Pengantar Redaksi

Akhirnya, saat-saat sejarah Syaikh Siti Jenar semakin mendekati ujung. Buku ini merupakan satu dari dua buku penutup (Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar Buku Keenam dan Ketujuh). Sebagaimana sebuah teka-teki, kisah akhir hidupnya menimbulkan pertanyaan beragam: Benarkah dia mati? Benarkah dia tidak mati? Benarkah dia dimatikan? Namun demikian, yang lebih penting adalah apa yang ada di balik teka-teki itu. Bagaimana orang-orang memahami ajarannya?

Sejarah hampir tidak pernah berbicara tentang kelompok marjinal karena dianggap telah subversif melalui wacana dan praksis keagamaan yang mereka kembangkan. Mereka dianggap menantang status quo kaum mayoritas. Sejarah kaum terpinggirkan telah tertindas oleh sejarah yang berpusat pada kaum borjuasi lain: ulama dan elit penguasa.

Hegemoni menurut Gramsci bukan semata-mata dominasi, melainkan juga “kepemimpinan” dan “kekuasaan” kelompok sosial tertentu yang diwujudkan dalam masyarakat luas melalui keberhasilan untuk mendapatkan pengaruh.

Persoalan dasar hegemoni bukanlah tentang bagaimana suatu kelompok baru mendapatkan dominasi dan kekuasaan, melainkan lebih penting lagi bagaimana kelompok itu sampai bisa diterima tidak hanya sebagai penguasa, juga sebagai “pemandu” masyarakat sehingga mampu memainkan peran sebagai pemimpin moral.

Kepemimpinan moral yang hegemoni dapat menjadi dominan secara formal melalui aliansi dengan kekuatan politik. Begitu aliansi seperti itu terjadi maka kekuatan dominan dan hegemonik dapat menggunakan kekuatan dan bahkan kekerasan untuk mempertahankan posisinya yang dominan. Pada tahap inilah muncul kelompok-kelompok terpinggirkan yang menjadi sasaran dominasi dan penindasan.

Kerja keras Syaikh Siti Jenar Abdul Jalil untuk mewujudkan pembaharuan-pembaharuan dalam tatanan hidup manusia masih berlanjut pada buku ini. Ia membuka Dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, Lemah Jenar, membentuk Caturbhasa Mandala, dan Majelis Wali Songo. Di sini ia pun banyak menyingkap perjanjian-perjanjian rahasia dalam mewujudkan cita-citanya.

Demikian pula, kabar kedatangan pasukan Dajjal, Ya’juj wa Ma’juj, yang dibawa Syaikh Siti Jenar semakin mendekati kebenaran. Bangsa kulit putih bermata biru tengah beriap-riap mengibarkan pengaruhnya.

Tidak mudah memang merekonstruksi sejarah masa silam yang jauh. Namun demikian, ini merupakan kerja penting untuk medudukkan peristiwa-peristiwa historis dalam posisinya secara proporsional dan adil.

Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mas Agus Sunyoto yang mempercayakan penerbitan karya ini kepada kami. Kepada pembaca yang budiman, kami mengucapkan selamat membaca.