak yang melahirkan kita. Marilah kita mulai berjalan melampaui ‘lembah kejahilan’ ini menuju dunia agung tempat kita akan menjadi adimanusia. Sungguh, telah kami rasakan betapa sengsara dan menderitanya menjadi bayangan-bayangan hitam yang tak jelas bentuk dan wujudnya ini. Ayolah, kita mulai perjalanan panjang yang penuh tantangan ini. Ayolah kita capai Cahaya benderang di puncak tebing menjulang itu karena Cahaya itulah kiblat kita.”

Tanpa menunggu waktu, kumpulan bayangan hitam itu membalikkan badan dan melesat di atas tanah melintasi ‘lembah kejahilan’ di tengah tatap dungu dan pandir kawan-kawannya yang masih duduk melamun, asyik mendengarkan cerita yang disampaikan Abdul Jalil. Melihat pemandangan itu Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia sadar tidak banyak manusia yang cukup cerdas untuk menerima ajaran yang disampaikannya. Mereka, keluhnya dalam hati, lebih suka terbuai cerita dan lalmunan daripada menjalani apa yang diajarkannya. Ajaran sasyahidan yang disampaikannya hanya cocok bagi manusia-manusia yang kuat, cerdas, tabah, berani, dan pantang menyerah dalam mewujudkan jati diri menjadi adimanusia.

Rasa bangga memenuhi dadanya saat ia menyaksikan bagaimana sekumpulan bayangan hitam itu bergulat mempertunjukkan keuletan untuk melampaui rintangan di tengah “lembah kejahilan”. Dengan mata berbinar-binar ia melihat anak-anaknya itu saling berlomba untuk mendahului, meski mereka jatuh bangun dan bergulingan di atas bebatuan dan tanah berdebu. Tapi lihat! Lihatlah! Di tengah lembah itu terjadi sesuatu yang menakjubkan; bayangan-bayangan hitam itu, anak-anak Abdul Jalil itu, tiba-tiba melompat tinggi ke atas melampaui tebing-tebing hitam yang tegak menjulang. Ajaib, tubuh mereka menjelma menjadi singa-singa perkasa berbulu kuning kecoklatan. Mereka mengaum dan berlari terus saling mendahului menuju seberang lembah. Singa-singa itu terus berlari dan melompat meninggalkan tebing-tebing, bukit-bukit, jurang-jurang, batu-batu, pohon-pohon, semak-semak, padang pasir, dan lubang-lubang tanpa dasar. Melihat kejadian menakjubkan itu, tanpa sadar Abdul Jalil mengangkat tongkat pemukulnya ke atas dan berseru gembira, “Ayo maju terus! Songsonglah matahari pagimu yang cemerlang dan gilang-gemilang! Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kesingaanmu agar engkau menjelma menjadi manusia. Melompatlah terus, o anak-anakku! Lampaui kemanusiaanmu agar engkau menjadi adimanusia!”

Melihat Abdul Jalil mengacung-acungkan tongkat pemukulnya untuk menyemangati kawanan singa yang berlomba melintasi “lembah kejahilan”, bayangan-bayangan hitam yang mengerumuninya tiba-tiba bangkit dan berdiri di samping kanan dan kirinya. Dengan terheran-heran mereka ikut-ikutan melihat ke arah singa-singa yang sedang berpacu melintasi lembah. Namun, dalam penglihatan mereka bukan kawanan singa yang berlomba saling mendahului, melainkan sekumpulan katak hitam yang melompat-lompat di atas tanah berlumpur. Setelah saling memandang dengan tatapan dungu, mereka kemudian bertepuk tangan, bersorak-sorai, tertawa-tawa, dan berteriak-teriak menyemangati katak-katak itu dengan suara gemerisik bagai derik beribu-ribu tonggeret, “Ayo lompat! Jangan mau ketinggalan! Ayo katak, lompati kawanmu! Lompat terus! Lompat!”

Ketika cakrawala terbentang dan bedug subuh ditabuh bertalu-talu, Raden Ketib tersentak dari renungan karena menyaksikan matahari Kebenaran bersinar gemilang dari balik gunung-gunung berkabut di kedalaman jiwanya. Sesaat ia terheran-heran menyaksikan kenyataan itu. Dan ia makin keheranan ketika mendapati dirinya berada di sebuah dunia dengan cakrawala kesadaran baru yang mengubahnya dari seekor kupu-kupu menjadi seekor burung. Ia merasa bumi tiba-tiba menjadi ringan sehingga ia dapat terbang secepat burung ke angkasa. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Dunui yang dikenalnya dulu kini berubah menjadi sesuatu yang lain; cakrawala, langit, awan, air, pohon, batu, rumput, embun, dan bahkan tanah yang dipijaknya terasa lain.

Dengan benak dikerumuni tanda tanya, ia menanyakan perubahan yang dialaminya itu kepada Syaikh Datuk Bardud. Namun, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil itu tidak menjawab dan hanya memberi isyarat agar ia bertanya pada hati nuraninya sendiri. Pada saat ia akan menanyai hati nuraninya, ia tiba-tiba teringat betapa selama menelusuri jejak berliku dari Syaikh Datuk Abdul Jalil, ia telah mengalami perubahan demi perubahan kesadaran yang berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat seibarat kesadaran telur, ulat, kepompong, kupu-kupu, dan kemudian burung. Ya, ia mendadak teringat bahwa di balik tersingkapnya kesadaran demi kesadaran yang dialaminya itu, yakni saat ia melewati tirai demi tirai dan memasuki matra demi matra yang lebih luas, lebih terang, lebih hakiki, sesungguhnya ia diseret oleh suatu “daya gaib” yang tak diketahui dari mana asalnya. Bahkan, kini, saat ia memasuki kesadaran burung, ia tetap merasa segala sesuatu yang ada pada dirinya dilingkupi oleh “daya gaib” tersebut.

Anehnya, dengan kesadaran barunya itu ia tidak sekadar dapat memahami dengan jelas liku-liku perjuangan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang begitu menakjubkan, tetapi ia dapat pula merasakan apa yang dirasakan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil dan mereka yang terlibat di kancah pergulatan sejarah masa lampau. Ia seolah-olah ikut terlibat di dalamnya. Ia merasakan jiwanya ikut terombang-ambing dan terempas bagai air diaduk badai.

Raden Ketib sadar bahwa ia tidak cukup mampu untuk menangkap secara utuh keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil beserta sepak terjangnya yang menakjubkan. Ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keberadaan utuh Syaikh Datuk Abdul Jalil, kecuali menyebutnya sebagai sosok raksasa pada zamannya: raksasa di dalam pemikiran, raksasa di dalam ajaran, dan raksasa di dalam karya. Dengan demikian, segala usaha manusia untuk mengerdilkan sang raksasa pastilah akan berujung pada kegagalan sebab kodrat hidup seorang raksasa adalah menjadi raksasa. Orang boleh membenamkan sang raksasa di bawah kubangan lumpur, atau menyusupkannya di bawah timbunan sampah, atau menyelipkannya di kandang babi, atau menyurukkannya di lubang semut, namun seorang raksasa yang dikodratkan menjadi raksasa akan selalu menjadi raksasa, tidak akan pernah menjadi anjing apalagi cacing tanah.

Tentang keraksasaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, setidaknya diketahui Raden Ketib lewat kesaksian-kesaksian orang-orang dekatnya yang menuturkan keberadaan sang raksasa dengan penuh kekaguman. Bukan hanya Ki Gedeng Pasambangan, Raden Kusen Adipati Terung, Syaikh Maulana Jati, Pangeran Cirebon, Pangeran Pasai Fadhillah Khan, bahkan Raden Sahid yang sangat dihormati di Demak pun tidak dapat menyembunyikan kebanggaan ketika mengungkapkan kesaksiannya tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. Malah, yang tak pernah diduga-duga oleh Raden Ketib adalah pengakuan Susuhunan Kalijaga itu yang menyatakan bahwa sang raksasa yang dikutuk banyak orang itu sejatinya merupakan mertuanya. “Zainab, puteri beliau, adalah istri pertamaku,” ujar Raden Sahid tegas.

Pengakuan Raden Sahid tak pelak menyingkap tirai rahasia yang selama ini menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil dari pengetahuan Raden Ketib. Dengan pengakuan itu, Raden Ketib menangkap kenyataan betapa kehidupan manusia pada dasarnya tidak berdiri sendiri dan tidak pula terlepas dari ikatan antara yang satu dengan yang lain. Kehidupan manusia ibarat rangkaian tali-temali yang saling menjalin. Meski simpul satu dengan simpul yang lain berbeda dalam ukuran dan bentuk, mereka saling menguatkan. Bahkan, keberadaan salah satu simpul tali yang kelihatan paling kusut pun jika diurai dan diamati secara lebih cermat akan memperlihatkan jati diri sebagai ikatan simpul yang paling kuat dan paling menentukan rangkaian tali-temali itu. Demikianlah, keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil sebagai simpul tali yang dianggap paling kusut yang dinista dan dihina sebagai sumber kekusutan seluruh jalinan tali-temali kehidupan manusia, ternyata merupakan simpul tali yang selama puluhan tahun tak pernah putus dan bahkan terus memanjang membuat simpul-simpul baru hingga mirip jaring laba-laba raksasa.

Jaringan tali-temali kehidupan anak manusia yang terikat pada simpul Syaikh Datuk Abdul Jalil setidaknya diketahui Raden Ketib beberapa waktu menjelang Raden Kusen, kakeknya, meninggal dunia. Saat itu, tanpa hujan tanpa angin, Raden Kusen mengirim utusan ke Palembang untuk meminang Nyi Mas Ilir, adik Raden Ketib, untuk dinikahkan dengan Pangeran Wirakusuma, putera Pangeran Cirebon, cucu Sri Mangana. Ketika pesta pernikahan dilangsungkan dan semua kerabat datang, Raden Ketib mendapati sejumlah tamu yang namanya pernah didengarnya berkaitan dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Bahkan, saat Raden Kusen wafat setelah hari ketiga pernikahan, sejumlah orang yang bertakziah diketahui Raden Ketib sebagai pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka berkumpul dari berbagai tempat bagaikan gumpalan kabut yang kemudian menghilang dari penglihatan.

Rupanya, secara diam-diam para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil dengan setia menjalankan gagasan-gagasan yang diwariskannya, baik tentang masyarakat ummah, wilayah al-Ummah, maupun ajaran tarekatnya. Itu sebabnya, sepeninggal Sri Mangana, bukan Pangeran Cirebon yang menggantikannya sebagai kalifah dan ratu Caruban, melainkan Pangeran Muhammad Arifin, putera Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Hal itu terjadi karena para wali nagari dan gedeng se-Caruban Larang bermusyawarah dan bersepakat menunjuk Pangeran Muhammad Arifin yang menggunakan gelar Pangeran Pasarean. Alasan penunjukan Pangeran Pasarean sebagai kalifah Caruban tidak lain dan tidak bukan karena dia dianggap sebagai orang yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sementara untuk melanjutkan kedudukan ratu sebagai bagian dari tradisi, Pangeran Cirebon diangkat sebagai manggalayuddha karena dianggap mewarisi bakat ayahandanya dalam memimpin militer.

Kekuatan jaringan tali-temali yang diikat oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil tanpa terduga tiba-tiba menjerat Raden Ketib dan mengikatnya sebagai bagian dari jaringan tali-temali raksasa yang tak terlihat mata. Alkisah ketika Raden Ketib bersama-sama dengan Syaikh Datuk Bardud berkeliling ke berbagai tempat untuk bersilaturahmi dan sekaligus menguak teka-teki yang menyelubungi Syaikh Datuk Abdul Jalil, ternyata para gedeng, wali nagari, dan pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil diam-diam mengawasi dan menilainya. Sepekan setelah Raden Kusen wafat tiba-tiba Raden Ketib diundang untuk hadir dalam musyawarah para gedeng di Pekalipan. Ternyata, perwakilan warga Tegal Gubuk dan para gedeng serta kalifah sepakat menunjuk Raden Ketib sebagai gedeng di Tegal Gubuk untuk menggantikan gedeng lama yang meninggal setahun silam. Sebagaimana gedeng terdahulu, Raden Ketib diberi gelar sebutan Ki Gedeng Sura.

Dengan memangku jabatan sebagai gedeng, Raden Ketib sadar tentang kedudukan ruhaninya di tengah gagasan wilayah al-Ummah. Ia sadar belum cukup mampu mencapai kedudukan manusia apalagi adimanusia sebagaimana diharapkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, ia tetap berusaha untuk menjalankan apa yang diajarkan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil, yaitu berjuang keras melampaui manusia agar menjadi adimansia. Ia pun sadar tidak cukup banyak orang mampu mewadahi gagasan-gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil, apalagi untuk menjalankannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Gagasan, ajaran, dan kekaryaan Syaikh Datuk Abdul Jalil terlalu raksasa untuk dipahami dan dijalankan oleh makhluk-makhluk kerdil, sebagaimana ketidakmampuan kawanan burung pipit pencuri padi untuk meneladani rajawali raksasa. Raden Ketib tidak memiliki pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu kecuali melalui sindiran pepatah yang berbunyi: “Bagaikan memberi sebutir permata kepada kawanan kera”. Ya, permata gagasan yang disumbangkan Syaikh Datuk Abdul Jalil hanya dijadikan “permainan” oleh orang-orang yang tidak cukup mampu untuk mewadahi, apalagi menjalaninya.

Melalui Syaikh Datuk Bardud, Raden Ketib memang telah berhasil menyingkap sebagian kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil berdasar kesaksian-kesaksian. Namun, ia merasa betapa kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil masih cukup kuat diselubungi teka-teki. Ada banyak rahasia yang masih tersembunyi. Ia demikian berharap dapat beroleh kesaksian yang lebih utuh dari Raden Sahid dan Pangeran Pasai Fadhillah Khan yang telah menyanggupi untuk menuturkan perikehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ya, kata Raden Ketib dalam hati, aku berharap dengan kesaksian-kesaksian mereka akan dapat mengetahui lebih utuh tentang kehidupan manusia raksasa yang terselubungi kabut rahasia kehidupan itu.

Ketika Raden Ketib berencana pergi ke Demak bersama Syaikh Datuk Bardud untuk menemui Susuhunan Kalijaga, tanpa terduga-duga Syaikh Datuk Bardud malah berpamitan akan kembali ke Gujarat. “Sesuai pesan beliau, aku harus kembali ke Gujarat,” kata Syaikh Datuk Bardud sambil memegangi bahu Raden Ketib.

Raden Ketib merasakan bibirnya bergetar, tenggorokannya panas, dan dadanya berdegub keras. Ia terguncang dengan kejadian tak terduga itu. Kemudian dengan suara terbata-bata ia berkata, “Jika saya boleh bertanya, kenapa Rakanda tidak tinggal di Caruban saja untuk melanjutkan ajarannya?” “

Ajaran tarekat, maksud Adinda?” Syaikh Datuk Bardud mengerutkan kening. “

Ya.” “

Bukankah Adinda sudah paham bahwa Tarekat Akmaliyyah itu dinisbatkan kepada Allah dan tidak bisa diwariskan berdasar keturunan?” “

Tetapi, Rakanda memiliki kemampuan untuk menjadi guru manusia.” “

Ketahuilah, o Adinda, bahwa dia tidak menginginkan siapa pun di antara putera-puteri dan keluarganya untuk mengaitkan diri dengan namanya. Sebab, dia memiliki prinsip bahwa yang disebut anak bukanlah pewaris titisan darah, melainkan mereka yang mengikuti jalannya dalam melampaui tingkatan manusia menjadi adimanusia. Itulah yang disebut anak. Dia mengatakan sangat malu jika memiliki keturunan binatang. Itu sebabnya, dia memaksa putera dan puterinya untuk mewujudkan diri sebagai adimanusia,” kata Syaikh Datuk Bardud. “

Saya paham itu, Rakanda,” kata Raden Ketib. “Tapi, satu hal yang saya mohon dari Rakanda agar dikabulkan.” “

Apa itu?” “

Di manakah letak makam Syaikh Datuk Abdul Jalil?”

Syaikh Datuk Bardud tertawa. Kemudian sambil menepuk-nepuk bahu Raden Ketib, ia berkata, “Apakah engkau pikir ayahandaku sudah wafat? Sesungguhnya dia hidup, hanya engkau yang tidak mengetahuinya, o Adinda terkasih.” “

Beliau masih hidup?” seru Raden Ketib bagai tersambar petir. “

Ya.” “

Di manakah beliau sekarang tinggal?” “

Aku tidak berhak memberi tahu. Tetapi jika engkau ingin menjadi putera ruhani Syaikh Datuk Abdul Jalil, engkau harus mencari dan menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu. Sebab sebagaimana kita tahu, dia membenci kemalasan. Lantaran itu, dia selalu membawa tongkat pemukul untuk menghardik para pemalas. Dan dia selalu membentengi diri dengan banyak teka-teki untuk mendidik manusia agar tidak malas berpikir dan malas berusaha. Dengan kemampuanmu, o Adinda terkasih, aku yakin engkau akan dapat memecahkan teka-teki ini.” “

Adakah perlambang yang bisa saya jadikan penunjuk arah untu memecahkan teka-teki ini?” “

Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah seekor rajawali pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Di sanalah, di tengah Kehampaan dan Kesunyian itu, engkau akan mendengar jeritannya yang membelah keheningan. Di sanalah, di puncak-puncak tebing yang menjulang mencakar langit, engkau akan menemukan sarangnya,” kata Syaikh Datuk Bardud menegaskan. “

Aku sekarang telah memiliki kesadaran burung, o Rakanda terkasih,” kata Raden Ketib dengan mata berbinar-binar dan dada menggemuruh dikobari semangat. “Aku yakin akan dapat menemukan sarang sang rajawali, meski badai dan ketinggian akan menghadang usahaku terbang ke puncak-puncak tebing menjulang. Aku akan terus terbang! Terbang! Terbang! Meski sayap-sayapku akan patah.” “

Terbanglah ke angkasa kebebasanmu, o Saudaraku. Terbanglah melampaui keburunganmu yang kecil sampai engkau menjelma menjadi rajawali, pengarung Kesunyian dan pecinta Kehampaan. Terbanglah terus sampai sayap-sayapmu menjadi sayap-sayap malaikat yang menembus ‘tirai gaib’ Kehampaan,” ujar Syaikh Datuk Bardud sambil berlalu dan menghilang dalam selimut kabut malam.

Pelabuhan Anping Tainan Taiwan (MV. Kenho), 22 Mei 2007, 20:35LT

asdfffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddddd