Kesadaran Burung

Kesadaran burung adalah kesadaran yang diperoleh seorang penempuh (salik) selama tahap-tahap perjalanan ruhani melampaui kedudukan (maqamat) menuju Kesatuan (Tauhid). Bagaikan seekor burung, seorang salik yang sudah mencapai tahap ini akan menyaksikan dunia sebagai tempat hinggap sementara dan dapat ditinggalkan kapan pun dikehendaki. Segala sesuatu yang terkait dengan kecintaan terhadap dunia (hubb ad-dunya) sudah menyingsing bagaikan matahari menyeruak di tengah gumpalan awan hitam. Dunia telah menjadi sesuatu yang rendah di bawahnya. Pada tahap ini sang salik akan merasakan getar-getar cinta (hubb) seorang pecinta (muhibb) untuk mengarahkan pandangan kepada Kekasih (Mahbub) sehingga yang lain (ghair) akan terabaikan.

Kesadaran burung adalah kesadaran sang salik melihat dunia sebagai sekadar tempat berpijak untuk hinggap, makan, istirahat, bermadu kasih, tidur, dan bersarang. Atau, kesadaran makhluk berkedudukan tinggi yang selalu mengarahkan pandangan ke hamparan kehidupan di bawahnya. Atau, kesadaran untuk selalu melimpahkan segala sesuatu dari atas tanpa pernah menengadah dari bawah. Atau, kesadaran untuk selalu memberi tanpa pernah meminta. Atau, kesadaran seorang salik yang sudah di ambang batas antara alam kasatmata dan alam tak kasatmata. Atau, kesadaran untuk memaknai angkasa kosong sebagai Tujuan akhir dari Kebebasan yang didambakannya, meski sayap-sayapnya telah patah dan tubuhnya terbanting menjadi bangkai di muka bumi. Di atas semua gambaran itu, mereka yang sudah memiliki kesadaran burung adalah cermin dari jiwa merdeka yang tak sudi bertekuk lutut kepada sesama, meski kepadanya disediakan sangkar emas dan limpahan makanan.

Meski kesadaran burung nilainya lebih tinggi dibanding kesadaran hewan melata dalam rentang perjalanan ruhani seorang salik, kesadaran burung masih terjenjang berdasarkan tingkat-tingkat kedudukan (maqamat) yang mencitrai makna keburungan. Ada kesadaran burung gagak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang masih tercekam lingkaran angan-angan (al-wahm) yang memunguti serpihan-serpihan bangkai kamalasan dan cepat lupa diri jika dipuji-puji. Ada kesadaran burung merak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang cenderung membusungkan dada dan membentangkan bulu-bulu untuk memamerkan keindahan citra dirinya sebagai yang terbaik dan terindah di antara segala burung. Ada pula kesadaran bangau yang pintar bertutur kata, namun cenderung memuji diri dan selalu memamfaatkan “udang-udang” yang percaya pada ucapannya.

Pada tingkat-tingkat kedudukan selanjutnya ada yang disebut kesadaran burung beo, yang cenderung bangga dan berpuas diri bisa berkata-kata menirukan kata-kata orang bijak tanpa tahu maknanya. Ada kesadaran burung pipit yang cenderung berbangga diri hidup dalam kawanan-kawanan dan kemudian membanggakan kawanannya sebagai yang paling baik dan benar. Ada kesadaran burung merpati yang meski mampu terbang tinggi dan jauh, cenderung gampang terbujuk oleh kemapanan sehingga menjadi hewan peliharaan yang jinak. Yang tergagah dan terperkasa adalah kesadaran burung rajawali; sebuah kesadaran yang terbang tinggi dan jauh di tengah kesenyapan angkasa, berkawan kesunyian dan keheningan, bersarang tinggi di puncak tebing karang, tidak makan jika tidak lapar, tidak minum jika tidak haus, dan selalu bertasbih memuji Penciptanya dengan suara garang digetari makna rahasia: haqq…haqq…haqq!

Raden Ketib yang sadar dirinya telah memiliki kesadaran burung sering merasakan kegamangan ketika belajar terbang mengepakkan sayap jiwanya menembus angkasa luas tanpa batas. Ia gamang karena belum tahu apakah kesadaran yang dimilikinya itu kesadaran gagak, bangau, merak, pipit, beo, merpati, atau rajawali. Ia hanya merasa telah menjadi seekor burung yang setiap saat dengan ringan dapat terbang meninggalkan bumi. Di tengah kegamangan itulah ia menyaksikan angkasa sekitarnya penuh dilintasi kelebatan burung yang mengepakkan sayap-sayapnya dengan suara gemuruh; burung gagak hitam, burung bangau yang putih, burung merak yang aneka warna, burung beo yang hitam dengan jambul kuning, burung pipit yang coklat, burung merpati yang kelabu, dan burung rajawali yang coklat bersalut putih.

Di tengah kelepak sayap burung-burung yang terbang memenuhi angkasa itu, tanpa terduga dan terbayangkan sebelumnya tiba-tiba Raden Ketib menyaksikan bayangan Sang Maut membentangkan sayap di atas angkasa Nusa Jawa bagaikan bayangan burung raksasa yang mengerikan. Peristiwa menakjubkan itu disaksikannya ketika ia melakukan perjalanan dari kediaman Pangeran Fadhilah Khan di Caruban ke kediaman Raden Sahid, Susuhunan Kalijaga, di Demak. Sepanjang perjalanan yang dilakukannya itu, baik dengan perahu maupun dengan berjalan kaki, ia terus-menerus mendengar berbagai cerita tentang Sang Maut yang rakus dan tak kenal puas menghirup napas kehidupan yang berpusar-pusar di tengah kelebatan pedang, tombak, panah, dan keris pusaka yang tersebar di gunung, lembah, bukit, hutan, sawah, desa, dan kuta di Nusa Jawa. Bahkan, saat berada di Demak ia mendengar jeritan Sang Maut begitu mengerikan seolah-olah ledakan halilintar yang membelah cakrawala jiwanya.

Para pelaut menuturkan kepadanya, meski Sang Maut tidak seganas dan serakus tahun-tahun sebelumnya, napas kehidupan yang dihirup-Nya pada tahun-tahun belakangan masih menggemakan tembang Kematian di berbagai sudut Nusa Jawa. Di tanah Blambangan yang membentang di timur Nusa Jawa, tembang Kematian masih terdengar mengharu biru di tengah kelepak sayap Sang Maut yang menggemuruh di Pajarakan, Besuki, dan Demung. Sementara para pedagang di pedalaman menuturkan, di tanah Pasir yang menghampar di selatan Nusa Jawa, Sang Maut tengah mengumandangkan kidung Kematian di Bocor, Wirasabha, dan Maron. Melalui pandangan mata batin (‘ain al-bashirah), Raden Ketib memang menyaksikan Sang Maut mengejawantahkan keberadaan-Nya laksana hamparan mendung kelabu tersalut cahaya subuh dengan berjuta sayap Kematian mengambang di cakrawala.

Ketika Raden Ketib menjumpai para kawi yang bijak dan waskita sepanjang perjalanan ke Demak, ia beroleh petunjuk bahwa sejak zaman purwakala Sang Maut telah menampakkan kesetiaan dan kecintaan pada Nusa Jawa. Kesetiaan Sang Maut laksanan kesetiaan burung raksasa Kematian di alam dongeng yang setia menunggu Pohon Kehidupan tempatnya bersarang. Selama puluhan abad Sang Maut dengan keganasan tiada tara nyaris tak pernah beranjak dari pohon Kehidupan yang disebut Nusa Jawa. Dari waktu ke waktu, Sang Maut dengan kerakusan menakjubkan menggelar pesta darah, menyantap penghuni Nusa Jawa bagaikan burung raksasa Kematian menyantap kawanan ulat yang memenuhi penjuru pohon.

Aneh, tutur para kawi nan bijak, manusia-manusia penghuni Nusa Jawa yang bagaikan kawanan ulat itu secara ajaib tidak pernah habis, meski dijadikan santapan dalam pesta darah Sang Maut. Ulat-ulat itu terus berdatangan ke Pohon Kehidupan Nusa Jawa. Dengan beriap-riap mereka bermunculan dari pohon-pohon sekitar, seolah-olah sengaja menyuguhkan diri untuk disantap. Demikianlah, sang burung raksasa Kematian akhirnya tak pernah beranjak pergi dari Pohon Kehidupan yang menyuguhkan santapan lezat. Sambil berkicau dan menjerit-jerit garang sang burung raksasa Kematian menyantap dengan lahap manusia-manusia ulat penghuni Pohon Kehidupan Nusa Jawa sebagai makanan kesukaan-Nya.

Kepada Raden Ketib para kawi menuturkan, sejak zaman purwakala Sang Maut telah beribu-ribu kali menjadikan penghuni Nusa Jawa sebagai hidangan lezat dalam pesta darah. Tidak satu pun penghuni Nusa Jawa yang ingat berapa kali perhelatan pesta darah dilakukan. Mereka hanya bisa menandai bahwa citra Kematian bagi penghuni Nusa Jawa adalah berwarna merah laksana darah yang tumpah pada pesta tersebut. Para kawi sejak zaman purwakala menggambarkan kegemaran Sang Maut menyantap penghuni Nusa Jawa itu sebagai kegemaran penghuni Nusa Jawa mengunyah buah pinang dan sirih yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Kematian mereka gambarkan sama merahnya dengan air kunyahan sirih dan pinang. Kematian adalah darah. Kematian adalah air kunyahan sirih. Kematian adalah air kunyahan pinang. Kematian adalah merah. Lantaran itu, kata pejah (Jawa Kuno: mati), mengandung perlambang yang sama dengan kata pejah (Jawa Kuno: pinang) yang jika dikunyah menghasilkan air berwarna merah. Kata seda (Jawa Kuno: mati) pun mengandung makna perlambang yang sama dengan kata alirkan air berwarna merah. Bagi penghuni Nusa Jawa, Kematian adalah darah merah. Darah adalah Kematian. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian.

Di tengah kegemaran Sang Maut mengunyah penghuni Nusa Jawa bagaikan kegemaran mereka mengunyah pinang dan sirih, di tengah kuatnya kesan bahwa Kematian adalah darah dan merah, tiba-tiba muncul seorang guru manusia yang dengan aneh mengajarkan manusia untuk “belajar mati”, “belajar mengakrabi Kematian”, dan “mencintai Sang Maut”. Aneh memang. Di tengah orang-orang yang takut dengan Kematian justru ada yang menyampaikan ajaran sebaliknya. Guru manusia itulah yang dikenal dengan nama Syaikh Datuk Abdul Jalil atau masyhur dengan sebutan Syaikh Lemah Abang (tanah merah), Syaikh Sitibrit (tanah merah), Syaikh Jabarantas (yang berpakaian compang-camping), dan Susuhunan Binang (raja merah), yang semuanya merujuk dengan kata merah: lambang Kematian.

Keanehan ajaran Syaikh Lemah Abang tentang Sang Maut dan Kematian di tengah orang-orang yang akrab dengan Kematian ternyata telah menimbulkan berbagai kesan dan pandangan beragam dari mereka yang belum mengenal secara dekat baik pribadi maupun ajaran sang guru manusia tersebut. Ada yang menganggap Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan ajaran sesat: mati adalah hidup dan hidup adalah mati. Ada pula yang menganggap Syaikh Lemah Abang sesat karena telah menyuruh pengikutnya untuk bunuh diri mencari mati. Bahkan, tak kurang ada yang beranggapan Syaikh Lemah Abang adalah Kematian itu sendiri, titisan Hyang Yamadipati Sang Pencabut Nyawa, sehingga siapa pun yang berdekatan dengannya akan mati. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian. Lemah Abang yang bermakna tanah merah adalah tanah Kematian. Lemah Abang adalah tanah larangan, mala ning lemah, yang harus dijauhi.

Ketumpangtindihan dan kegandaan makna kata dalam bahasa Jawa, yang cenderung dikait-kaitkan dengan kerangka pikir otak-atik mathuk, itulah yang ditangkap Raden Ketib ketika ia beroleh penjelasan tentang liku-liku hidup Syaikh Datuk Abdul Jalil dari Raden Sahid yang dijumpainya di Selamirah (batu merah) di kaki Gunung Chandramukha (Merbabu). Rupanya, menurut kesan Raden Ketib, liku-liku hidup Raden Sahid tak jauh berbeda dengan mertuanya, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Maksudnya, meski orang mengatakan Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal di Lemah Abang, kenyataan menunjuk bahwa guru manusia itu selalu berkeliaran ke mana-mana untuk menyampaikan ajarannya. Hal serupa menunjuk pula pada Raden Sahid. Kadilangu yang dianggap sebagai kediaman Raden Sahid ternyata hanya merupakan kediaman istri dan putera-puterinya. Raden Sahid sendiri nyaris tak pernah berada di rumah, karena mengikuti jejak mertuanya untuk menyampaikan ajaran Tauhid kepada manusia-manusia yang berada di dalam kegelapan akal dan budi yang diliputi karat kejahilan. Lantaran itu, Raden Sahid dikenal dengan sebutan masyhur Syaikh Malaya (guru ruhani pengelana).

Di bawah cahaya rembulan yang menerangi punggung Gunung Chandramukha, di dalam bayangan atap balai-balai yang berdiri di antara batang-batang pohon randu alas di ujung desa Selamirah, di tengah terkaman rasa dingin malam, Raden Ketib duduk bersila di atas hamparan lampit (tikar rotan). Di hadapannya tersuguh aneka kue lezat yang disediakan murid Raden Sahid, Ki Luwung Salawe (Jawa Kuno: kehampaan sebesar benang), yang menemaninya selama menunggu Raden Sahid. Meski dua belas jenis penganan lezat seperti juwadah, ketan srikaya, arang kambang, serabi, sagon, cucur merah, cucur putih, ketan, wajik, buah jeruk, durian, dan kepundung yang terhidang di depannya sangat menarik selera dan mengandung makna perlambang, Raden Ketib justru sangat terkesan dengan penampilan sederhana lelaki setengah baya itu. Ia menangkap sasmita bahwa Raden Sahid sengaja menguji dirinya dengan perlambang Ki Luwung Salawe dan kedua belas jenis penganan yang disuguhkan itu. Lantaran itu, setelah saling diam beberapa jenak, Raden Ketib bertanya kepada Ki Luwung Salawe, “Maaf Paman, jika boleh tahu, apakah makna perlambang di balik dua belas jajanan yang Paman suguhkan ini?”

Ki Luwung Salawe tersenyum sambil mengangguk-angguk dan berkata dengan nada menguji, “Bagaimana Raden bisa mengira bahwa jajanan yang kami suguhkan memiliki makna perlambang?” “

Saya tidak tahu, Paman,” jawab Raden Ketib polos. “Saya hanya menangkap sasmita bahwa jajanan itu mengandung makna perlambang. Bahkan nama Paman, Luwung Salawe, pun menurut penangkapan saya memiliki makna perlambang yang sangat dalam. Jadi, saya merasa Kangjeng Susuhunan memberi pelajaran kepada saya melalui perlambang-perlambang. Karena itu, saya mohon agar Paman berkenan menerangkan makna perlambang di balik dua belas jenis jajanan ini.” “

Saya tidak akan memaparkan secara rinci tentang makna masing-masing perlambang, tetapi dua belas jajanan itu adalah perlambang pancaran Ahmad bila mim dalam tujuh selubung nafsu manusia, yaitu hayawaniyyah, musawwilah, ammarrah, lawwammah, mulhamah, muthma’innah, wahidah, dan lima tahap pemunculannya menjadi manusia sempurna (insan kamil), yaitu alfah, khasafah, antifah, amarullah, Ahmad.” “

Terima kasih, Paman. Saya sudah paham. Saya paham jika tahap kemunculan Ahmad bila mim sebagai Ahmad sang manusia sempurna tidak bakal terwujud tanpa melalui Luwung Salawe,” kata Raden Ketib. “

Begitu juga ketika Ahmad terserap kembali ke dalam liputan Ahmad bila mim mesti melalui Luwung Salawe,” ujar Ki Luwung Salawe.

Ketika Raden Ketib akan berkata-kata lebih lanjut, terdengar suara orang berdeham dari arah rumah. Raden Ketib menoleh. Di ujung pintu ia melihat Raden Sahid berjalan dengan langkah mantap ke arahnya. Ki Luwung Salawe berdiri dan bergegas ke dalam lalu keluar lagi dengan membawa cerana tempat sirih. Saat Raden Sahid duduk berhadap-hadapan dengan Raden Ketib, Ki Luwung Salawe menempatkan cerana sirih di depannya dan kemudian menghilang ke dalam rumah. Setelah duduk beberapa jenak, Raden Sahid menatap mata Raden Ketib seolah-olah hendak mengukur pedalamannya.

Raden Sahid yang masyhur dikenal orang dengan sebutan Syaikh Malaya adalah laki-laki sederhana, namun diliputi kewibawaan besar. Usianya kira-kira lima puluh tahun lebih sedikit. Tubuhnya lebih tinggi dan lebih tegap dibanding orang Jawa pada umumnya. Kulitnya coklat kemerahan seperti tembaga. Wajahnya bulat seperti memancarkan cahaya keagungan. Hidungnya mancung dengan hiasan kumis tebal di bawahnya. Alisnya yang tebal melengkung laksana pedang. Matanya yang lebar berkilat-kilat memancarkan kewaskitaan rajawali. Sekepal janggut yang menggantung di dagunya menambah kesempurnaan citra seorang guru suci. Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana sebagai layaknya orang kebanyakan: baju, celana, jubah, dan destar warna hitam terbuat dari bahan kain kasar. Kain batik kawung yang menutupi bagian bawah tubuhnya terbuat dari bahan kain kasar. Ikat pinggang lebar yang dikenakannya pun terbuat dari bahan kulit yang kasar. Hanya sebilah keris bergagang gading dengan serasa emas yang diselipkan di perutnya yang menjadi penanda bahwa dia bukanlah orang dari kalangan kebanyakan.

Duduk berhadapan beberapa jenak di hadapan Raden Sahid yang berpenampilan bersahaja itu, Raden Ketib merasakan semacam getar kewibawaan seekor harimau menerkam jiwanya. Ia merasakan semacam rasa gentar, galau, kikuk, dan ketundukan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lantaran itu, saat Raden Sahid mempersilakannya menikmati kue-kue yang disuguhkan, ia hanya mengangguk sambil tersenyum blingsatan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Ia hanya menunggu dengan menatap lantai di depannya dengan dada terasa berdebar-debar. Ketika Raden Sahid mengambil sedah (sirih), hapu (kapur), peja (pinang) dan mempersilakannya, barulah ia mengambil sirih dan mengunyahnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam cerana, Raden Sahid pun berkata dengan suara penuh wibawa. “

Jika engkau ingin menangkap citra Syaikh Datuk Abdul Jalil, o kulup, hendaknya engkau mengambil gambaran alam yang tergelar di hadapanmu sebagai perlambang. Jika engkau melihat deretan pohon randu alas yang tegak di depanmu, hendaknya engkau menangkap makna yang sama dari kehidupan manusia yang saling berusaha meninggikan keberadaan diri seperti pohon-pohon yang tegak menjulang itu. Sebab, di tengah pohon-pohon yang tegak meninggi itu Syaikh Datuk Abdul Jalil telah membiarkan dirinya menjadi tanah yang dijadikan tumpuan bagi tegaknya pohon-pohon tersebut. Ya, tanah yang membiarkan pohon-pohon yang tinggi maupun yang rendah tumbuh di atasnya. Tanah yang membiarkan dirinya diinjak-injak dan dilukai oleh para penanam. Tanah yang selalu bersedia merangkul kayu-kayu tumbang yang membusuk. Tanah yang menjadi tumpahnya darah para makhluk di atasnya sejak lahir hingga mati. Tanah yang tak pernah dihargai, tetapi sangat dicintai dan diperebutkan oleh para penghuninya.” “

Jika engkau sudah paham bahwa gambaran Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah tanah maka engkau akan paham bahwa mereka yang menganggapnya sebagai pohon lebat yang berbuah telah keliru dalam memaknai keberadaannya. Sebab, makna di balik perlambang sebatang pohon yang tinggi adalah semakin ia bergerak naik ke atas hingga pucuknya menjulang ke angkasa maka semakin dalam pula akarnya menyusup ke bumi menuju ke dalam kegelapan. Begitulah manusia yang berusaha bermegah-megah ke puncak kemasyhuran, sesungguhnya pada saat yang sama ditarik oleh naluri kegelapan jiwanya ke dalam lubang kejahatan di dalam jiwanya. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil menolak usaha bermegah-megah diri. Sebaliknya, ia berjuang keras membiarkan keberadaan dirinya sebagai tanah sehingga jejak-jejak kemanfaatan hidupnya tak pernah diketahui orang lain, kecuali mereka yang memahami hakikat pohon-pohon dan tanah.” “

Hidup manusia memang seibarat pohon. Semakin ia berusaha meraih Kehidupan sempurna dan abadi bagaikan pohon tumbuh tegak menjulang ke atas, maka kegelapan dan Kematian akan menariknya ke bawah bagaikan akar-akar pohon menembus kegelapan bumi. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan tentang Kematian agar tumbuh bersemi Kehidupan yang sempurna dan abadi. Kematian dan Kehidupan saling menarik ibarat akar dan pucuk. Di tengah tarik-menarik itulah cakrawala kehidupan manusia akan diwarnai perubahan-perubahan tatanan, sebagaimana pohon-pohon memiliki citra musim yang terus berubah.” “

Apakah itu berarti para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak boleh terikat dengan keberadaannya, sebagaimana para salik tidak boleh terikat pada duniawi?” tanya Raden Ketib. “

Engkau sudah memahaminya, o kulup,” kata Raden Sahid bijak. “Sebagai seorang pengajar Tauhid, ia telah berjuang keras untuk mendobrak semua sekat yang menghijab Sang Ahad. Lantaran itu, ia telah menegakkan rambu-rambu bagi para pengikutnya agar tidak menempatkan dirinya sebagai hijab bagi Kebenaran. Tentang usahanya mendobrak sekat-sekat hijab itu, pernah aku alami dengan penuh kebingungan setelah aku mengikuti perjalanan bersamanya selama lima tahun mengembara ke berbagai tempat.” “

Sungguh kami merasa beruntung jika Paduka berkenan menuturkan hal tersebut kepada kami,” pinta Raden Ketib berharap. “

Terus terang, sepanjang mengikuti perjalanan membuka dukuh-dukuh bercitra mandala dan mengajarkan Sasyahidan di berbagai tempat di Nusa Jawa, aku sudah seperti anaknya sendiri. Aku malah sudah menganggapnya sebagai pembimbing ruhaniku yang sejati. Aku menganggapnya sebagai mursyid pengejawantahan ar-Rasyid, yang menjadi jalan bagiku menuju Kebenaran (al-Haqq). tetapi, saat aku sudah begitu meyakini anggapanku itu, tiba-tiba ia mengusirku dan tidak mau lagi aku ikuti. Semula aku terkejut dan bingung sebab aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga aku diusir dan tidak diperbolehkan lagi mengikuti perjalanannya. Saat itu aku rasakan dunia ini seperti runtuh. Aku hampir putus asa. Dan pada detik-detik krisis kepercayaan terhadap diri sendiri itulah tiba-tiba aku ingat akan ajarannya tentang Ngalah (tawakal), yakni memasrahkan segala urusan kepada Gusti Allah.” “

Akhirnya, dengan bekal Ngalah itulah aku hadapkan kiblat hati dan pikiranku hanya kepada Allah. Seluruh keraguanku kusingsingkan. Seluruh keinginanku kusingsingkan. Bahkan, seluruh gantungan harapanku kusingsingkan. Saat semua menyingsing, terbukalah hijab demi hijab yang menyelubungi Kebenaran. Saat itulah aku beroleh pencerahan ruhani sebagaimana yang pernah engkau alami saat mencapai kesadaran burung. Dan ternyata, saat itu pula Syaikh Datuk Abdul Jalil datang menemuiku sambil berkata, ‘Sesungguhnya, aku mengusirmu dengan tujuan utama agar aku tidak menjadi hijab antara engkau dan Dia.’ Saat itulah aku baru sadar tentang ketinggian martabatnya sebagai pengajar Tauhid. Bahkan, setelah itu ia menikahkan aku dengan puterinya Zainab. Sebagai lambang keberhasilanku dalam beroleh pencerahan, ia mengganti nama Zainab menjadi Ratu Arafah.” “

Kami pernah mendengar bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan martabat tujuh dan membagi kedudukan pengikut-pengikutnya ke dalam jenjang-jenjang kedudukan. Apakah pernikahan Paduka dengan puterinya yang dinamai Ratu Arafah itu memiliki keterkaitan makna dengan kedudukan Paduka sebagai pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil?” tanya Raden Ketib dengan rasa ingin tahu berkobar-kobar.

Raden Sahid terdiam. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Sejenak setelah itu dia berkata, “Sesungguhnya, beliau tidak pernah membagi-bagi kedudukan pengikut-pengikutnya. Tetapi, pengikut-pengikutnya sendirilah yang telah membagi-bagi kedudukan masing-masing berdasar tingkatan maqam, yang hal itu dilakukan sangat rahasia. Yang tertinggi di antara pengikut-pengikut adalah yang digolongkan ke dalam kelompok Ahadiyyah, kemudian kelompok Wahdat, kelompok Wahidiyyah, dan seterusnya.” “

Bolehkah kami mengetahui salah satu di antara mereka itu, o Paduka Guru?” pinta Raden Ketib. “

Salah satu di antara pengikutnya yang menggolongkan diri ke dalam kelompok Ahadiyyah adalah Pangeran Karucil (Jawa Kuno: belanga kecil), bangsawan asal Blambangan yang mengajarkan Tauhid di Gunung Argapura. Ia dikenal dengan nama Syaikh Akadiyat. Yang tergolong ke dalam kelompok Wahdat salah satunya adalah Susuhunan Wahdat Cakrawati, ahli wahdat, yang mengajarkan Tauhid di Bonang, Tuban, Komalasa, dan Karang Kemuning. Yang tergolong kelompok Wahidiyyah salah satunya adalah Pangeran Pringgabhaya yang mengajarkan Tauhid di Pamotan. Yang cukup banyak di antara kelompok-kelompok tersebut adalah dari kelompok Wahidiyyah. Mereka menjadi pengajar Tauhid hingga ke luar Nusa Jawa. Bahkan, belakangan aku mendengar kabar ada lagi kelompok ruwahan (arwah), yang dipimpin Kyayi Jasim Latif di Kabumian dan Kyayi Mujasim di Mataram,” kata Raden Sahid. “

Murid-murid Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajar hingga ke luar Nusa Jawa?” gumam Raden Ketib heran. “

Ya, terutama setelah ajarannya dilarang pada masa awal pemerintahan Tranggana, sultan Demak yang sekarang. Saat itulah pengikut-pengikutnya meninggalkan kampung halaman dan menebar ke berbagai tempat di bumi Allah. Sebagai tanda bahwa mereka adalah pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil, mereka menamai kediaman barunya dengan Lemah Abang, Tanah Merah, Batu Merah, Sela Mirah, Lemah Putih, Batu Putih, Lemah Ireng, Kemuning, Karang Kemuning, dan Kajenar,” ujar Raden Sahid. “Kenapa ada merah, putih, hitam, dan kuning? Bukankah beliau hanya membuka Dukuh Lemah Abang?” “

Sesungguhnya, yang ia buka bukan hanya Dukuh Lemah Abang, melainkan empat jenis dukuh yang di masa silam dikenal dengan sebutan caturbhasa mandala. Ia mendirikan mandala-mandala yang dijadikan sebagai tempat berpijak bagi ajaran Islam di Nusa Jawa. Tetapi, karena dukuh pertama yang ia buka adalah Lemah Abang maka ia dikenal orang dengan sebutan Syaikh Lemah Abang,” papar Raden Sahid. “

Mohon ampun Paduka Guru, apakah sesungguhnya makna sejati dari nama Lemah Abang?” Raden Ketib ingin tahu. “Sebab, banyak tempat yang bernama Lemah Abang, namun ternyata tanahnya tidak merah. Selain itu, kenapa pula Syaikh Datuk Abdul Jalil disebut pula dengan nama Syaikh Siti Jenar yang bermakna sang guru ruhani dari tanah kuning? Apakah makna merah dan kuning di dalam nama yang disandangnya?”

Raden Sahid tercenung beberapa saat mendapat pertanyaan dari Raden Ketib. Setelah menarik napas berat beberapa kali dia berkata dengan suara lain, “Nama Lemah Abang, Sitibrit, Siti Jenar, dan Lemah Kuning adalah nama-nama yang menyiratkan makna pengorbanan rahasia anak manusia demi lahirnya zaman baru. Nama-nama itu adalah tonggak-tonggak sejarah perubahan di suatu kurun zaman. Nama-nama yang tetap dikenang meski dibalut bermacam-macam gambaran membingungkan tentang maknanya. Hanya mereka yang memiliki kesadaran burung jua yang dapat mengetahui makna sejati di balik nama-nama itu.”

Selat Taiwan (MV. Taho), 15 April 2007, 20:20LT